Pangeran Anggadipati Bab 10 : Kuntum Kenanga

Bab 10 : Kuntum Kenanga

Tidak berapa lama kemudian, ketika langit berubah dari biru menjadi nila, dan awan-awan yang perak menjadi emas, tampaklah sayup-sayup sebuah kampung. Akan tetapi, ternyata kampung yang mereka tuju itu sangat besar. Ketika Pangeran Muda menanyakan kepada Mang Ogel tentang nama kampung itu, Mang Ogel menjelaskan, "Anom ini bukan kampung. Rumah-rumah dan tempat-tempat pemujaan di sini banyak sekali. Oleh karena itu, malam ini kita akan bermalam di sebuah kota kecil yang diperintah oleh Tumenggung Wiratanu. Kota ini penduduknya rajin-rajin; di samping bertani mereka berdagang dan membuat kerajinan tangan, hasil pekerjaan tangan ini mereka kirim ke Pelabuhan Negara Kutabarang. Sang Prabu sudah beberapa kali berkenan datang ke kota ini, walaupun kecil, terutama karena tertarik oleh kegiatan niaga penduduknya."

"Kalau begitu, malam ini kita makan besar, Mang. Rindu benar rasanya lidah saya akan makanan-makanan daerah pedataran."

"Wah, sungguh-sungguh satu hati kita ini, Anom! Mari kita percepat kuda-kuda kita. Mereka pun sudah rindu akan rumput dataran rendah!" sambil berkata demikian, dipacunya kudanya dengan kencang.

Pangeran Muda terpaksa pula memecut si Gambir yang melonjak lari dan dengan penuh semangat meluruskan urat-uratnya di dataran yang luas itu. Tidak berapa lama kemudian tibalah mereka di lawang kori kota itu.

Ketika melihat Mang Ogel yang tampak aneh itu, para gulang-gulang yang menjaga lawang kori mula-mula ragu-ragu untuk mengizinkannya masuk. Akan tetapi, setelah mereka melihat Pangeran Muda yang dari ujung rambut hingga telapak kakinya menyinarkan kesatriaan, dengan hormat mereka mempersilakan kedua pengembara itu memasuki kota.

"Dapatkah saya mengetahui nama dan keluarga Raden?" tanya kepala gulang-gulang kepada Pangeran Muda.

"Nama saya Anggadipati, ayahanda adalah Pangeran Anggadipati, tentu Saudara pun pernah mendengar nama beliau. Ini adalah pengawal saya, Mang Ogel."

"Kami senang mendapatkan kunjungan kehormatan dari Pangeran Muda," sambung kepala gulang-gulang itu.

"Paman, kami kemalaman dijalan. Kamilah yang harus berterima kasih pada keramahtamahan warga kota yang telah membuka pintunya bagi kami. Jadi, terima kasih atas segala kebaikan."

"Dipersilakan, Pangeran Muda."

Maka kedua orang pendatang itu pun masuklah ke dalam kota, dan tercengang ketika melihat kemeriahan kota itu. Ketika itu langit senja telah berwarna tembaga. Oleh karena itu, obor-obor yang dipasang sepanjang tepi jalan yang lebar menjadi makin terang tampaknya di kanan kiri jalan, juga di atas jalan, digantungkan orang berbagai hiasan dari janur-janur serta bunga- bungaan. Sementara itu, orang-orang yang hilir mudik, laki-laki, perempuan dan anak-anak, berpakaian indah-indah. Sedang mereka tampaknya sangat sibuk pula.

"Paman, perayaan apakah yang sedang diselenggarakan oleh warga kota?" tanya Pangeran Muda sambil memegang kendali si Gambir yang dituntunnya dijalan besar itu.

"Anak Muda, siang tadi panen baru saja selesai dan malam ini perayaan menghormati Sang Hiang Sri akan dilakukan di lapangan depan pendapa," kata orang yang ditanya itu.

"Wah, kalau begitu malam ini Mang Ogel akan mabuk tuak dan tidur pulas karena nasi ketan hehehe!" seru Mang Ogel keriangan.

"Mang, engkau adalah seorang puragabaya, terlarang bagi kita untuk menyentuh makanan atau minuman yang dapat menghalau akal sehat dari kepala kita," kata Pangeran Muda memberikan peringatan.

"Anom, Emang adalah puragabaya, tapi dengan gaya tersendiri sesuai dengan pendapat Anom hehehe. Bagi puragabaya gaya Mang Ogel kelebihan makan atau minum tidak dilarang. Demikian juga, akal sehat Emang tidak usah selalu ada dalam tempurung kepala Emang. Kasihan Anom, sekali-kali perlu juga dibiarkan cari hawa, jalan-jalan hehehe."

"Baiklah Mang, asal jangan saya disuruh memapah Emang pulang ke penginapan dan janganlah Emang muntahmuntah karena mabuk nanti, seperti muntah-muntah sehabis melihat Rawing makan ular itu."

"Jangan takut, Anom. Emang berpengalaman dalam minum tuak. Tapi janganlah nanti diceritakan kepada orang-orang di padepokan, apalagi kepada Eyang Resi, hehehe. Kalau Anom usil, Emang tidak akan mau lagi menjadi panakawan Anom hehehe."

"Baiklah, sekarang marilah kita cari tempat menginap, Mang," ujar Pangeran Muda sambil menuntun si Gambir menyusuri tepi jalan besar yang meriah oleh orang yang hilir mudik, oleh pakaian mereka yang bagus-bagus dan hiasan-hiasan di atas dan di pinggirnya. 

Di bawah cahaya obor yang terang benderang itu tampaklah sebuah rumah besar yang di depannya terdapat beberapa ekor kuda yang ditambatkan pada tiang-tiang tambatan. Pangeran Muda dengan diikuti oleh Mang Ogel segera berjalan ke arah sana, lalu berhenti sejenak, memandang ke dalam rumah yang serambinya luas dan terang oleh lentera-lentera minyak kelapa.

"Mang, pegangkanlah kendali si Gambir. Saya akan menanyakan tempat," ujar Pangeran Muda. "Tidak, Anom. Emanglah yang pergi."

"Baiklah, mari saya pegangkan kendali kudamu, Mang." Mang Ogel pun masuk ke dalam serambi, lalu menghilang di balik sebuah pintu. Tak berapa lama kemudian ia kembali dan mengatakan bahwa tempat masih tersedia.

Setelah menambatkan kuda dan memberinya rumput, keratan ubi mentali, dedak, dan taburan garam, Pangeran Muda dan Mang Ogel membersihkan diri di tempat yang tersedia di belakang rumah penginapan yang besar itu. Setelah itu, mereka bersantap. Selesai bersantap mereka mengenakan pakaian yang pantas, tetapi sangat sederhana. Pangeran Muda mengajak Mang Ogel melihat-lihat kota.

Untuk sampai di tempat pesta tidaklah sukar. Dengan mengikuti arus manusia yang hampir berdesak-desakan di jalan itu, sampailah Pangeran Muda dengan Mang Ogel ke sebuah lapangan yang sangat luas. Di sekeliling lapangan itu terdapat tempat duduk dan beberapa panggung yang juga diisi dengan tempat-tempat duduk. Panggung-panggung itu dihiasi dengan janur dan buah- buahan serta bunga-bungaan beraneka ragam. Di tengah-tengah lapang itu sendiri berdirilah menara tinggi yang terbuat dari ikatan-ikatan padi yang beribu-ribu jumlahnya. Di atas menara padi itu berdiri rumah-rumahan, yang di dalamnya disemayamkan patung Sang Hiang Sri yang terbuat dari emas murni. Di kaki menara padi itu ditanamkan orang panji-panji, umbul-umbul yang tiang-tiangnya terdiri dari bambu-bambu betung. Kain panji-panji dan umbul-umbul itu terbuat dari sutra yang merah, kuning, putih, hijau, Jingga, nila warnanya. Dari segala perlengkapan itu sadarlah Pangeran Muda, bahwa kota kecil ini termasuk kota kecil yang maju dan kaya raya penduduknya.

Ketika Pangeran Muda dan panakawannya sampai di lapangan, orang sudah berjejal-jejal. Sementara itu, panggung pun sudah diisi oleh pembesar-pembesar kota. Pembesar dan para bangsawan duduk di deretan terdepan, di belakang mereka duduklah putri-putri mereka yang berpakaian serbaindah dan mengenakan perhiasan-perhiasan yang gemerlapan. Melihat putri-putri serta emban-emban yang cantik, bertanyalah Mang Ogel, "Anom, berapa tahun umurmu sekarang?"

"Hampir tujuh belas, Mang. Mengapa?" Pangeran Muda bertanya karena heran mendengar pertanyaan Mang Ogel yang tidak disangka-sangka itu.

"Nah, tadi Anom menasihati Mang Ogel agar tidak mabuk tuak. Sekarang Emanglah yang mendapat kesempatan membalas. Emang hendak menasihati Anom: Awas jangan mabuk oleh kerlingan dan senyuman gadis-gadis itu. Itu bukan saja akan menghalaukan akal sehatmu, bahkan menghalaukan seluruh pikiranmu, Anom!"

"Mang Ogel, jangan takut.

"Gadis-gadis itu tidak menarik perhatian saya," ujar Pangeran Muda.

"Ala, ni anak! Kalau Anom tidak memerhatikan mereka, mereka yang akan memerhatikan Anom. Lihat dirimu sendiri dalam cermin, Anom. Walaupun kau belum tujuh belas, orang akan menyangka sekurang-kurangnya kau berumur dua puluh. Latihan-latihan dan udara sehat di padepokan menumbuhkan rohani dan jasmanimu dengan cepat. Jadi, hati-hatilah."

"Jangan takut, Mang. Minumlah sepuas-puasnya hingga kau kehilangan akal warasmu," ujar Pangeran Muda dengan tersenyum

Mereka pun bergabunglah dengan orang banyak yang berjejal-jejal sekitar lapangan itu.

Ketika bulan muncul di atas benteng sebelah timur kota, dan menyaingi obor-obor dengan cahaya peraknya, ditiup oranglah trompet tiram, mendayu-dayu bunyinya. Orang-orang yang ingar-bingar pun sunyilah, tanda upacara mengelu-elukan Nyai Sang Hiang Sri akan dimulai. Dari panggung terbesar di tepi lapangan itu tampaklah Tumenggung Wiratanu berdiri dari tempat duduknya, dan dengan didampingi oleh beberapa orang pendeta kota ia mulai berdoa dan berseru kepada Nyai Sang Hiang Sri yang duduk dengan megah dalam rumah-rumahan di atas menara padi itu.

"Putri Sang Hiang Tunggal yang pemurah Sang Hiang Sri yang abadi

Lambang kehidupan dan kesuburan Seluruh warga kota Kuta Kiara menyilakan

Sang Hiang Sri untuk bersemayam selama-lamanya di tengah-tengah kami."

"Nyakseni" gumam pendeta-pendeta yang diikuti oleh khalayak. Dan sekarang, sebagai tanda kegembiraan karena Sang Hiang Sri telah berkenan melimpahkan kemurahannya kepada kita malam ini, semalam suntuk kita akan berpesta dan tidak akan pernah tidur, hingga matahari menggantikan purnama."

Selesai pembicaraan itu, dan sebelum Tumenggung Wiratanu kembali ke tempat duduknya, dari kolong panggung terdengarlah bunyi trompet diiringi gendang yang bersemangat, maka gemuruhlah seluruh tempat itu oleh suara bunyi-bunyian.

Tak lama kemudian melompatlah beberapa orang ke dalam gelanggang dan mulai menari. Mereka segera diikuti oleh kawan-kawannya yang lain, laki-laki, perempuan, tua, dan muda. Mereka menari sambil menyanyi mengikuti irama gendang, mengelilingi menara padi sambil meliuk melenggang. Melihat kegembiraan anak negeri yang diperlihatkan dalam tari dan nyanyi itu, hangat pulalah hati Pangeran Muda.

Kalau saja Pangeran Muda bukan seorang bangsawan, dan bangsawan tinggi pula, mungkin Pangeran Muda sudah menggabungkan diri dengan barisan yang berlenggang-leng-gok dan melingkar-lingkar bagai ular itu. Akan tetapi, karena selalu sadar akan kedudukannya, Pangeran Muda hanya bertepuk.

"Mang Ogel, saya sudah beberapa kali mengikuti pesta macam itu, bahkan pernah ikut menari, tetapi sekali ini suasana meriah luar biasa," kata Pangeran Muda. Akan tetapi, ketika tidak ada yang menyahut, Pangeran Muda segera berpaling ke sampingnya. Ternyata Mang Ogel tidak ada.

Pangeran Muda melihat ke kiri dan ke kanan mencari-cari, tetapi sia-sia, bukan saja karena orang terlalu banyak, tetapi orang-orang itu tidak tinggal diam, bergerak kian kemari. Pangeran Muda mulai kebingungan karena tanpa Mang Ogel mungkin ia akan tersesat mencari tempat penginapan nanti. Padahal ia bermaksud tidur sore-sore. Akan tetapi, kemudian hatniya menjadi lega kembali demi melihat seorang yang gemuk dan pendek menari-nari dan melambai-lambaikan tangannya yang lebar dan besar seperti sepitan kepiting itu dalam barisan manusia yang menari- nari dan melingkar-lingkar mengelilingi menara padi itu.

Sementara itu, ke tengah-tengah orang banyak itu masuklah orang-orang yang mengusung tempayan-tempayan besar. Di belakang pengusung-pengusung tempayan itu berjalan pulalah pembawa niru-niru yang penuh diisi cangkir-cangkir tanah liat. Pembagian tuak dimulai, dan orang-orang pun terburu-buru mengelilingi pengusung-pengusung tempayan itu. Sementara itu, dari arah lain diusung pula baki-baki yang berisi makanan-makanan serta buah-buahan. Yang

paling menarik perhatian Pangeran Muda dalam sebuah baki besar yang diusung oleh empat orang di atasnya berisi seekor babi hutan besar yang telah dibakar dan dibumbui. Sambil tertawa dan bersorak-sorak orang mengerumuni babi bakar itu, dan mulai mempergunakan pisau-pisau untuk mengerat dagingnya yang berlemak itu. Maka pesta itu pun lengkaplah, yang menari, yang makan, yang minum semua sibuk.

Ketika sedang asyik memerhatikan segala keramaian itu, seseorang menyentuh tangan Pangeran Muda. Ketika Pangeran Muda berpaling tampaklah seorang pemuda menyodorkan secangkir tuak.

"Untuk memeriahkan kedatangan Sang Hiang Sri, marilah kita minum bersama," katanya. "Terima kasih, kesehatan saya tidak mengizinkan saya minum-minuman memabukkan," jawab

Pangeran Muda, terpaksa berdusta untuk tidak mengecewakan kebaikan pemuda itu. "Sakit apa?" tanya pemuda itu keheranan, "Saudara kelihatannya sehat-sehat saja."

"Saya sendiri juga tidak tahu, hanya dukun meminta kepada saya agar tidak minum tuak dan sebangsanya."

"Air gula boleh? Air buah-buahan?" tanyanya. "Boleh, terima kasih, tapi jangan menyusahkan." "Tidak menyusahkan," kata pemuda itu sambil mengambil secangkir air buah-buahan yang diterima oleh Pangeran Muda setelah mengucapkan terima kasih.

"Tampaknya Saudara orang baru," katanya pula.

"Saya baru saja datang tadi sore," ujar Pangeran Muda. "Pantas, Saudara kelihatan asing dan kesepian," kata pemuda itu sambil tersenyum. "Marilah, bergabunglah dengan kami, orang muda tidak pantas berada di sini," sambungnya. Sambil berkata demikian dituntunnya Pangeran Muda ke arah panggung terbesar, kemudian, dengan melewati tukang-tukang tabuh gamelan di bawah panggung, kawan barunya itu membawa Pangeran Muda ke dalam suatu tempat di belakang panggung yang remang-remang disinari obor-obor kecil.

Di sana banyak sekali pemuda yang berumur belasan sampai dua puluhan. Mereka ada yang bermain dadu, minum tuak, makan, berpantun-pantunan. Umumnya mereka putra-putra bangsawan. Hal itu kelihatan dari pakaian mereka yang bersulamkan benang emas atau benang perak, sesuai dengan tingkat kebangsawanan keluarga mereka. Setiba di tempat itu, kawan barunya disambut oleh kawan-kawannya, seraya berbisik-bisik serta tertawa-tawa pergilah ia ke tempat lain, lupa akan Pangeran Muda yang tertegun di sana dan merasa asing.

Semula Pangeran Muda bermaksud kembali ke tempat terang untuk menonton orang-orang yang menari, tetapi untuk mencapai tempat itu harus melangkahi tukang-tukang bunyi-bunyian yang berada di bawah panggung. Seandainya Pangeran Muda seorang warga kota yang telah dikenal oleh mereka, mungkin hal itu mudah saja dilakukan. Akan tetapi, karena merasa dirinya orang asing, hal itu tidaklah dilakukannya. Pangeran Muda malah memutuskan untuk tinggal di tempat pemuda-pemuda itu, sambil meniru-niru apa-apa yang mereka lakukan agar tidak menarik perhatian.

Main dadu bukanlah kegemaran Pangeran Muda, di samping itu berjudi ditabukan bagi seorang puragabaya dan juga bagi seorang calon. Minum tuak demikian juga. Setelah melihat ke kiri dan ke kanan, tampaklah oleh Pangeran Muda seorang pemain kecapi buta, yang dengan merdunya sedang bernyanyi. Pangeran Muda segera melangkah ke sana, lalu ikut duduk di atas tikar di mana orang-orang muda lain sedang mengelilingi pemain kecapi itu.

Sambil mendengarkan nyanyian tukang kecapi itu, Pangeran Muda memerhatikan tingkah laku orang-orang muda di sana. Seorang muda memberikan uang logam kepada tukang kecapi buta itu, lalu meminta dinyanyikan sebuah lagu. Melihat itu, Pangeran Muda segera merogoh uang kecil, bermaksud meniru perbuatan orang lain agar tidak merasa terlalu asing dan agar tidak menarik perhatian orang. Akan tetapi, baru saja lagu selesai, pemuda lain sudah memberikan uang terlebih dahulu. Kali ini lagunya tidak menarik hati Pangeran Muda. Oleh karena itu, dilayangkannya pandangan ke sekeliling.

Mengertilah Pangeran Muda, mengapa putra-putra bangsawan berkumpul di bawah panggung besar itu. Ketika Pangeran Muda tengadah, berjajarlah putri-putri dan gadis-gadis emban di atas panggung. Mengerti pula Pangeran Muda tentang kedudukan tukang kecapi buta, yaitu sebagai orang yang menyampaikan isi hati pemuda-pemuda kepada pemudi-pemudi yang berada di atas panggung itu. Pantas, pikir Pangeran Muda, kalau lagu-lagu yang dinyanyikan oleh tukang kecapi itu berupa lagu-lagu kasih asmara semata. Dengan menyadari hal itu, dikembalikanlah uang logamnva ke dalam kantongnya.

Sementara itu, tampak pula beberapa orang tua yang sibuk di tengah-tengah pemuda-pemuda itu, yaitu orang-orang tua laki-laki dan perempuan yang bolak-balik naik-turun panggung. Mak Comblang! pikir Pangeran Muda. Pangeran Muda mulai merasa tidak betah. Permainan-permainan yang disaksikannya, walaupun menarik keingintahuannya, adalah permainan-permainan orang- orang yang lebih tua daripadanya. Walaupun begitu, Pangeran Muda tidak beranjak dari tempat duduknya. Diperhatikannya segala gerak-gerik orang-orang muda dan gadis-gadis itu dengan tekun.

Pada suatu saat datanglah seorang tua ke dekatnya. Orang ini dengan tidak disangka-sangka berbisik kepadanya, "Seseorang bertanya kepada Bibi tentang Raden," katanya.

"Siapakah dia?" tanya Pangeran Muda agak bingung.

"Yang duduk dekat tiang dan sedang memandang bulan itu," kata orang itu.

Pangeran Muda berpaling dan terhenyak, karena orang yang menanyakan tentang dirinya adalah seorang putri. Pangeran Muda tidak tahu, apakah ia merasa takut, gembira, terkejut, atau apa. Yang disadarinya hanyalah jantungnya berdegup dengan cepat. Ia pun tidak tahu apa yang akan dikatakannya kepada putri itu. Baru pertama kali ia menghadapi pengalaman yang mengguncangkan dan membingungkannya seperti itu.

"Siapakah dan dari manakah Raden? Nyi Putri ingin sekali mengetahui. Ia bertanya kepada Bibi, kalau tidak salah Raden baru pertama kali hadir di pesta seperti ini."

"Saya orang asing, Bibi... dan... besok sudah harus pergi ... dari ... mana atau ke mana tidak boleh disebutkan. Saya... seorang cantrik dari suatu padepokan."

Orang tua itu tersenyum, lalu berkata, "Mengapa harus berdusta? Raden bukan seorang cantrik. Kalaupun bukan seorang pangeran yang sedang berkelana dan cari pengalaman, Raden mungkin seorang putra bangsawan, sekurang-kurangnya putra saudagar."

"Terserah kepada Bibi, tetapi apa yang saya katakan itu benar."

"Baiklah, tetapi Raden harus jawab pertanyaan Nyai Putri, supaya Bibi dapat mengatakan sesuatu."

"Bibi, katakan saya berterima kasih akan keramahan Tuan Putri, tetapi saya... saya adalah seorang cantrik yang melarikan diri dari padepokan untuk menonton pesta ini. Kalau rahasia tentang nama saya dibuka, saya akan mendapat kesukaran," ujar Pangeran Muda yang kebingungan.

"Apakah Raden sudah mendapatkan sekuntum bunga lain?" "Apakah yang Bibi maksud?"

'Jangan pura-pura tidak tahu. Tapi baiklah, Bibi akan menyampaikan kata-kata Raden," kata orang tua itu, lalu berjalan ke dalam gelap. Tak lama kemudian sudah tampak berbisik-bisik dengan putri yang berada dekat tiang, yang asyik memandang bulan.

Pangeran Muda berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan dengan maksud meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, karena banyaknya orang, akhirnya ia tertahan di suatu tempat tidak berapa jauh dari tempat semula. Sementara Pangeran Muda sedang berpikir-pikir, terjadilah suatu hal yang menarik perhatiannya. Pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang berada di atas panggung mulai main lempar-lemparan dengan bunga-bunga, sementara orang tua mereka bercakap-cakap dan pura-pura tidak tahu. Tidak puas dengan melemparkan bunga kepada kekasih masing-masing, ada pemudi-pemudi yang melemparkan perhiasannya, demikian juga pemuda- pemuda, ada yang melemparkan gelang-gelang tangan dan cincin-cincin permatanya. Pangeran Muda dengan gembira memerhatikan permainan yang menyenangkan itu Akan tetapi, kemudian hatinya menjadi kecut kembali, ketika dilihatnya putri itu sedang memerhatikannya dan tersenyum kepadanya. Pangeran Muda kebingungan, gembira bercampur cemas. Gembira karena putri itu sangat cantik, cemas karena hal itu baru pertama kali dialaminya. Di samping itu, ia merasa tidak senonoh karena terlalu muda untuk melakukan permainan seperti yang dilakukan oleh yang lain-lain. Tampak pula olehnya bahwa sebenarnya tuan putri jauh lebih tua daripadanya.

Sementara Pangeran Muda bingung, tiba-tiba putri itu menaburkan bunga-bungaan kepadanya.

Dari baunya yang segar Pangeran Muda tahu, bahwa bunga-bunga itu adalah bunga-bunga kenanga. Karena kebingungannya, Pangeran Muda segera meninggalkan tempat itu dan walaupun terhalang oleh orang yang berjejal-jejal ia dapat menyelusup, kembali ke lapangan depan panggung tempat Mang Ogel sedang menari dengan orang lain.

Melihat Mang Ogel menari sambil sempoyongan, tertawalah Pangeran Muda. Orang yang gemuk, pendek, dan bertangan besar itu tampaknya sudah mabuk oleh tuak, bunyi-bunyian, dan cahaya-cahaya obor. Sambil tersenyum-senyum dan berpegangan dengan orang-orang lain yang mabuk, ia menari-nari dan menyanyi-nyanyi di tengah-tengah ingar-bingar bunyi-bunyian. Waktu Pangeran Muda asyik tertawa-tawa melihat Mang Ogel yang sempoyongan, seseorang terasa menyenggolnya dengan keras. Pangeran Muda memberi jalan, tetapi tidak ada orang yang lewat. Kemudian, terasa lagi ada yang menyenggolnya, lebih keras lagi.

Pangeran Muda sekarang penasaran, ia berpaling, dan tampaklah di belakangnya beberapa orang pemuda memandangnya dengan tajam sambil melipat tangan di dada. Mereka tampaknya marah kepada seseorang, dan Pangeran Muda pun melihat ke sekeliling, tapi tak melihat ada pemuda lain atau orang lain yang berhadapan dengan pemuda-pemuda yang berjajaran di belakangnya itu.

Pangeran Muda mulai cemas, kalau-kalau orang-orang muda itu bermaksud tidak baik terhadapnya. Hal itu mungkin saja, karena orang-orang itu mungkin saja salah sangka dan menganggap Pangeran Muda sebagai musuh atau orang yang dicarinya. Tampak oleh Pangeran Muda bahwa orang-orang itu bukanlah bangsawan-bangsawan yang biasa dikerahkan menghadapi masalah-masalah seperti itu.

Sementara itu, Pangeran Muda mulai cemas oleh hal lain. Kalau ia terlibat dalam perkelahian karena salah mengerti, mungkin ia akan dilepas sebagai calon puragabaya. Di samping itu, hal yang sangat ditakutinya adalah dirinya sendiri, karena setiap anggota tubuhnya sangat berbahaya bagi orang lain. Setiap jarinya, setiap ujung tulang dan otot-otot pada tubuhnya yang lampai itu adalah senjata-senjata yang sangat berbahaya dan kalau sudah bergerak sukar dikendalikan.

Bagaimana kalau senjata-senjata itu dipancing-pancing untuk bergerak oleh orang-orang yang tidak menyadari akan bahayanya dan berbuat begitu karena salah sangka atau salah mengerti?

Karena kecemasan-kecemasan seperti itu, Pangeran Muda segera memikirkan cara-cara untuk menjauhi orang-orang yang tampaknya salah sangka itu. Hal itu tidak sukar dilakukannya.

Kemampuannya bergerak seperti ular, dipergunakannya dalam menjauhi orang-orang itu, dan dalam sekejap mata Pangeran Muda sudah ada di tempat lain, dan sambil tertawa-tawa melihat penari-penari yang telah mabuk itu sempoyongan ke sana kemari, saling tabrak satu sama lain.

Makin larut orang bukannya makin kurang, tetapi sebaliknya. Walaupun Pangeran Muda masih senang menonton berbagai bentuk pertunjukan yang diadakan orang di samping tari mengelilingi menara padi itu, ingatannya akan keberangkatannya esok hari mendorongnya untuk segera pulang ke penginapan. Setelah malam larut benar, Pangeran Muda segera mendekati Mang Ogel yang terus juga menari, walaupun sudah hampir tidak sanggup lagi berdiri. Begitu mereka bertemu, Pangeran Muda segera memegang tangan panakawannya itu, lalu menariknya keluar gelanggang. Karena sudah mabuk benar oleh tuak, Mang Ogel hampir tidak lagi dapat berjalan. Oleh karena itu, Pangeran Muda terpaksa harus memapahnya dan dengan tersaruk-saruk membawanya ke luar dari pusat keramaian itu.

Walaupun sudah hampir tidak dapat berjalan, sambil bersandar pada tangan Pangeran Muda, Mang Ogel terus berkata-kata dan tertawa-tawa.

"Hehehe orang-orang di sini sangat baik-baik, ala, tuak-tuaknya tua-tua benar. Heh, Anom, mana gadismu? Pintar juga Anom ini, dilepas sebentar sudah kecantol. Hehehe, seorang puragabaya tidak boleh mempergunakan bunga-bunga, apalagi bunga kenanga, Anom. Eyang Resi akan murka, tapi biar, beliau tidak melihat kita hehehe kita harus pandai, dan minumlah banyak- banyak selagi jauh dari padepokan, makanlah banyak-banyak hehehe selagi kita sehat dan gagah perkasa aaaaahh."

Kaki Mang Ogel sudah tidak dapat berpijak lagi, ia seolah-olah mau tidur di tangan Pangeran Muda. Oleh karena itu, Pangeran Muda terpaksa setengah menggendongnya. Setelah dari jauh tampak obor besar dinyalakan di depan penginapan, di suatu tempat yang gelap tiba-tiba Pangeran Muda dihadang oleh dua orang pemuda. Tampak dengan segera bahwa mereka adalah kedua orang badega yang mendelik kepadanya di tengah-tengah keramaian yang baru ditinggalkannya. Pangeran Muda berhenti melangkahkan kaki, tapi ia pun tak berkata apa-apa. Di hatinya timbul lagi kecemasan, bagaimana kalau orang ini memancing-mancing untuk berkelahi.

"Berhenti!" kata salah seorang di antara dua badega itu. Pangeran Muda berhenti, sambil tetap memegang Mang Ogel yang sudah tertidur di tangannya.

"Saudara-saudara mungkin salah sangka. Saya bukanlah orang yang sedang Saudara-saudara cari," kata Pangeran Muda.

"Betul ini orangnya," kata seseorang di dalam gelap, dan ketika Pangeran Muda berpaling ke sana, tampaklah lima orang pemuda lainnya, seorang di antaranya adalah bangsawan muda yang sangat mewah pakaiannya. Bangsawan muda inilah yang baru saja berkata.

"Saya yakin Saudara-saudara salah sangka," kata Pangeran Muda, sementara itu didudukkannya Mang Ogel yang telah mendengkur di sebuah bangku yang ada di tepi jalan.

"Pengecut! Kau tidak akan dapat meloloskan diri, bunga kenanga itu masih kau selipkan di ikat kepalamu," kata salah seorang pemuda yang berdiri dekat bangsawan muda yang berpakaian mewah itu.

"Saya ingin melihat tampang orang ini dengan jelas," kata bangsawan muda itu sambil melangkah.

"Den Bagus, hati-hati, siapa tahu orang yang tampaknya pengecut ini membahayakan," kata salah seorang di antara pemuda itu.

"Saya tidak akan berbuat apa-apa karena saya tidak ada urusan dengan Saudara-saudara," kata Pangeran Muda, menujukan kata-katanya kepada yang disebut Den Bagus itu.

"Kau punya urusan dengan kami. Kau telah berani mengganggu gadis-gadis kota ini, kau tak tahu diri, kau orang asing di tempat ini. Kau harus merasai sendiri bagaimana akibatnya kalau kau tak tahu diri."

Alangkah herannya Pangeran Muda mendengar tuduhan itu. Berkatalah Pangeran Muda, "Saya tidak pernah mengganggu siapa-siapa, apalagi gadis."

"Kau dusta. Apa yang kau pesankan melalui Mak Comblang itu? Tidakkah kami lihat? Tidakkah kami dengar? Kau sangka kami pun buta, dan tidak bisa melihat bunga kenanga yang kau sisipkan di tutup kepalamu," kata Den Bagus.

Pangeran Muda meraba-raba ikat kepalanya, dan terasalah suatu benda, dan ketika diambil tampak bahwa benda itu adalah sekuntum kenanga. Teringatlah Pangeran Muda bagaimana putri itu menaburkan bunga-bunga kenanga kepadanya. Tentu kenanga itu adalah salah satu yang tersangkut dan tertinggal pada ikat kepalanya.

"Saya tidak menyisipkan bunga ini. Bunga ini dilemparkan kepada saya lalu tertinggal," katanya dengan cemas.

"Pengecut! Mayang Cinde tidak tahu pemuda yang menarik perhatiannya adalah seorang pengecut yang menjijikkan! Pah!"

"Soalnya bukan pengecut atau pemberani, soalnya ada salah paham. Saya tidak berbuat apa- apa kepada siapa pun, dan kalau ada bunga di kepala saya, itu di luar tanggung jawab saya!"

"Pengecut!"

Sementara itu ketujuh pemuda itu sudah mengelilinginya. "Kalau begitu, bawalah saya ke pengadilan kota, panggillah gadis dan perempuan tua itu sebagai saksi," kata Pangeran Muda. Dalam hatinya berdoa, semoga pemuda-pemuda itu tidak mencoba memukulnya karena ia takut tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.

"Saya anggota Baros" kata salah seorang pemuda itu. "Saya juga," kata yang lain, sementara itu mereka mulai menyepak dan memukul Pangeran Muda dari berbagai arah. Pangeran Muda berusaha sekuat tenaga menguasai tubuhnya agar tidak memberikan balasan. Apa yang teringat olehnya adalah hukuman yang mungkin dijatuhkan kepadanya oleh Eyang Resi, seandainya ia terlibat dalam perkelahian yang sia-sia seperti itu. Untuk menghindarkan bahaya yang dimungkinkan oleh pukulan-pukulan pemuda-pemuda itu, Pangeran Muda mengeraskan otot- ototnya dan menghindarkan agar sepakan dan pukulan-pukulan itu tidak mengenai bagian-bagian tubuh yang lemah.

Karena Pangeran Muda tidak melawan, mungkin mereka menganggap Pangeran Muda benar- benar pengecut. Anggapan ini menambah semangat mereka untuk menyiksa. Pangeran Muda didorong ke dalam selokan. Pangeran Muda benar-benar menyerah diri pada siksaan mereka itu. Dari dalam selokan Pangeran Muda diseret, dan sambil terus-menerus mendapatkan pukulan dan sepakan dibawa ke sebuah ruangan yang gelap dan besar. Di sana penyiksaan dilakukan kembali lebih hebat lagi. Betapapun Pangeran Muda menghindarkan, tak urung darah mengalir dari siku dan dengkul Pangeran Muda, begitu juga dari bibir atas yang luka karena sepakan. Selama itu, Pangeran Muda terus-menerus melindungi bagian-bagian dirinya yang lemah, dan karena tidak melawan dan berdiam diri, mungkin akhirnya para penyiksa menganggap Pangeran Muda telah jatuh pingsan.

Seseorang pergi dan kembali dengan seguci air. Air disiramkan ke kepala Pangeran Muda, dan pemukulan-pemukulan dimulai lagi. Setelah mereka tampak puas dan ayam jantan berkokok untuk pertama kali, Pangeran Muda mendengar mereka pergi, lalu mengunci ruangan yang gelap dan besar itu, setelah satu-satunya lentera di dalam ruangan itu dipadamkan. Dengan tubuh linu-linu dan darah terasa asin dalam mulutnya, Pangeran Muda mengucapkan syukur karena sudah dapat mengendalikan diri dan tidak melakukan gerakan-gerakan yang begitu berbahaya yang hanya terdapat pada anggota-anggota tubuh seorang puragabaya.

Setelah berbaring sebentar melepaskan lelah, ia pun bangkit, lalu meraba-raba dalam gelap itu.

Ternyata bangunan itu seluruhnya dibuat dari kayu jati, dari papan-papan tebal dan tiang-tiang yang besar-besar. Pangeran Muda termenung sebentar, kemudian terlintas dalam pikirannya bahwa jalan satu-satunya adalah lolos lewat genting. Seperti seekor bajing Pangeran Muda memanjat salah sebuah tiang. Akan tetapi, dengan kecewa ia menyadari bahwa loteng bangunan itu pun dibuat sama kuatnya dengan dindingnya. Mungkin bangunan itu khusus dibuat untuk menyekap orang, demikian pikir Pangeran Muda sambil duduk di lantai. Setelah terduduk beberapa lama, ia pun bangun kembali lalu dengan mengerahkan tenaga memukul salah satu di dinding bangunan itu dengan tinjunya. Akan tetapi, itu pun sia-sia. Tak ada pilihan lain bagi Pangeran Muda kecuali menunggu siang hari dan menunggu nasib selanjutnya dengan siap siaga.

Selagi duduk di lantai itu terdengarlah di luar burung prenjak, kucica, dan kutilang mulai bernyanyi. Ayam berkokok bersahut-sahutan. Bersamaan dengan masuknya cahaya dari luar, terdengarlah palang pintu dipatahkan orang dari luar. Pintu bangunan itu terbuka lebar-lebar dan di ambangnya berdirilah Mang Ogel sambil tersenyum, kedua tangannnya memegang kendali.

"Nah, makanya jangan mengganggu gadis-gadis. Kau masih terialu muda, Anom. Mang Ogel tidak menyangka, bahwa orang yang pendiam seperti Anom bisa cekatan seperti itu mencuri hati seorang putri. Sekarang segera keluar dari tempat ini."

Pangeran Muda segera berdiri, lalu berjalan dan melompat di punggung si Gambir. Mang Ogel memecut kudanya, Pangeran Muda mengikuti dari belakang sambil berseru, "Mang, sudahkah kau urus utang-utang kita dengan pemilik penginapan itu? Sudahkah kaubayar makanan kuda?"

"Bagaimana akan mengurus uang, mengurus satu orang bangsawan muda pun hampir menjadi putih kepala Mang Ogel hehehe."

"Betul, Mang, kalau belum dibayar marilah kita kembali."

"Sudah! Sudah! Pelayan-pelayan kekasihmu itu sudah membayarnya," sambil menjawab begitu Mang Ogel memacu kudanya dijalan besar itu seperti seorang yang sedang dikejar-kejar siluman. Pangeran Muda terpaksa meniru agar tidak ketinggalan. Orang-orang yang berpapasan berloncatan ke tepi sambil memaki-maki, ayam beterbangan sambil berkotek, debu mengepul di udara, sedang dari kuda-kuda mereka membersit bunga-bunga api.

Ketika mereka melewati gerbang kota, para penjaga terkejut dan berteriak-teriak memanggil mereka Akan tetapi, Mang Ogel cuma melambaikan tangan sambil berseru, "Bangsawan- bangsawan kalian sangat ramah hehehe terima kasih hehehe." Baru setelah jauh sekali dari kota itu Mang Ogel mengekang kendali kudanya, dan Pangeran Muda pun dapat menyusulnya. "Sekarang terangkanlah kepada Mang Ogel, apa yang terjadi hingga Mang Ogel terpaksa mematahkan palang pintu orang. Sungguh-sungguh Anom ini nakal rupanya, sungguh Emang tidak menyangka hehehe."

Pangeran Muda menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan sambil mengangguk-anggukkan kepala Mang Ogel mendengarkannya.

"Mengapa kau tidak lari, Anom?"

"Bagaimana saya bisa lari, Mang, dinding dan seluruh bagian bangunan itu memang dibuat untuk menyekap orang," jawab Pangeran Muda.

"Maksud Mang Ogel, mengapa sebelumnya kau tidak ambil langkah seribu. Tidakkah di padepokan diajarkan, bagaimana kau harus lari?"

"Soalnya saya tidak mau disangka berbuat sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya mengharapkan diadakannya pengadilan, supaya masalahnya menjadi terang."

"Engkau terlalu beradab, Anom, sedang orang-orang di sini, walaupun mereka kaya ternyata bukan saja tidak beradab, tetapi cukup buas hehehe."

"Bagaimana kau tahu, Mang?" tanya Pangeran Muda.

Mang Ogel mulailah bercerita, "Begitu banyak tadi malam Emang minum tuak, hingga dunia ini menjadi begitu meriah. Tapi, seperti juga dunia yang meriah secara dipaksa, segala kegembiraan itu lenyap dengan segera. Dalam hal Emang, tidur pulas segera tiba. Yang terakhir Emang ingat adalah bahwa kita sedang bercakap-cakap dijalan dan Emang sedang melihat bunga kenanga terselip di ikat kepalamu, Anom."

"Itu tidak sengaja, Mang. Rupanya bunga yang malang itu terselip ketika orang menaburkannya kepada saya," ujar Pangeran Muda.

"Bukan orang itu, Anom, maksudmu orang yang cantik itu hehehe memang putri-putri kota itu rupanya senang bikin susah orang, main lempar-lemparan segala, hingga terjadi main sekap- sekapan," sambung Mang Ogel.

"Saya sendiri tidak main lempar-lemparan, Mang. Saya lewat di bawah panggung dan orang itu menaburkan bunga kenanga. Celakanya saya tidak tahu sekuntum terselip di ikat kepala saya."

"Orang cantik itu maksudmu, hehehe, dan tentang terselip atau diselipkan tidak Emang persoalkan hehehe. Baiklah, mukamu tidak usah berubah warna kalau kau tidak berbuat apa-apa hehehe. Sekarang marilah Emang melanjutkan dongeng Emang. Nah, entah berapa lama Emang tertidur di balai-balai di tepi jalan itu. Baru Emang bangun ketika perasaan dingin menggigilkan seluruh tubuh Emang. Ketika Emang membukakan mata yang terlihat di langit hanyalah tebaran berjuta bintang, sedang jalan-jalan telah sunyi, hanya pelita-pelita berkelap-kelip di tepinya.

Emang sungguh-sungguh geram kepadamu yang tega meninggalkan Emang kedinginan di tepi jalan ketika itu. Lalu Emang bangkit dan berjalan ke penginapan. Setiba di sana, apakah yang Emang lihat?

"Lima orang gulang-gulang, seorang emban tua dan seorang putri cantik sedang menangisimu, Anom. Begitu Emang datang, putri itu berlari menubruk Emang, kemudian menyalahkan Emang sambil memujimu, lalu menangis, lalu bicara hehehe. Sampai Emang jadi bingung, padahal bangun sempurna pun Emang belum. Dari perkataannya yang dicampur air mata, dari pujian yang dicampur penyesalan, pendeknya dari perkataan-perkataan yang seperti ngelindur yang didengar oleh orang yang setengah bangun ketika itu, diambillah kesimpulan, bahwa Anom diculik dan disiksa orang dan Emang harus segera menolong.

"Kata Emang, Anom itu bukan orang biasa, yang mengganggunya harus bertanggung jawab.

Kata putri itu justru yang menangkapnya pun orang yang tidak biasa, yaitu Raden Bagus Wiratanu, putra sulung Tumenggung Wiratanu yang menjadi penguasa kota. Jadi, Emang harus bertindak dengan segera, sebelum hal-hal yang lebih jelek terjadi. Kalau begitu, Emang harus mengetahui sebabnya terlebih dahulu mengapa Anom sampai disekap. Kalau Anom bersalah, kata Emang, sepantasnya Anom disekap dan Emang tidak akan membantunya. Bahkan kalau Anom lari,

Emang akan membantu menangkapnya. Dan apakah yang terjadi hehehe Putri itu menangis keras-keras dan mengatakan dialah yang bersalah dan minta diampuni. Bersalah bagaimana? tanya Emang. Nah, jawabnya tepat: Sekuntum kenanga dilemparkannya kepada Anom, lalu menyangkut di ikat kepala. Itulah yang menyebabkan Anom disekap." "Bukan sekuntum Mang, entah berapa puluh kuntum yang ditaburkannya di kepala saya," sela Pangeran Muda.

"Soalnya putri itu mengatakan sekuntum dan dengan sekuntum saja engkau babak belur dan disekap bukan? Hche he."

"Baiklah, teruskan, Mang."

"Siapa yang main sekap hanya lantaran sekuntum kenanga?" tanya Emang. "Raden Bagus Wiratanu," jawabnya.,

"Wah, Raden Bagus ini tidak bagus, rupanya," kata Emang.

"Memang suka bikin gara-gara dan sekarang pun entah apa yang dilakukannya terhadap kesatria yang Emang iringkan itu," ujarnya.

'Apa yang mungkin dilakukannya?" Emang bertanya dengan cemas.

"Mungkin Anom disiksa, di samping itu, di lapangan di sebuah hutan yang tidak jauh dari rumah putri itu beberapa orang badega sedang membuat salib dari kayu. Putri itu sudah mengira esok pagi salib itu diperuntukkan bagimu. Rupanya engkau akan disate atau diapakan oleh orang-orang yang tidak beradab itu, Anom. Mendengar itu, Emang pun segera pergi, minta ditunjukkan tempat kau disekap. Di perjalanan Emang sempat melihat salib itu, dengan beberapa orang sedang bekerja di sana, mempersiapkan pembakaranmu hidup-hidup, rupanya. Dan kisah selanjutnya kau sendiri mengetahui," kata Mang Ogel menutup bicaranya.

"Hampir saya lupa dan akan memukul orang-orang itu, Mang," kata Pangeran Muda sambil menarik napas panjang, menekan kegeraman yang meluap dengan tiba-tiba.

"Anom, kau ini terlalu patuh hehehe. Kalau kau dipukul di tempat tersembunyi, mengapa tidak membalas?" ujar Mang Ogel seraya mengerling pada Pangeran Muda.

"Seandainya, saya bernama Mang Ogel, sudah saya makan orang-orang itu di tempat terbuka ataupun tertutup!" sambung Pangeran Muda sambil menahan kegeramannya. Perasaan sedih mulai menusuk hatinya. Bukan sedih karena tidak dapat melawan ketika dianiaya, tetapi sedih menemukan kenyataan bahwa ada orang-orang yang buas seperti Raden Bagus dengan anak- anak buahnya. Rupanya Mang Ogel melihat kesedihan yang membayang pada wajah Pangeran Muda karena kemudian ia berkata, "Engkau seorang calon puragabaya, Anom, janganlah pengalaman itu dianggap luar biasa. Bagi seorang puragabaya penderitaan, penghinaan, dan tugas berat adalah bagian dari hidupnya. Untuk segalanya itu, puragabaya dianugerahi kehormatan dan kemuliaan oleh rakyat dan sang Prabu. Jadi, lupakanlah, dan bahkan bersyukurlah karena engkau telah dapat mengendalikan perasaan dan terutama mengendalikan tubuhmu yang sangat berbahaya itu."

"Terima kasih, Mang. Nasihatmu mendinginkan hati saya. Ingatkan saya nanti, bahwa saya akan menyerahkan sajen bagi para guriang karena saya telah lolos dari bahaya itu," sambung Pangeran Muda.

'Anom, pengekangan diri seorang puragabaya pun ada batasnya. Seandainya jiwanya terancam, bukan saja dia boleh mempertahankan diri, tetapi bahkan diharuskan baginya berbuat demikian, asal saja semuanya dapat dipertanggungjawabkan."

"Saya pun tahu akan hal itu, Mang. Seandainya, mereka mempergunakan senjata tajam, saya telah melawan mereka. Akan tetapi, tidak ada di antara mereka yang mempergunakan senjata, jadi saya berkewajiban untuk mengendalikan diri."

"Anom, mereka tidak mempergunakan senjata tajam karena akan menyiksamu keesokan harinya. Jadi, janganlah menyangka mereka itu beradab. Dari gulang-gulang putri yang mengantarkan Emang mencarimu, Emang mendapat penjelasan bahwa Raden Bagus ini memang benar-benar berandal. Banyak pemuda dan bahkan orang-orang tua yang menjadi korbannya, dan itu kebanyakan karena cemburunya. Ia mencintai putri yang menyelipkan kuntum kenanga di kepalamu itu hehehe. Nama putri itu Mayang Cinde, boleh kau catat di hatimu hehehe."

Pangeran Muda tidak menyahut. Dilihatnya dari jauh kelompok pohon yang sangat hijau di tengah-tengah padang yang mereka lalui. Pangeran Muda tengadah. Matahari sudah tinggi, kuda- kuda perlu minum dan di bawah kelompok pohon itu tentu ada mata air yang baik. Tampaknya Mang Ogel pun berpendapat begitu karena setiba di dekat tempat itu ia pun mengekang kendali kudanya. SEMENTARA kuda-kuda minum dan mengunyah dedak dari kantong-kantong kecil masing- masing, Pangeran Muda duduk di rumput menghadapi santapan yang telah disediakan oleh Mang Ogel untuk makan pagi. Mereka minum air dari kulit kukuk kecil dan mencicipi dendeng bakar dengan nasi merah. Setelah itu, mereka makan buah-buahan yang dibawa dari Kuta Kiara yang baru mereka tinggalkan.

Setelah selesai makan, dan ketika Mang Ogel sedang memeriksa alas kaki si Gambir, suara kedatangan penunggang-pe-nunggang kuda terdengar gemuruh mendekati tempat mata air itu. Kedua pengembara itu menyangka ada rombongan lain yang juga hendak memberi minum kuda, tetapi sangkaan itu meleset.

Setelah dekat tampak bahwa penunggang kuda terdepan adalah Raden Bagus Wiratanu. Di belakangnya kira-kira sepuluh orang pemuda lain mengiringkannya, semuanya putra bangsawan- bangsawan belaka, karena tak seorang pun di antara mereka memakai pakaian penggawa dan membawa senjata panjang. Sebagaimana dilazimkan, putra-putra bangsawan berpakaian hijau muda dengan sulaman benang emas atau perak, sedang senjata mereka dilazimkan senjata- senjata kecil yang mudah disembunyikan, kalau mereka kebetulan menghadiri upacara-upacara di mana banyak wanita. Persenjataan mereka yang sederhana itu tidaklah berarti bahwa putra-putra bangsawan kurang berbahaya daripada gulang-gulang atau jagabaya. Sebaliknya, mereka jauh lebih berbahaya karena persenjataan yang sederhana mendapat imbangan kemampuan berkelahi yang tinggi. Diadatkan bagi para bangsawan untuk mendidik putra-putra mereka menjadi prajurit- prajurit yang tangguh agar kalau terjadi perang atau huru-hura, mereka langsung dapat diangkat menjadi perwira-perwira oleh sang Prabu.

Pikiran-pikiran tentang bahaya itulah yang memenuhi kesadaran Pangeran Muda ketika rombongan penunggang kuda itu turun dari punggung kuda masing-masing dan berjalan berpencar-pencar ke arah kedua pengembara itu.

"Wah, rupanya mereka tidak puas kalau kau hanya babak-belur, Anom. Bagaimana kalau kau coba hasil latihanmu di Padepokan itu?"

"Tidak Mang, kita harus berusaha menghindarkan perkelahian," ujar Pangeran Muda setengah berbisik.

"Anom, tapi Anom telah disiksa dan setelah melarikan diri terus dikejar. Kau berhak melawan, Anom. Jangan biarkan bangsawan-bangsawan yang kurang ajar itu!" kata Mang Ogel mulai panas demi melihat pendatang-pendatang mulai membuat lingkaran mengelilingi mereka.

"Sabar, Mang, kau seharusnya lebih sabar daripada saya yang lebih muda!" "Sambal! Saya bukan puragabaya. Kalau ada orang main pukul seenak perutnya dan

membelalak-belalakkan matanya ke semua arah, pendeta pun akan menendang dupanya. Anom, mereka harus diajar!"

"Diam, Mang, biarlah saya yang bicara," kata Pangeran Muda sambil memegang tangan Mang Ogel.

"Saya sedih melihat bekas-bekas pukulan mereka di seluruh tubuhmu, Anom."

"Cuma kulitnya yang luka, Mang. Tak ada otot yang sakit, saya berusaha menghindarkan diri dan mereka memukuli saya dalam gelap," ujar Pangeran Muda. Sementara itu, lingkaran makin mengecil.

"Baiklah," kata Mang Ogel menjadi tenang. "Tapi carilah tempat yang baik, kalau-kalau mereka akan mengeroyok kita nanti. Mundurlah, dan marilah kita berdiri membelakangi pohon besar ini, agar mereka tidak dapat menyerang dari belakang," kata Mang Ogel melanjutkan.

Pangeran Muda menyadari akan perlunya kesiapsiagaan. Maka mereka pun mundur, mendekati pohon besar yang tumbuh di tepi mata air itu. Ketika itu pengepung-pengepung telah amat dekat, dan salah seorang yang membawa tambang memutar-mutarnya di udara hingga anginnya terasa menyibak Pangeran Muda.

"Begundalnya yang ini rupanya yang mematahkan palang pintu itu. Dia harus mengganti palang pintu jati itu bukan?" kata Den Bagus sambil berpaling kepada kawan-kawannya.

Kawan-kawannya tertawa, dan salah seorang di antaranya berkata, "Rupanya kepiting ini mau ikut dibakar, Den Bagus."

Rupanya perkataan itu dianggap lelucon yang lucu oleh kawan-kawannya yang tertawa pula terbahak-bahak. "Sekalian menyalakan api, bolehlah," kata Den Bagus sambil tersenyum.

"Heh, Paman," kata Den Bagus pula kepada Mang Ogel. "Kesatria asuhanmu ini pintar juga rupanya. Ia berpakaian pendeta untuk dapat melakukan rencana-rencana asmaranya. Sungguh suatu cara yang hebat, Paman. Akan tetapi, di Kuta Kiara akal-akal busuk macam itu tidak disukai dan harus dibayar." Kawan-kawan Den Bagus tertawa, tetapi dalam cara yang hambar.

"Janganlah mengganggu kami. Kami tidak bermaksud jelek kepada siapa pun. Dan kalau semalam terjadi sesuatu, hal itu karena salah paham. Bunga itu kebetulan jatuh di kepala saya dan terselip di sana tanpa saya sadari. Tentu Saudara-saudara tidak akan menyalahkan saya. Sedang mengenai apa yang terjadi terhadap diri saya akibat dari kesalahpahaman itu, saya dapat mengerti dan bersedia melupakannya dengan setulus-tulus hati saya," kata Pangeran Muda.

"Pengecut! Kalau perkataannya itu benar, kita harus menghukumnya karena kita tidak sudi kota ini diinjak oleh pengecut seperti kesatria yang kita hadapi sekarang ini. Kalau perkataannya itu tidak benar, kita harus menghukumnya lipat dua; pertama, sebagai pendusta, kedua, sebagai pengecut!" kata Raden Bagus, kemudian ia meludah ke tanah menunjukkan penghinaannya.

'Jangan mengganggu kami. Juragan-juragan tidak tahu siapa kami ini," kata Mang Ogel. 'Apa kau, kodok? Kepiting? Kau harus membayar karena golokmu telah mematahkan palang

pintu terongko."

Mendengar cacian itu, Mang Ogel berpaling kepada Pangeran Muda yang tetap tenang. "Katakanlah, Anom, bahwa kita dari Padepokan Tajimalela."

'Janganlah mengganggu kami, kami dari Padepokan Tajimalela sedang menuju daerah Kutabarang, menuju Puri Anggadipati," kata Pangeran Muda dengan harapan para bangsawan itu mengerti apa yang dimaksudkan.

"Hahaha! Kepala Udang! Kepala Kepiting! Mula-mula berdusta katanya kenanga terselip sendiri, kemudian pengecut, sekarang berdusta pura-pura menjadi puragabaya!" Den Bagus tertawa terpingkal-pingkal.

"Hah?" seru kawan-kawannya keheranan, lalu yang seorang sambil tertawa berkata, "Puragabaya macam apa? Dipukul bukannya melawan, malah melindung-lindungkan tangannya ke seluruh tubuh. Den Bagus, orang macam ini memang cocok untuk upacara pembakaran mayat."

Sambil berkata kemudian orang itu bergerak mendekati, diikuti oleh kawan-kawannya. Mang Ogel membuka pakaian hitam yang melindungi pakaian putih yang ada di dalamnya. Mang Ogel memperlihatkan ikat pinggang sutra perak yang menjadi tanda bahwa ia adalah puragabaya juga dalam gayanya sendiri. Penunjukan itu diharapkannya agar mengurungkan maksud buruk para bangsawan muda itu. Akan tetapi, demi melihat hal itu, tertawa pulalah Den Bagus dengan kawan- kawannya.

"Kawan-kawan, rupanya kita bertemu dengan badut sandiwara. Lihat, kepiting gemuk ini memakai ikat pinggang puragabaya, tapi bentuknya agak lain. Heh, Mang, kapan kau main sandiwara terakhir sekali?"

"Yang mengherankan, pemain-pemain sandiwara ini punya kuda-kuda yang bagus sekali, Kawan!"

"Heh! Mungkin kuda-kuda ini curian! Kita perlu menyerahkannya kepada jagabaya, tapi tentu saja setelah menggoreng pencuri-pencurinya!"

"Kami minta untuk terakhir sekali, janganlah mengganggu kami. Kami tidak bertanggung jawab akan apa yang terjadi," kata Pangeran Muda sambil bersiap-siap karena lingkaran makin dekat.

"Kata-katanya persis seperti yang biasa diucapkan oleh tokoh puragabaya dalam sandiwara- sandiwara keliling!"

"Sambal!" kata Mang Ogel.

"Tenang, Mang Ogel," bisik Pangeran Muda.

Ketika itu Den Bagus memberi isyarat kepada kawan-kawannya agar penangkapan dimulai.

Pangeran Muda tidak punya pilihan lain, kecuali melawan. Walaupun demikian, dicamkan dalam hatinya bahwa seandainya terpaksa melawan, ia akan berusaha agar tidak ada yang terluka oleh perlawanannya itu.

Sambil tertawa-tawa, kesepuluh orang pemuda itu, kecuali Den Bagus, berkeliling sambil menyodorkan tangannya ke muka. Mulutnya tak henti-hentinya berbunyi, seolah-olah mereka hendak menangkap ayam. Ketika mereka sudah mendekat, Pangeran Muda meringankan badannya, lalu melompat melalui kepala mereka sambil bersiap-siap dengan kakinya. Seperti digerakkan oleh tenaga yang sama, Mang Ogel menangkap dua tangan lalu sambil menarik kedua orang yang ditangkap tangannya, dilipatnya kedua tangan itu ke arah dadanya.

Dengan gerakan pertama itu Pangeran Muda sudah berada di luar kepungan, sementara Mang Ogel terlindung oleh tubuh dua orang pemuda yang menggeliat-geliat kesakitan.

"Jangan ganggu kami! Mang Ogel, lepaskanlah mereka kalau mereka berjanji tidak akan mengganggu," kata Pangeran Muda sambil berdiri dekat Den Bagus.

Akan tetapi, Den Bagus bukannya menjadi sadar, sebaliknya malah ia naik pitam. Seperti banteng luka ia menghambur hendak menghantam muka Pangeran Muda dengan tinju. Pangeran Muda yang selalu siaga, menggerakkan tangannya secara naluriah. Ketika tangan itu menangkap sikut dan pergelangan Den Bagus serta menariknya, kedua kakinya bergerak seirama dalam satu lingkaran. Dengan gerakan yang selaras ini, tenaga Den Bagus yang didorong oleh amarah itu bukan saja tidak menemui sasaran, bahkan terlempar jauh ke belakang Pangeran Muda. Begitu kerasnya lemparan itu, hingga tubuh Den Bagus terbanting terjungkir-jungkir ke atas semak- semak di dekat mata air.

Sementara itu, dua orang bangsawan muda yang lain menyerang Pangeran Muda secara serempak dari kiri dan kanan. Pangeran Muda hanya sedikit menggeserkan tubuhnya ke sebelah kiri, seraya tangan kirinya menyentuh sikut penyerang yang datang dari arah kiri. Orang yang tinjunya dibelokkan ini tidak dapat lagi mempertahankan keseimbangannya, kakinya yang kanan terperosok dan ketika ia hendak jatuh, kawannya yang menyerang dari kanan dengan tinjunya yang berdesing, menghantam rusuknya dengan tidak sengaja. Orang yang malang itu tidak dapat bangun lagi, menggelepar-gelepar di bawah pohon.

Kawan yang merubuhkannya bangkit dan mencari-cari Pangeran Muda. Akan tetapi, baru saja tampak olehnya dan ia hendak melangkahkan kakinya, Mang Ogel sudah menangkap tengkuknya, lalu membalikkan kepalanya ke samping, memandang ke wajah Mang Ogel yang melotot kepadanya. Orang itu berteriak karena tulang lehernya berderak.

'Jangan terlalu keras, nanti kudaku lari!" kata Mang Ogel sambil membanting orang itu ke sebelah kirinya, menyambut penyerang baru. Suatu tabrakan yang keras tidak dapat dihindarkan dan dua tubuh bergedebuk jatuh tidak bangkit lagi.

Sementara itu, Pangeran Muda diserang bersama dari empat arah. Badan serta seluruh anggota tubuhnya bergerak mengikuti irama serangan lawan. Makin banyak dan makin cepat serangan, makin cepat pula gerakan kaki dan tangannya. Bagai seekor burung garuda yang lahap dan ingin menangkap mangsa, kaki Pangeran Muda seolah tidak berpijak tampaknya. Dengan putaran- putaran yang indah tapi berbahaya'ia membagikan hentakan kaki dan hantaman sisi tangannya.

Dalam sekejap telah bergelimpangan keempat penyerang itu.

"Kubunuh kau! Kubunuh kau!" teriak Den Bagus, dan dengan muka yang berlumuran darah karena duri-duri dalam semak, ia menghambur dengan badik di tangan. Pangeran Muda menunggu dengan siaga dan ketika badik itu sudah sejengkal lagi dari dadanya, Pangeran Muda mengibaskannya dengan tangan kiri ke sebelah kanan, sambil memutar tumit kiri dan memindahkan kaki kanan ke belakang. Sekali lagi Den Bagus melesat, sekarang tidak menerobos semak, tapi langsung masuk ke dalam kolam tempat air tertampung. Suara gedebur dan cipratan air pun tersemburlah ke atas.

"Heh, jangan mandi dulu! Kan kita belum selesai, dan itu bukan tempat mandi, tempat minum kuda!" seru Mang Ogel sambil melihat Den Bagus yang berusaha bangun dari kolam seraya batuk- batuk.

"Saudara, bawa kepada ibunya, katakan anak itu jatuh masuk kolam," kata Mang Ogel kepada dua orang bangsawan muda yang beku ketakutan melihat segala yang telah terjadi itu. Dengan takut-takut, kedua orang itu turun ke dalam kolam, menyelamatkan Den Bagus yang hampir mati tenggelam.

Segalanya telah selesai bagi Pangeran Muda dan Mang Ogel. Seraya melangkahi badan lawan yang bergelimpangan dalam semak dan di atas rumput, mereka menuju kuda masing-masing, kemudian melompatinya dan melecutnya ke arah padang terbuka. Mereka tak pernah berpaling ke arah mata air itu, dan tidak berapa lama hilanglah mereka dari pandangan kedua bangsawan yang memapah Den Bagus. Mereka lenyap di kaki langit.