Pertarungan Terakhir Bab 05 : Aki Gombal Tukang Pantun

 
Bab 05 : Aki Gombal Tukang Pantun

Siang itu, Banyak Sumba dibawa berkeliling kota, melihat- lihat keindahan taman-taman dan bangunan-bangunan di Kutawaringin yang terkenal makmur itu. Setelah puas berkeliling kota, ketika mereka sedang menuju istana, bertanyalah Bungsu Wiratanu, "Saudara Sumba, apakah Saudara akan beristirahat dulu atau kita pergi melihat kuda?"

Banyak Sumba yang belum merasa lelah berkata, baginya melihat kuda Bungsu Wiratanu lebih baik daripada beristirahat. Bungsu Wiratanu memutuskan untuk pergi ke tempat kuda- kuda.

Setelah mereka memacu kereta dan sepanjang jalan kusir meledak-ledakkan pecut besar, yang kadang-kadang diarahkan kepada orang yang duduk terlalu tengah atau tidak mau duduk di tepi jalan, berbeloklah kereta kecil yang mewah itu ke suatu lapangan di dalam kota. Begitu masuk lapangan, tampak oleh Banyak Sumba berpuluh-puluh ekor kuda yang bagus-bagus.

"Pilihlah, satu, dua, atau sepuluh ekor kuda. Saudara dapat membawanya sebagai milik Saudara sendiri."

"Ah, tidak, Saudara Bungsu. Saudara terlalu baik kepada saya."

"Bukan begitu, Saudara Sumba, saya hanya ingin mengganti kuda yang dirampas dari tangan Saudara dulu. Kuda itu bagus sekali, sayang sekali sudah tidak ada di sini. Saya merasa berkewajiban mengembalikannya, satu, dua, tiga, atau sepuluh. Yang lain sebagai tanda permintaan maaf. Ambillah dan pilihlah sesuka Saudara."

Banyak Sumba turun dari kereta, lalu melompati pagar yang terbuat dari batang-batang bambu yang tidak dibelah dan diletakkan melintang. Dengan heran dan gembira, ia melihat kuda yang tampan-tampan dan besar-besar. Belum pernah ia melihat kuda bagus sebanyak itu di satu tempat. Sementara itu, tanpa diketahuinya, Bungsu Wiratanu berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

"Saudara Sumba, ambillah yang mana saja, berapa saja jumlahnya. Atau, lebih baik anggaplah kuda saya ini adalah milik Saudara juga. Setiap waktu, kalau Saudara memerlukan, ambillah. Kapan saja, kalau memerlukan kuda, datanglah ke sini."

"Saudara Bungsu terlalu baik," kata Banyak Sumba dengan rasa terima kasih yang tulus. Setelah ragu-ragu sebentar, ia berkata, "Saya menyesal mengatakannya di sini bahwa sebenarnya saya bermaksud jahat terhadap Saudara.

Sebenarnya saya pantas dihukum. Tapi, Saudara malah menyelamatkan dan menghormati saya. Saya tidak berhak meminta ganti untuk kuda yang dirampas beberapa tahun yang lalu. Saya tidak bermaksud meminta ganti. Bahkan sebaliknya, saya merasa berutang, bukan berutang budi yang memang tidak ternilai, tetapi lebih dari itu. Saya telah berutang nyawa kepada Saudara."

"Janganlah berkata begitu. Bukan saya yang menyelamatkan Saudara, tetapi Sang Hiang Tunggal dan Saudara sendiri. Kalau Saudara bukan Raden Banyak Sumba, Saudara sudah tergantung di tali ijuk yang kuat itu. Saya tidak akan berbuat apa-apa karena orang asing yang masuk ke Kutawari-ngin lalu mengacau harus dihukum, walaupun tidak harus dihukum gantung. Akan tetapi, Saudara bernama Banyak Sumba dan antara keluarga Saudara dengan keluarga Wiratanu ada persamaan nasib. Keluarga kita menderita, kehilangan orang yang dicintai, dicurigai oleh sang Prabu karena satu orang yang bernama Pangeran Anggadipati.

Saudara lebih beruntung daripada saya. Saudara dibolehkan pergi mencari Anggadipati dan mencari kesempatan untuk membalas dendam. Saya, sebagai anak lelaki Ayahanda yang terakhir, tidak diperkenankan pergi untuk membalas dendam. Ayahanda hanya berdoa, semoga Sang Hiang Tunggal segera melaksanakan keadilan-Nya."

"Mudah-mudahan, dalam waktu singkat hal itu akan berlaku," ujar Banyak Sumba. Pikirannya telah melayang ke ibu kota Pakuan Pajajaran. Ia sungguh-sungguh menyesal, mengapa ia tidak mempergunakan pisau beracun itu dulu, ketika ada kesempatan untuk melemparkannya ke arah Pangeran Anggadipati. Sementara itu, perasaan persaudaraan berkembang dalam hatinya.

"Pilihlah seekor atau dua ekor, berapa saja," kata Bungsu Wiratanu seraya membentangkan tangannya sambil melihat kuda yang tampan-tampan yang berkeliaran di lapangan di sekeliling benteng dan sebagian dibatasi dengan pagar bambu.

"Saya merasa tidak berhak, Saudara Bungsu. Di samping itu, ada kuda yang saya titipkan di luar benteng."

"Baiklah, tapi bagaimana kalau saya berkeinginan menghadiahkan kuda kepada Saudara. Bukankah akan lebih baik memiliki lebih dari seekor kuda? Di samping itu, perjalanan ke ibu kota Pajajaran bukanlah perjalanan dekat. Sekurang-kurangnya, Saudara harus mengganti dua kali."

"Saudara Bungsu terlalu baik, saya tidak akan dapat membalas budi Saudara."

"Pada suatu kali dan mudah-mudahan itu terjadi, Saudara akan melakukan sesuatu yang tidak akan terbayar oleh keluarga Wiratanu."

"Ya?" ujar Banyak Sumba, tidak mengerti perkataan Bungsu Wiratanu. .

"Saudara akan membalaskan dendam kami, keluarga Wiratanu terhadap Pangeran Anggadipati." Banyak Sumba termenung, lalu berkata, "Tapi sama sekali saya tidak bermaksud mengutangkan budi. Hanya kebetulan, keluarga kami pun mempunyai perhitungan yang harus diselesaikan dengan orang itu."

MALAM itu, Banyak Sumba menginap di istana. Bungsu Wiratanu sengaja mengundang kawan-kawannya untuk memeriahkan suasana. Suatu pesta anak-anak muda bangsawan diselenggarakan di Kesatrian. Makanan yang tidak terhitung macamnya dan tidak terkira banyaknya tersedia di ruangan tengah Kesatrian yang terang oleh obor-obpr yang terbuat dari perak.

"Pesta ini diadakan untuk beberapa maksud sekaligus. Pertama, untuk mengucapkan syukur kepada Sang Hiang Tunggal yang telah menghindarkan dua keluarga, yaitu keluarga kami dan keluarga Banyak Citra dari malapetaka. Kedua, sebagai pernyataan dan ucapan selamat datang di Kutawaringin kepada Saudara Banyak Sumba. Ketiga, untuk mengeratkan persahabatan dan saling pengertian antara keluarga kami."

Setelah berkata demikian, Raden Bungsu Wiratanu mengacungkan piala tuak yang terbuat dari emas, lalu meminumnya sedikit. Setelah itu, ia menyodorkan piala emas itu kepada Banyak Sumba supaya diminumnya pula sebagai tanda persahabatan. Banyak Sumba dengan senang hati melakukan hal itu.

Setelah itu, acara makan dimulai. Juru hibur masuk, memainkan musik yang gembira, menyanyi, dan menari, di tengah-tengah ruangan yang dipenuhi oleh para bangsawan yang sedang bersantap. Kalau seorang habis menari, bangsawan yang senang biasanya berdiri sambil membawa piala tuak, lalu menyuruh pemain itu minum. Kadang-kadang diberikan paha kambing atau menjangan, kadang-kadang dilemparnya uang logam. Bunyi-bunyian, tepuk tangan, dan orang-orang tertawa bergelak membisingkan seluruh ruangan Sementara itu, gadis-gadis simpang siur melayani para bangsawan muda. Kadang-kadang mereka tertawa cekikikan, kadang-kadang dengan genit berpura-pura marah terhadap bangsawan yang mengganggunya. Bau wangi-wangian dari tubuh mereka mengharumkan seluruh ruangan. Akan tetapi, karena bercampur dengan bau makanan, memusingkan kepala Banyak Sumba. Sementara itu, makin lama pesta makin meriah.

Dua orang gadis yang sejak lama duduk di samping Banyak Sumba dan melayaninya makan, makin mendesaknya dan merapatkan duduknya ke arah Banyak Sumba.

"Raden Banyak Sumba, Saudara bukan seorang pendeta, bukan?" kata seorang pemuda bangsawan yang melihat Banyak Sumba kikuk menghadapi tingkah laku kedua orang gadis itu.

"Kawan-kawan, barangkali obor-obor terlalu terang bagi Raden Banyak Sumba!" kata bangsawan muda lain.

Mereka tertawa tergelak-gelak. Sambil tertawa gembira, beberapa orang bangsawan muda berdiri, lalu berjalan ke arah obor-obor yang menempel di tiang-tiang ruangan. Mereka tidak memadamkan obor-obor itu, tetapi menuangkan tuak mereka ke atasnya. Kebanyakan obor-obor yang dituangi tuak itu padam seketika. Akan tetapi, ada yang malah menjadi berkobar-kobar dengan nyalanya yang kebiru-biruan. Ruangan pun akhirnya menjadi remang-remang. Tabuh-tabuhan makin menggila dan beberapa bangsawan yang setengah mabuk telah mulai menari-nari, sempoyongan bagai orang kemasukan siluman. Bayangan mereka di dinding bergerak lebih menggila lagi.

Beberapa orang gadis mulai memasuki gelanggang.

Alangkah tidak senonoh tingkah laku gadis-gadis di sini, pikir Banyak Sumba yang baru melihat gadis-gadis berani bertingkah seperti itu. Keheranannya tidak sampai di sana. Bungsu Wiratanu bertepuk tangan dan ruangan segera dikosongkan. Setelah ruangan kosong, seorang gadis berlari ke tengah-tengah ruangan, lalu menari.

Gadis itu menari, menggeliat-geliatkan tubuhnya seperti seekor ular. Mula-mula dilemparkannya selendangnya, sanggulnya yang besar diuraikannya, kemudian ....

Banyak Sumba melirik ke kiri dan ke kanan, tidak betah lagi duduk di dalam ruangan yang bersuasana asing itu.

"Kalau Raden tidak senang di sini, marilah ke luar dengan Paman," kata Paman Guru yang tiba-tiba duduk di dekatnya. Banyak Sumba senang akan ajakan itu. Ia berdiri dan minta izin untuk keluar kepada Bungsu Wiratanu. Bungsu Wiratanu tidak mendengarnya karena asyik menonton penari yang berani itu.

Dengan mengikuti Paman Guru dari lorong ke lorong, akhirnya sampailah mereka ke sebuah bangunan kecil di taman istana.

Setibanya di ruangan kecil itu, berkatalah orang setengah baya yang disebut Paman Guru itu, "Raden mendapat pendidikan santri, rupanya. Tentu tidak biasa menghadiri pesta-pesta seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda tadi. Tapi jangan berkecil hati, Paman tahu apa yang Raden senangi."

Sementara berkata demikian, mereka sudah duduk di bangku rendah yang dihampari tikar pandan yang indah. Di ruangan kecil itu ada beberapa badega yang mulai menyalakan lampu-lampu minyak. Paman Guru menepukkan tangannya, seorang badega menyalakan lampu minyak.

Paman Guru menepukkan tangannya lagi, seorang badega mendekat dengan membungkukkan badan.

"Aki Gombal sudah tidur? Kalau belum, panggil dia kemari." Badega itu segera pergi. Sementara menunggu, Paman

Guru berkata lagi. "Raden akan mendengar juru pantun yang paling baik dan paling jujur di seluruh Pajajaran, namanya Aki Gombal," katanya.

"Apakah ada tukang pantun yang tidak jujur?"

"Wah, Raden ini rupanya benar-benar masih muda. Masih belum banyak makan garam. Mencari tukang pantun yang jujur dewasa ini sama sukarnya dengan mencari gigi ayam. Mereka, bukan saja tidak lagi mengetahui tata krama kejuru- pantunan, tetapi mereka mempergunakan kesenian itu untuk kemewahan dan kehormatan. Inilah yang merusak kesenian mereka. Raden tahu bahwa pada zaman dulu tukang pantun hanya menyanyi di tempat-tempat upacara. Sekarang, di sembarang tempat mereka mau saja menyanyi. Inilah yang merendahkan derajat mereka."

Banyak Sumba belum dapat menangkap maksud Paman Guru, tetapi ia tidak bertanya-tanya karena seorang kakek- kakek buta datang dituntun oleh anak kecil dan diiringkan badega yang disuruh Paman Guru sebelumnya.

"Nah, kebetulan Kakek belum tidur. Kakek, coba menyanyikan cerita yang sangat disenangi oleh Gusti Tumenggung itu. Kita punya tamu terhormat dari Kota Medang. Nyanyikanlah tentang kematian seorang pahlawan

Kakek-kakek itu duduk dan meletakkan kecapi di depannya. Ia berdiam diri untuk beberapa lama, bersemedi atau berdoa. Banyak Sumba tidak dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukannya karena ruangan remang-remang. Tak lama kemudian, tali-tali kecapi dipetik, nada-nada pertama berkumandang, sementara tukang pantun itu merajah, minta izin kepada para Bujangga dan Pohaci karena ia akan menyanyi dan bercerita.

Selesai upacara, mulailah tukang pantun itu bercerita. Banyak Sumba terheran-heran karena cerita itu adalah tentang keluarganya dan keluarga Wiratanu. Banyak sekali cerita itu yang sama dengan semua yang dialaminya. Satu hal yang sangat berbeda dengan cerita lain yang biasa dinyanyikan oleh tukang pantun lain yaitu, tak ada satu pujian pun diberikan kepada Pangeran Anggadipati. Justru kelicikan, kecurangan, dan kekejaman Pangeran Anggadipati-lah yang ditonjolkan.

Diceritakan, bagaimana untuk menutupi maksudnya yang jahat, Pangeran Anggadipati pura-pura jatuh cinta kepada Ayunda Yuta Inten. Agar tidak ada kecurigaan terhadapnya, ia menempatkan badega-badeganya sebagai penjaga guci abu jenazah. Sementara itu, ia menyuruh badega-badega lain untuk menyerbu dan merampas abu jenazah itu. Diceritakan pula bagaimana sebenarnya Pangeran Anggadipati sangat suka bermain perempuan. Tak ada putri Pajajaran yang tidak diganggunya. Wajahnya yang tampan, senyumnya yang manis, budi bahasanya yang halus, dan keturunannya yang terkenal adalah umpan berbisa bagi gadis-gadis itu.

Tiba-tiba, Banyak Sumba teringat kepada Nyai Emas Purbamanik. Ia bertanya dalam hatinya, mungkinkah Anggadipati telah pula melihat gadis yang sangat cantik itu? Ia harus segera berangkat ke Pakuan Pajajaran, katanya di dalam hati. Ia akan menerima hadiah berupa kuda dari Raden Bungsu Wiratanu agar perjalanannya dapat dilaksanakan dengan cepat. Ia akan terus-menerus berlatih dan mengasah ilmunya itu sambil mampir di Padepokan Sirnadirasa. Ia akan berterus terang kepada Raden Girilaya bahwa ia mencintai Nyai Emas Purbamanik. Sementara pikirannya melayang- layang, ia tidak lagi mendengar nyanyian tukang pantun ataupun gema riuh rendah dari ruangan pesta Kesatrian.

ENTAH berapa lama Banyak Sumba mengikuti renungannya. Suara tukang pantun, nyanyiannya yang serak, nada-nada kecapi yang berkumandang turun naik dengan gelombang perasaan tukang pantun itu, timbul tenggelam dalam kesadarannya. Ia tidak dapat lagi memusatkan perhatiannya pada kisah yang dinyanyikan oleh tukang pantun itu, tetapi ia pun tidak dapat melepaskan diri untuk mendengarkan karena cerita tukang pantun itulah yang merangsang renungan-renungannya.

"Raden, rupanya Raden sudah terlalu lelah?" tiba-tiba Paman Guru bertanya kepada Banyak Sumba. Sebelum Banyak Sumba menjawab, Paman Guru menepukkan tangannya dan tukang pantun itu pun melambatkan petikan kecapinya, kemudian berhenti sama sekali.

"Raden sudah terlalu lelah. Aki, nanti dalam kesempatan lain kita lanjutkan."

"Biarlah Aki meneruskannya, bukankah ia harus menyanyi sampai pagi? Jangan terganggu oleh saya, badega-badega dan emban dapat mendengarkan ceritanya yang bagus itu, Paman Guru," ujar Banyak Sumba.

"Ah, tidak perlu sampai pagi, Raden. Tadi juga Aki mulai terlambat. Jadi tidak usah sampai selesai. Kalau tadi Aki bermain, itu hanya karena Raden tidak betah di ruangan besar."

"Oh, baiklah kalau begitu. Saya memang perlu istirahat," kata Banyak Sumba walaupun sebenarnya ia tidak mengantuk.

"Mari Paman antar, kebetulan udara malam nyaman sekali," kata Paman Guru sambil memegang tangan Banyak Sumba.

Ketika mereka sudah ada di luar ruangan, Paman Guru bertanya, "Bagaimana pendapat Raden tentang permainan Aki Gombal?"

"Bagus sekali, Paman," ujar Banyak Sumba.

"Ia tukang pantun terbaik di seluruh Pajajaran. Bukan hanya karena dapat menggambarkan setiap kejadian dengan tepat, bukan karena iringan kecapinya dapat mengungkapkan suasana kejadian-kejadian itu saja, tetapi karena ia seniman sejati. Ia tidak mau berdusta seperti tukang pantun lain." "Apakah tukang pantun lain suka berdusta?" tanya Banyak Sumba.

"Memang!" ujar Paman Guru.

"Saya baru mendengar tentang hal itu," kata Banyak Sumba pula.

"Wah, Raden ini sungguh-sungguh masih muda. Raden harus mengetahui, seperti juga orang-orang biasa, tukang pantun itu banyak kebutuhannya. Mereka butuh harta benda, butuh kehormatan, dan terutama periindungan dari para bangsawan agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi," lanjut Paman Guru.

"Tapi saya mengetahui ada tukang pantun yang untuk keseniannya berani meninggalkan keduniawian. Mereka hidup untuk menyanyi dan menceritakan kisah-kisah yang indah dan memperkaya sastra. Banyak tukang pantun yang sebenarnya berjiwa pendeta. Mereka resi-resi yang menyebarkan perintah Sang Hiang Tunggal melalui kesenian mereka," kata Banyak Sumba.

Paman Guru tersenyum mendengar perkataan Banyak Sumba itu, kemudian mengangguk-angguk sebelum berkata kembali.

"Raden ini terlalu baik, tidak pernah curiga. Mungkin tukang pantun yang Raden ketahui memang tukang pantun yang baik. Tapi sekarang ini, beratus-ratus tukang pantun tersebar untuk mendustai rakyat Pajajaran."

Banyak Sumba menghentikan langkahnya dan melihat ke wajah Paman Guru yang tersenyum kepadanya.

"Begini, Raden. Pernahkah Raden mendengar kisah tentang Anggadipati dari tukang pantun?"

"Sering," ujar Banyak Sumba. "Bagaimana cerita mereka tentang pangeran yang jahat itu?"

"Umumnya berupa pujian setinggi langit kepada Anggadipati," ujar Banyak Sumba.

"Bagaimana dengan kisah Aki Gombal tadi?"

"Kisah Aki Gombal justru bertentangan dengan kisah-kisah yang lain. Kisah Aki Gombal banyak menceritakan hal-hal yang baru bagi saya," kata Banyak Sumba.

"Dan hal-hal itu benar belaka, yang lain adalah dusta," kata Paman Guru. Banyak Sumba sekali lagi menghentikan langkahnya.

"Dusta bagaimana?"

"Tukang pantun yang memuji-muji Anggadipati adalah orang-orang Anggadipati sendiri. Mereka sebelumnya dipanggil, diberi uang emas berpuluh-puluh keping setiap orangnya, kemudian disuruh menceritakan kisah-kisah yang hebat tentang diri Anggadipati. Maksudnya jelas, supaya rakyat jadi bingung, dan kita tidak berdaya mengangkat tangan terhadapnya."

Banyak Sumba menundukkan kepala.

"Kalau begitu, memang benar-benar cerdik Anggadipati ini."

"Cerdik bagai siluman dan kita, keluarga Wiratanu serta keluarga Banyak Citra yang jaya, dipermainkannya selama ini."

"Ya," ujar Banyak Sumba, suaranya keras tanpa disengaja. "Itulah sebabnya, mengapa tadi Paman mengatakan bahwa

Aki Gombal satu-satunya tukang pantun yang terbaik. Ia jujur

dan tidak mau disuap." "Saya ingin bertemu kembali dengan Aki Gombal. Saya perlu keterangan lebih lanjut bagaimana cara Anggadipati menyuap tukang-tukang pantun lain."

"Tidak perlu, Raden. Paman sendiri sudah cukup menanyainya. Dan kisahnya demikian, tukang-tukang pantun dikumpulkan, diberi uang, dan disuruh memuji-muji Anggadipati."

"Alangkah rendahnya tukang-tukang pantun itu," ujar Banyak Sumba.

"Kalau bertemu dengan yang memuji-muji Anggadipati, patahkanlah lehernya."

"Saya pernah melemparkan seorang tukang pantun dari atas panggung."

"Wah, Raden masih kalah oleh Raden Bungsu. Mungkin, ada lima belas atau dua puluh tukang pantun yang telah dilemparnya dari atas panggung."

"Tapi, saya perlu menanyai Aki Gombal." "Tidak usah, Raden."

"Mengapa?" tanya Banyak Sumba.

"Ia begitu sedih karena teman-temannya dianggapnya mengkhianati tugas suci sehingga kalau ditanyai tentang itu, ia akan bungkam."

Banyak Sumba bisa mengerti keterangan itu. Ia sendiri hampir tak bisa berkata-kata lagi mendengar keterangan yang mengejutkan itu. Setelah lama termenung dan sebelum berpisah, berkatalah Banyak Sumba kepada Paman Guru, "Sampaikan terima kasih saya kepada Raden Bungsu, maaf saya tidak dapat mengikuti pesta sampai selesai karena harus berangkat besok subuh-subuh benar."

"Baiklah, Raden," kata Paman Guru sambil mengundurkan diri. Malam itu, Banyak Sumba hampir tak bisa tidur. Di dadanya seolah-olah berkobaran nyala api. Dan Banyak Sumba tahu, kobaran api itu harus dipadamkan dengan semburan darah, darah seseorang.

Keesokan harinya, sebelum matahari menyembulkan kepalanya di atas bukit-bukit sebelah timur, Banyak Sumba sudah siap di lapangan kecil depan istana keluarga Wiratanu. Raden Bungsu Wiratanu, Paman Guru, dan beberapa orang badega sudah siap pula di sana.

"Saya tidak hanya berutang budi, tetapi berutang nyawa pula kepada Saudara," kata Banyak Sumba sambil memegang tangan Raden Bungsu setelah mereka bersalaman.

'Jangan berkata begitu, saya tahu Saudara akan dapat membayarnya. Di samping itu, kita bersaudara karena nasib yang sama. Di antara saudara tidak ada utang-mengutangi."

"Tetap saya akan merasa berutang kepada Saudara," kata Banyak Sumba pula. Raden Bungsu hanya tersenyum, kemudian berkata tentang hal lain, "Saudara tidak akan mendapat kesukaran tentang kuda. Bawalah kotak lontar ini dan perli-hatkanlah isinya kepada orang-orang yang namanya tertulis di dalamnya. Mereka akan menyediakan Saudara penginapan, kuda, dan apa saja yang Saudara minta. Di Kutabarang, mereka memiliki banyak kuda yang bagus dan Saudara dapat meminta lebih daripada yang diperlukan. Di Pakuan, Saudara akan dibantu, bukan saja dengan kuda, melainkan dengan badega. Kalau Saudara memerlukan pasukan, katakanlah kepada badega-badega saya di sana.

Mereka orang-orang terlatih."

Sekali lagi, Banyak Sumba mengucapkan terima kasih. Ia gembira karena ternyata, bukan dia sendiri yang harus mengemban tugas yang berat dan mengorbankan masa remajanya itu. Ia punya banyak kawan dalam perjuangan itu dan kawan-kawan itu akan menunggunya di Pakuan Pajajaran untuk dipimpinnya dalam menyelesaikan tugas itu. Beberapa saat sebelumnya, Raden Bungsu menjelaskan kepadanya bahwa seratus empat puluh orang badeganya sudah siap di Pakuan Pajajaran dengan maksud menangkap atau membunuh Anggadipati dan orang-orang itu akan senang sekali menerima Banyak Sumba sebagai pemimpin. Banyak Sumba makin bersemangat. Dalam hati, ia berjanji akan membalas utang budinya kepada Bungsu Wiratanu dengan kepala Anggadipati.

Tak lama kemudian, saat perpisahan pun tiba. Dengan diiringi beberapa orang badega yang menunggang kuda hingga gerbang, Banyak Sumba melambai-lambaikan tangannya di samping Jasik, yang juga kelihatan gagah dan gembira. Setelah melewati jalan-jalan kota yang masih sepi, sampailah mereka di gerbang Kota Kutawaringin. Tak lama kemudian, mereka telah melarikan kuda di jalan-jalan berdebu di luar benteng kota. Mereka melarikan kudanya dengan cepat selagi jalan-jalan masih sepi. Ketika matahari mulai hangat dan kuda mereka berkeringat, sampailah mereka di puncak sebuah bukit. Banyak Sumba memberi isyarat kepada Jasik yang mengejar di belakangnya supaya berhenti. Mereka berhenti di atas bukit sambil memandang ke sekelilingnya.

Kota Kutawaringin tampak dengan atap ijuknya yang keabu-abuan, dengan sungai kecil yang lewat di sebelah timur dan barat, serta sungai buatan yang mengelilingi benteng. Ke sebelah utara, dataran rendah Tatar Sunda; kemudian akan berujung di laut yang tidak tampak. Ke sebelah selatan hutan- hutan lebat yang menggelap di atas gunung-gunung yang

tinggi, tempat para guriang bersemayam dan pertapa menyepi di tengah binatang-binatang buas. Ke sebelah barat adalah Kuta-barang yang tak mungkin tampak dari atas bukit itu karena jauhnya tiga hari perjalanan.

"Raden," tiba-tiba Jasik berkata. Banyak Sumba berpaling. "Raden, pada kuda saya terdapat kantong kulit yang bagus dan ketika saya buka talinya, ternyata penuh dengan uang emas."

Banyak Sumba melihat ke arah kantong yang dikatakan Jasik. Tiba-tiba, ia menyadari bahwa di samping kanan pelana kudanya, agak ke depan, terdapat pula kantong yang lebih besar dan lebih indah.

Banyak Sumba meraba kulit yang halus itu dan dapat menduga bahwa kantong besar itu berisi uang. Ia menyadari, Bungsu Wiratanu telah membekali dengan uang yang sangat banyak, lebih banyak daripada uang yang dibawanya dari Medang.

"Ini utang kita, Sik. Kita harus segera menyelesaikan tugas kita. Dengan cara itulah, segala utang kita akan terbayar."

"Raden, menurut badega-badeganya, Bungsu Wiratanu pun ingin sekali membunuh Pangeran Anggadipati, tapi mengapa Bungsu Wiratanu tidak berangkat ke Pakuan Pajajaran seperti kita?"

Banyak Sumba termenung sebentar. Kemudian, tiba-tiba ia berkata, "Si Colat, Sik. Kalau ia keluar terlalu jauh dari kotanya, penjagaan terhadap dirinya menjadi sukar. Si Colat akan mudah membunuhnya."

Jasik tidak berkata apa-apa dan mereka pun segera memacu kudanya kembali, menuju barat, ke Kutabarang.

Setelah tiga hari di perjalanan, pada suatu persimpangan mereka berhenti. Banyak Sumba berkata kepada Jasik, "Sampaikan salamku kepada Kang Arsim, Sik. Lalu, sediakan bekal perjalanan kita ke Kutabarang. Dalam tiga hari, kita akan bertemu di Kutabarang." Mereka berpisah. Jasik langsung ke Kutabarang, sedangkan Banyak Sumba membelokkan kudanya ke arah selatan, menuju Perguruan Sirnadirasa. Kalau Jasik akan menyusuri jalan besar yang ramai, Banyak Sumba akan berjalan seorang diri, menyusuri jalan kecil yang hanya dapat digunakan berpapasan dua ekor kuda atau dua orang pejalan kaki.

Ia tiba-tiba saja merasa, betapa besar arti Jasik dalam hidupnya. Sejak malapetaka menimpa keluarganya, Jasik tidak pernah berpisah dengan dia. Anak muda itu tidak pernah merasa takut, tidak pernah mengeluh selama dalam pengembaraan yang penuh dengan bahaya dan kekurangan. Seandainya tidak ada Jasik, Banyak Sumba yakin, betapa akan lebih sukar hidup yang dihadapinya. Pikiran Banyak Sumba melayang jauh ke Kota Medang yang menjadi tempat masa kanak-kanaknya, ke Padepokan Panyingkiran yang telah menjadi sunyi kembali, dan Kutabarang—tempat Kang Arsim mengajar di Perguruan Gan Tanjung. Akhirnya, kepada Nyai Emas Purba-manik.

"Saya akan datang kepadamu, apa pun yang terjadi," tiba- tiba ia berkata kepada seseorang yang tidak ada di hadapannya, tetapi begitu jelas tergambar dalam hatinya yang merindu.

-ooo00dw00ooo-