Seruling Sakti Jilid 13

Jilid 13

60 - Mengelola Informasi Terkini

Dia sadar serangan itu bukannya sebuah jurus, melainkan pengalaman puluhan tahun mempertahankan nyawa di medan laga. Jaka merapatkan lutut.

Duuk!

Kaki orang itu berbenturan dengan kedua lututnya. Dalam tempo seperseribu detik, sebuah benda sudah ada didepan matanya. Sesaat sebelum mengenai, Jaka merendahkan kepalanya.

Crap! Crap!

Suasana hening mencekam, detik itu juga kedua belah pihak tidak bergerak. Si jangkung menatap majikannya dengan cemas.

Keadaan akhir kedua orang itu sangat menarik. Kalau Apratima dalam keadaan melangkah, maka Jaka sedang dalam kondisi dua lutut setengah menekuk dan kepala tertunduk. Tapi pelan-pelan dia berdiri kembali dengan tegap. Kepalanya juga sudah tidak tertunduk lagi.

Si jangkung melongo melihat di dahi tuannya tertancap dua buah jarum. “Biadab!” serunya geram. Dengan loncatan panjang, dia sudah ada didepan Apratima, kelihatannya orang ini sudah bersiap mengadu jiwa. “Tahan, paman…” seru Jaka.

“Mengapa harus dibiarkan?” desis orang ini dengan kemarahan tak bisa ditutupi. Tapi diapun heran, Jaka masih sanggup bersuara dengan dahi tertancap jarum. Jaka tidak menyahut, sebab dia tetap memandangi Apratima, dan si jangkung juga memandangi orang itu. Kondisi lelaki itu masih saja tetap dalam keadan seperti sedang melangkah. Mendadak saja dia jatuh terduduk.

“Bukankah tuan tidak menyerangnya?” Tanya si jangkung terheran-heran.

Jaka hanya tersenyum, ia hendak menyahut…

“Lantaran tangkisan lututnya sangat keras, itupun sama saja dengan serangan.” Jelas Pratihata mendahului.

Jaka tak mengomentari ucapan orang itu, hanya saja si jangkung-pun sekarang paham. Dia paham satu teori baru, bahwa; jika tangkisan lebih kuat dari serangan lawan, itu sama saja dengan serangan. Sederhana, tapi jika kau melihat dan mengalaminya sendiri; artinya apa yang kau dengar, sudah kau pahami. Sebuah teori ilmu sehebat apapun, tidak akan berguna jika kau menggunakan pada saat yang salah. Sebuah ilmu atau teori baru bisa dikatakan berguna, jika kau tahu caranya, dan pada saat yang tepat kau menggunakannya.

Apratima beringsut berdiri, wajahnya berkerut-kerut menahan sakit. “Sekalipun pergelangan kakiku patah, kaupun tak luput dari maut…” desis orang itu dengan mata melotot menatap Jaka.

Jaka tahu apa maksud orang itu, dia mengangsurkan tangannya ke depan. Saat itu juga seluruh tubuh Apratima gemetar, dia seperti melihat hal paling mengagetkan seumur hidupnya. Wajahnya bagai tak dialiri darah lagi, diapun menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Mendadak dia tertawa keras, kedengarannya ada yang lucu, tapi orang yang mendengarkannya tak merasa lucu, bahkan prihatin. Lalu, ia menghela nafas getir. “Kelihatannya hari ini Apratima sudah tidak Apratima lagi.” Gumamnya lesu.

Memangnya apa yang diperlihatkan Jaka? Oh… ternyata kutungan jarum yang menyerang mata Jaka. Tapi bagaimana jarum itu bisa di tangan Jaka, bukankah jarum itu masih tertancap di dahi?

Saat Apratima menghampirinya, kedua tangannya terkepal kencang, tapi tangan kirinya tidak begitu kencang mengepal. Saat itu juga Jaka sudah merasa curiga. Dan saat Apratima mengibaskan tangan, Jaka sudah tahu bahwa sesuatu mengincar keselamatan jiwanya. Dengan gerakan mendahului kibasan tangan Apratima, Jaka sudah mengibaskan dulu lengan bajunya. Angin lengan bajunya berdesing sangat kuat sehingga saat itu juga ujung kedua jarum rahasia patah sebelum mengenainya. Dan dengan gerakan cepat pula, Jaka sudah menangkap kutungan jarum. Saat kutungan jarum itu mengenai dahi, tenaganya sudah berkurang sangat banyak. Sehingga Jaka terpaksa harus mengerinyitkan dahinya, supaya jarum itu terlihat ‘menancap’… alias, jarum itu terjepit lantaran kening Jaka berkerut.

Si jangkung menatap kutungan jarum di telapak tangan majikannya dengan terpesona. Sampai saat ini, dia dan kawan-kawannya yang lain, tidak tahu seberapa hebat tuannya, sebab dia jarang bertindak, sekalipun pernah, jarang yang menyaksikannya. Kini dia merasa sangat beruntung bisa melihat kejadian langka itu.

Dan kali ini dia percaya penuh dengan ucapan Si Arwah Pedang—salah seorang kepercayaan Jaka—bahwa mencari orang hebat, sakti, jenius itu mungkin tak sulit, tapi mencari orang seperti tuan kita, jangan harap engkau bisa melihatnya kecuali engkau menatap orang yang bernama Jaka Bayu itu sendiri, begitu ucap Si Arwah Pedang.

Kesan si jangkung melihat pertarungan itu tadi adalah gabungan dari kecerdasan—lantaran berpikir cepat dengan mematahkan jarum rahasia, ketenangan—karena bisa menghindari serangan total frontal dari Pratihata, dan kebijakan—disebabkan dia tak bertindak sembarangan. Namun jika menyimak pertarungan tadi, dia mengambil kesimpulan bahwa itulah pertarungan tersingkat, dan sangat mendebarkan yang pernah ia lihat.

“Kita pergi paman,” Jaka berucap lembut menyadarkan keterpanaan si jangkung.

“Baik.” Ia tak bertanya kenapa Jaka tidak berbicara sepatah katapun kepada kedua lawannya. Sebab dia menyadari kalau keduanya butuh ketenangan untuk memikirkan segala tindakan mereka yang ceroboh. Dan tuannya memberikan kesempatan itu. Dia memang selalu memberikan kesempatan, pikir si jangkung dengan kagum. Mereka melangkah pergi, tapi baru beberapa tindak..

“Tunggu dulu!”

Jaka membalikkan badan. “Ya, ada yang bisa saya bantu?” Si jangkung yang meyaksikan tuannya dari samping, diam- diam tersenyum bangga. Memang beginilah sikapnya pada tiap orang, sekalipun kau mencela, mengejek, bahkan menyakitinya, dia tak akan membalas kecuali dengan sikap baik.

“Kami kalah! Apa maumu kini?” Tanya Apratima dengan mengatupkan rahangnya.

Jaka mengeleng sambil menghirup nafas dalam. “Sudah saya bilang sejak semula kita hanya bertanding, tidak ada taruhan.”

“Apapun yang kau ucapkan, peraturan, tetap peraturan. Kami menghendaki engkau menerima dua permintaan kami jika kau kalah. Tapi karena kami kalah, maka kau punya dua permintaan pada kami. Apapun permintaanmu, pasti kami luluskan!” ucap Pratihata.

Jaka termenung sesaat. Orang-orang macam mereka, jika keinginan mereka tak diluluskan, bila orang tahu, mungkin hanya penghinaan yang akan mereka terima. “Saudara berdua tidak menyesal dengan permintaan itu?”

Keduanya menggeleng, ada sebersit kehampaan di wajah mereka.

“Oo, inilah ego karena nama besar.” Gumam Jaka merasa menyesal. Si jangkung diam mendengar ucapan tuannya. “Kalau begitu, permintaan saya yang pertama, hilangkan kebiasaan bertaruh.”

Mata keduanya melotot!

“Apa kau gila? Kau bercanda?” seru mereka serentak. Jaka menggeleng. “Kupikir itu demi kebaikan semata. Jika aku meminta supaya... maaf, supaya kalian mau menirukan tingkah bintang selama setahun, apakah akan dilakukan? Apakah itu keinginan kalian demi memuaskan ego, ‘tak pernah ingkari taruhan, tak pernah kalah taruhan’?”

Dua lelaki paruh baya itu mendengar ucapan Jaka dengan wajah merah padam. Memang, jika pemuda itu meminta demikian, apakah mereka harus mengabulkan? Mereka pikir, lebih baik memenggal leher, dari pada hidup terhina—jika itu terjadi.

“Hanya itu?” ujar Apratima serak.

Jaka mengangguk. “Jika itu sudah cukup memuaskan sudara berdua, bahwa saya sudah memenuhi taruhan yang terakhir ini.”

“Tapi masih ada satu permintaan lagi…” desak Pratihata. “Akan saya pikirkan. Permisi…” Jaka melangkah pergi

disertai si jangkung yang mengekor dibelakang.

Gemercik air terdengar indah, dua lelaki itu saling pandang.

Mereka sama-sama menghela nafas.

“Ya, baru sekarang aku merasa lega. Ternyata kalah juga ada enak…” gumam Pratihata memecah keheningan.

Apratima mengangguk, “Aku tak menyesal kalah dari orang macam dia.”

“Orang itu… biarpun sengaja kita cari, juga sulit didapat.

Aku tak menyesal.” Sahut Pratihata. “Ya, mulai sekarang tidak ada lagi Juragan-Hartawan Anityapura.”

Pratihata tertawa. “Benar, dipandang dari manapun kita dulu memang hanya seorang juragan. Tidak ada tanpa maaf segala (anityapura)!”

“Ya, ya… sekalipun aku menyesal, tapi tak ada waktu untuk membalas, tak ada kesempatan untuk menebus kekalahan.”

“Ah, kelihatannya aku sudah terlalu tua.” Gumam Pratihata. “Kupikir sudah saatnya aku lebih memikirkan keluargaku.”

“Kau benar.”

Pratihata meraih pergelangan kaki kawannya. “Ehm, kupikir kakimu patah lantaran beradu, tapi ini hanya cedera urat saja.”

“Ya, dia sengaja membatasi tenaga benturan.”

Lelaki ini mengurut kaki kawannya beberapa saat. “Masih sakit?”

Apratima berdiri, dia berjalan bolak-balik. “Tidak, terima kasih.”

Pratihata hanya tertawa, dia menepuk bahu sahabatnya. “Ayo kita pergi.” Keduanya melangkah meninggalkan tempat itu. Kalau kedatangan mereka secepat kilat, pulangnya mereka berjalan perlahan, seperti sedang menikmati keindahan pinggir sungai batu.

“Eh, aku punya pikiran aneh…” ujar Pratahita, disela-sela desau angin pagi. “… bagaimana menurutmu?” Tanya pada Apratima. “…baik sekali.” Sahut kawannya tak jelas, ditimpali dengan suara tawa pendek. Angin pagi berhembus makin kencang…

“Jadi begitu…” gumam Jaka setelah mendengar laporan lengkap.

“Saya kawatir kalau orang itu akan mengganggu rencana, tuan.”

Pemuda ini tertawa. “Paman ini bicara apa, justru kehadiran orang-orang seperti mereka, sangat membantu kita. Apapun alasannya, mau tak mau pihak itu akan menggagalkan rencana besar di kota ini.”

Lelaki ini terdiam tak paham. “Kenapa bisa begitu?” gumamnya masih bingung. Jaka tidak menyahut, dia menatap si jangkung sekilas, lalu memandang jauh kedepan.

“Bagaimana keluarga paman?”

Orang ini heran mendengar pertanyaan tuannya tak sejalan dengan pembicaraan tadi. “Mereka baik-baik saja, anak-istriku selalu bersyukur masih bisa hidup saat ini. Kami merasa berterima…”

“Bukan itu yang kumaksudkan.” “Lantas?”

“Aku menanyakan kabar keluarga paman, lantaran ingin mengingatkan satu hal pada paman.” “Oh, maksud tuan karena perbuatan orang-orang itu? Orang-orang yang menyekap keluargaku dan keluarga saudara-saudaraku?”

“Benar. Paman Mintaraga, paman Ludira dan engkau sendiri paman Kaliagni, tentu sampai saat ini merasa dendam.”

“Benar.” Gumam si jangkung yang bernama Kaliagni. Beberapa bulan lalu, Kaliagni dan kedua saudaranya diselamatkan oleh kawan Jaka. Kondisi mereka saat itu sangat parah, beruntung Jaka dapat menyembuhkan mereka. Dalam waktu satu bulan, ketiganya sembuh—walau belum pulih benar. Dan lebih menggembirakan lagi, keluarga mereka yang disandera sudah kembali. Entah bagaimana cara Jaka membebaskan mereka. Karena merasa berterima kasih, ketiga bersaudara itu bersumpah mengabdi, menjadi pelayan atau apa saja untuk menebus budi.

Jaka keberatan, karena dia menolong memang sudah seharusnya. Tapi ketiganya ngotot, mereka bersama keluarga mereka bahkan meminta Jaka suka menerima pengabdian mereka. Dengan hati berat, Jaka menerimanya. Sejak saat itu hubungan mereka sudah seperti satu keluarga besar. Boleh dibilang dari sinilah Jaka memiliki koneksi luas di Kota Pagaruyung.

“Dendam boleh saja, tapi harus paman pikirkan, karena dendam banyak pihak tak bersalah akan jadi korban. Menurutku, lebih baik pihak yang berakal dan berbudi, yang lebih dulu memutuskan lingkaran dendam.”

“Tapi aku belum sanggup.” Jaka tersenyum. “Itu wajar paman, belum sanggup artinya akan terus mencoba untuk sanggup, bukan begitu?”

Kaliagni menatap Jaka. Pandangan mata pemuda ini terlalu lembut untuk ukuran orang yang memiliki kehebatan mengumpulkan ratusan orang. Kadang kala, dirinya merasa Jaka tidak cukup tegas, tapi sekarang dia paham, kenapa Jaka tak pernah bersuara keras pada rekan-rekannya, lantaran apa yang dilakukan, dan apa yang di ucapkan itu tak pernah berseberangan. Makanya, mereka mau mengerti.

“Ya...” sahutnya lirih.

“Aku bukannya menyuruh paman supaya mengasihi musuh, tidak begitu. Aku hanya tak ingin, keturunan paman menanggung dendam tak berkesudahan. Kalau saja paman pernah merasakan dendam begitu besar, begitu berdarah, begitu ingin membunuh, tapi paman melepaskan kesempatan itu semua, melepaskan keinginan nafsu kita. Paman akan menemui bahwa hidup ini lebih cerah, kita akan sadar kalau mentari bersinar selalu lebih cerah dari hari kehari.” Jaka berkata sambil menatap sinar matahari disela-sela pohon.

Kaliagni memandang wajah tuannya dari samping. Saat itu ia baru menyadari wajah Jaka terlihat berseri, seperti seri mentari menyinari bumi.

Tak satu orangpun tahu latar belakang pemuda ini. Tapi jika mendengar nasehatnya tadi, Kaliagni bisa mengambil kesimpulan, bahwa Jaka adalah orang yang membawa bara dendam begitu besar. Tapi dia sanggup melepaskannya, dia tak menghiraukan dendam itu. Sebab hanya orang yang pernah merasakan api kebencian dan dendamlah, yang bisa mengucapkan nasehat semacam itu. Tanpa terasa mata Kaliagni terasa hangat, ia mengerjap- kerjap lalu menyekanya dengan tak kentara.

“Ya, saya paham…” kali ini dia bersuara dengan mantap. Jaka menatap sekilas lelaki itu. “Syukurlah.”

Hening sejenak.

“Sebenarnya, orang macam apa yang melumpuhkan paman?”

“Seumur hidup tak akan kulupa tatapan orang itu.”

“Aku tak bertanya rupanya, tapi bagaimana di melumpuhkan paman.”

Kaliagni menggeleng-gelengkan kepala. “Hakikatnya satu juruspun tak ada.”

“Saat itu, paman sedang berlari mengerahkan peringan tubuh?”

“Benar.”

“Kalau begitu kemunculan orang itu, sangat mendadak?” “Ya, dia muncul didepanku seperti setan saja.”

“Dan karena kaget, paman segera menyerang?”

“Ya, aku menyerangnya dengan gerakan Gempuran Selaksa Tapak.”

“Saat itu juga paman merasa tubuh lunglai?” “Benar sekali.” “Baik, coba sekarang paman menyerangku seperti saat itu.”

Jaka melangkah bersembunyi dibalik pohon, Kaliagni tahu maksud tuannya. Diapun berlari menjauh, setelah dirasa cukup jauh, dia segera mengembangkan peringan tubuhnya. Begitu kecepatannya mencapai titik maksimal, mendadak saja didepannya terlihat satu sosok bayangan. Sekalipun dia tahu kalau itu Jaka, tapi tak urung jantungnya berdetak keras. Tanpa sadar dia mengerahkan jurus Gempuran Selaksa Tapak. Detik itu dia melepaskan serangan, detik itu juga dia merasa lemas. Kaliagni jatuh menggelosoh, tapi sebelum menyentuh tanah, Jaka sudah menyambutnya. Pemuda ini segera membebaskan totokannya.

“Begitukah?” Tanya pemuda ini.

Kaliagni masih tercengang, mendengar pertanyaan Jaka segera dia mengangguk berulang kali. “Persis sekali tuan.”

Jaka diam termangu. “Kalau sedang berhadap-hadapan dengan orang itu, paman bisa menandingi berapa jurus?”

“Jika aku segera mengerahkan Cakar Darah Mayat, paling banter hanya belasan jurus.”

“Kalau tanpa ilmu itu?”

“Kurasa, hanya empat jurus, mungkin kurang dari itu.”

Jaka menggumam. “Ditilik dari gerakannya saja, dia memang tokoh yang hebat, benar-benar hebat.”

Kaliagni tertawa mendengar ucapan Jaka. “Apa yang kau tertawakan?” “Kalau tuan bisa menirukannya, bukankah tuan lebih hebat lagi?”

“Sembarangan.” Gerutu Jaka.

Kaliagni masih tertawa, hatinya merasa kagum juga heran. Kagum, karena diusia semuda itu Jaka bisa menguasai begitu banyak pengetahuan. Heran; jika kehebatannya dipuji, dia selalu salah tingkah.

“Apa rencana kali ini tuan?”

Jaka menghela nafas. “Aku selalu merepotkan paman, tapi aku belum memberi satu pegangan berarti untuk berjaga- jaga.”

“Ah, jangan berkata begitu. Olah langkah dan bola asap yang tuan berikan sudah lebih dari cukup.”

Jaka mendesah. “Itu saja belum cukup, karena kusadari tugasmu kian bertambah berat, maka aku berniat menyempurnakan ilmu Cakar Darah Mayatmu paman.”

“Ah…” Kaliagni terkejut. “Ma-maksud tuan… tuan menguasai ilmu itu juga?”

Jaka menggeleng. “Tidak, aku pernah membaca teori semacam itu, dan hanya paham garis besar teorinya saja. Mungkin tambahan beberapa gerakan, dan satu kunci latihan hawa murni, bisa menambal keganasan ilmu paman.”

Kaliagni masih merasa heran. Dia heran, karena gurunya sendiri berkata, kalau ilmu itu adalah milik leluhur gurunya yang diturunkan secara turun temurun, tanpa pernah singgah kepada orang lain, bagaimana mungkin Jaka bisa memahami teorinya?

Padahal Jaka sendiri bukannya orang serba bisa. Dia bermaksud mengajarkan pernafasan murni tentu dengan banyak pertimbangan. Jika dia asal memberikannya, sama saja dengan menjerumuskan Kaliagni, sebab tiap orang memiliki aliran hawa murni tersendiri, jika aliran itu berbeda, bukankah sama dengan mencelakainya?

Jaka bermaksud memberikan tambahan olah hawa murni, karena dia tahu apa yang dikuasai Kaliagni makin lama makin berbahaya, semakin tinggi tingkatan Cakar Darah Mayat, selain ampuh, tapi semakin mematikan bagi penggunanya.

Mungkin bagi pendengaran Kaliagni, Jaka seperti paham dengan ilmunya. Dalam kenyataan tidaklah demikian, karena latar belakang Jaka adalah pengetahuan syaraf—pengobatan, maka dengan sendirinya Jaka tahu apakah latihan ‘nafas’ Kaliagni baik bagi tubuhnya. Jaka hanya ingin ‘menambah’ dan ‘meluruskan’ latihan hawa murni Kaliagni, pendek kata pemuda ini hanya mengecilkan resiko mempelajari ilmu itu. Tanpa mengetahui secara mendalam, mutlak bagi Jaka tak akan bisa merubah ‘prosedur’ latihan ilmu itu.

“Eh, aku.. aku merasa heran…”

“Paman pasti akan bertanya bagaimana aku tahu teori ilmu itu?” ujar Jaka dengan pandangan menerawang. Kaliagni mengangguk.

“Dulu aku pernah mendengar cara paman bertarung dari Paman Alih, kehebatan ilmu itu tak perlu kusangsikan. Hanya saja, aku melihat celah fatal dalam penghimpunan hawa sakti ilmu paman.”

“Saya juga menyadarinya.” Ujarnya terkejut, dia pikir hanya dengan mendengar saja sudah tahu kurang-lebihnya ilmu itu, bagaimana jika sudah benar-benar mengamatinya? Tentu saja Kaliagni tidak bakal menyangka bahwa kemampuan Jaka didapat dari hal paling dasar, sebuah sebab akibat dari denyut syaraf. Setiap pergerakan manusia, selalu membuka celah kuat dan lemah, dan itu dipahami Jaka, dengan sendirinya ilmu yang tidak terlampau rumit gerakannya, dengan mudah dapat diselami kelebihan dan kekurangan olah nafasnya.

“Kalau tak salah ilmu itu bisa juga disebut pamungkas hidup-mati?”

“Benar. Seandainyapun aku menang pertarungan dengan ilmu itu, kalau selamat, kondisinya juga sangat buruk. Kekurangan darah, banyak luka otot disana sini.”

“Itulah yang kumaksud, semakin tinggi paman menguasainya, semakin beresiko. Mungkin latihan yang akan aku berikan nanti, bisa menyingkirkan penggunakan darah sebagai peningkat kekuatan secara drastis.”

“Tapi bagaimana mungkin hal yang paling penting dibuang, harap tuan ketahui ilmu Cakar Darah Mayat itu bertumpu pada penggandaan tenaga.”

“Aku paham, karena itu aku akan mengajarkan satu latihan khusus untuk meningkatkan tenaga, sama seperti pada ilmumu. Bedanya, latihan ini mungkin sedikit lebih baik, dari pada penggunaan darah sebagai penambah tenaga. Jika berhasil, paman tidak perlu mengalami cacat lantaran mengunakan ilmu Cakar Darah Mayat.”

“Oh...” Kaliagni terperangah. Jika saja yang bicara bukan Jaka, lebih baik dia menyingkir.

“Harus paman ketahui, latihan khusus yang akan paman pelajari, wajib rutin dilatih. Mungkin tak tertutup kemungkinan kekuatan ilmu itu jauh melebihi perkiraan paman.”

“Masa ada hal seperti itu?”

“Percayalah, latihan menggunakan pemusatan pikiran, untuk mengontak tenaga aliran darah, lebih bermanfaat ketimbang menghamburkan darah untuk membangkitkan tenaga.”

“Butuh berapa lama untuk membuat latihan itu memperlihatkan hasil?”

“Tergantung ketekunan paman.” Kaliagni manggut-manggut.

“Lagipula, jika paman menggunakan ilmu itu pada orang yang melumpuhkan paman, aku yakin engkau akan mati lemas.”

“Hh…” lelaki ini menghela nafas getun.

“Pernah dengar pameo, ‘sehebat-hebatnya serangan, jika tidak kena, tak ada gunanya’?”

“Tentu saja pernah, bakul jamu-pun tahu pameo itu!” Seru Kaliani geli-geli dongkol. “Coba bayangkan, sekalipun tenaga paman meningkat drastis, sepuluh atau seratus kali, jika seranganmu tak kena, bukankah sama dengan menghamburkan darah cuma-cuma?”

“Benar.”

“Aku tak tahu apa maksud diciptakan ilmu itu. Dengar- dengar ilmu itu sudah punah, dan kali ini pamanlah yang menguasai.”

“Ya, ilmu itu memang sudah punah. Karena kalau bukan keturunan langsung, tidak akan diajarkan.”

“Jadi paman keturunan langsung dari pencipta itu itu?” “Bukan, keturunan terakhir adalah guruku. Tapi beliau tidak

memiliki anak, untuk menghindari lenyapnya ilmu ini, maka diturunkanlah ilmu ini padaku. Sayangnya aku belum juga sempurna menyakininya.”

“Menurutku makin sempurna makin berbahaya.”

“Aku juga berpikir demikian tuan, tapi menurut guru, leluhur ketiga yang menciptakan ilmu ini sanggup menyempurnakan. Sehingga bukan saja kekuatan bisa meningkat dua puluh kali lipat, tapi darah yang digunakanpun, bukan darah sendiri, tapi darah musuh.”

Jaka menghela nafas. “Mengerikan.”

“Lalu, bagaimana dengan gurumu paman, apakah beliau juga sesempurna itu penguasaannya?”

“Entahlah, aku belum pernah melihat guru mengerahkan ilmu itu. Oh… kecuali waktu dulu beliau disatroni musuh besarnya, cuma ilmu Cakar Darah Mayatnya tak seseram yang kukeluarkan.”

Jaka tersenyum. “Kalau begitu, hasil dari yang akan dilatih, mungkin sama dengan milik beliau. Setelah tambahan olah nafas kuberikan, paman bisa bertukar pikiran dengan guru paman, siapa tahu beliau sanggup menambal kekurangan, dan mungkin saja membuat ilmu itu makin sempurna.”

Kaliagni mendengarkan penuh minat. “Kalau begitu ajarkan saya tuan.”

“Sayangnya tidak saat ini.”

Kaliagni paham, mengajarkan hal seperti itu bukanlah pekerjakan gampang.

“Kapan?”

“Nanti, saat pertemuan dengan seluruh ketua dan wakil, aku berniat memberi mereka sedikit masukan.”

Lelaki ini menatap Jaka dengan tatapan mata bingung, sungguh dia tak paham, sebenarnya Jaka itu orang macam apa.

Jika orang lain tak percaya bahwa Jaka adalah lelaki yang tak bisa melakukan hal-hal sulit, maka dia adalah orang pertama yang mempercayai bahwa Jaka sanggup. Sekalipun dia menjadi anak buah Jaka termasuk pada gelombang akhir, dari cerita yang dihimpun kawan-kawan yang lebih dulu masuk, dia bisa sedikit membayangkan bagaimana pribadi tuannya, dan sampai dimana kehebatannya. Konon, tokoh yang bernama Kepalan Arhat Tujuh saja jadi pendukungnya. Para petinggi yang dibawahi Jaka langsung— sampai saat ini, dirinya hanya pernah berjumpa dengan tokoh bernama Arwah Pedang. Sebelum ia menjadi anak buah, orang-orang macam Arwah Pedang, Kepalan Arhat Tujuh, hanya pernah dia dengar namanya besarnya, tak terjangkau. Mereka adalah pentolan-pentolan disuatu wilayah, juga kepala rumah tangga sebuah perkampungan besar. Kepandaian mereka konon belum lagi ada tandingannya. Baru setelah bergabung dengan Jaka, tahulah dia bahwa orang-orang yang dikabarkan belum ada tandingannya, pernah bertekuk lutut di depan Jaka. Begitu menurutnya.

“Apa rencana tuan sekarang?”

“Sebentar lagi aku harus menjumpai beberapa orang.

Paman kembalilah.”

“Baik.” Kaliagni segera melesat pergi.

Jaka menatap langit. Alangkah birunya, pikirnya. Entah kenapa aku mau mengikat diri dengan semua urusan ini. Hh, bukankah bergerak dan bertindak bebas merdeka lebih menyenangkan? Sekalipun Jaka berpikir seperti itu berkali- kali, dia selalu memiliki jawabannya.

Jikalau engkau memiliki kekuatan, kekuasaan, gunakan semuanya dengan bijak untuk merubah keadaan sekitarmu jadi lebih baik. Dengan demikian hatimu bisa lebih lega, dengan melakukan tindakan yang sesuai kemampuan, dari pada kau bebas lepas dari semua urusan. Jika semua orang berpikir untuk lepas dari semua urusan, bersikap acuh tak acuh, apa jadinya dunia ini? Karena itu harus ada seorang aktor intelek yang harus bekerja keras membuat tatanan hidup baru yang lebih baik.

Dulu, saat dia mengira dengan begitu banyak pengetahuan yang di baca, dia mengira pola berpikir bebas dengan menentukan aturannya sendiri adalah keberhasilan. Dan mungkin saja, kelak buah pikirannya merupakan salah satu karya besar. Tapi karena suatu kejadian, tak pernah lagi terpikir untuk hidup bebas, individualis, menganggap bahwa ‘aku yang terbaik’ tidak! Kini pikirannya sama sekali tak terbetik sedikitpun kearah itu. Karena, manusia diciptakan untuk saling mengenal dan membantu. Teori sederhana itu, sudah lama dia baca, tapi baru beberapa tahun terakhir ini dia pahami dan resapi maknanya.

61 - Menjumpai Sobat Dari Sampar Angin

“Kupikir sekarang sudah tiba masanya…” pikir Jaka. Lalu dia melangkah menyusuri tepi sungai.

Tengah hari, dia punya janji dengan orang-orang dari Perguruan Sampar Angin. Sebenarnya Jaka enggan melakukan pekerjaan yang belum tentu ada manfaatnya, tapi diapun sadar, jika terlalu serius mengerjakan sesuatu, maka ‘kehangatan’ dari hasil karya tidak akan pernah muncul. Karena itu, ia kira apa salahnya mencari kawan sebanyak mungkin, bukankah lebih beruntung?

Tapi diapun tahu, didunia ini jarang ada kawan yang mau diajak menangis bersama. Sekalipun dia dikelilingi banyak orang yang menyanjung, mengagumi dirinya, dia tetap merasa kesepian. Sungguh, rasa sepi seperti itu bukanlah hal yang menyenangkan.

Sebab ada kalanya kita harus menyandarkan kepala untuk istirahat sejenak, dan sandaran terbaik yang di peroleh adalah kepercayaan. Tapi, sungguh tidak mudah mendapatkan sebuah kepercayaan, apa lagi orang yang dipercaya…

Jaka sampai ditempat yang sudah dijanjikan. Sekalipun waktu pertemuan masih sekitar satu jam lagi, tapi Jaka bisa memaklumi kalau mereka sudah datang.

Ditepi Sungai Batu, sekitar seratus meter dari simpang jalan setapak terdekat, ada dibuat gardu tak berdinding. Suasana disitu sungguh asri.

Pemandangan didepan membentang luas, diseberang Sungai Batu, masih ada aliran air dangkal lain yang dipisahkan delta (dataran tanah yang lebih tinggi dari permukaan air) yang cukup luas. Di seberang aliran sungai kedua masih ada lembah hijau nan landai. Terlihat disana ada beberapa orang tengah mengail ikan, menebang pohon yang sudah tua, ada juga yang tengah mengumpulkan kayu bakar.

Damar Kemangi dan Danu Tirta sudah melihat kedatangan Jaka dari kejauhan. Mereka merasa agak kecewa saat melihat orang yang mereka tunggu. Ketika perjumpaan pertama kali, dalam bayangan mereka Jaka adalah orang yang berpenampilan perlente, karena mereka merasakan wibawa besar saat berhadapan, walau kurang jelas melihat raut wajahnya.

Kini setelah melihatnya, orang yang bernama Jaka Bayu ternyata seorang pemuda berpenampilan sederhana, apa adanya. Bajunya tak menyiratkan kesan apapun, sama seperti yang dikenakan kebanyakan orang.

Setelah jarak tinggal belasan langkah, barulah mereka tahu mengapa mereka merasa sungkan saat berhadapan malam itu. Sekalipun pemuda itu berdiri diantara ratusan orang, mereka pasti segera paham bahwa orang itulah yang akan ditemui. Jika ada orang yang dilahirkan untuk sifat kharismatik, mungkin Jaka bisa dikatakan salah satunya.

Buru-buru Danu Tirta menyambut Jaka. “Saudara Jaka?” Tanya memastikan.

Pemuda ini mengiyakan. “Kelihatannya kita sama-sama datang terlalu cepat.” Ujarnya.

“Tidak jadi soal. Makin cepat makin baik.” Sahut Damar Kemangi.

Jaka tak mengomentari, Danu Tirta mempersilahkan dirinya masuk kedalam Gardu. Didalamnya sudah ditata makanan untuk jamuan. Alis Jaka terangkat satu, dia merasa agak diluar dugaan.

Melihat tamunya merasa heran atau mungkin kurang suka dengan jamuan itu, Damar Kemangi segera berkata. “Jangan salah sangka, kami menata makanan ini bukan cuma untukmu.”

“Oh?” pemuda ini heran juga. “Kalian menerima tamu lain?” “Bukan, tapi beberapa orang yang sudah kami kenal.” “Ehm,” Jaka mendeham kikuk. “Kelihatannya lima orang

sahabat lainnya tidak ikut kesini?” Mereka tahu yang dimaksud Jaka, Lima Pelindung Putih. “Mereka ada keperluan sebentar, tak lama kemudian juga akan kemari.”

Mereka duduk saling berhadapan.

“Seperti yang kukatakan malam itu, rasanya kita harus saling mengenal lebih dalam.” Kata Danu Tirta memulai.

Jaka tersenyum. “Mengikat persahabatan dimana saja ya… kelihatannya kegemaran kita sama.”

Danu Tirta tertawa. “Silahkan..” ujarnya sambil mengambil minumannya.

Jaka juga tak sungkan. Ia menuang minumannya, dan menyesapnya sedikit. “Jadi apa yang akan kita bicarakan? Kalau menurut kegemaranku, aku paling senang mendengar.”

“Bagus,” ujar Damar Kemangi tertawa. Dia menyadari kalau Jaka secara halus mempersilahkan mereka untuk memperkenalkan diri lebh dulu.

“Seperti yang kau ketahui, kami berasal dari Perguruan Sampar Angin. Kau tahu perguruan kami?”

“Ya, bukankah termasuk dari enam belas perguruan terkemuka?”

“Benar. Harus kau ketahui juga, tiap anak murid perguruan terkemuka, belum boleh keluar dari pintu perguruan jika belum menempuh satu ujian kelulusan,”

“Kalau begitu kalian pasti sudah selesai menimba ilmu, kurasa kalian lulusan terbaik.” Sahut jaka. Damar Kemangi tertawa sambil menutup mulutnya. “Lulusan terbaik mungkin benar, tapi selesai menimba ilmu itu tidak benar. Apa yang kami dapatkan hakikatnya belum apa- apa, dibanding para sesepuh perguruan kami, karena itu, kami keluar perguruan juga hanya untuk mencari pengalaman saja.”

“Benar,” timpal Danu Tirta. “Terlalu lama belajar, tanpa mengendorkan saraf, menurutku tidak baik.”

“Tidak mesti begitu, semua itu tergantung dari mana kau memandangnya.” Sahut Jaka.

“Maksudnya?”

“Jikalau kau merasa butuh dengan apa yang kau pelajari, kau tak akan merasa jenuh karenanya.”

Dua pemuda itu terdiam sesaat, apa yang dikatakan pemuda ini memang benar. Mereka cuma heran, bagaimana Jaka bisa mengatakan hal sebijak itu?

“Kurasa kau benar.” Gumam Danu Tirta.

“Masa’ kau baru menyadari kalau ucapanku itu masuk akal?” Seru Jaka.

Keduanya nyengir, mereka tahu kalau Jaka hanya bercanda. Untuk ukuran orang berkharisma, pemuda bernama Jaka ini termasuk aneh, begitu pikir mereka. Kebanyakan dari orang yang berwibawa, selera humornya terhitung rendah. Tapi Jaka tidak.

“Jadi saat ini kalian keluar untuk bersenang-senang atau ada tugas belajar?” Jaka bertanya blak-blakan. “Ha, tugas belajar?” Danu Tirta tertawa. “Bisa juga kau menyidirku.” Ujarnya geli.

“Kenapa kau bilang aku menyindirmu?”

“Lantaran aku kena sergap orang, kau mengatakan kalau aku ada tugas belajar, kau pasti juga ingin mengatakan, sekalipun sudah tamat belajar di perguruanku, toh ilmuku belum cukup memadai untuk menghadapi orang-orang itu. Benar begitu?”

Jaka tertawa, bukan tersenyum… biasanya dia hanya tersenyum, kali ini dia tertawa lepas. Baru bicara berapa saat saja dia sudah merasa suka dengan Danu Tirta.

“Aih, sekalipun aku ingin mengejekmu, tapi kaupun sudah mengaku, apa yang perlu kukatakan lagi?”

“Bisa juga kau.” Seru Danu Tirta tertawa. “Dan kau sendiri bagaimana?”

“Bagaimana apanya?’ Tanya Jaka menanggapi pertanyaan Damar Kemangi.

“Katanya tadi malam, mau berjumpa dengan temanmu, mau apa kalian di sana malam-malam?”

Dari nadanya, Damar Kemangi memang sedang menyelidik, kalau orang lain mungkin bisa tersinggung, tapi Jaka tidak, justru keterusterangan seperti itu yang disukainya, menambah keakraban.

“Masa kau percaya omonganku tadi malam?” “Hah, jadi?” “Itu kan hanya alasan saja, aku cuma kebetulan lewat. Sungguh tak disangka aku bisa bertemu macam-macam orang, dan juga kalian ini.” Nada Jaka juga terdengar akrab sekalipun sedikit bernada mencemooh.

“Orang-orang macam apa?”timpal Danu Tirta.

“Orang aneh… kalian juga kugolongkan kedalamnya.” “Sialan.” Maki Damar Kemangi pura-pura ketus.

“Masa kalau bukan orang aneh, bisa berkumpul di kebun orang larut malam? Kan tidak mungkin orang macam kalian cari buah di kebun orang, malam-malam lagi!”

“Hahaha… kau benar, tapi kau juga aneh, masa kau bisa keluyuran tengah malam di kebun orang.”

“Kalau begitu kita sama-sama aneh.” Seru Damar Kemangi. “Eh, tidak bisa begitu... kalau aku keluar malam-malam

karena iseng, tak ada tujuan lain. Entah dengan kalian…” “Ah, sama saja, itu juga mencurigakan.”

“Benar, kalau mau iseng kan ke tempat lebih ramai.”

Jaka manggut-manggut. “Benar juga, buktinya aku ketemu kalian di tempat itu… kan jadi ramai?”

“Bisa saja kau…” Seru Damar Kemangi memaki geli. “Masih mungkir juga ya?” Mereka bercakap-cakap dengan akrab, terlalu akrab untuk orang-orang yang baru saja bertemu. Justru itu enaknya jadi orang yang merantau kemana-mana, banyak kawan yang didapat, sekalipun pengalaman pahit juga tak kalah banyak. “Menurutmu, apakah situasi kota ini wajar?” Tanya Danu Tirta, setelah sekian lama mereka bicara kesana-kemari tak keruan juntrungannya.

“Jelas tidak wajar!” potong Damar Kemangi.

Jaka mengangguk membenarkan, sambil menimpali. “Kelihatannya banyak sekali orang-orang dari perguruan terkemuka datang kemari. Apa ada kaitannya dengan Perguruan Naga Batu?”

“Perguruan Naga Batu?” mereka berseru bersamaan, lalu berpandangan.

Jaka merasa heran melihat mereka bersikap seperti itu. “Kenapa kalian, apa kalian tidak tahu?”

“Justru itu masalahnya!” seru Damar Kemangi. “Kami tahu, mungkin lebih paham ketimbang dirimu, hanya saja yang kuherankan justru karena kau juga mengetahuinya. Tapi… apa benar kau tahu?”

Jaka mengangguk. dalam hati Jaka mencatat point ini, ternyata 'hajatan' Perguruan Naga Batu hanya diperuntukkan buat kalangan tertentu saja.

“Kalau begitu kau bukan orang luar.” Sahut Danu Tirta.

Jaka tahu kalau maksud mereka dirinya adalah salah satu anggota perguruan terkemuka.

“Tidak, aku orang biasa yang kebetulan saja senang merantau.”

“Tidak mungkin,” seru Damar Kemangi. “Kau tahu, hanya orang-orang dari perguruan terkemuka saja yang paham adanya pergantian pejabat di Perguruan Naga Batu. Pesilat bebas atau pengelana tak mungkin tahu masalah ini. Karena undangan yang dikirimkan dari pihak Perguruan Naga Batu sangat terbatas.”

“Oh,” Jaka hanya bisa mendesah. “Apakah tidak tertutup kemungkinan bagi warga kota mengetahuinya?”

“Kemungkinan itu kecil, sebab murid-murid perguruan yang tinggal dikota inipun belum tentu tahu adanya perubahan dalam perguruan mereka.”

Satu point penting lagi, pikir Jaka. “Kalau menurut ceritamu tadi, aku dapat menduga analisa kalian benar.”

“Eh, kau dapat berita ini dari siapa? Tidak mungkin kau mengetahuinya kalau bukan dari orang yang menerima undangan.”

Jaka mengangguk. “Ada seorang sahabat yang memberitakan padaku tentang hal ini. Mungkin dia salah satu anggota enam belas perguruan terkemuka.”

“Masa kau tak tahu dia berasal dari perguruan mana.” “Sekalipun aku ingin tahu, tapi terpaksa keinginan itu

kubuang jauh-jauh, jika yang bersangkutan tak ingin kita mengetahui latar belakang dirinya.”

Keduanya mengangguk.

“Bukankah tiap orang punya rahasia?” sambung Jaka lagi. “Benar. Kau sendiri punya rahasia?” Jaka diam sesaat. “Tentu saja. Aku yakin kau pasti punya.

Kita semua punya rahasia.” “Misalnya…”

Jaka tertawa mendengar ucapan Danu Tirta. “Kalau aku mengatakannya, sudah pasti bukan rahasia lagi.”

Danu Tirta tertawa jengah. “Kalau kau sendiri berasal dari mana?”

“Eh… jangan-jangan itu rahasia juga.” Potong Damar Kemangi.

“Tentu saja itu bukan, aku dulu tinggal di Kota Kunta.” “Kunta?” gumam keduanya seretak.

“Ya,”

“Apakah kota Kunta yang dekat Rangkas Sabang.” “Bukan…”

“Jadi yang dekat Indrahilir?” “Benar.”

“Oh,” Danu Tirta bergumam seperti memahami sesuatu.

“Ada apa, apakah ada sesuatu yang kau ketahui tentang kota tempat tinggalku?”

“Tidak.” Damar Kemangi yang menjawab. “Hanya saja, kami punya saudara di kota itu.” Jaka tersenyum. “Siapa dia, barangkali saja aku kenal, dan siapa tahu aku sudah bersahabat dengannya, bukankah dengan demikian hubungan kita sudah terjalin jauh-jauh hari?”

“Kau benar, tapi aku ragu kalau kau mengenalnya.” Alis Jaka terangkat.

“Sebab dia seorang wanita.”

“Oh, kau benar… temanku dari kalangan wanita memang sedikit.”

“Bagaimana kalau pasangan hidup?” Tanya Danu Tirta.

Jaka tertawa agak tersipu. “Orang seperti aku yang hidup tak menentu arah, belum memikirkan untuk berkeluarga segala. Apalagi aku masih terlalu muda untuk itu.”

Damar Kemangi segera menyela. “Di daerahku ada pemuda seusiamu sudah punya anak dua.”

Jaka tertawa geli. “Kau ini aneh, jangan samakan aku dengan pemuda didaerahmu. Mungkin saja dia memang sudah merasa mampu untuk berkeluarga, ya tidak masalah, kenapa pula tidak segera menikah?”

“Dan kau belum mampu?”

Jaka tertawa geli. “Kalau bicara masalah mampu atau tidak, itu bukan hal yang prinsip, yang paling penting, apakah memang kita sudah menemukan jodoh yang tepat.”

“Wah kalau begitu, tua ditengah jalan.”

“Maksudmu cari jodoh yang dianggap tepat itu sulit?” “Benar, sulitnya minta ampun. Apalagi laki-laki dan wanita kan jalan pikirannya berbeda. Sekalipun kau merasa cocok dengannya belum tentu di lain waktu merasa cocok lagi.”

Jaka menggumam membenarkan.

“Karena itu, perbedaan mendasar diantara keduanya harus ditemukan titik temunya. Dan itulah yang akan menjadikan kekayaan batin keduanya.” Timpal Danu Tirta.

“Ehm, hebat. Kau bicara seperti sudah menikah saja. Eh, jangan-jangan kalian sudah punya istri?”

“Ah… yang benar saja!” seru keduanya serempak. Tapi tiba-tiba mereka seperti menyadari sesuatu.

“Tentu saja belum,” seru Danu Tirta buru-buru. “Belum menikah.” Tegas Damar Kemangi.

Jaka tertawa. “Kenapa sih kalian? Sudah menikah apa belum kan bukan urusanku, memangnya aku ini mak comblang yang mau mencarikan jodoh buat kalian? Sampai tegang begitu…”

“Sialan…” seru keduanya gemas. Dan mereka bertiga tertawa, merasa hal yang mereka bicarakan itu konyol.

“Kalau begitu, kau sendiri sudah mendapatkan jodoh yang tepat?” Tanya Damar Kemangi.

“Wah,wah… kau ini memang cocok jadi tukang tagih utang, bertanya begitu detail.” Gerutu Jaka. Lalu ia menjelaskan, “Terlepas dari sudah atau belum menemukannya, sejauh ini aku belum memikirkan untuk berkeluarga. Aku percaya jika sudah saatnya, pasti akan datang padaku jodoh yang terbaik. Sampai saat ini aku lebih banyak berpikir bagaimana membuat diriku sebagai manusia yang baik, dan dapat bersikap adil, itu saja.”

“Cita-cita baik. Tapi sayang sekali...” ujar Danu Tirta. “Kenapa sayang?”

“Sebenarnya aku ingin mengenalkan adik atau saudaraku padamu, siapa tahu dia atau kau tertarik, atau bahkan saling tertarik.”

Jaka tersenyum, dengan bercanda ia berkata, “Terima kasih banyak, tapi aku yakin adikmu atau siapapun tak akan tertarik padaku. Aku cukup percaya diri mengatakan itu.”

“Hh.. dasar pembual.” Gerutu Damar Kemangi. “Eh, tadi kau bilang dulu?”

“Dulu apa?”

“Maksudnya, dulu kau tinggal di Kuntapraja, berarti sekarang tidak?”

“Tentu saja tidak, kau kan lihat sendiri sekarang aku sedang melayani bicara dua orang yang tak karuan wujudnya.” Jawab Jaka bercanda. Wajah keduanya merah. “Cuma bercanda… jangan dimasukkan hati.”

“Aku tahu maksudmu, tapi apa benar kau sudah pindah dari sana?”

Jaka tahu kalau mereka mengejar jawabannya, walau tak bersedia mengatakan, toh dia pikir, mereka pasti tak tahu latar belakang mengapa dia tak lagi di Kuntapraja. “Ya, aku memang sudah pindah.” “Dimana kau tinggal sekarang?”

Jaka mengangkat bahu, “Aku bersama pamanku.” Sahutnya singkat.

Keduanya paham, kalau Jaka enggan memberi penjelasan, dan merekapun tahu diri. Suasana jadi lebih akrab, tak kala obrolan mereka mengalir lepas tak jelas paran dan tujuannya.

Sampai pada akhirnya Jaka meminta diri untuk pamit. “Kurasa sudah terlalu lama aku disini, masih banyak yang harus kerjakan.”

“Memangnya apa kerjamu?”

“Belanja di pasar, jalan-jalan di warung juga termasuk pekerjaan.” Jawab Jaka sembari tertawa, keduanya juga tertawa mendengar jawaban Jaka.

Lalu Jaka bangkit, sebelumnya dia menghabiskan air tehnya. “Terima kasih kalian sudi mengobrol denganku.”

“Ah, itu bukan apa-apa, dengan senang hati kami akan menerimamu kapan saja.”

“Terima kasih.” Ucapnya sekali lagi.

Jaka membalikkan tubuhnya, dan dia meninggalkan kedua orang itu.

“Hei Jaka…”

“Ya?” pemuda ini menoleh.

“Kalau ada waktu, mampirlah ketempat kami.” “Ya, di perguruan Sampar Angin tentunya.” Sambung Damar Kemangi.

“Aku akan kesana, mungkin bukan dalam waktu dekat ini, tapi pasti aku akan kesana.”

“Kami tunggu…”

Jaka mengangguk sekali lagi dan melangkah makin jauh, dia bukannya menuju jalan umum yang dilewati orang, tapi justru ketepi sungai, menyeberang, dan menuju bukit diseberang sungai. Kedua pemuda tadi memperhatikan Jaka sampai dia hilang dari pandangan.

“Benar-benar tak disangka.” Gumam Danu Tirta. Damar Kemangi manggut-manggut. “Aku dulu marah sekali…” Danu Tirta menerawang. “Sampai ingin mengamuk pada siapa saja. Tapi kini aku mengerti alasannya. Aku juga paham kenapa dia harus melakukannya.” Damar Kemangi tidak berkomentar, dia hanya duduk sambil menghabiskan makanan.

Apa yang dimengerti oleh Danu Tirta? Siapakah yang dimaksud dengan ‘Dia’? Apakah ada hubungannya dengan Jaka?

62 - Kampung Misterius Di Tengah Kota

Setelah beberapa lama jalan, dan sudah berada dibalik bukit, Jaka berhenti dan mencari tempat duduk yang nyaman. Dalam beberapa hari ini sudah terlau banyak kejadian yang harus dia telaah satu persatu dan menyelesaikannya tanpa menganggu rencana satu sama lain. Merasa sedikit santai dia merebahkan badannya di dekat pohon rindang, lamat-lamat ia mendengar suara serangga dikejauhan. Mula-mula ia berpikir, masalah Perguruan Enam Pedang, Perguruan Naga Batu, Perkumpulan Rahasia Garis Tujuh, Telik Sandi Kwancasakya, Swara Nabya, Riyut Atirodra, orang yang menginginkan informasi tentang bola asap, pemilik pancawisa mahatmya, dan perkumpulannya sendiri… Terlalu banyak… kau terlalu banyak tahu masalah orang, dan membuat otakmu mati dengan mencari masalah sendiri, pikirnya.

Jaka mendesah, dalam hal mengorganisasi masalah, dia sama sekali tak pernah memperhatikan. Apapun yang akan dia temui, itulah yang akan dia urus—sebenarnya tergantung kondisi juga. Dan kali ini dia sadar sudah menimbukan kesulitan bagi dirinya sendiri.

Bukan kesulitan, tapi bencana, bodoh. Jaka hanya bisa nyengir saat memikirkannya, yah, apa boleh buat, dari pada tidak melakukan apa-apa, lebih baik bekerja sedikit berlebihan, pikirnya membela diri.

Baiklah, sekarang aku harus melakukan sesuatu. Dan ia mengeluarkan secarik kertas dari pakaiannya lalu menuliskan beberapa patah kata—entah untuk apa, lalu bergegas pergi entah kemana.

Jika anak buahnya selalu mendapati Jaka bergerak lamban, kiranya kali ini bisa dikecualikan. Jika dia enggan bergerak, maka orang malaspun bisa terlihat lebih giat dibandingkan dengannya. Tapi saat dia bergerak, entah siapa yang bisa dibandingkan dengan gerakannya? Selang beberapa saat saja, dari ujung-ujung bukit itu muncul beberapa orang.

“Kemana dia?”

Rekannya yang ditanya menggeleng. “Kurasa dia kabur terlalu cepat.”

“Ya, tak ada yang bisa menyalahkan kita.” Ujar orang ke lima yang muncul belakangan. Sekalipun mereka agak kesal, tapi mereka tak terlihat dongkol.

“Hei, aku menemukan sesuatu.”

Empat orang lainnya merubung, “Ah…” mereka berseru tertahan.

“Jadi ini yang membuat kawatir beliau ya?” gumam orang yang pertama mendekat.

“Kurasa bukan ini.” Sahut yang lain.

“Akan lebih tepat jika kau berkata ‘kurasa bukan cuma ini’, bukankah begitu?”

Mereka semua mengangguk.

Memangnya apa yang ditemukan mereka? Jika orang lain menemukanya mungkin tidak banyak berarti, justru hanya orang-orang macam merekalah, membuat petunjuk yang ditinggalkan Jaka jadi punya makna.

Jaka menggoreskan beberapa patah kata di atas tanah. Ikuti aku kalau bisa. Bagi orang lain, kalimat itu tak ada apa- apanya, tapi bagi mereka berlima? Sama saja dengan cibiran… kena kau! Ya, jejak mereka sudah ketahuan sejak awal.

Dari mana pula Jaka tahu akan hal itu? Hanya hal kecil yang membuat Jaka tahu kalau ada beberapa orang yang selalu mengawasinya. Saat dia memasuki bukit, tak ada suara burung atau serangga.

Ada suara serangga, tapi jauh dari tempatnya masuk. Seharusnya suara serangga saling saut menyahut, tapi kenapa hanya saling menyahut di bagian timur saja. Memangnya semua serangga sudah pindah?

Tiadanya suara burung memang wajar, tapi tidak wajar kalau ada burung kutilang tak ribut saat kedatangannya. Burung-burung semacam itu selalu bersuara saat sesuatu yang asing muncul. Satu-satunya alasan adalah, beberapa dari mereka mengusirnya, padahal saat menuju bukit, tanpa sengaja Jaka melihat beberapa kutilang terbang diseputar bukit.

Lalu siapa pula kelima orang itu? Mereka meninggalkan bukit tanpa tergesa, karena merasa tak sanggup mengejar Jaka.

“Kau ingat saat kita bertemu dengan Si Kayu Satu Jengkal?”

Kurasa orang itu aku sebut si A saja, rupanya Jaka tak kabur jauh-jauh. Baginya menyaksikan siapa orang yang mengutitnya dan mengetahui mereka suruhan siapa, jauh lebih menyenangkan dari pada kabur—selain capek, ia juga tak bakal mendapat informasi siapa mereka.

“Memangnya kenapa?” Aha, biarlah dia kusebut si B.

“Orang itu cukup licin, dan punya keberanian.” Eh, si C sedang bicara.

“Ya, tadinya aku mengira dia tak cukup pintar untuk berurusan dengan kita. Rupanya nyalinya yang menantang otaknya untuk beradu.”

Dia si D

“Ya, orang licin macam dia entah kemanapun bisa kita lacak, sayangnya waktu itu tak ketemu.”

Nah dia sudah pasti si E

“Justru kita temukan di rumah kita sendiri. Lucu tidak?” “Hh, sama sekali tak lucu.” Dengus si C

Tiba-tiba saja, keempat orang lainnya menegang, tanpa dikomando, mereka bertindak waspada sambil mengedarkan matanya kesegala penjuru. “Mungkin saja orang itu masih disini.” Bisik si C menyadari ketegangan yang lain.

Mereka tak menjawab, tapi tampang mereka memang sudah cukup menjelaskan. Rupanya percakapan mereka tadi mengingatkan pada kondisi yang sebenarnya. Persembunyian yang tak terduga adalah ditempat lawannya sendiri, dalam hal ini, jika Jaka ingin sembunyi cukup kabur beberapa belas meter dari bukit itu dan kembali lagi. Dan itulah yang akhirnya disadari mereka. Sesaat kemudian, sesuatu melayang jatuh dekat mereka. Kelimanya bergerak menjauh dan menatap dengan pandangan bertanya-tanya.

Matilah kalian!!! Dibawah tulisan itu ada lukisan dua cakra berjajar. Wajah kelimanya menjadi pucat pasi. Tanpa banyak cakap mereka lari secepat mungkin, dan kelimanya mengambil arah berlawanan!

“Pintar, cukup pintar.” Ujar Jaka melihat kelimanya tak lagi bersama, rupanya mereka tak mau ambil resiko dikuntit orang, jadi mereka berpencar.

Jaka yang menyaksikan itu tertawa geli, memang dia yang menjatuhkannya dari atas pohon, dia sendiri bersembunyi di pohon yang lain. Kali ini Jaka tahu kalau yang menguntit dirinya adalah orang-orang tingkat 3. Artinya mereka tidak perlu dirisaukan, karena mereka begitu takut dengan tanda dua cakram yang merupakan lambang telik sandi adipati daerah setempat. Tapi bisa juga dirinya salah sangka—mana mungkin orang biasa tahu tanda itu? Orang persilatanpun jarang yang tahu, jika mereka tahu, artinya mereka adalah orang yang banyak tahu rahasia orang lain. Berbahayakah?

Jaka cuma menduga kalau ia harus memikirkan kehadiran lawan tambahan. Lawan penggembira? Menyedihkan kedengarannya,   tapi   dia   belum   yakin   akan   hal    itu. Jika orang lain, mungkin sudah mengikuti salah satu diantara mereka, tapi Jaka tidak, dia kembali untuk memperhatikan tempat persembunyian mereka. Dengan teliti Jaka mengamatinya, sampai akhirnya dia memperoleh kesimpulan.

“Lumayan untuk hari ini.” Pemuda ini berjalan santai keluar dari bukit, sambil bersiul- siul, Jaka mengedarkan pandangan matanya ke sana kemari. Heran, semenjak datang kesini, kenapa aku selalu dijadikan target orang lain? pikirnya menggerutu. Selang berapa lama kemudian Jaka sudah ada di sebelah selatan kota itu, dia berniat mengunjungi Gua Batu.

Memang benar seperti yang dikatakan Ki Lukita, bahwa beberapa bagian gua itu dijaga ketat oleh prajurit keraton Pagaruyung. Semula Jaka mengira gua itu merupakan satu kesatuan bagian. Ternyata tidak, gua batu terdiri beberapa belas gua kecil dan tujuh gua besar—yang dijaga prajurit.

Memulai penyelidikan dari tempat ini? Yang benar saja. Satu gua kecil saja entah tembus sampai kemana. Syukur buntu, kalau tidak… kalau banyak celah? Jaka enggan memikirkannya. Niat untuk melihat-lihat gua batu jadi surut, Jaka berjalan kembali melewati kerumunan orang-orang yang hendak memasuki gua batu. Kapan-kapan saja, pikirnya, mungkin ia akan mengirim beberapa orang kesitu untuk menyelidiki.

Jaka memandang langit, beberapa jam lagi mentari akan tenggelam, ia berniat istirahat dan malam nanti berkunjung ketempat orang. Tapi Jaka tak buru-buru, dia menepi dan duduk di pinggir jalan. Kadang kala memandangi orang berlalu-lalang, membawa keasyikan tersendiri.

Tak terasa ia duduk hampir satu jam, sampai akhirnya ia merasa bosan. Jaka berdiri sambil menepuk— membersihkan—celananya, kemudian meneruskan langkahnya pulang ke penginapan. Sambutan mengagetkan menunggunya, saat tinggal beberapa langkah dari penginapan—yakni dengan munculnya Arseta, lelaki separuh baya yang pernah menanyakan perlihal Perguruan Naga Batu padanya.

“Saudara Jaka, bisa kita bicara sebentar?” “Di sini?”

“Tidak, di tempat yang nyaman tentunya.”

“Sayang sekali aku harus mandi, makan, istirahat—tidur, dan kalau bisa mau pijat…”

“Tempatku lebih nyaman, apapun yang saudara mau ada disana.”

Jaka tersenyum simpul. “Nampaknya rejeki tak boleh ditampik, silahkan.”

Arseta mengangguk dan tersenyum girang, dia segera berjalan dimuka, Jaka segera mengikuti. Mulanya Jaka mengira dirinya akan dibawa jauh dari penginapan, ternyata ia salah duga, Arseta membawanya hanya beberapa blok dari penginapan. Jaka tak pernah tahu kalau di belakang penginapannya, ada bangunan yang luas.

Melihat bangunan itu, Jaka sadar kalau penginapan yang ia sewa, hanya ‘gerbang’ menuju bangunan itu. Luas bangunan itu hanya dua belas ribu meter persegi (120 meter x 100 meter). Tanah seluas itu termasuk kecil untuk ukuran pinggir kota, tapi di tengah kota?

Jaka menghela nafas dingin. Sekalipun dia merasa percaya diri, namun apa yang akan dihadapinya selalu membuatnya tertarik dan khawatir, itu yang harus membuat dirinya waspada.

“Kelihatannya bangunan ini jarang dikunjungi orang.” Gumamnya.

“Engkau paham?” Tanya Arseta tanpa menoleh.

“Sekalipun aku orang bodoh juga saat ini harus paham, kurasa bangunan yang akan kita tuju tak akan ketemu jika tak melewati jalan ini.”

Ya, bangunan itu tak akan bisa ditemu jika tak melewati banyak jalan kecil—itupun jika masih bisa disebut jalan, karena lebarnya tak lebih dari setengah meter. Di belakang penginapan, masih ada rumah penduduk yang menghadap arah yang berlawanan—jadi saling membelakangi. Dengan demikian, tak satupun orang tahu kalau ada jalan lain di antara celah dua bangunan. Sekalipun orang lewat disitu, apakah akan meneruskan langkahnya, manakala jalan itu terlihat buntu karena adanya pintu?

Dan Arseta memasuki pintu itu. Jaka juga mengikutinya. Pemuda itu tersenyum saat mengetahui pintu itu dipasang hanya sebagai kamuflase saja. Seolah dibalik pintu adalah ruangan, ternyata pintu itu hanya menutupi pertigaan ‘jalan’.

Arseta mengambil jalan kekanan, dan beberapa saat kemudian mereka sudah tiba didepan tembok setinggi satu setengah tombak, jalan sudah buntu. Lelaki itu melompat, tentu saja Jaka ikut melompati tembok.

Dan… Jaka terperangah menyadari Arseta tidak ada, tapi dia lebih terperangah lagi, melihat dibalik tembok itu ternyata ada sungai kecil—sebut saja selokan—selebar satu meter. Tak ingin tercebur, saat melayang, Jaka memutar tubuhnya mendekati dinding tadi, kakinya memancal dan melesat ‘menembus’ tembok diseberang. Oh ternyata tembok yang ditembus Jaka, hanya kain tebal yang dilukis mirip dengan tembok. Jaka tak mau gegabah seperti tadi, dia berhenti tepat setengah meter didepan dinding kain itu.

Halaman cukup luas terlihat olehnya. Ia juga mendapati Arseta tengah mengamati dirinya sambil tersenyum.

“Sudah kuduga, kau memang layak…” kata lelaki itu.

Jaka tak menanggapi, dia masih diselimuti keheranan yang makin bertambah, ketika melihat banyak orang keluar masuk dari bangunan utama, seperti pasar saja! Jaka mengedarkan pandangannya, akhirnya dia bisa mengambil kesimpulan. Mungkin ini saja bangunan ini milik salah satu sesepun kota atau orang penting yang ada kaitannya dengan kota Pagaruyung.

“Silahkan.” Arseta meminta Jaka mengikutinya.

Jaka berjalan dengan mengamati sekeliling bangunan yang dikelilingi tembok setinggi satu setengah tombak. Pemuda ini menggeleng-geleng kagum. Dia pernah memelihat barisan- barisan hebat yang mengecoh, tapi bangunan sederhana ini benar-benar membuat ia terkesan. Tiada jebakan, tiada tanda- tanda aneh, tiada sesuatu yang menyolok, semuanya dibuat sangat sederhana, yakni dengan membuat bangunan yang saling mendukung dan menutupi, sehingga kesan bangunan utama tidak pernah ada. Apapun semua persoalan dibalik itu—mengapa ada bangunan aneh didalam kota—Jaka memuji orang yang membuatnya, sebab orang itu hanya memanfaatkan kelemahan physiology manusia, yakni; bahwa manusia memiliki rasa tahu diri, dibalik keingintahuannya yang besar. Hal itu bisa dilihat dengan pintu kamuflase, dan tembok kain yang dilewati Jaka. Bukankah jika orang yang tahu diri saat melihat pintu didepannya, akan segera mengundurkan diri— apa lagi jika ia menyadari kalau dirinya menyusup ke jalan yang tak lazim. Cukuplah dari hal sederhana itu, Jaka bisa menilai orang-orang macam apa yang mungkin akan ia temui.

Diam-diam Jaka mengeluh, bisakah aku beristirahat? Sekalipun ia merasa bersemangat menghadapi kejutan yang akan dihadapinya, tapi mengistirahatkan pikiran dan badan, saat ini adalah ‘menu utamanya’, mengingat dia harus ‘bergadang’ lagi.

Mereka melewati pintu masuk pertama. Oo… Jaka merasa makin kagum, kesan bangunan itu memang tidak megah, tapi anggun dan luas, sekalipun banyak orang disekitar bangunan, suasana benar-benar lengang dan sunyi. Jaka makin heran melihatnya.

Tapi begitu ia melangkah makin kedalam, Jaka tahu kenapa begitu banyak orang, namun suasana lengang. Aroma obat, menguar keras. Ia bisa menyimpulkan, pasti ada orang sakit yang butuh ketenangan, dan yang jelas siapapun orang itu, pasti seorang tokoh. Mungkin juga seorang keturunan tokoh ternama.

“Silahkan duduk.” Arseta menyilahkan. Jaka menggeleng. “Kenapa?”

“Seperti yang kukatakan, aku ingin istirahat, mandi, dan mungkin dipijat. Itu bukan basa-basi. Kalau aku dibawa kesini hanya untuk duduk, dimana-mana aku juga bisa duduk.”

Arseta terhenyak bingung. “Baiklah, harap mau menunggu sebentar.” Tanpa menunggu jawaban Jaka, Arseta masuk kedalam.

Jaka sama sekali tidak duduk, dia memandang seputar ruangan, mengamatinya, dan berusaha mendapatkan kesimpulan. Kelihatannya seluruh perabot rumah ini tidak ada yang baru. Mungkin yang paling baru berkisar tiga puluhan tahun lalu. Sekalipun demikian, penataan dan kualitas perabot tak perlu diragukan lagi. Jaka mengelus kursi didepannya, ukiran yang bagus dan halus. Pemuda ini menyedot napas dalam-dalam, hawa yang sejuk, meski bercampur aroma obat yang cukup keras.

Alis pemuda ini berkerut, ia mengenal bau obat-obatan itu, dan dia bisa sedikit menyimpulkan sakit apa yang diderita orang itu. Diam-diam ia menghela nafas panjang.

Sambil geleng-geleng kepala, Jaka tertawa. Tak bisakah ada waktu luang untukku? Dia memang orang yang senang menyelesaikan masalah yang ada didepan mata. Membantu kesusahan orang juga hobinya. Hatinya tak akan tentram jika ada masalah yang menggantung.

Apa mungkin Arseta sudah tahu latar belakangku, makanya dia membawa diriku kesini? Jaka menduga-duga demikian. Walau sedikit kawatir, toh Jaka sama sekali tak menggubris jika memang itu terjadi. Tapi yang dia kawatirkan adalah kemungkinan rahasia orang lain bisa terbuka, perkumpulan gurunya, Ki Lukita.

“Maaf menunggu lama.” Aresta muncul dari dalam.

“Tak apa-apa, bisakah aku membersihkan badan sekarang?”

Arseta mengangguk sembari menyibakan gorden terbuat dari batu manik. “Silahkan, semuanya sudah disediakan.” Arseta tidak banyak bicara lagi, dia memberi isyarat agar Jaka masuk dan mengikutinya. Jaka mengangguk.

Sungguh luas ruangan itu, dari ruangan pertama ke kedalam perlu puluhan langkah, begitu masuk kedalam terlihat ada empat selasar, kanan-kiri, dan dua selasar didepan. Mereka mengambil selasar kiri. Berjalan cukup ‘jauh’, sampailah disebuah ruangan ukuran empat kali enam, Jaka dipersilahkan masuk.

Mulanya ia berpikir mungkin ini kamar mandi yang dimaksudkan tapi begitu memasukinya dugaannya salah. Ternyata ruangan itu adalah sauna. Pada masa itu tentu saja belum ada listrik, membuat ruangan sauna juga hanya kebetulan saja, karena letak bangunan itu tepat di atas aliran artesis air yang bersimpangan dengan jalur lahar dalam bumi—itu yang membuatnya panas. Pembuatan ruangan sauna itu sangat tepat, disamping menjaga agar sewaktu- waktu jalur artesis tidak membuka jalur baru—yang menyebabkan letupan, jika letupan terjadi dikedalaman kurang dari tujuh meter tak masalah, tapi karena tekanan air artesis sangat deras, dan tentu saja karena kedalaman aliran artesis lebih dari tiga puluh meter dari permukaan bumi, jika terjadi letupan akibatnya akan guncangan yang cukup menganggu. Tentu saja Jaka tak berpikir sejauh itu, pemuda ini langsung jatuh cinta begitu melihat ada tempat seperti itu. Badannya seolah meronta ingin kebebasan menikmati uap panas yang menyegarkan.

“Kau benar sekali...” mendadak Jaka berkata pada Arseta.

Orang ini tersenyum, dia paham maksud Jaka. Pandangan matanya menyiratkan ucapan, tentu saja apa yang kukatakan benar. Bukankah semua ini lebih baik dari pada beristirahat di penginapan?

“Bolehkah aku...”

“Silahkan, tak perlu sungkan.” “Terima kasih.”

Arseta menutup pintu. Didalam ruangan itu sudah disediakan semuanya, kain tebal—sebagai handuk, seperangkat pakaian. Jaka tersenyum, rupanya tadi Arseta menyediakan semua ini untuk dirinya, dia mencium aroma harum, oh ternyata cairan untuk pembersih badan.

“Benar-benar nyaman.” Tak menunggu lama, Jaka melepas pakaiannya, sekalipun ia tak menaruh curiga pada Arseta, tapi tongkat bambu lenturnya itu—yang baru saja dia ketahui— adalah barang pusaka, ia belitkan di pinggang. Dengan perasaan santai, Jaka membuka pintu ruangan dan menuju hawa hangat.

Uap ada dimana-mana, seluruh ruangan benar-benar mirip hujan kabut, bahkan untuk melihat setengah meter kedepan juga tak bisa. “Jika disini ada serangan mendadak...” Terpikir juga oleh Jaka. Dan saat itu juga...

Terdengar deritan cukup kencang, tapi tidak menyerangnya, hanya tertuju kekanan kirinya, itupun masih beberapa langkah didepannya. Otot-otot tubuh Jaka menegang, dia menunggu reaksi berikutnya, tak ada suara lain, tak ada sesuatupun yang mencurigakan.

Jaka mengibaskan tangannya, uap tersibak sesat, dan pemuda ini tersenyum geli. Kupikir apa, ternyata pintu menuju ruangan lain sedang terbuka. Memang suara berderit itu ternyata engsel pintu yang terbuka, jatuh kedepan Jaka. Jadi pintu dalam ruangan sauna bukan dibuka dari kanan ditarik kedalam atau didorong keluar, tapi dari atas di turunkan— dengan penahan rantai. Dan rupanya Arseta yang menggerakkan dari luar.

Jaka bergegas masuk kedalam ruangan di dalam ruangan sauna, semula dia pikir ruang sauna itu sudah cukup luas, tapi begitu masuk keruangan lainya, Jaka terperangah kagum.

Dibandingkan ruangan sauna tadi, bagian luar jauh lebih luas dan indah. Uap mengepul tinggi diruang bebas, ya itulah kolam air hangat. Belum lagi taman di sekeliling kolam yang dibuat dengan tatanan sempurna.

“Mudah-mudahan senyaman yang kulihat.” Tanpa ragu Jaka segera masuk kedalam kolam. Hangat, nyaman dan kini ia benar-benar merasa rileks. Jaka mendesah panjang. Rasanya kepenatan yang ia alami setimpal juga jika bisa berendam dalam kolam air hangat senyaman itu. Jaka bersandar di dinding kolam, tubuhnya terasa rileks. Sambil menggosok-gosok pelan, pemuda ini bersenandung lirih. Tiba-tiba terdengar deritan dari depan, Jaka terkejut. Rupanya masih ada pntu serupa, dan kelihatannya ada orang yang akan mandi juga.

“Tuan Jaka?” suara merdu memanggilnya. “Ada keperluan apa?”

“Tuan muda ke lima, meminta saya untuk melayani keperluan tuan hingga tuntas.”

Apakah Arseta tuan muda kelima? Pikir Jaka. “Kau bisa apa saja?”

Dari balik uap air itu, muncul siluet tubuh dua orang, mereka wanita.

“Kami mahir memijat.”

“Ah, bagus sekali. Kalau begitu tolong tunggu disitu… biarkan aku menyelesaikan mandiku.”

“Apakah mandi tuan, tidak ingin kami layani?”

Jaka tertawa. Dia tahu, itu adalah kebiasan keluarga besar menyambut tamu terhormat. “Tidak, terima kasih. Aku lebih senang sendiri.”

“Kalau begitu kami permisi. Jika tuan sudah selesai, cukup bunyikan lonceng kecil diujung kolam.”

“Baik!” Jaka mandi dengan santai, air hangat membuat otonya rileks. Beberapa saat kemudian, meski ia merasa cukup, Jaka belum mau keluar dari kolam. Kesempatan langka semacam itu membuatnya ingin berlama-lama. Tanpa disadari hawa murni panasnya mengalir keluar seiring olah nafas yang dia lakukan.

“Aw!” mendadak jeritan halus menyentakkan Jaka.

Pemuda ini terjaga dari olah nafasnya, dia menegaskan pendengarannya. Lamat-lamat terlihat olehnya di depan ada semacam dinding pemisah. Jaka tahu, itu pemandian kaum hawa. Rupanya aliran air menjadi satu, pantas saja…

“Bibi, siapa yang menambah air panas?” seru suara dari balik dinding. Jaka nyengir mendengarnya, tak mungkin dirinya mengaku, kalau hawa murninya berulah… Terdengar suara tergopoh, lalu bergemerisik. Jaka bisa membayangkan nona itu pasti sedang mengenakan pakaian, dan sang bibi terburu-buru mendatanginya. Sayup-sayup terdengar percakapan olehnya.

“Tidak ada yang menambah, Non.” “Kenapa, air mendadak panas?” “Masa?”

“Ah,” terdengar sang bibi memekik juga. “Aneh, mungkin bara api sudah teralu lama. Jadi api kembali berkobar.”

Jaka nyaris tertawa mendengar ulasan sang bibi.

“Ah, sudahlah. Aku sudah selesai!” suara manja itu terdengar marah. Jaka juga merasa dia sudah terlalu lama, setelah menggosok tubuhnya beberapa saat, dia keluar dari kolam itu. Setelah mandi, kurasa memijat badan tak ada salahnya, pikirnya. Usai berpakaian, Jaka membunyikan bel dipojok kolam. Tak berapa lama, dua orang pelayan keluar.

“Anda ingin dipijat tuan?” “Ya. Apakah harus disini?” “Silahkan ikut kami, tuan.”

Jaka mengikuti dari belakang. Mereka keluar dari kolam panas, melewati sauna, dan akhirnya sampai pada ruangan sebelah. Ruangan itu juga terdapat kolam kecil, tapi kesannya lebih sejuk. Jaka cuma mengenakan sehelai kain yang diselempangkan begitu saja ditubuhnya, meski dia merasa tak nyaman dengan ketelanjangannya, tapi kalau ingin dipijat memang harus ‘minimalis’. Dua telapak tangan yang halus menyentuh badannya, satu memijat punggung, yang lain memijat lengan.

“Ih…” terdengar pekikan kaget.

Jaka tertawa dia paham kenapa dua pelayan itu kaget.

“Ke-kenapa dengan tubuhmu tuan?” tanya salah seorang pelayan.

“Ah, hanya luka kecil…” jawab Jaka sekenanya. Kedua pelayan itu saling pandang, mereka paham jawaban Jaka hanya asal, karena luka yang terdapat di sekujur tubuhnya tidak mungkin sekedar luka kecil. Sebab disekujur tubuhnya begitu banyak parutan luka, memanjang, ada bekas bacokan, cambukkan, bahkan luka yang seperti sengaja digoreskan juga ada. Rupanya tujuan Jaka selalu menggunakan pakaian rapat adalah untuk menutupi luka-lukanya.

Tapi begitu selembar kain disibakkan, kedua pelayan itulah yang pertama kali menyadari bahwa Jaka bukanlah lelaki lembek, paling tidak, luka-luka ditubuhnya yang berbicara. Rupanya itu yang membuat dua pelayan ini kaget, mungkin ngeri.

“Ap-apakah masih sakit?” tanya seorang diantaranya. “Tidak.” Jawab Jaka singkat. Pemuda ini memejamkan

matanya, dia berusaha menikmati pijatan dua pelayan cantik itu. Dalam benaknya, Jaka berpikir apa yang akan dipinta tuan rumah darinya. Tak terasa dua jam, berlalu, pijitan tadi benar- benar membuat Jaka santai dan merasa nyaman.

“Terima kasih.”

Kedua pelayan itu tersenyum sambil mengangguk. Mereka membenahi alat-alat yang tadi digunakan untuk memijat.

“Boleh saya berkomentar tuan?”

Jaka tersenyum geli. “Seharusnya aku yang berkomentar atas keahlian pijat kalian yang luar biasa. Silahkan…”

“Selama ini kami melayani banyak tamu, tapi belum pernah kami jumpai tamu seperti tuan.”

“Maksudmu, dengan badan penuh luka?” tegas Jaka. “Itu hanya salah satunya saja…” “Oo, lalu apa yang lain?” “Tuan tidak usil.”

Mendadak wajah Jaka merah, tapi hanya sesaat saja. Meski begitu kedua pelayan sempat melihat, dan itu membuat mereka heran.

“Aku memang bukan lelaki usil.” Gumam Jaka. “Ma-maaf, bukan begitu maksud saya…” “Ya?”

“Kadang kesempatan seperti ini selalu dimanfaatkan untuk mengorek keterangan tentang tuan rumah,”

“Oo…”

“Meski kadang kami memang digoda…” Sambung satunya. “Itu sudah wajar,” sahut Jaka.

“Wajar?”

“Dalam ruangan seperti ini, siapa yang tak akan tergoda jika dilayani dua wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian minim?”

“Ah, tuan terlalu menyanjung.” Sahutnya dengan wajah tersipu.

“Tidak, itu kenyataan.” Ujar Jaka dengan serius. Membuat wajah mereka makin merah. “Karena itu tanpa sadar, si tamu sendiri yang mengungkapkan titik lemah dirinya” Sambungnya seraya menghela nafas, membuat ketersipuan si pelayan lenyap. “Paling tidak, kalian sudah bisa memberikan informasi pada tuan rumah, bahwa aku tidak senakal yang dipikirkan, bukankah begitu?” tanya Jaka seraya tersenyum. Keduanya tak menjawab, mereka cepat-cepat bergegas. Memandang lekuk tubuh yang menghilang dari balik pintu, Jaka menghela nafas.

“Setidaknya sudah ada yang melihat lukaku…” gerutunya. Dia bukannya merasa malu karena tubuhnya penuh luka, tapi bagi lelaki—apalagi kaum pendekar, luka (bukan cacat) adalah kebanggaan. Dan Jaka tak ingin disebut pamer.

63 - Ketua Bayangan Perguruan Naga Batu

Dari sekian banyak orang yang menjadi temannya, hanya empat orang saja yang tahu kondisi fisiknya, kali ini bertambah lagi dua gadis pemijat ini. Jaka memutuskan untuk menyudahi acara pijat, hal penting yang akan dilakukan kali ini sudah pasti berbincang dengan Arseta yang kelihatannya sangat mendendam dengan Perguruan Naga Batu.

Jaka mengenakan bajunya lagi, kesegaran yang dia dapat kali benar-benar membuatnya tidak merasa diuntungkan, karena sebentar lagi ada orang yang akan menggali keuntungan dari dirinya. Sebab dia mencium aroma yang pernah diciumnya menempel pada pakaiannya, dan aroma harum itu pernah tercium di kapal Naga Batu, tepatnya aroma gadis-gadis cantik yang menyambutnya… sebuah permainan nampaknya akan segera digelar lagi, desah pemuda ini merasa senang. Dengan di iringi dua gadis yang tadi memijatnya, Jaka memasuki sebuah ruangan yang kosong, tidak ada kursi, tidak ada benda apapun yang bisa membuatnya mengidentifikasi, siapakah pemilik rumah ini. Dalam kilasan detik yang sama, Jaka sadar bahwa ruangan ini adalah tempat berlatih silat. Diam-diam ia menghembuskan nafas dingin… dimasa lalu, entah berapa banyak orang yang selalu memaksanya untuk bergebrak barang satu dua jurus, tapi dia memang malas untuk bergerak… terpaksalah Jaka mematikan gerakan mereka dengan cara sesingkat mungkin. Kali ini dia sedang malas untuk mengerahkan tenaga; biarlah kuikuti saja permainan Arseta, pikirnya.

Tak menunggu lama, Arseta beserta empat orang yang usianya hampir sepantaran dirinya memasuki ruangan itu, selain Arseta mereka membawa tikar, kain dan makanan. Lelaki paruh baya itu menyilahkan Jaka duduk. Sepoci cangkir teh hijau tersaji untuk Jaka, mencium aroma teh itu Jaka diam- diam nyengir, kejadian yang berkaitan dengan Perguruan Naga Batu benar-benar membuatnya tak habis mengerti, entah ada intrik apa dibalik semua ketenangan mencekam itu?

“Silahkan,” kata Arseta ramah.

Tak menunggu lama, Jaka meminum teh itu. Pemuda ini paham, setelah meminum sajian air itu seharusnyalah dia terlelap sejenak… sebab dia paham aroma dalam teh tersebut adalah sebuah penawar untuk Bubuk Pelumpuh Otak. Jaka- pun ‘terlelap’ dan dengan segera pemuda yang membawa kain, membungkus dirinya dengan kain, kepalanya juga di bebat dengan kain basah beraroma harum, Jaka melepaskan kewaspadaannya, dia tahu proses yang sedang mereka kerjakan adalah untuk menawarkan pengaruh bubuk tersebut. Diam-diam Jaka menghela nafas magsul, untuk mendapatkan Bubuk Pelumpuh Otak, jikalau ada proses jual beli, maka harga tiap bungkus kecilnya bisa mencapai ribuan keping emas. Racun ini bukanlah barang yang gampang didapat, ada semacam bahan yang hanya bisa didapatkan disebuah pulau.. pulau dimana dulu dia pernah menerima cobaan sangat berat.. selain bahan yang sulit itu, campuran bahan lain juga perlu perhitungan yang cermat untuk menjadikannya ‘pelumpuh otak’, bagi Jaka, ini benar-benar sebuah kejutan yang tidak menyenangkan.

Sebab dia menduga akan berjumpa dengan ‘kawan lama’, meracik Bubuk Pelumpuh Otak tidak bisa sembarang diwariskan kepada orang, dia tahu itu. Sebodoh-bodohnya si peracik bubuk itu, dia sadar ada sebuah pantangan besar baginya untuk membagi ilmu meracik itu untuk orang lain, pantangan yang akan membuatnya tak akan bisa hidup tenang, pantangan yang akan membuatnya diburu seumur hidup. Membuatnya mati tidak hidup-pun tidak. Sekalipun kau bisa sembunyi di ujung langit, kau tak akan sanggup menghilangkan kekhasan aroma tubuh bagi para peracik bubuk, dan aroma khas itulah yang digunakan untuk melacak jejaknya. Pengejaran itu akan dilakukan manakala pantangan itu dilanggar, dan Jaka yakin peracik bubuk itu mengerti hal mendasar yang sudah seharusnya diketahui oleh ‘keluarga besarnya’.

Maka, Jaka sudah bisa menduga ada sebuah rencana besar yang sedang berjalan dengan sangat hati-hati… cara ‘jalan’ mereka tak ingin di ketahui oleh pihak lain, pihak lain yang ditakuti. Dan Jaka tahu siapa pihak yang di takuti mereka. Api dan Angin sudah kudapat, pikir Jaka agak terhibur. Tak berapa lama, Jaka kembali ‘terjaga’ dia menatap dengan heran orang-orang disekelilingnya. “Apakah aku tertidur?” tanyanya dengan lugu.

“Ya, kau tidur dengan lelap.” Sahut Arseta menjelaskan. “Kenapa bisa sama dengan kejadian di kapal itu ya…” Jaka

mengumam dengan bingung, sudah tentu pemuda ini cuma pura-pura.

“Begitulah orang-orang yang terkena Serbuk Peluluh Jiwa,” terang Arseta. Alis Jaka terangkat, wajahnya menyiratkan tanya, padahal dia paham serbuk peluluh jiwa hanya namanya saja yang berbeda, isi lama kemasan baru. “Kau, pernah dijamu orang-orang Naga Batu, dengan sendirinya kau pernah menghirup Serbuk Peluluh Jiwa.”

“Oh, tapi aku tidak memiliki masalah dengan mereka, kenapa mereka harus memberiku serbuk itu?” Tanya Jaka tak mengerti.

Arseta menghela nafas panjang, wajahnya tiba-tiba sayu. “Semua ini disebabkan ambisi yang terlalu besar. Aku tidak pernah menyetujui rencana macam itu…”

“Sebentar-sebentar, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi… bisa dijelaskan dengan lebih terperinci?” potong Jaka.

Arseta menatap Jaka, dia merasa bimbang, tapi apa boleh dikata dia memang harus melakukan itu. “Sebelum kuceritakan, tentunya kau merasa heran dengan keberadaan kami bukan?” Jaka mengangguk. “Ya, tapi jika andika, tak mau menjelaskan akupun memakluminya, ini adalah rahasia kalian, dengan sendirinya tidak perlu diungkap.”

“Rahasia hanya akan menjadi sampah, manakala info berharga tidak kau olah.” Sahut Arseta. Setelah mendehem sejenak, dia mengeluarkan sebuah lempengan besi kekuningan, ah ternyata sebuah lencana emas berukir naga. “Kau memiliki ini?” Tanya Arseta.

Jaka mengangguk, dari lipatan baju dalamnya, Jaka mengeluarkan lencana yang diberikan oleh Sadewa. Kedua lencana itu sama persis, kecuali milik Arseta terbuat dari emas murni, milik Jaka terbuat dari perunggu. Setelah melihat lencana Jaka, Arseta memandang pemuda itu sejenak. “Mereka menganggapmu sangat bermanfaat…”

Jaka paham, jika lencana naga emas menandakan tingkat teratas, kemungkinan besar perunggu hanya dua tingkat di bawah lencana tersebut.

“…sejauh ini aku hanya bisa membawa enam orang yang diberi lencana semacam itu, selain dirimu.”

Jaka menatap empat orang pemuda yang duduk di samping Arseta. Lelaki paruh baya ini tersenyum senang, ternyata Jaka paham dengan maksudnya.

“Maaf, mereka mendapat lencana apa?” Tanya Jaka. “Lencana besi, dua orang yang lain—tak hadir disini,

mendapatkan lencana perak.” Jelas Arseta. “Baiklah, aku akan mulai dengan lencana ini dulu… mungkin kau sudah menduga, tingkatan orang-orang yang mendapat lencana semacam ini. Emas, bagi yang diprioritaskan untuk jadi pembantu utama—semacam jendral; Perak, untuk orang- orang yang mengepalai kelompok-kelompok kecil; Perunggu, untuk kurir dan mata-mata; Besi, diberikan pada bidak yang disiapkan untuk pertarungan, mereka yang berada di garis depan; Kayu, diberikan pada para pengumpul informasi… dan terakhir lencana yang di tanam, berbentuk rajah atau tato… untuk yang terakhir ini aku sendiri belum begitu jelas, kurasa racun yang terdapat pada mereka tak jauh beda dengan yang pernah kau hirup, menurut informasi yang kudapat, mereka yang didalam tubuhnya terdapat tato naga, mutlak hanya mendengar perintah satu orang… tak perduli kau ini saudaranya, jika datang perintah membunuh, takkan berkerut kening mereka lakukan tugas itu.”

Jaka termenung, dia paham kenapa bisa ada efek seperti itu, yang menjadi masalah, siapa saja orang-orang yang dirajah naga itu? Menurut pendapatnya, jika ‘sesuatu itu’ terdesak, para pemilik rajah naga inilah kartu trufnya— pelindungnya, boleh jadi mereka semacam sandera yang digunakan untuk mencai sandera pula. Mau tak mau Jaka harus mencari cara lebih hati-hati manakala menghadapinya. Sepotong keterangan Arseta benar-benar berharga!

“Aku mendapatkan lencana perunggu, tapi sejauh ini aku tidak merasa di manfaatkan menjadi kurir atau mata-mata?” Jaka bertanya penasaran.

“Mungkin sebentar lagi akan datang orang padamu untuk melakukan ini itu, toh kau sendiri baru tiga hari disini? Kupikir mereka masih menimbang tugas apa yang cocok buatmu.”

Jaka menyeringai, Arseta tahu dirinya baru tiga hari disini, pastinya Sugiri—si pelayan di rumah makan Ki Gunadarma, sibuk menguntit dirinya dan mencatat kegiatannya. Jaka tahu itu, dia pernah memerogoki gerakan Sugiri, bahkan dari isyarat yang di tinggalkan teman-temannya juga mengatakan demikian. Manakala teman-temannya memutuskan untuk menindak Sugiri, Jaka menolak, sebab dia tidak merasa terganggu. Pemuda ini justru menganggap Sugiri adalah tali penghubung pada simpul jaringan. Si pelayan itu adalah jalan menuju informasi yang mungkin saja mereka perlukan.

“Selanjutnya bagaimana?”

Arseta terdiam sesaat, “Perlu kau ketahui, aku adalah pengurus teras Perguruan Naga Batu, tapi itu dulu… sebelum para petinggi Naga Batu merubah kebijakan.”

“Sudah berlangsung berapa lama?” Tanya Jaka makin tertarik.

“Keanehan baru kuketahui dua tahun yang lalu, persisnya kapan, akupun tidak tahu. Tapi, sejak empat tahun lampau, begitu banyak perubahan mendasar dalam perguruan, dimulai dari cara rekrut murid-murid yang berbeda dari biasanya. Lalu tata cara penerimaan tamu juga dirubah, dan masih banyak lagi… dan, kau sendiri berjumpa dengan siapa?”

Jaka tahu yang dimaksud Arseta, “Aku menjumpai orang bernama Sadewa, Kunta Reksi dan Kundalini, serta beberapa orang pengikut atau murid mereka, semuanya gadis-gadis muda.”

Wajah Arseta nampak kuyu. “Dulu, kami bersahabat sangat akrab…” gumamnya.

“Apakah sekarang tidak?” sela Jaka. “Semenjak mereka memilik hobi mengumpulkan anak muda berbakat, aku memisahkan diri darinya.”

Jaka merasa heran dengan nada Arseta. “Berarti andika masih bisa keluar masuk Perguruan Naga Batu dengan leluasa?”

‘Sekalipun demikian, toh aku lebih suka menjauh dari sana.” Desah Arseta lesu, semula ia ingin menceritakan latar belakang apa yang terjadi, tapi dengan tanya jawab ini dia malah merasa ini lebih baik.

Jaka paham, “Sudah berapa lama?” “Dua tahun.”

“Tapi, bangunan ini pasti berumur lebih dari dua tahun.” Gumam Jaka.

Arseta menyipitkan mata mendengar cara bicara Jaka, dia tahu pemuda itu ingin mengatakan, ‘bangunan ini tidak ada hubungannya dengan Perguruan Naga Batu, lebih-lebih dengan dirinya yang keluar dari perguruan—baru dua tahun silam. Entah dari mana datangnya, mendadak Arseta memiliki gairah baru, lecutan semangat itu datang dari pemuda di hadapannya. Dia merasa pemuda ini bisa di harapkan lebih dari yang di sangka semula.

“Ya, bangunan ini berusia hampir sama dengan kota ini. Sebuah kota tak boleh di bangun tanpa benteng perlindungan.”

Jaka terkagum mendengarnya, pemuda ini memohon ijin sejenak untuk berjalan berkeliling. Dia memegang saka kayu yang jadi penopang bangunan. Terlihat menghitam dan berkilat. Kayu trembesi macam ini hanya dapat terlihat mengkilat dan kehitaman, manakala sudah memasuki usia lebih dari limapuluh tahun. Jaka kembali duduk di depan Arseta.

“Sepertinya lebih tua dari yang kubayangkan.” Ujarnya dengan tersenyum. “Tentunya, urusan Perguruan Naga Batu bukan masalah lagi…” ucapan pemuda ini membingungkan empat pemuda lain, tapi tidak bagi Arseta.

Mata lelaki separuh baya ini memercik api semangat. “Ya, urusan Perguruan Naga Batu memang masalah kecil saja… sayangnya antisipasi yang sudah dimiliki para pendahulu bisa di antisipasi pula oleh pihak lain. Dengan sendirinya, kami kurang leluasa bergerak.”

Kepala Jaka mendadak terasa gatal, sungguh dia ingin sekali menguji pengetahuan Arseta dengan simbol yang dia pakai untuk mengusir penguntit setelah dia berjumpa Danu Tirta dan Damar Kemangi. Tapi Jaka menahan diri untuk tidak melakukannya, sebab setidaknya sampai saat ini dimata Arseta, dirinya hanya memiliki peringan tubuh handal.

“Sudah terantisipasi? Hm, menarik sekali… mungkin ada hubungannya dengan bau obat yang kucium pada saat masuk kesini.” Gumam Jaka perlahan.

Tapi dalam pendengaran Arseta, ucapan Jaka seperti petir meledak di telinganya, hampir saja dia terbangun untuk meminta kejelasan Jaka. Tapi sebagai orang yang cukup berpengalaman, Arseta berusaha tak memberi reaksi.

“Memangnya kau mencium bau obat apa?” selidik Arseta. Jaka tersenyum, dia tahu orang ini ingin mengujinya, tapi dia tak akan membiarkan Arseta tahu. “Hanya samar-samar, aku cuma menduga seperti bau obat.” Sahut Jaka pendek.

“Dimana kau cium bau samar-samar itu?” Arseta bertanya dengan mata berkilau, nampaknya dia sudah memahami sesuatu.

Jaka tersenyum ewa, agaknya dia terlalu memandang rendah lelaki ini, “Baru saja,” katanya dengan perlahan. Terdengar helaan nafas Arseta, nampaknya jawaban Jaka tidak sesuai dengan perkiraannya. “Aku ingin latar belakang hal yang berkaitan dengan Perguruan Naga Batu, andika ceritakan… kalau tidak keberatan.” Sambung Jaka mengalihkan pembicaraan.

Arseta mengangguk. “Seperti yang kuceritakan tadi, ada perubahan kebijakan dalam tubuh Perguruan Naga Batu, aku merasa semua pihak yang berkaitan dengannya memiliki persepsi yang sama dalam waktu bersamaan pula. Ini membuatku curiga, sepulangku dari tugas di luar, semua berubah secara lamban tapi pasti, aku seolah tidak mengenali lagi mereka…”

“Dan kini, ada undangan bagi enam belas perguruan besar untuk menghadiri pelantikan para pengurus Perguruan yang baru…” Sambung salah satu dari pemuda yang duduk tepat di samping Arseta.

Jauh-jauh hari saat mengetahui Perguruan Naga Batu ternyata pernah bersinggungan dengan Perguruan Enam Pedang, membuat Jaka yakin… ada motif yang sama di balik semua ini. Jaka bisa menduga apa isi dalam hantaran itu, tapi dia belum begitu yakin, sebab sejauh ini barang kiriman itu belum menunjukan perananan penting.

“Apakah perubahan pengurus dalam perguruan, harus melibatkan pihak lain?” Tanya Jaka.

“Ya, mereka bertindak sebagai saksi. Ini memang sudah wajar dilakukan oleh masing-masing perguruan, apalagi Perguruan Naga Batu sudah menjalin hubungan erat dengan enam belas pilar utama.” Jawab Arseta.

“Apakah undangan itu boleh diwakilkan?” Tanya Jaka. “Undangan dengan disisipkan emas murni satu peti, ingin

diwakilkanpun tidak mungkin lagi.” Ujar Arseta.

“Oo…” Jaka baru tahu ternyata ada kejadian semacam itu, sungguh menarik. “Jadi kapan acara itu akan di mulai?”

“Empat hari dari sekarang.”

“Andika sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya?”

‘Aku tidak berani menduga terlalu jauh, sebab situasi Perguruan Naga Batu tidak ada yang berubah. Semua tenang- tenang saja…”

Jaka tersenyum. “Begitu… tentunya jika andika berhasil menyelamatan saya dan enam orang lainnya dari serbuk beracun, andika tahu mereka-mereka yang lainnya ada dimana…”

“Aku belum tahu bisa mendeteksi keberadaan orang-orang itu, semua yang berhasil kuselamatkan juga karena sejak awal kami memata-matai gerakan pendatang baru.” “Termasuk diriku?” Tanya jaka polos.

‘Tak terkecuali!” tegas Arseta. “Sayangnya, cara kerja mereka sangat khas, akupun tak kuasa lagi menyerap informasi yang benar.”

“Kenapa tidak bekerja sama dengan pihak lain?” Tanya Jaka.

“Memangnya ada pihak lain?”

“Bukankah ada enambelas pilar utama? Enam orang yang andika selamatkan, bukankah bisa menjadi penghubung?”

“Itu sudah kupikirkan…”

“Lalu apa yang andika bimbangkan?” cecar Jaka. “Masalahnya tiap perguruan dari enam orang ini, berlepas

tangan dengan kejadian tersebut.” Ujar Arseta tak semangat.

“Aku paham…” Jaka mengerti kenapa mereka melepas diri, sebenarnya tidak benar-benar melepas diri, tapi bertindak hati- hati. Bagamanapun menuduhkan hal yang belum jelas hanya akan memperkeruh masalah, dan kekeruhan inilah yang dibutuhkan oleh para perancang kekalutan ini. “Lalu, apa tujuan andika membawaku kemari?”

“Aku ingin meminta tolong padamu, untuk tetap betingkah seolah masih dalam cengkraman mereka.”

“Lalu apa yang kulakukan?”

“Nantinya akan ada yang memberitahu langkah-langkah selanjutnya padamu, aku meminta kerjasamamu—bukan balas jasa, untuk memberitahu kami jika sudah ada orang yang memberimu tugas ini itu.”

“Cara bagaimana aku memberi tahu kalian?” Tanya Jaka selugu orang yang tak mengenal urusan apapun.

Arseta mengeluarkan gulungan kertas. “Disini ada caranya, lambang yang bisa kau gunakan ada disini, aku harap kau menghafalkannya sesegera mungkin, aku tak bisa meminjamkan ini padamu terlalu lama.”

Jaka membaca gulungan itu, beberapa saat dia sudah menghafal semua… dan Jaka juga pernah menemukan di sepanjang jalan selama ke Pagaruyung, ada tanda-tanda semacam ini. Dia mengingat-ingat lambang apa saja yang pernah dijumpainya, dan kemudian ia translasikan dengan arti yang baru saja dia pahami. Diam-diam Jaka meminta maaf dalam hati, karena memanfaatkan pengetahuan Arseta. Pemuda ini menyerahkan kembali. ”Apakah hanya ini saja?”

“Sebenarnya ada hal lain, aku ingin kau bertemu dengan seseorang…” Arseta bangkit di ikuti semua orang. “Ikut aku…” katanya pada Jaka.

Pemuda ini berjalan di belakang Arseta. Mereka memasuki ruang belakang tempat berlatih, ada selasar panjang selebar bahu orang… sangat pas di lalui satu orang. Dan mendadak Arseta lenyap di dinding sebelah kiri, demikian juga empat pemuda yang mengikutinya. Jaka ragu sejenak, dia melihat dengan seksama.. ternyata ada semacam tuas di lantai untuk membuka pintu dorong yang bentuknya menyerupai dinding, begitu tuas diinjak, bahu Jaka segera mendorong, ‘dinding’ tersebut… dan dia berhasil masuk. Tercengang adalah hal pertama terjadi, di balik dinding itu ternyata ada dunia lain… begitu banyak orang yang berlalu lalang dalam ruangan seluas 10 x 20 meter itu, ruangan itu semacam kantor administrasi yang sangat sibuk, disana sini terdapat meja kursi yang dipenuhi kertas dan alat tulis, ada juga orang-orang yang sedang sibuk membahas sesuatu.

Jaka sadar, dia sedang memasuki kawasan yang tidak akan mudah dia kembali dengan kondisi semula, selain dirinya memiliki nilai tawar yang bisa digunakan oleh mereka. Mereka sudah tiba di ujung ruangan dan masuk kedalam ruangan lain lagi, dengan cara yang sama.

Di balik dinding itu ada orang-orang yang duduk berjaga… ruangan ini semacam tempat menerima tamu, dikatakan semacam karena tamu yang bisa masuk kemari harus dipandu tuan rumah dulu. Aroma obat makin kuat menyengat. Jaka menghela nafas dingin… dia sangat paham dengan aroma khas semacam ini.

Arseta menyilahkan Jaka duduk, dia sendiri masuk di balik kelambu yang memisahkan ruangan itu dengan bagian yang lain. Tak berapa lama Arseta muncul di ikuti seorang lelaki berusia pertengahan tiga puluhan. Jaka memperhatikan wajah lelaki gagah berjenggot itu, matanya bersinar tajam, ada wibawa besar menyelimutinya.

“Perkenalkan, beliau adalah Ketua Bayangan dari Perguruan Naga Batu.” Kata Arseta dengan hormat.

Jaka bangun dan menghormat, sikapnya biasa saja, tidak terkejut tidak pula ingin bertanya ini itu, seolah dia memang benar-benar tidak mau tahu urusan. “Salam kenal, ketua, saya Jaka Bayu.” Katanya. Lelaki itu mengulurkan tangan, Jaka menyalaminya, dan seperti dugaannya.. lelaki itu berminat mengujinya. Sebersit tenaga yang sangat tajam menyusup dari balik telapak tangannya dan ‘mematuk’ Jaka. Pemuda ini merasakan tangannya pedih dan kebas, ternyata tenaga orang ini setegar cadas dan berdaya rusak tinggi.

Jaka tidak menghindari tenaga itu, dia menerima tenaga itu dengan satu tarikan nafas, dan rasa pedih membuyar perlahan… namun demikian dalam hati Jaka merasa terkejut, sebab tenaga itu tak bisa di buyarkan begitu saja dalam tubuhnya, tenaga itu malah makin meresap menyesak ulu hatinya. Wajah pemuda ini memerah sesaat, dan mendadak… wajah Ketua Bayanganlah yang berganti kejut… seolah-olah dia terpatuk ular.

“Terimakasih,” Jaka melepas tangan sang ketua yang tak lagi mengalirkan hawa serangan.

“Kau anak murid Arwah Pedang?” Tanya Ketua Bayangan dengan penasaran.

Jak tersenyum sembari menggeleng, “Bukan, tapi aku pernah diajari satu dua jurus olehnya.”

Mendadak, Ketua Bayangan mengibas tangan kirinya, selarik sinar merah melecut Jaka dengan begitu cepat… Jaka tak terkejut, dia diam saja. Dan sinar itu berhenti tepat di depan hidungnya… hanya berjarak satu ruas jari. Oh ternyata sinar kemerahan itu adalah rumbai baju Ketua Bayangan.

“Kenapa tak menghindar?”

“Sebab aku memang tidak perlu menghindar.” Jawaban Jaka membingungkan mereka. Tapi Ketua Bayangan paham, dia mengerti sebab untuk bertemu dirinya dilalui proses yang lama dan berbelit, dan tak mungkin pula tamu tersebut dianiaya tanpa alasan, sebuah kesimpulan tentang Jaka sudah diperolehnya.

64 - Menyambung Kepingan Informasi

“Kau tidak ingin tahu kenapa aku disini?” Tanya Ketua Bayangan Naga Batu seperti ingin menguji Jaka.

“Aku tidak tahu apa-apa, aku juga tidak tahu seperti apa Perguruan Naga Batu, aku cuma kebetulan terseret arus pertikaian orang saja… jika ketua ingin menjelaskan, aku dengarkan, jika tidak akupun tak keberatan.” Jawaban Jaka yang masa bodoh, membuat Ketua Bayangan itu gerah juga. Dia pikir, untuk orang yang pernah belajar satu dua jurus dari Arwah Pedang, pembawaan pemuda ini kurang begitu meyakinkan, masa Arwah Pedang yang dingin dan tertutup itu asal memberi petunjuk?

“Baik! Singkatnya, aku membutuhkan tenagamu untuk membantuku menyelesaikan urusan di Perguruan Naga Batu.”

“Aku tak keberatan, cuma harus diketahui, aku tidak tahu apa-apa mengenai itu.” Jaka beralasan.

“Kau cukup mengikuti saran dari kami, manakala datang perintah padamu, saat itupula kau harus ikut dalam rencana kami.”

Jaka menilai orang ini selain berwibawa, tapi pembawannya terlalu memaksa, bermain dengan orang semacam ini membuatnya teringat pada seseorang. Diam- diam pemuda ini tersenyum.

“Baiklah, informasi apa yang bisa aku dapatkan untuk memudahkan tugasku?”

“Saat dirimu mulai mengadakan kontak dengan kalangan Naga Batu pertama kalinya, perhatikan saja setiap orang yang terlibat didalam rancangan mereka, ingat baik-baik siapa mereka.”

“Itu masalah mudah, tapi bukankah andika merupakan Ketua Bayangan? Aku membayangkan andika mengetahui lebih banyak hal, dari pada informasi yang akan kuberikan nantinya.”

Ketua Bayangan tertawa masam, “Apa yang kau katakan tidak salah, tapi kekuasaanku kali ini sangat terbatas. Benar, aku bisa setiap saat datang dan pergi, tapi gerakanku mau tak mau harus dibatasi, sebab begitu banyak orang yang membelaku, kini berbalik membelakangiku… dengan sendirinya, caraku mengamati tak mungkin semudah biasanya.”

“Bukankah ada orang yang serupa dengan diriku? Apa tugas mereka?”

Ketua Bayangan paham maksud Jaka, “Mereka juga menyerap informasi dengan cara yang sama… tiap seksi akan menghasilkan informasi berbeda. Dan sekecil apapun informasi, akan sangat berharga bagi kami.”

Jaka mengangkat bahunya. “Hm… aku tak keberatan, cuma… berhasil tidaknya rencana andika, apa mempengaruhi orang lain pada umumnya?” “Ini tergantung mau kemana arah mereka.” Ujarnya dengan pandangan menerawang. “Tapi aku melihat ada ambisi besar, jika maksudmu adalah; mempengaruhi kaum persilatan pada umumnya bisa aku benarkan…”

Jaka ikut menghela nafas, nampaknya apa yang dipikirkan orang ini terlalu jauh, tapi dia tak menyalahkannya, sebab memang harus seperti itu. Ditinjau dari bubuk yang dipakai golongan ini saja, sesuatu yang bergerak didalam Perguruan Naga Batu, tergolong sangat istimewa. Jaka sudah memutuskan untuk merangkum Bergola dan kelompoknya ke dalam konflik Perguruan Naga Batu. Ada sebuah ciri khas sementara yang bisa Jaka ambil, pihak Perguruan Naga Batu, hanya merekut orang-orang yang berharga dan memiliki sumber daya bagus. Bergola terlalu ceroboh, sekalipun dia bertindak cukup rahasia. Dia tidak cukup berharga di mata penggagas konflik Perguruan Naga Batu. Tapi justru orang sok tahu semacam Bergola-lah yang cocok jadi ujung tombak Jaka.

Sebuah rencana baru tersusun perlahan dalam benak Jaka, tabiat orang dihadapannya ini telah memberi inspirasi, bagaimana dia harus bergerak nantinya.

“Jika demikian adanya, aku tak keberatan. Apakah aku harus selalu melakukan kontak dengan salah satu dari kalian?” Tanya Jaka lugu.

“Sudah pasti.” Jawabnya singkat.

“Hh… padahal aku kemari hanya untuk jalan-jalan saja.” Gerutu Jaka, mendadak Jaka menjatuhan sesuatu dari balik bajunya. Begitu menyadari apa yang terjatuh itu, semua orang menatap pemuda ini dengan pandangan aneh. Lebih-lebih Ketua Bayangan… dia menatap Jaka seolah sedang menatap mahluk lain.

“Dari mana kau dapat ini?” katanya sambil memungut benda yang jatuh tadi. Jaka menyeringai, dia mendapat sebuah benang merah yang tak disangkanya. Pemuda ini memang sengaja menjatuhkan batangan emas yang memiliki stempel pengesahan.

“Bukankah setiap orang bisa memiliki emas?” Jaka balik bertanya, sembari meminta emas batanganya.

Ketua Bayangan menatap Jaka dengan tidak mengerti. “Tapi emas dengan stempel ini hanya bisa di keluarkan oleh pihak tertentu, manakala kau memiliki jaminan sangat besar. Sebab emas ini mengemban nama baik stabilitas sebuah kerajaan…” jelasnya dengan menyerahkan emas itu.

Jaka manggut-manggut, dia mengerti maksud Ketua Bayangan. Lempengan emas murni yang di pegangnya memang sama persis dengan emas yang beredar diluar, disenyalir telah diedarkan untuk melakukan pembayaran pengiriman barang. Uang emas semacam ini tidak bisa digunakan untuk pembayaran pada sembarang tempat, ada semacam tempat penukaran uang untuk mencairkan nilai emas itu. Memiliki satu lempeng emas dengan stempel pengesahan itu, sama saja berhubungan dengan orang yang memiliki kekuatan menghamburkan uang.

Dan cap pada lempeng itu justru sama persis dengan emas yang di berikan sekelompok orang pada biro Pengiriman Golok Sembilan. Jaka ingin memancing dari Ketua Bayangan—si sumber berharga, tentang seberapa jauh keterlibatan pihak pengacau Perguruan Naga Batu dengan pihak pemberi mandat pengiriman ke Perguruan Enam Pedang.

“Aku tidak begitu paham apa yang andika cakapkan, tapi aku mendapat ini dari seorang teman, kebetulan waktu itu memang sedang kehabisan bekal, dia memberikan ini padaku.”

Ketua Bayangan menatap Jaka dengan pandangan menyelidik, sesaat kemudian dia menghela nafas. “Dan kau merasa berterimakasih setelah diberi emas itu?”

Alis Jaka mengerinyit, orang semacam Ketua Bayangan, tidak mungkin mengatakan hal yang sia-sia, dia yakin ada sesuatu dari ucapannya itu. “Tentu saja, aku bukan orang yang tidak tahu diri.” Jawab Jaka agak ketus.

Lelaki itu tersenyum tipis. “Jika kau tahu pesan apa yang terdapat dalam emas itu, kau pasti akan menyumpahi orang yang memberi emas itu.”

“Oh ya? Apakah ada sebuah rahasia dalam kepingan emas ini?” Tanya Jaka pura-pura bodoh. “setahuku, bahasa emas seperti ini cuma satu.. gunakan aku, dan kau kaya.”

“Aku tak ingin membahasnya sekarang.” Tegas Ketua Bayangan. “Aku ingin kau, menjadi ujung tombak kami. Dengan perubahan akhir-akhir ini, menurut perkiraanku, paling banter malam nanti sudah ada orang yang akan menjumpaimu.”

“Ya, aku memang berjumpa dengan banyak orang..” ujar Jaka masa bodoh.

“Bukan itu maksudku..’ “Aku paham,” cetus Jaka. “Akan kujalankan seperti yang andika pesan, jangan kawatir… aku tahu aku harus bertindak apa, aku tahu budi ini harus kubalas…” ujarnya sembari tersenyum.

“Bagus kalau kau paham, dan satu lagi… memasuki tempat ini bukanlah hal yang bisa dilakukan setiap orang. Ini bukan tempat rahasia, tapi ini adalah tempat orang-orang segolongan…”

“Aku tidak bodoh,” Jaka menukas lagi. “Apakah ada sesuatu yang harus aku telan?” ujarnya dengan polos.

Ketua Bayangan menggerakkan rahangnya, baru kali ini dia menghadapi anak muda yang bersikap masa bodoh, tidak tahu takut seperti Jaka ini. “Dengar Jaka, semua yang kami berikan padamu itu memiliki harga… kau pikir penawar yang kami berikan itu tinggal beli di pasar? Mengertilah, ini harga yang harus kau berikan kepada kami, dan kami harus berspekulasi! Kami harus titipkan kepercayaan kami padamu, tapi aku tidak tahu kau siapa… mereka juga tidak tahu kau ini siapa” ujarnya sembari menunjuk Arseta. “Jadi kau harus maklum, jika aku memintamu sementara, memberikan kepercayaanmu pada kami…”

Jaka manggut-manggut. “Ya, aku paham… kepercayaanku pada kalian adalah, ada sesuatu yang harus aku telan untuk kemudian aku harus menelan lagi semacam penawarnya. Cukup beralasan.. aku tak kebaratan.” Ujar pemuda ini tanpa ekspresi.

Ketua Bayangan menyerahkan sebuah kantung hijau pada Jaka. “Telan satu biji saja.” Jaka membuka kantong itu dan mengambilnya, di amati dengan sekejap. Satu butir buah kering yang membuat Jaka berkerut kening.

“Kenapa?” tanya Ketua Bayangan dengan sinis. “Bukannya kau tadi paham maksud ku?” sambungnya dengan nada datar, Jaka nyaris mendengar sebuah sindirian ditujukan padanya.

Pemuda ini tersenyum, “Aku paham kok, aku cuma sedang mengira-ira, seperti apa rasanya buah ini.. begitu pekat dan kisut.. mungkin rasanya seperti tahi kambing?” ujarnya.

“Telan saja, jangan banyak tanya.” Dengus Ketua Bayangan dongkol.

Jaka nyaris tertawa mendengar tensi lelaki itu meninggi. Dengan pura-pura menahan nafas, Jaka menelannya. “Hm, tidak buruk.. rasanya manis.”

“Didalam kantung ada tiga buah kering berwarna hijau, tiap dua malam sekali, kau cukup menelan satu.”

“Kalau aku tak menelannya?”

“Nasibmu tidak akan semanis rasa buah itu.” Dengus Ketua Bayangan.

“Mungkin aku bisa bertanya pada Arwah Pedang, siapa tahu dia mengerti cara memunahkan ini.” Gumam Jaka.

“Tidak boleh!” desis Ketua Bayangan sembari menatap Jaka tajam.

“Kenapa tidak?” tanya Jaka heran, padahal dia tadi cuma iseng saja berkata begitu, dia sudah tahu efek buah jalanidhi—buah kering yang ditelannya itu, bisa di punahkan dengan meminum setegukan air laut.

“Aku tidak mengijinkan!” dengusnya ketus.

“Ah, aku tahu… mungkin andika punya ganjalan dengan salah satu guruku… baiklah, biar urusan ini tidak berlarut-larut, aku akan memenuhi keinginanmu menelan buah jalanidhi ini.” Jaka berkata sambil tersenyum.

Tapi paras orang yang mendengar ucapan terakhir Jaka, benar-benar seperti habis kena tampar.

“Kau tahu nama buah itu?” tanya Arseta terkejut.

“Semua orang ditempatku sudah pasti tahu ini buah apa.” Ujar Jaka polos.

“Memangnya kau berasal dari mana?” tanya Ketua Bayangan penasaran.

“Yang jelas, aku pernah hidup disebuah pulau…”

Cukup mendengar ini saja, maka Ketua Bayangan bisa membayangkan pulau macam apa yang ditinggali Jaka. Pandangannya pada Jaka kembali berubah. Dia berpikir, pantas saja Arwah Pedang tertarik dengan anak ini.

“Kau boleh pergi.” Kata Ketua Bayangan sembari memberi isyarat pada orang lain untuk membawa Jaka keluar.

Ruangan itu hening, kini tinggal Ketua Bayangan dan Arseta yang ada disitu.

“Kukira manisanmu ini cukup langka,” ujar Ketua Bayangan sambil mengambil buah serupa dengan yang ditelan Jaka, lalu mengunyahnya perlahan.. selanjutnya dia mengambil yang berwarna hijau, demikian berulang kali, selang seling antara yang berwarna hitam dan hijau di makan berurutan.

Arseta tertawa getir. “Aku mana tahu dia hidup di gugusan Pulau Kendriya.”

Ketua Bayangan menghela nafas perlahan. “Jalanidhi memang buah aneh, jikau kau memakan yang hitam tanpa memakan yang hijau, satu hari kemudian tubuhmu lemas, kakimu bengkak, dan matamu sayu, ingin tidur sewaktu-waktu, dan pada saat kau terlelap, untuk membuka matapun tenaga sudah tidak ada…”

“Buah aneh memang.” Komentar Arseta. “dan kujamin tidak banyak orang yang tahu, bahkan jika dia orang kepulauan Kendriya itu sendiri.”

Hening sesaat. “Apa karena dia berhubungan dengan Arwah Pedang?” gumam Arseta lagi.

“Tidak bisa kusimpulkan sejauh itu, tapi setahuku Arwah Pedang tidak pernah berkelana kepulau-pulau.”

“Seberapa akurat informasimu itu?” tukas Arseta. “apa akhir-akhir ini kau berhubungan dengan Arwah Pedang?”

Rahang ketua Bayangan menggelembung, nampaknya di menyimpan ganjalan dengan Arwah Pedang. “Hanya setan yang mau berhubungan dengan dia!”

Arseta tertawa tanpa suara. “Aku akan mengutus Paksi Welirang untuk membuntuti Jaka, kita lihat apakah pengetahuannya tentang buah jalanidhi hanya sebuah kebetulan, atau memang kita sedang dikecohnya…” Ketua Bayangan tersenyum. “Boleh saja kau berpikir demikian, tapi penawar Serbuk Peluluh Jiwa juga punya takaran keras, jika dia tidak terkena Serbuk Peluluh Jiwa, kau pikir penawar itu tidak akan melumpuhkan tenaganya? Tadi awalnya aku merasa tenaganya memang lemah, tapi mendadak muncul sangat tajam, menyengat seperti lebah, tidak ada satu titik tenaga terhambur sia-sia. Pemusatan tenaga itu yang kutahu butuh latihan sangat dalam, dan sabar… Arwah Pedang punya ciri seperti itu, dan Jaka juga memiliki ciri yang sama.”

“Tapi itu, tidak cukup menjadi bukti dia terkena Serbuk Peluluh Jiwa. Kau bilang orang semacam Arwah Pedang, tidak menyia-nyiakan tenaganya, cukup pemusatan ke satu titik. Aku paham benar, sekalipun penawar ini membuat lemah tenaganya, bukan berarti dia tak bisa mengeluarkan hawa murninya, cara pemusatan dalam satu titik serangan itu, bukankah jauh lebih efektif dilakukan orang yang tenaganya sedang dalam gangguan?”

“Kau benar.” Ujar Ketua Bayangan setelah berpikir beberapa saat.

“Satu lagi, kau pernah mencium aroma obat di balirung depan?”

Ketua Bayangan menatap Arseta dengan tatapan heran. “Tidak, memang kenapa?”

“Jaka menciumnya.” Lirih suara Arseta, tapi dalam pendengaran Ketua Bayangan seperti petir menggelegar.

“Kau tanyakan padanya bau apa yang dia cium?” “Tidak, sebab dia tidak memberiku kesempatan untuk bertanya lebih jauh.”

Ketua Bayangan menghela nafas panjang, “Apakah keputusan kita salah?”

“Kuharap tidak.” Sahut Arseta pendek, tapi dia sudah tahu apa yang akan dilakukannya. “Akan kusuruh Kiwa Mahakrura untuk mendampingi Paksi.”

Ketua Bayangan menatap Arseta dalam-dalam, dia paham, tidak boleh ada satu kesalahan dalam rencana mereka, jika Jaka adalah sebuah kesalahan, maka yang paling tepat adalah mengutus Kiwa Mahakrura, orang ini disebut dalam perkumpulannya sebagai Tukang Sapu, sebab perkerjaanya memang membersihkan debu.. debu-debu yang menghalangi usahanya. Dan sejauh ini tak satupun debu bisa menghalangi Kiwa Mahakrura. Kiwa Mahakrura memiliki tangan kiri yang sangat kuat, dan dia juga tidak pernah ragu dengan keputusannya, tegas, kejam dan bengis benar-benar karakter yang sesuai dengan namanya, krura—buas, kasar, kejam.

“Kuharap, Arwah Pedang tidak mengetahui ini.” Gumamnya merasa miris. Arseta juga paham, jika Arwah Pedang sampai tahu orang yang memiliki kekerabatan dengan dirinya lenyap, banjir darah pasti tidak terelakkan.

“Apa kubatalkan saja?” tanya Arseta meminta pertimbangan.

“Tidak, tetap seperti rencanamu semula. Dalam masa kritis ini, memang banyak resiko yang kita tanggung, kita tidak boleh lembek!”

“Baiklah…” Arseta segera mengundurkan diri dari situ. Begitu ditinggal sendirian, Ketua Bayangan segera duduk termenung, matanya menyorot tajam kearah pintu. Dia tadi memperhatikan gerak-gerik Jaka, langkahnya mantap, sorot matanya bersahabat, dan kalimat-kalimatnya membuat dia terkadang mati kutu, orang semacam ini tidak mungkin sepolos kelihatannya. Dia ingin sekali melihat Jaka berhadapan dengan Kiwa Mahakrura… atau, siapa tahu Jaka bisa benar-benar menjadi anggotanya yang bisa diandalkan.