Pendekar linglung Jilid 1

 
Jilid I

“TOLONGGG..... toloonggg..... toloonggg   !!”

“Kebakaran..... kebakaran    kebakaraannn!!”

Demikianlah suasana desa Ragajampi pada waktu itu. Suasana dalam keadaan kalang-kabut; ramai para penduduk simpang-siur berlari-larian karena ketakutan. Api semakin hebat, hampir seluruh rumah didesa itu habis terbakar. Disela-sela kegaduhan itu sayup-sayup terdengarlah tawa riang serombongan orang berkuda : “Ha.... ha.... ha.... puas hatiku melihat desa Ragajampi menjadi lautan api. Ha..... ha..... ha..... Inilah rasanya kalau berani melawan pertintahku..... perintah Candraloka dari Nusa Barung. Ha..... ha..... ha.....” Makin lama makin hilanglah suara dari Candraloka. Kini keadaan desa Ragajampi itu menjadi sepi, hanya pemandangan yang menyuramkan saja yang terlihat. Rumah-rumah yang sudah hancur dan mayat-mayat yang bergelimpangan dalam keadaan yang sedemikian sedihnya. Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang melalui desa itu.

“Hem..... sungguh kejam sekali si Candraloka, sayang aku datang terlambat. Hem..... Candraloka tunggulah nanti pembalasannya.” Tiba-tiba si kakek itu mendengar suara orang memekik. “Aduhh.... aduhh.    manakah

anakku..... oh.... anakku..... yah.... Tuhan..... lindungilah anakku..... oh Tuhan.....

lindungilah anakku.” Cepat sang kakek memalingkan kepala kearah suara itu, maka terlihatlah sesosok tubuh seorang wanita yang berlumuran darah dan terhimpit tiang rumah yang roboh pada waktu kebakaran itu. “Ya.....

Tuhan, kasihan wanita itu,” bisik kakek yang gagah itu dengan menghampiri wanita itu. Tahu kalau dirinya didekati oleh kakek itu, maka wanita itu terus menangis dan berteriak-teriak. “Siapa kau. ? mana anakku,

minggir!” teriaknya.

“Sabar..... sabarlah nak!” seru kakek. Karena suara lemah-lembut dari kakek itu, maka ia berhenti menangis.

“Apakah yang terjadi nak?” tanya kakek itu. “Tolonglah dulu anakku pak! Cepat tolonglah. ”

“Dimanakah anakmu, nak?” “Dirumah itu pak sebelah timur ini.” “Tunggulah sebentar nak!!”

Lalu pergilah kakek itu kearah rumah yang ditunjukkan perempuan itu. Tetapi sebelum ia masuk rumah itu terlihatlah mayat seorang laki-laki mati. Terdapat luka bekas bacokan pedang dilehernya.

“Oh. sungguh malang nasibmu ini,” ujar kakek itu.

Orang tua itu lalu memeriksa keadaan laki-laki itu, dan juga bayi yang disampingnya. “Tuhan Maha Pengasih.....” desis kakek itu. Bayi itu hanya pingsan saja, sungguh kasihan nasib rakyat Ragajampi ini. Kemudian dibawanyalah bayi itu ke perempuan yang malang itu. 5 “Nak, inikah anakmu itu?” Tanya orang tua itu. “Be..... betul..... matikah dia. oh anakku!!”

“Sabar, sabar ia masih hidup.”

“Hidup.....?!” teriaknya. “Oh Tuhan.”

Tiba-tiba wanita itu menubruk kaki kakek itu dan menciumnya sambil menangis karena girang.

“Sudah..... sudah, berdirilah nak,” seru kakek itu. Seperti ada kekuatan gaib yang mengangkat wanita itu berdiri.

“Pak, siapakah nama bapa yang mulia?”

“Hem..... aku bukan orang mulia, aku hanya perantau,” katanya sambil tersenyum.

“Siapakah nama bapa yang telah menolong aku dan anakku?” “Orang menyebut aku sebagai Panembahan Jatikusumo.”

“Oh..... sang Panembahan terimalah hormatku ini,” katanya sambil bersembah.

“Sudah berdirilah! Siapa namamu nak ?”

“Namaku Retno Anggarsih.”

“Dan siapa pula nama anakmu. ?”

“Joko Seno, Panembahan.”

“Sekarang kulihat rumahmu sudah habis terbakar.... e.... e. dimanakah

suamimu. ?”

“Entah Panembahan, tadi ia mendukung anak ini sambil melawan gerombolan Nusa Barung dimuka rumah.”

“Oh. kasihan Retno, suamimu telah tewas.”

“Tewas? .....oh kakang.....!” Kembali Retno menangis lalu lari ketempat mayat suaminya.

“Kakang..... kakang..... mengapa kau tega meninggalkan kami, kakang.

Ingatlah anakmu kakang ”

“Sudahlah Retno,” bujuk panembahan. “Marilah kita makamkan mayat suamimu dengan cara layak!”

Setelah selesai pemakaman itu, maka berkatalah sang panembahan : “Retno, sekarang engkau sebatangkara, marilah ikut aku ke Pertapaan Gunung Semeru, biar anakmu kuambil sebagai muridku.”

“Oh..... terimakasih sang panembahan. Aku hanya menurut saja apa kehendak sang panembahan.”

“Baiklah mari kita berangkat.”

Bagaikan terbang saja, Panembahan Jatikusumo lari kearah barat sambil mendukung dua orang yang keadaannya sudah lemah itu.

*

* *

Menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan, akhirnya tahun berganti tahun. Waktu berjalan dengan cepat, tak seorangpun dapat menghentikan waktu. 6 Limabelas tahun telah lalu, peristiwa kebakaran Ragajampi telah dilupakan orang. Joko Seno sekarang telah menjadi seorang pemuda yang cakap, kokoh dan gagah. Selama limabelas tahun ia digembleng oleh seorang tokoh sakti Panembahan Jatikusumo. Ia sekarang sudah menjadi seorang pemuda yang telah masak, berkepandaian tinggi, berkat ketekunannya belajar silat siang dan malam. Hal inipun telah menjadikan girangnya Retno Anggarsih sebagai ibunya dan bangganya Panembahan Jarikusumo sebagai gurunya.

Pada suatu malam ia berlatih ilmu pedangnya yang baru saja ia pelajari dari gurunya. Ilmu pedang ‘Segoro Manangkep’, ilmu pedang sakti, karena yang menciptakan ilmu ini ialah Panembahan Jatikusumo sendiri. Sedangkan Panembahan Jatikusumo ini terkenal sebagai seorang jago pedang yang jarang tandingannya dimasa itu. Ilmu pedang itu dinamakan pedang ‘Segoro Manangkep’, sebab ilmu pedang ini tercipta dipinggir Segoro Kidul dan pula waktu itu Panembahan Jatikusumo kagum dengan lautan, maka gerakan ilmu pedang ‘Segoro Manangkep’ itu atas dasar alunan-alunan gelombang dilautan. Gerakannya cepat, keras dan dahsyat. Pada waktu itu Joko Seno sedang melatih ilmu pedang Segoro Manangkep dengan pedang pusakanya ‘Nogo Biru’. Pedang pusaka Nogo Biru adalah pedang pusaka Majapahit yang dianugerahkan kepada Adipati Ronggolawe oleh Prabu Kerta Rajasa Jayawardana pada waktu itu. Dan sekarang pedang Nogo Biru itu jatuh ketangan Panembahan Jatikusumo, akhirnya diberikan kepada murid tunggalnya, Joko Seno. Tubuh Joko Seno tertutup oleh sinar biru dan dingin dari pedang Nogo Biru. Karena asyiknya berlatih, maka Joko Seno tak tahu kalau ia sedang diperhatikan oleh gurunya.

“Seno... kemarilah, dan cobalah lihat pedangmu,” kata Panembahan Jatikusumo. “Sewaktu engkau menusukkan pedang pada jurus keenam ini kaki harus ditekuk rendah dan dalam keadaan siap kuda-kuda karena jurus keenam ini khusus untuk menyerang lambung musuh. Ilmu ini jangan kau keluarkan kalau kau tidak terdesak dan melawan musuh tangguh, kau tahu kedelapan jurus itu merupakan amukan gelombang semua. Nah coba tusuk pohon randu itu.”

Setelah menerima pedang itu Joko Seno siap mulai dari jurus pertama ia memutar pedangnya hingga ia lenyap tertutup sinar biru. Inilah gerakan Bendungan menahan banjir, lalu ia menambah gerakannya menjadi lincah bagaikan burung. Inilah gerakan Elang Laut mencari mangsa. Menyusul jurus ketiga yang mengandalkan kegesitan gerak ini dinamakan gerak Wanara Murka. Setelah jurus ketiga selesai maka ia mulai jurus keempat yang berdasarkan tenaga dalam. Ia kuat bagaikan gajah, maka jurus keempat ini dinamakan Gajah Murko. Jurus kelima dinamakan Garuda Nglayang, sebab pedangnya menyerang dari atas. Jurus keenam dinamakan Cucut Prakosa, sebab gerakan ini memerlukan pemusatan tenaga dalam dan penjernihan pikiran. Tepat pada jurus keenam ini Joko Seno

menusukkan pedangnya kearah pohon randu itu dan akibatnya pohon 7 randu itu putus akibat tusukan Joko Seno yang menggunakan seluruh tenaganya. Jurus ketujuh dan kedelapan adalah jurus yang menggunakan tata napas dan dinamakan Bledek Sayuto dan Bayu Murti.

“Cukup, muridku, cukup, marilah kita pulang, ibumu telah lama menanti.”

“Baik guru, akupun bermaksud menemui ibuku.”

Ketika Joko Seno hendak menemui ibunya, ternyata Retno Anggarsih baru semedi. Selama Retno Anggarsih ikut Panembahan Jatikusumo, maka ia diweyang dan diberi pelajaran semedi untuk menenangkan pikirannya dan menguatkan bathin. Disamping itu iapun diberi pelajaran silat sedikit- sedikit untuk menjaga diri. Tetapi rupanya Retno Anggarsih lebih suka menekuni tentang samadinya. Terbukti sekarang tenaga batinnya sudah hampir mencapai puncak kesempurnaan. Setelah mengetahui bahwa ibunya sedang semedi maka iapun tak mau mengganggu. Maka Joko Senopun pergi ketempat tidurnya. Lama ia tak dapat tidur. Udara diluar sangatlah dingin, tapi tak dapat mempengaruhi diri Joko Seno. Pikiran Joko Seno selalu melayang dalam pertanyaan yang tak terjawab. Siapakah ayahku? Masih hidupkah beliau? Inilah pertanyaan yang selalu menggoda pikirannya. Lama-lama Joko Senopun tertidur.

Pagi-pagi Joko Seno telah bangun. Setelah ia sholat subuh maka Joko Seno mulai melatih pukulannya. Pukulan tangan yang dilandasi aji Bledek Mangampar. Tampaklah ia sedang memusatkan pikiran untuk melepaskan aji Bledek Mangampar. Joko Seno mulai berdiri tegak, tangan kanan diluruskan, tangan kiri ditekuk lurus untuk melindungi dada. Setelah aji Bledek Mangampar tersalur dikedua telapak tangannya, maka meloncatlah Joko Seno sambil mengayunkan tangan kanannya kearah pohon kelapa yang didekatnya. “Bumm....!! Krakkk.....!!” Pohon kelapa itu tumbang kena terjangan Joko Seno yang melepaskan aji Bledek Mangampar. Berkali-kali Joko Seno mencoba dan  akibatnya banyaklah pohon-pohonan  yang tumbang kena aji Bledek Mangampar. Dari suara yang tumbang itu telah membangunkan Retno Anggarsih dari semedinya. Maka Retno Anggarsihpun lalu menghampiri putera tunggalnya. Ketika Joko Seno melihat ibunya datang, maka katanya. “Sudah bangunkah ibu dari semedi?”

Retno Anggarsih hanya mengangguk lalu katanya: “Mari Seno, hari telah siang tidakkah engkau mengambil air?

“Ya ibu, hari ini aku harus banyak mengambil air sebab tanaman kita sudah banyak yang tumbuh. Tentu eyang panembahan akan senang melihatnya.”

“Tentu anakku, karena gurumu itu orang rajin, maka itu contohlah ia.” “Baik bu, Seno mau menyiram tanaman dulu bu!”

“Lekas nak, nanti habis kau siram sayur-syuran itu lalu pergilah makan. Ibu menanti kau dirumah.”

“Baik bu,” jawab Joko Seno sambil pergi.

“Perlu diketahui bahwa Panembahan Jatikusumo dan para cantriknya bertanam sayur-sayuran di gunung Semeru. Sudah lebih kurang 10 tahun 8 Joko Seno diberi tugas oleh sang panembahan agar tiap pagi dan sore menyiram tanamannya. Panembahan Jatikusumo bukannya tak mempunyai maksud dengan menyuruh Joko Seno itu, tapi tujuannya agar Joko Seno dengan mudah dapat menguasai ilmu larinya, ialah ilmu lari Kidang Kencono. Pertama-tama memang berat bagi Joko Seno untuk mencari air, karena ia harus naik turun jurang-jurang yang curam. Tetapi lama-kelamaan itu menjadi latihannya dalam olah lari cepat Kidang Kencono. Sekarang sebentar saja ia dapat mengambil air sebanyak- banyaknya karena ia telah menguasai ilmu Kidang Kencono. Ia dapat meloncati jurang-jurang dan tebing-tebing yang curam. Inilah maksud utama dari Panembahan Jatikusumo menyuruh Joko Seno tiap hari harus menyiram sayur-sayuran yang ditanam oleh cantrik-cantriknya. Setelah selesai pergilah Joko Seno menemui ibunya dan bersama-sama makan pagi. Makan pagi yang sederhana, tapi terasa sangat enak, untuk orang yang habis bekerja. Nasi putih hangat dengan lauknya srundeng, sambel dan sayur-sayuran. Maka Retno Anggarsihpun lalu menghampiri putera tunggalnya.......... Sehabis makan   bertanyalah   Joko   Seno   kepada   ibunya   :   “Bu.....

dimanakah ayah, ibu?”

“Ayahmu pergi nak, besok kan kembali.”

“Bu, aku suiah besar bu, katakanlah terus terang, masa dari dulu ayah pergi tak kembali-kembali. Ibu selalu menjawab ayah pergi. Katakanlah bu, katakanlah!”

Terdiamlah Retno Anggarsih melihat sikap puteranya itu. Maka kembali ia teringat pada mendiang suaminya. Ya. pada wajah Joko Seno ini

ia terbayang wajah suaminya. Wajah suaminya yang pindah kewajah Joko Seno. Akhirnya berkatalah Retno Anggarsih : “Seno...... anakku, kuatkanlah hatimu anakku!”

“Katakanlah bu,” potong Joko Seno.

“Sabar anakku, ayahmu sebetulnya sudah lama meninggal.” “Meninggal??” teriak Joko Seno terkejut.

“Ya..... ayahmu meninggal waktu kau masih bayi. Ayahmu meninggal pada waktu melawan perampok Candraloka. Ia meninggal terbacok lehernya,” kata Retno Anggarsih sedih.

“Ayah meninggal karena perampok Candraloka?”

“Ya. ayahmu meninggal sebagai pahlawan Ragajampi.”

“Oh..... ayah..... aku akan membalas kematianmu ayah. Tenanglah ayah, anakmu ini akan menumpas habis rampok-rampok Candraloka! Bu.....

ijinkanlah aku pergi menuntut balas kematian ayah.”

“Oh nak    tenanglah dulu mari kita rundingkan dulu dengan eyangmu,

memang telah lama aku ingin melihat Candraloka mampus ditanganmu, nak.”

“Marilah bu, kita menghadap eyang panembahan.”

Maka pergilah ibu dan anak menghadap Panembahan Jatikusumo. Pada waktu itu Panembahan Jatikusumo baru melihat-lihat hasil tanamannya dan sang panembahan sangatlah puas akan hasil tanamannya. Tiba-tiba datanglah seorang cantrik yang mengabarkan kalau sang panembahan ditunggu oleh Retno Anggarsih dan Joko Seno dipadepokan. Maka pulanglah Panembahan Jatikusumo ke padepokan. Maka pulanglah Panembahan Jatikusumo untuk menemui Retno Anggarsih dan anaknya. Sesampainya dipadepokan bertanyalah sang panembahan : “Ada keperluan apakah kalian menghadap padaku, ngger?”

“Ya, bapa panembahan, ini Joko Seno ingin menghadap bapa panembahan.”

“Muridku Seno, ada keperluan apakah?”

“Ya eyang, saja ingin minta diri untuk mencari pembunuh ayahku, eyang.”

“Mencari pembunuh ayahmu? O..... jangan Seno. Kalau sudah sampai waktunya engkau kuijinkan.”

“Tapi eyang, hatiku sudah tak dapat kutahan lagi, eyang! Bukankah aku sudah eyang beri bermacam-macam ilmu?”

10 “Hem..... anak bodoh..... didunia ini banyak orang-orang sakti, orang- orang yang berkepandaian melebihi eyangmu ini, jadi janganlah engkau sombong atau menyombongkan kepandaianmu!!”

“Eyang.... tapi   aku sudah tak kuat dan aku ingin mencari pengalaman,

eyang.”

“Yah. sudahlah kalau tak dapat kutekan. Tapi ingatlah pesanku Seno,

janganlah kau menyombongkan kesaktianmu, Seno.”

“Ya eyang, aku akan menurut petuah-petuah dari eyang panembahan.” “Seno, duduklah dulu yang baik dan dengarlah aku akan memberi gambaran-gambaran sekedar untuk bekal pengetahuanmu dirantau kelak.

Seno ingatlah bahwa di Jawa ini ada lima orang tokoh sakti.

Tokoh dari utara adalah seorang nenek wanita bersenjata cambuk bercabang lima, tiap ujung cambuknya merupakan senjata yang ampuh. Disamping ia bersenjata cambuk iapun mempunyai aji Klabang Sayuto. Andaikata aji itu sudah ditrapkan dan dipakai untuk mencubit, maka akan celakalah orang yang kena cubit itu. Karena rasanya sama dengan disengat klabang sejuta banyaknya. Tapi jangan takut karena ia berhati putih, tapi sangat keras. Ia disebut orang setan dari utara karena mukanya yang buruk, dan nama aslinya Nyi Widati.

Tokoh dari timur tak usah saya ceritakan karena aku sendirilah tokoh dari timur itu.

Tokoh dari barat seorang hitam tinggi bernama Arya Cempaka. Ia seorang tokoh yang berhati curang, tapi cerdas dan licik. Arya Cempaka sering bersenjata penggada dari besi dan ilmu andalannya ialah pukulan tangan kosong yang disebut Kilat Buana. Adapun kesaktian dari aji tersebut ialah, kalau aji itu sudah ditrapkan maka sesuatu yang kena pukulannya akan hanguslah karena aji Kilat Buana tersebut. Dan Arya Cempaka itupun menjadi kakak seperguruan dari musuh besarmu, si Candraloka, jadi kau harus hati-hati kalau bertemu dengan Arya Cempaka. Dan ia dijuluki Iblis Pencabut Nyawa.

Keempat adalah tokoh dari selatan, bernama Ki Ronggo dan orang menjulukinya sebagai Singopati. Ki Ronggo dijuluki Singopati karena Ki Ronggo mempunyai suatu aji yang dahsyat. Aji itu dinamakan aji Senggoro Singo. Karena aji Senggoro Singo inilah maka Ki Ronggo dapat malang- melintang didaerah selatan. Adapun kemujijatan dari aji Senggoro Singo ini terletak pada pekikan Ki Ronggo. Pekikan itu seperti auman seekor singa. Siapa saja yang kurang kuat tenaga batinnya akan dapat terpengaruh oleh auman itu. Orang akan menjadi lemah tak berdaya kalau mendengar auman dari Ki Ronggo. Selain punya aji Senggoro Singo, ia punya sebilah keris pusaka yang bernama Kyai Blarak Sinebet. Tanda-tanda dari Kyai Blarak Sinebet ialah, apabila keris itu dihunus dari kerangkanya maka akan memancarkan cahaya kuning dan menebarkan hawa panas.

Tokoh kelima seorang kakek kurus kering dan tak tentu tempat tinggalnya. Kakek itu bernama Sancaka atau orang memberi julukan Pengemis Sakti, biarpun badannya kurus kering tetapi kakek ini tak dapat 11 dibuat main-main, sebab ia punya aji Lembu Sakilan. Semua senjata maupun pukulan tak dapat menyentuh badannya. Karena ttu kakek Sancaka dapat malang-melintang didaerah tengah. Sancaka sangat disegani oleh tokoh hitam maupun putih. Selain itu iapun punya ilmu tongkat yang sangat dahsyat. Ilmu tongkat itu diberi nama ilmu Pemukul Anjing. Ilmu tongkat Pemukul Anjing ini adalah ilmu turunan dari Sancaka. Kemana- mana Sancaka selalu membawa tongkat kecil dari bambu kuning. Hanya dengan senjata tongkat kecil ia dapat menandingi pedang maupun penggada yang berat. Sancaka adalah seorang pendekar budiman.

Dan selain kelima tokoh itu masih ada seorang yang sangat terkenal dengan keahliannya dalam hal obat-obatan dan ilmu silatnyapun tak dapat diremehkan. Orang itu adalah seorarg bule yang bernama Jayaningrat. Jayaningrat adalah seorang yang suka menolong sesama hidup tanpa melihat apakah itu orang baik ataukah orang jahat. Orang memberi julukan Tabib Dewa. Jayaningrat mempunyai ilmu Mayang Seto. Kehebatan ilmu Mayang Seto terletak pada kegesitan dan keringanan tubuh. Senjata yang dipakai Jayaningrat ialah sebuah pedang tipis yang selalu dipakai sebagai sabuk. Dan tentang ilmu pengobatannya sangat dikagumi orang, hingga dari julukannya saja dapat kau terka. Nah... Seno, kau harus mengingat- ingat itu semua. Bukankah engkau ini merasa kecil? Sekali lagi Seno, kuperingatkan janganlah kau jadi sombong karena kepandaianmu itu.”

“Baik eyang, semua petuah eyang aku laksanakan.”

“Nah, kiranya cukup sekian penjelasan kepadamu Seno, sekarang mintalah diri kepada ibumu.”

“Baik eyang, kapankah saya boleh berangkat?” “Besok kau boleh berangkat dan hati-hatilah Seno.” “Ibu... besok pagi Seno beraiskat bu. ”

“Ya, kudoakan semoga kau dalam keadaan baik-baik saja, dan semoga selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.”

*

* *

Pagi-pagi buta Joko Seno telah lari meloncat dari tebing-ketebing untuk menuruni gunung Semeru. Betapa riangnya Joko Seno, bagaikan seekor burung lepas dari sangkar. Joko Seno terus lari kearah barat. Hutan- hutan dan desa-desa dilewati begitu saja. Kemanakah aku harus pergi? Menurut eyang panembahan aku harus mencari pengalaman dulu baru aku membalas dendam, kata Joko Seno dalam hati. Setelah berhati-hati Joko Seno terus-menerus berlari, maka sampailah kini ia disebuah desa yang bernama Talangsari. Entah apa yang menarik Joko Seno maka ia berhenti didesa itu. Joko Seno masuk disebuah warung nasi untuk mengisi perutnya. Didalam warung nasi itu, tampak ada tiga orang pengunjung yang datang dulu dari Joko Seno.

12 “Mari nak, mau makan apa?” tanya yang punya warung itu. “Nasi pindang dan kopi pak!” Sambil makan Joko Seno mendengarkan percakapan ketiga orang itu.

“Hai Jo, sudah bereskah tugasmu?”

“Setiap pekerjaan yang kukerjakan tentu selesai.”

“Wah, nanti engkau tentu mendapat upah besar Jo! Kalau dapat upah jangan lupa pada kawan,” potong orang yang sejak tadi diam saja.

“Ah. kau Wiro mau enak sendiri saja. Apakah tugasmu sudah beres?”

“Tentu, malah aku dapat kabar..... besok tanggal 15 Anggoro Manis bulan Mulud, dipuncak gunung Merbabu akan ada pertempuran berdarah.” “Pertempuran antara siapa dengan siapa?” tanya Karjoleo dan Jalak

Item berbareng.

“Masa kalian belum dengar!” “Cepatlah katakan!” bentak Karjoleo.

“Pertengkaran setan utara dan Singo gila!”

“Apa? Maksudmu Widati dan Singopati?” potong Wiro. “Siapa lagi kalau bukan mereka.”

“Apa sebabnya kedua orang tua itu akan bertempur?”

“Entah, menurut berita yang kudengar, sebab mereka tak mau mengakui keunggulan masing-masing. Kau tentu pernah mendengar kalau dulu Widati adalah kekasih dari Singopati, sewaktu mereka masih muda. Terputusnya hubungan mereka itu karena soal kepandaian. Singopati mengatakan kalau aji Senggoro Singo itu dapat mengalahkan aji Widati yang disebut aji Klabang Sayuto. Tentu saja Widati tak mau menerimanya. Dasar Widati itu mudah tersinggung maka Widati lalu menantang adu kesaktian dengan Singopati. Singopatipun ingin membuktikan perkataannya. Pertempuran mereka sangat seru dan tak ada salah satu yang kalah ataupun mau mengalah. Setelah keduanya kehabisan tenaga, lalu mereka pergi dan berjanji kalau duapuluh tahun lagi mereka akan bertemu lagi di puncak gunung Merbabu, tepat pada tanggal 15 Anggara Manis bulan Mulud.”

“Ah tentu hebat,” potong Jalak Item. Ketika Karjoleo, Wiro dan Jalak Item sedang bercakap-cakap masuklah saorang tua minta sisa makanan kepada Karjoleo.

“Hai pengemis, pergi! Bikin marah orang makan saja!” Bentak Karjoleo. “Orang tua bangka mau mampus kau! Lekas pergi sebelum kutendang keluar!” Olok-olok mereka bertiga.

“Pak, pergilah pak,” kata yang punya warung.

“Minta nasi sedikit tuan, dari pagi belum makan, tuan.”

“Dasar pengemis malas!” bentak Wiro sambil mendorong orang tua itu hingga jatuh keluar.

“Ha.... ha.... ha. haa!!”

Melihat kelakuan ketiga orang yang kasar itu timbullah rasa kasihan Joko Seno pada pengemis itu. Bangkit Joko Seno menolong pengemis

malang itu. 13 “Pak, makanlah apa yang kau suka di warung ini,” kata Joko Seno pada pengemis itu.

“Apa...? Makan? Tidak! Aku tak punya uang untuk membayar makan itu,” kata pengemis itu.

“Mintalah apa yang kau kehendaki, nanti aku yang membayar.”

Setelah pengemis itu makan, maka terdengarlah Jalak Item bergumam. “Hem. berlagak pahlawan,” dengus Wiro.

“Ha... ha. ha, biar dikatakan orang budiman!” teriak Jalak Item.

Mendengar ejekan dari ketiga orang itu maka bangkitlah Joko Seno sambil berseru dengan lantang : “Hai manusia-manusia kejam dan biadab,

kendalikanlah mulutmu!”

“Hai tikus kecil, berani kau berlagak didepan Jalak Item?!” “Tak perduli berhadapan dengan Jalak Item atau Jalak Gila!” “Setan! Kau berani menghina Jalak Item?”

“Brakk!” Tiba-tiba Jalak Item menghantam dinding warung hingga hancur.

“Oh tuan, jangan berkelahi diwarungku ini, tuan!” Keluh yang punya warung.

“Kau mau ikut-ikut? Nih terimalah bagianmu, bangsat!” Teriak Jalak Item sambil memukul pemilik warung hingga jatuh pingsan.

“Keluar kau! Mari kita bertanding diluar!” teriak Joko Seno. “Ha... ha. ha, tikus sekarat!” dengus Karjoleo.

Sesampai diluar maka cepatlah Joko Seno memasang kuda-kuda dan mulailah ia menanti serangan Jalak Item dan kawan-kawannya.

“Hai, siapa kau berani menantang kami?” bentak Wiro.

“Untuk apa mengenalkan nama pada bangsa babi yang hampir mampus?”

“Bangsat!” teriak Jalak Item sambil menusukkan pedangnya kearah lambung Joko Seno. Namun dengan mudah Joko Seno dapat mengelakkan serangan Jalak Item itu. Sebentar saja Joko Seno telah dikeroyok oleh ketiga orang itu. Dengan tenang Joko Seno meloncat-loncat menghindari tusukan pedang Jalak Item, Wiro, serta rantai dari Karjoleo. Makin lama makin serulah pertempuran antara Joko Seno dan ketiga bajak dari Nusa Barung itu. Mereka saling pukul-memukul tapi tak satupun yang bisa menyentuh kulit Joko Seno. Karena kemarahan dari Karjoleo yang meluap- luap itu, maka tanpa perhitungan lagi ia ayunkan rantai itu tepat diatas kepala Joko Seno. Tapi Joko Seno bukanlah murid dari Panembahan Jatikusumo, orang sakti dari timur, kalau tak dapat menghindarkan serangan-serangan itu. Maka dengan mudah saja ia meloncat kesamping untuk menghindarkan pukulan rantai Karjoleo dan bersama itu tangan kanannya bergerak memukulkan ajinya Gajah Murko jurus keempat dari Segoro Manangkep untuk memukul pedang Jalak Item yang mengarah ke lambungnya.

“Hem. manusia sombong rasakanlah pedangku!” dengus Wiro sambil

membabat bagian perut Joko Seno. Tapi serangan inipun dapat digagalkan 14 dengan ilmunya Elang Laut mencari mangsa. Akhirnya Joko Seno tak sabar lagi. Lalu ia mencabut pedang pusaka Nogo Biru. Seketika itu udara sekitarnya menjadi dingin dan bergemerlapan cahaya biru.

“Nogo Biru. ?!” desis Wiro!

“Betul Nogo Biru....! Hai anak muda pernah apakah kau dengan si tua bangka Jatikusumo?!” Bentak Karjoleo.

“Ketahuilah aku Joko Seno murid tunggal dari Eyang Jatikusumo!” “Bagus! Kau belum mengenal kami? Inilah utusan dari Nusa Barung.

Kuhancurkan kau anak muda!”

“Bagus, akupun akan membunuh bajak Nusa Barung yang bernama Candraloka. Bersiaplah kalian untuk mampus dulu!”

Sebentar saja tubuh Joko Seno telah tertutup sinar-sinar biru dari pedang Nogo Biru dan berkesiuran angin dingin yang dipancarkan oleh pedang pusaka itu. Mengetahui kalau musuhnya telah mengeluarkan pedang pusakanya, maka semakin marahlah Karjoleo dan kawan- kawannya menyerang Joko Seno. Pertempuran semakin seru. Pedang Wiro dan Jalak Item saling ganti-berganti menusuk Joko Seno dan rantai Karjoleo mengincer kepala Joko Seno, .Tapi biarpun Joko Seno diincar maut dari berbagai tempat, tidak menjadikan ia gugup.

Joko Seno tetap tenang sambil memainkan jurus pertama dari Segoro Manangkep yang disebut jurus Bendungan menahan banjir. Setelah beberapa saat maka tahulah dia kelemahan dari permainan pedang Wiro. Bagian atas permainan Wiro selalu terbuka, maka tiba-tiba ia mengubah jurusnya dari Bendungan menahan banjir ke jurus Garuda Nglayang langsung menyerang Wiro.

Pada waktu itu Wiro membabat kaki Joko Seno, tapi bersamaan dengan gerakan Wiro ini Joko Seno melompat langsung menyerang kepala Wiro, dan tanpa ampun lagi leher Wiro tertusuk pedang Nogo Biru dan habislah riwayat Wiro.

Melihat kawannya terbunuh maka makin hebatlah serangan Karjoleo dan Jalak Item. Mereka telah menguras kepandaiannya untuk melawan Joko Seno tapi hasilnya sia-sia. Jangankan melukai, mendekat saja sukar, karena tak dapat mendekat, maka disambitkanlah pedang Jalak Item kearah lambung Joko Seno. Joko menangkis pedang Jalak Item, kesempatan ini dipakai oleh Karjoleo untuk memukul Joko Seno dengan rantainya. Tapi malang nasib Karjoleo, pukulannya dapat dihindarkan dengan melompat kebelakang dan Joko Seno langsung menyerang Karjoleo dengan jurus Cucut Prakosa, tak ampun lagi pedang Nogo Biru masuk menusuk perut Karjoleo. Dan tewaslah Karjoleo. Melihat kedua temannya tewas, maka larilah Jalak Item meninggalkan Joko Seno. Joko Seno hendak lari mengejar Jalak Item, tapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh orang dari belakang. Ketika ia menengok terkejutlah ia karena yang memegang lengannya itu ternyata pengemis yang tadi disuruhnya makan.

“Pak mengapakah kau menghalang-halangi maksudku mengejarnya?”

15 “Musuh kalau sudah lari tak baik kalau dikejar! Sudah tahu engkau hal keadaan desa ini?”

“Belum!” Jawab Joko Seno singkat.

“Makanya, andaikata engkau dijebak oleh musuhmu apakah kau tak menyesal?”

“Aku tidak takut akan jebakan itu.” Jawab Joko Seno lalu mengejar Jalak Item.

Sungguh anak muda keras kepala, tak tahu kelicikan dari orang-orang Nusa Barung, gumam pengemis itu. Karena Joko Seno belum mengenal keadaan desa Talangsari, maka ia sudah kehilangan jejak dari Jalak Item. Sesampai dipersimpangan jalan, Joko Seno berhenti sebab tak tahu jalan mana yang harus dilalui. Tiba-tiba.... srettt.... sebuah anak panah bersarang pada dada Joko Seno.

“Ha..... ha..... ha, rasakan pembalasanku! Dalam waktu 18 hari tentu nyawamu melayang. Ha... ha... ha,” itulah suara Jalak Item sambil lari sehabis membidikkan anak panahnya.

“Setan curang...!” desis Joko Seno.

Seketika itu dada Joko Seno terasa kejang dan nyeri, dan sekitar luka mulai membengkak.

“Aduh ibu anakmu tak dapat membalaskan sakit hati ibu pada Candraloka.... aduh ibu.... aku anak tak berguna... aduh... aduh....” akhirnya Joko Seno jatuh pingsan.

Setelah Joko Seno jatuh pingsan tiba-tiba datanglah kakek pengemis tadi. “Oh... anak muda, kau tadi tak mau mendengar nasehatku, sekarang apa jadinya? Sungguh kasihan kau anak muda yang baik hati.”

“Setelah kakek pengemis tadi memeriksa luka didada Joko Seno, maka terkejutlah ia.

“Ah... kau kena racun Ular Weling, sungguh kejam orang-orang Nusa Barung. Kalau nasibmu baik jiwamu tentu tertolong anak muda. Baiklah sekarang kubawa ke gua digunung Muria, semoga Jayaningrat suka menolongmu.” Setelah berkata demikian maka diangkatlah Joko Seno lalu digendong dan dibawa lari secepat angin.

Siapakah kakek pengemis itu? Dialah Sancaka atau pengemis sakti tokoh dari tengah.

Kita tinggal dahulu Sancaka yang sedang membawa Joko Seno ke gua Melati, digunung Muria.

*

* *

Gua Melati digunung Muria sangat terkenal didaerah sekitarnya. Apalagi didunia persilatan. Penghuni dari gua Melati ialah seorang kakek bertubuh bidang, dan kelihatan selalu tersenyum. Umur kakek itu 60 tahun tapi ia masih saja kelihatan muda. Kakek ini dikenal orang sebagai ahli

16 obat-obatan. Hingga orang dunia persilatan menjuluki dia sebagai Tabib Dewa. Nama sebenarnya ialah Jayaningrat.

Jayaningrat tinggal di gua Melati hanya dengan 3 orang muridnya.

Pekerjaan muridnya hanyalah menanam pohon, mencari akar-akar dan daun-daun yang diperlukan dalam pengobatan. Muridnyapun bukannya orang-orang lemah biasa. Sebab mereka ini diberi pula pelajaran-pelajaran silat dan pengobatan. Tetapi sikap mereka tetaplah tenang, dan tidak menjadikan mereka itu sombong. Adapun nama murid- murid itu ialah : Pandan Kuning, murid tertua. Orang kedua Gagak Rimang dan orang ketiga ialah Wulandari.

Pandan Kuning orangnya tegap berkulit kekuning-kuningan, pendiam tapi tegas dalam segala hal dan ia berusia kurang lebih 30 tahun.

Gagak Rimang seorang pemuda jujur, periang, tetapi lekas naik darah, usianya kurang lebih 24 tahun.

Sedang Wulandari seorang gadis periang, sederhana dan jujur, ia murid dari Tabib Dewa yang termuda, Wulandari berusia kurang lebih 20 tahun.

Pada suatu petang duduklah Jayaningrat dihadap oleh ketiga muridnya. Pandan Kuning, Gagak Rimang dan Wulandari.

“Apakah telah selesai semua pekerjaanmu masing-masing?” “Sudah bapa,” jawab Pandan Kuning dengan singkat.

“Kamipun demikian bapa,” jawab Gagak Rimang dan Wulandari hampir bersama.

“Bagus-bagus, muridku aku puas, dan jangan lupa nanti malam kita melanjutkan latihan kenuragan, sebab bapa belum puas melihat gerakanmu dalam ilmu Mayang Seto. Bagi kau Pandan Kuning, gerakanmu terlalu lambat dan kurang lincah dalam hal ilmu meringankan tubuh. Dan bagi kau Gagak Rimang, kau terlalu ceroboh dan terburu nafsu hingga mengurangi kewaspadaan, hingga banyak tempat-tempat yang mudah diterobos oleh lawan. Sedangkan kau Wulan, gerakanmu sudah cukup lincah..... berkat ilmu meringankan tubuhmu dan kehati-hatianmu itu telah memberi kewaspadaan yang cukup pula, hanya sayang penggunaan tenaga dalammu yang kurang kuat. Boleh kukatakan lemah. Nah perhatikanlah baik-baik nasehatku ini demi kemajuan dan kebaikan kalian.”

“Terimakasih bapa atas nasehat bapa kepada kami,” jawab Pandan Kuning.

“Bapa..... marilah kita sekarang makan dulu! Sudah sedari tadi makanan kusediakan,” kata Wulandari.

“Baik, marilah Pandan Kuning dan engkau Gagak Rimang.” “Mari bapa,” jawab Gagak Rimang.

Dengan lahap mereka makan. Nasinya putih, masih panas dengan lauk srundeng, sambel dan telur dadar. Biarpun makanan sederhana tapi jika yang makan orang yang lelah habis bekerja, maka enak juga. Setelah mereka makan, maka Wulandari pergi keluar mengambil air dipancuran.

Tapi tiba-tiba Wulandari terperanjat karena ia melihat suatu bayangan 17 yang cepat hampir tak dapat dilihat mata. Bayangan itu cepat lari menyelinap menghilang dalam rumpun bambu.

“Hem.... kurang ajar, siapa berani main-maun didaerah gua Melati?” teriak Wulandari. Tapi betapa terkejutnya Wulandari ketika ia melihat suatu bayangan yang sangat gesit melarikan diri dari arah rumpun bambu didekatnya. Wulandari langlung mengejar bayangan itu dengan ilmu larinya bagian dari ilmu Mayang Seto. Tapi sebentar saja Wulandari telah kehilangan jejak. Sungguh hebat ilmu lari bayangan itu, desis Wulandari dengan kagum. Setelah lama Wulandari mengejar bayangan itu maka tersadarlah ia kalau ia telah meninggalkan guanya agak jauh dan telah memasuki sebuah hutan kecil dilereng gunung Muria. Tapi tiba-tiba ia mendengar suara. “Hai budak kau mencari aku? Ha.... ha.... ha. Carilah aku kalau kau mampu.”

“Setan, keluarlah jangan selalu main kucing-kucingan,” balas Wulandari dengan kesal.

“Ha... ha... ha budak, kau punya ilmu yang tak berarti saja sudah menjadi sombong. Jangan lagi kau, suruh gurumu datang kemari menyambut kedatanganku,” jawab bayangan itu dengan sombongnya.

Pengecut sombong, mana ada harganya kau didepan guru. Sedang berhadapan dengan muridnya saja kau sudah lari terkencing-kencing!” jawab Wulandari sambil membakar hati bayangan itu. Ternyata usaha Wulandari berhasil baik, sebagai seorang tokoh tentu amat malu kalau dikatakan pengecut, maka tiba-tiba turunlah sebuah tubuh dengan ringannya dihadapan Wulandari. Sebelum hilang kagetnya sebuah tamparan hinggap dipipinya.

“Huh... apa kau bilang? Pengecut? Ingin ku tampar lagi kau?” Bentak bayangan itu.

“Huh, memang kau seorang pengecut, beraninya memukul orang yang belum siap-siap. Apakah ini dapat disebut perbuatan satria?” bentak Wulandari.

“Tutup mulutmu, kalau tak ingin kusobek mulutmu. Karena memandang muka gurumu aku memaafkan kau.”

“Nah kau jeri bukan melawan guru?”

“Bangsat kau menghina, nah rasakanlah sedikit pengajaranku!” Sehabis berkata, langsunglah ia melawan Wulandari. Tapi Wulandari bukanlah gadis murahan, dengan sekali meloncat kesamping, terhindarlah dari terkaman. “Bagus kau dapat menggagalkan terkamanku,” dengus bayangan. “Nah, hati-hatilah budak menjaga seranganku.” Dengan cepat Wulandari telah dihujani pukulan-pukulan, tapi dengan cepatnya ia menarik pedang dan memainkan ilmu Mayang Seto ciptaan Jayaningrat.

“Bagus, keluarkanlah segala kepandaianmu budak. Ha... ha... ha... kepandaian yang tak berarti kau tunjukkan padaku.” Makin lama makin terdesaklah Wulandari menghadapi pukulan-pukulan lawan. Dan akhirnya dapatlah ia terpukul hingga roboh.

“Nah... budak, bagaimana dengan kesaktianku?” 18 “Bunuhlah aku kalau kau mau bunuh!” bentak Wulandari.

“Bunuh?... mudah tapi kau harus kujadikan jaminan pada gurumu, supaya mau mengobati lukaku.”

“Siapa kau? Kalau hanya ingin minta berobat saja, kenapa harus main sembunyi?” damprat Wulandari.

“Siapa aku? Kau belum tahu namaku? Ha..... ha !”

“Diam. !!” Bentak Wulan.

“Huh..... kau memang keras kepala. Kau mau tahu aku? Orang menyebutku Iblis Pencabut Nyawa. Pernahkah kau dengar?”

“Ah. kiranya kau, nah sekarang cabutlah nyawaku!!” Tantang Wulan.

“Mudah, itu mudah, bagaikan semudah membalik telapak tangan tapi kau akan kugunakan untuk memaksa gurumu untuk mengobati lukaku, nah diamlah.”

Setelah berkata demikian, maka Arya Cempaka lalu mendukung tubuh Wulandari dan dibawanya lari menuju ke gua Melati. Sedang yang ada di gua Melati adalah Jayaningrat dan kedua muridnya. Mereka menanti kedatangan Wulandari yang mengambil air, dipancuran. Tapi lama- kelamaan hati mereka tak tenang sebab sudah sekian lama Wulandari belum juga datang.

“Pandan Kuning dan kau Gagak Rimang, kau menjemput adikmu!” Kata Jayaningrat.

“Baik bapa,” jawab Pandan Kuning sambil pergi dan diikuti oleh adiknya Gagak Rimang. Mereka lalu menuju kepancuran dimana biasanya Wulandari mengambil air.

“Adi Gagak Rimang, heran aku mengapa disinipun tak kulihat adi Wulandari?”

“Benar kakang, jangan-jangan terjadi sesuatu hal dengan adi Wulandari.”

“Adi, marilah kita mencari disekitar pancuran itu!”

“Baik kakang! Tapi apakah tidak lebih baik kalau kita mencari dengan berpencaran, kakang?”

“Pendapatmu baik, adi! Kau carilah disebelah barat dan aku mencari ditimur. Dan kalau ada apa-apa kuharap kau berteriak, adi! Supaya nanti dapat kita hadapi bersama. Nah selamat berpisah adi, dan hati-hatilah.”

“Baik kakang, selamat berpisah.”

Kita tinggalkan dulu Pandan Kuning dan Gagak Rimang yang baru mencari hilangnya Wulandari.

*

* *

Marilah kita tengok perjalanan Sancaka yang mendukung tubuh Joko Seno.

19 Berkat kesaktian Sancaka, maka cepatlah mereka sampai dikaki gunung Muria. Tetapi Sancaka tak langsung naik ke gua Melati, melainkan ia beristirahat dibawah pohon.

“Anak muda, sudahkah kau sadar?”

“Ah. kek, kau menolongku? Terimakasih, kek!”

“Bagaimana lukamu anak muda?” “Dadaku dan sekitarnya menjadi kejang!” “Oh. siapakah namamu anak muda?”

“Joko Seno! Dan siapakah namamu, kakek?”

“Namaku? Ah tak ada harganya untuk kau kenal dan siapakah nama gurumu yang mulia?”

“Beliau tinggal di gunung Semeru dan nama beliau Panembahan Jatikusumo.”

“Oh..... kau murid Jatikusumo? Ah tak sia-sia aku menolong murid sahabatku. Bagaimanakah keadaan gurumu? Baik-baik saja bukan?”

“Baik kakek! Beliau sehat-sehat saja. Besok aku sampaikan pada beliau, bahwa aku telah ditolong sahabatnya yang tak mau menyebut namanya,” kata Joko Seno.

“Ha.... ha.... anak cerdik, anak pandai, bukahkah kau ingin mengetahui namaku? Sungguh pandai kau memutar kata. Baiklah akan kuberi tahukan namaku padamu. Aku bernama Sancaka. Orang menyebutku sebagai pengemis sakti. Memang aku pengemis, tapi sebetulnya aku tak sakti,” jawab Sancaka dengan penuh kelakar.

“Pantas-pantas, kakek Sancaka kau hebat. Guru sering menceritakan kehebatanmu. Tadi waktu sadar dari pingsan aku terheran oleh kecepatan ilmu larimu kakek. Ah siapa kira aku yang bodoh ini dapat pertolongan dari orang sakti. Ah kakek aku berhutang budi padamu.”

“Hus   sudah-sudah jangan sebut-sebut lagi pertolongan itu, bukankah

manusia harus hidup tolong-menolong? Tadi kau telah memberiku makan, dan sekarang aku berusaha mencarikan kau obat. Apakah ini dapat disebut menolong? Kita sudah tolong-menolong Seno. Dan lagi itupun sudah menjadi kewajibanku menolong murid sahabatku bukan?”

“Ya kakek, kata-katamu semua benar belaka.”

“Eh.   tadi kau bertekat mengejar lawanmu dan kelihatannya kau amat

bernafsu membunuhnya. Benarkah dugaanku ini Seno?”

“Betul kakek! Aku amat benci pada mereka, dan bukankah mereka itu orang-orang jahat dari Nusa Barung. Dulu ayahkupun meninggal karena keganasan pemimpinnya yang bernama Candraloka. Dan aku ingin membalas kematian ayahku.” Maka Joko Seno menceritakan kisah yang didengar dari ibunya.

“Hem, sungguh malang nasibmu Seno. Untunglah Jatikusumo lewat dan berkenan mengambil murid padamu. Tapi kau harus ingat Seno, bahwa Candraloka bukan seorang lemah, apalagi kalau ia berada dekat kakak seperguruannya, yang bernama Arya Cempaka atau biasa disebut

iblis Pencabut Nyawa. Seno, hati-hatilah kau besok dalam menunaikan 20 tugasmu. Kalau kulihat ilmu pedangmu tadi tak salah ialah ilmu pedang Segoro Manangkep, bukan? Dan pedangmu Nogo Biru.”

“Betul kakek, tadi adalah ilmu Segoro Manangkep dan ini adalah pedang Nogo Biru pemberian guru.”

“Akupun tadi sudah menduga, kalau kau tentu ada hubungan dengan sahabatku. Nah, kuteruskan ceritaku Seno.”

“Untuk melawan Candraloka dengan kepandaianmu itu kukira kau belum mampu. Apalagi kalau ada Arya Cempaka. Ah, kenapa gurumu begitu gegabah melepasmu pergi untuk membalas dendam pada Candraloka hanya dengan kepandaian yang belum masak. Tadi engkau baru mengejar musuhmu itu saja aku tahu kalau kau belum punya pengalaman, bukan?!”

“Betul kakek Sancaka, aku belum punya pengalaman apa-apa, bahkan guruku menyuruhku merantau dulu sambil mencari pengalaman. Baru aku boleh mencari musuh besarku.”

“Ah, kalau begitu baik, nah marilah kita lanjutkan perjalanan kita. Mari kudukung lagi.”

“Ah, aku selalu merepotkan engkau, kek! Bagaimanakah caraku untuk membalasmu?”

“Jangan terlalu sungkan marilah kita menuju ke gua Melati, tapi kita harus jalan memutar dari sebelah timur, melalui hutan, supaya perjalanan kita tak menarik perhatian penduduk desa ini.”

Setelah mendukung Joko Seno, maka mulailah Sancaka mengerahkan ilmu lari cepatnya, menerobos masuk hutan-hutan. Lama-kelamaan mereka hanya merupakan bayangan terbang karena Sancaka kelihatannya hampir tak menginjak tanah. Hutan demi hutan telah ia lalui akhirnya masuklah Sancaka ke hutan dekat pancuran dimana Pandan Kuning mencari Wulandari.

Pada waktu itu Pandan Kuning sedang termenung memikirkan nasib Wulandari. Terperanjatlah ia ketika melihat sesosok bayangan lari dengan cepatnya sambil memondong sesosok tubuh. Maka timbullah kecurigaannya terhadap bayangan itu. “Mungkinkah itu orang yang menculik Wulan? Ah, lebih baik kukejar,” pikir Pandan Kuning. Maka larilah Pandan Kuning mengejar bayangan yang bukan lain adalah Sancaka. Tapi mana dapat Pandan Kuning mengejar Sancaka? Maka Pandan Kuning mengambil jalan memotong untuk dapatnya mengejar Sancaka itu menjadi lebih dekat, karena Pandan Kuning lebih tahu keadaan tempat ini, maka jarak antara Sancaka dan Pandan Kuningpun lebih dekat.

“Hai, bapa yang lari didepan..... berhentilah dulu!” Teriak Pandan Kuning.

“Kejarlah aku anak muda! Kalau tak dapat, kutunggu kau di gua Melati!”

“Siapa kau? Mengapa kau hendak kesana?”

“Apa kepentinganmu tentang diriku?” Sahut Sancaka sambil lari.

21 “Hai, kau penculik jahat! Berani kau menghadap guruku! Sambil menawan adikku, apakah maksudmu ke gua Melati?” Pandan Kuning berteriak.

Karena tuduhan Pandan Kuning itu, maka Sancaka tiba-tiba berhenti dari larinya, karena terheran-heran kalau ia disangka menculik adiknya.

“Hai, apa maksudmu anak muda, kau katakan aku menculik adikmu? Inikah adikmu?” Jawab Sancaka sambil memperlihatkan Joko Seno kedepan Pandan Kuning.

“Oh..... bu..... bu..... kan, tapi apakah maksudmu datang ketempat kami?

Siapakah kau?” Tanya Pandan Kuning dengan gugup.

“Aku adalah Sancaka, dan ini adalah anakku Joko Seno, aku datang kemari akan menemui sahabatku Jayaningrat untuk minta tolong supaya ia mau mengobati luka anakku ini.”

“Oh... bapa adalah Sancaka? Maaf bapa, aku sebelumnya belum pernah mengenal bapa, maka maafkanlah, bapa.”

“Tak mengapa, tapi siapakah kau dan mengapa kau menuduhku menculik adikmu?”

“Aku yang bodoh adalah Pandan Kuning, murid tertua dari bapa guru Jayaningrat. Tentang adikku, ia hilang waktu ia mengambil air.” Maka diceritakanlah tentang adik seperguruannya kepada Sancaka.

“Pandan Kuning, aku tahu bagaimana perasaanmu. Maka ijinkanlah aku naik dulu, nanti kubantu kau mencari adikmu setelah aku menyerahkan anak ini kepada Jayaningrat.”

“Silahkan bapa, dan sebelumnya aku mengucapkan terima kasih pada bapa yang sudi untuk mencari hilangnya adikku. Marilah bapa kita sama- sama naik, sebab akupun harus melaporkan kejadian ini pada bapa guru.”

“Marilah, Pandan Kuning.” Lalu mereka pergi menuju ke gua Melati.

Sementara itu di gua Melati, Jayaningratpun merasa gelisah sebab sudah lama kedua muridnya belum juga pulang untuk memberitahukan apakah yang terjadi dengan Wulan. Akhirnya Jayaningrat kepancuran untuk mencari murid-muridnya. Tetapi sesampainya disana ia tak menjumpai muridnya, maka ia berkeputusan mencari murid-muridnya disekitar pancuran. Kemanakah harus kucari mereka ini, gumam Jayaningrat.

Jayaningrat lalu pergi mengelilingi daerah-daerah disekitar pancuran dan menanyakan pada penduduk sekitarnya apakah mereka itu melihat murid-muridnya. Tapi tak seorangpun tahu apalagi malam itu kabut agak tebal. Lebih baik aku pulang dulu, nanti baru kucari. Mereka mungkin turun gunung, pikir Jayaningrat. Tapi hati kecilnya membantah pendapatnya itu. Tak muagkin mereka turun gunung dengan tak minta ijin padaku. Lebih-lebih Pandan Kuning yang selalu taat, kata Jayaningrat dalam hati. Maka pulanglah Jayaningrat ke guanya.

Ia lalu berkemas-kemas untuk segera turun lagi mencari murid- muridnya. Dan ia lalu teringat kata-katanya tadi. Bukankah ia akan melatih kanuragan malam ini? Mungkinkah mereka telah menunggunya dihutan? 22 Waktu Jayaningrat sibuk dengan pikiran-pikirannya itu terdengarlah suara memanggilnya.

“Bapa.   aku Gagak Rimang datang, bapa.”

“Rimang    mana Pandan Kuning?” Tanya Jayaningrat.

“Bapa, tadi waktu kami pergi mencari adi Wulan, dipancuran tak kutemukan dia. Lalu kami mulai mencarinya disekitar pancuran, tapi usaha kami sia-sia. Maka kami mengambil keputusan untuk berpisah. Saya mancari disebelah barat dan kakang Pandan Kuning mencari disebelah timur. Disebelah barat telah kucari kemana-mana bahkan telah turun pula kedusun sekitar, tapi tak kudapatkan adi Wulan. Jejaknyapun tidak kujumpai. Maka lalu saya pulang dulu memberi tahu bapa. Dan apakah kakang Pandan Kuning belum pulang, bapa?”

“Belum! Baiklah kita tunggu dulu datangnya Pandan Kuning!”

“Bapa, apakah tidak lebih baik kalau kita susul saja kakang Pandan Kuning?”

“Sst.... Rimang, diamlah dulu! Tidakkah kau dengar langkah orang?” Tiba-tiba Jayaningrat menangkap suara langkah. “Rimang, ia menuju kemari.”

“Bapa, aku belum dengar,” jawab Gagak Rimang sambil memasang telinganya. Tiba-tiba terdengarlah suara.

“Jayaningrat...., aku datang untuk bertemu, ha.... ha. ”

“Bapa. , siapakah itu? Manakah orangnya?” tanya Gagak Rimang.

“Silahkan masuk, dan siapakah kau?” Balas Jayaningrat dengan tenang. Jayaningrat tak memperdulikan pertanyaan muridnya. Sementara itu berkelebatlah sesosok tubuh yang mendukung Wulandari, dan langsung masuk pada mulut gua.

“Adi Wulan!” Teriak Gagak Rimang terkejut. “Hayo lepaskan kalau tak ingin kuhajar kau,” bentak Gagak Rimang dengan amarah yang meluap- luap melihat Wulandari ditawan. Heh.... heh.... cobalah kalau kau mampu!” Balas Arya Cempaka mengejek.

“Rimang, mundur kau!” Hormatilah tamu kita,” tiba-tiba Jayaningrat berkata.

“Tapi apa. ”

“Diamlah...., mundur kau Rimang. Ah. tak kusangka, kiranya kau Arya

Cempaka! Angin apa yang membawamu kemari? Silahkan masuk.” Sahut Jayaningrat ramah.

“Ha... ha. setan obat! Makin tua makin ramah kau. Terima kasih.” Balas

Arya Cempaka.

“Eh... Arya. kelihatannya lambungmu kurang sehat? Betulkah ini?”

“Wah kau betul-betul dukun setan sungguh. Betul aku luka pada lambungku. Aku datang kemari ini untuk minta pengobatanmu. Ha, dukun obatilah lukaku.” kata Arya Cempaka kasar.

“Mudah-mudah, tapi kena apakah kau menawan muridku?”

“Muridmu ini kurangajar, dia berani menyerangku dulu. Tapi semua

itu telah kumaafkan. Tetapi apa yang diperbuat oleh murid-muridmu? Ia 23 mengatakan aku pengecut sombong dan lain-lain. Coba siapa yang salah? Salahkah aku kalau memberi pengajaran sedikit? Nah, terserah padamu Jayaningrat.

“Coba kulihat muridku!” Kata Jayaningrat.

“Nanti dulu! Kau mau tidak mengobati aku? Kalau kau mau tentu kuberikan, tapi kalau tidak, hem... kau tahu sendiri julukanku!”

“Bangsat kau mau memaksa guruku!” Bentak Gagak Rimang.

“Heh... heh... kau mau apa? Tadi aku mengalahkannya dengan kepandaian dan sekarang rebutlah dengan kepandaian pula.”

“Bangsat... hina... dini, mari-mari kita mulai!” bentak Gagak Rimang sambil mencabut pedangnya.

“Rimang.... sabarlah, kau bukan lawannya. ” Kata Tabib Dewa.

“Tapi dia menghina kita guru!” Bantah Gagak Rimang.

“Heh. setan obat! Mau tidak! Kalau tidak segera kubunuh muridmu ini

dan setelah itu baru aku dapat main-main dengan kalian.” Tiba-tiba terdengarlah derai tawa dari luar gua.

“Ha.... ha. hahaaaaa, iblis hampir mampus, makin tua kau makin jahat

saja. Jayaningrat, aku datang.” Inilah suara dari Sancaka yang telah tiba pula digua dan kebetulan mendengar suara dari Arya Cempaka.

“Huh..... kau pengemis busuk datang pula? Ha.... haaaaaa. mau berobat

pula? Ah tentu kau sakit busung karena kurang makan, bukan?” Jawab Arya Cempaka mengejek.

“Selamat datang Sancaka, selamat datang, aduh tak kukira akan kedatangan sahabat-sahabat lama gua yang sepi ini.”

“Terima kasih, Jayaningrat! Kulihat muridmu itu dibawa iblis tua, mengapakah?”

“Hai pengemis jangan kau mencampuri urusanku!” bentak Arya Cempaka.

“Bah. makin garang saja kau ini?” balas Sancaka.

“Sudah-sudah.... mari kita duduk dengan baik-baik. Dan kau Arya, aku sedia menolongmu. Sedang Sancaka, kau tentu akan menyerahkan anak itu padaku, bukan?”

“Benar, ia kena racun ular weling,” jawab Sancaka. “Nah, Arya bebaskanlah Wulan!”

Setelah Wulandari dibebaskan Arya Cempaka, maka langsunglah ia menyerang Arya Cempaka. Tapi secepat kilat Arya mengelak sambil berkata :

“Eh. apa-apaan ini? Jayaningrat, apakah kau akan ingkar janji?”

“Guru, dia kurangajar! Tadi dia mengatakan bahwa ilmu kita itu ilmu murahan!” Teriak Wulandari sambil menendang lambung. Tapi lekas-lekas. Jayaningrat mencegah muridnya. “Wulan, jangan kurangajar!” Bentaknya.

“Tapi bapa. ”

“Sudah Wulan, bukankah kau tidak kurang apa-apa! Dan juga betul katanya bahwa ilmu kita ilmu murahan. Bukankah kau tak dapat mengalahkannya?” Jawab Jayaningrat sinis. Kelihatannya Jayaningrat itu 24 merendah tapi sebetulnya menusuk perasaan Arya Cempaka. Betapa tidak? Karena Arya Cempaka barulah dapat mengalahkan murid termuda dari pergurunn Muria itu.

“Ha... ha... ha... haaaaa, iblis kau sudah dengar kebaikan hati tuan rumah?” Ejek Sancaka.

“Hai, pengemis apakah maksud kata-katamu?” Karena amat marah dan malu maka Arya Cempaka langsung menerjang Sancaka. Tetapi Sancakapun bukan jago murahan, maka dua tenaga raksasa saling beradu... Buumm... dan kedua-duaanya menderu sampai dua langkah.

“Iblis gila, mengapa kau tiba-tiba menyerangku?” Bentak Sancaka. “Hayo pengemis busuk, lawanlah aku!”

“Marilah kita coba, siapakah yang lebih sakti diantara kita. Hai, kau setan obat jadilah saksi, siapa yang lebih unggul dari kami.”

“Baik-baik, kalau kehendakmu begitu.”

“Nah, mulailah,” jawab Sancaka. Kemudian kedua jago itu telah memasang kuda-kudanya masing-masing. Dengan gerakan yang sukar diikuti oleh mata, meloncatlah Arya Cempaka menerjang dada Sancaka. Tapi begitu kakek kurus melihat berkelebatnya bayangan, maka dengan secepat kilat pula Sancaka menggulingkan diri sambil membalas memukul tengkuk lawan. Melihat serangannya gagal, secepat kilat pula Arya Cempaka memperbaiki kedudukan dan waktu Sancaka membalas memukul tengkuk maka meloncatlah ia keudara dan membuat salto sambil melontarkan pukulan kekepala lawan. Sancaka melihat datangnya bahaya yang begitu cepat, maka tak sempatlah ia menghindar, maka membalaslah ia dengan pukulannya. Bumm... sekali lagi dua tangan raksasa bertemu. Karena kedudukan Sancaka tak sebaik Arya Cempaka, maka Sancaka terhuyung mundur sampai empat langkah, sedang Arya Cempaka dari udara hanya terdorong tiga tindak.

“Bagus, Arya, kepandaianmu tambah hebat,” puji Sancaka. “Ayo pengemis busuk kita teruskan,” jawab Arya.

“Baik-baik, walau seribu jurus lagi aku masih sanggup Arya.”

“Nah jembel busuk, terimalah pukulanku Kilat Buana. Sehabis berkata lalu Arya Cempaka menggosokkan kedua tapak tangannya sambil membaca mantera aji Kilat Buana. Dalam waktu yang bersamaan Sancakapun siap membaca menteranya aji Lembu Sakilan untuk melindungi dari gempuran aji Kilat Buana. Setelah aji Kilat Buana ditrapkan ditelapak tangan kanannya, maka diterjanglah Sancaka dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba.... dukkk... suara pukulan Arya Cempaka yang dilambari aji Kilat Buana membentur tubuh Sancaka yang telah dilindungi aji Lembu Sakilan. Tapi akibatnya sungguh hebat. Tubuh Arya Cempaka bagaikau dilemparkan tenaga raksasa, maka terpelantinglah ia sampai sapuluh langkah, dan jatuh muntah darah segar. Sedang Sancaka hanya tergempur kuda-kudanya. Tapi biarpun hanya tergeser kakinya saja sudah menjadikan Sancaka terkejut. Sebab selama ia berhasil memahami aji

25 Lembu Sakilan baru inilah ajinya kena gempur hingga dapat menerobos dirinya.

“Sungguh dahsyat ajimu Kilat Baana, Arya,” puji Sancaka sejujurnya. “Huh. huh, kau menghinaku. Jembel, sungguh hebat ajimu tapi sayang

sebelum aku bertempur denganmu kau sudah luka dalam. Sudahlah, Arya diantara kita tak ada permusuhan apa-apa. Baiknya kita sudahi sekian saja permainan kita.”

“Betul Arya, bukankah tujuanmu kemari untuk berobat?” “Nah, marilah masuk,” bujuk Jayaningrat.

“Hem.... kau kira aku telah kalah? Kau pengemis busuk belum juga berkenalan dengan senjataku, marilah kita teruskan, Sancaka! Lawanlah senjataku!” Bentak Arya Cempaka dengan napas yang memburu.

“Huh.... aku bukan seorang pengecut, tapi sekarang keadaanmu luka, apakah ini adil? Tidak, aku tidak mau melawan orang sakit, tapi kalau kau masih kurang puas, akan kunanti datangmu di puncak Merbabu besok bulan Mulud tanggal 15 Anggara Manis. Disana kita akan bertemu pula dengan rekan-rekan kita. Pada hari itu pula Singopati dan Widatipun akan mengadu kepandaian. Bukankah hal ini lebih baik? Dan lukamu tentu sudah sembuh.”

“Apa? Singopati akan adu tenaga dengan Widati? Ha.... ha! Sungguh mujur Widati! Tidak usah payah-payah ia sudah menang. Baik, Sancaka aku datang, dan terutama aku akan lihat apakah Singopati masih hidup.”

“Apa maksud perkataanmu, Arya?” Tanya Jayaningrat terkejut. Begitu pula Sancaka dan ketiga murid Jayaningrat serta Joko Seno.

“Ah.... kalian mau tahu? Baik, karena Jayaningrat sudah bersedia menolongku, maka akan kuceritakan pada kalian.”

Marilah kita tengok mengapa Arya Cempaka seorang tokoh sakti sampai dapat terluka? Baiknya kita ikuti dahulu cerita Arya Cempaka!

*

* *

Peristiwa ini terjadi kira-kira tiga bulan yang lalu Wonowoso daerah Magarsari, dimana tinggal Ki Panolan beserta keluarganya. Panolan adalah seorang yang cukup kaya, ia hidup berbahagia.

“Selain itu perlu kita ketahui bahwa Panolan adalah jogoboyo desa Magarsari. Selama Panolan menjabat jogoboyo terjaminlah keamanan desa Magarsari. Selain jadi jogoboyo iapun amat gemar berburu dihutan-hutan. Pada suatu hati Panolan pergi berburu dihutan yang terkenal dengan nama Wonosari. Waktu itu Panolan hanya pergi berdua dengan pemuda desa itu yang bernama Gimin.

“Min, mengapa hutan ini kelihatan sepi, dari tadi tak kulihat binatang buruan?”

“Betul paman, akupun tak melihatnya.”

26 “Betul sial kita, masa dari pagi tadi hanya dapat dua ekor ayam alas,” keluh Panolan.

“Tidakkah kita coba dihutan sebelah, paman? Mungkin disana ada buronan yang dapat kita tangkap.”

“Nanti saja, sekarang carilah kayu bakar, dan aku akan membersihkan ayam ini. Bukankah perutmu juga lapar?”

“Ya, paman!” Maka pergilah Gimin mencari kayu. Tak lama kemudian ia sudah datang sambil membawa setumpuk kayu.

“Nah, paman, sudah cukupkah ini?” Kata Gimin sambil meletakkan bebannya.

“Sudah! Daging inipun sudah siap, nah ambillah seekor untukmu dan marilah kita bikin.” Setelah Ki Panolan mengambil dua buah batu untuk membuat api. “Nah, marilah, apipun telah siap.” Betapa asyiknya kedua orang itu. Mereka makan dengan lahapnya. Tengah mereka makan, tiba- tiba keluarlah serkor harimau dari semak-semak dekat mereka.

“Hai   lihatlah, paman! Ada harimau.”

“Tenanglah, marilah kita tangkap,” bisik Panolan.

“Hua.... haaaa.... jangan kau ganggu buronanku!” Bentak seorang tinggi besar yang muncul dari arah harimau itu keluar.

Betapa terkejutnya Panolan dan Gimin melihat munculnya seseorang dengan tiba-tiba itu.

“Hutan ini bukan milikmu dan begitu pula isinya,” balas Gimin. “Apa maksudmu?” tanya pendatang itu.

“Siapakah kau, anak muda?” tegur Panolan!

“Aku Urang Watang, datang dari Pulau Sempu, dan kalian siapa?”

“Aku Panolan, jogoboyo dari desa Magarsari, dan ini kawanku bernama Gimin.”

“Hai, Gimin, kau telah menggagalkan usahaku menangkap harimau tadi, maka terimalah ini.” Sehabis berkata ia langsung menyerang Gimin, dan.... dukk dada Gimin kena hajar.

“Manusia liar, mengapa tiba-tiba kau menyerangku?” bentak Gimin sambil memperbaiki kedudukan.

“Tahan!” bentak Panolan. “Mengapa tiba-tiba kau menyerang kawanku?”

“Huh.... jangan banyak omong! Kau mau apa? Jangan kira aku takut padamu, jogoboyo!”

“Sabar, Urang Watang, aku tanya, mengapa kau menyerang Gimin?” Tanya Panolan dengan sabar.

“Paman, ijinkanlah aku menghajar manusia liar ini,” potong Gimin. “Memang kau harus menghadapi aku, karena kau telah membuatku

menjadi kehilangan buruanku.” Sahut Urang Watang.

“Baik, awas serangan!” bentak Gimin sambil mukul dada lawan. Tapi dengan mudah serangan itu dapat dihindarkan Urang Watang. Melihat serangannya gagal maka makin kalaplah Gimin menyerang Urang Watang. Panolan terkejut melihat kejadian itu. Akan dipisah...., tak mungkin...., 27 sebab keduanya saling gempur. Tak berapa lama Gimin mulai terdesak. Pukulan-pukulan Urang Watang mulai menghujani Gimin. Melihat keadaan Gimin, makin cemaslah hati Panolan, maka bertekatlah ia untuk memisah mereka.

“Tahan......!” bentaknya sambil tangan kirinya mendorong Gimin dan tangan kanannya mendorong Urang Watang. Tapi ia sendiri yang terdorong mundur sampai empat langkah.

“Curang, kau...., aduh.....” Setelah Panolan memperbaiki kedudukannya maka terlihatlah tubuh Gimin yang sudah roboh muntah darah segar. Sebetulnya apakah yang terjadi? Waktu itu Urang Watang sudah mengambil keputusan untuk segera menyudahi pertempuran. Setelah ia dapat mendesak maka siaplah ia untuk mengakhirinya, tapi tiba-tiba ia merasa ada tenaga dorongan datang dari samping. Tapi ini tidak menjadikan terkejut, maka cepat-cepatlah ia menyalurkan tenaganya ketangan dan digunakan untuk menggempur tenaga dorongan itu. Akibatnya Panolan tersurut kebelakang empat langkah dan Urang Watang hanya tergetar. Sewaktu Panolan terhuyung kebelakang, Urang Watang melancarkan tendangannya kedada Gimin yang sedang terhuyung-huyung oleh gempuran tenaga Panolan lewat tangan kirinya.

“Hem... kau curang, jogoboyo!” sambil berkata demikian Urang Watang menerjang maju dengan kaki dan tangan menyerang dengan hebat. Namun Panolan segera siap melayaninya, segera mereka bertanding dengan hebatnya, ditonton oleh Gimin yang rebah diatas tanah. 

“Urang Watang, gilakah engkau?”

“Takutkah kau melawanku?” Balas Urang Watang sambil mengeluarkan senjatanya yang berupa penggada.

“Aiiiiih.... hebat!” teriak Panolan karena ia memang terdesak hebat ketika Urang Watang memainkan penggadanya. Sedang Urang Watang tertawa-tawa nyaring ketika melihat hasil dari terjangan senjatanya, dan ia melompat maju mendesak lebih hebat.

“Ha.... ha.... haaaaa, menyerahlah jogoboyo,” ejek Urang Watang sambil menghantamkan penggadanya kearah kepala lawan. Pada waktu itu keadaan Panolan benar-benar payah, maka lemaslah ia melihat datangnya bahaya itu. Ia hanya dapat memejamkan mata, menyerahkan nasibnya pada Tuhan yang Maha Kuasa.

“Aduuuh....!” Tiba-tiba ia mendengar jeritan Urang Watang, dan penggada itu meleset disampingnya. Setelah Panolan membuka matanya, terlihatlah seorang pemuda berdiri dihadapan Urang Watang dengan senyum menghias dibibirnya.

“Siapa kau? Berani mencampuri urusanku?” Bentak Urang Watang dengan penuh amarah.

“Aku Barata dan aku tak akan mencampuri urusanmu, tapi aku tak dapat melihat orang sewenang-wenang mau membunuh dimukaku. Dan siapakah kau?”

28 “Aku Urang Watang dari Sempu murid tunggal dari bapa guru Arya Cempaka. Lekas pergi, sebelum aku marah!” bentak Urang Watang.

“Aku mau pergi asal kau lepaskan kedua orang itu,” jawab Barata seenaknya.

“Bangsat cari penyakit!” teriak Urang Watang sambil mengayunkan penggadanya kearah batok kepala Barata. Namun Barata tetap tenang, menanti sampai penggada itu dekat dengan kepalanya, barulah ia melompat kebelakang dan balas memukul dada lawan. Melihat serangannya gagal dan dirinya terancam bahaya, maka cepatlah Urang Watang mengelak kesamping, tapi.... bretttt.... tangan Barata masih sempat memukul pinggang hingga pakaian Urang Watang sobek. Untung tubuhnya mempunyai daya tahan yang kuat hingga pinggangnya tak terluka oleh pukulan itu. Merahlah muka Urang Watang setelah ia mengetahui bajunya telah sobek. Maka diperhebatlah permainan penggadanya.

“Eh.... kau nekad, mau main-main dengan senjata?” bentak Barata sambil menggeser kekiri, tangan kanannya bergerak dan dicabutlah keris dari pinggangnya. Ketika penggada lawan menyambar dari samping, majulah ia menyelinap sambil menangkis penggada lawan dan meneruskan tenaga penangkisnya itu dengan menusukkan kerisnya kelambung Urang Watang. Urang Watang dapat menangkis maka bertandinglah mereka dengan serunya. Harus diuji pula keuletan Urang Watang, ia sudah bertempur melawan Gimin dan Panolan, tapi sekarang masih sanggup melawan Barata, Urang Watang tak mau menyerah dengan begitu saja, ia memutar penggadanya dengan tenaga besar menyambar- nyambar dengan ganas. Namun menghadapi keris Barata jelas ia kalah setingkat. Ilmu keris Wanara Sakti yang dimainkan oleh Barata adalah ilmu ciptaan gurunya. Lama-kelamaan Urang Watang merasa pening untuk menghadapi ilmu Barata, seakan-akan menghadapi sepuluh Barata. Dan akhirnya.... Akh.... buk.... terdengar jerit Urang Watang dan berdentang jatuhnya penggada. Ternyata Barata berhasil menggares lengan Urang Watang dengan ujung kerisnya, kalau mau ia dengan mudah dapat membunuh Urang Watang. Tapi murid Singopati bukanlah seorang yang berhati kejam.

“Urang Watang pergilah kau, sebelum aku marah!”

“Huh. Barata, pada suatu hari aku akan membalas penghinaan ini!”

“Urang Watang, kapan saja kau kehendaki, aku sedia. Murid Singopati pantang menyerah!”

“Apa? Kau murid Singopati!?” “Betul! Singopati adalah guruku!”

Maka berkelebatlah Urang Watang meninggalkan Barata dan kedua korbannya. Sebentar saja lenyaplah tubuh Urang Witang ditelan kelebatan hutan Wonowoso.

“Ah.... terima kasih anak muda, atas pertolonganmu!” Seru Panolan yang masih memijat-mijat dada Gimin.

29 “Ah, paman, sudahhh jangan terlalu sungkan. Bagaimanakah lukanya?” Balas Barata sambil ikut jongkok disamping Panolan.

“Hebat kepandaianmu, murid Singopati,” kata Panolan dengan kagum sampai tak mendengar pertanyaan Barata.

“Paman terlalu memuji, bagaimana lukanya?”

“Hany dadanya yang tergoncang,” jawab Panolan singkat.

“Kalau begitu ijinkanlah saya melanjutkan perjalananku, paman.” “Tidakkah kau singgah dahulu dirumahku, angger?”

“Maaf, paman, guru tentu menanti-nanti kedatanganku,” jawab Barata sambil melompat meninggalkan Panolan dan Gimin.

“Hebat.... hebat.... baru muridnya saja sudah hebat, apalagi gurunya!” desis Panolan.

Akhirnya Panolan mendukung Gimin lari menuju desanya. Setelah Urang Watang dapat dikalahkan Barata, maka larilah ia pulang menuju Sempu. Betapa hancurnya hati Urang Watang, selama ia rantau baru kali inilah ia mendapat malu dan yang paling menyakitkan hatinya ialah penghinaan Barata itu. Siang malam Urang Watang berlari terus tanpa mengenal lelah.

Setelah berhari-hari, Urang Watang lari, maka sampailah ia dipulau Sempu tempat tinggal gurunya. Adapun Urang Watang langsung menghadap gurunya.

“Urang Watang, sudahkah kau pulang dari merantau? Mengapa cepat benar kau pulang? Tak biasa kau pulang secepat ini,” tegur Arya Cempaka.

“Betul guru, aku segan merantau, karena dalam perantauanku yang baru-baru ini aku telah dihina orang, guru, murid malu keluar lagi sebelum aku dapat membalas sakit hati ini. Ah, guru... tolonglah, balaslah sakit hatiku ini, guru. Bukankah kalau ada orang yang berani menghinaku secara tak langsung iapun menghina guru?” Kata Urang Watang beriba-iba dihadapan gurunya.

“Eh.... siapakah yang berani menghinamu? Tak tahukah kalau kau murid tunggal Arya Cempaka dari pulau Sempu?” tegur Arya Cempaka heran.

“Dia adalah Barata, murid dari Singopati!”

“Apa...? Murid Singopati...? Ah... murid bodoh! Murid tolol sungguh memalukan sekali, murid Arya Cempaka sampai kalah dengan murid gunung Kidul! Ha... ha... haaaa sungguh memalukan sekali. Andaikata sampai tersiar berita ini didunia persilatan, akan kutaruh dimana mukaku? Kau dasar anak tak punya guna!” bentak Arya Cempaka dengan marah.

“Maaf guru, murid kalah dengannya karena sebelum aku bertempur dengannya lebih dulu aku bertempur dengan dua orang.” Maka berceritalah Urang Watang akan kejadian di Wonowoso. Tetapi tentu saja ceritanya tak sama dengan keadaannya. Ia berusaha membakar hati gurunya.

“Huh... sungguh sombong murid Singopati! Eh, Urang Watang kau tunggulah disini, aku pergi kegunung Kidul. Hendak kulihat dapat berbuat 30 apakah guru dan murid itu terhadapku. Sehabis berkata demikian maka berkelebatlah Arya Cempaka meninggalkan Urang Watang yang termenung-menung. Setelah Urang Watang tahu kalau gurunya telah pergi, maka diam-diam hatinya menjadi gembira sebab gurunya tentu akan menghajar Barata. Arya Cempaka langsung pergi menuju gunung Kidul. Berhari-hari ia menderita dijalan. Kalau ditengah hutan ia merasa lapar, maka dicarinyalah buah-buahan atau binatang yang dapat dimakan. Tapi berkat kesaktiannya yang sukar diukur lagi, maka sampailah Arya Cempaka di gunung Kidul.

Gunung Kidul adalah daerah yang cukup indah pemandangannya. Namun keindahan tempat itu tidaklah dihiraukan oleh Arya Cempaka. Ia cepat langsung menuju kepondok Ki Rangga yang bergelar Singopati. Kita ketahui bahwa Ki Rangga adalah guru dari Barata.

Adapun digunung Kidul itu sedang duduklah Ki Rangga disebuah batu sambil memberi petunjuk-petunjuk muridnya yang sudah berlatih ilmu pukulan tangan kosong yang baru saja ia ciptakan. Adapun ilmu ini dinamakan Aji Tapak Guntur. Sebabnya Ki Rangga menamakannya Tapak Guntur, karena kedahsyatan ilmu ini berada ditelapak tangan, dan kalau sudah dipergunakan maka akibatnya sama dengan sambaran guntur.

“Jangan kau pukulkan dulu, muridku! Pemusatan pikiranmu masih kacau,” seru Ki Rangga yang melihat muridnya hampir membuat kesalahan.

“Betul, bapa, mengapa dalam latihan ini pikiranku tak tenang,” sahut Barata.

“Nah, cobalah hantam batu hitam ini,” seru Ki Rangga.

“Baik, bapa!” Sahutnya pendek, lalu Barata mulai dengan sikapnya, ia berdiri tegak di atas ibu jari kakinya dan tangan kiri diluruskan kedepan sedang tangan kanannya teracung tinggi keatas. Setelah ia merasa bahwa tenaganya sudah terpusat ditelapak tangannya, maka dihantamlah batu hitam yang besarnya sebesar anak lembu itu. Akibatnya.... krakk batu

hitam besar itupun retak-retak.

“Ah bapa...., aku tidak berhasil menghancurkan batu ini, bapa,” keluh Barata.

“Sudah-sudah muridku, besok kita lanjutkan latihan ini. Mengapakah kelihatannya kau ragu-ragu menggempur batu ini?” Tegur Ki Rangga.

“Entahlah, bapa,” sahut Barata lesu.

“He... he... he anak muda, kau yang bernama Barata?” Tiba-tiba datanglah Arya Cempaka ditempat mereka berlatih.

”Eh. Arya Cempaka, apa maksudmu datang kemari?” Tegur Singopati.

“Aku datang di gunung Kidul untuk memenuhi undangan dari muridmu yang bernama Barata.” Sahut Arya Cempaka sambil mengejek.

“Heh. Barata! Betulkah ini?” tanya Singopati keheran-heranan.

“Duduk perkaranya begini bapa, dulu pernah aku bertempur melawan Urang Watang murid dari Arya Cempaka ini. Dan aku berhasil mengalahkannya. Sebelum ia lari, Urang Watang berkata, kalau suatu 31 waktu ia akan mencariku. Tapi ternyata yang datang adalah gurunya,” sahut Barata.

“Begitukah persoalannya?” dengus Singopati. “Lalu apa maksudmu, Arya?”

“Kau sebagai guru tentu tahu bagaimana perasaan seorang guru kalau muridnya dihina orang. Nah, Barata, sekarang layanilah aku, atau kau, gurunyapun boleh maju!” Tantang Arya Cempaka.

“Iblis, dimana saja kau datang tentu membuat marah, kau kira aku takut padamu?” Bentak Barata.

“Barata, diam! Dan kau Arya, kau guru dari Urang Watang dan aku guru Barata. Mau tunggu apa lagi?” Potong Singopati.

“Bagus-bagus, sudah kuduga, tentu kau akan ikut-ikut pula, Singopati. Nah, terimalah ini!” Sehabis berkata maka langsunglah Arya Cempaka memukul batok kepala lawan. Tapi dengan mudah Singopati dapat mengelak. Melihat serangannya gagal maka Arya Cempaka menyerang lagi dengan penggadanya.

“Huh... mampus kau!” bentak Arya Cempaka.

“Ho... ho... bukan aku yang roboh, melainkan kau akan menggeletak dikakiku, manusia sombong!” balas Singopati sambil menghunus kerisnya Kyai Blarak Sinebet. Dan ketika itu berkilat-kilatlah sinar kuning membungkus tubuh Singopati, udara sekitarnyapun menjadi panas karena pengaruh dari keampuhan Kyai Blarak Sinebet.

Arya Cempaka lalu menggerakkan penggadanya dengan hebat laksana seekor banteng terluka. Akan tetapi Ki Rangga selalu waspada. Kakek ini mengetahui bahwa lawannya tak boleh dipandang ringan. Cepat ia memainkan ilmu Wanara Sakti untuk menghadapi penggada lawan. Tubuhnya berubah ringan dam mulailah ia balas menyerang tak kalah hebatnya. Namun serangannya yang biasanya sukar dihindarkan lawan ternyata dengan mudah dapat dipunahkan oleh gerakan-gerakan Arya Cempaka. Maka kedua kakek itu bertandinglah dengan serunya. Penggada dan keris mereka selalu sambar-menyambar bagaikan elang mencari mangsa.

Lama-kelamaan kaburlah tubuh kedua orang kakek sakti itu tertutup oleh sinar senjatanya masing-masing. Arya Cempaka hanyalah merupakan segulung sinar hitam yang menyambar-nyambar, sedang Siugopati merupakan gulungan sinar kuning yang memancarkan hawa panas. Melihat pertempuran gurunya itu Barata siap menghunus kerisnya. Tapi ia tak berani membantu, sebab kalau ia membantu gurunya hanya akan mengacaukan gerakan-gerakan gurunya. Selain harus menggempur musuhnya juga harus melindungi dirinya. Karena itu Barata hanya berdiri menyaksikan pertempuran itu. Pertandingan ini benar-benar seru sekali. Arya Cempaka selama ini belum pernah menemui tandingan berat, makanya ia menjadi marah sekali.

Ia memperhebat serangannya dan tangan kirinyapun memukul-mukul mencari tempat yang tak terlindung dari tubuh lawannya. Namun 32 Singopati benar-benar kuat sekali pertahanannya dan iapun menjadi marah sampai mukanya menjadi merah, matanya mendelik, tanda Singopati kalau sedang gusar. Iapun selamanya belum pernah bertemu musuh yang setangguh ini. Namun berkat ilmu ciptaannya itu Singopati dapat manangkis penggada lawannya, bahkan ia mampu membalas dengan tak kalah hebatnya. Singopati malah mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari Wanara Sakti hingga untuk sementara waktu pertahan musuh dapat dikacaukan. Namun lama-kelamaan Arya Cempakapun dapat melepaskan diri dari kurungan-kurungan keris lawan. Sudah limaratus jurus lebih, kedua orang kakek itu bertempur bagai banteng luka melawan garuda. Pertahanan Arya Cempaka bagaikan saekor banteng, tapi gerakan dari Singopati bagaikan sambaran burung garuda mencari mangsa. Setelah lama mereka bertempur, maka keduanyapun menggerakkan tenaga dalamnya yang disalurkan pada senjatanya masing-masing. Sewaktu keris Singopati mengarah lambung Arya Cempaka, maka cepat-cepatlah Arya Cempaka menangkis dengan penggada.

Tranggggg.... keduanya mundur tiga langkah dengan senjatanya masing-masing terlepas dari tangannya.

“Bagus! ternyata kau makin tua makin hebat, Singo gila!” Dengus Arya Cempaka.

“Ha.... ha.... ha.... tenagamupun hebat, aku kagum atas kemajuan yang kau capai. Tapi kau iblis..... kau belum mampu mengalahkanku!” Balas Ki Rangga mengejek.

“Huh.... sombong kau Singopati!” Tiba-tiba Arya Cempakapun sudah menyerang lagi dengan tangan kosong. Tapi serangan Arya Cempaka tak dapat dibuat main-main, sebab pukulan ini dilambari dengan ajinya Kilat Buana. Maka dengan cepat Singopati bergulingan ditanah menghindarkan serangan Arya Cempaka. Pukulan Arya yang dilambari aji Kilat Buana tidak mengenai sasarannya melainkan menghantam batu yang tadi dibuat duduk oleh Singopati sewaktu menggembleng muridnya. Dan akibatnya....

bummm.... batu itu hancur lebur terhajar oleh aji Kilat Buana yang dilontarkan oleh Arya Cempaka. Melihat itu terkejutlah Barata. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain berdoa pada Tuhan yang Maha Esa supaya gurunya dapat mengatasi krida Arya Cempaka.

Singopati sendiri merasa terkejut, maka cepat-cepatlah ia mengetrapkan ajinya yang baru saja ia ciptakan yang diberi nama ‘Tapak Guntur’. Setelah aji Tapak Guntur sudah terpusat ditelapak tangannya, maka membalaslah ia menyerang Arya Cempaka. Namun Arya Cempakapun sempat mengelakkan pukulan maut dari Singopati.... dan....

krakkkkk.... pohon dibelakang Arya Cempaka tumbang terhajar oleh gempuran Aji Tapak Guntur. Diam-diam Baratapun merasa bangga dapat mempelajari ilmu Tapak Guntur ciptaan gurunya, yang ternyata kedahsyatannya tak kalah oleh ilmu Arya Cempaka yang disebut Kilat Buana. Biarpun ia belum menguasai betul-betul ilmu itu.

33 Pertandingan antara Singopati dan Arya Cempaka menjadi semakin seru. Tak kalah serunya dengan sewaktu mereka masih bersenjata. Pukulan-pukulan mereka sewaktu-waktu dapat mengirimkan nyawa mereka menghadap malaikat el-maut. Pukul-memukul dorong- mendorongpun makin lama makin seru. Lama-kelamaan napas merekapun memberat, tapi keduanya sudah dihinggapi penyakit ingin menang, maka dari itu saling berusaha dengan secepat-cepatnya mengalahkan lawan. Namun untuk saling mengalahkan tanpa sama-sama luka itu bukan pekerjaan yang mudah mereka kerjakan. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk saling mengadu tenaga sebelum mereka kehabisan tenaga. Maka siaplah Arya Cempaka sambil menggosok-gosok tangannya memusatkan aji Kilat Buana ditangannya dan Singopatipun mulai memusatkan ajinya Tapak Guntur. Ia laiu berdiri tegak diatas ujung jari kaki, tangan kirinya diluruskan kedepan sedang tangan kanannya diangkat keatas.

Setelah Singopati yakin kalau ajinya telah terpusat ditangannya, maka dihantamkanlah kearah lambung Arya Cempaka, tapi bersama itu pula Arya Cempaka sudah melontarkan pukulannya kearah lawan. Maka akibatnya.... bummmmm.... bagaikan gunung meletus suaranya adu tenaga antara Singopati yang melepaskan ajinya Tapak Guntur dengan Arya Cempaka yang melepaskan ajinya Kilat Buana. Maka kedua-duanya tersurut lima langkah kebelakang dan kedua-duanya pula telah memuntahkan darah segar, mereka telah kehabisan tenaga, dan mereka cepat-cepat melakukan semedi dengan caranya masing-masing.

Setelah Arya Cempaka sudah merasa dapat berjalan maka pergilah ia turun gunung meninggalkan Singopati yang juga telah masuk pondoknya dengan diikuti oleh muridnya. Akhirnya pergilah Arya Cempaka menuju gua Melati untuk minta pengobatan dari Jayaningrat. Dan akhirnya disini masih harus bergebrak melawan Sancaka.

Setelah bercerita akhirnya Arya Cempaka minum air kelapa hangat yang telah disediakan oleh Wulandari. Sedang yang duduk mendengarkan cerlta Arya Cempaka lalu juga ikut minum dan makan makanan yang telah disediakan.

“Nah, Jayaningrat lekaslah kau obati aku,” seru Arya Cempaka.

“Ah.... kau terlalu bernafsu, Jayaningrat tak akan mengingkari janji,” potong Sancaka.

“Benar kata-kata Sancaka, aku tidak akan ingkar janji,” kata penghuni gua Melati membenarkan kata-kata Sancaka.

“Sancaka! Siapakah pemuda yang kau bawa itu? Dan mengapa kau dapat datang bersama muridku Pandan Kuning?” Tanya Jayaningrat.

“Pemuda yang datang bersamaku ini adalah murid dari sahabatku di gunung Semeru. Namanya Joko Seno. Aku menemukan dia didesa Talangsari, waktu ia pingsan karena digigit ular Weling, dan tentang kedatanganku bersama dengan muridmu Pandan Kuning kupersilahkan menanyakan sendiri,” jawab Sancaka bohong.    34  

Bagaikan gunung meletus suara adu tenaga antara Singopati dan Arya Cempaka.........

“Betulkah cerita Sancaka itu, angger?” Tanya Jayaningrat pada Joko Seno.

“Betul, paman,” jawab Joko Seno singkat. Berkat kecerdasannya berpikir maka tahulah ia kalau Sancaka melindungi dirinya dengan cara berdusta, kalau ia digigit ular Weling, sebab kalau diceritakan sesungguhnya, mungkin dapat menimbulkan permusuhan antara Joko Seno dengan Arya Cempaka, dan tentu Arya Cempaka akan membela adik seperguruannya Candraloka.

“Dan kau Pandan Kuning, mengapa kau sampai dapat datang bersama Sancaka, sedangkan kau kusuruh mencari adikmu?”

“Maaf bapa, sewaktu aku mencari adi Wulan disebelah timur pancuran, aku melihat suatu bayangan yang mencurigakan dan akhirnya bayangan itu kukejar. Tapi ternyata bayangan itu adalah bayangan paman Sancaka yang mendukung adi Joko Seno. Lalu murid mengambil keputusan untuk ikut menghadap guru untuk melaporkan hasil pekerjaanku. Dan lagi,

tadi paman Sancaka telah berjanji akan membantuku mencari adi Wulan 35 setelah menyerahkan adi Joko Seno dihadapan guru,” jawab Pandan Kuning.

“Nah, yang sudah biarlah berlalu,” seru Jayaningrat ramah.

“Marilah Arya, kuperiksa lukamu.” Setelah Arya mendekat lalu mulailah Jayaningrat memeriksa lambung Arya Cempaka. Lalu Jayaningrat memijat-mijat sekitar lambung Arya Cempaka. Hebat-hebat... sungguh hebat pukulan Singopati, tapi untung kau punya daya tahan yang luar biasa, gumam Jayaningrat.

“Bagaimanakah dengan lukaku?” Potong Arya Cempaka.

“Tenanglah, jangan terlalu banyak menggerakkan tenaga,” kata Jayaningrat.

“Pandan Kuning, coba ambillah daun kecubung wulung, daun lidah ular dan akar dari ilalang,” perintah Jayaningrat pada muridnya.

“Baik, bapa,” jawab Pandan Kuning terus pergi keluar.

“Dan kau Wulan, rebuslah air sampai mendidih lalu masukkanlah ramuan dan lidah ular serta akar ilalang yang telah ditumbuk lalu bawalah kemari,” sekali lagi Jayaningrat menyuruh muridnya.

“Perintah guru akan kukerjakan,” jawab Wulan singkat.

“Nah, Arya, tunggulah sebentar, setelah ramuan selesai maka akan kulanjutkan pengobatanku.”

Setelah kurang lebih sepemakan sirih, maka datanglah Pandan Kuning dan Wulandari sambil membawa bahan obat-obat yang dipesan Jayaningrat.

“Untuk mengobati lambungmu, maka minumlah ramuan ini, Arya, dan daun kecubung wulung ini pakailah untuk bobok pada bagian luar yang merasa sakit.”

Setelah Arya Cempaka minum dan membobokkan bobok daun kecubung wulung, maka terasalah sakitnya agak ringan. Rasa nyeri yang tadinya sangat menyakitkan lama kelamaanpun hilang.

“Nah, Arya, tinggallah kau mulai mencoba mengerahkan tenaga dalammu, tapi janganlah kau kerahkan keseluruhannya, baiknya sedikit demi sedikit, tentu lukamu akan cepat sembuh,” nasihat Jayaningrat kepada Arya Cempaka.

“Ha..... ha..... haaa..... terimakasih, dukun! Kukira aku sudah agak sembuh, nah ijinkanlah aku pergi dan Kyai Pengemis busuk, tantanganmu besok dipuncak Merbabu akan kupenuhi.” Setelah berkata demikian maka keluarlah Arya Cempaka keluar gua.

“Sayang...... sayang...... kepandaian yang hebat hanya dipakai untuk memuaskan nafsu dan membuatnya jadi sombong,” gumam Sancaka.

“Kakek, diakah kakak seperguruan Candraloka?” Tiba-tiba Joko Seno bertanya pada Sancaka.

“Betul,” jawab Sancaka singkat.

“Nah angger Joko Seno, majulah, coba kulihat lukamu.” “Baik, paman.”

36 Setelah Joko Seno mendekat, maka lalu diurut-urutlah dadanya. Cepat- cepatlah Joko Seno mengerahkan tenaga dalamnya, untuk menahan rasa sakitnya.

“Angger, janganlah kau tutup jalan darahmu dengan tenaga dalam. Tahanlah sedikit, memang bisa ular Weling sangatlah bahaya.” Setelah dada Joko Seno diurut-urut, maka tampaklah keluar darah hitam dari bekas luka panah tadi. Setelah darah merah ikut keluar, maka berhentilah Jayaningrat memijit-mijit dada Joko Seno, cepat-cepat ia membobokkan ramuan daun kecubung wulung kebekas luka dan menyuruh Joko Seno minum ramuan sembung.

“Nah, angger   lukamu sudah tak berbahaya lagi.”

“Terimakasih paman, selama hidup saya tak akan melupakan budi paman ini,” jawab Joko Seno.

“Ah.... sudahlah kita hidup harus tolong-menolong. Bukankah kalau aku luka, kau tentu mau mengobatiku? Dan begitu sebaliknya. Joko Seno, betulkah engkau murid Jatikusumo?”

“Betul paman, saya yang bodoh memang murid dari guru Jatikusumo,” jawab Joko Seno merendah.

“Bagaimanakah keadaan gurumu? Baik-baik saja bukan?”

“Beliau baik-baik saja, dan sekali lagi kuucapkan terimakasih atas perhatian paman terhadap guru.”

“Angger, kami dahulu adalah bersahabat, bukankah sudah selayaknya kalau aku menanyakan kesehatannya?”

“Betul paman,” jawab Joko Seno singkat.

“Nah, besok kalau kau bertemu dengan gurumu sampaikanlah salamku padanya,” pesan Jayaningrat.

“Baik paman, tentu guru akan senang sekali kalau mendengar ceritaku bahwa aku beruntung dapat berkenalan dengan sahabat-sahabat beliau.”

“Kau Sancaka, tinggallah disini beberapa hari, bukankah kau tak punya tujuan kemana-mana?”

“Heh.... heh.... heh..... hidupku selalu minta-minta kesana-kemari tapi sekarang ada orang menawari tempat dan makan, baik aku terima undanganmu, Jayaningrat. Kau Seno, temanilah aku disini barang dua hari untuk memenuhi undangan Jayaningrat.”

“Baik kakek, aku menurut saja apa yang kau kehendaki,” jawab Joko Seno. Selama Joko Seno tinggal bersama Sancaka, maka timbullah rasa senang Sancaka pada pemuda yang jujur itu. Sancakapun berkenan memberikan pelajaran ilmu ciptaannya yang dinamai ilmu Tongkat Pemukul Anjing. Namun gerakan-gerakan tongkatnya sudah disesuaikan dengan gerak-gerik Joko Seno, lagi pula Sancaka telah mengubahnya jadi ilmu pedang.

Siang malam Joko Seno melatih ilmu pedang yang diajarkan Sancaka dengan giat. Melihat kesungguhan hati Joko Seno ini maka puaslah hati Sancaka. Didalam hatinya ia merasa iri terhadap Panembahan Jatikusumo

yang telah beruntung mendapatkan seorang murid yang sukar dicari 37 keduanya. Maka tak segan-seganlah Sancaka memberi patunjuk-petunjuk gerakan-gerakan Joko Seno yang dianggapnya masih lemah. Hubungan Joko Seno dengan ketiga murid Jayaningrat kelihatan akrab.

Pada suatu petang tampaklah mereka duduk diluar gua sambil bercakap-cakap.

“Adi Joko Seno, senang ya kau dapat merantau kemana saja kau mau?” tanya Wulandari.

“Ah.   ayu Wulan ini ada-ada saja, bukankah engkaupun dapat berbuat

begitu?” bantah Joko Seno.

“Tidak mudah kami turun gunung, adi. Dapat turun gunung kalau bersama-sama dengan guru,” sahut Wulandari.

“Ah, benarkah itu kakang Rimang?” Tanya Joko Seno pula.

“Betul adi, guruku belum tega melepas adi Wulan merantau seorang diri. Wulan boleh turun gunung kalau ikut guru atau kami bertiga turun semua,” jawab Gagak Rimang.

“Wah, kalau begitu tentu kau amat dikasihi oleh paman Jayaningrat, ayu Wulan,” seru Joko Seno.

“Betul katamu, adi, Wulan amat dimanja oleh bapa guru,” potong Gagak Rimang.

“Ah. jangan percaya, adi,” bantah Wulandari.

“Hem...... tetapi sesungguhnya memang begitu adi, kemana saja adi Wulan pergi tentu harus ada yang mengawal.” Potong Pandan Kuning yang sejak tadi diam saja. Maka ketiganya tertawa bersama-sama. Tapi Wulandari tambah menjadi cemberut.

“Kakang Pandan Kuning senangnya selalu menggoda orang saja,” bantah Wulandari.

“Ah..... buktinya waktu kau hilang, bapa guru menjadi cemas, maka disuruhlah aku dan adi Rimang mencarimu sampai dapat. Bukankan ini menunjukkan bahwa guru memanjamu? Betul tidak, adi Rimang?”

“Betul kakang, kami berusaha mencari mati-matian tapi yang dicari enak-enak gendongan dengan Arya Cempaka,” kelakar Gagak Rimang.

Sekali lagi mereka tertawa gembira. Tetapi Wulandari yang sejak tadi menjadi bahan tertawaan mereka lama-lama menjadi marah.

“Huh, kakang, awas nanti kuadukan pada bapa guru,” ancam Wulandari.

“Eh. kau mau bilang pada guru? Ah jangan, nona manis!” Sahut Gagak

Rimang sambil tertawa.

“Sudah-sudah nanti bisa nangis ayu Wulan kalau terus-terusan kita permainkan.” Potong Joko Seno.

“Betul adi, marilah kita bicara lainnya saja.” Kata Wulan.

“Adi Joko Seno, kau tentu punya cerita-cerita yang menarik, bukan, dalam perantauanmu? Nah, ceritakanlah kepada kami,” seru Gagak Rimang. “Betul adi, ayo lekas ceritakan pengalamanmu, adi,” desak Wulandari. “Kakang Pandan Kuningpun sering menceritakan pengalamannya sewaktu ia turun gunung.”

“Ah, kau ayu Wulan, aku belum punya pengalaman apa-apa dalam perantauanku.”

“Masakan kau belum punya cerita! Turunmu dari Semeru sampai disini kan merupakan suatu cerita yang menarik?” Seru Wulandari.

“Memang ada, tetapi merupakan cerita yang tak menarik.”

“Biar adi, aku ingin mendengar kisahmu!” Potong Gagak Rimang penuh nafsu.

“Eh... adi Gagak Rimang dan adi Wulan mengapa kalian memaksa adi Joko Seno? Kelihatannya ia tak suka menceritakan masa lalunya yang dikatakan tidak menarik itu. Bukankah ini akan menyedihkan hatinya?” Tegur Pandan Kuning kepada kedua adik seperguruannya.

“Ah, tidak kakang Pandan Kuning.”

“Kalau kalian ingin mengetahuinya, baiklah aku ceritakan.”

“Nah, begitulah adi,” kata Wulandari dan Gagak Rimang bersama. “Cerita ini menyangkut asal-usulku. Dahulu menurut ibu aku tinggal

didaerah Ragajampi. Suatu desa yang subur dan damai. Pada suatu hari dengan tidak kami duga datanglah anak buah perampok dari Nusa Barung. Desaku dibakar dan ayah tewas dalam mempertahankan desanya.” Sampai disini Joko Seno diam mengambil napas, kelihatannya hatinya sedih. Tapi sebentar saja ia telah meneruskan ceritanya.

Seluruh desa panik. Ibu terpisah dari kami. Pada waktu itu datanglah seorang kakek yang menolong ibu. Kakek ini bukan lain ialah guruku Panembahan Jatikusumo. Setelah ibu tertolong maka kakek mencari ayah dan aku. Guruku mendapatkan ayah telah tewas dan aku pingsan dipelukannya. Setelah panembahan mengubur jenasah ayah, maka aku dan ibu dibawanya ke Semeru dan mulai saat itu juga aku diambil murid. Tapi waktu itu aku masih kecil.”

Maka dengan singkat ia menceritakan sebab-sebab ia turun gunung dan akhirnya sampai ia terluka oleh Jalak Item.

“Sungguh kasihan nasibmu, adi Seno, masih muda sudah menanggung derita yang berat itu.” Seru Wulandari sambil menghapus air matanya.

“Adi Seno, sewaktu-waktu kau perlu bantuanku datanglah kemari, aku sanggup membantumu untuk menumpas para perampok itu.” Desis Gagak Rimang.

“Terima kasih, kakang.”

“Betul adi, besok kalau kuu akan membalas dendam pada Candraloka jangan lupa mengajak kami. Kami sanggup membantumu. Bukankah begitu, adi Wulan?” kata Pandan Kuning dengan geram.

“Benar,” kata Wulandari.

“Ah, sungguh bahagia aku mendengar kesudian kakang-kakang dan ayu Wulan untuk membantu usahaku.”

39 “Eh.... tak terasa sudah malam, ayo kakang dan adi Seno kita masuk,” kata Wulandari sambil bangkit dari duduknya.

“Mari kita tidur, akupun sudah mengantuk,” kata Gagak Rimang. Waktu Joko Seno berbaring dibalai-balai sambil memikirkan kejadian-

kejadian yang lampau, sekilas ia teringat akan ibunya dan gurunya. Waktu ia berangan-angan, datanglah Sancaka didekatnya.

“Belum tidur kau, Seno?” “Belum,” jawabnya singkat.

“Seno, marilah kita keluar untuk mencoba sekali lagi ilmu yang kuturunkan kepadamu,”ajak Sancaka.

“Baik,” jawab Joko Seno sambil keluar gua. “Nah, mulailah Seno!”

Maka dengan gerakan yang gesit mulailah Joko Seno menggerakkan pedangnya. Mula-mula lambat dan kelihatan indah tapi makin lama makin cepat hingga hilanglah tubuh Joko Seno tertutup sinar biru dari pedang Nogo Biru. Angin dingin menyambar-nyambar dari setiap kibasan pedang Nogo Biru. Jurus demi jurus telah dimainkan oleh Joko Seno, melihat hasil yang dicapai oleh Joko Seno ini maka makin puaslah hati Sancaka, berkali- kali ia memuji. Setelah Joko Seno berhenti, barulah Sancaka memberi penerangan-penerangan tentang ilmu itu.

“Nah Seno, gerakan-gerakanmu sudah cukup baik, kini tinggallah kau melatihnya sendiri.”

“Baik kakek, semua nasehatmu akan kuingat. Dan aku yang muda masih harus mengharapkan petunjuk-petunjukmu.”

“Anak bagus..... anak bagus..... karena sikapmu inilah yang menarik hatiku untuk menurunkan ilmu tadi.”

“Apakah nama dari ilmu pedang tadi, kek?”

“He..... sebetulnya tadi itu bukan ilmu pedang melainkan ilmu tongkat, namanya ilmu Tongkat Pemukul Anjing. Ilmu pedangmu tadi adalah ilmu pemukul anjing yang jurus-jurusnya telah kurubah menjadi ilmu pedang. Maka ilmu pedangmu tadi kunamakan Ilmu Pedang Pembasmi Kejahatan. Setujukah kau dengan nama itu?”

“Setuju..... setuju aku sangat setuju, kakek. Ini adalah suatu nama yang bagus. Bukankah semua kejahatan harus lenyap dari muka bumi?”

“Ha..... ha..... ha.   betul Seno, kaulah anak muda harapan kami generasi

tua. Nah, sekarang pergilah tidur. Besok pagi aku akan pergi dari sini dan kaupun harus memenuhi permintaan gurumu untuk mencari pengalaman.” Sehabis menasehati Joko Seno maka pergilah Sancaka masuk gua terus tidur. Joko Senopun terus pergi tidur.

Pagi-pagi Jayaningrat sudah bangun dan kelihatannya ia sibuk membuat obat. Tampak pula Wulandari yang menyiapkan sarapan mereka nanti. Pandan Kuning dan Gagak Rimangpun sibuk dengan   pekerjaan mereka. Sejak  pagi mereka sudah membelah-belah kayu bakar dan mengambil air, untuk keperluan mereka sehari-hari. Setelah agak lama mereka bekerja tampaklah Sancaka dan Joko Seno baru bangun tidur.   40 “Ha.... ha..... ha..... sungguh rajin penghuni gua Melati. Pagi-pagi sudah bekerja keras. Makanya tak menjadi pengemis seperti aku.”

“Heh, sudah bangunkah kau Sancaka? Selamat pagi, Sancaka dan kau angger Joko Seno,” seru Jayaningrat.

Selamat pagi, paman,” jawab Joko Seno. Maka pergilah mereka kepancuran untuk mandi. Setelah Joko Seno habis mandi pergilah ia membantu pekerjaan Pandan Kuning dan Gagak Rimang.

“Wah, kakang sungguh rajin,” tegur Joko Seno.

“Ah, adi Joko Seno. Memang inilah tugas kami sehari-hari.” “Adi, jadikah kau pulang nanti?” tanya Pandan Kuning.

“Betul kakang, aku minta doa restumu berdua, kakang, semoga besok kita bertemu lagi.”

“Betul adi, besok tentu kita dapat bertemu lagi asal Tuhan mengabulkannya,” jawab Pandan Kuning.

“Hai kakang dan adi Seno, marilah kita makan sebab paman Sancaka dan bapa guru sudah menanti.” Tiba-tiba Wulandari memanggil mereka.

“Baiklah, mari kita menemuinya, adi!” kata Pandan Kuning,

Setelah mereka sampai digua maka duduklah mereka dihadapan Jayaningrat dan Sancaka.

“Marilah anak-anak kita makan dulu. Sarapan sudah lama disiapkan oleh Wulan.” Setelah itu makanlah mereka dengan lahapnya dan diselingi gelak tertawa dari Sancaka. Setelah makan maka mulailah Jayaningrat membuka suara.

“Joko Seno, bawalah obat ini untuk mengobati lukamu nanti,” kata Jayaningrat.

“Terima kasih, paman,” jawab Joko Seno sambil menerima bungkusan yang diberikan oleh Jayaningrat.

“Jayaningrat, besok tanggal 15 Anggara Manis di bulan Mulud kau harus datang dipuncak Merbabu.”

“Aku? Untuk apa aku datang kesana?”

“Banyak sekali yang harus kau lakukan disana. Kau tentu tahu bukan, akibat pertempuran disana? Nah, kuharap kau mau mengobati yang luka dan sekaligus menjadi saksi disana.”

“Kalau itu kehendakmu, baiklah. Aku datang. Semua tokoh akan datang kesana. hanya satu saja yang belum kudengar akan kedatangannya. Maka baiklah kalau angger Joko Seno kuminta supaya memberitahukan kepada gurunya supaya datang pula.”

“Betul Seno, kau harus memberi tahu gurumu akan peristiwa itu,” sahut Sancaka.

“Baiklah, aku akan menyampaikan berita ini kepada guru. Tapi aku tidak dapat memastikan apakah guru mau datang atau tidak.”

“Nah. Jayaningrat, sekarang ijinkanlah aku pergi. Besok kita ketemu lagi dipuncak Merbabu. Ayo Seno, kita berangkat sekarang.” “Baik, kakek. Paman Jayaningrat aku minta ijin akan meneruskan perjalananku. Dan aku mengucapkan terima kasih atas perawatan paman semasa aku sakit.”

“Baik angger, semoga kau baik-baik saja dalam perjalanan dan sampaikanlah salamku kepada gurumu.”

“Selamat tinggal kakang Pandan Kuning, kakang Rimang, dan ayu Wulan.”

“Baik-baiklah adi diperantauan,” jawab Pandan Kuning. “Selamat jalan, adi,” kata Gagak Rimang dan Wulandari.

Sebentar saja tak tampaklah bayangan kedua orang itu. Setelah sampai dikaki gunung maka berkatalah Sancaka :

“Nah, Joko Seno, kita berpisah disini.”

“Baik paman dan terima kasih atas pertolongan dan pemberian ilmu- ilmu paman.” Sehabis berkata itu berpisahlah mereka.

Malam terang bulan di desa Kepanjen, tampaklah anak-anak desa bermain-main dengan riangnya. Orang tuapun duduk-duduk diluar rumah. Memang sadah menjadi kebiasaan dari penduduk pedesan kalau malam terang bulan tentu mereka berada diluar rumah sampai larut malam. Orang-orang tua saling membicarakan kebutuhan hidup sehari-hari dan hasil tanamannya, anak-anak tanggung tentu pergi kerumah tunangannya atau tambatan hatinya, anak-anak kecil riang dengan permainannya, ada yang gobag-sodor ada yang jamuran dan lain-lain. Tapi malam terang bulan ini lain dari hari biasanya, pelataran-pelataran tampak sepi, hanya kelihatan serombongan orang yang bercakap-cakap :

“Jo, tidakkah kau pergi kekelurahan?” tanya Marmo.

“Ah, nanti sebentar, disanapun pertunjukan belum dimulai,” jawab Mijo.

“Betul juga,” kata Marmo.

“Tadi aku Iewat disana yang banyak baru anak-anak saja,” sambung Karto.

“Eh, nanti disana ada pertunjukan apa saja, ya?” tanya Joyo.

“Ah, kau Joyo selalu mengurung diri dirumah saja sampai tak tahu acaranya lurah kita. Pokoknya hebatlah nanti, disana kau dapat melihat joget, ludruk atau wayang kulit,” jawab Karto.

“Joget? Apakah pak lurah tak mengadakan tayub?” tanya Joyo lagi. “Kau Joyo, makin tua makin gila, masakan lurah kita sudi nanggap

tayub yang cabul itu,” seru Marmo.

“Ha.   memang Joyo baru teringat masa mudanya dulu, dulu dia sering

menari bersama dengan joget-joget tayub,” olok-olok Mijo. Maka tertawalah mereka, hanya Joyo yang senyum tersipu-sipu.

“Sudah-sudah, Joyo bisa menangis nanti,” sela Marmo, sekali lagi mereka tertawa senang. Sejenak keadaan menjadi hening. Tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh suara Karto :

“Jo, bagaimanakah hasil panenmu?”

42 “Lumayan, tahun ini kita memang mujur, coba lihat, bukankah kawan- kawan tani kelihatan berseri-seri?” jawab Mijo.

“Betul, memang panen kita tahun ini berhasil baik, makanya lurah kita merayakannya secara besar-besaran,” sambung Marmo.

“Kawan-kawan, marilah kita pergi kesana, kukira sekarang pertunjukan sudah hampir mulai,” kata Joyo.

Maka pergilah mereka menuju kepalataran kelurahan. Disana tampaklah penduduk Kepanjen yang berjejal-jejal, siap untuk menyaksikan pertunjukan-pertunjukan. Diluar kelurahan tampaklah berderet-deret orang jualan. Para wanita sibuk mengatur makanan, minuman dan menyiapkan keperluan lainnya. Setelah mereka sampai, maka duduklah ditikar yang telah disediakan. Ditempat itu telah berkumpul pula penduduk-penduduk lainnya. Ramailah mereka mempercakapkan hasil panen mereka malah makin lama pembicaraan mereka makin hangat. Sambil bercakap-cakap mereka dijamu wajik, jadah, kacang dan disediakan pula kopi untuk pencegah dingin. Pak lurahpun tampak diantara mereka itu.

“Pak lurah, nanti ludruknya mengambil cerita apa?” tanya Joyo. “Sakera!” jawab pak lurah.

“Kalau wayang kulitnya apa?” kembali Joyo bertanya.

“Gatutkaca jadi raja,” kata pak lurah. Kembalilah keadaan menjadi berisik, mereka saling membicarakan jalannya cerita itu.

“Min, kau pilih mana, wayang atau ludruk?”

“Kalau aku lebih suka ludruknya. Sebab dari kecil aku penggemar ludruk nomor wahid,” jawabnya.

“Enak lihat wayangnya, sebab disitu kita dapat mangambil contoh kelakuan dan perbuatan tiap-tiap tokohnya.”

Perdebatan kedua orang itu menarik perhatian orang-orang yang hadir disitu. Mereka sama mendengarkan saja perdebatan itu. Pak lurah pun tak tarkecuali. Malah mereka sekarang asyik mendengarkan cerita Wongso tantang jalannya cerita Gatutkaca jadi raja. Wongso adalah lawan berdebat dari Paimin.

“Beginilah Min ceritanya : Gatutkaca adalah putera dari Raden Werkudoro deugan Dewi Arimbi. Raden Werkudoro adalah salah seorang satria dari Pandowo, sedang ibunya dahulu adalah seorang rakseksi (raksasa perempuan). Tapi mukanya dapat dirubah..... dirubah oleh Dewi Kunti, ibu dari Raden Werkudoro. Biarpun ia seorang raseksi, tapi Dewi Arimbi itu baik hatinya.

Baru lahir saja Raden Gatutkaca sudah sakti. Kau tentu pernah mendengar kawah Candradimuko bukan? Nah, disitulah tempat Gatutkaca digembleng oleh dewa-dewa sehingga ia menjadi seorang satria yang sakti. Karena Gatutkaca dapat mengalahkan raja raksasa yang bernama prabu Pracona dan patih Sekipu yang menjadi musuh dewa-dewa, maka Gatutkaca dijadikan raja di Kahyangan selama tiga tahun. Sedang ibunya

juga menjadi raja di Pringgondani. 43 Setelah Gatutkaca menjadi raja tiga tahun di kahyangan untuk merajai dewa-dewa maka turunlah Gatutkaca di marcopodo. Oleh kehendak ibunya maka ia akan dijadikan raja di Pringgondani. Tapi maksud itu dihalang- halangi oleh pamannya yang bernama Brojodento. Maka terjadilah peperangan antara Gatutkaca dengan adik ibunya yang bernama Brojodento. Dan akhirnya Brojodento dapat dikalahkan.

Tapi Gatutkaca merasa malu kalau ia dapat menjadi raja karena harus berebut tahta dengan pamannya. Bukankah hal ini merupakan sifat yang baik?” seru Wongso. Setelah ia melihat para pendengarnya mengangguk- anggukkan kepalanya, maka ceritanya dilanjutkan. “Setelah ia dapat mengalahkan pamannya maka pergilah ia meninggalkan Pringgondani.

Dijalan Gatutkaca bertemu dengan ayahnya, maka diceritakannya peristiwa yang baru saja ia alami. Mendengar cerita Gatutkaca, marahlah Werkudoro. Sementara itu Brojodentopun sadar kalau tahta itu memang haknya Gatutkaca. Maka pergilah ia mencari Gatutkaca untuk minta maaf. Tapi ditengah jalan ia bertemu dengan Werkudoro, dengan tak ditanya lagi maka dihajarlah Brojodento. Tapi dapat dicegah oleh Dewi Arimbi. Setelah Brojodento rela menyerahkan tahta, maka Gatutkaca diangkat menjadi raja.”

Setelah bercerita maka diamlah ia sambil minum kopinya. Kembali suasana disitu menjadi berisik. Mereka saling membicarakan soal cerita Wongso tadi. Tetapi tidaklah demikian dengan Paimin, katanya :

“Kalau Sakerapun tak kalah dengan Gatutkaca, dengarlah! Aku akan menceritakan sedikit tentang tokoh Sakera, tapi ini hanya garis besarnya saja.

Sakera mempunyai dua orang adik seperguruan, mereka sudah terkenal dari dahulu bahwa mereka anti Belanda. Belandapun tahu akan hal itu, tetapi Belanda tak berdaya menghadapi mereka. Bangsa Belanda selalu mencarl daya-upaya untuk melenyapkan Sakera. Akhirnya karena kelicikan Belanda maka dapatlah Sakera diadu dengan kedua adik seperguruannya. Sakera diundang pesta oleh kedua adik seperguruannya yang telah kena hasut Belanda. Setelah Sakera datang, maka dijamu oleh adik-adik seperguruannya. Akhirnya Sakera mabuk karena kebanyakan minum tuak. Setelah Sakera mabuk, maka diajaklah untuk latihan pencak silat oleh kedua adik seperguruannya, tapi Sakera menolak. Karena bujukan-bujukan para hadirin, maka tak enaklah kalau Sakera menolak terus. Pertandingan antara Sakera dan adik seperguruannya amatlah seru. Sakera dapat mendesak mereka, tapi karena kelicikan musuhnya maka dapatlah Sakera dibunuh.

“Nah, coba, bukankah ini merupakan tokoh pahlawan yang baik?” seru Paimin sehabis cerita.

“Memang Sakera cerita yang baik, dan Gatutkacapun tokoh yang baik, kalau tidak ada perlambangnya apa perlunya kedua cerita itu kupilih?” kata pak lurah sabar. “Betul, pak lurah memang betul, keduanya memang baik karena Paimin orang Surabaya maka ia lebih senang ludruk, sedang Wongso orang Jawa tengah tentu saja lebih senang wayang kulit, betul tidak kawan- kawan?” seru Marmo.

Sedang mereka bercakap-cakap diluar, pertunjukan telah mulai. Maka pergilah mereka melihat apa yang mereka senangi. Tentu saja Wongso langsung melihat ke pertunjukan wayang kulit.

Penduduk Kepanjen berjejal-jejal melihat pertunjukan itu. Tiba-tiba datanglah seorang pemuda menghampiri Wongso.

“Pak, desa manakah ini?” tanyanya. Wongso memperhatikan anak muda yang bertanya itu dari ujung kaki sampai rambutnya.

“Tentu kau bukan anak sini, anak muda! Desa kami ini namanya desa Kepanjen, dan kau dari mana?”

“Oh..... aku anak perantauan, tempat tinggal tak tentu, kebetulan malam ini aku kemalaman disini. Siapakah yang punya kerja ini, pak?” kembali pemuda ini bertanya.

“Yang punya kerja adalah kami penduduk Kepanjen dan ini rumah lurah kami,” jawab Wongso.

“Terima kasih, pak, nah silahkan bapa menyelesaikan pertunjukan lagi dan maafkan saja kalau saya tadi mengganggu bapa.”

“Tak mengapa, nak, kalau kau mau nanti malam tidurlah dirumahku,” jawab Wongso.

“Terima kasih, bapa, aku hanya merepotkan saja,” jawab pemuda itu lalu meneruskan melihat pertunjukan.

Siapakah pemuda itu? Para pembaca tentu masih ingat kalau Joko Seno berpisah dengan Sancaka. Dialah Joko Seno yang sedang melanjutkan perantauannya. Joko Senopun tertarik pada pertunjukan wayang kulit itu. Sebab sejak kecil ia belum pernah melihatnya. Ketika ia sedang asyik mendengarkan ceritanya dari dalang, tiba-tiba Joko Seno mendengar suara gaduh didaerah panggung ludruk. Cepat-cepatlah ia melangkahkan kaki menuju ketempat kegaduhan itu. Disana ia melihat orang sedang berkelahi. Tapi bagi Joko Seno tampaklah bahwa yang seorang tak dapat bersilat, ia hanya mengandalkan tubuh yang besar dan pukulan yang keras. Maka dengan mudah saja lawannya dapat menghindarkan pukulan-pukulan musuhnya dan langsung dapat membalasnya pula. Lama-kelamaan payah pula keadaan orang desa itu. Tapi belum lama mereka berkelahi penduduk Kepanjen telah beramai-ramai memisah mereka.

“Hai, mengapa kau berkelahi?” tanya pak Lurah kepada orang yang tak tahu silat itu.

“Dia itu pak yang mulai, tadi sewaktu kami bersama kawan-kawan desa melihat ludruk karena berjejal-jejal maka kakinya keinjak lalu dia marah-marah. Saya sudah minta maaf tapi dia malah memukulku,” jawab Wirun.

45 “Bohong! Ceritanya bohong belaka! Tadi dia mendekat kearahku dan berusaha akan mengambil uang disaku bajuku. Bukankah sudah selayaknya kalau kupukul!” jawab orang yang satunya.

“Apa?? Kau kira aku sudi mengambil uangmu? Hasil sawahku lebih dari cukup untuk hidupku! Sekali lagi kau bilang aku akan mengambil uangmu tentu kutampar mulutmu!” bentak Wirun.

“Kau mau menampar aku? Huh cobalah kalau dapat. Sekarang kau berani buka mulut sebab sekarang sudah banyak orang!”

“Bangsat jangan menghina!” damprat Wirun sambil memukul kepala lawan, tapi dengan mudah saja dapat dielakkan.

“Bagus-bagus, kau akan mengeroyok aku? Nah, silahkanlah!” Setelah keduanya sama-sama bersitegang maka pak lurah berkata : “Ki sanak, kau bukan penduduk sini, betulkah dugaanku ini?”

“Betul, aku bukan penduduk desa ini, hanya kebetulan aku lewat desa ini dan tertarik oleh pertunjukan ini. Tak bolehkah orang lain daerah melihat pertunjukan ini?”

“Oh.... oh.... bukan begitu maksudku ki sanak, kalau kau ingin melihat, silahkan melihat. Hanya sayangnya kau dan Wirun telah membuat onar desa ini,” jawab pak lurah.

Pandangan penduduk desa Kepanjen lain dengan pandangan Joko Seno. Jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang asing itu seakan-akan memancing-mancing kerusuhan. Dan lagi tak mungkin Wirun akan mengambil uangnya. Bukankah ia baru saja panen? Maka timbullah kecurigaan Joko Seno pada orang asing itu. Waktu Wirun, pak lurah dan sebagian besar penduduk masih ramai-ramai dengan orang asing itu, tiba- tiba terdengar teriakan :

“Culik... culik... culik...!” Suara itu datangnya dari arah rumah pak lurah. Mendengar teriakan itu maka seperti mendapat komando larilah mereka menuju kerumah pak lurah. Diantara sekian banyak orang itu hanya pak lurah yang terkejut. Maka ia segera mendapatkan isterinya yang sedang menangis.

“Nyai.... apakah yang terjadi?” tanya pak lurah gugup. Melihat suaminya datang, maka larilah isterinya langsung memeluk dada suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Makin bingunglah hati pak lurah melihat kelakuan isterinya.

“Nyai, tenangkanlah hatimu, dan katakanlah apa yang terjadi.” Kembali pak lurah menanyakan pada isterinya. Terharulah mereka yang menyaksikan adegan itu. Lama mereka terdiam, akhirnya nyai lurah menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.

“Kakang, sewaktu aku dan para wanita sibuk menyiapkan makanan dan minuman, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki tinggi besar menanyakan padaku. Mengapa didesa ini diadakan perayaan besar- besaran? Maka kujawab kalau penduduk desa ini bersyukur karena panen tahun ini berhasil dengan memuaskan. Rasa syukur ini kita nyatakan

dengan mengadakan sekedar pertunjukan, lalu kelihatan laki-laki itu 46 mengangguk-angguk tanda bahwa ia mengarti. Wah, tentu penduduk sini sekarang kaya-kaya, bukan? Kembali laki-laki itu bertanya. Pertanyaan itupun kujawab. Lumajan juga ki sanak. Pertanyaan tak habis sampai disitu saja. Siapakah diantara kalian yang menjadi nyai lurah? Saya sendiri ki sanak, ada keperluan apakah denganku? Oh, tidak, hem, cantik betul dia, anak siapakah ini? Tanyanya sambil mendekati Endang. Kemudian kujawab bahwa Endang anakku. Belum selesai aku berkata maka tiba-tiba pergilah laki-laki itu sambil memondong Endang. Melihat kejadian itu maka kukejarlah dia. Tetapi dengan mudah saja ia lari meloncati pagar, karena kejadian ini gaduhlah para wanita disini sambil berteriak-teriak culik tadi.”

Sehabis bercerita kambalilah nyai lurah menangis. Melihat kejadian ini Joko Senopun ikut terharu. Tiba-tiba matanya yang tajam sedari tadi tak melihat musuh Wirun tadi, maka pergilah ia ketempat panggung ludruk, disana ia melihat berkelebatnya suatu bayangan lari menerobos kegelapan malam.Tapi dengan mudah Joko Seno dapat mengikuti bayangan itu. Setelah jaraknya menjadi dekat maka jelaslah bentuk bayangan itu. Hem... akan kuikuti dia, mungkin ada hubungannya dengan penculikan itu, gumam Joko Seno.

Setelah antara lama mereka berlari-larian maka tampaklah ia disuatu hutan dan berhentilah bayangan itu yang melihat-lihat sekelilingnya. Setelah merasa kalau tak ada yang mengikuti maka masuklah ia kedalam hutan. Dan duduklah ia dibawah pohon beringin.

Melihat buruannya masuk hutan, maka dengan hati-hati masuk Joko Seno menyusulnya. Tapi ia tak segera mendekat, melainkan ia terus mengintai dari atas pohon didekat beringin itu. Sampai agak lama Joko Seno mengintai. Tetapi yang diintai enak-enak duduk, malah dapat dikata ia mengantuk.

Setan, ditunggu malah enak-enak akan tidur, gumam Joko Seno mulai putus asa. Tetapi tiba-tiba ia mendengar langkah kaki menuju kearah persembunyiannya, makin lama makin dekat. Akhirnya tampaklah sesosok tubuh datang menghampiri buruannya.

Alangkah terkejutnya ketika ia melihat orang yang datang itu. Sudah lama ia mengenal orang itu. Sekarang rasakanlah pembalasanku, Jalak Item, desis Joko Seno. Tetapi sebelum ia meloncat dari persembunyiannya ia ingin mengetahui dulu apa sebabnya Jalak Item menculik anak pak lurah. “Heh... kakang,  kau telah datang  dan kulihat kau berhasil menculik

anak lurah sombong itu,” tegur buronan Joko Seno.

“Betul, adi Wrekso, aku berhasil menculiknya berkat pertolonganmu,” jawab Jalak Item.

“Bagus, sebentar lagi kita akan mengirim surat ancaman kepada mereka, anak ini kita bunuh atau mereka harus menebus nyawanya!” seru Wrekso. Sewaktu mereka enak-enak bercakap-cakap, tiba. melayanglah Joko Seno menghantam dada Jalak Item sambil merenggut tubuh Endang

dari dukungan Jalak Item. Jalak Item tak menduga kalau akan mendapat 47 serangan dengan tiba-tiba, maka mudahlah Joko Seno mengulangi pukulannya..... dukk..... sekali lagi punggung Jalak Item kena hajar. Tapi Wrekso segera mencabut pedangnya dan menusukkan pedangnya kearah lambung. Dengan melangkah mundur Joko Seno dapatlah mematahkan serangan lawan. Setelah Jalak Item memperbaiki kedudukannya, terkejutlah ia ketika melihat lawannya adalah Joko Seno.

“Hai... belum mampus engkau?”

“Matamu belum buta, tentu kau dapat melihat! Nah, sekarang terimalah pembalasanku, setan!” bentak Joko Seno.

“Mari, adi Wrekso kita bunuh binatang ini, dialah yang membunuh Karjoleo dan Wiro!” seru Jalak Item sambil mencabut pedang.

Sebetulnya Jalak Item agak gentar menghadapi Joko Seno. Melihat kedua lawannya menyerang dengan pedang, maka... sratt... pedang Nogo Biru telah berada ditangan Joko Seno. Tangan kiri memondong Endang dan tangan kanan menggerakkan pedang Nogo Biru. Pedang Jalak Item dan pedang Wrekso ganti-berganti mencari sasaran ditubuh lawan. Namun Joko Seno dengan mudah dapat menggagalkan setiap serangan lawan dengan jurus-jurus ajaran Sancaka. Sebentar saja Joko Seno dapat mendesak kedua lawannya. Melihat kedudukannya makin tak menguntungkan, marahlah Wrekso, ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mempertahankan serangan lawan. Jalak Itempun menjadi kalap, akan melarikan diri terang tak mungkin, maka nekatlah ia menyerang Joko Seno dengan pedangnya secara membabi-buta.

Tiba-tiba meluncurlah sebuah tusukan menuju ketenggorokan Joko Seno. Dengan menggeserkan kakinya kesamping kiri terhindarlah ia dari tusukan itu, tapi kesempatan yang bagus ini tidak disia-siakan oleh Jalak Item. Waktu Joko Seno menghindar kesamping Jalak Item membuat suatu bacokan kearah kepala Joko Seno. Joko Senopun agak terkejut melihat serangan ini. Tetapi ini tidak menjadi hilangnya kewaspadaan Joko Seno. Dengan cepat ia menangkis pedang Jalak Item dan.... trangg.... bunga api berpijar. Terhindarlah kepala Joko Seno dari bacokan Jalak Item. Maka marahlah Joko Seno.

Ia menggerakkan pedangnya makin cepat. Yang kelihatan hanyalah sinar biru menyambar-nyambar. Joko Seno telah mengambil keputusan untuk cepat-cepat mengakhiri pertempuran. Ia memainkan ilmu pedang pembasmi kejahatan ajaran dari kakek Sancaka. Tiba-tiba dari sela-sela sinar biru itu terdengarlah dencing beradunya pedang disela jerit ngeri... trang... aduhhh... yang ternyata bunyi benturan pedang Wrekso dengan Nogo Biru dan disusul terbabatnya lengan Wrekso sebatas siku. Joko Senopun makin mendesak mereka dan akhirnya.... cratt.... pedang Nogo Biru berhasil membelah batok kepala Jalak Item.

Melihat kawannya tewas makin marahlah hati Wrekso. Kembali ia memutar pedangnya dengan tangan kiri. Dengan gerak amat gesit menerjanglah Wrekso kearah perut Joko Seno. Tetapi dengan sekali menggenjot tubuh melayanglah tubuhnya diudara akhirnya ia turun lagi 48 kebumi dengan manisnya, kembali ia menyerang Wrekso dengan hebat Ah. ilmu pedang bagus, puji Wrekso.

Tapi ia tak dapat meneruskan pujiannya karena pada waktu itu pedang Joko Seno meluncur menuju lambungnya. Cepat-cepat ia menghindar dan menangkis dengan pedangnya.... Trangg terlepaslah

pedang Wrekso dari tangannya. Setelah pedangnya jatuh maka mundurlah Wrekso.

“Ampunkan jiwaku, anak muda!” ratap Wrekso. Melihat tindakan Wrekso itu. Marahlah Joko Seno.

“Huh, kau minta ampun? Bukankah kau anak buah Candraloka?” Bentak Joko Seno.

“Be.... be.... nar   aku anak buah Candraloka, tapi ini kukerjakan karena

terpaksa.”

“Terpaksa katamu? Hayo lekas katakan apa sebabnya!”

“Aku melakukan penculikan atas anak ini, sebab aku hanya ingin mendapat uang dari hasil penculikan ini untuk memberi makan anak isteriku.”

“Anak muda, kau hati-hatilah sebab Candraloka mencarimu, sejak kau bunuh Karjoleo dan Wiro.”

“Ini yang kuharapkan, aku harus membalas dendam atas kematian keluargaku. Nah, pergilah dan katakan kepada Candraloka bahwa sewaktu- waktu aku akan mengunjunginya di Nusa Barung.”

*

* *

Kita tinggalkan dahulu perjalanan Joko Seno yang menuju ke desa Kepanjen untuk memulangkan Endang kepada orang tuanya.

Marilah kita lihat keadaan desa Kepanjen sejak ditinggaikan Joko Seno. Mendengar cerita nyai lurah maka marahlah penduduk desa Kepanjen. Semua pertunjukan segera dihentikan. Pelataran yang tadinya ramai, sekarang berubah menjadi sunyi. Penjagaan diperkuat dan diadakan pula

ronda-ronda untuk mencari jejak hilangnya anak pak lurah.

“Mijo, kau Joyo dan kau Marmo coba mencari disebelah timur!” Perintah pak lurah pada Mijo.

“Baik pak.” Lalu berangkatlah mereka menuju kesebelah timur desa. “Dan kau Wongso, carilah jejak penculik itu disebelah barat, pergilah

bersama Paiman dan Karto!” Setelah itu pergilah mereka kepos mereka masing-masing. Sebentar saja hilanglah para peronda seperti ditelan kepekatan malam. Lama mereka mencari tapi tak seorangpun dapat menemukan jejak. Ayampun sudah mulai berkokok. Fajar telah menyingsing namun jejak penculik belum juga diketemukan. Akhirnya pulanglah mereka. Tapi t,idak begitu dengan rombongan pak lurah. Rombongan ini terus mencari dengan tak menganal lelah, ketika mereka sampai ditikungan desa berserulah seorang diantara mereka :   49 “Pak, itu kelihatannya ada orang berjalan kearah luar desa.”

“Betul, kelihatannya dua orang. Marilah kita periksa orang itu,” jawab pak lurah. Maka larilah mereka mengejar kedua orang itu.

“Eh.   wanita,” bisik salah satu anggota rombongan pak lurah itu.

“Berhenti!” Tiba-tiba pak lurah berseru, tapi alangkah terkejutnya mereka ketika melihat wajah kedua wanita itu.

“Hantu.....!” seru anak buah pak lurah sambil melangkah mundur. Ternyata salah satu dari wanita itu berwajah sangat menyeramkan, tapi yang lain sangatlah cantik. Sungguh jarang terjadi didunia ini ada seorang gadis muda lagi cantik mau mengadakan perjalanan dengan wanita tua yang bermuka jelek.

“He. apa maksudmu mengejar?” dengus si muka jelek.

“Maaf sahabat, setiap orang asing yang lewat di sini harus diperiksa sebab baru saja ada penculikan disini!” jawab pak lurah.

“Kami tidak menculik!”

“Mana dapat kami percaya begitu saja?” kata pak lurah setengah memaksa.

“Anjing kudisan....! Kau hendak memaksaku? Heh Sari, beri sedikit pengajaran kepada manusia-manusia yang tak percaya kepada kita!” Mendengar jawaban si muka jelek ini, marahlah rombongan pak lurah itu, tapi perintah ini bagi gadis yang dipanggil Sari, bagaikan suatu keharusan. Setiap perintahnya tak dapat disangkal lagi.

“Sobat, kami betul-betul tak menculiknya,” kata si gadis dengan ramah, tetapi kata-kata Sari itu telah membangkitkan amarah si muka jelek.

“Sari tulikah telingamu?” bentaknya.

“Tapi ”

“Tak ada tetapi, hayo lekas kerjakan perintahku!” Dengan agak malas lalu ditariknya cambuk yang bercabang lima.

“Kawan, guruku telah memerintahkanku untuk memberi sedikit pengajaran kepada kalian. Nah, siap-siaplah kalian menghadapi cambukku ini!” Setelah berkata demikian gadis cantik itu menggerakkan tangannya keatas. Tar.... tar.... tar letusan cambuk itu bergema diudara.

“Nah, terimalah seorang satu cambukan!” Sekali Sari menggerakkan cambuknya maka lima orang jatuh ketanah dengan keadaan tertotok. Melihat kejadian ini, marahlah pak lurah. Kini setelah kelima kawannya tak dapat berkutik, pak lurah tinggallah bertiga dengan kedua pembantunya. Menerjanglah mereka kearah Sari. Tapi dengan mudah serangan mereka dapat dielakkan. Melihat serangannya dengan mudah dapat digagalkan maka tak sungkan-sungkan lagi pak lurah bersama-sama pembantunya mulai memutar senjatanya.

“Bagus-bagus, inilah laki-laki sejati. Mari kawan kita main-main sebentar,” kata Sari yang telah timbul kegembiraannya. Dengan cepat Sari mengayunkan cambuknya. Tar.... tar.... tar.... golok yang dipakai kedua pembantu pak lurah itu terlepas   dari   tangannya. Bersama   terlepasnya golok itu, jatuhlah tubuh kedua orang itu dalam keadaan tertotok. Kini 50 tinggallah pak lurah sendiri menghadapi cambuk Sari, sebentar saja golok pak lurah terbetot oleh lilitan cambuk lawan.

“Nah, kawan cukuplah permainan kita!” seru Sari. “Bolehkah saya mengetahui nama kalian?”

“Namaku Retnosari dan beliau ini adalah guruku dan nama beliau Widati.”

“Eh... oh... maaf... maafkan atas kekurangajaran kami,” kata pak lurah. “Tak mengapa, paman. Bolehkah kami mengetahui apa sebabnya

paman berusaha memeriksa kami?”

“Begini ceritanya. Dari tadi malam kami mencari jejak penculikan anakku.” Lalu diceritakannya dari awal sampai akhir. Setelah mendengar cerita pak lurah, maka Retnosari membebaskan totokannya.

“Nyai, marilah singgah dulu dirumahku,” kata pak lurah.

“Kami masih mempunyai persoalan-persoalan lain. Ayo Sari, kita segera berangkat.” Sehabis berkata demikian, maka berkelebatlah ia meninggalkan rombongan itu. Retnosaripun harus mengikuti langkah gurunya. Melihat kejadian ini, makin kagumlah rombongan lurah itu.

“Orang sakti yang bersifat aneh,” gumam pak lurah.

“Betul, memang mereka itu sakti sekali, masakan hanya sekali mengayunkan cambuknya dapat merobohkan kami berlima,” seru yang lain.

“Marilah kita kembali dahulu, dan kita tanyakan kepada rombongan lain, bagaimanakah hasilnya,” seru pak lurah. Maka pulanglah mereka kekelurahan.

Perjalanan Joko Seno menuju kedesa Kepanjen tidaklah begitu sukar meskipun ia harus meloncati tebing-tebing sambil mendukung Endang. Waktu Joko Seno sedang lari dilereng tebing, tiba-tiba ia dikejutkan oleh bentakan orang.

“Berhenti penculik hina!” Setelah berkata demikian lalu ia menyerang musuhnya dengan menggunakan kedua tangannya. Pukulan ini disambut pula oleh Joko Seno, maka terdengarlah suara buk... bukk... akibatnya si penyerang terdorong mundur tiga langkah sedang Joko Seno hanya terhuyung-huyung.

Penyerang Joko Seno adalah Retnosari. Melihat kejadian itu terkejutlah Retnosari. Widatipun heran melihat hasil pukulan muridnya itu. Hampir-hampir tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Retnosari sangat marah masakan hanya sekali gebrak saja ia terlempar tiga langkah. Cepat ia menyerang lagi dengan sepasang tangan sambil menggunakan aji Klabang Sayuta.

Mendapat serangan ini cepat Joko Seno melompat kebelakang. Dalam pada waktu itu Retnosari sudah membentak lagi :

“Jangan lari penculik!” Tapi baru saja ia habis berkata cepat-cepatlah ia harus mengelakkan pukulan Joko Seno. Diserang begitu Retnosari tidak berdiam diri saja, dengan gerakan yang sangat indah, badannya melayang

51 keatas melewati kepala lawan. Dengan cara inilah ia dapat menghindarkan pukulan lawan.