Tanah Semenanjung Bab 2 : Pekik Kegemparan

 
Bab 2 : Pekik Kegemparan

Dua tahun memang terlalu pendek untuk dike- nangkan. Apalagi bagi yang hidup dalam limpahan kegembiraan. Tapi sangat berat dan lama bagi mereka yang sedang dalam kancah penderitaan.

Kini dua tahun itu telah berlalu. Waktu para istri menyambut suami dari medan laga. Orang mengelu- elukan pahlawan mereka yang mempersembahkan meriam dan kanon dan bedil hasil rampasan dari Belanda.

Sri Prabu sendiri berkenan memeriksa senjata-senjata itu. Dan orang ternganga menyaksikan senjata yang jauh lebih ampuh dari cetbang, senjata sisa peninggalan Majapahit. Suara meriam itu menggelegar, membelah angkasa. Seluruh pembesar negeri geleng kepala karena kagum. Senjata bikinan Atas Angin. Dan inilah senjata yang telah menelan beribu-ribu nyawa. Membuat manusia menjadi berkeping-keping. Membuat banyak wanita menangis karena kehilangan suami, anak, atau kekasih mereka yang punah tanpa ampun.

Sekarang mereka dikagetkan oleh tidak munculnya Panglima Umbul Songo di barak-barak laskar Blambangan seperti biasanya. Demikian pula Laksamana Haryo Dento yang terkenal gagah berani dan disegani dalam perang laut di Surabaya, kini tak pernah lagi muncul di dermaga.

Kawula lebih kaget lagi kala hari-hari belakangan ini mendadak jalan-jalan raya Ibukota menjadi sepi.

Penjagaan lebih diperketat dari biasanya.

Hanya hari Respati (kamis) saja jalan-jalan itu kelihatan ramai. Karena para pedagang sibuk dengan berbagai macam dagangan yang hendak dibawa ke pelabuhan. Di saat hari Kamis itu pedagang diperkenankan membawa madu, kayu manis, sarang burung, dan kulit macan yang biasanya menjadi monopoli kerajaan.

Kuwara Yana, menteri cadangan negara, pada hari Kamis sering melakukan anjangkarya. Namun kali ini tidak. Bawahannya tak mengerti alasan pokoknya.

Namun mereka tetap mendapat perintah agar memperketat pengawasan perdagangan itu.

Kediaman menteri itu juga dijaga ketat, lain dari biasanya. Sebagai orang terkaya di bumi Blambangan, istananya paling indah di antara istana para menteri lainnya. Taman rumahnya menyamai milik Paramesywari. Dan berapa sudah, wanita cantik yang keluar-masuk taman tersebut.

Umur Kuwara Yana masih belum tua. Hidungnya mancung, kulitnya kuning, sedang perutnya membuncit. Kendatipun begitu tidak menjadikannya jelek, karena tinggi badannya mencukupi. Sejak kecil ia memang terlatih dalam perniagaan.

Penjaga gerbang istana Kuwara Yana mempersilakan Teposono masuk. Mereka menuntun kuda orang itu dan mengikatnya di bawah pohon serta memberi rumput sebagaimana biasanya jika seorang pembesar bertamu di Blambangan. Rupanya Teposono telah terbiasa masuk rumah itu. Sendiri Kuwara Yana menyambutnya.

"Agak lama Yang Mulia tidak datang." Ia tersenyum. "Sedang sibuk," jawab perwira tinggi itu.

"Ya... kami pun mengerti."

"Justru itu. Hamba mengharap dukungan dari semua pihak terhadap usaha-usaha Sri Prabu ini. Hamba sendiri merasa turut berdosa terlibat dalam perang Surabaya yang menghamburkan cadangan negara itu."

"Bagus," ujar sang Menteri sambil mengajak tamunya duduk di ruang tamu yang beralaskan permadani buatan Mesir. Ruangan yang penuh dengan keramik buatan Cina tahun-tahun silam. Hati Teposono menggapai- gapai, kapan aku memiliki ruangan seperti ini?

"Nah... sekarang kita harus mengeluarkan lagi biaya untuk mengurusi orang-orang yang sedang dan hendak bernineyana (tidak disiplin/membeot) itu."

"Sebenarnya mereka adalah sisa-sisa pengikut Sri Prabu Macanapura anumerta (gugur dalam pertempuran/almarhum) yang buta dan penasaran."

"Ya, mereka sama sekali tak mau mengerti, mengapa Mas Purba mengambil alih kekuasaan." Keduanya menyatakan kekesalan hati masing-masing.

"Yang lebih buruk dari itu, Yang Mulia, mereka tidak menyadari bahwa dengan membantu Surabaya kita telah mengingkari Hyang Qiwa. Dan Sri Prabu Macanapura telah terpengaruh oleh Adipati Ngabehi Sawunggaling yang berdewa satu itu."

"Hyang Bathara!" Kuwara Yana menyahut. "Mungkinkah ada saudagar yang berdiri di belakang gerakan mereka ini?" "Kami belum pasti."

"Tentunya Yang Mulia bisa membantu kami?" "Tentu. Kami akan usahakan."

"Dengan begitu akan ada hasil yang berharga yang dapat kita persembahkan."

"Untuk keperluan biaya, Yang Mulia tak perlu khawatir." Kuwara Yana tertawa. Disambung oleh Teposono. Kemudian keduanya berdiri berbareng. Berjalan menuju ke satu tempat. Taman.

"Ada yang menyenangkan?" bisik Teposono. "Cuma perawan desa."

"Perawan desa?"

"Ya. Sedah Lati, dari Tegal Delima." "Cantikkah dia?"

"Ha... ha... ha... tidak begitu, Yang Mulia bisa melihatnya sendiri. Di kamar belakang. Bila Yang Mulia berkenan maka ia teman Yang Mulia pagi ini."

Mereka melangkah terus, melewati gang yang kiri- kanannya ditanami mawar melati dan beraneka bunga lainnya. Di depan bilik yang berdinding kayu ulin tua, mereka disambut oleh seorang wanita setengah tua, berkulit agak gelap.

"Bagaimana keadaan Sedah Lati?" sang Menteri bertanya.

"Ada di dalam, Yang Mulia." Wanita itu tergopoh- gopoh menyembah. Mereka pun masuk.

Sedah Lati terkejut. Ia duduk di lantai beralas tikar pandan. Wajahnya tertunduk. "Sedah...," Kuwara Yana menyapa. Menyembah tapi diam.

"Inilah, Yang Mulia," ujar Kuwara pada Teposono. "Boleh juga." Teposono mengangguk-angguk puas. "Beliau adalah perwira tinggi Blambangan, berilah

sembah, Sedah Lati!"

Sedah Lati mengangkat sembah lagi. Ia tak tahu bagaimana harus berbuat terhadap penguasa itu. "Bersembahlah!" Lagi suara Kuwara Yana agak keras.

Kini Sedah Lati pelan-pelan menatap Kuwara Yana dengan sayu. Sesayu hatinya.

"Belajarlah berlaku hormat, kamu, Sudra!" Kuwara Yana melotot.

"Ampun, Yang Mulia. Kembalikan hamba pada orang tua hamba." Suara Sedah Lati pilu.

Mata Kuwara Yana semakin melotot sampai-sampai serasa mau melompat. Namun kemudian menoleh pada Teposono. Dijawab dengan anggukan kepala. Kuwara Yana pergi. Pintu ditutup.

Kini perwira tinggi itu melangkah maju. Pelan.

Tersenyum. Menelan ludah. "Berdirilah, Manis!" katanya.

Lagi. Selangkah lagi. Makin dekat. Dan... mata kian berbinar. Napas makin bergesa.

Sedah Lati tidak menjawab. Tubuhnya, buah dadanya yang masih tegak itu semuanya menjadi gemetar. Ia seperti melihat hantu. Wajahnya yang ayu menjadi pucat. Sekali lagi ia mendengar Teposono memerintah. Namun tiada kekuatannya untuk berdiri. "Berdirilah saja!" Suara itu berulang lagi. Dan mata orang itu lahap memandangi tubuh Sedah. Rambutnya, dadanya...

"Jangan kau tunggu aku marah, Sayang!"

Sedah mengerti benar. Itu ancaman. Ia paksa berdiri walau sulit. Teposono makin terpesona.

"Hyang Maha Dewa anugerahkan kau padaku." Nampak gigi Teposono yang besar-besar dalam senyumnya. "Tenanglah, Manis." Kian lemah persendian Sedah Lati. Mengelak juga tak mampu, waktu tangan berbulu kasar itu merenggut tubuhnya. Ia pejamkan mata. Bahkan tangan itu kini membopongnya ke tempat tidur.

***

Penghadapan agung baru selesai. Dan. semuanya masih berlaku sebagaimana biasa. Baginda saat itu duduk di balairungsari. Sebentar kemudian ia memerintahkan seorang caraka (utusan) untuk menghadapkan Laksamana Haryo Dento.

Dalam kawalan ketat orang itu naik ke balairung. Tombak-tombak terhunus ditujukan pada tubuhnya. Sesekali ia menoleh para pengawal. Yang ditoleh menjadi berdesir.

Tubuhnya yang dahulu gempal telah kurus kering. Cuma kumis dan jenggotnya yang nampak tumbuh subur. Dengan tenang ia menyembah pada Sri Prabu waktu sudah berhadapan. Baginda melambaikan tangan, memberi tanda agar pengawal menjauh.

Sebelum bertitah ia pandangi Haryo Dento mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Namun yang dipandangi tak menunjukkan rasa takut. Tak terkena wibawa Baginda.

"Sampai detik ini Yang Mulia masih diperkenankan memandangi sinar mentari," Baginda memulai.

"Terima kasih, Sri Prabu," jawaban dengan suara parau.

"Masihkah Yang Mulia membenarkan Pa-manda Macanapura? Pengiriman laskar ke Surabaya itu tidak salah?" "Sri Prabu anumerta telah menimbang dengan segala kebijaksanaan. Demi Blambangan, Demi Hyang Maha Dewa."

"Hyang Maha Dewa!" Danureja menyebut. "Tak terpikir oleh Laksamana bahwa itu menghamburkan cadangan negara."

"Demi Hyang Maha Dewa, biaya itu tak lebih besar daripada yang digunakan oleh para nara-praja untuk memperdewakan hati sendiri."

"Laksamana!" Danureja membentak kini, "Laksamana memaksudkan bahwa naraprajaku menghambur- hamburkan cadangan negara?"

Haryo Dento tak menjawab. Cuma pandangan mata yang tajam ia arahkan pada Sri Prabu.

"Laksamana tidak bertindak terhadap pelarian sepuluh kapal pemburu Blambangan itu? Mereka telah minta suaka ke Buleleng? Mengwi? Itukah darma Laksamana selama ini? Pengabdian?"

"Mereka melihat hari depan Blambangan yang suram.

Demi keagungan Hyang Maha Dewa Ciwa mereka menyerah pada Buleleng dan Mengwi yang akan menjadi pengayoman abadi."

"Dewa Bathara Laksamana memaksudkan aku tak

mampu lagi mengayomi mereka? Tak ada wibawa mengayomi kawula?"

"Ampun, Sri Prabu... Bukan itu maksud hamba tapi

para narapraja yang baru itu "

"Kebijaksanaanku di atas segala-galanya," potong Sri Prabu.

"Hamba percaya." "Dan kalian telah mabuk perang? Bangga dengan hanya membawa beberapa puluh meriam dan bedil itu? Kalian menghasut para narapraja untuk mempersiapkan perang dengan Belanda? Perang yang tak pernah menang itu?"

"Tidak pernah "

"Utusan!" Sri Prabu berteriak. Tidak mendengar suara Haryo Dento. "Panggil menghadap Arya Bendung dan Yang Tersuci Dang Hyang Wena!"

Tanpa banyak bicara caraka itu pergi.

"Sekarang aku akan membuktikan bahwa Pamanda anumerta salah. Karena beliau hanya mempertontonkan kebesaran semu Blambangan. Cuma karena pengaruh dari orang-orang yang ingin mencelakakan Blambangan. Menyusutkan cadangan negara dengan persahabatan yang tidak menguntungkan. Surabaya, Bali, Lombok— Semua itu tidak tahu diri! Melawan VOC." Sri Prabu mengumpat terus.

"Seorang bijak selalu berangan-angan, berkata, dan bertindak dengan menggunakan akal. Sebaliknya si pandir hanya menggunakan perasaan dan kata hati sendiri;"

"Dewa Bathara! Jagat Pramudita! Begitu berani Laksamana mengatakan hal itu. Aku juga punya kemampuan untuk bertimbang. Bukan hanya Macanapura!"

"Ampun, Sri Prabu "

"Kebiasaan Laksamana di atas lautan dibawa ke istana. Di laut Laksamana bisa ber-nirneyana. Raja tanpa dewa! Tapi di sini? Di hadapanku ini?"

"Bukan maksud hamba begitu." "Apa maksud Laksamana?"

"Hamba harus berani membenarkan apa yang seharusnya dibenarkan. Demi Hyang Maha Dewa £iwa, Demi Hyang Bathara Widi Wasa."

"Bohong!"

Bersamaan dengan itu Dang Hyang Wena, Arya Bendung, dan Pangeran Pati yang masih belum dewasa, masuk berbareng. Mereka nampak tergopoh-gopoh.

Karena panggilan itu tidak biasa.

"Putranda menghadap, Ramanda," Mas Nu-wong menyembah.

"Berdirilah di belakangku! Kau adalah Pangeran Pati yang harus tahu segala hal tentang kerajaan. Saat ini kau harus mulai belajar. Dari melihat dan mendengar kau belajar."

"Hamba, Sri Prabu." Anak itu kemudian melangkah ke tempat yang ditunjukkan ayahnya. Melewati kanan api kehidupan di sebelah kanan Sri Prabu. Api itu akan menyala sepanjang raja beragama Ciwa berkuasa.

"Yang tersuci, apakah Laksamana Haryo Dento ini bisa diampuni?" tanya Sri Prabu Danureja.

"Hyang Bathara Wasesa Jagat Pramudita, segala purba wasesa yang menyangkut ketataprajaan ada di tangan satria. Hamba hanya bisa bersembah bila ternyata Laksamana mengingkari dharma yoga," orang setengah tua yang berjubah kuning itu berkata.

Laksamana Haryo Dento menoleh pada pandita kerajaan itu. Berani. Ia mengerti bahwa Dang Hyang Wena akan mengaitkan masalahnya dengan darma pada para dewa. "Baik. Bersembahlah, Arya Bendung! Amatilah, Yang Tersuci."

Penguasa tertinggi laskar darat merangkap menteri muka (menteri pertahanan) Blambangan itu menyembah hormat.

"Pelarian ribuan tantama, bintara, dan perwira menunjukkan adanya nirneyana. Sebagian besar dari mereka adalah yang pernah ikut bertempur di medan Surabaya."

"Mereka lebih baik berbuat begitu daripada harus juga meringkuk dalam penjara." Haryo Dento tetap pada pendiriannya.

"Yang Mulia membenarkan itu?" Arya Bendung terbelalak. "Laksamana merestui itu? Membantu Surabaya? Negeri berdewa satu? Islam?"

"Jatuhnya Surabaya berarti moncong meriam Belanda langsung teracung ke dada Blambangan."

"Yang Mulia begitu keras. Lupa bahwa dengan begitu telik Belanda akan tahu Blambangan terlibat perang melawan mereka."

"Memang bukan rahasia lagi. Bukankah dalam perang Surapati kita juga terlibat? Dan sekarang kita tidak menggunakan umbul Jingga sebagai tanda kerajaan kita. Tak juga dwiwarna lambang Majapahit. Tapi semua mengibarkan bendera Surabaya."

’menteri penahanan

"Jagat Pramudita " Dang Hyang Wena menyebut.

Laksamana Haryo Dento tahu bahwa ia sedang menghadapi sandiwara untuk membunuhnya. "Bendera kerajaan Islam?" Dang Hyang Wena menyudutkan.

"Kalau soalnya Islam, maka Mengwi pun akan » membiarkan saja Sawunggaling ditumpas kompeni. Tak perlu ada pernyataan belasungkawa atas gugurnya Jangrana."

"Bali pun bukan sahabat sejati Blambangan," Baginda menekan. "Permintaan suaka pada Mengwi bisa dianggap pengkhianatan."

"Demi Hyang Maha Dewa, tak ada niat kami-untuk mengkhianati bumi kelahiran sendiri."

"Laksamana! Mereka menentang kebijaksanaan Sri Prabu!" Arya Bendung membentak.

"Ampun. Mereka cuma tak ingin menjadi korban kebijaksanaan itu. Di bawah perwira-perwira muda yang arif "

"Jagat Dewa! Dang Hyang Wena, bukankah Laksamana Haryo Dento telah bersekutu dengan negara Islam?" Baginda menoleh pada Yang Tersuci. "Sehingga dengan begitu berani menyalahkan kebijaksanaan kami?"

Yang Tersuci Wena memandang Haryo Dento.

"Setelah dua tahun Yang Mulia diperkenankan merenungkan segala hal, ternyata Yang Mulia tidak menjadi jernih. Bahkan semakin keras. Dengan begitu nasib Yang Mulia sudah bisa diramalkan sekarang," Dang Hyang Wena berkata dengan sabar. "Kiranya Hyang Maha Dewa akan mengampuni bila Yang Mulia mau menyadari setiap kesalahan. Dan bersedia memanggil kembali mereka yang sudah lari. Demi Hyang Maha Dewa, Sri Prabu akan mengampuni." Haryo Dento diam. Juga yang lain. Walau masih banyak lagi rentetan khotbah yang ia dengar. Ia merasa, benar dua tahun ia telah dipenjara tanpa dilepas tanda- tanda kebesarannya. Dua tahun ia terpisah dari anak buahnya, anak-istrinya. Namun ia tak rela, dan tak akan rela menyerahkan anak buahnya kepada kapak merta- lutut (algojo)

Setelah menarik napas panjang, dan dengan pertimbangan yang matang ia menjawab,

"Dua tahun memang terlalu lama untuk menjernihkan pikiran, Yang Tersuci. Dan dengan kejernihan yang ada itu pula hamba menyerahkan nasib ke bawah duli Baginda. Tak bisa lebih. Namun karena mereka hanya melaksanakan perintah Sri Prabu Macanapura anumerta, mereka tidak salah. Karena sudah mempersembahkan segala karya dan darma untuk tanah kelahiran. Segala titah Sri Prabu anumerta melalui mulut Haryo Dento. Dan yang bertanggung jawab dalam pertempuran sepenuhnya Haryo Dento dan Panglima IJmbul Songo.

Karenanya tak diperlukan lain orang ikut menerima hukuman."

"Bagus!" Sri Prabu sampai pada puncak kemarahannya. "Arya Bendung, hukuman mati bagi Haryo Dento! Lepas dari segala pangkat dan jabatan! Dan kau, Caraka, panggil Umbul Songo."

Sesaat Haryo Dento menatap Sri Prabu. Tatapan mata yang terlatih di atas lautan. Setelahnya tersenyum. Entah bagaimana perasaannya, namun ia telah siap.

Sudah ia duga, akhirnya ia akan sampai di tiang gantungan.

Haryo Dento dibawa pergi. Sebagai gantinya Umbul Songo. Masuk dengan kepala tertunduk. Semua memandangnya dengan penuh perhatian. Umbul Songo segera menyembah.

"Duduklah, Yang Mulia!" Suara Sri Prabu mendebarkannya. "Pandang semua yang hadir. Aku memberi perkenan. Dan bila Yang Mulia masih berbakti padaku, maka Yang Mulia akan mendapat perkenan memandangi mentari lebih lama."

Wajah Umbul Songo makin pucat. Debar jantungnya memburu. Perlahan ia mengangkat kepala. Dicobanya menatap wajah Baginda. Merah membara. Memancarkan gelombang api di dadanya. Umbul Songo tak kuasa menentang wajah itu. Kembali tertunduk.

"Rencana apa yang telah dirundingkan dengan para perwira muda waktu mendengar kami mengambil alih kekuasaan?"

"Ampun, Sri Prabu... tak ada "

"Baswi meninggalkan baraknya sehari setelah Yang Mulia diistirahatkan. Sudah direncanakan, bukan?"

"Ampun, Sri Prabu "

"Menyadari bahwa semua itu merugikan Blambangan?"

"Hamba, Sri Prabu."

"Mereka juga melakukan pendurhakaan? Dan tahu pulakah bahwa Surabaya negeri berdewa satu?

Memperkuat Surabaya berarti membiarkan Blambangan runtuh ke dalam Islam?"

"Kami semua hanya melaksanakan titah Sri Prabu anumerta."

"Jadi hanya melaksanakan perintah?" "Benar, Sri Prabu. Buat selamanya tak ada hak kami membantah apa saja yang datang dari istana."

Sang Prabu membelalak. Mengerutkan dahi. Lalu, "Dengan begitu Yang Mulia ingin mengatakan bahwa

setiap kesalahan bersumber dari istana sendiri?" Danureja menoleh pada Menteri Muka. Sebentar kemudian berkata lagi, "Arya Bendung, bersembahlah."

Dan Arya Bendung memandang Umbul Songo. "Yang Mulia membiarkan laskar Surabaya melintasi

perbatasan. Bahkan menduduki daerah Blambangan. Apakah ini tidak mungkin terjadi persekongkolan seperti dengan Surapati dulu?”

"Ampun, Yang Mulia," Umbul Songo menarik napas.

Keadaan tubuhnya yang ringkih membuat pikirannya juga ringkih. Tidak lebih baik dari keadaan Haryo Dento.

"Bukankah sebelum peristiwa itu terjadi, Yang Mulia sendiri yang mengepalai telik Blambangan? Bukankah sebenarnya waktu itu Yang Mulia sudah bisa mengambil sikap?"

Arya Bendung terkesiap. Umbul Songo sedang berusaha menyudutkannya. Ia kini mengerutkan keningnya.

"Sekali lagi." Umbul Songo menegaskan, "kami adalah bawahan semata. Kami selalu satya a prabu, satya a nagri (setia pada raja, setia pada negara) Itulah prasetya (sumpah) kami."

"Tapi bagaimana dengan dewa yang satu itu?" Dang Hyang Wena yang bicara kini.

"Kami datang ke Surabaya bukan untuk menghancurkan Islam. Tapi perampok dan perompak asing yang berkulit putih!! Karena mereka hendak mengubur Nusantara kita ini ke dalam jurang kehinaan yang paling dalam."

"Dengan membiarkan Daeng Sampala menginjak-injak wilayah Blambangan? Juga Segawe orang Madura itu?" Kembali Arya menyudutkannya.

"Sekali lagi, kami tak berwenang mengusir mereka.

Apalagi mereka tak memusuhi Blambangan."

"Atau memang tak ada keinginan Yang Mulia mengusir mereka?" Kini Danureja menggeram. "Ampun, Sri Prabu "

Tiba-tiba terjadi kegaduhan yang tak terduga.

Semua mata memandang ke luar. Teposono naik ke balairungsari. Kemudian menjatuhkan diri dan menyembah di kaki Sri Prabu. Semua tindakannya tampak tergopoh-gopoh.

"Bukankah ini Teposono?" "Hamba, Sri Prabu."

"Menghadap tanpa panggilanku? Atau perkenan dari ratu anggabaya (orang yang diberi kuasa untuk menemui orang sebelum menghadap raja dan punya kuasa mewakili raja dalam keadaan tertentu) ?"

"Hamba."

"Sesuatu yang penting hendak kaupersembahkan?" "Hamba."

"Bersembahlah!"

Teposono memandangi sekitarnya. Curiga. Tapi Sri Prabu tak peduli. Segera ia membentak. "Ampun, Yang Maha Mulia, satu satuan kita telah lari lagi di bawah pimpinan Sardola "

"Jagat Dewa!" Sri Prabu menyebut dalam kejutnya. "Mereka membawa meriam dan kanon dan bedil hasil

rampasan perang Surabaya. Tapi sebagian dapat direbut kembali oleh satuan pengejar kita."

Arya Bendung lebih terkejut lagi. "Pengkhianat!" "Mereka juga menyerbu istana Menteri Kuwara Yana.

Merampas setiap saga emas dan catak perak yang ada dalam istana itu."

"Bagaimana halnya dengan Yang Mulia Menteri?" Arya Bendung gelisah.

"Selamat, karena beliau sedang beranjang-karya." Danureja mengerutkan kening. Juga giginya berkerut-

kerut.

"Ke mana mereka lari?"

"Ke arah utara. Kira-kira ke daerah Pasuruan." "Yang Mulia Umbul Songo!" Sri Prabu berteriak

dengan suara gemetar. "Apa arti semua ini? Kalian telah bersekongkol tidak hanya dengan sisa-sisa Untung Surapati, tapi juga dengan para perusuh sisa kekuatan Paman Macanapura! Satria yang khianat! Yang Mulia mempertanggungjawabkan semua-mua!"

"Ampun, Sri Prabu. Hamba tak tahu apa-apa." "Tidak tahu? Hemh ! Bagaimana mungkin? Begitu

Baswi begitu pula Sardola! Kalau Yang Mulia tidak dikurung, tentu akan lebih banyak lagi nirneyana terjadi."

"Ampun, Sri Prabu." "Yang Mulia tidak berusaha mengembalikan mereka ke induk pasukan. Yang Mulia tak menyadarkan mereka. Tak patut lagikah Blambangan ini menjadi tempat mengabdi? Juga. tak patut lagikah aku menjadi junjungan kalian?"

"Ampun, Sri Prabu."

"Yang Mulia Menteri Muka, copot Umbul Songo dari semua pangkat dan jabatannya. Hukuman mati, ini keputusanku!"

Umbul Songo semakin lunglai mendengar itu. Matanya tidak lagi bersinar. Harapannya pudar. Sang Prabu

benar-benar dalam genggaman para drubiksal Orang- orang yang mementingkan diri sendiri. Tak pernah memikirkan kejayaan Blambangan.

Ia menyerah saja kala kain sutra kuning dililitkan ke tangannya. Sebagai tanda bahwa ia bekas perwira tinggi yang terhukum. Masih sempat ia melirik mata Sri Prabu yang berkilat-kilat.

"Lakukan pengejaran terhadap mereka! Tangkap seluruh perwira yang pernah bertempur di Surabaya, Teposono! Kecuali orang-orangmu." Danureja amat gusar.

Danureja masuk bilik agung setelah memerintahkan yang lain bubar. Mas Nuwong pun kembali ke kesatrian.

Semakin banyak laskar Blambangan yang lari, semakin gelap alam pikirannya. Seolah tak ada persoalan yang dapat ia selesaikan. Ternyata merebut kekuasaan bukanlah soal yang mudah. Sebab persoalan selalu berbuntut kian hari kian panjang. Walau ia telah memerintahkan agar semua pekerjaan dilakukan dengan penuh rahasia. Termasuk pengurungan Laksamana Haryo Dento maupun Panglima Umbul Songo. Tapi kini tidak lagi menjadi rahasia.

Betapapun ia rasakan kepalanya semakin berat. Tiba- tiba ia teringat Singamaya. Tumenggung Sumberwangi yang telah menyerahkan gadis Bali sebagai persembahan. Ni Ayu Sudiarti. Gadis sudra jelita, seperti sekuntum mawar yang kini tinggal di tengah kaputren Blambangan.

Sri Prabu bangkit, tanpa ingat putra-putrinya lagi. Tanpa ingat segala kesulitan. Memasuki tamansari.

Dengan kerelaan penuh gadis itu menyambut kehadiran Sri Prabu. Sudiarti tersenyum seperti ketika akan menari. Menawan senyum itu. Juga matanya yang bening indah. Seindah wajahnya.

Malam itu ia tak lagi menari. Tapi menjadi selir- baginda Blambangan.

***

Arya Bendung bertindak semakin keras. Pembersihan di kalangan balatentara darat dan laut bukan terbatas pada perwira. Juga bintara dan prajurit. Sri Prabu juga memerintahkan agar para menteri lama diperiksa.

Setidaknya mereka dituduh membiayai kerusuhan- kerusuhan yang terjadi. Semua diganti dengan perwira- perwira tinggi kepercayaan Baginda.

Para kawula semakin tidak mengerti. Mereka tak tahu apa-apa. Terutama ayah dan keluarga para prajurit yang ditangkap. Bertanya-tanya apa salah mereka itu?

Jawabnya hanya kabar pendurhakaan besar-besaran di bumi Blambangan.

Gerak mereka menjadi amat terbatas. Bukan hanya gerak. Tapi bicara pun mereka harus berhati-hati. Kesalahan bicara bisa membuat mereka menjadi penghuni penjara. Bahkan mungkin bisa kehilangan kepala. Pihak istana selalu mencurigai setiap kerumunan orang, setiap kelompok, juga setiap orang. Ketakutan menjalar ke mana-mana.

Sedah Lati masih juga takut. Walau kini ia sudah berada jauh di luar kota Blambangan. Jauh dari Ibukota Lateng. Bersama tiga wanita lainnya ia dibawa ke luar istana Kuwara Yana oleh Sardola.

Sedang Sardola masih dalam ketegangan. Mukanya merah padam. Asem Bagus telah sejak tadi mereka lalui. Sengaja ia menyusur daerah pantai. Ia memperkirakan pengejaran laut tidak mungkin ada. Bahkan ada kemungkinan malah mendapat perlindungan dari laskar laut yang banyak membelot juga. Hutan daerah pantai ini amat lebat dan sangat mungkin dapat menyesatkan orang yang tidak berpengalaman. Juga banyak binatang liar.

Diingatnya pesan Baswi, bahwa ia harus menuju Raung. Karena itu ia kemudian memerintahkan laskarnya berbelok ke barat. Baswi akan menjemput mereka. Dan yang tidak boleh dilupakan bahwa ia harus mengambil anak buyut (lurah) Tegal Delima dari istana Kuwara Yana.

Sardola menempatkan diri di belakang barisan.

Setengah hari sudah menempuh perjalanan. Namun Sardola belum memerintahkan istirahat. Ia mengerti empat orang wanita itu sudah lelah. Pikirannya masih belum terlepas dari dua puluh

tujuh anak buahnya yang tewas melawan tentara pemburu. Tiga belas lagi hilang entah ke mana. Dan yang paling menggemaskan hati adalah meriam dan kanon yang dapat direbut kembali oleh laskar Blambangan. Walau sebagian besar masih sempat ia bawa kabur. Karena itu ia belum bicara sejak tadi. Yang lain tak berani bertanya apa-apa. Hingga pada tempat tertentu Sardola berteriak, "Berhenti!"

Semua menoleh ke arahnya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, seperti halnya beberapa kuda yang menarik meriam mereka. Dan apabila memperhatikan napas beberapa kuda itu mereka menjadi iba.

"Kita istirahat di sini. Pengejar kita telah kembali ke Lateng," Sardola memastikan.

Dengan cepat mereka melepas beban masing-masing dan mencari tempat teduh untuk istirahat. Wanita berkumpul sesamanya. Dan masih saja tak jperkata apa- apa. Sedang Sardola sibuk membantu orang-orangnya yang melepas kuda dari beban mereka. Setelah itu beberapa orang membagikan makanan persediaan.

Sambil menerima makanan itu mereka sibuk mengebas- ngebaskan nyamuk hutan yang datang mengerumuni mereka. Makin lama makin banyak. Walaupun sudah beberapa puluh yang terbunuh dalam waktu beberapa bentar.

"Makanlah sekenyang mungkin. Dan istirahatlah setenang-tenangnya!" perintah Sardola lagi.

Penjagaan segera diatur, sementara Sardola juga makan. Dan sebagai prajurit mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk makan.

Sekilas Sardola melirik para wanita yang mereka culik itu. Makanan yang diberikan pada mereka belum disentuh sama sekali. Dalam keheranannya Sardola bangkit mendekati mereka. "Kenapa tiada yang makan?" tanyanya.

Tiada jawaban. Suara nyamuk mengganggu Sardola.

Dedaunan bergoyang ditiup angin. Sardola berhenti melangkah. Agak jauh dan mengamati mereka tajam- tajam.

"Jangan takut. Kami tidak bermaksud jelek pada kalian," lanjut Sardola.

Mereka masih saja tertunduk. Takut melihat wajah Sardola yang seram. Sedang Sardola tak mengerti mengapa begitu. Bukankah ia telah membebaskan mereka? Bukankah seharusnya mereka berterima kasih- karena ditolong keluar dari penghinaan dan kesengsaraan batin? Atau mereka tidak menyadari keadaan itu? Sardola menebak-nebak dalam hati.

"Siapa di antara kalian yang bernama Sedah Lati?" kini Sardola bertanya dengan suara mantap.

Sedah Lati gugup. Kejadian kemarin kala bersua Teposono masih menghantuinya. Perbuatan Teposono, merupakan siksaan batin. Dan rasa nyeri pada bagian tubuhnya yang terlarang belum hilang.

"Atau aku salah? Tak ada di antara kalian yang bernama Sedah Lati?" Sardola mulai jengkel. Sedah makin gugup.

"Inilah... hamba...," jawabnya terpaksa. Seribu pertanyaan akan nasib selanjutnya menyatu dalam hati.

"Kenapa takut?" kata Sardola setelah bernapas panjang.

"Kejadian datang silih berganti di luar kehendakku," masih terpaksa mengeluarkan pendapat. Masih juga takut. "Juga di luar kehendak kami semua," Sardola menambah.

"Tuan telah mengambil kami dengan paksa " "Sebab Saudari juga direnggut dengan paksa dari

rumah."

Kini... tanda tanya kian membesar di kepala Sedah Lati.

Sardola melihat perubahan mukanya. Maka ia menegaskan,

"Tak usah terkejut. Bukankah Saudari kenal dengan Baswi? Dia yang meminta aku mengambil Saudari dari istana Kuwara."

Wajah Sedah merona seperti bunga kapas muda.

Debar jantungnya tiba-tiba mengeras dan tidak teratur.

"Hyang Dewa Ratu!" Sedah menyebut. "Jadi dia sudah tahu aku diambil Kuwara "

"Demi Hyang Durga (kekuatan halus seperti wanita untuk menghancurkan semesta alam. Lengkapnya Hyang Durga Mahisasura Mardhini — mahisa: kerbau; sura kekuatan; mardhini: melingkupi semesta alam) kami hanya melaksana-kan permintaannya. Dan Saudari akan segera bersua dengannya."

"Ah..." Sedah mengeluh. "Tidak! Aku ingin kembali ke Tegal Delima." Sedah kini gemetar.

"Tidak ingin bersua Baswi?"

"Aku tidak akan berharga lagi di hadapannya." "Saudari..." Sardola iba. Apalagi ia lihat Sedah tampak

ketakutan. "Demi Hyang Maha Dewa, jangan bawa aku padanya—"

"Laskar Blambangan akan menyusul Saudari ke Tegal Delima."

"Bukankah Tuan juga perwira Blambangan?" "Aku telah menanggalkan tanda-tanda

keperwiraanku."

"Tuan semua pelarian?" Sedah tercengang. "Ya, sama dengan Baswi!"

"Jagat Dewa Bathara... Apakah yang telah terjadi di bumi Blambangan ini?"

Sardola tak bisa menyalahkan ketidaktahuan Sedah. Sambil berpikir matanya sempat hinggap pada wanita lainnya. Tubuh mereka tampak segar dan terawat baik. Masih belasan tahun usia mereka. Namun tiada kesempatan baginya untuk terpesona.

"Biarlah aku menjadi sayu (wanita yang telah disucikan oleh Brahmana Ciwa untuk kepentingan keagamaan kaum Ciwa)Demi Hyang Maha Dewa."

"Untuk apa, Saudari?" Sardola terkejut. "Menebus dosa," suara Sedah haru. "Aku akan

pasrahkan segala-galanya pada Hyang Ciwa."

"Bukankah Saudari diculik karena mereka mencari Baswi ke sana? Jadi Saudari tak perlu menebus dosa," Sardola menasihati. Hatinya menjadi iba. Sedang para wanita lain yang sejak tadi mendengar saja makin mengerti bahwa mereka bersama kaum pelarian. Kini Sardola melangkah maju. Dua langkah.

Pikirannya mulai ikut buntu. Kembali silir angin yang bertiup menimpanya.

"Langsung atau tidak kita sudah dilibatkan dalam komplotan yang menantang Sri Prabu." Tiba-tiba seorang di antara wanita itu bersuara pelan. Sardola membeliakkan matanya. Terkejut.

"Kami tak melibatkan Saudari "

"Tapi Tuan telah membawa kami."

"Kami memang salah," Sardola menyesal, "kami hanya akan membebaskan Sedah. Sayang kami tidak ada yang mengenalnya. Maka kami bawa kalian semua. Pasukan Teposono terlalu cepat datang. Sehingga kami tak sempat mengadakan penelitian."

"Apa dalih Tuan dengan kata pembebasan itu?" "Saudari Sedah diculik. Dan ayahnya tak mampu

membelanya. Empat hari setelah itu ia sampai ke tangan Kuwara Yana. Sebagai persembahan dari seorang perwira. Semestinyalah aku mengatakan bahwa tindakan kami ini sebagai pembebasan. Dan itu tak mungkin terjadi tanpa kekerasan."

"Tuan seorang perwira. Kenapa tak bisa merundingkan persoalan ini dengan damai?"

"Dia seorang menteri. Payungnya sudah tentu perwira tinggi. Aku? Cuma manusia yang harus menjalankan perintah semata-mata. Tidak mungkin. Tidak mungkin."

"Agar menjadi pengetahuan Tuan, sebaiknya aku perkenalkan teman-teman ini. Di sebelahku ini, Ni Ayu Sitra, dia Ni Ayu Jenean," kata wanita muda yang

mengaku bernama Ratna Ayu Yistyani itu sambil menunjuk temannya satu-satu. Kemudian lanjutnya, "Kami semua punya persoalan yang tidak sama. Karena itu punya pandangan yang tidak sama pula tentang apa yang Tuan maksudkan dengan pembebasan itu."

"Kami pikir Saudari akan bergembira dengan pembebasan ini. Tidak tahu jika sebaliknya. Menyesal sekali."

Berempat diam. Juga Sardola. Tak mengerti bagaimana harus berbuat. Sedang anak buahnya telah sejak tadi selesai makan.

"Baik," katanya menunjukkan keputusasaan. "Siapa yang ingin kembali ke Lateng, akan kami antar.

Begitupun Sedah—"

"Semudah itu, Tuan?" potong Yistyani cepat. "Tak sadarkah Tuan bahwa itu menyerahkan kami ke tiang gantungan?"

Sardola terperanjat dalam bingungnya. Demikian pula Sedah. Ia segera sadar bahwa kata-kata Yistyani mengandung kebenaran. Kini Sedah menajamkan matanya pada Yistyani. Wajahnya ayu, kepalanya cerah. Sedah kagum.

"Apa dalih mereka menghukum Saudari?" Sardola mengerutkan keningnya.

"Kami telah Tuan bawa. Sedang Tuan membawa serta senjata-senjata milik kerajaan. Juga beberapa ribu saga emas milik Kuwara Yana. Bahkan mungkin milik kesatuan Tuan sendiri. Mereka tentu tahu semua itu.

Adakah alasan kami kembali dengan tanpa keterangan? Mereka pasti bertanya ke mana kelanjutan perjalanan Tuan. Padahal mana kami bisa tahu?"

"Saudari bisa kembali ke tempat asal " "Tak ada tempat aman di Blambangan. Juga di luar kota. Tiap lembar daun pun akan dibalik."

Yistyani membuat Sedah tambah berdebar. Karena itu ia perhatikan dengan seksama. Dan ia menjadi ragu akan keputusan semula. Tak ada lagi tempat berlindung di Blambangan. Juga Tegal Delima. Ia mengeluh dalam hati.

Tapi ia takut pada Baswi. Kesucian, keperawanannya telah direnggut oleh orang yang memper-dewakan hati sendiri. Ia tak punya lagi kesuburan untuk dipersembahkan pada perjaka suci.

"Lalu maksud Saudari?" Sardola menantang. "Apa jalan keluar yang akan diambil?"

Yistyani diam beberapa jenak. Kemudian menoleh pada wanita lainnya. Seakan minta pertimbangan.

Namun tiada satu pun yang menjawab. Walau dengan bahasa mata saja.

"Tiada jalan lain," kini Yistyani menyerah sambil menghela napas panjang.

"Nah... makanlah!" Sardola sedikit lega. Seperti terlepas dari sesuatu yang mengimpit tubuhnya.

Kemudian ia membalikkan badan.

Sambil memukuli nyamuk dengan telapak tangan mereka menirukan Yistyani makan. Meskipun mereka telah dipersudrakan tapi belum terbiasa makan dalam keadaan seperti itu. Duduk di atas rumput, di bawah naungan pohon-pohon rindang.

Dalam perjalanan selanjutnya Sardola mulai membayangkan wajah Baswi. Tentunya pemuda itu telah menunggu rombongannya di Raung. Betapa bahagia Baswi bersua Sedah. Ia? Ia belum berpikir seperti apa yang dipikirkan Baswi.

Tanpa mengenal lelah yang tidak mau berdamai itu, mereka terus menguak gerumbul semak. Melintas belantara yang penuh rotan berduri. Mereka bertekad mengalahkan setiap kesulitan. Sebab Sardola memang menghindari desa yang memungkinkan bisa memberi keterangan pada Lateng. Pikir Sardola, melintas dan melintas terus mencari jalan terdekat.

Empat wanita itu tidak mau lagi berkuda seperti semula. Mereka mulai ingin menyaturasa. Supaya kemudian dapat menyatu pendapat. Namun setelah candiala*) mulai nampak, perasaan letih sudah

tanda-tanda senja hari, biasanya disertai warna merah lembayung di ufuk barat amat membelenggu. Gunung Raung memang nampak semakin dekat. Dan kekuatan mereka pun sudah surut.

"Di mana kita akan menginap?" Yistyani membuka pertanyaan. Namun tiada berjawab.

Perhatian Sardola sedang tertumpah pada meriam- meriamnya. Apalagi setelah beberapa kuda yang menarik meriam itu sudah tak kuat lagi berlari. Sesaat matanya ia tatapkan pada Gunung Raung. Megah.

Angker. Serasa ingin ia menembus gerumbul semak belukar. Dan ingin melihat gubuk-gubuk yang telah didirikan Baswi dan teman-temannya.

"Ke mana kita akan menuju?" Kembali teriakan Yistyani mengganggu. Bahkan mengejutkan Sardola. Ia toleh mereka.

"Tuan tidak dengar?" ulang Yistyani. "Panggil aku Sardola!" Sardola menyeringai. Tapi Yistyani tidak menanggapi.

"Ke mana kita akan melangkah?" tanyanya lagi. "Belum tahu." Sardola jengkel.

"Hai... hari sudah malam."

"Masih senja!" Sardola setengah berteriak. "Jangan bergurau! Kita sudah semalam dan sehari

berjalan. Kami sudah sangat letih."

"Ya. Tapi setidaknya, kita masih harus berjalan setengah malam lagi."

"Kita berhadapan dengan gunung " Yistyani putus asa.

"Ya." Suara Sardola datar.

Yang lain tetap diam sambil berjalan terus dalam keletihan yang amat sangat. Kemudian,

"Apa kita tidak istirahat dulu?" Suara Sedah yang terdengar kini.

"Jika kita berhenti, kita akan menjadi umpan nyamuk." "Dewa Bathara!"

Surya telah benar-benar tenggelam di balik perbukitan. Sardola memerintahkan beberapa orang untuk menyembunyikan meriam-meriam mereka ke dalam semak. Kuda-kuda pun segera dilepaskan dari beban masing-masing. Dan dengan dikawal beberapa orang, kuda-kuda itu diberi waktu istirahat dan makan. Demikian pun senjata yang disembunyikan dikawal oleh behe-rapa orang di tempat terpisah. Sedang Sardola dan yang lain meneruskan perjalanan. Tak seorang pun berani membantah. "Sementara waktu biarlah bintang-bintang menyinari perjalanan kita. Nanti jika sudah jauh dari persembunyian meriam ini kita akan sulut obor." Sambil berjalan ia memerintah.

Setelah mencapai beberapa jarak, Yistyani tiba-tiba berkata, "Aku lihat sinar! Lihat!" Ia mendekatkan diri pada Sardola. "Di sela pepohonan itu, aku lihat damar."

Semua terkesiap. Sardola pun terkejut. "Betul." Seorang prajurit meyakinkan.

Sardola juga mengamati tempat yang ditunjuk Yistyani. Untuk beberapa jenak jantungnya berdebar.

"Berhenti dulu!" perintahnya mendadak. "Perkampungan," bisik Yistyani lagi.

"Tidak ada perkampungan di sini," bantah Sardola. "Tidak mungkin," Yistyani menegaskan lagi.

Sekali lagi, Sardola dan kawan-kawannya yang telah berpengalaman bertempur di Surabaya itu terheran- heran. Kecerdikan Yistyani sejajar dengan para perwira Blambangan.

"Kalau begitu..." Sardola menghitung-hitung. "Kita harus mengadakan pengintaian. Dan jangan menyulut api dulu!"

Dan perintahnya segera dikerjakan. Dua belas orang dengan pedang dan tombak terhunus berangkat. Sedang yang sisa pada menegang napas.

Nyamuk-nyamuk juga mengganggu. Kulit mereka sudah mulai gatal dan pedas. Mereka mengumpat dalam hati sambil membunuhi makhluk yang tidak pernah sudi berdamai itu. Sedang kegelapan semakin merajai suasana. Tegang.

Sardola tidak suka lagi berbincang dalam keadaan begitu. Wajahnya tampak seperti harimau yang menerkam mangsanya menandakan ketegangan mencekam pikirannya. Andaikata tidak gulita orang akan melihat codet di atas alis membuat wajah Sardola nampak semakin seram.

Tiada terdengar suara ranting patah karena injakan kaki, Sardola lega. Menandakan bahwa sejauh itu pengintainya belum berbuat kesalahan. Juga belum terdengar gemerincingnya senjata. Berarti mereka belum ketahuan.

Perkampungan siapa, ya? gumam Sardola dalam hati. Ia menajamkan mata dan pendengarannya. Antara sabar dan tidak mereka mendekam di balik pohon-pohon besar. Dan Sardola sebenarnya adalah seorang yang paling tidak sabar. Gelisah sampai seorang pengiringnya datang.

"Perkampungan?" tanya Sardola segera. "Bukan," jawab seorang pengintai.

"Apa kalau begitu?" Sardola heran. "Pesanggrahan. Pesanggrahan kosong." "Kenapa ada pelita?" Sardola kurang percaya.

"Awas jebakan orang istana," .Sedah Lati memperingatkan.

"Tak tahu kenapa ada damar," orang itu menjawab. "Tapi... tak ada tanda-tanda bahwa itu merupakan jebakan. Kami telah menyelidiki seputarnya.

Pesanggrahan itu tampaknya baru dibangun tadi siang. Dan mungkin sekali sangat tergesa. Bahkan mungkin sekali orang-orangnya baru saja meninggalkan tempat itu. Ada persediaan makanan yang baru sedikit mereka makan. Sedang pada periuk-periuk lain belum tersentuh. Sisanya cukup untuk makan dua ratus orang lebih."

"Drubiksa!" Sardola menggertakkan gigi. "Sudah kalian coba?"

"Belum. Nasi itu masih di atas tungku. Masih panas." "Dewa Ratu! Mungkin disediakan untuk kita." Sedah

memandang Yistyani.

"Mungkin," Yistyani berpendapat.

Sardola diam. Juga lainnya. Sepuluh bentar mungkin. Sunyi. Cuma suara binatang-binatang malam menguasai rimba yang gelap.

"Yah... kita istirahat di sana," putusnya kemudian. "Esok kita berangkat lagi."

Tanpa melengahkan diri, mereka melaksanakan segala perintah Sardola. Mereka memang terbiasa berdamai dengan kepenatan. Di mana dan kapan pun.

Pesanggrahan itu ternyata tak lebih dari gubuk-gubuk tidak berdinding. Bertiang bambu, sedang atapnya terbuat dari ilalang yang dipasang sekena-nya saja.

Tidak kokoh. Dan bisa dirobohkan dengan cepat dan mudah. Semua berukuran kira-kira lima kali lima depa.

Dalam kelelahan manusia tidak sama. Ada yang bisa makan sampai kenyang, tapi tidak kurang-kurang yang tidak doyan makan. Ada yang segera tidur pulas, ada yang malah tidak mampu memejamkan mata.

Sardola menempatkan para wanita di gubuk tersendiri. Sedang gubuk yang lain diisi dua puluh bahkan ada yang dua puluh lima orang. Kelihatan berjejal seperti teri. Meski begitu delapan gubuk yang tersedia belum mencukupi. Ada di antara mereka yang cuma bersandar dahan-dahan kayu. Bahkan ada juga yang rela bersusah- susah naik pohon besar dan tidur di cabangnya. Ulah manusia aneh-aneh menurut selera sendiri.

Ukuran jam bagi mereka hanya perasaan yang dituntun oleh bergesernya bintang-bintang di langit. Sebab mereka tak punya alat penunjuk waktu seperti kompeni. Tapi mata batin mereka telah terlatih benar. Karena itu pergantian penjagaan berlangsung terus sesuai dengan bergesernya waktu.

Pangantilan adalah kepala penjagaan tengah malam. Seperti mimpi rasanya. Ia melihat titik-titik api berjalan di kejauhan. Ia menggosok-gosok matanya. Titik-titik api itu sebentar hilang sebentar muncul, di sela kepekatan malam. Aku tidak mimpi, pikirnya.

"Obor..." desisnya.

"Ya!" jawab seorang anak buahnya. "Semakin mendekat."

"Jelas mereka adalah pasukan yang sedang berjalan kemari. Yah... pasukan yang sedang bergerak!"

"Amati terus! Aku akan melapor pada pimpinan."

Setelahnya Pangantilan melangkah surut. Sardola yang tidur-tidur ayam, segera bangkit waktu mendengar seseorang mendekat. "Oh... Pangantilan. Ada apa?" bisiknya.

"Ada pasukan lain mendekat." "Hai... Apa katamu?" Sardola melompat dalam keterkejutannya. Ia tangkap bahu anak buahnya dan mengguncangkannya.

"Tuan bisa melihat sendiri!" "Panggil namaku!"

"Demi Hyang Maha Dewa!"

"Drubiksa mana yang bosan hidup itu?" Sardola menggeram. Kemudian berjalan ke tempat penjagaan yang ditentukan.

"Gila! Obor sebegitu banyak!" Sardola makin terperanjat.

"Tak mungkin dilakukan oleh perwira yang tak berkekuatan besar." Kini Sardola tidak lagi berbisik. Dan obor-obor semakin jelas. Kepala Sardola bekerja cepat. Ia akan menyambut mereka di luar perkemahan.

"Perintahkan semua bangun. Sebelum mereka dekat benar kita bergerak maju. Menyambut mereka di depan!"

Pangantilan mengerjakan perintah Sardola tanpa ribut.

Walau ada juga yang gugup. Langsung mereka diperintahkan bergerak dalam jajar Sapit Urang (membentuk formasi seperti supit udang /tangan udang yang ujungnya berbentuk seperti gunting)

Beberapa saat kemudian mereka merangkak seperti binatang malam yang melata dalam gelap. Sedang obor- obor itu pun semakin mendekat. Harapan Sardola adalah tentara VOC yang lewat. Dengan begitu ia akan mendapat tambahan perbekalan dan senjata. Sebab menurut dugaannya, laskar Blambangan maupun sisa- sisa laskar Surabaya tidak akan bergerak di bawah sinar obor seperti itu. Kecuali dalam masa yang mereka anggap damai. “Uh, mereka benar-benar tak tahu bahwa sebentar lagi akan masuk Sapit Urang,” kata Sardola dalam hati.

"Mereka tak menyiapkan jajar perang." Pangantilan heran. "Mungkin mereka menganggap remeh pada kita. Atau mereka tidak tahu."

"Tidak mungkin," jawab orang di sebelahnya. "Mereka tentu melihat api tungku dan lampu-lampu kita."

"Mungkinkah pengintai kita tadi sore salah?" Yang lain menyahut pula.

"Tidak! Kita tidak masuk jebakan. Sebab kita hanya punya persoalan dengan Blambangan. Dan pasti mereka tak akan berbuat begitu. Kita lebih dulu sampai di sini, bukan?" Sardola menerangkan.

Pembawa obor pertama telah memasuki ujung rerumputan di mana Sardola menyiapkan jajar Sapit Urang-nya. Dan mereka tak memadamkan obor mereka. Orang-orang Sardola makin tak mengerti. Juga Sardola. Keringat mulai membasahi kaki dan tangannya.

"Drubiksa!" Sardola mengumpat lirih sekali.

Ia memberi isyarat agar laskarnya bergerak maju.

Merayap pelan-pelan. Namun kini mata Sardola menangkap bahwa mereka bukan kompeni. Tidak bertopi. Tapi berdestar seperti dia. Kini ujung tombak orang-orang pembawa obor itu nampak berkilat memantulkan sinar. Dan Sardola masih memaksakan diri bersabar.

"Orang Blambangan! Lihat tombak dan destar mereka!" desis Sardola.

"Ya," jawab yang di sebelahnya lebih lirih. Begitu orang terakhir memasuki Sapit Urang, Sardola tidak lagi mampu menahan hatinya. "Berhenti!!!" teriaknya pada laskar pembawa obor. "Jangan seorang pun melangkah! Kalian telah terkepung!"

Serentak barisan pembawa obor itu berhenti.

Serempak pula tanpa ada perintah mereka mengatur diri. Menghadap ke empat mata angin. Namun tetap tak membuang obor-obor mereka. Dan terdengar lagi oleh mereka suara Sardola bertanya,

"Adakah kalian membawa sirih?"

Baik prajurit Sardola maupun pembawa obor mengerti, bahwa itu bahasa sandi.

"Kami cuma membawa kapur," jawab salah seorang dari mereka.

"Adakah kalian membawa tempolong tempat dubang (ludah merah karena bersirih /berkinang)” Sardola meneruskan penelitiannya.

"Biarlah bumi menjadi merah karena dubang."

"Jagat Dewa," Sardola menyebut dengan suara keras. "Adakah Baswi di antara kalian?" Kini suaranya terdengar riang. Yang lain juga ikut gembira.

"Baswi ada di belakang."

Sardola melonjak kegirangan. Di bawah sinar obor itu ia melihat bahwa mereka memang orang-orang yang sedang dicari ke setiap penjuru

Blambangan. Segera ia turunkan perintah pada orang- orangnya untuk kembali ke gubuk masing-masing.

Mereka mengerti benar bahwa Sardola tak ingin membiarkan mereka berkerumun di padang rumput kecil itu. Walau Sardola sudah membuang tanda keperwiraannya, namun perintahnya tetap dipatuhi. Beberapa saat setelah Sapit Urang dibuka, rombongan Baswi tiba dengan tanpa obor. Sardola sangat kagum pada siasat yang dipakai oleh temannya itu. Ia melonjak seperti anak kecil. Ia merangkul Baswi. Begitu pula sebaliknya. Sama-sama melepas rindu.

"Hyang Durga Mahisasura Mardhini telah mempertemukan kita, Kakang," suara Baswi haru.

"Demi Hyang Maha Dewa, aku tak menyangka kita selamat."

Yang lain juga terharu menyaksikan pertemuan ini.

Beberapa waktu kemudian mereka sudah berjalan sebelah menyebelah, menuju gubuk-gubuk tempat peristirahatan laskar Sardola.

"Sedah Lati sudah aku bawa serta."

"Ya?... Ah terima kasih." Baswi memandang Sardola dan tidak bisa menyembunyikan perasaan girangnya. Dengan semangat ia bertanya,

"Di mana ia sekarang?"

Sambil terus berjalan Sardola menceritakan pengalamannya. Juga keputusan Sri Prabu atas

Panglima Umbul Songo maupun Laksamana Haiyo Dento. Baswi menarik napas dalam-dalam mendengar itu. Pamannya, Umbul Songo, tak mampu berbuat sesuatu. Ah... tiada lagi kesempatan. Kemudian,

"Blambangan dalam kemelut," katanya lirih. "Ya."

Orang-orang yang kembali ke gubuk bercerita tentang Baswi dan laskarnya. Perwira muda yang disegani waktu perang Surabaya itu sudah di tengah-tengah mereka. Sedah Lati tersentak mendengar itu. Ia bangkit dari duduknya.

"Ada apa, Kang?" tanyanya pada salah seorang yang lewat. Yistyani dan teman-temannya heran.

"Rombongan Baswi datang kemari." "Apa katamu? Baswi?"

"Ya... Baswi sendiri yang memimpin penjemputan kepada kita," orang itu menegaskan.

"Baswi? Oh..." Sedah Lati mengeluh. Duduk kembali. Orang yang ditanya bengong melihat kelakuan Sedah. Apalagi kini Sedah menjadi terkulai lemah bersandar tiang. Bintang-bintang di langit terasa dekat sekali.

Bahkan seperti berputar-putar mengelilingi kepalanya.

"Ada apa, Adik Sedah?" Ni Ayu Sitra bertanya dengan lembut. Sedah tak mampu menjawab. Bibirnya bergerak- gerak tapi tak mampu mengeluarkan suara.

"Apakah Baswi seorang bengis? Kejam? Sehingga ia menghantui pikiranmu?" Yistyani ikut iba. Perasaan kewanitaannya tersentuh. Namun Sedah tidak menjawab. Hanya suara desah yang didengar Yistyani.

"Kenapa jagat ini ada? Kenapa pula Hyang Maha Dewa menciptakan aku?" berulang Sedah bertanya pada angin. Berulang mengnempaskan napas panjang.

Yistyani tambah mengerti perasaan Sedah. Begitupun lainnya.

"Baswi... Baswi..." Sayup-sayup terdengar orang- orang memanggil di kejauhan. Dan suara-suara itu makin mendekat. Kemudian lebih dekat lagi. Dan dada Sedah makin berguncang. Ah... dosa... dosa... aku harus menebusnya di hadapan Hyang Maha Dewa. "Benarkah pertanyaan Yistyani itu?" Jenean yang kini mengusik. Dan Sedah menggeleng. Menggeleng lagi, berkali-kali. Tapi bukan untuk memberikan jawaban pada Jenean. Ia bermaksud mengebaskan beban yang ada di kepalanya. Sebentar ia pandangi teman-temannya. 

Mencari pembela. Namun tetap membisu.

Sementara itu Baswi melangkah terus. Angannya menyusun-nyusun seribu satu kata dalam senyumnya terhadap laskar Sardola yang mengelu-elukannya.

Sampai-sampai Sardola yang di sebelahnya itu tidak ia perhatikan. Segala yang indah akan ia nyatakan hanya untuk Sedah Lati.

"Masihkah ia cantik?" tanyanya tiba-tiba pada Sardola. "Ah... aku tak sempat menilainya," jawab Sardola

malu-malu.

"Kamu memang cuma tahu menembakkan meriam.

Tak tahu bagaimana memanah."

"Kau menghina. Cuma memanah hati wanita saja kau bangga. Hai."

"Ha...ha... ha..." Berdua tertawa.

Rombongan tak tahu apa yang mereka tertawa kan. Tapi turut gembira. Apalagi setelah sampai di gubuk- gubuk. Laskar pelarian baru itu saling berpelukan dengan laskar Baswi.

Sesaat, dua saat, lima saat, sepuluh saat, dia dan Sardola menunggu diberi jalan. Tapi mereka masih saja berkerumun. Bahkan mengelu-elukan mereka di bawah sinar obor.

Sedah Lati menyaksikan semua itu. Juga Yistyani dan Jenean dan Ni Ayu Sitra. Debar jantung Sedah bergesa. Susul-semusul. Sedang baginya tak ada jalan melingkar. Yistyani dan kedua kawannya memperhatikan kegelisahan Sedah. Namun niat untuk menolong menenangkan hati Sedah tertutup oleh sempitnya waktu. Karena mereka sendiri juga sedang bergumul. Untuk mengiakan atau tidak mengikuti terus setiap langkah laskar pelarian itu.

Bagi Ni Ayu Sitra harus menyeberang laut bila menolak pelarian itu. Ia harus pulang ke Jem-branan. Karena itu tak seorang pun mampu berbincang sampai terdengar suara Sardola memerintahkan orang-orangnya minggir. Gerumbul manusia itu menguak, memberi jalan pada Sardola dan Baswi.

Keduanya nampak tegap. Melangkah dengan tenang.

Setenang angin malam. Samar-samar tampak wajah Baswi lebih muda, namun sama-sama perkasa.

Tangannya yang kekar mengenakan gelang akar hitam. Mukanya lebih halus dibanding muka Sardola yang bercodet di atas alisnya. Kulit mereka hampir tak berbeda. Sawo matang.

"Sedah Lati!" panggil Baswi tidak sabar.

Sedah mendongak. Badannya menggigil. Bibirnya tak mampu berkata-kata. Ucapan yang akan ia keluarkan berhenti di kerongkongan.

"Sedah Lati," sekali lagi Baswi menyapa. "Aku Baswi... sudahkah kau lupa?"

Sedah Lati menggeleng lemah. Sekali lagi. Dan berulang kali. Ia bukan ingin memberi jawaban. Kembali, ia ingin mengibaskan kabut yang membelenggu kepalanya.

"Berdirilah, Adikku!" Lagi, Sedah Lati menggeleng. Entah sampai berapa gelengan. Baswi tegak dalam keheranannya.

Dipandangnya Sedah Lati mulai ujung dengkul sampai kepala. Ia tak dapat melihat ujung kaki wanita itu. Karena Sedah melipat kakinya untuk bersimpuh.

"Adakah aku tak patut lagi bertemu dengan seorang yang bernama Sedah Lati?" Suara Baswi tersendat. "Atau aku bukan lagi anak angkat buyut Tegal Delima? Tak pantaskah aku?"

Sedah Lati menjadi gugup.

"Oh... ma... ampun, Kakang...," suaranya tak lancar.

Baswi masih juga berdiri tak tenang. "Lalu, kenapa begitu?"

"Ampuni aku, Kakang...," bisik tersendat keluar dari bibir Sedah. Namun tak terdengar oleh Baswi. Kalah oleh suara orang-orang lain yang seperti lebah di sarangnya.

Sardola mengerti itu. Lalu menoleh pada mereka, dan...

"Jangan hilangkan kewaspadaan!" Suaranya kembali mengaum seperti harimau lapar. Semuanya menjadi terkejut. Sehingga dengan begitu suara yang seperti lebah itu lenyap sedikit demi sedikit.

Baswi tak memperhatikan semua itu. Matanya belum mau berpindah dari wajah Sedah Lati. Gadis yang ia rindukan siang-malam. Namun sikap Sedah telah membuatnya putus asa.

"Adikku, kau lebih berharga berbakti pada titisan Bathara Kuwara daripada..."

"Kakang!" Sedah Lati memotong keras. Ia tak ingin mendengar kelanjutan kata-kata Baswi. "Di sana kau akan mendapat penghargaan. Lebih dari itu kau akan mendapat segala-gala."

"Jangan ucapkan itu, Kakang!"

"Aku adalah seorang pelarian. Tak sepantasnyalah seseorang menyertaiku. Aku tak berhak mencintai dan dicintai."

"Aku tak mungkin kembali, Kakang."

"Aku akan mengantar kau ke Tegal Delima. Atau mungkin pada Yang Mulia Menteri Kuwara Yana.

Berbahagialah kau di sana."

Baswi membalikkan badan. Ia tak ingin lagi mendengar jawaban Sedah Lati. Terdengar suara Sedah memekik tertahan. Pilu sekali. Namun tak mengurungkan niat Baswi berlalu.

"Tuan Baswi, perwira muda Blambangan!" Suara merdu yang lain menahan langkahnya kedua.

"Aku ingin bicara!" Suara itu bukan dari mulut Sedah. Sardola yang sejak tadi tertegun, kini bisa bersikap.

Memberi tanda pada Baswi untuk berbalik lagi. Dan Baswi menurut. Sekadar untuk menghormati teman akrabnya. Tampak olehnya, Sedah Lati menunduk. Sesaat kemudian meraba-raba mencari pegangan. Dan mendapatkannya pada Yistyani. Butir-butir air mata mulai melaju malas di atas kedua belah pipinya yang mulus.

"Siapa yang memanggil tadi?" Baswi bertanya dalam suara yang berat.

"Aku, Ratna Ayu Yistyani."

"Aku tidak mengenal Anda." Baswi menantang pandang mata bening wanita yang menegurnya. Ah... seperti mampu memantulkan sinar obor, keluh Baswi dalam hati.

"Sejak sekarang Tuan akan mengenal. Dan aku ingin Tuan mulai mendengar suaraku."

Baswi terbelalak mendengar itu. Seperti ucapan kaum Brahmana. Diamatinya tajam-tajam Ratna Yistyani yang duduk seperti halnya Sedah Lati. Juga kedua gadis lainnya. Namun gadis itu tidak memalingkan wajahnya. Ia balas menatap Baswi.

"Begitu cepatkah seorang perwira mengambil keputusan? Dengan perasaankah seorang pimpinan bertimbang? Tak berharga lagikah bagi Tuan, seorang yang pernah tinggal di istana Kuwara Yana? Untuk apakah Tuan memerintahkan orang mengambil Sedah Lati? Untuk perlakuan semacam ini?"

Pertanyaan Yistyani susul-semusul seperti hujan dari langit. Dada Baswi menjadi berguncah seperti air yang hendak tumpah dari gelasnya. Namun ia berusaha bersikap tenang.

"Yang mana... yang harus kujawab?" Baswi berhati- hati.

"Semua!" tegas Yistyani. "Semua?"

"Ya."

"Tak tahu aku menjawabnya." "Begitu enteng, Tuan?" .

"Maafkan aku. Terlalu bodoh untuk dapat menjawab."

"Tuan tahu apa artinya bila Sedah Lati kembali ke Tegal Delima? Atau ke Blambangan?" "Bukankah itu kehendaknya? Ke Lateng?"

"Tuan cuma tahu berperang. Membunuh dan menaklukkan. Tapi Tuan tak tahu hati wanita. Adakah Tuan akan membiarkan ia diseret ke depan algojo? Ya, Tuan Baswi? Sedang Tuan sendiri yang mengambilnya dari Lateng, dan sekarang Tuan akan menyerahkannya ke bawah pedang algojo."

Sekali lagi darah Baswi terkesiap. Perasaan kagum merayapi relung hatinya. Yistyani benar. Dan di sisi lain Sedah memandang Yistyani dengan perasaan berterima kasih. Kini Baswi dalam kebimbangan.

"Aku sendiri," Yistyani berkicau lagi, "diserahkan pada Kuwara Yana oleh kaum pedagang di Lumajang sebagai persembahan. Itu memang berbeda dengan Sedah "

"Cukup!!!" Baswi menghentikan kata-kata Yistyani.

Kemudian melangkah mendekati Sedah Lati. "Berdirilah, Adikku," suaranya halus. "Maafkan aku."

Sedah Lati tak menjawab. Tangannya menyeka air mata yang masih mengalir. Bahkan semakin deras.

"Mau ikut aku?"

Sebagai jawaban hanya anggukan. Isaknya tak lagi keras.

"Ke hutan belantara? Ke gunung-gunung?"

"Ke ujung langit pun." Kini Sedah sudah bisa bicara. "Dewa Bathara, masih kau anugerahkan ia padaku."

0oo0

Cahaya merah bercampur kuning tampak semburat di ufuk timur. Kawula Blambangan telah sejak tadi bergumul dengan lumpur dingin. Menggarap sawahnya masing- masing. Kabut masih menutupi jagat. Hari memang masih terlalu pagi. Namun tidak berapa lama kemudian mereka dikejutkan oleh suara bende yang mengalun, menguak kesunyian pagi. Menghentikan nyanyian semua petani yang sedang membajak. Bahkan juga menghentikan langkah tiap kerbau yang sedang membajak. Suara bende dipukul tujuh kali.-Berhenti sebentar. Kembali berdengung, tujuh kali.

Dan beberapa bentar setelah itu beberapa perwira penting tergopoh-gopoh menuju alun-alun. Yang berkuda maupun berkereta ditarik kerbau. Tentu naluri keperwiraan mengalahkan dinginnya udara pagi. Sampai di depan istana kerajaan mereka dipersilakan oleh prajangkara (protokol istana} untuk naik ke ruang pagelaran.

Tumenggung Singamaya, Arya Bendung, dan Bagus Tuwi sudah duduk di sana. Singamaya yang sebenarnya berumur tidak lebih dari empat puluh tahun nampak sudah lebih tua dari usianya sendiri. Sri Danureja masuk dengan diiringi oleh Pangeran Pati dan Pangeran Mas Sirna. Di belakangnya lagi Dang Hyang Wena, pendeta kerajaan Blambangan.

Hadirin diam tanpa bisik kala Sri Prabu menebarkan pandang ke seluruh ruangan pagelaran itu. Dengan lirikan mata rasanya hadirin juga ikut menghitung berapa kira-kira luas ruangan itu. Ada kira-kira dua puluh lima depa kali lima puluh depa. Tiang-tiangnya berukir gambar macam-macam. Yang lebih menarik perhatian hadirin adalah saat itu Baginda mengenakah pakaian perang.

Tangan kirinya memegang tongkat kebesaran kerajaan.

Tongkat yang terbuat dari emas murni. Ujung bawahnya tajam. Sedangkan bagian atasnya terukir trisula yang merupakan lidah seekor ular naga. Badan ular itu adalah kelanjutan ukiran yang membelit batang tongkat.

Beberapa bentar kemudian Sri Prabu bersabda, ’Tara Yang Mulia, negara dalam keadaan bahaya. Karena ulah dari orang-orang yang kurang puas terhadap tindakan kita mengambil alih kekuasaan dari tangan Paman Macanapura. Mereka tidak menyadari bahwa siasat perang melawan Belanda, adalah kekeliruan besar. Membantu Surabaya berarti menghamburkan biaya negara. Pamanda Pangeran Mas Gajah Binarong tidak membenarkan daku menduduki singgasana ini.

Meninggalkan Wijenan dan hidup di Buleleng. Kini beliau menyusun serangan atas kita dengan dibantu oleh laskar laut kita yang bernirneyana. Juga sisa-sisa kekuatan Gusti Panji Sakti. Untuk menegaskan keteranganku ini ada baiknya bila para Yang Mulia mendengar langsung laporan Yang Mulia Singamaya. Bersembahlah, Yang Mulia!"

Setelah menyembah Singamaya menoleh dan membungkuk hormat pada Arya Bendung, Bagus Tuwi, Dang Hyang Wena, kemudian pada para menteri lainnya.

"Benarlah sabda Baginda, para Yang Mulia. Laskar yang berumbul-umbul Jingga, artinya sama dengan umbul-umbul kita, telah menyerang satuan-satuan kita di daerah terpencil. Sekarang telah menjadi satuan besar yang sedang bergerak ke arah Lateng, ibukota kita ini.

Laskar laut mereka juga bergerak menuju ke arah Gilimanuk. Beberapa waktu lagi menyeberang. Jadi kita diserang dari dua jurusan. Timur dan utara. Bahkan mereka juga berusaha mendaratkan pasukannya di Grajagan, untuk menguasai Alas ^urwa. Dari mana mereka akan mendapat pangkalan untuk mengepung kita dari selatan. Atas semua itu, segala purba wasesa di tangan Sri Prabu."

Singamaya duduk kembali. Laporannya selesai. "Bersembahlah, Yang Mulia Siung Laut!" Sri Prabu

bertitah lagi. Dan Samodraksa (kepala staf Angkatan Laut} Laksamana Siung Laut berbuat sama seperti Singamaya tadi.’

"Perang laut telah terjadi. Laskar laut lawan lebih dulu menembaki kita. Mereka juga bersenjatakan meriam laut bikinan negeri Portugal. Juga cetbang. Akibatnya dua kapal pemburu Blambangan terkubur di dasar laut. Juga di selatan. Mereka menyusuri pantai semenanjung dan berusaha mendaratkan bala bantuan. Namun laskar laut kita di bawah Yang Mulia Penjalu, telah menggagalkan mereka. Itu pun harus ditebus dengan tenggelamnya lima kapal pemburu kita ke dalam ombak segara kidul yang gulung-gemulung. Sekalipun mereka mundur tapi Yang Mulia Penjalu tetap meronda di selatan."

Siung Laut duduk kembali. Semua hadirin menarik napas panjang. Tegang.

Sri Prabu mengerutkan kening. Di kepalanya, terbayang betapa gelap masa depan Blambangan dan dirinya sendiri. Walau selama ini Blambangan tak pernah kalah menghadapi pemberontakan-pemberontakan kecil. Tapi kini pemberontakan besar!! Bahkan dipimpin pamannya sendiri.

Hatinya bimbang. Karena laskar Blambangan sekarang telah menciut. Mereka telah banyak yang bernirneyana. Sedang penambahan belum memadai. Dan... lebih banyak lagi yang meringkuk dalam penjara. "Adakah sudah diperintahkan para adipati mengirimkan bala bantuan kemari?" Ia menoleh pada Menteri Muka.

"Hamba, Sri Prabu," jawab Arya Bendung.

Bersamaan dengan itu para hadirin dikejutkan oleh suara derap kuda yang bergesa menuju alun-alun.

Berhenti dan tanpa ragu ia menuju ke ruang pagelaran. Pedang yang tergantung di pinggangnya menunjukkan bahwa ia adalah perwira laskar laut. Semua orang menoleh padanya. Juga Laksamana Siung Laut.

"Siapa itu, Yang Mulia?" "Perwira kami, Sri Prabu." "Adakah sesuatu yang penting?" "Hamba."

"Atas namaku, perintahkan ia masuk."

Siung Laut memerintahkan seorang pengawal untuk menyampaikan perintah Sri Prabu. Dengan segala hormat perwira itu mengendap-endap naik ke ruang pagelaran.

"Bersembahlah pada Sri Prabu!" ujar Siung Laut. Dan orang itu merangkak ke hadapan Danureja.

"Hamba Makabehan, perwira laskar laut Blambangan dari armada pertama." "Bersembahlah, Makabehan."

"Menjelang fajar tadi, armada lawan telah bergerak lagi. Dari Buleleng. Dua Armada sekaligus bergerak dalam jajar perang laut yang besar. Armada pertama menyongsong mereka. Lawan menggunakan jajar perang Kepiting Gangsir (bergerak bersama-sama berendeng ke samping. Membuat lengkungan panjang dan dua kapal bendera ditempatkan di lengkung annya. Sehingga menyulitkan musuh menembak kapal bendera tersebut. Bisanya tembakan dimulai dari ujung lengkungan). Tembak-menembak masih berlangsung terus sampai sekarang. Laskar kita telah melintasi Gilimanuk. Hampir dua puluh kapal pemburu kita tenggelam."

"Dewa Bathara!" Siung Laut menyebut. "Laksamana Buntaran memerintahkan hamba untuk

mempersembahkan semua ini ke bawah duli Samodraksa Siung Laut. Begitu besarnya armada laskar pembangkang yang bergabung dengan sisa-sisa armada Gusti Panji Sakti itu. Seperti barisan cucut raksasa. Mati satu’ datang sepuluh. Hamba khawatir kalau-kalau sekarang Laksamana Buntaran sudah kehabisan peluru dan memerintahkan memasang cula-cula (alat dari besi tajam berbentuk seperti pedang yang bisa dipasang di anjungan kapal. Panjang dua meter, lebar hampir setengah meter) ...”

Sri Baginda berdiri sebelum ucapan Maka-behan berakhir. Ia angkat tongkatnya tinggi-tinggi.

"Yang Mulia Siung Laut!" suaranya lantang. "Atas namaku perintahkan semua kapal menyongsong mereka! Bantu Laksamana Buntaran!"

"Hamba, Sri Prabu."

"Masih sanggupkah kalian bertempur untuk Blambangan?"

"Hamba, Sri Prabu," teriak hadirin bersama. "Sanggup."

"Berangkatlah!" Semua perwira laskar laut yang hadir menyertai Siung Laut meninggalkan istana.

"Pembangkangan demi pembangkangan telah melemahkan Blambangan. Ini tak pernah diperhitungkan oleh mereka yang sedang membangkang," Sri Prabu menggerutu sambil kembali duduk. "Mengwi akan bertindak bila kita menyimpang dari ketentuan perjanjian. Apalagi bila mereka tahu kita tak menghancurkan sisa- sisa

laskar Gusti Panji Sakti. Ingat kau, Pangeran Pati? Bali terus mengintai kita! Sirna, ingat! Walau bundamu seorang Bali."

Mas Nuwong mengangguk. Sedang Pangeran Mas Sirna diam saja. Ia memang belum tahu seluk-beluk kerajaan. Tapi matanya yang kecil indah seperti bintang timur ia gunakan untuk memandangi dengan cermat setiap yang ada di situ. Kemudian Danureja meneruskan,

"Siasat kekuasaan tidak pernah mengenal ayah, ibu, saudara ataupun bukan! Baik sekarang maupun nanti. Tidak! Tidak akan pernah, Anak-anakku! Itu juga kalian harus tahu. Harus’ Yang penting adalah tujuan! Tujuan dari siasat kekuasaan. Kalah atau menang. Dan..." Sang Prabu mengeraskan suaranya lagi. "Menteri Muka!

Umumkan pada seluruh kawula dan satria, bahwa Blambangan dalam keadaan perang."

Kemudian Baginda menoleh pada Dang Hyang Wena, "Bapa Yang Tersuci, atas nama Blambangan kami

akan berangkat bertempur. Perintahkan pada setiap brahmana agar menyanyikan Loka-nanta (mantera pelebur dosa) di setiap penjuru Blambangan!" Kini Sri Prabu berdiri lagi dan mengangkat tongkat kebesarannya,

"Anakku, terimalah ini. Selama perang kaulah penguasa tertinggi!" Dan tongkat itu berpindah ke tangan Mas Nuwong. "Kau, Bagus Tuwi, jangan berangkat bertempur! Tapi dampingilah Pangeran Pati. Karena ia belum dewasa. Tutuplah pintu benteng. Aku akan bertahan di Sumber Wangi. Nah, Prajurit! Siapkan kudaku! Aku akan songsong mereka dan orang-orang Bali. Ingat, Anak-anakku! Orang Bali “

Setelannya Mas Purba yang bergelar Danureja itu pergi. Juga kedua putranya. Mas Nuwong di sebelah kanannya sedang Mas Sirna di sebelah kirinya.

"Akan ada perang, Ramanda?" tanva Pangeran Sirna tiba-tiba.

"Kau dan kakakmu tinggal saja di kesatrian." "Hamba ingin tanya, apakah ada perang?" Sirna

mengejar.

"Ya!" jawab Mas Purba sambil menoleh pada putranya itu.

"Tadi Ramanda bersabda tentang siasat kekuasaan.

Apa itu? Hamba sama sekali belum mengerti." "Kau masih terlalu kecil, Sirna."

"Tapi bukankah tak ada larangan bagi seorang pangeran mengetahui hal itu? Juga untuk mengetahui segala-gala?"

Dalam langkahnya Purba mengerutkan kening. Seleret kekaguman terbayang di wajahnya. Kenapa itu justru keluar dari bibir Sirna. Bukan dari Mas Nuwong?

Pangeran Pati Blambangan? "Kau benar, Anakku. Kau boleh tahu segala-gala. Karena kau akan menjadi patih Blambangan, yang membantu kakakmu sebagai raja." Ucapan

Mas Purba meluncur tanpa melalui pikirannya. "Siasat kekuasaan adalah akal manusia untuk menjangkau satu tujuan. Terutama untuk merebut tata kehidupan di suatu negeri. Dan kau sendiri akan tahu kelak bila sudah besar. Sebab hidup tak pernah berpisah dengan siasat kekuasaan. Kehidupan tak pernah berpisah dengan akal."

Kala Mas Sirna akan bertanya lagi, mereka sudah sampai di depan sentong kuning (tempat peraduan raja)

Karena itu Mas Nuwong dan adiknya harus berbelok ke kiri. Sedang ayahnya harus ke kanan, ke sentong kuning.

Sri Prabu menolak waktu Paramesywari akan membasuh kakinya dengan air kembang, sebagaimana biasa dilakukan seorang paramesywari.

"Hyang Dewa Ratu, apakah yang telah terjadi?" Paramesywari terkejut,

"Perang," jawab suaminya singkat.

"Dewa Ratu," sekali lagi Paramesywari menyebut. "Perang, perang, dan perang lagi. Tanpa henti."

"Perang adalah siasat dengan jalan kekerasan," Danureja menegaskan. Kemudian ia melangkah ke gedung pusaka.

"Bacalah Lokananta, Adinda. Aku akan berhadapan dengan Paman Gajah Binarong. Akan kuberitahukan padanya bahwa aku tak pernah kalah. Dan tak akan pernah kalah melawan pemberontakan siapa pun." Paramesywari diam. Juga para dayang. Ia mengikuti dari belakang seperti bayang-bayang. "Adakah Kanda akan mempanglimai sendiri?" "Sudah kukatakan," potong Sri Prabu. "Dewa Ratu!"

"Mereka telah memulai. Dan tak akan pernah berhenti sebelum menang atau punah sama sekali."

"Demi Hyang Dewa Ratu, seharusnya kita tempuh jalan damai. Bukankah akan melawan paman sendiri? Perang memusnahkan segala-gala. Suatu peradaban yang paling tidak menyenangkan. Demikian pun akibat dari perang itu. Apakah ia mengalahkan atau dikalahkan. Semua harus menanggung akibat yang mengerikan."

"Tak ada jalan lain." "Apa sebab?"

"Kehormatan Blambangan. Kehormatanku. Dulu aku telah memperolehnya lewat perang. Kini aku harus mempertahankannya dengan perang pula."

Mereka melewati gapura. Di alun-alun tampak para prajurit sudah siap. Menyandang senjata masing-masing. Ujung tombak dan pedang terhunus berkilau tertimpa mentari pagi.

Sesaat Sri Prabu memandang wajah Paramesywari.

Hatinya berdebar. Kemudian memandang gapura. Istana. Dan kembang-kembang yang ditanam di pinggir jalan.

Tapi ia tak mau lemah. Takkan menjadi lemah sekalipun oleh butir-butir air mata istrinya. Karena itu beberapa saat kemudian ia sudah duduk di punggung kudanya.

Gegap gempita sorai laskar Blambangan melihat rajanya di punggung kuda. "Dirgahayu Sri Prabu!

Dirgahayu Blambangan. Demi Hyang Maha Dewa!!!" Danureja memberi isyarat dengan lambaian tangan agar semua diam. Setelahnya Sri Prabu bersabda,

"Rakyan Ri Pakira-kiran (menteri yang membantu raja bertimbang). Biasanya terdiri dari lima orang) umumkan pada seluruh kawula agar mereka siap. Siap menghadapi segala-gala. Kalah atau menang. Ya, kalah atau menang."

Sekali lagi Sri Prabu menoleh Paramesywari.

Beberapa lama kemudian kudanya telah berlari lamban. Pasukan berkuda di belakangnya. Setelahnya pasukan yang berjalan kaki. Sambil mengacungkan bedil atau tombak mereka berteriak sepanjang jalan, "Jayalah rajaku!! Blambangan atau mati!"

Diiringi oleh biti-biti perwara istana, Paramesywari kembali ke istana. Sunyi bagai mati. Di luar tembok istana kegemparan mulai terdengar. Bahkan melanda mana-mana. Suara bende sebagai tanda datangnya perang benalu tiada henti. Ketakutan merayapi setiap hati. Dupa dibakar di setiap pura. Bahkan di setiap rumah. Doa diucapkan oleh setiap bibir. Bukan hanya oleh brahmana. Sedang para saudagar sibuk menutup kedai mereka, kala melihat arak-arakan yang berangkat bertempur. Para ibu sibuk mengumpulkan anak-anaknya yang sedang bermain bersama teman-temannya. Suara teriakan ibu-ibu dan anak-anak berbaur menambah paniknya suasana.

Dentuman meriam tidak lagi di utara Gilimanuk. Siung Laut telah mengirimkan berita pada Sri Prabu bahwa Laksamana Buntaran gugur. Bersama kapal benderanya ia menabrakkan cula-cula ke kapal bendera lawan. Sisa- sisa armadanya yang telah compang-camping dan kehabisan air tawar kembali ke pantai. Sebagai gantinya Samodraksa Siung Laut dengan perasaan geram, memimpin langsung satu armada besar. Terdiri dari lima puluh jung perusak, yang dipersenjatai dengan meriam dan cetbang. Setiap jung berukuran enam puluh koyang. Di samping itu juga ada sembilan ratus kapal-kapal kecil, yang bertugas sebagai kapal pemburu. Dipersenjatai sedikitnya satu meriam dan satu cetbang. Kapal-kapal ini bergerak lincah, sesuai dengan beratnya yang cuma dua puluh koyang. ;

Di bagian selatan pertempuran berkobar lagi. Penjalu, pengganti Laksamana Haryo Dento, menembak semua kapal Bali atau kapal asing lainnya, yang melintasi perairan Blambangan tanpa izin. Ia juga telah merampasi kapal-kapal milik pedagang yang masuk wilayah itu dengan tuduhan mata-mata. Setiap pembangkangan dijawab dengan tembakan meriam. Perang memang tanpa ampun. Dan dengan lima buah kapal rampasan ia mendaratkan bala bantuan dari Lumajang.

Usaha-usaha laskar Gajah Binarong, untuk mendarat di pantai Alas Purwa menemui jalan buntu. Kemudian mereka nekat, mencoba menerobos penjagaan armada Penjalu. Namun Penjalu mengetahui hal itu. Bersama para perwiranya ia memutuskan menggunakan jajar perang Sembilang Berjajaran (berbaris membentuk jajaran seperti rombongan sembilang yang berjajaran.

Bersusun miring membuat sudut tajam. Namun gerakan mereka lamban. Karena menunggu serangan lawan) Jung-jung musuh semakin dekat. Barisan terdepan adalah kapal-kapal perusak. Menandakan mereka menggunakan jajar perang Antaboga Bangun (berbaris berkelok seperti tubuh ular naga, dengan kapal-kapal perusak di depan menyusun barisan sebagai kepala naga) Mengetahui hal itu Penjalu segera mengubah jajar perangnya menjadi jajar perang Cucut Kelaparan (pemburu-pemburu buih putih. Apalagi pemburu- pemburu Blambangan, berpencaran dengan lincahnya!- Berkelok-kelok menghindari tembakan lawan. Benar- benar seperti cucut kelaparan).

"Demi bumi Blambangan yang suci, tembak mereka!" perintah Penjalu mendahului. Perintah itu diteruskan melalui isyarat bendera.

"Menang atau tenggelam!" seru Penjalu masih terdengar oleh kapal-kapal terdekat.

Perang laut tak terhindarkan. Lupa takut. Lupa maut.

Perahu-perahu dengan berbagai ukuran bertebaran membelah laut biru membercakkan

susunan yang tidak teratur dan bisa bergerak lincah.

Serangan mengandalkan

Dengan mengambil pengalaman perang-perang sebelumnya maka Penjalu tidak menghamburkan peluru meriamnya. Demikian pun peluru cet-bangnya.

Gumpalan besi bulat yang dilontarkan melalui batang besi berlobang, dan mempunyai panjang kurang lebih satu setengah depa itu, telah mulai memakan korban.

Setiap kapal yang tiang agungnya tertimpa benda itu dan patah, tidak mungkin lagi dapat menghindar pada tembakan berikutnya. Dari akan dicabik-cabik peluru- peluru berikutnya. Dan akan tenggelam. Apakah itu milik Blambangan atau Gajah Binarong. Sudah sama-sama kehilangan. Namun mereka tak sempat menurunkan penolong.

Penjalu tak ingin lengah dengan hanya menolong perahu yang tenggelam. Dibiarkan mereka yang mampu berenang mendekat sendiri pada perahu teman- temannya. Juga Penjalu tak ingin kehilangan waktu. Ia ingin pertempuran cepat selesai.

Secercah kegembiraan tersirat dalam hatinya kala melihat beberapa pemburunya mendekati kapal bendera lawan. Bersama dengan itu gumpalan awan datang berarak-arak dari tenggara. Tanda hujan badai akan segera tiba. Kapal bendera Penjalu pun mulai menembak setiap jung lawan yang mendekat. Satu peluru lawan jatuh di buritan kapal Penjalu. Meliuk seperti orang timpang.

"Gila!" Penjalu berteriak. "Memalukan!"

Namun suaranya ditelan dentuman berikutnya. Cuma beberapa saat mereka kecewa. Penasaran. Setelah itu mereka melihat tiang agung kapal bendera musuh runtuh. Seluruh laskar laut Blambangan, yang melihat itu bersorak. Beberapa bentar kemudian kapal itu tak berdaya dan menjadi makanan empuk cetbang maupun meriam Blambangan. Karena tak ada lagi layarnya yang berkembang. Api berkobar di atasnya. Cetbang Blambangan makin ganas. —Tenggelam-.

"Berkat Durga Bathara Istri!!" seru Penjalu riang. "Jayalah Blambangan!" sorak lainnya.

Jung-jung kapal pemburu musuh masih sempat menenggelamkan beberapa kapal Blambangan yang terkepung. Namun mereka telah kehilangan pimpinan. Yang sempat di antara mereka melarikan diri. Yang compang-camping menyerah.

Penjalu tidak memerintahkan pengejaran. Ia tahu persis lawannya akan segera dihadang oleh badai. Ia memerintahkan mundur ke dermaga. Menyeret beberapa kapal musuh yang menjadi tawanan. Sendiri ia melapor pada Danureja. Puas. Walaupun Penjalu menerangkan juga bahwa kapal benderanya hampir lumpuh.

"Demi Hyang Maha Dewa, aku anugerahkan padamu dan seluruh anak buahmu, kenaikan pangkat dan gaji satu tingkat."

"Terima kasih, Sri Prabu. Bagaimana kabar Samodraksa?" tanya Penjalu. Ia tidak begitu gembira mendengar anugerah yang diberikan baginya.

"Masih bertempur. Namun kalian belum waktunya bergabung dengan mereka. Yang Mulia tetap bertugas di gugusan selatan. Jangan biarkan musuh menerobos dari sana!"

"Inilah hamba."

"Kerjakan setelah kerusakan-kerusakan pada kapal bendera diperbaiki."

"Hamba, Sri Prabu."

Danureja lega melihat kepergian Penjalu. Orang itu begitu taat. Namun sesaat kemudian ia dikejutkan oleh masuknya Menteri Muka ke dalam pesanggrahannya bersama dengan Pangeran Mas Sirna.

"Anakku? Kau menyusul?" Danureja terkejut. "Inilah daku, Ramanda."

"Apa maksudmu dengan pakaian keprajuritan?" "Untuk Blambangan."

"Dewa Bathara!" Danureja terlonjak. "Kau akan ikut bertempur? Hai Yang Mulia, bagaimana bisa begini?"

"Putranda datang bersama dengan pasukan berkuda Lumajang. Berjumlah seribu orang." "Siapa yang memimpin mereka?"

"Yang Mulia Adipati Agung sendiri," jawab Arya Bendung.

"Hadapkan dia!"

Arya Bendung melangkah surut. Pandangan Danureja beralih pada putranya. Mulai ujung kaki sampai rambutnya. Anak ini akan membawa kejayaan Blambangan, gumamnya dalam hati.

"Sirna..."

"Rama..." "Pulanglah, Anakku!"

"Tidak, Rama. Bukankah negara dalam keadaan perang?"

"Kau masih belum akil balik. Belum berhak maju perang."

"Bukankah Mas Sirna putra penguasa tertinggi Blambangan? Sehingga ia berkewajiban membela dan mempertahankan tiap hasta tanah semenanjung ini?"

Pertanyaan yang mengagumkan hati Sri Prabu. Sekali lagi Sri Prabu menyesal, kenapa itu tidak keluar dari Mas Nuwong?

"Tapi... bukankah tidak ada perkenan untuk ikut bertempur? Ini perintah Raja, Anakku."

Mas Sirna diam. Bola matanya yang bening menatap wajah ayahnya. Tiba-tiba ia melepas destarnya. Lalu,

"Aku bukan lagi putra raja!" katanya sambil melempar destar itu ke hadapan kaki ayahnya. Kemudian juga pending emas tanda kepangeranan yang melilit di pinggangnya. Setelahnya ia membalikkan badan untuk berlari ke luar pesanggrahan. Mas Purba terkejut bukan main.

"Sirna!" panggilnya. Namun itu tak menghentikan langkah Mas Sirna. Ini membuat Mas Purba melompat tangkas, mengejar anaknya. Ia tangkap kedua tangan anaknya dari belakang. Ia genggam keras-keras, walau Sirna terus meronta.

"Jangan, Sri Prabu. Sirna bukan lagi satria. Sirna adalah anak sudra. Lepaskan!" anak itu terus berteriak.

"Kau tetap anakku." Napas Mas Purba memburu. "Tenanglah, Anakku." Namun Sirna tetap meronta. Ia makin mencengkeram.

"Baiklah, bertempurlah! Belalah tanahmu." Danureja menyerah. Air matanya mulai tersembul di kelopak mata. Ia tahan agar tidak meleleh.

"Benarkah itu?" Sirna meyakinkan. "Mengapa kau tidak percaya?"

Kini Sirna tersenyum. Diambilnya kembali destar dan pending yang tergeletak di lantai. Beberapa saat kemudian, Arya Bendung dan Gusti Adipati Agung memasuki ruangan pesanggrahan itu.

Adipati Agung memperhatikan keadaan ruangan yang dibangun sekenanya saja. Empat depa kali tiga depa, berdinding daun kelapa yang dianyam, beratap ilalang. Pesanggrahan dalam keadaan perang. Lantai juga tanah liat biasa.

"Duduklah, Yang Mulia Adinda." "Inilah hamba, Kanda."

"Laskar Adinda telah tiba tadi pagi. Dan telah bergabung dengan laskar kami." "Demi Blambangan, Demi Hyang Maha Dewa giwa."

"Duduklah, Anakku Sirna. Jangan terlalu lama berdiri." Danureja menoleh pada anaknya. Yang diperintahkan menurut. Duduk di sebelah kanan ayahnya. Bersila di atas tikar pandan tua. Semua memandang heran.

"Sudah ada berita dari Yang Mulia Siung Laut?" "Pertempuran berjalan terus” Arya Bendung

menguraikan. "Dari pagi sampai senja ini. Laskar gabungan memang tak ada habisnya. Tiga pemburu mereka tenggelam segera diganti tiga puluh lainnya."

"Dewa Bathara! Mereka telah benar-benar bertekad menghancurkan aku." Danureja mengernyitkan dahinya.

"Masihkah sempat kita bertimbang, Kanda?" Adipati Agung bertanya sambil tersenyum.

"Untuk apa?"

"Mempelajari siasat yang keliru dari Kakanda." "Adinda berniat menyalahkan aku? Atau barangkali

orang-orangku? Mungkin juga Adinda bermaksud aku ini di bawah pengaruh orang-orang kepercayaanku? Tidak! Tidak, Adinda! Jangan seperti orang-orang yang telah kehilangan kesetiaan."

"Para satria, dan laksamana yang Kanda penjarakan itu yang menyebabkan semua ini terjadi."

"Yang Mulia Arya Bendung, bersembahlah!"

"Tiada waktu untuk bertimbang soal ini, Yang Mulia Adipati," Arya Bendung berkata. "Musuh sudah di depan pintu. Sekarang tiada pilihan lain. Mati atau menang."

"Benar! Tapi bukan indah sekali bila sebelum mati kita berkesempatan mengenangkan kembali sedikit masa lalu itu? Kalau kita tetap hidup dan menang maka kesalahan tidak akan terulang lagi."

"Kesalahan?" Sri Prabu dan Arya bareng bertanya. "Ya. Kesalahan. Mengambil alih kekuasaan dengan

jalan kekerasan."

"Karena Pangeran Prabu Macanapura menghamburkan terlalu banyak cadangan negara. Apalagi dengan menyokong perang melawan VOC."

"Menghindari pengeluaran biaya melawan VOC untuk biaya perang yang lebih besar? Bahkan menindas puak sendiri?"

"Pembangkangan akan tetap ada "

"Tapi cuma pembangkangan orang-orang tertentu. Tidak bergabung dengan laskar yang sedang dikejar- kejar oleh Yang Mulia Menteri Muka." Adipati menuduh kini, walau masih tetap tersenyum.

"Sudahlah, Adinda " Danureja menengahi lagi.

"Semua telah terjadi. Musuh sedang di hadapan kita. Siapa saja yang berusaha mengusik kewibawaan Raja, ia adalah musuh."

"Memang benar, Kanda. Tapi hamba ingin mengingatkan, inilah karya Kanda selama ini."

Arya Bendung tertusuk mendengar itu. Namun Baginda tak mempersoalkannya.

"Arya Bendung, bagaimana dengan bantuan dari Jember dan Prabalingga? Atau Bondowoso?"

"Caraka belum kembali."

"Kemarin malam pasukan yang tidak kami kenal bergerak memasuki Jember, Bondowoso, bahkan Situbondo. Sandi kami melihat sebagian besar laskar Panarukan dan Wijenan bertempur untuk pemberontak Gajah Binarong," Gusti Adipati Agung yang menyahut.

"Hyang Bathara!" Sri Prabu terkejut. "Mungkin hari ini bergerak ke Lumajang atau kemari. Kaubiarkan kadipaten itu, Adinda?"

"Raditya telah menunggu mereka di Lumajang." "Percayakah kau akan laskarmu yang tinggal?" "Serangan besar-besaran akan lebih banyak

tertumpah ke Lateng. Jika ada serangan ke Lumajang pastilah hanya muslihat untuk mengosongkan Blambangan."

"Jagat Dewa!" Sekali lagi Sri Prabu menyebut. Arya Bendung tak kurang terkejutnya. Dan baru saja tertutup mulut Danureja, seorang prajurit memasuki ruangan pesanggrahan itu. Pengawal tidak berani mencegah demi melihat lencana burung Sriti tergantung di kalungnya. Apalagi ia telah berkuda dalam jarak yang amat jauh.

"Utusan rahasia?" desis Sri Prabu.

"Inilah hamba." Orang itu melirik kiri-kanan. "Bersembahlah."

"Laskar Panarukan dan Wijenan telah meninggalkan Bondowoso dan bergerak kemari. Persenjataan mereka diperlengkapi dengan meriam. Karena itu mereka bergerak agak lamban. Tapi barisan terdepan mereka telah diperintahkan bergerak dengan cepat, agar pada kokok ayam yang pertama mereka telah sampai di Lateng."

"Apa lagi?" "Laskar Situbondo dan Bondowoso diharuskan berjalan di depan. Mereka akan menyusur pantai. Hanya ini yang dapat kami laporkan."

"Baik. Pergilah ke pondokmu. Istirahatlah yang cukup." "Terima kasih, Sri Prabu."

Orang itu segera lenyap dari pandangan mereka. Sri Prabu segera membuka kembali persidangan. Sedang Mas Sirna tetap menjadi pendengar.

"Bagaimana, Menteri Muka?"

"Kita memang terkepung," kata Arya Bendung dengan muka merah membara. "Namun mereka akan tumbang. Satu satuan pemburu kita akan menghabiskan mereka dari laut."

"Dengan cetbang? Juga meriam laut? Hyang Bathara!" Adipati Agung heran.

"Ya," tegas Arya Bendung.

"Tak ada lagi yudha gama (aturan peperangan) yang dipatuhi?" Adipati mengeluh.

"Bukan Blambangan yang memulai. Tapi mereka memaksa."

"Mereka akan musnah semua," Adipati keberatan. "Blambangan bukan cuma terkepung oleh musuh dari

luar. Lebih banyak pembelotan yang dilakukan perwira- perwira muda. Baik darat maupun laut. Inilah yang berkembang menjadi pemberontakan. Akibatnya api akan berkembang ke seluruh Blambangan." Sri Prabu dalam kebingungan.

"Kita akan padamkan satu-satu. Kita padamkan semua," Arya Bendung membesarkan hati Sri Prabu. "Adinda, tahan mereka! Bawa laskar secukupnya!" "Aku serta!" tiba-tiba suara Mas Sirna menyela. "Sirna?" Sri Prabu terkejut. Demikian pun yang lain.

"Bila hamba satria, maka hamba berangkat ke medan laga. Bila hamba sudra, hamba toh juga akan mati di tengah peperangan," Sirna menyatakan sebelum ayahnya melarang.

"Bawalah dia, Adinda. Cuma pesanku, bila tak seorang pun di antara kami yang tersisa dalam pertempuran nanti, ia adalah bakal patih amangkubumi Blambangan."

Sri Prabu menatap Mas Sirna. Sesaat kemudian diraihnya anak itu. Dan diciumnya. Setelah puas, baru dilepas. Seluruhnya merasakan betapa berat hati Baginda. Adipati Agung tak dapat lagi membendung air matanya. Dan baginya Sirna merupakan beban berat. Pesan Sri Prabu merupakan sasmita sandi (kode rahasia) untuk menyelamatkannya. Dan saat mereka meninggalkan ruangan itu, Sri Prabu mengiringinya dengan helaan napas.

"Rasanya aku tak kan bersua dia lagi, Arya "

"Jangan gelisah, Sri Prabu," Arya menghibur. "Seharusnya dia lebih sesuai menjadi Pangeran Pati

daripada kakaknya."

"Jangan menyalahi Yajur Weda, Baginda," Arya memperingatkan.

"Sayang "

"Ampunkan hamba, Sri Prabu. Masih banyak yang harus dikerjakan." "Pergilah!"

Usaha Arya Bendung selanjutnya ialah menemui Tumenggung Singamaya. Baginya tidaklah sulit. Karena orang itu selalu berada di pantai Sumberwangi. Sambil memilin-milin kumisnya, Singamaya berdiri tidak sabar. Ombak dan gelombang yang berkejaran dan akhirnya menghantam karang di pantai tidak ia perhatikan.

Kendati udara basah membawa air laut sering menerpa mukanya.

Matanya menembus jauh. Ingin melihat langsung pertempuran di tengah laut. Sebentar kemudian matanya mengawasi gerumbul hijau di seberang selat. Siapa tahu di balik kehijauan itu telah berbaris pasukan Gajah Binarong yang siap menyeberang? Keringat jadi melembabi telapak tangan dan kakinya. Ingin ia segera meremas-remas Gajah Binarong yang membikin onar.

"Apa titah Baginda?" segera ia bertanya waktu Arya datang.

"Belum ada. Hanya pada Yang Mulia Adipati Agung diperintahkan bergerak ke utara. Untuk menghadang perembesan."

"Gila! Apa mereka sudah melintasi Situbondo?" "Bondowoso pun sudah."

"Drubiksa dari langit mana mereka itu? Begitu mudah Bondowoso gulung tikar? Kenapa bukan kami yang dititahkan ke sana? Menghadapi mereka?"

"Jangan terburu-buru, Yang Mulia. Yang dari Bali ini lebih berbahaya."

Sementara itu Gajah Binarong yang sudah berada di dermaga Gilimanuk amat terkejut kala mendengar laporan bahwa semua armadanya yang bergerak di gugusan selatan musnah. Bukan hanya oleh Penjalu. Tapi juga oleh hujan badai.

Karena itu ia memutuskan, agar secepatnya dapat mendarat di pantai Ketapang atau Teluk Meneng, sebelum Mengwi sempat campur tangan. Jika terlambat maka tak ayal lagi Mengwi akan memukul dia dari belakang. Dan hal itu akan menggagalkan rencananya secara total. Maka dengan penuh keprihatinan ia bersama Agung Keta, pembantunya terdekat, mengikuti jalannya pertempuran.

"Rupanya, Blambangan sedang kerahkan armadanya secara besar-besaran."

"Memang, Yang Mulia. Tapi jangan khawatir. Sebab, kita pun telah memusatkan serangan atas kota Lateng. Dan kita juga telah memperoleh kemenangan- kemenangan besar di gugusan utara."

Gajah Binarong tersenyum. Namun tidak puas. Ia menilai gerakan laskarnya terlalu lamban. Maka ia mulai menghitung-hitung, bagaimana jika Mengwi telah turun tangan. Dengan cepat ia memberitahukan pada Agung Keta.

"Kita telah melangkah terlalu lamban. Kita tidak memperhitungkan bahwa Mas Purba mampu menahan kita dalam waktu demikian lama. Maka kita harus siap mundur ke Lombok bila ternyata Cokorda Dewa Agung Mengwi campur tangan. Di sana kita akan menyusun kekuatan baru. Kalau perlu tidak hanya memukul Blambangan. Kita akan bergabung dengan laskar lain untuk merobohkan Cokorda Agung."

"Jangan mimpi, Yang Mulia."

"Tidak! Tapi kita akan bergabung dengan Lombok." "Hamba hanya mengikut rencana Yang Mulia."

Kini perhatian mereka tertuju ke laut. Mentari telah mengulangi pekerjaannya yang kemarin. Menyusup ke perut bumi. Dan kedua orang itu makin gelisah. Apalagi sinar api yang muncrat ke atas di tengah laut itu makin nampak jelas. Dari kejauhan pertempuran itu tak ubahnya perlombaan kembang api yang indah. Namun kapal kapal yang mengirim bahan makanan tidak dapat kembali ke darat lagi.

Siung Laut tahu persis, orang-orangnya telah menjadi lemah. Tak seorang pun dari mereka sempat berpikir lain. Mereka hanya tahu, bila tak menyulutkan api di lubang kecil yang terletak di pangkal meriam itu, mereka akan lebih dulu tenggelam. Jadi mereka harus menembak dan terus menembak.

Sebaliknya laskar Gajah Binarong juga mengalami hal sulit. Tak seorang pun sempat menyesali nasibnya. Tak juga ada yang sempat memperhatikan apakah air laut masih biru atau telah berubah menjadi merah karena darah korban meriam. Atau mungkin juga ikan-ikan hiu lagi panen di bawah permukaan laut itu. Tidak. Bahkan mereka tidak lagi mendengar adanya perintah giliran penggantian istirahat di darat. Sebab pemimpin mereka sudah terlalu sering mengubah gelar perangnya. Dan itu berarti mereka harus bergerak cepat.

Siung Laut sendiri menjadi amat letih melihat itu. Kesal dan marah menjadi satu. Ia juga harus sering mengubah gelar perangnya. Nasi yang disediakan untuknya hanya ia nikmati sesuap. Malam telah menjadi kelam. .Hampir- hampir tak dapat melihat mana kawan mana lawan.

Dentuman masih belum berkurang. "Kita harus istirahat!" salah seorang perwira mengusulkan. Siung Laut mengerutkan kening. "Kita sudah tak dapat melihat lagi," perwira itu menyambung.

Kembali Siung Laut mengerutkan giginya. Geram.

Memang benar. Isyarat sudah tidak terlihat lagi. Maka ia perintahkan memasang cula-cula. Perintah itu diteruskan melalui sangkakala (terompet terbuat dari kulit kerang laut besar).

"Lihat mereka mendesak terus," teriak Siung Laut dalam kejengkelan. Dan seluruh kapal Blambangan sudah memasang cula-cula di bagian depan kapal masing-masing. Itu berarti siap untuk mati, atau melompat ke air kemudian berenang. Entah mati atau menyerahkan diri pada mulut hiu raksasa.

Justru saat itu sebuah tembakan cetbang menyasar ke kapal Siung Laut. Api membakar sebuah layarnya.

"Padamkan! Cepat ganti dengan layar persediaan!" perintah Siung Laut mengalir terus dengan suara amat keras. Dijawab dengan kerja keras oleh awak yang bertugas khusus untuk itu. Cepat. Yang bukan bertugas tetap menghadapi apa yang menjadi tugasnya. Mereka tidak boleh lengah. Mereka tidak ingat lagi berapa kapal musuh yang telah mereka tenggelamkan. Atau berapa peluru cetbang bahkan meriam yang telah mereka muntahkan.

Sekali lagi kapal iju terguncang keras. Anjungannya tertembak sebuah meriam.

"Atas nama Hyang Durga, balas tembakan ini!" lagi perintah Siung Laut menggema. Ia semakin nekat.

Berusaha meneroboskan kapal benderanya ke tengah-tengah jajaran kapal lawan. Satu pemburu Buleleng hancur tertabrak culanya. Memang tidak sebanding walaupun mampu membuat tiap orang dalam kapal bendera itu terhuyung-huyung. Tak urung Siung Laut terbahak. Juga yang lain menyempatkan diri beriang-riang. Sesaat. Harapan Siung Laut terpenuhi.

Kini ia melihat di depannya kapal bendera lawan. Dan jarak mereka telah terlampau dekat. Dan kapal itu segera menyemburkan cetbang. Dan dibalas. Namun kini senyum Siung Laut punah ketika satu tembakan lawan mampu merobohkan lagi sebuah tiangnya. Kini Siung Laut mengamati dengan seksama. Ternyata ia dalam kepungan kapal perusak lawan. Sedang pemburu- pemburu Blambangan dengan jajar perang Cucut Kelaparan berusaha keras mematahkan kepungan terhadap samodraksanya itu. Namun Siung Laut tidak sabar menunggu bantuan itu. Dan juga. tidak melihat pilihan lain. Maka,

"Jangan memalukan!!" teriaknya di antara dentuman meriam. "Tabrak!!!"

Beberapa layar tak bekerja. Namun kapal itu masih melaju. Terseot-seot. Pertimbangan mereka sudah habis. Siung Laut tak mau menerima malu. Maka ia memilih: mati.

Suara menggelegar membelah lautan. Bersama muncratnya air setinggi bukit. Dua kapal besar itu tenggelam tanpa ampun lagi.

Serentak walau tanpa janji, para nakhoda kapal pemburu-perusak Blambangan mengundurkan diri. Mereka masih melihat betapa hebat benturan dua kapal besar itu. Karena itu mereka terus mundur, walau sambil menembak terus. Sedang yang lebih dulu menjangkau pantai segera melapor. "Drubiksa!!" Singamaya menggeram.

"Kita sambut di sini!" Arya Bendung berseru.

Dentuman meriam makin jelas terdengar oleh Danureja di pesanggrahannya. Sesaat kemudian ia menjadi gelisah. Apalagi waktu seorang perwira laut menghadap dan mengabarkan tentang gugurnya Siung Laut. Degup jantung Sri Prabu mengencang. Namun ia belum pasti. Ia percaya orang perkasa seperti Siung Laut tak pernah kalah dalam peperangan. Karena itu ia segera melompat ke atas kudanya. Ke pantai.

"Menteri Muka!" teriaknya ketika melihat Arya Bendung. "Benarkah Siung Laut gugur?"

"Hamba, Sri Prabu."

"Mana mungkin pemberontak sekuat itu?" Kini kepala Sri Prabu berdenyut-denyut. Matanya memandang laut. Kerjapan sinar api yang keluar dari moncong cetbang nampak jelas. Bahkan terkadang mampu menerangi kegelapan malam. Tidak sedikit yang nyasar ke pantai Blambangan. Api mulai merambat ke rumput-rumput kering di pantai itu. Dan menjalar. Menjalar terus sampai ke pedalaman.

Lagi, ia berjumpa seorang nakhoda kapal pemburu yang kepalanya berdarah menghadap

Arya Bendung dan Baginda, maka Baginda tak kuat lagi menahan marahnya.

"Benarkah Siung Laut gugur?"

"Benar, Yang Maha Mulia. Bersama dengan kapal bendera."

"Dewa Bathara! Kita sambut mereka di darat!" Kaki, tubuh, hati, semuanya yang ada pada Danureja bergetar. Singamaya juga menggeram. Namun ia sadar, semua itu bukan hanya mimpi.

Danureja terus mengumpat waktu memeriksa pasukan penjaga pantai. Mereka juga sudah sehari semalam menembak terus tanpa henti. Laras cetbang mereka sudah banyak yang melengkung. Dan Singamaya yang mengawalnya sejak di Sumberwangi melihat betapa kecewa Sri Prabu. Bukan cuma itu. Marah. Kepala semakin pusing, semakin berat. Pandangannya berkunang.

Meriam lawan tak mau berhenti menyalak. Putus asa. Marah lagi. Dan tanpa maunya ia terjatuh dari punggung kudanya. Singamaya terkejut. Memburu. "Baginda..."

Namun Sri Prabu tak bergerak. Tak menjawab.

Singamaya bekerja cepat. Tubuh Sri Prabu digendongnya. Mundur ke Lateng.

Laskar Lumajang masih bergerak ke utara. Kendati Adipati Agung telah menerima laporan bahwa Sri Prabu mangkat. Ia merasa perlu menyembunyikan hal itu pada Sirna. Yang memang belum tahu sama sekali akan hal ini. Satu-satunya orang yang diberi tahu oleh Adipati Agung adalah Andita. Orang ini adalah perwira andalan Lumajang. Masih muda. Namun cakap memimpin anak buahnya. Hidungnya mancung, kulitnya kuning langsat, dadanya bidang. Ototnya kekar, menunjukkan ia orang yang rajin menempa diri.

Dalam perjalanan mereka tak bersua musuh. Sebab mereka telah dirontokkan oleh laskar Blambangan dengan tembakan meriam dan cetbang dari laut.

"Andita!" panggil Adipati. "Hamba, Yang Mulia." Andita mendekatkan kudanya dan merapat pada kuda Adipati Agung.

"Kita hanya menemukan bangkai. Tapi aku khawatir mereka berbelok ke Lumajang," ujar Adipati sambil memperhatikan mayat-mayat yang sebagian besar sudah hangus bersama rumput-rumput, ilalang, dan pepohonan lain di hutan dekat pantai itu. Bangkai kuda, kerbau, kereta bahkan mungkin monyet jadi satu di hutan itu. Bau daging hangus masih merangsang.

"Hamba juga*"

"Dapatkah aku mempercayakan Pangeran Mas Sirna ke atas pundakmu?"

"Nyawa hamba akan hamba persembahkan." "Baiklah kalau begitu kita akan membagi tugas.

Karena itu pula kita akan membagi dua pasukan ini. Sebagian ikut aku kembali ke Lumajang. Sebagian lagi ikut kamu menyusuri pantai ini terus ke utara dan berbeloklah ke barat. Jangan pulang ke Lumajang atau Blambangan sebelum ada panggilan."

"Hamba, Gusti."

"Hyang Maha Dewa akan memberikan imbalan atas pengabdianmu ini."

"Jadi sebenarnya hamba bertugas mengawal Pangeran?"

"Ya. Hanya kau yang dapat melindungi dia." "Ampun, Yang Mulia. Hamba debu semata. Semua

terletak di tangan Hyang Maha Ciwa."

"Tapi aku lihat kau orangnya, Andita. Mengerti kau maksudku?" Adipati Agung memandang dalam-dalam pada Andita. Orang itu menjawab dengan berhamba- hamba saja.

"Harus kau ingat. Jangan sampai Sirna mendengar bahwa Sri Prabu tewas. Ingat-ingat ini, Andita. Kita sekarang harus memisahkan diri. Sanggup?"

Sekali lagi Andita berhamba.

Kemudian Adipati Agung mendekati Sirna.

Sebenarnya ia tak sampai hati melepas anak itu. Setelah kudanya berjajar dengan kuda Sirna maka ia menyapa. Anak itu masih memperhatikan mayat-mayat yang dilangkahi oleh kudanya.

"Sirna..."

"Ya." Anak itu menoleh.

"Kita sudah terlalu jauh dari Lateng. Sedang yang kita cari lebih banyak yang menjadi bangkai. Nah..."

"Kita harus kembali?"

"Oh... tentu tidak! Kau adalah seorang pangeran. Jadi kau harus mulai belajar memimpin laskarmu sendiri."

"Tak ada prajurit, perwira, dan bintara yang tunduk pada seorang yang belum dewasa."

"Kau putra raja? Ksatria?" "Ya."

"Karena itu belajarlah, Nak. Andita akan menyertaimu."

"Haii... jadi maksud Paman?" Sirna menajamkan matanya, untuk lebih memperhatikan wajah pamannya.

Keduanya masih di atas punggung kuda. Bangkai- bangkai tiada lagi. Udara segar menerobos pepohonan untuk membelai tubuh mereka. Kuda mereka berlari tidak terlalu cepat. Adipati Agung menjadi ragu. Namun untuk kesekian kalinya ia harus melindas perasaannya sendiri. "Paman akan-berbelok ke barat. Sedang kau dan Andita ke utara. Andita akan menunjukkan padamu di mana kau juga akan berbelok ke barat. Dan kita akan bertemu di suatu tempat. Kita akan berbagi pasukan."

"Perlunya?"

"Barangkali kita menemukan sisa-sisa musuh, maka kita akan menghancurkannya. Dan di tempat yang akan ditunjukkan Andita itu, kita akan mengepung musuh yang mungkin tersembunyi. Setuju?"

"Baik."

"Andita, bersedialah!" Adipati Agung berteriak sambil menoleh ke belakang. Di tengah hutan sunyi itu, iring- iringan pasukan berkuda berhenti. Mereka tidak diperintahkan turun dari kuda mereka. Namun Andita memisahkan seratus di antara mereka yang semuanya masih bujang. Mereka juga berbagi persediaan makanan kering. Tanpa ada yang mengerti apa maksud pimpinan mereka. Mereka hanya dilatih mengiakan perintah pimpinan. Bahkan Sirna sendiri tidak mengerti apa yang akan dikerjakannya. Setelah semua persiapan selesai,

"Andita, selamat jalan!" Adipati berteriak. "Hyang Durga akan menyertai kalian."

"Dirgahayu, Paman," Sirna menyatakan perpisahannya. Dibalas oleh lambaian tangan Adipati Agung.

Kuda Andita dan Sirna bergerak pelan-pelan. Diikuti oleh seratus kuda lainnya, meninggalkan Adipati Agung dan teman-teman mereka. Tangan Adipati belum juga berhenti melambai, kala debu mulai membungkus rombongan Mas Sirna. Hatinya berdebar. Ia sendiri tak tahu apa yang harus ia kerjakan untuk Sirna. Sedang Sri Prabu sudah mangkat. Ia mulai gelisah.

Ia tahu persis pemberontakan timbul karena kesalahan Sri Prabu sendiri. Kini kawula yang harus menanggungkan akibat kesalahan itu. Sekali lagi ia melihat. Keonaran tidak timbul dari kawula. Namun istana sendiri yang meniupkan api pemberontakan itu.

Kini kepulan debu sudah tiada lagi. Hilang ditelan gerumbul pepohonan dan semak belukar.

Adipati telah habis menimbang-nimbang. Ia rasa tak perlu lagi menyesali nasib Sri Prabu, nasib Blambangan. Tentang Sirna itu urusan Hyang Maha £iwa.

"Kita kembali ke Lumajang!" teriaknya kemudian pada laskarnya. "Karena kita tak mau Lumajang diusik tangan Gajah Binarong!"

Segera mereka memacu kuda mereka. Bersyukur mereka dalam hati masing-masing. Semua berlari kencang di belakang Adipati Agung. Debu tidak lagi dapat ditahan oleh batang-batang perdu. Dahan dan pohon di sekitar jalan itu harus menampung mereka. Juga orang-orang terbelakang. Namun tiada waktu untuk mengibaskannya. Berpacu terus. Dalam hati telah timbul tekad, mempertahankan setiap jengkal tanah kelahiran mereka. Lumajang.