-->

Pendekar Darah Pajajaran Jilid 1

Jilid 1

B A G I A N I

— Aaaaiiii!!! ……. Curang kau!!? Akan kutampar mukamu dan kucabuti kumismu, jika tidak mau menurut gerakan bantinganku …….—

Anak dara kecil berseru nyaring dan membentak bentak dengan logat dan gaya tingkah lakunya kekanak kanakan.

Sebentar2 ia ketawa nyaring hingga giginya yang putih kecil kecil seeempak laksana mutiara, nampak jelas. Tetapi secepat itu pula wajahnya berubah cemberut yang menunjukkan kemarahan, serta membanting-banting kakinya ditanah.

Ia sedang bergumul dengan seekor harimau kumbang yang cukup besar. Badan harimau itu sepanjang kira-kira dua langkah dengan bulunya yang halus mengkilat berwarna hitam mulus. Harimau kumbang itu mengaum-aum pendek dengan memperlihatkan taringnya yang panjang-panjang dan tajam serta menakutkan. Tetapi anak dara kecil itu sedikitpun tak memperlihatkan rasa takut. Ia memperlakukan harimau itu, tak ubahnya seperti dengan boneka mainannya saja. Telapak tangannya yang kecil berkelebat secepat kilat, menampar kemuka harimau yang sedang mengaum dan tepat mengenai telapuk matanya. klungkin tamparan itu drasakan sakit, mungkin juga tidak, hal itu sukar untuk diperkirakan. Tetapi yang jelas harimau kumbang mengaum sekali lagi dan menundukkan kepalanya, seakan-akan ia mengerti, bahwa gerakannya yang baru saja dilakukan itu salah dan mengakibatkan marahnya si dara kecil.

Dara kecil tersenyum puas. menunjukkan kegirangan hatinya dengan disertai rasa kasih sayangnya yang iba. Tangan kanannya merangkul leher harimau kumbang, sedangkan jarinya tangan kiri yang kecil runcing2 membelai bulu halus yang hitam mengkilat dari kepala si harimau, seakan - akan menyesal akan apa yang baru saja dilakukan. Sang harimau menurut jinak, dan duduk berjongkok dengan kedua kakinya belakang ditarik serta ditekuk rata menempel ketanah.

Ekornya hitam, sepanjang badannya melingkar dan bergerak - gerak dengan matanya dpejamkan, seakan-akan merasakan halusnya berlainan tangan dari dara kecil tadi.

Dara kecil itu berusia kira-kira tujuh tahun. Rambutnya hitam panjang berombak digelung dan diikat erat-erat de-ngan seutas pita sutra warna merah.

Raut mukanya bulat telor dengan sepasang pipinya yang lesung pipit dan kemerah-merahan. Matanya redup dengan kerlingan yang memancarkan sifat kenakalan anak-anak, serta dihiasi dengan sepasang alisnya yang tipis melengkung. Mulutnya kecil dengan bibir tipis mungil. Sepasang daun telinganya dihiasi dengan anting-anting bermata mutiara. Tubuhnya langsing dan warna kulitnya kuning bersih dilengan kanan terdapat tahi lalat, sebuah tanda sejak ia dilahirkan, berwarna merah kehitam- hitaman, berbentuk bundar sebesar ibu jari. Tanda itu nampak jelas sekali, karena lengannya yang halus dan bersih itu telanjang tidak tertutup kain.

Ia hanya memakai baju kutang tak berlengan, berwarna kuning keemasan dari kain sutra, serta berkain sarung berwarna hitam yang dihiasi dengan lukisan kembang2 tersulam dari benang sutra

berwarna kuning keemasan pula. Ikat pinggangnya selebar telapak tangan ….. berwarna merah dari kain tenunan yang lazim dinamakan setagen atau angkin. Sungguhpun belum dewasa, namun wajahnya jelas menampakkan kecantikan yang menggairahkan.

Dikala itu, siang tengah hari. Matahari berada diketinggian diatas kepala, dan memancarkan sinar dengan teriknya. Langit biru membentang, mengatapi bumi, dengan dihiasi oleh awan awan tipis, yang bergantungan dan berpencaran, merupakan bentuk lukisan yang beraneka macam dan berobah robah.

Dahan dahan pohon dengan daun daunnya disekitar tempat itu melambai-lambai terkena tiupan angin yang tidak mengenal berhenti. Dan daun-daun kering yang tidak lagi berpegangan pada rantingnya jatuh berterbangan ditanah.

Tempat itu adalah sebuah dataran luas dengan pohon pohon hutan yang pindang dan berserakan tumbuh liar di lereng Gunung Tangkuban Perahu.

Sekelilingnya merupakan jurang - jurang yang curam, serta menghadapkan kesebuah mulut gua yang cukup lebar. Dengan berlatar belakang tebing cadas yang terjal menjulang tinggi.

Disebelah timur nampak puncak bukit Tunggul yang berdiri megah, dengan lereng - lerengnya yang berpadu dengan lereng Gunung Tangkuban Perahu, laksana dua raksasa yang sedang berjabatan tangan.

Pandangan kesebelah selatan adalah lembah rendah, dengan sawah–sawahnya yang subur serta desa-desa yang terpencar jauh satu dengan yang lainnya. Sungai Citarum nampak pula berliku-liku mengitari lembah tadi dan menambah indahnya pandangan.

Setelah itu pandangan dibatasi dengan terbenturnya pada dataran dataran lereng pcgunungan yang membujur ke arah barat sejauh mata memandang. Sungguh suatu keindahan alam yang sukar untuk dilukiskan dengan sempurna. Demikianlah kemurahan Dewata Yang Maha Agung pada umatNya.

Namun semuanya itu kiranya tidak mempengaruhi si dara kecil yang sedang asyik bermain main dengan harimau kumbangnya.

Lagi pula panas teriknya matahari seakan akan tidak dirasakan.

— Mari kita mulai mengulang lagi permainan yang tadi, kumbang !!!, kata si dara kecil dengan diiringi senyuman, sambil melepaskan rangkulan tangannya dan menepuk nepuk kepala harimau, untuk kemudian berdiri ditengah lapangan. Si harimau seperti telah mengerti apa yang dikehendaki oleh dara kecil. Dengan pelan dan malas ia menjauhi si dara, dan berhenti dalam jarak kira kira ampat langkah darinya.

Dengan bermalasan menggeliatkan dan membalikkan badannya, menghadap pada dara kecil.

Badannya ditarik kebelakang sedikit dan ……. secepat kilat harimau kumbang meloncat menerkam kearah dara kecil. Dengan gerakan tak kalah tangkasnya si dara kecil menyusup dibawah harimau yang meloncat kearahnya, sambil mengulurkan tangannya untuk menangkap kaki depan hariman yang kanan. Dengan tangkas ia membalikkan badannya dan menarik serta melemparkan sang harimau kedepannya.

Harimau kumbang jatuh berguling, tetapi secepat kilat berdiri diatas empat kakinya kembali, serta membalikkan badannya dan mengulangi terkaman seperti tadi.

Dara kecil mengulangi gerakannya lagi, menyambut terkaman harimau dengan menyusupi dibawahnya serta menangkap salah satu kaki depannya dan membantingnya kedepan lagi. Gerakan demikian diulangi hingga berkali-kali dengan suatu gerakan yang semakin lama semakin cepat.

Itulah yang disebut gerakan membanting dengan meminjam tenaga lawan, atau dalam bentuk jurus "mendayung mengikuti arus".

Tiba-tiba teedengar suara tepuk tangan tiga kali dengan diiringi suara panggilan nyaring dari jauh "Indah Kumala ' !!! Memang demikianlah nama dara itu. Kelengkapannya ialah Indah Kumala Wardhani.

Demi mendengar suara panggilan itu. Kumala Wardhani segera memalingkan kepalanya kearah suara tadi dengan menyahut nyaring: "Saya disini, Eyang"!!!!.

Berkata demikian ia berlari menuju kearah suara yang ternyata datangnya dari mulut gua tadi, dengan diikuti oleh si harimau kumbang.

Seorang laki-laki yang telah lanjut usianya, dengan berjubah warna kuning keemasan berdiri diambang pintu gua, Menyambut datangnya anak dara kecil yang dipanggilnya tadi. Rambutnya yang telah memutih seperti kapas diikat kebelakang merupakan sanggul kecil, dan diatas kepalanya melingkar sebuah sisir dari tanduk. Wajahnya yang telah berkeriput bercahaya penuh wibawa. Sepasang matanya bersinar tajam. Namun dibalik keangkeran wajahnya, tersembunyi budi perasaan yang lemah lembut serta kasih sayang terhadap sesama ummat. Ia terkenal dengan nama gelarnya Ajengan Cahaya Buana. Ia seorang petapa shakti yang sering muncul di tengah-tengah rakyat yang sedang tertimpa kemalangan dan penderitaan.

Kesaktiannya mentakjubkan, sehingga datang dan perginya tidak pernah dapat diketahui orang.

Para penjahat jeri demi mendengar namanya.

Kehadirannya Ajengan Cahaya Buana ini tak pernah dapat diduga-duga sebelumnya. Pernah sekali terjadi, seorang penjahat yang sedang merampok sebuah desa dengan anak buahnya, berniat melawan Ajengan Cahaya Buana yang pada waktu itu tiba-tiba muncul menghalang halangi perbuatannya, tetapi dengan tidak diketahui sebab musababnya, penjahat tadi roboh terguling dan kemudian untuk selamanya mengalami cidera menjadi lumpuh kedua kakinya tanpa terluka. Penjahat itu terkenal dengan gelarnya Oraybeureum yang ganas dan shakti.

Kejadian itu menjadi buah tutur orang dari mulut ke mulut dan tersebar luas diseluruh pelosok daerah Pasundan.

Tidak sedikit pula rakyat desa yang sangat miskin, tiba tiba menerima pemberian rejeki berupa uang, beras ataupun pakaian, dengan tidak diketahui, orangnya yang memberi pertolongan itu. Hanya suara mengaumnya seekor harimau dari arah kejauhanlah yang menjadi suatu tanda bahwa Ajengan Cahaya Buana berada disekitar tempat itu.

Rakyat yang mendapat pertolongannya hanya dapat mengucapkan rasa terima kasih seorang diri, tak ubahnya seperti orang yang sedang berdoa saja. Mereka beranggapan bahwa petapa shakti itu dapat menghilang. Tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti tentang petapa sakti itu.

Maka karenanya banyaklah dongengan dongengan rakyat yang aneh-aneh serta bermacam- macam corak dan sifatnya timbul dikalangan rakyat desa daerah Pasundan.

— Cucuku manis, bukankah Eyangmu telah ber-ulang2 mengatakan bahwa waktu siang tengah hari demikian, tidak baik untuk berlatih. Dengan lemah lembut serta penuh rasa kasih sayang Cahaya Buana memperingatkan cucunya Indah Kumala Wardhani.

Tetapi belum habis kata-kata Cahaya Buana, Kumala Wardhani telah menyahut dengan nada suara lantang penuh rasa manja. — Tetapi apa yang harus saya kerjakan, Eyang? Pergi sedikit jauh saja sudah dilarang, apakah saya hanya diharuskan berbaring saja didalam kamar yang gelap itu?

Mendengar bantahan cucunya itu, sedikitpun Ajengan Cahaya Buana tidak mejadi marah, tetapi bahkan memandangnya dengan penuh rasa kasih sayang.

— Bukan demikian maksudku, cucuku manis. Dengarkanlah baik-baik, waktu siang hari begini adalah kurang baik untuk berlatih. Bukankah sebaiknya kau membantu mamangmu didapur dahulu. Baru nanti setelah mata hari condong kebarat, kau dapat mengulang lagi Iatihan itu dibawah penga- wasanku. — Cahaya Buana menjelaskan dengan pelan. — Baiklah Eyang, tetapi nanti setelah kita selesai makan, janganlah Eyang membohongi Kumala,

— dara kecil itu berkata sambil lari masuk kedalam gua dan diikuti oleh si kumbang. Cahaya Buana mengikuti larinya cucunya dengan pa-dangan mata yang penuh rasa kasih sayang serta menghela nafas panjang.

— Ach….. mirip benar ia dengan mendiang ibunya. — Cahaya Buana berkata dalam hati. — Dan seandainya kakaknya berada disini, tentunya ta tidak akan merasa sangat kesepian seperti sekarang ini. - Merenungkan demikian itu, kini hatinya merasa semakin tersayat sayat sedih. Kejadian enam tahun yang lalu, sewaktu kemalangan menimpa keluarga anaknya, terbayang kembali dengan jelasnya.

Penstiwa yang menyedihkan serta penuh dengan penyesalan. Raut wajahnya yang tadi bersih bersinar, kini berubah cepat menjadi suram penuh rasa duka.

Waktu itu Kum tla Wardhani masih berusia satu tahun... Anak menantunya adalah seorang priyagung tamtama dari Kerajaan Pajajaran bernama Darmaku umah, berpangkat Bupati tamtama dan merangkap menjadi kepala daerah Sukabumi, sebuah daerah yang terdekat dengan kota Raja Pajajaran. Ia gugur sebagai pahlawan dimedan pertempuran, sewaktu mengiringkan Sri Baginda Maharaja Baduga dalam perang Bubat dengan meninggalkan dua putra putri.

Ya …… waktu itu. bunga-bunga harum berguguran sebagai pahlawan Kerajaan Pajajaran

……sebagai ksatrya yang menjunjung tinggi sumpah tamtamanya, berbakti kepada keagungan Kerajaan Pajajaran. Berita mengenai malapetaka yang tidak terlupakan itu datangnya dengan tiba-tiba. Dan saat itulah Pajajaran dilanda banjir air mata. Namun kiranya kemalangan yang menimpa keluarga Tumenggung Bupati tamtama Darmakusumah tidak hanya berhenti sampai sekian saja. Didalam suasana yang berkabung, ada pula orang-orang  

— Baiklah Eyang, tetapi nanti setelah kita selesai makan, janganlah Eyang membohongi Kumala, — dara kecil itu berkata sambil lari masuk kedalam gua dan diikuti oleh si kumbang.

yang segera memancing didalam air keruh, ialah mencari keuntungan dengan meninggalkan silat-sifat kemanusiaannya, yah …… bahkan berbuat sebagai pengchianat yang berachlak sangat rendah…..

Mereka itu adalah para perampok yang berpakaian sebagai tamtama Kerajaan Majapahit, dan merampok dirumah rumah para priyagung yang keluarganya sedang dalam keadaan berkabung.

Gedung Kebanjaran Agung Sukabumi, sewaktu dalam keadaan berkabung dirampoknya, bahkan putri Ajengan Cahaya Buana gusti ayu Bupati Darmakusumah dibunuhnya pula.

Kedatangan Cahaya Buana kerumah putrinya yang selalu dengan harimau kumbang piaraannya ternyata telah terlambat. Terlambatnya kedatangannya itulah, yang ia sangat sesalkan... Bahkan dalam pengejaran, hanya berhasil memusnakan dua orang perampok diantara duapuluhan orang itu. Bukan hanya harta benda saja yang dibawa lari oleh para perampok, akan tetapi juga cucu putranya tersayang Yoga Kumala, yang waktu itu baru berusia dua setengah tahun, dibawanya lari puta. Padahal cucu putranya itu diharapkan kelak dapat mewarisi akan kesaktiannya.

Dengan hati yang tersayat-sayat sedih ia membawa jenazah putrinya serta cucu putrinya Indah Kumala Wardhani dengan diikuti oleh mang Jajang pengasuh cucunya, kembali ketempat pertapaannya dilereng Gunung Tangkuban Perahu. Disanalah dekat mulut gua itu, jenazah putrinya dimakamkan dengan ditandai dengan sebuah batu nisan terpahat diatasnya.

Mang Jajang sebagai pengasuh yang setia, turut pula merasakan kesedihan yang tak terhingga yang baru dialami oleh tuannya.

Dalam ia bermuram itu, wajahnya kelihatan kian berkeriput, dengan air mata yang berlinang- linang menggenang dalam pelupuk matanya.

Namun sebagai seorang petapa shakti, dengan cepat ia dapat menguasai dirinya dan menenangkan perasaannya kembali.

Disamping menggembleng cucu putrinya dalarn ilmu kerphanian dan kejasmanian, ia masih selalu berusaha untuk menemukan jejak cucu putranya Yoga Kumala kembali.

Manusia wajib dan harus selalu berichtiar, namun ketentuannya ada ditangan Dewata Yang Maha Agung.

Demikian pula pedoman hidup Ajengan Cahaya Buana. Dengan pelan dan langkah berat ia memasuki gua, untuk mengikuti jejak cucunya.

Dalam lorong gua yang dilalui itu, tidak demikian gelap, dikarenakan adanya jalan yang menembus kearah timur dengan mulutnya yang lebar, sehingga cukup untuk menam-pung sinar pancaran matahari yang jatuh pada tebing-tebing cadas yang terjal itu.

Akan tetapi mulut gua tembusan itu tidak mungkin dapat dimasuki orang dari luar, karena menghadap kearah jurang yang sangat curam, dengan tebing-tebingnya yang dihiasi dengan batu-batu cadas yang licin keras serta terjal menjulang.

Diantara dua mulut gua itu, terdapat jalan simpangan yang membujur kearah utara, selebar satu setengah langkah dengan tingginya kurang dari setinggi orang berdiri. Jalan simpangan itu merupakan lorong yang gelap. Dengan demikian, maka orang yang hendak memasuki terpaksa harus membungkukkan badannya dan harus jalan seorang demi seorang.

Selang kira-kira seratus langkah, jalan itu kemudian menurun kebawah dan sampailah pada sebuah ruangan yang luas dan terang remang-remang. Terangnya ruangan ini dikarenakan pantulan cahaya dari dinding2 batu putih yang mengelilinginya, serta pantulan cahaya dari batu2 air yang menjorok tidak menentu bentuknya dan tidak teratur dari atas dan merupakan bentuk runcing2 ber- gantungan.

Lantai dari ruangan itupun kelihatan putih licin serta bersih, tidak ubahnya seperti lantai dari marmer alam. Disudut ruangan terdapat meja dari batu putih pula dengan kitab2 yang tersusun rapih diatasnya, serta sebuah pelita minyak, sedangkan disebelahnya adalah tempat untuk Cahaya Buana bersemadhi. Dikedua sudut yang bertentangan lainnya adalah tempat untuk Cahaya Buana dan cucu putrinya beristirahat.

Dari ruangan yang cukup lebar itu, masih ada sebuah lorong lagi yang menanjak dan sampai pada ruangan yang luasnya lebih kecil dari ruangan yang pertama. Tetapi ruangan inipun dinding- dinding dan lantainya merupakan batu putih yang dapat memantulkan cahaya. Sebuah lorong jalan yang cukup lebar menembus dan menghubungkan ruangan itu dengan mulut goa lainnya yang menghadap keselatan. Ruangan itu merupakan tempat istirahat mang Jajang serta tempat untuk memasak.

Sedangkan tempat si kumbang adalah disebelah dalam mu!ut gua yang pertama.

Kiranya Kumala Wardhani telah mendahului sampai diruangan belakang dimana Mang Jajang sedang sibuk menyiapkan masakannya.

— Mang Jadiang !! — Suaranya terdengar nyaring — Indah diperintah Eyang untuk membantumu.

— Mamangmu telah hampir selesai, neng! ! jawab Mang Jajang, sambil meletakkan pinggan berisi masakan sayur, serta memalingkan pandangannya kearah Kumala Wardhani. — Tunggu saja sebentar, nanti neneng dapat membantu mengatur menutup meja?!

— Mang Jajang adalah seorang lelaki yang telah lanjut usianya, sekitar enam puluhan. Rambutnya putih dengan kulit mukanya telah berkeriput pula serta giginyapun telah ompong semua. la adalah pengasuh yang sangat setia sejak ayah Kumala Wardhani masih kecil.

Karena selalu mengabdi sebagai pengasuh dilingkungan para bangsawan, maka selalu Mang Jajang bersikap menghormat yang berlebih-lebihan dan tidak pernah meninggalkan istiadat sopan- santun sebagaimana lazimnya seorang abdi terhadap majikannya. Tak heranlah apabila ia selalu memakai istilah „mengatur menutup meja", walaupun yang dimaksudkan adalah mengatur makanan diatas lantai batu yang berada diruangan itu.

Sedang mereka berdua sibuk menyiapkan hidangan, Ajengan Cahaya Buana tiba-tiba telah berada pula didalam ruangan itu.

— Mang Jajang ……. — katanya pelan.

— Harap kau dapat selalu bersabar hati mengasuh cucuku!!—

— Saya mohon restunya juragan Sepuh saja, semoga saya dapat mengasuhnya hingga neng Kumala Wardhani mendapatkan kebahagiaan, serta dapat segera bertemu kembali dengan saudara akangnya Aden Yoga Kumala, — jawab Mang Jajang.

--- Yaaaahhh ….. bantulah aku dengan berdoa siang malam kepada Dewata Yang Maha Agung, mohon belas kasihanNya, agar cucuku Yoga Kumala lekas kembali dengan selamat. Ajengan Cahaya Buana menambahkan.

Berkata demikian Cahaya Buana kembali menghela nafas panjang, dengan wajahnya berobah muram kembali, menunjukkan kesedihan yang tak terhingga.

Sesungguhnya Cahaya Buana mempunyai maksud akan mewariskan kesaktiannya kepada cucu putranya yang tunggal itu, akan tetapi karena tidak kunjung datang, maka ia kini memulai sedikit demi- sedikit melatih cucu putrinya dengan ilmu tata bela diri yang telah diciptakan khusus untuk kaum putri, agar kelak tidak meninggalkan sifat-sifat kewanitaannya. Baik mengelak ataupun menyerang, gerakan jurusnya adalah berlainan bentuknya dengan seorang prija. Demikian pula macam senjata yang dipergunakan.

Gerakan jurus - jurusnya sepintas lalu kelihatan lemah gemulai, tetapi mengandung unsur2 serangan yang cukup berbahaya bagi lawan yang dihadapinya.

Ternyata Indah Kumala Wardhani memiliki bakat dan kecerdasan yang dapat dibanggakan untuk menguasai pelajaran-pelajaran yang diterimanya dari kakeknya. Dalam usia dua belas tahun, Indah Kumala Wardhani telah dapat menangkis senjata tajam lawan dengan angkinnya, serta dapat pula menyerang lawannya dengan lemparan tusuk kondenya yang sangat berbahaya itu. Dalam tata bela diri bertangan kosong ia dapat membanting lawannya bagaimanapun beratnya, tanpa mengeluarkan tenaga banyak, serta pukulan tamparannya yang cukup dahsyat dan sukar untuk dielakkan. Oleh Cahaya Buana ia khusus dibuatkan tiga buah tusuk konde dari perak yang khusus dapat dipergunakan sebagai senjata, dan sehelai angkin berwarna merah sepanjang dua depa, terbuat dari bahan benang sutra alam yang ditenun selebar satu jengkal. Kiranya Cahaya Buana dapat berkenan dihatinya, melihat kepandaian cucu putrinya. Apalagi Mang Jajang, rasa kagum yang tidak terhingga timbul pula dihati Jajang inang pengasuhnya demi melihat ketangkasan dara asuhannya.

Kecantikan wajahnyapun kini nampak bertambah menggairahkan.

Kini Indah Kumala Wardhani dapat dengan mudahnya menuruni jurang-jurang yang curam serta menaiki tebing2 yang terjal tanpa bantuan si kumbang harimau yang setia itu.

Ia dapat pula berlari cepat, seperti berkelebatnya bayangan, dan berloncatan dengan lincahnya, bagaikan kupu-kupu berkejar-kejaran.

Sebagai putri Parahiyangan ia mahir pula memainkan kecapi dengan lagu-lagu asli Sunda yang mengalun menggetarkan perasaan yang mendengarnya. Bahkan meliwati suara petikan kecapi itu, Indah Kumala Wardhani dapat pula mencurahkan isi kalbunya dengan melalui lagu dan nada, melengking mengalun menyayat-nyayat hati pendengarnya.

Diwaktu malam yang sunyi, sering pula ia memainkan kecapinya.

Suara petikan kecapinya mengumandang terdengar sayup sayup dari kejauhan, dengan lagu- lagunya yang sedih memilukan, menyayat-nyayat hati orang-orang desa yang tinggal di sekitar lereng bunung Tangkuban Perahu.

Banyak diantara mereka yang beranggapan, bahwa suara petikan kecapi itu adalah berasal dari putri siluman yang sedang berkuda dipuncak Gunung Tangkuban Perahu..

— Eyang, ijinkanlah Kumala untuk turun Gunung guna mencari akang Yoga Kumala, satu satunya saudara kandung Kumala.

Nada suaranya yang merengek rengek ini, kini hampir tiap hari didengar oleh Cahaya Buana, tetapi selalu dijawabnya pula dengan kata kata lemah lembut untuk menghibur hati cucu putrinya, bahwa ia sendiri yang akan mencarinya hingga ketemu. Rengekan cucunya bertambah hari bukan semakin mereda, akan tetapi malah lebih santer dan menjadi isak tangis yang memilukan hati.

Sewaktu tengah malam dikala Indah Kumala Wardhani dengan jari jarinya yang halus dan mungil meruncing memainkan kecapinya dengan petikan pada tali tali kawatnya dan mengeluarkan nada suara nyaring meraju untuk kemudian berubah menjadi irama yang menyayat nyayat dan memilukan menggema dikesunyian, jauh menyusupi lereng lereng Gunung Tangkuban Perahu, Ajengan Cahaya

Buana tergerak hatinya untuk bersamadhi, dan mematek ajiannya „pameling", demi mendengar alunan suara kecapi cucu putrinya yang tercinta.

Ia duduk bersila disudut dengan kedua belah tangannya bersilang didadanya laksana patung. Angan angannya mengembara mengikuti alunan suara petikan kecapi cucunya. Menjelajah dikejauhan

.....

Kemudian angan angan yang merana ditarik kembali dan kini terpusat didalam rasanya sejati.

Suara petikan kecapi terdengar sayup sayup, untuk kemudian dengan lambat laun lenyap dari pendengarannya sama sekali.

Daya panca inderanya telah tertutup semua ……

Cipta, rasa dan karsanya telah dilebur menjadi satu dalam rasa sejatinya, dan merupakan suana pribadinya sendiri dalam titik puncak kesadaran …..

Sinar terang kini menyelubungi diri pribadinya dan rnenciptakan daya tangkap yang sangat tajam untuk menerima gelombang gelombang getaran yang datang karena pengaruh daya tariknya rasa sejati, dari segenap penyuru mata angin. Ternyata gelombang gelombang getaran yang datang dari arah barat, utara dan selatan maupun dari barat laut dan barat daya, terbentur mengalun dan memantul kembali, karena terdesak oleh kekuatan gelombang gelombang getaran yang datang dari arah timur. Getaran getaran gelornbang ini ditangkap dan dihimpun dalam suana pribadinya sendiri.

Dan tahulah ia kini dengan pasti, bahwa cucu putranya yang tunggal yang telah bertahun tahun dicarinya masih hidup dan saat ini berada jauh diarah timur. Namun dimana nya yang pasti ia tidak dapat mengetahuinya. Segera ia mengakhiri samadhinya dan berkehendak pergi mendatangi sumber gelombang gelombang yang kini berbalik menjadi daya tarik laksana besi sembrani yang sangat kuat …..

--- Cucuku manis, tak usah kau selalu bersedili hati. Eyangmu bermaksud pergi pada tengah malam ini bersama si kumbang, untuk mencari kakak kandungmu.— Ia berkata dengan pelan dan duduk mendekati cucu putrinya yang sedang asyik tenggelam dalarn permainan kecapinya. Demi mendengar kata kata kakeknya, Indah Kumala Wardhani menghentikan gerakan jari jarinya yang sedang menari-nari diatas tali kawat kecapinya, serta membetulkan letak duduknya menghadap kakeknya.

— Pesanku, selama Eyangmu belum pulang, janganlah sekali kali meninagalkan tempat pertapaan ini..–

— Izinkanlah Indah mengikuti perjalanan Eyang, agar dapat membantu apabila Eyang menemui kesukaran dalam perjalanan — Indah Kumala menyahut dengan nada menghadap.

— Oh, ooohhh, jangan …. cucuku manis !!! Jika kau ikut, berarti akan menghambat perjalananku. Kelak apabila kau sudah agak besar, tentu akan menyertai kemana aku pergi. Maka tinggallah sekarang baik-baik dipertapaan dengan mamangmu Jajang. Ulangilah dengan tekun semua pelajaran pelajaran yang telah kuberikan padamu !!! — Ajengan Cahaya Buana berkata seraja menghibur cucunya dengan suara penuh kasih sayang.

-- Tetapi Eyang, bukankah Kumala sekarang sudah besar? — Kumala memotong bicara.

— Memang cucuku Kumala sekarang sudah besar, dan bukan seperti kanak-kanak lagi, akan tetapi belum cukup dewasa, untuk mengatasi rintangan2 yang diujumpai dalam perjalanan. Ketahuilah, cucuku manis, bahwa kini banyak orang2 yang sedang lupa akan kesuciannya. Maka rajin - rajinlah rnengulangi semua pelajaran yang telah kau terima. Kelak jika Eyangmu telah kembali, akan kutambah lebih banyak lagi, agar kau kelak dapat mengatasi segala rintangan apapun yang kau hadapi dalam menuju tercapainya cita-citamu. — Berkata demikian Ajengan Cahaya Buana rnenggeser duduknya untuk lebih dekat lagi, sambil membelai rambut cucu putrinya dengan mesra.

— Berapa lama Eyang harus pergi? — tanya Kumala.

— Eyang akan pergi dalam waktu tidak begitu lama. Dan semoga berhasil menemukan kakakmu Yoga Kumala. Dengan si kumbang disampingku, Eyangmu tidak kuatir akan terlantar dijalan . — sambung kakeknya.

— Tetapi jangan Eyang meninggalkan Kumala terlalu lama !!— Indah Kumala Wardhani menyahta : Jika kali ini Eyang tidak berhasil menemukan akang Yoga Kumala; ijinkanlah Kumala untuk mencari sendiri.— Demi mendengar kata2 cucu putrinya, Cahaya Buana merasa seperti disayat-sayat hatinya.

- Baiklah cucu manis! — Katanya sambil tersenyum dan mencium keningnya — Aku akan

berangkat sekarang, dan pergiku tidak akan lebih dari seratus hari. Taatilah semua pesan pesan2ku. Dan jika aku pulang kembali tanpa membawa hasil, tentu kelak kau kuijinkan turun gunung bersamaku untuk mencari kakakmu Yoga Kumala. -

Setelah Ajengan Cahaya Buana berpamit pada cucu puterinya dan Mang Jajang pengasuhnya, ia segeera berangkat meninggalkan gua pertapaannya dan diikuti oleh si kumbang, harimau piaraannya yang setia …..Tujuannya ialah mengikuti getaran gelombang daya tarik yang datang dari arah timur.

Kumala Wardhani dan Mang Jajang mengantarkan sampai didepan mulut gua sasaat kemudian Cahaya Buana beserta si kumbang telah melesat hilang ditelan oleh gelapnya malam.

Selang beberapa hari Cahaya Buana, telah tiba di lereng Gunung Cerme, dekat pesanggrahan di Linggarjati dimana pertempuran antara lndra Sambada bersama Tumenggung Cakrawirya melawan Kertanatakusumah dan kawan-kawannya sedang berlangsung dengan sengitnya. Dan ditempat itulah getaran gelornbang daya tarik dirasakan semakin kuat. Suatu tanda bahwa kini ia tidak seberapa jauhnya dengan arah yang dituju. Tetapi sifat-sifat kependetaannya yang tidak menghendaki adanya pertumpahan darah, memaksa ia berhenti sejenak untuk mencari tahu, sebab musababnya dari pertempuran itu.

Pandangannya terbentur pada pancaran cahaya dari wajah Indra Sambada yang menunjukan sifat budi luhur serta kebersihan hatinya. Setelah dengan jelas mengetahui tentang duduk persoalannya dan ingat kembali ,akan ramalan pujangga kuno mendiang gurunya, maka dengan aji sakti "panggendamannya" ia menghentikan pertempuran yang sedang berlangsung dengan serunya, serta sekedar memberikan wejangannya singkat untuk menginsyafkan kembali para perwira tamtama dari Pajajaran demi terwujudnya persatuan dan perdamaian di Nuswantara.

Akan tetapi selagi ia memberikan wejangan, terasa olehnya bahwa sumber daya tarik yang tadi dapat dipastikan berada disekitar tempat itu, tiba tiba lenyap tidak dapat lagi oleh rasa pribadinya.

Ternyata turut campurnya dalam urusan itu, memaksakan beralihnya pemusatan tenaga bathin, hingga hilanglah jalinan daya tangkap yang hampir menemukan sumber daya tarik yang dicarinya. (Baca seri Pendekar Majapahit).

Maka cepatlah ia meninggalkan tempat pesanggrahan itu untuk mencari tempat yang sunyi ditengah hutan guna mematek aji pamelingnya kembali.

Baru sebulan kemudian ja dapat menemukan kembali arah sumber gelombang getaran yang dicari-carinya. Tetapi masih saja jauh berada dari dirinya, diarah timur. Dan dengan demikianlah Cahaya Buana sampai di Kota Raja Kerajaan Majapahit. Betapa terkejut dan herannya setelah ternyata sumber gelombang getaran daya tarik itu dirasakan berada dalam Istana Senopaten, kediaman Senopati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada.

Pada hari tengah malam, Cahaya Buana bersama harimau kumbangnya memasuki gedung Senopaten dan melihat Sujud sedang berbaring ditempat tidurnya. Akan tetapi belum juga ia dapat melihat dengan pasti tanda-tanda yang memastikan, bahwa anak yang sedang tidur gelisah itu adalah cucu putranya. Tiba2 para tamtama pengawal yang sedang berjaga meronda berteriak-teriak ramai dan menjadi gaduh demi melihat berkelebatnya si kumbang.

Ajengan Cahaya Buana segera meninggalkan Istana Senopati menggagalkan maksudnya, dan melesat seperti bayangan menghilang dikegelapan malam diikuti oleh si kumbang.

Ia tidak mau mengacaukan suasana, sebelum persoalan yang pelik itu diketahui dengan jelas.

Akan tetapi diluar pengetahu.mja, pengaruh aji sakti pameling itu ternyata membuat Sujud selaiu gelisah dan risau.

Rasa ingin tahu akan asal usulnya bangkit menggelora dalam lubuk sanubarinya. baca „Indra Sambada Pendekar Majapahit”)

Kini Ajengan Cahaya Buana bermaksud akan menemui langsung Sang Senapati Muda Indra Sambada, untuk menanyakan asal usul dari pada anak tanggung yang berada digedung Senapaten itu. Tetapi pada saat itu ternyata Indra Sambada sedang bepergian ke Wonogiri dengan dikawal oleh Lurah Tamtama Jaka Wulung dan Jaka Rimang. Keadaan yang demikian memaksa Cahaya Buana tinggal sementara diluar Kota Raja untuk menantikan dengan bersabar hati hingga lndra Sambada kembali di Senapaten.

Tetapi setelah Cahaya Buana dapat bertemu dengan Indra Sambada, ternyata Sujud telah pergi meninggalkan gedung Senapaten tanpa pamit dan tidak diketahui arah tujuannya.

Namun kini semakin jelas bagi Cahaya Buana, bahwa adik angkat Sang Senapati Indra Samhada yang bernama Sujud besar kemungkinannya adalah cucu putranya Yoga Kumala.

Karena kesanggupan Indra Sambada untuk mencari Sujud hingga ketemu, dan akan menyerahkan sendiri ke Gunung Tangkuban Perahu, maka Ajengan Cahaya Buana segera minta diri untuk kembali ketempat pertapaannya.

Kepada Indra Sambada dijelaskan pula, bahwa cucu putranya mempunyai tanda tahi lalat yang sama dengan cucu putrinya, yang berada di lengan kiri.

Pertemuannya yang singkat dengan Cahaya Buana itu, bagi Indra Sambada sangat berkesan dan penuh arti.

Ia berhasrat besar untuk membalas kunjungannya Cahaya Buana ke tempat pertapaannya dilereng Gunung Tangkuban Perahu, dengan menyerahkan cucu putranya Sujud atau Yoga Kumala, sebagai balas budi akan jasa Ajengan Cahaya Buana sewaktu menyelamatkan jiwanya.

Dan lebih daripada itu, ia berhasrat pula untuk dapat mencicipi sedikit akan ilmu kesaktiannya.

BAGIAN II

Dikala itu, waktu telah larut malam, mendekati terang tanah pagi-pagi buta. Bintang-bintang masih bertaburan menghiasi langit biru yang membentang mengatapi bumi, berkedip-kedip memancarkan cahaya gemerlapan, membuat terang remang-remang. Awan tipis berpencaran jauh diangkasa dengan bentuknya sendiri-sendiri dan berobah-robah, menambah indahnya hiasan Iangit yang membentang cerah.

Berkokoknya ayam telah terdengar pula sahut sahutan dari kandangnya masing-masing dikejauhan.

Dijalan-jalan besar yang silang menyilang di Kota Rajapun masih sunyi.

Pintu-pintu rumah yang berderetan dipinggir jalan masih tertutup rapat-rapat. Angin sepoi-sepoi basa, meniup pelan, dan hawa dingin terasa masuk menusuk tulang-tulang badan.

Dengan langkahnya yang berat dan tidak menentu, seorang anak laki2 tanggung berusia 14 tahun menyelajahi jalan jalan besar di Kota Raja, tanpa menghiraukan sepinya suasana serta hawa dingin yang menusuk sampai pada tulang2nya. Angan-angannya merana jauh tak menentu, hingga hampir saja ia terbentur pada sebuah pohon besar iang berada dipinggir jalan yang dilaluinya. Namun ia berjalan Iurus keutara dengan sebentar-sebentar menengok kebelakang. Gedung Senopaten makin lama makin jauh ditinggalkan.

Ia memakai baju warna merah jambu terbuat dari kain sutra, dengan kancing - kancingnya terbuat dari emas murni, serta bercelana warna biru laut. Masih pula ia mengenakan sarung hijau dengan ber kembang2 tersulam dari benang sutra warna kuning keemasan. Timang ikat pinggangnya terbuat dari emas murni berukirkan burung garuda.

Dikedua belah pergelangan tangannya melingkar sepasang gelang mas, dan sebuah kantong kulit halus selebar satu jengkal tergantung dipinggang sebelah kiri. Dengan berpakaian demikian Sujud menyerupai seorang putra bangsawan yang memegang jabatan tinggi di Kota Raja. Namun rambutnya yang gondrong, kelihatan kusut tak terurus. Wajahnya yang tampan berbentuk bulat telor dengan sepasang alisnya yang tebal, nampak lesu tidak bersinar. Tetap ia masih saja berjalan ….. Ternyata diluar kota lalu lintas telah mulai menunjukkan kesibukannya. Suara percakapan yang diiringi gelak tawa riang dari para pedagang2 desa yang berjalan menuju ke Kota Raja berduyun2, membuat suasana menjadi ramai.

Mungkin karena pakaian yang dikenakan demikian mewah dan menyolok itu, maka para pedagang2 yang berjalan berpapasan selalu membuang waktu sesaat untuk mengamat-amati dengan cermat kearah Sujud. Ada pula diantara mereka yang mem bungkuk2kan badannya, sewaktu berpapasan. Jelas bahwa pakaian yang dikenakan itu menarik perhatian bagi yang melihat.

Mereka berbisik-bisik, mempercakapkan tentang Sujud dengan pendapat dan tafsiran masing2. Kini sang surya telah mulai mengintai dari kejauhan disebelah timur. Cahaya warna merah lembajung membiasi alam semesta, Bintang fajarpun telah lenyap tersapu oleh pancaran cahaya lembayung yang membara itu. Tanda fajar telah mulai menyingsing. Dengan lambat, sedikit demi sedikit sang surya menampakkan seluruh tubuhnya ….. Dan cahaya merah lembajungpun pelan-pelan menjadi cahaya terang benderang ….. Hari kini telah berganti dengan pagi ..—Burung-burung berlintasan diangkasa dari segenap penjuru, sambil bersiul-siul dengan nada dan iramanya sendiri-sendiri, menambah indahnya suasana alam diwaktu pagi itu.

Para petani telah berangkat pula menuju kesawahnya masing-masing dengan membawa alat- alat pertanian mereka, seperti badik, cangkul dll., untuk mengolah tanahnya.

Sujud masih saja terus berjalan, menyusuri tanggul Bengawan kehulu. la masih ingat, bahwa dengan menyusuri kali Bengawan itu, ia dapat tiba di Ngawi sebuah desa kecil yang dahulu ia pernah tinggal dengan orang tua angkatnya, Kyai Tunggul. la masih ingat pula kepada Martiman dan Martinem, dua kanak-kanak yang telah kehilangan ayahnya.

Kini tujuannya akan berkunjung kedesa Trinil, dimana kedua anak-anak itu bertempat tinggal bersama ibunya.

Setelah menemukan tujuannya yang pasti, kini kegelisahan dan kerisauan dalam hatinya menjadi berkurang. Dan perlahan-lahan ia menjadi sadar kembali akan apa yang telah diperbuatnya. Ia ketawa geli sendiri, setelah memperhatikan pakaian yang demikian mewah yang dikenakan itu.

Tidak heranlah apabila tiap-tiap orang yang berpapasan selalu memperhatikan padanya.

Ia berhenti dan duduk sejenak dibawah pohon dipinggir tanggul untuk membuka bajunya serta melipatnya untuk kemudian disimpan dalam kantong kulitnya. Demikian pula sepasang gelang dan timang ikat pinggangnya dimasukkan kedalam kantong itu. Kini ia hanya tinggal mengenakan celana dan berkain sarung saja, sedangkan badannya dibiarkan telanjang begitu saja. Tanda tailalat sebesar ibu jari warna merah kehitaman, nampak jelas di lengan kirinya.

Pada malam harinya ia mengaso digardu tempat orang meronda, dan pagi-pagi buta ia berangkat melanjutkan perjalanannya kembali.

Panas teriknya sang surya yang memancar dari ketinggian diatas kepalanya membuat ia sangat letih dan peluhnya dirasa kan telah membasahi badannya. Perutnya terasa sangat lapar, namun ia tidak perlu kuatir, karena uang yang dibekalnya cukup banyak untuk membeli makanan dalam perjalanan. la menoleh kekanan kiri mencari warung perdesan disekitarnya. Tiba-tiba dilihatnya banyak orang yang sedang berkerumun, berjongkok mengitari lapangan dipinggir sebuah desa yang berada dibawah tanggul sebelah selatan. Suara sorak sorai yang riuh ramai terdengar dari kejauhan. Setelah ia mendekati, ternyata orang-orang itu sedang asyik mengadu ayam jantan dengan bertaruh uang. Orang otang yang berjualan makananpun banyak pula berada disekitar lapangan itu. Sujud segera duduk ditempat orang yang jualan gulai kambing, dan makan nasi gulai dengan lahapnya. Setelah membayar makanan yang telah dipesannya, ia bangkit dan berjalan mendekati tempat orang-orang yang sedang mengadu ayam. Ia bermaksud ingin melihat dari dekat sebentar sambil mengaso. Ia turut pula duduk berjongkok, mengikuti para botoh yang sedang mengadu untung.

Gelak tawa dan sorak sorai orang-orang yang mempunyai harapan untuk menang dalam bertaruh, bercampur dengan cacian dan gumaman orang-orang yang merasa tipis akan kemenangannya, untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat.

Bahkan diantara mereka para botoh telah ada yang menghitung hitung kerugian yang akan dideritanya.

— Ayo, siapa berani lawan taruhan!!!. Sepuluh duabelas. — Teriak seorang yang bertubuh pendek hitam dengan mukanya kasar penuh jerawat.

— Sepuluh tiga belas!!!. — Jawab seorang didepannya dengan suara lantang. — Dan saya pegang atas, siapa berani?

— ia melanjutkan bicaranya untuk menantang taruhan pada orang-orang disekitarnya.

Seorang tampan dan berpakaian rapih menyahut dengan suara tak kalah lantangnya. — Jika ada yang berani mengapit, berapa saja pasti akan kulayani. — Suaranya sangat berpengaruh, ternyata orang- orang banyak segan menghadapi tantangannya, sungguhpun jika ada yang berani mengapit tidak akan menderita kekalahan.

— Biar hancur aku akan tetap bertaruh pada ayamku sendiri! Ayo siapa berani mengapit?

— Ia mengulang tantangannya, dengan muka yang merah padam, menekan rasa marah karena telah menderita kekalahan tidak sedikit jumlahnya.

Ternyata pertarungan ayam jantan yang sedang berlangsung itu kelihatan berat sepihak, tidak seimbang.

Ayam jantan yang berulas wiring gading kuning keemas-emasan telah kehabisan tenaga, dan hanya menunduk menerima patokan dan pukulan taji yang bertubi-tubi dari ayam jantan yang berulas warna hitam kemerah ketnerahan, yang lazimnya disebut wido, sebagai lawannya. Akan tetapi ayam yang berulas wiring gading itu ternyata memang mempunyai daya tahan yang sangat kuat. Ia tetap tidak mau lari meninggalkan gelanggang, walaupun sudah tak dapat lagi membalas serangan lawanya. Kepala dan sayapnya telah berlumuran darah. Sebentar-sebentar kepalanya menyelinap dibawah sayap lawan, untuk menghindari patokan yang bertubi-tubi. Lima enam orang kini sedang berkumpul untuk merundingkan tentang rantangan bertaruh yang baru saja diucapkan oleh orang yang tampan itu.

— Kang Wongso, berapa masih sisa uangmu seluruhnya? — seorang diantara yang berkumpul dan bertubuh pendek tam bertanya.

— Duapuluh uang perak, — jawabnya, sambiI mengawasi jalannya pertarungan yang masih bertangsung.

— Bari …… Berapa uangmu semua? — tanya orang yang bertubuh pendek hitam itu pula.

— Ada, kalau hanya lima puluhan uang perak saja. — Jawab Bari sambil menunjukkan uang perak yang segera dari kantongnya serta ditunjukkan seraya bertanya Dan kau sendiri, berapa kau mau bertaruh. Jo?

— Orang hitam yang penuh dengan jerawat dimukanya itu terkenal dengan namanya Arjo Gepeng. la seorang saudagar hasil bumi di Bojonegoro yang terkenal kaya.

— Sekali ini aku akan menebus kekalahanku, kata Arjo Gepeng dengan nada mantap, seakan- akan ia pasti akan menang.

— Uangku semua akan kutaruhkan untuk melawan tantangan Den Demang Jlagran. Biar ia hancur betul-betul, seperti apa yang dikehendaki sendiri, — katanya melanjutkan. — Siapa lagi mau ikut menumpang pada taruhanku?—

Setelah ia menghitung-hitung semua milik uangnya dan uang orang-orang yang ikut bertaruh dipihaknya, ia segera menongolkan kepalanya, serta berseru lantang, —Den Demang ….. Tantanganmu aku terima.

Lima puluh uang mas dan aku pegang atas!!!—

— Jadi!!! — Jawab orang tampan tadi dengan suara lantang dan sombong. Dialah yang dipanggil dengan sebutan Den Demang. Memang sesungguhnya ia adalah Demang dari desa Jlagran, dan lazimnya orang - orang menamakan dirinya Den Demang Jlagran. Ia adalah orang yang berpengaruh dan terkenal pemberani yang selalu gemar membuat keributan.

Bahkan tidak sedikit, orang yang mengetahui bahwa Den Demang Jlagran adalah orang yang mempunyai pengaruh dikalangan para penjahat. Iapun terkenal pula mempunyai ilmu kekebaIan.

— Awas !! ! Jangan mengingkari !!! Mana uangmu !!! — Bentaknya sombong.

Tetapi Arjo Gepeng kiranya bukan orang yang baru saja terjun digelanggang adu ayam. Dengan cepat ia menyahut sambil ketawa mengejek.

— Ha, ha, ha …… seharusnya malah aku yang bertanya, mana uangrnu !!?—

Mendengar suara Aijo Gepeng yang diiringi pula dengan tawa mengejek itu, Demang Jlagran kelihatan merah padam mukanya. Serta menjawab dengan mata melotot: — Bangsat Gepeng !!!. Ni Uangku !!! — Berkata demikian sambil melemparkan uangnya segenggam, berupa uang perakan dan beberapa uang emas kearah Arjo Gepeng. Tetapi terang bahwa uang yang dilemparkan itu tidak akan lebih nilainya dari sepuluh uang emas.

— Awas !!. Siapa berani mengambil akan kuhancurkan kepalanya!!— ia melanjutkan gertakannya.

Uang jatuh bergemerincingan ditanah dan menggelinding tersebar dtbawah para penonton.

Diantaranya ada pula yang berada didekat Sujud berjongkok. Akan tetapi tidak seorangpun yang berani memungutnya. Mereka pada umumnya jeri menghadapi marahnya Den Dernang Jlagran.

Suasana menjadi tambah gaduh, dan perhatian para penonton kini terpecah menjadi dua. Sebagian masih tetap berpusat pada pertarungan ayam yang masih berlangsung, dan sebagian lagi terpusat pada Demang Jlagran yang sedang melampiaskan kemarahannya dengan kata - kata yang kasar dan lantang.

Tiba - tiba para penonton serentak bersorak ramai dan masing - masing mengeluarkan seruan penuh rasa girang, karena mendengar berkeyoknya ayam jantan berulas wiring gading, terkena pukulan taji dikepalanya oleh lawannya dengan tepat, dan segera lari menghindari ayam lawannya wido. Suatu tanda bahwa ayam wido telah memenangkan pertarungan itu.

Tetapi belum pula para penonton mengakhiri sorak sorainya, tiba-tiba Demang Jlagran meloncat ketengah-tengah lapangan, dan menendang ayam wido yang sedang berkokok karena kemenangannya. Dengan tendangan kaki kanan yang tepat, ayam wido itu terkapar berkelejotan, untuk kemudian tidak bernafas. Kini keadaan menjadi semakin kacau balau.

--- Hai, Demang Jlagran !!. — seru Arjo Gepeng sambil maju menghadapi Demang Jlagran. — Jangan mentang mentang kau seorang Demang, dapat berbuat semena-mena, menurut kehendak nafsumu sendiri!!

--- Berani menendang ayamnya, tentu aku berani pula menghadapi pemiliknya Ayo!! Siapa saja yang merasa tidak puas, boleh maju serentak, uutuk menerima pembagian tinjuku!!!—

Demang Jlagran menentang orang orang yang hadir, dengan pandangan mata yang berapi api sambil menuding nudingkan telunyuknya kearah Arjo Gepeng dan kawan kawannya.

Lima enam orang segera maju serentak dan menyerang Dernang Jlagran dengan pukulan dan tendangan yang dahsyat. Tetapi Demang Jlagran telah siap menghadapi pengeroyokan dari orang orang yang dipimpin oleh Arjo Gepeng. Dengan tangkasnya ia meloncat selangkah kesamping kanan untuk menghindari serangan lawannya sambil mengirim pukulan dengan telapak tangan kirinya ketengkuk salah seorang lawan pengeroyoknya.

Seorang yang terkena pukulan segera jatuh tertelungkup dan tak sadarkan diri. Melihat keadaan demikian, Arjo Gepeng segera menerjang maju dengan gerakan jurus tendangan berangkai kearah lambung kiri. Dan kembali lagi Demang Jlagran menunjukkan ketangkasannya yang mentakjubkan. Ia tidak meloncat menghindari, tetapi malah menyambut tendangan lawan dengan pukulan siku tangannya yang ecgera disusul dengan serangan tebangan telapak tangannya kearah pinggang Arjo Gepeng.

Benar benar gerakan tangkisan Demang Jlagran ini merupakan jurus pengunci serangan lawan yang dahsyat. Tidak ayal Arjo Gepeng jatuh terlentang ditanah, dan bergulingan menghindari datangnya serangan rangkaiannya. Keributan ternyata meluas. karena para botoh yang karah sebagian besar tidak mau juga membayar taruhannya mengikuti jejak Demang Jlagran. Dengan demikian maka perkelahian seru segera terjadi dalam kalangan. Sebagian lagi masih juga ada yang hanya bertarung Iidah, dengan lontaran kata kata makian yang kasar. Sujud masih juga berdiri dengan mulut ternganga demi melihat keributan2 yang sedang berlangsung, dengan tangannya memegang erat erat pada kantong kulitnya yang tergantung dipinggangnya. Orang orang yang tidak mau terlibat dalam perkelahian itu segera meninggalkan lapangan, dan orang orang yang berjualan, segera mengumpulkan dagangannya untuk dibawa menyingkir menjauhi tempat keributan, takut keterjang oleh orang orang yang sedang berkelahi. Jeritan orang orang yang terluka susul menyusul bercampur aduk dengran suara cacian dan sumpahan, serta seruan panggilan tertuju pada orang orang yang melarikan barang ataupun uang yang bukan miliknya.

Empat orang pengikut Arjo Gepeng serentak menerjang Demang Jlagran dengan bersenjata tajam ditangannya masing masing. Dua orang bersenjatakan golok panjang, seorang bersenjatakan parang arit, sedangkan yang seorang lagi bersenjatakan keris. Serangan serentak yang berlawanan arahny, keleher, dada dan Iambung, merupakan serangan maut yang sangat berbahaya bagi Demang Jlagran. Namun lawannya adalah Demang Jlagran bekas murid Tambakraga yang telah mempunyai pengalaman luas. la berseru nyaring sambil melesat meloncat surut kebelakansg satu langkah menghindari semua serangan, dan seraya menghunus kerisnya, serta kembali meloncat menerjang kedepan dalam jurusnya „serangan tusukan berperisai”.

Tangan kirinya merupakan gerakan sampokan sebagai perisai, sedangkan keris terhunus ditangan kanannya meluncur secepat kilat dan bersarang pada lambung kiri lawan yang terlambat mengelak. Jerit ngeri terdengar.

Daah menyembur dari Iambung kiri karena kena tusukan keris Demang Jlagran. Seorang pengeroiok tadi terkulai ditanah dan tak bernapas lagi. Demi melihat salah seorang kawannya mati terkena tusukan keg is Demang Jlagran, mereka segera meloncat surut kebelakang dua langkah, untuk kemudian .Menjauhi lawannya karena merasa jeri.

— Ayo …… siapa yang akan menuntut bela, ini Demang Jlagran ! !

Berkata demikian Demang Jlagran sambil menginjak dengan kaki kirinya ketubuh orang yang telah menjadi mayat tadi, dengan mata yang bernyala nyala. Orang-orang lari tunggang langgang meninggalkan lapangan. Takut akan mengamuknya Demang Jlagran yang telah terkenal kebal dan bersifat kejam. Demikian pula Sujud tidak ketinggalan pula. Melihat kejadian yang ngeri itu, ia tak tahan, dan menutup matanya dengan kedua tangannya, sambil membalikkan badannya akan meninggalkan tempat keributan itu. Tetapi tiba ttba Demang Jlagran dengan tangkas meloncat dan menghadangnya, serta merebut kantong kulit yang tergantung pada pinggangnya dengan tangan kiri, sambal membentak lantang ! Hai, serahkan kantongmu yang bagus itu, akan kuperiksa isinya !

Dengan tak menjawab Sujud memukul pergelangan tangan kiri Demang Jlagran sambil meloncat kesamping kanan, untuk mempertahankan kantong miliknya yang erat erat tergantung pada ikat pinggangnya.

Demang Jlagran terkejut. Dilepaskanlah pegangan tangan kirinya pada kantong kulit, sambil berseru --- Bangsat …. Anak bedebah….. Berani kau menentang, heh ….. Berkata demikian Demang Jlagran menerjang kearah Sujud sambil melancarkan serangan tinju kearah pelipisnya.

Cepat Sujud menundukkan kepalanya untuk menghindari serangan tinju yang hampir bersarang pada pelipisnya, sambil berusaha untuk lari menjauhi orang yang sedang kalap. Akan tetapi belun juga ia dapat melangkahkan kakinya untuk rnenghindar, kaki Demang jlagran telah menerjang dengan gerakan jurus berpusing menutup langkah lawan.

Sambil berjongkok diatas kaki kiri, kaki kanannya berputar menyerampang kaki Sujud yang akan melangkah lari. Tak ayal lagi. Sujud segera jatuh tersungkur, dan kepalanya terbentur pada batu ditanah. Kiranya serangan itu tidak hanya berbenti sampai disitu. Pergelangan tangan Sujud yang masih dalam keadaan jatuh tersungkur, cepat dicengkerami dengan tangan kiri. Ujung keris ditangan kanannya ditempelkan kepunggung Sujud, sambil membentak, — Tidak peduli kau anak setan jika kau berani bergerak, kerisku akan menembus sampai kedadamu !!! — Ayo serahkan kantong kulitmu!! !—

Dalam keadaan yang demikian, Sujud diam tak berani bergerak. Namun ia tetap berkeras kepala tidak mau menyerahkan kantong kulitnya dan tidak mau menjawab bentakan-Demang Jlagran. Akan tetapi sebelum Demang Jlagran dapat merebut kantong kulit Sujud, tiba-tiba seorang bermuka bengis serta bercambang bawuk yang lengannya kutung sebelah, menyerang dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai tangan kanan Demang Jlagran yang sedang memegang keris.

Serangan tendangan itu sangat keras dan datangnya secepat kilat dalam gerak bentuk jurus

„jlontrotan" atau tendangan dari jarak jauh yang dilancarkan sambil meloncat, Keris lepas dari genggaman dan terpental jatuh ditanah dalam diarak tiga langkah, dari pemiliknya. Menanggapi serangan yang tiba tiba itu, Demang Jlagran berseru terkejut. Ia meloncat surut kebelakang sambil melepaskan tangan Sujud yang tadi dipegangnya. Ternyata orang bertangan satu itu sangat tangkas gerakannya. Serangan tinjunya menyusul menerjang kepala Demang Jlagran yang sedang surut kebelakang dan belum sampai berpijak ditanah. Terkena pukulan tinju dikepalanya, Demang Jlagran meerasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang, untuk kemudian terguling ditanah.

Sujud yang sedang jatuh tertelungkup, setelah merasa tangannya terlepas dari pegangan Demang Jlagran, cepat bergerak untuk bangkit, tetapi sebelum dapat berdiri tegak, tengkuknya telah terpukul oleh orang yang bertangan satu, dengan pukulan tebangan telapak tangan. Tanah yang dipijaknya dan orang orang yang berada disekelilingnya dirasakan berputaran... pandangannya kabur dan berkunang kunang ........

Dengan tidak terasa ia jatuh terkulai kembali dan tidak sadarkan diri. Orang-orangnya semula mengira bahwa penyerang Demang Jlagran yang bertangan satu itu adalah orang tuanya daripada anak tanggung ataupun pengasuhnya. Tetapi dugaannya meleset. Mereka hanya berdiri ternganga, tidak tahu apa kehendak orang bertangan satu. Sebelum orang orang dapat berbuat sesuatu, dan Demang Jlagranpun belum bangkit kembali, orang bertangan satu telah rnenyambar badan Sujud dan menaruhnya dipundak kiri, untuk kemudian melesat berlari sambil menggendong Sujud, meninggalkan lapangan.

Pada saat orang bertangan satu tadi melesat melarikan diri, Demang Jlagran telah bangkit kembali dan lari mengejar, sambll berseru kepada kawan2nya : — Kejar dan tangkap si tangan buntung. Empat orang segera mengikuti lari serentak, ikut mengejar larinya orang, yang bertangan satu yang membawa sujud dalam pondongannya. Akan tetapi berat badan Sujud diatas pundaknya, seakan-akan tidak mempengaruhi kecepatan larinya yang bagaikan berkelebatnya bayangan. Waktu yang hanya sejenak, kiranya telah cukup bagi orang yang bertangan satu itu, untuk membuat jarak antara dengan para pengejar cukup jauh. Sehiggga tidak mungkin para pengejar dapat menangkapnya.

Waktu itu …… senja baru saja berlalu ….. dan hari mulai gelap samar-samar Awan yang

menggantung diangkasa kian lama, semakin tebal, dan sinar cahaya berkedipnya bintang bintang, kini tidak mampu menembus awan gelap yang demikian tebalnya. Gelap samar-samar kini berubah menjadi gelap gulita, hingga sukar untuk membeda-bedakan bentuk benda2 yang hampir sama besarnya.

Menganggap bahwa dirinya telah aman dari kejaran orang-orangnya Demang Jlagran, maka larinyapun dikurangi kecepatannya. Jarak antara dirinya dengan para pengejar semakin jauh tertinggal di belakang.

Dengan sangat kasarnya, orang bertangan satu itu membanting Sujud ditanah diatas pematang ditengah-tengah tegalan. Serta duduk melangkah dipunggungnya Sujud yang belum sadarkan diri.

Ia melepaskan cambuk yang panjangnya kira kira satu setengah depa dari pinggangnya, untuk mengikat erat kedua belah tangannya Sujud dengan ujung cambuk itu. Ia mengerjakan ikatan yang demikian erat itu hanya dengan sebelah-tangannya yang dibantu dengan gigitan mulutnya. Akan tetapi demikian cepat dan cermat, tidak ubahnya seperti orang biasa mengerjakan dengan kedua belah tangannya. Setelah yakin bahwa ikatan itu cukup kuat, maka baru ia bangkit dari duduknya dengan memegang gagang cambuknya erat - erat, sambil menengok kekanan kekiri, seakan-akan kuatir akan diketahui orang, ataupun kuatir akan datangnya pengejar. Ternyata kegelapan malam itu banyak membantunya, karena para pengejar telah kehilangan jejak buruannya.

Sebentar sebentar terdengar guruh guntur menggelegar diangkasa dengan diselingi suaranya kilat yang menyambar susul menyusul.

Hujan mulai turun dengan derasnya. Laksana air bah yang tumpah dari langit. Karena derasnya air hujan, Sujud tersentak sadar kembali dan dengan susah payah karena tangannya terbelenggu ia bangkit berdiri. Seluruh badannya basah kuyup. Juga orang yang bertangan satu.

Melihat Sujud sadarkan diri, ia ketawa puas dan lari menuju ketepi desa sambil menyeret Sujud dengan menarik pada cambuknya.

Dalam keadaan terpaksa dan tidak berdaya sama sekali Sujud lari sempoyongan mengikuti.

Rintihan karena merasakan sakit seluruh tubuhnya tidak tertahankan. Dalam kegelapan dan hujan yang tak kunjung berhenti itu, Sujud jatuh bangun sambil berlari terus. Orang yang bertangan sebelah itu ternyata tidak mempunyai belas kasihan sedikitpun. Sujud diseretnya terus sambil berlari. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan badannya basah kuyup serta berlepotan tanah, Sujud akhirnya jatuh terperosok dibawah pohon yang berada dipinggir sebuah desa, dimana orang bertangan satu itu telah berdiri didepannya dengan masih memegang erat pada gagang cambuknya yang ditariknya lebih dekat lagi dan kemudian membiarkan Sujud tersungkur ditanah. Hujan masih saja turun semakin deras. Kilat sebentar - sebentar kelihatan dan kedengaran menggelegar dengan cahayanya yang berkilauan, disusul dengan suara guntur yang gemuruh mengumandang diangkasa.

Orang bertangan satu kini mendekati Sujud dengan berjongkok, sambil mengusap mukanya yang basah kuyup oleh air hujan dengan siku tangannya, yang hanya sebelah. Diperlakukan demikian, Sujud menunjukkan silat yang kepala. Tak mau ia menangis merengek rengek. la percaya bahwa tangisnya tidak akan mengurangi siksaannya.

— Pak Buntung!!. Mengapa aku kau belenggu dan kau seret terus?? — tanyanya, dengan masih tengkurap ditanah.

— Kurang ajar!!,— desisnya: — Berani kau memanggilku dengan Pak Buntung!! — Ha, ha, ha

....... !! Dasar anak bandel !! Sekali lagi kau memanggil demikian, aku sobek mulutmu yang lancang itu!!


Orang bertangan satu menjawab dengan kasar dan ketawa mengejek

— Habis, aku harus panggil apa?, — Sujud membantah, dengan tidak menghiraukan sakit akatt pukulan.

--- Panggillah aku dengan Tuan Saputra . . . yaaahhh . ..Gusti Durga Saputra tahu!!l!?, jawab orang bertangan satu dengan kasarnya.

— Bukankah kau anak dari Buputi Wirahadinata yang bernama Sujud?

Yang sekarang menjadi adik angkat Senopati Indra?, ia melanjutkan bertanya.

--- Memang aku Sujud adik angkat kakang Senopati Indra, …… tetapi mengapa kau membelenggu aku?, Sujud menjawab sambil bertanya.

— Cukup!!! Diam!!!! Jawabnya singkat.

Tahukah bahwa yang membuat lenganku yang sebelah kutung adaIah kakakmu bersama Bapakmu dengan gerombolannya?. Nahhh ….. jika kau sudah tahu, sekarang aku akan membalas dendam pada Bapakmu terlebih dahulu. Dengan kau ditanganku, tentu semua perintahku akan diturut. Mengerti !!!!.

Durga Saputra menjelaskan dengan diiringi ketawa mengejek, karena merasa bahwa ia tentu akan berhasil membalas dendam pada Wirahadinata dan Indra Sambada.

----Haaa,. haaaa, dan setelah Bapakmu dan kakakmu kucincang, baru nanti jatuh giliranmu

sendiri. Atau, kau tak usah aku bunuh tetapi kukutungi kedua kelah lenganmu, saja ! !

— Sungguh kata-kata itu cukup untuk membuat bulu tengkuk Sujud berdiri, tetapi ia tidak mau memperlihatkan takutnya.

Dengan beraninya ia berkata lantang Kau akan membunuh kakang Indra? Orang seperti kau

yang berlengan satu tidak mungkin dapat mengalahkan kakang Indra.  

— Kurang ajar desisnya. — Berani kau manggilku dengan Pak Buntung ! ! ? — Ha, ha, ha, ha ! Dasar anak mbandel ! ! Sekali lagi kau mem inggil demikian, aku sobek mulutmu yang lancang itu

Kau sendiri yang akan mati dengan kepala hancur berantakan, terkena pukulannya, sebelum kau dapat menyentuh bajunya!!! ----

Apa ???? Plak plak!!!! — Tamparan tangan Durga Saputra bersarang dipipi Sujud dua kali. Dan dirasakan cukup pedih.

— Tutup mulutmu !!!! bentaknya kasar — Sebentar setelah hujan berhenti kau akan kuseret lagi, sampai setengah mampus!!!!! Tahu???

— Orang yang bertangan satu itu memang benar bernama Saputra adanya. Nama lengkapnya Durga Saputra.

Ia adalah adik kandung dari Durgawangsa yang pernah menjadi Patih gadungan bergelar Lingganata di Kabupaten Indramayu, dan telah mati terpenggal kepalanya oleh Tumenggung tamtama Cakrawirya dalam pertempuran di Kabanyaran Agung Indramayu. Dimana ia sendiri mendapat cidera patah hancur tulang tangan kanannya, karena dahsyatnya remasan cengkeraman Indra Sambada: Akhirnya terpaksa dikutungi sewaktu ia dirawat dalam penjara Kota Raja sebagai nara pidana.

Wajahnya dahulu tampan. Setelah lengannya kutung sebelah, cambang bawuknya dibiarkan tumbuh melebat yang tak terawat itu. Mukanya berubah menjadi bengis dan kasar mengandung rasa dendam. Ia tahu bahwa yang memimpin pasukan tamtama Kerajaan waktu itu adalah Indra Sambada yang sekarang menjabat Senapati Muda di Kota Raja. Dan ia tahu pula bahwa gerakan pembersihan itu dilakukan atas petunjuk dari Bupati Wirahadinata, yang sekarang telah diangkat kembali menjadi Bupati di Indramayu. (Baca: Seri Pendeka• Majapahit") —

Akan tetapi untuk membalas dendam kesumat yang terpendam dalam hatinya secara langsung menghadapi Indra Sambada dan Wirahadinata tidak akan mampu dan merasa takut. Maka demi melihat Sujud dalam perjalanan di desa Sumberrejo adalah suatu kesempatan baginya yang baik untuk melaksanakan maksudnya, dengan menggunakan Sujud sebagai perisai.

Ia belum lama berselang telah dibebaskan dari penjara di Kota Raja, dengan mendapat ampunan setelah lengan kanannya dikutungi. Karena pandainya merengek-rengek mohon ampun dengan janji- janji yang muluk2, bahwa ia tidak akan melakukan kejahatan lagi. Maka ia segera dibebaskan dari hukumannya. Tetapi kiranya sifat2 sebagai penjahat telah melekat pada kulit dagingnya. Semua janjinya hanya diucapkan demi untuk mencari jalan selamat, agar kembali dapat melakukan kejahatan.

Mendengar kata-kata ancaman dari Durga Saputra itu, Sujud sepatah katapun tidak mau menjawab. Rasa takutnya lenyap sama sekali, karena tertutup oleh rasa benci yang meluap-luap. Giginya terkatub rapat menahan kemarahan. Ingin ia rasanya dapat melawannya, akan tetapi dengan tangannya yang terbelenggu ia tak dapat berdaya sama sekali.

Awan gelap yang tebal itu kian menipis. Bintang2 mulai menampakkan sinar cahayanya yang masih pudar. Gumuruhnya suara guntur diangkasa masih juga terdengar walaupun jarang. Dan derasnya hujanpun kini telah mereda.

Dengan gagang cambuknya yang masih selalu digenggamnya, Durga Saputra bangkit berdiri, memandang ke langit yang semakin terang itu.

— Ayoo!!! Lekas lari!!! — bentaknya kasar sambil menarik pada cambuknya. — Ikuti aku!

Sebelum fajar kita harus sudah sampai diseberang kali Bengawan!—

Karena tarikan sendalan tali belenggunya, Sujud bangkit berdiri dan lari sempoyongan lagi mengikuti langkah Durga Saputra. MIelewati tanah tegalan yang becek, menuju ke tanggul tebing kali Bengawan yang tidak seberapa jauh dari tempat itu. Malang baginya, kakinya tersandung pematang tegalan hingga jatuh terguling ditanah yang becek itu. Durga Saputra terpaksa berhenti sejenak, menunggu sampai Sujud bangkit kembali. — Ayo lari! Jika malas berlari, akan kuseret badanmu!

Gumannya sambil berlari serta menarik cambuk tali belenggu Sujud. Terpaksa Sujud mengikuti lari pontang-panting.

Langit mulai cerah. Bintang-bintang kembali memancarkan cahaya yang berkeredipan, membuat alam menjadi terang samar-samar. Hujan telah berhenti sama sekali.

Setelah mereka sampai diatas tanggul tebing kali Bengawan Durga Saputra menghentikan larinya. Mereka mulai berjalan biasa menyusuri tanggul kehulu.

Kiranya hujan lebat yang baru saja berlalu, membuat kali Bengawan menjadi banjir. Airnya meluap hampir setinggi tanggul dan mengalir dengan derasnya. Suara derasnya arus, terdengar gemuruh tak kunjung padam.

Kini Durga Saputra berjalan dengan pelan diikuti oleh Sujud yang masih terbelenggu, seakan- akan yang sedang dicari. Akan tetapi ternyata yang dicarinya tidak kelihatan ada ……. ialah ….. perahu sampan ataupun perahu rakit !!!

Perahu-perahu sampan yang tertamhat ditepian, kiranya banyak yang hanyut terbawa oleh derasnya air. Sedangkan diantaranya banyak pula yang telah dibawa oleh pemiliknya keatas daratan dihalaman masing2. Belum juga mereka menemukan perahu untuk menyeberang, dua orang berkelebat mendatang didepannya Durga Saputra.

--- ini orangnya !— seru seorang diantaranya, sambil mengacungkan golok panjangnya yang mengkilat tajam, diikuti oleh seorang temannya yang bersenyata klewang.

Durga Saputra terkejut sesaat, demi melihat dua orang yang menghadang dirinya.

— Hai Mandra dan Dasim! Apa yang kalian kehendaki? Durga Saputra menegur dengan nada lunak, menutupi rasa gelisahnya.

— Jangan berlagak tolol! — Serahkan kelinci gemuk itu padaku! Kau boleh berlalu dari sinii ! — Bentak Dasim yang bersenjatakan klewang.

Dua orang itu adalah bekas anak buahnya. Mereka merasa selalu tertipu olehnya dalam hal bagi hasil, sewaktu masih mengerjakan perampokan dan pemerasan. Mereka juga mengalami nasib yang sama sabagai nara pidana di Kota Raja. Waktu dibebaskanpun bersamaan pula. Tetapi karena sifat-silat kepalsuan Darga Saputra yang selalu tidak adil dalam membagi hasil kejahatan mereka bersama, menimbulkan rasa dendam yang telah lama dikandungnya. Sejak sebelum turun hujan kedua orang itu telah mengejar Durga Saputra, dengan maksud akan merampas Sujud tawanannya. Sebagai bekas anak buah, mereka berdua tahu bahwa Sujud dapat dipergunakan untuk meminta uang tebusan yang tidak sedikit jumlahnya pada Wirahadinata ataupun pada Indra Sambada. Dengan tak mau lagi tertipu untuk kesekian kalinya, mereka berdua berhasrat besar untuk merampas Sujud, dan mengerjakan niat jahatnya tanpa Durga Saputra.

— Jika yang kalian maksud adalah uang tebusan tawananku ini, haraplah kau berdua sabar sernentara. Nanti setelah aku dapat membalas dendam pada orang tuanya, kakaknya, dan terserahlah kepadamu !!!

— Ach ….. kita berdua sudah kenyang akan tipu muslihatmu yang licik dari mulutmu yang manis itu. Serahkan anak itu, dan habis perkara !!! —

Jawab Mandra dengan tegas. — Daripada Saputra mengkhianati kita lagi, lebih baik kita selesaikan disini

!!! Mandra melanjutkan bicaranya tertuju pada Dasim temannya.

Berkata demikian Mandra langsung menyerang membabat leher Saputra dengan goloknya panjang. Menyambut serangan yang tiba tiba dari lawannya Itu. Durga Saputra terpaksa melepaskan pegangan gagang cambuk yang ujungnya masih tetap membelenggu tangan Sujud.

Dengan tangkas ia meloncat selangkah kesamping kanan dan mencabut golok pendek yang terselip dipinggang kanannya. Dengan bersenjatakan golok pendek itu ia menyerang kembali lawannya dengan serangan tusukan kilat kearah dada lawan. Akan tetapi cepat ditariknya kembali karena tangkisan senjata lawan dan dirobahnya menjadi tendangan berangkat pada lambung Mandra. Itulah yang dinamakan jurus pancingan atau serangan tipu tusukan. Kiranya jurus pancingannya berhasil baik. Lambung Mandra menjadi terbuka, karena tangkisan pada senjata yang menuju dadanya.

Tumit kaki kanan Saputra dengan kerasnya tepat mengenai lambung Mandra. Mandra jatuh ditanah sambil bergulingan menghindari serangan rangkaian lawan. Tetapi Dasim demi melihat temannya berguling ditanah, segera menerjang maju dengan klewangnya menusuk kearah punggung dan kemudian berubah menjadi gerakan babatan kearah kaki lawan yang sedang meloncat surut kebelakang menghindari tusukkannya, dalam gerakan bentuk jurus sabetan mengunci langkah.

Rangkaian serangan itu merupakan satu rentetan gerakan yang cepat sekali, akan tetapi kiranya Saputra telah mengetahui akan serangan susulan yang dlilancarkan itu. Dengan lincahnya ia meloncat tinggi sambil menggerakkan golok pendeknya untuk menyrrang lawan dengan jurus tusukan berperisai kearah muka lawan.

Dasim terpaksa meloncat surut kebelakang satu langkah.

Sambil berseru terkejut, menghindari serangan yang berbahaya itu.

Dalam saat yang sama, Sujud dengan masih terbelenggu tangannya, demi mengetahui bahwa pertempuran tiga orang itu memperebutkan dirinya dengan maksud kejahatan mereka masing-masing

…..melesat lari dan meloncat terjun mencebur dikali Bengawan yang ecdang banjir dengan arusnya yang sangat deras itu ….. byuuuurrr!!!!......

Ketiga orang yang sedang bertempur sengit, masing-masing meloncat surut kebelakang, karena mendengar terceburnya Sujud dikali Bengawan.

Dengan serentak mereka bertiga menahan senjatanya masing-masing, serta melayangkan pandangannya kearah air kali Bengawan yang sedang deras mengalir. Namun dalam kegelapan malam samar-samar, yang mereka lihat tidak lebih daripada air kotor bercampur tanah mengalir dengan derasnya.

Dan suara gemuruh arus terdengar terus tak ada henti-hentinya .

Dengan kemarahan yang meluap-Iuap serta penuh penyesalan Durga Saputra berseru keras sambil menunjuk dengan golok pendeknya ke arah Mandra dan Dasim.

— Sialan ! Kedatangan kalian berdualah yang membuat hilangnya mangsaku yang sangat berharga. Dan kini kalian berdualah yang harus bertanggung jawab, — berkata Saputra menerjang maju kearah Mandra dan Dasim dengan senjata golok pendeknya menusuk kearah perut lawan.

Dasim meloncat selangkah kesamping kanan dan bertepatan dengan meloncatnya Dasim, Mandra datang menangkis dengan sabetan golok panjangnya.

Dua senjata beradu dengan kerasnya, hingga mengeluarkan percikan api, yang jelas nampak dikegelapan malam.

Kedua-duanya segera meloncat surut kebelakang satu langkah, dengan merasakan pedih ditelapak tangan masing-masing demi mempertahankan senjata, untuk jangan sampai terlepas dari genggamannya.

— Karena keras kepalamu tak mau menyerahkan pada kami berdua, maka anak itu menjadi nekad dan bunuh diri!! — Seru Dasim sewaktu meloncat menghindari serangan Durga Saputra.

Pertempuran tiga orang itu masih terus berlangsung dengan serunya.

Durga Saputra yang hanya bertangan satu ternyata dapat melayani dua orang lawannya yang bersenyata, dengan seimbang dan tidak terdesak, Ditangan kiri yang hanya sebelah itu, golok pendeknya menyambar nyambar merupakan serangan tusukan yang bertubi tubi, untuk kemudian berobah dengan cepatnya menjadi serangan tebangan, yang diselingi tendangan berangkai yang tidak kalah berbahayanya. Sinar tajamnya klewang dan golok panjang lawan berkelebatan, merupakan sinar putih

yang bergulung gulung menyelubungi ketiga tubuh manusia yang sedang bertempur dengan sengitnya. Seluruh kepandaian dalam tata kelahi ditumpahkan. Masing masing ingin cepat menghabisi riwayat lawannya. Kiranya mereka telah jauh tersesat, dan lupa bahwa hidup dan matinya semua ummat telah ada yang mengaturnya sendiri. Beum juga mereka dapat saling merobohkan, seorang berkelebat mendatang laksana bayangan dikegelapan malam yang samar samar itu, dan sesaat kemudian diikuti oleh empat orang yang berlari lari dibelakangnya.

— Ini dia si buntung ! ! !, teriaknya sambil langsung terjun dengan keris terhunus dalam pertempuran yang sedang berlangsung dengan sengitnya itu. Orang yang baru datang dan langsung melibatkan dtri dalam pertempuran adalah Demang Jlagran berserta anak buahnya.

Tanpa kata sepakat Mandra dan Dasim demi melihat datangnya serangan yang tiba tiba dari seorang yang tak dikenal kearah Saputra, segera berseru terkejut sambil menarik kembali gerak serangan tusukan dan babatan mereka yang hampir tepat pada sasarannya, untuk serentak menangkis dengan senjata mereka masing masing, memapaki datangnya tusukan keris yang meluncur seperti kilat. Sedang Saputra sendiri pada saat yang sama, mengelak dengan gerakan jurus surut bersimpuk menghadang langkah ialah meloncat surut kebelakang dengan jatuh berduduk serong kanan, kaki bersilang, sambil mengulurkan tangan kirinya yang memegang golok pendek dalam gaya menusuk lawan, sedangkan kepalanya menundukkan sangat rendah serempak rata dengan punggungnya. Empat senjata serempak bertemu ujungnya, dengan mengeluarkan percikan api yang memijar.

Bersamaan dengan beradunya empat ujung senjata yang berlainan bentuknya itu, Mandra berseru nyaring — Tahan semua senjata ! !

Berseru demikian sambil melompat surut kebelakang satu langkah yang segera diikuti pula oleh ketiga orang lainnya.

Sementara itu, empat orang anak buah Demang Jlagran telah pula berdiri serempak dengan masing masing senjata ditangan, dibelakang pemimpinnya.

— Siapa kau ! ! ! Berani mencampuri urusan orang lain ! ! ! Mandra bertanya dengan nada bentakan.

--- Aku bukan berurusan dengan kau ! !. Jawab Demang Jlagran sambil menunjuk dengan kerisnya kearah Durga Saputra. — Maka kuharap kalian berdua jangan mengganggu urusanku ! ! !

— Tetapi caramu bertindak tidak tahu adat. Dan sepantasnya orang seperti kau itu diberi hajaran supaya mengenal adat ! ! !. Dasim turut bicara, dan tanpa menunggu jawaban ia telah mulai menyerang dengan tusukan klewangnya kearah dada Demang Jlagran.

Sebagai seorang yang cepat naik darah, Demang Jlagran mendengar kata kata yang diucapkan oleh Dasim dirasakan sebagai penghinaan, maka pada saat yang sama Demang Jlagran telah menerjang dengan kerisnya.

Kedua duanya berseru terkejut, dan menarik serangan masing masing kembali, untuk kemudian meloncat kesamping serong kanan. Empat orang anak buah Demang Jlagran segera turut serentak menerjang maju menyerang dengan senjata mereka kearah Dasim dan Mandra.

Melihat terjadinya pertempuran antara Mandra, Dasim dengan Demang Jlagran berserta anak buahnya, Darga Saputra merasa untung terhindar dari maut. Dalam hatinya ia merasa geli juga akan kebodohan lawan2nya itu.

— Mandra, Dasim ! ! ! serunya : Jika kau berdua tidak dapat merobohkan gerombolan orang desa itu, bagaimana kau berdua akan dapat menyelesaikan urusan denganku ! ! !. Durga Saputra sengaja membakar kemarahan Mandra dan Dasim, agar mereka lebih bersemangat dengan mengurangi jumlah lawan. Dengan demikian ia takut mengambil dua segi keuntungan.

Pertama, ia hanya tinggal menghadapi lawan sepihak yang akan menang dalam pertarungan itu. Kedua, lawan ylang tinggal sepihak yang akan dihadapinya tentu telah berkurang tenaganya.

Satu satunya kemungkinan yang ia sangat kuatirkan, ialah kalau mereka berobah pendirian menjadi bersatu dan menempuhnya bersama.

Maka untuk menutup kemungkinan, ia sengaja membakar semangat kedua belah fihak yang sedang bertempur dengan serunya, dengan pengharapan agar pertempuran berkobar terus.

Akan tetapi pengharapan itu segera lenyap dari angan angannya, karera Dasim kiranya cepat menginsyafi kekeliruannya, sehingga ia dengan tiba tiba melompat surut kebelakang dua tindak sambil berseru pada Mandra : — Mandra !!! Tahan senjata !!!. Kita berebut tulang tanpa isi !!!

Kiranya kata kata seruan itu membuat Demang Jlagran sadar pula akan kekeliruannya dalam tindakan yang telah dilakukan.

Cepat ia mengikuti gerakan Dasim dengan melompat surut dua langkah kebelakang sambil berseru — Betul !!! Tangkap dahulu saja si Buntung rame rame !!!. Baru kita selesaikan urusan kita ! ! !

Durga Saputra demi mendengar seruan kedua orang tadi, kepalanya dirasakan seperti disambar petir. Ia melesat dan lari kearah barat mengikuti membujurnya tanggul tebing kali Bengawan dengan pesatnya, dan kemudian membelok kearah selatan memasuki hutan Padangan yang lebat i tu.

Mandra, Dasim dan Demang Jlagran dengan empat orang anak buahnya serentak lari mengejar.Ternyata dalam lomba lari Durga Saputra memang setingkat lebih tinggi dari pada mereka. Jarak antaranya kian lama semakin jauh. Untuk kemudian lenyap sama sekali dari pandangan para pengejar, tertelan oleh kegelapan malam.

Semua orang itu kiranya telah tidak lagi memperdulikan akan nasib Sujud yang diperkirakan telah mati hanyut terbawa oleh arus air yang dahsyat mengalir dari kali Bengawan.

Setelah diperhitungkan bahwa ia sebagai tawanan Durga Saputra ataupun tawanan Mandra dan Dasim, bagi Sujud adalah merupakan nasib yang sama bentuknya. maka ia mengambil jalan yang nekat sekali terjun kali Bengawan yang sedang banjir itu. Hampir sepuluh tahun lamanya, ia tinggal di desa Ngawi yang letaknya dipinggir kali Bengawan bersama orang tua angkatnya Kjai Tunggul.

Sejak kecil ia memang gemar pula main di Bengawan, Baginya berenang dikali Bengawan sama halnya seperti lari didaratan. Ia tak perlu kuatir dengan kedua belah tangannya terbelenggu, karena berenang tanpa menggunakan tangannyapun ia telah mahir. Hanya arus air yang mengalir dengan derasnya itu yang agaknya membuat sedikit menyulitkan untuk menyeberangi memotong langsung. Ia terpaksa harus mengikuti arus terlebih dahulu beberapa saat untuk menyeberangi dengan perlahan berenang dengan menggerakkan kedua belah kakinya menepi .. . Dengan demikian akhirnya sampai pula ia diseberang kali Bengawan.

Dengan susah payah ia merangkak naik ketanggul karena Iangannya masih terbelenggu, sambil melihat-lihat kekiri kanan, takut jika masih ada yang mengejarnya. Setelah mengaso sebentar diatas tanggul, terasalah badannya menggigil kedinginan basah kuyup. Namun ia masih bersyukur kepa-

da Dewata Yang Maha Agung, bahwa dirinya nyaris dalam bahaya dan kantong kulitnya masih tetap tergantung dipinggangnya. Dengan terhuyung - huyung ia berjalan melintasi sawah yang tak luas itu menuju kedesa Dawung yang berada didepannya.

Dengan sedikit membohong pada peronda desa, bahwa rumah orang tuanya dirampok dan ia sendiri dibelenggu karena melawan dan kemudian diceburkan kekali Bengawan. Setelah belenggu tangannya dilepaskan oleh peronda2 desa serta diberi sekedar makanan untuk menghilangkan laparnya, untuknya dibuatkan pula perapian untuk memanaskan badan, yang dirasakan sangat dingin.

Setelah mengucapkan terima kasih, dan minta diri atas pertolongan yang telah diberikan oleh para peronda, maka pada esok harinya Sujud melanjutkan perjalanannya mengembara, melalui jalan2 desa dan sawah2 menuju keutara.

Ia kini membatalkan niatnya untuk pergi kedesa Trinil, karena takut berjumpa kembali dengan Durga Saputra dan orang2 pengejar lainnya.

Pakaiannya yang indah kini berubah menjadi kumal dan berwarna coklat penuh lumpur. Hanya perhiasan dan bekal uangnya yang masih tetap utuh didalam kantong kulitnya.

Setelah sampai dipasar desa Kasiman, Sujud singgah sehentar untuk mengisi perutnya, serta membeli makanan sekedar bekal dalam perjalanan.

Kuatir jika malam nanti sulit mendapatkan warung. Ia tidak lupa membeli pisau pendek pula, karena mungkin nanti diperjalanan ada pula gunanya, pikirnya. Dari desa Kasiman ia lurus menuju kebarat. Kini tujuannya ialah Indramayu, dimana orang tua angkatnya menjabat Bupati didaerah itu. Ia masih ingat, bahwa Ietaknya Kebanjaran Agung Indramayu adalah di sebelah barat.

Pada malam harinya ia telah sampai didesa Jepan, sebuah desa kecil dipinggir kali Lusi. Kali itu walaupun agak curam tebingnya, akan tetapi ternyata hanya merupakan kali kecil saja. Airnya jernih seputih cermin karena dekat dengan mata air.

Hatinya bimbang. Setelah pada pagi harinya ternyata merupakan desa yang terujung sendiri.

Sebelah baratnya merupakan hutan belukar yang tidak dapat diketahui batasnya.

Demikian pula setelah ia mencoba menyeberangi kali Lusi. Untuk mengambil jalan memutar kearah selatan, ia takut berjumpa dengan Saputra ataupun Mandra. Dasim serta orang2 lain yang mengejarnya.

Sifat keras kepala dan keberanian yang dimiliki, membawa ia melangkah memasuki hutan belukar yang lebat itu, setelah ia menyeberangi kali Lusi hutan itu oleh orang desa sekitarnya dinamakan hutan Blora. Terkenal sebagai hutan keramat dan angker. Tiap2 hari pasaran orang2 banyak yang meletakkan sesaji berupa makanan dan buah2an dipinggir hutan yang dianggapnya keramat, diatas tebing kali Lusi yang airnya mengalir melintasi hutan.

Kenyataan menunjukkan bahwa sesaji yang beraneka macam itu, setelah sore harinya diletakkan dipinggir hutan, pada pagi harinya habis tidak berbekas, dan hanya ancak2nya saja yang ditinggalkan. Dan umumnya mereka percaya bahwa sesajinya telah diterima dengan baik oleh siluman2 penghuni hutan itu. Dengan demikian mereka percaya, bahwa tanam2annya akan menjadi subur, serta tidak akan diganggu oleh hama ataupun mengalami kerusakan akibat kemurkaan para siluman penghuni hutan.

Pancaran tariknya matahari pada pagi yang cerah itu tertahan oleh lebatnya dan rindangnya pohon2 liar yang tumbuh dalam hutan, dan kesejukan hawanya membuat Sujud tidak demikian lelah berjalan. Ia berjalan terus seorang diri sambil memperhatikan burung2 yang sedang bernyanyi dengan nada yang indah didalam rindangnya pohon2 liar yang dilaluinya.

Tanpa dirasa ia telah menjelajah masuk jauh dihutan Blora yang tidak diketahui ujungnya.

Namun semakin jauh ia memasuki hutan, semakin banyak pohon buah2an yang dijumpai, seperti durian jambu, pisang hutan atau dinamakan pisang gendruwo dan lain2 yang sedang lebat berbuah.

Suara ayam hutan terdengar sahut2an dari kanan kirinya. Dan sering pula ia dikejutkan oleh suara desisnya ular berada di pohon2. Telah lebih dari setengah hari ia berjaan, tetapi belum juga nampak batasnya, bahkan kini ia mengetahui lagi arah keempat penjuru mata angin.

Kemana ia berjalan, masih saja ia merasa tetap berjalan ditengah hutan yang lebat itu. Ia memetik buah jambu serta dimakannya, sekedar untuk menghilangkan rasa hausnya, sambil duduk dibawah pohon jambu untuk mengaso, melepaskan lelah. Diingat2nya kembali jalan2 yang baru saja dilaluinya, tetapi juga tidak dapat menemukannya.

Bekal makanan yang berada dikantong kulitnya dikeluarkan, dan kini ia mulai makan. Tetapi karena kegelisahan yang menyelimuti dirinya, maka nafsu makanpun tidak demikian ada. Gelisah, karena tidak tahu jalan mana yang harus ditempuhnya, agar ia segera dapat keluar dari hutan itu sebelum petang hari.

Hembusan angin siang perlahan-lahan, membuat ia merasa mengantuk. Ia berbaring terlentang dibawah pohon, dengan menikmati silirnya angin yang berhembus meniup perlahan. Sambil mendengarkan suara burung2 yang hinggap dipohon2 rindang disekitarnya.

*

* *

BAGIAN III

ANGAN ANGAN-nya merasa tidak menentu.

Ia ingat kembali akan kasih sayang Senapati Manggala Muda Indra Sambada, yang selalu memperlakukan padanya sebagai adik kandungnya sendiri.

Gedung Senapaten serta halamannya yang megah itu terbayang kembali dalam angan- angannya. Juga Jaka Wulung dan Jaka Rimang yang selalu bersenyum dan melatihnya dalam tata bela diri dibawah asuhan kakaknya Indra Sambada kini membayang kembali dalam alam lamunannya. Dan semua itu membuatnya rindu ingin pulang kembaii ke Senapaten di kota Raja. Ia menyesal akan kepergiannya yang tanpa pamit itu.

Kini lamunannya beralih kepada kasih sayang orang tua angkatnya Bupati Wirahadinata atau Kyai Tunggul, dan terutama pada Ibu angkatnya. Sejak kecil ia di timang2 dan dibelainya dengan mesra. Sifat lemah Iembut seorang Ibu dengan penuh rasa kasih sayang padanya, seakan-akan melintas dalam khajalannya dan kini ……  ia sebatang kara terlunta mengembara. Terasalah olehnya, bahwa ia

sendiri tidak tahu siapakah ia, sebenarnya. Mungkinkah, ada orang yang senasib dengan dia? Tak tahu akan asal usulnya sendiri ? …..

Apakah ia sendiri yang memang ditakdirkan demikian?

Jika ia sedih, pada siapakah ia harus mencurahkannya? Dan apabila ia senang, kepada siapakah ia harus memamerkan ? Demi mengingat-ingat itu semua, air matanya berlinang-linang meleleh membasahi

pipinya tidak terasa dadanya terasa sesak dan isak tangisnya tak dapat ditahan.

Siksaan jasmani yang belum lama dialami, dapat diatasi dengan ketabahan hatinya, namun siksaan bathin yang demikian ini, rasa2-nya tidak mampu ia memikulnya.

Benar-benar dalam arti kata hidup sebatang kara Tidak berayah, tidak beribu, bahkan

mengenal wajahnyapun belum . .... tidak bersaudara dan tidak tahu dimana ia dahulu dilahirkannya

….. .

Ya! Tak ubahnya sebagaimana ia sekarang seorang diri ditengah tengah hutan belanrara, dan tidak mengenal arah yang harus dituju. Memikirkan itu semua, hatinya terasa sedih bagaikan disayat-sayat sembilu. Haruskah ia menerima begitu saja nasib yang malang itu?

Ataukah ia harus berikhtiar, berdaya-upaya dengan segala kemampuan yang ada padanya, untuk mencari dimana tempat tiuggal orang tuanya yang sejati, jika masih hidup, dan dimana makamnya jika telah meninggal?

Akan tetapi jika ia harus mencari, dimanakah ia harus mencarinya dalam dunia yang membentang luas ini, dan pada siapakah ia harus bertanya? Sampai pada pertanyaan2 inilah, ia selalu menghadapi jalan buntu. Pertanyaan yang ia sendiri tidak dapat mendapatkan jawabannya ….. Dan hanya air matanyalah yang selalu setia menemani dalam saat menanggung dukanya …..

— Ketahuilah, bahwa Dewata Yang Maha Agung dan Maha Pengasih dan Penyayang pada umatNya, akan selalu menyertai apabila kita selalu mengabdi padaNya. Dalam kegelapan, dimana kau tak dapat meraba dengan tanganmu, maka kau tidak perlu berkecil hati dan putus asa. Serahkanlah sepenuhnya kepada Dewata Yang Maha Agung. Dan mohonlah penerang padaNya. Percayalah, bahwa Ia akan selalu memberi, apa yang selalu kau mohon dari padaNya.

Maka setiap saat, setiap kau bernafas, sebutlah selalu dalam bathinmu akan kebesaranNya. — Ajaran - ajaran yang termuat dalam kitab Niti yang diajarkan oleh kakak angkatnya Indra Sambada, kini tibabtiba mengiang kembali ditelinganya. Kata demi kata terkumpul tersusun merupakan barisan2 kalimat, yang dapat diingat kembali keseluruhannya.

Semakin lama semakin jelas, dan ia kini seperti orang yang tersentak bangun dari tidurnya. Perlahan lahan ia bangkit dan duduk bersila ditanah. Kepalanya menunduk. Matanya dipejamkan. Dan ia mulai bersamadhi, mengikuti ajaran kakak  angkatnya….

Baru saja ia selesai dari semadhinya, tiba tiba terdengar suara tawa nyaring dari atas kepalanya.

Ia terkejut sesaat dan mendongak keatas mencari dengan pandangannya ketempat arah datangnya suara.

Seorang kakek-kakek gundul dengan hanya memakai cawat dari kulit ular sanca, duduk diatas dahan yang tinggi dari pohon jambu dengan ketawa ter-kekeh2. Kumis dan jenggotnya yang tumbuh jarang itu telah berwarna putih semua dan sangat panjang. Tawa yang terkekeh kekeh itu diiringi dengan gerakan goyangan kakinya yang seirama dengan tingkah lakunya yang sinting. Dan disisinya duduk seekor kera, menirukan semua gerakan yang dilakukan oleh kakek gundul.

— Hai, kakek gundul ! Tolonglah tunjukkan jalan yang terdekat untuk keluar dari hutan ini ! — Sujud berseru.

Akan tetapi kakek2 itu malah memperpanjang tawanya yang ter-kekeh2, seakan-akan tidak memperdulikan pertanyaan yang ditujukan padanya.

-- Kakek gundul !. Turunlah kemari sebentar !.— Sujud mengulang seruannya.

— Hai!. .Anak gtlal. Disini tidak ada orang yang bernama kakek gundul! Jika kau perlu denganku naiklah kemari !— Jawab kakek2 itu sambil tertawa terkekeh dengan nada mengejek dan acuh tak acuh.

— Siapakah namamu? Jika kau tidak mau kupanggil dengan kakek gundul.... ---

--- Anak gila.— Naiklah kemari dahulu, baru nanti kita bicara! !—

— Kakek gundul, aku tidak gila dan janganlah kau panggil aku dengan anak gila lagi. Namaku Sujud.—

Ketawa kakek2 itu semakin terdengar nyaring. Ha... Ha... haaa

— Sekali lagi kau panggil aku dengan kakek gundul kepalamu akan kugunduli dengan pisau dapurmu itu, tahu! —

Tetapi anehnya, wajah kakek2 itu sedikttpun tidak menunjukkan kemarahan, walaupun kata- katanya disertai ancaman. Dan ketawanya masih mengiringi kata katanya. — Panggillah aku kakek Dadung Ngawuk. Dan Iekaslah kau naik! ---

Kakek Dadung Ngawuk! Aku enggan untuk memanjat demikian tinggi. Sebaiknya kakek saja yang turun atau tolong tunjukkan kearah mana aku harus berjalan untuk cepat keluar dari hutan ini! --- --- Ha … haaa... haaa Aku butuh teman, maka tak mungkin kau dapat pergi dari sini. Biarlah berteman dengan anak gila tak mengapa. —

Mendengar kata cemoohan iang tidak henti-hentinya itu, Sujud merasa sangat mendongkol.

— Kakek Dadung Ngawuk! Jangan main2 dengan ketawamu yang memuakkan itu, lekaslah tunjukkan arah jalan keluar hutan ini ! Aku akan segera berlalu

!— Tetapi kakek2 itu masih juga tetap tertawa terkekeh-kekeh. Kiranya ia sama sekali tidak merasa tersinggung dikatakan gila oleh Sujud. --- Benar-benar kakek2 yang kujumpai ini orang gila — pikirnya--

--- Baikl Terlebih dahulu kau harus dapat menerobos keluar dari kepungan pasukanku yang terdiri empat puluh prajurit. Jika kau tidak dapat lolos dari kepungan itu, kau harus tetap menemani aku disini. — Berkata demikian, Dadung Ngawuk meloncat kedahan yang berada dibawahnya, dan gerakan itu disusul oleh kera yang berada disisinya. Ternyata kakek Dadung Ngawuk ini dapat berloncatan dengan tangkas, menyerupai gerakan kera yang menyertainya.

Dengan pandangan matanya, Sujud mengikuti gerakan kakek2 serta kera itu dengan mulut ternganga karena rasa kagum dan heran.

Pertama, heran akan ketangkasan kakek2 itu dapat memanjat dan berloncatan diatas dahan2 tak ubahnya seperti seekor kera. Dan kedua, menilik kata2nya tadi ia memerlukan teman. Jadi jelas bahwa ia seorang diri. Tetapi mengapa justru berkata bahwa pasukannya yang berjumlah empat puluh prajurit akan mengepungnya. Sedangkan ia sendiri tidak melihat adanya tanda2 orang orang disekitarnya.

Tiba-tiba tanpa diketahui, kakek2 itu telah memegang cambuk yang panjangnya lebih dari dua depa, yang terbuat dari kulit ular sanca. Sesaat kemudian suara lecutan cambuk terdengar mengampar tiga kali berturut-turut tar tar …. tarr…. taaarrr …… dengan diiringi tawanya yang nyaring …..

Tak lama kemudian, disekeliling Sujud telah bermunculan kera-kera jenis beruk dengan bersuara cecowetan mengurung Sujud yang masih berdiri dengan mulut ternganga. Pengalamannya yang pahit, membuat ia berfikir untuk tidak mau menyerah sebelum mengadakan perlawanan dalam batas kemampuannya. Cepat ia berdiri tegak, siap-siaga untuk menghadapi serangan yang datang kearahnya. Dengan tak terduga duga, kera yang duduk disamping kakek2 itu telah meluncur kearahnya dengan kecepatan yang menajubkan. Sebelum Sujud dapat bergerak untuk menyambutnya, kera tadi telah dapat merebut pisau yang terselip dipinggangnya, serta membawanya keatas dahan dengan memanjat pohon. Kemudian disambut oleh kakek2 itu, dengan ketawa yang terkekeh-kekeh. Kiranya kera itu hanya bermaksud untuk merampas pisaunya, dan tidak bermaksud menyerangnya. Demikian pula kera2 yang mengurungnya. Satupun tidak ada yang memulai menyerang.

Mereka hanya mengurung Sujud dalam lingkaran, dengan memperdengarkan suara cecowetan yang riuh sambil memperlihatkan gigi2nya yang kecil2 serempak. Serta diiringi dengan menggaruk-garuk badannya masing2. Kini Sujud baru mengetahui bahwa yang dimaksud oleh Dadung Ngawuk dengan pasukan prajuritnya itu, adalah kera2 yang sekarang sedang mengurungnya. Jumlah kera2 yang mengurung itu, memang seperti apa yang telah dikatakan oleh Dadung Ngawuk ialah empat puluh.

— Sujud, anak gila! Sekarang pasukanku telah siap, dan kau boleh coba menerobos keluar dari kepungannya. Jika berhasil kau lolos, akan kuantarkan sampai ditepi hutan! Atau kau menyerah saja, tidak usah membuang-buang tenaga yang sia2, untuk menemani aku disini! --

Lebih baik aku mati karena melawan, dari pada menyerah dan akhirnya menerima siksaan, sebagaimana pernah menimpa diriku — pikir Sujud.

Dengan kebulatan tekad yang tak mengenal takut, Sujud mulai menerjang kedepan, serta menyerang dengan tinjunya kearah kera yang menghadang didepannya. Akan tetapi dengan tangkasnya, kera yang diserang itu meloncat kesamping untuk menghindari serangan pukulan. Dalam waktu yang sama ketika Sujud mulai bergerak, tiga ekor kera yang berada didekatnya meloncat kearah kepalanya dari belakang, menjambak rambutnya gondrong dengap sekuat tenaga. Sujud terpaksa menarik kembali pukulan tinjunya yang ternyata mengenai tempat kosong. Untuk tidak jatuh terlentang Sujud segera membalikkan badannya sambil menyerang dengan telapak tangan kiri kearah salah satu kera yang menyambaknya. Dan kemudian disusul dengan tendangan kaki mengikuti meloncatnya kera yang menghindari serangannya.

Akan tetapi sewaktu ia melontarkan serangan tendangannya, tiga ekor kera lagi menarik kakinya, dimana ia sedang berdiri diatas satu kaki. Tak ayal lagi, Sujud jatuh terguling ditanah. Dengan cepat ia berdiri kembali, untuk siap menghadapi serangan-serangan yang mendatang sebagai serangan berangkai.

Namun ternyata kera2 itu tidak hendak menyerangnya, melainkan hanya mengurung saja, menunggu dan menjaga jangan sampai Sujud dapat lolos dari kepungan mereka.

Melihat Sujud jatuh bergulingan, ketawa yang terkekeh-kekeh memuakkan terdengar kembali dari Dadung Ngawuk, seakan-akan melihat permainan yang lucu sekali. Cepat Sujud bangkit kembali dan menerjang kelain penjuru. Dua ekor kera yang menghadangnya diserang dengan tendangan berangkai dan satu diantaranya jatuh terpental.

Walaupun sampai dua langkah kera itu terpental karena tendangan, dengan mudah ia bangun kembali diatas keempat kakinya, sambil menyeringai beringas dengan mendesis desis dan meloncat lagi kearah Sujud. Sedangkan kera-kera dibelakang Sujud serentak berlompatan dan masing-masing ada yang memegang pinggang, lengan kaki dan ada pula yang menarik narik celananya.

Dengan demikian Sujud menjadi sibuk karenanya. Untuk mencegah jangan sampai jatuh terlentang karena tarikan - tarikan kera-kera itu, Sujud dengan ketangkasannya membalikkan badan dan tinjunya bergerak me-nyambar2 ke-arah kera - kera yang mengerumuninya. Akan tetapi kera kera itu cepat berloncatan menjauhi untuk menghindari datangnya serangan, serta kembali ditempat masing masing seperti semula sewaktu mereka mengurung Sujud.

Tetapi kiranya kera-kera itu tidak ada yang bermaksud melukainya, dan hal ini diketahui pula oleh Sujud. Mereka hanya menghadang, menarik-narik ataupun mendorongnya untuk mencegah jangan sampai Sujud lolos dari kepungan mereka. Jika semula Sujud selalu menerjang dengan serangan tinju dan tendangan, setelah memgetahui bahwa lawan-lawannya tidak berkehendak melukainya, iapun segera merobah cara menerjangnya.

Ia meloncat kearah utara sebagai gerak tipuan, untuk kemudian meloncat kembali kearah timur dengan gerakkan yang lebih cepat. Namun kiranya kera-kera itu telah mengetahui terlebih dahulu akan maksudnya. Mereka dengan rapihnya berloncatan mendahului menghadang, sewaktu Sujud meloncat merobah arah. Berulang kali ia mencoba gerakannya itu dengan cara selalu menukar arah, tetapi kera- kura itupun selalu dapat mendahului gerakarmja dan dengan demikian ia masih tetap terkurung rapat, ditengah lingkaran kera-kera. Badan dan mukanya telah basah bermandikan peluh, namun ia tetap masih terus berloncatan kian kemari untuk melepaskan diri dari kepungan prajurit2nya Dadung Ngawuk. Tetapi semua usahanya itu tak pernah berhasil- Kadang-kadang ia melompat, melambung tinggi dengan diiringi suara bentakan yang nyaring untuk menakut-nakuti kera-kera yang menghadangnya, akan tetapi sebelum ia sempat berpijak diatas tanah kembali kaki-nya telah ditangkap oleh tiga/empat ekor kera dan ditariknya, sehingga ia kembali jatuh bergulingan ditanah. Demi melihat jatuhnya Sujud bergulingan ditanah, ketawa yang terkekeh-kekeh memuakkan dari mulut Dadung Ngawuk terdengar semakin bertambah keras. Demikian pula kera beruk yang besar disisi kakek itu turut pula berdiri diatas dahan sambil berjingkrak-jingkrak dengan menyeringai gembira, hingga dahan dimana mereka berdua berpijak menjadi tergetar keras sekali, sampai daun-daunnya jatuh bertebaran.

Makin lama, Sujud merasa makin lelah kehabisan tenaga. Gerakannya menjadi sangat lambat.

Tetapi sebagai anak yang bersifat keras hati tidak mau ia menyerah.

Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia mengamuk dan menerjang dengan serangan tinju dan tendangan2nya yang dahsjat kembali. Karena dengan cara yang lunak tidak pernah berhasil, kini ia menjadi mata gelap.

Empat ekor kera terpental jatuh bergulingan terkena tendangan dan tinjunya. Demi melihat teman2nya jatuh bergulingan, kera yang lainnya menjadi lebih ganas. Lebih dari lima belas ekor kera menerjang serentak dari arah belakang, samping dan depan, Sujud semakin marah dan bertambah mata gelap. Dengan secara membabi buta ia melancarkan serangan yang lebih dahsyat terhadap kera2 yang mendekatinya.

Tarikan, bahkan gigitan dipundak, lengan, betis tidak dirasakan lagi.

Untuk merobohkan kera2 yang demikian banyak jumlahnya adalah diluar kemampuannya.

Akhirnya Sujud sendiri yang jatuh terguling dan tak sadarkan diri.

Cambuk ditangan kakek Dadung Ngawuk berkelebat mengampar diudara dengan mengeluarkan suara seperti petir, dan kera2 yang mengerumuni segera berloncatan menjauhi Sujud. Seakan-akan mendengar aba2 untuk cepat meninggalkan tempat itu.

Kakek Dadung Ngawuk turun dan mendekati Sujud dengan diikuti kera piaraannya yang setia.

Luka2 Sujud bekas kena gigitan segera diobati dengan olesan ludahnya. Dan kemudian ia memijat badannya Sujud dengan jari2 tangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam.

Pelahan-lahan Sujud sadar kembali dan membuka matanya

— Kau diamlah dan jangan bergerak dahulu, anak gila. Dadung Ngawuk berkata pelan

dengan masih tetap memijit2 keseluruh tubuhnya.

Mendengar seruan kakek Dadung Ngawuk yang lemah lembut, serta merasa diperlakukan demikian baiknya, Sujud terpaksa diam menyerah. Ia tengkurab ditanah mengikuti perintahnya. Jari tangan Dadung Ngawuk kini memijit2 kepala bagian beakang dan bergerak terus kebawah menuruti punggungnya sampai dijari2 kakinya. Untuk kemudian kembali lagi keatas sampai dikepalanya. Demikian itu, dilakukan sampai berulang kali sambil disertai tiupan pelan dari mulutnya kearah tubuh yang sedang dipijitnya. Rasa hangat menjalar diseluruh tubuh. Ternyata kesaktian Dadung Ngawuk telah membuka semua jalinan saraf yang lemah serta pembuluh2 darahnya sampai diujung jari kakinya. Kakek2 itu berkata pelan pada dirinya sendiri sambil bersenyum —anak gila tapi baik dan berbakat.... Hih hihikk …..

ada tai lalatnya besar dilengannya Jari2 tangannya tetap masih bergerak dilengan Sujud untuk

mengurutnya.

Setelah selesai mengurut seluruh tubuhnya, Sujud kembali disuruh berbaring terlentang.

Kembali diurutnya dari tulang rusuk sampai perutnya, dengan disertai tiupan seperti semula. Sesaat kemudian dirasakan oleh Sujud, bahwa isi perutnya terasa melilit-lilit, dan rasa muak ingin muntah tidak dapat ditahan lagi. Semua kotoran isi perutnya keluar dari mulut dan hidungnya, dengan mengeluarkan bau amis yang memuakkan.

Badannya terasa lemas tak berdaya, Sujud segera diangkat dan dipindahkan ketempat yang bersih oleh Dadung Ngawuk disebelahnya.

— Jamang Lekas petikan buah kemboja merah yang hanya tinggal seuntai itu …—

Kera yang selalu mengikuti kakek Dadung Ngawuk, setelah mendengar namanya dipanggil, cepat meloncat pergi melakukan perintahnya. Seakan-akan tahu apa yang dikehendaki oleh kakek2 majikannya. Tak lama kemudian kembali dengan membawa seuntai buah-buahan hijau, menyerupai buah pinang. Dengan kuku2nya yang panjang, buah kemboja merah itu dipecahnya untuk kemudian diambil isinya yang berwarna putih susu, serta bulat2 seperti buah kelengkeng. Kesemuanya satu demi satu buah kamboja itu oleh Dadung Ngawuk dimasukkan kemulut Sujud. Dan tanpa dirasakan lagi buah itu terus ditelannya.

— Berusahalah untuk tidur. Dan jangan mengejangkan anggauta badanmu. — perintah kakek kepada Sujud, yang segera ditaatinya.

— Jamang ! — Cepat ambilkan sisa makananku ! — Kera jenis beruk yang dinamakan Jamang segera berloncatan pergi, untuk kemudian memanjat sebuah pohon besar yang tak jauh dari tempat itu.

Dengan membawa tempurung yang berisikan daging ular dan buah manggis, Jamang segera menyerahkan pada kakek Dadung Ngawuk. Tempurung disambutnya dengan masih berjongkok didekat Sujud. Wajah Sujud yang tadinya kelihatan pucat pasi, berangsur-angsur menjadi merah.

Seluruh tubuhnya dirasakan panas membara. Hingga ia tak sadarkan diri kembali. Namun kakek-kakek itu bersenyum puas memperlihatkan kegirangan hatinya.

Mulutnya segera ditempelkan kemulut Sujud dan ditiupnya pelan mengiringi hembusan napasnya. Setelah merasakan basah kuyup oech keringat dibadannya, segera melepaskan tempelan multunya dan kembali duduk bersila didekat Sujud yang masih berbaring sambil mengatur pernafasannya yang dirasakan ter-sengal2 kehabisan tenaga.

Suhu badan yang panas membara dirasakan oleh Sujud berangsur-angsur turun dan kembali wajar. Bersamaan dengan sadarnya Sujud, kakek Dadung Ngawukpun telah pulih kembali tenaganya. Sedangkan si Jamang, kera yang berada disisinya, turut pula memperlihatkan kegirangannya dengan bergerak lucu.

Waktu itu telah senja. Hari mulai gelap remang – remang. Tanpa ada yang memerintah empat puluh ekor kera berloncatan mendatangi dengan masing-masing membawa dahan kering. Tak lama kemudian kakek Dadung Ngawuk dengan batu percikannya segera membuat api unggun ditengah- tengah hutan itti. Sesungguhnya Sujud sejak tadi telah merasa tenaganya pulih kembali, namun tanpa disuruh kakek gila itu, ia tak berani bangkit. Ia tetap saja berbaring terlentang ditanah. Sebagai anak angkat Kyai Tunggul ia tahu pula, bahwa kakek2 itu memijit dengan mengeluarkan tenaga saktinya, demi untuk tambahnya kekuatan baginya.

Tetapi ia hanya pernah melihat Bapak angkatnya berbuat demikian, dan belum pernah mengalami sendiri.

Buah yang telah ditelannya tadi, belum pernah sekalipun ia melihatnya. Bertahun - tahun ia mengikuti ayah angkatnya sebagai pembantu tabib, tetapi belum pernah ayah angkatnya menggunakan ataupun menyimpannya buah seperti apa yang telah ditelannya. Bahkan menceritakan saja belum pernah. Seingat dia baru kali ini ia melihat pohon kemboja merah berbuah.

— Anak gila yang baik ! Marilah kita makan bersama. Dan jangan bermalas malasan tidur saja!

— Kakek Dadung Ngawuk! Aku tak mau lagi kau panggil deagan anak gila! Sujud menyawab sambil bangkit daa duduk disebelah kakek2 itu.

— Bagus, bagus ,,,,,, nanti kita lanjutkan lagi perdebatan ini, tetapi sekarang kita makan dahulu. Perutmu tentu tudah merasa lapar! —

Daging ular yang gemuk itu dipanggangnya diatas api, serta dipotong-potongnya, dan segera mereka berdua memakannya dengan lahapnya.

Semua kera yang berada disekelilingnya tidak ketinggalan turut pula makan buah2an yang telah dibekalnya masing2. Tidak jauh dari tempat perapian, dimana pohon kemboja berada, ternyata ada sebuah sendang yang airnya sangat jernih. Untuk cuci tangan, mandi dan sebagainya, mereka cukup menggunakan buangan air yang mengalir, yang kemudian bertemu dengan kali Lusi. Hanya untuk minum, mereka mengambil langsung dari sendang. Dan didekat sendang itulah kakek Dadung Ngawuk membuat gubuk kecil, sekedar untuk berteduh di waktu hujan. Pada hari2 cerah ia selalu berada dipepohoan ber-main2 dengan keranya. Tidurpun ia selalu dialam terbuka.

Pada hari esoknya Sujud merasa segar serta ringan sekali badannya. Dengan mudah ia dapat turut memanjat pohon yang sangat tinggi serta dapat pula berloncatan didahan dahan, mengikuti gerakan kakek Dadung Ngawuk bersama si Jamang. Ia mulai tertarik akan keindahan alam ditengah hutan itu, dan maksud untuk cepat2 meninggalkan hutan telah terlupakan pula. Mereke dudu pada sebatang dahan yang tinggi sambil asyik bercakap cakap.

— Anak gila! Aku selalu memanggilmu dengan anak gila bukan tak beralasan! — Kakek Dadung Ngawuk mulai bicara. — Pertama kau seorang diri masuk hutan tanpa tujuan, kedua, memiliki celana dan sarung yang walaupun telah kumal itu cukup menunjukkan bahwa kau adalah keluarga yang Raja ataupun bangsawan di kota Raja. Ketiga, melihat gerakanmu dalam menerjang kera-keraku kemaren, jelas babwa gerakan yang kau lakukan adalah terdiri dari jurus2 dari seorang tamtama Kerajaan dan yang terachir, kau mengaku bernama Sujud. Itu tak cocok dengan pribadimu. Nama Sujud harusnya hanya dimiliki oleh Rakyat biasa ataupun seorang anak pendeta (Brahmana), sedangkan tulang2 dan darahmu menurut pengetahuanku setelah aku raba kemaren, kau adalah keturunan orang bangsawan ataupun orang kaya. Dan mungkin orang tuamu memberikan nama Sujud kepadamu. Nah, coba sekarang kau bantah keteranganku ini dengan kejujuranmu — Berkata demikian Dadung Ngawuk sambil memandang kearah muka Sujud dengan amat tajamnya.

— Ach ….. tetapi itu semua bukan alasan untuk menuduhku sebagai anak gila. Aku tak mau membantah keteranganmu bukan karena membenarkan, tetapi aku sendiri tidak tahu siapa aku ini sesungguhnya — Sujud berkata dengan sega!a kejujurannya.

Mendengar jawaban Sujud, kakek Dadung Ngawuk mengerutkan keningnya dengan wajah yang bersungut-sungut, seakan-akan ada persoalan sulit yang sedang di pikirkan.

— Aneh,aneh ….. Benar2 anak gila... — gumamnya.

Karena kakek Dadung Ngawuk Sujud terpaksa menceritakan riwayatnya seadiri menurut apa yang diketahui dan dialaminya.

Ia menceritakan sejak mengikuti orang tua angkatnya dan kemudian menjadi adik angkat dari Senapati Muda Indra Sambada dikota Raja. Tak pula lupa ia ceritakan pengalaman yang baru saja dialami, sewaktu mendapat siksaan dari Durga Saputra.

Setelah mendengar cerita riwayat Sujud dengan singkat tanpa diketahui sebabnya, kakek Dadung Ngawuk menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, sambil mengayun2kan kakinya

— Kakek Dadung Ngawuk! Mengapa kau menangis?.—

Apakah kau sudah menjadi gila? — Sujud bertanya sambil bersenda gurau untuk menghibur. Sambil mengusap air mata yang mengalir dipipinya kakek Dadung Ngawuk tiba tiba tertawa terkekeh-kekeh, sehingga batang dahan dimana mereka duduk, tergetar keras.-

— Kau tidak gila, anak baik ! — Mungkin …. . aku yang gila .

--- Sudahlah, kakek ! Kita tak perlu lagi mempersoalkan tentang kata gila. Coba kau ceritakan tentang khasiat buah kemboja merah yang kemarin kau paksakan padaku !—

- Haa .... haahaaa .... haaaaa, haaaaa ... ! . Anak cerdik ! Kau ternyata lebih pandai dari pada Bapakmu angkat si Tunggul dukun bayi, yang hanya tahu rempah2.— — Apa ? Bapak Tunggul pernah menjadi tabib yang termasyur di Kota Raja. Jangan kau menghinanya! (Baca "Indra Sambada Pendekar Majapahit")

— Haa . ... haaaa . ... haaaaaa . .. ! Kau marah, bapakmu kunamakan dukun bayi ! Bagus . .. .

haaaa . . .. bagus benar2 kau ini anak gila yang baik. —

Kini kakek Dadung Ngawuk mulai bercerita dengan penuh semangat.

- Dengarkan baik2 !! Buah kemboja merah itu dinamakan buah, - Daru Seketi - artinya dalam jumlah seketi pohon kemboja merah belum tentu ada satu yang dapat berbuah. Dan apabila pohon itu berbuah sebanyak2 nya hanya tiga untai, serta musimnya sewindu sekali. Jika buah itu dipergunakan untuk pengobatan dinamakan dalam kitab usadha buah "tulak tujuh", artinya pemunah daya guna2. Aku sendiri yang telah tua dan hampir masuk kubur, baru kali ini dapat menemukan. Khasiatnya ialah, jika orang itu kuat menahan suhu panasnya badan akibat dari makan buah itu, maka akan menjadi kebal untuk menerima serangan guna2, ataupun serangan daya kesaktian lainnya. Dan juga kebal akan segala macam racun yang merangsang melalui pencernakan. Akan tetapi jika tidak kuat akan panas badan sewatu memakannya akan mati seperti orang hangus terbakar. Dan orang harus memakannya buah tulak tuju itu habis seuntai semua.

Ternyata setelah aku buka jalinan syaraf2mu dan pembuluh darahmu semua, serta kukosongkan isi perutmu, kau telah berhasil melampaui saat yang berbahaya itu. Maka dengan demikian berarti memang cocok untukmu. —

Demi mendengar tutur kata kakek Dadung Ngawuk itu Sujud merasakan tenggorokannya seperti terkunci. Tak mampu ia mengucapkan terima kasih, akan pemberian yang tak ternilai itu. Ia menyesal, karena semula ia mengira bahwa kakek Dadung Ngawuk bermaksud jahat padanya, padahal …..

kenyataannya kini ia malah berhutang budi yang tak mungkin dapat membalasnya.

Waktu itu siang tengah hari. Matahari telah berada diatas kepala, dengan menyinarkan panas yang membara, memandangi seluruh alam terbuka.

Namun dipohon yang rindang itu, mereka tidak merasakan teriknya sinar matahari. Angin yang selalu meniup disiang hari itu membuatnya mereka tetap segar tak berkeringat.

Tiba2 pohon2 disekitarnya bergoyang gemuruh. Suara cecowetan terdengar semakin mendekat.

Pasukan kera Dadung Ngawuk datang berkumpul dengan membawa bermacam2 buah-buahan, sebagaimana biasa pada tiap2 siang tengah hari, untuk makan bersama-sama.

Dadung Ngawukpun segera turun, dengan diikuti oleh Jamang dan Sujud. Dengan rapinya kera2 itu duduk berjongkok mengelilingi mereka, setelah meletakkan buah-buahan yang dibawanya masing2 tadi dihadapan kakek Dadung Ngawuk. Setelah Dadung Ngawuk mengambil yang dipilihnya secukup untuk keperluan mereka bertiga, maka sisanya segera dibagikan kepada semua kera2 anak buahnya oleh si Jamang.

Dan apabila ada salah satu diantaranya yang merampas karena tak sabar menunggu, oleh si Jamang diberi tamparan dan gigitan. Kiranya satupun dtantara mereka tidak ada yang berani melawan si Jamang. Kera2 itu semuanya adalah jenis beruk, memang kera jenis beruk itu rata2 memiliki daya pengertian yang hampir menyerupai manusia. Mereka dapat dengan mudah menghafal gerakan yang dipelajari dengan isyarat isyarat tertentu. Hasil ketekunannya kakek Dadung Ngawuk dalam mengasuh mereka yang telah bertahun-tahun lamanya menunjukkan hasil yang memuaskan dimana kera2 itu selalu menunjukkan ketaatannya dan kesetiaan mereka padanya.

— Anak gila! Nasibku serupa dengan nasibmu! — Dadung Ngawuk mulai lagi dengan bicaranya untuk memecah kesunyian, setelah mereka selesai makan. Dan matanya nampak basah karena mengembeng air mata. — Hanya ….aku telah menemukan tempat batu nisan dimana orang tuaku dikuburnya, sedangkan kau sama sekali belum menemukan jejaknya.

— Yaaah …… kunasehatkan agar kau jangan putus asa untuk mencari orang tuamu, dan aku akan memberikan bantuan sesuai dengan kemampuanku yang ada. — Kakek Dadung Ngawuk menghela nalas panjang, dan berhenti sejenak untuk mengusap air matanya yang kini mulai meleleh dipipinya yang keriput itu. — Tetapi ….. kau harus masih menambah kepandaianmu untuk bekal dalam perjalanan guna tercapainya tujuanmu. Ketahuilah, bahwa orang2 terkutuk seperti Durga Saputra dan lain2nya yang masih banyak lagi untuk disebutkan satu persatu itu, kini berkeliaran dimana-mana. Kekebalan menanggulangi daya guna2 ataupun daya shakti, yang kini telah kau miliki tidak ada artinya jika tidak dilengkapi dengan ketangkasan serta kesaktian lain sebagai pukulan balasan terhadap lawan. Untuk itu, dalam waktu yang singkat ini aku akan mengajarmu, sekedar penambah bekal dalam pengembaraanmu.—

Dengan penuh perhatian Sujud mendengarkan nasehat serta petunjuk2 dari kakek Dadung Ngawuk. Ia sangat kagum akan ketinggian budi yang dimilikinya. Tidak mengira bahwa kakek yang dalam penglihatannya sebagai orang gila itu, tiba2 dapat berobah menjadi seorang penasehat dengan penuh perasa sebagaimana lajaknya seorang guru. Suara tawa yang biasanya selalu mengiringi dengan nada yang terkekeh - kekeh seperti orang sinting, kini lenyap dan menunjukkan wajah yang bersungut-sungut dengan keningnya berkerut.

Sejak saat itu Sujud tiap pagi hari, sebelum fajar menyingsing mendapat latihan ilmu kanuragan, ialah ilmu ketangkasan serta pukulan shakti dari kakek Dadung Ngawuk.

Waktu berjalan, dengan tidak terasa. Tahu tahu Sujud telah menjadi murid kakek gila. Dengan bekal kecerdikannya dan ketekunan yang dimiliki maka dengan mudah Sujud dapat menguasai gerakan langkah "wuru shakti" dengan sempurna. Wuru shakti ialah gerakan mengelak dari serangan lawan dengan langkah2 seperti gerakan orang yang sedang mabok. Gerakan mana dapat juga digunakan sebagai langkah2 menyerang musuh.

Jari2 tangannya dapat ditegangkan menjadi sekeras baja. Dengan jari2 itu ia dapat menusuk tembus benda2 yang keras seperti kayu dan sebagainya.

Kepadanya juga diberikan pelajaran2 mengenai sendi2 kelemahan tubuh manusia mengikuti dasar jalinan saraf2 pokok, serta nadi2 pembuluh darah, atau disebutnya juga “ilmu pengapesan".

Namun semua rangkaian jurus2nya adalah merupakan gerak "wuru shakti", ialah ciri asli dari pada ilmu tata bela diri ciptaan kakek Dadung Ngawuk, dimana gerakannya adalah menyerupai seorang gila.

Dan si Jamang adalah kawan setianya dalam berlatih tiap harinya.

Kini Sujud dapat dengan mudah menerobos kepungan kera2 yang ampat puluh jumlahnya.

Dengan serangan tendangan serta totokan jari2nya yang tepat mengenai jalinan syaraf yang dikehendaki, kera2 teman berlatihnya jatuh bergelimpangan tak berdaya, tanpa mendapat luka yang membahayakan. Gerakan wuru shakti dengan langkah2nya yang ajaib dapat menghindari serangan2 dahsyat yang bertubi-tubi dan sukar untuk diduga sebelumnya.

Setelah dianggap cukup memiliki kepandaian sebagai bekal dalam perjalanan mencari orang tuanya, oleh kakek Dadung Ngawuk, Sujud diperkenankan meninggalkan hutan Blora.

— Dengan bekal kepandaianmu itu, yang sangat sederhana serta kekebalan yang kau miliki, tidak perlu lagi kau kuatir akan berjumpa dengan Durga Saputra atau sebangsanya. Hanya pesanku, setelah kau berhasil menemui orang tuamu, aku sangat mengharapkan kehadiranmu kembali untuk menjengukku sebentar. Sebelum aku meninggalkan dunia yang amat kotor ini, aku masih ingin bertemu dengan kau sekali lagi. — Mendengar kata2 pesan kakek Dadung Ngawuk sewaktu ia diantar sampai ditepi hutan dirasakan berat untuk berlalu dari tempat itu.

Tenggorokannya terasa sangat sukar untuk mengeluarkan kata2 seperti tersumbat tak kuasa untuk melahirkan isi hatinya. Hanya air matanyalah yang meleleh perlahan-lahan dikedua belah pipinya. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya sambil berlutut dengan takzimnya. Dalam hati Sujud bersumpah, bahwa ia tentu akan memenuhi pesan kakek Dadung Ngawuk. Akan tetapi sebelum ia bangkit dari berlutut, kakek Dadung Ngawuk telah lenyap dari depan hidungnya. Sujud memandang dengan heran akan kesaktian kakek Dadung Ngawuk. Kemana perginya sampai ia tak mengetahui, bayangannyapun tak nampak. Dengan langkah yang bimbang serta dipaksakan Sujud berjalan memasuki kota Wirosari yang tak demikian jauh letaknya dari tepi hutan sebelah barat.

Kesibukan dalam kota pada sore itu, ternyata masih nampak ramai. Namun tidak seorangpun kini memperhatikannya sewaktu mereka berpapasan.

Mereka diliputi oleh kesibukannya masing2. Dengan pakaiannya yang telah compang-camping serta kuMal. Sujud berjalan mengikuti orang2 yang sedang berbelanja disepanjang jalan tengah kata. Ia membeli pakaian sederhana warna kelabu untuk dikenakan sebagai ganti dari pada baju dan celananya yang telah compang-camping itu Setelah berganti pakaian ditempat yang sepi, ia kembali lagi memasuki kota untuk mencari warung makan serta tempat untuk bermalam.

Esok paginya sewaktu Sujud meninggalkan rumah penginapan, tiba2 terdengar jeritan anak kecil dari seberang jalan dimana ia sedang berdiri. Seekor kuda yang tak dapat dikendalikan oleh penunggangnya menerjang dua anak kecil yang sedang enak berjalan bergandengan, hingga satu diantaranya terpental dan jatuh bergulingan ditanah.

Yang menjerit itu adalah anak perempuan yang umurnya kira2 enam tahun sedangkan yang jatuh bergulingan itu adalah anak lelaki yang usianya sekitar delapan tahunan. Mudah diterka, bahwa mereka adalah kakak beradik dari keluarga miskin. Dengan cepat Sujud lari dan menyambar anak kecil yang menjerit serta dipondongnya mendekati anak laki2 yang masih terlentang ditanah ditepi jalan.

Akan tetapi sewaktu ia berjongkok sambil memondong anak perempuan kecil itu, kuda yang binal itu telah menerjang kembali kearahnya.

Sungguhpun dia dapat mengeIak, tetapi anak yang terlentang itu tentu tak mungkin dapat terhindar dari injakan kaki kuda. Orang2 perempuan yang sedang berlalu serentak menjerit demi melihat kejadian yang mendebarkan jantung itu. Akan tetapi, dengan tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang melihatnya dengan penuh kecetuasan, kuda dan penunggangnya jatuh terguling kesamping.

Kedua kaki kuda tegang berkelejotan, sedangkan penunggarunya terpental jatuh bergulingan ditengah jalan. Tanpa menghiraukan kejadian atas penunggang dan kudanya, Sujud membangkitkan anak lelaki yang masih terlentang ditanah itu, segera diseretnya lebih menepi lagi. Kiranya anak lelaki itu hanya terluka ringan karena kebentur batu2 dijalan, hanya ia tak sadarkan diri karena kagetnya.

Penunggang kuda yang jatuh bergulingan segera bangkit berdiri dan melangkah mendekati kudanya yang masih menggelimpang ditanah dengan kakinya berkelejotan.

Penunggang kuda yang jatuh itu adalah seorang pemuda yang usianya tak lebih dari duapuluh tahun, dengan pakaiannya yang serba indah.

Wajahnya tampan, namun tingkah lakunya kelihatan kasar dan sombong Dengan muka merah padam karena malu dilihat orang banyak, sambil mengibaskan tangannya untuk menghilangkan debu yang melekat dipakaiannya, ia memeriksa kudanya yang masih terlentang

— Hai jembel kecil!.!, Kau apakan kudaku tadi? bentaknya tertuju pada Sujud.

Tak tahu!!. Mungkin terpelanting karena tarikan lis yang kau lakukan sendiri!! — Jawab Sujud dengan tanpa menoleh.

Sambil berjalan dengan memondong anak perempuan kecil serta menggandeng anak lelaki yang telah siuman kembali.

— Hai ! ! !. Berhenti dulu ! ! ! Berkata demikian pemuda itu mengulang kembali memeriksa kudanya.

Mendengar pemuda itu membentak bentak, orang2 yang mengerumuni segera berlalu untuk menjauhi.

Sujud segera berhenti sejenak dan mengawasi kearah pemuda yang masih menggumam tak menentu. Pengalamannya yang penuh kepahitan pada tahun yang lalu dapat untuk peringatan. Kini ia tak mau melayani marahnya si pemuda. Ia tetap berlagak tolol, seakan akan tak tahu sama sekali akan sebab musababnya terpelantingnya kuda dengan penunggangnya. Sedangkan sebenarnya, sewaktu kuda menerjang kearahnya dengan cepat ia menotok nadi pembuluh darah serta urat2 penggerak kaki depan kuda, dengan kedua jari tangan kirinya. Akan tetapi karena hal itu dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, maka sukarlah diikuti oleh orang orang yang tidak mempunyai pengertian. Kiranya totokan jarinya itu ter-  

Akan tetapi, dengan tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang melihatnya dengan penuh kecemasan, kuda dan penunggangnya jatuh terguling kesamping.

lampau keras, hingga nadi pembuluh darah sebelah kanan pecah karenanya. Dengan demikian maka tak mungkin dapat dipulihkan kembali.

Mendengar jawaban Sujud serta melihat gerak geriknya yang tolol itu si pemuda menjadi percaya. — Sudahlah ! ! Lekas pergi ! ! Kusuruh mengganti kerugianku, juga kau tak akan mampu! ! ! Ia membentak dan menggumam : — Masih untung kepalamu tak pecah terinjak oleh kudaku.

Cepat Sujud meninggalkan pemuda itu, dengan lagak ketakutan. Pergi menuju kepasar kota dan segera memasuki sebuah warung makan. Kedua anak tadi disuruhnya makan sepuas puasnya. Alangkah girangnya, setelah Sujud mengetahui bahwa kedua anak itu adalah Martiman dan Martinem.

Mereka saling berpelukan penuh rasa haru ……..

Tidak menduga bahwa akan berjumpa dikota Wirosari Dengan tangis terisak-isak Martiman menceritakan, bahwa ibunya telah meninggal setengah tahun yang lalu. Dan kini mereka berdua kakak beradik terlunta lunta sebagai anak yatim piatu dan menjadi pengemis. Tidak terasa pula pipi Sujud basah pula oleh air mata yang meleleh karena penuh rasa haru demi mendengar cerita yang dialami oleh Martiman dan Martinem berdua.

— Sudahlah, Man!! Tak usah kau selalu bersedih hati. Ikut saja kau berdua dengan aku. Akupun hidup sebatang kara didunia ini ……. Kita senasib dan sependeritaan …… Nem, kau jangan rewel diperjalanan nanti ya …… Jika nanti kau lelah akulah yang akan memondongmufl— Sujud berkata lemah lembut untuk menghibur Martinem.

Kiranya tawaran itu sangat menggirangkan hati kedua anak tadi. Oleh Sujud mereka berdua segera diberikan pakaian untuk ganti, karena pakaian yang mereka kenakan telah kumal cumal.

Setelah cukup kebutuhan yang diperlukan, mereka bertiga segera meningalkan pasar kota untuk melanjutkan perjalanannya menuju kearah barat. Akan tetapi setelah mereka diperbatasan luar kota, tiba-tiba Sujud mendengar derap langkah kaki kuda dari arah kejauhan.

Setelah makan buah daru seketi, Sujud memiliki perasaan yang sangat tajam. Denyut jantungnya dirasakan sangat berdebar debar dan rasa cemas akan datangnya bahaya cepat meliputi dirinya.

--- Cepatlah, kau jalan lebih dahulu berdua Martinem. Man! Dan tunggulah didesa depan itu sampai aku datang menyusulmu. Biarlah aku menghadang mereka yang tengah mendatang berkuda itu -

-- kita!!— --- Tapi untuk apa, kau menghadang mereka, kang Sujud —

Sudahlah!! Jangan menabuang buang waktu!! Aku kuatir mereka akan datang mengganggu

Dengan tak mengulangi pertanyaannya. Martiman segera mentaati perintah Sujud. Ia memondong Martinem sambil berlari lari kecil dengan rasa ketakutan. Sementara itu Sujud berjalan biasa, akan tetapi dengan penuh kewaspadaan. Dan memang benar dugaan Sujud.

Tiga orang berkuda memacu kudanya masing masing. seakan akan berebut mendahului sampai ditempat tujuan. Ternyata seorang diantaranya adalah pemuda yang tadi jatuh bergulingan dijalan.

— Hai, anak jembel! Berhenti zebentar! — serunya, setelah mereka dekat berada

.dibelakangnya Suljud segera berhenti ditepi jalan, sambil menengok kearah datangnya suara. Tiga orang serentak turun dari kudanya dan mendekati Sujud yang berdiri dengan berlagak tolol.

— Inikah Den Mas Daksa, anaknya? — tanya satu diantaranya kepada si pemuda tadi.

— Ya, betul jawabnya singkat.

--- Tetapi cobalah akan kutanya kata seorang yang lain.

Sujud masih saja berdiri dengan lagak yang tolol mengawasi ketiga orang pendatang dengan ternganga. Den Mas Daksa, demikian nama pemuda itu, adalah putra Panewu Wirosari yang sangat terpandang dan disegani oleh para penduduk kota itu. Setelah tadi a tak dapat memotong kudanya bangkitt, ia pulang ke Banjar Kapanewon dan bersama-sama dengan pengawal praja serta juru penegar (perawat kuda) ia kembali ketempat dimana kudanya menggelimpang ditepi jalan. Setelah juru penegar memeriksanya dengan teliti, kaki kuda sebelah depan ternyata lumpuh, karena terluka didalam.

Dengan susah payah juru penegar mengurut2 tulang kakinya, akan tetapi sia-sia belaka, karena ternyata tulang2nya tak menderita apa2. Hanya pahanya sebeiah dalam semakin membengkak. Dengan demikian teranglah, bahwa lukanya kuda itu bukan karena jatuh terpelanting, ataupun akibat jatuh terkilir. Akan tetapi akibat serangan pukulan yang tak diketahui, bagaimana caranya. Namun jelas, bahwa penyerang tadi tentu memiliki kepandaian. Timbullah kini kecurigaan akan kemungkinan adanya serangan gelap.

Den Mas Daksa menduga, bahwa tentu ada orang lain yang menyerang, sewaktu Sujud menyelamatkan anak kecil itu. Dan orang lain itu tentu kawan atau orang tuanya Sujud yang menyaru sebagai penonton yang tadi banyak mengerumuninya. Maka dengan dikawal oleh dua orang punggawanya Den Mas Daksa mencari Sujud untuk mendapatkan keterangan tentang orang yang berani menyerang kudanya secara gelap.

— Anak jembel!. Siapa namamu? — tanya seorang dengan kasar. Orang itu tinggi besar dan hitam warna kulitnya mukanya nampak bengis.

— Saya … Sujud !— jawabnya singkat sambil masih melongo, memperlihatkan ketololannya.

Sementara itu Den Mas Daksa mengawasi Sujud dengan penuh selidik dan sebentar-bentar saling pandang dengan seorang punggawa disebelahnya yang tubuhnya pendek kokoh!!

— Sujud! — Dimana rumahmu ?—

Menghadapi pertanyaan ini, Sujud agak sukar juga untuk memberikan jawabannya. la terdiam untuk memikir jawaban apa yang harus diberikan, agar mereka segera puas. Akan tetapi belum juga ia sempat menjawab, orang yang bertanya telah membentaknya dengan kasar karena tak sabar: — Jawab ccpat dimana rumahmu !?

— Dari Jepan — Nama desa itulah yang masih ia ingat, sebelum ia memasuki hutan Blora, maka disebutnyalah sebagai jawaban, agar memuaskan mereka. Akan tetapi dengan jawaban itu malah semakin menyulitkan baginya. Bertiga mereka saling berpandangan dengan sikap yang mencurigakan.

--- Apa ? ….. Dari Jepan, katamu tadi? Mana mungkin! Jepan itu sangat jauh dari sini, dan untuk jalan memotong harus melalui hutan belukar yang sangat berbahaya. Ayo! Jangan bohong, jawab dengan sebenarnyal. Kurangket jika kau membohong!----

Benar ! Memang saya dari desa Jepan!

--- Dengan siapa kau datang ke Wirosari?—

Kini kecurigaan ketiga orang itu terhadap Sujud semakin bertambah. Jika ia betul2 dari Jepan, tentu tidak akan berjalan sendirian pikir mereka.

— Bohong bentaknya: — Ayo Iekas, tunjukkan siapa namamu?! Ataupun orang tuamu yang datang bersamamu ke Wirosari. !—

— Aku tidak dusta ! Datangku kemari seorang diri !—

— Jika tidak mau mengaku, akan kuseret kembali kekota. Berkata demikian orang tinggi besar itu sambil melangkah maju setindak dan mengulurkan tangannya untuk menangkap pergelangan tangan Sujud yang sedang berdiri ter-longong2. Akan tetapi Sujud sekarang bukan Sujud pada setahun yang lalu. Dengan pengalamannya yang penuh kepahitan, ia tak mau lagi dipermainkan orang. Ia ter-huyung2 kesamping kiri dengan membungkukkan badannya, sambil jari2nya memegang dan menotok kearah ketiak kanan lawan yang terbuka.

Gerakan itu amat cepat dilakukannya, dan orang hanya melihat ia terhuyung-huyung seperti langkah orang mabok yang tidak menentu. Dan akibatnya hebat sekali. Orang tinggi besar itu dengan tiba-tiba ber-jingkrak2 sambil mengaduh kesakitan, karena tangannya kanan dirasakan lumpuh tak dapat digerakkan lagi. Melihat kejadian yang aneh ini, Den Mas Daksa dan seorang pcngawal lainnya ternganga heran dan saling pandang. Mereka belum percaya, bahwa temannya mendapat serangan dari seorang anak tanggung yang kini berada dihadapannya.

Dilihatnya kanan kiri dan sekitarnya, barangkali ada orang lain yang turut campur tangan, membantu Sujud dengan serangan rahasia secara sambitan ataupun cara Iainnya. Setelah nyata, bahwa tidak ada orang lain yang bersembunyi, maka teranglah bahwa anak tanggung ini yang sedang dihadapinya bukan merupakan anak biasa.

Mereka berdua segera serentak bersama-sama menyerang Sujud dengan pukulan dan tendangan silih berganti. Namun kembali Sujud dengan gerakan langkahnya wuru shakti dapat dengan mudah menghindari serangan, sehingga mereka selalu memukul tempat kosong. Seperti layaknya seorang sedang mabok minuman, Sujud melangkah maju ter-huyung2 untuk kemudian meloncat kesamping ataupun jatuh berjongkok seperti kera dengan kedua tangannya mengibas menangkis serangan susulan yang mendatang.

Sifat keberanian yang dimiliki membuat ia ingin menguji dan membuktikan sendiri akan kehebatan gerakan jurus2 wurusakti yang baru saja dipelajari dari kakek Dadung Ngawuk. Ia sengaja tak mau menyerang lawan terlebih dahulu, sebelum mempermainkan lawan2nya yang ternyata hanya mengandalkan ketangkasannya dan kekuatan tenaga yang wajar saja.

Sebagai seorang yang usianya masih muda, Den Mas Daksa mudah naik darah. Dengan penuh nafsu ingin cepat meringkus lawannya, ia mambabi buta menyerang dengan pukulan2 dan tendangan- tendangan kilat yang ber-tubi2, akan tetapi tidak pernah menyentuh sasarannya.

Semula mengira bahwa serangan2 yang selalu jatuh di-tempat kosong itu hanya suatu kebetulan saja. Akan tetapi setelah mereka berdua berulang kali menyerang serentak dengan jurus2nya yang mereka anggap sebagai jurus simpanan juga tak mampu merobohkan. Segeralah ia sadar, bahwa lawannya anak tanggung ini memang memiliki kepandaian yang tidak dapat dipandang ringan. Hanya saja karena mereka belum pernah mendapat balasan serangan, maka masih tetap mengira, bahwa lawannya hanya pandai mengelak.

— Jika tak mau menyerah kubelenggu, akan kurobek perutmu nanti dengan golok ini ! — seru Den Mas Daksa sambil menghunus goloknya dan Iangsung menyerang. Gerakannya cepat laksana kilat menyambar. la meloncat kedepan satu langkah dengan membungkukkan badannya, sedang tangan kanannya yang memegang golok menyerang kearah perut bujud dengan gerakan tusukan melintang dari kiri kekanan.

Menghadapi serangan yang sangat ganas dan cepat itu, Sujud masih juga sempat ketawa seperti orang setengah gila. Kiranya sifat2 kakek Dadung Ngawuk yang sinting itu kini dimiliki pula olehnya.

Sewaktu goloknya menyambar kurang setengah jengkal dari perutnya, ia menjatuhkan diri kebelakang dengan ujung kakinya menendang siku lengan kanan Den Mas Daksa, dan dirangkaikan dengan gerak berjumpalitan surut kebelakang. Itulah gerak langkah wuru shakti dengan jurusnya

„mabok berguling merampas senjata" yang sukar diduga sebelumnya.

Den Mas Daksa berseru terkejut dan dirasakan tulang tangannya seperti patah dan lumpuh seketika. Goloknya terlepas dari genggaman dan terpental melambung tinggi, untuk kemudian jatuh ditanah dalam jarak kurang dari sepuluh langkah. Sebenarnya siku-siku lengannya tadi bukan patah tulang, akan tetapi hanya terkena syaraf penggeraknya saja, sehingga dirasakan amat sakit, tak ubahnya seperti patah tulang.

Sebagai seorang yang cepat naik darah, Den Mas Daksa tak mau menyerah demikian saja. Serangan yang gagal ditengah tengah masih juga dilanjutkan dengan rangkaian tendangan kaki silih berganti, dan bersamaan dengan itu, seorang punggawa pembantunya telah pula menghunus klewangnya serta membantu menerjang Sujud dengan serangan bacokan yang dahsyat. Namun kembali lagi Sujud menghindari serangan dengan gerakan bergulingan kesamping kanan dengan cepat bangun berjongkok serta meloncat seperti kera meloncati kepala dua orang lawannya untuk kemudian jatuh berdiri dibelakang para penyerangnya didepan kuda yang sedang berdiri dengan meringkik-ringkik.

Sungguh suatu gerakan yang mentakjubkan bagi para penyerangnya. Mereka tak menduga, bahwa lawannya seorang anak tanggung memiliki kesaktian yang demiksan tinggi.

— Anak siluman jahanam! — bentak punggawa yang bertubuh pendek dengan klewangnya ditangan. — Rasakan babatan klewangku! Kepalamu akan menggelinding terpisah dari gembungmu!—

— Ha ha . . ha . haaaa! Menyembelih ayampun kau tak becus, apalagi akan memenggal leherku. Ini . . . kalau mau memenggal? — Sujud ketawa terkekeh-kekeh mengejek lawannya sambil mengulurkan lehernya yang pendek itu.

Dihina demikian, punggawa yang bersenjatakan klewang itu kelihatan lebih marah lagi. Mukanya menjadi merah padam sampai diujung telinganya, dan matanya membelalak liar menahan rasa dendamnya yang tak terhingga. Ia meloncat selangkah, sambil mengayunkan klewangnya dalam gerakan bacokan yang disertai pengerahan tenaga penuh, karena kemarahan yang telah mencapai pada puncaknya. Namun Sujud masih saja berdiri dengan ketawa terkekeh-kekeh dan kepalanya

mengangguk-angguk mengejek lawannya. Klewang berkelebat diatas kepalanya, seakan-akan tak ada kemungkinan lagi untuk menghindari serangan yang kejam dan dahsyat itu. Tetapi dengan tidak diketahui bagaimana caranya, Sujud telah berada dibalik kuda yang berdiri tadi. Bacokan klewang mengenai tempat kosong, cepat dirobahnya mendiadi gerakan tebangan yang ternyata tepat mengenai kedua kaki kuda belakang yang berdiri dihadapannya.

Tak ayal lagi kuda meringkik keras dan jatuh terkapar ditanah dengan kedua kaki belakangnya buntung terkena sabetan klewang. Sedangkan kuda lainnya berjingkrakan lari meninggalkan tempat itu. Punggawa itu segera meloncat surut kebelakang sambil berseru terkejut.

Ternyata pada waktu klewang tadi hampir jatuh tepat diatas kepala, Sujud menyelinap dan menerobos dibawah perut kuda yang berdiri dibelakangnya, dengan demikian susulan rangkaian serangan punggawa yang tak dapat ditarik kembali, tepat mengenai kuda yang menjadi penghalang antara dia dan Sujud.

– Haaaa …. ha . haaaa … . ha ….. ha! Apa kataku? Kalian hanya bisa memotong kaki kudamu sendiri yang tak berdosa! — Sujud berseru mengejek sambil ketawa nyaring.

Dipermainkan demikian punggawa itu menjadi lebih beringas dan kini ia menerjang dengan klewangnya secara membabi buta. Sementara itu Den Mas Daksa telah lari mengejar kudanya yang meninggalkan tuannya. Akhirnya dapat juga kuda itu dipegang, dan segera meloncat diatas pelana, untuk kemudian meninggalkan teman2nya dengan tidak menghiraukan lagi. Tangannya masih juga dirasakan sakit dan kaku tak dapat digerakkan.

— Sebentar aku akan kembali ! ! !. Teriaknya, sambil memacu kudanya. Dengan kecerdasan otaknya Sujud segera dapat menangkap makudnya, bahwa Den Mas Daksa tentu kembali dengan membawa bala bantuan. Dengan langkah2 ajaibnya seperti orang yang mabok, Sujud menyelinap kian kemari diantara sinar klewang yang berkelebatan ber-gulung2 mengurung tubuhnya, Karena menganggap telah cukup mempermainkan lawannya, serta yakin akan kehebatan gerakan ilmu wuru sakti yang dipelajarinya kini Sujud bermaksud segera ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat. Sambil menyelinap dan menerobos dibawah ketiak lawan, jari jari Sujud yang telah ditegangkan bergerak cepat menotok lambung lawan tepat bawah tulang rusuk. Tak ayal lagi punggawa itu roboh terguling ditanah dengan jeritan tertahan. Nafasnya terasa sesak dan kemudian tak sadarkan diri. Melihat temannya jatuh pingsan terguling ditanah, sipunggawa yang tinggi besar segera lari sambil memegang lengan kanannya sendiri yang dirasakan masih sakit dan lumpuh.

Demikian pula Sujud, dengan tak menyia nyiakan waktu lagi segera melesat pergi, meninggalkan tempat itu menuju kedesa dimana Martinem dan Martiman telah menunggu lama dengan penuh rasa cemas.

Karena kuatir akan tersusul oleh datangnya Den Mas Daksa berserta kawan kawannya yang belum diketahui jumlahnya, Sujud mempercepat jalannya dengan memondong Martinem dan diikuti oleh Martiman menusupi jalan jalan desa dan sawah sawah menuju kearah barat.

Dugaan Sujud memang benar adanya. Tak lama kemudian Den Mas Daksa telah datang kembali dengan membawa duabelas orang punggawa berkuda.

Mereka memasuki desa desa disekitarnya dimana pertempuran tadi terjadi untuk menangkap Sujud. Ternyata Sujud tak dapat diketemukan. Untuk melampiaskan kemarahannya orang2 desa yang tak mau membantu mencarinya dipukuli dengan cambuk dan ditendangi beramai ramai.

Setelah berjalan jauh dan merasa yakin sudah terhindar dari para pengejar. Sujud menurunkan Martinem dari pondongannya, kemudian diajaknya berjalan sendiri sambil digandeng tangannya.

— Kang Sujud ! ! ! Mengapa tadi kakang lama sekali Dan bajumu kumal penuh debu ? — Apakah kakang tadi disiksa oleh mereka ? — Martinem bertanya memecah kesunyian.

— Och, ……. mana mungkin mereka berani menyiksaku ? Jawab Sujud sambil membusungkan dadanya. — Aku sampai lama menyusulmu sebab tadi aku harus menyaksikan mereka memotong kaki kudanya sendiri ! !

— Dipotong sendiri, bagaimana kang ? Dan lagi mengapa bajumu sampai kotor sekali ?

— Dipotong sendiri ….. yah …. dipotong sendiri dengan klewangnya. Mungkin mereka butuh daging kuda. Tadi saya mencoba minta dagingnya sedikit saja, ternyata mereka sangat pelit.

— Lalu kakang diapakan oleh mereka ?

— Yaah, …. mereka mau memukulku, tapi aku dengan cepat lari sambil memungut batu dan segera kulempar kearahnya yang kebetulan tepat mengenai kepalanya seorang diantara mereka hingga benyol. Lalu mereka lari semua, takut kalau akan kulempar batu lagi ! !

— Kau pandai membual kang ! !. Aku agak tak percaya dengan ceritamu itu ! !

— Tak percaya ya sudah ! ! Habis aku harus menjawab bagaimana ?

— Betul kok, kang Martiman ! ! Kang Sujud memang pandai sekali melempar. — Martinem memotong bicara dengan logat kekanak kanakan yang sangat lucu. Kini mereka bertiga berjalan sambil bersenda gurau dengan riangnya. Sebentar sebentar mereka tertawa terpingkal-pingkal karena masing2 senang bergurau dan melucu dengan sifat ke-kanak2annya.

Martinem dan Martiman merasakan betapa senangnya mereka ini mengikuti Sujud yang membekal uang banyak. Mereka tak perlu lagi kuatir kelaparan dalam pengembaraannya, sebagaimana telah dialaminya sewaktu mereka belum berjumpa dengan Sujud. Makanan apapun yang diinginkan pasti akan dibelikan oleh Sujud, untuk dinikmati bersama-sama. Hanya permimaan untuk memakai pakaian yang indah oleh Sujud selalu ditolak dengan kata-kata lemah lembut serta janji2, bahwa kelak kalau telah sampai di Indramayu akan dibelikannya. Hal ini memang disengaja, karena mengingat pengalamannya sendiri, sewaktu ia minggat dari Senapaten dulu. Bukankah dengan pakaian yang bagus itu hanya akan menarik perhatian orang banyak? Serta akibatnya akan menimbulkan banyak kesulitan. Lagi pula masih berapa lama untuk menempuh perjalanan sampai di Indramayu, ia sendiri juga tidak dapat mengetahuinya. Dengan mengaku, bahwa mereka bertiga adalah saudara sekandung yang hendak mengunjungi pamannya yang kini tinggal jauh dari desa yang dilaluinya, banyak orang2 pedesan yang menaruh rasa belas kasihan. Dan dengan demikian mereka tak sukar untuk mencari tempat menginap diwaktu malam harinya. Disamping mendapat tempat untuk mengaso dan menginap, tidak jarang pula mereka mendapatkan pemberian sajian berupa makanan dari para orang2 yang memberikan tempat bermalam. Tiap kali ada kesempatan yang baik, ialah pada waktu sepi tak ter-lihat orang, Sujud selalu mengulang melatih diri semua pelajaran2 yang pernah diterima dari kakek Dadung Ngawuk. la melakukan latihan2 itu biasanya pada waktu fajar atau senja ditengah2 tegalan ataupun dataran kosong yang dilalui dalam perjalanannya. Karena geraknya selalu aneh dan sukar diikuti maka Martiman dan Martinem hanya duduk menunggu didekatnya dengan mulut ternganga saja.

Mereka berdua tidak mengerti gerakan apa yang sedang dilakukan oleh Sujud. Seringkali Martiman mengajukan pertanyaan mengenai perhuatan yang dilakukan oleh Sujud, akan tetapi selalu dijawab oleh Sujud dengan bergurau saja. Dan akhirnya Martiman menjadi bosan sendirinya untuk mengajukan pertanyaan2 yang sering kali ditanyakan, yang jawabannya tidak memuaskan hatinya Martiman. yang diketahui oleh kedua arak itu hanya gerakan2 jari2nya yang mampu memecahkan batu dengan totokannya. Hal ini sungguh membuat mereka berdua heran dan bangga. Sewaktu tengah berjalanpun, Sujud seringkali dengan tiba2 meloncat tinggi meraih dahan pohon yang dijumpai dalam perjalanan, dan kemudian bergantungan seperti kera didahan pohon itu. Sedangkan Martiman dan adiknya hanya dapat ikut bergembira sambil bertepuk-tepuk tangan memuji akan ketangkasannya yang mengagumkan itu.

*

**

B A G I A N: IV,

SETELAH mereka berjalan selama empat bulan, sambil menikmati keindahan alam yang dijumpainya, kini mereka bertiga berjalan mengitari Gunung Slamet melalui selatan, dan tibalah didesa2 Kranggan, Bumiayu, dan Prupuk untuk kemudian menyeberangi kali Pemali menuju kekota Banjararja.

Sungguhpun waktu telah lewat senja, mereka tiba dikota Banjararja akan tetapi sinar lampu2 minyak penerang kota ternyata cukup terang menerangi hingga menambah semaraknya keindahan kuta yang ramai itu.

Pada waktu itu memang baru ada keramaian dikota. Dialun-alun kebanjaran nampak jelas adanya bangunan sebuah panggung yang luas yang biasa dipergunakan untuk pameran suatu pertunjukan keramaian.

Panggung yang luasnya dalam bentuk segi panjang selebar sepuluh langkah dan panjangnya tak kurang dari dua-puluh langkah itu, dibuat dengan papan kayu jati yang tebalnya kira-kira setengah jengkal dengan tiang- tiangnya yang rapat serta kokoh kuat setinggi manusia berdiri.

Panggung itu merupakan panggung terbuka tak beratap, dan disekelilingnya dihias dengan janur kuning serta diselang seling dengan pita2 sutra beraneka warna.

Serakit gamelan dengan para pemukulnya nampak pula berada diatas panggung, disudut samping sebelah belakang. Bangku-bangku panjang dengan meja-mejanya berderet-deret teratur rapih didepan panggung, dan telah penuh pula dengan para tamu undangan.

Hanya dua baris bangku terdepanlah yang kelihatan masih kosong dan tak ada yang berani menempatinya.

Jauh dibelakang para tamu undangan dengan batasnya kawat yang terpancang, dimana rakyat yang menonton telah berjejal-jejal berdiri, dengan saling berebut untuk dapat berada didepan. Demikian pula keadaan disekitarnya, samping kanan dan kiri panggung itu.

Didalam alun-alun yang luas itu, banyak pula warung-warung darurat yang berjualan makanan serta ada pula yang menyediakan tempat-tempat untuk bermalam bagi para pengunjung dari jauh, dengan penarikan biaya yang sangat rendah. Disamping warung-warung makan itu, masih banyak lagi para pedagang kecil yang berjualan ditempat terbuka, seperti pakaian beraneka warna macam, mainan kanak-kanak, buah-buahan dan lain-lainnya.Dan mereka menawarkan dagangannya dengan caranya masing-masing, berebut untuk menarik perhatian para pengunyung yang berjejal-jejal itu, hingga menambah riuhnya suasana.

Sambil menggandeng tangan Martinem yang tak henti-hentinya menanyakan semua yang dilihatnya, dengan diikuti oleh Martiman disampingnya, Sujud berjalan ditengah-tengah orang yang berjejal-jejal itu, untuk mencari sebuah warung dan tempat bermalam. Mengingat bekalnya yang kian menipis, maka Sujud menuju kewarung yang sederhana disudut alun-alun yang tempatnya agak sepi.

Kebetulan warung itu menyediakan banyak tikar pula, untuk disewakan pada para pengunjung yang ingin bermalam diwarungnya, dengan harga yang sangat rendah.

Pun pemilik warung itu ternyata seorang perempuan yang telah lanjut usianya dan sangat peramah. Atas pesan Sujud, pemilik warung itu setelah menghidangkan makan bagi mereka bertiga, segera menggelar tiga tikar di suatu ruangan yang bersih, serta mempersilahkan dengan ramahnya untuk berkemas dan mengaso, sementara ia masih sibuk melayani tamu-tamtt yang lain.

Dari bibi pemilik warung yang ramah itu, Sujud mendapat keterangan bahwa keramaian yang tengan berlangsung adalah perayaan pesta pernikahan dari anak putrinya Panewu Arjasuralaga yang bernama Rara Tanjungsari. Adapun mempelai lelakinya berasal dari Kuningan, seorang pemuda terpandang putra sulung dari Kyai Singa Yudha, guru shakti dalam ilmu kanuragan yang telah terkenal Perguruannya dinamakan "BASKARA MIJIL" (Matahari terbit) dengan lambang kebesarannya berlukiskan gambar matahari terbit dengan garis-garis sinarnya memenuhi separo lingkaran.

Sungguhpun perguruan Baskara Mijil itu belum lama didirikan, namun murid-muridnya telah cukup banyak, dan pengaruh-nya telah tersebar luas.

Kiranya Panewu Arjasuralaga girang sekali mempunyai menantu yang tanpa dan memiliki ilmu krida yudha yang dianggapnya cukup mengagumkan itu, sehingga untuk merayakan hari perkawinannya diadakan keramaian lima hari lima malam, juga akan diadakan lomba olah kanuragan untuk memperebutkan gelar kejuaraan daerah Banjararja dengan hadiah-hadiahnya yang berharga, berupa sejumlah uang emas dan pakaian, serta pemenangnya akan diangkat menjadi lurah narapraja, pengawal pribadi Penewu Arjasuralaga.

Hal ini tidak mengherankan, karena sebelum ia menjabat sebagai Penewu Narapraja di Banjararja, ia sendiri adalah seorang tamtama di kota Raja. Dan kiranya oleh kanuragan masih selalu merupakan kegemarannya. Semenjak Penewu Arjasuralaga menjabat sebagai kepala narapraja di Kebanjaran Banyararja, baru kali inilah diadakan keramaian yang semeriah itu.

Keramaian itu telah berlangsung satu hari semalam, dengan mendapat perhatian yang sangat besar dari para tamu undangan maupun rakyat biasa yang menyaksikannya. Dan keramaian pada malam ini adalah malam yang kedua dengan acara pertunjukkan senitari dari daerah Kuningan berupa tari kelana topeng, dan dilanjutkau dengan wayang golek siang harinya.

Kita mengaso dulu sebentar, Nem!. Besok pagi saja, kalau sudah hilang lelah kita, kau tentu akan kuantar melihatnya! -- Sujud menjawab dengan suara lemah untuk menghibur.

— Sekarang saja, kang Sujud. Besok tentu sudah bubar Martinem mendesak dengan merengek-

rengek.

— Nem, kau jangan rewel saja! Keramaian itu masih akan berlangsung sampai ampat hari Iagi,

jadi tak usah kuatir untuk tidak kebagian melihat! ….. Sudahlah…. lebih baik sekarang mengaso dulu! — Dengan tak sabar Martiman memotong pembicaraan, demi menegur adiknya.