Tanah Semenanjung Bab 1 : Kembali Dari Laga

 
Bab 1 : Kembali Dari Laga

Neraka itu sudah tertinggal jauh.—Surabaya. Dan kini mereka menuju ke bumi kelahiran, setelah empat tahun ikut perang di Surabaya; Perang selamanya merupakan aniaya. Namun diperlukan untuk mempertahankan kehormatan, membendung kerakusan manusia lainnya, dan banyak alasan lain.

Umbul Songo, pemimpin laskar darat Blambangan itu, berulang menoleh ke belakang untuk mengetahui keadaan anak buahnya. Ah... jumlah mereka tinggal separuh. Yang lain sudah punah dimakan meriam kompeni Belanda.

Tiba-tiba lamunan menyeretnya kembali pada Tumenggung Surabaya, Adipati Ngabehi Sawunggaling.

— Muda. Perkasa!—Berapa kira-kira usia adipati itu? Belum lebih dari dua puluh lima tahun. Semuda itu mampu menciptakah neraka bagi VOC maupun Mataram. Sahkan juga bagi sekutu Mataram lainnya.

Kini adipati itu telah gugur^ersama cita-citanya yang luhur. Pemuda yang mampu membuat hampir semua perwira kompeni putus asa.

Bahkan mampu mewariskan semangat tinggi bagi segenap kawulanya. Dan kini ia tetap tinggal hidup dalam hati Umbul Songo.

Dengan melamun kelelahan agak terlupakan. Hanya kadang-kadang saja Umbul Songo memperhatikan jalan di depannya. Lebih sering memperhatikan panorama cantik di kiri-kanan jalan, ada akar yang tergantung di ranting-ranting pohon, ada sarang lebah... Ah, Pencipta Alam sungguh mahabesar. Keindahan yang tak mungkin diciptakan manusia tanpa anugerah Hyang Maha Dewa. Peperangan tinggal merupakan kenangan pahit. Tapi juga pelajaran mahal. Peperangan telah membuat mereka seperti baja. Juga menjadi lebih trampil menggunakan senjata-senjata yang sebelumnya tidak pernah mereka jamah.

Lamunannya tiba-tiba terhenti oleh mendekatnya kuda Teposono.

"Ada apa?" tanya Umbul Songo pada wakilnya itu. "Kita perlu istirahat," Teposono menjawab lunglai.

Wajahnya sayu, garis ketuaan membayang samar. Teposono menyadari ia mulai tua. Sedang Umbul Songo masih kelihatan kuat. Perang malah menyegarkan jiwanya.

"Pasukan sudah lelah?"

"Kuda pun sudah lelah," Teposono menegaskan. Umbul Songo mendengus. Kembali menoleh. Dan...

mendadak ia memerintahkan pasukannya berhenti. Perintah itu disambung oleh tiap pimpinan pasukan.

Para prajurit segera mencari tempat untuk bersantai. Ada yang mencari air. Ada yang langsung melempar diri ke tempat teduh dengan tanpa peduli debu masih mengotori tubuhnya.

Di bagian lain Baswi, seorang perwira muda dari pasukan penempur, mendekati salah seorang anak buahnya. Sambil berjalan Baswi melihat anak buahnya berbincang dalam istirahat be-riung-riung. Berbagai masalah berkecamuk di dada mereka.

Tidak kurang-kurang yang takut kehilangan kesetiaan istri mereka, karena tidak bersambung berita. Ada... yang... ah... macam-macam. Bagi Baswi, Tumpak, seorang anak buahnya yang sedang ia dekati, mengesankan. Betapa tidak! Anak itu pernah menangis menghadapi hujan kanon Belanda di dekat Bangil. Dan mereka semua merasa itu adalah pengalaman pahit yang pertama.

"Tumpak..." sapa Baswi lirih.

"Ya... Tuan," Tumpak menoleh. "Ada perintah baru?" "Ha... halia... ha!" Meledak suara tawa Baswi. "Kenapa Tuan tertawa?"

"Lucu sekali, kau sekarang menjadi orang gagah berani."

"Ya, dulu hamba masih belum terlatih. Hamba hanya ingin mewakili Ayah yang sudah tua." Tumpak tersipu- sipu.

"Kekasihmu tentu bangga menjemputmu." Wajah Tumpak memerah mendengar itu. "Ah... Tuan, ada-ada saja."

"Cinta adalah bagian dari hidup. Kenapa malu, Tumpak?"

"Tapi... belum pernah sempat bercinta "

Baswi mengangguk-angguk. Ia memaklumi Tumpak memang terlalu muda waktu masuk laskar dulu. Bahkan ia hampir menolak Tumpak ditempatkan di pasukannya. Karena bisa menjadi beban belaka.

Namun kala ia merencanakan merebut sebuah meriam Belanda di seberang Sungai Porong, Tumpak memaksa ikut. Dan anak muda itu membuktikan diri tak pernah menangis lagi. Tumpak pernah mendapat pelajaran dari Daeng Sampala, pemimpin laskar Makasar yang bergabung dengan Surabaya. "Kenapa belum sempat?" Baswi mencari bahan.

Tumpak tergagap. Tak tahu bagaimana menjawab.

Baswi tersenyum.

"Orang muda seperti kita selalu mencari kesempatan untuk bercinta. Dan bila sudah mendapatkannya, orang tak akan pernah lupa lagi. Namun sayang, tidak sedikit karena sudah mendapat cinta orang menjadi pengecut."

"Orang begitu selalu menghindari maut, bahkan tidak jarang yang melalaikan tugas," sahut Tumpak ketus. "Contoh sudah banyak sekali, Tuan. Biasanya orang celaka karena cinta."

"Kau benar," sambung Baswi. "Mereka yang lalai itu salah. Gila dan buta...," kata Baswi sambil mengambil tempat di rerumputan. Sebentar kemudian ia melanjutkan.

"Namun cinta itu tak terbatas pada kekasih, istri. Aku berangkat ke Surabaya ini karena cinta negeri. Kau cinta bapamu. Kau tak rela bapamu menjadi umpan pelor Belanda. Bukankah begitu, Tumpak?"

"Ya... ya... Tuan."

"Sekali lagi cinta adalah sebagian dari hidup. Maka orang tak akan pernah lepas daripadanya. Para dewa di langit pun terpaut oleh urusan cinta ini."

Kini Tumpak mengangguk-angguk.

"Teman-temanmu ada yang nekat menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini untuk bercinta. Tanpa mengingat gadis atau janda. Islam atau agama Ciwa.

Dan batasan itu menjadi kabur."

Tumpak tersenyum. Sudut hatinya terdalam tersentuh. "Sekarang aku melihat seleret kekecewaan dalam hati mereka. Tapi aku tak dapat menolong. Dengan jalan apa pun. Kecuali mereka bersedia tinggal di Surabaya." Baswi berhenti lagi sambil mengawasi pemuda kesayangannya itu. Dan dengan tergagap Tumpak buru- buru menjawab :

"Ah... Tuan, semua memaklumi. Sebagai laskar harus patuh pada atasannya. Kehadiran kita di Ibukota nanti akan membawa kesegaran baru. Karena tak lagi terganggu oleh perang."

Karena tak lagi terganggu oleh perang? Baswi mengulang dalam hati. Ah, ternyata hampir setiap orang takut mati. Atau dia belum dengar tentang Blambangan sekarang? Ibukota sudah dipindahkan dari Wijenan ke Lateng. Dan Gusti Macana-pura telah diganti oleh Gusti Purba. Yah... Tum-pak tak mengerti di Blambangan ada peralihan kekuasaan  

Memang peralihan kekuasaan di Blambangan tak sampai ke telinga para prajurit yang sedang bertempur. Juga pemindahan ibukota. Namun keheranan merayapi relung hati mereka kala di Pa-narukan iring-iringan tidak berbelok ke Wijenan.

Jalan yang mereka lalui dibangun sejak zaman Majapahit. Dan pernah dilalui oleh Hayam Wu-ruk waktu anjangkarya. Namun baik Baswi maupun anak buahnya tidak pernah mengetahui sejarah jalan itu. Juga tidak mengetahui bahwa keadaannya masih tetap seperti semula.

Yang paling celaka lagi adalah ketidaktahuan mereka tentang korban dalam pembuatan jalan itu. Tawanan perang dari negeri-negeri yang memberontak terhadap tirani Majapahit telah dikerahkan dalam pembangunan jalan itu. Kekalahan harus mereka bayar dengan mahal sekali. Menjadi budak, menebang hutan di bawah pengawasan ujung senjata laskar Majapahit. Di antara mereka ada juga laskar Blambangan sendiri. Hampir semua budak-budak itu mati kelaparan seperti anjing kurap di tengah hutan.

Lamunan Baswi pudar kala tiba-tiba Tumpak memberi tahu bahwa ia dipanggil Umbul Songo. Ia bangkit dan bergegas ke tempat Umbul Songo dikelilingi oleh para perwira lainnya. Umbul Songo duduk di bawah pohon besar dan rindang, beralaskan akar pohon itu sendiri, sedang berhadapan dengan wakilnya, Teposono.

Sardola, perwira pasukan meriam dan cetbang, duduk di tanah dengan tanpa alas di sebelah kiri Umbul Songo. Di sebelah kiri Sardola duduk Carang Mas, perwira pasukan berkuda. Inilah perwira darat Blambangan yang tersisa.

Dalam perang Surabaya ini Belanda dibantu oleh wabah sakit perut yang telah menewaskan puluhan ribu pasukan sekutu Surabaya. Mereka memang tak tahu bagaimana mengatasinya. Sungguh mereka tak berdaya menghadapi wabah itu.

Sambil duduk, Baswi memperhatikan wajah Panglima yang masih pamannya itu. Dan Umbul Songo masih menatap anak buahnya satu per satu seraya mengelus kumis dengan tangan kirinya.

"Kita sudah masuk Blambangan. Dan kita akan terus ke Lateng," Umbul Songo memberi keterangan.

Yang mendengar diam. Walau cuma kabar angin, para perwira mendengar juga tentang perpindahan Ibukota.

Apalagi kala di Panarukan tadi tak ada penyambutan bagi mereka. Kawula nampak takut. Takut pada laskar Blambangan sendiri. "Sekalipun jumlah kita sangat berkurang dibanding waktu berangkat dulu, kita akan tunjukkan bahwa kita tidak pernah memalukan Blambangan.

Kita pulang dengan membawa sedikitnya dua puluh tiga pucuk meriam rampasan dari kompeni. Belum kanon darat dan bedil. Kita tidak usah ber-kecil hati," Umbul Songo menambahkan keterangannya.

"Sekalipun begitu, sebaiknya kita tidak kehilangan kewaspadaan. Sebab bahaya akan tetap mengancam," Baswi mengusulkan.

"Tidak ada perang di Blambangan," Teposono yang menjawab. "Kawula sudah bosan dengan peperangan. Blambangan sekarang damai sejahtera." .

"Ingat, Paman, Pasuruan jatuh disusul Surabaya.

Apakah Blambangan tidak tunggu waktu? Apalagi kalau kita lengah. Belanda kian rakus." Baswi tidak mengacuhkan Teposono.

Umbul Songo mengerutkan kening. Ia mengerti ke mana arah larinya ucapan Baswi itu. Dan hatinya memang berdesir. Tiba-tiba Teposono menyeringai,

"Tidakkah kita boleh percaya pada Sri Prabu?

Sekalipun sekarang ini yang marak Gusti Mas Purba? Bukankah kita wajib tunduk pada raja sebagai wakil Hyang Maha Qiwa?"

Umbul Songo mengerti, kali ini pembicaraan itu akan berkembang menjadi perdebatan. Maka ia perintahkan mereka bubar dan menyiapkan diri untuk berangkat.