-->

Pendekar seribu diri Jilid 02

Jilid 02

Diam diam ia berfikir "jika aku melawan mereka jelas aku akan kalah, lebih baik aku ambil langkah seribu saja" wussssttt ia berlari kembali kerimba sebelah belakang, brettt terdengar sobekan kain .... ternyata celananya robek tersangkut akar. ia

terus berlari dan berlari. hingg ia Sampai Di puncak Gede, dan

tentu pembaca mengetahui kelanjutannya.

Serrr. Semilir angin sepoi sepoi menerbangkan daun daunan

yang berserakan di dasar jurang puncak gunung Gede, tepp....

salah satu daun daunan itu mendarat di pipi seorang pemuda tampan dengan rambut panjang riap riapan..bagi seseorang yang pernah berlatih ilmu silat tentunya naluri dan perasaannya akan lebih peka dengan keadaan disekitarnya, pemuda itu tersentak kaget dari lamunannya, slep wusssttt...ia loncat keudara kemudian bersalto dua kali seraya berteriakk melepaskan kepenatan pikirannya

"heaaaaaaaaaahhhhhhhhhh........

" cesss. ia mendarat di bumi dengan suara desisan nyaring,

hawa panas melanda daerah disekitar dasar jurang tersebut menandakan tenaga dalamnnya telah mencapai kesempurnaan. Siapakah pemuda itu? Ya dialah jagoan kita Aram widiawan, gara gara memikirkan masa lalunya ia kehilangan waktunya selama 6 kentungan,

"wah, hari sudah terang aku harus cepat cepat keluar dari jurang ini" pikirnya. Tetapi suatu persoalan yang amat menyulitkan hatinya memenuhi otaknya kembali, jurang itu dikitari oleh tebing tebing curam yang puncaknya menembus sampai diawan, dia harus melalui tempat mana untuk naik ke atas? matanya dengan tajam memperhatikan keadaan di sekeliling tempat Itu, akhirnya ditemui juga pada suatu tebing yang amat terjal terdapatlah sesuatu tonjolan tonjolan batu yang menghubungkan dasar jurang dengan puncak tebing jurang.

Tonjolan itu ada kurang lebih dua kaki di atas permukaan tanah bilamana bukannya pandangan mata yang sangat tajam dan teliti tidak mungkin orang lain bisa menemukannya, segera pikirnya di dalam hati.

"batu batu itu lumayan tinggi juga, kuat gak ya menahan tubuhku?" Sampai saat ini dia sama sekali tidak tahu ilmu silat yang berhasil dipelajari ini sudah mencapai seberapa tingginya, bahkan tidak mengetahui juga seberapa tinggi tenaga dalamnya

?

Karena kepingin cepat-cepat meninggalkan jurang itu terpaksa dengan menempuh bahaya dia pergi mencoba, hawa murninya ditarik dari pusar kemudian disalurkan ke seluruh tubuh sesudah bersuit nyaring tubuhnya mendadak dengan amat cepatnya meloncat naik ke atas dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang bernama selaksa rubah menjadi bayangan, warisan sirubah seribu wajah.

menurut perkiraannya, loncatannya kali ini akan mencapai setinggi tiga empat kaki lalu dengan cepat tubuhnya akan menempel pada tonjolan batu pertama, siapa tahu loncatannya kali ini bukan cuma mencapai tiga empat kaki saja, bahkan bagaikan anak panah yang terlepas tubuh Aram widiawan dengan cepatnya meluncur setinggi puluhan kaki , hal ini benar- benar berada diluar dugaannya semula di dalam keadaan yang terperanjat mendadak matanya tertumbuk pada tonjolan batu yang kesepuluh yang berada kurang lebih satu kaki jauhnya dari tempat dia berada.

Sepasang tangannya segera dipentangkan ke samping sedang kaki nya menjejak tengah udara, dengan hebatnya tubuhnya meluncur ke arah tonjolan tersebut.ternyata tonjolan kesepuluh yang ia pijak benar benar kuat setelah beberapa kali panjatan dan akhirnya Aram widiawan berhasil juga keluar dari dasar jurang itu. Sesudah berdiam beberapa Purnama di dalam sebuah gua di dasar jurang yang gelap dan amat lembab dan kini muncul kembali di atas alam yang berhawa segar membuat kemurungan di dalam dadanya seketika itu juga tersapu bersih, mendadak dia angkat kepalanya bersuit panjang, suara suitan itu persis seperti pekikan naga yang baru saja keluar dari sarangnya.

Saat ini tenaga dalam yang berhasil dimiliki dirinya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, suara suitan itu sudah tentu amat nyaring sekali sehingga menggetarkan seluruh permukaan bumi membuat binatang kecil pada melarikan diri serabutan saking kagetnya. Dengan merapal ilmu selaksa rubah menjadi bayangan ia melesat seperti anak panah yang dilepaskan busurnya menuruni gunung benar benar suatu pameran ilmu peringan tubuh yang dahsyat, tidak salah bila pada zaman si rubah seribu wajah menjadi ilmu peringan tubuh no satu ........

Aram terus saja berlari, setelah satu dua mil berlari sampailah ia di sebuah hutan pinus, akhirnya ia menurunkan kecepatan larinya, dan berjalan biasa dengan langkah lenggang-kangkung.

jdukk. gubrak tiba tiba Aram tersandung sesuatu

"sialan,ekh kok rasanya bau busuk, bau apa ini?" ditatapnya "sesuatu" yang membuat ia tersandung tadi

"akh, mayat" Aram berteriak kaget. Mendadak terdengar seseorang berseru: "kang jaka rasanya kok seperti ada bau mayat?"

"Kalau begitu pasti ada sesuatu yang tak beres, mari kita periksa tempat ini."

Mendengar tanya jawab itu Aram jadi kaget, pikirnya: "Jika mereka sampai masuk kemari dan menemukan mayat ini, aku pasti akan dituduh sebagai pembunuhnya "

Dari kejauhan ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekati dirinya. Walaupun masih jauh namun Aram dapat melihat dengan jelas, kedua orang itu adalah kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah bengis. Orang pertama bermata segitiga dengan wajah bulat, sedang orang kedua berwajah pucat pias bagai mayat yang sudah mati berapa hari, jenggot putih terurai dari janggutnya. Mereka berdua mengenakan baju terbuat dari kain belacu putih, sepatunya terbuat dari tali jerami. Kedua orang itu memang merupakan jagoan paling tangguh dari kalangan hitam, Rubah bermata tiga Ki Jaka lono serta jenggot mayat Ki romal, Dalam pada itu Aram yang tertegun tak ingin membuat urusan yang akan menyulitkan dirinya cepat ia salurkan tenaga dalamnya untuk bersiap sedia.

Tidak menunggu lawan mendekatinya, dengan jurus Rubah sakti cakar mangsa dia lepaskan sebuah dorongan ke depan. Waktu itu Jaka Lono sedang bercakap cakap dengan adiknya Ki Romal, merasakan datangnya serangan, ia segera menghardik: "kakang, hati-hati, ada yang membokong!" Sambil membentak dia lancarkan juga sebuah pukulan. Ki Romal kuatir adiknya ketimba musibah, buru-buru dia lompat menghampiri sambil bersiap sedia.

"Aduuuh...!" Dua kali jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu tubuh Ki Joko lono dan ki Romal sudah mencelat sejauh dua tombak dengan dada bolong., tubuh mereka terhajar telak pukulan Silat Rubah dengan tenaga sakti mata darah yang dikerahkan hingga mencapai sepuluh bagian. Mimpi pun Aram tidak menyangka kalau tenaga dalamnya begitu sempurnanya, ia terlonggong longgong, bagaimanapun ini pertama kalinya ia membunuh.

Sementara ia tertegun, dari kejauhan terdengar derap kaki kuda. Dalam posisi begini Aram tak bisa membuang waktu lagi, cepat- cepat dia

membuka pakaian ki Jaka lono, memakainya dan memindahkan barang miliknya ia tak peduli meskipun pakain nya bolong dengan bercak bercak darah di bagian dada dan punggungnya daripada bugil hehehe 

karena tak ingin memperbanyak urusan cepat ia berlari mengerahkan ilmu peringan tubuhnya, lebih kurang satu kentongan kemudian ia sudah tiba di dekat air terjun.

"lebih baik aku membersihkan diri dulu dan mencuci pakaian ini, sudah dua tahun aku tidak mandi", (kebayang baunya hihi  dengan perlahan Aram melepaskan pakain dan menyimpan buntalan pedangnya dibalik semak semak, dengan tubuh bugil Aram lari lari kecil menuju Air terjun, sekali jejak tubuhnya melambung keatas dan bersalto lima enam kali diudara, itulah jurus Rubah Sakti bergulingan

"byurrrrr. dengan didahului kepala tubuh Aram mendarat di air

.......

"Fuahhh....... hahaha segarnya sebaiknya aku mencuci

bajunya dulu biar nanti setelah aku mandi, bajunyapun kering hehe" Aram benar benar gembira menikmati mandinya, ia berenang renang sepuas hati diselingi dengan menyelam kedasar sungai .......

Kcipak kcipak. tiba tiba terdengar suara ikan

meloncat. mengiringi suara siulan merdu yang tak beraturan

nadanya tampaklah seorang pemuda tampan berkulit seputih salju dengan rambut riap riapan tak terikat sedang asyik mandi sambil main main air.......

tiba tiba pemuda itu menghentikan siulannya, ia memekik terkejut

―Akh ikan apa itu?‖ cepat cepat ia menyelam mengikuti ikan yang tadi ia lihat sepintas, ia terkejut melihat ikan itu berwarna hijau ke emasan. Tapi ternyata ikan itu telah hilang di balik batu hitam yang cukup besar. Disebabkan penasaran akhirnya ia mengangkat batu hitam itu, tapi naas ikan tersebut telah raib entah kemana. Tapi, ia tak sia sia melakukan itu, dilihatnya ada sebuah peti dengan lebar 5 cm dan panjang 10 cm, pikirnya ―peti apa ini? Sebaiknya aku lihat diatas saja‖ dengan gesit ia ambil peti itu kemudian ia kembali kepermukaan dan berenang ketepian, segera ia berpakaian setelah selesai ia segera membuat api ungun

―malam telah tiba, sebainya aku menginap saja disini ―ucapnya kepada diri sendiri, segera ia beranjak kebawah pohon pinus dan mengambil ranting tak lupa juga ikannya yang tadi ia tangkap setelah mencuci pakaian. Lalu membakarnya diatas api ungun yang ia buat.

―waw mantapppp sudah lama aku tidak makan ikan, oh aku

lupa peti tadi isinya apa ya?‖segera saja ia mengambil peti tadi dan membukanya, ternyata isinya dua buah senjata yang unik dan dua utas tali berwarna biru, senjata yang pertama adalah sebilah keris berkeluk enam sepanjang 8 cm disarungnya ia membaca sebuah tulisan

―perasaan‖, yang kedua sebuah kujang kecil sepanjang 9 cm. Gagang dan sarungnyanya berukiran harimau. sama halnya dengan keris tadi disarungnya juga terdapat tulisan bedanya dalam kujang tersebut terdapat tulisan―Kekuatan Sejati‖.

―senjata yang bagus. punya siapa ya? karena tak ada

penjelasan mengenai dua senjata ini lebih baik buatku saja dan aku akan memberi nama...hemmmmm kujang kecil keris

keluk sembilan....akh kurang pas, hemm kujang harimau keris

mungil.....hihi norak. akh lebih baik aku ambil dari tulisan ini saja

hehehe ... Kujang Kekuatan Sejati dan Keris Perasaan kurasa ini lebih baik meski terlalu muluk haha...emch tali ini tali apa sih?‖

Aram pun mengambil dua utas tali berwarna biru dari peti, namun tiba tiba ia terkejut, mengapa? Ternyata ketika ia mengangkat tali dari peti, tiba tiba petinya hancur menjadi abu.

―Ada apalagi ini? Kenapa petinya jadi abu? Akh peduli amat...lebih baik tali ini aku jadikan ikat rambut saja, lumayan daripada riap riapan kaya gini. ‖ Arampun menyisirkan rambutnya dengan menyisakan poni depannya dan sedikit rambut di samping telinganya, sementara rambut belakangnya ia kuncir seperti ekor kuda.

―huaaaahhhhhhh ngantuk tidur akhhh‖....

Langit telah menjadi gelap,

sepertinya sang maharaja telah tidur dan menyelimuti tubuhnya.............

Sang Putri malam pun malu malu untuk menamakan wujudnya bintang bintangpun tampaknya enggan tuk menampakan diri jeritan malam menjadikan malam ini begitu mengerikan mengntar lelap seorang pemuda yang tergeletak di bawah pohon pinus

(aone)

~*******0<aone>0********~

Disebuah desa yang cukup ramai terlihatlah seorang pemuda berbaju kain belacu dengan rambut di kuncir kuda dengan sebuah kain berwarna biru, diatas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau dan ular membentuk hurup X, ternyata ia menyimpan keris dan kujangnya di sanggulan dimana ia mengikat rambutnya.

Ia berjalan sambil tengak kanan tengok kiri melihat deretan deretan rumah, kemudian ia mendekati seorang pak tua yang sedang asyik menghisap tembakau,

―Pak, maaf boleh saya bertanya kedainya dimana ya?‖ ujar pemuda itu yang ternyata adalah Aram Widiawan yang baru saja sampai di desa pagi tadi.

Mata pak tua itu menyipit memperhatikan Aram yang ia pikir berdandan cukup aneh‖ Aden siapa? Apakah aden baru kali pertama datang ke desa ini?

Jawabnya. ―Ia Pak, baru tadi pagi saya tiba didaerah ini, oh ya ini daerah apa pak?‖ Aram mencoba berbasa basi karena Pak tua itu belum juga menjawab pertanyaan yang ia ajukan tadi.

―ini desa bernama Padanghaur den,oh ia maaf den saya lupa, maklum sudah tua, kedainya berada kira kira seratus meter dimuka didekat pasar sana,‖

‖terimakasih pak, kapan kapan saya akan kembali kesini lagi untuk sekedar bercakap cakap dengan bapak... saya pamit pak..mari‖ Aram melanjutkan perjalanannya dengan santai, karena di desa tersebut cukup ramai mana mungkin ia menggunakan ilmu peringan tubuh, bisa bisa ia dianggap hantu disiang bolong hehe Kedai itu cukup besar dan terbilang ramai didatangi pengunjung. beberapa kelompok telah duduk tersebar di dalam kedai.. beberapa orang-orang yang terlihat kasar…tampaknya mereka a dalah orang-orang dari rimba hijau… Aram tidak mengindahkan keberadaan mereka. Ia menarik tempat duduk tanpa sandaran karena ia sudah lapar. Bisik-bisik terdengar dari orang-orang itu…

Aram tahu mereka sedang membicarakan dirinya karena ia memiliki pendengaran tajam, tapi ia berlagak acuh saja pura pura tak mendengar, bagaimana mereka tidak membicarakannya ia memiliki wajah yang dapat menaklukan setiap gadis, bermata merah bagai darah, berkain belacu dengan bolong di dada dan punggung, rambut dikuncir seperti kuda diikat oleh seutas tali ber warna biru warna biru,

―Mau pesan apa den?‖ sapa pelayan kepada dirinya,

―ayam hutan rebus, sayur bayam, sebakul nasi dan teh hangat‖… tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan makanannya, Aram menyantap hidangan dengan gembira… hanya sesaat sajian itu telah ludes, tidak bersisa…

―Ceuceu, Apakah perguruan kita akan datang dan menyatakan diri takluk kepada panji telapak perak pada limm purnama depan.‖ Empat orang memasuki kedai. Semuanya ternyata gadis gadis jelita yang masih muda berusia antara sembilan belas sampai dua puluh tahunan, penampilan mereka memiliki ciri yang sama yaitu memakai baju berwarna hijau dengan ikat kepala berwarna sama dengan pakaiannya, mereka berasal dari perguruan Teratai putih, satu dari Lima perguruan utama. Mereka mengambil tempat duduk tidak jauh dari pemuda berkain belacu itu.

―Sejak kematian ketua perguruan bintang kemukus dan rajawali emas, Lima perguruan tanah jawadwipa mengalami guncangan yang cukup hebat, apalagi jago jago dari kaum kelana juga banyak yang ditemukan tewas tebantai dengan seluruh keluarganya‖‖ Kata seorang di antara empat orang muda, yang tadi dipanggil ceuceu oleh seorang gadis yang memiliki lesung pipit dipipinya.

―Kekuatan Panji telapak perak melebihi kekuatan perguruan utama di tanah jawadwipa,apalagi menurut kabar terbaru banyak jago jago kosen yang telah lama mengasingkan diri turut bergabung dengan mereka ditambah dengan jago jago dari negri sebrang, sekalipun lima perguruan itu bersatu. Menurut penilaianku, tidak ada pilihan bagi lima perguruan untuk tidak menghadiri pertemuan itu, mengenai bergabung atau tidaknya tergantung situasi nanti, Demi mengulur kehancuran lima perguruan utama‖

Ia menambahkan penilaian dengan dua mata dipenuhi kekecewaan dan keputusasaan. Sekalipun, kata-kata itu diucapkan pelan dan dikedai itu sangat bising namun cukup terdengar jelas oleh Aram yang memiliki ilmu pendengaran yang awas apalagi dulunya ia menjadi anggota telik sandi di kotapraja padjampangan. "hem...tampaknya selama aku berada didalam dasar jurang telah banyak perubahan di dalam rimba hijau tampaknya aku

harus menemui. " belum selesai Aram membatin

"suiitttt suuiiittttt suuuiiitttttt" terdengar suara suitan tiga kali mengejutkan seluruh penghuni kedai, tiba tiba terlihatlah pemilik kedai tergopoh gopoh memasuki ruang kedai dan berteriak

"tuan tuan maafkan hamba, sudikah kiranya tuan tuan meninggalkan kedai ini!"

"heh cecunguk. berani sekali kau menyuruh kami meninggalkan

kedai ini, kami sepasang harimau rimba tak sudi kau perintah!"bentak seorang lelaki sangar dengan garang disudut selatan kedai.dengan ketakutan pemilik kedai itu menjawab

"maafkan saya tuan.. tapi tapi. "

"ada kejadian apakah kisanak? Sehingga kisanak menyuruh kami meninggalkan kedai ini" sela sigadis berlesung pipit dari perguruan teratai putih,

"anu anu nisanak. Ki Renjana datang berkunjung."mendengar

itu pucatlah orang orang penghuni kedai, bahkan si Harimau rimba yang tadi bersikap garangpun kini pucat pasi mirip mayat, tak menunggu lama seluruh penghuni kedai membayar makanannya dan berbondong bondong lari serabutan, Mengapa demikian? Dalam rimba persilatan ada pameo yang mengatakan "lebih baik berada dekat singa daripada dekat Si Iblis Tengkorak Mas" atau "berurusan dengan Iblis Tengkorak Mas lebih menakutkan daripada jatuh kejurang tanpa dasar"

Dalam sekejap kedai pun sepi kecuali si pemuda berbaju kain belacu yang tak lain adalah Aram Widiawan dan dua orang pemuda dengan penampilan yang sama berbaju warna biru, berkuncir seperti rambutnya Aram dengan ikat kepala biru laut dan kuning bermata sipit, wajahnya tampan hidungnya mancung, menilik wajahnya sepertinya ia bukan penduduk pribumi.

"Tuan... tolong tinggalkan tempat ini segera... Iblis Tengkorak Mas benar-benar tidak punya perasaan, saya takut tuan sekalian jadi sasaran mereka..." kata pemilik kedai itu memohon.

"Jangan kawatir pak, kami kan tidak memiliki sengketa apa-apa dengan orang yang bapak tadi katakan " Kata salah seorang pemuda berpakaian biru bernada kalem.

"Aduh, bagimana ya, sa-saya benar-benar takut tuan, kalau mereka melihat kedai belum kosong, saya juga yang kena hajar." Kata pemilik kedai itu menghibakan hati.

"Jangan takut paman, kami bisa menjaga diri mengenai diri bapak saya nanti akan memberikan penjelasan dan akan melindungi paman" sahut seorang pemuda yang satunya lagi, memakai bahasa jawa dengan logat daerah asing.

Aram yang mendengar kalimat dan logat aneh dari pemuda itu tersenyum kecil.

Sementara pemilik kedai sedikit tenang mendengar ucapan itu, dia percaya pada pemuda pemuda itu karena ia melihat pedang di punggungnya meski masih mergukan kemampuan mereka. Tapi, kecemasannya tak kunjung sirna menyadari masih ada seorang tamu lagi yang belum beranjak.

Si pemilik kedai berjalan ke arah Aram, diiringi tatapan aneh dari kedua pemuda tadi,

"Tuan bagaimana denganmu? Apakah kau sanggup melawan mereka?" tanya pemilik kedai langsung saja, sebab dia mengira tentunya Aram adalah pendekar juga, sebab pemuda ini tidak tinggalkan kedai. Aram tidak menjawab ia malah tersenyum misterius, ia tidak keluar kedai dengan tiga alasan, pertama ia tidak tahu siapa Si Iblis Tengkorak Mas, kedua Ia masih lapar dan yang ketiga ia ingin mengenal orang orang persilatan.

Pemilik kedai uring uringan melihat Aram malah tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.

"Orang persilatan memang aneh-aneh...lebih suka bunuh membunuh daripada mencari selamat " gerutunya sambil

tinggalkan tempat. Aram tersenyum mendengar gerutuan pemilik kedai itu. Dengan santainya, Aram duduk bersandar tanpa perlihatkan perasaan tegang ia malah mengulum senyum yang membuat orang bertanya senyuman apakah itu.

Brakkk. salah satu meja mencelat terkena tendangan. Lalu

munculah sesosok bayangan berwarna emas "Silahkan masuk tuan... silahkan " kata si pemilik kedai dengan gemetar. "Hm, minggir kau!" bentak orang yang baru saja datang. Tangannya menggeser pemilik kedai sampai ia mencelat menindih meja, brakkk hoek sipemilik kedai muntah darah."

"Bagus! Kali ini tampaknya bakal ada pesta darah!!" katanya dengan wajah seram. Ternyata penampilan Si Iblis Tengkorak Mas membuat siapapun mengkirik, bagaimana tidak? Wajahnya kering kerontang tinggal tulang mirip tengkorak, rambutnya menjuntai sebahu berwarna putih, giginya bertaring, baju dalamnya berwarna hitam dengan jubah emas, dipunggungnya ia memanggul kepala tengkorak berwarna emas di kedua tangannya membelit rantai sebesar tangan bayi.

Melihat itu Aram belum mau cari urusan, dia asik bersandar sambil menengak minumannya, sementara kedua Pemuda yang ada dipojok ruangan sudah gusar melihat pemilik kedai yang muntah darah dihajar orang didepan mata mereka. Pemuda yang memakai ikat kuning berdiri saking marahnya.

"Kau manusia busuk ! menghajar orang seenak perutmu sendiri apa kau kau !" pemuda ini tidak melanjutkan perkataannya

sebab ditelan kemarahan yang tampaknya sudah sampai ke ubun ubun, suaranya keras mengelegar, jarinya menuding- nuding dengan pedang pada orang yang baru saja datang.

Bukannya marah mendengar tantangan pemuda itu, Iblis Tengkorak Mas malah tertawa terbahak bahak

"bwahahahaha eh bocah bau kencur lebih baik kau belajar

berbicara lagi pada ibumu jhahahaha" Kata orang berikat kepala biru sambil memainkan janggutnya.

Pemuda baju biru berikat kuning itu marah sekali. Dengan sekali lompat, dia sudah berada di atas meja makan didepannya.

"Baik, kalau begitu aku ingin tahu apa kau memiliki tulang baja daging besi, berani pentang bacot didepanku!" usai berkata begitu, sipemuda meloncat dan mengangkat kaki kiri melakukan suatu angkatan berputar, mengikuti perputaran kaki kanannya yang berputar terlebih dahulu kekanan menurut arah jarum jam . tangan kiri ditekuk rapat dan tangan lainnya mengibas "ciaaaattt Naga membalikan tubuh" teriaknya lantang.

"toako hati hati pemuda satunya lagi mengingatkan.

sementara Iblis Tengkorak Mas melihat serangan mendadak sipemuda tertawa dingin,"baik kau akan mendapatkan yang kau inginkan" kaki kanannyanya berjinjit, tangan kiri yang terpampang menekuk didepan serta kepalan tangan kanannya terkepal di pinggang dengan mengalirkan lima bagian tenaga sakti tengkorak emasnya ia memapak serangan sipemuda keras lawan keras"menggerayangi malam dengan gerakan im- yang"desisnya lirih

duk...blarrrr dua buah tenaga sakti beradu, meja dan kursi

berterbangan terhempas angin pemilik kedai siang siang

sudah ngacir ketakutan entah pergi kemana sementara Aram

terdorong dengan meja dan kursinya kedekat jendela, namun anehnya perabot makanan bekasnya makan tetap di tempatnya seolah tidak terjadi apa-apa. Si pemuda terkejut melihat jurus dan tenaga dalam yang dimiliki Iblis Tengkorak Mas diam diam ia berpikir" hebat juga tenaga dalamnya nyatanya tanah jawadwipa berisi dengan jago jago tangguh". Jurus demi jurus telah mereka keluarkan menginjak jurus ke lima belas sipemuda meloncat mundur, ia heran jurus- jurusnya dapat di patahkan dengan mudah.,srettt Iblis Tengkorak Mas kembali menerjang dengan jurus tengkorak emas menggoyangkan tubuh, si pemuda sungguh tak menduga Iblis Tengkorak Mas melancarkan serangan ketika ia mundur, dengan gerakan lincah ia berkelit kebelakang, maksudnya untuk menghindari kepalan Iblis Tengkorak Mas yang beracun. Tapi jurus Tengkorak Mas menggoyangkan tubuh memang benar- benar hebat, saat sipemuda bergerak kebelakang Iblis Tengkorak Mas memiringkan tubuh dan melejitlah tendangan kaki kiri desssss, pundak sipemuda terserempet tendangan..Iblis Tengkorak Mas tidak berhenti sampai disitu ia susuli tendangannya dengan totokan yang mengarah jalan darah kematian di leher, wussshhhh

"awas serangan"tiba tiba dari belakang Iblis Tengkorak Mas terdengar bentakan, Iblis Tengkorak Mas segera membatalkan serangannya dan menggunakan jurus burung pipit kembali kesarang ia bersalto kebelakang.

"Bersyukurlah kau bisa lolos dari kematian bocah!" Iblis Tengkorak Mas dengan tertawa mengejek, wajahnya tetap teang seolah tidak terjadi apa-apa.

"kau tak apa apa, sute? !" tanya pemuda satunya lagi, " aku tak apa-apa toako,." Jawab sipemuda berikat kuning sambil meringis menahan luka dipundaknya

"mari kita serang bersama-sama sute, Iblis ini benar benar hebat." Tak menunggu jawaban sutenya Pemuda yang dipanggil toako meloncat sambil mencabut pedangnya srett. tubuhnya

meliuk deras menyerang Iblis Tengkorak Mas, orang yang diserang sunggingkan senyum remeh. Dengan gerakan sebat, dia tangkis pedang itu dengan jurus belitan benang Iblis menjerat sukma.

Trang!..............

Dentangan pedang akibat benturan pedang dengan tangan Iblis Tengkorak Mas. Sipemuda dengan sebat menyabetkan pedangnya dengan jurus ayunan naga api melihat itu Iblis Tengkorak Mas merunduk sambil melancarkan serangan ia menekuk kaki kirinya kebawah dan membentuk posisi mengambang,kaki lainnya di dudukan sedemikian rendahnya dengan gerak tusukan pada jari jari tangan serta gerak menadah keatas pada tangan kiri disisi belakang dan memantapkan diri dengan geseran pada kaki kanan menyamping diikuti kaki lainnya sambil menggerakan telapak kanan untuk menampar.....

plakkkkk. tangan sipemuda terpukul, pedangnya mencelat

keatas bukkk dengan mudahnya telapak lainnya mendarat di dada sipemuda melihat nyawa toakonya terancam bahaya

sang sute meloncat dan bersalto diudara kemudian menendang pedang toakonya yang terpental. Wusssssssssshhhh mendengar suara desingan tajam mengarah Iblis Tengkorak Mas, mendengar suara desingan itu si Iblis Tengkorak Mas segera bergulingan kesamping. Treepppp pedang yang tadi terpental menancap di lantai menyisakan gagang pedang berukiran naga.

Brukkkkk. pemuda berikat kuning terjatuh berdebuman

dilantai.

"suteeee" pemuda berikat biru mendekati sutenya dan memapahnya ternyata saat si sute loncat dan menendang pedang, bahunya mendadak terasa sakit, karena kaget ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang.

Melihat itu Aram tak tega, segera ia putar otak. tiba tiba ia

mendengar iringan langkah kaki yang cukup banyak. Mendengar itu Aram teringat dengan salah satu ilmu rubah bersiasat didasar jurang yang bernama "meminjam pisau menyembelih kuda"

"akhhhhh penjaga keamanan" desisnya pelan, meski pelan

tapi Iblis Tengkorak Mas dan dua pemuda asing itu juga mendengar.

"cisss. bisa urusan bertambah panjang bila aku kepergok

pasukan keamanan bisa bisa rencanaku gagal" Iblis Tengkorak Mas membatin, sebenarnya rencana apakah yang sedang di jalankan si Iblis Tengkorak Mas?entahlah Hatinya berpikir

begitu sementara mulutnya berkata

"hahahahaha     bocah bocah bau kencur, tiba tiba aku ingat

suatu urusan, mengenai urusan kita aku sudahi sampai disini, kita lanjutkan kapan kapan hahaha"suaranya masih terdengar di kedai sementara orangnya entah telah pergi kemana. Benar benar pameran tenaga dalam yang tinggi.

"Kisanak sebaiknya kitapun pergi sebelum kita kepergok pasukan keamanan yang akan merepotkan kita" pemuda berikat biru mengajak pemuda yang asik bersandar di dekat jendela yang tak lain adalah Aram.

"hahahahahaha " Aram malah tertawa terpingkal pingkal

mendengar ajakan si pemuda. Melihat itu sipemuda berikat biru mengerutkan keningnya.

Jalanan desa padanghaur begitu ramai tampaklah tiga pemuda tampan berjalan berdampingan, sekali kali terdengarlah tawa mereka.

―kau memang cerdik kisanak sampai sampai Iblis Tengkorak Mas pun kena kau kibuli hahaa‖

―hahaha seandainya tidak ada iring-iringan pengantin itu,

tampaknya aku juga bakal kesulitan mengibulinya‖ jawab Aram merendah

―haha..kisanak terlalu merendah, oh ya kita belum saling kenal, pepatah mengatakan tidak kenal maka tak sayang. nama saya Thian liong dan ini adik saya Thian Hong li‖ Thian Liong memperkenalkan diri.

―Aram, Aram Widiawan‖ Aram menjawab sambil tersenyum. Begitulah mereka bercakap cakap dengan riang, dari situlah Aram mengetahui kalau mereka adalah pendekar dari negri yang bernama Tionggoan, mereka pergi ketanah jawadwipa karena mengejar penghianat dari perguruannya perguruan yang bernama THIAN LIONG PAY.

―oh ya, malam ini kau menginap dimana engkoh Ram?‖. Thian

Hong li memecahkan kesunyian.

―entahlah mungkin dihutan haha, maklumlah orang kere, eh

engkoh itu apa sih?!‖ Aram bertanya jenaka. Thian Hong li tersipu sipu wajahnya merah bibirnya cemberut, sementara Thian Liong tertawa melihat itu Aram benar benar bingung, ia

coba perhatikan wajah Thian Hong li wajahnya putih bersih, hidungnya mancung, matanya sipit, bulu matanya lentik, alisnya hitam kecil, bibirnya kemerah-merahan, pipinya semu merah.

Aram benar benar terpesona melihat wajah Thian Hong li, wajahnya lebih dekat ke wajah perempuan daripada ke lelakian. Diperhatikan seperti itu, Thian Hong li makin Salah tingkah.

―Thian Liong bolehkah aku belajar bahasa kalian?‖ Aram mencoba mengalihkan topik karena ia melihat wajah Thian Hong li semakin menggenaskan.

―tentu, jika kau ingin belajar. Kau menginap bersama kami saja mau? Thian Hong li menawarkan.

―Gratis?‖

―gratis‖ thian Liong tertawa.

―kau sekamar saja denganku lagipula ruangannya juga cukup luas!‖Thian liong menambahkan ―ia deh, tadinya aku mau sekamar dengan Thian Hong li saja‖ Aram nyengir. Mendengar itu Thian Hong li makin merah saja, mirip kepiting direbus.

Dengan berjalan kaki , ketiganya menuju ke sebuah bangunan cukup besar. Baru sampai di depan pintu gerbangnya, tampak dua orang yang berdandan seperti pelayan penginapan berdiri menyambut mereka.

"Selamat sore Tuan bertiga, Tuan bagaimana jalan-jalannya?". Sapa salah satu pelayan kepada Thian Liong

‖sangat Baik paman, bahkan kami telah berkenalan dengan pemuda dari tanah jawadwipa ini!".Thian liong menunjuk Aram. Sipelayan tersenyum

―Mari Masuk tuan‖ sipelayan mempersilahkan.

Setelah melalui ruangan depan, mereka sampai di sebuah teras terbuka. Si pelayan berjalan bersama mereka menuju kamar di sebelah utara. Kedua kamar itu saling berhubungan, jadi ada pintu yang menembus di dalamnya. Pelayan itu membukakan pintunya sambil berkata,

"Silakan masuk, kalau ada keperluan apa-apa, panggil saja. Semuanya akan kami persiapkan."Thian Liong tersenyum, ia memang bahasa jawanya lebih lancar daripada adiknya Thian Hong li."Tidak ada apa-apa lagi paman, terimakasih !" ucapnya lembut. Sambil berbicara, mereka melangkah masuk ke kamar. Dekorasi kamar itu indah sekali. Di sebelah timur terdapat sebuah tempat tidur yang besar. Di tengah-tengah ruangan ada meja dan bangku yang alasnya terbuat dari bambu. Sedangkan kaki meja dan sandaran bangkunya terbuat dari kayu jati yang diukir dengan halus. Begitu merapatkan pintu kamar, Thian Liong segera Mengganti bajunya.

Sedangkan Aram segera terbang ke ranjang, huppppzz bruk tak lama kemudian terdengar desahan nafas yang teratur.dasar kelor. Thian Hong li tersenyum melihat ulahnya segera ia masuk kedalam kamarnya sendiri.

Tiga kentongan telah berlalu, Aram menggeliat bangun dilihatnya Thian Hong li dan Thian Liong sedang bercakap cakap, Keduanya duduk di sisi meja. Segera ia mencuci wajahnya di wajan yang tersedia di sisi ranjang lalu beranjak mendekati mereka

‖sudah bangun Ram? Bagaimana tidurnya?‖ Thian liong menyapa,

―lumayan nyenyak juga ‖ujarnya sambil mengambil tempat

duduk.

Baru saja ia duduk, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu,

"Tuan, hidangan sudah datang!" Terdengar pula suara pelayan tadi. Aram berbinar matanya mendengar itu.

"Masuk!" sahut Thian liong. Tampak si pelayan rumah penginapan melangkah masuk bersama dua orang pelayan lainnya. Hidangan yang disuguhkan berupa masakan yang mewah. Setelah sipelayan meninggalkan ruangan dan menutup pintu rapat rapat Thian Liong berkata:

―Silahkan dimakan Aram‖

tak menunggu perintah ke empat kalinya segera Aram menyantap makanannya, begitulah mereka bersantap sambil bercanda ria. Pada suatu kesempatan tangan Aram menyambar kepala Thian Hong li, Thian Hong li terkejut tapi terlambat bretttss tali pengikat rambutnya terjambret . . . rambutnyapun terurai.

Ketika rambutnya terurai itulah kelihatanlah wajah aslinya. Aram ternganga terkesiap begitu melihat hasil ulahnya. Seorang Gadis cantik berambut hitam, terpampang didepan wajahnya.

―Kau...!‖ucap Aram dengan lidah seperti kelu."

―jadi selama ini kau menyamar jadi laki laki. ‖Thian Hong li

tersipu malu ketahuan belangnya. Aram geleng geleng kepalanya karena kaget. Thian Liong tertawa berkakakan.............

Sejak hari itu Aram tinggal bersama Thian liong dan Thian Hong li, untuk mengisi waktunya mereka berlatih silat dan saling belajar mempelajari baca tulis Aram belajar kepada Thian Liong dan Thian Hong li, sedangkan Thian Liong dan Thian Hong li belajar Kepada Aram.

Langit menangis terisak..............

Air matanya jatuh perlahan basahi bumi................ Seakan turut berduka citanya atas kehancuran sebuah keluarga Si Rasul cambuk Bumi. Rintik hujan mengguyur puing puing rumah yang masih mengepul mengeluarkan asap.....

"trakkkkk" sebuah bekas pintu terangkat. munculah sepasang

mata jeli berkaca kaca entah karena hujan ataukah airmata, hanya dia yang tau.....

"Ayah ....Ibu..... siapakah yang melakukan ini. " ucapnya

terisak isak brukkk ia memukul pintu itu hingga mencelat munculah seraut wajah cantik seorang gadis cilik berbaju kain sutra berwarna kuning. kemudian ia berlari menubruk orang tuanya dan menangis terisak isak. ternyata ia adalah melati

seorang gadis cilik anak kinanjar dan nyi elas yang tersisa dari pembantain keluarganya.

Tiba tiba ekor matanya yang jeli melihat sebuah panji kecil bergambar telapak perak. srett karena guncangan hatinya

yang terlalu berat ia pingsan. Serrrrrr.....wutt treppp sebelum

ia mencapai tanah sesosok bayangan putih menyambar tubuhnya.......

~*******0<aone>0********~

Disebuah gua di lembah dewa dewi tampaklah seorang gadis cilik terlentang dipembaringan batu. Srettt tiba tiba mata

jelinya terbuka ia terlihat keheranan melihat dirinya berada

ditempat yang ia tak kenal, ia menggeliat kemudian bangkit dari tidurnya..... "kau sudah bangun nak. ! sebuah suara merdu yang sedikit

serak menyentak kesadarannya ia berpaling dan terkejut

melihat seorang wanita tua berbaju kuning duduk bersila di belakangnya. Wanita itu kira kira berusia 90 tahun tapi wajahnya menyisakan garis kecantikan dimasa mudanya di wajahnya

terdapat beberapa garis ketuaan, hidungnya mancung di kedua telinganya menggantung anting anting berbentuk keris kecil, matanya terpancar aura yang menyejukan hati siapapun yang memandangnya.

"siapa kau nek?" Gadis yang ternyata adalah melati bertanya dengan keheranan.

"hahahaha nenek sudah lupa nama nenek, cah ayu. tapi

orang orang menyebut nenek nyi sateja,". Tutur si nenek dengan lembut. (ya dia iyalah Nyi sateja atau julukannya Dewi

Kelelawar lembah Dewa Dewi)

"Huhuhu........ayah ibu melati menyesal tidak belajar silat

sesuai apa yang ayahanda inginkan huu huuu" melati tiba tiba

menangis teringat nasib orang tua dan dirinya, ia menyesal kenapa waktu ia disuruh belajar silat oleh orangtuanya malah kabur untuk bermain main, ia memukuli kepalanya sendiri sambil menangis. Tentu saja ulahnya itu membuat Nyi Sateja terkejut. tapi berkat pengalamannya yang tinggi sinenek cepat

menahan dirinya dan tersenyum....

"sudahlah nak. Jangan melihat masa lalu dengan penyesalan,

jangan pula melihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran (James Thurber) setiap makhluk hidup suatu saat pasti akan menghadapnya, hanya kapan dan bagaimana ia mati menghadapnya apakah ia mati dalam keadaan syahid atau kafir. Rahasia kematian hanya tuhan yang tahu, kau dan aku akan pula suatu saat akan mengalami hal seperti itu, sadarilah nak Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah.

Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah" (Bhagawan Sri Sthya Sai Baba). Melati benar benar tertegun mendengar wejangan Nyi Sateja...

Baru kali pertama ini ia mendengar wejangan seperti ini.

" Baik nek, meski melati tak sepenuhnya mengerti ucapan nenek tapi suatu saat melati yakin bisa mengerti" ujarnya jujur polos dan semangat. .......

Begitulah dibawah bimbingan sinenek melati mempelajari silat. Pada suatu hari melati diajak untuk pergi menemui seseorang, melati tak tahu jikalau di lembah itu masih ada penghuninya.....

"kita sampai Melati" sinenek berkata. Belum melati menjawab tiba tiba terdengar suara laki laki yang sudah serak berkata "Kesalahan terbesar yang dibuat manusia dalam kehidupannya adalah terus-menerus merasa takut bahwa mereka akan melakukan kesalahan". (Elbert Hubbad)

Nyi Sateja tersenyum dan menjawab " Kebanggan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh" (Confusius) Melati melongo mendengar tanya jawab itu, meski sudah lama bergaul dengan sinenek tapi tak disangkanya akan ada orang yang memiliki kesukaan yang sama.

"Silahkan Masuk Teja, sudah lama engkau tak kemari, siapakah bocah ayu disampingmu itu Teja?"

"hihihi.....pendengaran mu semakin tajam saja kakang !" Nyi

sateja tertawa sambil masuk menggandeng tangan Melati.

"silahkan duduk" suara lembut seorang lelaki tua, ternyata lelaki itu berwajah lembut dengan garis garis ketuaan diwajhnya, rambutnya putih keperakan, usianya kira kira sudah mencapai seratus tahunan lebih, namun masih tampak kekar dengan tonjolan otot dimasa mudanya. Orang persilatan memanggilnya ki dewa pedang terbang

"Kakang saya membawa anak ini, saya harap kakang ikut membimbingnya " nyi teja langsung ke inti tanpa basi lagi. ki

dewa pedang terbang memperhatikan melati dilihatnya susunan tulangnya baik untuk mempelajari imu silat...

"Baik..aku terima permintaanmu nyai

"terimakasi kakang "Nyai Teja gembira mendengar ki dewa

pedang terbang menerima permintaannya. "kau siap kami gembleng melati"

"Siap Nek...!"melati antusias....

"hahaha kau hanya siap di gembleng nenekmu saja yah, ! ki dewa pedang terbang bertanya jenaka. Melati tersipu "siap kek" ujarnya pelan.

Purnama demi purnama telah berlalu terlihatlah seorang gadis berusia 15 tahun sedang menari diatas rumput setinggi lutut, sungguh luar biasa ilmu peringan tubuhnya, sekali kali tampaklah sinar perak berhamburan mengelilingi tubuhnya, kesiuran angin lembut berbaur bau harum menyejukan jiwa berhembus disekitarnya di sebelah utara tampaklah seorang kakek berbaju hitam bersila diatas pucuk ilalang, sementara disampingnya duduk seorang nenek berbaju kuning bersila sambil mengulum senyum lembut ....

"Hiatttt..........Kelelawar sakti menembus kegelapan " teriaknya

melengking tinggi. Wusssshhh srettttttt sebuah pedang melesat secepat anak panah kemuka, "pedang terbang kelelawar mengincar sasaraaannnn "

gadis itu perdengarkan lengkingan tinggi, lalu ia bersilat dengan gerakan melompat terbang seperti kelelawar, dua tangannya memainkan gerakan yang berbeda, matanya tampak tertutup sebelah, Sebab mata kirinya memperhatikan suara yang didengarya dengan telinga layaknya kelelawar dan mata kanannya memperhatikan sasaran pedang. Memasuki jurus keempat puluh, sontak gerakan anak itu berubah hebat, gadis itu berteriak keras, tangannya menggenggam pedang dengan kedua tangan lalu berkeiebat melemparkan pedangnya kelangit. Sementara tubuhnya berputar seperti gasing "hujan pedang dewi kelelawar........hiaaaattttt. " Crep-crep-cep!

Pedang itu menancap di tanah, dan gerakan gadis itu pun berhenti. Gadis itu mengatur nafasnya yang sedikit memburu, lalu ia bersila didepan kedua gurunya. Ki dewa pedang memejamkan matanya sambil tersenyum tipis ia berbahagia mendapatkan seorang penerus yang luar biasa. Dalam hatinya ia berkata.

"Anak gadis ini bakatnya sangat luar biasaナ padahal jurus yang kuajarkan adalah gabungan dari jurus dewi kelelawar sakti dan jurus pedang terbang pemburu nyawa!"

"Latihanmu sudah cukup melati! Tetapi masih jauh dari sempurna.. " si nenek berkata.

"Memang benar nek, dari seminggu yang lalu ananda masih belum bisa menggunakan jurus terakhir selalu saja gagal

mencapai sasaran" melati berkata dengan sedih.

"dengarlah muridku Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan, saat mereka menyerah, (Thomas Alfa Edison) maka dari itu belajarlah menerima keadaan karena Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan" (Robert F. Kennedy) Ki Dewa pedang berkata dengan bijak.

Melati tersenyum mendengar kata kata kakek nenek angkat sekaligus gurunyanya ini, setelah tinggal bersama mereka telah banyak kata kata bijak yang telah ia serap. "Melati pelajarilah perlahan lahan kitab pemberian orangtuamu, bagaimanapun kitab yang kau bawa itu kesaktiannya tidak dibawah yang kami ajarkan" nyi sateja berkata.

"baik nek, melati akan lakukan perintah nenek"

"sudahlah ayo kita kembali kegua makan dulu. wussshhh tiga

tiganya melesat bagai petir.

Dua Purnama telah berlalu Aram tinggal bersama Thian Liong dan Thian Hong li, Pertemuan Orang perssilatan Jawa dwipa dengan perkumpulan panji telapak perak tinggal tiga Purnama lagi. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya,

Di mulut sebuah jendela kamar, Aram terpekur. Dicobanya merenungi perjalanan hidupnya dari ketika ia terpaksa terlunta lunta sampai sekarang. Lama dia begitu.

"Tuaknya, engkoh Aram " Aram tersadar dari kecamuk

pikirannya. Didapatinya Thian Hong li telah berdiri di depannya, membawa dua gelas bambu berisi Tuak.

"Wah! Malam malam seperti ini, memang tepat kalau disuguhkan Tuak buat ngisi perut," seloroh Aram seraya menyambut gelas di tangan kanan Thian Hong li.

"Terima kasih, ya." Gadis manis di depan pemuda itu tersipu- sipu sambil menengak tuak yang lain yang berada ditangan halusnya. Kulit wajahnya yang putih memperlihatkan semu merah, kala mata Aram berusaha menangkap mata sipitnya. "Mmm, tuak ini betul-betul nikmat. Kau yang beli, Hong moay?" tanya Aram yang mulai bisa berbahasa tionghoa. Thian Hong li mengangguk malu, tanpa berani mengadu pandang dengan pemuda tampan yang duduk di jendela itu. Setelah bergaul dua Purnama ini hubunga mereka memang tambah akrab.

"kau tambah cantik saja Hong Moay"! Aram Mulai merayu, Lagi- lagi Thian Hong li tersipu. Wajah ayu berhias rona merah itu membuat Aram gemas. Hati pemuda itu mau tak mau memuji keayuan gadis tionghoa ini yang begitu alami dadanya berdegub dengan kencang. Bulu matanya yang lentik, berkelopak lembut. Hidungnya tinggi menipis, dan bibirnya merah delima....

"kau semakin pintarr merayu, engkoh Aram." Thian Hong li tidak bisa menyembunyikan rasa senang di wajahnya. Itu bisa dilihat dari bias mata beningnya. Dia pun duduk di depan Aram malu- malu. Kepalanya tertunduk dalam

memandang ke hamparan genting genting rumah, memang tempatnya menginap memang berada dilantai dua. Lama keduanya terdiam.

"Hong Moay aku ada perkataan yang hendak disampaikan" Aram memecahkan keheningan.

"Ada apakah engkoh Aram? katakanlah "dada Thian

Hong li berdegub kencang, ia berpikir Aram akan menyatakan cintanya. "Aku takut engkau marah dan sedih" Aram berkata dengan bertele tele, membuat Thian Hong li bertambah yakin akan dugaannya..........

"Ak...Aku Mencintaimu, Tapi,. " Aram berkata dengan perlahan

dan menggantung. Ucapan ini memang ia tunggu tunggu, meski ada tapinya yang membuat ia deg degan.

"Tapi apa Engkoh Aram?, " Aram terdiam sesaat, kemudian ia

memegang tangan Thian Hong li dan menatap wajahnya,

"Besok aku harus melanjutkan perjalanan" ucapnya dengan perlahan. Ucapan itu ibarat guntur disiang bolong ditelinga Thian Hong li, tak sadar matanya berkaca kaca. Ia berkata seakan tak percaya apa yang didengarnya

"Ap apa?!" "Aku harus melaksanakan wasiat orang tuaku Hong

moy" mulut bicara tanganpun ikut bekerja, dipeluknya tubuh ramping Thian Hong li. cup Aram mengecup pipi Thian Hong li,

Thian Hong li diam saja, karena pada dasarnya iapun mencintai Aram, ia malah menutup matanya dan membuka bibirnya yang ranum seakan menantang. Mendapat angin Aram mendekatkan bibirnya

cupppp emmmzzz mereka berciuman seakan takan ada lagi

hari esok, lidahpun seakan takut ketinggalan mereka bertempur, bergulat menuntaskan nafsu birahi, Tangan kanan Aram mulai berpindah kebawah meremas pinggul Thian Hong li. Emmcchh terdengar desahan halus, dari mulut Thian Hong li.. sementara tangan kirinya meremas bukit yang menantang didadanya, (mungkin itulah yang orang katakan BIOLA = BIbir Olahraga tangan merajaleLA) tak lama kemudian Aram melepaskan baju luar Thian Hong li, dan menyingkapkan baju dalamnya, sehingga tersembulah dua buah gunung kembar putih mulus dengan puncak coklat kemerahan.

Lalu ia mulai menciumi leher Thian Hong li terus turun kebawah sampailah dipuncak bukit yang tegak menantang, membuat Aram semakin bernafsu, diciumi, dan dijilatnya sekeliling lingkaran puncaknya, dengan sedikit gigitan kecil membuat Thian Hong li bernafsu, ia terus mendesah desah lembut memecahkan kesunyian, akhirnya ia melingkarkan tangannya dan memegang kepala Aram terus menekan kedadanya seakan menyuruh Aram untuk tidak menghentikan aksinya. Mereka terus bercumbu dengan nafsunya apalagi ditambah tuak yang menambah mereka semakin bernafsu. Entah berapa lama Aram menghentikan usahanya lalu membalikan tubuh Thian Hong li kemudian didudukan di pangkuannya, "Ada apa Kakanda, Kenapa berhenti?"Thian Hong li berkata dengan nafas sedikit memburu, sebab tangan Aram dengan nakalnya masih meremas remas lembut gunung kembarnya "

"Aku sayang kamu Dinda Hong ! dinda, karena keadaanlah

aku pergi meninggalkanmu, aku yakin suatu saat kita akan bertemu lagi dan aku akan meminangmu, dengan jarak kita akan merindu, dengan jarak kita bisa menguji berapa besar cinta kita" Ucap Aram sambil melakukan aksinya. "shttt ia kanda, hhhh....berapa lamapun aku akan terus menunggumu shhtt

uukkhhh, meski lautan kerinduan tak bertepi meski gunung menjulang tinggi...shtt.. akh..akh berapa jauh pun dirimu berada dinda yakin hati kanda ....sshhttt akh...hati kanda ada untukku kanda, meski kanda mencari kekasih lainpun dinda

rela asal...shhtt,...asal dihati engk. eh, kanda selalu ada nama

Thian Hong li..emmmchh!" Thian Hong li menjawab disela sela nafas dan birahi yang melandanya.

Betapa terharunya hati Aram mendengar ucapan itu. Dibalikannnya wajah Thian Hong li dan mencium bibirnya. lalu menghentikan semua aksinya

"kanda mengapa engkau berhenti? Thian Hong li berbalik dengan mata sayu dan sedikit kecewa, karena tak mendapat puncak yang ia inginkan. Melihat wajah itu Aram benar benar tak tahan ingin melumatnya, tapi, ia menahan diri da tersenyum..

"Dinda aku ingin memberikan sesuatu untukmu," aram

mencabut keris bergagang ular, berkeluk sembilan di kepalanya, Thian Hong li terkejut melihat sebuah senjata aneh menurutnya, senjata itu adalah pedang kecil bergagang ular, ketika ia mencabut keris tersebut sinar kuning dan hawa dingin memancar.

"Pedang apa ini engkoh? Mengapa pedangnya berkelok kelok seperti ini?" Thian Hong li bertanya dengan mimik keheranan

"haha...ini namanya keris Hong moay Keris ini bernama Keris

Perasaan, ini tanda cinta kita Hong moay, aku punya pasangannya berupa sebuah kujang, lihatlah di rambutku "Aram menjawab sambil matanya melotot

memperhatikan dua buah gunung menjulang didepannya, rupanya Thian Hong li sengaja tidak membetulkan posisi baju dalamnya.

Thian Hong li pun memperhatikan ternyata benarlah dirambut Aram terlihat sebuah gagang senjata berbentuk harimau, merasa dirinya diperhatikan seperti itu Thian Hong li merasa malu juga, tapi ia tetap bertahan malah ia diluar tersenyum

manis. Lalu tangannya bergerak mengambil pedang pendek yang berada didekatnya. Kemudian diarahkan ke arah kaitan baju dalamnya dan breetttt Baju dalamnya robek dan jatuh....

seingga tubuh bagian atasnya yang putih dan tanpa cacat terpampang dimata Aram. Melihat itu Jakun Aram semakin turun naik, ia melongo.....

"Hong Moay ..Dinda hong... Indah nian tubuhmu " ucapnya

tanpa sadar. Thian Hong li tersenyum senang mendengar ucapan itu, wanita mana yang tidak bahagia jika bila kekasih memuji kecantikan atau keindahannya, begitupula dengan Thian Hong li. Demi cintanya Ia rela menyerahkan segala yang ia punya.

"engkoh Aram, apakah engkau suka?" ucapnya malu malu. Tangannya bergerak melipat baju dalamnya sehingga menjadi selebar 4 cm. Sehingga jadilah seutas tali berwarna coklat muda. Karena memang baju dalamnya berwarna coklat muda....

perlu diketahui pada zaman itu pakaian dalam wanita hanya berbentuk kain yang di belitkan di dada, untuk yang bagian pentingnya pun hanya 2 kain yang dibelitkan. Satu kebawah dan satunya lagi dipinggang. "engkoh Aram kandaku dindamu ini tidak memiliki apapun

yang bisa di berikan kepadamu, hanya kain jelek ini yang dinda punya" set..Thian Hong li memasangkan kain itu dikepala Aram sehingga menjadi sebuah ikat kepala" grepppss Aram memeluk Thian Hong li dengan terharu. Dicium bibirnya yang ranum, yang dibalas Thian Hong li dengan tak kalah mesra, Aram menghentikan ciuman di bibir Thian Hong li, berpindah dengan menciumi lehernya, lalu dadanya. Beberapa saat kemudian ketika Aram sibuk mengulum puncak gunung kiri Thian Hong li dan meremas remas dengan sekali kali memutar mutar gunung kanan Thian Hong li, Thian Hong li Menjerit mencapai puncaknya.

"aaaaaakkkhhh "dengan mata sayu Thian Hong li menatap

Aram dan mencium bibirnya. Ia mendesis lirih ditelinga Aram, sebab tenaganya berkurang ia merasa seakan tubuhnya dicopoti tulang tulangnya ketika mencapai puncaknya tadi

"Engkoh Aram apakah engkau sudah pamitan dengan Liongko?" "Belum sebab dari kemarin aku belum sempat berkata apa

apa dengannya, kau tahukan kakakmu itu pulang kerjanya pagi

terus, aku tak tega mengganggunya "Jawab Aram lembut.

"Hong Moay sebaiknya engkau berpakaian lagi, nanti masuk angin"tambah Aram mesra."baiklah Sayang"Thian Hong li beranjak dari pangkuan Aram dan mengambil baju luar yang tadi di buka lalu memakainya. Lalu berjalan kepintu kamar sebelah,

"Hong moay engkau mau kemana?" "aku mau ngambil baju dalam lagi, kan punyaku tadi, ada dikepalamu hihi. "Thian Hong li menjawab cekikikan.

"Hong Moay sayang sebaiknya engkau tetap begitu saja, engkau tambah mempesona jika begitu? Aram meminta dengan senyuman nakal.

"emmmhhh" terdengar gumaman dari bibir Thian Hong li, sepertinya ia sedang mempertimbangkan permintaan Aram....

"baiklah" akhirnya ia berkeputusan, lalu berjalan dan memeluk kekasih hatinya.

Dengan sigap Aram membopong Thian Hong li kekamar sebelah, bau bunga semerbak tercium darri hidungnya, ditutupnya pintu rapat rapat lemudian dihampirinya pembaringan yang berkelambu putih bersih itu. Lalu aram membaringkan Thian Hong li sambil berpelukan, kontansaja mereka bergulingan saling tindih dengan posisi Aram dibawah dan Thian Hong li diatas, masih dalam pelukan Thian Hong li berkata

"hihihi. emmh tak adil, bila hanya aku yang tadi buka baju,

sekarang giliranmu engkoh Aram,!" cepat sekali Thian Hong li membuka baju Aram lalu menciumi dadanya yang bidang, karena gemas ia gigit kecil tonjolan kecil berwarna coklat didada aram, pangkal pahanya sengaja digoyang goyangkan diatas tombak pembabat rimba pemuda itu yang sejak tadi sudah on.

"akhhh...engkau nakal sayang kalau begini aku jadi ingin

bermain main."aram berkata sambil menyusupkan kedua tangannya kedalam baju Thian Hong li mencari "sesuatu". Mereka berbicara dengan bahasa yang campur aduk maklum selama dua Purnama ini mereka saling mempelajari bahasa daerah asing dan mengajarkan bahasa daerah asalnya masing masing, Dengan disaksikan sang putri malam terlihatlah dua insan manusia sedang bergumul meski cumas sebatas ATAS hingga larut malam sampai mata mereka terpejam dalam pelukan.

Pagi datang menjelang. Matahari perlahan menanjak menuju puncak singgasananya. Sinarnya yang kemilau singgah pada genangan air hujan, lalu memantul lagi ke udara. Pagi ini Aram akan melanjutkan perjalanannya. ia pamit pada Thian liong dan Thian Hong li yang dengan berat hati melepas kepergian mereka. Terlebi-lebih, bagi Thian Hong li. Perkenalan dan pergaulan selama dua Purnama dengan pemuda tampan itu mengukir kesan teramat dalam hati Thian Hong li. Apalagi setelah kejadian semalam, keduanya menyataan cinta, masih terasa ciuman lembut dibibirnya juga cumbuan cumbuan lembut ditubuhnya.

"Selamat jalan, engkoh Aram...," ucap Thian Hong li begitu berat, seperti tercekat di tenggorokan, matanya berkaca kaca hendak memuntahkan lahar dingin.

Thian liong dan Thian Hong li kini berdiri di depan pintu penginapan untuk melepas kepergian Aram. Aram menghentikan langkahnya seraya menoleh. Ucapan perlahan Thian Hong li sempat tertangkap telinganya. Dijawabnya kalimat perpisahan Thian Hong li dengan seulas senyum. Ia lantas naik kuda pemberian Thian Liong tadi pagi dan melanjutkan perjalanan ke depan.

Seorang Pemuda berpakaian warna hijau dengan rambut di kuncir kuda dengan sebuah kain berwarna biru, diatas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau, ia memakai ikat berwarna coklat muda pemuda itu tak lain adalah Aram Widiawan. Ia berjalan dengan seorang pemuda cakap berusia duapuluh lima tahunan dengan codet melinttang dari alis kanan sampai alis kiri.

―benarkah kejadian itu kang sobar?‖ Aram tertuduk sedih........

ternyata pemuda yang disampingnya adalah Sipengabar Langit. Sehabis perpisahannya dengan Thian Hong li dan Thian Liong Aram menuju Desa jampangkulon menemui kabar langit, untuk mengetahui keadaan rimba hijau saat ini., tentu saja kedatangannya disana disambut gembira oleh kawan kawannya. Mereka kaget orang yang menghilang selama duatahun setengah lebih tiba tiba muncul dihadapan mereka.

―kau kemana saja kang Aram ?‖ Ibal kawan sekamar Aram

dulu bertanya dengan haru, ia berusia sepurnama dibawah Aram. Sipengabar langitpun mendukung pertanyaan itu.

―baiklah aku akan ceritakan...begini. ‖ Aram pun menceritakan

kejadian dimana ia dikejar kejar lima manusia ular sampai ia kembali kesana tentunya ada bagian bagian yang ia sembunyikan. ―lalu bagaimana, apakah ada yang selamat?‖ aram memecahkan keheningan.

―hhhffzz‖ sipengabar langit menghela nafas...lalu melanjutkan

‖mungkin ada, Anak mereka tak diketemukan mayatnya ‖

―melati..‖desis Aram ia merenung mengingat pertemuan

dengannya, ia ingat ketika ia bermain di taman dngannya.

―kang rama kalau nanti udah dewasa mau jadi apa‖ melati bertanya sambil memainkan rambutnya.

―aku mau menjadi seorang pendekar yang hebat.,‖ Aram menjawab dengan berapi api. Melati terbelalak ―ikh, kak rama mau jadi seorang pembunuh‖. Aram bengong akhirnya menjawab

―kok jadi pembunuh lati?‖ ―orang persilatan kerjanya main bunuh saja, apa kak rama gak tahu?‖ aram menundukan kepala, matanya berkaca-kaca.

―ikh, kak Rama mengapa engkau menangis?‖ dengan panik melati berusaha menyusut air mata Aram.,

―Dulu, dulu sekali akupun sama sepertimu Melati, Aku menganggap belajar silat hanya untuk membunuh. Tapi, sekarang aku menyesal aku tidak mempelajari ilmu silat., Orang tuaku terbunuh....Aku terlunta lunta andai aku dulu menurut

ayah ibuku aku tidak akan sekarang, dihina dan...dicaci. orang‖ dengan tersendat sendat aram berbicara. ia teringat ayah dan

ibunya....dan nasibnya..

―kau kenapa Aram?‖ sebuah suara lembut menyentak lamunannya..Aram gelagapan

―akh tidak..tidak apa apa kang sobar. , aku teringat masa lalu.

Sipengabar langit tersenyum dua tahun lebih mereka berpisah kini ia tak bisa mengenali sosok pemuda disampingnya, waktu telah mengubah perangainya ia ingat kejadian tiga hari

kebelakang....

―hey pengemis-pengemis busuk berikan uangmu!‖ bentak

seorang lelaki berewokan memakai seragam kerajaan disebuah pasar. Orang orang tak ada yang berani melarang, mereka tahu mengganggunya berarti kehilangan nyawa. Didaerah itu tak seorangpun yang tak mengenalnya ia bernama Otoy. Seorang prajurit berpangkat Komandan. Apalagi ditambah dengan konco konconya yang merupakan jago kosen dari golongan hitam

―ampun tuan.....kalau kami memberikannya .. bagaimana kami makan...‖ seorang pengemis berusia setengah baya menolak...

tubuhnya kering kerontang tinggal tulang tanda ia telah

kenyang penderitaan..

―pukulan setan raksasa beri dia pelajaran..!‖perintah Otoy pada orang yang disebelah kanannya. Orang itu adalah seorang lelaki tinggi besar dengan kepalan sebesar kepala bayi. Tanpa diperintah dua kali pukulan setan raksasa maju kedepan...plakkk tangannya melayang. Tak ampun lagi pengemis berusia setengah baya terjerembab jatuh.. mulutnya memuntahkan darah sebab beberapa giginya copot,... set pukulan setan raksasa mengangkat kaki kanannya hendak menendang pengemis setengah baya itu,

―Jangan ‖seorang anak berusia lima belas tahun memeluk

tubuh pengemis setengah baya itu,..tapi, pukulan setan raksasa manapeduli ia terus saja meneruskan tendangannya.

Tampaknya si pengemis setengah baya akan terhajar telak kena tendangan si pukulan setan raksasa, settt aaakkkkkkhhhhh

.......... teriakan melengking terdengar, Orang orang menutup mata, mengingat nasib si pengemis setengah baya. Tapi ternyata suara teriakan itu bukan berasal dari sipengemis setengah baya, tapi dari si pukulan setan raksasa, orang orang pada heran bagaimana bisa demikian...

Disamping sipengemis setengah baya berdiri seorang pemuda berpakaian warna coklat dengan rambut di kuncir kuda dengan sebuah kain berwarna biru, diatas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau, ia memakai ikat berwarna coklat muda pemuda itu tak lain adalah Aram Widiawan. Ia tersenyum tenang.

―pemuda bau kencur siapa kau? Berani sekali kau mengganggu urusanku, tak sadarkah kau berhadapan dengan siapa?‖ teriak otoy dengan bengis.

―hahaha sudahlah paman berewokan kau sudahi saja

pertengkaran ini‖ ―apa?? Sudahi jangan mimpi disiang bolong bocah...‖

―ini pagi,paman berewok‖

―berisik aku tahu, Pukulan setan raksasa, cakar iblis, taring kematian bereskan bocah bau kencur itu‖

―baik‖ sahut mereka serempak

―Sudahlah paman mereka bukan tandinganku‖

Paras ketiga konco siKomandan berubah pias, lalu dari pias menjadi kemerahan, raut wajah mereka berubah bengis.

―Jumawa sekali kau bocah, orangtuamu saja belum tentu mampu membunuhku apalagi dirimu‖cakar setan mewakili kawan kawannya.

Ketiga konco siKomandan, terkejut, ngeri, gusar, takut bercampur aduk melihat paras sipemuda. Saat berbicara tadi wajahnya tetap tenang dihiasi senyuman. Tapi kini. mereka

benar benar tak mengerti. Bukan hanya mereka yang terkejut, orang orang yang menontonpun kini tak sanggup berbicara sepatah katapun. Sipengabar langit yang mengenal Aram juga tak habis mengerti,

Wajah Aram kini tak ada lagi senyuman, wajahnya itu kini bak mayat begitu kaku tanpa perasaan, tapi anehnya wajah aram tidak pias malah kemerah merahan tubuhnya mengeluarkan asap tipis kemerah merahan matanya yang merah bersinar

menyala nyala. Lamat lamat terasa hawa yang membuat pori pori merinding, sekalipun orang yang menonton orang awam, tapi merekapun tahu apa yang terpancar dari tubuh pemuda itu, itulah hawa membunuh hawa membunuh yang paling

mengerikan didunia ini, hawa yang dapat membunuh orang yang dituju tanpa perlu bertarung.

Sipengabar langit dan ketiga konco siKomandan yang merupakan orang orang yang kenyang asam garam kehidupan tahu, itulah ilmu AURA KEMATIAN, ilmu tingkat tinggi yang paling diidam idamkan orang persilatan. Sebuah ilmu yang merupakan sebuah legenda saja, ilmu itu dapat membunuh orang hanya dengan memandangnya saja. Membunuh orang dengan tujuh lubang keluar darah. ketiga konco siKomandan sungguh tak menyangka akan merasakan sendiri ilmu itu, elama ini mereka menganggap sebuah berita isapan jempol semata.

Mereka heran darimana sipemuda dapat menguasai ilmu itu.

―Bruk...brukk...brukk..suara orang jatuh bersahut sahutan, wajah Aram kembali seperti semula, hawa membunuh perlahan lahan lenyap.....lenyap.....dan lenyap suasana pasar kini seperti

kuburan, begitu sepi. burung burungpun seperti enggan untuk

berkicau. Aram tersenyum melihat hasilnya senyumnya begitu lembut, bak sinar mentari di pagihari menyejukan siapapun yang melihatnya. Bunga bungapun seakan tersenyum mengiringi senyumannya , angin sepoi sepoi mengibarkan poninya.......