-->

Pertarungan Terakhir Bab 06 : Padepokan Sirnadirasa

 
Bab 06 : Padepokan Sirnadirasa

Ketika langit sebelah barat merah bagai tirai api, tampaklah punggung gunung yang pohon-pohonnya tcr-atur seperti sebuah taman yang besar. Itulah Padepokan Resi Sirnadirasa, ujar Banyak Sumba dalam hatinya dengari lega. Ia tidak akan kemalaman dalam hutan dan ia dapat beristirahat dengan tenang malam itu juga, seraya mencurahkan kerinduan kepada Nyai Emas Purbamanik melalui Raden Girilaya. Maka, dipercepatlah lari kudanya yang dengan kelelahan, mendaki dan melompati cadas-cadas. Tak lama kemudian, tibalah Banyak Sumba di pinggir hutan yang indah itu, lalu ia turun dari kudanya dan membelok ke kampung kecil tempat badega- badega tinggal. Ia menitipkan kuda di sana. Setelah membersihkan badan, ia berjalan kaki mendaki punggung gunung menuju Padepokan Sirnadirasa. Raden Girilaya menyambutnya ketika ia tiba.

"Betapa cemas kami akan nasib Saudara. Tidak pernah ada siswa yang meninggalkan padepokan begitu lama."

"Tidak ada bahaya yang akan menimpa saya," kata Banyak Sumba, walaupun ia tahu bahwa perkataannya itu tidak benar dan baru saja ia lepas dari ancaman kematian.

"Bukan begitu," kata Raden Girilaya, "tapi kami cemas, Saudara tidak betah di sini, di tempat yang sunyi ini."

"Saya akan selalu kembali ke tempat saya mempelajari ilmu keperwiraan karena itulah yang menjadi panggilan hidup saya," kata Banyak Sumba seraya mereka berjalan menuju gua tempat Resi Sirnadirasa tinggal. Banyak Sumba menghaturkan sembah ketika mereka sudah duduk di hadapan sang Resi. Sementara itu, para siswa yang mengetahui kedatangannya menunggu di luar.

"Selamat datang kembali di padepokan, Raden. Bagaimana orangtuamu?" tanya sang Resi.

"Mereka menyampaikan sembah kepada Eyang." "Syukurlah, dan bagaimana engkau sendiri? Tampaknya

sehat dan segar."

"Tak kurang suatu apa, Eyang," ujar Banyak Sumba. "Sudahkah kau beristirahat?"

"Saya sempat beristirahat sebentar di perkampungan badega-badega di bawah, Eyang," kata Banyak Sumba dengan agak keheranan.

"Raden datang pada saat yang tepat," ujar sang Resi, kemudian sang Resi berpaling kepada Raden Girilaya dan berkata, "Sore ini, kita akan berkumpul. Ada berita yang sebenarnya sudah Eyang sampaikan kepada kalian. Tapi, rupanya Sang Hiang Tunggal menghendaki Raden Banyak Sumba ikut menghadiri pertemuan kita."

"Baik, Eyang, saya akan mengumpulkan kawan-kawan," ujar Raden Girilaya sebelum Eyang Resi meminta untuk mengumpulkan para siswa yang lain. Maka, setelah membicarakan hal-hal kecil dan setelah Eyang Resi bertanya tentang berbagai hal yang tidak penting di Kota Medang dan Kutabarang, Banyak Sumba dan Raden Girilaya pun mohon izin mengundurkan diri.

Malam itu, ketika bulan berayun antara gumpalan- gumpalan awan yang putih bersih, berkumpullah para siswa Padepokan Sirnadirasa di lapangan kecil, duduk di atas lumut tebal tempat mereka beristirahat pada hari panas terik.

Setelah seluruh siswa siap di lapangan kecil itu, datanglah Eyang Resi diiringi oleh Raden Girilaya dan Bagus Setra. Setelah Eyang Resi duduk, menyembahlah seluruh siswa kepada beliau. Angin bertiup semilir, hutan sepi, hanya suara air terjun sayup-sayup di sebelah utara padepokan. Eyang Resi berdeham, kemudian berkata, "Anak-anakku, tentu kalian merasa agak heran, mengapa Eyang mengumpulkan kalian.

Sebenarnya, sudah dua hari berita datang ke padepokan. Akan tetapi, Eyang tidak segera memberitahukan tentang berita itu kepada kalian. Pertama, karena Eyang harus memikirkan, bagaimana cara Eyang menanggapi berita itu. Kedua, mungkin kehendak Sang Hiang Tunggal bahwa berita itu harus Eyang sampaikan setelah saudaramu, Raden Banyak Sumba, datang. Seperti kalian ketahui, Raden Banyak Sumba sudah berada di antara kalian lagi."

Setelah berkata demikian, Eyang Resi tengadah ke arah bulan purnama. Lalu, beliau berkata pula, "Mungkin pula Sang Hiang Tunggal menghendaki bahwa berita,itu disampaikan kepada kalian di kala bulan purnama supaya dalam perundingan kita nanti, segalanya menjadi terang, seperti terangnya bulan purnama ini."

Semuanya hening dan ingin segera mengetahui, berita apa sebenarnya yang hendak disampaikan Eyang Resi.

"Anak-anakku," kata Eyang Resi melanjutkan, kemudian termenung. "Sesuatu hal yang mengguncangkan kerajaan telah terjadi. Seseorang yang bernama si Colat, putra bangsawan Kutawaringin dari gadis bangsawan Kutabarang, karena suatu hal dan lainnya, kini telah menyebabkan kecemasan dan ketakutan. Menurut berita yang dibawa badega-badega, yang ditulis oleh Eyang Resi Tajimalela, bangsawan yang digelari si Colat ini seorang yang kepandaiannya dalam ilmu keperwiraan mendekati kepandaian seorang puragabaya. Itulah sebabnya, para bangsawan di Kutawaringin serta beberapa pihak di Kutabarang sangat ketakutan, dan sudah lama menyampaikan jerit hati mereka kepada sang Prabu.

"Selama ini, sang Prabu tidak tergesa-gesa bertindak karena persoalan antara si Colat dengan para bangsawan Kutawaringin, serta beberapa bangsawan di Kutabarang, belumlah jelas bagi beliau. Beliau tidak tergesa-gesa bertindak agar tidak menghukum orang yang tidak berdosa. Akan tetapi, belakangan ini si Colat berbuat melebihi batas yang dapat dibayangkan. Beberapa orang bangsawan dibunuhnya dan kepala mereka diantar kepada penguasa Kutawaringin.

Terakhir sekali, si Colat telah mengambil abu seorang pahlawan dari kuil Pajajaran. Itu dilakukannya hanya untuk menyakiti keluarga Wiratanu dari Kutawaringin. Seperti diketahui, wangsa Wiratanu menaruh dendam terhadap wangsa Banyak Citra karena putra sulungnya terbunuh dalam perkelahian dengan puragabaya yang gila bernama Jante Jaluwuyung. Jante Jaluwuyung ini putra sulung dari wangsa Banyak Citra. Nah, wangsa Wiratanu sangat menginginkan abu ini untuk menghinakannya. Rupanya, si Colat selain hendak menghancurkan wangsa Wiratanu secara jasmaniah, juga bermaksud menyakiti dengan berbagai cara.

"Sang Prabu yang semula mencoba tidak berpihak sebelum persoalannya jelas, menganggap bahwa kekejaman- kekejaman si Colat sudah melebihi batas. Di samping itu, si Colat pun sudah tidak menghormati abu jenazah seorang pahlawan. Bagaimanapun, mempergunakan abu jenazah orang lain untuk kepentingan apa pun melanggar susila. Itulah sebabnya, sang Prabu membicarakan masalah ini dengan Eyang Resi Tajimalela. Dalam pembicaraan itu, diputuskan agar si Colat dihentikan dari tindakan-tindakannya.

"Menurut Eyang Resi Tajimalela, si Colat ini mempunyai banyak anak buah. Paling sedikit tiga puluh lima orang, sebanyak-banyaknya lima puluh orang. Mereka ini memiliki ilmu keperwiraan yang lumayan tinggi, berkat pelajaran yang diberikan si Colat kepada mereka. Itulah sebabnya, Eyang Resi Tajimalela mengirim berita kepada Eyang di sini. Eyang Resi Tajimalela beranggapan bahwa tugas menangkap dan menghentikan kegiatan si Colat itu akan baik sekali untuk pendidikan kalian di sini. Padepokan Tajimalela akan mengirim seorang puragabaya dengan lima orang calon, sisa pasukan akan diambil dari berbagai perguruan yang direstui oleh sang Prabu. Di antaranya dari padepokan kita ini. Eyang Resi Tajimalela mengharapkan padepokan kita dapat mengambil bagian dalam gerakan pengamanan kerajaan ini."

Setelah berkata demikian, Eyang Resi Sirnadirasa memandang berkeliling, kemudian menyambung pembicaraan beliau, "Tentu saja tak ada keharusan bagi kalian untuk mengikuti gerakan pengamanan ini. Peserta gerakan itu sukarelawan belaka. Dan kalau ada yang tidak bermaksud pergi, mereka dapat tinggal di sini, belajar terus, tidak perlu merasa malu atau tidak senonoh. Tak ada keharusan."

Seperti biasa, Eyang Resi memberikan isyarat supaya setiap orang mengemukakan pendapat masing-masing secara bergiliran. Mula-mula Ginggi, Girang, dan Kunten memberikan pendapatnya. Mereka dengan penuh gairah bermaksud menjadi sukarelawan dalam gerakan pengamanan itu.

Mendengar gairah itu, menyelalah Eyang Resi, "Anak-anakku, pertimbangkanlah sebaik-baiknya. Kalian tidak perlu memberikan jawaban malam ini juga. Perlu diketahui bahwa si Colat itu bukanlah perwira biasa. Demikian pula pengikut- pengikutnya. Mereka para perwira yang mahir dan tidak segan-segan melakukan hal-hal yang tidak disenangi Sang Hiang Tunggal. Itulah sebabnya, kalian diharapkan hanya sebagai sukarelawan. Di samping itu, Padepokan Sirnadirasa tidak terikat oleh kewajiban menyumbang tenaga kepada kerajaan. Padepokan Sirnadirasa bukanlah Padepokan Tajimalela. Di sana siswa-siswanya diserahkan oleh orangtua mereka sebagai jaminan bagi keamanan kerajaan. Kalian datang ke sini sebagai siswa yang belajar atas kemauan sendiri. Tak ada kewajiban tambahan terhadap kerajaan, selain tunduk pada undang-undangnya. Kalian berbeda

dengan puragabaya yang terikat oleh sumpah untuk hidup dan mati sebagai pelindung sang Prabu dan anak negeri."

"Tapi, tak ada di antara kami yang hendak melewatkan kesempatan baik ini, Eyang," ujar Kuten, "Benar, kami tidak terikat kewajiban untuk ikut dengan gerakan pengamanan ini. Akan tetapi, sebagai warga negara kerajaan, kami ingin sekali melakukan sesuatu untuk kepentingan umum. Apalagi kalau tindakan itu ada hubungannya dengan pendidikan yang telah kami ikuti selama ini."

"Kalau begitu, Eyang merestui, tetapi janganlah kalian merasa terpaksa. Kalau ada yang tidak bermaksud, katakanlah."

Tak ada seorang pun yang tidak hendak ikut. Semuanya dengan penuh gairah menyatakan bermaksud menjadi sukarelawan. Banyak Sumba saja yang diam. Akan tetapi, tak seorang pun memerhatikannya. Mereka menganggap Banyak Sumba bersiap-siap pula seperti orang lain. Akhirnya, berkatalah Eyang Resi, "Kalau begitu, baiklah, Eyang akan menyampaikan berita kepada Eyang Resi Tajimalela bahwa semua siswa di sini bersedia ikut secara sukarela. Setelah surat itu tiba di Padepokan Puragabaya, Eyang Resi Tajimalela akan segera mengirim seorang calon puragabaya yang akan menjadi pemimpin kalian. Ia akan datang untuk menyampaikan penjelasan-penjelasan lebih lanjut tentang berbagai hal. Dan sebelum calon puragabaya itu tiba, kalian akan berlatih lebih keras daripada biasa."

Mendengar berita terakhir itu, berdebar-debarlah hati Banyak Sumba. Ia berdebar-debar bukan karena akan berhadapan dengan si Colat, tetapi karena calon puragabaya akan datang ke Padepokan Sirnadirasa. Peristiwa inilah yang dinanti-nantikannya karena ia harus menyelidiki ilmu kepuragabayaan sebelum berhadapan dengan Anggadipati. Ia merasa bahwa selama ini telah mengumpulkan ilmu banyak sekali. Akan tetapi, arti ilmu tersebut bagi tugasnya baru akan diketahui setelah ia berhadapan dengan seorang calon puragabaya atau puragabaya.

Di samping berdebar-debar, ia pun tersenyum dalam hati. Betapa simpang siurnya dugaan orang tentang kejadian di Kuil Abu Pahlawan. Pihak Wiratanu beranggapan, Anggadipati-lah yang berbuat itu, sedangkan pihak kerajaan beranggapan si Colat-lah pelakunya. Dugaan-dugaan yang simpang siur tampak pula membawa akibat yang lebih lanjut. Siapa tahu karena peristiwa itu, banyak orang yang akan menanggung akibatnya tanpa disengaja.

Perundingan selesai dan para siswa bangkit mengiringi Eyang Resi yang berjalan ke gua.

Setiap kali ada waktu senggang dan bahkan ketika berada di atas kuda, Banyak Sumba terus-menerus merenungkan ilmu-ilmu yang telah didapatnya. Sering sekali tengah malam ia membangunkan Jasik, lalu mengajaknya berlatih. Itu dilakukannya berulang-ulang kalau renungannya tiba pada masalah atau kesimpulan tertentu.

Banyak sekali hal yang ditemukan Banyak Sumba dalam renungannya. Itulah salah satu pendorong baginya untuk mendatangi kembali Padepokan Sirnadirasa. la ingin mencoba hasil-hasil renungannya kepada siswa-siswa Padepokan Sirnadirasa. Dan pada suatu malam, ia mendapat kesempatan itu.

Di sekeliling lapangan kecil itu, para siswa bersila, Eyang Resi Sirnadirasa berada di antara mereka. Sebelum mereka mulai, berkatalah Eyang Resi, "Kalian sekarang berbaju putih semua. Nanti, kalau ikut dengan gerakan itu, kalian akan berbaju hitam. Hanya para calon puragabaya dan para puraga-bayalah yang akan berbaju putih. Sekarang mulailah. Seperti biasa, yang menang harus menghadapi lawan berikutnya. Mulai dari samping kiriku."

Siswa yang ada di samping kiri Eyang Resi bangkit, diikuti oleh siswa yang ada di samping kirinya. Mereka mulai saling menyerang dan Banyak Sumba melihat dengan penuh pengertian, bagaimana siswa-siswa Sirnadirasa saling tarik dan saling dorong, berusaha menggunakan tenaga sekecil- kecilnya serta berusaha pula agar mereka tidak kena pukulan lawan dengan jalan mendekatkan tubuh mereka kepada lawan. Melihat gaya berkelahi siswa-siswa itu, tak sabarlah Banyak Sumba untuk segera turun ke lapangan.

Ia menyadari bahwa banyak yang tidak dimiliki siswa-siswa Resi Sirnadirasa. Pertama, mereka cenderung menangkap tangan, menariknya, atau membelokkan arah pukulan atau dorongan. Mereka umumnya melupakan jari-jari lawan. Di samping itu, mereka tidak pernah menggunakan otot sebagai alat penyerang. Padahal, menurut Banyak Sumba, otot-otot itu dapat dipergunakan sebagai senjata yang ampuh. Sementara itu, Banyak Sumba pun sadar bahwa para siswa Sirnadirasa biasanya menghilangkan keseimbangan lawan, lalu memukulnya atau mendorongnya hingga jatuh. Bentuk serangan untuk membatasi gerakan lawan atau mengunci hingga lawan tidak dapat berkutik, hampir tak kelihatan pada mereka. Itulah yang menyebabkan Banyak Sumba tidak sabar untuk mencoba pendapat-pendapatnya di tengah-tengah lapangan kecil itu.

Selagi dengan penuh perhatian Banyak Sumba memerhatikan perkelahian itu, bulan masuk ke awan.

"Berhenti dulu," seru Eyang Resi. Beliau berdiri, lalu berjalan ke tengah-tengah lapangan. Beliau berkata, "Kalau malam gelap dan lawan berpakaian hitam, akan sukar bagi kalian untuk melihat sasaran yang tepat. Oleh karena itu, kalian harus merendah. Dengan demikian, kalian akan melihat lawan dengan latar belakang langit. Langit memiliki cahaya, itulah sebabnya kalian akan lebih jelas melihat lawan.

Sekarang mulai lagi," kata Eyang Resi seraya berjalan kembali ke tempat duduk beliau.

Keterangan itu sangat menarik hati Banyak Sumba. Banyak Sumba menyadari betapa pentingnya keterangan yang diberikan secara singkat itu. Sementara ia merenungkan keterangan itu, Raden Girilaya bangkit melawan pemenang yang terakhir. Dengan mudah, lawan-lawannya dilemparkan ke tepi lapangan atau dijatuhkan. Setelah jatuh, biasanya dianggap kalah dan lawan yang baru, bangkit dari duduknya. Ia melawan Raden Girilaya. Ternyata, Raden Girilaya merupakan calon perwira yang luar biasa kecerdasan serta kecekatannya. Di bawah sinar bulan itu, dilemparkan atau dijatuhkannya lawan-lawan itu seperti melempar atau menjatuhkan barang-barang ringan. Akhirnya, tibalah giliran Banyak Sumba untuk menggantikan siswa yang kalah oleh Raden Girilaya.

Ia maju, mendekat, la mengulurkan tangan kanannya, sementara kaki kirinya maju. Pasangan macam ini akan mudah sekali diserang oleh lawan. Dengan dorongan yang tidak kuat saja akan hilang keseimbangan Banyak Sumba. Raden Girilaya tahu bahwa itu hanyalah pancingan. Ia menyerang, tapi tidak mendorong Banyak Sumba, melainkan menarik. Akan tetapi, begitu tangan kirinya memegang lengan Banyak Sumba pada sikut dan tangan kanannya melayang hendak menarik belikat Banyak Sumba, tangan kiri Banyak Sumba melindungi dan mengarah pada muka Raden Girilaya. Sementara lekuk sikutnya tiba-tiba menjepit empat jari tangan Raden Girilaya dengan keras. Raden Girilaya terkejut. Banyak Sumba melepaskannya dan tidak menjatuhkannya, la menunggu sekarang. Raden Girilaya yang masih belum mengerti cara-cara Banyak Sumba mulai menyerangnya, yaitu mengibaskan kedua tangan

Banyak Sumba dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menangkap leher Banyak Sumba. Serangan itu akan diikuti dengan sapuan kaki dan Banyak Sumba akan terbaring dengan punggung rata dengan tanah. Akan tetapi, peristiwa itu tidak terjadi karena begitu tangan Raden Girilaya tiba di leher, dagu Banyak Sumba turun dengan cepat dan otot-otot lehernya mengerut. Tulang dagu dari atas, tulang selangka dari bawah, menjepit dan meregangkan jari-jari Raden Girilaya; teriakan tak tertahan terdengar. Dan selagi Raden Girilaya terkejut itulah, Banyak Sumba memajukan berat badannya. Yang semula bermaksud menyapu kaki, sekarangjadi tersapu. Telentanglah Raden Girilaya di atas rumput sambil memegang jari-jari tangan kirinya. Eyang Resi tampak berdiri keheranan, demikian juga beberapa orang siswa. Mereka tidak mengerti, mengapa Raden Girilaya yang berada dalam kedudukan yang menguntungkan dapat dijatuhkan Banyak Sumba.

Eyang Resi segera duduk kembali. Diikuti oleh siswa-siswa yang keheranan. Sementara itu, Ginggi bangkit, lalu maju menghadapi Banyak Sumba. Begitu ia menyodorkan tangan kanannya, Banyak Sumba dengan cepat mengangkat tangan kanan lawan. Karena kebiasaan bersiap-siap untuk mendapat dorongan atau tarikan, Ginggi mengambangkan berat badannya di antara kedua telapak kakinya dan siap-siap untuk mundur atau maju. Akan tetapi, sangkaannya itu meleset.

Banyak Sumba tidak melakukan gerakan yang diharapkan lawan. Dengan keras, diremasnya jari-jari Ginggi, lalu diputarkan. Ginggi yang terkejut mempergunakan kakinya hendak menghantam perut Banyak Sumba. Dengan mempergunakan perasaan yang tajam terhadap gerak-gerik dan aliran tenaga lawan, Banyak Sumba dengan mudah memilin tangan Ginggi ke arah yang menyilang arah kaki Ginggi. Kaki Ginggi mendesing di udara hampa, tapi tidak bertenaga karena keseimbangan badannya sudah dipegang Banyak Sumba. Sekarang, seperti dua orang yang sedang bersalaman mereka berhadapan, tetapi kaki Ginggi sudah tidak lagi mengusung berat badannya. Setiap kali Ginggi hendak menyelaraskan kedudukannya, Banyak Sumba segera memilin atau mengubah letak tangan Ginggi yang dipegang dan diputarkannya. Untuk beberapa lama, Ginggi berputar- putar mengelilingi Banyak Sumba, tetapi ia tidak dapat lagi berpijak kukuh. Eyang Resi serta para siswa sama-sama berdiri, keheranan melihat kejadian itu. Sadar akan perhatian mereka dan kasihan terhadap Ginggi yang terlalu lama kesakitan, Banyak Sumba memilin tangan Ginggi agak keras sehingga untuk menahan sakit dan patah, Ginggi mengubah berat badannya yang sudah tidak seimbang itu. Ketika Ginggi sangat condong, dengan mempergunakan kakinya, Banyak Sumba merobohkan Ginggi.

Siswa-siswa lain bergiliran datang. Setiap kali mereka meraba tubuh atau anggota badan Banyak Sumba, tangan mereka terpaksa mereka tarik kembali. Banyak Sumba mempergunakan hampir seluruh otot dan sendi-sendi badannya untuk menggencet dan seakan hendak meremukkan jari-jari atau mematahkan sendi-sendi lawan. Akhirnya, Eyang Resi berdiri karena tampak beliau berpendapat, tak ada lagi siswa yang akan dapat melawan Banyak Sumba. Mereka berhenti berlatih dan bergerak ke gua. Semua berkumpul.

"Kami ingin sekali mempelajari ilmu yang Raden perlihatkan tadi," ujar Eyang Resi.

Banyak Sumba menceritakan pengalamannya belajar dari seorang guru yang tidak ia katakan namanya. Kemudian, ia menceritakan renungan-renungan, latihan, dan percobaan- percobaannya dengan panakawannya yang setia, Jasik.

Akhirnya, ia mengatakan, "Sekarang, saya mengetahui bahwa tanpa mempergunakan berat badan seperti yang dilakukan oleh siswa-siswa di sini, saya dapat mematahkan pegangan lawan. Itu hanya dengan mempergunakan otot-otot belaka.

Saya menyadari bahwa di Padepokan Sirnadirasa telah dikembangkan suatu ilmu yang sangat ampuh, yaitu ilmu mengendalikan, mempermainkan, dan mempergunakan berat badan lawan. Akan tetapi, hal itu hanya dapat dilakukan kalau kita dapat memegang lawan. Saya mencari cara-cara— bagaimana supaya walaupun terpegang;—saya dapat melumpuhkan tangan lawan yang memegang saya, yaitu dengan menyakitinya. Saya melakukannya dengan otot-otot saya, terutama otot-otot yang menggerakkan dua buah tulang atau lebih."

Banyak Sumba menjelaskan semuanya itu dengan sederhana. Ia tidak takut bahwa siswa-siswa Padepokan Sirnadirasa akan segera merebut ilmunya, kemudian mempergunakannya untuk menghambat pelaksanaan maksud- maksudnya. Tampaknya, ilmu barunya itu sederhana saja.

Akan tetapi, penjelasan yang sedikit itu memerlukan latihan- latihan untuk menguasai dan mempergunakannya dengan waktu yang tidak bisa dibilang singkat.

"Eyang harap, Raden bersedia mengajar di padepokan ini hingga kawan-kawan dapat menguasai ilmu yang baru itu," ujar Eyang Resi. "Itu kehormatan bagi hamba, Eyang," jawab Banyak Sumba, walaupun pikirannya segera melayang ke arah lain.

-ooo00dw00ooo-