-->

Pendekar seribu diri Jilid 11

Jilid 11

Natsuki todo coba edarkan pandangannya dilihatnya dua tombak disamping kanannya pemuda yang ia hajar sedang memainkan rumput dibibirnya, Natsuki Todo kerutkan kening, kemudian pergelangan tangan kanannya diputar dan..

"Criing!" dia telah meloloskan katana-nya yang tersoren di punggung.

Melihat Natsuki Todo sudah meloloskan pedangnya, Aram berpaling kelangit memandang bintang-bintang di-dinihari dimalam yang pekat ini. lalu berkata:

―Baiklah, setelah merasakan ninjutsu-mu (teknik beladiri dengan tangan kosong) yang hebat meski tidak pernah mengenai tubuhku. aku ingin merasakan Kenjutsu-mu (teknik menggunakan pedang)‖

―Berisik kau, rasakan ini. Naga Liar Alam barjah‖ Teriak

Natsuki Todo sambil melompat dan menyabertkan pedangnya dengan dahsyat. dengan tenang Aram mengalirkan tenaga dalam kekaki kanan lalu dijadikan poros sekaligus penunjang dari tubuhnya yang melentik sehingga pedang itu nyosor se-inchi di atas tubuhnya.

Bunyi pertarungan antara denting pedang, suara menggaung pedang dan senjata lainnya menjadikan musik indah bak denting piano dikala jemari menari merambat pelan dikesunyian malam

Jalan di kota kanglam hari itu cukup ramai dengan hiruk- pikuknya kehidupan, pedagang dan pembeli saling bersitegang menentukan harga.

Kota itu sangat ramai akan kehidupan dan keramahan, kota yang terkenal akan keindahan alamnya, pelajar-pelajar yang hebat juga gadis-gadis yang cantik.

Ditengah jalan itu lima orang pemuda dan pemudi menjadi sorot perhatian orang banyak karena baju mereka bukanlah baju dari daerah situ. lelaki yang ditengah merupakan seorang pemuda dengan kimono biru langit, wajahnya tampan dengan bola mata elang, bibirnya ranum kemerah-merahan dibalut dengan kulit seputih salju, rambutnya panjang sepunggung dengan diikat ekor kuda, kepalanya diikat dengan kain berwarna coklat, dibelakangnya sebuah kujang kecil menonjol. bila orang yang tak mengenal maka ia pasti akan mengira bahwa dia adalah seorang pemuda yang lemah tak berdaya.

Disamping kirinya Seorang pemuda tampan berwajah kuning pucat, rambutnya sepundak riab-riaban namun tak menutupi ketampanannya, rahangnya kokoh dengan badan kekar tegap. ia memakai baju kimono hijau sambil menggandeng seorang gadis cantik berwajah kekanak-kanakan, hidungnya bangir dengan mata sipit, ia memakai kimono berwarna merah muda dengan baju dalam merah.

Sementara itu disamping kanannya seorang pemuda tampan berwajah sipit dengan rahang kokoh juga tubuh kekar berotot asik menggandeng sambil bercanda dengan gadis cantik bertubuh sintal dengan kimono merah. mereka adalah Aram Widiawan, Angkara, Yumi, Ryusuke dan Jelita Indria.

Setelah tiba di negri itu mereka sedang berada di pegunungan bukit yang mereka tak tahu apa namanya, setelah berjalan cukup lama maka sampailah mereka dikota Kanglam.

―Ketua..‖ Angkara berbisik.

―Panggil namaku, jangan memancing harimau lapar..‖ Aram menasihati.

―Ba..ik.. Ar.. Aram..‖

―Ada apa?‖

―Aku lapar...hehe‖

―Baiklah kita cari kedai dulu untuk makan.‖

―Tapi.,‖

―Tapi apa?‖ ―Aku gak bisa bahasa daerah sini..‖

―Jangan risaukan itu, perlahan kau juga akan bisa..‖ Hibur Aram sambil menatap sebuah kedai yang cukup besar ―

―Kalian ikutlah...‖ Ajaknya kemudian sambil ia segera masuk kedalam, dilihatnya dikedai itu cukup ramai juga, tampaknya mereka juga adalah kaum golongan rimba hijau, terbukti dengan pedang yang mereka bawa.

Segera mereka masuk dan memilih tempat dipojok dekat jendela akan tetapi tidak ada seorang pelayan pun yang meladeni, sepertinya para pelayan sedang sibuk dengan melayani yang lainnya. tiba-tiba sudut mata Aram melihat seorang pelayan yang sedang nganggur segera ia memanggil.

"Hai, kemari!"

"Ya, ya, segera datang!" cepat pelayan itu bersuara, lalu mendekat dan bertanya dengan tertawa,

"Tuan –tuan ini hendak pesan apa?"

"Buatkan lima porsi burung dara goreng, lima porsi Pak-lay-cah, lima porsi Ang-sio-hi, seporsi ayam cah jamur, dan bawakan lima kati arak Li-ji-hong."

"Baik, baik, segera disediakan," sahut sipelayan dengan tergagap. Kiranya restoran ini terhitung rumah makan yang cukup besar, sehingga menu yang dipesan dapat disediakan dengan baik. meski cukup kaget dengan pesanan itu tapi diam- diam ia juga merasa senang.

Maklumlah, orang berusaha kedai, tentu tidak beralasan menolak tamu makan banyak, maka dicatatnya pula setiap pesanan itu.

tak lama kemudian pesanan segera datang, dengan lahap mereka segera makan, ditengah asiknya makan itu yumi berkata dengan mulut penuh daging burung dara.

―Keua kau au iana etak peuruan ian ong pay? (ketua kau tahu dimana letak perguruan Thian Liong Pay)

―Sruputt... tidak, aku lupa menanyakannya...‖ Jawab Aram.

―Berarti kita harus bertanya?‖ Jelita indria menanyakan sesuatu hal yang lucu.

―Hahaha,. tak usah.. mereka sudah ada diperjalanan, kita

tunggu saja dikota ini..‖ Jawab Aram sampai menyeruput araknya.

―Heh, kapan? padahal semenjak tadi aku melihat kau tak melakukan hal apapun..‖ Jelita Indria Penasaran. yang dijawab hanya dengan senyuman saja.

―Sepertinya bakal ada kejadian menarik..‖ Angkara melirik kearah pintu masuk. di pintu masuk itu berdiri tiga orang berseragam hitam dengan gambar piramida berantai di dada. Tangan masing-masing membawa bungkusan panjang, jelas yang terbungkus itu adalah senjata.

Orang yang paling depan berperawakan tinggi tegap, orang kedua di belakangnya berbadan pendek tangkas, orang ketiga bertubuh ramping, dengan wajah tak lebih baik dari wajah manusia yang dikerok cangkang durian.. dengan tajam mereka tatap serombongan orang yang berdiri disudut ruangan.

Sementara itu rombongan itu itu sudah menyongsong maju, tapi setelah berhadapan dalam jarak beberapa tombak mereka lantas berhenti dan saling tatap dengan penuh waspada.

Dengan setengah mengejek orang yang berseragam hitam ditengah berkata, ―Apakah kalian yang berani membunuh salah satu anak buah kami?‖

―Betul!‖ jawab salah satu orang dalam rombongan yang sejak tadi berada dikedai. Orang itu memakai pakaian biru tua, berbadan sedikit gemuk, dan berkumis tebal, berusia sekitar lima puluh tahun menjawab dengan dingin, dalam dunia persilatan ia lebih dikenal dengan sebutan Si Kumis beracun.

―tahukah kalian siapakah kami ini?‖ si baju hitam bertanya lagi.

Kembali si kumis beracun menjawab, ―tentu, kalian adalah bergundal dari Nawa Awatara sang kumpulan duri dalam mata!‖

Si baju hitam dan kawannya menjadi gusar, teriaknya, ―tahukah kau akibatnya bila melawan kami?‖ ―memangnya kenapa jika kami melawan kalian?‖.

―hem, kalian mencari penyakit sendiri, tak ada tempat lagi untuk kalian kecuali dunia barat‖

―hahaha boleh saja kalian pentang gaya dengan

mengandalkan pamor kalian di tanah seribu pulau, tapi disini kalian ini hanya kunang-kunang di hadapan rembulan‖

Seketika air muka Sang baju hitam berubah, tapi ia lantas menjengek, ―Kumis beracun, jangan salahkan jika kau ku kirim keneraka lapis delapan belas‖

―Sudah tentu,sebab kaulah yang pertama kali akan kesana,‖ ujar si baju hitam. Dia bicara dengan kalem-kalem saja, tidak terburu- buru dan juga tidak alon-alon, tapi nadanya seperti sengaja dibikin-bikin.

Dengan tak sabar Si baju hitam menggeram, teriaknya, ―Mati kau‖

Berbareng dengan itu kedua orang seragam hitam lainnya juga lantas menubruk maju. Si pendek tangkas itu mendahului menubruk ke arah rombongan yang berada dimeja yang berjumlah empat orang itu. Gerak tubuh orang ini sangat cekatan, gaya serangannya juga ganas, Duk. salah seorang

dari rombongan yang berusia cukup tua dengan jenggot sedagu menahan serangan. didalam persilatan ia dikenal dengan nama Sembilan langkah pembawa maut Beng san. Sedangkan si perempuan baju hitam justru menubruk kearah seorang gadis cantik berbaju langsat.

Ilmu silat gadis yang terkenal dengan gelar gadis cantik dari kanglam itu tergolong lumayan dan sudah dua tahu berkecimpung didunia persilatan, tapi menghadapi serangan yang aneh dan cepat itu, seketika ia menjadi kelabakan tercecar.

Di sebelah sana sikumis beracun juga sudah bergebrak dengan si baju hitam yang tegap. Si kumis beracun terkenal dengan senjata rahasianya yang beracun, senjata itu terletak diantara kumis-kumis yang melintang diatas bibirnya sehingga serangan itu tidak dapat dipatahkan dan dipecahkan secara mudah, seain itu ilmu tangan kosongnya yang diberinama tujuh pukulan kumis beracun juga terkenal akan racunnya yang ganas juga serangannya yang aneh.

Tapi si baju hitam yang tegap itu pun tidak kalah lihainya, sehingga mereka dapat bertarung dengan imbangnya.

Pertempuran ini boleh dikatakan cukup hebat, bangku-bangku sudah berterbangan, tamu-tamu yang hanya seorang pelajar siang-siang sudah maburkan diri,. hanya beberapa kaum persilatan saja yang menonton ditengah kalangan.

Wajah mereka terlihat tegang dan cemas, pemilik kedai meringis ia takut jika orang-orang itu tidaklah mengganti rugi atas kehancuran kedainya, namun mana berani ia menghentikan pertarungan itu. Pemilik kedai yang merupakan seorang lelaki paruh baya melihat masih ada sebuah bangku dengan mejanya yang utuh. meja itu terlihat dikelilingi oleh lima orang pemuda pemudi yang masih muda. pemuda dan pemudi itu tidaklah bergeming maupun terusik dengan pertarungan disisiya, mereka terlihat asik bercengkrama satu sama lain. yang lebih hebatnya lagi, rambut mereka tidaklah berkibar-kibar seolah diasana ada benteng penghalang. padahal di sisi pertarungan lain orang- orang berusaha untuk tidak ikut terbawa kencangnya angin yang bersileweran.

Di antara mereka bertiga itu yang paling celaka adalah Sembilan langkah pembawa maut Beng San, baru belasan jurusia sudah keteter hebat. Sebaliknya si baju hitam yang pendek tangkas itu semakin bertempur semakin gagah perwira, mendadak ia mengelak sambil menerjang maju, sinar hijau berkelebat, tahu- tahu goloknya sudah berada di leher Sembilan langkah pembawa maut Beng San.

Se inchi lagi golok itu maju maka kepala Sembilan langkah pembawa maut Beng San akan terbang meninggalkan tubuhnya, namun dari belakangnya ada orang yang menahan golok itu sehingga terdengar benturan nyaring.

―Trangg ‖

Sungguh tidak kepalang kaget Sembilan langkah pembawa maut Beng San, semangat tempurnya juga runtuh seketika. untunglah temannya yang sejak tadi berdiam diri memperhatikan menolong jiwanya itu. sedetik saja terlmbat maka tentu jiwanya akan amblas. ―Engkau tidak apa-apa sute?‖ Sapa orang itu. ternyata orang itu merupakan orang yang paling tua diantara rombongan Bengsan. dia bernama Kim liong. dengan gelaran Naga Emas dari Hopak.

―Terimakasih Suheng, tanpa pertolonganmu tentu jiwa ini akan melayang‖ Jawab Beng San.

―Jangan lengah, lawan masing menghadang didepan mata.‖

―Baik suheng...‖

Pertempran dalam kedai terus belangsung sengit, tampak rombongan Bengsan berempat segera akan menemui ajalnya dibawah serangan pedang milik Anggota Nawa Awatara.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa panjang seseorang, sesosok bayangan tahu-tahu menyelinap ke tengah- tengah kalangan. Menyusul itu lantas terdengar

―sarr ... serr ... serr ...‖

―Klontrang.. Klontrang.. Klontrang..‖

ketiga batang senjata kawanan baju hitam mendadak mencelat semua ke udara, dan jatuh di lantai berkerontangan. Keruan ketiga orang berbaju hitam terkejut dan serentak melompat mundur. Mereka hanya merasa pergelangan tangan tergetar dan tahu-tahu senjata terlepas dari cekalan, cara bagaimana pihak lawan turun tangan sama sekali tak diketahui. keterkejutan mereka bertambah ketika dilihatnya bahwa yang membuat mereka kalah hanyalah seorang gadis belia belaka. gadis itu adalah seorang gadis cantik berwajah kekanak- kanakan, hidungnya bangir dengan mata sipit, ia memakai kimono berwarna merah muda dengan baju dalam merah. dia tak lain adalah Yumi adanya.

―Nona, mengapa engkau suka urus campur urusan kami...‖ tanya lelaki baju hitam berwajah tegap.

―Aku tak paham bahasa kalian! jadi sampai copot tulang rahangpun aku tak bakalan mengerti ‖ Yumi menjawab dengan bahasa jepun.

―Eng...eh akh...‖ Lelaki itu tergagap karena merekapun tak mengerti,

―Kalian tahu itu bahasa apa?‖ bisik lelaki hitam berbaju tegap kepada temannya yang bertumbuh pendek. namun lelaki yang bertubuh pendek itu juga menggeleng menandakan ia juga tak paham.

―Dan kau?‖ tanya lelaki baju hitam bertubuh tegap kepada teman perempuan yang berwajah buruk.

―Tidak..jikalau tak salah itu adalah bahasa dari negri matahari terbit.‖ jawab siperempuan.

―Sudahlah nona, aku tak paham dengan bahasa mu.‖ ―Sudahlah aku tak paham dengan bahasamu hitam, kita bertarung saja.‖ Yumi menjawab sambil memasang kuda-kuda. meski tak mengerti, tapi jika dilihat dari gerak tubuh si gadis yang memasang kuda-kuda ia mulai sedikit paham, segera ia berkata

―Nona mengapa kita harus bertarung, padahal diantara kita tak ada dendam sama sekali mending kita senang-senang‖

Tiba-tiba dari samping seserorang menjawab dengan dingin.

―Justru Kami memiliki dendam yang tak bisa dibendung lagi. ‖

ketika mereka berpaling dilihatnya seorang pemuda dengan kimono biru langit, wajahnya tampan dengan bola mata elang, bibirnya ranum kemerah-merahan dibalut dengan kulit seputih salju, rambutnya panjang sepunggung dengan diikat ekor kuda, kepalanya diikat dengan kain berwarna coklat, dibelakangnya sebuah kujang kecil menonjol.

Dibelakang pemuda itu pada dinding kedai yang terbuat dari batu cadas yang disusun terteralah sebuah tulisan ―AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH‖

Membaca tulisan itu, Pucatlah wajah ketiga kawanan baju hitam itu. diantara mereka siapakah yang tak mengenal tulisan itu. tulisan yang membawa alamat buruk bagi keselamatan dirinya. Tanpa menghiraukan harga dirinya mereka segera berserabutan melarikan diri. namun dua orang pemuda menghadang didepan pintu masuk.

―Jika sudah masuk, mengapa harus ada keluar‖ Angkara berkata dengan menggunakan bahasa tanah Jawadwipa. meski tak begitu paham namun sedikit-sedikit mereka paham sebab markas pusat berada di negri itu.

―Yumi bereskan mereka...‖ Aram memerintah.

―Baik..‖ Yumi segera meletakan kedua tangannya disertai dengan kabut tipis tubuhnya menghilang dari pandangan.

Merasakan gelagat buruk Sang baju hitam tegap segera pasang kuda-kuda dan meliarkan pandangan. tiba-tiba.

―Dessss‖

―Ukghhh‖

Seperti bayangan saja tubuh yumi muncul dari dalam tanah dan meninju rahang Silelaki Pendek. tidak berhenti begitu saja yumi segera menyapu kaki Siperempuan buruk rupa hingga terjerembab. Gusar hati Silelaki berbadan tegap, segera ia meloncat keudara, ia pikir musuh muncul dari dalam tanah maka dirinya akan bebas dari serangan, dengan memanfaatkan keadaan ia akan menyerang sigadis dengan pukulan diudara.

sayang seribu sayang, yumi bukanlah gadis yang mudah dijebak begitu saja, empat buah senjata berbentuk bintang melesat dari tanah kearah silelaki berbadan tegap. dengan sigap silelaki berbadan tegap menangkis dengan pedangnya,.

―Trang..trang tring..jrubb‖

meski Silelaki baju hitam mampu menangkis tap tak urung sebuah shuriken tetap menancp dipahanya. jelaslah kemampuan yumi dalam melempar shuriken telah meningkat drastis dari sebelumnya. diceritakan memang panjang, padahal kejadiannnya begitu singkat. brukkk Silelaki baju hitam terjatuh dilantai dan segera ditolong kawannya yang sudah bangkit.

―Senjata ini...‖ Desis siperempuan buruk muka lirih.

―Cucu kura-kura siapa yang berbuat keributan disini..‖ Dari Jendela seorang kakek-kakek berbaju berjubah hijau berkata lantang sambil meneguk Arak dari Guci.

―Maafkan kami Locianpwee kami hanya menyelesaikan sedikit urusan hutang‖ Aram mewakili.

―heh, bocah bau kencur cucu kura-kura. masakah engkau menagih hutang di rumah makan heh?‖

―Begini locianpwee, bila locianpwee memberikan hutang pada orang lain lalu locianpwee hendak menagihnya, namun orang itu selalu melarikan diri. dan bila pada suatu hari locianpwee bertemu dengan orangnya apa yang akan dilakukan locianpwee‖

―Tentu saja menagihnya goblok‖ bentak kakek itu. ―Nah beitulah dengan kami saat ini‖ Aram tersenyum penuh kemenangan. sikakek tergagap, ia terjebak dengan permainkan kata sianak muda. namun ia tak mau mengaku kalah, cepat ia berkata lagi.

―lihatlah seluruh kedai ini berantakan, bukankah itu malah merepotkan yang ketiga.‖

―Sekarang ia, tapi nanti tidak.‖

―Jangan berkata yang menyulitkanku bocah‖

―Hehe, maksud boanpwee sekarang memang pihak ketiga akan dirugikan. tapi setelah ini pasti pemilik restoran akan ketiban untung‖

―Untung kepalamu gondrong‖ Sikakek mencak-mencak.

―ia locianpwee, rambut boapwee memang gondrong locianpwee‖

Sikakek makin keki. ia segera meneguk araknya. ―Glekkk...‖ Tapi ternyata isinya telah habis sikakek segera kocok-kocokan gucinya namun tak ada suara. mulut sikakek manyun kebelakang, sebab giginya tidak ada sehingga terlihat lucu dimata Aram.

Sambil menahan geli Aram berkata. ―Mari duduk disana locianpwee, disana masih ada tiga kati arak.., jikalau mau kita beli lagi‖ Aram mengajak. Seperti anak kecil saja kakek itu mengikut dibelakang Aram. setelah sampai

Aram mempersilahkan duduk dengan diiringi tatapan kagum oleh sekian banyak kaum persilatan. diantara mereka siapakah yang tak mengenal kakek itu, dalam dunia persilatan ia dikenal dengan sebutan Arak seribu kati, mengenai namanya tak ada seorangpun yang mengenalnya.

Dia berprinsip Arak adalah segalanya, segala urusan beres bila dengan Arak, menang minum arak senang atau sedih juga minum arak begitupula bila kalah tetap minum arak. jadi kesimpulannya dalam suasana apapun arak adalah segalanya.

"Arak yang bagus hehe?" kakek itu memuji.

―Akh, rasanya tak lengkap bila tidak ada tarian, jelita yumi menarilah dengan mereka‖ Kata Aram sambil menunjuk kawanan baju hitam ditengah kedai.

―Sampai mereka mati?‖ Jelita Indria bertanya.

"Terserah kalian, boleh sampai mati atau sampai sekarat saja. yang penting hutang kita lunas"

"Tarian apa bocah, kok sampai mati segala?" kakek itu bertanya. "Tarian mencabut nyawa,.."

"Menyeramkan sekali!" gumam kakek itu dengan mata memandang tajam ke arah arena sambil meneguk gucinya. Aram edarkan pandangannya, dilihatnya disebelah kiri pemilik kedai mengumpat dimeja kasir dengan ketakutan. ―hey kemarilah‖ perintahnya lembut.

Sang pemilik itu celingak-celinguk antara mendekati atau tidak, namun sepertinya ia tidak berani membantah. dengan terseok- seok ia mendekat.

―Ada yang hamba bantu, kongcu?‖

―Ambilkan Arak terbaik sepuluh guci, ― Pemilik kedai itu melenggong, rupanya Aram mengerti apa yang dipikirkan Sipemilik kedai,

―jangan khawatir aku akan mengganti rugi keruksakan kedaimu juga makanan dan minuman yang kubayar‖

Dengan ragu pemilik kedai itu segera lri kebelakang namun hatinya sedikit lega juga mendengar janji Aram.

Jelita Indria dan Yumi segera memandang ketiga kawanan baju hitam itu dengan mata dipicingkan.

Angkara dan Ryusuke saling berteriak memberi semangat kepada kedua gadis itu.

"Habisi dalam dua gerak tarian saja yumi!" "ayo Dria semangat tunjukan kebolehanmu!" Mendapat dukungan dari sang kekasih yumi segera memajukan kaki kanannya tubuhnya memutar seiring dengan kaki kirinya, tangannya membuat lingkaran didepan tubuh sehingga lekuk tubuhnya menonjol, gerakannya sungguh indah dan gesit.tak ingin kalah Jelita Indria juga segera melakukan hal yang sama dengan yumi sehingga keduanya mirip seperti dua dewi yang sedang menari..

Sebenarnya itu adalah kembangan jurus dari jurus dewa dewi langit menari, jurus sang legenda persilatan tanah jawa Sepasang Dewa Dewi dari Jawadwipa. seharusnya jurus itu dilakukan berpasangan namun ternyata dilakukan sendiri juga tak mengurangi kehebatannya adapun jurus itu terdiri dari 5 jurus yaitu  ewa dan dewi tersenyum, dewa dan dewi menebar kasih, dewa merayu dewi cemberut, dewi menari dewa bahagia, dewa murka dewi menangis, dan dewa dan dewi mengamuk.

Wuuut, Wwess...!

Yumi dan Jelita indria bergerak mendekat dan.....

Agaknya Kawanan baju hitam itu terbawa suasana tarian indah. tiba-tiba saja dari balik baju Jelita Indria dan Yumi muncul sebilah pedang pandak. dan segera menyerang. Kawanan Berbaju Hitam itu terperanjat melihat serangan yang begitu mendadak. Tebasan pedang Yumi kepada Lelaki berbadan pendek dihindari dengan tubuh miring ke kiri, tapi pedangnya segera disabetkan ke atas. Bretttt. ! Pedang yumi merobek

pakaian Silelaki berbaju pendek, meski tak menimbulkan luka apa pun di tubuh Silelaki berbaju pendek tak urung wajahnya telah berubah pucat pasi.

Sedangkan serangan Jelita indria menusuk dada siperempuan buruk muka, namun dipertengahan jarak, jelita indria segera membelokan pedangnya kebelakang kepada Silelaki baju hitam berbadan tegap. Dengan disertai angin tajam pedang Jelita indria menyambar leher Lelaki itu.

―akhhh‖

Dengan disertai jeritan kaget Lelaki berbadan tegap itu berusaha untuk mengelak. namun tak urung dilehernya tercipta goresan merah. tak berhenti begitu saja, jelita indria melemparkan pedangnya kebelakang.

―Jrubbb‖

―Akkhh‖

Ternyata pedang itu menusuk lengan Si perempuan buruk muka, sekali dayung dua pulau terlampaui, benar-benar siasat bertarung yang luar biasa.

"Hiaaaahh...!!" Jelita Indria melemparkan sebuah tali halus kearah pedangnya, dan tali itu kemudian melilit digagang pedang. dengan sekali sentakan pedang itu kembali kearah Jelita Indria. Tiba-tiba, dari arah belakang jelita indria terhembus angin tajam menggiriskan kulit. Tetapi Yumi menangkis serangan itu menggunakan pedang yang ia pegang.

Traaak...!

Serangan itu dapat tertahan sehingga jelita indria dapat menerima pedangnya dengan baik sekaligus membabatkan kebelakang.

Wuuut, crraass...!

"Aaahkk...!" orang yang membokong itu mendelik seketika, perutnya robek dan isinya mulai berhamburan. tak kalah cepatnya yumi juga menyabetkan pedangnya yang bergerak dari atas ke bawah.

Wuuut...! Craaas...! Pedang itu membelah tubuh pembokong yang tak lain adalah silelaki bertubuh pendek dari ubun-ubun sampai keselangkangannya..

tanpa ampun lelaki itu tumbang tanpa nyawa lagi. Brrruuk...!

Rupanya ketika silelaki bertumbuh pendek bertarung dengan yumi ia terdesak hingga mendekati Jelita indria, melihat kesempatan bahwa jelita indria tidak bersenjata lagi, ia nekat menyerang. namun naas, nasibnya tidak sebaik apa yang dipikirkannya. nyawanya melayang sebelum ia menebaskan pedangnya ditubuh Jelita Indria. Kakek Arak seribu kati yang sejak tadi menonton pertarungan yang sadis itu kali ini ia bergumam.

"Benar-benar sadis kedua perempuan ini. jurus-jurusnya benar- benar indah sekaligus mematikan, sebaiknya hentikan saja tarian ini"

"apakah locianpwee merasa ngeri?."

Kakek Arak seribu kati terdiam, ia benar-benar mati kutu bila berhadpan orang disampingnya, dengan menggerundel tak jelas kakek itu kembali memperhatikan pertarungan diarena.

Aram tertawa ringan sambil kembali meneguk tuaknya, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tersenyum berseri.

―Dria, Yumi lekaslah,... rekan kita sudah datang...‖

―benarkah, baiklah waktu bermain sudah habis mengasolah dialam baka.‖ teriak Yumi sambil menyerang siperempuan buruk muka yang sedang terluka, Dengan menekuk silang pada kaki dengan suatu putaran Yumi menyabetkan pedangnya kearah leher.

―Rubah merobek mangsa‖

Siperempuan buruk muka merunduk kebawah, namun tiba-tiba Yumi melemparkan pedangnya keatas, dan sebuah tendangan keras menghampiri mukanya. ―Desss‖

―Akkkhh‖

―Settt‖ Jrubbb...Brukk‖

Ternyata pedang yang dilemparkan keatas itu itu ditangkap ketika jatuh oleh Yumi dan dengan telak ditusukan kedada Perempuan itu. maka berakhirlah nyawa dari perempuan buruk rupa itu.

Yumi berpaling kesamping, dilihatnya Jelita Indria juga telah menyelesaikan pertarungannya. setelah saling berpandangan keduanya tersenyum dan tertawa. lalu berlarian menuju kekasih hatinya yang disambut dengan pelukan dan ciuman mesra.

Ternyata ketka yumi menyerbu Siperempuan buruk muka, jelita Indria juga secara berbarengan menyerang lelaki berbadan tegap yang telah terluka, terutama pahanya itu.

―Pedang Pemburu mangsa‖

Jelita Indria berteriak melengking sambil melemparkan pedangnya, dengan menganggap enteng Silelaki berbadan tegap menahan pedangnya menggunakan tangannya dengan merangkap dada.

―Tekk‖ pedang itu memang dapat ditahan silelaki berbadan tegap dengan menangkap batang pedang namun Jelita Indria melompat dan menendang gagang pedang itu sehingga menancap ditubuhnya. Maka Lelaki itupun mati secara bersamaan dengan temannya yang lain.

Melihat itu, Bengsan dan kawan-kawan terpengarah melihat kelihaian dua gadis itu, selama merek berkecimpung dalam dunia persilatan baru kali ini mereka sadari bahwa diatas langit memang ada langit. . . .

****

―A..Aram, apa yang hendak engkau lakukan,‖ Angkara bertanya,

―Bermain-main. ‖ Aram berkata enteng. sambil mengangkat

mayat lelaki berbadan tegap. kemudian ia melemparkan mayat itu kearah tulisan yang telah ia buat, seperti telah diperhitungkan sebelumnya, mayat itu tiba-tiba meledak mengagetkan semua orang yang ada disitu. lebih hebatnya lagi, darah mayat itu semuanya menggurat mengikuti tulisan itu tanpa berceceran seperti dagingnya.. jika bukan memiliki tenaga dalam yang tinggi mustahil bisa melakukan itu.

Tiba-tiba....

―Kalian ini, datang-datang malah membuat keributan, benar- benar membuat orang keki..‖ Sebuah suara yang akrab ditelinga orang berkata di pintu kedai.

Aram berpaling, dilihatnya tiga sosok orang yang tidak asing lagi baginya. mereka adalah Thian Liong, Thian Hong Li dan Amuk Samudra. yang barusan berkata itu adalah Thian Liong.

―Sepasan pendekar Naga dan Hong.‖ ―Pendekar Samudera mengamuk‖

berbagai seruan terkejut mengiringi kehadiran tiga sosok itu, memanglah sejak kedatangan kembali ke tionggoan dari tanah seribu pulau kedua bersaudara she Thian dan Amuk samudera itu menggegerkan dunia persilatan tanah Tionggoan, Kedua Saudara She Thian Kemudian digelari orang sebagai Sepasang Pendekar Naga dan Hong sedangkan Amuk Samudera digelari orang sebagai Pendekar Samudera Mengamuk,

Mereka terkenal sebagai pendekar muda paling menonjol dari kalangan golongan putih, sedangkan Amuk samudera meski termasuk golongan putih ditanah tionggoan namun sifat dan kelakuannya lebih tepat masuk golongan merdeka sebab ia paling senang berbuat onar. 

―hehehe kau juga datang Liong Ji, Hong Ji‖ Suara Kakek Arak

Seribu kati.

―Susiok. ‖ Kedua She Thian Berseru kaget lalu kemudian

mendekati dan memberi hormat.

―Hahaa... bangunlah kalian berdua. hehe,,.. kalian bertutur sapa dengan pemuda liar ini, apakah kalian saling mengenal?, ..‖

Thian Hong berpaling kepada Thian Hong li. membuat wajah Thian Hong Li memerah malu. rupanya Kakek seribu katipun paham, ia segera tertawa terbahak-bahak menambah kemaluan Thian Hong Li. ―Sudah sana, kau pasti kangen dengannya!‖ Goda Kakek seribu kati, Thian Liong tersenyum kepada Thian Hong Li, dan rupanya Thian Hong li paham tanda itu, segera ia berlari menuju Aram yang sedang bersandar ditiang kedai., mereka segera berpelukan haru melepas rindu didada.

Mata Thian Hong li yang dulunya sayu kini mulai bercahaya, dia tampak cantik dengan bajunya yang berwarna hijau muda dan jubah hijau tua.

―Kau kurus sekali, Hong Moay..!‖ Bisik Aram ditelinga Thian Hong Li yang membuat ia menggelinjang geli. dengan sebat ia berpaling kearah Aram namun ia kembali mundur, mengapa?

―Akh,... Engkoh matamu...!‖ Dengan heran dan ragu Thian Hong Li menatap mata Aram yang tajam seperti Rajawali. cukup lama mereka bertatapan hingga pada suatu ketika Aram menunduk, setetes air mata jatuh dipipinya, membuat suasana dikedai itu diliputi kesedihan dan kepahitan mendalam seakan ikut larut dalam kesedihan Aram.

―Aku hanya mengalami sedikit insiden kecil‖ Jawabnya setelah menimbang-nimbang. dan sepertinya Thian Hong Li pun tak mengatakan apa-apa ia tak bertanya apa-apa lagi. sebab ia paham apa yang sedang terjadi,

ketika ia menatap mata Aram, kontak mata dan pikiran tak dapat dihindarkan lagi olehnya, sebab ia melihat dalam pikirannya apa yang terjadi waktu itu. Thian Hong li menubruk Aram dan menangis tersedu-sedu. Thian Liong kebingungan dengan apa yang sedang ditangisi adiknya. segera ia mendekat bersama dengan Kakek Arak seribu kati.

―Aram...‖ Panggil Thian Liong.

Aram berpaling kepada Thian Liong, seperti halnya dengan Thian Hong Li, merekapun berpandangn dengan cukup lama. betapa kagetnya Thian Liong ketika menatap mata Aram dan terjadi Kontak pikiran, ia melihat seakan mengalaminya sendiri ketika Aram dicambuki, dicongkel matanya, disayati tubuhnya juga ketika berjalan dengan merangkak. Thian Liong tak sanggup lagi melihatnya dengan segera ia melepas kontak pikirannya.

Setelah terlepas Thian Liong muntah-muntah karena ngeri, Kakek Arak seribu kati terkejut segera ia menolongnya meski ia tak tahu apa yang sedang terjadi namun dilihat dari sorot mata kengerian dari Thian Liong ia cukup paham bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang akan atau sudah terjadi.

―Kau Tidak apa-apa Liong Ji?‖

Thian Liong tak menjawab namun segera ia merangkul Aram bersama adiknya.

―Sungguh-sungguh berat penderitaanmu Aram,

syukurlah...syukurlah kau..‖ Thian Liong tak sanggup berkata apa-apa lagi. ia merangkul Aram dengan erat. yang melihatnya sungguh terheran-heran... sebenarnya apa yang sedang terjadi pikir mereka.

―Sudahlah Kak, Hong Moay, semuanya sudah terjadi lagipula aku sudah berada disini bersama kalian! meski kini,... aku bukan manusia yang normal lagi‖ Aram menghibur. Tampaknya Thian Liong dan Thian Hong dibuat mengerti juga dengan berat hati mereka melepas pelukan itu.

―Syukurlah ilmu itu sudah kalian sempurnakan,.. aku turut berbahagia..‖ Aram mengalihkan pembahasan.

―rasanya tidak enak bila kita berdiri terus, sebaiknya kita mengobrol sambil minum minum itu terasa membahagiaakan‖ sambungnya lagi.

―Terserah‖ Thian Liong menjawab setengah ngambang. ruanya jiwanya masih belum juga kembali melihat kengerian dalam kontak batin itu.

―Pelayan sini‖ Aram memanggil pelayan yang diam mematung di meja kasir.

―Ya Kongcu..‖

―Aram merogoh kantong dalam bajunya dari balik bajunya itu ia mengambil empat batang emas dan dua berlian sebesar kepalan bayi,

―Segini cukup..‖ Mata Pelayan itu membelalak besar melihat batangan emas dan berlian itu,

―Cuk..cukup kongcu, malah lebihh‖ Ucapnya gagap.

―Ya sudah, aku jamu semua tamu yang ada disini untuk makan bareng sekaligus carikan aku lima setel pakaian. untukku berwarna biru langit, dan kau lihat empat orang yang berbaju aneh itu, carikan juga pakaian untuk mereka warnanya samakan saja dengan yang mereka pakai, perlu kutambah uangnya?‖.

―tidak usah kongcu segini juga masih cukup malah masih ada sisa‖

―hehehe, lekas hidangkan makanan untuk mereka, juga arak terbaiknya ditambah‖

Aram segera berkata lantang. ― Saudara-saudara sekalian, Cayhe bernama Aram Widiawan, maafkan bila kami mengganggu Tayhiap sekalian, sebagai permohonan maaf kami akan menjamu Tayhiap sekalian untuk mencicipi makanan di kedai ini, silahkan..silahkan‖

Riuh rendah sahutan Para kaum rimba hijau itu mendapat tawaran yang langka itu, mereka disuguhi pertarungan yang mendebarkan, Arak juga makanan, jarang-jarang ada pendekar yang bersifat seperti itu. meski ada namun dapat dihitung dengan jari saja.

Akhirnya mereka segera menikmati jamuan itu hingga larut malam, suara tawa gembira, candaan dan suara malam menjadi satu dikedai itu, dalam keadaan itu pemilik kedai adalah orang yang paling diuntungkan apalagi setelah beredar tulisan dengan dicampuri darah anggota Nawa Awatara itu.

MUNCULNYA SEBUAH PERKUMPULAN Nawa Awatara di

daerah tionggoan menimbulkan tragedi berdarah dimanapun mereka mendirikan markas yang biasa disebut markas cabang itu.

Hari itu masyarakat awam dan Kaum Rimba hijau sedang berpesta bahagia khususnya bagi mereka yang selalu ditindas, mengapakah demikian?

Ternyata dalam waktu satu malam telah terjadi hal yang menggemparkan sekaligus mengejutkan. peristiwa yang meminta korban jiwa para Anggota Nawa Awatara yang dibantai habis seluruh anggotanya bahkan markasnya telah rata dengan tanah. Kematian mereka secara aneh dengan kondisi sama semuanya terpenggal kepalanya dan tak ada luka lain seakan para Anggota Nawa Awatara hanyalah patung yang bisa dengan mudah dipenggal.

Padahal sebenarnya kemampuan dari mereka setingkat dengan jago-jago kelas satu lalu mengapakah bisa dengan mudahnya mereka mati terpenggal? tak ada saksi mata dalam pembunuhan itu, si pembunuh itu sama sekali tak meninggalkan ciripembunuhan hanya meninggalkan mayat yang bergelimpangan saja membentuk tulisan ―AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH‖. Jika terjadi di satu tempat saja itu tidaklah aneh, lalu bagaimana bila kejadian itu terjadi sama di lima tempat yang saling berjauhan?

Adapun tempat itu adalah Kanglam, Hopak, Ciat kang, Siauw an dan lokyang. dengan cepat berita itu tersebar kemana-mana sehingga membuat gempar seluruh daerah tionggoan, anggota kay-pang telah disebar demi mencari keberadaan sang Pembunuh. ciri-cirinya mereka ketahui keterangan dari Pemilik Kedai yang dulu dijadikan pertarungan Oleh Aram, apalagi tulisan pertamanya yang dibuat dengan disaksikan beberapa kaum persilatan sudah menjadi rahasia umum.

Nama Sepasang Pendekar Naga dan Hong, Pendekar Samudera mengamuk bahkan Si Arak seribu Kati juga menjadi bahan pembicaraan seluruh umat persilatan ditanah tionggoan. Pasar, Kedai, Perguruan, danau, lautan bahkan di ladangpun berita itu selalu menjadi buah bibir.

Sementara ditempat lain disebuah tebing yang menjulang tinggi mencakar langit sembilan orang sedang duduk menatap awan yang berarak di sebuah bangunan kecil dari bambu.

‗‘kau memang liar dan gila-gilaan anak muda,‖ Seorang kakek berbaju hijau juga berjubah hijau berkata kepada seorang pemuda tampan berbaju biru dengan jubahnya yang melambai- lambai. ―Ketua, aku tak melihat siapapun disini... kemanakah yang lain sehingga bangunan ini kosong begini. ‖ Amuk Samudera

menyela membuat Sikakek cemberut.

―Hemm , ―Aram hanya menggumam saja tak menjawab

pertanyaan keduanya. ―Ada yang bisa aku bantu engkoh ‖

Suara Thian Hong Li berbisik dalam batinnya. ―Dapatkah engkau mencari dimana nenek, dan yang lainnya sekarang..‖ Aram menjawab dalam batin, sehingga yang lain tidak dapat mendengar percakapan itu.

Thian Hong Li bersila, ia meletakan telapak tangan kirinya didepan dada, sementara pergelangan tangan kanannya disimpan diatas tangan kirinya, tiga jarinya yaitu ibu jari, jari manis dan kelingking ditekuk menyisakan jari tengah dan telunjuk yang diarahkan keatas, kedua matanya terpejam, mengumpulkan segenap konsentrasinya.

Awal mula terlihat gelap, perlahan-lahan Thian Hong li merasakan tubuhnya melayang-layang di sebuah ruang hampa, Thian Hong Li paham bahwa ia baru memulai pengembaraan Sukmanya, mulanya Thian Hong Li kebingungan harus memanggil siapa, setelah berpikir akhirnya ia memilih Nyi Permata Dewi atau Dewi Pemanah Asmara sebagai jembatan penghubungnya.

Thian Hong li memusatkan perhatian sekaligus mengingat wajah dan karater Dewi Pemanah Asmara, perlahan-lahan ia mengumpulkannya dalam sebuah bentuk dan mengirimkan getaran batin untuk memanggil Dewi Pemanah asmara ke Alam yang ia ciptakan sendiri.

Disebuah tempat lain di sebuah pegunungan hijau dengan dikelilingi awan yang menggumpal dan menari-nari empat orang manusia berlainan jenis dan usia sedang melakukan suatu aktifitas yang membuat tanya dalam hati. dua orang sedang duduk memperhatikan dan dua lainnya sedang bertarung dengan sengit, yang menonton itu adalah seorang kakek tua dengan dandanan super aneh, bajunya terdiri dari dua warna, kanan terbuat dari kain sutra berwarna biru, sementara yang kiri terbuat dari karung goni berwarna coklat. Celananya juga terdiri dari dua jenis, kiri pendek dan kanan panjang, dia tak lain adalah Ki Asmaradanu adanya. . .

yang satunya lagi adalah seorang lelaki seumuran dengan ki Asmaradanu, dia memakai baju Kuning gading dengan guci ditangannya, matanya sayu dengan kantong mata yang cukup tebal. wajahnya pucat sepertinya ia terlalu keseringan mabuk. dilihat dari ciri-cirinya dia memanglah Sipemabuk dari selatan adanya.

Sementara yang bertarung itu adalah seorang wanita paruh baya berambut terurai sepanjang punggung. Perempuan itu mengenakan jubah tanpa lengan warna merah. Dadanya ditutup dengan selembar kain warna hijau muda. Namun masih tampak kencang dan menantang. dilihat dari ciri cirinya jelaslah ia salah satu datuk ilmu silat yang dikenal dengan julukan ‗Dewi Pemanah Asmara‘ yang bernama asli Nyi Permata Dewi. dengan seorang gadis cantik berhidung mancung diapit matanya yang jeli dan sayu ia berbaju kain sutera berwarna kelabu dengan tubuh mungil namun berisi, teriakannya merdu melengking mendayu-dayu mengikat siapapun yang mendengarnya, sebab itu adalah sebuah ilmu milik Nyi Permata Dewi yang dinamakan Mengikat Pikiran menjerat jantung.

ia adalh Melati yang sedang dididik olah kanuragannya oleh tiga orang datuk dunia persilatan jadi bisa dibayangkan jika olah kanuragannya sudah setingkat apa. apalagi dua guru sebelumnya yang memberikan dasar ilmu tinggi beserta jurus pamungkasnya menjadikan Melati seorang gadis cantik yang berimu bukan olah-olah.

Tampak melati memainkan jurus-jurus silat penuh gelora semangat di bawah siraman sinar mentari hangat dan angin sepoi-sepoi yang dilayani oleh Nyi Permata Dewi dengan tak kalah hebatnya,

"Hiaaa!"

Pekikan lantang Melati menggelegar merobek langit mencakar udara. seraya menusuk perut Nyi Permata dewi dengan tangan kanannya. meskipun hanya tangan kosong ketajamannya tidaklah dibawah pedang mustika terbukti dengan desisan angin yang tersayat oleh tangan kanan itu., itu juga menandakan kalau tenaga dalam gadis ini sudah mencapai tingkat tinggi lebih daripada sebelumnya.

Serangan itu dipapaki dengan tangan kosong pula oleh Nyi Permata Dewi sehingga: ―Trang‖

―Trang‖

―Blaaarrrr!‖

Terdengar suara dentingan pedang yang beradu, rupanya tangan kosong mereka yang sudah dialiri tenaga dalam itu menjadikannya seperti logam, sehingga ketika dua tangan itu beradu terdengar dentingan pedang.

―Cukup, Anakku!" seru Nyi Permata Dewi. yang ternyata mendapatkan suatu tanda getaran dalam batinnya, segera ia bersila menenangkan hatinya.

Sipemabuk dari selatan dan Ki Asmaradanu saling berpandangan, sedangkan melati juga tak kalah herannya namun ia ak mengganggu. segera ia bersemadi mengembalikan kekuatannya.

Setelah Nyi Permata Dewi Bersemadi segera saja ia terasa melayang diruang hampa menembus kabut berwarna jingga. hingga ia sampai di tempat yang serba lembayung, didepannya seorang gadis cantik duduk bersila sambil tersenyum kepadanya, Tentu saja Nyi Permata Dewi terkejut sekaligus kagum akan kemampuan Gadis itu. gadis yang ia tahu sebagai kekasih cucunya.

―Nenek, maafkan Ananda hingga mengganggu nenek‖ Gadis yang ternyata adalah Thian Hong berbasa basi setelah Nyi Permata Dewi duduk dihadapannya. "tidak apa-apa anakku, ada apakah gerangan?." tanya Nyi Permata Dewi Maklum.

―Engkoh Aram meminta ananda untuk memanggil nenek dan yang lain sekaligus mencari keberadaan nenek untuk segera datang kemarkas,..‖

―Apakah Ia sudah Pulang.... Terimakasih Tuhan... Kau lindungi nyawanya..‖ Gumam Nyi Permata Dewi.

―Ia nek, ia pulang tapi. ‖

―Tapi, tapi Apa?‖

―Seluruh Tubuhnya dipenuhi dengan luka, juga matanya yang dulu telah hilang berganti dengan mata yang lain..‖

―Luka? ―

Thian Hong li tak sanggup lagi membendung air matanya, dengan sedih ia segera menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Aram yang ia ketahui melalui Kontak Pikiran.

Setelah mendengar penuturan Thian Hong Li Nyi Permata Dewi menghela Nafas panjang juga tersenyum pedih, butiran air mata jatuh dipelipisnya. kemudian ia diam sehingga keduanya membisu dan asyik dengan lamunan masing-masing....

―Nek. !‖

―Akh ya ‖ Nyi Permata Dewi tersentak dari lamunannya,. ―Ananda belum menguasai ilmu ini dengan sempurna sehingga ananda tidak dapat mempertahankannya lebih lama lagi..‖

Tak usah dijelaskan secara rincipun Nyi Permata Dewi Paham dengan ucapan Thian Hong Li segera ia berkata ― Tidak Apa-apa Anakku, nenek kagum dengan kemampuanmu ini, sangat jarang ada seorang gadis belia seusiamu dapat melakukan Perjalanan sukma..‖

Merah Wajah Thian Hong Li mendapat Pujian itu, untuk menutupi rasa malu itu melati segera berkata :

―Nek, Engkoh Aram akan menjemput nenek dengan sebuah lingkaran penembus dimensi, bilamana nenek melihat sebuah lingkaran berwarna toska masuklah kesana...‖

Perlahan-lahan tubuh Thian Hong Li lenyap dari pandangan mata, sepertinya gadis itu tidak dapat lagi mempertahankan ilmunya. begitupula dengan Tubuh Nyi Permata dewi yang mengabur dan segera kembali ketubuh asalnya.

Nyi Permata Dewi buka matanya, benarlah saja disampingnya disebuah batu cadas terdapat lingkaran berwarna toska yang sedang dikelilingi oleh Sipemabuk dari selatan, Melati dan Ki Asmaradanu.

―Kau tahu apa ini?‖ tanya Sipemabuk dari selatan kepada Nyi Permata Dewi. Nyi Permata Dewi Tersenyum ia segelara berseloroh. ―Murid Tunggalmu sedang menunggu dibalik sana, mari masuk...‖ Nyi Permata dewi mendahului yang lainnya. meski ragu namun tiada tak ada pilihan lagi bagi mereka, akhirnya mereka segera masuk kedalam sana...

―Nenek, Ayah Guru ― Seru Aram sambil menghormat....

―Murid sialan, semakin hari semakin gila saja ilmumu itu ‖

gerutu Sipemabuk Dari Selatan kepada Aram yang sedang cengengesan.

―Cucuku, kau Memanggil kami namun mengapa kau melupakan yang satu?‖ tanya Nyi Permata Dewi.

―Habisnya, masa aku harus menghormat kepadanya? bukankah itu terbalik nek‖ Aram manyun seraya merentangkan tangannya.

Mendapat kesempatan emas, Melati segera berlari kepelukan Aram melihat tingkah Aram semuanya tertawa menertawakan

dirinya, namun Aram tak mempedulikan malah tangan kanannya dilingkarkan di pinggang ramping Thian Hong Li.

―Dasar serakah, satu saja belum kau nikahin kau malah nyosor yang lainnya..‖ Ki Asmaradanu berkomentar.

―Hihi. tidak apa-apa kok ayah mertua, lagipula ananda tidak

sanggup melayaninya bila hanya sendirian, bahkan mungkin dua orang juga kita gak bakalan sanggup..‖ Celetuk Thian Hong Li membuat wajah Melati yang masih belum berpengalaman memerah. ―Husshh bicara apa kamu sayang, tapi benar juga yah.. satu

mana cukup ‖ Timpal Aram membuat suasana semakin meriah

dengan canda dan tawa.

Pulau yang tak bernama dipesisir pantai selatan bergemuruh. Air laut menggapai-gapai karang tinggi menjulang.langit masih biru dengan garis putih keabu-abuan. Kelapa melambai-lambai digoyang angin.

Seorang Pemuda tampan berbaju hijau transparan dan jubah panahan hijaunya mengikatkan sebuah pedang bermata delapan dipunggung. mata tajamnya mencorong tajam laksana rajawali,

―Jika tak berani menyantroni kandang macan tak mungkin aku bisa mendapatkan anaknya..‖ gumamnya dalam hati sambil meloncat-loncat seperti tupai diatas pepohonan.

Seperti bayangan saja ia melesat menembusi pintu batu penembus tempat menuju dunia luar, Anak buahnya sama sekali tak mengetahui kepergiannya itu, sebab Aram melesat dengan cepatnya hingga tak membuat goyang api yang dilewatinya.

Setelah diluar segera ia merubah dirinya dengan mengeluarkan segenap emosi nafsu liarnya, Aram merasakan tubuhnya panas menggelegak melewati segenap simpul syarafnya. diatas kulit punggung dan bokongnya ia merasakan seakan ada energi yang akan meledak keluar, ia ingin menjerit namun yang keluar hanya lengkingan seperti Rajawali. ―Keeeeaaaakkkkk‖ suara itu menjerit merobek-robek gendang telinga siapapun yang mendengarnya. Rambut yang dulu hitam kini perlahan memutih, namun bukan putih seperti orang tua, putih itu berwarna keperakan yang melambai-lambai tertiup angin. semilir angin malam begitu dingin meresap tulang.

Dengan sekali sentakan tubuhnya meloncat dari tebing itu.

―Werrrr‖ Sayapnya yang sudah berkembang menghentak udara membuat tubuhnya melayang. setelah berputar-putar sebentar ia melesat menuju arah barat daya menyusurri hutan belantara diatas awan-awan kelabu.

Ditempat lain disebuah pulau yang dikenal dengan nama Borneo, tepatnya di desa Mujung Sungkur seorang pemuda berusia sekitar duapuluh sembilan tahunan, wajahnya cakap dengan tahi lalat di atas alis sebelah kiri, hidungnya mancung, bibirnya tipis seperti perempuan. rambutnya sebatas pundak memakai baju merah darah, didada kirinya terdapat rajahan piramida berantai dengan bertulisan angka sembilan sedang duduk dengan ditemani empat orang perempuan berbeda rupa, yang pertama berwjah cantik dengan kulit seputih salju, yang kedua berwajah manis namun kulitnya hitam, yang ketiga wajahnya tidak memiliki keistimewaan apapun namun entah mengapa bisa bergaul dengan mereka, dan yang terakhir adalah seorang perempuan dengan wajah buruk lebih tepatnya mengerikan bersenda gurau sambil bertawa-tawa.

Keempat perempuan itu dalam kondisi badan telanjang, ditubuhnya hanya melekat sebuah selendang transparan dilehernya, entah mengapa maksudnya itu. Dihadapan mereka berjajar manusia-manusia dengan corak berbeda macam, suara gelak tawa berpadu dengan musik yang merdu dan sedikit membakar gairah berdenting nyaring, Beberapa perempuan bernyanyi sambil menari dalam keadaan polos membuat hadirin semakin panas,

Salah satu dari Penari itu adalah seorang gadis belia berusia kira-kira sembilan belas tahun, wajahnya cantik jelita bagaikan bidadari, tubuhnya berkulit kuning putih bersih bagaikan susu khas tanah jawa, sepasang pipinya kemerahan seperti gadis yang sedang dicekoki tuak menambah gairah siapapun yang melihatnya. Sepasang matanya jeli dan sayu. sepasang bibirnya berbentuk indah, kecil penuh berkulit halus tipis, berwarna segar kemerahan bagaikan buah yang sudah masak. Hidungnya kecil mancung menyempurnakan kecantikannya. Rambutnya sepunggung agak awut-awutan kurang teratur rapi, akan tetapi hal ini, sekali-kali tidak mengurangi kecantikannya, bahkan mendatangkan gairah yang tak wajar buat kalbu tiap laki-laki.

Bentuk tubuhnya menggiurkan, ramping dan penuh, kedua gunung dengan puncak kemerah-merahan mencuat bergetar- getar mengikuti gerak tubuhnya. bagian lembahnya bersih dan terawat rapi bahkan terlihat sedikit mengkilap. tubuhnya benar- benar proporsional untuk kalangan remaja seumuran gadis itu. mendatangkan pemandangan yang benar-benar luar biasa.

Tiga orang laki-laki tua mengikutinya menari disampingnya dengan sekali-kali mencolek bagian tubuh gadis itu. dan tampaknya gadis itupun tak keberatan dengan tingkah nakal ketiga laki-laki tua yang mencolek-colek tubuhnya, bahkan gadis itu mengerang menikmati sentuhan itu.

―Emhhh..akhhhh...‖ Suara yang keluar dari bibir indah ini amat merdu bagaikan nyanyian burung dipagi hari membuat malam yang begitu dingin menjadi hangat dalam kalbu.mendengar suara itu, ketiga lelaki tua itu semakin bersemangat. salah seorang lelaki tua itu memegang kedua pundak gadis penari itu, dan menggoyangkan tubuhnya lalu berkata:

―Indah sekali tubuhmu, nona !‖

Orang tua mata keranjang ini merasa betapa pundak penari itu terasa halus, lunak, dan hangat. Juga dari rambut penari itu tercium olehnya keharuman yang membuat semangatnya melayang jauh ke langit ketujuh.

―bagaimana menurutmu gadis yang kucekoki dengan pil Buluh rindu berahi itu..Tiga Setan Neraka?!‖

kata seorang Pemuda yang bermata liar dan licik. Pemuda ini adalah salah satu pelindung dari Ketua Nawa Awatara, jadi meski masih muda, kemampuannya tidak dapat diremehkan. dia adalah si Pangeran Keempat Pandara Gala.

Mendengar ucapan Pangeran Keempat Pandara Gala ini, para tamu yang duduk terdekat di tempat itu tertawa dan semua bibir tersenyum dengan mata mengerling penuh arti ke arah penari itu. ―Ha, ha, ha! Kau memang hebat Pangeran Keempat, bagaimana jikalau gadis ini kita jadikan Kartu As malam ini!‖ kata Salah satu dari Setan Neraka. teriakan riuh rendah dari hadirin bergemuruh.

―Nah, bagaimana denganmu nona cantik...‖ yang satunya lagi berkata pada gadis penari itu. sunyi senyap diruangan itu, mendadak musik berhenti serempak juga para penari diam sebentar mengambil nafas. maka dari itu dapat ditarik kesimpulan bahwa semua orang memperhatikan jawaban ini.

Dengan gaya yang memikat hati, gadis penari itu menundukkan wajah kemalu-maluan, kemudian ia memperdengarkan suaranya yang merdu.

―Baiklah...tuan-tuanku yang terhormat, namun kali ini izinkanlah aku untuk menari menghibur kalian.‖

―Bagus, bagus! Benar-benar ide yang bagus!‖ Ketiga Setan Neraka berseru gembira sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu dan mengelusnya.

―Baiklah Nona lekas menari. Aku tak sabar lagi untuk segera menikmati tarianmu yang indah!‖ Ucapan ini mendapat sambutan sebagai pernyataan setuju dari sebagian besar para tamu yang hadir di situ.

―Mau lekas menari atau mau yang itu..!‖ gadis itu cekikikan . lalu berdiri tegak, dan memulai tariannya, tarian itu begitu indah menggiurkan entah tariannya, atau mungkin juga gerakan tubuhnya yang menggiurkan itu. Tubuhnya bergerak dengan lemah gemulai bagaikan sebatang pohon yang tertiup angin. Sepuluh jari tangannya yang kecil dan halus itu seakan-akan sepuluh ekor ular yang hidup dan bergerak amat indahnya. Pinggangnya yang ramping bergerak melenggang-lenggok mengikuti irama musik. Kerling matanya benar-benar menghipnotis setiap hadirin, apalagi gadis itu dalam keadaan telanjang,

Setelah menari beberapa lama, gadis itu lalu memperliar tariannya, sehingga beberapa bagian penting dalam tubuhnya semakin sering terkuak. Makin terpesonalah semua hadirin menyaksikan tarian itu, karena benar-benar amat indahnya.

Pada saat semua orang bergembira karena melihat betapa indahnya tarian gadis itu, mendadak ,

Terdengar bentakan nyaring menggelegar mengagetkan setiap hadirin., tahu-tahu di tengah ruangan itu telah berdiri seorang pemuda dengan sikap gagah.

―Aku Datang !‖ demikian Pemuda itu membentak.

Tentu saja semua orang terkejut sekali mendengar bentakan ini dan semua mata memandang ke arah gadis yang baru datang ini. Dia adalah Seorang Pemuda tampan berbaju hijau transparan dan jubah panahan hijaunya mengikatkan sebuah pedang bermata delapan dipunggung. mata tajamnya mencorong tajam laksana rajawali, ia berdiri dengan tubuh tegak dan dadanya membusung ke depan seperti orang yang menantang, kedua kakinya dipentang sedikit ke kanan kiri, Para penari yang tadi kini telah serabutan melarikan diri kebilik ruangan, hanya gadis yang tadi dijadikan kartu as saja yang tampak berdiri melenggong dihadapan pemuda itu.

Sementara para hadirin lainnya mundur kebelakang sebanb mereka sudah mengenal kehebatan pemuda yang menyatroni tempat itu, para Pelindung dari ketua Nawa Awatara yang tadi bersenang-senang mundur hingga mengelilingi ketuanya.

―Enyah Kau ‖ Pemuda yang tak lain adalah Aram itu

membentak gemetar sebab ia mengenali gadis itu sebagai anak buahnya. Tanjung Putri itulah Nama Gadis itu.

―Selamat datang dikediaman kami Aram Widiawan, aku pikir kau telah mati dalam penyerbuan itu ada apakah gerangan

sehingga seorang pendekar sepertimu mengunjungi kediaman kami yang buruk ini‖

Sambut seorang pemuda berusia sekitar duapuluh sembilan tahunan, wajahnya cakap dengan tahi lalat di atas alis sebelah kiri, hidungnya mancung, bibirnya tipis seperti perempuan. rambutnya sebatas pundak memakai baju merah darah, didada kirinya terdapat rajahan piramida berantai dengan bertulisan angka sembilan sedang duduk dengan ditemani empat orang perempuan berbeda rupa itu.

Aram tersenyum pahit, senyuman yang begitu gemas dan sedih sebab dilihatnya kenanga dan Nyi Mawar juga sedang main Api dengan Pemuda itu, ―Aku hanya menagih nyawa anak buahku‖ begitu sinis dan singkat ucapan itu. Ketua Perkumpulan Nawa Awatara alias Maharaja Sembilan Dewa itu manggut manggut dan maju kehadapan Aram hingga keduanya bertatapan tegang.

Suasana yang tadi begitu gembira dalam waktu hitungan detik berubah menjadi tegang. tempat itu begitu sepi seakan badai yang sedang mempersiapkan senjatanya dan akan meledak setiap saat.

―Ketua, biarlah kami yang memberinya pelajaran..‖ seru salah seorang dari pengawalnya. Tampaklah tiga orang pengawal yang tadi diam dibelakang, dengan senjata terhunus dan wajah menampilkan sikap menghina selangkah demi selangkah mendekati Aram.

Aram menjengek dingin menyaksikan kedatangan ketiga pengawal itu, lalu ia menegur dengan nada dingin

"Kalian belum setimpal untuk bertarung melawanku"

"Bangsat Kubunuh dirimu" bentakan gusar tiba-tiba menggelegar diangkasa. Tiga pengawal itu membentak keras dan segera menerjang maju kedepan, bayangan pedang memburu dengan kecepatan yang luar biasa ketiga batang senjata tajam itu menerjang ketiga bagian penting Aram, Pengawal Pertama menyabetkan pedangnya kearah leher, pengawal ke dua kearah lutut dan arahnya berlawanan dengan serangan pengawal pertama, sementara pengawal satunya lagi menyabetkannya dari bawah keatas. serangan itu benar-benar keji dan mematikan.

Aram mengambil nafas dalam, tubuhnya sama sekali tidak berkutik dari tempat semula hanya meliuk-liuk mengikuti arah serangan sehingga serangan itu tak ada satupun yang mengenainya, itulah yang dinamakan dengan jurus Rubah melengang lenggok. Serangan yang dilancarkan ketiga pengawal itu benar-benar cepat dan sepenuh tenaga, akibatnya mereka tidak bisa menghentikan laju serangan dan terjadilah.

―Tranggg,,,‖ tiga buah senjata itu beradu sehingga pemiliknya merasakan tangannya dan bergetar.

Tiba-tiba... laksana kilat aram mengangkat telapak kanannya dan mengirim satu pukulan kedepan, Tiada desiran angin tajam yang menggidikkan hati, tiada deruan angin pukulan yang menderu- deru udara tetap tenang dan sunyi. Tapi pada saat itulah ditengah angkasa berkumandang tiga kali jeritan melengking yang menyayatkan hati, ketiga pengawal itu mencelat sejauh dua tombak dari tempat semula dan terkapar didekat dinding ruangan itu dalam keadaan tak bernyawa lagi.

"Oooh " hampir semua orang yang hadir dalam ruangan itu

menjadi kaget, mereka tak menyangka dalam satu gerakan tangan yang sederhana dari pemuda itu, dapat mengantarkan tiga Pengawal Maharaja Sembilan Dewa. padahal mereka tahu sendiri kekuatan mereka seperti apa. Aram sama sekali tidak memandang tiga sosok mayat yang terkapar dalam keadaan mengerikan itu, dengan dingin ia berkata.

"Jangan lagi mengorbankan Anak buahmu Maharaja."

Dengan wajah menyeringai bengis dan tertawa seram yang memekakkan telinga, selangkah demi selangkah Maharaja Sembilan Dewa masuk kembali kegelanggang pertarungan.

Tanpa sadar para jago jago Nawa Awatara semua mundur ke belakang, sorot mata Maharaja Sembilan Dewa menatap wajah Aram tanpa berkedip. kian lama jarak di antara mereka kian mendekat.

―Took.. took... took...‖ langkah kaki yang berat seakan-akan gada yang menghantam jantung setiapjago dalam ruangan itu.

"kau memang pantas menjadi lawan utamaku Aram namun

belum cukup untuk dapat membunuhku "

"Haa haa haa.. dapat atau tidak itu urusan belakangan, sebaiknya kita urus saja yang ada dihadapan kita "

Sambil mengobrol selangkah demi selangkah Maharaja Sembilan Dewa lanjutkan tindakannya mendekati Aram. jika seandainya Aram hanya bernyalikan tikus mungkin ia bakal terkencing-kencing melarikan diri. namun Aram tetaplah Aram. seperti Anjing kepepet lompat ketembok, kucing terdesak naik kepohon, setelah tiba dan menantang bertarung tak ada dalam kamusnya untuk mundur tanpa bertarung, kalah menang sudah biasa, hakikatnya ia sudah siap menghadapi segala resikonya. dalam keadaan terdesak apapun dan siapapun manusia akan menunjukan segala potensinya, dan itulah yang dimanfaatkan Aram, membiarkan dirinya kepepet dengan datang sendirian. lalu memanfaatkan tenaga naluri alamiah yang bangkit sebagai senjata utama, jika bukan Aram siapakah yang akan bertindak sedemikian rupa gilanya.

Maharaja Sembilan Dewa memasang kuda-kuda, telapak yang semula lurus kebawah perlahan-lahan diangkat keatas, serunya ketus.

"Sekarang bersiaplah, aku akan menyerang" "Aku sudah siap sedari tadi.. "

―Hiaaa‘. Hiaaa‖ bentakan keras berkumandang diruangan itu,

Ditengah bentakan keras mereka saling menerjang kemuka secara berbareng, cahaya pedang dan bayangan pedang memancar keempat penjuru kedua serangan itu ganas, cepat dan luar biasa sekali, deruan angin pukulan menderu-deru dan nampak menyeramkan sekali.

Ditengah ketegangan yang memuncak dan menyelimuti seluruh ruangan, Maharaja Sembilan Dewa segera mempergencar serangannya, tubuh yang kekar menerjang kemuka dengan cepatnya, bagaikan setan gentayangan dia menyerang Aram,

Serentetan dentingan pedang yang mendebarkan hati segera berkumandang dari ruangan tengah, Waktu itu napsu membunuh telah menyelimuti seluruh benak kedua ketua dua perkumpulan itu, sambil mendengus dingin Maharaja Sembilan Dewa putar badan dan melancarkan serangan dahsyat.

Serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata memancar ketengah udara, Aram terkejut, segera ia melintangkan pedangnya dan

Suara Teriakan kebahagiaan dari Anggota Nawa Awaytara bersahut-sahutan, ―hidup Maharaja Sembilan Dewa,... hidup Maharaja Sembilan Dewa‖

―Ketua Maharaja Sembilan Dewa, apakah dia harus kita bunuh?‖ Salah seorang pengawalnya yang ternyata adalah Permaisuri ke dua geram, sebab kekasihnya mati dibunuh pemuda kita.

―Hahaha   terlalu enak baginya bila ia harus mati dengan cepat,

lekas bawa dia ke penjara neraka, ikat tulang pundaknya dengan rantai. ‖ Perintah Maharaja Sembilan Dewa.

Permaisuri itu tak membantah, segera ia menggusur tubuh Aram kesebuah ruangan lain disisi ruangan itu, kemudian Permaisuri itu menekan salah satu tombol dari batu sehingga lantainya membuka. setelah terbuka segera Permaisuri kedua, memabawanya kesebuah ruangan yang lembab, bau busuk dan bau amis. setelah itu ia segera disandarkan disebuah dinding yang ada rantainya, sebentar saja Permaisuri Kedua menyelesaikan tugasnya dan kembali keruangan atas. Tak selang begitu lama, ketika Aram siuman didalam penjara, ia merasa kepalanya sangat berat, ia tidak tahu dimana dirinya berada saat itu dan sudah lewat berapa lamanya. Pelahan-lahan ia merasakan kesakitan pada punggung, paha dan bokong. Ia ingin membalik tubuh supaya tempat yang kesakitan itu tidak tertindih dibawah, tapi mendadak pundaknya juga kesakitan luar biasa, juga ia mendengar suara gemerincingnya benturan besi, waktu ia menunduk, ia lihat ada dua utas rantai menjulur turun dari pundaknya sendiri. Karuan ia kaget namun bibirnya malah tersenyum manis seakan memenangkan sebuah pertempuran, mengapakah demikian.

"Hehe, otot tulangmu telah dirusak orang, kepandaianmu telah punah semua, he-he, tapi kau malah tersenyum gembira, aneh sungguh aneh!" tiba-tiba suara seorang berkata dengan dingin dipojok kamar penjara itu.

Waktu ia berpaling, ia lihat diujung sana ada lima pasang mata menatapnya dengan sayu. Ia tidak terkejut. malah tersenyum lembut.

―apakah yang berhadapan dengan saya adalah Ketua Lima Perguruan Putih?‖ Aram bertanya.

Keempat orang itu wajahnya penuh berewok, hanya satu yang tidak ternyata ia adalah seorang perempuan. rambutnya panjang terurai sampai diatas pundak, bajunya compang-camping tak keruan hingga lebih mirip orang hutan. Ada juga persamaannya dengan dirinya, yaitu kaki-tangan orang itupun diborgol, bahkan tulang pundaknya juga ditembusi dua utas rantai. "Hm, benar.. siapakah kau anak muda... maafkan mata kami yang tak bisa melihat wajahmu lagi semua ilmu kami sudah musnah?" keluh salah satu dari mereka.

―Jangan Khawatirkan itu, lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini. ‖ Aram berkata.

―haha bagaimana caranya, sementara dirimu juga tak begitu

jauh kondisinya dengan kami.‖

Aram tak menggubris, tangan kanannya segera melepaskan borgol rantai dikedua tangannya, dengan sekali sentakan rantai dari besi itu hancur berantakan, kemudian Aram segera mencabut kedua utas tali rantai di pundaknya dan berdiri.

Tentu saja ketua Lima Perguruan Golongan Putih terkejut luar biasa, bagaimana mungkin seseorang yang dihancurkan tulang pundaknya dapat melakukan itu.

Ternyata ketika bertarung, sewaktu ia melentik dan tangannya masuk kedalam saku ia mengambil dua butir pil, pil itu ia telan ketika ia melentik tanpa diketahui oleh Maharaja Sembilan Dewa. pil itu dapat menawarkan serangan Racun dari Telapak Darah Merah. juga dapat meringankan detak jantung layaknya seorang kercunan, jadi tidak salah jika Maharaja Sembilan Dewapun terkecoh.

Tubuh Aram bukanlah seperti layaknya orang Normal, ketika tubuhnya digusur sebenarnya ia sudah siuman, namun ia mematikan segenap rasanya sehingga ia tak merasakan apa- apa ketika ia jatuh bangun sewaktu digusur oleh Permaisuri Kedua,.

Ketika bagian Pundaknya akan di tusuk dan dihancurkan Aram merubah tulangnya kedalam bentuk halus, jadi meski ditusuk hanya luarnya saja yang kena. lalu mengapakah ia bersusah payah melakukan itu? ternyata ia memang bertujuan melepaskan tahanan, hanya cara yang ia pakai melebihi batas kewajaran, membiarkan diri terjebak dan dijadikan sandera itu adalah sebuah hal yang sangat lucu dan gila tapi dialah Aram sang pemuda kita.

Aram segera melepaskan rantai, dan ikatan ikatan lainnya ditubuh para ketua lima perguruan itu,

―Tunggu disini, tenangkan pikiran kalian aku akan membawa dua orang lainnya..‖ Aram memerintah, tanpa membantah kelima orang itu segera melaksanakan perintah itu.

Aram segera berjalan kesebuah sisi ruangan lain di tempat itu, disepanjang perjalanannya itu, sisa sisa daging dan tengkorak tampak berserakan. namun Aram sama sekali tak peduli, dengan menajamkan pendengaran dan penciumannya akhirnya ia menemukan sebuah titik yang ia cari,

Ruangan itu cukup terang dengan sebuah penerangan dari obor, dua sosok tubuh manusia berlainan jenis tampak sedang tergolek lemah berbaring dilantai yang dingin, tanpa berkata

Apa-apa Aram segera membuka ikatan tubuh mereka, tak ada kata yang terucap dari dua sosok itu, sepertinya mereka sedang berada dalam titik dibawah kesadaran, tubuh mereka berlumuran darah yang sudah mengering, bajunya compang campuing dan tubuh yang tinggal pembungkus tulang.

Sekali angkat saja, Aram dapat mengangkat dua tubuh itu tanpa ada halangan yang berarti, setelah menimbang ia memilih untuk kembali keruangan tadi. singkat cerita akhirnya Aram dapat kembali keruangan tadi dengan sambutan gembira dari kelima orang ketua lima perguruan golongan putih.

―Siapakah yang berada dipundakmu Anak muda...?‖ tanya salah satu dari mereka yang perempuan. dia tak lain adalah Nyi Sawitri dari perguruan teratai putih adanya.

―Kijalak dan Nyi Renjani. ‖ Aram menyahut singkat. segera ia

meletakan kedua tubuh itu didepan Ki Ardam yang membuat kelima orang itu terkejut, diantara mereka siapakah yang tak mengenal dua sosok datuk persilatan itu, mereka tak menyangka bahwa dua datuk itupun ikut terjerumus kedalam penjara neraka itu..

Lalu ia mulai berkosentrasi dengan alam pikirannya lagi. Terlihat Aram bersujud kepada bumi, setelah bangkit tangannya diangkat kelangit seperti menahan benda jatuh, kedua tangannya ditarik kesamping membentuk ligkaran dan bertemu lagi didada seperti saat menyembah. dengan disertai teriakan nyaring tangannya didorongan kemuka.

―Wahai bumi, wahai langit pinjamkanlah nafas kalian padaku Hiaaattt‖ ―WERRR,. ‖

Dari dinding kokoh penjara itu muncul sebuah lingkaran sihir berwarna toska. Kelima ketua perguruan putih lagi-lagi dibuat terkejut dengan ilmu yang dimiliki pemuda yang ada disampingnya itu,

―mari masuk,. ― Aram segera memapah satu persatu kelima

orang itu dapat berdiri meski dengan sempoyongan tak lupa ia

juga segera memanggul tubuh Ki Jalak dan Nyi Renjani keatas pundaknya.

Dengan beriringan, akhirnya mereka masuk kedalam lingkaran itu, hingga mereka kembali kemarkas Bendera Awan Langit.

Setelah tiba disana, ternyata mereka disambut oleh para anak buahnya yang rupanya sedang berkumpul panik mencari ketuanya yang hilang tanpa permisi...

―Akh Ada kejadian apakah sehingga wajah kalian terlihat panik

begitu?.. ucap Aram memecah keheningan..

―Gerrr. Anak Sial, kalau pergi pamit dulu. jangan keluyuran

tanpa ada seorangpun yang tahu, kau membuat kami jantungan saja. kau pergi kemana sih?‖ Sebuah suara mengguntur

memarahi dirinya, dialah Sipemabuk dari Selatan adanya.

―Aku gak kemana-mana kok, hanya menengok markas Nawa Awatara sebentar, bersalaman dengan Maharaja Sembilan Dewa main-main kepenjaranya dan pulangnya membawa oleh- oleh... nih oleh-olehnya..! ‖ Aram menunjuklan Nyi Renjani dan Ki Jalak beserta para Ketua Lima Perguruan.

―Melati, Hong moay, tolong siapkan dua buah pembaringan untuk dua orang ini, juga ruangan istirahat untuk Tamuku, Lima ketua Perguruan golongan putih..‖ timpal Aram sambil lalu dan melesat masuk kedalam bangunan rumah membuat para anak buahnya menangis tidak ketawa juga tidak hingga wajah mereka terlihat begitu lucu.

Nyi Permata Dewi, dan Sipemabuk dari Selatan dan beberapa sahabat dekatnya menghela napas panjang, bukan hanya satu kali mereka melihat dan menyaksikan Aram bersikap seperti itu,...

Mereka juga paham dengan ucapan Aram, menengok berarti menyantroni, Bersalaman berarti bertarung, bermain-main berarti dijebloskan, dan pulang berarti kabur sedangkan membawa oleh-oleh berarti melepskan tahanan lainnya.

―Kakang, siapakah Kedua orang ini?‖ Melati bertanya.

―Nyi Renjani dan Ki Jalak..‖

―Aaakkkhhh‖ Melati terpekik dan menutup wajahnya.. beberapa tetes air matanya bercucuran dipipi menambah kecantikannya.

―Sudahlah, nanti malam ia akan siuman lagi, tolong kau panggil nenek kemari..‖ Aram memerintah lagi.

―Heem..‖ melati membalikan meninggalkan Aram yang sedang sibuk mengurut tubuh Nyi Renjani. butiran keringat tampak berjatuhan dikeningnya, bau tumbuhan obat menyeruak disekeliling tempat itu, tak lama kemudian munculah Nyi Permata Dewi bersama Melati ketempat itu.

―Akh Kau sudah datang Nek, maukah nenek menolongku?‖

Aram berkata.

Nyi Permata Dewi melenggong sepertinya ia sedang syok dengan keadaan waktu itu, meski ia sudah diberitahu melati bahwa orang yang tadi dipanggul Aram itu adalah sahabatnya namun tadi tak sebersitpun akan sangkaan itu,

―Apa yang harus kulakukan ‖ Nyi Permata Dewi berkata

gamang.

―Urut dada Keduanya satu kali selama rentan waktu sejam dengan menggunakan tenaga dalam‖ Aram berkata tenang sambil merangkul pinggang melati dan beranjak meninggalkan tempat itu.

Ketika mereka melewati lorong menuju tempat dimana kelima ketua perguruan, Seseorang mata menatap keduanya dengan mata sedih dan cemburu, namun sepasang mata lain juga melihat sosok mata yang sedang cemburu itu, lalu siapakah keduanya?.

―Emmmm..‖. Aram menggumam,. sepertinya ia juga dapat

merasakn aura itu, namun ia tetap memajukan langkah kakinya, hingga mereka sampai diruangan yang dituju itu.

―Selamat Pagi semuanya ‖ Aram menyapa mereka. Mereka itu adalah seorang Lelaki Paruh baya berusia enam puluh lima tahunan dengan baju serba kuning keemasan yang sudah compang camping. atau yang biasa dipanggil dengan Bintang Endrayana pewaris ketua generasi ke-124 Rajawali emas. yang kedua adalah Seorang Kakek berusia Tujuh Puluh lima tahunan dengan wajah ramah berbaju Ungu yang sudah compang-camping pula kakek itu adalah Ki Ardam adanya. yang ketiga adalah seorang wanita setengah baya dengan baju kebaya kuning yang sudah bolong sana bolong sisi,yang tak lain adalah Nyi Sawitri dari Perguruan teratai putih. yang keempat adalah Seorang lelaki berusia tigapuluh tahunan berpenampilan simple, hanya baju putih yang sudah kusam dengan kotoran dan darah dengan gambar kepala harimau ditembus dua golok yang menyilang, dia adalah Ki Bedu, yang terakhir adalah Ki Madya Dari Perguruan bintang kemukus.

―Selamat pagi jua, Terimakasih engkau sudah menolong kami Pendekar Seribu Diri,‖ Bintang Endrayana yang sudah dapat mengenali pemuda itu.

―Tak usah sungkan, Istirahatlah... Baringkan tubuh kalian, supaya kalian lekas mengembailikan tenaga dalam masing- masing.‖ Aram menasihati sambil tersenyum.

Ia segera memeriksa mereka satu persatu, dia bergumam dengan tenang disamping mereka.

―Ki Bedu, kau ganas dan berangasan... berani namun ceroboh, bila kau marah maka tak peduli kawan maupun lawan kau babat habis mirip sifat Api...,‖ Merah wajah Ki bedu Si Golok Harimau api. Aram segera melanjutkan ucapannya.

―Bintang Endrayana,... kau tidak memiliki pegangan yang kuat, kadang ini kadang itu tergantung keadaan sifatmu terlalu

angin-anginan., lebih identik ke sifat angin.Ki Ardam, tenang namun keras, membiarkan apa yang terjadi seperti air yang mengalir, lebih tepat keair yang dalam. Nyi Sawitri, Lembut namun tangkas, lebih tepat kekapas dan Ki madya teguh dan mantap, kau pantas memiliki sifat tanah. yasudah, malam ini kalian harus belajar memahami kawan kalian, sebab aku akan membentuk barisan kalian berlima.‖ Aram berkata sambil meninggalkan mereka yang melenggong dengan menggandeng melati kesebuah ruangan Pribadi Milik Aram, ‗