-->

Seruling Sakti Jilid 19

Jilid 19

90 – Bhre

Kesunyian yang mencekam membuat Momok Wajah Ramah tak nyaman, baru kali ini dia merasa takut mati! saat ini tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan, seolah seluruh fungsi tubuhnya luruh semua. Tapi, telinganya masih bisa membedakan mana bunyi wajar dan mana yang tidak, dengan sendirinya dia sangat paham ada langkah kaki yang mendekat. “Kalau sudah begini, apa yang membuatmu berguna?“ warna suara yang asing itu nampak sangat familier baginya, tapi karena wajahanya miring dia tidak tahu siapa orang itu, saat ini dia hanya bisa mengingat langkah kaki orang itu, sangat khas, tap-tap, taptaptap, ada jeda kecil diantara langkahnya.

Sing...! suara yang menggaung diudara itu mereprentasikan sebuah senjata yang keluar dari sarungnya, sebuah bayangan terpeta dalam benak Momok Wajah Ramah, ‘matilah aku‘, pikirnya panik. Tapi...

Ting! Berselang satu detik atau mungkin pada detik yang sama, suara benturan yang sangat lembut membuat suara- suara lain mengabur dengan cepat. Momok Wajah Ramah kembali di cekam dalam hening. Dia bukan orang bodoh, apa yang terjadi dalam waktu yang singkat itu, ia bisa menduga, entah siapapun orang yang menyelamatkannya, dia sangat berterimakasih. Saat ini, dia hanya bisa memfokuskan pikiran untuk menahan daya sedot yang selalu menguras pusat tenaganya.

Tapi tidak berguna, makin dilawan, daya sedot itu makin ganas, tubuhnyapun lunglai. Pada akhirnya, dalam keputusasaannya Momok Wajah Ramah mencoba cara ekstrim, dia ingat sewaktu hendak menyerangi ada rasa sakit yang menyerang pinggang, sakit itu muncul saat dirinya mengalirkan tenaga pada lengan. Dengan menahan betotan tenaga Momok Wajah Ramah kali ini fokus untuk membangkitkan rasa sakit dalam pinggangnya, detik berikut.. seolah ada bacokan membelah pinggangnya. Tanpa bisa menahan lagi, Momok Wajah Ramah menjerit keras. Rasa sakit itu mendera cukup lama, setelah mereda; hal pertama yang dirasakan ternyata dirinya bisa menggerakkan jemarinya, dalam beberapa hitungan kedepan, kepalanya sudah bisa ditolehkan kesana kemari, dan pada akhirnya dia bisa duduk dan beringsut.

“Rasa ingin hidup, harus kau ingat baik-baik!“ sebuah suara membuat Momok Wajah Ramah yakin, bahwa orang itulah yang menolong dirinya, tapi sayang lehernya masih sangat sulit untuk digerakkan dengan leluasa. Kesunyian kembali menjadi teman, ternyata diujung kematian timbul sepercik kesadaran, bahwa ternyata hidup memang berharga.

Setelah beberapa saat, Momok Wajah Ramah mengatur nafas, dia bisa bangkit berdiri, di edarkan pandangan matanya kian kemari, baru sadar ternyata disamping tempatnya terbaring tadi tergeletak jarum-jarum beracunnya. Dengan perasaan tidak karuan, lelaki ini memungut jarum, ditatapnya jarum yang selama ini menemani dalam setiap tindakan. Dicium dengan ragu, seperti dugaannya racun dalam jarum itu sudah tidak ada lagi, Momok Wajah Ramah bukan orang bodoh, hal itu adalah peringatan terselubung untuknya. Racun adalah pengejawantahan dari nilai kejahatan, penyerang gelapnya dapat menghilangkan racun yang cukup dikenal di duna persilatan dalam tempo singkat, artinya; orang itu bisa kapan saja ‘menjemput‘ nyawanya.

“Apa aku harus berubah? Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya?” pikirnya gundah. Dengan langkah tertatih, lelaki bernama asli Wangkar menapakkan kaki satu demi satu dalam kegundahan pikirannya.

**** Disebuah bangunan cukup besar dengan masing-masing ruangan cukup besar, nampak beberapa orang tengah duduk merundingkan sesuatu.

“Apakah Duhkabhara belum ada kabar?” tanya salah seorang pada bawahannya.

“Belum tuan,” jawabnya singkat.

Duhkabhara, bukanlah nama sebenarnya, itu adalah julukan. Arti julukan itu sendiri adalah kesusahan yang besar atau penderitaan yang besar, tapi bukan berarti orang yang dijuluki hal itu merupakan orang yang hidupnya payah dan dalam kesulitan, tapi justru orang itu selalu mendatangkan kesulitan bagi orang lain, kesulitan yang sangat besar!

“Benar-benar tidak berguna!“ desis lelaki ini dengan marah.

Tapi, baru saja dia selesai berucap demikian, muncul tiga orang menerobos masuk kedalam ruangan itu.

“Pratisara, kau selalu terburu-buru dalam setiap pekerjaan!“ Dengus seseorang yang baru saja menerobos masuk. Dengan langkah yang tegap, lelaki ini menarik kursi dan duduk di depan lelaki yang dipanggil Pratisara. Sementara orang yang menyertai Pratisara tadi sudah mengundurkan diri.

“Jika kau mencermati kejadian akhir-akhir ini, maka kau harus mengambil keputusan dengan cepat!“ Kata Pratisara dengan nada tegas.

“Untuk hal ini aku setuju denganmu.“ Sahut Duhkabhara. “Langsung saja, kita temukan satu nama yang cukup terkenal, Sora... aku duga dia adalah Sora Barung.“ “Cukup berguna, aku tahu orang itu, itu cukup jadi salah satu jalur informasi. Sayang cara kerja anak buahmu tidak rapi.”

Duhkabhara terkejut dengan pernyataan Pratisara, dalam kelompok mereka Pratisara atau panglima, bertindak sebagai penyelia, tanpa orang itu, mereka tidak bisa berhubungan dengan tingkat atas. Dengan agak gusar, Duhkabhara menoleh pada dua orang yang ikut dengan dirinya.

“Apa yang kalian lakukan?”

“Tidak ada yang salah, semua bersih, jadi arang!” sahut salah satunya.

“Apa kau sudah memeriksa ulang?” tanya Pratisara dengan tajam.

“Tidak perlu, sekalipun belum mati terbakar, dia sudah mati kehabisan darah!” Sahutnya dengan ketus.

“Aku tidak menanyakan sumbermu mati atau tidak, tapi sejak kapan puing rumah yang berisi satu orang, tidak terdapat bekas-bekas tubuh orang?”

Keterangan itu membuat kedua orang yang merupakan petugas eksekusi di lapangan, terkejut. “Mustahil!” seru keduanya bersamaan.

“Muncul satu lubang setelah kalian meninggalkan rumah itu, dari lubang itulah korban kalian diselamatkan…” kata Pratisara dengan datar. “Lebih celaka lagi, korban kalian bukan sekedar penjual wedang ronde, tapi perantara informasi.” “Aku akui itu sebuah keteledoran, tapi itu tidak akan menguak identitas kita.” Kata Duhkabhara membela diri.

Pratisara tidak berkomentar, “Kita tunggu petunjuk beliau saja.” Katanya datar. Duhkabhara cukup sadar kali ini akan ada pembicaran sangat serius, dia memberi isyarat supaya dua orang yang menyertainya mengundurkan diri.

Susana ruangan itu jadi hening, tak berapa lama dari balik kelambu muncul satu orang, dia tidak berkata apapun, tapi langsung membereskan segala sesuatu yang diatas meja, lalu membentangkan sebuah kulit kambing, dalam kulit kambing itu ada banyak tulisan, tapi baik Pratisara dan Duhkabhara tak berani memandang tulisan tersebut.

Sesaat kemudian muncul lelaki dari dalam, dan langsung duduk. Dia tidak menyilahkan Pratisara dan Duhkabhara untuk duduk, melainkan dibacanya lebih dulu tulisan dalam kulit kambing itu. Setelah selesai, dia mengibaskan tangannnya memberi isyarat untuk duduk.

“Terima kasih Bhre...“ kata keduanya duduk dengan punggung tegak, dalam posisi siaga. (Bhre merupakan panggilan untuk raja)

“Aku ingin dengar perkembangan terakhir.“ Katanya singkat.

Pratisara mengiyakan dengan sangat hormat. “Kita memiliki keadaan yang diluar dugaan, sejauh ini sudah ada enam kelompok yang bergerak disini. Pertama, mereka bergerak di sekitar Perguruan Naga Batu, ada tiga golongan; kesatu, sempalan dari Perguruan Naga Batu, kedua; pendukung sempalan kelompok Perguruan Naga Batu, disenyalir merupakan kumpulan golongan-golongan sesepuh para pendiri kota ini, dan ketiga adalah telik sandi bebas, mereka biasa digunakan oleh banyak pihak, ini yang menyulitkan, telik sandi semacam ini kebanyakan dari pihak Kwancasakya.

Kemudian, ada dua golongan yang kemungkinan bergerak didalam Perguruan Naga Batu, pihak pertama; adalah golongan lama yang ingin bangkit kembali, mereka digerakkan oleh anak murid Perguruan Naga Batu sendiri. Kemudian yang, kedua; adalah pihak yang belum diketahui, mereka merubah kebijakan yang ada didalam perguruan. Kami belum bisa mengambil informasi sampai sejauh itu, sebab setap orang yang dikirim untuk menyelidiki kondisi tersebut, lenyap.

Dan pihak yang terakhir; golongan yang membuat onar di Perguruan Naga Batu, saya tidak tahu apakah mereka menjadi satu golongan atau tidak, sebab Beruang dan Serigala adalah dua pribadi berbeda, tidak pernah diketahui saling bekerja sama.“

Lelaki yang di panggil Bhre manggut-manggut, jari manisnya yang menggunakan cincin dari batu hijau mengetuk- ngetuk meja.

”Kalian melupakan tanda pertarungan di pintu masuk kota ini?“ tanya lelaki separuh baya ini.

“Saya tidak bisa mengambil kesimpulan, karena terlalu bias dan kabur...” sahut Pratisara tertunduk.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Sang Pimpinan pada Duhkabhara.

“Tujuh satwa satu baginda, setidaknya itu yang bisa saya baca Bhre... tapi seperti kata Pratisara, itu semua sangat kabur. Kemiripan tanda itu sembilan puluh bagian mendekati kebenaran, apalagi ada kabar munculnya Serigala dan Beruang di kota ini, saya rasa menjadi penegasan akan beneran tanda itu.”

“Aku belum menangkap inti pembicaranmu!” tandas lelaki ini menatap tajam Duhkabhara.

Duhkabhara menundukkan kepalanya, sehari-hari dia dikenal sebagai orang yang sangat sadis dan bertindak tanpa pandang bulu, tapi menghadapi sang junjungan yang dapat mengalahkannya dalam dua jurus, dia sama sekali tidak berani berkutik.

“Maksudnya, kita menghadapi ancaman serius. Jika memang tujuh satwa satu baginda benar-benar nyata, maka orang yang di hadapi mereka ini adalah ancaman terbesar...” kata Pratisara menyelamatkan situasi.

“Orang dengan kemampuan sebesar itu apa tidak bisa dilacak?”

“Sama sekali tidak, sejauh ini kami tak bisa menemukan tanda-tandanya, tapi ada beberapa tokoh yang menjadi perhatian kami, menghilang.. apa mungkin ada kaitannya dengan tokoh ini, saya tidak tahu.” Tutur Pratisara menjelaskan.

“Bagaimana dengan yang terakhir?”

Pratisara dan Duhkabhara saling pandang, mereka tidak paham dengan pertanyaan sang junjungan. “Apakah maksud Bhre tentang lolosnya sumber informasi?” Sang Junjungan tidak menjawab, tapi itu sudah cukup bagi Pratisara untuk meneruskan bicara. “Ini memang keteledoran kami, sungguh tidak disangka... orang itu bisa diselamatkan. Tapi dari kondisinya, saya meragukan orang itu bisa berguna.” Selesai berkata begitu Pratisara menundukkan kepala, sementara dalam hatinya Duhkabhara merasa berterima kasih, karena kesalahan mereka ditanggung oleh Pratisara.

“Kalian tahu apa yang terlewat?” tiba-tiba Sang Junjungan berdiri sambil membelakangi mereka.

Keduanya tak berani menjawab.

“Gua batu didatangi orang, ada beberapa hal yang hilang didalam sana. Asap yang digunakan merupakan pekerjaan golongan yang tidak sembarang bertindak. Apa kalian pernah menyalahi mereka?”

Pratisara dan Duhkabhara terkejut, mereka saling pandang. “Kami tidak mendapatkan laporan itu...” kata Pratisara terbata, dengan keringat dingin menitik.

“Tak bisa menyalahkan kau, kabar ini kudapat dengan tidak mudah.” Kata Sang Junjungan sambil melangkah keluar ruangan, dan menghilang dari balik kelambu.

Sepeninggalan Sang Bhre, mereka Pratisara segera menoleh kepada Duhkabhara, “Segera percepat pengumpulan informasi, jika perlu lakukan dengan berbagai cara!“

Duhkabhara mengangguk, biasanya dia sering berbantah kata, tapi pertemuannya dengan Sang Bhre membuatnya tak punya selera untuk membantah. Tak mengeluarkan sepatah katapun, Duhkabhara keluar dari ruangan. Anak buah Pratisara kembali masuk menjumpai pimpinannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Temui, Kiwa Mahakrura! Kau tahu apa yang harus dilakukan…” perintahnya singkat.

“Baik!” sahutnya sembari mengundurkan diri.

Jaka menarik nafas lega sembari tersenyum, saat mendengar laporan dari Macan Terbang, bahwa; penyebaran informasi tentang Ki Sempana adalah anggota mata-mata, sudah tersebar di kalangan telik sandi.

“Kenapa tuan harus membuat orang yang tidak ada kaitannya, disebutkan sebagai telik sandi?” Tanya Macan Terbang.

Jaka diam saja, tapi Penikam yang akhir-akhir ini selalu menyertai Jaka, menjawab pertanyaan itu. “Justru itu untuk keselamatan Ki Sempana sendiri.” Sahutnya singkat.

“Lho, bukankah itu lebih membahayakan jiwanya?” Tanya Macan Terbang tak habis pikir.

Penikam tertawa. “Coba kau renungkan, seorang yang sudah seharusnya mati dalam tumpukan puing, tiba-tiba saja selamat dan nantinya dia akan kembali mendirikan rumah ditempatnya semula… apakah itu tindakan berani atau justru bodoh?”

“Wah.. sa-saya tidak berani mengatakan itu tindakan bodoh, tapi itu.. rasanya juga kurang cerdas…” kata Macan Terbang tanpa pikir. “Eh, mm, tapi itu menurut pikiran saya…” sambungnya, baru menyadari jika dia mengatakan itu adalah tindakan kurang cerdas, sama artinya dia mengatakan keputusan Jaka kurang perhitungan.

“Jangan kawatir, setiap orang akan mengatakan itu adalah tindakan bodoh. Tapi disaat sekarang ini, justru itu adalah tindakan paling cerdas. Sebab orang yang tadinya menyiksa Ki Sempana akan berpikir ulang jika mereka akan mendatanginya, mereka pasti berpikir orang-orang dibelakang Ki Sempana merupakan kekuatan yang menakutkan, sampai- sampai membiarkan Ki Sempana kembali ketempatnya.”

“Bukannya itu benar?” tukas Macan Terbang polos.

Jaka tersenyum, Penikam juga terbahak. “Ya, mungkin saja kekuatan kita ini memang bisa dikatakan sebagai kekuatan menakutkan, tapi kita tidak selamanya akan ada disini. Pencitraan sebagai kekuatan yang menakutkan ini, akan membantu Ki Sempana manakala kita tidak disini lagi.“

Macan Terbang manggut-manggut mendengarkan penjelasan Penikam. Mendadak, dari luar melangkah seseorang memberi isyarat kepada Penikam. Lelaki ini segera menghampirinya, terlihat kepalanya mengangguk. “Baiklah, kau kembali ketempatmu.“ Katanya pada orang itu. Dia mengangguk dan memberi hormat pada Jaka, lalu menghilang dari balik pintu.

Penikam kembali duduk disamping Jaka. “Ada laporan apa paman?“ tanya Jaka.

“Nampaknya, tuan harus segera bergabung dengan anak- anak muda yang dikumpulkan Arseta.” Tutur Penikam singkat. “Oh, nampaknya Arseta sudah menangkap pergerakan Sadewa.“ Gumam Jaka. Pemuda ini memiliki janji dengan Sadewa bertiga, untuk datang ke Pesanggrahan Naga Batu, pada hari kelima waktu tengah hari. Dan saat perjumpaan itu sudah dekat.

“Saya rasa begitu,“ sahut Penikam.

“Aku harus bergegas..” kata Jaka sembari berdiri, dan menepuk bahu Penikam. Lelaki itu menatap punggung Jaka sesaat, dia segera mengetahui apa yang harus dilakukannya. Rumah Mintaraga pun kembali diliputi keheningan.

***

Sore sudah dijelang, di pojokan sebuah tanah kosong terlihat sesosok tubuh berdiri disaput bayangan pohon. Nampak kokoh dan dingin, seolah menyatu dengan alam sekitar. Dia sudah berdiri disana sekitar satu jam. Matanya dipejamkan, kondisinya benar-benar kokoh seperti batu karang, dari kejauahan sana terdengar gemertak suara dan itu cukup membuatnya terjaga.

“Berhenti disana!” ujarnya ketus, tapi perkataan yang singkat itu mengandung bobot cukup berwibawa.

Dua sosok bayangan yang sedang melesat, begitu terperanjat, mengetahui ada orang yang menghentikan mereka, dengan meningkatkan kewaspadaan mereka segera berhenti, hanya berjarak lima meter dari pohon rindang itu, suasana sore dengan cahaya yang berangsur mengabur itu membuat mereka bergidik.

“Apa kalian orang-orang Naga Batu?” tanya sosok yang berdiri dibawah pohon ini. Keduanya saling pandang dan tidak menjawab, pertanyaan orang itu bagi mereka bisa bermakana ganda.

“Siapakah kau?” tanya salah seorang diantaranya.

Dia tak menjawab, tapi sesaat kemudian berujar. “Tahukah kalian, Perguruan Naga Batu, memiliki Janapada-Janapadi… kebanyakan dari mereka tak berguna.”

Keduanya saling pandang, sebutan orang itu secara tak langsung mengarah kepada mereka. Janapada-janapadi adalah sebutan bagi bawahan, pembantu.

“Siapa diantara kalian yang merupakan Janapada?” tanya orang dibawah pohon ini.

Keduanya benar-benar bingung, pertanyaan orang itu mencakup hal-hal baru dari banyak hal yang baru mereka pahami dan menjadi tanggung jawab mereka. Tiba-tiba orang itu menjentikkan jari, sebuah koin jatuh tepat diantara keduanya. Ah… ternyata sebuah lencana, terbuat dari besi, berukir siulet naga.

“Orang sendiri?” tanya salah satunya sembari menjumput lencana itu, dan dan melihat sisi lainnya, tertera nomor 58.

“Ya, kita orang sendiri…” tiba-tiba saja lelaki dibawah pohon sudah berada sangat dekat dengan mereka.

Merasa terancam, keduanya segera bergerak mundur saling berlawanan arah. Tapi gerakan itu ternyata tidak ditanggapi oleh lelaki ini, dia hanya memperhatikan pada orang yang memegang lencananya. “Kau tahu, lencana lepas dari badan artinya mati…” katanya dengan dingin sembari menjulurkan tangannya meminta lencananya lagi.

“Ah…” katanya baru sadar dia masih memegang lencana itu, dengan terburu dilemparnya lencana itu pada lelaki tadi.

“Kau nomor berapa?” tanya si penghadang ini.

“60.” Sahut si pelempar lencana tadi, tapi anehnya penghadang yang memiliki lencana 58 ini tidak bertanya pada orang yang satunya. Setelah lencana itu di genggam dan disimpannya kembali, barulah dia mengalihkan pandangan pada orang kedua.

“Sebenarnya aku bisa bersenang-senang dengan kalian dalam waktu yang cukup lama, tapi aku diburu waktu.” Katanya dengan nada yang dingin.

“Apa maksudmu?” tanya salah satu dari keduanya merasa ada yang tak beres.

Lelaki itu tidak mengatakan apa-apa, menghunus pedangnya dengan lambat. Melihat gelagat tak menguntungkan itu, si pendatang mundur dua langkah, pada ekor matanya dia melihat rekannya yang tadi memungut lencana diam tak bereaksi. Hatinya menjadi cemas menyaksikan itu.

“Hati-hati!” teriaknya pada rekannya.

“Lebih baik kau perhatikan dirimu!” desis si penghadang sudah berada satu jangkauan dengan dirinya. Dengan gugup lelaki itu mengisarkan langkah kesamping dan tangannya menebas miring mengarah leher, tapi si penghadang ini menghindar dengan gerakan hampir serupa dengan orang itu.

“Kau dari Perguruan Angin Tanpa Gerak?” tanya si penghadang ini dengan seringai sadis.

“Persetan!” bentaknya sambil mencabut senjatadan langsung menusuk keperut si penghadang itu.

Trang! Sebuah tangkisan yang sangat kuat, membuat pedang lelaki yang di senyalir datang dari Perguruan Angin Tanpa Gerak, terpental. Begitu lengannya terpental, sebuah serangan tusukan sangat sederhana mengarah jantung dengan gerakan sangat cepat!

Tapi lagi-lagi dengan olah langkahnya yang serba canggung lelaki itu bisa menghindar, tubuhnya melengkung kebelakang membentuk gerakan kayang, dan dilain kejap, kakinya menghentak dan melejitkan tenaga untuk mundur.

Si penghadang ini agak terkesima juga melihat cara menghindar lawannya. “Memang gerakan dari ilmu Angin Tanpa Arah, tidak bisa diremehkan.” Gumamnya makin bersemangat. Mendengar ucapan itu, lelaki yang memang datang dari Perguruan Angin Tanpa Gerak ini, terkesip. Sungguh tidak disangka beberapa gerakannya itu ternyata bisa dikenali lawan dengan cepat.

Sambil maju setindak, lelaki ini memasukan pedang dengan cepat, lalu perlahan tangan kirinya terangkat dengan lengan tertekuk kesamping sejajar bahu, jemari mengepal menempel dada, tangan kanannya memegang siku kirinya- tepatnya jemarinya menjumput siku.

“Hiaat..” dengan pekik kecil, tangan kanan yang memegang siku kirinya mencuat dalam kepalan dengan gemuruh laksana guntur, meluncur deras mengarah samping kanan lawan. Sebuah serangan yang aneh, sebab jangkauan serangannya masih terlalu jauh dari lawan, dan bidikannyapun jauh dari presisi.

Orang ini terheran-heran melihat serangan itu, tapi kelenaanya dalam satu detik itu sudah sangat cukup bagi si penghadang untuk melejit sangat dekat dengannya. Lengan kiri yang masih tertekuk itu mencuatkan sambaran sebuah pukulan yang langsung mengarah ke batok kepala, sebuah pukulan yang sederhana, dan keji!

Lelaki dari Perguruan Angin Tanpa Gerak ini dengan sigap melejit kekiri, tapi mendadak saja dia terkejut, saat gerakannya tertahan. Bahunya yang membentur hawa tak terlihat itu seperti tersengat pukulan. Barulah disadari serangan yang tanpa alasan tadi ternyata menciptakan selapis dinding hawa sakti untuk mengurung gerakannya!

Karena gerak hindar terhenti, dengan sedirinya serangan tangan kiri lawan masih tetap mengincar kepala, tidak ada waktu untuk berkelit lagi, dengan mengerahkan segenap tenaga sakti Awan Berkubang Mendung, dia menghadang serangan itu.

Plaaak!

Benturan keras terjadi begitu dahsyat, sungguh tidak disangka serangan yang sederhana dari si penghadang itu ternyata melancarkan tenaga bagai petir, menyambar setiap benteng hawa saktinya. Dari kepalan tangan yang tertangkis tapak berisi hawa sakti Awan Berkubang Mendung, terasa ada sambaran tenaga yang tiada habisnya menggedor pertahanannya, benturan yang terlihat hanya sekali itu, pada kenyataannya dia rasakan hampir belasan kali gedoran serupa pukulan jarak jauh menghantam pertahanan hawa saktinya.

Tak terasa, kakinya mundur sampai dua langkah, sementara tangan lawannya masih mendorong telapaknya, seharusnya dia masih akan terus terdorong, dan pada saat itu dirinya bisa mempersiapkah himpunan hawa sakti yang berikutnya untuk menyerang, tapi dari belakang lagi-lagi tertahan oleh dinding energi yang sebelumnya diciptakan oleh si penghadang ini, sungguh mimpipun dia tak pernah mendengar ada ilmu seperti ini.

Wajah sang lawan menyeringai padanya sudah sangat dekat! Dia merasa detik-detik itu seperti mimpi buruk, sadar dengan bahaya yang akan menimpanya, tangan yang masih memegang pedang melemparkan senjata itu keatas dan menarik tangannya sejajar pinggang, dia tak lagi memikirkan pertahanan, itu adalah serangan terakhir.. dan pada kejap berikutnya sebuah tendangan menyambar pinggang, tak sempat mengelak, sebuah tendangan telak langsung mematahkan pinggang, dan kejap berikutnya bunyi ‘krak’, di sekitar kepala adalah bunyi terakhir yang dia dengar.

Tapi pada detik yang bersamaan saat serangan si penghadang menghantam kepalanya, pedang yang dikibaskan keatas menukik dengan desingan keras mengancam ubun-ubun si penghadang itu, tanpa melihat kearah serangan terakhir, si penghadang mengisarkan kaki kesamping dan menepis. Tapi sungguh aneh… pedang itu memang tertangkis, tapi hawa yang tajam tetap mengikuti dirinya dan menyayat lengan kirinya sepanjang satu jengkal.

Orang ini, menatap lukanya dengan terkejut. “Jika saja latihannya sudah mahir, menghadapi ilmu Perguruan Angin Tanpa Gerak benar-benar sulit…” Pikirnya, padahal lengan kirinya penuh dengan hawa sakti, tapi hawa pedang lawan masih sanggup penggoreskan luka disana. Tatapan matanya yang tajam dan kejam itu menyapu tubuh lawan yang tergeletak dengan setiap lubang dikepala mengalirkan darah. Dengan menggetak gigi, lelaki itu menyobek kedua lengan baju dan membungkus luka itu, tanpa sadar pada lengannya terlihat menyembul sedikit rajah dengan sisik hitam.

Dengan tergesa, di geledah seluruh tubuh lawannya, sambil menyeringai senang dia memungut lencana yang tergantung di leher, dilihatnya lencana besi itu, ternyata bernomor 63. Dengan berjalan perlahan, kali ini dia menghampiri satu orang yang lain.

Keadaan orang itu sungguh aneh, dia tidak bereaksi terhadap kematian rekannya, hanya diam termenung.

“Apa yang kuucapkan tadi adalah hal sebenarnya, lencana lepas dari badan artinya mati! Kau memang belum melepas lencanamu—itu hanya masalah waktu, tapi sebelumnya kau sudah melepaskan lencanaku.” Katanya sembari menyeringai, dia menggeledah sekujur tubuh orang itu, tanpa ada perlawanan!

Dilihatnya lencana yang sudah didapat, memang benar bernomor 60. “Hm… 58, 60, dan 63 sudah kudapat. Tinggal satu orang lagi pemilik lencana besi, selanjutnya, satu pemilik perunggu dan dua pemilik perak.” Pikirnya dengan langkah lugas menghilang dari balik kerimbunan pepohonan.

Burung sudah kembali kesarang, suara serangga malam mulai berkumandang menderik disetiap penjuru, desau angin sore yang makin lemah senada dengan sang mentari yang kian temaram, kembali keperaduannya. Kejadian tadi hanya sekejap saja, dua nyawa yang masih bugar kini hanya tinggal seperempat, ya.. ternyata si pemungut lencana yang dilemparkan si penghadang, sudah dibalur racun, dan itu membuatnya sekarat, sebab racun itu berjalan lambat, merambat lewat pori-pori, mematikan sistem motorik dan akhirnya akan menghentikan denyut jantung untuk beberapa waktu kedepan.

***

Jaka duduk di kedai makan, dimana dia pernah bertemu Arseta. Dengan sendirinya pemilik kedai paham, siapa yang akan ditemu Jaka. Tak berapa lama kemudian, seorang pelayan menyapa Jaka dan menyilahkan pemuda itu untuk duduk di dalam ruangan yang lebih pribadi. Bagi kebanyakan orang, kedai yang penuh cita rasa itu memang enak untuk disinggahi, tapi bagi orang macam Jaka, kedai itu adalah pintu masuk ke dalam dunia yang berbeda.

Tak berapa lama kemudian Arseta muncul dengan wajah tersaput muram. Jaka berdiri dan menyalami orang itu. “Silahkan duduk…” kata pemuda ini pada Arseta.

Melihat wajah yang tidak seperti biasanya itu, Jaka menduga ada banyak perubahan telah terjadi. “Apakah usaha kalian sudah tercium pihak lain?” tanya pemuda ini dengan menuangkan secangkir teh dan diberikan pada Arseta. Sembari menghela nafas panjang, Arseta menyesap tehnya, lalu menatap Jaka sesaat. “Kami kehilangan pemilik lencana besi nomor 58…” katanya.

Jaka tidak bereaksi, pemuda ini mengambil lencana perunggu yang di berikan oleh Sadewa padanya, baru disadari olehnya ternyata lencana itu memiliki nomor. Miliknya adalah nomor empat.

“Ada indikasi, nomor-nomor yang lain juga akan menghilang.” Katanya sambil menatap Jaka.

“Aku akan berhati-hati,” tukas Jaka.

Aresta mengangguk, dia tidak akan mencemaskan Jaka, karena ada Arwah Pedang di belakang pemuda itu. Dalam mimpi pun Arseta tidak menyangka, pemuda ini tidak pernah mengandalkan orang lain untuk keselamatannya sendiri, justru orang lain-lah yang seharusnya berhati-hati saat menghadapi anak muda bernama Jaka Bayu itu.

“Lalu… apa arti kehilangan itu bagi kalian?”

“Banyak sekali,” Arseta kembali menyesap air tehnya. “Ada yang sudah tahu apa yang sedang kami lakukan, itu pasti. Pihak ini bisa jadi dari luar, bisa jadi dari dalam.”

“Sudah ada yang dicurigai?”

“Saat pemeriksaan jenasah pemegang lencana, Ketua sudah memiliki nama, cuma dia masih belum yakin, begitu banyak hal bias yang kutemukan.. aku sendiripun jadi ragu, tidak bisa menyimpulkan apapun.”

Jaka segera berdiri, “Ayo…” Arseta bengong, tidak mengetahui apa maksud pemuda itu. “Kemana?”

“Tentu saja ketempat penyimpanan jenazah, kalian belum menguburkannya kan?” tanya Jaka. Arseta menggeleng masih dengan perasaan bingung. “Aku akan melihatnya, siapa tahu ada kesimpulan yang bisa membantu kalian.”

Lelaki paruh baya itu terdiam sesaat, “Baiklah…” merekapun meninggalkan kedai untuk menuju ketempat penyimpanan jenazah.

***

Hastin dan Cambuk sedang mencermati beberapa lembaran yang mereka dapati dari gua batu. Sebuah catatan sejarah yang tidak mengambarkan apapun. Cambuk hampir putus asa, dia sudah membacanya bolak-balik sampai lima belas kali, tak juga mendapatkan apapun.

“Anda mendapatkan sesuatu?” tanya Cambuk pada Hastin.

Tampang lelaki bertubuh besar ini malah lebih mengenaskan ketimbang Cambuk. “Benar-benar sialan, aku paling tidak suka pekerjaan konyol macam begini!” katanya seraya mencampakkan gulungan lontar yang sudah dibaca jauh lebih banyak dari jumlah Cambuk.

Cambuk hanya bisa menghela nafas, ditatapnya lembaran lontar yang dilempar Hastin, tanpa berusaha mengambilnya lagi. Keheningan meliputi mereka dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Cambuk seperti diingatkan sesuatu. “Tolong, anda balik semua lembaran!” seru Cambuk pada Hastin, dengan bersemangat lelaki ini mengambil lembaran yang di buang Hastin, di lembaran depan memang tercantum banyak tulisan, masing-masing tulisan itu ada yang ditulis dengan tinta yang ditekan lebih kuat, membuat huruf-huruf tertentu menjadi lebih tebal. Cambuk membalik lembaran itu, di baliknya terlihat titik-titik tinta yang meresap, menimbulkan titik-titik yang tidak beraturan. Cambuk segera mencari urutan- urutan pada halaman.

“Aku sudah selesai dengan tulisan sialan ini, memangnya mau kau apakan?” tanya Hastin heran.

“Tolong susun sesuai urutan halaman.” Kata Cambuk tanpa menoleh, dia sedang mengamati titik-titik dibalik lembaran itu, dalam banyak hal seolah di benaknya muncul jawaban dari hal yang sedang dicari, tapi begitu di lihat lebih dalam, dia sendiri bingung… entah apa yang sebenarnya sedang dicari.

Semua lembaran sudah di balik dan di susun berdasarkan urutannya, dibalik lembaran-lembaran yang lain itu juga terdapat titik-titik bekas rembesan tinta. Cambuk segera meletakan lembaran terakhir yang masih di tangannya.

“Apa yang anda lihat?” tanya Cambuk dengan tatapan mata tidak lepas dari lembaran itu.

“Kecuali, titik-titik tak jelas, memang ada yang lain?” ujar Hastin dengan kening berkerut dalam.

“Aku seperti mengingat sesuatu, tapi apa ya…” gumam Cambuk menggaruk kepalanya berkali-kali. “Ah….” Tiba-tiba Hastin berseru. “Peta!” keduanya berseru bersamaan.

Dengan terburu, Cambuk mengeluarkan peta gua batu yang di dapat dengan cara menyogok, peta itu diletakkan di atas lembaran-lembaran lontar yang sudah tersusun sesuai halaman. Enam lembar membentuk kolom, sisanya membentuk baris dengan diletakan memanjang, keseluruhan lembaran itu ada enam. Luas lembaran lontar itu pas benar dengan gulungan peta yang didapatkan Cambuk.

Keduanya saling pandang, “Paham?” tanya Cambuk pada Hastin dengan wajah penuh tawa.

Hastin juga tertawa, “Tidak!” jawabnya, membuat tawa Cambuk makin keras.

“Titik-titik ini adalah pelengkap peta Gua Batu, jika kita salin ulang, akan tercipta peta dengan keterangan sangat akurat.”

“Darimana datangnya keterangan itu?”

“Tentu saja dari tulisan-tulisan yang ada dibaliknya.” Kata Cambuk dengan puas, bisa membuat Hastin harus berkali-kali bertanya.

“Menurutmu kegunaan peta itu untuk apa lagi?”

“Kurasa, semacam rancangan untuk sebuah pergerakan yang akan di lakukan secara serempak atau bertahap…” jawab Cambuk menganalisa. “Waktunya bekerja…” sambungnya sambil menyiapkan tinta dan lembaran kulit kambing untuk menyalin peta. Hastin menguap, pandangannya terlihat bosan, dia benar- benar ingin bertarung.. kalau pekerjaan semacam ini bisa membuatnya mati mengantuk.

--dwkz--

92 – Autopsi

Jaka tercenung didepan jenazah yang terbaring kaku dihadapannya. Itupun kalau masih bisa dibilang jenazah, sebab kondisinya begitu mengenaskan. Kaki kiri terpotong, luka tercabik hampir ada disekujur tubuhnya. Tulang pipi remuk, wajah jenazah yang tampan itu terlihat menakutkan. Jemari sepasang tangannya nampak terlepas engselnya.

Disekitar pemuda ini, ada Arseta dan Ketua Bayangan Naga serta seorang lelaki tua mencermati apa yang sedang dikerjakan pemuda itu.

Dengan menggunakan sarung tangan yang disamak dari kulit sapi, Jaka tidak merasa jijik saat memegang potongan kaki, mencermati bekas luka pada kaki. Setelah di amati dengan seksama, pemuda ini melepas sarung tangannya, dari balik bajunya, dikeluarkan gulungan kain yag berisi jarum- jarum dalam rupa panjang-pendek berbeda. Dengan gerakan sangat cekatan, di tancapkan enam jarum disekitar lambung dan jantung.

Cara kerja Jaka Bayu yang hampir tanpa jeda, membuat Ketua Bayangan Naga dan lelaki tua disampingnya terlihat makin perihatin, mereka paham benar, hanya orang-orang yang sudah sangat terbiasa dengan ilmu pertabiban yang bisa berlaku seperti itu. Pantas saja, waktu diberi buah jalanidhi, pemuda ini hanya bersikap biasa. Dengan adanya Arwah Pedang disekitar anak muda itu, identitas Jaka Bayu menjadi istimewa di mata mereka. Bahkan Ketua Bayangan Naga bisa memastikan, pemuda itu bukan orang yang secara aksidental di rekrut Sadewa, boleh jadi justru pemuda inilah yang mencari Sadewa, menarik perhatian untuk membuat mantan rekannya itu merekrut dirinya.

Lalu dengan menghela nafas panjang, Jaka menyalurkan hawa murni dari mulut jenazah itu, terdengar gemertak lirih suara dari rongga dada, pemuda ini mencermati jarum- jarumnya dengan mendengar setiap perubahan suara yang ada di dalam tubuh jenazah itu. Setelah dirasa puas dengan pengamatannya, Jaka mencabuti jarum-jarum dan membersihkan, lalu memasukkan lagi kedalam tempat penyimpanannya.

“Kau mendapatkan apa?” tanya Arseta.

“Banyak hal menarik…” papar Jaka sembari melangkah menjauhi jenazah, mereka duduk berkeliling di ruangan depan tempat penyimpanan jenzah. “Korban ini, berasal dari Perguruan Cadas Merapi..”

“Kau tahu dari mana?” Arseta bertanya heran, mereka jelas tahu asal-usul orang-orang yang direkrutnya, tapi kepada Jaka, keterangan semacam itu seingat dirinya belum pernah di berikan.

“Dari jemarinya… Perguruan Cadas Merapi memiliki ilmu yang sangat khas, Tapak Bangau Batu, pada tingkatan sebelum tapak, ada tingkatan jari. Pada tingkatan ini jari tengahnya akan terlihat lebih pipih dari biasanya, sedangkan ujung jemarinya lebih besar dari kebanyakan orang, kondisi ini akan normal saat dia sudah mencapai tingkatan tapak. Kulihat seluruh jemarinya lepas dari engsel, sementara tulang pergelangan tangan tidak, artinya; dia sengaja menggetarkan tenaga saktinya sampai kelewat batas, pada jemarinya, tapi terhadang tenaga lawan, sehingga tak kuat menahan desakan dari luar…

Baiklah, aku akan mulai penjelasan dari luka-lukanya. Seluruh luka cabikan yang ada di sekujur tubuh, dilakukan setelah korban mati. Untuk membedakan luka cabikan dilakukan sebelum dan sesudah kematian korban, adalah dengan mencermati jaringan pembuluh darah. Aku tidak menemukan adanya jaringan yang menegang di setiap mulut luka. Jaringan yang terputus akibat luka pada saat korban hidup, akan menunjukan bekas ketegangan pada otot dan jaringan disekitarnya, tapi pada kasus ini tidak.

Berikutnya, kaki yang terpotong ini memiliki pola yang hampir umum, dilakukan dengan bersih, dan cepat.. bahkan sangat cepat, tidak ada daging yang tercerai, potongan itu tepat di sambungan sendi, menandakan pelaku sangat teliti dan terbiasa dalam caranya. Aku hampir bisa menyimpulkan orang itu berprofesi sebagai pembunuh.. mungkin pembunuh bayaran. Dari cara ini saja, tak banyak orang yang bisa melakukan hal itu. Potongan kaki yang sangat lurus ini dilakukan oleh pelaku pada saat dia berguling ditanah, dan memapas dengan mendatar, gerakanya sangat cepat, dari pola serangannya aku bisa menyimpulkan senjata yang di gunakan adalah golok. Sebab penggunaan pisau atau pedang pada hasil sayatan semacam ini, akan menimbulkan bekas irisan pada tulangnya. Dan jurus yang dikenakan pelaku adalah Memapas Bukit Secara Melintang. Ini jurus umum, tapi penggunaan golok yang sangat tajam dan efektif membuatnya memiliki ciri khas tersendiri. Kalian bisa simpulkan siapa yang memiliki cara seperti itu.

Sementara, luka pada jantung korban, terkena oleh himpitan tenaga sakti dua jenis, pertama dia terkena pukulan yang tenaga merusaknya sangat halus dan hanya bisa dialirkan dari benturan pukulan, sementara jenis kedua tenaga yang keras yang dilakukan pada saat pelaku menghentakkan kaki untuk pemusatan tenaga pada pukulan lurus. Apakah di sekitar tempat kejadian ada bekas lekukan kaki yang dalam?” tanya Jaka.

Arseta mengangguk berkali-kali. “Memang benar, memang benar…” ujarnya.

“Pukulan itu tidak mengenai secara langsung, tapi pelaku memukulkan lebih dulu pada lengannya sendiri baru merambatkan hawa perusaknya kejantung sang korban. Kusadari, otot jantung korban, mengalami kerusakan fatal.. nyaris semuanya putus, sebab aku tidak bisa merasakan aliran hawa murniku, mencapai jarum-jarum yang tadi kutancapkan.”

“Kenapa pelaku harus memukul lengannya sendiri baru memukul korban?” tanya Arseta tidak paham.

“Jenis pukulan yang diyakini pelaku tergolong ilmu yang sangat keras, saking kerasnya jika dia menghantam langsung kepada korban, sisa tenaga pukulan akan membalik melukai si pengguna. Pada tingkat pemula, jenis pukulan ini tidak bisa sering-sering digunakan. Maka untuk mengurangi daya pantul yang merusak itu, harus di pukulkan lebih dulu pada anggota tubuh yang sudah siap dengan cara ini. Tentu saja pada saat dia memukul, anggota tubuh yang jadi media perambatan tenaga, harus sangat kuat.”

“Kira-kira, lengan sebelah mana yang digunakan sebagai media pukulan itu, apa kau dapat mengidentifikasinya?” tiba- tiba Ketua Bayangan Naga bertanya.

Jaka tersenyum, seharusnya Ketua Bayangan Naga tidak perlu bertanya, karena dia cukup melihat bekas jejak yang tertera disana itu kaki kanan atau kiri. Tapi memastikan kaki apa yang sebagai tumpuan Jaka sudah dapat menduga bahwa pelaku menggunakan lengan kiri-nya sebagai media pukulan.

“Dari jenis luka yang mendapat serangan rambatan hawa sakti dari kanan, maka lengan yang digunakan pelaku jelas sebelah kiri.” Jaka menjelaskan. Dan penjelasan Jaka membuat wajah Ketua Bayangan Naga berubah menjadi tak sedap.

“Kenapa harus saat ini?” desisnya mengepalkan tangan.

Membuat Jaka tidak paham, maksud orang itu.

“Pukulan Triagni Diwangkara …” ujar orang tua disebelah Ketua Bayangan Naga. Triagni Diwangkara, berarti mentari tiga api.

“Oh, jadi yang digunakan oleh pelaku adalah pukulan itu?” tanya Jaka. Orang tua itu mengangguk.

“Pada puncaknya, pukulan itu bisa menghanguskan korban, hangus sama sekali, tidak bersisa seperti arang!” katanya dengan emosi.

“Aki pernah melihat pukulan itu?” tanya Jaka. Lelaki itu menegakkan sandaran duduknya. “Dimasa aku muda, aku pernah melihatnya. Orang yang menguasai ilmu itu pada akhirnya juga mati karena ilmunya sendiri.”

“Apakah, dia mati karena ilmunya membalik?” tanya Jaka. “Kurasa begitu, saat itu dia bertarung dengan adik

seperguruannya. Kurasa sifat-sifat ilmu itu membuatnya saling bertolak belakang dan pada akhirnya menjadi senjata makan tuan.” Tutur lelaki tua itu, yang hingga saat ini Jaka tidak tahu, posisnya sebagai apa.

“Lalu apa yang membuat pipinya remuk?” tanya Arseta. “Pancaran tenaga yang sama, sifat tenaga yang di miliki

pelaku ini menyebar seperti jaring, kerusakan paling parah ada di jantung dan hati, tapi jangkauan terjauh dari imbas tenaga pelaku ini bukannya mengendor malah makin menimbulkan efek perusak lebih tinggi, hal ini dikarenakan serangan pertama yang merambat pada benturan-benturan pertama, dan pada akhirnya di ledakkan oleh Pukulan Triagni Diwangkara.”

Jaka menatap wajah-wajah dihadapannya, “Apakah keteranganku bisa menyimpulkan pada sesuatu? Mungkin, nama pelaku?”

“Apakah kau tahu, kira-kira luka cabikan itu dilakukan untuk alasan apa, dan kapan kejadiannya setelah kematian?” tanya Arseta tidak menanggapi pertanyaan Jaka.

Pemuda ini maklum dengan rentetan pertanyaan itu, “Dari mulut luka yang belum membiru, sebagian luka yang dilakukan paling awal dari kematian berjarak satu jam. Jika kau tanya apa alasannya, analisaku begini: kecuali pelaku ini sakit jiwa, satu-satunya alasan yang terpikir olehku adalah, ada pihak lain—mungkin pelaku yang sama, menggunakan jenazah ini sebagai alat untuk memeras orang lain. Apakah jenazah ini ditemukan jauh dari lokasi pertempuran atau bergesar dari lokasi yang sebenarnya?”

Arseta berpikir sesaat, “Kurasa memang bergeser dari tempatnya. Dilihat dari jejakan kaki si pelaku saat melakukan pukulan, jenazah korban justru tergeletak jauh dari sana..”

“Kalau begitu, kalian bisa mencari hal-hal yang mungkin hilang, berkaitan dengan korban, atau malah dengan kalian sendiri…” tukas Jaka. “Baiklah, tugasku selesai, aku pamit lebih dulu.” Kata pemuda ini sambil berdiri, karena tidak bisa ditahan lagi, maka Arseta mengantarkan Jaka keluar ruangan.

“Dia bernama Kiwa Mahakrura…” tiba-tiba Arseta berkata pada Jaka saat akan melepas pergi pemuda itu. Nama yang dari tadi sudah ada diujung lidah, akhirnya disebut juga.

“Hm, nama tersangka yang menarik…” sahut Jaka. “Ah, aku terlupa satu hal.. sungguh ceroboh!” ujar Jaka dengan menepuk dahinya.

“Apa?”

“Ada luka memar di punggung korban, dari jenisnya luka ini terjadi lebih dulu…”

Arseta tampak kaget mendengar penjelasan Jaka. “Apakah beracun?”

“Tidak, tapi luka itu sangat fatal…” mengingat satu jam kemudian dia harus bertempur dengan… Kiwa Mahakrura. Wajah Arseta tampak pias. “Ada yang salah?” tanya Jaka.

“Apakah lukanya membekukan darah?” tanya Arseta.

Mata Jaka terpicing sejenak. “Tidak membekukan, tapi kurang lebih dampaknya serupa, aku tidak tahu itu jenis tenaga apa, tapi saat korban mengerahkan tenaga sakti, akibat yang ditimbulkan luka itu akan menyendat sirkulasi darahnya, jika diteruskan darah yang dipompa dari jantung bisa meledakkan sekitar daging luka tersebut.”

“Ah…” Arseta tampak terduduk dengan lemas. “Ada yang salah?” ulang Jaka bertanya. “Paksi…” desis Arseta dengan kepala tertunduk.

“Maksudmu, yang melakukan itu adalah Paksi?” tanya Jaka memastikan.

“Aku berharap tidak, tapi dari keteranganmu, aku bisa memastikanya.. sebab orang itu memiliki ilmu Jari Embun, orang yang terkena serangan itu pada saat bergerak, luka yang seharusnya cuma setitik bisa menjadi selebar telapak…”

Jaka manggut-manggut, “Pada mulanya aku mengira luka memar itu karena penggumpalan darah korban karena posisi tubuhnya. Tapi setelah tadi kupikir-pikir, luka itu beda dengan penggumpalan darah pada umumnya.”

Jaka urung berangkat, dia masih memperhatikan Arseta yang masih terduduk lemas. “Kami sudah kecolongan dua kali…” desisnya. “Apakah dari awal, pihak kalian tidak melakukan pendalaman pada orang-orang itu?” tanya Jaka.

“Sudah, Paksi dan Kiwa Mahakrura kami golongkan sebagai Tukang Sapu, sebab tugas mereka memang membersihkan kotoran-kotoran yang mengganggu. Latar belakang Kiwa Mahakrura sendiri aku tidak begitu paham, menurutku orang itu masih keturunan trah ningrat. Ketua Bayangan Naga membolehkan dia bergabung dengan kami, berarti sudah tidak masalah lagi. Sedangkan Paksi adalah orang yang aku rekrut sendiri, aku mengenalnya dari kecil, jadi kecil kemungkinan jika orang ini menjadi penghianat. Tapi keteranganmu tadipun aku tak mungkin mengabaikannya…”

“Nampaknya kita memiliki masalah sendiri-sendiri…” desah Jaka, lalu pemuda ini kembali pamit. Dia menghilang dalam kegelapan malam.

*dw*kz*

Ketua Bayangan Naga nampak masih menggeram sengit, kemarahannya seolah tak bisa dibendung lagi. Penjelasan Jaka yang panjang lebar itu membuka wawasannya, dan juga meletupkan amarah.

“Aku sudah pernah mengatakan padamu, dia tidak bisa di percaya, tapi kau masih juga menerima orang-orangnya…” kata lelaki tua itu pada Ketua Bayangan Naga.

“Kupikir, kehormatannya bisa menjadi jaminan bagiku…” Katanya dengan singkat membela diri.

Lelaki tua itu tertawa rawan. “Kehormatan itu kebanyakan di bangun atas dasar rasa sakit banyak orang, tapi dilain sisi ada juga orang yang hanya tinggal menikmatinya. Sungguh tidak adil! Kau harus bisa membedakan kehormatan yang didapat dengan susah payah, dengan kehormatan yang didapat atas limpahan.”

Lelaki ini terpekur mendengar nasihat dari pamannya. “Aku sudah tahu sifat dasar anak itu, selain dia kejam dan telegas, pikirannya pun terkadang licin. Aku mengerti jika suatu saat dia akan menjadi lawanku. Tapi di saat-saat seperti ini, mengapa dia harus berbalik menyerangku? Aku… aku…” lelaki itu mengepalkan tangan, seolah-olah ada benda yang akan diremukan.

“Sebelum kedatangannya, kesimpulan apa yang kau peroleh dari jenazah tadi?” tanya sang paman mengalihkan perhatian sejenak.

Dengan menghela nafas pepat, lelaki ini menjawab. “Aku hampir mengira itu dilakukan oleh kaum Riyut Atirodra, mengingat cara mereka kadang-kadang diluar batas kemanusiaan. Tapi pejelasan pemuda itu… aku sangat berterima kasih atasnya, tapi aku juga kecewa dengan hasilnya…”

“Apakah kau akan membunuh Kiwa Mahakrura?” tanya pamannya.

Lelaki ini tercenung, “Tidak! Membunuhnya, hanya akan membuat tanganku kotor… orang seperti dia pasti ada yang menghentikannya. Aku akan mengatur satu langkah supaya dia membayar mahal perbuatannya!”

“Itu lebih baik…” gumam sang paman.

*dw*kz* Jaka tahu, keheningan malam itu membuatnya harus berhati-hati, keluar dari tempat persembunyian Arseta membawa konsekwensi logis bagi keselamatannya sendiri, mengingat orang-orang yang di rekrut lelaki itu, mengalami nasib naas.

Pemuda ini berhenti dan menoleh arah kegelapan malam. “Kau mencariku?” tanya pemuda itu dengan tenang.

Muncul bayang-bayang hitam dengan siulet makin tegas. “Kau nomor berapa?” dia bertanya pada Jaka tanpa basa basi.

Jaka segera mafhum, siapa lelaki didepannya. “Aku nomor empat…” katanya singkat.

“Bagus.. bagus!” desis orang itu segera menyerang dengan satu pukulan secepat kilat mengarah dada Jaka.

Pemuda ini terbiasa menghindari segala serangan dengan olah langkahnya, tapi kali ini dia berubah pikiran, saat ini darahnya menggelora ingin mencoba kekuatan yang di sebut sebagai Pukulan Triagni Diwangkara. Mungkin saja kali ini lawannya mengerahkan kekuatan pukulan yang menurut analisanya merupakan pukulan yang beraliran sangat keras.

Desss!

Dua pukulan beradu, terdengar jeritan dari pihak penyerang, antara rasa kaget dan sakit. “Siapa kau sebenarnya?” bentaknya dengan suara bergetar, sebab dirasakan olehnya denyut jantungnya berdegub belasan kali lipat lebih kencang, rasanya benar-benar tidak enak dan membuat mual.

“Aku nomor empat…” sahut Jaka Bayu santai. -dwkz-

93 – Meruntuhkan Semangat Lawan

Kiwa Mahakrura berusaha menegaskan pandangan, tapi kegelapan malam mengaburkan sosok dan raut wajah orang yang baru saja keluar dari tempat Arseta. Jika biasanya, dia yang harus memburu orang dengan tanpa susah payah, baru satu kali benturan saja dengan orang itu, sudah membawa alamat sulit buatnya.

“Apakah kau akan berdiri di situ sampai esok hari? Sampai terang tanah?” ucap Jaka menyindir.

“Diam!” bentak Kiwa Mahakrura dengan getas.

Jaka tertawa dalam gumam, “Caramu membunuh itu tidak cerdas, kasar dan bodoh, aku melihat potensimu cukup besar, tapi dengan sifatmu yang seperti babi ini, kau sama dengan penggali lubang tinja, tidak lebih.”

Gigi Kiwa Mahakrura bergemertuk mendengar cemooh lawan, tapi dia masih cukup berakal sehat untuk tidak menumpahkan kemarahan pada serangannya. Lain dari itu, harga diri yang mencegah dia melakukan cara yang tidak elegan. Dia dilahirkan dalam lingkungan istana, bahkan dasar keturunan yang dimilikianya bukanlah sembarangan, cuma lantaran sifatnya yang terlalu tertutup, sulit bergaul dan cenderung ganas, membuat kalangan istana memutuskan jika kerabat mereka itu paling cocok menjadi eksekutor, pada usia dua belas tahun, Kiwa Mahakrura sudah membunuh sebelas orang yang menjadi buronan keluarga mereka, dan pada usia sebesar ini—dua puluh enam tahun, korbannya memang bertambah, tapi diapun sudah memiliki gaya tersendiri dalam membunuh, jika bukan orang yang berilmu, dia tak mau. Alhasil ilmunya dari tahun ketahun meningkat sangat pesat.

Lelaki itu memang sudah mendengar, jika dalam lingkungan ‘telik sandi’ dadakan Arseta ketambahan satu orang lagi, dan orang inilah yang ada dihadapannya sekarang. Dia juga pernah mendengar dari anak buah kalangan Arseta, bahwa Arwah Pedang masih ada hubungan dengan Arseta, entah hubungan yang bagaimana, mungkin saja malah berhubungan dengan Ketua Bayangan Naga.

Maka, pada saat menjajal Arwah Pedang, dia menanyakan apakah Arwah Pedang adalah ‘teman-nya?’, nya yang dia maksud, adalah Arseta atau Ketua Bayangan Naga, sementara Arwah Pedang merasa itu ditujukan pada Jaka, tapi keduanya sama-sama tidak memperjelas siapa ‘nya’ yang di maksud itu. Tapi tak disangka, Kiwa Mahakurua harus menghadapi ‘nya’ yang ada dalam alam pikiran Arwah Pedang. Jika saja dia tahu, Jaka mempunya hubungan dengan lawan yang pernah memberinya pil pahit, tentu saat ini dia tidak akan melakukan tindakan ceroboh dengan menyergapnya, paling tidak, Kiwa Mahakrura akan membawa kawan-kawan setingkat. Tapi itu sudah terlambat…

Sungguh tidak disangka, orang yang dikiranya lawan setara dengan anak-anak murid enam belas perguruan utama, ternyata lebih menyulitkan. Lebih-lebih lidah orang itu mudah sekali menyulut emosinya. Kiwa Mahakrura teringat pertempurannya dengan Arwah Pedang, dia tidak pernah tahu siapa orang yang dilawannya itu, dia merasa lawannya itu sungguh sangat berat dan berkelas, jika dia sungguh- sungguh, mungkin tak sampai dua jurus nyawanya sudah melayang, harga dirinya sungguh terluka dengan cara lawan menghadapinya.

Berangkat dari perasaan tak mau kalah, dia berpikir dan mencoba mengingat-ingat kembali cara orang itu menempurnya, beberapa jam kemudian dia mencoba berbagai metoda, dan usaha kerasnya cukup membuahkan hasil, beberapa korbannya dalam dua belas jam terakhir dia selesaikan dengan cara yang baru saja didapatkan.

Kali inipun Kiwa Mahakrura akan menggunakan cara serupa, lelaki yang pernah mengalahkannya itu memiliki ciri khas penyembunyian pancaran tenaga dan penggunaan tenaga sangat efektif. Diam-diam dira sudah mulai mengalirkan hawa saktinya kesekujur tubuh dalam beberapa putaran sirkulasi, lalu memusatkan pada kaki, menarik seluruh hawa sakti dari sekujur tubuh kedalam satu titik serangan, dan membuat tenaga sakti yang lain dalam kondisi siaga—tapi tanpa gerak, dilain sisi diapun mengembangkan pertahanan pada lengan kirinya yang paling biasa dia gunakan sebagai perlindungan.

Dalam satu tarikan nafas, akhirnya Kiwa Mahakrura memutuskan menyerang! Dia sudah melesat sangat cepat, bahkan terlalu cepat.. kehadapan Jaka yang berdiri tidak siap. Pada gerakannya tidak terdengar deru angin, begitu halus, namun pesat. Beberapa kejap berikut, sebuah serangan yang sangat cepat, sederhana dan kejam, menerpa kepala.

Jaka cukup kaget dengan gerakan Kiwa Mahakrura yang membersitkan satu aroma yang pernah dia ketahui, kesanggupannya dalam menghindari serangan sangat bisa dilakukan, tapi Jaka benar-benar ingin tahu pola hawa sakti lawan, dan ingin kali ini keras lawan keras. Dengan melambungkan badannya setengah meter, Jaka tidak melenting kebelakang untuk menghindar, tapi pemuda ini justru menerima pukulan lawan dengan telapak tangannya.

Desh!

Kepalan dan telapak kembali bertemu. Sebersit senyum dingin tersungging dari bibir Kiwa Mahkrura, dalam benaknya tadi, benturan pertama sudah cukup menjadi pelajaran, sang lawan itu ternyata bisa merambatkan serangan pada benturan, maka untuk mengantisipasi kejadian tadi dia mempertajam hawa sakti dalam satu serangan dan menariknya secepat mungkin untuk menghindarkan efek benturan yang bisa membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Dan benarlah! Dia tidak merasakan perubahan pada degub jantungnya

Dilain sisi, Jaka merasa ada sengatan sangat menyakitkan pada lengan kanannya, dan itu menyentak kesadaran pemuda ini bahwa keberadaan Kiwa Mahakrura tidaklah sesederhana kelihatannya, mungkin dia adalah Tukang Sapu, mungkin dia adalah pembunuh, tapi bagi Jaka benturan kedua itu menceritakan banyak hal!

Kejab berikut, setelah serangan tertangkis, kakinya menjejak tanah dengan lebih kuat dan memukulkan kepalan kirinya, ke perut Jaka yang masih dalam kondisi melayang. Kedua serangan itu benar-benar sangat cepat dan runtut, jarak keduanya kurang dari satu tarikan nafas, tapi toh, ternyata dengan tangan yang sama, Jaka masih bisa menyambuti serangan kedua!

Menerima serangan dalam kondisi melayang, jelas tidak akan memiliki daya jejak yang kuat, tubuh akan sangat mudah terlempar, apalagi jika serangan yang menerpa itu memiliki daya hantam sangat besar. Tapi keadaan Jaka sungguh mencengangkan bagi Kiwa Mahakrura, seolah serangannya yang dilakukan dengan cepat dan pemusatan tenaga pada lengannya itu tidak memberikan efek apapun, karena lawannya tidak terlempar sama sekali.

Dalam kondisi tubuh lawan yang akan kembali menjejak tanah, Kiwa Mahakrura menyusuli dengan lompat kecil, dengan lutut mengarah kepala lawan, tapi itu ternyata hanya gerak tipuan, kejap berikut; lututnya ditarik untuk mendapatkan lejitan pada pinggang dan kedua kepalannya menghamburkan tinju dengan kecepatan dan kekuatan penghancur yang mengiriskan, lamat-lamat Jaka merasakan ada hawa panas yang membuat dirinya sulit menghimpun hawa sakti.

“Inikah Triagni Diwangkara?” pikir Jaka sambil menerima serangan-serangan itu dengan benturan-benturan pada telapak tangannya. Dan setiap benturan itu membuat lengannya seperti disayat-sayat. Aliran tenaga Kiwa Mahakrura menerobos paksa pada pori-pori telapak tangan, dan begitu cepat menembus mengarah jantung, dengan sentakan-sentakan bagai ledakan pada tiap sendinya, membuat orang yang tidak paham cara menaklukan jenis serangan itu, lumpuh. Tapi Jaka cukup sigap mengantisipasi hal itu, memang serangan Kiwa Mahakrura membuatnya kurang leluasa dalam menghimpun tenaga, tapi dengan sistem pernafasan Melawat Hawa Langit, membuat pemuda ini bisa menghimpun hawa saktinya tanpa membebani tubuh yang terluka atau terkena racun.

“Hiaaah!” Kiwa Mahakrura berteriak sesaat sebelum memukulkan serangan terakhirnya, sebuah tusukan jari mengarah tepat pada ulu hati lawannya. Kali ini ini Jaka merasa sangat cukup menerima serangan sang lawan, dilain sisi dia juga sedang mencerna pola hawa sakti lawannya dalam bekerja. Maka satu-satunya cara adalah menggunakan olah langkahnya yang istimewa.

Serangan terakhir yang sangat mematikan itu bisa dilewatkan Jaka, dan berikutnya Kiwa Mahakrura harus mengundurkan dirinya dengan lompatan sampai lima kali, selain karena serangannya tidak mengenai secara telak dan harus menghindari seragan balas—jika ada, dia harus melihat apa yang terjadi pada lawannya karena berani menangkis serangan yang di landasi Pukulan Triagni Diwangkara.

“Untuk beberapa hela nafas kedepan, kau akan lumpuh…” desis Kiwa Mahakrura menegaskan pandangannya lagi pada sang lawan—tapi tak juga bisa dilihat dengan jelas. Dalam hati dia sudah menghitung, dan hitungan itu sudah sampai pada tiga puluh.

“Kira-kira aku akan lumpuh dalam berapa hitungan?” tanya Jaka dengan berkacak pinggang.

Kiwa Mahkrura terkejut mendengar lawannya bicara seperti tidak pernah ada kejadian apapun.

“Kau.. kau..”

Jaka memotong ucapan Kiwa Mahakrura dengan derai tawanya. “Jangan pikirkan nasibku, aku ingin berbicang- bincang lebih dulu denganmu sebelum kita bertarung lebih lanjut. Jangan kawatir, aku paling bisa menyembunyikan rasa sakit, bisa jadi saat ini akibat dari pukulanmu sedang bekerja di tubuhku, dan aku tidak menampilkan itu.. untuk mengecohmu, itu bisa saja kan?” Gigi Kiwa Mahakrura bergeletuk saking marahnya, ucapan lawannya itu sama saja tamparan buat dirinya, bahwa Jaka sama sekali tidak mendapatkan dampak yang diinginkan. “Kau datang dari mana?” tanpa sadar pertanyaan itu terlontar.

“Aku datang darimana aku suka, kau tak usah hiraukan itu. Aku hanya ingin membahas ilmu pukulanmu yang keras ini…” kata Jaka membuat Kiwa Mahakrura terkejut.

“Lengan kirimu sangat kuat, kau pasti terbiasa menggunakannya sejak kecil. Pola seranganmu juga sangat bagus, bisa melepaskan dampak yang bisa membuatmu mati dengan jantung pecah. Tapi dilain sisi, cara penggunaan serangan itu membuat seranganmu yang bersifat mencengkram dan menghanguskan tidak terasa. Hawa panas yang dihasilkan dalam serangan-seranganmu, tidak memiliki efek, bisa dikatakan itu bertolakbelakang. Kurasa cara yang kau lakukan dalam mengkombinas metode serang ini masih sangat baru…”

Tidak ada setitik suara yang bisa di keluarkan Kiwa Mahakrura saat lawannya bicara panjang lebar, tepat menohok kelemahan.

“Aku ingin merasakan Pukulan Triagni Diwangkara dalam cara yang kau pelajari dari awal. Tenangkan hatimu, aku tidak akan menyerangmu… lakukan saja dengan fokus!” tutur Jaka dengan tenang, tapi kalimat itu sangat menggores perasaan.

“Keparaaat…” desis Kiwa Mahakrura dengan kemarahan sangat membuncah dada, cara Jaka bicara seolah sedang menghadapi murid atau pembantu, dan itu sudah sangat cukup menyulut kemarahan hingga puncak, berulang kali dia mengingatkan dirinya untuk tidak bertindak ceroboh, karena lawannya kali ini bukan orang kebanyakan.

Jaka tidak melihat adanya reaksi dari sang lawan, dia cukup paham seberapa tergoncang perasaan lawan menyaksikan dirinya tidak mengalami seperti yang dibayangkan. Sebenarnya itu juga tidak tepat sepenuhnya, Jaka sangat merasakan dampak dari ilmu Kiwa Mahakrura, bahkan dia mengatakan secara jujur bahwa dirinya sangat bisa menahan sakit, tapi mana ada orang yang percaya dengan omongan seperti itu? Dalam bertarung, adu nyali, adu gertak adalah termasuk seni perang psikilogis atau kejiwaan, pengendalian keadaan adalah kunci yang membuat Jaka selalu dapat mengambil inisiatif dalam keadaan sesulit apapun.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, ‘penyakit utama’ Jaka adalah selalu berupaya mencerna hal-hal baru yang belum pernah di ketahui, ilmu-ilmu lawan yang belum pernah dia hadapi selalu ingin dirasakannya, di terima dengan rasa sakit, bagi Jaka adalah melebihi pengajaran baik lisan maupun tulisan.

Dasar pengetahuan yang dia cerna sebagai dasar olah nalar adalah anatomi, cara pemuda ini mempelajari ilmu-pun sangat bertolak belakang dari kebanyakan orang. Bahkan orang-orang terdekat pemuda ini, tidak akan ada yang menyangka, bahwa; begitu banyak pengetahuan olah kanuragan dan kesaktian dalam benak pemuda ini, diperoleh dengan cara ‘merasakan sakit’, menganalisisnya dan mengeluarkan dalam bentuk dan cita yang baru, yang lebih baik. Kalau saja ada yang dapat menarik kesimpulan seperti itu, konklusi terdekat yang bisa mengidentifikasi mengapa begitu banyak luka di tubuh Jaka, kemungkinan terbesar adalah karena ‘kenekatan’ pemuda ini dalam menyelami rasa sakit atas ilmu lawan yang di terima. Tapi apakah benar begitu adanya?

“Aku masih menunggu…” kata Jaka mengingatkan Kiwa Mahakrura untuk menyerang.

“Baik! Kau memintaku untuk membuka pintu terlarang…” desisnya dengan tatapan mata makin nyalang. Kegelapan malam merefleksikan sinar matanya yang berkilat-kilat, Jaka diam-diam tersenyum menyaksikan keadaan lawannya, dia merasa hawa sakti Kiwa Mahakrura sudah mengelilingi tubuhnya berkali-kali dalam waktu yang amat singkat itu. Dan mengalami peningkatan drastis. Ini adalah hal baru yang membuat Jaka makin bergairah untuk menyelaminya. Mensirkulasi hawa sakti kesekujur tubuh dalam waktu singkat adalah pekerjaan sulit, tapi lawan didepannya bisa melakukan dengan tanpa kesakitan, begitu ringan, begitu mudah.

“Lakukan!” perintah Jaka sambil melangkah makin dekat. Tiap langkahnya tidak memiliki tekanan apapun, ringan dan tanpa beban, tapi bagi pandangan Kiwa Mahakrura, dia merasakan tekanan justru makin besar, tanpa sadar setindak demi setindak dia mundur.

Jaka memperhatikan setiap gerakan lawannya, saat ini Kiwa Mahakrura tengah memegang lengan kiri, cengkeraman itu nampak sangat kuat, Jaka juga melihat ada pendaran warna merah ada di tangan kanannya, dalam pandangan pemuda ini, denyut nadi sang lawan seolah mengalami sendatan dengan ritme teratur, Jaka memperhatikan diagfragma lawan, lalu beralih ke hidungnya, setiap jengkal perubahan dan gerak lawan di perhatikan secara seksama. Deru nafas Kiwa Mahakrura panjang dan sesekali tertahan, nampaknya itu adalah kunci dari ilmunya, Jaka sudah merasakan pukulan yang mengandung beberapa kelumit ilmu Triagni Diwangkara, tinggal memastikan sentuhan akhirnya saja. Tiap langkah yang dilakukan pemuda ini dalam pengamatannya, ada pengetahuan baru yang membuat dia semakin bergairah.

Jika saja Arwah Pedang sekalian melihat cara bertarung pemuda ini, mungkin akan sama merasa itu hal sia-sia. Secara kualitas dan kuantitas saja Kiwa Mahakrura bukanlah lawan sepadan, tapi kenapa pemuda ini sampai repot-repot membuang waktunya meladeni Kiwa Mahakrura? Alasan Jaka bukan terletak pada sang lawan, tapi kepada orang yang menurunkan ilmu ke Kiwa Mahakrura. mengetahui keadaan lawan, dan tahu diri sendiri; adalah kunci kemenangan. Meskipun Jaka sangat suka berspekulasi atas analisisnya, tapi jika dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan bahan pertimbangan untuk menjadi pelengkap analisa, dia tidak akan pernah mengacuhkan itu, dia akan melibatkannya.

Jaka melihat tubuh Kiwa Mahakrura menggeletar sesaat, nampaknya dia sudah cukup dalam persiapan, akan segera menyerang… dan benar! Jaka melihat jejakan kaki Kiwa Mahakrura bertumpu pada ujung jari makin menguat, seluruh otot paha, betis hingga tungkai berkontrkasi secara cepat! Jaka tersenyum, dengan menghentikan langkahnya, pemuda ini menanti pukulan Kiwa Mahakrura.

Sebuah serangan melejit bagai kilat dengan suara letupan nyaring menghambur menohok dada Jaka, serangan itu sebelumnya didahului dengan jejakan yang sangat kuat. Dessh!

Pukulan itu ternyata dilakukan langsung, tanpa ada media seperti dalam analisa Jaka kepada Arseta sekalian. Jaka merasakan sebuah sengatan yang amat sangat menyakitkan, langsung menghunjam melingkupi jantung, seolah ada tenaga yang meremasnya, dengan menghembuskan nafas yang tertahan Jaka bisa menetralisir rasa sakit. Dan dia melangkahkan kaki kesamping kanan, mengantisipasi serangan kedua yang sedang dilayangkan Kiwa Mahakrura, tapi alangkah kagetnya, saat dia merasa kakinya seperti membentur tembok tak terlihat!

“Ah, menarik!” seru Jaka, sembari memiringkan tubuhnya, pukulan kedua Kiwa Mahakrura kali ini menggunakan tangan kirinya, deru serangan itu benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tapi karena Jaka sudah memiringkan tubuh dan berada di samping jangkauan serangan kedua, dengan sendirinya serangan kedua lewat begitu saja.

Tidak tahunya, saat pukulan itu lewat tak mengenai sasaran, Kiwa Mahakrura memukulkan tangan kanan kelengan kiri yang sudah terjulur. Detik itu juga Jaka yang berada di sebelah kiri Kiwa Mahakrura merasa ada tekanan dahsyat merambat dari lengan kiri lawannya, dan tekanan itu langsung mencengkram dirinya dan kebekuan gerak. Jaka membeku! Tak bisa bergerak!

Dan detik berikutnya, seperti petir menyambar, seluruh tulang Jaka merasa ngilu dan berderak dengan rasa membakar yang amat sangat. Kurang dari satu detik berikut, susul-menyusul rentetan pukulan bagai martir menghujani kepala Jaka. Bagi Kiwa Mahakrura serangan tadi adalah kemutlakan yang tidak mungkin terhindar, dan serangan terakhir adalah pamungkas penghabis riwayat lawan.

Tapi alangkah kaget dirinya, saat leher sang lawan meliuk- liuk dengan lincah mengindar setiap serangan, belum pernah disaksikan cara menghindar seperti itu. Tapi kekagetan yang lebih besar karena lawannya itu masih bisa bergerak, dengan sendirinya serangan berikut, mengarah selain kepala. Pukulan pertama menghantam bahu, pukulan kedua mengarah leher, pukulan ketiga dan seterusnya secara runtut menghantam dada hingga perut. Tapi secara ajaib, semua serangan itu bisa dihindari dengan jarak yang sangat tipis, hingga akhirnya Kiwa Mahakrura harus terlolong bengong, menyaksikan lawannya mundur secara teratur dan menghela nafas dengan suara keras. Dia benar-benar tidak paham bagaimana cara lawan menghindari jerat membeku dari ilmunya.

Seluruh rentetan gerakan itu seolah sangat lama, tapi itu terjadi tak lebih dalam sepuluh hitungan. Dan itu membuat Kiwa Mahakrua mendapatkan pukulan batin yang cukup berat.

“Menarik… ilmu yang sangat menarik.” Seru Jaka sambil berkeplok.

“K-kau.. siapa sebenarnya kau ini?” tanya Kiwa Mahakrura dengan perasaan tidak karuan.

Jaka tertawa berkepanjangan. “Tak usah memikirkan diriku, ayo kita lanjutkan gerakanmu…”

Jaka kembali mendekati Kiwa Mahakrura, dia mendekat dengan langkah biasa, tidak dalam ancaman tidak dalam serangan. Tapi tiap langkah lawannya itu kembali membuat tekanan yang sangat berat bagi Kiwa Mahakrura. Akhirnya dengan mengacuhkan segala pertahanan, Kiwa Mahakrura menyerang Jaka secara membuta, seluruh gerakan, seluruh tenaga dan semua kejelian dikerahkan dalam setiap pukulan, tendangan, meski selanjutnya Kiwa Mahakrura mengunus senjatanya, itu juga tak membuahkan hasil!

Jaka dapat menghindar semua pukulan itu, ada suatu kita tusukan dan tebasan yang dilakukan secara gencar seolah ingin menebas pinggang Jaka menjadi dua bagian, dapat dihindari dengan cara yang membuat Kiwa Mahakrura meneteskan keringat dingin. Bagaimana tidak, saat tebasannya datang; posisi lawan sedang setengah berjongkok, ditengah jalan tebasan itu berubah menjadi hunjaman dan serangan kedua juga menyusul dalam sebuah tusukan dengan bilah senjata yang tersembunyi… serangan tiga tingkat semacam itu sangat mustahil untuk di hindari! Tapi toh lawannya dengan ketenangan yang menakjubkan bisa memelintirkan bahunya untuk menghindari hujaman, lalu dengan liukan sangat tipis, menghindari hujaman senjata kedua yang belum pernah dikeluarkan, elakan itu secara dramatis hanya berjarak setengah ruas jari saja dari leher Jaka.

Kejap berikut dengan setengah memutar, Jaka sudah memunggungi Kiwa Mahakrura, dengan jarak yang amat tipis, dia bergerak bagai bayangan Kiwa Mahkrura, menguntit setiap gerak Kiwa Mahakrura dan sudah tentu tidak mungkin terjangkau serangan. Apakah ada serangan yang bisa mengenai bayang dalam cermin? Kira-kira itulah yang dirasakan Kiwa Mahakrura.

Semua serangan yang terhambur, membuatnya putus asa, setiap serangannya selalu dihiasi sentuhan jari lawan yang membuat jantungnya kian lama kian berdebar kencang dengan degup berlipat. Ini adalah penghinaan! Ini adalah pengacuhan luar biasa! Dan ini merupakan kejadian yang pertama dalam hidupnya!

Dengan menggertak giginya, Kiwa Mahakrura bergerak kesana kemari untuk berusaha menjangkau Jaka yang masih saja membayang di pungguhnya. Sampai pada akhirnya, Kiwa Mahakrura nekat, dengan gerakan seolah hendak membalikan badan, tangan kanannya melempar senjata secara melingkar kebelakang, membuat pedang melengkungnya berputar pesat seperti bumerang melibas lawan di belakangnya, dan disaat bersamaan dia mengecoh Jaka dengan melakukan tusukan serangan di bawah belikatnya sendiri hingga tembus! Serangan yang sangat berbahaya itu menembus bawah bahunya dengan cepat, menembus dan akhirnya mengenai Jaka. Gerakan Kiwa Mahakrura terhenti, karena rasa sakit menyengat, dia juga merasa serangan tadi turut menembus lawannya.

“Luar biasa!” seru Jaka yang entah sejak kapan sudah berpindah didepan Kiwa Mahakrura, ditangannya ada pedang melengkung yang tadi dilemparkan Kiwa Mahakrura dengan cukup akurat. “Lontaran pedangmu sangat bagus, sayang terburu-buru. Untuk melakukan serangan terakhir, dibutuhkan keberanian dan kematangan luar biasa. Nyaris saja…” kata pemuda ini membuat seri dalam hati Kiwa Mahakura menguncup dalam serpihan keputusasaan.

Jaka melemparkan pedang yang ditangkapnya tadi tepat kehadapan Kiwa Mahakrura. Dan melangkah begitu dekat, hingga jarak mereka hanya satu jangkauan saja.

“Kau bisa melihatku baik-baik…” desis Jaka menatap lawannya yang masih tertunduk. Dengan gemuruh emosi yang luar biasa, Kiwa Mahakrura menengadahkan wajah, dia bisa melihat raut wajah lawan yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari dirinya. Seraut wajah gagah denga sorot mata yang sangat mengintimidasi.

“Kau sudah mengingatku?” tanya Jaka dengan nada datar.

Kiwa Mahakrura menelan ludahnya berkali-kali, baru di sadari olehnya, sejak tadi sang lawan tidak pernah menyerang. Pada saat dia membututi tiap gerakannya, jika mau; dalam satu raihan saja, tangan sang lawan bisa mematahkan lehernya, tapi itu tidak dilakukan!

“Kau pikir aku akan melepaskanmu? atau kau mau menghabisi dirimu sendiri karena gagal dalam usaha membersihkan mata-mata yang ditanam Arseta dalam Perguruan Naga Batu?!” ketus Jaka membuat harga diri Kiwa Mahakrura hancur berkeping-keping.

Jaka bukanlah orang yang suka menyindir, tapi saat ini pemuda ini sengaja berkata demikian, orang semacam Kiwa Mahakrura yang berani melukai diri sendiri untuk bersepekulasi pada serangannya, tidak akan takut membunuh diri karena kegagalan. Maka cara paling bagus adalah mencemoohnya.

“Tadinya, aku mengira akan mendapatkan lawan yang sangat tangguh. Tapi ya… harus diakui, kau setangguh kecoa, sulit membuatmu menyerah kalah…” desis Jaka membuat hati Kiwa Mahakrura yang mendingin karena kekalahanya tadi, bergolak kembali.

Meskipun sakit hati dengan ucapan Jaka, namun toh Kiwa Mahakrura seolah mendapatkan titik terang kelemahan lawan. “Kau menginginkan aku menyerah?!” akhirnya Kiwa Mahakrura menemukan tujuan, bahwa ternyata sang lawan ingin dirinya menyerah, dan itu tidak akan mungkin dia berikan! Semangatnya membumbung kembali!

Jaka tertawa pendek. “Apa perlunya? Toh kau yang mengejar aku, bukan aku mengejar kau… aku hanya perlu melepasmu sekali ini dan menunggumu dalam kali berikutnya, apa susahnya? Apalagi aku bisa menjamin, bahwa hasilnya selalu sama!”

Kedekatan mereka benar-benar membuat Kiwa Mahakrura dicengkeram rasa amarah tak terkira, tapi saat ini dia tak berdaya, sebab selain semangatnya sudah runtuh, untuk mengangkat jemarinyapun dia merasakan keletihan yang amat sangat. Bukan letih karena tidak bertenaga, tapi begitu dirinya ingin menyalurkan tenaga, jantungnya menghendak dalam degub yang tak beraturan, dan itu membuat otot di sekjur tubuhnya melemah.

Jaka menyentuh bahu Kiwa Mahakrura, dan meremas lukanya. Meskipun wajah Kiwa Mahakrura seolah terpahat dengan raut dingin dan beku, remasan yang di lakukan lawannya membuat dia meringis kesakitan.

“Kau itu bukan siapa-siapa bagiku, hanya orang lewat yang iseng pamer keburukan. Tak lebih…” kata Jaka sambil berbalik membelakangi Kiwa Mahakrura, tangannya meremas batang pohon yang ada disampingnya. “Jika kau merasa dendam dengan kejadian ini, dan ingin membalas… kalau kau masih ada nyali, kau bisa mendatangi Ketua Bayangan Naga dan mengatakan maksudmu. Tapi kalau kau sungkan melakukan itu, dan tidak bisa menemukan jejakku, aku yang akan mencarimu…” kemudian Jaka melangkah, menjauh. Kalimat terakhir seolah menggaung dalam benak Kiwa Mahakrura, bukan tantangan yang di lontarkan pemuda ini, bukan pula ancaman, tapi mengapa dirinya seolah ditodong dengan sebuah senjata yang tak bisa dihindari?

Kegelapan malam sudah menelan bayangan lawannya, dan Kiwa Mahakrura hanya bisa mendesah dengan kegetiran menggigit batin. Semula dia sangat dendam dengan perlakukan terakhir lawannya… barulah dia pahami, remasan Jaka ternyata dilambari totokan pada uratnya, mengunci pendarahan dan secara aneh merapatkan luka tusukan. Benar-benar dia tidak bisa mengerti orang yang dilawannya itu manusia macam apa. Kenapa niat membunuhnya malah dibalas dengan cara seperti itu? cara yang lebih baik dan tidak bisa ditolaknya?

“Bangsat!” desisnya secara tiba-tiba menyadari disekujur tubuhnya tak lagi tersimpan benda-benda berharga, termasuk lencana-lencana yang dia dapat dari korban-korban terakhirnya. Tapi selain memaki, apa pula yang bisa dilakukannya? Mengejar lawan jelas tak mungkin, saat ini keletihan masih menggayuti tubuhnya. Kalaupun dirinya bisa mengejar lawan, apakah dia akan mengemis-ngemis memohon semua barangnya dikembalikan? Hal itu jelas lebih- lebih tidak mungkin!

Braaak!

Tiba-tiba saja Kiwa Mahakrura di kejutkan dengan tumbangnya pohon di hadapannya. Dengan langkah berat dia mendekati pohon itu, alangkah kejut rasa hatinya mendapati batang pohon itu ternyata hancur menjadi arang, hancur secara merata seluas satu hasta, dan itu yang membuat batang tersebut akhirnya tak kuat menopang beban diatasnya… hingga akhirnya rubuh.

Wajah Kiwa Mahakrura memucat pias, apa yang dilakukan lawannya kali ini jauh lebih menohok dari pada semua kekalahan tadi. Dia melihat ciri khas Pukulan Triagni Diwangkara dilakukan pada pohon itu! Seingatnya, pemuda lawannya tadi tidak melakukan ancang-ancang apapun, hanya menyentuh begitu saja, tapi dampak yang terjadi begitu mengejutkan. Hal yang bisa dilakukan gurunya itu ternyata demikian mudah dilakukan lawannya.

“Siapa dia? Siapa dia?” bisiknya berkali-kali dengan perasaan terpukul. Kiwa Mahakrura hanya bisa duduk menggelosoh bersandar pada sisa batang pohon yang tumbang.

Kepenatan lahir batin dia rasakan benar, di benaknya memang terpatri sebuah niat untuk melakukan pembunuhan pada orang tertentu, tapi kejadian hari ini membuat semangatnya runtuh total, apa yang dilakukan lawan adalah hal yang ingin dia capai dalam sepuluh tahun terakhir.

Dunia sungguh tidak adil! Pikirnya. Mengapa jika ada Kiwa Mahakrura yang jenius muncul pula orang macam dia? Geramnya dalam hati.

Dengan dada naik turun menahan kegeraman diantara ketidakberdayaan, Kiwa Mahakrura menelungkupkan wajah diantara lutut. Saat ini dia hanya ingin menenangkan batin. Malam ini benar-benar hari tergila dalam hidupnya.

-odw-kzo- 94 – Penguntitan

Jaka menyadari dirinya harus bergerak cepat, sengatan demi sengatan yang diterimanya dari Kiwa Mahakrura membuat lengannya sakit, bermula hanya rasa sakit ringan saja, tapi saat langkah kaki membawanya menjauh, rasa sakit itu kian menguat, dan pada akhirnya… Jaka merasakan kesakitan setengah mati! Dalam benaknya Jaka mencoba mencari tahu apa yang sedang menimpa dirinya, mutlak dengan kemampuan Kiwa Mahakrura, belum akan mampu mengguncangkan pertahananannya, berarti bukan karena ilmunya, pikir Jaka dengan rahang mengatup kian keras.

Ditubuh sang lawan ternyata mengandung racun! Dan itu membuat Racun Getah Biru yang tersimpan pada lengan Jaka—akibat serangan Pedang Baja Biru, bereaksi. Reaksi itulah yang membuat Jaka kesakitan, rasa sakit itu menjalar dengan cepat melingkupi sepanjang lengan dan sampai akhirnya membuat kebas jemarinya, kini bahkan sudah menyerang sekujur tubuh.

Terakhir racun tersebut kumat seingatnya sekitar dua bulan lalu, itu juga tidak separah saat ini. Keringat dingin mengucur berketel-ketel, Jaka paham benar laju Racun Getah Biru sulit di hadang, sungguh tak disangka racun dalam tubuh Kiwa Mahakrura yang bersifat pasif menjadi pemicu fatal bagi racun yang mengeram di tubuhnya. Seingat dia, hanya racun yang bersifat mengendalikan dan berdaya kerja sangat halus, dapat menjadi pemicu. Dalam rasa sakit yang makin menggila, Jaka akhirnya memahami bahwa; Kiwa Mahakrura merupakan pemilik tato racun—mungkin salah satunya, ya… dia adalah pion yang akan di gunakan oleh pihak tertentu untuk menjadi ujung tombak, mereka jelas tidak perduli dengan nyawa orang-orang ini, yang penting tujuan mereka tercapai. Dalam hati Jaka menghibur diri, ‘untung saja racunku kambuh, ternyata aku jadi tahu orang yang seharusnya kucari..., tak perlu lagi repot kesana kemari mencari jejak pemilik tato racun’, pikirnya dengan getir.

Rasa sakit yang menyengat tiap sendi, membuat Jaka harus merebahkan diri di tanah, masih dengan kesadaran penuh, Jaka memilih tempat yang cukup tersembunyi. Halusinasi mulai menyerang benak pemuda ini, dengan nafas tersengal, Jaka mempertahankan pikirannya dengan mencoba menganalisa kejadian sebelumnya, dan itu cukup membantu untuk memfokuskan pikiran supaya dia tetap sadar.

Jaka teringat, Kiwa Mahakrura tidak memiliki rasa putus asa, meskipun dilihat secara akal sehat, saat itu Kiwa Mahakrura sulit untuk menang, untung dirinya tidak mendorong Kiwa Mahakrura untuk terus melakukan perlawanan, sebab makin banyak menyerang dia seperti kerbau gila yang hanya tahu lari lurus, makin lama kondisinya akan semakin memburuk dan pada akhirnya, dalam benaknya hanya ada nafsu membunuh—dan nafsu yang tak seimbang itu akan menelan Kiwa Mahakrura dalam kegilaan yang akan mencabut nyawanya. Anda saja Jaka terus memaksa Kiwa Mahakrura untuk menyerang, dia akan kehilangan jejak yang sangat berharga untuk menelusuri para pemilik tato racun. Dalam kondisi serba payah ini, Jaka masih bisa bersyukur, ada kemudahan dalam kesulitan.

‘Benar-benar dalam kesulitan ada sebuah kemudahan…’ pikirnya, dengan benak menerawang kejadian beberapa hari berselang, dia teringat Arseta memang pernah menceritakan padanya tentang kemungkinan para korban Serbuk Peluluh Jiwa—yang pada saat itu Jaka dianggap sebagai korban pula. Memang begitulah akibat yang ditimbulkan dari racun Pelumpuh Otak, yang oleh Arseta disebut Serbuk Peluluh Jiwa. Menurut Arseta mereka yang didalam tubuhnya terdapat tato naga (beracun), mutlak hanya mendengar perintah satu orang… tak perduli kau ini saudaranya, jika datang perintah membunuh, takkan berkerut kening mereka lakukan tugas itu.

Teringat perbincangan hal ini, Jaka jadi tersenyum. Dia tersenyum bukan karena mengingat Arseta yang demikian mudah dikelabui, tapi dia teringat dua gadis yang berbincang dengannya saat mencoba mengorek informasi darinya dengan cara memijat dengan mengenakan baju sangat minim.

‘Ah’, desah pemuda ini menjadi agak rileks saat mengingat mereka, bukan karena mengingat minimnya baju yang mereka kenakan. ‘Ya, seingatku mereka mengenakan baju dengan belahan dada rendah dan paha molek yang menantang untuk dijamah… uh, sial! Kenapa aku malah mengingat-ingat yang itu?!’ Gerutu Jaka mencoba meluruskan fokus pikirannya dari deraan racun yang menggila, dia menghela nafas perlahan dan kembali mencoba mengingat kejadian itu, tapi lagi-lagi sial… takkala ingin mengingat raut kejut keduanya saat melihat tubuh Jaka penuh dengan luka, pikiran pemuda ini malah lebih fokus bahwa; salah satu dari kedua gadis itu memiliki tahi lalat di paha kiri…

‘Ya, nampaknya benar di paha kiri, di bagian atas, dekat dengan… oh sial! Jangan berpikir itu lagi!’ gerutu Jaka.

Pemuda ini menenangkan hatinya, lebih baik aku memikirkan hal lain. Putusnya dengan memejamkan mata, tapi dalam benaknya kembali terbayang senyum gadis-gadis itu. ‘Arrgh!’ Jaka meremas kepalnya. ‘Sialan…’ makinya. ‘Nampaknya aku bisa tertelan halusinasi akibat pergolakkan racun ini.’

Jaka kembali fokus pada Kiwa Mahakrura, dalam analisisnya, lawannya tadi memiliki kasta ilmu yang tinggi, ilmu semacam itu hampir sama dengan ilmu-ilmu keluarga yang diajarkan secara turun temurun, ilmu rahasia. Jelas penyelidikan untuk membongkar jaringan ini akan sangat berkaitan erat dengan semua aktifitas Kiwa Mahakrura.

Sadewa ‘sudah’ memberinya racun dalam dosis rendah, yang membuatnya ‘harus’ tunduk pada mereka, sementara baru diketahui ternyata Kiwa Mahakrura diberi racun dalam dosis yang tinggi, tapi apakah Kiwa Mahakrura akan mendengarkan ucapan Sadewa dan teman-temannya? Jika memang mereka yang memberi racun itu pada Kiwa Mahakrura, mutlak orang itupun akan tunduk pada Sadewa. Tapi jika tidak, siapa yang memberikannya?

Jaka tahu benar, proses pemberian tato racun tidak semudah membalikkan tangan, korban yang akan di tato harus berendam dalam larutan semacam cuka selama dua belas jam. ‘Aku bisa coba memancing Sadewa dengan informasi adanya pemilik tato racun ini’ pikir Jaka berkeputusan.

Rasa sakitnya sudah agak mereda, tapi pemuda ini paham benar, reda ini hanya sementara, berikutnya akan ada amukan yang lebih menyakitkan lagi. Pemuda ini tak mau menyia- nyiakan situasi, dengan segera Jaka mengambil tempat duduk, menghela nafasnya panjang-panjang, dan mulai menghimpun tenaga sakti Melawat Hawa Langit. Sistem olah nafas yang dimiliki Jaka adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju kedalam—kesekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa diluar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti. Gelegak rasa sakit berhasil dia tekan, tapi kondisi saat ini cukup menyulitkan dirinya bergerak tanpa harus mengerahkan hawa sakti yang berkesinambungan. Benar- benar sebuah pemborosan. Meskipun dirinya sanggup mengerahkan hawa sakti terus menerus tanpa membebani tubuh, tetap saja itu akan melelahkan otot-ototnya, kondisi yang cukup kontradiktif, sebab saat ini Jaka harus merilekskan otot dan syaraf, tapi dilain sisi jika dia tidak mengerahkan hawa saktinya, kemungkinan untuk kambuh, pasti akan sangat cepat.

‘Aku akan membatasi diriku dalam keadaan ini sampai malam ini berakhir...’ Pikir Jaka sembari bangkit, dia kembali ketempat pertarungan dengan Kiwa Mahakrura, untung saja belum begitu jauh.

Saat ini Jaka benar-benar ingin menyerahkan tugas penyelidikan latar belakang Kiwa Mahakrura pada kawan- kawannya, keadaannya yang kurang memungkinkan saat ini, membuatnya tidak leluasa untuk memulai.

Jaka sudah sampai di tempat tadi, dilihatnya Kiwa Mahakrura masih duduk tertunduk, nampaknya dia masih mencoba memulihkan tenaga. Jaka cukup paham, berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk lepas dari pengaruh libatan jurus Karudhiran Rudita miliknya—jurus yang berarti Lumuran Darah yang Meratap adalah hasil jerih payah setelah menyaksikan dan merasakan ragam kemampuan Tujuh Satwa Satu Baginda, dalam tempo yang cukup panjang. ‘Muridnya’ saat ini pun hanya Ki Alih, seorang guru besar ilmu pukulan, bukan tanpa alasan Jaka memberi tahu kunci menguasai jurus itu, dia merasa ada kelemahan dari cara yang di terapkannya, berhubung dalam waktu dekat ini tak mungkin baginya untuk mendalami beragam hal baru dalam jurus itu, membuat Jaka memutuskan bahwa Kepalan Arhat Tujuh-lah satu-satunya kandidat paling meyakinkan dalam penyelidikan lebih lanjut.

Jaka berada dibalik kegelapan, mengawasi setiap gerak- gerik Kiwa Mahakrura, setengah jam kedepan mantan lawannya itu akan terbebas dari pengaruh yang membelenggu degup jantungnya.

Dari persembunyian, Jaka bisa merasakan tatapan nanar pemuda itu dan raut pucat lesi nampak berubah lebih fokus, perlahan namun pasti Kiwa Mahakrura sudah menemukan tenaganya lagi. Dengan berdiri perlahan Kiwa Mahakrura berjalan secara tergesa ke arah timur, bermula hanya berlari- lari kecil, lama kelamaan tenaganya dirasa sudah lancar, Kiwa Mahakrura menggunakan peringan tubuh dengan pesat. Tentu saja Jaka segera mengikutnya dengan sangat leluasa. Peringan tubuh adalah ‘nama tengah’ Jaka, tidak ada urusan yang membuatnya kesulitan jika harus mengunakan kemampuan yang satu itu.

Tak berapa lama kemudian Kiwa Mahakrura sudah berdiri di sebuah bangunan diantara rimbunan pohon, pemuda ini nampak ragu memasuki bangunan besar itu, namun pada akhirnya dia memberanikan diri untuk memasukinya, beberapa orang penjaga pintu gerbang terlihat menganguk hormat pada orang itu. Pintu selebar tiga meter sudah didorong hingga membuka, Jaka tak mau ketinggalan, dia memperhatikan sekitar bangunan itu, dan akhirnya menggerutu. ‘Ternyata orang yang punya rumah ini benar-benar sangat berhati-hati.’ Pikir Jaka saat melihat sekeliling tembok yang berfungsi sebagai pagar luar ternyata tidak terdapat satupun pohon, yang dapat memudahkan Jaka untuk menyelinap.

Pemuda ini tidak kehabisan akal, dia mencari pohon terdekat dan menaikinya hingga puncak, Jaka bisa melihat kondisi bagian dalam bangunan itu yang ternyata demikian terang. ‘Bagus!’ pikirnya. Penerangan yang berlebih, justru sangat membantu menyamarkan jejaknya diluar lingkup bias cahaya. Terlihat penjagaan juga disana sini, termasuk dibagian tembok. Dari ciri bangunan dan para penjaganya, Jaka bisa menyimpulkan, tempat itu adalah hunian keluarga kerajaan, semacam rumah peristirahatan.

Jaka tidak mau kehilangan jejak Kiwa Mahakrura, hal-hal lain di dalam bangunan itu dia tidak perduli—setidaknya untuk malam ini saja, bila berganti hari, lain cerita. Jaka pasti akan dengan senang hati mengaduk-aduk rahasia bangunan itu.

Dalam kondisinya yang teraliri hawa sakti terus menerus membuat segala sesuatu yang dilakukan Jaka dengan mudah dilakukan, namun dia juga harus berlomba dengan waktu, karena jika ototnya mengalami keletihan maka sistem pertahanan tubuhnya akan terganggu oleh bergolaknya Racun Getah Biru.

Jaka menghitung jarak pohon tempatnya mengintai dengan bangunan utama, kira-kira hampir lima belas tombak atau tiga puluh meter. ‘Aku bisa.’ Pikirnya dengan hati bergemuruh senang. Dengan cekatan, Jaka memilih ranting beserta daun kering, lalu melemparkannya dengan penuh perhitungan, detik itu juga Jaka segera melejit mengejar ranting yang tadi dilemparnya, lalu menapak dengan ringan sebagai dasar pijakan, lalu melempar ranting lain, dan kembali dia melejit… demikan seterusnya, dan akhirnya Jaka sampai di atas bangunan utama.

Pemuda ini menghela nafas lega, dia menyaksikan penjaga di lingkungan halaman nampak terheran-heran, saat melihat ranting terjatuh dan beberapa daun kering melayang-layang.

“Hei, bukankah tidak ada angin?” seorang penjaga berkata pada kawannya.

“Ya.” Sahut kawannya pendek.

“Lalu dari mana datangnya ranting dan daun-daun ini?”

Pertanyaan itu membuat beberapa orang penjaga mendongakkan wajah mereka, tapi tatapan mereka tidak bisa menghasilkan objek apapun yang patut dicurigai, malahan mata mereka agak silau karena terangnya cahaya obor yang melingkupi sekitar halaman. Tapi lamat-lamat mereka mendengar kepak sayap burung.

“Burung membawa daun dan ranting sebagai sarangnya..” ujar salah satu penjaga itu berkesimpulan, dan teman- temannya juga sepakat dengan kesimpulan itu.

“Ya, sayang terjatuh…” sahut temannya sambil meneruskan rondanya.

‘Kalian pintar!’ puji Jaka tersenyum geli, pemuda ini segera menyusup ke dalam wuwungan bangunan utama, matanya berkisar mencari dimana adanya Kiwa Mahakrura, dan Jaka mendapatkan pemuda itu tengah berbicara dengan pemuda sepantaran.

“Kau kelihatan tidak seperti biasanya?” tanya rekannya perhatian.

Kiwa Mahakrura nampak gelisah sebelum menjawab, untuk menjawab secara jujur jelas dia malu, mengatakan tidak ada apa-apa, lebih-lebih tidak mungkin. Pemuda itu hanya mengangkat bahunya saja. “Paksi, aku harus berbicara dengan Duhkabhara!” tegas Kiwa Mahakrura.

Ah, ternyata dia yang bernama Paksi, batin Jaka merasa dirinya sangat beruntung. Berarti hasil analisa fisiknya tidak meleset.

“Kau begitu terburu-buru, apa begitu penting?” Tanya Paksi tidak bereaksi.

Kiwa Mahakrura mengigit rahangnya hingga berkriyut. “Tugasnya ternyata sangat sulit,” pada akhirnya Kiwa Mahakrura mengatakan hal yang bias membuat harga dirinya jatuh.

Wajah Paksi menapilkan rona tidak percaya. “Kau… mengeluh sulit? Dimana kesulitannya? Bukankah aku juga membantu tiap langkah yang kau lakukan?”

Kiwa Mahakrura menggeram. “Kau hanya melepaskan Jari Embun anak murid Cadas Merapi.”

“Kau salah, pada kesempatan lain, aku sudah menanam benih Jari Embunku pada semua mata-mata Arseta.” Kiwa Mahakrura terdiam.

“Itu menjadi alasan bagimu, kenapa kau mudah melumpuhkan korban-korbanmu…”

Jaka yang mendengar sendiri dari mulut Paksi terperanjat, berarti semua mata-mata Arseta tinggal menanti hari ajal saja, sedikit saja mereka mengerahkan tenaga murni yang berlebih, ilmu Jari Embun milik Paksi akan membuat aliran darah mampat di berbagai tempat, selanjutnya korban hanya merasa pegal, pada kali kedua mereka mengerahkan tenaga murni, itu adalah saat-saat terakhir.

“Apa kau sudah berjumpa dengan nomor empat?” seragah Kiwa Mahakrura dengan nada dalam.

Paksi terdiam dan mengingat-ingat. “Apa dia orang yang direkrut oleh Sadewa?”

Kiwa Mahakrura mengangguk, “Ya, orang terakhir yang bisa diselamatkan Arseta…”

“Aku belum pernah menjumpainya…” Paksi secara jujur mengakui

“Itu keberuntunganmu…” dengus Kiwa Mahakrura. “Aku tidak punya waktu, aku harus berjumpa Duhkabhara, sekarang!”

Paksi akhirnya mengalah, dia paham sifat Kiwa Mahakrura, ya.. bagaimanapun hanya seorang kakak yang paham dengan sifat adiknya. Mereka masuk kesebuah ruangan yang tidak ada lagi penjaganya. Jaka merayapkan tubuhnya dengan hati-hati mengikuti keduanya, setiap kayu wuwung yang dipinjak sebisa mungkin tidak menimbulkan getaran, hingga meruntuhkan debu dari langit-langit. Meski Jaka dapat saja mengadapi mereka, namun itu tak akan menghasilkan apa-apa. Bagaimanapun juga menghadapi orang-orang yang tidak ada keraguan membunuh, kewaspadaan adalah hal utama yang harus diperhatikan. Kau tidak akan pernah tahu cara apa yang akan digunakan oleh orang macam mereka.

Keduanya masuk kedalam sebuah ruangan yang hanya terhalang pintu kayu, Jaka melihat situasi sebentar, merasa aman dengan ringan Jaka melompat turun dan merapat kedinding ruangan, didengarkan dengan seksama seluruh percakapan.

“Kau sudah kembali, seharusnya aku mendengar kabar baik.” Terdengar suara bernada dingin dan ketus, Jaka mengasumsikan itu sebagai Duhkabhara.

Senyap beberapa saat, tidak ada jawaban dari Kiwa Mahakrura.

“Ada dua hal…” suara Kiwa Mahakrura memecah keheningan. “Aku sudah menyelesaikan tiga orang.”

“Bagus! Mana?” tanya Duhkabhara, Jaka tahu orang itu pasti meminta bukti. Sayang sekali bukti itu ada padanya sekarang.

“It-itulah hal kedua…” kata Kiwa Mahakrura dengan tersendat.

“Heh?!” dua suara dengan maksud berbeda terdengar Jaka, pemuda ini tahu, jika Paksi terkejut karena tidak percaya, Duhkabhara terkejut karena misi Kiwa Mahakrura gagal.

“Bukti-bukti dan beberapa tanda penting hilang…”

“Apa kau terjatuh saat berjalan?!” seragah Duhkabhara sinis. “Apa kau lupa mengemasi setelah selesai bercinta? Haram jadah! Perkerjaan mudah begitupun kau tidak bisa melakukan dengan benar!”

“Harap tenang paman… pasti ada alasan yang belum dia beritahu pada kita.” Kata Paksi menengahi.

“Korban keempatku… maksudku, calon korban, mengalahkanku dengan sempurna… sangat sempurna…” Kiwa Mahakrura mengatakan dengan suara lirih, Jaka bisa membayangkan pemuda itu tengah menundukan mukanya.

“Anak perguran mana?” tanya Paksi membantu mencairkan situasi.

“Aku tidak tahu, dia memiliki lencana perunggu nomor empat. Baru direkrut oleh Sadewa empat hari lalu, dan selanjutnya diselamatkan Arseta…”

“Kau pernah bertemu dengannya?” Dukhabara bertanya pada Paksi.

“Belum..” jawabnya singkat.

“Ada yang pernah mengetahui apa kegiatan orang itu selama disini?” tanya Dukhabara.

“Aku sudah mencarinya, tapi… jangan-jangan ada hubungannya dengan dia?” ujar Kiwa Mahakrura menduga- duga. “Siapa?” tanya Paksi mendesak.

Kiwa Mahakrura menceritakan ciri-ciri orang yang pernah bertarung dengannya, dia juga menceritakan bagaimana dengan sangat mudah orang itu melumpuhkannya. Begitu selesai bercerita, wajah Dukhabara terlihat berubah.

“Paman mengenalnya?” tanya Paksi.

“Arwah Pedang…” katanya singkat. Dan jawaban itu cukup membuat dua anak muda itu bungkam dengan keterkejutan besar.

“Apa orang yang mengalahkanmu adalah anak murid Arwah Pedang?” tanya Duhkabhara menyelidik.

“Mutlak bukan, mereka berdua ada hubunganpun ini cuma dugaanku saja.”

“bagaimana perbandingan ilmu Arwah Pedang dengan lawanmu itu?” tanya Paksi lagi.

“Tidak bisa kubandingkan, hanya saja orang itu jauh lebih menakutkan dibanding Arwah Pedang…” Jawab Kiwa Mahakrura dengan suara lirih.

“Dia mengalahkanmu dengan cara apa?” akhirnya Dukhabhara tertarik menyelidik.

“Aku tidak dapat melihat pola serangan orang itu, dia hanya menghindar dan membentur seranganku.”

“Bukankah seharusnya orang itu menerima dampak dari tiap benturan?” ujar Paksi. Kiwa Mahakura menghela nafas, lalu dia menceritakan pertarungannya dengan Jaka. “…pada akhirnya, dia melakukan apa yang seharusnya bisa kulakukan dalam beberapa tahun kedepan.” Kataya dengan suara lemah.

“Maksudmu?” tanya Paksi tak paham.

“Pukulan Triagni Diwangkara dengan sempurna dia lakukan…”

Tidak ada komentar dari keduanya. Tapi Jaka cukup paham, mereka sedang dilanda keterkejutan tidak kecil.

“Aku hilang kepercayaan diri, aku takut jika harus berhadapan dengan dia lagi…” kata Kiwa Mahakrura.

“Dia mengatakan apa saja?” tanya Duhkabara dengan nada sedikit tinggi.

“Tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan kita. Hanya saja, dia sempat mengatakan menunggu pukulanku yang sangat keras. Seolah orang itu sudah mengerti aku akan melakukan pukulan Triagni Diwangkara..”

“Berarti dia sudah melihat mayat anak murid Cadas Merapi.” Tukas Paksi berkomentar. “Arseta membawa jenasah itu keruang penyimpanan. Aku bisa bertanya padanya nanti…”

“Aku tidak akan melakukan itu!” desis Kiwa Mahakrura. “Arseta sekalian pasti sudah mencium ketidakberesan ini, dan kau yang tersangkut dengan semua kejadian, cepat atau lambat akan terendus!” “Tak perlu kau kawatirkan itu, dia menganggapku seperti anak kadung sendiri, perasaan itu aku bisa manfaatkan sejauh mungkin…”

“Kau bisa simpulkan kejadian yang menimpa Kiwa Mahakrura sebagai apa, Paksi?” tiba-tiba Dukhabara bertanya.

“Dugaan Kiwa bahwa dia ada hubungan dengan Arwah Pedang, tak boleh juga kita kesampingan. Yang menjadi titik perhatianku adalah, dia mengambil seluruh barang Kiwa. Itu akan menceritakan banyak hal mengenai kita, orang yang bisa meniru mentah-mentah ilmu lawannya pada saat pertarungan terjadi, adalah sosok yang menakutkan. Kepada siapa dia bekerja, untuk apa barang-barang itu dirampas? Dan hubungan seperti apa yang terbina antara dia dengan Ketua Bayangan Naga, akan memperjelas kesimpulan kita. Aku khawatir pergerakannya akan sangat mempengaruhi pekerjaan kita.”

“Itu menjadi tugasmu mulai detik ini!” kata Duhkabhara pada Paksi.

“Baik!”

“Apakah kau masih bisa melakukan pekerjaan lain?” Duhkabhara bertanya pada Kiwa Mahakrura.

“Dapat!” jawabnya tegas.

“Kau lacak dari mana datangnya asap di gua batu, jangan melakukan pembunuhan yang tidak perlu! Ketidaktelitian yang di lakukan Dwisarpa sangat fatal bagi kita… gerakan kita ternyata sudah terpantau oleh pihak lain.” Informasi itu bagi Jaka hampir tidak membicarakan banyak hal, tapi dia bisa membuat satu jebakan karena mengetahui rencana-rencana mereka. Mendadak telinganya yang peka menangkap bunyi dari arah belakangnya, Jaka dengan sigap segera melejit keatas dan bersembunyi di wuwungan.

Dari pintu lain, Jaka melihat dua orang masuk. Wajah mereka terlihat tegas dan keras, bahkan mendekati sadis. Jaka hampir dapat menyimpulkan mereka berdua adalah Dwisarpa yang dimaksud Duhkbarhara. Begitu pintu tertutup kembali, Jaka kembali turun untuk menyadap informasi apa yang di bawa kedua orang itu.

“Apa yang kalian dapatkan?” tanya Dukhabhara pada keduanya.

“Orang yang kemarin lolos di tolong oleh penduduk setempat, tapi jejak selanjutnya menghilang setelah melalui Pasar Joropasa…”

Aha, ternyata keduanya adalah orang yang menyiksa Ki Sempana, batin Jaka. Dia yakin berikutnya akan banyak informasi yang dapat diserapnya, informasi yang menyatakan ciri pergerakan kelompok ini.

Tapi, tiba-tiba wajah Jaka berubah.

‘Gawat, kenapa harus sekarang?’ pikirnya dengan gundah, rupanya Racun Getah Biru mendadak bergolak dengan geliat yang membuat syaraf dan otot Jaka menggeletar nyaris tak terkontrol. Kondisi itu jelas sangat menyulitkannya untuk tidak diketahui dalam aksi pengintaian. Untuk mendapatkan otot yang rileks, membiarkan dirinya tidak dialiri hawa sakti jelas solusi paling mudah, tapi dalam kondisi saat ini jelas tidak mungkin!

Jaka merambat dengan sangat perlahan, dalam hati dia ingin sekali segera keluar dari tempat itu, karena penderitaan yang mulai mendera saat ini membuat dia harus melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan di tempat itu!

Pemuda ini sudah sampai di tempat dimana dia pertama kali ‘hinggap’, di atap itu masih ada sisa ranting dan daun kering yang tadi dikumpulkannya. Dengan merebahkan tubuh pada genting bangun itu, Jaka melepaskan hawa saktinya perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian bergolaknya racun bisa mereda, tapi otot belum cukup rileks untuk menerima getaran hawa saktinya lagi. Dengan menenangkan hati, Jaka mengatur nafas sesuai kaidah Melawat Hawa Langit, dengan sangat perlahan. Pernafasan itu memang tidak membebani kondisi tubuh yang sedang terluka atau mengalami kondisi separah apapun, tapi cara membangkitkan hawa sakti itu yang membuat syaraf Jaka harus menggeletar tegang, pada kondisi normal itu tidak ada efek apapun. Tapi saat ini?

‘Sial…’ pikir pemuda ini sambil menghembus nafas panjang. Jika harus menenangkan otot dan syaraf maka waktu yang dibutuhkan berkisar dua sampai tiga jam, dan jelas itu tidak mungkin baginya.

‘Ah, kenapa aku tidak menggunakan cara yang dilakukan Kiwa Mahakrura?’ pikirnya dengan harapan membuncah.

Jaka mulai menarik nafas panjang. Lalu menyendatnya secara perlahan, berulang kali dengan jeda yang teratur, kemudian membangkitkan hawa saktinya seperti pola sirkulasi yang dilakukan Kiwa Mahakrura, jika sebelumnya Jaka terbiasa menghimpun dari luar kedalam, saat ini dia melakukannya dalam kondisi yag berbeda, dari dalam keluar. Pada pusat hawa saktinya tersimpan, seolah menyembur ledakan hawa saktinya dan itu ditanggapi oleh otot dan syarafnya dengan menegang kencang.

Begitu ketegangan dimulai Jaka tahu, bab paling sulit adalah menenangkannya, maka dengan penggunaan meridian olah nafasan yang biasa dia lakukan, Jaka menekan gejolak otot dan syarafnya. Kondisi pengolahan hawa sakti keras dan lembut yang hampir bersamaan itu membuat tubuhnya merasa menggelembung penuh Hawa Sakti yang harus di lepaskan, Jaka tahu saat ini syarafnya dalam kondisi ‘membeku’ dalam kepadatan tenaga. Dan itu cukup baginya untuk meloloskan diri dari tempat itu.

Dengan keringat bercucuran dari dahinya, Jaka meraih daun dan ranitng, kemudian dileparkannya dengan kekuatan terukur. Detik berikut, seperti ledakan asap, tubuhnya melejit mengejar benda yang dilemparnya, memijaknya dan melejit kembali, melakukan hal itu sampai, daun dan rantingnya habis.

Pada pijakan terakhir, Jaka mendarat di pepohon yang memiliki pucuk paling tinggi, dengan mendapatkan pijakan yang padat, lejitan pemuda ini membawanya menjauh dari bangunan itu dengan pesat. Jaka tahu dia harus membuang ‘kebekuan’ dalam syarafnya, tapi itupun tak boleh dihabiskan sehingga kepadatan tenaga dalam syarafnya melemah, dan saat ini dia harus menghentikannya lajunya!

Apa jadinya tubuh yang masih melayang dengan pengerahan hawa sakti pada peringan tubuh, tiba-tiba daya itu hilang? Tubuh Jaka terjatuh dengan luncuran pesat, untungnya pemuda ini sudah bersiap-siap pada benturan itu, dengan memanfaatkan cengkraman jemarinya yang kuat, Jaka meraih batang pohon ya dilewatinya, akibatnya tubuh yang sedang meluncur itu terhenti dengan sentakan keras, dan itu membuat pergelangan tangan dan sendi lengan pemuda ini ngilu!

Tapi rasa sakit itu cukup sepadan dengan pendaratan tubuh yang baik. Jaka menjejakkan kaki dengan sempurna, dan detik itu juga, jarinya segera melakukan berbagai teknik totok pada sekujur tubuhnya sendiri dan remasan pada jantungnya.

“Neijing Huang Ti Nei Ching Su Wen?” tiba-tiba terdengar seruan suara yang di liputi keterkejutan.

-dwkz-

95 – ‘Peralatan Masak’ Gelombang Dua (?)

Jaka tidak terkejut, manakala dia mendarat, dia memang mengetahui ada beberapa orang disitu, mungkin mereka musuh, mungkin pula bukan siapa-siapa. Tapi persetan dengan semua itu! Jaka lebih memikirkan kondisi tubuhnya. Jemarinya kembali menari-nari dengan gerakan tusuk, cubit, getar.

“Ah, itu bagian Taiyin tangan yang tersembunyi… titik Zhongfu, Yunmen dan Tianfu…” gumam suara itu lagi nyaris saja memecah konsentrasi Jaka. Pemuda ini tergoda untuk melihat siapa kiranya orang yang bisa menyebutkan titik-titik rumit syaraf secara runtut itu.

“Oh ya?” orang satunya mengomentari dengan tidak antusias. “Lalu apa pula artinya kalimat yang kau katakan tadi?”

“Maksudmu, Neijing Huang Ti Nei Ching Su Wen? Itu artinya azas umum pengobatan yang di lakukan oleh Huang Ti—seorang kaisar masa lalu di daratan jauh sana. Huang Ti Nei Ching Su Wen sendiri adalah judul sebuah kitab kuno, yang membahas pengobatan tusuk jarum dengan beragam teknik, juga lebih kepada..”

“Baik-baik, itu sudah cukup…” kata rekannya memotong. Sambil mengangkat bahunya, orang itu kembali berkata.

“Kau tahu, yang dilakukan saat ini adalah teknik Zhen atau menggetar, dan Chan emm… artinya menggigil, secara bersamaan, sungguh terampil!” dia berkata pada orang disebelahnya. “Hm, dia melakuan Rou dan Nie dengan sangat sempurna, tepat ke syaraf.”

Orang itu menggumam tak jelas, penjelasan rekannya tak membuat dia paham lebih banyak, menurutnya bahasa yang digunakan terlalu asing di telinga. Tapi dia tahu Rou berarti pijit, dan Nie artinya cubit. Rekannya sering menggunakan kedua cara itu padanya—dengan mengatakan berkali-kali sampai dirinya hapal betul—saat dia pegal-pegal.

Rekannya itu memang mempelajari banyak bahasa asing, dan dengan sendirinya pengetahuan dari bangsa asing di pelajari pula. Diluar dari penjelasan itu, dia bisa mengidentifikasi yang dilakukan Jaka dengan jemarinya pada bagian lengan dan bahu, adalah cara untuk menahan aliran hawa murni.

Rasa penasaran melingkupi hati Jaka, tapi dia cukup bisa menahan diri untuk tetap menggetarkan berbagai titik dalam lengan kiri-kanan, dan sekitar bahu.

Hampir tiap gerakan Jaka di ikuti oleh kedua orang itu, bahkan beberapa gerakan yang terakhir, dikomentari pula secara detail. “Shaocung, Shaoze dengan teknik penguatan Qi? Ah bukan itu… itu lebih kepada titik Yanglao dipadukan dengan titik Shenmen? Tidak mungkin! Tapi… caranya menuju kepada arah perpaduan dua titik berjauhan. Teknik apa yang digunakan?” serunya terkaget-kaget sendiri pada rekan disebelahnya.

“Uh, jangan kau tanya aku…” ujarnya menjawab tak semangat.

Jaka bisa menyimpulkan sedikit dari pembicaraan itu, tapi gerakannya tak berhenti. Meski dia masih harus berkonsentrasi dengan apa yang di lakukan, Jaka sudah bisa mengalihkan perhatian dengan menegaskan pandangan matanya.

Dikegelapan malam, berangsur-angsur setelah bisa menyesuaikan pandangannya, Jaka bisa melihat mereka secara jelas. Dua orang, dengan sosok tinggi besar dan satu agak membungkuk. Agak menyipitkan mata, akhirnya Jaka mengetahui bahwa salah seorang diantaranya dia sudah pernah melihat, bahkan berbincang. Dia lelaki bertampang biasa yang menjadi lawan bicara pemilik Pancawisa Mahatmya. Orang kedua, lebih berumur—kalau tak ingin dikatakan renta. Cara berdirinya tidak tetap, Jaka menduga orang itu agak pincang.

Akhirnya Jaka menghembuskan nafas panjang-panjang secara cepat dan lambat, dengan tempo berbeda-beda. Gejolak dalam tubuh sudah mereda—meski hanya sementara. Saat ini tubuhnya di penuhi dengan tenaga yang sewaktu- waktu harus dimuntahkannya. Karena oleh hawa murni yang dilakukan tadi dengan beragam teknik totokan, membuat tubuhnya mengembang, padat energi—seperti roti yang dipanggang, makin terkena panas, makin mengembang. Hal itu sengaja dilakukan Jaka untuk tetap membuat kondisi otot dan syarafnya ‘membeku’ dalam bungkusan hawa sakti yang padat, setelah terbiasa dengan kondisi itu, Jaka bisa menekan pengaruh Racun Getah Biru sepenuhnya. Sebenarnya, dalam kilasan sesaat tadi.. Jaka sempat memikirkan untuk menekan pergolakan Racun Getah Biru dengan Tenaga Semu, tapi dengan kondisi saat ini yang membutuhkan pergerakan aktif, itu jelas bukan solusi terbaik—sementara dampak penggunaan Tenaga Semu bisa membuatnya harus berdiam diri berhari-hari.

“Hebat!” seru pemuda ini sambil bertepuk tangan. “Pengetahuan tuan sungguh luas. Kalau boleh, aku akan menambahkan sedikit...” Hal pertama yang diucapkan pemuda bukannya bertanya siapa dia, sedang apa disitu; tapi malah lebih memilih ‘meluruskan’ komentar orang itu.

“Shaochung, Shaofu, dan Shenmen…” kata Jaka sambil menunjuk titik-titik pada jari kelingking tangan kanannya, pangkal jari kelingking dan punggung tapak tangan. “berjumpa dengan Shouze, Quangu, Houshi, Wangu, Yanggu dan Yanglao…” sambil menunjuk titik-titik pada jemari kiri, dengan urutan yang sama seperti tadi, hanya saja ini mencapai pangkal pergelangan dan satu titik pada sambungan lengan. “untuk mendapatkan perlakuan Zhen dan Nie, karena itu sebagai dasar untuk membangkitkan Chan pada syaraf Jiquan dan Jianzhen…” Jaka menunjuk bawah ketiak sebelah kirinya.

“Ah ya… diantara titik Shaohai dengan titik Jiquan ada Qingling, titik ini harus dalam keadaan diam tanpa tambahan Qi…” Jaka menunjuk sendi sambungan lengan kanan dengan bawah ketiak kanan, Qingling sendiri terletak diataranya.

“Itu sulit!” seru orang itu berkomentar.

“Bukan berarti tak bisa dilakukan,” jawab Jaka dengan tersenyum. “Lebih jelasnya pada saat menambahkan Qi, untuk menutup antara jalur Shaohai dengan Qingling, lakukan lejitan Qi pada Fengmen…” terangnya memutar badan sambil sambil memegang tulang belakang ruas pertama. “Dengan sendirinya, lejitan Qi itu akan menghubungkan Jiquan, melewati Qingling…” kata Jaka sambil menghadap kemuka lagi.

“Ah…” seru orang itu terkesima.

“Kemudian lakukan sedikit lejitan Qi lagi untuk membangkitkan cara Bo, pada Qingling…”

“Tunggu! Bukankah kau bilang Qingling harus diam tanpa tambahan Qi?”

“Penambahan Qi dengan lejitan itu berbeda jauh, Qingling memang diam… tapi bukan berarti dia tidak bisa melontarkan Qi yang melewatinya, dia bisa menjadi pijakan untuk melejit. Gerakan itu akan menimbulkan Bo bersamaan dengan itu Mo juga muncul. Sesudah itu terjadi, gunakan Zhuo pada Dazhui..” lanjut Jaka kembali memutar tubuhnya sambil menunjukan satu titik di punggung, berjarak satu telapak tangan dari tengkuk.

“Ah, cara merenggut dan menggesek yang rumit…” gumam orang itu.

“Ooo.. jadi, Bo itu artinya merenggut, dan Mo adalah menggesek?” sahut lelaki berwajah biasa menimpali dengan gumaman.

Rekannya mengangguk tanpa komentar. “Lanjutkan, anak muda…”

“Pada akhirnya, sebelum Qi merambat ke Shaohai lagi, lakukan ledakan Qi beberapa saat sebelumnya dengan totokan pengunci.” Terang Jaka menutup pejelasannya.

“Ah…” tiba-tiba orang itu merasa penjelasan Jaka ternyata ada satu kejanggalannya. “Itu bunuh diri?!” serunya.

Jaka tidak menjawab.

“Kenapa kau berkesimpulan itu bunuh diri?” tanya temannya.

“Titik-titik yang dilewati beragam teknik itu, ditutup untuk menghalau tenaga, juga berguna untuk memacu fungsi jantung, biasanya itu hanya terjadi dalam waktu seratus hitungan, jika kau sampai melewati hitungan keseratus, pecah pembuluh darah di lengan kanan kiri adalah hal paling wajar yang terjadi…”

“Ah sialan! Dari tadi aku juga tahu teknik yang dilakukan pemuda itu untuk memampatkan tenaga, cuma pembicaraan sialan kalian ini membuatku pusing setengah mati!” Gerutu orang itu membuat rekannya tertawa terbahak.

“Puas, sungguh puas… berbicara denganmu membuat diriku memperoleh manfaat baru!” kata orang tua bertubuh agak bungkuk ini.

Jaka menganggukkan kepala. “Sama-sama, saya juga menginginkan hal serupa…” kata Jaka berdiplomasi, mengatakan bahwa dirinya juga inginkan informasi baru mereka.

“Boleh, cuma kau harus beritahukan kepadaku, kenapa harus menggunakan cara itu?”

“Ada cara yang bisa dan harus dilakukan, ada juga yang terlarang… tapi sebenarnya itu bisa dilakukan setiap saat.”

“Kau mengatakan dengan sangat samar, anak muda…” “Akan kuperjelas saat mengetahui nama-nama kalian

berdua.” Jawab Jaka sambil tersenyum kecil.

“Ah, cara meminta yang pintar…” gumam orang ini. “Kau bisa menyebutku, Adiwasa Diwasanta.”

Mendengar itu, Jaka seperti melihat kilat petir di malam hari. “Aku pernah mendengar nama itu. Menjadi kehormatan besar buatku…” sanjung Jaka dengan kejut tak berperi.

Ki Alih pernah bercerita sekilas, pada masa dia terjun ke dunia persilatan ada sesosok yang menurutnya menakutkan— dan dia sangat beruntung karena belum pernah bersua muka, orang itu dikenal dengan nama Adiwasa Diwasanta; yang berarti penghenti malam. Nama aslinya entah siapa, tapi semenjak orang ini mengalahkan salah satu anak keturunan Tabib Hidup Mati—dalam sebuah pertarungan yang beritanya hanya diketahui dari mulut kemulut—kemunculan namanya menjadi sebuah pertanda yang memusingkan. Senyumnya selalu ditafsirkan sebagai alamat maut buat orang yang dituju, kehadirannya menjadi bintang sial bagi siapapun itu, caranya bertindak tidak pernah diketahui. Informasi orang ini sangat tertutup rapat. Karena berbeda masa, derajatnya sudah tentu diatas Arwah Pedang sekalian. Bukan tanpa alasan nama ‘penghenti malam’ disematkan padanya, karena setiap orang yang dituju olehnya, tidak akan pernah bisa melewati malam hari berikutnya, dan pameo itu tidak pernah meleset.

Jaka menegaskan pandangan mata lagi untuk menyaksikan, sebuah legenda yang tidak pernah teraba itu, sesosok orang tua yang pada pandangan pertama akan sangat mengesankan kerentaan, tapi dikegelapan malam, Jaka masih bisa melihat setitik sinar bagai bintang dari matanya—menyaksikan itu, dalam hati Jaka bisa meraba ada semacam rasa sunyi, perasaan sunyi yang biasanya dimiliki jago yang belum pernah kalah. Diam-diam Jaka menghela nafas dingin dengan bulu kuduk meremang.

“Kita sudah pernah berjumpa, aku Alpanidra…” Kata orang yang bertampang biasa ini dengan nada lambat.

Jaka mengiyakan. Pemuda ini merasa ada kekawatiran merambati hatinya, lelaki paruh baya bernama Alpanidra ini sejak awal dalam pandangannya memang memiliki bobot, melihat kondisinya saat ini yang bisa beriring jalan dengan Adiwasa Diwasanta, orang itu sudah tentu pilih tanding. Pemuda ini merasa kawatir bukan untuk dirinya, tapi dengan teman-temannya… Arwah Pedang sekalian, terkadang memiliki ego yan besar. Saat mereka menyaksikan ada nama besar yang hanya pernah didengar, semangat untuk ‘mencoba’ akan lebih besar dari biasa.

“Baik, aku sudah mendengar nama kalian berdua. Namaku sendiri Jaka Bayu. Mengenai alasan mengapa aku melakukan hal tadi, ehm… sebenarnya ini adalah tindakan pencegahan saja. Seperti yang sudah kukatakan tadi, ada cara biasa, ada cara terlarang yang bisa dilakukan setiap saat. Bagi kebanyakan orang, cara yang kugunakan mutlak bunuh diri, tapi bagiku adalah jalan hidup… inilah yang kumaksud dengan cara terlarang yang bisa dilakukan setiap saat.”

“Pertanyaannya adalah, mengapa?” tanya Adiwasa Diwasanta dengan sangat penasaran, untuk ukuran pengetahuan yang dikuasai, Jaka terlalu muda.

“Sulit dikatakan…” sahut Jaka dengan suara agak sumbang.

“Haha… dari kemarin, waktu kau berkenalan dengan kawanku itu, aku sebenarnya juga ingin menjajal dirimu, sepertinya malam ini benar-benar jodoh untukku…” kata Alpanidra seolah mengetahui maksud Jaka, dan langsung dia tanggapi. Orang ini maju satu tindak kehadapan Jaka.

“Tu-tunggu… aku tak akan melakukan itu..” seru Jaka sambil mengangkat kedua tangannya. “Anggap saja aku kalah…” katanya.

“Tidak bisa! Ini toh bukan pertarungan untuk menentukan kalah-menang, tapi untuk mengetahui alasanmu melakukan hal-hal itu…” tukas Alpanidra bersikeras.

Jaka merasa apa boleh buat, “Lakukan dengan perlahan saja.” Kata pemuda ini. “Terserah dirimu!” balas Alpanidra tertawa pendek, penjelasan Harsa Banggi—nama yang berarti ‘suka akan bahaya’—lelaki bermata seperti ikan mati yang sempat menjajal Jaka, membuat dia merasa tertantang, sayangnya pada saat itu bukan waktu yang tepat untuk menyatakan antusiasme. Saat ini Alpanidra benar-benar akan memanfaatkan semaksimal mungkin.

Jaka selalu memiliki jalan keluar dalam kondisi-kondisi sulit, kali ini pun dia memilikinya. “Kita hanya akan melakukan dalam tiga jurus, bisa tidaknya anda menarik kesimpulan dari sana tergantung pemahamanmu.”

Tidak menanti Alpanidra menjawab, Jaka menarik kaki kesamping, jemari kanan mengepal mengacung kedepan dengan buku jari tengah agak mencuat, sementara tangan kiri ditarik sejajar pinggang dengan telapak membuka kesamping dan kelingking tertekuk, lututnya agak merendah.

“Wah-wah… tangan kiri bersiap Merengkuh Arwah Rembulan, tangan kanan Kibasan Lengan Tunggal, kaki menggunakan persiapan Langkah Tujuh Raja.. dan tenaga itu, hm… terus berubah, sangat menarik…” Ujar Adiwasa Diwasanta memperhatikan setiap detail gerakan Jaka, dia merasa pemuda ini adalah orang paling menyentak minatnya dalam tiga puluh tahun terakhir.

Tidak menunggu Alpanidra berkomentar lebih jauh, Jaka memulai inisiatif penyerangan yang jarang dia lakukan. Dalam tiap ruas tulang yang melejitkan gerak, Jaka menggunakan perobahan beragam. Saat tangan kanan mengibas kedepan disusul dengan sapuan tangan kiri kemuka, tapi baru ditengah jalan gerakan itu ditarik kembali dengan kecepatan tak teraba, sehingga kedua tangan sejajar pinggang! Dalam kilasan detik gerakannya seperti menebar, dan gerak cengkeraman— menarik tangan sejajar pinggang, membuat dadanya membusung dengan suara berderak. Sementara kakinya membuat tendangan menyamping, memotong pinggang Alpanidra.

Alpanidra tidak melihat ada hal aneh, pada serangan itu, dimatanya itu sama dengan tendangan dengan pembukaan gerak tidak berguna. Kecepatan tendangan itu sulit dielakkan, apa boleh buat dia harus menangkisnya dengan mengibaskan tangan kanan.

Tidak tahunya begitu tendangan itu hampir sampai, Jaka menarik balik tendangan itu sampai-sampai badannya memutar, dan akhirnya berganti kaki kiri menendang. Waktu yang dibutuhkan untuk menarik serangan tendangan dan meluncurkan tendangan lain, hampir tidak ada satu detik! Tapi Alpanidra merasakan tekanan sangat fokus pada tulang panggul dengan kekuatan berkali lipat.

Jelas itupun dia tak sanggup untuk mengelak, terlalu cepat! Yang bisa dilakukan hanya mengempos tenaga sakti melingkupi sekujur tubuhnya, dengan rencana serangan balasan, begitu benturan terjadi. Sebab tangan kirinya juga tak sempat lagi melakukan tangkisan!

Tapi lagi-lagi, Jaka menarik serangan itu membuat badannya berputar lagi dengan arah kebalikan, dan begitu kaki menyentuh tanah, tubuhnya mencondong kemuka pada saat bersamaan kedua tangan memukul dengan posisi badan miring.

Gerakan demi gerakan aneh itu terjadi kurang dari satu helaan nafas, bagi orang yang biasa, hanya akan melihat satu gerak serangan pukulan terakhir sebagai jurus pertama, padahal Jaka sudah melakukan tiga jurus dalam kombinasi yang sangat rumit dan beragam.

Dessh!

Tidak ada pilihan bagi Alpanidra kecuali menerima serangan itu dengan hawa sakti terpusat pada dadanya! Seluruh rencana dalam benaknya buyar seketika begitu merasakan gumpalan-gumpalan tenaga sakti lawannya menerobos hampir seluruh pembunuh darah. Tidak ada rasa sakit yang dialami, hanya tiba-tiba saja seluruh pembuluh darah terasa melebar dan pada kejap berikut tenaga serangan itu menciut sama sekali—hilang tidak berbekas, membuat syaraf-syarafnya merespon dengan hal yang sama—menciut.

Dampak yang dirasakan Alpanidra tubuhnya seolah lumpuh, padahal himpunan hawa saktinya masih berputaran disekujur tubuh, tapi serangan Jaka yang tidak menimbulkan rasa sakit itu seolah merenggut bagian dalam dirinya. Membuat dirinya keras diluar, hancur didalam!

“Sudah tiga jurus…” gumam Jaka dengan tubuh berdiri sempurna sembari memperhatikan Alpanidra.

Alpanidra masih berdiri termangu, pada hitungan kelima, tiba-tiba dia berteriak keras dan melancarkan pukulan kedepan. Dalam alam pikirnya, Jaka masih berdiri tepat didepannya, padahal saat ini Jaka berada disamping.

Brak!

Gemuruh suara batang pohon dilanda pukulan Alpanidra membuat Jaka terkagum-kagum. Batang pohon itu meledak dengan serpihan berhamburan kemana-mana. Jika pukulan Triagni Diwangkara menghancurkan objek serangan dengan pola menghanguskan lebih dulu, maka pukulan Alpanidra seolah meluluh lantakan dalam bentuk aslinya, jelas itu pekerjaan lebih sulit, karena dibutuhkan himpunan tenaga sakti yang sangat besar.

“Hiaaat!” Alapanidra berteriak kembali dengan melakukan pukulan kedepan.

“Cukup!” bentak Adiwasa Diwasanta melesat cepat kehadapan Alpanidra dengan mencengkeram kepalan tangan rekannya.

Jaka sangat terkejut melihat tindakan Adiwasa Diwasanta yang ceroboh, tapi dilain saat, pemuda ini terkagum-kagum saat orang tua agak bungkuk itu mengibaskan tangannya yang lain, sebuah angin yang membadai terbit dari kibasannya dan membuat ranting, bebatuan dan beberapa batang pohon meledak!

“Luar biasa… seperti Mengalir Menembus Besi…” gumam Jaka dengan bertepuk tangan terkagum-kagum. Ternyata, Adiwasa Diwasanta dapat menyalurkan serangan Alpanidra lewat kibasannya tadi, hebatnya lagi cengkeraman tangannya membuat pergolakan tenaga dalam tubuh Alpanidra yang meliar akibat serangan Jaka, reda seketika!

“Kau tahu teori Mengalir Menembus Besi?” tanya Adiwasa Diwasanta dengan tatapan menyelidik—merasa tertarik dengan ucapan Jaka. Setelah melakukan gerakan yang cukup berat tadi, tak juga terlihat adanya engahan berarti orang tua ini. Jaka mengangguk. “Tapi yang tuan lakukan lebih hebat daripadanya,” tukas Jaka. “Kulihat rambatan tenaga lawan, selain bisa dimanfaatkan sesuka hati, tuan pun bisa menggunakan untuk keperluan pribadi…” sambungnya dengan maksud yang absurd.

Adiwasa Diwasanta tertawa, hatinya senang bukan kepalang! Untuk kali pertama dalam hidupnya dia akhirnya menemukan orang yang bisa diajak ‘bicara’ dalam banyak hal. “Katakan padaku, apa maksud keperluan pribadi?” tanyanya dengan senyum masih mengembang.

“Jika itu terjadi pada orang lain, tiap serangan lawan akan digunakan untuk mendobrak kebuntuan pada syaraf-syaraf ditubuhnya. Sebuah teknik nyaris tanpa cela…”

Adiwasa Diwasanta mengangguk-angguk. “Masih nyaris ya?” ujarnya. “Ternyata belum sempurna…” gumamnya.

“Ya, nyaris…”

“Apa kau sanggup mengungkap kelemahan kemampuanku?” Adiwasa Diwasanta bertanya tanpa basa- basi.

“Jika saja tadi aku harus menghadapi tuan, akan sulit buatku. Tapi, tadi aku sudah cukup menyaksikan, dan ini cukup buatku.” Jawab Jaka tidak langsung, membuat Adiwasa Diwasanta termenung sambil menghela nafas. Jika itu keluar dari mulut orang lain, dia akan menghajar sampai setengah mati karena omong kosongnya. Tapi bobot Jaka Bayu dimatanya saat ini berbeda, pemuda yang bisa melakukan teknik pembekuan syaraf tanpa harus menghambat gerak, adalah sebuah pembenaran bahwa kemampuan Menerobos Jasad Emas miliknya masih bisa dilumpuhkan.

“Apa yang terjadi?” tiba-tiba saja Alpanidra berseru mengejutkan mereka. Lelaki ini seperti disentak kesadarannya matanya berulang kali diusap.

“Kau terjebak dalam ilusi tenagamu sendiri..” jawab Adiwasa Diwasanta menjelaskan.

“Terjebak?”

“Ya, tiap gerakan yang di lakukan anak muda itu membuat syarafmu terlena dan akhirnya kaupun terjebak kebelakang, apa yang kau lakukan lebih lambat dari seharusnya, jika itu terjadi pada pertempuran sesungguhnya, kau sudah mati. Karena syarafmu merespon serangan lawan dengan lambat…”

“Ah….” Desah Alpanidra akhirnya menyadari sesuatu. “Aku paham…” tiba-tiba Alpanidra berseru. “Jadi, kau melakukan teknik pada dirimu sendiri, selain membekukan tenaga, juga untuk memeliharanya… maksudku supaya tidak menghilang, dan bisa digunakan sewaktu-waktu.. ah bukan-bukan.. maksudku..”

“Aku sudah menangkap maksudmu, dalam mengamati sesuatu kau memang tanpa cela!” sela Adiwasa Diwasanta sambil menepuk bahu sahabatnya. “Jelaskan padaku dalam bahasmu anak muda…” katanya seraya menatap tajam pemuda ini.

Jaka terdiam, dia merasa sungkan menjelaskan hal-hal yang mungkin saja bisa disalah pahami mereka. “Masih sulit kuungkap dengan bahasa… tapi jika tuan sudah memahaminya, tetaplah seperti itu.”

Geraham Adiwasa Diwasanta menggembung, dalam masa hidupnya, hampir semua permintaannya selalu dituruti orang, siapapun dia. Tapi sikap pemuda ini membuatnya merasa geram, tapi dilain sisi ada rasa sungkan yang membuat hatinya tak sanggup memaksakan kehendak.

“Baiklah, bisakah kira berbagi informasi?” tanya Jaka tanpa basa-basi.

Masih dengan perasaan bingung—karena gelombang hawa murni dalam tubuhnya yang naik turun akibat serangan Jaka, Alpanidra menghela nafas lalu berbicara. “Kau pernah mendengar nama Lindu Wastu dan Wingit Laksa?”

Jaka mengangguk.

“Mereka sudah ada di tangan kami, satu benang merah sudah didapat. Seolah semua yang terjadi di Perguruan Naga Batu tumpang tindih tak karuan, pandangku sekarang bisa kupertegas padamu. Jika kemarin kukatakan ada tiga kelompok dan mengasumsikan kelompok ketiga adalah dirimu, maka saat ini aku menyatakan kelompok ketiga adalah orang lain.”

Jaka termenung. “Apakah ada yang mengetahui kabar tentang kaum Riyut Atirodra?” pertanyaan itu membuat keduanya terkejut.

“Bukankah mereka sudah tidak ada diseputaran kota pagaruyung lagi?” tanya Alpanidra. “Seharusnya,” jawab Jaka. “tapi aku merasa mereka akan kembali ke kota ini lagi.”

“Merasa? Itu tak bisa dibenarkan sebagai dasar pikiran. Tentu kau punya alasannya anak muda!” tandas Adiwasa Diwasanta.

Jaka menghembuskan nafas perlahan. Lalu dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Kanayana— anggota Riyut Atirodra yang di hajar sampai konyol oleh Hastin Hastacapala. “Mereka memang bukan anggota penting, tapi jika mereka sampai hilang dari pantauan penanggungjawabnya, ini akan memancing pergerakan salah satu hulubalangnya… aku mengkhawatirkan itu.”

“Akan kuselidiki informasimu…” kata Alpanidra. “Lalu, kau sendiri sedang apa disini?” dia balas bertanya. Dan Jaka juga menceritakan apa adanya, tanpa ada yang ditutupi—kecuali pertarungannya.

“… Duhkabhara merupakan tokoh sentral sementara, sebelum kita bisa memegang kepala mereka yang sebenarnya. Besok siang aku akan berjumpa dengan para tokoh Perguruan Naga Batu, petang esok hari aku akan menemui tawanan kalian.” Pungkas pemuda ini.

“Para wakil dari enam belas perguruan utama sudah ada disini semua, apakah kau atau kami yang akan mengurus mereka?”

“Lebih baik kalian saja.” Ucap Jaka menjawab pertanyaan Alpanidra.

“Oh satu lagi, kau tadi menyebutkan Pratyantara?” “Ya, ada apa dengan mereka?” tanya Jaka.

“Besok kau bisa berjumpa Jung Simpar, mungkin ada hal baru yang bisa kau korek…” ucapan Alpanidra memang seperti tiada maksud apa-apa, tapi bagi Jaka, itu seperti tamparan.

Jung Simpar sudah menjadi tanggung jawab Ki Alih dalam ‘mengurusnya’, bagaimana mungkin mereka mendapatkannya—menawannya? Apakah hanya sekedar gertakan? Apakah ada kebocoran dalam perkumpulannya?

“Baik, kita tetapkan seperti itu saja.” Kata pemuda ini sambil menangkan goncangan hatinya. “Aku permisi lebih dulu…” tanpa menunggu jawaban, Jaka melangkah menjauh, tapi mendadak pemuda ini kembali membalik badan.

“Oh satu lagi…” katanya menirukan gaya ucapan Alpanidra. “Aku berterima kasih atas apa yang kau lakukan pada Momok Wajah Ramah…”

Selesai berkata begitu, tubuh Jaka sudah telan kegelapan malam. Meninggalkan Alpandira yang menatap bayangan pemuda itu dalam keterkejutan.

“Bagaimana dia bisa tahu, aku yang melakukan?” tanyanya pada Adiwasa Diwasanta dengan rona masih terheran-heran.

“Mana aku tahu?! Setan yang tahu!” dengus Adiwasa Diwasanta merasa perbincangannya dengan Jaka masih sangat kurang, dia ingin mencari pemuda itu, menanyakan beragam hal.. jika perlu mengorek benaknya! Jika benar ada—cela pada ilmu Menerobos Jasad Emas miliknya jelas tidak boleh terjadi! -odwkzo-

96 – Hari Kelima

Jaka duduk termenung memperhatikan peta yang sudah berhasil di salin ulang oleh Cambuk. Lelaki itu nampak terkantuk-kantuk menunggu komentar Jaka, maklum saja sejak dia mendapatkan ide dalam penulisan keterangan peta, sampai dini hari ini sudah berlangsung delapan jam. Hari yang melelahkan.

“Bagus sekali paman, silahkan beristirahat…” kata Jaka sembari menyandarkan punggung dan memejamkan mata sekejap, dengan ekor matanya Jaka melihat Hastin juga sedang tidur mendengkur. Pemuda ini tertawa dalam gumam, dalam hati dia sangat berterima kasih bahwa tokoh dengan nama bagai mega di angkasa itu mau memberikan sumbangsih tenaganya.

Menjelang dini hari adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan koreksi atas segala tindakan, pemuda ini membasuh wajahnya dengan air, sebersit kesegaran menyirnakan rasa kantuk, setelah menyeka wajah, dia mengambil tinta dan membuat catatan-catatan yang harus mereka diskusikan sebelum fajar menjelang.

1. Momok Wajah Ramah, berhasil dilumpuhkan dengan sendirinya kedatangan Sakta Glagah sudah terpantau—jika ada orang-orang kita yang menjumpainya, bawa dia ke Kuil Ireng.

2. Resep yang diberikan kepada Sakta Glagah, akan membuat guncangan pada Perkumpulan Garis Tujuh Laut bersama Delapan Sahabat Empat Penjuru, mereka akan segera bergerak.

3. Jika Garis Tujuh Laut bergerak dengan sendirinya perkumpulan Garis yang lain akan ikut bergerak memanaskan suasana.

4. Orang-orang Ketua Bayangan Naga, akan mulai memburu Paksi dan Kiwa Mahakrura, kita akan memberikan petunjuk pada Paksi, tentang adanya aku. Bahwa aku adalah adik dari Ketua Bayangan Naga.

5. Kiwa Mahakrura harus dilumpuhkan di pada saat mencari informasi kejadian di Gua Batu, dari mulutnya akan kita sebarkan informasi, Swara Nabya yang turun tangan.

6. Pisau Empat Maut, harus segera memberikan bantuan- bantuan padanya sesegera mungkin. Adiwasa Diwasanta bisa menjadi ujung tombak yang mematikan. Kita juga harus berhati-hati dengan posisi mereka, saat ini masih menjadi kawan, entah besok.

7. Meraup tenaga Pemabuk Berkaki Cepat yang sudah berhasil di provokasi. Mengarahkan mereka untuk mengepung Perguruan Naga Batu, buat suasana menjadi sangat meriah.

8. Riyut Atirodra, harus kita dapatkan jejaknya!

9. Bagaimana kondisi Jung Simpar saat ini?

10. Jejak Golok Sembilan Bacokan akan disebar di kota ini.

Sepuluh point yang di tulis Jaka masih memiliki banyak sisa pada halaman bawah, itu yang akan ditambahkan Ki Alih sekalian. Pemuda ini merebahkan badannya, dan memejamkan mata sekejap.

*d*wk*z*

“Apakah kita memiliki catatan mengenai anak muda itu?” tanya Adiwasa Diwasanta pada Alpanidra, mereka nampak keluar dengan santai melalui pintu gerbang dari bangunan yang baru saja ditinggalkan Jaka. Beberapa orang dengan sangat hormat mengantarkan mereka keluar dari gerbang!

“Tidak, kecuali informasi yang keluar dari mulutnya sendiri apapun kita tidak memiliki ikhtisar mengenai Jaka Bayu.” Sahut Alpanidra.

“Apakah tidak ada yang mengikuti pergerakannya?” “Pernah ada, tapi kepergok olehnya… dari pada kita

membangunkan harimau tidur terlalu dini, lebih baik saat ini fokus pada masalah yang terjadi saja.”

Adiwasa Diwasanta mengumam perlahan. “Anak itu sangat.. jenius.. ah bukan, mungkin lebih kepada cerdik dan jeli.. hm, entah bahasa apa yang tepat untuknya …”

“Pertemuan pertamaku juga menyimpulkan begitu. Kupikir, tadi sewaktu dia menghadapiku, akan mengeluarkan jurus yang pernah mengejutkan Harsa Banggi, tidak tahunya ilmu setan…” gerutu Alpanidra. “Kau dan dia setali tiga uang!” Sambungnya.

Orang itu tertawa. “Jika kau berkesimpulan begitu, maka aku akan sangat hati-hati padanya. Tahukah kau, gerakan yang di lakukan sebelum pukulannya menghentikan laju tenaga saktimu itu adalah enam belas macam gerakan dari dua belas perkumpulan berbeda?”

Alpandira tidak memberi komentar. Semula dia kira beberapa gerakan rumit yang ditarik berulang kali oleh Jaka adalah gerak tipu. Tapi setelah dipikir ulang, rentetan gerakan yang mengandung beberapa ciri gerak dari berbagai perkumpulan, adalah semacam ancang-ancang menuju satu titik kekhasan sebuah ilmu. Dulu saat dirinya menguasai ilmu pukulan yang sangat diidam-idamkan orang, untuk melepaskannya, lebih dulu butuh pengerahan dua belas gerakan khas dari pukulan tersebut, sebelum merambat menuju puncak. Saat ini dia sudah menyederhanakan menjadi satu gerakan saja. Dia berkesimpulan, apakah Jaka telah membuat dirinya menjadi ‘kelinci percobaan’ pukulan barunya? Karena untuk ukuran sebuah ilmu pukulan andalan, ancang-ancang yang dilakukan pemuda itu terlampau banyak—meski itu dilakukan dengan sangat cepat.

“Tapi yang paling menarik adalah, ada lima jenis tenaga yang berputar sangat cepat dalam lontaran pukulannya. Aku melihat sedikitnya ada tiga macam hawa sakti, yaitu; Hawa Dingin Penghancur Sumsum, Badai Gurun Salju, dan Hawa Bola Sakti, dua hawa sakti lainnya aku kurang tahu. Kelimanya berputar dengan sangat cepat, aku merasakan sebelum pukulan anak itu mengenai dirimu, paling tidak dia sudah melakukan dua kali sirkulasi kelima hawa murninya…”

Kali ini Alpanidra benar-benar terkejut. “Dia menguasai tiga ilmu mustika?”

Pertanyaan itu disambuti anggukan rekannya. “Pantas saja dia sanggup menahan Pancawisa Mahatmya…” desisnya.

“Meski aku melihat hawa itu selapis tipis, pandanganku tak bisa disangkal! Mungkin dari catatan Wrddhatapasa, kita bisa melihat masa lalu anak itu…” timpal Adiwasa Diwasanta.

“Ah…” Alpanidra tak berani berkomentar, Wrddhatapasa adalah sebutan umum pada Pendeta Tua, tapi yang di sebut Wrddhatapasa yang dimaksud rekannya itu hanya ada satu orang. Dia salah satu sesepuh Dewan Pelindung Ilmu Mustika, mungkin hanya Adiwasa Diwasanta yang bisa bebas ngobrol dengan orang yang disebut Wrddhatapasa.

*dw**kz*

Momok Wajah Ramah berada dalam kebimbangan besar, memasuki pusat kota di malam hari tak membuatnya merasa nyaman. Kali ini dia bahkan merubah caranya berpakaian dan raut wajahnya dengan samaran.

Dengan hati gelisah orang itu berjalan dengan mata berkisar waspada, seluruh tanda rahasia perkumpulannya bertebaran di tiap jalan. Beberapa dari tanda itu bahkan di buat oleh Bergola yang menyatakan: “Mencari rekan.”

Dalam banyak hal, Momok Wajah Ramah merasa bisa mengontrol Bergola, tapi setelah dirinya runtuh habis-habisan seperti saat ini, dia menjadi sangat kawatir jika berjumpa dengan rekannya itu. Dilain sisi, orang yang sudah melucuti dirinya juga merupakan kekawatiran terbesar baginya, untuk melakukan satu tindakan busuk lagi Momok Wajah Ramah harus berpikir ulang seratus kali. Momok Wajah Ramah berpapasan dengan penjual gorengan yang memikul bakulnya, penjual itu pulang dengan wajah riang, nampaknya laku semua. Mereka berselisih jalan dalam jarak sangat dekat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Momok Wajah Ramah berpikir; apakah dirinya harus mencari uang dengan cara berjualan?

Manakala pikirannya melayang kesana, penjual gorengan itu dengan kecepatan bagai kilat memukulkan pikulannya kepinggang Momok Wajah Ramah, lelaki ini terkesip. Dengan reflek dia menjatuhkan tubuhnya kedepan, mengambil kerikil dan disambitkan pada penyerangnya! Sayang, gerakan itu hanya terjadi diangan-angannya, sebab sabetan penjual gorengan itu datang lebih cepat. Tubuh Momok Wajah Ramah menggelosoh.

Sebelum tubuh itu jatuh, penjual gorengan itu sudah menangkap bahu lawannya. “Kau kenapa, apa kurang sehat tuan? Mari biar saya antar…” katanya dengan suara sumbang.

Mulut Momok Wajah Ramah terkunci gagu, dia ingin memaki kalang kabut, dia ingin supaya orang lain yang baru saja berpapas dengan mereka mengetahui bahwa dirinya di serang. Tapi orang itu hanya berhenti sejenak, melihat mereka berdua lalu berjalan menjauh. 

“Jika ingin menyamar, lebih baik kau potong kakimu…” Momok Wajah Ramah hanya mendengar satu kalimat itu sebelum akhirnya dia tak bisa mendengar apa-apa. Ya, pikirnya, tubuh yang lebih tinggi dari kebanyakan orang, memang menjadi ciri khasnya. Pantas saja orang itu menyarankan dirinya untuk memotong kaki. Momok Wajah Ramah hanya bisa merasa ketakutan dan keputusasaan melingkupi dirinya dengan sempurna.

**dw**

Sakta Glagah sudah ditinggalkan ketiga pengawalnya, dia memasuki sebuah rumah penginapan. Seorang gadis yang nampak kelelahan dan lemah tergolek di pembaringan. Hati lelaki ini nampak bergemuruh melihat ketidak berdayaan itu, tapi dilain sisi, dia juga merasa ada harapan tersemai saat melihat bungkusan kain dalam genggamannya. Bungkusan yang di serahkan seorang sahabat barunya yang aneh.

Lelaki ini meraba tuas yang terletak di belakang kanvas lukisan, begitu tuas ditarik, suara gesekan lirih di lantai menyingkapkan sebuah tuas pintu lain. Dengan tindak hati- hati, dibukanya tuas itu, serbuan udara pengap dari pintu yang terbuka itu menerobos kamar. Ternyata sebuah jalan rahasia bawah tanah. Begitu sirkulasi udara dalam lorong itu cukup baik bagi pernafasan orang yang sakit, Sakta Glagah mendukung gadis itu dengan sangat hati-hati, dan masuk kedalam lorong.

Tuas penutup pintu sudah dia tekan dari dalam lorong, kondisi kamar itu kembali sedia kala, bedanya kedua penghuni sudah tidak ada.

Dengan langkah terburu, Sakta Glagah menerobos kian dalam, setelah berjalan dengan lika-liku dengan banyak persimpangan yang memusingkan, akhirnya lelaki ini sampai pada pintu bercat putih. Perlahan didorongnya kemuka, pintu itu membuka keatas bukan kesamping, gerakan daun pintu menekan sebuah tuas kecil yang terhubung dengan tali. =d=wk=z=

Ting!

Denting lirih di salah satu rumah sesepuh Kota Pagaruyung membuat penghuninya saling pandang. Denting itu berarti ada sebuah pintu dalam ruangan bawah tanah yang terbuka.

“Dia sudah datang…” kata seorang perempuan tua pada suaminya dengan kegembiraan membuncah.

Ki Glagah mengangguk tersenyum, “Semoga dia dalam keadaan baik…”

Mereka berdua beranjak dari duduk dan masuk kedalam dapur, ternyata disanalah pintu masuk kedalam lorong tersembunyi. Keduanya bergegas menuju ruangan pertemuan, di sana sudah menunggu Ki Lukita yang turut merespon bunyi ‘ketukan meminta masuk’.

-o0dwkz0o-

97 – Kesimpulan Awal

Tak lama kemudian, Sakta Glagah muncul dengan membopong gadis yang kondisinya makin melemah. “Ayah…” suara lelaki gagah perkasa terdengar serak, dia menjumput jemari keriput Ki Glagah, dan diciumnya. Dengan satu tangan memeluk ibunya yang sudah mulai renta.

“Siapa dia?” tanya Ki Lukita setelah Sakta Glagah menyalaminya. “Aku tak bisa menjelaskan sekarang, bisakah ayah dan paman menolongnya?” pinta Sakta Glagah mendesak.

Ki Lukita cepat tanggap, dia memeriksa nadi gadis itu, sebagai orang yang dijuluk Tabib Manjur—bersama Ki Glagah, pendeteksian penyakit, atau luka dari nadi adalah sebuah kekhasan ilmu mereka.

“Aneh…” desis orang tua ini dengan kening berkerut. Sambil memastikan hasil pemeriksaan, Ki Lukita kembali memegang nadi di pergelangan tangan. Kerut pada keningnya makin dalam. Dengan seksama lelaki tua ini memperhatikan nafas gadis itu, terlihat panjang dan tersendat, kadang beraturan kadang pendek tak memiliki jeda, seolah sedang tenggelam.

“Kapan mulai mengalami pernafasan seperti ini?” tanya Ki Lukita membuat Sakta Glagah menggeregap.

“Mungkin, kemarin…”

“Aku tidak ingin mendengar kata mungkin, pastikan!” tandas Ki Lukita tegas membuat Sakta Glagah tergagu kawatir.

“Sebentar…” gumam lelaki ini memejamkan mata mengingat-ingat. Pada saat dia mendapat hadangan seorang yang aneh memasuki perbatasan Kota Pagaruyung, gadis ini masih bisa berkata-kata. Tapi teringat olehnya terkadang ada helaan panjang saat dia hendak mengatakan sesuatu, seolah itu pekerjaan paling berat.

“Dua hari lalu…”

“Kau yakin?” tegas Ki Lukita. “Ya, paman! Sebelumnya hanya tubuh terasa melemah, tapi selanjutnya untuk bernafas juga mulai ada kesulitan, puncaknya sesampainya saya disini.”

Ki Lukita mengangguk, dia memperhatikan pernafasan gadis itu lagi. Wajah tuanya terlihat menua beberapa tahun, dan itu tidak lepas dari pengelihatan Sakta Glagah.

Sakta Glagah melihat dengan sangat tegang, “Apakah ada yang salah?” tanyanya dengan kekawatiran kian membuncah.

Ayahnya menatap sang anak dengan heran, dia sangat mengenal pribadi anaknya yang sangat tenang dan penuh perhitungan, tapi apa yang ditampilkan saat ini sangat bertolak belakang, semua ketenangan berganti dengan ketidaksabaran berbalut ketergesaan.

Ki Lukita tak menjawab pertanyaan Sakta Glagah, dia memberi isyarat pada Ki Glagah untuk memeriksa. Dengan cekatan orang tua itu segera melakukan tindakan yang sama. Bermula nadi leher, lalu nadi pada pergelangan tangan. Ki Glagah nampak terkejut, dia menatap saudaranya dengan pandangan meminta ketegasan. Ki Lukita mengangguk perlahan.

“Ap-apa yang sebenarnya terjadi, ayah? Apa yang menimpa dirinya?” Sakta Glagah bertubi-tubi bertanya. Begitu besar kekawatirannya, membuat dia terlupa, masih ada resep yang bisa jadi meringkankan beban hatinya.

Sang ayah dan pamannya tidak menjawab, mereka memberi isyarat kepada ibu Sakta Glagah untuk membopong gadis itu keruangan lain. Jangan di lihat tubuhnya yang renta dengan gerak-gerik lambat, menghadapi ketegangan seperti itu, nyatanya wanita tua tersebut bergerak segesit macan kumbang. Gadis berbobot cukup berat itu di angkatnya tanpa kesulitan sama sekali.

“Tunggu disini!” kata ayahnya dengan tegas, membuat langkah Sakta Glagah terhenti, dengan kegelisahan menjadi, lelaki perkasa itu hanya bisa termangu dengan berjalan mondar-mandir.

=d=w= Pada waktu yang bersamaan..

Dini hari itu ruangan di rumah Mintaraga menjadi tempat berkumpul para tokoh yang memiliki nama menjulang mega, kecuali Jaka Bayu—yang tidak ternama sama sekali, semua yang duduk mengeliling meja itu adalah para ksatria yang memiliki perbawa menggetarkan. Kebanggaan membuncah dada sang tuan rumah, berganti hari dan kondisi lain, untuk melihat para tokoh ini berkumpul, adalah kemustahilan.

Kertas yang di tulis Jaka, kini berisi tulisan lebih banyak lagi. Tiap orang menuangkan buah pikirannya disitu. Karena itulah yang akan mereka bahas kali ini—hingga tuntas.

“…dari mana kau bisa mengambil kesimpulan itu?” tanya Sadhana sang Serigala, setelah menyimak cerita Jaka tentang pertemuannya dengan Adiwasa Diwasanta dan Alpanidra. Yang dimaksud kesimpulan disini adalah, ‘tuduhan’ Jaka kepada Alpanidra bahwa orang itu yang ‘mengamankan’ aksi Momok Wajah Ramah.

Jaka mengusap hidung. “Aku sudah bersua dengan Momok Wajah Ramah sebelumnya, ada racun yang khas yang dia bawa. Pada saat berjumpa dengan Alpanidra-pun aku mencium aroma yang sama. Sangat mudah menarik kesimpulan kalau dua orang itu sudah bersua, terlepas apapun yang terjadi diantara mereka.”

Sadhana mengangguk-angguk, dia menoleh ke Beruang yang dari tadi seperti ingin berbicara. Mendapat kode dari rekannya, Çudhakara mendehem sejenak. “Aku bersua dengan beberapa kenalanku dimasa lalu.”

“Maksudnya, mereka yang paman bawa?” tegas Jaka.

Çudhakara mengangguk. “Ya! Dulu mereka ada sekelompok, sekarang tinggal tiga orang saja. Dan saat ini mereka bekerja karena ditekan orang lain. Tapi bukan itu yang ingin kubahas…” lelaki itu mengeluarkan kain yang di lipat rapi. “Aku ingin kau memeriksa ini.” Katanya pada Jaka.

Jaka membuka bungkusan itu dengan antusias, sebuah noda kecoklakan dan kehitaman yang ada dalam dua cuil kain terbungkus jadi satu. Sebelum memeriksa lebih lanjut, Jaka menatap pada Beruang meminta penjelasan lebih lanjut.

“Itu adalah muntahan yang keluar dari lambung mereka, dan lainnya darah hidup yang sengaja kukeluarkan dari mulut mereka.” Tutur Çudhakara menjelaskan.

Jaka mengeluarkan pisau setipis kertas dan jarum perak dari balik bajunya—menatap pisau itu terulaslah senyum tipis, pemuda ini teringat wajah jelita nan sendu. Jaka menjangkau api penerangan dalam ruangan dengan tangan kosong, seperti sulap saja pemuda ini bisa mengambil api dengan tangan kosong, pada telapak tangan pemuda ini berkobar api dengan nyala yang merata, bermula berwarna merah, lamat- lamat hadirin bisa melihat api itu berwarna biru kehijauan. Jaka menggosokkan kedua tapak tangan yang dipenuhi kobaran api itu, dua cuil kain berbeda jenis entah sejak kapan sudah ada dalam gengamannya. Anehnya kain itu tidak terbakar sama sekali, seolah ada lapisan hampa udara yang melindunginya!

Mereka yang ada dihadapan Jaka adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, tapi yang diperlihatkan Jaka benar-benar sebuah teknik sulit, teknik tenaga di dalam tenaga. Satu tenaga panas ada diluar, satu tenaga yang melindunginya dari panas ada didalam kobaran hawa panas itu. Dan lamat-lamat, mereka seperti melihat ada uap yang keluar dari dalam kain itu melayang-layang.

“Ah, ternyata tiga tingkat…” gumam Ki Alih dengan menggeleng kagum. Tadinya dia berpikir apa yang dilakukan Jaka adalah mengerahkan tenaga di dalam tenaga, tapi tidak tahunya tenaga yang di sembunyikan untuk melindungi kain dalam kobaran api itu, masih terdapat satu tenaga lagi! Dan itu difungsikan untuk melindungi uap yang dihasilkan dari dua macam proses yang sudah terjadi, semacam proses ekstrak kondensasi yang sangat sulit.

Jaka mengibaskan tapaknya, dengan gerakan sangat cepat, buliran cairan yang didapat dari proses kondensasi itu, di tangkap dengan punggung pisau yang sudah disiapkan. Hanya ada dua jenis titik bulir air di punggung pisau, tentu saja Jaka tidak menangkap buliran itu dengan cuma-cuma, sebentuk tenaga yang membekukan sudah mengalir pada pisau—untuk menahan penguapan. Semua hadirin hampir- hampir menahan nafas mengikuti betapa sulitnya proses yang terjadi. Dengan sangat hati-hati, Jaka mencelupkan jarum peraknya pada bulir pertama yang dihasilkan dari mutahan. Dengan seksama, Jaka melihat perubahan pada ujung jarumnya yang mulai menghitam dan akhirnya membuat jarum peraknya berkarat. Wajah pemuda ini terlihat sangat serius, dengan hati-hati, dia mencabut jarum kedua dan di masukkan kedalam bulir cairan kedua—yang dihasilkan dari mutahan darah hidup. Tidak ada reaksi apapun, kecuali ada warna semu hijau yang sangat tipis tersaput diujung jarumnya.

“Aku berterima kasih dengan apa yang sudah paman bawa ini.” Kata Jaka memecah keheningan. “Kita memperoleh kemajuan untuk menyimpukan persoalan bias ini…”

“Apa yang kau dapat?” Tanya Çudhakara kebingungan. Jaka menghela nafas sejenak. “Pernah dengar, Saudara

Satu Atap?” Tanya Jaka dengan menatap wajah-wajah dihadapannya.

Semua orang menggeleng, hanya Sadhana saja yang mendadak wajahnya memucat. “Kau dengar itu dari mana?”

Terulas senyum pahit di bibir pemuda itu, “Aku tidak mendengar, aku mengalami…” desisnya. “Silahkan paman jelaskan!” pinta Jaka dengan nada penuh tekanan, membuat pertanyaan yang diujung lidah Sadhana tertelan kembali.

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Saudara Satu Atap… sejauh yang aku tahu adalah perkumpulan paling tua yang pernah ada. Kalian mungkin pernah mendengar cerita asal muasal saudara seperguruan Tabib Hidup-Mati dan gurunya. Apa pendapat kalian?” tak menunggu jawaban orang lain, Sadhana meneruskan ulasannya. “Pada akhirnya kita akan mengambil kesimpulan bahwa; dasar dunia persilatan yang ada saat ini, dibentuk oleh mereka. Dengan cara penyeragaman—satu visi, satu pikiran, dan penghilangan terhadap hal yang menentang pola pikir mereka.“ Sadhana menarik nafas sejenak. “Tapi jika harus membicarakan Saudara Satu Atap… apakah ada yang tahu bahwa guru Tabib hidup-Mati adalah anggota Saudara Satu Atap?”

Keterangan itu benar-benar membuat semua hadirin terkejut. Sang tabib dipandang oleh sebagian kalangan, seperti dewa. Kebolehanya dalam beragam disiplin ilmu membuatnya bisa melakukan hal yang dianggap mustahil, termasuk menciptakan dan menggembleng seorang berjuluk Tabib Hidup-Mati yang pada akhirnya menumpas pergerakan para saudara seperguruannya.

“Sebenarnya itu perkumpulan macam apa?” Tanya Pariçudha dengan tenggorokan tiba-tiba terasa kering. Tanpa sadar diraihnya segelas air, entah sejak kapan ketegangan merambati hatinya.

“Tidak ada yang tahu itu perkumpulan macam apa, tapi mengingat Sang Lila adalah anggota mereka…”

“Sang Lila itu julukan guru Tabib Hidup Mati?” potong Ki Alih bertanya.

Sadhana mengangguk. “Ya, julukan yang berarti pelaku kesenangan… konon semua yang dilakukan hanya untuk kesenangan semata. Aku tidak tahu lebih lanjut keterangan mengenai perkumpulan itu. Hanya saja setelah Jaka menyinggung perkumpulan tertua itu, aku jadi teringat tentang beberapa masalah yang mengganjal di benakku, dan dapat sedikit menyimpulkan hal aneh…” Tidak ada yang mencoba menyela ucapan seorang Jirnnodhaçakti (ahli membangun hal-hal yang hancur—ahli rekontruksi). “Bagaimana jika Sang Lila ternyata mendapat perintah dari Saudara Satu Atap untuk membasmi seluruh insan persilatan? Maksudku, mereka-mereka yang tahu perihal Saudara Satu Atap?! Coba kalian pikir, apa gunnya dia menelurkan tiga orang murid yang kemudian mengaduk-aduk insan persilatan dengan racun ganas, sebelum akhirnya dia ‘munculkan’ murid terakhir sebagai juru selamat? Kita mungkin menganggap itu sebagai penyesalannya, untuk memperbaiki keadaan, tapi pada akhirnya semua jalur ilmu para tokoh yang menjadi korban mereka kuasai, dengan alas an untuk mewariskannya kembali pada keturunan para korban. Kedengaran seperti pahlawan…” sampai disini Sadhana setengah menggeram.

“Tapi, semua kabar yang beredar itu terdengar dibagiku itu adalah cerita sampah! Aku mengetahui informasi inipun dari seorang tua yang masih hidup pada zaman kekelaman itu, saat ini dia sudah meninggal.. tapi dia mewariskan kepadaku fakta-fakta yang harus kurangkai… yang tak juga selesai hingga kini. Sampai saat ini aku tidak pernah berani berpikir bahwa kejadian masa lalu memang untuk ‘membungkam’ tentang keberadaan Saudara Satu Atap.”

“Itu akan kita bahas nanti paman…” sela Jaka. “Kurasa semua orang sudah paham dengan maksudku, siapa gerangan Saudara Satu Atap.” Kata pemuda ini menatap rekan-rekannya dengan tajam. “Jika kesimpulanku benar, kita akan menghadapi badai pembunuhan kedua… kali ini, akan jauh lebih dahsyat dari masa lalu!” Perlahan namun pasti bulu kuduk mereka meremang. Hastin yang paling malas mendengarkan segala macam ulasan pun menjadi lebih memfokuskan perhatiannya.

“Apa yang diambil dari tawanan paman Çudhakara, adalah racun yang dipakai oleh Saudara Satu Atap. Racun ini sangat murni, sama sekali tidak ada perubahan dalam pembuatannya. Aku cenderung menyimpulkan orang yang menggunakan racun ini tidak tahu menahu sejarah dibalik pembuatannya. Pengetahuan ini mutlak tidak mungkin di simpulkan oleh orang lain, kecuali para kerabat Tabib Hidup- Mati yang paham benar dengan cara kerja Saudara Satu Atap. Apakah sudah ada yang menangkap apa yang ingin kukatakan?”

Semuanya menggeleng.

Jaka menghembuskan nafas begitu perlahan. “Ada pihak yang mengetahui secara jelas hal yang menjadi larangan… larangan itu adalah untuk mencari tahu keberadaan Saudara Satu Atap.”

Jaka kembali menatap rekan-rekannya dengan sorot tegas. “Siapapun mereka, jika ada sepercik informasi tentang kalangan yang berhulu kepada Saudara Satu Atap… mereka—Saudara Satu Atap akan memburu mereka, dan melenyapkannya seperti yang telah disimpulkan paman Sadhana.”

“Tapi, camkan ini! pihak ini—pihak perancang keonaran ini, justru menginginkan sisa-sisa pengetahuan tentang Saudara Satu Atap dibangkitkan lagi! Pihak ini menyadari, untuk melawan Saudara Satu Atap adalah sebuah kemustahilan. Hal yang paling mungkin adalah memberi rangsangan-rangsangan kejadian disetiap penjuru, untuk mencari tahu siapa-siapa saja yang sanggup mengambil kesimpulan secara benar— setidaknya mendekati kebenaran! Jika pihak-pihak itu telah ditemukan… dan jika kita ternyata dapat mengambil kesimpulan benar, maka detik ini juga kita sudah menjadi bidak catur orang itu! Sadar atau tidak, kita akan digunakan sebagai alat untuk melawan Saudara Satu Atap!” tutur Jaka menutup penjelasannya, membuat ketegangan makin terasa.

“Tentunya, menjadi bidak bersamaan dengan kerabat Tabib Hidup-Mati…” gumam Hastin berkesimpulan.

“Tepat!” seru Jaka dengan darah bergelora, terbakar semangat. Sebab sebuah penggalan epik kejadian di masa depan yang akan menguncang sendi-sendi kemanusiaan harus mereka lindungi mati-matian. “Aku tinggal menyimpulan satu hal untuk memastikan bahwa pembicaraan kita ini, benar!”

“Apa itu?” Tanya Ki Alih. “Ah… jangan kau katakan bhawa itu adalah resep obat yang kuberikan pada Sakta Glagah?!” seru Ki Alih tak dapat membayangkan tokoh semacam Sakta Glagah digunakan menjadi batu uji bagi kesimpulan Jaka.

“Sayang sekali paman, memang itu yang kumaksud!” kata Jaka dengan tersenyum. “Kita akan menunggu hasil pengobatannya!”

=de=kz=

Istri Ki Glagah sudah melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan gadis itu, kini dia hanya mengenakan selembar kain putih yang di tutupkan begitu saja. “Kau siap adi?” Tanya Ki Glagah pada Ki Lukita, guru Jaka Bayu itu mengangguk dengan tegang.

Apa yang akan mereka lakukan adalah menutup Sembilan puluh empat saraf yang tersebar dari Jiangming-Chingming, hingga Zhiying-Chihyin yang bermuara pada meridian kandung kemih—dari kepala, punggung hingga tulang ekor— itu adalah enam puluh tujuh bagian yang akan dikerjakan Ki Lukita. Sementara Ki Glagah sendiri menangani dua puluh tujuh titik dari mulai Yongquan-Jungchuan hingga Shufu yang bermuara pada meridian ginjal—itu ada dibagian dagu hingga lambung.

Jumlah yang akan dikerjakan Ki Glagah lebih sedikit bukan berarti lebih mudah, justu itu bagian paling sulit, karena dia harus menyesuaikan tiap penutupan syaraf yang di lakukan oleh Ki Lukita. Keduanya saling tatap dan menyelaraskan nafas, kesalahan dalam penyelarasan nafas dapat membuat jeda waktu totokan berbeda, dan itu akan mengakibatkan cacat permanen pada si gadis.

Ibu Sakta Glagah menatap keduanya dengan tegang, tugasnya adalah menyambung simpul tenaga yang di lakukan kedua orang itu. “Mulai!” desisnya dengan konsentrasi memuncak.

Kedua orang itu membentak bersamaan, dan detik itu juga, desingan totokan menyayat kebekuan udara di bawah tanah. Bahkan Sakta Glagah di luar kamar dapat mendengar desingan-desingan totokan. Suara yang sangat biasa baginya, kini membuat keringat didahi jatuh berderai tak henti-henti dengan kecemasan memuncak. Waktu yang dibutuhkan orang tua dan pamannya untuk melakukan proses itu tidak sampai seratus hitungan, tapi lelaki perkasa ini seolah merasa itu adalah saat paling berat dan mencekam dalam hidupnya. Dia lebih suka dirinya yang mengalami kejadian itu.

Pintu kamar terbuka, degup jantung Sakta Glagah makin berkejaran. Menyaksikan ketiga wajah tua itu mengerut penuh peluh.

“Bagaimana ayah?” tanyanya dengan terburu.

Ayahnya mengangkat tangan sebagai isyarat baginya untuk bersabar. Barulah Sakta Glagah menyadari, ketiga orang tua itu dalam kondisi kuyu dan terengah. Padahal dia tahu benar ilmu-ilmu ketiga orang tua itu jelas lebih matang darinya, tentu pengobatan yang dilakukan tadi benar-benar menguras tenaga.

“Sementara dia aman ngger…” ibunyalah yang menyahut.

Jawaban ibunya membuat Sakta Glagah menghela nafas lega, seolah beban yang selama ini menekan batinnya terhempas sama sekali.

“Tapi itu tidak bisa bertahan lama, kita harus mencari obat yang tepat!” sambung ibunya lagi.

“Ah, alangkah bodohnya aku!” seru Sakta Glagah dengan suara girang, dia buru-buru mengeluarkan kain yang di dapati dari sahabat yang aneh. Diserahkan kain berisi resep itu pada ibunya.

Wanita tua itu membaca dengan hati-hati, wajahnya menampilkan rona tak percaya. “Biar kulihat,” pinta suaminya.

Ki Glagah membacanya, sebuah resep tertulis bahan- bahan yang mustahil didapat, jika itu bukan perkumpulan mereka! Itulah yang membuat Sakta Glagah sangat terkejut saat membaca resep tersebut. Akar Bunga Gurun, Daun Kurumbhagi, dan Buah Jalanidhi. Ketiga unsur itu hanya ada di perkumpulan mereka. Buah Jalanidhi mungkin termasuk hal umum—meski sulit didapat—tapi bukannya tidak bisa dicari, buah ini dapat digunakan sebagai obat bius. Sedangkan Akar Bunga Gurun jelas merupakan produk yang tak mungkin ditemukan oleh pihak manapun, kecuali kau mengetahui adanya Perkumpulan Garis Tujuh Lintasan. Teristimewanya Daun Kurumbhagi, daun langka berbentuk seperti pisau; berkhasiat untuk menghentikan pendarahan seketika, itu tidak akan bisa ditemukan ditempat lain, kecuali di Kalangan Garis Tujuh Laut, perkumpulan mereka!

“Siapa yang memberikan resep ini?” Tanya Ki Glagah dengan nada prihatin, dari ulasan dalam resep tersebut, Ki Glagah bisa menyimpulkan orang yang menulis itu adalah orang yang sangat paham tentang pengobatan dan berpengalaman luas. Dan yang jelas kemungkinan orang itu mengetahui keberadan mereka, di Kota Pagaruyung.

Sakta Glagah menceritakan pengalamannya saat melintasi perbatasan kota itu. “… satu hal yang menyita perhatianku hingga kini adalah pukulan yang dilakukan orang itu. Bermula aku mengira dia dapat membuat detak jantungku dipacu belasan kali lebih cepat, tapi kupikir-pikir kemampuan semacam itu adalah mustahil, tanpa ada bentrokan langsung. Saat ini aku berkesimpulan, kedatanganan orang itu adalah untuk meminta perhatianku.” “Apakah ada kemungkinan orang itu ada dalam pihak yang sama?” gumam Ki Lukita dengan berpikir keras.

“Maksud paman?” Tanya lelaki ini kurang jelas.

“Orang yang melukai gadis itu, dan pemberi resep obat adalah pihak yang sama…” simpul Ki Lukita.

Sakta Glagah tercenung, “Aku tak dapat menyimpulkan hingga sejauh itu. Sebab siapapun orang itu, akan sangat bodoh berupaya mengusik kalangan kita!” tegasnya dengan mata berkilat. “Lalu… apakah resep itu memang cocok?” sambungnya dengan nada penuh harap.

“Ya,” Jawab Ki Lukita membuat kegembiraan Sakta Glagah membuncah. “Sayangnya kami tak dapat melakukan itu…” kalimat terakhir membuat harapan Sakta Glagah seolah musnah.

“Tapi kau tak perlu cemas, murid pamanmu dapat melakukannya.” Kata sang ibu memastikan.

“Murid?” Sakta Glagah bertanya penuh keheranan. “Apakah paman mengangkat murid baru tanpa sepengetahuanku?”

Ki Lukita mengangguk. “Belum sampai sepekan ini.” Katanya sambil tersenyum, mengingat Jaka Bayu yang penuh gairah dalam melakukan berbagai hal, membuat lelaki tua ini rindu dengan murid barunya itu, dan kejadian saat ini dapat menjadi alasan memanggil murid terakhirnya itu untuk pulang.

Sakta Glagah menatap pamannya dengan tercengang, memangnya murid yang diangkat dalam waktu satu pekan, dapat mewarisi kemahiran macam apa? Keingintahuan tentang murid baru sang paman menggelitik batinnya.

Ki Lukita menekan tuas di bawah meja, tak berapa lama muncul laki-laki paruh baya menghadap.

“Ada tugas apa, Ki?”

“Undang pulang murid terakhirku…” perintah Ki Lukita. “Baik.”

Langkah menjauh pesuruh itu membuat Sakta Glagah makin penasaran dengan sosok murid sang paman. Ah persetan, pikirnya. Toh sebelum sore nanti aku akan berjumpa dengan dia! Pikirannya melayang-layang memastikan apa yang harus dia lakukan jika murid baru sang paman ternyata tidak becus dalam upaya penyembuhan!

--dwkz--

98 – Jalada, Sang Baginda

Pariçuddha membaca kesimpulannya sendiri berulang kali, tapi dia masih tidak terlalu yakin. “Aku masih kurang memahami dengan rencana Ketua Bayangan Naga, sebenarnya apa yang harus mereka percepat?”

“Banyak hal paman,” jawab Jaka. “Bagi mereka yang memiliki penopang informasi yang sudah cukup mengakar di kota ini, tidak mengetahui latar belakang para penghianat— atau yang dimungkinkan berkhianat, adalah kemustahilan.” “Jadi, Kiwa Mahakrura dan Paksi sudah dapat mereka endus?”

“Pasti!” tegas Jaka, pemuda ini memang sudah menceritakan hasil dari pekerjaannya. “Mungkin mereka memang harus membayar mahal dengan siasatnya, tapi aku yakin, dia tidak akan membiarkan ini terjadi. Arseta itu lelaki yang memiliki tulang…” kata Jaka dengan tersenyum.

Hadiri paham dengan apa yang dikatakan Jaka, ‘memiliki tulang’ adalah kiasan untuk pekerja keras, atau berhati keras.

“Kalau begitu, apakah Kiwa Mahakrura, akan menjadi tanggungan kita atau Ketua Bayangan Naga?” Tanya Cambuk dengan mata masih merah, rasa kantuk belum sepenuhnya hilang.

“Kita tidak akan bertindak apapun pada orang itu, sudah menjadi tanggung jawab Ketua Bayangan Naga untuk membereskan kekacauan di tubuhnya sendiri.”

“Uh…” Hastin merasa kecewa dengan keputusan Jaka. Jaka tersenyum. “Aku paham engkau bosan paman,” “Bosan setengah mati!” sungut Hastin.

“Membiarkan pihak lain untuk mengurusi, bukan berarti kita diam saja, paman.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan? Terus terang aku sangat malas, bosan, capek untuk mematai-matai orang!”

Jaka menganguk-angguk. “Aku paham, kini saatnya membiarkan mereka mengetahui jejak kita!” Keputusan itu membuat Hastin tertawa lebar.

“Apa kau gila?” seragah Penikam. “Ini sangat tidak bisa diterima, akan membahayakan pergerakan kita disini!”

“Aku tidak setuju dengan pendapatmu!” Kata Hastin pada Penikam. “Membiarkan mereka tahu tentang kita bukan berarti membahayakan kegiatan kita. Sebab aku akan memastikan itu tidak akan terjadi, benar begitu Jaka?!” kata Hastin penuh tekanan.

Jaka tertawa. “Jika itu yang diharapkan… maka jadilah!” ujar pemuda ini menyetujui. Orang seperti Hastin memang tidak mungkin di kekang kebebasan geraknya, hal yang paling tepat untuk orang semacam Hastin adalah melabrak Kiwa Mahakura dan para kerabatnya. 

“Lalu untuk memberikan mereka kesan bahwa, kita ada… apa yang akan kau lakukan paman?” taya Jaka memastikan.

Hastin Hastacapa menyeringai. “Aku tidak menyombongkan diri, tapi kepalanku sangat terkenal. Aku akan membekuk anak itu di tempat yang hanya diketahui kalangan mereka sendiri!”

Jaka diam termenung, maksud Hastin sangat jelas dia akan melabrak di sarang mereka sendiri, “Begitupun baik!”

“Tapi pihak Ketua Bayangan Naga bukankah tidak akan tinggal diam?” sela Pariçudha.

“Benar. Mereka akan bergerak mengurus Kiwa Mahakrura, paman Hastin juga akan mengurusnya. Dan nantinya akan ada orang yang mengurus kalian…” Hastin hampir menyela ucapan Jaka tapi pemuda ini mengangkat tangannya memberi isyarat dirinya belum selesai bicara. “Mereka bisa jadi adalah pihak penggagas keributan disini. Aku tidak tahu apakah mereka ada dipihak yang sama dengan pemilik bunga di Perguruan Naga Batu, atau tidak… akan kita pastikan setelah hal itu berlangsung.”

Hastin nampak masih penasaran. “Aku tidak suka jika ada orang yang bermain dibelakangku, apa aku harus menghajar mereka juga atau aku harus berpura-pura kalah? Argh! Aku tidak bisa belaku seperti itu!”

“Tentu saja tidak…” jawab Jaka tertawa geli. “Merupakan kebebasan penuh bagi paman untuk melakukan apapun bagi para penguntit… menghajar mereka pun menjadi cara yang tepat untuk memberitahu sekelumit keberadaan kita. Ohya, hampir aku lupa… selain keberadaan kita, Swara Nabhya juga dilibatkan, paman…” Jaka juga menunjuk pada catatan yang sudah dibuatnya, supaya Hastin tidak terlupa, disana disebutkan bahwa; dia, akan dimunculkan dalam rumor sebagai adik Ketua Bayangan Naga

“Baik! Bagus sekali!” seru Hastin berkali-kali sambil mengiyakan, jika ada orang yang paling suka bertempur dalam segala kondisi, hanya Hastin Hastacapala orangnya.

“Jaka, aku masih tidak paham dengan obat yang kau berikan padanya…” tiba-tiba Pariçudha meminta kejelasan tentang obat yang di berikan pada adik iparnya.

“Saat aku memasuki tempat mereka aku mencium bau obat yang khas, tak perlu kujelaskan itu obat macam apa, tapi aku tahu bahwa mereka meramu secara salah, dengan tempat pengobatan yang salah pula! Apa yang sedang mereka buat itu obat yang digunakan untuk menunda racun bekerja, paling lama enam hari… dan aku memberikan obat yang serupa dengan takaran dan cara lebih tepat, serta dosis lebih besar.”

“Oh, itu mengapa kau mengatakan itu hanya sementara?”

Jaka mengangguk. “Dari aroma obat itu aku dapat menyimpulkan bahwa; pergerakan Ketua Bayangan Naga sebenarnya tersandera. Aku hanya melonggarkan ikatan pada mereka, akan kita amati apa yang akan mereka lakukan… ini adalah titik balik rencana kita.”

“Aku tidak melihat adanya titik balik!” seru sebuah suara yang dingin membuat orang-orang berpaling kepada sosok tinggi besar dalam balutan baju putih.

“Ah, ayolah paman Jalada… kau membuat ini tampak sulit.” Kata Jaka dengan tertawa lebar, sosok bernama Jalada lebih dikenal dengan julukan Baginda, orangnya sangat sulit diajak berbicara—hampir seperti Hastin, tapi lebih keras kepala, sulit di redam jika sudah ada kemauan, begitupula jika ada sesuatu yang disimpulkan, akan sulit untuk merubah pola pikirnya. Baginda baru saja sampai dari pekerjaan yang membosankan—begitu menurutnya.

“Aku tidak ingin menerangkan secara detail, karena waktu kita tidak banyak. Jadi begini, kenapa kukatakan sebagai titik balik? Karena obat yang kuberikan itu akan menerangkan banyak hal… sangat banyak, itu saja!”

“Jelaskan!” desak Jalada dengan nada tajam.

“Ah…” Jaka menggeleng-geleng kehabisan akal, mengadapi orang satu ini, dia sering mati kutu. “Baiklah, baiklah…” katanya menyerah. Beberapa orang tampak tersenyum, kehadiran Baginda terkadang menyebalkan—jika tak ingin disebut sangat dihindari, tapi pada waktu-waktu tertentu—dimana Jaka tidak ingin mengatakan lebih detail, kehadiran Jalada—Baginda si tukang paksa, sangat diperlukan.

“Kukatakan tadi, pembuatan obat ini harus dengan aroma tepat dan pada tempat yang tepat. Dengan resep yang kuberikan, mereka akan bergerak mencari tempat yang tepat untuk menghasilkan aroma obat yang pas. Dalam waktu yang sangat singkat ini daerah yang paling memungkinkan mereka tuju hanya, Sungai Batu. Tepatnya air terjun Watu Kisruh.”

“Bagaimana bisa begitu?!” Tanya Baginda membuat Jaka seperti di todong.

Jaka menghela nafas panjang antara dongkol dan geli. “Obat yang kuberikan adalah penangkal racun jenis lembita— mengantung, racun ini berdaya rusak ganas, jika pengobatannya salah, satu demi satu ruas tulang tak akan terikat otot lagi. Tapi salah satu kelemahan racun jenis lembita ini pun sangat fatal, dengan dosis tepat dan tempat yang tepat, penyembuhannya hanya akan berlangsung dalam setengah hari saja, meski kau terperangkap racun selama bertahun-tahun. Hawa yang dihasilkan air terjun dengan suara deru yang menghentak dada, ditambah obat yang tepat, akan sangat cepat menguraikan racun ini. Tabib yang di miliki Ketua Bayangan Naga pasti bisa memahami cara pengobatan yang kuberikan itu.”

“Aku sudah paham, lalu kaitannya dengan titik balik?!” seru Baginda tak sabar. “Racun itu tidak sembarangan kau dapat, meski itu adalah kerabat Tabib Hidup Mati, dia tidak akan pernah terpikir untuk membuat racun ini, sebab ada satu jenis bahan pembuatannya yang hanya di kuasai oleh golongan tertentu.” Jaka mengangkat jarinya memberi isyarat pada Baginda untuk tidak menyela. “Aku tidak tahu itu golongan apa, tapi jika benar racun itu yang digunakan… kita dapat melihat ekor penggagas kekacauan ini!”

“Aku masih tidak paham dengan titik balik!” kali ini Hastin berseru tidak sabar, membuat Jaka tertawa.

“Aku memang belum menjelaskannya,” ujar pemuda ini. “adalah mutlak, Ketua Bayangan Naga dalam pengawasan pihak ini… pada saat mereka menuju air terjun Watu Kisruh, merekapun akan datang kesana untuk mengawasi.”

“Ah…” Penikam berseru tanggap, dia segera keluar dari ruangan untuk segera mencari orang-orangnya, menempatkan mereka di sekitar air terjun Watu Kisruh. Jaka tersenyum senang melihat reaksi Penikam yang cepat.

“Saat korban terbebas dari racun, mereka akan sangat antusias bertanya dari mana datangnya penangkal.”

“Bertanya?” ujar Hastin kurang paham.

“Aduh paman, kenapa kau tanyakan bahasa bertanya segala? Itu sama dengan bahasa yang kau gunakan, mungkin lebih dari itu…” jelas Jaka setengah dongkol.

Beberapa orang tertawa, bahkan Baginda orang yang sangat kaku itupun tersenyum tipis, bahasa tanya milik Hastin adalah kepalannya, dia tidak pernah menyampaikan ‘pertanyaan’ dalam kalimat yang wajar. “Jadi..” lanjut Jaka. “Kita akan mengikuti tiap orang yang datang-pergi, dari dan ke air terjun Watu Kisaruh!”

=dw=kz=

“Dia bernama Prawita Sari…” Sakta Glagah mulai menjelaskan pada orang tua dan pamannya. “Calon Ratu Kerajaan Rakahayu…”

“Itu belum menjelaskan kenapa kau begitu panik!” desis ayahnya dengan nada tajam.

“Dia… putriku!” kata Sakta Glagah perlahan dengan wajah tertunduk.

“Apaaa?” ketiga orang tua itu terkejut bukan kepalang.

Sakta Glagah sudah memiliki keluarga, dengan dua orang anak, putra-putri. Dan semuanya ada bersama mereka, di kota Pagaruyung ini. Bagaimana mungkin datang satu orang anak lagi?

“Kau harus menerangkan dengan sangat jelas… sejelas- jelasnya!” kata Ki Glagah dengan nada penuh tekanan, wajahnya nampak berkerut tidak senang.

=dw=kz= Pada waktu bersamaan…

Wangkar—si Momok Wajah Ramah, mengejapkan matanya berulang kali, ruangan yang terang itu membuat dia harus menyesuaikan pengelihatan. Dia bersumpah akan menguliti orang yang sudah memperlakukan dirinya seperti pesakitan. “Ah, kau sudah sadar?” sebuah suara asing menyapanya. “Siapa kau?!” Tanya Wangkar dengan kegeraman

memuncak.

“Maafkan aku jika membuatmu tidak nyaman, tapi ini demi keselamatanmu sendiri… aku butuh bantuanmu!” kata orang itu sambil membebaskan totokan pada Wangkar.

Lelaki ini menatap si penyergap dengan otak yang mengaduk-aduk ingatan. “Kau.. kau… Netracurik?!”

“Ya, ini aku. Kita sudah pernah bekerjasama…” pada saat mengatakan ‘bekerjasama’ Netracurik sudah mencekal pergelangan tangan Wangkar yang melakukan pergerakan kecil—nyatanya orang ini sangat teliti dan waspada. “Jangan coba-coba!” desisnya. “Jika aku bermaksud membunuhmu, kau sudah mati dari tadi!”

Wangkar menghela nafas, apa yang dilakukannya adalah reflek. Saat ini dia benar-benar hilang pertimbangan. Dia tak tahu harus melakukan apa. “Katakan padaku, apa yang membuatmu melakukan hal ini padaku?”

Netracurik melepaskan gengamannya, dia memberikan secangkir air jahe pada Wangkar. “Kau tahu, jika dirimu sedang dijadikan umpan?”

Pertanyaan itu membuat Wangkar hampir saja tersendak. “Maksudmu?”

“Apa tugas terakhirmu?” Tanya Netracurik. Wangkar menelan ludahnya berkali-kali. Netracurik mengingatkan dirinya pada tugas terakhir yang merupakan keruntuhan total seorang Momok Wajah Ramah.

“Katakan padaku, apa kau sudah melakukan hal itu atau belum?!” desak Netracurik dengan nada meninggi. Nampaknya dari pertanyaan terakhir Netracurik sudah tahu apa tugas Wangkar.

“Ak-aku sudah melakukannya…” jawab Wangkar dengan menggertak gigi.

“Apa yang terjadi?” kejar Netracurik dengan tegang. “Tidak ada…”

“Apa maksudmu tidak ada?!”

“Dengar! Momok Wajah Ramah sudah mati! Aku gagal! Kau dengar?!” teriak Wangkar setengah membentak dengan berdiri. Lalu dia terduduk dengan tubuh lunglai, melakukan hal jujur memang berat, tapi setelah dia katakan itu, dadanya terasa ringan.

“Oh, syukurlah…” Netracurik merasa sangat lega.

“Apa apa denganmu?!” bentak Wangkar dengan suara meninggi.

“Dengar, aku sudah di jebak oleh Lindu Wastu untuk melakukan kegilaan yang tidak pernah kusadari akibatnya. Untung saja aku diselamatkan oleh keadaan…” Netracurik tidak mau mengatakan kenapa dirinya gagal, sebab dia merasa keberadaan Jaka Bayu sekalian bisa menjadi pelindung baginya. “Secara diam-diam aku mendengar tugasmu dari Bergola. Dia sedang melaporkan kelakuanmu pada pimpinannya. Kupikir Bergola akan kena semprot karena merasa tidak nyaman dengan prilakumu, tak tahunya ketua kalian menjawab, ‘dia akan jadi batu loncatan yang berharga’… aku tidak berani mendengar lebih jauh, kemampuan ketua kalian diatasku, aku kawatir kepergok.”

“Apa alasanmu dengan tindakanmu ini?

Memperingatkanku?!”

“Kau ini tolol atau apa?” bentak Netracurik. “Aku memang bukan orang baik-baik, tapi aku memegang janjiku pada istriku—Winarsih!”

Wangkar hendak mengatakan sesuatu tapi dia tak jadi, nama Winarsih membuatnya membeku… dia memiliki seorang adik yang sangat dicintai, dan adiknya itu menikah dengan seorang bajingan besar seperti dia. Wangkar tak bisa menerima itu, bagaimanapun buruk prilakunya, dia tetap menginginkan adiknya hidup bahagia dengan orang biasa. Dia tidak pernah tahu orang macam apa suami adiknya itu, tapi dia bersumpah jika orang itu menelantarkan adiknya, dia akan membunuh tanpa ampun. Namun adiknya berhasil menyembunyikan diri dengan baik, bahkan suaminyapun bisa menutup identitas dengan baik. Sungguh tidak disangka Netracurik adalah suami adiknya!

“Aku berjanji pada istriku untuk menjaga dirimu!” desis Netracurik.

Wangkar tergagu dengan perasaan campur aduk. “Bagaimana keadaannya?” Tanya Wangkar dengan suara serak. “Aku… aku meninggalkannya beberapa waktu terakhir ini… tapi dia baik-baik saja.” Tutur Netracurik dengan wajah tertunduk, saat ini dia tak ingin menjelaskan derita dirinya dalam upaya kembali menjadi ‘seorang lelaki sejati’, sampai- sampai dimanfaatkan Lindu Wastu tanpa sadar.

Sepi menggigit dikeheningan pagi itu.

“Kau mau aku melakukan apa?” Wangkar bertanya dengan suara lemah.

“Bukan, kau. Tapi kita!” tegas Netracurik sambil mengecilkan lentra di ruangan itu. “Aku memiliki satu rahasia yang harus kubuktikan sebelum akhirnya kita serahkan pada pihak yang tepat!”

Alis Wangkar terangkat satu, “Rahasia?”

Netracurik menggigit bibirnya. “Aku tidak akan menceritakan sekarang, bagaimanapun juga aku tak mungkin tolol dengan percaya begitu saja padamu!”

“Ya, kau memang harus begitu…” ujar Wangkar dengan tersenyum pahit.

“Tapi kau bisa mengetahui satu hal,” ujar Netracurik dengan menatap Wangkar dalam-dalam. “Kerajaan Rakahayu dengan Kadungga akan segera berperang!”

Wangkar tampak tidak antusias. “Bukan urusanku…” gumamnya.

“Harus! Sebab Winarsih dianggap menjadi mata-mata Kadungga saat Prawita Sari hilang dari istana!” Wangkar jatuh terduduk, dengan wajah tampak tidak percaya. Dulu, dia dengan Bergola pernah ditugaskan untuk menculik Prawita Sari, sebelum akhirnya tugas itu di gantikan oleh tiga orang yang pada akhirnya digagalkan Sakta Glagah. Tragisnya dia malah ditugaskan untuk menganggu kedatangan tiga orang dari Perguruan Sampar Angin yang mengiringi tokoh besar! Lebih tidak di sangka lagi, ternyata adiknya menjadi dayang di istana!

“Kau bajingan pembohong! Kau bilang tadi dia baik-baik saja!” Wangkar memukul Netracurik dengan membabi buta. Dan lelaki itu tidak berusaha menghindar, bagaimanapun kejadian itu memang kesalahannya. Rasa sakit yang dideranya itu adalah hukuman yang wajar, bahkan kurang!

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” bisik Wangkar dengan terengah-engah melihat wajah Netracurik lebam, pikirannya buntu.

-oodwkzoo-

99 – Kesimpulan Sementara

“Mengenai Jung Simpar…” Jaka menatap Ki Alih meminta penjelasan.

Lelaki tua itu mengangguk. “Aku melepaskan tiga jenis Jung Simpar untuk dapat diikuti dan diamati.”

“Aha…” Jaka bertepuk gembira. “Jadi, paman membuat samaran tiga orang Jung Simpar?” Tanya Jaka meminta ketegasan. “Betul!”

“Bagaimana dengan yang asli?”

“Orang itu memang keparat pengecut, dia lebih suka kita tahan dari pada harus menghadapi kejadian-kejadian yang membuat perkumpulannya mengalami kerugian.”

“Nampaknya penyelundupan yang dilakukan olehmu membuat dia jera?”

“Tidak juga, dia lebih takut kepada Swara Nabhya. Menurut Jung Simpar, perkumpulannya pernah disatroni oleh penghuni Lembah Halimun gara-gara ada anak buah wanitanya mencuri barang yang dilindungi Swara Nabhya…”

“Hm, patas saja gadis-gadis itu ketakutan waktu disinggung tentang Swara Nabhya..” gumam Hastin mengingat kejadian beberapa hari lalu saat dia berjumpa dengan anak buah Jung Simpar.

Jaka termenung, dia memang memiliki kesepakatan dengan Swara Nabhya untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.

“Apakah sudah ada hasil dari ketiga orang itu?”

“Ketiga-tiga lenyap, masing-masing di tangkap di Perguruan Enam Pedang, dan Lengan Tunggal. Dan yang terakhir, berita yang kau bawa…”

“Kita bisa simpulkan sesuatu disini?” Tanya Jaka menginginkan detail. “Bisa dan sangat jelas! Kedua perguruan itu memiliki kepentingan terhadap berita terakhir yang masuk ke perkumpulan Jung Simpar.” Jelas Ki Alih.

“Apa yang paman dapat selama ada di tempat Pratyantara?”

“Selain rencana perampokan yang penuh gaya, kebanyakan permintaan untuk mencuri barang-barang berharga. Tapi yang terakhir ini jelas memiliki kaitan dengan perjalananmu ke Perguruan Enam Pedang.”

Jaka tidak menyela.

“Bermula aku mengira, pembayaran yang luar biasa atas pengiriman barang pada Biro Pengiriman Golok Sembilan akan menjadi sasaran Pratyantara, tapi ternyata bukan. Sebuah informasi yang masuk kepada Jung Simpar menyatakan, nilai dari barang yang dikirim itu jauh lebih tinggi dari pada ongkos pembayarannya. Tanpa menyelidiki lebih lanjut sebenarnya itu barang apa, Pratyatara bergerak melalui jaringan mitranya. Akibatnya bisa dibayangkan, kehebohan adanya barang yang bernilai sangat tinggi beredar di kalangan bawah tanah. Cukup dari berita ini saja, membuat telik sandi dari beberbagai perkumpulan rahasia memanfaatkan momentum untuk membuka celah kepentingan masing- masing.”

“Emas yang kuberikan padamu berasal dari pembayaran yang di lakukan sekelompok Walkali yang datang menyerahkan pembayaran pada Golok Sembilan Bacokan…” “Walkali? Bukannya mereka serombongan pendeta lelaki? Kenapa berubah menjadi pendeta perempuan?” potong Arwah Pedang dengan penasaran.

“Semula aku berpikiran begitu, tapi coba renungkan baik- baik. Jika kau ingin menitipkan sesuatu yang berharga, pihak mana yang akan kau hubungi pertama kali?” Tanya Ki Alih pada Parçuddha.

“Wrddhatapasa…” gumam Arwah Pedang.

“Ya, Wrddhatapasa adalah orang yang bisa dan layak dipercaya, selain sebagai sesepuh Dewan Penjaga Sembilan Mustika, dia juga memiliki sekelompok pendeta yang bisa bekerja menyelesaikan sesulit apapun pengiriman barang. Cirinya sangat khas… tapi bagaimana mungkin orang-orang itu menyerahkan kiriman yang menjadi tanggungan seorang Wrddhatapasa? Dengan karisma dan pengaruh Wrddhatapasa, sangat tidak mungkin ada orang yang mau mencari setori dengan memalsukan nama mereka… tapi ternyata ada!”

“Jadi para pengikut Wrddhatapasa dipalsukan oleh sekelompok Walkali—pendeta wanita, yang entah berasal dari mana?” Tanya Jaka.

“Tentang hal ini, aku tidak ada informasi…” kata Ki Alih sambil menghela nafas.

“Jadi, sementara kita berkesimpulan seperti Jaka. Sebuah kesimpulan yang umum…” ujar Sadhana membuat Jaka meringis. “Sama halnya dengan kesimpulanku tentang Saudara Satu Atap dan kesimpulan Jaka tentang hal itu… karena Wrddhatapasa adalah kalangan yang tidak banyak orang tahu dan hanya kalangan tertentu yang mengenal namanya, kurasa kegiatan yang sangat mahal itu dilakukan untuk penyaringan saja…”

“Maksud paman, ada orang gila yang berani membuang- buang emas sedemikian banyak untuk menggiring opini para pemilik telik sandi, bahwa Wrddhatapasa-lah yang melakukan transaksi dengan Biro Pengiriman Golok Sembilan?” Tanya Jaka menarik benang merah.

“Ya…”

“Aku tidak sepenuhnya setuju.” Tukas Ki Alih setelah berpikir beberapa saat. “seperti yang tadi disimpulkan adi Sadhana, bahwa ini adalah kegiatan penyaringan yang sangat mahal. Dan tiap telik sandi akan menolak kesimpulan mereka sendiri, bahwa; bagaimana mungkin kalangan terhormat melakukan kegiatan segila itu? Dan kita akan mencari-cari jawaban yang tidak pernah ada. Kita akan mencari kemungkian ada pihak yang memalsu kalangan Wrddhatapasa…”

“Maksud Kakang Alih, pihak itu adalah Wrddhatapasa itu sendiri?” Tanya Sadhana tidak percaya.

“Tepat!”

“Tapi, bukannya kakang juga menolak kesimpulan seperti itu?” debat Sadhana.

“Ya, tadi aku memang mengingkari kesimpulan awalku dan mencoba mencari kambing hitam. Tapi setelah kupikir baik- baik, tidak ada pihak yang dirugikan selain Wrddhatapasa sendiri…” tegas Ki Alih. “Dan kita bisa membalikan logika pertanyaan dengan hal yang sama; pihak yang dirugikan akan memperoleh simpati dari kalangan banyak, dan secara keuangan keuntungan yang akan dia peroleh jelas lebih besar!”

“Cukup masuk akal bagiku,” gumam Jaka. “Pertanyaan berikut; tidak mungkin seseorang melakukan kegiatan seaneh itu jika tidak yakin mendapatkan keuntungan berlipat dari yang dikeluarkannya… selain uang, apa yang akan di dapat Wrddhatapasa?”

Pembicaraan sudah memasuki babak krusial yang menyimpulkan beragam hal kegiatan aneh yang mendasari pergerakan mereka. Tapi sejauh ini kesimpulan yang didapat pun harus menanti hasil observasi yang masih bertebaran di lapangan.

“Mungkin bisa kutambahkan sedikit.” Ujar Baginda tiba- tiba. “Kadang kala kita disesatkan oleh anggapan kalangan Wrddhatapasa hanya sekelompok laki-laki tua, tidakkah kalian berpikir Walkali juga bisa di bentuk oleh Wrddhatapasa?”

Senyap, tak ada yang menanggapi, tapi beberapa diantara mereka mengangguk mengiyakan.

“Kurasa lebih baik kita kerucutkan pada kesimpulan awal. Bagaimana jika ternyata… Wrddhatapasa dan para kerabatnya menggagas usaha perlawanan terhadap Saudara Satu Atap? Apakah mereka memiliki kemampuan untuk itu?” ujar Jaka bertanya untuk membuka gagasan lebih luas lagi.

“Ya, mereka mutlak memilikinya!” sahut Ki Alih dan Baginda hampir bersamaan.

“Nama, kedudukan, jaringan, dan kekayaan, tidak akan sulit dihimpun oleh Wrddhatapasa…” gumam Sadhana. “Tapi apa keuntungan mereka dengan melakukan perlawanan terhadap Saudara Satu Atap?”

“Kurasa untuk jawaban itu akan kita dapatkan jika kita bisa berbicara dengan salah satu hulubalang Riyut Atiodra.” Ujar Jaka.

“Darimana kau dapatkan ide sengawur itu?” cetus Pariçuddha.

“Paman ingat, apa yang membuat mereka keluar kandang?”

“Aku tidak ingat sama sekali,” jawab Pariçuddha dengan wajah masam. “Bukankah kau tidak jadi mendengar keterangan Kanayana?”

“Ah, maafkan aku paman…” kata Jaka dengan tersenyum. “Waktu itu Kanayana mengatakan; ‘...pelanggaran sekecil apapun dari kalangan luar, sudah merupakan aib’, itu sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan apa yang terjadi pada mereka.. seperti yang kita tahu, Riyut Atriodra adalah perkumpulan yang pantang di ganggu, satu gangguan kecil saja akan membuat mereka keluar. Nah, saat mereka keluar kandang… ini adalah makanan empuk penggagas semua keributan ini untuk mengganggu mereka lebih jauh, dan pada akhirnya akan menarik semua kekuatan Riyut Atirodra keluar kandang. Mereka akan diarah sedikit demi sedikit menghadapi Saudara Satu Atap… jika ini sampai terjadi, seperti yang kukatakan tadi… akan terjadi pertumpahan darah yang lebih besar dari kejadian masa lalu!” Jaka menatap wajah mereka satu persatu, “Dan tahukah kalian, apa sebenarnya yang menjadi kekayaan dari Riyut Atirodra?”

“Loyalitas dan kumpulan dari beragam golongan?” jawab Ki Alih.

“Betul, tapi masih ada jawaban yang lebih tepat…” “Rahasia…” gumam Sadhana. “Kumpulan rahasia!” cetus

lelaki ini dengan bersemangat. “Mereka adalah golongan terbuang, ada banyak dari mereka yang sebenarnya tidak pantas bergabung disana, tapi dipaksa oleh keadaan dan badai fitnah, akhirnya mereka tidak punya pilihan!”

“Betul paman! Beragam rahasia yang dihimpun oleh Riyut Atirodra itu merupakan ‘pusaka’ tak ternilai. Tentu saja siapapun yang menginginkan itu butuh mengolah informasi dan memilahnya, apakah informasi rahasia yang dikumpulkan Riyut Atrirodra, adalah kejadian nyata atau hanya ilusi.”

“Jadi, siapapun penggagas rencana keji ini akan mendapakan banyak keuntungan” gumam Baginda.

“Ya… dan tugas kita semua untuk mencegah itu terjadi. Terlepas dari kesimpulan kita benar atau salah, Riyut Atirodra benar-benar harus kita lindungi!”

Itu adalah kesimpulan akhir, tentu saja untuk sementara. Masing-masing membuat catatan yang diedarkan untuk saling dibaca. Koordinasi, pemahaman dan penyeragaman ide disaat kritis ini adalah sebuah kemutlakan yang tidak boleh diingkari. “Aku masih heran darimana mereka tahu jika Jung Simpar ada kaitannya denganku?” gumam pemuda ini bertanya sendiri.

“Kau lupa siapa yang kau hadapi, Perkumpulan Pisau Empat Maut itu memiliki jaringan yang luas! Cikal bakal mereka juga hidup di masa-masa sulit pada saat Sang Lila membuat kekacauan dunia persilatan.” Timpal Sadhana.

“Aku tahu itu paman, aku hanya mencoba mencari tahu dimana letak kebocoran kita...”

“Bukan kebocoran pada kita, tapi berita itu ada pada anak buah Golok Sembilan Bacokan!” sahut Baginda menimpali.

Jaka membenarkan kesimpulan itu. Apa yang mereka saksikan pada saat Ki Alih membuka samarannya—sebagai kusir, dihadapan orang banyak, cukup layak dijadikan informasi yang sangat bernilai.

“Jadi, kita masing-masing akan membagi tugas…” Jaka menutup pertemuan dini hari itu dengan rasa kantuk datang kembali. “Paman Pariçuddha akan pergi ke air terjun Watu Kisruh, Paman Hastin akan memastikan Kiwa Mahakrura dan atasannya mengambil kesimpulan salah. Paman Sadhana dan Paman Çudhakara akan memata-matai semua pergerakan yang dibuat oleh Alpanidra… meskipun mereka menyatakan menjadi sekutuku, tapi bukan berarti aku menutup mata dengan semua pergerakan mereka.”

“Paman Jalada, memantau semua yang datang ke Perguruan Naga Batu. Ki Alih akan mencari jejak Riyut Atirodra…”

“Lalu aku?” Tanya Cambuk tak sabar. “Memastikan apa yang tercantum dalam peta itu sukses!” tegas Jaka.

Cambuk mengangguk, tentu saja yang dimaksud Jaka adalah membuat tiap rencana itu lancar dengan antisipasi yang sudah mereka lakukan. Hal ini juga menghindari kecurigaan pihak yang berada di Gua Batu tentang sudah terendusnya rencana-rencana mereka.

“Kau sendiri bagaimana?” Tanya Hastin sambil menguap. “Aku   akan   bersenang-senang…”   jawab   Jaka   dengan

menyeringai. “Sadewa dan teman-temannya pasti memiliki

keterangan yang layak untuk kita tahu.”

“Hm, kurasa semua sudah ada bagiannya…” gumam Hastin berdiri meninggalkan ruangan itu, sebelum ‘bertanya’ pada kalangan Kiwa Mahakrura, hal pertama yang dilakukannya adalah tidur.

===

“…begitulah ayah, ibu. Bukan aku bermaksud menghianati perkawinan yang sudah kulakukan, tapi kondisi yang kritis saat itu dengan hal-hal yang harus dilakukan secara cepat membuat aku harus melakukannya tanpa ragu.” Tutur Sakta Glagah menjelaskan tentang latar belakang pernikahan dengan putri Kerajaan Rakahayu.

“Kenapa saat kunikahkan dulu, kau tidak mengatakan bahwa kau sudah menikah?” tuntut Ayahnya.

“Aku tak mungkin mempermalukan ayah di depan orang banyak, lagi pula tugasku sebagai penanggungjawab prajurit dan telik sandi kerajaan tak memungkinkan aku untuk mengatakan pernikahanku dengan anak sang raja… bahkan, kalangan keluarga raja sendiri tidak mengetahui bahwa akulah ayah calon ratu mereka!”

Ketiga orang tua itu saling pandang, nampaknya mereka bisa menerima alasan Sakta Glagah.

“Aku juga minta tolong pada ayah-ibu dan paman untuk tetap merahasiakan identitas Prawita Sari yang sebenarnya.”

Ketiganya mengangguk, sang ibu bahkan merasa iba pada anaknya. Bagaimana mungkin seorang ayah tidak bisa menyapa sang buah hati dengan cara yang semestinya, tentu perasaan seperti itu merupakan sebuah siksaan yang menyakitkan.

“Lalu apa yang terjadi dengan cucuku?” Tanya sang ibu memahami keputusan yang di ambil anaknya.

“Ada pihak-pihak tertentu yang membutuhkan keberadaan Prawita Sari, dan Luh Siwi untuk dijadikan jaminan. Untunglah aku bisa menggagalkan usaha itu, sayang sekali Luh Siwi tertawan oleh mereka. Tapi aku sungguh tak menyangka mereka berani menggunakan racun!”

Ki Lukita menghela nafas, dia bisa membayangkan tulang tuanya akan ikut bergejolak lagi. Jika putri mahkota Kerajaan Kadungga—Raden Roro Luh Siwi, tertawan oleh pihak yang belum diketahui, tentu akan banyak gesekan-gesekan yang terjadi antara Kerajaan Rakahayu dan Kadungga, sebab selain bertetangga baik secara politik dan budaya, kedua kerajaan itu tidak pernah mendapat kata sepakat. Itu adalah api dalam sekam yang tertanam sejak dulu. Kejadian saat ini bisa membuat api perang berkobar lebih cepat. “Racun yang digunakan oleh para penyerang bersifat sangat lambat, selama hidup aku belum pernah menjumpai racun semacam ini…” ujar Ki Lukita. “Resep yang kau peroleh dengan penjelasannya memang sangat masuk akal dan aku yakin itu akan berhasil… yang mengganggu pikiranku adalah, apakah kau tahu siapa yang menyerangnya? Jika pihak itu hanya sebatas menginginkan tebusan, rasanya penggunaan racun langka dan sangat sulit ini, sebuah harga yang terlalu mahal…”

“Aku sudah memiliki dugaan, tapi ucapan paman membuatku tak berani menduga lebih jauh.” Jawab Sakta Glagah dengan gundah. “Paman… apakah kau yakin muridmu bisa menyembuhkan anakku?”

Ki Lukita mengangguk pasti. “Kau tenangkan dirimu, kondisi anakmu tidak terlalu mengkhawatirkan saat ini. Pengobatan yang dilakukan Jaka Bayu—jika Tuhan mengizinkan, akan menyembuhkannya seperti sedia kala.”

Ucapan yang penuh percaya diri itu membuat Sakta Glagah tenang. Jadi dia bernama Jaka Bayu, pikirnya. Entah seperti apa orangnya. Desahnya dengan kegelisahan terus merebak.

-dw-kz-