Pendekar seribu diri Jilid 06

Jilid 06

HILANG..... Tak berselang begitu lama, darah tiba tiba mengucur deras seperti pancuran dari ketinggian, seluruh Pori-Pori kulitnya mengeluarkan darah, juga lobang lobang lainnya tak ketinggalan.

Melihat kematian Murid yang tinggal satu-satunya itu, Iblis Langit Selatan gusar bukan kepalang, Apalagi kematian muridnya itu berada didepan matanya sendiri tanpa ia sedikitpun dapat menolong. segera ia menjejakan kaki ditanah dengan ringannya ia melambung tujuh delapan tombak diudara, setelah menginjak tanah seperti Angin saja ia melesat menuju barak golongan merdeka.

Set. Iblis Langit Selatan, melesat menuju tempat duduk

Seorang pemuda Berjubah coklat dengan peralatan kulit rubah, tidaklah susah mencarinya karena ia memiliki ciri-ciri khas yang sangat mencolok.

Namun niat itu, harus ia urungkan sebab seseorang telah menghadang didepannya. ketika ia perhatikan ternyata seorang kakek tua dengan dandanan super aneh, bajunya terdiri dari dua warna, kanan terbuat dari kain sutra berwarna biru, sementara yang kiri terbuat dari karung goni berwarna coklat.

Celananya juga terdiri dari dua jenis, kiri pendek dan kanan panjang didunia ini tak ada seorangpun yang memiliki ciri

demikian selain si sinting dari Timur Ki Asmaradanu.

―Ayah angkat. biarkan Tuan Rumah yang mengurusnya,

bagaimanapun mereka takan membiarkan dia berulah semaunya sendiri didalam acara mereka sendiri.‖. Pemuda itu mencegah, jika hanya berbicara untuk didengar sisinting dari timur saja, mungkin Kaisar Iblis akan membiarkan mereka bertarung kemudian memetik keuntungannya.

Tapi, saat ini lain meski suaranya seperti dikeluarkan dengan perlahan namun suaranya begitu menggaung-gaung ditelinga orang, meski jaraknya ratusan bahkan ribuan tombak. yang mau tak mau harus membuat kaisar iblis bertindak mencegah.

Dengan diawali geraman laksana singa kelaparan, Kaisar Iblis membentak.

―Berhenti...!‖ Suaranya laksana guntur disiang bolong, burung burung terbang ketakutan. Para hadirin dipaksa kembali harus menahan sakit telinganya dengan mengerahkan segenap tenaganya.

Iblis langit selatan tertegun, dengan mata yang nyalang seakan ingin menelan sosok pemuda yang sedang asyik bersantai tanpa mempedulikan suasana disekitarnya Ia berputar arah kembali ketempat dimana ia duduk semula.

―hhahaha Siasat yang bagus rubah cilik‖ Ki Asmaradanu

tertawa terbahak bahak.

―Hanya siasat kecil Ayah‖ Aram tersenyum pada Ki Asmaradanu. Bagaimanakah ceritanya sehingga Kiasmaradanu menjadi Ayah Angkat dari Aram?

Ak

ulah Sang Pangeran Dilahirkan Oleh bumi Akulah Sang Pangeran Dibesarkan Oleh langit,

Panas dan dingin akan menjadi satu

Suara Tembang tak jelas judul maupun nadanya berkumandang disebuah atap bangunan kuno, mengusik tiga orang pemuda berjubah coklat yang berjalan disamping bangunan itu. ―Orang Gila mana yang menyayi tak jelas juntrungan ini, masa panas dan dingin menjadi satu, jadi hangat dong ‖ Gerutu

Seorang pemuda berjubah coklat dengan peralatan kulit beruang kepada teman yang berada disampingnya.

―haha kau bodoh Jempana bukan kah itu sudah jelas Orang

Gila dari bangunan kuno, jelas-jelas suara nyanyiannya dari sana‖ Pemuda berjubah coklat dengan peralatan kulit buaya berseloroh, pemuda itu tak lain adalah Amuk samudra si Ksatria Buaya.

Tapi tidak dengan orang yang satunya lagi ia merenung, Pemuda itu berjubah coklat dengan peralatan Rubah sebagai ciri khasnya. ia menghela nafas dalam-dalam lalu ikut bersenandung.

―Sungguh mengerikan apabila telah menjadi satu‖

―satu adalah sumber‖

―sumber adalah kekuatan‖

―kekuatan adalah kosong‖

―kosong adalah diam‖

―lalala....Akulah Sang Pangeran ‖

Begitulah tembang itu saling bersahut-sahutan. ketika ucapan terakhir selesai diucapkan

Wushhh suatu sosok bayangan menghadang didepan

mereka., hampir saja Amuk Samudra dan Jempana tertawa terpingkal-pingkal melihat dandanan orang itu.

Ternyata yang datang adalah seorang kakek tua dengan dandanan super aneh, bajunya terdiri dari dua warna, kanan terbuat dari kain sutra berwarna biru, sementara yang kiri terbuat dari karung goni berwarna coklat.

Celananya juga terdiri dari dua jenis, kiri pendek dan kanan panjang. . . ―Siapa gerangan engkau adanya kakek?‖ Pemuda berjubah coklat menjura penuh penghormatan.

Sikakek tertegun, ia terharu baru kali pertamanya ada orang yang menghormatinya sedemikian rupa.

―Siapa kau Anak muda?‖ Sikakek balas bertanya.

Pemuda itu sama sekali tak tersinggung dengan kelakuan sikakek yang balik menanya, ia malah tersenyum... senyum yang indah bak bunga yang sedang mekar... begitu mengikat malah mungkin lebih indah dari senyuman wanita, terbukti dengan terpesonanya ketiga lelaki yang kebetulan memandangnya.

Semua hening diam,... tak berselang begitu lama Kakek Aneh itu tersadar, cepat ia mengerahkan segenap tenaga dalamnya.. namun naas, tak setitikpun tenaga dalamnya mampu menahan gairah untuk ikut tersenyum dari pemuda itu.

Ia penasaran, dikerahkannya lagi tenaga dalam yang ia miliki sampai tubuhnya gemetaran. . keringat berketel-ketel membasahi dahinya.

Pemuda itu berhenti tersenyum, ia menunduk, menunduk sangat dalam, tik. butiran air mata membasahi permukaan bumi.

Entah bagaimana caranya, ketiga orang yang masih terbuai degan senyuman itu, tiba-tiba menangis,. bukan hanya

menangis keluar air mata, tapi. menangis tersedu-sedu,

mereka tak mengerti mereka menangis karena apa, yang jelas dari lubuk hati terdalamnya tiba-tiba menyeruak kesedihan yang begitu mendalam.

Pemuda itu sadar, ia membuat orang yang berada disekelilingnya ikut menangis gara-gara ulahnya. ia angkat wajahnya. tangannya bergerak perlahan membasut air mata yang ada dipelupuk matanya. ―Saya Aram Widiawan Kek...!‖ Jawabnya sembari tersenyum penuh persahabatan.. bahkan lebih dari itu... mungkin itu adalah senyum kekeluargaan. senyum yang hanya dimiliki oleh seorang anak kepada ayahnya.

―Darimana kau tahu tembang itu, anak muda‖ Sikakek bertanya setelah berhenti dari tangisnya.

Aram tertegun, ia ingat kematian orang tuanya yang menggenaskan, kehidupannya yang harus terlunta-lunta

dipermainkan nasib.

Aram tak menangis, karena jika menangis itu hanya akan membuat ketiga orang itu akan ikut menangis jua. Ia tersenyum getir, tapi ia kecele. gara-gara ia tersenyum getir, ketiga orang

itu bagaikan dilemparkan kejurang derita, penderitaan yang selama ini tertuang dalam penderitaan Aram, ikut tertumpah ruah kedalam hati mereka. tapi, itu tak lama...

Sebab tiba tiba mucul semangat yang menggelora.. semangat yang mampu mengangkat gunung sekalipun. semangat mereka bagaikan bara yang menggolak, bagaikan lahar yang menggelegak seakan ingin meraih angkasa.

―Mendiang orang tuaku Kek. ‖ jawab Aram dengan semangat

api. ia sadar, tenggelam terus dalam kesedihan takan membantunya bangkit. ia tahu.. hidup itu seperti PEMERKOSAAN. suka gak suka, mau gak mau, siap gak siap harus tetap DINIKMATI.

Kakek itu termangu-mangu ―Kau ternyata sependeritaan denganku Anak muda sebaiknya kita duduk mencari tempat

untuk bercakap-cakap‖ kakek itu berbalik meninggalkan tiga anak muda yang sedang dilanda perasaan masing-masing.

―Kalian berdua, carilah makanan untuk sarapan siang..‖ Aram memerintah dua anak muda yang mematung dilanda gelora semangat.

Tanpa menunggu keduanya menjawab, Aram segera beranjak mengikuti Kakek-kakek yang pergi menuju Arah bangunan kuno.

―Duduklah ‖ Kakek itu mempersilahkan Pemuda berjubah

coklat yang membuat hatinya lain dari yang lain. sampai-sampai kegilaannya juga ikut berhenti.

Aram segera menuju tempat yang disediakan oleh sikakek, tanpa basa-basilagi ia duduk ditempat yang berdebu itu.,

―Namaku Asmaradanu tap‖

―Saya sudah tahu, itu bukan nama asli kakek ‖ Aram menyela.

yang membuat si Kakek melengak.

―Saya juga tahu, kakek bukanlah berdarah manusia biasa., Setidaknya kakek berdarah Seorang Pangeran ‖

Keduanya diam tak ada kata, tak ada gerakan, kakek itu

memperhatikan wajah Aram yang tenang bagaikan lautan ,

dalam hatinya ia berfikir, ‖bocah ini benar-benar tindak lakunya selalu berubah-rubah , sebentar gembira, sebentar murung,

sebentar sedih, sebentar tenang , sungguh aneh, pengetahuan

dan kecerdikannya sungguh luar biasa, aku rasa dia hanya menggabungkan informasi dari tembang yang kunyanyikan dan saat aku memperkenalkan diri dengan ragu, luar biasa sungguh

luar biasa ‖.

Langkah kaki terdengar beriringan mengusik kebisuan diantara dua sosok manusia yang duduk berhadapan.

―Ketua, kami datang ‖ dua sosok bayangan berjubah coklat

tiba dihadapan kedua orang yang saling membisu. Tanpa banyak cakap segera mereka membuat api sementara yang satunya menusuk Rusa yang cukup besar yang telah dikuliti. Empat sosok manusia berdiam diri menghadapi api yang menjilat jilat seonggok daging rusa yang cukup besar.

―Fyuhhh ‖ Helaan nafas berat terdengar dari Kakek yang

mengaku bernama Ki Asmaradanu.

Sebenarnya dalam dunia persilatan siapakah yang tak mengenal Ki Asmaradanu Ialah Sisinting dari Timur, seorang datuk dari

wilayah timur.

―Nama Asliku Raden Angkasa Puja Batara,‖ sikakek membuka percakapan. Aram diam saja dan menatap wajah sikakek dengan penuh penghormatan.

Sementara, Amuk Samudra dan Jempana tersenyum geli, bagaimana seseorang yang berpenampilan gila gembel begitu bergelar seorang Raden. apa bukan membual besar, pikir mereka....

―Aku dilahirkan oleh bumi, dan dibesarkan langit. , pada masa

muda aku hidup terombang-ambing oleh harta dan pangkat. ,

waktu itu aku bergelar Pangeran Pengemis. aku memiliki

seorang istri secantik bidadari, dan aku hidup dengannya dengan rukun dan bahagia..., ilmu silatku sangatlah tinggi.. dengan dibekali kecerdikan yang tiada batas Pada suatu hari,

aku berjumpa dengan seorang manusia dengan kecerdikan laksana rubah.... Dialah Sirubah Seribu Wajah Ketika kami

bertemu, entah mengapa kami saling tertarik satu sama lain...

kami akhirnya bertarung kecerdikan dan diakhiri dengan persahabatan. beberapa bulan kami bergaul, akhirnya kami sepakat untuk membuat sebuah ilmu silat yang kemudian disimpan dalam sebuah ilmu sastra.‖

Kakek itu diam, ia mengenang masa mudanya, masa ia berjaya dengan segala kelebihannya.

―lalu bagaimana tanggapan kaum persilatan ‖ Aram bertanya menghentikan lamunan Sikakek.

―Banjir darah‖

Aram adalah seorang yang diberitahu satu tahu tiga, empat bahkan lebih. hanya berdasarkan kata kunci ‗Banjir Darah‘ ia paham dengan apa yang terjadi. lain halnya dengan dua orang yang lain. hanya satu yang mereka Pahami.. Kakek itu GILA

atau, tidak waras. mengenai ketuanya sedari dulu mereka

mengerti, bahwa ketuanya emang sedikit kurang normal.

―Lalu bagaimana mengenai akhir kisahnya?‖

―Mereka Mengamuk. sampai-sampai mengorbankan Sirubah

seribu Wajah sebagai kambing hitam dari kisah berdarah itu, ‖

―Maksud kakek, kitab yang mereka dapatkan isinya adalah sebuah kemustahilan.‖

―Benar. , memanglah benar,‖

―Lalu bagaimana kondisi akhir kakek sekeluarga dan Ki Pandu Permana.‖

Wajah Ki Asmaradanu pucat, tertegun bagaimana mungkin anak semuda Aram dapat mengetahui nama asli dari Sirubah Seribu Wajah. jangankan Anak seusia dia, Orang yang berusia enam atau tujuh puluh tahunan juga jangan harap mengetahui namanya.

Memanglah pada masa mudanya Sirubah Seribu wajah tidaklah ada yang mengetahui namanya selain orang yang paling dekat dengannya.

―Darimana kau tahu nama lengkap dari sahabatku itu?‖ dengan gemetar Ki Asmaradanu menunjuk dahi Aram....

Aram tak menjawab. Ia malah berdiri Lalu menyembah..

―Ananda menghaturkan sembah untuk Ayah Angkat. ‖

Jangankan Ki Asmaradanu yang terperanjat Amuk Samudra dan Jempana juga terjengkang akibat merasa kaget. ―Pana, Sepertinya sifat gila ketua sedang kumat,...‖ bisik Amuk Samudra kepada Jempana yang masih shock.

―Apa Maksudmu Anak muda...‖ disela-sela kekagetannya Ki Asmaradanu bertanya.

―. ‖ Aram diam membisu.

― Alis ki Jempana mengangkat.. dilihatnya pemuda itu masih dalam keadaan bersujud cepat ia beranjak dan

membangunkan pemuda itu.

Setelah bangun Aram segera menjawab.

―Mendiang Guru berpesan dalam sebuah kitabnya yang terakhir yaitu kitab AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU

MUNCUL DATANGLAH DARAH. menjelaskan bahwa bagi

siapapun yang menjadi muridnya hendaklah memanggil ayah kepada salah seorang sahabatnya yang ikut menyelesaikan kitab penyatuan. dan kini aku telah menemukannya‖ Aram menjelaskan.

―Mendiang Apa dia telah wafat?‖ Ki Asmaradanu memegang

dada Aram.

Aram mengangguk dan menjelaskan tentang kondisi dalam jurang.,

Kakek itu menangis memeluk dada Aram, ia menangis menggerung-gerung seperti bocah yang tak disusui ibunya. Aram biarkan Kakek itu menangis, ia paham menghentikan

pun bukanlah sesuatu yang bagus. ia malah bersenandung

seperti seorang anak kecil

Menangis bukanlah hal yang memalukan bukan hanya wanita yang bisa menangis lelakipun mampu

lelakipun bukanlah seutas baja biarkan tangis meledak

biarkan ia membawa kesedihanmu Tangis bukanlah Sifat pengecut Menangislah sebelum engkau ditangisi

Setelah berhenti, kakek itu tersenyum mereka bercakap-

cakap riang hingga malam menyapa bumi.

......................................

Pembawa Acara yang melihat hadirin tenang, tiba-tiba ia mulai angkat bicara.

‖Para Pendekar sekalian, tetamu dan saudara-saudari sekalian yang terhormat, Atas nama perkumpulan Panji Telapak Perak kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara-saudari sekalian pada malam peresmian berdirinya perkumpulan Panji Telapak Perak, Perkumpulan yang akan merajai dunia persilatan.‖

Berbagai tanggapan dalam hati para tokoh yang memenuhi lapangan. Ada yang diam merasa geram dengan kecongkakan Perkumpulan Panji Telapak Perak. Ada pula yang tersenyum sinis dalam hati dan menganggap hal itu hanya suatu gertakan kosong untuk memamerkan kekuatan Perkumpulan Panji Telapak Perak.

‖Para Pendekar dan tetamu sekalian, Kaisar Iblis, Kaisar dari Perkumpulan Panji Telapak Perak dan Kaisar kita semua telah menurunkan titah bahwa nanti pada tengah malam dikala bulan purnama berada di tengah langit, akan diadakan sembahyangan suci untuk meresmikan berdirinya Perkumpulan Panji Telapak Perak‖.

Berhenti sejenak pengara itu berseru pula.

‖Berdirinya Perkumpulan Panji Telapak Perak akan merupakan berkah bagi kaum persilatan khususnya dan umat manuasia umumnya.. Perkumpulan Panji Telapak Perak tak mempunyai tujuan lain kecuali akan mempersatukan kaum persilatan yang sepanjang abad tak pernah mengeyam ketenangan dan kebahagiaan. Di bawah panji Perkumpulan Panji Telapak Perak, dunia persilatan akan membuka lembaran sejarah baru. Semua kaum persiltan tanpa membedakan aliran, daerah, perguruan dan tujuan, akan dilebur dalam satu wadah ‖

Kembali pembawa Acara itu berhenti sejenak untuk mencari tahu sampai dimanakah tanggapan para hadirin atas pidatonya itu.

Memanglah terdengar suara berisik dari para hadirin. Suara itu terdengar gaduh, sehingga sukar didengar jelas maksud dari ucapan itu.. Kebanyakan suara itu bernada geram dan bersungut-sungut penasaran.

Setelah membiarkan suara itu bergemuruh beberapa waktu, pembawa acara itupun berseru keras.

―harap tenang,. !‖

Seperti disihir saja, hadirin kembali tenang dilain pihak Kaisar

Iblis yang sedari muncul tak pernah lepas memandang seorang pemuda berjubah coklat yang dilehernya tersampir Kulit rubah entah berapa kali wajahnya harus berubah....

Ia heran, bagaimana mungkin seorang manusia apalagi seorang pemuda belia macam dia harus memilki mimik wajah yang begitu luar biasa.. hakikatnya memang pemuda itu sejak duduk dibaraknya sampai sekarang belum pernah merubah parasnya...

begitu tenang bak lautan yang dalam.

―Pemuda itu sepertinya memang memiliki pegangan yang kuat.. benar-benar lawan yang patut diperhitungkan.‖ pikir Kaisar iblis dalam hati. ―Shuuiitsss. suara suitan bergema disebuah lembah yang

panas dibakar birahi. menghentikan tarian dan nafsu yang bergolak dalam tubuh hadirin.

Seruan kaget, tertegun, marah tangisan dan sebagainya bersahut-sahutan dimana-mana. Kaum golongan putih benar- benar marah, terutama para gadis dan pemuda yang kehilangan keperawanan juga keperjakaan. mereka menjerit histeris sambil merapikan baju-baju yang berserakan tak karuan. para gadis bukan janda juga bukan tidaklah terlalu memperhatikan kejadian barusan, mereka segera memakai pakaiannya dan pindah tempat.

Para Golongan Hitam tidaklah ambil pusing, kejadian barusan malah mereka jadikan sebagai ajang salam perkenalan, lagipula kejadian itu tidaklah merugikan mereka.

―Bangsaat. ‖ hiaattt‖ terkutuk tigapuluh orang pemuda dan

pemudi menerjang sisi panggung dimana kaisar iblis berada. namun, naas bagi mereka, ―AAKkkkkkkkkhhh ‖ ribuan

anak panah melesat dari langit merajah mereka.

Dalam hitungan seratus, tubuh mereka telah berubah menjadi hitam lalu mencair, nyata sekali panah-panah itu mengandung racun ganas.

Setelah Para penari telanjang turun kembali ke tempatnya. Luyu manggala segera bertanya.

―Ketua...ini..‖

―Itu adalah tarian iblis perangsang berahi. , mengapa kalian tak

terkena efeknya tak lain karena aku menggunakan Ajian Suci tentram‖ Aram menjawab tegas memotong pertanyaan Luyu

Manggala seakan mengetahui apa yang akan ditanyakan Luyu Manggala atau biasa dipanggil Kerbau Manggala itu.

Ki Asmaradanu tersenyum, kekagumannya terhadap kecerdikan dan kepekaan perasaan anaknya kini bertambah satu tingkat. Aram berpaling, dilihatnya empat orang insan manusia dalam keadaan seperti ini malah sibuk bertatapan mesra, yang pertama adalah Angkara dengan seoang Gadis jepang yang bernama Yumi. dan yang kedua adalah Ryusuke dengan Gadis dari tanah Antah berantah yakni Jelita Indria adanya, dilihat dari tatapan matanya Aram tahu bahwa mereka sedang mengingat apa yang terjadi diantara mereka.

Benarkah demikian? kita bahas dulu apa yang sedang terjadi diantara Angkara dengan Yumi.

Pada saat Para gadis itu menari, seperti halnya diceritkan dari awal Angkara begitu antusias menyambut tarian itu. namun ia harus menghentikan ulahnya karena ia melihat seorang gadis yang melotot marah kepadanya. mereka saling bertatapan tiba- tiba wajah Yumi memerah, Angkara tertegun bingung... setelah berpikir sebentar ia akhirnya mengerti, ia ingat kejadian pertama kalinya mereka bertemu.

Waktu itu, ketika mereka habis makan siang setelah pertarungan dengan para yoninshu Yumi beranjak meninggalkan Angkara, Ryusuke dan Jelita Indria bertiga. Angkara dan Ryusuke berpandangan setelah diam sesaat Angkara segera menyusul Yumi.

Dengan mengandalkan kecepatan gerak Selaksa Rubah menjadi bayangan Angkara dapat menyandak yumi yang sedang berjalan sambil melamun.

―Kau mau kemana Yumi...‖ Angkara menegur yumi yang sedari tadi masih belum merasa diikuti.

―Ekh...akghhh...Anu...‖ Yumi salah tingkah.

―Boleh kutemani...‖ Angkara menawarkan diri. yumi melenggong tak menyangka, setelah berpikir akhirnya. ―Boleh ‖ jawabnya kikuk.

Sambil bercakap-cakap keduanya berjalan mengikuti garis rerumputan yang tersibak membentuk sebuah jalan setapak. hingga mereka berhenti di sebuah air terjun setinggi dua puluh tombak.

Gemerisik air mendendang bak musik yang mendawai asmara, airnya jernih bak cermin dari swargaloka. tebing-tebing tinggi mengelilingi tempat itu, dihiasi dengan akar-akar beringin yang merambat.burung-burung berkicau riuh rendah bernyayi-nyanyi riang.

―Humzz Indah sekali tempat ini Kanda.‖ Yumi berkata reflek.

Kanda panggilan sederhana namun memiliki makna yang begitu indah ditelinga hati maupun batin. mendesir indah perasaan Angkara.

―Tapi tak seindah dirimu dinda ‖ jawab Angkara Gombal.

Wanita memang makhluk yang terkadang berpikiran bodoh, meski ia tahu bahwa itu adalah gombal belaka, namun ia malah senang digombalin begitu juga dengan yumi. hatinya

menggelora menuntut sesuatu yang akan mengisi relung-relung jiwanya.

―Air ini begitu jernih. ‖

―Namun tak sejernih matamu ‖

―dengarlah, kanda... nyanyian burung itu begitu merdu..‖

―Masih kalah dengan suara merdumu Dinda yumi..‖

―lihat akar yang menjalar itu, kanda , begitu indah menghiasi

tebing itu ‖

―Masih belum sadarkah engkau dinda, bahwa jalur akar cintamu telah menjalar didalam relung jiwaku menghiasi hati ini‖ Angkara menyentuh dadanya.

―Aishiteru. Angkara‖ ―Apa? Ala Siraru? dengan berlagak konyol Angkara menjawab tak mengerti.

―Hihi....Apaan tuh Ala Siraru?... Aishiteru artinya aku mencintaimu kanda...‖ merah muka Yumi.

―Oh alapuyuh tu ‖

―Apaan tuh Alapuyuh tu kanda?‖ Yumi mengerutkan kening....

―haha...aku mencintaimu juga dindaku..‖ dengan tertawa kemenangan Angkara menjawab.

―Bahasa daerah mana itu kanda?‖

‗Hehe ketika aku sedang berada dikedai aku menndengar

orang yang berambut keemasan menyatakan cinyanya.. nah, dia mengatakan Alapuyuh dan perempuannya menjawab

Alapuyuh tu..‖

―Khihihih. ― dengan cekkikikan Yumi tertawa.

―Mengapa kau tertawa dinda?‘‘

―Kau yang salah tanggap Kanda, yang mereka katakan itu I love You, dan I love You To bukan Alapuyuh dan Alapuyuh tu

hihi. ‖

‗Ohhh....‖ Angkara kikuk....

Gemericik Air terjun membasahi Wajah Dua Insan yang sedang asyik memadu cinta mereka berpandangan dengan saling

berpegangan tangan, perlahan entah siapakah yang memulai bibir mereka bertemu dipertengahan jarak, keduanya saling diam membisu, keduanya menahan nafas dalam-dalam, keduanya membuka bibir, kini keduanya saling jilat dalam sebuah kuluman , bergulat mencari kenikmatan dari setiap sentuhan.

―Sudahlah kanda, aku gerah mau mandi. ‖ Yumi melepaskan

kuluman bibir Angkara dan menjawab dengan nafas tersenggal- senggal. Tanpa menunggu jawaban dari Angkara, Yumi segera melepaskan pakaian sekaligus dalamannya. tubuh mulus putih khas Asia kini terpampang didepan Angkara. meski hanya dari belakang, angkara sudah merasa jantungnya copot.

Yumi turun keair yang jernih dan berbalik....

―kau mau mandi bareng kanda..‖ Yumi mengajak.

Angkara semakin melongo, meski tubuh yumi terendam air, tapi masih jelas terpampang sebab airnya begitu jernih.. mendengar yumi mengajak mandi bersama. Seperti kambing congek Angkara berjalan hendak turun keair namun ia membatalkannya sebab yumi mencegah. 

―Tunggu, kau mau mandi denngan berpakaian seperti itu kanda,

― dengan gemas yumi mencegah.

Angkara bagaikan tersadarkan segera ia melepaskan pakaiannya dengan hati-hati.

―Akhh‖ Begitu melihat Tombak penembus rimba milik Angkara tak tahan lagi Yumi berseru kaget, "Woouw, Besar sekali tombak milikmu kanda!"

Angkara Tersenyum, ia berjongkok didepan Yumi. tanpa malu- malu yumi yang sudah dibakar birahi segera mengambil tombak itu. dan menciuminya seperti gula.

Kenikmatan yang luar biasa membuat Angkara mendesis lirih, badannya ikut gemetar keras.

selang berapa lama Angkara mencabut tongkat itu, tetesan cairan bening ikut mengucur dari ujung tombaknya itu.

―Kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya Dinda?‖ Angkara bertanya sambil turun keair dan memeluk tubuh Yumi. yumi tak menjawab, ia hanya menggeleng lemah sambil mendesis....

karena ia merasakan pantatnya ada yang meremas....

Cupp Angkara menciumi tubuh yumi, dimulai dari kening, pipi, mulut leher dan turun kebawah hingga mencapai bukit berpuncak kemerahan, meski baru kali pertamanya Angkara

maupun yumi melakukan perbuatan yang seharusnya dilakukan suami istri itu namun nafsu telah menuntunnya, dengan

mengandalkan naluri mereka bergerak secara alamiah. Angkara bukanlah orang dari golongan Putih, ia tak mempedulikan bahwa hal yang dilakukan ini merupakan hal yang tabu bagi golongan putih.

sementara Yumi, dinegaranya hal seperti ini bukanlah hal-hal yang sangat tabu, ia belum pernah melakukan hal seperti ini juga karaena dia belumlah pernah berpacaran saja.

―Shhtt...Akh...Akh ‖ Desahan memburu dari dua insan yang

sedang bergumul itu selaras dengan suara gemericiknya air terjun.

Tangan Angkara tidaklah diam, tangan itu sibuk belai ini belai itu.. membuat Yumi semaki menggelinjang-gelinjang.

―Srettt Aakkkkkkhhh‖ lenguhan panjang terdengar dari mulut

seorang perempuan cantik berwajah oriental yang sedang berada dalam pelukan angkara, sepertinya ia sudah mencapai npuncak pertamanya.

―Kau,....kurang ajar kanda tanganmu begitu nakal‖ Dengan

genit dibuat-buat Yumi menggoda Angkara.

Angkara malah menjawab yang tak ada huibungan sama sekali dengan pertanyaan yumi.

―tahanlah dinda,‖

Yumi tertegun tak mengerti, ia merenung dan akhirnya mengangguk.. sepertinya ia tahu apa yang diinginkan kekasih dambaan hatinya itu.

―Srettt ‖Akhhh Pelan kanda..‖ setitik air mata menjatuhi pipi yumi. wajahnya meringis sepertinya ia kesakitan. selang beberapa saat sepertinya rasa sakit itu telah menghilang terbukti dengan wajahnya yang berubah rilek.

―emhh...Akh..akhh...‖

Angkara merasakan tombaknya dijepit dua bilah jurang yang tak berpangkal segera mengggoyangkan badannya berulang kali, semakin lama tusukannya makin tajam dan kuat, sebentar ia menusuk sebentar mencabutnya lagi, kemudian menusuk sambil memuntir, sebentar kemudian dia menekan sambil menggesek....

beberapa gebrakan kemudian yumi sudah mendesis sambil merintih,mukanya merah padam karena rangsangan birahi. "Oooh ... aaaah ... aduh ... aaaah ... Kanda Angkara..‖ Peluh telah membasahi seluruh tubuh Yumi, tapi badannya masih bergoyang terus tiada hentinya. mereka bertempur semakin seru, hingga pada suatu saat....

―Emcchhh Akkhhhh‖ keduanya berteriak melengking lalu

keduanya terkulai lemah bersandar pada batu.

Cairan putih kemerah-merahan sudah meleleh keluar dari sebuah jurang didalam hutan rimba milik yumi,

―Terimakasih dinda ‖ Angkara Mencium kening Yumi yang

dibalas dengan kecupan mesra.

Keduanya lalu membersihkan diri, mereka naik kedaratan dan mengulangnya lagi mengulangnya lagi sampai lima kali bertarung, pada pertarungan terakhir keduanya telah terbiasa, keduanya telah mampu saling memahami apa yang diinginkan masing-masing.

Angkara segera berbaring di batu sungai yang lumayan lebar sambil menyelonjorkan sepasang kakinya.

Yumi menarik napas panjang, tubuhnya segera ditekan ke bawah. "Sreetttt!", hutan rimbanya mampu melenyapka tombak hitam yang berdiri kekar

Kontan saja Angkara menjerit, "pelan, sayang!" Saking nikmatnya dia mulai gemetar keras.

Yumi tak mempedulikan ocehan Angkara, segera iamenaik dan menurunkan tubuhnya secara berirama, bukit sekalnya menggelepar, gelepar didepan angkara yang sedang telentang, yumi tak mempedulikan itu.. ia semakin semangat meraih puncaknya, ia tak mempeduliakn tubuhnya yang sudah letih lelah..tak kuat menahan rangsangan Angkara segera memegang bukit kembar yumi yang menggelantung menggelepar, gelepar. ia meremasnya dengan keras.

Yumi memekik kesakitan, tapi ia tak mencegah, juga tidak menghentikan pendakiannya ia terus berjalan semakin atas- semakin atas sampai akhirnya ia tak dapat lagi menahan gelombang dahsyat yang menerpanya ia menjerit

keras..‖Akkkhhhhhh‖ .....

Seperti dicopoti tulang-tulangnya Yumi dan angkara berbaring berpelukan, setelah mengatur pernafasan segera keduanya berbenah dan kembali ketempat dimana tadi mereka makan dengan senyuman keindahan dibibir.

Begitulah yang berada dalam pikiran Angkara dan Yumi yang saling bertatapan mesra. lalu bagaimana dengan Ryusuke dan Jelita Indria?

Ternyata merekapun sedang membayangkan hal yang sama, mereka teringat dengan kejadian yang berkesan dalam hati mereka dengan bersamaan waktu dengan Yumi dan Angkara. Setelah ditinggal Angkara dan Yumi, Ryusuke dan Jelita Indria bertatapan, keduanya tersenyum penuh makna, pertemuan mereka yang singkat itu ternyata telah mengusik naga yang sedang tidur dalam jiwa mereka.

Bagaikan kekasih yang sudah tak bertemu selama setahun saja keduanya segera berpelukan erat, sangat erat... sampai Ryusuke merasakan dua buah senjata kenyal didalam dadanya. wajah ryusuke memerah, gara-gara kejadian itu, bagaikan dialiri dengan tenaga dalam saja tombak yang tadi lemas kini telah siap berperang.

Jelita Indria tersenyum, ia juga dapat merasakan sebuah senjata yang sudah siap bertarung kini sedang menodongnya. keduanya bertatapan saling mengerti kebutuhan masing-masing, mereka segera mendekatkan wajah dan terjadilah pertarungan yang jarang disaksikan orang, terutama anak-anak yang belum dewasa.

Tanpa mereka sadari, pakaian mereka satu persatu telah berserakan ditanah.,

kemudian sambil bertarung, mereka berjalan beriringan menuju sebuah pohon paling besar ditempat itu. nafas mereka mulai terengah-engah sebagai tanda bahwa energi mereka sedang dikura

Ryusuke dan Jelita Indria tak kuasa menahan lagi, mereka berdua mulai saling berpelukan semakin erat, tubuh mereka bagaikan ular yang meliuk-liuk saling menempel satu sama lainnya, bagian bawah badannya saling ditempelkan, saling bergesek ....

"Kanda !" Jelita indria merintih lirih. matanya sayu

mengharapkan sesuatu Sembari mendesis dia mulai merentangkan sepasang pahanya.

Ryusuke segera berjongkok dan mulai menjelajahi hutan rimba milik jelita indria, mula-mula menjelajahi sekelilingnya kemudian ia mulai menerobos kedalam jurang itu itu dan Terakhir dia mulai memainkan tonjolan yang ada di bagian tengah, berulang kali. Ryusuke bangkit dan mulai membidik buruannya dengan tombaknya, Crassshhh Aakkkkkhhhh suara terobeknya kulit sasaran juga jeritan bahwa buruannya telah terkena sasaran. Dengan perlahan Ryusuke, mencabutnya lalu mendorong untuk memasukannya lagi, begitu berulang-ulang

Entah berapa lama mereka bertarung, peluh sudah bercucuran dari tubuh mereka, nafas mereka sudah bergemuruh seakan sudah tak kuasa lagi untuk bernafas.

Akkkkhhhhh...keduanya menjerit menunjukan pertempuran telah mencapai puncaknya, pertempuran sudah usai, keduanya terbaring lemah karena takut kedatangan kedua orang

rekannya segera mereka berbenah, merapikan diri, sambil bercakap-cakap mesra keduanya saling remas ‗sesuatu‘ untuk mengisi keasyikan dengan sekali kali diselingi ciuman mesra. Benarlah saja, tak begitu lama kemudian mereka melihat dua sosok bayangan berpegangan tangan menuju kearah mereka, setelah berlenggak lenggok sebentar mereka segera ikut bergabung, mengobrol tentang apa yang harus dan akan mereka lakukan nanti,

Akhirnya mereka berkeputusan untuk membantu Angkara dalam membasmi Keangkara murkaan setelah bercakap-cakap sebentar mengenai ketua Angkara. mereka segera pergi untuk saling berkenalan dan melihat sosok ketua yang sebenarnya.

Kelima orang yang sedang saling pandang tersadarkan ketika mereka mendengar jeritan melengking, segera mereka berpaling terlihatlah tigapuluh lebih Pemuda-maupun pemudi sedang meregang nyawa terkena hujanan panah. mereka juga menyaksikan ketika mereka berubah menjadi cairan. Suara kereng tiba-tiba terdengar menggema.

―Nah itulah hukuman bagi para pembangkang, siapa lagi yang akan maju?‖ ternyata yang berteriak adalah Pengacara Pembukaan Perkumpulan Panji Telapak Perak.

Para pemuda yang tadinya akan bersiap-siap menyerang, kini kembali kebarak dengan ketakutan.

―Nah, saudaraku sekalian jikalau tak ada yang berani maju lagi. sekarang saatnya yang kalian tunggu-tunggu,‖ teriak pengacara setelah para hadirin kembali tenang, meski diwajah mereka

tampak memerah menahan kedongkolan ‖pada acara yang kedua ini akan diadakan adu kepandaian bagi para hadirin, adu kepandaian ini adalah untuk untuk saling mengenal masing- masing dari kalian. juga kalian diperolehkan untuk menantang Anggota dari perkumpulan kami.‖

Teriakan semangat, kebahagiaan dan lain lain terdengar dari para hadirin., wajah yang tadi merah menahan marah kini mulai kendor kembali, mereka pikir jika mereka tak dapat membunuh kaisar iblis setidaknya, mereka dapat melampiaskan kemarahan mereka terhadap anak buahanya.

―mungkin inilah saatnya bagi kita untuk menjadi terkenal Asoka...‖ bisik seorang lelaki tinggi kekar, kulitnya hitam seperti arang juga hanya memakai celana cawat saja untuk menutupi bagian paling pentingnya.

―hahaha benar Aji, jika kita dapat mengalahkan mereka maka,

seluruh jagat akan mengenal kita hahahaha‖

jawab temannya yang juga berpenampilan sama, hanya saja yang satu ini dihidungnya memakai perhiasan semacam tanduk dari gading babi.

―Harap tenang,. kami sudah yakin, kalian bakal menyukainya baiklah kami akan menuturkaan peraturannya.

shuuiiitt‖

Sipembawa acara bersuit nyaring seperti layaknya pekikan naga., lima sosok manusia muncul dari dalam tanah, mereka berteriak dengan nyaring. sepertinya pekikan itu adalah kode untuk memanggil Sosok-sosok itu.

―Pertama, peserta diperizinkan untuk menantang lawannya, dan lawan tersebut tidak boleh menolak, barang siapa menolak, maka akan dieksekusi ditempat.‖

― Kedua, Peserta diizinkan untuk membunuh lawannya.‖

―Ketiga, Peserta tidak diizinkan bermain keroyokan.‖

―Keempat, korban mati dilarang penasaran, salahkan sendiri yang tidak becus‖

―Kelima, dilarang meninggalkan tempat ini.‖

Penonton bergemuruh, sorak menyorak, menjadi satu suara cacian dan geraman menjadi satu.

―Gooonggggggg !‖ Suara gong dibunyikan menandakan

pertempuran telah dimulai.

―wussshhhhh ‖ Seorang lelaki berusia empatpuluh tahun

lompat ke tengah-tengah panggung, ia memakai baju yang terbuat dari kulit harimau dia mencabut dan memutar sepasang pedang pendeknya yang sejak tadi bertengger dipinggangnya. "Aku Adicitta dari Hutan Larangan, aku menantang Jalasi si Pendekar edan dari tanah nusa kembangan. Hayo Jalasi naik kamu, jangan sembunyi di balik baju ibumu. Hayo keluar, hadapi aku!"

Terdengar tertawa keras dari barak Golongan Hitam. Sesosok bayangan berkelebat Kearah Panggung lalu melompat tinggi melambung dan hinggap di hadapan Adicitta ,

"Adicitta kau cari mati! Dulu kau kulepas mengingat bahwa kita dulu adalah saudara seperguruan. namun sepertinya kau tak sudi untuk hidup lagi." Tanpa basa-basi Jalasi menyerbu Adicitta dengan sebuah jurus tangan kosong yang menderu-deru.

Keduanya bertarung rapat. Adicitta bersenjatakan pedang pendek. sedangkan Jalasi menghadapinya dengan Tangan kosong. benar-benar pertarungan yang tidak seimbang, namun kenyataannya dengan mudah Jalasi menghindari serangan dari Adicitta, bahkan Jalasi dengan beraninya menahan pedang pendek itu dengan tangan kosong.

Sorak-sorai penonton menyemarakan pertarungan itu, membuat kedua orang yang sedang bertarung semakin sengit.

Pertarungan imbang, meski keduanya mengeluarkan segenap kemampuannya. Sampai jurus keeratus Adicitta di atas angin. Jalasi keteter, ia kewalahan menghadapi serangan dari Adicitta, sehebat-hebatnya dia, mana mungkin jika ia harus menahan pedang dengan lehernya. kecuali jika ia memang telah bosan hidup.

―Srett. Crasshh‖

Pundak Jalasi berdarah kena sabet pedang pendek dari Adicitta., Jalasi naik darah. Dengan kalap ia kembali menyerang Adicitta.

BEBERAPA JURUS berikut Adicitta kewalahan menahan serangan dari Jalasi yang kalap.

―Dukkkk. ‖ ulu hati Adicitta terkena sebuah pukulan telak.

dengan menahan sakit ia segera melakukan tangkisan karena ia melihat sebuah tendangan maut mengarah kepalanya, dengan menyilangkan kedua lengan diatas kepala Adicitta menahan tendangan maut dari Jalasi.

―Duukkkk‖ dua buah lengan dan betis beradu, dengan girang Jalasi hendak menyusuli sebuah pukulan telak, tapi ia harus kembali membatalkan serangannya kecuali jika ia rela kehilangan kaki kanannya.

Ternyata Adicitta memutar pedang pendeknya dengan jari dengan cepat di tarik seperti halnya sebuah gunting.

―Crasshhh...aakkhh.‖ kembali Jalasi memekik kesakitan, paha kirinya robek, meski ia menghindar dengan mengangkat kaki kanannya dan menjejakan kaki kiri meloncat mundur, tapi sepertinya gerakan itu sudah berada dalam dugaan Adicitta, dengan memutarkan tubuh 360o searah jarum jam lalu membungkuk dan dengan sebat menyabetkan pedang pendeknya, keadaan Jalasi kritis. Gerakannya tidak leluasa, Mendadak Jalasi bergerak limbung seperti orang mabuk.

―Jruubbbb....Buk‖ ―AAAkkkkk. hhhhrrgggg‖

Dengan mengandalkan sisa tenaganya, Jalasi bergerak cepat, ia menghajar dada kiri Adicitta, Adicitta memekik kesakitan, ia tak menyangka jika Jalasi bergerak senekat itu. dipihak lain Jalasipun tidaklah meraih keuntungan tubuhnya disate pedang pendek Adicitta. mereka memekik bersamaan.

―Bruuukkk. ‖ setelah berkelonjotan sebentar keduanya telah

mangkat kealam kelanggengan.

Dua orang pendekar yang telah malang melintang dijagat kini harus kehilangan nyawanya begitu saja disebuah panggung dengan disaksikan para pendekar dari kolong langit.

Dengan sigap dua orang manusia berpakaian hitam dengan topeng perak mengangkat mayat itu, dan membawanya kebalik gua. entah dikemanakan mayat itu tak seorangpun yang tahu kecuali Para Anggota Panji Telapak Perak.

Mendadak para hadirin terpekik, mengapa?

Seorang Pemuda berbaju putih dengan rambut dikuncir kuda, matanya sipit dengan gagah berdiri ditengah Panggung. tak seorangpun yang mengetahui bagaimana pemuda itu bergerak, tahu-tahu para hadirin menyaksikan seorang pemuda berdiri dipanggung. kecuali satu. orang itu tersenyum penuh makna, entah apa yang ada dipikirannya, tak ada seorangpun yang mengerti.

Pemuda yang berdiri ditengah panggung tak lain dan tak bukan Thian Liong adanya, ternyata ketika ia duduk di barak ia memperhatikan seorang manusia bertopeng yang sudah lama ia cari-cari. ialah Pengkhianat Thian Liong Pay adanya.

Setelah pertarungan berakhir segera ia, mengerahkan ilmu terbarunya yang telah ditemukan oleh adiknya Thian Hong li, dengan memindahkan sukmanya kearah tengah panggung yang kemudian raganya ikut berpindah mengikuti sukmanya itu, benar-benar suatu kepandaian yang luar biasa.

Meski belum sempurna, tapi ternyata ilmu itu telah memberkian suatu kemajuan yang benar luar-biasa bagi Thian Liong.

Diam-diam ada sepasang mata yang khawatir dengan kejadian itu, yakni Thian Hong li adanya, dengan was-was ia melirik kekasih hatinya, ia hendak bicara namun tak jadi ketika ia melihat senyuman itu. senyuman yang ia pahami dengan mengenalnya selama bertahun-tahun.

―Maafkanlah saya kisanak sekalian, saya hanya ingin menantang seorang pengkhianat dari perguruan kami. bukanlah untuk unjuk kepandaian‖ Ucap Thian Liong merendah.

Para pendekar golongan putih, tersenyum mendengar kata-kata yang begitu sopan itu, mereka tak menyangka jika dalam barak golongan merdeka terdapat seorang manusia dengan sikap golongan putih.

Padahal sebenarnya mereka tak tahu siapakah pemuda itu, perlu diketahui bahwa Partay Thian Liong Pay merupakan salah satu perguruan dari golongan putih.

―orang she Hoa, aku menantangmu,. !‖ Thian Liong menunjuk

manusia bertopeng dengan sarung tangan perak.

Lelaki itu bergetar, ia melirik Kaisar Iblis, setelah melihat anggukan kepala segera ia meloncat ketengah panggung.

―Orang she Thian, kau memang keterlaluan, aku bahkan sudah terasingkan dari tanahku, kau masih juga belum memberiku kebebasan.!‖

―Mana mungkin aku membebaskan penghianat perguruan lalu melakukan kejahatan dengan kepandaiannya itu, aku tak keberatan mengampunimu jika kau mengembalikan ilmu itu‖ Lelaki itu menggeram, mengembalikan ilmunya berarti memunahkan ilmu silatnya, padahal orang persilatan memandang ilmu silat lebih berharga daripada nyawa mereka. tak tahan lagi ia menerjang tangannya terkepal kuat,

―Aku akan beradu jiwa denganmu Keparat‖ tangan yang terkepal itu menyiarkan bau hangit terbakar, Thian Liong dengan tenangnya menyambuti serangan itu, dengan memajukan kaki kanannya lalu diikuti dengan gerakan putar pada kaki kiri dengan diiringi tamparan tangan kanan, sementara tangan kirinya persis berada didepan dada.

―daakkk. ‖ dua buah tangan dengan dialiri tenaga dalam tinggi

beradu. tidak berhenti disitu saja, Thian Liong segera susuli serangan dengan menarik kedepan dada pada tangan kanan dengan diikuti pukulan tangan kiri nyang tadi berada didepan dada. Bukk....

Orang She Hoa itu mundur terhuyung-huyung. ia terkejut, ternyata bukan hanya dirinya saja yang mengalami kemajuan, ia juga baru kali ini melihat tangkisan sekaligus serangan yang dilakukan Thian Liong barusan. sebab di dalam perguruan Thian Liong Pay tidak ada jurus seperti itu.

―Jurus apa itu?‖ tak sanggup lagi ia menahan penasarannya. ia bertannya keheranan.

―Lambaian dewa wisnu‖ jawab Thian Liong tenang. memanfaatkan kelengahan Thian Liong yang sedang berbicara, Orang She Hoa itu segera menyerang ia meloncat dan mengangkat kaki kiri melakukan suatu angkatan berputar, mengikuti perputaran kaki kanannya yang berputar terlebih dahulu kekanan menurut arah jarum jam . tangan kiri ditekuk rapat dan tangan lainnya mengibas ―ciaaaattt ‖ teriaknya

lantang.

Melihat serangan, thian Liong tidaklah gugup, sebagai sesama murid dari Thian Liong pay ia mengetahui arah mana serangan dari juruus itu.

Segera ia menjatuhkan diri untuk menghindari seranngan sekaligus memasukan serangan balik dengan tendangan belakang pada kaki kanan.

―praaakk. ‖

topeng orang she hoa itu hancur berantakan, wajahnya yang putih dengan jenggot dan kumis tipis diatas bibirnya. kini terpampang jelas, ia berdiri termangu-mangu.

Jika para Pendekar muda tidaklah terlalu memandang serangan balasan itu karena memang jurus itu tidaklah ada keistimewaan apa-apa. berbeda dengan para golongan tua yang terpekik kaget.

―Tendangan Dewa Siwa‖ seru Iblis Pemakan Jantung refleks.

Ki Jalak, membelalak besar ia benar-benar terkejut.

―ya ampun, jurus Empat Dewa telah kembali‖ ucapnya kepada dua rekannya yang juga masih belum tersadar dari keterkejutannya.

―Eyang, Apakah itu jurus empat dewa?‖ Melati bertanya.

―Kau suka mendengar ceritaku Melati?‖

―Ya, Eyang...!‖

―Pada seratus tahun yang lalu, seperti halnya sekarang terjadi kekacaun dalam dunia persilatan, manusia saling membunuh satu sama lain, pemerkosaan dimana-mana, pada zaman itu, adalah suatu keajaiban apabila seorang gadis memiliki darah perawan. bahkan ironisnya lagi anak perempuan yang berusia tujuh tahunpun tak luput dari pemerkosaan. tak ada tempat hidup untuk para wanita, tak ada seorangpun lelaki yang melindungi mereka. para lelaki terlalu sibuk dengan menjaga dirinya sendiri dari penjagalan yang mengerikan.‖

―Hiyyyhhh ‖Melati bergidik ngeri.

―Kau ingin mendengar kelanjutannya?‖

―Ya, Eyang ‖ melati mengangguk.

―Dalam kekacauan itu, munculah seorang pemuda yang cakap luar biasa, tak ada seorangpun yang mengetahui ia berasal dari mana, namanyapun tak ada yang mengetahui sampai sekarang. namun, pada waktu itu ia dikenal dengan Pangeran Empat Dewa., kesaktiannya benar-benar luar biasa, jurus-jurusnya hanya terdiri dari empat jurus saja, itu diketahui oleh semua orang persilatan karena ketika bertarung pemuda itu selalu menggunakan empat jurus itu-itu saja.‖

―Lalu..!‖

―Jurus pertama bernama Lambaian dewa wisnu., yang kedua Tendangan Dewa Siwa, yang ketiga Telapak Dewa Indra, dan yang terakhir bernama Hembusan nafas Dewa Brahma.‖ Kijalak menuturkan jurus-jurus dari empat dewa. ―Setelahnya apa yang terjadi Eyang?‖

―Pemuda itu menumpas keangkara murkaan, para gadis yang hamil akibat menjadi korban pemerkosaan melahirkan anaknya dengan selamat.. para lelaki yang ketakutan mulai tenang dan mencari para wanita untuk mereka nikahi. sehingga para gadis itu dapat melanjutkan kehidupannya seperti sedia kala., semua orang persilatan sangat berterimakasih kepada pemuda itu, namun ternyata pemuda itu telah menghilang dari dunia ramai meninggalkan sejuta kenangan dari para Kaum persilatan.‖

―Benar-benar hebat. ‖ celetuk melati,.

Kembali kepertarungan.................

Setelah sadar dari ketertegunannya Orang She hoa yang bernama lengkap Hoa San Eng itu segera membuat kuda-kuda yang selama ini belum pernah dilihat oleh Thian Liong, Tangan kanan Hoa San Eng terkepal dipinggang, sementara tangan kirinya berada persis didepan wajah,

―Srettt Sinar perak keemasan berpendar dikepalan tangan Hoa

San Eng, ia tak bergerak dalam diam, sepertinya ia sedang memusatkan tenaga dalamnya. hawa panas menyeruak disekitar arena Pertarungan.

Tanpa dikomando, Thian Liong segera mengangkat tangannya seperti menyembah, tangan itu bergetar ringan namun tak ada efek yang ditimbulkan disekitarnya.

Dalam waktu bersamaan keduanya menyentakan tangan secara berbareng,

―Telapak Perak memburu maklaikat‖

―Telapak Dewa Indra.‖

sinar perak keemasan tiba-tiba meledak dipertengahan jarak,

―Duaaaarrrrrrr...., jelegar. wuurrhhhsssttt‖ bagaikan menabrak

dinding tebal saja, sinar itu menebar kemana-mana menghanguskan apa saja yang diterpanya. kilat menyambar- nyambar, dengan disertai angin topan mendadak.

―kraaakkkk. ‖ suara kayu patah, sepertinya Panggung megah

itu tak dapat menahan beban tenaga sakti yang beradu itu. Tampaklah, Thian Liong terperosok kedalam panggung sebatas lutut, sementara Hoa Sian Eng terkapar muntah darah,

Tanpa mempedulikan keadaanya Hoa San Eng bangkit dan menerjang dengan sisa kekuatan yang ada,

―Naga Api Murka, hiaaatttt‖

―Wurrrhhhsshhh Gumpalan Api sebesar gulungan kasur

menerpa Thian Liong, Thian Liong mengerti, jika ia menghindar dengan loncat kesamping atau keatas maka ia akan mengalami kerugian yang lebih parah., tanpa pikir panjang segera ia membenamkan tubuhnya kedalam panggung.

Wusshhh Api itu lewat dan membakar rerumputan hijau

disamping panggung.

Setelah api lewat Thian Liong segera bangkit dan membuka jurus terakhir dari jurus empat dewa. yakni Hembusan nafas Dewa Brahma,. Fyusshhhh Angin tanpa bentuk menerjang Hoa

San Eng yang mempersiapkan jurus Naga Api Murka, tanpa ayal lagi, api yang keluar itu segera tertelan bahkan menelan nyawa Hoa San Eng,.

Brukk. Sosok mayat hangus menggeletak. tanpa nyawa. Thian

Liong menghela nafas, ia menatap langit dan berucap.

―Akhirnya, tugas perguruan telah selesai.‖

Srettt. bayangan Thian Liong mulai mengabur dari pandangan

ternyata ia mulai menggunakan ilmu yang terdapat dalam kitab Sri Ajnyana.

Para hadirin terkejut, mereka kagum bukan main, datang bagai angin pergi bagai kabut mungkin itulah istilah yang tepat untuk kedatangan dan kepergian Thian liong.

Tengah semua orang dilanda keterkejutannya, mendadak seorang lelaki tengah baya naik keatas panggung dan menantang menantang Si pemabuk dari selatan.

Lelaki paruh baya itu dalam dunia persilatan dikenal dengan Pendekar rencong ia berasal dari tanah Rencong. memanglah sejak dahulu Sipemabuk dari selatan dan Pendekar rencong telah terlibat permusuhan yang tak mungkin bisa diselesaikan dengan baik. sehingga kesempatan yang baik ini mereka gunakan sebaik-baiknya.

Sipemabuk dari selatan bersenjatakan Guci dari tanah liat yang kemana-mana ia selalu bawa,. sedangkan Pendekar Rencong bersenjatakan rencong.

Pertarungan mereka berlangsung imbang dan ketat, karena memang Sipemabuk dari selatan belum mau turun tangan. Setelah bertarung puluhan jurus, akhirnya Sipemabuk dari selatan jengkel juga melihat kenakalan pendekar rencong segera ia menggeloyor jatuh, Pendekar rencong girang segera ia menyabetkan rencongnya secara Vertikal, namun serangan itu ternyata adalah suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya,

―Brukkk. ‖ Pendekar rencong tewas dengan kepala berlumuran

darah, ternyata sewaktu Sipemabuk dari selatan menggeloyor ia mencelatkan gucinya keatas, sewaktu Pendekar Rencong hendak menyabetkan rencongnya, Guci yang ia lempar segera dikendalikan dengan tenaga dalamnya ―Bukkk‖ Prakk. kepala

Pendekar Rencong hancur beantakan.

tanpa mempedulikan lawannya yang telah tewas Sipemabuk dari selatan segera menuak gucinya, glek glek. setelah puas ia

berteriak-teriak.

―Aku menantang bocah yang berselampirkan kulit rubah itu. teriaknya lantang‖ setelah itu ia meneguk tuak dari gucinya namun lawan yang ia tantang belum juga menampakan diri. dengan jengkel ia berkaok-kaok

"Mana Bocah itu? Kenapa tidak berani keluar, apa dia sudah tak punya kehormatan lagi? sebaiknya potong saja anunya biar ia berdandan seperti perempuan."

Aram menghela nafas panjang. ia mendengar Orang-orang yang mendengar ucapan Sipemabuk dari selatan tertawa keras. Riuh tawa dan ejekan itu membuat Aram melakukan keputusan yang apa boleh buat.

Tapi, Aram adalah sosok manusia yang diberkahi dengan kecerdasan yang luar biasa, dalam keadaan yang serba panas itu, ia malah melakukan suatu tingkah yang begitu membuat orang tak habis pikir dan gemas luar biasa.

ya, jika kedatangannya disertai dengan ilmu peringan tubuh yang luar biasa, namun kini ia malah berjalan santai layaknya seorang manusia biasa., ia dengan terseok-seok menuju panggung, jika yang lain hanya memerlukan waktu lima hitungan untuk sampai kepanggung. maka dia memerlukan seratus hitungan untuk menuju setengah jarak dari yang sebenarnya. tentu saja, semua orang dibuat gemas dengan tingkahnya itu, dengan jengkel Sipemabuk dari selatan mencak-mencak.

―kutu kurap, kudis buduk setan jalang setan burik anjing kurap anjing panu, kau membuat ku jantungan lebih cepatlah maju kemari, aku sudah kebelet...! cacian sumpah serapah dan sebagainya terlontar dari mulut Sipemabuk dari selatan.

Seratus hitungan kemudian Aram sampai ditepi panggung, dengan susah payah layaknya seorang bocah memanjat pohon ia naik keatas panggung. Kaisar Iblis menahan nafas, Iblis Langit Selatan menggeram, Datuk datuk lainnya memejamkan mata. orang persilatan semuanya dibuat gemas luar biasa.

―hihi...bocah yang luar biasa, kecerdasannya benar-benar membunuh perasaan orang‖ Nyi Dewi Renjani tertawa.

―Apa maksud Nyai? bukankah ia malah membuat orang-orang gemas?‖ Melati bertanya.

―haha kau salah melati, jika tadi, ia sibuat gemas dengan

ucapan Sipemabuk dari selatan, juga tertawaan dari Kaum persilatan. tapi sekarang ia yang membuat kaum persilatan dan Sipemabuk dari selatan yang dibuat gemas, bukankah itu sama halnya dengan mata dibalas mata?‖ Kijalak menyela.

―Fyuhhh Setan Cilik itu benar benar,‖Melati bersungut-sungut.

―Ada Apa nyai? Ki Jalak menyadari sedari tadi ia melihat Nyi Permata Dewi termangu mangu seperti orang kesurupan.

―Anak itu, ketika menatap matanya aku seakan melihat mata Anakku, sekaligus muridku Widia Seta.‖ desah Nyi Permata

Dewi.

―Akh..... Tenaga Sakti Mata Darah ‖ Pekik Nyi Permata

Dewi....

―Ilmu apa itu Nyai?‖ Nyi Dewi Renjani bertanya.

―Ilmu yang diciptakan berdasarkan hawa dalam darah dan dikumpulkan dalam mata, ilmu itu diciptakan dari gubahan Kitab Selaksa Jalan darah, peninggalan mendiang tabib sakti pengelana bumi. dan Tenaga Sakti Racun Darah Dewa peninggalan Pendekar Malaikat Darah. maka barang siapa yang mempelajarinya matanya akan berubah menjadi merah darah. dan ‖

―Dan apa?‖

―Dan didunia ini yang mempelajarinya hanya Widia Seta seorang‖ ―lalu mengapa nyai mengetahui?‖

―Anakku membocorkan cara mempelajarinya kepadaku..., aku pernah mempelajarinya namun aku buang karena karena

ilmu itu mengandung efek ganda, satu meningkatkan batas kemampuan mata dan otak hingga mencapai puncaknya , ‖

―dan yang kedua?‖

―Orang yang mempelajarinya akan mengalami kebatasan Normal‖

―maksud nyai Gila?‖

―ya, namun dalam arti yang lain‖

―Aku masih belum mengerti‖

―Gila karena ia memiliki kecerdasan diluar kewajaran, maka orang normal akan mengatakannya gila.‖

―. ‖ Nyi Dewi Renjani mengerutkan kening ia masih

belum mampu mencerna maksud dari Nyi Permata Dewi.

―Oh. Aram Widiawan kau sudah besar sekarang‖ mata Nyi

Permata Dewi mengeluarkan air mata, ia Menangis.

―Nyai rupanya mengetahui nama Sahabatku itu ya?‖ melati polos.

―Dia Cucuku anak dari murid tunggalku‖

Ki Jalak, Nyi Dewi Renjani, Melati dan beberapa pendekar yang berada dekat dengan mereka terpekik kaget. suara kaget bergema di barak golongan putih, sebentar saja berita itu telah menyebar kemana-mana.

Kembali kearah panggung...............

Dengan sayu Aram memandang wajah Sipemabuk dari selatan. ternyata wajahnya cukuplah cakap Ketika ia tertawa tampak giginya yang jarang termakan usia.

Rambutnya jarang tetapi panjang bergerai sampai pundak sehingga tampak lucu. Sipemabuk dari selatan itu tertawa keras.

"hahaha inikah sosok pemuda yang begitu menggemparkan

dunia persilatan? aku tersanjung bisa berhadapan denganmu, Sipemabuk menjura seraya meneguk Tuak doi gucinya, glek...geek. "

Aram juga tertawa keras. Lebih keras dari tawa Sipemabuk dari selatan. Tertawa khas yang begitu bercampur aduk, dalam suara itu terkandung sebuah penderitaan yangb begitu luar biasa, suka, duka, cinta segalanya menjadi satu, dikerahkan dengan tenaga sakti mata darah, dilambari dengan ilmu suara geledek tingkat paling tinggi.

Jika hanya itu, mungkin masih mendingan, Aram juga menambahkan sebuah ilmu sebagai ciri khasnya sebagai Pendekar seribu diri, ilmu itu bernama Aura Kematian yang akan membuat semua orang mengikuti semua perasaan yang dikeluarkannya.

Suara tawa itu mengalun dan bergelombang, panjang dan mendirikan bulu roma yang mendengarnya Itu memang suara tawa aneh yang pertama kali didengar para hadirin.

Sipemabuk dari selatan berhenti Tertawa. Ia mendelong menatap Aram, gucinya sudah diturunkan, air matanya bercucuran, tangan kirinya mendekap ulu hatinya yang merasa sakit, seolah ia sendiri yang mengalami penderitaan itu .

Ia kagum bukan main mendengar pameran tawa yang begitu menakjubkan sekaligus membuat dirinya tak mampu menahan tangisan.

Bahkan hampir semua orang di situ menangis tersedu-sedu,

―gila benar-benar gila anak itu.‖ Kijalak bersungut-sungut ditengah kucuran air matanya, ia tak menyangka bahwa seorang datuk sepertinya tak tahan menerima suara tawa yang begitu menyedihkan itu.

ia melirik orang orang disekitarnya, semua menangis tersedu- sedu, ramailah lembah itu dengan suara tangisan.

Sepuluh ketua perguruan merdeka dan Gerombolan kawan- kawan Aram yang begitu menyanjung Aram setinggi langit jangan ditanya lagi, mereka segera bersujud dan menangis tersedu-sedu.

Jangankan para anak buah Kaisar Iblis yang berilmu lebih rendah, kaisar Iblis sekalipun tak urung mengucurkan mata. Iblis Langit menangis sedih ia ingat kedua muridnya yang telah mati, ia ingat betapa setianya kedua muridnya itu.