Pendekar seribu diri Jilid 10

Jilid 10

Seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh delapan tahunan, terhenyak, namun segera ditenangkan oleh seorang wanita paruh baya yang masih tampak kecantikannya.

―Tenanglah suamiku, benar apa yang dikatakan pemuda itu, katakan apa yang ingin kau katakan‖ bisiknya lembut.

―Silahkan yang mulia, ‖ Aram mempersilhkan kembali. Adipati Rajalela tersenyum ramah, dengan perlahan ia maju kedepan Aram dan bersoja. Aram tersipu, dengan senyuman dibibir ia bangunkan Adipati itu dan tersenyum.

―Tak usah banyak adat yang mulia, aku bukanlah seorang yang berdarah biru‖ ucapnya lagi.

―Baiklah, ketua dan segenap anggota Bendera awan langit, Aku Pribadi mengucapkan terimakasih sekaligus minta maaf atas segala ulahku, dan aku sebagai Adipati/raja mengucapkan mohon maaf atas keteledoran dan kelemahanku dalam memimpin negara sehingga harus terkena siasat untuk menghancurkan Organisasi yang belakang ini ku ketahui sebagai tonggak dari Dunia ini.

Aku Aku tak menyangka bahwa aku aku masih diterima

dengan tangan terbuka, sekaligus diselamatkan dari kematian oleh organisasi perkumpulan yang teah aku..aku hancurkan‖ Adipati Rajalela berkata terisak-isak, ia menangis dengan sedihnya sehingga ditempat itu diselimuti rasa duka.

―Ada yang ingin kau sampaikan lagi yang mulia,?‖

―Ada, aku ingin ikut bergabung dengan Organisasi ini, aku ingin menebus kesalahanku terhadap Organisasi ini juga masyarakatku., aku..aku ingin melindungi semuanya, ketua....

Jadikan aku anggotamu‖ Adipati rajalela bersujud dikaki Aram, namun tak kesampaian sebab Aram telah berada dibelakang tubuh Adipati Rajalela. ―Hem, yang mulia, mintalah kepada Anggotaku, bukan kepadaku sebab keputusan paling mutlak berada pada

mereka‖ Bisik Aram lembut.

Adipati Rajalela bangkit dan segera bersujud dihadapan sekalian hadirin, ia berkata dengan semangat dan tangisan air mata.

―Mohon terimalah aku menjadi sesama Anggota bersama kalian.‖

Para Hadirin tercengang, bagaimanapun Adipati Rajalela adalah seorang Raja yang dihormati, kini Ia bersujud dihadapan mereka, bukankan dunia sudah terbalik?‖

Tiba-tiba dua sosok perempuan ikut juga bersujud disamping Adipati Rajalela, dan meminta menjadi Anggota, mereka adalah Istri Adipati dengan Putrinya, sebenarnya Putri Adipati yang bernama Laraspati adalah seorang gadis yang manja, namun setelah kejadian pembantaian keluarganya ia berubah tigaratus enam puluh derajat menjadi seorang gadis pendiam dan penurut.

―Hahaha Bila Adipati yang mulia saja berani mengambil resiko

mengapa aku tidak‖ seorang lelaki paruh baya berpenampilan perlente ikut bersujud.

Dia bernama Brajangpati seorang hartawan dari Kotapraja Padjampangan. ia merupakan Ayah dari Rehan, atau Pendamping dari Ketua Aram Widiawan. Para hadirin saling pandang, seakan dikomando mereka segera anggukan kepala, sebagai tanda bahwa mereka telah menyetujui permintaan itu.

―Maafkan saya ketua, saya mewakili yang lainnya menyatakn setuju dengan permintaan mereka.‖ yang berbicara itu adalah seorang perempuan muda yang bernama Kenanga di luar dia berperan sebagai salah satu ketua sepuluh perguruan, sementara di dalam dia menjadi seorang Komandan Bendera.

Aram, angguk-anggukan kepala, ―Ada yang keberatan?‖ ucapnya tenang.

Semuanya diam tak ada menjawab. ―Baiklah, jika tak ada keberatan silahkan Ki Brahma mengurus sisanya.‖

―Siap ketua... ― Ki brahma segera membangunkan mereka dan kembali duduk bersama di lingkaran itu.

―Baik. ganjalan telah hilang sekarang kita langsung ke inti, para sahabatku sekalian, ketahuilah bahwa tempat ini merupakan pulau keluargaku turun temurun, pada hari ini aku membawa kalian kemari mengingat bahwa kalian adalah sahabatku yang utama. di bawah sana terdapat ribuan kitab yang telah dikumpulkan oleh buyutku sampai generasiku, dari mulai Kyai Avatara Batara Yuda, Pangeran Empat Dewa dan yang lainnya terakhir nenekku yang kalian kenal sebagai Dewi Pemanah asmara, Ayah ku ‗pendekar pedang pelintang jagat pembelah sagara‘ dan ibuku ‗si pengumpul ilmu tunggal jagat‘.‖ Para golongan muda mengangguk-angguk, mereka cukup terkejut sebab nama-nama terakhir yang disebutkan adalah nama-nama dedengkot kaum persilatan, sementara golongan tua bergetar mendengar nama Pangeran Empat Dewa, mau tak mau mereka diingatkan kejadian beberapa abad kebelakang, mereka tak menyangka bahwa salah satu keturunannya berada dihadapan mereka. kini mereka sadar bahwa ketua mereka bukan hanya memiliki kecerdasan dan kedigdayaan yang luar biasa. namun juga memiliki riwayat yang sama luar biasanya.

Aram terdiam cukup lama membiarkan Anggotanya mencerna ucapannya. setelah dirasa cukup kembali ia melanjutkan.

―Sahabatku sekalian, musuh kita sebenarnya adalah keturunan dari biang keladi kejadian beberapa abad kebelakang, sezaman dengan Pangeran Empat Dewa. maka dari itu aku memohon kerjasamanya dari kalian, Apa kalian siap menggoyangkan Jagad...!‖ Aram berteriak lantang diakhir kalimat.

―Heaaaaaaa‖ teriakan serempak menggelora dari mereka mengguncang bukit itu.

―ahahahaha‖ Suara tertawa gembira bak tawon liar menggaung- gaung ditempat itu.

―Cukup...!‖ suatu bentakan laksana komandan perang mengkomando prajuritnya. bentakan itu sangat berpengaruh, terbuti dengan berhentinya suara secara berbareng. itu menunjukan bahwa Organisasi Bendera Awan langit merupakan Organisasi yang berdisiplin tinggi. ―Adakah diantara kalian mengetahui sebuah tempat yang tidak mungkin dimasuki seorang manusia?‖

Semuanya diam, merenung ―Bretttt‖ sekitar lima orang mengacungkan tangan.

―Slahkan..‖

―Jurang Halayuda, sepuluh mil dari desa Wonolinggo‖

―Lembah Nirwana, seratus mil dari desa kartikawangi‖

―Padang Dewa Arwah, tujuh mil dari desa mangu‖

―Bukit dasar bumi, empat mil dari hutan kematian‖

Aram masih merenung, sepertinya semua itu masih belum masuk kedalam daftarnya lama ia tertegun setelah sadar ia tertegun ternyata masih ada seorang lagi yang belum mengatakan.

―Akh, maafkan aku silahkan Kisanak..‖

―Tebing Langit di..‖

―Cukup, aku tahu tempat itu ‖ Aram berseri-seri, wajahnya

begitu ceria membuat orang-orang disampingnya ikut merasakan kebahagiaan, mungkin itulah yang disebut dengan suka ditanggung bersama, duka dipikul bersama jua. ―Kita jadikan tempat itu sebagai jembatan dari tempat ini ke- dunia luar sana. kakang sobar, kakang guntur aku berikan mandat untuk membangun dan mendesain tempat disini, sementara Rehan dan aku meminta dua puluh orang untuk ikut bersamaku.‖

Tak perlu diperintah dua kali, segera semuanya membagikan diri, disamping Aram terdapat Rehan juga dua puluh anggota biasa.

―Kita berangkat sekarang...‖ seperti hal yang dilakukannya sebelumnya Arambersujud kepada bumi, setelah bangkit tangannya diangkat kelangit seperti menahan benda jatuh, kedua tangannya ditarik kesamping membentuk ligkaran dan bertemu lagi didada seperti saat menyembah. dengan disertai teriakan nyaring tangannya didorongan kemuka.

―Wahai bumi, wahai langit pinjamkanlah nafas kalian padaku...Hiaaattt‖

Diiringi bergetarnya bumi dan menyalaknya petir, diantara kedua batu itu muncul lingkaran sihir yang berwarna Toska.

Segera saja ke dua puluh dua orang itu masuk kedalam lingkaran, sampai mereka tiba disebuah puncak karang seluas duapuluh tombak persegi. ketinggian karang itu sekitar enam- tujuh puluh tombak dari atas tanah.

―Kalian bangunlah bangunan disamping lingkaran itu menggunakan bambu yang ada di lamping tebing, sementara aku akan memanipulasi lingkaran sihir itu.‖ aram memerintah. Perlu diingat kembali bahwasanya Aram merupakan manusia setengah gaib setengah hewan, meski prilaku buruknya hilang. namun tubuhny masih berdarah itu.

Aram segera memusatkan perhatiannya, tangannya di tempelkan ditanah, ia berkomat-kamit sebentar dan berteriak lantang, ―Tumbuhlah...!‖

―Dretttt.....‖ Jer..‘‘ jreng Hoeeekkk..‖ tiba-tiba dari dalam batu

cadas yang bertanah sekitar sejengkal itu muncul sebuah pohon besar luar biasa, pohon itu tidak berdaun, hanya berupa ranting- ranting besar saja. itulah kejadian yang luar biasa, keduapuluh Anggota Aram berikut rehan terhenyak melihat kedigdayaan ketuanya saat ini. keduapuluh itu melongo sampai melupakan pekerjaannya. namun semuanya dikejutkan dengan suara ketuanya yang muntah darah.

―Ketua ‖ Rehan cemas.

―Aku tak apa-apa ‖

―Ketua itu jurus Apa? maafkan aku tak mampu menahan penasaran dihati‖

―Itu adalah jurus hasil dari penggabungan ilmu ninja dengan Ilmu dari alam Jin, maaf aku tak bisa menerangkan secara detail‖ Aram menerangkan.

―Ayo kerja....‖ Aram mengajak sambil membungkuk... ―Brettt,, ‖ sebuah sayap mengembang dari punggungnya

membuat Rehan dan yang lainnya melotot seakan mimpi, Kini mereka melihat ketuanya seakan makhluk indah yang tak diketahui namanya. mereka juga melihat keganjilan lain yakni rambut yang berwarna perak juga ekor serigala yang berada dibagian pantatnya.

―Aku akan membuat tangga ‖ kalian selesaikan pekerjaan

kalian,. tanpa berkata-kata apalagi Aram segera terjun kebawah dan membuat tangga dari tonjolan tonjolan batu. Semilir angin berhembus lembut menyapa rambut yang menari, tebing langit masih menjulang tinggi matahari perlahan pergi

kesinggasanya menuju esok datang.....

Apa yang akan dilakukan Aram selanjutnya dan bagaimanakah nasib mantan Ksatria Satwa?

Pagi hari dimana matahari belum sepenuhnya menduduki singgasananya, beberapa orang tampak berkerumun di sebuah lereng bukit Pangkalan,

‖Apa kesimpulanmu Jaris?‖ tanya seorang lelaki setengah baya dengan pakaian mewah, dipunggung bajunya terdapat gamabar Piramida dengan sembilan rantai.

Lelaki yang diajak bicaranya diam sesaat, dia merenung seakan memikirkan sesuatu.

‖Menurutmu apa Haris?‖ lelaki itu balik bertanya pada orang yang memiliki wajah sama dengannya, bukan hanya wajah, perawakan maupun bajunya sama, hanya jenggot nya saja yang bisa membedakan mereka, satu putih dan satu hitam.

―Aku tak tahu mungkin ia menantang kita aku tak mengerti

dengan kata sandi yang ada disana!‖ ujarnya dengan lesu seraya menunjuk sebuah dinding cadas lereng bukit pangkalan.

Ternyata didinding cadas itu tertulis sebuah tulisan AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL

DATANGLAH DARAH. disamping tulisan itu terdapat sebuah gambar langit dengan tebing menjulang.

Yang lebih hebatnya lagi, tulisan itu bukan ditulis dengan pena, melainkan dengan tangan, terbukti dengan gambar telapak tangan yang tertera diakhir kalimat, tulisan itu dalamnya sekitar satu jengkal tangan orang dewasa, membuktikan bahwa penulisnya memiliki tenaga dalam yang bukan olah-olah.

Selain itu, tulisan itu tertera diatas sebuah dinding cadas setinggi sepuluh tombak. jadi orang yang tak memiliki ilmu peringan tubuh yang tinggi, mustahil bisa melakukan itu.

‖Apa kau akan melaporkannya kepada pangeran?.‖ Tanya lelaki yang dipanggil Jaris.

‖entahlah, itu urusan yang diatas bagaimana denganmu?‖ jawab temannya.

―Emch, Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu Jaris‖

‖Mengapa?‖ jaris terheran-heran. ‖Sebab Pangeran sudah mengetahuinya, kau tahu tulisan itu sudah beredar ke seluruh penjuru negri‖

‖Emch, lalu mengapa disini hanya ada sekitar beberapa gelintir manusia yang menonton?‖

‖sebab, tulisan itu tidak ada disini saja, melainkan muncul serentak di seratus desa di nusantara, bahkan tulisan itu sampai juga di negara tetangga.‖ katanya sambil memasukan rumput kedalam mulutnya.

―Sebaiknya kita kembali ke markas cabang, mungkin bakalan ada tamu tidak diundang.‖

lelaki itu lalu beranjak meninggalkan kerumunan, bersama temannya yang lain,.

―Hem,. rupanya sudah dimulai, ternyata ketua sudah datang

sebelum waktunya..‖ gumam seorang lelaki dengan caping lebar,

Lelaki itu balik badan dan segera meninggalkan kerumunan meninggalkan suasana bising ocehan para orang awam yang lebih tepatnya mirip kumpulan pengemis,.

-0#((aone))#0-

Jauh dipesisir samudera seorang pemuda dengan pakaian compang-camping menatap lautan luas, rambut pemuda itu diikat dengan seikat kain berwarna biru menjadi sebuah kuncir ekor kuda. Didahi pemuda itu seikat kain berwarna coklat mengikat kepalanya dengan sebuah senjata kujang kecil di belakang ikatannya, mata pemuda itu tajam laksana seekor rajawali, wajah pemuda itu tampan meski sedikit kotor.

―Em, sudah seminggu aku mencari perahu, namun belum jua aku menemukan, tak ada cara lain... sebaiknya aku menggunakan napak sancang saja‖ gumam pemuda yang tak lain adalah Aram itu, setelah pergi keberbagai daerah dengan lorong penembus dimensi dan mencurat-coret cadas, membuat keributan dan kegaduhan ia sgera pergi kedaerah pesisir pangandaraan.

Tampak Aram berkomat-kamit sebentar lalu berlari menuju arah lautan lepas, luar biasa pemuda itu berlari diatas air laut seakan itu adalah sebuah daratan saja, itulah kehebatan ilmu yang disebut dengan napak sancang itu.

―Seandainya tenagaku memungkinkan, akan lebih baik bila bahwasanya aku menggunakan Lorong Penembus Dimensi saja, daripada aku berlari seperti ini, selain menguras tenaga juga membutuhkan waktu yang relatif lama‖ gerutunya disela- sera hembusan nafasnya yang sedang berlari.

Aram berlari dengan kecepatan angin, ia terus berlari menuju sebuah tempat dimana matahari terbit, semakin lama semakin cepat, Matahari sudah berada diatas kepala, namun Aram maih terus berlari-, berlari dan terus belari sampai kegelapan datang.

Disebuah pesisir pantai disebuah negri yang paling dikenal sebagai negri dimana matahari terbit, atau dikenal juga sebagai negri bernama Jepun seorang Pemuda dengan baju compang- camping tergeletak lemah disisi pesisir dengan sekali-kali terkena deburan ombak.

Disampingnya seorang gadis dengan pakaian khas dari negri itu duduk memandangnya, sepertinya gadis itu sedang mempertimbangkan perlukah ia menolong pemuda itu.

Lama gadis itu memandang pemuda itu, dengan setengah ragu- ragu gadis itu memondong tubuhnya dengan setengah menyeret menuju sebuah hutan disamping pesisir pantai, ternyata ditengah hutan itu terdapat sebuah pondok mungil yang cukup asri.dan Gadis itu membawa pemuda itu kedalam pondok. dengan hati-hati gadis itu meletakan pemuda itu di sebuah pembaringan dari bambu.

―Tampan juga, Pemuda ini. ‖ Gadis itu memandang Pemuda itu

seraya menyibakan rambut yang menutupi wajah pemuda itu.

Setelah dirasa cukup puas, gadis itu segera beranjak kesisi pembaringan dan menumpukan ranting-ranting pohon di atas sebuah sisa-sisa pembakaran. lalu gadis itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan batu berwarna hitam sebanyak dua buah, didekat tumpukan ranting kayu gadis itu gosokan keras-keras batu yang berada ditangannya.

―Crekkk...crekkk‖ Wusss...

setelah dua kali gosokan, lidah api menyambar kearah ranting kayu. ―Kreeekk..Krekk‖ Terdengar suara berkeratakan. perlahan dari bawah ranting kayu itu muncul setitik api, asap mengepul, tak menunggu lama tumpukan ranting itu berubah menjadi merah. sesaat kemudian api berkobar. setelah padam tumpukan ranting kayu itu telah menjadi bara merah.

Sesaat sebelum gadis itu mengambil ikan yang telah ditusuk rata, gadis itu berpaling memandang pemuda yang tergeletak dipembaringan.

―Sepertinya, sebentar lagi akan siuman ― Ucapnya lirih.

setelah itu, gadis itu kembali sibuk dengan ikan-ikannya.

―Ukhhhh ‖ Pemuda itu menggeliat, sepertinya ia telah siuman.

mata pemuka itu dibuka, ternyata mata pemuda itu tidklah lazim disbut mata manusia, sebab mata itu lebih tepat mirip dengan Mata Rajawali.

Didunia ini tak ada seorangpun lagi yang memiliki mata seperti itu selain Aram, Aram Widiawan alias si Pendekar Seribu Diri. rupanya setelah berhari-hari berlari diatas lautan tenaganya terkuras cukup besar, sehingga ketika ia sampai dipesisir ia segera menjatuhkan diri sampai ia pingsan.

bau harum ikan panggang menyeruak di hidung Aram, dengan sedikit gelengan ringan untuk menghilangkan rasa pusing Aram bangkit duduk, ia cukup terkejut ternyata ia berada disebuah ruangan yang mungil namun asri.

―Konbanwa‖(Selamat Malam) Sebuah suara merdu yang mendayu-dayu mengagetkan Aram, dengan cepat ia berpaling, dilihatnya seorang gadis cantik dengan kimono biru berdiri tak jauh dihadapannya sambil menenteng ikan bakar yang telah matang.

―Daijobu desu ka ?‖ (Kamu baik-baik saja) sapanya lagi. Aram melohok dengan gelagapan ia menjawab.

―Hai,... arigatou‖ (ya, Terimakasih)

―Mau minum Sake?‖ tanya gadis itu lagi menggunakan bahasa Jepang. Aram mengangguk sebab tenggorokannya terasa sakit.

―Ini, minumlah ‖ gadis itu menyodorkan sebuah guci dari tanah

liat. tanpa ditawarkan dua kali Aram segera menyerobot sake itu dengan rakus...

―Glekkk. glekkkk‖ dengan cepat seluruh isi guci itu pindah

keperutnya.

―hihi... kamu lucu sekali,..‖ gadis itu tertawa geli memamerkan giginya yang putih.

―maafkan atas ketidak sopananku nona, apakah kamu yang membawaku kemari?‖

―hai, kamu tergeletak di pesisir pantai, aku menemukanmu ketika aku mencari ikan ini‖ gadis itu mengacungkan panggangan ikan ditangannya sambil berjalan menuju meja bundar dari batu.

―Duduklah, kau pasti lapar..‖ tambahnya. Aram menurut, ia duduk dihadapan gadis cantik dihadapannya dengan sedikit canggung, malam-malam berduaan dengan gadis cantik membangkitkan sesuatu yang lain dalam dirinya.

―Dapatkah aku mengetahui nama indahmu nona..!‖

―hhi, kau pandai merayu namaku sangat sederhana Kyoko

Amami, dan kamu siapa.‖

―Aram, Aram widiawan, nona kemanakan yang lainnya mengapa hanya ada kamu sendiri?‘‘

―Akh, jangan terlalu formal, panggil saja namaku. sudah dua tahun ini, aku tinggal disini, kedua orang tuaku sudah pergi dua tahun yang lalu‖ gadis itu menunduk sedih,

―maafkan aku, kyoko ekh amami aku telah membangkitkan kesedihanmu..‖ Aram gelagapan bingung harus memanggil nama yang mana.

―tidak apa-apa, aku sudah merelakan kepergian mereka. panggil saja aku Kyoko..‖

―Baiklah Kyoko, engg,,,,,‖

―silahkan dimakan ‖ Kyoko menitah, Aram tersipu, ternyata apa

yang dia inginkan dapat tertebak oleh sigadis.

Mereka makan sambil bercakap-cakap tentang diri masing- masing. setelah selesai keduanya melanjutkan bercakap-cakap di sisi pembaringan. ―Hoaammm‖ Kyoko Amami menguap.

―Tidurlah, hari sudah larut malam. ‖

―ekh,‖

―tidak apa-apa, aku akan tidur di sana ‖ ,Aram menunjuk pojok ruangan dimana terdapat tumpukan jerami.

―Oyasumi‖ (selamat tidur)

―mata ashita‖ (sampai bertemu besok) Aram menjawab sambil berjalan menuju pojok ruangan, disana ia segera merebahkan dirinya.

Malam semakin kelam, debur ombak menjadi saksi dimana makhluk-makhluk yang bergerak siang hari terlelap dialam impian

―Ayo Semangat..‖ Teriak seorang gadis cantik berkimono biru mengalahkan deburan ombak dipagi yang cerah ini kepada seorang pemuda tampan berkimono biru jua yang sedang membidik ikan dengan ranting yang ditajamkan...

―yey, berhasilll, ayo tangkap lagi‖ teriaknya lagi...

―Hiat, Slapppp‖ ―Horeee‖ keduanya berteriak kegirangan saat mata ranting menancap ditubuh seekor ikan sebesar paha.

―Sudah cukup, mari kita kepondok‖ Ajak gadis yang tak lain adalah Kyoko Amami itu. Mereka berjalan berdua dengan bergandengan tangan, sekali- kali tawa mereka kerap terdengar sampai mereka tiba dipondok.

―Aku akan membuat api, kau urus ikannya kyoko‖ Aram berkata sambil berjalan mengumpulkan ranting.

―Hai,...‖

Api sudah menyala, ikanpun sudah siap, keduanya pun segera memanggang ikan diatas bara berdampingan.

―Kyoko..‖

―ya, ada apa?‖

―Kau tahu tentang desa Kouraningun?‖

Kyoko tak menjawab, wajahnya berubah dengan sebat ia meloncat dan mencabut sebuah katana dari balik bajunya lalu menempelkan di leher Aram.

―Mau apa engkau dengan desa kami, apakah engkau mata-mata dari Emerarudo?‖ gadis itu membentak dengan tegang, lebih tegangnya lagi melihat lawan yang dihadapinya tak menghiraukan katana yang menempel dilehernya apalagi mata Katana itu telah menggaris kulitnya hingga berdarah, ia malah asyik membolak-balikan ikan yang dipanggangnya.

―Emch, Tenanglah Kyoko... duduklah jangan terbawa emosi‖ Tenang laksana samudera luas saja Sikap Aram. Kyoko mulai bimbang, ia mempertimbangkan lelaki dihadapannya, dalam hatinya ia mengakui bahwa hatinya sudah jatuh kepada pemuda itu. pikirannya berdebat, antara cinta dengan kewajiban. namun sehebat apapun dia, dia tetap seorang gadis, dengan pasrah ia duduk kembali disamping pemuda itu.

―Aku tahu, sejak memandang dirimu pertama kalinya aku tahu kau seorang Kunoichi, jika kau ingin menyamar menjadi seorang awam, saat kau tidur kau harus mengatur nafas sebagaimana orang awam, kedua kau harus menyembunyikan matamu yang bersinar-sinar itu, ketiga langkah kakimu terlalu gesit untuk seorang gadis.‖ Aram mengoreksi penyamaran Kyoko, tentu saja kyoko memerah, ia tak menyangka bahwa pemuda disampingnya itu bukan hanya seorang pemuda jembel seperti yang pertama kali ia temui.

―engkau belum menjawab pertanyaanku Aram‖ Kyoko lirih, namun cukup keras ditelinga Aram.

―tidak apa-apa aku hanya ingin mengunjungi sahabat-sahabatku saja, kau kenal dengan Ryusuke atau Yumi?‖

―Akh kau kenal dengan Ryusuke sempai? dan Yumi?‖ Kyoko terkaget-kaget.

―Mereka sahabatku...‖ Aram berkata.

―Kalau begitu ayo kita menemui mereka.‖

―Jangan terburu-buru, kita berangkat setelah makan‖ Dengan lahap keduanya makan, setelah selesai Aram tersenyum.

―tubuhmu indah sekali...‖ Aram memuji Kyoko yang sedang melepaskan kimononya, dibalik kimono itu ia memakai pakian ketat khas ninja memperlihatkan lekuk tumbuhnya yang indah.

Baju itu tidaklah berwarna hitam, melainkan hijau, perlu diketahui bahwa ninja itu memiliki baju khas sendiri yang disebut dengan Shinobi Shozoko, Shinobi Shozoko memiliki tiga warna, Baju warna hitam biasanya dipakai ketika melakukan misi pada malam hari dan juga bisa sebagi tanda ‗kematian yang nyata‘ bagi sang target. Warna putih digunakan ketika menjalankan misi dimusim dingin agar mudah membaur dengan salju. warna lainnya adalah hijau sebagai bentuk kamuflase agar mereka tidak terlihat dalam lingkungan hutan.

Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang sama-sama tinggi Aram dan Kyoko berlari-larian menjejak ranting-rnting pohon menyusuri hutan. Kyoko penasaran melihat Aram masih bisa mengikutinya,

―Hem... apakah sekarang dia bisa menyandaku‖ Kyoko berpikir dalam hati seraya meningkatkan ilmu peringan tubuhnya. sehingga ia melesat lebih duluan kemuka. Aram paham apa yang sedang dipikir kyoko, tanpa di beritahu juga ia meningkatkan ilmu Selaksa Rubah menjadi bayangannya, tampaklah disebuah hutan itu dua bayangan Hijau dan Biru berkelebatan seperti bayangan. ―Langit Biru‖ sebuah suara keras menyentak dua orang yang sedang berlari. tanpa berpaling kyoko menjawab ―Naga Menggeliat‖

―Sett‖ Bayangan tadi menghilang, rupanya itu merupakan kata sandi untuk membedakan kawan maupun lawan ditempat itu.

Kyoko berpaling kebelakang, ―akgggrgg‖ Ia terpekik melihat pemuda yang dia pikir tertinggal itu berada persis satu langkah dibelakangya tanpa ia sadari.

―Akh, ternyata pemuda ini salah seorang pemuda yang sakti‖ keluhnya dalam hati.

―Tempat yang indah, manusia berlalu lalang, pohon bunga sakura mengatapi setiap rumah. meski desa ninja tapi ternyata didalamnya seperti desa pada umumnya,‖ Aram menggumam. yang paling kaget adalah kyoko, ia kaget sepengetahuannya dari tempat berdiri menuju desa itu masih ada sekitar tiga mil lagi, namun pemuda itu dapat melihat seakan tempat itu berada dihadapannya.

Belum kyoko berkomentar Aram kembali menggumam.

―Sepertinya disana terdapat banyak tanaman obat-obatan juga racun, hem... harum sekali tuak itu‖. Kyoko coba enduskan hidungnya, namun ia tak merasakan apa-apa. kyoko coba pandang wajah Aram, diam-diam ia heran dengan mata Aram yang tidak lazim.

―Aram, bolehkah aku bertanya sesuatu?‘‘ ―Silahkan..‖

―Apa yang terjadi dengan matamu‖ tanya Kyoko pelan.

―Mataku dicongkel dan dicangkokan dengan mata Rajawali oleh orang‖ Aku Aram jujur.

Kyoko bergidik, ia tak berani bertanya apa-apa lagi, membayangkan mata dicongkel dan diganti dengan mata Hewan saja ia sudah mulas.

―Ayo jalan lagi‖ ajaknya lirih.

Dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya, mereka kembali melesat menuju desa yang dinamakan Desa Kouraningun.

Di desa itu hiruk-pikuk dengan segala aktifitas manusia yang beragam, pepohonan menghijau permai, di mana-mana terlihat gairah hidup musim semi, bunga-bunga sakura berguguran ditanah.

Dalam suasana yang demikian itulah dua orang pemuda-pemudi berjalan dengan santai beriringan.

Keduanya lalu segera beranjak menuju gang desa yang dikelilingi dengan pohon sakura, Wajah Aram tampak tenang dan damai menikmati suasana tenang itu. dengan gayanya yang khas dia mengekor dibelakang Kyoko, hingga tibalah mereka disebuah bangunan yang indah, di gerbangnya bertulisan

―Kazama‖. Tampak Kyoko mengetuk gerbang itu dua kali, tak lama kemudian munculah seraut wajah tua dan ramah membuka gerbang dan menyambut ramah.

―Akh, kiranya Nona Amami yang berkunjung, silahkan-silahkan Tuan Putri juga kebetulan ada, Ia sedang berkongkow bersama dengan teman-temannya, ‖ lelaki itu mempersilahkan.

―Ayo masuk‖ Ajak Kyoko pada Aram.

Aram tak menjawab, ia cukup tersenyum untuk menjawab segalanya, Cepat Kyoko palingkan wajah, hatinya berdebar tak keruan, wajahnya panas melihat senyuman itu.

Mereka berjalan sambil diam, mereka masuk ke bangunan itu, hingga sampai diruang tamu, dan terus masuk menuju dojo tempat berlatih bela diri, disana terdapat empat sosok pemuda- pemudi berpasangan, juga dua sosok pemuda yang belum dikenal Aram. dari ciri-cirinya mereka adalah penduduk pribumi. rupanya kedatangan tiga orang yakni Aram Kyoko dan lelaki tua itu ternyata belum mereka sadari entah ada apakah sebenarnya.

―AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL

DATANGLAH DARAH‖ Aram berkata cukup lantang.

Lelaki tua itu dan Kyoko berpaling, mereka tak paham dengan maksud ucapan itu, tapi tidak dengan keempat sosok yang sedang asyik berkongkow. mereka segera berpaling, lalu bangkit menghampiri dan menekuk lutut, ―Ketua‖ Ucap mereka serempak. Kyoko, dua pemuda pribumi, dan lelaki tua itu terperanjat mendengar keempat-empatnya memanggil ketua.

―Kalian bangunlah, jangan membuat aku malu‖ Aram berkata jenaka.

―Hahaha ‖ Keempatnya bangkit sambil tertawa, dengan

gembira keempatnya berpelukan bergiliran.

―Mari, mari ketua kita duduk‖ Ryusuke mempersilahkan.

―Pak Suki, silahkan bapak kembali ketempat‖ Titah Yumi.

―Baik, Tuan Putri. ‖

―Ketua, perkenalkan ini adalah Tsume, dan ini Koyasha‖ Ryusuke memperkenalkan dua pemuda yang sejak tadi berdiri dibelakang Jelita Indria.

―Aram, Aram Widiawan‖ Aram memperkenalkan namanya.

Tsume adalah seorang pemuda tampan dengan rambut sepundak, kimononya berwarna hijau dengan katana dipunggungnya, diantara hidungnya terdapat bekas luka yang menambah kejantanannya. sedangkan Koyasha adalah Pemuda cukup Tampan namun menarik untu dipandang, kimononya berwarna putih, dibagian dadanya, kimono itu membuka memperlihatkandada yang kokoh berotot. ―Hahahahaa‖‖hihihi‖ Angkara dan Jelita indria tertawa lepas, sepertinya mereka tak dapat menahan tawanya itu.

Aram memerah, rupanya ia paham dengan tawaan itu, dengan cepat ia berkata kepada Ryusuke.

―Ryu, cepat pinjamkan aku baju, aku tak ingin ditertawakan orang hanya karena aku memakai baju gadis.‖

―hahahaha‖ semuanya tertawa, kini mereka paham apa yang ditertawakan dua rekan mereka, suara tawa itu cukup keras hingga memicu orang-orang yang menghuni tempat itu......

INI PAKAILAH‖ Ryusuke menyerahkan sebuah Kimono berwarna Biru langit, warna Kesukaan Aram.

―Terimakasih‖ Aram membuka bajunya, Jeritan kaget dan ngeri bersahut-sahutan, mengapa? ternyata mereka terkejut melihat tubuh Aram, yang lebih tepatnya seperti pohon nangka yang dicacah dihari tertentu supaya buahnya menjadi lebat. hakikatnya tubuh Aram itu tak ada satupun yang tak ada luka, luka itu hanya sebatas pundak dan siku,entah kebawahnya sebab Aram memaki celana panjang.

―Ketua, Apa yang terjadi denganmu? akh, matamu juga tidak seperti dulu‖ Angkara bertanya.

Setelah selesai memakai bajunya Aram menjawab singkat sambil tersenyum,.

―Tidak Apa-apa, hanya ada sedikit insiden ‖ ―Tegar sekali sikapmu anak muda, kau memang patut dipanggil ksatria sejati... anakku sering mengatakan tentang dirimu, sungguh tak mengecewakan‖ Seorang lelaki paruh baya menyela.

Lelaki itu berkepala pelontos, alis yang panjang tegak berdiri, dan jenggot panjang sedada.

―Terimakasih atas pujian Tuan‖ Aram menghormat layaknya penduduk Pribumi.

―haha... Aku Akamatsu Kazama telah mendapatkan seorang yang bisa diandalkan untuk membantu menyelesaikan peperangan ninja ini‖ Lelaki Paruh Baya itu tertawa.

Aram mengerutkan kening, ia tak menjawab. yang memberi penjelasan adalh Yumi,

―ketua sebenarnya ―

―Cukup aku tahu, aku mendengar apa yang kalian bincangkan tadi, meski tak mendengar seluruhnya, aku paham garis besarnya‖ Aram menukas.

―Ekh, bukannya kita datang dari semenjak tadi, hanya mendengar satu katapun tidak?‖ Spontan Kyoko bertanya.

―Aku sudah mendengarkan perbincangan mereka sejak kita berada dihutan‖ Singkat saja aram berkata. Kyoko bulatkan matanya lebar-lebar, ―a..i..uu‖ Kyoko tergagap.

―Hutan mana?‖ Tsume bertanya.

―Hutan Gerbang Penentu‖ Kyoko masih tergagap.

―ha‖ jeritan kaget kembali terdengar.

―Angkara, Ryusuke kalian telah melakukan apa yang aku perintahkan?‖

―Sudah ketua, aku berguru pada Enshin Nagatsuki sensei. meski ia seoran Rounin‖ (samurai tanpa tuan. biasanya suka mengacau ).

―Aku juga sudah, Akamatsu Sensei yang mengajariku‖ timpal Angkara.

―Bagus, kita selesaikan urusan disini, baru kita selesaikan urusan dinegri Seribu Pulau (Nusantara).‖ Aram berkata semangat.

Tanpa pamit segera ia berila ditanah, tangannya disilangkan didada. wajahnya tenang tanpa emosi. Angkara yang sudah mengerti dengan kebiasaan ketuanya segera berkata.

―Baik, semuanya lekas kita ganti baju. Pertarungan segera tiba

didepan mata‖

―Pertarungan apa?‖ Koyasha bertanya bingung. bukan hanya Koyasha yang lainnya pun masih diliputi dengan sejuta tanya. tidak dengan Ryusuke, Jelita Indria, dan Yumi. sebab mereka sudah terbiasa dengan tingkah aneh ketuanya, tanpa dikomando lagi keduanya segera melepaskan kimono dan berganti dengan Shinobi Shozoko.

―Ryu, apa yang terjadi?‖ Koyasha masih penasaran.

―Tampaknya tamu tak diundang akan datang, dan kita sebagai tuan rumah harus menjamunya‖ Ryusuke menjawab misterius.

―Baiklah semunya, segera ganti baju kalian, lekas beritahu keluarga lain untuk menyambut tamu..‖ Akamatsu Kazama berteriak, sepertinya Akamatsu kazama paham dengan maksud ucapan Ryusuke yang bernama lengkap Ryusuke Kazama itu.

―Hai,. ‖ wuss ..sett‖ meski tak paham, tapi mereka tak ingin

membantah perintah Akamatsu Kazama. segera mereka beranjak dari tempat duduknya, seperti bayangan saja, mereka menghilang ditempat.

―Hemmm firasatku mengatakan Mereka akan bergerak nanti

malam‖ Tanpa disadari oleh semuanya Aram telah membuka mata tersadar dari semadinya dan bergumama.

―Hahaha, sudah kukira, kau adalah bantuan yang terbaik. , Jika

Anak-anaku dan muridku Angkara si setan cilik memenggil kau ketua, aku yakin kemampuanmu lebih hebat dari Setan cilik‖

―Setan cilik?‖ Aram mengerutkan alis nya yang seperti sayap elang menambah ketajaman mata Rajawalinya. Melihat sinar mata yang begitu tajam, bulu kuduk Akamatsu Kazama merinding, tapi pengalamannya sangat luas, dengan berdehem ia dapat menenangkan hatinya.

―Maksudku Angkara, berkat taktiknya kami bisa memukul mundur beberapa kali tanpa mengerahkan banyak tenaga...‖

―Oh, kenapa kau bodoh sekali Angkara? jika dipukul tanpa dihancurkan sama saja dengan menempa besi menjadi pedang, baiklah sebelum menjadi pedang tajam, kita bereskan selai masih tumpul‖ Aram melengos dan memarahi Angkara.

Angkara ngengeh, ―hehehe‖

―Kami memiliki kesulitan, jika malam dihutan itu terlalu banyak serigala, jika dibawa kemari justru semakin banyak resko‖ Angkara ngeles.

―Justru itu semakin bagus‖ Aram bersemangat.

Angkara mengerutkan alis, tangannya bergerak, menghitung, mulutnya berkata ‖ satu, dua, tiga, ...delapan puluh,... seratus duapuluh,...‖

―Takan ada disana, ― Aram menyela...

―heh, lalu...‖

―Ini murni siasatku...‖

―OOO‖ ―Baiklah, silahkan semuanya merapat‖ dengan membuat lingkaran mereka segera merapat. dilingkaran itu ada Akamatsu Kazama, Ryusuke, Jelita Indria, Angkara, Kyoko, Yumi dan Aram. tujuh orang.

―Aku akan memerintahkan serigala itu untuk membantu usaha kita‖ Aram memulai percakapan.

―Hehm.,, bagaimana caranya?‖ Yumi bertanya.

―Begini‖ aram mendekatkan tangan kanannya kebagian mata kanannya dan mencongkel,

―Akh,,,,Ikhh,, Ukhhh‖ Kyoko dan yumi menjerit hingga berpelukan, Jelita Indria memegang tangan ryusuke kencang- kencang dan menutup matanya, Angkara memejamkan matanya ngeri, sementara Akamatsu Kazama hanya menghela nafas berat saja.

Ditangan Aram, sebuah benda bulat terkepal, tangan kirinya meraba kebalik baju, dan mengambil sebuah tabung transparan dari kaca, ternyata disana terdapat dua buah benda bulat seperti mata lainnya, Aram memasukan mata kanannya kedalam tabung itu, dan mengambil slah satu mata didalamnya, dengan cepat ia memasukan mata itu kedalam mata kanannya yag kosong dan dibuka, ternyata mata itu adalah mata seekor serigala, mata itu berbola mata perak indah

Dari celah mata itu keluar cairan berwarna kuning, akibat air dari dalam tabung. ―aku sudah selesai, bukalah mata kalian‖ Aram menitah.

Keempatnya membuka mata, dilihatnya mata Aram itu berbeda, satu mirip serigala dan satu mirip rajawali.

―Set,,,... kyoko yang paling dekat dengan Aram menyapukan lengan kimononya untuk menyeka air yang membasahi wajahnya.

―Terimakasih‖ Kyoko mengangguk, dengan ragu-ragu ia bertanya.

―Sungguh aku merasa heran‖

―Apa yang kau herankan?‖

―dimana kau menyimpan barang-barangmu, perasaan waktu aku menemukanmu aku melihat kau tak membawa apa-apa‖ Ryusuke, dan yang lain menajamkan telinga, sebab merekapun ingin mengetahu jawabannya.

―Aku menggunakan salah satu ilmu yang bernama Sembunyi tangan Merogoh mutiara, dengan ilmu itu, aku bisa menyimpan benda apapun dan bisa dipanggil sesuai kebutuhan., baiklah semuanya, aku ingin mendengar awal permasalahannya sambil kita menunggu malam tiba.

―Ekhemmm‖ Akamatsu Kazama berdehem. dan melanjutkan.

―Sekitar setahun yang lalu, salah satu warga desa ini mendapatkan misi untuk membunuh salah satu keluarga di daerah edo, namun ketika kami tiba disana rupanya seluruh desa tempat itu telah mati, bahkan ninja dari desa Emerarudo beberapa diantaranya ikut menjadi korban. setelah itu, warga dari desa kami itu datang pulang melapor, tapi tak lama kemudian beberapa ninja Emerarudo menyerang desa kami ini, mereka bilang mereka telah kehilangan Pedang Pusaka matahari perguruannya. dan ditempat itu ditemukan shuriken dari desa kami. begitulah awal dari permusuhan ini, kami mencoba tidak memperpanjang, namun mereka terus mendesak hingga kamipun merasa marah dan terjadilah peperangan, dan itu terjadi sampai sekarang...‖ Akamatsu menerangkan, begitulah mereka terus bercakap-cakap hingga malam menjelang.

―Siasat apalagi yang akan digunakan Aram untuk menghadapi ninja Emerarudo?

―Aaaaauuuuuummmmm‖ lolongan serigala bersahut-sahutan, menyambut serombongan sosok bayangan berwarna hitam.

―Selamat datang di gerbang kematian,... ― sebuah suara sinis menggelegar. suara itu menggaung-gaung tidak jelas arahnya.

Pemimpin rombongan itu mengangkat tangan kanannya, sepertinya mereka terkejut dengan suara itu.

―siapakah anda?‖ pemimpin itu berteriak dalam, bisa diketahui bahwa itu hanyalah suara perut saja. ―Aku adalah wakil pencabut nyawamu, wahai sang ketiga‖ suara itu kembali menggaung.

Pemimpin itu terkejut dengan kemampuan pemilik suara itu. meski ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk menentukan arah suara namun tetap sia-sia belaka. Lebih terkejutnya lagi ketika suara itu menyebutnya sang ketiga.. bagi orang lain mungkin panggilan itu hanyalah panggilan biasa, namun tidak bagi pemimpin itu, mimik wajahnya berubah meski seluruh wajahnya terselubung kain tapi matanya berkilat-kilat emosi.

―Tunjukan wajahmu pengecut‖ teriak pemimpin itu. namun teriakannya itu tidaklah mendapat sambutan yang tak semestinya. tetap hening seperti dikuburan, hanya suara binatang malam saja kerap terdegar.

―Wusss...Crak...crakkk...‖ Suara besi beradu dengan kayu beradu ditengah malam yang pekat ini.

Ditangan Pemimpin itu masih terselip sebuah senjata dari besi berbentuk bintang, atau biasa lebih dikenal dengan Shuriken.

Dengan berteriak-teriak pemimpin itu memanggil suara tadi, namun tak ada sambutan, dengan menahah kemarahan pemimpin itu mengkomando kawan-kawannya untuk kembali berangkat. mereka berkelebatan diantara gelapnya malam.

Tiba -tiba terdengar suara bentakan dahsyat laksana guntur membelah angkasa, sesosok bayangan manusia berwarna hitam dengan cepatnya meloncat menghadang dihadapan rombongan itu.

―Anda terlalu berani tuan, mengirimkan lima puluh ninja di sebelah utara, dua puluh di selatan, dua puluh di barat dan terakhir rombongan kalian ini‖ Sesosok bayangan yang menghadang menegur.

―heh, ternyata kau Akamatsu Kazama, senang bisa bertemu denganmu, aku pikir kau hanya bisa melakukan siasat anak kecil saja, heh‖ Ucap pemimpin itu mengejek.

―hahaha, aku takut bila menggunakan cara jantan kalian binasa terlalu dini, bila menghadapi siasat anak kecil saja kalian sudah kabur terbirit-birit apalagi dilakukan secara jantan‖

Pemimpin itu tertegun, wajahnya merah menahan malu. belum sempat pikiran kedua berkelebat dalam benaknya, serentetan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata telah meluncur datang.

Pemimpin ini jadi kaget, buru buru ia menghindar kesamping, dan menghadangkan shuriken yang dipegangnya hingga terbit lelatu api

―Traaannkkk‖

Menyadari dirinya diserang tanpa permisi ia menjadi naik pitam, ia balas membentak keras dan mencabut katana dipunggungnya, dengan menyabetkan pedangnya secara horizionta ia membalas serangan itu.. Akamatsu Kazama atau sosok yang barusan munculkan diri dalam kalangan Itu mendengus dingin, ia pegang katananya dengan kedua tangan, pedangnya diputar menangkis pedang dari pemimpin yang datang menyerang. lalu membabat kemuka. Cahaya pedang berkelebat menyilaukan mata,

Pemimpi itu berkelit kesamping, sambil bersuit nyaring, katananya di ditaburkan melingkar-lingkar ke arah dada Akamatsu Kazama. Akamatsu menyurut mundur dua langkah langkah. katananya masih tetap dilintangkan di dada.

― Pengecut engkau akamatsu ..." maki Sipemimpin rombongan.

―haha, kau melupakan satu hal, kami adalah ninja, seorang pembunuh bayaran, hal-hal apapun kami lakukan bila itu memang dianggap perlu, haha, aku melupakan sesuatu kau

adalah sang ketiga bwahahaha‖ akamatsu terbahak-bahak.

Menyadari bahwa lawan sudah mengetahui identitasnya sekarang, Pemimpin itu mulai ketakutan bila kawan sepihaknya mengetahui. dengan cepat ia berteriak.

―Kalian tunggu apalagi, lekas bantai dia‖

―Hai‖ kawan-kawan dibelakangnya mengiakan dan segera mencabut senjatanya. senjata itu berupa katana, naginata, panah, ada pula tessen, shobo Kyoetsu shogei dan juga neko te.

Akamatsu Kazama tersenyum sinis, bila harus melawan sekian banyak shinobi-shinobi sendirian, tentulah ia akan kalah. Oleh karena itu segera ia bersuit nyaing tiga kali. ―Heh, kau memanggil bantuan rupanya, serbuuu‖ Sebelum Pemimpin dan rombongannya mengeroyok akamatsu Kazama, cahaya keperakan berkelebat menyambar. Dalam keadaan seperti itu terpaksa mereka menangkis sebab serangan itu bukan hanya ada satu melainkan serempak.

―Jrengg...‖ dihadapannya sepuluh sosok berwarna hitam berdiri disamping Akamatsu Kazama.

―Sekarang baru seimbang, seraaaanng ‖ tak pelak lagi kedua

pihak kini mulai bentrok, dentingan senjata mulai terdengar dimalam yang gelap ini.

―Akh ‖ Sipemimpin atau yang mulai saat ini kita panggil sang

ketiga mendengus. rupanya pundaknya terkena sebuah sabetan lumayan dalam dari pedang Akamatsu Kazama. sang ketiga merasakan gelagat buruk cepat ia gerakan pedang.

Tetapi baru dia gerakkan pedang, Akamatsu Kazama sudah miringkan tubuh dan ujung pedang dibabatkan pada lengan Sang Ketiga.

Jika kena tentu lengan Sang ketiga akan kutung seketika. sang ketiga tak berani melanjutkan menyerang dan cepat-cepat menarik tangannya.

Tring pedang Akamatsu Kazama yang membabat lengan

berobah menjadi membabat katana Sang ketiga dan terjadilah, benturan senjata yang nyaring sekali. Akamatsu Kazama diam-diam kerahkan tenaga murni kearah batang pedangnya. saat ini Akamatsu kazama tengah mengerahkan jurus andalannya yang diberi nama Kuji-in. sebenarnya kuji-in adalah kekuatan spiritual dan mental berdasarkan simbol-simbol yang terdapat ditelapak tangan. kuji- in ini merupakan hal yang paling terpenting untuk seorang ninja dalam penguasaan teknik (Ninjutsu). simbol tangan ini diambil dari praktek pada masa awal penyebaran agama budha, kuji-in digunakan untuk membangun kepercayaan diri dan kekuatan seorang ninja. kuji-in juga mampu meningkatkan kepekaan terhadao keadaan bahaya dan mendeteksi adanya kematian.

Kuji-in memiliki 81 simbol dan yang utama hanya ada sembilan, kesembilan simbol itu kemudian oleh Akamatsu Kazama dimasukan kedalam jurus pedang andalannya yaitu, Rin (memberi kekuatan tubuh), hei (memberi kekuatan menyamarkan kehadiran seseorang), Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh), Sha (kemampuan menyembuhkan), Kai (memberi kontrol menyeluruh terhadap fungsi tubuh, memungkinkan untuk memperlambat detak jantung, menaikan atau menurunkan suhu tubuh. dll), Jin (meningkatkan kekuatan telepati), Retsu (memberi kekuatan telekinetik), Zai (meningkatkan keselarasan terhadap alam). Zen (memberi pencerahan pikiran dan pemahaman).

Saat ini Akamatsu Kazama sedang mengerahkan jurus yang diberi nama dengan Rin (memberi kekuatan tubuh), sepintas jurus ini seperti berbuat kebaikan dan sederhana padahal sebenarnya jurus ini mengandung banyak sekali tipuan yang mematikan. Akamatsu kazama menyerang dengan membuka dadanya, seakan memberi kesempatan kepada Sang ketiga untuk menusuk dadanya itu. melihat sebuah kesempatan yang langka, sang ketiga segera menusukan katananya kearah dada. dengan mengalirkan tenaga dalamnya kearah ujung pedang, Sang ketiga berteriak.

―Topan pelindas bumi‖ Sang ketiga memutar katananya dan menodongka kemuka.

―Trankkk‖

Arus tenaga dalam yang melanda ke Akamatsu kazama seperti membentur benda keras yang membal sehingga arus tenaga dalam tertolak sehingga menyebabkan sang ketiga terdorong mundur sampai tujuh langkah.

Tetapi diluar dugaan Akamatsu kazama juga terpental delapan langkah ke belakang. bukan hanya mundur, tapi Akamatsu Kazama terlihat sempoyongan. Melihat itu girang sang ketiga bukan kepalang. tanpa mempedulikan pertahanan Sang ketiga segera menyerang dahsyat.

"Hayo seranglah dengan katana tumpulmu itu. tak usah sungkan!'' Tubuh Akamatsu Kazama bergoyang-goyang maju menghampiri. Sepintas nada ucapan Akamatsu Kazama itu seperti ucapan orang yang sedang terluka.

Melihat Akamatsu Kazama menantang dengan suara berat, hati Sang Ketiga makin mantap. Ujung katana sudah ditujukan pada jalan darah maut di dada akamatsu kazama. Sepasang matanya berapi-api memancarkan hawa kemenangan yang menyala.

―Mampus kauuu...‖

Sang Ketiga menjerit keras dan katanapun segera bergerak memenyabet memancarkan cahaya perak yang menyilaukan mata. namun dipertengahan jarak katana itu terus menusuk jalan kematian dada Akamatsu Kazama.

Pedang berkelebat laksana kilat cepatnya dan jarak keduanya amat dekat. Tak mungkin Akamatsu Kazama dapat menghindar. Tetapi suatu peristiwa yang menakjubkan terjadi pada saat itu. Pada saat katana menusuk, tiba-tiba Akamatsu Kazama merunduk dan meletakan pedangnya di punggung.

―Sreengggggg ‖

Tahu-tahu Akamatsu Kazama telah nyelonong dibawah katana milik Sang Ketiga. Kejut Sang ketiga bukan kepalang. ia ingin menyabetkan katananya kebawah, namun katana milik Akamatsu kazama menahannya.

―Crassssss‖ ―Akkkkhhhrrgggg‖

Sang ketiga menjerit histeris,, tubuhnya terbagi menjadi dua,

Akamatsu Kazama telah memenangkan pertempuran.

―Hemmm hanya menghadapi kombinasi dua jurusku saja

nyawamu telah terbang ke akhirat‖ Ejek Akamatsu Kazama sambil menyusutkan katana yang berdarah di baju Sang Ketiga yang telah menjadi mayat.

Sebenarnya Akamatsu Kazama seperti yang dijelaskan diatas menggunakan jurus yang diberi nama Rin, tapi Ketika Akamatsu nyelondong di bawah katana milik Sang ketiga, Akamatsu kazama menggunakan jurus yang bernama Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh). memanglah jurus dengan gerakan milik Akamatsu Kazama tidaklah nyambung. namun itulah kehebatan dan keunikannya. malam semakin kelam, jeritan kematian dan auman suara serigala terus bersahut-sahutan menambah kengerian di malam tanpa bintang itu. 

Bagaimanakah pertarungan selanjutnya? dapatkah Aram menyelesaikan masalah Desa Kouraningun dengan tuntas?

―Apa Pendapatmu dengan kejadian dimalam ini Tuan Akamatsu?‖ sesosok bayangan hitam diatas pohon sedang ongkang-ongkang kaki bertanya kepada sesosok bayangan hitam tinggi besar yang berdiri disampingnya.

―Sungguh aku tak bisa membayangkannya jika ketua Aram tidak membantu‖ jawab sosok tinggi besar yang dipanggil tuan Akamatsu.

Ternyata dua sosok diatas pohon itu Akamatsu Kazama dan Aram widiawan adanya.

Tiba-tiba.... ―Srettt...‖ dua bola mata bersinar-sinar di kegelapan dengan dua warna. satu mata Rajawali dan satunya lagi mata serigala.

―Tuan terlalu memuji,. teknik Perang Sun Tzu yang anda

ajarkan tadi sore juga sangat hebat. itu juga membantu untuk

penentuan akhir saat ini. jadi bukan hanya aku tapi kita‖ Aram

berkata.

Diam-diam Akamatsu Kazama merasa takluk juga dengan sikap pemuda belia yang berada disampingnya ini.

―Bagaimana dengan daerah lain?‖ Akamatsu Kazama kembali bertanya.

―Daerah utara sudah dibereskan angkara dan jelita indria, daerah selatan sudah diberskan Yumi dan Ryusuke, sisanya Oleh Koyasha dan Tsume, selain itu mereka dibantu oleh sepasukan serigala juga didampingi tetua desa.,‖

―Lalu...mer. ‖

―Shhhtttt. mereka datang‖ Aram mencegah obrolan dilanjut.

Benar lah saja, dari arah timur muncul serombongan sosok hitam yang berjalan kearah mereka berdua, mereka datang lalu segera berkumpul di tanah depan dimana Aram dan Akamatsu Kazama sedang nangkring.

Diantara mereka ada yang mengumpulkan ranting dan membuat api unggun. yang lainnya duduk saja bergurau satu sama lain. ―Kabarnya Akamatsu Kazama memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga Saito yang kita tugaskan untuk mengadu dombakan Emerarudo dengan Kouraningun yang hanya merupakan anak dari Ninja Nara harus menemui ajal‖ Ucap seorang lelaki paruh baya dengan rambut sepundak, wajahnya sudah penuh dengan kerutan menandakan ketuaannya.

―bagaimana, apa sebaiknya kita langsung menyerang mereka? Aku yakin mereka takan menyangka akan kedatangan kita.‖ ucap salah seorang dari rekannya lagi. orang itu berkepala plontos dengan kimono ketat berwarna hijau.

―Hem... kalau kita menyerang tanpa perhitungan dan dihancurkan oleh mereka, tak akan membawa keuntungan apa- apa. kita lihat dulu keadaannya.

―Hemmmm... Akamatsu Kazama ya. sampai pelindung hukum berpikir dua kali sebelum melawannya, aku penasaran ingin melwannya.‖

Ditempat lain, disebelah barat kumpulan itu dua orang diatas pohon terlihat bercakap-cakap.

―ternyata perhitungan mereka lebih teliti dari perkiraanku, jika menyerang sekarang pasti banyak korban diantara kita.‖ bisik seorang lelaki setengah baya dengan pakaian khas ninja, hanya saja bagian kepalanya sedang dibuka. mereka tak lain akamatsu kazama dengan Aram. ―Jangan khawatir, kita akan menggunakan Manten Kakai (langit penuh, lautan meluap, atau juga menipu langit, menyebrangi lautan), teknik pertama dari Taktik Sun Tzu. ‖ Aram menjawab.

―Manten kakai. ? apakah itu cukup tepat? bukankah manten

kakai itu taktik yang membuat musuh terbiasa dengan penampilan palsu dan menyerang musuh habis-habisan begitu lengah..! lalu siapa yang akan melakukannya.‖ ragu-ragu Akamatsu kazama kembali bertanya.

―kita lihat saja nanti, lihat mereka datang‖

―Emch, Angkara, Ryusuke, Yumi, Jelita indria Tsume,

Koyasha, Yukari, Hokuto, nagatsuki.... sembilan orang ‖ hitung

Akamatsu Kazama. meski kesembilan sosok itu memakai pakaian yang terselubung namun, Akamatsu Kazama dapat membedakan mereka dari simbol didada masing-masing juga perawakan mereka.

Simbol baju angkara adalah kepala Kijang dengan latar bunga sakura merah muda, Ryusuke bersimbolkan sakura berteteskan darah. yumi bersimbol sakura polos, Jelita Indria bersimbol sakura kuning, Tsume dan Yukari bersimbol teratai putih dengan sebilah pedang bersilang, mereka adalah saudara kembar. sedangkan Koyasha, Hokuto dan nagatsuki bersimbol sama yaitu shuriken tiga mata, sebab mereka adalah saudara seperguruan. ―Heh, rupanya kehadiran kita sudah disambut..., pelindung hukum Natsuki todo biarlah kami yang memberekan mereka‖ ucap seorang pemuda berambut sepunggung diikat kuda.

―Baiklah Takada, aku serahkan semuanya kepadamu ‖ ucap

seorang lelaki paruh baya dengan rambut sepundak, berkimono biru dongker dengan motif lautan.

―Siapa kalian, beraninya masuk kewilayah kami.. apakah kalian ingin bernasib sama dengan Sang Ketiga heh ‖ Seorang

pemimpin rombongan membentak, dia adalah angkara adanya.

―Cis. berani kau bilang seperti itu,‖ Srengggg salah seorang

dari mereka mencabut pedang dan enyabetkan kearah Angkara,

―Breetttt‖ Pudak Angkara terkena sabetan.

―Ukgg,, kabur lekas beritahu tuan. lelaki barusan lebih jago dari

Sang Ketiga,‖ Angkara kabur terbirit-birit. lelaki yang menyerangnya tertegun.

―Hahahaha, ternyata Akamatsu Kazama memiliki anak buah

yang begitu pengecut..‖ Tawa mereka bergema di hutan itu.

―Ketua, Aram..‖ bisik Akamatsu Kazama.

―Jangan Khawatir, lekas kita pindah ke pos kedua‖ Wusssttt keduanya melompat dan menghilang dikegelapan malam.

―Pelindung hukum,... mari kita serang mereka sekarang ‖

dengan tertawa-tawa terbahak-bahak rombongan yang terdiri dari dua puluh orang itu segera beranjak dan menyusuri hutan hingga tiba dihutan dengan dua belah batu yang mengapit.

―Siapa kalian lekas berhenti atau kalian kami panah‖ bentak

sesosok hitam di atas pohon.

―Cisss,. buang-buang waktu saja, lekas bereskan‖ Ucap

pemimpin rombongan yang bernama Natsuki todo itu.

―Baik. ‖,

―wussshhh‖

Creppp...creeppp. .creeppp. .creeppp. .creeppp. .creeppp.

.creeppp. .creeppp.‖

―Arrggghhhhhh... Arrggghhhhhh... Arrggghhhhhh...

Arrggghhhhhh... Arrggghhhhhh... Arrggghhhhhh...

Arrggghhhhhh... Arrggghhhhhh ‖

―Blukkk...Blukk. ‖

Suara Benda tajam menancap di bagian tubuh lunak sebanyak delapan kali dan jeritan sebanyak delapan kali pula, dari atas pohon terjatuh delapan mayat bersosok hitam. rupanya salah satu dari rombongan itu melemparkan suriken dengan kecepatan laksana kilat. 

―Hahaha,. ayo kita bantai desa ini, sepertinya mereka terlarut

dalam kebahagiaan hasil kemenangan mereka‖ Ucap Natsuki todo. Dengan santainya seolah semuanya akan baik-baik saja, rombongan itu masuk ke gerbang desa dengan candaan di mulut. Setelah mereka cukup jauh seorang lelaki paruh baya dengan pakaian hitam segera mendekati mayat yang terjatuh di tanah.

―Jangan khawatir tuan akamatsu... mayat itu adalah mayat yang kita kumpulkan dari hasil pertarungan engkau dengan pasukan rombongan Sang ketiga. Kalian keluarlah... kita segera berkumpul di pos ketiga untuk mengeksekusi mereka. ― Seorang pemuda bermata serigala dan Rajawali berkata dengan santainya.

―Ekh...‖ Akamatsu Kazama berpaling, benarlah saja dibelakangnya terdapat delapan sosok hitam sedang menyilangkan katana didada.

―Mari..‖ Aram mewakili yang lain segera melesat menembus kegelapan. dengan cepat semuanya mengekor dibelakangnya.

*****

―Cukup.... berhenti selangkah lagi nyawamu melayang...‖ Delapan sosok hitam mencegat, yang membentak itu adalah sosok bayangan hitam kekar dengan pundak dibalut, dia adalah Angkara adanya.

―Hahaha... ternyata kau lagi, manusia tak tau diri‖ yang berbicara adalah pemuda yang tadi menyabet pundak Angkara. ―Seraaannng‖ Angkara mengkomando, tampak kedelapan orang itu maju dengan hati-hati seolah ketakutan, dengan seenaknya rombongan penyatron menangkis dengan santai, tapi mereka semua kecele sebab tiba-tiba entah darimana datangnya tenaga itu. Tampak kedelapan ninja dari desa Kouraningun itu menyerang dengan dahsyat....

Tentu saja, Rombongan penyatron itu terkejut, mereka kelimpungan menghadapi serangan bak caah dengdeng itu (air bah yang datang secara tiba-tiba). mereka ingin meningkatkan serangan namun ternyata beberapa diantara mereka malah menggeletak pasrah dengan tubuh bersimbah darah.

Natsuki Todo atau pemimpin rombongan itu terkejut, dalam hatinya ia merasakan gelagat buruk, segera ia berbalik untuk melarikan diri.

Mendadak

―Jleegggg‖

Dihadapannya berdiri seorang Pemuda tampan dengan mata berinar-sinar tajam, mata itu adalah bola mata serigala dan Rajawali.

―Senang berjumpa denganmu Pelindung Hukum Nawa Awatara... Natsuki Todo..!‖

Natsuki Todo cukup sadar, bahwasanya orang yang berada dihapannya bukan orang biasa, terbukti dengan kedatangannya yang tanpa tanda. oleh sebab itu melihat datangnya pemuda bermata aneh itu, dia tak berani bertindak gegabah, ujung kakinya segera menjejak tanah dan melayang mundur sejauh tiga kaki lebih.

Aram tertawa dingin, tubuhnya mengejar lebih ke depan. .

.sehingga keduanya masih dalam jarak yang sama dengan tadi. Belum lagi Natsuki Todo menginjak tanah dengan tegak, Aram sudah menubruk datang, dalam kejutnya dia membentak keras, sebuah bacokan tangan kanan segera dilontarkan ke luar. bacokan itu dilakukan dengan posisi merunduk keatas.

Gulungan angin sabetan yang dahsyat dengan cepatnya menerjang ke dada Aram. Aram mendengus dingin, tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.

"Blaammm!"

Benturan nyaring menggelegar memecahkan keheningan, sebuah batu sebesar kerbau hancur menjadi serbuk debu, ternyata serangan dari Natsuki todo tak dapat dihentikan kelajuannya sehingga menggempur batu dibelakang Aram.

Menyaksikan kejadian tersebut Natsuki todo merasa gelagat buruk, dengan perasaan terkejut dia segera membalikkan badan:

Pada saat dia sudah membalikkan badan itu dilihatnya aram sedang tersenyum mengejek dibelakangnya. Natsuki todo semakin penasaran, sambil membentak telapak tangan kanannya sekali lagi didorong ke muka.. "Blaammm!"

―Treeekkk...‖

―Bruukkk..!‖ benturan keras menggelegar kembali terdengar, kali ini korbannya adalah sebuah pohon sebesar pelukan orang dewasa. sementara orang yang ditujunya menghilang entah kemana.