-->

Pangeran Anggadipati Bab 08 : Mang Ogel

Bab 08 : Mang Ogel

Dihentikannya latihan-latihan serta pelajaran-pelajaran lain dalam waktu seminggu memberikan kesempatan kepada para calon yang bertempat tinggal dekat untuk minta izin pulang dahulu ke keluarga mereka masing-masing. Eyang Resi tampaknya tidak keberatan, bukan saja karena sudah hampir dua tahun para calon terus-menerus berlatih, tetapi beliau pun bermaksud meringankan dukacita yang dihadapi para calon, setelah korban-korban berjatuhan dalam latihan itu.

Kesempatan ini pun dipergunakan oleh Pangeran Muda dengan sebaik-baiknya.

Waktu Pangeran Muda menghadap dengan calon-calon lain untuk meminta izin, kepada Pangeran Muda, Eyang Resi berpesan, 'Anom, di antara kawan-kawanmu engkaulah satu-satunya putra bangsawan yang bertingkat pangeran. Kalau di rumah kau miliki peralatan-peralatan kesatriaan yang dapat kau sumbangkan pada Padepokan, Eyang mengharap agar Anom dapat membawanya kalau nanti kembali ke sini."

"Dapatkah Eyang Resi menunjukkan alat-alat kesatriaan apakah yang diperlukan itu?" tanya Pangeran Muda.

"Sebanyak mungkin. Misalnya, tombak, panah, dan perlengkapan lainnya yang tidak pernah dipakai oleh puragabaya, tetapi selalu dipergunakan oleh seorang bangsawan, khususnya bangsawan yang memangku kedudukan sebagai perwira Jagabaya."

"Eyang Resi, kebetulan hamba memiliki perlengkapan kesatriaan itu. Hamba memiliki dua batang tombak yang baik, tiga panah, tutup dada dari logam, tameng, ikat rambut dari emas, cincin-cincin keluarga dari emas," ujar Pangeran Muda.

"Anom, maksud Eyang tidak usahlah barang-barang yang mahal karena barang-barang itu kemudian akan terbuang setelah dipergunakan dalam upacara di sini," lanjut Eyang Resi.

"Kalau demikian lain lagi soalnya. Akan tetapi, Anom perlu menyadari, bahwa benda-benda itu akan dibakar dalam upacara," demikian penjelasan Eyang Resi.

"Tidak apa, Eyang, karena sejak sekarang hamba tidak memerlukannya lagi; bahkan kalau hamba gagal menjadi puragabaya, hamba kira hamba akan terlalu tua untuk mencintai benda- benda itu."

"Baiklah, terserahlah kalau demikian, Anom. Bawalah yang sekiranya tidak akan menyusahkan Anom."

Kemudian terpikir oleh Pangeran Muda, bahwa kalau harus membawa perlengkapan itu dari puri ayahandanya, Pangeran Muda akan memerlukan seorang pembantu yang membawa sebagian dari perlengkapan itu. Seandainya ia sendiri yang harus membawa perlengkapan-perlengkapan itu, mungkin perjalanan akan menjadi sukar sekali untuk ditempuh, hingga kemungkinan terlambat pulang ke padepokan nenjadi besar. Teringatlah oleh Pangeran Muda akan Mang Ogel yang mungkin akan bersenang hati kalau diberi kesempatan untuk mengikutinya ke puri Anggadipati.

Maka berkatalah Pangeran Muda, "Eyang Resi, untuk keperluan membawa barang-barang perlengkapan itu, dapatkah kiranya hamba membawa Panakawan Ogel sebagai pembantu?"

"Kalau ia tidak keberatan, Eyang sendiri tidak terlalu membutuhkan tenaganya sementara para calon meninggalkan padepokan."

"Kalau begitu, hamba akan membawanya, Eyang Resi."

"Baik, Anom, sampai bertemu lagi, selambat-lambatnya dalam sepuluh hari," ujar Eyang Resi.

Mereka pun bubarlah.

MANG Ogel sangat gembira menerima usul itu, dan keesokan harinya, baru saja ayam berkokok, sudah diketuk-ketuknya pintu ruangan Pangeran Muda. Waktu Pangeran Muda keluar dan setelah membersihkan diri, ternyata Mang Ogel telah mempersiapkan segala-galanya. Maka keberangkatan pun dapat dilakukan dengan segera. Rombongan Pangeran Muda dan Mang Ogel adalah rombongan pertama yang meninggalkan wilayah Padepokan Tajimalela.

Setelah melewati hutan-hutan larangan dan jurang-jurang yang curam yang menjadi penghalang bagi orang luar untuk dapat mengunjungi padepokan, sampailah mereka di rimba yang lebat di punggung gunung yang landai. Sekarang perjalanan tidak terlalu sukar ditempuh. Oleh karena itu, kedua pejalan ada kesempatan untuk bercakap-cakap.

"Mang Ogel, sudah dua tahun kita bergaul, tetapi karena kesibukan masing-masing, saya belum sempat bertanya-tanya tentang asal usul Mang Ogel," kata Pangeran Muda.

"Wah, repot Anom, sungguh repot!" ujar Mang Ogel. "Repot bagaimana, Mang?"

"Bayangkan, pada suatu hari Ayah berkata, 'Ogel kamu sekarang sudah besar, sudah waktunya punya penghasilan sendiri. Maukah kamu kumintakan kerja kepada Kuwu?'

"Mendengar perkataan Ayah itu, alangkah bangganya hati Emang, karena merasa sudah dianggap dewasa. Menurut anggapan Emang, seorang dewasa itu jauh lebih senang daripada seorang anak atau yang belum dianggap dewasa. Orang dewasa mau mengadu jangkrik atau mengadu domba tidak akan ada yang mengusik. Lalu Emang bertanya, 'Apakah Juragan Kuwu sudah percaya pada Emang untuk menjadi gembala domba-dombanya?'

"Ayah menjawab, 'Kuwu akan mencoba kemampuanmu dahulu. Ia bersedia memercayakan sepuluh ekor domba kepadamu!' Belum selesai Ayah berkata, saya sudah menyela, Ah, Ayali, terlalu sedikit kalau hanya sepuluh ekor, bagaimana kalau dua puluh?' Ayah mula-mula tetap pada pendiriannya, yaitu bahwa sepuluh ekor cukup untuk percobaan. Saya tahan harga, kalau tidak dua puluh lebih baik Emang tidak jadi gembala saja. Akhirnya, Ayah mengalah dan mengusahakan agar Kuwu mau memercayakan sepuluh lagi dari dombanya.

"Mengapa Emang berkeras untuk dapat dua puluh ada beberapa alasannya; pertama, kalau mendapatkan dua puluh kemungkinan mendapat upah lebih banyak. Kalau ada dua ekor domba yang beranak dari sepuluh, Emang mendapat satu ekor. Dari dua puluh mungkin yang beranak empat ekor, jadi berarti Emang akan mendapat dua ekor. Alasan kedua adalah bahwa dua puluh domba kemungkinan jumlah jantannya lebih banyak. Itu berarti bahwa Emang akan dapat memiliki domba aduan lebih dari satu ekor, selanjutnya, itu berarti Emang akan puas mengadu domba punya Kuwu dengan domba yang digembalakan oleh kawan-kawan Emang.

'Ayah rupanya tidak dapat menduga apa yang ada dalam pikiran Emang. Sebenarnya', usahanya untuk mendapatkan domba gembalaan adalah untuk mengalihkan perhatian Emang dari kesenangan mengadu jangkrik dan ayam. Ayah tidak berpikir panjang dan tidak menyangka bahwa Emang akan lebih merajalela lagi dalam kesenangan Emang mengadu binatang.

"Maka, beberapa hari kemudian Emang pun sudah menjadi gembala. Bayangkan, empat ekor domba jantan, yang dua sudah bertanduk panjang, yang dua sedang tumbuh. Alangkah menyenangkannya! Ayah tidak melihat mata Emang berca-haya-cahaya. Ia malah berkata, Jagalah dengan hati-hati, jangan meleng, nanti domba-domba itu diserang anjing hutan atau harimau tutul yang banyak berkeliaran di tepi padang, balikan siang hari.' Tentu saja Emang mengiyakannya, walaupun soal anjing hutan atau harimau tidak menarik perhatian Emang yang sudah tergila-gila pada kegemaran mengadu domba.

"Keesokan harinya Emang dengan kawan-kawan berpesta di padang itu, schari-harian mengadu domba, hingga domba-domba jantan itu gemetar kelelahan. Masih untung kalau tanduknya tidak patah atau kepalanya pecah. Walaupun begitu, setelah beberapa lama Emang tidak tahu lagi mana yang menjadi binatang gembalaan Emang, mana yang menjadi gembalaan orang lain. Di samping itu, banyak di antara gembalaan Emangyang entah ke mana perginya. Bayangkan!

Karena takut dimarahi, Emang tidak pulang dengan kawan-kawan, tetapi terus mencari-cari domba gembala itu. Memang beberapa ekor Emang temukan kembali, tapi kebanyakan entah ke mana. Mungkin telah diseret oleh harimau tutul atau diambil oleh pencuri-pencuri. Menghadapi kenyataan demikian, bingunglah Emang. Ketika malam tiba, Emang masih berada di tengah- tengah padang dengan beberapa ekor domba. Karena kebingungan, Emang tambatkan domba- domba itu pada sebatang pohon, sedang Emang sendiri duduk di salah sebuah dahannya, sambil termenung-menung mencari jalan keluar.

"Selagi Emang termenung-menung demikian, dari jauh tampaklah cahaya obor-obor. Tentu mereka mencari Emang. Melihat cahaya itu, karena kebingungan Emang melepaskan tambatan domba-domba, lalu menghalaunya, Emang sendiri berlari, lupa akan segala bahaya yang mungkin terjadi, karena di malam hari di padang itu biasa berkeliaran anjing-anjing hutan, mencari domba- domba yang ketinggalan. Setelah Emang tidak melihat cahaya-cahaya obor itu, Emang baru memanjat pohon kembali. Sepanjang malam Emang kedinginan di atas pohon itu dan keesokan harinya, tak seekor domba pun tampak, bahkan tempat yang Emang kenal pun sudah tidak ada lagi. Entah berapa lama dan berapa jauh Emang berlari-lari di padang yang luas itu. Rupanya Emang sudah tersesat.

"Dengan tidak tentu tujuan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, berjalanlah Emang mengikuti ujung ibu jari kaki, sepanjang jalan memetik buah-buahan, baru setelah malam tiba Emang ingat ke rumah, lalu menangis terisak-isak. Tak berani Emang menangis keras-keras, takut didengar binatang buas atau siluman. Malam itu pun Emang kedinginan lagi di atas pohon.

"Entah telah berapa hari Emang berada di padang yang berdekatan dengan hutan itu, Emang sudah lupa lagi. Yang Emang ingat adalah bahwa ketika itu pakaian Emang sudah tidak keruan, perut lapar dan sakit karena hanya diisi buah-buahan seadanya. Emang terus-menerus menangis, dan berusaha untuk menemukan jalan pulang walaupun tahu bahwa Emang telah menyusahkan Ayah dan mungkin Ayah akan menghukum Emang karena perbuatan yang sembrono itu. Akan tetapi, apa pun yang akan Emang derita di tangan Ayah, Emang anggap lebih baik daripada harus hidup di hutan seorang diri.

"Pada suatu hari ketika Emang mencari-cari jalan, tiba-tiba Emang mendengar derap kaki kuda. Emang ketakutan, jangan-jangan yang lewat itu orang jahat. Emang mengintip dari balik semak- semak dan melihat seorang tua setengah baya diikuti oleh tiga orang anak umur empat belasan, semuanya naik kuda, dan semuanya adalah bangsawan. Emang sangat gembira, tetapi tidak sempat minta tolong karena mereka memacu kuda cepat sekali, seolah-olah sedang berlomba.

Dengan putus asa Emang berteriak-teriak, tetapi karena tidak didengar, akhirnya Emang menjatuhkan diri sambil menangis tersedu-sedu karena kecewa dan putus asa.

'Akan tetapi, kemudian Emang menyadari bahwa Emang dapat mengikuti mereka dengan menuruti jejak kuda mereka. Maka dengan menunduk, Emang berlari-lari menuruti jejak itu, dengan harapan akhirnya Emang dapat menemukan jalan besar yang biasa dilewati oleh manusia. Akan tetapi, harapan Emang itu meleset karena tapak-tapak kaki kuda itu makin lama makin jauh masuk ke dalam hutan dan mendaki gunung yang tinggi. Akan tetapi, karena sudah kepalang, Emang mengikutinya terus, walaupun sambil bimbang.

"Berulang-ulang Emang berhenti dan sangsi, apakah yang Emang ikuti itu manusia atau guriang-guriang? Kalau manusia, mengapa masuk hutan lebat? Akan tetapi, jejak kuda itu sungguh-sungguh menarik hati Emang, dan Emang berlari terus-menerus, takut-takut hari keburu menjadi gelap. Sepanjang hari Emang berlari, kadang-kadang menyeberangi sungai kecil, kadang- kadang menyelinap di antara tebing-tebing cadas yang sempit. Kadang-kadang Emang kehilangan jejak itu, tetapi dengan kemauan yang keras, akhirnya Emang menemukan kembali. Lari, terus lari, kadang-kadang jatuh kadang-kadang kehabisan napas karena mendaki, tetapi terus lari dan lari.

"Tepat sebelum malam jatuh, tiba-tiba Emang sampai di sebuah tempat yang tinggi, dan ketika melihat ke bawah, tampaklah oleh Emang lapangan yang luas berpasir, di tengah-tengahnya terdapat bangunan-bangunan yang aneh. Emang gemetar ketakutan karena ketika itu Emang yakin bahwa yang Emang ikuti itu bukanlah manusia, tetapi para guriang. atau lebih celaka lagi para siluman yang menggoda dan menyesatkan Emang. Di antara bangunan-bangunan itu bergerak sosok-sosok tubuh, semuanya berbaju putih. Emang sangat ketakutan, lalu bersembunyi. Ketika malam makin larut, karena takut akan binatang buas, Emang terpaksa memanjat pohon lagi. Wah, dinginnya malam itu. Maklum, Emang berada di puncak gunung.

"Keesokan harinya, pagi-pagi benar Emang terjaga dan dengan heran melihat orang-orang atau guriang-guriang yang berpakaian putih itu melakukan hal-hal yang aneh tapi menyenangkan untuk dilihat. Mereka menari berpasang-pasangan, beberapa orang mengawasi dan membetulkan tarian- tarian yang dilakukan oleh mereka.

"Sedang asyik-asyik Emang menonton tarian itu, tiba-tiba dari bawah pohon terdengarlah bentakan, 'Turun!' dan ketika Emang melihat ke bawah, seorang laki-laki yang juga berbaju putih tengadah dan memberi isyarat supaya Emang turun. Dengan gemetar Emang turun, dan setelah berada di bawah Emang disuruh mengikuti, berjalan ke arah bangunan-bangunan yang aneh itu.

"Emang dibawa kepada seorang pendeta, dan ditanya mengapa Emang sampai di sana. Emang menjelaskan semuanya, dan setelah tuan rumah berunding, pendeta itu mengatakan, 'Kau harus rriengetahui bahwa kau tersesat di tempat pendidikan puragabaya. Hutan ini adalah hutan terlarang dan orang yang memasukinya tidak boleh kembali lagi karena mungkin akan membocorkan rahasia letak tempat latihan dan pendidikan ilmu rahasia ini. Kau terpaksa harus tinggal bersama kami.'

"Maka tinggallah Emang bersama mereka, hingga sekarang. Ketika itu Emang masih kecil dan masih tidak tahu adat. Pada suatu hari, setelah Emang tinggal lama di padepokan dan sering melihat latihan-latihan yang sangat menarik hati Emang, memohonlah Emang pada Eyang Resi, Juragan Sepuh, mungkinkah hamba diperkenankan ikut belajar?'

'"Ogel, calon-calon puragabaya yang kaulihat adalah hasil pilihan yang sangat saksama. Mereka yang jumlahnya hanya lima belas orang itu dipilih dari beratus-ratus putra bangsawan. Yang pertama-tama menjadi ukuran adalah perangainya, kemudian keluarganya, kemudian kesehatan dan kecekatan tubuhnya. Engkau tidak mungkin diizinkan menjadi puragabaya, pertama, karena keluargamu tidak kami ketahui, kedua, engkau berbadan pendek dan bulat. Walaupun begitu, karena engkau patuh dan berkelakuan baik serta banyak membantu kami selama engkau di sini, aku tidak hendak mengecewakanmu.

'"Sejak hari ini, janganlah engkau membersihkan halaman atau lantai candi dan asrama.

Janganlah kau mengerjakan hal-hal lain, kecuali mencari kayu bakar. Akan tetapi, kuperintahkan kepadamu, agar dalam mencari kayu bakar itu engkau tidak mempergunakan golok. Kau hanya diperbolehkan mempergunakan tanganmu. Kau harus mendapatkan jumlah kayu bakar yang dibutuhkan oleh padepokan ini dengan hanya mempergunakan kedua tanganmu.'

"Emang merasa heran akan perintah itu. Emang menganggap bahwa Emang telah lancang meminta ikut latihan dengan para puragabaya. Oleh karena itu, tugas yang baru sebagai pencari kayu bakar Emang anggap sebagai hukuman. Apa boleh buat, Emang memang bernasib jelek dan harus menerima segala-galanya dengan tabah. Maka sejak hari itu Emang jadi tukang mencari kayu bakar. Baru saja satu kali mencari kayu bakar, tangan sudah lecet-lecet dan sakit-sakit.

Keesokan harinya penderitaan bertambah berat lagi. Lecet-lecet jadi bengkak dan bahkan terus pecah. Hari ketiga Emang mematah-matahkan dahan-dahan kecil sambil mengerang-erang kesakitan. Sungguh siksaan yang luar biasa, tetapi Emang tahan juga. Hari keempat demikian juga, akhirnya saraf-saraf Emang mati, dan kesakitan jadi berkurang, walaupun tangan Emang sudah tidak seperti tangan manusia lagi. Akan tetapi, karena kebutuhan akan kayu bakar terus ada, Emang harus tetap bekerja, mempergunakan tangan ini.

"Dengan tidak Emang sadari, ternyata tangan Emang kemudian menyesuaikan diri pada tugas itu. Emang tidak merasa sakit lagi, balikan makin lama pekerjaan menjadi makin ringan. Dan akhirnya pekerjaan mematah-matahkan dahan yang kering ataupun basah menjadi semacam permainan. Di samping itu, makin hari tangan Emang menjadi makin kuat dan besar, hingga akhirnya seperti adanya sekarang ini.

"Pada suatu hari, Emang disergap oleh beberapa orang calon, lalu dimasukkan ke dalam sebuah penjara yang terbuat dari besi yang tebalnya hampir menyamai tebal ibu jari tangan. Sambil tertawa-tawa mereka mengunci Emang di dalam dan berkata bahwa Emang tidak akan mendapat makanan kecuali kalau mau mengambil sendiri.

"Menghadapi lelucon itu mula-mula Emang kebingungan, kemudian Emang tak acuh karena menyangka bahwa akhirnya mereka akan membukakan kunci penjara besi itu. Akan tetapi, sampai hari hampir senja tak ada seorang pun muncul. Rasa lapar mulai menyiksa perut Emang, di samping itu rasa kesal pun meluap. Emang berteriak-teriak, tapi hanya disahuti dengan gelak tertawa dari jauh. Akhirnya, Emang geram juga dan mencoba-coba kekuatan besi itu. Dengan keheranan Emang melihat, betajia besi-besi itu melengkung dengan mudahnya antara jari-jari Emang.

"Ketika itu Emang mengerti bahwa mereka memasukkan Emang ke dalam penjara itu bukan main-main, tetapi dalam rangka menilai hasil latihan yang telah diperintahkan oleh Eyang Resi. Dan ketika mereka melihat Emang berhasil keluar dari kurungan besi itu, mereka sangat gembira. Mereka datang sambil mengucapkan selamat, sedang malam harinya, dengan mengelilingi api unggun yang besar, diadakanlah upacara pelulusan Emang.

"Dalam upacara itu, pakaian gembala Emang dibakar, bersama-sama dengan sapu, golok, alat- alat masak, dan lainlain, yaitu alatalat yang semenjak itu tidak boleh lagi Emang sentuh. Untuk mengganti alat-alat itu, Emang diserahi besi kendali kuda, besi tapal kaki kuda, dan ikat pinggang, yang walaupun bukan ikat pinggang puragabaya, warna dan bentuknya hampir sama. Hal itu menyatakan bahwa Emang pun berhak berkelahi kalau kebenaran dan keadilan membutuhkan tenaga Emang."

Demikianlah kisah kehidupan Mang Ogel, yang dengan penuh perhatian didengarkan oleh Pangeran Muda.

"Apakah Emang pernah berkunjung kepada orangtua Emang?"

"Wah, tentu saja, Anom, karena akhirnya Emang pun merindukan mereka." "Bagaimana mereka ketika bertemu kembali dengan Emang?"

"Mereka sudah tidak mengenal Emang lagi karena entah berapa tahun Emang berada di Padepokan sejak Emang melarikan diri."

"Lalu Emang bagaimana?"

"Emang bertanya kepada Ayah, apakah anaknya yang bernama Ogel itu ditemukan kembali atau tidak. Jawabnya tidak, karena anak itu telah dimakan gerombolan anjing hutan bersama domba-dombanya. Emang bertanya, apakah Ayah harus mengganti domba-domba itu, jawabnya juga tidak, karena kalau Ayah harus mengganti domba-domba itu, Kuwu harus mengganti nyawa Emang. Maka persoalannya selesai."

Mendengar cerita itu legalah hati Pangeran Muda. Kemudian ditanyakan pula tentang bagaimana Mang Ogel mengenalkan diri kembali, "Bagaimana ayah Emang mengenali Emang?"

"Emang bertanya, 'Apakah Ogel itu seorang anak yang pernah tertimpa kuali besi di punggungnya dan mendapatkan luka yang seperti ini?' sambil membuka pakaian dan memperlihatkan punggung. Ayah membelalak, lalu melihat wajah Emang, setelah itu ia merangkul Emang sambil berteriak-teriak memanggil Ibu. Mereka sangat bersenang hati dengan nasib Emang, dan kepada para tetangga selalu menyatakan bahwa Emang jadi puragabaya."

"Engkau puragabaya, Mang, walaupun dengan gaya tersendiri," ujar Pangeran Muda sambil tersenyum dengan tulus. Sementara itu, kuda mereka pun berlari dengan sedang, ladam kakinya berdepuk-depuk di tanah hutan yang gembur.