Pendekar seribu diri Jilid 12

Jilid 12

Ternyata disana juga ada Thian Hong Li yang sedang menunggu kedatangan mereka berdua dan menyapa.

―Wah, mesranya ‖

―haha Ayo sayang malam ini kita lepaskan kepenatan‖ Ajak

Aram.

―Ayuk..‖ Jawab Melati polos. Thian Hong Li tertawa cekikikan sebab ia tahu itu adalah tanda bahwa mereka akan melakukan

‗sesuatu‘ berbeda dengan melati yang tak tahu apa-apa.

―Kau tahu maksud ucapannya melati?‖ Thian Hong Li bertanya.

―Tidak. ‖ jawab melati heran. ―Itu Artinya kau bakal menangis malam ini...‖

―kok begitu?‖

Aram dan Thian Hong Li tertawa lucu, sedangkan Melati tampak kebingungan, meski tak mengerti, daripada ia tak tenang akhirnya ia memilih untuk ikut tertawa.

Ketiganya kemudian masuk kedalam ruangan itu dengan hati yang riang gembira.

Setiba di dalam ruangan atau kamar sambil terkikik kecil Thian Hong Li berkata ―Lati, ayo lekas buka pakaianmu...‖.

Kamar itu sangat besar dan bersih, Sebab Aram adalah Ketua dalam perkumplan ini, sehingga kamarnyapun yang paling besar dan indah..

―Tapi. ‖ Melati mulai paham apa yang akan dan sedang terjadi.

―haha bukankah kau sudah menyetujuinya sejak tadi diluar?‖

Thian Hong Li tertawa ringan.

Dengan perasaan serba salah Melati hanya mengangguk lemah. dengan gerakan lemah dan ragu penuh kemalu-maluan melati perlahan-lahan melepaskan pakaian yang dikenakannya.

Terlihat pundaknya yang putih mulus, leher yang jenjang dan pakaian dalam warna merah menyala, terpampang belahan bukit membusung ketat di baliknya. Melati berhenti sebentar, ia melirik kearah Aram yang sedang memperhatikannya dengan senyuman lembut dan penuh cinta dan berahi. kemudian ia berpaling kepada Thian Hong li, ternyata tanpa merasa malu Thian Hong Li juga mulai melepaskan pakaian luar dan pakaian dalamnya yang ketat dan segera tampak sepasang bukit yang montok dihiasi puncaknya yang kecil kemerahan.

Tiba-tiba ia melepaskan rok panjang yang dipakainya dan tampak pahanya yang mulus dan langsing, sambil tersenyum tipis Thian Hong Li memiringkan tubuhnya yang padat berisi sedikit menghadap Aram hingga terlihat jelas dihadapannya bagian inti seorang perempuan. semua bagian tubuhnya sangat menakjubkan. Setiap lekuk tubuhnya mampu membangkitkan gairah setiap laki-laki.

Melati tertegun, tanpa ada pilihan lain iapun segera melepaskan baju dalamnya hingga langsung sepasang bukitnya mencuat menantang. wajahnya segar dan bibirnya merah delima merekah dengan sorot mata yang kemalu-maluan hingga menambah kecantikannya.

Tubuh Aram tergetar, tanpa menunggu Melati melepaskan celananya, Aram sudah memeluknya dan melumat bibirnya dengan rakus, Thian Hong Li tersenyum, dengan lembut ia membimbing mereka untuk berbaring dipembaringan,

Malam semakin larut, deruan nafas yang memburu diantara insan manusia bersahut-sahutan, suara jeritan kesakitan terdengar melambangkan bahwa suatu dinding penghalang dalm cinta telah terbobol, namun tak begitu lama kemudian terdengar rintihan pelan menjadi melodi dalam keheningan hingga pada suatu kesempatan mereka sudah mencapai dan menjerit, bukan jeritan ngeri, bukan pula jeritan kesakitan melainkan sebuah jeritan pengepresian diri dalam cinta.

Terlihatlah tubuh Aram memeluk tubuh Melti yang melengkung indah kebelakang dengan erat. leher jenjang melati terpampang begitu saja hingga Aram tak tahan untuk mengecupnya dengan lembut.

tak berhenti begitu saja, Aram segera bangkit dan menindih seorang perempuan lainnya yang berbaring disamping menunggu giliran sejak tadi,.. begitulah mereka bertamasya ke puncak kesenangan dalam surga keindahan. nyanyian merdu yang dikemas dalam jeritan begitu merdu dan memabukan siapapun yang mendengarnya.

Tanpa mereka sadari dibalik pintu itu seorang gadis cantik bertangis pilu bercucuran air mata. wajahnya sembab tubuhnya sudah lunglai, dengan lesu gadis itu meninggalkan tempat yang membuat hatinya dirundung pilu itu.

Cinta memang menyakitkan bila tak terbalas, lebih sakit lagi bila cinta itu tidak kesampaian sebab sudah ada yang memiliki.

Fajar mulai mengintip dalam bayang bayang kegelapan, bintang- bintang sudah menyelimutkan dirinya diantara langit yang hitam, seorang pemuda tampan bertelanjang dada dengan tubuh penuh luka berjalan santai menelusuri lorong-lorong dalam kesunyian, langkah kakinya begitu ringan seperti kapas yang turun kebumi, ia terus berjalan hingga sampai disebuah perpustakaan yang dipenuhi dengan rak-rak buku yang berjejer rapi.

Perpustakaan itu lumayan besar, dindingnya terbuat dari batu cadas yang berlumut hijau, beberapa ukiran indah menghiasi tempat itu, obor-obor berjejer disekelilingnya menerangi ruangan itu. batu-batu berbentuk balok berjejer rapi, sepertinya itu merupakan sebuah bangku tempat membaca, perpustakaan itu dibagi menjadi beberapa ruangan yang didepannya sudah diberikan tanda berupa tulisan keterangan.

Ruangan paling kiri yaitu ruangan pertama bertuliskan ―Kitab

Ilmu Silat dan Perang‖, sebelah kanan ruangan itu yaitu nomor dua, bertuliskan ―Kitab Perbintangan dan bumi‖ ruangan nomor tiga bertuliskan ―Kitab Obat dan Racun‖ ruangan nomor empat bertuliskan ―Kitab Sastra‖ dan yang terakhir bertuliskan ―Ruang Senjata‖.

Ia masuk keruangan sebelah sisi kiri yang bertuliskan ―Kitab Ilmu Silat‖ dan terus meneliti kitab-kitab yang sudah lapuk maupun yang masih baru., namun Aram belum juga berhenti meneliti hingga ia menemukan enam buah kitab yang diinginkannya.

Kitab pertama bernama ―Kitab Api Neraka‖ Kitab Kedua bernama ―Kitab Angin Topan‖

Kitab Ketiga bernama ―Kitab Samudera Kematian‖ Kitab Keempat bernama ―Kitab Kapas Surga‖ Kitab Kelima bernama ―Kitab Tanah Inti Bumi‖

Dan yang terakhir adalah Kitab ―Barisan lima elemen semesta‖

Kelima kitab itu merupakan kitab yang sudah lama tak beredar dalam dunia persilatan, tebukti dengan kitabnya yang terbuat dari lembaran kulit kambing, dan tulisan kuno. sedangkan kitab barisan lima elemen semesta merupakan kitab ilmu silat tunggal yang tak pernah turun kepada pewaris lain dari lima Pendekar Semesta Raya karena tak ada ahli warisnya yang sanggup menguasainya.

Setelah itu, ia segera keluar dari ruangan itu kemudian masuk kedalam ruangan senjata, diruangan itu beribu-ribu macam senjata berserakan, senjata rahasia, pedang, cerulit, pisau, panah, kapak, cakram, golok, kaitan juga senjata senjata lainnya tampak menggantung dan tergeletak begitu saja diruangan itu. namun Aram tak melirik semua senjata itu, ia hanya mengambil sebuah peti berukuran sedang, bergambarkan element-elemen yang ada dibumi, setelah dibuka, ternyata isinya hanya sarung tangan dari bahan yang sama namun dipunggung telapak tangan itu tertera simbol-simbol alam, diantaranya adalah lima elemen tadi juga masih banyak lainnya seperti petir, kayu, besi, emas, dan lainnya.

Diambilnya lima pasang sarung tangan kelima elemen tadi dan menutup kembali petinya, setelah itu, ia segera beranjak meninggalkan perpustakaan menuju dimana ketua lima perguruan berada. Setelah tiba, ia segera mengetuk pintu itu, tak begitu lama seraut wajah cantik yang sudah tertelan usia membukakan pintu, wajahnya begitu bercahaya dan berseri-seri.

―Akh, Ketua eh maksud saya tuan pendekar, silahkan masuk...‖ Ucapnya ramah.

―Terimakasih Nyi...‖ Aram menjawab sambil masuk kedalam ruangan. diruangan itu terlihat empat orang lainnya sedang duduk bersila diatas pembaringan masing-masing, sepertinya mereka baru bersemadi.

―Bagaimana keadaan kalian saat ini?‖ Aram berbasa-basi. sambil duduk dikursi yang disediakan Nyi Sawitri.

―Kami merasakan lebih baik, berkat tuan pendekar,... kami masih belum mempercayai bahwa tenaga dalam kami pulih meski hanya sebagian, ― Ki Ardam mewakili yang lain.

―Baiklah jikalau sudah merasa baik, saat ini kita sedang berada dalam perang sebaiknya kita bergegas, semakin cepat semakin baik... mari kita kesebuah tempat...‖ Aram berdiri dan meninggalkan mereka. kelima ketua perguruan melenggong dengan sifat Aram, namun mereka tidak memasukannya kedalam hati, segera mereka mengikut Aram menyusurri lorong- lorong markas, beberapa Anggota Bendera Awan langit tampak sibuk dengan aktivitasnya, ketika bertemu mereka segera menyapa meski hanya sebagai basa-basi. Aram dan kelima Perguruan kini sudah berada diluar ruangan, langit biru kehitaman, matahari tampak kemalu-maluan memunculkan dirinya dibalik bukit, daun-daun gemerisik menyambut pagi dengan sapaan angin yang lembut.

Disebuah lapangan rumput dengan hiasan bebatuan, enam orang manusia berdiri berhadapan. seseorang diantaranya yang ternyata Aram segera berkata.

―Ini adalah lima kitab ilmu silat berdasarkan element, yang ku sesuaikan dengan sifat masing-masing dari kalian, dalam kitab ini berisi cara menghimpun tenaga dalam, menyembuhkan luka, pertahanan maupun serangan. aku harap kalian menguasainya dalam waktu singkat, untuk sementara kalian berlatihlah disini menurut kitab yang kuberikan, dan yang satunya lagi merupakan kitab barisan dari ilmu yang kalian pelajari, semua kitab ini merupakan kitab yang sudah lama tak beredar dalam dunia persilatan, jadi jangan heran bila kalian tak mengetahuinya, yang kedua ini adalah lima pasang sarung tangan elemen sebagai pembantu dari ilmu kalian, bisa dikatakan ini merupakan senjata tangan kosong, sebab sarung tangan ini kuat senjata tajam, juga racun. ini ambilah ‖ Aram menyerahkan kitab dan sarung

tangan itu ketangan masing-masing dan menyerahkan kitab yang keenam kepada Ki Ardam.

―Entah apa yang harus aku ucapkan dengan budimu ini anak muda,. ‖ Ki Madya terenyuh hatinya, matanya berkaca-kaca

haru. ―Tak usah dipikirkan,... belajarlah dengan giat maka kalian sudah membalas budiku,...‖ Aram menjawab degan tubuh yang mulai kabur,

―Anak...‖ Bintang Endrayana tak melanjutkan ucapannya sebab tubuh Aram sudah lenyap dari pandangan,.

―Benar-benar bukan kemampuan yang bisa dianggap cetek..‖ Ki Bedu mengomentari.

―Sudahlah mari kita berlatih...‖ Nyi Sawitri mengingatkan, tanpa berkata apa-apa lagi mereka segera membuka kitab masing- masing, lembaran demi lembaran mereka baca, ekspresi kekaguman muncul dari wajah masing-masing. hanya dengan membaca sekilas saja mereka sudah dapat melihat kwalitas dari ilmu tersebut.

Kembali ke Aram, Setelah mengatakan apa yang diinginkannya Aram segera kembali ke-aula markas, kedatangannya ternyata telah di tunggu oleh seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh delapan tahunan, berbaju hitam seperti orang yang berduka cita, ya dia adalah Adipati Rajalela sang Raja ditanah sunda ini. ia berduka cita atas kehancuran kerajaannya,.

Adipati Rajalela tersenyum ramah, dengan perlahan ia maju kedepan Aram dan bersoja. Aram tersipu, dengan senyuman dibibir ia bangunkan Adipati itu dan tersenyum.

―Tak usah banyak adat yang mulia,‖ ―jangan memanggilku yang mulia Ketua, panggilah namaku‖ Adipati Rajalela menolak.

―Hem, baiklah Adi ada apakah gerangan?‖

―Heh.... Hamba Ingin meminta tolong...?‖

―meminta Tolong?‖ Aram heran.

―Laraspati, anakku ia.‖ Adipati Rajalela terdiam,

―Ia mengapa?‖

―akh,. Ia kabur dari kamarnya‖

―Oh, Apakah Adipati ingin saya mencarinya?‖

―Bukan ‖

―Loh Kok bukan?‖ Aram semakin bingung.

―Anakku mencintaimu sepertinya ia sedang cemburu―

―Ohh....‖ Aram mulai paham arah tujuan pembicaraan ini...

―Tapi, meski saya bisa menghiburnya tak mungkin saya meninggalkan kekasihku, kecuali‖ Timpal Aram.

―Kecuali apa?‖ mata Adipati yang sudah tak bersemangat kembali bersinar. ―Kecuali bila Laraspati mau tinggal bersama kami bertiga dan Kedua kekasihku mengijinkan..‖

Adipati Rajalela terdiam, membujuk anaknya untuk menerima hidup bersama Aram berempat masih mungkin. namun membujuk dua kekasih Aram untuk menerima anaknya adalah hal yang paling tersulit.

―Baiklah Adi, mungkin saya akan berbicara dulu kepada mereka berdua baru saya akan putuskan tindakan selanjutnya ‖ Putus

Aram.

―Baiklah ketua, terimakasih atas pengertianmu ‖ Adipati

Rajalela bersoja dan meninggalkan Aram yang termangu- mangu. akhirnya ia putuskan untuk kembali keruangannya dan membatalkan niatnya untuk berdiskusi dengan mantan anggota ksatria satwa.

Tanpa memperlihatkan kesekelilingnya Aram berjalan dengan melamun, orang yang disampingnya tak ada yang mengganggu sebab mereka tahu, bila ketuanya kadang bersikap aneh bila akan melakukan sesuatu, tapi ada satu orang yang paham ada yang sedang dengan keadaan Aram.

Orang itu kemudian menyikut temannya yang sama sedang memperhatikan dan mengikutinya masuk kedalam ruangan Pribadi Aram. mereka melihat Aram duduk di pembaringan dengan meletakan tangannya didagu tanpa menyadari bahwa ada yang mengikuti dan memperhatikannnya. ―Ada apa engkoh?‖ Orang pertama dari mereka menegur. Aram terperanjat kaget, dilihatnya Thian Hong Li dan Melati menatapnya dengan pandangan heran dan khawatir.

―Ekh, akh Anu..‖ Aram tergagap. ternyata orang secerdas dan segagah dirinyapun masih tergagap bila berhadapan dengan masalah CINTA.

―Anu apa?‖ melati bertanya sambil mengusap pundaknya lembut.

―Adipati memintaku untuk meminang Anaknya ‖ Aram berkata

ragu.

―hihihi. ‖ Melati dan Thian Hong Li cekikan.

―lihat, setan cilik mata keranjang ini sudah mendapat korban baru. ‖ Thian Hong Li berkata kepada melati membuat Aram

menunduk lesu.

―oh, kakang pergilah temui dia, kasihan dia menangis sendiri di

sebelah barat pantai. kami rela menerimanya sebab kami

sudah mengetahui bahwa putri itu sudah menyukaimu..!‖ Melati menghibur. membuat mata Aram bersinar dan merangkulnya lalu menciuminya dengan rakus sampai melati ngos-ngosan. lalu tanpa pamit Aram juga merangkul Thian Hong Li dan menciuminya, setelah puas tubuhnya melesat kejendela meninggalkan dua gadis yang sedang ngos-ngosan itu.

Setelah menerobos hutan akhirnya sampailah Aram disebuah pesisir pantai, benarlah saja disana terdapat gadis yang sedang berselonjoran sambil menangis, kakinya yang putih mulus indah itu dipermainka ombak membuat suasana semakin romantis.

suara gemericik air menjadikan sebuah musik pengiring dalam suasana seperti itu..Gadis itu mendongakkan kepalanya melihat langit biru yang menjadi atap dalam hidupnya.. Matahari mulai bersinar sangat terangnya, cahaya keperakan, menimpa air laut dengan tenang dan lembutnya membuat wajah cantik itu tergambar jelas didalamnya .

Mata Aram tak bisa lagi berbohong bahwa gadis yang bernama lengkap Rismi Laraspati itu benar-benar cantik, apalagi baju merahnya yang berumbai-rumbai menjadikannya lebih sempurna.

Tanpa permisi Aram memeluknya dari belakang, membuat wajah gadis itu kaget dan ketakutan, namun ketika melihat wajah dibalik bayangan air laut ia merasakan bahwa langit ambruk bumi bergoncang, hatinya luruh tak keruan, ketakutan dan kemarahan semula yang menghantuinya mulai menghilang digantikan dengan rasa gembira yang meluap-luap.

Tangan Aram yang melingkar di pinggang gadis itu mulai naik dan merambat menelusuri lekuk tubuh gadis itu, gadis itu menggelinjang dan menggeliat, tak ada penolakan dalam tubuhnya, semuanya berlancar dengan mudahnya tanpa sedikitpun ada hambatan, sepertinya gadis itu telah memasrahkan seluruh tubuhnya dengan berlandaskan cinta yang sudah merasuki akal sehatnya, cinta memang gila, segala hal apapun akan dilakukannya demi sebuah kepuasaan meski cuman sesaat begitu pula dengan Rismi Laraspati itu.

Satu persatu, kain yang dikenakan gadis itu berjatuhan dipasir putih, pasir yang suci akan sebuah jamahan, hingga gadis itu kini sedang dalam keadaan polos tanpa selembar benangpun.

Sepasang mata Aram tidak lepas dari tubuh yang sangat menggiurkan itu, terlebih-lebih terlihat jelas dalam keadaan telanjang bulat seperti itu, Aram benar-benar terlena. sepertinya Rismi Laraspati merasa bangga dengan memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sintal, indah dan sensual. Sepasang bukit yang kenyal dan mungil bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuhnya yang putih mulus dan tarikan nafasnya yang mulai memburu. Jantungnya berdenyut lebih kencang daripada biasanya, cintanya benar-benar telah mendapatkan pelampiasan yang tepat hingga ia tak mampu untuk tidak tersenyum.

Dalam keadaaan seperti ini tidak ada seorang lelaki pun yang sanggup bertahan terhadap godaan di depan matanya ini kecuali seorang lelaki yang tak memiliki hasrat untuk bercinta! Aram benar-benar terlena, Bau harum segar seorang gadis muda terpencar menerpa hidungnya dan membuat gairahnya bangkit perlahan-lahan.

Aram mencium dan memagut bibir Rismi Laraspati yang merah terbuka bagaikan ombak mencium pasir dengan lembut dan membuat Laraspati mendengus kecil. Dengan lembut Aram membaringkan tubuh Laraspati di atas pasir putih bak permadani taman surga, Laraspati merasa bagaikan berada di langit ke tujuh. ketika tubuhnya dimandi kucingkan, remasan ditubuhnya seperti pijatan refleksi dikala tubuhnya lelah. tak ada kata cinta diantara mereka, hanya tatapan mata yang penuh kasih sayang dan bahasa tubuh mereka pancarkan dalam permainan indah itu,

Permainan semakin memuncak ketika pedang tumpul telah keluar dari sarangnya, terbang mencari sasaran hingga darah meleleh, jeritan kesakitan terdengar, namun itu tak menyurutkan semangat mereka mereka berpacu seperti kuda pacuan hingga mereka mencapai puncak kemenangan dengan kata lain garis finish.

―Serrr..Serr‖

―Akkkhhh‖

Dengan tubuh lunglai Aram berbaring di samping Rismi Laraspati yang sedang tersenyum lemah penuh kepuasan. Daun kelapa melambai, angin laut pagi yang segar membelai wajah mereka yang kuyu. Dengan perlahan Aram menyentuh dan membelai-belai wajah sayu Rismi Laraspati.

Aram menatap wajah Rismi Laraspati. Ia bertanya apakah ia menyesal dengan apa yang barusan mereka lakukan. ia berkata

― Rismi,... dindaku apakah kau menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan?‖ Dengan perasaan malu dan bahagia Rismi Laraspati memegang tangan Aram dengan erat tanpa sanggup berkata-kata.

Tiba-tiba....

―Hayoo mau sampai kalian akan berdiam diri?‖ Sebuah suara

merdu menegur mereka. Rismi Laraspati terkejut segera ia menutupi tubuhnya namun Aram masih tenang,

―Ayo sapa kedua kakakmu Dinda Rismi. ‖ Aram berbisik di

telinganya.

―Ekh... Akhhh ‖ Merah wajah Rismi Laraspati.

―Sudahlah, jangan menggodanya terus, biarkan ia berpakaian dulu..‖melati mengajukan usul.

Tanpa berkata lagi, Rismi Laraspati segera mengenakan pakaiannya, meski canggung mereka mengobrol dengan riang gembira, lalu Mereka kemudian meninggalkan pesisir pantai yang menjadi saksi bisu keintiman yang dilakukan sepasang manusia ini.

***

Matahari kini tepat berada diatas kepala, panas menyengat kulit seorang pemuda berkulit putih, seputih salju yang sedang bertelanjang dada penuh dengan luka seakan menantang sang matahari untuk membakar kulitnya itu. dialah Aram Widiawan.

Dihadapannya seorang kakek berbaju Kuning gading dengan guci ditangannya, matanya sayu dengan kantong mata yang cukup tebal. wajahnya pucat sepertinya ia terlalu keseringan mabuk. dilihat dari ciri-cirinya dia memanglah Sipemabuk dari selatan adanya.

Mereka bersila tenang, mereka saling berhadapan dalam diam,diam itu tak ada kata, diam itu tak bergerak, diam itu berhenti, ataupun makna lainnya, ya, hakikatnya itu yang mereka lakukan...

Namun tiba-tiba pemuda itu bersenandung lirih, ― Begitulah kisahnya, kisah sang raja yang perkasa dan panglima yang saling berseteru, sang raja yang maha sakti dan panglima yang maha cerdas, ribuan jurus mereka hambur-hamburkan.. sang raja yang perkasa hanya memainkan sembilan dari jumlah ragam jurus sipanglima, bila sang raja adalah gulanya maka sang panglima adalah semutnya, penasaran bukan kepalang hati sang panglima, mengapa jurusnya yang beragam tak mampu menumbangkan sang raja.. dalam keputusasaannya sang panglima mengambil langkah penyelamatan diri dibalik kematian, siapapun yang berada diatas angin pasti akan takabur, siapa yang berada diatas langit ia akan lupa diri bahwa masih ada langit, aneh sungguh aneh, tapi itulah manusia. dasar kau panglima, panglima cerdas yang malang ‖

Diam lagi....

Tak ada suara....

Nyanyian berhenti menambah kerutan di dahi sang kakek. sepertinya ia sedang mencerna ucapan itu. Semilir angin lembut membawa setiap patah kata yang ia ucapkan, adapun ucapannya itu ialah seperti ini.

―Kau melupakan sang satu, sang maha perkasa, percuma kau menjadi seribu bila kau tak mampu menjadi satu, satu adalah seribu, namun seribu bukanlah satu.‖

Diam lagi. Aram merenung, mendengar kata gurunya tiba-tiba

ia teringat akan suatu kitab dimasa kecilnya, tanpa sadar ia bergumam.

―Satu adalah seribu, Seribu Adalah satu, Semua berawal dari Satu maka kembalilah menjadi satu, panas dan dingin akan menjadi mengerikan apabila telah menjadi satu, satu adalah sumber, sumber adalah kekuatan, kekuatan adalah kosong kosong adalah diam‖

―Kitab Satu bukan dua atau seribu bagian dua penyatuan Hawa dan bentuk‖ Sipemabuk dari Selatan terpekik kaget.

―Apa itu kitab Satu bukan dua atau seribu bagian dua penyatuan Hawa dan Bentuk?‖ Aram heran,...

―Kitab yang ditulis oleh sang maharaja Deva Cakravala, seorang jenius ilmu silat pada beberapa ratus tahun yang lalu, itu merupakan kitab teraneh dalam sejarah manusia, kitab itu dibagi menjadi dua kitab bagian pertama menceritakan tentang

sebuah pedang yang tak memiliki mata yaitu lidah. dan yang kedua yaitu kitab yang kau baca barusan‖

―Pedang? Lidah?‖ ―Ya, itulah senjata paling tajam didunia, satu kata dapat membunuh ribuan jiwa atau biasa dikenal sebagai kambing hitam. dari kitab itulah manusia ditanah jawa mengenal istilah Kambing Hitam‖

―Luar biasa Saya yakin itu merupakan kumpulan dari segala

ilmu siasat. ‖

―Ya, setahuku Maharaja Deva Cakravala mencuplik ilmu itu berasal dari sebuah kitab dari kulit kambing dari gurun pasir dimana terdapat mata air yang mukzizat, juga buah yang lezat dinamakan dengan kurma, menurut kabar lembaran kitab itu dinamakan oleh orang muslim dengan Al-Qur‘an‖

―Al-Qur‘an!. meski Saya tak mengetahui bentuknya, saya

yakin itu merupakan kitab yang luar biasa ‖ Aram mendesah.

― Aram,‖

―Ya, Guru. ‖

―Satukanlah segala ilmu silat yang kau miliki, agar engkau memiliki pegangan yang kuat dan tak kebingungan mencari jurus ‖

―Saya Paham guru. mumpung sempat, kita akan

melakukannya sekarang guru, apakah engkau bersedia?‖

―hahaha.... tentu saja muridku aku gurumu, semakin engkau

maju maka akulah yang berbahagia. ‖ ―Terimakasih Guru, letakanlah tanganmu ditanganku guru. saya mohon‖

Meski tak mengerti, Sipemabuk dari selatan menurut juga, ia letakan ditangannya Mereka bersemadi, mencapai apa yang

disebut dengan Badai dibalik ketenangan.wajah mereka semu merah dengan uap tipis di kepala.

Sipemabuk dari selatan dan Aram merasakan tubuh mereka melayang kesebuah ruang yang tak ada batasnya, tubuh mereka begitu ringan dari sebuah bulu yang tertiup angin, perasaan mereka tenang seakan tak memiliki beban.....

Aram tahu mereka sudah sampai ditengah perjalanan, Aram segera mengerahkan segenap imajinasinya untuk membentuk sebuah alam yang ada dalam pikirannya, benar lah saja, perlahan-lahan ruangan putih tiada batas itu mulai membentuk dataran, gunung, bukit, pepohonan, dan yang lainnya mulai terbentuk. takjub tak terkira perasaan Sipemabuk dari selatan menyaksikan pemandangan dari imajinasi yang dibuat oleh muridnya.

Bunga mawar, melati bertebaran disekeliling mereka membuat perasaan semakin nyaman bukit cadas menjulang diangkasa,

Aram tahu kini mulai tiba saatnya ia melatih ilmunya lalu menggabungkannnya menjadi satu.

―Guru, saya akan memulai mohon petunjukmu‖. Tanpa

meminta jawaban, Aram mulai mengosongkan pikirannya, tubuhnya bergerak kesana kemari, seperti air yang mengalir jurusnya keluar begitu saja, ia memulai dari jurus-jurus yang dimiliki lima perguruan, lalu ilmu lainnya seperti ilmu Pedang lintasan satu garis, halilintar perobek bumi, Silat Rubah, Aura Kematian dan jurus-jurus langka lainnya, entah berapa waktu telah habis, entah berapa ratus macam ilmu yang dikeluarkannya, Aram semakin terlena dalam kesenangannya, bumi menggelegak langit bergemuruh, Sipemabuk dari selatan yang membentengi dirinya dengan pembenteng batin yang ia miliki hampir tidak kuat menahan ledakan ilmu ilmu yang rata- rata bukanlah ilmu kelas rendahan. ia bergidik bila membayangkan Aram melatih ilmunya dialam nyata, entah berapa jiwa yang akan melayang terkena amukan jurusnya itu.

Kini ia tahu seperti apa kemampuan dari muridnya yang selalu tenang dibalik senyuman lembutnya, bila muridnya ini bertarung seimbang dengan Maharaja Sembilan Dewa maka bisa dibayangkan kemampuan dari Maharaja sembilan Dewa itu.

Ia hidup sudah hampir setahun adanya, namun ketika menyaksikan kemampuan dari muridnya ia merasakan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, ia mulai mengerti apa yang dimaksud dengan diatas langit masih ada langit. diatas gunung yang tinggi masih ada langit.

Amukan Bumi dan langit dalam alam pikiran itu mulai mereda, sepertinya Aram sudah mencapai puncaknya, diantara kepulan debu yang mengepul Aram berdiri tegak mematung, matanya tertutup rapat, perlahan kaki kanannya berjinjit dan kepalan tangan kanan ditempelkan pada telapak tangan kiri, seperti layaknya suatu penghormatan pembukaan, kemudian ia memutar balikan tangan kanan yang telah dibuka pada jari- jarinya, dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melakukan gerakan putaran tangkisan pada tangan kiri lalu mengayunkan silang pada tangan kanan untuk menutup dan tangan lainnya melakukan suatu tusukan tajam dengan ujung jarinya yang bersinar keperakan. sepintas jurus itu memang terlihat sederhana, namun kecepatan dan gerak serangan itu lebih cepat dari kesiuran angin yang terpukul, membuktikan bahwa serangan itu lebih dahsyat dari yang terlihat. tiba-tiba.

―Duaaaarrr. ‖ sebuah batu sejauh lima tombak hasil ciptaan

fikirannnya hancur berantakan. padahal waktu itu Aram sedang berdiri tegak tak melakukan sesuatu apapun. ternyata sinar yang muncul dari jarinya itu sudah menghancurkan batu yang tepat ada didepannya, dan batu itu meledak ketika waktu sudah cukup lama. bila dibayangkan serangan itu mengenai manusia maka lawan yang terkena serangan itu tak akan sadar bahwa tubuhnya telah hancur.

Tak berhenti begitu saja, Aram menekuk silang pada kaki dengan suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kiri, sementara tangan kanannya melakukan suatu pukulan yang sangat keras, ― Blaaarrrr‖ kini yang menjadi korbannya adalah sebuah pohon sebesar dua pelukan orang dewasa. tapi sepertinya itu masih belum cukup. terbukti dengan dilanjutkannya dengan suatu gerak tendangan pada kaki kanan serta dorongan yang dilakukan oleh tangan kanan yang telah diputar sedemikian rupa, untuk menghimpun tenaga secara cepat gerakan kedua ini dahsyat luar biasa sebab disekeliling

tempat itu pohon-pohon pada layu, terkena hawa yang terpancar dari setiap gerakan Aram itu. gerakannya itu dahsyat bagaikan seorang ksatria membabat angkara.

Aram yang sudah berada dalam posisi kuda-kuda segera mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat mendorong angin seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati. entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya itu masih mendorong angin namun entah juga darimana datangnya, aram memiliki dua tangan lagi yang mengayun simpan menyamping pada tangan kanan yang diayunkan kedalam dan tangan lainnya yang terkepal untuk disilangkan didepan dada, perlahan kedua tangan yang mendorong angin telah hilang, sambil menyelinapkan tubuh kedepan maka disini tangan kiri melakukan suatu totokan yang cepat pada daerah yang lemah ditubuh lawan setelah itu Aram segera berdiri tegak

mematung.

―Wuuurrssshhhh... Blaarrr....Crekk. crekkk‖

Gulungan angin tornado bergulung gulung dari tempat dimana kedua telapak tangan Aram mendorong angin, berat namun cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus itu. diam namun bergerak, gerakannya kosong seperti tak berisi, namun memiliki sumber, sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah ditangan tanpa memasuki tiantan. sesuai dengan ajaran penyatuan dari kitab Satu bukan dua atau seribu bagian dua penyatuan Hawa dan bentuk.

Aram yang berdiri tegak mematung memajukan kaki kanan disamping kaki lainnya, sambil sedikit menekuk rendah pada kuda-kuda dengan kedua tangan yang menekuk, lalu mengayunkan kaki kanan kebelakang sambil mengangsurkan kedua tangan kedepan untuk mengimbangi kaki kanannya yang terangkat tersebut, dengan cepat ia mengayunkannya dengan gerakan yang cepat laksana kilat untuk berjongkok (jari-jari kakinya berjinjit) dengan kedua tangan diturunkan sedemikian rupa, dan sebagai kelanjutannya, adalah meloncat mengudara setinggi empat sampai lima tombak dengan kedua tangan terangkat tingi-tinggi. kemudian ia mengangkat kaki kanannya berupa tendangan keatas, tangan kirinya diturunkan kebawah

―Wusssttt‖ Blaaarrrrrr...‖

Tanah merekah terkena tendangan itu, membuktikan bahwa tendangan itu bukan hanya tendangan biasa saja, hawa kematian dan hawa magis bertebaran disekeliling tempat itu. matanya mencorong tajam luar biasa, ia segera memasang kuda-kuda dan menarik kedua tangannya secara perlahan seakan menarik angin, dengan suatu gerak putar pada pergelangan tangan, maka tangan kanan melakukan suatu tangakapan, dan tangan lainnya, melakukan suatu tebasan yang tajam dengan tenaga yang tersalur secara sempurna, selarik sinar kilat bersamaan dengan suatu gema menggelegar laksana guntur keluar dari tangan yang menebas itu menerobos semak belukar yang langsung terbakar dengan dahsyat,

―Jelegar,..... Kretek. kreteekkk‖ Suara itu mengiringi Aram yang

berdiri membuka kakinya dan menaikan kedua tangannya dalam keadaan jari-jari menunjuk keatas, lalu perlahan menurunkan kedua tangannnya kedepan dada dengan jari-jari masih menghadap ketas, lalu mengepalkan jari-jari tangan untk diletakan disisi pinggang masing-masing dan menurunkan kebawah dengan jari jari yang terbuka kembali.

Setelahnya ia segera duduk bersemadi, selain untuk menenngkan pikiran dan mengembalikan kekuatannya, ia juga bermaksud untuk memberi nama-nama jurus yang barusan ia keluarkan. uap tebal diatas kepalanya menandakan bahwa Aram sudah mencapai suatu taraf yang tinggi dalam tenaga dalamnya, diam-diam Sisinting dari selatan juga mengakui itu.

ARAM bangkit dari semedi, tanpa meminta pertimbangan gurunya yang menatap takjub ia segera memainkaan lima jurus yang baru saja di ciptakannya itu. jurus itu ia ciptakan dari Jurus Halilintar Perobek bumi yang pada walnya jurus yang berasal dari Thiantok atau Gujarat itu, lalu jurus Silat Rubah yang merupakan jurus gabungan dari Negri malaya dan Tanah Jawa peninggalan dari Guru Pertamanya, selain itu terdapat jurus dari Tornado Arwah, Totokan Si Kelabang biru, Ninjutsu, Genjutsu, Sihir penysat Sukma dan Aura Kematian. jadi bisa dibayangkan betapa hebatnya jurus itu. Beberapa kali ia mengulang barulah ia berhasil menguasai dengan lancar.

Adapun jurus itu ia namakan dengan jurus ksatria langit yang terdiri dari : ksatria memberi sembah, ksatria menolak angin, ksatria menerima angin, ksatria langit turun bumi dan ksatria membabat angkara.

Aram tidak melangsungkan menggabungkan jurus yang lain, ia sadar bila semua ilmunya digabung menjadi satu membutuhkan pemikiran yang lebih dahsyat, maka ia putuskan untk menjadi dua atau tiga rangkaian jurus saja. dengan senyuman dibibir didekatinya Sipemabuk dari selatan lalu duduk dihadapannya.

―Guru ‖

―Ya, Ada Apa muridku?‖

―Emhhh, apakah guru ingin tetap disini menungguiku atau kembali kealam nyata?‖

―hahahah kau pikir aku ini lelaki apa, tentu saja akau akan

setia menunggumu disini. ‖

―Tapi guru,‖

―Gak ada tapi-tapian, aku tahu kau tak ingin aku menunggu kesepian bukan? jangan khawatir selama ada tuak hidupku akan tentram ‖

―Baiklah jikalau itu sudah menjadi keputusan guru‖ Aram menyerah dan kembali ketempat dimana ia tadi berlatih. ia merenung, matanya terpejam, sepertinya ia sedang mengumpulkan segenap rasa dan ciptanya, wajahnya yang putih mulai memerah, dan semakin memerah, ketika matanya terbuka sebersit kilatan tajam bersinar dari mata Rajawalinya itu,

Hawa panas dan dingin menyeruak tajam, Aram yang sedang bersiap dengan kuda-kudanya melaksanakan tendangan ringan kebawah yang ditujukan kepada lutut lawan, dan itu dikaburkan dengan suatu gerakan serangan pada kedua tangan yang akan membuat lawan tidak menyangka terhadap serangan bawah ini, seperti seorang yang bertarung dilangit namun tiba-tiba menyerang dipusat bawah dengan merobek bumi. Tak ada keistimewaan lainnya dalam serangan itu, tak jelas maksud Aram menggabungkan jurus yang hanya sedemikian rupa. tapi dia terkenal akan kecerdasannya bahkan Sipemabuk dari selatan juga meyakini hal itu,

Dan benar lah saja, secara tiba-tiba Aram menurunkan kaki kanan dan menggeser maju cepat pada kaki lainnya untuk mengiringi dengan suatu tamparan serta bacokan dengan

tangan lainnya, ―Jelegaaarr ‖ bukan sesuatu yang ada

dihadapnnya yang menggelegar, namun sebuah kilat putih menyambar tajam setombak didepannya, anehnya lagi, kilat yang membelah langit itu tidak sama sekali menyentuh tanah, bila dihadapannya terdapat lawan barangkali lawan itu akan menghindari serangan tangan, tanpa sama sekali menyadari bhwa serangan sesungguhnya beraal dari alam. akibatnya lawan itu jelas akan mati gosong tersambar kilat itu.

Aram menendang kesamping dilanjutkan dengan menurunkannya dengan perhitungan membalik kearah kiri belakang yang berarti harus membalikannya sedemikian rupa, dan berganti dengan mengangkat kaki kanan tinggi-tinggi. dan kedua tangan adalah untuk bersama-sama ditarik kebagian tengah seakan menutupkan sayap, gerakan membalik ini merupakan suatu kepandaian khusus yang tidak lain adalah gabungan jurus Kelelawar dan jurus rubah, satu elemen udara dan satu elemen darat, dengan ciri-cirinya yang anh itu maka serangan ini dapat membingungkan lawannya. sanggahan pada satu kaki harus dapat dikuasai terlebih dahulu untuk memperoleh keteguhan dalam ekspresi gerakan-gerakan tersebut..

Lalu ia menurunkan kaki kiri yang mantap disusul pula dengan dinaikannya kaki kanan dan tangan kiri diayunkan mengarah samping kiri dengan jari-jari menunjukan kekiri

―Heaaaaa ‖

Aram berteriak mengguntur, Sipemabuk dari selatan terperanjat, sebab telinga luar dan telinga batinnya seperti digedor jutaan gong, dengan mengerahkan segenap kemampuannya akhirnya suara itu dapat diredam juga meski tak sepenuhnya, ia melihat Aram yang melangkahkan kaki kanan disertai ayunan tangan kiri kebelakang dan tangan lainnya kearah depan. gerakan itu

benar-benar terpadu dan mantap.

Sebagai kelanjutan daripada gerakan sikap terdahulu, maka pandangan Aram dialihkan kearah kiri dengan tangan kiri yang telapaknya digerakan kearah samping bawah dan tangan lainnya yaitu tangan kanan didekatkan kedepan pusar sambil menarik nafas cukup panjang. penarikan nafas tersebut adalah suatu cara pemantapan cadangan untuk suatu gerakan yang panjang serta juga menambah potensi daripada suatu serangan. dengan secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya dengan menyanggahkan kedua tangan pada tanah sambil menyapukan kaki kanan pada sasaran. dan mengalihkan dalam suatu putaran tubuh kekanan dengan sanggahan dua tangan dan berganti kaki kiri yang melakukan sapuan tak berhenti begitu saja, ia melanjutkan dengan gerak maju pada kaki kanan sambil mengayunkan serangan memutar dari bawah keatas pada tangan kanan, dan tangan lainnya ditarik memutar keatas. dijabarkan memang panjang, namun kenyataannya serangan itu cepat dan dahsyat, serangan ini seperti bumi yang merekah saja yang dapat merusak serta menjatuhkan lawan yang dihadapinya, juga seperti seorang manusia yang sedang merobek-robek bumi dengan dahsyat.

seperti diketahui ia memiliki ilmu yang beragam yang berjumlah hingga ratusan jurus, maka dari itu, jurus yag dimilikinya juga tidak mungkin dibuat kedalam satu jurus, maka dari itu ia pun semakin mempergiat pembuatan jurusnya, satu dua tiga dan seterusnya ia gabungkan menjadi satu, hingga jurus yang ia ciptakan berhasil digabung menjadi dua rangkaian jurus yang ia berinama dengan jurus ksatria langit yang terdiri dari 5 jurus dan barusan yang diciptakannya ia berinama jurus pukulan perobek bumi pembelah langit yang terdiri dari delapan jurus yaitu pangeran langit merobek bumi, raja langit membelah langit, bumi dan langit merindu, guntur menyalak pencakar langit. langit terbelah bumi merekah. bumi berhenti berputar. langit gelap bumi tak tau arah. langit terobek bumi porak poranda.

Dalam alam pikrannya itu genap sudah satu purnama Aram menyatukan ilmunya, selain dua jurus yang dia ciptakan dulu ia juga telah ciptakan jurus pamungkasnya dari jurus-jurus yang dimilikinya yang ia beri nama ― jurus tunggal jagad‖ jurus itu

terdiri dari : ‗pedang tunggal melintang jagad‘, ‗pukulan tunggal perobek jagad‘, ‗totokan tunggal paku jagad‘, ‗racun pemusnah jagad‘, ‗obat penghalau murka jagad‘ ‗Panca menuju tunggal‘

‗tunggal menjadi kosong.

Hari itu Aram berlatih diatas sebuah bukit yang menjulang tinggi bersama Gurunya Sipemabuk dari selatan, tampak keduanya bertarung dengan serius, mereka kelihatan sedang melatih jurus yang sama dengan cara bertarung.

kaki kanan Aram berjinjit dan kepalan tangan kanan ditempelkan pada telapak tangan kiri, seperti layaknya suatu penghormatan pembukaan, kemudian ia memutar balikan tangan kanan yang telah dibuka pada jari-jarinya, dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melakukan gerakan putaran tangkisan pada tangan kiri lalu mengayunkan silang pada tangan kanan untuk menutup dan tangan lainnya melakukan suatu tusukan tajam dengan ujung jarinya yang bersinar keperakan.

Tanpa diperingatipun Sipemabuk dari selatan sudah paham bahwasanyaa jurus tersebut bukanlah jurus yang bisa dianggap remeh. ia tahu Aram sedang menggunakan jurus ksatria memberi sembah dari rangkaian jurus ksatria langit. segera iapun memapak dengan jurus yang tak kalah lihainya, ksatria membabat angkara.

terlihat Sipemabuk dari selatan menekuk silang pada kaki dengan suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kiri, sementara tangan kanannya melakukan suatu pukulan yang sangat keras, ― Blaaarrrr‖ Dua buah tenaga sakti diudara beradu, dua tenaga dalam yang berlawanan, Panca menjadi tunggal yang dikeluarkan oleh Aram dan Tunggal menjadi kosong oleh Sipemabuk dari selatan. dua buah tenaga dalam yang digabungkan oleh Aram dari seluruh penjuru dunia,

Segala tenaga dalam yang mengandung unsur elemen seperti, Api, Air, Tanah, Kayu, Angin dan logam/ metal ia gabung menjadi satu dalam jurus yang bernama Panca Menjadi Tunggal, sedangkan Jurus yang mengandung unsur keras dan lunak ia gabung menjadi satu dalam jurus yang bernama Tunggal menjadi kosong. jurus itu ia gabung berdasarkan pemahaman dari―Kitab Satu bukan dua atau seribu bagian dua penyatuan Hawa dan bentuk‖ yang berbunyi panas dan dingin akan menjadi mengerikan apabila telah menjadi satu, satu adalah sumber, sumber adalah kekuatan, kekuatan adalah kosong kosong adalah diam‖

Tenaga sakti itu benar-benar luar biasa, hawa dingin dan panas bersatu dalam udara sekitar, hawa magis dalam sihir, hawa pembunuhan, hawa kemenangan, hawa kebahagiaan, hawa ketenangan bergulung-gulung dalam udara itu. menjadikan suasana begitu mencekam akan suatu perasaan yang tak bisa dilukiskan. seluruh tempat itu telah porak poranda tak keruan, rupanya mereka sudah bertarung dengan cukup lama.

Setelah debu dan alam mulai tenang, Aram dan Gurunya berpandangan penuh arti, secara bersamaan keduanya menganggukan kepakla, satu persatu alam itu mulai musnah kabur tertelan sebuah cahaya putih hingga semuanya menjadi ruangan serba putih yang tak keruan dimana ujungnya, bukan hanya Alam itu, rupanya tubuh merekapun mulai menghilang semu kembal kedalam badan masing-masing

*****

Layung beureum... Luhur gunung Mukakeun rasa tunggara

Layung beureum narembongan Kananga ge ngarangrangan Panutan nu kungsi nyarengan Ayeuna tinggal lamunan

Kiwari tinggal waas na Ngupahan paitna rasa Kabagjaan nu kungsi kasorang Ayeuna tinggal tunggara

Cinta, cinta urang Ayeuna tinggal lamuna Duriat, duriat urang Ayeuna ukur waasna

Bagja, bagja urang Ayeuna tinggal impian

Deudeuh, deudeuh keur urang Ayeuna tinggal kalangkang Sebuah lantunan sajak sunda terdengar indah dikeheningan malam yang tanpa bulan itu, sebuah lantunan sajak yang dilantunkan oleh seorang gadis cantik bermata sipit dengan rambut dikuncir kuda, wajahnya begitu ayu dan lembut saat terkena cahaya obor yang temaram. disampingnya juga terdapat kumpulan dari sahabat-sahabat Aram, antara lain mantan Anggota Ksatria satwa, Nyi Permata Dewi, Ki Asmaradanu, Ki Guntur, Rehan, Adipati Rajalela, tak lupa juga Melati dan Rismi Laraspati. Gurat-gurat cemas dan harapan tersampir diwajah mereka.

Mereka duduk mengelilingi dua orang yang bersemadi diantara mereka, jika bersemadi selama satu hari mungkin mereka tak akan secemas itu. tapi Aram dan Sipemabuk dari selatan sudah bersemadi selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti, wajah mereka merah seperti kepiting rebus, Uap mengepul tinggi seperti pembakaran lokomotif. Wajah cemas mereka sedikit hilang ketika mereka mendengar lantunan indah dari Thian Hong Li, diam-diam Melati merasa malu juga ketika Thian Hong Li yang berasal dari Negri tetangga dapat menyanyikan sajak indah dari kesastraan sunda itu.

―Akkkhhh ‖ Sebuah suara seorang gadis menyentak semua

orang, dilihatnya Rismi Laraspati menunjuk Aram yang sudah siauman, matanya begitu mengkilat tajam memberikan sebuah perasaan segan dan gentar bagi siapapun yang melihatnya, tak begitu lama akhirnya Sipemabuk dari selatan juga mulai siuman,

―Uhukkk. ‖ Sipemabuk dari selatan Muntah darah dan pingsan

tergeletak, tentu saja mereka kaget dan segera memburunya,... belum satu diurus Aram juga menyusul Pingsan, membuat semuanya merasa sibuk dan cemas, dengan hati-hati dan penuh perasaan segera mereka membopong keduanya masuk kedalam ruangan meninggalkan setumpuk api sisa pembakaran....

***

Hari itu Aram sebagai ketua berdiri gagah dengan baju hijau transparan dan jubah panahan hijaunya.. Semua Anggota Perkumpulan bendera awan langit duduk berbaris rapi, mempersiapkan diri untuk menghadapi Perkumpulan Nawa Awatara yang telah mengembangkan sayapnya.

Sebelum pertemuan Anggota dimulai Aram sudah memanggil Anggota Ksatria satwa untuk melakukan suatu tugas bersama Adipati Rajalela, disana mereka berdiskusi dari siang sampai fajar menjelang. dilanjut dengan berdiskusi dengan Ketua lima perguruan untuk melaksanakan tugasnya demi kesejahteraan umat persilatan tanah jawa atau lebih besarnya Nusantara

<.mengenai isi diskusi itu kita bahas dilain bab.> kita kembali ke pertemuan lagi.

―Adakah diantara kalian yang paham mengapa kalian aku kumpulkan?‖ seperti biasanya Aram bertanya untuk meminta jawaban kepada setiap anggotanya. Semua hening dan diam....

―Adakah diantara kalian mengetahui bahwa Aggota Tingkat enam setara dengan kemampuan Angkara dan kawan-kawan?‖ Hening lagi. tak ada kata, hakikatnya dari dulu mereka paham

akan itu, maka dari itu selain berlatih mereka tak berani keluar sebab mereka hanya sebanding dengan tingkat delapan dari sepuluh tingkat Anggota Nawa Awatara.

―Lalu apa yang harus kita lakukan ketua‖ Seseorang beramput pitak bertanya lemah.

―Kita akan pergi ke Tempat terjun dibalik gunung itu ‖ Aram

menunjuk sebuah gunung di samping kirinya.

―Lalu apa yang akan kita dilakukan disana?‖ Ia bertanya lagi. setelah itu ia diam, ia sadar bahwasanya ia telah kelepasan omong, keringat dingin bercucuran ditengkuknya, teman yang ada di sampingnya paham apa yang sedang ditakutkan temannya itu, namun mereka tercengang dengan sebuah ucapan ketuanya menanggapi pertanyaan itu.

―haha benar-benar ucapan yang bagus dan tepat sekali

pertanyaanmu saudaraku , kita akan berltih bersama disana,

membuang seluruh ilmu yang kalian miliki sekarang, sebab ilmu yang kalian miliki sekarang kita akan sebarkan disegenap penjuru ‖ betapa gembiranya perasaan lelaki berambut pitak

itu, dulu ia merupakan anggota dari Perguruan Rajawali Emas, namun ia dikeluarkan akibat kesalahan yang sama dengan sekarang. bertanya yang seharusnya ditanyakan kepada sang ketua, mengenai jawaban Aram yang malah memujinya ia begitu terharu, diam diam semangat dan kesetiaannya terhadap Aram semakin berkobar membara. tapi ia tak mengerti jawwaban ketuanya. akhirnya ia putuskan untuk bertanya kembali. ―Apa...apa maksud dengan menyebarkannya kesegenap penjuru ketua?‖ Teman-teman lainnya tercengang akan keberanian lelaki itu, mereka pikir bertanya seperti itu terlihat begitu tabu dan aneh.

―Apa kau memiliki seorang murid didikan?‖ Aram bertanya menyimpang membuat lelaki itu kaget dan heran. tapi ia menjawab juga.

―Mengenai itu mana mungkin orang seperti Saya dapat

memilikinya ketua jangankan memiliki murid, memimpin orang

saya juga belum pernah‖

―Maka dari itu, aku akan mengabulkan hal yang kau belum pernah lakukan itu,‖

―Maksud ketua, aku.. aku akan memiliki murid dan pasukan sendiri..?‖

―Hahaha... tidak...tidak hanya kau, tapi semuanya ‖

―Maksud ketua kami juga‖ celetuk seorang wanita Paruh baya berbaju hitam dengan antusias.

―Benar,, ― Aram berkata Tegas...

Sorakan gembira gegap gempita disekeliling tempat itu, dalam otak mereka terbayang mereka yang sedang memimpin orang lain, jika selama ini mereka selalu dipimpin maka pada hari itu mereka sendiri yang akan memimpin, senyuman lembut keluar dari bibir mereka. ―Dengarlah wahai sahabat-sahabatku sekalian, saudaraku yang selalu aku banggakan. kita akan memulai bangkit dari tidur kita sudah hampir waktunya kita kembali berkeliaran didunia

yang indah ini... Berlatihlah dengan giat barang siapa yang

telah mencapai tahap siap. maka aku akan memandatkannya untuk kembali bertugas berkeliaran Kalian Siap?‘‘

―Yeeeaaaahhhhh‖

***

Satu hari kemudian Aram bersama ketiga kekasihnya dan Anggotanya berangkat ke Sebuah Air terjun di kaki gunung kecil yang telah ditentukan Aram. Sementara Gurunya dan kawan- kawan gurunya termasuk Kakek Arak seribu Kati yang sudah bisa berbahasa daerah sini meski belum lancar tetap berada Di Markas melatih Ki Jalak dan Nyi Renjani untuk mengembalikan tenaga dalamnya.

Di air terjun itu selama hampir dua bulan Aram melatih langsung Anggota Bendera Awan Putih. Semuanya mengalami kemajuan pesat, tenaga dalam maupun penguasaan jurus tangan kosong Ksatria Langit yang baru saja Aram ciptakan. Tekanan air terjun yang besar dan berat, sangat membantu. Anggota Bendera Awan Langit berlatih dengan membuat dua kelompok., dan dua kelompok itu juga dibagi menjadi dua lagi. sebab air terjun itu ada dua. bila bagian pertama berlatih tenaga dalam diair terjun maka yang lain mempelajari ilmu tangan kosong di dalam aliran sungai yang deras itu. begitu bergantian. kadang mereka berlatih tangan kosong di air terjun dengan jalan memukul aliran air yang jatuk kebawah. Aram tidak hanya melatih tetapi juga memberi contoh dengan gerak tubuh dan tenaga batin. kadang ketika malam ia menyerang anak buahnya dengan sihir untuk membuat tidur, awalnya terasa berat bagi mereka namun lambat laun mereka dapat juga bertahan, maka selain tenaga fisik, batinpun mereka kuat bagai baja.

Aram tidak hanya sibuk melatih Anggotanya, ia juga seringkali mengajari ketiga kekasihnya dalam ilmu beladiri, terutama untuk Rismi Laraspati yang masih belum memiliki landasan. untuknya ia bekerja keras, mencari dan menggali untuk menemukan sebuah rangkaian ilmu beladiri yang pas, untunglah sewaktu didalam keraton, Rismi Laraspati mempelajari Tarian, sehingga ia tak kesulitan dalam mencerna ilmu yang diciptakan Aram yang mengambil serangkaian ilmu beadiri berdasarkan tarian yang pada awalnya ia disuruh aram peragakan. seperti halnya yang diketahui, Aram adalah sosok pemuda yang memiliki keerdasan luar biasa, melihat tarian yang diperagakan Rismi Laraspati dirinya terinspirasi dari setiap geraknya itu.

―Tarian Bidadari darah biru‖. itulah nama dari jurus itu, berbeda dengan jurus lainnya yang mengutamakan atau menekankan pada seni pembelaan dirinya, pada jurus ini justru menunjukan rasa seni keindahannya dan gerakan-gerakan yang pada prinsipnya adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam hal kegesitan, keluwesan, kelenturan keanggunan dan kelembutan. tetapi bagaimanapun juga didalamnya juga terselip gerakan- gerakan yang dapat dimanfaatkan untuk pembelaan diri. misalnya saja untuk sikap-sikap dan gerakan langkah, yang tidak saja untuk meningkatkan kemampuan pada saat melakukan pembelaan maupun penyerangan, tetapi juga akan memberikan bantuan secara langsung pada pembentukan syaraf-syaraf dan urat dalam tubuh menuju kesempurnaannya.

Pada waktu luang, dia juga tak lupa juga untuk bercanda dengan ketiga kekasihnya, bergumul melepaskan kepenatan. didalam sebuah pondok kecil diatas pohon yang dibuatnya sendiri.

seperti hari itu, sewaktu ia bersemadi, Telinganya yang tajam mendengar sesuatu. Dia membuka mata, melihat sekeliling. dilihatnya memang Thian Hong dan Melati sedang menggotong tubuh Rismi Laraspati yang sedang pingsan. butiran keringat jatuh perlahan dari wajah mereka yang manis, merambat pelan keleher mereka dan menghilang ditelan baju mereka dibagian dada. dada mereka yang sekal tercetak jelas sebab baju mereka telah basah membuat Aram menghela nafas panjang,.

"Kenapa Ia?''

Thian Hong Li dan Melati menggelengkan kepala. "kami menemukannya diatas bukit"

Jawab mereka berdua. Aram bangkit meraih tubuh Rismi laraspati. Memeluk erat. Merapatkan dada perempuan itu ke dadanya. Aram merebahkan tubuh gadis itu yang terkulai lemas di atas tubuhnya. Aram mengerahkan tenaga dalam. Hawa panas merasuk ke tubuh gadis itu.

Hari itu hening tak ada suara. Hanya terdengar suara air terjun. Geni mencium mulut Rismi Laraspati. dan meletakannya diatas pembaringan. Ketika Aram hendak beranjak sebuah pelukan lembut nan erat melingkar di pinggangnya.

―Aku Kangen ‖ Thian Hong Li berbisik lirih. Aram berpaling

dilihatnya Melati juga sedang gelisah, seepertinya ia juga sedang menahan sesuatu, dengan lembut ia menariknya kedalam pelukan dan merebah keduanya diatas pembaringan, disisi tubuh Rismi Laraspati yang tergeletak, mereka bercumbu dengan menggebu

Tiga insan itu terbenam dalam panasnya nafsu.

Sang surya telah condong kebarat menandakan sore hari telah menjelang tiba, Pada saat seperti itulah Seorang lelaki paruh baya sambil membopong buntalannyaa dengan langkah lebar masuk kedalam desa. Rambutnya kusut dan kacau, jenggotnya panjang menutupi dadanya dan ditambah pula pakaiannya yang sudah kumal dan penuh noda lumpur, menambah keanehan serta kedekilannya.

Banyak penduduk desa yang melirik kearahnya dengan sinar mata kasihan, sebentar mereka melirik kearah sepatunya yang kotor oleh lumpur, kemudian memandang pakaianya yang dekil dan akhirnya melirik rambutnya yang kusut juga kator . pedih perasaan mereka, namun mereka tak mampu membantunya sebab kondisi mereka juga tak begitu jauh dengan lelaki paruh baya itu.

Sebaliknya Lelaki paruh baya yang tak lain adalah Adipati Rajalela sendiri sama sekali tidak menggubris tingkah laku orang, ia meneruskan langkahnya taapa menoleh kekiri- -kanan.

Ketika tiba di sebuah pasar yang sepi pengunjung ini, Adipati Rajalela menghela napas panjang. pedih sekali hatinya melihat rakyatnya menjadi gelandangan, di beberapa tempat terlihat laki- laki yang sangar sedang menggoda gadis ataupun perempuan lainnya. para pedagang duduk termenung melihat dagangannya yang tak ada satupun yang membeli. barang-barang mereka telah banyak yang sudah kumal kena debu.

Disudut pasar seorang lelaki paruh baya sedang duduk mengemis, wajahnya kotor dengan debu, *Tergeletak kaku bagai seuntai debu, wajahnya Terbakar teriknya sang surya di desa itu, cucuran peluh kia n membasahi tubuh yang rentan dan lemah tak berdaya itu, Dengan sehelai kain kumuh yang melekat membalut kulit pembungkus tulang tubuhnya. Kini, Ia merintih sendu merintih menahan kejamnya kehidupan, kehidupan

yang dipenuhi cerita duka

hakikatnya takkan ada yang peduli dia hidup ataupun mati, Takkan ada yang peduli Nasib seorang lelaki tua yang begitu menggenaskan seperti itu. terdengar lelaki itu bersenandung untuk menambah kepingan logam dalam mangkuknya, senandung yang menyedihkan dan menyayat siapapun yang mendengarya,

―Dengarkanlah wahai para manusia mengapa hatimu buta

mengapa tak sedikitpun kau berpaling menatap sisi hidupku hidupku .... yang penuh luka dan goresan air mata ‖ "Aaai. tak kusangka desa yang dahulu ramai dengan canda

dan tawa kini menjadi lautan kesedihan yang tak bertepi seperti ini. " gumam adipati Rajalela seorang diri.

Jelas para Anggota Nawa Awatara telah membuatnya seperti itu. Dalam pada itu terdengar suara derap kaki kuda berkumandang dari belakang, diikuti para penduduk yang ada disekitar sana sama-sama menyingkir kesamping. -

Rombongan lelaki sangar dengan memakai baju hitam bersulam Piramida berantai berjalan dengan sombongnya, nyata sekali bahwa mereka adalah anggota Nawa Awatara yang ditakuti oleh seluruh penduduk.

Adipati Rajalalela tahu gelagat, lekas ia ikut menyingkir kesamping. dilihatnya rombongan itu terdiri dari sepuluh orang. ketika tiba di pasar mereka menyebar. menyebar kesetiap pelosok pasar untuk menagih yang mereka sebut upah jasa ― Keamanan‖.

benarkah itu adalah sebuah upah ―Jasa Keamanan?‖ lalu siapakah yang menjadi orang yang diamankannya?‘ mereka sendiri? benar. mereka menyuruh setip pedagang untuk

berdagang. padahal tak ada seorangpun pembeli? mengapa? sebab tak ada lagi orang yang sanggup untuk membeli...

semuanya menjadi gelandangan yang membeli adalah

anggota mereka sendiri, membeli tanpa ada uang bayaran....

apalah itu namanya membeli membeli yang sedikit meirip

merampok. dunia sudah berubah,. tak adalagi yang bernama kesejahteraan... dimana-mana hanya ada tangisan... tangisan untuk meringankan beban hidup?

Tidak.. tak ada satupun tangisan yang meringankan beban.. beban tetaplah beban baik sebelum maupun sesudah menangis... takan ada yang berubah, namun sebagian orang memilih menangis untuk melampiaskan setiap keluh kesahnya, tak ada larangan maupun undang-undang yang tidak memperbolehkan menangis. takan ada yang melarang tak ada yang akan membunuh. tapi, sekarang ada.. ada yang melarang orang untuk menangis bahkan tak segan mengambil nyawanya karena menangis, sipakah dia? dia adalah Anggota Nawa Awatara adanya, Walaupun kau memiliki segunung harta, namun jika kau hambur-hambyurkan tanpa berusaha menambahnya maka suatu saat akan habis juga.

Begitupula dengan nasib seorang pedagang Lelaki Paruh baya, siapakah dulu yang tak mengenalnya, Juragan Abyudaya itulah namanya. seorang pedagang kaya dari Desa Jatiluhur. yangb kaya akan hartanya dan juga kesombongannya, namun kini merintih rintih menangis seperti anjing meminta makan.

―Praakkk....‖ ―Akkkhhh...‖

Jeritan menyayat dari mulutnya, ia ambruk tak bernyawa dengan kepala pecah berantakan. ternyata seporang Anggota Nawa Awatra mengeprukan tangannya yang kuat dan dialiri tenaga dalam menghentak dikepala Abyudaya, sungguh tak mengenal kasihan. wajah sedih dari setaip pedagang tampak jelas dimimik mereka, ingin melawan tapi apalah daya, mereka paham tak lama lagi giliran mereka, bagaikan ayam dalam kurungan saja, tinggal menunggu waktu panen dan kepala merka terpenggal melayang.

Adipati Rajalela nanar, setitik air mata jatuh dipipinya, tak disangkanya semua bakal terjadi seperti ini. ia ingin membantu

namun ia adalah seorang yang cerdik, membantu dalm keadaan seperti ini hanya akan menambah keruh suasana saj, maka dari itu ia hanya diam menunggu saat yang tepat.

―Inilah ganjaran bagi siapapun yang menantang dan menentang kami. jadikan ini pelajaran untuk kalian‖ Lelaki itu berteriak

kereng, setelah semua kawan-kawannya berkumpul, meeka segera meninggalkan pasar, pasar yang baru saja telah kehilangan nyawa penghuninya.

Mereka pergi dengan tatapan benci dan dendam kesumat dimata setiap penduduk, hanya itu yang mereka dapat lakukan, sedikit hiburan melampiaskan dendam dalam jiwa.....

Semuanya hening, selang begitu saja semunya kembali kedalam keadaan normal. Adipati Rajalela mendekati Pengemis yang

tadi berssenandung dan ikut duduk disisinya, tanpa sepengetahuan orang lain selembar kertas ia sodorkan kedalam tangan pengemis itu, pengemis itu tertegun ia menatap lekat wajah orang yang disampingnya, jika tak diberitahu untuk tidak berteriak maka pengemis itu pasti akan menjerit semampu yang ia bisa mengapa? Ternyata pengemis itu dulunya adalah penasihat utama kerajaan yang bernama asli Raden BALIN, maka tak salah bila ia mengenal Adipati Rajaklela, Sebelum terjadi hal yang diinginkan Adipati Rajalela meninggalkan Pengemis itu dengan langkah lebar namun begitu perlahan. seakan takut menginjak semut.

Pengemis itu segera membuka kertas itu. isinya ternyata adalah sebuah rangkaian ilmu silat, diatas kertas itu tertera, ―demi kesejahteraan kita aku harap kau mempoelajari ini,‖ adapun silat itu bernama ―Tongkat Padi Arwah seribu‖.

Bila ini adalah zaman yang biasa, barangkali dunia persilatan akan banjir darah memperebutkan ilmu silat itu, sebenarnya ilmu silat apakah itu?

Tongkat Padi Arwah Seribu merupakan sebuah rangkaian ilmu dahsyat peninggalan dari Raja Pertama kerajaan di Tanah Jawadwipa. ilmu tongkat itu terdiri dari sepuluh jurus dengan seratus perubahan dan seratus posisi penyerangan dan pertahanan.

Ilmu itu tak ada pelatihan semadi mengumpulkan tenaga dalam, sebab begitu mempelajari ilmu itu tenaga dalam akan tersedot begitu saja seiring dengan gerakan jurus dalam ilmu itu. jadi tidak heran bila menjadi rebutan setiap umat persilatan.

Tangan Pengemis itu bergetar, tanpa sengaja kertas itu terbalik posisinya, mata Pengemis itu terbelalak rupanya tulisan itu terdiri dari dua sisi, bila dibaca dengan posisi terbalik maka tulisan itu berbunyi ―Ajian Saepi Angin‖ Bermodalkan pengalaman pertama, Pengemis itu alias Raden Balin segera balikan lagi, benarlah saja, disana tertera ―Ajian Saepi Geni‖ dan disisi lain terdapat Bacaan ―Ajian Pancasona‖. Pengemis itu manggut manggut, segera ia meninggalkan tempat itu, sementara Adipati Rajalela mendekati seorang wanita Paruh baya yang memeluk anaknya sambil menangis tersedu-sedu. ternyata beliau adalh istri dari Abyudaya.

―Permisi....‖Sapa Adipati Rajalela...

Wanita dan anak lelaki itu berpaling menatap wajah Adipati Rajalela,

―Ada apakah Tuan,... maafkan kami tak dapat bersedekah..

lihatlah baru saja suamiku menuinggal seperti ini‖ Jawab Wanita itu pilu mengira Adipati Rajalela mengemis kepadanya. Adipatoi Rajalela Tersenyum ramah,..

―Apakah kau ingin membalaskan dendam ayahmu anak...‖ Tanya adipati Rajalela kepada Anak itu tanpa memiirkan tanggapan wanita itu.

―Tentu Ki, Ingin sekali aku mengunyah dan menghisap darah

mereka‖ Mata anak itu berbinar-binar penuh dendam...

―Anakku‖ Wanita itu menangis dan menenangkan Anaknya yang bersinar-sinar penuh kemarahan.

―Anak yang Hebat siapa Namamu?‖

―Bayuputra ki‖ ―Bayuputra, Putra dewa Angin... nama yang hebat... ― Puji Adipati Rajalela.

―Apakah Kau mau bergabung denganku membereskan dan menggulung mereka seperti Angin Topan menggulung debu anakku...‖

― Mau Ki...‖

―Sudahlah Kisanak, jangan menjerumuskan anakku..‖ Sela Wanita itu.

―Engkau tak berhak untuk melarang Anakmu Nisanak, Biarkan ia memilih jalannya sendiri, apakah kau ingin seterusnya hidup seperti ini... diperbudak dan dipermainkan Setan Setan Liar

Itu...‖

Wajah Wanita itu menunduk, sedih dan pilu hatinya, ia mengaku bahwa ucapan lelaki itu benar-benar kenyataan, ia juga adalah salah satu korbannya, jauh-jauh hari ia sudah ternoda ditangan mereka.. digilir adalh hal yang sudah biasa baginya, Tapi ia benar-benar takut bila anaknya pergi meninggalkannya sendiri,..

―Ibu, aku takan meninggalkanmu... tapi naku tak mau berdiam diri saja menyaksikan ibu dan semua orang ditekan dan dipermainkan begitu saja‖ ucap anak itu.....

Rayuan yah itulah kata yang tepat dilakukan oleh dua lelaki

berbeda usia itu, hingga akhirnya Wanita iu menyerah dengan merestui keinginan anaknya.

***** +Seorang bocah berjalan di bawah teriknya matahari, Baju lusuh tanpa alas kaki, Tubuh kotor dan rambut yang carut-marut, Sesak dada ini melihatnya. Menadahkan tangan pada siapa saja yang lewat Tak pelak air mata ini berlinang Ketika melihatnya mendapatkan perlakuan yang buruk, Semakin sesak terasa untuk bernafas, Saat melihat bocah kecil itu menuju tempat pembuangan sampah mengais sisa makanan yang tak sepatutnya untuk di makan lagi Anak sekecil itu harus menantang kerasnya kehidupan Dunia fana ini, apakah ini yang di namakan keadilan?

Ya kata itulah yang dirasakan dan dipertanyakan oleh seorang Lelaki Paruh baya berbaju kumal yang tak lain adalah Adipati Rajalela adanya.

Anak kecil itu tak lain adalah Bayuputra adanya. seperti apa yang dikatakan oleh Adipati Rajalela kemarin mengenai

tugasnya adalah ―Bersikaplah seperti biasanya, jangan melakukan hal yang mencolok‖ ya, saat ini ia sedang melakukan tugas dari gurunya, menyebarkan setiap helai kertas kepada setiap pedagang dan berusaha mengumpulkan anak muda sepertinya.

Setelah makan ditempat biasanya, Bayuputra segera beranjak mendekati salah seorang pedagang kain yang sedang melamun,. Tangan kecilnya masuk kedalam baju dan

melemparkan sebuah kertas kepangkuan pedagang itu, tentu saja pedagang itu terkejut.

―Akhhhh‖ ―Ada Apa?‖ bentak penjaga pasar yang tak lain Anggota Nawa Awatara adanya.

―Anak ini mengagetkanku... ― Jawab pedagang itu ketakutan menjawab yang tidak sebenarnya setelah mendapat kedipan mata dari Bayuputra.

―Awas sekali lagi kau berteriak...‖ Penjaga yang berkumis dan berjenggot lebat berbaju hitam bersulam Piramida berantai memperingati sambil berbalik dan bercakap-cakap lagi dengan kawan-kawannya tentu saja dengan ditemani seorang gadis.

Pedagang yang berwajah bundar dan tubuh tinggal kulit pembungkus tulang itu segera pura-pura memeriksa barangnya, padahal sebenarnya ia membaca surat kertas itu.

Wajah pedagang itu berseri-seri mengapa? sebab awal

kebangkitan masa akan dimulai, meski mereka tak mengetahui siapa pemimpin penggeraknya namun sandi ―AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL

DATANGLAH DARAH‖ bukanlah sandi yang tak dikenal. sandi itu sudah akrab ditelinga mereka, sandi yang berani menantang Organisasi Nawa Awatara. selain sandi diatas juga terdapat tiga rangkaian ilmu silat mendampingi surat itu. diatas nya terdapat goresan indah yang penuh dengan seni keindahan. adapun goresan pena itu adalah.

―Aku kirimkan salam persatuan untuk keadilan diseluruh tanah jawa, jadilah orang cerdik dan bersabarlah hingga tanda kemenangan dibunyikan.‖ Adapun tiga rangkaian ilmu silat itu adalah : Ajian Pancasona, Saepi Angin, dan Saepi Geni‖

Dengan cepat ia masukan surat itu kebalik bajunya, ―jadilah Cerdik‖ itulah yang saat ini ia lakukan, sengaja menyembunyikan setiap perubahan yang terjadi untuk mengeklabui setiap mata liar yang berkeliaran.

Mata yang berbinar itu berpaling, dilihatnya beberapa temannya melakukan hal yang sama dengannya, tak ada yang berubah dipasar itu, hanya bibir dan raut wajah saja yang berubah menjadi sebuah garis tipis melengkung keatas memamerkan sederetan gigi-gigi yang beragam bentuknya.

Sejak saat itulah, mengapa banyak ilmu yang dikuasai para penduduk biasa selain dari para Pendekar silat. Tiga ilmu hebat yang telah menyebar dalam kehidupan biasa.

Bayuputra terus berjalan hingga ia tiba didepan seorang lelaki paruh baya yang telah merubah kehidupannya, mimpipun ia tak menyangka bahwa orang didepannya dulu adalah seorang raja.

―kau sudah melakukan tugasmu bayu?‖

―Sudah guru. ‖

―kau mau ikut bersama guru menjelajahi desa lain atau tetap disini. mempelajari ilmu yang sudah guru ajarkan?.‖

―Ikut‖ Bayuputra manja, seraya memeluk lengan Adipati Rajalela, dengan beriringan keduanya menyusururi hutan, tak ada yang mempedulikan mereka, apakah yang harus dipedulikan untuk ukuran dua orang gembel yang lusuh dan dekil?