Pendekar Darah Pajajaran Jilid 4

Jilid 4 

B A G I A N I

ITULAH JURUS pembukaan "Cahaya Tangkuban perahu" ciptaan dari Eyangnya yang dipadukan dengan langkah-langkah "Wuru Shakti".

Kini tumit kaki kanan ditegakkan kembali dengan kaki kiri sedikit terangkat. Pedang pusakanya ditangan kanannya, bergelak cepat dalam gaya tusukkan dan dirangkaikan dengan sabetan dan tebangan sambil berlompatan bagaikan burung rajawali yang mengejar mangsanya.

Sesaat kemudian pedang pusaka ditangannya berputaran semakin cepat hingga cahaya sinarnya yang putih berkilauan semu biru menjadi lingkaran2 bagaikan payung baja, menutup seluruh tubuhnya. Itu adalah jurus ilmu pedang Cahaya Tangkubanperahu yang dijuluki dengan "perisai baja menutup serangan lawan". Angin sambaran dari pedang pusakanya ber-desing2 hingga menggetarkan pakaian para tamtama dan penonton lain disekelilingnya.

Sungguh2 suatu pameran ilmu pedang yang mengagumkan. Kagum karena setiap gerakannya mengandung unsur2 serangan balasan yang sangat berbahaya. Lagi pula gayanya walaupun tidak sedap dipandang akan tetapi nampak jelas kokoh kuat dan perkasa.

Sedang ia merobah jurus perisai bajanya menjadi gerakan jurus tusukan maut, ialah meloncat tinggi dan jatuh menukik kebawah sambil menjerang dengan pedangnya dalam gaya tusukan tiba2. — Awas serangan! — Dan bersamaan dengan suara seruan itu, dua buah benda putih secara beruntun meluncur kearahnya bagaikan lepasnya anak panah dari samping kanan.

Sesaat para hadlirin seakan-akan berhenti detak jantungnya, demi melihat meluncurnya dua buah benda putih yang mengarah pada Yoga Kumala dimana Yoga Kumala tengah terapung diudara dengan kepala dibawah.

Akan tetapi tiba2 …… ujung pedang pusakanya ditotolkan ketanah, dengan ayunan

tubuhnya melambung keatas kembali, sambil menyabetkan pedang pusakanya kearah dua jeruk nipis yang secara beruntun meluncur di-bawahnya. Tak ayal lagi dua jeruk nipis berwarna putih itu masing2 menjadi dua potong dan jatuh bertebar disamping kanan dan kirinya, sementara ia telah kembali berdiri ditanah dengan pedang pusakanya menjilang didadanya.

Dan berturut2 empat buah jeruk nipis yang disaput dengpn kapur tebal lainnya, dapat ditebasnya menjadi potongan-potongan belahan, tanpa ada yang menyentuh bajunya.

Semua yang menyaksikan bertepuk tangan sambil berseru riuh, mengagumi permainan pedang Yoga Kumala. Akan tetapi belum juga tepuk sorak sorai itu berhenti, tiba2 dua bilah pisau kecil yang lazim disebut taji, berkelebat pesat bagaikan kilat menyambar kearah dada dan kepalanya. Dari luncurnya dua buah taji yang berkilauan kearahnya, dapat diduga bahwa selain pisau2 itu amat tajam juga pelemparnya., tentu orang shakti pula.

Namun Yoga Kumala adalah cucu petapa shakti Ajengan Cahayabuana dari lereng Gunung Tangkubanperahu yang namanya telah berkumandang harum disegenap penjuru.

Dengan tangkasnya ia menggeser kaki kirinya kesamping dan meloncat surut kebelakang selangkah. Pedang pusakanya ditangan kanannya berkelebat, memapaki da-tangaya dua buah pisau kecil dengan punggung pedang pusakannya …. dan sesaat kemudian, sedang semua penonton diam terpaku penuh rasa kecemasan, dua buah taji yang amat tajam itu ternyata telah tertancap menjadi satu disebuah batang pohon sawo setinggi kira2 dua orang berdiri, yang berada dibelakang para tamtama yang sedang menonton, dalam jarak kira2 50 langkah.

Kini tepuk tangan dan sorak sorai makin bergemuruh memekakkan telinga para penonton yang sudah tidak menghiraukan lagi akan suasana, hanya untuk melampiaskan rasa kagum dan girangnya maka mereka bersorak sorai yang tak terkendalikan. Semua kagum setelah menyaksikan pameran ilmu pedang yang sangat mentakjubkan. Ternyata pelempar tadi adalah Gusti Senopati Muda Manggala Pengawal Raja Indra Sambada yang berkenan sendiri untuk menguji kesaktian adik angkatnya Yoga Kumala.

Pertandingan penyisihan segera ditutup oleh Gusti Senopati Muda Indra Sambada. Dan atas keputusan Gusti Senopati Manggala Yudha Adityawardhana, Yoga Kumala dinyatakan sebagai pemenang pertama sedangkan Kobar menduduki tempat kedua, dan Sontani dianggap orang shakti yang ketiga.

Malam harinya Sang Senopati Manggala Yudha berkenan mengadakan pesta sederhana guna menjamu para perwira2 tamtama baru, yang juga dihadliri oleh segenap para priyagung Kerajaan serta para undangan orang2 shakti lainnya, dengan dimeriahkan juga oleh pertunjukan tari2an.

Pada malam itu Yoga Kumala telah mengenakan pakaian tamtama kebesarannya sebagai Bupati Tamtama. Pakaian seragam kain sutra dengan dasar warna hijau berseretkan kuning. Seutas tali pita kuning keemasan melingkar dikepalanya, dengan ramhutnya yang hitam pekat berombak terurai lepas diatas pundaknya.

Pada masing-masing kedua ujung leher bajunya yang berdiri tegak berseretkan kuning emas itu, nampak jelas sulaman gambar sepasang kembang tanjung dari benang emas pula sebagai tanda pangkat kebesarannya, seorang Bupati Tamtama Kerajaan.

Disebelahnya, duduk seorang perwira tamtama yang berusia kira-kira 25 tahun dengan mengenakan pakaian seragam kebesarannya yang serupa pula dengan Yoga Kumala. Hanya tanda gambar sulaman kembang unjungnya sedikit berbeda. Jika dikedua leher baju Yoga Kumala nampak jelas adanya sepasang kembang tanjung yang kuning keemasan, maka pada leher baju perwira tamtama yang duduk disebelahnya hanya terdapat sekuntum bunga tanjung saja.

Ia adalah Bupati Anom tamtama Kerajaan yang bernama Kobar. Dibelakang kedua perwira tamtama baru yang gagah-gagah dan tampan itu duduk berderet-deret para perwira-perwira taMtama bawahan yang baru dalam pakaian kebesarannya yang berseretkan putih perak, dengan tanda pangkat berbentuk kembang tanjung pula tersulam dari benang perak dari yang gemerlapan menurut pangkat mereka masing-masing.

Disebelah ujang kiri Mantri Panewu tamtama Sontani, kemudian Mantri Panewu Anom ntamtama Braja Sumedang. Dan berturut-turut duduk disisinya Lurah penatus tamtama Nyoman Ragil, Lurah penatus tamtama Berhala, Lurah penatus tamtama Jaka Gumarang dan terachir adalah Lurah penatus tamtama Jala Mantra.

Wajah mereka kelihatan berseri - seri penuh rasa bangga, akan anugerah pangkat mereka masing masing, yang kini telah disandangnya. Hanya Kobar yang cahaya wajahnya nampak muram, mencerminkan perasaan tidak puas akan anugerah pangkat yang diterimanya.

Ya….. tidak puas karena ia tidak dapat berhasil menduduki tempat pertama, dan tidak puas akan keputusan perubahan pada acara babak penyisihan yang tiba-tiba itu hingga ia harus mengalami kegagalan. Menurut perkiraannya sendiri, ia tentu akan dapat berhasil menyisihkan Yoga Kumala asalkan saja, acara babak penyisihan terakhir dilangsungkan secara pertandingan tata kelahi bersenjata.

— Bukankah ia memiliki tubuh yang lebih kuat dan tinggi besar apa bila dibandng Yoga Kumala? Dan bukankah ia sebagai tamtama telah memiliki pengalaman yang lebih luas lagi? Suatu waktu tentu akan kubuktikan, bahwa Yoga Kumala berada dibawah tingkatanku — pikirnya.

Suasana meriah pada pesta matam itu tidak membuat ia gembira. Senyum dan tawanya yang dibuat - buatnya dan dipaksakan serasa hampa. Ingin ia cepat-cepat mendapat kesempatan untuk menguji sendiri akan kesaktian Yoga Kumala yang kini berpangkat setingkat lebih tinggi dari padanya. Duduk berderet2 dikursi2 terdepan adalah para Manggala dan segenap priyagung Kerajaan dan para undangan kehormatan orang2 sakti yang kenamaan. Sedangkan dibelakang kanan kirinya duduk para perwira tamtama lainnya. Diseberang tempat pertunjukkan, dengan menghadapkan pada para priyagung, duduk penuh sesak berderet2 para putri2, isteri para Manggala dan segenap priyagung Kerajaan, serta isteri2 para perwira tamtama dalam dan tamu2 putri undangan lainnya- Tertimpa oleh pancaran cahaya lampu yang terang benderang, hiasan para putri yang bertakhtakan mata berlian serta batu2 kumala lainnya, menjadi gemerlapan, laksana kilaunya bintang2 yang bertaburan diangkasa.

Sambil menikmati jamuan makanan yang dihidangkan bagaikan mengalir tak ada putusnya, kini mereka semua tengah menyaksikan pula pertunjukan tari serimpi yang diiringi dengan suara bertalunya gamelan.

Para perwira tamtama yang masih bujangan tidak berkedip melihat parasnya para penari serimpi itu. Mereka tersenyum-senyum sendiri sambil sebentar bentar membuang pandang penuh birahi kearah para penari srimpi yang cantik2 itu, dengan harapan sekali kali dapat berpadu pandang. Dan kiranya bukan hanya yang masih bujangan saja, bahkan yang telah beikeluargapun tak mau kalah lagaknya. Masing2 berebut dengan tingkah Iakunya sendiri2 ingin menjadi sasaran pandangan dari para penari. Sedangkan diantara para priyagungpun ada pula yang menelan bulat2 dengan tatapan pandangannya pada salah seorang putri penari yang cantik jelita tanpa menghiraukan lirikan istrinya yang agak jauh ber-hadap2an.

Ternyata satu diantara para penari srimpi itu adalah Gusti Ayu Sampur Sekar sendiri, putra putri dari Senopati Muda Manggala Narapraja Gusti Pangeran Pekik, masih gadis remaja. Maka tidak heranlah apabila banyak yang mengagumi keelokan parasnya.

Dan Penewu Anom tamtama Braja Semandang termasuk pula sehagai satu diantara para pemujanya..— Cara bagaimana aku dapat mempersuntingnya? — katanya dalam hati.

Diatas lantai beralaskan permadani, lima srimpi ayu mempersembahkan tariannya yang lemah gemulai mempersonakan seiring dengan irama suara gamelan.

Tari serimpi berakhir, dan disusul kemudian dengan pertunjukan tari topeng yang tidak kalah bagusnya. Penari topeng itu tidak lain adalah Indah Kumala Wardhani adanya.

Semua kagum akan keindahan wajahnya dan kelincahan gerakannya.

Jika tadi Kobar hanya muram dengan penuh rasa kecewa, tiba2 kini hatinya menjadi tergerak pula demi melihat keindahan tari topeng yang mengesankan itu. Hatinya berdebar dan nafsu birahinya melonjak setelah melihat keayuan wajah Indah Kumala Wardhani, sewaktu topeng dibukanya. Matanya memandang liar tak berkedip.

— SIAPAKAH GERANGAN GADIS AYU YANG MEMIKAT HATIKU ITU? — tanyanya dalam hati. - ----

- Ach besok pagi tentu kucari dan akan aku pinang sebagai istriku. Tak mungkin ia akan menolak seorang perwira tamtama segagah aku ini — pikirnya menghibur diri sendiri.

Dan kiranya Sontanipun diam2 menjadi terpikat pula oleh penari topeng yang cantik itu. Betapa bahagianya, apabila kelak ia dapat memperistrikannya -- pikirnya.

Sedikitpun ia tidak mengira bahwa penari topeng itu sebenarnya adalah adik kandung dari Yoga Kumala.

Pesta keramaian di Istana Senopaten itu beriangsung hingga larut malam dengan pertunjukan tari2an yang amat mempersonakan para hadlirin semua.

Pesta ditutup, dan masing2 pulang dengan membawa kesan serta khayalan sendiri-sendiri.-

* * *

B A G I A N II

DITEMPAT KEDIAMAN yang baru dan serba lengkap dengan perabotan yang mewah2 itu, Yoga Kumala sedang duduk termenung seorang diri sambil bertopang dagu, menghadapi hidangan makan pagi yang masih mengepul hangat. Memang gedung kesatrian yang serba lengkap itu dibangun khusus untuk para perwira tamtama yang masih bujangan.

Angan-angannya jauh merana ……., dan hidangan makan yang baru saja disajikan oleh para inang itu belum juga disentuhnya!

Wajah putri remaja dari pulau Dewata selalu membayang kembali dalam angan angannya.

Gedung ksatrian dimana ia kini tinggal itu, merupakan bangunan gedung besar yang panjang membujur serta berpetak petak dalam corak dan bentuk yang sama. Tiap tiap petak memiliki ruangan-ruangan tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi, taman dan ruang, berlatih tersendiri.

Pagi itu, udara cerah, dan langit biru nampak membentang bersih memantulkan cahaya matahari yang terang benderang. Burung-burung piaraan berkicau disangkar masing-masing dengan riangnya. Namun riangnya pagi yang cemerlang itu, serasa hampa belaka bagi Yoga Kumala. Entah karena semalam matanya tak terpincingkan, ataupun karena terbangun oleh suatu impian yang mengecewakan mska kini ia melamun sambil selalu menguap, hingga suara ketukan pintu yang berulang kali tidak didengarnya.

Tiba-tiba suara ketukan pintu depan, terdengar lebih keras lagi, dan pelan-pelan daun pintupun bergerit terbuka. tersentak dan sadar dari lamunannya, setelah adiknya Indah Kumala Wardhani nampak berdiri ditengah-tengah pintu depan yang terbuka sambil berteriak. — Akang Yoga. Aku yang datang!

— Ach  aku kira siapa! — jawabnya lemah.

Akan tetapi tanpa menghiraukan sekitarnya Indah Kuma-la Wardhani langsung mendekati dan duduk disamping Yoga Kumala, sambil berkata — Habis, kau kira siapa?, bukankah aku ini adikmu Indah?

— tanyanya menggoda sambil bersenyum girang.

— Sudahlah!. Mari kita makan saja bersama! — Yoga Kumala memotong. Ia tahu, bahwa kedatangannya Indah Ku mala Wardhani tak lain hanya alasan menggodanya dan mengacaukan suasana ketenangannya.

— Apakah akang mengira. bahwa kedatanganku kemari ini hanya Intuk mencari makanan saja?

— sahutnya cepat dengan wajah yang berobah asam.

— Aku tidak beranggapan demikian, adikku Indah yang maniiiis ….. Temanilah aku makan, supaya akangmu ini dapat makan lebih banyak, dan menjadi sehat, Neng ! —

Jawaban Yoga Kumala yang lemah lembut meraju itu. kiranya bukan karena perasaan kasih sayang, akan tetapi lebih dekat demi melampiaskan kedongkolan hatinya.

Mendengar Rajuan Kakaknya yang menjemukan itu, Indah Kumala Wardhani semakin cemberut dan menyahut sambil membuang muka serta mencebirkan bibirnya. — Kau kira, aku ini siapa? Pakai manis …. manis …. segala! Aku bukan Yayuk Ratnasari! —

— Indah! Jangan lancang, kau! — Dengan wajah yang memerah Yoga Kumala menyahut tak sabar. Ia tahu, bahwa Ratnasari adalah adik kandung Panewu Tamtama Sontani, yang kebetulan kini Panewu tamtama Sontani tinggal dalam gedung petak yang berada disebelahnya. Betapa malunya, apabila hal ini terdengar oleh Sontani, sedangkan ia sendiri sebenarnya memang tak menaruh hati pada Ratnasari. Akan tetapi baru saja ia menutup mulutnya, tiba2 suara ketukan pintu terdengar nyaring dan bersamaan dengan ketukan pintu itu, Ratnasari bersama Sontani telah berdiri diambang sambil membungkukan badannya, seraya berkata. — Maafkan, Gusti Yoga! Kami berdua mengganggu percakapan Gustiku!—

Dengan perasaan malu tersipu-sipu, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani tersentak bangkit, menyambut kedatangan kedua tamunya.

— Ach, . . . . Sontani dan adi Ratnasari! Silahkan, silahkan masuk saja Kamipun sedang

kesepian, tanpa ada, sesuatu yang menentu! — Yoga Kumala berkata sambil tersenyum menyembunjyikan perasaan malunya. Namun wajahnya masih nampak jelas memerah. Kini mereka berempat telah duduk sambil asjik ber-cakap2 dengan diselingi gelak tawa riang diruang tamu yang luas dan mewah itu.

Ternyata Sontani memiliki pula sifat2 keramahan dan pandai bergaul seperti Ratnasari adiknya. Dengan demikian maka percakapan menjadi lancar dan sebentar saja hubungan masing2. menjadi saling lebih akrab. Penghormatan dalam percakapan yang ber-lebih2an dari Sontani, sebagaimana layaknya seorang bawahan yang menghadap pada atasannya, selalu dielakkan oleh Yoga Kumala dan kecanggunganpun menjadi lenyap dalam percakapan bebas itu.

Dari pertemuan yang pertama antara Indah Kumala Wardhani dan Sontani, telah dapat diketahui oleh Yoga Kumala, bahwa cinta kasih diantara kedua remaja itu mulai terjalin.

Dalam hati iapun turut gembira, dan semoga saja kelak menjadi pasangan yang bahagia.

Demikian pikir Yoga Kumala. Namun dibalik kegembiraannya itu, kadang2 angan-angannya merana jauh kembali pada bayang2 putri Pulau Dewata Ktut Chandra yang selalu melintas dalam kalbunya. Cubitan Indah Kumala Wardhani pada pahanya membuat ia tersentak sadar lagi, dan percakapan berlangsung dalam suasana riang kembali.

—Sontani! Jika kau tidak berkeberatan, kuharap kau dapat menemani aku dalam perjalanan kehutan Blora pada esok lusa. Tentu saja aku akan berpamitan dahulu pada Gusti Senopati. Tentunya kau bersedia bukan? — Tanya Yoga Kumula sewaktu Sontani dan Ramasari berpamit hendak pulang.

— Dengan senang hati, Gusti!. Akan tetapi sudilah Gustiku Yoga Kumala memberitahukan hal ini pada Gusti Kobar, demi untuk mencegah salah faham!!

— Ach, tak usah kuatir!!. Itu adalah tanggurganku!!—

— Jika aku dan Yayuk Ratnasari diperkenankan ikut serta perjalanan jauh tentu akan menyenangkan, akang Yoga!!—

lndah Kumala Wardhani memotong pembicaraan mereka.

— Yaa . . . tapi apakah akan diijinkan oleh Kangmas Indra? —

— Itu urusanku! Aku sendiri nanti yang akan menghadap padanya. Tentu kangmas Indra akan mengijinkan! Pokoknya, asalkan akang Yoga memperbolehkan kami berdua ikut serta. Bagaimana? —

— Sabarlah dulu! Akan kupikir sejenak bagaimana sebaiknya, manis! — jawab Yoga Kumala lemah lembut.

— Apalagi yang harus dipikirkan akang? Kan tinggal jawab pendek saja. boleh atau tidak!

Bukankah demikian Yayuk Ratnasari?! —

— Ach, ..aku terserah saja. Turut pergi ..ya senang. Tidakpun tidak mengapa! — Ratnasari turut

menyahut lemah sambil bersenyum.

— Baik? …. baik. Tetapi nanti malam, aku sendiri yang akan menghadap pada Kangmas Indra, untuk memintakan ijin kalian! —

Dengan diantarkan oleh Yoga Kumala dan Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari siang itu kembali kegedung Senopaten kediaman Gusti Adityawardhana, dimana mereka tinggal bersama- sama teman sebajanya yang menjadi tamtama narasandi Kerajaan.

Sayang bahwa siang itu Ktut Chandra tidak nampak keluar dari kamar. Harapan Yoga Kumala untuk dapat melihat wajahnya pada hari itu terpaksa tertunda, dan hatinyapun penuh rasa kecewa. Akan tetapi perasaan demikian, disembunyikannya rapat2.

Tentu akan lebih kacau dan heboh, apabila adikku mengetahui rahasia ini — pikir Yoga Kumala.

Dua pasang remaja berkuda, masing - masing saling memacu kudanya melalui jalan jalan pedesan pedesan yang berliku liku dengan pesatnya. Seakan akan mereka saling berebut untuk berada didepan sendiri. Dan suatu gelak tawa yang nyaring menyertai derap langkah kuda mereka yang tengah berlari dengan kencangnya. Tak lama kemudian larinya kuda diperlambat, dan kini kuda mereka berjalan berendeng, dua-dua.

Sepasang didepan dan tak jauh antaranya sepasang lagi mengikuti dibelakangnya.

— Lihatlah akang Yoga! Betapa indahnya pemandangan alam didepan kita itu. Sawah-sawah membentang luas dengan tanaman padinya yang menguning . . . . dan aneh benar semuanya kini

menjadi semu merah lembayung, bagaikan disepuh emas!

— Yah . . memang demikian pemandangan alam diwaktu menjelang senja — jawab Yoga Kumala singkat, sambil memandang tajam kedepan tanpa berpaling pada Indah Kumala Wardhani yang tengah berkuda disampingnya.

Sepasang alisnya dikerinyitkan hingga dua deretan kerut dikeningnya nampak jelas. Mulutnya kembali terkatub, dan rambutnya yang kusut terkena hembusan angin dibiarkan terurai.

Seakan-akan ada sesuatu yang sedang menjadi perhatiannya. Dikala itu, hari telah menjelang senja. MIatahari telah berada dibarat, pada garis cakrawala, dengan bentuknya yang bulat ke-merah2- an. Sinar cahayanya yang merah lembajung memancar menyelimuti angkasa dan memantul kembali kebumi, hingga pemandangan alam diseluruh menjadi semu merah keemasan.

Atas saran Senopati Muda Indra Sambada, mereka berempat hanya mengenakan pakaian ringkas sederhana, tanpa sesuatu tanda kebesaran pangkat masing2. — Biarlah mendapat tambahan pengalaman — pesan Indra Sambada, sewaktu mereka meninggalkan Istana Senopaten. — Dan cepatlah kembali, setelah urusanmu selesai — demikian kata2 pesannya.

Akan tetapi walaupun mereka hanya berpakaian sederhana, dari pedang pusaka yang tersandang dipinggang Yoga Kumala dan pedang tamtama yang tergantung di pinggang Sontani, mudah dapat diterka bahwa dua pasang remaja yang sedang menempuh perjalanan dengan berkuda itu, tentu bukan rakyat biasa. Demikian pula kuda ke-empat2-nya dengan pelananya, jelas menunjukkan bahwa bukanlah kuda piaraan rakyat jelata . Sontani dan Ratnasari adiknya, yang sejak tadi selalu bergurau sambil brrkuda, kini kedua2nya tanpa disadari menjadi terdiam dengan sendirinya. Mereka berkuda berjajar mengikuti dibelakang Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani.

— Sontanil. Sebeclum gelap malam kita harus sudah sampai didesa Kasiman!, — teriak Yoga Kumala tiba2, sambil memalingkan kepalanya kebelakang.

Dan derap langkah kuda2 itupun terdengar lebih cepat lagi. Mereka serentak memacu kudanya masing2.

Sawah sawah dan tegalan telah dilaluinya, dan kini mereka hampir memasuki desa Kasiman. Akan tetapi sebelum mereka tiba dipersimpangan jalan desa yang berada ditengah lapang dan tandus itu, tiba2 Yoga Kumala mengekang tali lis kudanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya di- angkat tinggi2, sebagai isyarat pada Sontani dan Ratnasari agar merekapun memberhentikan langkah kudanya masing2.

— Sontani! Empat orang yang berdiri ditengah jalan dekat ujung desa didepan kita itu, kiraku sengaja menghadang kita.

Maka kuharap kalian waspada! — Kata Yoga Kumala, setelah kuda Soniani mengejar mendekat

— Tetapi apa kehendak mereka Gusti??! —

— Aku sendiripun kurang mengerti. Sebaiknya nanti setelah dekat ditempat mereka, kita semua turun dan kau berjalan mendahului, untuk bertanya pada mereka. Dan jangan memanggil dengan sebutan Gusti lagi dalam perjalanan. Biarpun, mungkin aku lebih muda, akan tetapi sebaiknya kau memanggilku dengan sebutan kamas saja —

— Baik, kangmas !! Jawab Sontani singkat.

— Dan kau Indah!! Lindungi yayukmu Ratnasari jika aku nanti terpaksa turut turun tangan ! —

— Selama angkin merah dan keris pusakaku berada ditanganku, akang Yoga tak usah kuatir. Sebaiknya akang Yoga saja yang melindungi yayuk Ratnasari sambil menonton cara bagaimana aku akan menghajar mereka! — Sambut Indah Kumala Wardhani dengan ketusnya.

Sementara Ratnasari merapatkan kudanya dengan Indah Kumala Wardhani, sambil memandang kedepan.

la masih saja tak turut bicara.

— Sudahlah disini bukan lagi tempatnya untuk berkelakar. Turutlah apa kataku! — Jawab Yiga Kumala singkat dengan wajah yang bersungut sungut.

Makin dekat makin nampak jelas, bahwa keempat orang yang sengaja di tengah2 jalan itu, dua diantaranya bersenjatakan pedang dan yang dua lainnya bersenjatakan tombak pendek. Keempat orang itu kesemuanya mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala warna hitam pula menutupi rambutnya.

Seorang diantaranya memakai topeng yang nampak mengerikan, sedangkan seorang lagi dari batas bawah matanya, mukanya tertutup kain hitam pula. Pedang terhunus telah berada ditangan kanan masing2, dari kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu.

Selang kira2 lima puluh langkah dengan keempat orang yang menghadang itu, Yoga Kumala, Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari serentak turun dari kudanya masing2 dan menambatkannya disebuah pohon dipinggir jabn, sementara Sontani jalan mendahului untuk menghampiri keempat orang itu dengan penuh kewaspadaan yang tinggi.

— Hai saudara !!. Apa kehendak kalian, berdiri menutup jalan? Tegur Sontani dengan lantangnya dari jarak kira2 sepuluh langkah. Haaaa . . .  haahaaaa haaaa !! Melintasi dimana kami

berdiri ini, harus meninggalkan kuda dan bebannya ! !. Sahut seorang yang bertopeng dengan diiringi ketawa yang ber gelak2.

Apa ??? !!. Siapakah kalian perampok pengecut yang tak mau memperlihatkan mukamu

itu ?? !'

Berkata demikian Sontani berjalan mendekat, sambil memegang tangkai pedangnya, siap

menghadapi segala ke mungkinan.

— Rampok atau bukan, terserah kepadamu. Tetapi perintah saya haruslah ditaati oleh siapapun yang melalui jalan ini !! — Bangsat, lihat pedang !!. Bentak Sontani sambil langsung menerjang maju dengan pedang tamtamanya

Kiranya ia tak dapat menahan lagi akan kemarahannya yang meluap2 itu. Akan tetapi orang yang bertopeng tinggi besar itu dengan tangkasnya melompat surut kebelakang satu langkah menghindari serangan bacokan Sontani sambil mengeluarkan dan memperdengarkan tawanya. Tiga orang temannya serentak maju dan dengan senjata mereka masing2 memapaki berkelebatnya pedang Sontani, serta melancarkan serangan balasan yang ber-tubi2. Dengan tangkas Sontani berlompatan kesamping serta menggerakkan pedang tamtamanya, memapaki tiga orang lawannya. Melihat Sontani sibuk menghadapi serangan2 yang ber-tubi2 itu, Yoga Kumala dengan pedang pusaka ditangan kanan, melesat memasuki kancah pertempuran dengan jurus2-nya Cahaya Tangkubanperahu yang cepat dapat mendesak tiga orang lawan Sontani.

Sementara orang tinggi besar bertopeng telah menyambut pula serangan2 yang dilancarkan oleh Yoga Kumala. Sesungguhnya Yoga Kumala tidak usah kuatir akan dirinya Sontani yang bertempur melawan tiga orang itu, akan tetapi demi melihat gerakan lompatan dan suara tawanya orang yang bertopeng yang tinggi besar itu, iapun agak cemas juga. Ia tahu, bahwa orang bertopeng itu tentu memiliki kesaktian yang tak dapat dipandang ringan. Maka sengaja ia melibatkan diri dalam pertempuran agar cepat dapat mengakhiri.

Segala dugaannya itu ternyata memang benar adanya. Kini pertempuran berlangsung seru dalam dua kalangan, Yoga Kumala melawan orang yang tinggi besar bertopeng dan bersenjatakan pedang, sedangkan Sontani melawan seorang bersenjatakan pedang dan dua orang Iainnya masing2 bersenjatakan tombak pendek.

Ternyata orang tinggi besar itu memiliki ilmu pedang yang mentakjubkan serta sangat berbahaya. Pedang pusakanya yang bersinar semburat biru hitam berkelebatan mengarah pada bagian tubuh Yoga Kumala yang berbahaya serta amat tangkas dan lincah gerakkannya. Dengan langkah wurushaktinya Yoga Kumala menghindari serangan lawan yang bertubi2 dengan ter-huyung2 kebelakang ataupun kedepan untuk kemudian melompat tinggi kesamping kanan dan kiri sambil melancarkan serangan balasan dengan totokan jari2 tangannya yang telah mengembang tegang, sedangkan pedang pusakanya ditangan kanannya bergerak cepat menangkis senjata lawan ataupun mengikuti gerakan berkelebatnya pedang lawannya itu. Sepintas lalu pertempuran dua orang shakti itu kelihatan seimbang. karena masing2 memiliki kepandaian yang mentakjubkan.

Sontani yang menghadapi tiga orang lawannyapun ternyata tidak terdesak. Pedang tamtamanya ditangan bergerak cepat bagaikan kupu2 yang tengah menari2, hingga menyilaukan pandangan lawannya.

Ketiga orang pengeroyoknya tak mampu mencrobos ciptaan perisai pedang tamtamanya.

Namun belum juga Sontani dapat merobohkan salah seorang lawannya.

Sedangkan Sontani meloncat kesamping kanan menghindari serangan serentak dari tiga orang lawan pengeroyoknya, tiba2 sinar merah berkelebat bagaikan kilat. Dan salah seorang pengeroyoknya terpelanting ditanah, sambil berseru mengaduh dengan tombak terlepas dari genggamannya dan kemudian bergulingan menjauhi tempat pertempuran.

Tanpa menghiraukan pesan kakaknya, Indah Kumala Wardhani telah melompat maju menerjang seorang lawan yang telah mengeroyok Sontani, dengan sabetan kain angkinnya. Ia tak sampai hati melihat Sontani seorang diri dikeroyok oleh tiga orang - lawannya.

Rasa kasih sayang kepada Sontani, memaksa ia mengabaikan pesan kakaknya. Hanya Ratnasarilah yang masih taat mematuhi pesan Yoga Kumala, karena takut akan kemarahan kakaknya. Ia hanya berdiri terpaku sambil mengikuti pertempuran yang tengah berlangsung sengit dengan pandang matanya. Sesungguhnya walaupun tak setingkat dengan Indah Kumala Wardhani, ia sebagai tamtama merasakan pula sedikit kepandaian berkat ajaran d Gusti Cakrawirja. Akan tetapi perasaan tak ingin mengecewakan Yoga Kumala dapat mengendalikan dirinya. Sesaat Sontani terperanjat melihat terpelantingnya salah seorang lawannya itu, akan tetapi setelah mengetahui bahwa kini Indah Kumala Wardhani yang membantunya, ia tersenyum sambil mengutarakan terima kasihnya. Sedikitpun tak menduga, bahwa Indah Kumala Wardhani yang selalu menjadi, idaman hatinya itu ternyata memiliki kepandaian bertempur yang demikian hebat dan aneh. Ia kini lebih bersemangat lagi dan bertempur secara berdampingan melawan dua orang yang makin lama makin nampak berada diatas angin. Kedua orang lawannya kian sibuk mengelakkan serangan dan terdesak mundur.

Pedang Sontani berkelebatan dalam gerak sabetan dan tebangan serta bacokan mengarah lawan. Sedang angkin menyambar2 dengan dahsatnya mendampingi berkelebatnya pedang, bagaikan sepasang naga yang berebut mengejar mangsanya, seorang bersenjatakan tombak pendek yang tak dapat sempat menghindar dari rangkaian serangan, terlibat samberan kain merah dan jatuh terjungkal, serta terbebas lehernya, hingga berlumuran darah dan mati seketika. Sedangkan seorang lagi yang berkedok kain dan bersenjatakan pedang meloncat surut kebelakang tiga langkah untuk kemudian lari meninggalkan gelanggang disusul oleh seorang lagi yang tadi bergulingan ditanah.

Bersamaan dengan kaburnya dua orang lawan, suara terkekeh-kekeh menyeramkan dari Yoga Kumala terdengar nyaring, dan orang tinggi besar yang bertopeng Jawannya, melompat tinggi serta melesat jauh melarikan diri dengan terluka dibahu kirinya.

Sontani dan Indah Kumala Wardhani yang hendak serentak mengejar lawan, segera dicegahnya oleh Yoga KumaIa.

— Tak guna kita mengejarnya. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan! — Serunya. Sebenarnya apabila dikehendaki, Yogapun dapat mengejar lawannya akan tetapi karena pertimbangan lain ia segera membatalkan niatnya.

Waktu itu hati telah mulai gelap remang2 dan mereka berempat kini berkuda berdampingan menuju desa Kasiman yang tak berapa jauh lagi letaknya. Esok harinya setelah semalam istirahat dikediaman Lurah desa Kasiman, mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke hutan Blora.

Dalam perjalanannya berknda itu, mereka tidak lagi banyak bercakap2. Yoga Kumala tampaknya tak demikian gembira seperti biasanya.

Perasaannya selalu diliputi ketegangan. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya.

Siapakah orang shakti yang 21  

Bersamaan dengan kaburnya dua orang lawan, suara ter- kekeh2 menyeramkan dari Yoga Kumala terdengar nyaring, dan orang tinggi besar yang bertopeng lawannya, melompat tinggi serta melesat jauh melarikan diri dengan terluka dibahu kirinya.

bertopeng dan menghadangnya kemarin sore ?. Dan apakah kehendaknya mereka sebenarnya?

Menurut perhitungannya, lawannya kemarin hanya terluka ringan saja, akan tetapi mengapa ia lalu cepat2 meninggalkan gelanggang?

Sedangkan jika pertempuran dilanjutkan terus, belum tenlu ia dapat merobohkan orang tinggi besar itu.

Pun terlukanya orang yang bertopeng itu bukan semata mata karena kalah tangkas. Hal itu menurut dugaannya, karena lawannya terpaksa mengarahkan perhatiannya pada temannya yang terdesak dan pada salah seorang temannya yang roboh.. Jadi jelas bukan dikarenakan kedangkalan ilmunya sendiri. Demikianlah pertanyaan2 yang selalu menyelimuti dirinya Yoga Kumala. Namun pertanyaan2 itu, tak dapat ia menjawabnya. Dan kiranya Sontanipun sedang berfi-kir demikian.

— Kakek guruuuu! — Seru Yoga Kumala memanggil, setelah mereka memasuki hutan dan menambatkan kuda2 mereka dipepohonan dipinggir hutan itu. Namun...tetap saja sunyi...tak ada jawaban.

Waktu itu hari masih siang dan belum lewat tengah hari Karena dalam hutan itu pohon2 liar bertumbuh lebat dan rindang, maka merekapun tak merasakan panas teriknya matahari. Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani berlari2 kecil, menikmati sejuknya udara sambil sibuk mencari bunga2 liar yang banyak menarik perhatiannya, hingga berulang kali Yoga Kumala dan Sontani harus memanggil2nya kembali.

Mereka kuatir, jika kedua adiknya kehilangan jejak dalam hutan belantara Blora itu.

— Kakek Guruuuuu! — Kembali suara Yoga Kumala menggema ditengah hutan...akan tetapi . masih saja sunyi seperti tadi, tanpa ada jawaban. Hanya suara burung2 berterbangan meninggalkan pepohonan dimana mereka sedang hinggap dengan riangnya itulah yang terdengar. Mungkin burung2 itu terperanjat oleh suara teriakan Yoga Kumala yang amat nyaring. Berulang kali pula Yoga Kumala memanggil-manggil kakek Dadung Ngawuk gurunya, akan tetap saja tak ada jawaban. — Aneh — pikirnya. Kemana kakek guruku pergi?

Bukankah nanti malam itu adalah bulan purnama yang pertama kali.

Sebagaimana pesannya waktu satu setengah tahun berselang ?. Sambil mengingat2 pesan gurunya sewaktu ia masih dengan Eyangnya Cahayabuana dipertapaan Tangkubanperahu pada waktu satu setengah yang lalu, ia berjalan pelan2 kearah gubug kakek Dadung Ngawuk yang berada ditepi sendang, dengan diikuti oleh Sontani, Indah Kumala Wardhani dan R,Itnasari. Tiba2 saja Yoga Kumala terhenti sejenak sambil mengamat2-i sebyah batang pohon yang telah tumbang dan lapuk. Tangannya bergerak dan meraba2 dengan kedua belah tangannya pada batang pohon yang lapuk dan melintang itu, sambil berjongkok. Mukanya menunduk dan per-lahan2 air matanya meleleh membasahi kedua

pipinya. Ia jatuh berlutut sambil merangkul batang pohon itu, dengan menangis terisak2. Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari berdiri terpaku dibelakang Yoga Kumala dengan diam membisu dan saling berpandangan. Sedikitpun mereka tak mengerti, mengapa tiba2 Yoga Kumala menangis ter-isak2 dengan tingkah laku yang aneh ? Mungkinkah, gurunya telah mati dan terkubur dibawah batang pohon yang lapuk itu ? Tetapi mengapa tak ada gundukkan tanah ataupun tanda lain sebagaimana lazimnya sebuah kuburan ? Dan bilamana benar gurunya terkubur disitu, cara bagaimana Yoga Kumala dapat mengetahui? Atau Yoga Kumala kini dengan tiba2 mendapat serangan sakit jiwa ? Untuk mendekat atau menghibur dan menanyakan langsung pada Yoga Kumala, mereka tidak berani. Jangankan Sontani ataupun Ratnasari sedangkan Indah Kumala Wardhani adik kandungnya sendiri kini diam membisu tak bergerak.

Tiba2 sebuah pohon jambu hutan yang berada dibelakang mereka bergetaran, hingga semuanya terperanjat sesaat dan serentak berpaling kearah dahan pohon jambu yang bergetar iru. Cepat Indah Kumala Wardhani melolos kain angkin meralinya, akan tetapi Yoga Kumala telah mendahuluinya, melompat didepan mereka dan langsung memanjat dengan tangkas kedahan pohon jambu itu bagaikan kera. Ia berlompatan dari dahan kedahan yang lair, mendekati seekor kera besar yang sedang duduk diatas sebatang dahan yang agak tinggi, sambil berseru girang : — Jamang !! Jamang !!. Aku yang datang

! — Dan seperti mengerti akan kata2 bahasanya, kera besar itu, kini melonjak2 girang, hingga dahan dimana ia berpijak bergetar lebih keras lagi.

Setelah dekat, kera itu dirangkulnya dan dibelainya serta kemudian dipondong turun, Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani, kini menjadi semakin heran melihat tingkah laku Yoga Kumala.

Semula mereka bertiga ragu2 diliputi rasa cemas, akan tetapi setelah menyaksikan sendiri betapa jinaknya kera besar itu dalam pondongannya, rasa cemasnya segera lenyap.

— Jamang !!. Mari kukenalkan dengan adik2-ku semua!! - Seru Yoga Kumala sambil memondong kera itu dan menghampiri Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani.

— Indah!!. Sontani ?! Ratnasari !!. Serunya kemudian sambil mengangsurkan si Jamang yang berada dipondongannya.

— Ini Jamang temanku berlatih dahulu!!.

Dengan serentak mereka bertiga mendekat dan membelai punggung si Jamang yang diam jinak itu, akan tetapi masih juga mereka bertiga tak mengerti maksud pembicaraan Yoga Kumala. Dan kera, itupun hanya diam memandang dengan matanya yang kecil cekung pada tiga orang yang belum dikenalnya.

— Teman berlatihmu !?. Tanya Indah Kumala Wardhani tak sabar.

— Ya, memang ia adalah teman berlatihku, sewaktu aku tinggal di hutan ini.— Jawab Yoga Kumala.

— Aiiiii !!. Aneh benar !!, potong Indah Kumala sambil ketawa geli.

— Kangmas Yoga, apakah kera itu piaraan mendiang gurumu ?. Sontani mulai turut bicara.

— Benar dugaanmu, Sontani !!. Tetapi guruku belum wafat. Hanya saja sedang pergi keluar hutan!!. Jawab Yoga menjelaskan.

— Maafkan kangmas, akan kekeliruanku. Tetapi mengapa tadi kangmas berlutut dipohon yang lapuk itu dan menangis terisak2 ? Apakah kangmas tak berkeberatan memberikan penjelasan pada kami

??

— Och, itukah yang kalian maksudkan. Baiklah akan aku jelaskan tetapi jangan bertanya lagi lebih jauh. Yoga. Kumala berkata sambil menghela nafas paujang. la diam sesaat dan melanjutkan bicaranya. — Pohon yang telah tumbang dan kini lapuk itu, adalah pohon kemboja merah yang dahulu telah berjasa besar padaku . . . . Yaaaahhh bahkan lebih dari itu. Dapat dikatakan . . . . pohon itulah . .

. . . guruku yang per-tama2 disamping kakek guru Dadung Ngawuk yang kini tengah kita cari . . . . . . —

Sampai Yoga Kumala berhenti bicara. Seakan-akan ada yang sedang dikenangnya kembali, Dan kemudian ia menjingkat bicaranya sendiri sambil menggersah : — Ach, . . . . sudahlah tak ada lagi

yang harus kuceritakan mengenai pohon itu.

Dan semua yang mendengarnya, walaupun merasa tak puas, akan tetapi membungkam tak bertanya lebih lanjut.

Si Jamang yang tadi hanya diam ber-kedip2 turut mendengarkan, tiba2 ia meronta dan turun dari pundak Yoga Kumala serta mendahului berjalan sambil sebentar2 berpaling kearah Yoga, Kumala dan menyeringai memperlihatkan deretan gigi2nya yang serempak putih keciI2 itu. Kiranya Yoga Kumala telah mengerti akan maksud ajakannya. Ia mengikuti si Jamang berserta Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari. Selang kira2 lima belas langkah si Jamang berhenti dan diam berjongkok sambil menggaruk2 ketanah ditepi sendang dengan mengeluarkan suara cecowetan. Ce-pat Yoga Kumala menghampirinya, dan tahulah ia sekarang, bahwa ditempat itu kitab usadha sastra yang dahulu pernah dipesan oleh Dadung Ngawuk agar ia mengambilnya, disimpannya. Dengan pedang pusakanya tanah itu digali dan apa yang dikatakan gurunya pada satu setengah tahun berselang, ternyata benar adanya.

Dengan hati2 ia mengeluarkan sebuah peti kayu jati sebesar dua jengkal pesegi dari lobang yang digalinya itu. Peti yang masih terkunci rapat itu setelah di bersihkan, segefa diberikan pada Sontani agar dibawanya baik2.

— Peti itu, apa isinya, Akang Yoga? Dan mengapa tak dibuka saja dahulu? Apakah saya tak boleh melihatnya? — lndah Kumala Wardhani mendesak.

— Ach isinya hanya kitab. Nanti saja setelah kita bertemu dengan kakek guruku, kitab itu

kita lihat bersama nanti. — Jawabnya singkat sambil bersenyum.

— Tetapi kitab apakah itu?, — desak Indah Ku-mala lagi.

— Sabarlah dulu, manis Aku sendiripun belum tahu isinya. Bagaimana aku harus menjelaskan!

— la menjawab dengan kata2 lemah lembut, agar adiknya menjadi lega hatinya. Dan kiranya rayuannya kali ini berhasil menyabarkan adiknya.

Kini si Jamang berjalan mendahului lagi dengan tingkah laku seperti tadi, dan Yoga Kumala, Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari mengikuti dibelakangnya. Namun berbeda dengan tadi, si Jamang kali ini berjalan lebih cepat sambil berlompatan menuju kearah utara menuju gunung Butak yang kian lama makin menanjak terjal lewat lereng2nya.

Dan jalan yang ditempuhnya itu masih saja merupakan hutan pegunungan yang tak nampak adanya perdesan.

— Jamang. Kemana kita akan pergi ? — Seru Yoga Kumala sambil berjalan mengikuti kera itu. Si Jamang berhenti sejenak dan berpaling serta memandang Yoga sebentar, kemudian berlari2 lagi.

Seakan-akan ia bilang — Ikutilah aku! —

Dan mereka semua berjalan terus, tanpa berhenti. Hutan itu kian lama makin menipis, karena tanah pegunungan yang semakin meninggi itu ternyata makin tandus. Hanya ilalang dan lantara saja yang menggerombol lebat berserakkan, dengan beberapa pepohonan besar dan rindang yang tumbuh liar dan jarang2 antaranya, seperti pohon munggur, asam ataupun jati. Batu2 besarpun berserakan dimana-mana. Gunung Butak itu sebenarnya tak seberapa tingginya, dan hanya merupakan gundukkan yang besar belaka, tak berkawah. Bagian atasnya amat tandus dan gundul tak ada pepohonan. Hanya dilereng bawah saja, terutama dilembah sekitar tebing2 kali Kening itu tanahnya subur. Kali Kening itu memang bersumber dari gunung Butak dan mengalir keselatan untuk kemudian bertemu dan menjadi satu dengan kali Bengawan.

Akan tetapi karena tak ada manusia yang menghuni di gunung Butak itu, maka tanah2 yang subur itu hanya merupakan hutan dengan pepohonan dan tanam2an liar. Setelah mereka berjalan mengitari lereng lereng pegunungan itu, kini mereka tiba disuatu dataran terbuka yang hanya ditumbuhi oleh rumput dan ilalang saja. Sedang mercka berjaIan menyusupi ilalang yang lebat itu, tiba2 terdengar suara parau yang menggema — Anak gilaaaa! Suara itu demikian jelas dan kerasnya sehingga seakan2 diucapkan oleh orang yang berada didekat mereka. Akan tetapi setelah mereka mengawasi kesekeliling dataran itu, ternyata tak nampak adanya seorang manusia lainnya.

Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Yoga Kumala menjawab seruan kakek gurunya Dadung Ngawuk — Saya datang.. kakek guruuuuuu! — Suara itupun kemudian memantul kembali dan menggema bagaikan gelombang. Dan sesaat kemudian terdengarlah suara tawa yang terkekeh2 mengumandang jauh Si Jamang berlari berlompatan semakin cepat tanpa berpaling lagi, diikuti Yoga Kumala, Sontani Indah Kumala Wardharti dan Ratnasari. Demikianlah cepatnya si Jamang berlari2, hingga Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani terpaksa pontang panting dan terengah2.

Tanah datar yang merunakan lapangan itu telah dilaluinya dan kini mereka memasuki hutan dipinggir kali Kening yang tak demikian lebatnya. Tiba2... tanpa menghiraukan Sontani, Indah Kumala dan Ratnasari yang berlari2 di belakangnya,... Yoga Kumala melompat dan menjatuhkan diri berlutut didepan kakek gurunya Dadung Ngawuk yang sedang duduk diatas tanah bersandar pada batang pohon dengan berlumuran darah. Ternyata sebuah kaki kiri dari kakek Dadung Ngawuk telah buntung sampai batas pahanya. Namun ia masih juga dapat duduk dengan tenangnya.

— Kenapa, kakimu itu kakek guru ? Dan siapa orangnya yang berani berbuat demikian kejam terhadapmu . . . . .   Maafkan terlambatkah kedatanganku ni ? — Kata Yoga Kumala terputus2

sambil menangis terisak2

Anak gila !!!. Haaaa .. . . . haaa haaaa !. Tak usah bersedih dan jangan menangis seperti

anak perempuan !! Datangmu terlalu pagi dan bukan terlambat anakgila !!

Jawabnya sambil masih ketawa terkekeh2 serta menepuk2 bahu Yoga Kumala. Sedikitpun, seakan2 Dadung Ngawuk tidak merasakan sakit, pada hal melihat darah yang berhamburan di tanah serta dibadannya itu jelas bahwa ia belum lama kehilangan kaki sebelah kirinya. Bahkan paha kirinya itu masih mengeluarkan darah segar walaupun tak deras. Sementara itu Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani bersujud pada kakek Dadung Ngawuk dengan perasaan terharu dan kemudian duduk bersila dibelakang Yoga Kumala. Sedangkan si Jamang, kera yang setia itu duduk menempel pada punggungnya Dadung Ngawuk. Mereka tak sampai hati melihat luka yang diderita oleh gurunya Yoga Ku-mala.

— Tenangkan dulu, anak gila !!!. Dan katakan dulu, siapa kedua anak yang belum aku kenal itu !!

Kini Yoga Kumala telah tenang kembali. Ia duduk bersila dekat didepan kakek Gurunya sambil menempelkan telapak tangannya yang kanan pada paha gurunya yang buntung dan berlumuran darah itu.

Dengan jari2nya ia menotok berulang2 pada pembuluh2 darah dipaha yang buntung itu, agar darah tak mengalir keluar.

– Kedua orang yang kakek guru maksudkan itu adalah sahabatku Panewu tamtama Sontani dan adiknya Ratnasari, sedangkan yang satunya itu adalah adikku Indah. Jawab Yoga Kumala dengan tertunduk, dan kemudian mengulang pertanyaannya lagi.

— Tetapi . . . . .  tetapi . . . . .   kakimu sebelah ini . . . . . kenapa kakek guru ? ?.

Seperti tak mendengar pertanyaan Yoga Kumala, Kakek Dadung Ngawuk ketawa terkekeh2 lagi hingga badannya bergoyang2, sambil bicara : Anak gila yang baik !! Adikmu yang nakal itu, aku

kenal. Heeehh  . . . . Sama2 gila, seperti kau, tapi lebih pintar !! . . . . Sayang ia perempuan !!

Katanya sambil memandang pada Indah Kumala Wardhani dengan matanya yang sayu dan cekung itu.

— Kakek aneh !!. Aku tidak gila dan Akang Yogapun tidak gila!! Sahut Indah Kumala dengan bersenyum geli. Namun jelas bahwa dalam hatinya ia menaruh kasihan pada kakek Dadung Ngawuk yang kini terluka parah itu.

— Haaaa . . . . haaaaa . . . . haaaaaal. Pintar! Pintar! Tetapi benar2 gila . . . . . yaaa          semua

gila . . " Sahabat2mu itu juga gila!!         sayapun gila!!—

Suaranya terdengar semakin lemah dan sesaat kemudian ia memejamkan matanya dengan kepalanya yang gundul bersandar pada pohon dibaelakangnya. Yoga Kumala yang sudah tahu akan tabiat kakek gurunya yang sinting itu, segera mengetahui, bahwa Dadung Ngawuk sedang bersamadhi untuk memulihkan kembali tenaganya.

Sontani dan Ratnasari yang sedari tadi diam tak berkata sepatah katapun, dalam hati sangat kagum akan kesaktian dan ketabahan Kakek Dadung Ngawuk. - Terluka demikian hebatnya, masih juga ia dapat ketawa dan bersendau-gurau pikirannya. Seorang biasa tentunya akan jatuh pingsan atau mati kehabisan darah. Suasana kini menjadi sunyi. Semua terdiam dengan lamunannya masing2. Si Jamangpun seakan2 turut bersedih.

Sebentar kemudian Dadung Ngawuk telah duduk tegak kembali, sambil batuk2 kecil serta membuka matanya, dengan diiringi suara tawanya yang terkekeh2 lembut.

— Nah, adikmu dan sahabat2-mu yang gila dan baik hati itu supaya menggeser maju

sedikit, agar aku dapat melihat mukanya yang bagus dan ayu itu lebih jelas. Tetapi hendaknya jangan sampai kena bekas darahku yang berceceran itu Mari, mari !!, Dekat disampingku dan coba berikan

peti kitab itu !!—. Katanya kemudian dengan nada yang lemah lembut.

— Apakah tidak sebaiknya aku mencari air untuk mencuci darah yang berlumuran ditangan dan badanmu itu, kakek? — Indah Kumala memotong bicara.

— Biarlah aku yang mengambil air dikali seberang itu!!. Sahut Sontani sambil bangkit berdiri, setelah ia menyerahkan peti kitab yang tadi dibawanya.

Akan tetapi cepat kakek Dadung Ngawuk menggeleng2- kan kepalanya sambil berkata: — Jangan

!!. Jangan !! Tak usah sekarang!!. Itu gampang dikerjakan nanti. Sebelum hari gelap malam isi kitab ini akan aku jelaskan tentang bagian2 yang penting !!.

Dengan mudahnya peti itu dibuka oleh kakek Dadung Ngawuk, sedang Sontani duduk bersila kembali. Peti itu berisikan kitab yang terdiri dari lembaran kulit domba kuno. Lembaran2 yang telah lepas dari jilidnya itu ternyata masih tersusun menurut urutannya halamannya dan masih pula lengkap, merupakan sebuah kital, yang tebal. Seperti telah lupa pada luka yang sedang dideritanya, kakek Dadung Ngawuk mulai membalik2kan lembaran2 kitab kuno itu, dan kemudian mengambil tiga lembar yang berada di-tengah2.

Kini Dadung Ngawuk tak lagi seperti orang sinting. Wajah dan tingkah lakunya menjadi wajar dan bersungguh2. Sinar matanya berkilat bening dan berpengaruh. Suaranya tenang mengandung wibawa.

— Yoga muridku! Cepatlah pelajari cara usadha yang termuat dalam tiga lembar ini. Aku percaya dengan bekal yang ada padamu serta kecerdasan otakmu, pasti kau dapat memahami dan menghafal dalam waktu yang singkat. Ini penting sekali, karena ada hubungannya dengan kakiku yang buntung ini!! Berkata demikian Dadung Ngawuk sambil memberikan tiga lembar bagian kitab kuno, kitab Usadha Sastra yang dipegangnya, yang mana segera disambutnya oleh Yoga Kumala.

Dari lembar pertama hingga lembar ketiga dibacanya oleh Yoga Kumala dengan saksama.

Ternyata lembaran kulit domba kuno itu memuat pelajaran2 cara mengobati seorang yang terluka berat didalam rongga dadanya serta patah tulang iganya dan pecah pembuluh darahnya yang mengalir kebagian tangannya. Juga dalam lembaran2 itu termuatpula ramuan2 obat yang harus diminumkan pada sipenderita, setelah mendapat pertolongan dengan menggunakan pengerahan tenaga dalam dan pijatan ataupun totokan dengan jari2. Setelah dipahami benar2 hingga ia sendiri percaya dapat melakukan dengan sempurna, maka ia lalu menghafal nama2 rempah2 yang perlu digunakan untuk membuat ramuan obat itu, hingga dapat menghafal diluar kepala.

Sedang Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani hanya turut membaca sepintas lalu, tetapi tak mengerti isi maksud keseluruhannya.

— Tetapi kakek guru!!, Untuk apakah sesungguhnya, hingga aku diharuskan mempelajari

sekarang ? Apakah kakek guru juga terluka berat dalam rongga dadamu?. Tanya Yoga Kumala setelah selesai membaca dan memahaminya. — Bukan. bukan aku yang sakit dada . . . . tetapi musuhku dan juga sahabatku. Nah  . . . .

bukankah itu ada hubungannya dengan kakiku yang kini telah buntung ? Jawab Dadung Ngawuk sambil memandang tajam pada muridnya. Yoga Kumala semakin heran mendengar jawaban kakek gurunya itu. Ia belum mengerti apa yang dikehendaki gurunya yang aneh itu.

Demi melihat muridnya hanya ter-longong2 tak berkata sepatah katapun, Dadung Ngawuk lalu menceritakan riwayat buntungnya kakinya yang sebelah. Ia menceritakan bahwa semalam ia habis bertempur dengan Mbah Duwung dan berakhir dengan masing2 menderita luka berat. Ia sendiri tertebas kakinya sebelah kiri hingga buntung, sedangkan Mbah Duwung terluka berat dalam rongga dadanya, terkena totokkan maut jari2 tangan kiri. Dadung Ngawuk. Menurut katanya Mbah Duwung tak mungkin dapat hidup lebih dari tiga hari, jika tak cepat mendapat pertolongan dengan pengobatan secara yang termuat dalam kitab itu. Akan tetapi walaupun dapat tertolong jiwanya, sipenderita itu akan mengalami cacad seumur hidupnya, karena tangan kirinya menjadi lumpuh dan punggungnya bongkok tak bertenaga lagi.

Ia mengakui pula akan kehebatan ilmu golok panjang dari Mbah Duwung yang mendapat julukan bertangan besi itu akan tetapi ia masih bangga, bahwa ilmu wurushaktinya tidak kalah dengannya.

Walaupun ia kini kehilangan sebelah kakinya, akan tetapi sedikitpun ia tak menyesal, karena telah dapat membuktikan bahwa ilmunya wurushakti dapat mengalahkan Mbah Duwung yang terkenal dengan julukkan sitangan besi yang shakti itu.

Oleh Dadung Ngawuk juga diceritakan, bahwa semula pertempuran itu adalah segitiga dan menurut undian ia terlebih dahulu bertempur melawan Tadah Waja. Akan tetapi karena Tadah Waja berlaku curang, ialah membawa anak buahnya ikut serta bartempur, maka Mbah Duwung lalu membantunya, hingga akhirnya Tadah Waja menemui ajalnya. Mayatnya Tadah Waja diangkut oleh anak buahnya pergi turun gunung, sedangkan Mbah Duwung dipondong oleh muridnya yang bernama Talang Pati, pergi kearah barat. Dan katanya kemudian: — Tentang luka dipahaku ini, aku sendiri dapat mengobatinya, setelah aku tiba kembali dipondokku. Maka dukunglah aku sekarang, untuk berjalan sampai dipondokku, Yogal.

— Walaupun Yoga Kumala belum demikian jelas tentang maksud dan tujuan dari keharusan mempelajari pengobatan yang serba kilat tadi, akan tetapi tanpa menunggu di ulang lagi perintah kakek gurunya, ia segera bangkit dan momondongnya kakek gurunya, sambil berkata pelan: - Kakek tak usah susah2 jalan dengan didukung, lebih baik jika kupondong saja! — Berkata demikian, ia sambil berjalan menuju kehutan Blora kembali, yang tak berapa jauh letaknya. Sontani dengan membawa peti kitab yang dimasukkan lagi dalam peti, mengikuti dibelakangnya berserta Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari. Sedangkan si Jamang telah mendahului, seakan-akan sebagai petunjuk jalan.

— Turunkanlah aku diluar gubug sini saja! — Kata kakek Dadung Ngawuk setelah sampai didepan pondoknya ditengah hutan Blora dekat sendang.

— Nach, disini aku tak usah kuatir akan terlantar, karena pasukankupun masih lengkap! — Katanya kemudian setelah turun dari pondongan Yoga Kumala.

— Pasukan yang mana yang dimaksudkan kakek gundul itu? — pikir Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari. Mereka tak melihat adanya seorang manusia dihutan ini.

— Tetapi sewaktu aku tadi siang dihutan ini selain si Jamang, aku tak melihat mereka, kakek guru!. Dimanakah kiranya mereka bersembunyi?. — Tanya Indah Kumala Wardhani.

— Haaaa...haaaa...haaaa. !. Tentu saja kau tak bertemu dengan mereka. Tanpa kupanggil, tak

mungkin mereka berani keluar dari persembunyiannya. Haaaaa... haaaa. haaaaa!. Sontani, Indah Kumala Wardlraai dan Ratnasari kini menjadi lebih heran lagi. Mengapa tadi Yoga Kumala tak mengatakan bahwa kakek gundul itu mempunyai laskar yang tersebar dihutan itu? Jika tadi dikatakan demikian, tentunya mereka akan berusaha mencarinya untuk mudah mendapatkan keterangan kemana kakek gundul itu pergi. Dan tentulah akan lebih jelas, dari pada bertanya pada si Jamang. Sedang mereka duduk diam sambil bertanya2 dalam angan2, tiba2 kakek gundul itu bertepuk2 dengan tangannya lima kali berturut2, sambil ketawa terkekeh nyaring, dan sesaat kemudian, bermunculanlah dari segenap penjuru kera2 piaraan Dadung Ngawuk sejenis si Jamang dengan masing2 membawa ranting2 kering dan buah2an. Melihat banyaknya kera yang berlompatan datang dari arah sekitarnya sambil cecowetan itu, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani menggigil ngeri juga. Dan Sontani hanya terlongong2 penuh rasa heran. la tahu kini, bahwa yang dimaksudkan dengan pasukan adalah kera2 yang kini datang bermunculan itu. Tapi bagaimana mereka dapat setaat itu, tak ubahnya seperti manusia saja — pikir Sontani. Rasa takut kedua gadis itu hilang, setelah menyaksikan sendiri, bahwa satupun tak ada yang berani mengganggunya. Dengan rapihnya mereka menumpuk ranting2 kering itu untuk kemudian dibuatnya perapian oleh Yoga Kumala, sedang buah2an yang mereka bawa dinikmatilah semua bersama.

Atas petunjuk kakek Dadung Ngawuk, Yoga Kumala mengambil rempah2 ramuan obat yang tersimpan dipondok, untuk kemudian dibobokkan pada luka dipaha Dadung Ngawuk. Setelah mana luka dan seluruh badan Dadung Ngawuk dibasuh dengan air sendang oleh Yoga Kumala.

— Berangkatlah nialam ini juga dengan kudamu itu, menyusul Mbah Duwung, dan kerjakan baik2 semua petunjuk2ku itu. Adi2mu biarlah menunggu disini, sampai kau kembali. — Katanya Badung Ngawuk kemudian: — Dan ramuan obat2an yang telah kupisahkan itu, hendaknya di masukkan dalam kantong kulitmu. Katakan padanya bahwa aku masih sehat segar, tak kurang sesuatu, serta aku tetap menganggapnya sebagai sahabat karibku!. —

Sebenarnya Yoga Kumala tak sampai hati meninggalkan kakek gurunya walaupun hanya sebentar, akan tetapi karena patuh dan percaya pada Sontani serta pada kedua gadis itu, bahwa mereka tentu akan merawatnya dengan baik. maka malam itu juga Yoga Kumala dengan berkuda mencari perginya Mbah Duwung dengan muridnya Talang Pati.

Hati2 diperjalanan! Kakek gurunya berpesan, sewaktu Yoga Kunuila meninggalkan hutan Blora. Ratnasarilah yang sedih diantara mereka, setelah Yoga Kumala tak nampak lagi. Ingin ia ikut serta selalu disisinya Yoga Kumala, namun sebagai wanita ia malu untuk mengutarakan isi hatinya Garis baru orang seperti Mbah Duwung tak mungkin mau mengganggu rakyat padesan.

Jika ia menghendaki istirahat, tentunya akan merasa lebih aman di tengah2 hutan - pikir Yoga Kumal, Memang pendapatnya ini sangat beralasan. Setelah pada fajar pagi ia sampai dihutan dekat dukuh Wirosari sebelah barat hutan Blora, ternyata ia dapat menemukannya. Waktu itu, Mbah Duwung sedang rebah dengan beralaskan daun2 kering sambil batuk2 kecil dengan memuntahkan gumpalan darah segar dan mengigau tak menentu, sedangkan Talang Pati muridnya yang setia menunggunya deagan mengurut-urut dadanya.

Sebentar2 Talang Pati memberikan minum pada gurunya dengan mangkok yang ia dapat minta tadi siang pada orang2 desa didekat hutan itu.

Perapian di sebelahnyapun masih menyala. Setelah turun dari kudanya, dengan amat perlahan2 Yoga Kumala mendekati mereka. Ia tak ingin mengejutkan mbah Duwung yang luka parah serta muridnya yang kelihatan sangat letih. Sebagai seorang shakti yang terlatih, walaupun Mbah Duwung dalam keadaan yang setengah sadar setengah tidak, dapat cepat mengetahui adanya langkah orang yang kian mendekat.

— Talang Pati!. Ada . . . orang !.— bisiknya lemah.

Dan kiranya Talang Pati telah mengetahui pula kedatangan Yoga Kumala.

— Siapa kau?. Desisnya Talang Pati dengan menghunus golok panjangnya sambil berdiri.

– Aku Yoga Kumala hendak menolong gurumu!, – jawab Yoga Kumala tenang sambil memperlihatkan dirinya dari balik pohon, serta mendekatinya.

— Yoga Kumala!. — Talang Pati mengulang pelan, mengawasi dari kepala hingga telapak kakinya. Jika tak salah, ia pernah melihat orang yang kini mengaku Yoga Kumala itu. Tetapi dimana...ia tak ingat lagi. Ach, mungkin berkehendak jahat - pikirnya. Talang Pati menjadi penuh ragu. Suara

dalam hatinya bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Melihat ketenangan dan kejernihan wayah anak muda ini, tak muugkin ia berniat jahat. Seandainya berniat jahat, tentunya telah sejak tadi ia menghunus pedangnya yang tersandang. Akan tetapi mengapa ia malahan kian mendekat sambil tersenyum bersahabat. Jika bermaksud menolong, mustahil orang semuda ini mengerti tentang pengobatan luka dalam. Atau mungkin guruku telah mengenalnya. Sedang Talang Pati mengawasi

sambil mempertimbangkan pendapatnya, tiba2 terdengar suara keluhan lemah namun jelas: -- Yoga...Yoga aku tahu...murid petapa Cahayabuana. apa perlumu? -

Bukan, bukan, Mbah guru!. Aku ingat sekarang! Kaulah Sujud murid Dadung gawuk musuhku! — Desisnya Talang Pati sambil langsung menyerang dengan sabetan golok panjangnya.

Menghadapi serangan dahsyat yang tiba2 itu, Yoga Kumala terperanjat sesaat. Ia tak menduga sama sekali, bahwa Talang Pati akan menyerangnya. Cepat Yoga Kumala melompat surut kebelakang selangkah    menghindari    serangan    golok     panjang,     dibalik     pohon     yang     ada dibelakangnya krrraaaakkkkk!!.

Dan pohon yang menghadang sabetan golok Talang Pati terbabat tumbang.

— Benar apa katamu, Kakang Talang Pati! Tetapi sabarlah dulu . . . . akan ku jelaskan . . . .

— Tak ada tetapi! — potong Talang Pati sambil menerjang lagi dengan bacokan mengarah kepala Yoga Kumala.

Dengan tangkasnya Yoga Kumala barlompatan kesamping kanan dan kiri menghindari serangan Iawan yang bertubi-tubi dan amat bahaya itu.

Sedikitpun tak ada dalam benak hatinya Yoga Kumala untuk menanggapi kekalapan Talang Pati.

Ia hanya berlompatan menghindar, tanpa memberi serangan balasan. Akan tetapi Talang Pati telah sampai pada puncak kemarahan. Ia tak mau dihina secara demikian.

— Cabut pedangmu! — serunya sambil terus menyerang, dengan jurus-jurusnya yang dahsyat.

Kiranya banyaknya pepohonan dalam hutan itu menolong pula pada Yoga Kumala. Ia berlompatan menghindari serangan dengan cara menyelinap di balik pepohonan yang berada di sekitarnya. Dan lebih dari empat pohon telah terbabat tumbang oleh amukan golok panjang Talang Pati, Namun Yoga Kumala tetap tenang tak bermaksud membalas serangan.

— Kakang Talang Pati! Kedatanganku untuk menolong gurumu! Dan ketahuilah apabila

terlambat. gurumu tak mungkin dapat tertolong lagi, — Sahutnya sambil melompat surut kesamping kanan.

Akan tetapi kata-kata itu seakan-akan tak didengarnya, dan Talang Pati masih saja terus mendesaknya dengan serangan-serangan yang bertubi tubi.

Semakin lama serangan itu tak semakin mereda, bahkan sebaliknya. Ia menyerang dengan golok panjangnya sambil melontarkan tendangan-tendangan kilat yang dahsyat.

Dalam hati, Yoga Kumala kagum pula akan kehebatan ilmu golok panjangnya Talang Pati. Dan dibalik rasa kagum itu, iapun heran bahwa dasar-dasar gerakan jurusnya hampir menyamai ilmu pedangnya sendiri. Hanya saja terdapat perbedaan perbedaan dalam rangkaiannya, serta pada gerakan tangan kirinya.

Jika ia sendiri selalu menggunakan tangan kirinya sebagai serangan totokan dengan jari-jarinya yang telah dikembangkan, maka Talang Pati menggunakan telapak tangan kirinya sebagai pukulan, apabila serangan golok panjangnya tak mengenai sasaran.

Dan menurut pendapat Yoga Kumala golok panjang ditangan Talang Pati itu agaknya terlalu berat, hingga pada perobahan perobahan gerakan nampak agak lambat pula. Selain itu, pun ternyata golok panjang itu kurang panjang beberapa jari.

Seandainya saja golok panjang itu sedikit ringan dan panjang ukurannya pun cukup, mungkin serangan-seranganya sukar untuk dielakkan dengan hanya mengandalkan pada kelincahan saja.

Namun ia sendiri memuji akan kehebatan gerakan-gerakan serangannya. Jelas, bahwa Talang Pati memiliki ilmu golok panjang yang mendekati sempurna. Dengan demikian dapat pula diperkirakan akan kehebatan ilmu yang dimiliki gurunya mBah Duwung. Dan suatu kenyataan, Dadung Ngawuk yang demikian shaktinya dapat tertebas sebelah kakinya.

— Sujud! Apakah pedang yang kau sandang itu hanya hiasan belaka?! Jangan salahkan aku, apabila lehermu tertebas oleh golok panjang ini, — serunya sambil melompat mengejar dan langsung menyerangnya.

— Hentikan dulu. apabila Kakang Talang Pati sungguh mencintai gurumu! — Seru Yoga yang makin lama makin berkurang pula kesabarannya.

— Bohong, pengecut! Kau Jika kau bermaksud baik, buat apa memakai nama palsu dengan

Yoga Kumala. Sedangkan aku tak lupa, namamu adalah Sujud ! Dan Kaulah pewaris tunggal ilmu

wurushakti Dadung Ngawuk yang melukai guruku! — Sahut Talang Pati sambil masih menyerang dengan golok panjangnya.

Setelah tak ada jalan lain lagi untuk secara damai menginsyafkanuja, dan setelah pula memperhatikan segi - segi kelemahan ilmu golok panjangnya Talang Pati. Yoga Kumala merobah pendiriannya.

Ia akan membuktikan lebih dulu, bahwa jika dikehendaki dapat pula ia mengimbangi kesaktian Talang Pati yang tangguh itu.

Akan tetapi masih juga ia tak bermaksud untuk melukainya. Bagaikan kilat ia mencabut pedang pusakanya, melompat mengelakkan serangan tebasan kearah kakinya.

— Bagus! Jika kau menghendaki perlawanan dengan pedangku! — Seru Yoga Kumala, sambil memapaki serangan lawan dengan pedang pusakanya.

Dua senjata beradu keras dan Talang Pati melompat surut kebelakang selangkah. Sesaat ia terperanjat, demi dirasakan tlapak tangannya menjadi pedih, dan hampir saja golok panjangnya terpental lepas. Demikian pula Yoga Kumala. la terkesiap. setelah tahu ketangguhan lawan. Dengan tangkas dan cepat, Yoga Kumala merangkaikan serangannya. Pertempuran menjadi seru, dan masing- masing memperlihatkan keshaktiannya yang amat tangguh.

Desiran angin dari sabetan, babatan dan bacokan kedua senjata menggetarkan ranting-ranting pepohonan disekitarnya hingga daun-daun jatuh berterbangan. Dua sinar putih ber-gulung gulung menyelubungi tubuh kedua orang shakti yang sedang bertempur itu.

Jika semula Yoga Kumala hanya mengelak sambil ber-lompatan menghindar, kini tiba-tiba berobah menjadi sebaliknya. Dengan memeras segenap tenaga dan ketangkasannya Talang Pati terpaksa harus menghadapi ketangguhan lawan, dan dirasakan semakin lama kian terdesak kedudukannya.

Setapak demi setapak dan selangkah demi selangkah, Talang Pati terpaksa harus bergerak surut kebelakang, menghindari serangan lawan yang berbahaya dan bertubi-tubi bagaikan gelombang yang bergulung gulung menggempur karang tak ada hentinya.

Belum pernah Talang Pati menghadapi lawan yang demikian tangguhnya. Dalam hati ia kagum dengan penuh rasa heran. Mengapa tiba2 gerakan golok panjangnya yang biasanya ganas kini se-akan2 menjadi lumpuh. Kemanapun golok panjangnya berkelebat, pedang lawan selalu dapat mendahuluinya dan kemudian menutup jalan rangkaian serangannya. Melihat tingkah laku dan gerakan serangan totokkan jari2 tangan kiri lawan, jelas bahwa lawannya adalah murid Dadung Ngawuk musuh gurunya. Akan tetapi belum pernah ia mendengar bahwa Dadung Ngawuk memiliki ilmu pedang yang demikian shaktinya. Sepanjang pengetahuan yang didapat dari cerita gurunya, orang yang memiliki ilmu pedang shaku hanya ada dua orang. Seorang bernama Kyai Sidik Pamungkas yang kini telah bergelar Wiku Sepuh di Gunung Sumbing dan yang tak mau lagi menggunakan senjata pedangnya, sedang seorang lainnya lagi ialah perampok shakti yang bergelar si Ular Merah. Akan tetapi si Ular Merah ini pada kira kira lima belas tahun yang telah lampau, telah lumpuh terkena pukulan aji shakti dari petapa tua Pajajaran yang bersemajam di Gunung Tangkubanperahu. Dan selanjutnya cerita tentang si Ular Merah yang memiliki ilmu pedang shakti itu tak terdengar lagi. Pun siapa adanya petapa tua yang amat shakti itu, ia sendiri tak pernah mendapatkan keterangan lebih jauh dari gurunya.

Akan tetapi, mengapa ia kini menghadapi kenyataan yang menyimpang dari petunjuk2 gurunya? Dan yang lebih mengherankan lagi, seakan-akan lawannya yang kini sedang dihadapi itu telah mahir pula akan ilmu golok panjangnya sendiri. Tiap2 perubahan gerakan serangannya selalu dapat didahuluinya dengan serangan pedang lawan yang amat mentakjubkan.

Haruskah ia menyerah pada lawannya, sebelum ia terluka?

— Tidak!! Tidak mungkin!! — seru hatinya.

Baginya lebih baik mati tertebas pedang lawan, daripada hidup sebagai pengecut dan pengkhianat. Demi melindungi gurunya ia harus melawan terus hingga hembusan nafas yang terakhir. Tekadnya telah bulat.

Pandang matanya berkilat tajam. Mulutnya terkatub rapat, dan giginya bergeretak. Tubuhnya serasa gemetar, sedangkan telapak tangan larinya mengepal meremas2. Golok panjang ditangan kanannya tiba2 berputaran cepat, hingga perisai baja putih yang bersinar berkemilauan. la telah bertekad hendak mengadu jiwa dengan lawannya yang amat tangguh itu. Seruan tinggi melengking terdengar, dan ……. Brrreeettt!!!!

Ternyata sewaktu ia hendak meloncat tinggi dengan maksud malancarkan serangan dengan jurusnya yang terampuh, ialah "elang menyambar mangsa" digabung dengan „menerjang baja membara", — suatu perubahan gerakan yang tiba tiba didahului dengan loncatan tinggi serta menyerang lanasung dari atas, dalam bentuk gerakan tusukan dan sabetan golok panjang yang berantai. tanpa menghiraukan kemungkinan serangan balasan dari lawan, — celana dari paha sampai dilututnya terobak oleh ujung pedang pusaka Yoga Kumala hingga gerakan loncatannya menjadi gagal.

Kedua jurus berangkai itu adalah jurus simpanan, yang banya dilakukan sewaktu terdesak dan menghadapi jalan buntu. Apa daya!! Agaknya lawannya pun telah mengetahui terlebih dahulu akan maksud gerakannya. Jurus simpanannya terachir telah gagal sama sekali, karena didahului oleh Iawan dengan cara menyerang sambil menutup langkahnya.

Bulu kuduknya berdiri dan peluh dingin mengucur dari keningnya. Ia melompat surut kebelakang lima langkah, hingga hampir saja menginjak Mbah Duwung gurunya sendiri yang masih berbaring ditanah.

— Hentikan pertempuran!! Walaupun suara itu diucapkan amat lemah oleh Mbah Duwung,

akan tetapi oleh Talang Pati dan Yoga Kumala dapat didengar jelas, serta dirasakan pula betapa besarnya perbawa yang disalurkan lewat suara yang lemah itu. Kiranya Mbah Duwung yang telah terluka berat didalam dadanya, masih juga dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengiringi suara seruannya pada kedua orang yang sedang bertempur.

Cepat Yoga Kumala menghentikan gerakannya sambil menyarungkan kembali pedang pusakanya, yang kemudian diikuti oleh Talang Pati. Tanpa rasa curiga ke-dua2nya segera berjongkok mendekati Mbah Duwung yang tengah berbaring lemah itu.

— Talang Pati! Kau tak perlu malu . . . . kalah . . . . dengan cucunya Petapa shakti

Cahayabuana itu! — Kata Mbah Duwung lemah dan terputus putus. Ia diam sejenak sambil menelan ludah, dan menekan pada dadanya sendiri dengan telapak tangannya, serta kemudian melanjutkan lagi kata2nya dengan nada iang semakin lemah.

— Memang . . . . ia . . . . . sebelum menemukan asal usulnya, . . . . . namanya Sujud dan

murid dari . . . . Dadung Ngawuk . . . . Tetapi . . . . kini nama aslinya . . . ialah Yoga Kumala. Ia baik .

. . . dan pantas kau contoh . . . . pun . . . . Dadung Ngawuk juga orang . . . baik . . . . —

— Tetapi hendaknya Mbah Duwung jangan banyak bergerak. Luka didalam dadamu amat

parah. — Potong Yoga Kumala, sambil meraba dada Mbah Duwung dengan telapak tangannya.

Sementara itu Talang Pati hanya tertunduk dengan hati yang sedih demi melihat gurunya berbaring sambil merintih2.

— Kedatanganku kemari, memang sengaya menyusulmu memenuhi perintah guruku Dadung Ngawuk, untuk mengobati lukamu sedapat2nya, — kata Yoga Kumala kemudian, sambil mengeluarkan ramuan obat2an dari dalam kantong kulitnya.

— Ach . sayang . . . . kau . . . . terlambat . . . . Rasanya . . . . tak per . . . . lu . . . . lagi Suara

Mbah Duwung amat lemah, dan berkata demikian itu ia sambil memegang tangan Yoga Kumala dan menyisihkannya, sebagai isyarat menolak untuk diberi pengobatan.

Sejenak kemudian ia melanjutkan bicaranya dengan nada yang terputus2 serta gerak nafas yang tak teratur.

— Ta . . . lang . . . Pati. Kau . . harus . . . mem . . . balas . . . budi . . . pada Dadung Ngawuk . . untukku . . . ! Rawat . . . lah . . . dia sepanjang . . . masa . . . Kasihan . . . ia . . kehilangan sebelah

kakinya . . Ketahui . . . lah Talang . . Pati!! Antara aku . . . dan . . . Dadung Ngawuk . . tak ada . . .

permusuhan . . . Semula . . . karena salah . . . paham . . . dan . . . kemudian . . . . karena ingin menguji .

. . ilmu masing2 . . . Ter . . nya . . . ta . . . aku . . . yang . . . ka . . . lah. Maka . . belajar . . . lah . . . dari dia

. . . agar . . . tak . . . mengece . . . wakanmu sen diri!

Yoga . . . tentu . . . . mau menolong . . . . mu agar kau . . . . diterima . …men . . . jadi . . . . muridnya . . .

.Dadung Ngawuk . . dan . . . kelak apabila ada . . kesempatan . baik bergurulah . . pada . Yoga ini.

Nach . . pesanku bersa . . . . habatlah . . . kalian . . berdua …—.

Ia berhenti sesaat dengan nafas yang terengah2, dan melanjutkan bicara dengan mengerahkan sisa tenaganya: -Yoga!!, . . . . Terima . . . .lah . . muridku . . . Talang . . . Pati . . dan bimbing lah ia. Isi .

. . . .sabukku . . . ini . . untuk . . . . mu . . . sebagai . . . tanda . . . terima . . . kasih . . , ku . . — Sampai disini suara Mbah Duwung berhenti lagi a memejamkan maranya sambil berusaha menarik nafas dalam2.

Kedua tangannya disilangkan diatas dadanya, dan sesaat kemudian ia telah tak bernafas lagi.

— Mbah guruuuuuuu!!!— Jerit Talang Pati sambil menelungkup diatas tubuh Mbah Duwung

yang telah mulai dingin dan makin membeku itu. la menangis tersedu sedan dengan air mata yang deras bercucuran. Namun jerit dan tangisnya telah tak terdengar lagi oleh Gurunya. Tak mengira bahwa

riwayat gurunya yang ia sangat cintai hanya berhenti sampai disini Gurunya yang ia cintai dengan

sepenuh hatinya, yang ia bangga2-kan dan yang ia selalu hidup bersandarkan padanya kini telah

meninggalkan untuk selama2 nya.

— Sudahlah, Kakang Talang Pati!!. Hendaknya kita mulai merawat se-baik2nya jenazah gurumu itu. Akupun turut berduka, tetapi ingatlah bahwa semua kejadian adalah atas kehendak Dewata Hyang maha Agung. Lahir dan matinya semua ummat adalah dalam kekuasaanNya.

Sesungguhnya akupun sangat menyesal karena tak dapat menolong gurumu, akan tetapi      apa

daya. Dewata Hyang Maha Agung menghendaki demikian. Maka, kakang Talang Pati hendaknya jangan terlalu menyesali pulangnya Mbah Duwung kealam abadi. ?— Yoga Kumala berusaha menghibur Talang Pati.

Dalam hati ia memuji akan keluhuran budi Talang Pati yang sangat setia pada gurunya itu. Dengan per-lahan2 Talang Pati bangkit berdiri, mengikuti petunjuk Yoga Kumala.

Setelah jenazah mBah Duwung di kubur sebagaimana layaknya dihutan dekat Wirosari itu, dan ikat pinggang dari kulit yang tebal serta lebarnya lebih setebah itu diserahkan pada Yoga Kumala oleh Talang Pati sesuai pesan gurunya, mereka berdua segera kembali ke hutan Blora untuk menghadap Kakek Dadung Ngamuk.

Sejak saat itulah, Talang Pati tinggal di hutan Blora, menjadi murid Dadung Ngawuk. Sedangkan Yoga Kumala, Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari kembali menuju ke Kota Raja untuk menjalankan tugasnya sebagai tamtama Kerajaan Agung Majapahit.

— Semoga Dewata Yang Maha Agung, kelak mempertemukan kita kembali, - seru Talang Pati pada Yoga Kumala, sewaktu mereka berpisah.

*

* *

B A G I A N III.

— Aku tak sudi melihatmu lagi !!! Pergi !!! Pergi!!! atau terpaksa ku lempar kau keluar di

jalan !—.

— Kobar !!! Sejak kecil kau kutimang - timang . . . . . kubesarkan dan kuasuh hingga memiliki kepandaian. Tetapi setelah kini menjadi orang berpangkat, kau tak mau lagi mengakui orang tuamu

sendiri yang cacad ini . . . . Sungguh anak terkutuk . . . kau Kobar!!—

— Tutup mulutmu, jika tak ingin ku tampar! Tahu! Aku tak sudi lagi mendengarkan ocehanmu! Lekas! Pergi !—

Suara bentakan Kobar yang amat keras itu memecah kesunyian tengab malam, hingga membangunkan mereka yang sedang tidur njenyak di rumah masing-masing yang terletak di sebelah kanan kirinya. Akan tetapi mereka segera membatalkan maksud untuk ingin menyaksikan dari dekat, setelah mengetahui bahwa suara keributan itu datangnya dari tempat kediaman Bupati Anom Tamtama Kobar.

Mereka tak mau menjadi sasaran kemarahan Kobar yang sedang meluap-luap, dan terkenal sebagi seorang yang selalu bertindak kejam terhadap bawahannya.

Waktu itu Yoga Kumala sedang asyik berlatih mempelajari jurus-jurus gerakan dasar dari ilmu pedang, menurut petunjuk dari kitab kuno peninggalan Mbah Duwung yang hanya terdiri dari sembilan lembar itu. Dan ternyata dengan bekal kecerdasannya, ia segera dapat mengetahui segi-segi kehebatan ilmu pedang yang kini tengah dipelajari, setelah mana digabungkan dengan ilmu pedangnya sendiri, ciptaan Eyangnya Cahaya Buana. Dengan demikian iapun dapat cepat menarik kesimpulan, bahwa kitab peninggalan Nlbah Duwung itu, sebenarnya adalah sisa bahagian yang pertama dari kitab kuno yang berisikan ilmu pedang wurushakti, peninggalan seorang priyagung tamtama shakti yang bernama Sakya Abindra.

Sebagaimana dahulu telah diceritakan oleh Eyangnya, kitab kuno itu menjadi rebutan orang- orang shakti dan akhirnya berantakan terlepas dari penjilidan dan menjadi terpisah-pisah. Dan dari Eyangnya ia sendiripun kini telah memiliki lembaran-lembaran sisa bagian yang akhir dari kitab kuno itu.

Sabuk kulit peninggalan mendiang mBah Duwung, ternyata bukan hanya berisikan lembaran lembaran sisa kitab kuno saja. tetapi terdapat pula sebuah benda berupa cincin bermata batu yang besarnya seibu jari kaki. Batu itu berwarna merah dan memancarkan sinar berkilauan yang warna-warni. Dalam gelap malam, pancaran sinar batu itu seakan-akan menyerupai nyala api. Dan oleh orang yang ahli, dinamakannya batu "merah sapta warna".

Oleh karena Yoga Kumala tak mengetahui kegunaan tatu itu, serta dirasanya terlalu besar untuk dipakainya, maka olehnya disimpan kembali, — Biarlah kelak benda peninggalan mBah Duwung ini kuserahkan kembali pada Kakang Talang Pati saja. Mungkin baginya lebih berguna, — pikirnya.

Suara bentakan Kobar yang nyaring membuat ia terperanjat sesaat, hingga ia terpaksa menghentikan latihannya, sambil mendengarkan suara percakapan dua orang yang sedang bertengkar dengan pendengarannya yang tajam dan terlatih.

— Kau kejam anakku! Kau anak terkutuk !!! —

— Cukup! Aku bukan anakmu lagi — Dan enyahlah segera dari sini! — Bentak Kobar dengan wayah yang semakin memerah dan pandang mata yang berkilat tajam.

Namun orang tua yang duduk dilantai depan pintu rumah kobar itu, masih juga membandel tak bergeser dari tempatnya. Ia menggumam mengumpat-umpat sambil me-nuding2 dengan jari telunjuknya. —

Melihat mukanya yang telah berkeriput dengan rambutnya yang kusut dan telah memutih, orang itu usianya telah mendekati tujuhpuluhan. Dan derita yang selalu ditanggungnya, membuat ia menjadi lebih tua. Ia duduk bukan karena takut berdiri, melainkan memang tak mampu untuk berdiri. Kedua kakinya lumpuh sejak kira2 pada 15 tahun yang lampau. Ia tak dapat berjalan sebagaimana layaknya, melainkan mengesot yang mendekati merangkak.

Pakaiannya telah kumal dan compang-camping.

Ia adalah ayahnya Kobar yang sejati, terkenal dengan gelarnya si Ular Merah. Ia dahuiu adalah kepala rampok yang amat shakti di daerah Pejajaran. Tindakannya kejam tak mengenal perikemanusiaan.

Tak sedikit rakyat yang tak berdosa menjadi korban kebuasannya.

Dan hingga pada suatu ketika, sewaktu si Ular Merah sedang mengganas dengan anak buahnya, Petapa Shakti Ajengan Cahaya Buana yang selalu diikuti oleh harimau kumbang piaraannya itu dapat menggagalkan tindak kejahatannya. Dalam pertempuran dengan Cabaya Buana itu, si Ular Merah roboh menderita kelumpuhan pada kedua kakinya terkena pukulan aji shakti petapa Gunung Tangkuban Perahu.

Dan semenjak itu, namanya yang amat ditakuti oleh rakyat tak terdengar lagi.

Dengan harapan untuk kelak dapat membalas dendam pada keturunan si Petapa Shakti, ia melatih anaknya lelaki tunggal yang pada waktu itu baru berusia kira-kira sepuluh tahun dengan segenap kemampuannya.

Disamping dapat membalas dendam, iapun berharap agar anaknya yang mewarisi keshaktiannya itu kelak dapat menjadi seorang tamtama yang berpangkat. Dengan demikian ia berharap dapat menyandarkan hidupnya dihari tua pada anaknya yang tunggal itu. Dan ternyata anaknya lelaki yang tunggal dapat pula mewarisi ilmu pedang serta keshaktiannya dengan tak mengecewakan. Dan anaknya yang tunggal itu adalah Kobar yang kini telah menjabat sebagai priyagung tamtama berpangkat Bupati Anom. —

Berbulan-bulan lamanya si Ular Merah merangkak-rangkak dari kota ke kota lain untuk mencari anaknya si Kobar, yang akhirnya dapat juga ditemukan di kota Senopaten Mojoagung.

la tak menduga sama sekali, bahwa Kobar akan mengingkari sebagai anaknya dan mengusirnya seperti seekor anjing kudisan. —

—Kobar! Kobar! Jika kau tak sudi lagi mengakui aku sebagai ayahmu, baiklah aku akan

pergi. Tetapi ingat!

Kutukanku akan menyertaimu selalu!

— Bedebah tua tak tahu adat!. Pergi! —

Membentak demikian Kobar sambil melangkah maju dan menendang ayahnya sendiri, hingga orang tua lumpuh itu terpental keluar dan jatuh terpelanting di halaman.

Dengan merangkak - rangkak dan merintih - rintih, Ular Merah meninggalkan rumah Kobar di kegelapan malam.

Mendengar rintihan orang tua, Sontani yang sejak tadi mengikuti keributan dari kejauhan segera keluar untuk memberikan pertolongan pada Ular Merah.

Akan tetapi tiba-tiba Kobar telah menghadang didapannya sambil berseru lantang.

— Sontani! Jangan kau turut campur tangan urusanku. Pergi! Dan biarkan orang lumpuh gila itu berlalu! Atau kau juga ingin merasakan tendanganku?! —

— Maafkan, Gusti! Saya sama sekali tak bermaksud campur tangan dengan urusan Gusti Kobar. Akan tetapi karena tak sampai hati melihat orang yang telah lanjut usianya itu merangkak-rangkak di gelap malam. Maksud saya hanya ingin menolong memapahnya sampai di jalan besar ! — Jawab Sontani tenang.

— Itupun tak perlu! Aku sengaja menendangnya karena orang tua gila itu mengacau dirumahku. Dan siapapun yang hendak membela orang gila semacam dia, harus berani pula berurusan denganku! . .

. .Tahu! — Bentak Kobar dengan lantang.

Belum juga Sontani dapat menjawab kembali, tiba-tiba Ular Merah berseru memotong: — Bohong! Bukan aku yang gila! Dialah yang gila! Dialah anakku Kobar yang terkutuk! —

Demi mendengar seruan orang tuanya itu, Kobar bagai-an dikupas kulit mukanya.

Kemarahannya meluap-luap tak terkendalikan lagi.

Ia melompat hendak menerjang ayahnya dengan pukulan maut, tetapi tiba-tiba Yoga

Kumala telah berdiri menghadang dihadapannya.

— Kakang Kobar! Apa maksudmu memukul orang tuamu sendiri yang tak berdaya itu! — Serunya tajam dan berwibawa.  

Ia melompat hendak menerjang ayahnya dengan pukulan maut, tetapi …. tiba2 Yoga Kumala telah berdiri menghadang dihadapannya. --- Kakang Kobar!! Apa maksudmu memukul orang tuamu sendiri yang tak berdaya itu!!

— Adi Tumenggung jangan campur tangan dalam urusanku! Ia bukan orang tuaku dan omongannya adalah ocehan orang gila! Sahutnya.

— Jika ia bukan orang tuamu, apakah salahnya campur tangan dalam urusan ini?! —

Mendapat tegoran dari Yoga Kumala yang tepat dan beralasan itu, sesaat Kobar kehilangan akal untuk menjawabnya. Dengan suara yang agak lunak, ia berusaha untuk menutupi kebohongannya.

— Bukan demikian maksudku, Adi Tumenggung Yoga! Karena orang gila yang lumpuh itu tadi datang-datang mengacau dirumahku, dan mengaku sebagai ayahku, maka kuusirnya ia keluar rumah. Bukankah ini semata-mata menjadi urusanku sendiri? Dan karena aku dapat pula menyelesaikan sendiri, kiranya tak perlu lain orang turut campur dalam urusan kecil yang tengah kuhadapi ini. —

— Baiklah, apabila anggapan Kakang Kobar demikian! sahut Yoga Kumala sambil membalikkan badannya dengan maksud hendak berlalu dari tempat itu.

Tiba-tiba dari balik rumah yang terujung dalam kegelapan, terdengar suara si Ular Merah berseru pada mereka.

— Sudahlah, jangan kalian bertengkar tentang diriku! Aku telah dapat menolong diriku sendiri. Dan biarlah anakku Kobar yang terkutuk itu, kelak mati tersambar petir. — umpatnya sambil merangkak semakin jauh.

Tanpa menghiraukan lagi akan suara ayahnya, Kobar cepat masuk kembali kedalam rumahnya, dan Yoga Kumala serta Sontani masing - masing melangkah kembali pula ke tempat kediamannya sendiri dengan angan-angan diliputi teka-teki.

Benarkah orang lumpuh tadi ayahnya Kobar? pikir mereka berdua. Jika seandainya benar, mengapa demikian kejamnya ia berlaku terhadap ayahnya sendiri? Dan andaikan bukan, mengapa orang tua yang lumpuh itu berani mengatakan bahwa ia adalah anaknya.

Dan mengapa orang tua itu berani pula mengumpat-umpatnya sedemikian keji. Dan siapakah orang tua lumpuh itu? Ah, kelak tentu terjawab sendiri pertanyaan ini. pikir mereka berdua.

*

* *

Tiga bulan telah lewat sejak peristiwa Kobar dan ayahnya itu terjadi. Dan kini sebagian besar para tamtama sedang sibuk mengadakan persiapan untuk berlayar menuju „Pulau Kedukan Bukit" mengemban titah Manggala Yudha Gusti Senopati Adityawardhana. Yoga Kumala, Kobar, Sontani, Braja Semandang, Nyoman Ragil, Berhala, Jala Mantra dan Jaka Gumarang nampak pula dalam kesibukan untuk menyiapkan sesuatu yang dianggap perlu dalam mengemban tugas yang dipandangnya sangat mulia itu.

Menurut ketentuan Gusti Senopati Manggala Yudha, dua ribu tamtama terpilih dibawah pimpinan Bupati Tamtama Yoga Kumala dan Kobar akan segera diperintahkan untuk berangkat melalui darat sampai di bandar Pantai Selatan (Pelabuhan Ratu) daerah Pajajaran.

Disana mereka diharuskan menunggu kembalinya rombongan tamtama Narasandi yang dipimpin oleh Gusti Tumenggung Cakrawirya, dari kerajaan Sriwijaya.

Pada dua bulan sebelumnya, Gusti Tumenggung Cakrawirya telah pergi berlajar pula menuju ke Bandar Muara Musi, sebagai utusan Sri Baginda Maharaja Rajasanegara untuk mengantar sumbangan barang barang berharga serta rombongan para penari dan para pemukul gamelan guna memeriahkan perayaan bertepatan dengan hari ulang tahun Sri Baginda Raja Kerajaan Sriwijaya.

Dipilihnya Tumenggung Cakrawirya sebagai utusan Kerajaan bukan hanya semata2 untuk mengantar barang barang sumbangan saja, akan tetapi ia sebagai Manggala Tamtama Narasandi, bertujuan pula untuk menyelidiki tentang kekuatan pasukan kerajaan Sriwijaya, serta mencari tahu segi- segi kelemahannya. Pun para penari-penarinya yang bukan lain ialah Indah Kumala Wardhani, Ratnasari, Sampursekar dan Ktut Chandra, adalah anggauta tamtama Narasandi Kerajaan yang terpilih, dan terlatih.

Demikian pula para pemukul gamelan, mereka semuanya terdiri dari para tamtama Narasandi Kerajaan yang terpilih. Disamping mencari tahu tentang kekuatan pasukan Kerajaan Sriwiyaja, pun ketangguhan dan kesaktian para Manggala tamtamanya menjadi titik perhatian pula. Dan demikian pula tentang letak tempat serta banyaknya persediaan perbekalan tamtama dan persenjataannya, tak lepas dari pengintaian para telik sandi Majapahit.

Berkat pengalaman dan keshaktian Tumenggung Cakrawirya, semua tugas dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat serta berhasil memuaskan, tanpa mendapat kecurigaan dari para Priyagung Kerajaan Sriwijaya.

Pada waktu itu antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya dari Pulau Kedukan Bukit itu memang tak bermusuhan.

Hubungan antara kedua Kerajaan masih berlangsung baik dengan saling menganggap sebagai Negara mitreka Satata atau disebutnya Negara Sahabat.

Adapun Kerajaan Negeri Tanah Melayulah yang bermaksud untuk mengendihkan Kerajaan Sriwijaya, dengan maksud mempersatukan kembali rumpun suku Melayu, serta membebaskan rakyatnya dari penderitaan, akibat tindak sewenang-wenang para Priyagung Kerajaan Sriwijaya.

Untuk mencapai tujuan itu, Sri Baginda Maharaja Adityawarman berkenan minta bantuan pasukan pada Kerajaan Agung Majapahit.

Berulangkali utusan Kerajaan Negeri Tanah Melayu menghadap pada Sri Baginda Maharaja Hayam Wuruk Rajasanegara, untuk menyampaikan permohonan bantuan pasukan, demi terwujudnya keutuhan rumpun suku Melayu.

Hingga pada achirnya, ialah kira-kira tiga tahun yang sewaktu diadakan pasewakan paripurna, Sri Baginda Maharaja Majapahit berkenan memutuskau untuk menyanggupi mengirimkan bantuan pasukan ke Negeri Tanah Melayu dengan syarat, Ialah, kelak apabila dua negara kerajaan di Pulau Kedukan Bukit (Sumatra) itu dapat disatukan dan menjadi satu Negara Kerajaan Besar Negeri Tanah Melayu, maka hendaknya tetap berada dibawah naungan bendera agung „Gula Kelapa„

Dengan demikian, maka diharapkan terwujudnya Negara Kesatuan se Nuswantara dibawah satu lambang kebesaran Sang Dwi Warna, sesuai isi Sumpah Shakti "Tan Amukti Palapa" dari mendiang Maha Patih Mangkubumi Gajah Mada yang telah mangkat sebagai Pahlawan Nuswantara.

Menurut catatan sejarah, konon Kerajaan Sriwijaya pada masa-masa yang lampau pernah pula mengalami jaman keemasan dan menjadi kebesaran serta kebanggaan bagi bangsa se Nuswantara.

Kota Rajanya berada di tepi muara Sungai Musi dekat Palembang kini. la berdiri sejak abad ke 7.

Kerajaan Sriwijaya ini dikenal oleh para pedagang-pedagang bangsa Arab dengan nama "Sri Busa, sedangkan para musafir Cina menyebutnya "Chele Poche"

Kekuasaannya meluas kearah barat laut sampai Selat Malaka, dan kearah tenggara sampai di Selat Sunda. Guru guru yang termasyhur dari India seperti Dharmapala, Sikyakirti dan Iain-lain didatangkan untuk mengajar di Sriwijaya. Dan seribu pendeta Budha menjadikannya pusat yang penting bagi Budha aliran Hinayana. Kemudian mulai abad ke 8 Budha aliran Mahayana dari Sriwijaya lebih berpengaruh dari pada aliran Hinayana dan meluas ke Asia Tenggara.

Pada tahun 775 Sriwijaya pernah pula berkuasa di Ligor, dan pada abad ke 9 dikuasainya Selat Malaka. Lalu-lintas di lautan, antara lain pelaYaran ke India dikuasainya, pun beberapa bandar di Malaka didudukinya.

Bhikshu bikshu Cina yang kenamaan seperti I Tsing dan Wu Ling pernah, pula berkunjung di Sriwijaya untuk belajar tata bahasa Sansekerta dan naskah-naskah suci, selama kira-kira ampat tahun, sebelum mereka berangkat melawat ke lndia.

Faktor-faktor yang menjebabkan pesatnya berkEmbang Kerajaan Sriwijaya diantaranya ialah:

— Raja dan segenap Priyagung mentaati ajaran-ajaran Agama yang dipeluknya. dengan demikian merEka memiliki budi luhur serta selalu menjadi tauladan bagi rakYatnya, hingga Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat Agama Buddha aliran Mahayana.

— Para Priyagung Kerajaan gemar mempertinggi ilmunya dalam segala bidang. lni dibuktikan dengan didirikannya`tempat-tempat perguruan tinggi dan mendatangkan mahaguru-mahaguru dari Negeri lain.

— Letaknya amat strategis, ialah diantara dua Negara yang telah maju, yaitu India dan Tiongkok.

— Mempunyai bandar yang langsung menuju ke Kota Raja yang disebutnya Bandar Muara Musi.

— Pertahanan dengan pasukan tamtamanya yang amat kuat, terutama tamtama angkatan samodranya. Dan terciptanya pertahanan yang kuat ini, berkat dukungan dan bantuan segenap lapisan rakyat.

— Perdagangan dengan Negara-Negara lain mendapat perhatian penuh dari Kerajaan, dan keamanan di lautan terjamin.

Tamtama dan Narapraja Kerajaan Negeri Tanah Me-layu benar- benar merupakan pelindung rakyat. Para penyeleweng dan pemeras rakyat, dibrantasnya secara tegas dengan hukuman siksaan-

siksaan badan yang amat berat, tanpa pilih bulu. Kesejahteraan rakyatnya mendapat perhatian penuh dalam tempat yang utama, hingga mereka pada umumnya dapat hidup tenteram serta dapat menikmati penghidupan layak, dengan terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Demikianlah uraian dan catatan sejarah dari kedua Kerajaan dari Pulau Kedukan Bukit itu. Tiga bulan lamanya pasukan Tamtama kerajaan Agung Majapahit dibawah pimpinan Yoga

Kumala dan Kobar berkemah di pantai Selatan Pajajaran, setelah mana Tumenggung Cakrawirya datang berserta rombongan para tamtama Narasandi Kerajaan

– Aku percaya, bahwa kehendak Gustiku Baginda Maharaja Adhityawarman untuk Menaklukan Kerajaan Sriwijaya tentu akan berhasil — Kata Cakrawirya sewaktu membentangkan keadaan Kerajaan Sriwijaya pada Yoga Kumala dan Kobar beserta para perwira2 tamtama lainnya.

— Tentu saja, apabila didalam tubuh kita sendiri tak ada keretakan-keretakan, yang menyebabkan lemahnya pasukan, — kata ia selanjutnya.

Dengan panjang lebar Cakrawirya memberikan penjelasan penjelasan tentang kedudukan pertahanan Kerajaan Sriwijaya serta tak lupa pula memberikan petunjuk-petunjuk yang penting berguna sebagai bekal dalam mengemban tugas selanjutnya.

Sebagai Manggala Tamtama Narasandi yang telah berpengalaman luas, ia menekankan, bahwa kemenangan di medan yudha hanya tercapai, apabila dalam tubuh pasukan tak ada keretakan. Musuh akan berusaha selalu untuk dapat berselimut dalam tubuh pasukan kita, dengan melalui celah-celah keretakan keretakan yang ada, walaupun keretakan itu nampaknya amat kecil.

Dan disamping keutuhan yang harus terbina baik, pun ketabahan dan tingkah laku para tamtama perseorangan merupakan hal yang menentukan pula.

— ini sangat penting untuk kau sadari sedalam-dalamnya, Kobar ! — kata Cakrawirya denan tandas pada Kobar. Sinar pandang matanya menatap Kobar dengan amat tajam, sewaktu Cakrawirya mengucapkan kata peringatan ini.

Dengan muka tertunduk, Kobar mendengarkan tanpa menjawab sepatah katapun. Mukanya merah padam sampai diujung telinganya.

la merasa terhina akan peringatan demikian, namun karena takut ia tak berani menentangnya.

Kiranya tingkah laku dan sifat-sifat Kobar yang kurang baik itu, telah lama pula mendapat sorotan dari Tumenggung Cakrawirya.

Menurut keterangan selanjutnya dari Cakrawirja, ia sendiri beserta rombongan tamtama narasandi akan berkenan pula mengantarkan bantuan pasukan itu ke Kerajaan Negeri Tanah Melayu, mewakili Gusti Senopati Manggala Yudha untuk menyerahkannya, Sedangkan para anggauta tamtama Narasandi selanjutnya akan ditugaskan membantu terbinanya keamanan setelah nanti Kota Raja lawan dapat diduduki.

Semua menyambut dengan gembira demi mendengar bahwa Cakrawirya beserta rombongan para tamtama narasandi akan menyertai pula hingga sampai di Kerajaan Negeri Tanah Melayu.

Ratnasati, Indah Kumala Wardhani, Ktut Chandra dan Sampur Sekar merasa berbahagia demi mendapat tugas yang amat mulia itu. Pun kesempatan untuk selalu berdekatan dengan kekasih masing masing tentu akan menggembirakan.

Dan kiranya kesempatan baik inipun tak disia - siakan oleh Braja Semandang yang telah lama menanggung derita terkena panah asmara Sampur Sekar.

Dengan sembunyi-sembunyi mereka berdua saling mengutarakan isi hati masing-masing dengan hiasan kata-kata yang sangat lirih.

Lain halnya dengan Yoga Kumala. Dibalik kegembiraan, nampak adanya rasa murung karena maksud untuk mengutarakan isi hatinya pada Ktut Chandra selalu tak sampai, terhalang dengan kehadirannya Ratnasari yang selalu mendekatinya serta menunjukkan rasa kasih dengan kemurnian hatinya. —

Dan untuk tidak mengecewakan, Yoga Kumala terpaksa menanggapi dua remaja putri itu dengan senyum dan tawa yang terbagi. Pun demi tugas yang menjadi bebannya sebagai pembimbing dan pelindung para putri tamtama narasandi, membuat ia selalu berlaku bijaksana. —

Sedangkan hubungan antara Indah Kumala Wardhani adiknya clan Sontani kini bertambah lebih akrab dan mesra. Sepanjang hari mereka berdua bersendau gurau dan ber-cakap-cakap dengan riangnya.

Dan ini semua menamhah meluapnya rasa benci yang telah lama terkandung dalam lubuk hati

Kobar.

Telah berulang kali Kobar bemaksud hendak melampiaskan nafsu kebencian pada Sontani, akan

tetapi selalu gagal karena terhalang dengan adanya Yoga Kumala. Sedangkan bagaimanapun Yoga Kumala adalah menjadi atasannya langsung.

— Seandainya Yoga Kumala musuhku ini binasa, tentulah aku yang akan berkuasa — pikirnya, Dan dendam kesumat Kobar yang telah lama dikandung selalu bangkit menguasai dirinya. —

— Bukankah amat mudah bagaikan membalikan telapak tangan saja, untuk menyingkirkan Sontani dan memperistri Indah Kumala Wardhani, apabila kelak ia yang berkuasa? —

Suara bisikan iblis ditelinganya.

Satu-satunya perwira tamtama bawahannya yang ia menaruh penuh kepercayaan untuk membantu niat jahatnya Kobar adalah Berhala.

Tetapi disesalkan, karena keshaktian Berhala terbatas dan berada dibawah tingkatan Sontani. Ia masih ingat akan kegagalan pada setengah tahun berselang, sewaktu ia mencegat perjalanan Yoga clan Sontani di dekat desa Kasiman. Ia sengaja memakai kedok pada waktu itu, agar wayahnya tak dikenal. Tetapi sayang, bahwa sebelum berhasil, Berhala dan seorang temannya lari meninggalkan gelanggang, karena jeri melihat seorang temannya lain mati terpancung kepalanya oleh sabetan pedang Sontani.

Lima hari kemudian armada iring iringan perahu layar dengan duaja - duaja kebesaran serta bendera keagungan "Gula Kelapa" yang berkibar megah di masing2 puncak tiang bendera, bergerak mengarungi Samodra Raya Nuswantara ke arah Barat laut dengan tujuan Bandar Teluk Bayur Kerajaan Negeri Tanah Melayu. Cuaca cerah, dan angin meniup dengan kencang. Layar-layar mengembang penuh, dan mempercepat lajunya perahu-perahu Iayar itu yang sedang mengarungi samodra.

Gelombang - gelombang ringan bergulung gulung menggempur dinding-dinding perahu layar dengan tanpa mengenal jemu, dan terasalah goncangan goncangan dalam perahu dengan tiada hentinya. —

Lima hari lima malam lamanya Armada iring iringan perahu layar yang mengangkut pasukan tamtama Kerajaan Agung Majapahit itu mengarungi samodra, dan ternyata di lautan, putra putra Nuswantata menunjukkan kemahirannya yang dapat dibanggakan.

Kini Armada telah sampai di Teluk Bayur Dengan rapinya iring-iringan perahu perahu layar itu memasuki Bandar, serta kemudian melepas jangkar untuk berlabuh.

Pasukan yang dipimpin oleh Yoga Kumala dan Kobar semuanya mendarat mengiringkan Tumenggung Cakrawirya beserta para tamtama narasandi yang akan bertindak sebagai utusan Sri Baginda Maharaja Rajasanegara, mewakili Gusti Senopati Manggala Yudha Adhityawardhana.

Kedatangannya disambut dengan upacara kebesaran yang amat meriah oleh para priyagung berserta seluruh tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu atas titah Sri Baginda Maharaja Adhityawarman sendiri.

Pada esok harinya Sri Baginda Maharaja berkenan mengadakan pasewakan paripurna secara tertutup yang dihadliri oleh segenap para Manggala serta para pimpinan pasukan bantuan dari Majapahit, guna merundingkan sia-sat penyerangan untuk menggempur Kerajaan Sriwijaya.

Dalam pasewakan paripurna yang berlangsung tiga hari berturut-turut dan dipimpin sendiri Sri Baginda Maharaja Adityawarman itu, Tumenggung Cakrawirya memberikan laporan tentang keadaan Kerajaan Sriwijaya pada dewasa ini, serta saran-saran sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan siasat perang, agar tidak mengalami kegagalan.

Dengan panjang lebar dipaparkan, bahwa kekuatan pasukan iawan tak dapat di anggap kecil.

Segi-segi kelemahan lawan yang titik beratnya terletak pada kerusakan akhlak perseorangan para priyagung serta sebagian besar para tamtama dan naraprajanya, tak ketinggalan diutarakan pula dalam sidang paripurna itu.

Sedangkan keadaan alam sekitar Kota Raja Sriwiiaya yang dilintasi oleh banyak sungai-sungai itu, menjadi perhatian pula demi menentukan siasat selanjutnya.

Peta bumi daerah Kerajaan Sliwijaya dibeberkan, dan segenap para manggala mempelajarinya dengan saksama.

Pendapat masing - masing dikumpulkan serta disaring, dan akhirnya Sri Baginda Maharaja berkenan sendiri memberikan ketentuan siasatnya.

Jambi Kota Raja yang lama dipilihnya sebagai tempat pemusatan induk pasukan. Kemudian sebagian akan dikirim langsung dengan perahu-perahu layar untuk menduduki sepanjang Sungai Mesuji dengan melewati Selat Pulau Kota Kapur. Dari sanalah serangan permulaan akan dimulai dan bergerak kearah selatan mengikuti mengalirnya Sungai Komering untuk selanjutnya menduduki Kayu Agung.

Serangan permulaan itu dimaksudkan sebagai pancingan untuk mengalihkan sebagian kekuatan pertahanan lawan yang berada disepanjang Sungai Musi.

Sebagian kekuatan pasukan lagi akan bergerak menuju hulu Sungai Banyuasin dan dari sanalah mereka mendesak ke arah tenggara untuk langsung menyerang pertahanan lawan yang terkuat disepanjang Sungai Musi, dengan dibantu oleh sebagian pasukan lagi yang akan bergerak dari muara Sungai Banyuasin.

Dengan demikian Kota Raja Sriwijaya diharapkan terkepung tertebih dahulu, sesaat sebelum surat penantang perang disampaikan.

Setelah garis besar siasat penjerangan itu ditentukan serta di fahami dengan saksama oleh para Manggala dan priyagung yang hadfir, maka Pasewakan paripurna segera dibubarkan.

Kini semua sibuk untuk mempersiapkan diri dalam tugas masing-masing, siaga menghadapi perang besar.

Gusti Tumenggung Cakrawirya kemudian dengan diantar oleh para priyagung sampai di Bandar Teluk Bayur, berlajar meninggalkan Pulau Kedukan Bukit menuju ke Kerajaan Agung Majapahit.

Sedangkan para tamtama narasandi ditinggalkannya untuk bergabung menjadi satu dengan pasukan bantuan yang dipimpin oleh Yoga Kumala.

— Perang — . . . demi terbebasnya penderitaan rakyat — perang — . . demi terwujudnya

keutuhan bangsa, dan sekali lagi — perang — demi kejayaan lambang shakti Bendera Kesatuan se Nuswantara nan Agung Sang "Gula Kelapa"

Demikianlah sembojan Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang disematkan di dada pada tiap-tiap tamtama Kerajaan yang akan melakukan perang besar-besaran.

— Dalam ,.perang suci„ ini, segenap tamtama yang mengemban titah Maharaja junjungannya, harus memiliki keyakinan penuh, bahwa Dewa Kemenangan tentu akan berada difihaknya. Mati

dimedan Yudha adalah „Pahlawan Bangsa„ yang akan dikenang sepanjang masa, serta menjadi kebanggaan para keluarga yang ditinggalkannya. Demikianlah pengertian seorang tamtama.

Sebelum berangkat ke medan YuDha mereka bermandi jamas dengan air bunga rampai suci. Kuil-kuil dan candi-candi serta tempat-tempat suci lainnya telah penuh dengan kembang setaman dan sesajian beraneka macam dan warna.

Semua Pendeta memanjatkan do`a dan mantra-mantra, demi tercapainya kemenangan.

Akan tetapi „perang„ bagi rakyat kecil, adalah malapetaka .,Perang., adalah sesuatu yang dibenci dan tak diinginkan oreh rakyat. Menang ataupun kalah, rakyat akan tetap menderita karenanya. Dikala itu, waktu telah lewat tengah malam. Namun belum juga terdengar suara ayam berkokok yang pertama.

Langit biru membentang bersih, dan berkeredipnya bintang-bintang diangkasa laksana cahaya taburan batu permata.

Alun-alun Kota Raja Negeri Tanah Melayu kelihatan terang benderang geperti diwaktu siang teagah hari, karena pancaran sinar nyalanya lampu-lampu obor yang tak terhitung jumlahnya.

Suara ringkikan kuda yang beribu-ribu dan suara bercakap-cakapnya para tamtama yang tak terhitung jumlahnya, walaupun lirih berkumandang mendengung bagaikan lebah dalam sarang, memecah kesunjian tengah malam itu.

Seakan-akan pada malam itu seluruh Kota Raja dalam keadaan bangun. Barisan-barisan tamtama Kerajaan memenuhi alun-alun yang amat luas itu, bahkan hingga meluap keluar batas tembok, dijalan - jalan raya. Semua dalam keadaan siap siaga untuk berangkat ke medan Yudha.

Panji - panji kebesaran serta lambang - lambang barisan kesatuan dan Bendera Shakti Dwiwarna berkibar-kibar megah dalam barisan yang terdepan.

Setelah upacara pemeriksaan barisan selesai, dan segenap pasukan selesai pula memanjatkan doa pada Dewata Yang Maba Agung untuk mohon perlindunganNya, dibawah pimpinan para Pendeta Istana, kini pasukan besar Kerajaan Negeri Tanah Melayu mulai bergerak meninggalkan Kota Raja, ke arah Tenggara dengan tujuan Kota Raja yang lama ialah Jambi.-

Sang Senopati Manggala Yudha Bintang Minang, berkenan sendiri memimpin pasukan besar yang akan berangkat ke medan Yudha itu.

Suara mengaungnya gong dipukul tiga kali dan disusul dengan tiupan seruling serta bertalunya genderang yang memekakkan telinga, mengiringi bergeraknya pasukan besar meninggalkan Kota Raja. Suara gemerincingnya senjata-senjata yang bergesekan, ringkikan kuda yang sahut menyahut,

serta derap langkah kaki kuda yang gemuruh tak ada putusnya, membangunkan desa-desa yang sedang tenggelam nyenyak dalam kesunyian malam. Namun para penduduk desa-desa yang dilaluinya itu, tak seorang berani menampakkan dirinya. Mereka hanya mengintip dari celah-celah dinding bambu anyaman, sambil memondong dan mendekap anak-anak kecil mereka dengan penuh rasa takut. karena tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan diantaranya banyak pula yang tcrgopoh-gopoh berkemas-mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu dapat segera lari mengungsi ke lain desa, apabila terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Bahkan ada pula yang menjumbat mulut anak-anaknya sendiri, mencegah keluarnya suara tangis, sambil duduk gemetar, tak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya.

Hal itu sebenarnya tak mengherankan, karena mereka samasekali tak mengetahui sebelumnya, bahwa hari itu Kerajaannya akan memulai dengan perang besar, mengendihkan Kerajaan Sriwijaya.

Pasukan besar yang berkekuatan tak kurang dari lima belas ribu tamtama bersenjata itu, bergerak melalui sebelah barat kaki gunung Sulasih, dan kini tiba di hulu Sungai Batanghari.

Setelah berjalan 7 hari lamanya dengan mengikuti mengalirnya Sungai Batanghari, pasukan tiba di desa Muara Tebo yang terletak antara persimpangan Sungai Batanghari dan muara Sungai Tebo yang mengalir menjadi satu dengan Sungai besar Batanghari itu.

Sehari semalam pasukan beristirahat di dataran muara Sungai Tebo guna memulihkan tenaga. Dan setelah itu, pasukan bergerak lagi mengikuti mengalirnya Sungai Batanghari selama dua hari dua malam hingga tiba di muara Sungai Trembesi, anak cabang dari Sungai Batanghari pula. Setelah pasukan melepaskan lelah dengan berkemah semalam Iamanya, kini bergerak lagi langsung menuju kota Jambi yang tak jauh lagi letaknya.

Pasukan berkuda mendahului memasuki Jambi untuk mempersiapkan segala sesuatu yang bertalian dengan penampungan induk pasukan besar Kerajaan Negeri Tanah Melayu itu.

Mendadak sontak kota Jambi menjadi ramai kembali, penuh dengan para tamtama. Pertahanan

- pertahanan batas kota dibangun dengan amat kokohnya.- Pada esok harinya para Manggala dan segenap perwira-peraira tamtama merundingkan siasat penyerangan selanjutnya, sesuai garis-garis besar yang telah ditentukan.

Dua pertiga bagian dari induk pasukan dengan kekuatan sebanyak kira-kira 10.000 orang tamtama kemudian dipecah-pecah menjadi ampat bagian.

Sebagian pasukan dibawah Senopati Manggala tamtama Samodra Damar Kerinci yang berkekuatan 3000 tamtama mendahului berlayar menyusuri pantai kearah tenggara dengan melalui Selat Pulau Kota Kapur (Bangka) untuk kemudian menuju Sungai Mesuji.

Menyusul kemudian Kobar dengan didampingi oleh Berhala dan Gumarang memimpin pasukan berkekuatan 3000 tamtama dengan tujuan Muara Sungai Banjuasin, untuk kemudian menyerang pertahanan dekat Kota Raja yang berada di muara Sungai Musi. Dan bersamaan dwngan itu, 1000 orang tamtama mengawal Sang Senopati Muda dari Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang bertindak sebagai utusan Sri Baginda Maharaja Adhityawarman langsung menuju ke Kota Raja Sriwiyaja, dengan melalui Bandar Muara Musi, untuk menyampaikan surat penantang perang.

Yoga Kumala dengan didampingi oleh Sontani dan Braja Semandang dIserahi tugas memimpin pasukan berkekuatan 3000 orang tamtama berkuda, dengan tujuan ke dataran hulu Sungai Banjuasin, untuk kemudian langsung menggempur pertahanan lawan yang terkuat di sepanjang Sungai Musi.

Sedangkan induk pasukan yang tinggal berkekuatan kira-kira 5000 orang tamtama, dimaksudkan sebagai cadangan dan akan bergerak mengikuti pasukan Yoga Kumala dalam jarak yang agak jauh untuk dapat mengambil alih serta menguasai medan yudha. apabila pasukan Yoga Kumala mengalami kegagalan. Dengan demikian maka tugas Induk pasukan adalah sebagai godham terakhir.

Jala Mantra memimpin pasukan penghubung, sedangkan para tamtama narasandhi ditugaskan untuk mengikuti induk pasukan, sebagai penunjuk jalan setelah nanti dapat memasuki Kota Raja lawan, ataupun melaksanakan tugas - tugas khuus apabila dipandang perlu.

Sementara Jambi ditinggalkan, pasukan baru yang diberangkatkan dari Kota Raja diperkirakan telah tiba dan menggantikan kedudukannya, dengan tugas-tugas menyusun pertahanan demi mencegah kemungkinan gagalnya serangan serta menanggulangi serangan - serangan balasan lawan, Tiap - tiap pasukan yang kini mulai bergerak disertai pula dengan para penunjuk jalan yang telah mengenal dengan baik akan keadaan alam sekitarnya yang akan dilalui.—

— Berapa hari lagi kita sampai di tempat tujuan, Gusti Yoga? — tiba-tiba Sontani bertanya, memecah kesunyian sambil masih berkuda disamping Yoga Kumala.

— Yaaa Aku sendiri belum tahu dengan pasti! — jawab Yoga Kumala singkat dengan

mengerutkan keningnya, serta mengusap keringat yang membasahi muka dengan lengan bajunya.

— Sebaiknya kita berhenti sebentar ditengah hutan ini, dan panggilah segera si Dirham penunjuk jalan kita yang berada di depan itu! — Perintah Yoga Kumala pada Sontani selanjutnya.

Dengan tangkas Sontani memacu kudanya untuk menyampaikan perintah Yoga Kumala pada perwira-perwira tamtama pimpinan kelompok-kelompok, agar mereka menghentikan pasukannya masing-masing, sedangkan Braja Semandang tanpa diperintah lagi telah memacu kudanya untuk menyusul Dirham si penunjuk jalan yang kemudian segera kembali menghadap Yoga Kumala bersamanya.

— Dirham! berapa lama lagi kita akan sampai di hulu Sungai Banyuasin? — Yoga bertanya.

— Jika tak ada rimangan, perjalanan itu dapat ditempuh dalam waktu dua hari, Gusti Tumenggung! Akan tetapi . . . . . .—

— Akan tetapi apa lagi?! — Desak Yoga Kumala.

Berkata demikian Yoga Kumala turun dari pelana kudanya dan dikuti oleh Dirham, Sontani dan Braja Semandang untuk kemudian duduk ditanah dibawah sebuah pohon rindang ditengah hutan, setelah mana mereka menambatkan kudanya masing-masing.

Sambil duduk menghadap Yoga Kumala, Dirham melanjutkan bicaranya.

— Maksud saya setelah nanti Tuanku Gusti Tumenggung beserta pasukan menyeberangi

Sungai Tungkal, saya hendak mendahului berkuda sampai di daerah keluang. Dan apabila keadaan disana aman, saya akan segera kembali untuk melapor pada Gusti.

— Daerah keluang?! Daerah siapa dan dimana itu?! —

Daerah keluang adalah daerah perbatasan antara Negeri kita dan Kerajaan musuh. Sedang dinamakan keluang, adalah karena daerah itu merupakan daerah yang tak bertuan. Pun keadaan alam di daerah Itu tak ubahnya seperti disini. Hutan belukar! Gusti! —

— Berapa jauh Sungai Tungkal dari sini? —

— Jika sekarang pasukan mulai bergerak, sebelum petang hari, tentu telah dapat melintasi Sungai Tungkal Gusti!

— Baik! Sontani! Braja Semandang! Perintahkan seluruh pasukan bergerak lagi ke arah utara lurus, Sekarang! Dan setelah petang nanti melintasi Sungai Tungkal, masing - masing kelompok supaya mencari tempat untuk berkemah dalam bentuk pasukan „Naga Tapa"

— O. . . . . . ya . . . . . ! Jangan lupa akan perubahan sandiwara untuk petang nanti serta penjagaan keamanan! —

Semua segera siap diatas punggung kuda masing - masing, dan pasukan bergerak maju lagi melalui hutan belukar dan rawa- rawa.

Sebelum senja pasukan telah menyeberangi Sungai Tungkal, dan mereka berhenti berkemah, sementara Dirham dan Sontani dengan membawa pasukan pengawal bergerak terus menyusupi hutan belukar ke daerah keluang untuk melihat keamanan di sekitar daerah itu.

Dengan didampingi oleh Braja Semandang dan diiringkan pasukan pengawal, Yoga Kumala memeriksa segenap pasukan berserta perbekalannya.

Perwira-perwira tamtama dan segenap pimpinan kelompok kelompok pasukan dikumpulkan, untuk menerima petunjuk-petunjuk tentang gerakan pasukan selanjutnya. Pun pada mereka diperintahkan, agar kewaspadaan lebih ditingkatkan, karena pasukan kini berada tak jauh dari daerah perbatasan musuh.

Terkecuali para tamtama yang berjaga, pengawal pengintai dan tamtama peronda keliling, semua pasukan pada malam itu diperkenankan istirahat dalam kubu masing-masing.

Suasana amat sepi, dan gelap malaan yang pekat itu menambah tegangnya perasaan para tamtama yang sedang bertugas jaga.

Tiba-tiba terdengar suara anjing hutan melolong panjang serta menyeramkan dari tempat pengawal pengintai yang berada tinggi diatas pohon tengah hutan. dan sesaat kemudian dari kejauhan terdengar suara burung hantu menggema dimalam menjelang fajar yang sunyi itu, disusul dengan suara derap langkah kuda yang kian mendekat.

Mereka yang datang itu adalah Sontani dengan Dirham berserta pengawalnya. Setelah melewati tempat pengawal pengintai; mereka berjalan langsung menuju ke kemah besar di mana Yoga Kumala berada.

— Gusti Yoga! Sekitar daerah keluang aman! Akan tetapi setelah melewati daerah keluang terdapat dataran terbuka yang amat luas dengan batas Sungai Batangharileka di sebelah barat, dan di sebelah tenggara utara terbatas pada hutan dimana hulu sungai Banjuasin bersumber. Kami telah berusaha mendekat dengan menjusuri tebing-tebing bungai Batangharileka. Dan dari sanalah kami dapat melihat adanya pengawal pengintai di hutan itu. Sontani memberikan laporannya.

— Baiklah! Jika demikian, esok malam saya akan memerintahkan sebagaian pasukan panah untuk memasuki hutan itu. Dan jika kupandang perlu, saya sendirilah yang akan memimpinnya. Sekarang kau dan Dirham serta para pengawalmu sebaiknya istirahat dulu! — Perintah Yoga Kumala.

*

* *

B A G I A N IV

MALAM ITU amat gelap. Awan hitam tebal menggantung di angkasa, dan hujan rintik - rintikpun mulai turun, Suara guntur gemuruh susul menyusul dalam malam yang pekat itu, diseling dengan suara mengamparnya petir yang berkilatan menyambar nyambar diudara. —

Barisan tamtama pemanah yang berkuda sebanyak kira2 100 orang dibawah pimpinan Yoga Kumala sendiri itu masih saja bergerak maju dengan pesatnya, menyusuri tebing-tebing sungai Batangharileka yang amat licin dan berliku-liku kearah muara.

Mereka basah kuyup dan sesekali ada yang jatuh terperosok karena bertekok-lekoknya serta licinnya jalan yang di laluinya. Namun pasukan berjalan terus tanpa mengindahkan gangguan hujan maupun gelapnya sang malam. — Malam ini kita harus dapat menguasai hutan yang berada dihulu sungai Banyuasin itu, — kata Yoga Kumala pada Sontani, sambil memacu kudanya.

— Tugas ini sesungguhnya Gustiku dapat menyerahkan sepenuhnya pada diri saya, — jawab sontani yang berkuda disampingnya.

— Pendapatmu memang benar. Tetapi aku bermaksud ingin mengetahui sendiri keadaan dihutan itu. Karena jika mungkin, sebelum fajar pasukan seluruhnya akan kupindahkan kesitu. —

—O , begitukah maksud Gusti Yoga! Jika demikian, sayapun hanya mentaati perintah Gustiku! —

Pembicaraan masing-masing terlalu singkat, hingga sukar untuk diikuit oleh yang mendengar akan percakapannya.

Kedua duanya menunjukkan wajah yang bersungut-sungut. Langkah kudanya berderap tetap, clan mereka berduapun selalu berjajar berdampingan, disusul oleh para tamtama yang berkuda urut-urutan memanjang dibelakangnya.

Dataran terbuka yang luas itu, kini teIah dilaluinya hampir separo.

Tiba-tiba jauh diketinggian sebelah utara tenggara terlihat melintasnya panah api susul menyusul lungga tiga kali. Dan bagaikan terhalang rintangan tinggi yang menghadang didepannya, Yoga Kumala mengekang tali lis kudanya dengan santakan karena terperanjat, hingga sikuda berhenti seketika dengan berdiri sesaat diatas kedua kakinya belakang sambil mengeluarkan suara ringkikan.

— Ah! Terlambat! — Geramnya.

— Apa yang dimaksudkan dengan terlambat, Gusti? — Sontani turut pula menghentikan langkah kudanya secara tiba-tiba, sambil bertanya dengan penuh kecemasan.

Sesungguhnya ia pun melihat pula adanya panah api yang berturut-turut melintasi di ketinggian jauh di sebelah teng gara itu, akan tetapi sedikitpun ia tak tahu akan arti maksudnya.

Dan kini tanpa mendapat penjelasan dari Yoga Kumala, tiba-tiba ia mendengar desisan gumam Yoga Kumala yang jelas menunjukkan rasa penjesalan

— Gerangan apakah yang menjadikan murkanya Gustiku ini — pikirnya.

— Sontani! — Esok fajar perang terbuka sudah dimulai! Cepatlah kau kembali, dan perintahkan seluruh pasukan bergerak maju.

Sebelum fajar kita harus dapat mengepung kota Raja Iawan dari sebelah barat! Ketahuilah, bahwa panah api yang baru saja terlintas itu adalah isyarat, bahwa perang telah diumumkan. Dan pasukan-pasukan penyerang kita yang lain, tentu telah mengepungnya dari sebelah timur dan selatan. Kini tinggal kita sendirilah yang terlambat — Aku beserta pasukan panah yang ada ini akan menduduki hutan yang berada di depan kita itu, sambil menanti kedatanganmu berserta seluruh pasukan?! — Perintah Yoga Kumala dengan tegas.   

Tiba2 jauh diketinggian sebelah utara tenggara terlihat melintasnya panah api susul menyusul hingga tiga kali. Dan bagaikan terhalang rintangan tinggi yang menghadang didepannya, Yoga Kumala mengekang tali lis kudanya dengan sentakan karena terperanjat….

Seakan-akan tak ada waktu lagi untuk menjelaskan lebih lanjut.

Akan tetapi sebagai seorang perwira tamtama yang cerdas, Sontani cepat dapat menangkap isi perintah keseluruhannya. Pun ia segera dapat menarik kesimpulan, bahwa panah api yang baru saja dilihatnya tentulah suatu isyarat dari Bupati anom Kobar.

Dengan tangkasnya ia memutarkan kudanya, serta memacunya, setelah mengucapkan singkat:

— perintah Gustiku saya junjung tinggi?! —

Sementara itu Yoga Kumala baserta pasukan tamtama yang berkuda berjalan terus, menyusuri tebing tebing sungai Batanghariteka yang berkelok-kelok dan licin itu dalam kegelapan malam, dengan didampingi oleh Dirham si penunjuk jalan.

Sepatahpun Yoga Kumala tak berkata, selama ia menempuh perjalanan.

Mulutnya terkatub rapat, dan sebentar-sebentar sambil memacu kudanya ia mengusap air hujan yang membasahi muka dengan lengan bajunya.

— Mengapa isyarat panah api itu munculnya dengan tiba-tiba saja, dan tak menurut ketentuan yang telah digariskan oleh rencana semula?

Bukankah isyarat panah api itu seharusnya lusa malam baru akan muncul? Ataukah ada sesuatu kejadian yang tak terduga-duga, hingga terpaksa perang besar harus dimulai esok fajar? —

Menurut perhitungan Yoga Kumala, ia beserta pasukannya telah akan tiba di hulu Sungai Banyuasin dua hari lebih cepat dari pada rencana.

Akan tetapi kini bahkan hampir hampir saja ia beserta pasukan menjadi terlambat

Atau, mungkinkah Kobar mendahului membuka serangan dari muara sungai Banyuasin sebelah timur Kota Raja sesaat setelah surat penantang perang sampai ditangan musuh? Akan tetapi apabila demikian, bagaimana nasib Sang Senopati muda yang bertugas mengantarkan surat penantang perang itu? Tentulah mereka semua menjadi tawanan musuh.

Ah, . . .. . itu kiranya tak mungkin. — Atau bocorkah rahasia siasat kita? — Sampai disini

pikiran Yoga Kumula menjadi kalut. Jantungnya berdebar debar penuh rasa kecemasan.

Ah, tak mungkinl — Ia mengbibur diri sendiri.

Namun masih saja rasa cemasnya berkecamuk didalam benak hatinya. Mungkin terjadi sebaliknya. Musuh yang memulai melanggar tata susila Yudha, dan menawannya Gusti Senopati muda berserta seluruh pengawal yang mengantarkan surat penantang perang itu, hingga Kobar terpaksa membuka serangan lebih cepat daripada rencana yang telah ditentukan pikirnya.

— Untung saja, pasukanku telah berada tak jauh lagi dari tempat tujuan.—

Dan sebagai orang shakti janng terlatih ia dapat dengan cepat menenangkan kembali perasaan2- nya yang diliputi kekalutan itu.

Hujan turun semakin deras dan gunturpun masih saja menggelegar susul menyusul dengan diselingi berkilatnya petir yang membelah kegelapan malam di angkasa.

— Dirham! Perintahkan pada tamtama barisan panah itu untuk mulai menyebar ! Sepertiga bagian di sayap kiri, dan yang lainnya menduduki sayap kanan, membentang hingga ujung hutan sebelah utara? — Perintah Yoga Kumala memecah kesunyian dengan tiba-tiba, sambil memperlambat langkah kudanya.

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Dirham segera mengambil cerobong, yalah potongan bambu yang berisikan kunang-kunang sebangsa binatang2 kecil sejenis serangga yang memancarkan cahaya berkedip-kedip diwaktu malam, dari dalam kantong bajunya.

Cerobong potongan bambu itu diacung acungkan menghadap kebelakang, yang segera dapat dilihat terang oleh para tamtama berkuda yang mengikuti dibelakangnya.

Sesaat cerobong bambu kunang2 itu digoyang-goyangkan, sebagai isjarat aba aba akan gerakan pasukan selanjutnya, sesuai dengan perintah Yoga Kumala. Dan kemuclian dimasukkan cerobong itu dalam kantong bajunya kembali.

Tak lama kemudian, dua pertiga bagian dari barisan panah yang berada di belakang itu segera memacu kudanya masing-masing untuk mendahului jalan di depan, sedangkan sepertiga bagian yang lain merapat dibelakang Yoga Kumala.

Kini dengan tangkasnya para tamtama barisan panah itu menjelinap ke dalam hutan yang gelap pekat.

Mereka menyusupi hutan dalam bentuk garis memanjang hingga sampai pada ujung sebelah

utara dengan penuh kewaspadaan. Gerakan mereka amat gesit, bagaikan kucing yang sedang mencari mangsa.

Selain dari pada suara terinjaknya ranting ranting patah yang segera hilang tertelan oleh suara lebatnya hujan, tak terdengar lagi.

Tak lama kemudian terdengar suara jeritan tertahan susul - menyusul dan disusul oleh suara jatuhnya dua sosok tubuh manusia dari atas pohon yang terbanting ditanah dengan masing-masing tertancap sebatang anak panah dipunggung dan kepalanya. Dan setelah itu, suasana menjadi sunyi hening kembali.

Ternyata dalam gelap malam yang pekat itu, para tamtama barisan panah dapat pula menunjukkan kemahirannya.

Cepat Yoga Kumala melompat turun dari kudanya dan melangkah menuju ke tempat suara jatuhnya seorang pengintai musuh yang berada tak jauh didepannya dengan diikuti oleh Dirham.

Akan tetapi, sewaktu Yoga Kumala melompat turun dari kudanya dan kemudian menghampiri sambil berjongkok meraba-raba pada tubuh orang yang telah menjadi mayat itu, tiba-tiba seorang pengintai musuh berkelebat melayang turun dari dahan pohon yang berada diatasnya, dan langsung menyerangnya dengan tusukan pedang.

Namun kiranya Yoga Kumala telah siap siaga pula untuk menghadapi setiap serangan yang tiba

tiba.

Pendengarannya yang amat tajam serta perangsang perasaan nalurinya, membuat ia tangkas

bergerak. la berguling ditanah, sambil langsung menyerang dengan totokan jari-jarinya tangan kiri yang telah mengembang tegang kearah punggung lawan yang baru saja berpijak ditanah.

Tak ayal lagi, dalam satu gebrakan orang itu menjerit dan jatuh tersungkur ditanah serta menjadi lumpuh seketika.

Ternyata jalinan syaraf penggerak kedua kakinya telah tepat terkena serangan totokan jari-jari Yoga Kumala. Dengan satu loncatan Yoga Kumala telah menangkapnya serta menyumbat mulut orang itu dengan dekapan telapak tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya melintir lengan musuh sebelah kanan dengan cengkeraman yang amat kuat, sambil berseru mengancam : — Jangan bergerak dan jangan bersuara !!! — Suaranya yang pendek tertahan serta parau itu jelas mengandung perbawa daya shakti, hingga orang yang diancamnya menggigil tak berdaya.

— Dirham ! Ikat orang ini erat-erat diatas punggung kudamu dan sumbatlah mulutnya ! Perintah Yoga Kumala kemudian pada Dirham yang berada di belakangnya.

Dengan mudahnya pengintai lawan itu diringkus serta diseretnya oleh Dirham dengan dibantu oleh dua orang tamtama, untuk kemudian di ikat erat-erat diatas punggung kuda dengan mulutnya tersumbat.

Pasukan panah masih terus bergerak maju dengan serempak, menyusupi hutan ke arah timur, sementara Yoga Kumala dan Dirham serta dua orang tamtama menunggu tawanannya ditengah-tengah hutan.

Tak berapa lama kemudian seorang pemimpin barisan panah yang berpangkat penatus tamtama datang menghadap pada Yoga Kumala, serta memberi tahukan bahwa didalam hutan sampai pada sumber hulu sungai Banyuasin itu tak nampak adanya pertahanan maupun penjagaan2 musub.

— Tak mungkin! Untuk apa musuh menempatkan pengintai disini, jika dalam hutan ini tak ada pertahanan ataupun kubu-kubu musuh – , bantah Yoga Kumala dengan suara yang menggeram serta wajahnya bersungut sungut.

— Tetapi kami telah memeriksanya dengan teliti, Gusti ! Yang ada hanya bekas-bekas api unggun yang telah basah dingin karena tersiram air hujan ! Dan itupun mungkin telah sejak sore tadi ditinggalkan! —

— Dan disekitar bekas api unggun itu, apakah tak ada tanda - tanda lain yang mencurigakan ? ? !

! — Desak Yoga

— Kami rasa, tidak ada, Gusti! Keadaan sekitarnya sunyi sepi !—.

— Aneh ! Sungguh aneh ! Coba kau korek dari mulut seorang tawanan itu! Mungkin dapat menemukan keterangan2 yang penting !!

— Baik, Gusti!– Jawab penatus tamtama barisan panah itu dengan singkat, serta segera menjalankan tugasnya.

Hujan telah mulai berhenti, dan awan tebal hitam yang menjelimuti langitpun telah lenyap terhembus angin.

Kini bintang-bintang telah mulai menampakkan cahayanya, walaupun masih bersinar pudar.

Malampun telah hampir larut mendekati merekahnya fajar.

Ternyata setelah dengan siksaan berbagai macam, dari orang tawanan itu hanya mendapatkan keterangan, bahwa pertahanan perbatasan sejak hari sore telah ditinggalkan. Sedangkan tiga orang pengintai itu mendapatkan tugas untuk mengamat-amati di sekitar hutan, dan pada fajar nanti mereka ketiga tigana diharuskan kembali pada induk pasukannya yang berada di seberang sungai Banyuasin, dekat batas hota Raja untuk melaporkannya.

Tiba tiba saja suara gemuruhnya derap langkah kuda terdengar semakin jelas, dan regemangnya pasukan yang terdiri dari beribu-ribu tamtama berkuda dari kejauhan disebelah utara, nampak makin terang. Seakan-akan sepanjang sungai Batangharileka yang menghadapkan dataran terbuka itu penuh dengan tamtama berkuda.

Akan tetapi, . . . bersamaan dengan datangnya pasukan Yoga Kumala yang dipimpin oleh Braja Semandang dan Sontani itu, terdengar pula suara gemuruh yang lebih dahsyat dari barat yang tak putus- putus. Ternyata pasukan musuh yang jauh lebih besar telah bergerak maju, menutup sepanjang tebing sungai Tungkal, menghadapkan kearah pasukan Yoga Kumala yang baru saja tiba, dari jarak yang masih cukup jauh.

Sesaat Yoga Kumala terperanjat, melihat besarnya pasukan musuh yang kini harus dihadapinya itu. Peluh dingin keluar dari jidatnya, demi menyaksikan bergeraknya pasukan lawan yang tak diduga duga itu. Ternyata bukannya ia mengepung lawan, akan tetapi kini lawanlah yang mengepung pasukannya, Jelas bahwa lawan mengambil kedudukan dan bergerak dalam bentuk barisan "Dhiradha meta" atau disebutnya pula "gajah bangun".

Demikian pula perasaan yang menguasai Sontani dan Braja Semandang serta para perwira- perwira tamtama lainnya. Mereka hanya dapat saling berpandangan dengan mulut masing masing yang terkunci. perasaannya diliputi oleh ketegangan yang tak terhingga. Mereka diam bagaikan patung, menunggu datangnya suara perintah dari pimpinannya yang tertinggi ialah Yoga Kumala.

Kebimbangan segenap para perwira tamtama itu, segera dapat diketahui oleh Yoga Kumala yang tengah mengadakan pemeriksaan barisan secara sepintas lalu dengan pandang matanya yang tajam.

Dan sebagai seorang Bupati tamtama yang memilik i kesaktian serta terlatih, Yoga Kumala segera dapat menguasai kembali ketenangan pada diri pribadinya.

Dengan suara yang lantang dan bersikap perkasa diatas punggung kudanya, ia membangkitkan semangat joang para tamtama pasukannya yang kini nampak dalam kebimbangan itu. — Hai Saudara - suidara segenap tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang kita agungkan! Ketahuilah, bahwa peperangan besar sesaat lagi akan segera dimulai. Percayalah, bahwa kemenangan pasti akan barada difihak kita. Tak usah kalian bimbang, karena melihat besarnya barisan lawan ! Kemenangan tidak ditentukan oleh besarnya pasukan serta ampuhnya persenjataan, akan tetapi ditentukan oleh ketabahan, keberanian, ketangkasan dan ketinggian budi pada pribadi saudara masing- masing yang tergabung dalam pasukan dibawah pimpinan saya. Saya percaya sepenuhnya, bahwa apa yang telah saja kemukakan itu, kini telah dimiliki oleh saudara-saudara sekalian.

Seorang tamtama yang mengemban tugas suci, tak akan kenal menyerah, serta pantang meninggalkan gelanggang medan - laga tanpa perintah!

Nah! Junjunglah tinggi-tinggi titah Gusti Seri Baginda Maharaja yang kita mulyakan itu! Dewata Yang Maha Agung akan menyertai kita semua! — . . . .

Suaranya menggema penuh daya perbawa, dan jelas dapat ditangkap oleh segenap para tamtamanya.

Dan demi mendengar ketegasan pemimpinnya itu, semangat tempur pasukan kini menjadi menyala kembali. —

Perintahnya kemudian: Sontani! Tempatkan barisan panah pada ujung kedua sajap barisan kita, dan pusatkan inti pasukan penyerang ditengah tengah, untuk memudahkan membuka serangan dalam bentuk "gelatik neba" ! Selanjutnya kau dan Braja Semandang jangan berpisah denganku! —

Seribu tamtama barisan panah segera terpecah menjadi dua, dan masing masing bergerak menuju ke tempat yang telah ditentukan.

Suara bergeraknya pasukan dalam mengatur kedudukan barisan, gemuruh bagaikan banjir melanda.

Tak lama kemudian seluruh pasukan telah siap siaga di tempat kedudukan masing-masing, sesuai dengan kehendak Yoga Kumala. Sedangkan ia sendiri berada ditengah-tengah barisan terdepan dengan diapit-apit oleh Sontani dan Braja Semandang menghadap kearah barisan lawan yang berada jauh di sebelah timur.

Matanya memandang tajam kearah barisan lawan yang nampak remang.remang membentang luas dihadapannya yang kini tengah bergerak maju dengan suaranya yang gemuruh mengumandang.

Pikirannya merana jauh, meraba-raba jawaban atas teka teki yang kini sedang dihadapi, — Mengapa tiba-tiba pasukannya terperosok dalam perangkap musuh? — Sudah musnakah seluruh pasukan Kobar yang akan menyerang dari sebelah timur, hingga ia kini harus menghadapi pasukan besar lawan ini? —

Ataukah sengaja pasukan Kobar bersembunyi sebagai siasat, untuk kemudian dapat menyerangnya dari belakang? — Akan tetapi, jika demikian mengapa tak ada seorang penghubung yang datang untuk memberitahukan perobahan-perobahan siasat itu? —

Fajar telah merekah. Jauh disebelah timur, sang Surya menampakkan separoh tubuhnya, dengan memancarkan cahayanya yang semburat jingga ke emasan. Dan perlahan-lahan alampun menjadi terang benderang. —

Kini dua pasukan besar yang sedang bermusuhan itu bergerak maju dalam susunan bentuk barisannya masing-masing.

Barisan tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu di bawah pimpinan Yoga kumala yang beribu - ribu jumlahnya itu bergerak maju perlahan lahan, laksana samodra meluap.

Suara ringkikan kuda yang sahut menyahut dan suara gemerincingnya senjata-senjata bercampur gaduh menjadi satu. Seruling genderang bertalu-talu di iring dengan derap langkah barisan tamtama yang berkuda. Panji-panji dan duaja - duaja kebesaran pasukan Kerajaan, berkibar dengan megahnya,

sedangkan senjata-senjata tajam, seperti tombak, lembing dan klewang yang telah terhunus nampak seperti alang-alang yang tumbuh di padang subur.

Demikian pula pasukan lawan dari Kerajaan Negeri Sriwijaya, yang mengalir tak ada putusnya, bagaikan arus banjirnya sungai Musi.

Suara gajah dan ringkikan kuda serta bergeraknya tamtama yang puluhan ribu jumlahnya, gemuruh bercampur aduk menjadi satu.

Berkilatnya beribu - ribu senjata tajam yang telah terhunus tertimpa oleh pancaran sinar matahari, berkilau-kilau menyilaukan pandangan.

Tiba-tiba pedang pusaka ditangan kanan Yoga Kumala berkelebat diacungkan kedepan, dan beribu ribu tamtama , berkuda berebut ducung menyerbu Iawan, bagaikan burung gelatik meneba dipadang padi yang sedang menguning.

Bersamaan dengan gerakan serbuan para tamtama penyerang itu, barisan panah melepaskan anak panah dari busurnya laksana hujan.

Dan kini bagaikan benturan guntur, setelah dua pasukan itu bertemu.

Masing-masing gigih bertahan dan berusaha untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya.

Beradunya senjata-senjata laksana suara petir yang mengampar, dan pula di seling dengan suara jeritan ngeri susul-menyusul serta ringkikan kuda ataupun suara jatuhnya korban.

Dimana-mana darah berkececeran, mengalir membanjir membasahi bumi. Debu mengepul tebal bagaikan kabur, hingga membuat gelapnya pandangan. —

Dimedan laga yang dahsyat itu Yoga Kumala mengamuk punggung laksana banteng terluka.

Tiap kali pedang pusakanya berkelebat, tamtama musuh yang berada didekatnya tentu roboh terguling ditanah dengan mandi darah. Dan demkian pula Sontani, Braja Semandang serta para perwira tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu. Mereka mengikuti jejak pemimpinnya Yoga Kumala, dengan semboyan „tak mengenal surut setapakpun".

Beribu ribu tamtama dari kedua belah fihak yang setia pada sumpah tamtamanya telah jatuh berguguran sebagai bunga bangsa. Merekalah pahlawan-pahlawan Negerinya.

Difihak lawan ternyata lebih banyak lagi jatuhnya korban dalam perang besar ini. Akan tetapi karena mengandalkan besarnya pasukan yang terdiri dari puluhan ribu tamtama itu, maka pasukan Kerajaan Negeri Sriwijaya menggunakan siasat perangnya dengan apa yang disebut ''Candra Birawa".

Roboh satu tumbuh sepuluh, roboh sepuluh, tumbuh seratus, roboh seratus tumbuh seribu dan seterusnya.

Mengalirnya barisan tamtama lawan ke medan laga bagaikan air bah. Betapapun tabah dan beraninya para tamtama pasukan Yoga Kumala, niscaya akan ngeri juga, demi melihat membanjirnya lawan yang tak kunjung putus itu.

— Tumenggung Shakti Yoga Kumala! Pengorbanan pasukanmu akan sia-sia belaka! Lebih baik kau menyerah sebelum terlambat! Ketahuilah, bahwa kita telah mengurung dari segenap penjuru dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari pada pasukanmu! Tiba-tiba seorang Senopati pasukan Kerajaan Sriwijaya berseru lantang pada Yoga Kumala yang sedang bertempur mati-matian ditengah kancah pertempuran melawan ratusan tamtama musuh yang mengurungnya.

Namun masih juga Yoga Kumala sempat menengok ke arah datangnya suara. Ternyata suara itu datangnya dari seorang perwira yang sedang duduk di punggung gayah dengan dikitari oleh barisan tamtama berkuda yang amat kuat dan berlapis-lapis. Melihat pakaian kebesaran yang dikenakan serta payung kuning yang berada diatas kepalanya itu, jelas menunjukkan, bahwa perwira tamtama musuh yang berseru padanya adalah seorang Senopati yang memimpin pasukan lawan.

Ia memegang pedang terhunus ditangan kanannya, sedangkan ditangan kirinya nampak sebuah perisai baja yang berbentuk bulat selebar daun lum bu hutan.

Tubuhnya jangkung agak kurus, dengan kumisnya yang tebal melintang tanpa jenggot. Sepasang alisnya tebal dengan kilatan pandang mata yang amat tajam. Keningnya berkerut dan mengenakan ikat kepala kain sutera kuning keemasan. Warna kulitnya hitam.

Suaranya parau, tetapi keras mengumandang serta mengandung daya perbawa. Ia adalah Senopati Manggala Yudha Kerajaan Negeri Sriwijaya yang bergelar Gusti Senopati Sanggahan Alam, yang terkenal shakti serta cakap dalam memimpin barisan di medan yudha.

Mendengar namanya dipanggil oleh seorang priyagung lawan yang ia sendiri belum mengenalnya, Yoga Kumala terperanjat sesaat.

— Siapakah gerangan priyagung yang memimpin pasnkan musuh itu? Dan dari manakah ia mengetahui namaku dengan jelas? — Demikian shakti dan waskitakah ia, hingga mengetahui namaku tanpa bertanya terlebih dahulu? — Ah, . . . tak mungkin ! — bantahnya sendiri dalam hati.

— Atau seorang tamtama nara sandi lawan yang amat pandai telah merembes dalam pasukanku

ini?

Akan tetapi pertanyaan - pertanyaan dalam benak hatinya yang tak dapat dijawabnya sendiri

itu, tak sempat ia membiarkan merana lebih jauh. Ia sadar, bahwa dirinya sedang berada di medan yudha yang amat dahsyat, serta memerlukan pemusatan perhatian sepenuhnya. Sambil membabat dengan pedang pusakanya kearah dua orang lawan yang menjerang dari samping, serta merangkaikan gerakan serangannya dengan jurus "menutup serangan lawan" ialah memutarkan pedang pusakanya, Yoga Kumala menjawab seruan lawan priyagung tadi dengan tak kalah lantang. — haaiii! Priyagung tamtama yang sombong! Tumpaslah aku berserta pasukanku, jika kau mampu dan memiliki keshaktian. Ketahuilah, bahwa aku Yoga Kumala tak pernah mengenal kata menyerah! Sebaiknya kaulah yang menyerah sebelum mengenal tajamnya pedang pusakaku!—

— Ha haa ha hu ha haaaa ha ……! Sungguh kau seorang Bupati tamtama Majapahit yang

memiliki keberanian dan shakti. Sayang, kau berkepala batu, hingga tak mau melihat kenyataan yang kini sedang kau hadapi! Terimalah ini !.—

Dan bersamaan dengan suara bentakan yang terakhir itu, sebatang tombak pendek meluncur bagaikan kilat kearah dada Yoga Kumala. Akan tetapi Yoga Kumala yang telah mendapat tempaan ilmu pedang shakti dari eyangnya Ajengan Cahaya Buana, serta bergelar „jago pedang darah Pajajaran" itu, dengan tangkasnya memapaki meluncurnya tombak lawan dengan pedang pusakanya.

Sambil merendahkan badannya serta memacu kudanya, pedang pusaka ditangan kanannya berkelebat dan tombak lawan telah patah menjadi dua potong.

Kiranya bukan hanya berhenti sekian saja. Pedang pusakanya berkelebat untuk kedua kalinya, . .

. . . dan kini potongan tombak pendek lawan yang bermata tajam terpental kembali kearah tubuh pemiliknya, bagaikan meluncurnya anak panah.

Senopati Sanggahan Alam yang sedang ketawa terbahak-bahak, terpaksa menutup mulutnya seketika, serta menggerakkan perisai bajanya yang berada ditangan kiri, untuk memapaki meluncurnya potongan tombaknya sendiri, yang mengarah tubuhnya dengan tanpa diduga-duga itu. Potongan tombak terpental dan jatuh ditanah, namun ia sendiri bergeser setapak surut kebelakang, karena terkena dorongan tenaga benturan dari potongan tombak yang jatuh tertangkis oleh perisai bajanya itu.

Sanggahan Alam terkesiap sesaat, demi merasakan serangan balasan Yoga Kumala yang mentakjubkan itu. Dalam hati ia memuji akan keshaktian lawannya. Kiranya belum pernah ia menghadapi lawan setangguh Yoga Kumala.

Andaikan saja ia tak berperisai baja, tentu dadanya telah tembus oleh tombaknya sendiri. Akan tetapi sebagai seorang Senopati Manggala Yudha yang shakti dan berpengalaman luas. Sanggahan Alam segera dapat menguasai ketenangannya kembali.

— Ha ha ha ha ha haa hahaaa haha! Bagus, bagus! — serunya sambil memegang kembali

pedang pusakanya yang tadi disarungkannya „Temyata gelarmu "jago pedang" tak mengecewakan ! Akan tetapi, dapatkah kau menghadapi pasukanku yang beribu ribu itu hanya dengan

mengandalkan keshaktianmu? Pikirlah masak-masak! Sayang keshaktian dan usiamu yang masih muda itu, apabila terlambat tak mau menyerah! —

Tak perlu kau menasehati lawan! Aku rela mati di medan laga daripada berlaku sebagai pengecut! — Balas Yoga Kumala dengan suara teriakan nyaring yang memekakkan telinga, sambil bertempur. Ia ingin menerjang Senopati Sanggalian Alam yang congkak itu, akan tetapi beratus-ratus tamtama lawan selalu merintangi dibadapannya.

Namun setiap lawan yang berada didekatnya, tentu roboh mandi darah untuk kemudian jatuh bergelimpangan di tanah tak bernyawa. Sontani, Braja Semandang, Dirham dan segenap para perwira tamtamanya tak mau ketinggalan pula. Mereka mengamuk punggung bagaikan banteng terluka. Dengan semangat tempurnya yang bernyala nyala mereka merobohkan beratus-ratus tamtama lawan yang mengurungnya. Hampir sehari penuh mereka bertempur mati - matian dengan tanpa mengenal lelah.

Matahari telah berada diketinggian condong ke sebelah barat, menandakan bahwa waktu telah jauh lewat siang te-ngah hari dan hampir senja. Namun pertempuran masih saja berkobar dengan dahsyatnya.

— Sontani ! Seru Yoga Kumala sambil memutarkan pedang pusakanya serta berpaling kearah Sontani yang berada dibelakangnya.