Pertarungan Terakhir Bab 02 : Si Rombeng

 
Bab 02 : Si Rombeng

Banyak Sumba berlari dan terus berlari. Ia berharap dapat mendekati para penunggang kuda itu hingga dapat memanggil mereka. Ia akan meminta untuk diterima sebagai siswa kakek- kakek itu dan menanyakan tempat tinggalnya. Akan tetapi, ia kelelahan. Betapapun lambatnya penunggang kuda melarikan kuda mereka, jalan di semak-semak itu sukar dilalui. Banyak Sumba menghadapi banyak sekali hambatan. Untung, suatu ketika, para penunggang kuda itu berhenti. Ternyata mereka sudah tiba dijalan besar yang bercabang ke dua arah. Satu arah ke utara, menuju Kutaba-rang, arah lain ke selatan menuju ke daerah berhutan. Banyak Sumba mempercepat larinya.

Para penunggang kuda itu bergerak kembali. Penunggang kuda yang muda-muda ke utara, sementara orang tua itu ke selatan. Banyak Sumba hampir putus asa, tetapi terpikir olehnya suatu gagasan. Jalan ke selatan itu lengang dibandingkan dengan ke utara. Artinya, tidak akan banyak jejak kuda di jalan itu. Banyak Sumba dapat membuntuti kakek-kakek itu dengan mengikuti jejak kudanya. Kalau perlu, ia akan melupakan kelelahannya dan terus mengikuti jejak kuda itu hingga ia dapat menemukan kuda yang dapat dibelinya. Dengan timbulnya gagasan itu, bangkit kembalilah semangatnya. Ia mulai berjalan di jalan besar itu seraya memandang ke arah kakek-kakek yang mulai menghilang di belokan.

Sepanjang hari, Banyak Sumba berjalan. Ia tidak menghiraukan kelelahannya. Sambil berjalan, ia berulang- ulang menundukkan kepala mengawasi jejak kaki kuda yang jelas di atas jalan berdebu itu. Sambil terus melangkah, ia berdoa, mudah-mudahan ia dapat menemukan kampung besar agar dapat membeli atau meminjam kuda. Ia terus berjalan hingga hari bertambah panas.

Pada suatu ketika, ia terkejut. Ia kehilangan jejak kuda itu.

Ia bingung sebentar, lalu kembali tergesa-gesa. Ternyata, kakek-kakek itu membelok ke kiri, memasuki semak-semak, kemudian melintasi sungai kecil dan masuk ke hutan. Banyak Sumba bimbang sejenak. Kalau ia terus berjalan dan kemalaman di hutan yang tidak dikenalnya, mungkin ia akan menghadapi bahaya. Siapa tahu hutan itu dihuni oleh binatang-binatang buas yang sukar dihindari, seperti ular sanca. Hal seperti itu sangat mungkin karena Banyak Sumba melihat kedua sungai yang diseberangi berawa-rawa. Di sana pun dilihatnya banyak sekali jejak babi hutan dan bin&tang lainnya. Di tempat-tempat seperti itu, biasanya hidup ular-ular besar yang sukar dilawan.

Kalau kakek-kakek itu masuk hutan, mungkin karena ia mengambil jalan pintas. Dengan berkuda, kakek-kakek itu mungkin akan sampai ke daerah yang lebih aman selagi hari masih siang. Lain halnya dengan Banyak Sumba yang berjalan kaki. Ia mungkin akan kemalaman di hutan berawa-rawa yang berbahaya itu. Pikiran-pikiran seperti itulah yang membuatnya bimbang. Akhirnya, ia mengambil keputusan. Ia akan memasuki hutan itu. Kalau diperkirakan hutan itu luas dan tidak dapat ditembus sebelum senja, ia akan kembali ke jalan besar atau ke daerah yang lebih aman. Ia pun berjalan kembali. Ternyata, ketika mengikuti jejak kuda itu, ia mendaki punggung gunung yang landai yang makin lama makin tinggi. Ia merasa lega ketika menyadari hutan itu makin berubah sifatnya.-Rawa-rawa dengan sifat-sifatnya makin jauh ditinggalkan. Ia berjalan di daerah yang kering dan bercadas- cadas. Ia tahu bahwa daerah itu cocok sekali sebagai tempat tinggal harimau tutul, tetapi ia tidak menganggap binatang itu berbahaya.

Namun, kelegaan hatinya itu tidak lama. Jejak kuda itu makin sukar ia temukan di antara semak-semak di tanah yang keras. Berulang-ulang ia kehilangan jejak dan berulang-ulang pula ia harus kembali ke tempat yang telah dilaluinya. Ia hampir putus asa ketika tiba di suatu tempat, yaitu bagian hutan yang bertebing-tebing.

"Berhenti!" tiba-tiba ia mendengar orang berkata. Banyak Sumba berpaling ke arah datangnya suara itu'dan dilihatnya empat orang pemuda datang mengelilinginya. Banyak Sumba tidak bersiap-siap, bukan saja karena pemuda-pemuda itu tidak kelihatan mengancam, tetapi ia pun tidak merasa bersalah.

"Saudara datang dari mana dan ada maksud apa?"

"Saya mengikuti seorang kakek yang menuju ke tempat ini.

Saya bermaksud belajar kepadanya," jawab Banyak Sumba.

"Saudara... Saudara Banyak Sumba?" seorang di antara pemuda itu bertanya.

Banyak Sumba berpaling kepadanya, "Saudara Girilaya!" seru Banyak Sumba dengan gembira seraya memegang tangan Raden Girilaya, bekas guru keperwiraan di Puri Purbawisesa.

Raden Girilaya memegang bahunya dan sambil tersenyum berkata, "Sungguh tidak saya sangka kita akan bertemu di sini!"

"Saya pun menyangka Saudara berada di Pakuan Paja- jaran," ujar Banyak Sumba.

"Wah, itu cerita yang panjang, saya pergi ke sana, tetapi akhirnya terdampar di sini."

"Saya datang ke sini dengan susah payah, dengan maksud belajar kepada seorang tua yang

"Oh, Eyang Resi," kata seorang di antara pemuda itu. "Kita akan membawa Saudara menghadap beliau nanti. Sekarang, marilah ke tempat saya dulu," kata Raden Girilaya sambil menuntun Banyak Sumba. Yang lain minta diri untuk kembali ke tempat masing-masing. Raden Girilaya mengacungkan tangannya, lalu mereka berpisah.

Banyak Sumba mengikuti Raden Girilaya melewati semak- semak yang tumbuh di antara bongkah-bongkah cadas yang besar-besar. Ternyata, di beberapa tempat di bagian gunung yang bercadas-cadas itu terdapat bangunan-bangunan kecil terbuat dari kayu dengan atap ijuk dan serasi dengan alam sekitarnya, hingga Banyak Sumba sukar melihatnya.

Setelah beberapa lama berjalan dan bertemu dengan beberapa orang kawan Raden Girilaya, mereka tiba di tempat yang agak lapang di bawah sebuah tebing yang tinggi. Raden Girilaya menyelinap di celah cadas, lalu ia masuk ke gua diikuti Banyak Sumba. Ternyata, gua itu cukup luas. Di dalamnya bersih dan terang oleh cahaya yang datang dari celah-celah yang tidak kelihatan. Sementara itu, di sudut ruangan dinyalakan sebuah lampu minyak kelapa. Banyak Sumba melihat kotak-kotak lontar bertumpuk, kotak pakaian dari rotan, cerek air dari tanah, dan dua helai kulit kambing sebagai alas, mengilap di bawah cahaya yang datang dari luar itu. Banyak Sumba dipersilakan duduk. Mereka pun mulai saling bertanya tentang keadaan masing-masing, tentang pengalaman mereka, tentang Pakuan Pajajaran, dan Puri Purbawisesa.

Ternyata, Raden Girilaya tidak dapat memenuhi keinginannya untuk belajar ilmu kenegaraan di Pakuan Pajajaran. Ia sudah terlalu tua, demikian keterangan pamannya yang ada di Pakuan Pajajaran. Di samping itu, ia sudah cukup berilmu sebagai perwira. Oleh karena itu, bangsawan itu menganjurkan agar dia melanjutkan pelajaran keperwiraannya. Ia diberi nasihat untuk menjadi murid Resi Sirnadirasa, tempatnya tidak jauh dari Kota Kutabarang walaupun tidak banyak diketahui orang. Dan, kembalilah Raden Girilaya ke Kutabarang hingga akhirnya tiba di Padepokan Sirnadirasa.

Banyak Sumba menceritakan pengalamannya sejak menggantikan Raden Girilaya sebagai pengajar ilmu keperwiraan. Walaupun demikian, ia merahasiakan perkenalan dan hubungannya dengan Putri Purbamanik. "Tampaknya Saudara begitu berhasrat menguasai ilmu keperwiraan, sampai Saudara tiba di tempat ini," kata Raden Girilaya tersenyum.

"Seperti Saudara juga, ilmu keperwiraan adalah jalan hidup saya. Dan, saya merasa senang sekali dapat bertemu dengan Saudara di sini. Besar harapan saya untuk mendapat pertolongan Saudara agar maksud saya dapat terlaksana," lanjut Banyak Sumba.

"Eyang Sirnadirasa akan senang menerima Saudara di sini.

Saya akan menjelaskan semua yang saya ketahui tentang Saudara, terutama bahwa Saudara pernah bekerja di Puri Pur- bawisesa. Ada syarat yang harus dipenuhi oleh calon-calon siswa, yaitu setiap calon harus mengucapkan sumpah terlebih dahulu. Akan tetapi, sumpah itu bukanlah hal yang berat karena sebenarnya setiap orang baik bersumpah demikian kepada dirinya sendiri," demikian Raden Girilaya menjelaskan.

"Dapatkah saya mengetahui isi sumpah itu sekarang?" tanya Banyak Sumba dengan keingintahuan yang keras. Ia merasa cemas kalau sumpah yang harus diucapkan akan memaksa dia membuka rahasianya, terutama alasan dia belajar ilmu keperwiraan itu.

"Tidak banyak," jawab Raden Girilaya, "Saudara cukup menyatakan di hadapan Eyang Resi dan para siswa lain bahwa demi Sang Hiang Tunggal, Saudara tidak akan mempergunakan ilmu yang didapat dari Eyang Resi untuk kejahatan dan kepentingan diri sendiri. Saudara hanya mempergunakan ilmu itu dalam mengagungkan Sang Hiang Tunggal. Di samping itu, Saudara bersedia menerima hukuman seberat-beratnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Dewan Perguruan, seandainya Saudara merasa berbuat salah dan melanggar sumpah Saudara sendiri."

Banyak Sumba terdiam, ia merasa gamang menghadapi sumpah itu. Apakah ia akan sanggup mengucapkan sumpah itu tanpa bimbang? Apakah membalas dendam demi kehormatan keluarga dianggap kejahatan atau tidak? Banyak Sumba kembali menghadapi masalah yang tidak pernah dapat dijawabnya sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu berkata, "Saya bersedia mengucapkan sumpah itu," katanya tanpa diketahuinya apa yang mendorongnya mengatakan hal itu.

Raden Girilaya tampak tidak merasakan kebimbangan Banyak Sumba karena ia terus berkata, "Sekarang beristirahatlah dulu di sini, saya akan memberitahukan kedatangan Saudara kepada Eyang Resi," katanya.

"Sungguh, saya malu oleh kebaikan Saudara," ujar Banyak Sumba.

"Tak ada kebaikan saya kepada Saudara. Apa yang saya lakukan demi Sang Hiang Tunggal juga. Setiap tamu akan saya perlakukan seperti Saudara," katanya sambil tersenyum.

Banyak Sumba memandang pemuda yang bangkit untuk pergi itu. Dalam hatinya ia berkata, Raden Girilaya adalah contoh terbaik dari kesatria Pajajaran. Ia tiba-tiba merasa terharu. Ia tidak tahu, apakah ia cukup berharga untuk bergaul dengan kesatria-kesatria Pajajaran. Ia tahu, dengan tugas membalas dendam yang diembannya, sukar sekali baginya untuk dapat menempatkan diri di antara mereka.

Sambil memandang berkeliling di dalam ruangan gua yang terang oleh cahaya lampu dan cahaya matahari, ia terus termenung. Kesatria Pajajaran menyediakan dirinya untuk kepentingan kerajaan, kepentingan sang Prabu yang berarti kepentingan warga kerajaan seluruhnya. Kepentingan kerajaan berada di atas segala-galanya bagi para kesatria seperti Raden Girilaya dan kawan-kawannya. Akan tetapi, bagaimana kalau mereka menghadapi nasib seperti yang dihadapinya? Kalau kakak Raden Girilaya dibunuh orang dengan keji, apakah yang akan dilakukan kesatria itu? Banyak Sumba tidak dapat menjawab pertanyaannya. Karena lelah, ia tidak berusaha menjawabnya. MALAM itu, Banyak Sumba dibawa oleh Raden Girilaya ke tempat Resi Sirnadirasa. Seperti juga dalam gua Raden Girilaya, di sana terdapat kotak-kotak lontar, beberapa helai kulit kambing sebagai tikar, lampu minyak kelapa yang cahayanya terang, cangkir-cangkir dari tanah dan kotak-kotak besar tempat menyimpan pakaian, senjata dan barang-barang berharga. Eyang Resi yang berpakaian putih, sedang membaca-baca tulisan pada janur kelapa yang tergulung. "Ketika kedua pemuda itu datang, orang tua itu mengangkat mukanya dan mempersilakan mereka masuk dan duduk dengan ramah.

"Maaf, Anak-anak, ada yang kurang jelas dalam tulisan ini," katanya ketika kedua orang pemuda itu sudah duduk di atas kulit kambing yang tergelar.

"Silakan, Eyang," ujar Raden Girilaya. Kemudian, Raden Girilaya berbisik, tulisan yang ada pada janur kelapa itu adalah surat yang diterima Eyang Resi dari bekas murid beliau di Pakuan Pajajaran.

"Raden," tiba-tiba orang tua itu berkata kepada Girilaya, "kita akan menerima tamu bulan depan atau akhir bulan ini. Seorang calon puragabaya berada dalam perjalanan menuju perbatasan timur kerajaan. Perwira itu bermaksud berkenalan dengan siswa-siswa di sini."

"Kami sangat senang mendengar berita itu, Eyang." "Ya, siapa tahu kalian akan menjadi pembantu perwira itu di kemudian hari."

Aneh, hati Banyak Sumba berdebar-debar mendengar berita itu. Sementara itu, dalam hatinya dijalinlah sebuah rencana. Tapi, ia segera mendesak rencana itu ke bawah kesadarannya. Ia mulai mendengarkan kembali percakapan guru dan murid itu.

"Raden, dari mana kau datang?" tanya Eyang Resi kepada Banyak Sumba. "Dari daerah Medang, Eyang Resi." "Alangkah jauhnya!" seru Eyang Resi.

"Saya sudah lama tinggal di Kutabarang, Eyang Resi."

"Oh, memang banyak sekali orang Pajajaran yang menetap di Kutabarang. Ya, dari seluruh kerajaan datang ke Kutabarang dan menjadi kaya di sana. Atau, menjadi orang berilmu."

"Raden Banyak Sumba ini masih merasa kekurangan ilmu, Eyang," sela Raden Girilaya.

"Bagus, ilmu tidak akan ada habisnya. Kalaupun seluruh lontar, janur, dan daun-daunan lain dikeringkan untuk dijadikan surat dan seluruh senjata diubah menjadi pisau pa- ngot, tidak akan tertuliskan ilmu yang diturunkan oleh Sang Hiang Tunggal. Jadi, janganlah kau puas, Raden."

"Saya datang ke sini karena alasan itu, Eyang." "Baiklah, Raden Girilaya sudah menceritakan maksud

Raden. Besok pagi kita laksanakan upacara itu."

Sesuai yang dijanjikan, keesokan harinya ketika matahari terbit, Banyak Sumba disumpah. Isi sumpah tidak banyak bedanya dengan yang diceritakan Raden Girilaya. Akan tetapi, Banyak Sumba kurang memerhatikan kata-kata dan isi sumpah itu. Hatinya gelisah dan bimbang. Upacara itu akhirnya selesai juga.

Siswa-siswa memberi salam kepada Banyak Sumba, menyatakan bahwa Banyak Sumba adalah saudara mereka, lebih dekat daripada saudara sekandung karena mereka bersaudara dalam penyerahan diri kepada kebaikan dan kepada Sang Hiang Tunggal. Banyak Sumba tidak gembira oleh uluran persaudaraan ini. Harinya bimbang dan gelisah.

KEESOKAN harinya, pagi-pagi sekali Raden Girilaya yang menjadi teman seguanya membangunkan. Tak lama kemudian, semua santri di bawah pimpinan Eyang Resi telah berlari-lari melompati cadas-cadas dan jurang-jurang sempit, mendaki punggung gunung, menuruni lembah, menaiki pohon, dan menuruni tebing dengan berpegang pada akar- akar.

Sebagai siswa baru, Banyak Sumba hampir tak dapat mengikuti mereka karena kelelahan. Akan tetapi, kemauannya yang keras tidak mengizinkan dia menyerah. Ia terus mengikuti kawan-kawannya. Akhirnya, tibalah mereka di lapangan kecil di dalam hutan. Para santri mulai berlatih dan Raden Girilaya mendekati Banyak Sumba. Pemuda itu tersenyum.

"Saudara Sumba," katanya, "suatu yang lucu terjadi." "Apakah itu?" tanya Banyak Sumba. "Saya diberi tugas oleh Eyang Resi untuk mengajar Saudara," kata pemuda itu sambil tetap tersenyum, lalu melanjutkan kata-katanya, "Padahal, dulu Saudara dapat mengalahkan saya dengan mudah, bukan?"

Banyak Sumba tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya tersenyum.

"Baiklah, saya akan mencoba memenuhi perintah Eyang Resi. Kalau saya dikalahkan, saya akan menyerahkan tugas saya itu kembali."

Kemudian, Raden Girilaya mengajak Banyak Sumba untuk bertanding. Dalam beberapa gerakan saja, Banyak Sumba sudah terjatuh. Raden Girilaya sudah berubah. Ia sudah sangat maju. Dalam pertandingan itu, tubuh dan tangan Raden Girilaya seolah-olah licin. Pukulan-pukulan Banyak Sumba yang dilakukan dengan terkendali, semuanya meleset.

"Saya menyerah dan bersedia menjadi siswa Saudara," kata Banyak Sumba sambil tersenyum dan bangkit dari rumput tempatnya terjatuh. Ia sangat penasaran dan ingin sekali segera mengetahui rahasia ilmu dari Padepokan Sirnadirasa itu. Ketika mereka beristirahat, mulailah Raden Girilaya menjelaskan ilmu itu.

"Dulu, saya melihat lawan sebagai benda yang menjadi sasaran pukulan dan tendangan. Setelah datang ke sini, pandangan saya berubah. Di samping sebagai sasaran pukulan dan tendangan, saya pun menganggap lawan sebagai tenaga, kekuatan, atau tekanan yang dalam perkelahian bergerak ke berbagai arah, khususnya pada tubuh kita. Kalau kekuatan ini mengenai kita, mungkin kita cedera. Sebaliknya, kalau tenaga itu tidak mengenai kita, tenaga itu akan mengganggu keseimbangan tubuh lawan. Nah, dalam keadaan tidak seimbang ini, kita menyerang lawan. Kita mendorong atau menarik ke arah mana berat badan atau tenaga lawan akan jatuh. Maka, tanpa mempergunakan tenaga banyak, kita akan menjatuhkan lawan," katanya.

"Apakah kita tidak boleh mempergunakan pukulan?" tanya Banyak Sumba setelah termenung, "bukankah dengan pukulan yang tepat mengenai sasaran, lawan akan jatuh?"

"Ya, tapi kita berkelahi tidak selalu untuk menyakiti lawan. Mungkin kita melawan seseorang hanya untuk meyakinkan dia bahwa sebaiknya dia tidak usah melawan kita. Kita harus mengasihi lawan."

Banyak Sumba termenung. Ia tidak mengerti maksud kawan seperguruannya itu, tetapi ia diam saja. Kemudian, ia minta diberi contoh tentang cara-cara yang diterangkan Raden Girilaya itu. Mulailah mereka berlatih kembali, bersama dengan siswa-siswa lain. Berulang-ulang Banyak Sumba jatuh, tetapi samar-samar ia mulai mengerti inti ilmu dari Padepokan Sirnadirasa. Hari itu, sebelum latihan selesai dan para siswa mulai mengerjakan huma padepokan, dua kali Banyak Sumba dapat menggagalkan serangan Raden Girilaya. Eyang Sirnadirasa yang memerhatikan mereka berlatih, berkata kepada Banyak Sumba, "Engkau sangat berbakat, Raden, cepat sekali kau mengerti." "Tapi, begitu sering saya jatuh, Eyang, berpuluh-puluh kali.

Saya belum sanggup menjatuhkan Raden Girilaya."

"Tapi kau dapat menghindari serangannya, Raden," ujar Eyang Sirnadirasa.

"Raden Sumba sangat berbakat, Eyang. Dulu, dalam dua gerakan saya dijatuhkannya dengan ilmu keras. Sekarang mulai licin, Eyang."

"Ya, Eyang melihatnya. Besok coba lagi, Raden," katanya.

Dua hari, seminggu, dua minggu di padepokan itu, Banyak Sumba berlatih, semedi merenungkan ilmunya, bercakap- cakap, dan bertanya kepada siswa-siswa lain. Akhirnya, ia jarang dijatuhkan Raden Girilaya. Bahkan, beberapa siswa lain dapat dijatuhkannya. Ia makin keras berlatih, makin sering termenung, memikirkan dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dalam latihan, la harus cepat menguasai ilmu itu, kewajiban keluarga memanggilnya. Ia pun telah rindu kepada ayah-bunda, kakak, dan adik-adiknya.

Pada suatu hari, bertanyalah Banyak Sumba kepada Raden Girilaya, "Saudara, kapankah seorang siswa padepokan dianggap tamat belajar di sini ?"

"Saudara Sumba, Padepokan Sirnadirasa ada hubungannya dengan Padepokan Tajimalela, tempat calon-calon puragabaya dilatih," sahut Raden Girilaya. Mendengar itu, ber-debarlah hati Banyak Sumba. Akan tetapi, ia berusaha menyembunyikan apa yang terjadi dalam hatinya. Ia menunduk. Kemudian, Raden Girilaya melanjutkan penjelasannya, "Padepokan ini bukan saja diketahui, bahkan direstui oleh sang Prabu. Siswa-siswa di sini dianggap setingkat lebih rendah daripada para puragabaya. Akan tetapi, hendaknya Saudara tidak salah mengerti. Kalau kita setingkat lebih rendah, bukan berarti kita ini hebat-hebat. Sama sekali tidak. Dalam ilmu lahiriah, mungkin kita tidak jauh daripada para puragabaya. Tetapi dalam hal-hal yang bersifat ruhani, kita bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka. Saudara ketahui bahwa para puragabaya sebenarnya pendeta-pendeta yang memuja Sang Hiang Tunggal dengan otot-otot dan tulang-tulang mereka. Tentu saja di samping dengan cara- cara biasa, yaitu dengan hidup suci dan menguasai mantra- mantra. Kalau siswa-siswa di sini dianggap baik, itu karena tugas-tugas kepuragabayaan sering sekali diserahkan kepada kita, kalau tugas itu tidak terlalu berat."

"Tugas-tugas macam apakah itu?" tanya Banyak Sumba penasaran.

"Misalnya, kalau ada orang jahat yang harus ditangkap. Kalau orang jahat itu sudah merajalela dan para jagabaya kewalahan, Resi Tajimalela biasanya mengerahkan calon-calon puragabaya. Pertama, untuk mengendalikan perampok itu; kedua,. untuk menguji keberanian, ketabahan, dan keterampilan calon-calon puragabaya itu. Akan tetapi, perampok-perampok itu sering tidak begitu tangguh untuk dihadapi oleh para calon puragabaya. Biasanya, Resi Tajimalela mengutus seseorang untuk menghubungi Eyang Sirnadirasa dan menyerahkan tugas-tugas menumpas orang jahat kepada padepokan kita ini."

"Sudah seringkah padepokan ini mendapat tugas?" "Menurut keterangan siswa-siswa yang lebih tua dahulu

memang sering, tetapi sekarang makin jarang. Hal itu

disebabkan mutu para jagabaya makin lama makin baik. Di samping itu, kemakmuran terus-menerus meningkat, hingga orang-orang tidak lagi perlu hidup dari kejahatan."

Mendengar keterangan itu, Banyak Sumba agak kecewa.

Ingin benar ia ikut melaksanakan salah satu tugas itu. Sementara ia termenung, Raden Girilaya berkata kembali, "Saya ingin sekali mendapat tugas seperti itu. Belum lama ini, si Gojin, tukang sabung ayam yang kampungnya tidak berapa jauh dari Kutabarang, membujuk salah seorang putra bangsawan untuk berboros-boros di rumahnya. Kebetulan, Eyang Sirnadirasa perlu memberi penjelasan kepada dua orang siswa di sini tentang beberapa cara menjatuhkan lawan dalam perkelahian yang sungguh-sungguh. Sebenarnya, saya sudah mengusulkan agar si Gojin dihadapi oleh siswa-siswa yang lebih lanjut. Akan tetapi, setelah dipertimbangkan si Gojin dianggap terlalu sepele untuk dihadapi oleh siswa-siswa. Jadi, si Gojin ini diperlakukannya sebagai contoh untuk percobaan saja. Eyang Resi memberikan contoh cara menjatuhkan orang yang bertenaga besar seperti si Gojin.

Sebelumnya, Eyang Resi menjelaskan bahwa makin besar tenaga seseorang, makin besar amarahnya, dan makin mudah pula ia dijatuhkan. Menurut kawan-kawan yang mengikuti Eyang Resi, penjelasan Eyang Resi telah diberikan dengan baik sekali melalui si Gojin itu."

"Mungkinkah ada tugas-tugas semacam itu dalam waktu dekat ini?" tanya Banyak Sumba yang ingin sekali ikut mengambil bagian. Raden Girilaya termenung, kemudian berkata, "Beberapa waktu yang lalu, Eyang Resi mengatakan kepada kami, siswa-siswa yang lebih lama di sini, bahwa seorang penjahat besar telah membunuh beberapa orang bangsawan di Kutawaringin. Nama orang itu si Colat."

Mendengar kabar itu, berdebarlah hati Banyak Sumba.

Dapatkah ia menghadapi si Colat yang luar biasa itu? Bukankah lebih baik kalau ia berguru kepada si Colat setelah berguru kepada Resi Sirnadirasa? Sebelum pertanyaan- pertanyaan itu terjawab, Raden Girilaya berkata, "Tapi, si Colat ini tinggi sekali ilmunya. Eyang Resi mengatakan bahwa kemungkinan diserahkan kepada kita tipis sekali. Resi Tajimalela tidak akan sampai hati kalau siswa-siswa di sini menjadi korban. Akan tetapi, menurut Eyang Sirnadirasa, bukan tidak mungkin diadakan tugas gabungan, yaitu para calon puragabaya ditugaskan menghadapi si Colat, sementara siswa-siswa dari sini ditugaskan menghadapi anak buahnya. Mereka ini dikabarkan berilmu lumayan tinggi. Di samping itu, umumnya mereka tega membunuh, seperti juga si Colat yang meremehkan nyawa manusia dan tidak takut lagi akan Sang Hiang Tunggal."

Sore itu, ketika Banyak Sumba seorang diri dalam gua, timbullah pikiran yang dianggapnya baik. Lebih baik tidak terpengaruh oleh kesempatan-kesempatan yang tidak ada dalam rencananya semula. Lebih baik ia berpegang pada rencananya semula, yaitu mencari guru yang tinggi ilmunya, mencoba ilmunya itu, kemudian mempergunakannya bagi kepentingan kehormatan keluarganya. Ia bertekad belajar hingga tamat di Padepokan Sirnadirasa, kemudian mencari si Colat dan belajar kepadanya. Belajar kepada si Colat ini sangat penting baginya karena si Colat-lah salah seorang yang dikabarkan menguasai ilmu kepuragabayaan. Apakah orang itu jahat atau tidak, tidak masalah baginya. Yang menjadi persoalan, bagaimana caranya agar ia secepat mungkin dapat menguasai ilmu setinggi-tingginya, lalu dengan secepat- cepatnya membunuh Anggadipati, Jakasunu, dan Wiratanu dengan begundal-be-gundalnya.

Tanpa diketahuinya, Raden Girilaya memasuki ruangan, lalu duduk di dekatnya.

"Rupanya ada masalah berat yang sedang Saudara pikirkan," kata Raden Girilaya sambil tersenyum.

"Tidak," ujar Banyak Sumba dengan kikuk karena merasa kepergok.

"Kalau begitu, barangkali ada seorang gadis di suatu tempat yang dengan harum rambutnya menghimbau- himbau?" lanjut Raden Girilaya sambil tersenyum.

Perkataannya tiba-tiba membawa ingatan Banyak Sumba ke Puri Purbawisesa. Kerinduan kepada gadis itu tiba-tiba mendesak dalam dadanya. Ia menunduk. Ketika ia mengangkat mukanya, Raden Girilaya sedang memandangnya. Tiba-tiba saja, Banyak Sumba menyadari bahwa raut muka Raden Girilaya sama dengan raut muka Nyai Emas Purbamanik. Bagaimanapun, Nyai Emas Purbamanik ada hubungan darah dengan Raden Girilaya. Maka, perasaan persaudaraan yang selama ini terjalin antara dia dan pemuda itu menjadi lebih erat.

"Saudara Sumba, kita sudah cukup dewasa untuk punya kekasih, mengapa harus bingung kalau saya mengatakan hal- hal seperti itu?" tanya Girilaya sambil tersenyum. "Saudara ini alim sekali rupanya, apakah Saudara bermaksud menjadi pendeta?" tanya Girilaya pula dengan nada bersenda gurau.

Nada senda gurau ini meringankan perasaan Banyak Sumba. Ia berterima kasih kepada Raden Girilaya yang sangat pandai menenggang rasa. Ia mulai tersenyum.

"Sudah lama kita bersahabat, Saudara Sumba. Tidak ada salahnya kita menceritakan tentang diri kita masing-masing. Ada peribahasa bahwa dukacita akan menjadi lebih ringan kalau ditanggung bersama, demikian pula kebahagiaan akan lebih semarak kalau dibukakan. Nah, berceritalah tentang diri Saudara, tentang gadis-gadis, dan pengalaman-pengalaman. Jangan dipendam sendiri pengalaman dan lain-lainnya itu," lanjutnya.

"Tapi tidak ada yang harus saya ceritakan, kecuali yang telah Saudara ketahui sendiri," ujar Banyak Sumba.

"Ah, Saudara Sumba ini sangat pemalu. Jadi, saya yang harus memulai memberi contoh," lanjutnya pula sambil tersenyum.

"Senang sekali saya kalau dapat mendengar cerita-cerita dari Saudara," kata Banyak Sumba.

"Tapi, Saudara harus menukarnya nanti. Saudara Sumba sudah pernah mengunjungi ibu kota Pakuan Pajajaran?"

"Belum.Justru mengunjungi Pakuan merupakan keinginan saya yang sampai sekarang belum terpenuhi."

"Oh, Saudara Sumba harus, sekali lagi harus mengunjunginya. Pakuan Pajajaran sungguh-sungguh kota yang memesonakan. Gerbangnya dapat dimasuki delapan kereta bersama-sama. Di dalamnya, kita akan melihat bangunan-bangunan yang besar dan indah. Setiap kali saya melihat bangunan besar, saya langsung menganggapnya istana Sang Prabu. Akan tetapi, sangkaan saya meleset. Apa yang saya sangka istana bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan istana Sang Prabu. Saya belum pernah melihat orang sebanyak di ibu kota Pakuan. Menurut perhitungan kerajaan, Pakuan Pajajaran berpenduduk 50.000 orang. Bayangkan, Saudara Sumba! Kota-kota yang kita anggap besar penduduknya, kebanyakan tidak lebih daripada lima ribu orang. Pakuan Pajajaran sepuluh kali lebih besar daripada kota-kota yang biasa kita temukan di dataran utara ini.

DanRaden Girilaya tersenyum sebelum melanjutkan ceritanya. "Bukankah tidak sukar diduga bahwa di antara lima puluh ribu orang itu ada gadis cantik yang menyebabkan kita mabuk kepayang?"

"Tidak usah di antara lima puluh ribu orang, di antara sepuluh orang saja mungkin seorang pemuda dapat mabuk kepayang," ujar Banyak Sumba, juga sambil tersenyum.

"Tapi, saya bukanlah orang yang mudah mabuk kepayang, Saudara Sumba. Ketika itu, saya berjalan-jalan melihat-lihat pemandangan kota. Dari suatu tingkap yang tinggi, pada sebuah rumah besar, tampak tiga orang gadis. Salah seorang di antaranya memandang ke arah saya. Dan seperti monyet yang dipandang oleh ular besar, saya tidak dapat memalingkan muka. Sejak itulah, saya bukan saya yang dulu lagi, Saudara Sumba. Coba, apakah yang akan Saudara perbuat kalau tiba-tiba hati Saudara terjatuh atau tertinggal di dalan rumah asing tempat gadis itu berada?"

Banyak Sumba termenung sambil memandang kepada Raden Girilaya yang tersenyum di hadapannya. Terbayang olehnya bagaimana dia mengalami hal yang sama ketika melihat Putri Purbamanik di atas benteng memandang kepadanya. Seperti yang dikatakan Raden Girilaya, ia pun seperti seekor monyet yang ditatap ular sanca yang besar, tidak bisa bergerak dan beranjak dari tempatnya.

"Ah, mengapa Saudara Sumba begitu lama memikirkan pertanyaan saya itu?" tanya Raden Girilaya agak keheranan.

"Karena ... karena saya tidak tahu apa yang akan saya perbuat kalau ada gadis yang menyebabkan saya mabuk kepayang seperti itu," katanya berbohong. Kemudian, berhenti sejenak, untuk mengambil napas. Banyak Sumba melanjutkan kata-katanya, "Kalau ada gadis yang punya kekuatan untuk menggerakkan hati saya seperti itu, saya akan menaiki tingkap atau benteng rumahnya," katanya. Mendengar itu, Raden Girilaya agak terkejut.

"Wah, tapi itu sangat berbahaya. Siapa tahu ada badega atau ponggawa yang melihat kita dan berteriak seolah-olah kita pencuri dan kita dikeroyok," katanya.

"Bukan kita pencuri, tapi gadis itu yang mencuri hati kita," jawab Banyak Sumba bercanda.

"Saudara Sumba yang berani menaiki benteng seperti itu hanya ada dalam cerita, yaitu cerita Puragabaya Anggadi-pati ketika perwira hebat itu jatuh cinta kepada seorang gadis di Kota Medang yang bernama Yuta Inten, kabarnya cantik luar biasa. Oh, apakah Saudara pernah melihat dan mengenal gadis termasyhur itu yang sekarang menghilang entah ke mana?"

"Saya ... saya pernah mendengarnya ... tapi saya tidak tahu

... oh ... saya tidak tinggal di dalam kota. Keluarga saya memiliki puri agak jauh dari kota," katanya berbohong.

"Baiklah, mari kembali pada masalah yang sedang kita hadapi. Tentu saja saya tidak melompat ke jendela rumah gadis itu. Saya mencari Mak Comblang yang tidak sedikit jumlahnya di Pakuan Pajajaran. Dan tidak selang beberapa hari, saya sudah dapat berhubungan dengan gadis itu. Namanya Pembayun Wungu, putri sulung keluarga besar bangsawan di sana dan sayaRaden Girilaya terus menceritakan pengalamannya, tetapi pikiran Banyak Sumba terbang ke Puri Purbawisesa, membayangkan Nyai Emas Purbamanik. Alangkah rindu ia bertemu dengan gadis itu, dan alangkah jauh rasanya gadis itu sekarang Bukan saja jarak antara Padepokan Sirnadirasa memang jauh, tetapi nasibnya yang belum menentu terasa memberikan jarak yang lebih jauh dan belum tentu dapat ditempuhnya. Ia menundukkan kepalanya dan sadar bahwa penderitaan Ayunda Yuta Inten sekarang menimpa dirinya, walaupun tidak tepat benar.

Bagaimanapun, Ayunda terpaksa tidak dapat berhubungan dengan Pangeran Anggadipati karena permusuhan yang terjadi antara keluarga Banyak Citra dan keluarga Anggadipati akibat tindakan kejam Anggadipati sendiri. Ternyata, tindakan itu mengambil korban lain, yaitu dia sendiri. Seandainya segalanya tidak terjadi, hubungannya dengan Nyai Emas Purbamanik tentu akan lancar dan tidak terhambat.

"Saudara Sumba, mengapa Saudara bersedih?" Banyak Sumba terkejut dan mengangkat kepalanya malu-malu. Raden Girilaya tidak berkata apa-apa, tetapi pandangan matanya terus bertanya, "Saya mencintai seorang gadis. Karena sesuatu, sekarang cinta kami tidak menentu. Itulah sebabnya, mengapa saya sekarang berada di sini?"

"Oh, jadi Saudara berkelana dan jadi guru ilmu keperwi- raan untuk melupakan kesedihan itu?"

"Ya," jawab Banyak Sumba setelah tertegun sebentar.

Sampai disitulah percakapan mereka ketika itu karena seseorang datang memasuki gua mereka.

DI PADEPOKAN Sirnadirasa, Banyak Sumba terus berlatih dengan yang lain. Karena ketekunannya, ilmu baru dari padetang ilmunya yang baru itu. Banyak Sumba menyadari hal itu, lalu berkata, "Dari ayahmu, saya belajar kecepatan dan ketepatan. Dengan bantuan ayahmulah, saya mulai menyadari bahwa hidup kita sehari-hari dapat menyebabkan semua anggota badan kita tidak bekerja sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, ketika kita mulai mempelajari ilmu berkelahi, ayahmu menyuruh kita bergerak dan mempergunakan seluruh anggota badan kita sebanyak mungkin. Kita harus melompati jurang-jurang rendah, menyelundup di bawah dahan-dahan pohon perdu, memanjat, berguling, merangkak, dan lain-lain. Tanpa kita sadari, kita menjadi lebih cepat dan lebih lincah daripada kebanyakan orang. Kita sudah membuktikannya berulang-ulang. Kau pun tahu, betapa mudahnya kaukalahkan orang-orang di gelanggang Kutabarang dulu. Itu semua berkat pengajaran dan latihan ayahmu, Paman Wasis.

"Akan tetapi, kita pun menyadari bahwa pukulan kita paling kuat hanya sampai membuat orang pingsan, itu pun kalau mengenai sasaran yang baik. Berbeda halnya dengan pukulan si Gojin, bukan saja dapat membuat orang pingsan tetapi dapat meremukkan, bahkan dapat membunuh. Itulah yang berbulan-bulan, siang malam kupelajari di tempat si Gojin.

Nanti, kalau ada kesempatan, kau pun dapat mempelajarinya dariku, Sik, juga Kang Arsim, kalau mau."

"Tentu saja saya mau, Raden," ujar Arsim sambil mendekat.

"Nah, suatu hari, dengan keheranan saya melihat bagaimana Gojin yang tinggi besar itu dijatuhkan berulang- ulang oleh seorang kakek-kakek. Ternyata, kakek-kakek ini adalah seorang resi yang bernama Sirnadirasa. Maka, kususullah dia ke padepokannya. Di sana, saya mempelajari tentang tenaga dan keseimbangan. Secara kasarnya, kupelajari adanya tiga macam tenaga atau penggunaan tenaga. Pertama tenaga besar, seperti kalau kita sedang mengangkat batu besar atau mengunci lawan. Tenaga kedua adalah tenaga ledak, yaitu seperti yang kita pergunakan kalau kita menyentik telinga anak. Ketiga, tenaga yang mengalir, seperti yang kita gunakan kalau mengikuti tekanan lawan, bukan untuk menyerah tetapi mengarahkannya ke arah yang kita inginkan."

"Lebih baik kita lakukan, Raden, saya ingin sekali mencoba," kata Jasik.

"Baiklah, Sik, tapi ingin saya simpulkan bahwa dua hal yang saya dapatkan dalam pengembaraan ini, yaitu di samping kecepatan dan ketepatan yang saya dapat dari ayahmu, saya telah mempelajari dan melaksanakan ilmu pukulan dan ilmu penggunaan tenaga."

Sore itu, ketika para siswa di Perguruan Gan Tunjung sudah beristirahat, kedua orang panakawannya berjalan ke tempat-tempat sekitar perguruan. Di tanah lapang yang biasa dipergunakan oleh siswa-siswa Gan Tunjung berlatih, mulailah ketiga orang itu bersabung. Kedua orang panakawan itu tidak berdaya menghadapi tuannya. Seperti permainan, Jasik dan Arsim dengan mudah dilemparkan atau dikunci oleh Banyak Sumba. Juga ketika mereka menyerang Banyak Sumba bersama-sama, keduanya tak mampu merobohkan Banyak Sumba.

Suatu ketika, berhentilah Jasik dan sambil terengah-engah berkata, "Saya bersyukur kepada Sang Hiang Tunggal yang telah memberi Raden segala kepandaian itu."

Banyak Sumba duduk di bawah sebatang pohon rindang di tepi lapangan, diikuti kedua orang panakawannya. "Sekarang, marilah kita membuat rencana, Sik."

"Kita segera pergi ke Pakuan Pajajaran, mengambil abu jenazah Raden Jante. Pulangnya kita lewat Kutawaringin, kalau mungkin melakukan sesuatu," kata Jasik.

"Itulah yang ada dalam hati saya," kata Banyak Sumba, "dan kita akan segera ke Panyingkiran." "Ya," ujar Jasik dengan bersemangat. "Bagaimana dengan Kang Arsim?" "Saya sudah berkata kepada Jasik, saya tidak usah pergi ke Pakuan Pajajaran. Saya lebih baik membekali Raden dengan apa yang mampu saya berikan." -"Sayang sekali, Kang Arsim."

"Saya rasa, saya akan lebih berguna kalau tinggal di sini, Raden," kata Arsim. Banyak Sumba mengerti dan menghargai sekali kebijaksanaan panakawannya itu.

"Raden dapat memilih, membawa uang atau saya belikan kuda," lanjut Arsim.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Kang Arsim. Soal itu, Jasik akan lebih tahu. Bagaimana, Sik?" Jasik termenung.

SELANG sehari setelah percakapan di lapangan dekat

Perguruan Gan Tunjung, pada subuh berembun, berangkatlah Banyak Sumba dan Jasik dari perguruan itu. Arsim mengantarnya sampai lawang kari, lalu melambai sambil mengucapkan doa. Kedua orang pengembara itu melambai, lalu memacu kuda mereka masing-masing menuju Kota Kutabarang. Ketika matahari terbit, mereka berada di dalam kota. Beberapa perlengkapan dibeli Jasik, lalu kedua orang penunggang kuda itu berangkat lagi. Dengan melalui gerbang kota sebelah barat, mereka meninggalkan kota pelabuhan yang mulai sibuk.

Mula-mula jalan lurus ke barat melalui hutan kecil, huma- huma, dan kelompok kampung-kampung. Ketika hari mulai panas, jalan mulai membelok ke selatan. Pendakian-pendakian landai mereka lalui. Sementara itu, kampung-kampung mulai berpagar tinggi. Hutan-hutan mulai lebat, kadang-kadang menjangan atau babi hutan melintasi jalan walaupun di siang bolong. Ketika sore tiba, mereka singgah di sebuah kampung untuk menginap. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat lagi. Pada hari kedua, tengah hari, mereka tiba di pasar buah-buahan yang letaknya tidak jauh dari Puri Purbawisesa.

"Sik, kita akan menginap di kampung dekat puri," kata Banyak Sumba sambil memandang ke menara-menara di atas benteng Puri Purbawisesa. Kerinduannya mulai memberati hatinya. Dan ketika mereka berjalan mendekati puri itu, ber- debar-debarlah hadnya.

Apakah kekasihnya masih seperti dulu? Mungkinkah ketika ia tidak berada di dekatnya, gadis itu berubah pendiriannya? Hal itu tidak mustahil, pikir Banyak Sumba. Siapakah yang mau bertunangan dengan seorang buronan seperti dia?

Mungkinkah gadis itu telah membocorkan rahasianya sehingga Puri Purbawisesa yang penuh dengan kenang-kenangan itu, sekarang menjadi perangkap baginya? Mungkinkah puri itu sekarang menjadi tempat malapetaka? Banyak Sumba tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri, tetapi ia bertekad untuk memasuki puri, apa pun yang akan terjadi.

Kenangannya pada kejadian-kejadian sebelum ia meninggalkan puri itu, membuatnya seperti mabuk. Ia mengabaikan segala bahaya yang mungkin menunggunya di puri itu.

Puri itu makin lama makin dekat, akhirnya tibalah Banyak Sumba danjasik di bawah bayangan dinding yang tinggi.

Ketika itu, matahari sudah condong ke barat. Banyak Sumba menghentikan kudanya, memandang seluruh puri. Jasik pun menghentikan kudanya dan berdiri di samping tuannya.

"Kita akan tidur di kampung sebelah selatan itu, Sik. Nanti malam saya akan memasuki puri setelah saya menyelidiki apakah orang-orang sudah mengetahui rahasia kita di sini." "Saya akan menemani Raden," kata Jasik. "Jangan Sik," ujar Banyak Sumba sambil memandang mata Jasik, menyelidiki apakah Jasik mencurigai sesuatu. Tampak cahaya mata Jasik penuh dengan pertanyaan. Banyak Sumba tidak sanggup berterus terang kepada panakawannya. Kalau ia mengatakan bahwa ia ingin berjumpa dengan seorang putri, dan untuk itu menantang bahaya yang mungkin menunggu di sana, panakawannya akan menyesalinya. Bagaimanapun, berulang- ulang Banyak Sumba menyimpang dari rencana semula karena hal-hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tugasnya. Banyak Sumba merasa malu oleh panakawannya itu. Akan tetapi, hatinya berat untuk tidak mengunjungi puri itu terlebih dahulu sebelum pergi ke Pakuan Pajajaran yang jauh.

"Kalau berbahaya, lebih baik saya ikut." "Tidak, Sik, saya hanya berkunjung kepada Paman Salti-win," kata Banyak Sumba berbohong. Memang ia akan berkunjung kepada Paman Saltiwin, orang tua yang baik hati dan sayang kepadanya, tetapi bukan Paman Saltiwin yang menariknya memasuki puri itu. Jasik pun tidak memaksa untuk menemaninya, walaupun dari cahaya matanya tampak kecemasan.

Tak lama kemudian, mereka melarikan kudanya kembali, menuju kampung yang tidak jauh letaknya dari puri itu. Di kampung itu, Banyak Sumba cukup dikenal karena pernah lama tinggal di sana sambil mengajar anak-anak ponggawa ilmu berkelahi. Banyak Sumba bertanya tentang berbagai hal mengenai berbagai peristiwa dan isi puri, tetapi para petani yang hidup dengan damai itu tidak mengetahui berita-berita. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kejadian-kejadian di dalam puri. Oleh karena itu, ketika malam tiba dan Banyak Sumba berjalan ke arah puri, ia tidak tahu, apakah bahaya menunggunya atau tidak.

Walaupun tidak tahu apa-apa tentang bagaimana sikap orang di dalam puri itu, Banyak Sumba merasa lebih baik berhati-hati daripada ceroboh. Ditunggunya malam menjadi gelap, kemudian ia menyelundup bersama-sama dengan para pamagersari yang datang paling belakang, memasuki gerbang yang terbuka sedikit. Ia segera menuju rumah Paman Saltiwin. Hatinya berdebar-debar, bukan karena merasa berada dalam bahaya, tetapi karena ia berada di tempat kekasihnya berada. Paman Saltiwin merangkulnya dan bertanya dengan suara nyaring, Banyak Sumba berbisik dan meminta agar mereka bicara perlahan-lahan. Banyak Sumba menerangkan kedatangannya, kemudian bertanya keadaan di puri sepeninggalnya. Ia bertanya tentang Tuan Putri.

"Tak ada perubahan, Raden. Tak ada yang perlu Raden takuti di sini, walaupun Raden sedang melaksanakan tugas rahasia. Mengenai Tuan Putri, segera setelah Raden pergi, beliau juga berangkat ke Pakuan Pajajaran. Asih beliau bawa. Dari Asihlah, Paman tahu bahwa ... antara Raden dan Tuan Putri telah terjalin kasih sayang."

Perkataan orang tua itu menyenangkan hati Banyak Sumba, tetapi juga menggugah kerinduan dan sedikit kekecewaan.

Walaupun begitu ia tetap bertanya, "Paman, tahukah Paman mengapa Tuan Putri berangkat ke Pakuan Pajajaran?"

"Sama sekali tidak tahu, Raden. Tuan Putri tidak mengatakan apa-apa. Yang Paman tahu, Ayahanda Pangeran Pur-bawisesa berada di sana."

Mendengar penjelasan itu, Banyak Sumba termenung.

Mungkinkah gadis yang dicintainya itu pergi ke Pakuan Pajajaran untuk memberitakan tentang dia, tentang di mana dia berada, dan apa yang hendak dilakukannya? Pertanyaan itu mulai menyiksanya. Mungkinkah kekasihnya, gadis yang selama ini dicintainya, mengkhianatinya dengan menyebarkan berita tentang dirinya di kalangan bangsawan-bangsawan tinggi di Pakuan Pajajaran? Pertanyaan-pertanyaan itu bagai pukulan yang bertubi-tubi menimpa kepalanya. Banyak Sumba menunduk.

"Raden, jangan berkecil hati. Tidak sukar mencari tempat Pangeran Purbawisesa, walaupun Pakuan Pajajaran sangat luas dan orang sangat banyak di sana," kata Paman Saltiwin ketika melihat Banyak Sumba murung oleh penjelasannya "Terima kasih, Paman. Saya akan menemukannya di Pakuan Pajajaran," ujar Banyak Sumba, seolah-olah kata- katanya meluncur dengan sendirinya. Lalu, mereka pun bercakap-cakap tentang itu dan ini. Larut malam Banyak Sumba diantar ke gerbang puri, lalu keluar melalui pintu kecil.

Malam itu, Banyak Sumba sukar memicingkan matanya. Subuh-subuh ia membangunkan Jasik. Mereka pun segera berangkat.

SETELAH empaj hari berada di perjalanan, termasuk satu hari untuk istirahat kuda mereka, pada hari kelima, tampak menara-menara jaga Kota Pakuan Pajajaran yang tingginya melebihi pohon kelapa. Banyak Sumba mempercepat lari kudanya dijalan yang lebar, diikuti Jasik yang juga tidak sabar untuk segera memasuki kota. Akan tetapi, perjalanan mereka tidak dapat dilakukan dengan cepat karena makin dekat dengan kota, makin banyak orang yang lalu-lalang. Demikian juga, berbagai macam kendaraan, kereta, dan pedati beriring- iring ke segala arah, yang pusat perjalanannya adalah kota yang megah dan besar.

Setelah beringsut-ingsut, akhirnya kedua orang pengembara itu dapat juga mencapai gerbang kota. Mereka masuk ke tengah-tengah kesibukan kota yang menyebabkan mereka keheranan.

Begitu banyak orang, jalan-jalan yang lebar, kendaraan, dan bangunan-bangunan dari batu bata atau kayu yang megah. Entah berapa lama mereka menjelajahi jalan lebar itu. Banyak Sumba berkata, "Sik, sudah saatnya kita mencari tempat menginap."

"Ya, Raden. Kita punya banyak kesempatan melihat-lihat kota nanti," ujar Jasik yang tampak masih belum puas menikmati tamasya kota itu. Setelah itu, mereka menepi, turun dari kuda masing-masing. Banyak Sumba bertanya- tanya kepada orang-orang yang berada di dekatnya tentang tempat menginap di dalam kota. Beberapa tempat ditunjukkan orang, tetapi ketika Banyak Sumba dengan panakawannya ke tempat-tempat menginap itu, semuanya sudah penuh.

Akhirnya, Banyak Sumba memutuskan untuk menginap di kampung di luar kota. Jasik tampak kecewa, tetapi tak ada pilihan lain kecuali meninggalkan kota itu untuk sementara. Maka, kedua orang pengembara itu pun berangkat ke arah gerbang kota sebelah utara, lalu menuju kampung terdekat. Tidak sukar bagi mereka untuk menemukan tempat menginap dan menitipkan kuda.

Akhirnya, beristirahatlah mereka. Banyak Sumba merenungkan bagaimana cara mereka mengambil abu jenazah Jante Jaluwuyung.

Sambil duduk-duduk di serambi rumah tempat mereka menginap, Banyak Sumba berkata kepada Jasik, "Sik, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu di mana abu jenazah Kakandajantc diletakkan di dalam kuil itu. Kalau tidak, saya takut kita akan membuang waktu lebih banyak. Itulah sebabnya, kita akan menyelidiki dulu bentuk kuil itu."

''Tidakkah hal itu akan menimbulkan kecurigaan?" tanya Jasik.

"Tentu saja kita harus berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan. Di samping itu, kita tidak akan bertanya kepada orang-orang yang mungkin mencurigai kita."

"Kalau perlu, saya saja yang memasuki kuil itu, Raden.

Raden dapat berjaga-jaga di luar."

'Justru sebaliknya, Sik. Sayalah yang masuk, kau yang . berjaga di luar," kata Banyak Sumba.

"Baiklah, saya akan mencoba mengobrol dengan penjaga kuil itu. Kalau dia lengah, Raden segera memasuki kuil."

"Mungkin saya tidak akan memasukinya dari jalan biasa, Sik. Kalau perlu, saya akan masuk dari atas, melalui pohon, seandainya di sana ada pohon tinggi yang dapat saya jadikan jembatan."

"Baiklah, kalau begitu, akan lebih mudah tugas saya, Raden."

"Mudah-mudahan," kata Banyak Sumba. Hatinya mulai berdoa. Tiba-tiba ia tertegun, teringat kepada Putri Purbamanik. Kesadaran bahwa ia berada di dekat gadis yang dicintainya itu, menyebabkan kerinduan menyesak dalam dadanya.

"Kita akan memasuki kota pada sore hari, ketika orang- orang mencari hawa, Sik," katanya. Setelah tertegun sebentar, ia melanjutkan perkataannya, "Kita akan melihat-lihat tamasya kota sambil menyelidikinya." Dalam hatinya, Banyak Sumba berdoa, mudah-mudahan ia dapat bertemu dengan kekasihnya. Sore itu, sebelum matahari dekat benar ke puncak-puncak bukit di sebelah barat, kedua orang pengembara itu berangkat dari kampung tempat mereka menginap dan memasuki ibu kota kerajaan melalui gerbang sebelah utara.

Ketika menikmati tamasya kota dan orang-orang yang hilir mudik di sana, tak henti-hentinya mata Banyak Sumba mencari-cari, kalau-kalau ia dapat bertemu dengan gadis yang dirindukannya. Akan tetapi, di antara begitu banyak orang ia tidak melihat gadis yang dicintainya itu.

"Sik, mari kita melihat-lihat istana sang Prabu," katanya kepada Jasik. Ia berharap dapat bertemu Putri Purbamanik di sekitar istana itu.

"Mari, Raden, saya pun ingin sekali melihat istana untuk saya ceritakan nanti kepada orang-orang di kampung kita," kata Jasik.

Mereka bergegas mengikuti jalan besar menuju pusat kota karena di sanalah istana sang Prabu berada. Makin mendekad tengah-tengah kota, makin banyak orang yang sedang beristirahat dan menghibur diri. Dan ketika mereka berada beberapa ratus langkah lagi dari istana, begitu banyaknya orang di lapangan luas sekitar istana, hingga Banyak Sumba bertabrakan dengan pejalan-pejalan yang lain. Akhirnya, tibalah kedua orang pengembara itu ke suatu tempat yang batasnya dibuat dari pohon bunga-bungaan. Dari seberang batas itu terdapat taman yang indah sekali, di belakang taman menjulang bangunan besar yang atapnya terbuat dari batu berukir, bata, dan kayu. Pada bagian-bagian tertentu, kayu- kayu berukir itu kayu cendana yang harum baunya. Banyak Sumba memandang bangunan itu dari jauh dengan penuh kekaguman.

Ia tidak berani melangkahi batas yang terdiri dari pohon bunga-bungaan itu. Bukan karena taman di seberang batas itu begitu indah, tetapi tidak ada orang lain yang berani menyeberangi batas itu. Banyak Sumba termenung saja, kagum memandangi istana yang ada di seberang batas itu.

Jasik terdengar bercakap-cakap tidakjauh dari tempatnya berdiri. Jasik terdengar bertanya, 'Apakah tidak diperbolehkan orang memasuki daerah di dalam batas kebun bunga itu?" tanya Jasik.

"Rupanya Saudara pendatang," ujar yang ditanya. "Ya, kami datang dari Kota Medang," kata Jasik.

"Oh, alangkah jauhnya. Tentu Saudara tidak tahu soal batas ini. Memang, kebun bunga yang melingkari taman yang lebih dalam ini batas. Akan tetapi, tidak berarti orang dilarang mendekati istana. Bagaimanapun, istana itu milik seluruh warga kerajaan. Saudara tahu, kayu-kayu, batu-batu, dan bata-bata itu diambil dari seluruh kerajaan. Setiap sungai di seluruh Pajajaran memberikan batunya, setiap hutan memberikan kayu-kayunya, sedangkan bumi Pajajaran memberikan tanahnya yang dibuat jadi batu bata. Mengapa orang tidak mau mendekati istana dan merasa puas berjalan di dalam jarak tertentu? Karena rakyat tahu, di istana orang tidak sedang bersenang-senang. Di sana, orang bekerja karena banyak urusan. Orang-orang tidak mau berisik di tempat-tempat yang terlalu dekat ke istana. Kalau sang Prabu sedang beristirahat, mereka akan merasa menyesal kalau mengganggu dengan tidak sengaja. Saya pun tidak mau melintasi kebun bunga ini kalau tidak terpaksa. Saya cukup puas kalau mengunjungi istana pada hari-hari upacara saja," kata orang itu. Setelah itu, Jasik berkata lagi, "Kami ingin sekali mengetahui tempat kuil penyimpanan abu jenazah."

"Oh, di sebelah barat. Nah, puncaknya dapat Saudara lihat dari sini, di belakang pohon pakis haji itu."

"Terima kasih," kata Jasik. Ia mendekati Banyak Sumba, lalu berkata, "Raden, hari makin senja."

Mereka berpandangan. Banyak Sumba masih penasaran untuk dapat bertemu dengan Nyai Emas Purbamanik, tetapi hari memang sudah menuju senja, tugas berat menunggunya. Maka, tanpa berbicara, ia melangkah ke arah barat diikuti panakawannya yang setia.

Tak lama kemudian, mereka tiba di kuil itu. Banyak Sumba kecewa melihat kuil itu dijaga ketat sekali. Di gerbang depan, berdiri empat orang bersenjata tombak, sementara pintu-pintu kecil kalau tidak tertutup, masing-masing dijaga oleh seorang gulang-gulang. Banyak Sumba berpaling kepada Jasik.

"Heran, Raden, seharusnya tidak perlu penjagaan ketat, apalagi pada senja hari, ketika orang-orang membawa sajen," kata Jasik.

Banyak Sumba melangkah mendekad Jasik, lalu dengan setengah berbisik ia berkata, "Bagaimana kalau kita pura-pura membawa sajen dan masuk kuil setelah agak remang- remang?"

"Itu tidak mungkin, Raden. Menurut keterangan bapak tempat kita menginap, hanya orang-orang yang dikenal penjaga yang diizinkan masuk." "Aneh," ujar Banyak Sumba, "apakah bapak tempat kita menginap mengatakan hal-hal lain, misalnya apa sebabnya penjagaan begitu ketat?"

"Saya tidak berani bertanya lebih banyak, Raden. Saya takut si Bapak menjadi curiga karena pertanyaan-pertanyaan saya itu."

Banyak Sumba diam, kemudian mereka melangkah.

Beberapa kali mereka berjalan mengelilingi kuil yang besar itu. Mereka berjalan di antara orang-orang yang sedang menikmati udara senja yang sejuk. Mereka bertindak seperti orang lain, pura-pura jalan-jalan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ketika melihat balai-balai yang kosong di taman sebelah kiri kuil, mereka duduk di sana sambil melihat-lihat orang-orang yangjuga duduk-duduk di balai-balai sambil beristirahat atau bercengkerama. Tak berapa lama kemudian, datang seorang kakek-kakek tua menuntun anak kecil, mungkin cucunya. Kakek-kakek itu berdiri sejenak dekat mereka, kemudian berkata. "Maaf, Anak-anak Muda, lutut kakek gemetar kalau terlalu banyak berjalan, bolehkah ikut duduk?"

"Silakan, Kakek," kata Banyak Sumba dan Jasik bersamaan. Orang tua itu membiarkan cucunya berlari-lari di lapangan,

sementara ia duduk di balai-balai tempat kedua orang

pengembara itu duduk. Setelah beberapa lama terdiam, berkatalah kakek-kakek itu. "Di masa kakek muda, penghuni Pakuan tidak sebanyak ini. Sekarang, hampir tidak ada jalan yang aman untuk orang tua, kereta-kereta simpang siur, pejalan-pejalan yang tergesa-gesa mungkin menyenggol dan menyebabkan orang tua terjatuh."

"Kakek, apakah dulu kuil ini dijaga seperti sekarang?" tanya Jasik. Kakek itu berpaling kepada Jasik, lalu mendekatkan telinganya. Jasik mengulang pertanyaannya, "Apakah waktu Kakek muda, kuil ini dijaga seperti sekarang?" "Oooh, tidak, tidak, Anak Muda. Belum lama kuil ini dijaga.

Biasanya hanya kuncen yang ada di sana. Kira-kira, musim panen yang lalu terjadi keributan, tentu Anak Muda tidak tahu. Anak Muda datang dari mana?"

"Dari Kota Medang, Kakek."

"Oooh, pantas. Beberapa bulan yang lalu, ada orang yang mencoba mencuri pundi-pundi abu jenazah. Oleh karena itu, sekarang kuil dijaga ketat," kata kakek-kakek itu. Banyak Sumba hampir tersentak dari duduknya.

"Mencuri abu jenazah? Bagaimana hal itu terjadi, Kakek?" "Oooh, begini Anak Muda. Barangkali engkau pernah

mendengar ada seorang puragabaya yang gila. Puragabaya ini

menjadi gila dan membunuh banyak bangsawan di hutan dekat Kutabarang. Nah, terpaksa kawan-kawannya dari Padepokan Tajimalela menangkapnya. Tetapi ketika hendak ditangkap, puragabaya gila ini melawan dan terjatuh ke dalam jurang. Sahabat-sahabatnya sangat bersedih, lalu dengan segala upacara besar membakar dan menyimpan abu jenazahnya dalam kuil para pahlawan ini. Tapi, tentu saja ada orang yang tidak setuju abu jenazah puragabaya itu disimpan dalam kuil sebagaimana haknya, walaupun puragabaya itu gila. Dalam adat kerajaan, setiap puragabaya—tidak disebutkan waras atau gila—kalau meninggal, abunya berhak disimpan dalam kuil agung ini. Tapi tentu saja, keluarga bangsawan-bangsawan yang terbunuh oleh puragabaya itu tidak setuju. Mereka beranggapan bahwa puragabaya yang pernah membunuh bangsawan Pajajaran, tidak berhak abunya disimpan dalam tempat yang mulia. Itulah sebabnya, beberapa bulan yang lalu, ada serombongan pemuda yang mencoba mengambil guci abu jenazah puragabaya itu.

Untung, kuncen berteriak-teriak dan banyak jagabaya di tempat ini, hingga maksud itu dapat digagalkan."

Sementara kakek-kakek itu berkata-kata, berulang-ulang Jasik dan Banyak Sumba berpandangan. Banyak Sumba baru menyadari bahwa semua yang diceritakan kakek-kakek itu benar-benar suatu hal yang tidak mustahil. Di samping itu, ia pun menyadari, ternyata tugasnya yang pertama itu tidak dapat dipandang sebagai tugas yang enteng. Sekarang, kuil itu dijaga dengan ketat. Ia pun menyadari, ancaman Wangsa Wiratanu untuk menghinakan abu jenazah Kakanda Jante Jaluwuyung bukan sekadar ancaman. Ternyata, ancaman itu hampir terlaksana.

Seraya termenung, Banyak Sumba terkenang pengalamannya ketika Raden Bungsu Wiratanu merebut kudanya di Kutawaringin. Tentu kesatria berandalan semacam itu yang memimpin usaha pengambilan abu jenazah Kakanda Jante. Rupanya, dinasibkan baginya untuk berhadapan dengan keluarga Wiratanu, demikian pikir Banyak Sumba. Ia ingin sekali dapat kesempatan berhadapan dengan Raden Bungsu Wiratanu untuk mengembalikan penghinaannya. Bukan saja karena orang itu telah merebut kudanya, tetapi juga telah berani hendak menghinakan abu jenazah anggota keluarga wangsa Banyak Citra. Banyak Sumba mendengus. Jasik melirik kepadanya.

"Kakek," kata Jasik, "Adakah di antara pencuri abu jenazah itu tertangkap?"

"Wah, sialnya tidak ada yang tertangkap. Mereka rupanya orang-orang yang biasa melakukan pekerjaan itu. Mungkin mereka pencuri-pencuri yang disewa," lanjut kakek-kakek itu. Setelah termenung, kakek-kakek itu berkata, "Ya, mungkin mereka pencuri-pencuri yang dibayar. Orang yang menyuruh mereka sebenarnya hanya perlu dengan isi guci, yaitu abu jenazah. Mungkin sekali gucinya akan diambil oleh pencuri- pencuri itu dan dijual. Saya tahu, guci abu jenazah puragabaya itu bagus sekali. Kata orang, dibuat di negeri Katai. Sengaja didatangkan ke sini oleh Pangeran Anggadipati, sahabat karib puragabaya yang gila itu. Kakek pernah melihat guci yang indah itu dengan tulisan pada landasan kayu yang menjadi tatakannya. Kalau tidak salah, tulisan itu menyatakan tanda kasih sayang dari Pangeran Anggadipati kepada si mati. Memang, Pangeran Anggadipati ini sering sekali datang ke kuil untuk berdoa dan membawa bunga-bunga yang segar.

Menurut berita, sebenarnya si mati itu calon ipar Pangeran Anggadipati ini, tapi Kakek lupa lagi bagaimana ceritanya. Tapi cerita-cerita tentang Pangeran Anggadipati dan si mati sering sekali dinyanyikan oleh juru-juru pantun."

Percakapan antara kakek-kakek itu dan Jasik terus berlangsung. Akan tetapi, Banyak Sumba mulai terpecah perhatiannya. Ia sangat tertarik oleh keterangan-keterangan kakek-kakek itu, tetapi suatu persoalan mulai mengganggu pikirannya. Benarkah Anggadipati telah menyediakan guci yang bagus dan mengunjungi kuil untuk membaca doa-doa dan membungai abu jenazah Kakanda Jante? Seandainya hal itu benar, tidakkah hal itu bertentangan dengan anggapan Ayahanda dan ia sendiri bahwa Anggadipati sebenarnya iri dan benci terhadap Kakanda Jante?

Ketika peristiwa yang menyedihkan itu terjadi, yaitu ketika Kakandajante terbunuh, datang dua rombongan keluarga Banyak Citra. Kedua rombongan itu membawa berita yang berbeda. Rombongan yang pertama menyatakan Kakanda Jante dibunuh dengan keji. Rombongan kedua menyatakan Kakanda jante tidak sengaja terbunuh. Ayahanda memilih berita yang pertama dan upacara ikrar pembalasan dendam pun dilakukan di lapangan Kota Medang. Semenjak itu, Banyak Sumba beranggapan bahwa Kakanda jante dibunuh karena akan menjadi puragabaya yang terlalu perkasa. Akan tetapi, berulang-ulang ia mendengar kisah yang lain dari tukang pantun ataupun dari rakyat biasa. Umumnya, cerita- cerita itu menyatakan bahwa Pangeran Anggadipati sangat kasih kepada Kakanda jante dan kematian itu karena kecelakaan. Ia mencoba untuk tidak memercayai cerita-cerita itu, akhirnya ia pun bimbang. Sekarang, cerita itu terdengar lagi dari kakek-kakek itu. Cerita terakhir tentang perhatian Anggadipati pada abu jenazah Kakandajante sungguh- sungguh mengguncangkan keyakinannya. Ia benar-benar bimbang. Siapa tahu Anggadipati memang benar-benar seorang kesatria budiman, seperti dikisahkan dalam nyanyian tukang-tukang pantun dan cerita-cerita rakyat kerajaan yang mencintai puragabaya itu.

"Raden," kata Jasik. Banyak Sumba bangkit dari renungannya. Hari menuju malam, cuaca remang-remang, orang-orang mulai beranjak untuk pulang. Obor-obor mulai dipasang di sepanjang jalan. Lampu-lampu minyak bergantungan di depan rumah.

"Mari kita pergi dari sini, Sik," kata Banyak Sumba seraya berdiri. Jasik mengucapkan selamat berpisah dan terima kasih kepada kakek-kakek yang mulai memanggi1 cucunya. Mereka berjalan ke suatu jalan agak sunyi, tidak jauh dari kuil itu. Di tempat itu, Banyak Sumba berhenti dan untuk pertama kalinya menyatakan kebimbangannya kepada panakawannya, "Sik, saya sungguh-sungguh menjadi bimbang sekarang. Kau tahu bahwa salah satu tugasku adalah membunuh Anggadipati.

Akan tetapi, kau pun mendengar bagaimana orang bercerita tentang kisah kematian Kakanda Jante. Kisah itu umumnya bertentangan dengan anggapan Ayahanda dan anggapanku. Anggadipati tidak bersalah, Anggadipati sayang kepada Kakanda. Saya tidak percaya, tetapi cerita kakek-kakek itu sungguh mengguncangkanku, Sik."

"Kita dapat menyelidiki kebenaran kisah itu, Raden. Masih ada waktu bagi kita untuk menyelidikinya setelah tugas pertama kita selesai. Marilah kita ambil dulu abu jenazah itu. Siapa tahu, dari tulisan pada guci abu jenazah, kita akan mendapat keterangan lebih lanjut tentang kisah itu."

Setelah termenung sebentar, berkatalah Banyak Sumba, "Saya tidak merasa menyesal dengan gagalnya rencana saya membunuh Anggadipati dengan pisau itu, Sik. Siapa tahu kalau saya berhasil membunuhnya, ternyata saya membunuh orang yang tidak bersalah. Kalau begitu, apa yang akan terjadi pada Ayunda Yuta Inten?"

Banyak Sumba menarik napas panjang karena lega. Dalam hatinya, ia bersyukur tidak jadi membunuh puragabaya itu. Ia tahu, Ayunda Yuta Inten mencintai Pangeran Anggadipati dengan seluruh jiwa raganya, dengan seluruh hidupnya, apa pun yang dikisahkan orang tentang puragabaya itu. Ia tahu bahwa Ayunda Yuta Inten terus-menerus bertapa demi kepentingan keluarga dan juga orang yang dikasihinya itu.

Alangkah sengsara hidup Ayunda Yuta Inten dan alangkah tabahnya wanita yang disayanginya itu. Ia merasa hormat dan rindu kepada ayundanya. Ia ingin berbuat sesuatu yang membahagiakan Ayunda, tetapi selama ini, dukacita wanita itulah yang dicarinya.

Sekarang, ia mulai bimbang. Tanpa disadarinya, ia mulai berharap semoga kakek-kakek itu yang benar supaya ia tidak harus membunuh Pangeran Anggadipati dan Ayunda Yuta Inten tidak harus berdukacita. Semangatnya bangkit untuk segera mengambil abu jenazah itu dan ia berpaling kepada Jasik yang dengan teliti mengawasi kuil itu dari tempat gelap.

"Sik, barangkali Sang Hiang Tunggallah yang menghalangiku ketika pisau beracun itu akan kulemparkan terhadap puragabaya itu," kata Banyak Sumba, kemudian ia melanjutkan perkataannya, "Mudah-mudahan, tulisan pada guci itu membesarkan harapan-harapanku."

"Raden, penjaga-penjaga di samping kiri meninggalkan tempatnya," kata Jasik. Banyak Sumba memandang ke arah itu.

'Sik, janganlah kau terlalu memikirkan penjaga-penjaga itu, mereka bukan persoalan yang berat. Yang perlu kita pikirkan, ke mana kita akan lari setelah menemukan guci itu?"

Jasik memandang Banyak Sumba dengan penuh pertanyaan. Banyak Sumba terdorong untuk menjawab, "Begini, Sik. Saya terpaksa akan memukul salah seorang atau dua orang penjaga sampai pingsan, lalu kita memasuki kuil. Kita akan mengambil guci itu, lalu melarikan diri. Yang penting sekarang adalah menentukan jalan-jalan yang akan kita lalui ketika melarikan diri."

"Tapi...”kata jasik. Ia tidak melanjutkan perkataannya. Sebagai seorang yang telah biasa bergaul dengan anggota wangsa Banyak Citra, ia percaya bahwa anggota wangsa Banyak Citra dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Ia percaya kepada Banyak Sumba dan siap menuruti perintahnya.

"Sekarang, ikutilah saya," kata Banyak Sumba. Mereka pun berjalan, tidak menuju kuil, tetapi mengelilingi kuil. Di suatu mulut lorong, Banyak Sumba berhenti. Ia berkata, "Lorong inilah yang paling sepi. Kalau kita melarikan diri ke sini, tidak akan-terlalu banyak orang yang melihat kita."

Jasik memandang ke arah lorong itu. Dilihatnya hanya beberapa pintu rumah yang masih terbuka dan memancarkan cahaya lampu ke arah jalan. Sementara itu, beberapa orang tua masih bercakap-cakap di halaman.

"Raden, kalau rencana kita undurkan waktunya sebentar, mungkin lorong ini akan lebih sepi lagi."

"Tidak, Sik. Saat ini tidak disangka orang sebagai waktu untuk melakukan pencurian guci itu. Kalau malam sudah sedikit larut, para jagabaya mulai meronda. Kita akan mudah disergap oleh orang-orang yang bersenjata seperti para jagabaya. Orang-orang yang tidak bersenjata merupakan persoalan yang lebih kecil bagi kita."

Jasik rupanya mengerti. Banyak Sumba pun mulai berjalan menuju salah satu pintu kuil sebelah kiri, tempat berdiri dua orang penjaga.

"Raden, apakah yang akan Raden lakukan?" "Saya akan memukul penjaga-penjaga itu sampai pingsan lalu kita masuk ke dalam kuil. Mungkin kau akan menunggu di luar untuk berjaga, tetapi kalau tidak perlu, kau boleh masuk bersama saya."

Jasik tidak menjawab, ia mengikuti majikannya yang melangkah dengan tenang ke arah pintu kuil di sebelah kiri itu.

Setiba mereka di sana, kira-kira beberapa langkah lagi dari para penjaga, salah seorang dari para penjaga itu mendekati mereka sambil mengawasi wajah mereka dalam cahaya remang lampu-lampu minyak.

"Hai, siapakah Ki Silah ini?" katanya.

"Kami pengembara," sahut kedua orang pengembara itu. "Mau ke mana, Saudara-saudara? Tidakkah Saudara-

saudara beristirahat di malam yang gelap ini?"

"Kami pendatang dan tidak menginap di dalam kota," jawab Banyak Sumba.

"Tapi, sebentar lagi gerbang kota ditutup," kata penjaga itu, kecurigaannya mulai berkurang.

"Kami berjanji untuk bertemu dengan teman di sini, lalu kami ke luar kota bersama-sama. Teman kami sedang ada urusan dengan saudaranya di sebelah barat."

Penjaga itu sudah kehilangan curiganya, rupanya, terutama karena tampak Banyak Sumba seorang yang sangat lemah lembut sikapnya.

"Sudah lamakah Saudara menjadi penjaga di kuil ini." "Ah, baru musim panen yang lalu, semenjak ada usaha

pencurian guci puragabaya Jante Jaluwuyung."

"Pencurian?" kata Banyak Sumba, pura-pura heran. "Ya, tapi tentu saja gagal. Pencuri-pencuri yang akan menghinakan abu jenazah akan terkutuk untuk selama- lamanya," kata penjaga itu.

"Untuk apa pencuri-pencuri itu menghinakan abu jenazah?" tanya Banyak Sumba untuk lebih menghilangkan kecurigaan penjaga itu.

Ketika itu, penjaga yang lain mendekat dan ikut mengobrol.

Penjaga baru itu berkata, "Wah, tentu Saudara pendatang."

"Memang," kata Banyak Sumba, "dan kami merasa aneh kalau ada orang yang mencoba mencuri abu jenazah."

"Kisahnya begini. Puragabaya Jante Jaluwuyung ini seorang puragabaya yang hebat. Ia membunuh beberapa orang bangsawan. Di antara yang terbunuh adalah anggota wangsa Wiratanu dari Kutawaringin dan satu keluarga bangsawan di Kutabarang. Nah, saudara-saudara korban ini tentu saja ingin membalas dendam. Mereka berusaha membalas dendam terhadap saudara-saudara dan anggota keluarga puragabaya Jante Jaluwuyung. Akan tetapi, menurut cerita orang, keluarga puragabaya ini menghilang. Itulah sebabnya, pembalasan dendam mereka lakukan terhadap abu jenazah puragabaya itu. Mereka mencoba mencuri abu jenazah ini untuk menghinakannya. Sayang mereka tidak tertangkap. Kalau tertangkap, kita akan mengetahui, apakah pencuri itu datang dari Kutawaringin atau Kutabarang."

"Tapi, bagaimana saudara tahu bahwa pencuri-pencuri itu akan menghinakan abu jenazah ... puragabaya itu?"

"Kuncen kuil mengatakan, ketika mereka dba di tempat guci itu, salah seorang pencuri itu berseru kepada kawan- kawannya. Ini dia, abu si Jahanam itu!"

"Oh!" kata Banyak Sumba. Ketika itu, kedua orang penjaga berdiri berdampingan satu sama lain, tapi tidak terlalu dekat. Banyak Sumba mengharapkan mereka berdiri lebih berdekatan. Ia bertanya, "Apakah ada anggota-anggota keluarga puragabaya itu yang sering datang menjenguk abu dan berdoa di sini?"

"Saya sudah katakan tadi, anggota keluarga si mati itu menghilang, mungkin karena takut oleh pembalasan dendam. Akan tetapi, Pangeran Anggadipati selalu datang ke sini.

Setiap hari besar, beliau datang membawa bunga dan berdoa di sini," katanya.

"Saya pernah melihat beliau menangis di depan guci itu," kata penjaga yang lain.

"Mereka bersahabat karib dan sudah seperti saudara ketika Puragabaya jante Jaluwuyung ini hidup. Bahkan, saya dengar, Pangeran Anggadipati sudah bertunangan dengan adik perempuan Puragabaya jante Jaluwuyung itu. Kasihan kalau saya melihat Pangeran Anggadipati datang ke sini. Begitu bermuram durja beliau. Saya pernah mendengar Pangeran Anggadipati berkata kepada Puragabaya Rakean. Pangeran Anggadipati menyatakan, kalau saja ia tahu di belakangnya ada jurang, ia tidak pernah akan menghindarkan diri waktu diserang oleh Jante Jaluwuyung yang sedang kemasukan itu. Ketika itu, Puragabaya Rakean berkata kalau Pangeran Anggadipati menahan serangan Jante Jaluwuyung, yang akan menjadi korban akan lebih dari seorang, bukan Jante saja tetapi juga Pangeran Anggadipati. Memang, peristiwa itu suatu kecelakaan yang menyedihkan sekali. Saya mengerti mengapa Pangeran Anggadipati begitu bersedih hati."

"Saya mendengar bahwa guci tempat abu jenazah puragabaya yang mati itu sangat indah," kata Banyak Sumba.

"Memang, yang paling indah di antara guci-guci puragabaya yang lain. Pangeran Anggadipati mendapatkannya dari sahabatnya yang mengembara ke negeri Katai," kata penjaga itu. "Saya belum pernah melihat cinta seorang sahabat seperti diperlihatkan Pangeran Anggadipati kepada si mati," kata penjaga yang lain.

"Pangeran Anggadipati seorang budiman. Ia selalu baik terhadap orang-orang di sekelilingnya. Bahkan ketika ia mendapat laporan abu jenazah akan dicuri, tidak marah. Ia hanya berkata bahwa usaha pencuri-pencuri itu dapat dimengerti. Walapun begitu, katanya, para pencuri itu akan mengurungkan maksudnya kalau mereka tahu bahwa Jante Jaluwuyung tidak bersalah karena puragabaya itu membunuh dalam keadaan tidak sadar. Dan, kata Pangeran Anggadipati, sebenarnya tidak sepantasnya mereka meneruskan balas dendam kepada orang yang tidak berdaya seperti si mati yang sudah tidak akan melawan. Pembalasan dendam itu hanya akan mengotorkan tangan mereka di mata Sang Hiang Tunggal."

"Ya, Pangeran Anggadipati itu sangat pengampun," kata penjaga yang satu.

"Ia seorang pendeta yang perwira atau ia seorang pahlawan yang juga bersifat pendeta."

"Ia seorang puragabaya sejati," kata kawannya. "Saya mengerti sekarang, mengapa beliau begitu banyak dinyanyikan oleh tukang-tukang pantun dan dipuja-puja dalam cerita-cerita rakyat."

Kedua orang penjaga itu sekarang duduk berdampingan. Sebenarnya, Banyak Sumba kasihan kepada penjaga-penjaga itu, dua orang baik yang ramah kepadanya. Sambil meminta maaf kepada kedua orang penjaga itu, Banyak Sumba menghantamkan tinju kanannya ke ulu hati yang satu, sedangkan tinju kirinya menyusul menghantam ulu hati yang lain. Pelajaran yang diterimanya dari si Gojin tidak mengecewakannya. Kedua orang penjaga itu terjatuh dan tidak bergerak lagi. Mereka pingsan sebelum menyadari bahwa mereka diserang. "Sik, sembunyikan di tempat gelap," kata Banyak Sumba seraya mengangkat salah satu korbannya dan membawanya ke bawah bayangan kuil, lalu membaringkannya. Jasik yang kagum melihat daya pukul tuannya, tertegun sejenak, lalu segera mengikuti tindakan tuannya. Kedua penjaga itu dibaringkan di tempat tersembunyi. Untuk lebih menyembunyikan keduanya, sarung hitam yang mereka pakai ditutupkan pada mereka. "Mari kita masuk, Sik."

"Tidakkah lebih baik saya menunggu di luar?" "Tidak perlu, Sik."

"Bagaimana kalau penjaga lain datang ke pintu itu?" "Mereka tidak akan segera menemukannya dan kita sudah

akan menemukan guci itu," ujar Banyak Sumba sambil

menyeret tangan Jasik.

Jasik menurut dan mereka mengendap-endap memasuki kuil. Mereka berjalan di lorong yang remang-remang diterangi lampu-lampu minyak. Lampu kecil yang berkelap-kelip itu makin suram cahayanya karena asap dupa yang tebal mengalun memenuhi ruangan. Dalam cahaya remang itu, Banyak Sumba melihat bunga-bunga rampai berserakan di lantai, sementara dinding lorong kuil dipenuhi guci-guci indah tempat jenazah.

Sebagai seorang bangsawan, Banyak Sumba mengetahui bahwa guci-guci pada lorong pertama adalah tempat abu jenazah para ponggawa kerajaan yang berjasa. Guci-guci para puragabaya terdapat pada dinding lorong tingkat kedua dari kuil itu, sedangkan abu jenazah keluarga sang Prabu terdapat pada puncak kuil dalam ruangan pualam yang berada di pusat kuil. Di sanalah Kuncen berada. Karena Banyak Sumba tidak akan memasuki ruangan itu, kemungkinan untuk kepergok tidak besar, kecuali kalau penjaga-penjaga yang pingsan itu siuman. Dan karena mengejar waktu, Banyak Sumba bergegas memasuki tingkat kedua kuil itu, lalu berjalan sambil memeriksa guci-guci di sana. Ia mengambil salah satu lampu yang terletak di dinding lorong, lalu dipergunakannya untuk menerangi guci-guci yang diperiksanya.

Akhirnya, dilihatnya sebuah guci yang indah buatannya dan dihiasi untaian bunga yang masih segar. Banyak Sumba segera melangkah ke sana, lalu mempergunakan lampu.

Dalam remang-remang itu, ia melihat nama Jante Jaluwuyung Jantungnya terhenyak, denyutnya seolah-olah berhenti. Akan tetapi, hanya sebentar ia tertegun. Ia merangkul guci itu, lalu mengangkatnya. Ia melepaskan sarungnya, lalu dibungkus- kannya pada guci itu. Kemudian, disandangnya guci itu dengan sarung. Sebelum melangkah dari tempat itu, ia mendengar desir langkah orang.

Kedua orang pengembara itu saling memandang. Banyak Sumba memberi isyarat kepada Jasik untuk menyelinap di sudut lorong. Kemudian, dipadamkannya lampu-lampu yang ada di dekatnya. Mereka berdiri melekatkan dada mereka ke dinding lorong yang penuh dengan guci. Tak lama kemudian, terdengar langkah mendekat dan muncul tiga sosok tubuh dalam remang-remang itu. Banyak Sumba dan Jasik lebih merapatkan tubuh mereka pada dinding lorong kuil sambil tetap mengawasi para pendatang, "Penjaga," bisik Jasik.

"Tapi mereka tidak bersenjata panjang," ujar Banyak Sumba.

Ketika Jasik hendak berkata lagi, Banyak Sumba menutup mulut Jasik karena salah seorang di antara ketiga pendatang itu berjalan ke arah mereka.

"Di sini tempatnya," bisik orang itu agak keras. Kedua temannya mengikuti. Ternyata, mereka berjalan menuju tempat guci abu jenazah Kakandajante yang sekarang sudah kosong.

"Bawa lampu," kata orang itu kepada salah seorang temannya.

"Tidak usah pakai lampu, kau kan, sudah hafal?" "Bawalah lampu. Daripada keliru lebih baik kita hati-hati.

Jangan takut karena Sang Hiang Tunggal merestui usaha kita. Bukankah restu Sang Hiang Tunggal juga kalau penjaga pintu kiri itu meninggalkan kewajibannya?"

"Tapi kita harus hati-hati. Kalau mereka kembali akan melihat gerak-gerik kita di dalam," bisik yang lain.

"Hai!"

"Apa?"

"Guci itu tidak ada." "Hah?!"

'Jahanam! Penjaga-penjaga itu lebih pintar daripada kita.

Mereka meninggalkan tugas, tetapi guci itu mereka bawa, jahanam!"

"Mari kita pergi ke pintu dan kita tunggu mereka. Kita potong kepala mereka untuk kenang-kenangan," kata salah seorang di antara mereka.

Mendengar percakapan mereka itu, sadarlah Banyak Sumba bahwa orang-orang itu datang dengan maksud yang sama dengan dia, yaitu mencuri abu jenazah Kakanda jante. Tiba- tiba, kemarahannya meluap, hingga napasnya hampir terhenti. Ia mengeratkan sarungnya yang juga membungkus guci di pinggangnya. Ia berkata kepada Jasik dengan nyaring, "Sik, orang-orang ini harus diajar tahu diri!" katanya. Ketiga pendatang itu tampak terkejut mendengar suara yang datang dari sudut lorong. Mereka hendak lari atau bersiap, tetapi seperti seekor harimau lapar Banyak Sumba menghambur menghantamkan tangan dan kakinya ke arah tubuh mereka.

Jasik pun memilih mangsanya dan menerkamnya tanpa ampun. Teriakan-teriakan terdengar, bunyi guci-guci yang berjatuhan dan pecah pun menambah ingar-bingar suara perkelahian. Dari luar terdengar lenguh trompet tiram tanda bahaya dan suara kaki-kaki terdengar menyerbu ke dalam kuil. "Ikuti saya!" seru Banyak Sumba kepada Jasik yang baru saja memukul lawannya hingga pingsan. Banyak Sumba berlari ke arah pintu kuil sebelah kiri, tempat tadi mereka masuk. Sepanjang jalan, ia memukul lampu-lampu yang terletak di tiap sudut lorong kuil itu. Akan tetapi, sebelum mereka dapat mencapai pintu itu, mereka melihat penjaga- penjaga berlari dengan pedang terhunus ke arah mereka.

Banyak Sumba ber-balik, demikian juga Jasik. Mereka menuju pintu kuil yang lain, tapi baru saja mereka melangkah, datang kira-kira empat atau lima orang penjaga. Kedua orang pengembara itu terpaksa berlari menuju pusat kuil.

"Padamkan lampu-lampu!" seru Banyak Sumba kepada Jasik, sementara ia sendiri memukuli lampu-lampu yang ada didekatnya. Maka, kuil pun jadi gelap gulita. Akan tetapi, tak lama kemudian, mereka dapat melihat kembali, setelah terbiasa dalam gelap itu.

"Bawa obor! Bawa obor!" terdengar penjaga-penjaga berteriak dari tingkat dua kuil itu. Banyak Sumba kebingungan sejenak, kemudian dilihatnya cahaya dari atas.

"Sik, kita hanya dapat meloloskan diri melalui lubang itu," katanya sambil tengadah.

"Tapi, lubang itu terlalu tinggi, Raden," ujar Jasik. "Ambil sarung bajingan-bajingan itu!" seru Banyak Sumba. Jasik melepaskan sarung-sarung korbannya yang bergelimpangan di lantai lorong. Sementara itu, para penjaga ribut di luar.

"Hai, para penjaga yang sial, siapa berani naik ke tingkat dua akan menjadi korban pertama," kata Banyak Sumba.

Suaranya bergema dalam kuil itu.

"Obor! Obor!" terdengar suara dari luar.

"Coba naik ke tingkat dua, siapa yang mau jadi korban pertama?" seru Banyak Sumba. Kemudian berbisik, "Sik, gunakan pisaumu, jadikan sarung-sarung itu kain panjang. " Jasik melakukan perintah itu. Sementara itu, terdengar langkah mendekat dari arah bawah. Banyak Sumba mengendap, lalu memegang salah satu dari orang-orang yang pingsan itu.

"Keluar atau kalian kami bunuh seperu tikus!" seru orang dari luar. Banyak Sumba menyeret orang pingsan itu ke tikungan lorong, ia berseru, "Coba naik kalau berani!"

Sambil berkata demikian, dilemparkannya orang pingsan itu ke bawah, ke arah suara penjaga-penjaga.

"Si Iba, bawa keluar!" seru penjaga-penjaga itu, mungkin mereka menyangka orang yang dilemparkan itu kawan- kawannya, penjaga pintu kiri.

"Siapa yang mau jadi mayat pertama, naiklah!" seru Banyak Sumba. Ia berlari ke arah Jasik, lalu berkata,

"Siap, Sik?" "Sudah, Raden."

"Sekarang, naiklah ke pundakku, lalu melompatlah kau ke lubang itu!"

"Lebih baik Raden yang naik ke pundak saya, saya yang ditarik."

"Tidak, Sik, saya lebih besar. Kau dapat menyangkutkan tali itu ke satu dinding kuil."

"Baik, Raden, maaf," katanya. Jasik naik ke pundak Banyak Sumba yang berdiri tegak. Tapi, Jasik tidak bisa mencapai lubang itu.

"Melompat!" seru Banyak Sumba. Jasik melompat dan bergantung untuk beberapa lama. Banyak Sumba tidak segera menolongjasik mendorong kakinya, ia berlari ke tikungan lorong. Begitu ia tiba di sana, dilihatnya sesosok tubuh muncul mengendap. Ia menghantamkan kakinya ke tubuh orang yang menjerit dan bergelundung ke bawah, kc tingkat pertama kuil, melalui tangga itu. "Siapa lagi?!" seru Banyak Sumba sambil berlari ke arah Jasik. Akan tetapi, dengan tangannya yang kuat, Jasik sudah dapat naik dan mulai mengulurkan tali yang terbuat dari kain sarung yang disambung-sambungkan.

"Sangkutkan, Sik, kalau-kalau kau tidak kuat menarik tubuhku."

"Baik, Raden."

Banyak Sumba menangkap ujung tali itu dan dengan mudah memanjat. Ketika ia bergantung, dilihatnya sesosok tubuh keluar dari tikungan dan menghambur kepadanya. Ia berusaha menggunakan kakinya sambil bersiap menghindarkan serangan yang berbahaya dari pedang yang ada di tangan penyerang. Akan tetapi, orang itu tersandung pada tubuh yang bergelimpangan dalam gelap. Banyak Sumba mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan memanjat lebih cepat. Penyerang baru datang. Ia bersiap menghindar, walaupun kedudukannya sangat tidak menguntungkan. Penyerang itu menghantamkan pedangnya, tepat ketika Jasik menarik Banyak Sumba. Hanya suara pedang mengenai batu yang terdengar dalam gelap. Dan, kedua pengembara itu sekarang sudah berada di atap kuil.

"Kita lari lewat pohon," kata Banyak Sumba, "selamatkan dirimu, kita bertemu di tempat menginap."

Sambil berkata begitu, Banyak Sumba merangkak mendekat ke cabang pohon yang menjulur.

"Cegat! Cegat! Mereka keluar kuil! Obor! Obor!"

"Mereka lewat atap!" terdengar suara lain berseru. Banyak Sumba melompat ke pohon, untung-untungan dalam gelap itu. Terdengar suara ranting-ranting patah dan risik daun.

Jasik didengarnya pula mengikuti langkahnya, sementara itu di sekeliling kuil makin banyak obor menyala. Banyak Sumba menuruni pohon, lalu melompat ke dalam gelap, menyelinap lalu berjalan. Ia tertegun ketika melihat beberapa orang lari ke arahnya, ia bersiap-siap, "Ada apa ribut-ribut di kuil?" tiba-tiba salah seorang dari pendatang itu bertanya kepadanya.

'Ada yang mencoba mencuri abu jenazah," kata Banyak Sumba, "tapi pencuri-pencurinya sudah terkepung di dalam," lanjutnya setelah ragu-ragu.

Tiga orang rakyat itu berlari ke kuil. Yang seorang lari, tapi kemudian berhenti, "Kau siapa?" orang itu bertanya sambil mencoba melihat wajah Banyak Sumba dalam remang-remang yang diterangi cahaya obor dari jauh itu. Banyak Sumba tertegun, tetapi tidak ada jalan lain baginya kecuali menyelamatkan diri. Ditendangnya ulu hati orang itu hingga terpental dan tidak berkutik lagi. Rupanya, perbuatannya itu dilihat orang karena tak lama kemudian, terdengarlah

teriakan-teriakan dan orang-orang berlari ke arahnya. Banyak Sumba segera berlari kembali, menjauh dari tempat itu seraya memanfaatkan gelap malam.

Sepanjang gelap malam itu, Banyak Sumba mengembara dalam kota. Dicarinya jalan-jalan yang menuju arah dinding kota sambil berhati-hati dan menghindari para jagabaya yang meronda. Kadang-kadang didengarnya derap kaki kuda dan seruan-seruan perintah di jalan-jalan besar. Banyak Sumba menyadari bahwa kejadian di kuil telah diketahui jagabaya dan mereka meningkatkan kegiatannya cepat sekali. Ketika subuh hampir tiba, Banyak Sumba memutuskan untuk meninggalkan kota setelah gerbang dibuka. Sambil menunggu pagi, ia berjalan ke arah pasar karena di sana ia dapat beristirahat dengan aman, di antara para petani yang kemalaman. Setiba di sana, dibaringkan tubuhnya di antara tumpukan sayuran segar. Ia berbuat demikian agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Akan tetapi, ia tidak berani tidur, betapapun ia lelah dan mengantuk. Ia berjaga-jaga menantikan fajar. Sementara itu, ia berdoa, mudah-mudahan Jasik selamat. Seandainya Jasik tertangkap dan dipaksa membuka rahasia, mungkin kesukaran akan bertambah. Walaupun demikian, ia yakin, apa pun yang terjadi, Jasik tidak akan membocorkan rahasia. Ia tahu tentang kesetiaan panakawan-panakawan wangsa Banyak Citra.

Ketika ia sedang berdoa, terdengarlah kokok-kokok ayam jantan. Ia berpaling ke arah timur, langit sudah memerah. Tak lama kemudian, terdengar satu-dua orang di antara petani- petani yang kemalaman itu, bangun. Lalu, dari arah gerbang kota, terdengar trompet tiram ditiup mendayu-dayu, pertanda gerbang mulai dibuka.

Banyak Sumba bergegas bangun, lalu berangkat ke arah gerbang kota yang cukup jauh dari pasar. Sementara itu, hari makin terang dan Banyak Sumba melihat kesibukan kota mulai ramai. Jagabaya-jagabaya berkuda berulang-ulang lewat di jalan-jalan yang luas itu. Mereka mengawasi orang-orang dengan teliti. Banyak Sumba terpaksa berulang-ulang masuk lorong. Ia kecewa ketika di gerbang kota ia melihat orang- orang berkerumun dan jagabaya-jagabaya sibuk memeriksa dan menggeledah mereka. Banyak Sumba segera menjauh dari gerbang dan berjalan sambil berpikir.

Setelah beberapa lama berjalan, ia memasuki sebuah warung dan meminta setempurung air. Kepada orang-orang yang duduk-duduk dan sama-sama minum bersamanya, ia bertanya, "Apakah yang terjadi hingga penjagaan dalam kota ditingkatkan dan orang-orang yang keluar kota diperiksa?"

"Kuil penyimpanan abu jenazah diserobot orang dan jenazah Puragabaya Jaluwuyung dicuri orang."

"Tiga orang dari pencurinya tertangkap, tapi orang malah jadi bingung," kata laki-laki yang lain.

"Mengapa?" tanya Banyak Sumba.

"Mereka tertangkap dalam keadaan pingsan. Padahal, menurut keterangan para penjaga, mereka tidak pernah berkelahi dengan pencuri-pencuri itu. Justru mereka mengejar dua orang yang melarikan diri lewat atap kuil. Mereka tidak tahu hubungan antara pencuri yang tertangkap dengan yang melarikan diri. Ketiga orang pencuri yang tertangkap bungkam dan mengatakan tidak tahu-menahu tentang kawan-kawannya yang lari. Rupanya memang ada dua kelompok pencuri, satu kelompok tiga orang dan yang lain dua orang."

"Mengapa Saudara berpendapat demikian?" tanya Banyak Sumba sambil meraba guci jenazah yang tersembunyi di balik sarungnya.

"Demikianlah pengakuan ketiga orang pencuri yang tertangkap. Di samping itu, menurut kawan saya, seorang jagabaya, ditemukan lima ekor kuda. Tiga ekor kuda jelas milik pencuri yang tertangkap itu, sedangkan dua ekor kuda yang dititipkan di tempat lain, belum ada yang mengambil. Itulah sebabnya, para jagabaya beranggapan bahwa pencuri yang dua orang lagi yang membawa lari guci tempat jenazah, masih berada dalam kota."

Mendengar itu, Banyak Sumba cemas. Ia masih berada dalam bahaya. Ia termenung, memikirkan bagaimana ia akan menyembunyikan benda yang tidak ternilai harganya itu. Ia berpikir sekeras-kerasnya.

"Saya heran, mengapa orang-orang itu berusaha mencuri abu jenazah puragabaya itu."

"Mungkin gucinya yang mahal harganya. Menurut kabar, Pangeran Anggadipati adalah sahabat puragabaya yang meninggal itu dan pangeran yang budiman itu mencarikan guci yang sangat indah untuk abu sahabatnya. Dan guci itu didapatkan dan dikirimkan dari negeri Katai. Mungkin, guci itulah yang diinginkan para pencuri, walaupun tidak besar."

"Menurut pendapat saya, bukan itu alasannya," kata yang lain. "Orang tidak akan mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah benda berharga seperti guci itu. Ada alasan lain.

Menurut keterangan kenalan saya, itu karena dendam. Ada orang-orang yang dendam terhadap puragabaya yang telah meninggal itu dan bermaksud menghinakan abunya. Untuk dendam atau perasaan tersinggung inilah, orang mempertaruhkan nyawanya. Memang itu perbuatan gila, tapi apa hendak dikata, orang bisa jadi buta tuli karena dendam."

Setelah minum dan mencicipi makanan paginya, Banyak Sumba membayar, lalu meninggalkan tempat itu. Ia masuk keluar lorong sambil berpikir, akhirnya diputuskan untuk membeli sekeranjang besar buah pepaya. Ia kembali lagi ke pasar. Di sana, dibelinya sekeranjang pepaya, lalu ia membawanya dengan mengusung di pundaknya. Untuk tidak menarik kecurigaan, dilepasnya hiasan-hiasan yang memperlihatkan kebangsawanannya. Ia mengusutkan pakaian-pakaiannya, lalu berjalan meninggalkan pasar. Untuk beberapa lama, ia mengusung keranjang pepaya itu seolah- olah ia tukang dagang keliling. Beberapa orang memanggilnya, ia menjawab bahwa pepaya itu tidak dijual. Ia

berjalan mencari bagian kota yang sepi. Setelah lama berjalan, akhirnya ditemukanlah tempat itu.

Ia duduk di sebuah lapangan kecil, di dekat rumpun bunga. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, lalu mengambil pepaya yang besar. Dibelahnya pepaya itu, sebagian isinya dikeluarkan. Ia mengeluarkan guci yang indah itu dari balik sarungnya, lalu memasukkannya ke pepaya. Ia merapatkan kedua belahan pepaya itu, mengambil tali dari keranjangnya, kemudian diikatkannya pada pepaya itu agar tidak terbuka.

Dipandangnya beberapa lama pepaya tempat menyembunyikan abu jenazah itu. Akhirnya, ia pun menarik napas panjang.

Setelah itu, ia bangkit, berjalan kembali menuju pintu gerbang kota. Akan tetapi, kemudian ia tertegun. Dilihatnya tiga orang jagabaya berkuda menuntun dua ekor kuda tanpa penunggang. Banyak Sumba segera mengenali kudanya dan kuda Jasik. Ia segera menghindar, cemas kalau-kalau kuda itu membauinya, lalu membuat ulah hingga ia ditemukan. Pertemuan dengan kuda-kudanya menyebabkan ia menyadari satu masalah lagi. Kalau ia sudah dapat lolos dari kota, bagaimana ia akan mendapatkan kuda untuk menghindarkan diri dari jagabaya yang banyak itu? Ia terus berjalan sambil berpikir. Akhirnya, ia berkata dalam hatinya, asal ada seekor kuda di dekatnya, ia akan mengambil risiko.

Sambil berjalan, ia mengusung keranjang pepaya di bahu kirinya. Tangan kanannya memegang dua buah pepaya, yang satu berisi guci kecil itu. Setiba di pintu gerbang yang luas, ia berjalan dalam barisan orang-orang yang hendak meninggalkan kota. Mereka para pedagang dan petani-petani yang tinggal dalam kota. Ketika Banyak Sumba menyadari tidak ada di antara mereka yang membawa buah-buahan ke luar kota, sadarlah ia akan kecerobohannya. Bukankah biasanya buah-buahan dibawa dari luar ke dalam kota?

Tidakkah usahanya membawa buah-buahan ke luar kota justru akan menimbulkan kecurigaan? Ia bimbang, berulang- ulang ia akan keluar dari barisan itu, tetapi orang-orang mendesak dari belakang. Bagaimanapun, mereka tergesa- gesa. Akhirnya, diputuskannya untuk mengambil risiko. Ia menghitung jagabaya yang bertugas dan kuda-kuda yang ditambatkan di dekat gerbang kota. Kalau keadaan gawat, ia dapat menyerang jagabaya-jagabaya itu, lalu menghambur ke arah kuda-kuda, memutuskan kendali dan sanggurdinya, lalu melompat ke punggung salah satu kuda yang paling besar.

Segalanya telah disiapkan dalam hati. Ia yakin, betapapun banyaknya pengejar, kalau tanpa sanggurdi dan harus menyambung kendali dulu, akan terlambat. Akhirnya, tibalah gilirannya untuk diperiksa. "Turunkan pepaya itu," kata seorang di antara jagabaya yang menjaga paling dekat.

Banyak Sumba tidak saja menurunkan keranjangnya, tetapi segera mengeluarkan beberapa pepaya seolah-olah membantu jagabaya-jagabaya itu. Jagabaya yang seorang memerhatikan, yang lain mengeluarkan pepaya itu hingga keranjang kosong. Kemudian, ia memberi isyarat agar Banyak Sumba memasukkan kembali pepaya-pepayanya.

"Cepat, yang lain menunggu!"

Tiba-tiba, seorang jagabaya mendekat. Ia memandang beberapa lama, lalu berkata, "Mau di bawa ke mana pepaya muda ini?"

"Ya?" tanya Banyak Sumba pura-pura tidak mendengar seraya mencari jawaban yang paling baik.

"Mau dibawa ke mana?"

"Untuk makanan kuda," jawab Banyak Sumba sambil berjalan ke luar gerbang. Sesampai di sebuah pasar di perkampungan yang terletak tidak jauh dari gerbang, ia mencari penjual kuda di tempat itu dan tak lama kemudian menemukannya.

"Saya memerlukan kuda yang baik," katanya kepada penjual kuda.

"Ini atau itu?" tanya penjual kuda. "Berapa yang hitam ini?"

"Dua keping emas."

"Satu keping emas dan lima keping perak," kata Banyak Sumba. Ia bukan tidak berani membeli kuda dengan harga yang diusulkan pedagang itu, tetapi ia tidak mau dicurigai dalam keadaan tergesa.

"Saudara tahu harga kuda, bukan? Saya tidak menjual lebih dari harga kuda yang baik," kata pedagang itu sambil berjalan ke arah kuda hitam.

"Kalau setuju, saya pasangkan pakaiannya." "Kalau begitu, baiklah," kata Banyak Sumba sambil

merogoh saku bajunya. "Saya diminta melaporkan setiap orang yang membeli kuda, jadi tunggu sebentar. Seorangjagabaya akan memeriksa Saudara dulu. Saudara tahu, malam tadi terjadi lagi penyerobotan terhadap kuil penyimpanan abu jenazah, dan pencurinya berhasil membawa lari abu jenazah puragabaya itu."

Penjelasan itu sungguh mengejutkan Banyak Sumba. Tapi, ia tidak kehilangan akal. Ia segera berkata, "Ambillah dulu uang ini, saya sudah kepalang mengeluarkannya."

"Nanti saja."

"Ambillah!" kata Banyak Sumba sambil menyodorkan uang emas itu. Penjual kuda itu menerimanya, lalu melangkah dengan tenang ke arah gerbang kota. Banyak Sumba tidak melihat jalan lain kecuali mengambil risiko. Kuda yang telah dibelinya itu belum berpelana. Kebetulan, ia melihat banyak pakaian kuda bergantungan di sana, lalu dipasangnya sendiri.

Setelah pepaya yang berisi guci dimasukkan ke balik sarungnya, ia melompat ke atas punggung kuda yang baru dibelinya, melecutnya, lalu memacunya. Untuk beberapa lama tak ada yang terjadi, tetapi tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan. Ia tidak berpaling, tapi terus memecut kudanya sambil berpikir keras, mencari jalan-jalan yang paling baik untuk melarikan diri. Ia tidak mengambil jalan besar, tetapi segera berbelok-belok, memasuki lorong-lorong kecil yang simpang siur di sekeliling benteng ibu kota itu. Ketika ia berbelok, sempat diliriknya arah gerbang kota. Tampak beberapa penunggang kuda mengejarnya. Ia mempercepat kudanya. Berulang-ulang ia berpapasan dengan pejalan- pejalan yang melompat ke pinggir. Beberapa kereta berhenti, kusirnya memaki-maki. Beberapa orang wanita menjerit ketakutan. Banyak Sumba berusaha secepat-cepatnya menjauhi ibu kota.

Akhirnya, sampailah ia ke tempatnya menginap. Setelah menyembunyikan kudanya, ia segera masuk. Sayup-sayup terdengar teriakan para pengejar, tapi Banyak Sumba tidak khawatir. Ia mengganti pakaiannya, lalu keluar ke tepi jalan. Para pengejar lewat sambil melihat ke kanan dan ke kiri seraya bertanya-tanya, mereka tidak mengenal Banyak Sumba yang telah mengenakan- pakaian kebangsawanannya.

RASA lega hanya sebentar ada dalam hatinya. Ia segera sadar bahwa nasib Jasik belum diketahuinya. Ia pun tahu,Jasik masih berada dalam benteng dan siapa tahujasik tertangkap. Ia tahu bahwa kalaupun Jasik tertangkap, rahasianya tidak akan terbuka. Jasik tidak akan menyebut-nyebut keluarga Banyak Citra. Akan tetapi, ia merasa tidak berhak merelakan Jasik menjadi korban demi kepentingan keluarganya. Banyak Sumba mulai gelisah, la bertanya dalam hati, apa yang akan dilakukannya? Ia termenung sebentar, kemudian kembali ke tempatnya menginap untuk mengambil beberapa barang pentingnya. Setelah itu, ia kembali, menghentikan sebuah kereta yang kebetulan lewat.

"Paman, dapatkah saya ikut ke kota?" Kusir kereta itu memandangnya. Rupanya, kusir itu segera menyadari bahwa yang meminta tolong seorang bangsawan. Dengan hormat, ia menjawab, "Raden, sebenarnya saya tidak mendapat izin membawa siapa pun. Akan tetapi, kalau Raden mau mengucapkan terima kasih kepada Pangeran Ranggawesi, beliau tidak akan keberatan dan tidak akan memarahi saya."

Tanpa pikir panjang karena pikirannya terpusat pada nasib Jasik, Banyak Sumba segera naik.

"Terima kasih, Paman. Kalau tidak perlu, saya tidak akan minta tolong. Saya berjanji akan menemui Pangeran Rang- gawesi setelah ada kesempatan."

"Tampaknya, Raden orang asing di ibu kota ini," kata kusir itu setelah beberapa lama mereka berjalan.

"Ya, Paman. Saya sedang melihat-lihat ibu kota yang banyak diceritakan orang Saya datang dari Kota Medang." "Cerita itu akan bertambah sekarang, Raden." "Ya? Mengapa?" tanya Banyak Sumba.

"Tadi malam, satu peristiwa yang menggemparkan terjadi.

Mungkin Raden belum mengetahui bahwa dalam kuil abu jenazah, di antara beratus-ratus guci abu jenazah pahlawan terdapat abu jenazah seorang puragabaya. Puragabaya ini bernama Jaluwuyung, sahabat Pangeran Anggadipati. Sudah lama sekali abu jenazah ini diincar oleh para pencuri. Menurut keterangan, mereka adalah pencuri-pencuri yang disuruh oleh bangsawan-bangsawan yang dendam terhadap si mati.

Pangeran Anggadipati berusaha melindungi abu jenazah itu, di antaranya dengan menambah penjaga-penjaga, yaitu pengiring-pengiring yang didatangkan dari Puri Anggadipati, di sebelah selatan timur Kutabarang. Berulang-ulang percobaan pencurian digagalkan. Akan tetapi, tadi malam, menurut cerita orang-orang, datang seorang yang ketangkasan dan keperwiraannya begitu tinggi hingga para penjaga itu kewalahan. Orang itu seolah-olah dapat terbang dan menghilang. Sedangkan pukulan dan tendangannya, bayangkan! Lima orang pingsan, dua penjaga dan tiga pencuri lain."

"Wah! Bagaimana pencuri itu memukul kawan-kawannya?" tanya Banyak Sumba, pura-pura.

"Raden, Puragabaya Jaluwuyung ini banyak sekali musuhnya. Itulah sebabnya, yang hendak menghinakan abunya pun banyak. Rupanya, mereka berebut abu jenazah itu."

"Bagaimana dengan tiga orang pencuri yang lain?" "Mereka tertangkap, mereka suruhan dari Kutawaringin."

"Orang yang memukulnya, sudahkah diketahui orang, siapa dan dari mana?" "Itulah yang ramai dipercakapkan dan diperdebatkan orang. Ada yang berpendapat bahwa orang itu suruhan keluarga Jaluwuyung yang dikabarkan menghilang setelah Jaluwuyung meninggal dunia. Yang lain berpendapat, walaupun tidak terus terang, bahwa orang itu sebenarnya Puragabaya Anggadipati sendiri yang dengan cerdik mengambil abu jenazah untuk menyembunyikannya di tempat yang tidak diketahui oleh lawan-lawan Jaluwuyung. Dengan menyembunyikannya sendiri, Pangeran Anggadipati akan merasa tenteram dan puas menghormati abu jenazah sabahatnya itu. Barangkali Raden mendengar, betapa besar cinta Pangeran Anggadipati kepada si mati. Saya pernah melihat beliau berlinang air mata sehabis menabur bunga di dalam kuil."

"Oh, jadi Paman sudah pernah bertemu dengan pangeran yang terkenal itu?"

"Wah, sering sekali, Raden!"

"Di mana Paman sering bertemu dengan pangeran itu?" "Beliau sering datang ke rumah Pangeran Ranggawesi,

majikan Paman. Ayunda beliau, Putri Ringgit Sari menikah

dengan majikan Paman, Pangeran Ranggawesi."

Banyak Sumba tertegun sejenak. Ia melirik, melihat-lihat keadaan kereta itu. Ditatapnya tempat duduk beledu, alas kaki berupa permadani kecil, tali kendali kulit lembut berhiaskan bunga-bungaan dari perak, kuda berwarna gambir yang kuat dan gagah. Dalam hatinya berkata, tentu Anggadipati, orang yang telah begitu banyak menentukan perjalanan hidupnya, sering duduk di tempat duduknya sekarang

"Saya akan mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada Pangeran Ranggawesi, Paman. Adakah Pangeran Anggadipati sering berada dengan Pangeran Ranggawesi?" tanyanya. "Sebelum Putra Mahkota meminta beliau tinggal dalam istana, Pangeran Anggadipati tinggal bersama Pangeran Ranggawesi, Raden."

"Mungkinkah saya dapat bertemu dengan beliau kalau saya ada kesempatan mengunjungi Pangeran Ranggawesi untuk mengucapkan terima kasih?"

"Siapa tahu, Raden," ujar kusir itu. Banyak Sumba membayangkan pertemuan itu, tetapi ia ragu-ragu, ia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya kalau kesempatan itu datang. Ia ragu-ragu, apakah benar Pangeran Anggadipati berdosa, seperti yang diyakini oleh Ayahanda Banyak Citra? Bukankah sekarang kisah terbunuhnya Kakanda Jante. menjadi simpang siur, hingga ia tidak tahu lagi, siapa yang bersalah dalam peristiwa tersebut? Di samping itu, kalau Anggadipati membenci Kakandajante, untuk apa dia berbuat begitu banyak untuk abu jenazah Kakandajante?

"Paman," tiba-tiba Banyak Sumba berkata, "apakah Pangeran Anggadipati sudah menikah?"

"Belum, Raden. Begitu banyak bangsawan tinggi yang mengingininya sebagai menantu, begitu banyak putri yang mabuk kepayang, tetapi setelah peristiwa yang menyedihkan itu, hatinya seolah-olah menjadi dingin. Di samping itu, menurut yang Paman dengar dari percakapan Pangeran Ranggawesi dengan Putri Ringgit Sari, hati Pangeran Anggadipati tidak dapat dilepaskan lagi dari ikatannya terhadap Putri Yuta Inten, adik Jaluwuyung yang meninggal itu. Raden mungkin pernah mendengar bahwa Jaluwuyung itu calon iparnya. Akan tetapi, peristiwa yang menyedihkan itu terjadi dan Putri Yuta Inten bersama seluruh keluarganya menghilang. Walaupun kerajaan, atas titah sang Prabu, berusaha mencarinya, tidak ada berita tentang bangsawan- bangsawan yang menghilang itu.

"Banyak orang yang menduga bahwa seluruh keluarga bangsawan itu dibunuh oleh bekas lawan Jante Jaluwuyung. Raden barangkali tahu, Jante Jaluwuyung pernah membunuh Raden Bagus Wiratanu, keluarga bangsawan yang kuat dan besar dari Kutawaringin. Orang menduga, keluarga Tumenggung Wiratanu dari Kutawaringin ini telah berhasil membunuh seluruh keluarga Jante Jaluwuyung sebagai balas dendam."

"Apakah kalangan istana percaya akan kemungkinan itu?" tanya Banyak Sumba.

"Kebanyakan percaya dan keluarga Banyak Citra umumnya dianggap sudah musnah dari muka bumi. Sayang, padahal keluarga itu punya sejarah yang panjang sekali dalam kehidupan Pajajaran. Banyak anggotanya yang termasyhur, sebagai menteri atau sebagai panglima. Hanya, ada yang tidak mau percaya akan kemusnahan keluarga itu, yaitu Pangeran Anggadipati. Saya pernah mendengar Pangeran Anggadipati berkata, walaupun tidak ada bukti-bukd, hatinya seolah-olah berkata bahwa keluarga itu masih hidup."

"Itukah sebabnya, mengapa beliau tidak mau menikah dengan putri bangsawan Pakuan Pajajaran?"

"Bukan. Seandainya keluarga itu terbukti musnah, Pangeran Anggadipati tidak akan menikah. Beliau sudah berjanji tidak akan menikah kalau tidak dengan Putri Yuta Inten. Soal itu berulang-ulang menjadi pembicaraan keluarga beliau, termasuk majikan Paman, Pangeran Ranggawesi dan Putri Ringgit Sari."

Mendengar cerita itu, beratlah hati Banyak Sumba, la menyadari kalau cerita kusir itu benar. Ia harus meneliti kembali segala pendapatnya tentang Anggadipati. Ia benar- benar gundah ....

"Raden! Raden!" terdengar suara Jasik.

"Paman, berhentilah sebentar, saya turun di sini. Itu kawan yang saya cari," kata Banyak Sumba sambil berpaling ke arah suara. Jasik berlari menyusul kereta itu. Kusir menghentikan kereta. Banyak Sumba mengucapkan terima kasih, lalu berkata, "Saya akan berusaha untuk mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada Pangeran Ranggawesi, Paman."

"Terima kasih kembali, Raden," ujar kusir itu. Ketika itu, Banyak Sumba sudah memegang bahu Jasik dengan gembira.

"Betapa lega hati saya, Sik."

"Saya pun lega, Raden. Tentu Raden cemas," ujar Jasik. "Saya benar-benar cemas, Sik," kata Banyak Sumba, "ketika kebetulan melihat kuda kita dituntun oleh jagabaya. Saya menyangka kau telah tertangkap. Saya agak heran, mengapa mereka tidak mengumpankan kuda itu dan menangkap kita ketika kita hendak mengambilnya."

"Mereka melakukan hal itu, Raden. Ketika saya sedang menghadapi tukang tunggu penyimpan kuda, tiba-tiba saya ditodong oleh beberapa mata tombak dari belakang dan dari samping saya. Mula-mula saya benar-benar ketakutan, tetapi kemudian terpikir oleh saya bahwa mereka tidak akan membunuh saya. Pasti kerajaan memerlukan keterangan- keterangan saya tentang pencurian abu Raden Jante Jaluwuyung. Maka, tenanglah saya. Ketika saya digiring ke arah asrama jagabaya dan ketika kami melewati bagian kota yang sangat ramai, saya nekat mengibaskan todongan tombak di punggung saya dengan tiba-tiba. Saya serang kelima orang jagabaya yang mengiring saya itu. Mereka terkejut dan tidak dapat menyerang ketika saya melarikan diri ke tengah orang banyak. Beberapa orang rakyat mencoba membantu jagabaya dengan menghalangi saya. Akan tetapi, mereka harus membayar untuk itu. Beberapa orang kena pukul dan kena tendangan saya. Setelah memanjati beberapa benteng rendah dan memasuki halaman orang, saya turun dijalan besar lain, lalu berjalan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Sang Hiang Tunggal melindungi kita, Sik." "Ya, Raden. Di jalan besar, ketika berjalan, saya mengucapkan syukur dan berdoa semoga tidak terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap Raden."

"Kita harus bergerak cepat sekarang, Sik." "Kuda kita dirampas, Raden."

"Oh, biarlah, Sik. Apalah artinya kuda itu dibandingkan dengan abu jenazah yang telah kita dapat?"

"Oh, syukurlah, Raden," ujar Jasik dengan mata bersinar- sinar. Banyak Sumba menepuk bahu Jasik kembali, lalu mereka meninggalkan bayangan benteng ibu kota Pakuan Pajajaran. Beberapa kali mereka melihat pasukan-pasukan jagabaya berkuda. Kesibukan jagabaya ini tampak lebih daripada biasanya. Banyak Sumba berpaling memandangjasik. Mereka.saling mengerti.

Tiga hari setelah itu, pada suatu subuh, kedua orang pengembara itu sudah mengendarai kuda mereka yang baru, menuju timur. Di atas pelana, mereka membawa kantong- kantong dari kulit, berisi obat-obatan dan perbekalan sekadarnya. Mereka akan melakukan perjalanan jauh, menuju daerah Medang.

Perjalanan antara Pakuan Pajajaran dengan Kota Medang akan memerlukan waktu satu minggu. Akan tetapi, perjalanan itu akan diperlambat karena mereka berulang-ulang harus menghindar dari jalan-jalan tertentu, tempat para jagabaya dengan giat memeriksa perbekalan pengembara-pengembara untuk menemukan abu jenazah yang hilang. Di samping itu, kedua orang pengembara itu menyimpang ke arah tenggara setelah mereka melalui Kutabarang. Mula-mula, mereka mengunjungi Perguruan Gan Tunjung untuk menemui Arsim yang tentu saja cemas setelah mereka pergi tanpa berita.

Setelah itu, mereka menyimpang kembali, menuju Padepokan Sirnadirasa. Banyak Sumba menghadap Eyang Resi, mohon restu untuk pulang ke tempat kelahirannya. Setelah itu, berbincang-bincang dengan kawan seperguruannya, terutama Raden Girilaya yang sangat gembira menyambut kedatangannya. Pada liari ketiga, Banyak Sumba diiringi Jasik memacu kuda mereka ke arah timur.

Pada hari keenam, mereka tiba di Kutawaringin. Karena kuda-kuda mereka lelah dan perbekalan berkurang, Banyak Sumba memutuskan untuk beristirahat sehari di kota yang ramai itu.

Kita perlu mengganti kuda dengan yang masih segar Nk- Kita dapat menjual yang sekarang. Di samping itu, kita «lapat mencari keterangan tentang kota ini," katanya

Jasik mengerti maksud Banyak Sumba yang terakhir, ia tersenyum, lalu berkata, "Orang pernah mengambil kuda Raden di sini, siapa tahu sudah tiba saatnya orang itu mengembalikannya sekarang, Raden."

"Akan tiba saatnya setiap orang harus menempatkan segalanya di tempatnya semula, Sik," kata Banyak Sumba, juga tersenyum.

Sore harinya, mereka berjalan-jalan di kota. Mereka mencoba mendengar keterangan-keterangan tentang berbagai hal sekitar wangsa Wiratanu. Akan tetapi, tidak ada keterangan berharga yang didapat. Justru cerita-cerita tentang pencurian abu jenazah itulah yang banyak tersebar. Pencuri sakti yang dapat menghilang, dapat terbang dan pukulannya merobohkan lima orang sampai pingsan, menjadi buah pembicaraan yang hangat di Kutawaringin.

"Saya baru percaya bahwa kata-kata itu bersayap, Sik," kata Banyak Sumba setelah mendengar cerita-cerita itu.

"Saya malah akan sukar memercayai kata-kata, setelah mendengar dusta-dusta yang hebat itu."

"Mereka tidak berdusta, Sik. Mereka menerima cerita-cerita itu dalam bentuknya yang telah lusuh, lalu mereka terpaksa mencelupnya lagi ke dalam khayal mereka supaya cerita mereka itu bagus."

"Ya, barangkali mereka mendengar cerita itu dari tukang pantun, pangeran-pangeran dari kerajaan dusta yang indah."

"Dan karenanya, kita jadi termasyhur bukan, Sik."

"Ya, Raden, dikatakan mereka bahwa saya, panakawan kesatria hitam yang dapat terbang itu, melayang mengikuti Raden sambil menyepak-nyepak hingga para penjaga kuil bergelimpangan jatuh di bawah tangga."

Begitulah mereka bercakap-cakap di jalan-jalan Kutawaringin hingga pada suatu saat, mereka tidak sengaja mendengar berita bahwa beberapa anggota keluarga Wiratanu baru saja dibunuh dalam suatu peristiwa perampokan.

"Dibunuh? Oleh siapa?"

Orang yang ditanya melihat ke kanan ke kiri, lalu berbisik, "Oleh siapa lagi kalau bukan oleh si Colat?"

"Si Colat?!" tanya Banyak Sumba terkejut.

"Ssst," kata orang itu. Ia tampak ketakutan dan ketika Banyak Sumba hendak bertanya lagi, orang itu segera menghindar.

"Sik," kata Banyak Sumba, "rupanya benar, si Colat telah mengganas di Kutawaringin ini. Saya dengar, anggota- anggota keluarga Wiratanu yang dibunuhnya dan bukan anggota-anggota keluarga bangsawan lain. Saya ingin sekali mengetahui, mengapa si Colat berbuat demikian."

"Raden, rupanya orang yang merebut kuda kita dulu itu punya utang pula kepada si Colat," ujar Jasik. Setelah termenung, ia berkata, "Sayang."

"Mengapa sayang Sik?" tanya Banyak Sumba agak heran. "Kalau utangnya begitu besar kepada si Colat, hingga orang itu harus membayar dengan nyawanya, mungkin ia tidak akan sempat membayar dulu kepada Raden."

"Oh, Bungsu Wiratanu, Sik?"

"Ya, Raden, bangsawan berandalan itu."

"Saya sebenarnya tidak hendak berurusan dengan dia, Sik. Saya hanya hendak berurusan dengan orang yang membunuh atau terlibat dalam pembunuhan Kakanda Jante. Ternyata, kita terpaksa harus berhadapan dalam banyak hal dengan keluarga Wiratanu ini. Mula-mula ia merebut kudaku, kemudian keluarga ini mencoba pula hendak menghinakan abu Kakanda jante. Saya didesak untuk berurusan dengan mereka, Sik."

"Tapi, tentu saja tidak sekarang, Raden."

"Ya, Sik. Kita harus segera bertemu dengan keluarga."

Mereka segera meninggalkan kota. Mereka pergi ke sebuah kampung tempat mereka menitipkan kuda dan barang-barang mereka. Dari orang tua di tempat mereka menginap, Banyak Sumba mendapat keterangan lebih banyak tentang kisah pembunuhan yang dilakukan terhadap anggota-anggota Wangsa Wiratanu.

"Si Colat melakukan pembunuhan-pembunuhan itu secara berencana. Ia tidak pernah membunuh beberapa orang sekaligus. Ia membunuh pada tanggal-tanggal tertentu.

Biasanya, ia membunuh pada tanggal kelahirannya, ketika bulan sabit, bulan ketujuh, kemudian pembunuhan terjadi pada tanggal peristiwa pengeroyokan yang dilakukan terhadapnya, yang menyebabkan si Colat luka. Kemudian, pada tiap hari kelahiran Tumenggung Wiratanu."

Banyak Sumba tertegun mendengar cerita itu. Ia mendekat kepada orang tua itu, lalu bertanya, "Bagaimana Bapak dapat mengetahui hal itu? Bukankah cerita-cerita tentang si Colat sangat berbahaya dibicarakan di Kutawaringin ini?" Orang tua itu tertawa, lalu berkata, "Berbahaya? Setiap orang sudah tahu cerita itu."

"Tapi, orang yang tadi menceritakan hal itu seperti takut." "Memang, Raden. Dalam kota, orang takut menceritakan

hal itu. Akan tetapi, di luar kota, orang bebas. Di dalam kota,

banyak jagabaya dan badega Tumenggung Wiratanu atau bangsawan berandal kawan Bungsu Wiratanu. Di luar kota, anak-anak buah si Colat-lah yang banyak dan orang berpihak kepada si Colat," kata orang tua itu.

"Saya tidak mengerti, Bapak?"

"Tentu saja, Raden orang asing, orang Medang," kata orang tua itu. Ia menarik napas, lalu berkata, "Begini, Raden. Ketika Tumenggung Wiratanu masih muda dan sedang belajar di Kutabarang, ia jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan rendah di sana. Ia menikahinya, kemudian menceraikannya kembali setelah istrinya yang berada di Kutawaringin mengetahui. Istri yang di Kutabarang melahirkan seorang putra laki-laki, tampan, lemah lembut, dan budiman. Akan tetapi, ketika putranya ini telah dewasa dan memperlihatkan bakat-bakat kebangsawanan yang tinggi, terjadilah keributan. Raden Bagus Wiratanu, putra sulung Tumenggung Wiratanu yang telah meninggal, beranggapan bahwa putra ayahanda dari selir ini ingin merebut kedudukannya sebagai calon penguasa Kota Kutawaringin. Perdamaian diadakan. Putra dari selir itu bersumpah tidak mengingini kedudukan itu. Namun, ia sangat disukai bangsawan-bangsawan di sini, kabarnya mungkin karena kebu-dimanan dan ketampanannya. Atau mungkin juga karena Raden Bagus Wiratanu tidak disukai sebab sifat berandalnya. Raden tidak sukar untuk membayangkan keberandalannya, dengarlah kabar-kabar perbuatan adiknya Bungsu Wiratanu. Begitu adiknya, lebih- lebih kakaknya. Nah, karena bangsawan-bangsawan Kutawaringin sangat suka kepada putra dari selir ini, Bagus Wiratanu rupanya tetap takut. Pada suatu hari, didengar berita bahwa putra dari selir itu meninggal karena dikeroyok perampok di luar Kota Kutabarang. Setelah itu, lahirlah si Colat. Ia adalah orang lain, masih lemah lembut, masih tersenyum, tetapi bukan yang dulu. Kalau bertemu dengannya, saya sering merasa sedih melihat bekas lukanya yang memanjang dari ujung bibir ke telinga, bekas golok.

Saya masih melihat senyumnya yang manis, tetapi bulu roma saya sering berdiri. Apakah karena melihat bekas lukanya yang mengerikan itu atau karena hal lain, saya tidak tahu."

"Paman! Oh, Bapak!" seru Banyak Sumba menyela. 'Apakah Bapak sering berjumpa dengan si Colat?"

"Raden, Kota Kutawaringin dan desa-desa di sekitarnya berada di bawah kekuasaan Tumenggung Wiratanu di siang hari, tetapi malam hari adalah kerajaan si Colat."

"Mungkinkah suatu hari nanti saya dapat bertemu dengan si Colat?"

"Kemungkinan itu tidak terbatas, Raden. Kerajaan si Colat pun tidak terbatas. Kampung-kampung dan hutan-hutan yang membentang antara Kutawaringin dan Kutabarang adalah wilayah kekuasaannya. Siapa tahu, pada suatu hari, Raden melihat dia menunggangi kuda-kuda hitam yang terkenal, yang dinamai si Mega Wulung. Ah, begitu tampan, tetapi begitu menakutkan; begitu lemah lembut, tetapi begitu buas terhadap lawan-lawannya. Sampai kini, belum terdengar dia mengganggu rakyat. Bahkan, saya mendengar anak buahnya yang mengganggu rakyat dihukumnya dengan berat."

Banyak Sumba termenung mendengar cerita itu. Sang Hiang Tunggal menjalankan kehendak-Nya dengan penuh rahasia untuk menghukum keluarga Wiratanu yang berdosa itu. Ia tidak tahu, apakah ia harus berlega hati atau menyesal mendengar cerita itu. Yang jelas dalam hatinya hanyalah, Sang Hiang Tunggal akan menjalankan segala kehendak-Nya yang hanya dimengerti oleh orang-orang bijaksana. "Raden, kita tidak akan mencari si Colat sekarang, bukan?" tanya Jasik yang sudah rindu dengan keluarganya. Rupanya, ia cemas kalau-kalau Banyak Sumba mengambil kepu-tusan lain, yaitu mencari si Colat. Jasik mengetahui bahwa kemauan Banyak Sumba sangat keras untuk menguasai ilmu keperwiraan. Mungkin saja Banyak Sumba memutuskan untuk mencari si Colat dulu sebelum pulang. Akan tetapi, ketika itu Banyak Sumba mengerti akan isi hati Jasik dan isi hatinya sendiri. Banyak Sumba pun telah rindu untuk bertemu dengan keluarganya.

Keesokan paginya, pagi-pagi sekali, mereka berangkat menuju timur, ke arah Kota Medang.

TAK BANYAK halangan di perjalanan, selain jagabaya- jagabaya. terpaksa harus dihindari agar tidak memeriksa barang-barang mereka. Ternyata, kisah pencurian abu jenazah Kakanda Jante itu tidak saja tersebar dari mulut ke mulut, tetapi juga memengaruhi kegiatan para jagabaya. Mereka menahan dan memeriksa barang-barang orang-orang yang dicurigai. Itulah sebabnya, mengapa cerita pencurian itu begitu cepat tersebar dan berkesan dalam hati anak negeri.

Akan tetapi, hal itu tidak menguntungkan kedua pengembara. Mereka terpaksa menghindari jalan besar dan melalui huma- huma atau hutan-hutan. Baru setelah empat belas hari perjalanan, mereka tiba di pinggiran wilayah Kota Medang.

Kedua orang pengembara langsung menuju Padepokan Panyingkiran. Dengan berdebar-debar, mereka berjalan antara semak-semak karena kuda mereka telah mereka tinggalkan di kampung yang jauh dari sana. Makin dekat, makin tergesa- gesa mereka berjalan. Akan tetapi, mereka terpukau ketika mengetahui bahwa kampung kecil yang tersembunyi di puncak gunung itu sudah kosong.

Untuk beberapa lama, Jasik dan Banyak Sumba berpandangan. Jasik menunduk. Banyak Sumba tahu, Jasik menyembunyikan air mata yang tidak tertahan meluapi kelopak matanya. Banyak Sumba memegang bahu Jasik tanpa berkata apa-apa. Dukacita hampir meremukkan dadanya.

Mereka bergerak, berjalan tidak tentu arah dalam kampung yang lengang dan sunyi itu.

"Raden! Sik!" tiba-tiba dari dalam semak terdengar seruan.

Banyak Sumba melihat Iba berlari dan merangkulnya.

"Iba, di mana mereka?" tanya Banyak Sumba dan Jasik bersama-sama.

"Raden, baik-baik? Mereka di sana." "Di sana, di mana?"

"Kita akan pergi ke sana," kata Iba.

"Kita ke sana sekarang, Iba, mari!" kata Banyak Sumba. Mereka segera memasuki hutan menuju selatan. Sepanjang jalan, Iba bercerita bahwa semuanya sehat, tetapi karena sering diketahui adanya pengintai-pengintai yang mendekati Padepokan Panyingkiran, Ayahanda akhirnya memutuskan untuk memindahkan persembunyian mereka ke hutan yang lebih lebat.

Perjalanan untuk mencapai hutan itu, ternyata sukar dan lama. Hutan makin lebat, harimau-harimau mengaum, badak bergerobas di bagian hutan yang basah, monyet ingar-bingar di atas dahan. Tapi, semuanya tidak mereka hiraukan. Hati mereka sudah berada di tengah-tengah keluarga. Dan ketika hari mulai sore, serta Banyak Sumba melihat pagar tinggi yang terbuat dari batang-batang pohon sebesar paha, berlarilah ketiga orang kawan seperjalanan itu. Sementara itu, Iba berteriakteriak dengan gembira, memberitakan kedatangan mereka. Ketika Banyak Sumba tiba, lapangan kecil di tengah- tengah kampung penuh oleh para gulang-gulang dan keluarganya. Di tengah-tengah mereka, tampak Ayahanda, Ibunda, Ayunda, dan adik-adik. Banyak Sumba bersujud di hadapan orangtuanya, air matanya bagai hujan deras tak tertahan. Kemudian, dirasanya Ibunda merangkulnya, sementara Ayahanda berdiri, tapi tak sepatah kata pun dikatakannya. Orangtua itu menekan hatinya, walaupun di sekelilingnya para gulang-gulang dan emban-emban menangis karena terharu dan gembira.

Malam harinya, dengan segala upacara, Banyak Sumba dan Jasik menyerahkan guci tempat jenazah Kakanda Jante disaksikan seluruh isi kampung pengungsian itu. Hujan air mata berulang kembali ketika Ayahanda menyampaikan kata- kata penerimaannya.

"Semoga Jante Jaluwuyung tidur nyenyak karena ia tahu bahwa ia meninggalkan adik yang berbakti."

Banyak Sumba melihat dalam cahaya obor, betapa orang tua yang keras itu telah sangat tua oleh penderitaan. Dalam tiga tahun itu, rambutnya menjadi putih, sementara matanya cekung, walaupun cahayanya masih tetap menyala-nyala oleh api dendam.

Melihat akibat penderitaan yang tampak pada Ayahanda, Ibunda, dan Ayunda, meluap kembali kemarahan dan dendam Banyak Sumba terhadap siapa saja yang terlibat dalam peristiwa terbunuhnya Kakanda Jante. Mereka yang ambil bagian dalam peristiwa itu dan secara langsung atau tidak menyebabkan terbunuhnya Kakanda Jante, harus membuat perhitungan dengannya. Akan tetapi, berbeda dengan dahulu, kemarahan sekarang bercampur dengan kebimbangan. Ia menyadari bahwa siapa yang terlibat dan bagaimana pembunuhan itu terjadi, tidaklah sederhana seperti yang digambarkan oleh Ayahanda tujuh tahun yang lalu, sebelum mereka meninggalkan Kota Medang.

Renungannya tidak mengganggunya ketika itu. Tidak saja pertemuan dengan mereka kembali menyebabkan kebahagiaan dalam dirinya, tetapi selesainya tugas pertama, yaitu mendapatkan abu jenazah Kakandajante, menyebabkan rasa berharga dalam dirinya. Walaupun tidak banyak berkata, Banyak Sumba mengetahui bahwa Ayahanda bangga akan perbuatannya. Demikian juga para gulang-gulang, badega, dan para emban yang ikut mengungsi. Mereka -bangga dan kagum terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan Banyak Sumba. Jasik pun tak kurang pula mendapat pujian mereka. Jasik terus-menerus dikelilingi mereka, diminta menceritakan tentang segala hal yang mereka lihat selama mengembara, terutama tentang perkelahian ketika merebut guci abu jenazah itu. Kepada Banyak Sumba tak ada yang mau bertanya tentang hal itu, kecuali adik laki-lakinya yang bernama Tohaan Angke. Sudah berumur tiga belas tahun.

"Kakanda, berapa orang yang menjaga kuil tempat abu jenazah itu?" tanya Angke ketika mereka berjalan-jalan di hutan.

"Aku tidak menghitungnya, Angke."

"Kata mereka, paling sedikit dua puluh orang" ujar Angke. "Kata siapa?"

"Kata Iba dan gulang-gulang lain. Mereka sering menanyakan tentang perkelahian itu kepada Jasik."

"Mungkin, Angke, tidak sempat kuhitung mereka. Hanya dua orang kupukul, yang lainnya, tiga orang, suruhan dari Kutawaringin."

"Bagaimana Kakanda memukul mereka?" tanya Angke. "Engkau tidak akan mengerti kalau kujelaskan, Angke," ujar

Banyak Sumba.

"Kata mereka, Kakanda memiliki ilmu pukulan yang luar biasa hingga seluruh Pajajaran mengetahuinya."

"Kata siapa, Angke?" tanya Banyak Sumba, tetapi kemudian ia menjawab pertanyaan itu dalam hatinya. Tentu gulang- gulang menceritakannya. Ia mengulangi perkataannya, "Engkau tidak akan mengerti, Angke."

"Tapi Kakanda, Ayahanda mengatakan, sebentar lagi saya belajar kepada Kakanda," katanya.

"Ayahanda sudah mengatakan demikian?" "Ya," jawab Angke.

"Lebih baik, kau belajar tentang kenegaraan. Menjadi perwira cukuplah aku seorang" kata Banyak Sumba seraya termenung Kemudian, ia berpaling kepada Angke, betapa mirip adiknya dengan dirinya. Haruskah adiknya mengemban tugas seperti dia? Kesedihan menyelinap ke hatinya.

"Seharusnya, engkau mempelajari ilmu kenegaraan," kata Banyak Sumba sekali lagi, seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri.

'Akan tetapi, Ayahanda mengatakan, seluruh keluarga Wiratanu dan seluruh keluarga Anggadipati harus menanggung akibat dari kematian Kakanda Jante. Saya dan Galih Wungu harus membantu Kakanda kalau sudah cukup besar."

"Tidak, Angke," ujar Banyak Sumba, "kalian tidak perlu mengikuti jejakku. Masalahnya akan kuselesaikan sendiri dan jangan takut, masalahnya akan dapat kuselesaikan sendiri tanpa bantuan kalian." Sambil berkata demikian, Banyak Sumba memandang adiknya. Hatinya menjadi sayu.

Dengan Ibunda, Banyak Sumba tidak pernah banyak bercakap-cakap. Wanita yang rambutnya mulai ditaburi uban karena derita itu memandang diam-diam dengan kasih sayang.

"Hamba akan menjaga diri hamba," demikian kata Banyak Sumba kepada Ibunda, tanpa ditegur terlebih dahulu oleh wanita itu. "Doaku bersamamu selalu, Sumba," ujar Ibunda.

Sementara itu, Banyak Sumba jarang berkesempatan bercakap-cakap dengan Ayunda Yuta Inten. Kakak perempuannya itu menyibukkan diri dalam pekerjaan kewanitaan, meramu bumbu masakan di dapur dengan emban pada pagi hari, siang harinya menyulam. Sementara sore dan malam hari, gadis itu terus-menerus berdoa. Kadang-kadang, sampai larul malam lampu minyak di ruangannya masih berkelip-kelip.

Pada suatu kesempatan bertemu, tiba-tiba saja Ayunda Yuta Inten berkata, "Sumba, Pangeran Anggadipati tidak berdosa."

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Ia termenung, bimbang.

"Kalau kau bertemu dengan Pangeran Anggadipati, berilah kesempatan kepadanya untuk menjelaskan persoalannya, kau akan percaya atau tidak, terserah hati nuranimu."

'Ayunda," ujar Banyak Sumba, "saya pun mendengar cerita- cerita dan melihat kenyataan-kenyataan yang menyebabkan saya bimbang."

"Kulihat amarah dan kebencian selalu menyala-nyala dari matamu kepada orang yang tidak berdosa itu. Janganlah kau membujuk hati kakakmu untuk melakukan pembalasan dendam yang tanpa alasan itu."

Banyak Sumba sungguh-sungguh terpukau oleh perkataan- perkataan Ayunda Yuta Inten. Belum pernah Ayunda yang lemah lembut berkata setegas dan sepahit itu. Banyak Sumba merasa terdorong untuk menjelaskan sikapnya. Ia memang memendam amarah dan dendam, tetapi amarah dan dendam itu wajar baginya karena ia adik dari seorang yang dibunuh.

Akan tetapi, arah amarah dan dendam itu sekarang menjadi kabur. Pangeran Anggadipati tidak lagi menjadi pusat segala usahanya. Ia berulang-ulang bimbang. Ia ingin menyatakan hal itu kepada Ayunda Yuta Inten, tetapi tidak dapat memulai kalimatnya.

"Ayunda, hamba pun bimbang. Hamba hanya berduka-cita dan marah pada nasib kita yang buruk, tidak kepada siapa pun, apalagi pada Pangeran Anggadipad. Hamba sendiri jadi kebingungan sekarang, siapa sebenarnya yang harus menerima hukuman karena kematian Kakanda Jante. Akan tetapimudah-mudahan Sang Hiang Tunggal memberikan jalan yang sebaik-baiknya untuk menjawab persoalan hamba, persoalan kita bersama. Percayalah bahwa hamba... tidak akan berbuat seperti orang yang tidak beradab."

Banyak Sumba tidak tahu, bagaimana ia harus mengungkapkan isi hatinya kepada gadis yang berdukacita itu. Mereka diam sejenak, Banyak Sumba merasakan betapa berat keheningan di antara mereka itu. Ia harus mengatakan sesuatu untuk meringankan suasana yang menekan itu. Ia berkata, "Guci indah tempat abu jenazah Kakanda Jante itu, disediakan oleh Pangeran Anggadipati. Sengaja didatangkannya dari negeri Katai. Setiap senja, kalau tidak Pangeran Anggadipati sendiri, selalu ada suruhannya yang datang untuk menebarkan bunga di atas dan di sekitar guci itu. Sering Pangeran Anggadipati datang ke kuil untuk berdoa bagi ruh Kakanda Jante. Cerita orang kebanyakan menyatakan, Pangeran Anggadipati tidaklah berdosa dan Kakanda jante dicintainya. Hamba pun jadi bimbang."

Ayunda Yuta Inten tidak berkata apa-apa. Gadis itu menunduk dan dari guncangan badannya, Banyak Sumba tahu Ayunda Yuta Inten menangis. Tiba-tiba saja, Banyak Sumba ingat kepada gadis yang dicintainya, nun jauh di ufuk barat, di Pakuan Pajajaran. Ia mengerti dan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Ayunda Yuta Inten karena ia pun telah merasakan sendiri pengalaman yang dijalinnya dengan Nyai Emas Purbamanik. Kesedihan yang dalam mengembang dalam hatinya. Banyak Sumba menyadari bahwa perubahan yang sangat besar terjadi dalam dirinya. Ia menyadari sekarang, berbagai masalah yang dihadapinya tidak semudah yang dibayangkannya semula, atau seperti digambarkan oleh Ayahanda. Ia seorang perenung dan pembimbang sekarang. Ia berubah.

Akan tetapi, Ayahanda tetap tidak berubah. Matanya menyala-nyala seperti dulu, sedangkan pandangan- pandangannya tentang berbagai soal tiada satu pun yang berubah. Banyak Sumba berkata pada suatu kali kepada Ayahanda, "Guci itu Pangeran Anggadipati yang menyediakan, guci terindah yang hamba temukan di tempat abu jenazah para perwira. Pangeran Anggadipati membungainya setiap hari dan sering datang untuk berdoa atau menangisinya."

Tidak disangka-sangka, Ayahanda tertawa, "Tidak kepalang, penjahat itu selain berhati busuk pandai juga main sandiwara. Sumba, kewajibanmulah, walaupun misalnya tidak ada urusan dengan dia, untuk membersihkan orang-orang munafik seperti itu dari bumi Pajajaran."

"Akan tetapi, Ayahanda, masih ada Sumba, janganlah kau mudah ditipu. Mereka tahu, wangsa Banyak Citra bukanlah wangsa yang enteng, yang mudah saja diperlakukan tidak adil. Mereka tahu, siapa wangsa Banyak Citra itu, siapa aku, dan siapa engkau. Mereka tahu bahwa keperwiraanmu sukar tandingnya. Mereka tahu, kalau seorang anggota wangsa Banyak Citra mau, ia dapat menjadi negarawan yang tidak terkalahkan atau perwira yang tidak akan dapat disentuh.

Mereka sudah tahu, kau telah menjadi perwira yang tangguh. Mereka takut. Lalu, mereka mengadakan usaha-usaha lain yang tidak bersifat melawan dengan kekerasan. Sumba, tahukah engkau, Pamanmu Galih Wangi sekarang diserahi kekuasaan untuk mengurus Kota Medang?"

"Ayahanda ...," kata Banyak Sumba keheranan. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya tentang peristiwa itu. Seorang wangsa Banyak Citra lain, adik kandung Ayahanda ditempatkan sebagai pengganti Ayahanda.

"Galih Wangi didudukkan di sana dengan pangkat sebagai wakilku, demikian keterangan orang-orang kita di sana. Tapi, hati-hati, Sumba. Mereka mau menjinakkan kita. Mereka, orang-orang di Pakuan Pajajaran tahu bahwa kita tidak akan berlembut hati sebelum kita mendapatkan kepala Anggadipati. Kalau mereka tidak memberikan kepala Anggadipati di atas baki kepada kita, kita keluarga Banyak Citra akan mendapatkannya sendiri. Dan, itu tidak sukar bagi keluarga kita. Sumba, ajarilah adikmu Angke ilmu keperwiraan. Paman Wasis telah melatihnya dan sebelum kau berangkat, berikanlah asas-asas ilmumu kepadanya."

Banyak Sumba tidak dapat berkata apa-apa mendengar perkataan Ayahanda itu. Ia bingung, ia bersedih hati. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Akhirnya ia berdoa dalam hatinya memohon kepada Sang Hiang Tunggal untuk melaksanakan kehendak Nya. Apa pun kehendak-Nya itu, ia akan menenmanya.