-->

Seruling Sakti Jilid 23

Jilid 23

Jaka tak ingin membuat ini makin rumit, dia berhenti dan membalikkan tubuhnya. Wajah pemuda ini tentu saja dalam riasan samaran yang cukup membuat orang pangling, Jaka Bayu kali ini adalah seorang paruh baya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya orang itu, mereka datang berdua. Nampaknya mereka adalah petugas dari kerajaan yang kebetulan lewat.

Jaka malas berurusan dengan mereka, dia pun enggan bercakap-cakap, karena boleh jadi sewaktu-waktu mulutnya akan memutahkan sesuatu. Sambil mengangkat bahunya, Jaka menggelengkan kepala.

“Kau bisu?” Tanya seorang yang lain lebih lunak. Jaka menggeleng.

“Kalau begitu, jawab!”

Pemuda ini tetap bungkam, sambil mengokohkan kuda- kuda bahkan tangannya melambai.

“Kurang ajar! Dasar penyusup gila!” merasa terprovokasi dengan tantangan Jaka. Tak menunggu lama, dia menubruk Jaka dengan sebuah cengkeraman yang mengarah pada lengan. Sesaat sebelum lengan Jaka terpegang, dengan mudahnya pemuda ini mengegoskan tubuh. Cengekraman itu hanya mengenai angin. Dan seperti biasa, dengan olah langkahnya yang ajaib, Jaka bisa mempermainkan petugas itu sesuka hati. Bukan karena Jaka ingin iseng melakukan hal itu, tapi saat ini dia membutuhkan desakan hawa murni dari luar untuk membantu melakukan ‘penyegelan’ wilayah luka dengan lebih cepat. Disela-sela gerak hindarnya, Jaka masih sempat melambai pada petugas satunya, untuk bergabung.

“Sialan!” geramnya turut menyerang pula. Serangan demi serangan sepasang petugas itu, memiliki dasar dari Perguruan Naga Batu, sebelumnya Jaka pernah melihat gerakan itu dari anak buah Penikam. Tapi jika dibandingkan dengan kedua orang ini, gerakan anak buah Penikam seperti anak kecil. Sambaran demi sambaran menyemburkan desir angin yang sangat kuat menyayat kulit. Tapi semua itu bisa dihidari dengan gerakan yang sangat santai dan selalu berjarak satu jengkal. Hamburan tenaga sakti kedua orang itu, membuat sistem pengolahan nafas Melawat Hawa Langit memperlihatkan keampuhannya. Daya pengolahan nafas Melawat Hawa Langit menjadikan serangan tenaga lawan diubah sedemikian rupa menjadi satu desakan yang bersifat menyalurkan tenaga, bukan lagi bertujuan destruktif.

Jika sebelumnya tiap serangan selalu luput, kali ini sepasang petugas ini merasa tiap gerakan mereka seperti dikontrol oleh satu hisapan tenaga, dan anehnya tiap serangan mereka mengarah ke bagian-bagian tertentu tubuh lawannya.

Buk-buk! Berkali-kali pukulan mereka tersedot, menghunjam lengan, dan punggung Jaka. Semula mereka merasa girang, karena akhirnya bisa mengenai lawann, tapi kini keheranan timbul dari wajah mereka. Mengapa pukulan yang mengarah kepala sang lawan, selalu membelok menuju lengan kiri begitu pula dengan serangan yang mengarah bagian lain, selalu berakhir di punggung pemuda itu?

Hempasan demi hempasan serangan sepasang petugas itu membuat tubuh Jaka merasa nyaman. Hakikatnya serangan kedua orang itu sama saja dengan sedekah tenaga, merambat kesetiap titik yang diinginkan Jaka. Tiap serangan yang menimpa sasaran selalu menimbulkan suara benturan yang membuat kedua petugas itu besar hati—merasa serangan mereka membuahkan hasil. Tapi sejauh ini, tidak memperlihatkan hasil yang diharapkan. Bahkan lawan mereka terlihat lebih segar, sementara tenaga mereka makin terkuras karena harus mengerahkan pukulan-pukulan sarat hawa murni.

Satu jam berlalu, dalam pertarungan.. bukan, bukan pertarungan; tapi serangan satu arah yang kali ini bahkan hanya menghunjam punggung Jaka berkali-kali. Tiap kali pemuda itu menghindari serangan, setiap kali itulah serangan selalu meleset dan secara aneh membelok kearah punggung Jaka. Demikian seterusnya, sampai akhirnya kedua petugas itu sadar, mereka sedang dimanfaatkan Jaka. Tapi dimanfaatkan sebagai apa? Merekapun bingung. Sebab mereka tidak merasa ada kerugian yang diderita.

“Berhenti!” akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri pertarungan sia-sia ini, keduanya melompat kebelakang, mengamati sang lawan dengan keheranan merambat benak.

Dengan sendirinya Jaka diam, memperhatikan kedua orang itu, tidak berupaya memprovokasi, hanya memandangi mereka secara bergantian. Membuat sepasang petugas itu kikuk sendiri. “Kau boleh pergi!” seru salah satunya pada Jaka. Pemuda ini mengangkat bahunya, dan berlalu begitu saja, tanpa sepatah katapun.

Memandang lenyapnya punggung sang lawan di kejauhan sana, mereka saling pandang. “Kau tahu siapa dia?” lelaki berkumis tipis pada kawannya.

“Entahlah… mungkin Pratyadhiraksana tahu siapa orang itu.” Gumamnya.

Ternyata kedua orang ini adalah dua dari empat orang yang di lepas Pejabat Pratyadhiraksana—murid dari majikan Dua Bakat, untuk melakukan tugas rahasia. Sepertinya mereka sudah selesai menunaikan tugas tersebut.

“Ayolah kita bergegas, masih untung…” kalimat terakhir menggantung tidak diteruskannya, tapi mereka berdua sama tahu kelanjutanya. ‘masih untung orang tadi tidak menyerang…’, jika pikirannya berubah dan kini berbalik mengejar, pasti mereka berdua sangat kerepotan.

Ditengah jalan, mereka berjumpa dengan dua orang rekan yang lain. Perjalanan menuju istana pun dilakukan bersama- sama, ditinjau dari raut wajah masing-masing, tugas yang dibebankan Pejabat Pratyadhiraksana sukses mereka emban.

===o0o===

Menjelang mentari kembali ke peraduan, Jaka sudah sampai di rumah batu, serangan dari sepasang petugas tadi cukup membantu percepatan penyegelan luka beracun yang di derita Jaka. Sesampainya di rumah batu kediaman Ekabaksha, luka itu sudah tersegel sempurna. Gumpalan hawa murni yang menyegel luka aneh itu sedikit demi sedikit mengalirkan racun pasif yang ada di lengan Jaka Bayu, untuk menetralisir luka baru itu.

Melihat tampang Jaka yang tidak seperti biasa, Ki Alih, Jalada, Ekabaksha, Cambuk dan Penikam yang sedang duduk-duduk dipekarangan belakang terheran-heran. Sebelum mereka bertanya, Jaka memberi isyarat untuk diam. Pemuda ini mengambil gelas terbuat dari perak, lalu masuk kedalam. Tentu saja mereka semua bergegas mengikuti pemuda itu.

“Huaak!”

Cairan berwarna hijau kemerahan, dimutahkan Jaka sampai dua kali, karuan saja mereka semua bingung. Selain Ki Alih, mereka baru pernah melihat Jaka terluka seperti itu. Nampaknya pemuda ini berjumpa dengan lawan yang tidak biasa.

“Kau kenapa?” Tanya Ekabaksha tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Jaka memberi isyarat belum bisa menjawab, pemuda ini mengeluarkan kain yang dipakainya untuk menampung luka pertama dari cabikan lawan. Pemuda ini bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ragam peralatan yang dia ciptakan disela-sela waktu senggang. Sebuah tabung terbuat dari kuningan, dengan beberapa pipa kecil meliuk-liuk membentuk kurva sempurna, mereka mengenal itu sebagai Mabyunganwyuha (pemisah yang telah tersusun, pada jaman sekarang lebih dikenal tabung reaksi pemisah unsur-unsur kimiawi) Jaka memasukkan kain yang berisi cairan lukanya, kedalam tabung. Tabung Mabyunganwyuha memiliki tiga bilik pemisah, pada bilik yang kosong. Jaka menuang cairan hijau kemerahan yang barusan dimutahkan, lalu meneteskan darah yang keluar dari mulut luka. Jika sebelumnya berwarna kuning kental, kali ini cairan pada luka pemuda ini berwana merah muda, Jaka meneteskan sampai warnanya merah tua— ukuran warna normal darah.

Empat goresan luka pada dada kiri Jaka, tidak berarti apa- apa jika di bandingkan dengan bekas luka yang pernah menghiasi tubuh pemuda ini. Bahkan Jalada, sang Baginda yang memiliki harga diri selangit itu harus angkat topi tinggi- tinggi begitu melihat bekas-bekas luka pemuda ini. Jaka tidak pernah bercerita apa yang dia alami, tapi siapapun yang melihat bekas luka itu, akan merasakan keharuan dan keseraman dibalik semua itu. Suka tidak suka, setiap orang yang sudah mengikuti langkah Jaka Bayu akan mengamini karakter Jannotama (ksatria utama) sebagai bagian dari diri si pemuda. Sungguh setiap insan yang melihat luka-luka itu ingin sekali menanyakan, sebab apa itu semua terjadi. Tapi senyum sang jannotama mengunci lisan mereka untuk tidak bertanya lebih jauh.

Proses yang terjadi dalam Mabyunganwyuha, hanya pernah mereka dengar. Meski orang-orang yang berada disekeliling Jaka Bayu adalah tokoh kasta tinggi, proses pengobatan menggunakan alat yang serupa dengan buatan Jaka itu, hanya terdapat di dalam bilik-bilik raja, itupun tergantung kewaskitaan ilmu sang tabib. Tidak semua tabib mengetahui proses semacam ini. Tidak disangka, pemuda yang baru berusia dua puluhan tahun itu begitu lengkap menghimpun bekal pengetahuan. Mabyunganwyuha seharusnya dibakar dengan api biru, tapi Jaka tidak memerlukan itu, Ilmu Mustika Badai Gurun Salju memiliki panas yang lebih murni untuk membantu proses pemisahan unsur-unsur yang terdapat didalam cairan tersebut. Tangan Jaka nampak berwarna biru bersaput merah muda, satu hawa hangat membersit sekejap, sebelum akhirnya setiap orang melihat tabung Mabyunganwyuha terlihat membara dengan uap mengepul, mengalir lewat pipa- pipa berbentuk kurva, dan akhirnya hasil dari destilasi tersebut mengendap. Pada masing-masing kurva, mengendap hasil penguapan dengan unsur yang berbeda, karena proses destilasi akan menguapkan masa jenis yang berbeda-beda.

Karena proses ini menggunakan tenaga murni, tentu saja hasil bergantung sepenuhnya dari kemahiran si empunya hawa murni. Jaka sudah mengerti persis apa yang di butuhkan, dengan sendirinya dia bisa mengukur kebutuhan hawa murninya untuk menguapkan caira dalam Mabyunganwyuha.

Mengambil cairan hasil destilasi yang mengendap di masing-masing kurva pipa Mabyunganwyuha cukup menyulitkan, tapi Ilmu Mustika Hawa Dingin Penghancur Sumsum, bisa membuatnya mengkirstal dan memudahkan Jaka mengeluarkan semua unsur berbeda tanpa takut bercampur.

Proses seperti itu berjalan runtut, penuh presisi tinggi, dan sangat menuntut kehati-hatian. Bahkan mereka yang tidak mengerti Jaka sedang melakukan apa, cukup merasakan ketegangan setelah melihat tindakan pemuda ini.

Jaka mengeluarkan tabung-tabung kristal kecil sebesar ibu jari. Memasukkan empat jenis kristal secara terpisah, lalu perlahan mencairkannya dengan hawa panas. Belum ada yang berani bertanya, Jaka sedang melakukan apa, untuk apa, dan kenapa dia sampai terluka. Raut serius pemuda itu menerbitkan rasa sungkan di hati para tokoh senior ini.

Sebenarnya ada banyak pekerjaan yang bisa pemuda ini limpahkan kepada rekan-rekannya, tapi dia lebih suka mengerjakan sendiri. Pemuda ini bergegas menuju dapur, mengambil ketel air matang yang sudah didinginkan. Lalu dengan perbandingan amat rumit, meneteskan cairan dalam tabung-tabung kristal kedalam ketel. Selanjutnya, menuangkan satu gelas khusus, dan diberikan satu tetes lagi.

“Kemarilah, paman.” Jaka memanggil Penikam, seraya menepuk bangku disebelah, mempersilahkan Penikam duduk disebelah dia.

Dengan beragam tanya muncul di benaknya, Penikam menurut saja.

“Minum ini.” Kata Jaka dengan sngkat dan tegas membuat Penikam tidak berani bertanya, tubuhnya masih terasa lemas akibat tertular racun yang diidap Phalapeksa. Tanpa jijik, dengan satu tegukan besar, Penikam menghabiskan air berwarna hijau muda itu. Belum lagi kata tanya terlontar, beberapa totokan menggetok lembut titik Chengguang (berada di kepala enam cun diatas telinga kiri), dan Tianzhu (baris pertama tulang belakang, tepat ditengkuk).

Setelah menerima totokan itu, Penikam merasa tubuhnya seperti menggembung, dari kulitnya menitik bintik-bintik hitam yang berikutnya memerah dan akhirnya, hanya titik keringat yang keluar. “Atur nafas.” Perintah Jaka lagi, dan segera dituruti Penikam.

Jaka berjalan kedapur mengambil kelapa muda, melubangi bagian atasnya dengan jari, seperti menusuk tahu. Lalu memasang semacam pipa kecil yang terbuat dari usus elang yang sudah diawetkan, membuatnya steril dan tahan lama dengan merendam di air laut hampir satu bulan—yang sebelumnya dicampur pula dengan beberapa ramuan pengawet lain. Ah, ternyata fungsi pipa terbuat dari usus itu sama dengan selang untuk infus. Air kelapa muda itu dibuang separuh, lalu ditambahkan air yang ada dalam ketel. Jaka meneteskan satu tetes cairan dalam tabung-tabung kristal, kali ini berwarna merah.

Persiapan sudah selesai, Jaka melangkah menuju kamar Phalapeksa. Keadaan orang tua itu tidak lebih baik dari yang terakhir, alat bantu nafas yang terbuat dari kantung kemih sapi yang terpompa karena uap yang sengaja dialirkan dari pemanas dia ruangan sebelah, membuatnya mendapatkan tekanan udara yang stabil dan membantunya bernafas. Jaka mencabut selang—terbuat dari kulit pohon, dari mulut Phalapeksa. Memasang ‘infus’ melalui nadi orang tua itu. Pekerjaan runtut yang amat berhati-hati itu, belum pernah dilihat oleh para pesilat senior ini, membuat mereka dengan takzim mengikuti tiap langkahnya.

Nampaknya semua proses sudah diselesaikan oleh pemuda ini, setelah memperhatikan sejenak, Jaka keluar dari kamar Phalapeksa. Dan duduk dengan tenang menanti rekan- rekan seniornya mengambil tempat duduk.

“Paman sekalian tentu banyak pertanyaan atas perbuatanku tadi?” ujar Jaka, membuat tiap kepala mengangguk seirama. “Baik, sekarang minum ini dulu.” Jaka menuangkan air dalam ketel kedalam masing-masing cawan.

Ki Alih tanpa jijik dan ragu segera meminumnya, berturut- turut Ekabaksha, Cambuk, dan terakhir Jalada.

“Kita akan menghadapi badai besar.” Sambung Jaka lagi, membuat Ki Alih menegakkan punggungnya.

“Atas dasar apa kau berkata begitu?” Tanya Kepalan Arhat Tujuh ini dengan dahi berkerut.

Jaka termenung sesaat, dia menimbang, apakah pengalamannya di Gunung Manggala dan persinggungannya atas racun yang membuat dia harus terdampar dalam horror di sebuah pulau terpencil, akan di ungkapkan?

=o0o=

116 – Domino Effect : Lembah Halimun (1)

Meski pada akhirnya Jaka memutuskan untuk tidak mengungkapkan pengalaman itu, tapi pemuda ini pun harus menceritakan latar belakang kenapa mereka harus meminum ‘serum’ yang dibuatnya tadi.

“Apa yang paman sekalian minum adalah sebuah bibit racun.” Jaka tidak menjawab pertanyaan Ki Alih.

Tidak ada yang terkejut dengan ucapan Jaka, biasanya pemuda ini melakukan segala sesuatu dengan sangat terukur dan tidak pernah sembarangan. Mereka menunggu dengan tenang. Disaat bersamaan Penikam menyedot nafas dengan begitu kerasnya, membuat perhatian semua orang teralihkan pada dirinya.

“Uhuuuk!” beberapa kali batuk dan bangkis membuat Penikam menyudahi pengaturan nafasnya.

“Apa yang kau rasakan?” Cambuk buru-buru bertanya.

Penikam menggerak-gerakan badan, lalu mengalirkan hawa murninya kesekujur tubuhnya untuk memastikan. “Syukurlah, aku sudah tidak apa-apa. Sebelumnya untuk mengerahkan hawa murni, tiap organ tubuhku terasa sakit seperti di sayat, sekarang tidak lagi.” Jawabnya dengan wajah cerah.

Jaka manggut-manggut, “Duduklah bersama kami, paman.” Kata pemuda ini merasa lega, apa yang disusun dalam angannya ternyata sesuai dengan kenyataan.

Penikam duduk diantara mereka, dan Jaka meneruskan penjelasannya. “Bibit racun yang paman sekalian minum berguna sebagai penawar pada racun yang diidap Phalapeksa.”

“Apa yang mendasari keputusanmu, bahwa kami harus meminum bibit racun itu?” Tanya Jalada dengan dahi berkerut.

“Seperti yang aku katakan tadi paman, kita akan mengalami badai besar, dan sangat dimungkinkan kita aka bersinggungan dengan pemilik racun ini. Bersinggungan dengan sangat sering!” kata Jaka dengan tegas, kemudian menghela nafas panjang. “Racun yang di idap Phalapeksa merupakan salah satu racun masa lampau yang menakutkan.” Lalu Jaka menceritakan kejadian yang dialaminya siang tadi, bagaimana dia harus berjibaku dengan keganasan racun itu. “Racun yang menyerangku sifatnya sama dengan racun dalam tubuh Phalapeksa.” Kata Jaka menutup ceritanya.

“Apakah kita berbicara tentang keluarga Gumilata yang ahli racun itu?” Tanya Ki Alih merasa pembahasan Jaka kali ini sangat penting.

“Mungkin tidak, aku tidak tahu banyak tentang keluarga itu paman. Yang jelas, racun ini pernah di gunakan oleh Raja Jagal. Sepengetahuanku, Raja Jagal memiliki sumber racun dari Tabib Malaikat.”

Ki Alih tampak berkerut kening. “Pengetahuanku mengenai Raja Jagal sedikit lebih lengkap dari keteranganmu, mungkin ini bisa kau pakai untuk mengambil kesimpulan lebih mendekati kebenaran.” Kata Ki Alih secara tak langsung menyatakan kesimpulan Jaka terlalu premature dan terburu- buru.

Jaka menatap Ki Alih dengan takjub, dia paham maksud tersirat dari ucapannya. Jaka tidak keberatan dirinya ditegur, bahwa; penuturannya bisa saja salah, tapi kebijaksanaan Ki Alih menghalanginya untuk bertindak sefrontal itu dihadapan orang banyak, dan pemuda ini sangat menghargai sikap tersebut. Jaka sungguh ingin tahu tambahan informasi dari Ki Alih mengenai Raja Jagal, sebab dia hanya tahu sekelumit sekeder julukan saja—meski pada kenyataan Jaka pernah bertarung mati-matian dengan orang itu, diapun hanya meraba kemahiran racun Raja Jagal berdasarkan jalur himpunan kitab pertabiban yang dipelajarinya. “Silahkan paman.”

“Tabib Malaikat dan perguruannya merupakan satu rahasia dunia persilatan yang rumit, tapi kita tidak membahas itu.” Tutur Ki Alih mulai menjelaskan. “Kira-kira tiga generasi setelah para tabib itu lenyap, ada seorang tokoh yang menjuluki dirinya Raja Jagal, orang itu muncul bagai hantu melakukan pembunuhan sembarangan. Tapi… aku, maksudku; guruku, memiliki padangan lain tentang hal itu. Dia memiliki pola dalam melakukan pembunuhan, tidak asal. Meski korban yang jatuh sangat acak, tidak melulu dari kalangan persilatan saja, guruku menyimpulkan para korban itu memiliki temali hubungan yang sangat rahasia. Hingga kini beliau tidak tahu hubungan itu seperti apa, seolah telah mendapatkan benang merah penyebab pembunuhan, tapi begitu ditelusuri lebih lanjut malah bingung sendiri. Pada saat guruku memutuskan untuk melacak itu semua, kabar terputus begitu saja. Menurut informasi yang didapatkan, Raja Jagal keburu di desak oleh kalangan Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika, dari berita mulut kemulut, orang itu tewas. Tapi anehnya dua puluh tahun berikutnya Raja Jagal muncul kembali. Diapun melakukan pembunuhan yang sangat acak. Bedanya, begitu badai pembunuhan itu usai, tiada terdengar kabar apapun mengenai penindakan yang dilakukan kalangan tertentu, maksudku dari Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika.”

Jaka terpekur mendengar itu. “Paman bisa mengira berapa usia Raja Jagal yang terakhir?”

“Kurasa akhir limapuluhan. Sayang guruku tidak mewariskan informasi ini secara mendetail, tapi beliau pernah menyatakan. ‘dunia persilatan ini penuh dengan intrik berbahaya’, dia berpesan padaku; ‘jangan pernah percaya pada masa lalu’.” Jawab Ki Alih.

“Nasehat yang bijaksana.” Ujar Jalada, diamini semua orang. Diamnya Jaka membuat hening menyeruak di malam hari itu. Pemuda ini menghela nafas, dia bisa meraba sedikit kesimpulan dari cerita Ki Alih. Mengacu pada kejadian yang dialaminya, Raja Jagal adalah sebuah nama yang diusung dari generasi ke generasi. Itu pula kesimpulan yang didapat saat berjumpa dengan Raja Jagal. Orang yang dia hadapi pada saat itu adalah generasi terakhir Raja Jagal. Orang itu masih cukup muda, berusia akhir tiga puluhan. Kematangan ilmunya jangan ditanya, luar biasa dahsyat.

Jaka menyedot nafas dalam-dalam. Ingatannya melayang kepada sosok bernama Raja Jagal, sebersit perasaan marah, kasihan, dan menyesal menyelimutinya. Perjumpaan mereka berkesudahan dengan pertarungan amat sengit ternyata membentuk satu jalinan perasaan aneh yang tidak bisa diungkapkan, perasaan saling menghormati muncul di akhir pertarungan. Tidak ada pembicaraan penting, hanya ratusan jurus dan hawa sakti berdesing silih berganti untuk mengungkapkan rasa suka cita yang menyelinap secara aneh.

Jaka bisa menangkap ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh Raja Jagal. Tapi tradisi dibelakangnya tidak memungkinkan dia berbicara secara berterang, hanya pukulan, tendangan, bacokan, dan kemahiran pembunuh-lah yang bisa dia curahkan. Seolah dari sanalah dia berteriak mengungkapkan perasannya. Dan akhirnya, Jaka mengambil satu kesimpulan berani. Bagi orang lain menerima luka mematikan, jelas perbuatan konyol, super tolol. Tapi Jaka melakukannya, dia tidak sedang berjudi dengan nyawanya, tapi dari pertarungan panjangnya pemuda ini bisa ‘membaca’ ada sebuah kepentingan lebih besar di belakang Raja Jagal, yang jika rencana itu dilakukan, kesalahpahaman akan melahirkan dendam, dan dendam akan menimbulkan suatu badai penuh darah. Pada akhirnya, sebuah keputusan yang mengatasnamakan Generasi Raja Jagal, meminta Jaka untuk menerima serangan mematikannya dengan tangan kosong. Jika pemuda itu berhasil mengatasi (bukan menghindar), maka apapun rencana dibelakang Raja Jagal, akan berhenti di tempat itu, pada saat itu juga! Jaka menyanggupinya, dan keputusan itu berkesudahan meninggalkan satu baris luka menganga di dadanya. Tapi dilain pihak Jaka juga berhasil memukul Raja Jagal, pukulan yang bisa membuatnya mati, tapi itu tidak dilakukan. Diakhir pertarungan, Jaka mendapatkan janji lelaki itu selaku Generasi Raja Jagal, bahkan memperbolehkan pemuda ini menggunakan nama Raja Jagal untuk keuntungannya.

“Baik, kulanjutkan uraianku.” Lanjut Jaka memecah keheningan. “Aku sudah memeriksa tiap jengkal luka dalam tubuh Phalapeksa, tapi tidak satupun menjadi penyebab racun, hanya ada satu titik luka saja. Dari sanalah aku memulai langkah pengobatan. Setitik racun ini sungguh sangat lihai, bukan maksudku menyatakan hanya racunnya saja yang lihai, tapi menempatkan luka itu sendiri merupakan tataran kazanah ilmu yang tinggi…” sampai disitu, Jaka terdiam. Dia teringat dengan lukanya sendiri yang berupa empat garis sayatan didada kiri. Padahal hanya sentuhan cakar yang sangat kecil, tapi menimbulkan dampak begitu hebat. Luka yang diderita Phalapeksa itu hanya setitik saja, setitik jarum. Tapi berada di bawah telinga, menembus hingga pertengahan leher. Jika saja waktu itu Jaka tidak memeriksanya dengan seksama, luka itu akan terlewat.

“Paman sekalian, bisakah kalian memeriksa luka ini sebentar?” pinta Jaka seraya membuka bajunya sebagian. Ekabaksa tidak perlu memeriksa untuk mengetahui itu luka akibat apa, dia siang-siang menyatakan, tidak tahu. Berturut- turut Cambuk, Penikam, Jalada dan terakhir Ki Alih.

“Apa kesimpulan kalian?” Tanya pemuda ini.

“Andai saja ada Sadhana…” gumam Cambuk sambil menggeleng atas pertanyaan Jaka. Penikam-pun tidak tahu. Hanya Jalada dan Ki Alih yang masih merasa ragu dengan kesimpulan mereka.

“Bagaimana?” desak Jaka lagi.

“Aku tidak yakin.” Ujar Jalada. “Tapi masa, iya?” gumamnya membuat Jaka bingung.

“Aku juga tidak yakin…” timpal Ki Alih.

“Baiklah, daripada kita semua bingung, ketidakyakinan kalian boleh diutarakan keluar.” Kata pemuda ini mendesak lagi.

“Pukulan Naga Beracun…” kedua pesilat kawakan ini menjawab hampir berbarengan, nyatanya kesimpulan mereka sama.

Jaka belum pernah mendengar pukulan itu. “Ilmu seperti apa itu?”

“Akupun tidak begitu tahu, tapi dari ciri-cirinya sepertinya itu memang Pukulan Naga Beracun.” Jawab Jalada.

Pandangan Jaka bergeser kepada Ki Alih. “Paman?”

Ki Alih menghela nafas panjang, sebagai maestro pukulan yang di juluki Kepalan Arhat Tujuh, perbendaharaan ilmu pukulan Ki Alih jelas sangat luas, demikian pula dengan pengetahuan tentang pukulan. “Pukulan Naga Beracun adalah salah satu dari ilmu mustika. Aku meragukan bekas ilmu ini digunakan padamu, karena setahuku, ilmu mustika ini tidak pernah keluar dari pintu Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika. Ilmu ini terlalu ganas, maka setiap orang yang lolos dari seleksi, selalu disodorkan delapan ilmu mustika lain sebagai pilihan.”

“Berarti Ilmu Mustika Naga Beracun merupakan tingkatan paling tinggi?” Tanya Ekabaksha.

“Bukan berarti demikian.” Jawab Ki Alih sambil menggeleng. “Para dewan sengaja menyegel ilmu itu karena daya rusak yang ditimbulkan. Sebenarnya masing-masing ilmu mustika saling mengatasi satu sama lain. Hanya saja… Naga Beracun ini justru ilmu paling aneh, jika di buat urutan, kita bisa menempatkannya di urutan terbawah. Tapi jika menghadapi ilmu lain yang setingkat lebih rendah, daya rusak Naga Beracun, jauh lebih cepat dari ilmu mustika lainnya.”

Jaka mengumam membenarkan, mengingat dia sendiri terluka cukup parah karena cabikan yang menyayat kulit. Kalau bukan karena pengalaman dan kesigapannya, mungkin dia bakal menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melakkan penyembuhan.

“Jika ada orang lain diluar pengetahuan dewan yang menguasai… berarti ada kebocoran dalam dewan penjaga itu sendiri.” Gumam Jaka dengan mata berbinar. “Ini sangat menarik!” katanya sambil menggebrak meja, membuat Ki Alih kawatir dengan penjelasanya tadi.

“Tapi, aku-pun bisa saja salah…” sambung Ki Alih terburu- buru. “Kau jangan menganggap ini adalah kesimpulan final.” Ki Alih pantas merasa kawatir, jika dugaannya dijadikan dasar pijakan penyelidikan Jaka, bisa dipastikan Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika akan disusupi pemuda ini! Dan kejadian berikutnya dia tak bisa membayangkan!

Jaka tertawa, dia bisa meraba sampai dimana kekawatiran orang tua itu. “Urusan kita masih terlampau banyak, saat ini aku tidak akan kemana-mana.” kata pemuda ini. “Yang jelas, luka yang baru saja kualami, sama persis dengan luka yang di alami Phalapeksa.” 

“Tapi aku tidak melihat ciri yang sama dari luka kalian?” Tanya Ki Alih.

“Ini masalah teknis paman, orang yang melukaiku tingkatannya jauh dibawah orang yang melukai Phalapeksa. Dia bisa mengatur caranya melukai lawan sesuka hati. Bisa kupastikan orang ini sangat menakutkan. Itu pula-lah yang membuatku berkeputusan, paman sekalian harus memperoleh bibit racun. Cepat atau lambat kita akan berhadapan dengan mereka.” Jaka lalu menjelaskan secara terperinci, sumber luka Phalapeksa hanya satu titik yang mematikan.

“Tapi, bagaimana mungkin Pukulan Naga Beracun bisa digubah menjadi satu titik serangan mematikan?” gumam Penikam.

“Orang itu pasti sudah lepas dari pakem teori, peyakinanya sudah sangat mendarah daging. Dan seperti kata Jaka, sesuka hati.” Jelas Ki Alih. Lalu lelaki paruh baya ini menatap Jaka. “Aku hanya mengidentifikasi berdasarkan pola pukulan dan luka, tidak kepada racun yang menyertainya. Kau lebih paham tentang itu.” Jaka mengangguk. “Karena itulah, aku menyatakan kita menghadapi orang-orang yang belum jelas keinginannya. Tapi, aku sudah mengarahkan mereka kepada tembok yang cukup tebal.” Ujar pemuda ini sambil tersenyum.

“Kau pikir, mereka benar-benar akan mencari Kwancasakya dan Keluarga Gumilata?” Tanya Penikam.

Jaka mengangguk memastikan. “Kalangan dengan kemungkinan mendekati kebenaran untuk mendalami tentang jenis racun ini, hanya dua golongan itu saja. Sengaja kuciptakan satu golongan yang merendahkan Kwancasakya dan Gumilata. Dengan sendirinya, siapapun mereka ini… akan melacak melalui kedua golongan itu. Terus terang aku tidak tahu kita akan menghadapi apa, sebelum mereka menyapu banyak kalangan secara membabi buta, lebih baik aku arahkan pada tujuan yang jelas, kita bisa memantaunya dengan lebih cermat.”

“Cerdas!” seru Ekabaksha. “Yang penting, pada saatnya nanti, aku bisa bertarung sepuas hati.” Kata lelaki gemuk ini membuat Jaka tertawa lebar, dan suasana menjadi lebih cair.

“Berkaitan dengan racun,” Sambung Jaka lagi. “Aku menjadi khawatir dengan maksud mereka. Apakah sekedar menguji coba racun? Atau ingin menarik pihak tertentu dari persembunyian? Atau membalas dendam?”

“Kupikir, pilihan balas dendam tidak layak.” Sahut Cambuk. “Phalapeksa jelas bukan orang yang tepat untuk dijadikan sasaran tokoh kasta tinggi.”

Jaka mengiyakan. “Namun demikian, keterangan menjelang dia pingsan, bisa menjadi dasar pijakan kita.” Sambung Cambuk.

“Tapi, bisa saja dari Phalapeksa-lah mereka meminjam mulut untuk membelokkan kabar sebenarnya.” Bantah Penikam. “Jangan lupa perinsip di dunia kami adalah; informasi salah yang didapat dengan susah payah akan dianggap sebagai kebenaran. Dan itu akan sangat mudah membelokkan fakta.”

Jaka-pun mengiyakan pendapat ini. Penikam adalah mata- mata kelas wahid, jam terbang kegiatannya jelas tidak perlu diragukan. Masukkan tadi masuk akal. Pada saat sekelompok orang mengambil kesimpulan salah sebagai sebuah fakta, kehancuran sudah ada didepan mata.

“Baiklah, kita bisa menarik kesimpulan, saat ini sedang menghadapi; kelompok yang mengetahui jalur pengetahuan racun dari Tabib Malaikat, mereka juga termasuk golongan orang yang paham ilmu mustika. Dan satu lagi, kemungkinan masih memiliki hubungan dari jalur Raja Jagal.” Papar Jaka.

“Lalu apa persiapan kita?” Tanya Jalada. “Maksudku selain bibit racun yang sudah kau dapatkan dengan susah payah.” Sambungnya menambahkan.

Jaka termenung sesaat. “Kupikir, jika Phalapeksa memunculkan diri, mereka akan segera mengejar orang tua itu. Jika dugaanku tidak meleset, mereka akan mengarah padaku, secara pribadi.”

“Kau pribadi? Apakah karena kau sanggup memunahkan racun mereka?” Tanya Ki Alih.

“Itu salah satunya.” Jawab Jaka singkat. Tatapan semua orang menuntut jawaban dari Jaka.

“… sebab aku adalah satu-satunya orang yang sanggup menahan dan memunahkan racun mereka.” Sambung pemuda ini dengan lambat. “Jika aku tidak salah duga, aku sudah menghancurkan salah satu harapan yang dipupuk mereka. Sejak awal, kemunculan mereka jelas sedang mencari diriku.” Pungkas Jaka.

Ki Alih sekalian menelan ludah. “Se-sebenarnya kau sudah melakukan apa?” Tanya Ekabaksha dengan suara kering.

Jaka tidak menjawab secara langsung. Dia hanya berkata. “Aku telah mencoreng kehormatan tokoh pujaan yang dianggap sangat suci bagi mereka. Aku tidak membenarkan tindakanku, tidak pula menyalahkan mereka, selama rencana masih dalam tataran wacana, tindakanku memang terlampau cepat. Tapi jika aku membiarkan mereka…” Jaka menghela nafas tanganya mengepal, “mungkin hingga kini Jaka Bayu tidak berani muncul dihadapan paman sekalian, aku tidak pernah ada. Harga nyawa tidak ada harganya saat kita menunduk di depan kezaliman!”

“Sebenarnya apa? Apa yang kau bicarakan?” tanya Ekabaksha makin bingung.

Jaka terdiam sesaat.

“Apakah orang itu… Raja Jagal?” Tanya Ki Alih hati-hati. “Dia memang tokoh luar biasa dahsyat, tapi wibawa dan

tindakannya belum bisa digolongkan menjadi ‘orang suci’, untuk anggotanya.” Jelas Jaka mementahkan dugaan Ki Alih. Tentu saja jawaban ini makin membingungkan. “Sudahlah, tak perlu dibahas.” Jaka mengulapkan tangan. “Dalam jangka waktu dekat ini, kita akan segera berjumpa dengan pemilik racun hebat. Sebisa mungkin tiap anggota mendapatkan bibit racun sebagai antisipasi.” Putus Jaka membuat mereka kecewa. Bagaimanapun kejadian di Gunung Tumenggung—Gunung Manggala—Gugusan Pulau Kendriya, terlalu kompleks untuk diuraikan. Sampai saat ini Jaka terus menyimpannya dalam hati, hingga tiba saatnya untuk diurai secara tuntas. Sebab jauh di dasar hatinya, ada satu kenyataan yang dia sendiri belum bisa mengartikan. Mungkin pada saat kepingan fakta makin banyak, Jaka bisa menetapkan hati untuk melakukan hal yang terbaik.

Hingga larut, mereka membahas bagimana harus bertindak. Ekabaksha paling semangat untuk mencari orang yang melukai Jaka, tapi pemuda ini merasa itu tindakan sia- sia. Menurut Jaka, saat Phalapeksa muncul kembali di rimba hijau, kelompok itu akan segera mendekat.

Saat Jaka lepas dari jerat racun—(belakangan Jaka sekalian baru mengetahui bahwa racun mematikan itu diciptakan oleh Saudara Satu Atap), pemuda itu merupakan satu-satunya korban yang lolos dari kelinci percobaan Saudara Satu Atap. Sayangnya karena menganggap Jaka hanya sekedar kelinci percobaan, mereka tidak pernah memperhatikan latar belakang korban secara detail, termasuk wajahnya. Maklum saja, biasanya tak satupun orang bisa selamat dari jeratan mereka.

===o0o===

Dua Bakat memaki panjang pendek dalam hati, meskipun dia percaya dengan sang majikan, bukan berarti dia merasa nyaman dengan kepolosan tubuhnya. Demi rencana penghancuran Lembah Halimun terlaksana, sang majikan mengupayakan kesembuhan bagi Dua Bakat dengan metoda yang belum pernah dia lakukan. Tentu saja demi menjaga gengsi, dirinya menyatakan pada Dua Bakat, metode ini adalah cara rahasia yang belum pernah dirinya lakukan. Karena itulah sebelumnya dia menyatakan tidak bisa membebaskan totokan sang murid, karena ragu menggunakan cara ini.

Benak Dua Bakat menggambarkan cara yang mungkin akan dilakukan sang majikan adalah dengan penyaluran hawa, dari kulit ke kulit! Sial, bukankah artinya mereka harus bersentuhan satu sama lain, tanpa busana?! Wajah Dua Bakat memucat, meskipun dia sangat menghormati sang majikan, dia tetap lelaki normal! Memikirkannya lagi, membuat tubuh Dua Bakat panas dingin.

“Kau, kemari!” suara sang majikan terdengar dari balik bilik. Membuat Dua Bakat merasa sangat tertekan. Dengan langkah terasa berat, lelaki ini melangkah kedalam bilik. Ternyata didalam bilik beris gentong air sebesar dua pelukan orang dewasa tengah dipanasi.

“Masuk!” perintah sang majikan dengan tegas. Tidak perlu dua kali perintah, Dua Bakat sudah masuk kedalam gentong yang mulai menghangat. Air didalam gentong ternyata sudah bercampur dengan ragam rempah. Proses itu terasa berjalan lambat, Dua Bakat mulai menyalurkan hawa murninya secara berkala untuk menahan air yang makin panas. “Bersiaplah…” desis sang majikan, telunjuknya teracung kearah api, dan mendadak Dua Bakat merasakan sengatan puluhan kali lipat lebih panas dari sebelumnya. Dengan sendirinya dia pun meningkatkan hawa murni secepat mungkin. Pada saat itulah satu sengatan menerjang ulu hati, membuatnya terasa sangat mual, dan..

“Uh-huuk…” segumpal dahak berwarna kemerahan terbatuk. Rasa sesak yang melingkupi ulu hati sejak beberapa hari lalu sedikit berkurang. Tidak menanti perintah sang majikan, Dua Bakat segera keluar dari gentong, dan melakukan semadi dengan tubuh terbalik, satu tangannya menyangga tubuh, tangan yang lain tentu saja menutupi auratnya. Seharusnya tidak begitu, tapi kondisi hawa murni yang dipaksa menyentak cepat, membuat ‘itunya’, pun menjadi terpaksa ‘menyentak’ pula.

“Cih!” sang majikan terasa geli melihat kondisi anak buahnya, dia melangkah keluar menunggu Dua Bakat selesai dengan semadinya.

Tak berapa lama kemudian Dua Bakat sudah keluar dengan wajah agak memerah karena posisi semadinya yang terbalik, tentu saja dia tak lagi telanjang.

“Bagaimana?” sang majikan bertanya dengan nada datar. “Sa-saya rasa ada perubahan, cuma sejauh apa, sayapun

tidak tahu cara memeriksanya.” Kata Dua Bakat dengan hati- hati, takut menyinggung sang majikan, bagaimanapun upaya tadi sangat dia hargai.

“Kau tidak perlu kawatir, aku memang tidak bisa membebaskan secara permaen, tapi kau tak perlu kawatir, untuk tiga bulan kedepan, kau aman!” tegas sang majikan.

Dua Bakat menghela nafas lega. Saat itu juga sang majikan memberikan kotak kecil yang berisi parwwakalamahatmya yang sudah menyatu, sebuah peta menuju Lembah Halimun- pun sudah dikantongi Dua Bakat. Sang Majikan memberikan keterangan sangat mendetail tentang keadaan Lembah Halimun. Pada dasarnya Dua Bakat buta sama sekali dengan daerah Lembah Halimun. Jadi tiap keterangan sang majikan ditelan bulat-bulat.

Dengan dilepas sang majikan, Dua Bakat segera melakukan perjalanan. Dia sadar, kemungkinan tugasnya kali ini lebih banyak sial dari pada selamatnya. Tapi sebagai orang yang sudah berkecimpung di dunia penuh intrik, Dua Bakat tidak takut menghadapi rintangan yang akan menghadangnya.

Sayangnya, Dua Bakat tidak mengetahui, bahwa sang majikan sama butanya dengan dia. Orang tua itu tidak pernah menginjakkan kaki di Lembah Halimun. Tapi saat menerangkannya, dia seolah-olah sudah pernah masuk kesana berkali-kali. Pada dasarnya orang inipun tidak terlalu mengharap tugas Dua Bakat akan tuntas secara sukses. Caranya menjalankan rencana seperti dua sisi mata uang, masing-masing bergerak bersamaan. Parwwakalamahatmya adalah bonus utama, tapi menggerakkan tiap insan yang terhubung antara dirinya dan Anusapatik, adalah tujuan utama. Dua Bakat-pun tidak lebih dari bidak catur yang sudah diatur sesuka hatinya.

===o0o===

Lembah Halimun selalu diselimuti kabut setiap saat, letak lembah itu tidak sulit ditemukan, tidak pula tersembunyi. Lembah Halimun termasuk didalam gugusan Pegunungan Nabhastalamaya, mungkin karena setiap saat pegunungan itu selalu diselimuti kabut, masyarakat menamainya Nabhastalamaya yang berarti; terdiri atas kabut. Mungkin dari keunikan geografis itulah, seseorang berinisiatif membentuk golongan Swara Nabhya (suara dalam kabut). Danitu sudah berlalu ratusan tahun silam, hingga sekarang kalangan itu seperti ada dan tiada. Jika kau mengatakan Swara Nabhya hanya tinggal cerita, sewaktu-waktu kaupun bisa dikunjungi para penghuni Lembah Halimun.

Tidak ada yang tahu kemunculan kalangan Swara Nabhya, tahu-tahu mereka ada, terkadang membantu, terkadang menyulitkan. Tapi, kalangan persilatan sama-sama memaklumkan Swara Nabhya adalah pelindung barang bukti. Silih berganti tokoh menjungkir balikkan dunia persilatan, tapi tak ada satupun yang berani menginjakkan kaki mendekati Lembah Halimun.

Dua Bakat sudah sampai di tapal batas pegunungan Nabhastalamaya, sepanjang perjalanan, dia sudah bersalin rupa sebanyak tiga puluh tujuh kali—termasuk busananya. Orang ini sadar, tiap saat berjumpa dengan orang lain, bisa jadi dia adalah mata-mata dari Lembah Halimun. Dari pada mengambil resiko, lebih baik Dua Bakat melakukan kemahiran bersalin rupa untuk keselamatannya.

Sang Majikan tidak pernah menerangkan, kenapa parwwakalamahatmya bisa menjadi titik fatal bagi Lembah Halimun. Tapi Dua Bakat segera menyadarinya, kabut di sana tidak sama dengan kabut pada umumnya. Makin jauh Dua Bakat berjalan, dia makin menyadari daya pandangnya tak lebih dari lima langkah saja, apa yang ada di depan sana, dia tak tahu ada halangan apa. Hanya saja, tercium bau seperti telur itik yang menandakan sejenis gas metana tercampur dalam kabut, yang senantiasa menyelimuti daerah itu. Mungkin itulah alasannya parwwakalamahatmya menjadi senjata mematikan bagi kabut di Lembah Halimun. Nampaknya sifat parwwakalamahatmya adalah mengikat gas, itu pula yang terjadi saat sang majikan mengerahkan ilmu Suksmasukabhitahetu.

Meski Dua Bakat tidak mengetahui sifat ilmu sang majikan, setidaknya dia bisa meraba, bahwa; daya bunuh atas racun yang berpendar pada ilmu ilmu Suksmasukabhitahetu bersifat sama dengan kabut ini. Berpikir demikian, Dua Bakat segera mengeluarkan kotak kecil berisi parwwakalamahatmya yang sudah menyatu. Benar saja! Tiba-tiba saja kabut-kabut itu seperti menguap, dan membuat jarak pandang Dua Bakat meluas. Tapi pemandangan berikutnya membuat bulu kuduk lelaki ini bangun. Bagaimana tidak, setiap kabut-kabut hilang, setiap unsur tumbuhan yang disinggahi kabut menjadi layu karena bereaksi dengan parwwakalamahatmya.

“Ini gila…” gumam Dua Bakat seraya menyurutkan langkahnya, keraguan kembali menyelinap dihati. Meski selama dalam perjalanan dia sudah menghafal mati peta Lembah Halimun, tetapi sesampainya ditempat itu, gambaran sang majikan sama sekali tidak berguna! Dua Bakat mengeluh…

=o0o=

117 – Domino Effect : Lembah Halimun (2)

Tersibaknya kabut hanya sesaat, parwwakalamahatmya berpendar lagi, seberkas asap tipis bergulung-gulung keluar dari dalam kotak. Kali ini ada persentuhan langsung, kontak antara kabut dengan parwwakalamahatmya membuatnya mengeluarkan kilatan tipis berwarna biru kehijauan. Dua Bakat siang-siang sudah menjauhkan diri. Kali ini area seluas puluhan meter persegi terbebas dari kabut, Dua Bakat bisa melihat kondisi Lembah Halimun dengan lebih jelas, kehidupan seluas itupula nampak layu.

Tidak berbeda dengan dengan lembah pada lereng gunung pada umumnya, bedanya, seluruh kehidupan dalam lembah itu, memilik pola dua warna, kelabu dan biru. Persentuhan dengan parwwakalamahatmya membuat dedaunan menghijau sebelum akhirnya layu kelabu.

Sang majikan tidak pernah mengatakan, jika terlalu lama dirinya memegang racun parwwakalamahatmya—meski itu hanya kotaknya saja, akan membuat tubuhnya makin renta sedikit demi sedikit, dan tentu saja akan sangat berpengaruh pada tenaganya. Meski parwwakalamahatmya hanya bereaksi pada sejenis gas tertentu dalam Lembah Halimun, tapi bukan berarti tubuh manusia tidak terkena dampaknya.

Dua Bakat terlalu taklid (percaya secara membuta) dengan sang majikan, dia tidak berpikir, jika benda aneh yang dibawanya, bisa bereaksi dengan tiap mahluk yang selalu bersentuhan dengan kabut di dalam Lembah Halimun, bukankah dirinya-pun bakal menjadi korban pada urutan terakhir manakala pusat kabut sudah dia temukan. Yang jelas dirinya tidak mungkin pula bertanya kepada orang, sebab siapapun manusia yang berada disekitar Lembah Halimun, boleh jadi merupakan kalangan Swara Nabhya itu sendiri.

Rasa kesal karena peta sang majikan ternyata tidak berguna, membuat Dua Bakat melemparnya jauh-jauh kedepan. Melesat menembus kabut. Tapi, sebersit ingatan membuatnya mengurungkan niat, dan terburu-buru memburu arah lemparannya. Dirinya terlalu percaya diri karena sudah membekal parwwakalamahatmya, sayangnya jurang dihadapannya jelas bukan solusi bagi jenis racun apapun. “Aaah…!” keterkejutannya menimbulkan pekik yang menggema melingkupi Lembah Halimun, sebagai tokoh yang berpengalaman sekalipun, Dua Bakat tetap tidak sanggup bereaksi menurut keadaan, bukan karena dia kurang ilmu, sama sekali tidak, tapi karena Lembah Halimun merupakan salah satu anomali alam yang memiliki jebakan fatamorgana akibat kabut dan uap yang tersebar diseluruh penjuru.

Tubuh Dua Bakat meluncur deras! Celananya sempat tersangkut pada sebuah ranting pohon, membuat tangan Dua Bakat segera meraih ranting itu… tapi, terlalu getas, ranting itu tak kuat menahan beban tubuhnya, hanya mengurangi luncuran jatuh untuk sesaat. Dia berputusasa atas hidupnya yang diujung tanduk. Dalam kondisi melayang jatuh, ekor matanya melihat catatan yang tadi dibuang melayang, tepat didepan hidungnya, menari-nari seolah mengejek ketololannya. Meski tahu dirinya mungkin saja sudah tidak memiliki kesempatan, dengan cekatan Dua Bakat meraih, menyimpannya dan.. bress!

Tubuh Dua Bakat membentur benda yang menghantarkan informasi pada otaknya bahwa; itu adalah beberapa temali yang terjalin begitu rupa. Jatuh dengan gaya bebas seperti itu—dengan lengan menyangkut tali, jangan ditanya rasanya seperti apa! Tapi Dua Bakat jelas tidak mau berleha-leha. Mendapatkan kesempatan sebaik itu, dengan cekatan, tangannya mencengkeram temali, kakinya berayun membuat tali yang melintang itu menggelayut sesaat sebelum menimbulkan daya pantul. Dua Bakat terlempar kedepan, kabut yang mengayut disetiap jengkal membuat orang ini berlaku sangat waspada, dia tidak tahu jarak dirinya dengan dinding tebing.

‘Andai saja…’ Brak! Belum selesai kilasan dalam benaknya usai, tubuhnya menghantam dinding tebing, ketidaksiapan dirinya membuat Dua Bakat merasakan sakit menyengat sampai ubun-ubun, tapi tangannya tidak berhenti. Jemarinya segera mencengkeram dinding tebing untuk mencari pegangan… Crak! Berhasil! Meski agak berguncang sedikit, tubuhnya kini menggelantung di tebing! Untuk tokoh sekelas Dua Bakat, membenamkan jemari ke batu-batuan jelas mudah… tapi ketegangan atas rentetan demi rentetan kejadian tadi, membuat jemarinya terlasa lemah. Helaan nafas lega Dua Bakat memecah hening, mengawali pengerahan pondasi tenaga dengan lebih mantap.

Berturut-turut tangannya menyentak keatas, sungguh tak pernah disangka, ternyata dia terjerumus cukup dalam. Tebalnya kabut membuat lelaki ini tidak bisa memastikan berapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh. Tapi makin lama, cengkeraman tehadap dinding tebing kehilangan daya tembusnya, apa mau dikata kelelahan sudah menggerogoti semangat dan tenaga. Mendadak, terdengar kesiur angin dihadapannya, dengan sigap Dua Bakat mengelak kesamping dan menempelkan tubuhnya rata dengan dinding tebing. Kabut sedikit tersibak. Ah, ternyata sepotong tali!

Kuduk Dua Bakat merinding, tidak mungkin tali muncul sendiri, siapa orang yang ada diujungnya? Apakah penghuni Lembah Halimun? Itu sudah jelas!

‘Mati aku!’ Pikirnya dengan putus asa mulai merambati hati. Tunggu punya tunggu, tak ada reaksi apapun, meski tahu bahaya menghadang, kesempatan hidupnya di atas tebing jelas jauh lebih besar dari pada tergantung begini rupa. Dua Bakat memutuskan untuk merambati tali itu. Tak mau ceroboh, lelaki ini merambat dengan sangat perlahan. Dua Bakat terus meraba-raba tali untuk yang kesekian kalinya, dan saat ini tertambat pada ujung tebing, ah.. sudah sampai! Pikirnya tak kehilangan kewaspadaan. Meski kedengaran konyol, Dua Bakat jelas tidak mau menyerahkan nyawa karena kesalahan kecil. Saat tangannya mencapai bibir tebing, detik itu juga tubuhnya melesat kedepan, lalu menggelinding, dia tidak perduli meskipun lautan golok menghadang, karena dia siap! Tapi, setelah sekian lama menunggu dengan hawa sakti mengelilingi tubuhnya secara penuh, tidak terjadi apa-apa! Sungguh mengherankan… siapakah yang menolong dirinya? Kalau sang majikan, jelas tidak mungkin. Dia bisa menilai gerakan orang itu terbatas, lagipula untuk apa harus dirinya yang berangkat jika akhirnya orang tua itu yang datang sendiri? Kusut masai rasa pikiran Dua Bakat, meski banyak pertanyaan menggayut benak, dia tidak pernah mengira, akan begitu senangnya saat menjejakkan kaki di tanah datar.

Kabut yang menyelimuti sekeliling dirinya, membuat Dua Bakat memutuskan untuk menggunakan parwwakalamahatmya lebih cepat. Ketakutan terhadap keselamatan dirinya membuat setitik belas kasihan yang semula tumbuh di hati, terampas habis. Jika sebelumnya benda itu bisa bereaksi meski masih terbungkus dalam kotak, Dua Bakat memutuskan untuk membukanya. ‘Persetan dengan kehidupan yang ada, kabut sialan ini harus enyah dari pandanganku.’ Hanya itu yang terbetik dalam benak orang ini.

Tak bisa dipungkiri, rasa putus asa itu bisa menggelapkan kepekaan nurani, tapi jika kau menarik nafas lebih dalam, memenuhi rongga paru-parumu, merasakan setiap hisapan udara masuk kedalam tubuh dengan rasa syukur, kau akan mengerti hidup itu sebenarnya adalah anugerah. Merasa miskin dengan anugerah sangat istimewa seperti itu, merupakan kobodohan. Kebanyakan orang menyerahkan keputusan berdasarkan amarah, rasa putus asa, dan hanya mengandalkan pertimbangan akal, itu jelas tidak menjadi solusi akhir, cobalah kau berdamai dengan nuranimu. Bertanyalah padanya… manakala baik sepotong benda dalam tubuh manusia, maka akan baik pula seluruhnya, benda itu bernama hati (nurani). Selanjutnya, buat keputusan!

Dua Bakat jelas sudah kehilangan pertimbangan nurani karena guncangan rasa takut, dengan tangan gemetar, dikeluarkan parwwakalamahatmya, seperti sinar yang menembus kepekatan malam, pendaran hawa dari dalam kotak itu langsung menyibak kabut sejauh dua langkah. Orang ini berpikir, jika dirinya membuka kotak, tentu kabut akan bergerak lebih jauh lagi. Masih dengan jemari bergetar…

“Hm!” satu gumaman membuat Dua Bakat berjingkat kaget, jemarinya segera mencengkeram kotak—kawatir ada yang berupaya merampas, memasukkannya dalam kantong kulit khusus dan menyembunyikan di balik baju. Kabut yang sempat tersibak kembali menyelimuti sekitar Dua Bakat. Rasa kebas yang merambati jemarinya, tidak diindahkan. Ketegangan atas hadirnya pihak lain di lembah ini jelas menyita perhatian lebih banyak. Dengan sangat perlahan Du Bakat bergeser menjauh dari tempatnya berdiri.

Dua Bakat jelas tidak ingin bertindak bodoh dengan bertanya siapa orang itu, seluruh indera pendengaran dan kepekaannya di pusatkan untuk merasakan lingkungan seluas dua puluh langkah, tapi dia tidak menerasakan apapun. Begitu senyap, seolah hanya tebaran batu-batu yang tersembunyi di balik kabut. Mendadak dari balik kabut muncul setitik cahaya, pendaran cahaya hanya terang sesaat, dan meredup seperti kunang- kunang dari balik malam. Cahaya itu bukan hanya satu, tapi banyak dan berjajar menjalar seperti titik-titik api yang secara simultan hidup, menjalar. Meskipun dia bodoh—pada kenyataannya jelas tidak—Dua Bakat bisa melihat itu adalah ‘jalan setapak cahaya’, titik cahaya pertama sudah padam. Meski tidak tahu cahaya itu akan menuntun kemana, Dua Bakat segera melesat mengikuti jalan itu.

Di ujung cahaya, Dua Bakat menemui kenyataan titik cahaya itu hanya segumpal benda yang habis karena terbakar, entah terbuat dari apa. Tapi yang jelas kehadirannya sudah diketahui warga Lembah Halimun, tapi mengapa dirinya tidak di kuntit, sebagaimana cerita-cerita yang selama ini beredar diluaran?

“Lihat petamu!” terdengar suara lirih menyusup ketelingannya, namun menimbulkan gaung di kepala Dua Bakat, membuat lelaki ini menjadi pening, sungguh dunia dalam Lembah Halimun penuh dengan kemisteriusan, entah siapa orang yang berulang kali ‘menyelamatkannya’. Lagi-lagi dalam hatinya timbul syak wasangka, apa mungkin itu sang majikan? Minimal orang suruhannya… tapi, lagi-lagi dugaan itu dia mentahkan sendiri.

Dengan menajamkan matanya Dua Bakat melihat peta dari sang majikan, pada catatan awal tertulis, ‘lepas dari cahaya, dua langkah kekiri, raba sebuah nisan.’ Karuan saja Dua Bakat melongo membaca itu, seolah antara: tali, cahaya, dan peta sang majikan, ada jalinan kisah yang membentuk simpul mati! Dan membuat hatinya terasa rumit. Kuduknya meremang, kali ini dia sadar betul, dirinya mutlak menjadi pion yang hanya bisa berjalan lurus. Tak ada jalan mundur. Entah nanti hidup atau mati, itu juga menjadi pertanyaan besar. Berpikir begitu, malah membuatnya lebih tenang. ‘persetan!’ desisinya sambil menggertak gigi.

Dua Bakat mulai melangkah kekiri, kaki dan tangannya meraba-raba dalam kepekatan kabut, tapi dia tidak membentur sesuatupun, kembali ketempatnya, Dua Bakat mengganti arah dan menggeser kekiri, demikian seterusnya, pada kali ketiga—saat tubuhnya sudah membalik 180 derajat dari tempat kedatangannya tadi, barulah dia merasakan ada batu. Aha.. ini dia! Cetusnya gembira.

Dia belum tahu setelah diraba, hendak diapakan? Belum lagi benaknya memutuskan untuk melihat peta, sebuah gerakan dibawah kakinya membuat Dua Bakat kaget, sebuah lubang menganga menjerumuskan dirinya yang masih diliputi keterkejutan. Tangannya meraih kesana-kemari, tapi tak juga mendapatkan sesuatupun untuk digunakan sebagai penahan tubuh.

Bluk! Dua Bakat sampai diujung dasar dengan dada berdesir lega, untunglah lubang itu tak terlalu dalam, pikirnya. Paling tidak hanya dua tombak saja. Di dalam lobang tidak ada kabut, itu membuat secercah harapan kembali bersemi di hati. Dua Bakat, tahu harus kemana. Ternyata peta dari sang majikan, menggambarkan jalan bawah tanah! Tapi, jika jalan hanya ada satu ruas terbentang, apakah peta diperlukan?

Dalam tiap langkahnya, Dua Bakat berpikir; ‘Apakah ada golongan dalam Lembah Halimun yang menudukung rencana sang majikan? Orang luar menyusup kedalam lembah ini tanpa diketahui, jelas tidak mungkin. Sepanjang perjalanan, Dua Bakat sudah puluhan kali menyamar, tiap orang yang dia jumpai, di duplikasi sedemikian rupa, untuk mengaburkan perhatian pihak Swara Nabhya. Tapi, makin mendekati lembah itu, dia tak menjumpai satupun orang. Dan kondisi seperti itu justru mencemaskannya, mau berapaka kali pun menyamar, jika tidak ada orang yang bisa disamarkan, kehadirannya sebagai orang asing, tetap bisa terendus.

Setelah beberapa puluh langkah, suara desir tertangkap telinga lelaki itu, ketegangan kembali mencekam dirinya. Boleh dibilang Lembah Halimun adalah sarang hantu, mungkin sampai sekarang, hanya dirinya yang sanggup masuk sejauh ini—terlepas dari banyak keganjilan yang membantunya. Diam-diam Dua Bakat meruntuk dalam hati, entah kenapa tugas semacam ini-pun dia mau mengerjakan. Kesetiaan pada sang majikan memang landasan utama, tapi sikap aneh orang tua itu akhir-akhir ini, membuat dia menjadi ragu-ragu dalam bersikap.

Desir suara itu bagai gemuruh di dadanya, Dua Bakat paham betul dengan perasaan ini, desakan yang memaksanya harus mengerahkan hawa sakti—dengan lari terbirit-birit, jelas merupakan pekerjaan orang, bukan keanehan alam. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah berlari, dan berlari. Persetan dengan gelapnya lorong bawah tanah! Persetan pula dengan air yang mulai menggenangi kakinya!

Dua Bakat dihadapkan dengan lorong cabang lima, yang tanpa pikir panjang diambilnya lorong paling kiri—setidaknya itu tertera dalam peta sang majikan.

“Setan alas! Buntu!” desisnya dengan ketakutan merambat dada. Gemuruh karena tekanan hawa sakti seseorang masih membangunkan bulu kuduk, kini ditambah lagi jalan buntu. Seluruh otot dalam tubuhnya mengejang. “Sial!” geramnya dengan geraham mengatup.

Tak teringat ada tulisan dalam peta, supaya menghantam tanah tepat pada dinding penghalang. Kepalan tangan menghantam dinding dihadapannya. Desssh! Curahan hawa sakti karena desakan rasa takut dan panik, membuat ledakan tenaga dari tubuh Dua Bakat berlipat ganda. Dinding penghalang yang terhantam, secara aneh meluruh dalam debu, menyibak lapisan belakang penghalang yang membuat bunyi gemuruh menggaung tiba-tiba memenuhi lorong itu.

“Lebah!” pekik Dua Bakat dengan kuduk meremang kian dalam. Sebisa mungkin dirinya meminimalisir nafas, membuatnya seperti batu, selapis demi selapis hawa saktinya ditarik supaya tidak memancarkan gelombang. Bakat tertinggi Dua Bakat jelas ilmu menyamarnya, bahkan kondisi batu-pun, dia bisa menyerupainya. Dingin, kokoh, diam dan membeku. Lebah-lebah beterbangan disekliling Dua Bakat tanpa melakukan apapun.

Gelapnya lorong tidak bisa menyembunyikan siulet tubuh lebah, dari ekor matanya, Dua Bakat bisa melihat betapa besar lebah yang keluar dari lubang pukulannya. Paling tidak sebesar kepalan tangan. Hatinya terguncang, tapi lantas dengan segera di katupkan lagi matanya. Dia harus membuang jauh-jauh pengelihatan tadi, karena mempengaruhi pikiran, dan itu akan menimbulkan keringat. Setitik keringat akan membuat lebah itu mendekatinya. Sungguh konyol rasanya orang seperti dirinya harus mati disengat lebah. Dua Bakat hanya bisa tersenyum pahit, gejolak hatinya mereda, seluruh pikiran ruwetnya perlahan mengabur, hilang… ditelan getar kepak sayap lebah. Entah berapa lama Dua Bakat berada dalam kondisi membantu, perlahan ototnya menggeliat, dan berapa saat kemudian matanya terbuka. Instingnya bisa meraskan lebah- lebah itu tidak kembali kedalam lubang yang tadi dibuatnya.

‘Apa boleh buat…’ pikir Dua Bakat serba salah, mundur jelas tidak mungkin, jalan satu-satunya hanya masuk dengan memperbesar lubang yang sudah dibuatnya.

Desh! Desh! Desh! Rentetan pukulan bertubi-tubi dan sangat terukur memperlebar lubang yang sebelumnya sudah dibuat. Hawa sakti yang dimiliki Dua Bakat ternyata sanggup menggerus dan mengurai batu karang hingga menjadi debu. Tapi pekerjaan itu jelas bukan hal mudah, dia harus berhenti cukup lama untuk mengembalikan tenaga yang tadi dihamburkannya.

Saat Dua Bakat masuk kedalam lubang, pemandangan pertama yang menyapa bola matanya jelas sebuah ruang kosong nan gelap. Untuk menyalakan api di tempat selembab itu jelas cukup sulit, untung saja matanya cukup tajam. Berangsur-angsur retinanya bisa beradaptasi dengan kegelapan, dan citra dalam lorong dibalik penyekat itu membuat kuduknya kian meremang.

Betapa tidak, semilir angin yang mendesir dengan hawa lembab; ternyata adalah aliran air yang menembus masuk kelorong bawah. Seperti air terjun, namun kedapnya lorong itu membuat gemercik suaranya tersekap begitu rupa.

Saat dirinya termangu-mangu, dengung lebah sudah kembali! Dua Bakat jelas menginginkan dirinya kembali dalam kondisi membatu, tapi dia tidak lagi sanggup memfokuskan pikirannya. Sebab desakan tenaga yang tadi menghilang, kembali menyerang dirinya!

‘Kurang ajar!’ pikirnya. Apa boleh buat, akhirnya Dua Bakat berasumsi, dibalik aliran air itu pastilah ada ruang kosong. Sebelum melompat menerobos, Dua Bakat melepaskan pukulan jarak jauh!

Brak! Aliran air itu dengan mudah tersibak, pukulan tadi menembus sesuatu dibaliknya, menghancurkan lapisan itu dan membuatnya menjadi buta sesaat! Secercah sinar menyilaukan langsung diserap oleh retinanya begitu saja. Dua Bakat jelas ingin menggosok matanya, tapi dengung dibelakangnya yang kian dekat membuatnya tidak memiliki pilihan selain harus menerobos kedepan! Dengan gaya loncatan bagai harimau menerkam, tubuhnya masuk melalui celah yang dibuat oleh pukulan tadi.

Tapi, hatinya terasa tenggelam… karena dia tidak merasakan ada hamparan daratan untuk mendarat, seolah dirinya masuk kedalam ruangan tanpa batas, dan kesadarannya memudar seketika.

===o0o===

Empat orang itu duduk bersila dengan tenang, mereka sedang menunggu sang atasan menemui. Sungguh tidak biasa mereka harus menunggu selama itu. Hampir sepenanakan nasi kemudian, barulah pintu di hadapan mereka terbuka. Mereka berempat segera menghaturkan sembah.

Orang itu mengulapkan tangannya. “Bagaimana dengan tugas kalian?” Satu demi satu melaporkannya, ternyata keempat orang ini memiliki tugas seperti halnya Dua Bakat, mereka mengambil keping demi keping lencana untuk diserahkan kepada seorang tukang jagal sapi. Mencari kepingan yang di maksudkan sang atasan, jelas sebuah permasalahan tersendiri, tapi mereka sukses dengan tugasnya.

“Jadi, dia sudah menerimanya?” gumam orang ini sambil menekan dadanya yang masih terasa sesak. Benturan yang terjadi dengan sosok mencurigakan—setelah menjumpai Sandigdha, sampai saat ini belum bisa dienyahkan. Padahal Pukulan Pratisamanta Nilakara yang berhasil diyakini, sangat pilih tanding.

“Sudah, tuan…” jawab keempatnya serempak, masing- masing memang menyerahkan kepada orang yang sama— dalam waktu berlainan.

“Bagus!” ujarnya dengan seringai suka cita. Mimpi untuk menguasai berlaksa tanah dengan mahkota menghias kepalanya, sudah terlalu sering menganggu tidur. Tapi dengan keterangan para anak buahnya yang terpercaya, mimpi itu makin dekat diambang mata.

“Kalian tidak menjumpai kesulitan?” Tanya Pejabat Pratyadhiraksana menyambung, sambil menyapukan pandangan mata pada keempat anak buahnya.

Mereka menggeleng dengan mantap. Keempat orang ini jelas bukan tokoh sepele, bahkan dua diantaranya merupakan tokoh kasta tinggi dari Perguruan Naga Batu. Meskipun mereka terkadang mempertanyakan keanehan kelakukan sang atasan, namun ketinggian ilmu orang itu menundukkan hati mereka. Masing-masing menceritakan, betapa pencarian keping yang dimaksud tidak membawa bahaya, tapi penuh teka-teki. Dan saat menemukan benda—yang ternyata dibagi menjadi empat itu, masing-masing tersimpan begitu saja di rumah penduduk biasa. Setidaknya kesimpulan itu mereka dapatkan, setelah melakukan penyelidikan selama beberapa hari.

Pejabat Pratyadhiraksana mengerutkan kening, mendengar keterangan tersebut. Bagaimana mungkin, lambang sepenting itu, disembunyikan secara sembarangan? Keluarganya menghimpun ragam informasi yang cukup mendetail, dan demi ambisnya, sejak masa mudanya dia sudah mempelajari semua informasi itu dengan seksama. Secara umum, lambang pada lencana yang mereka cari adalah; sebuah lingkaran dengan satu garis vertikal dan tiga garis horizontal berjajar. Tapi, dari catatan yang ditemukan dalam perpustakaan istana, mengambarkan lambang tersebut masih ditambah gambar latar lain. Perbedaan itu menjadi pertimbangan selama beberapa hari ini, tapi bertumpuknya masalah membuat dia tak lagi memikiran hal tersebut.

‘Ah, biarlah…’ pikirnya dengan kening masih berkerut. “Ada hal lain?”

Dua orang dari mereka saling pandang, “Ada yang aneh… tapi tidak ada kaitanya dengan tugas kami.”

“Ceritakan!”

Secara bergantian mereka mengisahkan perjumpannya dengan seorang lelaki paruh baya (penyamaran Jaka Bayu) yang memiliki kemampuan sangat menjengkelkan, berkali-kali mereka memukul, tapi selalu saja mengarah pada titik yang itu-itu saja. Lebih mengesalkan lagi, pukulan mereka tidak menimbulkan dampak apapun.

Wajah Pejabat Pratyadhiraksana nampak berubah. “Apakah dia menyatakan sesuatu?” dalam hatinya dia sudah memiliki dugaan, tapi terlalu dini jika harus diungkap sekarang.

“Tidak, hanya diam. Bahkan memprovokasi saya untuk turut menyerang.” Lalu berceritalah ia secara runtut apa yang terjadi.

Tidak yakin dengan apa yang didengar anak buahnya membuat orang ini hanya manggut-manggut saja. “Kemungkinan besar aku mengenal orang itu, tak perlu kalian risaukan.” Bagaimanapun dirinya harus menjaga wibawa di depan mereka. Mengatakan tidak tahu, jelas mencederai ‘kebesarannya.’

“Sekarang, apa yang harus kami lakukan?” salah seroang bertanya.

Pejabat Pratyadhiraksana termenung sejenak, agaknya orang yang bertempur dengan anak buahnya cukup menyedot perhatian. “Kalian amati setiap gerak langkah di sekeliling bendahara.” Ujarnya dengan datar.

“Sendika tuan.”

“Dan manakala kalian bertemu orang yang kebingungan mencari jejak seperti ini, bawa dia ketempat biasa.” Pejabat Pratyadhiraksana menunjukan satu gambar lingkaran dengan beberapa garis mengelilinginya, citra seperti itu seperti gambar matahari yang dibuat anak-anak. “Sendika tuan.” Secara serempak keempatnya menyembah dan segera berlalu dari hadapan Pejabat Pratyadhiraksana.

Menatap kepergian anak buahnya, orang ini menghela nafas dalam-dalam. Ada rasa senang, tapi ada juga kekawatiran. Lambang pada lencana yang sudah ditemukan anak buahnya, adalah Kosamasangkya. Secara harfiah, berarti gudang harta tak terhitung. Kosamasangkya memiliki kedalaman informasi yang sangat berharga. Dia sendiri tidak mengetahui secara persis, tapi dari jalur keluarganya, Pejabat Pratyadhiraksana memastikan memiliki petikan-petikan informasi berharga dari tiap barang yang dianggap remeh. Dalam gudang kerajaan didapatkan secarik infomasi tentang keberadaan Kosamasangkya—dalam selipan kidung asmara, yang bagi para petinggi kerajaan dan anak keturunan raja, sama sekali tidak memiliki arti.

Kidung itu menyiratkan; taring yang tersembunyi di balik taburan air, menunggu saat untuk membayar upeti. Sepenggal kalimat itu tidak memiliki makna apapun, tapi dengan kecerdikan orang ini, dia bisa mengartikan bahwa; taring— mengartikan ancaman. Hal tersembunyi dibalik taburan air, adalah kabut. Dan satu-satunya tempat berkabut yang membahayakan adalah Lembah Halimun. Dan ‘menunggu’, menurutnya adalah; kurir yang bertugas menjemput segala macam urusan dari luar Lembah Halimun. Jadi orang ini berasumsi, ada pihak yang menunggu untuk membayar upeti, atau hutang. Dia ada di balik Lembah Halimun. Tentu, sewaktu-waktu orang semacam ini hanya bisa keluar tenaga saat Kosamangkya datang. Kosamangkya merupakan lencana hutang, dan pada kesimpulan akhir, kau bisa memanfaatkan golongan berhutang dari Swara Nabhya untuk kepentinganmu. Sudah jelas, Swara Nabhya memiliki sebuah aturan yang ketat, lencana hutang tidak akan berarti apapun, saat hutang yang ditagihkan merugikan Swara Nabhya. Maka, lelaki dengan jabatan Pratyadhiraksana ini, merancang sedemikian rupa muslihat secara halus—dengan meminjam tangan. Dia hanya ingin, siapapun orang yang mendapatkan Kosamasangkya dari si tukang jagal, dapat memberi pertolongan demi pertolongan bagi orang yang berkunjung ke Lembah Halimun dalam waktu dekat ini. Dan itu, jelas tidak akan merugikan Swara Nabhya, karena mereka tidak tahu bahwa sang tamu membawa parwwakalamahatmya.

Bagi pejabat Pratyadhiraksana. Tukang Jagal Sapi hanya kurir. Tapi, jelas dia bukan orang sembarangan. Jika ada daftar seratus tokoh terkemuka di dunia persilatan dewasa ini, tak ada satupun yang sanggup masuk kedalam Lembah Halimun. Tapi orang itu ternyata bisa. Derajatnya jelas bukan main-main.

Rencana mantan gurunya sangat jelas terbaca olehnya. Dia mengerti benar, mantan gurunya ingin mengguncang dunia persilatan dengan memanfaatkan Swara Nabhya— entah dalam bentuk rencana apa. Dalam waktu yang khusus, dia pernah menuturkan bahwa dirinya memiliki salinan peta dalam Lembah Halimun, yang didapatkan dari usaha mata- mata. Bukan mudah usaha penyelundupan itu, sebab selalu saja mengalami kegagalan tiap tahunnya. Tapi, bukan tak memiliki hasil—tiap nyawa yang terkorban selalu membuahkan titik-titik informasi—meski terbatas.

Selembar peta yang kali ini berada di tangan Dua Bakat, adalah hasil dari pengorbanan nyawa puluhan orang, dengan rentang waktu puluhan tahun pula. Dirinya tak pernah mengambil hati ambisi mantan gurunya, tapi pada suatu kesempatan, tanpa sadar, dia menyebutkan: saat parwwakalamahatmya datang, hanya ada dua pilihan bagi Swara Nabhya. Menang jadi arang atau, kalah jadi abu. Dari situ, tidak perlu menjadi cerdas untuk mengetahui, seberapa berbahayanya parwwakalamahatmya. Cukup dari perkataan itu, membuat Pejabat Pratyadhiraksana meletakan pondasi rencananya, menunggangi segala kepentingan mantan gurunya!

Bukan tanpa alasan, dirinya membelenggu Dua Bakat sekalian dengan totokan khusus, orang yang pernah diandalkan oleh mantan gurunya di masa lalu, tentu akan menjadi alat berharga baginya pula. Totokan khas keluarganya yang dimodifikasi dengan ilmu Pukulan Pratisamanta Nilakara, tentu tidak akan sanggup di buka mantan gurunya. Kemampuan totokan yang membatasi fungsi jantung dengan waktu yang sangat terbatas, membuat dia bisa memata-matai seluruh gerakan Dua Bakat sekalian. Sebab; orang yang keselamatannya tergantung pada dirinya, pasti akan melacak jejak—yang sengaja ditinggalkannya. Dan sudah tentu mantan gurunya, akan bergerak dibelakang Dua Bakat sekalian.

Orang ini mengepalkan tangan dengan senyum lebar, seluruh rencana si tua Bangka jelas ada dalam genggaman! Dia bisa mengatur alur tiap rencana sekehendak dirinya. Paling tidak, itu yang ada di benaknya. Sama sekali tidak disadari, misi yang di emban oleh Dua Bakat, adalah mengambil racun yang justru merusak secara tak langsung impiannya! Alangkah ironis, sementara tiap pertolongan yang ada di Lembah Halimun adalah atas andilnya, tapi diwaktu yang berbeda, Dua Bakat akan menimpakan buah simalakama padanya. ===o0o===

Sebuah lonceng sudah dibunyikan, tukang jagal sapi itu mendesah sedih. Dia duduk termangu sambil membayangkan kerusakan apa yang akan ditimbulkan karena ditemukannya Lencana Kosamasangkya. Seharusnya dia bisa menghentikan ini, tapi janji leluhur mengikatnya, demikian pula dengan belasan jiwa keluarganya yang kini dijadikan jaminan. Apa yang bisa dilakukannya saat ini hanya berharap ada pihak yang sanggup menghentikan laju rencana gila ini.

Lencana Kosamasangkya merupakan suara yang bertalu- talu, merembat dalam gema yang sunyi, dengan kecepatan melebihi perkiraan siapapun, sebuah rentetan dari tali temali rencana yang telah disusun sedemikian rupa dari puluhan tahun silam. Saat lencana ditemukan, saat lencana sampai di Lembah Halimun, maka pada saat itu pula-lah harta berupa emas segera bertebaran di segenap penjuru. Bukan sebagai pengganti atau ganti rugi atas tutupnya usaha—seperti yang terjadi pada Biro Pengiriman Golok Sembilan, tapi emas yang beredar itu justru sebagai penanda bagi setiap kalangan yang berkaitan dengan rencana awal. Tanda untuk bergerak!

Emas, tidak mungkin mampir di tempat-tempat remeh, apalagi didapatkan oleh orang-orang remeh. Emas akan mencari majikan yang setara. Golok Sembilan Bacokan telah salah mengira, dia berpikir harga yang akan dikeluarkan para pengirim barang itu adalah untuk menghilangkan jejak perguruannya. Emas yang telah dibagi-bagikan kepada anak muridnya, kini telah berpindah tangan. Ada banyak cara mendapatkan 144 batang emas murni, kebanyakan dari kejadian ‘perampokan’, sebagian yang lain berpindah tangan karena judi. ===o0o===

Racun dalam diri Phalapeksa sudah terlalu dalam dan terlampau lambat untuk ditangani, membuat Jaka harus bersabar. Banyak pertanyaan di bendak pemuda ini, yang mungkin saja Phalapeksa bisa menjadi rujukan jawaban.

Ada satu beban dalam hati pemuda ini yang hingga kini belum bisa dia ungkap, yakni; mengenai kemungkinan adanya mata-mata di dalam kelompoknya sendiri. Korban yang telah berjatuhan di pihak Jaka, mutlak karena adanya pihak ketiga yang mengetahui rencana yang akan dijalankan. Antisipasi mereka membuat Jaka harus merelakan sahabat-sahabatnya menjadi korban.

Kesalaha seperti itu tak mungkin lagi dilakukan Jaka, bukan karena dia sangat hebat. Tapi pemuda ini tidak mengijinkan dirinya untuk menghadapi korban lebih banyak lagi. Biarlah kali ini ‘lubang’ masih menganga di tubuh kelompoknya, tapi dengan cara mengikuti tali yang menarik jerat, tentu akan diketahui siapa yang turut menarik keuntungan didalamnya.

Jaka menitipkan Phalapeksa secara khusus kepada Ekabaksha, meski orang itu sangat tidak sabaran dan cenderung berangasan, tapi pada dasarnya apapun permintaan Jaka tidak pernah tidak dia laksanakan. Tentu bukan tanpa tujuan Jaka menugaskan Ekabaksha, Phalapeksa bisa saja dihilangkan karena dia merupakan saksi kunci.

Kambing hitam. Ya, Jaka kini sedang menyaksikan ‘kambing hitamnya merumput’, pemuda ini tengah menyaksikan Sembilan Belantara mondar-mandir diantara ramainya pengunjung pasar. Orang seperti dia jelas sedang berupaya bertemu dengan teman-temannya. Persis seperti yang di pinta oleh Jaka, supaya dia bergerak bersama teman- temannya.

“Ah, orang itu lagi…” gumam Jaka saat melihat salah seorang dari penyerangnya tengah berada di dalam pasar pula. Sepertinya bukan kebetulan dia berkunjung kesana. Sebab baju kebesarannya sebagai prajurit tidak ditanggalkan.

Pemuda ini segera menyusup mendekat, ekor matanya bisa melihat di tangan sang prajurit tergenggam gambar bulatan dengan garis beraturan yang mengililinginya, gambar matahari. Sangat remeh.

Kejadiannya hanya sesaat, perajurit itu berjalan berpapasan dengan Sembilan Belantara, dan beberapa detik kemudian ‘kambing hitamnya’ segera menguntit si prajurit. Jaka menyeringai, kejadian semacam ini bisa dibilang karena nasib baik sedang berpaling kearahnya. Kondisi Sembilan Belantara yang dalam keadaan tertotok, sudah cukup memberikan penjelasan pada Jaka. Mungkin kali ini adalah hari akhir dari masa totokan. Jadi, harus diperbaharui. Dan tentu saja Jaka bisa dengan leluasa melihat siapa orang yang melakukan totokan itu.

‘Menyenangkan…’ pikirnya sembari membeli beberapa jajanan pasar lalu, mengikuti kambing hitamnya dengan santai.

Pasar itu masih tetap ramai. Jika Sembilan Belantara mengikuti si prajurit, maka Jaka menguntit Sembilan Belantara. Tapi ada beberapa orang lagi yang turut menguntit Sembilan Belantara, dan dia tidak menyadari Jaka menjadi bagian dari mereka. ==o0o==

118-Domino Effect : Menjangkau Ufuk Masalah

Jika ada orang tertawa karena lucu, itu biasa. Tapi manakala ada orang lain sedang terbungkuk-bungkuk kesakitan, sedang dia tetap tertawa, itu sakit! Sembilan Belantara sudah mulai merasakan nyeri menusuk jantung, serasa ada bilah yang menyayat sedikit demi sedikit mengores tiap sudut, mengembunkan beribu bintik keringat di sekujur tubuh.

Wajahnya belum lagi terlalu tua, tapi penderitaan yang teramat sangat membuatnya terlihat dua puluh tahun lebih tua. Dari kejauhan Jaka mengerinyitkan dahinya, pada saat dia berbincang dengan Sembilan Belantara, dia melihat adanya anomaly pada sekitar dadanya, lebih dekat lagi saat dia menyentuh nadi leher dengan sekali usap, pemuda ini tahu ada sesuatu yang menarik.

Tentu saja Jaka tidak terus bertindak untuk menyelamatkan Sembilan Berlantara, dia harus menunggu pemeran utama muncul. Dalam perkiraannya, tidak mungkin para prajurit itu mencari Sembilan Belantara hanya sekedar bermain-main. Sudah semestinya, mereka mendapat mandat untuk membawa Sembilan Belantara dan tiga orang rekannya kesebuah wilayah yang bebas. Jaka mengedarkan pandangan mata, dia mencari kemungkinan rekan-rekan Kambing Hitamnya mengikuti.

“Totokan di dadamu akan mereda sesaat lagi, ada empat jenis rasa sakit yang akan kau nikmati. Masing-masing hanya berselang satu jam.” Salah seorang prajurit menerangkan. Sembilan Belantara tidak tahu harus bicara apa, tapi dia paham, waktu tersisa untuk dirinya masih ada tiga jam lagi. Dan selama itu pula waktu yang dimiliki ketiga rekannya yang lain. Dalam rasa sakit yang mendera jantung, Sembilan Belantara masih sempat mengedarkan pandangannya menyapu keadaan sekitar.

Tak ada satu orangpun rekannya dijumpai, mungkin mereka terlambat mengikuti jejak, atau bisa jadi kehilangan jejak. Padahal kemarin, mereka masih bahu-membahu menguntit orang yang di tunjuk oleh si topeng (Jaka Bayu) yang membuatnya batuk setengah mati, dan menelanjangi para telik sandi milik sang bendaharawan tersebut. Diam-diam dirinya mengeluh, menyesalkan kenapa memperturutkan hawa nafsu, kini dia berpendapat; lebih baik ’terkurung’ di Perguruan Lengan Tunggal, dari pada harus mati tanpa arti. Sudah dimanfatkan murid sang majikan, kini dimanfaatkan pula oleh orang bertopeng tak dikenal.

Didasar hatinya, timbul letupan rasa marah karena kebodohan yang dilakukan. Meskipun rasa sakit membuat tenaganya tidak ada lagi, tapi matanya menyorot nyalang. Ditatapnya dua orang perajurit itu lekat-lekat.

“Mau menghafal wajah kami?” ujar salah seorang sambil mencengkeram leher baju Sembilan Belantara dan menyentak kehadapannya. “Lihat baik-baik!” desisnya. “Siapa tahu jika tuan berkenan memperpanjang masa hidupmu, kau bisa menempur kami setelahnya!”

Sembilan Belantara tidak dapat mengatakan sepatah katapun, tapi matanya masih hidup! Seolah melontarkan ribuan kata menyambuti tantangan tersebut. Prajurit tersebut menghempaskan Sembilan Belantara, seraya menoleh kepada rekannya. “Apa kita masih diperlukan disini?”

“Tidak, beliau akan mengurus orang-orang ini sendiri.” Sahut temannya.

“Baiklah… kurasa tiga orang yang lain akan segera menyusul kemari.” Gumamnya sembari beranjak meninggalkan Sembilan Belantara. “Tugas kita hanya mengamankan tempat ini saja!”

Mereka pergi entah kemana, meski demikian Jaka tidak beranjak, dia tahu tak jauh darinya dua orang rekan Sembilan Belantara sudah jatuh tengkurap sambil mencengkeram dadanya. Mereka bergulingan kesana kemari, dengan mata membeliak. Jelas keadaan mereka tidak sama dengan Sembilan Belantara. Satu totokan percobaan Jaka yang diusapkan secara rahasia pada Sembilan Belantara, ternyata memberikan satu perbedaan.

Keputusan Jaka untuk tidak keluar dari persembunyiannya membuahkan hasil. Pemuda ini mendeteksi adanya satu tekanan tenaga menghampiri tempat itu—mungkin hanya dia sendiri yang menyadari.

Satu sosok bayangan berkelebat dan dalam lain kejap sudah berdiri dihadapan Sembilan Belantara. Dia menenteng dua tubuh lainnya, lalu melemparkan begitu saja bersisian dengan Sembilan Belantara.

Sembilan Belantara tercekat, menyadari dua sosok itu adalah Empat Serigala dan Tujuh Ruas. Orang itu menatap Sembilan Belantara dengan alis berkerut, namun perubahan wajahnya itu tidak terlihat, karena kepalanya ditutupi caping berumbai yang menghalangi wajah.

“Dengan siapa kau bertemu?!” tanpa basa-basi orang ini bertanya pada Sembilan Belantara dengan tandas.

Karuan saja lelaki paruh baya itu mengejap bingung. “Ma- maksud tuan?” katanya balik bertanya dengan suara tersendat.

“Seharusnya kau masih seperti ini.” Ujarnya dengan suara getas sembari menunjuk dua sosok lain yang masih mengerang dan bergulingan.

Sembilan Belantara tergagu, kini dia paham sudah! Orang yang menganggapnya sebagai Kambing Hitam ternyata benar-benar bisa menawarkan tototkan murid jujungan mereka! Meski tipis, suaranya menyiratkan keterkejutan. Dia bukan orang bodoh, situasi seperti ini harus dimanfaatkan.

“Oh… ma-maksud tuan, dd-di-a?” Tanya orang ini setengah mengerang. Lelaki bercaping itu jelas cukup sabar menunggu kelanjutan ucapan Sembilan Belantara, dia tidak berkomentar, siapa gerangan ‘dia’ yang dimaksud. “Sa-saya bertemu secara tidak sengaja… dia mengancam saya untuk mematai-matai gerakan seseorang dan kelompoknya…”

“Kau tidak mengenalnya?” tanyanya dengan nada tajam.

Sembilan Belantara menggeleng pelan. “Dugaanku, dia orang yang cukup terkenal dikalangan tertentu.” Lalu orang ini menjelaskan perawakan Jaka Bayu. “… matanya terlihat biasa, bukan seperti kalangan pesilat pada umumnya. Meski menutupi wajahnya, dari kerut matanya saya dapat menduga orang itu gampang tersenyum.” “Ciri lain?” kerjarnya lagi.

Sembilan Belantara seperti mendapat berkah, tidak disia- siakan permintaan orang itu. Apa yang di saksikannya—saat Jaka membuat Sandigdha harus bertekuk lutut untuk kesekian kaliannya—di utarakan semua, tentu saja dengan bumbu- bumbu yang tidak penting. Dilebih-lebihkan sedemikian rupa, sehingga mencitrakan bahwa orang yang dia jumpai benar- benar tokoh yang menakutkan.

“Apa yang dia lakukan padamu?”

Sembilan Belantara jelas tidak tahu, apa yang Jaka lakukan terhadap dirinya, tapi itu dapat menjadi bekal untuk membual memberikan tekanan psikologis pada murid sang majikan!

“Dia hanya menyatalan, saya tertotok dengan cara yang khas. Lalu melakukan usapan di punggungku… ah tidak, lebih tepatnya tepukan. Sa-saya tidak tahu apakan itu memberikan perbedaan atau tidak. Tapi sebelum meninggalkan saya, dia tertawa gembira, katanya: ‘benar-benar menyenangkan… ada orang yang membuat teknik demikian, nampaknya dia cukup berharga untuk melihat bayanganku.’” Tutur Sembilan Belantara dengan hati sedikit gembira, paling tidak dia bisa ‘memaki’ meski harus mengatasnamakan orang lain.

“Kurang ajar!” geram orang bercaping ini, nampaknya cara penyampaian Sembilan Belantara cukup membakar hatinya. Demikian juga Jaka, pemuda ini hanya bisa menggerutu dalam hati mendengar penuturan Sembilan Belantara yang jauh dari kebenaran.

Meski hati dibakar penasaran, lelaki bercaping itupun segera menyadari anak buah sang guru itu kurang satu! “Dimana dia?”

Atas pertanyaan yang membingugnkan itu Sembilan Belantara gelagapan. “Maksud tu-tuan, orang itu? Ti-tidak tahu…” tapi saat mendengar dengusan orang itu, barulah dia menyadari jawabannya salah. “Dia sudah lebih dulu datang kemari.”

“Aku tahu, tapi dimana saat ini?”

“Itu.. itu.. saya tidak tahu. Ti-tidak ada tanda-tanda yang di tinggalkan. Mungkin dia sedang mengikuti majikan…”

Lelaki bercaping ini mengerutkan kening, dia yakin sang guru tak akan dapat membebaskan totokan yang digubah dari jalur keluarganya. Tapi, kali ini ada orang yang sanggup membuat totokannya berubah fungsi dari tubuh Sembilan Belantara, bergeser dengan sangat tipis. Dan kemampuan menggeser totokan, dia pandang lebih sulit dari membebaskannya. Dari penemuan inipun membuat kebanggaannya sebagai pemilik raja diraja totok, meluruh separuh. Mau tak mau, kemungkinan sang guru sanggup melakukan hal sama dengan yang terjadi pada Sembilan Belantara, bisa terjadi.

Tangan lelaki bercaping itu bergerak bagai penari, menjentik-jentik sebelum akhirnya melakukan satu gedoran di dada ketiga orang itu. Baik Sembilan Belantara, Tujuh Ruas dan Empat Serigala, langsung merasakan sebuah kelonggaran pada pernafasaan mereka, rasa ngilu dan sakit menyayat pada jantung hilang seketika. Ketiganya buru-buru menghirup nafas, seolah itu adalah hal terkahir yang bias mereka lakukan. “Seperti biasa, aku memperpanjang kemungkinan hidup kalian.” Ucapan itu cukup membuat semangat tiga orang itu meluruh lagi.

“Apa yang harus kami lakukan?” kali ini Empat Serigala yang lebih dulu pulih dari keterkejutan, bertanya.

Lelaki bercaping itu nampak diam sesaat. “Kalian pernah mendengar Keluarga Keenam?”

Ketiganya saling pandang. “Baru akhir-akhir ini…” jawab Empat Serigala di amini kedua rekannya.

“Cari jejak mereka!”

“Jika kami menemukannya?”

“Kalian tahu harus mencariku dimana. Jika punya keberanian, boleh coba-coba beradu tenaga dengan mereka.” Jawab lelaki bertopeng ini dengan nada lebih lunak. Kemudian dia membalikan tubuh, melesat pergi begitu cepat.

Disaat yang sama, Jaka tidak mau kehilangan kesempatan bagus ini. Ada kalanya pemuda ini tidak mau beradu tenaga, dia lebih suka menggunakan otaknya untuk membuat lawan tidak nyaman. Tapi, lelaki bercaping ini jelas sebuah kekecualian. Tubuh Jaka ikut melejit mengikuti pesatnya peringan tubuh lelaki bercaping. Baru belasan hitungan Jaka mengikuti orang itu, sebersit tenaga menyerangnya begitu pesat!

Sebuah caping melabrak Jaka dengan tekanan tenaga luar biasa. Pemuda ini terkesip, dalam tekanan tenaga itu ada daya sedot yang cukup masif, membuatnya kehilangan waktu sedetik untuk menghindar! Jaka berpikir cepat, jelas orang itu tidak mau jejaknya di kuntit! Waktu sedetik itu bisa membuat jarak mereka terpisah jauh. Pemuda ini bergegas menyambitkan seruling dari balik bajunya, bukan untuk membentur caping, tapi mengarah punggung lelaki itu.

Suara gaung yang keluar dari lubang seruling bagai belasan sendaren yang di lepas bersamaan, membuat lelaki yang menyambitkan caping itu, tidak mau ceroboh asal menghindar. Bunyi menggaung itu membuat dirinya sulit menentukan asal serangan dalam waktu sesingkat ini. Mau tidak mau dia harus membalikkan badan untuk memastikan benda yang mengincar dirinya tertepis.

Brak! Plak!

Secara bersamaan dua bunyi memecah kesiur angin serangan. Caping itu hancur berantakan sebelum menyentuh tubuh Jaka, demikian juga seruling pemuda itu lebur menjadi serpihan kecil. Kudang dari sedetik, kedua tubuh yang semula terpisah cukup jauh, sudah saling berhadapan.

Jaka tidak menyangka lelaki bercaping itu masih menggunakan kedok, sama seperti dirinya.

“Kau…” desis lelaki itu terkejut, sepertinya dia mengenali Jaka. Tentu bukan karena wajah pemuda ini—sebab dia menutupnya dengan kedok kain pula, tapi dia teringat dengan cerita Sembilan Belantara.

Jaka manggut-manggut. “Hari ini sungguh luar biasa, harapanku terkabul lebih cepat.”

“Apa maksudmu?” tandas lelaki itu tajam. “Aku ingin berkenalan dengan pemilik totokan unik.” Sampai disini, Jaka belum pernah menduga bahwa lelaki ini adalah orang yang sama, orang yang pernah dia hadapi pada saat mengintai kediaman Sandigdha.

Tawa dingin terdengar begitu meremehkan, jelas cara bicara orang ini tidak seperti orang normal. Dia menyembunyikan ciri yang kemungiknan bisa di kenali dengan sangat baik. “Keinginanmu, dapat menjadi doa terakhir bagimu!”

Jaka balas tertawa pula. “Kau mengatakan ‘dapat’, artinya kau tidak cukup percaya diri menghadapiku. Ini sudah cukup buatku untuk mengukur tingkatanmu. Tidak menyenangkan sama sekali…” Tandas pemuda ini membuat tawa lelaki itu jadi sirap.

“Kau menginginkan bahaya yang tidak pernah kau duga!” Gumam lelaki berkedok itu dengan bola mata kian nyalang menatap Jaka.

Pemuda ini merasa dari sekujur tubuh lawannya memancarkan aliran tenaga yang sangat halus, saking halusnya hampir-hampir Jaka tidak dapat membedakan dengan hembusan angin, tekanan tenaga lawannya membuat Jaka dengan cepat menganalisa macam apa tenaga sang lawan.

Satu kibasan perlahan dengan hawa hangat berpendar, hampir saja membuat Jaka terpekik antara kaget dan gembira. Nyatanya dia menghadapi lawan yang sama! Bedanya pada malam itu, Jaka masih sanggup merasakan tekanan tenaga sang lawan, tapi kali ini perbedaannya sangat mencolok. Dengan cara yang sama seperti saat pertama kali mereka berhadapan, pemuda ini menepukkan kedua tangannya di depan hidungnya, seraya berkata. “Bahaya adalah nama tengahku. Aku sangat menyukainya!”

“Ih!” lelaki itu terperanjat seraya melakukan kibasan dengan hawa lebih hangat dua kali dan melejit mundur. Terakhir kali dia melihat lawannya menepuk seperti itu, sebuah luka yang tak pernah diduga membuatnya harus menghentikan banyak aktifitas. Kali ini jelas sebuah ketotolan besar, jika dia terjerumus pada kesalahan serupa.

Angin pertama kibasan lelaki itu menekan Jaka dengan pola yang sangat aneh, seolah-olah Jaka masuk kedalam labirin penuh dengan sarang laba-laba. Untungnya tekanan itu dapat dia netralkan dengan tekanan serupa yang mendorong secara lembut. Cara mendorong benda yang lunak memang harus demikian, kau bisa membayangkan seperti menyentuh sehelai kain yang tergantung, apakah harus dengan gerakan cepat atau dengan usapan lembut untuk merasakan kualitasnya? Tentu saja dengan usapan yang lambat, untuk merasakan teksturnya.

Cara seperti ini jelas dapat dimengerti banyak kalangan pesilat, tapi kalau semudah itu, lelaki misterius ini jelas hanya setingkat tokoh ecek-ecek. Tapi, pada kenyataannya tidak demikian. Begitu Jaka mendorong secara lambat, tekanan yang dihasilkan dalam lambaian itu mengedutkan ragam jenis tenaga yang berupaya menyusup kedalam pertahanan Jaka, tanpa bias dibendung! Pemuda ini merasa, upaya yang dilakukannya cukup baik, tapi nyatanya apa yang pernah dilakukan malam sebelumnya, tidak menimbulkan hasil yang sama. Rambatan tenaga yang di hasilkan oleh serangan ringan lelaki itu membuat Jaka terkesip, sebab cara ini hampir sama dengan apa yang dia lakukan untuk menyerang lawannya pada pertemuan pertama! Saat itu Jaka mengerahkan ilmu mustika Badai Gurun Salju Panas Keras dan Hawa Dingin Penghancur Sumsum secara bersamaan, panas dan dingin bertemu, menyebarkan getaran yang merambat beresonansi pada pukulan lawan.

“Hiah!!” Dengan teriakan keras, Jaka memukulkan tinju keudara. Pukulan yang penuh tenaga dan membuat dua tekanan susulan terangkat secara tuntas. Dalam waktu yang sangat sedikit itu, Jaka dapat melihat satu celah kelemahan, bahwa serangan ‘cengkeraman’ tenaga yang tak terbendung itu hanya datang dari depan—menyesuaikan tekanan tenaga Jaka yang muncul melindungi diri dari depan saja. Dan cukup satu tekanan besar yang melontarkan, ternyata sanggup membuat Jaka terlepas secara tuntas. Kejadian ini tentu saja berjalan sangat cepat.

Dilain sisi, lelaki berkedok itu menemukan kenyataan bahwa rambatan tenaga yang di pancarkan dari tepukan Jaka sangat mudah dia halau, hanya karena rasa kejut—saat menyadari sang lawan adalah orang yang pernah melukainya, membuat dia menyerang secara beruntun.

Mereka berhadapan dan saling menilai kekuatan. “Sekarang, apakah kau masih dapat menepuk dada, bahwa bahya adalah karibmu?”

Jaka termangu sambil menatap lawannya. “Kau sungguh jenius!” akhirnya pemuda ini memuji seraya manggut- manggut, tidak menjawab sindiran lawannya.

Tidak memperdulikan pujian Jaka, lelaki ini kembali melambai… bukan, semula gerakan tangannya melambai, tapi mendadak berubah mengibas, mengepal dan dipukulkan secara tegas kedepan, hingga badannya sedikit menjorok kedepan. Dengan sigap, Jaka menepuk lagi. Kali ini hawa hangat serangan lelaki berkedok itu, bagai nila pada air jernih, menyebar dan tak terbentung, menerobos dengan lebih dahsyat, tidak cepat tapi lebih lambat, mencengkeram lebih luas dengan daya rusaknya lebih besar.

“Kau bisa memujiku lagi!” desisnya ingin melihat antisipasi lawan terhadap Pukulan Pratisamanta Nilakara yang kembali sudah dia gubah, setelah di waktu lalu mendapat kerugian dari Jaka.

Tepukan Jaka seperti sebelumnya, tidak ada perubahan apapun, hanya mengandalkan tekanan dua tenaga yang saling berbenturan hingga menimbulkan kehampaan diantaranya. Berfungsi untuk beresonansi dengan serangan lawan, tapi kali ini Jaka tidak bisa merambatkan serangannya pada jalur hawa pukulan lawan. Dan selanjutnya gerakan Jaka berhenti, seperti patung.

Lelaki itu mengerutkan kening, mengamati sejenak memastikan tidak ada gerakan pada lawanya. Memang dengan serangan tadi, gerakan sang lawan bukan saja dibekukan, tapi cengkeraman hawa saktinya berfungsi menotok.

“Kukira, kali ini kau tidak bisa lagi memuji!” gumamnya sambil berjalan mendekat, aura membunuh dapat terlihat dari tatap matanya yang menampilkan rona kemerahan. Pertarungan mereka jika disaksikan kalangan pesilat biasa, sangat tidak nyaman dilihat, tidak seru, tidak ada benturan hawa sakti, tidak ada gerakan silat yang dapat disadap untuk dijadikan refensi. Namun, dimata para ahli, apa yang ditampilkan keduanya lebih rumit dan merupakan pertarungan yang jarang tergelar, meski itu didalam perkumpulan para ahli. Seperti pedang dengan sarungnya, keduanya saling melengkapi, saling mengantasi. Mengatasi? Tidak! Sepertinya, Jaka kali ini harus menerima kekalahannya…

Sungguh sayang, memiliki lawan seperti dirimu, membuatku tak enak tidur. Pikir lelaki itu ingin mengakhiri segala dengan satu hantaman dikepala. Penyakit orang yang merasa dia berilmu tinggi, adalah; meremehkan lawan yang dikira sudah tak berdaya.

Wuss! Pukulan yang menghantam kepala lawan, ternyata hanya sampai depan hidungnya saja! Dia yakin, memecahkan kepala orang dengan pukulan sederhana seperti itu, tak mungkin salah. Tapi kenapa bisa luput?

“Kurang ajar!” dengan geram, lelaki itu memukul bertubi- tubi! Tapi, semua serangan itu luput. Perasaannya terguncang, kejadian ini sangat memalukan jika dilihat anak buahnya. Lawan yang masih bersikap seperti patung dengan tangan menakup didepan dada, tidak bisa dia pukul! Seperti memukul kapas, begitu kira-kira perasaan orang ini. Tiap kali pukulannya menderu, secara aneh tubuh sang lawan juga bergeser. Tidak dilihatnya lawan itu menggerakkan kakinya, tapi semua serangannya tak dapat menjangkau.

‘Kali ini, apa kau bisa menghindari Pratisamanta Nirawadha!’ batinnya dengan geram. Pukulan yang dilakukan dalam jarak satu langkah itu menggebu dengan gerakan lebih lambat dari pukulan yang sebelumnya membekukan Jaka.

Jika sebelumnya, tiap pukulannya seperti menghempaskan tubuh lawannya, kali ini dia tidak melihat reaksi. Tap! Bahu sang lawan terjamah. Rasa senang jelas menghinggapi dirinya. Tapi, tiba-tiba mata lelaki ini melebar. Rasa kejut membuatnya harus mundur berkali-kali.

Siapapun orang yang terkena Pukulan Pratisamanta Nilakara dapat dipastikan, jalan kematian memang menjadi tujuan akhir. Tapi betapa sulitnya dia harus menjangkau sang lawan dengan pukulan itu, sampai-sampai dia harus mengerahkan Pratisamanta Nirawadha, tingkat kedua dari Pukulan Pratisamanta Nilakara.

Jika Pratisamanta Nilakara secara harfiah mengartikan raja taklukan berwarna biru, bukan sebuah jenis ilmu yang maha sakti, tapi lebih kepada cara menotok yang amat rumit. Korban yang terkena totokan ini ibarat raja yang takluk—dan totokan ini hanya dikhususkan di daerah kepala(raja dari tubuh), menutup aliran udara di sebagian syaraf otak, membuat korban menjadi pucat—kebiruan. Jika korban masih hidup, menjadi idiot adalah efek paling ringan yang mungkin terjadi, sayangnya kebanyakan orang tidak akan hidup setelah kena totokan itu. Bagi sebagian kalangan maha guru silat, cara totok itu juga disebut Raja Diraja, karena hingga saat ini tidak diketemukan bagaiman cara memunahkan jenis totokan itu. Setelah pembuluh menutup sempurna, pada saat leher di penggal, tidak ada setetespun darah keluar. Sementara pada bagian tubuh yang terpenggal-pun, selama beberapa saat aliran darah masih akan bersirkulasi dan jatung masih berdenyut—sampai akhirnya udara dalam darah habis. Dia sanggup menggubah Pratisamanta Nilakara menjadi ragam pukulan yang dapat dilakukan seenak hati dalam ragam cara, membuatnya lebih dahsyat dari awalnya.

Lebih jauh lagi, lelaki ini sanggup menapaki tingkat Pratisamanta Nirawadha, cara ini didapatkan justru  setelah bertarung dengan Jaka. Luka yang di deritanya justru mendatangkan inspirasi. Sedikit banyak dia merasa berterima kasih pada Jaka. Pratisamanta Nirawadha berarti, raja taklukan tanpa halangan. Bernama seperti itu, jelas karena sifat tenaga yang dipacarkan lelaki ini bersifat membakar, menghancurkan, dilain saat juga membekukan setiap rintangan. Seperti api ribuan derajat yang mencairkan timah, seperti dingin yang menghancurkan tiap kehidupan, tembok pertahanan seperti apapun diyakininya tidak akan sanggup menahan. Masih menggunakan nama ‘raja taklukan’, karena memang sifatnya lebih kepada pernyataan gerakan yang tidak mengandung unsur kekerasan. Seorang raja yang menyatakan kekalahannya, pasti tidak akan melakukan perlawanan secara terang benderang.

Tapi apa yang membuatnya terkejut?

Tangan yang semula menakup didepan dada, kali ini bergerak dan menyentuh bahu yang tadi terkena pukulan, mengibasnya berkali-kali seperti ada kotoran menempel disana. “Kau benar-benar jenius!” puji Jaka membuat lelaki itu kehilangan kata-kata. “Bukankah ini yang ingin kau dengar?”

Harga dirinya sebagai orang yang sanggup menyusun beragam rencana mengaduk Kerajaan Kadungga, runtuh saat itu juga.

“Kau tentu sudah mendengar ucapan dari orang yang kau totok… kau memang cukup berharga melihat bayanganku.” Kata Jaka memulai perang psykologisnya. “Satu hal lagi, kau tidak perlu jauh-jauh mencari Keluarga Keenam. Aku ini salah satu panglima Keluarga Keenam. Jika kau punya keberanian, boleh coba-coba beradu tenaga denganku…” Jaka mengulangi kalimat orang itu yang ditujukan pada Sembilan Belantara.

Jika menuruti nafsu, saat ini juga dia akan menyerang Jaka dengan ragam kemampuannya. Tapi jika itu dilakukannya, besar kemungkinan sang lawan dapat meraba dari jalur mana dia berasal. Itu berbahaya! Dan sangat di hindari olehnya. Tiap rencana yang tersusun dengan mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya, tidak boleh begitu hancur karena kecerobohan sesaat!

“Hg!” dengusnya. “Menempurmu hanya menghabiskan waktuku yang berharga!” ujarnya menjawab sinis, mencoba membangun kembali harga dirinya.

Jaka manggut-manggut. “Benar, aku bisa melibatmu disini selama kapanpun aku suka.” Jawaban pemuda ini membuat lelaki makin gusar. “Kau mau membuktikan?” tantang Jaka saat melihat lawannya ingin mengatakan sesuatu.

“Masih ada lain waktu!” katanya hampir setengah berteriak, lalu melesat cepat. Kabur?

Jaka tidak mengejar, dia menatap kepergian sang lawan. Beberapa saat setelah itu, pemuda ini masih saja diam, tidak beranjak, seolah sedang menunggu orang. “Kau tidak perlu datang mengintai, aku tahu kau akan datang kesini lagi memastikan kondisiku.” Ucap pemuda ini seraya menoleh kesamping.

Ah, lelaki berkedok itu datang menghampirinya lagi. Jarak mereka kini hanya terpaut lima langkah.

“Aku hampir saja tertipu!” serunya dengan suara gembira. “Ohya?” Tanya Jaka tak antusias, suaranya agak lesu. “Kau sangaja menekanku, untuk membuatku cemas, jika

aku melawanmu harus mengorbankan banyak waktu dan tenaga.”

“Kau memang jenius…” puji Jaka mengulang kembali kalimat sebelumnya.

“Tapi, haha… kurang ajar! Ternyata itu hanya akal bulusmu saja. Pukulanku yang terakhir pasti membawa dampak bagimu!”

“Tepat sekali!” kata Jaka sambil bertepuk tangan, membuat lelaki berkedok itu melegak. Mana ada orang mengakui kesalahan setrateginya di hadapan lawan? Kecuali orang itu sudah putus asa. Tapi dia melihat Jaka bukan lawan yang seperti itu. Ini sungguh aneh.

“Jadi, saat ini kau sudah luruh! Kalah total! Keluarga Keenam tak lebuh dari badut belaka.”

Jaka manggut-manggut. “Ya, kau benar.”

“Heh?!” pembenaran yang di ucapkan lawannya membuat dia curiga.

“Aku katakan itu benar, jika di lihat dari logikamu. Bagaimana jika sekarang kau dengar logikaku?” ujar Jaka dengan nada lelah, seperti orang yang habis berlari seharian.

“Katakan!”

“Dari pada aku harus mengejarmu, bukankah lebih baik aku menunggumu disini? Tiap ucapanku hanya berguna untuk orang semacam dirimu yang memiliki harga diri tinggi. Kau pasti berpikir, apa yang kuucapkan berbeda dari kenyataan sebaliknya.”

“Hhg!” dengusnya, tapi dia membenarkan. Memang pikiranya sempat gundah. Bagaimanapun dia sangat tidak puas dengan hasil pertarungan tadi, mana mungkin Pratisamanta Nirawadha ditaklukan orang? Lagi pula dari tadi ia tidak melihat Jaka bergerak dari tempatnya berdiri! Dan ini menjadi pembenaran dugaannya.

“Kau tidak sadar, justru kaulah yang sedang kujebak.” Berbicara demikian, suara Jaka berubah lebih bersemangat. Kakinya juga melangkah kesamping, pemuda ini menggeliat, seperti orang baru bangun tidur!

Melihat lawannya tidak luka. Karuan saja lelaki berkedok ini memasang sikap waspada. “Dalam pertarungan tadi, aku merasa kau menyadap beberapa caraku yang sebelumnya. Maka itulah kau kupuji sebagai seseorang yang jenius. Pada benturan pertama tadi, aku pun melakukan satu perlawanan dengan cara yang baru. Sayangnya benturan itu baru bisa dilihat efeknya setelah setengah jam kemudian.”

Mendengar penjelasan Jaka yang terakhir, membuat lelaki ini terkejut bukan kepalang. Dia kembali teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya harus kehilangan moment-moment berharga, karena luka keparat yang diderita! Jika saat ini sang lawan berbicara demikian, jelas dia tidak mungkin mengacuhkannya! Padahal, mana dia tahu, bahwa: Jaka-pun tidak mengetahui hal yang ditimbulkan akibat tangkisannya di pertemuan pertama mereka.

“Sebelum setengah jam, kau sudah pergi… tapi karena kau tidak yakin akan pertarungan tadi, ditengah jalan kau kembali untuk memastikan keadaanku. Setidaknya hingga saat ini, waktu yang kubutuhkan untuk melihat reaksi tangkisanku, hanya tinggal bebrapa saat lagi…” tutur Jaka kembali menjelaskan, suara sangat normal tidak terdengar lelah. Membuat orang berkedok ini merasa yakin jika dirinya memang diakali Jaka untuk kembali datang ketempat ini.

Keringat dingin menitik di kepala lelaki berkedok ini. ‘Persetan dengan omongannya!’ pikirannya bergulat dengan ketakutannya sendiri. “Tapi… Jika memang dia benar, seluruh rahasiaku bisa terungkap. Hancur pula namaku di dunia persilatan!’

Tanpa mengucapakan apapun, lelaki berkedok itu melesat lebih pesat dari sebelumnya. Jaka tertawa perlahan. Kali ini dia yakin benar lawannya benar-benar telah pergi. Pemuda ini terbatuk, dan darah segar menyembur dari mulutnya. “Sungguh lawan yang tangguh, jenius…” pikirnya sambil tersenyum getir, seraya mencari tempat yang tepat untuk menyembuhkan dirinya.

Hari ini Jaka mendapatkan pelajaran berharga. Sejak pertemuan pertama, Jaka sangat ingin berjumpa kembali demi mempertegas ‘ciri’ hawa sakti sang lawan. Sungguh tidak terduga kali ini dia kembali bersua, kesampatan sebaik ini jelas tidak mungkin dia sia-siakan. Sifat buruknya kumat! Menerima luka demi meresapi rasa sakit akibat pukulan lawan-pun kembali bergelora. Jika saja Ki Alih atau sahabatnya yang lain ada disisinya, pasti akan mendamprat pemuda ini habis-habisan.

Apa yang di derita Jaka hari ini memang sangat merepotkan, tapi Jaka-pun dapat menangkap diantara samarnya pukulan sang lawan, ada setitik cahaya yang membuat dia merasa yakin, dia sdang melihat ufuk dari masalah-masalah yang sedang dan akan timbul. Ada perasaan akrab pada pukulan terakhir tadi. Satu hal yang pasti, Jaka memutuskan segera menyelidiki asal muasal lelaki berkedok itu.

Berjumpa dengan Sembilan Belantara dan teman- temannya jelas merupakan prioritas utama. Sayangnya saat dia kembali ketempat itu, jejak ketiga orang tadi sudah lenyap. Ada bekas pertarungan disana. Pemuda ini menghela nafas seraya menyeringai bodoh, teringat olehnya kritikan Ekabaksha. “Kalau sudah tahu ini menarik, kenapa kau tidak bertanya sampai jelas?” Ya, lelaki gemuk itu menyarankan pada Jaka untuk mengorek keterangan siapa sebenarnya Sembilan Belantara, tapi pemuda ini mengacuhkannya.

“Ha-ha.. sudahlah…” gumam Jaka sambil berlalu.

==o0o==

119 – Domino Effect : Setitik kesadaran

Apa yang membuatmu teringat tentang mati? Apa yang menjadi perhatian utamamu? Apakah kau akan membawa harta kekayaan? Anakmu, istrimu? Kisah seorang istri yang bersedia satu liang kubur dengan suami sudah tentu omong kosong. Begitu liang lahat selesai tertimbun, hanya isak tangis yang mengiringimu. Selanjutnya apa? Apakah kau memiliki manfaat selama hidup?

Pikiran berseliweran tidak jelas memenuhi benak Dua Bakat, nalarnya berangsur-angsur pulih. Rasa sakit disekujur tubuh membuat dia yakin kehidupan masih menjadi bagian darinya. “Kau sudah datang?” sebuah suara seperti terdengar dari dasar neraka membuat kuduk bergidik.

Mata Dua Bakat bekerjap, membiasakan suasana gelap dalam liang tempat dia jatuh. Sebuah helaan nafas panjang, seolah melepas beban yang menghimpit hati, terdengar begitu dekat dengan telinganya. Karuan saja orang ini segera beringsut mundur, sampai akhirnya dinding cadas menahan tubuh.

Matanya sudah dapat memandang kondisi disekeliling, dia tahu ucapan tadi bukan ditujukan padanya. Dalam pekatnya gelap, Dua Bakat masih dapat mengenali, ucapan yang entah datang dari mana di tujukan pada seseosok tubuh yang terdengar menghela nafas panjang pula.

“Betapa hidup ini menjadi sia-sia. Oh, waktu… pantaslah Yang Kuasa bersumpah atasnya.” Gumam sesosok itu membuat Dua Bakat heran.

Bagaimana tidak? Sebagai pendatang gelap di Lembah Halimun, seharusnya nasibnya tak sebaik ini… diacuhkan demikian rupa—dalam kondisi sehat pula. Mendadak. lelaki ini menampar kepalanya sendiri dengan menyeringai, ‘alangkah bodoh pikiranku!’ ujarnya dalam hati. Dia seharusnya bersyukur masih hidup, bukannya menjadi ‘heran’ atas nasib yang baik-baik saja.

“Benda berbahaya sudah sampai ditempat ini, sekalipun ada perbedaan diantara kita, tidak semestinya sebuah kehidupan terenggut karenanya.” Kata satu suara yang tak diketahui sosoknya terdengar jelas oleh Dua Bakat. Meski ucapan itu ditujukan kepada si pendatang, tapi Dua Bakat-pun paham, secara tak langsung teguran itu dialamatkan padanya. Orang ini tidak dapat berkata apa-apa, keberaniannya sudah menguap entah kemana. Sambil menunduk, Dua Bakat hanya mengikuti percakapan yang ada di dalam ruangan itu. Dia sama sekali tak ada ide, untuk melakukan kelanjutan rencana sang majikan. Hakikatnya, hingga saat ini dia masih hidup-pun, sudah sangat disukurinya.

“Datangnya Kosamasangkya, memiliki dua kemungkian. Bahaya dan manfaat. Dari mana datangnya bahaya yang bisa menghilangkan kehidupan?” ujar sesosok itu bertanya.

Tidak ada jawaban hanya helaan nafas, “Berikan padaku…” suara itu membuat tubuh Dua Bakat bergetar dan tersedot kedepan menempel pada dinding. Sesaat kemudian daya sedot itu hilang, dan Dua Bakat jatuh terduduk dengan lutut lemas. Sungguh tak pernah dibayangkan ada aliran tenaga semacam itu. Meski sang majikan dan orang yang menotok jatungnya juga memiliki kemampuan mengerikan, tapi aliran tenaga tadi memiliki ciri unik dan berbeda. Tidak mengerikan, tapi membuat dia tak lagi memiliki keberanian, rasa takut segera melingkupi hati.

Tangannya merogoh kedalam baju, dan menyerahkan kotak berisi parwwakalamahatmya, dengan gemetar Dua Bakat menjulurkan tangannya kedepan dinding cadas. Mata lelaki paruh baya ini terbalalak saat melihat sepotong tangan terjulur menembus dinding cadas menyambuti kotak itu. Dirinya yakin benar, saat tubuhnya tersedot dan menempel, yang dirasakan adalah dinding cadas. Bagaimana mungkin, ada yang dapat menembus dinding cadas tanpa menimbulkan lubang? Dua Bakat yang terkenal cerdas dan banyak akal ini tergagu kehilangan paham. “Sebuah benda beraroma kematian.” Gumam suara dari balik dinding. “Apa yang kau inginkan?”

Terdengar suara terkejut dari si pendatang yang tadi berbicara dengan suara dari balik dinding. Tak pernah disangka orang yang memiliki harga diri setinggi langit itu, mau bercakap-cakap dengan pendatang asing. Lebih-lebih lagi Dua Bakat, dia bahkan sudah lupa apa tujuannya datang ke Lembah Halimun.

Begitu pertanyaan itu di lontarkan, pikirannya segera bekerja. “Se-sebuah.. ra-racun.” Kata Dua Bakat dengan tergagap.

“Hm… benda semacam itu terlalu banyak di luar sana!” ujarnya dengan nada getas, membuat Dua Bakat tercekam. “Kau bersusah payah datang kesini, tentu ada yang diharapkan?!”

Tenggorokan Dua Bakat mendadak kering, dia menelan ludahnya berkali-kali. “Sa-saya tidak tahu jenisnya… ta-tapi tentu tuan lebih tahu.” Terbata-bata Dua Bakat menjawab. Meski kemungkinan besar tentang tujuan dirinya datang, orang itu sudah tahu, Dua Bakat cukup sigap untuk tak mengatakan alasan sebenarnya. Sekecil apapun kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk kesalamatannya, dia akan gunakan itu!

Terdengar dengusan lagi. “Pergilah!” sebuah kekuatan menghempaskan Dua Bakat ke ujung ruangan, dan terus terdorong lebih jauh, membuatnya berguling-guling bagai daun kering, hingga akhirnya telinga lelaki ini menangkap debur derasnya aliran air. Karena terlalu tegang, Dua Bakat tidak sadar bahwa tangannya sudah menggengam sebuah kotak terbuat dari keramik. Sebelum tubuhnya masuk kedalam aliran air, Dua Bakat buru-buru memasukkan kotak tersebut kedalam kantung penimpanan dalam baju. Dan sesaat kemudian… Byuuur! Dia terhanyut entah kemana.

“Kenapa, kau berikan benda itu?” Tanya sang pendatang kepada sosok di balik dinding.

Tidak ada jawaban, hanya desahan nafas panjang, sesaat kemudian dia menjawab lirih. “Kau pasti tahu, benda ini sanggup menarik kekuatan di lembah ini untuk keluar…”

“Aku tahu!” seru si pendatang dengan singkat.

“Dan ini sangat serasi dengan Kosamasangkya…” jawaban terakhir itu begitu dingin dan terkesan tidak memperdulikan apapun.

“Kau.. kau tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti?” seru sang pendatang dengan suara serak, agaknya dia bisa membayangkan kekacuan apa yang akan terjadi.

“Ha-ha-ha..” Tawa yang datar teruar, membuat orang yang mendengat turut merasakan kepepatan batin. “Hmk! Dengan kejadian yang menimpaku. Pembalasanku ini jauh lebih baik!” kata orang dari balik dinding dengan tawa dalan gumam. Sebuah tawa yang getir. “Aku berharap ada perubahan, meski perubahan ini bakal memakan korban…”

“Kau mengkhawatirkan keselamatan orang atas bahaya benda yang kau dapatkan… tapi, tapi kenapa?! Kenapa kau harus melepaskan sebuah kunci yang dapat mengaduk situasi diluar sana?!” seru si pendatang dengan sengit. “Apa yang terjadi dimasa lalu, sekarang dan akan datang, jelas tidak bisa diprediksi ketepatannya. Tapi aku percaya! Akan ada orang yang turut campur dengan permasalahan ini. Siapapun dia, akan menerima satu pelajaran hidup yang berharga.”

“Kau… kau mempertaruhkan ini semua pada dasar yang tidak jelas!” geram sang pendatang ini degnan perasaan tak karuan.

Tawa getir kembali terdengar. “Kau berkata seperti itu, membuat orang menyangka kau kehilangan asa kepada Yang Maha Adil!”

“Bu-bukan begitu, hanya saja… aii, perbuatanmu ini seperti melepas harimau ke belantara hutan.” Komentarnya dengan perasaan tak karuan.

“Mungkin seperti itu… tapi kita tidak pernah tahu hati orang. Kita tidak pernah mengetahui perubahan apa yang akan terjadi…” Jawabnya dengan suara kering, lalu dengan nada menyindir, dia melanjutkan. “Lalu, setelah bertahun-tahun kau menjaga kembalinya Kosamasangkya. Apa yang kau dapatkan dari sana? Apa yang kau harapkan?”

Si pendatang terdiam. Ucapan orang itu memang benar. Semua itu hanya sia-sia. “Persetan!” dengusnya dengan kemarahan merambah hati. “Tapi, aku bersumpah… jika saja kehidupan disini menjadi cerai berai karenamu, aku bersumpah…” ucapannya terhenti.

“Kau akan membunuhku?” Tanya orang di balik dinding. “Membunuhmu tidak ada gunanya. Kau pasti tahu aku akan

melakukan apa… jangan pernah lupakan siapa diriku sebelum ini!” si pendatang membalikkan tubuh dan melesat pergi begitu saja.

Sebuah helaan nafas berat menggayut dari balik dinding. Di dalamnya, sosok lelaki dengan kepala dipenuhi uban nampak termangu, lalu menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. “Apakah aku melakukan hal yang benar? Duhai Sang Lila, benih yang kau tebarkan menuai hasil begitu dahsyatnya… ” sebersit air mata meleleh dari sela-sela jarinya. “Semoga ada orang yang menyadari diluar sana…” harapnya.

===o0o===

Setibanya di rumah batu, Jaka menyempatkan diri untuk memulihkan kondisi, akibat luka yang diderita. Kini mereka tengah mendiskusikan apa yang harus dilakukan kedepan— selain mengikuti seluruh rencana yang sudah di tebarkan atas Sandigdha.

Keluarga Keenam. Sebuah nama fiktif yang tiba-tiba menyeruak di kentalnya aroma permusuhan dua kerajaan. Bahkan pertikaian antar golongan persilatan. Penikam bekerja dengan sangat rapi dan tak terdeteksi. Semua ini bermula dari ide Ekabhaksa yang serampangan.

“Aku ingin nama Keluarga Keenam ini bukan hanya sebuah kalimat tanpa isi!” ujar lelaki gemuk itu sambil menggebrak meja.

“Untuk apa?” Tanya Jalada dengan kening berkerut. “Permainan setan kemarin saja sudah cukup membuat nama Keluarga Keenam terkenal.”

“Masih kurang… masih kurang!” gumam Ekabhaksa. “Kurang apanya?”

“Cuma kau yang mereka bicarakan.” Ketus Ekabhaksa pada Jalada, wajah lelaki ini kelihatan semakin bulat saat sedang marah. Jaka tertawa mendengar alasan lelaki gemuk itu.

Sekalipun Ekabhaksa tidak terlalu memikirkan ketenaran, tapi tiap Penikam pulang, Keluarga Keenam yang jadi pembicaraan adalah lelaki yang sanggup melelehkan emas, kalau bukan si keparat Watu Agni alias Jalada alias Baginda, siapa lagi? Meski semula Ekabkasha ambil pusing, tapi lama kelamaan perutnya mulas juga.

“Jadi, usul paman bagaimana?” Tanya Jaka.

Mata Ekabhaksa tampak lebih bercahaya. “Aku tahu satu hal, yang kalian tidak tahu tentangnya. Khususnya dirimu!” dengus lelaki ini melirik Penikam sambil menyeringai penuh kemenangan.

“Ohya? Coba saja!” ujar Penikam menantang.

“Ada yang pernah dengar Wuru Yathalalana?” Ekabhaksa memulai infonya.

“Oh, si mabuk sesuka hati itu?” Tanya Pernikam.

Lelaki gemuk ini mengangguk. “Apa dia terkenal?” Ekabhaksa tidak bertanya kepada yang lain, hanya kepada Penikam, karena diruangan ini, hanya Penikam yang memiliki jaringan informasi luas.

“Sangat terkenal.” Jawab Penikam. Jaka sangat tertarik dengan obrolan itu. “Apa yang membuatnya terkenal?”

“Huh! Selain dia jawara mabuk, lain hal tidak ada.” Jawab Penikam.

Mata Ekabhaksa bersinar. “Betul, selain mabuk, apapun tidak dilakukanya. Dalam satu hari hidupnya, lebih sering mabuk dari pada sadar. Tapi tahukah kau, pada saat sadar apa yang dilakukannya?”

Penikam menggeleng.

“Dulu, aku pernah mendengar selentingan kabar, katanya Riyut Atriodra pernah berhubungan dengan Wuru Yathalalana, tapi sejauh mana kebenaran informasi itu, sepertinya semua tertinggal dalam genangan arak Wuru Yathalalana.” Tutur Ekabhaksa.

“Kadang, pada saat mabuk. Kau bisa melakukan hal apapun yang tidak berani kau lakukan pada saat sadar.” Timbrung Jaka.

“Betul sekali.” Kata Ekabhaksa. “Pada saat dia sadar, dia menangis, dan berkeliling mencari jejak-jejak kelakuannya saat mabuk, kadang menebus dengan harta, bahkan menyiksa dirinya. Tapi, racun minuman keras sudah terlalu kental dengan darahnya, dia tak sunggup menghindari keinginan untuk mabuk.”

“Kemana arah pembicaraan kita? Aku tidak tertarik dengan manusia bernama Wuru Yathalalana.” Ketus Jalada.

Ekabhaksa memukulkan tinju ke tapak tangannya dengan perasan riang. “Itu maksudku! Tentu kalian tidak pernah tahu, pada saat dia mabuk, belum pernah ada yang sanggup membendung tindakannya.”

“Aku tidak percaya!” ujar Jalada merasa tertantang. “Dengar dulu penjelasanku… mungkin bagi dirimu, Wuru

Yathalalana tidak seberapa, entahlah… akupun tidak tahu sampai dimana tingkat kehebatannya saat mabuk. Tapi, saat dia mabuk, setiap orang yang mencoba menghalangi tindaknya, selalu di cegah oleh sekelompok orang!”

“Ah…” Jaka mendesah, dia sudah menangkap kemana arah pembicaraan Ekabhaksa. “Lanjutkan paman.”

“Aku yakin, kelompok ini ada hubungannya dengan hal-hal yang pernah dibicarakan Riyut Atirodra kepada Wuru Yathalalana. Mungkin ada sesuatu yang tak boleh diketahui pihak-pihak tertentu, dan mereka—sekelompok orang yang selalu menghalang-halangi, ingin mencari celah pada tiap tindakan Wuru Yathalalana. Entah celah seperti apa, tapi mereka seolah menjadi bayangan Wuru Yathalalana selama sepuluh tahun terakhir …”

“Sebenarnya, itu bukan urusan kita.” Tegas Jalada sudah bisa membaca kemana arah ide Ekabhaksa.

“Kau salah, selain itu tujuan dari orang-orang yang memiliki hati nurani, atas campur tangan kita nantinya, nama Keluarga Keenam akan sangat memiliki bobot, sangat!” tegas Ekabasha dengan semangat. “Terlepas dari latar belakang yang dilakukan Wuru Yathalalana, tiap pembunuhan yang di lakukannya tak pernah mendapat sorotan dari enam belas perguruan besar, apa kalian tidak heran dengan hal itu?” “Apa korbannya adalah orang-orang yang bisa diacuhkan?” Tanya Penikam.

Ekabhaksa menggeleng. “Tidak demikian, mereka memiliki nama yang cukup disegani pada beberapa wilayah.”

“Darimana paman mendapat keterangan itu?” Tanya Jaka. “Ada seorang kawanku yang pernah lolos dari tangan maut

Wuru Yathalalana, anehnya dia pun tak berminat untuk membalas dendam. Sepertinya, ada kepentingan yang saling menyandera.”

Jaka menggeleng-gelengkan kepala. “Kita sudah cukup pusing dengan hal ini, tolong jangan paman campur adukan lagi dengan permasalahan lain.”

Ekabhaksa termangu-mangu. “Sayang sekali, saat ini Wuru Yathalalana ada di kota ini…” gumamnya membuat tiap orang saling pandang.

“Argh! Kenapa kau lemparkan ide seperti itu?! Aku tak bisa mencegah diriku untuk tidak ikut campur.” Kata Jaka sambil mendekapkan telapak tangan di wajahnya, membuat wajah cemberut Ekabhaksa kembali berseri. “Baiklah! Paman Ekabhaksa yang akan mengurus Wuru Yathalalana. Apakah kami dibutuhkan?” Tanya Jaka.

“Sangat!” katanya dengan bersemangat.

===o0o===

Malam itu juga Ekabhaksa sudah duduk di sebuah kedai terpencil di perbatasan kota, dihadapannya duduk mengelosoh lelaki seumuran, tangannya mencekal bumbung bambu, dari mulutnya berulang kali terdengar suara tersendak.

“Ayolah, aku menunggu giliranmu…” Ekabhaksa ikut-ikutan minum arak, masing-masing sudah menghabiskan enam belas gentong, tapi tak juga ada tanda-tanda berhenti. Wajah pemilik kedai sudah sangat pucat, soalnya persediaan arak untuk enam bulan kedepan hampir habis. Sudah berulang kali dia ingin menyetop dua tamunya, tapi satu kibasan tangan dari salah satunya membuat dia sadar, mereka tidak bisa di ganggu. Apa boleh buat dia hanya bisa duduk termangu, menanti keduanya meminta arak lagi.

Wuru Yathalalana sudah mabuk, tapi Ekabhaksa masih segar bugar, jangankan mabuk, minum duapuluh gentong lagipun dia masih sanggup. Dari kawannya dia tahu dimana harus menemui Wuru Yathalalana, dan selanjutnya, obrolan ringan yang merambat saling tantang kekuatan minum terjadi—dan itu memang direncanakan.

Tujuan Ekabahsha jelas bukan Wuru Yathalalana, bukan pula perbuatannya yang aneh, tapi sekelompok orang misterius yang berupaya mencegah orang lain ikut campur- lah, yang menjadi pusat rencananya. Menurut penyelidikan sahabatnya, sekelompok orang itu sudah menjadi bagian Wuru Yathalalana dalam kurun waktu yang lama, jelas ini bukan urusan sepele. Jelas pula bagi Ekabhaksa jika mereka bukan orang-orang yang bisa dianggap remeh.

Bagi dunia bawah tanah, nama Keluarga Keenam mulai dikenal, Ekabhaksa ingin mereka yang berkecimpung di dunia itu lebih mengenal lagi, lebih menaruh respek pada Keluarga Keenam. Sebenarnya terdengar konyol, menyematkan atribut hebat pada nama fiktif, tapi itulah umpan yang sejak semula di tebarkan Jaka, dia ingin ikut ‘menghiasnya’, memberi pernak- pernik kewibawaan dari nama kosong.

Ekabhaksa memperhatikan Wuru Yathalalana dengan seksama, menurut kawannya, manakala sudah sampai pada puncak mabuknya—dengan pertanda mutah-mutah, orang itu akan menjadi beringas dan akan segera berlari.

“Huuuak…” Wuru Yathalalana mutah sangat banyak, kaki Ekabhaksa sampai basah dibuatnya. Lalu lelaki gemuk ini melihat keanehan pada biji mata Wuru Yathalalana, bola matanya memutih total, jelas kesadaran orang ini sudah punah.

“Aaaaargh!” terdengar teriakan menyayat dari Wuru Yathalalana, dan berikutnya orang itu menghabur kedalam gelapnya malam.

Ekabhaksa dengan cekatan membuntuti Wuru Yathalalana, dalam kondisi tidak sadar kecepatan dan kegesitan si tukang mabuk sungguh mengagumkan, kalau saja Ekabhaksa tidak melihat sendiri, dia tak akan percaya ada orang semacam itu. Dan arah si pemabuk membuat jantung Ekabhaksa berdegup cepat.

Sandigdha! Pemabuk ini menuju tempat si bendahara! Jaka yang turut menguntitpun terhenyak dengan kejadian itu, sungguh sebuah keanehan. Apakah tukang mabuk itu mengenal Sandigdha? Wuru Yathalalana langsung menerobs masuk kedalam rumah yang penuh dengan penjagaan, tapi tak satupun yang bisa menahan kelakukannya, dia mengobrak-abrik seluruh rumah mencari-cari sesuatu… atau seseorang. “Arrrrgh….!” lengkingan panjang membuat dinding-dinding rumah sang bendaharawan serasa bergetar, sebelum akhirnya si pemabuk itu keluar dan berlari lagi. Ekabhaksa jelas tidak mau ketinggalan. Dan pada akhirnya, sebuah tempat membuat lelaki gemuk ini terhenyak. Kandang Sapi! Tempat dimana beberapa kelumit harta Keluarga Tumparaka di gasak Sandigdha.

Dan disana Ekabhaksa bisa melihat Sandigdha tengah duduk bersimpuh dihadapan dua orang lelaki paruh baya. Wuru Yathalalana jelas tidak perlu bertanya apapun, begitu melihat Sandigdha, tubuhnya segera berkelebat menubruk tanpa aturan. Karuan saja Sandigdha terkejut, tapi belum lagi dirinya bergerak, dua orang yang berada dihadapannya sudah mengibaskan tangan, menahan gerakan si pemabuk.

Wuss! Wuss! Satu damparan angin panas menghentikan gerakan Wuru Yathalalana. Saat ini sifat si pemabuk, tidak seperti manusia, dia hanya berteriak-teriak dan kembali menyerang kedua orang itu bertubi-tubi. Tubuhnya meleting dengan geraman memekakkan, tangannya membentuk satu cakar. Tiap sabetan tangan si pemabuk membuat tanah terkelupas, batu pecah menyerpih, bahkan pepohonan yang terkena desauan angin dari cakarnya, turut tersayat.

Ekabhaksa melihat pertarungan itu dengan kening berkerut, kenapa sekelompok orang yang katanya selalu menjadi ‘bayangan’ Wuru Yathalalana tidak tampak? Tidak menyerang dua orang yang mencoba melindungi Sandigdha? Pertarungan itu berjalan seru, Wuru Yathalalana tampak sangat ngotot menyerang Sandigdha, setiap ada celah dari dua orang lawannya, dia akan mencoba menerobos melakukan satu cabikan pada Sandigdha. Caranya bertarung sungguh serampangan, seperti anjing gila, tak mengenal takut pula. Angin tajam menyayat yang merobek keheningan malam itu dengan mudah di hindari Sandigdha, karena pada saat bersamaan sebuah tendangan sudah menghantam tangan si pemabuk, membuat pukulan cakar jarak jauhnya meleset.

Di persembunyianya, Ekabhaksa merasa bimbang, matanya berkeliaran mencoba mencari dimana Jaka bersembunyi.

“Ssst… aku disini.” Bisik Jaka dari atas Ekabhaksa membuat lelaki tambun itu terperanjat. “Sementara ini jangan lakukan apapun. Jika sudah waktunya, kita akan turun tangan untuk membantu Wuru Yathalalana.”

“Heh?!” Ekabhaksa terkesip. “Kenapa?” tanyanya dalam bisik.

“Nanti saja penjelasannya.” Tukas Jaka sambil mengerobongi kepalanya dengan kain gelap, mau tak mau Ekabhaksa meniru cara Jaka.

Pertarungan itu tengah memasuki klimaks, Wuru Yathalalana dikeroyok tiga orang, tapi karena kegilaan yang ditimbulkan mabuknya, membuat dia tak ambil pusing dengan beberapa bagian tubuh yang terkena serangan lawan. Saat itu, sebuah bacokan golok bergerigi milik Sandigdha memotong ruang hindarnya, membuat gerakan Wuru Yathalalana terkunci, dan mau tak mau harus bergeser kearah lain. Dan seperti yang sudah diduga Ekabhaksa, pada arah lain sudah menunggu dua tebasan tangan berisi hawa sakti mengarah leher dan kemaluan si pemabuk.

Tapi sebelum serangan-serangan itu mencapai sasaran, Jaka sudah bergerak diikuti Ekabaksha. Lesatan Jaka langsung menumbuk punggung salah satu penyerang, sementara dalam waktu bersamaan Jaka melancarkan menendang tepat mengarah kepala penyerang yang lain. Gerakan itu dilakukan sangat cepat, bersamaan dengan serangan yang diarahkan pada Wuru Yathalalana.

Karuan saja keduanya merasa lebih baik menghindari serangan gelap dari pada harus menghantam Wuru Yathalalana. Sementara Ekabhaksa dengan lincahnya sudah berhasil mendaratkan satu bogem mentah tepat di hidung Sandigdha, membuat bendaharawan ini berteriak kesakitan. Serangan mendadak seperti itu benar-benar tak pernah dia bayangkan bisa muncul di salah satu tempat Keluarga Tumparaka!

Gerakan Jaka tidak berhenti, dia langsung menotok ubun- ubun Wuru Yathalalana, membuat si pemabuk jatuh menggelosoh tak sadarkan diri. Dan kejap berikut, menyerang Sandigdha, menggenjot perutnya dengan sebuah pukulan, membuat dua orang paruh baya itu berteriak cemas, lalu segera melancarkan serangan pada Jaka, meskipun posisi mereka sangat sulit, sekalipun serangan itu mengenai Jaka, tak akan berakibat fatal. Tapi mendadak, ditengah jalan, Jaka membatalkan serangan lalu berbalik, memapaki dua serangan lelaki paruh baya itu.

Dessh! Dessh! Mereka terpental dengan dua kaki tertekuk, terseret sampai beberapa tombak. Jaka tidak mengejar keduanya dengan serangan lebih lanjut, dia hanya memandangi mereka, lalu berkata. “Main-main dengan urusan Keluarga Keenam, mau cari mati?” lalu kepalanya menoleh kepada Sandigdha, memberi isyarat supaya dia pergi. Meski bingung, Sandigdha jelas sangat paham atas situasi genting ini, tak perlu isyarat itupun, dia segera mengerahkan ilmu peringan tubuh sekencang mungkin untuk kabur. Sementara kedua lelaki paruh baya saling pandang. Beberapa gebrakan yang dilakukan si pendatang, sudah cukup berbicara banyak. Mereka menghadapi lawan tangguh! Keduanya bimbang, apakah akan meneruskan pertarungan yang jelas- jelas sulit mereka menangkan, atau kabur? Agaknya opsi terakhir mereka pilih dengan berat hati.

Jaka membiarkan mereka hilang begitu saja. Kegelapan malam telah menyamarkan segalanya, pemuda ini pun tak bisa mengenali wajah-wajah sang lawan.

“Apakah aku perlu mengejar mereka?” Tanya Ekabhaksa.

Jaka melepas kedok kainnya, “Tak perlu paman, lagi pula keinginan paman untuk mencitrakan wibawa Keluarga Keenam makin dalam, sudah tercapai, kan?” Tanya Jaka dengan tawa khasnya, membuat Ekabhaksa meringis. Meskipun benar, tapi bukan begitu keinginannya, tapi sudahlah!

Pemuda ini segera memeriksa keadaan Wuru Yathalalana. “Menurutku, mereka adalah bayangan Wuru Yathalalana.”

“Tapi, kenapa mereka bersama Sandigdha?” gumam Ekabhaksa seperti bertanya pada dirinya.

“Aku juga tidak tahu, mungkin si pemabuk ini bisa membantu kita.” Kata Jaka sambil mengangkatnya. Mereka segera melesat pesat menuju rumah batu. Jaka tahu, dua lawan yang kabur tadi, pasti berniat mengikuti mereka, tapi atas kelihayan Ekabhaksa yang mengambil arah berkelok- kelok tak karuan, membuat dua lelaki paruh baya itu kehilangan jejak.

===o0o===

“Jadi ini, yang namanya Wuru Yathalalana?” Tanya Watu Agni atau Jalada dengan suara dingin. “Sama sekali tidak menarik!” ketusnya.

Jaka tersenyum kecut. “Kau mungkin benar, tapi membiarkan orang yang memiliki dasar begini bagus, tenggelam dalam kenistaan mabuk, aku tak bisa tinggal diam.” Kata Jaka sembari memeriksa badan Wuru Yathalalana. Beberapa saat kemudian, nafasnya dihempas keras-keras. “Gila…” gumamnya.

“Kenapa?” Tanya Ekabhaksa ingin tahu.

“Orang ini mabuk bukan karena dia ingin, tapi karena dia terpaksa.” Ujar Jaka dengan prihatin. Penjelasan yang singkat ini menarik perhatian semua orang. Jalada, Cambuk, Ki Alih, dan Penikam mengambil tempat duduk di dekat Ekabhaksa. Bagi mereka, saat Jaka memberikan sebuah ulasan sebab musabab sebuah luka atau penyakit, adalah waktunya menyerap pengetahuan baru. “Aku menemukan pada Sanjiao Wuru Yathalalana, mengalami pembalikan teramat parah.”

“Tolong jelaskan dengan bahasa normal!” potong Jalada dengan wajah mengeras, membuat Jaka tertawa.

“Sanjiao, itu artinya tiga pemanas dalam tubuh kita. Jiao bagian atas itu bagian mulut lambung, tugasnya jelas, hanya memasukkan, tidak mengeluarkan. Jiao bagian tengah, adalah bagian tengah lambung, fungsinya untuk perubahan pencernaan panas yang timbul dari daging, cairan dan sayuran, juga termasuk lendir ludah. Tugas jiao tengah sangat fital, dari perubahan tadi akan dialirkan ke paru-paru untuk diubah menjadi darah…”

“Oh begitu, dan darah itulah yang menjadi sumber makan seluruh tubuh, menjadi tenaga…” kata Ki Alih.

“Tepat sekali!” jawab Jaka senang, penjelasannya ternyata dapat dicerna dengan baik.

“Kalau begitu, Jiao Bawah, tentu tugasnya hanya untuk mengeluarkan saja?” Tanya Cambuk.

Pemuda ini mengangguk-angguk. “Jiao bawah, keluar dari mulut atas usus besar, dan tugasnya memang hanya mengeluarkan, tidak memasukkan.” Kata Jaka menambahkan penjelasannya. “Wuru Yathalalana mengalami pembalikan fatal, Jiao atas mengeluarkan, Jiao bawah memasukkan. Coba paman sekalian bayangkan, manakala makanan masuk, tapi tak pernah bisa dicerna, apa yang terjadi?”

“Mati?” jawab Jalada.

“Benar, tapi dalam kasus Wuru Yathalalana, yang bisa di cerna hanya cairan. Dan cairan yang harus masukpun bukan sembarangan, cairan ini harus bersifat keras, merusak. Karena harus merangsang cairan dalam lambung supaya memaksanya bekerja, memaksa Jiao Tengah melakukan tugasnya, mengalirkan makanan keseluruh tubuh. Agaknya Wuru Yathalalana menyadari, hanya dengan arak yang sangat keras sajalah, baru bisa membuat lambungnya melakukan tugas.”

Penjelasan yang runtut itu membuat mereka bisa mengambil kesimpulan, kenapa lelaki itu disebut sebagai Wuru Yathalalana, dimana-mana dia harus mabuk, dia bukan mabuk karena ingin, tapi karena harus! Karena dipaksa! Karena jika tidak bisa mabuk, maka dia akan mati, karena tidak ada asupan apapun yang bisa membuat paru-parunya mengalirkan darah keseluruh tubuh. Diam-diam mereka semua bergidik. Penikam tahu benar, julukan Wuru Yathalalana sudah tersemat sejak dua puluh tahun lalu, jadi selama itu pulalah sebenarnya lelaki ini menderita.

Tenggorakan Ekabhaksa terasa kering, dia meminum air banyak-banyak. “Lalu pertanyaannya, apa yang membuat Sanjiao Wuru Yathalalana berubah?”

“Aku tidak tahu paman, tapi kesimpulanku begini; ada sebuah tepukan yang berisi tenaga sangat halus meremas lambung Wuru Yathalalana, remasan itu bersifat sinanggraha linumbir. Membuat fungsi lambung berhenti sebentar, membuat makanan yang masuk macet, lalu tenaga yang tersimpan dalam lambung, akan meledakkannya kearah yang berlawanan. Pada saat itu korban biasanya hanya merasakan mulut kecut, sampai pada akhirnya makanan apapun yang di telan akan dimutahkan kembali.”

Mereka mengangguk-angguk, sinanggraha linumbir berarti; disiapkan untuk dibiarkan. Penjelasan Jaka tadi sangat masuk akal, demikian juga dengan analisanya mengenai kemungkinan penyebabnya.

“Apakah ada yang tahu, ilmu semacam itu apa namanya, dan dikuasai oleh siapa?” Tanya Jaka. Pertanyaan itu jelas tidak diajukan kepada semua orang, tapi hanya pada Ki Alih— secara tak langsung, sebagai seorang ahli pukulan, sifat-sifat ilmu pukulan yang ada di seantero dunia persilatan, paling tidak Ki Alih sudah pernah mendengarnya. Ki Alih menghela nafas. “Kenapa kau harus memungut segala masalah aneh, Jakaaa?” gumam lelaki tua ini dengan wajah terlihat kian menua. Semua orang merasa apa yang akan diungkapkan Ki Alih cukup mengejutkan. Minat mereka meningkat.

“Paman tahu?” Tanya Jaka antusias.

“Ciri-ciri yang kau sebut itu digolongkan oleh para tetua sebagai ilmu sesat. Itu pukulan dari ilmu Durwiweka Punarbhawa.”

“Nama ilmu yang menarik…” kata Jaka dengan suara kering, dari namanya saja; Durwiweka Punarbhawa berarti; tolol menjelma lagi, Jaka bisa mengambil kesimpulan, ilmu itu pasti dikhususkan untuk menghancurkan himpunan-himpunan hawa murni. “Apakah ilmu itu diciptakan untuk menghancurkan hawa murni?” Tanya Jaka memastikan kesimpulannya.

Ki Alih mengangguk. “Itu akibat paling ringan, lebih parah lagi, ilmu itu bisa membuatmu lumpuh hanya menyisakan tulang di balut kulit. Organmu tak lagi berfungsi, tapi anehnya, untuk mati karena dampak ilmu itu sangat sulit. Ini yang membuat para tetua mengolongkannya sebagai ilmu sesat. Karena sekali orang menjadi korban, maka orang lain—atau kerabatnya, dipaksa untuk menjadi pembunuh.”

Jaka manggut-manggut. “Ya, lumpuh dengan seluruh organ tak berfungsi memang lebih buruk dari mati, karena sulit mati—juga tak bisa bunuh diri, maka si korban akan meminta tolong orang untuk membunuhnya.” Penuturan Jaka membuat mereka yang tak paham atas kisah Ki Alih, kini lebih mengerti. “Lalu… siapa yang menguasainya?” “Pâpahara…”

“Ho, penawar kejahatan… kenapa pula digolongkan sesat? “ Tanya Ekabhaksa heran. Nama yang ‘berbau’ golongan kebenaran, ternyata divonis sesat.

“Aku tak tahu, tapi menurut berita, karena terdesak oleh sesuatu Pâpahara akhirnya bergabung dengan Riyut Atriodra.” Papar Ki Alih lagi.

Suasana menjadi hening, bahwasanya dihadapan mereka ini ternyata ada korban dari ilmu Durwiweka Punarbhawa saja, sudah sulit dipercaya. Lebih sulit dipercaya lagi, ada kabar yang menyatakan Wuru Yathalalana pernah berjumpa dengan golongan Riyut Atirodra. Apakah ini sebuah benang merah? Wuru Yathalalana juga melakukan pembunuhan-pembunuhan yang tidak pernah dicegah oleh Enam Belas perguruan Utama, bahkan Dewan Penjaga Sembilan Mustika, mengapa pula? Dan terakhir, Wuru Yathalalana memburu Sandigdha yang sedang diintai oleh tiga golongan (Si Tua Bangka, Kwancasakya, dan pemilik pukulan Pratisamanta Nilakara). Ini apa artinya?

Jaka tertawa kering. Dia benar-benar sudah memungut sebuah masalah besar. Menurut Ekabhaksa—yang merasa menyesal atas idenya, kalau saja ini bisa dibuang, lebih baik Jaka membuangnya. Tapi pemuda ini merasa sayang untuk melewatkan. Dia menolak ide Ekabhaksa.

“Baiklah-baiklah! Bukankah kunci semua pertanyaan ada pada orang ini? Tinggal kau sembuhkan, lalu cari cara supaya dia bicara, kan habis perkara?!” simpul Jalada dengan nada ketus seperti biasa. “Ya-ya… kau benar sekali paman, benar sekali…” Kata Jaka tersenyum kecut, menyembuhkan orang memang keahliannya, tapi bagaimana dengan fungsi lambung yang terbalik? Dia belum pernah melakukannya. Ini tantangan baru!

“Arrrgh….” Erangan Wuru Yathalalana memecah konsentrasi Jaka, pemuda ini segera mendekat menatap orang tua bernasib menyedihkan itu dengan ragu. Akhirnya setelah menghela nafas panjang berkali-kali, Jaka memantapkan hati.

Tangan Jaka bergetar hebat, tiap ruas jemarinya mengeluarkan suara derak berkali-kali, hingga akhirnya suara itu tak lagi terdengar. Semua orang tahu, seluruh tenaga, nalar dan budi Jaka Bayu dipusatkan pada jemarinya.

Pada dasarnya, dengan mempelajari tubuh manusia secara detail adalah jalan bagi Jaka untuk mencapai ragam tataran ilmu yang aneh-aneh. Dengan mengetahui sebab luka pada Wuru Yathalalana, ditambah sekelumit keterangan dari Ki Alih, kazanah ide kemungkinan untuk penyembuhan akibat ilmu Durwiweka Punarbhawa, terbuka lebar. Getaran pada tangan Jaka sudah berhenti, tadinya setiap orang bisa merasakan betapa besar beban hawa sakti yang sedang ditahan Jaka, tapi lambat laun, tenaga itu mengecil… mengecil… dan pada akhirnya tidak terasa sama sekali. Tapi berbanding terbalik dengan itu, wajah Jaka memucat, keringat bercucuran deras dari dahinya.

Jaka menyentuhkan jemari dengan perlahan ke lambung Wuru Yathalalana, menekannya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tiap orang terbelalak, saat melihat jemari Jaka amblas kedalam perut Wuru Yathalalana. Tidak-tidak… bukan amblas, tapi seolah-olah seperti amblas, ternyata jemari pemuda ini menekan perut Wuru Yathalalana sedemikian rupa, membuatnya terlihat menembus. Mata Jaka terpejam, nadi pada tangan terlihat berdenyut begitu kencang. Kejadian itu berlaku hampir satu jam, dan kian lama, wajah Jaka makin pucat dengan seluruh tubuh bermandikan keringat.

Akhirnya, Jaka menarik tekanan jemari, lalu dia menghempaskan badan di sebelah Wuru Yathalalana, semua orang bisa melihat betapa menderu pernafasan pemuda ini. Ekabhaksa segera mencengkeram tangan Jaka, dia mulai menyalurkan hawa murninya untuk menopang laju hawa murni pemuda ini.

“Tak usah paman…” kata Jaka dengan suara lirih.

Namun saat semua perhatian orang tertuju pada Jaka Bayu, tiba-tiba saja Wuru Yathalalana membuka matanya, lalu berkata dengan lemah. “Ehm… se-sepertinyaaa… aku mencium bau bu-bubur ayam… ah, kelihatannya enak… air liurku sampai-sampai keluar… bagus-bagus-bagus…”

Jaka tertawa mendengarnya, cukup dari ucapan Wuru Yathalalana dia bisa menyatakan eksperimennya telah membawa hasil baik!

-o0o-

120 – Domino Effect : ... akhir sebuah awal [1]

Semua orang menatap Wuru Yathalalana dengan tatapan kasihan, lucu, juga sebal. Cambuk memasak bubur ayam spesial dalam jumlah banyak, sedianya untuk dimakan beramai, tapi semua dihabiskan tanpa sisa oleh si pemabuk. Jaka memperhatikan dengan seksama, sejauh ini tidak ada reaksi penolakan atas makanan yang masuk. Agak ragu, Jaka menuangkan arak putih dengan kadar tinggi. Tanpa pikir panjang Wuru Yathalalana menyambar dan menenggaknya, tapi belum lagi habis mengaliri kerongkongan, arak yang di minumnya tersembur.

Dengan tatapan nanar Wuru Yathalalana melihat gelasnya, nafasnya terengah pendek-pendek, matanya berkaca-kaca. “Akhirnya… setelah dua puluh tahun, setelah dua puluh tahun…” katanya dengan bibir gemetar, suara serak. Lalu menyendok bubur ayam dengan lebih lahap, rasa buburnya memang gurih, kali ini bercampur asin karena tetesan air matanya yang tak berkesudahan.

Jaka menghembuskan nafas lega, dia memberi isyarat kepada semua orang untuk membiarkan Wuru Yathalalana sendirian.

“Kau berhasil…” puji Ki Alih sambil menepuk bahu Jaka.

Pemuda ini tersenyum tipis, tak menanggapi. “Kita patut bersyukur atas kesembuhannya…” gumam Jaka sambil duduk, tatapannya terpaku pada langit-langit, entah apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya. “Kita harus melakukan satu keputusan tegas!” kata pemuda ini sambil menegakkan tubuhnya, satu persatu dipandangi semua orang.

“Harus ada prioritas tindakan.” Seperti biasa, Jalada mengambil kesimpulan sangat awal.

“Besok, aku akan memintal bulu domba.” Desis Jaka membuat Ekabhaksa hampir bersorak, beberapa hari ini hanya melakukan pertarungan tanggung membuat kepalanya sakit.

Domba yang dimaksud Jaka sudah tentu Sandigdha. Dengan perkembangan terakhir, Ekabhaksa hampir bisa memastikan, disekeliling Sandigdha telah muncul sanak dan kerabat tangguh! Setidaknya ada dua orang yang dicurigai bertindak sebagai ‘bayangan’ Wuru Yathalalana, yang menjadi orang dekat Sandigdha.

“Apa kau juga akan meyambangi orang yang hampir mengalahkanmu?” Tanya Jalada.

“Jika memungkinkan.” Sahut Jaka mantap.

“Tidak kawatir atas pukulan anehnya?” sambung Ki Alih.

Jaka menggeleng. “Pukulannya memang luar biasa, dia juga sanggup menyadap cara bertarungku sebelumnya. Tapi, yang berkembang bukan hanya dia.” Jawab Jaka dengan kepercayaan diri tinggi.

“Kau bisa mengatasinya?” kejar Ki Alih lagi.

Jaka mengangguk pasti. “Aku ingin tuntaskan satu hal, ingin kupastikan beberapa hal, dan akan kumulai satu hal mendasar.”

“Seperti biasa, kau bicara dengan kiasan…” gerutu Ekabhaksa. “Hanya setan yang tahu!” sungutnya, membuat Jaka tertawa perlahan

“Hal mendasar yang kumaksud adalah, fakta-fakta yang muncul akhir-akhir ini. Aku merasa ini menjadi satu lingkaran setan, tak berkesudahan! Dan memang seperti itulah rencana yang digagas oleh seseorang. Menurut paman, mengapa harus Sandigdha yang menjadi simpul dari masalah ini?”

“Apa karena dia masuk dalam salah satu kerajaan yang memiiki kekuatan tangguh?” ungkap Jalanda.

“Itu bisa. Lalu?”

“Sudah tentu karena latar belakangnya sebagai Keluarga Tumparaka.” Sahut Ekabhaksa.

“Benar. Ada lagi?”

“Kemampuan orang itu dalam menyesuaikan diri, kemahiran membuat rencana, kurasa menjadi daya tarik tersendiri bagi tiap golongan untuk merekrut dirinya.” Sambung Ki Alih.

“Semua kemungkinan itu memang bisa terjadi. Tapi ada satu hal yang cukup menggangguku… paman, bagaimana hasilnya?” Tanya Jaka pada Penikam.

Penikam mengiyakan, kemudian dia berlalu dari ruangan itu untuk mengambil sesuatu. “Ini yang kutemukan, sedikitpun aku tidak mengerti, kenapa aku harus bersusah payah demi bunga semacam ini…”

Semua orang memperhatikan bunga seperti seruni tapi berwarna ungu muda, tangkainya hanya setengah sejengkal masih memiliki empat daun. Aromanya cukup harum, tapi terkadang tecium seperti aroma buah nangka pula. ”Ini bukan bentuk yang sempurna...” pikir Jaka. ”Apakah tidak ada bunga sejenis?” ”Tidak ada, hanya seperti ini, aku menemukannya dalam jumlah cukup banyak, tapi kupikir cukup membawanya satu saja.”

Jaka manggut-manggut. ”Adakah dari bunga-bunga yang paman lihat memiliki tangkai lebih panjang dari ini?”

”Tidak.” jawab Penikam tegas. ”Berwarna ungu lebih pekat?”

”Tidak ada, warna ungu yang kuambil ini lebih tua dari yang lain.”

”Memangnya kau sedang mencari apa?” tanya Ki Alih kebingungan.

”Sebenarnya ini ada kaitannya dengan luka yang diderita Phalapeksa, aku mencurigai, tak jauh dari sini ada seseorang atau sekelompok orang sedang mencoba membuat racun. Bukan sembarang racun, tapi meniru dari bentuk aslinya...”

“Kenapa harus meniru? Kalau mereka bisa membuat racun, bukankah akan lebih mudah mengerjakan yang baru?”

“Duganku pun serupa itu paman.” Kata Jaka menjawab pemikiran Cambuk. “Setelah kupikir-pikir, kurasa mereka menyadari satu hal, racun yang baru tidak akan membawa manfaat apapun.”

“Uh! Pusing aku mengikuti penjelasanmu!” sungut Ekabhaksa sembari menenggak airnya.

Jaka tersenyum. “Jika aku mencuri uang dalam jumlah besar, si pemilik akan mencarinya kemana?” “Sudah tentu, ketempat dimana perputaran uang besar terjadi!” Sahut Ekabhaksa ketus.

“Tepat sekali! Racun yang ditiru ini jelas untuk memancing keluarnya si pemilik racun. Sesederhana itu. Paman sekalian tentu ingat, Sandigdha memberikan biang racun hati merak dan penawar racun padaku. Aku sudah menelitinya, tidak ada masalah dalam biang racun, kekuatannya memang hebat. Yang menjadi masalah, justru penawarnya …”

“Memangnya ada apa?” Tanya Ekhabhaksa penasaran. “Bunga yang Penikam berikan padaku, meninggalkan ciri

yang tipis pada penawar itu. Ini menjadi masalah buatku.”

“Semua memang bisa menjadi masalahmu!” dengus Jalada. “Katakan secara lebih jelas.” Lelaki ini mau tak mau meniru cara Ekabhaksa adlam bertanya.