-->

Santana dan Garuda Bulu Emas Bagian 2 (Tamat)

Bagian 2 (Tamat)

*** BAB 05 : MENEBUS DOSA

Untuk menca pai tahap yang dibutuhkan Sanjaya sebagai seorang raja, dia harus menjalani ujian terakhir, berkelana di seluruh negeri dalam waktu setidaknya satu tahun. Itulah tradisi  yang selalu dijunjung turun-temurun di negeri ini.

Banyak yang bisa dipelajari dan diserap dari petu alangan hidup di segenap pelosok negeri.

Sebagaimana semua leluhurnya, dia bisa menghirup udara hutan dan pedesaan tiap hari, merasakan berbagai persoalan yang dihadapi rakyat secara langsung, menyaksikan dengan mata sendiri berbagai kemajuan, atau kemunduran, yang dialami negeri ini, dan menimba dari siapa pun ilmu yang seringan  apa  pun,  dan  kalau perlu turut memecahkan per soalan sehari-hari yang dihadapi siapa pun, demi bekal yang akan dibawanya ke singgasana istana.

Lebih dari itu, melalui pengembaraan seperti itu, dia bisa benar-benar merasakan menjadi rakyat. Bagaimanapun, rakyat adalah pemilik sebenarnya negeri ini.

Bagaimana ia bisa mengatur rakyatnya dengan baik dan bijaksana kalau ia tak pernah mengalami rasanya menjadi rakyat?

Ujian ini harus dijalani Sanjaya sendirian. Terus kenapa resi Wanayasa memberikan tugas kepada Santana untuk membantunya?

Di sebuah ujung persimpangan jalan yang terbuat  dari susunan batu pipih itulah kedua pemuda ini sudah siap hendak melakukan perjalanan. Sesuai perintah sang resi, Sanjaya akan berjalan kearah selatan untuk menyusuri seluruh pelosok negeri Galuh hingga ke tempat tujuan terakhir yaitu negeri Sunda, sedangkan Santana akan mengembara kearah utara namun tujuannya sama berakhir di negeri Sunda. Setelah itu  barulah Santana melaksanakan tugasnya membantu Sanjaya yaitu menggulingkan kekuasaan Purbasora di istana Galuh.

“Hari ini kita akan berpisah untuk sementara,”  Sanjaya memulai pembicaraan. Seperti biasa dia selalu meggelungkan rambutnya keatas. Dia mengenakan baju tanpa lengan  warna coklat, celana sepanjang betis warna hitam dan memakai kain pinggang atau sering disebut Dodot warna  coklat  bercorak  batik yang diikat oleh ikat pinggang warna hitam.

“Kita akan berjumpa di Sunda nanti,” Timpal Santana yang rambutnya lebih suka dibiarkan terurai di pundaknya, pakaiannya sama dengan sahabatnya itu hanya bajunya berwana biru dan celananya berwarna abu-abu. Yang lainnya sama.

“Semoga dalam perjalanan nanti kau diberi kekuatan untuk menghadapi segala rintangan yang akan menghadang.” Ucap doa Santana untuk sahabatnya.

“Kau juga , sahabat!”

Lalu mereka saling berpelukan. Sungguh berat rasanya sebuah perpisahan, bertahun-tahun mereka selalu bersama sejak kecil. Kini di saat akan melaksanakan tugas dari gurunya mereka harus menempuh jalan masing-masing. Mengapa  begitu? Karena jika nanti mereka menghadapi suatu masalah tidak akan saling mengandalkan satu sama lain, tapi akan berusaha memecahkan masalahnya sendiri. Secara tidak langsung akan melatih kemandiriannya. “Sampai jumpa, saudaraku!” Ujar Sanjaya setelah melepaskan pelukannya.

“Sampai jumpa,”

Kemudian Sanjaya membalikkan badan dan memulai melangkahkan kakinya yang terasa berat. Di tangannya membawa buntalan yang berisi pakaian ganti.

Santana memandang kepergian sahabat yang sudah seperti saudaranya itu sambil mengusap-usap kepalanya dengan tangan kanan karena tanga kirinya juga memegang buntalan yang sama seperti Sanjaya.

“Semoga berhasil, tuan pangeran!” Teriak Santana setelah Sanjaya jauh.

Dari jauh Sanjaya menoleh mendengar teriakkan sahabatnya yang memanggilnya dengan sebutan ‘tuan pangeran’  karena  baru kali ini dia mendengarnya. Lalu dia tersenyum dan Santana membalasnya sambil usap-usap kepalanya.

Setelah sosok Sanjaya tak terlihat lagi barulah pemuda berambut gondrong terurai ini melangkahkan kakinya. Memulai petualanganya. Ada banyak rencana dalam benaknya. Yang pertama adalah   mendatangi   rumahnya yang dulu di bukit Cibaringkeng karena dia ingat sesuatu di sana.

Karena di jalan yang dia lalui tampak sepi, dia ingin mencoba ilmu meringankan tubuh dengan cara berlari. Dan…

Wusss!

Tubuh Santana melesat begitu ringan saat berlari. Larinya laksana kuda jantan yang perkasa yang berlari dengan kecepatan penuh. Dia melihat pohon-pohon tinggi di pinggir jalan seperti bergerak sendiri kearah belakangnya. Sambil berlari seperti itu anak angkat resi Wanayasa ini mengingat-ingat jalan yang menuju bukit Cibaringkeng.

Jalanan yang dilaluinya masih terlihat sepi seperti tak ada kehidupan, atau memang jalan ini tak pernah dilalui seorangpun selain Santana saat ini. Setelah beberapa ratus tombak jarak yang ditempuh Santana barulah tampak dari kejauhan bukit Cibaringkeng berdiri kebiru-biruan warnanya. Dari semula hanya berlari dengan kecepatan luar biasa kini Santana ingin mencoba ilmu meringankan tubuh yang lain yaitu melompat, melesat terbang seperti burung hinggap dari satu dahan pohon ke dahan yang lain.

Set! Set ! Set!

Jarak yang seharusnya ditempuh seharian  menjadi lebih cepat, selama sepeminuman teh akhirnya sampai juga di ujung perbatasan jalan. Batas yang menghubungkan jalan  kampung dengan jalan masuk ke lereng bukit. Di sebelah kanan jalan sebagai tanda batas terdapat sebuah arca setinggi orang duduk yang bentuknya tidak beraturan. Inilah jalan menuju bukit Cibaringkeng, bukit tempat masa kecilnya tinggal bersama sang ayah si kepala rampok yang kejam dan ganas.

Sesaat   pemuda ini   memperhatikan   arca yang sudah bertahun-tahun berdiri di situ. Jika diperhatikan, kadang-kadang bentuknya seperti seekor monyet raksasa. Tapi Santana tidak memperhatikan lebih dalam lagi, dia melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit, dia melesat lagi bagai burung terbang.

Santana mendarat di halaman depan rumahnya yang tampak sepi dan sepertinya hampir ambruk. Dia menghela napas sejenak, mengingat perjalanannya tadi yang menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dia merasa lega bisa menggunakannya dengan benar tanpa mengalami kecelakaan atau sesuatu hal yang buruk lainnya.

Pintu rumahnya tampak terbuka lebar, semula Santana mengira pintu itu terbuka sejak dulu. Sejak peristiwa penangkapan ayahnya. Tapi begitu melihat lebih dalam lagi dia terkejut melihat seseorang sudah berada di dalam rumahnya. Dengan gerakan cepat dan ringan dia melesat masuk ke dalam rumah.

“Siapa kau!” Sentak Santana begitu sampai di dalam. Dia melihat seorang lelaki yang berpakaian seorang resi warna merah menyala yang kepalanya mengenakan sorban india yang juga warna merah sedang mengemasi dua buah kotak besar yang berbentuk seperti peti. Sepertinya dia baru saja memasukkan beberapa barang ke dalam peti-peti itu.

Lelaki bersorban ini terkejut mendengar suara sentakan Santana lalu menoleh. Ternyata wajah ditutupi dengan topeng terbuat dari kulit yang berwarna merah.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Santana kemudian, kedua matanya mengawasi lelaki ini. Sayangnya dia tidak dapat mengenalinya karena wajah lelaki ini memakai topeng.

“Siapa kau, berani campuri urusanku!” Lelaki bersorban itu balas membentak dengan suara sangar.

Mendengar suaranya  Santana seperti ingat seseorang, tapi tak ada waktu untuk mengingat-ingatnya karena tujuan utamanya bukan itu.

“Aku Kuntawala, pemilik rumah ini!” Jawab Santana sengaja memakai nama ayahnya.

Walaupun ditutupi topeng merah tapi dari gerakan kepalanya menandakan bahwa lelaki ini terkejut mendengar jawaban Santana.

“Berani-beraninya kau…” Ucapan lelaki  ini  terputus  seperti ada sesuatu yang dipendam dan tidak ingin orang lain tahu. Sejenak dia memperhatikan Santana. Ada rasa heran dalam benaknya.

“Ini rumahku dan yang ada di dalam peti-peti itu adalah barang-barang simpananku dulu, enak saja kau mau mencurinya?” Gertak Santana.

“Apa katamu?”

“Itu barang-barang hasil rampokanku!”

Inilah tujuan Santana kembali ke rumahnya, yaitu teringat akan barang-barang  hasil  rampokkan ayahnya  dulu yang  disimpan di sebuah tempat teersembunyi dan sekarang hendak mengambilnya. Tapi dia heran kenapa orang bersorban merah itu sepertinya tahu tempat penyimpanan barang-barang itu?

Begitu juga lelaki bertopeng, di balik topengnya dia menunjukkan wajah heran. Timbul banyak pertanyaan dalam benaknya.

“Pembohong!” Sentak si baju merah. “Kau bukan Kuntawala!” “Kau tidak percaya?” Ujar Santana. “Rupanya kau belum

mengenali siapa Kuntawala, perampok ganas  dari   bukit

Cibaringkeng!” Lanjutnya sambil bertolak pinggang tapi kemudian kebiasaannya dilakukan juga yaitru mengusap-usap kepalanya.

“Aku tidak akan percaya ucapanmu, pemuda tolol!”

Santana terkesiap. “Lantas siapa kau, kenapa kau sembunyi di balik topeng?”

“Bukan urusanmu, sekarang enyahlah dari hadapanku!” “Kau yang harus menyingkir!”

“Kurang ajar!”

Si topeng merah tak bisa lagi menahan kemarahannya. Dia langsung saja kirimkan serangan pukulan tangan kosong kearah pemuda berambut gondrong yang mengaku sebagai Kuntawala ini.

Dengan enteng  Santana  melakukan  gerakan  menghindar.

Inilah saatnya menguji kemampuan yang dimilikinya.

Ternyata tenaga dalam orang bertopeng merah ini cukup tinggi juga saat Santana sengaja memapas serangan yang dilancarkan lawannya. Sehingga dia harus mengerahkan lagi tenaga dalamnya untuk mengimbangi lawannya.

Perkelahian tangan kosong pun terjadi di dalam rumah yang tidak terlalu besar ini.

Selain ingin menguji kepandaian yang dia dapatkan dari ayah angkatnya, resi Wanayasa alias  Rahyang Kidul.  Santana  juga sambil menjajagi kekuatan lawan, memperhatikan gerakan jurus dan mencari celah kelemahannya.

Berbagai pukulan dan tendangan dihadapi dengan tenang. Karena begitulah yang diajarkan sang resi kepadanya bahwa jika menghadapi seorang lawan yang ringan maupun sangat tangguh harus dengan tenang jangan disertai dengan nafsu atau ambisi untuk menang.

Makin  lama  makin  bertambah  kuat  tenaga   dalam  yang dikeluarkan karena satu sama lain belum ada yang terdesak. Jika si topeng merah tampak ingin segera menjatuhkan lawannya, lain halnya dengan Santana yang hanya berusaha untuk bertahan sambil terus mencari celah untuk membalas serangan lawan. Kesempatan itu pun datang walau sangat kecil. Tangan kanan Santana bergerak menyusup di antara gerakan lawannya. Lalu…

Dess!

Ujung jari tengah Santana berhasil menghantam  dada  si topeng merah. Walaupun Cuma ujung jari tapi kekuatannya lumayan dashyat. Tubuh si topeng merah sampai terpental kebelakang dan menabrak dinding rumah yang sudah rapuh akibatnya jebol. Tak bisa menahan diri, tubuh si topeng merah terjatuh keluar rumah namun dia segera bangkit. Napasnya terengah-engah memburu penuh amarah.

Dalam hatinya si topeng merah yang kalau dilihat dari perawakannya sudah berumur enam puluhan tahun merasa heran. Ada seorang anak muda yang begitu  mudahnya menjatuhkan dirinya dalam adu jurus tangan kosong dengan tenaga dalam seimbang.

Sementara Santana merasa kagum kepada dirinya sendiri, ternyata dengan pengerahan kekuatan yang seimbang dengan lawannya dia begitu mudah menjatuhkannya. Dia merasa seperti melempar ranting pohon saja. Tapi rasa kagumnya segera ditepis karena barangkali saja orang berbaju merah itu memiliki kekuatan yang lebih tinggi lagi.

Karena penasaran akhirnya si topeng merah melakukan penyerangan lagi. Kali ini tenaga dalamnya ditingkatkan. Apalagi bagi Santana, pikirannya yang masih muda tentu ingin mencoba segala hal termasuk menjajagi lagi sampai di mana kekuatan lawannya.

Pertarungan adu jurus tangan kosong terjadi lagi, kali ini di halaman depan rumah.

Salah satu watak ajian ‘Wadah Rahayu’ yang sudah melekat di badan Santana sejak kecil selain untuk kekebalan adalah bisa mempelajari gerakkan jurus yang digunakan lawan dan bahkan langsung bisa menggunakannya.   Tentunya setelah ajian ini disempurnakan. Itulah yang dilakukan Santana saat ini, saat lawannya menyerang dia hanya mengindar dan menghindar tapi perhatiannya tak luput dari gerakkan jurus lawan. Sampai ada kesempatan untuk menyerang maka yang dia gunakan adalah jurus lawannya sehingga si topeng merah semakin dibuat penasaran. Kenapa pemuda ini memainkan juruas yang sama dengannya? Apakah pemuda ini masih satu guru dengannya? Pikirnya.

Lain lagi dengan Santana, dia merasapelajaran dari guru sekaligus ayah angkatnya telah berhasil dia gunakan dengan benar.

“Anak muda, tunggu!” Si topeng merah hentikan pertarungan.

Santana hanya usap-usap kepala, raut wajahnya jadi tampak

tolol.

“Siapa kau sebenarnya?” Tanya si topeng merah yang penasaran.

“Bukankah sudah aku katakan. Aku Kuntawala!”

“Aku tahu siapa Kuntawala yang sebenarnya, kau dusta!” “Terserah kau mau percaya atau tidak!”

“Satu   lagi,”   Kata si  topeng   merah.   “Dari   mana   kau emndapatkan jurus yang sama denganku tadi?”

“Kau tidak perlu tahu!” Jawab Santana sambil meyeringai mengejek.

“Baiklah, tidak ada gunanya lagi berlama-lama denganmu!” “Aku juga, muka merah!”

Dengan gerakan cepat si topeng merah melompat ke dalam rumah, yang dia tuju adalah dua buah peti kayu besar yang berisi barang-barang berharga yang telah dikemasinya tadi.

Tapi Santana tidak membiarkannya begitu saja. Begitu si topeng merah hendak menyambar dua peti itu, pemuda gonrong dengan rambut terurai ini menghentakkan kedua tangan yang sudah terisi pukulan jarak jauh.

Wusss!

Satu gelombang angin dashyat menghantam rumah kayu. Brak!

Blarrr!

Rumah kayu yang sudah rapuh itu hancur bagaikan dihantam banjir bah. Dua peti besar dan berat mencelat ke udara. Saat itulah Santana melesat menyambar dua benda itu. Begitu berhasil mendapatkan keduanya, lalu dia hinggap disalah satu pohon yang tinggi dan berdahan besar dan dia berdiri di dahan itu sambil membawa kedua peti di kedua tangannya. Dua peti itu sebenarnya sangat berat kalau diangkat oleh tenaga biasa.

“Dasar pencuri busuk, kembalikan padaku!” Teriak si topeng merah yang baru saja terbangun dari reruntuhan rumah. Rumah sarang perampok itu kini sudah hancur tak bebentuk lagi.

Santana menyeringai lalu mencibir. “Apa katamu, pencuri?” Lalu tertawa mengekeh. “Kau yang pencuri, pengecut busuk!”

“Jahanam, keparat!” si topeng merah sangat marah besar. “Sudah saatnya  aku menggunakan barang-barang ini.” Ujar

Santana dengan suara lantang, maksudnya supaya terdengar oleh

si topeng merah itu. “Terima kasih sudah mengemasinya dengan baik!”

Lalu pemuda ini melesat meninggalkan tempat itu membawa kedua peti yang berisi harta yang dulu dipendam ayahnya.

Sementara si topeng merah berteriak marah, kesal dan juga dendam. Bukan hanya karena kehilangan barang yang sudah dikemasinya saja, tapi merasa dipecundangi oleh  seorang  anak muda yang tampangnya  masih seperti anak kemarin sore. Padahal dia adalah seorang tokoh yang banyak diperbincangkan orang saat ini.

Sambil berteriak marah si topeng merah ini melancarkan serangan jarak jauh berupa pukulan angin dashyat yang ganas ke arah Santana yang sudah melesat kabur, namun pukulannya ini hanya mengenai dahan-dahan pohon hingga patah dan tumbang.

Sosok Santana begitu cepat lenyap dari pandangan mata.

*** Semua yang terdapat dalam dua peti kayu  yang besar ini adalah perhiasan emas hasil  rampasan  yang disimpan  khusus untuk persediaan. Lalu untuk apa Santana membawa barang-barang hasil rampokkan ayahnya dulu? Sebuah rencana sudah  tertulis dalam benaknya.

Dengan menjual beberapa perhiasan kepada juragan kaya, Santana bisa membeli seekor kuda jantan yang digunakan untuk mengangkut dua peti kayu besar itu yang dikaitkan pada samping kiri kanan punggung kuda. Sementara Santana tetap jalan kaki menuntun kudanya.

Di tengah perjalanannya, tiba-tiba Santana menemukan seorang lelaki yang sudah hampir tua tengah duduk menggeletak di tanah di bawah sebuah pohon besar. Punggungnya menyandar ke sebagian akar pohon yang menyembul dari tanah. Lelaki ini tampak kurus dan lemas seperti kekurangan makan.

“Maaf, kisanak kenapa?” Sapa Santana setelah sampai di depan lelaki kurus itu.

“Saya lemas, den.” Jawab si kurus dengan suara memelas. “Kisanak, belum makan?”

“Belum, den. Persediaan makanan saya dicuri binatang…”

Kemudian dari dalam buntalan kainnya Santana mengambil sebungkus nasi campur lauknya yang dibelinya tadi  sewaktu melewati sebuah kedai makan, lalu memberikannya kepada lelaki kurus itu. “Ini ki, buat kisanak saja. Kebetulan saya masih ada bekal.”

“Terima kasih, den!” Si lelaki langsung menerimanya dengan senang hati karena dia memang sudah lapar sejak dari tadi.

“Dan ini juga buat kisanak.” Santana memberikan lagi beberapa keping uang sisa hasil penjualan perhiasan yang dibelikan kuda.

Si lelaki kurus tampak lebih senang lagi menerimanya sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

“Wah, aden baik sekali.” Ujar si lelaki kurus.

“Sudah menjadi kewajiban saya untuk saling tolong menolong, ki.” Kata Santana sambil senyum.

“Kalau boleh tahu, siapa nama anak muda ini?”

Santana diam sejenak. Dia berpikir  dalam  hatinya  apakah akan menggunakan nama ayahnya seperti waktu bertemu dengan lelaki bertopeng merah yang hendak mengambil perhiasan di rumahnya atau nama dirinya sendiri? Tapi, lebih baik jadi diri sendiri.

“Saya Santana.”

“Baiklah, den Santana. Sekali lagi saya  ucapkan  banyak terima kasih, semoga aden selalu dilindungi oleh Sang Hyang Widi.”

“Sama-sama, Ki.”

Kemudian lelaki kurus ini bangkit dan pamit kepada Santana. Pemuda berambut gondrong terurai ini pun melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya dia mengingat-ingat jalan yang dulu sering dilewatinya bersama ayahnya. Hingga sampailah di sebuah kampung kecil yang keadaannya begitu sepi karena di kampung itu hanya terdapat kurang dari dua puluh rumah  saja. Rumah-rumah yang terbuat dari bilik bambu. Seketika dia teringat saat bersama ayahnya dulu menjarah semua harta yang dimiliki penduduk kampung ini.

Setelah menambatkan tali kuda ke sebuah pohon, Santana mendatangi salah satu rumah yang terdekat.

“Sampurasun!” Ucap Santana sambil mengetuk pintu.

Tak lama terbukalah pintu rumah  itu dan muncul seorang lelaki setengah baya. Santana masih ingat wajah orang ini. Dulu orang ini tampak sangat ketakutan saat dipaksa menyerahkan harta bendanya.

“Siapa ya, dan ada perlu apa?” Sapa lelaki yang ternyata saat bicara tadi giginya kelihatan ompong.

“Kisanak masih ingat saya?” Santana malah  balik  Tanya sambil menyeringai dan usap-usap kepalanya. Sungguh aneh dia, mungkin maksudnya siapa tahu lelaki ompong ini masih ingat wajahnya waktu kecil dulu.

“Kau ini aneh anak muda.” Ujar si ompong. “Kau yang mengetuk pintu malah kau bertanya seperti itu. Ya jelas saya tidak tahu siapa kamu, melihat saja baru sekarang!”

Santana tersenyum. Berarti benar orang ini tidak mengingat wajahnya, tentu saja karena waktu itu mana ada kesempatan untuk melihat wajahnya walaupun jaraknya dekat. Yang ada hanyalah rasa takut karena nyawanya terancam. “Baiklah!” Kata Santana. “Nama saya Santana, apakah kisanak pernah mendengar nama saya atau tidak, bukan suatu masalah karena kedatangan saya kemari adalah untuk berbagi dengan warga kampung disini.”

Lelaki ompong ini tampak bingung lagi mendengarnya. “Apa maksudnya?” Tanya si lelaki ompong.

“Sudahlah, saya tidak waktu lagi. Sekarang sebaiknya kisanak kumpulkan saja semua kepala keluarga di kampung ini.”

Sesaat lelaki ini masih bingung tapi akhirnya  menurut juga apa yang dikatakan Santana.

Beberapa saat kemudian semua  kepala  keluarga  di kampung ini sudah berkumpul di depan rumah si lelaki ompong. Seperti kata Santana tadi, dia ingin berbagi dengan warga kampung. Maka setiap kepala keluarga diberikan beberapa perhiasan yang diambil dari dalam salah satu peti. Tentu saja warga kampung tidak menyangka akan ada orang baik yang memberikan perhiasan emas begitu saja tanpa meminta balasan apa-apa. Dan yang terpenting dari itu adalah semua warga jadi senang karena mempunyai  perhiasan sebagai bekal untuk kehidupan mereka.

Walaupun sudah dikeluarkan untuk memberi orang sekampung, ternyata isi dalam peti masih banyak.

Santana pun melanjutkan perjalanan. Kali ini dia melewati sebuah jalan yang kiri kanannya terhampar sawah-sawah yang luas yang tanaman padinya masih berwarna hijau setinggi betis.

Ada rasa puas dalam hatinya setelah membagi-bagikan beberapa perhiasan kepada orang-orang kampong tadi. Walaupun dulu, ayahnya yang telah merampas harta mereka. Tapi perasaanya seolah-olah dia yang berdosa maka dia juga yang ingin menebus dosa itu. Setidaknya sudah membuat warga kampung tadi merasa senang. Hal lainnya adalah orang tidak perlu tahu kalau dia adalah anak Kuntawala si perampok yang kejam. Begitupun  dengan ayahnya tidak perlu tahu bahwa anaknya masih hidup dan menjadi orang baik sebagai bentuk perlawanan sikap terhadap sang ayah.

Benar juga kata sang resi, ayah angkatnya. Bahwa dalam berbuat jangan sekali-sekali didasari dengan rasa dendam, tapi harus ikhlas.

Teringat dengan ayah kandungnya, Kuntawala. Dalam benak Santana muncul keinginan untuk segera mencarinya.  Tentunya bukan karena perasaan rindu. Tapi karena ingin membuat ayahnya menjadi orang baik, sebaik-baiknya. Walaupun semua itu  pasti sangat tidak mungkin. Sebagai jalan satu-satunya adalah melawannya.

Tapi, dia ingat lagi kata sang resi. Bahwa dia tidak perlu mencari ayahnya karena pasti akan bertemu  dengan  sendirinya pada waktu tertentu. Kata-kata sang resi yang ini membuat hatinya penasaran. Apa maksud sang resi mengatakan demikian? Atau ini suatu rahasia yang sebenarnya sang resi sudah mengetahuinya.

Sehubungan dengan hal ini, Santana teringat juga tentang kabar ayahnya yang melarikan diri saat  akan menerima  hukuman dari raja. Pertanyaannya, apa yang dilakukan ayahnya sekarang? Apakah masih merampok seperti dulu atau sudah tobat?

Perjalanan Santana selanjutnya adalah mendatangi setiap rumah atau orang yang dulunya pernah dirampok ayahnya. Itu juga sebatas   yang  dia ingat saja. Kepada orang-orang itu dia memberikan beberapa perhiasan sebagai tanda ganti rugi walaupun orang yang menerimanya tidak mengetahui maksud yang sebenarnya.

Begitulah yang Santana lakukan sampai semua perhiasan yang ada dalam dua peti itu hampir habis. Bahkan kudanya pun sekarang sudah dijual lagi lalu sisa perhiasan itu hanya disimpan di dalam buntalannya.

Selain kepada orang-orang yang telah dirampok ayahnya, Santana juga memberi kepada orang-orang lain yang sangat membutuhkan seperti keluarga yang sangat miskin, pengemis dan lain-lain.

Saat perutnya terasa keroncongan, Santana mampir  ke sebuah kedai makan yang kebetulan dijumpainya. Sebuah kedai pinggir jalan yang berada dekat dengan alun-alun sebuah desa yang bernama desa Rancaputat. Kedai ini tidak terlalau ramai, hanya ada beberapa orang saja yang sedang mengisi perut seperti Santana. Di saat enak-enaknya makan tiba-tiba terdengar suara teriakkan.

“Jarnipa! Aku datang menantangmu!”

Suara teriakan itu terdengar sejauh sepuluh tombak dari kedai tempat Santana makan. Seorang lelaki setengah baya  berambut putih yang berteriak tadi berdiri di depan sebuah rumah yang terlihat agak mewah yang letaknya berada dekat dengan Bale desa.

“Siapa dia?” Tanya Santana kepada pengunjung  kedai  lain yang berada di dekatnya.

“Dia Barjawata,”  Jawab  orang  itu agak  gemetar suaranya.

Sepertinya dia merasa takut. “Barjawata?”

“Dia orang yang suka mengacau di kampung ini,” Lanjut orang itu lagi. “Dia pasti akan menantang Ki Lurah.”

Santana terus memperhatikan Barjawata yang berdiri di depan rumah yang ternyata milik Ki Lurah setempat.

Sementara terdengar orang di samping Santana bercerita. “Ki Lurah Jarnipa adalah orang paling sakti di desa ini dan juga sangat baik terhadap warganya. Karena kebaikan hatinya dia ingin menurunkan kepandaianya dalam ilmu silat kepada pemuda-pemuda desa agar menjadi pemuda tangguh dan hebat.”

Santana mengangguk tanpa menoleh.

Ki Lurah Jarnipa tampak keluar dari dalam rumahnya, sikapnya begitu tenang.

“Barjawata.” Kata Ki Lurah pelan. “Lebih baik kau bertobat saja, hentikan sepak terjangmu yang meresahkan warga.”

“Heah!” Barjawata membentak. “Hentikan ceramahmu, aku datang kesini bukan untuk diceramahi, aku tidak peduli dengan keresahan warga, seharusnya kau yang berlutut di hadapanku dan menyerahkan jabatan lurahmu, karena aku sekarang lebih sakti darimu!” Barjawata tertawa pongah. “Biar kubuat mampus kau sekarang!” Gertaknya.

Begitu habis ucapannya Barjawata langsung bergerak menerjang kearah Ki Lurah Jarnipa. Yang diserang sudah waspada, dengan enteng dia melesat keluar dari teras rumahnya lalu mendarat di tempat yang lebih luas. Bersamaan dengan itu Barjawata sudah melesat kembali kearahnya dengan tendangan yang ganas.

Sekali lagi Ki Lurah berhasil menghindari serangan lawan dengan mengeposkan badannya. Kejap berikutnya terjadilah pertarungan adu jurus dan kekuatan yang dikeluarkan masing-masing. Beberapa saat lamanya pertarungan ini tampak seimbang. Namun pada jurus yang ke sembilan  belas,  tampak Lurah Jarnipa mulai terdesak. Kini dia sadar kalau tenaga dalamnya berada di bawah Barjawata. Ternyata lawannya sudah mengalami peningkatan yang pesat, pikir Ki Lurah dalam hati.

Saat itulah Lurah Jarnipa mulai mengeluarkan ajian andalanya, tidak tanggung-tanggung dia keluarkan  ajian  tingkat paling tinggi, dia merasa tidak perlu banyak bertele-tele menghadapi lawannya yang berbahaya ini. Tenaga dalam dikerahkan penuh, dua tangan dikepalkan dan tampak berubah warna menjadi merah sebatas siku.

“Keluarkan ajian ‘Wisangjenget’-mu, aku tidak takut!” Barjawata mengejek. Tak ketinggalan dia juga mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan ajian ‘Nagasagara’.

Sementara di sekitar tempat itu para warga sudah berdatangan menyaksikan pertarungan Ki Lurah Jarnipa dengan Barjawata.

Kejap berikutnya terdengar suara bentakkan nyaring dari dua orang yang sedang mengeluarkan ilmu andalannya masing-masing. Ki Lurah dan Barjawata sama-sama melesat cepat seperti banteng yang hendak beradu tanduk.

Wesss.. Dess!”

Dua pukulan sakti beradu. Dua sosok terpental menjauh sampai beberapa tombak. Beberapa orang jantungnya berdebar-debar tak karuan, cemas dan khawatir. Barjawata sempat terguling tapi cepat berdiri lagi, tampaknya dia tidak mengalami satu cidera apapun. Sedangkan Ki lurah tampak terpental melayang-layang.

Tiba-tiba saja satu sosok menyambar tubuh Ki Lurah Jarnipa, menyelamatkannya dari bahaya. Kemudian ki Lurah dibawa masuk kedalam kedai. Sosok yang ternyata Santana ini memberikan pertolongan mengobati luka yang diderita Ki lurah di bagian dalam dengan mengalirkan hawa sejuk melalui tangannya dengan cara ditempelkan ke punggung Ki Lurah. Setelah dirasa cukup, Santana mendudukkan Ki Lurah Jarnipa di sebuah kursi.

“Terima kasih, nak!” Kata Ki Lurah pelan.

“Ki Lurah duduk dulu disini, tenangkan pikiran dan atur napas.” Kata Santana.

“Siapa kau, berani mencampuri urusanku?” Terdengar suara membentak Barjawata.

Santana melompat keluar dari kedai langsung berhadapan dengan orang berambut putih ini.

“Kau sudah keterlaluan, orang tua!” Serunya.

Barjawata mendengus. “Anak kemarin sore berani jual tampang di mukaku!”

“Kalau kau mampu, belilah tampangku!” Tantang Santana lalu usap-usap kepalanya.

“Kurang ajar, kau menantangku! Terima ini!”

Barjawata meloncat membuat gerakan menendang, yang dituju adalah kepala pemuda berambut gondrong anak angkat resi Wanayasa ini. Pada saat kaki lelaki berambut putih ini jaraknya sejengkal lagi menghantam muka. Santana gerakan tangan kanan menangkis.

Tak!

Walau gerakannya pelan tapi tenaga yang keluar cukup kuat sehingga membuat tubuh Barjawata berputar meliuk dan bagian kepalanya jadi mendekat kemuka Santana, saat itulah tangan kiri si gondrong ini memukul kedepan.

Buk!

Tubuh Barjawata jatuh bergulingan di tanah tapi dengan cepat dia segera bangkit lagi. Dia menggembor marah, tidak disangka dia begitu mudah dijatuhkan dalam sekali gebrak.  Ternyata tenaga dalam pemuda ini cukup tinggi juga. Lalu dengan cepat dia pun menyerang kembali dengan kekuatan penuh dan jurus-jurus yang lebih dashyat lagi dibanding ketika menghadapi Ki Lurah Jarnipa. Namun walaupun lawannya masih muda ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.

Gerakan Santana lebih cepat, yang dituju adalah urat-urat penting di bagian tubuh  lawan. Walaupun dia  membenci lawannya ini tapi tak ada niat untuk membunuhnya. Ini adalah kali kedua dia bertarung melawan orang setelah sebelumnya melawan orang bertopeng merah yang sampai sekarang masih penasaran siapa sebenarnya orang itu.

Pemuda gondrong ini juga tidak menyangka kalau dia bisa mengimbangi lawannya, tenaga dalam Barjawata masih tergolong lemah baginya.

Tek! Tek! Tek!

Bagian-bagian  urat  penting   di   tubuh  Barjawata   terkena pukulan dan sabetan yang cukup kuat, akibatnya dia merasa urat-uratnya seperti putus tubuhnya menjadi lemas bahkan lumpuh. Lalu…

Brukk!

Sosok Barjawata terkulai lemas tak berdaya. Yang dilakukan Santana memang hanya melumpuhkan kekuatan lawan  saja. Dia ingat pesan gurunya, dalam keadaan apapun janganlah sampai membunuh lawan. Cukup melumpuhkan kekuatannya saja. Dengan begitu berarti telah membuat keputusan yang bijaksana. Karena dengan membunuh, bukan suatu penghakiman yang baik.

Terdengarlah suara sorak sorai orang-orang desa yang menyambut gembira atas tumbangnya Barjawata yang selama ini telah meresahkan semua warga desa.

Beribu ucapan terima kasih pun terlontar dari semua warga desa kepada Santana yang kini menjadi pahlawan. Bukan hanya menyelamatkan nyawa Ki Lurah saja tapi juga membuat desa itu menjadi tentram lagi.

Dan Santana melanjutkan kembali perjalanannya. BAB 06 : PERAMPOK CANTIK

“Serahkan semua benda yang kau punya!” Seru seorang gadis berparas cantik berambut panjang terurai sampai punggung, berkulit putih mulus dan berpakaian serba hitam. Gadis ini menghadang perjalanan Santana di sebuah jalan sepi yang menuju hutan.

Sementara pemuda berambut gondrong terurai ini bukan merasa terkejut karena perjalanannya terganggu, tapi dia malah terpana melihat kecantikkan si gadis yang  menghadangnya  itu. Gadis itu kira-kira berumur setahun lebih muda dari Santana.

Dari ucapan si gadis, Santana mengerti apa maksudnya karena di belakang si gadis itu  sudah berdiri empat orang lelaki bertampang garang masing-masing sambil menghunus senjata berupa sebuah golok besar.

“Nona cantik, aku hanya membawa buntalan kentut ini.” Ujar Santana sambil mengacungkan buntalannya. Wajahnya menyiratkan raut ketololan.

“Aku tahu, di dalamnya ada barang berharga!”  Si  gadis bertolak pinggang. Rambutnya yang terurai melambai-lambai terhembus angin.

Santana tersenyum, dalam hatinya dia sama sekali tidak merasa takut. Malah dia seperti mengagumi paras si gadis yang tampak anggun saat rambutnya melambai-lambai itu.

“Cepat serahkan,  kalau  tidak…”  Getak  si  gadis  tampak bengis sambil pelototkan matanya.

“Ah, nona cantik tidak usah galak-galak seperti itu. Aku akan menyerahkan pakaian butut ini dengan senang hati. Karena nona sangat cantik apalagi kalau sedang galak seperti itu…”

“Diam kau, jangan banyak mulut!” Gertak si gadis lagi. Empat orang di belakangnya terlihat mengayun-ayunkan senjatanya.

Santana tersenyum   lagi   menatap ke arah si gadis, senyumannya ini membuat wajahnya yang tampan jadi tampak lebih mempesona. Diam-diam si gadis yang bersikap galak ini jadi berdebar-debar juga jantungnya saat ditatap Santana.

“Kalau pakaian butut ini cukup berharga, ya silahkan ambil saja…” Ujar Santana. Dalam hati dia berkata. “Cantik-cantik kok galak, siapa dia ya?”

“Lekas berikan!”

Dengan tenang santana melemparkan buntalannya ke depan. Salah seorang lelaki di belakang si gadis  menyambutnya  lalu segera membukanya. Ternyata  memang  benar di dalamnya  cuma ada tiga pasang pakaian ganti. Karena sisa perhiasan yang dibawa telah dijual dan uangnya kini tersimpan dalam kantung kain yang diselipkan di balik ikat pinggang Santana.

Si gadis terkejut melihat isi buntalan itu. Dia mendengus tidak percaya. Kembali matanya melotot tajam ke arah Santana seperti hendak menelan bulat-bulat kepala Santana. Tapi si pemuda gondrong ini tak merasa takut sedikitpun, dia hanya tenang-tenang saja.

“Kurang ajar!” Sentak si gadis. Walaupun begitu kecantiknnya tidak pudar. “Di mana kau sembunyikan uangmu?”

“Bagaimana kau bisa tahu aku membawa uang?” Balik tanya Santana.

“Diam! Serahkan uangmu atau nyawamu melayang!” Si gadis sudah tidak sabar.

Diancam seperti itu anak angkat  resi  Wanayasa masih tenang sambil diam-diam menghitung kekuatan lawan jika terjadi pertarungan nanti.

“Kalau aku tidak punya uang?” “Pembohong!”

“Kalau begitu aku serahkan nyawaku saja, mati di tangan seorang gadis cantik aku tidak akan penasaran,”

Si gadis geram merasa dipermainkan sementara empat orang yang tampaknya anak buah si gadis sudah mendengus-dengus menahan amarah seperti harimau lapar.

“Pemuda sombong, rupanya kau belum mengenal Kuntiwala

anak Kuntawala!”

Santana hampir saja tertawa cekikikan mendengar nama si gadis. Namun dia segera menahan tawanya. Apa benar ayahnya mempunyai  anak  selain  dia? Jadi penasaran juga akhirnya, dia ingin tahu siapa sebenarnya gadis cantik ini?

“Baiklah nona cantik yang bernama Kuntilanak…” “Apa katamu!” “E..eh, ya. Maksudku Kuntiwala kau boleh mengambil nyawaku. Tapi kalau kau tidak bisa mengambilnya maka sebagai gantinya kau mejadi milikku!” Santana sempat tercekat dengan kata-katanya sendiri. “Ini keceplosan  atau  apa?”  Katanya  dalam hati.

“Sombong tolol!” Si gadis yang mengaku bernama Kuntiwala anaknya Kuntawala memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera menyerang Santana.

Dalam beberapa kejap Santana dikurung oleh lima orang yang tampak bernafsu ingin segera menghabisi nyawanya. Ini adalah hal pertama yang dihadapi Santana, melawan  lima  orang  sekaligus. Tapi dia tetap bersikap tenang, dia pasti bisa meyelesaikan masalahnya.

Kejap berikutnya  terjadilah pertarungan yang  tidak seimbang di jalan sepi di hari yang beranjak sore. Lima  orang  mengeroyok satu orang. Santana diserang dari berbagai penjuru. Empat golok besar menyambar mencari sasaran sedangkan gadis bernama Kuntiwala menyerang dengan tangan kosong saja.

Santana menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menghadapi serangan beruntun ini. Sehingga dua serangan dari arah kanan yang mengincar kepala dan tangan kanan, serta dua serangan lagi dari arah depan dan kiri berhasil dihindarinya dalam dua kali gerakan saja. Serangan itu hanya mengenai  sasaran kosong. Belum ada kesempatan bagi  Santana untuk membalas serangan karena lawan menyerangnya secara bersamaan dengan gerakan yang sangat cepat pertanda mereka adalah orang-orang yang sudah terlatih dalam ilmu silat.

Sampai beberapa jurus keadaan tetap sama, lima orang perampok ini belum bisa menyentuh sedikitpun bagian tubuh lawannya. Mereka tak ubahnya seperti sedang memburu seekor lalat yang begitu lincah dan sukar untuk disentuh.

Lama kelamaan gerakan mereka melambat, itulah kesempatan bagi Santana untuk membalas. Gerakannya  seperti belut yang licin menyusup di antara sambaran-sambaran  golok lawan yang tajam. Lalu…

Dess! Degg! “Uuukh!”

Dalam satu gerakan sikut kanan Santana berhasil menghantam tulang rusuk salah seorang anak buah Kuntiwala sehingga orang ini mencelat keluar arena pertarungan. Orang ini hanya terpental tanpa merasa kesakitan apapun. Bersamaan dengan itu kaki kirinya berhasil menendang bagian perut lawan lainya. Nasibnya sama dengan orang pertama  yaitu terpental jauh dari arena pertarungan. Tapi aneh orang ini juga tidak merasa kesakitan saat perutnya ditandang.

Gerakan berikiutnya setelah kaki kirinya menendang lalu disapukan memutar ke kiri dan ke kanan.

Dugh! Dugh! “Akh!”

Dua orang anak buah Kuntiwala yang tersisa terpental lagi.

Kini tinggal Kuntiwala saja sendirian menghadapi Santana.

Dalam  menghadapi   gadis   ini   sendirian,   Santana   tidak betul-betul serius menggunakan jurus maupun mengerahkan tenaganya. Karena saat sengaja memapasi serangan  ternyata tenaga dalam si gadis tidak begitu besar walaupun sebenarnya mempunyai gerakan   yang cukup lincah dalam memainkan jurus-jurusnya. Pertanda si gadis sudah terlatih dengan baik sebelumnya.

Sebaliknya si gadis yang mengaku bernama Kuntiwala anaknya Kuntawala merasa kesusahan untuk menjatuhkan lawannya.   Jangankan   melukainya menyentuhpun tidak bisa. Akibatnya dia semakin bernafsu ingin segera menjatuhkan Santana, tapi apa daya kemampuannya tidak sebanding dengan pemuda gondrong ini.

Tiba-tiba ke empat anak buah Kuntiwala sudah bersiap lagi menyerang Santana. Dengan senjata terhunus mereka serentak menyerbu ke arah Santana.

Wuutt!

Empat  golok  besar  dan  tajam  menghujam mengarah ke bagian dada. Santana yang sedang sibuk memperhatikan gerakan jurus si gadis tidak sempat menghindar. Namun dia tetap tenang karena tubuhnya sudah terlindungi oleh ajian ‘Wadah Rahayu’.

Traang!

Saat empat golok bersama-sama menusuk dada Santana, ternyata tubuh Santana kuat dan keras laksana batu gunung. Akibatnya malah sebaliknya, empat  golok  besar yang  terbuat dari baja yang kuat itu patah-patah menjadi beberapa bagian. Tangan ke empat orang yang memegangnya pun terasa bergetar hebat seperti habis memukul benda keras ditambah tubuh mereka juga  terpental lalu sama-sama terjatuh bergulingan. Kuntiwala tampak terkejut melihat kejadian itu. Belum hilang rasa terkejutnya tiba-tiba Santana memutar badannya yang berporos pada kaki kanannya, dua tangannya meraih tubuh bagian atas Kuntiwala.

Sett!

Dalam sekejap Santana berhasil menarik si gadis itu dalam keadaan tangan kanannya menekuk menjepit bagian leher si gadis dan   tangan   kirinya memegang tangan kiri si gadis yang ditelikungkan ke belakang punggung. Posisi Santana berada di belakang si gadis. Sehingga si gadis dalam keadaan terkunci. Walaupun sudah berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri namun pegangan Santana begitu kuat.

Ke empat orang anak buah Kuntiwala sudah mengurung lagi, tapi mereka bingung harus berbuat apa, pimpinan mereka berada dalam kekuasaan lawan, senjata pun sudah tak ada.

“Jangan macam-macam!” Sentak Santana. “Ingat yang aku katakan tadi, kalau kalian tidak bisa mengambil nyawaku berarti pimpinan kalian ini menjadi milikku.”

Empat orang lelaki bertampang garang itu saling pandang, mereka bingung.

“Lantas kami bagaimana?” Tanya salah seorang dari mereka.

“Terserah kalian, aku memberi kalian kebebasan untuk menentukan jalan hidup kalian masing-masing. Tapi satu hal yang penting adalah, jadilah kalian orang yang baik-baik…”

Ke empat orang ini terdiam. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya ke empat orang ini memutuskan untuk pergi meninggalkan pimpinanya yang masih disekap Santana.

“Maafkan kami, nona.” Kata salah seorang dari mereka. “Tampaknya kami akan menempuh jalan hidup kami masing-masing. Bukan sebagai anak buah nona lagi. Karena terus terang kami sudah jenuh menjadi penjahat.”

“Bagus!” Timpal Santana. “Pergilah!” “Baik, terima kasih anak muda!”

Ke empat orang itu pun pergi. Tinggal Santana yang kali ini melepaskan cekalannya sehingga si gadis bisa menarik napas lega.

“Sekarang aku milikmu,” Ujar si gadis kali ini suaranya pelan tidak garang lagi seperti tadi. “Terserah kau mau apakan aku, aku pasrah…”

Santana menyeringai sambil usap-usap kepala. “Aku tidak akan menyakitimu, nona cantik.”

Suasana jadi sunyi. Beberapa saat mereka saling pandang, wajah galak si gadis sudah tak tampak lagi  malah  sekarang kelihatan semakin anggun dan kemanja-manjaan.

“Sebanarnya aku merasa heran…,” Kata Santana memecah kesunyian. Mengapa kau mengaku bernama Kuntiwala anaknya Kuntawala, kepala perampok yang buron itu?” Tanyanya sambil mengambil buntalan yang tadi sempat dibuka oleh anak buahnya si gadis.

Si gadis terdiam, tampaknya pemuda di sampingnya ini mengetahui kalau dia berbohong tentang namanya. Mungkin juga pemuda ini lebih tahu tentang seseorang yang bernama Kuntawala, pikir si gadis dalam hati.

“Apa yang kau ketahui tentang Kuntawala?” Si gadis balik Tanya.

“Banyak!” Jawab Santana singkat.

“Baiklah aku akan berterus terang..” Kata si gadis menghela napas sejenak. “Sebenarnya aku hanya memanfaatkan kesempatan ketika mendengar kabar bahwa Kuntawala perampok yang terkenal itu sudah tertangkap prajurit khusus  kerajaan Indraprahasta. Ayah dan ibuku juga seorang perampok yang sudah lebih dulu ditangkap dan dihukum mati, maka aku ingin melanjutkan pekerjaan mereka dan juga membalas dendam. Aku memakai nama Kuntiwala anaknya Kuntawala.”

Santana angguk-angguk kepala, ternyata gadis ini juga sama seperti dirinya. Anak perampok.

“Apa kau tidak takut diburu oleh para prajurit kerajaan yang meginginkanmu tertangkap?” Tanya Santana lagi.

“Buat apa takut, aku sudah pasrah kalaupun tertangkap juga pasti nasibnya sama dengan orang tuaku…” Jawab si gadis dengan nada putus asa.

“Sudahlah, lebih baik sekarang kau menjadi orang baik saja.

Kau kan cantik, sayang kan kalau sifatnya jahat…”

Wajah si gadis jadi tampak merona merah mendengar ucapan Santana. Maklum sekarang mendengarkannya dalam keadaan biasa tidak seperti tadi dengan sikap galak  sehingga  ucapan Santana yang beberapa kali memanggilnya ‘nona cantik’ bukan merupakan sebuah pujian. Tapi sekarang lain. “Oh ya, terus siapa namamu sebenarnya?” Tanya Santana

lagi.

“Anting kemala.” Jawab si gadis sambil menundukkan kepala.

“Tuh kan bagus, kenapa harus diganti jadi Kuntilanak…ehh…eh..!”

“Iiiih…!” Si gadis yang ternyata bernama Anting Kemala semakin tertunduk malu. Sikapnya seperti berubah drastis  dari galak menjadi manja dan pemalu.

“Ih.. jadi tambah cantik!” “Sudah ah, kau sendiri siapa?”

“Namaku Santana, dan aku anak Kuntawala yang asli.”

Anting Kemala terkejut mendengarnya, pantas saja kebohongannya diketahui oleh pemuda di sampingnya ini. Tapi paras si gadis mendadak berubah.

“Kenapa, kau tidak usah takut.” Ujar  Santana.  “Aku orang baik tidak seperti ayahku, buktinya kau sudah melihatnya tadi. Kau percaya kan?”

Anting Kemala kini tersenyum, begitu manis sekali. Ya, dia mulai   menyukai   pemuda ini. Dari sorot matanya memang menunjukkan bahwa dia orang baik. Kalau tidak, sudah sejak dari tadi mungkin Santana akan menyakitinya apalagi pemuda ini memiliki kekuatan yang lebih. Lebih-lebih lagi saat pertarungan tadi tidak ada satu orang pun yang dibikin cedera termasuk dirinya. Diam-diam gadis ini mengagumi kepandaian Santana. BAB 07 : GARUDA BULU EMAS

Sang surya sudah condong ke barat, sebentar lagi senja akan tiba. Santana dan Anting Kemala sedang duduk-duduk disebuah gubuk kecil pinggir jalan yang menghubungkan kampung dan hutan. Sebuah   hutan   yang paling lebat   pohon-pohonnya sehingga keadaanya cukup gelap walau di siang hari karena cahaya matahari hanya sedikit yang menembus ke dalamnya. Sebuah hutan yang menurut orang-orang kampung di dekatnya adalah hutan angker. Hutan ini menghampar luas melewati tiga desa yang berada di sebeleah   utara wilayah   kerajaan   Indraprahasta, yakni desa Baturuyuk, desa Kasokandel dan desa Giri Mukti.

Di sebelah kiri kanan jalan terhampar sawah yang begitu luas yang tanaman padinya masih hijau. Suasana mulai sepi karena orang-orang yang bekerja di sawah sudah pulah ke rumahnya amsing-masing.

Berada dekat dengan seorang gadis perasaan Santana menjadi lain. Ada sesuatu yang sepertinya membuat dia semangat yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin saja karena sejak kecil sudah ditinggalkan ibunya, atau selama hidup bersama resi Wanayasa dia tidak pernah melihat perempuan.  Atau  juga karena gejolak jiwa muda yang sedang menggelora dan menggebu-gebu akan satu hal tentang asmara. Mungkin  yang terakhir ini yang lebih tepat.

“Anting Kemala,” Ucap Santana dengan suara lembut dan sambil menatap ke arah si gadis.

“Ya,” Jawab Anting Kemala balas menatap dengan tatapan mesra, tampaknya si gadis sudah memberikan jalan untuk pemuda gondrong ini.

“Aku harus memanggilmu apa, Anting saja atau Kemala saja?”

“Terserah akang saja,”

“Apa!” Santana agak tersentak mendengar dia dipanggil dengan sebutan ‘akang’.

“Ya, terserah akang saja,” Jawab Anting Kemala sambil mengulum senyum manis.

Santana tatap lagi si gadis dalam-dalam seakan-akam hendak menembus ke dalam jantung. Lalu menghela napas pendek.

“Baiklah aku akan memanggilmu nyai saja…”

Anting Kemala mengulum senyum lagi, keanggunannya makin bertambah saat senyumnya tersimpul di bibir yang tipis nan ranum. Apalagi saat rambutnya berkibar terhempas angin sore. Bagi Santana pemandangan ini lebih indah dari pemandangan di sekelilingnya.

“Hyang Widi Yang Agung, sungguh suatu perhiasan yang keindahannya melebihi semua yang terhampar di jagat raya ini. Betapa cantiknya bidadari-Mu yang telah kau turunkan. Lebih cantik dari indahnya sinar rembulan saat purnama. Seandainya engkau mengijinkan, maka aku akan membawanya ke dalam mahligai istanaku yang megah,” Begitulah beberapa bait syair pujian yang dilantunkan Santana.

Anting Kemala masih tersenyum  mendengarkanya,  hatinya juga sedang berbunga-bunga. Sekian lama dia menjadi pimpinan perampok yang galak, akhirnya hatinya luluh kepada seorang pemuda gagah dan tampan di hadapannya yang ternyata anak seorang perampok juga.

“Bukankah aku sudah menjadi milikmu, kang!” Ujar Anting Kemala.

“Benarkah?” Tanya Santana seperti tidak percaya.

Si gadis berambut panjang terurai ini memegang tangan Santana dengan lembut. Terasa hangat dan begitu lembut kulit si gadis. Rupanya walaupun dia rampok tapi masih sempat merawat tubuhnya juga.

“Akangkan berkata kalau aku dan anak buahku tidak bisa menghabisi nyawa akang, maka aku menjadi milikmu,” Tutur Anting masih memegang tangan si pemuda malah kini  dia  memberanikan diri menyandarkan tubuhnya  ke  bahu  Santana. Semankin  hangat tapi semakin kencang debaran jantung Santana sampai-sampai kebiasaannya mengusap kepala dilakukaknya beberapa kali. Memang benar dia mengatakan seperti itu sebelum pertarungan terjadi, tapi rasanya masih belum  percaya sebab  waktu  itu  dia hanya bicara asal-asalan.

Suasana pun sunyi yang terdengar hanyalah binatang malam yang sudah mulai bersuara walaupun hari masih senja.

Pertemuan awal yang kurang berkenan ternyata telah menumbuhkan benih-benih asmara di antara keduanya. Terbersit dalam benak Santana suatu pertanyaan, apakah Anting Kemala ini hanyalah salah satu dari ujian yang dia hadapi dalam menjalankan tugasnya? Atau memang sengaja dikirim Tuhan untuk menemani hidup dan perjalanannya? Sejenak dia teringat sahabatnya, Sanjaya. Bagaimana keadaanya sekarang? “Nyai,” Santana memecah kesunyian. “Ya kang,”

“Apa rencanamu selanjutnya?”

“Setelah aku bertemu dengan akang, entahlah aku tidak tahu harus kemana lagi karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, aku juga tidak tahu mau apa.”

“Lantas apa yang  ada  dalam pikiran nyai sekarang?” “Inginnya si, aku selalu dekat dengan akang, aku merasa

nyaman dengan akang. Kalau akang berkenan aku akan menemani

perjalanan akang…”

Santana terpana, memang ini jawaban yang diharapkannya. Ternyata gadis ini sudah benar-benar pasrah kepadanya. Mungkin benar Yang Maha Kuasa mengirimkan bidadari untuknya.

“Aku tidak pernah merasa sesenang ini, nyai. Dan aku begitu bersemangat jika dalam pengembaraanku  ada seorang bidadari yang menemani.”

“Ah akang bisa saja!”

“Oh ya, sejak kapan nyai memakai nama Kuntilanak, eeh..apa..tuh…!”

“Iiih akang mah…” Anting Kemala menggelayut manja ketika digoda oleh Santana.

“Iya-iya deh…” “Kira-kira setahun yang lalu,”

“Lho, bukankah ayahku tertangkap saat umurku masih sepuluh tahun, kira-kira tujuh tahun yang lalu?”

“Ya, saat itu juga aku baru berumur delapan tahun. Berita tertangkapnya ayahmu tepat setelah pelaksanaan hukuman mati untuk ayah dan ibuku. Aku dibesarkan oleh kakek. Dilatih ilmu silat. Dan saat kakekku meninggal saat itulah aku berkeinginan untuk meneruskan ayah dan ibu, menggantikan mereka menjadi pimpinan perampok. Lalu aku menghubungi kembali anak buah orang tuaku yang masih tersisa. Dan agar lebih ditakuti orang maka aku memakai nama Kuntiwala anaknya Kuntawala…” Tutur Anting.

“Dan pada akhirnya nyai menjadi anak Kuntawala betulan…” Sambung Santana seraya mencubit hidung si gadis yang lancip itu.

“Iiih, akang genit!”

Keduanya sama-sama tertawa lepas bahagia sepertinya kehidupan ini sangat indah mereka rasakan. Seakan-akan dunia ini hanya milik mereka berdua. Tanpa mereka sadari langit sudah menjadi hitam pertanda malam sudah datang. Udara semakin dingin menusuk tulang dan suara lolongan binatang malam semakin ramai. Namun semua itu tak mereka hiraukan karena dua insan ini telah terbuai dalam keindahan cinta yang menggelora.

Begitulah cinta.

*** Cetarrr!

Suara petir menggelegar mengagetkan sepasang pemuda yang sedang terlelap dalam buaian mimpi. Anting Kemala yang terbaring dalam pelukan Santana makin eratkan pelukannya.

“Ada apa kang, mau hujan ya?” “Entahlah, sepertinya benar mau hujan.”

Tiba-tiba saja angin di sekitar tempat tiu bertiup sangat kencang. Pohon-pohon besar tampak bergoyang seperti hendak roboh. Daun-daun yang kering rontok berhamburan bagai hujan. Suasana malam jadi mencekam. Langit tampak gelap tak terlihat satu pun kerlipan bintang apalagi rembulan semuanya tampak seperti tertutup awan hitam.

Gubuk kecil yang mereka tempati juga bergetar  seperti hendak roboh, bahkan sebagian atapnya ada yang terbang terbawa angin kencang.

“Kang, aku takut!” Rintih Anting Kemala. “Tanang saja, nyai.”

Santana mendekap erat Anting Kemala sambil mengalirkan hawa hangat karena tiupan angin kencang yang menerpa mereka sangat dingin. Keindahan yang mereka rasakan sebelumnya seperti terhapus begitu saja oleh keadaan mencekam seperti ini. Ada apa ini? Dikira akan turun hujan tapi ternyata tidak. Malah angin bertiup semakin kencang dan berputar-putar di sekitar tempat  mereka berada.

Cetarrr! Suara Guntur menggelegar lagi disertai kilat yang menyala berwarna merah kehijau-hijauan. Dalam sekejap suasana menjadi terang lalu gelap lagi.

Tiba-tiba terdengar satu suara manusia yang menggema yang sepertinya berada sangat dekat dengan mereka namun tidak terlihat wujudnya.

“Kalian telah melanggar pantangan di sekitar hutan ini. Kalian telah berani berbuat nista. Kalian akan menerima hukuman dariku atas perbuatan kalian yang mencemari wilayah hutan Mandapa!”

Suara itu lenyap. Petir menyambar lagi dan angin bertambah kencang hembusannya.

Jleggarrr!

Suara Guntur semakin dashyat, angin pun berubah laksana badai topan melanda berbentuk pusaran yang mengitari gubuk tempat Santana dan Anting kemala berada.

Anting Kemala  semakin cemas dan ketakutan. Belum pernah dia mengalami keadaan yang begitu mencekam dan mengerikan seperti   ini.   Badannya sampai   gemetaran   lalu   dia kuatkan pelukannya ke badan Santana. Kini pemuda itu benar-benar jadi tumpuannya.

Sementara Santana hanya berusaha setenang mungkin menghadapi situasi yang juga  baru dialaminya. Masih terngiang suara yang menggema tadi. Dia memperhatikan ke seluruh tempat dengan pandangan tajam mencari dari mana asal suara itu. Namun yang terlihat hanya kegelapan.

Jleggarrr! Kilat menyambar lagi tepat di atas atap gubuk. Serta merta membuat gubuk itu hancur berkeping-keping dan kedua insan yang baru saling jatuh cinta ini ikut terpental ke atas terbawa pusaran angin.   Kontan   saja Anting Kemala menjerit-jerit ketakutan.

Beruntungnya dia masih berpegang erat ke tubuh kekasihnya. “Kang, aku takut sekali!”

“Jangan lepaskan peganganmu nyai, kuatkan. Aku akan berusaha membawa kita keluar dari pusaran angin ini!”

Tubuh kedua muda mudi ini melayang-layang berputar mengikuti arah angin. Sebenarnya Santana sudah mengerahkan kekuatannya menggunakan ilmu meringankan tubuh paling tinggi untuk lepas dari jeratan pusaran angin yang sepertinya sengaja mengurungnya.

Namun   apa yang terjadi, Santana seperti kehilangan tenaganya. Hal ini pernah dialaminya dulu sewaktu masih kecil yaitu terbawa angin dashyat yang merupakan ilmu dari ayahnya. Tapia arah anginnya hanya lurus saja tidak berputar-putar seperti ini.

Jleggarrr! “Aaaah…!”

Anting Kemala menjerit setinggi  langit saat kilat menyambar lagi tepat mengenai mereka berdua. Akibatnya pelukan mereka terlepas, untungnya Santana masih sempat meraih kedua tangan si gadis.

“Jangan panik nyai!” Seru Santana. “Aku akan memegang erat tanganmu!”

Kini  mereka   tampak  seperti  baling-baling   yang   berputar kencang dengan poros berada pada dua tangan mereka yang saling memegang kuat. Walaupun masih berada dalam genggaman kekasihnya, Anting Kemala tetap ketakutan terus menjerit-jerit tiada henti. Dan…

Jleggarrr!

Satu kilat dashyat menyambar lagi tepat mengenai tangan mereka yang saling menggenggam. Akibatnya  pegangan mereka tak bisa di pertahankan lagi. Terlepas sudah genggamannya.

Terdengar jerit menyayat bagai merobek langit keluar dari mulut Anting Kemala. Tubuhnya melesat bagaikan disedot lenyap terbawa pusaran angin. Sementara tubuh Santana juga bagai dihempas   ombak badai mencelat entah kemana tak bisa diterka-terka karena kedaan yang begitu gelap gulita.

“Antiiing…!”

Suara jerit menyayat Santana. Suara jerit kehilangan.

Tiba-tiba dari atas langit yang gelap berkelebat satu bayangan besar menukik ke arah tubuh Santana yang sedang melayang-layang lalu menyambarnya kemudian lenyap di kegelapan membawa tubuh Santana. Saat bayangan besar itu menyambar dan sebelum sosoknya lenyap terlihat tiga petir menyambar seperti mengejar sosok besar itu.

*** Sinar sang surya di pagi hari yang hangat membelai wajah Santana yang tampak masih terpejam matanya. Sehinngga pemuda ini membuka kedua matanya. Yang pertama dilihatnya adalah langit biru yang cerah.   Lalu   dia seperti   terkejut.   Ternyata saat membangunkan badannya dia berada di atas batu besar yang berbentuk balok yang terletak di sebuah bukit kecil yang tandus. Hampir tak ada pohon satupun. Santana usap-usap kepalanya. Tiba-tiba dia ingat gadis pujaannya.

“Nyai…, Anting…, Anting kemala!” Santana memanggil-manggil nama gadis itu.

Pikirannya mendadak cemas dan kacau, dia begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Anting Kemala. Dia merasa kehilangan. Baru kemarin dia mengenalnya dan langsung jatuh hati. Belum juga sehari dia melewatkan waktu bersama gadis itu sekarang sudah terpisah lagi.

Akhirnya dia menghela napas panjang.

“Hutan Mandapa,” Gumam Santana mengingat-ingat nama yang disebutkan suara tanpa wujud yang menggema. “Kemana aku harus mencari Anting?” Lalu dia usap-usap lagi belakang kepalanya yang sudah menjadi kebiasaannya.

“Hutan Mandapa!” “Kreak…kreak…!”

Santana terkejut tiba-tiba terdengar suara mengeak  yang begitu jelas dan dekat, lalau dia menoleh ke arah datangnya suara. Dan dia semakin terkejut lagi dengan apa yang dia lihat sekarang. “Kreak…kreak…!”

Sejauh dua tombak dari arah kanan Santana di dekat sebuah batu yang berbentuk balok pipih meninggi seperti daun pintu yang tingginya setinggi orang dewasa, berdiri seekor burung garuda berukuran besar alias raksasa yang tingginya sama dengan tinggi batu pipih itu. Bulu di kepala dan kakinya berwarna hitam sedangkan bulu di sayap, badan dan cakarnya berwarna kuning keemasan. Begitu juga dengan kedua matanya yang tampak seperti batu berlian berwarna kuning keemasan dan memancarkan sinar menyilaukan.

Santana terpana melihatnya. Baru kali ini dia melihat seekor burung raksasa. Lalu dia teringat keadaan dirinya, di mana dia berada. Bukan lagi di tempat semula berada sewaktu  masih berduaan bersama Anting Kemala. Lalu di mana dia sekarang? Bingung dan heran melanda pikirannya.

“Kreak…kreak…!”

Binatang raksasa ini mengeak lagi sambil mengepakkan sayapnya yang sebelah kiri. Gerakannya seperti sedang memanggil Santana, namum pemuda ini masih tertegun.

“Kreak…kreak…!”

Sekali lagi burung garuda raksasa ini melakukan hal tadi. Dengan perasaan yang masih heran dan bingung akhirnya Santana bangun dari duduknya, perlahan dia menghampiri burung itu.

“Kau memanggilku?” Tanya Santana sambil usap-usap kepala.

Si burung tampak anggukkan kepala. “Kreak…kreak…!”

“Kau mengerti ucapanku?” “Kreak…kreak…!”

“Kau tidak bermaksud jahat, kan?” Kali ini si burung menggeleng.

“Tampaknya binatang ini mengerti bahasa manusia.” Ujar Santana dalam hati. “Kenapa kau memanggilku?” Tanya Santana kemudian kepada burung itu.

“Kreak…kreak…!”

Burung garuda raksasa yang bulunya sebagian berwarna emas ini mengembangkan sayap kirinya ke arah batu kotak pipih yang bentuknya seperti daun pintu itu. Seperti tangan manusia yang menunjuk.

Sengaja tak sengaja Santana melihat ke batu itu. Barulah dia sadar kalau di batu itu terdapat suatu tulisan yang berbentuk ukiran huruf yang berjajar dari atas ke bawah.

“Oooh…”

Santana mendekati batu berbentuk daun pintu ini. “Tampaknya burung ini ingin mengatakan sesuatu padaku melalui tulisan di batu ini.” Gumam Santana. Untungnya dia sudah diajari baca tulis oleh ayah angkatnya, resi Wanayasa.  Lalu  denga perlahan dia mulai membaca tulisan yang tergurat di batu itu. Namaku Ismayana

Umurku sudah seratus dua puluh tahun

Sebenarnya aku adalah manusia biasa seperti kamu, tapi aku dikutuk menjadi seperti yang kau lihat.

Santana berhenti sejenak lalu memandang garuda bulu emas ini. Si burung tampak mengangguk.

Tiga puluh tahun lalu aku dikutuk oleh penguasa hutan Mandapa yang bernama Birawayaksa.

Santana terkejut dan memandang lagi ke arah si burung lalu tampak mengangguk pelan. “Jadi kau telah menolongku saat aku terlempar oleh angin dashyat malam itu?”

Sang garuda mengangguk. Barulah Santana dapat menyimpulkan keadaannya sekarang.

Birawayaksa dan aku sebenarnya adalah saudara kandung, tapi dia selalu menggunakan ilmu-ilmu sest seperti sihir, teluh, tenung dan pelet. Sehingga aku selalu menentangnya dan dia tidak terima lalu dia menyihirku menjadi seperti ini untuk selamanya. Artinya aku tidak bisa lagi kembali ke bentuk semula sebagai manusia biasa.

Selama tiga puluh tahun ini, walaupun wujudku seekor burung. Aku telah memperdalam ilmu-ilmu yang aku miliki sebelumnya ketika menjadi manusia biasa. Dan aku juga menciptakan ilmu-ilmu baru dalam wujudku yang seperti ini. Sekarang ini aku sedang mencari seseorang yang bisa mewarisi semua ilmuku untk menghentikan semua tindak tanduk Birawayaksa. Dan orang itu sudah aku temukan yaitu kamu.

Santana berhenti lagi.

Selain itu juga aku akan menjadi binatang tungganganmu jika kau hendak pergi kemana-mana. Kau harus menerima semua ini karena kau juga harus menyelamatkan sahabatmu yang kini ditawan Birawayaksa.

“Apa, maksudmu Anting Kemala?” Tanya Santana.

Sang garuda mengangguk.   Santana menghela napas panjang. Sekarang sudah mengerti semuanya. Ini adalah tantangan baru dalam pengembaraannya, selain itu juga dia akan mendapat tambahan ilmu dan yang lebih penting dan membuatnya semangat adalah menyelamatkan gadis pujaan hatinya, Anting Kemala.

Dia ingat kata ayah angkatnya, Resi Wanayasa. “Teruslah menuntut ilmu selama kau masih hidup. Karena manusia diwajibkan menuntut ilmu sejak dilahirkan hingga ke liang kubur. Karena ilmu

di luar sana masih sangat banyak dan luas apalagi ilmu yang berasal dari Tuhan. Seumpana seluruh lautan di dunia ini adalah tinta, maka tidak akan mampu menuliskan semua ilmu-ilmuNya.”

“Baiklah!” Kata Santana setelah merenung beberapa saat. “Tapi aku harus memanggilmu apa, aki Ismayana atau…?”

Sang garuda menggelng lau melebarkan kedua sayapnya sehingga tampaklah kegagahan burung raksasa ini. Memperhatikan sebagian besar warna bulunya akhirnya Santana mendapatkan satu nama untuk burung ini.

“Wahai burung garuda raksasa yang berbulu emas, karena bulumu yang sebagian berwarna emas maka aku akan menyebutmu Garuda Bulu Emas!”

“Kreak…kreak…!”

Sang garuda mengangguk lalu menggenjotkan kedua kaki, melesat ke udara terbang berputar-putar di langit tiga kali kemudian menukik turun lagi ke tempat semula.

Santana tersenyum dan mengusap-usap leher burung itu. Si garuda tampak merendahkan badannya, Santana mengerti maksudnya. Lalu pemuda ini naik keatas punggung garuda. Untuk kedua kalinya burung ini terbang melayang di angkasa, sekarang sambil membawa Santaa.

“Cihuy!” Teriak Santana girang. “Ternyata enak juga terbang tinggi, tapi awas jangan terlalu tinggi dan capat. Aku masih takut belum terbiasa.”

“Kreak…kreak…!”

Begitulah akhirnya Santana mempunyai teman  sekaligus guru baru yang wujudnya berupa seekor burung garuda raksasa yang diberinya nama Garuda Bulu Emas.

Burung garuda raksasa jelmaan seorang kakek berumur seratus dua puluh tahun yang bernama asli Ismayana ini mulai mengajarkan dan mewariskan ilmu-ilmu yang dimilikinya kepada Santana. Baik yang dimiliki selama hidup menjadi manusia biasa maupun yang didapat dan diciptakan setelah menjadi seekor burung. Yaitu selama tiga puluh tahun.

Walaupun hanya menggunakan bahasa binatang, namun Santana yang berotak  cerdas ini  mudah  memahaminya. Apalagi saat memperagakan gerakan suatu jurus maka Santana hanya mengikuti gerakan yang dilakukan si burung. Terlebih lagi karena di dalam tubuhnya sudah tersimpan ajian ‘Wadah Rahayu’, maka untuk menguasai satu jurus saja dia tidak memerlukan waktu yang lama.

Beberapa jurus yang dipelajarinya adalah, Cakar Garuda Merobek Langit, Cakar Garuda Merobek Bhumi, dan Cakar Garuda Membedah Sagara merupakan jurus yang mengandalkan kekuatan jari-jari tangan untuk mencakar. Kemudian jurus Kepak Sayap Memapas Angin merupakan jurus yang menggunakan kekuatan kedua tangan penuh yang digerakan seperti sayap.

Selain jurus ada juga beberapa ajian yang dia pelajari yaitu Ajian Bayu Jangjang Dadali ajian yang apabila kedua tangannya dikepakkan seperti sayap maka akan keluar ratusan cahaya hijau seperti hujan yang akan menghujani tubuh lawannya hingga tebakar.

Kemudian Ajian Dadali Ngajerit Maratan Langit, ajian ini mengandalkan suara yang menjerit dashyat hingga menghasilkan gelombang suara yang memekakkan telinga bahkan bisa memecahkan kepala.

Juga Ajian Garuda Perkasa, sebuah ajian untuk kekebalan dan kekuatan dashyat untuk merobohkan lawan yang sangat kuat dan tangguh.

Yang menjadi hal terpenting adalah mengajari bagaimana caranya untuk menangkal ilmu-ilmu sesat yang dimiliki Birawayaksa penguasa hutan Mandapa. Beberapa pantangan serta kelamahan saudara kandung si burung garuda ini. Kadang-kadang bila Santana benar-benar tidak mengerti dengan maksud si garuda, maka burung itu akan menuliskan maksudnya pada sebuah batu dengan cara mematukkan paruhnya.

Seperti kabar yang diterima Santana dari membaca tulisan si burung adalah tentang keberhasilan Purbasora dalam menggulingkam kekuasaan Prabu Bratasenawa di  istana  Galuh yaitu karena mendapat bantuan dari murid Birawayaksa yang bergelar Iblis Merah Hutan Mandapa.

Garuda Bulu Emas juga bukan hanya  meminta  Santana untuk melenyapkan Birawayaksa saja, tapi juga semua ilmu-ilmu sesat yang dimilikinya termasuk juga muridnya.

Tentu saja sudah pasti Santana akan melaksnakan tugasnya karena kebetulan berkaitan dengan tugasnya yang pertama dari resi Wanayasa yaitu membantu Sanjaya merebut kembali tahta  Galuh dari tangan Purbasora.

*** BAB 08 : PEMBALASAN IBLIS MERAH

Perasaan senopati Aji Dharma sedikit diliputi rasa  heran. Karena tidak biasanya sang Raja memanggilnya secara khusus di ruangan pribadi raja. Dalam hatinya menduga-duga kemungkinan sang raja akan menanyakan perihal kaburnya Kuntawala yang sampai saat ini belum juga ditemukan.

Sudah enam tahun lamanya dia menugaskan perwira bawahannya untuk mencari dan menangkap Kuntawala. Namun belum juga ada hasilnya.

Setelah melewati jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat kolam-kolam kecil yang banyak ikannya dan dihiasi dengan tanaman bunga teratai yang menjulur indah di atas air. Akhirnya sampailah senopati di pintu Bangongong bangunan Bale Bubut.

“Sembah bakti hamba, gusti prabu,” Ucap senopati  Aji Dharma sembari  menjura hormat ketika sampai di hadapan sang raja yang tengah duduk di sebuah kursi di teras ruangan.

Sang Raja yang umurnya sudah setengah baya seumuran dengan senopati sendiri mengangguk pelan, sorot matanya memandang kosong. Dia tidak mengenakan  pakaian  kebesaran raja, hanya sehelai kain sutra panjang yang dililitkan di tubuh bagian atasnya, dibagian bawahnya menganakan celana bercorak batik berwarna  kuning  keemasan. Senopati Aji Dharma duduk bersimpuh di salah satu undakan tangga kayu yang tepat berada di depan sang raja. “Aji Dhama,” Panggil sang raja sambil menatap tajam ke arah senopati andalannya.

“Hamba gusti!” Sahut senopati, sebaliknya dia hanya menunduk pertanda sangat hormat kepada junjungannya.

“Kau tahu, kita semua tahu, bahkan seluruh rakyat dari kerajaan-kerajaan kecil bawahan Galuh tahu.” Sang raja memulai pembicaraan. “Bahwa enam tahun yang lalu di istana Galuh telah terjadi   penggulingan   kekuasaan   oleh   Purbasora atas prabu Bratasenawa, yang menurut kabar dia masih saudaranya prabu Bratasenawa, raja yang berkuasa pasa waktu itu…”

Sang raja berhenti bicara, namun senopati Aji Dharma tidak berani untuk sekedar menyela saja. Dia hanya menunuduk hormat menunggu sang raja melanjutkan.

“Dan sejak saat itu prabu Purbasora memaksa kepada raja-raja kecil untuk menaikkan upeti, hal ini berimbas pada rakyat yang menjadi tercekik bahkan sengsara. Karena apa yang mereka keluarkan lebih besar dari apa yang mereka peroleh. Banyak  raja kecil yang menentang, namum kekuatan prabu Purbasora begitu besar, kau tahu siapa yang membuat dia kuat?”

Setelah menjura dan menarik napas sejenak, sang senopati menjawab. “Pasukan Bhayangkara dari Indra Prahasta yang terkenal kuat dan menjadi prajurit utama sejak jaman Tarumanagara berada di belakang prabu Purbasora karena antara mereka ada ikatan kekeluargaan…”

“Itu pasti, selain itu juga ada lagi. Kau tahu?”

“Menurut kabar yang hamba terima, pada saat prabu Purbasora berhasil mengalahkan prabu Bratasenawa dia dibantu oleh seseorang yang berjuluk Iblis Merah Hutan Mandapa.” “Ya, kau benar!” Sang raja mengangguk-angguk.

“Menurut sebagian orang menyangka bahwa Iblis  Merah Hutan   Mandapa adalah seorang tokoh berilmu sesat yang bersemayam di hutam Mandapa , yang dulu lebih dikenal namanya dengan sebutan Birawayaksa…” Menjelaskan senopati.

“Itu juga benar,” Timpal snag raja. “Tapi semua orang di dunia persilatan juga tahu bahwa sifat Birawayaksa tidak suka  terlibat dalam urusan kenegaraan, apa lagi membantu pemberontakan Purbasora, dia tidak suka kekuasaan…”

“Itu juga yang membuat hamba bingung.” Ujar senopati Aji Dharma, tapi dalam hatinya masih bertanya-tanya untuk apa dia dipanggil kesini? Masa hanya membicarakan soal kesewenangan prabu Purbasora?

“Mungkin si Iblis Merah Hutan Mandapa ini  hanyalah  salah satu muridnya Birawayasa,” Kata sang raja menduga-duga. “Dia menggunakan nama Hutan Mandapa mungkin agar dia  lebih ditakuti, karena semua orang tahu bahwa hutan Mandapa tempat bersemayamnya tokoh yang sangat ditakuti sekarang.”

“Dugaan gusti prabu lebih masuk akal,” Ujar senopati mendukung pemikiran rajanya.

“Tapi, ada yang aneh!” lanjut sang raja, tampak ada perubahan raut wajahnya. Kali ini dia memandang kosong jauh ke depan sana.

“Aneh?”

“Ya,  senopati.  Orang   yang   berjuluk   Iblis  Merah  Hutan Mandapa itu ternyata mengenalmu..” “Apa, mengenal hamba gusti?” “Ya!”

“Ampun gusti!” Sang senopati menjura. “Bolehkah hamba mengetahui dari manakah gusti prabu mangatahuinya?”

“Beberapa saat yang lalu dia datang menemuiku…”

Senopati Aji Dharma tersentak kaget.  Ternyata ini  yang hendak disampaikan sang prabu kepadanya.  Jangan-jangan  sang raja menduga kalau dirinya dan Iblis Merah Hutan  Mandapa  ada suatu hubungan.

“Menemui gusti prabu?” Tanya sang senopati tidak percaya. “Ya,   tapi   aku  tidak  bisa   melihat  wajahnya,  kerana   dia

memakai topeng kulit merah.” Jawab sang raja. “Secara tiba-tiba dia

datang padaku dan mengatakan bahwa dia, Iblis Merah Hutan Mandapa ingin menemuimu senopati…”

Sang  senopati  lebih  terkejut  lagi  dan  makin penasaran karena sebenarnya jangankan mengenalnya, mengetahui ciri-cirinya saja dia belum tahu.

“Untuk apa dia ingin menemui hamba?”

“Itu yang aku tidak tahu!” Jawab sang raja tanpa memandang lagi ke arah senopati.

“Jadi sekarang apa yang harus hamba lakukan?” Senopati Aji Dharma tampak berpikir, bingung. “Itu terserah kamu, sekarang dia sudah menunggumu di luar kuta belakang istana.”

“Apa?”

“Pergilah menemuinya, selesaikanlah apa yang menjadi persoalanmu dengan dia jika memang antara kau dan dia ada suatu masalah…”

“Tapi, hamba sama sekali belum pernah mengenalnya apa lagi bertemu dengan dia sebelumnya…”

“Aku hanya menyampaikan, senopati!”

Kemudian sang raja bergegas masuk ke dalam dengan raut wajah yang hampa. Tinggal senopati Aji Dharma yang  masih terduduk, masih heran, aneh dan penasaran dengan apa yang telah disampaikan rajanya.

***

Di luar kuta artinya di luar benteng istana. Di bagian belakang yang tenyata sebuah kebun palawija milik istana, kebetulan saat itu baru habis masa panen dan belum ditanami kembali sehingga yang terlihat hanya tanah lapang yang banyak berserakan daun-daun dan ranting-ranting kering.

Senopati Aji Dharma menghentikan langkahnya ketika di depannya, sejauh empat ombak tampak berdiri seseorang tinggi besar berpakaian seorang resi yang berwarna merah, pada kepalanya orang ini memakai sorban India yang juga berwarna merah. Orang ini tidak menghadap kearah datangnya sang senopati alias membelakanginya.

“Akhirnya kau  datang!” Terdengar suara besar yang tampaknya keluar dari orang tinggi besar berpakaian merah ini. Rupanya walaupun tidak melihat namun bisa  merasakan kedatangan senopati.

“Aku tidak pernah mengenalimu!” Sahut senopati Aji Dharma langsung.

“Tapi aku mengenalmu!”

“Siapa kau sebenarnya?” Tanya senopati yang masih penasaran sejak diberi tahu oleh sang raja. “Sebelumnya aku tidak pernah mengenal bahkan bertemu dengan orang yang berjuluk Iblis Merah Hutan Mandapa.”

“Nanti kau akan tahu!” Kata si baju  merah  yang  tak  lain adalah si Iblis Merah Hutan Mandapa adanya. Lalu orang ini membalikan badannya. Dikiranya senopati akan melihat wajah orang ini, ternyata benar apa yang dikatakan raja bahwa orang ini memakai topeng kulit berwarna merah.

“Tapi nanti, setelah kau berada di neraka!” Lanjut Iblis Merah Hutan Mandapa dengan suara yang ditekan.

Senopati Aji Dharma yang sudah merasa  tidak  enak  sejak awal menjadi curiga. Dari perkataan orang berbaju merah ini jelas sedang menginginkan nyawanya.

“Aku tidak pernah berurusan denganmu.” Ujar senopati berusaha mengelak. Bukan berarti dia takut atau gentar. Tapi memang dia merasa tidak pernah berurusan dengan orang tinggi besar ini. Ada pepatah mengatakan musuh jangan dicari tapi kalau bertemu dengan musuh jangan lari.

Iblis Merah Hutan Mandapa tertawa keras. Suaranya seperti hendak merobek gendang telinga senopati Aji Dharma. Namun senopati andalan kerajaan Indraprahasta ini sudah sigap.  Suara tawa yang disertai tenaga dalam sudah biasa dia hadapi.

“Itu karena kau belum melihat wajahku yang sebenarnya!” Ujar Iblis Merah Hutan Mandapa.

“Kalau ada silang sengketa diantara kita sebelumnya, seharusnya tidak bersikap pengecut seperti itu.” Timpal senopati sedikit memancing amarah. Dalam benak senopati merasa seperti pernah mendengar suara orang tinggi besar ini, tapi belum bisa menebaknya. Mungkin karena umur yang sudah hampir lanjut.

Si tinggi besar alias Iblis Merah Hutan Mandapa kembali tertawa terbahak-bahak. “Aku beri tahu sedikit tentang urusan kita biar kau tidak mati terlalu penasaran. Urusan aku dan kau adalah… dendam…ha…ha…ha…!”

Senopati Aji Dharma tetap masih penasaran. Kalau urusan dendam, mungkin orang-orang di masa lalu yang merasa tersakiti sewaktu sang senopati masih malang melintang di dunia persilatan. Rasa penasaran itu akan terjawab kalau si Iblis Merah Hutan Mandapa membuka topengnya.

“Oh, ya!” Lanjut Iblis Merah Hutan Mandapa. “Aku ingat dulu kau   adalah   seorang pendekar   pilih   tanding yang tentunya mempunyai banyak musuh. Dan  aku mungkin salah satunya,  tapi tak apalah biarlah aku mewakili semua  musuh-musuhmu di masa lalu dan biarlah pula kau mati dalam penasaran, ha…ha…ha…!”

“Kalau begitu tidak usah banyak basa basi  lagi,”  Sela senopati. “Silahkan lampiaskan dendammu jika itu bisa membuatmu tenang!”

Kembali suara tawa Iblis Merah Hutan Mandapa membahana lalu berseru. “ Kau masih saja sombong Aji Dharma!”

Sejenak senopati Aji Dharma teringat dengan suara yang membentak ini. Namun belum sempat ingatannya datang.  Iblis Merah Hutan Mandapa sudah bergerak melancarkan serangan dengan jurus tangan kosong yang dialiri tenaga dalam.

Maka terjadilah pertarungan adu jurus tangan kosong yang cukup mematikan karena keduanya sama-sama menyertakan tenaga dalam di setiap gerakannya. Walaupun senopati Aji Dharma sudah berpengalaman menghadapi banyak lawan dan mengenali banyak jurus. Tapi jurus yang dikeluarkan Iblis Merah Hutan Mandapa baru sekarang dia mengetahui dan menghadapinya. Mungkin benar juga kalau Iblis Merah Hutan Mandapa adalah muridnya Birawayaksa dari hutan Mandapa. Karena selama berkelana senopati Aji Dharma belum pernah bertemu bahkan menghadapi tokoh sesat yang satu itu.

Lima belas jurus sudah berlalu. Senopati Aji Dharma masih bertahan. Namun saat dia terpaksa harus  menangkis  sebuah pukulan lawan yang tak bisa dihindari, dia  baru merasakan kalau tenaga dalam Iblis Merah Hutan Mandapa berada di atasnya. Terlebih lagi karena ukuran tubuh si Iblis Merah yang lebih besar.

Tap! Tap!

Dua telapak tangan beradu membuat tubuh senopati Aji Dharma terdorong kebalakang sampai empat tombak. Hal ini dilakukan terpaksa karena seperti tadi dia tak bisa lagi menghidari pukulan lawan sehingga harus menyambutnya dengan papasan.

Sedangkan Iblis Merah Hutan Mandapa hanya tersurut satu tombak saja. Pertanda tenaga dalamnya bukan tandingan sang senopati.

Sang senopati bukannya tidak menyadari hal ini, tapi dengan rasa yakin dia masih bisa menghadapi lawannya. Maka saat jarak berjauhan dia tingkatkan tenaga dalamnya bahkan langsung siap mengeluarkan ilmu andalannya. Hawa saktinya dialirkan ke dua telapak tangannya sehingga tampak memancarkan sinar kemerah-merahan lalu kedua tangannya diputar-putar di depan dadanya.

Wus! Wus!

Dari kejauhan dua telapak tangan yang bersinar tampak seperti bintang berekor yang berputar-putar.

Di balik topeng merahnya Iblis Merah Hutan Mandapa menyeringai angkuh penuh kesombongan karena dia merasa lebih unggul dari senopati andalan kerajaan Indraprahasta ini. Bahkan kalau dia mau, dia bisa saja merebut kekuasaan raja Indraprahasta. Tapi dia lebih memilih kekuasaan yang jangkauannya lebih luas.

Wus!

Satu sinar merah yang memancar keluar dari salah satu tangan senopati berkiblat menghantam kearah Iblis Merah Hutan Mandapa. Namun dengan gerakan cepat dan mudah sang Iblis Merah dapat menghindari serangan jarak jauh itu.

Blaar!

Sinar merah kiriman sang senopati mengenai tanah kosong.

Akibatnya daun-daun dan ranting kering berhamburan ke udara. “Ha..ha..ha…!”  Terdengar  suara  tawa  Iblis  Merah  Hutan Mandapa. Tawa yang mengejek.

Wuss! Wuss!

Dua sinar berkiblat lagi dalam jarak waktu yang sangat cepat dari sinar yang pertama.

Blaarr! Blaarr!

Namun pukulan dashyat ini kembali hanya menganai sasaran kosong. Iblis Merah Hutan Mandapa begitu cepat gerakannya untuk menghindar. Terdengar lagi tawanya yang menggelegar laksana hendak mengguncang seantero tempat itu.

Sambil tersenyum mengejek lelaki tinggi besar bersorban merah ini melompat ke udara melakukan  gerakan  jungkir  balik sambil mengerahkan hawa sakti ke dua tangannya. Kemudian saat hendak mendarat dia hentakkan kedua tangannya kearah senopati Aji Dharma yang masih bersipa-siap melancarkan serangan berikutnya.

“Heaaa…”! Wuuss!

Dari kedua tangan Iblis Merah Hutan Mandapa melesat dua sinar hitam menggidikkan. Begitu sinar hitam itu terlepas keluar si baju merah ini sudah mendarat dengan berdiri.

Pada saat yang bersamaan melesat pula dua sinar  merah yang berasal dari dua tangan senopati Aji Dharma.

Wuuss! Jleggarrr! “Aaaakh..!”

Dua pukulan dashyat beradu di udara sehingga menimbulkan ledakan yang dashyat pula. Kebun ladang di belakang  istana bergetar hebat laksana dilanda gempa.

Kalau Iblis Merah Hutan Mandapa hanya bergetar saja badannya saat terjadi ledakan, dia tidak  terluka  sedikitpun  akibat dari ledakan itu.

Lain halnya dengan senopati Aju Dharma. Akibat dari ledakan dashyat itu tubuhnya terpental jauh hingga beberapa tombak. Seluruh tubuhnya terasa sangat panas seperti  terbakar.  Panas serasa membakar urat-urat di dalam tubuhnya hingga pecah dan hancur lalu dia terkapar di tanah tanpa bisa bergerak lagi alias telah melayang nyawanya. Berakhir sudah riwayat senopati Aji Dharma, senopati andalan kerajaan Indraprahasta tanpa mengatahui pangkal sebab permasalahannya dengan Iblis Merah Hutan Mandapa yang menewaskannya.

Iblis Merah Hutan Mandapa mendekati mayat senopati Aji Dharma lalu badannya membungkuk sedikit dan menarik topengnya keatas. Dia memperlihatkan wajahnya setelah senopati tewas.

“Kau ingin tahu wajahku!” Katanya sambil menyeringai puas. “Nih, lihatlah dengan puas, ha…ha…ha…!”

Tentu saja sang senopati tidak bisa lagi melihat wajah Iblis Merah Hutan Mandapa. Karena dia sudah berada di alam sana.

***

“Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Aji Dharma.” Kata Iblis Merah Hutan Mandapa kepada sang raja Indraprahasta yang berdiri di depan pendopo istana. Lalu dia menjatuhkan tubuh senopati Aji Dharma yang sudah tak bernyawa yang semula dipanggul di atas pundaknya.

Brukk!

Sang raja sebenarnya terkejut melihat kenyataan senopati unggulannya telah jadi mayat. Namun dia sembunyikan wajah terkejutnya dengan berdiam tanpa kata. Dalam hatinya berkecamuk dendam. Ingin rasanya dia menghajar orang bertopeng merah yang berdiri di hadapannya, tapi kemampuannya membuat dia merasa pengecut.

Tanpa pamit lagi Iblis Merah Hutan Mandapa berkelebat pergi meninggalkan halaman pendopo. Hanya suara tawanya saja yang terdengar keras.

Sang senopati agul telah gugur.

*** BAB 09 : PENYERBUAN KE GALUH

Sungai Citarum, sungai besar dan berair jernih yang menjadi perbatasan antara Galuh dan Sunda. Siang hari yang  terik  ini tampak beberapa kapal besar yang mengangkut sekitar tiga ratus prajurit dari kerajaan Sunda tengah menepi kepinggiran sungai.

Sanjaya, adalah orang yang menjadi pimpinan rombongan pasukan ini. Dia berada di kapal yang paling depan yang telah lebih dulu menepi, dia beserta prajurit  yang mendampinginya sudah berada di daratan. Sementara kapal-kapal yang lain pun mengikuti. Seperti biasa rambutnya selalu digelung keatas, kali ini dia berpakaian sedikit resmi, yaitu sebuah pakaian untuk berperang.

Ini adalah perjalanan Sanjaya yang kembali hendak menuju Galuh setelah sekian lamanya mengunjungi negeri Sunda. Dia kembali membawa pasukan sebanyak ini untuk merebut  kembali tahta Galuh dari tangan Purbasora yang telah merebutnya dulu dari tangan ayahnya, Bratasenawa.

Begitu banyak pengalaman dan pelajaran yang dia dapatkan selama berada di Sunda. Seperti ketika pertama kali  datang kesana, dia mengutarakan tentang keinginnanya kepada prabu Tarusbawa bahwa dia ingin meerebut kembali  kekuasaan  Galuh. Sang prabu Tarusbawa tidak begitu saja langsung memberikan bantuannya.

Prabu Tarusbawa ingin menguji kemampuan Sanjaya terlebih dahulu. Di antaranya mempelajari kitab yang diciptakannya yang bernama Pustaka  Ratuning  Bala  Sarewu.  Kitab  tentang  siasat dan taktik perang. Selain itu juga harus menerapkan apa yang didapat dari kitab tersebut, yaitu menghadapi pasukan bajak  laut yang meresahkan di sekitar perairan kerajaan Sunda. Karena, menumpas bajak laut ini juga merupakan bagian dari ujian umtuk Sanjaya.

Dan, karena kecerdasan dan ketekunan serta keberanian Sanjaya. Maka dia berhasil melewati semua ujian yang diberikan prabu Tarusbawa. Semua perompak atau bajak laut yang  merajalela di perairan Sunda yang konon katanya didalangi oleh kerajaan Sriwijaya dari Swarna Bhumi dapat ditumpas habis oleh Sanjaya.

Sebagai imbalannya atas keberhasilannya, prabu Tarusbawa menikahkan cucunya yang bernama Teja Kancana kepada Sanjaya. Selain itu juga, janji prabu Tarusbawa untuk membantu Sanjaya ditepati  yaitu memerintahkan tiga  ratus prajuritnya untuk menyerbu ke Galuh yang dipimpin langsung oleh Sanjaya.

Dan sekarang Sanjaya bersama pasukannya telah menyebrangi sungai perbatasan Sunda dan Galuh, sungai Citarum.

Di balik keberhasilannya dalam menjalankan ujian serta tugas selama di negeri Sunda, jauh di lubuk hatinya terdapat suatu rasa yang menganjal. Suatu perasaan sepi dan hampa.  Ya, sejak pertama kali datang ke Sunda dan sekarang telah kembali  lagi menuju Galuh. Dia tidak ditemani sahabat karibnya dari kecil yaitu Santana. Padahal sebelumnya mereka sudah berjanji akan bertemu di Sunda. Namun sampai Sanjaya berhasil menguasai ilmu kitab Pustaka Ratuning Bala Sarewu, menumpas bajak laut, dan menikahi Teja Kancana. Santana belum juga muncul.

Padahal dia ingin sekali sahabatnya itu melihat keberhasilan yang telah dicapainya, menyaksikan pernikahannya dengan Teja Kancana. Bahkan lebih dari itu, dia ingin melewati ujian  yang diberikan prabu Tarusbawa bersama Santana. Biar bisa saling merasakan suka dan dukanya seperti waktu kecil mereka bersama resi Wanayasa.

Namun dalam hatinya lagi, dia tidak pernah menaruh prasangka yang buruk terhadap sahabatnya itu. Dia yakin pasti Santana juga mengalami hal yang sama dengan dirinya atau mungkin lebih sulit lagi rintangan yang dihadapinya, serta membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengatasinya.

Sanjaya masih yakin dia pasti akan berjumpa lagi dengan sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri itu. Santana.

Ketika semua prajurit sudah mendarat dan berbaris rapi maka merekapun bersiap melanjutkan perjalanan menuju pusat kerajaan Galuh. Karena begitu mendaratkan kaki di sebelah timur sungai Citarum berarti mereka sudah memasuki wilayah Galuh.

Berdiri di paling depan Sanjaya sudah siap memimpin pasukan, tiba-tiba di atas langit terdengar suara  menguik  yang begitu santar dan menggema.

“Kreaakk! Kreaak!”

Kejap kemudian   tiba-tiba angin   bertiup kencang, lalu terlihatlah di udara setinggi puluhan  tombak satu  sosok yang terbang melayang mendekat kearah pasukan Sanjaya. Makin dekat makin jelas sosok yang terbang itu ternyata seekor burung garuda raksasa berwarna kuning keemasan. Dan ketika semakin terbang merendah barulah terlihat di atas punggung burung garuda ini ada seseorang yang sedang duduk menunggangi.

Seseorang yang membuat Sanjaya tersenyum senang, mengobati hatinya yang hampa, mengobati suatu kerinduan di sisi batin yang lain. Seseorang yang sangat dikenal dan sangat dekat dengannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. “Santana!” Seru Sanjaya langsung berlari kearah orang yang baru turun dari atas punggung garuda. Santana sahabat karibnya sewaktu kecil.

“Sanjaya!” Seru Santana juga tersenyum lebar lalu mereka saling berpelukan beberapa saat.

“Akhirnya kita bisa berjumpa lagi, Santana saudaraku!” “Aku sangat senang tapi juga menyesal,”

“Menyesal kenapa?”

“Aku tidak menepati janji untuk berjumpa di Sunda,” “Sudahlah, kita kan sudah bertemu. Lagi pula kau bukan tidak

menepati janji, hanya sedikit terlambat saja. Bukankah kau hendak menyusulku?”

“Iya memang begitu, tapi tadi dari jauh aku melihat ada beberapa kapal negeri Sunda sedang menyeberangi sungai perbatasan. Ketika aku melihat lebih dekat ternyata kau berada di barisan paling depan. Itu berarti kau sudah kembali, benarkan?”

Sanjaya mengangguk masih tersenyum. Betapa senang hatinya. Lalu dia melihat kearah burung garuda raksasa yang berdiri tak jauh di belakang Santana.

“Kau hebat!” Ujar Sanjaya. “Kau memiliki binatang tunggangan yang luar biasa, dari mana kau mendapatkannya?”

“Namanya Garuda Bulu Emas.” Jawab Santana. “Nanti aku akan ceritakan. Sekarang aku akan menemani perjalananmu, sudah lama kita tidak melakukan perjalanan bersama. Sementara burung garuda itu aku biarkan terbang bebas dulu…”

Lalu Santana berseru kepada Garuda  Bulu Emas. “Wahai Bulu Emas, kau boleh pergi dulu nanti jika aku membutuhkan, aku akan memanggilmu.”

“Kreaak! Kreaak!”

Garuda Bulu Emas mengeak sambil menganggukkan kepala pertanda mengerti  ucapan  Santana. Kemudian  sosoknya  melesat ke udara meninggalkan tuannya. Pada saat sayapnya mengepak, angin di sekitar tempat itu terasa berhembus kencang.

Sanjaya menggeleng berdecak kagum. “Luar biasa!” Gumamnya.

“Baiklah, kita berangkat!” Seru Santana.

Kemudian Sanjaya memberikan isyarat kepada pasukannya untuk segera berangkat. Maka rombongan pasukan bersenjata lengkap yang dipimpin Sanjaya ini bergerak meninggalkan tepian sungai Citarum.

“Aku sudah tidak sabar ingin mendengar ceritamu selama di negeri Sunda,” kata Santana.

“Aku juga tidak sabar ingin mendengar ceritamu sampai bisa sehebat ini!” Timpal Sanjaya.

“Ah kau terlalu memuji, justru kau yang lebih hebat!”

Sepasang sahabat yang sudah seperti saudara ini pun saling berbagi cerita pengalaman masing-masing selama di perjalanan. Sehingga lamanya waktu dan jauhnya jarak yang ditempuh, tidak mereka rasakan.

***

Malam begitu sunyi mencekam. Namun suasana terasa berkecamuk dalam hati Purbasora. Bagaimana tidak, berita tentang akan adanya penyerangan pasukan Sunda ke istana Galuh yang dipimpin oleh Sanjaya anaknya Bratasenawa telah membuatnya resah. Apakah ini suatu pembalasan atas perbuatannya dulu menyingkirkan Bratasenawa?

Lelaki setengah baya ini masih duduk  di  kursi  kebesaran yang telah dia rebut dari Bratasenawa tujuh tahun yang lalu. Dan dia juga masih memakai baju kebasaran raja juga Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang juga didapatnya dengan cara  merebutnya dari Bratasenawa.

Beberapa saat yang lalu baru saja diadakan pasewakan di Bale Mangu ini. Ruangan yang dulu dia juga merebut paksa tahta Galuh dari saudaranya satu ibu lain ayah. Para pejabat istana yang lain sudah kembali ke peraduannya masing-masing.

Sebenarnya dia tidak perlu merasa resah apalagi takut seperti ini. Sebab dia mempunyai pasukan yang sudah  terkenal  hebat dalam peperangan. Pasukan Bhayangkara yang sudah turun temurun menjadi pasukan utama kerajaan sejak jaman Tarumanagara dulu. Pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indra Prahasta.

Selain itu juga dia didampingi oleh tokoh yang sudah tidak diragukan lagi kesaktiannya. Iblis Merah Hutan Mandapa murid Birawayaksa penghuni hutan Mandapa yang terkenal angker.

Tapi tetap saja hatinya galau bahkan rasa takut sudah merasuki relung hatinya. Dalam pikirannya terbayang akan suatu pembalasan akan yang menimpa dirinya. Walaupun dia memiliki kekuatan yang lebih tapi serasa seperti tak ada apa-apanya.

“Apa yang membuat gusti prabu begitu tampak resah?”

Satu suara besar terdengar memecah lamunan Purbasora. Seorang lelaki tinggi besar berpakaian seorang resi berwarna merah yang kepalanya memakai sorban India dan wajahnya ditutupi topeng kulit yang semuanya berwarna merah. Iblis Merah Hutan Mandapa, sudah berdiri di hadapan sang raja Galuh.

Saat pertama kali Purbasora datang ke istana dan menggulingkan Bratasenawa, orang yang berjuluk Iblis Merah Hutan Mandapa ini tidak memakai topeng dan sorban seperti sekarang.

“Kanda Iblis Merah,” Panggil Purbasora setelah menghela napas begitu mengetahui ada orang yang datang.  “Aku  heran kenapa akhir-akhir ini kanda selalu mengenakan sorban dan juga topeng?” Tanya Purbasora. Sebuah pertanyaan yang mencoba menghilangkan kegalauannya.

“Saya baru saja menyelesaikan urusan lama,” Jawab Iblis Merah Hutan Mandapa.

“Baiklah, aku tidak mau tahu urusan kanda. Karena ada yang lebih meresahkan hatiku,”

“Tentang anaknya Sena yang hendak membalas dendam?” “Ya, itu yang utama…” Purbasora merubah duduknya dari

menyender menjadi tegak lalu kedua matanya  memandang  orang

kepercayaannya ini.

“Tidak  perlu  ditakutkan,  gusti!”  Ujar  Iblis  Merah  Hutan Mandapa.

“Aku percaya pada kanda, tapi aku heran dengan prabu Tarusbawa. Aku dan dia sudah menjalin hubungan dengan baik cukup lama, bahkan sudah sering pula menjalin kerja sama. Tapi kenapa sekarang dia malah membantu Sanjaya?” Ungkap Purbasora.

“Apa gusti prabu belum mengetahuinya?” Tanya Iblis Merah Hutan Mandapa.

Purbasora menggeleng dengan pandangan kosong. Dua telapak tangannya diletakkan di kedua lututnya. Sehingga tampak seperti sedang bertolak pinggang.

“Dari kabar yang saya dapat,” Lanjut Iblis Merah Hutan Mandapa masih berdiri tegak. “Sanjaya berhasil  melaksanakan syarat yang diajukkan prabu Tarusbawa untuk menikahi cucunya…”

“Syarat?”

“Syaratnya adalah menumpas bajak laut yang merajalela di perairan wilayah Sunda yang konon katanya didalangi oleh kerajaan Sriwijaya dari Swarna Bhumi…”

“Mmmh…!” Purbasora mengangguk-angguk sambil mendongak dengan pandangan kosong.

“Sanjaya berhasil menumpas bajak laut itu kerana mempelajari sebuah kitab yang bernama Pustaka Ratuning Bala Sarewu,”

“Pustaka Ratuning Bala Sarewu?”

“Ya, sebuah kitab yang berisi tentang taktik cara berperang yang diciptakan oleh prabu Tarusbawa sendiri,”

“Jadi karena itu sebabnya,” Gumam Purbasora. Dalam hatinya semakin galau, apakah mungkin kitab taktik perang yang diciptakan prabu Tarusbawa itu telah dipelajari oleh prajurit Sunda dan nantinya bisa mengalahkan pasukan Bhayangkaranya yang terkenal tangguh?

Suasana jadi hening. Tapi jika melihat keberadaan Iblis Merah Hutan Mandapa, memang tidak perlu ada yang ditakutkan. Purbasora sangat percaya kepada orang ini. Dia ingat perintah ayahnya, jika ingin mendapatkan kekuatan besar untuk menguasai Galuh yang menurut ayahnya adalah  haknya,  maka dia harus datang ke hutan Mandapa dan  meminta  bantuan  penguasa  hutan itu. Lalu bertemulah dengan Iblis Merah Hutan  Mandapa yang megaku sebagai murid Birawayaksa. Bahkan sang Iblis Merah bersedia membantunya menggulingkan  kekuasaan  Bratasenawa. Dan dari Iblis Merah Hutan Mandapa-lah dia mendapatkan beberapa ilmu dashyat hingga dia bisa mengalahkan Bratasenawa.

Tiba-tiba saja suasana yang hening itu dipecahkan oleh suara gemuruh diluar istana. Suara yang lama kelamaan semakin jelas yaitu suara ratusan orang yang sedang berteriak keras.

Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba lagi dari arah pintu ruangan muncul dua sosok yang berkelebat melesat ketengah ruangan dan mendarat tepat di sana. Ternyata mereka adalah dua pemuda yang gagah. Yang satu berpakaian gagah layaknya seorang pemimpin pasukan yang hendak menuju medan  perang. Yang satunya lagi hanya memakai baju biru tanpa lengan, bercelana hitam, mengenakan kain pinggang batik dan ikat pinggang warna hitam juga. Rambutnya terurai gondrong tanpa diikat kepala.

“Siapa kalian,  berani masuk  tanpa  ijin?” Hardik  Purbasora langsung berdiri.

“Aku Sanjaya!” Jawab salah seorang dari mereka  yang sebelah kiri, yang sebelah kanannya tidak lain adalah Santana.

Purbasora terkejut tak percaya benarkah yang di hadapannya ini Sanjaya anak Sena. Berarti suara gemuruh di luar sana adalah pasukan yang dibawa Sanjaya dari Sunda.

“Hei, rupanya kau di sini muka merah!” Seru Santana begitu melihat lelaki bertopeng merah alias Iblis Merah Hutan Mandapa. Tentu   saja dia ingat peristiwa saat di rumahnya di bukit Cibaringkeng. Lelaki bertopeng merah dan  bersorban india yang hendak membawa dua peti berisi perhiasan itu tidak lain adalah Iblis Merah Hutan Mandapa.

“Siapa kau!” bentak Pubasora kepada Santana. “Lancang sekali kau terhadap guruku, Iblis Merah Hutan Mandapa!”

“Wah!” Santana seperti terkejut tapi dengan muka tolol sambil usap-usap kepala. “Ternyata kau yang berjuluk si Iblis Merah Hutan Mandapa. Orang yang hendak mencuri di rumahku dulu!”

“Siapa yang mencuri!” Tukas Iblis Merah Hutan Mandapa. “Justru kau yang telah merampas harta simpananku!”

“Apa, harta simpanan?” Santana usap-usap kepalanya lagi. “Mau apa kau, Sanjaya?” Tanya Purbasora menyela di antara

perdebatan Iblis Merah Hutan Mandapa dan Santana.

“Tidak perlu kau tanyakan,” Jawab Sanjaya.  “Karena kau sudah tahu sendiri jawabannya. Aku sudah mendapat restu dari aki resi Wanayasa, karena selama tujuh tahun aku dididik si sana. Aku juga mendapat bantuan dari aki prabu Tarusbawa, ditambah sekutu-sekutu kerajaan Galuh dan Sunda di sebelah timur pulau Jawa ini juga memihakku karena mereka masih satu keluarga denganku.” Jelas Sanjaya menggertak.

Diam-diam Purbasora menciut nyalinya. Namun dia masih percaya dengan Iblis Merah Hutan Mandapa di sampingnya.

Sanjaya melanjutkan. “Sekarang di luar sana para prajurit pasukanku sudah mengepung, seberapa hebat pasukan Bhayangkaramu yang sudah terkenal itu, aku yakin tak akan mampu melawan pasukanku yang sudah terlatih taktik perang dari kitab Pustaka Ratuning Bala Sarewu!”

Purbasora mendengus marah terlebih lagi ketika mendengar suara Santana yang dianggap menghina gurunya.

“Sanjaya, biar aku urus si muka merah ini. Beberapa waktu lalu aku belum selesai mempecundanginya.”

Iblis Merah Hutan Mandapa juga menggeram marah mendengarnya dia merasa diremehkan bahkan dipermalukan.

“Kurang ajar sekali kau anak muda!” Bentak Purbasora. “Kau tidak punya sopan santun!”

Santana hanya tertawa mencibir sambil usap-usap kepala.”Gurumu!” Ujarnya. “Aku ingin melihat seperti apa wajah gurumu yang sembunyi dibalik topeng bututnya!”

Habis berkata seperti itu, secepat kilat bahkan sampai tak terlihat oleh Purbasora maupun Iblis Merah Hutan Mandapa, tangan kanan Santana menyabet kedepan kearah topeng yang menutupi wajah Iblis Merah Hutan Mandapa. Set! Plak!

Kejap kemudian terdengar suara seperti kayu patah, ternyata itu adalah suara topeng yang dikenakan Iblis Merah Hutan Mandapa patah jadi dua sehingga tersibaklah wajah aslinya.

*** BAB 10 : DI BALIK TOPENG MERAH

Santana sangat terkejut sekali begitu melihat wajah asli dari Iblis Merah Hutan Mandapa. Karena dia begitu kenal sekali dengan wajah ini. Sementara Pubasora dan Iblis Merah Hutan Mandapa dibuat terpana dengan gerakan Santana yang tak terlihat itu. Sesaat Santana menjadi gugup, hal ini dilihat oleh Sanjaya lantas dia bertanya pelan.

“Kenapa kau, Santana?”

“Ternyata kata-kata aki resi berlaku juga padaku,” Jawab Santana, namun Sanjaya masih belum mengerti maksudnya.

“Yang mana?” Tanya Sanjaya lagi.

“Tegakkanlah kebenaran walau harus menghadapi keluarga sendiri.” Jawab Santana. Rupanya benar apa yang dikatakan resi Wanayasa bahwa dia tidak perlu mencari ayahnya dan suatu saat nanti juga pasti akan bertemu dengan ayahnya. Ternyata pada saat seperti ini dia bertemu. Lebih terkejutnya ternyata ayahnya ikut menjadi pemberontak bersama Purbasora. Akhirnya dia menduga-duga, saat melarikan diri dari hukuman ayahnya mungkin pergi ke hutan Mandapa kemudian berguru Birawayaksa dan selanjutnya membantu pemberontakan Purbasora menggulingkan ayahnya Sanjaya.

“Jadi siapa dia?” Tanya Sanjaya. “Ayahku!” Sanjaya terkesiap mendengarnya.

“Gusti parabu, kita harus segera bertindak,” Ujar Iblis Merah Hutan Mandapa. “Jangan takut ancamannya, dia hanya menggertak. Justru kita lebih kuat!”

Purbasora mengangguk sambil menggeram.  “Baiklah,  aku sama sekali tidak takut padamu Sanjaya!” Teriaknya serta merta bergerak menerjang kearah Sanjaya. Terjadilah pertarungan antara keduanya.

Sedangkan Iblis Merah Hutan Mandapa yang ternyata adalah Kuntawala, ayahnya Santana. Walaupun sempat dipecundangi sewaktu di bukit Cibaringkeng, namun  hatinya  masih  penasaran ingin menjajagi kekuatan pemuda ini. Dia sama sekali  tidak  tahu kalau pemuda di hadapannya adalah anaknya. Mungkin juga dia sudah lupa wajah Santana waktu kecil atau sudah lupa bahwa  dia juga memiliki seorang anak lelaki.

“Kenapa wajahmu tampak berubah, anak muda?” Tanya Kuntawala alias Iblis Merah Hutan Mandapa masih bersikap tenang walau topengnya telah dibuat pecah sehingga tersingkap wajahnya. “Apa nyalimu menciut setelah melihat wajahku?” Ejeknya.

“Apa kau muridnya Birawayaksa?”Tanya Santana tenang.

Kuntawala terbahak-bahak mendengarnya. “Tidak salah, kau takut?”

Santana tersenyum. “Aku tidak takut sekalipun kau dibantu oleh gurumu…”

“Sombong!”

“Tidak kusangka,  kau  melarikan  diri  di  saat  akan dijatuhi hukuman. Ternyata kau berguru kepada Birawayaksa dan sekarang menjadi pembantunya Purbasora.”

Kuntawala terkesiap. “Siapa kau?”

“Ternyata kau juga sudah tidak mengenaliku!” Ujar Santana. “Tentunya kau masih ingat pertarungan di bukit Cibaringkeng dulu…”

“Ya, kau memakai namaku!”

“Salah sendiri, kenapa mukamu ditutupi topeng!”

“Sudahlah anak keparat, aku tidak peduli lagi siapa kau. Pertarungan tempo hari belum selesai, sekaranglah waktunya menentukan siapa yang lebih kuat!”

“Baiklah, silahkan!”

“Huh, kubungkam kesombonganmu bocah ingusan!”

Kemudian Kuntawala bergerak melayangkan  tinjunya ke muka Santana, tentunya disertai tenaga dalam yang kuat. Namun pemuda yang ilmunya bertambah berkat Garuda Bulu Emas ini hanya meliukkan badan menghindar.

Wuss!

Pukulan   Kuntawala alias Iblis Merah Hutan Mandapa mengenai sasaran kosong. Sekejap kemudian pukulan-pukulan berikutnya menyusul dengan cepatnya, bahkan gerakannya seperti bayangan. Dua tangan Kuntawala berkelebat laksana angin.

Santana memang masih   muda umurnya namun soal kepandaian tampaknya sudah menyamai tokoh seperti ayahnya  ini. Ini semua karena ajian ‘Wadah Rahayu’ yang mendarah daging di tubuhnya membuat dirinya cepat menguasai suatu jurus atau ilmu apapun.

Pertarungan antara ayah dan anak pun terus berlanjut. Kali ini Kuntawala alias Iblis Merah Hutan Mandapa mengeluarkan jurus-jurus yang lain, yang tidak digunakan sewaktu di bukit Cibaringkeng. Jurus-jurus yang didapat dari Birawayaksa gurunya, walaupun berguru kurang dari setahun saja. Jurus-jurus yang gerakannya aneh dan sangat sulit untuk diikuti atau ditiru lawan. Dia sengaja menggunakannya karena sewaktu di bukit Cibaringkeng, lawannya ini bisa menirukan gerakan jurusnya.

Tampaknya Santana mengerti apa yang  dilakukan ayahnya ini, tapi serumit apapun gerakan jurusnya dia masih bisa memperhatikan. Namun kali ini  dia  tidak  ingin melakukannya  lagi, dia hanya bergerak tenang namun gesit dan  cepat  menghindari setiap serangan lawan baik pukulan maupun tendangan. Walaupun dia sudah memiliki beberapa jurus baru yang didapat dari Garuda Bulu  Emas, namun dia merasa belum saatnya untuk menggunakannya.

Lama-lama Santana terdesak juga, ruang geraknya untuk menghindar semakin sempit. Maka terpaksa dia memapasi serangan lawannya.

Tak! Tak!

Saat beradu tangan menangkis pukulan lawan ini,  Santana bisa merasakan seberapa besar tenaga dalam ayahnya. “Masih seimbang!” Gumamnya dalam hati. Tiba-tiba dia teringat  dengan ajian ‘Wadah Rahayu’ miliknya. Dia lupa kalau ajian ini watak utamanya adalah kekebalan tubuh. Kenapa tadi malah memapasi pukulan lawannya? Pikirnya. Lalu dalam benaknya muncul satu rencana. Yaitu saat ada satu pukulan yang mengarah ke dadanya, Santana sengaja membiarkannya tanpa menangkis tanpa menghindar bahkan pura-pura lengah saja.

Dugh!

Tubuh Santana terdorong tiga langkah kebelakang, namun dia tidak merasakan sakit. Malah lawannya menjadi terkejut dan menghentikan serangannya.

“Ajian Wadah Rahayu!”  Gumam Kuntawala, hatinya menduga-duga. Dia  teringat ajian ini  dia sendiri yang mendapatkannya dan satu-satunya orang yang memiliki ajian ini adalah anaknya.

“Kau…!” Suara Kuntawala seperti tersendat.

Sedangkan Santana  hanya menunjukkan raut muka dingin. Dia memandang ayahnya seperti memendang sesuatu yang dibencinya.

“Ternyata kau masih hidup, tapi kenapa kau menentangku?” Suara Kuntawala agak gemetar.

“Aku hanya menegakkan kebenaran!”

“Kebenaran omong kosong, tidak tahu balas budi. Anak durhaka!”

“Aku senang disebut anak durhaka, karena yang ku durhakai adalah seorang perampok, pemberontak yang gila kekuasaan!” Bantak Santana.

“Kurang ajar, kucabut kembali ajian Wadah Rahayu-mu!” Kuntawala alis Iblis Merah Hutan Mandapa  berteriak  murka. Tak ada lagi Tanya dalam hatinya tentang bagimana anaknya masih bisa hidup bahkan menjadi seorang yang berkepandaian  tinggi, karena hatinya kini sudah tertutup benci dan kecewa. Lebih kecewa lagi bila mengingat harta simpanannya telah dirampas anaknya.

Dengan mengalirkan tenaga dalam tingkat tinggi, kedua tangannya menghentak kebawah.

Brat!

Lantai yang diijak kakinya timbul letupan kecil. Saat diangkat kembali kedua tangannya sudah diselimuti sinar merah menyala sebatas siku. Dua tangan itu seperti membara.

Wut! Jerr!

Kemudian dua tangan Iblis Merah Hutan Mandapa menghentak kedepan. Sinar merah yang menyelubungi taangannya memancar kearah tubuh Santana, kejap berikutnya tubuh anaknya ini bagaikan terlilit sinar merah menyala bahkan kali ini tampak mengepulkan asap merah pula.

Santana tak bisa menghindar dari lilitan  sinar  merah  ini, karena tubuhnya seperti ada yang menyedot. Tubuhnya bergetar hebat dan terangkat keatas sampai beberapa jengkal. Dia merasakan seperti disengat ratusan semut namun saat tenaga dalamnya dikerahkan lebih tinggi lagi rasa sengatan itu semakin tak terasa. Mungkin benar, ayahnya ini sedang menyedot atau melepaskan kembali ajian Wadah Rahayu yang tersimpan di badannya. Tapi sang ayah tidak tahu kalau ajian ini sudah dikembangkan dan disempurnakan selama digembleng oleh resi Wanayasa.

Sedangkan Kuntawala terus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyedot ajian ciptaannya. Keringat  dingin tampak mengucur di keningnya yang mengerut. Sementara urat-urat leher dan kedua tangannya tampak menyembul kencang, menandakan bahwa tenaga yang dikeluarkannya sangat besar. Dia seperti sedang menarik gunung saja.

“Kenapa jadi sangat berat menarik ajian Wadah Rahayu dari dalam tubuhnya?” Tanya Kuntawala dalam hati.  Saat  melihat kesana, Santana tampak tersenyum. “Hiaaa…!” Dia berteriak garang.

Tak peduli lagi anaknya atau bukan dalam  benak  si  Iblis Merah yang semula hanya ingin menyedot ajian Wadah Rahayu kini berkeinginan untuk melenyapkan saja pemuda yang menjadi lawannya.

Sedangkan Santana merasakan kekuatan sinar merah yang menyelubunginya semakin kencang bahkan seperti mencekik semua urat-urat penting di tubuhnya. Maka sebelum keadannya menjadi parah dia segera tingkatkan tenaga dalamnya  lebih tinggi lagi. Kedua matanya menatap tajam kearah ayahnya sambil memusatkan pikiran di kepala. Mulutnya tampak komat-kamit merapalkan sesuatu.

Sebh!

Tubuh Santana yang semula terangkat kini bergerak  turun cepat lalu seperti menancap di lantai. Kuda-kudanya menjadi kuat tak tergoyahkan. Lalu dari kedua tangannya keluar cahaya hijau sebesar lidi dalam jumlah banyak seperti  tali  yang  melilit.  Inilah ajian ‘Bayu Jangjang Dadali’ yang didapat dari Garuda Bulu Emas. Perlahan kedua tangannya mengangkat seperti sayap garuda yang sedang mengembang. Selubungan sinar merah di badannya kini sudah tak dirasakannya lagi.

“Yeaah!”

Santana berseru sambil megibaskan kedua tangannya laksana garuda yang mengepakkan sayapnya.

Wutt!

Sinar-sinar hijau sebesar lidi yang melilit kedua tangannya melesat memanjang dan bertambah banyak menjadi ratusan sehingga bentuknya seperti hujan sinar menderu kearah Kuntawala.

Tes! Tes! Tes!

Hembusan hujan sinar hujau yang menerpa Kuntawala menimbulkan suara seperti api yang terkena tetesan air. Saat itu suasana di dalam istana seperti dilanda hujan salju, ini adalah suatu ajian yang dikeluarkan Sanjaya yang sedang melawan Purbasora di sebelah sana. Saat itulah tiba-tiba Iblis Merah Hutan Mandapa terpental dan sinar merah di tangannya lenyap. Begitupun sinar merah yang melilit di tubuh Santana.

Bruugh!

Tubuh Kuntawala terjatuh kelantai berguling-guling. Saat dihujani sinar hijau tadi, tubuhnya di bagian tertentu seperti terkena percikan kembang api yang sangat panas. Lalu dia terkulai lemas tak berdaya seperti tak punya tenaga lagi untuk sekedar bangkit.

Santana menarik napas lega, sinar hijau di tangannya sudah hilang. Lalu dia mendekati sosok ayahnya yang tergeletak  tak berdaya. Terdengar suara erangan dari mulut murid Birawayaksa ini. “Kau apakan aku?” Tanya Kuntawala hampir tak bersuara. Untuk menggerakkan jarinya saja rasanya sangat sulit. Ternyata kekuatan yang dimiliki anaknya ini sangat dashyat. Masih beruntung dia tidak dibunuh.

“Aku melumpuhkan kekuatanmu.” Jawab Santana pelan. Ajian Bayu Jangjang Dadali yang digunankannya tadi memang diarahkan pada titik-titik tertentu saja dengan maksud melumpuhkan kekuatan lawan.

“Oh ya!” Kata Santana lagi. “Aku ingin memberi tahu bahwa harta simpanan yang aku bawa dulu telah kukembalikan kepada pemiliknya.”

*** BAB 11 : PURBASORA PEJAH (TAMAT)

Sekarang kita ikuti pertarungan antara Sanjaya dan Purbasora yang kejadiannya bersamaan dengan pertarungan Santana dan ayahnya.

Tampaknya Purbasora langsung  mengerahkan seluruh kekuatannya. Bagaimana tidak, dia ingin mempertahankan kekuasaannya. Namun dalam hatinya tetap was-was karena diluar istana suara gemuruh semakin santar terdengar. Pikirannya agak terpecah.

Sebelumnya dia memang sudah memerintahkan agar semua prajurit bersiap siaga untuk menghadapi serangan pasukan Sunda yang kabarnya akan segera tiba, dan mungkin juga akan menyerang sacara dadakan. Dan dugaannya benar kini perang itu telah terjadi. Dia tidak tahu apakah prajuritnya bisa bertahan atau tidak.

Kembali ke pertarungan.

Purbasora sedikit merasa lega saat melancarkan serangannya, saat pukulannya berpapasan dengan pukulan lawan. Ternyata tenaga dalam lawan masih seimbang, sehingga dia merasa bisa mengatasi anak Sena ini.

Hanya jurus tangan kosong yang mereka keluarkan. Sanjaya tampak tenang menghadapi lawannya. Dia berhasil menipu lawannya dengan mengeluarkan tenaga dalam yang seimbang. Hal itu bisa dilihat dari raut wajah Purbasora yang tampak percaya diri. Padahal Sanjaya hanya mengerahkan  kurang dari  setengahnya saja. Set! Wut!

Tangan kanan Purbasora menyambar kebagian leher Sanjaya, kali ini dia meningkatkan lagi kekuatannya.

Tak!

Dalam sekejap tangan kiri Sanjaya  berhasil menangkisnya dan sekaligus membuat Purbasora terkejut karena sambarannya mental bahkan sampai mendorong badannya beberapa langkah.

Seketika wajah Purbasora pucat. “Ternyata anak ini masih menyimpan kekuatannya!” Gumammnya dalam hati. Tidak menyangka hanya gerakan menangkis saja bisa mendorong tubuhnya.

Sanjaya tersenyum.

Purbasora menggeram lalu hentakkan kedua tangannya, mengalirkan tenaga sakti kabagian kepalan tangan sehingga tampak mengeluarkan cahaya merah dan juga mengepulkan asap. Tampak dua kepalan tangannya seperti membara.

“Hiaah…!” Wuss!

Purbasora hentakkan tangan lagi lalu dari kepalan tangannya melesat dua bola api sebesar kepala menghantam kearah Sanjaya.

Namun pemuda yang sudah banyak ilmunya ini hanya mengepos di tempat sehingga dua bola api yang sangat panas ituhanya melintas di atas kepalanya lalu menghantam salah  satu tiang di ruangan itu. Brakk!

Tiang yang terbuat dari batu itu hancur dan roboh ke lantai. Wuss!

Werr!

Sekali lagi dua bola api melesat menyerbu Sanjaya. Tampaknya Purbasora tidak memberi kesempatan lawannya untuk menyerang. Namun seperti tadi, serangan ini hanya mengenai sasaran kosong. Kali ini mengenai lantai sehingga batu-batu tersusun di lantai bermuncratan seperti air. Sanjaya  yang  begitu gesit hanya melompat sambil jungkir balik.

“Kau merusak istana, kalau sudah tidak mau serahkan saja padaku!” Seru Sanjaya membuat hati Purbasora semakin panas.

Kemudian lelaki hampir tua ini berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan seluruh kesaktiannya. Dari kedua kepalan tangannya yang semula hanya membara kini berubah menjadi nyala api yang menjilat-jilat panjang. Dua tangannya laksana obor besar yang apinya menjulur panjang hampir menyentuh langit-langit.

Tidak hanya itu, dari mulutnya juga tampak menyembur lidah api merah yang dashyat. Tak ubahnya seperti pemain srkus yang menyemburkan minyak tanah ke api dari mulutnya.

Melihat hal ini, Sanjaya tahu kalau lawannya sedang mengeluarkan ilmu andalannya yang ganas dan tentunya sangat mematikan. Maka dia segera mengalirkan hawa saktinya ke seluruh badannya. Hawa sakti yang dingin sedingin es.

Akalnya memang cerdik, untuk menghadapi yang panas, dia melawannya dengan yang dingin. Sanjaya mengeluarkan ajian ‘Bayu Giri’ yang didapat dari resi Wanayasa. Sebuah ajian yang wataknya mendinginkan bahkan membekukan  suasana  sekitarnya bila digunakan. Tentunya dengan pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi karena lawannya juga tampak mengeluarkan ilmu pamungkasnya.

“Wayya!”

Purbasora menjerit sekencang-kencangnya laksana hendak merobek dinding-dinding istana. Kedua tangan di putar-putar lalu dihentakkan kedepan persis seperti melakukan gerakan mendorong sampai-sampai badannya condong kedepan dengan salah satu kaki menekuk di depan.

“Wusss! Werrr!

Lalu menyemburlah lidah api yang begitu besar dan dashyat dari kedua tangan dan mulutnya menjadi satu menyambar kearah Sanjaya. Siapa saja yang terkena api ini tubuhnya akan meleleh. Jangankan manusia, baja yang kuat dan besar saja bisa leleh. Sewaktu menghadapi Bratasenawa dia tidak menggunakan ajian ini karena ayahnya Sanjaya ini tidak begitu sakti seperti Sanjaya sekarang.

Sementara Sanjaya yang sudah bersiap-siap dari tempatnya berdiri. Dengan kekuatannya yang sudah mengalir penuh dia juga menghentakkan kedua tangannya kedepan menghadang serangan lawan sebelum lidah api yang dashyat itu membakarnya.

Cess!

Dari dua tangan Sanjaya menyembur kabut putih  dingin seperti salju, semakin lama semakin besar bahkan seluruh ruangan istana laksana dilanda hujan salju. Sehingga semburan lidah api yang berasal dari Purbasora perlahan-lahan mengecil. Hal ini juga membantu Santana saat mengeluarkan ajian Bayu Jangjang Dadali.

Lep!

Lidah api pun menjadi padam tertutup kabut dingin. Kini Purbasora tampak bergidik kedinginan. Seumpama sebatang besi yang membara lalu disiram air, begitulah keadaanya sekarang. Bahkan di sekujur tubuhnya tampak  retak-retak  seperti  retaknya kayu arang. 

Wuss! Bruukk!

Tubuh Purbasora mencelat lalu ambruk persis di  samping sosok Kuntawala yang barusan tergeletak lemah tak berdaya. Iblis Merah Hutan Mandapa ini tampak bergidik melihat keadaan Purbasora yang mengenaskan.

Tak berapa lama suasana yang seperti hujan salju itu kini kembali seperti semula.

“Sanjaya!” Santana memenggil. “Aku serahkan ayahku ini padamu untuk menerima hukuman yang  setimpal sesuai peraturan di negeri ini,” Katanya lalu menarik napas sejenak. “Dia sudah kehilangan semua kekuatannya, aku sudah memusnahkannya,”

“Kau memang bijaksana, sahabatku.” Ujar  Sanjaya.  “Kau tidak begitu saja langsung menjatuhkan tangan, tidak seperetiku yang membunuh Purbasora.”

Santana menyeringai sambil usap-usap kepoala. “Kurasa kau hanya terpaksa saja melakukannya..” “Ah tidak juga.”

Kemudian Sanjaya bergegas keluar yang masih  terdengar suara gemuruh dua pasukan yang sedang bertempur di malam yang masih buta.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menggelegar yang mengalahkan suara gemuruh ratusan prajurit.

“Purbasora pejah!”

Sekejap kemudian suasana menjadi sunyi begitu mendengar teriakan yang ternyata keluar dari mulut Sanjaya.

Tak berapa lama lalu terdengarlah suara senjata-senjata yang dijatuhkan. Yang melakukannya adalah prajurit-prajurit Galuh. Dan terdengarlah suara-suara sorak kemenangan.

“Hidup Prabu Sanjaya!” “Hidup!”

Begitulah akhirnya kekuasaan Purbasora di istana Galuh berakhir hanya selama tujuh tahun saja. Dengan demikian, Sanjaya sang pewaris sah kini yang  memegang  tampuk  kekuasaan. Selain itu karena dia juga menikahi cucu prabu Tarusbawa maka dia juga berhak menggantikan raja Sunda itu. Berarti Sunda dan Galuh yang sempat terpisah kini disatukan kembali oleh Sanjaya.

*** Saat Sanjaya menawarkan sebuah jabatan untuk Santana. Dengan tulus pemuda berambut gondrong terurai ini menolaknya dengan alasan masih ada tugas lain yang belum dilaksanakannya. Namun dia akan selalu mengingat sang Raja baru di Galuh itu dan akan tetap bersahabat.

Ya, Santana memang masih ada tugas lain, tugas yang diterima dari sang Garuda Bulu Emas. Untuk menghentikan sepak terjang dan melenyapkan ilmu sesat Birawayaksa penguasa hutan Mandapa. Dia juga harus menyelamatkan Anting Kemala gadis pujaan hatinya yang di sandera Birawayaksa.

Petualangan Santana belum selesai sampai di sini!

TAMAT