-->

Pendekar seribu diri Jilid 14

Jilid 14

Tanpa banyak cakap segera Aram, Thian Hong Li, Melati dan Rismi Laraspati segera menyantap makanan itu dengan lahap, sebentar saja makanan itu tersisa setengahnya, Lalu mereka minum Tuak sambil bercanda tawa. Puas minum Tuak Aram segera mengajak para kekasihnya yang sudah memerah karena mabuk untuk melanjutkan rencananya.

―Ayo kita bagi-bagi gula.‖ Ajak Aram.

―Bagi-bagi gula... engh jangan akh nanti di kerumuni semut

hihi‖ Rupanya Melati sudah mabuk berat, hingga ucapannya pun sedikit melantur.

―Teh, Kau sudah mabuk yah?‖ Rismi Laraspati berkomentar, Seperti yang diketahui bahwa Rismi laraspati pada awalnya merupakan seorang putri kerajaan, jadi tidaklah mengherankan apabila ia sudah biasa minum tuak, sebab pada waktu itu, minum tuak merupakan sebuah tradisi yang lumrah didalam keraton.

Dengan memapah tubuh melati yang sempoyongan, Rismi Laraspati dan Thian Hong li berjalan mengikut Aram yang berjalan didepannya. Pelayan di kedai itu tersenyum penuh kebahagiaan, setibanya diluar Aram segera menggapaikan tangannya pada seorang Pengemis yang kebetulan berada didepan kedai. Pengemis itu segera mendekati Aram, Sebab ia pun melihat kejadian dimana Aram membunuh Kawanan Nawa Awatara yang menjadi musuh mereka.

―Ada apakah Tuan Pendekar?‖ Tanya pengemis itu sebab ia melihat sebuah belati di gulungan Rambut Aram.

―Kumpulkan semua warga yang ada didesa ini semuanya, kecuali kelompok setan setan gentayangan itu‖

―Baik tuan Pendekar. !‖

Segera saja Pengemis itu berlari kepada teman-temannya, kemudian teman-temannya itupun mulai menyebar kesetiap penjuru didesa itu.

Aram hempaskan Tubuhnya dilantai yang berdebu. membuat Thian Hong Li dan rismui Laraspati berpandangan, segera mereka pun ikut duduk diemperan kedai itu.

―Emchhh Wah dunia berputar hihi‖ Mulut Melati terus saja

nyerocos tak jelas,. membuat Aram gelengkan kepala dan segera menotok urat di dekat ubun-ubun Melati.

―Brukkk. !‖ Tubuh melati pingsan dipangkuan Rismi Laraspati.

―Kakang..!‖ Rismi Laraspati terpekik kaget.

―Jangan khawatir ia hanya tidur‖ Aram menenangkan Rismi Laraspati yang kaget. ―owh‖

Sementara itu, Dari tujuh penjuru tampak para pengemis mulai berdatangan dan berkumpul didepan kedai. mereka datang dengan sembunyi-sembunyi, sepertinya mereka ketakutan bila harus diketahui oleh Para Kawanan Nawa Awatara.

Sepernanakan nasi kemudian para warga yang dikumpulkan sudah terkumpul, salah satu dari mereka yang tadi diperintahkan segera mendatangi Aram, Ternyata ketika diperhatikan lelaki itu memiliki wajah yang cukup ramah, tubuhnya kering kerontang, sementara jenggot dan kumisnya menjuntai tak terurus.

―Maafkan saya tuan, Seluruh warga desa ini sudah mulai berkumpul..‖

―Suruh semuanya duduk!‖Perintah Aram lagi.

―Baik tuan‖ Ucap Lelaki itu sambil membalikan tubuhnya, dan berteriak kepada para warga yang pada saat itu sedang bergerombol seperti tawon.

―Para Hadiris sekalian, bapak-bapak-ibu-ibu saudara-saudari sekalian silahkan duduk untuk mendengarkan sedikit petuah dari tuan ini‖

―was wes wos‖ Suara para warga berdengung dikerumunan itu, meski sedikit menggeruutu namun semuanya menurut juga.

―Sudah tuan!‖ Laki-laki itu berkata lagi. Aram segera menyahut. sambil berdiri lalu melangkah kemuka. ―Terimakasih...‖

―Hadirin sekalian mohon tenang!‖ Aram mengerahkan kekuatan batinnya membuat para penduduk itu menurut juga sebab merasakan aura wibawa yang terpancar dari tubuh pemuda yang berbicara dihadapan mereka. bulu kuduk mereka dibuat berdiri meremang.

―Aku harap kalian dengarkan Ucapanku dengan seksama demi kelangsungan hidup kalian‖

Suara itu bukan keluar dari mulut, dan bukan didengar dengan telinga, melainkan dengan batin. Semua warga saling berpandangan sebab mereka dapat mendengar suara itu ditelinga batin mereka bukan telinga luar.

―Pertama : Mohon bantu kami untuk mengaburkan telinga Para kawanan yang mengaku bernama Nawa Awatara., Kedua : Mohon bantuan kalian untuk bantu kami mengepung markas cabang didesa ini, sekalian kabarkan kepada warga lain bahwa Aku sedang menuju Markas Nawa Awatara pusat. Ketiga tolong kalian buat kabar angin bahwa Aku akan menantang Ketua Nawa Awatara di markasnya sendiri, dan sekarang berada dalam perjalanan‖ Ucap Aram.

Para Warga disana terdiam. benar-benar takabur pemuda ini kata mereka dalam hati. ―Bila diantara kalian ada yang menanyakan siapakah aku cukup kalian katakan bahwa aku pemilik sandi ―AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH‖.‖

Para hadirin disana terdiam, diwajah mereka muncul seraut wajah terkejut, diantara mereka siapakah yang tak mengenal sandi itu. sandi yang telah membuat keonaran dimana-mana.

―Dan yang terakhir, silahkan kalian maju satu persatu kemari‖ Aram menutup komunikasi batinnya dan memasukan tangannya kedalam jubah.

―Silahkan Kau yang Pertama‖ Aram menunjuk lelaki yang tadi mewakili yang lainnya. tak ada pilihan, lelaki itu segera mendekati Aram dan berdiri dihadapannnya,

―Ambil‖ Aram memberikan sebuah berlian sebesar kepalan tangan bayi kepada lelaki itu. mata lelaki itu terbelalak lebar, seumur hidupnya, baik sebelum maupun sesudah terjadi kekacauan belum pernah melihat berlian sebesar itu. Tanpa diperintahkan apa-apa, Lelaki itu bersujud dikaki Aram. namun sebelum itu terjadi, sebuah tenaga yang maha dahsyat menahan tubuhnya. sehingga lelaki itu tak dapat melanjutkan niatnya itu,

―Tuan‖ mata laki-laki itu tercekat, namun ucapan itu tersela oleh uucapan Aram yang memotong.

―Lekas ambil dan jalankan hidupmu seperti biasanya. lihat masih banyak yang menunggu giliran‖ Tak ada pilihan lagi, Lelaki itu segera mengambil berlian itu, ditunjukannya berlian itu pada warga lainnya sambil lalu.

Betapa terkejut dan bahagianya para warga sekalian menyadari bahwa itulah maksud dari Disuruhnya mendekati pemuda yang baru mereka kenal itu.

Kegiatan itu terus berjalan hingga matahari bertengger diufuk barat dan lembayung Orange kemerahan mulai menggaris.

―Siapakah namamu Anak muda, sehingga kami dapat mendoakan keberkahan hidupmu!‖ Seorang kakek-kakek berjenggot putih berkata kepada Aram.

―Maafkan saya kek, mengenai itu saya belum bisa mengatakannya, tapi orang-orang memanggil saya Pendekar seribu diri‖ Ucap Aram lembut dan penuh hormat.

Kakek itu tercengang, dan manggut-manggut ucapnya ― Kau memang pantas mendapat gelar itu anak muda, pertama ku melihatmu, kau begitu angkuh dan sombong, ketika sebelum berbicara, sikapmu begitu tenang dan santai, ketika kau berbicara mengenai hal yang penting, ucapanmu beguitu tegas dan berwibawa, dan ketika terakhir ketika berbicara dengaku ucapanmu begitu sopan dan lembut, kagum...kagumm‖

―Terimakasuih Kek,‖ Aram tersenyum ramah menambah ketampanan wajahnya. diam-diam seorang anak perempuan yang melihat senyuman itu tergetar hatinya. ―Kami Mohon pamit kek, Hong moay, Dinda Lati, Dinda Rismi ayo berangkat‖

Rupanya Aram sudah mengetahui bahwa Melati sudah sadar dari pingsannya, padahal semenjak tadi ia tak melihat kebelakang.

―Kemana Engkoh‖ Manja ucapoan Thian Hong Li.

―Kita bertamu sebentar sekedar mereguk darah saja dirumah sahabat kita hehe‖ Aram tertawa seram sambil berangkat menuju arah barat daya.

―Ayuh‖ Ketiga Kekasihnyapun segera ikut sambil bergelayutan dikedua tangannya.

―Kakek yang tadi bercakap-cakappun diam mematung. ia bergumam ―Pendekar Seribu Diri. Gelar yang hebat dan tepat‖

Senja mulai merayap mendekati malam. Matahari semakin condong ke ufuk Barat Sinarnya yang lembut kemerahan membias indah menanti datangnya rembulan Seorang pemuda berrambut di kuncir kuda diikat oleh kain berwarna biru, diatas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau, Dilehernya tersampir sebuah kain berwarna coklat menambah ketampanan wajahnya. pakaiannya berwarna biru langit serasi dengan jubahnya.

sementara disampingnya terdapat tiga gadis cantik mengenakan pakaian yang sama yakni berwarna biru laut sebatas dada.

Pinggang mereka tampak ramping karena mengenakan celana ketat warna biru laut pula. Pakaian mereka itu dirangkap pakaian jubah warna biru langit yang tak terkancingkan bagian depannya. jubah itu terbuat dari bahan sutera menampakan sikap mewah mereka, leher mereka yang jenjang itu dibelitkan sebuah kain selendang tipis berwarna putih.

Mereka berjalan dengan canda dan tawa, menyusuri jalan setapak dalam himpitan pohon jati yang berjejer rapi.

―Kakang... Ternyata itulah yang dinamakan Membagi-bagi gula kepada semut.. hihi‖ Melati tertawa ringan.

―Emch, lalu berkunjung ini temanya apa?‖ celetuk Rismi Laraspati.

―Seteguk darah menyegarkan tenggorokan‖ Thian Hong Li ikut berpartisipasi.

―Bagaimana jikalau ‗Mereguk kenyamanan insan dalam setetes hujan darah‘ ― Aram mengajukan usulnya.

―bagus...bagus..bagus‖ Jawab ketiganya beriringan. Tiba-tiba Thian Hong Li berpekik ―eh lihat itu tandu bukan?‖

Benar saja, darisana terlihat sebuah tandu hitam bergambar piramida berantai di panggul empat orang pria.

―Siapa itu?‖Tiba-tiba seseorang membentak didalam tandu.‘ suara itu meski galak namun tidak dapat menutupi suaranya yang indah. ―Emh rupanya mereka hendak berpergian kakang‖ kata

melati.

―Kami hanya ingin bertamu saja, hanya hendak mereguk setitik darah dari kalian‖ kata Rismi Laraspati polos.

Aram menepuk jidatnya, sementara Thian Hong Li dan Melati tersenyum geli, mereka tahu bahwa Rismi Laraspati terlalu polos dan lugu untuk ukuran seorang pendekar wanita.

―Brengsekkk‖ ―Blaaarr‖

marah sekali perempuan dalam tandu itu, jelas ia merasa terhina dengan ucapan Rismi Laraspati barusan. ia bukan orang bodoh, jelas sekali maksud kedatangan keempat tamunya untuk membunuh mereka.

Jlegggg..Perempuan itu mendarat ringan ternyata ia merupakan seorang perempuan cantik namun menor berjubah putih dengan sulaman benang emas membentuk pola hiasan Piramida berantai pada jubahnya. Perempuan berjubah warna putih itu melapisi bagian dalamnya dengan kain berwarna hitam.

Perempuan berambut panjang sepinggang. sementara untuk menutupi bagian bawahnya ia mengenakan kain penutup pinggul dari bahan sutera hitam. Kain sutera hitam itu hanya melilit di antara kedua pahanya dan mempunyai tali pengikat di pinggul kanan-kiri. Perempuan cantik bermata jeli dan berbibir sensual berwarna merah terkena polesan gincu itu mempunyai kulit putih mulus dan tubuh sintal itu tak lain adalah Lestari alias Ketua cabang Nawa Awatara di desa itu. ―Siapa barusan yang berkata lancang heh..!‖

―Anu.. eng Saya!‖ Rismi Laraspati tergagap dan melirik Aram yang tersenyumk geli.

―Ini ganjaran untukmu‖ ‗wuss. Perempuan yang bernama lestari itu menyerang Rismi Laraspati yang pada waktu itu sedang salah tingkah.

Jika seandainya serangan itu dilakukan beberapa bulan kebelakang, niscaya dengan telak serangan itu akan menggampar pipinya,. namun sekarang rismi bukanlah Rismi laraspati yang belakangan. dengan meliukan dan melakukan berberapa gerak kaki saja serangan itu dapat ia elakan dengan mudah. itulah gerakan Tarian Bidadari darah biru yang pertama yang bernama jurus bidadari kahyangan tersipu malu.

lestari alias ketua cabang Nawa Awatara penasaran serangannya yang dilakukan secepat kilat itu dielakan. segera ia kembali menyerang. namun Rismi Laraspati juga enggan bila tubuhnya diserang dengan serangan yang bersinar biru dari Lestari, segera iapun, menggunakan selendangnya dan balas menyerang.

―Hiaaatt‖

―‖Heppp‖

―Ctarrr. Brak‖ ketika selendang dan tangan beradu terjadilah bunyi letupan menggeletar, namun serangan rismi laraspati terlalu lunak sehingga selendangnya terpental menghajar tandu yang wktu itu dipanggul oleh pengawal Ketua cabang Nawa awatara. maka tak ampun lagi tandu itu hancur berantakan.

kali ini. kemarahan Lestari tak dapat dibendung lagi, dengan ganas ia menyerang rismi Laraspati. jelaslah Rismi Laraspati kelimpungan menghadapi serangan yang bertubi-tubi itu. akhirnya melati segera menawarkan diri untuk membantu.

―Kakang, Rismi terlalu cetek pengalaman bertarungnya. maka izinkanlah aku untuk membantunya dan kakang memberskan yang tersisa.‖

―Baiklah hati-hati Lati.‖ Aram anggukan kepalanya kepada Thian Hong Li dan dibalas dengan anggukan pula. dengan kecepatan bagai kilat keduanya menyerbu kearah empat pengawal yang tersisa,

Mendapat kejutan yang tak terduga itu, Keempat pengawal itu segera mencabut pedangnya, bila saja ketua Nawa Awatara saja dulu berimbang dengan Aram, maka jelaslah keempat pengawal itu bukan lah tandingannya, dengan gerakan laksana kilat Aram menyambar ranting yang dilewatinya dan melemparkan kebagian jalan darah kematian di dua pengawal itu. sementara Thian Hong li lebih memilih memukulkan tangan kosongnya berupa sinar perak kepada dua pengawal yang tersisa.

―Bruuukkkk‖ Saking cepatnya serangan keduanya, keempat Pengawal itu segera roboh berdebum berbarengan menjadi satu suara, keduanya tak menghiraukan keempat mayat itu. mereka teruskan lari menuju puncak dimana tadi Tandu itu keluar.

―Engkoh, Bagaimana bila kita menggunakan senjata kecil yang menjadi kenangan untuk kita berdua?‖

―Eng... boleh saja, hanya apakah engkau sanggup mengendalikannya tanpa ada kejadian seperti dulu?‖

―Aku bukan yang dulu lagi Engkoh‖ Thian Hong Li tersenyum manis.

Keduanya terus berlari hingga mereka sampai dipintu gerbang tebal yang terbuat dari kayu jati. bagian dalam halaman itu tidak terlihat sebab tertutup oleh pagar kayu yang berjejer.

Aram segera mencabut kujang kecil bergagang ukiran harimaunya sementara Thian Hong Li mencabut keris bergagang ular, dan dengan serempak keduanya melemparkan senjata itu kependopo halaman diikuti dengan melesatnya tubuh mereka.

―Goaaarrrrrrrr‖

―Gerrrmmmmm‖

Raungan bak monster bergemuruh memekikan telinga, Para kawanan Anggota Nawa Awatara kaget, segera mereka serabutan keluar, betapa mengkiriknya hati mereka ketika melihat Sesosok Ular besar bersayap dengan empat kaki, dinegri langit, sosok itu lebih dikenal dengan nama Naga. Naga itu tidaklah berkulit melainkan berbentuk hawa keemasan. dengan tanduk tunggal mirip sebilah keris. dan satunya lagi berupa seekor Harimau bertaring putih menyala. tubuh harimau itu besar melebihi harimau biasanya, kira-kira besarnya sebesar Kerbau. cakarnya panjang dan tajam. Harimau itu juga tidak berbentuk harimau sesungguhnya melainkan berbentuk hawa kuning keperakan.

―Apa itu..!‖

―Makhluk Apa itu..!‖

―Heh, mati kita‖

Berbagai macam teriakan keluar dari mulut mereka, argumen dan pendapat silih bergantian. Aram yang mendengaritu tersenyum sadis, rupanya kehadiran Aram dan Thian Hong Li. tersamarkan akibat dua binatang mengerikan penjelmaan dari Keris Perasaan dan Kujang kekuatan sejati.

―Goaaarr‖

―Germmmm‖

Dua binatang itu segera menyerang kawanan Anggota Nawa Awatara yang pada waktu itu sedang berkerumun. Para Kawanan Anggota Nawa Awatara itu sangat terperanjat, dalam terkejut bercampur ngerinya buru-buru Mereka pasang langkah seribu. Kemunculan dua makhluk sakti itu membuat suasana dalam halaman Markas cabang jadi kalut, dalam terkejut dan paniknya masing-masing melompat dan kabur terbirit-birit dari situ.

Apa mau dikata ternyata ada beberapa orang pemuda yang masih tertinggal di situ, tampaknya rasa takut dan ngeri yang berlebihan membuat badannya gemetar keras dan tak bisa menggerakan tubuhnya, apalagi ketika harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati mendekatinya. makin panik mereka maka makin kuat mereka tak bisa menggerakan tubuh.

Pada saat itulah si harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati menerkam mereka, dengan sekali terkaman dan cakaran, diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati, kira-kira lima orang dari mereka bergelimpangan menjadi mayat dibarengi dengan hujan darah..

Rekan-rekan lainnya jadi amat gusar melihat peristiwa tragis itu, karena gusar itu mereka akhirnya dapat menggerkan tubuh mereka yang kaku. sambil membentak serentak mereka lepaskan pukulan dahsyat ke tubuh harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati. Sayang tubuh harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati itu sangat kuat bagaikan baja, bukan saja serangan itu gagal melukainya, malah sebaliknya justru serangan itu malah membalik dan menyerang tubuh mereka sendiri.

―Hupppp ‖

―Gremmmmm‖ Rupanya Aram tak sabar segera ingin menyelesaikan pertarungan, maka dari itu segera iapun meloncat untuk menaiki harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati. bagaikan seorang panglima perang saja Aram menunggangi harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati sambil memukulkan serangan-serangan tangan kosongnya.

Sementara itu Thian Hong Li pun ikut meloncat pada punggung Naga penjelmaan Keris Perasaan.. Merasa gembira naga itu berpekik nyaring, tiba-tiba saja Naga itu membalikkan badan sambil menyerang Kawanan Nawa Awatara yang lain, dengan ekornya yang kuat Ular Naga Penjelmaan Keris Perasaan menyapu dahsyat bangunan-bangunan itu hingga hancur berantakan.

Para Anggota Nawa Awatara yang berada di halaman dan bangunan serentak mencabut senjatanya karena sudah pasrah dengan keadaan. rupanya seluruh tempat itu sudah dikepung oleh para warga yang sudah dibekali dengan senjata panah, meski panah itu terbuat dari bambu dan talinya terbuat dari rotan tapi, untuk menghadapi ratusan panah jelas hal yang mustahil bagi mereka. dengan tanpa komando lagi, Anggota Nawa Awatara menyerang Dua makhluk yang ditunggangi oleh pemuda pemudi yang masih muda itu.

Serangan yang dilancarkan serentak nampaknya cukup membuat harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati dan Ular Naga Jelmaan Keris Perasaan itu kerepotan, tapi, Tenaga mereka yang tanpa komando itu mana mungkin bisa menangkan kekuatan dua ekor makhluk yang setengah gaib itu? Tidak sampai seperminum teh kemudian, tinggal delapan orang yang selamat dari hisapan makhluk itu.

Sambil menjerit ketakutan kedelapan orang Anggota nawa Awatara yang terdiri dari enam laki-laki dan dua perempuan yang masih hidup serentak melarikan diri dari situ. Lagi-lagi naga jelmaan keris perasaan itu pentangkan mulutnya sambil menghisap, alhasil seorang seorang perempuan terhisap ke perut makhluk itu.

Di pihak lain, Aram dan tunggangannya, harimau penjelmaan Kujang Kekuatan sejati membiarkan saja ketujuh orang itu melarikan diri kearah pintu gerbang dan...

―Wung‖

―Creeepp‖

―Argghhhh‖

―Wah... Kami kelewatan pesta nih...‖ Suara merdu bak burung nuri berkuicau mengomentari. ternyata dia adalah melati adanya. disampingnya juga terdapat seorang perempuan yang mendekap perutnya karena ngeri dan mual. dikarenakan pengalamannya yang cetek, Rismi Laraspati merasa mual juga. beda halnya dengan Melati yang pernah melihat pembantaian manusia di Lembah kematian.

Mengapa melati dan Rismi Laraspati berada disana? bagaimana dengan nasib Ketua cabang Nawa Awatara? Ketika Aram dan Thian Hong Li menyerbu kemarkas cabang Nawa Awatara waktu itu Rismi Laraspati sedang terdesak, bukan kemampuan Rismi Laraspati yang cetek, namun Pengalaman lah yang membuat ia kalah. dengan cekatan Melati yang pada waktu itu sudah meminta izin kepada Aram segera merapal jurus yang dapat memanggil barang yang diinginkannya itu.

Sringg ‖

Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba ditangan melati telah tergenggam sebatang pedang panjang tanpa sarung. dengan sedikit memutar pedangnya, melati segera melempar pedangnya

―Kelelawar sakti menembus kegelapan‖. itulah salah satu jurus dari kedua gurunya sewaktu ia masih berada dilembah dewa dewi.

Mendapat serangan bokongan seperti itu, Tentu saja Lestari alias ketua cabang Nawa Awatara merasa kaget, dengan cepat ia menarik kembali serangannya kepada Rismi Laraspati.

Cringgg Pedang itu kembali kepada pemiliknya.

―Curang‖ Pekik Lestari Marah. melati tak hiraukan ucapan lestari, segera ia berkata kepada Rismi Laraspati.

―Rismi, Bermainlah seperti biasanya jangan gugup, anggaplah bahwa kita sedang berlatih‖

―Maaf..!‖ Rismi Laraspati merunduk. ―Jangan menunduk, !‖ Trangg Melati menangkis kuku dari

Lestari.

―Baik!‖ Rupanya Rismi Laraspati sudah bisa mengendalikan dirinya, dengan mengatur langkah kakinya segera ia menyerang dengan selendang putihnya.

―Bukk. ‖ ―Ukh‖ dengan telak serangan itu mengenai perut

Lestari. betapa geramnya hati lestari diserang secara bergilir begitu. Maka, menyeranglah Lestari dengan pukulan tenaga dalam dari kedua tangannya. jelas sekali bahwa Melati dan Rismi Laraspati tidak mau menjadi korban serangan itu. segera mereka Berjumpalitan ke belakang.

Kini, keduanya itu sama-sama pasang kuda-kuda, tangan Melati siap dengan pedang yang melintang didepan wajahnya sedangkan Rismi Laraspati siap dengan selendangnya. Lestari segera ambil sikap menyamping. Kedua kakinya merenggang rendah dengan kedua tangan diangkat setinggi pundak. Matanya tertuju tajam pada masing-masing perempuan yang bersebelahan itu.

Tiba-tiba kedua perempuan itu sama-sama memutar tubuh satu putaran dan senjata mereka dihentakkan ke depan dengan keras. dari melati melesatlah sinar biru dari pedangnya sedangkan dari Rismi Laraspati tidak mengeluarkan sinar apa- apa, hanya selendangnya saja yang menyabet kedepan.

Wuss...! Wushh ! Duubh...!

―Blaaarrsshh‖

Serangan itu ditahan oleh Lestari dengan menggunakan tenaga dalam dari kedua tangannya. Tetapi, agaknya serangan Melati dan Rismi Laraspati itu lebih besar kekuatannya, sehingga tubuh ramping Lestari terjengkang ke belalang, sejauh dua tombak

Brrukk...!

Tubuh lestari menabrak pohon sepermelukan orang dewasa hingga tumbang. Napasnya menjadi sesak, matanya sempat mendelik. Namun buru-buru ia mengeraskan semua uratnya dan melesat cepat dengan menggunakan ke dua kakinya. Kini ia sudah kembali berdiri dengan wajah memerah.

―Goaarrr‖

―geerrmmm‖

Tiba-tiba suara gaoran dan geraman terdengar memekik telinga.

"Gila.Apa yang terjadi di markas, sial dua orang teman mereka tidak ada disini, pasti mereka yang bikin ulah!" gumam Lestari.

Melati dan Rismi Laraspati hanya tersenyum sinis. "Kak Lati, kali ini ijinkan aku mencari pengalaman !" ―Baiklah, hati-hati‖, Melati melangkah mundur beberapa tindak, membiarkan Rismi Laraspati mengasah kemampuannya. namun ia tak melepaskan Rismi Laraspati begitu saja, pedangnya ia genggam erat khawatir apabila terjadi lagi hal yang tak diinginkannya..

―Mengapa diam saja? apa kau takut bila kau hadapi aku sendirian?‖ Tantang Rismi Laraspati.

―Cihhhh‖ Lestari pun melangkah maju dengan bersiap mengirimkan cakarnya yang runcing kemerahan karena racun. Namun sebelum tangan itu sempat bergerak melancarkan serangannya, Rismi Laraspati berkelebat dengan cepatnya, bagaikan setan disiang bolong

. Wusss...! Srettt...!

Kain selendang menjerat pergelangan tangan Lestari. Lestari kerahkan tenaganya untuk menarik lepas selendang tersebut, namun apadaya selendang itu melilit tangannya seperti jepitan raksasa.

―Hemmm hebat juga permainan selendangnya, jika tak

kugunakan tangan lainnya dan tak dapat mempengaruhi emosinya mungkin aku takan dapat mengalahkannya, apalagi masih ada satu lagi temannya.‖ Pikir Lestari.

Pikiran bekerja, tindakan pun berjalan, tangan kiri Lestari berubah menjadi merah, jari jarinya meregang membentuk cakar, dengan sebat ia hendak merobek selendang itu. Geram hati Rismi Laraspati. Maka, ia pun segera menarik selendangnya ke belakang dan melecutkannya dengan kaki menghentak ke tanah satu kali.

Wusss...!

Duaarr...!

Ujung selendang memercikkan api. Suara menggelegar tersentak keluar dari kibasan angin selendang. namun sepertinya Lestari sudah menduga akan hal itu, maka siang- siang ia sudah menghindari serangan itu. bahkan ia balas menyerang dengan melemparkan tusuk kondenya kearah Rismi Laraspati.

Tak kalah gesitnya pula, Rismi Laraspati Putar selendangnya seperti kitiran membuat perisai berwarna putih.

―Cusss. ‖

Suara logam meleleh terdengar mendesis. rupanya selendang yang digunakan Rismi Larapati sudah dialiri dengan tenaga dalam yang memiliki unsur api. jadi ketika tusuk konde itu mengenai selendangnya maka melelehlah tusuk konde itu. bisa dibayangkan bila yang mengenai selendang itu adalah tangan manusia.

―busyet, ternyata meski gerakannya hanya tarian-tarian saja serangannya tidak kalah ganas dengan serangan cakar mayat ku‖ Gumam Lestari yang kaget dengan kenyataan didepan matanya. ―Awas! Dewi Sinta Merayu Rama‖ Pekik Rismi Larapati membuka serangan.

Kali ini Lestari tidaklah meremehkan setiap serangan Rismi Larapati. iapun segera membuka jurus andalannya ‗Cakar Mayat‘.

Kesepuluh jarinya terpentang seperti cakar, Serangan Rismi Laraspati dan Lestari sangatlah bertolak belakang, bila Gerakan Lestari Ganas dan berbau amis maka berbanding terbalik dengan Rismi Larapati yang ringan, Lincah, Lemah Gemulai dan lembut. serangannya juga menyiarkan bau harum khas gadis.

Mereka bertarung dengan ketatnya, puluhan, hingga ratusan jurus. mencapai jurus ke seratus delapan puluh tampaknya Rismi Larapati sudah tak sabar lagi dan menyabetkan selendangnya dengan dahsyat.

Wuss... Selendang berputar diudara dan serentak mengurung tubuh Lestari yang kala itu menyilang tangan dimuka dan menariknya sekuat mungkin.

―Breeettss‖

―Bukkkk‖ Akhhhh‖

―Jrepppp‖ ―Arggghhhh‖

Ketika Lestari menangkis selendang Rismi Larapati. Rismi Larapati merunduk dan memukulkan lututnya tepat diperut Lestari. tak pelak lagi, tubuh Lestari membungkuk menahan sakit. kebetulan saat itu Lestari membungkuk membelakangi melati, dengan sekali sentakan ringan pada gagang pedangnya, melesatlah pedang itu menembus punggung sampai perut Lestari. mata Lestari mendelik besar, dari mulutnya tersemburlah darah segar. dengan jeritan menyayat tubuhnya ambruk mencium bumi.

Rismi Larapati menutup matanya ngeri.

―Ada apa rismi?‖ tanya melati.

―Akh tidak, tidak apa-apa kok!‖

―Kau Takut?‖

―Engghh‖

―Jangan lemah Rismi,ini bukan apa-apa. kekasih kita seribu kali lebih kejam dari aku!‖

―Aku Tahu... Tapi ia juga adalah lelaki paling lembut yang paling aku kenal‖

―Aku mengerti. ayo kita susul mereka.‖

―Baiklah‖

Keduanyapun segera bergerak cepat menyusul kemana tadi Aram pergi. setelah tiba digerbang mereka segera meloncat dan berdiri diatas gerbang Markas cabang Nawa Awatara. setelah menengok kedalam. dirinya disuguhi dengan sebuah tontonan yang menggenaskan, bangunan porak poranda. mayat bergelimpangan. darah menggenang. dan mereka jugga menyaksikan Aram menunggangi Harimau menatap kearah rombongan yang sedang melarikan diri,

Selain itu, mereka juga melihat Thian Hong Li menunggangi seekor ular raksasa yang aneh bentuknya sedang membantai anggota Nawa Awatara tanpa ada sedikit emosi apapun di matanya.

Melati segera mencabut pedangnya dan melemparkan pedang itu menggunakan jurus kelelawar mencari mangsa. dan dengan telak pedang itu menembus tubuh salah satu dari mereka.

Maka kejadiannya seperti yang telah kita jelaskan di bab sebelumnya.

***

―Kalian Mau kemana?‖ Tanya Aram dengan senyuman mengejek.

Keenam orang yang tersisa saling berpandangan, wajah mereka sudah pasrah dengan kematian yang ada.

―Lihat. keenam orang itu, mereka seperti tikus dalam keranda!‖

Teriak salah seorang penduduk yang kebetulamn pada waktu itu sudah mendekati arena pertarungan.

―Cincang mereka!‖

―Habisi‖ ―Bakar tubuhnya!‖

Berbagai teriakan penuh kepuasan dari para penduduk yang kala itu ikut menimbrung.

―Gooaaaaaarrrrrrrr‖

―Gerrrrrmmmhhhhh‖

Dua geraman dahsyat menggoncang tempat itu, para penduduk yang kala itu berteriak-teriak sirna seketika. pucat pias wajah mereka melihat dua makhluk yang bergoar itu. seumur hidupnya mereka kali pertamanya saat itu mereka melihat makhluk seganas dan seaneh itu. tiba-tiba kedua makhluk itu diselimuti dengan kabut tebal.

Dan dari kabut tebal yang menipis itu, berjalan lah dua orang berbeda jenis, dialah Aram dan Thian Hong Li adanya.

―Silahkan kalian puas kan diri kalian sendiri, silahkan kalian boleh apakan enam makhluk itu!‖ Teriak Aram sambil meloncat tinggi dan mendarat disamping Rismi Larapati. Thian Hong Li pun tak kalah gesitnya ia meloncat dan mendarat disamping Melati.

―Mari Pergi‖

Wusssstttttt keempatnya menghilang diantara lebatnya hutan rimba dan gelapnya malam, meninggalkan masa yang mengamuk dan melampiaskan dendamnya kepada keenam orang yang dianggap mereka sebagai biang keladi kericuhan dinegri itu.

Malam sudah lalu. obor-obor dimarkas cabang nawa awatara yang sudah tinggal puing semakin berkobar apalagi ketika bekas bangunan itu diamuk oleh ganasnya sijago merah. rupanya Para warga enggan bila Para Anggota Nawa Awatara kembali menunjukan taring didesa mereka.

Alunan musik dari dedaunan terdengar merdu ditiup seorang pemuda yang kala itu sedang berkuda bersama ketiga gadis di Kaki gunung Kendyaga (Galunggung). Alunan merdu itu terbawa hembusan angin pagi, terus menyelusup ke dalam lembah, dan terpantul dinding tebing membawa keindahan tersendiri bagi yang mendengarnya. Suara merdu itu terus menembus jauh sampai ketelinga dua orang pemuda berbaju kelabu diatas tebing jalan setapak itu.

Merasa penasaran, dua pemuda itu segera meloncat menghadang keempat penunggang kuda itu.

―Hieeee‖

Karena kaget keempat kuda itu segera mengangkat kedua kaki depannya, jika tidak dikendalikan oleh seporang akhli tidak mustahil bahwa penunggang kuda itu bakal terlempar jauh oleh tunggangannya sendiri.

―Amuk, Murka Apa yang kalian lakukan.‖ Pemuda yang tak lain adalah Aram itu berteriak jengkel. ―Ekh, Akh... Ketua.. Maafkan kami hehe‖ Amuk Samudera mewakili yang lain meminta maaf. sambil cengengesan malu.

―Yasudahlah, hendak kemanakah kalian, bagaimana dengan tugas kalian?‖

―Beres ketua,‖

―Baiklah, Engh ‖ Aram berpaling kepada Thian hong Li, lalu

Melati dan terakhir Rismi Laraspati, dilihatnya wajah Rismi Laraspati sudah keruh kemerahan, sepertinya ia tidak kuat lagi melaju mengendalikan kudanya.

―Rismi, Naiklah bersamaku‖ Pinta Aram.

―Engh.. ekh Apa?‘‘ Rismi Laraspati tersentak dari lamunannya.

―Naik lah bersama Kakang Aram‖ Bisik Melati yang kebetulan berada disampingnya.

―Ayo‖ Pinta Aram kembali.

Dengan Kikuk, Rismi Laraspati turun dari kudanya dan naik melompat kekuda yang ditumpangi Aram.

―Kalian berdua, Naiklah kekuda itu, dan kalian ceritakan mengenai tugas kalian sambil melanjutkan perjalanan‖Titah Aram.

―Baik‖ Sahut mereka serempak dan meloncat kepunggung kuda. Amuk samudera menghela nafas sebentar dan mulai bercerita. ―Begini ketua, Ketika kami selesai membagi daerah bersama Ketua angkara dan yang lain, kami berangkat menuju Padepokan Pedang bumi.‖

*****

Padepokan Pedang Bumi terletak di Gunung Kendyaga (Galunggung), diantara bentangan jurang yang curam, bila perguruan Golok Harimau dan Rajawali Emas memiliki padepokan yang tetap, maka Perguruan pedang bumi selalu tinggal bersama dengan alam, selaras dengan Alam.

Kenyataan itu ternyata membuahkan hasil, Anggota Nawa Awatara susah sekali menjerat Murid-murid dari perguruan Pedang Bumi. alhasil, mereka hanya dapat menyegel gunung itu tanpa dapat mengekang apalagi menahan Anggotanya.

Jurang Agni merupakan suatu jurang curam yang dibawahnya terdapat sungai lahar dari gunung Kendyaga. bau belerang menyengat hidung membuat siapapun merasa sedang berhadapan dengan pusat kawah.

Amuk Samudera dan Murka Semesta tampak berjalan menyusuri hutan dengan mulut penuh daging dimulutnya,

―Murka, Kau tahu letak persis dimana keberadaan Murid Perguruan Pedang bumi itu?‖ Amuk samudera berkata setelah menghabiskan daging yang dikunyahnya. ―Emch, Tahu Persis sih tidak, aku hanya tahu gambarannya saja. itu juga menurut Ki Ardam yang menuturkannya secara garis besar‖ Tenang ucapan Murka Semesta.

―Gambaran? emch, lalu apakah kau sudah menemukan gambaran itu?‖

―Sudah..‖

Amuk Samudera hentuikan langkah ―Lalu kita harus kemana sekarang?

―Sekarang Aku tak tahu!‖

―Tadi kau bilang sudah menemukan gambaran itu?

―Ia, Mengenai itu tadi sudah terlewat, sewaktu kita memanggang ayam hutan, seharusnya kita menuju arah selatan.‖

―Mengapa kau tak mengatakannya sedari tadi hah...!‖

―Kau tak bertanya‖

―Gerrrrr. hah, jadi perjalanan dua mil kearah tenggara ini

menurutmu percuma?‖

―Aku pikir kau tahu jalannya, jalan yang lebih dekat maka aku diam saja!‖

―Plakkkkk!‖ Amuk samudera menepuk jidatnya sendiri. ―Jadi sekarang kita harus berputar balik?‖

―Jika kau tak mengetahui jalannya aku rasa itu pilihan yang

tepat‖ Murka semesta menjawab sambil membalikan badan dan melesat terbang menggunakan ilmu peringan tubuh, Selaksa rubah menjadi bayangan. tak ada pilihan, Amuk samudera segera mengikuti Murka semesta dan berjalan beriringan. setelah sekian lama, akhirnya sampai juga dimana mereka tadi memanggang Ayam hutan.

―Emch, sekarang kemana?‖ Tanya Amuk Samudera.

―Kesana‖ Murka semesta menunjuk sebuah sungai yang cukup besar dan batu menjulang tinggi.

―Plakkkk‖ Sekali lagi Amuk samudera menepuk jidatnya sendiri.

―Bukankah tadi kita berada disana?‖ tunjuk Amuk samudera menunjuk kearah sungai yang berada diarah tenggara.

―Aku rasa ia‖

―Gerrr... sialan! HARUSNYA KITA BERJALAN DUA MIL MENUJU BATU ITU TANPA HARUS KEMBALI KEMARI‖ Maki

Amuk samudera Jengkel. Tiba-tiba....

―Aakh, rupanya kalian masih berada disini!‖ Sapa seorang lelaki yang tak lain Ki Ardam adanya. ―Ki, Orang ini benar-benar membuatku karatan... kita selama ini terus berputar-putar saja disini.‖ Amuk samudera melampiaskan kesalnya kepada Ki Ardam.

―Hahhaha     kalau begitu mari aku tunjukan jalannya.― Ki

Ardam tertawa sambil melesat menuju arah selatan. tanpa kata Murka Samudera mengikutinya meninggalkan Amuk samudera yang mencak mencak tak keruan.

Jengkel sekali perasaan Amuk samudera, dengan menggerutu ia mengikuti keduanya. Ketiganya berlari beriringan, dalam perjalanan mereka juga melihat beberapa orang berpakaian hitam yang tak lain Anggota Nawa Awatara tampak berdiri ataupun berjaga.

Murka semesta potes ranting kering dan lemparkan ke Jalan kematian mereka, maka tak pelak lagi tanpa ketahuan nyawa mereka berjatuhan. begitulah, mereka berlari sambil membunuh. sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. begitupula dengan kematian Anggota Nawa Awatara. meski mereka mati tanpa suara akhirnya ketahuan juga.

―Teng..teng‖ Sebuah suara lonceng di pegunungan itu berbunyi tanda bahaya.

―Lihat, gara-gara ulahmu tanda itu dibunyikan.‖ Tuduh Amuk Samudera.

―Engh    Aku tahu, aku sengaja melakukan itu.‖ Tenang

Jawaban Murka Semesta. ―Mengapa?‖

―Supaya aku tak kelimpungan mencari mereka. bila sudah tanda itu dibunyikan aku yakin mereka berkumpul disatu tempat dan aku bakal membunuh mereka serempak.‖ Sederhana sekali pikira Murka semesta, namun dalam keadaan itu benar-benar pikiran yang jitu. sebuah taktik atau siasat sebenarnya bukan teorinya yang hebat melainkan cara menempatkan dan memilih suatu keadaan yang tepat lah maka akan menjadi suatu senjata yang paling ampuh didunia ini.

―Enghh... Kau jenius Murka...‖ Pekik Ki Ardam antusias. Amuk Samudera menghela nafas panjang.

―Ini gila‖ Pikirnya dalam hati.―Kemana kita Ki? Tanyanya.

―Tempat yang dibuat markas darurat Kita Sampai‖ Kata Ki

Ardam.

Amuk Samudera dan Murka Semesta pandangi temmpat itu, hanya hamparan batu saja yang ada di hadapan mata. sementara didepannya sebuah batu besar sebesar kubangan kerbau.

Ki Ardam putarkan batu itu kekiri dua kali dan kekanan dua kali. dretttt drettt Brussshhhhh Akhhh Pekik Amuk Samudera dan

Murka semesta kaget, Ketiganya jatuh tertelan bumi.

―Bukkkk‖ Ukhhh Amuk Samudera jatuh dengan tulang ekor

membentur batu cadas. sementara Murka Semesta yang memperhatikan cara jatuh Ki Ardam tampak baik-baik saja. ―Kau tak apa?‖ Tanya Murka Semesta prihatin dengan keadaan sahabatnya itu

―Apa kau lihat keadaanku baik-baik saja?‖

―Emch, Kepalamu dan anggota tubuhmumu tidak ada yang berubah, aku yakin kau baik saja,...‖

―Jadi maksudmu aku harus patah kaki dan tangan baru bisa dibilang tidak baik-baik saja.‖

―Tidak juga, nyawamu melayang jua bisa dibilang ada apa-apa‖

―Gerrrrrrrr‖

―Tiba-tiba‖

―Siapa Kalian!‖ Bentak seorang pemuda berbaju Hijau polos, sepertinya ia merupakan seorang yang akhli dalam penyamaran dalam hutan.

―Dewa Daun ini aku‖ Jawab Ki Ardam.

―Ketua ‖ Pemuda yang dipanggil dewa daun terpengarah,

segera ia berlutut.

―Bangunlah, kita harus menuju ruang penyangga‖

―Baik. ‖ Singkat cerita akhirnya Ki Ardam, Dewa Daun, Amuk samudera, Murka semesta tiba diruang penyangga juga diikuti sekitar seratus orang Murid Perguruan Pedang Bumi.

―Nah, Itulah..., jika kita bisa menggeser batu itu, maka kita bisa

,membunuh mereka tanpa harus membunuh mereka satu persatu.‖

―Heaa Amuk Samudera mendorong batu itu, namun batu itu

tidak bergeser juga.

―Jelaslah, dulu batu itu dibuat oleh pendahulu kami sebanyak seribu orang..!‖ Tutur Ki Ardam.

―Kita coba! Heaaaa‖ Murka semesta berkata sambil mengerahkan tenaga dalamnya yang bernama Panca Menjadi Tunggal.

―hehe ― Amuk samudera tidak mau ketinggalan, ia kerahkan

pula ilmu tenaga dalamnya yang bernama Tunggal menjadi Kosong,

―Dreeetttt Dreeetttt‖ Perlahan batu itu mulai bergeser. Ki Ardam

dan para muridnya tertegun, ki Ardam mantapkan hatinya segera ia memasang Sarung tangan elemennya dan mengerahkan tenaga dalamnya dari kitab Samudera Kematian.

Hawa Panas, Dingin, Perih, nyaman dan sebagainya berseliweran akibat tenaga dalam itu, Dewa daun tak sanggup lagi berada didekat sana, segera ia berlari kebelakang, Murid perguruan pedang bumi lainnya segera mengikuti. ―Drett...drettttt bruss. Argggghh‖ Suara batu bergerak

kemudian jatuh kedalam lautan kawah digunung itu. sementara itu diatas tempat itu, Para Anggota Nawa Awatara sedang mengadakan rapat mengenai pembunuhan dibawah bukit tadi. dan tiba-tiba tanah disekeliling mereka bergetar, dan tak ampun lagi mereka ambruk dan tertelan kedalam tanah. berbagai jeritan kagety bersahutan, perempuan, Laki-laki tua muda menjerit. mereka jatuh kedalam ganasnya Kawah panas.

Ki Ardam tersenyum puas.

―Ternyata ini rencana kalian!‖ kata Amuk samudera jengkel.

****

―Nah, begitulah kejadiannya ketua, dalam tugasku kali ini malah jadi bulan-bulanan mereka berdua, aku benar-benar bisa mati karena jengkel‖ Amuk samudera bercerita dengan jenaka membuat Aram dan yang lainnya tertawa geli.

―Akhirnya Ki Ardam hidup berbahagia dengan para muridnya Tamat‖ Tambah Murka semesta.

―Hihi. sepertinya kang Murka pintar mendongeng, ceritakan

dongeng buat aku dong kang!‖ Rismi Laraspati berkata polos.

―Baiklah, Tuan Putri. Pada Zaman dahulu kala, didunia ini belum ada tumbuhan, belum ada hewan, belum ada sungai, belum ada manusia dan belum ada yang bisa diceritakan. Tamat.‖ Tenang ucapan Murka semesta seakan itu merupakan hal yang sepele.

―hahahaha ‖ Gelak tawa bersahut-sahutan disekeliling mereka, tanpa ada beban seolah mereka sedang bertamasya. gema suaranya begitu empuk ditelinga siapapun

Pagi baru saja menyingsing. Matahari masih enggan menampakkan dirinya. Hanya rona merah jingga yang membias dari balik gunung sebelah Timur. Namun di pagi yang masih tertutup kabut itu terlihat Suatu rombongan berjumlah enam orang berkuda berpacu cepat meninggalkan debu yang mengepul di udara. Dilihat dari ciri-cirinya, enam orang berkuda itu bisa dikenali siapakah gerangan. Mereka adalah Rombongan Aram dan kawan-kawan. Tampak mereka memacu kudanya secara beriringan.

Gunung Kendyaga sudah jauh di belakang mereka, saat ini mereka sedang berada di hutan kastubamani. dinamakan kastubamani sebab disana memang sering ditemukan permata- permata yang terkubur. tak heran sebab disana memang bekas reruntuhan Kerajaan Raharja. sebuah kerajaan yang paling mewah pada masanya. dalam kesunyian itu terdengar kicauan burung perkutut mengusik kebisuan mereka

―Ketua, mengapa kita harus berputar kesana kemari bila memang tujuan kita adalah Pulau Borneo?‖ Amuk Samudera berkata lirih heran.

― Hem, kau ini benar-benar tidak tahu ataukah memang pura- pura tidak tahu?‖ Murka semesta mendengus. mewakili Aram.

―Memangnya kau tahu mengapa kita terus berputar ?‖ ―Dasar otak Bebal, Kita sedang menunggu kedatangan teman kita yang lain untuk berangkat ke Pulau setan-setan itu, dengan berputar-putar kita dapat menunggu kedatangan mereka sekaligus. ‖

―Sekaligus!?‖

―Para Anggota Nawa Awatara lebih pintar daripada kau! jika memang kau ingin tahu, carilah jawaban sendiri―

― Emch, Apa sih susahnya mengatakan‖ Rutuk Amuk Samudera.

―Katakan sih mudah, tapi menjaga ucapan dari telinga kucing sangatlah sulit, bukankah begitu Cempaka, Kasturika?‖ ucap Murka semesta lirih entah ditujukan kepada siapa.

―hihihi. benar-benar sekali‖ Dari atas pohon melesatlah dua

bayangan bertubuh langsing dengan indahnya,

Gadis pertama memakai pakaian dalam berwarna merah muda. dibalut jubah panjang berwarna merah ati. jubah itu terlihat begitu ketat, memperlihatkan lelukan tubuh gadis itu, jubahnya panjang sampai sebatas lutut. gadis itu tidak mengenakan celana pangsi seperti layaknya seorang pendekar wanita. dibalik jubah ketatnya, Gadis itu tidak terlihat memakai apa-apa.

Rambutnya tergerai lurus sepunggung menambah kecantikannya., sedang yang satunya lagi adalah seorang gadis cantik berpakaian dalam Hitam berjubah sama dengan gadis pertama, hanya saja, gadis yang satu ini memakai celana panjang yang selazimnya dipakai oleh seorang laki-laki, gadis pertama ternyata adalah Cempaka lalu gadis yang kedua adalah Kasturika si Dewi Damai Buana.

―Rupanya kau sudah tahu bahwa aku dan Cempaka sedari tadi mengikuti kalian hihi‖ Kasturika yang bernama arti tertawa ringan.

―Bagaimana dengan tugasmu Teh?‖ Thian Hong Li yang sudah kerasan memanggil dengan panggilan bahasa sunda itu bertanya sambil meloncat ke punggung kuda yang ditumpangi melati. rupanya Cempaka dan Kasturika paham dengan sikap Thian Hong li, buru-buru mereka menunggangi kuda bekas tunggangan Thian Hong Li.

―Sudah beres, kami tidak membantu apa-apa dalam rumah tangga perguruan teratai putih, sebab mereka sudah bertindak duluan dengan menenggelamkan padepokan mereka. jadi, kami beralih dengan membantu Para Anggoota kita untuk masuk kedalam tubuh Nawa Awatara.‖

―Oh, begitu lalu, apakah Bangunan Perguruan teratai putih

sudah tinggal kenangan?‖ Melati bertanya polos.

―Hihi, Tidak bangunan mereka baik-baik saja, sebab dalam

padepokan mereka sudah dipasangi dengan perkakas rahasia, kau tahu? Pusat Padepokan Teratai Putih sebenarnya ada di Dasar danau Kali Lotus.!‖

―Wah,. hebat juga jikalau begitu, lain kali aku jadi ingin

berkunjung kesana!‖ Cerocos Rismi Laraspati. ―Ada pesan dari Sipengabar Langit?‘‘ Aram bertanya Spontan. wajah tampannya menatap lekat-lekat cempaka.

―Mengapa ketua bertanya padaku!‖ Meski berkata seperti itu, dalam hatinya ia merasa kagum dengan sikap ketuanya itu, ia heran darimanakah Sumbernya hingga Aram dapat mengetahui bahwa Sipengabar Langit akan mengirimkan kabar melalui dirinya.

―Aku yakin dalam hatimu kau sudah mengerti alasanku sepenuhnya‖ Aram berkata sambil tersenyum, ia julurkan tangannya kedepan. Cempaka masukan tangannya kebalik baju dalam di belahan dadanya. dari situlah ia mengeluarkan sehelai kain putih. dan menyerahkannya kepada Aram.

Aram segera tenggelam dalam surat itu, sebab surat itu terdiri dari kata yang tersusun oleh sandi. Aram tersenyum puas, segera ia kerahkan tenaga dalam Panca Menjadi Tunggal yang memiliki hawa panas. bau benda terbakar menyeruak hidung, sekejap saja kain itu telah berubah menjadi serpihan abu yang berterbangan.

―Kakang, Apa isininya.?‖ Rismi Larasparti berbisik.

―Kau akan tahu nanti.‖ Jawab Aram sambil mengepruk kudanya. sebentar saja hutan itu terlewati, maka terbentanglah sebuah safana yang syarat akan keindahan.

―Sepertinya kedatangan kita disambut dengan meriah...!‖ Gumam Cempaka. ―Emhhhhh Tidak, Penyambut kita semua sudah menjadi

mayat‖ Tanggap Aram.

―Siapa yang melakukannya.‖

―Sepertinya keenam orang itu dapat menjelaskan!‖ Jawab Aram sambil menatap lurus kedepan, dari arah depan itu memang berjalanlah enam sosok manusia berjalan lenggang kanggkung menenteng pedang.

―Angkara, Yumi, Huru Hara, Luyu, Ryusuke Jelita ‖

―Hormat ketua!‖ Serempak keenam orang itu menbungkukan badan,.

―Bangunlah, bagaimana tugas kalian?‖

Pertama yang menuturkan adalah Angkara dan Yumi. kemudian Huru hara dan Luyu Manggala, untuk terakhir yang bercerita adalah Ryusuke dan Jelita Indria.

***

Padepokan Bintang Kemukus berada di gunung Sungging (sekarang Sumbing) tepat berada di puncaknya. Gunung sungging merupakan gunung yang kaya akan keindahannya, pada waktu itu langit tampak mendung, sepertinya akan turun hujan. dalam cuaca seperti itu ternyata ada sebuah pertarungan yang cukup seru, denting pedangnya bergema dipantulkan dinding-dinding jurang dan cadas. Dan Lucunya, pertarungan itu juga ditonton oleh dua orang muda-mudi berpakaian hijau, Warna hijau mereka itu ternyata membantu mereka untuk menyembunyikan diri tanpa disadari oleh lawan.

―Apa kita akan turun tangan sekarang?‖ Tanya Gadis berbaju hijau, dan lelaki disampingnyapun menjawab.

―Ki Madya bilang kita jangan sembarangan mencampuri urusan rumah tangga mereka. sebaiknya kita bantu bila keadaan Murid Perguruan bintang kemukus sedang dalam kritis saja‖

―Baiklah jikalau begitu.‖ begitulah mereka terus bercakap-cakap dengan kesiagaan yang cukup serius, mereka tak lain adalah Ryusuke dan Jelita Indria adanya.

Sementara itu dalam pertarungan tampak Ki Madya sedang kelimpungan melawan Seorang Anggota Nawa Awatara yang bersenjatakan gada.

―Ki Madya, tak kusangka kau bisa lolos dari jeratan kami bahkan memiliki ilmu baru yang kau kuasai. namun jangan harap dapat mengalahkanku‖

―Pancawali jangan takebur kau, ketahuilah bahwa ilmu dari Kitab Tanah Inti Bumi ini belum menunjukan kemampuannya. dan jangan harap dapat melihatnya lagi, sebab di purnama ini juga kalian para setan kelayaban Nawa Awatara akan musnah akibat perbuatan kalian sendiri ‖ ―Serahkan Jiwamu!‖ tanpa banyak cakap, Gadanya terangkat terus membacok dari depan, sejak angkat nama di kancah rimba hijau, Pancawali mengandalkan tenaganya yang besar, gadanya yang besar dan kuat ditambah kekuatan latihan tenaga pergelangan tangannya selama puluhan tahun, jurus serangan gadanya begitu menggiriskan telinga. Jurusnya yang disebut Gada pelumatpolo benar-benar dahsyat, angin berkesiuran laksana tawon pindah sarang.

Ki Madya tersenyum mengejek. tangannya yang sudah memakai sarung tangan elemen diangkat dan sedikit digentak, maka terdengarlah suara ―bukkkk‖ yang tidak begitu keras, bacokan Gada Pancawali yang membawa tenaga laksaan kati itu dengan mudah dipecahkan, Hati Pancawali merasa takjup sekaligus tercengang, ia heran sekali mengapa tangan Ki Madya begitu keras, serunya sambil tertawa keras,

―Tak heran kau berani mengagulkan diri, tenaga dalammu cukup kuat juga!. Awas, Serangan kedua‖

Seiring dengan bentakannya Gada besar di tangannya sudah membabat pergi datang bolak-balik, bayangan gadanya berkesiuran tajam, setiap jurus pasti mengarah tempat-tempat penting mematikan di seluruh tubuh Ki Madya.

Meski bentuk tubuh Ki Madya terkurung rapat di dalam kesiuran Gada besar Pancawali, tetapi sikapnya masih tenang, dengan menyambut atau menyampok dan menindih serangan itu menggunakan telapak tangannya, dengan tanpa gentar ia dapat memunahkan setiap rangsakan dari Pancawali. Dalam pada itu, pertempuran di tengah gelanggang sudah mencapai puncak yang tidak terkendalikan lagi, semakin bertempur Pancawali semakin bernapsu merangsak dan menggempur dengan berbagai tipu jurus yang ganas dan licik, setiap jurusnya mengandung perubahan yang lihay dan sulit diselami, semua menjurus ke tempat mematikan di tubuh lawannya.

Mendapat serangan seperti itu, akibatnya ia menjadi gugup, dengan kelimpungan ia mainkan jurus-jurus dari Perguruan bintang kemukus dan aliran tenaga dalam inti bumi.

Setelah sekian jurus dikeluarkan Karuan Pancawali dibuat panas hatinya, cepat ia naikan tempo serangannya. seratus jurus dilampaui. Samar-samar sudah kelihatan Ki Madya mulai payah, sebaliknya Pancawali juga tida meraih keuntungan Nafasnya tampak memburu. 

―Blaarrrrr‖ Klontraannnngg.!

―Hoek..! Hoek...!‖

Keduanya tergetar mundur, Gada besar milik Pancawali melesat jauh. terkena ledakan tenaga dalam itu, Keduanya pun tampak terhuyung-huyung dan muntah darah.

Bersamaan itu pula disekeliling mereka tampak mayat kedua belah pihak sudah bertumpuk, keadaan Perguruan bintang kemukus sudah berada diujung tanduk. saat itulah tiba-tiba serentetan senjata logam berbentuk bintang berseliweran diudara, Crassss...crassss. crekkk Akghhhhh‖

Sekejap saja, Anggota Nawa Awatara tampak bergelimpangan hingga menyisakan dua orang lagi, Orang yang bertarung dengan Ki Madya dan satunya lagi adalah seorang kakek berjenggot merah. kakek itu memiliki wajah yang tirus dan mata sipit, dalam dunia persilatan ia dikenal dengan Orang tua berjanggut merah.

―Siapa itu!‖ Geramnya marah, suaranya serak dan suaranya mengceletar sadis. Murid perguruan Bintang kemukus kelihatan saling tergeletak pingsan. dari telinga mereka keluar darah.

Sementara Yumi dan Ryusuke kelihatan sama sekali tak terpengaruh.

―Hey jenggot merah, jangan marah-marah terus, kau sudah tua...

bila kau marah-marah terus kau bisa modar nanti!‖ Jelita Indria tertawa tawa ringan. Jleggg ! dihadapan Orang tua berjenggot

merah munculah seorang gadis cantik berwajah manis tersenyum manis. Pakaiannya serba hijau.

―Akh..ugghh!‖ Kakek itu tergagap melihat wajah secantik itu.

Dilain pihak, Ryusuke juga tampak berdiri disamping Ki Madya sambil meletakan tangannya di pundak. Sekejap saja luka yang dialami ki madya segera sembuh, rupanya Ryusuke juga menyalurkan tenaga dalamnya seiring pegangannya. ―Kau tak apa-apa ki?‖Ryusuke menyapa. Ki Madya mengangguk pelan, ―Maaf ki, aku tidak kuat menahan bila melihat Murid Aki bergelimpangan begitu saja,‖

Ki Madya palingkan wajahnya, betapa pilunya melihat beberapa muridnya bergelimpangan dan beberapa orang sedang ditolong oleh para murid utama yang memiliki kemampuan lebih.

―Silahkan aki menolong mereka, biarkan saya yang menyelesaikan urusan disini.‖ Ryusuke berkata sambil mencabut pedang panjang dipunggungnya, Rupanya Serangka dan Gagang pedang itu serasi dengan bajunya, sehingga pedang itu keberadaannya tersamarkan.

―Sringg‖

―Siapa Kau Anak muda! apakah kau tahu siapakah yang sedang berhadapan denganmu? Si Tua bangka Madya juga belum dapat membunuhku apalagi dirimu yang hanya seorang bocah bau kencur‖

―Haha Kita Lihat saja nanti Kisanak, barangkali nyawamulah

yang duluan melayang!‖

Tampak Pancawali memasang kuda-kuda, lengannya sampai sebatas siku berubah menjadi hitam legam, bau anyir merebak kemana-mana.

―Ajian Inti Bisa!‖ Ucap Ryusuke tanpa sadar, ia pernah melihat cara bagaimana untuk menguasai ilmu hitam itu dikumpulan ilmu dalam perpustakaan dalam markas Bendera Awan Langit. ―Hebat kau anak muda, sekali lihat saja kau dapat mengetahui ilmuku ini!‖

―Laknat Kau keji sekali kisanak sampai membunuh bayi

dalam kandungan!‖ Pekik Ryusuke.

Seiring dengan bentakannya tubuhnya condong kedepan dan mulai membabatkan pedangnya, Pedang melawan Pukulan.

―Craaassshhh Bukkk!

―Hoekkk. ughhh!‖

Hebat sekali, dalam sekali gebrakan saja mereka sudah beradu kekerasan, dengan kecepatan laksana kilat Ryusuke menggunakan tipu Matahari terbit malam gelap. serangannya itu sekilas terlihat sederhana, tapi begitu bergerak serangannya cepat bagaikan kilat. 

Tangan Kiri yang kosong ia sabetkan menuju mata Pancawali, rupanya pancawali terkecoh, segera ia tahan serangan itu, merasa tipunya berhasil Ryusuke juga sabetkan pedangnya dengan cepat, tapi itu semua harus dibayar dengan mahal. sebuah tinju dengan telak menghajar ulu hatinya, keadaan Pancawali juga tidak menguntungkan, dari dada kiri sampai pundaknya terasa perih bukan main. darah mengucur deras darisana.

―Ganas juga racunnya!‖ pikir Ryusuke sambil menelan pil penawar racun. ―Serangannya terlalu cepat, sedikit meleng saja jiwaku melayang, aku salah terlalu menganggapnya remeh, namun kurasa racun ku cukup untuk membunuh dirinya!‖ batin Pancawali sambil mendekap erat dadanya.

―Awas serangan kedua!‖ Ryusuke berteriak mengguntur sambil memutar pedangnya dengan dahsyat, itulah jurus Matahari berotasi. Pancawali kerahkan tenaga sampai dua belas bagian. warna hitam dipergelangan tangannya semakin kentara, dalam hitungan detik keduanya kembali bergumul seru.

Dilain tempat, tampaknya Jelita Indria dan Orangtua berjenggot merah juga sudah terlibat pertarungan, serangan jelita Indria sangat lemah dan gemulai, namun pedangnya selalu menyambar ganas. sedangkan Orangtua berjenggot merah menangkis dan balas menyerang menggunakan trisulanya,

―Trang..trangg!‘

Dentingan dua logam beradu terdengar nyaring, tapi bisa dilihat bahwa Jelita Indria memegang pertarungan itu, rupanya Orang Tua berjenggot merah sangat tergiur dan tergoda dengan setiap gerakan gemulai dan tubuh indah jelita Indria. sehingga setiap jurusnya tidak kleluar dengan maksimal.

Dan.... Jrusss... Brukkk!

Nyawa Orang Tua berjenggot merah melayang meninggalkan raganya. ketika Jelita Indria menggunakan jurusnya yaitu Tarian Merak putih, dadanya yang membusung indah itu berhadapan tepat dengan wajah Orang Tua berjenggot merah. sementara kedua tangannya teracung keatas dalam posisi badan melengkung, pahanya yang indah sempat terlihat ketika Jelita indria mencongkel pedangnya yang terlempar keatas, bau harum khas wanita pun tercium jelas dihidung Orang Tua berjenggot merah sehingga gairahnya memuncak.

Dalam keterlenaan itu, Orang Tua berjenggot merah tak sadar bahwa pedang yang tercongkel itu dikendalikan menggunakan kakinya hingga menembus tubuh tuanya itu. tanpa kata Orang Tua berjenggot merahpun tertidur untuk selamanya.

Setelah mencapai jurus yang ke enam puluh delapan tampak bahwa Ryusuke juga sudah berada disaat mencapai puncaknya, tangan kirinya yang kosong bergeliatan diantara celah kosong hingga akhirnya dapat mengenai jalan darah tidur ditubuh pancawali. Pancawali terkejut namun ia tak dapat berbuat apa- apa, tubuh kekarnya jatuh menggelosor dan ketika belum mencapai tanah kepalanya telah lepas duluan terkena sabetan pedang panjang Ryusuke.

*****

―Begitulah ketua!‖ Ryusuke dan Jelita Indria mengakhiri kisahnya.

Semua orang disitu tersenyum lega, akhirnya Aram berkata memecah keheningan.

―Lalu, ada kejadian apalagi? tampaknya kalian menyimpan ganjalan.‖ ―Eng, sebenarnya kami telah membunuh lima manusia ular pencabut nyawa. padahal seharusnya ketualah yang harus melakukan itu‖

―Dimana kalian menemukan mereka?‖

―Kami bertemu dijalan, ternyata mereka sudah bergabung dengan Nawa Awatara. kami sudah mendengar dari Sipengabar Langit kalau‖

―Syukurlah jikalau begitu,! tak usah kau risaukan mengenai urusan itu saudaraku. aku ucapkat terimakasih. Ada yang kalian ingin tanyakan lagi?‖

―Ada!, bagaimana dengan Datuk-datuk persilatan juga anggota kita yang sedang berada dimarkas?‖ Angkara bertanya lirih.

―Semuanya sudah bergerak. ! Pada waktu itu, aku

duduk melamun didekat air terjun sebab merasakan firasat yang tak enak. ku perintahkan salah satu anggota yang bernama sangkoro untuk mengumpulkan semua anggota ‖

―Tik....Tik...Tik..!‖

Suara Air yang jatuh dari ketinggian mengiringi bagai musik yang berdentang seperti irama lagu, ―Ketua,. !‖ sapa seorang pemuda

berpakaian hitam, Rambutnya gondrong sebatas bahu.

―Ya, Ada apa Sangkoro?‖

―Emch. Semuanya sudah berkumpul..!‖ ―Baik... Antarkan aku kesana!‖ Keduanyapun segera pergi kesebuah tempat lapang didekat batu cadas berwarna hitam selaras dengan keadaan langit disana yang sedang biru-birunya. keadaan disana tampak ramai dengan obrolan-obrolan kecil sesama anggota, namun ketika datang Aram semuanya berubah menjadi hening. Sima atau wibawa ketuanya memang sudah mereka kenal sejak pertama kali bergabung,

―Bagaimana keadaan kalian saat ini saudara-saudariku?‖

―Yehaaaa‖ Teriak mereka serempak.

―Ada beberapa hal mengapa kita saat ini berkumpul, apakah kalian sudah siap menjadi seorang pembunuh Angkara murka?‖

―Siaaappp! Heaaaaa Hidup Kesejahteraan hidup Bendera

awan langit!‖ Jawab mereka serempak.

―Bagus, mulai besok kalian aku tugaskan berpesta darah, silahkan kalian membunuh ataupun menyusup diantara mereka, Aku beri kebebasan untuk kalian, terserah kalian mau melakukan apapun tapi satu hal jangan lupakan tujuan utama kita dan tepat pada saat purnama menunjukan jati dirinya, maka saat itulah kita bergerak ada yang ditanyakan lagi‖

Semuanya tampak diam, Wajah mereka dipenuhi dengan senyuman aneh, saat ini mereka adalah macan yang terkekang. bisa dibayangkan jika mereka sudah bebas nanti, entah akan berapa tetes darah yang akan tertumpah ―Silahkan kalian berbenah dan menyiapkan diri, besok pagi aku enggan bila melihat satupun diantara kalian berada disini.

Paham‖

―Heaaaaa Hidup Kesejahteraan hidup Bendera awan langit‖

―Bagus, jikalau begitu aku akan pergi sebentar!‖

Ucapan tinggal ucapan sementara jiwa dan raganya entah berada dimana sekarang, suara itu menggaung gaung penuh gelora, seperinya Aura kematian yang dikuasainya sudah mencapai kesempurnaan, sehingga meski orangnya sudah tak ada namun auranya masih menyergap setiap orang yang ada disana.

Mereka tidak protes karena mereka dikumpulkan dan ketuanya hanya mengucap beberapa patah kata saja, mereka tahu. itulah gaya memimpinnya, singkat padat dan jelas.

Jauh dari tempat itu, Aram sedang berlari dengan cepatnya menuju sebuah pondokan di Pulau yang bernama Anglep.

―BLAARRRR !‖ Pintu pondok itu jebol.

―Nek. !‖ Aram berlari dengan mata berkaca-kaca. tubuhnya

gontai seketika ketika melihat sesosok prempuan paruh baya terbaring pucat di sebuah pembaringan yang sedang dikelilingi oleh beberapa wajah yang tak asing dimatanya. Sipemabuk Dari Selatan, Ki Asmaradanu alias Sisinting dari Timur, Ki Jalak alias pendekar burung jalak dan Nyi Renjani alias bidadari penakluk naga. ―Nek!Tidak... Jangan tinggalkan aku!‖ Mulutnya mengeluarkan jeritan lantas menubruk tubuh kaku Nyi Permata Dewi alias Dewi Pemanah Asmara.

Aram memandang sekian lamanya wajah pucat Nyi Permata Dewi, hatinya pilu sekali, air matanya mengalir bercucuran. Ki Asmaradanu menepuk pundak Anak angkatnya itu, ―Nak, Sabarlah segala sesuatu pasti ada hikmahnya‖

―Ayah‖ Aram sandarkan tubuhnya, bagaimana kejadiannya?‖

―Hemmm‖ Ki Asmaradanu menghela nafas sebentar.

―Nenekmu mempelajari ilmu yang disebut dengan Asmara Jaya Sukma, Meski hebat ilmu itu selalu membangkitkan hawa kewanitaannya akan kehangatan, merasa tak tahan Nenekmu berusaha untuk menghilangkan ilmunya itu. padahal ilmu itu sudah menjadi darah dan dagingnya, Ayah tak tahu kejadian selanjutnya sebab ayah dan guru dan yang lainnya sedang adu tanding di lapangan. dan ketika ayah kemari Nenekmu sudah menggeletak tak bernyawa, nah itulah pesan terakhir nenekmu!‖ Ki Asmaradanu menunjuk lantai. dilantai itulah tergores sebuah tulisan yang terbuat dari goresan tangan.

―Hapus Angkara murka, Bebaskan Keadilan.‖

―Baik. baik nek! itu pasti‖ Aram bergumam sendiri. lalu ia

berkata dengan mengambang.

―Lalu apa yang akan dilakukan sekarang oleh ayah? Ananda mohon pamit, Ananda hendak pergi kedunia ramai lagi.‖ ―Begitu pula dengan kami Anakku.‖

―Mari Ayah, kita kuburkan Jenazah Nenek!‖ Aram pun segera mengkonsentrasikan tenaga dalamnya kelengan. Tubuhnya berjongkok sementara tangannya memegang lantai seakan hendak merobeknya.

―Heaaaaaaa‖ Pekiknya dahsyat, tanah bergetar dan luar biasa sekali, tanah itu secara aneh menyibak, mengikuti teriakan dan tarikannya. meninggalkan bekas berlobang selebar empat tombak persegi.

―Luar biasa!‖ Gumam Ki Jalak dan Nyi renjani berbarengan.

Kemudian dengan sangat hati-hati sekali Aram Membopong tubuh Nyi Melati dan memindahkannya kedalam yang dibuatnya tadi. kemudian ia timbuni lagi dengan mengurug sisi-sisi lobang itu, hingga merupakan sebuah makam, selanjutnya ia mencongkel kembali lantai yang berisi tulisan pesan terakhir Nyi Permata Dewi yang kebetulan berada dalam batu cadas. dan dijadikannya batu nisan,

Setelah semua selesai Aram berlutut dihadapan makam itu, ia tampak berkemik-kemik sepertinya ia berdoa.

―Kek, Aku tunggu kakek Pada saat Purnama bersinar dengan indahnya...!‖

***

―Begitulah‖ Aram menunduk sedih setelah menuturekan ceritanya. ―Jadi, Nyi Permata Dewi sudah duluan meninggalkan kita!‖ Angkara dan yang lain juga tertunduk sedih.

―Sudahlah, bila kita terlarut dalam kesedihan maka kita akan terlambat. besok malam adalah ‗harinya‘, sebaiknya kita bergegas lagipula Semua sudah berkumpul, saatnya kita menggempur Angkara Murka‖

―Heaaaaa Hidup Kesejahteraan hidup Bendera awan langit.‖

DESA JATIWANGI yang biasanya selalu ramai dengan kesibukan dan canda tawa, kini nampak sunyi. Para pedagang tampak berseliweran dengan wajah murung diwajah mereka. Sementara pedagang lain yang tinggal pun, sudah berkemas pula hendak pulang. Jalan-jalan terlihat lengang dan sunyi.

Kalaupun ada yang lewat, hanya satu atau dua orang saja. Itu pun terlihat tergesa-gesa, Intinya para penduduknya telah meninggalkan tempat itu. mengapa? tak ada yang tahu.

Menjelang senja, Jendela dan pintu rumah tertutup rapat-rapat, Suasana desa itu tidak begitu jauh dengan sebuah pekuburan, sunyi dan mencekam. Rasanya seperti desa mati! kecuali sebuah rumah yang paling mewah ditempat itu. tampak lelaki dan perempuan berseragam hitam menjaga tempat itu.

Kesunyian yang mencekam itu tiba-tiba saja dipecahkan oleh derap serombongan kuda dan kaki. Suaranya seolah-olah bergema ke seluruh penjuru desa. Rombongan yang berjumlah kurang lebih empat belas orang itu, rata-rata berwajah Tampan dan cantik. Mereka dipimpin oleh seorang Pemuda berkuncir kuda diikat oleh kain berwarna biru, diatas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau, Dilehernya tersampir sebuah kain berwarna coklat menambah ketampanan wajahnya. pakaiannya berwarna biru langit serasi dengan jubahnya. Dia adalah Aram adanya.

―Kita Sudah Sampai kawan-kawan‖ Aram hentikan laju kudanya.

―Apa yang akan kita lakukan disini?‖ Murka Semesta bertanya keheranan.

―Jagal‖

―Heh, maksud anda ketua?‖

―Kau tahu pesan apa yang terkandung dalam surat yang diberikan oleh Sipengabar Langit?‖

―Tidak ketua, Emang apa?‖

―Sang Raja dari segala raja persiapkan segala sesuatunya, namun sang penghasut tidak pernah membiarkan itu. di hancurkannnya tiang-tiang penyangga itu. Sang Raja memang pintar, namun si penghasut lebih pintar,. sang raja akhirnya memberikan tahu akan sebuah rahasia. rahasia tentang benih yang tertanam dalam sembilan rahim. dan sembilan rahim itu di selundupkan di sebuah desa, desa yang dipenuhi pohon jati yang menebarkan harum ‖

―Apakah kita tega membunuh benih yang sedang dikandung?‖ Angkara bertanya ragu. ―Itulah yang sedang aku pikirkan‖

―ketua!‖