Pertarungan Terakhir Bab 03 : Diikuti Tak Dikenal

 
Bab 03 : Diikuti Tak Dikenal

Waktu tidak boleh terbuang percuma, hukum Sang Hiang Tunggal harus segera dilaksanakan, demikian ujar Ayahanda. Dan pada permulaan bulan kedua sejak berada di tempat pengungsian, persiapan kebe-rangkatan dilakukan Banyak Sumba dan Jasik. Pada hari baik, diantar oleh derai air mata dan doa, kedua anak muda itu berangkat.

Tiga hari mereka di perjalanan. Pada hari keempat, tampaklah menara-menara jaga benteng Kutawaringin. "Sik, kita singgah di Kutawaringin untuk berlatih," kata Banyak Sumba melirik kepada Jasik.

"Kalau ada kesempatan, kita tagih orang yang membeli kuda Raden dulu itu," jawab Jasik sambil tersenyum. Mereka membelokkan kuda, lalu melecutnya. "Ha! Ha!"

"Bapak, kami kembali," kata Banyak Sumba kepada orang tua yang menerima mereka menginap pada kunjungan terdahulu. Orang tua itu mengenali mereka, lalu menyilakan mereka duduk.

"Bagaimana Kutawaringin, Bapak?" tanya Banyak Sumba. "Buruk, Raden," sahut orang tua itu.

"Buruk?' kata Banyak Sumba dengan penasaran.

"Beberapa orang bangsawan ditangkap oleh penguasa kota, mereka mencoba menjatuhkan penguasa kota. Kota terpecah-pecah, rakyat tidak tenteram. Sewaktu-waktu dapat saja terjadi perkelahian."

"Mengapa sampai terjadi begitu, Bapak?" "Raden, banyak bangsawan tidak puas terhadap

kepemimpinan Tumenggung Wiratanu. Sekarang, wangsa Wiratanu sedang mendapat kesukaran karena si Colat sedang membalas dendam dengan teratur. Tiap ulang tahun Tumenggung Wiratanu, diletakkan kepala seorang bangsawan di halaman atau di tengah-tengah pendapa. Wangsa Wiratanu berada dalam kesukaran dan bangsawan-bangsawan yang tidak puas mulai bergerak. Wangsa Wiratanu yang terpojok menghadapinya dengan tangan besi. Penangkapan, pembuangan. Rakyat takut memasuki kota untuk berdagang, pasar sepi, banyak saudagar yang mengalihkan usahanya ke Kutabarang."

"Rupanya, keluarga ini banyak utangnya," katajasik, menyela dengan tidak sengaja. "Di pihak lain, rakyat pun merasa lega dengan keadaan sekarang, asal saja tidak berlarut-larut. Telah lama mereka diperlakukan sewenang-wenang. Bungsu Wiratanu seenaknya saja mengambil gadis-gadis petani, bahkan gadis bangsawan diculiknya di siang bolong. Kawan-kawannya berandal belaka."

"Bagaimana terhadap kuda orang lain, Bapak?" tanya Jasik yang menjadi gembira mendengar keluarga Wiratanu dalam kesukaran.

"Mengenai kuda jangan dikata, bahkan kereta orang boleh saja dimintanya. Dan orang tidak berani menolak. Daripada kehilangan kemerdekaan atau nyawa, lebih baik kehilangan harta. Sering terjadi, orang-orang yang berani menentang, menghilang begitu saja."

Sore itu, ketika beristirahat di tempat mereka menginap, Banyak Sumba berkata, "Sik, kiranya tidak ada saat yang lebih baik bagi kita untuk menyelesaikan perhitungan dengan keluarga Wiratanu. Sekurang-kurangnya, kita memberikan pelajaran kepada pencuri kuda itu."

Mendengar usul yang sungguh-sungguh itu, Jasik termenung. Setelah beberapa lama tidak ada jawaban, Banyak Sumba berkata kembali, "Seandainya kita dapat membunuh orang jahat itu, dua hal yang telah kita lakukan, Sik. Pertama, kita membalaskan dendam Kakanda Jante. Kedua, kita melaksanakan tugas Sang Hiang Tunggal, yaitu menumpas kejahatan. Bukankah Sang Hiang Tunggal bersabda bahwa dengan menumpas kejahatan, kita melindungi rakyat banyak? Tidak ada saat yang paling baik daripada sekarang."

Untuk beberapa lama, Jasik tetap berdiam diri, lain daripada biasanya. Akan tetapi, akhirnya ia berkata, "Saya beranggapan bahwa akhirnya Bungsu Wiratanu akan menjadi mangsa si Colat juga, Raden. Oleh karena itu, kita ddak usah bersusah-susah menghadapi bahaya," katanya. Banyak Sumba termenung sebentar. Ia bertanya dalam hati, apa yang akan dikatakan Ayahanda kalau ia tidak sempat membalas dendam terhadap keluarga Wiratanu. Kalau keluarga Wiratanu ditumpas oleh si Colat terlebih dahulu, tidakkah Ayahanda akan murka terhadapnya dan menganggapnya lalai? Banyak Sumba termenung. Akhirnya, ia beranggapan bahwa bertindak lebih baik daripada tidak. Lebih baik ia mencoba, lepas dari berhasil atau tidak usahanya itu. Bagaimanapun, Ayahanda akan senang kalau ia berbakti, yaitu mencoba dan berusaha sekuat tenaga membunuh para anggota keluarga Wiratanu.

"Begini, Sik. Bukankah kita akan berlaku curang kalau kita mempergunakan tangan orang lain dalam membalas dendam? Si Colat punya perhitungan sendiri, seperti juga kita. Oleh karena itu, usaha si Colat tidak usah dihubung-hubungkan dengan usaha kita. Kakandajante tidak akan senang kalau adiknya menyerahkan lawan kepada orang lain," katanya.

Dalam hatinya, Banyak Sumba pun berkata bahwa Ayahanda tidak akan senang kalau ia tidak membalas dendam dengan tangannya sendiri.

'Akan tetapi, Raden, bagaimana kalau kita mencapai tujuan yang terpenting dahulu, yaitu Pangeran Anggadipati?" tanya Jasik.

"Lebih baik Bungsu Wiratanu dulu, Sik. Bukankah orang ini dapat dianggap latihan bagi kita?"

"Kalau begitu kehendak Raden, saya setuju. Tadinya saya ingin menyatakan, lebih baik kita menghindar dari bahaya, seandainya bahaya yang kita hadapi hanya akan sedikit hasilnya. Lebih baik menghadapi bahaya yang lebih besar dengan hasil yang lebih besar. Soal Bungsu Wiratanu ini soal nomor dua."

"Kali ini, kesempatan sangat baik, Sik. Di samping itu, saya takut si Colat mendahului kita." Jasik tidak berkata apa-apa lagi, walaupun tampak ia belum yakin benar.

Sore itu, ketika malam hampir turun, kedua orang pengembara keluar dengan pakaian serbahitam. Mereka bergegas menuju gerbang kota yang dalam waktu tidak lama lagi akan ditutup karena malam tiba dan keadaan sangat tidak aman. Ketika mereka tiba di gerbang, para jagabaya tampak mengawasinya dengan tajam, tetapi tidak ada yang menghalangi mereka masuk karena Banyak Sumba dan Jasik tidak bersenjata sama sekali.

"Sungguh keliru, Sik, kalau mereka beranggapan bahwa orang yang tidak bersenjata adalah orang yang tidak berbahaya."

"Ya," ujar Jasik.

"Saya yakin, si Colat membunuh tanpa mempergunakan senjata sama sekali. Ia seekor harimau yang dengan tangannya yang telanjang dapat mematahkan leher lawannya dalam satu kali gerakan."

"Ya," ujar Jasik, ketegangan mulai terdengar dalam suaranya.

Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba terdengar dari belakang mereka suara gerbang yang ditutup. Gemanya menggetarkan udara dan juga hati Banyak Sumba. Tiba-tiba saja Banyak Sumba menyadari bahwa mereka sekarang terkurung di sarang lawan. Banyak Sumba melihat ke kanan dan ke kiri dan baru disadarinya, bagaimana jagabaya yang bersenjata lengkap banyak sekali berkeliaran dan waspada. Kadang-kadang, lewat jagabaya berkuda, yaitu para petugas dari Pakuan Pajajaran yang dikerahkan oleh sang Prabu untuk melindungi penguasa-penguasa bawahannya. Banyak Sumba tidak gentar menghadapi para jagabaya itu. Dalam hati ia berkata, "Tak ada pekerjaan bagi Saudara-saudara karena saya tidak akan melibatkan Saudara-saudara pada urusan pribadi saya ini."

Sambil berbicara demikian, ia mengatur siasat. Ia harus memanjati beberapa benteng. Itu dapat dilakukannya dengan mempergunakan tambang. Mula-mula ia akan menaiki pundak Jasik, lalu melompati benteng, dari seberang ia akan melemparkan tambang dan menarik Jasik ke dalam dengan bantuan pohon-pohon yang biasa ada di dalam taman-taman di bagian benteng sebelah dalam. Ia telah menyediakan tambang besar yang dipergunakannya sebagai ikat pinggang. Seandainya ada jagabaya yang memeriksanya tadi di gerbang kota, jagabaya itu tidak akan mencurigainya karena tidak banyak orang yang akan menyangka bahwa ada cara yang baik untuk melewati benteng, seperti yang akan dilakukannya.

"Raden, inilah rupanya istana," ujar Jasik tiba-tiba. Dalam keremangan senja, tampak oleh Banyak Sumba atap bangunan besar yang menjulang tinggi. Di sekeliling bangunan besar itu, tampak pula cahaya obor yang banyak dipasang di sana. Barulah Banyak Sumba menyadari bahwa memasuki bangunan besar itu bukan suatu hal yang mudah karena para penjaga dan badega-badega wangsa Wiratanu akan lebih waspada. Mereka tidak akan mau menjadi mangsa si Colat di dalam kandangnya sendiri. Itu tidak saja akan menyedihkan, tetapi akan sangat merendahkan nama baik wangsa Wiratanu. Banyak Sumba baru menyadari bahwa pendapat-pendapat Jasik banyak benarnya. Akan tetapi, ia tidak boleh mundur, bukankah ia anggota wangsa Banyak Citra yang tidak pernah menyerah dan kata orang tidak kenal takut? Bukankah ia anggota suatu wangsa bangsawan yang terkenal dan disegani? Bahaya yang lebih besar berarti tantangan yang lebih besar. Wangsa Banyak Citra senang kalau mendapat tantangan. Demikianlah Banyak Sumba berkata-kata dalam hatinya ketika mereka membelok dan menuju kelompok warung-warung di dalam kota yang masih terang dan banyak dikunjungi laki-laki. Di depan sebuah kedai tuak, kedua orang pengembara ikut berhenti dan Banyak Sumba berkata, "Kita mencari-cari keterangan dulu, Sik."Jasik tidak menjawab. Mereka melangkah dan memasuki ruangan yang cukup terang di bawah beberapa buah lampu minyak. Mereka langsung duduk di atas bangku yang ditilami dengan tikar-tikar. Dan begitu mereka duduk, seorang gadis yang berpupur tebal segera menyodorkan kendi tuak dengan dua buah cangkir tembikar kasar.

"Selamat datang dan selamat malam, Tuan-tuan," kata gadis itu sambil tersenyum. Banyak Sumba duduk, lalu menuangkan tuak ke dalam cangkirnya. Ia mencicipinya, tapi tidak meminumnya. Ia tidak ingin menarik kecurigaan orang yang banyak berkumpul di sana. Ia berlaku seolah-olah ia bermaksud minum-minum seperti yang lain. Akan tetapi, tampaknya orang-orang yang ada di sana tak urung tertarik olehnya. Mereka rupanya menyadari bahwa Banyak Sumba dan Jasik adalah orang asing. Orang-orang melihat ke arahnya dengan penuh selidik. Banyak Sumba dan Jasik segera meminum tuak mereka dan memakan penganan yang disajikan oleh gadis yang berpupur tebal itu.

Mereka makan penganan diam-diam dan kalau berbicara, terpaksa mereka berbisik.

"Sik, salah benar kita masuk ke sini. Orang-orang tampaknya curiga," ujar Banyak Sumba.

"Tapi, mereka tidak akan berbuat sesuatu terhadap kita dan dalam gelap seperti ini, mudah sekali kita meloloskan diri," ujar Jasik.

"Kita harus segera meninggalkan tempat ini, Sik."

"Baik, Raden," katajasik sambil menyeka bibirnya dengan selampai yang dibawanya. Akan tetapi, sebelum mereka bangkit, dua orang laki-laki yang semula duduk di sudut, bangkit dan berjalan ke arah mereka duduk. Kedua orang laki- laki itu memberi salam, lalu duduk di hadapan Banyak Sumba dan Jasik.

"Saudara, orang asing?"

Sebelum menjawab, Banyak Sumba menarik napas dulu.

Akan tetapi, tak ada jawaban lain yang dapat diberikan kepada orang itu, kecuali "Ya". Banyak Sumba berkata, "Ya" sementara dalam hatinya ia berkata, ia dapat memukul kedua orang itu sampai pingsan sekaligus. Kalau mau, ia dapat mematahkan lehernya satu per satu.

"Ada keperluan dagang?" tanya orang yang lebih tua di antara kedua orang itu.

"Ya," Banyak Sumba menjawab, senang, karena ia diberi peluang untuk mendapatkan dusta yang baik. Ia tidak dapat berdusta lebih baik selain mengaku sebagai pedagang.

"Saudara penjual barang-barang perhiasan?" "Mengapa Saudara bertanya demikian?" tanya Banyak

Sumba sambil tersenyum untuk menghapus kekasaran pertanyaannya.

"Saya melihat kulit dan tangan Saudara-saudara halus dan bersih. Biasanya, tukang-tukang emas atau orang-orang yang bekerja dalam ruanganlah yang bersih seperti Saudara."

"Petani pun dapat bersih kalau rajin mandi," ujar Banyak Sumba mencoba berkelakar untuk menghilangkan ketegangan.

"Jadi, benarkah Saudara tukang emas?"

"Oh, sama sekali tidak," ujar Banyak Sumba. "Saya hendak menagih kepada seseorang yang ... membeli kuda saya di sini, beberapa tahun yang lalu."

Kedua orang itu berpandangan. Banyak Sumba terkejut dan sadar bahwa ia telah mengatakan hal yang sangat berbahaya. Ia sadar sekarang, kedua orang itu mencurigai sesuatu. Yang lebih tua mencoba tersenyum, kemudian setelah mencari-cari kata-kata dan tidak berhasil, ia tertawa.

"Wah, rupanya ada suatu hal lucu yang saya tidak tahu," kata Banyak Sumba, menutup ketegangan yang dirasakannya.

'Jawaban Saudara tadi sangat lucu." "Mengapa?"

"Saudara mengatakan bahwa ada orang yang membeli kuda Saudara beberapa tahun yang lalu dan sekarang akan Saudara tagih. Bukan Saudara saja yang pernah berkata begitu," kata orang itu.

Banyak Sumba makin curiga dan ia bersiap siaga dengan seluruh tubuhnya. Sambil bersila ia bergeser, pasang kuda- kuda. Seandainya orang-orang itu bergerak menyerangnya, kaki kanannya akan menghantam ulu hati orang yang sebelah kanan, yang kiri bagian orang yang sebelah kiri. Kemudian, Banyak Sumba akan berdiri di bangku, menjambak rambut kedua orang itu dan mengadukan kepalanya.

"Begini Saudara, jangan merasa saya permainkan. Di kota ini, bangsawan-bangsawan muda biasa mengambil kuda yang baik dari rakyat atau pedagang. Mereka berkata membelinya dan akan dibayar kemudian. Tapi janganlah percaya ' lidah mereka. Saudara rupanya orang asing yang sial, berdagang kuda ke sarang pencuri kuda. Mudah-mudahan saja tidak begitu dan orang yang hendak Saudara tagih itu bukan para pencuri itu."

Seluruh ruangan terdengar tertawa dan Banyak Sumba sadar bahwa setiap orang dalam ruangan itu memerhatikan mereka dan mendengarkan percakapan yang mereka lakukan.

"Kebetulan bukan, kebetulan orang biasa saja yang mem- beli kuda saya dulu," kata Banyak Sumba setelah sejenak berdiam. "Untung," kata orang itu. Banyak Sumba meminum tuaknya, tapi tidak banyak karena ia takut mabuk. Jasik mengikutinya. Rupanya, Jasik sadar pula bahwa warung yang mereka masuki tidaklah seaman yang disangka semula. Tak lama kemudian, mereka bangkit dan setelah membayar, mereka keluar. Mereka berjalan sambil berdiam diri. Banyak Sumba termenung, mematangkan siasat yang telah direncanakan sejak semula.

"Sik, saya akan mempergunakan pundakmu dan memasuki benteng Istana Wiratanu. Kau akan saya tarik dari dalam setelah saya mengikatkan tambang pada pohon-pohonan di sana."

"Raden, lebih baik saya yang masuk, Raden yang mengikuti saya mempergunakan tambang. Saya tidak segan mempergunakan pundak Raden. Bahaya lebih berarti bagi saya daripada sopan santun."

"Bukan begitu, Sik," ujar Banyak Sumba, "seorang bangsawan tidak boleh mengorbankan anak buahnya. Itu keluar dari sifat kesatriaan. Jadi, kita melakukan segalanya sesuai dengan rencana semula."

"Raden!" ujar Jasik dalam bisik yang tertahan, "kita diikuti!" "Sial!" bisik Banyak Sumba, "rupanya setiap warung diisi

dengan mata-mata di Kutawaringin!"

"Empat orang, Raden." "Jangan takut, Sik."

"Saya tidak takut Raden. Soalnya, rencana kita akan terganggu."

"Tapi, kita tidak boleh lari, Sik. Mungkin melarikan diri lebih berbahaya. Saya belum hafal benar jalan-jalan di kota ini," lanjut Banyak Sumba. Didengarnya langkah orang mendekat dari belakang. "Jalan perlahan Sik, nanti kita berhenti, seolah-olah ada benda jatuh. Saya akan menunduk seolah-olah saya mencari sesuatu, lalu kita akan menyerang."

"Baik," ujar Jasik yang segera mengerti siasat yang direncanakan oleh tuannya. Jasik memandang Banyak Sumba dalam gelap itu dengan penuh kekaguman. Ia selalu mengagumi Banyak Sumba yang sangat cepat dalam mencari siasat. Ia kagum ketika mendengar cara yang diusulkan Banyak Sumba untuk melewati benteng. Sekarang, ia kagum oleh rencana penyerangan yang begitu baik.

Banyak Sumba melambatkan jalannya, menunggu suara langkah kaki yang makin mendekat dalam lorong lebar itu. Kemudian, ia berhenti dan berkata kepada Jasik.

"Batu apiku jatuh, Sik. Gandawesiku jatuh," katanya sambil membungkuk. Seraya membungkuk itu, Banyak Sumba melihat bayangan empat orang mendekat. Jasik tidak berkata apa-apa. Ia menghadap kepada Banyak Sumba. Banyak Sumba pun merasa bahwa Jasik sudah siap.

Ketika orang-orang yang mengikuti sekira tiga langkah l.igi dari mereka dan sambil mendekat berdeham-deham, menghamburlah Banyak Sumba. Dengan melompat, ia mempergunakan tendangannya ke arah ulu hati orang yang terdepan. Orang itu terpental dan tidak bangun lagi. Jasik mulai pula menghantam yang terdekat kepadanya yang sempat mengelak dan mundur jauh-jauh.

"Tenang Saudara, tenang, kami bukan musuh!" kata seseorang tiba-tiba ketika Banyak Sumba sedang memilih mangsa baru.

"Kalian mata-mata, jangan lari," ujar Banyak Sumba. "Kami menyerah, boleh Saudara pukul atau bunuh, kalau

Saudara tidak percaya bahwa kami tidak bermaksud jahat," kata seorang di antara mereka sambil berjalan, mengangkat tangan. Banyak Sumba bingung, demikian juga Jasik, yang berhenti menyerang.

"Tenang, kami tidak bermaksud jahat, kami menyerah," kata orang itu pula yang segera dikenal oleh Banyak Sumba sebagai laki-laki yang mengajaknya mengobrol di warung tuak tadi. Banyak Sumba tidak menyerang kembali walaupun tetap siaga.

"Kalian mengikuti kami," kata Banyak Sumba.

"Ya, tapi bukan untuk maksud jahat," kata orang itu, sekarang telah menurunkan tangannya dan berdiri di depan Banyak Sumba.

"Apa maksud kalian?"

"Kami ingin tahu lebih banyak tentang Saudara. Kami tahu Saudara bukan tukang emas atau kuda. Saudara seorang bangsawan dan datang ke sini untuk maksud yang ingin kami ketahui."

"Saya tidak takut kepada kalian karena itu saya tidak pernah merahasiakan sesuatu kepada kalian. Akan tetapi, kalian harus menjelaskan dulu siapa kalian. Kalian mata-mata, bukan?"

"Kami pendatang seperti Saudara juga, dan mungkin menanggung nasib yang sama, menderita dukacita yang sama."

Banyak Sumba tertegun mendengar penjelasan itu. Ia berpaling kepada Jasik yang juga tampak bingung.

"Terangkan maksud kalian atau biarkan kami pergi." "Kami mau menerangkannya, tetapi tidak di sini," kata orang itu.

Banyak Sumba tahu, betapa besar bahayanya kalau mengikuti kehendak orang itu. Akan tetapi, ia penasaran juga. Ia ingin tahu tentang orang-orang itu, sedangkan mengenai bahaya, bukankah ia bisa menghadapinya sebagai latihan? "Jangan percaya, Raden, marilah kita menghindar atau kita hantam mereka," kata Jasik berbisik.

'Jangan, Sik, marilah kita selidiki mereka ini. Kita pukul mereka pada saat yang tepat," bisik Banyak Sumba. Jiwa petualangnya mengalahkan kehati-hatiannya.

"Raden, bagaimana dengan rencana kita?" kata Jasik agak keras. Rupanya, laki-laki yang ada di depan mereka mendengar kata itu. Ia berkata, "Saya tahu, Saudara-saudara punya rencana. Siapa tahu rencana kita sama. Kami datang dari Kutabarang, mungkin dengan rencana yang sama. Kita pun berpura-pura sebagai pedagang perhiasan, siapa tahu kita akan menagih orang yang sama."

Mendengar itu, makin penasaranlah Banyak Sumba. Ia berkata kepada Jasik, 'Jangan takut, Sik, rencana kita akan kita selesaikan juga pada waktunya."

Setelah mereka terdiam, Banyak Sumba berkata, "Terangkan lebih lanjut apa yang kalian inginkan."

"Kami tidak dapat menerangkannya di sini dan kalau ada jagabaya lewat, kita akan dicurigai," kata laki-laki itu.

Banyak Sumba menyadari kebenaran perkataan orang itu.

Ia memberi isyarat kepada Jasik untuk menuruti kehendak orang itu.

"Jalanlah duluan, kami mengikuti dari belakang," kata Banyak Sumba. Ketiga orang asing itu berjalan dan mengangkat kawannya yang terbaring kena tendangan Banyak Sumba. Ternyata, orang itu pingsan.

"Angkat!" kata orang muda yang berdiri tidak jauh dari laki- laki itu. Banyak Sumba tahu bahwa orang muda itu adalah orang muda yang sebelumnya duduk di samping laki-laki tersebut, ketika mereka berada di warung tuak. Kedua orang yang belum dikenal Banyak Sumba mengangkat temannya yang pingsan, lalu mencoba membuatnya siuman dengan memanggil-manggil namanya. Setelah beberapa lama, baru orang itu bergerak dan mengeluh. Banyak Sumba memerhatikan mereka seraya merasakan kesedihan dan rasa kasihan terhadap orang yang ditendangnya itu.

Tiba-tiba, terdengar bunyi kaki kuda yang banyak. Orang- orang itu bersiap untuk lari, juga Jasik dan Banyak Sumba. Laki-laki yang tertua tadi berseru, 'Jangan lari, tenang!"

Mereka kemudian mencoba tenang, sementara tiga orang asing membangunkan si pingsan. Banyak Sumba melihat cahaya obor para jagabaya penunggang kuda dan mendengar percakapan mereka yang keras. Beberapa orang penunggang kuda membelok, menuju kepada mereka. "Hai, mengapa dia?" tanya jagabaya sambil mengangkat obornya tinggi-tinggi.

"Kebanyakan minum tuak, Juragan!" kata laki-laki yang paling tua. Para jagabaya mengawasi mereka seorang demi seorang. Karena tampak mereka tidak bersenjata dan berpakaian baik-baik, para jagabaya itu pun mengundurkan diri dan memecut kuda mereka mengikuti rombongan.

Banyak Sumba menarik napas panjang karena merasa lega.

Ketika itulah, tiba-tiba ia merasakan persahabatan terhadap keempat orang asing itu. Ketika itu pula timbul keingintahuannya tentang orang-orang itu, dari mana mereka datang dan apa maksud mereka. Dengan perubahan suasana hatinya itu, Banyak Sumba mengubah sikapnya terhadap keempat orang asing itu. Ia tidak memperiihatkan kecurigaan lagi, ia malah mendekati mereka dan mulai bertanya tentang orang yang pingsan itu.

"Tak apa-apa, Saudara," kata yang tertua.

"Maaf, saya hanya bermaksud mempertahankan diri." "Kami bisa memahami tindakan Saudara," kata orang tua

itu pula. Banyak Sumba memegang bahu orang yang baru siuman itu sambil tersenyum kepadanya. "Maaf," katanya. Orang yang baru siuman itu mengangguk. Kemudian, rombongan yang terdiri dari enam orang itu berjalan.

Mula-mula mereka menuju pusat keramaian malam di kota itu, yaitu suatu jalan besar yang di kiri kanannya penuh dengan warung minuman dan buah-buahan. Di ujung jalan itu terdapat pula lapangan. Di suatu tempat, rombongan sandiwara sedang bermain. Cahaya obornya yang besar mempermainkan bayangan-bayangan orang di dinding-dinding rumah sekitarnya, sedangkan suara tabuh-tabuhannya bergema dengan meriah. Orang banyak sekali berkerumun di dekat tempat itu dan di situ sukar sekali orang melangkah, bukan hanya karena banyak orang, tetapi karena para pedagang menebarkan dagangan yang bermacam-macam sepanjang pinggir jalan. Akhirnya, setelah menyelinap di tengah-tengah orang banyak, mereka sampai di sebuah warung kecil yang diterangi lampu minyak yang berkelap- kelip.

"Di sinilah kita akan mengobrol, Saudara," kata orang yang tertua. Maka, sambil menundukkan kepala karena rendahnya pintu warung itu, mereka masuk. Seorang perempuan setengah baya segera menyediakan minuman dan makanan kecil bagi mereka. Banyak Sumba dan Jasik sengaja duduk di atas bangku di dekat pintu untuk kehati-hatian. Akan tetapi, karena kenalan-kenalan baru mereka tidak mempedihatkan gerak-gerik yang mencurigakan, mereka menjadi tenang juga akhirnya. Sementara itu, salah seorang dari keempat orang asing itu meminta kepada pemilik warung supaya menyalakan lampu lagi. Setelah ruangan menjadi lebih terang, tampaklah kepada Banyak Sumba bahwa orang asing yang paling tua kira-kira sebaya dengan Paman Wasis, sementara yang termuda, yang tampak sebagai seorang bangsawan, sebaya dengan dia dan Jasik. Yang dua orang lagi adalah badega- badega biasa, bertindak sebagai pengawal bangsawan muda itu.

"Begini, Raden," tiba-tiba yang paling tua berkata kepada Banyak Sumba, "kami yakin, Raden bukanlah pedagang kuda. Tampaknya, Raden terlalu kaya dan terialu halus untuk menjadi pedagang kuda. Itulah sebabnya, kami penasaran dan tadi menyusul Raden. Kami ingin lebih mengetahui banyak tentang Raden," katanya. Setelah itu, orang tua itu diam sambil tersenyum memandang Banyak Sumba. Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Akhirnya, orang tua itu melanjutkan lagi kata-katanya.

"Baiklah, tentu saja Raden tidak mau membukakan hal-hal yang Raden rahasiakan. Kami sendiri tidak berkeberatan membuka rahasia kami karena tempat ini aman. Begini, kami berempat sebenarnya bermaksud menagih kepada seseorang pula di tempat ini. Ia tidak membeli tapi merampas, bukan kuda tapi manusia. Kami harus menagihnya, bukan?"

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Orang tua itu melanjutkan perkataannya, "Raden Sungging ini, jauh-jauh datang dari Kutabarang untuk menagih kepada seseorang yang mengambil orang begitu saja darinya."

'Apakah yang diambilnya itu seorang budak belian?" "Kalau budak belian yang diambil, kami tidak usah jauh-

jauh menyusul kemari." "Seorang...?"

"Ya, seorang gadis, seorang gadis yang cantik jelita, walaupun bukan keturunan bangsawan Kutabarang," kata orang tua itu.

Banyak Sumba sudah dapat meraba-raba tentang kisah yang terjadi di balik kedatangan orang-orang itu ke Kutawaringin. Gadis Raden Sungging ini rupanya direbut oleh Bungsu Wiratanu atau oleh salah seorang pengiring Bungsu Wiratanu yang juga tak kalah berandal dari tuannya. Banyak Sumba melirik kepada pemuda yang duduk di samping orang tua itu. Pemuda itu, Raden Sungging, menundukkan kepala.

"Baiklah," kata Banyak Sumba sambil menarik napas panjang. "Sebaiknya, kita berterus terang. Saya akan berterus terang karena saya tidak takut oleh siapa pun, kecuali oleh pengkhianatan. Saya pun datang ke sini untuk membuat perhi-lungan dengan seseorang, seperti Saudara-saudara."

"Syukurlah dan kita harus segera mempertemukan Saudara dengan yang lain. Begini, bagaimana kalau besok kita bertemu di sebelah selatan benteng? Di sana, kita akan bertemu dengan kawan-kawan lain. Raden, bukan kita saja yang berurusan dengan bangsawan-bangsawan Kutawaringin."

"Ya," kata Banyak Sumba, "juga si Colat."

"Ya," kata orang tua itu, "tetapi si Colat ini menyusahkan kita. Karena pembunuhan-pembunuhan yang sembarangan, orang yang menjadi sasaran kita jadi terjaga ketat."

"Kami tidak tahu tentang hal-hal yang berhubungan dengan si Colat," kata Banyak Sumba berpura-pura dengan harapan akan mendapat keterangan lebih banyak.

"Sebenarnya, si Colat ini berurusan dengan anjing tua dan bukan dengan anjing muda. Akan tetapi, anjing muda yang kita cari jadi terjaga dengan baik," kata orang yang tua.

Setelah berkata demikian, orang tua itu melanjutkan pembicaraannya.

"Tapi, marilah kita kembali kepada pembicaraan pokok. Raden, bukan hanya kita yang datang ke sini. Ada empat rombongan datang ke sini untuk menagih, di luar si Colat yang menagih kepada anjing tua. Sekarang, kami ingin mendengarkan masalah Raden, siapa yang akan Raden tagih dan berapa jumlah utang orang itu." Banyak Sumba termenung sebelum berkata, Jasik memberikan isyarat supaya hati-hati. Kemudian, Banyak Sumba berkata, "Lebih baik besok, di tempat yang kita janjikan. Saya akan menjelaskan semuanya."

Orang tua itu tersenyum, lalu berkata setuju akan kehati- hatian Banyak Sumba. Mereka pun berunding untuk bertemu keesokan harinya di sebuah kampung di sebelah selatan benteng Kutawaringin. Orang-orang asing itu tampaknya tidak menyadari bahwa Banyak Sumba dan Jasik mempunyai rencana malam itu juga. Mereka menyangka bahwa Banyak Sumba baru dalam taraf menyelidiki kota. Sangkaan macam itu bisa dimengerti karena keempat orang itu sudah berada di Kutawaringin empat bulan lamanya. Mereka menyelidiki kota dan selama itu juga bertemu dengan orang-orang lain yang datang ke sana untuk tujuan membuat perhitungan dengan Bungsu Wiratanu. Memang tidak sukar untuk menemukan orang-orang yang hendak membalas dendam karena ternyata rakyat Kutawaringin sendiri membenci penguasa dan keluarganya. Bahkan, sepanjang cerita orang tua itu, penduduk Kutawaringin berharap agar terjadi sesuatu terhadap keluarga penguasanya hingga wangsa Wiratanu diganti dengan wangsa bangsawan lain yang lebih bijaksana dan adil terhadap rakyatnya.

Mereka bercakap-cakap sambil mencicipi penganan dan minuman. Dari luar terdengar nyanyian dan bunyi tabuh- tabuhan yang meriah dari rombongan sandiwara rakyat.

Cahaya obor berkobar-kobar dan bayangan bergerak-gerak di dinding sebelah dalam warung. Tiba-tiba, seseorang tiba sambil terengah-engah. Ia langsung menuju orang tua itu.

"Mereka datang, cepat menghindar," kata pendatang itu berbisik, tetapi cukup keras untuk dapat didengar oleh seluruh isi warung yang kecil itu.

"Sial, mari kita pergi. Raden, menghindarlah. Sampai besok." Mereka tergesa-gesa keluar, demikian juga Banyak Sumba dan Jasik. Setiba di luar, mereka terpencar ke segala arah.

Banyak Sumba dengan Jasik berjalan bersama-sama, tidak tergesa-gesa dan menyelinap seperti yang lain. Mereka berjalan menuju keramaian dan ketika mereka tiba di dekat gelanggang tempat sandiwara itu bermain, berkatalah Jasik, "Raden, saya merasa kita diikuti."

'Jangan takut, Sik. Kita mudah lolos di tempat keramaian ini. Walaupun ada janji dengan orang-orang yang tadi, kita pun akan melanjutkan rencana kita. Sebentar lagi malam larut."

Jasik tidak berkata apa-apa. Setelah sejenak menonton pertunjukan, berjalanlah kedua orang pengembara itu menuju ke selatan, mendekati benteng Istana Wiratanu yang tampak lebih tinggi daripada benteng rumah-rumah bangsawan yang lain. Makin dekat ke tempat itu, makin terang obor-obor.

Banyak Sumba tidak berkecil hati karena bayangan pohon tanjung cukup gelap untuk menyembunyikan diri pada malam yang gelap seperti itu.

"Raden, kita diikuti. Ketika berpaling, saya melihat orang berkelebatan menyembunyikan diri di balik pohon sebelah kiri jalan," bisik Jasik. Banyak Sumba tertegun, tapi ia tidak menghentikan langkahnya.

'Jalan terus, kita cari tempat yang baik untuk melawan," bisik Banyak Sumba. Mereka mempercepat langkahnya. Tidak beberapa lama kemudian, Banyak Sumba melihat bayangan hitam berkelebat di bawah salah sebuah rumah di pinggir jalan yang sunyi itu. Dan ketika jalan membelok, tiga orang berpakaian hitam berdiri di hadapan mereka.

"Berhenti!" seru salah seorang di antara mereka. Banyak Sumba tidak berhenti, ia melangkah karena menurut perhitungannya ketiga orang itu akan mudah saja dirobohkannya. Kemudian, ia berhenti karena dilihatnya dua orang lagi keluar dari bawah bayangan pohon tanjung yang tumbuh di pinggir jalan. Dari arah belakang terdengar langkah dan ketika Banyak Sumba berpaling, tiga orang lagi datang.

Tujuh orang, pikir Banyak Sumba. Ia harus licin dan tidak boleh memperiihatkan akan melawan. Tapi, ia cemas karena ia tidak dapat berbisik lagi kepada Jasik untuk mengatur siasat.

Akhirnya, ia memaksakan diri berkata sebelum kesempatan hilang.

"Kita tidak bersalah, Sik, jangan melawan dulu."

"Ya, kita tidak bersalah," kata Jasik. Mungkin ia mengerti maksud Banyak Sumba. Ketika Banyak Sumba melirik, tampak Jasik tidak memperlihatkan sikap bersiap. Tapi, itu hanyalah tipuan.

"Berhenti, jatuhkan senjata!"

"Kami tidak membawa senjata," kata Banyak Sumba. "Bohong!" kata orang itu, mereka mulai mengelilingi.

"Kami tidak bersalah," kata Jasik sambil berbalik, punggungnya hampir melekat pada punggung Banyak Sumba. Banyak Sumba gembira, Jasik begitu cerdas dan pandai mengatur kedudukan dalam menghadapi pengeroyokan itu.

"Kami tidak bersalah," kata Jasik sekali lagi untuk mengambil perhatian lawan.

"Bohong kalian ..."

Itulah yang ditunggu Banyak Sumba. Ketika lawan mengajak berdebat, mereka lengah. Karena yang di hadapan Banyak Sumba berada dalam jangkauan tendangan, dengan teriakan Banyak Sumba menghambur diikuti oleh Jasik. Orang yang berada di hadapan Banyak Sumba terpental, sedangkan yang sebelah kanan segera menerima pukulan, tetapi sempat menghindar. Kaki kiri Banyak Sumba menyambar yang di samping kiri dan masuk perutnya. Orang itu mengaduh sambil sempoyongan. Banyak Sumba mengejar yang sempat menghindar, tetapi bayangan hitam menyerang dari arah kanan. Banyak Sumba menundukkan kepalanya, menjauhi penyerangan. Suara orangjatuh terdengar di belakangnya, mungkin dibanting oleh Jasik. Banyak Sumba berhadapan dengan orang yang datang dari kanan, sementara yang sempat menghindar mulai mendekat dari sebelah kiri. Suara kaki kuda terdengar dari jauh. Banyak Sumba sadar, keadaan sangat gawat, apalagi ketika didengarnya salah seorang di antara pengeroyok berteriak-teriak memanggil jagabaya.

Maka, Banyak Sumba tidak lagi menunggu serangan, ia mendekat dan menyerang yang sebelah kanan sebagai umpan. Dan ketika yang sebelah kiri menyerang, kaki Banyak Sumba sebelah kiri sudah menunggunya. Orang itu mengaduh dan mundur sambil memegang ulu hatinya. Ketika itulah, entah dari mana datangnya, suatu benda keras menyambar kepala Banyak Sumba dari samping kiri. Tiba-tiba obor-obor seolah-olah padam, tanah yang dipijak seolah-olah menghilang. Banyak Sumba lupa akan dunia sekelilingnya.