Pendekar Darah Pajajaran Jilid 3

Jilid 3

B A G I A N I

ANEHNYA DALAM WAKTU yang hampir bersamaan itu, ibunya Mbah Duwung, seorang nenek yang telah lanjut usianya yang tinggal disebuah desa didaerah pantai selatan dekat dengan gua Rongkob itu, juga terbunuh secara kejam, dengan ticlak diketahui siapa pembunuhnya. Si Duwungpun pernah juga berkunjung kemari sebelum Dadung Ngawuk datang, untuk minta pendapatku. Dengan merendah, aku hanya dapat memberikan jawaban bahwa aku tidak mengetahui sama sekali tentang hal itu.

Kiranya datangnya kemari bukan semata-mata hanya untuk minta pendapatku saya, akan tetapi sebenernya iapun menaruh curiga terhadap diriku. Setelah yakin bahwa aku bukan pembunuh orang tuanya, ia berlalu meainggalkan tem-pat pertapaan ini. Hal itu juga saya ceritakan pada Dadung Ngawuk. Tidak kuduga sama sekali, bahwa ceritaku tentang kedatangan si Duwung itu dianggapnya sebagai petunjuk jalan untuk dapat menemukan pembunuh isterinya. Dengan penuh penyesalan, Dadung Ngawuk kunasehati agar ia berlaku hati hati dengan pertimbangan2 yang wajar, untuk jangan sampai salah terka. Karena mungkin ada orang ketiga yang memang sengaja hendak memancing untuk mengadu dombakan antara Dadung Ngawuk dengan Mbah Duwung, demi keuntungannya. Sejak itu, aku tidak pernah jumpa lagi dengan mereka. Dalam perpisahan dulu, masih juga Dadung Ngawuk sempat mengatakan penyesalannya dan berjanji tak akan mengganggu keturunanku. Siapa tahu sekarang cucuku Yoga Kumala, malah menjadi muridnya ,,,,,. Cahayabuana mengakhiri ceritanya. Ia menatap pandang kearah Indra Sambada sambil ber kata pelan — Ooo …. yaaaa tentang pertanyaan nak-mas Gustiku tadi belum kujawab ….. Maafkan nakmas Gustiku. Bukan aku lupa, tetapi memang sengaja aku hendak menutup ceritaku tentang Dadung Ngawuk lebih dahulu, agar cucuku Yoga Kumala puas ….. Nah, ….. sekarang akan kujawab sedapat dapatku tentang pertanyaan Gustiku itu. — Cahayabuana menggeser duduknya sambil membetulkan letak kaki bersilanya, — Lembaran kitab bagian akhir itu, ….. masih ada ….. dan kini kusimpan campur dengan benda2 kuno lainnya dalam gudangku ….. Jika Gustiku menginginkan, baiklah besok saya kubongkar gudang itu.....

Besok setelah dipelajari bersama, nanti akan kujelaskan bagian2 yang sekira penting bagi nakmas Gustiku ... dan aku rasa, untuk cucuku Yogapun ada pula bagian2 yang penting yang harus dipelajari. ---

— Saya mengucapkan banyak terima kasih akan kemurahan hati Bapak Ajengan Cahayabuana yang selalu dilunturkan padaku, — jawab Indra Sambacia dengan perasaan puas, walaupun ia harus menunggu dan bersabar sampai esok hari lagi.

Hanya yang sangat mengherankan bagi ketiga2nya ialah gudang tempat penyimpanan barang2 kuno yang di sebut2 tadi oleh Cahayabuana. Jelas bahwa selain dari pada ruangan2 kosong seperti dapur, ruangan semadhi dimana mereka sekarang sedang berada, dan ruangan dekat mulut gua yang hanya sempit dan gelap itu, tak ada lagi ruangan lain. Tetapi mengapa Cahayabuana menyebutkan gudang tempat penyimpanan. Dimana lagi ada ruangan untuk gudang  pikir mereka.

Namun untuk bertanya lebih lanjut mengenai hal itu yang dianggap kurang penting, mereka tak berani mengemukakannya. Maka ketiga tiganyapun hanya diam dengan masih meraba raba akan tebakan dari teka-tekinya itu.

Sementara itu Mang Jajang telah siap dengan masakan hidangannya untuk makan siang. Juga daging utar yang tadi diterima dari Yoga Kumala telah selesai juga dimasaknya.

Si Kumbang kiranya telah bangun dan mengaum ngaum panjang minta diisi perutnya. Dan Mang Jajangpun telah mengerti akan kewajibannya mengurus binatang piaraan yang setia itu.

Hujan diluar turun semakin deras. Suara guntur gemuruh mengumandang susul-menyusul, dan sebentar-bentar diselingi suara samberan halifintar yang mengampar diudara.

Hawapun menjadi lebih dingin dan sejuk karenanya.

*

* *

Pada esok harinya yang cerah, Cahayabuana dengan diikuti oleh Indra Sambada, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani menunjukkan letak gudang tempat penyimpanan barang2 kuno, yang berada disebelah dalam mulut gua tembusan yang mengarah ketimut. Dinding gua didekat mulut yang kelihatan rata dan licin tertutup batu alam itu ternyata dapat dibuka dengan mengungkap sebuah batu besar yang berukuran kira2 selangkah persegi. Dengan dibukanya batu yang merupakan penutup lobang itu, Cahayabuana merangkak memasuki lorong gelap itu, dengan diikuti oleh Indra Sambada, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani. Kira2 selang 50 tindak lorong itu menanjak terjal, untuk kemudian tiba disebuah ruangan yang luasnya kurang lebih 20 langkah persegi. Seperti halnya dengan ruangan tempat semadhi Cahayabuana, ruangan itupun berdinding dan berlantai batu alam putih yang mengeluarkan cahaya, hingga ruangan itu menjadi terang remang2. Kini Cahayabuana menyalakan pelita yang telah tersedia diatas meja batu alam yang berada didalam ruangan itu. Ruangan menjadi terang benderang karena dinding sekitarnya memantulkan kembali cahaya penerang nyala api pelita itu.

Namun dalam ruangan itu kelihatan tak nampak sebuah benda ataupun selembar kitab, kecuali meja batu alam dan pelita yang telah dinyalakan itu. Akan tetapi selama mengikuti langkah Cahayabuana, mereka bertiga sepatah katapun tidak berani mendahului bertanya. Mereka hanya diam sambil rnengamat amati dinding2 batu alam yang mengelilingi ruangan itu.

— Nah … inilah gudang tempat penyimpan barang2 kuno. yang telah kuceritakan kemaren — tiba2 Cahayabuana bicara memecah kesunyian: — Bagus, bukan?! tanyanya kemudian, yang oleh mereka hanya dijawab dengan anggukan kepala serentak. Sambil turut mengangguk2kan kepala Cahayabuana melanjutkan bicaranya.

— Gudang inilah . kurencanakan pula untuk kelak pada saatnya yang dikehendaki oleh Dewata Hyang Maha Agung tiba, sebagai tempat penyimpanan tubuh kerangkaku. Karena nakmas Gustiku Indra telah sudi menganggap sebagai keluarga sendiri, maka tak ada jeleknya mengetahui seluk beluk gua ini dan maksud rencanaku yang mendatang. —

Demi menclengar penjelasan dari Ajengan Cahayabuana, bahwa ruangan itu hendak akan dipergunakan tempat peristirahatan yang terakhir, bulu kuduk mereka serasa berdiri, dan perasaan sedih menyusul bergolak meliputi lubuk hati karena bertiga. Seakan-akan mereka berdiri diambang pintu ruang kedukaan. Semua terdiam dengan menelan rasa duka yang tak terhingga. Tak mampu mereka menanyakan lebih lanjut. Suasanapun menjadi lebih sunyi. Namun seakan-akan Cahayabuana dapat membaca isi hati mereka, dan dengan tersenyum ia berkata: — Apa yang kalian susahkan.?!. Tadi yang aku katakan adalah wajar belaka. Cobalah pikirkan dengan tenang. bukankah semua orang akan mati? Demikian aku yang sudah tua begini.

Hanya kapan kita semua tidak mengetahui dengan pasti, karena …. semua itu telah ada yang mengaturNya. Kita serahkan penuh pada Dewata Hyang Maha Agung yang menguasai kehidupan kita semua. Maka janganlah bersedih hati, hanya karena mendengar uraianku tadi. 

Aku hanya sekedar mengemukakan rencanaku, dan semoga Dewata Hyang Maha Agung mengabulkan permohonanku itu. Aku kira persiapan untuk menyambut akan datangnya Panggilan Dewata Hyang Maha Agung seperti aku ini adalah wajar …. Nah, ….. mari sekarang kutunjukkan barang2 kuno yang kusimpan itu, — berkata demikian, Cahayabuana melangkah menuju kesebuah sudut belakang dalam ruangan itu.

Sedangkan mereka bertiga dengan masih terdiam mengikuti dibelakangnya. Setelah sampai disudut ruangan. Cahayabuana mengamat-amati dengan saksama sesaat pada dinding2 batu putih alam itu, dan kemudian ….. ia berdiri mendekat dinding, serta menaruh telapak tangan kanannya dan mendorongnya dengaa pelan pada dinding yang berada dihadapannya itu . ….Tiba2 dinding yang didorongnya itu mulai bergerak dan membungkah retak selebar selangkah persegi, dan kini batu itu bergeser perlahan menyerupai daun pintu yang sedang membuka kedalam. Dengan hati2 Cahayabuana mengambil dua buah peti dari dalam almari batu alam itu, kemudian diangsurkan pada Yoga Kumala cucunya, sambil berkata — Coba kau terimalah ini peti dengan hati2. Kiraku barang2 lainnya lagi yang masih tersimpan itu tidak demikian penting bagi kalian.—

Peti itu terbuat dari jati yang berukir halus. Sebuah peti berbentuk segi panjang yang lebarnya hanya sejengkal, sedangkan panjangnya kira2 hampir setengah depa. Sebuah peti lagi berbentuk bujur sangkar yang sisinya selebar dua jengkal. Dengan menekan kembali dengan ujung telapak tangan pada ujung daun pintu batu itu, almari batu alam tertutup kembali rapat. Semua tertegun heran demi melihat tempat penyimpanan Ajengan Cahayabuana itu.

Dengan membawa dua peti kaju, mereka kini kembali keruangan samadhi.

Nafsu masing2 untuk ingin mengetahui isi dari peti yang dibawanya, kiranya telah melonjak- lonjak, namun terpaksa mereka bersabar menunggu, tidak berani mendahului membuka tanpa seijin Ajengan Cahayabuana. Sambil duduk bersila Cahayabuana menarik sebuah peti panjang dihadapannya, serta mengamat-amati sambil me-raba2 dengan jari2 tangannya. Seakan-akan mengagumi keindahan ukiran yang terpahat diatas tutupnya yang menonjol. Sedangkan mereka bertiga dengan berdebar - debar mengikuti gerakan2 jari Cahayabuana dengan pandangan mata yang tak berkedip. Tiba2 jari telundiuk Cahayahuana menekan pada benda logam yang kecil menonjol, dan peti panjang menjadi terbuka dengan sendirinya. Bau harum semerbak memenuhi ruangan ….. Kini mereka bertiga menggeser duduk bersila untuk lebih mendekat lagi, agar dapat melihat isinya dengan jelas. Perlahan- lahan Cahayabuana mengeluarkan sebilah pedang yang masih rapat terselubung dalam sarungnya.

Tangkai pedang itu berlapis mas murni dan bertatahkan permata berlian dan batu merah.

Bentuk dari pada tangkai pedang itu menyerupai seorang yang sedang berdiri dengan kedua belah tangannya bersilang didada.

Sedangkan sarung pedangnya berlapiskan perak yang terukir halus berlukiskan kembang2 yang sangat indah. Sambil tersenyum dikulum Cahayabuana berkata pelan: — Cucuku Yoga Kumala ! Kini telah tiba saatnya …. pedang pusaka ini menjadi milikmu …. Telah lama pedang ini kusimpan, menanti kedatanganmu maka terimalah pedang pusaka ini sebagai bekalmu dalarn mengabdi pada Ibu Pertiwi

,…. Aku percaya bahwa dalam bimbingan Gustiku Indra Sambada, kau tentu akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan dharma baktimu maka patuhilah semua perintah dan petunjuk2nya dengan

ketulusan hatimu …. Harapanku, semoga kau kelak dapat menjunjung martabat nama para leluhurmu,

— Berkata demikian Cahayabuana menghunus pedang pusaka itu dengan perlahan dari sarungnya. Pedang pusaka yang amat tajam itu mengeluarkan sinar cahaja putih semburat biru kemilauan. Semua menjadi terpesona demi melihat pedang pusaka yang demikian indahnya, menyerupai pusaka Kerajaan.

Dengan air mata yang berlinang-linang meleleh membasahi kedua pipinya, Yoga Kumala menyambut pemberian pedang pusaka dari Eyangnya dengan kedua belah tangannya. Sambil menangis terisak-isak ia berkata terputus-putus: — Eyang, …. maafkan cucunda ….. yang amat bodoh ini …..

Bagaimana saya dapat memenuhi ….. harapan Eyang ….. karena pedang pusaka pemberian Eyang …..

ditangan cucunda hanya akan menjadi …. benda mati …. walaupun demikian ampuhnya pedang

pusaka itu … Tidak!! Tidak Eyang! …. Saya tak berhak memilikinya …

— Dengan tangan yang gemetar Yoga Kumala menyerahkan kembali pedang pusaka itu, dengan masih menangis terisak-isak.

Indah Kumala Wardhani yang biasanya senang menggoda kakaknya, kini duduk terpaku dengan muka tertunduk penuh dengan rasa haru.

Sedangkan Indra Sambada duduk diam penuh rasa iba, melihat adik angkatnya yang sedang menggigil dan sambil menangis terisak-isak itu. Ingin ia berkata sesuatu untuk raenghibur Yoga Kumala, namun perasaan budi luhurnya mencegah ia tak berbuat demikian. Bukankah Ajengan Cahayabuana sebagai Eyangnya lebih berhak menghibur Yoga Kumala??. Ketenangannya kini kembali menguasai dirinya. Selagi Indra Sambada masih duduk terdiam, tiba2 Cahayabuana berkata lirih: —Yoga Kumala cucuku. — Jangan kau bersedih hati dan cepat berputus asa . . Tenangkanlah perasaanmu, dan dengarkan petunjuk2ku ini .... Aku tahu maksudmu yang terkandung dalam lubuk hatimu yang jujur

itu, yaaahh …. bahkan aku lega mendengar pengakuanmu yang secara jujur itu …. maka letakkanlah pedang pusaka itu dipangkuanmu dahulu.–

Tanpa membantah Eyangnya Yoga Kumala mengikuti semua perintah Cahayabuana. Perlahan- lahan isak tangisnya mereda untuk kemudian tidak kedengaran lagi. Ia duduk tertunduk sambil mengusapi air matanya yang membasahi dengan ujung bajunya.

— Cucuku Yoga Kumala! — Cahayabuana melanjutkan bicaranya, dengan menatap pedang kearah Yoga Kumala. Suaranya terdengar lemah lembut penuh rasa sayang. — Ketahuilah, bahwa kau adalah cucuku priya yang tunggal. Dengan bakatmu, serta dasar2 ilmu krida yudha yang pernah kau pelajari dari kangmas angkatmu Gustiku Senapati Indra Sambada, dan ilmu kanuragan aneh yang telah kau miliki sebagai pemberian dari gurumu Dadung Ngawuk, aku yakin benar bahwa dalam waktu yang sangat singkat kau akan dapat memahami ilmu pedangku ini yang akan kuwariskan padamu

…..Walaupun ilmu pedangku ini jauh belum sempurna, akan tetapi cukup untuk di-gunakan sebagai bekal daiam pengabdianmu kelak. Aku percaya, bahwa Gustiku Indrapun tentunya bersedia pula untuk memberikan petunjuk2 yang berguna, agar kau dapat menggunakan pedang pusakamu dengan tidak mengecewakan.

Karena kata2 Cahayabuana itu secara tidak langsung memuji ketinggian ilmu Indra Sambada, maka cepat2 Indra Sambada mengelak serta merendahkan diri secara tidak Iangsung pula, katanya : — Adikku, Yoga Kumala ! !. Kiranua tidak alasan kau untuk berkecil hati. Percayalah, bahwa dalam asuhan Eyangmu sendiri, kelak ilmu krida Yudhamu akan jauh melampaui kepandaianku. Berbahagialah kau adikku Yoga …. yang masih mempunyai Eyang sebagai junjunganmu ….. yang ilmunya baik jasmani ataupun rohani telah mumpuni tidak ada taranya. Akupun turut merasa bahagia, setelah Eyangmu sudi mengangkatku sebagai anggauta keluargamu dan juga sebagai muridnya …. Maka pesanku, tekunlah berlatih dibawah asuhan Eyangmu ! !. Dan sambil berpaling kepada Ajengan Cahayabuana ia berkata dengan penuh hormat : — Maafkan Bapak Ajengan Cahayabuana ! !. Atas kelancanganku ini, sekedar petunjuk untuk adikku Yoga Kumala, agar ia tidak kehilangan semangatnya ! ! —

— Heh, ... . heehh …. heeehhh . … Benar2 seorang priyagung yang berbudi luhur yang tak pernah mau menerima kata pujian, tetapi selalu merendah diri. Semoga kedua cucuku dapat mencontoh tauladan yang luhur itu !! — Cahayabuana mejawab pelan sambil ketawa.

Suasana yang diliputi rasa keharuan tadi menjadi lenyap, bagaikan kabut tipis tersapu oleh

angin.

— Nah, …. jangan kau iri kepada akangmu, cucuku manis ! ! Untukmupun ada pula sebuah

benda pusaka yang tak kalah indahnya dengan pedang milik akangmu itu. Kukira, benda ini memang pantas untuk menjadi milikmu. Indah Kumala Wardhani ! !. Cahayabuana berhenti sejenak dan mengeluarkan sebuah peti kecil yang panjangnya sekira satu setengah jengkal. Dari dalam peti kecil itu, ia mengambil sebuah keris pusaka berukuran kecil dan pendek, kira2 sepanjang sejengkal yang memang khusus merupakan senjata untuk kaum wanita. Keris itu lazim disebut dengan istilah „ patrem ", Konon ceritanya keris wanita ataupun patrem itu dimiliki oleh tiap-tiap putri raja.

Disamping dipergunakan sebagai senjata untuk menghadapi lawan, patrem itu juga dipergunakan sebagai senjata untuk bunuh diri dalam membela kehormatannya, apabila tidak ada kemungkinan lain untuk mempertahankannya.

Hadiah yang diberikan oleh Ajengan Cahayabuana kepada Indah Kumala Wardhani yang berupa patrem itu tak kalah indahnya dengan pedang panjang yang dihadiahkan kepada Yoga Kumala.

Tangkainya terbuat dari gading yang dipahat halus berbentuk kepala garuda dengan sepasang batu mirah sebagai mata kepala garuda itu.

Werangkanya dilapis emas murni seluruhnya serta dihiasi pula dengan permata berlian dan mirah. Keris Patrem itu setelah dihunus dari werangkanya, mengeluarkan bau harmm semerbak.

Warnanya kehitam-hitaman dengan pamornya berwarna putih bersinar.

Bentuknya lurus meruncing dengan kedua sisinya bermata tajam.

Berbeda dengan kakaknya Yoga Kumala yang menangis terisak isak sewaktu menerima pemberian Eyangnya, kini Indah Kumala Wardhani menyambut pemberian patrem pusaka itu dengan tersenyum girang bercampur bangga, sambil mengucapkan rasa terima kasihnya yang tak terhingga.

Keris pusaka ditimang-timang ditelapak tangannya, untuk diamat amati sambil tersenyum girang2 puas. Tak puas2nya ia mengagumi benda pusaka yang kini telah menjadi miliknya.

Tanpa malu malu lagi Indah Kumala Wardhani memamerkan milik pusakanya pada Indra Sambada, yang olehnya disambut dengan senyum gembira pula.

Demi melihat cucunya yang lucu itu, Ajengan Cahayabuana turut pula bersenyum bangga.

— Simpanlah baik2 dahulu, manis!! Lain hari akan kujelaskan penggunaannya secara lebih mendalam. — Cahayabuana berkata kepada Indah Kumala Wardhani.

Peti panjang yang telah kosong itu, disisihkan kesudut oleh Cahayabuana dan selanjutnya ia berganti meraih peti persegi lainnya untuk diletakkan dekat dihadapannya.

Ia menyerahkan gulungan kulit domba yang halus yang diambilnya dari peti persegi itu, kepada Indra Sambada sambil berkata dengan nada yang tenang.

— Nakmas Gustiku Senapati Indra Sambada! Gulungan kulit domba itu aku persembahkan kepada Gustiku Mungkin sangat berguna juga untuk Gustiku Indra!

— Cepat Indra Sambada menyambut pemberian kulit dom ba itu dengan kedua belah tangannya, untuk kemudian di gelar serta dilihatnya dengan seksama. Wajah Indra Sambada menjadi berseri-seri serta kagum, setelah melihat dengan jelas lukisan peta bumi yang menggambarkan seluruh Nusantara lengkap dengan gunung dan sungai2 serta batas2 daerah Kerajaan2. Ia belum pernah melihat peta bumi yang demikian lengkapnya, serta luasnya sebagaimana yang berada ditangannya sekarang.

— Pemberian Bapak Ajengan Cahayabuana ini sangat berharga bagiku dalam mengemban tugas sebagai tamtama Kerajaan. Saya kira di Kerajaanpun tidak ada peta bumi yang demikian lengkap dan jelas serta demikian indah buatannya. Sungguh merupakan hadiah bagiku yang tak ternilai. Jika kapak Ajengan Cahayabuana tidak keberatan, peta bumi ini akan saya persembahkan kepada Gustiku Sri Baginda Maharaja, — Indra Sambada menyambut dengan kata2nya penuh hormat serta mengemukakan kehendaknya.

— Barang yang tak berguna untukku itu telah kupersembahkan pada Gustiku Indra. Untuk dibuat apapun selanjutnya terserah kepada Gusti Junjunganku sendiri. Kiranya aku telah tidak berhak lagi untuk menyampuri akan kebijaksanaan Gustiku Indra, — jawab Cahayabuana sambil tersenyum lirih.

Setelah Indra Sambada puas mengagumi peta bumi dari kulit domba yang diterimanya, kini Cahayabuana memperlihatkan lagi tumpukan lembaran kulit domba yang berisikan tulisan2 kuno. itulah sisa lembaran2 kitab kuno buah karya Sakya Abindra pada abad ke VII yang telah diceritakan kemarin.

Kesemuanya terdiri dari empat belas lembar bagian terakhir dari kitab kuno itu, yang mana dua lembar diantaranya telah sobek terpotong pada ujungnya. Akan tetapi guratan huruf2 kuno yang terdapat pada lembaran2 kulit domba itu masih nampak jelas dan mudah dibaca. Sewaktu Indra Sambada masih meneliti akan urutan halaman itu, tiba2 Cahayabuana berkata memecah kesunyian: — Nakmas Gusti Junjunganku Indra! Sebaiknya kitab kuno itu kita bawa keluar saya, agar dapat kita pelajari bersama ditempat yang lebih terang. Maaf kan, nakmas Gustiku. Ditempat yang remang2 demikian ini, mataku yang telah di makan oleh umur tidak dapat diajak bekerja, — Cahayabuana segera bangkit sambil tersenyum dan kemudian Indra Sambada, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani mengikuti pula sambil tersenyum geli demi mendengar pengakuan Cahayabuana bahwa matanya teIah dimakan oleh umur. Bukankah Cahayabuana selalu gemar berjalan dalam malam hari? — pikir mereka.

Dengan pedang pusaka yang disandang dipinggang kirinya. Yoga Kumala menjadi lebih kelihatan perkasa.

Setelah mereka tiba dilapangan terbuka didepan mulut gua, segera mereka duduk ditempat yang teduh dibawah sebuah pohon asem yang rindang. Sambil tersenyum2 ringan serta memegang lembaran2 kitab kuno dengan tangan kanannya, Cahayabuana mulai bicara lagi tertuju pada Indra Nakmas Gustiku Indra !

— Nakmas Gustiku Indra! Dalam Iembaran pertama, kedua, dan ketiga, yang mana ketiga lembar sisa kitab itu masing - masing ditandai dengan angka 34, 35, dan 36, jelas menunjukkan bahwa potongan lembaran itu adalah lembaran / halaman yang ke 34, 35 dan 36 dari kitab " Wuru - Shakti ' yang menjadi rebutan para orang2 shakti. Dan ketiga lembar itulah yang memuat tulisan2 mengenai kunci dari pada jurus jurus gerakan " wuru shakti ". Karena lembaran2 yang memuat bagian jurus2 langkah wuru shakti tidak ada dalam sisa kitab yang kumiliki ini, maka ….. untuk memahaminya lebih lanjut secara jelas, hendaknya Gustiku Indra membuktikan dahulu akan kehebatan dari pada gerakan langkah2 wuru shakti yang telah dimiliki oleh cucuku Yoga Kumala.

— Nach,. . , . sekarang sebaiknya cucuku Yoga supaya mempertunjukkan ilmu "wuru shakti" yang telah kau miliki dan kau pelajari dari gurumu Dadung Ngawuk, agar kita semua mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kehebatan dari pada ilmumu itu. Mlaka hendaknya cucuku Yoga tidak usah bersikap malu2. — Berkata demikian Cahayabuana menatap pandang pada Yoga Kumala, sebagai isyarat agar cucunya Yoga Kumala mau ruempertunjukkan sebentar ilmunya.

Dengan sikap yang canggung dan ragu2 karena agak malu, Yoga Kumala bangkit berdiri sambil melepaskan pedang pusakanya, dan melangkah maju ketengah-tengah lapangan. Dengan gerakan yang kurang bersemangat, ia mulai sendiri dengan langkah2 jurus wuru shakti yang diikuti dengan penuh perhatian oleh Cahayabuana dan Indra Sambada serta Indah Kumala Wardhana.

Demi melihat gerakan Yoga Kumala yang canggung penuh keraguan itu, Indra Sambada bangkit berdiri dan mendekat sambil berseru: — Yoga Kumala!! Marilah saya temani agar gerakanmu lebih

gesit! — Kata2 itu diiringi suara senyum ketawa, yang menghilangkan rasa keragu2annya. — Adikku Yoga, cobalah kau elakkan seranganku ini! — Indra Sambada melanjutkan bicaranya - Jika dalam waktu sepengunyah sirih pergelangan tanganmu yang kanan tak dapat kutangkap aku kakakmu Indra

menyerah kalah serta mengakui akan kehebatan ilmu wuru shakti yang menjadi kebanggaanmu itu!— Kata2 sanjungan itu memang sengaja diucapkan olah Indra Sambada agar Yoga Kumala dapat mempertunjukkan ilmunya dengan sepenuh hatinya. Dengan demikian, gerakan2 langkah aneh dari jurus2 ilmu kanuragan wuru shakti itu dapat dibuktikan sendiri kehebatannya serta untuk memudahkan dalam mempelajari kunci2nya ilmu ancli itu yang termuat dalam lembaran2 kitab kuno, yang kini sedang dipelajari dengan Cahayabuana.

Setelah mendengar seruan kakaknya Indra Sambada, Yoga Kumal cepat berdiri siap siaga untuk menantikan datangnya serangan dari Indra Sambada dengan penuh semangat dan tanpa ragu2 lagi . . . .

Ia berdiri merendah setengah berjongkok dengan kedua kakinya dipentang lebar. Tangan kirinya ditekuk keatas setinggi baunya dengan jari2 yang tegang mengembang dan menghadap kedepan. Tangan kanan bergerak dalam gaya menjangkau, lurus setinggi jajar dengan dadanya sendiri. Telapak tangannya mengembang dengan jari2 yang ditegangkan pula. Matanya mernandang tajam kedepan dengan mulut yang tersenyum menyeringai.

Inilah gerak langkah wuru shakti dalam bentuk jurus yang dikenal dengan nama „menyarnbut serangan maut dari empat penjuru". Jurus Wurushakti yang demikian ini, khusus diciptakan untuk menghadapi serangan2 dahsyat yang belum diketahui bentuk gerakan serangan lawannya serta yang tidak diketahui pula dari arah mana serangan itu mendatang.

Walaupun gerakan itu tak sedap dipandang karena memang tak memiliki gaya keindahan, akan tetapi cukup membingungkan bagi lawan yang akan menyerang. Dari gerakan itupun dapat dilihat, bahwa tiap2 gerakan sambutan serangan dari lawan, tentu akan mengandung unsur2 serangan balasan yang cukup berbahaya. Jurus menyambut serangan maut dari empat penjuru itu diciptakan sedemikian rupa, sehingga dengan secara cepat bagaikan kilat dapat menukar arah dengan hanya menggeser salah satu kakinya saja tanpa merobah bentuk gerakannya.

— Awas serangan!! — seru Indra Sambada sambil melompat langsung menerjang dari samping kanan dengan pukulan telapak tangan kearah pelipis Yoga Kumala, sedangkan telapak tangan kirinya menyambar secepaa kilat kearah pergelangan tangan kanannya Yoga Kumala untuk ditangkapnya.

Suatu gerakan serangan yang dahsyat dan sukar untuk dapat diduga sebelumnya. Akan tetapi sebagai murid Dadung Ngawuk yang pernah pula memakan buah „ daru saketi ", Yoga Kumala dengan perasaan nalurinya, tiba-tiba mengubah jangkauan tangan kanannya menjadi sebuah serangan tebangan kearah lengan kiri Indra Sambada sambil terhuyung-huyung melangkah kedepan dengan jari2nya tangan kiri yang mengembang tegang menyambut pukulan tangan kanan Indra yang menyambar kearah pelipisnya.

Sesaat Indra Sambada terperanjat dan cepat menarik kembali serangan tangan kirinya sambil melompat kesamping kanan, sedangkan tangan kanannya dirubah menadi kepalan untuk memapaki datangnya sambaran tangan kiri Yoga Kumala. Dua lengan berbenturan keras, dan masing2 berseru tertahan karena merasakan dahsj\yatnya tenaga beaturan yang mengakibatkan rasa ngilu ditulang lengannya.

— Benar2 suatu ilmu tata kelahi yang aneh— pikir Indra Sambada. Pada umumnya, orang menyambut serangan yang pertama kali dengan suatu gerakan mengelak …… akan tetapi kini apa yang disaksikan olehnya adalah sebaliknya.

Serangan yang pertama kali disambut dengan sebuah gerakan serangan pula yang tidak kalah dahsyatnya, tanpa menghiraukan akan kekuatan lawan tarlebih dahulu. Lebih mengherankan lagi ialah bahwa Yoga Kumala tidak mau menghindar kesamping, justru malah menerjang dan menerobos kedepan dengan langkah-langkah yang aneh serta membingungkan, hingga ia menjadi berada dibelakangnya. Karena kuatir akan datangnya rangkaian serangan aneh dari adiknya, Indra Sambada cepat membalikkan badannya serta melontarkan serangan tendangan yang berangkai.

Sambil berseru nyaring: — Awas serangan kedua!—

Akan tetapi malah ia sendiri yang dibuat menjadi sibuk, karena tanpa diketahui, Yoga Kumala telah menjatuhkan diri dan berjumpalitan kearahnya secara menelusup dibawah kakinya sambil menyerang dengan totokan jari2nya kearah paha kakinya. Menghadapi serangan yang sukar untuk di duga itu, Indra Sambada terpaksa meloncat tinggi dan berpusingan agar dapat jatuh berdiri dengan menghadap pada lawannya kembali. Kini tanpa memberikan peringatan Indra Sambada. cepat menyerang lagi dengan sebuali tinjunya yang disusul dengan tendangan berangkai, sambil menyambar per-gelangan tangan kanan lawan dengan tangan kirinya. Akan tetapi ternyata semua serangan2nya tak pernah menyentuh sasaran dan selalu jatuh pada tempat kosong. Gerakan adiknya yang mirip seorang setengah mabok dan kelihatan lambat itu, ternyata merupakan pengelakan dan sekaligus merangkap unsur serangan balasan yang dahsyat dan berbahaya. Pertarungan yang hanya merupakan latihan dan pertunjukan. kini menjadi seru dan berlangsung dengan gerakan yang lebih cepat dan lebih dahsyat , sehingga mengeluarkan angin sambaran yang menderu-deru.

Masing2 saling memperlihatkan ketangkasannya, serta ketinggihan ilmunya dalam tata kelahi bertangan kosong dengan gaya gerakan satu sama lain yang jauh berlainan.

Pun seruan2 melengking sebagai peringatan dari Indra Sambada selalu disambut oleh Yoga Kumala dengan suara terkekeh-kekeh yang menyeramkan.

Pertarungan yang seru itu telah berlangsung agak lama, tanpa ada yang roboh terluka. Tiba2 Cahayabuana berseru dengan suaranya yang penuh wibawa, menghentikan pertarungan yang masih berlangsung dengan sengitnya. Keduanya yang sedang bertempur, serentak menghentikan gerakannya, sambil tersenyum dan kemudian berjabatan tangan.

— Aku mengaku kalali, Yoga ! ! Sungguh bangga mempunyai adik seperti kau ini ! ! Indra Sambada mulai bicara pada adik angkatnya Yoga Kumala.

— Ach, ….. kangmas Indra sengaja mengalah ! ! — Yoga menjawab sambil ketawa.

— Bukannya aku mengalah, akan tetapi aku memang tidak mampu menangkap pergelangan tanganmu. Hampir2 aku lupa bahwa waktu sepengunyah sirih telah lama lewat. Dan ternyata, belum juga aku berhasil menangkap pergelangan tanganmu, walaupun seluruh kepandaianku telah kuperas

……. Ilmumu yang aneh sungguh mengagumkan !!!

— Dengan bergandengan tangan, mereka berdua berjalan kembali untuk menghadap Ajengan Cahayabuana yang masih saja duduk bersila dengan Indah Kumala Wardhani disampingnya.

— Nach, bagaimana sekarang pendapat nakmas Gustiku tentang ilmu wuru shakti yang baru saja dipertunjukkan oleh cucuku Yoga Kumala itu ?. — Cahayabuana mulai berkata, setelah mereka berdua duduk bersila dihadapannya,

— Ilmu yang sangat aneh dan mengagumkan, Bapak Ajengan ! Jika aku tidak membuktikan sendiri tentunya tidak akan percaya akan kehebatan ilmu „Wuru shakti" itu. Tak mengira bahwa adikku Yoga Kumala telah dapat menguasai ilmunya yang aneh itu dengan sempurna. — Indra Sambada mejawab dengan sungguh2 dalam mengutarakan pendapatnya.

— Heh …. hehh …. heeeehh I I ….. Cucuku Yoga!! Terimalah dengan rasa bangga, bahwa kangmasmu Indra Sambada hari ini berkenan memuji ilmu kepandaianmu - —

Demi mendengar kata2 pujian yang tertuju pada dirinya, Yoga Kumala menundukkan kepalanya sambil tersenyum tersipu sipu.

— Idiiiihh …. Akang Yoga pura2 malu !!. — Indah Kumala Wardhani menyahut memotong pembicaraan, sambil tersenyum menggoda kakaknya.

— Kau selalu ceriwis !!.— Tegur kakaknya. Dan mukanya semakin menjadi lebih merah sampai diujung telinganya. Ia tak dapat berkutik menghadapi ejekan adiknya yang usilan itu.

Ajengan Cahayabuana dan Indra Sambada tersenyum geli menyaksikan sifat2 kelucuan dari kedua remaja itu. Dengan suara yang lemah lembut penuh rasa kasih sayang, Cahayabuana kemudian menyapih kedua cucunya, agar mereka tidak saling bertengkar.

Kini mereka berempat segera asyik mempelajari tulisan2 yang tertera dalam lembaran2 kitab kuno. Dengan tenang dan penuh kesabaran Cahavabuana selalu membwrikan jawaban penjelasannya atas pertanyaan2 yang diajukan berganti ganti dari kedua cucunya itu.

Sementara itu Indra Sambada mencurahkan perhatiannya sendiri pada uraian kalimat2 yang termaktub dalam kitab kuno itu, dengan daya ingatan dan pikiran yang tajam.

Dengan cepat ia telah dapat menangkap semua intisari dari pada kunci „ wuru shakti " yang termuat dalam tiga lembar pertama dari kitab kuno itu, yang oleh penciptanya kunci .,, wuru shakti " itu, dinamakan „ penutup langkah wuru shakti ". Dalam lembaran kedua dan ketiga dengan jelas diuraikan, bahwa untuk menutup langkah2 wuru shakti, serangan harus dilancarkan dengan pertama tama mengikuti gerakannya, kemudian rangkaian serangannya justru harus tertuju pada tempat kosong kearah yang berlawanan dengan kedudukan lawan. Lagi pula rangkaian serangan yang dilancarkan pada tempat kosong itu harus dilancarkan dengan tenaga sepenuhnya, dan bukan sebagai gerak tipu atau serangan pancingan. .

Karena apabila serangan susulan itu dilancarkan tanpa menggunakan sepenuh tenaga, maka akan berbahaya bagi sipenyerang sendiri. Hal ini disebabkan karena tiap2 gerakan jurus wuru shakti selalu mengandung unsur2 gerakan serangan balasan. Akan tetapi dalam akhir uraian itu dijelaskan bahwa penutup langkah wuru shakti khusus diciptakan hanya untuk menghadapi — ilmu wuru shakti yang bertangan kosong —

Sedangkan ilmu pedang wuru shakti memiliki sifat2 gerakan tersendiri.

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa dalam kitab kuno itu tentu ada pula lembaran2 lain yang memuat bagian dari pada pelajaran2 ilmu pedang wuru shakti. Sayang, bahwa kitab itu tak dapat dikuasai seluruhnya — pikir Indra Sibambada.

Sewaktu Indra Sambada masih memperhatikan lembaran2 berikutnya tiba2 Cahayabuana berkata memecah kesu-nyian: — Nakmas Gustiku Indra. —

Lembaran2 yang penting lainnya adalah tuju lembar yang terakhir ini.

— Berkata demikian ia mengangsurkan tuju lembar bagian terakhir dari pada sisa kitab kuno yang berada di hadapannya, sambil melanjutkan katanya: — Dalam tuju lembar bagian akhir ini, memuat pelajaran ilmu pedang wuru shakti, sebagaimana diuraikan dalam lembar ketiga tadi. Akan tetapi setelah saya teliti, ternyata ilmu pedang wuru-shakti yang termaktub dalam lembaran2 yang dimiliki ini, hanya merupakan bagian terakhir saja, tanpa ada penjelasan mengenai pelajaran permulaannya serta bagian2 tengahnya. Maka dengan demikian, tak mungkin kita untuk meyakinkan akan kehebatan ilmu pedang wuru shakti itu. Lagi pula bagi yang memiliki lembaran2 lainnya tidak akan dapat menguasai ilmu pedang aneh itu secara sempurna pula. —

Cobalah kita teliti bersama mengenai intisari dari peIajaran2 babak terakhir ini, mungkin dengan ketajaman Gustiku Indra Sambada dapat kita mencari segi2 manfaatnya bagi Yoga Kumala cucuku, ataupun untuk Gustiku Indra sendiri. —

Setelah lembaran2 sisa kitab kuno bagian akhir itu diteliti dengan seksama, disamping pelajaran babak akhir dari pada ilmu pedang wuru shakti juga memuat tentang ketentuan dari bentuk pedang yang dipergunakan khusus dalam ilmu pedang wuru-shakti itu.

Panjang pedang clalam ilmu pedang wuru-shakti seluruhnya termasuk gagangnya harus sehasta dari pemegangnya, ialah dari pangkal lengan hingga ujung jari. Sedangkan gagangnya harus berukuran satu setengah tebah. Selain dari pada keterangan tentang ketentuan ukuran panjangnya di jelaskan juga mengenai ukuran beratnya yang tidak boleh lebih dari 40 potong uang tembaga.

Ternyata setelah dibandingkan dengan ketentuan2 ukuran yang termuat dalam kitab kuno itu, pedang pusaka yang dimiliki Yoga Kumala masih terdapat selisih dua jari lebih panjang dari pada ukuran hasta Yoga Kumala sendiri. Hanya ukuran gagang dan beratnya tepat memenuhi dari syarat2 yang dimaksud.

Dengan mengikuti petunjuk2 bagian terakhir dari pada ilmu pedang wuru shakti. Cahayabuana sebenarnya telah lama menjiptakan sendiri suatu ilmu pedang yang terdiri dari gabungan intisari pedang tamtama Kerajaan Majapahit, ilmu pedang wuru-shakti bagian akhir dan ilmu pedang yang telah dianutnya sebagai warisan leluliurnya sendiri. Dahulu sewaktu masih muda dengan ilmu pedang warisannya saja ia telah diangkat sebagai guru krida-yudha dalam ilmu pedang untuk memberikan pelajaran pada para tamtama Kerajaan Pajajaran dan selanjutnya ilmu pedangnya itu menjadi dasar pegangan dari seluruh tamtama. Olehnya ilmu pedang ciptaannya yang baru itu dinamakan ilmu pedang Cahaya Tangkubanperahu. —

Mulai hari berikutnya, Yoga Kumala dibawah asuhan Cahayabuana dengan penuh semangat tekun berlatih meyakini ilmu pedang ciptaan Eyangnya sendiri, tanpa membuang gerak dasar " wuru - shakti "nya. Hanya gerakan2 yang tidak memungkinkan untuk menyertai gerakan pedangnya, diganti dengan langkah2 yang sesuai menurut petunjuk2 Eyangnya petapa shakti Ajengan Cahayabuana.

Senapati Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada berkenan pula menyaksikan berlatihnya adik angkatnya Yoga Kumala selama sepuluh hari, dan setelah itu ia berpamit untuk pulang kembali ke Kota Raja beserta para pengiringnya.

Menurut pendapat Cahayabuana, Yoga Kumala masih harus berlatih dua tahun lamanya ditempat pertapaan Eyangnia, sedangkan Indah Kumala Wardhani masih harus menekuni untuk menyakinkan ilmu angkin dan keris patremnya setahun lamanya.

Setelah nanti setahun dalam asuhan Eyangnya sendiri, Indah Kumala Wardhani masih harus tinggal di Indramayu setahun untuk mempelajari tata kehidupan Kerajaan serta seni budaya lainnya. Dengan demikian, maka mereka berdua dapat diharapkan untuk menghadap Senapati Indra

Sambada pada waktu dua tahun lagi mendatang, Dan ternyata Indra Sambadapun sependapat dengan Cahayabuana. Ia kini lebih percaya lagi, bahwa kelak kedua adik angkatnya tentu akan menjadi pengabdi Negara yang tidak mengecewakan.

*

* *

B A G I A N II

HARI CERAH. Sang surya menyoroti maya pada dengan sinarnya yang terang benderang. Ia telah berada diketinggian sebelah timur segalah tingginya. Langit biru membentang luas dan awan hitam sedikitpun tidak nampak menodainya. Pepohonan kelihatan hijau segar, karena baru saja bertukar daun. Ranting2 kering yang patahpun telah nampak tumbuh kembali. Lereng2 gunung Tangkubanperahu seakan-akan baru saya terhias kembali. Burung2 berkicau riang, menambah meriahnya suasana alam.

Dan dilereng Gunung Tangkubanperahu itulah nampak jelas adanya seorang pemuda yang baru saja menginjak alam kedewasaannya, sedang berlompatan dengan gerakan2nya yang aneh sambil memegang pedang pusaka terhunus ditangan kanannya. Badannya yang kokoh kuat telah basah bermandikan air peluh hingga kelihatan berkilat-kilat terkena pancaran sinar matahari. Sebentar- sebentar ia mengusap keringat yang selalu membasahi keningnya dengan lengan tangan kirinya, seakan- akan air peluh itu mengganggu gerakannya karena mengalir terus didahinya.

Akan tetapi maksud untuk menghentikan gerakannya, sedikitpun belum nampak ada, padanya.

Ia terus masih berlatih tanpa menghiraukan suasana sekitarnya. Ia berloncatan bagaikan burung bersayap. Sedangkan pedang pusaka ditangan kanannya bergetar menari2 bagaikan bayangan kupu2, hingga kadang2 hanya menampakkan sinarnya yang putih berkilau semburat biru, bergulung-gulung menyelubungi seluruh tubuhnya. Perobahan gerakannya sedemikian cepatnya, hingga tidak mungkin dapat diikuti dengan penglihatan mata biasa. Rangkaian gerakan tusukanaya yang bertubi-tubi merupakan pukulan bayangan pucuk pedang. Namun dibalik ketangkasan yang mentakjubkan itu kadang2 diselingi suatu gerakan yang sangat aneh dan tidak demikian sedap dipandang. Sambil berdiri setengah berjongkok dengan kedua belah kakinya terpentang lebar, dengan pedang pusaka menyilang didepan dadanya, ia ketawa terkekeh-kekeh menyeramkan. Sebentar kemudian meloncat tinggi sambil berjumpalitan diudara untuk kemudian meluncur kebawah dengan serangan tusukan pedang pusakanya, sedangkan tangan kirinya mengembang dengan jari2nya yang tegang bergerak laksana cengkeraman cakar harimau. Itulah ilmu pedang ciptaan Cahayabuana yang bersumber pada gabungan intisari dari ilmu2 pedang shakti yang dinamakan ilmu pedang „Cahaya Tangkubanperahu".

Telah lebih dari setahun lamanya, Yoga Kumala mempelajari ilmu pedang ciptaan Eyangnya, langsung dibawah asuhan Cahayabuana sendiri.

Sedang ia meloncat tinggi sambil berpusingan diudara dengan mengayunkan pedang pusakanya dalam gerakan babatan berangkai, tiba2 terdengar suara seruan yang amat tajam dari kejauhan — Awas

!!!. — Dan bersamaan dengan terdengarnya suara seruan itu, sebuah batu sebesar tinju meluncur kearah-nya laksana kilat.

Dan …… CRAATTT ! ….. batu yang menyerangnya terbelah menjadi dua potong, serta potongan batu masing2 terpental jauh kesamping. Namun belum juga potongan2 batu itu jatuh ditanah, telah pula disusui dengan meluncurnya tiga buah batu yang semakin kecil secara beruntun dalam saat yang hampir bersamaan, dan diiringi pula dengan suara seruan seperti serangan yang pertama — Awas !!!. —

Ketiga batu itupun menjadi berkeping keping dan susul menyusul terpental jauh kesamping kanan kirinya Yoga Kumala.

— Heh …..hehhhh ….. hhheeehhh !!!!. Bagus ….. bagus !!!!. Cahayabuana berseru puas

sambil ketawa lebar dan berjalan menghampiri cucunya Yoga Kumaia yang sedang giat berlatih.

Demi melihat kedatangan Eyangnya itu, Yoga Kumala segera menghentikan gerakannya, sambil mengusapi peluhnya yang membasahi mukanya dengan tarrgan kirinya.

— Cukup cukup untuk hari ini, cucuku Yoga ! ! ! Hanya masih ada sedikit yang harus selalu

menjadi perhatian mu. Hendaknya dalam gerakan sabetan, bacokan ataupun tebangan, mata tajam senjatamu harus menyerong sedikit. Dengan demikian pedang ditanganmu akan menjadi lebih tajam dengan sendirinya, serta benda2 yang kau papaki dengan senjatamu akan terpental kejurusan yang serong pula sehingga tidak membahayakan dirimu. Selain itu semua gerakanmu cukup bagus ! !.

Selanjutnya kau tinggal melatih tentang kecepatan memindahkan pemusatan tenaga dalam dan kecepatan membagi bagi tenaga yang terhimpun itu, dengan tanpa menghentikan gerakanmu. Karena tanpa memiliki kemahiran dalam hal ini, seranganmu yang kelihatan dahsyat itu tidak akan berarti, apabila kau menghadapi lawan yang-tangguh.—

— Eyang ! Apaxah kiranya cucunda kelak akan cukup berharga untuk memiliki pedang pusaka ini, Eyang ??. Yoga Kumala berkata lemah sambil tertunduk lesu.

Mendengar pertanyaan cucunya itu, Cahayabuana cepat mendekat dan memegang bahu Yoga Kumala sambil menjawab dengan tersenyum girang — Hehh …. heehhhh !! Tentu tentu ! ! ! Cucuku

Yoga ! !. Jangankan kelak sekarangpun sesungguhnya kau telah dapat mengimbangi tokoh2 pedang

yang telah kawakan. Tidak perlu kau kuatir akan ilmu kepandaianmu. Maka hendaknya jangan kau bersikap ragu2 dan hilangkan sifat2 tak percaya pada diri sendiri. Contohlah sikap budi luhur kakak angkatmu Gustiku Senapati Indra …… Ingatlah, bahwa kau alalah satu2nya priya keturunanku ! !. Dan kini kiranya kau telah cukup dewasa untuk mewarisi semua ilmuku !!. — Cucunda akan selalu patuh

Luengikuti petunjuk2 Eyang ! !.

Sebagaimana biasanya, tiap2 hari setelah berlatih, Yoga Kumala bersujud didepan batu nisan tempat makam ibunya. Yaahhh ,,,,ibu kandungnya sendiri .,,,, Ibu yang telah ditunjuk oleh Dewata Hyang Maha Agung sebagai perantara dari kehadlirannya didunia ramai ini ….. Seorang ibu yang ia harus dan

wajib menjunjung namanya setinggi tingginya walaupun ia sendiri telah tidak ingat lagi, bagaimana

bentuk dan roman wajah ibunya itu.

Namun ia harus masih berterima kasih kepada Dewata Yang Maha Agung bahwa kini ia telah dapat menemukan kembali jejak asal usulnya, yang ternyata adalah seorang darah keturunan dari Ksatrya pahlawan Pajajaran, dan cucu dari seorang petapa shakti Pajajaran yang namanya telah menggemparkan para tokoh2 berilmu tinggi Pajajaran.

Baru saja Yoga Kumala bangkit berdiri selesai dari sujudnya, tiba2 suara auman sikumbang terdengar jelas, disusul dengan berkelebatnya sikumbang datang kearahnya. Langsung si kumbang mendekam dihadapannya dan kemudian mengangsurkan kaki depannya yang kiri, yang ternyata ada, noda darah dibahagian pahanya. Dengan serta merta Yoga Kumala menyambut angsuran kaki sikumbang sambil membongkok dan memeriksanya dengan saksama. Alangkah terkejutnya setelah menyaksikan, bahwa paha kiri kaki depan sikumbang ternyata luka bekas tergores senjata tajam.

Maksud hendak memanggil Eyangnya segera dibatalkan, setelah mengetahui bahwa kiranya Eyang mendahului masuk kegoa sewaktu ia bersujud didepan nisan makam ibunya. Dengan rasa iba ia membelai kepala sikumbang dengan tangan kanannya sambil menatap dengan pandangannya yang tajam kearah mata sikumbang. Seakan-akan sikumbangpun hendak mengatakan sesuatu. la mengerang- erang dengan ekornya bergerak-gerak. Ternyata luka goresan itu tak demikian membahayakan. Akan tetapi …. siapakah gerangan orangnya yang berani melukai sikumbang? ….Dimanakah ia mendapat luka itu?

Belum juga pertanyaannya terjawab, tiba2 tiga orang berjubah abu2 mendatang bagaikan berkelebatnya bayangan. Melihat cara mendatangnyapun telah dapat diduga, bahwa tiga orang itu tentu orang yang memiliki kepandain tinggi. Harimau kumbang yang sedang duduk jinak dihadapan Yoga Kumala, mengaum pendek serta hendak melompat menerjang kepada tiga orang itu yang berjubah abu2 yang tengah mendatang, tetapi cepat Yoga Kumala menepuk punggungnya serta membentak keras.

— Kumbang! Diam! Karena bentakan itu sikumbangpun menurut jinak kepada perintah majikannya.

— Anak Kaulah kiranya yang memiliki harimau kumbang yang galak itu? Salah seorang diantara ketiga pendatang itu bertanya dengan suara pelan.

— Maafkan atas kelancangan saudaraku ini, sehingga harimau piaraanmu menjadi terluka sedikit, anak muda! — Ucapan kata2nya sangat sopan dan sedikitpun tidak mengandung nada permusuhan, akan tetapi suara yang lembut itu cukup berwibawa.

— Karena saya belum mengenalnya, siapakah nama bapak2 yang datang ini? — Yoga Kumala bangkit berdiri menyambut kedatangan tiga orang berjubah abu2 itu, sambil membungkukkan badannya, sebagai tanda menghormat kepada orang yang usianya lebih tua, seraya bertanya.

— Haaa …. Hhhaataa …. haaaaaaa! Memang wajar bila kau tidak mengenal kami bertiga, karena baru kali ini pula kau berjumpa denganku …. Ketahuilah, bahwa kami saudara bertiga ini yang terkenal dengan nama — Parang Jingga — dari gunung Guntur. Kedatanganku bertiga kemari perlu menemui petapa shakti Ajengan Cahayabuana …. Dan siapakah kau ini sebenarnya anak muda?

Ketiga orang berjubah abu2 itu memang benar tiga saudara pendekar shakti dari gunung Guntur adanya, yang terkenal dengan gelarnya — Parang Jingga. — Jubahnya berwarna abu2 berkilat terbuat dari kain sutra dengan masing2 bertandakan lukisan sebatang golok berwarna merah yang tersulam didada bajunya.

Ketiga2nya hampir merupakan sekembaran. Mukanya bersih berseri dengan pandang matanya yang tajam. Rambutnya diikat diatas kepala dengan pita sutra kuning dan merupakan gelung kecil.

Masing2 berbadan tinggi tegap. Hanya pada keningnya yang tertua terdapat tanda goresan bekas luka, dan rambutnyapun telah kelihatan berwarna dua. Ia bersenjatakan tongkat besi sepanjang setengah depa dan sebatang golok panjang yang tergantung dipinggang sebelah kanan. Yang nomor dua tingginya terpaut sedikit dibandingkan dengan yang tertua. Rambutnya hitam pekat serta diikat keatas menyerupai yang tertua. Ia bersenjatakan sepasang go-

29

Ketiga orang berjubah abu2 itu memang benar tiga saudara penclekar shakti dari gunung Guntur adanya, yang terkenal dengan gelarnya "Parang Jingga"

lok pendek yang terselip dipinggang kanan kirinya. Sedangkan yang termuda bertubuh agak kurus dan setinggi yang tertua. Berbeda dengan kedua saudaranya, rambutnya terurai lepas dan sepasang golok pendek terselip dipinggang kanan kirinya.

— Saya adalah cucunya Eyang Cahayabuana, dan nama saya Yoga Kumala !!! — Jawab Yoga Kumala singkat, sambil menatap pandang penuh curiga.

— Tak salah lagi dugaanku, — Kaukah cucunya petapa shakti Ajengan Cahayabuana !!! — Parang jingga tertua berkata lagi. Sementara itu kedua saudara Parang Jingga lainnya berdiri diam tak berkata sepatahpun. Namun pandangannya liar menyapu sekitarnya, dan sebentar2 saling menatap pandang. Dimana Eyangmu sekarang ? Aku bertiga ingin menemuinya !!! — Mendengar pertanyaan itu,

Yoga Kumala semakin merasa curiga. Haruskah ia menunjukkan pada Eyangnya yang mungkin sedang bersamadi ? Ataukah ia sendiri harus mewakilinya ?

Kini ia sedang menimbang nimbang ….. dan untuk segera mengambil keputusan rasa hatinya penuh ragu ….. Sedang ia menimbang2 tindakan apa yang harus diambilnya, tiba-tiba Parang Jingga tertua mengulangi pertanyaan dengan nada yang agak keras.

— Hai Yoga Kumala !!! Jawablah pertanyaanku !!! Dimana Eyangmu sekarang ??? —

Jarak antara Gunung Guntur dan Gunung Tangkubanperahu bukanlah dekat. Tidak akan aku bertiga jauh - jauh datang kemari, jika tak ada perlunya. Ataukah aku harus mencarinya sendiri dalam gua itu. ? —

Agak gugup juga Yoga Kumala menghadapi pertanyaan ulangan yang mendesak ini. Akan tetapi dengan cepat ia dapat menguasai ketenangannya kembali.

— Maafkan Tuan2. Jika sekiranya sangat penting kedatangan Tuan tuan, silahkan untuk mengatakan tentang keperluan apa, nanti akan saya sampaikan kepada Eyang !—

— Haaa …. Haaa …..! Anak muda yang tak mengerti adat! — gumamnya, sambil ketawa terbahak bahak serta melanjutkan kata2nya. — Hai Yoga Kumala! Apakah memang demikian ajaran Eyangmu?

Dengarkan!. Aku bertiga bergelar "Parang Jingga" dan datang kemari untuk menemui Eyangmu! Cukup apabila kau sampaikan pada Eyangmu bahwa ada tamu penting dari Gunung Guntur yang datang kemari!, Lekas sampaikan….. atau aku akan mencarinya sendiri, tanpa kau antarkan.

Berkata demikian, Parang Jingga tertua melangkah maju dengan tangan kirinya mendorong Yoga Kumala kesamping sedangkan kedua saudaranya sambil serentak mengumpat.

— Anak liar tak mengenal aturan! —

Kiranya dorongan tangan kiri Parang Jingga tertua itu bukan hanya gerakan sambil lalu saja, akan tetapi ternyata di sertai daya pemusatan tenaga shaktinya, sehingga belum juga tangannya menyentuh badan Yoga Kumala, telah dapat pula dirasakan angin dorongannya yang dahsyat . Akan tetapi ….. Yoga Kumala yang telah memiliki tenaga shakti pemunah daya shakti dan setahun lamanya digembleng Eyangnya sendiri, sengaja tidak menghindari serangan gelap itu. Ia sengaja memapaki dengan terhuyung2 kedepan menerjang lawan, sambil jari2nya tegang mengembang untuk mengarah ketiak lawan.

Sebagai seorang yang terkenal dengan nama gelarnya Parang Jingga tertua serta telah banyak pengalamannya dalam pelbagai macam pertempuran, ia terperanjat sesaat. Sambil meloncat kesamping untuk mengelak dari serangan totokan yang tiba2 itu. Menyaksikan sikap Yoga Kumala itu yang dianggapnya sangat kurang ajar, kedua saudara Parang Jingga serentak menyerang menyerang Yoga Kumala dengan maksud untuk meringkusnya.

Seorang menubruk dengan kedua tangannya kearah kedua kaki Yoga Kumala, sedangkan seorang lagi melancarkan sebuah tendangan mengarah lambung dari samping kanan dalam jarak yang amat dekat. Serangan serentak dari kedua Parang Jingga itu walaupun berlainan bentuknya, namun jelas merupakan serangan yang mengandung satu titik tujuan. Karena menangkis ataupun mengelakkan tendangan dari samping kanan, berarti menyerah pada serangan tubrukan kedua belah tangan yang mengarah pada kakinya dari seorang lawan lainnya atau ia harus menerima serangan tendangan yang dahsyat dari lawan satunya.

Akan tetapi Yoga Kumala yang telah menguasai ilmu "wuru shakti" tak berpendapat demikian. la menjatuhkan diri dengan berjongkok hampir tertelungkup dan berjumpalitan menerobos dibawah kaki lawan yang sedang melancarkan tendangannyja, sambil menyerang dengan totokan jari2nya yang tepat mengenai pangkal paha lawan bagian bawah dengan seruan tawa yang menyramkan.

Tak ayal lagi seorang termuda Parang Jingga yang melancarkan serangan tendangan segera jatuh terlentang dan berjumpalitan kesamping, untuk menghindar dari serangan rangkaian Yoga Kumala, sedangkan seorang lagi melompat surut kesamping dua langkah dengan berseru nyaring, menghindari serangan terkaman sikumbang yang tak diduga2 itu. Ternyata sikumbang tak tinggal diam, melihat majikannya diserang oleh kedua lawannya yang telah melukainya.

Cepat Yoga Kumala bangkit berjongkok lagi, sambil berseru mencegah gerakan sikumbang yang sedang akan mengulang gerakan terkamannya.

Kumbang!, Lekas pergi! Jangan turut campur, — bentaknya. Dan mengerti seperti akan seruan majikannya, sikumbang melompat menjauhi lawan2nya dan kemudian menyelinap dibalik makam.

Sementara itu, Parang Jingga tertua telah menerjang Yoga Kumala dengan tongkat besinya.

Sedangkan kedua saudara Parang Jingga lainnya telah pula mengurung dengan senjata masing2 dikedua belah tangannya.

— Kurung rapat dan tangkap dia! — Perintah Parang-Jingga tertua pada kedua adiknya, sambil memutarkan tongkat besinya dan berseru lantang pada Yoga Kumala: — Jika kau tak mau menyerah dan mengantar kami bertiga pada Eyangmu. jangan menyesal jika kau terluka ataupun binasa ditanganku!—

Sesungguhnya ancaman ini semula hanya dimaksudkan menggertak untuk menakut-nakuti saja, agar Yoga Kumala tidak membandel melawan mereka. Akan tetapi, siapa tahubahwa ancaman demikian, malahan membangkitkan semangatnya untuk menguji ilmu pedang yang telah dipelajarinya.

Ia masih berdiri setengah berjongkok dengan kedua kakinya terpentang lebar. Telapak tangan kirinya mengembang dengan jari2nya yang ditegangkan diangkat setinggi pundaknya, sedangkan tangan kanannya telah menggenggam pedang pusaka yang terhunus, melintang didepan dadanya. Ia menyahut dengan kata2 yang diiringi dengan tawanya yang terkekeh-kekeh menyeramkan. — Haaa haahaaaaa !

Silahkan Tuan Parang Jingga. — Aku ingin membuktikan sendiri akan kehebatan ilmu shakti dari Parang Jingga bersaudaral. Haaa . . haaaa … ! —

Melihat Yoga Kumala bersiaga dengan kuda2nya yang aneh yang disertai suara tawa yang menyeramkan itu, Parang Jingga tertua membatalkan serangannya serta memberi isyarat pada kedua saudaranya untuk melayani Yoga Kumala, sementara itu ia sendiri mundur selangkah sambil berseru — Hebat . ! ! Hebat ….! Pantas sebagai keturunan petapa shakti!. Yoga Kumala. Layanilah kedua saudaraku ini dengan ilmu pedangmu yang aneh! Akan kulihat sampai berapa jurus kau mampu melawan kedua saudara mudaku ini! Haaa …. haaaa . —

Kata2 pujian yang ditutup dengan memandang rendah ilmu pedangnya itu cukup membakar semangatja. Ia tidak mau dihina secara demikian. Ia selalu ingat akan ajaran Eyangnya, yang pantang bertindak sebagai pengecut.

— Jangan kalian sombong, menghina orang lain! — serunya.

— Majulah bertiga, aku tak akan mundur selanggkah menghadapi serangan kalian ..... —

Belum juga ia selesai mengucapkan kata2nya, seorang termuda Parang Jingga telah membuka serangannya dengan sebuah bacokan kampak kearah dadanya, sambil berseru: — Awas serangan !—

Kaki kiri Yoga Kumala bergerak maju selangkah, dengan badan lebih merendah lagi ,,,, Pedang pusaka berkelebat bagaikan kilat menangkis serangan kampak, mengarah pergelangan lawan sedangkan tangan kirinya yang mengembang tegang menyambar kearah punggung lawan, dengan diiringi seruan tak kalah lantangnya: — Awas balasan!—

Menghadapi serangan balasan dari Yoga Kumala yang tak diduga-duga itu Parang Jingga termuda cepat meloncat kesamping kiri dan membatalkan rangkaian serangannya. ia menjadi terkesiap sesaat. Belum pernah serangan yang demikian dahsyatnya dihindari oleh lawan secara melancarkan serangan balasan. Melihat adiknya sibuk mrnghindari serangan balasan dari Yoga Kumala, Parang Jingga penengah segera langsung menerjang dengan tusukan dan babatan sepasang golok pendeknya.

Sementara itu Parang Jingga termuda telah membalikkan badannya dan kembali menyerang lagi dengan senjata kampak dan golok panjangnya. Namun serangan2 yang dahsyat itu, oleh Yoga Kumala dapat selalu dihindari secara aneh dan mengagumkan, hingga serangan2 kedua saudara Parang Jingga selalu menemui tempat kosong. Pertempuran kini menjadi seru dengan gerakan2 serangan senjata2 tajam masing2 yang amat cepat serta sukar dilihat dan diduga akan perobahan2 gerakannya.

Gulungan sinar putih bersemu kebiruan diselingi dengan berkelebatnya sinar putih kemilau yang menyambarkan bagaikan kilat susul menyusul menyelubungi tubuh ketiga orang yang sedang bertempur dengan sengitnya.

Ternyata dalam menghadapi dua orang lawan yang tangguh itu, Yoga Kumala dapat mengimbangi ketangkasannya, tanpa terdesak kedudukannya. Parang Jingga tertua yang menyaksikan pertempuran dari dekat tersenyum kagum : — Bagus! Bagus! — serunya sambil mengikuti jalannya pertempuran yang sedang berlangsung dengan sengitnya.

Akan tetapi pertempuran yang semula berjalan dengan seru dan seimbang itu, tak lama kemudian berobah dengan tiba2. Dua saudara Parang Jingga kini menjadi sibuk berlompatan menghindari serangan2 yang aneh dan berbahaya, serta sukar di-duga2 akan bentuk perobahan dan arahnya. Kiranya mereka keduanya telah merasa terdesak dan tak sampai memberikan balasan serangan pada Yoga Kumala lawannya. Serangan kedua saudara Parang Jingga yang tadinya merupakan serangkaian serangan yang serasa serta dahsyat , menjadi buyar dan kalang kabut, hampir2 senjata mereka berdua salimg berbenturan sendiri.

Sedang mereka sibuk berlompatan menghindari serangan pedang pusaka yang berkelebatan susul menyusul kearah tubuh mereka, tiba2 Yoga Kumala melompat tinggi sambil berjumpalitan diudara dengan berseru keras : " Lepas senjata!!!". Tidak ayal lagi, kedua golok pendek ditangan kanan kiri lepas dari genggaman dan terpental, sejauh lima langkah dari pemegangnya. Dengan seruan tertahan, penengah Parang Jingga melompat surut kebelakang dua langkah sambil gemetaran. Tangan kanannya terasa seperti lumpuh, sedangkan ibujari tangan kirinya terbabat oleh sabetan pedang pusaka Yoga Kumala.

Setelah melihat kedua saudaranya terdesak hebat dan bahkan seorang diantaranya mendapat cedera pada kedua belah tangannya, ia melompat menerjang kearah Yoga Kumala dengau suatu serangan pukulan tongkat besinya, langsung mengarah bahu kanan Yoga Kumala. Namun kembali lagi Yoga Kumaia dapat terhindar secara mentakjubkan sambil melancarkan serangan balasan yang tak kalah berbahayanya. Pukulan tongkat besi yang jatuh ditempat kosong itu, oleh Parang Jingga tertua dilanjutkan menjadi sabetan kearah kaki Yoga Kumala yang sedang mengelak kesamping dengan disertai suatu loncatan rendah untuk menghindarkan sabetan pedang Yoga Kumala.

Akan tetapi … ia segera melompat dua langkah kesamping kiri, setelah mendapatkan kenyataan bahwa serangan tongkat besinya yang berangkai menjadi gagal semua dan Yoga Kumala tanpa diketahuinya telah berada dibelakangnya sambil melancarkan serangan2 yang sangat berbahaya.

Sementara itu Parang Jingga penengah telah terbebas dari kelumpuhan tangan kanannya, sedangkan ibu jari tangan kirinya cepat dibalut dengan sobekan lengan jubahnya, untuk kemudian melompat mendekat Parang Jingga tertua dan mengambil golok panjang yang terselip dipinggang kakaknya. Kini mereka bertiga dengan senjata masing2 ditangan serentak maju dengan serangan2 yang amat rapih dan teratur silih berganti susul menyusul dan kadang2 serangan serentak yang amat dahsyat .

Tongkat besi menyambar kearah kedua kaki Yoga Kumala, sedangkan ujung golok panjang dari penengah Parang Jingga meluncur kearah dadanya, dan Parang Jingga termuda pada saat yang bersamaan mengayunkan kampaknya kearah kepala Yoga Kumala dengan memegang golok pendek terhunus ditangan kirinya siap untuk merangkaikan serangannya. Tiba2 sewaktu tiga senjata hampir mengenai sasarannya, Yoga Kumala terhuyung2 kebelakang selangkah untuk kemudian meloncat tinggi sambil berseru melengking menyeramkan.

Ia berpusingan diudara meluncur kembali dengan melancarkan serangan dalam gerak sabetan pedang yang sangat membingungkan bagi ketiga saudara Parang Jingga yang belum siaga itu. Ketiga2nya masing2 berlompatan surut kebelakang selangkah untuk menghindari serangan pedang maut yang tak dikenal oleh mereka. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa serangan yang demikian rapat dan dahsyat dapat dihindari secara aneh dan mentakjubkan.

Akan tetapi Parang Jingga termuda dengan tangkasnya telah melemparkan golok pendeknya kearah Yoga Kumala sewaktu ia meloncat menghindar dari serangan pedang. Golok pendek meluncur bagaikan kilat mengarah perut Yoga Kumala yang waktu itu belum berpijak ditanah. Dan ….trrraanngg Golok pendek tertebas menjadi dua potong serta terpental jauh, masing2 mengarah tubuh kedua lawannya yang sedang berlompatan menghindar dari serangan pedang sehingga mereka terpaksa menangkis dengan gerakan membentuk perisai dengan senjatanya masing.

Tiba2 seorang tertua Parang Jingga melompat surut kebelakang dua langkah sambil berseru keras — Cukup. Cukup !. Tahan senjata! Serentak semua mengikuti gerakan Parang Jingga tertua dan berdiri tegak tak bergerak sambil memegang senjata masing2.

Bersamaan dengan itu, Ajengan Cahayabuana berdiri dibelakang Yoga Kumala, sambil tertawa nyaring.

— Haa ….. haa...! Bagus! …. Bagus! Yoga sambutlah kedatangan para tamu Parang Jingga itu sebagai mana layaknya. Anggaplah ketiga tamu shakti itu seperti keluarga kita sendiri ….

Mendengar kata2 Eyangnya yang tiba2 itu, ia menjadi terkejut dan heran bukan kepalang.

Namun sebagai seorang cucu yang selalu taat akan perintah Eyangnya, Yoga Kumala cepat menyarungkan pedang pusakanya kembali serta membungkukkan badannya kearah ketiga saudara Parang Jingga sambil berkata minta maaf

— Tidak mengapa ! I. Dan tidak ada yang harus kami maafkan Yoga Kumala ! !, Saya bangga menyaksikan kepandaianmu itu ! ! Berkata demikian Parang Jingga sambil membalas hormat.

— Bapak Ajengan Cahayabuana ! ! —. Ia bwrkata melanjutkan bicara tertuju pada Cahayabuana, sambil menganggukkan kepalanya : — Maaf kan kami bertiga, yang telah lancang berani menguji cucu Bapak Ajengan Cahayabuana sebelum mendapatkan idzin terlebih dahulu. Dan ternyata berhasil dengan sangat memuaskan. Kelancangan kami bertiga sekedar memenuhi permintaan Gusti Senapati Indra Sambada pada setengah tahun yang lalu. —

— Ach …. tidak ada pula yang harus saya maafkan, bahkan saya mengucap banyak terima kasih atas jerih pajah anak2 Parang Jingga yang telah sudi menguiurkan tangan membantu aku yang telah tua ini ! !. Dan akupun telah mengerti akan keperluan kedatangan anak2 kemari, maka sengaja tadi aku tak menyambutnya lebih dahulu. Mari2 …. silahkan singgah digua pondokku sebentar anak2….. — Yoga !! Kau juga harus mengucap terima kasih pada tamu2 kita yang bermurah hati itu. —

Belum juga Yoga Kumala sempat mengucapkan terima kasihnya, Parang Jingga telah berkata

lagi. — Maaf kan, Bapak Ajengan Cahayabuana ! !. Bukannya kami menolak untuk singgah di pertapaan, akan tetapi terpaksa kami harus meninggalkan Tangkubanperahu sekarang juga, untuk segera menghadap Gusti Senapati Indra Sambada di Kota Raja agar tak terlambat menyampaikan laporan hasil titahnya !!. —

Baik ….. baik ! !. Aku tak mungkin dapat mencegah kalian ! !. Pesanku, sampaikan saya salam sujudku kehadapan Gusti Indra ! !.—

Sambil menepuk nepuk Yoga Kumala ketiga saudara Parang Jingga berpesan agar kedatangannya di Kota Raja krlak jangan sampai terlambat.

Setelah berpamitan, mereka bertiga segera berlalu dengan pesatnya sambil meninggalkan suara seruan pesan — Yoga!!

Sampai ketemu lagi di Kota Raja !!!. — Suara itu memantul menggema kembali …. untuk kemudian hilang lenyap sama sekali.

*

**

Pada waktu malam harinya, setelah Yoga Kumala selesai berlatih iltnu pemusatan tenaga dalam, Cahayabuana memberikan petunjuk2 padanya dengan suara yang tenang sambil duduk bersila.

— Dahulu sewaktu kangmasmu Gusti Indra Sambada meninggalkan pondok kita ini, ia meninggalkan pesan padaku, supaya kau berhasil mewarisi kapandaianku dalam-waktu tidak lebih dari dua tahun. Walaupun dalam waktu yang singkat itu tentu masih ada, kekurangan2 yang belum kau kuasai seluruhnya, akan tetapi Gustiku Indra menaruh kepercayaan, bahwa dengan mewarisi dua pertiga bagian dari kepandaianku saya dengan ditambah ilmumu sendiri telah cukup untuk bekal dalam mengabdi di Kerajaan. Demikianlah pesan beliau. Hal ini dianggap karena menjelang dua tahun mendatang beliau berkenan mengadakan pemilihan calon2 perwira tamtama baru yang khusus akan ditugaskan ke Kerajaan Tanah Melayu sebagai tamtama bantuan dari Gustiku Sri Baginda Maharaja Hajam Wuruk kepada Sri Baginda Maharaja Adityawarman. Menurut keterangan Gustiku Senapati Indra bantuan dari Majapahit adalah memenuhi permohonan Kerajaan Tanah Tanah Melayu yang bermaksud untuk mengendihkan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang kini telah suram. Maka berulang-ulang Gustiku Indra berpesan agar kedatanganmu kelak di Kota Raja jangan hendaknya terlambat.

Maka cucuku Yoga! Jangan hendaknya kau membuang-buang kesempatan yang demikian baiknya itu …. Tekunlah berlatih!

Demi untuk tercapainya tujuanmu. Pergunakanlah waktu fang singkat dan yang hanya tinggal setahun lagi ini se-baik2nya ,serta semanfaat mungkin! —

— Akan tetapi, Eyang! Cucunda masih ragu …. akan kemungkinan dapatnya menguasai semua pelajaran dari eyang dalam waktu yang sesingkat itu. Dan karenanya ….. saya takut ….. apabila nanti

…..terpaksa mengalami kegagalan. Bukankah Eyang sendiri sering mengatakan, bahwa kegagalan dalam tahap permulaan sama halnya dengan kegagalan keseluruhan? Maka untuk tampil dalam gelanggang pemilihan calon perwira tamtama yang akan diselenggarakan di Kota Raja pacla setahun mendatang ini, cucunda merasa tidak mampu? …. !—

Yoga Kumala mengutarakan isi hatinya dengan se-jujur2nya, dengan kata2 yang terputus-putus serta dengan muka yang tertunduk. Sekilaspun ia tak berani menatap pandang pada Eyangnya.

— Yoga cucuku sayang! — Cahayabuana mejawab dengan kata2 lemah lembut: — Jangan kau mudah berputus asa! Melihat bekal yang telah kau miliki sekarang saya, aku sebagai Eyangmu telah merasa tidak kecewa dan percaya bahwa dalam waktu setahun mendatang, jika kau selalu tekun berlatih tentu akan dapat menguasai seluruhnya pelajaran2 yang kuberikan padamu. Hanya untuk sempurnanya, kau masih harus mencari pengalaman. Dan memang pengalaman itulah yang pada hakekatnya akan merupakan guru yang tertinggi …. Percayalah pada dirimu sendiri!

Yaahhh ….ketahuilah bahwa kepercayaan pada diri sendiri juga merupakan bekal utama untuk mencapai sesuatu. — Cahayabuana menghela nafas sejenak dan kemudian melanjutkan lagi bicaranya:

— Merendah hati adalah budi luhur akan tetapi …. berkecil hati bukan merupakan sifat2 ksatrya.

Buanglah jauh2 sifat2 yang demikian itu. Ketahuilah, bahwa secorang ksatrya harus selalu menunjukkan kesanggupannya, dengan semboyan2nya — pantang menyerah. — Demi untuk menjunjung tinggi martabatnya, demi nama bangsa dan tanah airnya, seorang ksatya akan rela hancur lebur menjadi debu dari pada lari meninggalkan gelanggang sebagai pengkhianat. —

Setelah mendengar petunjuk dari Eyangnya itu, rasa hatinya seperti tergugah. Api juangnya menjadi menyala kembali.

Kata2 Eyangnya seakan - akan merupakan sambaran petir disiang bolong Tidak tidak! Tak

mau ia menjadi pengkhianat. Iapun rela lebur menjadi debu dari pada hidup sebagai pengkhianat. Bukankah mendiang ayahnya juga gugur sebagai pahlawan?

Mulai sejak itu, ia berlatih lebih giat dan tekun lagi serta keinginan untuk ke!ak dapat terpilih menjadi perwira tamtama menjadi meluap luap …..

Hari demi hari, dan bulan demi bulan telah dilaluinya dengan acara2 yang sama serta menjemukan. Esok pagi-pagi berlatih kanuragan dan malam harinya menerima petunjuk2 ataupun mengungkap kitab kuno.

Akan tetapi walaupun demikian, Yoga Kumala tetap mentaati perintah Eyangnya, dan berlatih penuh ketekunan.

Teman untuk ber-cakap2 satu2nya dalam waktu beristirahat adalah Mang Jajang pengasuhnya yang setia. Dari Mang Jajang itulah Yoga Kumala dapat mengetahui banyak tentang kisah kehidupan ayah bundanya yang telah pulang kealam baka. Sifat2 kesatriaan mendiang ayahnya selalu didongengkan oleh Mang Jajang dengan semangat yang menyala2, seakan akan ingin ia melukiskan kembali dengan kata bahasanya agar Yoga Kumala dapat pula turut menggambarkannya dengan angan2 yang jelas.

— Wajah mendiang juragan pamegeut mirip sekali dengan Aden Yoga Kumala sekarang — Dan apabila ceritanya sampai disini, air mata Mang Jajang deras mengalir membasahi pipinya yang telah berkeriput iiu. Tak terasa, Yoga Kumalapun ikut pula bersedih hati. Air matanya ber-linang2 meleleh dikedua pipinya.

Kadang2 sebagai pelipur dukanya, ia mengikuti Eyangnya Cahayabuana dimalam hari menjelajali desa2 di-lereng2 pegunungan untuk menolong rakyat tani yang miskin atau mengobati orang2 desa yang jauh terpencil yang sedang menderita sakit. Tak jarang pula Yoga Kumala turut serta memberantas penjahat2 yang mengganggu ketentraman di-desa2 yang jauh terpencil dari penjagaan petugas narapraja.

Sang waktu berjalan terus, tanpa mengenal langkah surut bagaikan anak panah yang telah

terlepas dari busurnya. Dan kini telah lewat satu setengah tahun lamanya ia tinggal dipertapaan Eyangnya dilereng puncak Gunung Tangkubanperahu. Selama itu pula ia digembleng oleh Eyangnya baik jasmani maupun rohani.

Ternyata Yoga Kumala sebagai ksatrya keturunan darah pahlawan Pajajaran dengan bakat2nya, telah dapat mencapai kemajuan yang pesat, sesuai dengan kehendak Eyangnya, petapa shakti Ajengan Cahayabuana.

Sejak adiknya Indah Kumala Wardhani meninggalkannya, rasa2nya ia tak betah untuk tinggal lebih lama lagi ditempat yang sunyi itu.

Ingin ia sekali waktu minta ijin kepada Eyangnya untuk menjenguk adiknya sebentar di lndramayu, akan tetapi tak berani ia mengutarakan keinginannya kepada Eyangnya.

Keinginannya tetap hanya menjadi keinginan belaka ...

Ia tahu, bahwa permintaannya tak mungkin dikabulkan, selama ia dianggap oleh Eyangnya belum lulus dari penempaan dalam ilmu krida kanuragan dan ilmu krida yudha. Terdorong oleh rasa ingin cepat turun gunung, maka semua pelajaran-peiajaran yang diterimanya disambutnya dengan penuh perhatian serta ketekunan. Ia berlatih dengan tanpa mengenal lelah Kiranya semua ini tak Iepas pula dari

perhatian petapa shakti Cahayabuana, Eyangnya. Akan tetapi sebagai pengasuh yang telah mendekati titik kesempurnaan, Cahayabuana seakan-akan tidak memperdulikan akan isi hati cucunya.

Dalam hati ia selalu bersjukur pada Dewata Hyang Maha Agung, bahwa ia telah dikaruniai cucu seorang putra yang ternyata perkasa dan berwatak ksatrya. Ia bersyukur pula, bahwa kini cucunya Yoga Kumala telah dapat mewarisi ilmunya krida kanuragan yang dapat dibanggakan. Kini ia telah bermasud hendak melepas cucunya dari tempat petapaan, karena dianggapnya telah cukup memiliki bekal untuk mengabdi di Kerajaan Majapahit.

Dikala itu, malam bulan purnama. Langit biru membentang luas dan bintang2 gemerlapan menaburi ruang angkasa. Cahaya sang bulan memancarkan sinar keemasannya dan alam semesta menjadi terang remang-remang karenanya. Namun suasana sekitar lereng puncak Gunung Tangkubanperahu itu tetap sunyi .. . . sepi seperti biasanya pada tiap2 malam hari. Hanya suara

jengkerik ilalanglah yang selalu terdengar nyarin g, merupakan irama malam yang tetap. Kadang2 diselingi pula dengan suara auman binatang2 buas ataupun suara anggukkan burung hantu. Akan tetapi suara selingan itu segera lenyap tertelan oleh kesunyian malam yang kelam.

Waktupun telah lewat tengah malam, akan tetapi Cahayabuana dengan Yoga Kumala masih juga asyik bercakap-cakap pelan sambil duduk bersila didepan batu nisan tempat makam mendiang Nyi Ayu Darma Kusumah, sedangkan si kumbang dengan setianya mendekam tertunduk disebelah Cahayabuana. Hawa pegunungan yang dingin itu kiranya tidak mengganggu ketenangan mereka, bahkan dihirupnya dalam2 untuk menambah segarnya badan. Jika pada waktu malam biasanya mereka duduk diruang semadhi dalam gua, sambil mengungkap kitab kuno, maka malam ini adalah berlainan dengan malam biasanya. Mulai sejak sang bulan tadi bertahta disinggasananya, mereka berdua duduk diatas rumput tanpa alas Iain sambil asyik bercakap2 pelan. Kiranya Cahayabuana ingin sekali lagi mengulang kata-kata petuahnya pada cucunya Yoga Kumala. Seaakan-akan ingin ia menyematkan semua petuahnya kelubuk hati cucunya pada malam itu.

— Pesanku, ….. Yoga .... jagalah adikmu Indah Kumala Wardhani dan dirimu sendiri baik2…..

Walaupun kelak pada suatu saat kau berdua terpaksa harus berpisah dan berjauhan namun aku mmgharap …… ikatan rasa sebagai saudara sekandung hendaknya jangan sampai putus …..

Ingatlah bahwa hanya kau berdua yang menjadi penyambung obor para leluhurrnu, dan hendaknya dapat merupakan obor penerang pula bagi mereka yang sedang terperosok dalam kegelapan Suara itu terputus sejenak, dan suasana menjadi sunyi sepi kembali Dengan muka tertunduk, tiba2

Yoga Kumala menyahut pelan memecah kesunyian.

— Eyang! Cucunda ingin berbakti pada ayah bunda dan Eyang serta pada para leluhur. Hendaknya batu nisan makam Ibunda ini menjadi saksi akan kata2 cucunda. Hasrat cucunda tidak ada lain kecuali mengabdi pada kebaikan. — Aku percaya akan ucapan kata2mu, Yoga! Semoga Dewata Hyang Maha Agung mengabulkan cita2mu yang mulai itu …..Sekali lagi pesanku, …. bersikaplah selalu rendah hati!. Sesuaikan dirimu, dimanapun kau berada. Dalam kitab kuno Niti Sastra yang telah kau pelajari terdapat sebait wejangan ilmu shakti dari seorang pendeta Budha Sakyakirti kepada salah seorang muridnya tertulis dalam halaman 678 yang berbunyi demikian :

Menjelma asap sewaktu campur awan . . Menjadi setetes air dikala hujan …… Dapat menghilang digelapan . . . .

Dan menjadi debu dikancah laga . .

Kejarlah aji shakti demikian ….

Sebagai bekal untuk mencapai tujuan …..

Arti maksud daripada wejangan itu, ialah tak lain dari pada suatu petuah, agar muridnya selalu dapat menyesuaikan diri dimanapun ia berada. Maka buanglah jauh2 sifat tinggi hati ataupun congkak.

Janganlah sekali2 menghina ataupun memandang rendah pada orang lain. Orang2 shakti yang berada diatas tingkatanmu masih banyak sekali. Kesaktian tanpa landasan kebenaran, pasti akan mengalami kehancuran. Ingatlah, bahwa tujuanmu yang utama adalah „mengabdi" …. dalam arti kata yang luas! Yaaahh . . . . mengabdi pada Kerajaan Agung Majapahit mengabdi pada bangsa dan tanah

air…… mengabdi pada kebenaran dan keadilan mengabdi pada Dewata Hyang Maha Agung.

Ilmu, pangkat dan kekuasaan hanyalah alat belaka untuk mewujudkan suatu pengabdian . . Kelak kau akan tahu sendiri, dimana letaknya puncak kesaktian yang sesungguhnya , …. Carilah

.... dan kau tentu akan menemukan ….. Nah …. cucuku Yoga ! Kiranya ilmu yang kau warisi dariku telah cukup, untuk sekedar penambah bekal, dalam mencapai titik tujuan.

Siang malam aku akan selalu berdoa dalam semadhiku, agar Dewata Hyang Maha Agung selalu melindungi dirimu ……

Disamping ilmu yang telah kau miliki, setia dan tekun merupakan dua pokok bekal utama pula.

Dalam kata setia terkandung arti: taat, patuh, serta bertanggung jawab akan semua kewajiban, sedangkan tekun ialah rajin tak mengenal lelah ataupun jemu. Sebagai contoh …..

Walaupun hanya selangkah demi selangkah, akan tetapi dengan setia dan ketekunan, kau dapat mendaki puncak gunung setinggi Mahameru. Sebaliknya, walaupun kau ber-sayap akan tetapi tak memiliki ketetapan hati tidak mung-kin dapat terbang mencapai titik tujuan. Camkanah … baik2, pesanku yang sederhana ini. Karena orang yang masih semuda kau itu, akan banyak menjumpai godaau. Jangan hendaknya kau mengalami kegagalan ditengah jalan, hanya karena tergelincir oleh rintangan yang tak berarti. — Sampai disini Cahayabuana berhenti bicara, dan suasanapun menjadi hening kembali

….. Kedua2nya menghela nafas panjang, seakan akan sedang mengenangkan sesuatu. Si. Kumbangpun mendekam tak bergerak. Hanya matanya yang berkedip2 berkilat terang seperti nyala pelita. Seakan akan iapun turut pula mendengarkan wejangan majikannya.

Sambil batuk2 kecil, Cahayabuana melanjutkan lagi bicaranya dalam nada penuh ketenangan.

— Cucuku, Yoga Kumala !! Yaaahh walaupun telah berulang kali aku katakan padamu, akan

tetapi kiranya tak ada jeleknya apabila dimalam perpisahan ini aku peringatkan sekali lagi Kenanglah

sepanjang masa hidupmu akan jasa2 semua orang yang telah meltrnpahkan budi kasihnya kepadamu, seperti Gusti Wirahadinata sekeluarga. Gusti Junjunganku Senapati Indra Sambada, Ki Dadung Ngawuk dan lain2nya. Hutang harta mudah dibayar dengan benda pula. Akan tetapi berhutang budi harus dibalas dengan bhakti. Dan bukan dinamakan bhakti apabila tidak rela berkorban untuknya, sewaktu diperlukan

!! - Semua petuah Eyang akan saya rekam untuk saya jadikan haluan hidup cucunda, Eyang !!!.—

Baru saja Yoga Kumala selesai mengucapkan kata akhir kalimatnya, tiba2 terdengar suara tawa yang bergelak gelak yang semakin jelas. — Haaaa haaaaaa . . haaaa ...!!.-- Si kumbang cepat bangkit berdiri dengan sepasang dann telinganya bergerak gerak, mencari arah datangnya suara. Ia mengerang tertahan, sambil memperlihatkan taring2nya iang runcing berkilat. Namun cepat tangan kanan Cahayabuana menepuk pelan pada punggung sikumbang, sebagai isyarat agar ia duduk mendekam kembali dengan tenang.

Yoga Kumala menjadi terperanjat seketika, dan hampir2 ia bangkit hendak menyambut suara tawa yang bergelak gelak nyaring itu, Akan tetapi secepat itu pula ia dapat menguasai ketenangannya kembali, demi disadarinya, bahwa ia sedang menghadap Eyangnya. Ia tertunduk dengan muka yang merah padam, diliputi oleh rasa gelisah.

Sebelum gema suara tawa itu hilang tertelan oleh kesepian malam, tiba2 Cahayabuana telah membalasnya dengan suara yang menggema pula. — Haaaiii Ki Dadung Ngawuk !!!. Kedatanganmu

tepat pada waktunya !!!, -

Walaupun kata2 itu diucapkan dengan pelan sambil duduk bersila akan tetapi suaranya menggema mengalun jauh dan memantul kembali dalam nada yang lebih jelas terdengar. Gelombang getaran gema suaranya memenuhi alam sekitarnya, hingga suara cangkerik ilalang dan lain2nya terdesak lenyap. ltulah seruan petapa shakti Cahayabuana yang diiringi dengan aji shaktinya „Panggendaman Rajawana".

— Haaa haaaahhhaaaaa ! Kedatanganku tak bermaksud mengganggu pertemuan kakek dan

cucu! Tapi sekedar menjenguk muridku sianak gila yang baik. —

Suara itu kini semakin terdengar jelas dan seakan-akan diucapkan oleh orang yang telah berada dihadapannya. Akan tetapi ternyata bayangannyapun belum nampak. Jelas bahwa kakek Dadung Ngawuk menggunakan pula tenaga dalamnya untuk mengantar suaranya dari kejauhan.

— Silahkan! Silahkan!! Kedatanganmu kusambut dengan hati terbuka! — Jawab Ajengan Cahayabuana.

Bajangan berkelebat mendatang, dan bersamaan dengan lenyapnya gema suara Cahayabuana, seorang kakek2 gundul setengah telanyang dengan hanya memakai cawat dari kulit ular sanca serta menggenggam cambuk terbuat dari kulit ular sanca pula ditangan kanannya, telah berdiri dihadapan Cahayabuana sambil tertawa tarkeceh-kekeh.

— Heehhh …. Heeehhh ,.. heehhh ! Tidak kuduga bahwa petapa tua masih hidup dan tetap segar seperti dahulu waktu lewat sepuluh tahun yang lalu! —

Tanpa menunggu perintah Eyangnya, Yoga Kumala segera bangkit dan sujud pada gurunya yang baru saja tiba. — Kakek Dadung Ngawuk!!! Ampunilah aku muridmu yang tak berbakti ini. Sekali-kali aku tak bermaksud mangabaikan pesan guru, akan tetapi kesempatan untuk mnemenuhi janjiku memang belum tiba ….Sekali lagi... ampunilah kesalahanku ini kakek Dadung Ngawuk guruku!—

Sesungguhnya memang Yoga Kutnala selalu ingat akan pesan gurunya kakek Dadung Ngawuk, sewaktu ia dahulu meninggalkan hutan Blora. Dan oleh karena itulah ia cepat2 mengutarakan isi hatinya, karena kuatir mendapat teguran dari gurunya, sebelum ia mendapat kesempatan untuk memenuhi pesan gurunya. Telah lama terkandung dalam hatinya, akan tetapi apa daya kesempatan itu belum juga kunjung datang.

— Heeehh ….. heeeehhh !!. Anak gila yang baik! Tak ada yang harus kumaafkan ….Akupun telah tahu semua ,…. Dan bahkan tak pantas apabila kau memiliki cengeng. Bukankah kau adalah cucu petapa tua shakti??? Haaa ….. haaa …. Sudahlah! Sudahlah! Datangku kemari hanya ingin membuktikan akan kebenaran kataku dahulu, dan pula kau harus mengakui kalah bertaruh denganku! — Berkata demikian, K.kek Dadung Ngawuk segera turut serta duduk sila diatas rumput sambil memegangi bahu Yoga Kumala dan menepuk-nepuknya.

Sementara itu, Yoga Kumala diam ternganga, penuh pertanyaan. Darimana gurunya tahu akan kejadian2 yang telah dialaminya? Cara bagaimana gurunya tahu bahwa ia kini berada ditempat pertapaan Eyangnya? Sedang ia meraba2 mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, Cahayabuana telah memulai membuka percakapan.

— Kiranya sahabatku Kaki Dadung Ngawuk masih juga tetap segar bugar, dan watak2 aslinya tidak juga berubah! — Katanya sambil tersenyum.

— Dan bahagialah anda berkunjung dipondokku yang terpencil ini! —

— Haaa haaa haaa . ! Petapa tua yang selalu pantas menjadi tauladan …. Jauh berlainan dengan diriku yang gila ini . yaaah . memang aku benar2 gila…. Terima kasih….. terima kasih atas teguranmu

itu, orang tua! haaa ….haaa …..haaa ….!—

Dengan muka tertunduk diam dan hati yang girang, Yoga Kumala mengikuti percakapan dua orang shakti yang tengah berlangsung itu. Ke-dua2nya adalah gurunya sejati...

Ia girang bercampur rasa kagum dan bangga. Girang karena akhirnya dua orang shakti itu bertemu dalam suasana akrab, dan bangga karena kedua-duanya memiliki ilmu yang tinggi serta saling mengagumi.

— Sayang kau petapa tua …... terlalu kikir akan Ilmumu Mudah2an saja menghadapi cucunya

sendiri kau menjadi pemurah ! —

Mendengar kata2 cemoohan dari Ki Dadung Ngawuk itu, Cahayabuana sedikitpun tidak menjadi marah, akan tetapi bahkan turut tertawa terbahak2 pula. Ia tahu akan sifat sifat Dadung Ngawuk yang sinting dan angin2an itu, dan iapun tahu bahwa kata2nya itu semua sama sekali ticlak mengandung maksud jahat. Tanpa mengindahkan ucapan cemoohannya Cahayabuana berkata sambil tersenyum lebar.

— Heeehh ….. Heeehhh …. akulah yang seharusnya berterima kasih padamu, Ki Dadung Ngawuk! Tanpa bimbinganmu cucuku Yoga Kumala tidak akan sepandai sekarang! Orang tua seperti aku ini tentunya tidak mungkin dapat membalas atas budi kebaikanmu yang tak ternilai itu.— Maka terserahlah …. dan semoga Dewata Hyang Maha Agung dapat membalasnya! —

— Orang tua baik!. Ternyata kau bukan hanya pandai dalam ihnu kanuragan, tetapi juga pandai bersilat lidah dan menyanjung orang. Haaa ….haaaa ….haaa …. Hampir2 aku jatuh terlentang karena terlalu tinggi kau sanjung-sanjung! —

Haaa . , haaa haaa , Bukankah dahulu dengan ilmu kebanggaanku aktu pernah bertekuk lutut padamu? Haaa …. haaa , …..haaa!. Sampai2 aku berani lancang tangan mengangkat cucumu sebagai muridku, adalah karena semula aku tak tahu bahwa anak gila itu sesungguhnya cucumu adanya. Akan tetapi kini, ternyata aku menang taruhan dengan cucumu. itu. Haaa …. , . haaahaaa ……bukankah benar akan dugaanku dahulu bahwa nama Sujud adalah nama palsu! Haaa …. Bawa…. Bawa…. haaa ! Nach,

sekarang akan aku jitak kepalamu Yoga! — Dan benar2 apa yang dikatakan, ia telah menjitak kepala Yoga Kumala dengan tiba2, sehingga menjadi terperanjat sesaat.

— Nach! — katanya kemudian,— Lunas sekarang! Kekalahan taruhanmu telah kau bayar dan akupun tidak penasaran lagi. Haaa haaa .. . . haaa —

Akhirnya ketiga-tiganya menjadi ketawa atas kejadian itu. Kini suasana nampak lebih gembira dan lebih akrab lagi. Kiranya sifat2 sintingnya Dadung Ngawuk menambah meriahnya suasana pada malam yang sunyi itu.

Percakapan itu berlangsung terus dengan sebentar-bentar diselingi dengan suara tawa yang terbahak2. Tanpa diperintah Eyangnya, Yoga Kumala telah pergi kedapur dan membantu Mang Jajang yang sudah sibuk menyiapkan teh hangat dan makanan kecil sederhana untuk menjamu gurunya Ki Dadung Ngawuk.

Ternyata suara tawa yang ber-gelak2 tadi cukup membuat terkejutnya Mang Jajang yang sedang tidur nyenyak, sehingga ia tersentak bangun karenanya. Dengan panjang lebar penuh kelucuan Dadung Ngawuk menceritakan, bahwa sewaktu ia mencari muridnya di Indramayu menemui Wirahadinata, mendapatkan petunjuk2 yang sangat jelas. Dengan demikian maka ia kemudian langsung menuju ke lereng Tangkubanperahu.

Juga sewaktu ia berada di Indramayu iapun telah pula berkenalan dengan adik muridnya Indah Kumala Wardhani yang nakal itu. Iapun membawa juga pesan dari Bupati Wirahadinata untuk disampaikan pada Cahayabuana. Isi pesannya ialah, agar Yoga Kumala dalam waktu dekat ini dapat berkunjung ke Indramayu, untuk kemudian akan diantarkan sendiri oleh Wirahadinata ke Kota Raja bersama-sama dengan adiknya Indah Kumala Wardhani.

Cahayabuana setelah menerima pesan yang dibawa oleh K i Dadung Ngawuk dari Bupati Wirahadinata, segera memberikan penjelasan kepada Ki Dadung Ngawuk bahwia Yoga Kumala memang pada besok paginya akan turun gunung menuju ke Kota Raja dengan singgah sebentar untuk sementara hari di Indramayu, tempat kediaman orang tua angkatnya.

— Untung bagiku, bahwa kedatanganmu tidak terlambat — kata Cahayabuana.

— Haaa . . .. . haaa . . . , . haaa Akulah yang beruntung! — Sahut Ki Dadung Ngawuk, -- Tidak

kecewa aku dari jauh2 datang kemari ! —

Sambil menikmati hidangan2 yang masih hangat kedua orang shakti melanjutkan percakapannya. Sementara itu Yoga Kumalapun telah turut serta duduk bersila mendengarkan percakapan mereka.

— Yoga gila, muridku! — katanya Dadung Ngawuk kemudian, sambil menatap pandang padanya. — Jika kelak kau telah diangkat menjadi priyagung di Kerajaan, jangan hendaknya kau lupa padaku. Berusahalah untuk menjenguk diriku, waktu satu setengah tahun mendatang. Untukmu kuberikan kitab kuno usadha sastra yang mungkin berguna bagimu.

Ambilah sendiri kitab kuno itu. Kitab itu kutanam didekat pohon semboja merah didekat sendang ditengah hutan. Tak usah kuatir, kitab itu kusimpan rapih dalam peti yang tak mungkin rusak. Ingatlah? satu setengah tahun lagi menjelang bulan purnama pada malam pertama! —

Budi kasih kakek Guru kepadaku terlampau banyak … — Jawab Yoga Kumala sambil bersujud: — Dengan cara bagaimanakah aku dapat membalasmu, Kakek Dadung Ngawuk?!

Haaaa … haaaa . haaaa . benar2 kau serupa dengan kakekmu sipetapa tua Ketahuilah, bahwa

aku sama sekali tidak mengharapkan balasan darimu . . . .

Cukup jika kau kelak dapat menjadi kebanggaan orang hanyak, seperti kakekmu itu, Akupun akan turut merasa hangga pula. Nach! Kiraku ajaran2 dari kakekrnu petapa tua cukup padat dengan hal-hal yang baik, dan tidak perlu aku menambah lagi. Ketahuilah, bahwa dihadapan kakekmu itu, aku pernah menyerah kalah dan bertekuk lutut maka akupun percaya penuh padanya! —

Berkata demikian Dadung Ngawuk lalu bangkit berdiri sambil berpamit untuk kembali ke hutan Blora tempat tinggalnya. Ajakan Ajengan Cahayabuana agar ia mau singgah lebih lama lagi dipertapaan, sama sekali tak dihiraukannya. Ia telah melesat hilang ditelan kegelapan malam yang pekat sambil meninggalkan suara tawanya yang menggema dipantulkan oleh lereng gunung Tangkubanperahu : — Ilaaaaa ... haaaaaa . . . haaa.aaa . —

Lain waktu kita sambung lagi! —

Cahayabuana hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, sambil berkata pada diri sendiri: — Orang aneh …. orang aneh, tetapi berwatak ksatrya …. —

Waktu itu telah larut malam. Bintang2pun mulai nampak pudar cahayanya. Daun2 telah basah berlapiskan embun pagi.

Pada hari itu, pagi2 buta ayam ... Yoga Kumala dengan diantar oleh Eyangnya, Mang Jajang dan si kumbang sampai dikaki Gunung Tangkubanperahu meninggalkan tempat pertapaan Eyangnya Ajengan Cahayabuana serta tempat makam lbunya untuk menuju ke lndramayu, seorang diri. Sambil berkali-kali menoleh kebelakang dengan melambai lambaikan tangannya, Yoga Kumala berjalan semakin jauh untuk kemudian hilang dikelokan jalan padesan ….

*

* *

B A G I A N :  III.

SEJAK PAGI-PAGI buta di Kota Senopaten Maja Agung nampak adanya kesibukan yang lain dari pada hari biasanya.

Para Tamtama dengan pakaian seragam kebesaran yang serba indah, kelihatan hilir mudik mondar mandir.

Ada yang berkelompok kelompok seakan akan merupakan barisan2 kecil dan ada pula yang berjalan secara bebas sendiri2. Juga para tamtama yang berkuda tak mau ketinggalan dalam kesibukan itu.

Derap langkah kaki kuda terdengar tak ada putusnya, di jalan2 besar yang silang menyilang melintasi kota itu. Namun mereka kesemuanya mengenakan pakaian seragam kebesaran serta indah dengan warna dan tanda lambangnya masing2 menurut keseragaman kesatuannya.

Ada yang mengenakan pakaian seragam berwarna merah, dan ada pula yang berwarna hijau dengan berseretkan putih ataupun kuning. Seutas pita dari kain sutra selebar tiga jari melingkari kepala masing2 dengan warna putih ataupun kuning menurut golongan tingkatannya. Para tamtama bawahan mengenakan pita berwarna putih, sedangkan para perwira mengenakan pita sutra berwarna kuning keemasan.

Tanpa terkecuali, semuanya menyandang pedang dipinggang kirinya. Bahkan diantaranya disamping bersenjatakan pedang, masih juga mengenakan keris pusaka dipinggang kanan ataupun terselip menonjol kedepan dengan wrangka daun tangkai ukiran yang indah.

Maja Agung memang merupakan kota tamtama Kerajaan, yang terkenal dengan kebersihannya dan candi2nya yang megah. Alun2nya pun sangat luas. Dari kejauhan nampak sebuah patung lambang

kebesaran „ALAP-ALAP ING AYUDHA", berujudkan burung garuda yang sedang mementangkan sayapnya diatas pura pintu gerbang Istana Senapaten tempat kediaman Manggala Yudha Kerajaan Agung Majapahit Gusti Senapati Adityawardhana. Patung dan pura pintu gerbang itu terbuat dari batu alam yang terpahat halus, sedangkan pintu gerbang itu terbuat keseluruhannya dari besi yang kokoh kuat, Sungguh indah dan megah dipandang.

Dipura pintu gerbang Istana Senapaten itu, nampak adanya barisan tamtama pengawal kehormatan yang berdiri tegak berjajar rapat dengan masing2 memegang pedang terhunus.

Kereta2 kebesaran para Manggala kelihatan berderet deret dialun alun sebelah timur dengan penjagaan tamtama yang kuat. Sedangkan disebelah selatan dekat pintu gerbang yang menuju lstana Senapaten, berdiri sebuah bangunan mimbar yang cukup besar serta kokoh, beratapkan tenda hijau beseretkan kuning tanpa hiasan2 1ain.

Lebih dari seratus orang tamtama mengelilingi bangunan mimbar yang berdiri dengan megah dan terbuat dari papan setinggi kira2 segalah panjang. Para tamtama berdiri tegak diatas tanah dengan bersenjatakan pedang terhunus.

Kiranya pintu2 gerbang ditiga penjuru yang menuju ke alun2 Senapaten itu, dijaga kuat pula oleh para tamtama pengawal dan tertutup lalu lintas umum.

Bukan hanya jalan yang menuju ke alun2 saja yang tertutup untuk lalu lintas umum, tetapi pintu2 gerbang di perbatasan kotapun sejak tiga hari yang lalu terjaga kuat oleh pasukan tamtama dan tertutup pula bagi lalu lintas umum.

Terkecuali bagi mereka yang dianggap penting.

Hari itu Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana berkenan mengadakan pemilihan untuk calon perwira tamtama baru yang akan di angkat sebagai pimpinan pasukan Kerajaan yang khusus untuk dikirim ke Negara Kerajaan Tanah Melayu sebagai pasukan bantuan. guna memenuhi permintaan Sri Baginda Maharaja Adityawarman yang waktu itu bertahta dikerajaan Tanah Melayu.

Pimpinan penyelenggara pemilihan calon perwira tamtama oleh beliau diserahkan kepada Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti lndra Sambada yang terkenal dengan gelarnya

— Pendekar Majapahit. (Baca Seri Pendekar Majapahit),

Waktu itu masih esok pagi2. Sang surya kelihatan berada disebelah timur dan belum ada setengah galah panjang tingginya. Namun sinarnya yang memancar memadangi bumi raya dengan cahayanya yang terang benderang. Langit biru membentang bersih. Awan tipis yang seputih kapas berpencaran menghias angkasa dengan masing2 bentuknya yang berubah- rubah.

Tiba2 terdengar suara tiupan seruling mengalun diiringi dengan suara genderang yang bertalu- talu, dan sebentar kemudian nampak barisan tamtama dari ampat penjuru memasuki alun2.

Dengan amat tertibnya dan rapih barisan2 itu menghentikan gerak langkahnya dan para tamtama berdiri tegak berjajar rapat dalam ampat lapisan mengelilingi alun2. Sementara suara seruling dan genderang masih terdengar mengalun dan bertatu talu dengan iramanya yang garang dan perkasa. Suara aba2 terdengar lantang dan semua tam-tama tak terkecuali, memalingkan kepalanya kearah

pintu gerbang besar depan Istana Senapaten, sambil memberikan hormat dengan khikmadnya.

Barisan pengawal kehormatan yang sejak tadi telah berdiri berjajar didepan pintu gerbang, masing2 mengangkat pedang tamtamanya tinggi2 hingga bertemu ujung dengan pedang2 tamtama

dari barisan yang berada dihadapannya, bagaikan jembatan kurung berpelengkung pedang.

Dan sesaat kemudian, nampak Sang Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana berjalan berjajar dengan Gusti Senapati Harya Banendra Penasehat Agung Maharaja (Rakriyan Katrini) melalui tengah2 barisan pengawal kehormatan menuju kemirnbar.

Menyusul berjalan dibelakangnya jalah empat priyagung Senapati Muda, masing2 Manggala Tamtama .Pengawal Raja Gusti lndra Sambada, Manggala Tamtama Gusti Suwendar, Manggala Tamtama Samudra Gusti Bhatatarajasa dan terakhir manggala Narapraja Gusti Pangeran Pekik.

Tak larna kemudian menyusul dibelakangnya 118 para peserta calon perwira tamtama yang telah lulus dalam ujian babak pertama.

Mereka para peserta semuanya rnengenakan pakaian seragam warna hitam dengan berseretan putih dengan memakai tandanya huruf angka tersulam didada masing2 berwarna putih pula. Semua lebih dari tigaratus orang yang mengikuti dalarn pemilihan calon perwira tamtama itu. Akan tetapi dalam ujian babak pertama ternyata hanya tinggal kurang dari jumlah separohnya.

Syarat utama untuk dapat mengikuti pemilihan calon perwira tamtama itu, selain dari pada mahir dalam krida kanuragan harus pula mahir dalarn ilmu krida yudha serta sastra. Dan kecuali kedua syarat pokok, usia para peserta calon perwira tamtama ditentukan pula tak boleh lebih dari pada 40 tahun.

Dalam hari pertama dan kedua yang telah berselang, ternyata hanya tinggal 148 orang yang telah dinyatakan lulus dalam menempuh ujian ilmu sastra dan ilmu yudha.

Dan kini mereka masih harus menempuh pula ujian babak kedua yaitu mengenai krida kanuragan tamtama, yang terbagi dalam tiga acara.

Pertama-tama berkuda melewati rintangan, dan kedua berkuda sambil melontarkan tombak.

Sedangkan acara yang terakhir ialah, panahan.

Dan setelah nanti babak kedua ini selesai, mereka masih harus menempuh ujian babak ketiga ataupun babak terakhir. Dalam babak ketiga itu terbagi pula dalam dua mata acara.

Pertama tama lomba pengerahan pemusatan tenaga atau disebut juga lornba kesaktian.

Sedangkan acara terakhir ialah disebut babak penyisihan untuk menentukan seorang perwira tamtama pertama dengan secara aduan tata kelahi bertangan kosong dan bersenjata tajam.

Sebagian besar dari para peserta pemilihan calon perwira tamtama itu, adalah para anggauta tarntama Kerajaan yang telah terpilih oleh pimpinan mereka masing2, sedangkan sebagian lainnya terdiri dari orang2 rakyat biasa ataupun para murid-murid orang2 shakti yang merasa dirinya telah mampu untuk dipilih menjadi calon perwira. Oleh karena diantaranya terdapat para murid2 orang2 shakti itu, maka demi menjaga ketertiban dan keamanan, kota Senapaten Maja Agung sejak tiga hari yang lalu dijaga kuat oleh pasukan Kerajaan.

Setelah para Senapati dan segenap priyagung Kerajaan duduk diatas mimbar yang beralaskan permadani, dan para peserta calon perwira tamtama berdiri tegak berjajar dalam bentuk barisan dibawah mimbar, tiba2 gong dipukul tiga kali oleh seorang tamtama, suatu tanda bahwa lomba krida kanuragan tamtama akan dimulai.

Suara gong mengalun mengaung berkumandang memenuhi alun2 dan suasana menjadi hening sunyi seketika.

Sesaat kemudian Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti Indra Sambada yang bergelar Pendekar ivlajapahit, menyembah kehadapan Senapati Manggala Yudha dan Senapati Penasehat Agung Raja Gusti Harya Banendra untuk memohon izin melaksanakan tugas sebagai pimpinan penyelenggara pemilihan perwira2 tamtama.

Setelah memberikan sembah, ia segera turun dari mimbar dan langsung memeriksa barisan para peserta calon perwira tamtama, yang oleh mereka disambut dengan sikap peng hormatan secara tamtama dengan khidmad. la berkenan memberikan petunjuk secara singkat tentang acara lomba krida kanuragan tamtama babak kedua yang harus mereka tempuh. Kepada mereka, ia berkenan pula memberikan restunya agar semua dapat luluus dengan baik.

Sementara itu para tamtama yang bertugas memasang rintangan rintangan, segera sibuk sesuai dengan petunjuk2 yang telah ditentukan sebelumnya. Gawang2 rintangan ber-macam2 ukuran dipasang malang melintang serta julur menjulur di alun2 yang luas itu.

Kesemuanya ada lima macam rintangan. Ada yang rendah akan tetapi panjang membujur sekira empat sampai delapan langkah dan ada pula yang tinggi hampir setinggi manusia berdiri. Tiap2 gawang rintangan dijaga oleh empat orang tamtama yang bertugas mengawasi jalannya lomba acara pertama serta mencatat hasilnya. Senapati Muda Indra Sambada sendiri berkenan pula mengawasi jalannya lomba krida kanuragan tamtama itu dari jarak dekat dengan didampingi oleh Tumenggung Cakrawirya.

Kini para peserta calon perwira telah berada di-alun2 sebelah timur dengan rnenunggang kuda masing2 yang sejak tadi telah disiapkan oleh para tamtama.

Mereka berjajar semuanya rapih diatas pelana kuda masing masing yang tinggi2. Ringkikan kuda2 itu mulai terdengar riuh nyaring.

— Aku kuatir, jangan2 kau nanti terpelanting dan mati terkapar ditanah, Yoga! — Kata seorang peserta yang bertubuh tinggi besar disebelah Yoga Kumala dengan nada suara mengejek. Orang itu kelihatan tegap dan perkasa. Otot2nya melingkar lingkar dikedua belah tangannya dan lehernya. Ia berusia kira2 25 tahun. Sepasang alisnya yang tebal dan bertemu pangkal. Matanya juling. Hidungnya besar dan ber-kumis lebat.

Ia adalah seorang tamtama Kerajaan yang disegani oleh seluruh kawan setingkatnya. Namanya cukup dikenal sebagai tamtama yang memiliki kesaktian. Ia telah lama menjadi tamtama Kerajaan, akan tetapi tak pernah dinaikkan pangkatnya.

Hal ini bukan dikarenakan kurang tangkas ataupun kurang shakti. Bukan! Sama sekali bukan karena itu.

Kesaktiannya jelas melampaui diatas tingkatan teman2nya. Bahkan melebihi daripada salah seorang diantira para pemimpinnya. Akan tetapi karena kelakuannya yang selalu menyalahi tertib tamtama, dan berwatak congkak dan tindakan semena-mena terhadap rakyat jelata itu, maka ia tak pernah mendapat kesempatan untuk naik tingkat. Namanya "Kobar". Kali ini Kobar tak mau menyia - nyiakan kesempatan yang baik itu. Ia percaja penuh, bahwa kesaktiannya tak mungkin ada yang dapat menandinginya diantara perwira tamtama itu.

Dengan diiringi senyuman sambil berpaling padanya, Yoga Kumala mejawab tenang. — Kakang Kobar!. Sebaiknya kau kuatirkan dirimu sendiri, dan tak usah menghawatirkan orang lain! —

Sebagai seorang yang mudah naik darah, demi mendengar jawaban Yoga Kumala demikian itu, Kobar menyahut dengan suara lantang.

— Hai Yoga !!! Tutup mulutmu! Anak masih ingusan, berani berlagak didepanku?

—Aku tak bermaksud berlagak! Bukankah jawabanku itu wajar? Buat apa kau, susah2 memikirkan orang lain seperti aku ini?  

Aku kuatir, jangan-jangan kau nanti terpelanting dan mati terkapar ditanah, Yoga ! –

— Ha! Masih juga kau berani mejawab! Ingat! Dalam lomba kanuragan seperti sekarang ini, kau tak dapat bersandar pada Senapati kakak angkatmu! Tahu!? llan apa yang kau andalkan, jika beliau tak menolongmu? Dari pada kau mati terpelanting, sebaiknya mengundurkan diri saja!—

— Kakang Kobar! Jangan kau menyebut-nyebut kakak angkatku! Dan sekali lagi, hendaknya kau jangan memusingkan urusanku!—

— Apa katamu? Haa …. haaa haaa ! Persetan dengan kakak ataupun bapak monyongmu!

Jika telah selesai nanti, tentu akan kuhajar mulutmu yang lancang itu! Tahu !—

— Haiii! Kobar! Tiba2 Braja Semandang yang berada dibelakang kedua orang barseru menegur: — Jangan kau bikin ribut disini! Suaramu mengganggu pemusatan perhatian kita!—

— Yaa, Kakang Kobar memang selalu bikin ribut dimana-mana.— Sontani turut menyahut dari arah sebelah Kobar sambil menunjuk kearah tamtama yang berdiri didepan barisan: — Itu, dengarkan! Lombanya telah dimulai!—

Peserta yang bernama Sontani itu masih muda remaja, sebaya dengan Yoga Kumala. Kira2 berumur 20 tahun. Ia bertubuh sedang dan tegap dengan wajahnya yang tampan bersih serta periang. Ia adalah pemuda kelahiran dari tanah Melayu dan masih merupakan anggauta keluarga dari Gusti Adityawardhana Manggala Yudha.

Mendengar teguran dari kedua peserta lainnya ini, Kobar menjadi bertambah marah. Mukanya merah padam sampai diujung telinganya, dan sepasang matanya kelihatan menyala-nyala, sambil berseru lantang: —Tunggu nanti! Kalian bertiga boleh mengeroyokku seorang diri!—

Belum juga ada yang mejawab akan seruan Kobar, tiba2 terdengar suara aba2 dari seorang Lurah penatus tamtama.

— Peserta satu sampai dengan sepuluh, siap kedepan!—

Bersamaan dengan lenyapnya suara aba2 itu, sepuluh orang peserta berkuda serentak maju kedepan, berjajar rapih pada batas tali yang terpancang. Mereka adalah para peserta telah mendapat perintah sesuai dengan aba2 tadi, untuk mempersiapkan diri menempuh ujian krida kanuragan tamtama--,

Lurah penatus tamtama yang memberikan aba2 tadi, kini mengangkat cambuk panjangnya tinggi2. Sesaat kemudian suaara cambuk terdengar mengampar diudara, tiga kali taarr .. . taarr ... taarr .

.. Bersamaan dengan suara cambuk itu tali batas yang terpancang telah ditarik lenyap oleh dua tamtama yang bertugas.

Sepuluh, orang peserta memacu kudanya masing2, dan sorak sorai para tamtama yang menonton mengelilingi alun2pun mulai menggema dengan riuhnya.

Dengan tangkasnya sepuluh orang calon perwira itu menggerakkan tali les kudanya masing2 serta memacunya dengan tumitnya, untuk dapat melalui rintangan2 yang berserakan dihadapannya.

Namun kesepuluh peserta calon perwira yang berkuda itu, ternyata semuanya gagal sewaktu melompati dua rintangan2 yang terakhir.

Ada yang jatuh bergulingan, sewaktu kudanya jatuh terpelosok karena tak dapat melompati tingginya rintangan yang terakhir ataupun pada rintangan yang panjang membujur.

Ada pula yang gagal sebelum melompati, karena kuda mereka tak mau mengikuti perintah sipenunggangnya. Sorak sorai bercampur cacian para tamtama yang menonton terdengar semakin gemuruh, demi melihat kegagalan para peserta calon perwira tamtama itu.

Sepuluh orang demi sepuluh orang mendapat giliran untuk menunjukkan ketangkasannya dalam berkuda melalui rintangan2, dan ternyata lebih dari dua pertiga bagian dari calon2 yang mengikuti mengalami kegagalan, tak lulus dalam ujian babak kedua acara permulaan ini. Dari 148 orang, kini hanya tinggal 42 orang yang telah dinyatakan lulus dalam ujian ketangkasan berkuda. Bagi mereka yang dinyatakan lulus dapat mengikuti lomba krida kanuragan tamtama selanjutnya, sedangkan mereka yang telah gagal hanya menjadi penonton biasa.

Kini acara kedua dimulai. Sambil berkuda mereka harus dapat melontarkan tombaknya masing2 pada sasaran yang telah ditentukan. Tombak itu harus dilontarkan dari jarak kira2 duapuluh langkah dan mengarah sekaligus pada dua sasaran. Sasaran yang pertama ialah, menerobos didalam sebuah gelang yang tergantung dan selanjutnya harus tepat mengenai sebuah pohon pinang yang berdiri tertanam dalam jarak lima langkah antara gelang2 itu. Juga sewaktu melontarkan tumbaknya, mereka masing2 harus memacukan kudanya.

Dalam tomba acara kedua ini, dua puluh empat orang telah tersisihkan. Dan kini hanya tinggal delapan belas orang yang terpilih untuk dapat ikut serta dalam lomba2 berikutnya.

Setelah acara terakhir dalam lomba panahan, ternyata hanya tinggal delapan orang yang dianggap lulus dalam ujian babak kedua termasuk Kobar, Yoga Kumala, Braja Semandang, Sontani, Berhala, Nyoman Ragil, Jala Mantra dan Jaka Gumarang.

Tepuk tangan dan sorak sorai gemuruh memekakkan telinga setelah ujian babak kedua untuk para pesetta calon perwira itu selesai.

Seruling dan genderang tamtama terdengar bertalu talu menyambut delapan orang peserta yang kini telah dinyatakan lulus dalam ujian babak kedua itu.

Sang Senapati Muda Manggala Mataram Pengawal Raja Indra Sambada berkenan menjabat tangan mereka sebagai sambutan kehormatan.

— Yaaa ….. betapa tidak. — Mereka kedelapan orang itu kini telah dinyatakan sebagai tamtama pilihan. Walaupun dalam habak terakhir nanti diantaranya ada yang tersisihkan, akan tetapi bagi mereka yang tersisihkan Itu berhak pula mendapatkan hadiah pangkat sebagai Lurah anom penatus tamtama.

Tibalah kini saatnya di mulai lomba krida kanuragan babak ketiga ataupun babak terakhir dalam acara pertama, ialah lomba kesaktian, atau disebut lomba kanuragan pengerahan pemusatan indrya.

Sebuah bola perunggu yang beratnya lebih dari 100 kati diletakkan. didepan barisan para peserta.

Suara panggilan terdengar nyaring, dan Braja Semandang tampil kedepan. Ia berjongkok sejenak sambil raba raba dengan kedua belah telapak tangannya pada bola perunggu yang berada dihadapannya. Kemudian berdiri tegak kentbali. Matanya dipejamkan, kedua belah tangannya bersilang didadanya ……. Dan sesaat kemudian ……. kedua kakinya dipentang lebar, lututnya ditekuk hingga setengah berjongkok. Kedua telapak tangannya erat2 ditempelkan pada bola perunggu yang amat berat itu. Dan bersamaan dengan seruan nyaring yang keluar dari mulutnya, bola perunggu telah diangkatnya tinggi diatas kepalanya, untuk kemudian dilemparkan kedepan sejauh lima belas langkah.

Tepuk tangan dan sorak sorai gemuruh gegap gempita, menyambut pameran kesaktian yang mentakjubkan itu. Kini Jaka Gumarang mendapat giliran. Seperti halnya dengan Braja Semandang, iapun bersamadhi sambil berdiri terlebih dahulu. Akan tetapi, ternyata ia hanya berhasil mengangkat bola perunggu itu setinggi dadanya sendiri. Lemparannyapun hanya sejauh kurang dari dua belas langkah.

Dengan muka yang merah padam karena malu tak dapat mengimbangai kesaktian Braja Semandang, ia kembali ketempatma semula.

Demikian pula Nyoman Ragil dan Berhala, sewaktu mendapatkan gilirannya untuk melemparkan bola perunggu itu, kedua2nya juga tak berhasil mengangkat lebih tinggi dari dada mereka. Terdengar lagi panggilan nyaring, dan Kobar kini tampil keclepan sambil bersenyum simpul. Tangannya dilambai lambaikan kearah kawan2nya yang menonton, dan sorak sorai gemuruh menyambut lambaian tangannya. Seakan akan tanpa bersemadhi terlebih dahulu sebagaimana lain peserta, ia telah bergerak dengan tangkasnya mengangkat bola perunggu itu dengan kedua belah tangannya tinggi2 diatas kepala sambil masih bersenyum. Kaki kirinya diangkat sedikit dan diatas kaki kanan itu ia berdiri sambil memutar tubuhnya untuk kemudian melemparkan bola perunggu yang berada diatas kepalanya jauh2 kedepan sambil melangkahkan kembali kakinya yang kiri yang tadi terangkat.

Bersama dengan jatuhnya bola perunggu yang sebesar dua kepala kerbau itu, tepuk tangan dan sorak sorai terdengar gemuruh menggelegar kembali.

Semua kagum demi melihat kesaktian Kobar yang luar biasa itu.

Ternyata bola perunggu yang beratnya lebih dari 200 kati dapat terlempar jauh sejauh tujuh belas langkah dengan disertai gaya yang indah pula. Para Senapati dan segenap priyagung yang menyaksikan turut serta menggelengkan kepalanya, suatu tanda bahwa merekapun kagum akan kesaktian Kobar.

Sambil tersenyum -senyum lebar dan membusungkan dadanya Kobar kembali ketempatnya semula, dengan masih diiringi oleh suara tepuk tangan dari kawan2nya yang tak putus2.

Tibalah kini pada giliran Yoga Kumala. Lengan muka tertunduk ia melangkah tampil kedepan. Ia berdiri lemah tanpa gaya sedikitpun. Mukanya masih juga tertunduk seakan akan mengamat-amati benda bola perunggu yang kini berada dihadapannya. Semua orang menahan nafas dengan penuh rasa sangsi …. akan tetapi …. tiba2 .. tanpa diketahui cara pengerahan tenaga dalamnya, bola perunggu yang amat berat itu kini telah terangkat tinggi diatas kepala Yoga Kumala. Tangan kirinya dilepaskan dan terpentang sejajar pundak, sedangkan bola perunggu yang sebesar kepala kerbau itu hanya tersanggah pada telapak kanannya saja. Kemudian …. dengan tangan kanan itu ia melemparkan bola perunggu yang amat berat jauh2 kedepan, dan jatuh tepat diatas tanda hasil lemparan Kobar.

Sorak sorai kembali gemuruh mengumandang dan memekakkan telinga.

Tak terduga sama sekali, bahwa Yoga Kumala dengan gerakannya yang amat lemah itu, ternyata dapat menyamai hasil lemparan Kobar.

Para Senapati yang telah tinggi ilmunya segera dapat mengetahui bahwa sesungguhnya kesaktian Yoga Kumala berada setingkat diatas kesaktian Kobar. Namun bagi mereka yang hanya menyaksikan dengan kewajaran, menganggap bahwa kesaktian kedua peserta itu seimbang.

Yang mendapat giliran selanjutnya ialah, Jala Mantra, akan tetapi iapun gagal swperti halnya dengan Jaka Gumarang dan dua orang peserta lainnya. Kini giliran terakhir ataupun kunci acara lomba kanuragan kesaktian jatuh pada Sontani.

Tanpa menghiraukan sekitarnya ia langsung tampil kedepan duduk bersila menghadapi bola perunggu yang besar dan berat itu.

Kedua belah tangannya diletakkan diatas kepalanya, sedangkan matanya dipejamkan. Sesaat kemudian ia bangkit dan berdiri tegak dengan pandangan mata lurus kedepan. Kini badannya membungkuk dan dengan kedua tangannya ia mengangkat bola perunggu itu tinggi2 diatas kepalanya sambil diiringi dengan suara bentakan — haaiiitt! — Bola perunggu dilemparkan dengan kedua tangannya dan . . . blug …

Ternyata bola perunggu yang amat berat itu terlempar kedepan sejauh enam belas langkah lebih ….. dan hampir segaris dengan lemparan Yoga Kumala dan Kobar.

Sorak sorai gemuruh mengumandang diangkasa dan disusul kemudian dengan mengaungnya bunyi gong dipukul tiga kali Suatu tanda bahwa lomba kanuragan tamtama untuk hari ini ditutup.

Seruling dan genderang berbunyi bertalu-talu. Para Senapati dan segenap priyagung Kerajaan turun mimbar, menuju ke Istana Senapaten Alap2 ing Ayudha. Delapan peserta berbaris dibelakangnya dan menyuul kemudian para peserta yang gagal. Iring2an itu ditutup dengan barisan tamtama pengawal kehormatan yang berpakaian seragam kebesaran, sedangkan para tamtarna lainnya bubar menuju keasrama masing2.

Waktu itu sang surya telah berada diketinggian condong kesebel barat. Dan waktu telah lewat siang tengah hari.

Atas keputusan Sang Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana acara terakhir babak penyisihan merebutkan pangkat perwira tamtama pertama yang akan dilangsungkan pada esok harinya. Dengan demikian, maka acara lomba pertandingan tata kelahi bertangan kosong yang akan diselenggarakan pada esok harinya hanya tinggal sebuah pertandingan saja, ialah Yoga Kumala melawan Kobar. Dan apabila nanti dalam pertandingan itu dinyatakan tetap seimbang, maka pertandingan akan dilanjutkan dengan pameran ketangkasan bersenjatakan pedang.

Pemenang dalam pertandingan ini akan diangkat sebagai Bupati tamtama dengan sebutan Tumenggung, sedangkan yang kalah diangkat sebagai Adipati Anom tamtama dengan sebutan Tumenggung pula.

Braja Semandang dan Sontani telah dapat ditentukan untuk diangkat sebagai Panewu tamtama, sedangkan empat orang lainnya berhak pula mendapat pangkat Lurah penatus tamtama.

Kini mereka diberikan waktu untuk istirahat beracara bebas. Akan tetapi dengan ketentuan sebelum tengah halam mereka diharuskan sudah kembali ke Ksatryan di Istana Senapaten, dimana mereka disediakan tempat untuk mengaso sampai selesai pelantikan.

— Yoga!! — Kobar berseru memanggil Yoga Kumala sambil mengenakan pakaian gantinya.

— Apa kehendakinu, kang Kobar!! — Jawab Yoga Kumala sambil melangkah mendekatinya.

— Jangan kau besar kepala dan merasa dapat mengimbangi kesaktianku! Jika tadi aku kehendaki lemparanku tentu dapat dua kali lebih jauh! — Seru Kobar sambil memalingkan kepala kearah Yoga Kumala dengan pandangan bermusuhan.

— Tetapi mengapa tadi kau tak berbuat demikian? — sahut Yoga Kumala dengan tenang sambil bersenyum.

— Aku sengaja, biar besok aku dapat bertanding dengan kamu. Tahu! Atau ….. kau menghendaki pertandingan kita langsungkan sekarang saja??—

— Apa maksudmu? — Yoga bertanya dengan tenang, akan tetapi nampak jelas mukanya kian menjadi merah.

Tolol!! Akan kuhajar hingga kau merengek-rengek dan berlutut dihadapanku sekarang! Nah, bukalah mulutmu sekali lagi jika kau ingin merasakan tinjuku!!—

Berkata demiklan ia telah selesai mengenakan pakaiannya, sambil membalikkan badannya menghadapi Yoga Kumala dengan tatapan pandang yang liar dan menyala.

Mendapat tantangan yang tajam dari Kobar itu, kiranya Yoga Kumala yang masih berdarah muda, habis batas kesabarannya. Ia mundur selangkah dan ketawa terkekeh-kekeh menyeramkan sambil berkata.

— Heehheeehhhh ….. heeehhhh! Kobar!! Jangan berlagak menang sendiri …..hehhh ….

Heeehhh …. Heeh      Aku bukan benda mati!!!—

Mendengar suara tawanya yang menyeramkan dan seruannya yang lantang itu, semua teman2nya para peserta calon perwira yang berada dalam satu ruangan menjadi terkesiap. Belum pernah mereka menyaksikan Yoga Kumala bertingkah laku demikian. Sesaat mereka semua terdiam karena terkena perbawa suara tawanya …..

Akan tetapi karena kemarahan Kobarpun telah sampai pada puncaknya, maka tanpa menjawab seruan Yoga Kumala, ia tiba2 menyerang langsung dengan tinjunya kearah pelipis kiri Yoga Kumala.

Namun Yoga Kumalapun kiranya telah menduga akan datangnya serangan yang tiba2 itu. Dengan hanya merendahkan badannya dan rnenundukkan kepalanya, ia telah bebas dari serangan tinju Kobar yang dahsyat itu. Akan tetapi serangan bukaan dari Kobar tidak hanya berhenti sekian saja. Tinjunya yang jatuh ketempat kosong itu cepat dirangkaikan dengan susulan tendangan kaki kanan, hingga Yoga Kumala sesaat menjadi sibuk karenanya. Kiranya ilmu Wuru Shakti dan ilmu Cahaya Tangkubanperahu telah menjadi satu dengan jiwa Yoga Kumala. Serangan tendangan yang dahsyat bagaikan geledek kearah lambungnya, bukan dielakkan secara surut kebelakang, akan tetapi malah langsung dipapakinya dengan telapak tangan kanannya dengan badan yang membungkuk rendah. sedangkan tangan kirinya dengan jari2nya yang mengembang tegang menjangkau kearah punggung lawan. Benturan tendangan kaki dengan tebakan telapak tangan tak dapat dihindarkan, dan …. plak ….

Cepat Kobar menjatuhkan diri kesamping kiri sambil berjumpalitan menghindari serangan totokan jari2 tangan kiri Yoga Kumala. Sementara Yoga ter-huyung2 kedepan satu langkah sambil mengeluarkan suara tawanya yang terkekeh-ke-keh menyeramkan. Ternyata keduanya memiliki ilmu kanuragan yang amat tangguh sehingga sukar diduga siapa yang akan lebih unggul. Sesaat Kobar terperanjat penuh keheran. Ia tidak menduga, bahwa serangan tendangannya dapat digagalkan secara yang demikian mentakjubkan.

Sebelum mereka siaga untuk saling menyerang kembali, tiba2 Jala Mantra melompat dan berdiri tegak di-tengah2 antara Kobar dan Yoga Kumala, sambil berseru memisah : — Jangan kalian berkelahi sekarang disini!! Bersabarlah sampai besok pagi !!!

Akan tetapi, baru saja ia habis mengucapkan perkataannya yang terakhir, tiba2 …. tinju Kobar telah tepat bersarang dipelipisnya.

Jala mantra terpental dan jatuh terlentang, tak sadarkan diri. Sontani, Braja Semandang, Nyoman Ragil dan Jaka Gumarang merangsang maju, menghadang Kobar yang sedang kalap dengan maksud menyapih, sementara Berhala dan Yoga Kumala menolong Jala Mantra yang jatuh terkapar ditarah pingsan.

Suasana dalam ruangan itu kini menjadi gaduh.

Siapa bikin ribut2? — suara bentakan yang berwibawa tiba2 menggema dalam ruangan itu. Dan mereka semua berpaling kearah pintu, dimana Tumenggung Cakrawirya telah berdiri dengan menyapu pandang kearah mereka semua. Hening seketika Semua diam tertunduk, tak berani berkutik. Mereka tahu, bahwa Tumengeung Cakrawirya adalah wakil Manggala Tamtama Pengawal Raja dan kali ini merangkap jabatan sebagai pembantu penyelenggara lomba kanuragan.

— Braja Semandang! Ada apa ribut2? — Tanya beliau pada Braja Semandang yang kebetulan berdiri paling dekat.

Sambil menyembah, Braja Semandang mejawab cepat — Ma,fkan Gusti, kami sedang berlatih!


Ia sengaja sedikit membohong, agar tidak menjadi panjang urusannya, dan kiranya Tumenggung

Cakrawiryapun menjadi puas dengan jawaban itu.

— Yoga Komala! Adikmu Indah Kumala Wardhani ingin bertemu! Kini menunggu disrambi belakang Senapaten.

— Baik Gu,ti! Hamba akan segera menmui! — Jawab Yoga Kumala singkat sambil menyembah dan mengikuti berjalan dibelakang Tumenggung Cakrawirya. Jala Mantra krni telah sadar kembali dan semuanya menjadi terdiam, takut untuk membikin ribut kembali. Mereka kini hanya saling berbisik mempercakapkan dipanggilnya Yoga Kumala.

— Akang Yoga! — Seru adiknya Indah Kumala Wardhani sambil berlari lari kecil menyambut datangnya kakaknya, sementara Tumenggung Cakrawirya menghilang dibalik pintu ruang dalam Istana Senapaten.

— Indah, adikku manis! Ada keperluan apa kau memanggilku? — Tanya Yoga Kumala sambil membimbing adiknya.

— Pesan kangmas Indra Sambada, akang Yoga nanti malam supaya pergi ke Istananya di Kota Raja bersama2 aku dan tiga temanku lainnya! —

— Haa?. Dengan temanmu? Siapa yang kau maksudkan?

— Sudahlah! Akang Yoga tentu akan senang sekali pergi bersama sama dengan teman2ku. Marilah aku kenalkan akang lebih dahuiu dengan mereka! — Indah Kumala Wardhani tersenyum menggoda sambil meraih tangannya.

Menghadapi kenakalan adiknya, Yoga Kumala tak dapat berkutik lagi, Ia hanya menurut saja dan rnengikuti langkah adiknya menuju ke ruang tamu serambi belakang Istana Senapaten.

Betapa terperanjatnya, setelah Yoga Kumata melihat tiga dara yang sedang duduk tertunduk diruang tamu serambi belakang itu. Darahnya tersirap hingga mukanya menjadi merah dadu. Ia malu tersipu sipu, sambil berusaha melepaskan dari genggaman tangan adiknya, akan tetapi Indah Kumala Wardhani malahan kuat2 menariknya masuk keruang tamu tadi, sambil berseru pada salah seorang dara remaja yang sedang duduk itu.

— Yayuk Ratnasari! Ini abangku Yoga Kumala! Tampan bukan? — ….. — Akang Yoga, silahkan berkenalan dulu! –

Ternyata kenakalan adiknya malah menjadi jadi, akhirnya iapun tidak berdaya sama sekali menghadapi adiknya.

Sambil tersenyum malu, Yoga Kumala membungkukkan badannya kearah tiga dara remaja yang menyambutnya dengan bangkit berdiri sejenak sambitl membalas bersenyum.

Mereka berlima kini duduk diruang tamu itu sambil ber-cakap2 kaku. Se akan2 Yoga Kumala selatu merasa kehabisan ucapan kata2nya. Dan percakapanpun menjadi tidak lancar. Satu sama lain saling menunggu sambil tertunduk. Hanya Indah Kumala Wardhanilah yang dapat bebas berbicara. Ia selalu dapat mengisi percakapan2 yang terputus dengan kelucuannya. Akan tetapi tak lepas pula dengan kenakalannya yang selalu senang menggoda orang lain, terutama kakaknya sendiri.

Dara yang dipanggil dengan narna Retnasari adalah dara remaja yang usianya sepantaran dengan Indah Kumala Wardhani kira2 17 tahunan. Kulitnya kuning langsat, bentuk tubuhnya langsing, padat berisi, dengan pinggangnya yang kecil ramping. Tangannya bagaikan busur dipentang dengan jari2 nya yang kecil halus meruncing. Rambutnya hitam pekat dan tebaI, digelung dengan sebuah tusuk konde yang bertatahkan berlian. Sepasang alisnya tipis melengkung bagaikan bulan sabit, sedangkan biji matanya nampak redup dengan sinar pan-dangnya yang bening. Tutur bahasanya sangat halus serta ucapannya selalu diiringi dengan senyuman lirih. Ia adalah adik kandung dari Sontani dan tergolong keluarga Gusti Senapati Adityawardhana Manggala Yudha Kerajaan Agung Majapahit.

Dara yang duduk disebelah Ratnasari bernama Ktut Chandra, berasal dari Pulau Dewata (Bali). Ia adalah cucu putri dari gurunya Senapati Muda Manggala Tamtama Indra Sambada yang bersemayam di Kota Raja Badung. Usianya kira2 sepantaran dengan Indah Kumala Wardhani lebih muda sedikit.

Rambutnya yang hitam pekat ditekuk bagaikan gelung yang terurai lepas. Warna kulitnya kuning agak kemerah merahan. Alisnya yang hitam tipis dengan sepasang matanya yang lebar dan bening. Kerlingan matanya tajam, dan menggairahkan. Senyum dan tawanya selalu menghias bibirnya yang tipis mungil. Sebuah tai lalat sebesar kedelai yang nampak diatas bibirnya sebelah kiri menambah manis dan pantasnya. Dari tingkah lakunya nampak jelas, bahwa ia adalah seorang dara remaja yang memiliki sifat2 periang.

Ia mengenakan pakaian kain panjang warna biru dengan sulaman benang emas berlukiskan kembang2 mawar. Dadanya yang padat tertutup oleh sehelai kain biru pula dengan sulaman benang emas serba merah, sedangkan lengannya dibiarkan telanjang tidak berbaju. Disamping memakai subang bermata berlian disepasang daun telinganya, masih juga ia mengenakan sekuntum bunga kenanga yang diselipkan diatas telinga sebelah kanan, menambah resapnya pandangan yang melihatnya.

Sesaat Yoga Kumala berdebar jantungnya, sewaktu ia bertemu pandang dengan Ktut Chandra.

Mulutnya serasa terkunci. Tidak tahu ia harus berbuat bagaimana. Dalam hati ia sangat mengagurni akan kecantikan gadis Bali itu. Dan bukan itu saya. Kini hatinya serasa terpikat oleh sikap Ktut Chandra yang se!alu bersenyum itu. Kiranya demikian pula dengan perasaan Ktut Chandra.

Tanpa disadari, denyut jantungnya menjadi makin bertambah keras. Walaupun tak sepatah katapun yang da-

Sesaat Yoga Kurnala berdebar jantungnya, sewaktu bertemu Pandang dengan Ktut Chandra.

pat keluar dari mulut mereka berdua, namun sinar pandangan matanya seakan-akan telah membuka isi hati mereka masing2 yang menuju kesatu titik pengertian.

Seorang dara lainnya lagi yang duduk disebelah Indah Kumala Wardhani, kiranya adalah pendiam dan pemalu. a berusia kurang lebih 20 tahunan dan sewaktu berkenalan dengan Yoga Kumala, ia mengaku bernama Sampur Sekar. Ia hanya tertunduk selalu, dan hanya mengucapkan kala bicaranya apabila terpaksa menanggapi pertanyaan2 teman2nya. Wajahnya ayu, dengan sinar pandangnya yang tenang bersih. Warna kulitnyapun kuning langsat pula.

Ia mengenakan perhiasan serba indah dan amat mewah. Tutur bahasanyapun sangat halus, dengan senyuman yang sangat lirih.

Namun pancaran wajahnya nampak jelas, bahwa ia adalah gadis remaja keturunan bangsawan asli. Dan memang demikian. Ia adalah putra putri dari Pangeran Pekik Manggala Narapraja.

Pada sore harinya mereka berlima dengan Kereta kebesaran Senapati Muda indra Sambada, pergi menuju ke Kota Raja, memenuhi panggilan kakak angkat Yoga Kumala. Tak henti2nya Indah Kumala Wardhani didalam perjalanan selalu menggoda kakaknya Yoga Kumala dan Ratnasari, hingga kerapkali Ratnasari tersipu sipu malu sambil mencubit paha Indah Kumala Wardhani yang ceriwis itu.

*

* *

B A G I A N IV.

Walaupun percakapan antara Yoga Kumala dengan Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani nampak agak lancar dibanding dengan lainnya, akan tetapi setiap waktu Yoga Kumala bertemu pandang dengan Ktut Chandra jantungnya selalu masih saja dirasakan berdetak keras, dan kedua2nya segera saling menunduk dengan wajah yang makin memerah. Ia sendiri tidak mengerti apa sebabnya.

Ingin Yoga Kumala berkata banyak pada dara Pulau Dewata ini, namun selalu terhalang oleh perasaan yang aneh, hingga mulutnya seakan akan terkunci rapat apabila mulai menatap pandangnya. Kiranya demikian pula perasaan Ktut Chandra terhadapnya. Suatu kebetulan pula duduk mereka dalam kereta itu ber-hadap2an.

Perjalanan ke Kota Raja, dirasakan oleh Yoga Kumala amat singkat sekali. Seakan akan ia ingin sepanjang waktu untuk duduk terus dalam kereta dengannya. Namun hal itu tentunya tidak akan mungkin. Tidak terasa, kini ternyata kereta telah memasuki halaman Senapaten kediaman Manggala Muda tamtama Pengawal Raja Indra Sambada, kakak angkatnya.

Kiranya Indra Sambadapun telah menunggu2 kedatangan mereka berlima diruang tamu dalam Istananya.

— Yoga Kumala !!. — Kata Indra Sambada, setelah mereka berlima duduk menghadapnya — Aku memanggilmu kemari, memang ada sesuatu yang akan aku bicarakan padamu dan pada kalian semua.

Tentunya kalian berlima telah saling mengenal bukan? Indra Samhada berhenti bicara sejenak, seakan akan menunggu jawaban dari salah seorang diantara mereka, akan tetapi ternyata semuanya hanya menundukkan kepalanya dengan masing2 bersenyum malu. Hanya Indah Kumala Wardhanilah yang berani menyahut pertanyaan Indra Sambada dengan kenakalannya yang tidak terduga duga — Kangmas Indra! ! Akang Yoga hanya mau kenal dengan Yayuk Ratnasari saja, sedangkan lain2nya didiamkan, tidak diajak bicara !!. —

Menanggapi kenakalan Indah Kumala Wardhani itu, Indra Sambada hanya tersenyum sambil mengangguk2kan kepalanya. Ia melihat betapa Yoga Kumala dan Ratnasari kini mukanya jadi memerah dadu, demi mendengar jawaban dari Indah Kumala Wardhani yang senang menggodanya itu!!

— Adikku Indah I! Jangan kau iri melihat kakakmu Yoga kini berlaku demikian. Indra Sambada menyahut sambil tertawa lebar. Mendapat sambutan dari Indra Sambada yang demikian itu, sifat kenakalannya Indah Kumala Wardhani bertambah melonjak. Ia turut serta ketawa riang sambil bicara dengan mencebirkan bibirnya — Saya sama sekali tidak mengiri, Kangmas !!— Bahkan nanti agar Akang Yoga Kumala dan Yayuk Ratnasati diperkenankan pulang ke Maja Agung berduaan saja. Biarlah kami bertiga tinggal di Senapaten Kota Raja sini !!

Yoga Kumala dan Ratnasari menjadi semakin malu tersipu-sipu.

Mereka dalam menanggapi adiknya tak dapat berkutik. Ktut Chandra pun turut bersenyum Iirih sambil tertunduk, Akan tetapi tiba2 perasaan iri dan cemburunya cepat menguasai dirinya. Entah karena apa! Tanpa terasa kini ia menjadi tertunduk diam menahan rasa mendongkol hatinya. Sedang Sampur Sekar hanya tersenyum simpul sambil mengawasi wajah kedua remaja yang sedang menjadi buah permainan.

Walaupun Indra Sambada telah mengenal lama akan sifat2 kenakalan Indah Kumala Wardhani, akan tetapi kali ini ia sendiri agak terpengaruh pula akan kata2nya.

Ia mengira bahwa Yoga Kumala kini memang agak jatuh cinta (hati) kepada Ratnasari. Apabila benar demikian halnya, maka iapun akan turut bergembira. Bukankah hubungan dengan Senapati Manggala Yudha Gusti Aditya. wardhana akan lebih erat terjalin, jika kelak adik angkatnya Yoga Kumala dan Ratnasari menjadi sepasang suami istri?

— Sudahlah! Dan kini kalian semua hendaknya mendengarkan pesanku baik2! — Tiba2 Indra Sambada beralih bicara pada pangkal kepentingannya. — Menurut saran dari Gustimu Tumenggung Cakrawirya, mulai hari ini Yoga Kumala telah diangkat sebagai pelindung daripada kalian berempat. Maka hubungan sehari2nya hendaknya Iebih di pererat, agar kelak dalam menunaikan tugas masing2 jangan simpang siur. Tentu saja tugas ini bagimu merupakan sampiran dalam jabatanmu sendiri, yang esok setelah selesai pertandingan akan ditentukan lebih lanjut, — Ia berhenti bicara sesaat sambil menatap pandang Pada Yoga Kumala. Kemudian melanjutkan bicaranya tertuju pada Yoga Kumala adik angkatnya: — Yoga Kumala!.

Hanya kau sendiri yang tahu bahwa keempat dara termasuk adikmu kandung sendiri itu, kini telah diangkat sebagai anggauta Narasandi di Kerajaan oleh Gustimu Tumenggung Cakrawirya.

Sedangkan keamanan dan keselamatannya dalam mengemban tugas kelak berada ditanganmu, disamping beban tugasmu sendiri! —

Suasana kini menjadi hening, Masing2 saling pandang dan kembali tertunduk diam. Dalam hati, Yoga Kumala tak mengira sama sekali, bahwa dipercaya mendapat tugas yang mulia itu walaupun baginya merupakan tambahan beban yang tak dapat dikatakan ringan.

Memang ia telah mengetahui pula, bahwa adik kandungnya dan dara2 temannya telah tiga bulan lamanya mendapat latihan khusus dari Tumenggung Cakrawirya yang merangkap jabatan sebagai Manggala Tamtama Narsandi. Akan tetapi tidak menduga, bahwa ia sendiri kini telah dimasukkan dalam angkatan yang maha penting itu. Kiranya Tumenggung Cakrawirya sangat memperhatikan akan kelakuannya sehari2, hingga ia berkenan menaruh kepercayaan pada dirinya.

Dengan panjang lebar dijelaskan oleh Senapati Indra Sambada, bahwa kelak pada saatnya, keempat dara remaja itupun akan dikirim pula ke Negeri Kerajaan Agung Tanah Malayu dengan tugas2 tertentu, yang amat erat hubungannya dengan tugas yang akan dibebankan pada Yoga Kumala.—

Setelah diberikan penjelasan seperlunya dan disertai pesan agar Yoga Kumala dapat merahasiakan hal ini, mereka berlima diperkenankan kembali ke Senapaten Maja Agung.

— Berusahalah agar besok pagi kau dapat memenangkan pertandingan penyisihan terakhir itu!

— Pesan Indra Sambada sewaktu ia mengantar sampai diambang pintu gerbang.

— Doa restu Kangmas Indra semoga selalu menyertaiku.- jawab Yoga Kumala. Keretapun berjalan dengan lajunya menuju ke Senapaten Maja Agung menyelinap dikegelapan malam yang pekat. *

* *

Para Senapati dan segenap priyagung serta orang2 shakti sebagai tamu undangan yang duduk ber-deret2 dikursi itu diam terpekur ditempat masing2 dengan hati berdebar debar penuh kecemasan mengikuti jalannya pertandingan babak penyisihan yang tengah berlangsung. Demikian pula para iamtama yang mengitari gelanggang pertandingan bagaikan pagar tembok ktiat yang tak akan terobohkan oleh amukan banteng.

Semuanya diam. Tidak ada yang berani mengganggu mereka, yang kini sedang bertanding dengan sengitnya. Hanya kadang kadang saja terdengar satu pujian pendek yang tertahan berulang kali dari para priyagung, — Bagus! Bagus! — sambil menggeleng gelengkan kepala, ataupun suara kata seruan dari pada tamtama yang menyaksikan pertandingan itu.

— kenak! —

Namun sesaat kemudian suasana sunyi hening kembali, dengan pusat perhatian tertuju kearah yang sedang bertanding dengan sengit.

Pertandingan tata kelahi bertangan kosong antara Yoga Kumala dan Kobar untuk memperebutkan pemenang pertama itu diselenggarakan dihalaman Senapaten Alap2 Ing Ayudha dengan disaksikan oleh para orang2 shakti dan segenap priyagung Kerajaan. agar dapat memberikan nilai yang sewajarnya. Ternyata kedua calon perwira tamtama yang sedang bertanding itu memiliki kesaktian dan ketangkasan yang seimbang.

Haaaiiittt! Kena! — Seru Kobar sambil melancarkan tendangan yang dahsyat kearah lambung Yoga Kumala. Dan bersamaan dengan meluncurnya tumit kaki kanan Kobar yang hampir mengenai lambung kiri Yoga Kumala, tiba2 ia sendiri menjatuhkan diri sambil bergulingan ditanah, untuk menghindarkan diri dari serangan balasan pukulan telapak tangan Yoga Kumala yang tidak kalah berbahayanya.

Kiranya sewaktu tendangan yang menggeledek dari Kobar hampir menyentuh tubuhnya, Yoga Kumala terhulung-hujung kesamping kiri untuk kemudian jatuh berjongkok sambil menyerang Kobar dengan pukulan telapak tangan kiri mengarah puggung lawan, sedangkan tangan kanannya menghadang sebagai perisai untuk menghadapi kemungkinan serangan rangkaian dari Kobar.

Semua yang menyaksikan adegan yang mendebarkan jantung itu, sesaat menghela nafas lega, setelah nyata kedua2nya bebas dari serangan masing2 yang berbahaya.

Akan tetapi belum juga tenang sejenak, kini para penonton kembali menahan nafas lagi, demi melihat Yoga Kumala melompat tinggi dengan jatuh menukik kebawah sambil mementang tegang jari2nya tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengepal sebagai tinju mengarah pelipis kiri Kobar yang baru saja bangkit berdiri. Cepat dan tangkas, Kobar merendahkan dirinya dan kembali jatuh bergulingan kesamping kiri, sambil memapaki tinju lawan dengan kaki kirinya.

Akan tetapi masih juga bahu kanannya tersentuh sedikit oleh jari2 tangan kirinya Yoga Kumala. Cepat ia bangkit dan melompat surut kebelakang dua langkah sambil mendekap bahu kanannya.

Sesaat ia menyeringai menahan rasa nyeri kesemutan seluruh tangan kanannya, namun secepat itu pula ia mengerahkan pemusatan tenaga dalamnya untuk membebaskan rasa nyeri yang merangsang di- tangan kanannya.

Semeatara Yoga Kumala telah berdiri diatas kedua kakinya yang terpentang lebar dengan kedua lututnya ditekuk hingga setengah jongkok sambil ketawa terkekeh kekeh menyeramkan.

Tangan kirinya diangkat tinggi, setinggi pundaknia dengan telapak tangannya kedepan dengan jari2nya terbuka lebar dan menegang, sedangkan tangan kanannya menjangkau lurus setinggi jajar dengan dadanya, dengan jari2nya yang mengembang tegang pula.

Matanya memandang tajam2 kedepan. Inilah gerak langkah Wurushakti yang telah dikenal oleh Senapati Muda Indra Sambada, dalam bentuk jurus „ menyambut serangan maut dari empat penjuru ".

Memang setiap gerakan Yoga Kumala yang memerlukan pengerahan pemusatan tenaga dalam selalu diiringi dengan tawanya yang terkekeh kekeh menyeramkan.

Inilah ciri2 asli dari gerak Wurushakti. Akan tetapi lawan yang dihadapi adalah Kobar yang terkenal tangguh dan shakti. Dengan penuh kewaspadaan dan setapak demi setapak ia maju kedepan mendekati Yoga Kumala sambil siap siaga untuk memulai dengan serangannya ……..

Tiba2 ia membuka serangannya dengan sebuah pukulan telapak tangan dalam gerak tebangan mengarah leher sambil berseru nyaring hingga memekakkan telinga. Dan sewaktu Yoga Kumala terhuyung-huyung kedepan sambil memberikan serangan balasan. Kobar telah melesat tinggi diatas kepala Yoga Kumala sambil berpusingan untuk kemudian jatuh dibelakang, Yoga Kumala dengan melancarkan serangan pukulan yang dirangkaikan dengan tendangan beruntun silih berganti. la mengira bahwa serangan bukaannya sebagai gerak tipuan akan berhasil memuaskan, namun Yoga Kumala kiranya telah menduga dan tak kalah tangkasnya dalam gerakan mendahului menyerang lawan.

Walaupun gerakannya sepintas lalu kelihatan lambat, akan tetapi kehebatan gerakannya selalu mengandung unsur2 serangan balasan yang amat berbahaya. Dengan menundukkan kepala dan merendahkan badannya sambil menggeser kaki kirinya surut kesamping, ia terhindar dari serangan pukulan Kobar yang amat dahsyat . Sambil terhuyung - huyung kedepan ia memapaki rangkaian serangan lawan dengan pukulan telapak tangan kanannya, hingga Kobar terkesiap sesaat dan segera menggagalkan rangkaian serangannya sambil meloncat kesamping dua langkah.

Pertarungan berlangsung makin seru, dan selalu masing2 melancarkan serangan2 yang berbahaya.

Semua penonton berdebar-debar, menahan nafas. Sukar kiranya untuk menebak siapa yang akan memenangkan pertandingan yang tengah berlangsung dengan tegang dan sengit itu. Masing2 memperlihatkan ketangkasannya dan kesaktiannya dalam bentuk gerakan yang berlainan.

Tiba2 dalam saat yang bersamaan terdengar suara tinggi melengking dan tawa terkekeh-kekeh menyeramkan. Tanpa diketahui dengan jelas, kedua-duanya jatuh bergulingan ditanah dalam arah yang berlawanan dengan masing2 menjauhkan diri. Kiranya Kobar memang sengaja memapaki pukulan Yoga Kumala dengan lengannya untuk mengukur kekuatan lawan. Namun kedua2nya saling mengerahkan pemusatan tenaga hingga benturan kedua tangan tadi mengakibatkan masing2 merasa pedih yang tidak terhingga. Secepat kilat kedua2nya bangkit berdiri kembali dan langsung saling menerjang dengan serangan2 kilat yang berbahaya. Kiranya masing2 ingin cepat2 menyelesaikan pertandingan ini dengan kemenangan difihaknya. Demikian hebatnya kesaktian masing2, hingga angin sambaran pukulan menggetarkan laju para tamtama yang menonton, dan debupun mengepul tebal bagaikan kabut.

Sewaktu semua penonton sedang terpaku menahan nafas dengan jantung masing2 berdebar- clebar, tiba2 Sang Senapati Indra Sambada melompat ketengah2 gelanggang dan langsung berdiri ditengah2 antara Yoga Kumala dan Kobar, sambil berseru: — Berhenti! —

Bersamaan dengan terdengarnya suara seruan yang menggema penuh wibawa itu, Kobar dan Yoga Kumala telah berdiri tegak membatalkan gerakan masing2. Kedua2nya kemudian diperintahkan untuk saling berjabatan tangan, dan oleh Sang Senapati Muda diberitahukan bahwa pertandingan bertangan Kosong yang telah berlangsung itu dinyatakan seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.

Penghentian yang tiba2 itu adalah atas perintah Gusti Adityawardhana, karena apabila pertandingan itu diteruskan, beliau mengkhawatirkan adanya korban dari salah seorang diantaranya. Dan jika terjadi demikian halnya, tentulah amat disesalkan, mengingat dua orang muda shakti itu kelak dapat diharapkan menggantikan para Manggala Tamtama yang tentunya akan surut karena usia.

Namun bagi kedua pemuda yang sedang bertanding, keputusan itu dirasakan sangat mengecewakan. Mereka saling merasa dapat menyelesaikan dan memenangkaan pertandingan, apabila dibiarkan berlangsung terus.

Lebih-lebih bagi Kobar. Ia menganggap keputusan itu tidak adil, dan berat sabelah. Mungkin karena Gusti Senapati Indra Sambada kuatir kalau adiknya kalah pikirnya.

Akan tetapi karena takut, kedua duanya diam tertunduk dan mentaati perintah sang Senapati. Lain halnya dengan para priyagung dan segenap orang2 shakti tamu undangan. mereka memuji akan keluhuran budi Sang Senapati Manggala Yudha, dalam mengambil langkah kebijaksanaannya.

Untuk menentukan siapa pemenangnya, maka pertandingan dilanjutkan dengan mernpertunjukkan katangkasan ilmu pedang. Semula pertandingan itu akan dilanjutkan dengan masing2 bersenjatakan pedang, akan tetapi oleh Gusti Senapati Manggaia Yudha Adityawardhana dicegah dan dirobah dengan masing memamerkan ketangkasannya dalam memainkan ilmu pedang, dan bukan pertandingan tata kelahi bersenjatakan pedang. Keputusan inipun mendapat dukungan penuh dari segenap para priyagung dan para orang2 shakti undangan. Pertandingan dimulai, dan menurut hasil undian ternyata Kobar harus tampil di-tengah2 gelanggang terlebih dahulu.

Setelah menyembah pada para Manggala dan segenap priyagung Kwrajaan, dengan tangkasnya ia melompat ketengah-tengah gelanggang sambil menghunus pedang pusakanya. Gerakannya tangkas dengan gaya yang sangat indah pula. Semua yang menyaksikan bertepuk tangan mengagumi gerakan lom-patan pembukaan ilmu pedang dari Kobar itu.

Pedang pusakanya amat tajam dan mengandung daya perbawa. Dengan gerakannya yang tangkas dan kuat, serta penuh gaya2 indah ia mulai memainkan pedangnya dengan menari-nari bagaikan kupu2 hingga sesaat kemudian hanya nampak sinar hitam berkilauan yang ber-gulung2 menyelubungi seluruh tubuhnya.

Para Manggala dan segenap priyagung serta orang2 shakti yang menyaksikan berseru kagum dan sambil menggeleng2kan kepalanya. Benar2 Kobar memiliki ilmu permainan pedang yang cukup tinggi dan kiranya sukar untuk mencari imbanganya. Demikian pula para tamtama teman2nya yang menyaksikan di lingkaran sekelilingnya.

Sedang ia tengah memamerkan ilmu permainan pedangnya yang indah dan perkasa dengan jurus2 simpanannya, tiba2 terdengar seruan berasal dari samping kiri — Awas, serangan!–

Dan bersamaan dengan seruan tadi, dua benda putih bulat sebesar ibu jari kaki meluncur beruntun bagaikan kilat kearah kepala dan dada Kobar. Cepat pedang pusakanya berkelebat dan dua buah benda putih yang meluncur secara beruntun, semuanya masing2 terbelah menjadi dua potong dan jatuh bertebar kesamping kanan dan kirinya. Ternyata dua buah benda putih itu adalah dua jeruk nipis yang disaput tebal dengan kapur.

Akan tetapi belum juga potongan2 jeruk nipis itu jatuh ditanah seruan serupa telah menggema lagi dari arah dihadapannya. — Awas! — Serangan! — Dan dua buah benda putih secara beruntun menyambar kearah kepala dan kakinya. Gerakan sabetan pedang yang baru saja membelah dua benda- benda yang menyerangnya, kini dirangkaikan menjadi gerakan bacokan dan tebangan mengarah dua benda putih yang meluncur menyerang dirinya.

Sambil meloncat tinggi ia berseru nyaring — Haaaiitt! — Dan sebuah jeruk nipis yang disaput tebal dengan kapur yang mengarah pada kakinya terbelah menjadi dua. serta jatuh sejauh lima langkah kesamping kanan dan kirinya,

Akan tetapi ….. ia menjadi terperanjat setelah melihat sendiri adanya noda putih sebesar ibu jari yang melekat pada celana dipahanya.

Keringat dingin mengunjur dari dahinya hingga membasahi kedua pelipis dan sepasang pipinya.

Namun ia tetap masih memainkan ilmu pedang pusakanya dengan penuh semangat serta lebih waspada, Kembali seruan nyaring terdengar

— Awas, serangan! —

Sebuah benda serupa meluncur dengan pesatnya dan disusul kemudian dengan benda yang serupa lagi masing2 mengarah pada dirinya dari arah muka dan belakang dalam saat yang hampir bersamaan, dimana kaki Kobar baru saja berpijak ditanah.

Akan tetapi Kobar adalah seorang tamtama yang mendapatkan julukan pendekar pedang dari teman2nya.

Dengan tangkasnya ia kembali menggenjotkan kaki kanannya melenting tinggi keudara sambil berpusingan. Pedang pusakanya berkelebat menyapu dengan gaya sabetan serangan kebawah mengikuti berputarnya badan, bagaikan baling2.

Sebuah jeruk nipis tak ayal lagi terbelah menjadi dua potong dan terpental jauh. Akan tetapi ......

ternyata yang sebuah tepat mengenai lambungnya sebelah kanan dibawah ketiaknya.

Dengan menggerutu sambil membanting kakinya ia menyesali akan perbuatannya yang kurang tangkas gerakkannya.

Tepuk tangan dan sorak sorai dari orang2 yang menyaksikan terdengar gemuruh, setelah pameran permainan pedang Kobar selesai. Semuanya kagum akan ketangkasannya dan kesaktian yang dimiliki oleh Kobar, walaupun dua diantara enam buah jeruk nipis yang dilempar itu ternyata tidak dapat dihindari lagi dan mengenai tubuhnya dengan meninggalkan dua noda putih masing2 sebesar ibu jari dicelana dan bajunya yang serba hitam pekat itu.

Kini Yoga Kumala tampil kedepan. Gilirannya untuk menunjukkan ketangkasan pedang yang dimilikinya. la berjongkok dihadapan para Manggala dan segenap priyagung untuk memberikan sembah. Dan sesaat kemudian tanpa membalikkan lagi badannya, ia telah melesat tinggi surut kebelakang

sambil menghunus pedang pusakanya, untuk kemudian jatuh berdiri ditengah2 gelanggang dengan kakinya yang terpentang lebar setengah jongkok. Semua menjadi kagum terpaku, demi melihat cara Yoga Kumala meloncat membalik kebelakang sejauh itu, walaupun tidak nampak keindahan gaya gerakannya.

Pedang pusaka warisan dari Eyangnya Cahayabuana yang bersinar putih kebiru2an, menyilang didepan dadanya, sedangkan tangan kirinya mengembang dengan jari2nya yang di tegangkan diangkat setinggi pundaknya.