-->

Pertarungan Terakhir Bab 01 : Kesempatan

 
Bab 01 : Kesempatan

Banyak Sumba memandang wajah Pangeran Anggadipati beberapa lama, hatinya terhenyak. Kebencian dan dendam yang disangkanya akan meluap dan mengguncangkan jiwanya, ternyata tidak dirasakannya. Hatinya kosong.

Kalaupun ada perasaan, hanyalah perasaan duka-cita. Ia ragu- ragu dan tidak percaya, mana mungkin seorang kesatria yang begitu halus, yang dari wajahnya memancarkan sifat pendeta dan ketenteraman jiwa, dapat menjadi pembunuh keji seperti yang digambarkan oleh pembawa berita ke Kota Medang?

Akan tetapi, hatinya berkata pula, justru siluman sering menempati hati orang yang tidak disangka-sangka. Dengan mempergunakan orang-orang yang tidak disangka-sangka seperti itu, siluman dapat menimpakan malapetaka yang sebesar-besarnya kepada manusia. Jadi, mengapa harus ragu- ragu?

Banyak Sumba bermaksud mengeraskan hati, ia tidak mau lagi memandang wajah Pangeran Anggadipati. Ia memandang ulu hati puragabaya itu, ulu hati yang akan dijadikan sasaran pisau beracun yang ada di pinggangnya. Tetapi, matanya tertarik oleh Putra Mahkota. Banyak Sumba terpukau melihat wajah Putra Mahkota yang sangat bermuram durja itu. Di samping itu, tampak Putra Mahkota sangat pucat dan lemah. Teringatlah Banyak Sumba akan cerita orang-orang bahwa Putra Mahkota di samping mengelilingi kerajaan untuk menyampaikan belasungkawa kepada rakyat, beliau pun berpuasa. Beliau beriktikad mengunjungi seluruh kuil yang ada di kerajaan, seandainya hujan tidak turun juga.

Melihat wajah Putra Mahkota yang sedang tersenyum dan melambai-lambaikan tangan, mendengar rakyat yang berseru- seru bahagia karena dapat melihat wajah.junjungannya, mencairlah tekad Banyak Sumba. Ia termenung dan terharu. Rasa kasih sayang meluap dari hatinya. Ia ragu-ragu sejenak. Tidak disadarinya, ia kemudian berseru-seru seperti rakyat yang lain, "Hidup Putra Mahkota! Hidup Pajajaran!"

Dengan Jasik dan Arsim, Banyak Sumba bertemu di suatu tempat yang telah dijanjikan, yaitu di bawah benteng yang bersemak. Jasik dan Arsim sudah menumpuk jerami agar Banyak Sumba tidak akan cedera jika melompat dari atas benteng. Ternyata, Banyak Sumba tidak perlu turun melompati benteng. Ia datang menemui kedua orang panakawannya melalui pintu gerbang kota. Melihat kedatangannya tidak menurut rencana, kedua orang panakawan itu memandangnya penuh tanda tanya.

"Saya menangguhkan rencana itu, Sik," kata Banyak Sumba dengan nada minta maaf. Panakawannya tidak berkata apa- apa, mereka tetap memandang kepadanya, seolah-olah meminta penjelasan. Banyak Sumba terdorong untuk berkata,

"Saya tidak dapat melakukan pembunuhan selagi Putra Mahkota berada di sini. Sang Hiang Tunggal akan mengutukku, seandainya upacara suci dinodai dengan darah. Apa pula kata orang tentang keluargaku, seandainya sampai kulakukan pembunuhan yang keji itu," katanya.

Mendengar penjelasan itu, kedua orang panakawannya tetap membisu. Arsim melihat ke langit, sementara Jasik menunduk, memerhatikan rerumputan. Sikap mereka itu dirasakan oleh Banyak Sumba sebagai sikap menyesali. Ia malu karena sebelumnya begitu panjang lebar menerangkan rencana pembunuhan itu. Di samping itu, betapa berkobar- kobar cara ia menerangkan rencana itu. Karena itu, Banyak Sumba terdorong untuk menambahkan penjelasan lagi.

"Di samping itu," katanya, "saya tak sampai hati melakukan serangan secara licik, Sik, Kang Arsim, betapapun kejinya Anggadipati. Sebagai kesatria, kita harus menghadapinya secara kesatria. Saya malu oleh diri sendiri kalau harus membunuh sembunyi-sembunyi, mempergunakan pisau beracun, lalu melarikan diri seperti pengecut. Oleh karena itu, saya putuskan menangguhkan rencana dan membuat rencana lain yang pantas bagi kehormatan wangsa Banyak Citra. Saya akan melakukan hal itu, walaupun tentu akan memakan waktu lebih lama daripada kalau saya membunuh Anggadipati dengan pisau beracun ini," katanya sambil memegang ikat pinggangnya yang lebar itu. Ia teringat bahwa saat hendak mencabut pisau dan melemparkannya, ia tidak berpikir tentang kelicikan atau kehormatan seorang kesatria, tetapi ia silau oleh sorot wajah Pangeran Anggadipati yang begitu agung dan mulia.

"Kalau begitu, marilah kita pulang saja dahulu," kata Arsim. Akhirnya, mereka bertiga menuntun kuda masing-masing,

menyusuri sungai kecil yang melingkari benteng di tempat itu.

Di suatu tempat, Banyak Sumba berhenti. Kedua orang panakawannya pun berhenti. Banyak Sumba mengambil pundi-pundi dari balik bajunya. Dibukanya tutup pundi-pundi itu, lalu dilemparkannya ke sungai.

Tiba-tiba, suatu hal yang aneh terjadi. Air dari tempat jatuhnya pundi-pundi itu bergejolak, dan naiklah uap berwarna nila. Air menjadi kehitaman. Ikan-ikan kecil bergelepar dan mati, demikian juga yang besar-besar, menggeliat-geliat kemudian terapung. Melihat kejadian itu, melongolah Jasik dan Arsim. Banyak Sumba tertegun sejenak, kemudian berkata, "Isi pundi-pundi itu terkutuk, diambil oleh tukang-tukang tenung dari sungai-sungai Buana Larang, tempat para siluman memandikan tubuh mereka yang busuk," katanya.

Para panakawan memandang kepadanya. Tidak seorang pun mengatakan apa-apa. Kejadian-kejadian yang aneh dan hebat biasa berlaku pada anggota-anggota wangsa Banyak Citra yang termasyhur itu. Tak lama kemudian, mereka pun telah berada di atas pelana kuda masing-masing, lalu memacunya ke arah selatan menuju Perguruan Gan Tunjung. Sepanjang jalan itu, Banyak Sumba tidak berkata-kata. Pikirannya dipenuhi oleh masalah yang makin lama makin mencekamnya. Makin jelas bahwa masalah yang dihadapinya bukanlah bagaimana ia harus berusaha menjadi pendekar yang tangguh dan dapat mengalahkan seorang puragabaya. Untuk itu, ia bertekad menambah ilmunya dan keyakinan serta kepercayaan akan kemampuan dirinya makin baik. Ia tidak takut melawan siapa pun. Akan tetapi, ternyata, ia berulang-ulang menghadapi kebimbangan.

Kebimbangan itu mencapai puncaknya pada saat yang sangat penting. Ia tidak dapat melaksanakan tugasnya ketika kesempatan untuk membunuh Anggadipati tiba. Itu bukanlah disebabkan ia takut, tetapi ada sesuatu yang menyebabkannya bimbang. Ada masalah-masalah yang tidak dapat dijawabnya, dan itulah sebabnya ia termenung.

Setelah mereka tiba di Perguruan Gan Tunjung, Banyak Sumba masih tetap tidak banyak berbicara. Rupanya, Jasik melihat kemurungan Banyak Sumba. Ia mendekat dan bertanya, "Raden bersusah hati, apakah saya dapat menolong Raden? Walaupun saya tidak cerdas, biasanya saya punya cara lain yang dapat Raden pergunakan."

"Ya, Sik. Kautahu, saya bukanlah penakut. Tetapi ketika saya melihat Anggadipati mendekat, seolah-olah ada cahaya yang menyilaukan mata hati saya. Saya menghindari sorot wajahnya dan hanya melihat sasaran pisau saya. Namun demikian, saya masih juga tidak dapat bertindak. Putra Mahkota yang ... juga saya sayangi, walaupun saya baru melihatnya juga menolong nyawanya. Saya tidak menganggap bahwa Anggadipati memiliki kesaktian atau hal-hal gaib yang melindunginya. Saya menganggap, diri saya yang memiliki cacat. Kau tahu saya bukan penakut, tetapi saya bimbang ketika itu."

"Apa rencana Raden sekarang?" tanya Jasik.

"Saya tidak tahu, Sik. Saya akan kembali ke kampung si Gojin mengembalikan kuda kepada Aria Banga. Selanjutnya, mungkin saya akan mencari tempat yang baik untuk bertapa, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Saya akan memohon petunjuk kepada Sang Hiang Tunggal."

"Raden, ada tugas yang pasti tidak menimbulkan keragu- raguan Raden. Siapa pun akan sependapat bahwa abu Kakanda Jante adalah hak wangsa Banyak Citra. Itulah sebabnya, kita dapat memulai tugas kita dari yang ringan itu. Soal Anggadipati, kita tangguhkan dahulu. Soalnya... sudah hampir tiga tahun kita mengembara."

"Benar, Sik. Saya sependapat denganmu. Tetapi saya akan tetap gelisah kalau pertanyaan-pertanyaan saya tidak terjawab. Saya akan pergi dulu kepada si Gojin. Saya akan bersemedi di dalam hutan, kemudian segera kembali ke sini. Rencana yang pertama adalah mengambil abu Kakanda dan kita dapat kembali ke Kota Medang, meminta restu Ayahanda untuk melakukan tugas selanjutnya. Tugas yang pertama adalah belajar, kedua membalas dendam dan membela kehormatan keluarga."

"Tidakkah Raden kekurangan biaya?" tanya Jasik sambil memegang pinggangnya, tempat dia menyimpan uangnya.

"Tidak Sik, saya dapat berhemat di luar Kota Kutaba-rang.

Barangkali, pada masa-masa yang akan datang, saya akan perlu bantuanmu. Simpanlah uang itu."

"Baik, Raden. Kita akan segera pergi ke Pakuan untuk mengambil abu Kakanda Jante," lanjut Jasik. Banyak Sumba tahu bahwa Jasik sudah rindu sekali untuk pulang. Ia pun lebih sangat rindu. KEESOKAN harinya, pagi-pagi sekali Banyak Sumba berangkat seorang diri menuju kaki Gunung Mandalagiri, ke kampung si Gojin. Ketika ia tiba di kampung si Gojin keesokan harinya, hari telah senja. Diucapkannya terima kasih kepada Raden Aria Banga yang telah meminjamkan kudanya, lalu ia beristirahat. Pagi-pagi keesokan harinya, ia berlatih seperti biasa. Sementara itu, ia pun bertanya kepada para petani yang ditemuinya, apakah mereka mengetahui padepokan atau pertapaan yang dapat dikunjunginya. Banyak keterangan yang diterimanya, tetapi umumnya tempat orang-orang berilmu itu sangat jauh. Bahkan, banyak yang berada di luar wilayah

Kuta-barang. Ia pun merencanakan untuk pergi ke Kutabarang, lalu dengan Jasik berangkat ke Pakuan Pajajaran. Menurut berita, abu Kakanda Jantejaluwuyung disimpan di sana. la bermaksud mengambil abu itu, lalu kembali ke Kota Medang untuk menengok keluarga yang sangat dirindukannya. Selama perjalanan, akan dicarinya keterangan-keterangan tempat pertapa yang termasyhur bijaksana dan dapat menjawab rahasia hati manusia.

Rencananya itu ternyata tidak dapat dijalankannya.

Keesokan harinya, suatu peristiwa terjadi di kampung si Gojin. Pagi-pagi sekali terdengar suara si Gojin mencaci-maki dan menantang. Banyak Sumba segera keluar dari gubuknya, lalu berdiri di depan serambi. Si Gojin bertolak pinggang, menghadapi tiga orang asing yang baru tampak hari itu. Di antara ketiga orang pendatang itu, seorang sudah sangat tua berpakaian perjalanan yang terdiri dari pangsi dan salontreng nila. Dari pakaiannya itu, Banyak Sumba tidak dapat menduga, apakah orang tua itu seorang petani atau seorang pendeta.

Dua orang yang lain sangat mudah diperkirakan. Mereka yang sangat muda ini berpakaian seperti santri-santri padepokan.

Mereka mengenakan salontreng putih, celana pangsi, serta sarung terikat di pinggang. Ketiga orang itu mengenakan terompah yang sama potongannya, yaitu terompah kulit kasar yang tidak disamak dan tanpa hiasan apa-apa. Perhatian Banyak Sumba terhadap ketiga orang pendatang itu tidak terputus karena si Gojin berteriak, "Kalian tidak dapat memaksa aku menyuruh Raden Aria Banga pergi dari sini. Ia datang ke sini dengan kehendaknya, ia akan kubiarkan pergi dari sini kalau dia menghendaki."

"Saya mendapat keterangan dari ayah orang muda itu, kau mendapatkan keuntungan karena adanya Raden Aria Banga di sini," kata orang tua itu dengan tenang.

"Apa pedulimu? Ia datang ke sini karena tertarik oleh ayam-ayamku. Kalau dia membeli ayam itu, aku menjual dengan harga yang disetujui bersama."

"Kau tahu Raden Aria Banga masih sangat muda. Engkau tidak berhak mengambil kesempatan dari kemudaannya.

Orang muda belum dapat bertanggung jawab atas perbuatannya. Engkau tidak boleh mempergunakan kelemahan anak muda itu demi kepentingan sendiri. Oleh karena itu, izinkan kami membawanya pulang," kata orang tua itu, tetap tenang.

"Ia tidak mau pulang dan menyuruhku menghadapi kalian." "Kami diminta oleh ayahnya untuk memaksa dia pulang,

kalau perlu," kata orang tua itu. Kedua orang pengiringnya

diam saja.

"Ia mewakilkan kepadaku, juga untuk dipaksa kalau perlu," kata si Gojin sambil tertawa.

"Kalau perlu, kami pun akan memaksamu untuk melepaskan Raden Aria Banga," kata orang tua itu, tidak disangka-sangka.

Si Gojin tertegun, lalu tertawa. Ia bertolak pinggang, kemudian tertawa kembali. Orang tua itu melangkah ke arahnya, walaupun gerakannya halus, tampak sekali ia tidak takut kepada si Gojin. Orang tua itu berjalan menuju si Gojin. Setelah berdekatan, ia memandang mata si Gojin. Si Gojin bingung, kemudian tertawa kembali, walaupun tidak sekeras sebelumnya.

Tiba-tiba, si Gojin menangkap leher orang tua itu. Tapi entah bagaimana, dengan secepat kilat, si Gojin telah terbaring. Si Gojin segera bangun. Ketika bangun, ia melihat Banyak Sumba. Setelah berdiri kembali, si Gojin bersiap.

Rupanya, ia sangat marah dan malu dengan Banyak Sumba. Dari sikap kakinya, Banyak Sumba tahu bahwa si Gojin bermaksud memukul orang tua itu sampai mati. Akan tetapi, orang tua itu dengan cepat maju, dan kedua tangannya memegang tangan si Gojin. Ia tidak memegang dengan seluruh jarinya melingkar, tetapi melekatkan kedua tapak tangannya pada kedua tangan si Gojin.

Si Gojin mengibaskan kedua tangan itu dengan keras ke samping Tiba-tiba, ia terjatuh kembali dan telentang. Ia segera bangkit dan menghambur, menubruk orang tua itu. Orang tua itu menggerakkan tangannya sedikit, sambil memindahkan kedua tapak kakinya. Si Gojin melesat lalu tersungkur, kira-kira tiga langkah di belakang orang tua itu.

"Lebih baik kaukatakan kepada Raden Aria Banga agar dia mengikuti kami, pulang ke Kutabarang."

"Tidak!" seru si Gojin. Ia bangkit, sambil terengah-engah bersiap-siap kembali melakukan serangan.

Orang tua itu diam saja. Si Gojin mendekat, mengembangkan kedua tangannya hendak menangkap orang tua itu. Banyak Sumba dapat meramalkan, si Gojin akan mengambil keuntungan dari tenaganya yang besar. Si Gojin tentu bermaksud menangkap orang tua itu, lalu mengangkat dan membantingnya. Serangan itu akan sukar sekali dihindarkan. Si Gojin adalah orang yang tinggi dan besarnya hampir dua kali tinggi orang tua itu. Akan tetapi, orang tua itu tenang saja dan tidak menghindarkan diri, walaupun si Gojin makin lama makin dekat. "Seru ibu-bapakmu yang ada di Buana Larang, hai Tua Bangka!" seru si Gojin.

Ketika dilihatnya orang tua itu tidak bergerak, tampak si Gojin bimbang. Ia mendekat, mendekat. Lalu ditangkapnya leher orang tua itu. Tangan si Gojin mulai mengeras, orang tua itu meraba tengkuknya. Kemudian, ia memegang kelingking si Gojin dan melipatnya ke belakang. Si Gojin terpaksa melepaskan pegangannya dan mencoba memukul dengan sisi tangan kanannya yang masih bebas. Orang tua itu mengendalikannya dengan terus melipat kelingking si Gojin dan mengikuti gerak lengan si Gojin yang hendak melepaskan kelingkingnya. Mereka melingkar-lingkar sejenak, kemudian si Gojin jatuh kembali. Banyak Sumba tidak tahu dengan cara apa orang tua itu menjatuhkan si Gojin.

"Sekarang, suruh Raden Aria Banga keluar," kata orang tua itu. Si Gojin tidak menjawab. Dengan terengah-engah, ia duduk di tanah sambil memegang kelingking tangan kirinya.

"Suruh dia keluar," kata orang tua itu. "Tidak, Tua Bangka!" seru si Gojin, mendelik.

"Bawa keluar dia, Anak-anak!" kata orang tua itu kepada kedua anak muda yang mengiringnya.

"Awas kalau berani!" seru si Gojin.

Santri-santri itu melangkah ke gubuk terbesar tempat tinggal Aria Banga. Mereka tidak perlu masuk karena Raden Aria Banga keluar. Tampak ia menyerah kepada suruhan-su- ruhan ayahnya. Ketika Banyak Sumba masih terpukau, keempat orang itu telah pergi meninggalkan kampung si Gojin.

Banyak Sumba tidak rrienunggu mereka menghilang dari pandangannya untuk segera bersiap-siap mengikuti rombongan itu. Ia mengambil barang-barangnya yang sedikit, lalu berjalan ke arah si Gojin. Banyak Sumba berkata, "Paman, saya sudah cukup lama belajar kepada Paman dan saya beranggapan sudah dapat menguasai apa yang Paman ajarkan kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih dan menyatakan rasa utang budi yang sebesar-besarnya. Saya pun ingin menyampaikan pernyataan terima kasih itu secara perlambang karena sebenarnya saya tidak akan dapat membayar utang budi itu."

Sambil berkata demikian, Banyak Sumba menyodorkan sepasang pakaian hitam yang terbuat dari sutra Katai. Ia pun memberikan beberapa keping uang emas dalam kantong kecil yang terbuat dari kulit halus yang disamak. Si Gojin memandangnya sebentar, tampak wajahnya kelam.

Kemudian, ia menarik napas panjang, tersenyum. Ia menerima pemberian itu sambil menepuk-nepuk bahu Banyak Sumba.

"Kau murid yang tabah dan tangguh, Raden," katanya.

Banyak Sumba segera mohon diri, lalu bergegas meninggalkan lawang kori kampung kecil itu. Samar-samar tampak rombongan yang hendak dikejarnya. Banyak Sumba pun berlari mengejar empat orang penunggang kuda yang melarikan kudanya perlahan-lahan karena harus melalui jalan- jalan sempit dan naik-turun lembah-lembah kecil di kaki Gunung Mandalagiri.