Pertarungan Terakhir Bab 10 : Bersepakat dengan Si Colat

 
Bab 10 : Bersepakat dengan Si Colat

Orang-orang kampung itu menerima Banyak Sumba dengan senang hati. Bukan saja karena Banyak Sumba bertingkah laku dan bertutur kata halus, tetapi juga karena ia dapat menceritakan pengalaman-peng-alamannya ketika tersesat dalam hutan. Ia menceritakan bagaimana ia harus hidup dan bagaimana harus selalu menyelamatkan diri dari ancaman binatang buas. Diceritakannya bagaimana ia tersesat di Lembah Tengkorak dan bagaimana ia menemukan Gerbang Buana Larang, tempat para siluman keluar masuk dunia.

Diceritakan pula bagaimana di Hutan Larangan yang tampak dari kampung itu, ia pernah menduduki ular yang sangat besar karena sebelumnya ia menyangka ular besar itu batang pohon yang tumbang.

Banyak yang tidak diceritakannya karena banyak di antara pengalamannya merupakan peristiwa yang sebenarnya tidak boleh terjadi terhadap warga Kerajaan Pajajaran. Akan tetapi, cerita-ceritanya yang aneh bagi orang-orang kampung itu tetap menarik. Terutama anak-anak kecil, mereka selalu meminta dia untuk bercerita dan bercerita kembali.

Karena di antara penduduk kampung itu banyak anak remaja yang cukup besar untuk mempelajari ilmu keprajuritan, pada suatu sore Banyak Sumba berkata kepada kakek-kakek tempat ia menginap, "Kakek, sebagai tanda terima kasih saya kepada keramahan dan kebaikan penduduk kampung ini, ingin sekali saya menyumbangkan sesuatu kepada mereka. Saya memiliki sedikit kepandaian, yaitu dalam ilmu keprajuritan. Di sini, ada enam orang remaja yang sudah cukup besar untuk berlatih ilmu keprajuritan. Saya kira, akan ada gunanya kalau saya ikut mempersiapkan mereka, sebelum mereka dipanggil oleh kerajaan untuk berlatih di Kutabarang."

Kakek-kakek itu tidak keberatan, tapi kemudian dengan panjang lebar ia bercerita bahwa sudah beberapa tahun di daerah-daerah antara Kutabarang dan Pakuan Pajajaran berkeliaran orang-orang jahat, yaitu anak buah si Colat.

Kakek-kakek itu bertanya, "Tidakkah orang-orang jahat ini akan curiga kepada kita kalau mereka mengetahui bahwa anak-anak di sini dilatih ilmu keprajuritan? Yang Kakek takutkan adalah mereka akan curiga dan mengganggu kita."

Banyak Sumba termenung. Pada satu pihak, ia merasa kecewa, tetapi di lain pihak timbul pikiran bahwa ia tidak akan dapat membalas budi atas kebaikan orang-orang kampung itu. Di samping itu, ia tidak akan dapat melakukan percobaan tentang ilmu yang didapatnya dari Padepokan Tajimalela dan dari renungan-renungannya sendiri. Untunglah, ia mendapat ilham.

Ia teringat pada peristiwa yang dialaminya di Padepokan Sirnadirasa. Si Colat sedang berada dalam pengepungan dan pengepungan itu belum tentu dapat dilaksanakan dengan mudah. Kalau si Colat ternyata tangguh, akan dikirim beberapa orang puragabaya terbaik. Itu berarti bahwa mungkin Anggadipati akan dipilih menjadi pemimpin pengepungan itu. Jika menggabungkan diri dengan pasukan si Colat, Banyak Sumba dapat mengambil dua keuntungan.

Pertama, ia dapat mengasah ilmunya dengan si Colat. Kedua, ia mungkin dapat bertemu dengan Anggadipati pada peristiwa yang cocok untuk pembalasan dendam. Ia termenung, memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Ia hampir lupa kepada kakek-kakek yang ada di depannya.

"Tapi, bukan tidak ada cara untuk memberikan latihan itu, Raden," kata kakek-kakek itu kepada Banyak Sumba.

"Bagaimana, Kakek?"

"Ada ruangan besar yang dapat dipergunakan oleh anak- anak untuk berlatih. Di sana, mereka tidak akan terlihat oleh anak buah si Colat yang kebetulan berkeliaran ke sini."

"Kalau hal itu akan mencemaskan orang-orang kampung, lebih baik saya tidak melatih mereka, Kakek."

"Sama sekali tidak. Pada suatu ketika, orang-orang kampung akan bangkit dan membantu pasukan kerajaan mengepung si Colat dan begundal-begundalnya. Kalau sekarang mereka diam, bukan berarti mereka menerima kejahatan-kejahatan yang dilakukan si Colat dan anak buahnya," kata kakek-kakek itu dengan kemarahan yang terpendam. Banyak Sumba tak banyak merenungkan soal kejahatan si Colat dan anak buahnya. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah tempat latihan untuk mengajar anak- anak muda kampung itu dan melakukan percobaan segala sesuatu yang didapatnya selama ini.

Keesokan malamnya, latihan itu pun dimulainya. Dari hari ke hari, bersamaan dengan meningkatnya kepandaian para pemuda kampung itu, meningkat pula pengertian Banyak Sumba terhadap ilmu keperwiraan yang selama ini dikumpulkannya. Pada suatu kali, sadarlah ia bahwa saatnya sudah tiba untuk meninggalkan kampung itu dan menunaikan tugas keluarga yang selama ini diembannya.

Ia menyuruh seorang pemuda untuk mencarikan seekor kuda yang baik, sementara itu ia membeli beberapa pasang pakaian yang baik dari orang-orang kampung yang memiliki beberapa pesalin. Ketika ditanyakannya di mana ia dapat membeli dua buah trisula kecil, kakek-kakek itu memandang dengan curiga.

"Tapi, itu senjata para puragabaya, Anak Muda." "Saya menginginkannya karena bentuknya yang indah,

Kakek," kata Banyak Sumba.

"Tapi, biasanya orang-orang tidak berani membawanya, Raden. Memang tidak ada larangan untuk membawanya dalam perjalanan, tapi orang tetap tidak berani karena mereka hendak menghormati para puragabaya."

Banyak Sumba tidak melanjutkan percakapannya karena takut kalau-kalau kecurigaan kakek-kakek itu bertambah. Ia pun segera mengucapkan terima kasih atas kebaikan kakek- kakek itu selama ini. Ia pun mohon diri untuk pergi keesokan harinya. Sore itu, kepada penghuni kampung, Banyak Sumba mengucapkan terima kasih seraya mohon diri. Kuda yang baik telah siap ditambat dekat kandangjaga, dikelilingi oleh anak- anak kampung yang jarang melihat binatang besar itu.

Ketika ia hendak beristirahat, terdengarlah ribut-ribut di luar lawang kori. Rasji, penduduk kampung, menyumpah- nyumpah sambil melemparkan dua buah bumbung kosong di depan lawang kori. Orang-orang kampung berjalan ke sana, ingin tahu apa yang terjadi. Banyak Sumba pun mengikuti mereka.

"Kakek," kata Rasji kepada kakek-kakek tempat Banyak Sumba menginap, "mereka menghabiskan lahang saya. Kalau para jagabaya datang, saya akan jadi penunjukjalan mereka," sambung Rasji. Dari percakapan selanjutnya dan dari keterangan-keterangan Rasji, Banyak Sumba mengerti bahwa beberapa anak buah si Colat bertemu dengan Rasji. Mereka meminta lahang. Rasji mau tidak mau harus memberikannya. Akan tetapi, anak buah si Colat yang kurang ajar itu tidak menyisakan lahang Rasji dan tidak memberikan pengganti berupa barang maupun uang. Itulah sebabnya, Rasji marah.

"Kalau kau mau jadi penunjukjalan para jagabaya, seluruh kampung akan menjadi korban si Colat," kata nenek-nenek yang berdiri dekat Banyak Sumba.

"Ke mana mereka pergi?" tanya Banyak Sumba kepada Rasji.

"Ke timur," ujar Rasji. Orang-orang kampung berpaling kepada Banyak Sumba dengan penasaran. Mereka tahu bahwa Banyak Sumba seorang perwira, bahkan tampak mereka menyangka Banyak Sumba adalah perwira yang dikirim oleh kerajaan untuk menangkap si Colat.

"Kalau Raden hendak menangkap mereka, janganlah dekat- dekat kampung ini," kata kakek-kakek itu, "Tangkaplah di hutan, jangan dekat kampung, karena anak buah si Colat mungkin saja membalas dendam secara membabi buta."

"Baiklah, Kakek," kata Banyak Sumba. Ia berjalan ke rumah besar tempatnya menginap. Orang-orang mengikutinya dengan pandangan mata. Kemudian, Banyak Sumba keluar dengan perbekalan dan perlengkapannya. Ia memasang pelana di atas kudanya, lalu menyampaikan terima kasih sekali lagi kepada seluruh isi kampung. Ia mohon diri. Setelah mengusap kepala anak kecil yang berada di dekatnya, ia menaiki kudanya.

"Kami mendoakan Raden, semoga berhasil menghentikan kegiatan si Colat dan semua anak buahnya."

Tak lama kemudian, Banyak Sumba telah memacu kudanya dijalan kecil yang menghubungkan perkampungan itu dengan perkampungan lain. Jalan-jalannya bersimpang siur di tengah- tengah perhumaan datar yang terdapat di daerah itu.

MALAM pertama, ia tidak menyusul anak buah si Colat itu.

Malam kedua, ketika menginap di sebuah kampung, ia mendapat kabar dari penduduk bahwa sembilan orang penunggang kuda bersenjata lewat pagi sebelumnya, melintasi jalan kecil yang membatasi kampung dan perhumaan.

Harapan Banyak Sumba menjadi besar.

"Raden seorang puragabaya?" kata orang kampung yang ditanyainya dengan ragu-ragu.

"Bukan," kata Banyak Sumba, "Mengapa Paman bertanya begitu?" Banyak Sumba balik bertanya.

"Di Kutabarang tersebar berita bahwa para puragabaya mulai dikerahkan untuk memburu si Colat dan anak buahnya. Dan ... dan Raden tampaknya seperti seorang puragabaya."

Banyak Sumba tersenyum, lalu bertanya, "Apa yang menyebabkan saya tampak seperti seorang puragabaya?"

"Potongan badan Raden dan otot-otot Raden serta ... tutur kata Raden, dan itu, trisula kecil di balik baju Raden," kata orang itu sambil tersenyum. Banyak Sumba menutupkan bajunya, menyembunyikan trisula yang ditukarnya dari seorang pandai besi pagi itu.

"Tapi trisula ini sangat buruk, sedangkan senjata puragabaya indah-indah buatannya."

"Tentu saja Raden membawa yang buruk karena Raden sedang menyamar," kata orang itu.

Banyak Sumba hanya tersenyum, kemudian ia bertanya, "Betulkah puragabaya dikerahkan untuk mengepung si Colat?"

"Ya, Raden. Mula-mula, si Colat diberi peringatan untuk menghentikan kebuasannya, tetapi ia tidak mau mendengar. Sang Prabu sendiri memanggil kesatria gila itu, tetapi ia tidak memiliki rasa hormat lagi. Terakhir, putra Tumenggung Wiratanu dari Kutawaringin dibunuhnya, kepalanya dikirimkan di atas,baki kepada ayahandanya. Itu keterlaluan."

Banyak Sumba terkejut mendengar berita itu. Untuk beberapa lama, ia tidak dapat berkata-kata. Setelah hening beberapa lama, dengan tergagap-gagap ia bertanya, 'Apakah yang Paman maksud Raden Bungsu Wiratanu?"

"Ya, ia dipancing dengan seorang gadis. Ketika ia memasuki rumah untuk mendapatkan gadis itu, di dalam rumah itu sudah siap si Colat dengan dua orang kawannya. Begitulah kisah yang dibisikkan dari telinga ke telinga di Kutabarang dan seluruh kerajaan. Tidak semua orang bersedih hati karena Bungsu Wiratanu ini sering kurang ajar pula, menurut cerita orang."

Banyak Sumba termenung. Ia teringat akan pengalamannya dengan Raden Bungsu Wiratanu. Ia menarik napas panjang. "Si Colat ini memang mempunyai perhitungan dengan keluarga Tumenggung Wiratanu. Ya, dan itu urusannya," keluhnya.

"Sepanjang ia tidak berbuat hal-hal lain, pemerintah kerajaan tampaknya dapat mengerti permusuhan antara si Colat dengan keluarga Tumenggung Wiratanu ini.

Bagaimanapun, keluarga Tumenggung Wiratanu tidaklah mempunyai nama baik," kata orang kampung itu. 'Akan tetapi," lanjutnya, "selang beberapa waktu ini, perbuatan- perbuatan lain dilakukan pula oleh anak buahnya dimulai dengan pencurian abu jenazah seorang puragabaya, Raden Jante Jaluwuyung. Ini berarti, si Colat telah melibatkan keluarga lain dalam pertentangannya dengan keluarga Tumenggung Wiratanu, dan sang Prabu tidak dapat membiarkannya lagi."

Banyak Sumba tertegun mendengar percakapannya yang terakhir itu. Ia kemudian bertanya, "Apakah yang Paman ketahui tentang abu jenazah itu?" "Puragabaya Jante Jaluwuyung ini pernah membunuh kakak Raden Bungsu Wiratanu yang bernama Raden Bagus Wratanu. Keluarga Tumenggung Wiratanu dengan sendirinya ingin menghinakan abu jenazah itu. Si Colat mendahului mencurinya. Entah apa yang dilakukan si Colat terhadap abu jenazah itu."

Banyak Sumba tersenyum dalam hatinya, tetapi ia pun bingung, tak dapat menetapkan bagaimana sebenarnya duduk persoalannya. "Apakah memang keluarga Tumenggung Wiratanu hendak menghinakan abu jenazah Kakanda Jante atau Anggadipati bermaksud menyembunyikannya? Begitu simpang siur pendapat orang sekitar abujenazah Kakanda Jante Jaluwuyung ini." Ia sendiri jadi bingung.

"Raden," kata orang kampung itu, "mereka semua bersenjata panjang."

"Siapa?" tanya Banyak Sumba.

"Anak buah si Colat yang sedang Raden ikuti."

'Apa hubungannya dengan saya?" tanya Banyak Sumba. Akan tetapi, ia tidak dapat menyembunyikan senyumnya.

"Raden hanya bersenjata belati dan trisula itu," kata orang kampung itu pula, "Di samping itu, mereka ada sembilan orang."

'Apakah Paman beranggapan saya benar-benar ada urusan dengan mereka?" tanya Banyak Sumba sambil tersenyum pula.

"Raden dapat meminta senjata panjang dari orang-orang kampung sekurang-kurangnya tongkat-tongkat yang dikeraskan di atas api."

Banyak Sumba termenung sebentar, kemudian ia berkata, "Saya membutuhkan tongkat dari waregu, Paman, bukan untuk menghadapi sembilan orang anak buah si Colat, tetapi untuk tongkat, kalau kebetulan saya harus berjalan di dalam gelap."

"Baiklah, Raden, besok kita akan mencarinya. Di kampung, orang-orang biasa menyimpan tongkat waregu atau ruyung- Benda-benda itu diperkenankan disimpan oleh rakyat di sini."

Keesokan harinya, sebelum Banyak Sumba meninggalkan kampung, seorang penduduk menghadiahkan tongkat waregu yang panjang dan indah. Ketika Banyak Sumba hendak menggantinya dengan uang tembaga, penduduk kampung itu menolaknya.

"Seharusnya, orang kampung memberikan bekal bagi puragabaya, dan tidak pantas bagi siapa pun menerima pemberian puragabaya yang menyerahkan hidupnya untuk orang-orang kampung," kata penduduk kampung itu dengan tersenyum.

"Saya bukan puragabaya, Paman," kata Banyak Sumba.

Akan tetapi, tak ada orang yang percaya akan perkataannya.

SEPANJANG hari, Banyak Sumba menyusul jejak anak buah si Colat. Akan tetapi, rupanya ia kehilangan jejak. Bukan saja karena jalan di kampung-kampung dan di perhumaan itu sangat simpang siur, tetapi orang-orang kampung enggan memberi tahu kepadanya ke mana arah para penunggang kuda itu. Mereka masih begitu dicengkeram ketakutan akan kemungkinan pembalasan dendam si Colat.

Akhirnya, Banyak Sumba memacu kudanya tanpa terlalu mengharapkan akan bertemu dengan kesembilan anak buah si Colat itu. Ia mengembara secara untung-untungan.

Seandainya tidak dapat menyusul anak buah si Colat itu, ia akan menuju Kutabarang, mengunjungi Kang Arsim. Kalau cukup beruntung, ia akan bertemu dengan Jasik di sana.

Ia memacu kudanya melewati perhumaan, perkampungan, dan hutan-hutan kecil. Ia sungguh-sungguh menikmati perjalanan di tengah-tengah masyarakat, setelah sekian tahun berada di antara binatang-binatang buas dan bahaya lainnya. Sering ia menghentikan kudanya untuk memerhatikan para petani yang sedang bekerja. Sering ia berhenti di pinggir kali, lalu ikut mandi bersama anak-anak gembala. Dengan anak- anak itu, ia ngobrol tentang itu dan ini. Kadang-kadang, ditanyakannya tentang si Colat dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, biasanya anak-anak membisu, ketakutan.

Pada hari keempat, ketika matahari mulai hangat, Banyak Sumba melintasi perhumaan yang ada di antara sebuah kampung dan hutan kecil. Seperti biasanya, untuk menghindari serangan macan-macan tutul dari pohon di hutan, ia memacu kudanya di sela-sela pohon-pohonan.

Pada suatu saat, tiba-tiba ia melihat seutas tambang terentang hendak menyambar lehernya. Karena kebiasaannya ketika di hutan dalam menghadapi hambatan ranting-ranting, tangannya secepat kilat mencabut belati dan memutuskan tambang itu. Akan tetapi, ia tidak melanjutkan perjalanan. Ia menahan kudanya. Begitu ia berbalik, didengarnya derap beberapa pasang kaki kuda.

"Setelah lima hari mengikuti jejak kaki kuda kami, Saudara terpaksa harus menggali kuburan sendiri di sini. Jangan berharap Saudara akan mengalami upacara pembakaran yang pantas," kata salah seorang penunggang kuda yang keluar dari balik pepohonan.

"Saya tidak ada urusan dengan kalian. Saya teman si Colat," Banyak Sumba segera berkata. Hatinya gembira bercampur waspada.

"Begitu bergairah untuk mendapat hadiah hingga kau bersedia mati seperti seekor anjing," kata pemimpin rombongan dengan senyum mengejek.

"Saya akan belajar kepada si Colat." "Hahahaha!" terdengar seorang di antara mereka tertawa seraya kuda mereka makin dekat mengelilingi kuda Banyak Sumba. Banyak Sumba tidak melihat kemungkinan lain, kecuali berkelahi dengan mereka. Tongkat waregunya terpasang di muka pelana, kakinya kuat pada sanggurdi. Ia menentukan sasaran, yaitu pemimpin rombongan itu.

"Jangan kira saya takut kepada kalian. Soalnya, sebenarnya sia-sia kalau saya harus menghajar kalian," kata Banyak Sumba. Perkataannya memberi pengaruh pada jiwa pengepung. Mereka memandang Banyak Sumba dengan ragu- ragu. Ketika itulah, Banyak Sumba melompat ke atas, menginjak pelana sambil mencabut tongkat waregu yang besar. Dengan putaran yang berdesing, tongkatnya mengenai kepala rombongan. Ia melihal golok berkelebatan tetapi dengan cepat ia memukul ke sana kemari, sementara lawan masih terganggu oleh guncangan kuda mereka. Dua orang jatuh, disusul yang ketiga. Banyak Sumba melompat ke tanah, lalu memukul orang yang terdekat dari belakang. Lawan berlompatan ke tanah, tetapi mereka kalah lincah. Banyak Sumba berdiri sambil menginjak dada kepala rombongan mereka seraya berseru, "Hentikan, usaha kalian sfa-sia."

Anggota rombongan yang masih dapat berdiri, bimbang dan melihat ke kanan ke kiri.

"Hentikan usaha kalian! Bawa saya kepada majikan kalian.

Ia akan mengenali saya."

"Baiklah," kata pemimpin rombongan yang berusaha bangkit sambil memegang pinggangnya yang kena pukul tongkat waregu besar itu. Tak lama kemudian, Banyak Sumba pun telah melarikan kudanya di belakang kesembilan orang anak buah si Colat itu.

PERJALANAN turun-naik bukit dilakukan sepanjang siang itu. Ketika senja hampir tiba, mereka memasuki hutan bambu berduri. "Hai!" kata suara dari atas pohon bambu.

"Hai!" seru kepala rombongan sambil mengacungkan goloknya. Suara gemuruh terdengar. Ternyata, sebuah pintu besar yang terdapat di celah-celah pohon bambu berduri dibuka orang.

"Jalan di muka!" kata pemimpin rombongan kepada Banyak Sumba.

Banyak Sumba menurut. Ia melewati kawan-kawan seperjalanan yang memberi jalan. Ia melarikan kudanya perlahan-lahan memasuki sebuah lapangan luas yang ada di belakang barisan pohon bambu berduri itu. Ketika ia berpaling ke belakang, tampak kawan-kawan seperjalanan menghunus golok masing-masing. Banyak Sumba mengerti bahwa ia sekarang diperlakukan sebagai tawanan. Akan tetapi, ia tidak gentar karena kuda mereka tidak terlalu berdekatan.

Begitu ia tiba di tengah-tengah lapangan, bermunculanlah beberapa orang badega, ada yang menghunus golok, ada juga yang menyandang tombak. Mereka mengelilingi Banyak Sumba dengan pandangan penuh pertanyaan.

"Tawanan!" seru kepala rombongan sambil tertawa. Banyak Sumba tidak berkata apa-apa karena bagaimanapun, ia tidak dapat hidup secara lain di tengah-tengah anak buah si Colat seperti itu, kecuali sebagai tawanan. Ia hanya melihat berkeliling. Baru tampak olehnya bahwa di bawah dan di atas pohon-pohonan di tempat itu terdapat rumah-rumah yang terbuat secara rapi dan tersembunyi dengan baik.

Dengan kagum, Banyak Sumba memandang ke arah sebuah bangunan besar yang bertengger di atas sebatang pohon besar. Begitu ia tengadah ke atas, tampak dari lubang pengintai wajah yang lonjong dan halus potongannya tetapi dinodai dengan bekas luka yang mengerikan: si Colat.

Wajah itu hanya sebentar tersembul, kemudian lubang pengintai itu ditutup. Tak lama kemudian, meluncur sesosok tubuh yang berpakaian serbahitam dari bangunan itu. Begitu tiba di tanah, terdengar sapanya yang halus, "Selamat datang, Raden Banyak Sumba, lama benar kita berpisah semenjak pertemuan dulu."

"Terima kasih, Kakanda," kata Banyak Sumba. Ia terharu karena ternyata si Colat tidak melupakannya. Ia pun sadar bahwa antara dia dan si Colat terdapat persamaan nasib.

Dunia telah memperiakukan mereka berdua dengan tidak adil. Akan tetapi, kemudian dunia akan menyadari betapa salahnya telah memperlakukan dua orang seperti mereka tidak adil.

Demikianlah pikiran Banyak Sumba.

"Tidak keberatankah kalau Raden memanjat?" ujar si Colat sambil tersenyum.

"Saya biasa memanjat dan tidur di atas pohon seperti Kakanda sekarang. Itu saya lakukan bertahun-tahun," ujar Banyak Sumba. Si Colat memandangnya dengan penuh perhatian. Kemudian, ia berjalan. Banyak Sumba mengikutinya.

"Bagaimana dengan Ayahanda?" tanya Si Colat.

Banyak Sumba tertegun sejenak. Ia bimbang, apakah ia akan mengatakan sesuatu atau tidak. Si Colat seolah-olah tahu sesuatu tentang Ayahanda. Hal itu terdengar dari nada bicaranya.

"Saya banyak tahu tentang rahasia Raden," katanya sambil tersenyum, "jadi tidak usah ragu-ragu."

"Tapi, saya tidak punya rahasia yang cukup penting untuk diketahui orang lain," kata Banyak Sumba, memancing seraya melindungi dirinya sekaligus.

"Gan Tunjung banyak bicara tentang Raden." "Apa yang beliau katakan?" "Bahwa Ayahanda Raden berada dalam persembunyian dan hanya akan muncul lagi kalau Raden telah menunaikan tugas. Tugas itu dapat diperkirakan."

"Tapi, dari manakah Gan Tunjung mengetahui tentang hal itu?"

"Dua orang panakawan Raden ada di perguruannya dan saya sering berkunjung ke sana. Tentu saja malam hari. Kau yang dipercakapkan orang di sana, Raden. Engkau terkenal secara rahasia. Engkau seorang anak muda yang prihatin.

Itulah sebabnya, mengapa kau tertarik kepadaku, barangkali," ujar si Colat sambil mengerling dan tersenyum.

Banyak Sumba menduga, Kang Arsim tidak terlalu rapat memegang rahasia. Akan tetapi, ia pun yakin bahwa rahasianya tidak seluruhnya terbuka kepada si Colat itu. Ia segera melupakannya.

"Semua itu tidak penting, Kakanda," kata Banyak Sumba untuk mengalihkan percakapan.

Si Colat berhenti berjalan, lalu berpaling, "Saya tahu, yang terpenting bagimu adalah belajar ilmu keperwiraan. Rupanya, kau tergila-gila pada ilmu sial itu, Raden."

"Itulah sebabnya, mengapa setelah bertahun-tahun, saya masih mencari-cari Kakanda," ujar Banyak Sumba.

"Baiklah, engkau dapat belajar bersama-sama dengan anakku. Oh, kau masih ingat kepada anakku, Jimat, bukan?"

"Tentu saja, Kakanda."

"Ia sudah besar sekarang, hampir tiga belas tahun umurnya."

Ketika itu, si Colat mulai memegang tambang besar yang menghubungkan tanah dengan bangunan di atas pohon.

Seperti seekor kera besar, ia memanjat tambang itu dengan cepat, lalu menghilang di lubang yang tidak kelihatan dari bawah pohon itu.

Banyak Sumba segera menirunya dengan cepat pula. Ketika ia tiba di lubang yang tidak kelihatan dari bawah, tampak si Colat heran melihat kecepatan Banyak Sumba.

Ruangan dalam bangunan di atas pohon itu ternyata luas sekali. Di sana terdapat dua buah bangku lebar yang di atasnya dilapisi jerami. Di atas jerami itu, dihamparkan kulit harimau yang lebar-lebar dan indah-indah. Di sekeliling ruangan tergantung bermacam-macam senjata: panah, tombak, geraham banteng yang merupakan senjata yang menyeramkan, tanduk rusa, cula badak, dan sebagainya.

Berbagai macam pedang, golok, dan pisau tergantung pula, melekat pada kain-kain yang indah tenunannya.

Banyak Sumba dipersilakan duduk di atas bangku. Setelah si Colat bertepuk tangan, muncullah dari salah satu ruangan seorang pembantunya, laki-laki setengah baya yang gemuk perawakannya.

"Makanan dan minuman, Obeh, kita menerima tamu," kata si Colat. Setelah berkata demikian, mulailah mereka bercakap- cakap.

Banyak Sumba menceritakan pengalamannya dengan menutupi bagian-bagian yang dianggapnya tidak baik dikemu- kakan. Akhirnya, ia mengatakan bahwa kedatangannya, tidak lain, hanyalah untuk melaksanakan kehendaknya yang telah disampaikan beberapa tahun sebelumnya, yaitu belajar ilmu keperwiraan.

"Raden mengetahui bahwa hidup dengan rombonganku bukanlah bertamasya. Kami sudah lama diburu orang dan harga kepala saya ini ternyata mahal sekali. Banyak bangsavvan muda yang haus akan kemasyhuran dan sekaligus ingin mendapat hadiah harta dengan memimpikan kepala saya ini. Lucu sekali." "Saya telah memikirkan segala-galanya. Kakanda. Ilmu yang Kakanda miliki dan dapat saya pelajari, lebih berharga daripada jerih payah yang dapat saya lakukan."

Ketika itu, orang yang dipanggil Obeh kembali dengan membawa air buah-buahan dan buah-buahan yang ranumranum di atas baki kayu. Matahari sudah condong ke barat, cahayanya yang merah menembus celah-celah dinding yang terjalin dari rotan.

"Baiklah, Raden akan berlatih dengan anakku, Jimat. Lawanlah Jimat dalam latihan-latihan karena ilmu yang kumiliki sudah hampir seluruhnya dia miliki."

"Tapi, saya miskin sekarang, Kakanda, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Ini perlu saya sampaikan, betapapun kasar dan tidak senonoh kedengarannya," ujar Banyak Sumba.

"Yang tidak senonoh adalah yang keluar dari hati yang tidak jujur, Raden. Tapi, saya mendengar, Raden orang yang lurus. Di samping itu, apakah kau anggap saya membutuhkan harta benda, Raden?"

"Maksud saya, saya tidak akan dapat mengembalikan kebaikan Kakanda," kata Banyak Sumba.

"Tidak perlu pembalasan budi, Raden. Kita senasib.

Demikian kalau tidak salah pendengaranku. Kita ini sama- sama diperlakukan tidak adil oleh masyarakat. Kita dinasibkan untuk bersatu, bukan?" kata si Colat sambil tersenyum.

Banyak Sumba merasa terharu. Ia pun dapat menduga bahwa pengetahuan si Colat tentang dirinya sudah cukup banyak.

"Saya akan mendampingi Kakanda menghadapi bangsawan muda yang ingin terkenal dan rakus akan kekayaan itu," kata Banyak Sumba sambil tersenyum.

"Haha! Itu baik untuk latihanmu, Raden," kata si Colat. Dari percakapan itu, keakraban mulai tumbuh. Si Colat dengan leluasa membaringkan dirinya di atas balai-balai yang dihampari kulit harimau yang indah.

"Silakan beristirahat," katanya, "Sudah lama saya tidak mendapat kawan mengobrol."

Tiba-tiba, dari bawah terdengar suara orang-orang sangat berisik.

"Mereka datang," kata si Colat. "Anakku baru kembali berburu harimau dan binatang buruan lainnya," katanya.

Banyak Sumba bangkit, lalu berjalan ke arah lubang pengintai. Dari sana, tampaklah rombongan yang terdiri dari, kira-kira, lima belas orang memasuki lapangan yang dikelilingi bangunan.

Paling depan berjalan seorang pemuda, bertubuh tinggi dan besar meskipun masih muda. Pemuda itu sangat tampan, rambutnya yang hitam kelam berombak ditiup angin senja.

Raden Jimat, pikir Banyak Sumba sambil memandangi pemuda itu dengan penuh perhatian. Di belakang pemuda itu berjalan badega-badega mengusung binatang perburuan yang besar- besar, rusa dan babi hutan. Di antara binatang yang diusung terdapat kulit harimau yang indah. Kulit harimau itu segera dibentangkan di antara dua batang tonggak. Raden Jimat memandang kulit harimau itu dengan rasa puas.

"Ayah, lebih lebar dari yang dulu!" serunya. Ketika ia tengadah ke arah lubang persembunyian, pandangannya bertemu dengan pandangan Banyak Sumba. Banyak Sumba mengangguk seraya tersenyum kepadanya. Raden Jimat tampak termenung.

"Tamu!" kata seseorang. Raden Jimat pun tersenyum dengan hormat seraya menundukkan kepalanya.

Malam itu, tukang pantun memetik kecapi dan menyanyi, sedangkan anak buah si Colat duduk berkeliling, mengelilingi daging binatang buruan yang telah dibakar. Baki-baki penuh dengan berbagai buah terletak di dekat mereka. Banyak Sumba memandang mereka dengan penuh perhatian. Di tengah-tengah nyanyian dan gemeletup api unggun besar, mereka makan, minum tuak, dan bersenda gurau. Si Colat tidak turun dari kamarnya. Yang duduk di antara anak buahnya adalah Raden Jimat, ditemani Banyak Sumba.

Malam itu, Banyak Sumba tidur di ruangan besar bersama si Colat dan Raden Jimat. Karena lelah akibat perjalanan sebelumnya dan karena mereka mengobrol sampai larut malam, Banyak Sumba tidur nyenyak sekali. Ia tidak akan terjaga seandainya pagi-pagi di bawah tidak terdengar kegaduhan. Banyak Sumba bangun dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

"Tenanglah, Raden, mereka sedang berlatih," kata si Colat yang sudah berpakaian lengkap dan tampak sudah bersih.

Banyak Sumba malu karena kesiangan. Ia berdiri, lalu berjalan ke arah lubang pengintai. Semua anak buah si Colat tampak duduk berkeliling, di tengah-tengah lapangan ada dua orang berhadapan, siap untuk saling menyerang.

-ooo00dw00ooo-