Pendekar linglung Jilid 7

 
Jilid VII

MENDENGAR kalau kenaikan pangkat akan menunggunya maka para perajurit-perajurit antek Belanda itu terus berjuang dengan gigih. Mereka akan bangga kalau pangkatnya dinaikkan dan dengan demikian maka bayaran mereka itupun akan menjadi naik.

Inilah mental perajurit-perajurit Belanda, mereka kebanyakan hanya mementingkan kenaikan pangkat dan upah yang lebih tinggi. Hingga dengan demikian mereka itu tak berjuang dengan sungguh-sungguh. Lain dengan perjuangan rakyat yang tanpa pamrih itu.

Makin lama peperangan itu makin menghebat. Terlebih-lebih disebelah timur dan tengah. Disana tampaklah, kalau Topeng Merah sedang mengamuk dengan dahsyatnya. Dan krida Topeng Merah itu ditahan oleh Baurekso yang telah siap sedia dengan tongkat ularnya itu. Biarpun tangan kirinya telah hilang namun kesaktiannya tak dapat dipandang ringan. Apalagi didekatnya ada Pendekar Linglung yang siap sedia membantu tuan penolongnya itu.

“Hemmmm....... Baurekso, tak kusangka kalau setua ini kau masih sudi menjilat kepada penjajah untuk mencari harta benda keduniawian, dosamu makin tua makin menumpuk kawan.” Seru Topeng Merah dengan menggeleng-gelengkan kepala.

“Bangsat pengecut! Tak usah kau banyak membuka bacot! Lebih baik jadi antek Belanda dari pada jadi pengecut!” Jawab Baurekso dengan sinis.

Untung yang dikatakan pengecut adalah Topeng Merah, seorang tokoh yang telah mempunyai kesabaran dan telah dalam ilmu batinnya hingga ia tak begitu marah dikatakan sebagai seorang pengecut. Padahal tak ada ejekan yang paling menyakitkan hati di dunia persilatan ini selain dikatakan pengecut.

Dikatakan pengecut Topeng Merah hanya tersenyum saja, namun senyuman itu tak tampak oleh Baurekso. Tak lama kemudian terdengarlah perkataan Ki Topeng Merah :

“Apakah kepatahan tangan kirimu itu belum menyadarkan sikapmu, hehh orang dari Merapi?”

“Jangan lagi hanya tangan kiri yang tak berarti, patahkanlah leher dan renggutlah jiwa ini kalau kau menginginkan kesadaranku.” Dengus Baurekso sambil mempermainkan tongkat ularnya.

“Hemm..... kalau demikian kau adalah seorang yang telah ciri wanci! Tak bisa sembuh kalau belum mati. Nah Baurekso hayo kau hadapi pedangku ini.” Seru Topeng Merah yang terus mengeluarkan pedangnya.

“Bagus! Inilah sikap seorang jantan, tak seperti tadi hanya berkaok- kaok saja.” Jawab Baurekso yang terus mengayunkan tongkat ularnya itu 289 kearah leher Topeng Merah. Serangan ini benar-benar dahsyat sekali, hal ini dapat dibuktikan dengan sambaran anginnya. Begitu tangan Baurekso bergerak maka terdengarlah angin menyambar yang mengeluarkan suara berciutan.

Wuusssttttt........ tongkat ular itu berkelebat dengan cepat dan dahsyat. Untung sekali Topeng Merah telah siap sedia pula menghadapi Baurekso tokoh dari gunung Merapi itu. Begitu merasa kalau lehernya terancam bahaya cepatlah ia menundukkan tubuhnya dan terus mengangkat pedangnya untuk menyambut datangnya tongkat ular itu.

Trannggggg     bunga api berpijar dengan besarnya.

Begitu tongkat bertemu dengan pedang maka Baurekso merasa kalau tangannya tergetar dengan hebat. Bahkan hampir saja ia melepaskan tongkatnya dan rasa-rasanya kulit-kulit tangannya itu menjadi panas dan hampir pecah-pecah. Sedangkan Topeng Merah tetap saja pada kedudukannya semula. Ia hanya tergetar sedikit saja setelah pedangnya bertemu dengan tongkat ular lawannya.

“Bagus kepandaianmu makin tua makin meningkat Baurekso.” Serunya dengan girang. Memang bagi seorang jago silat kelas tinggi akanlah menjadi senang kalau mendapat lawan yang tangguh. Sebab tak ada kesenangan lain dari pada mengadu ilmu silatnya. Hingga kini mengetahui kalau kepandaian Baurekso telah meningkat dengan hebat maka Topeng Merah lalu menjadi gembira dan semangat juangnyapun menjadi berlimpah-limpah dan meluap-luap.

“Tak usah banyak cakap! Kalau kau takut silahkan minggir.” Jawab Baurekso dengan keras. Namun diam-diam Baurekso merasa terkejut sekali setelah mengetahui kalau tenaga dalam lawannya sedemikian hebatnya. Dengan demikian terpaksalah ia memikir-mikir siapakah orang yang berada dibalik kerudung merah itu.

“Akhh...... persetan siapapun! Pokoknya dia harus mati!” Demikianlah akhirnya keputusan Baurekso itu. Dan setelah mempunyai pandapat yang demikian itu lalu memperhebat permainan tongkat ularnya. Jurus demi jurus terus pertapa dari gunung Merapi itu menggerakkan tongkatnya dengan kuat dan dahsyat.

Tapi semakin kuat dan semakin dahsyat serangan Baurekso maka semakin senang pula Ki Topeng Merah menghadapinya. Dengan kecepatan yang mengagumkan Topeng Merah lalu bergerak-gerak untuk mengimbangi serangan lawan yang dahsyat dan kuat itu. Pedangnya terus diputar dengan cepat hingga sebentar saja tubuhnya telah hilang ditelan sinar pedangnya. Dan ujung pedangnya terus-menerus mencari kesempatan untuk menembus pertahanan lawan yang dianggapnya lemah.

Menghadapi pertahanan yang hebat dan bahkan serangan-serangan balasan yang berbahaya ini maka repot juga Baurekso itu. Tapi memang tak mengecewakan ia sebagai seorang tokoh sakti yang berdiam di gunung Merapi. Biarpun Topeng Merah bergerak dengan cepat dan setiap kali serangannya mendatang pasti menimbulkan angin yang berciutan 290   bunyinya namun Baurekso tetap dapat bertahan dan bahkan perlindungan terhadap dirinya itupun sangat baik sekali. Biarpun ia hanya mempunyai sedikit sekali kesempatan yang dapat dipergunakan untuk membalas serangan-serangan lawannya itu.

Weesstttt...... pedang yang berada ditangan Topeng Merah itu terus berkelebat dan menusuk kearah uluhati, dan bersama dengan itu kaki Topeng Merah menendang kearah perut lawan.

Mendapat serangan berantai yang hebat dan dahsyat ini cepat Baurekso meloncat mundur keatas dan berjumpalitan beberapa kali diudara. Dan dari atas ia lalu menggerakkan tongkatnya untuk mengetuk kepala lawan.

Namun tentu saja Topeng Merah si tokoh sakti yang misterius itu tak mau kalau kepalanya diketuk dengan cuma-cuma saja. Dan tokoh sakti itupun tahu kalau sekali saja kepalanya kena ketuk olah tongkat Baurekso itu nyawanya pasti tak akan dapat ditolong lagi. Dan lagi ia masih ingin hidup selama perjuangannya belum tercapai karena itulah maka ia lalu mengelakkan serangan lawan dengan jalan melompat kesamping dan tangannya bergerak untuk menangkis serangan tongkat itu dengan pedangnya.

Tapi tentu saja Baurekso tak mau menderita kerugian untuk yang kedua kalinya. Semenjak ia mengetahui kalau tenaga dalam lawannya itu jauh lebih tinggi daripada tenaga dalamnya sendiri ia tak mau mengadu senjatanya keras lawan keras. Begitu pula kali ini, ketika ia melihat pedang yang berada ditangan Topeng Merah itu berkelebat akan membentur tongkatnya ia lalu menarik tongkatnya dan kemudian membabatkan sedikit kebawah hingga tolakan ini disertai oleh babatan kearah lambung lawan.

“Ayaaaaaaaa!!!” Seru Topeng Merah sambil melompat mundur dan terus memutar pedangnya untuk menghindarkan diri dari serangan musuh selanjutnya. Putaran pedangnya itu merupakan sebuah perisai baja yang melindungi tubuhnya.

Melihat kalau Topeng Merah sedang sibuk dengan pertahanannya maka cepatlah Baurekso melayang turun kebumi lagi. Dan begitu kakinya menotol bumi lantas tongkat ularnya itu digerakkan dengan cepat untuk mendesak lawan yang sedang repot itu.

Namun Topeng Merah dapat melindungi dirinya dengan pedang yang diputar hebat itu. Hingga serangan Baurekso itu selalu dapat digagalkan oleh tangkisan atau tolakan pedang yang berada ditangan tokoh misterius itu. “Huahaahaaa...... huahaahaa...... huahaahaa...... sungguh menyenangkan sekali mendapat lawan tangguh, akh dengan demikian kita akan dapat berlatih serta melemaskan otot-otot kita yang telah kaku.” Seru Topeng Merah sambil tertawa berkakakan.

“Bukalah bacotmu selagi kau sempat membuka.” Bentak Baurekso sambil memperhebat serangannya. Akan tetapi tiba-tiba saja ia melihat 291 gerakan lawan yang aneh. Begitu bergerak maka tubuhnya lenyap dari hadapannya dan tampaklah kalau lawannya telah bertempur mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya. Hingga dengan demikian gerakan Topeng Merah itu menyerupai gerakan setan atau asap saja. Sebentar-sebentar kelihatan dikanan tapi tak lama kemudian ia telah berada dikiri dan dengan pukulannya yang hebat itu Topeng Merah terus- menerus menghajar Baurekso. Hingga dengan demikian tokoh dari Gunung Merapi itu merasa kewalahan dan bingung sendiri. Makin lama gerakan Topeng Merah makin cepat dan kepala Baurekso menjadi semakin pening. Matanya terus berkunang-kunang dan seakan-akan bintang selangit jatuh menimpai dirinya.

Tapi kejadian itu tak berjalan dengan lama, sebab begitu merasa kalau lawannya telah berada diatas angin maka pertapa dari Gunung Merapi itu berseru dengan keras :

“Heeeee Linglung mengapa kau mendiamkan aku terancam bahaya??” Dan bersama dengan teriakan itu maka menyerbulah Pendekar

Linglung kedalam pertempuran ini. Dan dengan pedang serta cambuknya ia lalu menerjang kearah Topeng Merah.

“Heeeee mengapa kau manerjangku, Pendekar Linglung!” Teriak Topeng Merah dengan kaget. Tapi ia tak dapat mengherankan terlalu lama. Dan dari sinar mata Pendekar Linglung itu saja Topeng Merah maklum kalau keadaan Pendekar Linglung ini tak wajar. Dengan demikian cepat ia mengelakkan tusukan pedang dan sabatan cambuk Pendekar Linglung itu.

Bukan main penasarannya hati Pendekar Linglung setelah mengetahui kalau kedua serangannya itu dapat dihindarkan dengan demikian mudahnya oleh Topeng Merah itu.

Namun dengan cepat Pendekar Linglung terus mainkan pedang dan cambuknya dengan hebat sekali. Dan dilain saat Baureksopun telah memutar tongkat ularnya dengan dahsyat. Hingga Topeng Merah terpaksa menghadapi dua orang musuh tangguh yang tak dapat dipandang ringan.

Pedang yang berada ditangannya itu terus-menerus diputar dengan hebat. Bahkan sekarang kedudukannya menjadi semakin memburuk, bukannya dia kalah hebat oleh kedua pengeroyoknya tapi karena Topeng Merah merasa tak tega untuk melukai Pendekar Linglung yang sedang kumat itu. Dan karena merasa tak tega inilah maka ia menjadi agak berat. Kalau saja Topeng Merah tak menghiraukan Pendekar Linglung agaknya pertahanan dan setiap serangannya akanlah dapat mengimbangi kepandaian mereka berdua itu.

Melihat ini maka makin giranglah hati Baurekso, dan terus ia memakai Pendekar Linglung sebagai perisainya. Serangan-serangan yang dilancarkan terus dilakukan dibalik atau dibelakang Pendekar Linglung, hingga dengan demikian Topeng Merah yang tak tega melukai Pendekar Linglung itu menjadi tak dapat membalas setiap serangan Baurekso. “Mari kita hancurkan saja perusuh-perusuh ini, Linglung”. Seru Baurekso menambah semangat yang telah berkobar-kobar didalam hati Pendekar Linglung itu.

“Baik bapa penolong! Aku selalu siap sedia membantumu untuk membalas budi kebaikan bapa penolong yang telah diberikan kepadaku.” Jawab Pendekar Linglung dengan semangat.

Weeessastttt..... Taaaaarrrrrr...... Taaaarrrrr...... Pedang dan Cambuk itu terus-menerus mengancam keselamatan Ki Topeng Merah. Dan setiap kali Pendekar Linglung menggerakkan tangannya maka menyambarlah angin kencang.

Dan bersama dengan elakan Topeng Merah itu, hati tokoh sakti yang misterius itu menjadi terharu dan merasa kasihan sekali kepada anak muda yang malang ini.

“Okkhhh Tuhan! Kebahagiaan apakah yang telah KAU berikan kepadanya hingga kini KAU menyiksanya begini hebat.” Desis Topeng Merah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar merasa kasihan sekali melihat keadaan Pendekar Linglung yang telah benar-benar menjadi linglung itu. Topeng Merah terus menjadi marah sekali kepada Baurekso yang telah berbuat curang. Kemarahannya ini disebabkan oleh perasaan kasihan yang berlebih-lebihan kepada Pendekar Linglung. Dan mungkin hanya pemuda inilah yang kelak akan dapat meneruskan cita-cita para tokoh tua untuk menentang penjajah dan mengusir Belanda dari muka bumi Nusantara.

“Sungguh keji kau Baurekso! Kau renggut ingatan pemuda sebaik ini.” Seru Topeng Merah yang terus melabrak kearah Baurekso. Akan tetapi tokoh dari Gunung Merapi itupun bukannya seorang goblok! Melihat kemarahan Topeng Merah ia segera melompat kebelakang Pendekar Linglung dan terus berseru dengan keras :

“Linglung, cepat kau hadapi manusia siluman ini.”

“Baik bapa penolong, aku akan berusaha mengalahkannya.” Jawab Pendekar Linglung dengan mempercepat gerakannya. Taaaaarrrr.....

Taaaarrrr..... Taaaarrrr..... Weeesssttt..... Cambuk dan pedang Pendekar Linglung terus menyambar-nyambar dan mencari ketika yang baik untuk merenggut nyawa lawannya.

Akan tetapi Topeng Merah adalah seorang tokoh yang telah kenyang akan asam garamnya pertarungan. Dan lagi kepandaiannya telah mencapai tingkat tinggi bahkan dapat dikatakan telah mencapai tingkat kesempurnaan. Hingga serangan-serangan yang dilancarkan oleh Pendekar Linglung yang sakti itu sedikitpun tak mempengaruhi keadaannya dan tak membuatnya menjadi bingung. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang hebat ia mulai menghadapi kedua lawannya yang nekad itu.

Pukul-memukul elak-mengelak terus terjadi dengan sengitnya. Jurus- jurus simpanan mereka itu telah mereka keluarkan untuk saling merobohkan lawannya. Pendekar Linglung terus-menerus memainkan

293 ilmu-ilmu pedangnya dan jurus-jurus ilmu cambuk yang sangat berbahaya itu. Sedangkan Baurekso memainkan tongkat ularnya yang dahsyat dan disamping memainkan tongkat ular tersebut iapun mulai mempergunakan jarum-jarum dan asap beracun yang berada didalam tongkat ular itu.

Melihat kenekatan mereka itu makin kasihanlah Topeng Merah melihat Pendekar Linglung. Tapi untuk menjatuhkan tangan kejam terhadap si Pendekar Linglung ia merasa tak sampai hati. Dan kalau akan memukul mati Baurekso ia tak punya kesempatan sebab dengan licik pertapa dari gunung Merapi itu selalu berlindung dibalik punggung anak muda itu.

Woooossssstttt...... creeeeesssss....... tiba-tiba saja dari mulut tongkat ular yang dipegang oleh Baurekso itu menyembur uap beracun dan jarum- jarum kecil yang telah direndam didalam racun.

“Huahh....... keji......” Seru Topeng Merah sambil memutar pedangnya dan menutup pernapasannya supaya tak menghirup uap beracun itu. Sedangkan tangan kirinya dikibaskan uutuk melancarkan pukulan jarak jauh dengan kekuatan tenaga dalam sepenuhnya hingga menimbulkan angin yang berciutan bunyinya, sesaat kemudian terdengarlah......

prakkkk...... dan ternyata bunyi itu ditimbulkan oleh pecahnya dinding papan yang kena gempuran jarak jauh Ki Topeng Merah tadi. Dan dengan jalan memutar pedangnya untuk memukul jarum-jarum yang menyerangnya itu, tokoh sakti yang misterius itu dapat menggagalkan niat lawan yang akan membunuhnya. Atau telah dapat meloloskan diri dari jangkauan kuku-kuku Hyang Jamadipati.

Mengetahui kalau lawannya telah mulai main curang maka tambah marahlah hati Topeng Merah itu. Akan tetapi tokoh sakti yang misterius itu segera menenangkan hatinya dan menekan kemarahannya supaya ia tidak menjadi hamba hawa nafsu. Sebab sekali ia terkena pengaruh nafsu maka pertahanannya akan buyar dan kewaspadaannya berkurang.

Pendekar Linglung terus memutar cambuknya dengan hebat, taarrr.......

tarr...... taarrr wessstttt........ setiap kali cambuknya menghantam maka dibarengi pula dengan hantaman pedang yang berada ditangan kanannya. Hingga dengan demikian serangan Pendekar Linglung ini seperti serangan dua orang yang dapat bekerja sama dengan baik.

“Hemmmmm........ kalau aku tak menggunakan kekerasan maka tak mungkin aku dapat mengalahkan mereka. Tapi kalau aku menggunakan kekerasan kasihan kepada Pendekar Linglung.” Pikir Topeng Merah dengan kacau.

Sewaktu Topeng Merah sedang lengah ini maka Baurekso segera menyerangnya dengan uap dan jarum-jarum yang telah direndam dalam racun itu.

Wooossssttttt...... creeesssss....... Uap putih itu terus mengepul dengan hebatnya dan jarum-jarum yang berasal dari mulut ular itu terus menyerang dengan kecepatan yang luar biasa sekali. 294 Bersama dengan itu Pendekar Linglung menyerang dengan cambuknya mengarah kedada sedang pedangnya terus menusuk kearah uluhati. Serangan yang dilancarkan oleh Pendekar Linglung inipun tak kalah hebat dan cepat oleh serangan yang dilancarkan oleh Baurekso.

Menghadapi serangan yang datangnya dengan berbareng dan bahaya ini Topeng Merah agak repot juga. Pedang yang dipegang ditangan kanannya segera diputar dengan cepat dan memukul jatuh jarum-jarum beracun yang disebar oleh Baurekso pertapa dari gunung Merapi itu. Sedangkan tangan kirinya memukul buyar uap putih yang bergumpal- gumpal itu, hingga dengan demikian Baurekso haruslah menghindarkan diri dari sambaran uap putih yang beracun itu ketika membalik kearahnya. Tubuh sang tokoh misterius itu terus melompat kebelakang untuk menghindarkan diri dari totokan ujung cambuk Pendekar Linglung. Hanya tangan kirinya saja tak sempat mengelak dari tusukan pedang Pendekar Linglung itu. Hingga weekkk...... terdengarlah suara kain sobek dan darah merah mengucur dari tangan orang sakti itu. Namun darah itu hanyalah darah yang diakibatkan luka luar saja.

Memang pedang Pendekar Linglung yang menusuk kearah uluhati itu hanya dapat mengenai tangan kiri Topeng Merah, setelah Topeng Merah menghindarkan kebelakang.

Selama bertahun-tahun ini Topeng Merah belum pernah terluka dalam peperangan. Bahkan ia sekarang dapat cidera oleh Pendekar Linglung dan Baurekso yang curang itu. Hingga dengan demikian darah merah yang mengucur dari lengannya itu merupakan minyak yang menyirami api yang sedang menyala dengan hebat itu. Tandangnya terus berubah menjadi ganas dan trengginas sekali, yah bagaikan singa luka dan pertahanannyapun bagaikan banteng ketaton saja.

Wessstt     sebentar saja tubuhnya hilang dimalam yang gelap itu. Dan

tak lama kemudian terdengarlah angin keras yang menghantam kearah Ki Baurekso pertapa dari gunung Merapi itu. Untung saja Pendekar Linglung tahu akan bahaya yang mengancam kawannya ini hingga dengan gerakan yang amat cepat lagi gesit ia lalu mendorong Baurekso kesamping hingga orangtua buntung itu gentayangan dan dengan demikian pukulan jarak jauh Ki Topeng Merah hanya mengenai udara kosong saja.

“Akhhh.    benar-benar ia telah menjadi linglung.” Desis Topeng Merah

dengan kecewa. Akan tetapi bersama dengan perasaan kecewanya ini maka timbul pula perasaan ingin membunuh si Baurekso itu. Dadanya seakan-akan terbakar oleh api kemarahannya itu. Tapi untunglah Topeng Merah dapat menyalurkan perasaan marahnya itu.

Sewaktu pertarungan berjalan dengan sengit tiba-tiba saja terdengar suara orang menyapa Topeng Merah :

“Ki Topeng Merah jangan kau borong sendiri orang-orang itu. Akupun merasa kesepian dan kurang gembira kalau hanya menghadapi kambing- kambing goblok itu saja.” Dan bersama dengan itu muncullah Barata pendekar dari Jalitunda. 295 Melihat munculnya Barata itu maka Topeng Merah segera berkata : “Kalau kau mempunyai kesenangan dengan pertarungan ini maka kau

carilah lawan yang kiranya seimbang dengan kepandaianmu, angger Barata. Jangan kau ambil salah satu dari mereka ini sebab berbahaya.”

“Justru yang membahayakan yang kusenangi, ki sanak.” Jawab Barata yang terus menubruk Pendekar Linglung dengan kerisnya. Melihat gerakan Barata ini maka kembalilah Topeng Mereh berseru :

“Jangan kau lukai dia angger, sebab ia dalam keadaan tak sadar. Kalau dapat segera sadarkanlah.”

“Ohhh!!” Seru Barata dengan kaget. Tapi bersama dengan seruan itu pendekar dari Jalitunda itupun lalu menerjang lagi dengan maksud ingin menangkapnya hidup-hidup tanpa melukai lawannya.

Akan tetapi rupa-rupanya pendekar dari Jalitunda itu salah perhitungan. Pendekar Linglung yang dihadapi sekarang ini bukanlah Pendekar Linglung yang menolong anaknya dipasar budak belian dahulu. Kepandaian Pendekar Linglung sekarang telah maju dengan pesat sekali setelah mendapat gemblengan dari Jayasengara yang bertapa digunung Ungaran. Bahkan dapat dikatakan kalau kepandaiannya telah berlipat ganda sampai delapan kali kepandaiannya yang dahulu. Hingga dengan demikian maka usaha Barata selalu mendapat kegagalan.

Sedang Pendekar Linglung itu tak menghiraukan apakah ia akan ditangkap atau dibunuh. Pokoknya siapa yang berada dihadapannya akan dilawan dengan mati-matian. Bahkan kalau mungkin ia harus membunuh lawannya. Karena itulah maka ia lalu memperhebat permainan pedangnya dan ilmu cambuknya.

Taaaarrr...... taaaarrr...... taarr...... wessttt...... ujung cambuk dan pedang yang berada ditangan kanan Pendekar Linglung itu terus menerjang Barata dengan hebat. Namun Barata pun bukannya jago silat sembarangan. Ia adalah murid tunggal dari mendiang Singapati atau Ki Rangga. Hingga dengan demikian kepandaiannya sangatlah tinggi dan selain ia memainkan ilmu keris wanara saktinya iapun mempergunakan aji Senggoro Singo tinggalan gurunya itu. Hingga udara malam itu disobek-sobek oleh suara auman Barata yang hebat itu.

Mendengar auman yang hebat ini banyak perajurit Kumpeni maupun anak buah Untung yang menjadi pingsan dan telinganya menjadi sakit. Bagi mereka yang belum terlanjur terus menutupi telinganya dengan kedua belah tangan atau duduk bersemedi mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan gendangan anak telinga mereka.

Namun auman yang dahsyat ini sedikitpun tak mempengaruhi pertahanan Pendekar Linglung. Pendekar muda ini masih tetap dapat melayani lawan dengan baik. Bahkan tampaklah kalau pendekar muda ini mulai dapat menempatkan dirinya diatas angin, dan lapangan pertarungan itu dikuasai oleh Pendekar Linglung.

Weessstttt...... trangggg....... taarrr....... begitu Barata menusukkan kerisnya kedada Pendekar Linglung maka cepatlah murid Jayasengara itu 296 menggerakkan pedangnya untuk menangkis. Hingga terdengarlah bunyi tranggg....... dan akibatnya tergetarlah tangan Barata dengan hebat. Sedang Pendekar Linglung lalu mengayunkan cambuknya kearah kepala pendekar dari Jalitunda itu.

Mengetahui kalau kepalanya terancam bahaya maka cepatlah pendekar dari Jalitunda itu menundukkan kepalanya, lalu dengan tangan kirinya ia memukul tangan Pendekar Linglung yang memegang pedang itu dengan ilmu Tapak Guntur yang hebat itu.

Mengetahui kalau lawannya akan memukul dengan aji pamungkasnya maka cepatlah Pendekar Linglung menyiapkan aji pukulannya pula. Aji yang dipelajari dari ayahnja. Aji Bledek Mangampar. Hingga ketika Barata melepaskan tangannya Pendekar Linglungpun lalu melontarkan ajinya itu. Hingga..... daaarrr..... dua buah pukulan yang hebat dan dahsyat itu lalu bertemu diudara. Akibatnya sangat hebat, Barata terpental beberapa langkah sedangkan Pendekar Linglung hanya terhuyung-huyung kebelakang beberapa tindak saja. Dan setelah pendekar muda itu sempat memperbaiki kedudukannya maka cepatlah ia merangsek kearah Barata yang baru tertatih-tatih bangun.

Melihat keganasan dan kesaktian Pendekar Linglung ini Barata lalu menyerahkan nasibnya kehadirat Tuhan. Sebab akan mengelak atau menyambut serangan Pendekar Linglung itupun tak mungkin karena tenaganya telah habis dan tubuhnya masih lemah akibat pertemuan tenaga sakti mereka itu. Bahkan dari celah-celah mulutnya pendekar besar dari Jalitunda itu telah mengeluarkan darah segar.

Untung saja Topeng Merah yang berada didekatnya itu tak kurang waspada. Melihat kalau Barata dalam keadaan bahaya ia lalu meninggalkan Baurekso dan terus berkelebat kearah Barata sambil menendangkan kakinya kearah tangan Pendekar Linglung yang akan menyerang Barata, hingga kaki dan tangan kedua orang sakti yang misterius itu bertemu. Dan akibatnya sangat hebat. Pendekar Linglung terpental beberapa tindak dan jatuh tersungkur diatas tanah sedangkan Topeng Merah merasa kalau kakinya menjadi sakit bukan main. 

“Akhhh....... kepandaianmu telah maju dengan pesat Linglung, apalagi tenaga dalammu.” Desis Topeng Merah dengan pelan. Dan setelah ia berhasil menggagalkan niat Pendekar Linglung maka kembalilah Ki Topeng Merah menghadapi Baurekso lagi. Sedangkan tubuh Barata terus disambar oleh Pendeta Kalinggapati untuk dia bawa ketempat yang aman.

Pertempuran makin lama makin bertambah seru, korban-korban makin bergelimpangan diatas tanah. Para pendekar itu terus mengamuk bagaikan banteng ketaton. Siapa yang menghalang-halangi jalannya maka mereka tak segan-segannya memukul hancur.

Baurekso setelah ditinggal oleh Pendekar Linglung makin lama makin tak kuat menahan amukan Ki Topeng Merah. Setelah ratusan jurus lamanya mereka bertempur maka akhirnya kakek tua buntung itu haruslah mengakui kalau kepandaian lawannya itu memang lebih hebat dari pada 297 kepandaiannya sendiri. Makin lama ia hanya main mundur saja dan menantikan sampai matahari muncul dari ufuk timur.

Sang waktu terus berjalan dengan tiada henti-hentinya. Makin lama fajarpun segera menyingsing. Melihat kalau fajar segera menyingsing maka Sancaka lalu berteriak dengan keras :

“Mundur!!! Cukup sekian dahulu penyerangan kita.”

Mendengar perintah dari Sancaka itu maka para pendekar itupun lalu meninggalkan lawannya dan terus melindungi para anak buah Untung untuk melarikan diri dan kembali ke hutan Paranggelung.

Weesssttt.... tiba-tiba saja Wirayuda mementang gendewa dan terus melepaskan panah berapi kearah benteng Belanda. Takk.... panah itupun terus menancap di wuwungan. Hingga sebentar kemudian terdengarlah teriakan para serdadu-serdadu Belanda.

“Kebakaran... kebakaran... kebakaraaannn ”

Sewaktu mereka itu sibuk memadamkan kebakaran yang ditimbulkan oleh panah api itu maka anak buah Untung lalu melarikan diri untuk kembali ke hutan Paranggelung dimana mereka bersarang.

Sebentar saja anak buah Untung dan para pendekar itu telah hilang dari pandangan mata. Hilang lenyap sebagai setan yang terus menghilang. Fajarpun segera menyingsing.

“Edan! Semua pemberontak tadi hilang tak berbekas, bahkan kawan- kawannya yang lukapun sempat mereka bawa pergi.” Seru Aru Palaka dengan heran.

“Jangan paduka heran, memang demikianlah sifat kerja sama yang baik dari suku bangsa Jawa ini. Untung mereka itu tak dapat bersatu, andaikata dapat bersatu maka kedudukan Kumpeni akan menjadi gawat dan berbahaya sekali.” Jawab Baurekso dengan menarik napas lega.

“Memang diantara kita banyak yang belum dapat bersatu, dan cita-cita kitapun lain. Kalau Kumpeni dapat memecah belahkan kekuatan mereka maka akanlah lebih baik lagi.” Sambung Klabang Songo.

Memang dari sekian banyaknya orang yang berada didalam Benteng Kumpeni itu hanya Klabang Songo, yang merasa penasaran dan marah sekali. Ia marah karena ilmu yang paling diandalkannya ternyata dapat dikembari oleh orang yang mengaku bernama Joko Seno. Bagaimana ia tak marah? Ilmu yang baru diciptakan dan belum lagi diturunkan kepada anak muridnya tadi telah dapat dipecahkan oleh lawannya.

“Mari kita urus kawan-kawan kita yang terluka dan kubur mereka yang mati!” Seru Klabang Abang kepada mereka.

“Benar, mereka harus mendapat perawatan yang layak.” Sambung Undung Kalayaksa.

“Huhhh mendapat perawatan yang layak?? Menghadapi pemberontak saja tak becus.” Ejek Edeler Moor dengan sinis.

“Tak baik kita saling menuduh dan ini akan mengakibatkan perpecahan. Marilah kita tetap bersatu.” Sahut Sindung Laut.

298 *

* *

Setelah menyerang benteng Kumpeni, maka rombongan Joko Seno dan para anak buah Untung itu terus lari kearah hutan Paranggelung dimana mereka itu bersarang. Sedangkan Ki Topeng Merah yang sakti mandraguna itupun ikut kedalam sarang tersebut.

Karena mereka itu kebanyakan lari dengan mempergunakan ilmu lari cepat, maka sebentar saja mereka telah sampai didesa Cisauri dekat hutan Paranggelung. Dan setelah melalui desa Cisauri, maka masuklah anak buah Untung itu kedalam sarang.

“Huahhh sialan! Pendekar Linglung bukannya dapat kita tolong malah ia mengamuk dengan hebat sekali. Untung adi Barata mempunyai tenaga dalam yang cukup kuat.” Gerutu Pendeta Kertapengalasan yang terus memeriksa keadaan murid Singapati itu.

“Benar apa yang kau katakan, kakang.” Seru Pendeta Kalinggapati yang sejak tadi menggendong Barata.

Sedang Wulandari terus berdiam diri saja, ia menjadi lemas sekali melihat keadaan suaminya yang demikian menyedihkan itu. Air matanya terus mengalir dengan derasnya.

“Sudahlah aju jangan kau bersedih, sebentar lagi kakang Barata tentu akan sembuh kembali.” Hibur Joko Seno kepada Wulandari.

“Aku sedih adi, sebab akan menyalahkan Pendekar Linglung juga tak dapat. Ia benar-benar linglung, dan lagi memang kakang Barata kalah tinggi kepandaiannya.” Serunya diantara sedu-sedan.

“Sayang aku tak melihat si Pendekar Linglung itu, sebab Ki Klabang Songo selalu menghadang dihadapanku.” Desah Joko Seno si Pendekar Budiman dengan menjesal.

“Akupun demikian, ingin rasanya aku melihat si Pendekar Linglung yang demikian sakti. Sayang aku belum berjodoh untuk melihat wajahnya. Namun lain kali sebelum mencoba kepandaiannya aku belum lega.” Timbrung Retnosari.

“Memang hebat kepandaian Pendekar Linglung itu adi, sayang sekali ia menjadi benar-benar linglung. Andaikan ia sadar maka tak mungkin menyerangku. Sebab ia tentu masih ingat kepadaku yang pernah bertemu di alun-alun Semarang dulu.” Seru Barata dengan lemah.

“Sudahlah kakang, jangan banyak bicara dahulu.” Seru Wulandari mencegah suaminya untuk berbicara terus-menerus.

Dengan amat cekatan sekali ketiga murid Tabib Dewa itu terus berusaha mengobati Barata. Terutama sekali Wulandari. Namun diantara itu tampaklah kalau pendeta Kertopengalasan mengerutkan dahinya. Sedangkan pendeta Kalinggapati menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan tak lama kemudian terdengarlah perkataannya :

“Sungguh hebat sekali kepandaian Pendekar Linglung.”

299 Mendengar perkataan Pendeta Kalingapati ini maka Pendekar Budiman lalu bertanya dengan khawatir :

“Beratkah luka yang diderita oleh kakang Barata itu, kakang?”

“Cukup berat, adi! Kukira hanya kau dan Ki Topeng Merah saja yang dapat menolongnya.” Jawab Pendeta Kertopengalasan yang mewakili adik seperguruannya untuk menjawab pertanyaan Pendekar Budiman.

“Aku???” Tanya Joko Seno dan Ki Topeng Merah berbareng.

Sedangkan Pendeta Kalinggapatipun menjadi heran setelah mendengar perkataan kakak seperguruannya tadi. Dan karena merasa ingin mengetahui segera ia bertanya dengan heran :

“Apakah maksudmu, kakang? Aku menjadi tak mengerti setelah kakang Pandan Kuning mengatakan bahwa yang bisa menolong adi Barata hanya Ki Topeng Merah dan adi Joko Seno saja?”

Mendengar pertanyaan Pendeta Kalinggapati ini maka Pendekar Budiman dan Ki Topeng Merah segera membuka telinganya baik-baik untuk mendengarkan apa jawaban yang diberikan oleh Pendeta Kertopengalasan itu.

“Memang yang dapat menolong adi Barata hanya adi Joko Seno dan Ki Topeng Merah saja.”

“Katakanlah apa yang harus kuperbuat, kakang!” Seru Joko Seno dengan tegas.

“Luka adi Barata ini berat sekali, sebab jantungnya telah tergetar oleh Pendekar Linglung. Dan lagi sekarang keadaan adi Barata sangat lemah. Obat satu-satunya yang dapat dipakai adalah daun Lidah Ular dan Kecubung Wulung. Selain kedua daun itu diperlukan pula darah katak merah. Atau yang terkenal dengan nama katak api. Hanya itulah yang dapat menyembuhkan adi Barata dari lukanya.” Seru Pendeta Kertopengalasan dengan nada haru.

Mendengar perkataan Pendeta Kertopengalasan ini Wulandari dan pendeta Kalinggapati hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Memang obat yang dikatakan oleh kakak seperguruan mereka itu benar semua. Menurut pendapat mereka juga obat-obat itulah yang dipergunakan.

Akan tetapi lain halnya dengan Ki Topeng Merah dan Joko Seno yang juga mendengarkan tadi. Begitu Pendeta Kertopengalasan menghentikan pembicaraannya maka Joko Seno segera menyeletuk :

“Lalu apakah maksud kakang kalau aku dan Ki Topeng Merah yang dapat menolong kakang Barata?”

“Benar angger Pendeta Kertopengalasan, katakanlah hal itu!” Sambung tokoh sakti yang misterius itu.

“Begini maksudku. Ki Topeng Merah dan adi Joko Seno adalah orang- orang yang kuanggap paling sakti diantara kita ini. Dan ketahuilah kalau katak api itu hanya terdapat dipegunungan Dieng saja. Sedangkan daun Lidah Ular dan Kecubung Wulung diambil dilereng gunung Muria dimana

300 kami tinggal. Pokoknya didepan gua Melati tentu tersedia tumbuh- tumbuhan itu. Hanya katak api itulah yang tak ada.”

“Jadi maksud kakang kami kau suruh mencarinya??” Tanya Pendekar Budiman dengan memandang kearah Pandan Kuning.

“Ya demikianlah, sebab keadaan adi Barata ini tak akan kuat menahan derita ini lebih dari duapuluh tujuh hari.”

“Duapuluh tujuh hari??” Ulang mereka dengan serempak.

“Begitukah? Semoga saja Tuhan melindunginya.” Jawab Pendeta Kertopengalasan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Duapuluh tujuh hari adalah waktu yang sangat singkat kalau dipakai untuk pergi ke Gua Melati dan pegunungan Dieng. Tapi apa daya kalau demikian yang dikehendaki. Aku sanggup mencarikan obat itu, angger.” Seru Topeng Merah.

“Akupun sanggup, kakang.” Kata Joko Seno dengan tegas.

“Bagus, aku akan sangat bergirang sekali kalau andika mendapatkan barang-barang yang kami perlukan tadi.” Jawab Wulandari sambil menyeka air matanya karena kegirangan.

“Aku akan berusaha sekuat tenagaku, nini.” Seru Topeng Merah. “Akupun demikian, ayu.”

“Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepada andika berdua.

Dan semoga saja andika dapat berhasil.”

“Marilah kita pergi sekarang saja, Ki Topeng Merah! Sebab kalau kita mengulur waktu maka kasihan kakang Barata.” Ajak Joko Seno kepada tokoh sakti yang misterius itu.

“Sebentar angger, karena waktu amat singkat dan perjalanan amat jauh, maka baiknya pekerjaan ini kita bagi dua saja. Kau mencari katak api, atau pergi ke Gua Melati?” Jawab Topeng Merah balas bertanya.

“Benar, begitulah baiknya.” Sambung Pendeta Kalinggapati.

“Biar aku yang pergi ke Gunung Dieng saja, Ki Topeng Merah dan andika silahkan pergi ke Gunung Muria.” Jawab Pendekar Budiman.

“Bagus... bagus... mari kita berangkat!” Ajak Topeng Merah kepada Pendekar Joko Seno itu.

Setelah minta diri kepada mereka semua itu maka berangkatlah kedua orang tokoh sakti itu. Masing-masing mempergunakan seekor kuda pilihan yang baik serta kuat.

Sesampainya diperbelokan jalan maka berkatalah Ki Topeng Merah : “Selamat berpisah, angger! Semoga berhasil, dan hati-hatilah kau

dipuncak Dieng sebab banyak rintangan.”

“Terima kasih Ki Topeng Merah. Selamat berpisah.” Setelah mereka itu berkata demikian maka berpisahlah mereka.

Sementara itu yang berada didalam pondok hutan Paranggelung. Pandan Kuning, Gagak Rimang dan Wulandari terus menerus merawat Barata. Bahkan tak jarang mereka itu membantu menyumbangkan tenaga kalau pendekar dari Jalitunda itu merasa lemah.

301 Setelah matahari mulai memancarkan sinarnya ditengah-tengah jagat raya ini barulah mereka itu menyadari bahwa Ariyani dan Wardani tak tampak diantara mereka itu :

“Heeee.... kemanakah Ariyani??” Wulandari dengan hati was-was.

Mendengar pertanyaan Wulandari ini maka Retnosari segera menjawab : “Memang dari tadi Ariyani dan Wardani tak tampak, mungkin mereka

sedang bercakap-cakap ditengah hutan.”

“Hmmm. benar aku belum melihat mereka berdua, pagi tadi sewaktu

kita mengundurkan diri dari benteng Kumpeni ia tak kelihatan ikut kemari.” Sambung Pendeta Kertopengalasan.

Begitu mendengar perkataan Pendeta Kertopengalasan ini barulah mereka benar-benar menyadari kalau kedua orang gadis itu tak ada diantara mereka. Wulandari mulai kelihatan gugup dan cemas.

“Jangan-jangan mereka itu tertangkap.” Seru Wulandari dengan pelan. “Tidak mungkin! Mereka tadi melawan Raja Bone dan aku

menolongnya, dan aku yakin kalau nini Ariyani dan Wardani tak tertangkap oleh Belanda. Jangan kau cemas nini Wulan, rawatlah suamimu dengan baik-baik.” Hibur Sancaka. Memang kakek yang telah banyak makan asam garam penghidupan ini merasa tak tega melihat kesedihan yang terus-menerus menimpa Wulandari. Karena itulah maka ia mengeluarkan perkataan yang bersifat menghibur diri Wulandari. Sebetulnya didalam hatinya sendiri berkecamuk perasaan yang tak menentu.

“Tapi.... tapi.... kalau tak tertangkap kemanakah mereka??” Desis Wulandari dengan pelan.

“Sudahlah ayu! Jangan kau cemaskan nasib mereka itu. Andaikata mereka itu benar-benar tertangkap aku sanggup menyerbu Benteng Kumpeni itu seorang diri untuk membebaskan mereka.” Seru Retnosari dengan tegas.

“Kalau sampai nanti malam mereka belum pulang maka aku akan melabrak ke benteng itu nini, sudahlah jangan kau cemaskan.” Seru Sancka menghibur hati isteri pendekar Jalitunda itu.

Mendengar kesanggupan mereka itu agak legalah hati Wulandari, dan segera mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk merawat suaminya yang sedang terluka itu.

“Adi, jangan terlalu banyak bergerak. Dan berusahalah supaya tiap tarikan napas itu kau tarik dengan panjang-panjang untuk memulihkan keadaan paru-parumu.” Seru Pendeta Kertopengalasan kepada Barata.

Mendengar kakak seperguruan isterinya ini maka pendekar dari Jalitunda itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Dan setelah itu Barata lalu mengerjakan apa yang dikatakan oleh Pendeta Kertopengalasan

Sedangkan Pendeta Kalingapati terus-menerus sibuk dengan ramuan obat-obatan yang dipakai untuk sementara mengobati luka yang diderita oleh Barata itu. 302 Sementara itu diluar para perajurit yang terluka pun tak dibiarkan saja. Teman-teman mereka itu terus berusaha mengobatinya dan kalau ada yang terluka parah maka Pendeta Kalinggapati tak segan-segannya untuk meringankan tangannya menolong mereka. Hingga dengan demikian maka persaudaraan antara anak buah Untung dengan para pendekar itu menjadi erat. Dan ini menjadikan Sancaka menjadi girang. Memang ia amat mencinta murid tunggalnya itu, akan tetapi cintanya kepada Joko Seno atau Pendekar Budiman itu tak kalah besarnya. Hingga dengan demikian maka kakek itu menjadi girang.

Hingga dapatlah kalau keadaan di hutan Paranggelung itu menjadi sepi dan penghuninya sedang prihatin, Untung sendiri duduk tepekur memikirkan kegagalannya ini.

Dilain saat tampaklah Wardani dan Ariyani sedang bercakap-cakap dibawah naungan sebuah kuil yang telah rusak. Gadis itu duduk diantara patung-patung Buddha yang terdapat didalam kuil itu.

“Sungguh malang sekali nasib kita ini, adi. Pendekar Linglung yang akan kita tolong itu telah benar-benar menjadi linglung. Dan bagaimanakah rencanamu, adi?” Tanya Ariyani yang terus-menerus memandang wajah Wardani yang kelihatan pucat dan sedih itu.

Mendengar pertanyaan Ariyani ini maka Wardani lalu menarik napas panjang dan sesaat kemudian terdengarlah jawaban :

“Hemm... aku bingung, ayu! Tapi biarpun ia telah benar-benar menjadi orang linglung, namun cintaku tak akan berubah! Bahkan perasaan cintaku kepadanya akan bertambah hebat. Kasihan kakang Linglung itu.”

Mendengar perkataan Wardani ini Ariyani menjadi iba, dan tanpa sesadarnya air matanya terus meleleh keluar. Memang ia merasa kasihan sekali kepada Wardani itu. Dan yang terutama sekali ia sangat kasihan kepada Pendekar Linglung. Bagaimana tidak? Orang pertama yang mengisi hatinya itu telah benar-benar menjadi linglung, ia lebih senang melihat orang yang dikasihinya itu dapat berbahagia dengan Wardani apa bila melihat Pendekar Linglung itu benar-benar menjadi linglung.

Melihat kalau Ariyani menangis, maka Wardani segera bertanya dengan perasaan heran :

“Ayu, kenapa kau?”

Ariyani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyeka air matanya saja sebagai jawaban dari pertanyaan Wardani itu. Akan tetapi ia masih belum dapat menahan keluarnya air mata itu. Hingga hal ini menambah herannya hati Wardani.

“Ayu, apakah kau kecewa setelah berpisah dengan ayah bundamu? Andaikan kau kecewa, maka aku tak menghalang-halangimu kalau kau akan kembali kepada mereka.” Serunya sambil memegang tangan Ariyani.

“Tidak.... tidak.... adi, aku akan berusaha membebaskan Pendekar Linglung dari tangan mereka. Dan aku akan mempertemukan kalian, hatiku tak akan menjadi puas sebelum melihat kalian hidup dengannya.” Jawabnya dengan sekenanya saja. 303 Mendengar jawaban Ariyani ini lemaslah Wardani. Ia segera memeluk anak pendekar Jalitunda itu dan air mataanya terus keluar dengan derasnya. Disela-sela sedu-sedan suara tangisnya itu terdengarlah perkataan Wardani :

“Sungguh mulia sekali hatimu, ayu! Entah aku dapat membalas kebaikan itu atau tidak. Tapi aku akan selalu berusaha membalas kebaikanmu dengan jalan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya ayu selalu dilindungi-NYA.”

“Terima kasih, adikku.” Desis Ariyani.

Sesaat mereka itu berdiam diri. Tangan gadis-gadis itu lalu mulai melepaskan pelukannya dan terus kembali duduk seperti sedia kala. Seketika itu terbayanglah akan keadaan tadi pagi.

Sewaktu Sancaka berteriak-teriak bahwa mereka akan mengundurkan diri Ariyani dan Wardani masih berusaha mencari Pendekar Linglung. Akan tetapi karena keadaan yang telah tak memungkinkan lagi untuk mencari lebih lama itu maka terpaksalah mereka itu memencarkan diri dan tak ikut pulang ke Hutan Paranggelung melainkan dengan diam-diam kedua gadis gagah berani ini mulai mencari tempat sendiri dan berjanji kalau nanti malam akan menyerang lagi untuk menculik dan membebaskan si Pendekar Linglung yang sama-sama mereka cintai. Dan kebetulan sekali mereka itu mendapatkan sebuah kuil rusak didekat benteng itu.

“Ayu, bagaimanakah caranya untuk penyerangan nanti malam??” Tanya Wardani dengan pandangan kosong.

Ariyani tak dapat menjawab ketika mendengar pertanyaan sahabatnya ini, hingga sampai lama mereka itu kembali berdiam diri. Akan tetapi tak lama kemudian terdengarlah perkataan Ariyani :

“Adi, marilah kita berjuang bersama-sama, dan kita akan sehidup semati untuk membebaskan Pendekar Linglung. Nah, mari kita saling mengangkat saudara. Bagaimana?”

“Bagus, ayu! Aku sangat setuju sekali dengan pendapatmu, dan aku akan bangga mempunyai kakak yang secantik kau dan segagah kau ini, ayu.” Jawab Wardani dengan girang.

“Baiklah, mulai saat ini kita telah menjadi kakak-beradik. Nah, adikku aku akan selalu membelamu dan berusaha untuk membebaskan kekasihmu dari cengkeraman orang jahat itu.” Seru Ariyani dengan tegas.

“Akupun akan berusaha mencarikan putera paman Joko Seno yang tak tentu rimbanya itu, ayu! Nah, aku akan mencari makanan dahulu.” Setelah berkata demikian maka berkelebatlah Wardani meninggalkan Ariyani.

Melihat kepergian Wardani ini Ariyani merasa tak tega, dan lagi ia menjadi tak betah untuk tinggal didalam kuil rusak itu sendirian. Hingga dengan demikian maka iapun lalu berkelebat untuk menyusul Wardani. Untung kepandaian Wardani itu tak berada diatasnya hingga dengan demikian Ariyani masih dapat menyusulnya. “Kita pergi bersama-sama, adi!” Serunya setelah berada disamping Wardani.

“Hehhh.... sebaiknya saudara muda saja yang mencari makan dan kau sebagai saudara tua tinggal saja dirumah.” Jawab Wardani dengan tersenyum simpul.

“Hehhh, kau kira aku ini nenek bawel yang telah tak dapat bergerak- gerak? Yang akan makan kita, maka kita pula yang harus mencarikan makanan. Nah, marilah kita cari.” Seru Aritani dengan mencubit tangam Wardani.

“Ayu, apakah kau membawa uang?”

Mendengar pertanyaan Wardani ini maka cepatlah Ariyani menggelengkan kepalanya. Dan kemudian ia lalu bertanya kepada si adik :

“Apakah kau membawa, adi?”

Kini ganti Wardani yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat ini tersenyumlah mereka. Dan segera sama-sama menghentikan langkahnya.

“Lalu bagaimana kita akan mendapatkan makanan, adi??” “Curi!” Jawabnya dengan singkat.

“Mencuri???” Ulang Ariyani dengan heran. “Ya!”

“Tak mau aku mengambil kepunyaan orang.” Jawab Ariyani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah kau akan membiarkan perutmu itu terus-menerus berkeruyuk karena lapar??”

“Lebih baik demikian dari pada mencuri.” “Kau salah!”

“Salah???”

“Ya! Suatu ketololan yang lucu!” Seru Wardani dengan sungguh- sungguh. Mendengar perkataan Wardani ini makin tak mengertilah si Ariyani itu. Dan karena itulah maka ia lalu minta penjelasan kepada adiknya ini :

“Apakah maksudmu adi??”

“Tuhan akan mengutuk umat-Nya kalau ia melakukan bunuh diri!

Apakah kau senang kalau dikutuk-Nya??”

“Berkatalah yang benar! Masakan aku akan bunuh diri.” Jawab Ariyani dengan merengut.

“Bukankah kau akan mendiamkan saja perutmu menjadi kosong?? Dan kalau lapar maka banyak kemungkinan nyawamu akan melayang. Dan kalau nyawamu melayang maka sama saja dengan ayu membunuh diri, sebab dengan jalan mengambil makanan maka nyawa kita akan dapat tertolong.” Seru Wardani.

Mendengar keterangan Wardani ini tersenyumlah Ariyani, akan tetapi ia masih kurang puas dengan pendapat adik angkatnya ini dan segera ia membantahnya lagi :

305 “Tapi kalau kita mencuri maka itu sama saja dengan kita melakukan dosa. Dan karena mencuri itu larangan Tuhan kita akan sama-sama dikutuk Tuhan, adi!”

“Memang kalau hanya mencuri saja maka kita akan dikutuk Tuhan. Tapi hendaknya ayu dapat memilih calon korban kita.” Seru Wardani memberi keterangan.

“Siapa saja yang akan kita jadikan korban sama saja, bukankah sama saja kita mencuri? Hehhh, biarlah kita menanggung lapar.” Kembali Ariyani membantah pendapat Wardani.

“Begini ayu! Kita ambil saja makanan yang akan dimakan oleh para pembesar Kumpeni. Sebab kalau kita mengambil makanannya maka kita tak akan dapat dikatakan mencuri.”

“Huuuhhh.... alasan apa lagi yang akan kau kemukakan itu, adi! Biarpun yang kita ambil itu masakan seorang Belanda, kita tetap saja dicap sebagai pencuri.”

“Rewel benar kakakku ini. Kalau kita mengambil masakan orang Belanda itu bukannya kita mencuri, tapi malah sebaliknya, kita mengambil hak kita sendiri ”

“Mengambil hak kita sendiri???” Potong Ariyani dengan tersenyum geli mendengar perkataan adik angkatnya ini.

“Jangan kau potong dulu! Biar aku meneruskan pendapatku dulu.” Seru Wardani dengan cemberut.

“Baiklah. baiklah, adi!”

“Ayu, tentu tahu kalau Belanda itu pekerjaannya adalah menghisap rakyat dan mengambil kekayaan bumi kita dengan seenaknya saja. Jadi kalau kita mengambilnya sedikit saja itu bukannya berarti kita mencuri. Tapi sama dengan kita mengambil hak kita yang telah dirampas oleh Kumpeni. Nah, sudah tahukah kau akan maksudku ini, ayu?”

Mendengar penjelasan Wardani yang panjang lebar ini mau tak mau Ariyani jadi tersenyum dan terus mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Dan tak antara lama terdengarlah perkataannya :

“Baik.... baik..... marilah kita menyikat makanan para orang Kumpeni itu, adi! Mari lekaslah, perutku jadi semakin lapar.”

“Mari ayu!” Setelah berkata demikian maka kembalilah mereka itu berkelebat menuju kerumah salah seorang pembesar Kumpeni. Rumah itu adalah rumah Kapten Tack.”

“Rumah besar ini tentunya rumah seorang pembesar, dan kalau rumah pembesar maka makanan yang disediakan tentunya enak-enak adi. Marilah kita terus menuju kedapur saja.” Ajak Ariyani yang telah timbul kegembiraannya itu.

“Mari, ayu!” Jawab Wardani dengan tersenyum. Setelah keduanya menyetujui maka berkelebatlah mereka itu naik keatas wuwungan dan dari atas wuwungan itu mereka mulai mengintai dapur rumah Kapten Tack.

306 Setelah melihat kebawah maka Ariyani segera menelan air liurnya dan terus menarik tangan Wardani sambil berbisik :

“Lihat adi, masakan apakah yang kau cium baunya ini?”

Setelah menengok kebawah maka Wardani segera menjawab dengan menahan tetesan air liurnya :

“Roti, susu dan beberapa tusuk sate. Akhh.   cukup mengenyangkan.”

“Memang demikian!” Jawab Ariyani dengan tersenyum.

“Huhhh koki-koki itu kenapa tak mau masuk-masuk kedalam dan akhhh. perutku menjadi semakin lapar saja.” Seru Wardani.

Sementara itu dibawah para koki sedang masak Roti yang telah disediakan diatas meja itu lalu mulai dibakar dan sate-sate itu mulai dipanaskan.

“Hemm..... kapten tentu akan girang setelah melihat makanan yang akan kusajikan nanti. Habis jaga malam ditangsi pulangnya makan roti sate dan minum susu.” Seru orang yang membakar roti.

“Memang enak, enak lagi kalau kita dapat mengambil hatinya. Sebab kalau ia merasa senang maka tak segan-segan mengeluarkan persen buat kita.” Jawab yang membakar sate.

“Eehh. apakah susunya tadi telah kau panasi?”

“Beres!”

Mendengar perkataan para koki ini makin terasalah kelaparan yang menggerogoti perut kedua orang gadis yang berada diatas wuwungan tadi. Tapi mau tak mau mereka itu harus menyabarkan diri.

“Lekas kau siapkan meja makan didalam.” Seru yang membakar sate itu kepada kawannya.

“Baik, biar disini dahulu!” Setelah berkata demikian maka masuklah orang yang membakar roti tadi kedalam. Sedang orang yang membakar sate masih sibuk dengan pekerjaannya. Tapi tak lama kemudian terdengarlah suara si pembakar roti tadi dari dalam :

“Akhhh.... kau ini pemalas benar, masakan lantainya belum kau sapu!

Lekas sapu bersih dahulu.”

“Okkhhh   hampir saja aku lupa.” Jawabnya terus mengambil sapu dan

mulai menyapu lantai dalam rumah kapten Tack itu.

Sewaktu kedua orang koki tadi menyiapkan ruangan makan maka berkelebatlah Wardani melayang turun dan setelah mengambil roti bakar dan sate lalu melayang keatas lagi. Sedangkan Ariyani terus menyambar susu yang masih didalam gelas itu.

“Mari kita makan adi.”

“Mari, ayu!” Setelah itu maka kedua orang gadis tadi mulai makan masakan itu dengan lahapnya. Dan setelah menjikat habis sarapan pagi Kapten Tack itu Wardani dan Ariyani terus meletakkan piring-piring dan gelas itu ditempatnya semula.

Betapa gelinya hati mereka itu setelah melihat kedua orang koki itu.

Hingga hampir-hampir saja Ariyani tak dapat menahan gelak tertawanya.

307 “Heeeee.... kemanakah masakan-masakan tadi??” Seru orang yang membakar roti sambil memandang kearah si pembakar sate.

“Entah!” Jawab pembakar sate dengan heran.

“Jangan kau main-main kawan! Sewaktu kutinggal masuk tadi masih ada. Hayo mengakulah kalau kau yang makan.” Bentak si pembakar roti dengan geram.

“Jangan asal menuduh saja! Masakan aku telah gila. Mungkin dimakan kucing.”

“Puaaahhh..... masakan kucing dapat makan sate dengan tak merusak sujennya. Dan lagi... bagaimana ia dapat minum susu dari dalam gelas tanpa menggulingkan gelasnya. Lekas mengaku!”

“Sekali lagi kuperingatkan supaya kau dapat menjaga mulutmu! Jangan kau main gila dengan menuduhku!” Jawab pembakar sate itu mulai marah.

“Bagaimana aku tak menuduhmu! Sebab didalam dapur tadi hanya ada dua orang. Aku dan kau!”

“Memang aku dan kau yang berada didalam dapur, tapi aku benar- benar tak mengambil masakan itu.” Teriak si pembakar sate dengan penasaran sekali.

“Aku tak pencaya! Akhh....... bagaimana nanti kalau kapten Tack menjadi marah?” Keluh si pembakar roti.

“Kita masakkan saja.” Hibur yang lain.

“Masakkan lagi?? Engkau yang telah menyikat habis masakan itu. Dan lagi uang dari manakah?” Seru pembakar roti dengan tersenyum. Senyuman mengejek.

“Bangsat, jadi kau masih menuduhku??” “Mengapa??”

“Plakkk!” Tiba-tiba saja pembakar sate tadi mengayunkan tangannya dan terus menempeleng pipi kawannya.

“Bangsat kau!” .....Blugggg..... Setelah memaki kawannya maka si pembakar roti tadi terus menendangkan kakinya kearah perut kawannya hingga kedua orang koki tadi hanya duduk berpandangan sambil memegangi pipi dan perut mereka.

“Mungkinkah makanan tadi dimakan hantu??” “Hantu??” Ulang si pembakar sate.

“Hiiii..... Hantuuuu.....” Teriak si pembakar roti sambil lari masuk kedalam. Dan terus saja disusul dengan si pembakar sate yang juga ketakutan. Setelah mereka masuk maka kembalilah Ariyani dan Wardani kedalam kuil bobrok tadi dengan hati tersenyum geli. 

Karena kedua orang dara perkasa itu kembali dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya maka sebentar saja Wardani dan Ariyani telah sampai di kuil bobrok tadi.

“Akhh... hampir-hampir aku tak kuat menahan perutku ini adi!” Seru Ariyani sambil memegangi perutnya yang kelihatan gendut itu.

“Heee... ayu, dosamu lebih besar dari pada dosaku.” Jawab Wardani dengan tersenyum. 308  

Setelah memaki kawannya maka si pembakar roti tadi terus menendangkan kakinya........

“Dosa? Dosa apakah itu?” Tanya Puteri pendekar dari Jalitunda itu.

Setelah menenangkan hati dan mengatur jalannya napas maka menjawablah Wardani dengan suara pelan :

“Bukankah kau mencuri lebih banyak? Jadi dengan demikian dosa yang kau tanggungpun lebih berat dari pada yang kutanggung. Sebab aku hanya mencuri sedikit.”

Mendengar godaan dan olok-olok Wardani ini Ariyani hanya tersenyum saja. Dan ia lalu duduk menyandarkan dirinya didinding yang telah dibersihkan. Sesaat keduanya berdiam diri dan masing-masing sedang menanti turunnya makanan itu dari dalam perutnya.

“Ngantuk aku, ayu!”

“Akupun demikian, adi!” Jawah Ariyani sambil menutup mulutnya karena menguap. “Baiknya kita tidur dulu saja.” Seru Wardani yang terus menggelosor tidur diatas lantai. Ariyanipun lalu menirukan perbuatan Wardani. Dan tak antara lama kedua gadis pendekar itupun telah lelap dialam mimpi.

Sewaktu kedua orang gadis itu sedang nyenyak tidur, tiba-tiba diluar kuil itu terdengar suara orang yang sedang menggerutu.

“Sial benar kita ini, masakan dari tengah malam sampai sekarang tak mendapat seorang korban.”

“Benar-benar sial, kakang. Huh, inilah gara-gara si gadis Belanda yang tak tahu malu itu.” Jawab yang lain.

“Besuk malam kita cari lagi, rasanya lemas badanku kalau tak mendapatkan seorang gadis untuk pelepas nafsuku ini.”

“Hehhh... Hehhh... Hehhh... akupun demikian kakang hidup tanpa wanita sangatlah hampa. Mari kita melepaskan lelah dahulu.” Jawab orang itu sambil melangkahkan kaki masuk kedalam kuil dimana Ariyani dan Wardani tidur.

Kedua orang itu bukan lain adalah pendeta-pendeta yang tinggal dikuil itu. Dan orang yang tua berwajah menyeramkan itu bernama Kridopaksa, sedang yang lain adalah Pendeta Kumborono. Kedua orang pendeta ini adalah pendeta-pendeta murtad yang pekerjaannya hanya menculik gadis- gadis untuk memuaskan hawa nafsunya. Namun karena kepandaiannya yang tinggi dan berkedok jubah pendeta, maka rakyat tak mengetahui bahwa kedua pendeta itu adalah iblis-iblis yang berkedok alim ulama. Bahkan sebagian besar rakyat merasa kasihan dan simpati melihat kehidupan pendeta-pendeta yang dianggapnya sederhana dan menerima bagian saja karunia Yang Maha Agung.

Betapa terkejutnya kedua orang pendeta itu setelah mengetahui bahwa didalam kuilnya terdapat dua orang gadis cantik manis yang sedang tidur nyenyak.

Sayang kedua orang gadis itu terlalu kepayahan hingga tidur mereka itu benar-benar nyenyak dan akibatnya mereka tak mendengar kalau kuil itu kedatangan dua orang penjahat cabul yang siap sedia menerkamnya.

Melihat kedua orang gadis ini maka berkatalah Pendeta Kumborono dengan pelan :

“Budha maha pengasih! Aku pilih yang sebelah kiri!” Serunya sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah Wardani yang sedang tidur pulas itu. “Terserah, yang kananpun tak kalah cantiknya.” Jawab Pendeta Kridopaksa sambil menahan jatuhnya air liur dari dalam mulutnya. Pandangannya yang tajam itu terus saja melalap tubuh yang montok dan berisi. Seakan-akan seekor kucing yang melihat ikan. Dengan sangat hati- hati Kridopaksa terus mendekat kearah Ariyani dan bergerak..... takk.....

lemaslah tubuh Ariyani kena totok. Akan tetapi bersama dengan itu terdengarlah teriakan dara pendekar dari daerah Jalitunda itu : “Aduh!!”

Karena teriakan Ariyani inilah maka Wardani segera melompat bangun dan terus siap dalam keadaan kuda-kuda. Dan betapa marahnya setelah melihat kalau kakak angkatnya telah berada dibawah pengaruh 310 totokan pendeta yang tak dikenal itu. Dengan cepat ia menarik pedangnya dan terus menerjang Pendeta Kridopaksa. Akan tetapi dengan sebat sekali pendeta cabul itu dapat mengelakkan serangan si dara.

Melihat kalau kawannya diserang oleh dara yang menjadi kehendaknya maka Pendeta Kumborono lalu berseru dengan lantang :

“Kakang jangan kau lukai dia! Minggir, dia bagianku!”

Mendengar teriakan rekannya ini maka Pendeta Kridopaksa lalu melompat minggir sambil berseru :

“Huahaha... Haaa... Haaaa... memang ini urusanmu, adi! Silahkan... silahkan.” Setelah berkata demikian lalu pendeta cabul itu menyambar tubuh Ariyani yang lemas dan tak berdaya itu.

Weesssttt... dengan cepat Wardani menusukkan pedangnya kearah lambung Pendeta Kridopaksa yang sedang menyambar dengan cepat dan..... tranggg... bunga api berpijar! Dan ternyata Pendeta Kumborono telah menangkis serangan Wardani dengan goloknya. Hingga sewaktu golok dan pedang itu bertemu terasalah bahwa tangan Wardani menjadi panas dan tergetar.

“Bangsat kau!” Desisnya sambil menendang Pendeta Kumborono dengan pandangan mata yang tajam sekali.

“Heee.... heee.... heee.... kepandaianmu cukup lumayananak manis. Marilah kita main diluar supaya tak mengganggu gerakan-gerakan kita.” Tantang Kumborono yang terus berkelebat keluar.

Karena luapan amarahnya maka Wardani lupa daratan, begitu melihat kalau lawannya lari keluar dengan tanpa banyak bicara dan pikir panjang lagi maka iapun lalu berkelebat keluar. Dan sesampainya diluar didapatinya Pendeta Kumborono yang sedang tersenyum-senyum penuh arti. “Heehhh.... hehehehhh.... ternyata berani juga menyambut tantangan ini, anak denok! Akh.... betapa bahagianya mempunyai isteri yang cantik dan juga gagah seperti Srikandi ini.”

“Awas pedang!” Teriak Wardani yang telah menusukkan pedangnya kearah dada sang pendeta. Akan tetapi kali ini Wardani ketemu dengan batunya. Pendeta yang diserangnya ini adalah seorang pendeta yang mumpuni dan berkepandaian tinggi sekali. Hingga begitu matanya melihat kalau ada sinar pedang menyambar kerah dadanya maka cepatlah ia mengerakkan tangan kanannya yang memegang golok tadi. Hingga....

tranggg   kembali terlihat bunga api berpijar.

Akan tetapi Pendeta Kumborono tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Dengan cepat ia mempergunakan kesempatan sewaktu Wardani terhuyung-huyung kebelakang untuk memukul pundak lawan dengan pukulan jarak jauhnya.

Untung sekali bagi Wardani, mungkin yang Maha Agung masih belum menghendaki Srikandi Banten itu roboh ditangan sang pendeta cabul. Begitu ia terhuyung-huyung kebelakamg tiba-tiba saja kaki kirinya terantuk batu hingga hilanglah keseimbangannya dan akibatnya jatuh 311 terlentang. Bertepatan dengan jatuhnya Wardani ini menyambarlah angin pukulan Pendeta Kumborono, hingga pukulan itu hanya mengenai angin kosong saja.

Akan tetapi Wardani tak membiarkan dirinya jatuh begitu saja! Segera ia menggerakkan kakinya untuk menendang lutut lawan dan terus melanting keatas untuk berdiri kembali.

“Huahaha... Haaa... Huahahaa... bagus-bagus sekali gerakanmu itu, anak molek!” Seru Pendeta Kumborono sambil melompat keatas untuk menghindarkan tendangan Wardani.

Setelah keduanya memperbaiki kedudukannya lagi maka Wardani mengeluarkan jurus-jurus yang paling berbahaya dan diandalkannya. Hingga serangannya itu datang dengan cepat dan tubuhnya bergerak sangat ringan, seakan-akan kaki mereka itu tak menginjak bumi.

Pendeta Kumborono menjadi kagum sekali. Terang gadis ini mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi dan kalau dilihat cara ia menyerang maka tangan kiri dan pedang yang berada ditangan kanan ini tidak boleh dipandang ringan saja. Tiba-tiba saja pedang Wardani menusuk kearah iga dan melihat ini cepat Pendeta Kumborono menggerakkan goloknya untuk menindih datangnya pedang lawan.

“Bagus!” Desis Wardani tanpa sesadarnya. Memang gadis ini merasa kagum sekali dengan kepandaian pendeta cabul itu. Akan tetapi ia terus kembali melabrak hingga pertempuran berjalan dengan seru dan semakin ramai. Pukul-memukul terjang-menerjang saling silih berganti.

Dilain saat Pendeta Kridopaksa terus membawa Ariyani masuk kedalam ruang dalam dan memperkosa gadis pendekar yang lemah itu.

“Huahaha... Huahaha... Huahaha... sungguh cantik kau manis! Hehhh... Hehhh... Hehhh... mari kita bersenang-senang, sayang.” Setelah berkata demikian maka pendeta cabul itu lalu mencium Ariyani.

Melihat datangnya ciuman ini Ariyani hanya memejamkan matanya saja, hatinya terus bergolak dan mulutnya terus menyumpah-nyumpah, sedang badannya lemas tak berdaya.

“Bangsat! Pendeta gila, pendeta anjing.”

Akan tetapi Pendeta Kridopaksa itu tak menghiraukan caci-makian dari si dara perkasa tersebut. Bahkan ia terus semakin gila dan... brettt... sobeklah kain yang dipakai Ariyani dan....

Trang..... tranggg...... tranggg...... bunga api berpijar dengan hebat, sedang tubuh Pendeta Kumborono terus mendesak Wardani. Hingga Wardani semakin menjadi sibuk untuk menangkis serangan-serangan itu. Srikandi Banten ini benar-benar telah lupa akan keadaan kakak angkatnya yang telah tertawan oleh musuh itu.

Jurus demi jurus mereka lewatkan dengan amat cepatnya. Dua ratus jurus telah berlalu. Akan tetapi sayang sekali dalam jurus-jurus selanjutnya Wardani telah kelihatan lemas dan kehabisan tenaga, hingga serangan- serangan yang dilancarkan itu telah tak semantap dan berbahaya lagi.

312 Dilain saat serangan-serangan yang dilancarkan oleh Pendeta Kumborono semakin kuat dan gencar sekali. Tapi untung saja pendeta cabul itu tak bermaksud membunuh atau melukai diri gadis itu hingga dengan demikian Wardani masih memdapat kesempatan sedikit-sedikit untuk mempertahankan diri. Memanglah bagi pendeta Kumborono itu tak sedemikian mudahnya untuk menangkap Wardani hidup-hidup tanpa melukainya. Andaikata ia ingin menangkap macan liar tak sesukar menangkap Wardani ini. Namun karena kobaran nafsunya itulah yang menyebabkan Wardani dapat bertahan sampai beberapa ratus jurus.

“Menyerahlah saja anak manis! Bukankah aku ini pantas sekali kalau menjadi suamimu??” Serunya sambil menubruk pinggang Wardani, gerakan ini kelihatannya sangat pelan dan seperti orang akan memeluk. Akan tetapi karena ini dilakukan oleh seorang sakti yang telah mempunyai tenaga dalam tinggi maka Wardani seperti tak dapat bergerak dan seakan- akan disekelilingnya itu dipagari oleh tembok baja yang tak terlihat. Dengan demikian mudah saja Wardani terpegang oleh Pendeta Kumborono yang telah melancarkan ilmu sihirnya. Ilmu sihir yang didasari oleh kekuatan tenaga dalam.

“Huahaha.... huahaha.... huahaha.... apakah sekarang kau masih akan melawan, anak manis?? Hem... biarlah untuk obat lelah aku terlebih dahulu menciummu.” Benarlah setelah berkata demikian maka Pendeta Kumborono lalu mendekatkan mukanya kemuka Wardani dan siap sedia mencium bibir yang merah merekah itu.

Akan tetapi tentu saja Wardani tak mau menerima ciuman dari seorang tua jelek dan lagi tak dicintainya. Begitu muka yang menakutkan itu dekat dengan mukanya ia lalu meludahinya :

“Cuhhh!!”

Ludah ini bukanlah sembarang ludah, ludah dilontarkan dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya hingga ketika itu juga melepaskan pelukannya :

“Aduhh!!”

Bersama dengan datangnya suara itu tampaklah kalau para penduduk telah beramai-ramai menghampiri tempat kuil itu. Hingga dengan demikian pendeta jahat itu tak berani berlaku kurang ajar lagi kepada Wardani. Sebab pendeta itu segan dan takut kehilangan nama baik dan simpati rakyat kepadanya.

“Apakah yang terjadi, bapa??” Tanya salah seorang desa itu kepada Pendeta Kumborono.

“Akhh.... tak terjadi apa-apa ki sanak, hanya tadi dengan sahabat ini terdapat salah paham sedikit saja.” Jawabannya dengan berlagak alim.

“Bohong!! Dia adalah penjahat cabul!!” Teriak Wardani dengan sengit dan terus menudingkan pedangnya kearah muka pendeta itu.

“Hehhh, jangan kau kurang ajar terhadap bapa pendeta! Apakah kau tak tahu kalau sedang berhadapan dengan orang suci??” Bentak salah seorang penduduk dengan marah. 313 “Suci??? Huhh dengan anjing saja suci anjingnya.” Bantah Wardani dengan senjum mengejek.

“Bangsat wanita binal! Kau benar-benar minta dihajar!” Seru orang yang berkata tadi dan terus menghampiri Wardani, begitu dekat ia lalu mengayunkan tangannya untuk menampar si gadis.

Wardani telah menjadi marah sekali, dan begitu melihat kalau orang- orang desa itu kelihatannya memihak kepada Pendeta Kumborono dan begitu ada orang yang berani akan menamparnya ia segera mengelak dan terus dengan tangan kiri balas menampar.... plak... dua buah gigi orang tadi rompal kena tamparan Wardani.

Sedang orang yang kena tampar tadi tidak langsung mengaduh akan tetapi terus menggeletak tak sadar. Untung saja Wardani tak menghendaki jiwanya, andaikata gadis perkasa ini menghendaki kematiannya maka tak usahlah banyak repot sebab ia dengan mudah semudah membalikkan telapak tangan dapat membunuh orang itu.

Melihat kalau kawannya roboh maka makin gemparlah para penduduk itu. Para laki-laki dan terutama sekali pemudanya terus mengepung Wardani. Akan tetapi gadis itu tidaklah menjadi takut, bahkan dibibirnya terhiaslah sebuah senyum. Senyum sinis, mengejek! Sedang pedang yang berada ditangan kanannya terus digerak-gerakkan seirama dengan deburan jantung dan tarikan napasnya. Hingga pedang itu menambah keangkeran sang dara.

“Monyet betina, lekas kau menyerah saja! Dan jangan bikin kacau tempat ini.”

“Bangsat-bangsat kau, tentunya anak buah dari pendeta-pendeta busuk yang sukanya makan daun muda ya? Hayo lekas kau hadapi aku dan jangan banyak cakap.” Jawab Wardani dengan gagah.

“Bagus! Kau sendiri yang mencari penyakit!” Setelah berkata demikian maka mereka itu lalu beramai-ramai makin maju kedepan. Dan sebelum mereka itu mendekat terlebih dahulu Wardani telah bergerak dan sekali loncat maka pedangnya telah mulai membabati tubuh manusia dan minum darah segar.

Memang waktu itu kemarahan Wardani telah memuncak hingga lupa bahwa para penduduk itu hanya ingin meredakan pertikaiannya dengan pendeta keparat itu. Akan tetapi sikap mereka itu benar-benar memanaskan perut si dara perkasa itu.

Pendeta Kumborono tak dapat melihat pertempuran itu dengan begitu saja, dengan cepat sekali ia bergerak dan terus langsung menghadapi Wardani. Dan dengan kepandaiannya yang tinggi ia mempergunakan ilmu Sapto Wangsit untuk mengirimkan suara kepada Wardani :

“Bocah manis, kau larilah dari sini dan nanti aku akan mengejarmu bukankah amat sayang kalau tubuh yang seindah ini dirusak oleh celeng- celeng begasakan itu??”

“Bangsat jangan kau merayu!!” Bentak Wardani dengan tegas.

314 Mendengar bentakan ini semua orang pengeroyoknya itu menjadi heran, bahkan kebanyakan dari mereka itu menganggap kalau Wardani adalah seorang wanita gila. Hingga terdengarlah gumam seorang perjaka muda :

“Sungguh sayang sekali begitu cantik tapi otaknya miring.”

Memang perkataan Pendeta Kumborono itu hanya dapat ditangkap oleh telinga Wardani. Inilah akibat dari ilmu Sapto Wangsit yang mengandalkan kekuatan tenaga dalam. Hingga dengan ini pendeta cabul itu dapat mangirimkan suaranya kepada orang yang dituju saja, sedang mereka yang tak dituju tak mendengar suara sang pendeta itu.

Makin lama pertarungan itu makin bertambah seru dan ramai, namun Wardani yang telah lelah itu makin lama makin lemah hingga pada suatu ketika salah seorang penduduk dapat menubruk dan terus merangkul si dara.

Ingin rasanya Wardani menangis karena kekesalan hatinya, akan tetapi sebagai seorang perajurit wanita ia pantang mengeluarkan air mata untuk mengiringi kesedihannya. Segala rintangan akan ia hadapi dengan tabah dan hati yang lapang.

“Lekas bunuh! Setelah aku tertangkap mengapa kalian tak segera membunuhku. Hehhh!!” Seru Wardani sambil membusungkan dadanya.

“Tak usah kau suruh! Kamipun akan mencincangmu, monyet!” Seru mereka dengan serempak.

“Eehhh.... eeehhh.... ki sanak sekalian harap kalian mau mendengarkan perkataanku. Janganlah kalian membunuh gadis liar ini, sebab pekerjaan yang terkutuk dan janganlah kalian melakukan pekerjaan terkutuk itu. Sayang.... sayang akan kebersihanmu kalau harus dikotori dengan pembunuhan.”

Mendengar perkataan Pendeta Kumborono ini mereka lalu saling berpandangan, dan kebanyakan mereka itu memang membenarkan perkataan si pendeta yang dianggapnya suci itu. Segera mereka itu menjawab dengan serentak :

“Baik bapa, kami semua akan menurut apa saja yang bapa katakan.”

Jawaban para penduduk itu malah membuat hati Wardani menjadi sakit dan takut sekali. Memang gadis itu tak takut mati akan tetapi sebagai seorang gadis ia amat takut kalau kehilangan kehormatan sebelum memasuki jenjang perkawinan. Hingga karena perasaan inilah maka Wardani lalu berteriak dengan nyaring :

“Para pengecut sekalian lebih baik kau bunuh saja aku! Hai    siapa

yang mau membunuhku maka kuanggap sebagai penolongku. Janganlah kau biarkan aku menjadi korban kebiadaban pendeta cabul itu.”

Namun pengaruh pendeta-pendeta yang tinggal didalam kuil itu sangatlah besar sekali, hingga para penduduk tak ada yang berani turun tangan dan menanti perintah dari sang pendeta selanjutnya.

Mendengar teriakan si dara perkasa ini terkejut hati pendeta itu, seketika itu juga wajahnya menjadi merah. Untung ia telah mempunyai 315 tenaga dalam yang kuat hingga dengan cepat ia dapat menekan perasaan malunya dan terus untuk membersihkan dari tuduhan itu ia berkata dengan lantang sekali :

“Jangan dengarkan ocehan orang gila ini. Masakah aku seorang pendeta akan main gila dengan gadis.”

“Ki sanak sekalian jangan kalian percaya dengan mulut pendeta busuk itu. Cobalah kalian masuk kedalam kuil dan disana kalian akan tahu sedang apakah pendeta yang satunya itu. He, ketahuilah kalau kakakku diculik oleh pendeta bang ”

“Diam!!” Bentak Pendeta Kumborono dengan garang.

Kembalilah mereka itu saling berpandangan antara satu dengan lainnya ketika mendengar perdebatan yang sengit itu. Sebagian rakyat tetap tak percaya dan menganggap bahwa gadis muda itu adalah seorang gila yang sedang ngomyang (Kumat). Akan tetapi sebagian lagi menjadi ragu-ragu akan keterangan si dara tersebut, sebab mereka memang belum melihat dimana adanya Pendeta Kridopaksa itu. Hingga dengan demikian maka mereka tak ada yang terlalu gegabah untuk bergerak.

Namun lain halnya dengan Pendeta Kumborono, karena merasa kalau kedoknya nyaris terbuka maka timbulah amarahnya, seketika itu juga hilanglah nafsunya untuk mempermainkan si gadis dan sekarang yang ada hanyalah nafsu membunuh saja.

“Gadis gila ini memang sudah sepatutnya kalau dibunuh saja! Kita tak akan berdosa kalau membunuh demi keadilan dan keamanan.” Gereng pendeta itu dengan geram sekali. Dan matanya terus memancarkan pandangan yang menakutkan sekali.

Kini para penduduk itu benar-benar menjadi pusing dan tak mengerti. Memang perkataan sang pendeta yang mereka anggap sebagai seorang suci itu kok mbolak-mbalik. Mereka sekarang menjadi bimbang untuk menjatuhkan putusan mana yang betul dan mana yang salah. Dan tanpa sesadarnya maka orang yang mengikat tangan Wardani terus melepaskan karena takut kalau kesalahan tangan.

Mengetahui kalau ikatannya itu dilepaskan maka Wardani lalu berpaling kearah si pengikat tadi sambil berkata :

“Terima kasih, ki sanak!”

Namun Wardani tak dapat berbuat lebih banyak lagi, sebab tahu-tahu golok yang berada ditangan Pendeta Kumborono itu telah menyerang kearahnya. Hingga dengan demikian kembalilah mereka berdua itu bertempur lagi. Tapi sekarang rakyat tak ada yang mau membantu salah satu. Bahkan ada beberapa orang yang merasa simpati kepada si dara perkasa itu terus masuk kedalam untuk membuktikan benar atau tidaknya perkataan gadis itu bahwa didalam Pendeta Kridopaksa sedang memperkosa kakak dari dara perkasa tersebut.

Akan tetapi betapa herannya hati para penduduk itu setelah mengetahui bahwa orang yang akan masuk kedalam kuil itu terus terlempar keluar dan dalam keadaan tak bernyawa. Hingga dengan 316 demikian ini menambah kecurigaan terhadap sang pendeta. Akan tetapi mereka tak berani berlaku ceroboh. Dan salah seorang yang terkenal pemberani terus melangkahkan masuk kedalam untuk melihat dan membuktikan bahwa didalam ruangan itu ada sang Pendeta Kridopaksa.

“Akkkhhh!” Teriak orang yang masuk tadi dan tubuhnya terus terlempar keluar dan jatuh bergedebukan ditanah. Begitu para penduduk mendekat dan berusaha akan menolongnnya, kembalilah mereka itu menjadi heran sebab tubuh orang-orang itu telah tak bernyawa lagi dan didadanya terdapat sebuah bekas pukulan yang meninggalkan tanda merah.

“Aneh!” Desis Ki Jagabaya dari daerah itu.

“Ya, suatu keganjilan yang misterius!” Jawab pak lurah.

“Mungkinkah perkataan si dara itu benar? Dan ini semua perbuatan dari bapa Pendeta Kridopaksa yang terkenal alim itu?”

“Aku tak dapat memastikan, akan tetapi tak dapat pula menyangah sebab telah dua orang korban menjadi bukti. Moga-moga sajabukan bapa Pendeta Kridopaksa.”

“Biar aku berusaha untuk masuk!” Seru Jagabaya dengan gagah, dan secepat tatit ia lalu melompat kedalam, akan tetapi sebelum kakinya menginjak lantai dalam kuil itu in telah berteriak :

“Ayaaa!” Dan tubuhnya terus terlempar keluar dari dalam kuil dan akibatnya napasnya menjadi sesak. Akan tetapi sang Jagabaya ini tak menemui ajalnya ditangan orang yang berada didalam kuil itu.

“Siapakah yang berada didalam adi?” Tanya pak lurah dengan tergesa- gesa.

Setelah mengatur napas dan meneguk ludahnya maka menjawablah Ki Jagabaya itu dengan suara tersendat-sendat :

“Bebbb.... benar.... kalau yang.... berada didalam.... adalah pendeta....

Kridopaksa.... dan... dan.... dia.... men.... cemarkan.... akhhh...” Sebelum habis Jagabaya itu menceritakan apa yang dilihatnya didalam, tiba-tiba menyambarlah sebuah anak panah kecil yang dilepaskan oleh Pendeta Kumborono. Hingga anak panah itu menembus dada Ki Jagabaya, dan akibatnya melayanglah jiwa Jagabaya tersebut.

Melihat ini para penduduk tidaklah ragu-ragu lagi dalam memihak salah seorang dari mereka itu. Hingga dengan cepat mereka itu bergerak dan mengurung si Pendeta Kumborono :

“Bangsat, tak tahunya kalian adalah penjahat-penjahat cabul!” Teriak mereka dengan marah dan terus menerjang kearah sang pendeta. Hingga dengan demikian maka Kumboronopun harus lebih memperhebat gerakannya dan lebih menguatkan serangan dan daya tahannya.

Trang..... trang..... trang..... senjata-senjata mereka itu beterbangan setelah bertemu dengan golok pendeta cabul itu, hingga dengan demikian maka para penduduk itu makin berhati-hati dalam pengeroyokannya. Akan tetapi mereka tak akan membiarkan seorang korban kebiadaban iblis

317 berkedok pendeta. Mereka terus mengurung dan membantu sang dara dengan gagah perkasa.

Tiba-tiba saja berkelebatlah sesosok tubuh yang amat cepat dan ringan sekali, begitu bergerak terus menggerakkan tangannya untuk memukul para pengeroyok Pendeta Kumborono. Dan akibatnya banyaklah para pengeroyok yang menjerit kesakitan dan tak kurang yang terus mati dengan seketika.

Desssttt..... Aduhhh..... Aduhhh..... dan ternyata yang datang menolong Pendeta Kumborono itu adalah Pendeta Kridopaksa.

“Huahahaaa..... Huahahaaa..... Huahahaaa..... mari-mari adi kita bereskan saja tikus-tikus kecil ini.” Serunya sambil memperhebat serangannya hingga dengan demikian setiap kali kedua orang pendeta cabul itu menggerakkan tangannya maka terdengar jeritan dan nyawa yang melayang dari tubuh.

Melihat ini Wardani menjadi kasihan sekali kepada para penduduk itu dan ia terus berteriak dengan keras.

“Ki sanak sekalian, larilah dan mereka itu bukan tandinganmu. Lekas lari! Jangan buang nyawamu dengan sia-sia.”

Mendengar teriakan ini maka larilah mereka, namun mereka tetap tak meninggalkan sang pendeta cabul itu. Dari kejauhan mereka tetap mengepung dan melempari mereka dengan batu. Bahkan sebagian dari para penduduk itu terus pulang untuk minta bantuan kepada para penduduk kampung dan desa sekitar.

Tapi rupa-rupanya kedua orang pendeta cabul itupun tahu akan gelagat, kalau diteruskan memang banyak orang yang akan mati ditangannya akan tetapi keselamatannya pun akan terancam. Hingga dengan demikian maka berkatalah Pendeta Kridopaksa :

“Mari kita kabur saja, adi! Masih banyak tempat lain yang baik untuk kita pergunakan sebagai sarang.”

“Baik, kakang!”

Setelah berkata demikian maka kedua orang pendeta cabul itu lalu melesat pergi meniggalkan para pengeroyoknya. Dan tak seorangpun yang dapat mengejar kepergian sang pendeta itu. Wardani tak mau mengejar karena ia mangkhawatirkan keselamatan kakak angkatnya. Ia segera menerjang masuk kedalam kuil untuk melihat Ariyani.

Akan tetapi begitu masuk ia segera menjerit karena kaget dan takut : “Akkkhhhhh!!!” Namun ia tak kehilangan akal dan bingung, segera

berkelebat dan sekali mengayunkan pedangnya terdengarlah suara... takkk..... buk    ternyata ketika Wardani tadi masuk kedalam kuil ia melihat

Ariyani mengantungkan dirinya dengan tali pengikat kainnya. Untung saja Ariyani mempunyai tenaga dalam yang kuat dan belum lama menggantungnya itu hingga dengan demikian gadis sakti itu hanya pingsan saja. Dan setelah dirawat oleh Wardani maka sadarlah puteri dari Batara.

“Mengapa kau menolongku, adi?? Aku tak ingin hidup lagi.” Serunya dengan keras dan wajah yang membara. 318 “Sabar..... sabar ayu, tak baik kau melakukan bunuh diri! Ada dendam dapat dibalas tapi perbuatan bunuh diri adalah perbuatan yang sangat sesat dan dikutuk oleh Tuhan. Tenangkanlah hatimu dan pergunakan akalmu, jangan kau mengambil keputusan yang pendek itu.” Jawab Wardani dengan terus memijit-mijit tubuh kakak angkatnya. Didalam hatinya ia telah mengetahui nasib apakah yang telah menimpa kakaknya itu. Karena itulah maka ia lalu menutup pintu kuil dan melarang seorangpun masuk kedalam.

Diluar oraug-orang menjadi heran sekali melihat tandang si dara itu, dan mereka tak mengetahui mengapa tak diperbolehkan masuk. Salah seorang pemuda lalu berkata dengan lantang :

“Nini, mengapa kami tak diperbolehkan masuk? Apakah kalian tak memerlukan pertolongan kami??”

“Carikan sebuah kain wanita untuk ganti pakaian kakakku dahulu.” Jawab Wardani dari dalam.

Mendengar permintaan dari dara perkara itu maka cepatlah salah seorang dari mereka itu lari kedusun dan mengambil sebuah kain untuk pengganti wanita malang itu. Dan sesampainya dimuka kuil maka ia lalu berteriak :

“Kami telah membawakannya!”

Bersama dengan lenyapnya suara itu berkelebatlah tubuh Wardani dan menyambar kain yang dibawa orang tadi. Semua yang menyaksikan menjadi terkejut sekali, mereka itu tak menyangka kalau si gadis itu mempunyai kepandaian yang demikian tingginya, hingga sewaktu mengambil kain tadi yang tampak hanyalah bayangannya saja.

Tak lama kemudian terbukalah pintu kuil itu dan dari dalam keluarlah dua orang gadis yang sama-sama cantik dan menarik. Inilah Wardani dan Ariyani yang belum mereka kenal.

Melihat ini pak lurah segera menghampiri dan terus berkata kearah Wardani :

“Nini, mohon dimaafkan kesalahan tangan kami tadi, sebab kami tak menyangka kalau kedua pendeta yang kami kenal sebagai orang alim itu ternyata adalah penjahat-penjahat cabul.”

“Tak mengapa ki sanak, dan kamipun menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kalian semua yang telah mau membantu kami dan mempercayai perkataan kami tadi. Tapi siapakah nama kedua orang pendeta tadi?” Jawab Wardani balas bertanya.

“Mereka itu adalah Pendeta Kridopaksa dan Pendeta Kumborono.” Jawab mereka dengan serempak.

Diam-diam Ariyani terus mencatat nama kedua orang pendeta itu didalam hatinya. Wajahnya yang merah membara itu terus menunduk kearah bawah. Seakan-akan ia tak mengambil peduli dengan mereka yang merubungnya itu.

“Nini, bolehkah kami mengetahui nama kalian berdua?” Tanya pak lurah kepada Wardani. 319 “Perlukah kalian mengetahui nama kami?”

“Kalau sekiranya kalian tak keberatan. Sebab kami akan selau mengingat-ingat bahwa kami telah pernah kesalahan tangan terhadap pendekar-pendekar wanita yang bernama. ”

“Wardani dan Ariyani.” Sambung Wardani dengan tersenyum. “Wardani dan Ariyani?” Ulang mereka dengan serempak. “Demikianlah nama kami.”

“Marilah kalian istirahat dikelurahan saja, nini.” Ajak pak lurah kepada kedua orang pendekar wanita itu.

“Terima kasih bapa, biarlah kami akan terus melepaskan lelah disini saja. Nah, kalian boleh meneruskan pekerjaan kalian, dan kamipun akan melepaskan lelah kami disini.” Seru Wardani.

“Tapi kalau kedua orang bangsat tadi datang lagi?” Tanya salah seorang pemuda yang cakap dan gagah.

“Mereka tentunya tak berani datang lagi.” Jawab Wardani.

Mendengar perkataan Wardani ini maka pulanglah mereka itu kerumahnya masing-masing, sebab mereka yakin akan kebenaran perkataan sang dara.

Setelah semua orang pergi maka kembalilah kedua orang dara itu masuk kedalam kuil bobrok tadi. Dan sesampainya didalam Ariyani terus merangkul Wardani dan menangis sepuas-puasnya didalam pelukan adik angkatnya ini.

Wardani sebagai seorang gadis iapun tak menghilangkan sifat-sifat kewanitaannya. Biarpun ia seorang gadis pendekar yang gagah perkasa. Begitu melihat kalau Ariyani menangis dipelukannya iapun lalu menitikkan air matanya dan keduanya lalu menangis bersama-sama. Sampai lama mereka itu bertangisan.

Setelah mereka puas saling bertangisan maka berkatalah Ariyani : “Adi..... adi aku tak pantas lagi menjadi kakakmu adi, aku adalah

seorang gadis yang bukan perawan lagi.”

Mendengar perkataan Ariyani ini terharulah hati Wardani. Ia dapat merasakan bagaimana hancurnya hati Ariyani setelah menerima hinaan sebesar itu. Karena itu menjawablah Wardani dengan pelan dan berusaha menghibur kakak angkatnya :

“Jangan kau berkata dernikian ayu, aku tetap adikmu dan aku memaklumi kesedihan serta kedukaan apa yang kau sandang pada waktu ini. Sekali-kali Wardani tak menganggapmu sebagai seorang wanita rendah. Sebab aku memaklumi bahwa kau tak berdaja ayu.”

“Terima kasih, adi! Memang kau seorang wanita yang berbudi dan bijaksana. Akh, sungguh cocok sekali kau berpasangan dengan Pendekar Linglung yang gagah perkasa dan namanya harum semerbak itu, adi. Aku sebagai kakak angkatmu akan menjadi gembira dan bahagia sekali melihat kehidupan kalian yang bahagia nanti.”

“Semoga saja, ayu!” Jawab Wardani dengan lemah.

320 “Dendamku kepada kedua pendeta keparat itu tak akan sudah, dan aku berjanji bahwa akan minum darah Pendeta Kridopaksa setelah ia mampus ditanganku.” Seru Ariyani dengan wajah yang merah membara.

Wardani melihat dan mendengar sumpah ini menjadi bergidik sekali. Minum darah! Adalah suatu kemarahan yang tak terperikan dan tak terukur lagi. Mungkin segala kebencian anak pendekar Jalitunda ini telah tertumpah kepada pendeta laknat itu.

“Darrr...” Tiba-tiba terdengarlah bunyi ledakan yang hebat, dan bersama dengan terdengarnya suara itu terdengar pula suara Ariyani :

“Akan kuhancurkan kepala Pendeta Kridopaksa seperti tembok ini.” Memang karena marahnya maka ia lalu menghimpun tenaga dalamnya dan terus melontarkan aji Tapak Guntur untuk menghantam tembok kuil.

Betapa terkejut hati Wardani melihat akibat dari pukulan ini, sedikitpun ia tak pernah mengira kalau Ariyani dapat melakukan hal yang sedemikian hebatnya. Hingga karena herannya ia hanya meleletkan lidahnya. Akan tetapi keheranan itu tak lama mencengkeram dirinya dan setelah sadar maka berkatalah gadis itu :

“Sungguh hebat sekali pukulanmu itu, ayu!”

“Aku sangat kecewa mengeluarkan pukulan itu, adi, sungguh bodoh masih dikuasai nafsu perasaan. Gila.... gila. memang Ariyani telah menjadi

gila.” Desisnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ayu, omongan apakah yang kau keluarkan itu?” Tanya Wardani dengan tak mengerti.

“Aku telah menjadi gila!” “Gila?” Ulang Wardani. “Ya!”

“Mengapa?”

“Bukankah kau melihat sendiri kalau aku masih dapat dikuasai oleh nafsu perasaan, dan lagi menjebol tembok ini. Bukankah dengan demikian ruangan ini menjadi growong? Dan kalau pintu tak kita tutup keadaan kita akan kelihatan dari luar.”

“Benar!” Jawab Wardani sambil menganggukkan kepalanya.

*

* *

Pada waktu itu langit kelam, bintang-bintang menepi dan mendung tebal terus menggantung diatas kota Batavia. Kepekatan malam itu sebentar-sebentar diterangi oleh sambaran kilat, hingga kalau kilat, menyambar maka tampaklah keadaan jagat raya ini.

Biarpun malam sangatlah pekat dan mendung terlalu tebal namun benteng pertahanan bangsa Belanda terus terjaga dengan kuatnya. Mereka itu rupa-rupanya telah jera oleh serbuan para gerilya kemarin malam itu. Hingga tampaklah kalau penjagaan diperkeras dan diperketat.

321 Serdadu-serdadu Belanda terus-menerus berkeliaran disekitar benteng, Sedangkan Belanda-belanda bolotan (Antek-antek Belanda) terus memegangi senjatanya dan siap mempertaruhkan nyawanya demi junjungan mereka dan terutama sekali demi mencari sesuap nasi.

Diantara kegelapan malam itu tampaklah dua sosok tubuh yang berpakaian serba hitam dan terus bergerak mengitari benteng. Gerakan mereka itu sangat gesit sekali. Seakan-akan gerakan setan jin peri perayangan saja. Kedua orang itu terus mencari jalan dan pertahanan yang sekiranya kurang kuat untuk diterobosnya.

“Benar-benar berani mati orang-orang itu!” Desis seorang yang berada diatas pohon beringin setelah melihat keberanian bayangan-bayangan yang bergerak dibawah tadi.

“Benar suatu perbuatan yang menyerempet-nyerempet bahaya.” Jawab yang lain.

Sebenarnya siapakah mereka itu? Orang yang berada diatas pohon beringin itu adalah Ariyani dan Wardani sedang kedua orang yang berpakaian hitam tadi adalah Retnosari dan Pendeta Kalinggapati yang akan berusaha mencari Ariyani dan Wardani dan kalau dapat akan membebaskan Pendekar Linglung sekali.

Namun karena keadaan sangat gelap dan Retnosari beserta Pendeta Kalinggapati itu memakai pakaian serba hitam, maka kedua orang gadis yang bersembunyi diatas pohon beringin itu tak mengenal mereka.

“Adi, bilakah kita akan menerjang masuk kedalam?” Tanya Ariyani dengan berbisik.

“Kita masuk nanti kalau tepat penggantian jaga. Hingga dengan demikian banyak kesempatan yang lowong untuk kita terjang.” Jawab Wardani menguraikan pendapatnya.

“Akupun setuju dengan usulmu itu adi, memang waktu sebaik-baiknya adalah waktu mereka itu bergantian jaga. Hingga dengan demikian mereka itu akan berpencaran untuk keposnya yang baru.”

“Itulah yang kumaksudkan, ayu.” Jawab Wardani dengan singkat dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sungguh mengagumkan sekali keberanian kedua orang yang mengitari benteng ini. Siapakah mereka itu?” Kembali Ariyani bertanya.

“Entah, aku tak dapat mengenali mereka itu. Sebab mereka sama-sama mempergunakan pakaian ringkas yang berwarna hitam. Hingga dengan demikian wajah mereka itu hilang kepekatan malam.”

“Tapi apakah maksud mereka itu pergi kesekitar sini? Jangan-jangan mereka itu adalah mata-mata dari Belanda.” Seru Ariyani dengan curiga.

“Aku belum dapat memastikan! Tapi tak ada jeleknya kalau kita mempertinggi kewaspadaan kita. Kalau mereka itu pendekar-pendekar yang mengangkat senjata kepada penjajah, maka aku akan mengagumi akan keberaniannya.” Jawab Wardani dengan nada kagum.

“Memang mengagumkan sekali, masakan akan menyerbu benteng hanya berdua saja. Sungguh berani dan tak mengenal takut!” 322 “Ssttt!” Tiba-tiba terdengarlah seruan Wardani dan telunjuknya terus ditutupkan dimuka mulutnya. Melihat kelakuan kawannya ini maka Ariyani yang memang telah kehilangan ketenangan itu terus melihat kebawah, dan tampaklah kalau kedua orang berpakaian hitam tadi lewat lagi dibawah mereka.

Begitu kedua bayangan hitam itu lewat dibawahnya, maka Wardani dan Ariyani segera menahan napas dan mempererat pegangannya pada dahan ringin itu. Seakan-akan mereka itu takut kalau suara napasnya terdengar oleh orang yang berpakaian hitam dibawah itu.

“Hem... entah orang ronda entah para gerilya.” Desis Ariyani sambil. menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Akupun tak tahu!” Jawab Wardani.

Tak antara lama kemudian terdengarlah suara gaduh dan terdengar pula suara perajurit-perajurit Belanda yang berteriak-teriak :

“Musuh datanggggg.... musuh dataaangggg.... kepungggg!!” Bersama dengan suara teriakan-teriakan para perajurit Belanda ini maka Ariyani dan Wardani lalu melayang turun dari atas pohon dan terus menerebos dari arah yang berlawanan dengan sumber kegaduhan itu.

“Mari adi kita mencari tahu untuk mendapatkan dimana Pendekar Linglung ditawan.”

“Mari, ayu! Tapi apakah kita menegakan kedua orang yang berpakaian hitam tadi?? Kasihan mereka itu dikeroyok para penjaga. Marilah kita bantu mereka dulu, bukankah persoalan pribadi dapat kita kesamipingkan terlebih dahulu?”

“Bagus kalau kau mempunyai pikiran yang demikian.” Setelah berkata demikian maka kedua orang dara perkasa itu lalu menerjang kearah sumber keributan tadi. Karena para penjaga terus berlari-larian dan mengepung daerah dimana kedua orang berpakaian hitam tadi membuat kekacauan maka perjalanan Wardani dan Ariyani itu tak dapat banyak kesukaran. Hanya setelah mereka itu mendekati pertahanan dari pengepungan para penjajah itu, kedua orang gadis pendekar itu terpaksa turun tangan untuk membobolkan pertahanan mereka.

Pedang Ariyani dan Wardani terus berkelebat kesana-kemari untuk menumpas habis para pengeroyoknya. Wesstt.... trangg.... duuggg begitu

pedang berkelebat maka banyaklah pedang-pedang dan golok yang beterbangan setelah kena sambaran pedang kedua orang dara perkasa itu.

“Mari adi, kita bereskan mereka itu!”

“Baik, ayu!” Jawab Wardani memperhebat permainan pedangnya. Hingga dengan demikian kedua orang dara pendekar itu mengamuk bagaikan macan menerjang barisan kancil. Setiap kali tangan mereka itu bergerak maka terdengar pula jeritan kesakitan dari para pengeroyoknya.

Wardani dan Ariyani berjuang saling bahu membahu, dan keduanya berhadapan punggung hingga satu sama lain tak dapat dibokong dari belakang, Gerakan mereka itu saling isi mengisi kekosongan kawannya

323 hingga dengan demikian makin sukarlah mereka yang akan merobohkan kedua kakak beradik angkat ini.

“Mundur semua biar serahkan saja kebua budak ini kepadaku! Teriak Undung Kalayaksa dengan melintangkan pedangnya didepan dada.

Begitu mendengar perintah untuk mundur maka para pengeroyok itupun cepat memberi jalan kedapa Undung Kalayaksa dan terus meninggalkan dua orang gadis pendekar yang sedang mengamuk itu. Akan tetapi Ariyani tak mau melepaskan mereka itu dengan begitu saja. Begitu ia melihat kalau para pengeroyoknya banyak yang melarikan diri maka puteri Pendekar Jalitunda ini lalu melepaskan ilmu pukulan Tapak Guntur yang dahsyat.

Daaarrr..... Aduhhh..... Bukkk..... Bumm........... Begitu aji Tapak Guntur terlepas dari telapak tangan Ariyani maka terdengarlah jeritan ngeri dan bunyi mayat yang berjatuhan karena termakan aji Dahsyat ciptaan Singopati tokoh besar dari selatan pada jaman dahulu.

Sedangkan Wardani terus menusuk-nusukkan pedangnya kearah mereka yang belum sempat menjauh dari sisinya. Hingga dengan demikian sebentar saja kedua orang ini telah menamatkan banyak para antek-antek Belanda yang menghalang-halangi usaha mereka untuk membebaskan si Pendekar Linglung.

“Huahahaaa..... huahahaaa..... huahahaaa...... kita bertemu lagi anak manis! Memang rupa-rupanya kita telah berjodoh!” Seru Undung Kalayaksa sambil memandang kepada Wardani dengan mata penuh nafsu.

“Memang kita berjodoh!”

“Apa katamu?” Tanya Undung Kalayaksa dengan terkejut.

“Kita memang berjodoh!” Jawab Wardani dengan tersenyum, akan tetapi dibalik senyuman ini terkandunglah maut yang mengintai setiap saat nyawa orang yang berdiri didepannya.

“Jadi kaupun mencintai aku?” “Cinta?”

“Ya! Bukankah kau telah mengatakan kalau kita ini memang berjodoh? Dengan demikian bukankah kau juga mencintai dan merindukanku? Percayalah akupun selalu merindukanmu manis, dan aku menanggung bahwa kau tak akan dihukum oleh Belanda kalau aku yang mintakan maaf.” “Ketahuilah hai Undung Kalayaksa kita memang berjodoh! Akan tetapi bukan berjodoh dalam percintaan. Yang kumaksudkan dengan jodoh, ialah kau harus mati dibawah pedangku ini.” Jawab Wardani dengan dingin hingga suara yang dikeluarkannya tak berirama sama sekali. Seakan-akan

suara dari dasar Neraka jahanam.

Mendengar perkataan Wardani ini pucatlah wajah Undung Kalayaksa, tapi untunglah kendaan sekitar gelap hingga kedua orang dara perkasa ini tak mengetahui akan perubahan wajah lelaki yang berada dihadapannya. Sesaat kemudian terdengarlah perkataan si Undung Kalayaksa yang dalam : “Sungguh merdu sekali jawabmu itu Wardani, akan tetapi dibalik kemerduan itu mengintai sebuah maut dan suara yang menyakitkan hati 324 serta memerahkan telinga. Dari pada aku tak dapat mempersunting kau, lelih baik aku melihatmu hancur dalam palagan ini.” Setelah berkata demikian, maka Undung Kalayaksa lalu menggerakan pedangnya dan terus menerjang kearah dada Wardani.

Akan tetapi Ariyani yang sejak tadi diam saja itu telah siap sedia membantu adik angkatnya. Hingga pedang dan keris yang berada ditangannya itupun telah disiapkan serta telah berjaga-jaga kalau lawannya akan menyerang. Begitu melihat bahwa pedang Undung Kalayaksa menerjang kearah dada Wardani maka tangan kanannya segera berkelebat menangkis serangan anak murid Jayasengara yang murtad itu. Dan keris yang berada ditangan kiri langsung menyerang lambung Undung Kalayaksa dengan gerak tipuan Wanara Sakti. Memanglah Ariyani gadis perkasa ini dapat memainkan ilmu pedang dan ilmu keris dengan baik sekali. Sebab ibunya telah menurunkan ilmu pedang Mayangseta dan ayahnya menurunkan ilmu keris Wanara Sakti kepadanya. Hingga dengan demikian gadis pendekar dari Jalitunda ini dapat bersenjata keris dan pedang dengan sekaligus.

“Ayaaaaa....” Teriak Undung Kalayaksa yang terus menggeliatkan badannya dan terus melompat kesamping untuk menghindarkan serangan keris Ariyani itu. Akan tetapi bersama dengan itu Wardanipun telah menusukkan pedangnya kearah dada.

Akan tetapi tak percuma saja Undung Kalayaksa menjadi murid dari pertapa sakti Ungaran itu. Sebab dengan gerakan yang amat cepat dan ketenangan yang mengagumkan sekali ia berhasil menangkis pedang Wardani dengan pentalan benturan pedangnya sewaktu bertemu dengan pedang Ariyani. Hingga terdengarlah bunyi.... trang.... trangg.... dan bunga api berpijar.

“Bagus!” Puji Ariyani dengan tanpa sesadarnya.

“Akan tetapi kedua orang pendekar wanita itu tak mau berhenti sampai disitu saja. Setelah mereka itu dapat memperbaiki kedudukannya maka kembalilah mereka itu menyerang Undung Kalayaksa. Pedang dan keris yang berada ditangan Ariyani itu terus-menerus menyambar- nyambar bagaikan kuku-kuku Hyang Jamadipati yang sedang mencari mangsa. Sedangkan pedang Wardani terus-menerus menyambar-nyambar bagaikan kilat cepatnya.”

Namun gerakan Undung Kalayaksa cepat dan gesit bagaikan gerakan burung garuda. Sebentar-sebentar mencelat keatas dan berjumpalitan untuk menghindarkan serangan kedua lawannya dan lama kemudian ia balas menyerang dengan serangan yang tak kalah hebatnya dari serangan lawan. Pukul-memukul terjang-menerjang terus bergantian.

Dilain saat Retnosari dan Pendeta Kalinggapati terus-menerus menyambar maut dengan senjata-senjata mereka. Puluhan bahkan ratusan para pengeroyok yang tewas didalam tangan kedua orang pendekar itu.

Setiap kali cambuk bercabang dari Retnosari itu bergerak maka lima orang menjerit dan mati dengan seketika. Tarrr..... taarrrr..... taaarrrrr..... 325 taaarrrr..... taaarrrr...... Ujung-ujung cambuk dari Retnosari itu telah merupakan sebagian dari anggauta badannya hingga dapat digerakkan dengan seenaknya sendiri. Selain itu tangan kiri dari wanita sakti inipun terus-menerus mencubit lawan yang berada didekatnya dengan cubitan yang telah dilambari dengan aji Klabang Sayuto. Hingga dengan demikian makin memperberat orang-orang yang mengeroyoknya.

Sedangkan Pendeta Kalinggapati terus-menerus memutar pedangnya dengan ilmu pedang Mayangseto. Dan setiap kali pedang bergerak maka terlihatlah sebuah dada yang tertembus ujung pedang itu.

“Mampus kau penjilat penjajah! Membunuh para Belanda dan antek- anteknya tak berdosa malah mendapat pahala.” Seru Pendeta yang keras kepala dan bersifat angin-anginan itu. Makin lama makin menumpuklah mayat-mayat yang bergelimpangan didepan kedua orang pendekar yang mengamuk itu.

Taarrrr..... taaarrrrr..... taaarrrrr..... taaarrrrr.... “Hayo lekas kau suruh para benggolan penjajah melawanku. Minggir siapa yang tak mau mati ditanganku!” Teriak Retnosari sambil memperhebat permainan cambuknya.

Melihat keganasan pendekar wanita itu maka jerilah mereka itu untuk mengeroyoknya. Memang mereka itu bertempur bukan hanya untuk membela penjajah melainkan untuk mencari sesuap nasi. Sayang sekali orang-orang itu tak sadar kalau perbuatannya itu sangat dibenci dan dikutuk oleh kebanyakan rakyat yan sedang berjuang untuk memerdekakan negaranya. Mereka itu tak sadar kalau cara mencari nafkahnya itu bahkan merugikan negara dan bangsa.

Hingga dengan demikian mereka itu tak mau mendekat kearah wanita yang sedang kalap itu. Rata-rata para antek-antek Belanda itu masih sayang akan nyawanya. Tak seorangpun dari mereka itu yang merelakan nyawanya direnggut dengan begitu saja oleh si pendeta sakti dan wanita menyeramkan itu.

“Huahahaaa... Huahahaaa... Huahaha... amuk-amuk suro mrata jaya mrata! Amuking para kawula. Hayo lekas kalian bebaskan si Pendekar Linglung dan kedua orang gadis yang kalian tawan. Kalau tidak jangan salahkan kami andaikata benteng ini kuratakan dengan tanah.” Teriak Pendeta Kalinggapati dengan lantang.

“Ratakanlah pendeta edan! Ratakan kalau kau mampu! Sebelum kau mengerjakan pekerjaan itu terlebih dahulu kepalamu menggelundung dibawah tangan Aru Palaka.”

“Huahahaaa... Huahahaha... Huahahaaa... kebetulan    kebetulan. Aku

dapat berjumpa dengan raja anjing yang pekerjaannya hanya menjilati pantat penjajah. Mari kau layani aku!” Setelah berkata demikian maka Pendeta Kalinggapati itu lalu menerjang kearah raja Bone itu.

Akan tetapi Aru Palaka adalah seorang raja yang terkenal sakti mandraguna, bahkan didaerahnya ia terkenal sebagai seorang tokoh nomor satu. Begitu mendapat terjangan dari Pendeta Kalinggapati maka ia 326 menggeserkan tubuhnya kesamping dan terus menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan lawan. Tranggg... bunga api berpijar setelah kedua pedang itu bertemu.

Betapa terkejutnya hati Pendeta Kalinggapati setelah mengetahui kalau tangannya tergetar setelah pedangnya bertemu dengan pedang lawan. Pendeta dari gua Melati ini tak pernah menyangkanya kalau lawannya akan mempunyai tenaga dalam yang setinggi itu. Padahal ia telah mengerahkan delapan bagian dari tenaganya.

Dilain saat Aru Palaka juga mengagumi akan kepandaian dan tenaga dalam si pendeta itu. Biasanya orang akan melepaskan pedang atau senjatanya kalau bertemu dengan pedangnya.

Akan tetapi kedua orang ini dapat saling mengagumi satu dengan lainnya. Sebab keadaan memaksa mereka itu untuk terus bergebrak lagi.

Wessttt   pedang Pendeta Kalingapati terus menusuk kearah lambung

Wong Agung Bone. Akan tetapi dengan gerakan yang cepat dan mantap Aru Palaka lalu melompat keatas dan berjumpalitan beberapa kali diudara, setelah melayang turun ia tak langsung menginjakkan kakinya ketanah. Akan tetapi kaki kirinya terus dipentang menendang kearah dada sang pendeta dari Gua Melati yang sedang berlaga itu.

Namun Gagak Rimangpun bukannya seorang yang berkepandaian silat pasaran saja. Ia telah sejak tadi siap sedia dan tak pernah memandang rendah kepandaian lawan. Begitu melihat kalau ada kaki yang akan menendangnya maka murid Jayaningrat itu lalu menundukkan tubuhnya pendek-pendek dan memukulkan pedangnya kearah kaki kiri lawan yang menendang itu.

Sudah tentu Raja Bone ini tak mau kalau harus mengadu kakinya dengan pedang Pendeta Kalinggapati yang tajam itu. Akan tetapi gerakan kakinya begitu cepat dan babatan pedang lawanpun tak kalah cepatnya. Hingga untuk menghindarkan benturan kaki dan pedang itu amatlah sukar. Tapi ternyata Raja Bone ini mempunyai ketenangan yang mengagumkan dan kecerdikan yang hebat. Begitu mengetahui kalau kaki dan pedang itu tak dapat dihindarkan dari bentrokan maka ia lalu merogoh sakunya dan melepaskan senjata rahasianya yang berupa pacek untuk menghantam pedang lawan.

Wesssttt.... tranggg.... empat buah pacek terus menerjang pedang Pendeta Kalinggapati hingga dengan demikian menconglah jalannya pedang sang pendeta itu.

Setelah Aru Palaka dapat meloloskan dirinya dari dalam bahaya itu barulah ia dapat menarik napas panjang dau keringat dingin terus mengucur keluar dari punggungnya.

“Bagus!” Puji Pendeta Kalinggapati dengan kagum. Akan tetapi ia segera menyerang lagi dengan pengerahan segenap ilmunya. Dan Aru Palakapun terus tambah berhati-hati menghadapi serangan-serangan dari Pendeta Kalinggapati ini. Hingga dengan demikian pertarungan terus berjalan makin seru dan dahsyat. 327   Akan tetapi dengan gerakan yang cepat dan mantap Aru Palaka lalu melompat keatas.......

Dipihak lain Retnosari terus menerus memutar cambuknya dan menghadapi krida dari Kapten Tack dan Baurekso. Memanglah Kapten Tack dan Baurekso terus membantu para pengeroyok Retnosari. Akan tetapi dasar Retnosari seorang wanita murid dari Widati tokoh aneh yang sakti, maka begitu melihat kalau ada orang-orang pandai yang mengeroyoknya ia tak menjadi jeri malahan menjadi senang.

“Hayo lekas maju sedikit lagi biar mudah aku mengirimkan nyawa kalian ke neraka.” Seru Retnosari dengan memutar cambuknya. Tarrr.....

taarrrr..... taaarrrr..... Ujung cambuk murid Widati itu terus menyambar kearah dada dan leher Kapten Tack sedangkan tiga ujung lainnya menerjang uluhati, perut dan limpa Baurekso.

Untunglah para pengeroyok Retnosari itu adalah orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi. Andaikata tidak niscaya mereka akanlah mati kena hajaran ujung-ujung cambuk yang dahsyat itu. Kapten Tack terus melompat mundur dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya. Sedang Baurekso terus memiringkan badannya dan dengan tongkat kepala 328 ularnya ia lalu memusnahkan ketiga ujung cambuk yang menyerang tubuhnya.

“Hiahiiikkk..... hiiikkk..... hiiikkk..... memang benar-benar bandel orang ini, ia tak tahu diuntung. Hehh budak, jangan salahkan aku kalau Baurekso terpaksa membunuhmu.”

“Jangan seenaknya saja kalau mementang mulut bangsat! Apakah kau masih dapat berlagak didepanku? Lupakah kau kalau suamiku masih mengampuni jiwa anjingmu hingga ia tak membunuhmu hanya membabat tangan kirimu saja??” Ejek Retnosari memanaskan hati lawannya.

Memang suatu pantangan bagi Baurekso untuk dikatakan kekalahannya, begitu mendengar kalau yang mematahkan lengannya adalah suami dari Retnosari maka ia menggerung tinggi dan terus menubruk sambil berkata :

“Kalau demikian mampuslah kau!” Bersama dengan itu ia menyodokkan tongkat ularnya kearah lambung si pendekar wanita itu. Dan bersama dengan itu datanglah serangan pedang Kapten Tack yang mengarah ke leher.

Tentu saja Retnosari tak mau lehernya disembelih begitu saja oleh Belanda itu. Karena itulah ia lalu menggenjot tubuhnya keudara dan dari atas ia melakukan serangan mengarah kekepala dan leher kedua orang pengeroyoknya. Taarrrr..... taarrrr..... taarrrr..... taaarrrr..... Bunyi cambuk itu terus menggeletar diatas udara setelah Kapten Tack dan Baurekso mengelak.

Makin lama pertarungan berjalan semakin seru. Musuh yang paling tangguh adalah Ki Baurekso. Sedangkan Kapten Tack lebih banyak minta perlindungan dari Ki Baurekso pertapa dari Merapi. Andaikata ia hanya melawan Baurekso saja, maka keadaannya akan bertambah berat. Untung Kapten Tack juga ikut mengeroyoknya hingga keadaan Baurekso haruslah pecah menjadi dua. Setengah perhatiannya dipakai untuk menyerang dan yang sebagian dipakai untuk melindungi Kapten Tack orang Belanda itu terancam bahaya.

“Hayo jangan main mundur saja, buntung!” Seru Retnosari dengan keras. Suara pancingan ini benar-benar berhasil memanaskan hati Baurekso, hingga kemarahannya itu bagaikan api disiram minyak. Ia makin gencar menyerang lawannya, akan tetapi pertahanannyapun menjadi semakin lemah. Dan yang terutama sekali perhatiannya untuk melindungi Kapten Tack menjadi jauh berkurang.

“Mampus, kau!” Serunya sambil memukulkan tongkat ularnya kearah kepala Retnosari. Akan tetapi dengan lincah dan gesit sekali isteri Pendekar Budiman itu dapat mengelakkan sambaran tongkat dari ki per- tapa yang bertangan buntung itu.

Akan tetapi pertapa dari gunung Merapi itu memang benar-benar telah dikuasai oleh nafsu membunuh. Begitu melihat kalau pukulan tongkatnya tadi dapat dihindarkan maka kakinya segera digerakkan untuk menendang perut lawan. Kapten Tack pun tak mau menyia-nyiakan 329 kesempatan baik itu. Ia segera menusukkan pedangnya kearah pinggang Retnosari.

Tapi kembali kedua orang pengeroyoknya itu dibuat terkesima, lagi- lagi si pendekar wanita itu memamerkan kegesitannya. Begitu kaki Baurekso dan pedang Kapten Tack dekat dengan tubuhnya ia lalu melompat kebelakang dan berjumpalitan diudara. Dengan gerakan yang sangat indah dan sedap dipandang Retnosari lalu menggerakkan cambuknya untuk memusnahkan kedua serangan lawannya.

“Keluarkanlah semua kepandaianmu, buntung! Dan nantikanlah saat yang baik aku akan mengambil nyawamu, anjing Belanda.” Seru Retnosari dengan bergerak kesana-kemari mencari ketika yang baik untuk menerobos pertahanan yang lemah.

“Kapten, kau minggirlah! Biar aku sendiri yang menghajar wanita keparat ini.” Teriak Baurekso yang menyuruh orang Belanda itu untuk minggir. Namun mana mau orang Belanda itu minggir, bahkan ia merasa dihina oleh kawannya setelah mendengar perkataan si Baurekso.

“Bangsat, apakah kau tak menghargai kepandaian dan pertolonganku ini? Dikeroyok saja masih belum dapat mengalahkan apa lagi kau hadapi sendiri!” Jawab Kapten Tack yang terus merangsek kearah pertahanan Retnosari.

Mendengar jawaban orang Belanda ini mendongkollah hati tokoh besar dari Merapi itu. Dan karena ia telah marah lalu dengan tanpa sesadarnya ia berteriak menjawab perkataan Kapten Tack.

“Bodoh! Kalau aku menghadapinya sendiri maka tak perlu Baurekso memecah perhatian untuk melindungimu pula.”

“Bangsat! Pribumi jembel, berani kau menghinaku!” Teriak Kapten Tack semakin kalap.

Mendengar pertikaian antara kedua orang pengeroyoknya ini senanglah hati Retnosari. Ia terus berusaha membakar dan memecah-belah antara mereka dengan berkata :

“Huhh dasar tak tahu malu! Lihat nih, kalau kalian tak mau maju bersama maka lima jurus saja kalian akan kurobohkan. Terutama sekali si anjing Belanda itu.”

Kapten Tack adalah seorang perwira yang berdarah panas dan cepat naik darah. Begitu mendengar perkataan Retnosari orang pribumi yang dianggap derajatnya lebih rendah itu maka makin marahlah ia.

Seakan-akan perkataan Retnosari tadi adalah tangan pengemis yang berani menampar mukanya. Muka seorang majikan yang terhormat. Setelah mendengar perkataan isteri Pendekar Budiman itu lupalah Kapten Tack akan amarahnya kepada Baurekso. Ia segera menyerang lawannya dengan pengerahan segenap tenaga dan ilmu yang ada.

Akan tetapi yang diserang adalah murid Widati dan ilmunya telah disempurnakan oleh Pendekar Budiman yang menjadi suaminya. Hingga dengan enak dan gerakan yang lincah ia dapat menghindarkan semua serangan lawan. Bahkan wanita sakti itupun berhasil membalas serangan 330 lawan dengan serangan yang tak kalah hebatnya. Sebentar saja Kapten Tack telah terkurung rapat oleh ujung-ujung cambuk Retnosari.

Sementara itu Baurekso yang mendongkol terus berdiri mematung dan tak ikut bergerak untuk mengeroyoknya. Ia hanya berjaga-jaga supaya jangan sampai Kapten Tack kena cedera oleh si wanita sakti itu. Tangannya menggenggam tongkatnya erat-erat dan siap sedia memusnahkan serangan lawan yang dianggap membahayakan keselamatan orang Belanda itu. Trangg... tiba-tiba saja ujung-ujung cambuk Retnosari terus merenggut pedang Kapten Tack dan dengan sekali betot saja terlepaslah pedang itu dari pegangan si orang Belanda tersebut. Memanglah kepandaian Kapten Tack tak dapat kalau dibandingkan dengan kepandaian Retnosari. Mungkin Kapten Tack masih harus belajar lima enam tahun untuk dapat menyamai kepandaian si wanita sakti tersebut.

Akan tetapi tak percuma saja ia berpasangan dengan Baurekso tokoh dari gunung Merapi itu. Begitu pedang Kapten Tack terlepas dari pegangannya maka cepatlah Baurekso tokoh buntung itu berkelebat menangkis ujung-ujung cambuk Retnosari yang lainnya untuk melindungi nyawa orang Belanda itu dari kebinasaan.

Melihat ini jengkellah hati Retnosari, coba kalau tak dihalang-halangi oleh Baurekso maka ia jakin kalau nyawa orang Belanda itu telah dapat direnggutnya.

“Bangsat! Rupa-rupanya kau memang telah sengaja menyediakan nyawamu untuk pengganti nyawa anjing Belanda itu.”

“Jangan banyak mulut!” Seru Baurekso yang terus menyerang dengan hebat dan mati-matian. Kembaii pertarungan berjalan dahsyat dan hebat. Jurus demi jurus mereka lewatkan dengan cepatnya. Akan tetapi Retnosari lama-kelamaan haruslah mengakui akan kepandaian lawannya. Kepandaian Baurekso masih setingkat lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri. Hingga dengan demikian untuk mengimbangi permainan Baurekso ia harus menguras seluruh kepandaiannya.

Melihat perkembangan dari pertarungannya ini besarlah hati tokoh dari gunung Merapi itu. Ia dapat merasakan kalau pihaknya telah dapat menguasai medan pertarungan dan berada diatas angin. Karena kegembiraannya maka tokoh buntung tadi terus makin memperhebat serangannya.

“Bangsat, sungguh tangguh sekali kepandaiannya!” Desis Retnosari sambil berloncatan untuk menghindarkan serangan-serangan lawannya. Cambuknya terus diputar untuk menangkis setiap lawannya melancarkan serangaan. Sedikitpun ia tak diberi kesempatan untuk balas menyerang oleh Baurekso yang sedang mabuk dengan kemenangannya itu.

Akan tetapi terang saja Retnosari tak mau menyerah dengan begitu saja. Lebih baik ia mati dari pada ditawan oleh penjajah, sebab andaikata ia sampai mati ditangan penjajah maka Retnosari yakin bahwa suaminya si Pendekar Budiman itu akan mengamuk dan membalaskan sakit hatinya. 331 Mempunyai pikiran yang demikian itu maka ia lalu menggertakkan giginya dan terus bertahan dengan sekuat-kuatnya.

Manusia boleh berusaha, akan tetapi Tuhanlah yang berkuasa. Semua kehidupan dan kematian itu berada penuh ditangan-Nya. Begitupun dengan kematian Retnosari. Mungkin Tuhan belum menghendaki Retnosari kembali kepangkuan-Nya hingga dengan demikian tanpa sesadarnya ia mendapat kelonggaran kembali dari kurungan Baurekso itu setelah Kapten Tack ikut terjun kembali mengeroyoknya.

Dilain tempat Undung Kalayaksa terus-menerus harus memeras seluruh kepandaiannya. Sesaat saja ia lengah maka pedang-pedang dan keris lawan akanlah mencabut nyawanya.

Wessttt.... trang.... pedang Wardani terus menusuk kearah perut, akan tetapi bersama dengan tusukan Wardani itu Undung Kalayaksa menggerakkan pedangnya untuk menangkis hingga terdengarlah suara beradunya senjata mereka.

Ariyani tak mau melepaskan kesempatan baik itu, ia segera mengayunkan pedangnya dan menusukkan kerisnya kearah lambung. Gerakan Ariyani ini sangat cepat dan dilambari dengan tenaga dalam sepenuhnya.

Bukan main terkejutnya hati Undung Kalayaksa setelah mengetahui akan datangnya senjata lawan itu. Untuk menghindar terang tak dapat. Menangkispun tak mungkin, karena itulah ia hanya menyerahkan nasibnya kepada yang membuat hidup saja. Sewaktu ia sedang berada dialam keputus-asaan maka tiba-tiba saja terdengarlah bentakan :

“Bangsat!” Dan bersama dengan terdengarnya bentakan itu maka terdengar pula suara.... tranggg kedua suara ini mengejutkan hati Undung

Kalayaksa, dan setelah ditengok ternyata pedang dan keris Ariyani tadi telah ditangkis oleh kakak seperguruannya, Sindung Laut.

Betapa gembiranya hati Undung Kalayaksa setelah mengetahui kalau Ariyani telah terlibat dalam pertempuran dengan kakak seperguruannya itu. Seakan-akan batu yang menindih dadanya telah dapat terangkat, dan karena senangnya ia lalu berteriak :

“Mari kakang kita hancurkan saja kedua orang budak ini.” Bersama dengan lenyapnya suara murid kedua dari Jayasengara maka tampaklah sinar bergulungan yang menerjang kearah Wardani. Sinar ini adalah sinar pedang Undung Kalayaksa yang telah diputar dengan hebat.

Sedangkan Sindung Laut terus tak banyak cakap lagi menerjang kearah Ariyani dengan mempergunakan seluruh kepandaiannya. Hingga dengan demikian pertandingan berjalan dengan seimbang dan sangat seru. Satu lawan satu. Perajurit-perajurit Belanda lainnya terus menjahui lapangan pertarungan karena mereka itu takut kalau ada senjata yang nyasar kearah lehernya. Hingga dengan demikian tampaklah beberapa pertempuran yang dahsyat. Pertempuran antara Wardani melawan Undung Kalayaksa, Ariyani lawan Sindung Laut, Pendeta Kalinggapati melawan Aru Palaka, dan Retnosari melawan Kapten Tack dan Baurekso. 332 Makin lama pertarungan itu makin bertambah seru. Pukul-memukul elak-mengelak saling bergantian. Akan tetapi makin lama sang waktupun makin bertambah cepat dan tak manghiraukan keadaan sekitar itu. Ia tetap berjalan untuk menunaikan tugasnya.

Diatas langit hitam itu makin lama makin bertambah kelam, akhirnya hujan turun. Dari gerimis akhirnya menjadi lebat. Deras! Hujan bagai dicurahkan dari langit. Akan tetapi mereka yang bertempur itu tak menghiraukan kendaan sekitar.

Kilat terus-menerus menyambar dan halilintarpun terus mengamuk hingga suaranya memekakkan telinga. Disela-sela suara bunyi desingan air hujan itupun terdengar pula suara senjata beradu. Seakan-akan suara jatuhnya air hujan itu adalah irama yang mengiringi perpaduan senjata mereka yang bertemu.

Setelah banyak para perajurit yang mengundurkan diri maka Retnosari dapat melihat bahwa ada dua orang yang ikut bertempur dipihaknya. Karena itulah ia lalu berseru dengan lantang :

“Hei    siapakah kalian yang bertempur dipihah kami??”

“Bibi, kami Ariyani dan Wardani!” Jawab Ariyani dengan keras.

Mendengar kalau yang bertempur itu adalah orang-orang yang mereka cari maka berteriaklah kembali si isteri Pendekar Budiman itu :

“Orang yang kita cari telah bertemu hayo lekas kabur!” Serunya sambil memperhebat serangannya. Dan setelah mendapat kesempatan yang baik maka wanita itu berkelebat pergi meninggalkan musuhnya. Begitupun dengan Pendeta Kalinggapati. Akan tetapi kedua gadis perkasa itu tak mau meninggalkan musuhnya dengan begitu saja.

Wardani dan Ariyani terus mengamuk bagaikan banteng ketaton. Pedang dan keris kedua orang pendekar wanita ini terus menerus berkelebat-kelebat mencari kesempatan untuk minum darah lawannya itu. Akan tetapi lawan-lawan meraka itu adalah murid-murid dari seorang pertapa sakti yang berdiam digunung Ungaran, hingga dengan demikian mereka itu tak akan mudah dikalahkan dengan begitu saja.

Melihat kenekatan kedua orang gadis ini jengkellah si Retnosari. Ia terus berteriak lagi :

“Ariyani, Wardani, hayo lekas ikuti kami!”

“Yani, apakah kau tak kasihan melihat ayahmu terluka?” Teriak Pendeta Kalinggapati dengan lantang.

Mendengar kalau ayahnya terluka, maka hilanglah semua semangat gadis perkasa itu untuk melanjutkan permainannya. Dan dengan cepat ia mendesak lawannya dan terus melarikan diri.

Melihat kalau kakak angkatnya telah meninggalkan musuhnya Wardanipun tak membuang banyak waktu dengan sekali berkelebat lenyaplah tubuhnya ditelan kepekatan malam dan derasnya hujan itu. Hingga sebentar saja keempat orang gagah yang menerjang benteng Kumpeni itu telah lenyap.

333 Mereka itu terus lari meninggalkan benteng, makin lama makin jauh. Hingga suara para punggawa Belanda yang berteriak-teriak itupun makin lama makin terdengar sayup-sayup saja. Dan akhirnya hilang kalah dengan suara jatuhnya riris (hujan) itu.

“Kejar perusuh... kejar... kejar... kejar...” Makin lama suara itupun makin hilang. Hilang bersama lenyapnya tubuh keempat penyerang benteng Kumpeni tadi.

Dilain saat Pendeta Kalinggapati terus berlari sambil bertanya kepada kedua orang gadis itu :

“Apakah kalian tertangkap kemarin?” “Tidak paman!”

“Heee.... lalu kemanakah kalian sehari semalam itu??” Timbrung Retnosari sambil mendekat kearah mereka itu.

“Kami memang sengaja tak mau pulang ke hutan Paranggelung, sebab kami berdua akan berusaha membebaskan si Pendekar Linglung itu dari cengkeraman penjajah Belanda. Dan tak tahunya paman dan bibi malah telah berada disana pula.” Jawab Wardani dengan terengah-engah.

“Huahhhh...... kukira kalian tertangkap! Gara-gara kalian pergi tanpa pamit itulah maka kami berdua menyerbu benteng musuh.” Seru Pendeta Kalinggapati.

“Paman, tadi paman bilang bahwa ayah sedang menderita sakit, benarkah itu paman?? Dan bagaimanakah keadaan ayah sekarang??” Tanya Ariyani dengan memandang kearah pendeta yang berpakaian hitam-hitam itu. “Ya memang ayahmu terluka.” “Siapakah yang melukainya, paman??”

“Pendekar Linglung!” Jawab Retnosari dengan singkat. “Pendekar Lingung??” Ulang Ariyani dengan kaget.

“Ya!” Kembali Retnosari menjawab sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Akhhh!” Desis Ariyani dan Wardani bersama-sama.

Sedangkan Pendeta Kalinggapati makin tak enak untuk menjelaskan keadaan Barata yang parah itu. Hingga dengan demikian sang pendeta dari Gua Melati gunung Muria itu hanya berdiam diri saja. Kembali keadaan menjadi hening.

Melihat kesedihan Ariyani ini maka Retnosari segera berkata untuk menghibur hati Ariyani :

“Janganlah kau terlalu menyedihkan keadaan ayahmu ini, sebab semuanya telah berjalan diatas apa yang telah digariskan oleh Yang Maha Agung. Dan lagi Topeng Merah serta pamanmu Joko Seno telah pergi untuk mencarikan obat ayahmu.”

“Terima kasih, bibi! Semoga paman Joko Seno dan Topeng Merah berhasil.” Desis Ariyani disela-sela suara sedu-sedannya.

* 334 * * Setelah beberapa malam berturut-turut benteng Kumpeni dapat dibobolkan oleh para pejuang itu maka Edeler Moor terus marah-marah kepada bawahannya. Babkan ia tak jarang pula turun tangan untuk memukul orang-orang yang dianggapnya tak berguna itu.

“Huuuhhh..... apa perlunya kita menggaji kalian kalau kalian tak dapat bekerja dengan baik! Masakah menangkap beberapa orang saja tak mampu. Sungguh menyebalkan. Lebih baik kupelihara anjing saja malah berguna.” Gerutunya didepan para rekan dan bawahannya.

“Soalnya bukannya kami tak mau bekerja, tuan! Tapi hendaknya diketahui bahwa kepandaian mereka itu telah benar-benar mumpuni. Hingga dapat kita katakan bahwa perbandingan kita dan mereka itu sama saja dengan seorang pejuang dengan dua puluh lima orang tentara.” Jawab Klabang Ungu.

“Hehhh Klabang Ungu, apakah kau telah jeri melawan mereka??” Bentak Edeler Moor yang malah bertambah kalap setelah mendengar perkataan si orang Alas Roban itu.

Mendengar bentakan Edeler Moor itu cepat-cepat Klabang Ungu memperbaiki kesalahannta dengan menjawab :

“Tidak    tidak! Klabang Ungu tak akan mengenal takut!”

“Jadi kau tak akan mengenal takut?” Ulang Kapten Tack. “Benar!”

“Kalau demikian kau mata-mata musuh ya?” Teriak Edeler Moor dengan memandang Klabang Ungu tajam-tajam. Seakan-akan orang Belanda itu hendak membaca isi hati bawahannya itu.

“Bagaimana kalian dapat mengatakan bahwa aku mata-mata musuh??

Hehh!!” Teriak Klabang Ungu dengan penasaran.

“Lupakah kau kalau membaik-baikkan keadaan musuh? Dan ketahuilah perkataanmu itu sama saja dengan melemahkan semangat juang kita!” Desis Aru Palaka yang sejak tadi diam saja.

“Huahahaa..... huahahaa..... huahahaa..... kalau kalian tak mempercayai kami orang-orang Alas Roban mengapa kalian mengundang kami? Baiklah kalau tenaga kami telah tak dipergunakan lagi lebih baik kami pulang sekarang saja.” Seru Ki Klabang Songo disela-sela suara tawanya.

Memanglah kakek tua ini merasa terhina sekali mendengar perkataan- perkataan dari orang-orang Belanda itu. Ia tahu kalau tenaganya dan tenaga murid-muridnya ini sangat dibutuhkan oleh para penjajah hingga Ki Klabang Songo tak takut untuk jual manal.

Tapi lain halnya dengan orang-orang Belanda yang memang membutuhkan bantuan orang tua dan murid-muridnya itu. Setelah mendengar perkataan Klabang Songo itu Edeler Moor segera berkata dengan lembut dan manis nadanya :

“Jangan terburu marah, Ki Klabang Songo! Kami tadi hanya main-main saja. Dan ketahuilah kalau kemarahanku kepada muridmu itu hanya 335 terdorong oleh rasa penasaranku karena telah berkali-kali kebobolan ini. Nah, hendaknya perkataan kami tadi tak kau masukkan kedalam benak otakmu.”

“Huahahaaa.... Huahahaaa.... Huahahaaa..... bagus... bagus... kalau kalian telah mengakui akan kesalahan omonganmu itu maka kamipun tak kan ragu-ragu lagi untuk membelamu. Bukankah kalian tahu sendiri siapa yang berhasil menculik raja Banten? Mengapa jasa kami itu tak kalian hargai?” Seru Klabang Songo dengan menepuk dadanya.

Memang mereka itu tak dapat membantah ataupun mengelakkan perkataan Klabang Songo itu. Sebab orang yang berhasil menggondol Sultan Agung raja Banten itu adalah Ki Klabang Songo dengan kawannya yang bernama Baurekso. Dan bahkan Baurekso telah mengorbankan tangan kirinya untuk membela mereka. Membela Belanda. Hingga begitu mendengar perkataan Klabang Songo itu mereka hanya mengangguk- anggukkan kepalanya saja. Hingga seperti ayam yang makan padi.

“Nah, kalau demikian marilah kita bicarakan inti pembicaraan kita saja dan jangan mengungkit-ungkit masa lalu, dan jangan saling menyalahkan satu sama lain.” Seru Kapten Tack menengahi.

“Begitulah baiknya.” Kata Klabang Abang.

“Bagaimana menurut pendapatmu Kapten Tack tentang penjagaan dan pertahanan benteng kita ini?” Tanya Edeler Moor memandang rekannya yang terkenal cerdik dan pandai itu.

Sesaat orang Belanda yang berpangkat Kapten itu hanya berdiam diri saja. Akan tetapi tampaklah kalau keningnya berkerut, inilah tandanya bahwa Kapten Tack itu sedang berpikir dengan keras. Sampai lama ia tak memberikan jawaban. Namun Edeler Moor pun tahu apa yang sedang menganggu pikiran rekannya ini. Hingga dengan demikian ia sabar menunggu.