Pendekar seribu diri Jilid 13

Jilid 13

Nawa Awatara sudah membentangkan sayapnya kemana,- mana, hingga mereka merasa organisasi yang sudah sukses dan berhasil, maka itulah kesalahan pertama mereka. yang kedua adalah tidak pernah memandang sebelah matapun kepada kaum jembel dan rakyat biasa. Sehingga Aram dapat memanfaatkan kesalahan-kesalahan kecil menjadi lorong-lorong yang dapat dijadikan jembatan.

―Angin Semilir berhembus ke gunung‖

―Gunung bergoyang lahar menggelegak‖

―Srettt‖ Jleegggg... Seorang Pemuda menghadang didepan Adipati Rajalela.

―Selamat Yang Mulia anda sudah menyelesaikan tugasmu‖

―Terimakasih sanjunganmu Angkara, dimana Yumi?‖

―Ia sedang masak hasil buruanku, mari kesana kita makan dulu‖

―Heem, begitu lebih baik...‖

―Dengan mengapit tangan Bayuputra, Adipati Rajalela melesat bersama angkara menyusuri hutan yang lebat, seperminum teh kemudia mereka sudah dapat mencium harumnya daging panggang yang lezat. ―Waaahhhh Sepertinya enak‖ Adipati Rajalela berseloroh,

Angkara tertawa sedangkan Bayuputra menelan air liurnya. sudah lama ia tak dapat merasakn nikmatnya daging.

―Jleeeggg ‖ ketiganya mendarat dibumi disambut sebuah

senyuman manis, senyuman yang lembut membuay siapapun yang melihatnya tak kecuali Bayuputra, seorang gadis berbaju merah muda dengan menyoren pedang asik membalikan masakan dia adalah yumi adanya.

―Wah, kebetulan sekali yang mulia, daging sudah matang !‖

Yumi tertawa, tertawa lembut mengalun didalam kesunyian hutan yang lebat.

―hehe kalian berhentilah memanggilku yang mulia, saat ini aku

bukan lagi seorang raja, tapi aku adalah seorang ksatria, ksatria yang akan meminta haknya dari tangan kotor yang mengaku sembilan dewa.!‖

―Semangat yang bagus. lalu apa yang harus kami panggil‖

―ADI,. itulah nama yang aku banggakan, nama yang diberikan oleh ketua ‖ jawab Adipati Rajalela.

―Ekh, yang mulia?‖ Bayuputra terbelalak. ―Apakah Guru adalah

Raja dari tanah ini?‖ timpal nya lagi.

―Itu dulu..., dulu sekali, sudahlah bayu lupakan hal itu‖ Jawab

Adipati Rajalela. ―akh, aku melupakanmu Adik, Siapakah Namamu?‖ Angkara bertanya pada bayuputra.

―Bayu kang, Bayuputra‖

―Nama yang baguss... ayo makan‖ Angkara menyodorkan paha kijang itu kepada Bayuputra. yang diterima dengan senang hati dan tangan terbuka. bagai kesetanan ia makan daging itu dengan kecepatan kilat, sebentar saja paha kijang itu telah habis...

Yumi tertawa, ia sodorkan satu paha yang lain, yang juga disambar bayuputra dengan gembira.

―Bagaimana dengan tugas kalian?‖ Adipati Rajalela bertanya. memecah kebisuan diantara mereka.

―Kami belum melaksanakannya, kami hanya melakukan tugas kecil saja dahulu‖ Angkara menjawab.

―Jadi kalian sekarang akan pergi ke Perguruan Golok Harimau?‖

―Yah ‖

―Aku harap kalian Jangan melakukan hal yang diluar rencana, bila keadaan darurat dan sedikit melenceng dari garis rencana lekas kabarkan yang lain‖

―Kami tahu,. Oh ya, tolong kabarkan bahwa sekelompok orang

brtopeng Rajawali dan serigala telah membantai markas cabang mereka di Gunung Jamurdipa (sekarang gunung Slamet). ―Heh,. Ternyata itu yang kalian bilang dengan tugas kecil?‖

―hahaha‖ Angkara tertawa sambil mengangkat buntalannya,

―Kami Duluan ‖ Wusstttt dua sosok itu menghilang begitu saja,

tak heran itu merupakan salah satu jurus peringan tubuh aliran Ninja.

―Hebaaatttt‖ Tanpa sadar Bayuputra berteriak...

―haha berlatihlah dengan giat, maka kau akan bisa melakukan

hal demikian itu,‖

―Apakah Guru lebbih hebat dari meeka?‖

―saat ini belum, sebab mereka adalah murid sekaligus sahabat ketua langsung‖

―Ketua? siapakah dia guru? apakah dia hebat?‖

―Ia imbang dengan Ketua Nawa Awatara!‖ jawab Adipati Rajalela jujur.

Mata Bayuputra membulat, sebulat gundu, ia kaget sekaligus heran, melihat itu semangat juangnya berkobar, maka dari itu pada suatu saat ia yang akan menjadi Raja ditanah Jawadwipa pengganti dari Adipati Rajalela, namun itu masih suatu saat .. bukan sekarang...

Puncak Sapto Argo (Gunung Salak) merupakan sebuah gunung yang sangat tinggi, curam serta berbahaya. Batu-batu cadas menghiasi seluruh puncak gunung disamping jurang yang tak terhingga dalamnya, sedang jalan-jalan yang menghubungi tempat itu pun hanya ada satu, jalan setapak.

Sebaliknya pada lereng gunung banyak terdapat sungai serta air terjun yang penuh dengan batu cadas yang tajam disamping pusaran air yang amat dahsyat. Perahu yang berani melayari tempat itu tak lebih hanya mencari mati saja. Saat itu merupakan tengah malam, bulan purnama yang berada jauh ditengah awan menyinarii seluruh jagad dengan terangnya. Suasana pada saat itu begitu sunyi serta tenangnya, hanya terlihat mengalirnya air sungai mengisi keheningan malam yang semakin kelam, tak ubahnya seperti irama surga membelah bumi.

Tiba-tiba ditengahke heningan malam itu dua sosok manusia menembus kegelapan, siapakah mereka? tak ada yang tahu sebab tubuh mereka memakai pakaian serba hitam, satu sosok itu memakai topeng serigala, sementara yang satunya lahgi merupakan topeng Rajawali. dua sosok itu terus menerjang kepuncak hingga mereka menemukan sebuah padepokan silat,

Dua sosok itu melihat pintu padepokan tertutup rapat, Tembok yang tinggi, dan kekar. disampingnya terdapat patung harimau dengan kepala ditembus golok menyilang. dipintu itu tertulis sebuah peringatan, ―Masuk Mati-Keluar juga mati‖. kedua sosok itu melompat tsetinggi lima tombak dan berdiri diatas tembok pintu padepokan.

Jika tak memiliki ilmu peringan tubuh yang begitu luar biasa, mustahil dapat melakukan itu, ketika berada diatas tembok tampak halaman Padepokan itu begitu luas, didalam halamn itu juga terdapat banyak bangunan yang berdret-deret paling sedikit ada ratusan Petak.

Meskipun halaman Padepokan Golok harimau sangat luas, namun didalamnya begitu sunyi akan kehidupan. Mata Si topeng Serigala berkilat tajam, ia melirik sitopeng Rajawali dan melesat masuk kedalam salah satu bangunan disitu.

Dalam pendopo salah sebuah ruangan duduklah tujuh orang Lelaki kekar dengan pakaian hitam bergambar harimau ditembus dua golok yang menyilang, salah seorang diantara mereka ada seorang yang memakai baju putih bergambar harimau ditembus dua golok menyilang. mungkin dia adalh salah satu pemimpin pengganti Ki Bedu.hingga jumlah mereka ada delapan orag, Orang yang berbaju putih itu berusia kira-kira lima puluh tahunan. tubuhnya sedikit gemuk sinar matanya begitu tajam luar biasa. jelas merupakan seorang yang memiliki tenaga dalam yang hebat.

Orang-orang yang ada disitu menunjukan mimik yang serius seakan akan sedang berhadapan dengan musuh yang hebat. Sinar lilin ditempat itu begitu guram, apinya berdiri bergoyang dipermainkan angin.

Berlainan dengan orang yang lainnya, meski sedikit tegang namun Lelaki berbaju putih itu sikapnya begtu tenang seolah tak pernah terjadi apa-apa.

―Ketua, Apakah kita akan berdiam terus seperti ini?‖ ―Huh, Sampai sekarang aku sudah ingin melakukan suatu tindakan, namun aku takut malah mengorbankan nyawa yang sia-sia, Nawa Awatara terlalu hebat untuk kita, apalagi sekarang kita sudah terputus dari dunia luar sungguh cerita yang sangat menyedihkan...‖

‖huff,... Ketua, bagaimana bila kita bergabung dengan empat perguruan lainnya,? aku yakin kita bisa mengalahkan mereka‖

Ketua Perguruan Golok harimau yang bernama asli Arjuna Arkana berpikir dahulu sebelum menjawab.

―Nawa Awatara telah menculik ketua lima perguruan dan beberapa orang gagah dalam dunia persilatan, sehingga orang- orang persilatan tidak dapat membalaskan dendamnya, sebelum kita yakin benar akan kemampuan kita untuk menindas Nawa Awatara, sebaiknya kita jangan bertindak secara gegabah.‖

Cadudasa yang merupakan salah satu tetua dalam Perguruan Golok harimau menggeprukan tangannya, dan berkata :

"selama hampir tiga tahun kita orang selalu dihina habiis-habisan oleh Nawa Awatara Keparat itu, rasanya aku tidak sanggup lagi menahan kesabaran lagi, kalau kita tilik keadaan dunia persilatan yang kacau, orang-orangf gagah dan ksatria-ksatria telah menemui ajalnya, sebaliknya kawanan penjahat berkeliaran begitu saja, wanita seperti sampah lelaki seperti kerbau sungguh hati merasa begitu miris, keadilan dan kebenaran diinjak-injak, apakah kali ini kita akan terus berdiam diri dan berpeluk tangan saja, kita tak bisa bersabar lagi, meski jiwa melayang kita tetap harus menggempur Perkumpulan keparat itu."

Dengan emosi menyala-nyala Cadudasa menjelaskan pendapatnya, dan kemudian ucapan itu diiringi cucuran air mata.

Semua orang yang ada disitub merasa terharu dan panas hatinya, semua pada mengepalkan tinju sudah ingin bertindak.

Arjuna Arkana menghe;la nafas panjang, tapi sebelum berkata tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan itu, ketika semua mata memandang kepada orang itu ternyata berjumlah tiga orang, Tiga orang itu berdiri berbaris, sikapnya sangat jumawa, semuanya mengenakan pakaian serba hitam bergambar piramida berantai, badan mereka semua kurus kering, wajahnya pucat kuning, bagaikan sosok mayat hidup.

orang yang berdiri disebelah kanan, dijidatnya tergores luka yang cukup serius bekas senjata tajam, orang itu membawa pedang sepanjang dua depa. dia adalah orang yang dahulu dikenal sebagai Iblis Kuburan nama aslinya adalah Baswara.

yang berdiri ditengah, memiliki alis yang bercabang dengan mulut bersiung, ia membawa golok besar dia lebih dikenal dengan Mayat beralis cagak Hadasa.

Yang berdiri disebelah kiri, hidungnya melengkung seperti betet, matanya bersinar licik seperti tikus, orang itu membawa trisula sebagai senjatanya, dia berjuluk Mayat bersula tiga yang bernama asli Gandewa, Mereka merupakan tiga Utusan dari Nawa Awatara yang ditugaskan untuk menjaga agar Perguruan golok harimau tidak membentuk kekuatan yang dapat meruntuhkan Nawa Awatara.

Baswara menatap Ki Arjuna Arkana sejenak, lalu berkata dingin,

―Hemm Kalian Manusia-manusi tak tahu diri, berapa kali aku

memperingatkan kalian untuk tidak melakukan pertemuan seperti ini selagi kami bersenang-senang.‖

Sehabis berkata demikian, tiga orang itu masuk dengan langkah lebar kedalam ruangan itu.

Menyaksikan itu, Cadudasa merasa geram, bentaknya.

―Bagus, kedatangan kalian tepat sekali aku memang sedang

ingin membunuh kalian. imngin

sekali aku meminta pengajaran dengan ilmu kalian yang hebat‖

Cadudasa mencabut Goloknya, lalu melancarkan tiga kali serangan kepada Baswara, melihat itu tak ada pilihan lain lagi bagi Arjuna Arkana segera saja ia mencabut goloknya dan ikut menerjang yang lain.

Melihat ketuanya sudah bergerak enam orang lainnya juga serentak mencabut golok dan mengeroyok Mayat bersula tiga. hingga tak pelak lagi pertarungan itu segera dimulai. entah ilmu apa yang digunakan Baladewa sehingga serangan hebat dari Cadudasa dapat dielakannya dengan mudah. dan membalaskan serangan dengan tak kalah hebatnya, serangan itu begitu hebat dan kejih, ―Traaangggg‖ Senjata merek beradu, tangan Cadudasa bergetar hebat, sepertinya tenaga da;lam yang ia miliki tak sebanding dengan kemampuan baswara.

Ketiga utusan Nawa awatara menghadapi serbuan Arjuna Arkanta dan lainya seperti seorang panglima menghadapi sekumpulan prajurit, jeritan dan keluhan bergema, ternyata beberapa diantara mereka ada yang terkena serangan dari ketiga Utusan itu.

sebentar saja murid-murid utama perguruan golok harimau terluka kurang lebih tiga orang, lama kelamaan Arjuna Arkanta sadar bhwa kemampuan mereka sadar bukan tandingan lawan, mereka semakin terdesak... siapapun yang terdesak pasti akan melawan juga, seperti anjing yang menggigit karena ekornya keinjak atau seperti banteng ketaton Arjuna Arkanta menyerbu keiga utusan itu dengan sepenuh tenaga,

Setiap serangan Arjuna Arkanta yang dilancarkan dengan kemarahan yang hebat, jadi bisa dibayangkan hebatnya serangan seorang Ketua Perguruan besar itu, serangan itu begitu dahsyat, liar dan buas, seperti harimau yang mengincar mangsa serangan itu selalu mengincar bagian tubuh hadasa, maka sehebat-hebatnya hadasa ia tetap terdesak menghadapi serangan yang dilancarkan seperti air yang mengalir itu,

―Akkkkhhhhh...Ukhhh‖ brukkkk‖

Arjuna Arkanta kaget sekali ketika melihat murid-murid dan tetua Cadudasa ambruk terluka, akibatnya ia menjadi lengah ketika hadas menyelonongkan golok besarnya keperut Arjuna Arkanta yang terbuka,

―Bretttt‖

Untung saja, Arjuna Arkanta adalah seorang yang berpengalaman dalam pertrungan sehingga serangan itu dapat dielakan dengan tergesa-gesa meski bajunya robek cukup besar.

―Kalian memang sudah bosan hidup‖ Bentak Baswara dengan geram sambil menyabetkan pedangnya hendak membelah tubuh Cadudasa,

―Srettttt‖ Cadudasa pejamkan matanya pasrah, ia yakin kehidupannya akan berakhir sekarang, namun manusia bertindak tuhan selalu memiliki rencana yang laiin, pedang yang hendak membelah tuibuh cadudasa itu tiba-tiba terbentur senjata yang terbuat dari logam.

―Traaannnnkkkkk....‖ Klontrang Jrubbb

Kaget bukan kepalang perasaan Baswara, ia yakin seseorang yang memilki kekuatan yang sangat hebat, Cadudasa yang akan menghadap akhirat juga tak kalah terkejutnya, ia heran namun gembira, gembira yang tak diketahui akhirnya.

Matanya dibuka, dilihatnya dua sosok manusia berbaju hitam bertopeng Serigala dan Rajawali berlumuran darah tersinari cahaya obor. ―Hehehe ‖ Seseorang yang bertopeng Serigala tertawa dingin.

―Siapa kalian, lancang sekali mengganggu tugas kami apa kalian tidak mengetahui siapakah kalian adanya‖ Bentak Hadasa geram dan bengis, rupanya pertarungan dia dan Arjuna Arkana terhenti setelah senjata Baswara terkena lemparan benda logam berbentuk bintang.

―Aku adalah serigala neraka, utusan yang akan menggerogoti kalian makhluk-makhluk hina dari Nawa Awatara‖ Seorang yang bertopeng serigala menjawab dingin.

Ketiga Utusan dari Nawa Awatara melengak, Baswara gusar ia membentak― Kau sadar sedang berhadapan dengan siapa keparat?‖

―Ctekkk‖ Simanusia bertopeng serigala menjentikan jarinya,

―glutttuukkk‖

Sebuah benda bulat dilemparkan temannya yang bertopeng Rajawali. ―hihi. coba kalian buka oleh-oleh dari kami‖ Ucapnya.

Meski tak mengerti akhirnya Simayat bersula tiga alias Gandewa membuka bungkusan itu, betapa campur aduknya perasaan yang ia miliki melihat apa yang ada di dalamnya,didalamnya itu bukanlah barang melainkan sebuah kepala, kepala yang berlumuran darah. Gandewa alias Mayat bersula tiga dapat mengenali Kepala itu, kepala kepercayaannya yang juga bertugas di temppat itu. dia merupakan sahabat dari mereka,. ―Kau ‖ Gandewa menunjuk Simanusia bertopeng serigala yang

sedang menotok luka ditubuh Cadudasa.

―Bagaimana dengan oleh-oleh kami. oh ya, semua teman

kalian juga sudah aku antarkan ke gerbang kematian mengapa

kalian tak berterimakasih kepada kami, mengantarkan mereka dengan membelah tubuh, memenggal kepala, meremukan

tulang bukanlah hal yang mudah ‖ Ucap Simanusia bertopeng

Rajawali sambil cekikian seolah membunuh itu adalah hal

yang paling menyenangkan....

―Brengsekkkk. hutang nyawa bayar nyawa‖ bentak Gandewa

marah dan segera menerjang kearah Manusia bertopeng Rajawali.

Sambaran angin yang dikeluarkan dari serangan Gandewa sangat hebat, cukup untuk melemparkan sebuah kursi dalam ruangan itu, Simanusai bertopeng Rajawali itu memutarkan tubuh, dengan gerakan yang tak terduga ia balas menyerang.

Ketika ia membalikan tubuhnya itu, Gandewa maju lima langkah dan bertumbukan dengan serangan Manusia bertopeng Rajawali.

―Duaaarrrr‖ dua buah tenaga sakti itu beradu membuat ruangan itu porak poranda, dan benda dalam bungkusan itu yang tadi hanya diketahui oleh Gandewa menggelinding keluar, betapa terperanjatnya orang yang ada disitu, kini mereka tahu mengapa dua orang itu bertarung. Manusia bertopeng Rajawali itu tidak terdorong mundur seperti Gandewa yang mundur terjajar lima langkah kebelakang, hanya tanah yang diinjaknya amblas sedalam dua inchi.

Dalam ruangan itu terdapat tiga perasaan dari orang yang beraduk, dipihak Gandewa bertiga mereka gusar bukan kepalang, dipihak Arjuna Arkanta Gembira tak terkira sedang dipihak manusia bertopeng itu tak tampak sama sekali

―Adi Gandewa, kita bantai mereka tanpa ampun‖ Geram Baswara, sambil menerjang kearah Manusia bertopeng Serigala.

―Hiaaatttt‖

―Tranggg‖ Buk..‖ ―Blaaarrrr‖ ―Hoeeekkk‖

Ternyata Baswara menyabetkan pedangnya secara Horizontal didepan dada, dan dipapaki dengan mudah oleh Manusia bertopeng Serigala itu. ia menekuk silang pada kaki dengan suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kiri, sementara tangan kanannya melakukan suatu pukulan yang sangat keras,. tapi sepertinya itu masih belum cukup. terbukti dengan dilanjutkannya dengan suatu gerak tendangan pada kaki kanan serta dorongan yang dilakukan oleh tangan kanan yang telah diputar sedemikian rupa, untuk menghimpun tenaga secara cepat gerakan kedua ini dahsyat luar biasa sebab disekeliling

tempat itu debu-debu bertebaran seperti terkena badai, orang yang berada disana sampai disana dipaksa untuk menutup mata dan mengerahkan energi pelindung tubuhnya dari kayu dan debu yang berterbangan, terkena hawa yang terpancar dari setiap gerakan manusia bertopeng serigala itu. gerakannya itu dahsyat sebab itu merupakan jurus ksatria membabat angkara.

Tubuh Baswara meledak berkeping-keping akibat terkena jurus itu, darah bermuncratan kemana-mana. Pertarungan berhenti, bahkan Hadasa dan Gandewa ikut berhenti, mereka melenggong, baru kali ini mereka melihat jurus sedahsyat itu, jurus yang membuat kawan mereka hancur berkeping-keping dalam satu jurus.

Tubuh Arjuna Arkanta dan yang lain bergetar, bahkan Murid utammanya samp[ai ada yang terkencing-kencing karena kaget melihat serangan yang membuat seluruh ruangan itu hancur berantakan seperrti terkena angin tornado. bahkan atap ruangan itu teklah jebol tanpa ketahuan paran dimana bahan atapnya,

HILANG........

Itu merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan atap itu.

Melihat gelagat yang semakin tak mengguntungkan, Gandewa dan Hadasa sudah berniat menggunakan jurus terakhir,JURUS LANGKAH SERIBU. namun ternyata pikirannya itu dapat ditebak dengan mudah oleh Manusia bertopeng Rajawali.

―Hihih... Sudah terlambat kalian berniat melarikan diri,. nyawa

kalian sudah tercatat dineraka.. sekarang giliranku untuk membawa kalian kealam kalanggengan ‖ dingin ucapan Manusia bertopeng Rajawali itu seakan membunuh adalah hal yang paling menyenangkan baginya.

segera ia memasang kuda-kudanya, Manusia bertopeng Rajawali yang sedang bersiap dengan kuda-kudanya melaksanakan tendangan ringan kebawah yang ditujukan kepada lutut Gandewa, Gandewa yang diserang sama sekali tak mengetahui serangan yang mengenai lututnya itu sebab dikaburkan dengan suatu gerakan serangan pada kedua tangan yang membuiatnya tidak menyangka terhadap serangan bawah ini,

―Krakkkk‖ ―akhhrrgg‖ Gandewa menjerit sebab lututnya remuk belum sempat ia berpikir yang kedua secara tiba-tiba Manusia bertopeng Rajawali menurunkan kaki kanan dan menggeser maju cepat pada kaki lainnya untuk mengiringi dengan suatu tamparan serta bacokan dengan tangan lainnya,

Gandewa segera papaki serangan itu, namun betapa terkejutnya ia bahwa serangan itu begitu lunak dan licin.

―Jelegaaarr ‖ bukan serangan tangannya kali ini yang

menggelegar, namun sebuah kilat putih menyambar tajam menyambar tubuh Gandewa, tanpa ampun lagi Gandewa mati dengan tubuh gosong tersambar kilat. benar-benar serangan yang aneh namun itulah jurus Bumi dan langit merindu digabung dengan Guntur menyalak pencakar langit. Hadasa yang tertinggal sendirian bukannya menjadi ketakutan, tapi malah ia semakin geram. dengan mengerahkan segenap kemampuannya ia menghantam kedepan.

―Duaaaarrrrrr‖ Rupanya serangan jarak jauh itu dipapak langsung oleh Manusia bertopeng serigala dengan langsung pula, tak ada kembangan jurus, hanya sebuah lontaran kedepan dan kedua buah tenaga sakti itu beradu.

Bau busuk dan panas bercampur dingin menyebar membuat dinding ruangan itu ambruk, pertarungan yang luar biasa, Tenaga sakti Tunggal menjadi kosong rupanya telah menunjukan taringnya, sehingga membuat aliran Tenaga Mayat seribu Bangkai dapat ditolak mentah-mentah.

Manusia bertopeng perak mendengus dingin, tubuhnya melesak sebatas lutut kedalam tanah, sementara lawannya terbang menabrak dinding ruangan dan terus terlempar, ia terlempar hampir mencapai sejauh lima belas tombak lebih, jadi bisa dibayangkan adu tenaga dalam barusan hebatnya, setelah mendarat dibumi ia muntah darah segar dan tergeletak. ia

telah tewas dan tak bakal bangun lagi kedunia.

Manusia bertopeng Serigala itu edarkan pandangannya, menggunakan sebuah ilmu khusu dari aliran ninja setelah

mendapat kepastian tak ada siapa-siapa, ia membuka kedoknya, Seraut wajah tampan muncul dari balik kedok itu, ternyata dia adalah Angkara adanya, rupanya secara bersamaan manusia berkedok Rajawali juga membuka kedoknya sehingga wajah aslinya dapat terlihat, dia merupakan seorang gadis cantik berwajah kekanak-knakan dan bermata sipit, dia tak lain adalah yumi gerangan.

Arjuna Arkanta terkejut melihat bahwab tuan-tuan penolongnya merupakan Sepasang Anak muda. ―Akh Kalian, Pendekar

Kijang Berbaju Coklat, Gadis Cantik Bidadari Surya‖ Ucap Cadudasa berteriak yang mengenali keduanya.

Angkara dan Yumi tersenyum, ―maafkan kami yang datang terlambat sehimngga diantara kalian sampai ada yang

terluka ‖Yumi berbasa-basi.

―Kalian terlalu sungkan, bila tak ada kalian kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kami,. sepatutmnya kamilah yang berterimakasih..tapi, mengapa kalian memakai topeng?‖ Arjuna Arkanta mewakili.

―Apakah, anda yang bernama Arjuna Arkanta?‖ Sela Angkara. Arjuna angkara mengangguk membenarkan.

―Syukurlah, Ketua kalian Ki Bedu memang sedang berada diperjalanan kemari, dia memintaku untuk menyampaikan bahwa seluruh Murid perguruan di ungsikan ke Ruangan Khusus ketua diruang Rahasia sampai mendapatkan kesempatan yang pas untuk muncul‖

―Akh, ketua masih hidup?‖ Teriak Arjuna Arkanta histeris. Angkara Letakan telunjuknya dibibir menunggu kata dari Yumi

yang hendak bicara, ―Menurutmu bagaimana cara yang paling tepat untuk menghilangkan jejak?‖

―Jangan risau, Ketua sudah mempersiapkan sebuah rencana untuk kita, mohon engkau bebaskan murid yang berada dipenjara sekarang !:‖

―Hai‖ jawab yumi sambil menggunakn ilmu yang bernama Jinsut. dan menghilang tak ketahuan rimbanya dihadapan setiap orang yang belum sempat berkedip.

―banttu aku mengangkut mayat..‖ Angkara meninggalkan ruangan, tak ada kata dari delapan orang itu, segera mereka mengikuti Angkara yang berjalan kearah sebuah ruangan.

Pada awalnya Arjuna Arkanta menolak muridnya yang sudah mati dibiarkan tergeletak bersama mayat-mayat Nawa Awatara, tapi Arjuna Arkanta mau tak mau menurut juga ketika Angkara menjelaskan apa yang menjadi rencananya,

Ternyata Angkara bermaksud membuat skenario peperangan, denagn mengatur mayat sedemikian rupa maka terlihat seolah disana sudah terjadi pertarungan yang dahsyat, dengan ilmunya ia membuat Beberapa Padepokan itu hancur dan beberapa hari yang lalu,...

beberapa mayat terlihat terbakar, menggambarkan bahwa kedua pihak telah gugur secara bersamaan, tak ada saksi, tak ada jejak yang tertinggal.... makannan berserakan.. dilantai seolah disana sudah tak ada penghuninya, rencana yang cukup hebat dan menarik....

Sebenarnya bagaimanakah caranya ia datang ke Pendopo pertemuan dengan membawa kepala? beginilah Rincian jalan ceritanya.

Seperti yang diceritakan sebelumnya, Kedua manusia bertopeng Serigala dan Rajawali atau kita panggil dengan Angkara dan yumi melesat menuju salah satu ruangan, disana mereka menemukan beberapa Anggota Nawa Awatara sedang berpesta Pora dengan meminum tuak, wajah mereka sudah sendu karena mabuk. tak lupa beberapa Wanita yang sudah berumur dan Gadis yang sebelumnya merupakan murid dari Golok harimau.

―Cihhh‖ Yumi atau Sitopeng Rajawali mendengus.....

―Dinda, Pergilah keruangan lain ditempat ini dan bantai‖

―Baik Kanda ‖ Yumi melesat bagai bayangan menggunakan

ilmu Peringan tubuhnya,

Angkara atau Sitopeng Serigala memasukan tangannya kedalam balik bajunya, dengan kecepatan bagaikan kilat ia melemparkan senjata-senjata itu. senjata lemparan berbentuk Bintang. atau biasa kita panggil Shuriken.

―Wuss‖wuss‖ jrub..jrub..jrubb‖

―Akhhrrgggg‖ jeritan menyayat bersahut-sahutan kurang lebih delapan orang dari jumlah sepuluh orang itu mati dengan tubuh tertembus Shuriken. juga jeroitan wanita yang ketakutan. Dua orang lainnya yang sepertinya adalah Pemimpinnya membentak.

―Siapa Kau‖

Angkara diam saja, ia perhatikabn wajah orang, ternyata wajahnya itu demikian buruknya, bibnirnya sumbing, idungnya grumpung dan rambutnya kusut masai.

―hahaha tampangmu mirip sekali dengan lubang pantatku‖

Angkara tergelak-gelak mengejek. ketika tertawa itu ia merasakan suatu sambaran dahsyat dari belakangnya. dengan cekatan ia meruduk kebawah menghindari serangan itu.

Sebagai kelanjutan nya, Angkara alihkan pandangan dialihkan kearah kiri dengan tangan kiri yang telapaknya digerakan kearah samping bawah dan tangan lainnya yaitu tangan kanan didekatkan kedepan pusar sambil menarik nafas cukup panjang. penarikan nafas tersebut adalah suatu cara pemantapan cadangan untuk suatu gerakan yang panjang serta juga menambah potensi daripada suatu serangan. dengan secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya dengan menyanggahkan kedua tangan pada tanah sambil menyapukan kaki kanan pada sasaran. dan mengalihkan dalam suatu putaran tubuh kekanan dengan sanggahan dua tangan dan berganti kaki kiri yang melakukan sapuan...

―Bukkk‖ ―Akrrggg‖ Tubuh lelaki itu tumbang dengan perut jebol terkena sapuan kaki, jadi bisa dibayangkan cepat dan dahsyatnya serangan Angkara itu. Darah memancar bagai pancuran, usus saling brojol berebutan keluar, jeritan ngeri dari lelaki itu juga jeritan para Wanita dan gadis yang melihat kematian yang sadis itu.

Tubuh Angkara berlumuran darah lawan namun ia tak peduli,. matanya dialihkan kepada yang satunya lagi...

―Ikkkhhh‖ Lelaki itu merasakan mual yang tak kekira juga ketakutan yang hebat, mental dan nyalinya jebol melihat pembunuhan yang begitu sadis itu. ia hendak melarikan diri, namun begitu ia membalikan tubuh ia merasakn ubun-ubun sampai pangkal pahanya dingin,

―Brukkk‖ ia tumbang dengan tubuh terbelah menjadi dua bagian, darah mengucur semaki hebat, Para Wanita dan gadis yang menyaksikan itu terkejut sebab mereka hanya menyaksikan Angkara atau simanusia bertopeng serigala mengeluarkan pedangnya satu inchi dari sarung dan kembali menyarungkannya, tak pernnah terbesit dalam pikiran mereka

,melihat jurus pedang sedahsyat itu, tak lain dan tak bukan itu merupakan Jurus ‗pedang tunggal melintang jagad‘, dari jurus tunggal Jagad. jurus yang diberikan Aram kepadanya dan itupun hanya satu jurus itu saja. jurus itu juga hanya diajarkan kepadanya saja sebagai pemimpin yang lainnya.

Bagaimana dengan yumi? setelah ia menghilang dengan kemampuan khas yang dimilikinya ia dapat masuk kedalam ruangan manapun jua. ia tak menemukan Apapun disana hingga ia tiba di salah satu bangunan terakhir, dengan ketajaman telinganya ia mendengar rintihan-rintihan, tangisan juga deru nafas yang memburu.

Dengan menggunakan jurus andalannya, Yumi masuk kedalam ruangan itu, ruangan yang terkunci.. dan terbuat dari besi, namun semua itu tak berguna dihadapan yumi, Yumi mendengus ringan, tanpa ba-bi bu ia cabut pedangnya dan menusuk lelaki yang sedang asyik menindih perempuan itu.

Darah muncrat. tapi Yumi tak peduli, Lelaki itu menjerit

mengerikan, sedangkan perempuan itu juga menjerit ketakutan. tak ada yang mempedulikan jeritan itu sebab mereka menyangka itu adalah sebuah jeritan wajar orang yang mencapai kepuasannya,

Yumi segera pergunakan jurus andalannya untuk membantai yang lain, diruangan itu ia bunuh kira-kira hampir lima puluh orangan, Yumi merupakan Seorang Ninja, Membunuh adalah Pekerjaan sehari-hari. menyusup tak ketahuan dan pergi tanpa meninggalkan jejak. itulah ciri-ciri Ninja.

Dalam perjalanan menuju ketempat dimana tadi berpisah, Yumi menemukan sebuah tempat lain, sebuah ruangan penyiksaan, mayat bertumpuk. disana juga terdapat sekitar sepuluh Anggota Nawa Awatara.

Dengan Langkah Lebar, yumi menemui mereka, ―tep..Tep..‖ suara langkah kakinya bergema...

―Siapa Kau‖ bentak salah seorang dari mereka yang kebetulan memergokinya, ia terkejut melihat manusia berpakaian serba hitam dengan topeng Rajawali di muka. Yumi teruskan langkah tanpa ada kata sedikitpun.

―Srenggg‖Brett‖GlutuK‖

Kepala Anggota Nawa Awatara itu menggelutuk jatuh, sebuah pedang panjang yang terselip di punggung Yumi telah meminta korban, Tidak salah itu adalah salah satu jurus dari Para Samurai yang dipelajari Yumi ketika kembali ke desanya.

Cepatt, ganas sekali keluar nyawa melayang, itulah keistimewaan jurus itu

Murid dari Perguruan Golok Harimau bersorak atas kematian lelaki itu, menyebabkan kawannya yang lain berpaling dan datang ketempat itu.

Tak ada sinar ketakutan dari mata Yumi, hanya hawa Pembunuhan yang memancar kesekeliling penjuru ditempat itu.

Bau Anyir darah menambah keseraman ditempat itu, keseraman yang dipancarkan oleh sesosok manusia bertopeng rajawali....

Manusia Bertopeng Rajawali alias yumi itu menarik kaki kirinya kebelakang dan memasang kuda-kuda. ―Kau...kau membunuh teman kami!‖ Bentak salah satu dari mereka yang memiliki jenggot sedagu. al hasil bentakan itu tak ada respon sama sekali....

―Nyawa bayar nyawa, serahkan kepalamu‖ Teriak seorang Perempuan menor berbaju hitam berantai dan rambut digulung bengis. sambil mencabut kipas dan menyerang.....

Belum sempat kipas Wanita menor itu mengenai tubuh Yumi, sebuah kilatn putih tajam menembus perut Wanita menor itu dan Brukkkk Tubuh Wanita itu terpotong dua dibagian pinggang.

kejadian itu membuat delapan orang lainnya menjadi marah dan geram, berbarengan mereka mencabut pedangnya dan menerjang....

―Shiaatttt‖

―Bretttt. brettt‖ ―Akrrhgggg‖:

Jeritan menyayat terus bersahut-sahutan,,, dalam seperminuman teh saja semua Anggota Nawa Awatara itu dibunuh oleh yumi. Pakaian yumi yang hitam tampak

berlumuran darah hingga sebagian berubah warna menjadi merah.

Tanpa menghiraukan Murid Perguruan Golok Harimau yang berteriak meminta kebebasan, Yumi langkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. setiba di tempat tadoi tampak Angkara sedang membawa bungkusan..

―Kakang.., Apakah itu?‖ Tanyanya. ―Oleh-oleh untuk yang disana..‖ Angkara menunjuk salah satu ruangan yang paling besar,

―Tampaknya disana terjadi Prtempuran?‖ Tanya Yumi.

Angkara mengangguk.. dengan bergandengan tangan keduanya melesat ke tempat itu, dan kejadian selanjutnya seperti yang sudah kita bbicarakan sebelumnya. .

Selang dua hari kemudian, Ki Bedu tiba di padepokan itu, Ki Bedu disambut dengan sukacita, semangat yang padam kembali berkobar, sang lilin berubah menjadi obor...

―Bagaimana perjalananmu Ki?‖ Yumi menyapa.

―Berkat Arahan ketua Aram aku dapat melewati semuanya

dengan lancar,... tak ada gangguan ‖

―Syukurlah jikalau begitu! ketua, kami sudah menyelesaikan

tugas kami, maka dari itu kami mohon pamit undur diri ‖ Yumi

mengakhiri percakapan dan menghilang terbawa angin. Ki Bedu berpaling, dilihatnya Angkara juga telah menghilang dari pandangan. datang bagai angin, menghilang bagai kabut....

itulah salah satu ciri khas yang paling terkenal dari setiap Anggota Bendera Awan Langit,. liar tak terkendali cerdik

bagai rubah, licin bagai belut.. pandai menempatkan diri eperti tikus yang dapat masuk kemanapun meski hanya lubang setitik jari. asal masuk moncongnya, badan yang begitu besarpun dapat masuk kedalam. Begitupun bagi mereka, Alam adalah sahabat mereka, Penduduk adalah Telinga mereka Angin adalah penyampai berita mereka.

Awan berararak beriringan dilangit yang kelabu, Matahri yang indah tertutup awan kelabu, kelam langit terbatuk batuk

merintih dengan iar mata bercucuran deras.

dua orang pemuda tampak sedang tertawa-tawa diatas deras guyuran air hujan, wajah mereka basah kuyup, namun mereka seolah peduli dengan kenyataan itu. mereka terus tertawa dan berlari seakan berlomba.

Gunung Indrakila (Ciremai), gunung yang terkenal akan keindahannya, sungai berkelok-kelok, jurang menganga, pepohonan tumbuh rindang, diatas puncak gunung itulah terdapat sebuah Padepokan yang terkenal diseluruh dunia sebagai Padepokan Rajawali Emas,

Padepokan Rajawali emas merupakan sebuah pondok yang terkenal megah dan Glamor, digerbang padepokan itu terdapat dua patung Rajawali yang sedang pentang sayap yang berwarna keemasan, masuk kedalam terdapatlah sebuah Aula pertemuan luas yang begitu hijau dengan rumput yang terpangkas rapi bak taman dalam surgawi,

Adakah diantara kalian yang pernah melihat singgasana dari emas? jika kalian sudah pernah maka begitulah keadaan kursi singgasana tempat ketua duduk. Singgasana itu begitu rapi dan syarat akan keindahan, Ukiran halus bergambar Rajawali mencari mangsa tergambar rapi dan simetris. melirik kekiri maka anda akan disuguhi dengan sebuah bangunan indah dari batu yang tersusun. megah dan indah.

Namun semua keindahan itu terhapuskan dengan adanya dua kelompok orang yang sedang bertarung disebuah lapangan piranti Latihan. pertarungan itu terdiri dari sekelompok orang berbaju Hitam dan satunya lagi kelompok berbaju emas, darah merah mengucur dari tubuh orang yang tergeletak diatas tanah, korban berjatuhan... entah sampai kapan pertrungan itu akan berhenti, cahaya senjata dan dentingnya berdering diantara derasnya hujan. kecepatan sambaran golok dan pedang seakan sedang berlomba dengan kilat yang saling menyambar.

diantara pertarungan itu ada beberapa kubu yang terlihat menonjol, diantaranya adalah pertarungan Seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan dengan jenggot tipis didagu. rambutnya kusut masai diterpa air hujan. keringat bercampur darah menetes dari pundaknya. bajunya yang berwarna emas dan sabuk hijau tampak melekat dalam tubuhnya.

Sedangkan lawannya adalah seorang kakek-kakek bungkuk dengan tombak ditangan... wajah kakek itu tidak jelas sebab tertutup rambutnya yang sebahu... pakaiannya hitam bergambar piramida berantai, jelaslah ia merupakan utusan dari Nawa Awatara yang bernama Abinhaya. atau lebih dikenal dengan julukan Sikakek bungkuk dari Gunung Sang Hyang. (Dieng). ―Keparat Danenra, menyerahlah sebelum kesabaranku habis dan kami bantai habis k alian‖ Ancam Abinhaya.

―ciss. aku sudah bosan kau hina terus-terusan, lebih baik mati

brkalang tanah daripada aku harus menuruti perintahmu‖ jawab lelaki berbaju emas yang tak lain adalah ketua Sementara Perguruan Rajawali Emas, Danenra.

Sikakek bungkuk dari Gunung Sang Hyang. memandang wajah Ki Danenra dan berkata sinis.: "Danenra, tahukah engkau bagaimana caranya aku akan membunuhmu?"

Ki Danenra mengertek gigi. sebab ia sudah merasa bulat dengan keputusannya itu.

"Paling juga kau kuliti tapi, itu semua tak akan terjadi sebab aku yang akan membunuhmu duluan?" serunya.

Sikakek bungkuk dari Gunung Sang Hyang menggenggam tombaknya dengan kencang. Kemudian berseru:

"Soal itu harus dilihat kenyataannya !" mata Sikakek bungkuk dari Gunung Sang Hyang melotot, tampaknya ia sedang dalam keadaan marah sekali. kemudian ia menimpali,

"Jika begitu bersiaplah menghadapi malaikat kematian!" Serempak dengan kata-kata itu, tangannya yang menggenggam tombak itu bertebar dan menjadi puluhan bayangan segera menerkam Ki Danenra.. Walaupun tahu bahwa dirinya bukan lawan Sikakek bungkuk dari Gunung Sang Hyang. tetapi dalam keadaan seperti saat itu, tiada lain pilihan bagi Danenra kecuali harus melawan. Dia babatkan pedangnya dengan sepenuh tenaga. Ujung pedang berhamburan bagai hujan paruh rajawali mencurah deras ke arah jalan darah mematikan ditubuh Sikakek bungkuk dari Gunung Sang Hyang. sekaliggus menangkis serangan tombak yang mencecarnya habis.

Jurus permainan pedang itu benar-benar mengejutkan sekali. serangannya yang disertai angin sambaran seperti sayap Rajawali terdengar begoitu menggiriskan.

―Trannkk...‖ "Ahhh !"

Kedua buah senjata beradu diudara, tahu-tahu Danenra

merasakan tangannya yang memegang pedang itu tergetar. Bukan saja seluruh gerakan pedangnya terhalang, pun dia juga harus menyurut mundur tiga langkah. Dan tanpa disadari dia menjerit kaget.

sementara disampingnya juga seseorang yang berbaju sama dengannya sama-sama terdorong mundur, dia merupakan Tetua dari Perguruan Rajawali Emas yang biasa dipanggil dengan Rajawali dari Gunung Indrakila.

Rupanya ia sedang bertarung dengan sosok manusia aneh, dibilang aneh mungkin dikarenakan Baju Hitam bergambar Piramidanya itu compang-camping, wajahnya kusut masai dengan jenggot dan bawuk menutupi seluruh wajahnya, dahulu dia merupajkan salah satu gembong dari Kalangan Hitam yang bergelar Si Kera Gila. tak ada yang mengetahui siapakah nama asli dari Orang aneh itu.

Mengenai mengapa Tetua itu dapat terdorong mumndur dan muntah darah beginilah jalan ceritanya.

Pada waktu itu Si Kera Gila tertawa dingin Sambil ayunkan tangannya, manusia aneh itu berseru: "Awas, Jaga Nyawamu...!" Seiring dengan kata-katanya, tangannyapun segera mendorong ke muka. Sudah tentu Rajawali dari Gunung Indrakila tak berani lengah. Dia kerahkan tenaga-dalam dan menyambutnya.

Bum...

Terdengar letupan keras disusul dengan batu dan debu yang beterbangan keempat penjuru. Air hujan menyibak, Air yang tergenang muncrat kemana-mana. Rajawali dari Gunung Indrakila terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah.

Darahnya kontan bergolak keras. Si Kera Gila masih tetap tegak di tempatnya. Hanya

kakinya makin melesak ke dalam tanah.

"Ha ha, ha bagus. awas serangan keduaku!"

Setelah menenangkan semangatnya, Rajawali dari Gunung Indrakila pun menyahut:

"huh,. masih belum seberapa!" Saat itu pikirannya sudah tak

dapat mundur dari tekadnya, Mati atau Hidup. Dia menyadari bahwa kepandaiannya masih belum mampu untuk menghadapi Sikera Gila. Sebuah gelombang macam Tsunami segera melanda Rajawali dari Gunung Indrakila. Rajawali dari Gunung Indrakila segera menghimpun dua belas bagian tenaga-dalamnya untuk menyambut.

Kembali terdengar ledakan yang lebih keras dari pukulan pertama tadi. Rajawali dari Gunung Indrakila terhuyung-huyung sampai sembilan langkah ke belakang dan hampir rubuh.

Dengan sekuat tenaga, dia menelan darah yang hendak muntah dari mulutnya.

Tetapi Sikera Gilapun juga tersurut ke belakang sampai tiga langkah. Tubuhnya berguncang-guncang dua kali.

Rajawali dari Gunung Indrakila tahu bahwa dirinya telah menderita luka dalam. Tetapi dia berusaha keras untuk menahan diri.

Si Kera Gila memandang Rajawali dari Gunung Indrakila sekian lama. Kemudian ia tertawa keras. Lama dan panjang sekali.

Serentak Si Kera Gila gerakkan kedua tangannya tetapi tak terdengar suara apapun. Sekalipun begitu Rajawali dari Gunung Indrakila tak berani memandang rendah.

Dia tahu bahwa saat itu lawan sedang mengeluarkan jurus pamungkasnya yang Paling Terkenal akan kedahsyatan dan keamnehannya, ‗Pukulan Bayangan Kera Gila‘ itulah nama Jurus itu.. Serentak diapun kerahkan seluruh tenaga-dalam untuk membalas. Adu tenaga-sakti yang berlangsung saat itu telah menimbulkan ledakan yang amat dahsyat sekali. Bagaikan dihantam dengan berpuluh-puluh godam, Rajawali dari Gunung Indrakila tertatih- tatih ke belakang. Pandang matanya gelap, kepala berbinar- binar dan tulang belulangnya serasa lolos dari sendi persambungan, kaki dan tangannya seperti patah berantakan.

"Hoeekk,.... Hoekk‖ Ia muntah darah.... mendadak...

―Wah-wah benar-benar pertarungan yang asik, benar begitu Luyu?‖ Sebuah suara yang halus namun jelas di telinga setiap orang yang ada disana. mengomentari pertrungan hidup mati ditempat itu.

―Tentu...tentu tapi tetap saja terlihat begitu monoton.‖ jawab

yang satunya lagi.

Gara-gara suara itu semua orang hentikan pertarungan dan melirik dimana suara itu berasal. tampaklah diatas dinding setinggi lima tombak dua orang Pemuda sedang ongkang- ongkang kaki.

Pemuda pertama berwajah tampan berpakaian kuning dengan rompi terbuka Tubuhnya berkulit bersih, walau tak terlalu putih. Lengannya kekar, demikian pula kedua kakinya yang kokoh.

Rambutnya panjang sebatas pundak dan mengenakan ikat kepala dari kainwarna putih.. dia tak lain adalah Huru-hara adanya, Sedang pemuda kedua merupakan pemuda berwajah biasa berkesan lugu dan bodoh,juga terlihat tengil sok berani.

Rambutnya panjang tipis diikat dengan kain warna coklat muda. Pemuda itu memakai pakaian serba hitam. dia tak lain adalah Luyu Manggala adanya.

Setelah berlari-lari menyusur hutan dan mendaki gunung sampailah mereka ditempat itu, begitu sampai mereka segera disuguhi dengan pertarungan dari dua kubu yang berbeda. setelah melihat keadaan Pihak Rajawali Emas semakin terdesak maka berkatalah Huru hara memecah sekaligus menghentikan pertrungan.

―Hupp‖ ―Jlegg‖ Huru-hara turun ke lapangan, dan berkata, ―Hey, beginilah jika bersilat bukan main dorong gak jelas kaya tadi‖ setelah itu Huru-Hara Memasang Kuda-kuda.

Merah Wajah Si Kera Gila mendapat sindiran dari Huru Hara. Huru Hara segera mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat mendorong angin seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati. entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya itu masih mendorong angin namun entah juga darimana datangnya, aram memiliki dua tangan lagi yang mengayun simpan menyamping pada tangan kanan yang diayunkan kedalam dan tangan lainnya yang terkepal untuk disilangkan didepan dada, perlahan kedua tangan yang mendorong angin telah hilang, sambil menyelinapkan tubuh kedepan maka disini tangan kiri melakukan suatu totokan yang cepat pada Angin. lalu ia tegak mematung sambil cengengesan, semua orang terpana namun semunya tak ada yang mengerti ada apa sebenarnya. ―Hebat‘ ―hebat‖ teriak Luyu Manggala dengan tampak ketolol- tololan dan segera ikut memainkan jurus itu. Semuanya tak ada yang paham dengan apa yang dilakukan keduanya himngga pada suatu ketika.

―Wuuurrssshhhh... Blaarrr....Crekk...crekkk‖

Gulungan angin tornado bergulung gulung dari tempat dimana kedua telapak tangan Luyu dan Huru-hara mendorong angin, berat namun cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus itu. diam namun bergerak, gerakannya kosong seperti tak berisi, namun memiliki sumber, sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah ditangan tanpa memasuki tiantan. jurus yang dinamakan dengan Ksatria Menolak Angin.

Kebetulan atau apa namanya antara luyu dan Huru-hara menodongkan arah telapak tangannya pada sekumpulan Anggota Nawa Awatara. maka tak pelak lagi tubuh Anggota Nawa Awatara itu berterbangan terhempas angin yang kuat bagaikan Angin tornado itu.

―akrrgghhh‖jeritan menyayat bersahut-sahutan mengiringi angin yang bercampur air hujan itu, ―Blaarrr...brakk‖ tubuh itu ada yang hancur ada yang patah, juga ada yang lainnya sebab tertabrak dinding yang kuat atau dengan batu cada gunung juga ada yang terlempar kedalam jurang.

―hahah‖ plok-plok hebat-hebat‖ seperti anak kecil saja Huru-hara dan Luyu manggala berkeplok. tawa dari mereka berkumandang dipegunungan itu. di tempat itu kini berdiri empat orang lagi, tampaknya mereka merupakan pentolan dari Utusan Nawa Awatara, mereka itu tak lain adalah Si Kera Gila. Sikakek bungkuk dari Gunung Sang Hyang. dan dua lelaki berkumis lebat berusia sekitar empat puluh lima tahun, mengenakan pakaian rapi warna hijau berkrah leher tegak. wajah mereka begitu sama, penampilan pun sama, dalam dunia persilatan mereka terkenal dengan nama Kembar Tapi beda. yang tertua bernama Sengkalang dan adiknya bernama Sengkaling.

―Si Jagad bulak Balik dan Si Kerbau Dicocok idung‖ dengus sikakek bungkuk dari gunung sang hyang yang rupanya sudah mengenali mereka berdua.

―Ekh bungkuk, mengapa tak sekalian kau bersujud saja didepanku!‖ Ejek Huru hara jenaka yang mana membuat para murid Rajawali Emas tersenyum geli. merah wajah Sibungkuk Dari gunung Sang Hyang. sebelum ia bicara, dia keduluan oleh Luyu Manggala yang tertawa dan berkata. ―Ekh, Hara... lihat kakek ini kaya piaraanku ‖ luyu manggala menuding Si kera

Gila. segila-gilanya Kera Gila, mendapat ejekan itu ia geram juga.

menurutnya dihina bocah ketololan seperti itu sama saja kehilangan harga dirinya, ia menggeram ringan.

―Ekh, Kakek, aku juga bisa marah kaya Kakek‖ Luyu Manggala Jenaka, tapi hanya sesaat.. sebab secara tiba-tiba wajah Luyu menjadi menyeramkan, Hawa membunuh mencekam disekeliling itu, Luyu manggala menyeringai kejam,,, kejadian itu terus berlangsung kira-kira seperminum teh lamanya, sampai tiba-tiba mulut Si Kera Gila mengeluarkan busa bercampur darah, dan terus semakin banyak... tak begitu lama, ia ambruk kebumi tanpa ada nyawanya lagi.

―Yey, dia mati... hara dia mati aku Pelototin, gerrr‖ Luyu manggala membuat wajahnya seseram mungkin dengan dipaksakan yang mana malah membuat Huru Hara semakin terbahak-bahak.. sebenarnya itu adalah jurus dari Aura Kematian yang telah digubah Aram khusus untuk menambal wajah ketololan Luyu Manggala.

Luyu Manggala menamakan sendiri jurus itu dengan nama

―Muka Setan‖ namanya sangat sederhana seperti pemiliknya namun kegunaannya tidaklah sesederhana namanya.

―Nah, luyu kau mau memilih yang mau bersujud kepadaku ini, atau kah dua keledai yang mirip itu?‖

―Akh, Aku mau yang bersujud itu saja, habisnya dua orang itu menyeramkan sih hehe,. ―

―Memangnya yang ini tidak seram?‖

―Masa sih seram? orang mau cium tanah ketakutan begitu saja seram.. malah terlihat lucu‖

Begitulah keduanya malah saling bercanda satu sama lain tanpa mengghiraukan orang yang dijadikan objek ejekan mereka. Murid Perguruan Rajawalli emas sekuat mungkin menahan mulut mereka untuk tidak ketawa mendengar ocehan dua orang yang datang membantu mereka itu. sungguh baru mereka percaya mengenai kabar dunia persilatan akan kekonyolan dari Dua Ksatria yang diberi gelar Si Jagad bulak Balik dan Si Kerbau Dicocok idung. sebuah gelar yang lebih tepat disebut poyokan(Hinaan).

―Kalian...‖ Tak sanggup lagi menahan kesabaran, Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang menerjang, seperti orang yang kesandung tampak Luyu Manggala dan huru Hara terjatuh, namun serangan dahsyat Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang dapat dielakan dengan manis.

―Lihat gara-gara kau aku jatuh‖ Bentak Huru hara pada Luyu Manggala.

―Apakau tak melihat aku juga jatuh gara-gara ulahmu!‖ elak Luyu manggala. ternyata dalam keadan seperti itupun Mereka berdua masih terlihat main-main. merasa dipermainkan Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang semakin geram, dia mengamuk seperti banteng ketaton menyerang ―Wurrrsss‖ Lidah api menyerang Luyu Manggala. itulah Ajian Saepi Geni

Luyu Manggala berteriak sedih, ―seharusnya kita membawa Kijang lihatlah si pencium tanah ini mengeluarkan api dari

tubuhnya, aku merasa lapar. ingin sekali aku memanggang

kijang‖: ―haha salahmu sendiri, sudah aku katakan tadi sebelum

kemari untuk berburu, namun kau malah memarahiku karena mana mungkin membakar Kijang dalam keadaan Hujan seperti ini‖ jawab huru-hara disela-sela sambaran serangan dua lawannya.

―Aku memang bodoh bodohhh‖ Luyu manggala menyesal dan

menangkap tangan Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang dengan sigap, dengan kecepatan kilat ia meraih kepalanya dan tiga kali diadukan dengan kepalanya sendiri.

―Bwahahahah‖ Para Murid Rajawali emas tak sanggup lagi menahan rasa geli yang menggelitik sanubari, mereka tertawa terpingkal-pingkal bahkan ada yang sampai membungkuk- bungkuk melihat pertarungan yang begitu lucu dan aneh.

―Huru Hara, Luyu, berhentilah main-main. kalau sudah lapar Aku akan siapkan makanan untuk kalian‖ Sebuah Suara lain menggelegar di antara ributnya pertarungan dan lebatnya hujan.

Ternyata ditempat tadi Huru Hara dan Luyu berdiri tampak seorang Lelaki Paruh baya berusia enam puluh lima tahunan dengan baju serba kuning keemasan yang sudah compang camping. atau yang biasa dipanggil dengan Bintang Endrayana pewaris ketua generasi ke-124 Rajawali emas

―Ketua Ketua‖ Teriakan Kaget dari para Murid Perguruan

Rajawali Emas, bersahut-sahutan, mereka Kaget, Bingung, Juga berbahagia bersatu Padu. ―Baiklah Ki Bintang.....‖ Kami akan pijiti mereka... Jawab Huru Hara seraya menekuk silang pada kaki dengan suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kiri, sementara tangan kanannya melakukan suatu pukulan yang sangat keras,

―Blaaarrrr‖ dua buah tenaga sakti beradu diudara, tapi sepertinya itu masih belum cukup. terbukti Huru hara melanjutkannya dengan suatu gerak tendangan pada kaki kanan serta dorongan yang dilakukan oleh tangan kanan yang telah diputar sedemikian rupa, untuk menghimpun tenaga secara cepat....

Bukkk... Oekkkk. Oekkk

Hanya setengah jurus dari Ksatria membabat Angkara saja Sikembar tapi beda kehilangan nyawanya, tapi Huru hara juga terpental dua langkah kebelakang karena ledakan tenaga saktinya sendiri.

sementara itu, Luyu Manggala juga mulai mempergencar serangannya, ia jongkok setengah badan untuk mengimbangi tinggi Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang. Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang terkejut setengah mati, terutama ketika kepala mereka beradu dan Luyu manggala berputar bagaikan gasing.

―Dreetttt‖

―Akkrrgghhhhh‖

Kepala Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang ikut berputar, darah memercik kemana-mana, daging berhamburan. angin dan air hujan bertebaran kemana-mana. lumpur dan tanah tersibak, kecepatan putar itu begitu dahsyat hingga tubuh Luyu Manggala dan Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang. tidak terlihat lagi.

Sretttt...Jleggg......

Secara mendadak putaran itu berhenti. tubuh Luyu Manggala

berdiri dengan tenangnya, sedangkan tubuh Sibungkuk dari Gunung Sang Hyang. telah menghilang, menyisakan darah yang bertebaran. itulah jurus yang dinamakan dengan Bumi Berhenti berputar.

―Aduh Pusingg‖ Luyu Manggala sempoyongan dan terlentang diatas hamparan lumpur, Huru Hara tertawa dan segera mengangkut tubuh itu. Ki Bintang Endrayana segera mempersilahkan Keduanya untuk memasuki salah sebuah ruangan tempat istirahat.

Rintik hujan semakin menghilang, geluduk sudah menghilang, menyisakan bau anyir darah, jejalanan yang becek semakin licin akibat pertarungan. didalam sebuah ruangan tempat peristirahatan dua orang sedang asyik mengobrol,

―Kau Lapar?‖ Luyu manggala bertanya.

―tentu, tentu saja aku lapar‖ Jawab Huru hara tersenyum.

―Kalau begitu mari sini?‖ Sebuah suara mengagetkan mereka. di pintu masuk ternyata Bintang Endrayana sudah berdiri disana.

―Hehe‖ keduanya cengengesan, Sebenarnya, apakah yang sedang direncanakan oleh Aram? Kita tengok beberapa hari kebelakang.

Pada waktu itu, ketika ia selesai menyatukan seluruh ilmunya, Aram memerintahkan Kepada Ksatria Satwa beserta Adipati Rajalela untuk memasuki Ruangannya, setelah semuanya berkumpul. Aram segera membuka Rapatnya,

―Kalian siap berkelana lagi?‖

Ksatria satwa tertegun, diam-diam semangat mereka berkobar bagaikan api nyang membara. Dengan serempak mereka menjawab.

―Yehaa ‖ mendapat sambutan yang begitu luar biasa Aram

tersenyum bangga.

―Kalian sudah paham apa yang harus kalian lakukan?‖

―tidak‖ Adipati Rajalela menjawab tegas. Angkara nyengir sebab ia tahu Adipati belum mengerti jalan Pikiran Ketuanya.

―Angkara apa bunyi Siasat rubah no 3?‖

―Pangkas Pohon dari rantingnya agar tidak jatuh menimpa banyak korban‖

―Siasat Rubah No 5‖

―Pohon Jatuh tanpa suara lebih mematikan daripada pohon yang mengeluarkan suara bergemuruh‖ ―Siasat Rubah No 6‖

―Memukul dibarat, menusuk dari timur, menikam dari selatan membunuh dari utara‖

―Siasat Rubah No 7‖

―Beri senjata kepada semut agar mengikis gula‖

―Siasat nomor 25?‖

― Kaburkan Kabar angin, menutup telinga musuh‖

―Nah, sekarang kalian mengerti apa yang harus kalian lakukan?‖ Angkara dan yang lain mengangguk paham kecuali Adipati Rajalela

Aram garuk kepalanya yang tidak gatal, ―Angkara bisa kau jelaskan kepada Ki Adi dilain kesempatan?

―Tentu, Aku berikan siasat nomor tujuh dan dua puluh lima saja, sebab itu yang paling mudah‖ Angkara menjawab.

―Dan yang lain?‖

―Kita selesaikan secara bersama-sama. ―

―Baiklah aku sudah mengumpulkan segenap ilmu silatku

menjadi satu.. maka dari itu segera kita melakukan rutinitas kita sebelumnya.‖ Tanpa diperintah untuk yang kedua kalinya segera ksatria satwa membuat lingkaran dan berpegangan tangan...

―Yang mulia Mari‖ Amuk samudera mengajak Adipati Rajalela yang kebingungan.

Seperti biasanya, Aram selalu menggunakan ilmu yang disebut memindahkan pikiran dan hawa Aram untuk mengajari Murid pilihan sekaligus sahabatnya itu.

Ilmu Memindahkan Pikiran dan Hawa sebenarnya merupakan ilmu sesat dari golongan hitam, tapi Aram melatihnya dengan cara yang lain sehingga efek negatif dari ilmu itu hilang meski ilmu itu berkurang kegunaannya.

Ilmu itu sebenarnya melatih kekuatan emosi lingkungan sekitarnya, mempengaruhi otak masing-masing dengan sugesti yang diberikan.. jadi salah sedikit saja bisa mempengaruhi mental dari orang yang melakukannya.

Begitulah, malam itu juga Ksatria satwa mulai berkelana, dan diikuti Ketua Lima perguruan pada hari berikutnya

Disebuah kaki gunung Kecil disebuah pulau yang dulu tak berpenghuni, yang sekarang diberinama Pulau anglep yang berati elok, indah, molek. tampak sebuah panorama keindahan membentang disepanjang pesisir pantai juga hutannya itu. pulau itu memang pantas dinamakan demikian sebab pantas sekali dengan tempatnya yang kaya akan cakrawalanya. Dibawah air terjun yang kaya akan keindahannya itu empat orang pemuda-pemudi berdiri tegap diantara karang yang mencuat dipermukaan air. Mereka terdiri dari seorang pemuda dan tiga pemudi. mereka tak lain adalah Aram, Thian Hong Li. Melati dan Rismi Laraspati.

Hari itu Aram mengikat rambutnya di kuncir kuda diikat oleh kain berwarna biru, diatas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau, ternyata kembali kujangnya ia simpan sanggulan dimana ia mengikat rambutnya.

Dilehernya tersampir sebuah kain berwarna coklat menambah ketampanan wajahnya. pakaiannya berwarna biru langit serasi dengan jubahnya. sementara ketiga kekasihnya mengenakan pakaian yang sama yakni berwarna biru laut sebatas dada. menunjukan dada mereka yang sekal. Badan mereka terlihat elok dalam busana ketat seperti itu. Pinggang mereka tampak ramping karena mengenakan celana ketat warna biru laut pula. Pakaian mereka itu dirangkap pakaian jubah warna biru langit yang tak terkancingkan bagian depannya. jubah itu terbuat dari bahan sutera menampakan sikap mewah mereka, leher mereka yang jenjang itu dibelitkan sebuah kain selendang tipis berwarna putih.

―Kita berangkat sekarang ...!.‖ Aram memecah kebisuan.

―Mari kakang‖ Jawab mereka serentak.

―Pegang Tanganku !‖ Perintah Aram kepada melati dan Thian

Hong Li yang berada persis di sebelah kanan dan kirinya. tanpa diperintahkan lagi, mereka menurut untuk memegang tangan Aram.

Kaki Aram menjejak kuat pada batu itu dan meloncat keatas. ketika dalam jarak lima tombak tiba-tiba dikepalanya muncul sebuah lingkaran sihir. itulah ilmu Penerobos dimensi yang telah mencapai kesempurnaannya. tubuh Aram yang waktu itu sedang meloncat tertelan habis oleh lingkaran itu dan menghilang dari pandangan.

***

Desa Arkunorogo merupakan sebuah desa yang padat akan penduduknya, kedai-kedai mewah berjejeran disana, penginapan tersedia diperbagai tempat. panoramanya indah sebab berada di sebuah dataran tinggi. hamparan sawah tanpa padi membentang ditempat itu. aliran sungai berkelok-kelok bak gadis yang sedang menari.

Dalam pada itu, Empat sosok manusia bejalan santai menuju desa itu. mereka itu tak lain adalah Aram dan ketiga kekasihnya. Thian Hong Li, Melati dan Rismi Laraspati. mereka berjalan dengan lagak seorang pangeran dan permaisurinya, matanya memandang dengan angkuh dan jumawa. sejauh mata memandang tampak para gelandangan mencari mangsa. tubuh mereka kurus kering kerontang seperti tulang. wajah mereka sendu berlumuran debu dan kotoran. sementara Para Anggota Nawa Awatara memandang kedatangan rombongan itu dengan aneh dan bahagia.

Bahagia? mengapa? Sebab mereka melihat tiga gadis secantik bidadari disamping pemuda angkuh itu. mata mereka melotot, liur bercucuran disudut bibir mereka. Rismi Laraspati mendengus hina merasa dirinya di lecehkan. tangannya yang putih mulus mulai memegang ujung selendang putihnya.

―Jangan hiraukan mereka..!‖ Aram mengingatkan.

―Baiklah kakang ingin sekali kucolok mata mereka itu kakang‖

Rismi laraspati menggerutu sambil menurunkan kembali tangannya. Namun Aram diam saja, sementara kedua Gadis lainnya tersenyum, senyum mereka ternyata dianggap lain oleh para lelaki disekitar itu. mungkin kira-kira ada dua puluh orang yang berjejer disana. mereka semakin menjadi-jadi, kata-kata kotor dan cabul juga suara suit-suitan tampak bersahut-sahutan.

―Cantik, mari gabung bersama kami.. aku jamin kalian akan merasakan nikmatnya dunia‖

―hahah benar nona, lihatlah adik kami sudah berdiri menantikan

belaian tangan halus kalian.

Aram tak sedikitpun tak memandang mereka, ia berjalan terus dengan angkuhnya.

―Jumawa sekali kau bocah apa kau tak tahu siapakah kami

ini?‖ Seorang lelaki berbaju hitam bergambar piramida mencegat. wajah lelaki itu penuh dengan berewok sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Aram hentikan langkah, ia menatap lelaki itu dengan pandangan hina...

―kau sama sekali belum pantas menghadang tuanmu.. cuih!‖

Aram meludahi wajah lelaki itu. lelaki itu terkejut sekaligus marah, namun sebelum ia bertindak ia merasakan air liur itu begitu panas menyengat wajahnya, sedikit-sedikit semakin terasa. lelaki berewok itu semakin terkejut ketika air liur itu menetas pada brewoknya, dan terjadilah hal yang mengejutkan tiba-tiba lelaki itu jatuh berdebam ketanah dan kelojotan.

―Argghhh...grokkk grokk...‖ lelaki berewokan itu menggerang seperti orang yang disembelih. wajahnya mengepul seperti terbakar, tak lama kemudian lelaki itu berhenti kelonjotan, wajahnya telah berubah mengerikan, daging-dagingnya sudah menghilang entah kemana menyisakan tulangnya yang seperti tengkorak, tangan yang memegang wajahnya itupun bernasib sama, dagingnya menghilang menyisakan tulangnya yang berwarna putih.

Ketiga kekasih Aram menutup mata dengan ngeri, sementara kawan lelaki itu terkejut setengah mati. tubuh mereka gemetaran menahan murka.

―Kau membunuh kawan kami..‖ salah seorang pemuda kawan lelaki itu menunjuk Aram. belum sempat ia meneruskan perkataannya tubuh pemuda itu ambruk ketanah, mulutnya menganga dan dari mulutnya itu keluar buih-buih berwarna putih, ia kelonjotan sebentar lalu diam. Kawan-kawannya yang lain terkejut.

―Rac...racun...‖ pekik mereka sambil membalikan badan hendak kabur. namun naas, nasib mereka tak semulus angan mereka. semua Anggota Nawa Awatara yang ada disana tiba-tiba ambruk tak bernyawa dengan mulut berbuih.

―Kakang jurus apakah itu?‖ Rupanya sedari tadi Thian Hong Li

memperhatikan gerakan tangan Aram sehingga tidak merasa heran dengan kematian orang disekelilingnya berbeda dengan kedua gadis yang lain.

―Racun Pemusnah Jagad‘‖

―Nama yang sedikit membuat bulu kuduk meringkik‖ Rismi Laraspati mengomentari sambil memonyongkan bibirnya yang mungil.

―sudahlah ayo masuk‖ Aram menegaskan. sambil melangkah kan kakinya dengan lebar menuju sebuah kedai terbesar ditempat itu, bagaikan seorang artis, begitulah Nasib Aram, dirinya kini menjadi sorot perhatian dari setiap mata yang memandang.

―Silahkan masuk tuan nyonya‖ Seorang lelaki berpipi kurus menyapa rombongan Aram dengan senyuman getir, antara takut dan gembira.

Aram tak sedikitpun memandang lelaki itu, ia teruskan langkahnya dengan lebar menuju tempat duduk yang dalam pada itu sedang dalam keadaan kosong. lalu berkata kepada pelayan itu. ―Siapkan makanan paling enak ditempat ini. !‖

―Ba...baik tuan ― Ucap lelaki itu ragu-ragu.

―Kurang Ajar. !‖ ―Brakkk‖ Aram memukulkan tangannya pada

meja, lalu kembali memasukan tangannya kebalik pakaian birunya. dan pelayan itu terbelalak. Mengapa? ternyata

ditempat tadi Aram memukulkan tangannya itu, tergeletaklah sebuah berlian sebesar kepalan jari. pelayan itu melenggong menatap berlian itu, pikirannya berkecamuk berbagai macam perasaan, Gembira, takut, kaget, Heran dan sebagainya.

Pelayan itu berkaca-kaca, sudah beberapa tahun kebelakang ini memang dirinya tidak lagi melihat uang seperakpun. memanglah sejak kerusuhan akibat Nawa Awatara dirinya tidak lagi dapat mereguk keuntungan. setiap harinya ia berdagang namun tak ada lagi pelanggan selain Anggota Nawa Awatara yang datang kedalam kedainya itu dan tentu saja tak ada bayaran alias gratis. Pelayan itu sadar, bila ia memilih menutup kedainya, maka kematian lah yang menunggunya seperti halnya teman-teman seprofesi lainnya.

―Kau menunggu aku mati kelaparan disini heh?,, ‖ Aram

membentak menyadarkan Pelayan itu.

Pelayan itu terperanjat, tanpa kata lagi ia segera membalikan badan hendak kedapur mengambil makanan. ―Tunggu...!‖ Sebuah suara merdu menegurnya, ia tak lain adalah Melati Adanya.

Pelayan itu tertegun, segera ia berbalik dan bertanya ―Ada yang bisa saya bantu lagi nyonya?‖

―Eng Ambilah‖ Melati menunjuk pada gundukan Berlian

dimeja.

Pelayan itu dengan gemetar mengambil berlian itu, keringat dingin diam-diam mengucur dikeningnya, dikepalnya berlian itu seakan ia takut itu hanya khayalan. kemudian Pelayan itu segera pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan.

―Sikapmu Lucu sekali Kakang.. hihihih‖ Rismi Laraspati memecah kebisuan diantara mereka.

―Enggg ‖ Aram tersenyum lembut menjawab komentar itu.

―Apa rencana kita selanjutnya engkoh?‖ Thian Hong Li bertanya, keningnya berkerut dalam.

―Bagi-bagi gula lalu bertamu di rumah sahabat kita.‖

―Maksudnya?‖ Melati dan Rismi Laraspati bertanya serempak.

―Kita lihat saja nanti‖ Ucap Thian Hong li penuh kemenangan.

―Lihat, Makanan sudah siap..!‖ Aram mengalihkan pembicaraan. benarlah saja, dipintu masuk dari dapur dua orang pelayan masuk kedalam ruangan dengan dua baki ditangan. ―Silahkan Tuan Nyonya‖ Pelayan itu menyajikan makanan itu dimeja, adapun makanan itu terdiri dari Bakakak ayam berlumuran kecap, Ikan bakar lengkap dengan sambalnya, dan beberapa makanan lain. selain itu juga terdapat dua guci Arak dari Kelapa yang disajikan belakangan sebagai minumannya..