Pendekar seribu diri Jilid 09

Jilid 09

Tawa itu bagaikan suara iblis yang haus akan darah, begitu mengerikan dan membuat bulu roma berdiri tegak, tapi tidak dengan pemuda itu.

Pemuda itu hanya mengerutkan kening seakan berfikir sesuatu, mulutnya bergerak-gerak ingin bicara, namun mulutnya seakan bisu.. hingga ia hanya bisa mengap-mengap seperti ikan tak diberi air.

Tiba-tiba Kakek-kakek itu mengeluarkan beberapa batang bambu kecil kecil dan runcing dari dalam lengan bajunya. dengan mendelik memerhatikan bagian-bagian tubuh dari pemuda yang terbaring lemah didepannya. kakek itu menusukkan bambu kecil itu di tengah dada Pemuda itu.

―Ukhhhgg‖ Pemuda itu mengeluh,

Rasa sakit seperti menusuk sanubari, mungkin saking kesakitan sekujur tubuh pemuda itu mengejang, bola matanya yang merah darah terbelalak lebar. Tak berhenti begitu saja, kakek itu lalu menusukan bambu- bambu runcing itu dibagian tubuh yang lainnya, hingga total ada lima puluh batang bambu.

Setelah puas dengan tusuk bambunya kakek itu kemudian mengeluarkan bumbung dari bambu dan membuka tutupnya, kemudian berkata.:

―Ini adalah air laut merah darah dari negri tandus sana, aku berbaik hati memberikan Cuma-Cuma kepadamu, jadi berterimakasihlah hahaha..‖

Setelah berkata, kakek itu mengucurkan air itu kedalam rongga- rongga bambu satu persatu, bau garam menyengat hidung, pemuda itu benar-benar kesakitan, garam yang bercampur dengan darah bagaikan tangan yang dicincang secara perlahan.

Rasa sakit itu membuat tubuhnya kaku lalu jatuh pingsan. Darah segar tampak meleleh dari ujung bambu yang amblas itu setetes, dua tetes dan seterusnya membasahi tanah.

Cahaya obor yang guram tampak terlalu redup untuk menerangi ruangan yang gelap

pekat ini, kepekatan yang

menyiarkan bau amis dan anyir yang memualkan.

Setelah puas dengan hasil karyanya, kakek itu perlahan meninggalkan pembaringan dengan tawanya yang khas. entah berapa lama waktu telah berjalan, digua itu tidaklah diketahui siang ataupun malam, Pemuda yang terbaring dengan puluhan batang bambu itu mulai siuman kembali, sepertinya rasa sakit membuat pemuda itu sadar dari pingsannya,

Sekujur tubuhnya telah basah oleh cairan merah, ia berkelojotan seperti kena ayan, mukanya yang putih kini pucat menampilkan rasa kesakitan yang luar biasa, apalagi darahnya disedot dengan cara yang sadis menambah kepucatannya.

Matanya terpejam menahan sakit, darah kembali menetes dari ujung pembaringan membasahi lantai di bawahnya.

Rasa sakit itu memang tidak tertahankan lagi, mulut Pemuda itu megap-megap. namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya, tubuhnya masih terus mengejang, keringat darah terus bercucuran.

Giginya yang gemerutuk menjadi sebuah paduan suara yang mengerikan dengan bunyi gemerincing rantai yang membelenggu kakinya,.

Tap..Tap... bunyi langkah kaki terdengar, Pemuda itu mengeluh, ia sadar siksaan baru telah menantinya. benarlah saja bunyi langkah kaki itu memang Kakek yang menyiksanya itu.

Setelah sampai di tepi pembaringan, kakek itu terkekeh kekeh.

―brukkk..brukkk..bruk.‖ Suara benda jatuh terdengar keras. setelah diperhatikan ternyata benda itu adalah seekor serigala sebesar anak kerbau berbulu perak belang hitam, seekor rajawali sebesar kambing dewasa berbulu merah keemasan dan sebuah buntalan dari daun kelapa yang dianyam.

‗Haha... kau anak bagus, kau satu-satunya yang masih hidup setelah dicuci darah dengan digantikan dengan air laut merah..haha‖ kakek itu mencabuti puluhan bambu itu lalu disimpan disisi pembaringan.

Kakek itu berjongkok mengambil sebuah selang dari bambu lentur, dengan hati-hati kakek itu menusukan selang itu di nadi pergelangan pemuda itu, begitu berulang-ulang sampai ada tujuh tempat penusukan.

Kemudian kakek itu mengikat ketujuh selang dari bambu lentu itu menjadi satu. dan dimasukan kedalam bambu berukuran cukup besar.

Setelah itu, bambu itu dimasukan kedalam tonjolan dibawah sebuah kendi. kakek itu lalu mengambil serigala itu dan menggoroknya dengan jari kuku sehingga darah serigala itu mengucur deras kedalam kendi.

Setelah dianggap cukup, bangkai serigala yang masih mengucurkan darah itu segera di lemparkan kedalam sebua bak dari batu diatas kepala pemuda itu.

Selesai dengan serigala, kakek itu ternyata belum puas, ia segera mengambil Rajawali yang menggeletak pasrah ditanah. seperti halnya dengan serigala tadi, Burung rajawali itu diperlakukan sama halnya dengan serigala itu. setelah selesai kakek itu mengaitkan tali kendi disebuah palang diatas pembaringan. (zaman sekarang itu disebut infusan) sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu beranjak meninggalkan tempat itu.

Pemuda itu tersenyum getir meski hanya sebuah garis tipis yang melengkung., matanya terpejam mengantarkan ia kedalam alam bawah sadarnya. ternyata pemuda itu pingsan diiringi dengan sebuah senyuman, benar-benar pemuda yang sangat aneh bin ajaib.

segala hal pasti ada hikmahnya, itulah sebuah prinsip dari pemuda yang tergeletak pingsan itu. maka dari itu meski tubuhnya penuh dengan luka ia masih dapat tersenyum. senyuman seorang yang memiliki jiwa tegar.

Entah berselang berapa lama kemudian, di tengah rasa kesakitan yang masih menyiksa dirinya pelan-pelan Pemuda itu siuman dari pingsannya, pelan-pelan dia buka matanya, Mulutpun mulai mengeluarkan rintihan perlahan, Sepertinya darah dari kedua hewan itu telah membantunya untuk memulihkan tenaga.

Rasa sakit di pundak dan sekujur tubuhnya sungguh tak akan tertahankan oleh siapapun, tubuhnya seperti mati, tak berjiwa lagi, rasanya seperti linu, tapi bukan sakit juga bukan pegal, pendek kata bagaimana perasaan yang tercampur aduk sukar dilukiskan. Siksa badan mungkin ia masih tahan, tapi siksa batin adalah yang paling hebat menimpanya, jiwanya benar merintih bahkan menjerit.

Ingatan akan teman-temannya, kekasihnya, keluarganya terus berkelebatan dipelupuk matanya, ia benar-benar kehilangan arah, matanya menatap lurus dinding goa yang bertonjolan, tanpa sadar air matanya jatuh berlinang.

―Huahahaha, keh..keh ternyata orang yang aku pikir seorang lelaki sejati kini hanyalah sebuah mimpi, ternyata pemuda yang dihadapanku hanyalah seorang pengecut yang menangis hanya dengan sedikit siksaan hahah‖ Sebuah suara serak mencacinya.

Pemuda itu tertegun, ia tak sadar bahwa sejak tadi seorang sedang memperhatikannya, diam-diam ia merasa malu, wajahnya memerah.

―Cis, Aku Aram Widiawan tidaklah akan menangis bila hanya mendapat siksaan seperti ini, aku hanya merindukan kawan- kawanku yang selalu menanti‖ Jawb Pemuda yang tak lain adalah Aram itu.

―benarkah?‖

―cis, seribu siksaan darimupun aku masih sanggup menahan apalagi hanya seperti ini.

―hahaha ternyata kau memiliki jalu juga, hahan.. baik apa kau

akan sanggup menerima yang berikutnya‖ ancam kakek itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. Kakek itu tiba-tiba bangkit dan mengambil sebuah pisau kecil di sisi tubuhnya. melihat itu Aram mengeluh dalam hati, ia menyesal harus terbawa emosi dari sikakek tapi ia tak sudi unjuk kelemahan.

Dengan mengerahkan semangat 45 ia meneguhkan hatinya demi mendapat siksaan berikutnya lagi.

Kakek itu dengan kecepatan laksana kilat mencabuti setiap bambu lentur yang menempel ditubuh Aram.

Setelah beres kakek itu menancapkan pisau di dekat leher samping kiri lalu tertawa terkekeh kekeh sambil berbalik menuju keatas kepala aram, entah apa yang dilakukannya membuat orang bertanya tanya.

Tapi, bagi Aram itu tak membuatnya bertanya-tanya ia yakin apapun itu, pasti merupakan media alat penyiksa bagi dirinya.

Kakek itu berbalik, ditangannya terdapat empat buah macam benda bulat berlumuran darah merah segar,

―Nah anak muda, mata apa yang kau suka, mata rajawali atau mata serigala.. haha...‖

Ternyata benda bulat ditangan kakek itu adalah mata Rajawali dan mata Serigala tadi, keringat berjatuhan di dahi Aram, ia sadar target berikutnya adalah mata. mesih mending bila kakek itu membuatnya tak sadar lalu diambil, tapi bila Sikakek melakukan sesuatu yang lain? ―Menilik dari alismu yang seperti sayap elang biklah aku putuskan bahwa yang akan kau pakai adalah mata rajawali ini. hehe.. emch, akan lebih bagus bila pencangkokan mata ini bila pasiennya dalam keadaan sadar,,nah bersiaplah ‖ Putus

Kakek itu sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu menotok bagian- bagian tubuh Aram..

Tak selang begitu lama, kakek itu membentuk tangan kanannya menjadi hurup V dengan perlahan, tangan itu diturunkan kearah mata dan ditekan...

Aram mengeluh kesakitan, ia ingin sekali meronta, namun jangankan meronta, berteriakpun susahnya selangit, nampaknya kakek itu telah menotok jalan darah kaku dan bisunya.

darah keluar menetes dari sela-sela matanya, kedua bola mata itu perlahan keluar dari tempat kedudukannya. sampai suatu ketika kedua bola mata itu benar-benar keluar....

Sebuah benda kemerahan dari bola mata itu menjulur kedalam kedudukan mata itu. dengan menggunakan kuku jarinya benda seperti ari itu dipotong hingga putus.

Rasa sakit Aram benar-benar tak tertahankan, ia ingin sekali terpingsan menerima siksaan itu, tapi harapan itu kembalui kandas, ternyata ada bagian tubuh yang tertotok membuat ia tak bisa pingsan.

Waktu terus bergulir cepat, tak terasa satu bulan menurut hitungan seorang pemuda yang terbaring lemah dipembaringan itu telah berlalu. Selama satu bulan ini setiap hari dia disiksa dengan berbagai cara oleh kakek yang tak jelas asal usulnya itu, sebetulnya tubuhnya sudah pati rasa, namun setiap kali dikala napasnya sudah kempas-kempis.

Kakek itu selalu memberi minum darah dari dua buah hewan yang telah di simpan darahnya membuat ia bisa mempertahankan hidupnya.

Selama satu bulan ini, dia sudah mengalami siksaan lahir batin, siksaan paling keji diunia sekalipun ia telah mencobanya.

Keadaannya sudah tidak segagah, setampan serta selincah sebelum datang ketempat itu, Aram Widiawan sang pahlawan yang dipuja oleh umat persilatan kini tinggal kulit membungkus tulang saja, tubuh yang dulu kekar putih mulus tanpa cacat kini dipenuhi oleh luka sayatan,

Sekujur tubuhnya kecuali muka kini hakikatnya tak ada tempat yang tak dihuni luka sayatan. luka adalah pelipur laranya, sakit adalah kawan sejatinya. kini setiap tubuhnya disayat pisau ia tak perlu menjerit ia benar-benar pati rasa.

―kau benar-benar anak baik. ‖ kakek itu tersenyum, senyum

yang begitu lembut menenangkan jiwa membuat pemuda itu laksana diguyur es dari kutub selatan.

Ditangan kakek itu tergenggam cambuk berduri dari sebuah akar pohon. dengan diiringi desingan nyaring cambuk itu menggelepar pemuda yang terbaring diatas pembaringan, ―Ctarrrrr‖ ―ukhhh‖ Ctarrrr‖

Aram mengeluh, mulutnya tergagap, bibirnya gemetar, napasnya juga sudah senin kemis, Dalam keadaan setengah sadar, lapat- lapat Aram bergumam dan mata yang tertutup dengan kain itu menatap wajah Sikakek.

Sikakek terbahak-bahak dengan ulahnya, lalu berkata: "bicaralah anak muda..." Perintah kakek itu.

Selama dia telah disiksa setengah bulan akhir-akhir ini oleh Kakek itu, didalam hati kecilnya Aram telah memikirkan sesuatu yang akan menentukan masa depannya.

Ia akan bertaruh dengan masa depan melalui sebuah perkataan.

―Kita berdamai...‖ hanya itu yang mampu ia katakan saat ini, sebab tubuhnya sudah tak mengizinkan, ia pingsan tergeletak lemah.

Kakek itu tertegun, lama ia melamun, setelah menghela nafas keras ia berjalan terseok-seok menuju bangku disamping kiri pembaringan, dibangku itu kakek aneh ini duduk melamun memikirkan dua patah kata pemuda yang selama ini ia siksa.

Selama sebulan ini ia benar-benar tersentuh dengan korbannya itu. selama penyiksaan dari mata pemuda itu tak ada rasa dendam yang terpancar, selama pencangkokan mata pun pemuda itu hanya menunjukan rasa sakit saja tanpa hawa dendam dan haawa kebencian. Waktu adalah sesuatu yang tak bisa dihentikan, ia tetap berjalan seiring dengannya putaran bumi. begitupula ditempat itu, dikala sikakek melamun ia tersentak kaget dengan sebuah lenguhan orang yang tersadar dari pinsannya.

―Ukghhhhh‖Suara itu begitu lirih dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya, meski sikakek memiliki hati sekeras baja, mendengar lenguhan itu tak urung ia menghela nafas panjang juga.

―Apa yang akan kau damaikan anak muda..keh..kehh..‖ kakek itu berbicara lantang dari tempatnya duduk.

―izin...izinkan ak..aku bergerak beb..bas..dan dalam wak...waktu ber...kala kau bol...eh meny..yiksaku kem...kembali‖ Aram menjawab dengan disertai sengalan-sengalan menahan sakit.

―hahah...permintaanmu itu sudah aku duga anak muda,...‖ Kakek itu berkata sambil tertawa terbahak-bahak, sementara hatinya merasa kagum juga dengan insting pemuda itu, ia tak menyagka pemuda itu akan mengatakan dirinya siap mdisiksa kapanpun dia mau.

―Apakah syar...atnya?‖ pemuda itu berkata lirih. kakek itu kembali tertegun, belum ia mengatakan bahwa ia memiliki syarat tertentu pemuda itu sudah mampu mengatakannya.

―Tampaknya, Pemuda ini memiliki kecerdasan yang luar biasa...hemm...baiklah aku tak bakalan sungkan‖ Kakek itu membatin, ―Syarat Pertama, setiap hari kau harus mengisi bak air didepan, kedua kau harus mematuhi perintahku, tak ada kata menolak, dan yang terakhir syarat lainnya akan kukatakan dalam setiap kondisi yang memungkinkan (Kondisional). bagaimana.?‖ Pemuda itu tak menjawab ia hanya mengangguk lalu tiba-tiba mengejang dan menggeram...

―Geerrrrr....Auuuuuuuuummmm...Keeeaaakkk‖ pemuda itu bergetar hebat, pasak yang menempel ditubuhnya mencelat dan menancap di langit gua.

Tubuhnya bergulingan kekanan kekiri. mulutnya tak berhenti mengeak dan mengaum..ia mengaum hebat membuat gua itu bergetar,

Tubuhnya meringkuk, lalu diangkat mengambil posisi merangkak, tangannya mencengkram lantai gua dengan erat, dari punggungnya muncul tonjolan besar dan semakin besar, dari tonjolan itu muncul bulu-bulu hitam, jrett,. debu mengepul,

angin dari kebasan tonjolan daging itu berhembuscukup kencang sehingga menutupi tubuh pemuda itu..

Sebenarnya apa yang akan terjadi dengan Pemuda itu?........

DEBU mengepul tebal menutupi gua dimana tinggal seorang pemuda dan seorang kakek yang memiliki sifat aneh luar biasa,

Digua itu tampak seorang kakek duduk disebuah bangku tanpa bergeming dengan senyuman puas. dihadapannya debu mengepul dengan tebal dan perlahan lahan memudar, samar- samar sebuah sosok manusia dengan sayap dipunggungnya . Debu mulai menipis, perlahan-lahan menghilang, sebuah sosok aneh tampak dari kepulan debu itu.

Sosok itu merupakan seorang pemuda tampan dengan mata Seekor Rajawali, Dipunggungnya sebuah sayap hitam keemasan terbentang setengah terbuka.

Rambut Pemuda itu berwarna Perak, sama halnya dengan sebuh benda aneh dipantatnya, ternyata pemuda itu memiliki sebuah ekor mirip serigala.

Pemuda itu tampaknya tertegun dengan kondisi tubuhnya, ketika ia membuka bibirnya yang semerah darah dua buah taring runcing tersembul dari bibir itu.

Perubahan itu tidaklah lama, hanya sekitar seperminum teh saja, Pemuda yang tak lain Aram itu terhuyung dan menggeletak dilatai gua dalam keadaan pingsan, tubuhnya kembali normal, sayap itu dengan ajaibnya masuk kedalam tubuh pemuda itu.

Kakek itu terbahak-bahak dan bangkit lalu memegang kaki pemuda itu, dengan diiringi kekehan mengerikan kakek itu menggusur pemuda itu hingga keluar dari gua,

Seberkas sinar mucul dari luar gua, menyinari gua yang gelap itu. setelah diluar keadaanya terbanding terbalik dari kondisi dalm gua, suatu pemandangan indah terbentang didepan mata.

ternyata gua itu berada didalam sebuah puncak gunung mati. dibawah lereng bergunduk-gunduklah bukit-bukit hijau dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, Sebuah aliran sungai dari kejauhan bagaikan ular yang sedang berjalan. dibukit lain terlihatlah sebuah air terjun menggaris putih lurus indah.

Keindahan itu bagaikan suatu nirwana didunia, indahnya bukanlah kepalang. tapi disana terasa begitu hambar, tidaklah memberikan kesejukan yang berarti, disana tak ada kehidupan, tak ada burung ataupun hewan lainnya, begitu sepi..

Pohon-pohon tidaklah meliuk, bergoyangpun tidak. ternyata disana tak ada ANGIN, entah bagaimana kedua manusia tu bisa bernafas didalam sana.

―Uhuk...Uhukkkk...‖ Suara orang batuk berkumandang di gunung itu.

Suara batuk itu sangatlah tidak lazim, karena suara batuk itu seperti orang yang kebanyakan minum air. disebuah kubangan seluas delapan tombak persegi seorang pemuda tampan terbungkuk-bungkuk sambil memuntahkan air.

Dalam kubangan itu, airnya tidaklah seperti kubangan biasa, Air itu berwarna kuning kunyit. namun bening.

―Berhenti MAIN AIR, naiklah kedaratan bocah...‖ Suara serak menegur Pemuda itu.

Dengan segenap kemampuannya pemuda itu berusaha menaik kedaratan, Setelah berhasil ia merangkak menuju mulut gua.

―Ukh, Setelah beberapa lama di pasak dipembaringan ternyata berjalanpun susahnya minta ampun‖ gerutu pemuda itu. ―Brakkkkk‖ Empat buah cangkang buah maja, tergeletak dihadapannya.

―lekas ambil air, penuhi bak itu‖ Teriak seorang kakek diatas mulut gua.

‗‘Hah,. ‖ mulut pemuda itu kembali menganga.

―Aku bilang lekas ambil air ‖

―Dalam kondisi tubuh seperti ini?‖

―Ya,‖

―Serius. ‖

―tentu‖

―Huh, baik tapi,‖

―Tapi apa lagi heh?‖

―Dimana?‖ Pemuda itu kembali bertanya membuat sikakek mencak-mencak tak keruan.

Dengan setengah membentak kakek itu kembali menjawab.

―Dimana apanya heh?‖

―Airnya ‖ ―Ooohhhhh‖ mulut kakek itu membulat. ia bangkit dari silanya dan meloncat sambil bersalto satu dua kali diudara.

―kau lihat bukit itu..!‖ kakek itu menunjuk sebuah bukit dilereng gunung.

―Yah,..‖ jawab sipemuda.

―Dari bukit itu, kau berjalan sekitar dua mil. kekanan hingga kau sampai dipinggir sungai dengan air hijau.‖‖

―baik aku berangkat kesana sekarang‖ Pemuda itu mulai merangkak.

―Tunggu...‖

―Apalagi?‖

―Darisana kau menuju ke selatan sampai kau menemukan batu jembatan., kau lewatilah sungai itu lalu berangkatlah ketenggara hingga engkau menemukan air mata biru. darisana kau masuklah kedalam gua hingga kau menemukan air putih,

seputih susu. Ambilah air itu.‖

―haitt...? kau gila?‖ bukankah air disana! atau air yang kau bilang biru dan hijaupun air...?‖ Pekik Pemuda itu.

―hem, setitik saja air itu menetes dikulitmu, maka tubuhmu akan melepuh hingga menjadi tulang,.‖ ucap sikakek sinis. Diam-diam pemuda itu merinding sendiri, tanpa pamit lagi ia berjalan merangkak menuruni puncak gunung dengan membawa empat buah cangkang buah maja.

Baru saja sepuluh duapuluh rangkakan kakek itu kembali menegur.

―Tunggu..!‖

―Apalagi sih kek..‖

―Siapa Namamu?‖ Kakek itu bertanya membuat pemuda itu melengak.

―Aram, Aram Widiawan. dan kakek?‖ Aram balik bertanya.

―cih, bocah sekali lagi kau tanya namaku kupenggal kepalamu, aku Rajadiseta pailing benci jika ada orang menanyakan namaku.‖

Pemuda alias Aram itu tertawa geli, ia heran.. jika orang lain menanyakan namanya ia malah mengancam. tapi ia malah membocorkan namanya sendiri tanpa sadar atau memang sudah kebiasaan.

Karena Kakek itu tak bertanya-tanya lagi, Aram mulai mengumpulkan semangat dan keteguhan hatinya, ia mulai merangkak lagi menuruni lereng. Karena ia merangkak yang tentu saja lebih lambat dari biasanya, setengah hari ia hanya mampu menuruni seperempat lereng gunung. benar-benar sebuah kemunduran yang luar-biasa.

Jika dulu ia mampu melewati beberapa mil hanya beberapa jam, kini ia perlu waktu setengah

hari hanya mampu berjalan satu setengah mil.

―Ukh,. Ya tuhan.. Aku yakin kau memberiku cobaan seperti ini

untuk menurunkan kesombonganku, kecongkakanku yang merasa memiliki ilmu yang tiada taranya. kini aku sadar wahai tuhanku aku hanyalah seorang manusia yang hanya mampu

berjalnpun memerlukan tuntunanmu ‖

Aram berdoa dengan menyenderkan punggungnya disebuah pohon, lutut dan telapak tangannya sudah mulai berdarah, keringat berketel-ketel membasahi tubuhnya yang telanjang dada.

Nafasnya sudah ngos-ngosan tak beraturan. matanya yang setajam rajawali berkeliaran di kelopak matanya. Aram yang memiliki mata baru mulai membiasakan diri dengan mata itu.

Ia merasakan bahwa mata itu lebih tajam daripada mata yang ia miliki sebelumnya. dengan memusatkan segenap rasa dan ciptanya menuju arah mata Aram mulai setitik benda.

Tubuhnya bergetar ringan. menyatakan bahwa ia kaget dengan hasilnya.

―Gila. tak kusangka jarak beberapa mil dapat kulihat dengan

mataku ‖ Tak berasa setengah peranakan nasi telah berlalu, akhirnya Aram mulai sadar dari keasyikannya, ia segera mengaitkan tali buah maja pada lehernya dan mulai kembali merangkak.

hari mulai temaram, menyelimuti dunia.. Aram terus merangkak meski tubuhnya sudah tak kuat lagi merangkak, lututnya terasa perih tangannya terasa pedas,

Rasa pegal sudah menyelimuti tubuhnya, tapi ia merupakan seorang yang teguh, meski tubuhnya telah mencapai batas kemampuan ia masih merangkak hingga ia tergelaetak pingsan kecapaian.

Semuanya gelap dan sunyi, tak ada nyanyian malam tak ada suara binatang malam, semuanya sunyi seperti kuburan. Aram yang tergeletak pingsan mulai sadarkan diri, ia mencoba mengerjapkan matanya, mata setajam rajawali itu bersinar-sinar dalam kegelapan dengan mengerahkan segenap kemampuannya kembali ia mengambil posisi merangkak.

Lapat-lapat sinar mentari mulai menerobos dedaunan, rupanya fajar telah datang,

―Ukhhh ‖ Suara keluhan dari bibir seorang pemuda tampan

dengan lutut dan telapak tangan berlumuran darah. disebuah bukit kecil yang ia tuju. Pemuda yang tak lain Aram itu mengeluh menahahan sakit ditubuhnya.

Sebenarnya ia bisa saja memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri, dengan begitu ia bisa selamat dari siksaan kakek aneh itu lagi. Tapi, Aram adalah sesosok pemuda yang memiliki jiwa yang lain dari yng lain. Ia Paham bahwa sebenarnya kakek itu bermaksud baik kepadanya, meski tubuhnya sudah hancur dijadikan bulan- bulanan kakek itu Aram tetap mempercayai sikakek.

Rasa percaya itulah yang membuat ia mampu menghirup kebebasan dari pembaringan, ia sadar jika ia terus berbaring, lama-lama syarap tubuhnya melupakan cara berjalan...

Terbukti dengan keadaannya sekarang, ia harus merangkak menahan sakit hanya untuk mengambil setetes demi tetes air yang tempatnyapun ia belum mengetahui.

― Dua mil kekanak, dua mil kekanan ‖ Mulut Aram bergumam

lirih sambil kembali merangkak, ia merangkak menyusur hutan belantara menuju kearah timur terus dan terus hingga tengah hari ia baru sampai di Sebuah sungai berair hijau.

Pemuda itu bena-benar terpesona dengan keindahan air tersebut, di barat sungai sebuah air terjun berwarna hijau bercucuran menju sungai, benar-benar pemandangan yang sangat indah.

Seandainya ia tak diberitahu bahwa sungai itu mengandung racun yang dahsyat ia pasti sudah menerunkan diri berenang sambil meminum airnya sepuas-puasnya.

Sambil menghela nafas panjang pendek Aram kembali merangkak menuju selatan sungai, benar-benar perjaklanan yang sangat melelahkan. ―Teman-teman, ayah, guru nenek, Hong moay, doakan aku bahwa aku bisa melewati semua ujian ini..‖ Sambil merangkak pemuda itu berdoa, air matanya bercucuran,

Kondisi saat ini benar-benar menggenaskan, bajunya hingga tinggal cawat, darah bercucuran dijalanan, keringat berketel- ketel, nafas tak beraturan,

―Akh...Kakek itu benar-benar gila,. ‖ Aram mengumpat,

dihadapannya terbentang sungai sepanjang dua puluh tombak dan batu yang menjadi jembatan melintang diatas air tenang. yang jadi masalah adalah bahwa jembatan itu lebarnya hanya satu jengkal orang dewasa, Aram benar-benar kebingungan jika ia melewati jembatan itu, salah-salah jiwanya bakal melayang.

Apakah Aram dapat melewati jembatan itu dan sampai di Mata air biru hingga mendapatkan air seputih susu?

―OTAKMU MEMANG SECERDIK rubah bocah sialan, kau memang cerdas, memanglah aku belum cukup merubahmu, ngomong ngomong kau sudah tahu kau sedang berada dialam mana?‖

―Tidak..‖ Aram menjawab dengan riang, memang itulah yang sejak lama ia nantikan jawaban itu.

― Ini Adalah alam Perbatasan Antara Manusia dengan Makhluk Ghaib., bukankah kau merasakan di Alam ini tak ada angi n yang bergerak. ?‖ Aram tak menjawab, ia hanya mengangguk sajalah sebagai jawabannya. tiba-tiba kakek itu bangkit dan berkata :

―Bocah, ikutlah denganku ‖ tanpa menunggu apa-apa Kakek

itu segera berbalik menuju gua.

Melihat itu, Aram segera mengekor dengan membawa paha Kijang yang masih berlumuran darah, setelah berbelok-belok akhirnya mereka sampai juga disebuah ruangan.

Aram terkejut, karena ia belum pernah melihat ruangan itu sebelumnya.

yang membuatnya lebih terkejut adalah disana terdapat empat orang perempuan yang sangat cantik jelita bak bidadari dalam keadaan setengah telanjang.

Tangan mereka diikat keatas sebuah pembaringan sementara kakinya diikat kebawah pembaringan, mereka menangis dengan tersedu-sedu. Aram benar-benar kebingungan dengan ulah sikakek, entah apa yang akan dilakukannya lagi.

Aram tak berkata apa-apa, ia hanya memandang sikakek dengan sejuta tanya.

―Kau tahu siapa mereka?‖ Sikakek bertanya.

―Tidak. ‖

―Mereka adalah empat selir raja Agung Prahasta, raja dari Kerajaan Swargaloka di Alam Jin.‖ dingin saja Kakek itu berkata. Aram hanya setengah mempercayai sikakek, bagaimanapun selir raja selalu dijaga ketat oleh pengawalnya, apalagi tidak mustahil mereka memiliki kemampuan diatas pengawalnya. Hanya satu yang ia pahami, Sikakek ingin membuat tubuhnya setengah gaib. mengenai caranya aram masih blang tidak mengerti.

Kakek itu segera mendekati si Perempuan pertama, tangan kasarnya diulur dan akhirnya ia dapat memegang gundukan indah itu, dengan sedikit remasan dari puncaknya keluarlah cairan putih. dengan diiringi jeritan marah siempunya.

―Nah bocah, kau lihatlah cairan putih ini.. kau harus menghisapnya...‖

―Heh, tapi...‖

Ger. sepertinya kakek itu jengkel dengan penolakan Aram,

segera ia memegang leher perempuan itu dan menotok urat dilehernya.

―Heh, Lekas kau paksa bocah itu atau ku ceburkan anakmu kedalam sungai hijau‖ Ancam sikakek.

Perempuan itu ketakutan, dengan terisak-isak ia menjawab...:

―Baik,-baik, jangan jangan kau bunuh anakku nah anak muda

tampan lekaslah kau lakukan apa yang diminta sikakek..‖

―Tapi..‖ Aram masih Ragu. ―Lekaslah.. apakau ingin membunuh anakku pula..‖ Teriak perempuan itu.

Mendapat tekanan dari sana sini akhirnya Aram melangkahkan kakinya dan mendekatkan bibirnya kepuncak bukit perempuan itu. Perempuan itu meramkan mata, tubuhnya bergetar ketika ia merasakan puncaknya dihisap...

―Nah, bocah dengarlah.. dipojok sana ada keranjang berisi bayi, setiap mereka menangis kau harus menyusukan mereka pada ibunya, namun karena kau pun ikut menghisap maka kau berikanlah air yang seputih susu itu kepada ibunya. nah balikan tubuhmu...‖

Aram membalikan tubuh dan plakkkk ukhhgg... Tubuhnya mundur selangkah, didadanya terjiplak empat jari milik sikakek...

―Jari itu adalah pemantau apakah kau menuruti perintah ku apa tidak, setiap kiau menghisap air susu dari satu orang maka jari itu akan menghilang.‖ setelah berkata demikian kakek itu beranjak keluar ruangan sambil mengibaskan tangannya.

―Ukh...ukh..ukh...‖ tiga teriakan dari tihga orang lainnya terdengar, sepertinya sikakek membebaskan suara mereka sepenuhnya.

Aram termangu-mangu disisi pembaringan, ia tak menyangka sikakek bakal menyuruhnya menyusu seperti bayi,

―Tampan apa yang sedang kau pikirkan...?‖ Perempuan pertama menyadarkan Aram yang sedang termangu-mangu. Aram benar-benar kaget, dengan terbata-bata ia menjawab:

―Akh..tidak.. tidak ada apa-apa..!‖

―Lihatlah tubuhmu tampan, apakah kau sering mendapat siksaan dari kakek itu? kau turutilah apa yang dikehendakinya agar kau

tidaklah mendapat siksaan lagi‖

Aram benar-benar terharu dengan kebaikan perempuan itu, ia menganguk-angguk

―Nama saya Aram, siapakah nama kakak bertiga... ―

Aram mencoba basa-basi, perempuan pertama yang memiliki wajah oriental dengan tahi lalat di dagunya dengan pakaian indah serba hijau meski bajunya itu menyibak lebar di lengan sampai pinggulnya menjawab sambil memperkenalkan yang lain, karena yang lain masih asyik menangis..

―Namaku Paramitha disebelahku yang memakai pakaian kuning bernama Parahusanti, disebelahnya yang memakia pakaian merah muda bernama Paraseja, dan yang terakhir yang memakai pakaian biru muda bernama Parakusti dialah yang paling muda diantara kami,‖

Parahusanti memiliki wajah cantik manis berkulit kuning langsat mulus, dibelahan dadanya tersebar banyak tahi lalat menggairahkan setiap yang melihatnya, wajahnya sayu menambah

keayuannya. Paraseja juga tak kalah cantiknya dengan yang lainnnya, diantara semuanya dialah yang memiliki bukit paling besar, matanya jeli bersinar nakal, sepertinya dia memiliki sifat yang sedikit binal dan liar.

Sedangkan Parakusti memiliki wajah cantik kekanak-kanakan, matanya jeli berhidung mancung, kulitnya hejo carulang dadanya sekal dan indah, diantara halis kanannya tahilalat kecil menghiasi kulitnya.

Aram tundukan kepalanya, ia merasa kikuk berhadapan dengan empat wanita itu, meski ia pernah tidur dengan perempuan, tapi, ia belum pernah berhadapan langsung dengan tiga gadis langsung.

―Lekaslah anak muda, bukannya aku tak memiliki harga diri sebagai istri orang, namun keselamatan anakku lebih berharga..‖ Paramitha memelas.

Dengan hati dag-dig-dug Aram kembali mendekatkan bibirnya dibukit milik Paramitha, Air itu rasanya hambar namun segar... lama ia menghisap, sementara Paramitha terlihat menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan.

Aram berhenti, dia melihat sebuah bekas jari di dadanya telah hilang, sementara Paramitha masih mengap-mengap, seperti ikan mas. Setelah menenangkan kondisinya Paramitha segera menyuruh Aram melakukan kepada lainnya. ―maafkan aku...‖ Desis Aram kepada Parakusti, Parakusti tampak memejamkan matanya yang

jeli kekanak-kanakan, wajahnya semu merah menahan malu dan gairah.

Setelah menunaikan tugasnya Aram segera menutupkan baju mereka, dari sinar mata mereka tampak sebuah titik kebahagiaan dalam sebuah bentuk.

Aram berjalan kepojok ruangan, ia melihat disana empat orang bayi yang sedang menangis, dengan hati-hati ia memangkunya dan membawa keibunya. dengan sedikit singkapan bayi itu menyusu dengan lahap sekali.

Begitulah berturut-turut, terakhir ia membawa air yang dibawanya dengan susah payah,

―Kak, bukalah mulutmu ‖ Aram memerintah, tanpa perlawanan

mereka meminum air itu.

―Akh, ‖ Aram menguap, ia duduk dihadapan Paramitha,

dengan menelungkupkan kepalanya Aram tertidur dengan nyenyak.

Malam demi malam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, genaplah Aram tinggal bersama mereka dalam 2 tahun.

Fajar sampai pagi ia mengambil Air, dalam hari ini, kelincahannya telah kembali, ia tak perlu lama untuk mengambil air, cukup satu kentungan ia sudah kembali kegua. bisa dibayangkan kecepatan geraknya hari ini,

Pagi sampai Tengah hari ia mendapat siksaan dari sikakek, kadang dicambuki, kadang disayat dan sebagainya.

Tengah hari sampai malam ia berlatih kembali, melatih setiap ilmunya yang ia lupakan.

Tengah malam ia segera menemani empat selir raja jin yang disekap sikakek, kini keempatnya tak lagi disekap seperti dulu, saat ini mereka melayani Aram dengan hati riang gembira, bahkan bukan hanya menyusu saja, bagaimanapun merek membutuhkan sentuhan biologis, dan yang bertugas melayani mereka adalah Aram, Sipemuda kita.

Waktu datang dan pergi. Roda kehidupan terus ber-jalan tanpa ada yang dapat menghentikannya.

Sejak Kematian Para Pendekar Merdeka yang berani unjuk taring menentang kejahatan

Panji Telapak Perak, munculah sebuah organisasi yang lebih mengerikan dan menakutkan,

Hari-hari makin tersaput warna merah karena terlalu banyak darah tertumpah. Tidak hanya membumi hanguskan kerajaan,. Tapi, juga membantai setiap umat persilatan yang menentang, lima perguruan utama disegel, kaum persilatan dilarang berkelana, Pembantaian terjadi dimana-mana, seluruh penduduk seantero tanah jawa ketakutan. Di setiap tempat dan di setiap waktu terjadi pemerkosaan, kematian ataupun kejahatan lainnya.

Isak tangis pilu para korban yang teraniaya ataupun yang kehilangan keluarganya kini merata, bukan hanya terjadi ditanah jawa saja, seluruh pelosok nusantara dan tanah sebrang merasakan dampaknya.

Saat ini, dunia persilatan maupun masyarakat biasa membutuhkan sosok pemimpin, sosok pemimpin yang dapat melawan sebuah organisasi itu.

Tak ada lagi kebahagiaan dimata mereka, anak-anak seperti sampah yang berserakan, mereka tampak berkeliaran dimana- mana meminta perlindungan, tubuh mereka krus kering.

Sementara itu, di sebuah Alam lain, seorang pemuda tampan bertelanjang dada tampak sedang bersemadi dicelah-celah tebing yang mengapit, kakinya terpentang menahan berat tubuh, tangannya dirangkapkan didada seperti menyembah,

Pemuda itu tak lain adalah Aram adanya. Setelah beberapa tahun tahun menjalani kehidupan di alam perbatasan, sekarang dia sudah menjadi pemuda yang matang, tubuhnya berbadan tegap berotot.

Rambutnya perlahan berubah warna menjadi berwarna perak . Wajahnya yang tampan dihiasi alis mata yang menukik bagai sayap elang, matanya tak lazim bagi seorang manusia, sebab mata itu persis layaknya mata seekor rajawali. dipunggungnya muncul sebuah sayap lebar, masing-masing sepanjang tiga tombak. dari kedua kakinya yang terpentang muncul ekor serigala berwarna perak.

Dengan sekali sentakan dan suitan nyaring tubuhnya melesat keatas, ia terbang bagaikan seekor rajawali perkasa,

wusssshh... ia terbang melintasi tebing-tebing yang menjulang, himpitan tebing sempit tak menghalanginya, danau sungai hutan ia lintasi dengan kecepatan angin.

Lama ia berputar-putar diudara layaknya rajawali mencari mangsa, setelah menemui titik temu ia melesat menukik rendah menuju sebuah puncak dimana puncak itu berdiri lima sosok berbentuk manusia.

―Jleegggg...‖ Ia mendarat dahsyat di tempat itu, debu mengepul tinggi, tanah yang dipijaknya bergetar ringan.

Setelah debu menghilang munculah seraut wajah tampan berambut hitam. sayap dan ekornya menghilang entah kemana.

―Aram, kemarilah ‖ suara serak-serak basah seorang lelaki tua

menyapanya.

―Baik, kek. ‖ Aram menyahut.

―Duduk‖ Kakek itu memerintah.

Aram akhirnya duduk diiringi empat sosok yang lainnya. Akhirnya kakek itu mulai membuka pembicaraan. ―Dalam masa penyempurnaannya sebagai manusia berdarah setengah gaib, setengah hewan aku tak pernah mlihat kau berhenti berlatih, tak jarang aku menyiksamu hingga kau pingsan tak sadarkan diri. tapi, kau tak pernah mengeluh... ataupun mendendam. kini waktunya telah tiba, mulai besok kau boleh pulang kealammu‖

―Hah Secepat itukah?‖ Aram menitikan air mata.

―Apa yang harus kau laukan dialammu Aram..‖ kakek itu bertanya.

―menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai..‖

―kapankah kau harus menyelesaikan pekerjaan itu?‖

― Dalam jangka dua tahun tapi, sekarang sudah dua tahun

setengah‖ Aram bersedih.

―Kau jangan khawatir, satu tahun disini sama dengan satu bulan dialammu‖ kakek itu berkata.

―Akh ‖ hanya itu yang mampu ia ucapkan,

―Kek, dapatkah aku menyambangimu kembali?‖

―hahahaha.........uhuk..uhukk. ‖ kakek itu tertawa-tawa sampai ia

batu-batuk dan memuntahkan darah segar.

"Dengarkan baik-baik, Aram. Rasanya saatku sudah tiba ,

Besok, di saat fajar menyingsing, kau harus meninggalkan pulau di Alam perbatasan ini. Saat itu kau tidak akan menemukan aku lagi."

"Huffzzz " Entah mengapa Aram tidak terkejut dengan ucapan sikakek, hanya elahan nafas yang ia perdengarkan..

"Kau memang cerdik, Aram! Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan kembali pada pencipta-Nya. Mereka semua juga akan mati dan hancur kembali ke asalnya. hanya cara dan waktu saja yang membedakannya.!" Ucap kakek itu diplomatis.

―Aram! Seluruh hidup dan nyawaku telah aku habiskan untuk melakukan penelitian, sembilan ratus tahun duapuluh purnama, tigapuluh hari dua belas kentungan aku terbenam dalam ambisiku, entah berapa jiwa yang melayang akan ulahku dan

sekarang, sekarang ambisiku telah selesai,... terimakasih.. atas segala pengorbananmu.‖ Kakek itu menjelaskan sambil menangis.

Aram tidak bisa berkata-kata apa-apa. Dia hanya bangkit dan memeluk kakek itu.

"Aram ," panggil kakek itu pelan.

"Ya, Kek!" sahut Aram seraya melepaskan pelukan dan kembali ketempatnya semula.

"Jangan kembali lagi ke pulau ini, lakukan tugasmu, jangan menyia-nyiakan ambisiku saat

fajar menyingsing kau boleh pergi dari Alam ini." pesan Kakek itu

. "Baik, kakek..."

―Aram ‖ Seorang perempuan cantik berbaju serba hijau alias

paramitha menyela.

―ya, kak. ‖

―Ini... maafkan kami hanya mampu memberikan ini. ‖

Parahusada memberikan sebuah baju berwarna hijau. lengkap dengan jubahnya.

―Mari, engkau aku bantu pakaikan jangan hanya memakai ca wat saja. hihi‖ Parakusti cekikikan.

―Haha ‖ Aram tertawa malu.

Akhirnya aram berangkat masuk kedalam gua bersama dengan Parakusti.

―tunggu‖ Paraseja mencegah.

―Ada apa Teh?‖ Parakusti keheranan.

―Rasanya aneh, bajunya bagus, sementara orangnya kotor, jadi sebaiknya kita mandikan dahulu baru ganti bajunya.‖ usul Paraseja.

―Aha, ide bagus,. mari ‖ Parakusti menyeret Aram ke kubangan

air berwarna kuning, meski air itu kuning tapi air itu tidaklah membuat tubuh kuning. air itu tidaklah begitu jau dengan air biasa di alam manusia. ―brett,...‖ dengan sekali jambret cawat yang dipakai Aram ditarik paksa, pakaian satu-satunya itu kini lepas sehingga kini Aram telanjang tanpa selembar benangpun.

Dengan riang gembira Parakusti dan Paraseja memandikan Aram, sekali-kali canda tawa mereka kerap terdengar. Paramitha dan Parahusada menyaksikan sambil tertawa-tawa menyaksikan ketiganya mandi dengan sekali-kali terdengar rintihan nikmat.

Kakek yang tadi duduk bersama Paramitha dan Parahusada kini menghilang entah kemana, dia menghilang raib bagaikan angin.

―Akh, sudah kak, aku sudah lelah...‖ Aram memelas.

―hihi , bilang saja pengen langsung kepuncak‖ goda Paramitha

disusuli tawa yang lain.

―Kusti, bawa saja ke Gua, kita keroyok didalam..‖ teriak Parahusada.

―Baik. ‖ Tanpa ba-bi-bu lagi Parakusti membawa Aram kedalam

gua, disana mereka mempuaskan birahi, bagaimanapun mulai esok hari, mereka tidak bakalan berjumpa lagi,

Dengan semangat Aram menciumi leher jenjang parikusti, meski mereka adalah makhluk yang berbeda, namun perlu diketahui, Jin adalah makhluk gaib yang tak kasat oleh mata,

*Pada dasarnya bentuk rupa Jin tidak banyak berbeda dari bentuk rupa manusia, yaitu mereka memiliki jenis kelamin, memiliki hidung mata, tangan, kaki, telinga dan sebagainya, sebagaimana yang di miliki oleh manusia. Pada dasarnya 80 hingga 90 persen Jin menyerupai manusia.

Hanya perbedaan fisik Jin adalah lebih kecil dan halus dari manusia. Bentuk tubuh mereka itu ada yang pendek, ada yang tinggi dan bermacam-macam warnanya, yaitu putih, merah, biru, hitam dan sebagainya.

Pengetahuan mereka lebih luas dan berumur sangat panjang sampai beribu-ribu tahun umurnya. Kecepatan Jin bergerak melebihi kecepatan cahaya dalam suatu waktu. Karena Jin terdiri dari mahkluk yang seni dan tersembunyi, tidak zahir seperti manusia dan tidak sepenuhnya ghaib seperti Malaikat, maka ruang yang kecil pun bisa di duduki oleh jutaan Jin dan juga dapat merasuki dan menghuni tubuh manusia.

Jumlah Jin terlalu banyak hingga jika jumlah semua manusia dari Nabi Adam sampai hari kiamat dikalikan dengan hewan- hewan, dikalikan dengan batu-batu, dikalikan dengan pasir-pasir dan semua tumbuh-tumbuhan. Itu pun hanya sepersepuluh dari total Jin.

Alam tempat berdiamnya Jin adalah di lautan, daratan, di udara dan di Alam Mithal yaitu suatu alam yang terletak diantara alam manusia dan alam malaikat. Jika kita diberikan oleh Allah kemampuan untuk melihat Jin, sudah tentu kita akan melihat jarum yang jatuh dari atas tidak akan jatuh ke bumi, tetapi jatuh dibelakang Jin, karena sangat banyaknya jumlah mereka.* ―Akh...emhhh‖ Parakusti menggelinjang, Paraseja, Paramitha dan Parahusada segera melepaskan pakainan mereka dan segera bergabung dengan Parakusti, malam itu bulan mengintip malu-malu, didalam gua terdengar jeritan-jeritan nikmat, jeritan puas dan nafas yang saling memburu menemani malam yang sepi...

Debur ombak bergemuruh memecah karang,

Gemerisik air menyapa pesisir pantai laksana denting piano Kicauan burung camar bersahut-sahutan menyemarakan suasana

Sinar matahari bersinar terang, kekuning-kuningan menerobos sela-sela karang, menyinari Seorang pemuda yang tergeletak diantara jepitan karang, pemuda itu dalam keadaan polos tanpa selembar benangpun, rambutnya panjang menutupi dadanya yang bidang, tubuhnya kekar berotot penuh dengan luka sayatan.

Perlahan pemuda itu sadarkan diri dari pingsannya, setelah berusaha duduk pemuda itu termangu-mangu, diliriknya disamping kanannya tergeletak satu stel pakaian berwarna hijau muda transparan dengan jasnya yang berwarna hijau tua disamping bangkai rakit.

―Aneh, mengapa aku tergeletak disini... ukh, ― pemuda itu mengeluh ringan.

―hemm,... apakah kejadian itu cuman mimpi belaka? jikalau memang hanya mimpi, mengapa baju pemberian empat selir raja jin dan luka sayatan ini ada disini?‖ Ternyata pemuda itu tak lain adalah Aram adanya,.

Kini rupanya ia baru sampai di Alam manusia, setelah melakukan Hubungan badan dengan keempat selir jin itu Aram tertidur kecapaian, dan setelah bangun ia sudah berada dialam nyata, jadi tidak heran mengapa ia terlihat kebingungan.

―Sudahlah Kakek itu bilang satu tahun disana sama dengan

satu bulan disini, dan aku berada disana selama dua tahun setengah, berarti masih ada waktu satu tahun sembilan purnama setengah, hemm aku harus bergegas menemukan tempat

dalam peta itu, lalu merencanakan rencana berikutnya.‖

Dengan bergegas pemuda itu memakai pakaian yang menurutnya susah dan ribet, setelah selesai, segera ia meloncat keatas batu karang dan bersalto diudara menuju sisi hutan. gerakannya indah dan ringan laksana rajawali perkasa dari alam dewa.

―Jleggg‖ ia mendarat ringan, ternyata baju itu sangat indah dan aneh, baju dalamnya tidaklah ketat dan berwarna hijau transparan berlengan sebatas siku. sementara baju luarnya atau jasnya hanya ada sebelah kirinya. seperti peralatan untuk olahraga memanah. baju luarnya itu diikat dengan tali dari bahan yang sama yang terdiri dari lima utas tali.

Sabuknya berwarna sama dengan bajunya dan berukiran indah, celananya juga terbuat dari bahan yang sama dengan baju luarnya, panjang sebatas mata kaki, namun tertutup dengan sepatu panjang sebatas lutut, sepatu itu berukiran indah secara abstrak. di bagian lututnya terdapat perhiasan pelindung lutut yang membentuk segitiga.

Dengan mengedarkan mata Rajawalinya Aram menatap hutan menentukan suatu titik temu. dengan sekali genjotan tubuhnya meluncur didahan-dahan dan ranting-ranting pohon, laksana seekor serigala mencari mangsa Aram menajamkan penciumannya, dia menerobos hutan seperti seekor serigala memburu mangsa.

Setelah berlarian sedemikian rupa ia berdiri di depan sebuah bangunan batu yang sudah ambruk. didepannya terdapat tangga tangga dari susunan batu yang rapi. tampaknya saja tangga itu seperti tangga biasa, namun dimata Awas bagi Aram ia tahu tangga itu mengandung unsur sebuah barisan kuno yang disebut dengan barisan tangga naik surga.

barangsiapa yang telah terjeblos kedalam tangga itu maka ia bakal tersesat batinnya kedalam bayangan alam bawah sadarnya, ia akan berfantasi dengan khayalan hingga ia mati karena bergembira berlebihan.

Dengan berjalan menurut hitungan rasi bintang Aram mulai masuk kedalam barisan, dengan hati-hati ia maju dua langkah kedepan, lalu mundur lagi selangkah kebelakang, ia kemudian bergeser kearah kiri,

Namun ketika kaki kiri-nya menjejak salah satu dari susunan batu yang teratur rapi, mendadak tanah di sekitar batu itu amblas! Aram terkejut, ia heran padahal ia melangkah dengan benar, tinggal selangkah lagi ia bisa keluar dari barisan itu, namun sesuatu hal yang tak diinginkannya telah terjadi.

Belum sempat Aram menyadari apa yang jadi penyebabnya, tubuhnya tersedot ke lubang besar yang kini menganga.

Srrr!

Tubuhnya terus meluncur dalam lubang menurun yang panjang berliku. Bunyi kerikil dan rumput yang ikut terseret tubuhnya, terdengar seperti rumput yang dilalui ribuan ular. Sampai suatu ketika....

Huppzz... ! hait..jleggg Aram mendarat ditanah dengan mulusnya,

―Hem Apalagi yang akan terjadi padaku.‖ keluh Aram dengan

sedih. setelah memantapkan hatinya, Aram mulai mengawasi keadaan sekitarnya. Rupanya, di sekelilingnya merupakan sebuah ruangan yang cukup luas, berdinding batu cadas yang melingkar hingga ke bagian atas.

Pada beberapa bagian dinding terdapat mutiara-mutiara indah menerangi tempat itu. Hawa di dalam ruangan itu cukup lembab, namun tidak berbau amis malah berbau harum.

Bau harum itu menarik perhatian Aram. Rupanya ada suatu bunga berwarna putih diatas meja beralaskan kain kuning emas, Aram jadi terheran-heran sendiri melihatnya, Bermacam-macam dugaan berkecamuk dalam benaknya saat ini. Tapi, tak satu pun yang terjawab, sehingga makin membangkitkan rasa ingin tahunya.

Aram segera mengatur napasnya hingga sedemikian rupa, menjaga kemungkinan yang bakal terjadi ketika menghampiri bunga yang diciumnya harum itu, setelah dekat Aram mencoba mengamatinya.

Keningnya terlihat berkerut seakan ia tak mengerti akan suatu hal., Aram coba tempelkan telunjuk kanan dan kirinya disudut meja. perlahan ditarik miring hingga membentuk segitiga, lalu ditarik lagi hingga membentuk gambar kristal namun lebih panjang, kemudian ditarik keatas membelah bentuk tadi, telunjuk kanannya ditarik kekiri hingga jadilah bintang segi tujuh.

―Srettt‖ sebuah benda kecil melesat yang dengan sigap berpindah ditangan Aram. benda itu kecil panjang, setelah diperhatikan ternyata itu adalah sebuah bambu kecil, disalah satu ujungnya terdapat kain penyumpal yang seperti tutup.

Dengan hati-hati Aram membuka tutup itu. ternyata didalamnya terdapat surat bertulisan bahasa sunda yang bila diterjemahkan isinya seperti ini:

―Cucuku Aram Widiawan, Aku adalah buyutmu yang bernama Avatara Batara Yuda, surat ini aku tulis beberapa abad sebelum engkau lahir, pada masa tuaku sebelum aku meninggalkan dunia ini dunia terjadi kekacauan hebat, menilik pada usiaku yang sudah tua aku akhirnya mengambil murid yang selanjutnya bergelar Pangeran Empat Dewa, aku perintahkan muridku itu untuk membasmi biang keladi kekacauan itu, namun muridku terlalu memiliki wajah cakap sehingga tiap langkahnya selalu dikacaukan oleh wanita. singkat cerita muridku itu tidak dapat membunuh biang keladi itu, ia hanya mampu membuat cacad tubuhnya dan dia telah bersumpah bahwa ia akan datang pada suatu saat melalui keturunannya. dan celakanya pembalasan itu datang dimana saat Masamu. Maka sebagai cucu buyutku aku ingin kau membasminya demi kesejahteraan umat manusia.

Diatas meja terdapat bunga kemuliaan, mandi dan minumlah air itu untuk menghilangkan perilaku buruk hewanisasi dan tubuh gaibmu. darah hewan dan gaibmu tidak akan berubah sebab sudah menyatu dengan darah dagingmu. tapi perilaku seperti memakan daging mentah dan darah akan menghilang. Ambil segi positifnya buang segi Negatifnya. aku mempercayaimu.

Dipeti bawah meja terdapat kitab Penerobos dimensi, kau dapat berpindah alam ataupun berpindah ke negri dan tempat lainnya hanya dalam waktu sekejap mata, tak usah kau pergi ke perpustakaan keluargamu.. sebab ilmumu terlalu beragam, apalagi ilmu-ilmu itu tak dapat dipelajari dengan kondisi tubuhmu...

Salam ―.Avatara Batara Yuda.‖

Aram benar-benar terkejut setelah membaca surat itu. ternyata semua hal yang dialaminya telah diramalkan beberapa Abad yang lalu. ia kagum benar terhadap buyutnya itu, meramalkan kejadian beberapa abad mendatang adalah hal yang benar- benar suit untuk dilakukan.

―Baik, Eyang Aku pasti dapat membasminya, apapun yang

terjadi. ‖ desisnya bersemangat. Aram segera mengambil bunga kemuliaan dan membawanya kepojok ruangan dimana terdapat kubangan air berbentuk sumur, Ia segera melepaskan pakaiannya dan turun kesumur lalu bersemadi.

Dua hari dua malam telah berlalu Aram masih terlihat bersemadi didalam sumur, perlahan ia membuka matanya dan meminum air sumur itu.

Setelah dirasa cukup Aram segera melompat kedarat dan memakai pakaiannya kemudian beranjak mengambil kitab didalam bawah meja.

Kitab itu merupakan suatu kitab yang luar biasa, ternyata kitab itu merupakan kitab alam yang menyatakan bahwa waktu akan berjalan lebih lamban, jika berada di dekat medan gravitasi, oleh karenanya gravitasi memiliki cangkang-cangkang waktu.

Kesimpulannya, ketika kita melaju lurus pada satu kecepatan, sebenarnya kita berada pada satu cangkang dari medan gravitasi.

Berdasarkan teori itu, maka akhirnya terciptalah sebuah ilmu yang dapat mengantarkan manusia ketempat lain dalam waktu relatif singkat yang diberi nama Kitab Penerobos Dimensi.

Aram tersenyum senang, dengan tekun ia mempelajari kitab itu sekaligus membenahi tempat itu, dengan kemampuannya dalam mengolah masukan data dan mengaplikasikannya dalam kehidupan dalam jangka waktu satu bulan akhirnya Aram dapat menguasai ilmu itu dengan cukup sempurna. Selama diruangan itu, Aram hanya memakan lumut-lumut hijau dan air dari sumur saja untuk mengisi perutnya,Seperti hari itu, terlihatlah ditangannya tergenggam setumpuk lumut yang menjadi santapanya, tengah asyik mengunyah sambil melepaskan lumut dari batu tiba-tiba ia melihat sebuah tonjolan kecil yang menurutnya tak lazim,

dengan diliputi rasa Penasaran Aram memencet tonjolan itu,

―Drtt.... jrek...drek: ― tiba-tiba dinding ruangan terbuka munculah sebuah ruangan lain, ruangan itu penuh dengan rak-rak buku, senjata dan peralatan lainnya.

―Akh, ternyata ini ruangan keluargaku itu,,....hemm... meski buyutku menyuruhku tak kesini tapi ternyata aku kesini juga ‖

Aram bergumam sambil masuk kedalam ruangan dengan melewati pintu batu yang terbuka, Sebentar matanya yang tajam luar biasa itu beredar ke sekeliling ruang yang hanya diterangi cahaya mutiara yang terpancar di dinding.

―Sepertinya ditempat ini banyak ruangan yang cocok dijadikan markas pusat, ‖Pikirnya dalam hati.

Aram berpikir sambil tangannya menarik salah satu pedang yang menancap didinding. saking asyik dengan pikirannya sampai tak sadar dengan apa yang dilakukannya.

Dan begitu tangan-nya memutar-mutar pedang itu , tiba-tiba....

Derrr! Mendadak, dinding batu cadas di samping Aram bergeser ke kiri. Perlahan-namun pasti dinding itu bergerak, hingga akhirnya membentuk lubang yang menembus langsung ke dunia luar.

―Akh...?!‖

Aram terhenyak kaget. Buru-buru kakinya melangkah, mendekati lubang itu. dan melongok dan begitu melongok, ternyata ia telah berada di puncak bukit, di pulau tempatnya tadi datang.

Petir menyambar-nyambar dahsyat dibukit itu, ternyata bukit itu merupakan bukit tertinggi ditempat itu.

―Hem, hehe..hahaaha‖ Aram tertawa-tawa bahagia, Ia berjingkrakan bahagia.

Sebenarnya apakah yang sedang ia pikirkan? mengapa ia begitu bahagia.

Dan bagaimana kondisi dunia persilatan saat ini?

Pagi mulai menjelang. Suasana sejuk pagi ini mewarnai sebuah puncak bukit disebuah pulau yang tak diketahui namanya ini, seorang pemuda tampan tampak sedang berkutat menaikaan batu sebesar kerbau yang telah terpangkas rapi membentuk persegi panjang sepanjang dua tombak keatas tiang penyangga yang telah disiapkan pemuda itu,

―Hupzzhhh,....Tahap pertama selesai... tinggal kedua‖ ucap Pemuda itu. pemuda yang tak lain Aram adanya. Tampak Aram berdiri di hadapan pintu batu itu, mimik wajahnya tampak serius seperti layaknya orang yang sedang berfikir.

―Hem lebih baik aku buat dulu jalan menuju belakang Gunung

wayang, dengan begitu membenahi markas rasanya lebih ringan bila dikerjakan bersama-sama‖ gumamnya.

Setelah menimbang-nimbang secara matang akhrnya ia memutuskan bahwa itulah salah satu jalan yang terbaik saat itu. Terlihat Aram bersujud kepada bumi, setelah bangkit tangannya diangkat kelangit seperti menahan benda jatuh, kedua tangannya ditarik kesamping membentuk ligkaran dan bertemu lagi didada seperti saat menyembah. dengan disertai teriakan nyaring tangannya didorongan kemuka.

―Wahai bumi, wahai langit pinjamkanlah nafas kalian padaku Hiaaattt‖

Diiringi bergetarnya bumi dan menyalaknya petir, diantara kedua batu itu muncul lingkaran sihir lalu membuka dan menyedot kerikil yang ada disana.

Fenomena alam yang diciptakan oleh Aram ini secara teoritis, merupakan lorong magnetik yang didalamnya memiliki gravitasi kuat, yang mampu menarik apapun yang masuk ke dalamnya.

Dan untuk kemudian mendorongnya ke ujung lorong yang lain hanya dalam beberapa saat. Yang dimaksud dengan ‗ujung lorong lain‘ ini, adalah pintu dari alam semesta yang paralel dengan kita, atau bisa juga alam semesta dari galaksi lain juga Alam semesta sama berbeda tempat.

Sementara ditempat lain, disebuah hutan yang biasanya tak tersentuh tangan manusia karena kecuramannya terlihat beberapa kumpulan manusia, dari pemuda sampai kakek-kakek. terlihat mereka membuat lingkaran seperti halnya sedang berdiskusi, terdengar salah seorang dari mereka berkata.

―Para hadirin sekalian, segenap keluarga besar Bendera Awan langit, seperti halnya yang kita ketahui, beberapa sahabat kita telah kehilangan jiwanya dalam sebuah rencana terakhir yang diambil ketua kita Aram Widiawan atau Pendekar Seribu Diri, seharusnya rencana ini tidaklah terjadi apabila pihak kerajaan tidak ikut campur, namun kita tidak boleh picik pikiran dengan menganggap kerajaan pihak bersalah, karena bagaimanapun kerajaan juga merupakan salah satu korban dari organisasi yang mengerikan itu.

Kita harus bersyukur karena memiliki seorang ketua yang luar biasa cerdasnya, sehingga posisi kita yang sedang berada pada kondisi terjepit masih dapat menyelamatkan diri, meski beberapa jiwa sahabat kita menjadi korbannya. selain itu, kita juga masih dapat menipu pandangan kaum persilatan demi kelanjutan kedepannya. Aku Sipengabar Langit mempersilahkan kepada Juang organisasi kita Ki makmur untuk melaporkan keuangan

Organisasi kita.‖

―Baik Wakil ketua, langsung saja, Pendapatan kita dari sejak didirikan Bendera Awan Langit sampai sekarang telah mencapai sembilan puluh buah peti emas, dan Seratus buah peti Perak, terpakai saat ini sekitar lima buah peti emas dan sepuluh buah peti perak sisa delapan puluh lima peti emas, sembilan puluh peti perak. itu didapatkan dari hasil ketua Aram dari Komandan Otoy, perampasan dari Panji Telapak Perak, Pengamanan Uang Kerajaan oleh Tuan Muda Rehan, dan hasil kerja dari sepuluh

Golongan‖

―Terimakasih kepada Juang kita, Ki Makmur yang telah melaporkan kekayann kita, dilanjut kepada Julis kita, Ki Brahma untuk menyampaikan laporannya.‖sipengabar langit berkata

―Langsung saja, Bendera Awan Langit, memiliki dua ratus delapan Puluh jiwa pasukan inti, dan sembilan ribu tiga ratus dua puluh lima pasukan luar, akibat pertarungan dengan Panji Telapak Perak kita kehilangan seratus sembilan puluh jiwa pasukan luar, dan empat puluh sembilan jiwa pasukan inti. sisa sembilan ribu seratus tigapuluh lima jiwa, pasukan luar dan duaratus tigapuluh satu jiwa pasukan inti.

karena bentrokan dengan kerajaan, kita kehilangan seribu tujuh ratus delapan puluh satu jiwa anggota luar dan sembilan puluh anggota inti. sisa tujuh ribu tigaratus limapuluh empat jiwa anggota luar dan seratus limapuluh jiwa anggota inti,

Karena pembantaian Organisasi Nawa Awatara, kita kehilangan Seribu enam ratus sembilan dua jiwa anggota luar dan terus berkurang, sementara anggota inti teta berjumlah seratus lima puluh,. demikan laporan dari saya terimakasih..‖

―silahkan kepada duta langit untuk menyampaikan laporannya tentang kondisi dunia persilatan saat ini.‖ Sipengabar langit kembali berkata. ―Terimakasih Wakil Ketua, menurut hasil laporan dari berbagai pihak dan penyelidikan kami, bahwa empat hari sejak kita menghilang dari dunia persilatan, telah muncul sebuah organisasi yang mengerikan, mereka menamakan organisasinya itu Nawa Awatara. (Nawa sembilan dan Awatara penampakan dewa).

Mereka muncul dengan serentak di sembilan ratus tempat dan langsung membantai semua jago persilatan yang berani menentang. dimasing-masing tempat itu, mereka membentuk markas cabang. sehingga meresahkan masyarakat. yang paling menggenaskan adalah para perempuan, setiap hari mereka harus melayani nafsu bejad para anggota Nawa Avatara.‖

―Maaf, Duta Langit, Nyi Asri, saya Brahma menyela, sekiranya dimanakah letak markas pusat Nawa Awatara itu.‖ Seorang lelaki berpakaian penduduk biasa dengan tambang melilit dipinggangnya.

―Maaf Ki Brahma, mengenai itu akan disampaikan oleh Duta Langit Ki Siwa,‖ Nyi Asri berpaling kepada sosok pemuda berusia tigapuluh tahunan dengan pakaian penuh tambalan.

―hem, Menurut analisa dari hasil pengumpulan data para pengemis jalanan bawahan saya, Bahwasanya markas pusat itu berada di sekitar pulau Borneo, tempatnya di desa Mujung Sungkur― Ki Siwa membeberkan secara efektif, singkat jelas dan padat. ―Adakah diantara kalian mengetahui ciri-ciri pemimpin organisasi itu‖ yang berkata kali ini adalah seorang kakek berpakaian petani, kakek itu berwajah ramah, dihiasi jenggot dan kumis putih, suaranya bagaikan guntur begitu lantang dan jelas, ia tak lain adalah Ki Guntur adanya.

―hihihi‖ seorang gadis berbaju merah dengan belahan dada agak lebar, memperlihatkan dua buah bukit yang sekal yang sekali kali suka mengintip. Gadis yang berwajah mungil tapi cantik itu, matanya bundar indah berbinar-binar dengan bulu mata yang lentik, bibir yang mungil, hidung yang bangir, serta kulit yang kuning mulus. Dengan rambut panjang yang lurus lemas di-poni depan, ia tertawa cekikikan mendengar ucapan Ki Guntur. Gadis itu tak lain adalah Dewi mawar si Duta Langit yang ke tiga dan termuda,

―Apasih yang tak bisa kita ketahui? jangankan wajahnya, dalamannya aku juga tahu..., malu dong jika kita berpangkat Duta Langit bila masalah sepele seperti itu saja tidak tahu.‖ berbeda dengan siwa yang langsung keinti, tampak sekali bahwa Dewi mawar lebih suka basa-basi yang membuat semua orang menghela nafas.

―Mohon jangan bertele-tele Duta langit, Dewi Mawar‖ Seorang Pemuda tampan berpakaian perlente menyela. dia adalah Rehan adanya.

―baiklah, baik... dia merupakan seorang pemuda berusia sekitar duapuluh sembilan tahunan, wajahnya cakap dengan tahilalat di atas alis sebelah kiri, hidungnya mancung, bibirnya tipis seperti perempuan. rambutnya sebatas pundak biasanya dia memakai baju merah darah, didada kirinya terdapat rajahan piramida berantai dengan bertulisan angka sembilan. diatas pangkal pahanya juga terdapat rajahan naga melingkar kepinggangnya, kemanapun ia pergi selalu membawa barisan empat orang gadis cantik dan lima lelaki tampan‖ Dewi mawar menjelaskan.

Mereka terus berbincang-bincang, bahkan Anggota biasapun ikut berpartisipasi, dalam berdiskusi memang Bendera Awan Langit memiliki adat yang bagus, yakni setiap anggota memiliki hak bicara ataupun mengambil suara.(keputusan),

Tengah mereka asyik berdebat, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan adanya suatu gaya tarik yang hebat dari sebuah batu cadas besar dibelakang mereka, dengan serabutan semuanya menghindar dan berdiri agak jauh.

Ternyata dari batu cadas itu muncul sebuah lingkaran bergaris- garis, dan sesuatu yang mencengangkan segera terjadi, dari dalam lingkaran itu, munculah sosok pemuda tampan berbaju hijau, baju itu sangat indah dan aneh, baju dalamnya tidaklah ketat dan berwarna hijau transparan berlengan sebatas siku memperlihatkan goresan-goresan luka ditubuhnya. sementara baju luarnya atau jasnya hanya ada sebelah kirinya. seperti peralatan untuk olahraga memanah. baju luarnya itu diikat dengan tali dari bahan yang sama yang terdiri dari lima utas tali.

Sabuknya berwarna sama dengan bajunya dan berukiran indah, celananya juga terbuat dari bahan yang sama dengan baju luarnya, panjang sebatas mata kaki, namun tertutup dengan sepatu panjang sebatas lutut, sepatu itu berukiran indah secara abstrak. di bagian lututnya terdapat perhiasan pelindung lutut yang membentuk segitiga.

Rambut Pemuda itu panjang dengan dikuncir kuda, dikuncirnya itu terselip sebuah senjata kecil berbentuk kujang, mata pemuda itu liar dan tajam bagaikan rajawali, kulitnya putih, seputih salju.

―Ketua...‖ Sipengabar Langit berteriak dan berlutut diiringi dengan yang lainnya.

Apa yang akan dilakukan anggota Bendera awan langit ketika ketuanya datang?

Dan apa yang akan dikatakan Seorang Raja penguasa Tanah Jawa daratan sunda kepada Aram?

Laksana ribuan semut pindah sarang, beberapa ratus manusia berduyun-duyun membawa barang bawaannya, beberapa peti mati tampak beriringan bak ular yang sedang berjalan, seorang pemuda tampan bermata rajawali tampak diam mematung disamping ujung iringan, ujung iringan itu ternyata adalah sebuah lingkaran berputar-putar berwarna toska diantara batu cadas tinggi menjulang.

Setelah mencapai akhir pemuda itu berkata.

―Rehan, apakah semuanya beres? adakah yang tertinggal.. ―

―Semuanya beres, ketua‖ ―Baiklah, lekas masuk... ―

―Mari‖ Lalu keduanya tampak masuk kedalam lingkaran dan menghilang,

Disebuah bukit di pulau tanpa nama, Tampak manusia berbagai usia sedang duduk melingkar, disebelah utara mereka tampak batu berbentuk pintu tinggi menjulang dengan dua orang pemuda tampan bersedekap dada berjalan menuju kearah lingkaran.

Setelah sampai, seorang diantaranya duduk bersama yang lain sementara yang satunya lagi meneruskan hingga berada ditengah lingkaran.

―Selamat sore semuanya lama kita tak berjumpa, aku harap

kalian semua dalam keadaan sehat walafiat‖ sapa seorang pemuda bermata Rajawali,

―Siap mati, siap tempur‖ jawab mereka serempak.

―hem,,,,syukurlah, adakah diantara kalian yang paham dengan maksudku membawa kalian kemari?‘‘

Semua hening tak ada menjawab, namun diantara semuanya ada seorang mengaacungkan tangannya.

―Silahkan Buana Dewa?‖ Pemuda yang tak lain Aram itu mempersilahkan. ―Maafkan Hamba ketua.‖ Buana Dewa berkata. buana dewa adalah seorang pemuda yang tak terlalu tampan namun menarik dengan jenggot tipis yang dicukur.

―Jangan sungkan, utarakan yang ingin kau katakan‖

―Baik ketua, saya yang bodoh ini menduga bahwa ketua membawa kemari adalah karena memang ketua menginginkan tempat ini sebagai markas pusat..‖

―Hahaha , bagus-bagus tak sia-sia kau menjadi komandan

bendera, memang maksudku membawa kalian kemari adalah untuk membenahi markas kita, markas yang takan bisa dijangkau dengan darat, tapi tidak untuk kita. sebab kita bisa melakukannya seperti membalikan bawah tangan.‖ Aram memuji, yang tentu saja membuat Buana Dewa memerah.

―Sebelum aku memulai ke-Acara inti dalam diskusi ini, aku ingin mempersilahkan kepada yang mulia Adipati Rajalela untuk mengucapkan beberapa patah kata yang mengganjal hatinya, aku tidak suka bila ada anggotaku memiliki ganjalan yang bakal menjadi duri dalam kepemimpinanku‖ Aram diplomatis.