Pendekar seribu diri Jilid 01

Jilid 01

Cuaca panas, angin bertiup menyejukan raga................

Gunung Gede, bagaikan seorang gadis yang diselimuti mantel tipis berwarna hijau ke abu abuan, seolah sedang tidur nyenyak.

Semilir angin sepoi-sepoi berhembus mengibarkan rambut seorang pemuda yang berdiri diatas puncak Gunung Gede, pemuda itu berwajah tampan,

bermata bening ke merah merahan sungguh sebuah mata yang tak lazim bagi seorang manusia karena mata seorang manusia biasa tak ada yang berwarna merah, pemuda itu beraliskan sayap elang, berhidung kan paruh gagak di pertegas dengan rahang yang kokoh, bertubuh kekar berotot pemuda itu baru berusia 14 tahun.

Baju pemuda itu berwarna coklat namun penuh tambalan layaknya seorang pengemis di padukan dengan celananya yang aneh yakni yang sebelah kanan panjang semata kaki dan yang Kiri sebatas lutut

" oh.. Tuhan cobaan apalagi yang kau berikan kepadaku?" terdengar gumaman dari bibirnya yang sedang tersenyum getir, sebenarnya siapakah pemuda itu? Dan mengapa ia bergumam seperti itu? Nama pemuda itu adalah 'Aram' lengkapnya 'Aram widiawan' ia adalah seorang anak dari 'pendekar pedang pelintang jagat pembelah sagara' 'Ki Gunawan Widiawan' seorang pendekar sakti dari tanah jawa dwipa, dengan sebatang pedang ia mampu memporak porandakan perguruan pujangga nirwana sebuah perguruan sesat di lembah naraka yang dipimpin oleh seorang datuk sesat pada masa itu 'tangan neraka pembakar raga' 'deka sagara ' dan ibunya adalah 'si pengumpul ilmu tunggal jagat' 'Nyi widia seta' seorang pendekar wanita yang gemar mengumpulkan berbagai macam ilmu kepandaian baik itu ilmu Silat, ilmu sastra, ilmu perbintangan, ilmu barisan, ilmu racun maupun ilmu pengobatan.

Kepandaiannya sangat tinggi lebih dari suaminya 'pendekar pedang pelintang jagat pembelah sagara' 'Ki Gunawan Widiawan' karena ia adalah murid tunggal dari 'Dewi Pemanah Asmara' Nyi Permata Dewi', datuk dari Golongan putih.

"fyuhh !!! ayah, ibu ananda bersumpah pasti akan membalas

dendam, pasti ananda akan membunuh si Iblis langit selatan, tenangkan hati kalian mah, pah!" desisnya lirih setetes air mata jatuh ke pipinya

"itu dia" tiba- tiba terdengar suara bentakan dari belakang si pemuda

"hah...hah....hahh mau lari kemana lagi kau bocah kampret. !

cepat serahkan peta itu!" pemuda itu terkejut setengah mati melihat pengejarnya dapat menemukannya seketika ia langsung berbalik dilihatnya lima orang lelaki berbaju loreng dengan ikat pinggang dari kulit ular welang, lelaki pertama berwajah tirus mirip tikus julukannya adalah sitikus penakluk ular, yang ke dua berwajah bulat sama halnya dengan tubuhnya julukannya adalah si bulat pemakan ular, yang ke tiga berwajah segitiga julukannya adalah si kobra beracun, yang ke empat dan ke lima berwajah persis bak pinang di belah dua, orang persilatan menjuluKinya sepasang ular beracun, dalam rimba persilatan mereka dikenal dengan lima manusia ular pencabut nyawa.

"hei bocah cepat serahkan peta itu sebelum kami lumatkan nyawamu" bentak sitikus penakluk ular dengan garang," merah wajah sibocah karena mereka tak memandang sebelah matapun kepadanya

"hahaha......tidak mungKin tikus bau...!!! seorang lelaki sejati lebih baik berkalang tanah daripada menjadi seorang pengecut, huh lebih baik aku mampus daripada mengecewakan orang tuaku, kalian orang orang dewasa cuman beraninya sama anak kecil saja huh kalian itu cuman sampah sampah dunia

persilatan cisss"

merah padam wajah si tikus penakluk ular dan konco konconya dihina oleh seorang bocah yang masih kecil.

"sudahlah kang hajar saja bocah tak tau adat itu jangan banyak basa basi sebaiknya Kita bunuh saja lalu ambil petanya" ujar si kobra beracun.baru saja si kobra beracun selesai bicara tiba tiba " Bagus bocah mampuslah" bentak si bulat pemakan ular yang tak sanggup menahan amarahnya! Wushhhhh dengan

mengerahkan enam bagian tenaganya ia memukul si pemuda dengan jurus ular mematuk mangsa seKilas cahaya berwarna biru meluncur keluar dari balik ujung bajunya dan menyambar ke dada Aram. Cepat-cepat Aram memutar pergelangan tangannya menggunakan jurus sijago membalikan tangan untuk menangKis ancaman tersebut.

"duk , . ." diiringi suara nyaring beradunya kedua tangan, Aram terpental sejauh dua tombak dan muntah darah, nyata sekali tenaga dalam Aram berbeda beberapa tingkat di bawah sibulat pemakan ular, Sementara sibulat tidaklah bergeming, mengetahui si pemuda kepandaiannya masih cetek ia tertawa terbahak-bahak, dia menghimpun kembali tenaganya, lalu menerjang kemuka sambil menggetarkan pergelangan tangannya, kali ini dia menotok bagian penting di lehernya.

Aram benar benar terkejut cepat cepat ia mengelak kesamping dengan jurus monyet liar mencari buah, Tapi berhubung serangan yang digunakan oleh sibulat pemakan ular terlampau cepat, mesKi dapat terhindar dari totokan namun ia masih terkena sambaran telapak tangan sibulat pemakan ular yang beracun

'duuuukkkk!!'" akhrggg.... hoek. hoek" Aram kembali terlempar

dan muntah darah. Sungguh kasian si pemuda.. dengan menahan saKit di pundak dan nyeri di dada Aram kembali bangKit mesKi dengan sempoyongan, "aku tidak boleh mati disini, aku harus membalaskan dendam ayah dan ibu, jika ku mati disini masih adakah rasa baktiku kepada mereka.. oh tuhan !" si bocah membatin dalam hatinya

" haha... kuat juga kau bocah, ketahuilah racun ularku tidak ada penawarnya jadi bersiap siaplah untuk menghadap raja neraka hahaha....." kelima nya tertawa dengan terbahak bahak....

" kang, ayi ayo Kita bereskan bocah itu sbelum ada orang yang ikut campur urusan Kita untuk merebut peta itu" ujar si sepasang ular beracun pertama.

" mari" sahut mereka serempak " aku akan adu jiwa dengan

kalian...hhiiiiiiiaaaaaaaaaaatttttttt !!!" teriak Aram

melengKing mengalun di lereng pegunungan Gede itu. Dengan mengerahkan tenaga sakti mata darah tingkat tiga, tingkat terakhir yang dikuasai Aram ia meloncat menerjang kelima musuhnya. (Ilmu tenaga mata darah terdiri dari sepuluh tingkatan, dimana apabila sudah mencapai tingkat pamungkas atau tingkat sepuluh mata pemilik ilmu tersebut mata yang berwarna hitam atau coklat tersebut akan berubah menjadi berwarna merah darah itu sebabnya mata si pemuda atau Aram berwarna merah mesKi belum sempurna) Kelima manusia ular itu tertegun mereka tak menyangka bocah itu akan senekat itu, serempak mereka menangKis serangan Aram dengan mengeluarkan jurus andalan masing masing mesKi dengan terburu buru... 'Duuuaaaarrrrrrrrr' "akkkkkkkhhhhhhhhhhhhhhhhh"

"ukkhhg" "hoek" suara ledakan bergema memekakan telinga debu debu berterbangan... pohon pohon tumbang terhempas angin aKibat ledakan tenaga sakti tersebut... lalu suara jeritan itu suara apakah? Apa yang terjadi?

Beginilah ceritanya ketika jalur tenaga sakti yang di keluarkan oleh Aram yang berbenturan dengan kelima manusia ular, ternyata tenaga sakti yang dikeluarkan Aram sanagatlah luar biasa walaupun tenaga dalamnya masih cetek, tapi tenaga sakti tersebut sebagian mampu menerobos tenaga gabungan kelima manusia ular dan dukk tenaga tersebut melukai mereka, mereka sangat terkejut karena tak menyangka tenaga sakti tersebut mampu menerobos tenaga gabungan mereka hingga mereka berteriak kesaKitan

"uukkkhhgg" sedangkan Aram tidaklah meraih keuntungan dari bentrokan tersebut ia terlempar seperti layang layang putus benang dan muntah darah lagi dan sialnya lagi ia kebetulan jatuh di mulut jurang.

Aaaaaaaakkkhhhhh...!!!!!

Suara jeritan menyayat hati mengalun santar yang lambat laun mulai menghilang

Bagaimanakah nasib Aram widiawan sibocah yang malang? Peta apakah sebenarnya yang mereka perebutkan?

―Kang gimana ini?‖ucap si sepasang ular beracun ke dua. Sudahlah paling anak itu mati, petanya juga gak bakalan jatuh keorang lain, ayo Kita pergi Kita sembuhkan dulu luka Kita,‖ kata si tikus penakluk ular

―Cih anak sialan‖gerutu si kobra beracun

Lalu bagamana dengan Aram si bocah cilik itu?

Bagaimanapun kata pepatah orang baik selalu dilindungi tuhan begitupun yang terjadi pada Aram si bocah cilik itu Mati hidup nya ada di tangan Tuhan dan sipengarang tentunya hehe

Aram yang terjatuh dari atas puncak gunung itu merasakan tubuhnya bagaikan Kilat cepatnya meluncur turun ke bawah, semaKin lama dia semaKin terjatuh ke bawah terus.... terus....

Dikarenakan kecepatan meluncurnya amat pesat sekali ditambah tubuhnya yang keracunan hebat dan luka dalamnya yang parah saKing goncangnya dia jatuh tak sadarkan diri.

Mendadak....

tubuhnya terikat sesuatu hingga membuat daya luncurnya menjadi sediKit berkurang MungKin karena daya luncur yang begitu keras dari badannya membuat ia kembali membal keatas kemudian jatuh kembali dan begitu terus berulang ulang mungKin karena kebetulan ataukah takdirnya untuk tetap hidup goncangan tersebut mengenai beberapa jalan darah penting di tubuhnya hingga membuat ia tersadar dari pingsannya

Suatu keinginan untuk hidup meliputi seluruh hatinya, dengan cepat dia menarik hawa murninya dari pusar disalurkan ke seluruh tubuhnya dengan paksakan diri dia berusaha untuk melepaskan dari jeratan akar akar pohon besar yang melilit tubuhnya ―aku gak boleh mati‖ piKirnya mantap.setelah

berusaha seKian lama sambil menahan saKit tubuhnya akhirnya ia bisa melepaskan diri dan meluncur turun.

Byurrrr. tubuhnya terhempas kedalam air.

Sekalipun secara kebetulan tubuhnya tadi terbelit akar sehingga daya luncur badannya pun menjadi jauh berkurang ditambah pula permukaan tanah dimana dia melayang turun merupakan kubangan air tapi dikarenakan goncangan yang begitu besar dan perasaan tegang yang amat sangat menerjang piKirannya membuat dirinya begitu terjatuh kemudian jatuh tidak sadarkan diri

Entah lewat beberapa saat kemudian dengan perlahan dia baru sadar kembali dari pingsannya, dia merasakan seluruh tulang- tulang, badannya amat saKit serasa sudah pada copot, sedangkan pundaknya yang terkena hajaran pukulan telapak tangan sibulat pemakan ular yang beracun tadi Kini sudah membengkak besar.

Dengan sekuat tenaga dia paksakan diri meronta bangun, dari air menuju tempat kering akhirnya tak kuasa lagi tubuhnya sekali lagi rubuh ke atas tanah dengan amat kerasnya.

Cuaca pada saat ini walaupun berangsur angsur menjadi terang kembali tetapi keadaan di dalam jurang tersebut amat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri Suasana yang amat sunyi dan menyeramkan meliputi sekeliling tempat itu, diam-diam Aram mengeluh sendiri,

―Ooh, Aram, Aram, tidak disangka hidupmu akan seperti ini, jikalau aku tau akan seperti ini jauh jauh hari aku akan berlatih silat pada ayah dan ibu., hik hik oh ibu oh ayah tragis sekali kehidupan keluarga Kita!?‖ sebenarnya apakah yang terjadi dalam keluarganya? Kita akan terangkan dilain bagian! Mohon pembaca yang budiman untuk bersabar. Aram menangis tersedu sedu bagaimanapun ia masih seorang anak kecil mesKi jalan hidupnya tidaklah seperti anak biasanya Lewat beberapa saat kemudian dia membakar sendiri hatinya,

"Aku tidak boleh mati, aku harus menemukan tempat itu aku harus membalas dendam saKit hatiku dan kematian orang tuaku, bila aku mati bukankah semuanya akan hancur berantakan? Siapakah yang akan membalas saKit hati ini?Iblis langit selatan tunggulah pembalasanku !‖

Pada saat hatinya merasa amat gelisah dilanda perasaan dendam itulah mendadak di dalam benaknya berkelebat suatu bayangan piKirnya,

―Menurut ibu jikalau seseorang memiliKi tenaga dalam dia bisa menggunakan tenaga dalam yang dimiliKinya untuk menyembuhkan penyaKitnya sendiri, kenapa aku tidak mau coba-coba?‖

DemiKianlah secara diam-diam dia segera bersemadi, dengan bersila ia letakan tangan Kiri di depan kedua kaki jarinya membentuk hurup v terbalik di tanah seolah menyedot hawa bumi dan tangan kanan di letakan di depan matanya yang tertutup dengan jari yang sama seperti tangan Kiri seolah hendak menutuk matanya sendiri itulah semadi berlatih mempelajari tenaga sakti mata darah Aram mencoba untuk mengeluarkan tenaga dalamnya mengelilingi seluruh tubuh, untung saja hawa murninya belum buyar sehingga sesudah mengalami perjuangan yang keras dia berhasil juga menyalurkan hawa murninya keseluruh tubuh.

Dengan meapal ilmu Tenaga sakti mata darah dia terus berlatih, dengan perlahan mengulurkan hawa murninya mengerlilingi ke seluruh tubuh.

DemiKianlah sesudah ada tiga jam lamanya perasaan saKit yang menyerang seluruh tubuhnya sudah jauh berkurang, dengan cepat dia meloncat bangun dan memandang keadaan di sekelilingnya.

Tampaklah di sekeliling tempat itu hanya ada tebing tinggi nyata sekali kalau ingin keluar dari sana ia harus memanjat tebing yang seolah mendaKi langit tersebut di sekelilingnya merupakan batu aneh yang tersebar tidak merata juga kubangan air tempat ia terjatuh tadi. Rasa lapar tiba tiba menyerag perutnya ―duh celaka kenapa disaat seperti ini perutku miskol gini sialan...‖ gerutunya

Akhirnya ia berkeliling di tempat itu tiba tiba ekor matanya melihat sebuah tumbuhan yang unik lalu didekatinya tumbuhan tersebut, tumbuhan itu berwarna merah darah daunnya bergerigi yang lebih aneh lagi daunnya itu cuman satu ―wah apa ini kok warnanya merah gini? Ikh daunnya juga satu?beracun gak ya? Umh harum juga, Ah peduli amat yang penting ada buat ganjal lapar hehe!‖ mulut bicara tanganpun bekerja di cabutnya tumbuhan itu

―akh ternyata ubi hehe hore‖ krauk      kraukk dimakannya ubi itu

dengan rakusnya saKing laparnya ia tak peduli cara makannya sampai habis tanpa sisi, daun batang sampai tanahnya ia makan

―akh enak juga hehe‖ujarnya santai sambil cengar cengir namun tiba tiba ia rasakan perutnya bergolak hawa panas dari perutnya seakan memanggang tubuhnya

― akh kenapa ini? Panas panas. !!!‖ ia berteriak teriak sambil

berlari, peluh sebesar kacang kedelai membasahi jidat dan tubuhnya yang kecil bajunya yang sudah basah kuyup Kini bertambah basah jduk...! gusrak. gusrak bup

―akhh‖ keluhan kecil keluar dari mulutnya yang mungil. (sebenarnya yang dimakan Aram adalah salah satu ubi yang langka yang tumbuh seribu tahun sekali nama ubi itu adalah ubi darah api, ubi itu sangatlah beracun siapapun yang memakannya akan langsung mati dengan tubuh terkelupas hingga tinggal tulang belulang, namun dasar jodoh atau kah beruntung ia memakan batang daun dan ubinya secara bersamaan sehingga penawar dalaam batangnyapun ia makan, selain beracun ubi itu juga dapat meningkatkan tenaga dalam orang yang memakannya apabila ia seorang pesilat sebanyak 20 tahun latihan). Rasa laparnya bukan saja berkurang rasa dahaga pun Kini menyerangnya antara sadar dan tidak sadar ia melihat buah berbentuk seperti kelapa yang menggeletak di tanah tanpa memiKirkan aKibatnya ia tusuk dengan telunjuknya hingga berlobang aneh sungguh aneh, kelapa biasa biasanya kulitnya sangat keras namun kelapa ini sangatlah lembek seperti dodol, dalam keadaan biasa mungKin Aram akan merasa aneh tapi dalam situasi seperti ini mana baisa dia memiKirkan demiKian tanpa piKir ia minum airnya ajaib rasa panas nya berangsur hilang Aram sangat girang dengan keadaannya itu ia tertawa terbahak bahak dasar anak aneh

―hahahahahaha akh dahaga ku hilang, pansnya juga hilang,

apa buah itu beracun ya? Akh peduli amat yang penting aku masih hidup‖ gumamnya.

―hmmm ...kayanya daging kelapa ini enak juga ..aneh kok lembekya? Ujarnya aneh ah persetan grupz grupzz di makannya kelapa itu tanpa tedeng aling sampai habis......

―brrrrr kok tubuhku jadi dingin yah? Celaka kelapa ini beracun !!!! bruk pingsanlah Aram tak sadarkan

diri.‘.......................

(sebenarnya kelapa yang dimakan Aram adalah salah satu buah yang langka yang tumbuh seratus tahun sekali nama kelapa itu adalah kelapa uap salju, kelapa itu mengandung tenaga muzizat inti uap salju apabila ada orang yang memakannya apabila ia seorang pesilat tenaga dalmnya akan bertambah sebanyak 10 tahun latihan). Sang mentari Kini telah pergi keperaduannya digantikan sang putri malam yang bersinar lembut menerangi jagat raya

Di dalam jurang puncak gunung Gede terlihatlah seorang pemuda berusia 14 tahun tergolek pingsan. Ada yang aneh disana terlihatlah dari tubuh si bocah bersinar berwarna

merah anehnya lagi tubuhnya tampak mengeluarkan kabut/asap dalam radius lima tombak dari sibocah tanah dan rumput rumput diselimuti salju namun begitu kau masuk kedalam lingkaran tersebut kau akan merasakan dirimu terbakar seperti kau dipanggang api.

Seperminum teh telah berlalu tiba tiba tangan sibocah terlihat bergerak gerak disusul tubuh tubuh yang lainpun bergerak

―ukkhhhh‖ terdengar keluhan pendek dari mulutnya namun tiba tiba ia meloncat melambung tinggi seKitar tiga tombak gubrakkkk ia terjatuh

―wadau sialan pantatku saKit banget!! Ringisnya

―kenapa ini? Kenapa tubuhku terbakar?kok berasap? kok bersinar loh kok gak saKit?Loh kok. dan seribu pertanyaan

yang ia ungkapkan pada dirinya sendiri, ia mencak mencak seperti orang gila.

setelah agak tenang ia lihat dirinya dalam bayangan air kemudin ia terlonggong longgong melihat tubuhnya yang bertambah tinggi dan besar

―hmm.. aneh kenapa tubuhku jadi besar gini? Akh tadi juga aku bisa loncat setinggi itu ? padahal biasanya aku hanya bisa loncat setinggi satu tombak?‖ sudahlah maKin dipiKir maKin gak ngerti lagipula tubuhku maKin segar‖ ungkapnya masih terheran heran;

sebenarnya setelah ia makan ubi darah api dan kelapa uap salju terjadi pertentangan dua tenaga yang bertentangan sehingga pingsanlah ia, Aram masih belum sadar bahwa dalam tubuhnya memiliKi tenaga latihan sebanyak 35 tahun latihan,30 dari buah mukjizat dan 5 tahun hasil latihannya sendiri.

―Sudah malam rupanya,bagaimana aku bisa keluar dari sini ya? Keluhnya .

―Ekh kok ada lubang kayaknya gua deh matanya yang jeli melihat sebuah lobang Yang cukup tersembunyi dan apabila tidak diperhatikan tidak akan terlihat karena tersamarkan rumput rumput yang tinggi.

―sebaiknya aku beristirahat disana saja‖ ujarnya dalam hati, Kemudian dengan berlenggak lenggok ia masuk kedalam gua.

Setelah berbelok belok selama seperminum teh lamanya akhirnya dia sampai di ruangan yang cukup besar dengan aliran sungai membentang yang airnya mengalir dengan tenang.

Bersamaan pula dia merasa terperanjat sekali, Kiranya di dalam aliran sungai tersebut terdapat serangkaian tulang-tulang ular raksasa sebesar mangkok yang berserakan didasar sungai. diam-diam piKirannya berputar;

―Huuu sangat hebat sekali ular ular ini jika masih hidup tentu

tubuhnya sebesar gentong air tapi kenapa ia sudah binasa di situ?" mendadak pandangannya terbentur dengan sesuatu yang amat mengejutkan hatinya tak tertahan lagi dia menjerit kaget.

Terlihatlah dari sudut gua yang cukup luas itu memancarlah keluar sebuah sinar berKilauan yang amat terang sekali, bahkan terasa segulung demi segulung hawa dingin yang menusuk tulang dan rasa panas yang membakar silih bergantian.

Di tengah gua itu terdapatlah tiagabuah benda yang memancarkan sinar kemerah merahan, kekuning kuningan dan keperakperakan yang meNyilaukan mata diatas tiga butir benda tersebut tergantunglah dua buah mutiara yang memancarkan sinar berkedip kedip setelah dipandangnya lebih teliti dia baru bisa melihat keadaan di dalam gua itu sejelas jelasnya.

Bagaimanapun Aram widiawan masihlah seorang bocah Kini melihat tiga buah benda yang memancarkan sinar amat terang timbullah niatnya untuk mengambil dan memakannya lalu dihampirinya tiga buah benda tersebut sekedar untuk melihat lihat, namun tiba tiba

―jduk..... gusrakk. ‖‖batu sialan tuanmu kau jegal dasar

brengsek pada saat memaKi mak itu, "Sreet " tiga buah benda

tersebut menjadi asap dan terhisap masuk ke dalam tenggorokannya. Perasaan terkejutnya bukan kepalang cepat- cepat dia pentangkan mulutnya lebar-lebar berusaha untuk mengeluarkan kembali, siapa sangka keadaan sudah terlambat. Diam diam ia berkeringat dingin

―celaka empat belas kali ini aku benar benar akan mati‖ setelah menunggu seKitar satu kentungan namun tidak ada reaksi apapun hatinya bergirang, Diedarkanlah pandangan matanya melihat kondisi dalam gua tersebut. Di dalam gua itu terdapatlah meja kursi dan barang-barang lain dari batu yang masih sempurna, dia atas sebuah pembaringan batu duduk bersila seorang kakek tua yang wajahnya sudah berkeriput dengan rambut keperakan, ia duduk bersila dengan tenangnya seolah tak menghiraukan keadaan di seKitarnya. Aram heran bagaimana didalam jurang yang dalam itu terdapat seorang kakek kakek.

Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya siapa kakek tersebut, daripada )pelan pelan ia mendekatiia kesepian disana (bilang aja takut pembaringan si kakek tua.

―kek, kek, kakek ini siapa?‖ hening tiada jawaban. Diulang ulangnya beberapa kali namun sikakek tetap diam, digoyangkanlah tubuh sikakek ‗kaku‘ perasaan gak enak mulai merayapi tubuhnya kemudian ia memeriksa pernapasan sikakek,

Aram terkejut

‘hah . . . gak bernapas‘ ―hiy mayat‖ ujarnya pelan, bulu kuduknya merinding dengan mengerahkan segala keberaniannya ia

memeriksa kembali mayat si kakek. Saat ia menengok kepangkuannya terlihatlah sebuah Daun lontar yang biasa digunakan untuk tulis menulis. Karena penasaran diambilnya daun lontar itu dan iapun mulai membacanya.

― Aku adalah Pandu Permana Orang rimba persilatan memberiku gelar Sirubah seribu Wajah pada masa ku, aku memiliKi serangkaian ilmu siasat, ilmu silat, ilmu meringankan tubuh dan ilmu menyamar yang tiada tandingannya di dunia. Namun semaKin tinggi pohon angin akan bertiup semaKin kencang. Akhirnya golongan hitam dan golongan putih berusaha untuk membunuhku, karena beranggapan jikalau aku berbahaya bagi keselamatan rimba persilatan.

Dalam keadaan kecewa aku lantas mengasingkan diri disini dan bersumpah tidak akan terjun kembali ke dalam Bulim. Sekalipun aku berhasil melatih ilmu ilmuku mencapai pada taraf yang paling tinggi tapi manusia tidak seperti malaikat yang tak akan mati, pada beberapa hari ini hatiku mendadak terasa amat kacau dan sadar saat ajalku sudah hampir tiba. Meninggal dunia bukanlah suatu peristiwa yang patut disayangkan, tapi tidak memperoleh seorang penerus ilmuku membuat hatiku merasa amat susah sedih apakah Tuhan tidak menghendaKi ilmu

ilmuku muncul kembali di dalam dunia persilatan?

Bilamana pada kemudian hari ada orang yang beruntung masuk ke dalam gua ini harap mau menguburkan tubuh tuaku ke dalam tanah disamping pembaringanku ini, atas jasa itu Kitab yang ada di atas meja boleh diterima sebagai balas jasa. ‖

tertanda.

Sirubah seribu wajah

Selesai membaca surat itu dalam hati Aram Widiawan segera merasa geli piKirnya, ―Untung saja kau kakek tua sudah bertemu dengan aku, jikalau berganti dengan orang lain sesudah mereka mengambil Kitabmu kemudian tidak mau perduli untuk menguburkan kerangkamu bukankah kau tidak bisa berbuat apa apa? Hahahaha ‖

BerpiKir sampai disitu segera dia angkat kepalanya memandang, terlihatlah disamping Kiri memang terdapat tanah yang cukup gembur luas tempat tersebut tidak lebih cuma lima depa saja.

Sambil celingukan mencari alat menggali ia berfikir

―hari sudah larut malam lebih baik aku tidur ajah akh, besok baru aku kuburkan‖ tanpa piKir lagi ia langsung mencari tempat yang kering dannyaman tak lama kemudian terdengarlah helaan nafas yang teratur. (dasar bocah).

~*******0<aone>0********~

Semilir angin dingin membasahi kulit

Ilalang menari terbuai sahdunya semilir angin Sang raja siang mengintip malu di ufuk timur Bumi masih menguap temaram

Didalam goa di dasar jurang terlihat seorang pemuda sedang bersusah payah menggali tanah dengan sebilah pedang yang cukup panjang, pedang itu ia temukan di sebelah kanan pembaringan, dalam sarung pedang itu tertulis pedang ekor rubah. Seperanakan nasi kemudian terbentuklah sebuah lubang yang cukup dalam.

―akhirnya selesai juga‖ keluhnya, dengan hati hati ia mengangkat tubuh sikakek, sreet. trak trak tiba tiba suatu benda jatuh dari

saku si kakek, Aram widiawan yang membopong tubuh si kakek tak mempedulikan benda itu ia terus saja memasukan tubuh sikakek dan menguburnya., setelah semua beres ia menghampiri benda yang jatuh itu dan mengambilnya, ternyata itu adalah sebuah botol kecil, dengan langkah kecil ia menghampiri kembali pembaringan dimana tadi sikakek duduk bersemadi. Terlihatlah disamping Kiri dari pembaringan batu itu terdapat sebuah meja batu yang di atasnya bertumpuk Kitab Kitab tebal. Selain berisikan Kitab siasat, sejarah, syair dan buku lainnnya masih ada pula Kitab Kitab ilmu silat dari setiap partai yang ada di dalam dunia persilatan bahkan beberapa Kitab terdiri dari bahasa asing.

Dengan hati yang mantap dia membuka salah satu dari Kitab itu, dalam sampulnya Kitab itu bertuliskan Kitab silat rubah mencuri Kitab dalam hatinya Aram widiawan merasa geli dengan nama Kitab tersebut, ternyata kitab itu berisi jurus ilmu ilmu dari rimba persilatan tanah jawa terlihatlah dalam Kitab itu penuh bertuliskan jurus jurus mana yang paling lihay dan jurus apa untuk memecahkannya, jurus mana yang ada kelemahannya dan bagaimana cara menutupnya kembali semuanya tertuliskan dengan jelas sekali.

Tak terasa lagi dengan perasaan amat kagum pujinya,

―Orang tua ini sungguh seorang aneh, cukup dalam hal ini saja sudah jarang ada orang yang menandingi dirinya.‖

Perlahan-lahan dia meletakkan kembali Kitab itu dan melihat Kitab Kitab yang lain, dibolak baliknya Kitab itu dan membaca nama nama sebagian Kitabnya Kitab tersebut adalah Kitab rubah bersiasat, Kitab silat rubah, Kitab langkah rubah Kitab selaksa rubah menjadi bayangan,Kitab rubah mengkamuflase diri dan sebagainya.

Tiba tiba ia terbelalak melihat sebuah Kitab ―Kitab sakti penguasa ilmu hitam‖ desisnya dengan setengah bergetar ia membuka halaman pertama disana ada tulisan tangan yang tak asing bagi Aram widiawan ―Kitab ini aku temukan di gunung himalaya semasa aku muda dulu, dengan mempelajari Kitab ini aku bisa mempelajari berbgai ilmu hitam tanpa melakukan suatu ritual ataupun tumbal,Kitab ini menerangkan bagaimana cara mempelajari ilmu hitam dengan cara jalan lurus‖

Tertanda sirubah seribu wajah

karena seluruh perhatiannya sudah tercurahkan pada ilmu ilmu rahasia yang aneh dan sakti yang termuat Kitab tersebut tak terasa lagi dia segera menggerak gerakan tangannya mulai belajar. Saat ini dalam tubuhnya mengalir tenaga dalam dari ubi darah api, kelapa uap salju dan tiga buah inti alam yaitu initi matahari, inti air dan inti petir membuat piKirannya semaKin tajam. DemiKianlah setiap hari Aram widiawan berlatih dengan amat gesitnya mempelajari seluruhan isi dari Kitab pusaka itu

Dalam rimba persilatan terdapat delapan datuk ilmu silat yang biasa dipanggil datuk delapan penjuru tiga orang dari golongan putih yaitu datuk dari barat kyai jalak atau pendekar burung jalak, datuk dari barat daya 'Dewi Pemanah Asmara' Nyi Permata Dewi,datuk dari barat laut nyai dewi renjani atau biasa dipanggil bidadari penakluk naga, dua orang dari golongan merdeka yaitu datuk dari timur Kiai asmaradanu atau sisinting dari timur dan datuk dari selatan sipemabuk dari selatan. dan tiga orang dari golongan hitam datuk dari utara Ki sapta si Iblis pembunuh raga, datuk dari tenggara Ki seta atau Iblis pemakan jantung dan datuk dari timur laut Ki Renjana Iblis Tengkorak Mas.

Selain para datuk dari kaum kelana. juga terdapat jagoan dari lima perguruan besar di tanah jawadwipa antara lain Nyi Sawitri dari perguruan teratai putih, Ki jalu dari perguruan rajawali emas, Ki ngarai dari perguruan bintang kemukus, Ki Aram dari perguruan pedang bumi dan Ki bedu dari perguruan golok harimau.

Siang itu di sebuah kedai trdengar ramai beberapa orang sedang berbincang bincang di sudut ruangan terlihatlah dua orang yang sedang berbicara dengan serius dan sediKit keras

"kang deno kabarnya Ki jalu ketua perguruan rajawali emas dan Ki ngarai ketua perguruan bintang kemukus telah tewas! Benar gak kang?"

"Set !!! ayi edo jangan terlalu keras, nanti kau bisa celaka"

bisik lelaki yang di panggil kang deno. Namun beberapa tamu tak urung mendengar juga apa yang dikatakan oleh edo.

Ributlah tamu tamu yang mendengar itu, beberapa argumen dan pendapat mereka keluarkan.

Brrakkkkk. !!! tiba tiba seorang lelaki kekar berwajah sangar

penuh brewok dengan pedang di punggung menggebrak meja, kemudian mendekati kedua orang yang saling bisik bisik tadi

"hey kaum keroco cepat katakan siapa yang berani membunuh Ki jalu ketua perguruan rajawali emas dan Ki ngarai ketua perguruan bintang kemukus? Jangan membual kau !!! "

bentaknya sangar.

"ampun ...! ampun...! tuan saya tid......tidak membual. saya tau

kabar itu dari si pengabar langit, kabarnya mereka ditemukan sudah tewas tanpa kepala dan ditempat mereka tewas terdapat panji kecil bergambar telapak tangan dengan disulam benang perak" "apa?" Lelaki itu terlonggong longgong

"oh... kakang? Gerrrmmmm siapakah yang membunuhmu? Pasti akan kucari siapa pembunuh mu itu panji kecil ya hanya itu

yang bisa dijadikan petunjuk." Ujarnya berapi api hawa membunuh tampak diwajahnya. Sebenarnya si lelaki kekar itu adalah adik seperguruan Ki jalu ketua perguruan rajawali emas, pendekar rajawali peKikan harimau dan siapakah sipengabar langit itu? Kita akan ceritakan dibagian lain cerita ini.

Sementara pengunjung kedai bertambah gempar bahkan beberapa orang malah menghubungkannya dengan pembunuhan keluarga dari 'pendekar pedang pelintang jagat pembelah sagara' 'Ki Gunawan Widiawan dan istrinya 'si pengumpul ilmu tunggal jagat' 'Nyi widia seta'. Selang beberapa hari saja kematian para ketua perguruan terkenal kesegala penjuru, tak lupa panji kecil bergambar telapak tangan dengan disulam benang perak juga menjadi bahan pembicaraan para kaum persilatan dan menjadi momok yang paling ditakuti pada zaman ini

~*******0<aone>0********~

Malam yang dingin dan gelap karena sang putri malam tidak muncul di peraduannya

"wuuusshhhhh " tiga sosok bayangan berwarna hitam

melesat seperti bayangan hitam ke sebuah rumah yang cukup besar di daerah kotaraja padjampangan. "ayah...! ayah ada apakah? Kenapa aku harus sembuNyi disini?seorang gadis cilik berusia Kira Kira tiga belas tahun bertanya terheran heran apalagi ia melihat ibunya menangis sedih dengan terisak isak

"ketahuilah wahai anakku keluarga Kita sedang berada diujung tanduk, sudahlah anakku engkau belum saatnya untuk mengetahui,usiamu masih dini untuk mengetahuinya. Anakku Kita tidak punya banyak waktu ini ambilah, ingat jangan sampai engkau berikan kepada orang lain engkau boleh membukanya apabila engkau sedang dilanda kesedihan yang dalam, engkau paham anakku?" ayahnya menyerahkan sebuah bungkusan yang cukup besar kepada anaknya

"ya ayah, ananda paham."

"Masuklah lekas anakku ibumu mencintaimu" timpal ibunya dengan penuh kasih sayang seraya mencium keningnya.

Kemudian kedua suami istri paruh baya itupun pergi keruang tengah dan mulai bercakap cakap

" tak kusangka aku Ki nanjar si rasul cambuk bumi harus pasrah menunggu kematian, wahai istriku maafkanlah daku sehingga melibatkan engkau sungguh aku merasa malu" dengan getir Ki nanjar berusaha untuk tersenyum kepada istri tercintanya mesKi hanya sebentuk garis yang sediKit melengkung keatas.

"tidak apa apa kang mesKi aku tidak bisa ilmu silat, namun aku ingin selalu bersama denganmu, pahit manis Kita telan bersama- sama" "hahahah.... bersiaplah menghadapi kematianmu nanjar. aku

datang untuk mencabut nyawamu" tiba tiba saja sebuah suara yang tajam menusuk memotong ucapan Nyi elas.

Brakkkkkkk...... genting rumah Ki nanjar ambrol set. tiba-tiba

muncullah tiga sosok manusia berpakaian hitam dengan gambar telapak perak di dada mereka, wajah mereka tidaklah jelas karena mereka memakai topeng berwarna perak.

"huh tak semudah itu pengecut-pengecut bertopeng tunjukan

wajahmu jika engkau memang seorang ksatria!!" damprat Ki nanjar yang merasa geram dengan kehadiran mereka,

" nanjar sudah siapkah engkau menuju neraka?" sahut si lelaki bertopeng yang berada ditengah, adalah mungkin ialah pemimpin rombongannya

"kalian jumawa sekali jahanam justru kalian lah yang akan menghadap raja neraka"balasnya sengit dengan nafsu membunuh menghiasi wajahnya "kalian berdua Kita lakukan sesuai rencana, dan kau nanjar kau hanya calon penghuni neraka jadi jangan banyak bacot tak berguna sreeng.

hiaaaaaaaaaattttttt" pemimpin dari rombongan manusia bertopeng mencabut pedangnya dan meloncat dengan gaya burung pipit kembali ke sarang, mendapat serangan mendadak, Ki nanjar sebagai jago yang sudah malang melintang di dunia persilatan tak membuatnya gugup dengan cepat menyambar cambuk saktinya dengan merapal jurus sabetan halilintar 'wwuuuukkkkkkk' 'traannnnggggg' lelatu api bertebaran aKibat bentrokan dari cambuk dan pedang. Cepat cepat si lelaki bertopeng mundur dengan bersalto tigakali di udara diam diam lelaki bertopeng itu berpiKir dalam hatinya

"ternyata cambuk si bangkotan tua terbuat dari besi lemas, aku harus berhati-hati apalagi tenaga dalamnya juga lumayan tinggi". Kinanjar yang mendapatkan angin segera mengalirkan tenaga dalamnya kedalam cambuk dan merapal jurus perisai naga petir menyambar jurus itu merupakan jurus pertahanan sekaligus menyerang yang hebat jika ada airpun jangan harap masuk kedalam lingkaran yang diciptakan Ki nanjar, suara cambuk yang mengaung juga memberikan efek bagi lawan karena mengandung daya magis. Lelaki bertopeng terkejut mendapat serangan yang luar biasa itu dengan cepat menangKis dengan jurus pedang Iblis telapak perak

"trang.....duarrrrr. " jurus demi jurus telah mereka keluarkan

tak terasa mereka sudah bertarung sebanyak seratus duapuluh lima jurus,peluh membasahi jidat Ki nanjar tiba tiba buukkkk ia terkejut ternyata ia dibokong oleh lelaki bertopeng yng lainnya karena gugup srraaaaaattttt bluk kepala Kinanjar jatuh kebumi disusul oleh tubuhnya.,

"kakaaaaannnggggggggg"jerit Nyi elas sret jraasssshh sebuah pedang telah menusuk punggungnya tembus kedada srattt tiba tiba lelaki bertopeng itu mencabut pedangnya sekaligus memenggal kepala istri Kinanjar sungguh sadis.. jerit kematian bergema dimalam yang sunyi, api berkobar membakar rumah Kinanjarrr................................................. Keesokan paginya warga gempar, tak ada satupun keluarga dan bujang Ki nanjar yang selamat. yang tertinggal Kini hanya

puing puing rumah dan mayat yang terbakar. juga sehelai panji

kecil bersulam telapak tangan berwarna perak Kini dalam

rimba persilatan telah muncul organisasi rahasia yang menjadi momok yang menakutkan bagi para pendekar., siapapun pendekar yang mendpatkan panji kecil bersulam telapak tangan berwarna perak setangguh apapun maka keesokan harinya ia akan menjadi mayat tanpa kepala.

Orang menyebut panji itu PANJI TELAPAK PERAK PEMBURU NYAWA...

Lalu bagaimana nasib si gadis cilik? Selamatkah ia?

Detik terus mengalir menghanyutkan menit dan menggulirkan jam

Hari berganti hari Purnama berganti Purnama Entah berapa purnama telah berlalu Menjadikan seorang anak saksi bisu

Dua tahun telah berlalu Kini Aram widiawan sudah berusia enam belas tahun tubuhnya bertambah besar dan tinggi, karena ia tak pernah keluar dari goa dan hanya memakan buah buahan dan rumput-rumputan kulit tubuhnya menjadi putih dan halus mirip kulit seorang perempuan,dengan rambut sepundak riap riapan terbawab angin matanya Kini berwarna merah menunjukan tenaga sakti mata darahnya telah mencapai tinkat sepuluh. Kitab Kitab yang berada didalam guapun telah dilalap dan dihapalkannya diluar kepala tinggal mematangkan dan pengalamannya saja.

"duapuluh empat purnama telah lewat aku harus keluar dari sini." PiKirnya dalam hati. Kemudian ia mengambil pedangnya pedang yang ia temukan dulu sewaktu mengubur kakek tua penghuni gua sebelumnya, hanya pedang itu harta yang dimiliKinya bajunyapun Kini hanya mampu menutupi auratnya saja. Dengan secepat Kilat ia keluar dari gua menuju tempat dulu ia jatuh. . . cahaya matahari remang remang menyinari permukaan jurang

"aih aku rindu keramaian" dilihatnya sebuah batu dibawah pohon teureup yang menjulang tinggi didasar jurang

"lebih baik aku istirahat dulu disana" pikirnya sambil melangkah tak lama kemudian ia telah duduk di atas batu tersebut., plukk....

sebuah benda dan selembar Kulit hewan jatuh dari celananya yang sudah ancur. Aram widiawan terkejut karena selama ini ia melupakan keberadaan benda itu kemudian diambilnya, benda tersebut adalah sebuah botol kecil berisi pil yang dulu ia temukan dari saku si kakek sedangkan Kulit hewan itu adalah sebuah peta, ya peta yang dulu hampir merengut nyawanya.

Sambil menatap peta tersebut piKirannya menerawang......

~*******0<aone>0********~ Desa Kijing

Disebuah desa kecil yang subur itulah Ki Gunawan Widiawan dan Nyi Widia Seta mengasingkan diri dengan seorang anak tunggalnya Aram widiawan menjelang senja Aram widiawan pulang dari mainnya ia tengah keheranan melihat ayah dan ibunya murung

"pah mah, ananda pulang,... pah, mah kenapa kalian terlihat sedih seperti itu ? apakah karena ananda tidak mau belajar ilmu silat dan hanya mau mempelajari sastra dan tenaga sakti mata darah?" Aram widiawan bertanya dengan keheranan

"duduklah anakku, betul apa yang kamu katakan anakku ayah dan ibumu sangat mengkhawatirkan dirimu yang tak bisa silat, kami takut engkau menderita" ujar ayahnya dengan memelas., Aram widiawan yang masih bocah berusia tigabelas tahun kebingungan bagaimanapun ia masih belum mengerti ucapan ayahnya karena faktor usianya yang masih kecil.

" sudahlah kang biarkan saja ia membersihkan diri dulu supaya ia lebih segar'' ibunya menyela pembicaraan di senja hari itu.

Malam harinya terlihatlah tiga orang manusia berbeda jenis dan usia sedang asik mengobrol mesKi wajah mereka terlihat muram

"Anakku tahukah kamu mengapa kami memanggil mu?"tanya Ki Gunawan Widiawan memecahkan kesunyian diantara mereka.

"tidak ayah" tahukah kau tentang si Iblis langit selatan?" "tidak ayah,apakah dia orang jahat ayah?" "ya anaku dia adalah seorang Iblis maha keji, kekejiannya lebih dari tiga datuk golongan hitam""lalu apa hubungannya dengan Kita ayah?"

"sangat erat anaku,bu ambilkan barang itu!"

"baik kakang" sahut Nyi widia seta sambil melangkah kekamarnya diiringi tatapan bingung Aram widiawan, tak lama munculah ibunya dengan membawa sebuah Kitab tipis yang tampak kuno.

"Aram anakku ini adalah peta tempat penyimpanan Kitab ilmu milik ibu, ayah nenek dan eyang gurumu. . . ambilah, dan hapalkan Kitab ini kelak akan berguna bila sudah kau hapal bakarlah. Jangan kau serahkan peta ini kepada siapapun ... ingat Aram ... apakah kau mengerti?"

"ya ayah, tapi. "

"tapi apa Aram anakku?"ananda belum mengerti mengapa ayah memberikannya pada ananda"

"fyuuuuhhhhhh"Ki Gunawan Widiawan menghela nafas dalam dalam, Nyi widia seta tertunduk air matanya mengalir bak sungai ciawi.

"Aram anaku ayah dan ibumu tidak bakalan lama lagi hidup di dunia fana ini. " Ki Gunawan Widiawan berhenti sejenak untuk melegakan dadanya yang sesak " ayah ibumu terkena racun langit yang tidak ada penawarnya, ayah dan ibumu masih hidup berkat tenaga dalam kami yang cukup tinggi itupun hanya mampu bertahan paling delapan hari." Aram widiawan sangat terkejut mendengar perkataan ayahnya ia benar-benar sock mendengar berita itu, ia langsung menangis tersedu sedu.

"anakku kau sayang kami?"Aram widiawan tertegun mendengar pertanyaan ayahnya yang tiba tiba dan tegas tidak seperti biasanya itu

"an.....annanda sayang ayah juga ibu hik...hikkkk" jawabnya disela sela isak tangis.

"jikalau kau sayang kami berhentilah menangis, dan sanggupkah kau melaksanakan keinginan kami?" Ki Gunawan Widiawan melanjutkan ucapannya tanpa menunggu jawaban anak semata wayangnya itu

"kami minta kau malam ini menghapalkan dan memahami Kitab itu besok ayah akan mengujimu! pergilah kekamarmu dan hapalkan juga pahamilah!""ia ayah" sahutnya seraya bangKit dan pergi kekamarnya.

Malam ini ia tak bisa tidur, perlahan lahan ia buka Kitab tipis itu Kitab itu hanya terdiri dari lima halaman, sampulnya tertulis Kitab penyat. lam hanya itu yang mampu ia baca karena sebagian

Kitab itu sobek. Halaman pertama tertulis " Satu adalah seribu Seribu Adalah satu"

Halaman kedua tertulis "Semua berawal dari Satu maka kembalilah menjadi satu"

Halaman ketiga tertulis "panas dan dingin akan menjadi mengerikan apabila telah menjadi satu"

Halaman keempat tertulis "satu adalah sumber sumber adalah kekuatan"

Halaman terakhir tertulis "kekuatan adalah kosong kosong adalah diam"

Ia benar benar bingung mesKi ia mempelajari sastra tapi barukali ini dia melihat Kitab seaneh ini. Karena lelah akhirnya ia memutuskan untuk tidur.

Malam semaKin larut..........

Membuai makhluk makhluk yang terlelap Diiringi nyaNyian malam...........................

Drap drap drap plok plok terdengar suatu derapan langkah kaki kuda mendekati desa dan terus melaju namun tiba tiba berhenti di depan gubuk Ki Gunawan Widiawan widiawan. Ki Gunawan Widiawan dan Nyi widia seta yang tengah bersemadi langsung membuka mata keringat dingin mulai mengucur, jika dihari biasa mungKin mereka tak akan segelisah ini tapi saat ini, ketika mereka tengah keracunan hebat tenaga dalam pun hanya mampu digunakan setengah bagian mereka benar benar khawatir terutama mengingat nasib anak semata wayang mereka

"Nyi lekaslah engkau sembunyikan anak Kita...! lekas lah !... "

duarrrrrrrrrr...,brakkkk terdengar hancurnya pintu rumah Ki Gunawan Widiawan terkena sebuah pukulan tenaga dalam

"set set tiga bayangan melesat kedalam rumah

"hey siapa kalian datang datang menghancurkan pintu rumah orang?dan ada keperluan apa?"ki gunawan membentak, yang dibentak hanya tertawa dingin seraya menjawab

"Ketahuilah aku Iblis langit selatan menginginkan nyawamu dan hendak meminta suatu barang hahaha cepat serahkan peta

itu!" ternyata yang datang adalah lelaki setengah baya wajahnya sangar dihiasi kumis yang melintang rambutnya berwarna merah aKibat ilmu yang di pelajarinya tenaga sakti selasa racun langit, dialah si Iblis langit selatan dan dua bayangannya lagi ternyata adalah seorang pemuda berusia sekitar duapuluh lima tahunan memakai baju biru, seorangnya lagi adalah wanita berusia dua puluh tiga tahunan, mereka adalah murid si Iblis langit selatan

"peta?peta apa? Jawab Ki Gunawan Widiawan berlagak pilon."gerrr disaat seperti ini kau masih berlagak bloon, sepertinya kau perlu diajar adat keparat..!"

serrrr tanpa peringatan apa apa Iblis langit selatan menyerang dengan merapal jurus pukulan racun selatan tingkat tiga, bau amis menyebar Kira Kira tiga tombak dari arena pertarungan. Ki Gunawan Widiawan yang melihat si Iblis langit menyerangnya dengan tanpa peringatan membuatnya gusar cepat ia salurkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh dan mencabut pedangnya dengan menyalurkan tenaga dalamnya kedalam pedang, kemudian merapal jurus menggulung ombak samudra dari rangkaian ilmu pedang pelintang jagat pembelah sagaranya. . set Iblis langit membatalkan serangannya karena ia harus menyelamatkan diri dari tebasan pedang yang menuju lehernya.

.Iblis langit merasa kagum juga kepada lawannya dalam keadaan keracunan ia masih mampu bertarung hampir seimbang dengannya.

Ratusan jurus telah mereka keluarkan, ruangan tamu Ki Gunawan Widiawan telah porak poranda terhempas angin aKibat pertarungan mereka tiba tiba hoek Ki Gunawan Widiawan muntah darah ternyata ia terlalu memforsir tenaganya ia lupa bahwa ia sedang keracunan hebat.

"krek aaakkkkhhhh " Ki Gunawan Widiawan menjerit karena tiba tiba murid lelaki Iblis langit selatan menyergap dan mematahkan tulang kaki nya.

"keparat kau, membokong orang dengan pengecut" teriak Ki Gunawan Widiawan , sipemuda berbaju biru tertawa dingin dan

''krek. aaakkkhhhhrrgg''

"berani sekali lagi kau memaKiku ku patahkan seluruh tulangmu ! dengan bengis ia tendang Ki Gunawan

Widiawan sampai mencelat "bruk" tubuhnya menimpa meja sampai hancur berkeping keping saKing kerasnya tertimpa tubuh Ki Gunawan Widiawan.

Bukannya jerih Ki Gunawan Widiawan malah memaKi lebih pedas, wajahnya merah menatap Iblis langit selatan dengan kebencian yang memuncak

"Iblis langit pengecut, beraninya cuman keroyokan dan membokong ayahnya pengecut tukang pemerkosa, penjilat ,

anaknya apalagi. " merah padam Iblis langit dikatain ayahnya

seorang pengecut,tukang pemerkosa dan penjilat sret ia mencabut gada emasnya wukkkk dipukulkannya gada emasnya kearah kepala Ki Gunawan Widiawan , gada emas Iblis langit selatan tampaknya akan menghancurkan kepala Ki Gunawan Widiawan tinggal sejengkal lagi mengenai ubun ubun Ki Gunawan Widiawan tiba tiba

trang sebuah pisau terbang menyambar gada emasnya. Iblis

langit selatan terperanjat melihat sebuah pisau mampu menahan gada emasnya diam diam dia berfikir

" hebat juga tenaga dalamnya tampaknya rencana malam ini akan banyak halangan"

"kakaaaanggggg" suara merdu melengKing dikesunyian malam yang gelap ini, tanpa menghiraukan keadaan seKitarnya Nyi widia seta meloncat memeluk suaminya tiba tiba ia merasakan ada desiran halus dibelakangnya "celaka senjata rahasia" Nyi widia seta menghindar tapi jrubb beberapa jarum menembus kulitnya yang mulus. Bruk Nyi widia seta terjerembab jatuh kemudian merangkak meendekati suaminya, sambil menangis Nyi widia seta berkata

"kangmas mesKi Kita tak dilahirkan dalam waktu yang sama tak Kita sangka Kita akan mati didalam waktu yang sama" Ki Gunawan Widiawan tersenyum mendengar ucapan istri tercintanya itu. Ia tak berbicara hanya tatapan mata dan gerak tubuh menyatakan kebahagiaannya , nafas mereka semaKin lemah dan lemah putuslah nyawa mereka.

"Geledah rumah ini cari peta itu juga anak mereka Kita harus membasmi sampai keakar akarnya jangan sampai Kita memelihara anak harimau" tegas ucapan Iblis langit selatan, bukan omong kosong jika ia dimalui oleh orang orang persilatan.

Akhirnya mereka menggeledah rumah Ki Gunawan Widiawan tapi naas peta maupun anak Ki Gunawan Widiawan tak mereka temukan SaKing marahnya merekapun membakar rumah Ki Gunawan Widiawan . Fajar telah meNyingsing suara telapak kuda berlari semaKin jauh tak terdengar. akhirnya para

warga pun keluar dan berbondong bondong menuju rumah ki gunawan untuk melihat musibah yang menimpa keluarga Ki Gunawan Widiawan, sebenarnya para wargapun mengetahui musibah keluarga Ki gunawan widiawan itu terjadi semalam hanya saja mereka tahu jika ingin menolongpun hanya akan menjadi korban sia sia. Lalu bagaimana dengan Aram widiawan putra Ki Gunawan widiawan Saat Ki Gunawan Widiawan menyuruh Nyi widia seta menyelamatkan anak semata wayangnya cepat cepat nyi widia seta masuk kekamar anaknya, diciumnya kening Aram dengan penuh kasih sayang, set tuk tiba tiba nyi widia seta menotok

jalan darah tidurnya.

Tanpa babibu lagi nyi widia seta memanggul anaknya kemudian berlari kebelakang rumahnya dengan mengerahkan ilmu peringankan tubuhnya sekejap saja ia telah berada di bukit belakang rumahnya.

Diletakannya tubuh Aram widiawan di salah satu rumput yang agak tebal dibelainya rambut panjang anaknya itu

''nak, jadilah anak yang berguna, ibu menyayangimu" pluk airmata ibunya jatuh di pipi Aram.

Tiba tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara pertarungan didalam rumahnya cepat cepat ia berlari dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya, sesampai disana betapa terperanjatnya ia melihat suaminya terancam bahaya disambarnya pisau dapur yang kebetulan menggantung di dinding sebelah kirinya, dengan mengerahkan tenaga dua belas bagian ia melemparkan pisau dapur yang diambilnya barusan dengan merapal jurus bidadari memberi berkah. Dan kelanjutannya seperti apa yang diketahui oleh pembaca.

Suara kokok ayam menjadi tanda pagi telah menjemput, dengan malu malu sang mentaripun terangi jagat raya semilir angin membelai lembut pepohonan dan rumput. dilereng bukit cikijing tampak seorang anak usia tiga belas tahunan terbaring lemah, pelan pelan ia membuka matanya ia kebingungan karena saat ini ia berada dilereng bukit bukan berada dikamarnya.

Dengan berlari lari kecil kecil ia pulang kerumahnya, sesampai si halaman rumahnya ia malah diam berdiri matanya terbelalak kaget mengetahui jikalau rumahnya tinggal puing puing. Tiba tiba pluk ada tangan yang memegang pundaknya

"nak Aram sabar yah" dengan cepat cepat ia berbalik "paman Ardi...!!! apa yang terjadi? Dimana ayah dan ibuku?"

"sabar anakku marilah engkau ikut kerumah paman, nanti paman akan menceritakan semuanya" akhirnya bayupun mengikuti Ki Ardi ke rumahnya sesampainya disana Aram serasa terbang arwahnya melihat ayah ibunya terbujur kaku bersimbah darah, gubrakkk saking tergoncang perasaannya Aram widiawan pun pingsan. Ki Ardi hanya bisa menghela napas berat melihat Aram pingsan, tak begitu berselang lama Ki Ardi beserta para warga pun segera menolong Aram dan membaringkannya di kamar.

Dua kentongan telah berselang akhirnya Aram siuman "mah....pahhh kenapa kenapa kalian meninggalkan ananda

sendiri.... Hik..hikkk. ! akhirnya ia berusaha bangun untuk

melihat saat saat terakhir wajah orang tuanya. Setelah masuk keruang tengah ia pandangannya tampak olehnya, keadaan dalam rumah pamannya, warga warga sedang mempersiapkan pemakaman orang tuanya, mayat orang tuanya sekarang terbaring dalam keadaan bersih meski ada setitik dua titik noda darah, tampaknya baru di bersihkan, bukan main sedih dan terharu hatinya. Aram jatuhkan diri di samping jenazah orang tuanya. otaknya berputar, memikirkan hidupnya yang seterusnya tanpa orang melindungi dirinya.

Air matanya mengembang, sakit hatinya, tangannya dikepalkan.

"Aku akan membalas dendam akan kematiannya kedua orang tuaku! Akan kucari tempat yang di katakan ayah, tunggulah pembalasanku" ia berjanji dalam hatinya , matanya beringas dan tangannya dikepal-kepalkan.

Namun tiba tiba ia ingat akan nasehat ayahnya bahwa ia harus berlaku tenang jika menghadapi sesuatu urusan biar bagaimana besar pun, maka amarahnya menjadi reda. Sebagai gantinya, kembali ia menangis, menangis terisak isak.

Lembayung menggurat langit matahari pun telah terlihat kelelahan, awan berbondong bondong berlarian seakan takut ketinggalan, capung capung berterbangan diatas kepala seorang anak kecil berbaju coklat, dengan wajah terlihat muram, tangan terkepal, didepan anak itu terlihatlah sebuah gundukan tanah merah

"paman Ardi bilang pelakunya adalah Iblis langit selatan dan muridnya , bagaimana cara aku membalas sakit hati

ini?"terdengar lirih gumaman dari bibir kecilnya. Mendadak ia berteriak dengan lantang

"Iblis langit tunggulah pembalasanku aku bersumpah akan membalas sakit hati ini, wahai tuhanku dengan disaksikan kuburan ayah ibuku, bumi tepatku berpijak dan langit yang memayungiku aku akan menjadi orang yang akan membalas semua ketidak adilan dimuka bumi ini meski harus melalui jalan darah..."

tiba tiba langit mendadak mendung terdengarlah petir menyalak tiga kali, bumi bergoncang, angin berhembus dengan dahsyatnya seakan menjadi tanda bahwa sumpahnya telah didengar oleh yang maha kuasa jelegarrrrrrrrr.....

jelegarrrrrrr......... jeleggarrrrrr..... wussstttttttttt ditempat

lain warga gempar melihat alam mengamuk dengan dahsyatnya pohon pohon tumbang bertebaran rumah rumah ambruk mereka yakin bahwa tuhan sedang marah karena mereka mungkin kurang besyukur........

sementara orang orang persilatan yakin bahwa itu tanda bakal ada kejadian mengerikan yang bakal melanda sementara orang orang kosen menyangka telah ada seseorang yang menguasai ilmu yang dahsyat dan telah mencapai kesempurnaan. Datuk golongan putih merasa was was mending jika yang menguasai ilmu itu adalah orang yang baik maka keselamatanlah bagi golongan mereka, jika sebaliknya maka hancurlah masa depan mereka.

Lain halnya dengan datuk golongan hitam mereka cemas apabila orang kosen tersebut dari golongan putih mereka yakin pasti kehancuran bagi mereka, jika sebaliknya mereka juga was was berarti ada yang menyaingi mereka itulah beberapa argumen orang orang persilatan, apa yang bakal terjadi hanya tuhan yang tahu.

~*******0<aone>0********~

Aram widiawan pun masih ingat ketika ia terlunta lunta di kotaraja padjampangan mengarungi hidup ditengah kerasnya dunia persilatan.

Pada hari itu matahari bersinar dengan teriknya, seorang pemuda berbaju coklat compang camping tengah meminta minta dengan menadahkan mangkuk dari batok (tempurung kelapa) di pekarangan sebuah rumah yang cukup bagus di tempat itu.

Pemuda itu wajahnya penuh dengan debu tapi tetap saja tak bisa menutupi wajahnya yang tampan, matanya semu kemerah merahan, ya tak salah lagi ia adalah Aram widiawan, tujuh purnama ia berjalan mengembara mengikuti petunjuk peta dari ayah ibunya dan sudah dua hari ini ia tiba di kota raja.

"Tolooooooonnggggggg " tiba tiba terdengar suara anak

perempuan meminta pertolongan membuyarkan lamunannya dengan sebat segera ia berlari kearah suara jeritan tadi dilihatnya seorang pemuda yang cukup tampan sedang membopong seorang gadis kecil menuju kearah rimba sebelah utara. Aram yang sekarang bukanlah Aram yang dulu yang lemah tak bisa melakukan apa-apa, sekarang ia sudah memiliki tenaga dalam yang lumayan karena sejak kejadian tragis itu ia ekstra berlatih dengan tekun. meski ia tak mengerti satupun gerakan ilmu silat. Sekejap saja ia telah menyandak pemuda yang menculik gadis itu.

"Berhenti. " Aram membentak dengan mengerahkan tenaga

dalamnya, sipemudapun terkejut ia tak menyangka ada orang yang berani mengejarnya, tetapi ketika ia berpaling dan melihat bahwa yang mengejarnya hanya seorang bocah kecil ia menghembuskan nafas lega seraya membentak

"hey bocah bau kencur mau apa kau mengganggu ku tak tahukah kau berhadapan dengan siapa? Dengarlah dengan telingamu yang congean itu ! Aku adalah SiKumbang pemetik bunga" Sikumbang pemetik bunga memperkenalkan dirinya dia berharap sibocah segera lari sipat kuping mendengar julukannya, tapi dia kecele bukannya takut Aram malah mengejek dirinya

"mau kunyuk pemetik bunga atau babi pemetik bunga kek tuanmuda mu ini gak takut n gak peduli cepat serahkan gadis itu sebelum kukirim nyawamu ke akhirat" ejek Aram dengan lagak jumawa di buat buat.

Sigadis dalam pondongan sikumbang pemetik bunga geli melihat gaya Aram, makin panaslah sikumbang pemetik bunga melihat lagak jumawa Aram apalagi dia mendengar sigadis dalam pondongannya tertawa, ia menyangka sigadis menertawakan dirinya.

Cepat ia turunkan sigadis "Bangsat, serahkan jiwamu !" tiba-tiba Si kumbang pemetik bunga loncat menyerang Aram. Karena Aram tak mengerti gerakan ilmu silat cepat ia loncat menghindar. Beberapa jurus telah berlangsung, tiba-tiba Sikumbang pemetik bunga gencarkan serangannya. Ia benar-benar penasaran kalau tak dapat merubuhkan lawan. Bahkan dalam suatu kesempatan, ia menyapu kaki si Aram dan rubuhlah pemuda itu terbanting ketanah. mangkuk yang berada ditangan kanannya terbentur pohon dan mencelat. Saat itu Si kumbang pemetik bunga terus mengangkat tangan hendak menyusuli menghantam kepala si Aram

"mati kau" pikirnya dalam hati. Sigadis yang tadi berada di pondongan Si kumbang pemetik bunga menutup matanya tak tega melihat kematian bocah penolongnya. Crek.. tiba-tiba mangkuk yang mencelat itu mengenai jalan darah yang berada di siku lengan Si kumbang pemetik bunga. Seketika tinju Si kumbang pemetik bunga yang tengah mengacung diatas itu berhenti. Dan terjadilah suatu pemandangan yang lucu.

Si kumbang pemetik bunga berdiri tegak seperti patung tangan kanannya diangkat keatas kepala seperti hendak menghantam. Tetapi sikumbang pemetik bunga tak dapat bergerak lagi Seperti sebuah patung. Aram meringis kesakitan. Pantatnya menghantam tanah yang cukup keras. Sejenak kemudian ia berbangkit dan menghampiri Si kumbang pemetik b

unga Plakkk ia menampar wajah Si kumbang pemetik bunga

"Hm, rasakan ya engkau ini ! hahahaha " Cepat ia

memandangnya : "Lho, mengapa engkau diam saja? Ah ya rasanya kok wajahnya sedikit bengkak kekiri? Apa karena tamparanku tadiya?"plakkkk Aram kembali menampar wajah sebelahnya,

"nah kalau begitu kan pas" ujarnya dalam hati, Bukan kepalang geram Si kumbang pemetik bunga. Wajahnya merah padam

"Bedebah, jangan keliwat menghina Si kumbang pemetik bunga Kalau mau bunuh, bunuhlah aku !"

"daripada aku membunuhmu lebih baik aku dandanin kamu aja yah, hahaha" Aram tertawa jenaka. Karena jalan darah lengannya tertutuk mangkuk, Si kumbang pemetik bunga tak dapat berkutik. Sekalipun karena jatuh, manguk itu mencelat dan secara tak sengaja kebetulan mengenai jalan darah Si kumbang pemetik bunga, namun Si kumbang pemetik bunga mengira kalau gerakan itu adalah murni dilakukan si bocah. Ia anggap bocah itu memang memiliki ilmu yang tinggi dengan mangkuk saja ia bisa mengalahkannya apalagi dengan senjata. Aram cepat ambil mangkuknya dan menghampiri si gadis

"kau tidak apa-apa nona?" mulut bicara tangan bekerja Aram yang masih kekanakan tidak mengetahui batasan laki laki dan perempuan segera memegang pinggang sinona yang sedang duduk lalu membantunya berdiri. Tentu saja kelakuannya itu membuat sinona merah padam karena malu

"tidd...ak tidak apa apa " "nona ayo kita dandanin Si kumbang

pemetik bunga itu hehe"ajak Aram, tanpa menghiraukan sinona Aram segera dekatin Si kumbang pemetik bunga. Dasar jahil segera saja ia mencukur klimis rambut Si kumbang pemetik bunga, memotong baju panjangnya sebelah, tak lupa juga celananya ia papas sebelah. Jadi pemirsa bisa bayangin seperti apa paras Si kumbang pemetik bunga.

"hihihi kau memang hebat" puji sinona kepada si Aram sambil cekikikan karena geli. Betapa marahnya Si kumbang pemetik bunga parasnya yang cukup tampan dipermak sibocah ia berteriak teriak sambil memaki.

"Hm, jangan gila-giiaan. Bunuh saja aku daripada engkau bikin malu begini bocah edan!"

"Bikin malu ? Mengapa aku membikin malu kepadamu ?" Aram berlagak blo'on.

"Jahanam, engkau menghancurkan wajahku yang tampan ini, menampar pipiku dan merebut mangsaku, mengapa masih berlagak pilon ?" damprat si Si kumbang pemetik bunga.

"Heh, heh, heh,hihihi. " tiba-tiba si nona dan siAram tertawa

sampai terpingkal pingkal,pada saat tertawa itulah sikumbang pemetik bunga melihat sebuah gambar gunung dan tulisan pet. di saku si bocah, Aram tak sadar karena kejadian itu lah

suatu hari ia akan dikejar tokoh tokoh persilatan

"nona ayo kita pulang!" Aram mengajak sinona pergi, makin geram lah Si kumbang pemetik bunga, mungkin karena geram, marah, jengkel, dan putus asa bercampur adukdalam hati, Si kumbang pemetik bunga akhirnya pingsan dalam posisi hendak memukul . . .

Di pekarangan rumah dimana tadi Aram widiawan mengemis, tampaklah beberapa penjaga sedang menundukan muka, mereka tampaknya sedang dimarahi seorang lelaki paruh baya, lelaki paruh baya itu kira kira berusia 35 tahun wajahnya cukup tampan dengan kumis tipis menghiasi bibirnya, dipinggangnya melingkar sebuah cambuk yang terbuat dari baja ia adalah ki nanjar atau lebih dikenal Si rasul cambuk bumi, disampingnya ada perempuan paruh baya yag sedang menangis terisak isak dia adalah nyi elas istri ki nanjar

"Kalian ini bagaimana sih? Percuma aku membayar kalian, menjaga anak kecil pun kalian tak sanggup! Cepat kalian cari anakku jika kalian tak menemukannya, gaji kalian aku potong setengah tahun" bentak lelaki paruh baya itu

"baik tuan"

"tunggu apalagi lekas enyah dari hadapanku" para penjagapun tak membuang waktu lagi segera mereka lari serabutan berpencaran.

"kang nanjar, bagaimana ini?"istrinya bertanya dengan gelisah "jangan khawatir istriku aku yakin anak kita baik baik saja.

Mendadak ia melihat tiga penjaga rumahnya tergopoh gopoh

mendekati dirinya "tuan ...tuann kami melihat tuan putri berada di dekat rimba sebelah utara, ia sedang di gendong oleh seorang anak jembel" lapor ki ujang salah satu penjaga rumah ki nanjar si rasul cambuk bumi. Secepat anak panah ki Nanjar melesat kearah rimba, benar saja terlihat anak gadisnya sedang di gendong oleh seorang anak jembel betapa geramnya hati ki nanjar, tiba tiba dilihatnya lagi anaknya turun dengan tertatih tatih dan berlari kearahnya dan langsung memeluk ki nanjar. Bret kinanjar menyambar golok dari tangan ki ari.

"Anak kurang adat beraninya kau menculik anakku"kinanjar mengangkat goloknya hendak menyerang Aram si bocah jembel, tapi tidak jadi karena anaknya merengek rengek

"Ayah jangan jangan... ia tidak bersalah"

"tidak bersalah apanya? Ia berani menculikmu"

"tidak ayah bukan dia, justru dia yang menolong melati, jika tidak ada mungkin.......mungkin. "

"mungkin apa anakku?"

"kesucian anak akan dinodai sikumbang pemetik bunga" melati kemudian menceritakan apa yang menimpanya sampai ia digendong oleh Aram, ternyata ia terpeleset sehingga kaki nya keseleo jadi terpaksa harus digendong

"apa berani sekali sikumbang pemetik bunga mengganggu anakku, gerrr. jadi anak jembel tadi yang menolongmu?" "benar ayahanda"

"kalau begitu aku harus berterimakasih padanya" Kinanjar berbalik menuju tadi dimana Aram berada namun ternyata ia melihat anak itu berlari terbirit birit

"hei anak muda tunggu ! kinanjar berteriak kemudian

ikut berlari mengejar.

Sebenarnya Aram berlari karena ketakutan ketika kinanjar mengacungkan golok kearahnya, ketika sudah jauh dari tempat tadi tiba tiba ia mendengar suara yang menyuruhnya berhenti ketika ia berpaling makin kencanglah ia berlari kenapa? karena ia melihat orang yang menyuruhnya berhenti itu mengacung acung golok kearahnya

"celaka ia mengejar" batinnya menggerutu, sementara kinanjar juga kebingungan melihat pemuda yang disuruhnya berhenti makin berlari kencang ia tak sadar bahwa ia berlari dan berteriak teriak itu sambil mengacung acungkan golok yang ia pinjam dari ki ari

"kenapa ia malah lari? Munkin ia tidak butuh ucapan terimakasih, Baik kau tidak mau maka aku akan memaksanya", maka terjadilah kejar kejaran yang lucu. Setelah sekian lama berlari, napas Aram sudah ngosngosan apalagi tenaga dalamnya tidak lah begitu tinggi, akhirnya ki nanjar dapat menyandak Aram brett gusrakkk bruuukk,,,,,,,,, terjadilah sebuah peristiwa yang lucu dimana seorang lelaki paruh baya memeluk seorang bocah di kubangan lumpur pesawahan "ampun pakk......ampun jangan bunuh saya, saya gak

bersalah" Aram berteriak teriak sambil menutupi kepalanya dengan tangan. tubuhnya basah kuyup keringat dingin mengucur tiada hentinya, bagaimana tidak sebilah golok melintang dilehernya.

"siapa yang mau membunuhmu nak?" ki nanjar bertanya keheranan padahal di sekelilingnya tidak ada orang selain mereka, kinanjar masih belum sadar juga golok yang ia pinjam dari ki ari melintang dileher Aram.

"inniii pak, . . . . .gol..gollooookkk " kinanjar pun berpaling ia juga terkejut melihat golok yang ia bawa melintang di leher pemuda yang ia kejar. Kinanjar pun menyatakan bahwa ia tak sadar membawa golok karena ia panik

"hahahahahahah pantas saja kau lari begitu terbirit birit nak,

hahaha"

"hahaha "akhirnya keduanyapun tertawa terbahak

bahak. semenjak hari itu Aram tinggal di rumah kinanjar,

disana ia belajar jurus jurus ilmu silat meski hanya dasarnya saja,malah ia hanya mempelaja ri dua jurus ilmu kepandaian yaitu sijago membalikan tangan dan monyet liar mencari buah. Setelah tiga Purnama Aram memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya tentu saja keputusannya itu membuat sedih keluarga ki nanjar terutama melati. "kang rama apakah kau

akan kembali kesini? (rama adalah panggilan melati kepada Aram, katanya susah manggilnya) "tentu, aku janji secepatnya aku akan kesini lagi" Aram meyakinkan.

Dengan diiringi air mata Aram berangkat melanjutkan perjalanan, melati terisak isak ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, perasaan apakah itu?.. hanya dia yang tahu.

Setiap Pesta pasti akan bubar itulah yang dikatakan pepatah,.......

Itulah yang terjadi antara Aram dengan melati putri ki nanjar Sekeras apapun hati seseorang pasti memiliki hati nurani

Meski Aram terlihat tegar hatinya pun merasakan sedih seperti melati, hanya karena dendamnya ia memutuskan tuk membusungkan dada, piihan seorang ksatria sejati.

~*******0<aone>0********~

Langit tetap tak berubah masih berwarna biru Begitupun dengan matahari

Berjalan terseok seok jatuh bangun meraih asa Setiap perjalanan pasti ada tepian

Di depan sebuah kedai terlihatlah seorang pemuda berbaju coklat berwajah penuh debu ia memegangi perutnya yang lumayan berotot, sekali kali ia mengecap mulutnya sendiri melihat orang sedang menyantap makanan. Perutnya terus berbicara meminta jatah "duh.. laparnya" terdengar gumaman seperti suara lebah dari bibirnya. Ia adalah Aram widiawan yang baru saja tiba didesa itu setelah dua purnama berjalan dari kotaraja padjampangan.

Sungguh perjalanan yang melelahkan baju pemberian melati kini telah kumal, disana sini ada yang sobek, pembekalan pemberian ki nanjarpun telah habis.

sedang asiknya memperhatikan orang yang makan Tiba-tiba pundaknya ada yang tepuk, Ketika ia menoleh, tampak seorang laki-laki berparas cakap menatap kepadanya. Di atas alis kanannya ada tanda codet menggaris sampai atas alis kiri seperti bekas barang tajam. Senyumannya yang menawan telah menarik sekali hatinya. Itulah orang yang belakangan ia kenal sebagai Si pengabar Langit, yang telah angkat ia dari gelandangan tak berguna menjadi seorang anak yang cerdas tangkas dalam dunia telik sandi, yang melindungi dan mencintainya sebagai kakak pengganti orang tuanya, ia beserta kawanan gelandangan lainnya memanggilnya kakang sobar.

Masih berbayang saat itu, mula-mula ia ketika ia bertemu sipengabar langit.

"ayi, apa kau mau makan ?" tanyanya sipengabar langit diwaktu itu. Aram menganggukan kepala.

"Mari ikut aku !" kata sipengabar langit berbareng tangannya Aram dipegang, diajak berlalu dari situ untuk kemudian mereka memasuki kedai didepannya. Aram menurut disuruh duduk diatas bangku yang dikitari meja makan. Setelah pesan makanan, sipengabar langit berkata lagi pada Aram, "ayi namamu siapa? Darimana?" Aram menundukan kepala, mengawasi bajunya yang kumel dan robek disana sini ia tetap diam.

"Ayah dan ibumu ada dimana ?" tanya sipengabar langit sekali lagi bertanya memancing si bocah bicara..

"Ayah dan ibu mati dibunuh orang," sahutnya kemudian tanpa menyebutkan namanya. Sementara itu, pelayan sudah siapkan hidangan di atas meja. Aram awasi makanan di depannya. Ia menelan ludah, mengilar dia rupanya. sipengabar langit memperhatikan si Aram Pakaiannya compang camping, hatinya merasa sangat kasihan.

"Mari kita makan !" mengajak sipengabar langit seraya mulai bersantap. Aram tidak perlu diundang dua kali, sebab sudah dari kemarin ia gak makan, segera ia mulai cobai makanan yang barusan membuat ia menelan ludah saking kepingin cicipi. Ia makan banyak, malah dua kai ia minta tambah nasi.

sipengabar langit ketawa menampak perbuatan Aram yang lucu,apalagi ia sudah melupakan sendoknya, dan langsung makan dengan tangan.

"Eh, namamu siapa ?" tanya sipengabar langit mengingatkan sibocah pertanyaannya tadi yang tidak dijawab.

"Namaku Aram, Aram Widiawan" jawabnya, mulutnya penuh nasi. Geli hatinya sipengabar langit melihat Aram yang gembul makannya. "Bagus," kata sipengabar langit. "Kau mau brgabung denganku ?"

"gabung menjadi apa ?" Aram malah balik menanya. " pasukan Telik sandi." sahut sipengabar langit

"telik sandi itu apa?"Aram nmenghentikan kegiatan makannya sebentar

"organisasi mata mata," jawab sipengabar langit enteng. Aram mengawasi sebentar pada orang didepannya.

"Mau, aku mau tapi, aku tidak paham dengan cara kerjanya!" katanya.

"jangan khawatir aku dan teman teman barumu akan menajarimu.

Demikian, sejak itu Aram Widiawan menjadi anggota telik sandi di kota ciburial., Melebihi dari dugaannya sendiri, sipengabar langit melihat kecerdikan dan ketajaman otaknya Aram begitu luar biasa. Tiap pelajaran memata matai keadaan dunia persilatan ia pahami dengan sekali mengajarkan, Paling banyak dua kali sudah cukup, ini juga kalausangat berbahaya. Pada suatu ketika ia sedang mematai seorang lelaki berkerudung hitam tiba tiba ia kehilangan orang yang diincarnya' iapun memutuskan untuk berhenti mematainya dan kembali ke jalanan. Tiba tiba Jleg lima sosok tubuh menghadangnya,

"Itu dia orang yang saya katakan" tiba tiba dari samping Aram melihat seorang pemuda berkerudung hitam yang ia intai tadi.

"hahahahaaa kau tak akan menyangka bukan bocah?

Kau telah kami jebak hahah" "ternyata kau si kumbang pemetik

bunga, bagaimana dengan rmbutmu?" ejek Aram enteng. merah padam wajah si kumbang pemetik bunga mengingat kejadian sebelas purnama lalu.

"cepat serahkan peta itu bocah bau kencur" terdengar bentakan menggelegar dari salah satu penghadangnya sungguh kejut

alang kepalang Aram mendengar lima orang penghadangnya mengetahui ia membawa peta penyimpanan kitab pusaka keluarganya.