Seruling Sakti Jilid 14

Jilid 14

65 - Momok Wajah Ramah

Jaka dibawa keluar dengan mata tertutup, pemuda ini tahu jika dirinya dibawa keluar dengan jalan berbeda. Tak berapa lama kemudian dia disuruh duduk, telinganya cukup peka untuk membedakan suara keramaian disekelilingnya itu bukanlah pasar, tapi sebuah rumah makan yang sangat ramai. Begitu ada isyarat membolehkanya melepas ikatan pada matanya, Jaka memandang berkeliling, dan dia terkejut ternyata rumah makan tempatnya berada sekarang, hanya selisih satu bangunan dengan tempatnya menginap.

Tak terburu-buru, Jaka segera memesan sup, jika orang lain tentunya akan bertanya-tanya, kenapa orang-orang disekitar sini tidak heran dengan kondisi matanya harus tertutup? Jawabannya cukup dipahami Jaka, sebab rumah makan ini milik Arseta, atau entah siapapun dia, yang jelas masih berkaitan dengan pemilik bangunan misterius tadi.

Malam itu memang cukup dingin, Jaka menyantap sup kaldu ayam dengan perlahan, pandangan matanya, menyapu sekeliling ruangan. Jaka menyadari, keramaian dalam rumah makan itu secara perlahan menipis dan akhirnya hening, senyap, padahal didalam ruangan itu terdapat demikian banyak orang.

Nampaknya ada permainan yang ingin ditunjukkan padanya, setidaknya begitulah pendapat Jaka.

Tak perlu menunggu lama, muncul seorang berpakaian biasa, layaknya penduduk kota, tapi tak cukup biasa dimata Jaka, dia memesan makanan dan duduk di depan Jaka— karena itu satu-satunya meja yang masih kosong. Pemuda ini memperhatikan orang itu sejenak.

“Aku yakin kau memesan seperti yang kumakan.” Kata Jaka.

“Dari mana kau tahu?” ujarnya menarik muka, kelihatanya dia tak begitu suka bicara.

“Mudah saja, kau masuk kesini, kau melihat semua bangku penuh, dan kau melihat aku sedang menikmati makanan ini dengan nikmat. Dimalam yang dingin ini, kaldu memang pilihan tepat.”

“Hm..” orang itu tidak berkomentar, sebab pesanannya datang, dan segera saja dia mencobanya sesuap.

“Padahal, jika kau mau bertanya lebih lanjut, kau akan tahu kenapa dugaanku tepat…” Jaka menyambung lagi, dia tak perduli meskipun lelaki ini tak memberi komentar. “Pertama, memang inilah satu-satunya makanan yang tersisa…” katanya sambil tertawa lebar. “Anak-anak pun bisa menduga hal ini..” Jaka menyeruput kopinya, lalu lanjutnya. “Tapi tahukah kamu, ini bukan satu-satunya makanan yang tersisa, tahukah kamu kenapa kamu harus pesan makanan ini?” bisik pemuda ini dengan suara dilirihkan, tak cukup lirih untuk orang yang duduk di meja seberang. Lelaki itu tak ambil perduli, meskipun suapan tangannya sempat terhenti.

“Tapi aku tak akan memberitahumu kenapa,” pemuda ini tertawa lebar, dia sama sekali tidak canggung dengan suasana yang hening itu. “Sebab setelah selesai makan, kau akan merasa sangat mengantuk…”

Setelah berkata demikian, Jaka bangkit dan dia memberikan beberapa keping uang. “Dia kutraktir.” Katanya.

Jaka berlalu dengan senyum mengembang makin lebar. Jika Arwah Pedang melihat senyum pemuda ini, maka dia akan segara pusing, sebab dia paham benar, akan ada ‘korban’ jatuh. Jaka memiliki kebiasaan yang kurang baik— begitu menurutnya, yakni; manakala lawannya tak cukup sebanding dengan dirinya, dan menyebalkan pula, maka Jaka biasanya membuat orang itu kehabisan akal, putus asa, buntu, tidak ada jalan keluar, dan kelihatannya itulah rencananya saat ini.

Begitu kaki pemuda ini menapak keluar rumah makan, detik itu juga tubuhnya lenyap, seolah-olah dia bisa menghilang.

Lelaki yang semeja dengan Jaka, tidak memperdulikan omongan Jaka, tapi manakala dia melihat satu goresan dimejanya, dengan sendirinya, suapannyapun terhenti. Sebisa mungkin dia usahakan rona wajahnya tak berubah, dengan wajar, ia habiskan sup tadi dan selanjutnya keluar.

Begitu lelaki ini keluar, seluruh orang dalam rumah makan pun turut keluar, jika ini disebut penguntitan, maka ini adalah penguntitan terbodoh sepanjang masa, sebab cara mereka menguntit demikian terang-terangan, tak perduli lelaki ini berhenti dan menoleh kepada mereka, mereka pun turut berhenti dan ikut menoleh kebelakang pula.

“Apa yang kalian inginkan?” tanya lelaki ini dengan geram.

Rombongan penguntit itu diam saja, mereka bahkan sudah membuat suatu lingkaran yang mengurung lelaki itu.

“Jalan begini lebarnya, siapa bilang kami perlu sesuatu darimu? Kau toh bukan siapa-siapa…” ujar salah seorang penguntit dengan ketus.

Rahang lelaki ini mengembung, giginya saling beradu, hari ini benar-benar dia merasa sial tujuh turunan. Dilain pihak, amarahnya ingin dilampiaskan, tapi jika dia melakukan itu, maka terbongkarlah pekerjaan besarnya di kota ini. Maka sebisa mungkin dia tahan kekesalannya.

“Ya sudah, terserah kalian saja!” Ujarnya dengan dingin, sambil berlalu dengan hati panas. Tak perduli mereka menguntit, lelaki ini tetap berjalan… dia berjalan sesuai petunjuk coretan yang di tinggalkan Jaka.

Di Telaga Batu.

Sebuah rombongan terpisah berjalan beriringan menuju telaga batu. Perjalanan menuju Telaga Batu bukannya dekat, jika tak ingin melewati jalan utama, maka harus memutar melalui bukit, dan jika dia berjalan memutar, maka akan memakan waktu banyak, dan dia akan kehilangan sesuatu yang penting. Maka mau tak mau dia tetap melewati jalan utama. Dan seperti dugaannya, melewati jalan utama berarti menarik perhatian orang, Kota Pagaruyung itu tetap hidup di malam hari, begitu ada iringan yang aneh, sudah tentu mereka-mereka yang melewatkan malam di keda-keda turut serta pula menguntit di balakang. Lelaki itu tidak perduli lagi, seberapa banyak orang mengikuti dirinya, yang ada dalam benaknya sekarang, dia harus menemui Jaka!

Sebenarnya apa yang Jaka tulis?

Pemuda ini tidak menggoreskan sebuah tulisan, dia hanya menggoreskan sebuah kode sandi, kebetulan kode sandi ini dimiliki oleh perkumpulannya. Dan sialnya, kode itu biasa digunakan oleh atasannya.

Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi atasannya? Hal yang paling mungkin adalah sebuah kebocoran informasi telah terjadi diwilayah kerjanya! Itu yang harus di selidiki lelaki ini.

Mendekati, Telaga Batu, samar-samar terlihat ada pantulan cahaya, lelaki ini berkerut kening, bahkan rombongan penguntit inipun sama-sama heran, sebab suasana telaga batu biasanya gelap gulita, jikapun ada sinar, paling satu dua nelayan yang sedang manangkap ikan. Tapi, makin mendekati tepian telaga, cahaya tersebut makin terang…

Dan akhirnya, sampailah lelaki itu di tepi telaga, keterkejutan membuncah dadanya, telaga batu berubah menjadi lautan cahaya, bahkan di tengah telaga, terdapat begitu banyak perahu nelayan, di pinggiran telaga pedagang tiban juga banyak, suasana begitu meriah, mirip pasar malam.

“Sial! Ini kan acara malam akhir bulan,” Terdengar salah satu penguntit memaki. “bukankah sudah enam bulan ini tidak pernah di lakukan lagi? Kenapa harus sekarang?” makinya lagi.

Para penguntit ini sibuk menoleh kesana kemari memperhatikan situasi, dan mereka sadar, lelaki yang mereka ikuti sudah menghilang entah kemana, kemungkinan besar dia menyusup ditengah kerumunan orang.

“Cari dia!” perintah salah seorang pengutit. Dan rombongan itupun menyebar, demikian juga dengan orang-orang yang ikut-ikutan menguntit, mereka menyebar kedalam kerumunan, berbaur dengan aktifitas pasar tiban.

Sementara itu, Jaka asik duduk didepan penjual ronde, di sampingnya ada lelaki yang dari tadi sibuk mencarinya. Pemuda ini tidak berkata apa-apa sampai minumanya habis. Lalu dengan tanpa bersalah dia bertanya.

“Kau mencariku?”

“Bukankah kau yang menyuruhku mencarimu?” tanyanya geram.

“Ah, masa? Memangnya aku melakukan apa?” Jaka berpura-pura bodoh sambil membuka kulit kacang.

“Kau…” desis lelaki ini marah sekali. Tapi kemarahannya harus ia telan kembali, dirinya tak tahu sama sekali pemuda itu, jika bertindak ceroboh, bisa jadi dirinya benar-benar lebih sial dari sebelumnya.

Pemuda ini tertawa, dia geleng-geleng kepala, lalu dari balik bajunya dia mengeluarkan bungkusan daun kering, yang ternyata didalamnya berisi sebuah kain, lalu dia serahkan pada lelaki itu. “Aku mau kau melakukan ini…”

Lelaki itu bingung, dia membolak-balik kain itu, tidak ada tulisan tidak ada petunjuk apapun. Jaka memberi isyarat dengan menyentuh hidungnya. Lelaki ini mencium kain itu. Jika orang lain di keremangan cahaya tidak bisa melihat rona wajah, maka Jaka sanggup melihat, dan dia tahu, lelaki ini terkejut.

“Apa yang kau dapatkan?”

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Kau tahu siapa aku? Kau tidak salah orang?”

Jaka tertawa lebar. “Tidak, aku bahkan tahu kau berasal dari mana, aku tahu seharusnya kau akan pergi kemana dan aku tahu kau sedang mencari apa. Ini bukan kesalahan, ini cuma hari sialmu saja…”

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan tak mengerti, darimana pemuda ini tahu siapa dirinya?

“Kau pasti ingin bertanya darimana aku mengenalmu?” sambung Jaka sembari mengunyah kacang. “Aku pernah melihatmu berjalan bersama temanmu yang ceroboh itu, siapa sebutannya itu ya? Ah, Panah …”

Kesabaran lelaki ini habis, belum selesai Jaka bicara, sebuah pukulan dilayangkan tepat kewajah pemuda ini, gerakannya cepat dan akurat, jika berganti orang diposisi Jaka, pukulan yang hanya berjarak satu jangkauan, dipastikan mengenai sasaran. Tapi sayang, yang dihadapi ini Jaka, pemuda yang kemahirannya bahkan Si Hastin-pun tak mau jika harus menghadapinya.

Jaka menggeser kepalanya kesamping, pukulan itu lewat disisi wajahnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. “Jika aku jadi kau, pasti tak mau melakukan tindakan bodoh…” ujar pemuda ini masih tenang-tenang mengunyah kacangnya. Lelaki ini menatap Jaka, satu pukulannya cepatnya dilewatkan begitu saja, dan dia yakin serangan lainnyapun akan dihindari dengan cara yang sama pula. “Apa yang kau inginkan dariku?”

Jaka menatap lelaki itu dengan tersenyum. “Kau tidak tuli, apa yang kuperintahkan kau sudah tahu. Aku menanti kabar baik esok hari…”

“Atas dasar apa kau memerintahku?!” serunya dengan suara direndahkan, sebab dia kawatir, banyak orang akan curiga.

“Mau tahu alasannya? Kusebutkan satu saja… jika perkerjaanmu terganggu, kau tidak naik peringkat, jika orang tahu siapa dirimu, bukan saja kau akan di kejar atasanmu, sobatmu yang ceroboh itu pasti akan memulai pencarian dari pekerjaanmu yang terakhir disini, dan yang paling penting, kau takut dengan Kelompok Kilat dari Sampar Angin, cukup kubocorkan apa yang pernah kaulakukan pada salah satu anak muridnya, kau bisa bayangkan sendiri kelanjutannya…” Jaka tersenyum, padahal pemuda ini mengatakan aku menyebut satu alasan, tapi yang dia kemukakan sudah terlalu banyak, dan membuat lelaki ini pucat pasi. “Ah aku lupa, satu lagi, satu-dua hari kedepan, ada tiga pendekar utama berjuluk, Kepalan Maut, Elang Emas, dan Pecut Sakti Ekor Tujuh datang mengiringi seorang tokoh termasyur, aku ingin kau menguntit mereka.”

“Ah…” lelaki ini kembali terkejut.

“Aku ingin, kau membuat mereka tidak nyaman di kota ini…” Ucapannya yang terahir membuat lelaki ini terheran-heran, dia pikir Jaka pasti sedang bercanda. Manakala melihat pemuda itu memerintah dengan wajah serius, dia yakin, pemuda ini serius.

“Kau pasti heran, kenapa perintahku sama dengan perintah atasanmu yang bodoh itu, siapa namanya? Ah, kalau tidak salah Sora Barung, saat ini kelihatannya dia masih aktif sebagai anggota Perguruan Naga Batu ya…” Mendengar ini, wajah lelaki itu makin pias, Jaka telah menyebut nama! Dan lelaki itu sadar dirinya sudah masuk dalam posisi sulit. Meski dalam kelompoknya mereka tidak tahu menahu siapa atasannya, tapi manakala ada anggota mengetahui siapa atasan mereka, sudah cukup bagi perkumpulan untuk menjatuhkan hukuman berat padanya. Dan sialnya kali ini dirinya harus dipaksa tahu, oleh pemuda yang tak dikenalnya ini.

“Jadi, sekarang kau ada disisi siapa?” Jaka bertanya.

Lelaki ini mengepalkan tangan, mendadak saja dia tersenyum. “Baik, aku disisimu!” tegasnya.

“Begitu baru benar,” sahut Jaka puas. “Tak sia-sia orang memanggilmu sebagai Momok Wajah Ramah.” Sambung Jaka dengan tersenyum.

Bahwa pemuda itu mengaku kenal dengan dirinya, dia masih curiga, setelah kode anggota ‘Panah’ dilontarkan pemuda itu, dia pun masih memiliki rasa sangsi—mungkin saja pemuda ini salah orang, tapi ucapan terakhir tadi sudah meruntuhkan semua antisipasi dalam dirinya, julukan yang dikenal hanya dalam perkumpulan, pemuda itu mengetahuinya. 66 - Setindak Mendekat Sasaran

“Tidak lekas pergi? Kau tunggu orang-orang itu menangkapmu dan menggelandang dirimu kembali ke rumah makan tadi?”

Momok Wajah Ramah menatap Jaka. “Mereka mudah kuhindari, tapi kenapa kau mengatakan, aku akan mengantuk?!” tanyanya tak menggubris peringatan Jaka.

Pemuda ini diam saja, tapi mulutnya berkomat kamit, menghitung. “… delapan, tujuh, enam…”

Momok Wajah Ramah merasa matanya mulai berat. “..lima, empat, ti..”

Suara Jaka sudah tak terdengar lagi, dan kejab berikutnya, Momok Wajah Ramah tertidur. Penjual wedang ronde menatap lelaki itu dengan bingung. Jaka memberi isyarat supaya tenang.

“Pak, boleh titip teman saja di sini?” “Silahkan, tapi jangan di kursi itu…”

“Saya akan letakan dekat bapak,” Jaka mengangkat tubuh Momok Wajah Ramah dan di sandarkan dekat penjual wedang ronde, seolah lelaki itu salah satu penjual wedang. Setelah mengucap terimakasih dan memberi uang lebih dari biasanya, Jaka berlalu.

“Kau mengangap remeh mereka, tak salah memang, dan aku memberimu jalan cara menghindar dengan cara mereka sendiri.” Gumam Jaka menatap lelaki yang sedang tertidur pula satu sekejap, lalu melangkah menjauhi Telaga Batu.

Tak jauh dari Jaka terlihat orang-orang yang menguntit Momok Wajah Ramah tengah sibuk mencari. Orang yang terlelap di Telaga Batu memang banyak, siapa pun tidak mengira buruan yang mereka kuntit sedang terlelap dan ‘tak berusaha sembunyi’.

Ada persoalannya yang cukup mengganggunya, jika semula dia menganggap Bergola tidak memiliki hubungan dengan Perguruan Naga Batu, ternyata Momok Wajah Ramah memiliki hubungan dengan Perguruan Naga Batu. Padahal mereka dalam kelompok yang sama, ini yang harus Jaka perjelas. Sebab, seolah-olah dalam perguruan itu ada tarik menarik beberapa kekuasaan yang tidak jelas.

Jaka pernah mencium aroma yang khas dari bau luka yang di peroleh Kaliagni bertiga, beberapa bulan lalu, dan dia menemukan aroma yang sama dalam Kapal Naga Batu, lalu didalam ruang latihan silat dalam bangunan aneh di pusat kota dia juga mencium bau yang sama jauh lebih santar. Kali ini Momok Wajah Ramah juga mengenalinya.

Makanya Jaka bisa mengambil kesimpulan sementara, bahwa; Sora Barung dan temannya Sena Wulung adalah orang-orang dari Perguruan Naga Batu—sebut saja sebagai Pihak Pertama—dan Pihak Kedua sudah tentu Ketua Bayangan Naga Batu beserta pengikutnya. Sebab, Kaliagani bertiga, tidak pernah tahu jika Sora Barung dan Sena Wulung ternyata ada hubungan dengan Perguruan Naga Batu. Hal ini makin membuatnya merasa sangat antusias mengikuti persoalan yang sudah di mulai sejak tiga bulan lalu—sejak dia menyembuhkan Kaliagni bertiga. Sekarang, tinggal menunggu orang yang akan menghubunginya, Jaka tidak tahu siapa dia, tapi pemuda ini merasa, rencana yang di lontarkan Ketua Bayangan terlalu premature, mungkin saja potongan informasi yang diharapkan darinya, dapat membuatnya mengambil kesimpulan, tapi bagaimana dengan perantara itu sendiri? Bagaimana jika perantara yang akan memberi sebuah ‘mandat’ dari Sadewa, ternyata juga bagian dalam kelompok yang berbeda, dalam Perguruan yang sama? Apakah Arseta dan Ketua Bayangan menyadari hal ini? Lalu apa gunanya rombongan orang-orang tadi melakonkan sebuah sandirwara pada Momok Wajah Ramah? Apakah mereka di tugaskan memperlihatkan itu padanya? Atau memang sengaja ingin menangkap anggota Panah Ketiga belas?

Hal semacam itu tak perlu pusing-pusing Jaka pikirkan, meski dirinya memiliki antisipasi, tapi dia merasa lebih baik meninggalkannya, dan melakukan segala sesuatu dengan wajar adalah pilihan tepat yang akan dijalani. Kali ini Jaka menyusuri jalan-jalan umum. Supaya dia mudah ditemukan orang.

Sekarang tujuannya hanya menyingkap satu hal saja, penguntitan terhadap Momok Wajah Ramah itu untuk sebenarnya untuk apa?! Seperti yang di duganya, tak berapa lama, orang-orang yang tadi mengejar Momok Wajah Ramah melihat dirinya. Jaka melihat mereka tidak mengacuhkan dirinya, tapi pemuda ini tahu, pasti ada seseorang yang diutus untuk menguntit dirinya.

Kalau dugaanya tidak salah, maka apa yang di perlihatkan padanya adalah ujian bagi dirinya. Diam-diam Jaka merasa serba salah, jelas dia tidak mungkin bertarung dalam kondisi ‘penginformasian’ yang diperlihatkan pada Arseta. Meskipun Arseta sudah memiliki info terbaru—bahwa tubuhnya penuh luka, dan boleh jadi Arseta sudah mengambil kesimpulan Jaka memiliki kemampuan selain peringan tubuh—maka bukan tidak mungkin, mereka perlu melakukan sebuah ujian untuk memastikan dirinya berada dipihak mereka. Tentu tidak menafikan posisi buah jalandhi yang sempat Jaka telan…

Tak berapa lama Jaka melihat sesosok tubuh dalam balutan kain hitam menghadang langkah—satu, dua, tiga… delapan orang, Jaka menghitungnya. Mereka bergerak mengepung. Jaka tersenyum, pemuda ini benar-benar ingin tertawa keras, sekalipun mereka menggunakan kedok, tapi dia yakin, inilah sisa orang-orang yang ada dalam rumah makan. Sebagian mengejar Momok Wajah Ramah, sebagian berpencar mencari jalan kemungkinan seseorang meloloskan diri. Dan kebetulan Jaka memang tidak ingin meloloskan diri, makanya dia dengan mudah ditemukan.

Orang-orang itu tidak mengatakan sesuatu, Jaka juga tidak berkata apapun, pemuda ini jalan melenggang menerobos kepungan, setiap langkahnya di imbangi dengan langkah mundur para pengepung. Jadi jarak mereka tidak berkurang. Tapi lingkaran kepungan mulai menyusut. Jaka berada dalam jangkauan serangan mereka.

Tapi pemuda ini tetap melenggang saja, bahkan langkahnya kian cepat, dan mendadak berlari menerobos celah diantara para pengepung. Gerakannya wajar, dan dengan mudah diantisipasi mereka, Jaka terus menerus bergerak seperti itu, makin lama makin cepat, tapi para pengepungpun dapat mengikuti gerakan Jaka, bahkan bagian belakangpun bergerak makin rapat, tak ada lagi jalan keluar! Mendadak Jaka melompat dan hamper melewati kepala salah satu dari pengurung itu, tapi dengan cepat pula, para pengepung ini melontarkan sesuatu mengikuti gerakan Jaka… sebuah jala! Tapi bagai belut, Jaka bergerak memutar diudara lalu turun dengan cepat diantara pengepung lalu menyusup diantara mereka, kali ini gerakan Jaka benar-benar gerakan yang wajar, sejak awal pemuda ini menarik mereka dengan ‘kebiasaan’ gerakannya, ternyata gerakan lambat yang demikian sederhana membuat mereka lengah. Dan loloslah pemuda itu dari kepungan.

Namun pihak pengepung itupun ternyata bukan orang- orang kacangan. Detik itu Jaka lolos, saat itu juga mereka berbalik, pengepung terluar bergerak dengan sangat cepat melingkari Jaka kembali, tapi pemuda ini malah bergerak kedalam lingkaran kepungan yang sebelumnya, sehingga gerakan mereka terkunci mati, saat mereka akan kembali mengepung Jaka, tidak sempat lagi, sebab pemuda ini sudah masuk dalam satu barisan. Kemana mereka bergerak, Jaka mengikuti, demikian seterusnya. Anehnya para pengepung ini tidak bermaksud menyerang Jaka, dan pemuda ini juga tidak bermaksud meninggalkan mereka, jadilah sembilan orang itu semacam barisan yang saling bergerak kekiri kekanan dengan ritme yang tak beraturan. Seperti kucing-kucingan.

Setengah jam telah berlalu, para pengepung itu sadar, mereka dipermainkan Jaka, tapi sialnya pemuda ini memang tidak ingin kabur, makanya mereka berupaya keras untuk kembali mengepung… tapi upaya mereka itu benar-benar sulit terlaksana, sampai akhirnya delapan orang itu dengan nafas terengah menyingkir dari jalan.

Jaka menatap mereka satu persatu dengan tersenyum, seolah-olah memandang secara langsung wajah berkedok mereka. Lalu dengan wajah penuh senyum, dia berlalu seolah tidak ada kejadian apa-apa.

Delapan orang ini menatap Jaka dengan sorot mata ‘apa boleh buat’, mereka saling pandang sekejap, lalu membuntuti Jaka. Cara yang mereka gunakan sama persis dengan cara yang dilakukan pada Momok Wajah Ramah. Tapi kali ini yang mereka hadapi adalah Jaka, pemuda yang punya beragam muslihat.

Tak perduli dengan kuntitan yang terang-terangan seperti itu, Jaka berjalan terus menuju tempat dimana dia pernah bertaruh dengan seseorang pemilik Pancawisa Mahatmya, Kuil Ireng. Perjalanan itu tidak memakan waktu lama, hanya setengah jam saja. Tepat didepan kuil itu, mendadak muncul belasan orang berdandan semacam penguntit Jaka, mengurungnya! Tapi, tunggu… mereka terus bergerak menyempit mengurung penguntit Jaka, dan membiarkan Jaka diluar kurungan.

Karuan saja para penguntit ini kelabakan, merekapun berupaya kabur dengan cara menghantamkan pukulan tangan kosong, sebuah pukulan dengan deru angin kencang menerpa para pendatang baru. Tapi orang-orang ini kelihatan sangat lihai, begitu serangan menerpa mereka, belasan orang ini mundur dan melontarkan sebuah jala! Benar-benar persis dengan cara yang mereka lakukan pada Jaka! Hanya bedanya, lontaran mereka jauh lebih kuat dan akurat, delapan orang itu bahkan tidak sempat bergerak menghindar, tahu- tahu sudah terjirat jala.

Jaka menyaksikan semua itu dengan duduk bertopang dagu. Dia mengangguk kearah belasan orang itu, dan serentak mereka menyingkir dan masuk kembali kedalam kuil. Pemuda ini berdiri dan menghela nafas panjang.

“Malam sudah begini larut…” akhirnya setelah sekian lama mereka saling ‘bertarung’ Jaka mengeluarkan sepatah kata juga, tapi benar-benar kalimat yang tidak ada gunanya bagi para penguntit sial ini.

Pemuda ini menatap lagi satu persatu orang itu, dia tidak berusaha menyingkap kedok mereka. Dari dalam kuil muncul satu orang berkedok pula dan menyerahkan beberapa lembar kertas salinan padanya. Jaka membacanya, setelah beberapa saat pemuda ini tersenyum, ‘sungguh hebat pekerjaan Penikam, aku sungguh tak bisa banyak bergerak jika dia tidak ada.’ Lalu pemuda ini membaca dengan suara perlahan…

“Sapta Ganesa, dibesarkan di Perguruan Teratai Kambang dengan seorang paman yang menjadi salah satu pengajar disana, selama dua belas tahun berguru, kemampuannya sudah melewati pengajar kepala, tapi tak ingin menonjolkan diri diperguruannya. Sejak dua tahun lampau tidak diketahui jejaknya, terakhir muncul di Perguruan Mustika Weni, dikabarkan terlibat dalam sebuah bentrokan, karena berebut pusaka. Kabar dari perguruan asal tidak mengetahui keberadaannya. Empat bulan terakhir tinggal dikota ini sebagai pedagang kain dan jika malam hari merangkap menjadi informan. Pelanggan pertama yang membeli informasinya adalah anak murid Merak Inggil, yang sedang mencari murid pengkhianat. Terakhir, diketahui memberikan informasi dengan bayaran seratus empat puluh keping perak, kepada beberapa orang yang tidak diketahui jelas identitasnya, boleh jadi mereka adalah pendatang yang ingin meramaikan suasana di Perguruan Naga Batu… sebab,” Jaka berhenti sesaat. “Informasi yang kau jual menyebutkan detail bangunan dalam perguruan itu.”

Suara Jaka memang pelan, tapi setiap patah katanya membuat salah seorang dari lelaki berkedok itu tertunduk makin dalam. “Aku memiliki tujuh lembar lainnya, dan isinya kurang lebih sama, sebuah profil kalian masing-masing. Sekarang, apakah harus aku yang menceritakan perkerjaan terakhir kalian, atau kalian yang bercerita padaku apa yang sedang kalian lakukan…”

Senyap seketika.

Saat mereka menerima orderan dari seseorang, untuk membuntuti Jaka, mereka cuma mendapat sepotong informasi, “mahir peringan tubuh”, itu saja. Makanya mereka mempersiapkan jala untuk bersiap-siap jika mangsanya kabur, tidak tahunya mereka yang menjadi mangsa buruannya sendiri.

“Baiklah, nampaknya sulit untuk memulai kisah… bagaimana jika kalian mulai dari rumah makan saja.” Ujar Jaka memberi kelonggaran. Cukup dari ucapan Jaka yang terakhir ini, mereka paham pemuda ini sudah tahu sejak awal kehadiran mereka, nampaknya pemuda ini cukup memberi hati, kawatir dengan perkembangan kedepan, salah seorang dari mereka memutuskan untuk berbicara.

“Namaku…”

“Kau, Windu Aji.” Potong Jaka, “Silahkan…”

Lelaki yang dipanggil Windu Aji ini terperangah seketika, dia menelan ludah sesaat, tiba-tiba keberaniannya surut. Tak berani mendongakkan kepala, dia mulai bercerita. “Saya memperoleh tugas dengan nilai lima puluh keping perak untuk membuntuti tuan, tak disebutkan saya harus bagaimana, sebab akan datang perintah selanjutnya saat saya sudah berhasil mengambil beberapa kesimpulan tentang tuan.”

“Jika masing-masing mendapat perintah yang sama, mestinya pemimpin operasi ini yang mendapatkan perintah mengurungku…” desah Jaka di iyakan seseorang, pemuda ini tahu, orang itu beranam Pradipa Adi. “Yang kutahu, kalian ini cukup dekat dengan Perguruan Naga Batu, beberapa informasi menyebutkan, kalian pernah berjumpa secara sembunyi-sembunyi dengan petinggi teras perguruan itu. Orang itu bertugas pada bagian hubungan luar perguruan…” Jaka mulai memancing keterangan mereka, pemuda ini sadar, dari awal; sejak dia dibawa orang-orang Arseta kerumah makan tadi—yang mungkin saja ada hubungannya dengan Perguruan Naga Batu—entah bagaimana caranya, Arseta ingin menguji pendirian atau membuat dirinya sebagai umpan.

“Saya memang memiliki hubungan dengan seseorang penting dalam perguruan itu, tapi hubungan saya murni jual beli.” Kata Pradipa Adi.

Jaka termenung sesaat, tiap orang yang membuka mulut mengatakan padanya ‘saya’ artinya masing-masing bertanggung jawab dengan tugasnya sendiri. Dengan mengangguk paham, pemuda ini menatap satu-satu, dan mereka menjelaskan jawaban serupa.

“Pihak pembeli terakhir adalah pihak yang sama?” Mereka paham yang ditanyakan Jaka adalah, apakah orang yang berhubungan dengan mereka adalah pembeli yang sama? Orang-orang Perguruan Naga Batu? “Saya tidak dapat memastikan, sebab saya tidak pernah mencoba ingin tahu, saya bertugas berdasarkan permintaan dan nilai uang saja.”

“Ya-ya, aku paham…” gumam pemuda ini. Boleh jadi mereka adalah tenaga lepas yang bisa dipergunakan banyak pihak. Ada kalanya mereka ini adalah sumber informasi berharga. Tetapi, terkadang saking remehnya tugas yang mereka lakukan, orang-orang semacam mereka hanyalah ‘kuli-kuli’ ujung tombak yang tidak tahu menahu latar belakang masalah yang dibebankan pada mereka.

Keheningan sesaat itu terpecahkan dengan lesatan sesosok orang berkedok yang membopong orang terikat dalam jala—sama seperti penguntit Jaka, dengan kepala di kerubungi kain.

“Tuan, ini salah satu orang yang tuan pesan.” Katanya singkat, lalu dengan gerakan bagai kilat dia sudah kembali kedalam kuil. Para penguntit itu terbelalak menyaksikan gerakan orang tadi. Diam-diam mereka dapat meraba sebesar apa wibawa pemuda didepan mereka.

Jaka mendekat orang itu, dan membuka penutup wajahnya. Terlihat wajah cukup tampan tapi seram—karena banyak luka sayat di mukanya.

“Bangsat! Siapa kau? Kenapa kau perlakukan aku seperti ini?!!” teriaknya marah.

“Aku bukan siapa-siapa, aku cuma ingin bertanya, kenapa kau harus meletakkan Kitab Soca Pranala di barang-barang anak murid Lengan Tunggal?” cukup pertanyaan itu, tiap orang sudah bisa menduga, ‘mata-telinga’ Jaka begitu tajam, bahkan hal-hal yang dilakukan secara rahasia juga terdeteksi.

Lelaki itu tergagu, sungguh tak disangka tindakannya yang dilakukan dengan rahasia diketahui lelaki ini. “Fitnah! Ini fitnah keji! Aku tidak pernah melakukan hal itu!”

Jaka tersenyum, ‘Tentu saja kau tidak melakukan hal itu, pada saat itu yang melakukan adalah orang lain.” Lalu Jaka mencubit sayatan pada wajah orang itu… ternyata luka diwajah itu hanya bikinan! “Saat itu orang yang melakukan adalah lelaki rupawan dengan kumis tipis.” Gumam Jaka seraya menatap lelaki itu dengan tersenyum. “Ya sudahlah, kalau kau tidak mau mengaku, aku juga malas mencari tahu keterangan darimu. Cuma saranku, paling baik kau ceritakan secara jujur…”

Lalu Jaka melepas ikatan jala, merapikan baju lelaki itu dan membebaskan totokan “Bagaimana? Kau mau mengatakannya padaku?”

Lelaki itu menatap Jaka dengan geram. “Baik! Aku katakan…”

“Silahkan…” kata pemuda ini seraya membelakangi orang itu.

“Matilah!” desisnya. Sebuah pukulan mematikan mengarah punggung Jaka! Dengan gemuruh suara yang begitu dahsyat, para penguntit tak berdaya ini mengira Jaka pasti terpukul, sebab jarak mereka hanya satu langkah saja.

Tak tahunya, pukulan itu lewat disamping pinggang Jaka, entah dengan gerakan menghindar macam apa, pemuda ini bisa beringsut kesamping, dan saat itu juga Jaka memutar badannya begitu cepat, dia tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri berhadapan dengan lelaki itu… dalam jarak sangat dekat! Saking dekatnya, keduanya bisa saling merasakan nafas masing-masing.

“Keparat!” lelaki ini menghantam Jaka dengan sodokan siku, tapi Jaka dapat menghindari dengan mudah, tanpa merubah kedudukan jarak mereka. Seolah tubuh pemuda ini terbuat dari asap, kemana serangan mengarah, kesanalah dia menghindar, secepat apapun serangan datang, secepat itu pula gerak menghindar Jaka, beragam serangan dilontarkan lelaki ini, tapi kondisinya sungguh payah! Sebab tak satupun serangan sanggup menyentuh ujung baju pemuda itu! Bertarung dengan musuh yang hanya berjarak satu jengkal darimu dan tidak bisa kau kenai, benar-benar membuat frustasi!

“Sudah selesai?” Tanya Jaka. Lelaki itu menatap lawan yang hanya berjarak satu jengkal itu, dengan wajah pucat. “Kau sudah siap bercerita?” dalam pendengarannya pertanyaan wajar itu lebih menakutkan dari ancaman paling mengerikan.

Tidak memiliki pilihan lagi, dengan lesu lelaki ini menghempaskan pantatnya ditanah! “Sudahlah… aku benar- benar runtuh malam ini!”

“Kalau kau sudah memutuskan untuk bercerita, kupersilahkan masuk kedalam kuil, aku masih memiliki tamu.”

Dengan lesu lelaki ini berdiri dan berjalan memasuki kuil dengan kepala tertunduk. “Nah, kita lanjutkan urusan kita sampai tuntas dulu.” Kata Jaka pada delapan ‘tamunya’ dan kali ini Jaka melepaskan jala yang melilit mereka.

Biarpun terpikir dalam benak mereka untuk kabur, tapi setelah melihat aksi Jaka—belum lagi para pengikutnya, kabur hanyalah usaha sia-sia.

“Siapa yang ingin bercerita lebih dulu? Kuharap tidak satupun yang tertinggal…”

67 – Melepas Jejak

Seseorang bernama Pradipa, menuturkan : “Aku sebenarnya tidak pernah melakukan pekerjaan semacam ini, menguntit orang bukan kesukaanku, tapi apa boleh buat, berhubung aku di kalahkan orang yang lebih kuat, mau tak mau aku tunduk dibawah perintahnya.”

Jaka manggut-manggut, dari lembaran di tangannya dia membaca profile lelaki itu. “Yang pertama kali, kau justru menyusup kedalam Perguruan Naga Batu…” gumamnya.

Pradipa mengiyakan dengan tertunduk. “Sekalipun tumbuh nyali lagi, sebenarnya aku tak berani menyerempet bahaya. Tapi entah kenapa waktu itu, penjagaan yang kulewati begitu mudah di lalui.”

“Apa yang kau cari?” tanya Jaka. “Sebuah buku tamu,”

Jaka tercenung sesaat. “Kau sempat membaca isinya?” “Ya, sebab yang dicari bukan buku tamu biasa, tapi buku tamu pada empat tahun lalu sampai dua tahun berselang.”

“Kau mendapatkannya?”

“Ya, berhubung terlalu banyak dan terlalu berat, tak leluasa kubawa, aku lebih memilih untuk mengingatnya…”

Jaka tersenyum, orang yang di cari oleh oleh pihak yang mengerti seluk beluk tempat sebesar dan setenar Perguruan Naga Batu, sudah pasti tidak sembarangan. Nyatanya Pradipa memiliki daya ingat yang kuat.

“Baik, cukup sampai disitu. Selanjutnya Karmapala…”

Orang yang ditunjuk Jaka mengiyakan, “Aku dibesarkan di sebuah perguruan kecil…”

“Kau tidak perlu merendah, Perguruan Cakra Buana tidaklah selemah dugaan orang..” potong Jaka.

Karmapala mengiyakan dengan terkejut, sungguh tak disangka pemuda yang dia kuntit itu tahu jelas asal usulnya, padahal perguruannya termasuk salah satu pintu perguruan yang paling jarang melepas turun muridnya, paling banter enam tahun sekali. Dan kebetulan dirinya adalah murid angkatan ke empat yang baru saja dilepas tahun lalu. “Aku termasuk orang yang tidak suka keributan, seperti pesan guru- guruku, aku berkelana hanya untuk melihat-lihat saja, meluaskan pengalaman. Tak tahunya ada yang mengetahui bahwa aku bukanlah orang awam biasa, dia mengalahkanku dalam sebuah pertaruhan. Aku benci kalah, tapi aku lebih benci menjilat ludah sendiri. Berhubung aku dikalahkan orang itu, akupun tunduk pada aturannya. Mulai saat itu aku menjalankan semua perintahnya…” “Bagaimana dengan tugas pertamamu?” tanya Jaka kembali memotong.

“Aku disuruh mencari bunga-bungaan…” katanya dengan tertunduk.

“Bunga macam apa?” Tanya Jaka dengan tertarik. “Seperti seruni tapi berwarna ungu pekat.” “Bagimana dengan tangkainya?”

“Panjang dan hanya terdapat satu buah daun saja.” “Kau dapatkan itu dimana?”

Karmapala menunduk, dan Jaka memahami, lelaki itu kalau bisa tak ingin menyampaikannya—mungkin itu salah satu rahasia pribadinya. “Baiklah anggap saja aku tak bertanya.”

“Bukan itu maksudku, hanya saja… aku lebih suka menyampaikannya empat mata saja.”

Pemuda ini mengangguk. “Selanjutnya bagaimana?” “Tentu saja bunga itu kuberikan kepada orang.”

Keterangan itu bagi orang lain tidak akan menghasilkan informasi apapun, tapi bagi Jaka merupakan setitik cahaya dalam keruwetan di dalam Perguruan Naga Batu. “Aku duga selanjutnya kau mencari beberapa kuntum bunga semak alas…” gumam Jaka.

“Dari mana tuan tahu?” Karmapala terkesip.

Jaka tertawa, dia tak menjawab. “Lanjutkan saja,” Karmapala tercenung sesaat. “Selanjutnya aku menyamar menjadi tukang bunga di Perguruan Naga Batu selama dua bulan.”

“Kau disuruh seperti itu?” “Benar!” tegasnya.

“Tentunya, bukan sekedar bunga yang kau kerjakan?”

“Tidak, justru selama dua bulan itu aku dibuat pusing dengan urusan bunga itu. Bicara tentang bunga, aku bisa menyombongkan diri tak akan ada orang yang lebih paham dari pada aku di kota ini. Ada dua macam bunga yang baru saja aku lihat jenisnya… yang pertama, aku hanya bisa melihat saja dalam jarak lima langkah, yang kedua aku hanya bisa melihatnya dalam jarak tiga langkah. Bunga pertama putih bersih tanpa motif, seperti bunga kamboja tapi dari siripnya aku bisa duga itu adalah bunga jenis baru, mungkin hasil persilangan. Bunga kedua justru berwarna merah legam, bentuknya sama dengan bunga pertama… tugasku disana hanya mengawasi saja, bila ada perubahan terhadap bunga- bunga itu, aku hanya boleh menyuruh orang yang sudah ditunjuk untuk melakukan apa-apa yang perlu dilakukan. Dari luar bunga itu kelihatan segar merona, tapi aku tahu pasti, keduanya diambang batas usia. Dan seperti yang kusangka, empat minggu semenjak aku datang kesana, kedua bunga itu mati. Meski demikian aku bisa menghasilkan sebuah persilangan baru antar keduanya. Tapi, selepas itu—bahkan sampai sekarang—aku masih merasa bingung… sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan.”

Jaka tercenung mendengar keterangan itu, dia sudah paham apa yang sedang terjadi. “Baik, cukuplah.” Dan berturut-turut sisa orang yang lain juga menceritakan pengalamannya. Dan semuanya berhubungan dengan Perguruan Naga Batu. Menyamar sebagai; ahli bunga, koki, pengurus peternakan, penjaga pintu, petugas kebersihan, tukang bangunan, bagian pembelanjaan, dan mencuri lihat catatan tamu.

Semuanya, benar-benar hal remeh. Jaka paham mengapa mereka memiliki tugas begitu mudah, sebab mereka orang- orang yang baru direkrut dengan tujuan yang misterius, semula Jaka mengira, kedelapan orang ini adalah suruhan Ketua Bayangan—dan memang tidak salah, tapi ternyata dari keterangan mereka—Jaka menangkap ada sebuah benang merah yang saling bersimpangan begitu ruwet, tapi tertuju pada sebuah tujuan yang membuat Jaka berkeringat dingin jika memikirkannya lebih lanjut.

Para penguntitnya adalah orang-orang yang pernah ditugaskan untuk memata-matai Perguruan Naga Batu— bahkan salah satu penguntit itu pernah pula menjual informasi Peguruan Naga Batu kepada pihak yang tidak jelas—jika orang luar yang menilai, tentunya semua mengira, telah terjadi kerugian besar dalam perguruan itu. Tapi tidak demikian bagi Jaka, pemuda ini memahami ada sebuah ‘janin’ yang akan berkembang di perguruan itu, ‘janin’ langkah awal sebuah rencana besar. Jaka dapat merangkum tujuan si penggagas rencana kekacauan ini.

Jaka menatap kedelapan orang didepannya dengan bimbang, sampai akhirnya dia terkilas sebuah ide. Bisa dibilang ini adalah sebuah langkah berani. Langkah apa itu? Tak lain adalah rencana menampakkan ‘ekornya’ pada kawanan yang memanfaatkan kedelapan orang ini. Boleh jadi, posisinya dihadapan Arseta dan Ketua Bayangan tidak seperti yang sebelumnya, tapi ada sebuah kesimpulan yang ingin dipastikan Jaka. Kepastian itu harus merambat dengan lambat kedalam Perguruan Naga Batu, bukan lewat Ketua Bayangan, tapi lewat delapan orang yang tidak memiliki ‘bobot’ ini.

Bisa dibilang penguntitnya adalah para tenaga lepas, walaupun mereka memiliki kelebihan di bidang masing- masing, tapi mencari orang dengan keahlian seperti itu tidaklah sulit. Jadi, meskipun tenaga yang di rekrut oleh Ketua Bayangan disusupi kelompok lain, dan mereka berkomplot dengan teman satu kelompok untuk mengurai informasi rencana Ketua Bayangan, tak akan didapatkan setitikpun informasi penting kecuali, tema yang sangat jelas; ‘memata- matai Perguruan Naga Batu’, tapi Jaka Bayu bukanlah kebanyakan orang.

Pemuda ini seolah melihat arah yang sangat jelas, kemana urusan yang berbelit ini bermuara. Diam-diam Jaka menghembus nafas panjang, ada rasa kuatir, tapi lebih banyak rasa lega… sebab dia juga sudah memegang ekor Momok Wajah Ramah, dia juga sudah melihat ada kekuatan di balik kekuatan yang menumpangi para penguntitnya itu.

“Baiklah, kalian boleh pergi!” tegas Jaka.

Kedepalan orang itu tergagu, sungguh tak dimengerti mereka, jika pemuda itu bertindak sedemikian rahasia, mengapa melepaskan mereka dengan mudah? Dalam benak mereka sudah terkilas tindakan apa yang akan di lakukan Jaka, paling tidak; di sekap kesebuah sel terpencil sudah ada dalam bayangan. Tapi di bebaskan? Berpikirpun mereka tak berani… Tidak menunggu Jaka mengucapkan kalimat keduanya— kawatir pemuda itu berubah pikiran, buru-buru mereka pergi dengan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

Jaka tertawa kecil seraya masuk kedalam Kuil Ireng, begitu badan pemuda ini memasukinya, sontak belasan orang mengelilingi bangunan itu; ada yang naik keatap, ada yang masuk di kerimbunan semak, ada juga yang memanjat pohon… dalam radius dua ratus meter, tidak akan lolos dari mata-telinga mereka. Mengingat kelihayan Jaka, sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, tapi justru orang-orang yang bekerja dibawah pengawasan Penikam, menganggap berjaga- jaga seperti itu sangat perlu dilakukan, sebab percakapan yang ada di dalam bangunan tidak boleh di dengar orang lain.

Pemuda ini duduk di depan api unggun, suara lelatu api sangat jelas terdengar, ia menambahkan kayu kering, lalu tatapan matanya berkeliling menatap bangunan itu, berhadapan dengannya ada dua orang separuh baya, mereka Penikam dan Cambuk. Pemuda ini bangkit dan mendekati orang yang duduk meringkuk di pojok bangunan—dia lelaki usia tiga puluhan yang sebelumnya ‘meringkus dirinya sendiri’ pada Jaka.

“Aku ingin mendengar.” Katanya singkat, sambil duduk dihadapannya.

Lelaki itu menatap Jaka, dalam keremangan ruangan, samar-samar terlihat olehnya pemuda dengan kilau mata bagai bintang. Tak punya pilihan, diapun kemudian bertutur.

“Aku bernama Netracurik, orang menjulukiku Manusakrti (Seperti Manusia). Aku dibayar 50 keping emas untuk membuat anak-anak murid Lengan Tunggal tak bisa berpijak dikota ini. Kebetulan, aku pernah mencuri Kitab Soce Pranala dari Perguruan Awanamuk…”

Jaka memberi isyarat supaya Netracurik berhenti bicara, lalu dia menoleh pada Cambuk. Lelaki itu paham, dia segera mendekati Jaka, dan memberikan sebuah kitab. “Mohon petunjuknya…” ujarnya seraya mengangsurkan dian (lampu teplok) dan kitab pada Jaka.

Tentu saja maksud Cambuk bukan minta petunjuk isi kitab, tapi… kenapa harus kitab ini yang dijadikan barang fitnahan, dan kenapa harus Perguruan Lengan Tunggal korbannya.

Jaka membaca halaman pertama sampai akhir dengan cepat. Soce Pranala artinya membersihkan saluran air, tentu saja kitab ini tidak bermaksud mengajari orang bagaimana cara membersihkan selokan…

Setelah selesai, Jaka tersenyum. “Aku paham!”

Bagi pendengaran orang, ‘aku paham’ banyak tafsirannya, bisa jadi dia memahami isi kitab itu, boleh jadi Jaka memahami kenapa harus kitab itu yang menjadi pangkal fitnahan.

Tiba-tiba terdengar orang mendengus, ternyata Netracurik yang bersuara. “Sekalipun aku bodoh, tapi kitab itu sudah ada padaku hampir lima tahun, dan selama itupula aku berusaha mendalaminya, tapi tak satupun manfaat aku dapat. Jika kau bisa menyakini ilmu didalamnya dalam waktu begitu singkat, aku rela menjadi budakmu seumur hidup!”

Mendengar ucapan itu, Cambuk dan Penikam saling pandang, mereka tertawa perlahan. Entah mengapa Netracurik dalam pandangan mereka serupa seperti keadaan mereka saat berhadapan pertama kali dengan Jaka…

“Menurutmu, ini kitab apa?” tanya Jaka pada Netracurik. “Pelajaran mengolah hawa murni, dari hawa murni terlahir

bentuk, dari bentuk terlahir jurus, dari jurus terlahir olah hawa murni.”

“Kau sangat pintar.” Puji Jaka.

“Aku memang tidak bodoh!” dengus lelaki itu. “Tapi kenapa kau tak sanggup mempelajarinya?”

Pertanyaan Jaka membuat Netracurik terdiam. “Aku.. aku.. aku sendiri tidak tahu penyebabnya, ada kalanya olehku, aku sudah memahami, tapi begitu kulakukan tak satupun yang benar…” gumamnya.

“Kita kesampingkan masalah isi kitab ini, bagaimanapun ini adalah rahasia Perguruan Awanamuk, dan aku tak mungkin membeberkan cara mempelajari kitab ini padamu. Aku ingin bertanya; siapa saja yang mengetahui kau mencuri kitab ini?”

“Setidaknya, sampai empat bulan berselang, aku yakin tak satupun orang yang mengetahuinya.”

Jaka termenung sesaat. “Kalau begitu kurubah saja pertanyaanku, dari mana kau tahu ada kitab semacam ini? Bukankah banyak perguruan lain yang bisa kau gerayangi?”

Netracurik terdiam, dia menunduk dalam, tiba-tiba dia menghela nafas, lalu terdengar suaranya yang berat. “Benar.. memang banyak kitab perguruan lain yang mungkin lebih hebat, dan aku banyak pula mencuri kitab-kitab mereka.. Cuma, kitab ini sangat penting bagiku.. aku.. aku..”

“Pahamlah aku!” tukas Jaka. Lalu dia menoleh pada Penikam. “Paman, aku ingin mengenalnya.”

Penikam maju dan duduk disamping Jaka. “Netracurik artinya; mata setajam pisau, dan pandangan matanya memang bagus, dia bisa melihat barang-barang bagus. Asal perguruan tidak diketahui, tapi jurus yang pertama kali dia gunakan adalah Selaksa Kaki Besi, asalnya dari Perkumpulan Lumrasatya, perkumpulan ini jika dibandingkan dengan 16 perguruan besar memang tidak ada apa-apanya, tapi orang- orangnya banyak tersebar hampir di seluruh negeri dan kebanyakan setia. Pada pertarungan berikutnya dia pernah menggunakan pukulan Kincir Air Mengapit, yang menguasai pukulan ini adalah para perompak Kali Bengawan, cuma tingkatan perompak itu jika dibandingkan dengannya, seperti langit dan bumi. Dugaanku, dia mendapatkan kitab aslinya atau diajari langsung oleh Ki Dowolaras sebelum ajalnya. Untuk beberapa lama dia menghilang, dan kemuculan berikutnya dia pandai menyamar, makanya di juluki Manuskarti—mirip manusia, karena dia pandai merubah rupa. Kabar yang berhasil dikumpulkan, konon dia bertemu dengan Hulubalang Kesembilan Riyut Atirodra, dan diajari kepandaian menyamar. Dengan sendirinya ilmu silatnya juga mengalami peningkatan drastis. Demikian ikhtisar singkat Netracurik.”

Netracurik tertunduk makin dalam, bahwa ada orang yang begitu paham tentang dirinya sedemikian lengkap, membuatnya merinding.

“Kau sudah berkeluarga?” tanya Jaka tiba-tiba. Lelaki ini tergagu. “Ak-aku.. pernah.” “Memiliki anak?”

Netracurik mengangguk, kini dia sadar benar, bicara dengan pemuda dihadapannya, paling baik memang jujur.

“Tentunya kau, sekarang mengerti kenapa aku bilang, ‘pahamlah aku’.” Ucapan Jaka bukan saja membuat Netracurik bingung, bahkan orang seperti Penikam juga tak mengerti.

Tak menunggu orang bertanya, Jaka menjelaskan. “Jika sebelumnya Netracurik pernah berkeluarga, tetapi pada akhirnya dia mengotot untuk memperoleh Soce Pranala, kesimpulannya adalah… kau pernah terluka, mungkin akibat pertarungan atau salah mengolah racun, sehingga kejantananmu tak lagi berfungsi. Dan Kitab Soce Pranala kebetulan merupakan kitab yang mempelajari hawa embun murni secara bertahap dengan sangat mendasar pula, itu sanggup membuat para peyakin ilmu ini memiliki keperkasaan yang di idam-idamkan lelaki. Jawaban kunci ada padamu, kau kehilangan kejantananmu karena apa?”

Karena rahasianya tepat tertebak, Netracurik tak lagi menutup-nutupi. “Enam tahun lalu aku terluka oleh Rubah Api, dan pukulannya membuat kejantananku hilang… tapi dari seorang teman, aku mendengar bahwa ilmu Soce Pranala sanggup mengembalikan kelemahanku.”

“Siapa temanmu?”

“Lindu Wastu, murid kedua ketua Perguruan Naga Batu.” Penikam dan Cambuk saling berpadangan, mereka terkejut dengan hal itu. Tapi Jaka sendiri terlihat adem ayem, dugaanya semula ternyata benar, dan kini dia memiliki kesimpulan yang sangat jelas!

68 — Menautkan Bukti

“Mungkin kalian masih bingung dengan beberapa hal, baiklah.. begini; sebelumnya sudah dituturkan Netracurik, dia terluka dan butuh solusi, kebetulan ada yang memberi tahu, bahwa ilmu Soce Pranala itu dapat menyembuhkan, itu pertama. Kedua, siapapun orangnya, yang memberi tahu solusi itu, sudah menaburkan bibit penyakit… kenapa aku katakan penyakit? Sebab dia membujuk secara halus, mendorong Netracurik untuk mencuri. Dia sedang menempatkan Netracurik kedalam posisi yang sulit, sebuah kelemahan fatalnya sudah terpegang. Dan akhirnya kelemahan itupun dipanen, Netracurik bisa dimanfaatkan dengan mudah. Ketiga; kenapa harus Lengan Tunggal? Nah, ini yang menarik… sebab dalam perguruan ini ada sebuah tindakan yang telah gagal di lakukan oleh seseorang, maka dia harus membuat mereka—anak murid Lengan Tunggal, terjebak dalam posisi sulit, dan aku bisa duga akan muncul pahlawan kesiangan membantu mereka. Karena Lengan Tunggal merasa berhutang budi, maka pengaruh orang yang memberi perintah pada Netracurik, juga akan masuk kedalam perguruan ini dengan leluasa. Dan yang terakhir, kenapa harus ilmu Soce Pranala, kenapa harus Perguruan Lengan Tunggal dan kenapa harus Perguruan Naga Batu?”

Jaka menatap Penikam, Cambuk dan Netracurik, tak ada yang menjawab. “Aku akan lakukan sesuatu untuk menjelaskan pada kalian..” katanya seraya berdiri. “Paman, ada orang yang paham gerakan Perguruan Naga Batu?” ujarnya pada Penikam.

Penikam mengangguk, dengan bergegas, dia keluar dan beberapa saat kemudian sudah membawa satu orang anak buahnya. Orang itu memberi hormat pada Jaka. Pemuda ini menepuk pundaknya, “Jurus apa yang kau kuasai?”

“Dalam Perguruan Naga Batu, ada empat tingkatan murid. Tingkat keempat, mempelajari jurus dasar, tingkat ke tiga, mempelajari dua macam ilmu, tingkat kedua, mendapat satu jenis ilmu pukulan, dan untuk tingkat pertama bisa dibilang, inilah murid-murid utama perguruan, sebab ilmu inti Perguruan Naga Batu diajarkan.” Orang ini tidak menjawab pertanyaan Jaka, tapi malah menguraikan tentang tingkatan segala.

Tentu saja Jaka memahami maksudnya. “Baiklah, aku akan mencoba sedikit gerakanmu, tidak keberatan?”

Orang itu menggeleng.

Jaka mundur beberapa tindak, lalu kedua tangannya membentuk sebuah gerakan memutar didada lalu dari putaran itu muncul pukulan, reflek lawan Jaka menangkis dengan merendahkan tubuh dan mengisar bahunya lebih rendah, begitu pukulan Jaka tertangkis, jemarinya mencakar dari bawah ke atas, angin yang ditumbukan cakar ini cukup keras, jika terkena pukulan ini, mungkin bisa membuat tulang remuk. Jaka tidak menghindar, dia menarik pukulan yang tertangkis, untuk berbelok memapaki cakaran. Demikian seterusnya, sampai empat jurus tergelar, hanya ada suara “plak-plak-plak”, tidak jelas mana pihak yang menyerang dan mana yang diserang. “Cukup!” seru Jaka.

Orang itu mundur setapak sambil membungkukkan badannya. Diam-diam menatap Jaka dengan terkejut, dari Penikam dia tahu, Jaka sangat jarang bergebrak secara langsung, sangat jarang membiarkan serangan orang menyentuh dirinya, tak nyana kali ini dia bisa bergebrak dengan Jaka, sungguh dia merasa girang mendapatkan kesempatan itu. Makanya dirinya tidak lagi sungkan, seluruh hawa murninya dikerahkan, tapi tenaga Jaka juga seolah ada dalam tingkatan yang sama, dan gerakan-gerakan aneh tadi ternyata mampu mengatasi seluruh serangannya.

Kalau Penikam dan Cambuk tidak bereaksi, lain pula reaksi Netracurik, dia seperti sedang melihat hantu, wajahnya terlihat sangat terperanjat.

“Jurusmu adalah dalam tingkatan berapa?” tanya Jaka. “Tingkat kedua.” Sahutnya singkat.

“Hm, ini cukup membantu menerangkan dugaanku…” gumam Jaka sambil mengusap dagunya. “Nah, Netracurik alasan terakhir ada disini,” kata Jaka sembari mengadap kearahnya. “Kau paham gerakan Perguruan Awanamuk, sekarang; aku ingin kau bergebrak dengan temanku ini…”

Netracurik menggelengkan kepala. “Tidak perlu-tidak perlu…” ujarnya dengan lirih. “Aku tahu apa yang akan tuan katakan…” bahwasanya dia mengatakan ‘tuan’ pada Jaka, pemuda ini tak memperhatikan, tapi Penikan dan Cambuk tertawa tanpa suara, kembali dalam benak mereka terpikir hal yang sama. “Kalau begitu, silahkan kau uraikan…” Jaka kembali duduk, setelah meminta lawan bertandingnya kembali ketempat.

“Gerakan tuan tadi menyadari aku satu hal, aku benar- benar sudah menyerahkan leherku untuk di potong orang lain…”

Cambuk dan Penikam saling pandang. “Apakah gerakan yang di lakukan tuan adalah gerakanmu?” tanya Penikam.

Netracurik mengangguk tapi kemudian menggeleng. “Memang benar gerakanku, tapi untuk berikutnya, tentu gerakanku tak akan selihai tadi, entah tuan ini mempelajarinya dari mana? Apakah tuan kerabat dekat Perguruan Awanamuk?”

Jaka tersenyum, tak menjawab. Tapi Cambuk ternyata gatal lidah kalau tidak menjawab hal ini. “Tentu saja tuan tidak memiliki hubungan apapun dengan Perguruan Awanamuk, gerakan tadi dia ambil setelah bertarung denganmu tadi!”

Netracurik terperangah, mulutnya terbuka, dia ingin bertanya sesuatu, tapi diurungkan niatnya. “Dari gerakan tuan dan gerakan Naga Batu tadi, aku bisa mengambil kesimpulan… Perguruan Awanamuk dan Perguruan Naga Batu memiliki banyak kesamaan, tak bisa kulihat dimana kesamaannya, hanya saja gerak saling serang tadi sangat serasi.”

Jaka mengangguk, “Kau benar, dari gerakan ini aku juga simpulkan Perguruan Awanamuk adalah kerabat dekat dari Perguruan Naga Batu, entah berkerabat dari mana, yang jelas tiap gerakan Awanamuk menyerupai gerakan Naga Batu, bedanya putaran serangan pada Naga Batu ada dipergelangan tangan, Awanamuk ada di lengan, pada saat putaran Naga Batu berada di lengan, Awanamuk menggunakan putaran bahu untuk menghasilkan tenaga lebih besar. Dari sini kesimpulan bisa kalian ambil, ada semacam persaingan didalamnya. Mungkin dahulu kala, ada anak murid Naga Batu yang tidak puas dengan perguruannya, lalu dia mengundurkan diri dan membuka perguruan sendiri, tapi itu tidak penting. Intinya adalah, Netracurik digunakan oleh orang dari Naga Batu untuk mengusik Awanamuk.”

“Aku benar-benar bodoh, kupikir aku memiliki seorang sahabat yang dapat dipercaya.” Gumam Netracurik dengan tertunduk. “Dengan sendirinya, begitu kabar tersiar… orang- orang Awanamuk akan memburuku. Dan karena muslihatku sendiri, nantinya Awanamuk akan bentrok dengan anak murid Lengan Tunggal. Dan pahlawan kesiangan seperti yang tuan bicarakan tadi adalah orang Naga Batu. Dia akan merangkul kedua pihak tadi untuk bersama-sama mengadiliku.. hm..hm!” makin jelas dia mengambil kesimpulan, makin gusar Netracurik.

“Bukankah kau dipesan untuk membuat anak murid Lengan Tunggal tak bisa berpijak di kota ini lagi?” tanya Cambuk.

“Memang benar! Kurasa itu hanya basa-basi, bisa merangkul dua belah pihak dengan membuat aku sebagai korbannya, lima puluh keping emas itu terlalu sedikit!” ujarnya masih mendongkol.

Cambuk menggeleng, “Maaf aku membuatmu kecewa, jika hanya untuk mendapatkan dua perguruan itu saja, kurasa kau belum cukup sepadan dengan limapuluh keping emas. Kurasa masih ada nilai lebih darimu yang kau sendiri tidak sadar apa yang sesungguhnya diincar mereka.” Netracurik terperangah, tiba-tiba terkilas dalam benaknya sebuah kejadian. Tapi itu hanya dugaan saja. “Entahlah…” gumamnya

Jaka tak menanggapi perbincangan itu, “Pada saat paman menangkap dia, ada dimana?” ia bertanya pada Penikam.

“Tebing, tepat dibenteng…”

“Ooo…” gumam pemuda ini, lalu ia tertawa kecil, nyatanya benteng ilusinya sudah dilihat banyak orang, permainan ini akan makin menarik. “Kau menaruh kitab itu pada saat anak murid Perguruan Lengan Tunggal lengah?”

Netracurik mengiyakan.

Jaka mengerti, pada saat itu anak murid Lengan Tunggal sedang menyaksikan ‘artefak’ miliknya, makanya dengan mudah Netracurik menyisipkan kitab curian itu kedalam barang bawaan mereka.

“Untung saja, si Macan menyaksikan itu dari posnya.” Sahut Penikam. “Selanjutnya dia mendekati anak murid Lengan Tunggal, yang ternyata dia kenal, lalu dijelaskan duduk permasalahanya, tentu saja mereka terkejut dan hampir tak percaya bisa kecolongan sedemikian rupa, sadar kitab itu merupakan barang panas, dengan mudah Macan mendapatkannya. Selanjutnya, kami memburu jejak Netracurik.”

Pemuda ini tersenyum, dia tahu siapa itu Macan, dia tak lain adalah Ludra yang berjuluk Macan Terbang—saudara dari Kaliagani dan Mintaraga, memang sudah kebiasaan Penikam memanggil julukan orang setengah-setengah. Sungguh dia merasa puas dengan kerja Mintaraga, dia memang memintanya untuk mengawasi seluruh pendatang dikota ini, tak sangka ada ‘bonus’ sebesar ini.

“Aku.. aku ingin tahu apa yang tuan pahami dari kitab itu…” mendadak Netracurik memohon pada Jaka.

Jaka menatap tajam orang itu. “Untuk apa?”

“Seperti yang tuan ini katakan,” ujarnya menunjuk Cambuk. “Diriku tidak mungkin mempunyai nilai lima puluh keping emas, tapi bisa jadi karena aku pernah mengetahui sebuah kejadian, mungkin hal itu yang ingin mereka bungkam.”

“Baiklah, kukatakan saja padamu, bahwa Kitab Soce Pranala adalah pasangan dari ilmu Naga Batu, sebelumnya aku hanya menduga saja. Tapi setelah aku bergebrak sedikit dengan temanku tadi, maka aku bisa memastikannya. Kitab soce Pranala dan ilmu dari Naga Batu itu seperti dua sisi mata uang. Mempelajari yang satu dengan tidak mempelajari yang lainnya, tentu banyak ketidak harmonisan didalamnya, itulah kenapa kau melihat gerakan kami tadi begitu serasi.”

“Oh, ternyata begitu…” gumam Netracurik.

“Jadi untuk mempelajari Soce Pranala, kau harus memahami ilmu tertentu dari perguruan Naga Batu, demikian juga sebaliknya. Bagi pihak Naga Batu juga harus memahami gerakan-gerakan Awanamuk sebelum merangkak menuju pemahaman Soce Pranala.”

“Jika memang ada hubungan yang begitu dekat, kenapa sejak awal tidak dilakukan kerjasama?” tanya Cambuk.

“Ego sangat sulit ditaklukan paman. Terlepas dari apa yang terjadi sebenarnya, seperti yang kuutarakan tadi, gerakan awal Awanamuk mengatasi tingkat kedua, boleh jadi gerakan Awanamuk yang lebih dalam, sanggup mengatasi murid tingkat pertama, dan begitu selanjutnya… ada persaingan didalamnya. Tapi aku bisa pastikan, persaingan saling mengalahkan itu bukan untuk mencelakai, tapi untuk menutup kekurangan gerakan ilmu Naga Batu. Sungguh jenius orang yang mencipta gerakan ini…”

Jika pemuda ini memuji pendiri Perguruan Awanamuk, maka perasaan semua orang disitu juga sama.. bedanya mereka mengagumi Jaka, sebab pemuda ini hanya melihat gerakan, hanya membaca sekali, hanya bergebrak sekali, sudah begitu paham hubungan-hubungan yang terkandung antar gerak silat dua peguruan itu.

“Kitab ini adalah pelengkap.” Lanjut Jaka lagi. “Cuma, aku tidak paham, seharusnya kitab itu sangat berharga bagi pihak Naga Batu, tapi kenapa pihak Naga Batu tidak merampasnya darimu?”

Netracurik tertunduk. “Mungkin… mungkin karena aku memegang rahasia mereka?” duganya.

“Mutlak tidak mungkin.” Tegas Jaka. “Sekalipun kau cukup licin, tapi itu tidak akan menyurutkan langkah mereka untuk mencelakaimu, aku yakin mereka begitu bersabar denganmu, karena khawatir dengan sesuatu.”

Lelaki itu tertunduk dalam, “Selama ini namaku sudah kadung busuk, belum lagi kini kutahu akan dijadikan kambing hitam… aku sungguh ingin bicara, ta-tapi.. aku juga ingin dianggap sebagai manusia seutuhnya… apa yang kusimpan ini, membuatku ingat bahwa aku ini manusia, sungguh…sungguh.. aku bingung…” “Aku tidak memaksamu untuk mengatakan apapun yang tersembunyi dalam hatimu, jika kau ingin orang lain menghargainmu, kau harus melakukan tindakan supaya dirimu dihargai. Jangan melihat orang akan bersikap bagaimana terhadapmu, tapi bagaimana cara kau bersikap pada semua orang.”

“Bolehkah aku.. memikirkan ini semua? Aku sungguh.. sungguh ingin bercerita pada tuan, tapi.. aku juga terikat oleh janji.”

“Tak masalah bagiku. Cuma kau harus paham, orang yang menepati janji, artinya layak dipercaya, tapi mungkin kau juga harus memikirkan janjimu itu apakah sebuah amanah, atau sebuah bencana? Baiklah, silahkan kau pergi… jikalau sudah siap bicara, semoga kita bertemu lagi…” Jaka berdiri dan berjalan kearah pintu kuil. Netracurik mengikut dibelakangnya. Setelah Jaka menyilahkan dia pergi, dengan perlahan diapun berjalan kedepan masih dengan kepala tertunduk, dalam benaknya mungkin terkilas banyak persoalan yang mengganjal batinnya, dan perlahan bayangannya lenyap tertelan gelap malam.

“Orang itu cukup busuk!” Gumam Penikam, menyayangkan tindakan Jaka melepas Netracurik begitu saja.

“Bagiku, asal dia berubah, sebusuk apapun itu.. bukan persoalan. Aku tak perduli dia akan bercerita atau tidak, tapi jika dengan pertemuan ini membuat perangainya lebih baik, aku puas.” Tak ada yang menanggapi ucapan Jaka.

Sambil menghela nafas perlahan Jaka kembali masuk, meskipun mereka tidak bicara, tapi Cambuk dan Penikam tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa anak buah Cambuk ada yang mengikuti Netracurik, bagaimanapun juga, jika orang busuk yang akan berubah menjadi tidak lagi busuk, biasanya; nyawa lebih cepat melayang. Tentu saja karena perubahan Netracurik bakal merugikan ‘mereka’, maka diam-diam Cambuk memerintahkan anak buahnya mengikuti lelaki itu.

“Tuan belum menerangkan kenapa harus anak murid Lengan Tunggal yang dijadikan sasaran?” tanya Cambuk.

“Paman tentu kenal dengan Ludra bertiga?” Jaka bertanya balik.

Cambuk mengangguk.

“Ketiganya pernah menyusup dalam perguruan itu dan tidak menemukan apapun yang bermanfaat.”

“Tentu saja karena mereka tidak paham tata cara bagaimana menjadi seorang mata-mata.” Ujar Penikam menambahkan.

“Paman benar, terlepas dari itu semua, Perguruan Lengan Tunggal memang tidak bisa dianggap remeh. Bukankah paman sendiri yang mengatakan demikian?”

“Benar! Tujuh Ruas, Empat Srigala, Sembilan Belantara dan Dua Bakat, itu masih misteri bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi kita.”

“Aku sangat bersyukur bahwa paman dan teman-teman sanggup mengungkapnya, tapi tidakkah paman perhitungkan, ada pihak lain dengan metode yang sama dan bisa memecahkan pula teka-teki Tujuh Ruas, Empat Srigala, Sembilan Belantara dan Dua Bakat, itu?” “Tentu saja aku perhitungkan itu!”

Jaka tersenyum. “Jika aku adalah pimpinan Lengan Tunggal, aku akan memasang muslihat dalam muslihat. Makin misterius sebuah rahasia, makin mengundang rasa penasaran para pencari informasi. Dengan sendirinya, untuk menuntaskan rasa haus itu, aku akan memberi setitik petunjuk berbelit yang akan menuju pada fakta palsu. Biasanya orang mengira bahwa tenaga dan biaya yang begitu besar sanggup menguak fakta, maka dia akan berasumsi itu adalah kebenaran. Jika umpan itu sudah terkail, dengan sendirinya aku akan menebar umpan yang lain, aku akan membiarkan diriku dilihat sebagai kalangan yang direndahkan… supaya pergerakanku tidak mencurigakan. Kalau umpan ini pun sudah terkail, akan ada dua kubu pengambil informasi yang berbeda, dan aku akan membiarkan mereka bertarung, sedangkan aku yang akan memungut hasil dari cara kerja mereka.”

Penikam mendengarkan dengan seksama. “Apakah ada orang lain yang berpikiran seperti tuan?”

“Pasti banyak!” tegas Jaka, “Apalagi jika dia sudah berbulat hati untuk melakukan hal yang busuk.”

“Jadi, Tujuh Ruas, Empat Srigala, Sembilan Belantara dan Dua Bakat adalah omong kosong belaka?”

“Aku tak mengatakan itu, aku cuma ingin mengatakan… omong kosong bisa jadi adalah kebenarannya.”

“Apa gara-gara rahasia itu, Lengan Tunggal jadi incaran atasan Netracurik?” tanya Cambuk.

“Seharusnya dari sisi inilah paman mencari beritanya.” Tukas Jaka. Cambuk mengangguk paham, sebab dirinya adalah seorang ‘birokrat’, dengan sendirinya dia punya jaringan luas yang berhubungan dengan kerajaan lain. Jaka secara meyakinkan meminta dirinya untuk mencari kebenaran informasi hubungan Perguruan Naga Batu dengan pemerintahan Kota Pagaruyung, atau lebih dalam lagi dengan Kerajaan Rakahayu.

“Benar juga,” gumam Penikam. “Yang kutahu beberapa petinggi Lengan Tunggal masih berhubungan dengan keluarga kerajaan Rakahayu.”

Jaka tersenyum puas dengan kesimpulan orang-orang terdekatnya.

“Hanya saja… maaf, jika saya menanyakan keputusan tuan sebelumnya, untuk melepas mereka…” terdengar Cambuk membuka suara.

Pemuda ini menghela nafas panjang, dia memahami arah pertanyaan itu, nampaknya Cambuk tidak setuju Jaka melepaskan delapan penguntitnya tadi. Menilik dari latar belakang Cambuk yang sangat berpengalaman dengan urusan pergerakan organisasi, tentang kekawatiran yang bisa berakibat buruk bagi pergerakan mereka, dan itu sangat Jaka hargai.

“sebab, mereka akan menjadi salah satu penanda vital kita!” Jawab pemuda ini tegas.

“Bukankah tuan tidak memberi penawaran?”

Jaka menggeleng. “Paman, aku yakin paman sudah paham kemana arah jawabanku, ‘penanda’ ini akan menjangkau tali temali ruwet yang tidak seorangpun menduganya.” Usai berkata seperti itu sinar mata pemuda itu terlihat lebih bercahaya, lebih bergairah, binar matanya seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

Jika sang pimpinan sudah memutuskan hal-hal yang tak terjangkau perhitungan mereka, biasanya ada rencana yang jauh lebih rumit dan hasilnya bisa ditebak, sukses. Penikam pernah mengalaminya sekali, dan itulah kali pertama dia jumpa dengan pemuda itu. Hari keempat 69 - Hari Keempat Kuil Ireng sudah senyap, kelihatannya tak satu orangpun disana, mentari pagi juga lamat-lamat sudah muncul dari peraduannya. Suara kicau burung bersahutan menyambut hari baru. Seberkas sinar dari balik rimbunan pohon menyinar tepat di wajah pemuda yang sedang terbaring didalamnya. Ternyata Jaka tidak kembali kepenginapannya, dia sengaja disitu, sebab hari ini dia akan banyak kedatangan tamu.

Sambil mengerjapkan mata, dia bergerak duduk. Di pojokan kuil ada tersedia sebaskom air, Jaka mencuci mukanya, dan segera bergegas keluar, tak jauh dari Kuil Ireng, ada sungai cukup besar. Pemuda ini menyelam dan berendam cukup lama. Begitu kepalanya menyembul di permukaan, dia melihat kaki orang di tepian. Ada tiga pasang kaki, tapi mendadak ketiga pasang kaki itu lenyap.

Cukup sekejap, pemuda ini tahu tamunya sudah datang, Jaka tertawa, dia berenang dan menyelam lebih dalam, lalu dengan sekuat tenaga, kakinya menjejak dasar sungai, melesat cepat seperti dilempar pegas. Tapi begitu kepalanya muncul di air, sebuah hawa yang berat dan menyesakkan menghantam dari belakang, hawa seperti ini tidak mungkin dikerahkan pesilat picisan, hanya tokoh-tokoh utama yang memiliki tenaga seperti itu! Apalagi dalam air jelas sulit bergerak cepat, berat jenis air akan membuat gerakan apapun melambat, demikian juga gerakan Jaka.

Prak!

Saat itu juga suara yang cukup menggidikkan terdengar, si penyerang mengira kepala Jaka yang terpukul, tapi sepersekaian detik setelah suara itu terdengar, badan Jaka sudah melayang diudara. Orang yang memukul dari belakang terkesip, ternyata yang dia kenai hanya sebongkah batu yang sengaja di lepar duluan oleh Jaka. Kebanyakan orang, begitu melejit, daya lesatnya hanya lurus, karena kecepatan berbanding terbalik dengan luas penampang (alas), di udara tentu saja tidak ada penampang untuk menjejak, sulit kiranya melakukan gerak selain lurus, tapi ternyata teori kebanyakan orang tak berlaku bagi Jaka, saat melejit, mendadak di udara tubuh Jaka membelok kesamping, kini dia sudah menjejak tanah. Bajunya basah kuyup, Jaka memang sengaja tidak melepas baju saat mandi.

Baru badannya tegak sempurna, hawa serangan yang amat tajam dari belakang menghantam lagi, dengan cekatan Jaka mengisarkan tubuhnya kesamping. Tapi hawa itu benar- benar aneh, berkelok sekali, seperti petir! Jaka terkejut, tapi tubuhnya mendadak mendoyong kebelakang dan lewatlah serangan itu. Belum habis gerakan hindarnya, dari sudut matanya, Jaka melihat sebuah tendangan, tapi dia tak melihat orangnya. Yang dia lihat hanya tendangan, sebuah tendangan yang sangat cepat, keras dan kejam. Dalam posisi tubuh doyong, mendadak Jaka memutar tubuh kesamping, tubuhnya meliuk dengan posisi aneh, dan tendangan itu lewat hanya dua ruas jari di depan dadanya. Jika tendangan itu kena sasaran, tak bisa disangkal, tulang dadanya pasti akan remuk.

Posisi tubuh Jaka sudah tak memungkinkan lagi melakukan gerakan menghindar, itu benar-benar posisi mati, pemuda ini yakin akan ada serangan susulan, ternyata dugaanya tepat! Kali ini bukan pukulan atau hantaman hawa murni yang berat, tapi hanya setitik saja, dan mengarah kepalanya. Setitik serangan itu benar-benar tidak menyia-nyiakan tenaga, semua tenaga terpusat pada satu titik, belum lagi serangan mengena, Jaka merasa kepalanya seolah berlubang. Pemuda ini menahan nafasnya dan mendadak dia melejit sangat cepat kebelakang, padahal tubuhnya dalam posisi kayang dengan pinggang meliuk kesamping pula, ternyata kakinya masih memiliki jejakan demikian kuat. Tapi lejitan Jaka juga cuma sejauh lima meter saja, lain kejap, dengan bersalto Jaka mengisarkan badan kesamping kiri, dan lolos sudah dari ancaman setitik hawa serang tadi.

Tapi belum lagi kaki menyentuh tanah, sebuah tebasan dengan gaung mengerikan membabat dari belakang, mengarah paha pemuda ini.

Sekalipun itu bukan serangan mematikan, tapi jika kena, memilih mati mungkin lebih baik. Jika kedua kakimu terpapas buntung keadaanmu akan lebih mengenaskan daripada mati. Sebab siksaan menjelang ajal jauh lebih mengerikan dari pada kematian yang datang tiba-tiba.

Jika orang lain, itu adalah titik kematian, melulu cuma satu serangan terakhir ini, jika ada orang memiliki sembilan nyawa, mengadapi serangan beruntun dari awal tadi, dipastikan nyawanya tinggal empat. Tapi Jaka memang berbeda dengan orang lain, dia tidak memiliki sembilan nyawa, hanya keberanian, kenekatan, dan perhitungannya lebih unggul dari orang lain.

Tangan Jaka bergerak mengibas kebelakang, apakah dia akan mengorbankan tangannya? Tidak! Ternyata kibasan lengannya, ditarik kedepan dengan kecepatan luar biasa, mendadak tubuhnya kembali melengkung—bersalto kebelakang! Ternyata kibasan tangan sebagai tumpuan tubuhnya yang masih memiliki gaya ayun turun, untuk mengayun lagi. Bacokan itu lewat hanya dua ruas jari pula dari punggungnya.

Kali ini kaki Jaka sudah menjejak tanah dengan sempurna, tapi tubuhnya masih sedikit membungkuk, posisi Jaka bagi para penyerang merupakan isyarat, tindakan berikutnya kelihatannya sudah diprediksikan mereka. Seolah akan tahu Jaka akan melompat keatas dengan seluruh tenaganya, kelima orang… ya, bukan tiga, tapi lima orang itu, membentuk satu formasi mengurung, dua orang melompat menghalang jalur lompatan Jaka dengan cengkeraman dan tebasan mengarah kepala, tiga orang lain menyerang dengan sudut segitiga mengarah dada, punggung dan mata, skak mat! Tidak ada jalan keluar lagi!

Tapi lagi, lagi-lagi Jaka seperti tahu kemana dia harus menghindar, lima serangan dahsyat itu dia hidari dengan merebahkan tubuh di tanah. Dengan senyum tersungging dibibirnya, Jaka mengawasi serangan itu. Gerakan Jaka yang tiba-tiba itu, mengejutkan penyerangnya, serangan dari atas mutlak harus dibatalkan jika tidak ingin ditumbuk tiga serangan segi tiga. Tentu saja para penyerang itu terpaksa menarik pukulan masing-masing, mereka tidak ingin bentrok dengan sesamanya.

Dari serangan awal sampai akhir itu hanya memakan waktu sembilan hitungan saja, betapa cepatnya serangan-serangan itu, jarang kiranya ada orang yang bisa lolos dari keadaan itu dengan utuh. Tapi nyatanya seluruh serangan bisa dihindari Jaka, bahkan pemuda ini dengan tenangnya berbaring di tanah.

Suasana mendadak hening, bahkan kicau burung yang ramai, sudah lenyap. Suara kerik serangga juga tidak ada lagi, suasana saat itu benar-benar menegangkan. Hawa serangan yang dikeluarkan lima orang ini seolah membuat tempat sekeliling menjadi area mati, area hampa. Kelima orang itu mengawasi Jaka dengan tatapan aneh.

Jaka sendiri perlahan bangkit.

“Kalian benar-benar hebat paman…” puji Jaka seraya menepuk-nepuk bajunya. “Apa kabarmu Paman Alih?” sapa Jaka pada seseorang yang berpakaian sederhana. Orang itu mengangguk-angguk saja, nyata benar ketegangan masih tersisa di wajahnya. Lelaki itu termasuk orang yang paling akrab dengan Jaka, sebab pemuda ini pertama kali berjumpa dan mendapat dukungan justru dari tokoh berjuluk Kepalan Arhat Tujuh ini.

“Engkau Paman Pariçuddha?”

“Baik sekali…” katanya dengan serak.

Jaka memeluk seseorang dengan tertawa lebar, dia berbadan tinggi berpakaian coklat, tubuhnya seperti pahatan dari karang, keras dan kukuh, wajahnya berbentuk kotak. “Aku tak sangka. Paman Çudhakara juga ada disini…”

Orang ini menggaruk kepalanya, dia menepuk bahu Jaka sambil tertawa serba salah. Padahal Jaka termasuk pemuda berbadan tinggi, tapi dia masih kurang satu kepala lagi untuk menyamai ketinggian orang itu.

Jika ada kaum pesilat melihat lelaki ini tertawa, pasti mereka tidak percaya, bahkan rekan-rekannya yang disitu juga melihat dengan tatapan aneh. Ya, Çudhakara adalah nama lain dari Beruang, Beruang yang paling suka bertarung, bersikap keras dan tegas, bahkan cenderung telegas. Seorang manusia yang sangat sulit dihadapi. Konon, Beruang pernah berprofesi sebagai pembunuh bayaran, sebelum akhirnya menyatakan, bahwa membunuh karena uang itu tidak menarik. Menurut kabar, Beruang saat ini sedang menekuni hobi baru… bertaruh nyawa. Beruang kadang menyatroni tempat-tempat yang sering dijadikan kongkow pada ahli beladiri. Bukan saja Beruang penciumannya sangat tajam, pengetahuan orang ini juga luas, entah kau sedang menyamar seperti apa, katanya dia bisa mengenali dirimu… makanya para tokoh yang punya nama besar kadang-kadang kalau berselisih jalan dengan Beruang lantas sipat kuping. Sebab mereka enggan di ajak bertaruh, merekapun masih sayang nyawa.

Hastin, tidak paham dengan tindakan Jaka yang memeluk Çuddhakara, apakah pemuda ini sangat dekat dengan Si Beruang? Orang yang sangat penyendiri itu? Lain dalam pikiran Hastin lain pula dengan pikiran Pariçuddha Si Arwah Pedang, dia tahu kenapa Jaka memeluk orang itu, sebab Jaka selalu sangat girang manakala ada orang yang tadinya begitu penuh nafsu membunuh, sekarang menjadi orang yang cocok dengan namanya sendiri, karena Çuddhakara berarti tabiat baik. Dan Jaka sangat tulus dalam mengagumi perubahan jiwa Si Beruang, karena itupula meski bagi orang lain Beruang menakutkan, tapi bagi Jaka orang itu justru menyenangkan.

“Engkau juga datang Paman Hastin, sungguh aku berterima kasih…” kata Jaka sambil menyalaminya.

Jika ada orang aneh dalam pikiran Hastin Hastacapa, detik itu juga orang aneh nomer satu sudah tergantikan dengan nama Jaka Bayu. Bagaimana tidak aneh? Mereka datang menyerang dengan begitu mematikan, tapi malah disambut begitu hangat, bahkan berterima kasih pula? Seolah serangan tadi tidak pernah ada.

“Ya, iya…” apapula yang bisa dikatakan oleh Hastin selain ucapan ini, dia tak kuasa berbicara.

“Paman Sadhana…” sapa Jaka dengan riang. “Kuharap engkau sehat-sehat saja, sudah lama kita tidak bersua, tak sangka paman datang kesini. ”

Sadhana pun hanya manggut-manggut saja. Mata dinginnya memancarkan cahaya yang hangat saat Jaka menjabat tangannya.

Sadhana, mirip dengan Arwah Pedang jaman dahulu, orangnya kaku, pendiam, dan sangat serius, seolah-olah sejak dia lahir sudah seperti itu, di punggungnya ada sebatang kayu hitam yang selalu dibawa kemana-mana. Orang tidak akan pernah mengira tokoh yang paling jarang berkelana ternyata bisa ada disini, tapi begitu dia keluar dari kediamannya, tidak ada satu masalahpun yang tak sanggup dia selesaikan. Dalam menyelesaikan masalahpun diapun jarang mengumbar kata, sangat mirip Hastin.

Bedanya, jika Hastin mendahulukan kepalan tinjunya baru bicara, Sadhana cukup diam mengawasi korbannya. Biasanya orang yang diawasi tahu diri, dia akan bicara dengan sendirinya. Manakala ada berita yang tertinggal atau sengaja disembunyikan, Sadhana akan mengejar orang itu, mencarinya hingga dapat lalu menanggalkan kepala dari lehernya. Dalam dunia persilatan, dia dikenal dengan nama Serigala.

Serigala dan Beruang, dua dari tujuh satwa paling terkenal di dunia persilatan berkumpul, sungguh sebuah pemandangan langka!

Bahkan, Hastin merasa takjub, bisa-bisanya orang-orang yang punya ego tinggi berkumpul seperti itu. Pantas saja Jaka pernah berkata padanya, “mereka (Tujuh Satwa Satu Baginda) tidak keberatan…” ternyata pemuda ini memang mengenal mereka.

“Kau tidak bertanya kenapa kita menyerangmu?” seru Hastin penasaran.

Jaka menggeleng, “Tidak perlu, bagaimanapun itu memang latihan yang baik buatku.” Sahut Jaka dengan tertawa kecil. “Tapi berhubung paman Hastin begitu penasaran, aku akan jelaskan…”

Hastin melongo, bukankah seharusnya dia yang menjelaskan duduk permasalahan, kenapa mereka menyerang? Bukannya Jaka? Hastin menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal. “Inisiatif menyerang pasti dari Paman Pariçuddha, tapi ide untuk menyerang pasti datang dari Paman Hastin. Paman belum melihat bagaimana kemampuanku, paman pasti merasa penasaran kenapa begitu banyak tokoh kuat mendukungku… tentu saja paman harus membuktikan sendiri. Dan aku yakin, orang yang memberikan persetujuan penyerangan yang pertama kali adalah Paman Sadhana, sebab dia paling penasaran ingin menjewer telingaku, yang paling menentang pasti Paman Alih. Dan yang diam saja, sudah jelas Paman Çuddhakara…”

“Eh, benar…” gumamnya.

“Kemampuanmu benar-benar hebat Jaka, rasanya dari yang terakhir kali, kau sudah lebih maju lagi.” Ucap Kepalan Arhat Tujuh.

“Serangan gabungan kitapun bisa dengan mudah kau hindari…” sambung Hastin. “Padahal aku sangat berharap bisa bentrok tenaga denganmu.”

Jaka menggeleng. “Mungkin aku memang mengalami kemajuan, kecuali terhadap Paman Hastin, aku sangat yakin paman sekalian juga mengalami kemajuan yang tidak sedikit.”

“Tapi tetap tidak berguna didepanmu!” Seru Sadhana dengan dingin.

“Paman salah, lihat bajuku.” Tukas Jaka. Mereka baru menyadari baju Jaka sudah kering, padahal tadi Jaka basah kuyup begitu rupa. “Serangan kalian sangat berat, aku harus membungkus rapi diriku dengan hawa murni. Tenaga tak boleh tercecer sedikitpun, tenaga juga tidak boleh terlalu besar, gerakan juga tak boleh terlalu lambat.” “Jika tenaga yang kukeluarkan kelewat besar, maka akan menjadi sasaran mudah bagi ilmu Binajra Paman Sadhana, sebab ciri ilmu Binajra justru mengejar hawa murni seseorang. Makanya dia bisa berkelok seperti petir, pada saat kuhindari, aku harus mengecilkan hawa murniku, untuk menepatkan gerak hindar dari tendangan Paman Alih, jika hawa murniku terlalu besar, maka elakanku juga akan menimbulkan sudut yang besar pula, dan itu akan sangat fatal menghadapi jari sakti Paman Pariçuddha.”

“Sebab jika serangan paman sudah bisa menjangkau hawa murniku, maka sulit bagiku untuk melepas dari kungkungan ilmu jari itu, sebab daya lontar serangan jari justru untuk menyedot tenaga lawan supaya gerakannya terbelenggu, makanya aku harus menggunakan daya hisap dengan daya hisap sesaat, untuk mementalkan tubuhku sendiri.“

“Tapi itupun belum bisa membuatku tenang, sebab serangan Paman Çuddhakara, membuat aku harus mengerahkan hawa murni hanya sampai bagian dada saja, untuk memperbesar rongga udara dalam paru-paruku, padahal sebelumnya hawa murniku sedang mengelilingi seluruh tubuh. Bisa paman bayangkan betapa susah payahnya aku harus menarik hawa murni ketitik seperti itu hingga akhirnya dengan hentakan tenaga murni separuh badan itulah, aku bisa menghindari pukulan Tebasan Golong Miring.”

“Bagimana dengan seranganku?” tanya Hastin penasaan, sebab serangannya justru tidak dikomentari Jaka.

“Serangan paman adalah kuncinya…” “Lho, kok bisa?” “Sebab, kesempatan dari daya serangan pertamalah aku bisa mengukur seberapa tepat hawa murni yang harus kupakai, seberapa besar-kecil tenaga dan gerakan yang harus kugunakan untuk mengatur supaya serangan kalian menuju kearah yang kuinginkan.”

Keterangan Jaka membuat mereka terperangah, baru mereka paham, gerakan Jaka yang serba canggung dan aneh tadi justru untuk menyedot perhatian mereka dan menentukan titik serangan mereka dari sudut yang di inginkan Jaka. Tapi apakah ada orang yang mau melakukan tindakan ‘ingin diserang’ dengan sudut-sudut mematikan seperti itu? Bukankah itu tindakan bunuh diri? Bagi orang lain memang iya, tapi bagi Jaka di titik mati itulah jalan hidup bisa dia peroleh.

Memikirkan serangan-serangan tadi Hastin mengeluarkan keringat dingin, jika berganti posisi Jaka dengan dirinya, bisa jadi dia sudah mati beberapa kali.

“Dan serangan terakhir paman sekalian seharusnya menjadi hal paling hebat. Tapi kenapa malah menjadi antiklimak?”

“Karena kau sengaja bergerak seolah ingin melompat.” Sahut Çuddhakara cepat.

“Benar sekali!” seru Jaka sambil bertepuk. “Padahal saat itu kakiku lemas sekali, karena tiba-tiba menarik hawa murni hanya sampai kedada. Tapi aku sadar, aku harus bergaya seperti itu, memancing paman sekalian untuk mengurungku dengan serangan hebat. Dan jalan hidup, bisa kuperoleh seperti yang paman sekalian saksikan tadi.” “Maka kesimpulannya, orang yang tidak suka menyerang, tidak memerlukan tenaga besar untuk menghindari serangan, sekuat apapun serangan yang menghadangnya, cukup dia tempuh titik mati serangan tadi, maka diapun akan selamat.”

Tapi, selain Jaka memangnya siapa yang bisa, dan berani bicara seperti itu?

“Seandainya, salah satu dari kami terpikir untuk menyerang bagian bawah, apa yang akan terjadi?” tanya Ki Alih.

Jaka tersenyum saja, dia tidak menjawab. Diam-diam merekapun berpikir, apakah ada jalan keluar, jika kondisinya seperti itu? Tak satupun yang menemukan jalan keluarnya. Tapi melihat senyuman itu, mereka paham, apapun sudah dalam perhitungannya.

Diam-diam Hastin sekalian menghela nafas panjang, untung saja hanya ada satu orang Jaka, dan untung pula pemuda itu bukan musuh mereka.

Jaka berjalan lebih dulu, lalu menyilahkan mereka berlima untuk masuk kedalam kuil. Didalam kuil sudah tersedia makanan, nyatanya meskipun kuil itu terlihat sepi, ternyata ada banyak orang yang bersembunyi disana. Beberapa anak buah Si Cambuk dan Si Penikam ditinggal untuk melayani Jaka.

Hidangan sudah habis ludes, dadhi (susu asam kental, semacam yogurt) yang dihidangkan juga sudah bersih dari cawan masing-masing.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” tanya Sadhana. Pertanyaan itu cukup memberi tahu Jaka, bahwa Penikam sudah memberi tahu perkembangan terakhir.

“Aku menginginkan Paman Sadhana dan Paman Çuddhakara mampir ke Perguruan Naga Batu, sekedar bertamu… biarkan mereka berasumsi apapun.”

“Itu saja?”

“Huh!” dengus Çuddhakara tidak puas.

Jaka tertawa. “Tentu saja apapun yang ingin paman perbuat, aku tidak bisa melarang.” Terlihat seringai di bibir Çuddhakara mendengar ucapan Jaka. “Tapi ada beberapa hal penting yang harus paman perhatikan…”

“Pertama, kedatangan paman tidak perlu bersama. Kedua, tolong lihat di kebun bunga disana, apakah ada bunga seruni dengan warna ungu bersemu putih, perhatikan tangkainya, jika paman berdua melihat daun lebih dari dua tangkai, tak perlu mengatakan apapun. Tapi jika berdaun satu atau dua, katakan pada mereka… ‘Tidak akan lolos!’”

Çuddhakara dan Sadhana mengerutkan kening. “Sebenarnya kau sedang berencana apa?” tanya mereka hampir bersamaan.

“Aku ingin menangkap sekor tikus, tikus ini bermimpi menjadi naga…” ujar Jaka dengan menyeringai. Kecuali Hastin, mereka hapal dengan watak Jaka, jika pemuda ini sudah berlagak sok rahasia, pasti ada permainan menarik di balik itu semua. Biasanya permainan yang membuat orang lain dongkol dan menderita.