Pendekar seribu diri Jilid 16

Jilid 16

masih kalah siasat denganku, ketahuilah bahwa aku sudah mengetahui perkumpulan ini sejak dahulu, maka jauh-jauh aku sudah menyusun siasat, termasuk memasukan beberapa anggotaku kedalam perkumpulanmu. aku juga tahu bahwa Perkumpulan Panji Telapak Perak adalah kelinci percobaanmu. namun keinginan sering sekali tak sesuai dengan harapan, hingga aku harus menggunakan siasat kedua sebab kau melibatkan juga kerajaan. lebih daritiga tahun aku mengumpulkan tenaga penghancur, sementara kau sibuk dengan mainan yang ku persembahkan untukmu kau tetaplah sama Maharaja Sembilan Dewa, kau adalah manusia biasa. hanya bila Ibumu juga kau setubuhi, ayahmu kau bunuh. aku belum mampu melakukan apa yang kau lakukan itu, haha!‖

Untuk kali ini, Maharaja Sembilan Dewa tidak mampu lagi memendam kemarahannya, bagaikan singa lapar ia menggeram dahsyat.

―Gerrrmmm!‖

―Hahaha mengapa kalian malah memilih Ketua yang suka

membunuhi anak buahnya seperti itu? ― Aram mengejek memanasi Anggota Nawa Awatara yang dalam pada itu sedang mati-matian menahan tenaga dalam yang menyerang gendang telinga mereka. sementara Rombongan Aram pada waktu itu tenang-tenang saja, Mengapa begitu? Setelah semua anggota berkumpul akhirnya Aram dan kawan- kawan berangkat menuju Markas Nawa Awatara, diperjalanan Aram bertemu dengan berbagai macam lapisan masyarakat, baik itu dari kalangan persilatan yang menyembunyikan diri, maupun masyarakat biasa yang telah diberikan ilmu oleh Adipati Rajalela demi memenuhi siasat penghancuran Nawa Awatara.

Mereka berdiskusi, hingga pada suatu hari Aram memutuskan untuk segera menyebrngi lautan demi ke pulau borneo tersebut. sebelum berangkat Aram memberikan titah agar semua orang yang akan terlibat menutup gendang telinganya dengan tanah liat, untuk berkomunikasi Aram mengajarkan beberapa isyarat dan teknik membaca gerakan bibir.

Pada saat sore hari akhirnya Aram tiba di desa Talaga Angkeran, desa terdekat dari Desa Mujung Sungkur. seperti biasa, Dengan memencarkan diri Aram dan kawan-kawan menghabisi Anggota Nawa Awatara yang berkeliaran, itulah sebabnya mereka datang terlambat dalam pertarungan para datuk itu.

Begitulah sebabnya mengapa rombongan Aram dalam baik-baik saja meski teriakan itu mengandung tenaga penghancur yang dahsyat.

Maharaja Sembilan Dewa berteriak dengan lantangnya.

―Jangan salahkan bila aku akan membantai kalian. Pasukan pemanah !‖ namun perintah itu tak ada respon, hening seperti

tiada terjadi apa-apa. ―Pasukan Pemanah,.... Pasukan Bumi...! Pasukan Bisa! Pasukan Gadis Iblis!‖ Hening, semua tiada Respon. Maharaja Sembilan Dewa benar-benar kaget, ia benar-benar tak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi, padahal semua hal itu telah dipersiapkan dengan matang. karena persiapan itu jugalah ia datang terlambat ketempat itu menyebabkan beberapa datuk yang menjadi andalannya mati.

tok..tok, suara langkah kaki orang berjalan dalam lorong, tak lama kemudian keluarlah seorang pemuda berwajah pucat berseragam Nawa Awatara, ditangannya terjinjing sebuah Pedang panjang berlumuran darah.

―Ragid.! kemanakah saja kau, mana anak buahmu, mengapa kau tak menuruti perintahku!‖ teriak Maharaja Sembilan Dewa marah.

―Maafkan aku Maharaja Sembilan Dewa, sejak dahulu aku selalu mengelabuimu, namaku Eka Purnama Komandan Golongan Bendera dari Bendera Awan Langit Eka Purnama‖ Teriak Pemuda itu sambil melepaskan topengnya, wajahnya tidak terlalu tampan, namun kini terlihat lebih baik daripada tadi.

―Kau...!‖ Maharaja Sembilan Dewa tercekik, ia benar-benar tak menyangka bahwa perkumpulannya dapat dimasuki lawan. ia baru saja meragukan ucapan Aram, namun kali ini ia harus mempercayainya jua. Belum ia memberikan hukuman kepada Eka Purnama, Salah satu pengawal Pribadinya juga meninggalkannya sambil mendekati rombongan Aram,

―Rival, Terimakasih kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik.‖ Aram berkata antusias, saking kagetnya, Maharaja Sembilan Dewa berdiri menjublak.

―Brusss!‖ dari dalam tanah keluar seorang Pemuda berwajah oval berpakaian Anggota Nawa Awatara. Pemuda itu segera berbalik dan memberi hormat kepada Aram, lalu berkata.

―Ketua, Hamba sudah selesai‖

―Bagus, Ikbal silahkan menuju tempatmu‖

―Hamba Juga sudah menyelesaikan tugas hamba Ketua,‖ Seorang Pemuda lainnya yang tak lain adalah Jagat balik tersenyum diambang pintu. disampingnya juga berdiri Pratama.

―Hihi, lihatlah wajah Maharaja Sembilan Dewa begitu lucu‖ Sebuah suara merdu melantun. ternyata suara itu berasal dari berpakaian seronok warna Merah.

―Mawar‖ desis pengawal Pribadi lain Maharaja Sembilan Dewa.

―Benar, Aku Mawar Duta Langit Bendera Awan Langit‖ Timpal Nyi Mawar. ―Engh... sampai kapan kau berdiam disana, Kenanga!‖ ―Akh, Sampai Maharaja Sembilan Dewa membuka bajunya hihi. ‖ Jawab seorang Gadis cantik berpakaian orange, bajunya

sudah berlumuran dengan darah, sepertinya ia sudah membantai manusia.

―Maaf Aku terlambat, namun aku juga sudah menyelesaikan tugasku!‖ Seseorang berkata diatas genting, wajahnya tidak

begitu jelas sebab terhalang oleh gelapnya pajar. namun dengan cahaya obor masih bisa dilihat bahwa pemuda itu sedang membawa buntalan besar.

―Kau mau pindah kemana Sagara!‖ ejek seseorang dibalik pohon, selang sesaat akhirnya sosok itu menampakan diri, ternyata dia adalah seorang pemuda berambut pitak dengan baju Nawa Awataranya.

―Buana Dewa, kau mau racun tikus?‖

―Hahaha Silahkan kau makan sendiri.‖ Jawab seseorang yang

dekat pohon.

―Ketua, menyenangkan sekali ternyata kekayaan mereka lebih

dari yang kita duga sebelumnya.‖ Dibelakang rombongan Aram tampak seorang Pemuda kering kerontang cengengesan.

―Terimakasih atas kerjamu Dewa Ares.‖ Aram tersenyum bahagia, Maharaja Sembilan Dewa menjublak, sepertinya ia sedang shock melihat anak buah kesayangannya malah memihak lawan kini ia sadar bahwa sebenarnya

kegemilangan yang ia peroleh hanyalah sebuah alat untuk menghancurkan dirinya, sungguh ia merasa menyesal, sejak masa kegemilangannya itu ia tidak pernah melatih ilmunya, ataupun mengurusi organisasinya, yang ia lakukan hanyalah bersenang—senang, ia tidak sadar bahwa lawan berubah menjadi cacing pita dan tikus yang menggerogoti dirinya, bahkan wanita yang paling ia gemari untuk ia ajak tidur adalah seorang musuh.

Sementara Anggota Lainnya menjadi down, semangatnya turun secara mendadak, kematian menunggu mereka,.

―Akh, Kemanakah Tanjung Putri?‖ tanya Aram keheranan, suara itu jernih namun menggaung-gaung.

Sepuluh orang yang tadi menunjukan wajah aslinya menunduk sedih.

―Beliau telah meninggal ketua, Beliau mati dalam perjuangan kita, Beliau mati karena ingin menunjukan bahwa semua anggota Nawa Awatara tidak ada yang memiliki wajah dua‖ Eka Purnama menjelaskan sambil berkaca-kaca.

―Semoga tuhan menerima dia disisinya.‖ Ucap Aram menunduk.

Maharaja Sembilan Dewa mendengus dingin, segera ia menyela.

―Aku Akui, Kau memang lawanku yang paling mengerikan Aram ‖ Aku Maharaja Sembilan dewa jujur. ―Terimakasih atas pujianmu Maharaja Sembilan dewa, tapi kau tetap akan mati diujung tanganku‖

―Satu hal yang perlu kau ingat, aku masih memiliki dua kartu As untuk menghancurkanmu Penasihatku Keluarlah‖

―Tuk.tuk!‖ Suara langkah kaki bergema, maka keluarlah Seorang Lelaki Paruh baya berbaju Putih, wajahnya sangar, matanya hitam mencorong.

―Maharaja Sembilan dewa‖ Ucap Lelaki itu menyapa Maharaja Sembilan dewa.

Maharaja Sembilan dewa kerutkan alis, ―Apa maksudmu memanggilku Maharaja Sembilan dewa Darupada.‖

―Hahahaha !‖ Lelaki itu tertawa latah, lalu menimpali ― Kau

terlalu bodoh Maharaja Sembilan dewa. Aku Si Pengabar Langit merasa kasihan untukmu‖

Lelaki itu segera memegang rambutnya lalu ditarik, maka munculah seraut wajah berparas cakap. Di atas alis kanannya ada tanda codet menggaris sampai atas alis kiri seperti bekas barang tajam. memang itulah ciri khas Si Pengabar Langit.

Maharaja Sembilan Dewa menghela nafas panjang, sudah jatuh ketimpa tangga. hatinya benar-benar goyah,

―Apakah kartu As mu yang ke-dua Maharaja Sembilan Dewa‖ Rombongan Aram tertawa terbahak-bahak. ―Kau tahu, berapa jiwa Anggota Nawa Awatara ini? dan apa yang terjadi bila aku mati.‖

―Anggota yang mana? anggota yang berkeliaran atau anakmu yang dikandung sembilan istri?‖ Aram tertawa latah.

Mata Maharaja Sembilan dewa melotot, Diam-diam ia merasakan gelagat buruk, gelagat yang tidak menguntungkannya, namun ia dam saja, diam menanti, namun dalam relung hatinya ia menyesal mengapa orang kepercayaannya harus tahu bahwa ia telah membuahi anak untuk menjaga bila terjadi sesuatu.

―Hihi... Maaf Maharaja, kesembilan istrimu sedang beristirahat dialam baka‖ Cempaka tertawa dingin.

Ucapan itu laksana guntur disiang bolong bagi Maharaja Sembilan dewa. ingin ia bertindak, namun musuh sedang berada dalam posisi terbaiknya, adalah hal yang mustahil bagi dirinya untuk menekan lawan.

―Kalian Kejih sekali, membunuhi orang yang sedang Hamil‖

―Maaf, Kesembilan istrimu itu terlalu naif hingga mereka keguguran dahulu sebelum mati.‖ Kasturika tersenyum dingin.

Mendadak...

Wussss,,,. Jleggg! Seorang Pemuda berbaju warna toska,

berkuncir ekor kuda dengan ikat kepala biru laut bermata sipit, wajahnya tampan hidungnya mancung, menilik wajahnya sepertinya ia bukan penduduk pribumi. dia tak lain adalah Thian Liong adanya.

―Ketua, Seluruh armada sudah bergerak. sepertinya ini hari adalah hari terakhir bagi Nawa Awatara‖ Wajah tampan Thian Liong tersirat semburat matahari yang mulai menampakan wujudnya, Dengan sinar itu rupanya membuat wajah itu begitu seram.

Kemanakah saja Thian Liong selama ini? dan apa yang dimaksud dengan Armada?

Beberapa purnama kebelakang, entah ada apa, Aram segera menitah Thian Liong untuk menghadapi keruangannya, kini keduanya duduk berhadapan.

―Kak, Kau mau membantuku?‖ Aram membuka suara.

―Membantu Apa Aram?‖

―Menyadarkan segenap kerajaan, kerajaan yang ada di tanah Seribu pulau*‖ (*Sweta Dwipa/Nusantara)

―Maksudnya?‖

―Aku ingin Kak Liong pergi keseluruh Kerajaan di Seribu pulau ini untuuk menghancurkan Anggota Nawa Awatara dalam waktu yang serempak.‖

―Em...Boleh, tapi apakah kau tak salah memilih orang?‖ ―TIDAK..!, aku tahu... selain engkau dan Hong Moay tak bakalan ada yang sanggup,!‖

Thian Liong tersenyum ia paham arti kata ‗sanggup‘ itu, ia tahu maksudnya adalah mampu pergi kesuatu tempat dalam waktu sekejap.

―Baiklah, Aku sanggupi itu! sekarangpun aku akan pergi‖

―Kak. !‖ Raib sudah raga Thian Liong, Aram tersenyum penuh

makna atas ulahnya itu.

Thian Liong yang pada waktu itu sedang bicara rupanya sedang mengerahkan ilmunya ―Perjalanan Sejati‖ sehingga ketika selesai bicara tubuhnya sudah melesat meninggalkan tempat itu.

Dengan ketekunan dan Perjuangan penuh, Thian Liong pergi keberbagai Kerajaan besar diseluruh Nusantara. ia membujuk, merayu dan lainnya untuk mencapai kesepakatan itu, setelah semuanya selesai tidak kerasa itu sudah berjalan beberapa bulan. dan hingga dalam perjalanannya ia mendengar bahwa Aram sedang menuju markan Nawa Awatara di borneo.

Baru saja Thian Liong selesai berkata Mendadak......

―Begitupula dengan Pasukan semut‖ Seseorang berkata lantang dibelakang Thian Liong. dia merupakan seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh delapan tahunan, berbaju hitam seperti orang yang berduka cita, ya dia adalah Adipati Rajalela sang Raja ditanah sunda ini.

―Ayahanda‖ Rismi Laraspati berseru lantang.

―Kau.dan..Kau.. bukankah aku sudah menusuk tubuh kalian!‖ Salah satu Pengawal Maharaja Sembilan Dewa tergagap gemetar.

―Haha... Maaf aku sudah mengatur semuanya! Aku Rehan Pendamping Ketua menghaturkan hormat kepada Maharaja Sembilan Dewa‖

Dibelakang Rehan tampak Ki guntur, ki makmur, Nyai asri, Siwa, Samudra. Brahma, Raja,Tangan kilat Ki Kodir. juga berjalan santai. tangan mereka berlumuran darah seakan mereka sudah menjagal orang.

Bagaimana kisahnya hingga Rehan dapat menyelamatkan Nyawa adipati Rajalela bersama keluarga?

+++

Malam ini bulan tidak bercahaya penuh, hanya sebuah garis melengkung saja menghiasi malam in. Langit cerah tanpa sedikit pun awan menggantung. Bintang-bintang gemerlapan, menambah keindahan angkasa raya. Namun sepertinya keindahan malam ini tidak dinikmati Oleh sekeluarga Kerajaan. Hanya binatang-binatang malam saja yang mereguk keindahan malam. Didalam Keraton itu, tepatnya dikamar raja nampaklah lima orang sosok manusia sedang bersitegang, sepertinya mereka sedang menghadapi masalah yang sedang gawat.

―Rehan, Brajangpati, Apa maksud ucapan kalian itu?‖ Seorang Lelaki Paruh baya berpakaian mewah khas seorang raja berkata.

―Maafkan hamba yang mulia, tapi saat ini waktu sudah semakin mepet, tak ada waktu lagi untuk menjelaskan. hamba mohon agar Yang mulia, Permaisuri dan tuan putri meninggalkan keraton ini‖

―Setapakpun aku tak akan meninggalkan kamarku bila kalian tidak menjelaskan alasan kalian mengajakku pergi‖

―Yang Mulia...‖ belum sempat Rehan menyelesaikan kat- katanya, tiba-tiba dari luar terdengar jeritan ngeri.

―Sekarang yang mulia mengerti mengapa aku mengajak yang mulia pergi!‖ Rehan mulai tak sabar.

―Ayahanda‖

―Suamiku‖, Istri dan Anak Adipati Rajalela merengek.

―Baiklah, kita pergi sekarang! ayo kita masuk kedalam jalan rahasia‖ Akhirnya adipati Rajalela membuka tutup ranjangnya, segera saja semuanya masuk kedalam ruangan itu. Kecuali Rehan. ―Lekas masuk Rehan!‖ Adipati Rajalela mengajak.

―Pergilah dahulu, hamba masih ada urusan. kita berjumpa dibukit belakang‖

―Hati-hati anakku‖ Brajangpati menasihati sambil mengajak Adipati Rajalela segera melarikan diri.

Rehan tersenyum, dengan kecepatan penuh ia keluar dari ruangan, dilihatnya salah seorang yang berperawakan sama dengan Adipati Rajalela. segera ia menotok Prajurit itu dari jarak jauh., dengan sigap ia melemparkan tubuh orang itu kedalam kamar sementara Rehan berlari menyusuri keraton itu, segera ia gunakan ilmu sirep sehingga orang yang ada diruangan itu tertidur.

Rehan segera pilih dua dayang yang berperawakan sama dengan Tuan Putri dan Permaisurinya. lalu kembali kekamar Raja. tanpa permisi Rehan mencari pakaian ketiganya. meski dengan sedikit merah malu, rehan mengganti pakaian ketiga orang itu, dengan kepandainnya dalam menyamar segera Rehan rubah ketiga orang itu menjadi orang yang sama persis dengan Adipati Rajalela, Istrinya dan Rismi Laraspati.

Sebelum ketahuan, segera ia keluar dari kamar itu..............

++++

Maharaja Sembilan Dewa benar-benar telah mencapai puncaknya, dengan kemarahan meluap segera ia memberi komando. ―Serang mereka Bunuh!‖

―Hiiaa...heaa ― Trang..tring...trung Jrep argahhh‖

dalam keremangan pagi itu terjadilah sebuah pertarungan dahsyat, Anggota Nawa Awatara mengamuk laksana ribuan tawon, dari berbagai penjuru mereka merloncatan tanpa menghiraukan jiwanya, Ksatria Satwa tak ketinggalan, merekapun ikut menerjang menghadapi Pengawal Pribadi

Maharaja Sembilan Dewa. Para petinggi Bendera Awan Langit ikut berpesta darah. Para Komandan bendera juga tak mau ketinggalan, apalagi Ketiga kekasih Aram yang sedari tadi berdiam diri, bahkan Thian Hong Li tak sungkan segera menggunakan Keris Perasannya, 

―Goaaarrrr!‖

Pagi itu benar-benar luar biasa, entah berapa jiwa yang telah melayang, entah berapa liter darah yang tertumpah, bagaikan dua kubu prajurit yang sedang berperang, mereka saling teriak, saling semangat dentuman dua buah tenaga sakti beradu

saling berdentum, namun tampaknya pertarungan dua kubu itu enggan dihentikan.

‗‘Bunuh yang melawan‘‘ Perintah Aram kepada rombongannya yang telah terlibat pertarungan dengan lawan.

Serangan Rombongan Aram meningkatkan serangannya. Puluhan Anggota Nawa Awatara yang berada dekat dengan mereka berguguran dalam sekejap. Namun Anggota Nawa Awatara terlalu banyak, jika ada diantara mereka yang terbunuh maka yang lain menjadi semakin marah dan meningkatkan serbuan mereka.

Puluhan pukulan, sabetan, cakaran diluncurkan kepada Anggota Nawa Awatara dan puluhan Anggota Nawa Awatara menjerit kemudian tumbang kehilangan nyawa. Pasukan Nawa Awatara merasa keder juga saat melihat dari sekeliling benteng markas mereka berloncatan puluhan bahkan ratusan manusia menyerbu mereka.

‗Bunuh Mereka, jangan biarkan mereka mengalahkan kita!‘ Seru Maharaja Sembilan dewa menyemangati. mendapat semangat dari ketua mereka Anggota Nawa Awatara kembali menyerbu.

Anggota dari kedua belah pihak terus berguguran. Rombongan Aram semakin mendesak. namun Jumlah Anggota Nawa Awatara sangat banyak dan tak terhitung.

‗‗Terpaksa,!‘‘ Seru Aram sambil melompat menerjang hendak menghadapi Maharaja Sembilan Dewa, siapapun yang menghalangi dirinya bisa dipastikan bakal mati.

‗‗Apa kau Mempunyai nyali untk melawanku!‖ Seru Aram kepada Maharaja sembilan Dewa. sambil terus sibuk membunuh orang yang ada disekelilingnya,.

Maharaja Sembilan dewa memandang pertempuran disekelilingnya. sudah begitu banyak Anggotanya yang sudah mati menggenaskan. hatinya mulai ragu. Apakah mungkin kemenangan akan berpihak pada dirinya? Ia berpaling dan memandang kepada musuh utamanya, ia juga melihat dengan mudahnya Anggota dirinya dihabisi begitu saja.

‗‗Mereka belum sepadan melawannya. Pasukanku tidak siap bertempur, apalagi tanpa ada persiapan sama sekali,‘ bisik hati kecilnya.

―Menyingkirlah kalian darisana, kalian tak sebanding melawannya!‖ Pekik Maharaja sembilan Dewa.

Kini Aram dan Maharaja sembilan Dewa berpandangan, keduanya sudah siap untuk bertempur untuk menentukan siapakah yang berhak melihat hari esok.

Sementara itu, Ratusan Rombongan Aram yang baru datang berteriak keras dan mempergencar serangan demi menguasai medan perang itu. Hati mereka bergelora untuk mengembalikan kesejahteraan mereka yang terebut.

Anggota Nawa Awatara mulai kehilangan harapan. Mereka sudah kehabisan tenaga dan itu berarti mereka bakal kehilangan nyawa. Sehingga dapat dikatakan mustahil bagi mereka untuk dapat merebut kemenangan. jangankan untuk kemenangan, untuk menyelamatkan nyawa mereka juga tidak mampu.

Mendadak...

―Heeaaa...heaaaa!‖

Suara mengerikan terdengar nyaring dan beberapa orang menghentikan pertarungan sebab tidak kuat menahan ledakan suara itu. mereka juga berpaling kearah suara itu. dengan hati takjub Merka melihat dua kekuatan yang luar biasa sedang beradu.

Mereka Adalah Aram dan Maharaja sembilan Dewa,.

―Sepertinya persiapanmu kurang matang Maharaja sembilan Dewa!‖ Aram mengejek sambil tertawa sinis.

―Ya, Aku telah melakukan hal yang sama dengan pendahuluku, tergelapkan oleh kejayaan‖ Jujur sekali ucapan Maharaja sembilan Dewa.

―Aku suka akan kejujuranmu Maharaja sembilan Dewa‖ Aram mangut-mangut.

―Terimakasih atas pujianmu itu, tapi maaf... aku akan mengambil nyawamu itu!‖ halus sekali ucapan Maharaja sembilan Dewa, namun Aram juga sudah merasakan energi negatif lawan, Hawa pembunuhan menyeruak kemana-mana.,

―Haha Tapi, mungkin saja aku yang akan melakukan itu!‖

Aram segera mengerahkan Tenaga dalamnya, Hawa Kematian kini saling beradu, menyebabkan orang yang ada disekelilingnya segera menyingkir.

Maharaja Sembilan Dewa pasang kuda-kuda, dia membentak keras, tubuhnya yang kekar menerjang kemuka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sementara telapak tangan kirinya dibabat keatas dada Aram yang pada waktu itu juga sudah bersipa. Serangan yang dilancarkan Maharaja Sembilan Dewa ini betul- betul hebat sekali kekuatannya, berbareng dengan ayunan tangan itu, gelombang angin dingin yang maha dahsyat disertai dengan angin tajam dan mencicit ibarat amukan ombak besar ditengah samudra segera meluncur kedepan, kekuatannya betul-betul mengerikan hati.

Aram tak rela bila tubuhnya dihajar lawan begitu saja, tubuh bagian atasnya segera menubruk kedepan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. dia miringkan badannya kesamping menghindari serangan lawan, lalu memutar pergelangan tangannya untuk membalas serang.

Tapi pada saat yang bersamaan, tangan kanannya telah menyodok datang ke tubuhnya, Aram sama sekali tak gugup menghadapi serangan itu, Buru-buru dia menghimpun kembali tenaga dalamnya, lalu tubuhnya melambung ke udara dan melayang ke samping kiri untuk menghindarkan diri.

Maharaja Sembilan Dewa mendengus dingin, tentu saja ia tidak memberi kesempatan lawannya untuk menghindarkan diri.

Gagal dengan serangannya yang pertama tubuh yang sedang menerjang kedepan itu sama sekali tidak berhenti, sambil berputar tangan kirinya dengan membawa tenaga pukulan yang kuat segera diayunkan ke depan, menyusul kemudian tangan kanannya diayunkan pula kedepan melepaskan serangan lain.

Angin yang tersibak sangatlah dahsyat dari serangan lurus segera dirubah menjadi suatu sapuan yang datang dari samping, bahkan setelah mengalami penambahan tenaga ditengah jalan daya kekuatannya menjadi berlipat ganda lebih dasyat daripada serangan yang pertama tadi.

"Serangan yang hebat" Puji Aram yang dalam waktu itu sedang menyilangkan kedua telapak tangannya didepan dada. Telapak tangan kanaknya yang semula disilangkan didepan dada itu, mendadak dibalik kemudian mendorong ke muka dengan suatu gerakan yang cepat sekali bagaikan sambaran kilat.

"Sreeet.." segulung desingan angin tajam memekikkan telinga, meluncur kedepan dengan dahsyatnya.

―Duaaararrrrshh!‖

Dua buah tenaga sakti pukulan kosong beradu diudara, Aram terdorong mundur satu tindak, begitu pula dengan Maharaja Sembilan Dewa.

Sementara itu ditempat lain,

Angkara yang sedari tadi melawan Salah seorang Pengawal Maharja Sembilan Dewa segera mencabut pedangnya dan menyerang Pengawal itu. Tapi Pengawal itu juga tidak lemah, ia segera mencabut pedangnya Dan segera membuka jurus, ketika pedang itu digetarkan segera munculah ratusan bayangan pedang. Bayangan itu cukup membuat Angkara tidak bisa bergerak maju tanpa tertebas oleh pedang pengawal itu yang telah berubah menjadi ratusan buah.

―Pedang Seribu bayangan‖ Seru Pengawal itu maka ratusan pedang itu pun mengepung Angkara dengan rapat. Angkara yang menggunakan Jurus jurus Kenjutsu yang ia pelajari semasa berada di negri perantauan masih dapat menjaga tubuhnya dari sayatan pedang itu.

Lama kelamaan, Angkara sadar jika terus seperti maka keadaannya akan semakin terpojok, segera ia merapal ajian telan bumi. dengan menagalirkan ajian itu kebatang pedang maka pedang itu segera ditancapkan kedalam tanah. tanpa ampun tanah itu pun merekah dan menelan Pengawal itu juga beberapa pasukan Bendera awan langit dan Nawa awatara yang sedang bertarung dan dekat dengan area itu, Mereka yang kurang cepat bergerak sudah dapat dipastikan tewas karena terjatuh kedalam tanah yang diberi ajian itu,

Setelah lawannya masuk kedalam tanah segera Angkara kembalikan tanah itu keposisi semula.

―Ayo kawan-kawan, kita perjuangkan keadilan. hapus angkara murka‖ Teriak Angkara memerintahkan pasukan Bendera Awan Langit yang tengah menyerang dan bertarung. Pertempuran besar di Markas Nawa Awatara terus berlanjut, Mayat dari kedua belah pihak terus berjatuhan, Hari sudah terang, hawa Panas dari matahari seakan tidak pernah mereka hiraukan, yang mereka pedulikan adalah MEMBUNUH, atau DIBUNUH.

Pertarungan antara Melati dengan Seorang Perempuan berwajah menor dan baju kedodoran berwarna jingga juga tampak begitu sengit. "Apa segitu saja kemampuanmu heh?" Ejek Perempuan berbaju kedodoran itu. dia merupakan ketua cabang Nawa Awatara yang kebetulan sedang berkunjung kemarkas pusat. Mawar berduri, itulah julukannya. Melati tersenyum dan menjawab:

―Haaha.... Tentu saja tidak. ‖ Belum selesai ia berkata Pedang

yang panjang dan besar sudah dibabat kearah dada lawan. Mawar berduri tidak berkelit maupun menghindar, tangan kanan dengan disaluri tenaga tenaga dalam mencengkeram kearah pedang tersebut.

Melati terkejut lawan berani mencengkram pedangnya, meski pedang itu hasil rampasan, melati tidak kelihatan tidak nyaman dengan pedangnya itu. Atas didikan guru-guru pertamanya dilembah Dewa-Dewi, Tiga datuk dunia Persilatan juga Aram sudah tentu kepandaiannya ini luar biasa dahsyatnya.

Baru saja ujung Pedang tadi mendekati tangan Mawar Berduri. Melati sudah menggetarkan pedang itu dengan tenaga dalamnya, desiran tajam menerjang leher ditubuh Mawar berduri. Mawar berduri benar-benar terkejut. tangannya ditarik, sementara sang badan berkelit selangkah kesamping.

Agaknya melati tidak rela bila lawan melarikan diri. "Coba hadapi yang ini. " serunya keras.

Pedangya diputar sedemikian rupa, Dari balik Putaran pedang tadi secara tiba2 meleset keluar serentetan cahaya keperak- perakan langsung mengancam empat buah jalan darah sekaligus, Mawar berduri merasa urusan semakin berada diluar dugaan, sekali lagi ia mundur kebelakang.

Baru saja ia berhasil berkelit dari sambaran Cahaya keperakan yang meluncur keluar dari balik Putaran pedang dan siap turun tangan lagi, tiba2....

"Mati" bentak melati mantap dengan disenyumi ejekan. Pedang yang tadi diputar kini berubah menjadi bayangan yang entah berapa lagi jumlahnya, dengan diringi desiran tajam Pedang itu mengarah tiga kematian manusia yang paling fatal,.

Perempuan berbaju kedodoran alias Mawar berduri merasa dibuat sangat terperanjat lagi, ia tidak sempat untuk berkelit lagi. diiringi bentakan keras lima jari dikepalkan sementara jari tangan lain dipentangkan lebar-lebar.

Melati yang sudah melihat jurus tadi diperlihatkan kembali digunakan untuk menghadapi serangannya tentu sudah merasa siap, Ia salurkan tenaga dalamnya kedalam batang pedang, pedang itu diputarkan dipergelangan tangan, dan tiba-tiba gagang pedang itu disentil.

―Sretttt, Kelelawar menguntit nyawa!‖ Teriak melati lantang.

―Jrusss. Arggghhh!‖

Mawar Berduri menjerit tertahan, tubuhnya mundur tiga langkah kebelakang. lalu ambruk tanpa nyawa lagi, Melati tarik nafas panjang, kemudian ikut bergabung dengan yang klain membunuhi yang tersisa. Sementara itu, Thian Hong Li merupakan satu-satunya orang yang tidak menggunakan senjata atau tangan kosong, ia memporak-porandakan Anggota Nawa awatara sambil duduk diseekor ular besar berupa hawa keemasan.

―Gerrrrr‖

Kepala Ular itu digerakan sedemikian rupa menerjang orang- orang yang ada disampingnya, ekornya juga menyabet kesana kemari meremukan tubuh siapapun yang terkena kibasan ekor itu.

Pedang, Golok dan senjata lainnya selalu menghujam ke-tubuh Ular itu, namun seperti tanduk diadukan dengan telur, pedang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pedang itu.

―Cah ayu, Turunlah kemari,... akan ku tunjukan kau sebuah liang kematian yang layak untukmu. aku Si Durjana dari pantai selatan ingin sekali merasakan nikmatnya belaian halusmu itu.

―Baiklah !‖ Sahut Thian Hong Li genit, suaranya berhenti, tinju

melati sudah seinchi di pipi Si Durjana dari pantai selatan.

―Bukk. ArggghHH‖

―hihi. bagaimana? enak?‖ tanya Thian Hong Li cekikikan,

tubuhnya memang turun dan berhadapan dengan Si Durjana dari pantai selatan, namun Ular Naga Penjelmaan dari Keris Perasaan tidak menghilang, Ular naga itu masih terus saja membantai anggota Nawa Awatara yang tiada habisnya itu. Membagi kekuatan dan perhatian menjadi dua adalah hal yang sangat tidak lumrah, kemampuan itu hanya dapat dilakukan oleh beberapa orang yang sudah mencapai tarap tinggi. berkat Kitab pemberian Ki Cakravala gurunya, Thian Hong Li dapat melakukan hal itu dengan mudahnya.

―Perempuan Sundal..! hebat juga kau!‖ Bentak Si Durjana dari pantai selatan garang. dimaki Perempuan sundal, wajah cantik Thian Hong Li berubah membesi. Tangannya terkepal kencang, wajahnya menatap lekat pada wajah Si Durjana dari pantai selatan. diperhatikn seperti itu Si Durjana dari pantai selatan merasa kikuk juga, entah bagaimana tatapan lawan itu begitu melekat dalam benaknya.

―Makan ini.!‖

Bagai kitiran, tubuh Thian Hong Li berputar kencang dan dahsyat, Gulungan angin topan berputar,putar awan yang tadi sudah kelabu memuntahkan juga dedaknya, ―Jelegaarrrrrr!‘‘

Melihat itu, Si Durjana dari pantai selatan yang merupakan seorang Pelaksana hukuman Nawa Awatara merasa terkejut sekalian ngeri, tak disangkanya lawan gadisnya itu merupakan seorang Pesilat tangguh, Usianya yang masih muda rupanya tidak menjadikan sebuah penghalang.

Segera ia merapal ajian Wurukung, tangannya berubah menjadi hijau tua, sebelum ia merapal secara sempurna, sebauah gulungan Angin kelabu menyergapnya, gulungan angin itu bbergulung-gulung seperti rambut yang dikepang, namun ujungnya meruncing sangat tajam.

―Wiiirrrrrrsssss‖ Srak..srakkk! Brettt‖

―Arggghhh‖

―Blaarrrr‖

Tubuh Si Durjana dari pantai selatan meledak berkeping-keping, Thian Hong Li tersenyum bangga, hanya dalam satu jurus permainan dan satu jurus inti ia dapat membunuh seorang Pelaksana Hukuman, segera ia meloncat keatas pungung ular naganya yang sedang mengamuk dahsyat.

Ksatria Satwa yang lain juga para petinggi Bendera Awan Langit juga tidak kalah sengit pertarungannya, bahkan Sipengabar langit bajunya telah basah kuyup dengan darah.

Matahari telah pergi kebarat, bahkan sudah menghilang dari pandangan meninggalkan kegelapan yang menyapa bumi, entah sebab apa, awan kini tampak bergumpal-gumpal kelabu diperaduannya menutupi sang putri malam.

Denting pedang, teriakan semangat, jeritan kematian, keluhan dan beradunya dua buah tenaga sakti seakan menjadi sebuah irama musik baru yang menemani malam itu, tak kerasa pertarungan sudah berlangsung selama satu hari satu malam, dan beranjak kemalam kedua, Aram yang dalam pada itu bertarung dengan Maharaja sembilan Dewa tampak sudah tak berbaju lagi, begitupula dengan Maharaja sembilan dewa, dari sudut bibir mereka tampak darah kering menggurat manis. dari pelupuk mata mereka tampak menggelayut manja karena keletihan.

Semakin letih tubuh mereka bukannya semakin lemah pertarungan mereka, justru semakin mereka letih adu tenaga dalam mereka semakin sengit, jarak empat puluh tombak dari sekeliling mereka tampak tak ada seorangpun yang berdiri memiliki nyawa.

Bukan hanya manusia, Rumput, bangunan dan tanah juga telah hancur berkeping-keping menjadikan sebuah kubangan besar.

―heh..heh! Apa segitu saja kemampuanmu Aram?‖ Maharaja Sembilan Dewa mencibir. mulutnya menyeringai menahan letih.

―Haha...tentu saja tidak, mengapa? kau sudah letih‖ Ejek Aram sambil terus tertawa dingin.

―Jika kau punya kemampuan, lekas tunjukan padaku‖ Maharaja sembilan Dewa berteriak sambil melompat menerjang menggunakan jurus andalannya, jurus sembilan dewa Iblis.

Aram tersenyum manis, semanis dengan ucapannya yang masih merasa sungkan terhadap Maharaja Sembilan Dewa.

―Baik, Ku berikan kau sebuah penghormatan‖ berbareng dengan itu, kaki kanannya berjinjit dan kepalan tangan kanan ditempelkan pada telapak tangan kiri, seperti layaknya suatu penghormatan pembukaan, kemudian ia memutar balikan tangan kanan yang telah dibuka pada jari-jarinya, dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melakukan gerakan putaran tangkisan pada tangan kiri menangkis serangan aneh dari Maharaja Sembilan Dewa, lalu ia mengayunkan silang pada tangan kanan untuk menutup dan tangan lainnya melakukan suatu tusukan tajam dengan ujung jarinya yang bersinar keperakan.

―Creppp‘‘

Tak mau ambil risiko, Maharaja Sembilan dewa menghindari serangan itu bukan menangkis. dan kembali bergebrak dengan tangan yang berubah kemerah-merahan.

―Blaaarrrrr. ‖ bangunan di belakngnya hancur berantakan,

padahal waktu itu, Aram dan Maharaja Sembilan Dewa sedang bertarung sengit, Maharaja Sembilan Dewa pun paham bahwa dibelakang dirinya tak ada seorangpun yang sedang bertarung, dengan sudut mata tajamnya Maharaja Sembilan Dewa coba melirik apa yang sedang terjadi, keringat dingin mengucur dari telinganya,

―Jurus siluman Apa tadi?‖ Pekik maharajha Sembilan Dewa menjauhi arena pertarungan.

―Tak ada jurus siluman, jurus itu merupakan jurus gabungan dari Jurus Halilintar Perobek bumi, jurus Silat Rubah, jurus Tornado Arwah, Totokan Si Kelabang biru, Ninjutsu, Genjutsu, Sihir penyesat Sukma dan Aura Kematian. Adapun jurus itu aku namakan dengan jurus ksatria langit dan barusan jurus yang kugunakan jurus pertama yaitu ksatria memberi sembah. mungkin kau terlalu bodoh untuk memahami konsep kecepatan, padahal jurus itu aku siapkan untukmu‖ Aram mengatakan jurus itu seolah Maharaja Sembilan Dewa adalah muridnya.

Maharaja Sembilan Dewa tentu saja paham maksud ucapan itu, wajahnya merah membara menahan marah.

―Kau terlalu menghina, Terima ini ‘Dewa tersesat dijalan Iblis‘ ‘‘ Tangan kiri dikebutkan kedada Aram, sementara tangan kanan ditarik kedepan dada sambil bersiap memukulkannya, Aram tertawa dingin, segera ia menekuk silang pada kaki dengan suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kanan, sementara tangan lainnnya melakukan suatu pukulan yang sangat keras,

― Blaaarrrr‖

Dua buah pukulan beradu, dengan terhuyung-huyung keduanya mundur empat tindak, tanah disekitarnya berubah menjadi kering kerontang seolah telah mengalami musim kemarau, padahal waktu itu hujan turun dengan rintik.

Aram yang sudah berada dalam posisi kuda-kuda segera mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat mendorong angin seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati. entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya itu masih mendorong angin namun entah juga darimana datangnya, aram memiliki dua tangan lagi yang mengayun simpan menyamping pada tangan kanan yang diayunkan kedalam dan tangan lainnya yang terkepal untuk disilangkan didepan dada, perlahan kedua tangan yang mendorong angin telah hilang, sambil menyelinapkan tubuh kedepan maka disini tangan kiri melakukan suatu totokan yang cepat pada daerah yang lemah ditubuh lawan dalam jarak jauh.

Sejak awal, Maharaja sembilan Dewa sudah siaga, apalagi melihat pembawaan jurus Aram yang serba aneh, maka siang- siang ia segera menghindari setiap serangan tangan yang mengarah pada dirinya, tindakan Maharaja sembilan dewa memang tepat, Seandainya ia bersikeras menahan serangan itu, barangkali tubuhnya sudah dipenuhi dengan lubang dan terkoyak-koyak dengan angin dahsyat yang laksana tornado itu..

―cus...cuss...cuss Duarr. !‖

―Wuuurrssshhhh... Blaarrr....Crekk. crekkk‖

Gulungan angin tornado bergulung gulung dari tempat dimana kedua telapak tangan Aram mendorong angin, berat namun cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus itu. diam namun bergerak, gerakannya kosong seperti tak berisi, namun memiliki sumber, sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah ditangan tanpa memasuki tiantan. sesuai dengan ajaran penyatuan dari kitab Satu bukan dua atau seribu bagian dua penyatuan Hawa dan bentuk.

―kau takut? Aram tertawa berkakakan. ―Cis... seandainyayang bukan kau gunakan ilmu siluman itu barangkali sekarang kau ada dialam baka‖

Aram hanya tertawa kosong saja mendengar ucapan Maharaja Sembilan dewa itu,

―Haha... Aku tahu maksud ucapan mu itu, aku tidak akan kena hasutan busukmu, sebaiknya kau katakan saja kau takut‖ Aram mengejek sambil memajukan kaki kanan disamping kaki lainnya, sambil sedikit menekuk rendah pada kuda-kuda dengan kedua tangan yang menekuk, lalu mengayunkan kaki kanan kebelakang sambil mengangsurkan kedua tangan kedepan untuk mengimbangi kaki kanannya yang terangkat tersebut, dengan cepat ia mengayunkannya dengan gerakan yang cepat laksana kilat untuk berjongkok (jari-jari kakinya berjinjit) dengan kedua tangan diturunkan sedemikian rupa, dan sebagai kelanjutannya, adalah meloncat mengudara setinggi empat sampai lima tombak dengan kedua tangan terangkat tingi-tinggi. kemudian ia mengangkat kaki kanannya berupa tendangan keatas, tangan kirinya diturunkan kebawah. ketika sudah hampir sampai dengan Maharaja Sembilan Dewa, Kaki itu diturunkan dengan diiringi desingan angin tajm menggiriskan kulit.

Melihat lawan mulai menyerang, Maharaja Sembilan Dewa merasa dirinya selalu direndahkan, ia kerahkan tenaga dalamnya kedua bagian, tangan dan kaki. itulah jurus yang dinamakan dengan Seteru Iblis bumi dengan dewa langit. jurus itu merupakan jurus pertahanan terbaik daripada rangkaian

‗jurus Sembilan Dewa iblis‘ ―Wusssttt‖ Blaaarrrrrr...‖

Dengan gagah berani, Maharaja Sembilan Dewa menangkis serangan itu, Tanah merekah terkena adu tenaga dalam itu, tubuh maharaja Sembilan Dewa amblas kebumi sebatas lutut, sementara Aram berada diatas tubuh Maharaja Sembilan dewa dengan bertumbu pada kakinya itu.

Bukannya berhenti setelah bentrokan itu, justru duel sesungguhnya sedang berada setelah bentrokan, dari kaki Aram munculah angin berhawa panas dan dingin berseliweran, membuktikan bahwa tendangan itu bukan hanya tendangan biasa saja, hawa kematian dan hawa magis bertebaran disekeliling tempat itu. mata Aram mencorong tajam luar biasa, begitu halnya dengan maharaja sembilan dewa.

―Heaaaaa‖

―Heaaaaa‖ Wungg

Debu mengepul tinggi bak ribuan kuda yang sedang berpacu dipadang pasir, lengkingan dahsyat keluar dari mulut keduanya, benar-bearb suatu pertarungan terdahsyat sepanjang sejarah. Aram berusaha untuk memasukan maharaja Sembilan Dewa kedalam tanah, sementara maharaja sembilan dewa ingin melemparkan Aram kelangit.

Mereka terus berkutat seperti itu, entah akan berlangsuing sampai kapan. Dekat gelanggang pada waktu itu, Rismi Laraspati juga tampak sedang berkutat seru. tampak lawannya yang merupakan seorang lelaki paruh baya menggulung tubuhnya. ia berputar dengan dahsyat dan meluncur ke arah depan. Dua tangan terentang arah kiri dan kanan. Rismi Laraspati tak mau kalah garang segera ia meloncat tinggi, dengan kaki menendang ke arah tengkuk lawan.

Lawannya juga tak mau dirinya dipecundangi oleh wanita, dengan memakai kekuatan pelanting tubuhnya melayang ke atas. Sama tinggi, dan menggempur Rismi Laraspati diudara, Lelaki setengah baya itu menekuk tangannya. Siku kanan dan kiri menghantam ke arah dada Rismi Laraspati.

―Ughh‖ Terdengar keluhan yang cukup yang keras. Rismi Laraspati segera mundur mangatur langkah selanjutnya. namun mana mungkin lawannya membiarkan, terlihat Kedua tangannya berputar di atas kepala. Satu bergerak ke depan dengan berputar, satu lagi menarik ke belakang dengan berputar.

Rismi Laraspati berteriak nyaring sambil maju bergulung. Kedua tangannya terjulur dengan jari-jari yang berkembang. Siap segera ia jungkir balik bagai penari yang kesetanan.

Selendangnya yang sudah sobek di beberapa ujung. Rambutnya terurai lepas, kedua tangan dan kaki mencakar ke sana-kemari.

Dilihat selintasan justru Rismi Laraspati seperti gadis yang lemagh yang sedang meminta perlindungan. dan lawannya juga tertipu karenanya, sehingga kini pertarungan kembali imbang,. Pertarungan kedua belah pihak terus berlangsung seru, merangsek menggulung membacok, menyabet, memukul adalah sebuah bumbu dalam pertarungan itu,sementara langit telah berubah menjadi kebiru-biruan, yah, waktyu sudah kembali pajar, tapi, dua kubu masih enggan untuk berhenti begitu saja.

Pertarungan Aram dan Magharaja Sembilan Dewa adalah yang terhebat, dentuman adu tenaga mereka laksana jutaan tambur perang yang dipukul bersamaa, hawa panas mereka seperti neraka, hawa dingin mereka seperti initi salju dari kutub. angin tajam menggiriskan saling mencicit, bumi porak poranda, hampir enam kentongan lebih Aram dan Maharaja terus berkutat mengadu tenaga dalam hingga akhirnya,

―Mati Kau Aram. !‖ tiba-tiba Maharaja berteriak.

―Heh‖ Aram terkejut sebab ia merasakan gelagat yang tidak beres, memang tujuannya hendak mendorong tubuh Maharaja Sembilan dewa kedalam bumi, namun entah bagaimana bumi yang dipijak Maharaja Sembilan dewa berubah menjadi seperti jel.

Maharaja Sembilan Dewa terkekeh-kekeh, ―Jemparing Dewa Bumi‖

Kini Posisi mereka bak sebuah gendewa yang sedang di tarik dan Aram sebagai busurnya, tubuh Maharaja mendorong Aram hingga tubuhnya terlempar kelangit, entah berapa ratus tombak Aram melayang terbang, dirinya sungguh kaget tak terkira melihat jurus aneh dari Mahraja Sembilan Dewa itu. semakin tinggi ia merasakan bahwa oksigen yang dihirupnya semakin tipis.

Maharaja sembilan dewa tertawa terkekeh-kekeh, ia bangga melihat tubuh Aram tertelan oleh awan, siapakah yang akan hidup bila jatuh dari ketinggian seperti itu? maka sembilan puluh persen ia yakin Aram bakal mati, tapi ia tak pernah menyangka dan membayangkan bahwa Aram memiliki darah yang berbeda pada umumnya.

Aram yang sedang terbang tinggi merasakan suhu yang berubah dingin dan panas menyengat tubuhnya, ia sadar bila terus demikian kematianlah yang menunggunya. ia segera kumpulkan segenap emosi dalam tubuhnya, terdengar kretekan tulang dan..

―Bretttt‖

Sebuah sayap lebar mengembang dari dalam tubuhnya, rambutnya yang hitam berubah menjadi perak. mata rajawalinya mencorong tajam.

―Kiaakkkkkk‖

Suara mengguntur laksana ribuan rajawali berpekik.

Tubuh Aram jatuh kebumi dengan bantuan saypnya yang di kuncupkann. perlahan tubuhnya berubah menjadi kemerahan terkena gesekan udara.

―Wungggg‖ Pertarungan berhenti dan menatap langit, dan mereka melihat sebuah meteor berwarna merah menyala jatuh kebumi menuju dimana Maharaja Sembilan Dewa berada.

Jarak duapuluh tombak dari bumi, Aram menarik kedua tangannya secara perlahan seakan menarik angin, dengan suatu gerak putar pada pergelangan tangan, maka tangan kanan melakukan suatu tangakapan, dan tangan lainnya, melakukan suatu tebasan yang tajam dengan tenaga yang tersalur secara sempurna, selarik sinar kilat bersamaan dengan suatu gema menggelegar laksana guntur keluar dari tangan yang menebas itu menerobos udara pagi yang kerasa dingin itu.

―Jelegar,..... Kretek. kreteekkk‖

Maharaja terpental sepuluh tombak akibat ledakan itu, mulutnya berdarah, wajahnya menyeringai menahan sakit. sementara tidak jauh dari situ, Aram berdiri membuka kakinya dan menaikan kedua tangannya dalam keadaan jari-jari menunjuk keatas, lalu perlahan menurunkan kedua tangannnya kedepan dada dengan jari-jari masih menghadap ketas, lalu mengepalkan jari-jari tangan untk diletakan disisi pinggang masing-masing dan menurunkan kebawah dengan jari jari yang terbuka kembali. perlahan tubuhnya kembali menjadi seperti semula. ia memang tidak terlalu suka dengan tubuh setengah gaib dan hewannya, sebab bila sudah berubah seperti itu, pikiran dan pemikirannya ia tak sanggup mkendalikan lagi.

―Hahaha..... siapakah yang mati sekarang heh..‖ Aram tersenyum mengejek. ―Ciss. kau memang siluman‖ Maharaja Sembilan Dewa bangun dengan tertatih-tatih.

Wusss...! KEDUANYA kembali saling terjang.............

Hawa panas dan dingin menyeruak tajam, Aram bersiap melaksanakan tendangan ringan kebawah yang ditujukan kepada lutut lawan, dan itu dikaburkan dengan suatu gerakan serangan pada kedua tangan yang membuat lawan tidak menyangka terhadap serangan bawah ini, seperti seorang yang bertarung dilangit namun tiba-tiba menyerang dipusat bawah dengan merobek bumi.

Maharaja benar-benar terus-terusan memakan pil pahit. meski Aram berada diatas angin, wajahnya malah terlihat sendu. ia yakin mendiang Gurunya Si Pemabuk dari Selatan meski menguasai jurus ini tidak ia gunakan, sebab bila ia gunakan dan tak mempan menghadapi Maharaja Sembilan dewa. maka Maharaja Sembilan Dewa akan meraih keuntungan sebab pernah melihat jurus itu.

Hatinya pilu benar, namun serangan Aram tak pernah berhenti. seakan air yang mengalir dari tempat tinggi ketempat rendah dan dari tempat rendah ketempat yang lebih tinggi lagi.

―Kurrr..Kurrr!‖

Suara aneh terdengar, Maharaja dan Aram hentikan pertarungan sesaat. ―Hahaha Binasalah kalian Wahai Nawa Awatara‖ Aram terlihat

kembali bersemangat. bukan hanya Aram, orang-orang Bendera Awan Langit juga kembali menjadi lebih bersemangat. mereka tahu bala bantuan telah tiba.

―Maaf kami terlambat, Angin Berhembus badai tiba‖ Sapa seorang lelaki paruh baya berbaju prajurit sambil berteriak.

Laksana jangkrik atau serangga saja, dengan tiba-tiba Anggota Bendera Awan Langit berloncatan keluar arena, berbarengan dengan itu dari sekeliling lapangan bermunculan beberapa ratus prajurit pentang panah.

―Bidikkkk‖

―Lepasss‖

Wurrr. Ratusan anak panah berhamburan menerjang Anggota

Nawa Awatara, denting senjata menangkis panah dan jeritan bersatu padu anak panah ters dilepaskan.

Dan

―Serbuuu!‖ Pekik Komandan prajurit itu,

Laksana air bah yang jebol dari tanggul dari sekeliling bentemng itu berloncatan Para prajurit bersenjata tombak, golok, trisula, pedang dan bermacam senjata lainnya. bukan hanya prajurit, para penduduk yang diberi wadah kekuatan oleh adipati Rajalela juga tampak mengamuk dahsyat. meski mereka berpakaian pengemis, juga pedagang dan bersenjata seadanya namun mereka adalah orang yang dibekali dengan tiga ajian, begitu mereka terbunuh, mereka kembali bangkit sebab mereka mengamalkan ajian pancasona.

Hawa panas dari ajian Saepi Geni terus berhamburan, selain itu mereka juga dapat bergerak selincah angin berkat ajian Saepiangin. tenttu saja Anggota Nawa Awatara merasa kelimpungan, benar mereka dapat menguasai jurus-jurus beladiri namun membunuh orang-orang yang dapat hidup kembali merupakan suatu kesulitan yang lain.

Maharaja Sembilan Dewa mengeluh dalam hati, tak sedikitpun ia menyangka bahwa para pedagang dan pengemis jalanan dijadikan senjata oleh Aram dan pasukannya.

―Kau paham? bila kau menjadikan penduduk atau orang awam sebagai musuhmu maka itulah akhir dari sejarahmu! ketahuilah bahwa mereka merupakkan senjata yang terhebat bila kau tahu cara menggunakannya.‖

―Cerewet!, jangan anggap aku muridmu. terima ini !‖ Maharaja merasa marah dan menerjang tubuh Aram.

Tapi, Aram hanya tertawa manis saja Lalu ia menaikan kaki kirinya dan kemudian diturunkan lagi dengan mantap disusul pula dengan dinaikannya kaki kanan dan tangan kiri diayunkan mengarah samping kiri dengan jari-jari menunjukan kekiri

―Heaaaaa ‖ Aram berteriak mengguntur, Maharaja Sembilan Dewa terperanjat, tapi bukan hanya dia, seluruh anggotanyapun ikut terperanjat. sebab telinga luar dan telinga batinnya seperti digedor jutaan gong, dengan mengerahkan segenap kemampuannya mereka akhirnya dapat meredam suara itu meski tak sepenuhnya. tapi beberapa anggota Nawa Awatara lainnya bahkan ada yang langsung kelojotan mati, Seperti tak ada sesuatu kejadian apapun Pasukan Bala Bantuan itu menjagali setiap orang yang masih hidup diantara mereka. mengapa begitu? seperti dijelaskan diawal, Aram telah menyuruh mereka menutupi telinga dengan tanah liat. meski mereka dapat mendengar suara itu, tapi tidak berakibat fatal.

Para Anggota Bendera Awan Langit tampak sedang bersemadi diatas benteng, memulihkan kekuatan. tapi diantara mereka juga ada yang sedang memperhatikan pertarungan Aram dan Maharaja Sembilan Dewa. salah satunya adalah Yumi. ia melihat Aram yang melangkahkan kaki kanan disertai ayunan tangan kiri kebelakang dan tangan lainnya kearah depan. gerakan itu benar-benar terpadu dan mantap.

Sebagai kelanjutan daripada gerakan sikap terdahulu, maka pandangan Aram dialihkan kearah kiri dengan tangan kiri yang telapaknya digerakan kearah samping bawah dan tangan lainnya yaitu tangan kanan didekatkan kedepan pusar sambil menarik nafas cukup panjang. penarikan nafas tersebut adalah suatu cara pemantapan cadangan untuk suatu gerakan yang panjang serta juga menambah potensi daripada suatu serangan. dengan secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya dengan menyanggahkan kedua tangan pada tanah sambil menyapukan kaki kanan pada sasaran. dan mengalihkan dalam suatu putaran tubuh kekanan dengan sanggahan dua tangan dan berganti kaki kiri yang melakukan sapuan...

Berkali-kali Maharaja Sembilan Dewa dibuat berjumpalitan diudara menghindari serangan. tapi Aram tak berhenti begitu saja, ia melanjutkan dengan gerak maju pada kaki kanan sambil mengayunkan serangan memutar dari bawah keatas pada tangan kanan, dan tangan lainnya ditarik memutar keatas. dijabarkan memang panjang, namun kenyataannya serangan itu cepat dan dahsyat, serangan ini seperti bumi yang merekah saja yang dapat merusak serta menjatuhkan lawan yang dihadapinya, juga seperti seorang manusia yang sedang merobek-robek bumi dengan dahsyat.

Kali ini Maharaja Sembilan dewa harus dibuat kelimpungan, tubuhnya doyong kanan, doyong kiri, depan belakang, atas dan bawah.

―Brengsek‖ Maki Maharaja Sembilan Dewa. segera ia meloncat mengudara. disana ia merapal ajian yang bernama Ajian Dewa Iblis, ajian pamungkas yang ia miliki. sepertinya ia sudah bertekad mati bersama. seluruh tubuh maharaja sembilan dewa kini mula-mula berwarna putih kemerahan dan perlahan berubah menjadi merah menyala dan terakhir menjadi biru api.

dari jarak sepuluh tombakpun Aram dapat merasakan panasnya api itu. tapi ia tak gentar, sejak semula bertarung ia gunakan selalu tenaga dalam Panca menjadi tunggal. namun kali ini ia tukar menjadi Tunggal menjadi kosong. Tubuh maharaja turun kebumi, begitu kakinya injak bumi, suara desisan api membakar tanah terdengar menggiriskan, dengan perlahan ia dekati Aram. tapi mana mungkin Aram akan membiarkannya saja, segera ia menurunkan kaki kanan dan menggeser maju cepat pada kaki lainnya untuk mengiringi dengan suatu tamparan serta bacokan dengan tangan lainnya,

―Jelegaaarr ‖

Seperti biasa, bukan sesuatu yang ada dihadapnnya yang menggelegar, namun sebuah kilat putih menyambar tajam setombak didepannya, dan petir itu menyambar tubuh Maharaja Sembilan Dewa, bila orang lain barangkali ia bakal mati dengan keadaan gosong, namun Maharaja Sembilan dewa tetaplah Maharaja Sembilan dewa. meski ia tak menyangka akan serangan itu, namun tubuhnya yang terlindungi ajian Dewa Iblis tidaklah mengalami keadaan apapun.

―Haha ternyata jurus bututmu itu sama sekali tak berguna

untukku‖ Kini Giliran Maharaja Sembilan dewa yang mengejek Aram.

Meski hatinya mencelos, Aram sama sekali tak mau menyerah, tubuhnya sudah dipenuhi dengan peluh ditambah dekat dengan dekatnya tubuh Maharaja Sembilan dewa. dengan di saksikan matahari yang bersinar terik dan tepat berada dikepala. Aram menendang kesamping dilanjutkan dengan menurunkannya dengan perhitungan membalik kearah kiri belakang yang berarti harus membalikannya sedemikian rupa, dan berganti dengan mengangkat kaki kanan tinggi-tinggi. dan kedua tangan adalah untuk bersama-sama ditarik kebagian tengah seakan menutupkan sayap,

―Bukkkkkkkk. Bak..bik..bukkk‖

Beberapa kali Aram menendang memukul, mencakar dan berbagai macam cara telah ia lakukan, namun Maharaja Sembilan dewa tetap tidak mengalami luka apapun. meski tidak mengalami luka, tapi tetap saja tubuhnya terdorong sana sini akibat serangan itu.

Pertarungan terus berlanjut, entah berapa ratus dan jurus telah dikeluarkan Aram, namun pertarungan tetaplah imbang, matahari telah menghilang diufuk barat sana. para penonton telah berharap-harap cemas akan keadaan itu, mereka sadar bahwa mereka belum sanggup bila menyamakan kemampuan dengan kedua petarung itu.

Sementara itu, Anggota Nawa Awatara yang berada disana telah habis terbantai menyisakan dua puluh orang yang tampaknya merupakan orang-orang pilihan. tapi tenaga mereka terkuras habis, dan disertai dengan jeritan kematian berbareng dengan kokok ayam mereka mati dengan tubuh tyerkoyak-koyak.

Mengapakah Anggota Nawa Awatara sama sekali tidak ada bala bantuan? padahal mereka terpencar keseluruh penjuru negri.

Jauh di pelosok negri, ternyata para penduduk mulai bergerak bersama dengan para Prajurit, pertarungan demi p-ertarungan mereka lakukan, tak jarang mereka harus mati, namun kembali bangkit. laksana semut mereka mengeroyok bahkan mencincang habis. sebagai wujud pelampiasan dendam. diantara mereka ada yang bergerak sembunyi-sembunyi, terpola bahkan ada pula yang terang-terangan. siasat mereka gunakan sebagai alat transportasi.

Siasat mereka bermacam-macam, dan salah satunya adalah yang dilakukan oleh Para Penduduk dari Selat Jampana. disebuah pasar tampak berbagai macam rupa manusia berseliweran. hari itu terdengar bisik-bisik dari sudut pasar. mereka adalah dua orang lelaki berusia lima puluh tujuh tahunan dan empat puluh lima, mereka berdiam diri disana seperti orang mengemis, sesuai dengan baju mereka yang penuh tambalan.

―Kakang Prana, menurutmu apakah sekarang waktu yang tepat?‖

―Belum, lihatlah... Masih sedikit sekali kampret-kampret itu, aku kira menjelang lohor mereka bakal kemari.‖

―Kakang, Aku dengar diam-diam para Murid Lima Perguruan telah disebar dan menyatu dengan kita, hanya saja kita tidak mengetahui siapa dan yang mana‖

―Aku juga mendengar hal itu, tuan kita Si Pujangga Silat benar- benar hebat dalam mengatur siasatnya, aku merasa heran, bagaimana mungkin seorang dapat mengendalikan jutaan manusia. dan anehnya aku merasa takluk kepadanya‖ ―Pujangga Silat? bukankah yang berada dibelakang kita adalah Si Pendekart Seribu Diri, Aram Widiawan?‖

―Kau ketinggalan jaman Sugeng, Di Negri tetangga, Negri Malaya dan kemboja, dia lebih dikenal dengan nama Pujangga Silat. nama itu mereka ambil dari sandi darah yang menjadi tanda ulahnya, karena tidak ada yang mengetahui nama dan gelarnya akhirnya mereka menamainya sebagai Pujangga Silat. Mereka mengetahui Pendekar Seribu diri adalah baru-baru ini saja‖

―oh,... kakang, aku juga mendengar bahwa dia merupakan keturunan guru dari Pangeran Empat Dewa!‖

―Apa?‖ Lelaki yang bernama Prana terlonjak kaget, akhirnya ia menimpali.

―Pantas, sungguh pantas, padahal. ‖

―Padahal apa kakang?‖

―Padahal dahulu yang selalu menjaga keamanan adalah Sang Pangeran Langit dan Bumi‖

―Pangeran Langit dan bumi?‖

―Benar, ketika terjadi badai beberapa tahun belakangan aku pikir itu adalah kelahiran dari Pangeran Langit dan bumi. tapi, ternyata bukan. ternyata itu hanyalah pertanda kekacauan dimulai‖ ―siapakah Pangeran Langit dan bumi itu Kakang?

―haha.. mengenai itu aku tidak tahu menahu, seumur hidup aku belum pernah melihatnya, aku hanya tahu dari obrolan orangtua ketika aku masih kecil.‖:

―hah, Aku pikir kakang tahu.‖

―Sudahlah adik, ngomong-ngomong aku merasa lapar juga‖

―Hadeh, aku pikir hal penting seperti apa, kirain hanya lapar. sama aku jutga lapar kang‖

―Hehe Lihat, Kampret-kampret itu mulai berdatanagan,

bagaimana dengan ilmu pancasonamu adik‖

―Lumayan, setidaknya aku bisa menjaga diri‖

Begitulah, bisik-bisik itu terus terdengar, namun diantara keangkuhan para Anggota Nawa Awatara adakah yang mendengar itu? tidak tak ada satupun yang memperhatikan. yang mereka perhatikan hanyalah bagaimana supaya mereka bisa tertawa tanpa melihat apa yang dirasakan oleh orang lain.

tak jauh dari tempat itu terdapatlah hutan yang cukup dimana hutan itu merupakan jembatan penghubung antara Markas pusat Nawa Awatara dengan pasar itu.

Di salah satu pohon dihutan itu terdapat dua orang pemuda dan pemudi berpakaian jembel, salah satu dari mereka tampak sedang pentang busur panah, ternyata yang ditujunya adalah seekor burung dara yang sedang terbang.

―Wusstt!‖

―Creppp‖

―Blukkk‖ tanpa ampun lagi, burung itu jatuh berdebum ditanah kering, dengan sigap si pemudi itu meloncat sambil berkata riang

―Tembakan yang jitu, kakang soma!‖

―Emh, hihihi, Lihat ini kakang‖ Sipemudi itu menunjukan gulungan surat yng ia ambil di kaki burung dara itu.

―Sudahlah Antari, cepat buka dan kita berikan kepada Nyi Sawitri, bukankah gurumu sudah mewanti-wanti dirimu‖

Wajah Pemudi yang ternyata bernama Antari itu cemberut mendengar ucapan sipemuda, setengah mendongkol ia menjawab.

―Boleh dong aku bahagia, lagipula tak setiap saat aku bisa seperti ini, kakang Pandu apa gurumu Ki Madya ikut kemari?‖

―Tidak, guru bersama Dewa Daun sedang berada ditempat lain‖

―Oh, kakang Pandu Mari‖

―Mari,‖ keduanyapun berkelebat cepat menuju arah barat, disana mereka bertemyu dengan beberapa orang berpakaian jembel sedang bersiap siaga. ―Pandu, Antari mengapa kalian kemari? bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk berjaga diarah timur?‖ seorang wanita paruh baya berwajah cumang cemong berkata keheranan.

―Maaf Nyi Sawitri, kami menemukan ini dikaki burung dara‖ Pandu menunjuk kertas ditangan Antari.

Antari leletkan lidah melihat gurunya melotot kepadanya. dengan ragu-ragu ia serahkan kertas itu, Nyi Sawitri kerutkan kening dengan hati-hati kertas itu dibukanya.

―Kepada seluruh Anggota Nawa Awatara harap menghadap kemarkas, markas sedang berada dalam bahaya, harap siaga Tertanda:

Julis Nawa Awatara Ladian Haramana‖

―Bagus. kalian sudah berjasa besar. sekarang silahkan kalian kembali ketempat‖

―Katanya berjasa, tapi malah diusir‖ Antari menggerutu sambil menggaet tangan pandu dan melesat kembali kearah mereka datang. Nyi Sawitri gelengkan kepala melihat tingkah muridnya itu, memang lah ia terlalu memanjakan anak itu hingga menjadi seperti itu.

Waktu terus berguklir, tak terasa waktu telah bergulir, matahari telah berada diatas kepala. dan diantara panasnya terik matahari itu, terdengar letupan kembang api berwarna biru. ledakan itu berbareng dengan menyerbunya sepasukan yang entah berpapa jumlahnya, namun hutan itu ternyata sudah terisi dengan ratusan manusia. berbagai macam senjata tampak berkilapan diantara cahaya matahari.

Anggota Nawa Awatara yang berada dimarkas cabang itu terkejut tak terkira, mereka melawan, namun appalah artinya perlawanan tanpa persiapan, sabetan senjata tajam selalu diiringi teriakan menyayat hati juga muncratan darah merah.

Tanah berubah warna, tapi tak ada yang perduli. yang mereka pedulikan adalah kebebasan dan kebahagiaan generasi mendatang tak perduli nyawa mereka melayang diantara sabetan senjata tajam.

Para Penduduk yang mengamalkan Pancasona tampak selalu bangkit meski tubuh mereka telah ambrol. mimpipun Para Anggota Nawa Awatara takan menyangka bila orang yang mereka remehkan adalah oorang yang akan membunuh mereka.

―Apakah kau pimpinan dari begundal ini?‖ tanya seorang lelaki berpakaian hitam bergambar Nawa Awatara, telinganya tampak lebih menggantung karena ditempeli anting yang bulat dan besar.

―Benar, namaku Sawitri, ketua teratai putih, dan siapakah Kisanak?‖ Wajah Lelaki itu memerah, ia tak menyangka bahwa orang yang ada doihadapannya merupakan ketua dari salah satu lima perguruan besar.

―Bagaimana dengan Para Anggota Nawa Awatara yang menjaga perguruan kalian?‖

―haha sudah lama mereka mati. terbantai dengan mengerikan

dan saatnya kalian lah yang akan mengalaminya‖

―Apa? mustahil, mengapa tak ada nsedikitpun kabar yang ku dengar?

―itu salah kalian sendiri, menjadikan orang awam sebagai korban. ketika para orang awam itu kami tutup dan kalian pun akan kehilangan telinga., sudah lama kalian tertinggal informasi. termasuk ini‖ Nyi Sawitri mlemparkan sebuah kertas. dengan diliputi seribu pertanyaan orang itu membuka kertas itu, maka pucatlah wajahnya.

―Brengsek‖ begitu bentakannya sirna, tubuhnya yang kekar langsung melesat ke udara dan ketika pergelangan tangannya memutar, secara berturut-turut dia melancarkan tiga buah serangan dan sembilan buah totokan.

Sebetulnya serangan ini berjumlah enam jurus. Kecepatannya bagai cahaya kilat. Meskipun dia melancarkan serangannya satu per satu, namun begitu cepatnya sehingga tampak dikerahkan dalam waktu yang bersamaan dan seakan ada empat telapak tangan yang sedang mengincar diri Nyi Sawitri. Hati Nyi Sawitri tercekat melihat keadaan ini. Dia merasa mengenal jurus itu. setelah berpikir sebentar akhirnya ia berteriak juga.

―Jurus Tapak sembilan totokan‖

Dengan gugup dia mundur beberapa langkah. tapi pengalamannya bicara, pergelangan tangannya bergerak, sekaligus dia melancarkan dua belas pukulan. Tampak bayangan telapak tangan yang banyak seperti bungat teratyai yang sedang mekar. Suara gemuruh angin yang ditimbulkannya berderu-deru. Seluruh ruangan itu sampai dipenuhi terpaan angin dari telapak tangannya.

―Dukk..dukkk...Blaarr‖

Keduanya mundur kebelakang. Tiba-tiba Nyi Sawitri mengeluarkan suara siulan yang panjang, tubuhnya memutar dan menerjang ke arah lelaki itu. Tampak bayangan tangan dalam jumlah yang banyak seperti teratai yang sedang kuncup.

Jurus serangan yang tidak alang kepalang cepatnya!

Pada dasarnya lelaki itu memang sudah bersiap melancarkan serangan. Melihat Nyi Sawitri mendahului menyerang, mulutnya segera mengeluarkan suara bentakan:

―Ayo kita lihat, siapakah yang akan mati duluan‖ lengannya yang berubah menjadi kuning keemasan itu

dibenturkan dengan keras untuk menangkis serangan tangan Nyi Sawitri. Dan dalam waktu yang bersamaan, pergelangan tangannya memutar, dan disodokan dengan kuat dan cepat.

Nyi Sawitri baru merasakan adanya suara yang bergema di udara, hebatnya bukan main. Dia segera tahu bahwa yang meluncur datang merupakan serangan yang dahsyat dan berbahaya, dia bermaksud menghindar namun tidak keburu lagi.

Hati Nyi Sawitri tercekat, bulu kuduknya merinding seketika. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia mengeluarkan suara bentakan dan tubuhnya pun melesat ke atas. Gerakan yang hebat. Caranya mencelat ke atas tadi sebetulnya merupakan kesalahan bagi kaum persilatan, tetapi karena telah melatih tenaga kapas di Markas Bendera Awan Langit, dengan kepala di bawah dan kaki di atas, laksana seekor elang yang menukik, dia menerjang ke bawah.

Terdengar suara jeritan memenuhi seluruh Arena. Segera terlihat lelaki yang menjadi lawannya terhantam mundur dua langkah. Orang itu memuntahkan darah segar dan rubuh bermandikan darah.

Nyi Sawitri tidak berhenti begitu saja, Diiringi suara jeritan yang menyayat hati, orang kedua pun tumbang, mati. Cahaya pedang bayangan golok melayang ke sana ke mari memenuhi Arena.

Deruan angin yang timbul dari pukulan dan tinju menyesakkan di setiap sudut. Yang dapat terlihat saat itu hanya bayangan tubuh manusia yang berkelebat, tanpa dapat dibedakan mana kawan dan mana lawan. Dengan merayapnya waktu, pertarungan semakin lama semakin sengit!

Blamm! Segera ada seseorang yang memuntahkan darah segar dan terkapar di atas tanah. Hawa kematian yang memenuhi arena pertarungan, semakin lama semakin menebal. hingga akhirnya menipis dan semakin menipis.

Sunyi...

Senyap....

Tak ada dentingan pedang, hanya helaan nafas yang memburu dan mayat yang bertumpuk ditempat itu. bagaimana keadaan di pasar?

Setelah tanda dibunyikan tiba-tiba laksana air bah yang menerjang, laksana ombak yang mengulung sekeliling Anggota Nawa Awatara berloncatan penduduk yang menyerang, kondisi ini tentu saja membuat mereka panik, apalagi jumlah mereka tidak sepertiga para penduduk, bukan hanya para orang dewasa, ternyata ada juga sepasukan anak kecil yang menerjang. dan yang memimpin ternyata adalah Bayuputra.

Keadaan yang membahayakan semakin merapat pada Para Anggota Nawa Awatara. Tiba-tiba mereka menjadi sadar.

Apabila mereka masih tidak mencari jalan untuk menerobos keluar, setiap saat pasti akan timbul bencana yang mungkin membuat nyawa mereka melayang. Tiba-tiba, Bayuputra bersiul dengan tanpa berpikir panjang lagi dia menikam ke depan. Jurus serangannya ini tidak mempunyai nama. Dia hanya melancarkannya tanpa memperdulikan keselamatan nyawanya sendiri. Salah seorang Anggota Nawa Awatara Tiba-tiba merasa cahaya dingin menyilaukan mata dan menekannya dari atas. Hatinya terkesiap. Baru saja dia bermaksud menggeserkan tubuhnya menghindar, tapi sudah kasip, pisau ditangan bayuputra telah menancap di lehernya.

Bayuputra putar pegelangan tangannya, pisaunya terjatuh ketanah dan kembali melancarkan sepasang pukulan yang mengandung tenaga dahsyat! Meskipun Anggota Nawa Awatara mempunyai kepandaian yang tinggi, tetap saja sulit baginya untuk menyelamatkan dirinya.

Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia menghindar kesamping. Justru pada saat yang sedetik itu, tanpa dapat dipertahankan lagi mulutnya mengeluarkan suara keluhan. Terasa pinggang sebelah kiri bawah agak dingin dan darahpun merembes keluar. Tusukan pedang ini hebat sekali. Darah mengalir dari pinggang sebelah kiri bawah Anggota Nawa Awatara tersebut. ternyata salah seorang anak kecil bawaan bayuputra menusukan pedangnya di pinggang lelaki itu.

Bayuputra tersenyum, Telapak tangan kiri segera di sodokan, secara gencar melancarkan beberapa serangan. lagi.

Terlihat bahwa Para Anggota Nawa awatara berusaha menerobos keluar dari kepungan lawan. dan tampak jelas bahwa pihak lawannya juga tak kalah garang. Apalagi mereka tidak memakai peraturan lagi mengeroyoknya. Bagaimana mereka bisa mendapat kesempatan untuk kabur, mengatur nafasnya saja sudah sulit, sedangkan deruan pukulan, tinju dan berbagai macam senjata mengepungnya dengan ketat.

Dalam waktu yang singkat, mereka sudah menjadi kalang kabut. Nafas mereka tersengal-sengal. dan pada saat matahari berada di ufuk barat akhirnya pertarungan telah berhenti, menyisakan mayat-mayat yang berserakan.

Itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa para Anggota Nawa Awatara sama sekali tak ada batuan. dan pertarunagn antara Aram dan Maharaja sembilan dewa juga terlihat semakin tegang, darah dari mulut mereka jatuh menggaris. tubbuh kekar Aram yang dipenuhi luka tampak menggiriskan dalam saat itu.

Entah sampai kapan akan berhenti, entahlah....

ARAM jejakan kakinya hingga ia berada diudara, dan bagai gasing berkecepatan kilat tubuhnya berputar dahsyat. itulah jurus bumi berhenti berputar.

Maharaja Sembilan Dewa tertawa latah. segera iapun memutarkan tubuhnya dan dengan dahsyatnya dua buah pusingan dahsyat manusia yang berseliweran dengan tenaga dalam dan angin.

Beradu beradu diudara.

―Blaaarrrrrr‖ ―Jdarrrrr‖

Ledakan dahsyat bak nuklir yang meledak terdengar, para Bala bantuan dan Anggota Bendera Awan langit bahkan terpaksa harus berloncatan menghindari setiap serangan angin nyasar yang ada.

radius lima puluh tombak dari tempat itu hancur berantakan.

Perut Aram tampak robek sampai dada, darah bercucuran. mulutnya menyeringai kesakitan, namun bukan Aram bila harus mati begitu saja. segera ia kerahkan salah satu jurus dari Jurus tunggal jagad yakni ‗obat penghalau murka jagad‘.

Dengan memanfaatkan sari angin yang terhembus, dan bumi yang dipijak kemudian dirubah menjadi hawa maka jadilah sebuah obat dari hawa tenaga dalam. sekejap saja luka itu menutup meninggalkan luka menggaris.

Keadaan Maharaja Sembilan Dewa juga tidak menguntungkan. di dadanya terdapat sebuah cap telapak tangan berwarna hitam. mulutnya menyemburkan darah segar, tapi Maharaja Sembilan Dewa juga enggan boila harus mati begitu saja, maka ditelanlah sebuah obat kecil dari sakunya, kemudian ia menghela nafas dalam untuk menyembuhkan lukanya itu.

‗‗pukulan tunggal perobek jagad‘‘

Aram berteriak mengguntur, dan menerjang dahsyat ke Maharaja Sembilan Dewa. waktu itu Maharaja Sembilan Dewa sedang menyembuhkan luka dalamnya, mimpipun lawannya akan menerjang dirinya,.

―Tak ada pilihan, aku haru gunakan itu‖ gumam Maharaja Sembilan Dewa.

―Arwah iblis jasad Dewa‖

―Belegar...belegarrr...!‖