Pendekar seribu diri Jilid 08

Jilid 08

Adiraja meski amarahnya hampir tak dapat dikendalikan lagi, tapi mendengar ucapan Huru-hara ada benarnya juga ia menahan serangannya dan bertanya:

―Mengapa kau malah mencariku heh? bukankah masih ada orang lain??!‖

Huru-hara senyum sedikit.

―hehe soalnya aku ingin mencabut nyawamu, kalau kau tak

dicabut nyawanya maka kau akan hidup, kalau kau hidup teman- temanku akan kau bunuh, kalau kau bunuh berarti mereka mati, kalau mereka mati aku kesepian, kalau aku kesepian tak ada yang menghiburku, kalau tak ada yang menghiburku aku bakal bunuh diri, kala aku bunuh diri maka aku akan mati., jadinya kau harus dibunuh dulu supaya aku tidak mati hehe‖

Adiraja melengak mendengar alasan yang sedemikan aneh dan bertele-tele itu. ―Hegh, apa kau tak punya alasan yang lebih masuk akal lagi?‖ tanyanya.

―Emch, untuk orang yang suka membokong wanita jelaslah lelaki yang tak memiliki akal, jadi untuk apa aku bertanya dengan akal‖ Huru-hara cengengesan.

―Kau meminta kematianmu sendiri bocah‖ Adiraja menggeram marah.

―hahaha aku kan sudah mengatakannya padamu.. sedari

tadi, aku yang bakal membunuhmu,. ‖ Huru hara tertawa.

―Germmm ‖ Adiraja menggerung marah, matanya tampak

merah, sambil menggerung sekaligus dia melancarkan tiga kali pukulan dahsyat.

Dengan sendirinya pukulan-pukulan itu terarah ke tempat mematikan di tubuh Huru-Hara, Pukulan bagaikan kilat yang menyambar menyambar kepalanya.

Tapi, huru-hara bukanlah Pesilat kacangan, Begitu tangan kirinya bergerak tahu-tahu tangan

Adiraja kena tangkap, keruan Adiraja terkejut cepat ia memukulkan tangan lainnya dan bergeser kekiri dengan mendoyongkan tubuhnya, yang disambuti dengan tendangan atas,

―bret‖, baju bagian dadanya robek tak terselamatkan.

Adiraja merasa heran dan dongkol akan kemampuan Sipemuda lawannya, dengan sekali gerak serangan yang bertambah tingkat kekejiannya Adiraja menerjang,

Sekilas serangan adiraja begitu kacau dan terburu-buru tapi jika diperhatikan secara seksama serangan itu mengandung unsur hati-hati dan teratur.

Puluhan jurus telah berlangsung tampaknya Adiraja belum juga mampu mendesak lawannya.

Kagum dan dongkol perasaan Adiraja, namun dalam keadaan demikian ia pun tidak sempat membuat siasat licik, karena bagaimanapun lawan yang dihadapinya salah satu orang yang berpikiran seperti seekor serigala.

sekali ia lengah mungkin tubuhnya sudah kena pukulan ataupun serangan lawan.

Begitulah di tengah pertempuran jutaan orang mereka bertarung dengan sengit, entah berapa ratus jiwa yang melatyang, entah berapa orang yang kehilangan keluarganya. namun inilah perang, perang pertama dalam sejarah kaum Persilatan.

Didalam teriknya sinar mentari, jutaan orang bergumul menjadi satu bagaikan lautan semut yang berebut gula.

Sekiblat cahaya kuning lembayung menggurat langit dari sebelah utara pertarungan, seorang gadis cantik dengan baju dan rambut kuncir kuda yang berkibar-kibar berdiri indah dengan tangan teracung memegang sebuah senjata kecil,.

Ternyata cahaya itu berasal dari senjata itu, sebuah senjata yang unik, panjangnya hanya senjekal namun mengeluarkan hawa dingin yang membekukan raga, senjata itu bernama Keris perasaan pemberian dari Aram. mata gadis itu alias Thian Hong Li terpejam, tenang meski gadis itu hanya diam mematung,

tak ada seorang lawanpun yang mendekatinya.

Tapi, manusia memang selalu dikalahkan oleh rasa penasaran yang menggebu-gebu terbukti dengan sesosok tubuh berbalut

kain hitam bertopeng perak yang menerjang tubuh gadis itu.

Untuk sesaat tampak tangan sosok itu akan menjamah tubuh gadis itu, semua orang yang berada didekat gadis itu menghela nafas panjang, sungguh sayang gadis seelok itu harus mati begitu saja, pikir mereka.

Namun tampaknya tuhan masih menyayangi gadis itu, terbukti dengan sebuah keajaiban,

ya,.. sosok itu tiba-tiba berdiam diri mematung, melihat kejadian itu, kawan sosok itu merasa heran, dengan sebat mereka ikut- ikutan menerjang namun nasibnya sama halnya dengan sosok pertama. berdiri mematung.

Gadis itu membukakan mata berbareng dengan kilatan petir biru menggurat langit.

Tubuhnya gemetar dengan amat keras melihat banyak sekali manusia-manusia yang membeku berada didekatnya. teriaknya dengan keras,

―Kalian terlalu kejih ‖

Mendadak tubuhnya condong kedepan, senjata kecilnya dengan cepat ditarik kedepan, kaki kanannya berpinjak pada bumi sedangkan kaki kirinya diangkat kebelakang, hingga membentuk sikap kayang, itulah jurus pembukaan Elmu Bedog sanca manuk

―jurus Sanca manuk waspada‖ dengan disertai suara pekikan nyaring yang menggetarkan hati sepasang matanya memancarkan sinar tajam.

"Budak-budak Iblis!‖ bentaknya keras, ―aku akan bantai kalian !‖

Di tengah suara dengungan Keris Perasaan yang amat nyaring Keris itu tergetar amat keras dengan membentuk pijaran-pijaran api yang dingin, itulah kehebatan dari Keris itu, jika biasanya api itu panas, maka kali ini api itu melawan kodratnya.

keris itu ditarik sejajar dada dengan perlahan mulai mendesak maju ke depan.

―Hiaaatttt...... ― Crakk.....crakkk....

Seperti suara kayu dipukulkan ke-es saja keris itu membabat setiap lawan yang menghadangnya.

mayat-mayat yang berhasil dibabat berubah menjadi bongkasan es.

Jerit kematian terus berdentangan meramaikan suasana, tiba- tiba,

Terdengar suara tertawa dingin yang amat menyeramkan ujarnya,

―haha....Hatimu kejam sekali Sicu. "

Thian Hong Li berpaling, dan menjerit lirih..... ―Ikhh.....Ap...apa yang kau makan itu Mata?‖

―Benar-benar Sicu, dan sebentar lagi mata sicu yang akan pinto makan haha..‖

Ternyata yang tertawa dingin itu seorang Biksu dengan mata ramah, berkepala gundul. siapapun takan menyangka bila biksu itu merupakan seorang durjana iblis dari Negri Tionggoan, Biksu Kejam Po Leng Thaysu itulah namanya.,

Sebagai sesama dari Tionggoan tentu saja Thian Hong li mengerti bahasa dari Biksu itu., diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya kedalam ubun-ubun menuruti Jalan Ketenangan dalam kitab Sewaka Darma, beberapa saat kemudian akhirnya ia dapat meredam ketakutannya, ia kembali tenang, dan kembali kepada sifatnya yang jenaka..

―Nah, siapakah sekarang yang memiliki sifat kejam, aku atau kau‖ Thian Hong Li cekikikan.

Biksu kejam alias Po Leng Taysu tertegun, Bagaimanapun juga dia baru saja mengatakan hal yang memojokan gadis itu malah menakutinya, kini ia tak dapat menyangka gadis itu bakal membalikan omongan bahkan mengejeknya,

Thian Hong Li tertawa cekikikan mirip kuntilanak dan berkata.

―Hahaa Sesama orang kejam jangan saling mendahului‖

Sekonyong konyong....

Thian Hong Li merasakan sambaran angin yang amat ringan. Ternyata Biksu itu menyerangnya tanpa peringatan. ―Curang !‖ pekik Thian Hong Li sambil meloncat kelangit.

―Seribu bayangan Budha‖ teriak Biksu itu..

Wes....wes....wes. Tiba-tiba Biksu itu berubah menjadi empat

bayangan. lalu bayangan-bayangan itu mencabut pedang dipunggungnya, serta merangkap tangan kirinya di depan dada berdiam diri tidak bergeming,

Sedangkan Thian Hong li terkejut dengan perubahan si biksu kejam, setelah berpikir sejenak dan mendarat dibumi Tangan kanannya mendadak diangkat membentuk gerakan busur kemudian dengan perlahan dilintangkan di depan dadanya.

yang satunya lagi menengadah seakan meminta minta derma, disela-sela jarinya Keris perasaan berdiri tegak menantang.

―Bulan gelap bintang Jatuh ‖ itulah jurus yang digunakan Thian

Hong Li saat ini. jurus yang berasal dari Ajian Bulan Bentang milik guru keduanya.

Pada saat itulah Tangan gadis itu dikebutkan kelangit sehingga keris itu mencelat, sedangkan tubuhnya melesat ke depan dengan disertai gulungan angin yang menderu tubuh Thian Hong li menerjang biksu kejam yang sama-sama menerjang, Empat lawan satu, gerakannya amat cepat sekali, hanya terlihat dua buah bayangan yang saling berpapasan.

Terdengar Po Leng Thaysu Memekik keras, ―Rajah Budha Bayangan‖ ujung jubahnya berkibar tertiup angin dan telapak tangannnya membabat ke depan melancarkan serangan dahsyat.

―Blaaarrrr,. ‖ Satu bayangan Biksu itu terpental jauh,

sedangkan Thian Hong Li hanya mundur tiga tindak.

―Blejrrrttttt‖ Aliran tenaga dalam seperti listrik menyengat keempat manusia yang saling berpandangan, mereka adalah tiga bayangan Biksu Kejam dan Thian Hong Li,

Dengan senyuman aneh Thian Hong li memutar pergelangan tangannya dan menyentakannya keatas.

―Goaaarrrrrrrr‖ raungan bak monster bergemuruh memekikan telinga, untuk sementara semua orang berhenti bertarung dan berpaling,

Betapa terperanjatnya sekalian hadirin melihat Sosok Ular besar bersayap dengan empat kaki, sedang mengunyah sesosok manusia yang tak lain adalah Po Leng Taysu asli sehingga bayangan lain mulai mengabur dan menghilang.

Naga itu tidaklah berkulit melainkan berbentuk hawa keemasan. dengan tanduk tunggal mirip sebilah keris.

Melihat sosok naga itu Aram sudah mengerti itu adalah penjelmaan dari sosok Keris yang ia berikan Kepada Thian Hong Li, yang membuatnya terkejut adalah kemampuan Thian Hong Li memanggil sosok Naga itu. Namun keterkejutannya itu tidaklah berlangsung lama karena Kaisar Iblis kembali menempurnya. sehingga kembali mereka terlarut dalam pertarungan.

Dilain Pihak Thian Hong Li tersenyum bahagia karena usahanya berhasil, sekali enjot ia meloncak keatas tubuh Naga itu,

―Suiiitssss‖ Suitan nyaring terdengar dari seorang gadis cantik yang berduduk angker diatas seekor naga, gadis itu berteriak teriak mengomando Naganya menyerang Anggota Panji Telapak Perak.

Mereka mengamuk, menelan, hingga pada suatu saat.

―Hoeekkk‖ ―Bruukkkk‖

Sosok naga itu menghilang meninggalkan seorang gadis yang tergeletak pasrah.

Sebenarnya sewaktu Thian Hong li melemparkan Kerisnya itu dan jatuh menimpa tanah ia sedang menggunakan Ajian ―Cipta wujud‖.

Dengan membayangkan sosok naga yang pernah datang kedalam mimpinya Thian Hong li memanggilnya kealam nyata. namun, tenaga batinnya belum lah sepadan dengan ilmunya sehuingga ia Ambruk terluka dalam.

Melihat Si Gadis yang tadi mengamuk bagai badai kini tergeletak pasrah. Anggota Panji Telapak Perak memanfaatkan kesempatan, ia menebaskan pedangnya ketubuh gadis itu. ―Akkkhhhh ‘‘ jeritan seorang gadis melengking menyayat dan

memilukan.

Ternyata yang menjerit itu bukanlah Thian Hong li melainkan Anggota Panji Telapak Perak yang juga kebetulan seorang gadis.

Mengapa demikian?‖

Ternyata sebelum Pedang Anggota Panji Telapak Perak menggores Thian Hong li, Seorang Gadis Cantik berbulu domba putih menangkis pedang itu.

Dan seorang gadis lainnya Menusuk punggung Anggota Panji Telapak Perak itu.

―Syukurlah kita tak terlambat‖ Seorang gadis cantik berjubah coklat dengan peralatan Domba Hitam berkata kepada temannya, yang dibalas dengan senyumannya.

Tiba-Tiba.....

―Butuh bantuan?‖ seorang gadis cantik lainnya muncul sebatas kepala dipermukaan tanah.

―Yumi, Kau mengagetkan kami saja‖ Gadis berjubah coklat dengan Peralatan Domba putih menjawab.

―Tolong Lindungi kami, kami mau menyembuhkan Tenaga dalam kekasih Ketua ini‖ yang satunya mewakili ―Hai‖ Yumi mengangguk dan kembali hilang kedalam tanah. itulah sebuah ilmu dari kalangan Ninja yang bernama Jinsut. Kembali Ke Pertarungan Aram dan Kaisar Iblis.

―Halilintar Menyapa Bumi...‖

―Arwah Perak Telapak Iblis‖

―Duaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrr‖ Dua buah tenaga sakti beradu tajam. Pertempuran mereka adalah Pertempuran terdahsyat didalam kalangan Peperangan itu.

Pertempuran yang amat mendebarkan hati ini berlangsung semakin lama semakin sengit dan merupakan yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun ini angin pukulan memancar ke delapan penjuru, hawa tenaga sakti meliputi seluruh udara membuat Tanah berkubang, debu mengepul, rumput menyibak.

Sikap Kaisar Iblis Kini semakim penuh diliputi oleh ketegangan dan kemarahan, karena belum juga menjatuhkan sipemuda ingusan.

Braak. bluumm kembali mereka beradu kekerasan. pasir dan

batu kerikil dalam kubangan pada melayang memenuhi angkasa masing-masing pihak kini sudah mulai melancarkan serangan yang menentukan mati hidup mereka.

Mulut kaisar Iblis kini merah, darah bertetes-tetes dari mulutntya. tak beda dengan Aram yang sudah bernafas satu-satu.

Dengan menggunakan jurus Garuda Perkasa dialam surga milik perguruan Garuda Mas Aram kembali menyerang Kaisar iblis. ―Jurus Garuda perkasa didalam surga yang amat bagus sekali" puji kaisar Iblis.

Kaisar Iblis cepat berkelebat menghindarkan diri ke samping tampak bayangan telapak tangan keperakan berkelebat berturut turut dia melancarkan sepuluh serangan.

Angin pukulannya yang bagaikan amukan ombak dengan cepat menggulung ke depan,

Aram tertawa Membesi, mendadak kaki kirinya ditarik kebelakang. tangannya dengan cepat laksana kilat mencakar wajah Kaisar Iblis.

Melihat kesiggapan lawan kaisar Iblis merasa kaget, dengan cepat dia Menghimpun tenaga dalamnya di dada. disertai bentakan menggelegar kaisar Iblis bersalto kebelakang.

Air muka Aram segera berubah amat hebat, hawa membunuh yang tak bisa ditutupinya memancar kesegenap penjuru. ia memasukan tangan kanannya kebalik jubah dan mengeluarkankan sebuah bola sebesar kepalan bayi.

Bola itu kemudian dilemparkan keudara dan meledak,

―Duaaaarrrrr‖ bola itu meledak dan memancarkan cahaya biru kemana-mana, berbareng dengan itu dari sekeliling lapangan tiba tiba muncul sebuah gunungan yang keluar dalam tanah sekilas gunung-gunungan itu keluar layaknya sebuah ombak.

―Jreng ― Dibalik gunung-gunungan itu muncul ribuan Manusia

dengan busur terpentang. dibelakang pembidik itu ribuan manusia siap tempur dengan senjata ditangan.

Kaisar Iblis terperanjat, begitu pula dengan para bawahannya, kematian muncul dipelupuk mata mereka, sedangkan para hadirin yang berada dipihak yang menentang seperti kuda yang dicambuk saja meeka bertambah semangat bertarung.

―Kau takan bisa lari lagi, laknat semua jalan rahasia sudah

tertutup. bersiaplah menuju kemataianmu Hiaaattt‖

Aram mengebutkan tangannya dengan cepat. segulung angin pukulan yang amat dingin serasa menusuk tulang menyergap kaisar iblis, bersamaan dengan itu pula kaisar Iblis menyentilkan lima jarinya ke depan segera terasalah segulung angin yang amat panas dengan amat cepat beradu diudara

―Blaarrrrr‖ setelah mundur setindak Aram kembali berkata.

―Aku mau lihat apa kau mau menyerah atau tidak!‖ .

Tangannya kembali dipentangkan lebar kemudian meluruk ke depan, kecepatannya laksana berkelebatnya sinar kilat di tengah udara, berturut turut dia melancarkan sepuluh serangan gencar sekaligus.

Tapi, kaisar Iblis juga merupakan jago yang tangguh dengan segera dia menghimpun tenaga dalamnya yang dikumpulkan di telapak tangan dia menggunakan ilmu telapak Perak pemburu arwah untuk menahan serangan kali ini.

―Wirrsss‖ Dukkk‖ ―Hoeekkk‖ Kaisar Iblis muntah darah, sedangkan Aram hanya meringis saja, ia merasakan telapak tangannya kepanasan.

Ketika semua sedang larut dalam pertrungan segera terdengarlah suara jeritan dan teriakan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh lembah itu itu,

―Arrrhggghhhhhhhh‖

―Seraaaannggg.....serrbbuuuuuuuu...bunuhh‖ ―Wust wust trang ‖Akhg‖

Ternyata ketika Kaisar Iblis muntah darah, Aram menghimpun tenaga dalamnya ditenggorokan dan berteriak sekencang- kencangnya.

Melihat Kode sudah dijalankan Anak Buah Aram yang tadi hanyan berdiam diri menahan hasrat membunuh kini berbinar ria.

Hati para Anak buah Aram, yakni anggota inti Bendera Awan Langit dan Anggota sepuluh Perguruan yang sedang bergolak itu kini dibakar lagi dengan kata-kata bunuh dari pimpinan mereka menjadikan mereka tambah menggolak..

Di tengah suara bentakan yang amat keras tampak Pasukan pemanah memberikan jalan sehingga Orang-orang dibelakang yang siap membunuh kini berkelebatan menubruk ke tengah kalangan pertempuran. Sinar mata mereka penuh dengan hawa membunuh yang menyala-nyala, tanpa basa-basi mereka menerjang semua orang yuang berada dekat dengannya.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini membuat Pihak Kaisar Iblis diam-diam merasa terperanjat dan tergetar hatinya.

Dibawah terik matahari terlihat sinar pedang dan golok yang melancarkan sinar yang menyilaukan mata tertimpa matahari. Suatu pertempuran sengit yang menimbulkan bajir darah terus berlangsung diLembah itu.

Suatu pertempuran yang amat sengit dan seru terus berdenting bagaikan alunan piano, yang terus berdentang.

Di kalangan pertempuran itu Tampak Nyi Sawitri dari perguruan teratai putih, Ki Ardam dari perguruan pedang bumi dan Ki bedu dari perguruan golok harimau sedang berusaha membunuh lawannya sambil melindungi murid-murinya,

Ditangan Ki Bedu, Ki Madya pengganti dari Ki Ngarai Dari Perguruan bintang kemukus yang telah wafat dibunuh Anggota Panji Telapak Perak sedang dipapah karena dadanya terkena senjata lawan, terbukti dengan dadanya yang berlumuran darah.

―Saya Bintang Endrayana pewaris ketua generasi ke-124 Rajawali emas menggantikan Guru Ki Jalu baru saja diresmikan kini harus mengalami cobaan yang begitu berat‖ keluh seorang Lelaki Paruh baya berusia enam puluh lima tahunan dengan baju serba kuning keemasan. ―Sabarlah Ketua Bintang, yang sekarang kau harus lakukan adalah melindungi Anggotamu dan Anggota Bintang kemukus yang bagainapun juga membutuhkan tenagamu yang masih bisa diharapkan.‖ Seorang Kakek berusia Tujuh Puluh lima tahunan dengan wajah ramah dan pedang berlumuran darah terlintang didepan dadanya, menasihati.

baju Ungu kakek itu sudah berlumuran darah dan compang camping mungkin terkena serangan lawannya dia adalah Ki Ardam adanya.

―Fyuhh Setelah ini aku ingin memberikan jabatanku, aku

lelah... aku sedih mungkin aku bakal bertapa digunung untuk

mencuci dosa..!‖ Timpal wanita setengah baya dengan baju kebaya kuning yang tak lain adalah Nyi Sawitri itu., rambutnya disanggul rapi kebelakang dengan tusuk konde sebuah bunga bermotif teratai warna putih.

―Jangan berbicara mulu, bantu aku.. apakalian ingin aku modar dicingcang orang..gerrmmm‖ Seorang lelaki berusia tigapuluh tahunan menggeram. lelaki itu berpenampilan simple, hanya baju putih dengan gambar kepala harimau ditembus dua golok yang menyilang, rambutnya juga tidak dipermak, hanya dibiarkan terurai apa adanya saja.

Diantara semua ketua lima perguruan besar golongan putih, hanya dia yang memiliki sifat pemberang dan liar.

―haha.....Jangan marah dulu ki.... baiklah saya bantu ‖ Bintang

Endrayana menyahut. Adiraja berkaok-kaok gusar, sedapatnya dia hendak melepaskan diri dari serangan godaan Huru-hara, tapi anak muda itu laksana bayangan saja yang melekat pada tubuhnya, sukar ditinggal dan tidak mungkin berpisah. Malahan anak muda itu berkeplok tertawa dan berseru,

―plok..plok...plokk‘‖

―Bagus, Pukulan telapak yang hebat pukulan dari panji

Telapak Perak memang luar biasa, jarang-jarang orang bisa selamat jika terkena, jika tak kena macam ini sih, ya sama saja dengan jurus kacangan lainnya! hahaa !‖

Dalam gusarnya kembali Adiraja meningkatkan tenaga dalamnya dan melancarkan serangan-serangan maut,

Sepuluh, duapuluh serangan telah berlalu namun Huru-Hara belum juga kena ia tangkap. Meski watak Adiraja memang licik juga cerdik, tidak urung ia pun terpancing murka,

Ia Menggeram gusar, ―bisakah kau bertarung dengan tidak main kucing-kucingan orang edan !‖

―Haha jika kau bertanya pada kucing mungkin ia bakal nurut,

sayang seribu sayang aku bukan kucing Aha, jangan jangan

kau dilahirkan dari kucing?‖

―Kutu Kupret....!‖ ―Hiaaaattttt....Iblis muka empat penjuru‖ Drap...

sreeett....kretek...kreteekkk.. tubuh Adiraja tiba-tiba menggelembung, dari belakang kepalanya muncul wajah baru, bukan hanya satu, tapi tiga sekaligus berikut tangannya.... Huru-hara terkejut ketika sebuah tangan menyentuh dadanya, dengan sebat ia meloncat menghindah.

―Ikhhh ‖ ―Brettt‖ Tali Jubah huru-hara terpotong kena cakaran

Adiraja.

Jika bukan Huru-hara, mestinya jantungnya sudah copot terjambret tangan Adiraja.

Tiba-tiba keduanya terkejutkan dengan lengkingan tajam, mereka juga dikejutkan dengan munculnya sepasukan pemanah. apalagi ketika pasukan pemanah menyibak dan pasukan pembunuh menyerbu.

Melihat itu, Huru-hara tersenyum, ia paham sudah saatnya pertarungan diakhiri. meski terkejut dengan perubahan tubuh Adiraja, ia tak pernah kehabisan akal.

kakinya menutul tubuhnya bergerak lembut mendesak maju dengan jurus Rubah menyembah mayat, kembali dia menyerang dengan telapak tangan berantai,

telapak tangan kiri menyelonong keluar, mengikuti gerakan tubuh yang meluncur kebawah, telapak tangannya menepuk kebawah iga kanan Adiraja, berbareng telapak tangan kanan dirangkapkan didada dan diselonongkan ke wajahnya.

Adiraja mendengus ia membuang tubuhnya kebelakang sebelah sebelah kanan, pundak kanan ditekan turun, dengan memanfaatkan enam tangannya ia menyelonongkan dua tangannya, Tapi, ia kecele ternyata semua rangkaian serangan itu hanyalah sebuah pancingan belaka. Tampak, Huru-Hara merendah dan menendangkan kakinya,

―Dessshh‖ tulang kering betis Adiraja kena tendangan yang dialiri tenaga dalam.

―Akhh...Brukkkk‖ Adiraja terguling kesakitan, memanglah didunia ini tak ada ilmu yang sempurna, meski Adiraja memiliki empat wajah dan enam tangan, tapi dengan begitu gerakannya tidaklah leluasa karena tidak terpokus pada satu titik.

―Aaaaaakkkkkkkkhhhhhhhh, grok...grroookk‖ Adiraja memekik dan mengorok ketika Huru-hara menotok jalan darah kakunya, dengan perllahan Huru-Hara menempelkan pedang yang ia ambil ditanah keleher Adiraja.,

Dengan Perlahan Huru-hara memutarkan pedangnya sehingga Adiraja tergorok disembelih perlahan,. Darah memancar

kemana-mana. Huru hara lalu melemparkan kepala itu kebarisan anak buah Panji Telapak Perak.

Makin Runtuhlah nyali Para Anggota Panji Telapak perak mengetahui orang kepercayaan kaisar Iblis telah mati.

Sementara itu boleh dikatakan pertempuran sudah hampir berakhir. Balatentara Anggota Panji Telapak Perak yang kini banyak kehilangan anggota dan tidak berpimpinan lagi sudah mundur jauh dari Arena Pertempuran dan terus dikejar oleh Para Kaum persilatan sehingga lari kucar kacir lalu mati tertembus ribuan panah yang dilepaskan para pengepung. Dan di antara gelimpangan mayat manusia di atas tanah yang banjir darah, di udara yang masih hangat oleh baunya maut dan hawa pembunuhan maka berhadapanlah dua orang yang bertolak belakang, satu pemuda berjubah coklat dan satu lelaki paruh baya dengan telanjang dada, ditubuhnya mengguratlah garis-garis berwarna perak..

Aram berdiri dengan mata merah menyala, disekelilingnya debu- debu berpusaran mengelilingi tubuhnya, tak tanggung-tanggung ia mengeluarkan Tenaga Sakti Mata darah hingga mencapai tingkat pamungkas, dengan menambahkan Tenaga Bayangan yang ia kumpulkan tadi.

kemudian ia gabungkan dengan ilmu Aura Kematian dan merapal Ajian Halilintar Semesta, dengan tangan kiri membentuk kuda kuda Rubah mencabik mangsa.

―Haaiitttt!‖

―Hiaaattt‖

Kaisar Iblis pun tak kalah sebat. Tubuhnya berkelebat, Tubuhnya berputar membentuk angin tornado berwarna perak. menimbulkan gelombang angin dan mengeluarkan suara mengaung laksana suara jutaan Tawon!

Gelombang angin itu memporak-porandakan daerah sekitar hingga tak berbentuk lagi.

―Bllllaaaaaarrrss‖ duaarrrr jlegaarr srakkk Krakkk‖ Akh.. akhh... ukhhh aw...urrgghh. Dua buah Tenaga sakti beradu dudara, kilat menyambar- nyambar, hujan turun rintik-rintik, langit mendadak mendung, jeritan orang-orang disekitar pertarungan mereka ikut terhempas terbang terkena sapuan angin.

dalam Radius lima-enam ratus tombak manusia menggeletak pingsan. bahkan ada juga yang langsung mati dengan keluar darah dari tujuh lobangnya.

Ketika Kaisar Iblis membenturkan jurus tornado peraknya dengan Jurus pemuda itu, ia merasakan badannya seperti membentur dinding yang tak kelihatan,

kejadian itu membuat Kaisar Iblis jadi terkejut sekali! Dan dalam saat itu pula ia melompat ke luar dari kalangan pertempuran!

Mukanya memucat sepucat kertas... Cepat-cepat dia atur jalan nafasnya.

Tapi, Aram yang sedang berada diatas Angin, tidaklah menyia- nyiakan kesempatan itu, ia melompat dan menghajar Kaisar Iblis dengan dua jari yang disodokan tepat dijantung Kaisar Iblis.

―Bleessss‖ tiada terdengar pekikan atau keluh kematian dari mulutnya.

Tubuhnya masih berdiri sesaat lamanya dengan mata melotot seakan ia tak percaya bahwa ia telah mencapai ajalnya.,Tubuh Kaisar Iblis atau Si Iblis tengkorak Mas alias Ki Renjana kemudian merosot ke bawah dan tergelimpang di atas mayat- mayat Anggota lainnya.

Kaisar Iblis telah tidur selamnya meninggalkan dosa yang bertumpuk-tumpuk, Tapi apakah semuanya berakhir ? Tidak......

didunia ini mana ada urusan semudah itu

Aram tertawa panjang. ia berteriak, ―kawan-kawan mari kita berpesta...... kita pulang sekarang, ‖

―Yeyyy‖ Teriakan Bahagia terdengar dari anak buahnya.

―Kita bertemu di markas. ‖

―Wusssttt,. Tubuh itu terbang dan menyambar seorang gadis

yang berada dipelukan seorang gadis cantik lainnya.

―Hmm ‖ Aram menggumam, kemudian ia mengambil sebuah

Senjata dari kayu berbentuk kujang seperti halnya yang berada di sanggul rambutnya, hanya saja senjata itu terbuat dari kayu dan berikatkan sebuah daun lontar bertuliskan.

―AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH.‖

Setelah kepergian ketuanya, mereka semua segera membantu Anggota yang lain dari tumpukan mayat sekitarnya.

Beberapa diantaranya ada yang mati, juga masih hidup...

dengan beriringan teratur segera mereka meningalkan tempat itu membawa orang yang terluka juga mayat.

Ditempat itu kini tertinggal beberapa kaum golongan lain yang masih pingsan berserakan, mayat bertumpuk bagai gunung, darah mengalir bagai anak sungai, rumput yang dulu hijau kini memerah. Bagaikan toge (tumbuhan kacang kedele yang baru tumbuh) manusia bangkit dari rebahannya satu, dua tiga dan

seterusnya terus berkesinambungan, dengan menahan pening sambil mengumulkan memori mereka duduk bersila bersemadi. Waktu terus berjalan, satu demi satu orang-orang itu meninggalkan tempat yang menjadi sejarah dihati mereka.

bisik-bisik dan obrolan ringan keluar dari mulut mereka ada

yang menangis kehilangan saudara atau sahabat. juga ada

yang tertawa tawa bergembira.

Malam telah menjemput lagi, lolongan serigala dan makhluk liar lainnya bersahut-sahutan, sepertinya mereka telah mendapat berkah makanan malam, bau anyir darah menyerbak kemana- mana.

Ditengah malam itu, ditempat lain sekelompok orang mengelilingi sebuah pembaringan sederhana dari bambu.

isak tangis dan helaan nafas panjang terdengar sekali-kali diantara mereka.

Dipembaringan itu seorang pemuda tampan sedang tidur telentang, ditubuhnya penuh dengan bambu-bambu kecil yang ditusukan kedalam tubuhnya.

Siapakah Pemuda itu?

Malam yang sunyi tiada kehidupan

Isak tangis dimalam gelap layaknya suara hantu Pondok kecil ditengah hutan tampak mendung Seorang pemuda tampan berwajah pucat tenang terlelap dalam impian, disekelilingnya sekelompok orang berharap-harap cemas.

―Oh, Engkoh Aram ‖ Seorang gadis cantik bermuka sembab

menangis dengan pilu, sorang pemua tampan lainnya mengusap-usap kepalanya dengan lembutmenenangkannya.

―ehmmmmm‖ sebuah gumaman lemah terdengar memecah kesunyian menyadarkan semua orang yang harap-harap cemas.

―Akh, kau sudah sadar nak. ‖ seorang wanita paruh baya

berkata sambil menyapu air mata yang jatuh dipipinya.

Pemuda yang tak lain adalah Aram itu segera mencoba bangkit namun dicegah oleh seorang kakek-kakek yang memegang guci.

―Jangan dulu bangun, ruas-ruas sendimu telah lumpuh total, kau terlalu memaksakan diri., meski semuanya bisa sembuh dalam jangka waktu tiga bulan, aku harap kau tak melakukannya lagi‖ Katanya bijak.

Mendapat perhatian lebih dari orang yang diangkatnya guru Aram merasa tentram. diedarkannya pandangan mata merahnya itu.

Tampaklah disekelilingnya Nyi Permata Dewi, Ki Asmaradanu, Sipemabuk dari selatan,Thian Liong, Thian Hong, Melati, Angkara, huru hara, Amuk samudra, Luyu Manggala, Ryusuke, Jelita Indria dan yang lainnya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.

―Nenek, Ayah, Guru bilakah aku berbicara dengan Angkara dan yang lainnya sebentar.‖ Aram meminta dengan serius.

Meski tak mengerti, akhirnya ketiganya mengijinkan juga. Angkara maju kedekat pembaringan, diikuti anggota lainnya.

―Adakah yang harus saya lakukan ketua?‘‖

―Apa bunyi Siasat rubah no 86?‖ Aram bertanya tiba-tiba. Meski tertegun Angkara segera menjawab.

―Harimau Sembunyi Naga Mendekam Rubah Memantau Api. : Sembunyi meninggalkan jejak, pancing dengan nyawa, mendekam menyusun kekuatan, memantau puncak api, Kabut datang langit gelap, kemenangan diperoleh.‖

Semuanya diam mencerna ucapan Angkara yang memang bermakna ambigu.

― Kau mengerrti Apa yang harus kau lakukan Angkara?‖

Angkara mengangguk paham, memanglah Angkara adalah Seseorang yang diberi hak untuk memimpin yang lain sehingga ia yang paling bekerja keras melatih ilmu Rubah Bersiasatnya. ―Amuk Samudra tolong kau bawa Thian Liong dan Thian Hong kenegrinya untuk menyelami ilmu dari Zaman Seribu tahun lalu itu berkembang dengan sempurna.‖

―Huru-hara dan kau luyu pimpin yang lain membawa kabur Anggota Pasukan Inti Bendera Awan Langit. sebelum tengah malam kalian harus sudah berada di desa Kebon Jambe. atau boleh lebih jauh. pergilah kesuatu daerah tersembunyi dibalik gunung Wayang.‖

―Dan yang lain boleh membagi duakan menjadi dua kelompok, upayakan agar anggota bersama Huru-hara lebih banyak daripada yang lainnya.‖

―Yumi dan Ryusuke, bantulah pasukan pembawa madu ketempat itu., setelah semuanya selesai bawalah Angkara atau yang lain ke negrimu untuk mempelajari ilmu Jinsut, Ninjutsu dan yang lain. sementara kalian carilah guru untuk mempelajari ilmu pedang panjang.‖ 

―Samurai maksud ketua?‖ Sela Ryusuke.

―Benar, itu maksudku. Dua Tahun kemudian aku akan menjemput kalian semua melalui syair ini. ――AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH.‖

ada yang kalian tanyakan?‘‘

Semua menggeleng, pertanda mereka sudah paham...

―Bukalah baju kalian sekarang, serahkan pada Murka Semesta, dia paham apa yang harus dia lakukan...‖ Meski tak mengerti Murka Semesta mengumpulkan jua pakaian yang lainnya, setelah semua beres tanpa pamit lagi mereka berkelebatan meninggalkan tempat itu kecuali Amuk samudra, Thian Hong li dan Thian Liong.

―Engkohhh ‖

―Aku Paham maksudmu Sayang, tapi pahamilah nyawamu dan nyawa kita sedang berada di ujung tanduk, pertarungan belum selesai...., kita berjumpa lagi dua tahun kemudian..Pergilah, ― Dengan berkaca-kaca Aram berkata tegas.

Seperminum teh kemudian Thia Hong Li belum juga beranjak dari tempatnya.

―Kak Liong ‖ Aram berkata lagi.

Dengan sedih Thian Liong menotok adiknya hingga pingsan.

―Kita berangkat sekarang amuk, apa perahu sudah siap?‖ Thian Liong bertanya.

―Perahu sudah siap dipantai Minajaya sekarang kita menuju

kesana..‖

―Wussss....bayangan mereka menghilang ditelan kegelapan....

―Cucuku apa yang sebenarnya terjadi. ‖ Dewi Pemanah Asmara

bertanya.

Belum sempat Aram menjawab dua sosok pemuda tiba-tiba muncul disana. ―Kebetulan sekali kalian datang saudaraku...aku tahu apa yang akan kalian katakan lekaslah selamatkan Raja dan keluarganya sebelum mereka tewas, dan kau kakang sobar, bantulah aku melepaskan pakaian ini, kakang paham apa yang harus dilakukan dengan pakain ini?‖

―Adik, adakah siasat lainnya? tanpa menggunakan siasat itu ‖.

―Kakang, segala hal pasti ada resikonya bila kakang saja

sudah tak tega apalagi saya..sebagai pemimpinnya.., saya memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik, meski ada korban jiwa setidaknya ada harapan untuk mengembalikan dunia persilatan sebagaimana

layaknya.‖ Aram menjawab dengan cucuran air mata.

―Baiklah bila memang itu keputusanmu adik. kakang percaya

padamu..bajumu aku ambil ‖

―Terimakasih kakang ‖ Ucap Aram terharu.

―Kami pergi dulu, jaga dirimu adik, sampai berjumpa dua tahun lagi.... Jika Kakang masih Hidup..‖ Ucap Sipengabar Langit sambil berkelebat.

―Ketua ‖

―Ada Apa Rehan?‖

―Dapatkah aku membawa keluargaku pula?‖ Aram termenung, ―bilakah itu mungkin bawalah aku percaya

padamu..‖

―Brukk....‖ Rehan bersujud, ―terimakasih ketua Jayalah

Bendera Awan Langit‖

Sebenarnya Rehan adalah anak seorang Hartawan kaya, kesombongannya jangan ditanya lagi tapi hari ini ia bersujud dibawah perintah seorang pemuda dibawah usianya, maka jelaslah Aram merupakan pemimpin Organisasi yang luar biasa..

Tanpa babibu lagi ia mengikuti yang lainnya berkelebat meninggalkan tempat itu menyisakan empat orang yang terbengong tak mengerti keadaan.

―Guru, Nenek, Ayah dalam waktu dua tahun ini bimbinglah adiku melati, pergilah mengasingkan diri dari pulau ini.. sejauh mungkin. seperti yang lainnya aku akan menghubungi kalian

dua tahun lagi..―

―Braaakkkkkk‖ sebuah meja dari kayu jati ancur berantakan dihajar telapak tangan Sipemabuk dari selatan.

―Murid sialan, setidaknya kau jelaskan dulu padaku apa yang sedang terjadi. jangan buat aku seperti orang bodoh

begini...gle...glekkkk..‖ bentaknya jengkel sambil menuang tuaknya.. itulah ciri khas dari sipemabuk dari selatan yang paling terkenal, jika ia marah atau jengkel ia akan menuak tuaknya sambil mencak-mencak. ―Hahahaha... kau seperti cacing kepanasan saja setan tuak...‖ Ki Asmaradanu berjingkrak-jingkrak seperti orang gila, sepertinya Ki Asmaradanu juga dibuat sinting oleh keadaan disekitarnya yang sukar dimengerti.

―Apa kau tak dibuat jengkel dengan ulah anakmu itu, bangkotan gila heh..‖

―haha, ia iah... aku bahagia... ternyata sesudah aku menjadi sinting masih ada juga yang ku tak mengerti..‖ Ki Asmaradanu alias Sisinting dari timur tergelak-gelak...

―Sudah-sudah jangan berantem dulu, daripada kalian bertengkar seperti itu yang gak bakalan ada akhirnya mendingan kalian dengarkan enuturan dari cucuku dulu..‖ Nyi Permata Dewi melerai keduanya.

Setelah mengenal keduanya Nyi permata Dewi telah menemukan hal yang baru,. ternyata kedua datuk dari

golongan merdeka itu memiliki hati yang polos dari pada orang lainnya.

―Nah, cucuku mohon engkau tuturkan supaya kami tidak dibuat seperti orang bodoh lagi. ‖

―baiklah nek, kaena waktu yang sudah mepet saya hanya akan menjelaskan secara ringkas saja. sebenarnya Panji Telapak Perak hanyalah sebuah alat percobaan dari Organisasi Rahasia lainnya. jika Panji Telapak Perak telah menimbulkan korban sebanyak itu, maka nenek sekalian bisa bayangkan kekuatan dari organisasi dibelakangnya itu.‖

―Aaapppaa...‖ Si nPemabuk dari Selatan melotot. Aram tak menanggapi ia terus melanjutkan penuturannya.

― Dengan memakai siasat pertama kami ikut dalam pertemuan kemarin. dan kini saatnya kami menghilang dari dunia persilatan untuk menyusun kekuatan baru, target pertama mereka adalah kerajaan. maka dari itu. daerah ini adalah daerah

berbahaya...bla...bla. ‖

Aram menjelaskan rencana maupun apa yang terjadi saat ini secara ringkas dan garis besarnya saja,. setelah penuturan berakhir Nyi Permata Dewi berkata.

―Baiklah, Cucuku kami paham mengenai kondisi dalam saat ini...

baiklah kami akan berkemas sekarang..‖

Satu persatui mereka pergi meninggalkan dua insan berbeda ditempat itu...

Aram menggupaikan tangan pada sosok gadis yang sedari tadi anya diam saja tak berkata apa-apa.

―Syukurlah melati kau masih hidup.. aku senang sekali aku

sudah menduga kau bakalan selamat dari pembantaian itu aku

tak percaya bila kau mati begitu saja‖ Aram berbasa basi.

―Hik...Hik... Kakang Rama, kau sudah dewasa sekarang kau

berubah begini tampan.. sungguh beruntung sekali kak Thian Hong li mendapatkan cintamu..‖ Melati menubruk dan memeluk Aram yang sedang tidur telentang.

―Settt... Aram mengangkat wajah Melati hingga sejajar dengan Wajahnya..

―Cupp... ciuman lembut dibibir mendarat dibibir melati. ‖

―Jangan menangis adik,.... sayangi air mata mu ‖uppzzzhh‖

Aram berhenti berkata karena bibirnya telah disumbat sebuah benda yang lembut basah...

Malam semakin gelap....

bintang masih berada diperaduannya. Bulan masihlah setengah bulat....

hening, sepi......

mengantar kepedihan dan duka lara....

Ayam berkokok menyambut fajar, suaranya bersahut-sahutan dengan manusia-manusia yang beraktifitas di pagi ini, suara dulang bertali-talu menyemarakan keramaian dipagi itu.

Suara ramai itu ditambah dengan seseorang yang berteriak kencang..

―Gawat....gawat,,,, istana hancur rata dengan tanah...

gawat...gawat. ‖

Suara teriakan itu mengagetkan semua warga hingga semuanya berkumpul mengerubungi lelaki yang berteriak itu.

Seruan tak percaya, atau tanggapan tanggapan lain berkumandang., setelah semua berkumpul lelaki itu berseru. ―Saudara-saudara sekalian, tahun ini adalah tahun paling menyedihkan untuk kita semua..., sebagai mana yang telah kita ketahui beberapa tahun kebelakang alam mengamuk menumpahkan angkara murka, ketahuilah saudaraku... kerajaan telah hancur, tak ada lagi yang akan melindungi kita.huffzzz‖ lelaki itu menghela nafas sedih, seteklahi itu ia melanjutkan,

―saudaraku sekalian, saat ini yang mulia Raja bersama permaisuri dan Tuan Putri telah hilang dari istana, mayat mereka menghilang... disekitar reruntuhan istana hanya ditemukan mayat para mentri dan pejabat lain, juga para tentara kerajaan, aku dewangga tak sanggup lagi memikul kepala desa di desa ini. sebelum aku mengundurkan diri aku ingin mengadakan upacara sembahyangan untuk dewa supaya desa ini tetaplah jaya‖

Ternyata lelaki itu adalah seorang kepala desa itu. desa Salakantring namanya. desa itu merupakan desa terdekat dari Kotapraja Padjampangan, jadi tidaklah heran apabila kabar hancurnya istana dapat segera sampai didesa itu.

Lelaki itu berusia setengah baya berusia empat puluh lima tahunan.. berwajah ramah dengan tahi lalat di dagunya. dia merupakan Kepala desa yang terkenal ramah namun ceroboh dalam segala hal.

Seperti halnya kedatangan dia ketempat itu, ia berteriak-teriak nyaring membuat semuanya panik luar biasa, tapi, warga disana tak ada yang keberatan dengan tingkahnya itu karena memang mereka sudah mengenalnya sedari dulu. ---<0( Aone )0>---

Ditempat lain, tampaklah sebuah pemandangan yang sungguh luar biasa, ratusan orang mengelilingi tempat itu dengan tatapan sedih.

Tempat itu, bukanlah sebuah istana yang seharusnya di puja oleh semua masyarakatnya, apalagi mengingat bahwa istana itu telah menjadi abu. tapi, tempat itu hanyalah sebuah tempat bordir dimana isinya merupakan sampah masyarakat belaka.

Tapi, entah mengapa sebuah tempat yang selalu dianggap hina itu kini dijadikan sebuah tempat bersedih semua orang persilatan.

―Selama hidupku baru kali pertamanya aku harus bersedih atas kematian orang-orang dari golongan merdeka yang bahkan berpusat di tempat seperti ini,‖ Ucap seorang lelaki berbaju serba putih dengan sebatang tombak diunggungnya. di dunia persilatan ia dikenal dengan nama Si Tombak tunggal.

―engkau benar, meski dari golongan yang tak jelas juntrungannya tapi mereka sangat berjasa dalam melangsungkan roda berputarnya dunia persilatan.‖ jawab temannya.

Selagi semua orang berbincang-bincang mengenai kejadian hari ini tiba-tiba berkelebat sosok bayangan putih dan hijau

ketengah-tengah arena puing-puing sisa bangunan yang terbakar itu. Dua sosok bayangan itu tiba-tiba menekuk lutut memberi penghormatan kepada dua sosok manusia berjubah coklat yang duduk berhadapan dengan pedang yang saling menembus dipunggung.

―Pendekar Seribu Diri, Pengabar Langit, kalian merupakan orang yang tak pernah memperdulikan adat.. tapi, kalian adalah seorang ksatria sejati yang telah mengukir sejuta harapan diantara sekalian tokoh persilatan, selamat jalan.. semoga arwahmu tenang dialam baka,. ‖ Nyi Dewi Renjani alias

Bidadari Penakluk Naga Berdoa.

―Anak muda Meski aku tak mengetahui siapakah kau

sebenarnya, namun kecerdikan dan kegagahanmu telah menggugah hati nuraniku. maka dari itu sebagai bentuk penghormatanku.. aku akan mengasingkan diri mengenang semua perjalananmu. Anak muda, aku merasa miris dengan nasib kalian semua, tak kusangka kerajaan akan bertindak seceroboh itu, dengarlah anak muda, kerajaan juga telah menjadi abu dalam waktu bersamaan. aku tak mengerti dengan kejadian dunia persilatan hari ini. sungguh menbuat hati bertanya tanya‖

*****

Kabar berita kematian Pendekar seribu diri, Pemimpin-pemimpin dari Perguruan Merdeka dan pasukan Pemuda berjubah coklat dalam waktu singkat telah tersiar ke mana-mana.

Pendekar Jala Samudra Hitam, Pendekar Harum mewangi, dan Pendekar Garpu Tala yang terkenal dengan kesaktiannya saat itu sedang minum tuak merayakan keselamatan mereka di Lembah Kematian,

begitu menerima berita itu serentak mereka taruh cangkir dan langsung berangkat ke Rumah bordir di daerah Ciburial itu

Bintang Endrayana ketua dari Rajawali Emas, yang pada saat itu sedang membeli kain baju, demi mendengar kabar itu, tanpa pamit pada Anggota lainnya langsung mencemplak ke atas kuda,

Terus berangkat ke penginapannya dan langsung memberitahu keempat Ketua perguruan lain dan berangkat bersama ketua lima perguruan besar yang lan..

Di Desa Ciranjang, si tangan besi malik murak dan si golok racun Sastra jendra, yang sedang perang tanding karena masalah perempuan.

Tapi begitu mendapat kabar bahwa sang pahlawan yang begitu berjasa dalam berlangsungnya roda Dunia Persilatan telah wafat bunuh diri karena diserbu pasukan kerajaan, serentak runtuh semangat tempur mereka,

Akhirnya kedua orang itu berangkat bersama ke desa ciburial dengan membawa anak buah lain juga kawan-kawannya yang ditemui diperjalanan.

Ada orang lain lagi yang menerima berita melalui macam- macam cara, tanpa pertimbangan lain segera mereka berangkat menuju desa Ciburial. Desa Ciburial adalah sebuah desa yang tidaklah terlalu ramai, tapi mendadak hari itu dibanjiri tamu dari penjuru negri, apalagi di tanah jawa ini masih banyak kaum persilatan dari negri lain yang belum pulang kenegrinya dikarenakan ada kejadian kemarin., yang paling beruntung adalah para pedagang kedai juga penginapan-penginapan.

Seluruh penginapan telah penuh, bahkan beberapa diantaranya ada yan rela tidur dihutan. atau ditempat-tempat lain.

Mereka juga tahu bahwa pada hari itu kerajaan telah diserbu orang hingga menjadi abu, tapi tak ada seorangpun yang peduli. tak ada seorangpun yang membahas tentang hancurnya atau sebab-musabab kehancurannya.

Yang ada hanya cacian-cacian pedas terhadap kerajaan. Mereka malah bersyukur bahwa kerajaan mendapat imbalannya.

Tanpa mereka sadari sosok lelaki bercaping lebar menitikan air matanya. bukan terhadap kematian Para Angota yang mati di tempat itu. melainkan menitikan air mata karena para Kaum persilatan mencaci maki kerajaan yang telah menjadi abu.

Terdengar seseorang disampingnya yang juga memakai caping lebar berkata.

―Apakah sekarang yang mulia sadar, bahwa yang mulia telah menanam bibit dendam kaum persilatan terhadap kerajaan.‖

Yang dipanggil yang mulia itu tak menjawab, ia melengos dan berjalan meninggalkan tempat itu. Rintik hujan basahi bumi, jatuh mengalir ketempat yang rendah. Angin bertiup perlahan membawa kesedihan dihati semua orang yang sedang mengelilingi kubangan besar di tempat itu.

Satu-persatu Orang-orang itu mengangkut mayat-mayat yang telah di jejerkan ditanah lapang. dan dengan hati-hati di masukan kedalam kubangan itu.

Satu-dua tiga empat dua ratu ratus duapuluh mayat telah

dikuburkan ditempat itu, hingga tertinggal seorang mayat.

Mayat Seorang pemuda tampan memakai jubah coklat dengan peralatan rubah.. dengan hati-hati mayat itu diangkut dengan sebuah bambu dan diletakan diantara mayat-mayat berjubah coklat yang lain.

Tanah mulai di urugkan, menutupi mayat-mayat dalam kubangan itu. isak tangis kesedihan terdengar di tempat itu.

―Saudara-saudara sekalian, entah kesalahan apa yang menimpa seorang pahlawan bagi kita semua ini, sehingga harus mati diantara kesedihan, mungkin beliau bunuh diri dikarenakan tak sanggup lagi menhan derita atas kematian anggotanya yang lain. sungguh seorang pemimpin yang rela mati bersama anggotanya merupakan seorang yang gagah. Pihak Kerajaan sungguh terlalu, jika seandainya saat ini tidaklah menjadi abu mungkin kita dapat melampiaskannya dengan membumi hanguskannya. namun sungguh naas Kerajaan telah hacur menjadi abu. menjadikan kita ini kehilangan kendali akan pelampiasan dendam berdarah ini.‖ Seorang kakek-kakek berjubah Hitam berkata, kakek itu berwajah penuh kerut di telan usia. Sikapnya masih gagah dan tenang.

Meski dalam dunia persilatan ia terkenal sebagaoi tokoh hitam yang ganas, namun saat ini bagaikan macan kehilangan giginya. Kakek itu terkenal dengan julukannya yang cukup seram, Bangkotan Demit Edan.

Perkataan itu konstan saja membuat para pelayat menjadi bergemuruh laksana guntur di senja hari.

Senja telah datang, malam mulai gelap. satu persatu pelayat itu meninggalkan tempat, hening mulai tercipta, malam semakin kelam. suasana seram diantara kepulan debu membuat merindingkan bulu roma siapapun.

Sebenarnya apakah Aram dan kawan-kawannya telah mati? ataukah ?

Permadani biru masihlah terbentang

kcipak suara ikan masihlah terdengar syahdu. Kucium Aroma farfum garam mu.

Deburan ombak perlahan menyapu sampanku. Sampan bambu harapanku.

Wahai burung yang terbang disana, mendekatlah dan menari disini.

Ku merindukanmu hm suit..suitt..suiit..tut..trulut.

Siulan dan nyanyian merdu terdengar dari seorang pemuda belia yang tampoan rupawan, dengan hidung layaknya paruh gagak, kulitnya putih bersih bak mutiara dari dasar laut, berpadu dengan pakaiannya yang hitam kelam. Pemuda itu memiliki bibir merah muda menantang dihiasi gigi putih yang berderet rapi.

Mata Pemuda itu Merah darah dipayungi dengan alis sayap elang. sungguh Pemuda yang tampan luar biasa.

Pemuda itu berdiri tegak menantang lautan diatas sebuah sampan dari bambu, matanya menatap lurus kepada burung- burung camar yang berterbangan menyambar ikan.

Sampannya melaju kencang meski tak memakai layar apalagi dayung. bergoyang indah dipermainkan ombak yang sekali-kali menghantamnya.

―Uhuk. Uhukkk‖ Pemuda itu batuk batuk sambil memegang

dadanya yang sepertinya terasa sesak.

―Akh, Daratan....Syukurlah sudah seminggu ini aku berlayar

mengarungi samudra ini. ‘‘

Karena terlalu bergembira, pemuda ini tidak sadar bahwa secara tiba-tiba dibelakang

sampannya sebuah gulungan ombak setinggi empat kaki menghantamnya,

Byurrssss. Pemuda itu terkejut, ia kehilangan keseimbangan

dan terlempar kearah sebuah karang yang menonjol. hingga tak pelak lagi jidatnya terbentur keras. Pemuda itu merasakan dunia berputar, pandangannya sayu, perlahan gelap..gelap..maka pingsanlah ia.

Entah berapa lama telah berselang, akhirnya pemuda itu mulai mendusin, ia merasakan sakit luar biasa pada pundak kanan dan kirinya,

―Ughh‖ keluhnya lirih..

Semakin sadar ia merasakan pundaknya semakin sakit. ia sadar rasa sakit itu bukanlah sebuah khayalan. ia mencoba membuka matanya yang terasa berat.

Setelah terbuka, hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah batu yang saling menonjol diatas langit-langit gua dan sebuah obor diatas tulang kepala kerbau hutan.

setelah pandangannya mulai terbiasa, ia melirik kearah pundak kanannya yang terasa sakit. ia mendelong, ia benar-benar kaget luar biasa, ternyata rasa sakit itu dikarenakan sebuah pasak dari kayu yang menembus tulang pundaknya membuat ia terkunci diatas sebuah pembaringan,

Setelah merasakan dinginnya keringat didahi, Pemuda itu segera palingkan wajah kearah pundak kirinya, ternyata pundak kirinya sama halnya dengan pndak kanannya.

Keringat dingin mulai membanjir, perasaannya galau tak keruan. setelah beberapa saat ia mulai tenang, dan mengerahkan tenaga dalamnya, kali ini ia benar-benar telah mencapai kesedihannya, titik-titik air mata mulai menjatuhi pipinya. Ternyata tenaga dalamnya ikut musnah. perlu diketahui, tulang pundak merupakan sbuah alat vital dari seorang pesilat, jika seorang pesilat terluka parah dibagian tulang pundak sama halnya dengan memusnahkan ilmu silatnya.

Ia mencoba mengangkat kakinya, namun ia kembali mencelos, setelah diangkat. ia sadar kakinya diborgol dengan rantai, terbukti dengan suara gemerincingnya suara logam yang beradu.

Bau Amis, apek, kelembaban dan bau aneh lainnya merangsang hidung pemuda itu, hingga ia hampir saja muntah.

Dalam kesunyian di Goa itu, mendadak berkumandang

gelak tawa aneh, yang membuat siapa saja yang mendengarnya terkencing-kencing ketakutan.

Pemuda itu merasakan bulu kuduknya berdiri meremang.

Tampak sesosok bayangan bagai hantu berkelebat masuk. bayangan itu ternyata adalah seorang kakek kurus tinggi,dengan jenggot sepanjang lutut berwarna perak.

Dengan sorot mata jalang dan sadis kakek itu menatap kearah Pemuda itu. Senyuman puas dan sadis menghiasi bibirnya membuat pemuda itu tercekat.

Selangkah demi selangkah kakek ini maju menghampiri makin dekat. Dibawah penerangan Obor yang guram,kakek ini berambut kusut masai dengan muka pucat kurus. Pakaiannya yang sudah koyak-koyak sudah tidak kelihatan warnanya, keadaannya begitu mengeriikan.

Kakek itu menatap pemuda yang terbaring diatas pembaringan dengan tajam seperti orang yang menikmati karyanya sendiri.

Dia jambak rambut kepala pemuda itu itu sehingga kepalanya menengadah. Dengan seksama dia awasi muka Pemuda itu,

―hehehe...sebuah bahan percobaan yang bagus, haha... dengarlah wahai dunia, aku Tabib Sesat Raga akan

menciptakan seorang manusia yang lain dari yang lain. hahaha‖