-->

Raden Banyak Sumba Bab 3 : Meniup Bara

Bab 3 : Meniup Bara

Kampung Panyingkiran yang berada di tengah hutan lebat di puncak gunung kecil itu terdiri dari lima buah rumah. Dua rumah berukuran kecil berdiri berhadapan, disekat oleh halaman yang berupa lapangan kecil. Sedangkan bangunan yang besar, yang menghadap ke utara dan diapit dari kiri- kanan oleh empat buah bangunan lain, memiliki pendapa sebagai serambinya. Di rumah yang besar ini, Ibunda, Ayunda, anak-anak, dan para emban tua, tinggal. Sedangkan di rumah-rumah yang empat buah lagi, tinggal para emban lain dengan suami masing-masing, yang ternyata kelompok gulang-gulang yang mengangkut barang-barang istana ketika mereka melarikan diri. Setiap rumah kecil itu diisi dua keluarga gulang-gulang, sementara Kakek Misja tinggal di rumah yang besar dengan keluarga Banyak Sumba.

Hari pertama, para pengungsi menyibukkan diri dengan jalan membersihkan dan mengatur letak perabotan. Kesibukan ini bukan saja perlu, tetapi sangat penting bagi Ibunda, Ayunda, dan Banyak Sumba. Kesibukan itu melipur pikiran mereka dari kesedihan yang disebabkan oleh perisdwa kemalangan yang bertubi-tubi dan kecemasan akan nasib Ayahanda yang belum pasti. Akhirnya, pekerjaan itu selesai juga dan tibalah waktunya bagi para pengungsi untuk istirahat. Ketika beristirahat inilah, segala kesedihan dan kecemasan kembali menyerbu hati mereka. Kesedihan dan kecemasan ini diperdalam pula oleh suasana yang berbeda dengan suasana di Kota Medang. Kini, mereka berada di hutan belantara. Burung-burung bernyanyi di dahan-dahan. Monyet, lutung, dan surili berlompatan sambil berteriak-teriak. Dari jauh, suara binatang yang asing sayup-sayup melengking- lcngking sedih. Semuanya itu mendorong para pengungsi untuk lebih menyadari nasib mereka.

Untuk memperingan beban yang memberati hatinya, Banyak Sumba berjalan menjauhi keluarganya yang berkumpul di ruangan tengah. Mula-mula, ia berjalan ke belakang rumah besar, ke dapur tempat para emban memasak dan menyediakan makan siang, kemudian ke arah gulang-gulang yang sedang bekerja. Mereka sedang memperbaiki pagar, memperkuat bagian-bagian gerbang, dan membersihkan semak-semak yang mulai merambat ke lapangan.

Sambil berjalan mengikuti ibu jari kakinya, Banyak Sumba mulai berkenalan dengan para gulang-gulang itu. Ia sering melihat mereka di istana, tetapi karena banyaknya gulang- gulang dan karena kesibukannya sebagai putra bangsawan yang harus belajar berbagai ilmu, ia jarang mendapat kesempatan bercakap-cakap dengan mereka. Ketika itulah, ia baru dapat berdiri lama memerhatikan mereka bekerja.

"Yang manakah Aji, Iba, Arba, Mirta, Waski, ... lain-lain lagi?" tanya Banyak Sumba.

Gulang-gulang itu menyebut nama mereka masing-masing dengan hormat.

"Kalian sudah datang ke sini sebelumnya?" tanya Banyak Sumba pula.

"Belum Raden, tapi ayah-ayah kami sudah, dulu ketika eyang Raden terpaksa mengungsi kemari."

Dari jawaban itu, tahulah Banyak Sumba bahwa para gulang-gulang itu dipilih dengan sebaik-baiknya oleh Ayahanda. Mereka orang-orang yang telah memperlihatkan kesetiaan turun-temurun kepada wangsa Banyak Citra.

Kesadaran ini mengharukan hati Banyak Sumba dan meluapkan rasa terima kasih dan rasa sayangnya kepada mereka. "Bekerjalah, jangan terganggu," kata Banyak Sumba, lalu ia melanjutkan,"... seandainya di masa yang akan datang mendapat kemuliaan, saya tidak akan melupakan kebaikan dan kesetiaan kalian."

"Kami tidak mengutangkan budi kepada keluarga Raden. Sejak leluhur kami, hidup kami sudah tidak dapat dipisahkan dengan keluarga Raden. Ke bukit sama mendaki ke lembah sama menurun, itulah gambaran kami dengan keluarga Raden," kata yang tertua di antara mereka.

Banyak Sumba tersenyum memandang wajah mereka. Pengertian yang mendalam, rasa persahabatan yang tulus, berkembang dari hati mereka.

HARI makin sore juga dan akhirnya segala pekerjaan selesai. Kampung kecil yang mula-mula tidak keruan itu, akhirnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk didiami dan ketika seluruh pengungsi beristirahat sambil menikmati buah-buahan yang sempat dikumpulkan dari hutan pada siang hari, kembalilah kecemasan dalam hati Banyak Sumba.

Dari Kakek Misja didapat keterangan, kalau ddak ada aral melintang, Ayahanda akan menyusul hari itu. Sekarang sudah sore, kabar tentang nasib Ayahanda belum juga dba. Maka, berjalanlah Banyak Sumba ke pintu gerbang, lalu naik ke atas kandang jaga yang merupakan menara kecil di atas pintu gerbang itu. Ternyata, di sana sudah ada Kakek Misja ditemani Aji dan Iba yang masing-masing bersenjatakan panah.

"Sudahkah beliau tampak?" tanya Banyak Sumba kepada gulang-gulang itu.

"Belum," ujar Kakek Misja mengetahui siapa yang ditanyakan Banyak Sumba. Banyak Sumba lalu duduk di atas sebatang bambu melintang di dalam gubuk penjagaan itu. "Tidak usah cemas benar, Raden," ujar Kakek Misja, lalu melanjutkan, "Kalau tidak datang, belum tentu nasib buruk menimpa beliau. Mungkin saja pasukan beliau berhasil menghalau pasukan musuh ke luar kota dan beliau tidak merasa perlu untuk mengungsi. Siapa tahu malah kita akan dipanggil beliau pulang kembali ke kota."

"Tapi dengan memukul pasukan yang mengacau di kota, belum berarti persoalan selesai, Kakek," kata Banyak Sumba. "Ayahanda masih harus menyelesaikan persoalan dengan sang Prabu atau sekurang-kurangnya dengan utusan dari Pakuan Pajajaran."

"Ya, tapi segalanya jelas bahwa Ayahanda tidak bersalah.

Pihak pemerintah kerajaanlah yang harus menjelaskan kepada beliau mengapa Kakanda Jante dibunuh," kata Kakek Misja.

Dari nada bicaranya, terdengar rasa gemas. Teringatlah Banyak Sumba bahwa Kakek Misja sangat sayang kepada Kakanda Jante Jaluwuyung.

"Soalnya tidak semudah itu, Kakek," kata Banyak Sumba.

Orang tua itu memandang Banyak Sumba seolah-olah meminta penjelasan lebih lanjut. Sebenarnya, Banyak Sumba tidak punya penjelasan yang lebih banyak, tetapi tidak sukar baginya untuk menduga bahwa masalah yang timbul tidak saja melibatkan Ayahanda dengan pemerintah kerajaan.

Masalah itu melibatkan juga berbagai pihak yang menangguk di air keruh. Di antaranya Raden Pembayun Jakasunu dengan semua bangsawan pengikutnya. Mereka akan mempergunakan kesempatan perselisihan Ayahanda dengan pemerintah kerajaan dengan sebaik-baiknya untuk tujuan- tujuan yang sesuai dengan kepentingan mereka.

Bukankah Jakasunu sangat menginginkan kedudukan Ayahanda sebagai penguasa Kota Medang? Dan bukankah usaha pembunuhan terhadap Ayahanda pernah dicobanya, walaupun gagal? Bukankah ia telah mencari muka dengan menjemput utusan dari Pakuan Pajajaran dan menyarankan hal-hal yang licik kepada para utusan itu? Ya, demikianlah keterangan dari Ayahanda dan Ayahanda orang bijaksana yang telah banyak makan garam kehidupan ini.

"Pendeknya, antara Ayahanda dengan sang Prabu terdapat bangsawan-bangsawan lain yang berkasak-kusuk untuk kepentingan mereka sendiri. Bukankah tidak mustahil Raden Pembayun Jakasunu bergerak, juga saudara-saudara Anggadipati, pembunuh Kakanda Jante itu, untuk menghindarkan diri dari hukum keadilan?" demikian ujar Banyak Sumba.

Kakek Misja termenung, lalu mengangguk. Demikian juga Aji dan Iba, keduanya berpandangan. Tampak, di samping mereka mengerti, mereka pun merasa hormat kepada Banyak Sumba, walaupun muda sudah dapat menjelaskan hal-hal yang sangat penting itu kepada mereka.

Banyak Sumba mendengar celoteh burung kutilang. Itu berarti hari sudah senja. Awan pun lembayung. Angkasa muram, bersamaan dengan makin memberatnya hati Banyak Sumba. Pikirannya mulai kembali pada nasib Ayahanda.

"Lihat!" tiba-tiba Aji berseru. Suaranya terdengar gembira.

Mereka berpaling dan dengan mengikuti telunjuk Aji memandang ke arah bagian hutan yang pohon-pohonnya agak jarang. Samar-samar dalam keremangan itu tampaklah lima orang berjalan. Yang paling depan jelas sekali Ayahanda.

Banyak Sumba mengucapkan syukur kepada Sang Hiang Tunggal, lalu turun dan berlari ke pendapa. Di sana, Ibunda dan Ayunda duduk, sementara adik-adiknya bermain-main dengan para emban.

"Ayahanda tiba," katanya terengah-engah. Ibunda dan Ayunda berdiri, sedangkan anak-anak berlari ke gerbang.

Tak lama kemudian, muncullah Ayahanda. Semuanya memandang ke wajah beliau karena dari wajahnya orang akan membaca bagaimana nasib Kota Medang dan keluarga Banyak Citra. Dan wajahnya itu kelam semata. Beliau berjalan, mengusap adik-adik, lalu memangku si bungsu. Beliau berjalan ke pendapa, diikuti para pengawalnya yang lima orang, yang seorang di antaranya masih anak-anak dan sebaya dengan Banyak Sumba. Sementara itu, penghuni Panyingkiran pun berlari ke pendapa.

Setiba di pendapa, beliau duduk menghadap ke seluruh penghuni Kampung Panyingkiran yang berdiri di lapangan depan pendapa. Setelah semua menyembah, berkatalah beliau,

"Pembayun Jakasunu dengan bantuan pasukan pemerintah kerajaan telah berhasil menduduki seluruh kota. Kita harus tinggal di sini sambil menunggu keadilan Sang Hiang Tunggal yang pada suatu waktu akan terlaksana juga, lama atau segera."

Kemudian, Ayahanda diam sambil tangan beliau mengusap- usap si bungsu. Hadirin menundukkan muka. Ayahanda kemudian berkata, "Sekarang, sejak hari ini, marilah kita anggap kampung ini sebagai padepokan. Kita semua akan berdoa di sini agar keadilan segera tiba. Sekarang, beristirahatlah kalian."

Hadirin berjalan terpencar-pencar; mereka kembali ke rumah-rumah di samping kiri-kanan, yang segera menjadi terang oleh lampu-lampu minyak kelapa. Sementara itu, di pendapa tinggallah Ayahanda, Kakek Misja, Ibunda, Ayunda, Banyak Sumba, dan gulang-gulang Wasis dengan anak yang sebaya Banyak Sumba itu.

"Lakukanlah segala yang telah direncanakan, Misja," ujar Ayahanda.

"Baik, Gusti," ujar Kakek Misja.

"Dan engkau, Sumba, Paman Wasis membawa putranya untuk menemanimu sehari-hari dan juga untuk menjadi kawanmu berlatih. Siapa namamu, Nak?" tanya Ayahanda. 'Jasik, Gusti," kata anak itu seraya memandang kepada Banyak Sumba sambil tersenyum. Banyak Sumba mengangguk.

"Paman Wasis akan melatih kalian, hingga segala ilmunya diturunkan kepada kalian berdua."

"Baik, Gusti," Paman Wasis menjawab walaupun Ayahanda tidak menegurnya.

Banyak Sumba menyangka bahwa kedua orang tua itu telah merundingkan dengan matang berbagai rencana sebelumnya. Ternyata, Ayahanda orang yang biasa memikirkan segala-galanya. Mula-mula pembuatan terowongan untuk meloloskan diri, kemudian pembuatan kampung yang sangat sukar dicari tetapi tidak jauh dari kota, dan akhirnya penyediaan tempat berlatih Banyak Sumba. Dari kesimpulan itu, makin tumbuhlah kekaguman dan rasa hormat Banyak Sumba terhadap Ayahanda Banyak Citra serta kepada leluhurnya.

KEESOKAN paginya, rencana baru Ayahanda bagi masa depan Banyak Sumba mulai dijalankan.

"Lupakan segala ilmu kenegaraan yang pernah kaupelajari, Sumba. Pusatkan perhatianmu pada ilmu dan seni berkelahi, yang sejak hari ini harus menjadi bagian utama hidupmu sebagai putra tertua keturunan Banyak Citra."

Wejangan Ayahanda itu diucapkan di hadapan Paman Wasis danjasik, anak Paman Wasis yang akan menjadi teman berlatih Banyak Sumba. Mendengar wejangan itu, Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Soalnya sudah jelas bahwa hidupnya sudah ditetapkan tujuannya, yaitu untuk membalaskan dendam keluarganya. Banyak Sumba bukan saja menerima tujuan hidup itu, tetapi menyetujuinya dan bahkan meng-hasratkannya sepenuh hati. Bukankah orang-orang tertentu telah menyebabkan kemalangan terhadap keluarganya? Bukankah ada orang- orang yang telah mengambil nyawa Kakanda Jaluwuyung dan menyebabkan keluarganya harus hidup bersembunyi di hutan?Jadi, Banyak Sumba diam saja sambil memandangi pakaian latihannya, yaitu celana pangsi hitam yang terbuat dari sutra tebal, licin, dan lembut, serta baju salontreng yang terbuat dari kain yang sama. Ia pun memerhatikan pakaian Paman Wasis dan pakaian Jasik, yang potongannya sama tetapi terbuat dari kain biasa berwarna nila. Selagi Banyak Sumba memerhatikan pakaian mereka, berkatalah Ayahanda,

"Wasis, mulailah, hari belum terlalu panas."

"Baiklah, Gusti. Raden, kukuhkan alas kakimu, kita akan berjalan di hutan," kata Paman Wasis. Setelah mereka menyembah kepada Ayahanda, guru dan murid itu pun berjalanlah ke lawang kori, setelah itu keluar dari lingkaran pagar dan masuk hutan.

"Kita akan ke lereng timur gunung ini, Raden," kata Paman Wasis.

"Mengapa kita ke barat?" tanya Banyak Sumba. "Kita sedang latihan. Karena itu, yang penting bukan

sampai ke lereng timur, tetapi cara mencapainya," jawab Paman Wasis. Maka, guru dan murid itu pun berjalan. Paman Wasis di muka, diikuti Banyak Sumba dan paling belakang Jasik.

Mereka berjalan biasa saja, seperti para petani yang akan pergi ke huma. Akan tetapi, tak lama kemudian, Paman Wasis membelok dari jalan setapak dan masuk ke semak-semak.

Kedua orang murid itu pun mengikutinya. Mereka masuk ke semak-semak, melompati dahan-dahan, menyibakkan ranting- ranting dan daun-daun. Kemudian, Paman Wasis berjalan cepat, melompat-lompat, menyelinap, kadang-kadang naik pohon, lalu menuruni dahan besar, loncat ke bawah, berlari.... Kedua orang murid itu mengejarnya sekuat tenaga, melompat, jatuh, tersesat, terluka oleh duri-duri dan ranting. Tapi terus mengejar guru mereka karena kalau tidak, mereka akan ketinggalan di hutan yang mulai lebat itu. Banyak Sumba berlari di belakang Jasik yang ternyata sudah sangat tangkas, hampir sama tangkas dengan ayahnya. Makin lama, Banyak Sumba makin jauh tertinggal. Bukan saja karena kurang tangkas, tetapi napasnya pun mulai memburu, keringat membasahi seluruh tubuhnya, bahkan masuk ke matanya, sedangkan pandangannya mulai berkunang-kunang, ulu hatinya mual. Ia tidak mau berhenti, ia terus berlari walaupun dalam pandangan matanya, langit berputar-putar, bumi naik turun di bawah telapak kakinya. Ia berlari terus karena tahu, ia salah seorang wangsa Banyak Citra, wangsa yang tidak pernah menyerah. Ia berlari dan... sebuah dahan melintang di hadapannya. Matanya yang kemasukan keringat dan sudah berkunang-kunang tidak melihatnya. Kakinya tersangkut... blug! Tubuh Banyak Sumba terhempas antara ranting-ranting dan daun-daunan.

Ia segera bangun, tetapi pemandangannya tiba-tiba gelap.

Ia berpegang pada sebatang cabang yang dapat dijangkaunya, lalu berusaha berdiri, tetapi ulu hatinya menggeliat, dan muntahlah ia. Sementara ia masih tersuruk- suruk dalam muntahnya itu, datanglah Paman Wasis danjasik. Ketika Banyak Sumba sudah dapat bernapas kembali, tampaklah olehnya bahwa kedua orang panakawannya itu tidak memperlihatkan kelelahan seperti yang dialaminya.

"Bagus, Raden. Sekarang, jelas bahwa seni berkelahi tidak lebih mudah daripada ilmu kenegaraan, bukan?" ujar Paman Wasis. Perkataannya itu akan merupakan ejekan seandainya Paman Wasis tidak mengeluarkan sehelai kain yang diusap- kannya ke kening dan leher Banyak Sumba.

"Barangkali, Raden sekarang menyadari bahwa berlari itu tidak dapat dilakukan sembarangan. Berlari harus dilakukan dengan tidak usah menyebabkan kita lelah, apalagi sampai harus muntah."

Banyak Sumba ingin sekali bertanya, bagaimana cara berlari tanpa melelahkan. Akan tetapi, karena napasnya masih tersengal-sengal, ia tidak berkata apa-apa.

"Sudah dapat berdiri?" tanya Paman Wasis. Banyak Sumba mencoba berdiri, tetapi lututnya gemetar. Ia memaksakan diri dan dengan pandangan mata berkunang-kunang, tegaklah ia.

"Betul-betul Raden ini anggota keluarga Banyak Citra," katanya sambil menepuk bahu Banyak Sumba. "Barang siapa berani mengganggu keluarga Banyak Citra tidak akan dapat tidur nyenyak," katanya pula sambil tersenyum.

Kemudian, guru dan murid berjalan di dalam hutan itu. Setelah berjalan beberapa lama, ribalah mereka di bagian hutan yang pohon-pohonnya sudah ditebang, hingga merupakan lapangan kecil. Di lapangan kecil itu, berhentilah mereka, lalu duduk di atas batang kayu yang melintang.

"Tiap pagi, kita akan datang ke sini dengan berlari. Kita akan berlomba dan berusaha mendahului yang lain.

Kemudian, di tempat ini kita akan berlatih. Hari ini untuk pertama kali kita akan mencoba melakukan jurus pertama. Nah, berdirilah Raden. Jasik, kau pun ikut. Nah, Raden, coba bagaimana caranya kalau Raden meninju ulu hati orang," kata Paman Wasis.

Banyak Sumba meninju udara yang ada di hadapannya. "Coba dengan tangan kiri."

Banyak Sumba mengulang dengan tangan kiri, kemudian dengan tangan kanan lagi.

"Coba perlihatkan caranya, Jasik," kata Paman Wasis. Jasik berdiri dengan tegak, kedua kakinya sejajar. Banyak

Sumba memerhatikan baik-baik. Ternyata, perbuatan meninju yang sebelumnya dianggap sebagai perbuatan yang sederhana itu, setelah dilakukan merupakan perbuatan yang tidak mudah. Banyak Sumba menyadari betapa kaku otot- ototnya. Ia pun yakin, seandainya harus menghadapi lawan, tinju-tinju yang dihantamkannya tadi tidaklah akan banyak artinya.

"Mulai!" kata Paman Wasis kepada Jasik, anaknya. Jasik melangkahkan kaki kiri ke depan, disusul dengan gerakan tangan kanannya ke muka, dengan tinju. Begitu wajar gerakannya itu, begitu mudah tampaknya ketika dilakukan oleh Jasik, dan begitu keras kepalan itu menghambur ke depan. Makin sadar Banyak Sumba, betapa rendah kemampuannya dalam melakukan pekerjaan yang sederhana itu. Terbayang olehnya, betapa menggelikan perbuatannya bagi kedua orang kawannya itu. Kalau mereka tidak menertawakannya, hal itu disebabkan Banyak Sumba majikan mereka.

"Nah, Raden, marilah kita bicarakan jurus pertama ini," kata Paman Wasis. Lalu, Paman Wasis menjelaskan bahwa sedap gerakan harus dilakukan dengan wajar.

"Bagaimana mengetahui bahwa suatu gerakan itu wajar atau tidak, Paman?" tanya Banyak Sumba.

"Gerakan yang wajar itu kita lakukan dengan enak, tidak melelahkan atau menyebabkan pegal, tetapi membawa hasil yang besar. Coba lihat kembali Jasik. Sik, coba perlihatkan lagi kepada Den Sumba," sambung Paman Wasis.

Jasik mengulangi gerakan itu, mula-mula mempergunakan tangan kanan, lalu tangan kiri, sementara kakinya melangkah maju seirama dengan gerakan-gerakan tangannya. Banyak Sumba memerhatikan gerakan-gerakan kawannya itu dengan kening berkerut. Ia melihat bahwa gerakan-gerakan Jasik itu bukan saja dilakukan dengan enak, tetapi menyenangkan juga untuk ditonton. Timbullah pertanyaan dalam hatinya, Apakah yang menyebabkan gerakan-gerakan itu begitu wajar dan indah untuk dilihat? Ia bertanya kepada Paman Wasis, tetapi keterangan Paman Wasis tidak memuaskannya. Oleh karena itu, ia mulai saja meniru gerakan Jasik. Mula-mula tidak menggunakan tenaga. Setelah gerakan-gerakannya mulai enak, Banyak Sumba mulai mempergunakan tenaganya.

Paman Wasis memerhatikannya, memperbaikinya, dan memberikan penjelasan-penjelasan. Ketika matahari mulai hangat, ia menyuruh Jasik membuka perbekalan yang mereka bawa dari Panyingkiran. Di tengah-tengah lapangan kecil itu, mereka duduk bersila mengelilingi santapan pagi yang sederhana. Kemudian, mereka minum dari kulit buah labu yang kering. Setelah beristirahat sambil memperbincangkan hal-hal mengenai jurus pertama itu, latihan dimulai kembali. Baru setelah hari panas sekali, ketika matahari tergelincir dari puncaknya ke barat, mereka pulang ke Panyingkiran.

SORE itu, ketika ia sedang beristirahat, Banyak Sumba tidaklah bermalas-malasan. Walaupun ia duduk bersila seorang diri dalam ruangan yang disediakan baginya, pikirannya sangat giat merenungkan latihan yang baru saja dilaksanakan pagi itu. Banyak Sumba menyadari bahwa sebagai anak laki-laki yang mengemban tugas untuk menegakkan kehormatan keluarga, ia belum memiliki syarat yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas itu.

Untuk kehormatan keluarga Banyak Citra, ia harus membalas dendam terhadap Pangeran Anggadipati, keluarga Tumenggung Wiratanu, dan juga keluarga Pembayun Jakasunu Kesadaran ini menyebabkan ia sangat prihatin.

Itulah sebab nya, waktu istirahatnya tidak dipergunakan untuk bermalas malasan. Ia terus-menerus merenungkan jurus pertama yang didapatnya dari latihan pagi tadi.

Ia berdiri, lalu melakukan gerakan seperti yang dicontohkan Jasik kepadanya. Ia memerhatikan bagian-bagian gerakan- gerakannya. Mula-mula diperhatikan tangannya. Tinjunya yang mula-mula telentang di pinggangnya, kemudian digerakkan perlahan-lahan ke muka. Ia baru menyadari bahwa dalam gerakan itu, batang lengannya berputar sehingga tinju yang awalnya telentang jadi telungkup di hadapannya.

Diperhatikannya pula hubungan gerakan tangannya itu dengan gerakan seluruh tubuhnya. Menjadi jelas pula baginya bahwa gerakan tangannya hanya bertenaga kalau tubuhnya berdiri kukuh. Maka, kembalilah ia berlatih seorang diri, terus- menerus, hingga keringatnya menitik-nitik dari keningnya.

Setelah lelah dan senja tiba, barulah ia berhenti.

Malam harinya ia tak dapat tidur. Seluruh tubuhnya sakit. Dan ketika matahari terbit keesokan harinya, sesuai dengan perjanjian, Banyak Sumba berangkat menuju tempat latihan. Dalam perjanjian, ia harus mencoba agar tiba paling dulu.

Akan tetapi, jangankan berlari, berjalan pun ia tersiksa. Setiap ototnya sakit ketika digerakkan akibat latihan yang dilakukan kemarin. Itulah sebabnya, jalan memintas yang diambilnya bukan mempercepat tetapi memperlambatnya.

Karena lewat jalan memintas itu, ia harus menyelinap di antara semak-semak, melompati batang-batang dan cabang- cabang pohon yang runtuh. Perbuatan macam itu sukar sekali dilakukannya karena setiap ototnya menjadi siksaan baginya.

Ketika ia tiba di tempat itu, kawan-kawannya sudah lama berada di sana, menunggunya. Mereka pun rupanya mengerti segala yang dialaminya. Paman Wasis meliriknya lalu berkata,

"Sakit-sakit?"

"Sakit sekali, Paman."

"Tidak apa, selanjutnya akan jadi biasa," ujarnya. Dan latihan pun dimulai kembali. Banyak Sumba harus melakukan jurus pertama. Dengan susah payah, ia melakukannya. Jasik bertindak sebagai pembantu yang sewaktu-waktu diharuskan memberi contoh. Karena badannya sakit-sakit, Banyak Sumba tidak dapat melakukan jurus pertama itu dengan baik. Paman Wasis tidak puas akan kemajuan muridnya. Karena itu, hari kedua sebagian besar dipergunakan untuk menyempurnakan jurus pertama ini. Kemudian, pada waktu istirahat, Paman Wasis menerangkan bahwa kalau jurus pertama belum dikuasai, pelajaran jurus selanjutnya tidak ada gunanya karena tidak akan dapat dilakukan dengan sempurna. Maka, latihan jurus pertama ini pun dilanjutkan hingga waktu pulang tiba.

Jurus pertama itu ternyata memakan waktu hampir satu bulan untuk dapat dilakukan dengan sempurna. Paman Wasis sukar sekali puas. Karena itu, Banyak Sumba terpaksa mempergunakan waktu istirahatnya untuk merenungkan segala penjelasannya, lalu melaksanakan dalam latihan seorang diri.

Jurus-jurus selanjutnya semakin sukar pula dilakukan. Akan tetapi, kesadaran bahwa apa yang dilakukannya itu benar- benar diperlukan, Banyak Sumba mempelajarinya dengan tekun dan tabah.

Setelah hampir satu tahun latihan-latihan itu dilaksanakan, akhirnya Paman Wasis berkata, "Raden, yang terakhir Raden pelajari adalah jurus kedua puluh satu. Itu jurus penghabisan yang Paman miliki. Raden murid yang tekun, biasanya kedua puluh satu jurus itu dikuasai paling sedikit dalam tiga tahun. Sekarang, tibalah saatnya bagi kita untuk mencoba jurus-jurus itu satu per satu. Untuk itu, Jasik akan menjadi lawan Raden dalam mempergunakan jurus-jurus itu. Jasik, kemari. Raden Sumba akan mempergunakan jurus pertama terhadapmu, dengan jurus apa harus kaulawan?" "Jurus delapan," jawab Jasik. "Bagus," ujar Paman Wasis, "sekarang mulai!" Kedua anak yang sama-sama berumur empat belas tahun itu mulai berhadapan, lalu Paman Wasis memberi aba-aba supaya mereka mulai. Maka, berulang-ulang Banyak Sumba mempergunakan jurus pertama, sedangkan Jasik menangkisnya dengan jurus kedelapan.

Latihan-latihan semacam ini terus-menerus dilakukan, hingga akhirnya setiap jurus dipasang dengan lawannya. Ketika latihan yang mempergunakan jurus kedua puluh satu selesai, Banyak Sumba dan Jasik sudah hampir berumur lima belas tahun. Akan tetapi, mereka tampak lebih tua, bukan saja karena badan mereka tumbuh tinggi dan besar, tetapi latihan- latihan yang berat itu menyebabkan cahaya mata mereka memperlihatkan ketabahan seorang dewasa.

Setelah latihan jurus berpasangan, dimulailah latihan bebas. Banyak Sumba dan Jasik berkelahi berhadapan dengan mempergunakan berbagai jurus, sesuai dengan tuntutan keadaan. Supaya perkelahian ini tidak membahayakan, ditetapkan peraturan agar pukulan-pukulan atau tendangan- tendangan yang dilancarkan dikendalikan. Di samping itu, Paman Wasis siap melakukan tindakan darurat kalau ada kecelakaan. Paman Wasis ternyata orang yang mahir pula dalam menolong kecelakaan, terutama bentuk-bentuk kecelakaan seperti terpukul, terkilir, dan memar.

SETELAH jurus-jurus tangan kosong itu dapat dipergunakan dengan baik, Paman Wasis mulai mengajarkan bagaimana caranya mempergunakan senjata. Tidak banyak yang harus dipelajari dalam bagian pelajaran ini karena senjata itu dapat dianggap sebagai perpanjangan tangan. Oleh karena itu, jika jurus sudah dikuasai, penggunaan senjata tidaklah sukar.

Dengan sedikit petunjuk dari Paman Wasis, Banyak Sumba sudah dapat mempergunakan senjata itu.

Senjata itu ada beberapa macam, terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu senjata panjang, pertengahan, dan pendek. Senjata panjang terdiri dari tombak dan pedang, disusul dengan golok sebagai senjata pertengahan, diakhiri dengan badik dan kujang sebagai senjata pendek. Banyak Sumba, sebagai seorang bangsawan, memusatkan perhatiannya pada senjata pendek karena senjata pendek itulah yang lazim menjadi pegangan para bangsawan. Bukan karena senjata itu lebih ringan, tetapi pendeknya senjata itu melambangkan keberanian.

Setelah latihan-latihan dengan senjata pendek selesai, pada suatu sore, Paman Wasis dan Banyak Sumba menghadap Ayahanda. Dalam ruangan yang penuh dengan peti-peti lontar, Ayahanda menerima Paman Wasis dan Banyak Sumba. Beliau mempersilakan Paman Wasis. Setelah orafig tua itu menyembah, ia pun berkata, "Gusti, segala ilmu yang hamba miliki telah dikuasai putra Gusti. Hamba mengembalikan Raden Sumba kepada Gusti."

Ayahanda yang jarang sekali bertemu dengan Banyak Sumba mengangkat mukanya, lalu memandang Banyak Sumba. Walaupun tidak tersenyum, wajah Ayahanda cerah ketika itu.

Beliau tampaknya gembira karena menurut rencana beliau, Banyak Sumba akan belajar lima tahun. Kini, baru tiga tahun, pelajaran itu telah selesai. Itulah sebabnya mengapa beliau berkenan hati. Akan tetapi, kegembiraan Ayahanda ini tidaklah menyebabkan Banyak Sumba bersenang hati. Ia tahu bahwa mempelajari ilmu berkelahi itu hanyalah usaha permulaan dari usaha-usaha selanjutnya yang sangat berat. Ia harus terus belajar hingga suatu saat, ia pantas menghadapi Pangeran Anggadipati. Hanya jika orang itu telah tewaslah Banyak Sumba akan gembira. Dan pada saat itu, ia akan merasa cukup berharga sebagai anggota wangsa Banyak Citra. Selagi Banyak Sumba termenung, Ayahanda mulai berkata lagi kepada Paman Wasis, "Wasis, tapi kau harus membuktikannya dulu kepadaku."

Paman Wasis termenung sebentar, ia tengadah, lalu berkata, "Gusti dapat membuktikannya, malam ini atau besok pagi." "Malam ini, kautahu bahwa setiap hari sangat berharga bagi suatu keluarga yang telah diperlakukan tidak adil. Aku sudah cukup bersabar menunggu Sumba belajar selama tiga tahun. Aku ingin segera melihat, apakah ia sudah dapat diandalkan untuk menegakkan kehormatan wangsa Banyak Citra."

"Baiklah Gusti, hamba akan meminta agar lima orang gulang-gulang yang muda-muda bersiap-siap untuk bertanding dengan Raden Sumba."

"Katakan kepada mereka bahwa mereka yang memperlihatkan keperwiraan akan kuberi hadiah."

"Izinkan anak hamba,Jasik, ikut melawan Raden Sumba, Gusti."

"Ya. Tapi Jasik belajar lebih lama daripada Sumba," ujar Ayahanda agak ragu-ragu.

"Ya, Gusti, tapi anak hamba kurang mempergunakan otaknya," jawab Paman Wasis.

"Baiklah, ia pun berhak mendapat hadiahku kalau memperlihatkan keperwiraannya. Setiap orang yang gagah berani serta tangkas, dihargai oleh keluarga Banyak Citra," demikian kata penutup Ayahanda.

MALAM itu, lain dari biasa, halaman padepokan terang benderang oleh cahaya obor. Biasanya, Ayahanda melarang orang menyalakan api di luar rumah. Akan tetapi, karena pentingnya peristiwa malam itu, Ayahanda mengizinkan penduduk Padepokan Panyingkiran bersenang-senang.

Seluruh penghuni Panyingkiran sudah hadir di sekeliling lapangan kecil itu. Wanita duduk di bangku, laki-laki berdiri. Mereka mengobrol dan bahkan mulai tertawa-tawa. Sejak mereka datang ke Panyingkiran, baru malam itulah suasana gembira mereka alami kembali. Bagaimanapun, tamatnya pelajaran Banyak Sumba merupakan peristiwa yang menggembirakan bagi abdi-abdi setia Ayahanda. Selain itu, mereka akan mendapatkan hiburan yang sangat menarik pula, yaitu pertandingan antara Banyak Sumba dan lima gulang- gulang dan Jasik.

Ketika Ayahanda keluar pendapa, diiringi Ibunda dan Ayunda Yuta Inten, heninglah suasana. Ayahanda duduk di bangku besar, lalu berkata dengan nyaring, "Seperti Jante Jaluwuyung, Banyak Sumba harus menjadi laki-laki sejati. Ia harus berani, tabah, tangkas, dan pantang menyerah. Nah, kalian yang selama ini menjadi abdi-abdi setia, bantulah anakku menjadi laki-laki yang kuingini. Lawanlah dia dalam pertandingan ini.

Barang siapa mengalahkannya dengan cara yang baik, akan kuberi hadiah tanda penghargaanku. Sekarang, mulailah!"

Paman Wasis memberikan isyarat, maka Banyak Sumba dengan calon lawan-lawannya maju ke muka, mengelilingi Paman Wasis. Paman Wasis memberikan penjelasan, "Saya akan memerhatikan dan menilai perkelahian kalian. Saya akan menentukan kemenangan dan kekalahan kalian.

Bagaimanapun, dalam pertandingan ini tidak boleh ada orang yang cedera karena itu serangan-serangan kalian harus dibatasi dan dikendalikan. Gantilah pukulan dengan tepukan dan dorongan. Demikian juga tendangan, janganlah dilakukan hingga menyebabkan kesakitan, apalagi cedera. Kalian boleh mengunci lawan, boleh juga melipat dalam usaha pura-pura mematahkan. Hendaklah pihak yang dipatahkan, kalau tidak dapat melepaskan diri dan merasa sakit, segera mengakui dan menerima kekalahan. Sekarang, kita mulai. Peserta kita bagi dua, satu kelompok terdiri dari tiga orang. Yang tiga orang ini akan berkelahi dan pemenangnya akan bertanding dengan pemenang kelompok kedua. Kelompok pertama terdiri dari Jasik, Iba, Misdi; kelompok kedua terdiri dari Raden Sumba, Waksir, dan Saro. Kita mulai dengan kelompok pertama. Iba akan melawan Misdi. Mari kita mulai!"

Para peserta meminggir, kecuali Iba dan Misdi. Sementara itu, Paman Wasis memanggil dua orang gulang-gulang tua, yaitu Kakek Misja dan Arda yang akan membantu memberikan penilaian. Maka, setelah dua orang pembantu itu menempati tempat masing-masing, Paman Wasis memberikan aba-aba tanda pertandingan dimulai.

Iba dan Misdi berhadapan di tengah-tengah lapangan kecil yang diterangi obor. Kawan-kawannya, para gulang-gulang, mu-

lai ramai memberi semangat kepada kedua orang prajurit itu, tetapi mereka belum juga bergerak. Mereka diam seperti patung, dalam sikap siaga saling mengintai. Tiba-tiba, cepat seperti kilat, tangan Iba menyerang ke arah pundak Misdi.

Banyak Sumba mengerti bahwa serangan itu bukan serangan sebenarnya, tipuan belaka. Ketika Misdi menangkap dan mengibaskan tangan kanan Iba, Iba menyerang leher Misdi dengan tangan kirinya. Iba maju dengan cepat sambil mendorong dagu Misdi ke atas. Misdi berusaha melepaskan tangan Iba, tetapi Paman Wasis berseru, "Heup!" tanda perkelahian harus dihentikan. Kedua orang peserta berhenti bertanding, kemudian Paman Wasis berkata, "Iba menang. Ia berhasil memegang leher Misdi, itu dapat pula diartikan bahwa ia berhasil memukul leher Misdi. Kalau mereka berkelahi

benar-benar, Misdi akan cedera karena lehernya kena pukulan. Leher merupakan bagian yang lemah dari. tubuh kita. Itulah sebabnya, Iba kita anggap menang."

Kedua orang pembantu penilai yang terdiri dari Kakek Misja dan Arda, setuju. Maka, Iba ditetapkan sebagai pemenang.

Pertandingan dilanjutkan oleh anggota kelompok kedua, yaitu Waksir melawan Saro. Mula-mula, Saro menyerang dengan mencekik lawannya. Akan tetapi, Waksir sempat membanting Saro ke samping kiri hingga tangan Saro lepas dan sempoyongan ke samping. Waksir menghambur menyerang Saro yang belum kukuh berdiri dengan kaki ke arah perutnya.

Saro terpental dan jatuh di pangkuan seorang gulang- gulang yang menonton sambil bersila. Orang-orang bersorak dan tertawa melihat pertandingan yang lucu itu. Sementara itu, Saro bangun sambil membersihkan celana pangsinya yang penuh debu.

"Waksir menang," kata Paman Wasis. Setiap orang setuju karena dalam perkelahian sebenarnya, tentu saja Saro yang sudah jatuh karena serangan kaki Waksir akan terus diserang dan mungkin cedera.

Sebelum debu turun ke atas lapangan kecil itu, Banyak Sumba melihat Jasik maju melawan Iba. Iba tinggi besar, otot-otot tangan dan kakinya menonjol, demikian juga otot perut dan otot dadanya, tampak dari balik baju salontreng- nya. Sementara itu, Jasik tinggi lampai, otot-ototnya tidak kelihatan. Akan tetapi, Banyak Sumba tahu bahwa di balik gerak-geriknya yang lembut itu, Jasik memiliki kegesitan yang tinggi. Sekarang, kedua orang lawan sudah berhadapan.

Karena Jasik kecil, tampak Iba bermaksud menangkapnya. Jasik bergerak ke samping. Iba mencegatnya. Untuk beberapa lama, tidak ada yang membuka serangan. Mereka saling mengintai. Tiba-tiba Iba melompat, menubruk sambil merangkul Jasik. Dengan cepat sekali Jasik menghindar sambil menyepak ke arah rusuk kanan Iba, tetapi sasaran tidak dikenai dengan tepat karena Iba masih sempoyongan. Jelas bagi Banyak Sumba betapa tangkasnya Jasik.

Sekarang, keduanya siap sedia kembali. Tiba-tiba, Iba menyerang ke arah leher Jasik dengan tangan kirinya. Jasik mundur dengan menggeser kaki kanannya ke belakang.

Dengan demikian, pundak kanannya maju ke muka, dan pundak kanan ini ditangkap oleh Iba dengan sigap. Iba merenggut Jasik ke depan dengan maksud menguncinya dengan pitingan. Akan tetapi, secepat kilat Jasik mempergunakan sikutnya ke arah ulu hati Iba. Sambil menghambur, lututnya pun diangkat ke arah perut Iba. Karena Iba menarik Jasik dengan kuat, serangan Jasik pun tidak dapat dihindarkan.

Iba terpental dan berguling-guling kesakitan di atas debu. Paman Wasis segera melonggarkan ikat pinggangnya untuk memudahkan pernapasan Iba, yang lain membantu menggerak-gerakkan tangan Iba sesuai dengan perintah Paman Wasis. Tak lama kemudian, Iba pun berdiri, lalu minum air jernih yang telah disediakan para emban. Ia tertawa. Jasik mendekatinya, minta maaf. Iba yang jauh lebih tua daripadanya menepuk-nepuk pundak Jasik, tanda tidak mengandung dendam. Maka, pertandingan pun dilanjutkan.

Banyak Sumba berhadapan dengan Waksir. Sebelum mereka memulai, Ayahanda berseru, "Waksir, kuberikan kepadamu badik berhulu gading kalau kau mengalahkan anakku."

"Nyakseni!” kata hadirin, kemudian memberikan semangat kepada Waksir yang mulai bergerak ke samping. Banyak Sumba bersiap-siap; ia tahu bahwa Waksir sangat lincah kakinya. Oleh karena itu, ia tidak boleh diberi kesempatan.

Waksir menyodorkan tangannya begitu dekat sehingga dapat saja ditangkap oleh Banyak Sumba. Banyak Sumba sadar bahwa ia tidak boleh terpancing. Ia bergerak ke samping.

Ketika Waksir sempat merobohkan kuda-kudanya, ia segera menyeruduknya. Waksir sempat menangkap tangan kiri Banyak Sumba dan mulai membantingnya. Untung, Banyak Sumba sempat menangkap ikat kepala dan menariknya ke belakang. Waksir yang tidak sempat memperkukuh kembali kuda-kudanya, jatuh telentang. Banyak Sumba mengangkat kakinya di atas ulu hati Waksir, tanda ia dapat melakukan serangan yang mematikan. Ayahanda berdiri, kemudian duduk kembali. "Waksir, umur dan pengalamanmu tidak menolongmu," kata Paman Wasis sambil maju ke tengah lapangan.

"Pertandingan terakhir, antara Raden Sumba dan Jasik," serunya kepada hadirin yang betul-betul tercengkeram tontonan itu.

"Jasik, badik yang bergagang gading itu kuberikan kepadamu kalau kaumenang," kata Ayahanda.

"Nyakseni' seru hadirin gembira, lalu memberi semangat kepada Jasik dan juga kepada Banyak Sumba.

Sekarang, kedua orang lawan telah berhadapan dan Paman Wasis memberikan isyarat mulai. Keduanya tidak bergerak, mereka saling mengintai. Keduanya juga sudah saling mengenal kekuatan dan kelemahan masing-masing. Mereka saling menunggu kesempatan.

Jasik membuka serangan dengan tendangan yang cepat sekali ke arah dada Banyak Sumba. Banyak Sumba mundur. Sebelum Jasik sempat memperbaiki kuda-kudanya, ia melompat menyerang dengan dorongan. Akan tetapi, Jasik, seperti sudah diramalkan, segera menghindar ke samping kanan, lalu menyerang. Untung Banyak Sumba dapat menangkisnya. Dengan tidak disangka-sangka, tangan yang dipergunakan untuk menangkis itu ditangkap Jasik, lalu diputar. Otot dan sendi tangan meregang, rasa sakit mulai menyelinap hingga ke belikatnya. Tak ada pilihan bagi Banyak Sumba, menyerah atau menjatuhkan diri. Banyak Sumba memilih menjatuhkan diri ke arah kiri sambil menyepak ke depan.

Terdengar suara gedebuk dan napas tersengal. Ketika Banyak Sumba jatuh dengan tangan kiri menumpu di tanah, ia melihat Jasik berdiri membungkuk sambil memegang ulu hatinya. Banyak Sumba bangun bersamaan dengan Paman Wasis mendekati Jasik. Jasik diantar ke pinggir, disuruh duduk, lalu diberi minum. "Maaf, Sik," kata Banyak Sumba. Jasik tersenyum. "Raden Sumba adalah pemenang," seru Paman Wasis. "Nyakseni.!" seru para hadirin.

Demikianlah akhir pertandingan itu. Ketika Banyak Sumba berpaling ke bangku, Ayahanda tampak diiringi Ibunda dan Ayunda berjalan ke arah pendapa. Ayahanda tidak pernah menyatakan apa-apa terhadap segala yang dicapai putra- putranya karena bagi keluarga Banyak Citra, mencapai yang terbaik sudah menjadi keharusan. Demikian pernah diucapkan oleh Ayahanda.

SETELAH pelajaran berkelahi selesai Banyak Sumba mengharapkan perintah atau isyarat dari Ayahanda bahwa ia harus melakukan sesuatu. Akan tetapi, Ayahanda tidak pernah berkata apa-apa ataupun memberikan isyarat bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk keluarganya. Bahkan, belakangan ini Ayahanda lebih banyak menyepikan diri di tengah-tengah tumpukan lontar.

Keadaan ini sangat tidak menyenangkan Banyak Sumba. Ia bimbang, tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Haruskah ia memohon diri untuk pergi dari Panyingkiran, untuk membalaskan dendam keluarganya? Apakah kepandaiannya sudah cukup untuk menunaikan tugas ini? Ataukah ia harus menunggu beberapa waktu hingga Ayahanda berkenan memerintahnya untuk pergi, untuk membalas dendam atau belajar ilmu berkelahi yang lebih tinggi? Setiap hari, Banyak Sumba sering termenung, tak tahu apa yang harus dikerjakannya.

Yang lebih menekan perasaannya adalah Ayunda Yuta Inten. Kalau anggota keluarga yang lain sudah mulai dapat mengangkat beban dukacita, Ayunda Yuta Inten makin hari tampaknya tidak makin berlega hati, malahan makin murung juga. Badan Ayunda makin kurus. Hal itu karena ia terus- menerus berpuasa dan bersemedi. Padahal, kesibukan di Panyingkiran tidak berkurang bagi Ayunda. Bekerja sambil berpuasa dan

dukacita yang berkepanjangan seolah-olah menggerogod Ayunda yang makin hari makin pucat pula. Hingga suatu hari, ketika sedang menyulam, Ayunda jatuh pingsan di atas tikarnya.

Sudah barang tentu isi Panyingkiran cemas. Ibunda mulai berderai air mata, demikian juga para emban. Hanya Ayahanda yang tetap tenang dan dengan suara tetap memerintah kepada Ibunda, "Larang ia berpuasa!" Setelah berkata demikian, beliau membebaskan Iba dan Misdi yang sejak hari itu tidak lagi diberi tugas mengambil kayu bakar. Mereka diberi tugas baru, yaitu mencari madu tawon dan telur burung atau ayam hutan untuk Ayunda. Kedua macam makanan itu diharapkan segera mengembalikan kesehatan Ayunda Yuta Inten. Dan setelah beberapa hari dilarang berpuasa serta diharuskan minum madu tawon serta telur unggas itu, sedikit demi sedikit kesegaran Ayunda pulih kembali. Setelah sebulan lewat, Ayunda pun mulai kuat walaupun masih tetap kurus.

Untuk mengembalikan kesehatannya ke keadaan semula, tugas Iba dan Misdi untuk mencari madu tawon dan telur unggas tidak dihentikan. Bukan hanya Ayunda yang diharuskan makan santapan yang menyehatkan itu, tetapi juga adik-.idik Banyak Sumba yang masih kecil. Sekarang, mereka mulai < libiasakan menambah makanannya dengan bahan makanan yang sehat itu sehingga menyebabkan perubahan pula pada lugas Banyak Sumba.

Sebelumnya, Banyak Sumba diberi tugas untuk belajar menjadi pemimpin para gulang-gulang yang menjaga sekitar l'anyingkiran. Setelah Iba dan Misdi diharuskan mencari madu dan telur unggas, Ayahanda memberinya tugas lain. Ia harus menjadi pengawal para gulang-gulang yang mengambil per- hrkalan di hutan.

Karena Padepokan Panyingkiran terletak di puncak gunung yang kecil dan ditumbuhi hutan lebat, berhuma suatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan. Di samping itu, berhuma akan sangat menyulitkan penghuni Panyingkiran yang bukan saja terlalu sedikit jumlahnya untuk membuka hutan lebat, tetapi juga tidak akan mampu menjaga huma dari gangguan- gangguan binatang hama. Itulah sebabnya, Ayahanda, sebagai seorang yang biasa memikirkan segala-segalanya, bertindak mengatur cara penyediaan bahan makanan untuk penghuni Padepokan Panyingkiran itu. Adapun caranya sangat mengesankan Banyak Sumba.

Di tengah hutan, antara Padepokan Panyingkiran dan Kota Medang, dipilih suatu tempat untuk mata-mata dan para pembantu Ayahanda guna menyimpan barang-barang keperiuan dan bahan makanan bagi para pengungsi.

Ayahanda menyimpan beberapa orang gulang-gulang yang setia untuk terus tinggal di Kota Medang. Pada saat-saat yang tetap, mereka masuk hutan membawa persediaan makanan dan berita dalam helai-helai lontar. Mereka tidak diberi tahu tempat persembunyian keluarga Banyak Citra. Mereka hanya diberi tahu di mana mereka harus menyimpan barang-barang, bahan makanan, serta berita.

Agar tidak mencurigakan, mereka mengangkut beras dan helai-helai lontar dalam bumbung bambu besar yang biasa dipergunakan pembuat gula enau. Bumbung-bumbung ini mereka letakkan di tengah hutan yang banyak pohon enaunya. Kemudian, bumbung itu akan diambil oleh gulang- gulang dari Padepokan Panyingkiran. Iba dan Misdi termasuk kelompok yang biasa mengambil bumbung-bumbung ini, bukan saja karena mereka orang-orang muda yang kuat, terutama karena mereka kelompok gulang-gulang yang memiliki kemahiran berkelahi. Mereka dapat diandalkan seandainya terjadi sesuatu dalam menjalankan tugasnya.

Setelah Iba dan Misdi mendapat tugas mencari madu tawon dan telur burung, tugas mereka mengawal gulang- gulang yang mengambil kiriman-kiriman perbekalan itu diserahkan kepada Banyak Sumba.

Empat belas hgri sekali, Banyak Sumba dengan rombongan gulang-gulang melakukan perjalanan yangjauh menuju hutan yang ditetapkan sebagai tempat menyimpan kiriman dari Kota Medang. Biasanya, bumbung bambu besar berisi beras, garam, dan gula tersandar di bawah pohon-pohon enau.

Sepintas lalu, orang akan menyangka bahwa bumbung- bumbung yang sangat banyak itu milik pembuat gula.

Di samping bumbung-bumbung bambu, kotak-kotak lontar biasanya disimpan di atas sebatang pohon, diletakkan di antara suatu cabang yang tinggi. Dengan cara demikianlah penghuni Padepokan Panyingkiran mendapat persediaan makanan. Dengan cara itu pula, Ayahanda mendapat berita tenung Kota Medang. Makin kagum saja Banyak Sumba pada kecerdikan Ayahanda.

PADA suatu hari, terjadi peristiwa yang menggemparkan dan mencemaskan penghuni Padepokan Panyingkiran. Ketika Banyak Sumba memimpin rombongan untuk mengambil perbekalan, ternyata bumbung-bumbung bambu yang seharusnya bersandaran di bawah pohon enau tidak ditemukan. Kotak lontar yang berisi berita tidak diganggu orang dan ada di tempatnya. Melihat kenyataan itu, Banyak Sumba memerintahkan agar para gulang-gulang kembali ke Padepokan Panyingkiraran.

Mereka pun segera kembali dengan tangan hampa. Setiba di padepokan, Banyak Sumba segera melapor kepada Ayahanda. "Mungkin mereka ditangkap," kata Ayahanda. Dalam suaranya, jelas sekali terdengar kecemasan beliau.

"Apakah itu berarti kita tidak akan mendapat perbekalan lagi, Ayahanda?" tanya Banyak Sumba, la tidak dapat menahan kecemasannya.

"Mungkin mereka mulai mengejar tlta, selain menutup urat nadi jalan perbekalan. Tapi jangan cemas, kita mungkin terpaksa harus menggunakan cara penyediaan perbekalan yang kedua atau memindahkan tempat persembunyian kita. Akan tetapi, marilah kita selidiki dulu, mengapa perbekalan kita sampai hilang," lanjut Ayahanda sambil menekur. Setelah beberapa lama termenung, berkatalah beliau, "Kita masih memiliki perbekalan yang cukup. Kalau mereka harus datang setiap minggu, itu bukan hanya untuk perbekalan, tetapi untuk berita-berita. Kita harus menyelidiki, apakah mereka tertangkap atau perbekalan itu dicuri orang. Nah, untuk mengetahui hal itu, engkau Sumba, harus memimpin beberapa orang pengintai. Pilihlah di antara kawan-kawanmu yang kaupercayai."

"Berapa banyakkah gulang-gulang yang dapat hamba bawa, Ayahanda?"

"Empat orang, karena yang lain harus bekerja di sini." "Kurang dari empat orang pun tidak masalah, Ayahanda,"

kata Banyak Sumba yang mengetahui bahwa tenaga para

gulang-gulang sangat dibutuhkan di Panyingkiran.

"Empat orang tidak terlalu banyak, bahkan mungkin terlalu sedikit. Siapa tahu mereka akan mencoba menyergap kita," lanjut Ayahanda. Banyak Sumba barulah menyadari bahwa bukan pihak mereka saja yang mungkin melakukan pengintaian. Pihak lawan pun tidak mustahil melakukan hal itu dalam rangka mengikuti jejak Ayahanda dan rombongannya yang sedang bersembunyi. "Kalau begitu, hamba akan membawa empat orang: Paman Wasis, Jasik, Misdi, dan Iba."

"Baiklah," sahut Ayahanda, "tugas Misdi dan Iba akan Ayah serahkan kepada yang lain. Berhati-hatilah, semoga Sang Hiang Tunggal bersama kalian."

"Hamba akan sangat berhati-hati, Ayahanda," ujar Banyak Sumba. Kemudian, mereka merundingkan dan menetapkan kapan rombongan pengintai akan pergi. Dua hari sejak pembicaraan itu, rombongan berangkat dengan senjata seperlunya. Setelah satu hari dalam perjalanan, tibalah mereka di tempat pohon-pohon enau. Mereka pun mengatur dan menetapkan tempat yang baik untuk melakukan pengintaian.

Pada hari keempat, Misdi mendekati Banyak Sumba dengan merangkak, lalu berbisik sambil memberikan isyarat bahwa sesuatu sedang terjadi. Banyak Sumba berdiri dari tempat duduknya, lalu memandang ke arah yang ditunjuk Misdi. Dari jauh tampaklah rombongan yang terdiri dari lima orang. Setiap orang dari rombongan itu membawa sepuluh bumbung bambu besar. Dari jauh, mereka seperti serombongan pembuat gula. Akan tetapi, Banyak Sumba dan kawan-kawannya ddak tertipu oleh penyamaran itu. Mereka yang datang itu adalah para pengikut Ayahanda yang tinggal di kampung-kampung sekitar Kota Medang.

Setelah rombongan dekat, para pengintai tidak keluar dari persembunyian. Mereka memerhatikan, bagaimana kelima orang itu terkejut ketika melihat di bawah pohon-pohon enau itu tidak terdapat bumbung bambu kosong seperti biasa.

Melihat tak satu pun bumbung bambu tersandar di bawah pohon enau, para anak buah Ayahanda yang baik itu tampak ketakutan.

Orang yang tertua di antara mereka segera berjalan ke arah pohon tempat Banyak Sumba meletakkan kotak lontar yang berisi berita dari Ayahanda. Dengan kecemasan dan sikap berjaga-jaga, para ponggawa itu mendengarkan pemimpin mereka membaca lontar yang bertuliskan berita itu. Kemudian, mereka mencabut senjata dan dengan selalu waspada menghindar dari tempat itu. Para pengintai memerhatikan kelima orang ponggawa yang baik itu dari jauh karena Ayahanda memerintahkan agar mereka tidak mencoba menemui para pembantu itu.

Setelah itu hutan sunyi kembali dan hari pun menuju senja. Ketika itu, terpikirlah oleh Banyak Sumba bahwa mereka harus bermalam di hutan. Kalau tidak, mungkin pencuri perbekelan itu tidak mereka pergoki. Oleh karena itu, berundinglah mereka, lalu memutuskan bahwa mereka akan bermalam di atas pohon-pohon yang tinggi untuk menghindari binatang buas yang mencari mangsa di malam hari. Banyak Sumba bersama kawan-kawannya pun memilih pohon-pohon yang sekiranya tepat untuk tempat mereka bermalam. Mereka bergerak dengan hati-hati dan selalu waspada, agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh para pencuri perbekalan.

Akhirnya, pohon-pohon itu pun ditemukan, yaitu pohon- pohon yang tidak terialu besar dan tidak terialu jauh letaknya dari tempat perbekalan ditinggalkan para ponggawa. Para pengintai duduk atau berbaring-baring pada cabang-cabang pohon. Agar tidak jatuh, Banyak Sumba mengikatkan pinggangnya pada cabang pohon tempat ia bersandar. Maka, tak berapa lama kemudian, malam pun turun dengan beribu bintangnya.

Karena berbaring di atas cabang pohon itu tidak menyenangkan, dan karena tidur di bawah langit terbuka itu baru pertama kali dialaminya, sampai larut malam Banyak Sumba sukar sekali memejamkan matanya. Ia harus berjaga sambil matanya tak henti-hentinya memerhatikan berjuta bintang yang seolah berbisik-bisik satu sama lain dengan cahaya mereka. Kadang-kadang, terpikir oleh Banyak Sumba, barangkali bintang-bintang itu menyanyikan lagu bersama, bukan dengan suara tetapi dengan cahaya. Bagaimanapun, cahaya yang kebiru-biruan, kekuning-kuningan, kehijau- hijauan, dan kemerah-merahan membentuk pemandangan indah di langit yang luas. itu. Keindahan itu tidak berbeda dengan keindahan lagu yang dinyanyikan bersama oleh beribu-ribu, ya, berjuta-juta penyanyi. Demikian pikir Banyak Sumba sambil tengadah. Setelah larut malam sekali, baru Banyak Sumba tertidur.

KETIKA matahari terbit, mereka yang bermalam di atas pohon itu bergeliatan.

"Sakit-sakit seluruh tubuh saya," kata Misdi sambil menyeringai.

"Engkau bisa tidur?" tanya Iba kepada kawannya. "Antara tidur dan jaga, celah tempat mimpi masuk."

"Saya pun mimpi tadi malam," kata Iba. "Bagus sekali," sambungnya, lalu ia termenung mengingat-ingat mimpinya.

Sebagai pemimpin rombongan, Banyak Sumba memerintahkan agar kawan-kawan segera turun dan bersiap- siap kembali melakukan pengintaian. Mereka pun turun, lalu bertindak dengan hati-hati ke bumbung-bumbung bambu yang bersandaran di bawah batang-batang enau.

Sepanjang pagi, mereka mengintai di suatu tempat yang tersembunyi. Akan tetapi, hingga hari mulai panas, tak ada tanda-tanda bahwa seseorang atau serombongan orang tiba. Kemudian, setelah matahari condong sedikit ke barat, terdengar dari suatu arah suara-suara, seolah-olah ada orang datang. Dari arah suara itu muncullah serombongan babi hutan yang bergerak ke utara, menuju perhumaan yang terbentang di sebelah tempat itu. Para pengintai pun melepaskan napas yang selama itu mereka tahan, lalu mulai lagi mengintai.

Mereka mengintai sampai sore. Ketika Banyak Sumba haripir memutuskan untuk menyuruh rombongannya bersiap mer aiki pohon, terdengarlah suara beberapa orang tertawa sayup-sayup. Seluruh rombongan tertegun dan menajamkan telinga mereka.

'Mereka tiba," kata Jasik.

"Saya ragu-ragu. Mengapa mereka tertawa-tawa begitu keras. Biasanya, pencuri sangat hati-hati," ujar Banyak Sumba.

Jasik tidak menjawab. Paman Wasis memindahkan badiknya dari sebelah kanan ikat pinggang ke sebelah kiri. Banyak Sumba melihat kawan-kawannya yang lain membenahi senjata masing-masing. Ia sendiri tidak meniru mereka karena tidak senang mempergunakan senjata.

"Itu mereka," bisik Jasik. "Satu, dua, ... tujuh orang," lanjutnya.

Banyak Sumba memerhatikan rombongan yang datang. Mereka berbaju hitam dengan ikat kepala gaya barangbang semplak. Beberapa orang mengenakan gelang akar bahar dan tidak seorang pun di antara mereka yang tidak bergolok.

Orang yang paling besar, yang tampaknya kepala rombongan, bergolok pendek.

"Mereka orang-orang jahat," bisik Paman Wasis.

Banyak Sumba tidak usah diberi tahu tentang kenyataan itu. Dari pakaian dan cara mereka berjalan serta bercakap, jelas sekali bahwa orang-orang yang tiba itu adalah perampok. Sementara orang-orang itu berjalan, jelas sekali mereka menuju tempat penyimpanan persediaan untuk Panyingkiran. Yang paling kecil di antara mereka berlari sambil berteriak "Mari kita lihat harta karun, barangkali kita akan menemukannya kembali," ketika ia melihat ke bawah pohon- pohon enau, ia tertegun keheranan. "Weceiii! Lihat!" katanya.

"Ada lagi?" tanya kepala gerombolan yang tinggi besar. "Lihat!"

"Wah, kalau sering menerima kiriman ini, kita akan gemuk- gemuk seperti ubi!" kata yang lain.

Sementara itu, Banyak Sumba memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk keluar dari tempat persembunyian dan bergerak ke arah gerombolan yang tampaknya sangat lengah.

"Orang gila macam apakah yang menyimpan perbekalan dalam hutan ini?" tanya yang seorang sambil mulai membuka lutup bumbung bambu.

"Kamilah orang gila itu," ujar Banyak Sumba seraya keluar dari semak. Orang-orang itu berpaling serentak kepadanya dan kepada kawan-kawannya.

"Hah, Anak Tampan, mengapa main sembunyi- sembunyian?" tanya si Tinggi Besar kepada Banyak Sumba sambil mengawasi seluruh rombongannya.

"Kami mau tahu siapa yang berani mencuri simpanan kami ketika kami sedang tidak ada," kata Banyak Sumba sambil terus melangkah dengan gagah. Melihat keberanian Banyak Sumba, gerombolan itu tertegun.

Kemudian, si Jangkung Besar berkata, "Kalaupun ada kalian, kami akan tetap mengambil perbekalan ini. Ini milik kami, jatuh dari langit dihadiahkan oleh para Bujangga dan Pohaci."

"Kalau begitu, kalian pencuri," ujar Banyak Sumba menggeram.

"Kami perampok, kalau Yang Mulia ingin tahu," kata si Jangkung Besar, lalu dengan tiba-tiba menghambur menyerang ke arah Banyak Sumba. Yang lain mengikuti menyerang ke arah kawan-kawan Banyak Sumba. Banyak Sumba yang waspada segera menghindar. Mereka berhadapan, sama-sama waspada. Sementara itu, yang lain kacau-balau berkelahi di dalam semak.

"Kautahu siapa aku?" tanya kepala perampok itu.

"Engkau sampah!" kata Banyak Sumba dan ia melihat salah seorang di antara gerombolan yang tidak mendapat lawan mengepungnya dari samping.

"Kau mau tahu, sampah dapat membahayakan tempurung kepalamu?" tanya kepala perampok itu seraya maju dari samping kanan. Sementara kawannya maju dari samping kiri.

Dalam waktu yang singkat, terkilas siasat dalam hati Banyak Sumba. Dan begitu siasat itu datang, begitu ia melaksanakannya. Secepat kilat, ia menyerang si Besar yang segera menghindar. Kawannya menghambur menyerang dari samping kanan. Itulah yang ditunggu Banyak Sumba karena ke arah lawan sebelah kiri, ia menghantamkan kaki kirinya. Begitu kerasnya jejakan dan begitu kerasnya lawan menyerang, hingga suara gedebuk terdengar, diikuti suara jatuh yang berat. Banyak Sumba tidak sempat memerhatikan lawan yang dijatuhkannya. Ia segera bersiap menghadapi si Besar yang langsung menyerang dengan buas. Untung Banyak Sumba sempat menghindan tetapi dari belakang diterimanya pukulan yang tidak keras tetapi cukup mengejutkannya. Ia melompat, ternyata lawan tambah seorang lagi, sementara yang kena pukul duluan masih berdiri di dekatnya, walaupun tampak tidak dapat menyerang.

Sekarang, Banyak Sumba menghadapi dua orang lagi. Tiba- tiba, lawan baru menyerang dengan jari-jari yang mengarah ke mata. Banyak Sumba menangkis tangan itu sambil menjauh dari tempat berdiri si Besar yang menunggu kesempatan. Ternyata, lawan tidak menotokkan jarinya.

Kakinyalah yang menghantam rusuk kiri Banyak Sumba. Tendangan yangberde-buk itu tidak menyakitkan, tetapi napas Banyak Sumba menjadi berat. Ketika si Besar menyerang, ia sukar sekali dapat menghindarkan diri. Ia menghindar dan dengan putus asa, menghentakkan kakinya ke arah lawan yang telah mengenainya. Nasib baiklah yang membuat lawan tidak sempat menghindar dan karena ulu hatinya yang kena, lawan jatuh telentang dalam semak. Ia menggeliat-geliat, tapi tidak dapat bangun.

Waktu Banyak Sumba hendak bersiap menghadapi si Besar, si Besar menghentak leher Banyak Sumba dengan pinggir tangannya. Banyak Sumba sempoyongan dan sebelum dapat berdiri, ulu hatinya disusul oleh tendangan. Ketika kaki lawan masuk ke ulu hatinya, bukan tubuhnya yang dirasakan terguncang, tetapi langitlah yang gemetar, lalu berputar.

Sekarang, semak-semak seolah-olah naik, seperti ombak laut yang tiba-tiba pasang ke arah langit. Pohon-pohonan, langit, dan semak-semak menjadi kuning. Lalu, segalanya jadi hitam dan Banyak Sumba tidak ingat apa-apa lagi.

MULA-MULA perasaan dingin di wajah yang mengembalikan kesadarannya, kemudian cahaya serasa menembus kelopak matanya. Ketika Banyak Sumba membuka matanya, tampaklah orang-orang mengelilinginya. Awalnya, wajah mereka tidak jelas dan hanya merupakan sosok-sosok hitam dengan latar belakang putih-biru. Kemudian, wajah-wajah lebih jelas, Misdi, Iba, Paman Wasis, dan Jasik. Sementara latar belakang putih dan biru adalah awan dan langit.

Ternyata, Banyak Sumba berbaring di atas rumput. Ia segera bangun dan duduk.

"Ada yang sakit?" tanya Paman Wasis. Banyak Sumba tidak segera menjawab karena napasnya berat, sedangkan rusuk sebelah kirinya terasa sakit. Banyak Sumba meraba bagian yang sakit itu, tetapi tangannya segera ditarik karena sentuhannya terasa seperti sebuah tusukan. "Di sini," katanya kepada Paman Wasis yang berlutut di depannya. Orang tua itu kemudian mempersilakan Banyak Sumba membuka baju salontreng-nya. Ia meraba bagian badan Banyak Sumba di sekitar rusuk.

"Tidak ada yang patah, syukurlah," kata orang tua itu, lalu memberi isyarat kepada Jasik.

Jasik menghilang di balik semak-semak, kemudian kembali dengan beberapa macam daun muda. Paman Wasis melumatkan daun-daun muda yang sudah dibasahi itu di tangannya. Setelah itu, daun-daun itu ditempelkannya ke bagian rusuk Banyak Sumba yang sakit, lalu tubuh Banyak Sumba di-bebat dengan ikat pinggang panjang yang terbuat dari kain. Banyak Sumba kemudian dipersilakan berdiri.

Walaupun masih lemah, Banyak Sumba memaksakan diri dan berusaha memperlihatkan kepada badega-badeganya bahwa ia tidak lemah. Ia menggeliat-geliatkan tangannya, lalu berdiri kukuh. "Terima kasih, saya tidak apa-apa."

"Syukurlah," ujar Paman Wasis. Kecemasan di mata para badega pun lenyap.

Ketika Banyak Sumba bergerak, terlihatlah olehnya tubuh- tubuh lawan yang bergelimpangan. Ada yang berdarah, ada pula yang tersembunyi dalam semak bagai kain tua. Dua orang di antara mereka diikat dengan tambang dan duduk di bawah pohon enau.

"Apa yang akan kita lakukan kepada yang masih hidup ini?" tanya Paman Wasis kepada Banyak Sumba.

"Kita bawa ke Panyingkiran."

"Apakah itu tidak berbahaya, Raden?"

"Kita tutup matanya sepanjang jalan," ujar Banyak Sumba. "Paman mengerti," ujar Paman Wasis tersenyum, lalu

memberi isyarat kepada Misdi agar melepaskan ikatan kepala lawanan itu dan mempergunakannya sebagai penutup mata mereka.

Kedua orang tawanan itu tidak berdaya. Tak lama kemudian, mereka pun telah berjalan ke Panyingkiran, sebagian membawa bumbung-bumbung bambu, lianyak Sumba menuntun tawanannya dengan memegang ujung tambang pengikat mereka. Makin lama, mereka makin masuk hutan dan makin dekat juga ke Panyingkiran. Sepanjang jalan itu, Banyak Sumba termenung. Hatinya sungguh-sungguh prihatin karena dialah satu-satunya yang dikalahkan oleh lawan dalam perkelahian itu. Kawan-kawannya merobohkan lawan mereka. Memang ia dikeroyok oleh tiga orang, letapi sebagai pemimpin dan satu-satunya bangsawan di antara pembantunya, kejadian itu sangat menyedihkannya. Sepan-l- mgjalan, ia terus termenung.

la menyadari sekarang, kalau Ayahanda ddak memberinya perintah untuk mulai membalaskan dendam keluarganya, karena dalam hal ilmu berkelahi, Banyak Sumba belum dapat diandalkan. Ini menyadarkannya bahwa ia masih harus banyak belajar. Soal yang pertama-tama menyadarkan agar ia harus banyak belajar adalah kenyataan bahwa dengan dikeroyok oleh tiga orang, ia tidak berdaya sama sekali. Padahal ia tahu, seorang puragabaya biasanya menjatuhkan lima, enam, bahkan sepuluh orang pengeroyoknya. Bagaimana ia dapat membunuh Anggadipati kalau oleh tiga perampok saja ia roboh dan pingsan? Bagaimana pula ia akan melawan anggota wangsa Tumenggung Wiratanu kalau melawan tiga orang saja tidak berdaya?

Kesadaran itu membuat Banyak Sumba prihatin.

Keprihatinan ini menumbuhkan niatnya untuk mengembara dan mencari guru-guru yang termasyhur untuk dijadikan pendidiknya selama ia mempersiapkan diri guna menunaikan tugas keluarga, yaitu membunuh Anggadipati, anggota keluarga Wiratanu, dan Pembayun Jakasunu. Ya, untuk membalas dendam terhadap semua yang menyebabkan keluarganya harus mengungsi dan menderita di tengah-tengah hutan belantara. Yang menyebabkan Ayahanda semakin runduk dan Ayunda Yuta Inten hidup dalam dukacita berlarut- larut.

Niat dan tekad itu menyebabkan detak jantungnya bertambah cepat, dan karena udara hutan yang bersih, kesegaran kembali seperti sediakala. Ia berseru kepada kawan-kawannya yang berjalan tercecer agar lebih cepat.

"Ayahanda tentu sangat tak sabar menunggu kita," katanya kepada Paman Wasis.

AYAHANDA sangat bersenang hati dengan hasil kerja kelompok gulang-gulang yang dipimpin Banyak Sumba. Kedua orang tawanan segera dibuka tutup matanya, lalu dihadapkan kepada Ayahanda di suatu tempat di dalam rumah besar.

Banyak Sumba, Paman Wasis, dan Jasik hadir dalam pemeriksaan lawanan itu.

"Engkau anak buah Jakasunu?" tanya Ayahanda.

"Kami anak buah Gimbal," kata salah seorang tawanan itu. "Siapa Gimbal?"

"Kepala kami, ia mati oleh ini," kata lawanan itu sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Paman Wasis.

"Gimbal disuruh mencari aku oleh Jakasunu, ya?"

"Ka ... mi tidak ada yang menyuruh. Kami merampok para petani... dan tidak tahu nama 'Jakasunu..”

”Raden Pembayun Jakasunu dari Kota Medang!" seru Ayahanda membentak.

"Kami tidak pernah mendengar nama itu," ujar perampok itu. "Sayang, kepala perampok itu mati," kata Ayahanda sambil melirik ke Paman Wasis, "Siapa tahu ia mempergunakan kawan-kawannya untuk tujuan yang tidak diketahui oleh mereka agar mendapat hadiahnya sendiri dari Jakasunu. Perampok adalah perampok, kawan-kawannya pun tidak segan-segan dirampoknya."

"Hei, kamu," kata Ayahanda menunjuk perampok yang lain, "mengapa kau curi bumbung bambu itu?!"

"Kami biasa mencuri atau merebut bumbung dari para pembuat gula. Kami minum atau kami buat tuak di tempat kami," jawab perampok itu.

"Jadi, kau tidak tahu siapa Jakasunu?" "Tidak, Juragan.”

"Betul?"

”Betul, Juragan" "Betul, juragan..”

"Jasik, panggil si Iba, suruh ke sini." Jasik keluar, tak lama kemudian kembali dengan Iba yang

berbadan tinggi besar.

"Iba, suruh orang ini menjawab pertanyaan-pertanyaanku."

Iba dengan tidak disangka-sangka memegang tangan salah seorang perampok itu, lalu menganyamkan jari-jarinya.

Setelah itu, Iba menekan jari-jari itu dengan meremasnya. Perampok yang sial itu berteriak kesakitan.

"Katakan bahwa kalian disuruh Pembayun Jakasunu untuk mencari aku!"

"Kami tidak tahu siapa Jakasunu!" jerit perampok itu. "Kau tahu siapa aku?"

"Aduuuh, tidak, tidaaak!" teriak perampok itu kesakitan.

Banyak Sumba menyaksikan kejadian yang tidak menyenangkan itu dengan mengeraskan hatinya. Ia harus membiasakan dirinya menyaksikan kejadian yang tidak menyenangkan itu karena ia harus menghadapi peristiwa- peristiwa yang lebih tidak menyenangkan, bahkan mengerikan di kemudian hari. Dan siapa tahu pula, Ayahanda memang sedang melatihnya dengan penyiksaan terhadap perampok itu. Banyak Sumba pun diam saja sambil menyaksikan apa yang terjadi.

Penyiksaan pun dilanjutkan oleh Iba untuk mendapatkan pengakuan. Akan tetapi, perampok-perampok itu tidak memberikan jawaban yang diingini Ayahanda. Akhirnya, walaupun kecewa, Ayahanda menyuruh Iba membawa kedua orang tawanan itu ke luar.

"Kita periksa lagi nanti," ujar Ayahanda.

Banyak Sumba mengeluh dalam hati, kasihan terhadap perampok yang memberi kesan kepadanya bahwa mereka benar-benar tidak ada sangkut pautnya dengan Raden Pembayun Jakasunu.

UNTUK beberapa lama, ruangan hening. Ayahanda, Banyak Sumba, dan Paman Wasis tidak memulai percakapan, walaupun ketiganya menyadari bahwa masih banyak hal yang terkandung dalam hati masing-masing dalam hubungannya dengan peristiwa yang terakhir itu. Maka, dalam keheningan yang menekan itu, berkatalah Banyak Sumba, 'Ayahanda, ada sesuatu yang ingin hamba sampaikan kepada Ayahanda."

"Ayah tahu apa yang kaupikirkan. Paman Wasis telah melaporkan kepadaku tentang perkelahian itu. Aku sungguh sedih," ujar Ayahanda. Perkataan terakhir Ayahanda begitu menusuk hati Banyak Sumba, hingga kepalanya seolah-olah kena pukul. Ia menunduk dan hatinya menjadi kelam karena kesedihan. "Raden Sumba dikeroyok oleh tiga orang. Hamba pun tidak akan sanggup bertahan terhadap tiga orang itu, apalagi salah seorang di antaranya bertubuh tinggi besar, Gimbal namanya. Gimbal inilah yang menjatuhkan Raden Sumba setelah yang dua orang dirobohkan," kata Paman Wasis.

"Dirobohkan adalah dirobohkan, apakah oleh seorang, dua orang, atau tiga orang tidaklah jadi soal," sambut Ayahanda.

Walaupun Ayahanda tidak menambahkan kalimat itu, Banyak Sumba dapat mendengar dengan telinga batinnya bahawa Ayahanda mengatakan, "Anggota wangsa Banyak Citra tidak boleh dirobohkan kalau ia telah bertekad jadi pahlawan. Keluarga Banyak Citra hanya roboh kalau ia tewas."

Walaupun pembelaan Paman Wasis sedikit meringankan hatinya, persoalan pokok belumlah terpecahkan.

Bagaimanapun, kepandaiannya dalam ilmu berkelahi belum berarti. Oleh karena itu, Banyak Sumba berpendapat bahwa ia harus belajar lagi. Kesempatan untuk menyampaikan maksudnya saat itu. Bukan saja ia dapat memenuhi niatnya untuk belajar kembali, tetapi juga agar hatinya yang berat menjadi ringan. Berkatalah Banyak Sumba, "Hamba bertekad untuk menjadi anggota wangsa Banyak Citra yang baik. Oleh karena itu, izinkanlah hamba mengembara untuk menambah ilmu."

"Sebetulnya, niat untuk mengirimkan kau belajar lagi sudah ada pada Ayah sejak kau selesai belajar kepada Paman Wasis, tetapi umurmu belum dua puluh tahun. Oleh karena itu, kau kutahan dulu. Di samping itu, keluarga kita akan sangat kehilanganmu."

Perkataan Ayahanda yang memperlihatkan kelemahan hati itu merupakan suatu hal yang baru bagi Banyak Sumba.

Biasanya, Ayahanda tidak bersikap lemah, tidak pernah memerhatikan perasaan Ibunda, Ayunda, atau kaum wanita dalam istana. Akan tetapi, saat itu Ayahanda mengemukakan perhatian terhadap Ibunda dan Ayunda lebih banyak daripada biasanya. Apakah penderitaan tiga tahun di pengungsian telah menyebabkan perubahan pada diri Ayahanda?

Kelemahan yang tiba-tiba tampak pada Ayahanda bukan saja menyebabkan Banyak Sumba terkejut. Ia marah kepada Anggadipati, Wiratanu, dan Pembayun Jakasunu yang telah menyebabkan Ayahanda menjadi lemah. Ia marah terhadap dirinya yang tidak dapat melindungi Ayahanda yang sudah lanjut usia itu. Ia marah terhadap nasibnya. Untuk mencurahkan kemarahannya itu, berkatalah Banyak Sumba, "Ayahanda, dalam keadaan wajar memang hamba terlalu muda untuk pergi. Juga dalam keadaan biasa kecemasan, Ibunda dan Ayunda perlu mendapat perhatian yang sewajarnya. Akan tetapi, sang nasib bertindak tidak wajar terhadap keluarga Banyak Citra. Oleh karena itu, izinkanlah hamba pergi walaupun belum berusia dua puluh tahun."

Mendengar perkataan Banyak Sumba, Ayahanda memalingkan pandangannya ke arah Banyak Sumba yang duduk di atas lantai di hadapan beliau. Beliau tampak terharu oleh perkataan Banyak Sumba, lalu berkata dengan suara gemetar yang tidak dapat beliau sembunyikan. "Engkau anggota wangsa Banyak Citra, engkau selalu akan ditantang nasib dan menjadi kuat karenanya. Pergilah walaupun belum berumur dua puluh tahun karena engkau anggota Wangsa Banyak Citra."

Malam itu, suasana sedih meliputi seluruh penghuni Padepokan Panyingkiran. Para wanita berurai air mata, terutama Ibunda dan Ayunda. Mereka harus melepaskan putra terbesar untuk mengusung tugas yang berat, yaitu menegakkan kembali kehormatan wangsa Banyak Citra yang belakangan pudar karena pergolakan peristiwa.

AYAHANDA telah mengatur segala yang berhubungan dengan kepergian Banyak Sumba. Di suatu tempat dalam hutan, dua orang gulang-gulang dari Kota Medang telah menunggu pada pagi yang ditentukan. Mereka menunggu dengan dua ekor kuda yang gagah, seekor untuk Banyak Sumba dan seekor lagi untuk Jasik, yang akan bertindak sebagai kawan Banyak Sumba.

"Raden Sumba!" kata kedua orang gulang-gulang itu sambil memburu dan merangkul Banyak Sumba. Kedua orang

gulang-gulang itu menangis sambil ddak melepaskan pegangan mereka. Banyak Sumba kenal rupa kedua orang gulang-gulang itu, tetapi nama-nama mereka tidak diingatnya lagi. Terlalu banyak gulang-gulang Ayahanda untuk dikenali namanya. Walaupun begitu, wajah mereka tidak mudah untuk dilupakan.

Setelah kedua orang gulang-gulang itu reda, bertanyalah Banyak Sumba kepada mereka tentang keadaan keluarga mereka semenjak keluarganya mengungsi. Gulang-gulang itu menjelaskan bahwa mereka pun meninggalkan Kota Medang dan tinggal di kampung yang berada di luar benteng kota.

Umumnya, gulang-gulang yang setia kepada Ayahanda meninggalkan Kota Medang, lalu hidup di kampung-kampung atau membuka perhumaan baru di hutan.

"Apa kalian cukup aman?" tanya Banyak Sumba yang ingin mengetahui bagaimana nasib para pengikut Ayahanda. "Sang Hiang Tunggal melindungi kami, Raden." "Apakah ada tanda- tanda bahwa mereka giat melakukan pencarian?" tanya Banyak Sumba pula.

"Sejauh pengalaman kami, tidak banyak dilakukan usaha pencarian secara terbuka. Akan tetapi, sering kali ada orang yang menyelidiki dan menanyakan, di mana keluarga Ayahanda Raden bersembunyi. Tentu saja kami sangat curiga terhadap orang-orang ini. Banyak pula di antara rakyat biasa yang sering bertanya-tanya tentang nasib keluarga Ayahanda, tapi mereka tidak berani mengemukakan pertanyaan itu secara terbuka. Mereka hanya berbisik-bisik," kata gulang- gulang itu menjelaskan. "Apakah Pembayun Jakasunu sudah diangkat oleh peme rintah kerajaan?" tanya Banyak Sumba pula.

"Kami tidak tahu, Raden. Kami tidak pernah pergi ke kota, kami takut. Bukan takut ditangkap atau dianiaya, tapi takut disuruh mencari jejak keluarga Ayahanda."

"Bagaimana keadaan kota menurut orang-orang yang datang dari sana?"

"Tenang-tenang saja, Raden, seolah-olah tidak terjadi apa- apa. Hanya tampak banyak perwira yang didatangkan dari ibu kota Pakuan."

"Apakah kalian kira cukup aman bagiku untuk datang ke sana?" seraya bertanya demikian, teringadah Banyak Sumba kepada Teja Mayang, gadis yang menarik perhatiannya waktu masih anak-anak.

"Tidak, Raden, jangan!" sahut gulang-gulang itu hampir bersamaan. Nada ketakutan terdengar dalam kata-kata mereka.

"Tapi ... bukankah saya dapat datang ke sana dengan menyamar? Di samping itu, bukankah mereka tidak akan mengenal saya lagi?"

"Lebih baik tidak, Raden," kata kedua orang gulang-gulang itu makin cemas.

"Saya pun belum memutuskan untuk pergi ke sana. Tugas saya bukan sebagai penyelidik, jadi janganlah cemas," kata Banyak Sumba. Akan tetapi, ingatan serta keinginannya untuk bertemu Teja Mayang makin keras juga. Ia pun heran oleh keinginannya yang tiba-tiba muncul itu. Selama di Padepokan l'.myingkiran, kenangan kepada gadis itu jarang timbul.

Setelah beberapa lama tertegun, berkatalah Banyak Sumba kepada fasik, "Sik, ikatkanlah barang-barang kita di pelana kuda, saatnya sudah tiba bagi kita untuk pergi." Jasik melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh tuannya. Sebuah kantong kulit besar yang berisi uang emas diikatkan pada pelana kuda yang akan menjadi tunggangan Banyak Sumba, sedangkan perlengkapan lain diikatkan pada kuda yang akan menjadi tunggangannya. Kedua orang gulang-gulang membantu pekerjaan Jasik. Setelah persiapan selesai, berkatalah Banyak Sumba, "Paman, terima kasih atas segala bantuannya, kuda-kuda ini sangat gagah. Salam kepada keluarga kalian dan janganlah cemas, tidak akan ada yang terjadi kepadaku dan Jasik. Sang Hiang Tunggal akan berpihak kepada yang benar. Ia akan mempertemukan kita kembali di Kota Medang, dalam waktu lama ataupun dalam waktu dekat."

Kedua orang gulang-gulang memberi hormat. Banyak Sumba menepuk pundak mereka sambil tersenyum, lalu mohon diri. Dan ketika kedua pemuda seusia itu berada di atas kuda masing-masing, gulang-gulang itu melambaikan tangan mereka.

-ooo00dw00ooo-