Pangeran Anggadipati Bab 14 : Putri Yuta Inten

 
Bab 14 : Putri Yuta Inten

Setelah upacara yang bersifat ujian pertama itu dilampaui, tak banyak yang dikerjakan oleh para calon puragabaya di padepokan itu. Sambil menunggu panggilan dari Pakuan Pajajaran untuk menerima tugas-tugas dalam masyarakat, kadang-kadang para calon pergi berburu, kadang- kadang melakukan latihan ketangkasan, dan sebagainya. Latihan-latihan ini dilakukan tanpa dipimpin oleh pelatih-pelatih mereka karena para pelatih ini sudah terlebih dahulu mendapatkan cuti besar dan kembali kepada keluarga mereka masing-masing. Demikian juga sebagian dari panakawan termasuk Mang Ogel. Mereka yang dibutuhkan tenaganya dan tidak atau belum beristri, tinggal di padepokan itu melakukan tugas biasa melayani Eyang Resi, dan para calon.

Kemudian, pada suatu hari, panggilan itu pun tibalah dibawa oleh puragabaya Geger Malela. Dalam surat panggilan itu ditetapkan, setiap calon akan diberi tugas menjadi pengawal-pengawal pribadi sejumlah bangsawan tinggi. Ditetapkan pula bangsawan-bangsawan mana yang akan dikawal oleh calon-calon itu. Di antara bangsawan tinggi yang akan diberi pengawalan itu termasuk Ayahanda Pangeran Anggadipati, yang menurut puragabaya Geger Malela sekarang diberi tugas di Pakuan Pajajaran karena sang Prabu sangat berkenan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh Ayahanda dalam meningkatkan kesejahteraan daerahnya. Keterangan itu sungguh- sungguh sangat membuat gembira hati Pangeran Muda. Pertama, karena Ayahanda telah mendapat kehormatan untuk mendampingi sang Prabu di Pakuan Pajajaran; kedua, karena dengan penugasannya di Pakuan Pajajaran, akan lebih mudah bagi Pangeran Muda untuk bertemu dengan beliau. "Anggadipati, kau dapat memilih untuk menukar calon majikanmu dengan ayahmu," ujar puragabaya Geger Malela. "Maksud saya, saya tidak berkeberatan kalau kau menjadi pengawal pribadi ayahmu, Pangeran Anggadipati," lanjutnya.

"Lebih baik tidak, Kakanda," kata Pangeran Muda setelah termenung sebentar, "pertama, pengalaman saya tidak akan bertambah; kedua, Ayahanda belum tentu setuju, ketiga, saya sudah ditetapkan untuk mengawal bangsawan lain; keempat, Rangga akan senang sekali menjadi pengawal Ayahanda."

"Kalau begitu, terserahlah," kata puragabaya Geger Malela.

Setelah pengumuman tentang penugasan itu selesai, pada malam harinya para calon mengadakan pertemuan perpisahan dengan Eyang Resi dan para panakawan yang tinggal. Demikian juga, puragabaya Geger Malela dengan panakawannya ikut menggabungkan diri dalam acara perpisahan itu. Dalam acara perpisahan itu, walaupun untuk sementara, Eyang Resi memberikan berbagai nasihat, di antaranya beliau berkata,

"Anak-anakku, walaupun engkau belum secara resmi menjadi puragabaya engkau akan dimuliakan dalam masyarakat. Segala kebutuhanmu, seperti makanan dan pakaian, bahkan kuda- kuda serta senjata yang akan diurus oleh kerajaan. Engkau adalah golongan bangsawan yang dimanjakan oleh masyarakat karena mereka benar-benar membutuhkan kalian. Kalau mereka menghormati dan mencukupi segala kebutuhanmu secara berlimpah-limpah, hal itu bukan berarti bahwa mereka tidak memiliki pamrih. Mereka berpamrih kepada kalian semua, yaitu agar kalian semua dapat memusatkan segala perhatian kalian untuk menjadi jaminan keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan. Kalian adalah jaminan atau puraga bagi kebahagiaan masyarakat. Oleh karena itu, sesuaikan segala tutur-kata dan tingkah-laku kalian pada pamrih mereka itu.

"Andaikata kalian tidak dapat menyesuaikan diri dengan kedudukan kalian, adalah hak masyarakat untuk mencabut segala kehormatan dari kalian, dan bahkan untuk menuntutkan hukuman bagi kalian. Eyang mendoakan, mudah-mudahan kalian dapat memenuhi kewajiban kalian yang berat dan mudah-mudahan Eyang tidak akan menerima pengaduan-pengaduan yang tidak perlu dari masyarakat melalui sang Prabu."

Demikianlah nasihat terakhir Eyang Resi yang ditutup pula dengan harapan, mudah-mudahan setelah tiga tahun berlalu, mereka akan dapat kembali tanpa kekurangan suatu apa.

Setelah beramah tamah dan melakukan sembahyang bersama, mereka pun kembalilah ke asrama untuk beristirahat karena keesokan paginya semua calon harus meninggalkan padepokan, dan secepat mungkin berada di tempat mereka bertugas.

MALAM itu di ruangannya Pangeran Muda dengan Jante tidak segera tidur. Mereka berbincang- bincang tentang berbagai hal. Pada suatu kali Jante berkata, "Anom, kalau kau tidak tergesa-gesa hendak tiba di puri ayahmu, kau dapat singgah dulu di tempatku. Itu akan menyenangkan; pertama, kita dapat jalan bersama; kedua, ingin sekali saya memperkenalkan keluargaku kepadamu."

Usul itu diterima dengan gembira oleh Pangeran Muda, bukan saja karena Pangeran Muda berkenalan dengan keluarga sahabatnya itu, tetapi ia pun ingin berkelana dahulu sebelum tiba di rumah. Oleh karena itu, keesokan harinya ketika para calon terpencar-pencar mengambil arah masing-masing, Pangeran Muda dengan Jante terus memacu kuda mereka berdampingan ke arah timur laut.

Di suatu padang yang luas, di sebuah mata air, mereka menghentikan kuda mereka untuk memberi kesempatan kepada binatang-binatang itu beristirahat dan minum setelah berlari sepanjang pagi. Pangeran Muda dengan Jante membuka bekal, dan sambil makan mereka bercakap-cakap.

"Geger Malela bermaksud membunuhku, Anom, untung saya waspada," kata Jante tiba-tiba. Pangeran Muda sangat terkejut mendengar perkataan sahabatnya itu. Belakangan ini memang kata-kata Jante sering mengejutkannya, di samping itu kemurungan Jante menimbulkan tanda tanya pula. Pernah Pangeran Muda bertanya, apa yang menyebabkan sahabatnya itu murung, tapi Jante tidak memberikan keterangan apa-apa. Dan sekarang, tiba-tiba keluarlah perkataan Jante yang sangat mengejutkan itu.

"Jante, tidak mungkin," kata Pangeran Muda. "Dalam ujian itu saya didesaknya, hingga bajuku terbakar. Saya yakin ia akan sangat bersenang hati kalau saya masuk ke dalam api," katanya. Pangeran Muda dengan keheranan menggeleng- gelengkan kepala mendengar perkataan sahabatnya itu. "Anom, kau jangan terlalu percaya pada puragabaya-puragabaya itu

Belum, selesai Jante berkata, Pangeran Muda telah menyela, "Tapi, Jante, untuk apa mereka mencelakakan engkau?"

"Anom engkau terlalu sederhana, pikiranmu masih kanak-kanak," ujar Jante, sungguh-sungguh. "Tapi mereka orang baik-baik, bahkan orang-orang budiman yang dipilih dari beratus-ratus

orang baik lainnya untuk menjabat tugas kepuragabayaan itu. Jante, saya heran, mengapa engkau bisa berpikir begitu, itu tidak adil."

Mendengar perkataan Pangeran Muda demikian, Jante diam lalu menunduk. Tak lama kemudian berkata pulalah ia, "Anom, lebih baik tidak terlalu percaya kepada manusia."

'Jante!" seru Pangeran Muda keheranan dan terkejut oleh perkataan kawannya yang biasanya pendiam itu.

"Kau boleh percaya atau tidak kepadaku, dalam latihan-latihan perkelahian, para pelatih sering sekali kelihatan hendak mencelakakanku," katanya pula.

'Jante! Tidak mungkin, buat apa mereka mencelakakanmu?" "Untuk apa mereka memukulmu hingga babak belur?"

'Jante, bukan kau saja yang kena pukulan dalam latihan, saya pun entah berapa puluh kali menderita memar."

"Engkau sendiri tidak merasakan, orang sekelilingmu sering bermaksud jahat."

'Jante, tapi semuanya itu tidak terbukti, kau dihantui oleh khayalanmu sendiri. Jante, bacalah mantra-mantra agar khayalan-khayalanmu yang tidak berdasar itu meninggalkan hatimu. Jante, saya sungguh-sungguh minta kepadamu agar kau membaca mantra-mantra itu," kata Pangeran Muda dengan sedih.

Mendengar perkataan Pangeran Muda itu, Jante terdiam dan tidak meneruskan percakapannya kembali sampai mereka berada di atas kuda masing-masing.

Selama itu Pangeran Muda termenung-menung, memikirkan percakapannya dengan kawannya itu. Bagaimanapun juga belakangan ini kawannya itu banyak memperlihatkan tingkah yang aneh- aneh. Pertama, ia sangat murung; kedua, suka menyendiri, dan akhirnya, percakapan- percakapannya sering tiba-tiba mengejutkan dan tidak masuk akal.

Sebelumnya telah terpikir oleh Pangeran Muda untuk memberitahukan hal itu kepada Eyang Resi. Pangeran Muda beranggapan Jante sedang menghadapi suatu masalah berat yang disembunyikan kepada orang lain, bahkan kepada Pangeran Muda sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari di padepokan, kecuali sangat pendiam, Jante tidak pernah memperlihatkan keanehan- keanehan lain. Akan tetapi, bagi kawan semangannya, yaitu Pangeran Muda, keanehan-keanehan tingkah-laku dan tutur-kata Jante lebih tampak. Walaupun demikian, kejanggalan-kejanggalan itu belum pernah begitu menonjol seperti yang terjadi dalam percakapannya di dekat mata air itu.

Dengan adanya percakapan itu, Pangeran Muda menjadi lebih yakin, ia harus segera memberitahukan hal Jante ini kepada Eyang Resi. Akan tetapi, sayang sekali kesempatan ini tidak akan didapat, sekurang-kurangnya dalam tiga tahun yang akan datang. Oleh karena itu, Pangeran Muda hanya merasa prihatin akan penderitaan sahabatnya itu.

Sementara Pangeran Muda termenung-menung demikian, kuda mereka terus berlari di padang yang luas itu. Beberapa kali mereka melewati kampung-kampung kecil yang ada sepanjang jalan antara hutan-hutan sekitar Padepokan Tajima-lela dan hutan-hutan yang harus ditempuh di hadapan mereka. Akan tetapi, sepanjang jalan itu Jante tidak bercakap-cakap lagi. Ia pun seperti termenung-menung.

Kemudian, ketika mereka bercakap-cakap kembali, hal lainlah yang menjadi buah pembicaraan. Akan tetapi, dalam percakapan itu pun ada perkataan Jante yang mengejutkannya. Pada suatu kali Jante berkata, "Dunia ini penuh dengan kejahatan, tipu-daya, kelicikan, dengki, dan lain-lain semacamnya."

"Kalaupun itu benar, bukankah hati manusia dapat mengatasinya dengan kasih sayang?" ujar Pangeran Muda sambil mengingat-ingat kembali wejangan Eyang Resi. "Anom, sebenarnya tak ada orang yang percaya akan kasih sayang. Mereka yang mengajarkan kasih sayang adalah orang yang munafik."

'Jante!" sekali lagi Pangeran Muda terkejut, kemudian melanjutkan, 'Jante, tapi bukankah kita hidup selama ini karena kasih sayang orang? Pertama kasih sayang orangtua kita, kemudian panakawan-panakawan kita, lalu guru, dan pelatih-pelatih kita, setelah itu pangeran-pangeran yang lebih berkuasa dari kita. Jante, tanpa kasih sayang itu kita tidak akan seperti begini sekarang."

"Tapi mengapa kita mempelajari ilmu yang berbahaya, dan tidak ada gunanya kecuali untuk membunuh?"

'Jante, kita belajar di padepokan bukan untuk menjadi pembunuh. Berulang-ulang Eyang Resi menyatakan kepada kita bahwa kita belajar agar kita dapat melaksanakan kasih sayang kita dengan lebih baik. Barangkali kau ingat semboyan kita, 'Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman, sedang kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan'. Kita belajar di padepokan agar kasih sayang kita berkekuatan."

"Kalau begitu, kau pun mengakui, kita tidak bisa hidup tanpa kekuatan," ujar Jante.

"Kita dapat hidup tanpa kekuatan, tapi hidup kita tidak akan sempurna. Kita mungkin akan menderita."

'Jadi, kau mengakui bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan hingga kita harus memiliki kekuatan."

"Jante, kejahatan adalah suatu yang nyata di dunia ini, akan tetapi kasih sayang pun demikian juga. Seandainya kejahatan begitu kuat, bukankah para petani tidak akan bercocok tanam seperti sekarang?" sambil berkata demikian, Pangeran Muda memandang huma-huma dan palawija yang luas bagai lautan di sekeliling mereka.

"Dan bukankah keamanan, ketertiban, dan kemakmuran Pajajaran membuktikan, kasih sayang lebih kuat daripada kejahatan? Sekurang-kurangnya di Pajajaran kasih sayang lebih kuat, dan kewajiban kitalah untuk menjaga agar kasih sayang lebih kuat daripada kejahatan, dan untuk itu kita belajar di padepokan."

Jante tidak berkata apa-apa, tetapi dari cahaya matanya tampak, dia belum dapat diyakinkan oleh Pangeran Muda. Pangeran Muda sangat merasa prihatin dan bermaksud akan menerangkan hal itu kepada Eyang Resi segera setelah ada kesempatan.

TAK LAMA kemudian, sayup-sayup tampaklah kelompok rumah-rumah yang sangat besar jumlahnya. Di antara rumahrumah itu tampak beberapa buah menara yang tinggi. Dan setelah kedua penunggang kuda lebih dekat ke tempat itu, Pangeran Muda menyadari, mereka akan memasuki sebuah kota. Gerbang kota itu diperkuat dengan benteng yang bermenara, dan di atas menara itu tampaklah beberapa gulang-gulang membawa tombak-tombak panjang yang paruhnya berkilat-kilat di bawah sinar matahari. Sebelah kanan gerbang kota berdinding batu-batu dan tanah liat, sedang di sebelah kirinya, selain dinding terdapat pula sungai yang melingkar, yang dapat melindungi kota itu dari serangan darat seandainya peperangan terjadi.

"Kota ini sangat kuat, walaupun kecil."

"Medang, Anom. Kita sudah tiba, ayahku seorang yang berbakat untuk menjadi panglima.

Beliaulah yang merencanakan dinding dan bentuk-bentuk menara ini," kata Jante yang selama ini terdiam.

"Oh, kalau begitu saya harus membereskan pakaian dahulu."

"Tidak usah. Mereka akan tahu kita baru saja menempuh perjalanan yang jauh." "Tidak, Jante," ujar Pangeran Muda. "Lebih baik kita menyimpang dulu ke mata air itu.

Bagaimanapun juga saya tidak mau menghadap keluargamu dengan pakaian dan rambut yang begini kusut masai."

"Baiklah, Anom, kalau memang engkau seorang pesolek. Keluargaku tidak pernah terlalu ambil pusing tentang cara-cara orang berdandan." Sambil berkata demikian, Jante membelok ke kelompok pohon-pohonan yang hijau di tengah-tengah padang itu. Setiba di sana mereka segera turun. Pangeran Muda mencuci muka, tangan dan kaki, lalu mengganti pakaian perjalanan yang kotor dengan pakaian kesatriaan yang bersih dan pantas. Jante memandangnya, sambil juga membersihkan diri dan menyisir rambutnya yang tebal dan panjang itu. "Raden!" tiba-tiba terdengar suara orang berseru dan ketika Pangeran Muda melihat ke arah suara itu tampaklah beberapa orang petani berlarian menuju Jante. ' Jasik, Misja, bagaimana, baik-baik?"

"O, Raden, hampir Paman tidak mengenalmu lagi. Raden begitu tinggi dan besar sekarang!" kata Jasik, sementara para petani itu memegang tangan Jante.

"Ini kawanku, Jasik, Pangeran Anggadipati, ia berlibur di Medang untuk beberapa hari denganku, sebelum kami pergi ke Pakuan Pajajaran untuk bertugas."

"Apakah Raden sudah menjadi puragabaya sekarang?"

"Belum, Jasik. Kami masih dalam latihan. Latihan yang sekarang dilakukan di luar Padepokan Tajimalela," ujar Jante.

"Oh," kata orang-orang itu, sambil dengan kagum memandang Jante yang tersenyum kepada mereka. Baru ketika itulah Pangeran Muda melihat kelembutan dari air muka Jante. Biasanya ia murung sahaja. Melihat hal itu, agak legalah Pangeran Muda. Mudah-mudahan cuti yang dilakukan di kampung halamannya akan mampu memperbaiki tingkah laku Jante yang selama ini sangat mencemaskan Pangeran Muda.

"Jasik, Pangeran Anggadipati seorang pemburu. Kalian dapat membawa beliau pada suatu kali." "Oh, senang sekali Pangeran Muda, senang sekali," kata Jasik seraya membungkuk-bungkukkan

badannya sambil tersenyum.

"Tapi tidak ada waktu, Paman. Lain kali, kalau ada umur, kita akan berburu di hutan-hutan Medang ini."

"Sekarang marilah kita pergi dulu, sebentar lagi waktu makan siang tiba," kata Jante.

Mereka pun menaiki kuda masing-masing, diikuti oleh para petani yang berjalan kaki di belakang mereka. Tak lama kemudian mereka telah melewati gerbang kota. Jante disambut dengan gembira oleh para gulang-gulang dan jagabaya setempat yang ternyata sangat hormat kepadanya. Dan setelah beberapa saat tertahan di sana, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju istana tempat ayah Jante tinggal.

AYAH Jante bernama Raden Banyak Citra. Dalam pergaulannya yang beberapa saat saja jelas bagi Pangeran Muda, orang tua itu adalah seorang ayah yang keras. Di samping sangat teguh berpegang pada asas-asas agama dan kebangsawanan, beliau sangat keras membina kehormatan keluarga. Putra-putra beliau yang laki-laki digembleng untuk menjadi kesatria-kesatria yang sederhana, tabah, keras, dan berani di kemudian hari. Dapat dipahami kalau Jante berwatak keras, tabah, berani di samping pendiam.

Ketika mereka menghadap, orang tua itu sebentar saja menerima mereka. Berbeda dengan Ayahanda Anggadipati yang suka berbincang-bincang dengan Pangeran Muda, bahkan kadang- kadang berlelucon, ayah Jante adalah seorang pendiam dan jarang tersenyum. Hubungan ayah dan anak lebih berupa hubungan antara panglima dan prajurit daripada hubungan ayah dan anak. Untuk bertemu dengan beliau, Jante harus memberi tahu terlebih dahulu. Dan pertemuan- pertemuan dengan orang tua itu hanya terjadi di ruang makan atau di ruang pemujaan, pagi atau senja.

"Waktu saya masih kanak-kanak, kami lebih jarang bertemu. Di samping tidak banyak urusan, Ayah pun sibuk melaksanakan tugas-tugas dari Pakuan Pajajaran. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa saya tidak diawasi. Setiap kesalahan yang saya lakukan di belakang Ayah mendapat hukuman yang berat dan pelaksanaan hukuman dilakukan oleh Ayah sendiri," demikian ujar Jante ketika Pangeran Muda menyatakan bahwa mereka sukar untuk bertemu dengan ayah Jante.

Sebaliknya, keluarga wanita Jante sangat ramah dan tidak bersifat resmi. Ibu Jante, atau lebih tepatnya bibinya yang sekarang menjadi istri ayahnya dan dengan tulus ikhlas serta penuh kasih sayang mencintai Jante sebagai anak sulungnya, adalah seorang wanita yang lembut dan budiman. Ketika Jante datang, wanita itu merangkulnya dengan berurai air mata karena gembira. Demikian juga adik-adik Jante yang kebanyakan wanita, semuanya memperlihatkan kelembutan dan keramahan. Hanya adik Jante yang laki-laki, yaitu yang berumur sepuluh tahun mulai memperlihatkan kesungguh-sungguhan dan sifat keras seperti ayahnya dan seperti Jante sendiri. Anak ini Banyak Sumba namanya.

Adik Jante yang langsung adalah seorang gadis berumur kira-kira enam belas tahun, namanya Yuta Inten. Gadis ini pun, seperti ibunya, berwatak ramah dan lembut. Gerak-gerik serta tutur katanya begitu wajar, hingga ketika untuk pertama kali Pangeran Muda bertemu dengannya, ingatan Pangeran Muda langsung terkenang pada banyak putri bangsawan lain yang tingkah laku serta tutur katanya dibuat-buat hingga kadang-kadang menggelikan tapi juga mengesalkan. Yuta Inten sangat berbeda dengan gadis-gadis seperti itu, gerak-geriknya yang ringan walaupun tidak dapat dikatakan lincah, tutur katanya yang keluar dari watak yang sebenarnya memperlihatkan bahwa walaupun gadis itu masih muda, hanya jauh lebih dewasa dari kebanyakan gadis-gadis sebayanya. Mungkin hal itu disebabkan tanggung jawabnya yang besar, yaitu tanggung jawab sebagai kakak perempuan yang terbesar bagi lima orang adiknya. Mungkin juga karena memang sudah wataknya demikian. Akan tetapi, apa pun alasannya, Pangeran Muda merasa hormat kepada gadis ini. Ini berbeda dengan sikapnya terhadap banyak gadis lain.

Hanya satu kali Pangeran Muda melihat gadis ini mengalami kebimbangan, yaitu ketika untuk pertama kali mereka bertemu berdua di taman dekat pendapa. Ketika Pangeran Muda mengucapkan selamat pagi, gadis itu tampak gagap sebelum membalas, sedang warna pipinya yang gading tiba-tiba menjadi merah muda. Kegugupan gadis itu bagi Pangeran Muda merupakan suatu hal yang menyebabkan renungan. Apakah gadis itu menganggapnya sebagai orang luar biasa, hingga menyebabkannya gugup? Pikiran.macam itu menyebabkan Pangeran Muda senang. Tapi kemudian Pangeran Muda pun terkejut dengan perasaannya sendiri. Ia bertanya dalam hati, mengapa ia harus gembira kalau gadis itu gugup? Mengapa ia harus gembira kalau gadis itu menganggapnya sebagai orang yang luar biasa dan sangat terhormat? Bukankah ia akan tetap saja bernama Anggadipati, tidak berubah oleh sikap gadis itu kepadanya? Dengan pikiran-pikiran seperti itu, akhirnya Pangeran Muda menjadi bingung sendiri dan memutuskan untuk berhenti memikirkan hal-hal seperti itu.

Renungan-renungan itu datang kepada Pangeran Muda pada suatu tengah hari, ketika seluruh isi puri sedang istirahat, dan Pangeran Muda berbaring-baring di ruangan yang disediakan khusus untuknya. Ketika Pangeran Muda hendak membaringkan diri, dari arah taman terdengarlah suara gadis bersenandung. Pangeran Muda bangkit seperti digerakkan oleh tenaga tersembunyi.

Pangeran Muda berjalan ke arah jendela yang menghadap ke taman, lalu membukakan tabirnya sedikit. Di sana, di bawah pohon tanjung duduk Yuta Inten sambil merenda pakaian yang dipegangnya, bersenandung menidurkan adiknya yang kecil yang terbaring dalam ranjang rotan kecil yang disandarkan pada batang pohon tanjung itu.

Sebentar-sebentar Yuta Inten bangkit dari pekerjaannya dan sambil bersenandung perlahan- lahan menggoyangkan ranjang rotan itu. Pangeran Muda memerhatikannya, merenung wajahnya, tangannya, dan seluruh diri gadis itu dengan saksama dan tidak mengejapkan mata. Ketika pada suatu kali gadis itu menjulurkan tangannya menggoyangkan ranjang rotan itu, tiba-tiba napas Pangeran Muda terhenti. Pangeran Muda tiba-tiba berdoa, mudah-mudahan jari-jari gadis yang tirus-tirus itu belum dihiasi oleh cincin pertunangan. Pangeran Muda memejamkan mata, kemudian membukanya kembali dan langsung meneliti jari-jari gadis itu satu per satu. Beberapa cincin yang indah-indah menghiasi jari-jari gadis itu, tetapi tidak ada sebentuk cincin yang ditakuti oleh Pangeran Muda. Pangeran Muda menarik napas panjang, kemudian mulai memerhatikan lagi gadis itu sambil mendengarkan suaranya yang merdu. Ketika gadis itu berdiri dan memanggil emban untuk mengambil ranjang rotan itu serta membantu membereskan barang-barang alat sulam, Pangeran Muda merasa kecewa.

Pangeran Muda bangkit dari tempatnya mengintip dan dengan tidak sengaja sikutnya menyentuh jambangan perak tempat menyimpan pisau-pisau pangot. Jambangan itu jatuh ke atas lantai batu dengan suara yang nyaring sekali, dan Pangeran Muda melihat, bagaimana gadis itu terkejut dan memandang ke arah jendela. Sikap berdirinya dan cahaya matanya mengingatkan Pangeran Muda pada pohaci yang dilihatnya di telaga larangan, sewaktu Pangeran Muda tersesat dan memergoki makhluk-makhluk suci itu sedang bercengkerama di sana.

Setelah terkejut sejenak, gadis itu berjalan tergesa, sambil berulang-ulang memandang ke arah jendela. Pangeran Mudalah sekarang yang risau. Siapa tahu gadis itu telah menyangka Pangeran Muda mengintipnya selama ini. Mungkinkah pula ia dapat melihat bayangan Pangeran Muda di balik tabir yang tipis itu? Alangkah geram Pangeran Muda terhadap dirinya sendiri. Mengapa seorang kesatria mengintip-intip seorang putri bangsawan seperti seorang pengecut? Dengan kerisauan itu, Pangeran Muda membaringkan badan di atas ranjang. Ia gemas terhadap dirinya sendiri yang telah membiarkan dirinya ditemukan gadis itu sedang mengintip. Bagaimanakah kalau hal itu menyebabkan gadis itu tidak hormat lagi kepadanya? Dan bagaimana pula perasaannya setelah mengetahui Pangeran Muda mengintipnya? Mungkinkah ia marah, atau mungkinkah ia malah senang hati? Tiba-tiba hati Pangeran Muda jadi lega dan penuh harapan.

Mudah-mudahan gadis itu bersenang hati. Oh, hal itu mungkin dapat diketahui nanti, di saat acara makan bersama. Maka gelisahlah Pangeran Muda di atas ranjang itu, tak sabar menunggu saat makan bersama yang akan dilakukan di ruangan tengah.

"Anom, apakah yang sedang kaulamunkan?" tiba-tiba suara Jante didengarnya. Pangeran Muda terlompat dari ranjangnya dan dengan gagap mempersilakan Jante duduk.

"Kau mudah terkejut sekarang, Anom," kata Jante, setengah bermain-main setengah bersungguh-sungguh.

"Engkau ... engkau datang tanpa mengetuk dulu, Jante, itu bertentangan dengan tata krama kesatriaan," kata Pangeran Muda bermain-main.

'Anom, saya mengetuk pintu berulang-ulang, dan karena kau tidak menyahut, saya perlahan- lahan membuka pintu karena menyangka kau tidur. Ternyata kau sedang membelalak, memandangi langit-langit kamar. Saya yakin, kau melihat gambar gadis yang tidak dapat kulihat di sana," kata Jante pula.

Mendengar kata-kata itu, panas rasanya seluruh wajah dan daun telinga Pangeran Muda, "Tidak kusangka kau suka berlelucon, Jante. Di padepokan kau sangat pendiam," kata Pangeran Muda, menekan getaran dalam suaranya sendiri.

"Soalnya di sana kau tak pernah melamun. Saya bukan orang yang usil, Anom, kecuali kalau ada hal yang menarik hati saya," kata Jante, sekarang bersungguh-sungguh. Sekali lagi wajah dan daun telinga Pangeran Muda terasa panas, keringat pun mulai meremang Hati Pangeran Muda bertanya-tanya, mungkinkah Jante sudah mengetahui, bahwa ia memerhatikan adiknya, Yuta Inten? Apakah yang diperbuatnya kalau memangjante sudah tahu?

"Sakitkah engkau, Anom?" tiba-tiba Jante bertanya setelah memerhatikan Pangeran Muda.

Pandangan Jante yang biasanya tidak pernah menggelisahkannya, sekarang terasa begitu tajam, hingga Pangeran Muda seolah-olah telanjang di hadapan pandangan mata itu.

"Tidak, Jante, saya agak lelah," kata Pangeran Muda berdusta. "Oh," kata Jante keheranan. "Maaf saya mengganggu istirahatmu."

"Oh, tidak, saya senang kau datang ke kamarku, Jante," ujar Pangeran Muda, berkata secara serampangan saja.

Jante termenung sambil memandangnya, lalu berkata, "Adakah sesuatu yang salah denganmu, Anom?"

Pangeran Muda terkejut oleh pertanyaan itu. Ia baru menyadari kembali bahwa Jante adalah seorang yang sangat tajam mata hatinya. Walau tafsirannya tentang isi hati orang sering sekali jelek dan berat sebelah, perasaannya dengan mudah dapat menangkap kalau ada perubahan dalam hati orang lain. Itulah sebabnya Pangeran Muda makin gugup. Kesadarannya bahwa ia gugup, menambah pula kegugupan Pangeran Muda. Akhirnya, berkatalah ia, "Saya ... saya terkejut Jante, jadi ... saya gugup. Izinkan saya minum dulu."

Pangeran Muda segera minum, dan ketenangannya perlahan-lahan kembali. Walaupun begitu, keheranan Jante akan tingkah lakunya tidaklah jadi reda; ia tetap mengawasi gerak-gerik dan air muka Pangeran Muda. Pangeran Muda segera mengajaknya bercakap-cakap tentang berbagai hal lain yang diharapkan akan mengalihkan perhatian Jante. Dan beberapa saat kemudian, mereka pun telah bercakap-cakap tentang berbagai hal dan membuat berbagai rencana yang akan mereka laksanakan selama Pangeran Muda berada di Medang.

DI ANTARA rencana-rencana itu termasuk rencana berburu, mengelilingi wilayah yang berada di bawah kekuasaan Medang, memancing di telaga dalam hutan, berkunjung ke rumah keluarga bangsawan-bangsawan setempat, dan sebagainya. Acara mengunjungi rumah-rumah bangsawan setempat sangat tidak disukai Jante, tetapi kedua orang muda itu melakukannya juga karena Raden Banyak Citra mengusulkan hal itu kepada mereka. Ternyata, usul ayahnya oleh Jante selalu dianggap perintah. Kalau tidak ada acara dengan Jante, biasanya Pangeran Muda tidak bepergian. Ia berjalan-jalan di lorong-lorong atau di taman istana itu sambil setengah mengharapkan dapat bertemu dengan Yuta Inten. Seandainya pagi hari tidak berjumpa, Pangeran Muda dengan tidak sabar menunggu senja, ketika acara makan bersama dilakukan oleh seluruh keluarga. Dalam acara makan malam itu, Pangeran Muda tidak pernah berani memandangnya secara langsung, apalagi bercakap-cakap. Ia hanya berani mencuri pandang lewat sudut matanya. Pada suatu kali, ketika ia mencuri pandang, tampak Yuta Inten pun sedang melirik ke arahnya. Keduanya dengan segera berpaling ke arah lain, tetapi semenjak itu Pangeran Muda tidak dapat duduk tenang lagi. Hatinya bertanya apakah Yuta Inten sering mencuri pandang ke arahnya? Apakah itu cuma kebetulan saja?

Kiranya ketika ia termenung-menung demikian, seorang pelayan menyodorkan baki penganan kepadanya. Pangeran Muda tidak melihat dan tidak mendengar orang itu berulang-ulang menawarkan makanan itu, hingga akhirnya Jante menepuk bahunya. Dengan terkejut dan tergagap-gagap, Pangeran Muda segera mengambil sesuatu dari baki itu dan meletak-kanya di atas piring di hadapannya. Akan tetapi, pelayan itu tetap berdiri di sana, dan Pangeran Muda keheranan memandangnya. Pelayan itu tersenyum sambil menunjuk ke atas piring yang ada di hadapan Pangeran Muda. Ternyata yang diambil oleh Pangeran Muda bukanlah buah-buahan melainkan pisau untuk mengeratnya. Pangeran Muda makin gugup juga karenanya.

"Ketika Ayah semuda Anom, Ayah pun pernah menjadi seorang pelamun, Anom. Cita-cita yang tinggi memenuhi kesadaran kita, hingga kita sering lupa akan dunia sekeliling."

Pangeran Muda bertanya-tanya dalam hati, apakah orang tua itu telah menduga isi hatinya, dan oleh karena itu menolong Pangeran Muda di saat dia sangat malu? Sementara itu, Raden Banyak Sumba, adik laki-laki Jante dengan berani akan tetapi sopan bertanya kepada ibunya.

"Ibunda, kalau begitu Ayunda Yuta Inten tidak luar biasa," katanya.

"Tidak luar biasa bagaimana?" tanya ibunya, agak keheranan. Sementara itu, Yuta Inten menegakkan kepalanya dan dengan cemas memandang kepada adik laki-lakinya yang duduk di samping Pangeran Muda.

"Ibunda mengatakan bahwa belakangan ini Ayunda Yuta Inten juga suka melamun dan lupa pada apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. Menurut pendapat hamba, Ayunda Yuta Inten sedang banyak memikirkan cita-cita yang tinggi, seperti yang dikatakan oleh Ayahanda tadi. Di samping itu, Ayunda sudah hampir enam belas tahun usianya, jadi tidak jauh berbeda dari usia Kakanda Anggadipati yang sudah delapan belas tahun."

Raden Banyak Citra tersenyum mendengar perkataan putranya, sedang istri beliau tertawa agak keras. Yuta Intenlah yang tampak menderita. Ia menundukkan kepalanya, seakan-akan wajahnya akan disurukkan ke atas piring yang dihadapinya. Sebaliknya, suatu perasaan yang tidak dapat diberinya nama, apakah itu kegembiraan atau harapan, atau kebahagiaan, tiba-tiba meluap dalam hati Pangeran Muda. Walaupun begitu, kepalanya ditundukkannya juga ke atas piringnya sendiri. Malam harinya, ketika Pangeran Muda berada di kamarnya, tidur lambat sekali datangnya. Kantuk tidak menutupkan kelopak matanya karena hatinya digelisahkan oleh berbagai macam pikiran, khayalan, dan perasaan. Dan setelah berguling ke kanan-ke kiri di atas ranjang itu, terdengarlah dari padang-padang di luar benteng Medang ayam-ayam jantan berkokok bersahutan.

KEESOKAN harinya tidak ada acara yang direncanakan dengan Jante. Jante mengirim pesan lewat Banyak Sumba bahwa ayahnya memberinya tugas untuk mengerjakan beberapa surat. Oleh karena itu, kalau hendak keluar, Pangeran Muda dapat meminta ditemani oleh beberapa panakawan atau gulang-gulang. Pangeran Muda berpesan, Jante tidak usah terlalu memikirkannya dan dimintanya pula agar Banyak Sumba menemaninya, dan tidak usah dikirim gulang-gulang atau panakawan lain.

Maka, setelah pergi ke kamar Jante, Banyak Sumba kembali ke kamar Pangeran Muda. Ketika ia tiba kembali di kamar Pangeran Muda, Pangeran Muda sedang berdandan. Ketika langkah anak itu terdengar, Pangeran Muda berkata kepadanya, "Adinda, tunggulah sebentar, Kakanda berpakaian dulu. Kita akan melihat-lihat kota."

Anak itu duduk menghadap jendela, menunggu. Dari sudut kamar, dengan melalui bayangan dalam cermin Pangeran Muda memerhatikan wajah anak laki-laki itu. Wajahnya lonjong, hidungnya lurus sedang matanya besar-besar dan hitam, tepat seperti wajah kakaknya, Yuta Inten. Hanya rambutnya yang berbeda. Rambut Yuta Inten halus, tebal, dan warnanya agak muda. Banyak Sumba berambut hitam dan agak ikal. Seraya memerhatikan wajah anak laki-laki itu, selesailah Pangeran Muda berdandan.

"Mari kita pergi," kata Pangeran Muda sambil memegang tangan anak itu yang berdiri sambil tersenyum dan memandang kepadanya dengan kagum.

"Ke manakah kita akan pergi, Kakanda?" anak itu bertanya. "Keliling kota," ujar Pangeran Muda.

"Baik, empat orang gulang-gulang telah siap mengawal kita," kata Banyak Sumba. "Adinda, tidak usah ada pengawal," kata Pangeran Muda.

"Tapi itu tidak baik, Kakanda," kata Banyak Sumba.

"Adinda, Kakanda seorang calon puragabaya, artinya Kakanda seorang sama dengan seorang ditambah empat gulang-gulang. Jadi, gulang-gulang yang empat itu tidak perlu," ujar Pangeran Muda seraya tersenyum.

"Bukan begitu, Kakanda; gulang-gulang itu bukan untuk keamanan, tetapi hanya untuk kehormatan saja. Seorang bangsawan harus punya pengiring. Makin banyak pengiringnya, makin terhormat, demikian kata Ayahanda."

"Adinda, seorang calon puragabaya sudah dihapus ke-bangsawanannya. Kakanda adalah seorang pendeta sekarang, jadi gulang-gulang itu tidak diperlukan. Biarlah gulang-gulang itu mengerjakan hal-hal lain, jangan menjadi susah karena Kakanda," kata Pangeran Muda mendesak karena sebenarnya ia ingin bercakap-cakap dengan anak itu dengan leluasa.

Banyak Sumba rupanya dapat diyakinkan. Maka mereka pun pergilah. Sambil berjalan menurutkan ibu-jari kaki dalam lorong-lorong di kota itu, Pangeran Muda bercakap-cakap tentang itu dan ini. Pada suatu kali ia pun bertanyalah, "Adinda, tadi malam dalam acara makan bersama engkau berkata, bahwa Ibunda pernah mengatakan Ayunda Yuta Inten suka bermimpi atau melamun. Apakah yang dikatakan beliau itu, atau bagaimana Ibunda berkata ketika itu?"

"Kakanda, Ayunda marah kepada hamba tadi pagi, dan melarang hamba berbicara tentang soal melamun itu. Ayunda mengatakan, hamba telah mempermalukannya di depan tamu, di depan Kakanda "

"Mengapa Ayunda malu oleh Kakanda?" tanya Pangeran Muda memancing-mancing.

"Saya pun bertanya begitu pada Ayunda, jawabnya, karena Kakanda seorang tamu dan seorang kesatria."

"Bagaimana pendapatmu tentang jawabannya itu?"

"Saya tidak berkata apa-apa, tetapi saya tetap tidak merasa bersalah. Dan ketika Ayunda meminta supaya hamba tidak sekali-kali lagi berkata seperti itu dalam acara makan, saya mengatakan ya."

"Kalau begitu, kau tidak berjanji kepada Ayunda untuk tidak berkata di luar acara makan. Jadi, ceritakanlah kepada Kakanda, bagaimana sampai Ibunda mengatakan bahwa Ayunda Yuta Inten suka melamun."

Anak itu pun berceritalah, "Menurut Ibunda, yang sering dikatakan beliau kepada Ayunda, belakangan ini Ayunda sering termenung-menung. Di samping itu, banyak kesalahan yang dilakukan Ayunda, hingga akhirnya Ibunda sering mengatakan kepada Ayunda bahwa Ayunda itu suka melamun dan lupa akan apa yang terjadi di sekelilingnya.”

"Adikku, pernahkah kau melihat Ayunda melamun dan lupa akan sekeliling? Atau, pernahkah kau melihat kejadian yang menyebabkan Ibunda mengatakan Ayunda suka melamun?"

Setelah termenung, berkatalah anak itu, "Tidak, Kakanda." Kemudian anak itu melanjutkan, "Adakah obatnya?"

Mendengar pertanyaan itu, sungguh-sungguh terpukau hati Pangeran Muda. Oleh karena itu, ia tidak dapat menjawab dengan segera. Hanya setelah beberapa saat ia berkata dengan ragu-ragu, "Kau tahu, Kakanda pun suka melamun belakangan ini. Justru Kakanda ingin mengetahui, adakah obatnya untuk itu."

Ketika mereka bercakap-cakap demikian, mereka sudah berjalan melewati gerbang rumah bangsawan yang besar. Mereka berjalan langsung menuju lapangan yang terbuka di tengah kota Medang, tempat penduduk sekeliling kota berjualan. Tempat itu sudah ramai sekali walaupun hari masih pagi. Orang-orang kampung, peternak, atau petani sudah memenuhi tempat itu dengan berbagai hasil bumi dan kerajinan. Pangeran Muda dapat melihat bagaimana berbagai macam buah-buahan seperti labu, mangga, rambutan, salak, manggis, pepaya, dan sebagainya digelar orang di lapangan itu. Di suatu tempat tertentu dipajangkan pula hasil peternakan, ayam-itik, kambing-domba, sapi-kerbau, dan lain-lain. Sedang ikan-ikan dari sungai ada juga dijual orang di sana, berdampingan dengan sayur-mayur. Di samping itu, terdapat pula kerajinan rakyat, dari tanduk, gading, kulit-kulit buah-buahan yang keras, kulit binatang, dan sebagainya.

Sambil berjalan-jalan melihat-lihat suasana lapangan itu, Pangeran Muda terus bercakap-cakap tentang berbagai hal dengan anak itu. Suatu perasaan, semacam kegembiraan tergugah dalam hati Pangeran Muda, hanya karena adanya anak itu di sampingnya. Terasa oleh Pangeran Muda bahwa dengan berdekatan dengan anak itu, serasa dekat pula Pangeran Muda dengan Yuta Inten yang selama ini menjadi penghuni hatinya. Bagaimanapun juga Pangeran Muda akhirnya menerima kenyataan bahwa Yuta Inten telah menempati hatinya, dan masalah-masalah lain, ingatan-ingatan lain, terdesak keluar dari kesadarannya.

Ketika mereka tiba di tempat orang-orang menjual beraneka warna bunga-bungaan, tiba-tiba anak itu berkata, "Itu Ayunda sedang membeli bunga." Sambil berkata demikian, anak itu menuntun Pangeran Muda berjalan ke arah kakaknya.

Akan tetapi, Pangeran Muda yang tidak bersiap untuk bertemu menahan tangan anak itu dan dengan perlahan-lahan dan ragu-ragu berkata, "Lebih baik kita tidak mengganggunya."

"Kita tidak akan mengganggunya, Kakanda," kata anak itu. "Lebih baik Ayunda tidak tahu kita ada di sini."

"Mengapa?" tanya anak itu, kemudian anak itu melanjutkan. "Oh ya, Ayunda malu oleh Kakanda," katanya.

"Malu?" tanya Pangeran Muda. "Pernahkah Ayunda mengatakan hal itu kepadamu?"

"Ya, pada suatu kali hamba melihat Ayunda mengintip dari jendela ke arah bangunan rumah bagian barat tempat Kakanda berada. Hamba datang dari belakangnya dan bertanya, apa yang sedang dikerjakannya. Ia terkejut dan mengatakan bahwa ia sedang memeriksa, apakah Kakanda ada di jendela atau tidak. Kalau tidak ada, ia akan lewat taman.”

'"Mengapa tidak lewat saja?' tanya hamba. Jawabnya, kalau Kakanda ada di sana, ia malu."

Sambil bercakap-cakap demikian, dengan tidak sadar, kaki Pangeran Muda melangkah mengikuti rombongan para emban yang mengiringkan Yuta Inten yang sambil membawa bunga- bungaan berjalan kembali menuju istana.

Pada suatu saat pandangan Yuta Inten bertemu dengan pandangannya. Pangeran Muda menghentikan langkahnya, sedang Yuta Inten cepat-cepat berpaling ke arah lain. Kemudian sambil menundukkan kepala dan menghentikan percakapannya dengan para emban, Yuta Inten melanjutkan perjalanan. Rupanya para emban menyadari adanya perubahan tiba-tiba pada majikannya. Mereka melihat ke arah Pangeran Muda yang dengan cepat berpura-pura seolah-olah ia tidak melihat adanya rombongan gadis itu. Akan tetapi, dengan sudut matanya, Pangeran Muda sempat melihat seorang emban tua yang diketahui bertindak sebagai pengasuh dan pengawal pribadi Yuta Inten tersenyum ke arahnya.

Setelah rombongan lenyap dari pandangan Pangeran Muda dan memasuki gerbang istana, Pangeran Muda yang hampir lupa pada Banyak Sumba yang ada di sampingnya segera memegang bahu anak itu dan membimbingnya kembali ke arah lapangan. Di sana Pangeran Muda memilih badik kecil yang bersarung dan bergagang gading serta berhiaskan permata. Pangeran Muda membeli senjata kecil yang indah itu, lalu menghadiahkannya kepada Banyak Sumba yang gembira sekali menerimanya.

MALAM harinya Pangeran Muda tak dapat tidur. Segala kejadian yang dialaminya di rumah keluarga Jante dan percakapannya dengan Banyak Sumba terus-menerus mengisi kesadarannya. Di samping itu, kerinduan dan harapan bergalau mengisi hatinya, menyebabkan rasa pengap di dadanya. Dan ketika malam semakin larut dan serta keresahan tidak reda juga, Pangeran Muda akhirnya bangun dari ranjangnya, dan seperti digerakkan oleh tenaga rahasia, ia berjalan menuju tempat pakaian.

Diambilnya pakaian malam calon puragabaya yang berwarna hitam, diambilnya pula tutup kepala yang juga berwarna hitam. Setelah semua lengkap dikenakannya, pintu kamar dibukanya perlahan-lahan. Pangeran Muda pun telah berada di lorong-lorong yang samar-samar diterangi lampu-lampu kecil di dalam ruangan yang besar itu. Dengan hati-hati, Pangeran Muda melangkah, menghilangkan suara dari alas-kaki kulitnya yang halus. Ruangan telah sunyi belaka, hanya kadang-kadang tampak gulang-gulang yang mengantuk duduk di bangku di salah satu mulut lorong atau di pintu yang menuju lapangan kecil di dalam lingkungan benteng istana itu.

Pada suatu tikungan lorong tiba-tiba Pangeran Muda bertemu dengan empat orang gulang- gulang yang sedang ber-jaga-berkeliling. Pangeran Muda segera melompat ke tepi lorong, mencari sudut kelam tempat menyembunyikan diri. Di tempat itu ditutupnya muka dengan kain hitam yang ditarik dari tutup kepala. Maka, tinggal hitam mata Pangeran Muda saja yang tidak terlindungi oleh pakaian hitam calon puragabaya itu. Dengan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang bersembunyi, keempat gulang-gulang itu pun lewatlah sambil bercakap-cakap perlahan.

Setelah berjalan kembali beberapa saat, tibalah Pangeran Muda di pintu yang menuju kaputren. Akan tetapi, pintu itu tertutup, sedang di dekatnya dua orang gulang-gulang penjaga duduk sambil bercakap-cakap. Pangeran Muda terpaksa berhenti dan berpaling ke taman bunga yang terdapat di depan kaputren itu. Pangeran Muda berjalan di taman itu beberapa saat, kemudian tibalah di bawah dinding benteng kaputren. Seperti seekor bajing dengan mudah Pangeran Muda memanjati benteng yang tinggi itu, kemudian menuruninya dan dalam sekejap telah berada di taman kaputren.

Setelah berjalan mengendap-endap di dalam taman itu, tibalah pula Pangeran Muda di bangunan kaputren yang sangat indah. Bangunan itu terbuat dari kayu jati bercampur dengan kayu cendana. Sungguh cocok kalau bangunan itu diperuntukkan bagi putri keluarga Banyak Citra.

Akan tetapi, mendekati bangunan kaputren itu tidaklah mudah. Pertama, lampu-lampu besar dipasang di sekeliling kaputren hingga sukar sekali Pangeran Muda menemukan bayangan untuk melindungkan diri. Kedua, di sekitar kaputren ternyata banyak sekali gulang-gulang yang berjaga. Terpaksa Pangeran Muda harus menunggu hingga gulang-gulang itu lengah dan menjauhi jendela- jendela besar yang masih terbuka di bangunan kaputren itu. Akan tetapi, ternyata gulang-gulang itu sangai patuh dan taat melaksanakan tugas, hingga tak ada seorang pun yang meninggalkan tempatnya. Di samping itu, begitu serombongan gulang-gulang bersiap meninggalkan tempat, rombongan lain segera tiba menggantikannya. Jadi, tidak ada kesempatan bagi Pangeran Muda untuk mendekati jendela-jendela itu.

Selelah berpikir sejenak, timbullah akal dalam hati Pangeran Muda. Di tepi taman bunga ditanam pohon-pohonan yang agak besar, seperti tanjung, sedap-malam, kenanga, cempaka dan semacamnya. Pohon-pohon inilah yang dapat digunakan oleh Pangeran Muda untuk mengintip ke dalam jendela-jendela itu. Maka dengan sigap dipanjatlah sebatang pohon terdekat. Dari sana Pangeran Muda memandang ke dalam, tetapi jendela pertama tidaklah menampakkan Yuta Inten. Yang dilihatnya hanya beberapa orang emban sedang mengerjakan tugas mereka senja itu, yaitu membereskan pakaian-pakaian dan alat-alat perhiasan lainnya. Setelah berpindah tempat dan berada di pohon lain, Pangeran Muda pun memandang ke dalam salah satu ruangan lain.

Akan,tetapi, hanya emban-emban saja yang dilihatnya. Maka pindahlah Pangeran Muda ke pohon lain lagi. Melalui jendela yang ketiga ini Pangeran Muda menemukan Yuta Inten sedang duduk di depan cermin sambil menjalin rambutnya yang panjang menjadi dua buah untun besar. Di ruangan itu emban tua yang menjadi pengawal-pribadinya sibuk menyiapkan dan membereskan tempat tidur mereka. Ketika perempuan tua itu berjalan ke arah Yuta Inten, ia berkata, "Sebagai seorang wanita, apalagi yang berkedudukan tinggi seperti kau, anakku, tidaklah pantas untuk memperlihatkan perasaan. Janganlah kauperlihatkan bahwa kau terpengaruh oleh kehadirannya di dekatmu. Bertindaklah tenang, bahkan bertindaklah seolah-olah kau tak acuh."

Mendengar perkataan orang tua itu, meluncurlah Pangeran Muda pada cabang pohon yang menjulur mendekat ke arah jendela. Ia berusaha meringankan tubuhnya dan berpegang pada cabang-cabang lain agar cabang tempatnya berada tidak terlalu mendapat tekanan.

"Sudah telanjur, Emak. Saya sudah sering kelihatan gugup olehnya, sekurang-kurangnya begitulah perasaan saya. Ia sering memerhatikan saya dengan sudut matanya dan pandangannya itu mau tidak mau menggugupkan saya," suara Yuta Inten terdengar dengan jelas.

Angin bertiup menggoyangkan lampu-lampu dan bayangan-bayangan pun bergerak-geraklah.

Emban tua itu berjalan ke arah jendela, lalu menutupkan kedua daunnya, dan Pangeran Muda beradalah dalam kegelapan. Ia turun, tetapi tidak berani mendekati jendela yang tertutup itu. Setelah termenung sebentar, kembalilah ia ke arah dari mana ia datang. Setelah memanjat dinding benteng dan melewati penjagaan gulang-gulang, tibalah ia .kembali di kamarnya.

Ternyata setelah pengintipan itu kegelisahan tidak berkurang, tetapi malah bertambah.

Pangeran Muda terus-menerus bertanya, siapakah yang dipercakapkan oleh Yuta Inten dengan embannya? Apakah yang dipercakapkannya itu Pangeran Muda atau kesatria lain? Pertanyaan ini mengganggunya, dan walaupun berbagai jawaban diberikannya, tak satu jawaban pun meyakinkannya. Bagaimanapun juga ia harus mencari jawaban itu. Akan tetapi, waktu sudah tidak ada lagi. Keesokan paginya Pangeran Muda harus meninggalkan Medang, menuju ke Puri Anggadipati untuk kemudian berangkat ke Pakuan Pajajaran. Di sana tugas sudah menunggu.

KEESOKAN harinya subuh-subuh setelah minta diri pada seluruh keluarga Banyak Citra, Pangeran Muda meninggalkan Medang. Atas usul Jante, Pangeran Muda membiarkan dirinya dikawal oleh empat orang gulang-gulang yang akan mengantarnya hingga perbatasan wilayah Medang dengan wilayah Kutabarang. Setelah untuk terakhir sekali Pangeran Muda mengucapkan terima kasih kepada Raden Banyak Citra serta istrinya, serta setelah berjanji dengan Jante untuk bertemu di dalam waktu dekat di Pakuan Pajajaran, kuda-kuda pun dipaculah.

Pangeran Muda merasa menyesal telah berangkat terlalu pagi. Karena itu, yang melepasnya hanya Pamanda Banyak Citra dengan Bibinda, di samping Jante. Yang sangat diharapkannya untuk hadir, yaitu Yuta Inten, tidak tampak saat itu. Dengan hati yang kosong seperti itu, Pangeran Muda melarikan kudanya diiringkan oleh empat gulang-gulang yang bersenjata lengkap serta berbaju zirah.

Ketika mereka sudah melewati gerbang kota dan menghadap padang yang luas di depan mereka, Pangeran Muda mengekang kendali kudanya, lalu berpaling ke arah kota yang membayang dalam kabut subuh. Pangeran Muda menatap dinding-dinding benteng yang menjulang, atap-atap bangunan yang tinggi, yang muncul di sela-sela daun pohon-pohon besar. Sementara Pangeran Muda menarik kendali dan hendak memecut si Gambir, tiba-tiba pandangannya menangkap dua bayangan sosok manusia di atas dinding benteng, di suatu tempat tidak jauh dari Gerbang Kota. Kedua sosok bayangan yang samar-samar dalam kabut itu tampak memerhatikan rombongannya. Jelas pula oleh Pangeran Muda bahwa mereka itu adalah wanita.

Dan bagaikan kilat firasatnya mengatakan bahwa kedua orang itu adalah Yuta Inten dengan embannya. Pangeran Muda tidak jadi memecut kudanya.

Setelah memandang dengan tajam ke arah kedua bayangan itu untuk meyakinkan dugaannya, Pangeran Muda berseru pada gulang-gulang pengawalnya, "Tunggu dulu!"

Setelah berkata demikian dibalikkannya arah kudanya, lalu menderu di bawah dinding benteng di muka kedua bayangan itu berdiri. Makin dekat makin jelas pada Pangeran Muda bahwa dugaannya benar. Dengan degup jantung yang menjadi cepat, Pangeran Muda memacu kudanya, dan dalam sekejap sudah tengadah ke arah kedua wanita itu.

Melihat kedatangan Pangeran Muda, tampak Yuta Inten hendak menghindarkan diri dan pergi, tetapi embannya dengan cepat memegang pundaknya lalu menariknya, menyuruhnya menghadap kepada Pangeran Muda yang tengadah dari bawah dinding benteng itu.

Untuk beberapa lama, tidak ada yang berkata-kata. Pangeran Muda mencari kata-kata di ujung lidahnya, tetapi tidak ada yang ditemukannya. Hanya setelah beberapa lama ia dapat berkata dengan gugup, "Selamat tinggal, dan terima kasih atas segala keramahan Adinda."

Yuta Inten tidak menjawab, tampak ia berdiri dengan kaku. Embannya yang tua kemudian membantunya dengan berkata, "Kami datang kemari untuk melepas Pangeran, tetapi karena tidak baik bagi kaum wanita untuk menonjolkan dirinya, kami memutuskan untuk melepas Pangeran dari tempat ini."

Mendengar perkataan emban itu, bagai digerakkan oleh tenaga rahasia Pangeran Muda melompat dari kudanya, kemudian seperti seekor bajing menaiki dinding benteng yang hampir tegak itu. Para gulang-gulang maupun kedua wanita itu keheranan melihatnya. Dan ketika Pangeran Muda sudah berdiri di hadapannya., Yuta Inten mundur selangkah sambil menundukkan diri.

"Diam, anak!" kata emban tua itu kepadanya sambil memegang baju Yuta Inten.

Untuk beberapa lama, mereka berhadap-hadapan. Pangeran Muda memandang berganti-ganti pada emban dan pada Yuta Inten yang menundukkan kepalanya. Mereka membisu. Hanya setelah beberapa lama emban tua itu tersenyum lalu berkata, "Hamba tahu, Pangeran dan anak ini saling menaruh hati. Satu hal yang ingin hamba tanyakan kepada Pangeran. Atas nama segala yang suci dan atas nama orangtua anak ini yang belum tahu apa-apa tentang soal ini, apakah Pangeran mencintai gadis ini secara sungguh-sungguh dan membawa maksud-maksud yang terhormat?

Kalau demikian, kami mengucapkan terima kasih. Sebaliknya, kalau hanya bermain-main, kami memperingatkan, agar Pangeran mengurungkan niat Pangeran itu. Ayah dan kakak anak ini adalah laki-laki yang keras, punya harga diri yang tinggi, yang tidak akan segan-segan membunuh kalau mereka merasa dihina."

"Saya menghormati seluruh keluarga Banyak Citra, dan saya ... bersungguh-sungguh, Emak," kata Pangeran Muda yang belum bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan yang tidak disangka- sangka itu.

"Kalau begitu bagus, dan sekarang kau," lanjutnya sambil berpaling kepada Yuta Inten, "Yuta Inten, kau telah mendengar perkataan Pangeran kepada Emak tadi, itu berarti bahwa engkau pun harus bersungguh-sungguh. Sekarang bersalamanlah, karena Pangeran harus segera meninggalkan Medang, supaya tidak kemalaman di tengah-tengah hutan."

Untuk beberapa lama Pangeran Muda tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Emban itu tersenyum sambil menarik tangan Yuta Inten. Pangeran Muda maju dan memegang kedua tangan gadis yang terus menundukkan kepalanya.

"Selamat berpisah, Kakanda akan berusaha supaya dapat segera kembali ke Medang." "Selamat jalan, para Bujangga dan Pohaci melindungi Kakanda." Sambil berkata demikian,

gadis itu menekan tangannya ke tangan Pangeran Muda. Untuk beberapa lama, mereka berpegangan tangan. Kemudian si Gambir meringkik di bawah benteng, dan sadarlah Pangeran Muda bahwa hari sudah maju ke siang. Sementara langit memerah di sebelah Timur.

"Selamat tinggal, kita akan segera bertemu," kata Pangeran Muda, lalu dengan perlahan-lahan melepaskan tangan Yuta Inten. Dan seperti ketika memanjat dinding benteng itu, dengan tangkas Pangeran Muda menuruninya. Beberapa saat kemudian, setelah berulang-ulang berpaling ke atas dinding benteng tempat kedua wanita itu melambai-lambaikan tangannya, Pangeran Muda sudah berada di tengah-tengah padang.

Kejadian yang baru dialaminya sekarang seperti sebuah impian. Berulang-ulang Pangeran Muda bertanya, apakah peristiwa itu benar-benar terjadi, ataukah hanya impian seorang yang risau?

Akan tetapi, berulang-ulang pula ia yakin, peristiwa itu benar-benar terjadi karena para gulang- gulang yang mengantarnya masih berada di belakangnya, sementara itu tangan Pangeran Muda masih terdapat debu yang pindah ke tangannya dari dinding benteng yang tua itu.

Seraya melarikan kudanya, Pangeran Muda termenung-menung. Kalau saja tidak ada gulang- gulang yang mengantar, mungkin pertemuan dengan Yuta Inten dapat lebih lama lagi. Akan tetapi, apa hendak dikata, Pamanda Banyak Citra telah memberinya kawal kehormatan yang gemerlap dengan senjata dan baju logam mereka.

Pangeran Muda pun bertanya kepada mereka, "Tentu sangat tidak menyenangkan berada dalam pakaian perang itu. Apakah juragan kalian memerintahkan agar kalian mengawalku dengan pakaian kebesaran itu?"

"Ya, Pangeran Muda. Mula-mula lima belas orang yang ditugaskan, tetapi menurut Juragan Jaluwuyung, Pangeran Muda tidak suka akan pengawal yang terlalu banyak, jadi kamilah yang diberi tugas."

"Sebenarnya kalian dapat menolak memakai pakaian perang itu kalau juragan kalian tahu bahwa saya tidak mau menyusahkan kalian dengan pakaian-pakaian serta senjata-senjata yang berat itu."

"Tuan kami sangat keras dalam memelihara kehormatan keluarganya, juga kehormatan tamunya, Pangeran Muda. Sukar bagi kami untuk menyampaikan usul. Perintah adalah perintah."

"Saya dengar juragan kalian keras sekali."

"Ya, Pangeran Muda, mereka keras, maksud kami kaum pria keluarga Banyak Citra berwatak keras. Sedang kaum wanitanya sangat lembut dan ramah. Saya sering membandingkan kaum wanitanya dengan bunga-bunga yang indah tumbuh di atas cadas. Ya, keluarga Banyak Citra adalah cadas-cadas yang berbunga." "Tepat benar perbandinganmu itu, Paman," ujar Pangeran Muda sementara kenangannya kembali kepada Yuta Inten.

00dw0kz00