Santana dan Garuda Bulu Emas Bagian 1

Bagian 1

BAB 01 : ASMARA TERLARANG DI ISTANA GALUH

Suara Kendang Rampak menghentak diiringi alunan  gamelan berirama Ketuk Tilu, ditabuh sekelompok nayaga dengan penuh semangat membuat suasana pesta di malam  bulan  purnama  di dalam istana Galuh semakin meriah. Beberapa gadis manis berparas jelita tampak melenggak-lenggok lemah gemulai memperagakan tarian Ketuk Tilu. Tarian yang cukup terkenal pada masa itu. Semua orang yang menyaksikan tampak terhanyut dalam alunan gamelan yang menghentakkan jantung dan terbuai oleh keindahan gerakan penarinya. Bahkan sampai ada  beberapa orang yang melantai ikut Ngibing bersama penari yang cantik-cantik itu.

Pesta yang diadakan di istana  tepatnya  di  ruangan  besar yang bernama Bale Gede sebuah ruangan khusus untuk menjamu para tamu kerajaan dan acara-acara khusus seperti Istrenan atau penobatan termasuk juga pesta semacam ini. Ruangan ini tidak berdinding maupun sekat, hanya ada atap yang berbentuk indah terbuat dari kayu yang ditopang tiang-tiang berjumlah banyak di setiap sisi dan sebagian di tengah ruangan yang juga terbuat dari kayu besar seperti kayu jati.

Ini adalah pesta yang diadakan  oleh  raja sekaligus pendiri kerajaan Galuh, Prabu Wertikandayun. Sebagai rasa syukur atas kemajuan yang telah dicapai kerajaan Galuh yang baru beberapa tahun berdiri. Selain untuk para pejabat dalam istana dan kerabat keluarga istana, Prabu Wertikandayun juga mengundang seluruh raja-raja bawahan kekuasaan Galuh dengan  maksud  agar mereka pun ikut merasakan kesenangan itu. Prabu Wertikandayun juga memiliki sifat  yang  rendah  hati, tidak membeda-bedakan siapapun dimatanya. Tampak sang prabu dengan pakaian kebesaran raja yang penuh wibawa yang di kepalanya melingkar tanda kebesarannya yaitu Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, ikut berbaur bersama raja-raja bawahannya menikmati suasana yang meriah ini, bahkan tampak sesekali dia bercanda ria, menganggap semua orang seperti teman sepermainannya. Sehingga para raja bawahan merasa lebih dekat, tidak merasa sungkan yang berlebihan, dan menjadi  lebih hormat serta setia kepada Sang Maha  Raja  yang  kedudukannya  paling tinggi di Galuh. Hal ini membuat tali persaudaraan di antara mereka semakin erat.

***

Di antara semua orang yang tampak larut dalam kegembiraan, ada satu orang yang sepertinya tidak merasakan hal itu. Seorang lelaki muda berwajah tampan dan gagah yang di keningnya melingkar sebuah mahkota kecil yang duduknya agak terpisah dari yang lainnya, matanya selalu memandang kearah barisan tempat duduk permaisuri beserta para putri keraton. Dialah Raden Amara putra bungsu sekaligus calon pewaris tahta Galuh. Sang Putra Mahkota.

Dia tidak tertarik oleh gemulainya para penari,  dia tidak tergoda oleh nikmatnya makanan yang dihidangkan, dia juga tidak tergiur oleh manis dan segarnya buah-buahan dan aneka minuman. Dia lebih tertarik dan memperhatikan seseorang yang duduk disebelah ibundanya yang berada di barisan tempat duduknya para putri keraton. Seorang perempuan yang cantik rupawan berkulit kuning langsat telah mempesonakan sang pangeran,  membuat kedua matanya seolah tak mau berkedip, jantung berdetak kencang dan perasaannya tak menentu.

Seorang perempuan yang mengingatkannya dulu ketika dia ditugaskan oleh ayahandanya untuk menyampaikan surat penting kepada Prabu Tarusbawa, Maharaja baru di Tarumanagara. Surat yang berisi bahwa semua wilayah yang berada di sebelah timur sungai Citarum tidak lagi mengakui kekuasaan Tarumanagara dan memisahkan diri sebagai kerajaan yang berdaulat penuh di bawah bendera Galuh dengan Prabu Wertikandayun sebagai rajanya.

Ketika di perjalanan menuju Tarumanagara, secara tak sengaja Raden Amara berjumpa dengan seorang gadis yang kecantikannya begitu mempesona. Saat itu dia merasa gerah dan ingin mandi sebentar karena kebetulan dia  melewati  satu  sungai kecil yang airnya tampak bening dan segar mengalir di antara bebatuan sungai yang berwarna hitam gelap.

Begitu sampai di sungai dia melihat seorang gadis yang baru saja selesai mencuci pakaian. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang terurai, wajahnya begitu anggun memancarkan kelembutan, dia mengenakan pakaian atas berupa kemben disambung dengan pakaian bawah berupa Sinjang yaitu sebuah kain panjang yang biasanya bercorak batik.

Karena begitu cantiknya Raden Amara sampai  terpana,  dia lupa kalau dia hanya ingin mendinginkan badannya di sungai. Perasaanya jadi berdebar-debar. Sungguh gadis  yang  teramat cantik seperti bidadari yang turun dari  Kahyangan. Sementara  si gadis yang berkulit kuning langsat dan terlihat begitu mulus pertanda dia selalu merawat tubuhnya dengan baik jadi tersipu malu dipandang oleh seorang pemuda yang gagah lagi tampan, diam-diam hatinya pun tertarik kepada ketampanan si pemuda.

“Hyang Widi Yang Agung!” ucap Raden Amara. “Apakah engkau telah menurunkan bidadari-Mu disini?” lanjutnya yang merupakan sebuah pujian atas kecantikan si gadis.

Si gadis yang rambutnya panjang terurai lurus sampai menutupi punggungnya tertunduk semakin tersipu malu.

“Tuan jangan mengigau,” katanya agak gugup.  Suaranya begitu lembut dan merdu semerdu suara suling Sunda dan semakin memikat hati Raden Amara. “Saya bukan bidadari, saya hanya menusia biasa.”

“Tapi, aku seperti melihat bidadari!”

“Ah, tuan terlalu berlebihan…” walaupun menunduk tapi sesekali dia melirik juga karena ingin melihat ketampanan pemuda di depannya.

“Siapa namamu?”

Si gadis tampak malu untuk menjawab, namun akhirnya dia mengatakan juga namanya.

“Pohaci Rababu!” jawabnya.

“Ooh, nama yang begitu indah seindah orangnya…” lagi-lagi sang pangeran memuji, sepertinya dia sudah benar-benar terpikat oleh si gadis yang bernama Pohaci Rababu ini.

“Maaf, tuan siapa?” tanya Pohaci Rababu memberanikan diri. “Aku Amara!” Jawab  sang pengeran yang membuat si gadis

tampak terkejut. Rupanya dia mengenal nama Amara adalah salah seorang putra raja Galuh. Maklumlah si gadis tidak tahu karena saat ini Raden Amara berpenampilan seperti rakyat biasa saja, yaitu memakai baju tanpa lengan tanpa kancing yang ujung  bawahnya diikat   oleh   ikat   pinggang yang sekaligus mengikat celana komprangnya di bagian bawah. Maka dengan segera dia menjura hormat kepada si pemuda.

“Maafkan saya Raden…”

“Tidak usah seperti itu, nyai!” potong Raden Amara seraya memegang pundak Rababu hendak mengangkatnya supaya tidak berlutut. Hyang, alangkah lembutnya kulit Rababu saat  dipegang, ingin rasanya dia memegang lebih lama. Tapi segera dilepas kembali.

“Nyai Rababu…” “Ya, Raden…”

“Sebenarnya aku ingin lebih lama lagi bersama Nyai, mengunjungi rumah Nyai, berkenalan dengan orang  tua Nyai, dan ingin lebih akrab lagi dengan Nyai…” Kata Raden Amara pelan yang secara tidak langsung mengungkapkan perasaanya kepada Rababu walaupun baru bertemu sekarang.

Rababu hanya diam, rupanya dia juga memiliki perasaan yang sama kepada raden Amara. Sekarang gadis ini memberanikan diri menatap sang pangeran. Ternyata pengeran dari Galuh ini memang gagah, tidak dipungkiri kalau dia juga telah jatuh cinta kepada sang pangeran.

“Tapi…” lanjut Raden Amara. “Saat ini aku sedang mengemban tugas dari ayahanda Prabu mengantarkan surat kepada Prabu Tarusbawa di Tarumanagara. Tapi aku berjanji  sepulangnya dari sana aku akan menemui Nyai kembali. Maukah Nyai menungguku?”

Beberapa saat Rababu terdiam lalu menjawab. “Ya, Raden!” Raden Amara merasa senang mendengar jawaban itu.

Hatinya seperti melambung tinggi ke angkasa. Tampaknya si gadis sudah membukakan pintu buat dirinya. Kemudian dia pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Selama di perjalanan dia selalu terbayang akan pesona kecantikan Pohaci Rababu, seperti ingin cepat-cepat kembali menemui sang pujaan hatinya lalu membawanya ke istana.

Oleh karena itu raden Amara mempercepat perjalanannya. Sesampainya di Tarumanagara dan menyerahkan surat titipan ayahandanya, ternyata dia baru mengetahui kalau Prabu Tarusbawa telah mengganti nama Tarumanagara menjadi Sunda. Dan tanggapan atas isi surat itu dia tidak mempermasalahkan kalau Galuh   dan   semua  wilayah disebelah timur sungai Citarum memisahkan diri  asalkan berjanji kedua kerajaan akan berdampingan selalu dengan damai dan tidak akan saling menyerang satu sama lain.

Begitu Raden Amara sudah mendapatkan jawaban dari Prabu Tarusbawa, dia segera kembali ke Galuh. Tapi sesampainya di istana dia sangat terkejut ternyata Pohaci Rababu telah dinikahkan oleh ayahandanya dengan kakak pertamanya Rahyang Sempakwaja.

*** Raden Amara belum juga menolehkan pandangannya. Dia seperti menyelami dalam-dalam kecantikan Pohaci Rababu dari jauh. Seperti tidak ingin melepasnya walaupun dia tahu sekarang gadis anggun yang dijumpai di sungai dulu telah menjadi istri kakaknya. Tapi rasa cintanya kepada Rababu belum hilang.

Sejak pernikahan Rababu dengan kakaknya itu, Raden Amara tidak pernah lagi melihat perempuan pujaan hatinya karena Rababu diboyong oleh suaminya ke tempat tinggalnya yaitu sebuah padepokan sederhana di daerah gunung Galunggung. Karena Rahyang Sempakwaja, suami Rababu, lebih memilih hidup sebagai seorang Pandhita atau Resi ketimbang mengurusi tugas kenegaraan. Jadi, Rahyang Sempakwaja beserta Pohaci Rababu tidak tinggal di istana.

Akan   tetapi   rasa cinta Raden Amara yang semakin menggebu-gebu terhadap Rababu membuat dia tidak bisa melupakannya begitu saja. Setiap saat yang ada dalam pikirannya hanyalah Rababu, wajah perempuan rupawan itu selalu terbayang. Semakin hari semakin bertambah berat rasa rindunya kepada Rababu. Dan dia pun hampir gila. Untung saja dia mendapat akal bagaimana caranya agar dia bisa berjumpa lagi dengan Rababu.

Dalam sebuah pasewakan rutin antara raja dengan  para pejabat istana di ruangan yang bernama Bale Mangu. Raden Amara menyampaikan sebuah usul yang sebenarnya hanyalah akal-akalan saja agar dia bisa berjumpa dengan Rababu.

“Ayahanda prabu,” ucap Raden Amara sambil menjura hormat kepada Prabu Wertikandayun yang duduk di kursi kebesaran raja dengan sikap penuh wibawa. “Bolehkah ananda mengajukan sebuah usul?”

“Apa yang ada di benakmu, ananda?” balik tanya sang Prabu sambil terenyum. “Sebuah usul, apa itu?”

“Begini ayahanda…” Raden Amara menarik napas sejenak. “Semenjak Galuh memisahkan diri dan berdaulat penuh dari Tarumanagara yang kini berganti nama Sunda. Kerajaan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat,  bahkan  mungkin  lebih maju dibandingkan dengan Sunda…” Raden Amara berhenti sejenak untuk menarik napas.

“Lanjutkan, ananda,” sela Prabu Wertikandayun seraya menyapukan pandangan ke semua orang yang hadir.

“Ada baiknya ayahanda prabu serta kita semua yang ada di istana mengadakan acara pesta sebagai rasa syukur kepada Hyang Widi atas kemajuan yang telah kita capai…”

“Oh, bagus,  bagus,  teruskan  ananda!”  ujar  sang  Prabu.

Pejabat yang lain tampak mengangguk-anggukan kepala.

“Kita undang para kerabat yang tinggal di luar istana, juga semua raja-raja bawahan Galuh untuk ikut merayakannya.” lanjut Raden Amara.

Prabu Wertikandayun angguk-angguk.

“Hamba setuju, gusti prabu!” ujar salah seorang patih yang bernama Wirantaka. “Usulan Raden Amara sangat bagus untuk mempererat tali persaudaraan antara gusti prabu sebagai penguasa dengan raja-raja bawahan. Tentunya agar mereka lebih setia lagi kepada gusti prabu.”

“Baiklah aku juga setuju, ananda!”

Akhirnya keputusan sang prabu juga menyetujui usulan puta bungsunya.

Dan acara pesta itu kini sedang berlangsung meriah. Rencana sang pangeran berjalan dengan lancar apalagi kesempatannya untuk mendekati Rababu semakin terbuka lebar karena Rababu datang sendirian. Rahyang Sempakwaja  dikabarkan  sedang  sakit jadi tidak bisa menghadiri acara ini. Jadi Rababu datang untuk mewakili suaminya.

***

Saat malam telah larut, pesta pun usai. Semua orang telah kembali   ke peraduannya masing-masing.  Untuk para tamu undangan sudah dipersiapkan asrama khusus yang tempatnya di ruangan Puragabaya yaitu yang pada hari-hari biasa menjadi tempat istirahatnya para perwira kerajaan. Termasuk Kamar untuk istirahat Pohaci Rababu berada di Kaputren yang tempatnya menyatu dengan Bale Bubut yaitu tempat bersemayamnya keluarga raja.

Bale Bubut letaknya di belakang Bale Gede yang dipisahkan oleh Buruan (=halaman) yang menghubungkannya adalah jalan setapak yang lebarnya kurang dari satu tombak terbuat  dari batu-batu pipih tersusun rapi dan di pinggirnya tertanam tanaman-tanaman hias berbunga indah sepanjang jalan. Bale Bubut juga berada di tengah-tengah antara Puragabaya dan Istal.

Saat malam yang sepi itulah Raden Amara yang sudah berganti pakaian dengan sebuah jubah pendek tipis berwarna putih menutupi bagian atas tubuhnya, tampak bergerak mengendap-endap menuju kamar Rababu. Sebelumnya dia memastikan bahwa keadaan cukup aman. Begitu sampai di depan pintu kamar dia melihat damar di  dalam kamar masih menyala pertanda bahwa orang di dalamnya  belum tidur. Lantas dia langsung mengetuk pintu pelan-pelan namun cukup terdengar oleh orang di dalamnya.

“Siapa?” tanya Rababu dari dalam pelan. “Aku, Nyai!” jawab Raden Amara.

Begitu mengenali suaranya Rababu membuka pintu. Raden Amara langsung masuk ke dalam dan menutup  pintu  kembali dengan cepat. Begitu di dalam kedua orang ini saling pandang beberapa saat lamanya. Seperti mencurahkan kerinduan yang terpendam tanpa kata-kata. Tampak Rababu sudah berganti pakaianya berupa jubah tipis putih panjang menutupi seluruh badannya. Namun karena tipis, lekuk tubuhnya dari balik jubah jadi terlihat tembus pandang. Mereka saling manatap lekat  penuh makna, dalam hati masing-masing terasa bergejolak besar.

Suasana di kamar itu jadi hening, hanya dua pasang mata saja yang berbicara.

“Kanda Amara.” ucap lirih Rababu. Ada perasaan takut ada juga senang berjumpa lagi dengan sang pangeran.

“Nyai…” balas Raden Amara juga lirih masih menatap lekat kakak iparnya. Bibirnya mendadak kelu  untuk bicara.  Mungkin belum bisa  karena perasaannya  bercampur aduk antara rindu dan senang. Sesaat suasana jadi hening lagi.

“Bagaimana kabarmu, Nyai?” tanya Raden  Amara  setelah bisa menguasai perasaannya. Masih menatap wajah cantiknya Rababu. “Baik, kanda…” jawab Rababu juga menatap wajah pangeran tampan itu. Mungkin rasa rindunya belum habis.

”Aku sudah lama merindukan hal ini, Nyai..”

“Begitu juga aku kanda, ini sangat kebetulan sekali, kanda Sempakwaja juga sedang sakit..”

“Dengar, Nyai. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kanda sakit, dan acara pesta ini adalah atas usulku kepada ayahanda Prabu..”

“Apa!” Rababu terkejut tapi perasaannya itu segera hilang begitu  melihat  Raden Amara tersenyum, sebuah senyum yang memikat karena keluar dari wajah pangeran yang begitu tampan dan mempesona. Pangeran yang sebenarnya menjadi pujaan hatinya.

“Jadi kanda sengaja mengatur semua ini?”

“Ya,   hanya   untuk   bertemu   Nyai, aku begitu sangat merindukanmu Nyai..”

“Tapi aku adalah istri kakakmu..”

“Tapi  aku  tahu  isi  hatimu  Nyai..”  suara  Raden Amara memelan sambil mendesah dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rababu, dekat sekali. Lalu berbisik lirih. “Lupakan dulu tentang keadaan yang menghalangi kita untuk sementara ini,  aku  tahu semua ini tabu bagi kita. Adat di negeri kita melarangnya.”

“Maafkan aku,”

“Kenapa harus minta maaf, Nyai?”

“Ketika aku mendapat kabar dari ayahku, bahwa Prabu Wertikandayun akan menjodohkan salah seorang putranya denganku, aku mengira itu adalah kanda Amara, tapi ternyata…” Rababu tak bisa melanjutkan karena tak kuat menahan isak tangisnya.

Raden Amara mengerti maksud ucapan Rababu, lalu dia menimpali. “Aku juga yang salah, aku terlambat memberitahukan kepada ayahanda, seandainya…” dia tak melanjutkan ucapannya. Menarik napas sejenak. Menahan perasaan menyesal yang sangat dalam.

“Seandainya waktu itu aku pulang lebih cepat dari kerajaan Sunda…” Raden Amara melanjutkan. “Seandainya setelah bertemu nyai di sungai dulu aku tidak melanjutkan perjalanan tapi memberitahu ayahanda lebih dahulu,  seandainya…” Raden  Amara tak bisa melanjutkan   perkataanya karena Rababu tiba-tiba menghambur ke dalam  pelukannya  sambil  terisak-isak.  Memeluk erat seperti ingin melepaskan beban berat yang  membelenggunya. Ya, rasa cinta kepada raden Amara adalah penderitaannya karena dia sudah bersuami. Dibandingkan dengan Rahyang Sempakwaja suaminya, jelas Raden Amara lebih gagah dan tampan, karena suaminya hanyalah seorang yang mempunyai cacat  di  badannya yaitu giginya tanggal atau ompong.

Raden Amara tak menyia-nyiakan kesempatan ini,  dia memeluk erat-erat tubuh mulus Rababu. Bukankah ini yang diinginkan dari rencananya mengadakan pesta? Bukankah ini yang sangat diharapkannya, bisa berdekatan dengan sang pujaan hatinya walau sudah menjadi milik orang?

Cinta memang bisa membuat buta segalanya, termasuk buta adat dan aturan, mereka telah lupa bahwa hal itu adalah tabu untuk dilakukan. Semakin lupa lagi karena nafsunya yang membara, Raden Amara memeluk Rababu erat karena kecintaanya yang sudah melekat lama, dia begitu sangat  bernafsu  menginginkan kakak iparnya ini, kalaupun tidak bisa memilikinya secara utuh setidaknya untuk malam ini sajalah dia bisa memilikinya. Begitupun Rababu, dia tidak peduli lagi bahwa dia telah bersuami, semua ini karena perasaan cintanya kepada Raden Amara, pemuda  yang datang lebih dulu sebelum dia di jodohkan dengan suaminya sekarang. Dan dia semakin pasrah  menikmati  keindahan  yang sangat tercela ini.

Keindahan tabu!

Bagi Rababu, saat-saat seperti ini tentu sangat dibutuhkannya. Menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya. Seseorang yang telah mencuri hatinya pada saat pandangan pertama. Satu hal yang banyak merasuki hati perempuan adalah mengingat, mengenang, membanggakan, bahkan mengharapkan kembali cinta pertamanya.

Dan, dikamar yang temaram itu mereka telah dilanda mabuk asmara terlarang. Tiada seorang pun di istana Galuh yang tahu bahkan sampai prajurit jaga yang setiap malam selalu berkeliling menjaga kemanan juga tidak tahu.

Tetapi bagi seorang resi yang sangat sakti mandraguna, yang bisa menerawang ke alam jauh. Walaupun berada di suatu tempat yang jauh dari istana, walaupun dirinya dalam keadaan sedang sakit. Dia bisa merasakan apa yang terjadi di istana khususnya di kamar Rababu. Dialah Rahyang Sempakwaja.

***

Walaupun pesta hanya satu hari, tapi Pohaci Rababu menginap di istana sampai empat hari lamanya. Ketika dia telah kembali ke padepokan    suaminya di   Galunggung, Rahyang Sempakwaja yang sudah mengetahui perbuatan nista istrinya tidak pernah menggauli lagi sampai akhirnya Rababu mengandung kemudian   melahirkan   seorang anak  laki-laki, dan Rahyang Sempakwaja memberikan nama Sena kepada anak  laki-laki  itu. Sena artinya salah, maksudnya anak yang lahir  dari  hubungan salah.

Selanjutnya atas pengakuan Rababu tentang hubungan gelapnya dengan raden Amara, Sena diserahkan  kepada ayah aslinya dan dirawat di istana, bahkan raden Amara memberinya nama Bratasenawa.

Ketika prabu Wertikandayun   meninggal, raden Amara menggantikannya sebagai raja dengan gelar Rahyang Mandiminyak. Rahyang Mandiminyak mempunyai seorang istri  yang  sah  yaitu Dewi Parwati, putri Ratu Shima dari kerajaan Kalingga. Dari istrinya ini dia mempunyai anak perempuan yang diberi nama Sannaha yang setelah dewasa dinikahkan dengan Sena atau Bratasenawa.

Ketika Ratu Shima membagi dua kerajaan Kalingga  kepada dua putranya yaitu Raden Narayana dan Dewi Parwati sendiri. Rahyang Mandiminyak bersama Dewi Parwati bertolak ke Kalingga dan memerintah kerajaan yang menjadi bagian Dewi Parwati yaitu wilayah   bagian   utara  yang diberi nama Bhumi Sambhara. Sedangkan kerajaan Galuh diserahkan    kepada Sena alias Bratasenawa. BAB 02 : ANAK PENJAHAT

Dalam kegelapan malam di sebuah jalan terjal berbatu yang di kiri kanannya terhampar sawah-sawah yang luas seperti lautan tak bertepi. Jalan yang tidak begitu lebar menuju sebuah bukit bernama Cibaringkeng. Dua puluh orang yang berpakaian prajurit dan menunggangi kuda yang dipimpin oleh seorang berpangkat senopati tampak menggebrak kudanya supaya melaju cepat. Prajurit berkuda, berarti mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang memiliki kepandaian khusus dan lebih tinggi dari prajurit biasa. Kalau bukan melaksanakan tugas yang teramat penting, tentunya mereka tidak akan bergerak malam-malam begini.

Mereka adalah prajurit pasukan khusus dari kerajaan Indrakila, sebuah kerajaan kecil bawahan Galuh. Mereka ditugaskan untuk meringkus sekawanan perampok yang merajalela dan meresahkan rakyat Indrakila. Kawanan perampok ini dipimpin oleh seorang yang sangat sakti namun ganas dan kejam kepada mangsanya, namanya Kuntawala. Sebelumnya tidak ada orang yang mampu menghentikan kekejaman perampok ini, untuk itulah prajurit khusus ini ditugaskan. Konon para perampok ini tinggalanya di sebuah bukit bernama bukit Cibaringkeng.

Senopati Aji Dharma adalah orang yang dipercaya oleh istana untuk memimpin rombongan ini. Mengapa demikian? Karena sang senopati sudah dikenal cerdik dalam mengatur taktik perang bahkan sebelum menjabat sebagai senopati dia sempat menjadi seorang pendekar pilih tanding di dunia persilatan.

“Menjelang pagi nanti kita harus sudah sampai di bukit Cibaringkeng!” Kata senopati Aji Dharma diantara suara derapnya kaki kuda. Dia berada paling depan.

“Siap, tuan!” Sahut semua prajurit bersamaan, kompak. “Begitu sampai disana, kita langsung bergerak sesuai

rencana kita kemarin!” “Siap, tuan!”

Jalan yang mereka lewati banyak bebatuan terjal,  apalagi malam ini rembulan tidak  menampakkan  diri  dan  bintang-bintang pun tertutup awan hitam sehingga suasana semakin gelap. Tapi bagi mereka semua itu bukan sebuah halangan, dengan  kepandaian yang mereka miliki tanpa harus melihat pun mereka bisa merasakan keadaan sekitarnya. Sehingga mereka bergerak seperti keadaan di siang hari saja.

***

Bukit Cibaringkeng, terletak di wilayah kerajaan Indraprahasta sebelah utara dan agak ke timur tepatnya di sebuah desa bernama Leuwi Munding, sebuah bukit yang sebenarnya sudah bisa disebut gunung karena besar dan ketinggiannya yang sudah seukuran gunung. Tapi orang-orang di sekitarnya lebih suka menyebut bukit, mungkin dulunya hanya sebuah bukit kecil yang kemudian membesar. Ternyata tidak banyak  orang  yang  tinggal di sekitarnya di karenakan sekarang di puncak bukit itu sudah dijadikan sarang perampok. 

Menjelang pagi sebelum terdengar ayam berkokok. Puncak bukit masih tampak hening, sebuah rumah panggung besar terbuat dari kayu yang berdiri di situ juga tampak sepi karena para penghuni di dalamnya masih terlelap dalam mimpi. Hanya sebuah lampu kecil yang masih terlihat kedap-kedip apinya dihembus angin malam. Rumah panggung itulah yang dijadikan tempat tinggal para rampok pimpinan Kuntawala.

Maklumlah sekawanan rampok ini masih terlelap tidur, karena sudah terbiasa setiap malamnya mereka lewati untuk bersenang-senang menikmati hasil rampokan dan itu mereka lakukan sampai larut malam sehingga mereka mulai tertidur jika sudah merasa lelah dan ngantuk.

Taktik senopati Aji Dharma memang  tepat. Saat-saat seperti ini meringkus mereka tentu akan lebih mudah. Saat itulah prajurit khusus yang dipimpin senopati mulai bergerak sesuai tugasnya masing-masing. Enam belas prajurit mengepung di sekeliling rumah, empat orang yang lainnya bersembunyi di tempat lainnya sementara senopati Aji Dharma berada di tempat terpisah lagi.

“Suiiiit!”

Terdengar siulan keras, itu adalah siulan perintah dari senopati. Sesaat kemudian empat prajurit yang mengepung bagian depan rumah bergerak melompat ke teras rumah lalu mendobrak pintu dengan keras.

Brakk! Pintu jebol.

Tujuh orang di dalam rumah yang sedang terlelap terkejut seraya langsung bangkit sambil menghunus senjata dan bersikap waspada.

“Siapa kau!” Teriak salah seorang yang dekat dengan pintu begitu langsung melihat empat orang di depan pintu.

Empat prajurit yang mendobrak pintu tadi langsung melesat mundur kembali dengan gerakan yang amat enteng dan cepat pertanda kepandaian mereka memang tinggi. Hal ini memancing dua orang anggota rampok mengejar mereka keluar.

Set!

Dua anggota rampok ini mendarat di halaman rumah siap melancarkan serangan namun mereka terkejut karena di sana tidak melihat siapapun, empat prajurit itu sudah lenyap di kegelapan. Belum hilang rasa terkejutnya tiba-tiba dari atas langit terasa angin menyambar dengan kuat ke arah dua rampok ini.

Sreeet!

Tak sempat berkelit karena hari masih gelap dua anggota rampok ini tiba-tiba terjatuh ke tanah lalu badannya terseret jauh. Ternyata angin yang menyambar itu adalah sebuah jala besar terbuat dari tambang yang langsung menjaring dan  menyeret mereka ke arah kegelapan tanpa sempat berteriak lagi. Di tempat yang gelap itulah sudah menunggu dua prajurit lain yang langsung melumpuhkan dua perampok ini.

Kelima orang perampok lain yang agak  terlambat  melihat keluar rumah karena gerakan yang kalah cepat terkejut mengetahui dua kawan mereka sudah hilang padahal kejadian hanya beberapa kejap yang lalu. Ternyata salah seorang dari  mereka  adalah anak kecil yang masih berumur sepuluh tahun. Dia adalah  Santana anaknya sang pimpinan rampok, Kuntawala. Sedangkan Kuntawala sendiri yang kini berdiri tak jauh darinya adalah seorang yang perawakannya tinggi besar berkepala botak dengan kumis tebal melintang di atas bibirnya yang memberi kesan seram di wajahnya. Sangat pantas untuk wajah seorang pemimpin rampok.

Kuntawala menggeram marah, sangat marah. Karena di pagi-pagi buta ini sudah ada yang mengganggu ketentramanya saat beristirahat. Siapa lagi yang datang mengantarkan nyawanya? Pikirnya dalam hati.

“Tuan, ada orang yang mau  main-main dengan kita!” Ujar salah seorang anak buah Kuntawala dengan nada  sombong, mungkin karena selama ini mereka tak ada yang mengalahkan.

Kuntawala tidak menyahut, dia lebih mempertajam pandangannya ke sekitar halaman rumah. Suasana tampak sunyi seperti tak pernah terjadi apapun.

Sementara cahaya putih sudah terbersit di ufuk timur, namun suasana di bukit itu masih gelap.

Brakk!

Mereka dikejutkan lagi dengan suara dinding yang jebol di bagian belakang rumah. Serta merta dua orang anak buah Kuntawala langsung menghambur ke sana, mengejar  beberapa orang yang telah mendobrak dinding rumah.

“Jangan kejar!” Teriak Kuntawala yang sudah merasakan gelagat yang tidak beres namun terlambat,  dua  anak  buahnya sudah lenyap di belakang rumah.

Seperti tadi, begitu Kuntawala mengejar ke sarah sana. Suasana langsung sepi seperti tidak terjadi suatu apapun. Dua anak buahnya juga sudah lenyap lagi bagai ditelan kegelapan.

Meledaklah amarah  Kuntawala.  Dua  tangannya  mengepal sambil menggeram.

“Kurang ajar!” teriak Kuntawala memecah kesunyian pagi. “Tunjukkan siapa kalian, jangan menjadi pengecut. Hadapi aku dengan jantan!”

Namun sampai beberapa helaan napas keadaan tetap hening, tak ada yang menyahuti teriakkan Kuntawala.

Dan hari pun mulai terang.

Disamping Kuntawala, anak kecil bernama Santana ini sepertinya tidak merasakan takut atau apapun semacamnya. Raut wajahnya hanya menyiratkan pandangan kosong tidak juga tampak tegang seperti ayahnya. Mungkin karena masih polos belum mengerti apa yang tengah terjadi walaupun sebelumnya dia sudah sering diajak merampok bersama ayahnya.

“Ayo keluar!” Teriak Kuntawala lagi karena teriakannya yang tadi tak ada yang menyahut.

Suwirya, anak buah Kuntawala yang tinggal seorang  ini tampak waspada. Kedua matanya seolah tak berkedip memeperhatikan sekitar rumah, bersiap-siap kalau  tiba-tiba  ada yang menyerang.

Tak berapa lama akhirnya muncullah senopati Aji Dharma dari persembunyiannya diikuti   dua puluh prajurit anak buahnya. Beberapa di antara parajurit itu ada yang memegang ujung  tali sebuah jaring besar terbuat dari tambang. Ada dua jaring di setiap jaring itu terlibat dua orang anak buah Kuntawala yang sudah tak berdaya. Kalau tidak dengan cara yang cerdik tentulah anak buah Kuntawala itu tidak akan kalah melawan sepuluh orang prajurit sekaligus dalam pertarungan biasa. Melihat semua itu Kuntawala semakin berang, apalagi melihat senopati Aji Dharma. Pasti senopati itu yang punya akal, pikir Kuntawala.

“Senopati Aji Dharma!” Bentak Kuntawala marah.

“Ya,  ini   aku!”  Sahut  senopati   dengan  sedikit  senyum.

Memandang Kuntawala dengan pandangan mengejek.

“Cuih! Sungguh suatu cara yang amat memalukan dan pengecut!” Ujar Kuntawala. “Kalau berani hendak menangkapku bertarunglah dengan jantan.”

“Kenapa harus malu!” Ujar senopati. “Untuk menangkap penjahat sepertimu, tidak perlu memakai segala aturan dunia persilatan. Karena kau bukan seorang pendekar. Bukankah kau juga tidak mengenal belas kasihan kepada semua korbanmu?”

“Bedebah keparat…!”

“Menyerahlah, atau kau akan mati sia-sia!”

“Sombong kau Aji Dharma!” Bentak Kuntawala sudah habis kesabarannya. Empat anak  buahnya  sudah diringkus tak  berdaya, dia harus menyelamatkan mereka. Maka seketika itu juga dia dia melesat kedepan melancarkan pukulan tangan kosong namun mengandung tenaga dalam yang tinggi ke arah senopati Aji Dharma.

Sang senopati sigap, hal ini sudah sering dia alami. Dengan enteng dia berjungkir balik ke belakang menghindari serangan.

Blar! Blar!

Pukulan yang dilancarkan Kuntawala menimbulkan ledakan besar di tanah. Sesaat kemudian dia sudah mendarat dan siap melancarkan serangan berikutnya.

“Bersiap!” Teriak senopati Aji Dharma yang sudah berdiri jauh dari tempat berdirinya Kuntawala.

Empat belas prajurit bergerak mengepung.

“Dasar pengecut!” Teriak Suwirya, anak buah Kuntawala yang tinggal seorang seraya melompat masuk ke arena pertempuran mendampingi pimpinannya.

Ke empat belas prajurit itu tidak menggunakan  senjata pedang ataupun tameng seperti hendak perang. Tapi di tangan mereka masing-masing membawa tali tambang besar terbuat dari rotan yang ujungnya di buat suatu simpul. Cara ini seperti sedang mengepung binatang buas.

Kuntawala dan Suwirya kerahkan kekuatan  penuh,  mereka tahu kalau prajurit-prajurit ini adalah orang pilihan yang kepandaaiannya tidak bisa dianggap remeh. Dengan ajian paling dashyat yang mereka miliki mereka hendak menghancurkan semua lawannya.

“Heaaa…!”

Diiringi teriakkan yang menggema, Kuntawala dan Suwirya kerahkan tenaga dalam penuh dengan memutar-mutar kedua tangannya secara bersamaan di atas kepala. Inilah ajian ‘Badai Sagara’ ajian paling dashyat yang dimiliki dua orang rampok ini apalagi dikeluarkan oleh dua orang sekaligus. Sebuah ajian yang didapat dari gurunya Kuntawala sewaktu masih muda. Ajian yang menggunakan tenaga dalam penuh untuk mengendalikan udara atau angin di sekitarnya menjadi berhembus kuat, kencang dan dashyat. Dengan hembusan angin yang dashyat itu maka  lawan-lawannya akan   tertiup seperti kapas beterbangan. Ajian ini memang digunakan saat menghadapi kepungan atau lawan yang sangat banyak.

Tangan-tangan yang berputar itu sedang mengendalikan angin di sekitar bukit Cibaringkeng, menjadikannya berhembus kencang, semakin kencang dan ganas sehingga berubah seperti badai yang mengguncang bukit. Pohon-pohon kecil ada yang tercabut ada juga yang bertumbangan, sedangkan  pohon-pohon besar bergoyang-goyang seperti  hendak roboh dan rerumputan beterbangan perputar-putar. Di bukit itu seperti sedang dilanda badai angin puyuh yang dashyat.

Kuntawala lupa pada anaknya. Karena hembusan angin laksana badai ini, Santana yang masih kecil dan belum memiliki kemampuan apapun terbawa angin berputar-putar di atas. Dia berteriak-teriak minta tolong namum suaranya lebih kecil dari suara gemuruh angin jadi tiada seorang pun yang mendengar. Lama kelamaan anak ini terpental jauh entah kemana dan di mana jatuhnya.

Sementara itu senopati Aji Dharma masih berdiri tegak, tampaknya dia memiliki kekuatan untuk tidak terbawa oleh hembusan angin dashyat ini. Sedangkan para prajurit yang mengepung tampak melayang-layang terbawa angin, namun posisi mereka tetap seimbang sehingga tidak terbawa jauh oleh angin bahkan keadaan ini sepertinya sengaja sebagai salah satu taktik mereka.

Sangat cerdik, ke empat  belas  prajurit  ini  memanfaatkan badai angin sebagai cara untuk menyerang, mereka melayang-layang mengitari Kuntawala dan Suwirya yang terus memutar tangannya guna menghasilkan tiupan angin yang lebih dashyat lagi. Saat melayang di udara para prajurit saling melempar dan menyambut ujung tali tambang sehingga tali-tali itu terpentang. Jika dilihat dari atas mereka seperti sebuah kincir pemutar air dengan tali tambang itu sebagai jari-jarinya sementara titik tengahnya adalah Kuntawala bersama Suwirya.

Pada saat itulah ke empat belas prajurit melayang turun ke bawah sambil tetap berputar. Akibatnya Kuntawala dan Suwirya menjadi terlilit oleh tali-tali yang kuat ini sampai beberapa lilitan akhirnya mereka tak bisa bergerak lagi meskipun sudah mengerahkan semua tenaganya namun lilitan itu lebih kuat lagi lalu.

Brukk!

Kuntawala dan Suwirya yang terlilit jadi satu terguling ke tanah, mereka tidak bisa bersuara lagi karena lilitan itu membuat mereka susah bernapas hanya kedua mata Kuntawala yang menyorotkan penuh dendam. Angin badai pun berhenti berhembus karena yang punya ajian sudah lumpuh.

“Bagus!” Ujar senopati Aji Dharma. “Kalian hebat dan pantas mendapat hadiah yang besar.” Lanjutnya. “Bawa mereka semua ke istana untuk menerima hukuman!”

“Tuan senopati…!” Salah seorang prajurit menyela. “Bagaimana dengan anaknya Kuntawala?” Tanyanya mengingatkan.

“Jangan khawatir!” Jawab senopati. “Dia sudah terlempar jauh entah kemana oleh ajian Badai Sagara. Orang dewasa biasa saja bisa tewas di hantam angin itu, apalagi dia cuma anak  kecil.” Jelasnya menarik napas sejenak. “Kecuali ada orang yang menolong atau keajaiban Hyang.”

Kemudian rombongan yang dipimpin senopati Aji Dharma ini bergerak meninggalkan bukit Cibaringkeng dengan membawa hasil yang memuaskan. Sekawanan perampok yang sudah lama meresahkan rakyat kini sudah tak berdaya menjadi tawanan mereka.

Terbayang dalam pikiran mereka sejumlah hadiah yang akan diberikan raja kepada mereka atas keberhasilannya.  Semua  ini berkat taktiknya senopati Aji Dharma.

***

Santana melayang-layang seperti daun tertiup angin. Terkadang dia menghantam sebuah pohon yang membuat tubuhnya terasa remuk namun itu cuma sebentar karena ternyata di dalam tubuhnya sudah terisi sebuah ajian bernama ‘Wadah Rahayu’ yang gunanya untuk melindungi tubuh dari  segala macam  hantaman benda atau senjata, sejenis ilmu kebal. Ajian ini sengaja dimasukkan kedalam tubuh oleh ayahnya.  Karena  perbuatannya yang merugikan banyak orang, Kuntawala merasa sangat perlu memberikan perlindungan kepada anak semata wayangnya agar sewaktu dalam bahaya, Santana tidak mengalami suatu cidera apapun. Sementara dia sendiri tidak mamakainya karena sudah merasa kuat.

Begitu jauh Santana terbawa angin hingga semakin jauh semakin berkurang hembusan anginnya akhirnya bocah sepuluh tahun ini terjatuh lalu terkapar pingsan di pinggiran sebuah hutan.

***

Santana membuka matanya, suasana hangat langsung menyelimuti tubuhnya. Wajah polos itu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Berada di mana dia? Tanyanya dalam hati. Lalu perlahan dia bangkit ternyata dia berada diatas sebuah tempat tidur terbuat dari kayu. Saat menyapukan pandangan ke sekeliling dia melihat dinding-dinding kayu. Rumah! Ya dia berada di rumah tapi bukan rumahnya yang berada di bukit Cibaringkeng karena melihat bentuk dan warnanya dinding rumah ini berbeda dengan rumahnya yang di sana. Terus di rumahnya yang dulu tidak ada tempat tidur seperti ini karena di sana jika tidur hanya di lantai beralaskan tikar pandan.

Ini rumah orang lain. Pikir Santana. “Eh, sudah bangun jang!”

Satu suara terdengar. Dari luar pintu yang tak berdaun itu masuk seorang kakek agak bungkuk berpakaian serba putih yang bagian atasnya berbentuk selempang. Pakaian seorang resi. Rambutnya yang sebagian memutih digelung ke atas. Ditangannya membawa sepiring singkong dan ubi serta segelas air putih dalam gelas terbuat dari bambu.

Santana tidak menjawab, dia  hanya  memandang  lugu wajah si kakek yang bersih bersinar membuatnya merasa nyaman. Berbeda dengan ayahnya yang berwajah seram.

Si kakek meletakkan piring berisi ubi dan singkong serta air putih itu di dekat Santana.

“Siapa namamu, jang?”

Santana masih diam entah bingung entah apa, namun si kakek memaklumi akan sifat anak kecil yang terlihat polos ini.

“Ya, sudah.” Kata si kakek. “Sekarang makan saja dulu, kau pasti lapar.”

Tanpa ragu lagi Santana mengambil satu singkong dan memakannya dengan lahap. Perutnya memang terasa lapar. Begitu lahap sehingga cepat habis lalu minum. Sehabis minum  dia menghela napas sesekali dia memandang ke arah si kakek yang masih memperhatikannya.

“Kalau masih lapar, ambil lagi. Itu semua untukmu.” Kata si Kakek lagi. Dalam hati dia berkata. “Dalam tubuh anak ini ada satu ilmu yang melindungi dirinya dari bahaya, orang tuanya pasti bukan orang sembarangan. Lalu kenapa dia pingsan sendirian di jalan?”

“Aku benci ayah!” Tiba-tiba Santana berkata datar dengan sorot mata hampa.

“Apa?” Si kakek terkejut sambil mengerutkan kening belum mengerti apa maksudnya. Kata-kata itu pasti bukan ditujukan untuknya.

“Aku benci ayah!” Kata Santana lagi.

“Kenapa dengan ayahmu, jang?” Tanya si kakek mencoba mencari keterangan.

“Aku benci ayah!” Itu lagi yang diucapkan Santana malah semakin keras dan terlihat perubahan wajahnya yang kini seperti hendak menangis.

“Tenanglah, jang!” Ujar si kakek menenangkan sambil memegang pundak Santana.”Ceritakanlah kenapa kau membenci ayahmu?”

“Ayahku jahat…” Jawab Santana dengan suara datar lagi. “O, ya…”

“Dia suka merampok orang…” “Merampok?” Santana mengangguk pelan. “Siapa ayahmu?” “Kuntawala!”

“O…” Si kakek mengangguk-angguk kepala, dia tahu sekarang siapa ayah anak ini. Siapa yang tidak kenal dengan sekawanan perampok yang dipimpin oleh Kuntawala. Ternyata pimpinan rampok itu mempunyai seorang anak laki-laki.

“Lalu di mana ayahmu?”

Santana menggeleng, diam sejenak lalu  dengan  kata-kata yang belum lancar di menceritakan kejadian yang dia ingat di pagi buta di rumahnya dulu. “Malam  itu  aku,  ayah,  dan teman-teman ayah sedang tidur, lalu ada pintu didobrak, semua kaget, teman-teman ayah ada yang hilang, waktu sudah pagi aku melihat ada banyak orang di depan rumah, aku ingat ayahku  memanggil nama orang itu senopati Aji…Aji…Aji Dharma….” Begitulah cerita polos Santana  yang  walau pun dituturkan dengan tidak jelas namun si kakek tahu maksudnya apalagi mendengar nama Aji Dharma. Senopati yang terkenal cerdik dan sakti itu pasti sudah meringkus Kuntawala dan anak buahnya.

“Oh begitu ya, jang!” Timpal si kakek. “Tapi aki belum tahu siapa namamu, jang?” tanya si kakek mengalihkan pembicaraan.

“Santana.” “Santana?”

Si bocah mengangguk pelan. “Anak pemberani, maukah kau menjadi anak aki?” “Aki bukan orang jahat, kan?”

Si kakek tertawa pelan. “Bukan, aki ini orang baik…” “Nama aki siapa?”

“Namaku Wanayasa, orang-orang memanggil aki resi Wanayasa…”

“Aki resi Wanayasa?” “Ya!”

“Baik, aku mau menjadi anak aki. Tapi aki tidak merampok, kan?” Santana sepertinya masih ragu.

Resi Wanayasa kembali tertawa kali ini agak mengekeh melihat keluguan anak ini.

“Tentu tidak, Santana!” Jawabnya sambil mengelus-elus kepala Santana dan untuk pertama kalinya anak ini tersenyum setelah dari tadi tampak murung.

Akhirnya resi Wanayasa  yang  sudah lama  hidup  menyendiri di tempat itu kini mempunyai seorang anak angkat laki-laki bernama Santana. Walau Santana sebelumnya anak seorang kepala perampok yang kejam. Namum sang resi berpikir anak ini  masih polos dan masih bisa dididik dengan budi  pekerti  yang  baik. Tak lupa karena dia juga seorang resi yang sakti mandraguna maka dia pun mengajari Santana ilmu silat. Apalagi dalam tubuh  Santana sudah tersimpan ajian Wadah Rahayu sehingga dengan mudah anak ini bisa menguasai apa yang diajarkan sang resi. Resi Wanayasa adalah salah satu anak raja Galuh pertama prabu Wertikandayun. Dia adalah adiknya rahyang Sempakwaja dan kakaknya raden Amara atau rahyang Mandiminyak. Sama seperti kakaknya di juga lebih memilih hidup menjadi pandhita atau resi.

***

Di pinggir sebuah jalan yang menghubungkan kampung dengan hutan dan keadaannya cukup sepi, Santana sedang sibuk sendirian membereskan kayu-kayu bakar kecil yang sudah dipotong-potong unutk diikat. Kebiasaan baru setelah diangkat menjadi anak resi Wanayasa. Suatu kebiasaan yang membuatnya merasa berharga dan berguna bagi orang tua angkatnya. Tidak seperti dahulu berama ayahnya walaupun tidak kurang makan bahkan selalu lebih tapi rasanya seperti hambar. Ayahnya tidak pernah mendidiknya secara benar. Meski belum mengerti apa-apa tentang kehidupan di dunia ini tapi sedikitnya dia tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Semua kayu bakar sudah diikat dan siap di angkat namun tiba-tiba saja di jalan lewat tiga orang yang berpakaian prajurit bersenjata lengkap masing-masing menunggang kuda berhenti tepat di depan Santana.

“Lihat anak itu!” Seru salah seorang dari mereka. “Rasanya aku pernah melihatnya,” Ujar yang lain.

Lalu ketiga prajurit ini turun dan menghampiri Santana yang masih berdiri belum sempat mengangkat  bawaannya.  Melihat pakaian tiga orang ini Santana teringat akan peristiwa di pagi buta di rumahnya dulu.

“Ya, tidak salah lagi.” Ujar sawung. “Ternyata dia  masih hidup!”

“Kau benar!” Lambada menimpali. “Kebetulan sekali!” Timpal Sokanta juga.

Rupanya ketiga prajurit ini adalah prajurit yang dulu ikut bersama senopati Aji Dharma meringkus Kuntawala dan anak buahnya, dan mereka mengenali Santana. Mereka langsung bergerak mengurung Santana seperti hendak menangkapnya.

“Hai, bocah!” Sapa Sokanta. “Apa kau anaknya Kuntawala?” Tanyanya langsung.

Santana mengangguk pelan karena dia masih ingat nama ayahnya walaupun resi Wanayasa menyuruhnya untuk melupakannya.

“Jangan banyak basa-basi begitu, Kanta!” Sela Sawung bersikap tidak sabar.

“Tenang dulu,” Kata Sokanta menenangkan kawannya. “Jang, apa ayahmu ada bersamamu?”

Santana menggeleng, belum mengerti apa maksud oarng-orang ini.

“Ah, dia pasti bohong!” Ujar Lambada.

“Jangan bohong!” Sentak Sawung tapi langsung ditenangkan oleh Sokanta. Prajurit satu ini lebih sabar ketimbang dua orang kawannya.

“Jangan keras-keras sama anak kecil!” Pinta  Sokanta  pada dua kawannya. “Jang…” Lanjutnya kepada Santana. “Kalau kau beri tahu di mana ayahmu berada, aku akan memberimu hadiah yang bagus.” Bujuknya.

Namun Santana menggeleng lagi sementara Sawung dan Lambada sudah tidak sabaran untuk menangkap anak ini saja.

“Sudahlah!” Kata Sawung kemudian. “Kita langsung tangkap saja anak ini untuk dijadikan sandra supaya Kuntawala meyerahkan diri…”

“Benar!” Lambada mendukung. “Dari tadi juga aku berpikiran seperti itu, Cuma kau saja Kanta, yang banyak bertele-tele…”

“Ya sudah terserah kalian!” Kata Sokanta.

Sawung jongkok di depan Santana lalu berkata. “Jang, maukah kau ikut bersama kami?” Ajaknya

“Ya,” Lambada ikut-ikutan. “Nanti kau akan kami ajak melihat-lihat istana Indrakila yang indah…”

Seperti tadi Santana hanya menggeleng-geleng kepala saja membuat tiga prajurit ini kehabisan akal untuk merayunya  supaya mau ikut bersama mereka. Akhirnya dengan paksa Sawung hendak menarik tangan Santana.

“Jangan bawa dia!”

Tiba-tiba satu suara menggema terdengar seperti datang dari langit. Tiga prajurit terkejut. Lalu muncullah  sekelebat  bayangan putih yang tidak tahu datangnya dari mana tiba-tiba sudah berdiri di samping Santana.

“Bapak resi Wanayasa!” Ucap tiga prajurit ini bersamaan mengenali siapa yang datang.

“Kenapa kalian hendak membawa anak ini?” Tanya resi Wanayasa.

Tiga prajurit ini tampak gugup seperti menghadapi atasannya saja. Maklumlah resi sakti ini sudah terkenal di kalangan istana bahkan mereka tahu bahwa sang resi adalah salah satu anak penguasa Galuh.

“Begini bapak resi,” Sokanta memberanikan diri menjawab. “Bolehkah kami mengajukan pertanyaan lebih dahulu?”

“Apa itu?”

“Kenapa bapak resi seperti melindungi anak itu?” “Memang kenapa?”

“Bukankah dia anak Kuntawala pimpinan perampok yang kejam itu?”

“Ya, aku tahu. Dia sudah kuangkat menjadi anakku…” “Apa?!” Seru tiga prajurit lagi bersamaan.

“Aku tahu masalah kalian.” Kata sang resi. “Kuntawala melarikan diri saat hendak diberi hukuman, begitu bukan?”

“Iya, bapak resi” Jawab Sawung.

“Ketahuilah,” Lanjut sang resi. “Anak ini tidak tahu menahu soal ayahnya karena sudah beberapa hari ini dia selalu bersamaku, bahkan Kuntawala sendiri tidak tahu kalau anaknya aku rawat. Jadi, kalian jangan berprasangka buruk padanya, jelas!”

“Iya, bapak resi!”

“Sebaiknya kalian pergi saja, anak ini sekarang adalah tanggung jawabku!”

“Baik, bapak resi!”

Kemudian tiga prajurit ini menjura hormat dan pamit meninggalkan resi Wanayasa bersama Santana.

*** BAB 03 : PEMBERONTAKAN PURBASORA

“Aku datang menuntut hak!”

Suara itu datang menggema lebih dulu sebelum satu bayangan berkelebat masuk ke dalam Bale Mangu di mana tengah berlangsung pasewakan antara raja dan pejabat istana. Sosok ini langsung berdiri di tengah-tengah.

Di atas kursi kebesaran raja, prabu Bratasenawa yang mengenakan   jubah   kebesaran   raja   dan   Mahkota Binokasih Sanghyang Pake terkejut dengan kedatangan tamu yang tak diundang ini. Begitu juga dengan para pejabat istana yang lain.

“Purbasora!” Desis prabu Bratasenawa hatinya merasa curiga.

Sementara para pejabat lain terdengar saling bergumam.

“Kanda tidak diundang, dan datang dengan cara tidak sopan!” Sapa prabu Bratasenawa kepada orang yang baru datang yang bernama Purbasora. Seorang lelaki yang kira-kira tinggi badannya sama dengan sang prabu namun umurnya sedikit lebih tua.

Lelaki bernama Purbasora ini hanya mengenakan pakaian rakyat biasa, rambutnya memakai ikat kepala bercorak batik yang dibentuk sedemikian rupa hingga terlihat menyerupai  blangkon jawa.

“Aku bisa datang ke istana ini kapanpun aku mau!” Jawab Purbasora dengan suara lantang dan angkuh. “Karena kerajaan ini adalah milikku!” Lanjutnya sambil merentangkan kedua tangannya kesamping. “Apa maksud kanda?” Tanya prabu Bratasenawa semakin curiga namun masih tetap duduk dan bersikap tenang.

“Jangan berlagak bodoh, Sena!” Sentak Purbasora.

Sang prabu yang tadinya tenang kini tampak berubah raut wajahnya ketika Purbasora menyebut nama kecilnya, nama yang membuat dirinya merasa rendah dan malu.

“Tadi sudah aku katakan bahwa aku datang untuk menuntut hakku!” Lanjut Purbasora. “Akulah pewaris tahta Galuh yang sah!”

“Benar juga kecurigaanku!” Ujar prabu Bratasenawa dalam hati yang mengerti maksud Purbasora. “Aku mengerti kanda, tapi semua itu ada aturanya…”

Tiba-tiba Purbasora tertawa terbahak-bahak kemudian berkata. “Kau tahu aturan tapi kenapa kau masih duduk di situ?”

“Kanda memang benar!” “Ya, terus kenapa lagi?”

“Menurut aturan, yang mewarisi kekuasaan seorang raja adalah putra sulungnya…” Menjelaskan prabu Bratasenawa.

“Dan putra sulung aki prabu Wertikandayun suwargi adalah Rahyang Sempakwaja ayahku,” Potong Purbasora.  “Ini  berarti akulah yang mewarisi tahta Galuh karena aku adalah putra Rahyang Sempakwaja!”

“Tunggu…” Sela prabu Bratasenawa. “Apakah kanda lupa bahwa peraturan lainnya yang berupa syarat seorang raja adalah memiliki tubuh yang sempurna, alias tidak diperbolehkan seseorang yang mempunyai cacat di badannya menjadi seorang raja, dan itu dimiliki oleh uwa Sempakwaja dan juga uwa Wanayasa.  Jadi mereka tidak memenuhi syarat untuk menjadi raja. Maka yang kemudian yang berhak adalah ayahanda Mandiminyak.” Balas sang prabu tidak mau kalah.

“Boleh saja ayahanda memiliki cacat, tapi aku sebagai anaknya terlahir sempurna jadi menurutku garis warisnya langsung kepadaku setelah kepempinan paman Mandiminyak berakhir!” Kata Purbasora tetap mempertahankan pemikirannya.

“Tetap saja harus sesuai peraturan!”

“Peraturan apalagi!” Purbasora membentak lagi. “Lagi  pula apa hakmu menduduki tahta Galuh? Kau hanya seorang anak haram yang lahir dari hubungan salah antara ayahmu dengan ibundaku. Walaupun dilahirkan dari rahim yang sama, aku tak sudi mengakuimu sebagai saudara!”

Naik pitamlah prabu Bratasenawa karena perkataan Purbasora yang amat menghina. Dia bangkit dari duduknya.

“Jangan mengait-ngaitkan persoalan ini dengan masa laluku!” Ujar sang prabu meninggi nada bicaranya.

“Kenapa, Kau malu? Ini kenyataan. Justru kau yang lebih cacat dan tidak sempurna untuk menjadi seorang raja!” Maki Purbasora.

“Cukup, kanda!” Potong prabu Bratasenawa sambil mengangkat tangan kanannya. “Hubungan orang tuaku memang salah, tapi setiap anak yang lahir itu dalam keadaan suci…”

“Peduli apa dengan ucapanmu!” Potong Purbasora lagi. “Sekarang juga kau turun dari kursi itu dan serahkan kekuasaan Galuh kepadaku!” Perintahnya.

“Tidak bisa!” Sentak sang prabu yang sudang geram lebih-lebih karena Purbasora mengungkit soal asal-usulnya yang dia sendiri sebenarnya  merasa rendah dan malu bila mengingat siapa dirinya. Seorang anak yang lahir dari hasil perselingkuhan. “Layakkah aku menjadi raja?” Tanyanya dalam hati.

“Aku hanya akan menyerahkan kekuasaan   jika uwa Sempakwaja sendiri yang meminta karena beliau masih hidup dan kedudukannya sama dengan ayahanda, perintahnya berarti perintah ayahanda juga” Jelas prabu Bratasenawa.

“Kenapa harus bertele-tele seperti itu?” Purbasora kesal. “Anggap saja aku ini adalah utusan yang dikirim ayahanda Sempakwaja untuk meminta tahta Galuh darimu, Sena!”

“Sekali lagi tidak bisa, karena aku memegang amanat dari ayahanda Mandiminyak untuk menjaga keutuhan Galuh.  Walau harus mengorbankan nyawa…”

“Baiklah kalau begitu,” Kata Purbasora. “Aku terpaksa berbuat kekerasan, Aku menantangmu perang tanding. Jika kau kalah maka aku yang menjadi raja. Itulah satu-satunya cara.” Lalu  dengan angkuh Purbasora melangkah keluar, sebelum sosoknya lenyap di balik pintu dia masih sempat bersuara. “Jangan remehkan aku sekarang, Sena!”

Prabu Bratasenawa menarik napasnya lalu memberi isyarat kepada yang hadir di situ untuk berdiri lalu berkata.

“Aku merasakan sesuatu yang tidak enak,  aku  akan bertarung melawan saudaraku sendiri. Tapi aku yakin, kalian yang ada di sini semua mendukungku…” Para pejabat itu menjura hormat.

Prabu Bratasenawa melanjutkan. “Aku berpesan kepada kalian, jika aku kalah dan tahta Galuh jatuh ke tangan kanda Purbasora. Hendaknya kalian jangan tetap di istana karena lambat laun kalian pasti akan disingkirkan satu persatu atau sekaligus semuanya, kecuali yang setia kepadanya. Aku sudah tahu sifat kanda Purbasora.”

Para pejabat itu hanya menundukan kepalanya, entah apa yang ada dalam pikiran mereka.

“Paman patih Jayengrana!” Panggil sang prabu kepada patihnya.

“Hamba, gusti.” Patih Jayengrana menyahut.

“Aku percayakan kepada paman, jika aku kalah nanti aku minta paman membawa lari  istriku dan anakku Sanjaya mengungsi ke tempat pertapaan uwa resi Wanayasa di Denuh.”

“Baik, gusti!”

Perasaan prabu Bratasenawa diliputi keresahan. Pirasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Di  belakang Purbasora pasti ada sesuatu yang membuatnya  kuat. Pikir sang prabu menebak-nebak karena  dia  tahu siapa Purbasora sejak dari kecil.

Dengan langkah yang kurang yakin namun pasrah penguasa Galuh ketiga ini melangkahkan kakinya menuju alun-alun istana di mana Purbasora sudah menunggu untuk menantangnya di sana. ***

Di buruan depan Bale Mangu, sebuah halaman luas yang ditanami dengan rumput-rumput lebat dan hijau.

Puluhan prajurit berdiri tegap berjaga di depan teras Bale mangu. Begitu prabu Bratasenawa  keluar mereka  menjura  hormat. Di tengah halaman Purbasora beridiri angkuh. Dia tidak sendiri. Di belakangnya  berdiri  dua  orang dengan sikap yang sama. Satu orang yang wajahnya agak mirip dengan Purbasora adalah Demunawan saudara seayah seibu Purbasora. Sedangkan orang yang satunya adalah lelaki yang badannya tinggi  besar  berbaju merah dan kepalanya botak. Prabu Bratasenawa belum tahu siapa orang ini lantas menduga orang inilah tampaknya yang menjadi kekuatan besar buat Purbasora.

“Maafkan   aku, Sena!” Ujar Purbasora. “Aku terpaksa melakukan cara ini karena kau tidak mau menyerahkan kekuasaan Galuh secara baik-baik.”

Di belakang sang prabu para pejabat lain sudah berdiri hendak menyaksikan tarung patutunggalan antara raja mereka dengan Purbasora yang masih saudara raja sendiri.

“Sang Hyang Widi beri aku kekuatan!” Gumam prabu Bratasenawa memohon kepada yang Kuasa lantas dia melompat ke tengah lapangan berhadapan dengan Purbasora.

Purbasora memberi isyarat kepada dua orang di belakangnya agar menjauh dari arena. Demunawan dan si tinggi besar berkepala botak pun mundur beberapa tombak.

Di saat semuanya sudah siap Purbasora berteriak. “Bersiaplah, Sena!” Lalu menghambur memulai serangan. Sudah panas kuping prabu Bratasenawa setiap kali dipanggil nama ‘Sena’ oleh Purbasora, maka dia pun langsung menghalau serangan Purbasora tanpa banyak bertele-tele lagi dia langsung keluarkan jurus-jurus mautnya.

Maka  terjadilah pertarungan dua  saudara  satu ibu lain ayah ini, yang satu ingin merebut kekuasaan karena merasa lebih berhak, sedangkan yang satunya hanya mempertahankan karena mendapat amanat dari raja yang dahulu.

Prabu Bratasenawa, Pubasora dan  Demunawan, semasa kecil mereka adalah satu perguruan di padepokan Rahyang Sempakwaja ayahnya Purbasora. Walaupun Bratasenawa adalah anak kesayangan Rahyang Mandiminyak, tapi dia selalu dikucilkan oleh kedua saudaranya itu dengan alasan dia adalah  anak salah, anak yang lahir dari hubungan yang salah. Namun soal kepandaian ilmu silat saat itu Sena selalu lebih unggul dari dua saudaranya itu.

Beberapa jurus berlalu baik prabu Bratasenawa maupun Purbasora masih terlihat sama-sama bertahan belum ada yang terdesak salah satunya. Sebenarnya prabu Bratasenawa sudah menggunakan jurus ‘Tapak Wesi’ tingkat  tinggi,  jurus  yang  selalu dia gunakan untuk mengalahkan Purbasora sewaktu masih muda dulu. Tapi nampaknya Purbasora tidak gentar sedikitpun bahkan seperti percaya diri bisa menghadapinya. Dengan berani, Purbasora memapasi setiap serangan yang dilancarkan prabu  Bratasenawa. Ada satu yang dirasakan berbeda oleh sang prabu.

“Aku bukan orang yang dulu lagi, Sena!” Ujar Pubasora sambil tersenyum mengejek. Tampaknya mengerti apa yang dirasakan lawannya karena melihat perubahan wajah sang prabu. “Sekarang kau tidak akan mudah mengalahkanku!”

Dalam hati sang prabu membenarkan perkataan Purbasora. Tenaga dalam saudaranya itu sekarang telah meningkat di atas tenaga dalamnya.   Jurus-jurus   yang dikeluarkan pun bukan jurus-jurus yang didapat dari Rahyang Sempakwaja. Rupanya dia telah mempunyai guru lain selain ayahnya. Sekejap mata prabu Bratasenawa melirik kearah laki-laki berkepala botak yang berdiri bersama Demunawan. Mungkinkah dia guru barunya Purbasora?

Beberapa jurus kemudian mulailah prabu Bratasenawa terdesak. Karena tenaga dalam lawa yang setingkat lebih tinggi darinya, setiap pukulan yang dilancarkannya ditepis dengan mudah bahkan bisa membalik menyerangnya. Akibatnya sang prabu mendapat dua pukulan balasan sekaligus, yaitu pukulannya yang menyerang balik ditambah pukulan lawan yang menyusul begitu cepatnya.

Satu, dua pukulan menghantam bagian-bagian tubuh yang penting, seperti iga, rahang, dan perut. Meskipun prabu Bratasenawa telah meningkatkan kekuatan tenaga dalamnya disertai jurus-jurus yang lebih sempurna. Tapi kepandaian Purbasora kini di atas angin.

Hal ini membuat semua orang yang menyaksikan menjadi khawatir dengan raja mereka. Walaupun mereka tahu latar belakang sang raja tapi mereka sangat menghormatinya karena sifatnya yang sejak kecil sudah sangat baik dan berbudi luhur. Tidak seperti Purbasora yang seharusnya lebih bersikap baik karena dia anak seorang Pandhita. Memang, latar belakang seseorang tidak menentukan apakah sifatnya akan baik atau sebaliknya.

Set! Degh! “Aaaakh!”

Semua  orang   kecuali   Demunawan  dan  si   tinggi  besar berkepala botak terkejut melihat prabu Bratasenawa terpental lalu jatuh berguling-guling. Dari sela-sela bibirnya menetes darah segar. Karena tenaga semakin terkuras, sementara lawan semakin kuat, sang prabu tak bisa menghindari pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi.

Dia terluka di dalam tapi cepat bangkit kembali, sesaat pandangannya kbur lalu cepat menenangkan pikiran, mengatur napas dan aliran darah serta mengerahkan kekuatannya kembali secara penuh. Dia sudah siap kembali!

Purbasora menyeringai penuh ejekkan lalu melirik ke arah saudaranya. Demunawan dan orang berkepala botak membalas dengan senyuman. Senyuman kemenangan karena sebentar lagi Purbasora akan mengakhiri pertarungan ini dengan kemenangan di tangannya.

“Selamat jalan ke neraka anak haram!” Teriak Purbasora kemudian sambil menghentakkan dua tangan yang disertai ilmu pukulan yang mengandung tenaga dalam ke arah prabu Bratasenawa. Ajian ‘Angin Merah’ yang dia keluarkan, sebuah ajian yang bial digunakan, dari kedua telapak tangannya menghembus angin yang sangat panas dan bisa membakar lawan. Saat mengeluarkan pukulan ganas itu tubuhnya sampai condong kedepan.

Pada saat yang sama prabu Bratasenawa juga sudah mengeluarkan pukulan andalannya yang disertai tenaga dalam penuh. Ajian ‘Bayu Sukma’ yang didapat dari Rahyang Sempakwaja. Sebuah pukulan angin padat yang mengandung racun.

“Ciaaat!” Wuss!

Dari kedua tangan masing-masing melesat serangkum angin panas yang dashyat yang akibatnya bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya, tubuh mereka seperti terkena percikan bunga api yang panas.

Blarr!

Dua pukulan dashyat beradu keras sehingga menimbulkan ledakan dan menggetarkan seantero tempat, beberapa prajurit yang berjaga di depan teras tampak bermentalan, sementara para pejabat yang   menyaksikan  di  dalam  teras sampai tersurut beberapa langkah. 

Yang lebih mengejutkan adalah sosok prabu Bratasenawa terpental jauh bagaikan daun ringan yang terhempas angin melayang-layang. Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang menempel di keningnya terlepas. Melihat hal itu Purbasora segera menyambar benda yang menjadi tanda kebesaran raja itu.

Ternyata pukulan yang dikeluarkan Purbasora lebih kuat dibanding dengan pukulannya sehingga dia  tak  dapat  menghindar lagi dan pukulan Purbasora menghantamnya dengan ganas. Bahkan pukulan ajian ‘Bayu Sukma’-nya berbalik menghantamnya. Tubuhnya terasa sangat panas sampai ke dalam saat terkena dua hantaman sekaligus, hantaman pukulan lawan dan pukulanya sendiri yang berbalik.

Saat tubuh prabu Bratasenawa melayang-layang jauh hingga sampai ke kuta istana tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang menyanggah tubuh sang prabu lalu dengan cepat berkelebat lagi, lenyap.

Lelaki berkepala botak yang melihat kejadian itu terkejut  lalu secepat kilat dia pun melesat mengejar sosok bayangan yang menyambar tubuh prabu Bratasenawa.

Suasana di halaman depan  Bale Mangu  menjadi  gempar. Para pejabat istana segera meninggalkan  tempat  itu.  Sementara para prajurit yang berdiri di depan pendopo tampak bingung harus berbuat apa karena kalau melakukan perlawanan sama saja dengan bunuh diri. Purbasora terlalu tinggi ilmunya buat mereka walaupun jumlah mereka lebih banyak. Akhirnya mereka hanya terdiam saja.

Purbasora tertawa terbahak-bahak. “Dengarkan seluruh rakyat Galuh!” Serunya menggema karena disertai tenaga  dalam. “Mulai hari ini, aku Purbasora yang menjadi raja di Bumi Galuh, ha…ha…ha…!”

Tiba-tiba dari berbagai arah bermunculan ratusan prajurit bersenjata lengkap, sepertinya sebelumnya mereka sengaja bersembunyi. Dari pakaiannya dapat dikenali bahwa  ratusan prajurit ini adalah prajurit paling handal sejak jaman raja Purnawarman dari Tarumanagara, yaitu pasukan Bhayangkara dari kerajaan Inrda Prahasta.

Para prajurit Galuh yang sedang kebingungan akhirnya menjatuhkan senjata mereka dan berlutut di hadapan Purbasora yang sudah menyatakan diri sebagai raja.

*** Di luar kuta atau pagar istana sebelah belakang.

Di jalan yang menuju hutan lebat yang pohonya besar-besar dan tinggi, sesosok bayangan tampak berkelebat cepat sambil memanggul tubuh prabu Bratasenawa yang terluka parah di dalam. Di suatu tempat yang dirasakan sudah aman barulah dia menghentikan larinya lalu menurunkan tubuh sang raja.

“Terimakasih paman patih Jayengrana!” Ucap sang prabu yang masih sadar dan menahan rasa sakit di dadanya. Ternyata patih Jayengrana mempunyai kesaktian yang lumayan.

“Gusti prabu, segera telan obat ini lalu  pulihkan  kembali tenaga gusti,” Saran sang patih sambil memberikan beberapa obat yang berbentuk bulat-bulat kecil.

Prabu Bratasenawa  melakukan apa  yang  disarankan sang

patih.

“Tampaknya ada orang yang mengikuti kita!” Kata sang patih lagi sambil melihat ke belakang.

Ternyata benar pirasat sang patih. Lelaki tinggi besar berkepala botak kini sudah berdiri beberapa tombak di arah belakangnya. Untungnya prabu Bratasenawa sudah hampir selesai memulihkan kekuatannya. Ternyata Purbasora  sekarang  lebih sakti, ujarnya dalam hati.

“Gusti prabu!” Kata sang patih lagi. “Gusti  permaisuri  dan raden Sanjaya sudah menunggu di kereta kuda dan siap berangkat, mereka menunggu   di   ujung jalan sana,” Lanjutnya sambil menunjukkan arah yang di maksud. “Biar hamba yang menghadapi orang ini!”

“Sekali lagi terima kasih paman,” Ucap sang prabu lalu berdiri. “Jika sudah tidak memungkinkan untuk melawan maka janganlah paman memaksa diri untuk melawan lagi, lebih baik mundur dulu…”

“Baik, gusti!”

Kemudian prabu Bratasenawa segera berlari ke arah tempat yang di maksud sang patih.

“Jangan lari kau!” Teriak si botak hendak mengejar sang prabu namun keburu dihalangi oleh patih Jayengrana.

Di ujung jalan sana akhirnya sang prabu menemukan sebuah kereta yang ditarik oleh dua kuda yang di dalamnya sudah ada permaisuri beserta anaknya yang masih berumur sebelas tahun. Tampak seorang kusir duduk di depan dan empat prajurit pendamping berdiri di sekeliling kereta.

“Ki Kusir dan kalian prajurit!” Panggil prabu Bratasenawa setibanya di situ.

“Hamba gusti!” Jawab mereka serentak sambil menjura hormat.

“Kalian boleh pergi, biarkan kami sendiri yang pergi!”

Sesaat pak kusir dan empat prajurit melongo, sebagai abdi tentunya mereka akan menemani perjalanan sang raja. Tapi apa boleh buat kalau sang raja sendiri sudah memerintahkan demikian. Mereka pun segera berlalu meninggalkan sang prabu beserta keluarganya.

Kemudian kereta yang ditarik dua kuda itupun bergerak meninggalkan tempat itu, meninggalkan istana Galuh yang kini telah berpindah tangan kekuasaanya. Prabu Bratasenawa sendiri yang menjadi kusirnya. Dalam hatinya masih mendendam terhadap Purbasora lalu dia berharap kepada Sanjaya anaknya, dia berharap suatu saat nanti anaknya akan merebut kembali tahta Galuh dari tangan Purbasora.

*** BAB 04 : WEJANGAN SANG RESI

Di sebuah bukit kecil  yang  ditumbuhi  banyak  pohon-pohon besar dan tinggi sehingga keadaannya terasa menyejukkan. Sebuah bukit yang berada di daerah yang bernama Denuh,  masih  termasuk wilayah Galuh. Dua orang anak kecil yang umurnya kira-kira sebelasan tahun, yang satu berkulit sawo matang yang satunya lagi berkulit putih tampak begitu semangat memainkan jurus-jurus silat dengan gerakan-gerakan yang indah namun cepat dan berisi di halaman depan sebuah rumah panggung terbuat dari kayu.

Udara pagi begitu sejuk dan segar menambah rasa semangat kepada dua bocah itu. Resi Wanayasa berdiri di teras rumah memperhatikan semua gerakan anak didiknya. Anak yang berkulit sawo matang itu adalah Santana, anak angkatnya. Lalu siapa anak satunya?

Diceritakan sekitar satu setengah tahun yang lalu setelah Santana dijadikan anak angkatnya, resi  Wanayasa kedatangan prabu Bratasenawa anak Amara alias Rahyang Mandiminyak, adiknya. Beserta Sannaha istri sang prabu, raja Galuh  yang tersingkir ini menitipkan Sanjaya, anaknya. Karena di istana telah terjadi penggulingan kekuasaan yang dilakukan Purbasora. Sementara mereka berdua mengungsi ke negeri ibunya Sannaha, Dewi Parwati.

Jadi anak berkulit putih itu adalah Sanjaya yang  masih cucunya sang resi. Dengan demikian Santana mendapatkan teman sebayanya.

Resi Wanayasa dalam mendidik mereka tidak membeda-bedakan    siapa Sanjaya dan   siapa Santana. Tapi semuanya dianggap sama sehingga antara keduanya terjalin persahabatan yang akrab. Santana yang polos serta sikapnya yang agak ketololan dan Sanjaya yang rendah hati, ramah, serta tegas layaknya sifat seorang raja karena dia memang keturunan raja.

Tidak hanya memainkan jurus  secara bersamaan, tapi mereka juga kadang bertanding satu lawan satu dari mulai jurus tangan kosong sampai menggunakan senjata. Namun  karena mereka masih kecil jadi senjata yang digunakan juga bukan senjata betulan seperti pedang yang terbuat dari kayu dan lain-lainnya.

***

Enam tahun kemudian kedua anak itu kini menjadi  remaja yang beranjak dewasa yang gagah dan tangguh berkat gemblengan resi Wanayasa. Santana selalu membiarkan rambutnya yang gondrong terurai di pundaknya namun masih menampakkan pesona yang indah apalagi saat tertiup oleh angin sehingga tampak melambai-lambai ditambah wajahnya yang cukup tampan.

Sedangkan Sanjaya selalu merapikan rambutnya dengan cara digelung, ini akan memudahkan dirinya saat bergerak dan terasa ringan. Intinya kedua pemuda ini memiliki perawakan yang kekar, dada bidang dan perut yang berbentuk kotak-kotak yang menandakan ototnya kekar.

Saat tengah hari tiba mereka menghentikan latihan silatnya lalu beristirahat sambil menyantap makan siang di teras rumah. Tak lupa resi Wanayasa selalu menemani mereka saa-saat seperti itu. “Sanjaya!” Panggil sang resi memulai pembicaraan. “Ya, ki!” Sahut Sanjaya.

Sementara Santana hanya melirik sambil memakan singkong bakarnya dan mengusap-usap bagian  belakang kepalanya  dengan tangan kiri.

“Kau masih ingat saat pertama datang kesini?” Tanya si kakek yang agak bungkuk ini kepada Sanjaya.

“Emmh,  masih!” Jawab  Sanjaya  sambil angguk-angguk. “Apa yang dikatakan ayahmu sebelum kau dititipkan di sini?”

“Kata ayahanda begini, di sini kau akan menimba ilmu yang lebih banyak dan lebih tinggi lagi yang tidak  pernah  diajarkan  di istana sampai kau dewasa dan siap mengantikan ayahanda. Begitu, Ki!” Tutur Sanjaya.

“Terus apakah kau tahu keadaan istana waktu itu?”

Sanjaya terdiam sejenak lalu menggeleng. Kelihatannya dia mengingat-ingat sesuatu.

“Kau ingat sesuatu?” Tanya sang resi yang langsung mengetahui karena raut wajah Sanjaya yang demikian.

Di samping Sanjaya sepertinya Santana acuh saja sambil menikmati makanan dan mengusap-usap bagian belakang kepalanya  padahal telinganya selalu siap mendengarkan percakapan Sanjaya dan orang tua angkatnya itu.

Setelah menarik napas panjang Sanjaya menjawab.  “Aku ingat waktu itu, waktu hendak berangkat kesini. Pertama, aku dan ibunda diantar oleh patih Jayengrana menuju belakang istana yang sudah ada kereta kudanya di sana, anehnya kenapa jalannya ke belakang?” Tutur Sanjaya lagi lantas melanjutkan. “Kedua, saat aku dan ibunda sudah berada di dalam kereta kuda. Tiba-tiba ayahanda datang seperti tergesa-gesa dan langsung menyuruh pak kusir serta prajurit pendamping pergi, katanya biar ayahanda sendiri  yang menjadi kusir…” Sanjaya mulai menangkap sesuatu  yang  aneh dalam pikirannya. Maklum waktu itu dia masih kecil belum mengerti apa-apa.

“Kemudian!” Lanjut Sanjaya seperti ada yang terlupa tadi. “Pada saat perjalanan menuju kesini, ayahanda selalu terburu-buru melarikan kudanya seperti sedang dikejar-kejar orang saja!”

Santana tampak angguk-angguk kepala sepertinya dia juga mengerti dengan apa yang dituturkan Sanjaya.  Ada  yang  aneh dalam perjalanan Sanjaya dan kedua orang  tuanya  waktu  itu, kembali pemuda gondrong ini mengusap-usap bagian belakang kepalanya.

Sanjaya menghela napas, dia berpikir-pikir baru terasa sekarang kalau saat itu ada yang janggal. Mungkin kakeknya ini sebenarnya tahu apa yang terjadi, makanya sejak tadi dia menanyakan hal itu. Tapi apa maksudnya? Yang ini dia belum memahami.

“Aki pasti mengetahui sesuatu!” Ujar Santana yang sejak tadi cuma jadi pendengar.

“Ya, benar!” Timpal Sanjaya sambil menoleh kearah Santana. Mendadak dalam pikirannya ada satu cara untuk memancing kakeknya untuk memberi keterangan.

Sang resi memandang dua muridnya silih berganti, sepertinya dia tahu rencana cucu dan anak angkatnya itu. “Baiklah!” Ujar sang resi.

Santana dan Sanjaya pun saling pandang lagi dan tersenyum, umpannya mengenai sasaran.

“Untuk diketahui kalian berdua…” Kata si kakek. “Terutama Sanjaya sebagai keluarga istana, terlebih dahulu akau akan menuturkan asal-usulmu…”

Santana tegakkan badan yang semula duduknya nyeleneh. “Kenapa kau?” Tanya Sanjaya.

“Ini serius!” Jawab Santana dengan raut wajah yang agak tolol dan sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya. “Jadi aku harus mendengarkan dengan seksama.”

Sanjaya tertawa mengikik. “Ada-ada saja kau!” “Sudah siap?” Tanya sang resi.

“Siap, ki!”   Jawab Santana sedangkan Sanjaya hanya mengangguk.

Resi Wanayasa menarik napas sejenak lalu mulailah dia bercerita. “Prabu Wertikandayun pendiri kerajaan Galuh mempunyai tiga anak laki-laki. Yang pertama adalah Rahyang Sempakwaja, kedua aku sendiri dan ketiga  Rahyang  Mandiminyak. Karena  aku dan kakakku memiliki cacat di tubuh maka kami tidak memenuhi syarat untuk menggantikan beliau  menjadi  raja. Akhirnya  jatuhlah hak waris sebagai raja kepada Mandiminyak karena dia  tidak memiliki cacat. Selanjutnya kanda Sempakwaja dinikahkan dengan Rababu yang ternyata antara Rababu dengan Mandiminyak  sebelumnya sudah saling jatuh cinta. Karena Mandiminyak sangat tergila-gila kepada Rababu, jadi dia sering mencari cara  bagaimana  supaya bisa bertemu dengan Rababu secara diam-diam sebab Rababu tidak tinggal di istana melainkan di padepokan Sempakwaja. Kakakku itu memilih hidup menjadi Pandhita seperti aku.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Pada saat kanda Sempakwaja dalam keadaan sakit, Mandiminyak mendapatkan cara yaitu mengundang Rababu ke acara pesta syukuran di istana. Sebenarnya acara ini juga atas usulannya kepada  ayah prabu. Di saat pesta itulah Mandiminyak dan Rababu bertemu secara diam-diam bahkan lebih dari itu.

Dari hubungan yang diam-diam itulah akhirnya Rababu mengandung lalu melahirkan anak yang diberi nama Sena oleh Sempakwaja,   sena   yang   artinya salah. Tapi Mandiminyak memberinya nama Bratasenawa.”

Santana mengangguk-angguk sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya. Sedangkan Sanjaya hanya menunduk, nama yang disebut terakhir tadi adalah ayahnya. Ternyata ayahnya adalah anak dari hasil hubungan salah atau gelap.

“Sebelumnya…” Sang resi melanjutkan.” Rababu sudah mempunyai anak dari Kanda Sempakwaja yaitu Purbasora dan Demunawan. Karena tahu bahwa Sena adalah bukan anaknya maka kanda Sempakwaja menyuruh Rababu untuk menyerahkan Sena kepada ayah aslinya yaitu Mandiminyak. Setelah dewasa Sena dinikahkan dengan Sannaha anaknya Mandiminyak dari  istrinya yang sah yaitu Dewi Parwati…”

“Jadi ayahanda dan ibundaku adalah saudara satu ayah tapi lain ibu!” Ujar Sanjaya.

“Ya, betul!” Timpal Santana sambil angguk-angguk pelan. Sang resi juga mengiyakan lalu melanjutkan ceritanya.

“Ketika Mandiminyak mendapatkan warisan dari ratu Shima, mertuanya dari kerajaan Kalingga, maka tahta Galuh diserahkan kepada Sena…”

“Warisan dari ratu Shima itu apa?” Tanya Santana memotong sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya.

“Sebenarnya warisan itu untuk Dewi Parwati yaitu wilayah kerajaan   Kalingga sebelah   utara yang diberi nama Bhumi Sambhara.” Jawab sang resi.

“Wah, jadi raja lagi!” Ujar Santana. “Ya, begitulah!” Timpal sang resi. “Selanjutnya?” Tanya Sanjaya.

“Selanjutnya anak kanda Sempakwaja, Purbasora tidak senang atas naik tahtanya Bratasenawa karena dia merasa lebih berhak atas tahta Galuh sehingga dia memberontak dan menggulingkan kekuasaan ayahmu, Sanjaya.”

“Apa?” Sanjaya tidak percaya. “Kapan itu terjadinya, apakah saat aku sudah berada di sini?”

“Saat Barasenawa mengantarkamu ke  sini itulah sebenarnya di istana telah terjadi perebutan kekuasaan. Ayah dan ibumu mengungsi ke negeri akimu karena tak bisa mempertahankan tahtanya…” Jawab sang resi. Terjawab sudah keanehan yang dirasakannya dulu.

“Jadi sekarang Purbasora berkuasa di Galuh?” Tanya Sanjaya kemudian setelah merenung sejenak.

“Ya, sudah enam tahun lamanya…” Jawab sang resu. “Dan sekarang sudah saatnya kau merebutnya kembali!”

“Aku?!” Tanya Sanjaya.

Santana melongo mengusap-usap bagian belakang kepalanya.

“Iya,” Jawab sang resi. “Bukankah kau juga seorang pangeran Galuh yang kelak akan mewarisi tahta Galuh? Ilmu-ilmu yang sudah aku ajarkan selama enam tahun sudah cukup mampu untuk manghadapi Purbasora. Satu lagi…” Sang resi  berhenti sejenak menatap silih berganti kearah dua muridnya. “Ini adalah permintaan ayahmu juga, Sanjaya. Dia menaruh harapan padamu agar kelak menjadi penerusnya.”

Suasana jadi hening. Angin sejuk bertiup menyegarkan mengibaskan rambut Santana yang terurai. Dalam  hati  Sanjaya mulai tumbuh benih-benih dendam begitu mengetahui apa yang terjadi atas ayahnya. Ternyata untuk  inilah ayahnya  menitipkan dia di sini. Ini berarti amanat dari ayahnya.

“Terus sekarang bagaimana?” Tanya Santana memecah keheningan.

“Sekarang sudah saatnya aku memberikan tugas kepada kalian.” Jawab si kekek. “Kalian akan turun gunung,”

Santana dan Sanjaya saling pandang lalu menoleh lagi kearah gurunya.

“Tugasnya sudah aku katakan tadi…” Lanjut sang resi. “Yaitu merebut kembali tahta Galuh dari tangan Purbasora untukmu Sanjaya. Dan kau Santana, tugasmu adalah membantunya…”

“Ya, ki!” sahut Santana.

“Bukankah kau ingin menjadi seorang pendekar yang baik hati!” Ujar sang resi kepada Santana sambil menatapnya. “Kau ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kau orang baik dan suka menolong tidak seperti ayahmu yang seorang  perampok.” Tutur sang resi mengucapkan kembali keinginan Santana waktu kecil yang terdorong dari sifat ayahnya yang jahat maka dia ingin menjadi orang yang lebih baik dari ayahnya.

“Ya, ki!” Jawab Santana lagi. “Kabarnya ayahku kini jadi buronan kerajaan Indrakila. Aku ingin mencarinya bahkan kalau bisa aku sendiri yang akan mengadilinya!” Geram Santana.

“Satu hal yang sangat penting yang harus kalian  terapkan dalam menjalankan tugas nanti,” Kata resi Wanayasa.  “Yaitu janganlah kalian melakukannya dengan didasari rasa benci dan dendam. Karena dendam hanya akan membawa petaka bagi diri kalian sendiri,” Sang resi menarik  napas sejenak lalu menatap  ke arah Santana. “Termasuk juga kau, Santana!” Ujarnya. “Sebenarnya dalam hatimu ada dendam terhadap ayahmu sehingga kau berkeinginan untuk bersifat baik sebagai bentuk perlawanan terhadap ayahmu yang jahat!”

Santana menundukan kepala merasa benar apa yang diucapkan sang resi tentang perasaannya.

“Niatmu memang baik, Santana.” Lanjut sang resi lagi. “Tapi sekali lagi, jangan timbulnya niat baikmu hanya karena nafsu apalagi dendam. Tetapi harus ikhlas, tanpa pamrih. Jangan mengharapkan suatu saat orang akan mengatakan ‘wah ternyata anak seorang perampok berhati baik, berbudi luhur’ dan sanjungan-sanjungan lain…”

Santana makin menunduk.

“Ikhlaskan perbuatan baikmu, jangan mengharap balasan dari manusia dan pasrahkan semua kepada Sang Hyang Widi.”

Kemudian   sang resi   berganti   manatap pemuda yang rambutnya digelung. “Sanjaya!” katanya.

“Ya, ki!”

“Memang secara garis keturunan kau adalah  pewaris tahta. Tapi janganlah merebut tahta hanya karena dendam ayahmu. Karena ingin memiliki istana yang megah, harta yang melimpah serta kekuasaan yang besar. Itu sama saja dengan merampok. Dasarilah hatimu dengan niat menegakkan kebenaran, menumpas kesewenangan, keserakahan dan ketidak-adilan. Lebih dari itu, dan ini yang paling penting adalah memakmurkan negeri dan menyejahterakan rakyat…” Panjang lebar sang resi memberi wejangan  kepada  cucu  dan anak angkatnya membuat tenggorokannya terasa kering. Akhirnya dia meminum air yang terhidang di depannya.

Sementara dua murid sang resi tampak mematung larut dalam pikirannya masing-masing.

Kakek bungkuk yang rambutnya hampir memutih semua ini menghela napas setelah minum air putih tadi kemudian melanjutkan bicaranya.

“Kita boleh saja  memiliki harta yang melimpah, kekuasaan atau kepandaian dan kesaktian. Tapi itu semua hanyalah titipan semata dari Yang Maha Kuasa, bahkan termasuk nyawa kita juga. Kita hanya mengaku-aku saja. Jika Yang Maha Kuasa berkehendak mengambilnya kembali, kita tak akan bisa  berbuat apa-apa. Kalau kita kehilangan harta atau kekuasaan baik itu dirampok atau direbut, janganlah kita merasa keberatan atau merasa tak ada gunanya jika hidup tanpa itu semua, justru itu akan meringankan tanggung jawab kita atas harta yang kita miliki itu…”

“Tanggung jawab?” potong Santana belum mengerti.

“Karena kelak saat Yang  Maha  Kuasa  memanggilmu,  Dia akan menanyakan dari mana kau mendapatkan harta lalu digunakan untuk apa harta yang  kau miliki itu…” Jawab sang resi. “Dari mana kau mandapatkannya? Apakah dari jalan berdagang atau merampok? Lalu digunakan untuk apa? Apakah hanya untuk berpoya-poya menghambur-hamburkannya untuk diri sendiri? Atau juga untuk menolong sesama yang kekurangan, berbagi dengan yang lain?”

“Kalau dari merampok dan hanya untuk kesenangan sendiri?” Tanya Santana lagi karena hal ini menyangkut pada pekerjaan ayahnya.

“Kau akan dijebloskan ke Kawah Candra Dimuka!” Jawab sang resi.

“Kawah Candra Dimuka?” Ulang Sanjaya. “Ya, sama dengan neraka!”

“Ohh…” Kedua pemuda mengangguk.

“Apalagi kehilangan tahta  atau kekuasaan!” Ujar sang  resi lagi.

Sanjaya mengangguk-angguk pelan   pertanda mengerti. Memegang kekuasaan tentunya sangat besar lagi tanggung jawabnya terutama dalam mensejahterakan rakyat. Sebab kalau rakyat sampai sengsara sudah pasti bukan hanya akan dibenci dan dicemooh oleh rakyat saja sewaktu masih hidup, tapi hukuman dari Yang Maha Kuasa nanti akan lebih berat. Ada pepatah mengatakan bahawa suara rakyat adalah suara Tuhan.

“Sudah paham, kalian?” Tanya sang resi kemudian. “Ya, ki!” Jawab mereka serempak.

“Ada lagi!” Kata sang resi tiba-tiba. “Tegakkanlah kebenaran walau harus menghadapi keluarga sendiri!”

Mungkin kata-kata itu ditujukan untuk Sanjaya, pikir Santana dalam hati.

“Mulai besok pagi kalian akan turun gunung,” Beritahu sang

resi.

“Lho!” Sanjaya dan Santana saling pandang.

“Tapi, aku masih berat meninggalkan aki di sini,” Kata Santana.

“Terus kapan mulainya kau akan berbuat baik? Mencari ayahmu yang buron?” Balik tanya sang resi.

Santana pun terdiam sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya.

“Tugas yang pertama  adalah menemui  prabu Tarusbawa di kerajaan Sunda,” Jelas si kakek. “Untuk apa, ki?” Tanya Santana.

“Kenapa tidak langsung ke istana Galuh?” Sanjaya menimpali.

“Aku tidak tahu!” Jawab sang resi. “Tapi aku mendapat kabar bahwa kedua orang tuamu, Sanjaya. Sudah berada di sana…”

“Dari mana aki tahu?” Tanya Santana lagi, seperti hanya menggoda saja.

Resi Wanayasa condongkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Santana, keningnya tampak  mengerenyit sampai kedua alisnya yang keputih-putihan seperti menyatu lalu berkata setengah berbisik. “Aku kan resi yang sakti…”

Santana tertawa geli mendengarnya. “Ternyata aki bisa bercanda juga…”

Sanjaya ikut tertawa melihatnya.

“Orang tuamu sudah menunggu di sana…” Kata si kakek kepada Sanjaya. “Perihal ada apa atau untuk apa ke sana nanti juga kalian akan mengetahuinya sendiri sesampainya di sana. Karena ini juga termasuk penting, yaitu meminta restu kepada orang tua untuk menjalankan tugas kalian nanti. Doa otang tua itu didengar oleh Hyang. Ada juga yang mengatakan restu orang tua adalah restu Hyang…”

“Aku juga mohon restumu, aki!” Memohon Santana.

“Tentu   saja, Santana” Jawab sang resi. “Aku sangat merestuimu, dan mendoakan kalian semoga selalu dalam lindungan Sang Hyang Widi!”

Tak terasa hari pun beranjak sore, sang surya sudah condong ke barat. Pembicaraan pun selesai. Besok dua pemuda ini siap melaksanakan tugas.