-->

Pertarungan Terakhir Bab 09 : Kesasar Ke Padepokan Tajimalela

 
Bab 09 : Kesasar Ke Padepokan Tajimalela

Keesokan harinya, panas matahari menyengat pundak Banyak Sumba yang tidak tertutup oleh kulit harimau. Ketika ia sedang berjalan di semak-semak, terdengariah suara gemuruh. Apakah itu? tanyanya dalam hati. Banyak Sumba berhenti dan mendengarkan suara itu dengan telinganya yang tajam. 'Air terjun!" serunya di dalam hati. Ia berlari ke arah asal suara itu. Ia menyadari bahwa dengan menyusuri sungai, akhirnya ia akan tiba ke laut, dunia manusia! Dan kalau ia menyusuri sungai, ia akan bertemu dengan kota-kota manusia, dan bukankah Pakuan Pajajaran berada di tepi sungai?

Banyak Sumba berlari ke arah datangnya suara itu.

Akhirnya, tibalah ia di tepi sungai kecil yang arusnya deras sekali di dalam hutan itu. Sungai itu mengalir di atas tanah bercadas-cadas, airnya yang jernih menjadi putih seperti kapas karena berbusa. Di atas sungai itu melingkarlah pelangi- pelangi kecil di bawah sinar surya tengah hari.

Tanpa banyak berpikir, Banyak Sumba membuka pakaian kulit harimaunya, lalu mandi di dalam air yang jernih itu.

Setelah merasa segar, ia melanjutkan perjalanan, menyusuri sungai kecil itu arah ke hilir. Kadang-kadang hutan lebat sekali, kadang-kadang tebing-tebing curam sekali, tetapi Banyak Sumba sudah terbiasa hidup dalam hutan. Seperti seekor kera atau harimau tutul, ia melompat-lompat atau dengan cepat memanjati pohon-pohonan, dan menuruninya kembali. Ia terus menuruni puncak gunung yang tinggi.

Di satu tempat, ia berhenti karena ketika melintas sungai itu, ia melihat jejak-jejak yang mendebarkan hatinya. Apakah itu jejak binatang hutan yang besar, seperti banteng dan rusa? Ataukah itu jejak kuda? Banyak Sumba menundukkan kepalanya, memeriksa jejak-jejak itu dengan saksama.

Debarjantung-nya menghebat. Jejak kuda! Ia bangkit, berpaling ke seberang sungai yang sempit. Di antara semak- semak, ia melihat jalan setapak. Ia menemukan kembali jejak ketiga orang penunggang kuda yang dicarinya dua hari belakangan ini. Ia dapat membayangkan bahwa ketiga orang penunggang kuda itu pernah melompati bagian sungai di tempat itu.

Tanpa berpikir panjang, Banyak Sumba melompati sungai kecil, lalu berlari mengikuti jejak kuda itu. Akan tetapi, di tengah-tengah jalan, ia berhenti. Mungkinkah siluman hendak menyesatkannya kembali setelah ia menemukan jalan untuk kembali ke dunia manusia? Munginkah ia sedang dipancing oleh siluman untuk kembali tersesat ke dalam hutan belantara dan tidak dapat kembali untuk selama-lamanya ke dalam masyarakat yang beradab? Atau mungkinkah Sang Hiang Tunggal begitu kasih kepadanya sehingga ia diberi jalan untuk dapat mengunjungi Padepokan Tajimalela dan mempelajari ilmu kepuragabayaan untuk mengalahkan Anggadipati?

Banyak Sumba tertegun, ia kebingungan. Akhirnya ia berdoa, kemudian melangkah kembali, mengikuti jejak kuda itu. Ia akan mengikuti jejak kuda itu. Agar tidak tersesat, ia akan membuat tanda pada pohon-pohonan. Ia pun mengeluarkan belatinya, lalu dipotongnya cabang-cabang pohon dari saat ke saat. Kadang-kadang, ditorehnya batang- batang pohon, kemudian akan dijadikannya petunjukjalan kalau ia akan kembali menuju sungai yang ditemukannya itu.

Begitu ia berjalan, kadang-kadangjejak kuda itu hilang dalam semak-semak, tetapi umumnya ia dapat mengikuti jalan setapak. Walaupun samar-samar, tetapi ia yakin bahwa itu jalan setapak yang biasa dipergunakan para penunggang kuda. Dan, ia pun yakin pula bahwa jalan setapak itu menuju suatu tempat, kalau tidak kampung manusia tentu Padepokan Tajimalela. Sebelum senja tiba dan ketika ia sudah kelelahan, ia mendengar sesuatu. Ia mempercepat jalannya sambil mengendap-endap. Pada suatu ketika, tibalah ia di bibir jurang. Ia berdiri sejenak, kemudian menjatuhkan diri dengan hatinya mengucap syukur kepada Sang Hiang Tunggal. Ia merayap di bibir jurang itu.

Ia melihat ke bawah, sebidang lapangan luas yang ber- semak-semak rendah dan berbunga-bunga. Ia menyadari bahwa ia berada di pinggir sebuah kawah mati. Dan ia hampir tidak percaya pada matanya sendiri ketika dilihatnya beberapa bangunan berupa kuil di dasar kawah itu. Ia bertanya-tanya dalam hati, tidakkah ia bermimpi? Belum hatinya jernih, ia sudah menghadapi peristiwa yang baru. Tiba-tiba, dari arah hutan di bibir kawah sebelah timur, datanglah suara gemuruh. Dari arah itu, muncullah sekira tiga puluh orang pemuda.

Semua berpakaian putih. Mereka berlari, berbaris ke arah lapangan yang berada di dekat kuil. Seraya berbaris dan berlari, mereka berseru-seru atau bernyanyi.

Karena kebiasaan, Banyak Sumba menyelinap menyembunyikan diri di balik semak-semak. Ia terus bertanya-tanya, apakah ia telah memasuki daerah para guriang? Apakah para pemuda yang tampan-tampan dan berpakaian putih itu manusia atau makhluk Kahiangan? Apakah mereka itu para Bujangga? Ataukah mereka itu siluman? Tapi, kalau siluman, tentu akan menimbulkan

suasana lain dalam hati Banyak Sumba. Ia tidak merasa seram atau ngeri. Ia merasa kagum dan bahkan gembira melihat para pemuda yang tampan-tampan, kuat-kuat, dan halus- halus gerak-geriknya itu. Atau mungkinkah ia sudah tiba di Padepokan Tajimalela yang termasyhur itu? Apakah pemuda- pemuda itu para calon puragabaya?

Demikianlah ia bertanya-tanya sambil mengintip.

Sementara itu, para pemuda duduk berkeliling di lapangan yang berpasir putih. Seorang di antara mereka yang tampak sudah berumur, berdiri di tengah-tengah, lalu berbicara. Akan tetapi, karena jauh dan angin bertiup ke arah lain, Banyak Sumba tidak mendengar apa yang dikatakan orang itu. Orang yang berdiri di tengah lingkaran itu melakukan gerakan- gerakan tertentu seperti menari, kemudian berbicara kembali. Banyak Sumba tiba-tiba menjadi yakin dan gembira, bahwa ia telah tersesat ke daerah yang memang dicari-carinya. Ia sekarang berada di Padepokan Tajimalela. Ia meletakkan kedua telapak tangan di depan dadanya sambil mengucapkan doa syukur kepada Sang Hiang Tunggal.

"Yang Mahakasih, hamba-Mu mengucap syukur kepa-da-Mu karena telah membawa hamba-Mu ke tempat hamba-Mu akan mempelajari ilmu yang sangat ampuh, untuk membalaskan dendam keluarga," demikian di antaranya bisik Banyak Sumba. Kemudian, ia merangkak agar dapat lebih dekat ke arah orang-orang muda yang duduk berkeliling itu. Selagi merangkak, ia merasakan arah angin. Ia sadar, ia harus berhati-hati karena yang memasuki daerah itu tanpa izin akan ditangkap dan bahkan dibunuh. Daerah padepokan yang sangat termasyhur itu terlarang bagi sembarang orang.

Tanpa disadarinya, matahari menyurukkan kepala ke dalam hutan lebat dan, seperti tiba-tiba, hari menjadi senja. Banyak Sumba melihat para pemuda itu bangkit, lalu sambil menyanyikan doa-doa yang indah bunyinya, mereka berjalan memasuki kuil. Dari pintu kuil, muncul seorang tua yang agung dengan janggut putih yang bergerai-gerai ditiup angin senja. Orang tua itu berdiri di gerbang kuil, memandangi para pemuda yang sambil berbaris memasuki kuil. Tak lama kemudian, lapangan itu menjadi sunyi kembali karena semua orang telah masuk kuil. Mereka akan bersembahyang senja, kata Banyak Sumba dalam hati. Mereka bukan siluman, juga bukan Bujangga atau guriang. Mereka adalah manusia.

Banyak Sumba merasa yakin akan hal itu. Sambil menarik napas panjang, ia membuat rencana untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut seraya memandang ke arah bangunan-bangunan yang ada di dasar kawah mati itu.

Sementara itu, malam pun tiba dan beberapa obor dinyalakan orang di sekitar bangunan-bangunan itu. Ternyata, kesibukan di tempat itu masih juga ramai walaupun hari telah gelap. Dalam remang-remang cahaya obor, Banyak Sumba melihat baju-baju putih berkelebatan, terdengar pula suara orang bercakap-cakap sayup-sayup. Dari dalam kuil terdengar doa bersama. Kadang-kadang terdengar orang berbicar.i, *< perti memberikan wejangan.

Banyak Sumba ingin sekali menyelidiki, tetapi ia belum berani turun dari bibir kawah itu. Baru setelah tampak kesibukan berkurang dan beberapa obor di lapangan dipadamkan, Banyak Sumba berani bergerak dan merangkak ke bawah. Ia berusaha tidak mengeluarkan suara.

Ia berjalan mengendap-endap dan menyelinap dari satu bayangan pohon ke bayangan pohon yang lain. Kemudian, ia bergerak menuju ruangan besar, tempat para pemuda itu masuk pada waktu senja. Lama sekali ia mengendap-endap karena berulang-ulang ia melihat bayangan putih pada malam gelap itu. Ia sadar, tentu saja ada penjaga yang bertugas malam, sekurang-kurangnya untuk menghindarkan kuda dari serangan binatang buas. Ia tahu bahwa di tempat itu disimpan beberapa ekor kuda karena sayup-sayup ia pernah mendengar ringkiknya. Betapapun lambat dan hati-hatinya, akhirnya sampai juga ia di salah satu bangunan di dasar kawah mati itu. Ia meraba- raba dinding bangunan yang terdiri dari kayu dan batu. Ia berkeliling, mencari celah untuk mengintip ke dalam.

Sementara itu ia berhati-hati, jangan-jangan ada peronda yang memergokinya. Ternyata, bangunan besar itu sangat baik dindingnya sehingga tidak ada satu celah pun yang dapat dipergunakannya untuk mengintai. Dan ketika ia sedang meraba-raba dinding itu, tiba-tiba didengarnya langkah mendekat. Ia melekatkan dirinya rapat-rapat ke dinding. Tak lama kemudian, ia melihat bayangan putih berjalan, berhenti, mendengus-dengus udara, kemudian berjalan lagi, lalu berhenti. .

Banyak Sumba sadar bahwa kehadirannya diketahui oleh penjaga itu. Ia baru menyadari bahwa para puragabaya memiliki penciuman yang tajam sekali. Ia terlambat untuk menghindari bahaya karena sudah berada dalam jangkauan penciuman penjaga itu. Ia hanya berdoa, mudah-mudahan angin bertiup bertentangan arah. Kemudian, dilihatnya penjaga itu menjauh, pakaian putihnya mengabur dalam gelap malam. Banyak Sumba segera menyelinap, menghindar, menuju semak-semak di tepi kawah mati itu.

Di sana, ia termenung untuk beberapa lama, memikirkan bagaimana cara yang sebaik-baiknya agar dia dapat mengetahui lebih banyak tentang padepokan itu dengan risiko sekecil-kecilnya. Terpikir olehnya, bagaimana kalau ia memasuki loteng ruangan tempat para calon puragabaya belajar. Akan tetapi, hal itu bukannya tidak mengandung risiko yang besar. Pertama, kalau ditemukan, ia akan sukar sekali melarikan diri dari kepungan para calon puragabaya itu.

Kedua, untuk memasuki loteng itu, ia harus mengangkat atap ijuk yang entah telah berapa ratus tahun umurnya. Ia melihat kesukaran dan bahaya yang besar, tetapi itulah satu-satunya cara. Ia menarik napas panjang, ditetapkan untuk dicobanya. Setelah melihat ke segala arah, Banyak Sumba merangkak keluar dari semak persembunyiannya. Berulang-ulang ia melompat dari bayangan ke bayangan di lapangan berpasir yang memisahkan semak-semak dengan ruangan belajar para calon itu. Ketika memasuki bayangan dinding bangunan kecil yang terletak beberapa langkah dari ruangan belajar para calon, ia menyentuh sebatang pohon kecil secara tidak sengaja. Daun gemerisik dan sesuatu jatuh dari pohon itu.

Tiba-tiba, dari arah bangunan kecil itu terdengarlah suara, "Da!"

Terhenti rasanya detak jantung Banyak Sumba. Ia terpaku di tanah, tidak bergerak. Suara itu kemudian terdengar lagi.

"Da!"

Banyak Sumba menjawab, "Ya."

Dari dalam ruangan tidak terdengar lagi suara. Banyak Sumba menghindar, mengendap-endap.

Memanjat dinding bangunan tempat belajar para pura- gabaya tidaklah sukar. Ia sudah hidup seperti seekor kera atau macan tutul dalam hutan. Tak lama kemudian, ia sudah berada di atap bangunan yang besar dan panjang. Merayap- rayap dalam gelap seraya berusaha tidak mengeluarkan suara, sungguh merupakan perbuatan yang berat. Baru saja beberapa saat, keringatnya sudah membasahi tubuhnya, padahal malam sangat dingin ketika itu. Banyak Sumba tidak berputus asa. Ia terus mencari-cari celah ijuk yang dapat diangkatnya. Ternyata, atap ruangan itu dibuat secara sempurna. Banyak Sumba akhirnya memutuskan untuk menggagalkan niatnya. Ia akan turun dan memikirkan cara lain di tempat yang lebih aman. Namun, ketika ia turun, didengarnya suara agak nyaring datang dari dalam ruangan.

Ketika ia berpaling ke arah datangnya suara itu, dilihatnya dalam remang malam lubang udara yang besar. Banyak Sumba segera merayap mendekati lubang udara yang memasuki loteng. Ia pun memasukinya dengan mudah dan tak lama kemudian, ia telah berada dalam loteng ruangan besar itu. Setelah merayap-rayap dalam gelap tanpa mengeluarkan suara, tibalah ia di suatu tempat. Di sana, ia dapat mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di bawah.

Sesuai dengan yang diharapkannya, pembicaraan yang terdengar dari bawah tempat persembunyiannya adalah mengenai masalah ilmu keperwiraan. Walaupun begitu, Banyak Sumba tidak mudah mengerti dan menangkap isi percakapan orang-orang yang diintipnya karena banyak istilah yang tidak dikenalnya.

Kadang-kadang terdengar nama-nama jurus yang dikenalnya diucapkan orang, tetapi lebih sering didengar istilah seperti batas gerak, titik berat, tenaga bendung, tenaga alir, dan tenaga ledak. Banyak Sumba mencoba menduga- duga, apa yang dimaksud istilah itu, tetapi tidak merasa puas dengan menduga-duga. Itulah sebabnya, ia berusaha menoreh dinding loteng dengan pisau belatinya. Hal itu dikerjakannya dengan perlahan-lahan sekali. Akhirnya, suatu celah dapat dibuatnya. Melalui celah itu, tampaklah para pemuda yang gagah dan tampan dengan khidmat duduk dalam bentuk lingkaran. Salah seorang yang duduk bersama mereka tampak menjadi pengajar mereka.

"Tempatkan titik berat badanmu ke salah satu tumit kakimu, jangan di kedua belah kaki. Kalau ditempatkan di kedua belah kaki, kau akan sukar bergerak. Kelincahanmu akan jauh berkurang, sedangkan lawan akan dengan mudah menyapu kakimu yang satu atau yang lain."

Orang setengah baya itu melihat ke sekelilingnya, ke wajah para pemuda yang tampan dan halus itu. Tampak bahwa orang itu mengharapkan pertanyaan. Tak lama kemudian, salah seorang di antara pemuda itu mengacungkan tangan, lalu bertanya, "Lawan yang baik akan melihat di mana berat badan kita berada. Dengan demikian, ia dapat meramalkan gerakan yang akan kita ambil dan serangan yang paling ampuh yang dapat dilaksanakan. Bukankah dengan titik berat badan kita di satu tumit, lawan akan mudah melihat dan meramalkan kemungkinan-kemungkinan serangan kita?"

"Itu pertanyaan yang bagus sekali," ujar orang setengah baya itu. Setelah berkata demikian, berdirilah ia, lalu berjalan ke tengah lingkaran. Ia berdiri, satu kakinya menganjur ke depan, yang lain berada di bawah badannya. Ia bertanya, "Di manakah berat badan Paman?" tanya orang itu.

"Di kaki belakang," kata beberapa orang siswa.

Laki-laki setengah baya itu mengubah kedudukannya, setelah itu bertanya pula, "Sekarang, di mana titik berat badan Paman?"

Para siswa termenung sejenak, kemudian ada yang mengatakan di kaki kiri, ada pula yang mengatakan di kaki kanan. Kemudian, orang setengah baya itu menjelaskan bahwa cara menyembunyikan titik berat badan adalah salah satu bagian ilmu yang sangat penting dan harus dikuasai oleh setiap pura-gabaya. Mendengar perkataan "puragabaya" itu, bergembiralah Banyak Sumba. Tidak ada lagi keraguan dalam hatinya bahwa ia telah tersesat ke tempat yang diinginkannya. Tidak ada keraguan lagi akan keyakinannya selama ini bahwa Sang Hiang Tunggal sangat kasih kepada wangsa Banyak Citra.

Sementara itu, perhatiannya tidak lepas dari semua yang dilakukan oleh pelatih dan para calon puragabaya. Ia menyadari bahwa segala yang didengarnya adalah suatu hal yang baru baginya. Pertama, ternyata, pelatih calon puragabaya tampaknya tidak pernah berpikir dengan mempergunakan seperti jurus kuda-kuda, sikap, dan sebagainya. Ia lebih banyak berpikir dengan mempergunakan istilah-istilah titik berat badan, kemungkinan-kemungkinan gerak, peraturan tenaga, dan kekuatan serta kelemahan tubuh.

Mendengar penjelasan pelatih calon puragabaya itu, sadarlah Banyak Sumba bahwa selama ini, cara berpikir yang demikianlah yang dibutuhkannya. Ia merasa tidak puas dengan pengertian yang biasa dipergunakan sebelumnya.

Sudah lama ia berpendapat bahwa semua jurus berguna. Yang menjadi persoalan baginya, bagaimana agar setiap jurus dapat dipergunakan pada saat dan keadaan yang tepat. Dan, persoalan ini hanya dapat dijawab dengan mudah kalau ia mempergunakan cara berpikir lain. Cara berpikir demikian, ternyata dipergunakan oleh pelatih puragabaya itu.

Setelah para siswa itu selesai belajar dan meninggalkan ruangan, Banyak Sumba turun dari atap bangunan, lalu dengan mengendap-endap masuk hutan, mencari pohon untuk menginap. Karena lelah, ia segera tertidur. Karena sudah biasa, ia tidak perlu lagi mengikatkan dirinya pada dahan-dahan. Walaupun tidur, ia tetap mengendalikan berat badannya.

Keesokan harinya, subuh-subuh ia terbangun oleh nyanyian para siswa. Banyak Sumba memanjat lebih tinggi lagi. Di balik kerimbunan daun-daun, ia menyaksikan cara mereka berlatih. Ia kadang-kadang tersenyum kalau sadar bahwa apa-apa yang dilakukan oleh para siswa secara sengaja, telah dilakukannya secara terpaksa selama ia berada di hutan belantara. Ia merasa lega karena ia pun menyadari, banyak hal yang berguna telah dikuasainya selama ia tersesat dan menderita di hutan rimba itu.

Namun, sering pula hatinya menjadi kecil kalau menyaksikan cara-cara latihan yang belum pernah dilihatnya. Sering ia ingin menggabungkan diri dengan para siswa dan mencoba kemampuannya melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh pelatih para siswa itu. Akan tetapi, ia hanya dapat lebih menajamkan pandangan matanya dan mencoba mengerti apa maksud dan makna latihan para siswa puragabaya itu. Kadang-kadang ia tidak mengerti sama sekali, dan walaupun mencobanya seorang diri, bentuk latihan itu tetap gelap baginya. Maka, sepanjang hari, ia memikirkan apa yang dilihatnya itu. Kemudian, ia mencari buah-buahan atau mencoba menangkap binatang untuk makanannya.

Malam hari, seperti biasa, ia menyelinap dan memasuki loteng tempat belajar para calon. Banyak hal mengenai keper- wiraan dipelajari dari pengintipan itu dan ilmu kepuragaba- yaan makin lama makin menjadi terang baginya, walaupun masih banyak hal kecil yang tidak dimengertinya.

Di samping hal-hal mengenai ilmu keperwiraan yang diberikan oleh para pelatih yang terdiri dari beberapa orang, Banyak Sumba pun sempat ikut mempelajari cara-cara pengobatan yang diajarkan kepada para calon puragabaya itu. Para calon puragabaya diharuskan mengetahui bagian-bagian badan manusia, yang di luar maupun yang di dalam. Selain berguna untuk melumpuhkan lawan dengan mudah dan cepat, pengetahuan itu sangat berguna untuk menyembuhkan siapa saja yang memerlukan pertolongan. Cara-cara pengobatan itu ada yang hanya mempergunakan tangan, tapi ada pula yang mempergunakan daun-daunan dan akar-akaran.

Banyak Sumba dengan tekun ikut memerhatikan apa-apa yang dijelaskan oleh seorang pelatih yang bernama Paman Minda. Paman Minda ini, selain ikut melatih, tugas utamanya menjaga dan merawat para calon yang mendapat kecelakaan dalam latihan. Tidak jarang, dalam latihan-latihan itu, ada calon puragabaya kena pukulan, terkilir atau terjatuh, luka atau memar. Paman Minda-lah yang mengurus mereka.

Kadang-kadang, Resi Tajimalela hadir di tempat belajar untuk memberikan wejangan tentang keagamaan. Banyak pula hal mengenai keagamaan dan kesatriaan yang dipelajari oleh Banyak Sumba. Tidak disadarinya, setelah beberapa bulan berada di sekitar Padepokan Tajimalela dan hidup seperti seekor musang, pengetahuannya tentang ilmu keperwiraan bertambah, sementara jiwanya jadi penuh dengan persoalan.

Satu persoalan yang sangat menggelisahkan hati Banyak Sumba, yaitu mengenai hubungan antara manusia. Pada suatu malam, ketika Resi Tajimalela selesai memberikan wejangan dan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bertanya, berkatalah seorang pemuda, "Eyang Resi, tadi Eyang mengatakan bahwa sebagai seorang puragabaya, kami harus melepaskan kepentingan pribadi demi kepentingan sesama manusia, khususnya sesama anak negeri Pajajaran.

Sudilah Eyang Resi menjelaskan kepada kami dengan contoh."

"Baiklah, Anakku," sabda Eyang Resi sambil mengangguk- angguk. Wajahnya yang kurus dihiasi dengan dua bola mata jernih yang gemerlapan tetapi sangat lembut. Setelah berdeham, Eyang Resi Tajimalela melanjutkan wejangannya, "Kalau engkau merasa bersalah, engkau bukan saja harus bersedia mendapat hukuman, tetapi harus meminta dihukum. Mengapa? Karena keadilan milik bersama, sedangkan dirimu milikmu sendiri. Kalau milikmu musnah, Pajajaran dapat berlangsung terus, tetapi kalau keadilan rusak, hilang lenyaplah Pajajaran."

Ruangan hening untuk beberapa lama, kemudian sambil tersenyum, bersabda pulalah Eyang Resi Tajimalela, "Masihkah kurang jelas?"

'Jelas, Eyang," kata siswa yang bertanya terlebih dahulu. "Kalau begitu, Eyang, hubungan keluarga itu tidak ada artinya sama sekali karena anggota keluarga kami tidak boleh lebih dipentingkan daripada siapa pun," kata seorang siswa lain.

"Benar, Anakku," ujar Eyang Tajimalela, lalu melanjutkan penjelasannya, "Ketika kalian diserahkan untuk belajar di sini, orangtua kalian menyerahkan kalian menjadi anak negara.

Kalian anak setiap warga Pajajaran dan bukan anak keluarga kalian lagi. Memang, hubungan darah dan hubungan cinta kasih kalian dengan orangtua dan saudara akan tetap lebih mesra dibandingkan dengan kasih kalian kepada orang lain. Akan tetapi, satu hal harus kalian sadari bahwa di dalam keadilan, keluarga kalian tidak boleh diistimewakan.

Seandainya seorang anggota keluarga kalian bersalah, kalianlah yang seharusnya paling dulu menghukumnya karena kalian menyadari bahwa perbuatan dosa bukan saja merusakkan orang yang menjadi korban, tetapi sebenarnya merugikan seluruh anak negeri Pajajaran. Kalau kalian kasih kepada sanak keluarga, hendaknya itu berarti bahwa kalian menjaga mereka agar selalu hidup dalam keadilan dan kasih terhadap sesamanya. Orang yang melindungi saudaranya berbuat tidak adil, bukanlah menyayangi saudaranya, tetapi justru menjerumuskannya.

"Anak-anakku, bandingkanlah hidup kita dalam kerajaan ini dengan hidup di dalam sebuah telaga besar yang airnya jernih. Kalau seorang berbuat tidak adil, itu berarti dia mengotori air telaga itu. Yang kena kotornya bukan dia sendiri, tetapi kita semua. Itulah sebabnya, tugas kalian yang pertama adalah menghukum diri sendiri kalau sadar telah berbuat salah atau tidak adil. Kemudian, hukumlah saudara- saudaramu kalau mereka berbuat tidak adil. Baru kalian menghukum orang lain sesuai dengan peraturan dan undang- undang kerajaan."

Apa yang menggelisahkan Banyak Sumba adalah pendapat bahwa keluarga seseorang itu hanya berharga sejauh hidup dalam keadilan. Dengan demikian, kebanggaan keluarga, seperti kebanggaan Banyak Sumba sebagai keturunan wangsa Banyak Citra, merupakan hal yang sia-sia bagi Eyang Resi Tajimalela.

Ketika larut malam, ia merayap meninggalkan atap ruangan yang sunyi itu, pikirannya tetap gelisah. Pada suatu saat, berkatalah ia kepada dirinya sendiri, "Barangkali, Eyang Resi dapat berkata demikian karena ia sudah tidak punya keluarga lagi."

Perkataannya itu tetap tidak menenangkan pikirannya. Bagaimanapun, pendapat Eyang Resi Tajimalela itu adalah pendapat yang mulia. Hanya dengan bersikap demikian, seorang kesatria berhak mendapat gelar kesatria. Akan tetapi, bagaimana dengan kasih sayang antara anggota keluarga?

Kakanda Jantejaluwuyung dibunuh dengan keji. Kalau ia membelanya, tidakkah itu berarti bahwa ia membela keadilan juga? Tapi, bagaimana kalau yang dibunuh itu bukan Kakanda Jante Jaluwuyung? Mungkinkah ia bersedia menderita segala kesengsaraan untuk menegakkan keadilan? Banyak Sumba tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia gelisah sepanjang malam.

Ia hidup sebagai binatang malam di sekitar padepokan itu. Makin hari, makin bertambah pengetahuannya tentang ilmu keperwiraan maupun tentang ilmu pengobatan dan keagamaan. Akan tetapi, kegelisahannya pun makin lama makin bertambah. Ia menyadari bahwa ia adalah orang yang sungguh-sungguh menempati kedudukan yang bertentangan dengan para siswa kepuragabayaan itu. Kalau ia menyerahkan hidupnya untuk keluarganya dan untuk wangsa Banyak Citra, para siswa kepuragabayaan sebaliknya. Mereka menyerahkan hidupnya untuk sesama manusia, dan anggota keluarga mereka berada dalam kasih sayang mereka selama tidak memusuhi sesama manusia. Manakah sikap yang benar?

Masalah itu masih tetap menjadi bahan renungannya ketika pada suatu pagi ia melihat suatu hal yang tidak biasa di kalangan para siswa. Ketika yang lain melakukan latihan dan Banyak Sumba memandangnya dengan penuh perhatian serta pengertian, beberapa orang siswa di bawah pimpinan seorang pelatih memisahkan diri, lalu merunduk-runduk seolah-olah sedang mencari-cari sesuatu di atas pasir dan rumput. Darah Banyak Sumba tersirap ketika ia menyadari bahwa mereka telah menemukan dan mencurigai jejaknya. Sadar akan hal itu, Banyak Sumba meluncur seperti seekor ular, lalu menyelinap ke dalam semak dan menjauh dari daerah Padepokan Tajimalela. Ia berpikir keras, bagaimana agar ia tidak ditemukan. Kesimpulan yang diambilnya adalah ia harus menghindar dan bersembunyi untuk beberapa lama di tempat yang agak jauh dari padepokan. Ia sadar bahwa hal itu akan sangat merugikannya, tetapi itu adalah jalan satu-satunya.

Selama tiga hari, ia tidak berani mendekati Padepokan Tajimalela. Ia berkelana di hutan yang jauh dari padepokan dan pada hari keempat, ketika malam mulai gelap, barulah ia berani kembali. Langsung ia menyelinap dan naik ke atap ruangan besar tempat para calon puragabaya mendapat wejang-an-wejangan tentang ilmu keperwiraan dan ilmu keagamaan.

Apa-apa yang didengarnya tentang ilmu keagamaan selalu menggelisahkannya. Terakhir ia mendengar penjelasan Eyang Resi Tajimalela tentang sejarah manusia. Di antara wejangan itu, Eyang Resi Tajimalela menjelaskan bahwa manusia yang rendah di zaman biadab, mula-mula hanya mementingkan dirinya sendiri. Dalam keadaan gawat, kadang-kadang manusia biadab membunuh dan memakan anaknya sendiri.

Kemudian, dengan mempergunakan akal budinya, manusia makin lama makin halus. Rasa kasih sayang dan rasa kasih tumbuh. Maka, manusia yang telah meningkat ini tidak terlalu mementingkan dirinya lagi, tetapi ia mementingkan juga keluarganya. Ia membela mati-matian anak istrinya terhadap gangguan binatang buas ataupun orang-orang lain. Setelah itu, manusia lebih maju lagi. Ia tidak hanya mempertahankan dan membela keluarganya, tetapi juga anggota kelompoknya. Mulailah sering terjadi peperangan antara kelompok-kelompok manusia untuk memperebutkan harta atau hanya karena berebut daerah perburuan atau perhumaan. Setelah kelompok-kelompok itu berdamai, terbentuklah bangsa dan kerajaan seperti Pajajaran. Ini adalah tingkatan yang sangat tinggi. Para puragabaya menjadi pelopor dalam perkembangan kemanusiaan yang tinggi itu.

"Di Pajajaran," demikian Eyang Resi Tajimalela, "masih ada orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya. Secara berangsur-angsur, mereka harus dididik agar Pajajaran menjadi suatu kerajaan yang kuat dan padu. Dan contoh yang menjadi teladan bagi masyarakat adalah para puragabaya. Mereka ini manusia-manusia baru, manusia-manusia masa depan yang gilang-gemilang."

Penjelasan Eyang Resi Tajimalela menjadi bahan renungan yang sangat mengganggu ketenteraman hatinya. Ia bimbang, karena dengan penjelasan-penjelasan itu, ia merasa ditempatkan sebagai manusia yang rendah. Ia mementingkan keluarga dan tidak mementingkan kerajaan secara keseluruhan. Hal itu merupakan cacat baginya, demikian menurut pendapat Eyang Resi Tajimalela. "Apakah itu benar?" tanya Banyak Sumba dalam hati. Ia berusaha menjawab pertanyaan itu dan kepalanya menjadi pening karenanya.

Ilmu keperwiraan yang diajarkan-dalam ruangan besar itu, serta pelaksanaan latihan-latihan yang dilakukan oleh para calon puragabaya, sangat merangsang pikirannya. Berulang- ulang, ia ingat kepada Jasik karena tiadanya panakawan itu sangat merugikan baginya. Ia tidak dapat mencoba segala pelajaran yang dicurinya dari atas atap atau didapatnya dari renungan-renungan. Kadang-kadang, dorongannya untuk mencoba ilmu barunya terhadap para calon puragabaya hampir tidak tertahan, kalau saja ia tidak sadar bahwa hal itu akan berarti bunuh diri.

Dengan ilmu yang didapat dari Padepokan Tajimalela itu, ia sadar bahwa ia sekarang sudah dapat mengerti mengapa dengan mudah ia dikalahkan oleh Raden Madea, ketika ia mencoba kemampuan ilmu calon puragabaya itu di Padepokan Sirnadirasa dulu. Ia sekarang yakin bahwa ia akan dapat mengalahkan Raden Madea, atau sekurang-kurangnya ia tidak akan dapat dirobohkan seperti dulu sehingga pergelangan tangannya terkilir. Demikian ia termenung hingga para calon meninggalkan ruangan dan ia menyelinap ke luar setelah semuanya sunyi.

Pada suatu pagi, ketika matahari baru saja terbit, seperti biasa, Banyak Sumba merayap atau melompat dari pohon ke pohon menuju daerah padepokan. Ia duduk di atas dahan, pada sebatang pohon yang berdaun rindang. Ia memandang ke arah lapangan tempat para calon puragabaya berlatih.

Akan tetapi, tidak seperti biasanya, lapangan sepi belaka. Maka, melompatlah ia, seperti seekor kera besar, menuju pinggir kawah mati sebelah selatan, ke tempat latihan memanjat tebing. Akan tetapi, di sana pun para calon tidak ada.

Banyak Sumba turun dari pohon, lalu menyelinap di antara semak-semak, mendekati pinggir kawah mati. Ketika ia mencoba lebih mendekati bangunan-bangunan itu, terdengar olehnya teriakan-teriakan sayup-sayup. Karena telinganya sangat tajam, ia segera mengetahui dari mana datangnya teriakan-teriakan itu. la segera menuju tepi kawah bagian utara, kemudian menuruni tebing-tebing. Didengarnya bunyi air terjun yang gemuruh. Dengan penasaran Banyak Sumba mendekat, lalu memanjati pohon yang sangat tinggi. Ia heran melihat bagaimana para calon dengan mempergunakan tambang, dimasukkan ke dalam pusaran air besar yang menyeramkan yang telah dikenalnya.

Seorang demi seorang calon itu diturunkan, lalu ditarik kembali setelah beberapa lama. Umumnya, mereka terbaring kelelahan setelah berada di atas kembali. Yang mengherankan Banyak Sumba adalah calon dapat keluar dari pusaran air itu. Sepanjang pengetahuan Banyak Sumba, air jeram itu berputar sangat keras dalam suatu lubang besar, lalu mencebur ke dalam sungai. Barang siapa yang masuk ke dalam pusaran itu akan dibanting air ke batu-batu dan cadas di sana, dan akan masuk sungai sebagai mayat. Akan tetapi, para calon dapat keluar dengan selamat.

Ingin sekali Banyak Sumba mengetahui, apa yang dilakukan oleh para pelatih terhadap calon puragabaya itu. Ia melompat ke pohon lain sambil berusaha tidak menimbulkan suara atau gerakan. Makin lama, makin dekat ia ke arah para calon yang mengelilingi lubang yang dibuat oleh air terjun itu. Sekarang, Banyak Sumba dapat melihat bahwa di dalam pusaran air yang gemuruh itu, para calon harus dapat mempertahankan diri sehingga tidak terbanting ke cadas.

Setiap kali ada calon yang diturunkan, berdebar-debar hati Banyak Sumba. Dan, setiap kali mereka diangkat dengan selamat, lega pula hatinya. Bagaimanapun, setelah beberapa bulan tinggal di hutan sekitar padepokan, ia sudah mengenal para calon itu satu per satu. Ia merasa sayang kepada mereka, para pemuda yang tampan dan halus perangainya itu. Akan tetapi, sedih sekali Banyak Sumba seandainya salah seorang di antara mereka ada yang menjadi korban latihan berat itu.

"Turun!" tiba-tiba terdengar seseorang berseru. Terhenti rasanya denyut jantung Banyak Sumba.

Ketika melihat ke bawah, ia sadar bahwa pohon tempatnya bersembunyi telah dikelilingi oleh dua orang pelatih dan beberapa orang calon yang telah selesai berlatih. Banyak Sumba melihat ke arah pohon-pohon sekelilingnya. Ia menarik napas, lalu melompat ke dahan terdekat, kemudian ke pohon yang lain. Tiba-tiba, ia melihat bahwa semak-semak bergerak di bawahnya.

Ternyata, ia telah dikepung ketika ia asyik memerhatikan para calon yang sedang berlatih. Banyak Sumba melihat pula beberapa orang calon telah menaiki pohon-pohon yang akan dilompatinya. Dengan sedih, ia menyadari bahwa para calon itu sangat tangkas, tangkas seperti dia sendiri. Maka, dengan secepat-cepatnya, Banyak Sumba melompat dari dahan ke dahan, dari pohon ke pohon bagaikan seekor kera besar. Para calon seraya berteriak-teriak mengepung, ada yang berlari di antara semak-semak, ada pula yang mengejar dia dari pohon ke pohon.

Pada suatu kali, Banyak Sumba berlari di atas dahan besar. Tiba-tiba, seseorang melompat dari pohon lain dan berdiri di ujung dahan besar itu pada arah yang bertentangan. Tak ada jalan lain, kecuali menyerang calon puragabaya itu. Secepat kilat, terpikir oleh Banyak Sumba bahwa itu adalah kesempatan yang baik untuk mencoba ilmunya. Secepat kilat pula, ia beranggapan, alangkah anehnya kalau ia berpikiran begitu waktu dikepung bahaya. Adapun yang terpikir olehnya, ia tetap bergerak menuju calon itu. Calon itu bersiap, ia pun bersiap, berhadapan di atas cabang besar itu. Selangkah demi selangkah, keduanya maju. Teriakan-teriakan terdengar dari bawah. Di antara teriakan-teriakan itu terdengar teriakan pelatih. 'Jangan dikeroyok, lawan sebagai seorang kesatria!" 

Tiba-tiba, calon itu menyerang, menangkap tangan Banyak Sumba, dan mencoba merusak keseimbangan agar Banyak Sumba jatuh. Akan tetapi, Banyak Sumba dapat mengendalikan berat badannya dan menarik calon itu ke kedudukan yang tidak seimbang. Banyak Sumba melangkahkan kakinya ke depan dan calon yang telah berdiri miring terjatuh, tetapi tidak langsung ke tanah. Tangannya yang cekatan menangkap dahan dan bergantunglah ia, kemudian melompat kembali mengejarnya.

Banyak Sumba segera meninggalkan pohon itu, ia memanjati batang yang tinggi. Terdengar di belakang gerisik daun-daunan dan getaran batang pohon yang disebabkan oleh berat badan pengejar. Banyak Sumba berhenti, lalu ketika muka pengejar tampak, ia menginjaknya. Akan tetapi, begitu cepat calon puragabaya itu mengibas sehingga tumit Banyak Sumba menyerang angin. Banyak Sumba tidak melanjutkan serangannya. Ia segera melompat kembali. Beberapa pohon dilompatinya, kemudian tampaklah semak-semak yang tidak ada pohon besarnya.

Banyak Sumba segera menuruni pohonnya. Ketika ia menginjakkan kakinya di tanah, dari beberapa arah datanglah bayangan-bayangan putih mengepungnya. Kaki Banyak Sumba berdesing ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak ada yang dikenalnya karena seperti serangan kucing-kucing hutan, para calon berloncatan ke kiri dan ke kanan atau mundur. Banyak Sumba berlari terus. Tanpa diketahuinya terlebih dahulu, seorang calon datang dari sampingnya dan langsung melompat menangkap pinggangnya. Banyak Sumba memukul tangan calon puragabaya itu dan sambil mempergunakan berat badan lawan, melemparkannya ke samping kanan. Calon itu berguling di semak, kemudian berdiri, kembali mengejar.

Banyak Sumba berlari terus hingga pada suatu kali, ia membelok karena di hadapannya tampak dua orang mencegatnya. Akan tetapi, langkahnya terhenti karena dari depan tampak juga seorang telah bersiap-siap, sementara tidak jauh dari calon itu berdiri pula yang lain. Banyak Sumba membelok ke arah lain, tetapi ia terhenti pula. Ia telah dikelilingi lawannya.

"Menyerahlah, Anak Muda," kata pelatih yangjuga hadir di antara pengepung. Sementara itu, dari balik semak-semak bermunculanlah para calon. Dengan pandangannya, Banyak Sumba merencanakan arah-arah yang akan dipergunakannya untuk melarikan diri. Ia harus melarikan diri ke arah hutan kembali karena hutan lebih menguntungkan baginya. Ia menyadari sekarang bahwa kalau ia terkepung, itu adalah akibat siasat para pengepung yang mengiring dia ke arah tanah terbuka, hanya terdapat semak-semak. "Menyerahlah, Anak Muda. Kami akan memperlakukanmu secara adil," kata pelatih itu pula seraya kepungan bertambah kecil.

Banyak Sumba berbisik dalam hatinya bahwa dia tidak akan mau dibunuh dengan mudah karena memasuki daerah terlarang itu. Ia mendengarkan desir langkah pengepungyang ada di belakangnya karena merekalah yang akan diserangnya. Makin lama, para pengepung makin mendekat. Banyak Sumba berpura-pura mencari sasaran yang ada di depannya dan berulang-ulang berpaling ke arah yang bertentangan dengan hutan. Itu adalah siasat, karena ketika itu, para pengepung telah berada dalam jangkauan lompatan.

Banyak Sumba berbalik dan melompat ke belakang.

Bayangan putih yang langsung ada di depannya diserangnya dengan kaki. Akan tetapi, calon itu dengan sigap menghindar dan di belakangnya muncul dua orang bersiap-siap. Banyak Sumba berpaling, tapi juga terhalang oleh dua orang. Ia sadar sekarang bahwa ia hanya akan melarikan diri kalau merobohkan orang-orang yang menghadangnya dan tidak hanya menakut-nakuti mereka.

Dengan pikiran itu, Banyak Sumba menarik napas panjang.

Ia tidak berlari atau melompat. Ia berjalan menuju lawan terdekat.

"Yang lain mundur!" seru pelatih.

Banyak Sumba merasa bahwa ia akan menjadi percobaan untuk menguji ketangkasan para calon itu. Ia tidak terlalu bersedih karena ia pun tahu bahwa saat itulah ia akan dapat menguji kepandaiannya. Maka, sambil berdoa, ia maju. Tak lama kemudian, mereka telah berada dalam daerah serang. Banyak Sumba yang sudah hafal akan cara-cara penyerangan yang biasa dilakukan oleh para calon, dengan mudah meramalkan gerakan-gerakan yang akan dilakukan lawan.

Itulah sebabnya, ia menutupnya. Dan karena ia lebih tinggi dan lebih besar daripada lawannya, dengan juluran tangan, ia sudah cukup dapat menghindarkan bahaya tendangan lawan.

Sebaliknya, lawan yang berbadan ramping dan kecil, lebih terbatas kemungkinannya dalam melindungi diri. Banyak Sumba tidak menyia-nyiakan keuntungan yang ada padanya.

Dengan segera, ia menyerang ke arah lawannya. Itu hanya tipuan belaka karena Banyak Sumba sudah menduga bahwa dari sikap kaki dan tangannya serta dari condong badan lawan, lawan akan bergerak ke arah kirinya. Karena ia merasa bahwa dugaannya tidak meleset, dilepaskannya tendangan yang terkendali ke arah tempat kosong itu. Tetapi pada saat yang diduga, lawan menghindar ke arah itu. Serangan yang terkendali tidak akan dapat dihindari lagi oleh calon itu. Akan tetapi, dengan sangat mengherankan, Banyak Sumba tidak mengalami apa yang diharapkannya. Memang tendangannya kena, tetapi tendangan itu tidak telak.

Banyak Sumba seolah-olah menendang sebuah benda yang ringan yang kemudian mengikuti arah tendangannya. Lebih dari itu, tiba-tiba kaki Banyak Sumba tertarik ke arah lawan dan ia kehilangan keseimbangan. Untung ia segera dapat bertindak, yaitu dengan melompat menubruk ke arah lawan. Lawan menghindar sambil melemparkan badan Banyak Sumba karenanya sempoyongan.

Banyak Sumba hampir jatuh, untung dilihatnya bayangan putih di dekatnya. Ditendangnya bayangan putih itu, dan ia seolah-olah tertahan oleh badan calon yang malang itu.

Ternyata,' calon itu pun tidak roboh, tetapi kembali melemparkan Banyak Sumba ke dalam gelanggang di tempat calon melemparkannya tadi menunggu. Dari pengalaman yang secepat kilat itu, Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa salah satu cara calon-calon menghindarkan kekuatan serangan adalah dengan menerima serangan itu secara lembut.

Dua orang calon yang diserang dan dikenai, tidak pernah menahan serangan itu. Kalau tidak sempat menghindar, mereka memberikan sasaran yang diserang untuk dikenai, tidak diberikan secara mudak, tetapi diikutkan dengan gerakan serangan lawan. Ketika daya serang lawan hampir habis, anggota badan lawan yang menjadi senjata serangan dikembalikan dengan keras. Itulah yang menyebabkan Banyak Sumba sempoyongan.

Sadar akan hal itu, Banyak Sumba memutuskan untuk tidak menyerang mereka pada jarak jauh. Hal itu terlalu berbahaya. Dalam kedudukan yang kurang menguntungkan, Banyak Sumba dengan mudah akan dapat dirobohkan, walaupun ia berbadan tinggi besar dibandingkan dengan para calon itu.

Maka, ditetapkannya untuk menghadapi calon yang di hadapannya dalam jarak dekat.

Banyak Sumba berjalan, menyodorkan kedua belah tangannya ke depan. Dengan tidak disangka-sangka, tangan yang disodorkan ditendang oleh calon itu. Ketika Banyak Sumba masih kesemutan di tangannya, calon itu sudah menyeruduk ke arahnya. Banyak Sumba mengukuhkan kuda- kudanya karena tahu bahwa calon itu akan mental atau masuk perangkap lipatan tangannya yang kuat-kuat. Akan tetapi, serangan itu hanyalah tipuan belaka. Calon itu berhenti pada jarak yang dekat sekali, kemudian menendang ke arah ulu hati Banyak Sumba, lalu melompat menjauh. Untung Banyak Sumba sempat mengibaskan tubuhnya sehingga tendangan itu mengenai otot dadanya yang kuat. Rasa sakit menusuk ototnya, tetapi Banyak Sumba bersyukur bahwa ia tidak roboh oleh serangan yang bagus itu.

"Bagus!" kata pelatih kepada calon itu. Kawan-kawan calon itu pun bergumam, puas dengan serangan kawannya yang bagus itu.

Banyak Sumba segera menyadari bahwa salah satu kepandaian para calon itu adalah kecepatan membaca gerakan yang tergerak dalam pikiran lawan. Banyak Sumba telah melakukan serangan jarak jauh dan tidak berhasil. Lawan segera membaca bahwa Banyak Sumba akan mencoba serangan jarak pendek. Lawan berbalik menyerangnya dengan jarak jauh. Dan ketika Banyak Sumba masih kebingungan, serangan yang baik dan terkendali diarahkan dengan tepat dan cepat.

Sekarang, mereka berhadapan kembali. Banyak Sumba memutuskan untuk mempergunakan cara lain. Keuntungannya sebagai seorang yang berbadan tinggi dan besar, kecepatannya yang dibentuk oleh hidupnya sebagai binatang hutan, dipergunakannya sebaik-baiknya. Ia mempergunakan kecepatan ini, tetapi disembunyikannya pada awal penyerangan. Ia bergerak dengan lembut, berganti-ganti kedudukan, sesuai dengan kuda-kuda lawan. Ia berlaku seolah-olah menunggu serangan dan bersikap mempertahankan diri. Ini memberikan keuntungan lain kepadanya.

Lawan menyangka bahwa tendangan yang mengenai dadanya cukup mendekati sasaran, sehingga Banyak Sumba menjadi lamban. Tampak lawan mengambil prakarsa untuk menyerang. Ia mencari celah-celah pada kedudukan dan pasangan Banyak Sumba.

Ketika itulah, dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh tubuh yang biasa mengejar kijang atau menghindarkan diri dari serangan harimau, Banyak Sumba menghambur ke depan. Lawan melompat ke samping dengan arah yang sudah diramalkan oleh Banyak Sumba. Dengan kaki kanannya yang panjang, Banyak Sumba mencegat lawan yang dengan cepat melompat dan berjungkir, lalu bergelundung.

Banyak Sumba berbalik mengejar. Begitu lawan berdiri dan hendak berpaling, pinggangnya ditangkap oleh Banyak Sumba. Tubuh calon itu diangkat hendak dilemparkannya ke tepi gelanggang, ke arah kawan-kawannya. Akan tetapi, seperti bergetah, tubuh calon itu melekat. Dengan segera, Banyak Sumba menyadari bahwa tangan kanannya terkunci, sedangkan beberapa bagian tubuhnya mendapat serangan kecil-kecil tapi tajam. Ternyata, calon itu seperti seekor kucing, ketika hendak dilempar, bergantung dengan jari-jari yang dikeraskan hingga dapat merobek otot. Banyak Sumba menggagalkan niatnya, lalu mencoba melepaskan tangannya yang dikunci. Ketika itulah, dengan cepat calon membantingnya dan Banyak Sumba pun bergelundung di rumput.

Banyak Sumba segera bangkit dalam sorak-sorai kawan- kawan calon yang bergembira menyaksikan kepandaian kawannya itu. Tapi, Banyak Sumba pun bergembira. Ia menyadari sesuatu. Ketika lawan mengunci tangan kanannya, lawan sebenarnya tidak menyerang, tetapi hanya untuk menarik perhatiannya. Demikian juga permainan sikutnya yang cepat dan tajam menghantam rusuknya. Serangan lawan ditujukan terhadap kuda-kuda Banyak Sumba. Karena tergoda oleh serangan-serangan kecil, kuda-kuda itu terlupakan.

Makin sadar Banyak Sumba bahwa pertarungan itu bukanlah—terutama—didasarkan pada kekuatan otot atau kecepatan gerak anggota badan, tetapi kepada kesadaran dan kecerdasannya. Banyak Sumba bertekad untuk tidak tertarik dan tergoda oleh serangan-serangan yang tidak membahayakan itu. Ia akan menyerahkan bagian badannya yang diserang lawan, sepanjang itu tidak berbahaya. Ia akan menukar bagian badan nya yang diserang dengan bagian badan atau kedudukan lawan yang lebih berbahaya.

Ia pasang kuda-kuda lagi, tetapi lawannya dipanggil oleh pelatih dan mengundurkan diri dari gelanggang, sementara itu calon lain masuk menghadapinya. Banyak Sumba tersenyum karena ia sadar akan belajar banyak dari Padepokan Tajimalela itu. Ia melupakan bahaya karena pikiran-pikirannya itu.

"Hai! Ia tersenyum!" seru salah seorang di antara para pengepung yang berdiri melingkarinya. Terdengar yang lain tertawa gembira bercampur keheranan. Banyak Sumba kembali menyadari keadaannya, lalu bersiap-siap. Ia menetapkan siasat baru. Cara menghunjamkan pukulanlah yang akan dilakukannya terhadap lawan. Ia ingin tahu, bagaimana lawan akan menahan serangan itu.

Begitu mereka siap, Banyak Sumba menyerang, tapi menghentikan serangan di tengah-tengah jalan untuk menggetarkan dan membingungkan lawan. Lawan menghindar jauh sekali darinya. Hal itu menerbitkan tertawaan pada kawan-kawannya.

"Paman, ia berkelahi seperti seekor harimau, lihat bentuk tangannya!" kata seorang calon yang muda sekali. Banyak Sumba memang teringat kepada cara harimau yang siap menyerang.

"Ia orang liar!" "Ia orang hutan!"

"Mungkin, ia tidak bisa bicara." "Tapi, ia bisa tersenyum, tadi!"

Ketika itu, calon yang ditertawakan oleh kawan-kawannya mendekat, tetapi terlalu dekat sehingga Banyak Sumba dapat menyapu kakinya. Lawan hampir saja terjatuh kalau tidak sempat melompat. Lompatannya yang kikuk menyebabkan gelak kawan-kawannya. Banyak Sumba merasa bahwa ia menang secara ruhani. Lawannya merasa malu oleh kawan- kawannya karena berbuat kesalahan. Oleh karena itu, pikirannya tidak akan bekerja dengan baik. Orang yang malu akan berbuat yang bukan-bukan untuk menutup rasa malunya. Ini celah jiwa yang dapat dipergunakan Banyak Sumba.

Banyak Sumba segera membuka celah, seolah ia lalai. Ia membuka dadanya. Kemudian segera menutupnya kembali, seolah-olah ia baru sadar. Akan tetapi, dalam menutup dadanya itu ia berpura-pura telanjur membuka rusuknya. Tendangan mendesing ke arah rusuknya. Dengan gerakan membuang, ia menyerang kaki lawan dengan sikutnya.

Lawan terguncang. Ketika itulah, dengan kecepatan yang hanya ada pada tubuh seorang yang pernah terpaksa hidup di hutan, Banyak Sumba menyerang dan mempergunakan siasat yang telah direncanakannya, yaitu rangkaian pukulan ke arah tubuh lawan. Akan tetapi, ia tidak memilih sasaran yang berbahaya karena ia lebih bermaksud mencoba lawan dan bukan merobohkannya. Ia begitu tertarik oleh ilmu keperwiraan itu sehingga ia lupa bahwa seharusnya ia melarikan diri dengan segera dari tempat itu.

Beberapa pukulan masuk, demikian juga beberapa rangkaian pukulan tidak dapat dihindarkan lawan. Sorak-sorai terdengar, dan dalam keriuhrendahan itu, Banyak Sumba sempat mendengar kata-kata,

"Pasti ia pernah belajar."

"Ia sudah lama mengintip di sekitar ini."

Banyak Sumba tidak memerhatikan kata-kata selanjutnya. Ia dengan terkendali menghujani lawan dengan pukulan dan tusukannya masuk. Akan tetapi, kemudian lawan dapat menguasai dirinya, ia menempelkan kedua belah tangannya. Sekarang, seperti sebuah belitan tambang, ia mengendalikan tangan Banyak Sumba. Tak ada lagi pukulan yang bisa masuk.

Tangan lawan licin seperti belut, tapi tidak mau lepas dari tangan Banyak Sumba. Bahkan, berulang-ulang hampir saja Banyak Sumba tercabut dari kuda-kudanya. Mula-mula, Banyak Sumba repot. Akan tetapi, ia cepat belajar. Ia harus mengalihkan perhatiannya.

Tangannya masih mencoba menghantam tubuh dan kepala lawan, tetapi perhatiannya berpindah ke kakinya. Pada suatu saat, kaki kanannya menyapu kaki lawan. Lawan melompat menjauh, diiringi sorakan riuh rendah. "Luar biasa!"

"Paman, ia berbakat sekali."

"Mungkin, ia sudah lebih lama tinggal di sekitar padepokan daripada kalian."

"Tangkap dia!"

Perkataan itu mengingatkan Banyak Sumba pada keadaannya. Ia berada di tengah-tengah bahaya. Ia telah melanggar satu-satunya larangan kerajaan yang paling keras, yaitu memasuki tempat belajar para calon puragabaya. Maka, diteguh-kanlah hatinya untuk meloloskan diri. Ia merasa bahwa ia sudah mendapat bahan banyak sekali dari perkelahian itu. Ia dapat merenungkannya jauh dari padepokan. Ia harus melarikan diri.

Ketika itu, lawannya mengundurkan diri, seorang calon yang masih segar turun ke gelanggang.

"Paman, ia tidak tampak kelelahan."

"Ia hidup dengan bermacam-macam binatang. Lihat otot- ototnya yang kenyal dan indah itu!" demikian didengar percakapan-percakapan sekelilingnya.

"Imba, tangkaplah dia!"

Tiba-tiba lawan menderu, mendesak ke arah Banyak Sumba. Banyak Sumba tidak menangkap dan melemparkan lawan ke samping seperti yang biasa dilakukan oleh para calon. Ia bergerak ke samping sambil menyepak. Akan tetapi, serangan yang tidak biasa kelihatan di padepokan ternyata dapat dihindarkan calon itu, yang sambil melayang di udara, memukul tangannya. Banyak Sumba tidak memberi kesempatan, ia menghambur ke arah lawan dengan pasangan yang tertutup rapat dan siap menghantam.

Lawan berbalik menghadap dan menampung tendangan Banyak Sumba dengan kakinya yang menyepak ke samping. Ini mengherankan Banyak Sumba. Akan tetapi, ia bergembira karena telah menemukan pula cara menghindar yang sangat bagus. Ia terus mendesak lawannya, sementara itu di sekelilingnya terdengar sorak-sorai gembira sehingga pelatih terpaksa berseru, "Perhatikan! Perhatikan caranya berkelahi!"

Pada saat itulah, terlintas pada diri Banyak Sumba bahwa ia akan kelelahan kalau terus-menerus membiarkan dirinya dijadikan bahan percobaan walaupun mempelajari cara-cara berkelahi para calon itu. Ia merasa bahwa salah satu asas yang sangat penting telah didapatnya, yaitu para calon dalam perkelahian tetap sadar mempergunakan kecerdasannya.

Ini berbeda dengan prajurit atau perwira kebanyakan, yang berkelahi secara kebiasaan dan terikat oleh cara-cara yang mereka terima dari perguruan mereka. Itulah sebabnya mengapa para calon sangat sukar diramalkan dalam gerakan dan serangan-serangannya.

Sambil berpikir demikian, didesaknya lawan ke pinggir gelanggang. Dan ketika lawan menghindar, diserangnya seorang calon yang ada di dekatnya, kemudian Banyak Sumba menyerang yang lain, menembus kepungan.

"Cegat! Cegat!"

Banyak Sumba melompat-lompat, lalu memanjat seperti kera. Ia melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, semua pengejar juga mengikutinya. Banyak Sumba turun ke semak- semak, kadang-kadang ia membelok, menghadang pengejar. Sekali pinggangnya ditangkap, sikutnya mengenai kepala penangkap. Kadang-kadang ia dihadang, tetapi tubuhnya yang tinggi besar dan kenyal itu menguntungkannya. Tak ada yang dapat menghalanginya dengan sepenuh hati karena tidak ada di antara calon yang cukup besar dan kuat untuk menghadapi kekuatan Banyak Sumba yang dibentuk oleh kehidupan hutan rimba yang keras. Pada suatu saat, terhentilah ia berlari. Di hadapannya jurang terbuka. Ia sadar bahwa pelatih itu telah mengatur pengepungan begitu rupa hingga akhirnya ia digiring ke pinggir jurang dan dikepung rapat-rapat oleh calon. Tak lama kemudian, ketika ia membalikkan badan, para calon telah berkeliling dari segala arah di hadapannya. Sedangkan di belakangnya menganga jurang itu.

"Menyerahlah, Anak Muda, kami akan memperlakukanmu dengan adil," kata pelatih itu dengan suara jujur.

Akan tetapi, Banyak Sumba tidak percaya. Dengan sudut matanya diliriknya bibir jurang, ia melihat pohon di seberang. Ia dapat melompat ke arah pohon itu. Soalnya, apakah ia akan dapat menggapainya? Pikiran itu sekilas lewat di benaknya, kemudian Banyak Sumba menyerang orang yang paling dekat, lalu berpaling dan dengan desingan tubuhnya, melompati jurang yang luas itu.

Terdengar teriakan-teriakan ngeri para calon. Tubuh Banyak Sumba melayang. Tiba-tiba, di hadapannya terlihat benda hijau. Tangan Banyak Sumba menangkap benda hijau itu. Ia meluncur untuk beberapa lama di antara daun-daunan, kemudian tangannya menangkap cabang, ia bergantungan.

Seperti seekor kera ia menaiki pohon, lalu seraya berpegang pada akar-akar mendaki bibir jurang, hingga akhirnya tiba di atasnya. Ia menarik napas panjang, lalu berpaling ke seberang. Ia melihat para calon berdiri dengan keheranan di seberang. Ia melambai kepada mereka sambil tersenyum.

Mereka tampak tercengang. Banyak Sumba segera lari, masuk hutan.

KETIKA ia berjalan dalam hutan itu, bertiuplah angin lirih.

Keringatnya barulah dirasakan membasahi tubuhnya. Ia merasa lapar. Sambil berjalan, dipetiknya buah-buahan. Banyak Sumba baru mencicipi makanan, padahal hari sudah siang. Ia berjalan menjauh dari bibir jurang. Sambil menunduk, dipikirnya apa yang akan dilakukannya. Teringat akan sungai itu. Ia akan menyusuri sungai untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat ramai. Ia akan merenungkan ilmu kepuragabaya-an, lalu mencari Jasik. Mereka akan pergi ke Pakuan Pajajaran untuk menunaikan tugas, yaitu membunuh Anggadipati. Setelah itu, ia akan pulang ke Kota Medang.

Ketika itulah, ia teringat kepada Nyai Emas Purbamanik. Kesedihan menyelinap dalam hatinya. Ia sudah putus asa sekarang. Tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis yang telah begitu lama ditinggalkannya. Tidak diharapkannya kesetiaan dari seseorang terhadap dirinya yang bernasib tidak menentu. Sadar akan hal itu, meluaplah kebenciannya kepada Pangeran Anggadipati. Ia akan membunuhnya. Ia akan mempergunakan trisula kecil, senjata kepuragabayaan yang termasyhur, untuk melawan Anggadipati. Ia akan berkelahi habis-habisan. Untuk hidup atau mati sebagai seorang kesatria.

"Berhentilah, Anak Muda, marilah kembali ke padepokan, kau akan diperlakukan dengan adil."

Banyak Sumba terkejut melihat pelatih para calon berdiri beberapa langkah di mukanya. Sedangkan dari sekelilingnya bermunculanlah para calon yang berpakaian putih. Naluri mempertahankan dirinya timbul. Dengan teriakan, diserangnya pelatih itu seperti angin lolos dari tangan dan kakinya. Akan tetapi, Banyak Sumba tidak mengejar. Sambil melompat-lompat di sela-sela pepohonan dan dalam semak- semak, ia menyerang para calon. Beberapa kali ia mendapat serangan, beberapa kali pula ia mengenai lawannya.

Ia berlari dan tiba-tiba jatuh karena tambang kecil mendadak melintang antara dua batang pohon yang melewatinya. Para calon telah mempergunakan alat-alat untuk menangkapnya dengan tambang dan jangka. Pada suatu saat, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap karena seorang calon berhasil merungkupnya dengan kain halus yang hitam warnanya. Banyak Sumba segera melepaskan kain itu dengan tangan kirinya, sementara kaki dan tangan kanannya berdesingan ke segala arah, asal didengarnya desiran kaki.

Pada suatu saat, lehernya terjerat tambang kecil kepuragabayaan. Banyak Sumba sempoyongan kehilangan keseimbangan. Akan tetapi, secepat kilat, tangannya mencabut belati dan memotong tambang itu. Ia berlari sambil menendang calon yang mendekat hendak menangkapnya. Ia tidak tahu, berapa lama ia berputar-putar di sela-sela pohon, melompati tambang-tambang kecil yang tiba-tiba merentang di hadapannya, atau melepaskan tambang yang membelit tubuhnya dengan belatinya yang tajam. Tak lama kemudian, ia merasa lelah. Napasnya berdesis dan panas di paru-paru serta tenggorokannya. Pandangannya jadi samar-samar karena keringat yang deras melintasi matanya.

Sementara itu, para pengepung makin dekat juga mengejar di belakang. Langkah mereka berdesir di semak-semak. Suara pelatih mengatur pengepungan dengan jelas terdengar.

Banyak Sumba mengerahkan tenaganya yang penghabisan. Ia berlari dan melompat-lompat dengan sekuat tenaga untuk mencapai tebing curam yang ada di hadapannya.

Menurut pikirannya, kalau ia dapat lebih dahulu melintasi tebing itu, para pengejar akan takut mengejarnya karena dengan mudah Banyak Sumba akan dapat menyerang mereka. Akan tetapi, tiba-tiba di hadapannya sudah berdiri dua orang calon. Banyak Sumba membelokkan langkahnya, lalu melarikan diri ke arah hutan yang sangat lebat. Beberapa kali calon menghadangnya, tetapi mereka menghindari serangan yang dilakukannya dengan putus asa. Ia tahu bahwa akhirnya para calon itu akan diperintahkan untuk mempergunakan senjata mereka, trisula kecil yang merupakan senjata lempar yang sangat berbahaya. Kalau ia terlambat menjauh, siapa tahu ia akan menjadi korban senjata itu. Ia berlari, berlari, dan terus berlari. Akan tetapi, tenaganya terbatas. Pada suatu kali, sebatang ranting melintangi kakinya dan ia terjatuh. Namun aneh, pengejar tidak segera memburunya. Bahkan, mereka berseru riuh-rendah, "Kembali! Kembali! Kembali!"

Banyak Sumba kebingungan. Ia berpaling memandang para pengejar yang berdiri di kejauhan sambil memandang kepadanya. Banyak Sumba berlari terus, menuju hutan lebat, walaupun langkahnya makin lama makin berat.

"Kembali! Kembali!"

Banyak Sumba berlari dengan hati terheran-heran.

Beberapa kali ia jatuh tersandung. Ia bangkit, kemudian berjalan. Makin lama, makin jauh ia dari pengejarnya. Dan setelah menyeret-nyeret kakinya yang berat karena kelelahan, duduklah ia pada sebatang kayu besar yang melintang di hadapannya. Ia terengah-engah dan dengan keheranan mulai bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa para pengepung itu menghentikan pengejarannya. Ia curiga, apakah ia akan dicegat lagi ataukah sudah masuk perangkap mereka yang menunggu kesempatan untuk menangkapnya? Sambil berpikir demikian, ia melepaskan lelahnya. Seluruh tubuhnya gemetar dan basah kuyup oleh keringat.

Tiba-tiba, suatu hal aneh terjadi. Hutan seolah-olah bergerak. Banyak Sumba melihat ke sekelilingnya. Tiba-tiba, ia terjatuh dari batang pohon yang didudukinya. Ia bangkit dan melihat batang pohon itu bergerak menggelusur, masuk sela- sela pohon besar lainnya.

Untuk beberapa lama, Banyak Sumba membeku ketika ia sadar bahwa yang didudukinya bukanlah batang pohon yang tumbang, melainkan seekor ular yang besar sekali. Sadarlah ia sekarang bahwa ia sudah berada di Hutan Larangan. Ia mengerti sekarang, mengapa pengejar berhenti mengikutinya.

Bersama kesadaran itu, kakinya yang lelah seolah-olah mendapat tenaga kembali. Ketakutan menyebabkan badannya menjadi ringan kembali dan ia berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Ia tidak tahu ke arah mana ia berlari. Ia tidak tahu pula berapa lama ia berlari karena pada suatu kali ia terjatuh tersandung, lalu tak ingat lagi akan dunia sekelilingnya.

KETIKA ia tersadar kembali, matanya melihat binatang- binatang di sela-sela daun-daunan yang melindunginya.

Banyak Sumba memaksakan diri bangkit, walaupun seluruh tubuhnya sakit-sakit dan lesu. Ia merangkak, lalu dengan berpegang pada dahan-dahan, memanjat pohon yang tidak jauh dari tempatnya terbaring. Karena kebiasaan dan nalurinya, ia melindungi dirinya dari binatang buas dengan memanjat pohon setiap malam tiba. Setelah berada di atas, barulah ia merenungkan kembali apa-apa yang telah terjadi.

Ketika teringat pada ular besar yang dengan tidak sengaja didudukinya, meremanglah bulu romanya dan ia menyadari bahwa ia berada dalam Hutan Larangan yang tidak pernah dikunjungi manusia. Bersamaan dengan datangnya kesadaran itu, sadar pulalah ia akan suasana aneh hutan itu, suara-suara terdengar, bukan suara-suara hutan biasa, tetapi suara yang datang dari dunia lain yang tidak dikenalnya. Banyak Sumba mendengar desah, tapi bukan suara angin. Banyak Sumba mendengar suara-suara, tapi bukan suara binatang. Ia pun dengan perasaan seram berdoa, mohon periindungan dan ampunan kepada Sang Hiang Tunggal. Bagaimanapun, dengan tidak sengaja ia telah memasuki daerah para Bujangga dan para Pohaci, suatu daerah yang dikuasai para guriang. Ketika renungannya sampai pada hal itu, terdengarlah suara nyanyian yang merdu. Banyak Sumba mengucapkan mantra-mantra kembali.

Tampak olehnya ada cahaya. Karena cahaya itu, hutan jadi seperti taman. Dan, dari arah cahaya itulah terdengar suara nyanyian diiringi kecapi. Kadang-kadang terdengar suara percakapan, kadang-kadang suara tertawa yang merdu. Tak syak lagi, para Bujangga dan Pohaci sedang bercengkerama di puncak gunung yang sangat berdekatan dengan Kahi-angan. Banyak Sumba makin khusyuk memanjatkan doa-doa. Namun karena lelah, akhirnya ia tertidur juga.

Keesokan paginya, ia segera turun meninggalkan pohon. Ia segera menuju ke arah yang dianggapnya akan mengembalikan dia ke hutan biasa. Ia tidak berjalan, tetapi berlari, menyelinap dan melompati akar-akar pohon besar.

Kadang-kadang memanjat, lalu dengan mempergunakan akar- akar gantung berayun dan melompat ke pohon lain. Setiap kali ia tiba di sebatang pohon, beterbanganlah kupu-kupu dan kumbang karena pohon-pohonan di Hutan Larangan itu umumnya berbunga indah dan harum baunya.

Buah-buahan sangat banyak dan ranum-ranum, tetapi Banyak Sumba tak berani memetiknya, walaupun rasa lapar menusuk perutnya.

Akhirnya, dengan gembira, dilihatnya hutan-hutan yang meranggas dan buruk tampaknya. Itu tentu hutan biasa yang boleh dan pernah dirambah manusia. Banyak Sumba segera turun, berlari, menyelinap, memanjat, dan melompat. Tibalah ia di hutan itu. Ia berpaling ke arah hutan yang baru ditinggalkannya. Hutan Larangan itu tampaknya seperti taman yang besar, yang pohon-pohonannya seolah-olah dipelihara oleh para juru taman yang ahli, sedangkan bunga begitu beraneka warna dan harum baunya. Dari jarak sejauh itu, ia masih dapat menghirup wanginya. Setelah sekali lagi memandang hutan itu, ia berpaling, lalu menuruni tebing landai dari tanah yang tinggi tempat ia berada.

Entah berapa lama ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar burung tekukur. Hatinya gembira. Ia tiba kembali di dunia manusia. Ia beranggapan demikian karena burung tekukur biasanya hidup di sekitar perhumaan dan perhumaan tidak akan jauh dari perkampungan. Ia berlari ke arah datangnya suara burung tekukur itu. Dan tiba-tiba saja, ia memasuki hutan yang banyak sekali pohon enaunya. Tentu burung tekukur itu bernyanyi di salah satu puncak pohon enau dan pohon enau itu letaknya tentu yang paling berdekatan dengan perhumaan. Banyak Sumba berlari ke arah suara burung tekukur itu.

"Hai! Hai! Rambeng!"

Tiba-tiba, Banyak Sumba mendengar suara orang. Banyak Sumba berhenti, lalu menengok ke arah datangnya suara itu.

"Hai, sini, Ki Rambeng! Mengapa berlari-lari?"

Banyak Sumba tengadah kepada orang tua yang sedang bertengger di pohon enau dengan tiga buah bumbung tersandang di punggungnya. Banyak Sumba berjalan ke arah pohon enau itu, lalu tengadah.

"Bapak memanggil saya?" tanyanya sambil tersenyum karena gembira.

"Ya, saya panggil kau Rambeng karena pakaianmu tidak keruan. Ada apa kau berlari-lari?"

Banyak Sumba duduk, menunggu orang tua itu turun dari atas pohon enau. Ketika orang tua itu sudah berdiri di tanah, ia terbelalak dan mengundurkan diri ketakutan.

'Jangan takut, Kakek, saya bukan orang jahat." "Tidak ... tidak."

'Jangan takut, saya manusia juga, hanya sudah lama tersesat dalam hutan, dan Kakek adalah orang pertama yang saya jumpai. Terima kasih, Kakek. Kakek menyebabkan saya gembira."

Walaupun masih ketakutan, kakek-kakek itu tidak mundur lagi. Ia memandang Banyak Sumba dengan penuh keheranan. Banyak Sumba pun menceritakan bahwa ia telah bertahun- tahun tersesat dalam hutan dan akhirnya sampai di Hutan Larangan yang ada di puncak gunung. Banyak Sumba menunjuk ke arah puncak gunung yang membayang di atas mereka, sebuah hutan besar yang indah seperti taman tampaknya.

"Sekarang, bawalah saya ke kampung. Saya sudah sangat rindu untuk melihat masyarakat manusia kembali. Di samping itu, saya butuh pakaian yang pantas karena kulit harimau ini sudah tua dan sudah rusak."

Kakek-kakek itu dapat diyakinkan. Walaupun masih kikuk, ia memberi isyarat kepada Banyak Sumba untuk mengikutinya. Mereka pun berjalan menuruni tebing gunung yang landai. Setelah hutan enau dilewati, mereka masuk ke daerah bekas perhumaan. Akhirnya, terbentanglah huma- huma penduduk Pajajaran.

"Kakek, termasuk wilayah mana kampung-kampung ini?" "Ke timur Kutabarang, ke barat Pakuan Pajajaran," jawab

orang tua itu. Banyak Sumba tidak berkata apa-apa lagi.

Sambil berjalan, ia membuat rencana yang akan dilakukannya sebelum ia berangkat ke Pakuan Pajajaran untuk mencari Anggadipati.

Ia akan beristirahat untuk beberapa lama di kampung, mencari kuda yang baik karena kebetulan uangnya tidak hilang dalam hutan. Kemudian, ia akan mencari keterangan tentangjasik di Kutabarang, sekaligus menemui Kang Arsim. Setelah itu, ia akan bertolak ke Pakuan Pajajaran. Sementara belum mendapat kuda yang baik, ia akan beristirahat di rumah kakek-kakek itu sambil merenungkan pengalaman yang didapatnya dalam perkelahian dengan para calon puragabaya itu.

Setelah beberapa lama mendaki dan menuruni bukit-bukit, sampailah mereka di tepi kampung yang berpagar tinggi.

Kakek-kakek itu berseru dan dari atas kandang jaga, muncullah kepala anak muda yang keheranan memandang ke arah Banyak Sumba.

"Ji, ini tamu kita, orang tersesat dalam hutan." Lawang kori dibuka dan tak lama kemudian, Banyak Sumba dikelilingi oleh anak-anak kecil yang sedang bermain-main di halaman kampung. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, tidak tampak karena waktu itu adalah saat-saat mereka bekerja di huma.

"Rambeng!" Tiba-tiba, anak kecil berseru. Banyak Sumba tersenyum dan melihat pada pakaiannya sendiri yang tidak keruan potongannya. Anak-anak lain tertawa. Dan ketika Banyak Sumba mengiringkan kakek-kakek menuju rumahnya, anak-anak itu pun mengiringkannya, ada yang berbisik-bisik, ada yang tertawa-tawa. Tak lama kemudian, tahulah Banyak Sumba bahwa anak-anak kampung memanggil Ki Rambeng karena pakaian kulit harimaunya yang tidak keruan dan lusuh itu.

-ooo00dw00ooo-