-->

Pendekar Darah Pajajaran Jilid 2

Jilid 2

B A G I A N I

DITEGUR KAKAKNYA secara demikian, Martinem malah semakin menangis terisak-isak, sambil bicara dengan kata-katanya yang terputus-putus.

— Aku . . . tak mau tidur ….. Aku pergi ….. sendirian . . . Biar tak diantar . . . . aku ... berani …..

— Jangan menangis, Nem!. Turutilah nasehat kakakmu. Besok kita bersama-sama pergi nonton wayang golek, dan untukmu akan kubelikan mainan katak-katakan yang bisa berbunyi nyaring itu ….. atau payung kecil biar kalau kau berjalan tidak kepanasan. — Sujud menghiburnya serta bangkit berjongkok sambil membelai rambut Martinem.

Akan tetapi semua kata-katanya itu seakan-akan tak didengarnya sama sekali, dan Martinem masih saja terus menangis ter-isak isak, sambil bicara —Tidak …… aku mau pergi ….. sekarang ….. sendirian …..---

Martiman telah tak sabar lagi mendengar rengekan adiknya itu. Sambil bangkit berdiri, ia membentak2 kasar. — Memang dasar anak bandel! Sekali tidak, tetap tidak! Tahu! Jika kau tetap bandel akan kujewer telingamu. —

Isak tangisnya Martinem bukannya mereda, akan tetapi bahkan bertambah keras, hingga bibi pemilik warung itu menjenguknya sebentar sambil menghibur dengan lemah lembut. Namun Martinem tetap menangis juga.

— Sudahlah. Nem! Jangan menangis! Asalkan kau berjanji akan melihat sebentar, akan kuantarkan sekarang. — Tiba.-tiba Sujud berkata menyanggupi. Kiranya ia sangat kasihan demi melihat Martinem menangis tersedu sedan itu Seketika itu juga setelah mendengar kesanggupan Sujud tangisnya berhenti. Sambil mengusapi air mata yang membasahi muka dengan lengannya, Martinem bangkit untuk membetulkan pakaiannya, sementara Sujud mengikat kantong kulitnya dengan ikat pinggangnya erat-erat dipinggangnya.

— Man, kau mau ikut atau tidak?. Jika sekiranya lelah, tinggal saja disini. Aku akan mengantar adikmu sebentar, biar tak rewel lagi! --- --- Ach ….. aku ikut pergi kang Sujud. Tak enak untuk tinggal sendirian. —

Dan sebentar kemudian mereka bertiga telah berada ditengah tengah orang yang berjejal jejal mendekati panggung, dimana akan diadakan pertunjukkan keramaian.

Dengan Martinem dipundaknya serta Martiman disisinya sambil memegang erat2 pada ikat pinggangnya, Sujud mendesak orang2 yang sedang berjejal jejal itu, untuk lebih mendekat didepan panggung. Bentakan dan makian orang2 yang terinjak oleh kakinya, tidak dihiraukan sama sekali.

Ia merasa lega dan bersenyum puas setelah berhasil berdiri didepan sendiri, hingga menempel pada kawat yang terpentang sebagai batas antara tamu2 undangan yang duduk berderet2 didepannya. Suara gamelan bertalu-talu memekakkan telinga, namun pertunjukkan tari2an memang belum dimulai. Sedangkan orang ber-jejal2 padat berdesak, suaranya gemerunggung seperti lebah disarangnya.

Martiman dan Martinem tak henti2nya bersenyum kagum melihat keindahan pakaian para tamu undangan yang ber-aneka warna dan serba mewah itu, seakan2 para tamu undangan itu saling berebut perhatian akan pakaian yang dikenakan. Ada yang berbaju sutra warna merah dengan kancing2nya mutiara, dan ada yang berbaju sutra biru dengan kelat bahu bertatahkan ular naga terbuat dari emas murni, dan ada pula yang memakai sisir mas clengan bermata batu berlian diatas kepalanya seperti mahkota.

Sedangkan para tamu undangan wanita kesemuanya memakai perhiasan yang serba bermatakan berlian. Hidangan makanan untuk para tamu2 undangan mengalir terus tak ada putusnya, membuat kepinginnya rakyat yang berjejal2 berdiri melihatnya. Melihat pesta semacam itu, Sujud teringat kembali akan masa kehidupannya sendiri, sewaktu mengikuti Senapati Indra Sambada. Tiap2 ada perayaan, ia tentu diperkenankan ikut serta, dan selalu mendapat penghormatan yang istimewa pula. Betapa tidak! Indra Sambada yang mengaku sebagai kakak angkatnya adalah seorang Senapati Manggala Pengawal Raja, yang disegani dan disanjung2 oleh segenap priyagung di Kota Raja. ( baca Seri Pendekar Majapahit )

Tetapi kini Sujud dianggapnya sebagai anak jelata, yang tak dikenal oleh orang2 yang berpesta pora itu. Seorangpun tak ada yang menegur ataupun memperhatikannya. Dan ini semua adalah kesalahannya sendiri yang telah disengaja. Ia memperhatikan wajah2 para tamu undangan satu demi satu yang dapat dilihatnya, barangkali saja ada yang pernah dikenalnya. Akan tetapi kiranya sia2 belaka. Para tamu2 yang berada jauh dari padanya sukar untuk diteliti satu persatu.

Tiba2 suara gamelan bertalu lebih keras dan nyaring. Dan para penyambut tamu undangan berdiri tegak berjajar didepan panggung dengan pakaian seragam sebagai punggawa narapraja. Seorang tinggi besar dengan jenggotnya yang lebat, berjubah merah dengan gambar sulaman matahari terbit didadanya berwarna kuning keemasan dan diiringkan oleh empat puluh pemuda berbaju sutra hijau dengan tanda gambar yang sama didadanya masing2, telah datang dari arah gedung Kebanjaran menuju kederetan bangku2 terdepan yang masih kosong itu, yang memang di sediakan untuknya.

Itulah orang gagah yang terkenal shakti, Kyai Singayudha, pemimpin dan pendiri perguruan ilmu kanuragan "BASKARA MIJIL", diiringkan oleh para murid2nya yang masing2 bersenjatakan klewang, tergantung dipinggangnya. Ia berjalan melangkahkan kakinya dengan tenang seakan-akan mengikuti irama suara gamelan sambil mengangguk - anggukkan kepalanya dengan diiringi senyuman kearah para tamu yang serentak berdiri menyambut kedatangannya.

Panewu Arjasuralaga dalam pakaian kebesarannya sebagai Narapraja beserta isterinya berkenan menyambutnya sendiri atas kedatangannya tamu ayah menantunya yang ia banggakan itu. Dengan serta merta Panewu Arjaswalaga suami isteri mempersilahkan Kyai Singayudha duduk ditempat terdepan yang telah disediakan, dekat berjajar dengannya. Sementara para tamu telah duduk kembali ditempat masing2. Para murid Baskara Mijil masing2 mengambil tempat duduk dibaris kedua, berjajar dibelakang Kyai Singayudha. Suara tepukan tangan tiga kali terdengar nyaring, dan kini gamelan berhenti seketika.

Seorang pengacara dengan memamerkan ketangkasannya melayang dengan satu loncatan naik dipanggung. Orangnya masih muda dan tegap perkasa. Ia mengenakan pakaian kebesaran lengkap sebagai Lurah Tamtama Kerajaan. Ia adalah adik kandung dari Panewu Arjasuralaga, yang menjabat lurah tamtama di Kerajaan di Kota Raja. Ialah yang dibanggakan selalu oleh kakaknya dengan pengharapan agar kelak dapat menggantikan kedudukannya sebagai Panewu Kepala Daerah Kebanjaran Banjararja. Kini ia diserahi tugas sebagai pengacara untuk mewakilinya menyambut para tamu2 yang di undang. Perhatian para tamu dan orang2 yang menyaksikan keramaian itu kini tertuju kepada Lurah Tamtama Arjarempaka si pengacara.

Dengan senyuman yang dibuat - buatnya sambil mengangguk2kan kepalanya kepada para tamu, ia berbicara lantang dalam kata bahasanya yang lancar.

Dengan singkat dan jelas ia sebagai wakil tuan rumah, menyampaikan terima kasihnya akan kehadiran para tamu yang akan menyaksikan pertunjukan kesenian pada malam ini. Dan berulang kali ia mengucapkan kata2 sanjungannya, penuh rasa kebanggaan demi mengangkat nama kebesaran Kyai Singayudha, sebagai tamu kehormatannya.

Ia tak lupa pula mengutarakan, bahwa pertunjukan yang diselenggarakan pada malam ini adalah sumbangan dari perguruan Baskara Mijil.

Tepuk tangan para hadirin segera terdengar gegap gempita, setelah pengacara selesai berbicara dan melayang turun dari panggung. Suara gamelanpun segera terdengar ber-talu2 kembali.

Martinem yang duduk dipundak kiri Sujud turut pula bertepuk tangan sambil berseru kegirangan, tanpa menghiraukan teguran Martiman yang selalu melarangnya, karena takut mengganggu orang2 sekitarnya. Tak lama kemudian, muncul seorang gadis remaja yang cantik jelita dalam pakaian wayang yang indah, duduk bersila diatas panggung, dan menyembah, setelah mana mengenakan topeng yang berwajah priya yang telah berada dipangkuannya. Dengan diiringi suara gamelan, ia menari-nari dengan gerak geriknya tarian seorang priya. Gerakannya tangkas dan gagah. Tarian yang menggambarkan kegagahan seorang perwira yang sedang mengenakan pakaian tamtamanya untuk siap maju kemedan laga ……

Suara gamelan seirama dengan lantangnya kendang, namun tepat mengikuti gerakan tariannya yang gagah dan mempersonakan. Tangan kirinya bertolak pinggang sambil menggerak2kan sampur dengan jari2nya yang halus dan runcing, sedangkan tangan kanannya mengepal dengan ibu jari menunjuk kearah mulutnya sambil melagak lagak, mengikuti suara tawa bergelak-gelak dari ki Dalang, yang diiringi dengan suara gamelan serta kendang, seirama dengan gayanya penari.

Sambil memukul gamelan, para penabuh bersorak sorak mengikuti irama gending, menambah meriahnya suasana. Dengan langkahnya yang bergaya, kini penari kelana topeng berjalan berputaran diatas panggung. Para tamu asyik terpaku melihat gerakannya. Sungguh merupakan tarian yang indah dan mengesankan. Suatu seni tari daerah yang bernilai tinggi.

Sebentar - bentar para tamu bertepuk tangan, memuji akan keindahan tariannya. Dan tak henti- hentinya para tamu dan pengunjung lainnya menyatakan kekagumannya akan kelincahan dan kegagahannya si penari, yang bukan lain adalah seorang gadis remaja yang cantik jelita tadi.

Dengan gayanya yang lemah gemulai, kini si penari duduk bersila kembali dan membuka topengnya, untuk kemudian menyembah kepada para tamu sambil menundukkan kepalanya suatu tanda bahwa tarian topeng yang dipentaskan telah berakhir, dan gamelanpun mengikuti berhenti bertalu.

Kembali suara tepuk tangan tendengar gegap gempita, memekakkan telinga susul menyusul tak

henti-hentinya. Martinem tak ketinggalan turut pula bersorak. Ternyata tarian daerah yang disumbangkan oleh perguruan Baskara Mijil dapat memikat hati para tamu2 pengunjung, dan menambah keharuman nama perguruan yang telah terkenal itu.

Menyusul kini „tari topeng perang" ciptaan Kyai Singayudha sendiri. Suara gamelan dengan gending2nya, yang berirama pelan, dengan diiringi tiupan suling yang bernada tinggi mengalun melengking, menyayat nyayat hati pendengarnya. Seorang dara lain, berpakaian wayang seperti seorang ksatria dengan mengenakan keris dipinggangnya, berjalan dengan penuh gaya lemah gemulai mengikuti irama gamelan. Selang lima langkah, dengan gaya tariannya yang indah, ia mulai mengenakan topengnya yang melukiskan wajah seorang ksatria yang memiliki budi pekerti yang halus serta luhur.

Tarian itu menggambarkan sewaktu Sang Arjuna sedang berduka dan berkelana ditengah hutan. Tak lama kemudian, irama gamelan berobah menjadi lebih cepat bertalu, dan suara kendang terdengar lantang kembali. Disusul munculnya seekor harimau gembong dengan loacatan yang tangkas, dan jatuh berdiri diatas empat kakinya didepan Sang Arjuna. Gerakan loncatannya sangat indah dengan tak meninggalkan irama gamelan dan kendang yang berbunyi mengumandang.

Kiranya kulit harimau itu hanya terbuat dari bahan kain yang tebal dan dilukis dengan cat, tak ubahnya seperti harimau sungguh-sungguh. Kepalanya terbuat dari bahan kardus dengan kumis- kumisnya dari ijuk yang dicat putih, mengkilat, seakan-akan merupakan harimau yang ganas siap untuk menerkam mangsanya. la diperankan oleh seorang priya yang berada didalamnya. Kepalanya menggeleng2 mengikuti suara auma dalang dan diiringi oleh suara tepukan kendang dan gamelan.

Para penonton diam tak berkedip, sambil membuka telinganya lebar-lebar mendengarkan ki dalang yang sedang bercerita dengan masih diiringi oleh suara gamelan yang mengalun pelan ….

Tiba-tiba gamelan bertalu2 dengan irama yang ramai, dan suara tepukan kending terdengar Iantang serta cepat. Harimau meloncat kedepan dengan gaya terkaman, melintasi diatas kepala Sang Arjuna, yang dengan tangkasnya mengelak, menundukkan badannya dalam gerak tarian yang sangat indah mengikuti suara irama gamelan. Harimau jatuh bergulingan dibelakang Sang Arjuna, dan suara kendang pun mengikuti laksana genderang bertalu. Semua berseru kagum akan ketangkasan dan indahnya tarian perang ini. Jelas bahwa orang yang memegang peranan sebagai harimau, memiliki ilmu kanuragan yang cukup mentakjubkan.

Sang Arjuna kini menghunus kerisnya dan menari-nari dengan gajanya yang indah sambil menggenggam keris terhunus ditangan kanannya. Sementara itu harimau menggerak2kan kakinya sambil menggeliat, mengikuti suara gamelan. Kini pertarungan menjadi lebih seru lagi, namun tetap dalam gaya tarian yang diiringi suara gamelan dengan irama2 yang sesuai dengan selera gaya tariannya. Tari pertarungan itu berachir dengan kemenangan dipihak Sang Arjuna, sedangkan harimau yang tertusuk oleh keris pusaka Sang Arjuna, mati seketika dan menjelma menjadi Batara Kamajaya.

Tepuk tangan dan sorak sorai para penonton, terdengar lebih riuh lagi, setelah tari topeng itu berachir. Kiranya tarian yang demikian indah, tak pernah disaksikan sebelumnya oleh para penonton. Dan memang baru kali inilah tari perang topeng ciptaan Kyai ingayuha dipentaskan.

Tari topeng telah berakhir, dan acara dilanjutkan dengan pertunjukan wayang golek yang akan berlangsung hingga esok siang hari. Wayang golek adalah pertunjukan yang digemari oleh segenap lapisan rakyat didaerah ilu. Sementara wayang2nya diatur dan alat-alatnya dipersiapkan, gamelan masih tetap terus mengumandang bertalu talu.

Diantara para tamu banyak pula yang mengundurkan diri untuk beristirahat karena masih ingin menyaksikan kerarnaian2 pada malam2 berikutnya.

— Nem, ayo kita pulang kepenginapan!! Aku telah lelah dan mengantuk. — Sujud berkata, pada Martinem.

— Sebentar lagi, kang Sujud ! ! Aku belum ngantuk. Jawab Martinem dengan masih duduk dipundak Sujud.

— Ayo, ….. kita tinggalkan Martinem disini sendiri, kang Sujud ! ! Biar ia puas melihat wayang golek sendirian sampai, esok siang !!! Martiman memotong bicara dengan nada marah.

-- Man, kau jangan selalu memarahi adikmu. Ajo, Nem kita pulang dulu, besok pagi kita nonton lagi. Sambil membeli mainan yang kujanjikan tadi, Sujud berkata lembut.

— Tapi, besok pagi kita pergi lagi melihat lho, kang ! Jangan bohong ! ! !. Martinem menjawab,

manja.

— Yaaa . . . Besok pagi kita pasti nonton lagi ! !. Ayo . . .kita pulang sekarang dan jangan rewel

lagi …… —

Mereka bertiga berjalan bergandengan menuju kewarung tempat mereka bermalam. Waktu itu belum lewat tengah malam, namun mereka bertiga telah merasa lelah dan mengantuk, karena siang tadi habis menempuh perjalanan jauh baginya.

*

* *

— Man, kau serta adikmu tentunya capai sekali malam ini, Sujud berjongkok diatas tikar sambil bicara dengan Martiman yang sedang rebah berbaring. Sedangkan Martinem sudah tidur pulas disebelahnya. — Maka kau tinggal saja disini mengaso, sambil menunggu adikmu … ---

Apakah kang Sujud mau nonton lagi sekarang ? Tanya Martiman demi mendengar perkataan

Sujud.

— Yah, betul!! Aku akan pergi nonton sebentar. Aku kira pertunjukan malam ini kurang menarik

untuk dilihat oleh anak2 kecil. Maka sebaiknya kau tinggal disini sambil mengaso saja. Tak lama lagi akupun tentu sudah kembali. Hati2lah jaga adikmu. Jika nanti ia terbangun jangan hendaknya kau bentak2. Dan ini kantongku supaya kau rawat baik2 jangan sampai hilang. Atau sebaiknya kuikatkan dipinggangmu. Kau tahu sendiri, bahwa dalam kantong ini berisi barang2 berharga dan uang untuk bekal kita dalam perjalanan. — Berkata demikian Sujud melepaskan tali ikat pinggangnya dimana kantong kulit itu tergantung, yang segera disambut oleh Martiman setelah ia bangkit berjongkok didepannya.

— Akupun dapat mengikatkan sendiri, kang Sujud! — Dan dengan rapihnya Martiman mengikat kantong kulit itu dipinggangnya sendiri dengan tali ikat pinggang Sujud.

— Tapi, betul ya kang, jangan lama2 pergimu ….—

— Tak usah kau kuatir. — Jawabnya. — Dan nanti kalau adikmu terbangun dan minta makanan, belikan saja diwarung, apa yang dikehendakinya dengan uang yang ada dikantong itu.

Tanpa menunggu jawaban. Sujud bangkit berdiri serta meninggalkan Martiman dan Martinem, untuk menuju ke panggung pertunjukan yang dekat letaknya dengan tempat mereka bermalam.

Namun masih juga terdengar suara Martiman lapat2, Kang Sujud, jangan lama2 pergi. Sebagai anak pemuda tanggung, pertunjukan malam ini memang sangat menarik bagi Sujud.

Sejak hari kemarin ia sebenarnya telah menanti2 saat dimulainya pertunjukan olah kanuragan, walaupun semasa ia tinggal di Senapaten Kota Raja sering melihatnya. Kiranya bukan ia saja yang gemar akan pertunjukan semacam itu. Ternyata orang2 telah berjejal berdesakan untuk dapat melihat dengan jelas. — Wah terlambat datangku — pikir Sujud. Setapak demi setapak ia mendesak maju, hingga achirnya ia dapat berdiri didepan seperti waktu kemarin. Kini ia tidak lagi memperhatikan tamu2 undangan yang duduk berderet2 didepannya. Pandangan dan perhatiannya langsung ditujukan kepanggung, dimana empat orang pemuda dengan pakaiannya serba hijau terbuat dari sutra, dengan masing2 memakai tanda lambang kebesaran perguruan "Baskara Mijil" didada kirinya, sedang bertarung memamerkan ketangkasannya dengan diiringi oleh suara gamelan. Gerakan jurus2 pukulan, tendangan dan tangkisannya sedemikian indah, hingga lebih banyak menyerupai tarian daripada olah krida yudha. Ya, memang ini adalah gerakan jurus kembang2 ciptaan perguruan Baskara Mijil yang dititik beratkan pada keindahan gerakan yang disesuaikan dengan irama gamelan.

Keempat pemuda murid Kyai Singayudha yang sedang berada diatas panggung itu, silih berganti menyerang dan mengelak dengan gaya gerakannya yang ,kadang2 sangat lambat, dan tiba2 berobah menjadi lebih cepat, namun semua gerakannya tak meninggalkan irama suara gamelan. Tendangan kaki dan gerakan sampokannya selalu diiringi dengan tepukan kendang dan bunyinya gong. Bila dua orang melontarkan serangan, maka dua orang lainnya menghadapi dengan tangkisan ataupun mengelak dengan gerakan yang penuh bergaya. Tiba2 suara tepukan kendang terdengar lantang dan cepat.

Dan bersamaan dengan irama gamelan yang lebih cepat itu, dua bilah klewang meluncur kearah mereka yang sedang bersilat. Dengan tangkas dan penuh gaya, meluncurnya klewang disambut dengan tangkapan tangan kanan masing2 dari dua pemuda yang sedang bersilat itu, dan tepat tertangkap pada gagangnya. Tepuk tangan dan sorak sorai pujian dari para penonton terdengar riuh ramai. Dan dua pemuda itupun segera bersenyum menyambut pujian yang tertuju padanya, Ternyata dua bilah klewang itu dilemparkan oleh dua orang temannya yang duduk dideretan terdepan, atas perintah gurunya. Kini pertunjukan pertarungan dengan jurus kembang2 masih terus berlangsung, dengan dua orang bersenjatakan klewang menghadapi dua orang bertangan kosong. Tak lama kemudian dua klewang serentak dapat terampas oleh yang bertangan kosong dan kini bergantian yang bersenjatakan klewang. Suara gamelan bertalu talu dan tepukan kendangpun terdengar cepat dan nyaring, mengiringi gerakan2 jurus2 serangan klewang yang bertubi-tubi dengan cepatnya. Serangan klewang yang berobah-robah gerakannya, merupakan sinar putih yang bergulung-gulung menyelubungi tubuh lawan yang dihadapinya. Tusukan, sabetan dan babatan klewang yang cepat itu, diikuti oleh lawannya dengan gerakan yang indah dan tangkas untuk menghindari serangan. Dan kembali lagi kedua belah klewang dengan cepatnya berpindah ditangan lawan yang tadinya bertangan kosong. Dan orang2 yang menyaksikan bersorak sorai memuji ketangkasannya.

Tetapi, tiba2 terdengar suara nyaring dengan nada ejekan: — Permainan anak kecil.—

Semua orang berpaling kearalt datangnya suara, dan suasana seketika menjadi, sepi dan tegang.

Sementara itu terdengar tepukan tangan tiga kali dan suara gamelanpun segera berhenti. Seorang pemuda lalu yang memakai pakaian seragam sebagai murid Kyai Singayudha meloncat naik keatas panggung. Sedangkan empat orang pemuda yang sedang bersilat tadi segera menghentikan gerakannya dan berdiri berjajar dibelakangnya Dengan senyum yang dibuat-buat pemuda tadi …… menganggukan kepalanya kepada para penonton setelah mana ia bicara dengan nada yang tajam sekali — Tuan2 yang terhormat. Sekiranya ada yang kurang puas akan hidangan pertunjukan kami ini, sudilah naik ke atas panggung untuk memberikan petunjuk2 yang sangat bagi perguruan Basskara Mijil. Dengan senang hati, kami bersedia menerima petunjuk2 Tian yang akan menambah pengalaman kami untuk mana kami ucapkan banyak terima kasih. —

Ucapan seorang pemuda, murid Baskara Mijil yang sangat sopan itu, jelas merupakan tantangan bagi orang yang baru saja berseru menghina pertunjukan tadi. Dan semua penonton menunggu dengan hati yang berdebar - debar akan munculnya seorang yang dimaksud.

Tiba2 sebatang golok panjang meluncur laksana sambaran kilat, dan tertancap hampir seluruhnya diatas panggung, tepat didepannya seorang pemuda yang berbicara tadi.

Hanya gagang dan sebagian dari mata golok itu yang kelihatan masih bergetar. Dan sesaat kemudian disusul berkelebatnya bayangan yang melayang naik keatas panggung dengan satu loncatan yang cukup mengagumkan.

Orang itu masih muda dan berusia 25 tahun, sebaya dengan pemuda pamong murid perguruan Baskara Mijil yang kini berada dihadapannya.

Ia mengenakan pakaian serba hitam dari bahan tenunan rakyat biasa, dengan kain sarung warna merah yang dilipatkan dan dipinggangnya sebelah kiri tergantung sarung tempat golok panjang yang ternyata telah kosong. Sepasang alisnya tebal dan bertemu pangkai. Sinar pandangan matanya tajam berkilat. Rambutnya gondrong tanpa ikat kepala dan raut mukanya persegi dengan warna kulitnya yang kehitam-hitaman. Urat urat dilehernya yang pendek itu kelihatan menonjol. Bentuk tubuhnya kokoh kekar dengan tingginya yang sedang. la berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang sambil menunjuk kearah pemuda yang dihadapannya dengan jari telunjuk tangan kanan.

Lain halnya dengan seorang pemucla yang berada dihadapannya. la bertubuh langsing tetapi padat berisi. urat-uratnya kelihatan melingkar2 dikedua lengannya. Wajahnya memancarkan sinar ketenangan dengan warna kulitnya yang kekuning2an serta bersih. Rambutnya hitam terurai sampai dipundaknya dan tersisir rapih. Ikat kepalanya seutas sutra warna merah selebar dua jari, diikat erat2 diatas tengkuknya.

Sedang para penonton masih berdebar-debar rnenyaksikan adegan yang tegang itu, sipemuda muridnya Kyai Singayudha cepat membungkukkan badannya serta mencabut golok panjang yang tertancap dihadapannya hanya dengan menggunakan japitan ibu jari dengan telunjuknya tangan kanannya, untuk kemudian diangsurkan kepada pemuda yang sedang berdiri dihadapannya dengan bertolak pinggang, yang ternyata adalah pemilik dari golok panjang itu.

Melihat cara mencabut golok yang tertancap hampir seluruhnya dipapan kaju jati yang sekeras itu, hanya dengan mengunakan jepitan ibu jari dengan telunjuknya saja sudah dapat diterka bahwa pemuda pamong murid Kyai Singayudha terang memiliki tenaga dalam yang tidak dapat dipandang ringan.

Dan para penonton kembali dibuat ternganga lebar olehnya. Lebih-lebih bagi mereka yang tidak mengerti mengenai ilmu kanuragan. Tanpa berkedip Sujud mencurahkan perhatiannya kearah adegan yang tegang itu. Rasanya ingin ia melihat lebih dekat lagi, agar dapat mengikuti dengan jelas.

— Tuankah, yang mewakili suara gelap tadi?. Ingin kami mengetahui lebih dahulu nama dan gelar Tuan, sebelum memberikan petunjuk2 yang berharga bagi kami. Murid Kyai Singayudha berkata memecah kesunyian dengan suara lantang yang diiringi dengan senyuman mengejek.

— Apa ?! Aku tidak mewakili siapapun!— Hadirku dipanggung ini tidak ada sangkut pautnya dengan suara gelap tadi. Aku hanya semata-mata melayani tantanganmu yang sombong itu, yang baru saja kau ucapkan.

Dan aku adalah seorang rakyat biasa yang tak mempunyai gelar• Namaku Talang Pati. - Jawab pemuda lawannya dengan tak kalah lantangnya.

Mendengar kata jawaban yang tegas dari Talang Pati itu, Braja Semanclang tersentak heran, hingga ia melangkah surut kebelakang satu tindak. Dugaan bahwa Talang Pati adalah orang yang mengeluarkan suara gelap yang berisi kata2 hinaan ataupun mewakili orang yang menghinanya ternyata tidak benar. Kini Braja Semandang, demikianlah nama pemuda pamong murid dari Baskara Mijil itu, dan memang semua dari perguruan Baskara Mijil memakai nama awalan Braja, tindakannya penuh keraguan.

Ia memalingkan kepalanya sesaat kepada Singayudha gurunya yang duduk dideretan terdepan, untuk minta pertimbangan. Singayudha menyibakkan lengan jubahnya, sebagai isyarat jawaban, dan tahulah bahwa maksud gurunya terserah akan kebijaksanaan Braja Semandang sendiri.

— Saudara Talang Pati! Jangan hendaknya salah terka!? Tantanganku hanya aku tujukan kepada orang yang menghina perguruan kami dimuka umum. Kami tidak bermaksud untuk bermusuhan dengan siapapun juga tanpa alasan.

— Tetapi, bukankah ucapanmu yang penuh kesombongan tadi, sengaja untuk menghina semua. penonton? Apakah kau kira, bahwa semua orang jeri mendengar nama Baskara Mijil?! Ketahuilah, bahwa sekalipun gurumu yang naik dipanggung, aku tidak akan gentar menghadapinya. —

Kata2 ini tajam bukan kepalang. Mukanya yang kekuning kuningan mendadak sontak berobah menjadi merah padam, hingga ujung daun telinga Braja Semnandang serta matanya kelihatan merah menyala tak mampu menerima penghinaan yang menyinggung nama kebesaran gurunya. Badannya terasa menggigil bergetar menahan kemarahan yang meluap-luap. Jari-jari kedua belah tangannya meremas remas.

Dengan suara parau dan gopoh ia bicara dengan nada bentakan. — Keparat Talang Pati! Tak usah kau menyinggung nama guruku! Aku Braja Semandang sanggup untuk menghajar mulutmu yang lancang! — Kata-kata itu diiringi dengan gerakan secepat kilat menghunus klewang dipinggangnya, dan langsung menyerang lawan dengan suatu loacatan kedepan dalam jurus tusukan maut. Tangan kirinya dengan jari-jarinya terbuka dengan diangkat keatas agak kebelakang mengikuti gerakan sebagai imbangan badan, dengan kakinya terbentang lebar. Para penonton banyak menjerit ngeri demi melihat serangan yang ganas serta tiba-tiba itu. Dan diantaranya banyak pula yang cepat-cepat berlalu meninggalkan alun-alun, karena takut akan meluaskan keributan.

Sujud semakin tertarik akan pertarungan yang sungguh2, yang kini tengah berlangsung. Tanpa disadarinya ia telah menerobos, batas tali kawat yang terpentang, dan berdiri lebih dekat. Sementara itu orang-orang tak berjejal jejal seperti semula.

Sewaktu orang-orang menjerit, hampir saja Sujud turut pula berteriak, karena melihat Talang Pati yang diserang dengan tiba-tiba itu masih saja bertolak pinggang dengan tangan kirinya, dan belum siap siaga untuk bertempur. – Bukankah ini serangan yang curang? — pikirnya. Akan tetapi kecemasannya segera lenyap, setelah melihat Talang Pati terhindar dari serangan maut dengan gerakannya yang sangat mengagumkan.

Uklewang yang hampir mengenai dadanya, disambut dengan bacokan golok, sambil melangkah surut serong kesamping kiri dan muncratlah percikan api karena dua senjata beradu keras. Kedua duanya, masing- masing terkejut dan meloncat surut kebelakang satu langkah. Masing masing saling kagum akan ketangkasan dan kekuatan tenaga lawannya. Kembali kini rnereka saling serang menyerang dengan gerakan yang cepat dan sukar untuk diduga arah tujuannya. Tebangan, tusukan, bacokkan silih berganti dengan perubahan-perubahan yang amat cepat. Kedua - duanya menunjukkan ketangkasan yang seimbang.

Gerakan klewang dan golok panjang demikian cepatnya, hingga sepintas lalu merupakan sinar putih yang ber gulung2 dan sambar menyambar menyelubungi kedua tubuh mereka yang sedang bertempur.

Sedang mereka berternpur dengan serunya. tiba tiba terdengar suara orang berseru sambil diiringi dengan tawa yang bergelak gelak. — Haa. haa ….. haa …..! Bagus, bagus! Permainan anak kecil meningkat menjadi permainan bocah! Ha... haa hahaa —

Semua yang hadlir terkecuali yang sedang bertempur, memalingkan kepala kearah suara. Mereka ingin mengetahui gerangan siapakah yang berani berbuat demikian tak senonoh, dengan mengeluarkan kata-kata hinaan tanpa menghiraukan kemungkinan adanya orang-orang sakti lainnya yang hadir ditempat pertunjukkan itu.

Bersamaan waktunya, dikala orang-orang sedang mencari dengan pandangan matanya masing2 kearah orang yang bersuara tadi ……

Singayudha telah melesat laksana bayangan keatas panggung, dan langsung jatuh berdiri di- tengah2 dua orang pemuda yang sedang bertempur dengan serunya.

Singayudha dapat memisah mereka yang sedang bertempur hanya dengan angin sambaran loncatannya saja, hingga kedua-duanya yang sedang bertempur masing-masing hampir jatuh terlentang, jelas menunjukkan bahwa Kyai Singayudha memiliki ilmu kanuragan yang sangat sakti. Dan demikian, dua orang pemuda seketika terpaksa berhenti bertempur.

— Hai, Tua bangka Tadah Waja! Silahkan naik kepanggung, jika maksudmu hendak membalas dendam karena tidak puas dengan kejadian satu tahun yang lalu.

– Singayudha berdiri tegak diatas panggung dengan berseru nyaring, sambil jari telunjuknya menunjuk kearah orang yang sedang berdiri bersandar pada tiang dimana tali kawat terikat, tepat dibelakang Sujud. Suaranya bergema berwibawa.

Seorang yang telah lanjut usianya berkerudung kain panjang berkembang sebagai baju atasnya, sambil masih bersandar pada tiang climana tali kawat terpancang, ketawa terbahak-bahak seraya berkata. — Haa. haaa …..haaa …….! Kau kira aku wayang orang yang sedang ditanggap, hingga mau naik kepanggung, menemanimu?! Tak sudi aku menjadi singa tontonan! —

Kata-kata yang sederhana ini, merupakan sindiran penuh penghinaan yang amat tajam bagi Singayudha.

Lebih tajam dari pada mata tajamnya klewang sendiri yang tergantung dibalik jubahnya.

Tadah Waja bertubuh kurus. Rambutnya panjang terurai dan telah memutih. Matanya cekung dan hidungnya bengkok menyerupai patuk burung hantu.

Mulutnya lebar dengan bibirnya yang tebal. Mukanya kasar penuh dengan jerawat, serta memancarkan sifat kebengisan. Kuku jari2 tangannya hitam dan panjang meruncing, mengandung racun yang sangat berbahaya. Ia berdiri bersandar sambil memegang tongkat besi sepanjang sedepa dan sebesar ibu jari kaki.

Ia dulu adalah seperguruan dengan Tambakraga sewaktu menuntut ilmu hiam. Ialah suatu ilmu kesaktian kanuragan yang khusus untuk tujuan kejahatan.

Pada satu tahun yang laln, sewaktu Tadah Waja sedang merampok didaerah Tegal dekat pantai utara beserta lima orang anak buahnya. Kebetulan Singayudha berada pula didaerah itu dengan diiringkan oleh empat puluh muridnya. Akhirnya pertempuran sengit terjadi. Lima orang murid Singayudha roboh terluka. Akan tetapi karena jumlah murid Singayudha jauh lebih besar dari pada rampok, maka akhirnya Tadah Waja terpaksa lari meninggalkan gelanggang dengan menderita luka dipundaknya, terkena sebatang anak panah yang dilepaskan oleh para murid per-guruan Baskara Mijil. Disamping itu, seorang anak buah Tadah Waja terpaksa ditinggalkan karena mati tertusuk klewang didadanya.

Dengan demikian perbuatan kejahatan dapat digagalkan sama sekali oleh Singayudha berserta murid-muridnya. Dan semenjak itu nama Singayudha dengan perguruannya Baskara Mijil bertambah luas pengaruhnya.

Dengan diliputi rasa dendam kesumat, semula Tadah Waja pergi kehutan Wonogiri, dengan maksud akan minta bantuan pada saudara seperguruannya Tambakraga yang sakti itu. Akan tetapi kenyataannya Tambakraga telah membubarkan sarang rampoknya dan kini telah pula menjadi seorang petapa di Gunung Lawu, karena menginsyafi akan kesesatannya dalam jalan hidupnya yang telah ditempuknya. (Baca Seri Pendekar Majapahit).

Setelah mengetahui,bahwa Singayudha akan mengantar anaknya yang menjadi mempelai lelaki ke Banjararja dengan hanya diiringkan oleh empat puluh orang muridnya, Tadah Waja sengaja bermaksud hendak membalas dendam ditempat keramaian itu. Ia datang di Banjararja dengan membawa anak buahnya yang dua kali lipat jumlahnya. Anak buahnya adalah terdiri dari pada para penjahat yang telah tunduk dibawah perintahnya. Dan diantaranya terdapat pula Durga Saputra sebagai anggauta baru, akan tetapi karena kesaktiannya ia menjadi salah satu anak buah yang terpercaja.

Demi mencapai tujuannya, Tadah Waja tak segan2 menggunakan siasat yang licik dan ganas. Sebagian anak buahnya tersebar diantara para perion-ton jan; berjejal-jejai dialun abin itu.

Sedangkan sebagian lagi berada disekitar gedung Kebanjaran Kapanewon, dengan tujuan merampok habis seluruh isi Kapanewon, serta membakar gedungnya. Dan ini semua tinggal menunggu isyarat aba2 dari Tadah Waja yang kini sedang sengaja memancing keributan. Ia yakin, bahwa siasatnya yang telah diperhitungkan dengan masak2 tentu akan berhasil. Disamping tercapainya tujuan yang utama yaitu menghancurkan nama perguruan Baskara Mijil serta membunun Sgayudha, juga para anak buahnya akan gembira karena mendapat hasil harta rampokan.

`Sebagai seorang sakti, Singayudha cepat dapat menekan perasaannya yang meluap-luap karena hinaan yang langsung menyinggung namanya.

Tanpa menghiraukan kata2 Tadah Waja, ia berseru dengan suara yang mengandung daya kesaktiannya: — Tadah Waja.! Dahulu aku masih berlaku lapang, dan memberikan kesempatan untuk hidup paciamu, seharusnya kau ber-terima kasih padaku dan menginsyafi akan kesesatanmu dalam menempuh jalan hidupmu. Tak kuduga, bahwa hari ini kau sengaja datang mengantarkan jiwamu! — Suaranya rnenggetar memekakkan telinga dengan penuh wibawa membuat para muridnya sendiri menggigil ketakutan. Demikian pula para penonton yang tak memiliki kepandaian.

Ha … haaaa … haaaa …! Singa barangan yang pandai membual! Bukan aku, tetapi kaulah hari ini yang akan kehilangan kepalamu! Terimalah ini.. sebagai ganti jiwaku!—

Menjawab demikian Tadah Waja tiba2 melemparkan Sujud yang sedang berdiri ternganga didepannya, kearah Singayudha.

Sujud yang tak mengira, bahwa dirinya yang akan di jadikan bulan- bulanan tak sempat mengelak sama sekali. Sewaktu baju dipunggungnia dicengkeram oleh Tadah Waja dan kemudian dilemparkan. Kini ia tinggal menerima nasib kelanjutannya, namun sebagai murid Dadung Ngawuk masih juga ia dapat berjungkir balik diudara, untuk ber-jaga-jaga menghadapi serangan dari penerima tubuhnya.

Demi melihat berjungkir baliknya tubuh seorang anak tanggung kearahnya, Singayudha berseru terkejut sambil mengelak satu tindak kesamping. Sebagai seorang guru kanuragan yang telah memiliki nama yang harum, ia tak mau menyerang orang yang ia sendiri belum tahu siapa adanya. Tangan kanannya diangsurkan kedepan untuk menangkap tubuh Sujud yang meluncur bagaikan bola kearahnya.

Akan tetapi belum juga tangannya menyentuh tubuh Sujud, tiba2 salah seorang tamu undangan yang rnengenakan pakaian kebesaran sebagai Bupati Narapraja, melesat bagaikan berkelebatnya bayangan dan menyambar tubuh Sujud serta menghilang dibalik orang2 penonton yang sedang riuh berebut diujung untuk meninggalkan tempat yang mulai gaduh itu.

— Hai. berhenti! — Durga Saputra berseru sambil lari mengejar- — Bapak Tadah Waja! Yang

lari itu adalah Wirahadinata Indramayu. —

Bersamaan waktunya Singayudha telah meloncat turun dan langsung menyerang Tadah Waja dengan sambaran angin pukulannya.

Mendapat serangan yang tiba2 itu, Tadah Waja mendadak mengeluarkan suara seruannya yang tinggi melengking, untuk kemudian meloncat surut kebelakang dua langkah, dan lari melesat meninggalkan gelanggang dengan berseru: — Kejarlah aku, jika kau ingin kehilangan kepalamu. —

Ia sengaja meninggalkan gelanggang untuk memancing agar Singayudha lari mengejarnya.

Tanpa berfikir panjang Singayudha melesat lari mengejar dengan diikuti oleh sebagian anak buahnya. Dan bersamaan waktunya dengan melesatnya Singayudha, nyala api telah menjilat2 gedung Kebanjaran Kepanewon dari segenap penjuru.

*

**

B A G I A N II

SUARA JERITAN tangis orang2 perempuan dan anak anak bercampur dengan suara para rampok yang sedang merampok serta menjarah rayah harta yang ada di Kabanjaran. Para Punggawa Narapraja dengan dibantu oleh sebagian para murid perguruan Baskara Mijil yang masih tinggaI di Kabanjaran Kapanewon segera menerjang para rampok. Suasana menjadi semakin gaduh. Panewu Arjasuralaga dan adiknya Lurah Tamtama Arjarempakapun turut pula mengamuk dengan klewangnya. Pertempuran seru berkobar dalam beberapa kalangan.

Disusul kini awan hitam yang tebal bergulung - gulung naik diketinggian, dan nyala api yang makin besar menjilat jilat membumbung tinggi diangkasa, hingga langit diatasnya menjadi merah membara.

Tempat pesta keramaian, kini menjadi medan pertempuran Para tamu undangan yang memiliki keberanian dan erat hubungannya dengan Panewu Arjasuralaga segera turut membantu membasmi para rampok, sedangkan mereka yang merasa takut akan terlibat cialam pertempuran yang dahsyat segera lari berlalu meninggalkan Banjararja.

Dikegelapan malam yang samar-samar, ditebing kali Cilosari, seorang bertubuh kurus dan telah lanjut usianya dalam pakaian kebesaran sebagai Bupati Narapraja menghentikan langkah larinya sambil menurunkan seorang anak tanggung yang mendekati dewasa dari pundaknya. Dengan serta merta diliputi oleh rasa haru yang tak terhingga, ia merangkul dengan kedua tangannya erat2 keleher Sujud, serta menciumi keningnya sambil bicara: -Anakku! ……Telah lama aku mencarimu juga Gusti Indra

kakakmu . . . berduka hati, mencari kau sampai dimana mana …… —

— Bapak !— Hanya kata2 itulah yang dapat keluar dari mulutnya Sujud, dan air matanya meleleh, membasahi kedua pipinya. Dengan kata2 yang terputus-putus ia melanjutkan bicaranya : —Ibu

….. bagaimana …… dan kangmas Indra ….. apakah tidak marah? Aku menyesal ! —

Ternyata tamu yang berpakaian kebesaran sebagai Narapraja yang menyambar tubuh Sujud sewaktu dilemparkan oleh Tadah Waja tadi, memang Bupati Wirahadinata adanya. Ia adalah orang tua angkat dari Sujud yang mengasuhnya sejak Sujud berusia dua setengah tahun. Pun nama Sujud adalah pemberiannya, dengan harapan agar anak itu kelak memiliki budi luhur yang selalu bersujud kepada Dewata Yang Maha Agung.

Ia menemukan anak itu, sewaktu ia lolos dari Kebanjaran Agung Indramayu karena seluruh bekas daerah Kerajaan Pajajaran terdesak oleh Majapahit, ditengah tengalt hutan dekat Sumedang dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Anak yang baru berumur dua setengalt tahun itu telanjang bulat dan merangkak - rangkak sendirian dengan tubuhnya yang kurus kering. Kemudian oleh Bupati Wirahadinata beserta istrinya anak itu diasuhnya, tak ubahnya seperti anak kandung sendiri dengan cinta kasih yang ikhlas.

Dan oleh Bupati Wirahadinata anak itu diberi nama SUJUD.

Dalam pengembaraan, hingga Bupati Wirahadinata dengan istrinya menetap di Ngawi ditepi kali Bengawan dengan menyamar sebagai dukun dan mengganti namanya dengan Kyai Tunggul, Sujud selalu ada disampingnya.

Kemudian atas jasa Kyai Tunggul atau Bupati Wirahadinata dalam turut serta membantu Senapati Indra Sambada menenteramkan suasana dibelakang Kerajaan Pajajaran, ia diangkat kembali sebagai Bupati Narapraja majapahit dan memerintah kembali daerahnya Kebanjaran Agung Indramayu (Baca SERI PLNDEKAR „MAJAPAHIT").

Dan mulai sejak itu atas permintaan Senapati Indra Sambada yang telah menganggap Sujud sebagai adik angkatnya Sujud diserahkan kepada Senopati Indra Sambada dan tinggal menetap di. Senapaten di Kota Raja.

Telah tiga kali Senapati Indra Sambada pada waktu akhir2 ini mengunjungi Kebanjaran Agung Indramayu, dan menceriterakan hal ikhwal yang menyangkut diri Sujud.

Untuk mencari jejak Sujud, para tamtama nara sandi Kerajaanpun dikerahkan pula.

Bupati Wirahadinata dalam usaha turut mencarinya, merasa hampir putus asa. Tidak diduga sama sekali, bahwa sewaktu ia datang memenuhi undangan perayaan perkawinan di Banjararja, dapat bertemu dengan anak angkatnya yang selalu dirindukan.

Belum juga mereka berdua puas akan masing2 menuangkan rasa dendam rindunya, tiba2 Durga Saputra berkelebat mengejar sambil berseru.

— Wirahadinata ! ! !. Pengemis gadungan ! ! ! Menyerahlah untuk kutebas lehermu, sebagai ganti lenganku sebelah ini ! ! ! Dengan golok panjang yang kedua belah sisinya bermata tajam, Durga Saputra langsung dengan gerakan jurus tusukan berangkai, ialah meloncat sambil menusuk kearah dada Wirahadinata dengan kedua kakinya terpentang lebar, merupakan kuda2 yang kokoh dan dilanjutkan dengan perobahan gerak tebangan dari kanan ke-kiri dan sebaliknya kearah lambung lawan, dengan menggeser kaki kebelakang kedepan hingga menjadi rapat, serta tumit kaki depannya diangkat sedikit.

Menghadapi serangan yang demikian dahsyat dan secara tiba2 ini. Wirahadnata terkesiap sesaat sambil meloncat surut kebelakang satu langkah dan jatuh berjumpalitan kesamping kiri unruk menghindar dari serangan rangkaiannya. Secepat kilat ia bangkit kembali dengan pedang terhunus ditangan kanannya, sed, nzkan tatigan kirinya min-dorong Sujud kesamping belakang.

— Bangsat bedebah ! !. Kaulah Durga Saputra perampok di indramayu dulu ? ! ! ! Dengan tanganmu yang hanya tinggal sebelah itu kau juga belum insyaf akan kesesatanmu ! ! !. Sebaiknya kutebas sekalian, tanganmu yang tinggal sebelah itu !!!. Berkata demikian, Wirahadinata maju menyerang dengan pedangnya dalam gerakan jurusnya tebangan dari balik perisai.

Pedangnya berputaran cepat, hingga sinar putih yang bergulung - gulung merupakan lingkaran bentuk payung, laksana perisai baja, dan disusul dengan satu loncatan sambil merobah gerakan putaran pedang menjadi serangan bacokan dari atas kebawah serta dilanjutkan dalam gaya tebangan dari kiri kekanan menyapu paha lawan. Benar2 merupakan serangan pedang yang sukar untuk di-  

Wirahadinata terkesiap sesaat sambil meloncat surut kebelakang satu langkah dan jatuh berjumpalitan kesamping kiri untuk menghindar dari serangan rangkaian.

duga arah sasarannya. Dan ini adalah suatu jurus dari gerakan pedang tamtama asli. Akan tetapi Durga Saputra bukan anak kecil yang baru saja belajar ilmu kanura-gan. Ia meloncat kesamping kiri dua tindak sambil mengangsurkan tangan kirinya yang memegang golok panjang guna menangkis datangnya susulan tebangan yang mendatang.

Dengan badannya merendah mengikuti gerakan kakinya yang telah ditekukkan. Dengan demikian ia menjadi setengah berjongkok, dan terhindarlah dari serangan2 yang dahsyat itu.

Kiranya Durga Saputra memang masih setingkat berada dibawah Wirahadinata dalam ilmu tata bela diri, hingga sebentar kemudian ia menjadi sibuk berloncatan menghindari serangan yang bertubi tubi dari Wirahadinata. Sebenarnya ia sendiri sebelumnya telah merasa jeri untuk menghadapi Wirahadinata yang terkenal sakti itu, akan tetapi karena dibelakangnya diikuti oleh Tadah Waja, ia memaksakan dirinya untuk mengejar lawan. Dengan mengandalkan Tadah Waja yang sakti serta kawan2nya yang banyak jumlahnya, maksud untuk membalas dendam tentu akan berhasil - pikirnya,

Sewaktu Durga Saputra dalam keadaan sangat terdesak serta terancam jiwanya, tiba2 bayangan berkelebat menghadang didepan Wirahadinata.

Tadah Waja dengan tongkat besinya telah melintang memapaki tebangan klewang. Dua senjata beradu, hingga mengeluarkan percikan api. Kedua-duanya masing-masing meloncat surut kebelakang hingga tiga langkah sambil berseru terkejut : Heehhh .—

Ternyata telapak tangan masing2 dirasakan pedih, hingga hampir2 mereka saling melepaskan senjatanya. Belum juga mereka sempat saling menyerang Singayudha telah meloncat menerjang Tadah Waja dengan serangan tendangan berangkai. Angin sambaran tendangan yang berdesingan membuat terkesiapnya lawan.

Dengan tangkas Tadah waja berpusingan surut ke-samping sambil mengayunkan tongkat besinya dengan tangan kanan, sedangkan jari-jari tangan kirinya mengembang tegang dalam gerak cengkeram pergelangan, siap untuk mencengkeram kaki lawan dengan kaki2nya yang beracun.

Sementara itu Wirahadinata yang telah siap akan menyerang Tadah Waja terpaksa menggagalkan gerakannya, karena melihat Sujud berjumpalitan menghindari serangan Durga Saputra yang nampaknya kelihatan telah mulai kalap. Namun belum juga ia dapat melangkah untuk membantu anaknya, empat orang anak buah Tadah Waja telah mengurung dan menyerangnya dengan senjatanya masing2. Kini pertempuran menjadi tiga, empat kalangan dan berlangsung dengan sengitnya.

Sujud bertangan kosong melawan Durga Saputra yang bersenjatakan golok panjang. Sedangkan Wirahadinata dengan pedangnya menghadapi empat orang anak buahnya Tadah Waja yang bersenjatakan dua klewang, satu golok dan satu kampak.

Sedangkan Tadah Waja sendiri dengan tongkat besinya melawan Singayudha dan Braja Semandang bersenjatakan klewang keluanya.

Masih ada juga satu kalangan lagi yang sedang bertempur dengan sengitnya, antara lima orang murid Baskara Mijil melawan delapan orang anak buah Tadah Waja dengan bersenjatakan klewang dan ber-macam2 senjata tajam lainnya.

Sedangkan Talang Pati hanya menonton, berdiri dibalik pohon dekat tempat pertempuran dimana Sujud sedang sibuk menghindari serangan golok panjangnya Durga Saputra yang bertubi-tubi tanpa mengenal belas kasihan dengan langkah gerakanuja "WURU SAKTI"

Dengan langkah2nya yang aneh dan kelihatan sangat lambat, Sujut terhuyung-huyung kedepan seakan-akan jatuh terjengkang, untuk kemudian melompat kesamping sambil menjulurkan tangan kanannya yang jari nya telah ditegangkan kearah tubuh lawan yang sedang gencar melancarkan serangan dengan golok panjangnya. Dengan demikian, disamping ia terhindar dari bacokan dan sabetan golok panjang, Durga Saputrapun terpaksa membatalkan serangan rangkaiannya untuk melindungi tubuhnya dari totokan jari-jari Sujud yang sukar diduga arah datangnya.

Kadang2 Sujud mengelak babatan golok panjang lawan yang semakin buas itu hanya dengan menjatuhkan diri bergulingan ditanah untuk kemudian duduk berjongkok menunggu datangnya serangan susulan. Akan tetapi semua serangan Durga Saputra yang ganas dan bertubi-tubi itu ternyata selalu jatuh ditempat yang kosong belaka.

Berulang kali Wirahadinata sambil masih bertempur, berseru cemas demi melihat gerakan Sujud yang dalam penglihatannya hampir2 menjadi korban keganasan itu. Setiap gerakan untuk berusaha mendekati anaknya selalu di rintangi oleh para pengeroyoknya dengan serangan2 serentak yang bertubi- tubi. Akan tetapi Wirahadinata adalah Kyai Tunggul yang memiliki kesaktian serta pengalaman yang luas. Dengan mudahnya ia dapat menghindari semua serangan dari para pengeroyoknya. Medan pertempurannya dikuasai kembali.

Sekali pedang tamtamanya berkelebat, para pengeroyok segera sibuk menghindar sambil berlompatan menjauhkan diri dari serangan2 susulan yang tak dapat diduga sebelumnya. Semula Wirahadinata sama sekali tidak bermaksud kejam kepada para pengeroyoknya, dan setiap kesempatan yang terluang hanya dipergunakan untuk memperhatikan anaknya Sujud yang sedang menghadapi serangan2 maut dari Durga Saputra. Akan tetapi rasa cemasnya kini semakin bertambah, setelah melihat cara Sujud menghindari serangan tusukan maut hanya dengan berjongkok serta ketawa terkekeh2. Ia mengira bahwa anaknya karena rasa takutnya menghadapi lawan yang tangguh, hingga tergoncang syarafnya dan menjadi gila.

Tanpa mengenal belas kasihan lagi, Wirahadinata tiba2 melancarkan serangan dengan jurus shakti simpanannya yang olehnya sendiri dinamakan "sabetan pelebur baja". Ditengah2 para pengeroyoknya, Wirahadinata berdiri tegak dengan sepasang matanya terbuka lebar dengan pandangan liar. Wajahnya berubah merah, tubuhnya gemetar. Mulutnya berkali-kali terbuka dan terkatub kembali tanpa mengeluarkan suara. Hembusan nafasnya mengandung daya sakti yang telah ter-pusat.

Tangan kanannya yang menggenggam pedang tamtamanya diangkat setinggi pundaknya, dan tangan kirinya bergerak perlahan dengan jari2nya terbuka seperti cakar harimau yang siap menerkam mangsanya ……

Seruan tinggi melengking terdengar ….. dan tiba2 ….. ia meloncat menerjang dua orang pengeroyoknya yang berada didepannya dengan kedua tangannya bergerak semua, dalam bentuk gerakan yang bertentangan.

Tangan kirinya menyengkeram kedepan dari atas kebawah serong kanan, sedangkan tangan kanannya yang menggenggam pedang membuat gerakan sabetan dari kanan ke-kiri serong kebawah …...

Suatu jurus dalam satu gerakan yang berlawanan dengan disertai daya kesaktiannya …..

Tak ajal lagi …… jeritan ngeri dua kali susul-menyusul segera terdengar, dengan diiringi robohnya dua tubuh manusia yang bermandikan darah. Seorang telah putus lehernya. dengan kepala

terpisah dari gembungnya. sedang seorang lagi lambungnya terbabat sampai dipusat perutnya Dan

dengan pedang yang masih berlepotan darah, Wirahadinata berpusingan menyambut datangnya serangan dari dua orang pengeroyoknya yang berada dibebelakangnya. Demi melihat dua orang temannya roboh tak bernyawa lagi, dua orang pengerojok yang sedang menyerang segera menarik kembali gerakannya, serta serentak meloncat surut kebelakang dua langkah, dan kemudian lari dikegelapan, tunggang langgang.

Cepat seperti kilat Wirahadinata melompat kesamping untuk membantu anaknya, akan tetapi ia segera berdiri terpaku penuh rasa heran sesaat, sewaktu melihat Durga Saputra jatuh roboh tak berdaya tanpa terluka dengan golok panjangnya terlempar jauh, Namun rasa cemas bercampur dendam masih juga meliputi dirinya Kuatir akan bangkitnya kembali Durga Saputra yang mengganggu anaknya.

Pedang tamtamanya berkelebat lagi ….. dan ,,,,, crattt . .

Kepala Durga Saputra terbelah kena bacokan pedang tamtama Wirahadinata, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Darah segar bercampur otaknya muncrat, hingga membuat bajunya sendiri berlepotan darah. Sujud meloncat merangkul leher Wirahadinata sambil berseru. — Bapak. —

Ia ingin mencegah kekejaman ayah angkatnya, akan tetapi …. gerakannya telah terlambat ….. Bersamaan dengan robohnya Durga Saputra, Singayudha yang dibantu Braja Semandang yang sedang bertempur meIawan Tadah Waja, tiba-tiba meloncat dua langkah sambil berseru — Semandang! Biarkan aku sendiri yang melayani kepala rampok ini! Lekas lari ke Kebanjaran, untuk membantu adi2mu!—

Sadarlah ia kini, bahwa larinya mengejar Tadah Waja berarti terkail oleh tipu muslihatnya. Ia melihat adanya awan hitam yang tebal bergulung-gulung membumbung tinggi yang disusul dengan nyala api besar menjilat jilat naik diangkasa diarah atas Kebanjaran Kapanewon.

Untuk lari menolong orang tua menantunya, baginya tak mungkin, karena ia sedang menghadapi musuh yang sakti dan ganas. Satu-satunya jalan baginya ialah memerintahkan pamong muridnya kembali ke Kebanjaran Kapanewon agar dapat membantu Panewu Arjasuralaga.

— Keparat Tadah Waja! Sambutlah klewangku! — Bentak Smgayudha samhil menerjang maju dengan klewang ditangan kanan. Gerakannya tangkas dan cepat, seperti kilat. Klewang ditangannya berkelebatan laksana gulungan sinar putih yang menyambar - nyambar, dalam gerakan tusukan, babatan, dan tangkisan susul-menyusul dengan perobahan - perobahan yang sukar dilihat dengan mata.

Angin sambaran, sabetan klewangnya mengeluarkan suara berdesingan, hingga membuat daun- daun pepohonan yang berada didekatnya jatuh beterbaran. Namun lawannya adalah Tadah Waja, kepala rampok sakti yang berpengalaman luas. Tongkat besi ditangannya berputaran menyerupai lingkaran baja, dengan mengeluarkan angin sambaran laksana badai yang tak kalah hebatnya.

Tangan kirinya dengan jari-jarinya terbuka dan ditegangkan bergerak - gerak menyambar kearah lawan seperti cakar garuda.

Kedua-duanya, masing-masing saling mengerahkan tenaga saktinya. Dua senjata yang dahsjat beradu ….. dan percikan api nampak berpijar …… Kedua-duanya berseru terkejut sambil terhuyung- huyung kebelakang dua langkah dengan masing-masing hampir jatuh terlentang.

Wirahadinata melompat hendak membantu Singayudha yang sedang terhuyung - huyung dan hampir jatuh itu, tetapi ….. tiba-ttba lebih dari sepuluh orang anak buah Tadah Waja muncul berloncatan dari segenap penjuru disekitarnya dan langsung menyerangnya.

Sementara itu pertempuran-pertempuran dilain kalangan masih berlangsung dengan serunya. Suara beradunya senjata terdengar gemerincing dengan diiringi jeritan - jeritan ngeri susul menyusul, dari orang-orang yang terkena senjata roboh bergelimpangan. Darahpun berceceran dimana mana.

Demi melihat ayah angkamja dikurung oleh sepuluh orang lebih yang bersenjatakan klewang, tombak, kampak, golok dan sebagainya, Sujud melompat memasuki kalangan dengan gerakan

‘Wurushaktinya yang ajaib. Jari-jari tangannya tegang terbuka dan menyambar - nyambar dengan langkah2nya yang aneh serta membingungkan lawannya. Dalam waktu yang singkat tiga empat orang lawannya telah roboh terguling ditanah tanpa berdaya, terkena serangan totokan jari-jarinya. Senjata senjata mereka terpental berterbangan lepas dari genggaman, untuk kemudian jatuh ditanah.

Wirahadinatapun tak mau memberikan ketika pada lawannya. Tiap kali pedang tamtamanya berkelebat tentu ada seorang lawan yang roboh mandi darah. Sambil bertempur gerakan anak angkatnya tak lepas pula dari perhatiannya. Tahulah kini ia, bahwa anak angkatnya telah memiliki pula ilmu kanuragan yang tak dapat dikatakan rendah, sebagaimana ia semula menduga sebelumnya. Akan tetapi, dari manakah ia mendapatkan kepandaian yang aneh itu? Tak mungkin kakak angkatnya Gusti Senapati Indra Sambada mengajarnya demikian ….. Gerakannya menyerupai seorang yang sedang mabok minuman keras, dan masih pula diiringi dengan suara tawa yang terkekeh seperti orang setengah gila. Akan tetapi suasana waktu itu tidak memungkinkan ia bertanya pada anaknya.

Sedang ia mengagumi anaknya, dengan masih sibuk bertempur, tiba-tiba mendengar suara seruan lantang dari Tadah Waja yang ditujukan padanya.

— Hai ….. dukun palsu! Jangan kau berlaku sebagai pengecut, merobohkan anak buahku dengan semena - mena! Tunggulah pembalasan serangan tongkat bajaku! —

Berseru demikian Tadah Waja sambil melancarkan serangan dahsyat dengan tongkat besinya kearah tubuh Singayudha. Pukulan dau sabetan tongkat besi menyambar kearah kepala dan pinggang Singayudha dengan perobahan gerakan yang amat cepat, hingga mengeluarkan angin samberan yang berdesing desing. Serangan yang dahsyat itu masih pula disusul dengan cengkeraman kuku jari2nya, hingga Singayudha menjadi sibuk karenanya. Klewangnya menari nari ditangan kanannya mengikuti gerakan tongkat besi lawan dengan tak kalah cepatnya.

Sewaktu Tadah Waja berteriak, pemusatan perhatiannya menjadi berkurang, dan inilah merupakan kesempatan bagus yang tepat bagi lawannya. Tanpa membaang kesempatan yang demikian baiknya Singayudha dengan klewang ditangan kanan meloncat kedepan selangkah dalam gerakan gaya tusukan, yang disusul dengan serangan tendangan berangkai kearah larnbung lawan. Seruan tertahan terdengar nyaring, disusul loncatan kesamping sambil berjumpalitan menghindari serangan balasan.

Akan tetapi bukannya Tadah Waja yang jatuh berjumpalitan melainkan Singayudha sendiri. Ternyata nama Tadah Waja bukan kosong belaka. Ia sengaja menipu lawan, dengan seakan2 tak memperhatikan serangan lawan.

Akan tetapi justru sepenuh perhatiannya tepusat pada gerakan lawan yang sedang dihadap .

Tusukan klewang Singayudha yang hampir menembus dadanya dihindari dengan menggeser kaki depannya selangkah serong kebelakang sambil memiringkan tubuhnya mengikuti gerakan kaki. Tongkat besi ditangan kanan memapaki datangnya serangan dengan gerakan sodokan, sedang tangan kirinya memukul dengan telapak tangannya kearah kaki lawan yang sedang melontarkan tendangan berangkai.

Inilah jurus tipuan mematahkan langkah. Kecepatan Singayudha membuang dirinya kesamping dan berjumpalitan, ternyata dapat menggagalkan rangkaian serangan balasan dari Tadah Waja. Dengan menahan rasa sakit ditulang kakinya, Singayudha cepat berdiri lagi menyambut serangan susulan lawan yang bertubi-tubi dan berbahaja. Perobahan gerakan tongkat besi Tadah Waja cepat laksana kilat yang menyambar-nyambar tubuhnya, namun ketangkasan Singayudha masih juga dapat mengimbangi gerakan lawan. la berloncatan menyelinap dibalik sinar tongkat besi yang bergulung-gulung menyelubungi tubuhnya, klewang ditangan kanannya masih perlu mengikuti menari-nari dengan tusukan dan sabetan yang cukup membuat bulu tengkuk lawan berdiri. Akan tetapi semakin lama, gerakan Singayudha semakin lambat. Rasa sakit ditulang kakinya mengganggu ketangkasan gerakannya.

Perobahan gerakan lawan ini tak lepas dari perhatian Tadah Waja.

— Haa hahaaaaaaa !!!! Kiranya Singa barangan masih juga dapat menari diatas tiga kakinya

!!!. Tadah Waja berseru mengejek sambil menyerang mendesak Singayudha. Sebagai guru ilmu kanuragan dan pendiri perguruan Baskara Mijil yang luas pengaruhnya, tak mungkin Singayudha mau menyerah secara demikian. Apalagi lawannya adalah seorang perampok ……. 

Dalam keadaan terdesak, Singayudha mengerahkan seluruh tenaganya, untuk melesat tinggi kesamping sejauh empat langkah dan cepat memperbaiki kedudukannya. Ia berdiri tegak diatas kuda2nya yang ringan. Kaki kanan berdiri sedikit roboh kedepan dengan tumit terangkat, sedangkan kaki kirinya berada setengah langkah didepan kaki kanan dengan lututnya ditekuk sedikit, membentuk kuda2 ringan. Tangan kirinya terbuka, dengan lengan terangkat keatas sejajar pundaknya, Siku2nya ditekukkan hingga ibu jari tangannya berada disamping telinga kirinya.

Tubuhnya dimiringkan sedikit dengan dada membusung mengikuti gerakan kakinya. Ujung mata klewang ditangan kanan, lurus menunjuk kearah dada lawan yang berada dihadapannya, dengan pergelangan telapak tangan berada diatas. Suatu gerakan bersenjatakan klewang yang gagah dan indah dalam pandangan.

Sewaktu Tadah Waja menerjang kuda kudanya dengan sabetan tongkat besinya, kaki Singayudha digeser dan merobah menjadi sebuah tendangan, yang disusul dengan tusukan klewangnya untuk kemudian dirobah menjadi bacokan kilat dari atas kebawah.

Perobahan itu merupakan satu rangkaian gerakan yang amat cepat dalam bentuk jurus sambutan serangan berangkai. Sambil berseru nyaring Tadah Nkaja terkesiap, melompat tinggi berpusingan, dan membuang diri kearah samping kanan.

Namun masih juga tangan dan kaki kirinya tergores oleh ujung klewang Singayudha, sejengkal panjangnya. Darah merah segar mengucur dari luka dipahanya.

Sambutan serangan Singayudha ternyata memerlukan pengerahan tenaga keseluruhannya, hingga kaki kirinya yang terluka kini dirasakan bertambah sakit, dan ia tak dapat lagi menggerakkan kakinya dengan leluasa. Akan tetapi, melihat hasil serangannya dapat melukai lengan serta pahanya Tadah Waja, semangat tempurnya bangkit kembali. Dengan sebelah kakinya yang pincang ia melanjutkan serangannya kearah lawan dengan klewangnya bertubi-tubi. Cepat Tadah Waja membalikkan badannya, menyambut datangnya serangan, dengan tanpa menghiraukan, luka dilengannya.

Tongkat besinya berputaran, membentuk perisai baja, sedangkan kakinya bergerak silih berganti melancarkan tendangan-tendangan yang dahsyat.

Kembali kini Singayudha dalam keadaan yang terdesak. Hampir hampir pinggangnya patah terkena sabetan tongkat besi yang menyambar-nyambar dengan ganasnya, sewaktu ia terhujung2 kebelakang menghindari tendangan lawan. Untung, bahwa ia masih sempat menjatuhkan diri untuk berjumpalitan ditanah menghindari serangan lawan yang semakin ganas.

Tetapi serangan Tadah Waja bukan hanya berhenti sampai sekian saja. Sewaktu Singayudha berjumpalitan menghindari serangannya, ia melompat mendahului gerakan Singayudha yang sedang akan bangkit untuk duduk berjongkok. Kaki kirinya berdiri lurus, sedangkan kaki kanannya dengan lutut ditekukkan terangkat keatas setinggi pangkal pahanya. Tongkat besi ditangan kanan diangkat tinggi2, siap untuk mengemplang kepala Singayudha. Dan tangan kirinya dengan jari2nya yang tegang

mengembang siap untuk menerkam leher lawan. Tangan kanannya diayun …. tangan kirinya bergerak menuju sasaran ……dan Singayudha memejamkan matanya menyamhut datangnya maut ……. ddaaaarrrr !!!!

— Suara beradunya dua benda keras terdengar … . dan Tadah Waja terpelanting kebelakang, untuk kemudian berjumpalitpn menjauhkan diri. Tongkat besi yang diayunkan oleh Tadah Waja sewaktu hampir jatuh di batok kepala Singayudha, tiba2 beradu dengan sebuah lengan berperisai besi baja.

Perisai baja itu besarnya hanya setapak tangan dan panjangnya dari siku2 hingga pergelangan tangan. Dengan perisainya itu mendapat gelar "Sitangan besi". Namun orang itu turut pula terhuyung huyung hingga tiga langkah kebelakang. Dapat dibayangkan bagaimana hebatnya pengerahan tenaga masing2 yang dilontarkan.

— Haa ….. haaaaaa ….. Ternyata banyak kemajuanmu selama tujuh tahun ! !. Orang bertangan besi berseru nyaring.

Ia memiliki tubuh tinggi besar dengan urat2nya melingkar lingkar dikedua belah tangannya.

Dadanya yang telanjang tanpa baju nampak bidang dan berbulu lebat. Masih pula dihias dengan gambaran seekor ular sanca yang sedang membelit badannya. Gambar itu dilukisnya dengan tusukan2 ujung golok yang runcing dan tajam dan kemudian diberi warna, sehingga tak mungkin dapat dihapus. Ia hanya mengenakan celana hitam berseret merah sampai dibawah lututnya.

Dipinggang kirinya tergantung sebilah golok panjang. Rambutnya sudah dua warna, akan tetapi tebal dan panjang diikat diatas kepala menyerupai gelung dengan pita hitarn. Mukanya bercambang bauk dan terdapat banyak goresan bekas luka2 terkena senjata tajam. Dialah yang terkenal dengan nama mBah Duwung "sitangan besi" dari Rongkop, gurunya Talang Pati.

— Duwung bangkotan ! ! ! Apa maksudmu kau turut campur urusankn ? ! Bukankah janji kita masih tiga tahun lagi ? ? ! ! ! Tadah Waja menyahut dengan suara bentakan dan dengan sinar pandangan liar sambil berjongkok dengan tongkat besinya yang disilangkan didepan dada.

— Maaffkan aku, jika tindakanku mengganggu urusanmu ! ! ! Akan tetapi justru mengingat janji kita tinggal tiga tahun lagi itu, maka sengaja aku memperingatkan dirimu !!!. Jika kau terlalu banyak mempunyai musuh, tentu tak akan mungkin kau dapat memenuhi janjimu lagi. Dan janganlah hendaknya, pertemuan kita tertunda lagi dengan alasan2mu yang kau buat2 !!! Nah selamat tinggal, sampar ketemu lagi tiga tahun yang akan datang. Dadung Ngawuk pun telah menantimu pula dengan jemu !!!!.

Talang Pati! Mari kita pergi! Tak perlu kita campur tangan urusan orang lain! Belum juga kata2nya berachir, ia telah melesat bagaikan bayangan dikegelapan malam, yang disusul dengan melesatnya Talang Pati muridnya, sambil berseru memanggil: —Mbah Duwung! — Sementara itu Singayudha telah bangkit pula berdiri, sedangkan Tadah Waja masih menggumam sendirian.

Pada tujuh tahun yang lalu, tiga orang shakti, Mbah Duwung, Dadung Ngawuk dan Tadah Waja pernah saling berternpur segitiga sampai dua dua malam lamanya, dengan berakhir tidak ada yang kalah ataupun yang menang. Waktu itu pertempuran berlangsung dilereng gunung Slamet. Ketiga tiganya roboh tak berdaya karena kehabisan tenaga, dan atas mufakat bersama mereka akan melanjutkan pertempurannya pada tiga tahun lagi. Akan tetapi, ternyata Tadah Waja setelah tiga tahun berlalu, minta agar pertempuran segitiga itu ditunda lima tahun lamanya. Dan atas mufakat mereka bertiga waktunya ditangguhkan menjadi tujuh tahun. Dalam tujuh tahun itu mereka masing2 akan meyakinkan ilmunya sendiri2 untuk bekal dalam pertempuran yang akan datang. Mbah Duwung dengan tangan besinya dan golok panjangnya, Tadah Waja dengan kuku2nya yang beracun dengan tongkat besinya, sedangkan Dadung Ngawuk dengan totokan jari2nya dan cambuk ularnya. Tempat bertanding mengadu yang hanya kurang tiga tahun itupun telah ditentukan digunung Botak, sebelah utara hutan Blora. Per- tempuran mengadu jiwa dalam segitiga, karena masing2 saling mempertahankan kebenarannya.

Masing2 saling tuduh-menuduh pernah membunuh anggauta keluarganya. Urusan yang menurut mereka tak dapat diselesaikan dengan kata-kata ……

Sedang Tadah Waja akan menerjang kembali kearah Singayudha yang tengah berdiri terpincang2 mendadak terdengar suara ringkikan dan derap kaki kuda, yang riuh mendatang dan langsung mengurung tempat pertempuran yang masih saja berlangsung dengan sengitnya.

Seorang kepala pasukan yang tak lain adalah Lurah Tamtama Jaka Rimang berseru memerintah:

— Kurung rapat dan tangkap semua perampok! —

— Kakang Rimang! Sujud meloncat diatas kepala pengeroyoknya sambil berseru dan menyambut datangnya Jaka Rimang yang memimpin pasukan 500 orang berkuda. Melihat gelagat yang tak menguntungkan itu, Tadah Waja melesat bagaikan bayangan lari dikegelapan malam meninggalkan gelanggang pertempuran. Kiranya peringatan Mbah Duwung tadi sangat beralasan. Para rampok yang tak dapat melarikan diri, segera membuang senjata dan menyerah, setelah melihat tamtama berkuda demikian banyaknya dan telah mengurungnya rapat2. — Adi Sujud! - Lurah Tamtama Jaka Rimang meloncat turun dari kudanya dan langsung mendekap pinggang Sujud, sambil bertanya: —Kau tidak terluka??

— Tidak. Untung kakang Rimang segera datang dengan pasukan tamtama ……. Dimana kakang Wulung? — Dan apakah kamas Indra juga berada disini?

— Sudahlah lekas naik kudaku, nanti kita bicarakan panjang lebar. —

Jaka Rimang mengangkat tubuh Sujud dan dinaikkan diatas pelana, sedang ia sendiri melompat duduk dibelakangnya.

— Nanti dulu, kakang Rimang!, Bapak ada disini! Itu dia. —

Berkata dernikian Sujud menunjuk Wirahadinata yang sedang berjalan mendatang, dan Jaka Rimang melompat turun kembali menyambut kedatangannya, dengan membungkukkan badannya.

— Maafkan Gusti. Kedatangan kami disini memang diperintahkan oleh Gustiku Senapati Indra Sambada untuk mencari dan menjemput Gusti Wirahadinata. Dan kini Gustiku Senapati Indra menunggu di Kebanjaran Agung Indramayu. Sama sekali kami tak mengira bahwa Gustiku berada disini pula. —

— Kebetulan sekali, kau cepat2 datang. Jika tidak, apa yang akan terjadi? Wirahadinata menjawab.

— Mendapat restu Gustiku! - Jaka Rimang merendahkan dirinya — Silahkan Gustiku menaiki kuda ini saja. — Berkata demikian Jaka Rimang menepuk kuda disebelahnya. Segera penunggang kuda itu turun dan menyerahkan pada Bupati Wirahadinata. Sekejap kemudian Wirahadinata telah duduk diatas pelana kuda berjajar dengan kudanya Jaka Rimang.

— Harap Gustiku sabar sebentar, menunggu kakang Jaka Wulung dan Panewu Arjasuralaga yang sedang mengejar rampok2 yang lari itu. —

— Bukankah sebaiknya kita rnenyusul kakang Wulung dan membantunya? — Sujud memotong pembicaraan dengan tak sabar.

— Ach …… jangan! Tadi kakang Wulung telah berpesan supaya aku menunggu disini, dan mengatur pasukan yang ditinggalkan ini. — Jawab Jaka Rimang.

Sementara itu dengan tangkas para tarntama telah membelenggu para anak buah Tadah Waja yang menyerah. Tak lama kemudian tampak tiga orang berkuda didalam kegelapan malam yang remang

- remang itu, mendatang dengan pesatnya. Derap kaki kuda yang riuh terdengar semakin jelas. Mereka adalah Lurah Tamtama Jaka Wulung, Lurah Tamtama Arjarempaka dan Panewu Arjasuralaga dengan duapuluh orang tamtama berkuda dibelakangnya. Pasukan tamtarna yang ditempat itu segera menyisih untuk memberi jalan bagi para pendatang.

— Kakang Wulung. — Sujud berseru demi melihat Jaka Wulung datang. (Penjelasan — Jaka Wulung dan Jaka Rirnang adalah saudara sekandung murid Kyai Pandan Gede dan Kyai Wiku Sepuh dilereng Gunung Sumbing, yang kemudian menjadi sepasang pembantu pribadi Senapati Indra Sarnbada dengan pangkat Lurah Tamtama. Baca Seri "Pendekar Majapahit" ).

Tiba2 dalarn jarak kira2 duapuluh langkah sebelum sarnpai ditempat Sujud, mereka masing2 dengan serentak menarik tali pengekang lis kudanya, hingga kuda mereka masing2 tersentak berdiri dengan me-ringkik2 nyaring. Panewu Arjasuralaga dengan tangkasnya melompat turun dari kudanya dengan diikuti oleh dua orang lainnya dan berjongkok mendekati seorang yang sedang terkulai ditanah dengan me-rintih2. Tubuh Singayudha yang tinggi besar itu segera di pondong diatas pundaknya, untuk kemudian dibawa dimana Jaka Rimang menunggu.

Wirahadinata, Jaka Rimang dan Sujud juga segera melompat turun kembali dan menyambut kedatangan mereka. Setelah Singayudha diperiksa dengan teliti oleh Wirahadinata, ternyata luka dikaki kirinya mengandung racun, karena kena goresan kuku Tadah Waja. Akan tetapi Wirahadinata adalah Kyai Tunggul dukun shakti yang telah tak asing lagi namanya. Dengan dibantu oleh Sujud anaknya, Wirahadinata segera mengobati luka Singayudha hingga ia siuman kembali. Luka yang telah mulai menghitam dikoreknya dengan pisau tajam, dan saluran darahnya diurut hingga darah hitam yang mengandung racun keluar mengucur dari lukanya. Tiupan shakti kearah mulut Singayudha dihembuskan pelan2 sementara Sujud menaburkan bedak obat pemunah racun yang selalu dibekal oleh Wirahadinata.

Panas suhu badan Singayudha berangsur angsur turun dan menjadi wajar Singayudha segera bangkit duduk bersila untuk mengatur dan mengerahkan hawa murninya sendiri dengan mengatur pernafasannya.

— Terima kasih, Gusti! Budi luhur Gustiku Wirahadinata tak akan saya lupakan! Semoga Dewata Yang Maha Agung membebaskan budi Gustiku ! — Singayudha berkata penuh hormat, setelah merasa ringan sakitnya.

— Ach,.. tak perlu Kyai Singayudha menyanjung demikian berlebih2an. Bahwa luka Kyai Singayuda tak begitu berat, sayapun turut pula bersyukur pada Dewata Yang Maha Agung. Dengan demikian Kyai dapat membimbing perguruan Baskara Mijil. —

Tujuh orang segera berkenalan dan bercakap dengan akrabnya sambil duduk diatas rumput.

Gara2 adi Sujud inilah, semua tamtarna Kerajaan menjadi kalang kabut dan disebar kesegala penjuru — Jaka Wulung berkata ketawa riang dengan menepuk2 bahu Sujud.

Memang sejak Sujud meninggalkan Gedung Senapaten. sebagian tamtama Kerajaan oleh Senapati Indra Sambada diperintahkan untuk mencarinya. Bukan hanya tamtama pasukan saja, akan tetapi tamtama nara sandi Kerajaan turut pula dikerahkan. Setelah satu setengah tahun lamanya para taintama tak berhasiI menemukan Sujud, Senapati Indra Sambada sendiri berkenan membawa pasukan pergi ke Indramayu untuk yang keempat kalinya. Akan tetapi setibanya di Indramayu, ternyata Bupati Wirahadinata sedang berkunjung ke Banjararja untuk memenuhi undangan Panewu Arjasuralaga. Maka oleh Senapati Indra Sambada, Jaka Wulung dan Jaka Rimang diperintahkan untuk menjemputnya, karena ada hal2 yang sangat penting untuk di bicarakan. Sedangkan Indra Sambada sendiri menunggu di Kebanjaran Agung Indramayu. Tak diduganya bahwa Kebanjaran Banjararja dikacaukan oleh para perampok dibawah pimpinan sakti Tadah Waja, hingga Jaka Wulung dan Jaka Rimang terpaksa turun tangan membantu Panewu Arjasuralaga menumpas para perampok. Hanya sayang bahwa Tadah Waja dapat meloloskan diri dari pengepungan. Namun rasa kecewa dan lelahnya Jaka Wulung dan Jaka Rimang lenyap ditutup oleh rasa girang yang tak terhingga karena justru dalam kancah pertempuran mereka berhasil menemukan kembali Sujud yang telah lama dicari2nya.

Tidak henti2nya kedua Lurah tamtama ganti berganti menanyakan pada Sujud akan pengalamannya dalam pengembaraan. Demikian pula ayah angkatnya Bupati Wirahadinata.

Waktu itu fajar telah menyingsing. Dari arah sebelah timur sinar merah keemasan menerangi seluruh mayapada. Sang surya mulai bertachta menggantikan dewi malam.

Seratus tamtama Kerajaan atas perintah Jaka Wulung ditinggalkan di Banjararja untuk membantu Penewu Arjasuralaga, sedangkan Jaka WuIung Jaka Rimang, Wirahadinata dan Sujud beserta seluruh pasukan berkuda lainnya, meninggalkan Banjararja menuju ke Indramayu. Dengan rasa sedih dan sangat kecewa karena tak dapat menemukan Martinem dan Martiman, Sujud terpaksa mengikuti rombongan berkuda menuju kerumah ayah angkatnya di Indramayu.

Ternyata pada malam terjadinya keributan dan kebakaran di Banjararja, semua orang dialun alun segera turut pula mengungsi, takut akan menjalarnya api. Warung2 ditutup dan ditinggalkan. Martiman dan Martinem berteriak-teriak ditengah keributan orang yang akan mengungsi, memanggil2 Sujud, akan tetapi.. sia-sia belaka.

Mereka berdua bergandengan berjalan mengikuti arus orang2 mengungsi tanpa tujuan.

Panewu Arjasuralaga akan berusaha mencari kedua anak itu, dan menyanggupkan untuk mengantarkan ke Indramayu apabila kelak telah dapat diketemukannya.

*

**

B A G I A N III

BUPATI WIRAHADINATA dengan Sujud, diapit oleh kedua Lurah Tamtama Kerajaan Jaka Wulung dan Jaka Rimang, dengan diiringkan oleh pasukan berkuda telah memasuki alun2 Kebanjaran Agung Indramayu. Akan tetapi sewaktu mereka akan tiba dipintu gerbang halaman Kebanjaran Agung, tiba2 Wirahadinata menarik tali lis kudanya dengan tangan kirinya erat2, sedangkan tangan kanannya dilambaikan keatas sebagai isyarat agar semua para pengiring serentak menghentikan langkah kudanya masing2. Karena tarikan tali lis yang tiba2 itu, maka kuda yang dinaiki oleh Wirahadinata terperanjat sesaat hingga meringkik sambil berdiri diatas kedua kakinya belakang.

Kiranya pada saat itu, Wirahadinata sendiripun terkejut penuh rasa cemas demi meliha tiga orang pengawal pintu gerbang bergelimpangan ditanah. Dan menjadi lebih heran lagi, demi melihat lagi seorang anak gadis tanggung sedang berlompatan sambil menggerak-gerakkan angkinnya berwarna merah jingga kearah lima orang pengawal lainnya yang sedang mengurung dara tanggung itu dengan bersenjatakan pedang, dihalaman depan balai pengawalan. Gerakan anak dara itu sangat lincah, hingga sebentar bentar lenyap dari pandangan, terselubung oleh gulungan sinar merah yang menyiIaukan mata.

Matahari berada diketinggian tepat diatas kepala, menunjukkan bahwa waktu itu telah siang tengah hari. Namun, sinar teriknya yang cerah seakan-akan sedikitpun tidak mempengaruhi gerakan dara tanggung itu. Lima orang pengawal yang mengurungnya sibuk pula berlompatan menghindari gulungan sinar merah yang menyerangnya, karena takut menjadi mangsa libatan angkin merah yang ganas itu, sebagaimana telah alami oleh kawan-kawannya. Angkin sutra merah ditangan anak dara bergerak menyambar nyambar laksana bernyawa, dan peedang ditangan pada pengawal tak mampu memapaki sambaran sinar merah yang kelihatan lemah itu. Tiba2 seorang diantara lima orang pengawal- pengawal itu berseru melengking sambil melompat tinggi, menghindari sambaran angkin kearah betisnya. Ia menjatuhkan diri dengan menukik sambil menyerang dengan gerakan tusukan pedang kearah dada dara tanggung itu. Ia sengaja melancarkan serangan yang amat dahsyat dan ganas karena sangat marah demi melihat akan kebandelan anak dara yang tak mau menyerah. Namun anak dara itu seakan-akan tak menghiraukan datangnya serangan maut yang dahsyat kearah dadanya, hingga empat orang pengawal Iainnya terkesiap dan berlompatan satu langkah surut kebelakang karena tak sampai hati melihat akan kejadian yang amat ngeri itu.

Semula mereka memang hanya bermaksud membelenggu dara yang dianggapnya sangat nakal, dan sedikitpun tak ada niat untuk melukai ataupun untuk membunuhnya. Bahwa mereka berlima menggunakan senjata pedangnya masing masing hanya karena angkin merah dara tanggung itu sangat membahayakan. Lagi pula pedang ditangan mereka masing2 itu mula mula hanya untuk menakut2i saja, tidak mengira bahwa anak dara itu sama sekali tidak takut akan gertakan mereka.

Tiga orang kawannya terpelanting ditanah dengan pedang terpental lepas melambung jauh kena libatan angkin merah. Tak heranlah bahwa seorang diantaranya kini menjadi gelap mata, dengan melancarkan serangan mautnya. Namun kecemasan empat pengawal itu segera lenyap dan berganti keheranan hingga mereka terperanjat sesaat samhil berdiri dengan ternganga demi meliitat seorang kawannya yang menyerang tadi, jatuh terbanting dan berjumpalitan sambil menjerit-jerit kesakitan. Dengan tangkasnya anak dara itu menggeser kaki kirinya merendahkan badannya, untuk mengelakkan diri dari ujung pedang yang meluncur sewaktu hanya tinggal sejengkal dari dadanya. Ia menyusup dibawah ketiak penyerang sambil membalikkan badannya dengan tangan kirinya menangkap lengan yang menggenggam pedang dan kemudian dikilirkan sedikit kekiri diatas pundaknya untuk kemudian ditariknya dengan suatu gerakan yang mentakjubkan. Pengawal yang tinggi besar itu tak ayal lagi, terbanting dengan badannya melambung melompati pundak dara tanggung itu. Sebelum ia terbanting diatas lanah, angkin merah telah mengejar serta melibat pedang untuk kemudian merenggut lepas dari genggamannya. Pedang tersentak dan melambung tinggi untuk kemudian jatuh ditanah sejauh sepuluh langkah dari pemiliknya.

Itulah gerakan membanting dengan meminjam tenaga lawan, atau dalam bentuk jurus

„mendayung mengikuti arus". Empat orang pengawal lainnya segera menerjang maju, menyerang anak dara itu yang sedang mengejar dan melibatkan angkinnya kearah pengawal yang jatuh berjumpalitan itu, dengan gerakan serangan serentak dengan pedang masing2.

Serangan empat orang pengawal itu merupakan gerakan serentak yang berlainan bentuknya. Seorang membacok kearah kepalanya, seorang lagi menyerang dengan sebuah tusukan kearah dada, Sedangkan dua orang lainnya mengarah lambung dan kakinya dengan tebangan yang berangkai.

Namun menghadapi serangan pedang serentak dari empat pengawal itu, si dara tanggung masih juga sempat mencebirkan bibirnya sambil berseru mengejek. — Lihat, kalau kalian akan menirukan kawanmu berjumpalitan! —

Berseru demikian, angkin merah ditangannya menyambar kearah pedang yang mendatang kearah kepalanya, sambil meloncat tinggi berpusingan dan seakan akan hilang dari pandangan empat orang pengeroyoknya. Tanpa diketahui, sebilah pedang yang mengarah kepalanya dapat dilibat serta disentak-lepas dari genggaman pemiliknya.

Kiranya apa yang dikatakan dara tanggung itu merupakan kenyataan. Dua orang pengawal segera jatuh berjumpalitan menghindari serangan sambaran angkin merah yang sedang mengganas itu, sedangkan dua orang pengawal lainnya meloncat satu langkah surut kebelakang dengan masing2 dipipinya tampak warna merah bekas tamparan dara tanggung itu.

— Tahan sernua senjata! — Bentak Bupati Wirahadinata sambil berlari mendekat, dengan Sujud mengikuti dibelakangnya. Demi mendengar suara itu, para pengawal semua melompat menjauhi tempat pertempuran dan dengan tergopoh - gopoh menyambut kedatangan Wirahadinata, sedangkan gadis tanggung berdiri tenang ditempatnya sambil bertolak pinggang dan bersenyum mengejek.

Dengan pandangan matanya yang bening kearah Wirahadinata. Suatu sikap kenakalan anak gadis tanggung yang tak mengenal rasa takut.

Dara itu berusia kurang lebih 14 tahun. Wajahnya cantik jelita, dengan sepasang anting2nya bermata mutiara dikedua daun telinganya. Rambutnya yang hitam panjang digelung dengan memakai tusuk konde tiga batang yang kesemuanya bertachtakan mutiara pula.

Bibirnya merah mungil dan sepasang matanya yang redup memancarkan sinar bening.

Tubuhnya ramping berisi. Warna kulitnya kuning bersih. Lesung pipit dipipinya yang kemerah2an itu selalu menghias senyumannya. Ia mengenakan baju berlengan panjang dari sutra berwarna merah jambu, dan berkain sarung berwarna hitam dengan sulaman benang emas bergambar kembang2. Melihat sikap kenakalan anak dara tanggung itu Wirahadinata turut bersenyum geli. Ia mengira, bahwa mengamuknya dara tanggung itu, tentunya karena diganggu oleh para pengawalnya. Maka tanpa memberi kesempatan pada para pengawal yang berlari menyambut kedatangannya, ia membentak- bentak dengan marahnya. — Orang2 tak tahu aturan. Begitukah kelakuanmu, jika aku tidak ada ditempat? Ataukah kalian memang sengaja minta kuhajar, agar tahu kesopanan ?

— Ampunilah kami, Gusti! Bukan kami yang tak mengenal aturan akan tetapi anak gadis itu memang sengaja datang untuk membikin keributan disini! — Jawab salah seorang pengawal sambil menyembah. Sebelum Wirahadinata berkata lagi, tiba2 anak dara tanggung itu menyahut dengan suaranya yang nyaring, memotong percakapan mereka.

— Bohong! Siapa sudi ribut2 dengan tikus2 pengecut ! Aku datang untuk minta diantar ketemu dengan Bupati Wirahadinata si kepala rampok, akan tetapi mereka malah mengusirku pergi. Masih untung aku tidak bermaksud membunuh mereka! —

Mendengar ucapan yang sangat kasar itu, Wirahadinata terperanjat sesaat. Siapakah gerangan anak dara yang berani memakinya dengan kasar itu. Apakah keperluannya hingga ia ingin ketemu dengan dirinya? pikir Wirahadinata.

— Akulah Bupati Wirahadinata! Dan siapakah engkau? Ada keperluan apa engkau ingin ketemu dengan diriku?

— Hii . . hihi ….. hiiii ….. kiranya orang yang sudah tua dan menjadi kakek2 inikah ….. dulu yang menjadi kepala rampok. Tak usah kupancung kepalanya, sebentar lagi kau juga akan masuk kubur! — Tanpa menghiraukan pertanyaan Wirahadinata, dara itu memakinya sambil ketawa nyaring, hingga deretan gigi-giginya yang putih kecil bersih laksana mutiara itu nampak jelas.

— Hai! Anak gadis liar! Akan kuhajar mulutmu yang lancang itu! Tiba-tiba Sujud berseru memotong, sambil meloncat maju, dengan kepalan tangan dan meninju kearah muka gadis yang sedang berdiri bertulak pinggang. Tanpa bergerak dari tempatnya anak dara itu menundukkan kepalanya, sambil mengulurkan tangan kirinya untuk menangkap pergelangan tangan Sujud.

Akan tetapi dengan tangkasnya Sujud menarik kembali serangan tinjunya untuk diubah menjadi pukulan siku kanan sebagai gerak tipuan, sedangkan jari jarinya tangan kiri tegang mengembang meluncur kearah muka lawannya. Karena dara itu cepat menundukkan kepalanya, maka serangan jari- jari tangan kiri Sujud hanya mengenai gulungan saja, hingga terlepas dan terurai kebawah sampai diatas betisnya.

Si dara menjerit sambil melompat satu langkah kesamping kiri, — aaaiii …..!. curang kau! —

Melihat kejadian yang lucu tanpa disengaja Sujud menjadi tertawa pula. — Siapa yang curang?

— Serunya sambil ketawa geli. Cepat si dara tanggung membetulkan gelungannya yang lepas sejadi jadinya saja, sementara Sujud masih berdiri sambil ketawa geli. Kedua pipinya dara itu menjadi merah seketika, karena mengira dipermainkan lawannya. Tanpa menunggu siapnya lawan ia mulai menyerang dengan angkin sutranya. Angkin merah ditangan, kini bergerak menyambar nyambar kearah tubuh dan kaki Sujud, sambil berlompatan membuat kacaunya pandangan, sedangkan tangan kirinya bergerak cepat dalam gaya tamparan yang susul menyusul kearah muka Sujud.

Akan tetapi Sujud adalah murid Kyai Dadung Ngawuk yang telah mewarisi jurus-jurus wurushaktinya. Dengan terhuyung-huyung seakan-akan hampir jatuh tertelungkup, untuk kemudian meloncat kesamping dan berjumpalitan, ataupun berjongkok, ia selalu terhindar dari serangan-serangan si dara  

Si dara menjerit sambil melompat satu langkah kesamping i — aaaaaum

……. I! ……… curang kau!!!

tanggung, Ia masih saja mengelak menghindari serangan yang dahsyat dengan langkah-langkah wurushaktinya, dengan tanpa membalas menyerang. Kini sengaja Wirahadinata membiarkan anaknya bertempur melawan gadis nakal itu, untuk melihat lebih jelas akan ilmu aneh yang dimiliki oleh Sujud, serta sekaligus ingin mengetahui kepandaian anak dara itu yang lancang mulut. la mengikuti jalannya pertempuran dengan tak berkedip. Dan ternyata kedua - duanya saling memiliki gerakan - gerakan yang sangat aneh dan sukar untuk diduga sebelumnya. Semula Jaka Wulung dan Jaka Rimang serta para pengawal yang menonton, saling pandang memandang dengan diliputi rasa cemas, demi melihat gerakan Sujud yang lambat dan menyerupai orang yang mabok. Akan tetapi karena selalu nyaris terhindar dari semua serangan, memka segera menyadari bahwa gerakan Sujud adalah gerakan dari ilmu shakti yang mentakjubkan.

Hanya saja, mereka belum melihat kehebatan gerakan serangannya. Karena sejak tadi, baru sekali Sujud menyerang dengan hasil dapat melepaskan gelungannya.

Sedangkan gerakan serangannya tadi, mereka tak melihat dengan jelas. Diam-diam Wirahadinata memuji pula akan ketangkasan dan ilmu yang dimiliki oleh dara tanggung itu.

Dan dibalik gerakan mereka masing-masing yang mentakjubkan itu, ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya pula. Semakin ia memperhatikan, semakin nampak jelas persamaan raut muka dan sinar pandangan antara dara nakal dan Sujud anak angkatnya.

Hanya warna kulitnyalah yang berbeda agak menyolok.

Karena serangan yang bertubi-tubi tak pernah mengenai sasarannya, dara tanggung menjadi gemas dan membanting bantingkan kakinya sambil berseru. — Pengecut curang! Jangan hanya berlompat lompatan menghindar saja, pakailah senjatamu dan seranglah aku. — bentaknya.

— Untuk rnelawanmu, tak perlu aku menggunakan senjata! —

Ayooh, teruskan permainan angkinmu itu. Jika sampai menyentuh bajuku, aku menyerah kalah! — Sujud menjawab sambil mengejek. Kini anak dara itu menjadi lebih marah hingga mukanya menjadi merah padam sampai didaun telinganya.

Dengan sengitnya ia mulai lagi menyerang Sujud. Angkin sutra merahnya menyambar - nyambar laksana gulungan sinar merah menyelubungi tubuh Sujud, namun kembali si-dara tanggung itu menunjukkan muka asam, karena serangannya tak pernah berhasil.

— Cobalah sekali saja, angkinku kau biarkan melilit kakimu, jika kau ingin merasakan berjumpalitan diudara.— Seru dara tanggung dengan membelalakkan matanya, sambil berdiri menghentikan serangannya.

Kedua anak muda yang berlainan jenisnya itu, kini saling berpandangan. Sinar mata mereka

bertemu …… Denyutan jantung masing masing berdebar lebih keras, dan hati masing2 diliputi oleh suatu perasaan yang sangat aneh ... Sepatah katapun tidak dapat keluar dari mulut mereka …… Namun itu semua segera berlalu dalam waktu yang sangat singkat.

Kekerasan hati dan rasa tak mau mengalah cepat menguasai perasaan sidara tanggung.

Dengan semangat yang menyala-nyala penuh dengan dendam dan jengkel ia mengulang serangannya dengan angkin merahnya. Tangan kanannya bergerak dan angkin merahnya mengikuti bergerak menggeliat-geliat laksana ular ganas mencari mangsa. Dengan muka cemberut sambil meludah ditanah, ia melompat mengejar Sujud yang sedang berdiri dengan masih tersenyum. Angkin merahnya menyambar-nyambar lebih ganas lagi.

Akan tetapi seperti tergerak oleh sesuatu daya gaib tiba2 ujud menggagalkan maksudnya untuk menghindari serangan. Rasanya tak sampai hati ia membuat kecewa yang kedua kalinya pada dara tanggung lawannya itu. Ia tetap berdiri dengan masih bersenyum, tanpa bergeser setapakpun, sengaja ia membiarkan angkin merah menyambar kearah kakinya dan melibatnya. Sambil bersenyum puas karena serangannya berhasil si dara tanggung menggerakkan angkin dengan tangan kanannya dalam gaya hentakan yang mentakjubkan ..Tak ayal lagi . tubuh Sujud terhentak melambung tinggi dan

berjumpalitan diudara …

Jaka Wulung, Jaka Rimang dan semua yang menyaksikan, hampir serentak berseru cemas, demi melihat Sujud  terkena libatan angkin merah dan melambung tinggi diudara.

Suatu kecerobohan hingga terlambat menghindari serangan angkin merah si dara tanggung-pikirnya.

Akan tetapi kecemasan pada diri masing2 penonton segera lenyap seketika dan berganti menjadi dibuat ternganga penuh keheranan setelah melihat dengan mata kepala sendiri. .Sujud jatuh berjongkok seperti kera didepan lawannya dengan ketawa terkekeh-kekeh. Selamanya baru sekali ini mereka menyaksikan ketangkasan dua anak remaja yang demikian mengagumkan, demikian juga Wirahadinata.

Si dara tanggung yang tadinya mengira akan dapat membanting lawannya ternyata kini merasa tertipu dan dipermainkan. Wajahnya cepat berubah menjadi asam kembali, dengan bibirnya bergerak gemetar.

Sinar pandangan yang bening cemerlang kini berubah menjadi suram dan matanya berlinang- linang mengembeng mata. Ia lebih mendekati menangis dari pada ketawa.

Ujung angkin sutra merah yang ternyata telah koyak, dipegangnya erat2 dengan tangan kirinya, sambil meremas remas dengan jari2nya yang runcing2 itu.

— Awas kau! Jika eyangku dan kumbang datang, tentu kubalas setimpal! — katanya dengan suara tertahan.

Tiba2 bayangan berkelebat mendatang dengan diiringi suara auman panjang yang menegakkan bulu roma, dan sebelum semua orang dapat bergerak...petapa shakti yang berjubah kuning Cahayabuana, yang namanya selalu menjadi buah tutur orang telah berdiri disamping gadis tanggung dengan diikuti oleh seekor harimau kumbang.

— Eyang! — hanya kata2 itulah yang dapat keluar dari mulut dari dara itu.

Memang benar Ajengan Cahayabuana adanya …… Petapa shakti yang bersemayam di Gunung Tangkuban Perahu—

Datang dan perginya laksana bayangan menghilang. Demikian besar pengaruh wibawanya, hingga semua orang menjadi terpukau, tak dapat membuka mulut. Ia mencium kening cucunya Indah Kumala Wardhani sidara tanggung sambil memegang tangannya dan membimbingnya mendekati Sujud yang tengah berdiri ternganga didepannya.

— Benarkah kau putra angkat Gusti Wirahadinata cucuku sayang? —

Cahayabuana bertanya dengan lemah lembut, memecah kesunyian sambil memegang bahu Sujud, yang olehnya dijawab dengan menganggukkan kepalanya.

— Nakmas Gusti Wirahadinata! Maafkan akan kedatanganku yang tiba tiba ini, yang tentunya nakmas Gustiku telah mengetahui akan maksud kedatanganku, bukan?! — la bertanya dengan merendah tertuju kepada Wirahadinata yang sedang berjalan mendekati. Sambil membungkukkan badannya Wirahadinata menjawab pelan! — Datangnya Bapak Ajengan Cahayabuana membawa obor penerang bagi kami.-

— Ach,.. jangan nakmas Gustiku terlalu merendah diri. Orang tua seperti saya ini tak pantas diperlakukan demikian, — berkata demikian, lalu ia berpaling kepada Sujud.

—Cobalah …. cucuku sayang! Aku ingin melihat lenganmu yang kiri! Dapatkah kau membuka baju lenganmu itu sebentar?! ….

Dengan dibantu oleh ayah angkatnya Wirahadinata. Sujud membuka baju atasnya, dan apa yang dicarinya bertahun-tahun oleh Ajengan Cahayabuana kini nampak jelas dilengan kiri Sujud, ialah.. suatu ciri asli berupa tai lalat warna hitam kemerah2an berbentuk bundar sebesar lbu jari kaki. Lenyaplah segala keragu2an seketika yang selama ini dikandungnya. Sujud dirangkulnya erat2 hingga kepalanya tersandar pada dadanya Ajengan Cahayabuana. Keningnya diciumi berulang kali, untuk melampiaskan rasa rindunya. Cahayabuana yang terkenal sebagai petapa shakti itu, kini dapat pula menangis terisak- isak. Air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya yang telah nampak berkeriput. Namun ia bukan menagis karena sedih, tetapi menangis karena girang yang tidak terhingga bercampur dengan rasa haru.

— Akhirnya . Dewata Yang Maha Agung melimpahkan kemurahannya... — ia berkata dengan terputus-putus pada diri sendiri.

— Yoga! . Yoga Kumala!... Kau adalah cucuku...darah dagingku sendiri ….. ! —

Getaran suara shakti itu menembus menusuk jantung Sujud, hingga ia tersentak sadar seketika dari lamunannya.

— Eyang! — hanya kata itulah yang dapat melontar dari mulutnya. Ingin ia rasanya berkata Iebih banyak lagi, namun tenggorokannya terasa seperti tersumbat.

— Yaaaa...kau adalah Yoga Kumala cucuku! Dan Indah Kumala Wardhani yang berdiri disamping itu adalah adik kandungmu —

Sesaat kemudian kedua remaja saling berpandang2an tanpa berkata ...Namun rasa kasih sayang dan dendam rindu memenuhi lubuk hati masing2. Pancaran pandangan masing2 merupakan daya tarik laksana gunung besi semberani...

Dua remaja saling merangkul dengan eratnya, dengan rnasing-masing menangis terisak-isak ........ — Akang Yoga! —

— Adikku Kumala Wardhani! —

Hanya suara itulah yang terdengar ….. dan semua yang menyaksikan ikut pula terharu. Tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh suara dari seorang yang berdiri dibelakang Ajengan Cahayabuana. — Yoga Kumala adikku! Aku turut bersyukur kepada Dewata Yang Maha Agung serta mengucapkan selamat akan hari kebahagiaannu itu!— Ternyata dengan tanpa diketahui, Senapati Muda Indra Sambada telah pula dibelakang Cahayabuana.

— Terimalah sembahku sebagai sambutan atas kedatangngan Bapak Ajengan Cahayabuana —

— Demikian pula saya yang rendah menghaturkan sembah kepada nakmas Gusti Senapati junjunganku. — Jawab Ajengan Cahayabuana.

Tak lama kemudian mereka semua telah berpindah tempat digedung Kebanjaran Agung Indramayu, sebagai tamu resmi dari Bupati Wirahadinata. Hari kebahagiaan Sujud Yoga Kumala dirayakan dengan pesta pora. Mulai sejak hari itu, nama Sujud di gantinya dengan resmi, sebagaimana nama aslinya, "YOGA KUMALA" putra priyagung Kerajaan Pajajaran cucu dari petapa shakti Tangkuban Perahu Ajengan Cahayabuana ……

Sementara para tamtama pengiring dan punggawa narapraja Kebanjaran Agung Indramayu menikmati hidangan pesta untuk merayakan hari kebahagiaan bertemunya kembali gugusan Tangkubanperahu, tiga orang shakti dengan dikelilingi oleh Jaka Wulung Jaka Rimang, Yoga Kumala, dan Indah Kumala Wardhani asyik bercakap-cakap dengan sangat akrabnya diruang pendapa Gedung Kebanjaran Agung Indramayu.

Dengan dibantu oleh para inang, Gusti Ayu Nyi Wirahadinata berkenan pula melayani sendiri hidangan makanan yang disuguhkan pada tamu tamu akrabnya itu. Percakapan berlangsung dengan ramah tamah dan akrab dalam suasana kekeluargaan. Mereka saling menceritakan kisah jalan hidupnya yang telah dilaluinya.

Indah Kumala Wardhani yang semula mengira, bahwa Wirahadinata adalah orang yang menculik kakak kandungnya dan membunuh ibunya, segera mohon maaf atas kelakuannya yang lancang setelah mengetahui duduk perkaranya yang sebenarnya. Menurut keterangan Eyangnya Cahayabuana pembunuh mendiang Ibunya adalah ternyata Durgawangsa dan Durga Saputra, yang kedua-duanya telah mati terbunuh.

Durgawangsa mati pada kira-kira tiga tahun yang lalu oleh sabetan pedang Tamtama Tumenggung Cakrawirya ( Baca Seri " Pendekar Majapahit" ). Sedangkan Durga Saputra setelah roboh ditangan Yoga Kumala, mati terkena bacokan pedang Bupati Wirahadi-nata. Dan semua itu adalah berkat jerih payah jasa Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada.

— Namun manusia adalah hanya merupakan pelaku2 biasa …… sedangkan Pencipta kisah dan Dalangnya adalah Dewata Yang Maha Agung. — demikianlah Ajengan Cahayabuana memberi wejangannya.

— Watak dan kelakuan kita semua tentunya menjadi dasar uatuk disesuaikan dengan peranan yang diberikan oleh Nya ….. Dewata Yang Maha Agung adalah Maha Penyajang, Maha Kuasa dan Maha Adil ….. Sinar pancaran KebesaranNya akan selalu menerangi buana kecil kita masing masing, apabila kita selalu ingat dan bersujiud kepadaNya ….

Kita semua adalah ummat CiptaanNya .. yang wajib mengabdi dan berbakti padaNya — Petapa shakti Cahayabuana menutup kata wejangannya.

Tiga hari kemudian Ajengan Cahayabuana dengan harimau kumbang piaraannya yang setia, meninggalkan Kebanjaran Agung Indramayu untuk kembali ketempat pertapaannya dilereng Gunung Tangkubanperahu.

Atas permintaan Senapati Indra Sambada sendiri, demi untuk memenuhi janjinya, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani akan diantarkan ketempat pertapaan dilereng Gunung Tangkubanperahu pada hari sepekan kemudian.

— Cucuku Yoga! Ketahuilah, bahwa Gusti Wirahadinata dan Gusti Ayu Nyi Wirahadinata adalah sebagai gantinya ayah bundamu sendiri yang telah mendahului pulang kepangkuan Dewata Yang Maha Agung ….. dan ini semua adalah atas kehendakNya. Demikian pula kau cucuku manis Indah Kumala Wardhani! — Taatilah semua petunjuk dan nasehat orang tua angkatmu itu! — Pesan Cahayabuana sewaktu akan meninggalkan Kebanjaran Agung Indramayu pada kedua cucunya.

— Kepada Gusti Senapati Indra Sambada yang telah sudi mengangkat dan menerima kalian sebagai adik angkatnya, harus pula kalian patuhi akan semua perintah dan wejangannya. —

.*.

— Semoga aji „Panggendaman Rajawana" yang kuwejangkan ini dapat berguna untuk nakmas Gustiku Junjunganku Senapati Indra sebagai penambah ilmu. —

— Aji shakti yang baru saja saya terima dari Bapak Ajengan Cahayabuana sangat besar artinya bagi pengabdianku, demi kejajaan Kerajaan. Tak dapat saya mengutarakan betapa terima kasihku akan kemurahan hati Bapak Ajengan Cahayabuana yang dilunturkan padaku. —

Dalam sebuah gua tempat pertapaan dilereng Gulung Targkuban Perahu terdengar dua orang yang sedang asyik berbicara. Mereka berdua duduk bersila berhadap-hadapan diatas batu putih yang bersih mengkilap, disudut sebuah ruangan yang agak luas. Disudut sebelah mereka terdapat meja batu alam dengan sebuah kitab kuno diatasnya dan sebuah pelita minyak yang tak menyala. Akan tetapi walaupun tanpa penerangan nyala api, ternyata dalam ruangan itu cukup terang karena mendapat pancaran cahaja dari dinding-dinding batu putih alam yang mengkilap mengelilinginya. Atap batu air alam yang runcing2 menjorok bergantungan dan tak teratur itu, menambah terangnya ruangan.

Senapati Muda Manggala Pengawal Raja Indra Sambada sedang menerima wejangan dari Petapa shakti Ajengan Cahayabuana, dengan penuh perhatian.

— Janganlah nakmas Gustiku menyanjung diriku secara berkelebihan. Ilmu yang kuwejangkan hendaknya diterima sebagai tanda bukti pengabdianku ! — Cahayabuana menyahut merendah.

Setelah sejenak ia melanjutkan kata katanya. — Kesudian nakmas Gusti Junjunganku untuk menerima pengabdian dua cucuku kelak, membuat aku lebih tenang untuk sewaktu-waktu memenuhi panggilan Dewata Hyang Maha Agung. Harapanku, semoga kedua cucuku dalam bimbingan Gusti Junjunganku dapat menyambung nyala pelita yang telah padam. —

— Doa restu Bapak Ajengan Cahayabuana semoga selalu menyertaiku agar harapan Bapak menjadi kenyata an. Dan hendaknya Bapak Ajengan Cahayabuana kelak dapat menyaksikan serta turut pula mengenyam kebahagiaan hasil jerih payah cucu2 keturunan Bapak. — Kata2 ini diucapkan oleh Indra Sambada untuk mengelakkan secara langsung akan ucapan Cahayabuana yang menyatakan seakan-akan dalam waktu dekat akan segera meninggalkan dunia fana. Akan tetapi tak diduganya bahwa Ajengan Cahayabuana bahkan menambah penjelasannya tentang alam keabadian yang memang menjadi tujuan utama daripada pengabdian sepanjang masa hidupnya.

— Ketahuilah, nakmas Gusti Junjunganku! Dunia dengan seluruh isinya ini tidak ada yang kekal. Semua akan mengalami gerang, untuk kemudian menjadi musna, kembali kepada Pencipta Nya. Demikian pula kita semua sebagai ummat manusia. Akan tetapi kemusnaan itulah justru merupakan permulaan dari kehidupan abadi. Siapapun yang selalu ingat akan amal kebajikan dalam sepanjang masa hidupnya didunia serta menunjukkan dharma bhaktinya dan selalu bersujud pada Dewata Hyang Maha Agung, merekalah yang kelak berhak akan mengenyam kebahagian abadi. Seorang pujangga kuno dari Pajajaran pernah menulis syair yang memuat suatu petunjuk tentang tempat kebahagiaan abadi sebagai berikut;

Bukan dilembah dalam yang sunyi, Bukan dipuncak gunung yang tinggi, Bukan dimahligai batu pualam,

Dan Bukan ditempat indah semayam,

Jangan dicari digelap malam, Diangkasa yang berawan, Jangan pula cari dilautan,

Ditengah gelombang nan bergulungan, Lama dinanti tak kunjung tiba Kan dikejar aral merintang, Bagai bayang tak terpegang,

Och, Dewata Hyang Maha Kuasa, Hanya disisi Mu bahagia abadi adanya, Bimbinglah hamba menuju kesana. …..

Dengan demikian jelaslah bahwa kebahagiaan yang abadi tidak berada didunia yang ramai ini. Dan hanya dengan bimbingan Dewata Hyang Maha Agung kita dapat, menemukannya. — Cahayabuana melanjutkan wejangannya.

Senapati Indra Sambada dengan chidmad mendengarkan wejangan2 Cahayabuana. Ia dapat meraba, bahwa ilmu petapa shakti darah Pajajaran ini adalah tinggi sekali hingga mendekati sempurna. Kiranya sukar untuk dicarikan bandingannya. Kini ia diam sejenak dengan tertunduk. Tak dapat ia mengejar lebih jauh akan wejang n wejangannya.

Sesaat kemudian Ajengan Cahayahuana melanjutkan bicaranya. — Nakmas Gusti Junjunganku Senapati Indra! Aku percaya bahwa Gustiku dapat menangkap semua isi maksud wejanganku ini. Dan hanya inilah yang dapat kupersembahkan. —

— Duhai, Bapak Ajengan Cahayabuana. Semoga aku kelak pada saatnya dapat mengikuti jejak Bapak Ajengan Cahayabuana, walaupun hanya dengan bekalku yang sangat dangkal ini. —

— Dewata Hyang Maha Agung akan selalu menyertaimu — Ajengan Cahayabuana menjawab pelan sambil tersenyum puas.

Baru saja dua orang shakti itu selesai berwawancara, tiba-tiba Indah Kumala Wardhani berlari- lari mendatangi — Eyang — Aku terpaksa mengganggu Eyang! — Ia berkata tersengal-sengal.

— Yaaa ….. ada apa cucuku manis?! —

— Akang Yoga digigit dan dibelit ular besar dan panjang sekali. Lekaslah Eyang, tolong akang Yoga Kumala, serunya.

Tanpa menjawab seruan cucunya Indah Kumala Wardhani, Ajengan Cahayabuana cepat melangkah meninggalkan ruang semadhinya dengan diikuti oleh Indra Sambada menuju ketempat dimana Yoga Kumala berada.

Kala itu waktu menjelang siang tengah hari. Namun demikian pancaran cahaya matahari masih saja nampak suram tidak bersinar.

*

**

B A G I A N IV.

SEJAK HARI PAGI tadi sang surya masih tEtap bersembunyi dibalik awan tebal yang menyElimuti angkasa. Kemegahan puncak gunung Tangkuban perahu mEnjadi pudar pula, tertutup oleh awan hitam, laksana raksasa yang sedang berduka menanggung derita, karena tak mampu melemparkan beban berat berupa mendung hitam yang melekat di atas kepalanya. Akan tetapi hujanpun tak turun pula. Angin menghembus dengan sangat pelan dan lemah.

Pohon2 besar berdiri tegak tidak bergerak. Hanya daun2 kecil nampak sekali-kali bergoyang bergerak lirih. Alam sekitarnya sunyi sepi dalam suasana penuh ketenangan. Kicau burung2 pun tidak terdengar ramai seperti biasanya. Seakan-akan alam sekitarnya lereng puncak gunung Tangkuban Perahu pada hari itu turut pula mendengarkan wejangan2 petapa shakti Ajengan Cahayabuana.

Telah tiga malam, Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada yang bergelar Pendekar Majapahit, menginap di pertapaan dimana Cahayabuana bersemayam. Ia datang untuk menepati janjinya mengantarkan Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani ketempat Eyangnya. Para tamtama pengiring yang dipimpin oleh Lurah tamtama Jaka Wulung dan Jaka Rimang diperintahkan untuk menunggu disebuah desa yang berada agak jauh di bawah tempat pertapaan. Kesempatan baik dalam pertemuan itu, oleh Indra Sambada dipergunakan juga untuk menambah ilmu kesaktiannya. Sejak pertemuannya yang pertama kali di Linggarjati pada kira2 dua tahun yang lalu, Indra Sambada telah tergerak hatinya untuk ingin berguru pada Ajengan Cahayabuana (Baca Indra Sambada — Pendekar Majapahit —)

Pada waktu itu ia tidak menduga sama sekali, bahwa bubungan akan terjalin demikian eratnya, karena ternyata Sujud adik angkatnya adalah cucu Ajengan Cahayabuana yang bwrnama Yoga Kumala. Bahwa dalam pertemuan yang sekarang ini, selama tiga hari tiga malam telah mendapat wejangan ilmu yang demikian besar artinya, ia sangat bersyukur kepada Dewata Hyang Maha Agung. Walaupun wawancara mereka sudah selesai, akan tetapi suara Indah Kumala Warthani yang sangat tiba2 itu membuat mereka terperanjat sesaat dengan diliputi rasa cemas mereka berdua segera pergi dengan cepatnya menjenguk Yoga Kumala. Ternyata apa yang mereka kuatirkan tidak beralasan sama sekali.

Dengan berjongkok sambil ketawa terkekeh-kekeh, Yoga Kumala memegang kepala ular dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya dengan jari2nya yang dikembangkan, setiap kali menotok ber- ulang2 kebadan ular yang tengah berkelejotan meronta-ronta ingin lepas dari genggaman tangan kanannya. Ekornya yang sangat panjang menggeliat-geliat dengan sangat lemahnya tak mampu membelit tubuh Yoga Kumala kembali. Dengan perlahan lepaslah semua belitan dan kini ular itu jatuh ditanah kelejotan dengan kepalanya masih digenggam oleh Yoga Kumala.

Ular itu besarnya kurang lebih hampir sebetis dan panjangnya lebih dari tiga depa, akan tetapi kepalanya hanya segenggaman .

Ular itu sebangsa ular dumung jantan yang ganas dan berbisa. Warnanya berkembang2 hitam campur kuning merah jambu. Ular semacam itu memang jarang adanya. Ia.sangat berbahaya apabila sedang lapar. Apapun yang dijumpainya langsung diserangnya dengan desisan yang berbisa, untuk kemudian digigitnya dan dibelit untuk membuat mangsanya tidak berdaya sama sekali. Dengan kepalanya yang nampak kecil itu ia dapat menelan bulat2 seekor ayam alas ataupun kelinci besar atau sebangsanya. Dengan mengeluarkan desisannya yang berbisa pula, Yoga Kumala langsung diserangnya, dimana ia sedang asyik ber-main2 dengan Indah Kumala Wardhani adiknya. Dari arah atas sebuah pohon yang rindang ular itu meluncur dengan pesatnya dan langsung menyerang dan menggigit leher Yoga Kumala sambil ekornya membelit-belit tubuh Yoga Kumala. Demi melihat kejadian yang mengerikan itu, Indah Kumata Wardhani cepat2 berlari meminta pertolongan Eyangnya.

Akan tetapi Yoga Kumala adalah murid Kyai Dadung Ngawuk yang pernah diberi makan buah pemunah racun sliakti "tulak tuju" atau yang dinamakan pula "Daru seketi”. Ia jatuh bergulingan ditanah sesaat, karena terperanjat bercampur rasa pedih akan serangan gigitan dilehernya yang secara tiba2 itu. Racun yang merangsang masuk melalui luka gigitan dilehernya, segera punah kembali oleh tulak tuju.

Sedangkan baginya sewaktu masih mengikuti Kyai Dadung Ngawuk daging ular adalah merupakan santapan yang lezat. Terdorong oleh rasa keinginan untuk menikmati kembali daging ular, yang olehnya telah lama dilupakan, kini cepat ia bangkit kembali serta melawannya penuh semangat. Ular yang sangat ganas itu kiranya tidak berdaya melawan totokan jari2 Yoga Kumala. Tulang ular yang ber-ruas2 menjadi terpisah2 sambungannya karena totokan shaktinya Yoga Kumala.

— Ha … haaa...haaaaa ..! Belum kenalkah kau bahwa aku adalah Dadung Ngawuk kecil?! Sudah lama aku tidak merasakan lezatnya daging ular sebangsamu...haaa...haaa!! Ia bicara sambil ketawa terkekeh-kekeh menyeramkan.

— Ayooooh ….. bergeraklah sepuas hatimu …. sebelum kau kukupas dan kupotong-potong dagingmu! — Serunya sambil ketawa ter-kekeh2 dengan masih berjongkok memegang erat2 dalam tangan kanannya kepala ular itu yang semakin lemah gerakannya. Ia girang bukan main, seperti lagaknya anak kecil yang mendapat makanan kesukaannya sehingga tidak mengetahui bahwa Eyangnya Ajengan Cahayabuana dan lndra Sambada kakak angkatnya telah berdiri dengan ternganga dibelakangnya.

— Yoga! — Cahayabuana berseru pula: — Ular itu sangat berbahaya maka cepat2lah kau bunuh!

Walaupun suara itu sangat pelan didengarnya, akan tetapi membuat ia terperanjat juga. Cepat ia memalingkan kepalanya kearah Eyangnya, dengan masih menggenggam erat2 kepala ular ditangan kanannya. — Semua ular tak ada yang berbahaya, Eyang! Dan memang ular ini akan segera aku bunuh, untuk dimasak dagingnya! Jika Eyang belum pernah mencoba, tentu tak akan percaya, bahwa daging ular itu sangat lezat rasanya! Yoga Kumala menjawab dengan sungguh2.

Demi mendengar jawaban cucunya kini Cahayabuana menatapnya dengan penuh rasa heran.

Indra Sambada turut pula tercengang demi mendengar jawaban dari adik angkatnya itu.

— Bukan demikian maksud Ejangmu, Yoga! — Indra memotong pembicaraan untuk menjelaskan, sambil ikut ber-jongkok mendekat: — Yang berbahaja adalah racunnya! — Jika ular itu sampai menggigitmu sukar untuk mencarikan obat pemunah racunnya! —

— Ach Kangmas Indra juga tidak percaya akan kata2 ku. —Tadi ular ini telah menggigit leherku, tetapi tidak apa2?!

— Lihat …. ini .. bekas gigitannya! — Yoga Kumala menunjukkan luka bekas gigitan ular dilehernya dengan telunjuk tangan kirinya.

— Hah?! Betulkah kau telah digigitnya?! — Cahayabuana dan Indra Sambada bertanya serentak sambil saling pandang dengan penuh tanda tanya dan perasaan was2.

— Betul Eyang! Tadi akang Yoga jatuh bergulingan waktu digigitnya dan dibelit2 badannya oleh ular itu!— Indah Kumala Wardhani menyahut bahna tak sabar. Akan tetapi karena ia merasa jijik, maka tak berani ia mendekati kakaknya yang masih juga memegangi ular itu. la berdiri dibelakang Eyangnya sambil berpegangan jubahnya karena takut kalau2 ular itu terlepas dan menggeliat kearahnya.

Tiba2 ular itu berkelejot sekali, dan sesaat kemudian terkulai tak bergerak lagi. Kiranya ibu jari tangan kanan Yoga Kumala menekan lebih keras lagi ke kepala ular yang digenggamnya sehingga hancur dan mati seketika. Ular itu kini baru dilepaskan dari genggamannya serta jatuh terkulai ditanah tak bergerak.

Bahwa hanya dengan tekanan ibu jari tangan kanan, kepala ular itu dapat dihancurkan.

Cahayabuana dan Indra Sambada tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.

— Yoga Kumala! Coba perlihatkan jari2mu itu kepadaku! —

Cahayabuana berkata sambil ikut serta berjongkok dihadapan cucunya dan memegang tangan kanan Yoga Kumala.

Sebagai seorang petapa shakti, cepat ia dapat mengetahui bahwa jari2nya tangan Yoga Kumala rnemang memiliki daya kekuatan yang luar biasa. Hal itu tidak menjadikan heran, karena dengan cara latihan2 yang tekun kekuatan demikian memang dapat dicapai.

Akan tetapi yang lebih mengherankan, ialah Yoga Kumala dapat memunahkan racun ular yang sangat berbahaya. Terang bahwa dilehernya masih nampak jelas adanya bekas gigitan ular, akan tetapi sedikitpun tak menampakkan bahwa ia menderita karena keracunan.

— Apakah Gustiku pernah juga memberikan ilmu pemunah racun ular yang sangat mentakjubkan itu?! — Cahayabuana bertanya kepada Indra Sambada.

— Tidak! Saya sendiripun tidak memiliki ilmu kesaktian yang demikian — jawab Indra dengan wajah masih diliputi rasa heran akan kejadian keajaiban kesaktian Yoga Kumala.

— Cucuku Yoga! Dimanakah kau mendapat ilmu yang aneh serta mentakjubkan itu?! — Mendapat pertanyaan dari Eyangnya itu, Yoga Kumala menjadi diam dan menundukkan kepala,

yang kini mukanya bersemu dadu sampai diujung telinganya. Sinar pandangannya yang tadi berseri2 penuh kegirangan kini lenyap seketika dan berobah menjadi sedih penuh rasa penyesalan. Ia teringat akan pesan kakek Dadung Ngawuk gurunya agar namanya tak usah disebut-sebut. Untuk membohong pada Eyangnya dan kakak angkatnya ia takut dan perasaannya tak mengijinkan. Sedang untuk menjawab dengan sebenarnya ia merasa salah karena tak mematuhi akan pesan gurunya. Demi melihat cucunya tertunduk dan tak mau menjawab sepatah kata Cahayabuana segera dapat menerka pula, bahwa pertanyaannyalah yang menjadikan sebab kesedihan cucunya. Dengan penuh kasih sayang, Cahayabuana memegang dagunya Yoga Kumala dengan tangan kanan untuk didongakkan sedikit keatas, sedang tangan kirinya diletakkan diatas pundak Yoga Kumala cucunya, sambil berkata lembut: — Cucuku sayang Yoga Kumala! Tak usah kau bersedih hati, jika memang kau tidak dapat menjawab pertanyaanku memang banyak orang2 shakti yang tak mau di kenal namanya. Hal demikian adalah wajar. Aku sebagai Eyangmu merasa turut bahagia, bahwa cucuku memiliki ilmu yang tidak dapat dipandang rendah itu. Dan sebagai Eyangmu akupun ingin pula akan menyampaikan rasa terima kasihku yang tak terhingga pada gurumu yang telah sudi memberikan ilmu kesaktian padamu! — Berkata demikian Cahayabuana sambil menatap pandang kearah wajah cucunya dengan diiringi senyurn yang mengandung kasih sayang. Merahlah wajah cucunya, air mata berlinang linang mengalir pelan membasahi pipi Yoga Kumala.

— Marilah cucuku! Kita pulang dan bercakap - cakap diruang tempat semadhiku. Nanti akan kuceritakan tentang orang2 shakti yang memiliki sifat2 keanehan pada diri mereka masing2. Biarlah Mang Jajang memasak ular yang kau tangkap itu. Akupun ingin turut mencicipi daging ular yang menurut katamu sangat lezat! — katanya menghibur.

Dengan membawa bangkai ular, Yoga Kumala mengikuti Eyangnya dan kakaknya angkat kembali memasuki goa, sedangkan Indah Kumala Wardhani telah mendahului berlari larian untuk memanggil Mang Jajang yang sedang berada didapur.

Setelah Yoga Kumala mencuci tangan dan mukanya, serta menyerahkan bangkai ular itu pada Mang Jajang dengan pesan untuk memasaknya, Kumala Wardhani baru mau mendekati kakaknya dengan lagak yang sangat manja dengan memegang lengan kakaknya sambil menyanjung mengagumi.

Kini empat orang duduk bercakap-cakap diruang semadhi sambil menikmati hidangan makanan kecil yang telah disediakan oleh Mang Jajang dengan minuman teh harum yang masih hangat. Diluarpun mulai turun hujan rintik-rintik.

— Yoga Kumala! — Suara Cahayabuana terdengar membuka percakapan. — Jika aku tak salah dengar tadi kau mengaku sebagai Dadung Ngawuk kecil. Adakah si-kakek gundul gila Dadung Ngawuk yang shakti itu pernah menjadi gurumu? —

Pertanyaan Ejangnya yang tidak diduganya itu membuat Yoga Kumala tercengang heran.

Kenalkah Eiangnya dengan kakek Dadung Ngawuk gurunya? Jika seandainya tidak pernah mengenal dari mana Eyangnya dapat memberikan gelar pada gurunya " sikakek gila „ yang shakti. Suatu teka-teki yang ia sendiri tidak dapat menebaknya. Akan tetapi otaknya yang cerdas cepat bekerja. Ia ingin bertanya lebih dulu sebelum memberikan jawaban pada Eyangnya.

— Apakah Eyang pernah kenal dengan orang yang bernama kakek Dadung Ngawuk? Ingin saya mengetahui lebih banyak tentang kisah kakek Dadung Ngawuk itu, Eyang?. Yoga Kumala pura2 bertanya.

Secepat otak Yoga bekerja, secepat itu pula Cahayabuana sudah dapat meraba, bahwa cucunya adalah benar-benar murid dari kakek Dadung Ngawuk. Dari perobahan air muka dan pertanyaan cucunya, ia dapat menarik kesimpulan dengan pasti, bahwa kakek Dadung Ngawuk adalah guru cucunya. Dan tingkah lakunya Yoga Kumala sewaktu membunuh ular itu, menambah keyakinan. Untuk tidak mengecewakan cucunya ia kini mulai bercerita.

— Pada kira-kira sepuluh tahun yang lalu, aku pernah kenal dengan sikakek gundul aneh yang shakti itu. Waktu itu, ia memang sengaja datang kemari untuk ingin bertemu dengan diriku. — Sampai disini Cahayabuana berhenti sesaat, seakan-akan ada sesuatu yang sedang di - ingat2nya.

Dengan duduk bersila serta membuka telinganya lebar2, Yoga Kumala mendengarkan Eyangnya yang sedang bercerita dengan penuh perhatian, Senapati Indra Sambada dan lndah Kumala Wardhani, walaupun tidak mengenal nama Dadung Ngawuk, ingin pula mengetahui kisahnya tentang orang shakti yang aneh itu. Bagi Indra Sambada cerita2 semacam itu sangat digemari, karena dengan demikian ia akan lebih banyak mengetahui tentang orang2 shakti yang kemungkinan besar akan banyak manfaatnya dalam arti menunaikan tugasnya.

Sejenak kemudian, Cahayabuana mulai lagi dengan ceritanya. —

Yaaa .. kira-kira dua puluhan tahun yang telah lalu . pada jaman itu, aku mengenal lima orang shakti yang masing-masing memiliki sifat2nya sendiri2. Watak dan tingkah lakunya sangat berlainan satu sama lain. Lima orang itu tergolong orang-orang shakti yang terkemuka didaerah masing - masing, Hanya ada juga persamaan mereka berlima orang shakti itu. yalah ……umur mereka hampir sebaya ….

Orang pertama bernama Sidik Pamungkas dan terkenal dengan gelarnya Yamadipati. Namanya harum, karena orang itu memiliki sifat-sifat ksatria. Ia senang menolong sesama yang lemah, dan pengaruhnyapun didaerah Mataram sangat luas. Semula ia terkenal sebagai pendekar pedang yang sangat ulung dan sukar untuk mencarikan tandingannya, akan tetapi kemudian ia menjadi lebih terkenal dengan senjata tongkat penjalinnya.

Hanya sayang ia memiliki watak yang sangat kejam tidak mengenal ampun. Setiap orang yang dianggap sebagai musuhnya tentu binasa ditangannya, maka oleh orang-orang digelari dengan nama Yamadipati yang artinya pencabut nyawa. Cara hidupnyapun mencontoh seorang bangsawan.

Segala2nya teratur rapih dan serba ada. Namun belakangan ini nama Sidik Pamungkas tak terdengar lagi hingga sekarang ini. Ada sebagian yang mengatakan bahwa ia kini telah menjadi Wiku atau pendeta dan bersemayam dilereng Gunung Sumbing. Benar tidaknya aku sendiri belum mengetahui dengan pasti.

Dan orang itu yang juga mempunyai aji shakti " Panggendaman Rajawana", Orang kedua adalah Jaka Pandan yang kemudian bergelar Kyai Pandan Gede. Ia adalah saudara muda seperguruan, dengan sidik Pamutigkas. Akan tetapi merupakan saudara seperguruan sifatnya sangat berlainan. Jaka Pandan atau Kyai Pandan Gede orangnya sangat sederhana, bahwa dapat dikatakan hidup dalam kemelaratan, dimana ia berada disitulah tempat tinggalnya.

Ia tak pernah mempunyai tempat tinggal yang tetap. Sedangkan ia adalah orang yang senang mengembara. Lawan ataupun kawan sukar untuk dapat menemuinya. Orangnya senang berkelakar dan selalu bermurah hati. Tapi jelas bahwa orang seperti dia memiliki jiwa besar, sepi ing pamrih. Harta ben- da baginya sama sekali tak ada artinya. Sayang ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita orang, dulu ia pernah mencintai seorang gadis anak bangsawan. Akan tetapi karena orang tua gadis idamannya memperbolehkan untuk diperisterikan oleh Jaka Pandan, maka Jaka Pandan bersumpah tak akan mempunyai istri untuk selama-lamanya.

Ia mengikuti gerak hatinya sendiri dalam hidupnya, artinya tak mau mendengarkan kata2 orang lain. Karena munculnyapun selalu tiba - tiba karena menuruti kehendak sendiri maka ia mendapat gelar "Siluman shakti" Pengaruhnyapun amat luas didaerah seberang timur sepanjang Bengawan.

Orang yang ketiga adalah yang tadi namanya telah kusebut jalah Dadung Ngawuk. Orang itu menurut ceritanya berasal dari daerah Demak. Sejak kecil ia terlunta2, karena ia adalah anak yatim piatu.

Akan tetapi setelah dewasa ia amat shakti. Ia pernah mengembara sampai didaerah Kerajaan Pajajaran sini. Dengan kesaktiannya ia malang melintang, sukar untuk mencarikan lawannya.

Pengaruhnyapun sangat amat luas hingga sampai di perbatasan Banyumas. Akan tetapi sifat2nya hampir menyerupai orang yang tak waras otaknya. Hal ini mungkin disebabkan karena penderitaannya waktu kecilnya atau karena ilmu yang dianutnya. Aku sendiri kurang mengetahui dengan pasti.

Hanya sayang, orang itu hanya mengenal di inya sendiri tanpa mengerti kegunaan akan kesaktiannya. Demikian ia dimabokkan oleh kesaktiannya sendiri, hingga tak pernah berhenti mengejar kemajuan ilmunya saja. Waktu itu semua orang yang pernah dikenalnya diajak bertempur, hanya untuk meyakinkan kesaktiannya sendiri. la tak pernah memperdulikan orang lain, asalkan tak menyinggung pribadinya ataupun menyinggung ilmunya.

Pendek kata sifat2nya tepat jika dinamakan setengah gila. Ia tak pernah mau campur tangan dengan urusan2 kenegaraan ataupun membina ketenteraman seperti orang-orang shakti lainnya.

Diwaktu kosong, ia banyak menyendiri ditempat - tempat sepi untuk melatih kasaktiannya, yang selalu dirahasiakan. Orang yang demikian sungguh sukar untuk diselami arah tujuan dan kehendaknya. Ia dapat menghancurkan batu hanya dengan remasan jari-jarinya. Yang mengherankan iapun memiliki ilmu usadha yang tinggi sekali. Akan tetapi tak pernah dipergunakan untuk menolong sesama, jika tidak ada urusan dengan pribadinya. Darimana ilmu itu didapatnya aku sendiri pun tak mengetahui. Karena ia dulu pernah malang melintang disini, maka akupun mengenalnya. Ciri ciri aslinya pada orang itu kepalanya gundul sejak kecil. Apakah ia kini masih hidup ataupun mati aku tak mengetahuinya. —

Sampai disini Cahayabuana berhenti sejenak sambil menghela nafas panjang serta menatap pandang kearah Yoga Kumala yang duduk dihadapannya, seakan-akan ia ingin menyelami pendapat cucunya. Sewaktu Indra Sambada sedang duduk terpaku mendengarkan cerita Cahayabuana sambil mengagumi akan pengalaman dan pengetahuannya yang sangat luas itu, tiba tiba Yoga Kumala memotong bicara memecah kesunyian. — Ketiga orang shakti yang Eyang ceritakan itu kini masih hidup semua, Eyang?. Dan ketiga-tiganya sayapun telah pernah mengenal bersama-sama kangmas Indra Sambada. Bukankah demikian kangmas?! —

— Ya memang demikian, akan tetapi orang shakti yang ketiga tadi aku terus terang belum

pernah mengenalnya. Bahkan mendengar namanya saja baru sekarang ini. — Indra Sambada menyahut,

— Jika kau telah mengenal orang yang ketiga tadi, berarti kau lebih banyak mengetahui tentang orang orang shakti dari pada aku Yoga!? —

Indra Sambada sengaja menyanjung adik angkatnya, agar ia mengetahui dengan pasti, apakah kesaktiannya yang dimiliki oleh Yoga Kumala itu memang berasal dari Dadung Ngawuk.

Tanpa ditanya lebih lanjut, Yoga Kumala menceritakan tentang pertemuannya dengan kakek Dadung Ngawuk, hingga ia mendapat ilmu "Wuru shakti" dari padanya. Hanya mengenai buah „daru seketi„ ataupun yang disebut ,,tulak tuju" ia sengaja merahasiakan. —

— Pantasan akang Yoga sekarang seringkali bertingkah aneh seperti orang gila, jika sedang berlatih dengan aku, Eyang? Kiranya akang Yoga adalah murid dari kakek Dadung Ngawuk sigila yang shakti itu. — Indah Kumala Wardhani turut memotong percakapan sambil mencebirkan bibirnya menggoda Yoga Kumala.

— Indah, kau jangan mencemohkan kakakmu! Bahwa Dadung Ngawuk mau memberikan ilmunya pada kakakmu adalah suatu kurnia yang luar biasa anehnya. Ilmunyapun sangat tinggi. Kau harus turut bangga karenanya — Cahayabuana cepat menegur cucunya yang selalu gemar menggoda orang lain,

— Eyang, cobalah teruskan dahulu cerita orang2 shakti tadi, saya ingin mengetahuinya tentang kelima orang shakti yang telah dikenal oleh Eyang itu! — tanpa menghiraukan ejekan adiknya Yoga Kumala mendesak Eyangnya untuk melanjutkan ceritanya.

— Baiklah akan aku teruskan dongenganku tentang lima orang shakti yang memiliki sifat2 aneh yang telah kukenal — Cahayabuana mulai lagi dengan ceritanya.

— Orang yang keempat adalah orang yang tinggal menetap di gua Rongkob didaerah pantai selatan. Tidak sembarang orang dapat memasuki guanya, karena gua itu tertutup oleh air laut yang terkenal angker. Pantai laut selatan sangat berlainan dengan pantai Iaut tengah. Tebing2nya sangat terjal dan gelombangnyapun sangat besar bergulung- gulung tak ada hentinya. Konon ceritanya orang2 penduduk sekitar pantai, jauh sebelah selatan dari gua Rongkob yang angker itu, ditengah2 lautan.. adalah sebenarnya istana besar dari Nyi Loro Kidul. Ia adalah raja putri lautan. Yang akan saya ceritakan

ini bukan raja putri itu, tetapi orang shakti aneh penghuni gua Rongkob ….Ia terkenal dengan nama Mbah Duwung. —

Belum juga Cahayabuana selesai dengan ceritanya, tiba2 Indah Kumala Wardhani yang sedari tadi diam mendengarkan memotong bicara.

— Eyang, bagaimana Mbah Duwung itu dapat masuk keguanya, jika mulut gua itu tertutup oleh air laut? Apakah istana dalam lautan itu benar2 ada. Eyang? —

— Heh.. heh.. hehh . Betul juga pertanyaan itu. Hampri2 aku lupa menjelaskan tentang keadaan gua itu. Begini, cucuku manis! Gua itu sebenarnya tak telendam air laut seIuruhnya. Yang tertutup air hanyalah mulut gua itu saja, sedangkan liangnya menanjak keatas hingga dengan demikian didalam gua itu kering sama sekali.

Masuk dan keluarnya Mbah Duwung tentu saja menunggu jika air laut sedang surut, jadi tak sembarangan waktu. Saya sendiri sewaktu belum menyatakan dengan mata kepala sendiri juga tak akan percaya adanya gua yang aneh itu...Sedangkan benar dan tidaknya mengenai adanya istana didasar lautan selatan, aku sendiri tidak mengetahui dengan pasti. Karena itu sepanjang masa hanya merupakan dongengan belaka. dan tak pernah ada orang yang berani menyatakan dengan mata kepala sendiri!

Bahwa Ajengan Cahayabuana berkata tak percaya sebelum menyatakan sendiri, jelas mengandung arti bahwa ia pernah menjelajah dan memasuki gua rongkob itu - pikir Indra Sambada.

Cahayabuana berhenti berbicara sesaat untuk membasahi tenggorokkannya dengan teh hangat yang berada dihadapannya, sambil mempersilahkan pada tamunya Indra Sambada.

— Marilah, nakmas Gustiku Senapati! Kita nikmati dahulu hidangan hangat yang disuguhkan oleh Mang Jajang! —

Mereka berempat segera mulai merahapi makanan yang dihidangkan oleh Mang Jajang dengan nikmatnya.

— Nah, akan aku lanjutkan...Mbah Duwung orangnya gagah perkasa. Ia memiliki watak yang angkuh sekali dan senang menolong sesama demi memamerkan akan kesaktiannya.

Jadi jelas, bahwa pertolongannya itu bukan murni karena perasaan kemanusiaannya, akan tetapi karena senang dipuji orang sebagai seorang shakti yang tanpa tanding. Memang ia memiliki ilmu golok panjang yang sangat mentakjubkan. Jurus-jurus gerakannya menyerupai ilmu pedang tamtama Kerajaan. Karena ia selalu memakai perisai baja dilengan kirinya, maka iapun digelari dengan si tangan besi. — Ia adalah pemuja Nyi Loro Kidul Raja putri lautan itu. Sayang, bahwa orang shakti yang demikian tinggi kurang mengenal akan kebesaran Dewata Hyang. Maha Agung Penciptanya.

Ia mempunyai seorang murid yang dididiknya sejak kecil bernama Talang Pati. Sifat dan wataknyapun tidak menyimpang dari gurunya.

Anehnya Mbah Duwung adaah pembenci kaum wanita.

Sedangkan orang shakti yang kelima yang aku kenal ialah seorang wanita tua yang amat jahat, penganut ilmu hitam

Ia mempunyai dua orang murid laki-laki yang umurnya... tak banyak selisihnya dengan dia sendiri...

—Yaaa...kedua muridnya itu juga merupakan suaminya. Dengan ilmu kesaktiannya yang beraliran hitam itu, ia dapat menyulap tongkat ataupun ranting pohon menjadi ular... dan lebih dari pada itu ..ia dapat membuat orang menjadi buta seketika hanya dengan seruan kata2nya saja.

Kuku-kuku jari2nya dan jari-hari kakinya semua mengandung racun yang sangat berbahaya bagi lawannya.

Kejahatan dan kekejamannya sangat mempengaruhi setiap otang, hingga orang2 memberikan gelar padanya sebagai — jin beracun wanita — dan namanya terkenal dengan Nyai Pudak Muncar, sungguhpun raut mukanya seram dan menakutkan.

Orang2 yang takut padanya memanggil dengan sebutan Raden Ayu Pudak Muncar. Akan tetapi orang itu pada waktu lima belas tahun yang lalu telah mati terbunuh oleh seorang priyagung dari Pajajaran yang namanya tak perlu di sebutkan …..

Dengan meninggalnya Pudak Muncar, dua orang muridnya menggantikan kedudukkannya yang terkutuk itu. Mereka dengan bekal warisan kesaktiannya, kedua duanya menjadi kepala rampok yang memiliki pengaruh luas didaerahnya masing-masing. Sifat2 kejam dengan tanpa batas2 perikemanusiaan masih merajai dirinya. Kuku kuku jari-jarinya merupakan senjatanya yang paling ampuh, karena mengandung racun yang amat berbahaya bagi lawannya. Sedikit saja ter-gores oleh kuku2 mereka dapat mengakibatkan kematian bagi lawan.

Murid yang tertua bernama Tambakraga dan menetap disebuah gua ditengah hutan Wonogiri, jauh diseberang timur sana, sedangkan seorang murid lainnya bernama Tadah Waja yang tinggal dilereng gunung Slamet. Kedua-duanya memiliki kesaktian dan kekebalan terhadap segala racun.

Sedangkan laskar dan murid2nya sangat banyak serta tersebar luas …. Yaaaahh !

Sebenarnya masih banyak lagi orang2 shakti lainnya . . akan tetapi mereka pada umumnya tenang2 saja ditempatnya masing2 sehingga tidak menjadikan buah tutur orang banyak. Kebanyakan dari orang2 yang memiliki kesaktian itu, pada umumnya turut pula membantu menjaga ketenteraman daerah masing2 dengan mendirikan perguruan ilmu kanuragan ataupun membantu para priyagung Kerajaan dalam menunaikan tugasnya, Dan ini semua belum terhitung orang-orang shakti yang memangku jabatan tinggi sebagai priyagung tamtama Kerajaan yang tidak dapat dikatakan sedikit jumlahnya.

Hal ini tentunya nakmas Gustiku Senapati lebih mengetahui dari pada aku yang hanya selalu tinggal digunung yang terpencil ini.

Adapun kelima orang shakti yang telah kuceritakan itu tadi adalah orang2 shakti yang memiliki sifat2 aneh serta gemar mengembara.

Dan kelima orang itu walaupun tidak bersamaan waktunya secara kebetulan pernah berkunjung kemari. Maka jika cucuku Yoga Kumala ataupun Gustiku Senapati kelak dalam perjalanan berjumpa dengan salah seorang dari mereka, aku mengharap kesudiannya untuk menyampaikan salamku. — Cahayabuana tiba2 memutus ceritanya. Suasana menjadi hening sejenak kembali setelah Cahayabuana berhenti dengan kisah yang diceritakan …..

Masing2 turut pula terdiam, karena terbawa oleh lamunannya sendiri2, akan tetapi suasana demikian itu hanya berlalu dalam sekilas pandang saja, karena Yoga Kumala kiranya masih juga merasa kurang puas akan kisah yang telah diuraikan oleh Eyangnya. Terutama mengenai kisah yang diceritakan menyangkut akan gurunya Dadung Ngawuk. Segera ia menggeser duduknya mendesak lebih maju untuk menanyakan apa yang terkandung dalam hatinya. — Maafkan, Eyang! Tadi yang mula2 menceritakan tentang kedatangan kakek Dadung Ngawuk ditempat ini pada kira2 sepuluh tahun yang telah lalu. Tetapi belum juga cerita itu dilanjutkan …..

Eyang hanya terus menceritakan tentang sifat2 dari pada kelima orang shakti itu saja …. Jika sekiranya Eyang tidak berkeberatan, cucunda ingin sekali mengetahui tentang maksud kedatangan kakek Dadung Ngawuk kemari secara keseluruhan, Eyang. Mendapat desakan dari cucunya, Cahayabuana segera menatap pandang sesaat, serta kemudian meng-angguk2kan kepalanya dengan sambil bersenyum, dijawabnya dengan pelan: — Heh…. Heh…. heh

….—

Cucuku Yoga Kumala! ….. Aku gembira dengan pertanyaanmu itu …..Sudah sepantasnya apabila kau ingin mengetahui ….. Baiklah …. akan kusambung lagi ceritaku yang sudah sejenak kuhentikan ini

…—

Ia kembali diam lagi sesaat, dengan mengerutkan keningnya sehingga tiga deretan garis2 kerut keningnya nampak jelas, se-akan2 ada yang sedang diingat2nya kembali. Kemudian mulailah ia bicara kembali memecah kesunyian, sementara Yoga Kumala, Indra Sambada dan Indah Kumala Wardhani telah memasang telinganya dengan sepenuh perhatiannya.

— Pada waktu itu, adikmu Indah Kumala Wardhani masih kecil baru …. berusia kira2 empat tahunan. Selagi aku menidurkan adikmu ditempat ini. Berkata demikian Cahayabuana menunjuk kelantai yang kini sedang diduduki oleh Indra Sambada.

Si Kumbang yang biasanya mendekam dengan tenang dimulut gua, tiba tiba mengaum panjang, dan melesat di kegelapan ….

Waktu itu memang sudah mulai gelap malam ….

Baru saja adikmu kutidurkan diatas lantai, tiba2 Mang Jajang datang dengan tergopoh-gopoh serta mengigil ketakutan sambil berkata peian dan terputus-putus: — Juragan sepuh …. Diluar ….ada …. orang diserang ….. oleh Kumbang! —

Sesungguhnya akuptin telah mendengar sendiri, maka dengan berhati-hati aku manjenguk keluar, sedangkan Mang Jajang kuperintahkan untuk menunggu adikmu Indah ….

Betapa terperanjatku setelah aku mehhat diluar dalam kegelapan malam dengan jelas, bahwa si kumbang telah bergelimpangan sambil me-ngaum2 pendek, seakan - akan merupakan jeritan meminta pertolonganku karena tidak mampu untuk berdiri diatas keempat kakinya lagi ….. Selagi aku mengamat- amati sekali lagi dari jarak yang lebih dekat agar lebih jelas, tiba2 sesosok tubuh seperti bayangan hitam telah berdiri dimukaku dengan mengeluarkan suara tawanya yang terkekeh-kekeh menyeramkan … . dan segera berseru lantang.

— Hai, petapa tua yang durhaka! Jangan sembunyi terus dalam gua, dan berpura-pura suci! Biarpun kau ada didalam kawah gunung ini, niscaya aku akan dapat menemukan juga. Akuilah, sebelum kau mampus ditanganku, bahwa tanganmu telah berleprotan darah yang harus pula kau pertanggung jawabkan dengan jiwamu! Heh . ..heh!

Demi mendengar kata2 ancamannya itu, aku menjadi bingung lagi.

Menurut ingatanku orang gundul yang berdiri dihadapanku dengan tiba tiba itu, belum pernah aku mengenalnya, apalagi berurusan.

Kini tanpa bertanya terlebih dahulu, ia telah melontarkan makian dan ancaman yang sedemikian kejamnya ….. hingga hampir saja aku tak dapat mengendalikan nafsu kemurkaanku …. Tetapi untunglah bahwa Dewata Hyang Maha Agung selalu melimpahkan kemurahanNya padaku, hingga cepat aku dapat menguasai lagi ketenangan dalam diriku …..Cahayabuana berhenti bianra sambil memejamkan matanya sesaat serta menarik nafas panjang dan dalam, kemudian menyambung ceritanya. — Maka pesanku, dalam keadaan bagaimana jugapun cucuku harus dapat tetap bersikap tenang. Karena ketenangan

merupakan pangkal kejernihan berfikir …. Dengan kesopanan yang lajak sebagaimana seorang yang melayani tamu, aku bertanya padanya dengan tanpa menghiraukan akan kemarahannya yang sedang meluap luap itu.

— Kita belum pernah saling mengenal, jika kedatangan saudara memang ada urusan dengan diriku, sudilah singgah sebentar digua pondokku ini, agar dapat dibicarakan dengan terang tentang segala urusan saudara.—

— Maafkan aku Cahayabuana jika ada kekhilafan sampai-sampai tidak mengenal saudara. — Akan tetapi tamu yang sangat asing bagiku ternyata tidak mau mendengarkan kata2ku, bahkan sebaliknya. Ia mencaci maki diriku dengan kata2 yang lebih keji dan tak bisa diterima oleh telinga.

Puncak kemarahannya akhirnya menantang diriku untuk bertempur.

Dalam pengakuannya ia mengaku bernama Ki Dadung Ngawuk . . Nama Dadung Ngawuk memang telah lama aku mendengarnya sebagai seorang shakti yang cukup menggetarkan daerah Pajajaran sini, akan tetapi baru saat itulah aku mengenal orangnya. Maka begitu aku tahu bahwa yang berdiri di depanku itu Dadung Ngawuk adanya, segera aku berlaku merendah demi untuk mencegah terjadinya perkelahian yang tanpa alasan.

Tetapi ia tetap saja pada pendiriannya dan berkepala batu tidak mau menyambut ajakanku dengan tata susila, dan suara tawanya terdengar terkekeh-kekeh bergelak-gelak menyeramkan. Pada saat itu aku mengira bahwa Dadung Ngawuk menderita penyakit ingatan. Maka aku pikir tak ada gunanya untuk melayani lebih lanjut. Tanpa menghiraukan akan kata caciannya yang menjadi jadi itu aku melangkah maju hendak menolong si kumbang terlebih dahulu.

Siapa tahu tiba2 ia bergerak menghadang langkahku dengan serangan totokan jari jari mautnya yang terkenal sangat berbahaya itu. Dengan demikian aku terpaksa harus menghindari demi untuk mencari selamat. Akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan gerakan2 yang amat tangkas serta berbahaya ia merangsang terus dengan jurus2nya yang sangat dahsyat.

Cambuk ular ditangan kanan menyambar-nyambar dan menggeliat liat menyerang seluruh bagian tubuhku, dan masih diiringi dengan sambaran jari-jari tangan kirinya yang mengembang sebagai baja merupakan totokan dan remasan shakti. Kedua kakinya pun turut pula bergerak dengan cepat merupakan serangan rangkaian yang sangat berbahaya bagi diriku. Menghadapi serangan yang dahsyat dan bertubi-tubi, aku menjadi sangat repot dibuatnya. Dengan demikian aku terpaksa harus menghadapi dengan segala kemampuan yang ada pada diriku.

Pertempuran tak dapat dihindarkan lagi. Dari pertempuran yang berlangsung itu, aku dapat mengetahui bahwa ilmu kanuragan yang dimilikinya cukup tinggi. Serangan totokan dan remasan jari tangan kirinya mendatangkan angin sambaran yang dahsyat hingga aku terkesiap sesaat sewaktu

76  

Cambuk ular ditangan kanan menyambar-nyambar dan menggehat-liar menyerang seluruh bagian tubuh dan masih diiringi dengan sambaran- sambaran jari tangan.

merasakan angin sambarannya. Dengan tidak merasa sungkan lagi, aku mulai dengan membalas serangan yang ditancarkan,

Akan tetapi kembali aku menjadi tercengang sendiri, karena ternyata seranganku selalu menemui tempat kosong, gerakan2nya yang sangat aneh seperti lauaknya seorang mabok, ia selalu dapat terhindar dari serangan2ku. Ternyata Dadung Ngawuk yang otaknya tidak waras itu...benar2 mumpuni dalam segala bidang ilmu kanuragan. —

Cahayabuana menghentikan lagi ceritanya, sambil menelan ludah dan batuk2 kecil. Kemudian meraih mangkok yang masih berisi teh dan meneguknya untuk membasahi kerongkongannya yang dirasakan kering itu. sabar — Lalu bagaimana akhir dari pertempuran itu, Eyang?— Indah Kumala Wardhani mendesak tak

. — Indah! Biarlah Eyang bercerita dahulu, dan jangan kau potong2 dengan pertanyaanmu itu! — Yoga Kumala menegur adiknya dengan diiringi pandang mencegah keceriwisannya. Ditegur secara demikian oleh kakaknya, indah Kumala Wardhani menjadi cemberut asam mukanya seketika. Dengan nada ejekan ia menyambut teguran kakaknya.

— Ach...coba saja gurumu yang gila itu sekarang suruh kemari yang tidak mengenal sopan itu...tentu kuhajar dengan tamparanku! —

Karena Yoga Kumala telah mengenal watak adiknya yang selalu tidak mau kalah itu, ia menjadi geli sendiri sehingga tak dapat menahan ketawanya: — Haa haaa -.. haaaah. Aku menegurmu agar tidak mengganggu Eyang yang sedang bercerita, manis! Kenapa kau malah menjadi marah kepadaku yang tanpa alasan? Haaa ….. haaaa ….. ! —

Mendengar percakapan kedua anak yang masih remaja itu, Cahayabuana serta Indra Sambada turut pula tersenyum geli.

— Sudahlah, cucuku manis …..jangan bertengkar terus ….nanti ditertawakan oleh kakakmu Gustiku Indra…. .

Dengarlah …. Eyang akan melanjutkan cerita yang belum habis ini, — Cahayabuana berkata menyapih sambil tersenyum, dan sejenak kemudian melanjutkan lagi ceritanya:

— Pertempuran itu setelah berlangsung agak lama, aku ba ru ingat bahwa gerakan langkahnya yang aneh seperti orang setengah gila itu ternyata langkah2 yang dinamakan —Wuru shakti — sebagaimana aku pernah pula membaca dalam kitab kuno yang berasal dari Hindu dan telah diturunkan oleh seorang prijagung tamtama shakti pada zaman Keraton Mantaram sewaktu Sanjaya Raka I bertahta. Priyagung tam shakti yang membuat turunan kitab berisikan ilmu — Wuru shakti — itu bernama SAKYA ABINRA. Kitab kuno itu kemudian menjadi rebutan para orang2 shakti dizaman ini, dan akhirnya kitab itu menjadi berantakan, terlepas dari ikat penjilidannya. Diantara orang2 shakti yang memperebutkan kitab itu tidak ada yang dapat menguasai seluruhnya.

Ada yang hanya berhasil mendapatkan lembaran bagian pertamanya dan ada pula yang berhasil mendapatkan lembaran2 bagian tengah. Sedangkan saya sendiri pernah membaca pula tapi pada bagian terachir saja.

`Namun hingga sekarang ini lembaran2 lapisan dari kitab kuno itu tetap menjadikan incaran para orang2 shakti, hingga mendatangkan banyak bencana. Entah karena apa, pada waktu yang akhir2 ini tidak nampak iagi kegiatan2 para orang2 shakti untuk menguasai kitab kuno itu lagi.

Mudah2an saja …. perebutan kitab kuno itu berakhir sampai disini …. — Cahayabuana berhenti sejenak untuk menghela nafas dalam ….

— Bapak Ajengan Cahayabuana! Maafkan saya memotong bertanya.

Apakah lembaran2 terachir dari kitab kuno itu masih ada pada Bapak Ajengan Cahayabuana?! — Senapati Indra bertanya dengan memperlihatkan kesungguhan hatin. Kiranya ia sangat tertarik sekali akan isi tulsian tulisan dari pada kitab kuno buah karya SAKYA ABINDRA itu.

— Sabarkanlah, nakmas Gusti Junjunganku! Nanti juga akan kuterangkan dimana lembaran2 bagian dari kitab kuno itu! Jawab Fjahayabuana dengan tenang, kemudian melanjutkan ceritanya lagi.

— Dengan mengingat-ingat apa yang telah pernah aku baca dalam lembaran2 kitab kuno yang telah lama kulupakan, akhirnya aku dapat menundukkan Dadung Ngawuk. Ternyata orang shakti yang kuanggap setengah gila itu memiliki pula sifat2 ksatryanya yang tulus. Belum juga ia terluka berat karena seranganku, telah keburu menyerah kalah. Hal ini tentu saja membuat aku tercengang dengan penuh rasa heran. Tanpa kuminta ia telah berjanji sendiri akan mematuhi semua petunjuk2ku ….. Waktu itu

telah fajar pagi … Jadi pertempuran itu berlangsung agak lama juga …. Setelah pertempuran itu selesai cepat2 aku dengan diikuti oleh Dadung Ngawuk menghampiri si kumbang yang masih saja bergelimpangan ditanah samhil me-ngerang2 kesakitan.

Ternyata kedua tulang kakinya depan hancur terkena remasan jari2 tangannya. Dengan dibantu oleh Dadung gawuk si kumbang akhirnya aku gotong masuk kedalam gua diruang dapur. —

Selanjutnya oleh Cahavabuana diceritakan pula tentang kesaktian dalam ilmu usadha yang dimiliki oleh Dadung Ngawuk. Kedua kaki si kumbang yang tulang2nya telah patah hancur oleh remasan dapat dipulihkan kembali oleh Ki Dadung Ngawuk hanya dalam tempo sepekan. — Suatu ilmu usadha — sangkal putung— yang sangat tinggi dan mentakjubkan — Cahayabuana memuji ketinggian ilmu usadhanya.

Akhirnya ia menceritakan tentang nasib malang yang dialaminya. Menurut cerita yang diutarakan padaku, bahwa istrinya dibunuh oleh orang yang ia sendiri tidak mengetahui siapa pembunuhnya, karena pada saat itu ia baru pergi meninggalkan Demak, untuk mengembara tanpa tujuan.

Menurut dugaannya pembunuh itu tentu orang shakti yang menginginkan lembaran2 bagian kitab kuno yang ada padanya. Enam tahun lamanya ia menjelajah dengan dendam kesumat yang tersimpan dalam rongga dadanya, mencari tahu siapa pembunuh isterinya, yang tak pernah dapat ditemukan.