Pangeran Anggadipati Bab 06 : Jante Jaluwuyung

Bab 06 : Jante Jaluwuyung

Sebelum Raden Jalak Sungsang gugur dalam latihan, Jante yang nama sebenarnya Raden Jaluwuyung sekamar dengan salah seorang pelatih, yaitu Pamanda Anapaken. Hal itu merupakan pengecualian. Bukan saja karena asrama itu memang kekurangan ruangan, tetapi sebagai calon yang pandai, Jante dipilih untuk menjadi pembantu para pelatih, dan tinggalnya di kamar Pamanda Anapaken memang sesuai dengan kedudukannya. Akan tetapi, setelah Janur tiada, Jante pindah ke kamar Pangeran Muda.

''Ibunda meninggal waktu saya dilahirkan, kemudian ayahanda menikah dengan Bibinda, adik sekandung Ibunda. Saya adalah anak sulung dari adik-adik yang tidak seibu. Saya sering merasa adanya ketidakadilan-ketidakadilan dalam hidup ini. Untuk menguranginya, saya harus menjadi orang baik. Saya dianggap oleh Ayahanda dan seluruh keluarga sebagai anak sulung yang pantas, patut diturut oleh adik-adik. Kiranya puragabaya-puragabaya yang berkewajiban mencari calon- calon berpendapat bahwa saya pun pantas menjadi puragabaya. Bagi saya, tidak ada bedanya hidup di puri Ayahanda atau di sini. Bukankah saya sebenarnya tidak punya ibu? Anom, ini rahasia, jangan katakan kepada siapa pun percakapan yang kaudengar dari mulutku."

Pangeran Muda tersenyum dan mengangguk, walaupun agak heran juga mendengar percakapan yang aneh dari seorang yang berperangai manis seperti Jante. Walaupun setahun lebih tua, Jante tidaklah lebih tinggi darinya. Hanya badan Jante yang lebih kukuh, otot-ototnya lebih penuh dan kekar. Alisnya rendah dan berbulu lebat, sedang matanya yang kecil sangat kelam warnanya. Semuanya itu memberikan kesan seolah-olah Jante selalu murung; itulah, barangkali sebabnya orangtua Jante memberi nama Jaluwuyung. Dagu Jante agak persegi, tetapi karena suka tersenyum, dagunya yang persegi itu tidaklah memberikan kesan bahwa ia seorang yang keras.

Kepindahan Jante ke kamarnya sungguh-sungguh melegakan hati Pangeran Muda; pertama, karena ia tidak akan kesepian; kedua, karena Jante adalah calon yang sangat pandai, sehingga Pangeran Muda akan banyak mendapat bantuan darinya. Sedang bantuan ini sungguh-sungguh dibutuhkannya karena bagaimanapun juga Pangeran Muda adalah seorang calon yang terlambat datang.

Di luar latihan, di waktu senggang, sering sekali Pangeran Muda menanyakan tentang itu dan ini bentuk-bentuk gerakan atau berbagai jurus dan cara menggunakannya. Jante yang tampaknya senang mendapat kepercayaan dengan giat membantunya, dengan memberi keterangan- keterangan dan contoh-contoh. Sering di luar waktu latihan Pangeran Muda dan Jante turun kembali ke sudut lapangan, lalu jante memberikan contoh-contoh kepadanya. Berulang-ulang pula Pangeran Muda berlatih berkelahi berpasangan dengannya, dan hal itu sangat membantunya dalam memahami apa-apa yang harus dikuasainya sebagai calon puragabaya.

'Anom, sebenarnya Janur lebih pandai daripadaku. Setiap pelatih berpendapat, bahwa dialah yang paling berbakat di antara kita. Sayang sekali daya tahannya rendah, hingga ia tidak sanggup menghadapi jeram itu. Saya yakin, kalau ia hidup ia akan jadi puragabaya yang paling baik, ia akan mengalahkan kita semua dalam perkelahian," demikian kata Jante pada suatu kali.

WALAUPUN belum paham benar tentang ilmu perkelahian yang diajarkan di Padepokan Tajimalela, terasa oleh Pangeran Muda bahwa Janur mempunyai bakat yang sangat besar, hingga bukan saja ia mudah mengerti apa yang diajarkan oleh pelatih-pelatih itu, tetapi terutama dengan cepat ia dapat menguasainya. Dalam latihan-latihan berkelahi berpasangan, menonton cara Janur tidak saja menimbulkan rasa kagum, tetapi juga rasa keindahan. Gerakan-gerakan Janur bukanlah lagi merupakan gerakan, tetapi merupakan tarian. "Tari Kematian," demikian Janur pernah menyatakan kepada Pangeran Muda.

"Anom, engkau pun termasuk berbakat, sayang engkau terlambat datang, jadi kau harus belajar lebih keras," demikian kata Jante pula.

Dengan latihan yang terus-menerus di bawah para puragabaya, dengan bantuan Jante dan calon-calon lain, akhirnya

Pangeran Muda menguasai ilmu perkelahian yang diberikan sebagai pelajaran di Padepokan Tajimalela. Menguasai ilmu perkelahian berarti gerakan-gerakan serta jurus-jurus yang dilakukan setiap hari telah melekat dan tidak dapat dihilangkan lagi dari pola gerakan Pangeran Muda.

Dalam latihan-latihan itu, seluruh anggota badan dan seluruh tubuh Pangeran Muda bergerak dengan sendirinya setiap mendapat serangan. Gerakan-gerakan ini telah disempurnakan begitu rupa dalam latihan-latihan yang terus-menerus, hingga bukan saja dapat menghindarkan Pangeran Muda dari pukulan orang, tetapi juga dapat memberikan balasan yang ampuh. Di samping itu, Pangeran Muda menyadari bahwa dalam latihan-latihan itu akhirnya seluruh anggota badan bergerak dengan sendirinya, tanpa harus berpikir dahulu. Kenyataan itu sangat membesarkan hati Pangeran Muda karena akhirnya segala jerih payah yang dialaminya berbuah juga. Seluruh tubuh Pangeran Muda sekarang menjadi senjata yang ampuh. Akan tetapi, di samping itu Pangeran Muda pun merasa cemas karena anggota badannya itu seolah-olah tidak dikuasainya lagi dan memiliki kemauan sendiri. Hal ini dapat membahayakan karena seorang yang tidak sengaja atau secara bermain-main mencoba memukul Pangeran Muda mungkin akan mendapat balasan yang membahayakan jiwa, di luar keinginan Pangeran Muda sendiri. Sekarang mengertilah Pangeran Muda mengapa seorang puragabaya dilarang keras berkelahi karena hal itu akan berarti bahaya bagi mereka yang mencoba melawan puragabaya.

Ketika itu Pangeran Muda telah setahun penuh berada di Padepokan Tajimalela. Hasil pendidikan telah terasa, bukan saja oleh Pangeran Muda, tapi juga oleh calon-calon yang lain. Umumnya mereka telah menguasai gerakan-gerakan yang ampuh dan sudah menjadikan gerakan- gerakan ilu sebagai kebiasaan yang lekat pada setiap anggota badan mereka. Latihan-latihan berkelahi berpasangan atau latihan-latihan dalam cara pengeroyokan dilakukan dengan lancar. Bagi orang-orang yang tidak mengetahui, latihan-latihan perkelahian itu dapat saja disangka latihan-latihan tari-menari bersama Orang-orang awam akan menyangka bahwa dalam gerakan- gerakan yang seolah-olah lembut itu tidak mengandung bahaya. Hanya para puragabaya dan para calon yang menyadari bahwa gerakan-gerakan indah yang dilakukan dengan tangan, kaki, ataupun bagian tubuh lainnya, semuanya memungkinkan kematian atau cedera.

"Anom," kata Jante pada suatu sore ketika mereka beristirahat, "hanya dalam setahun saja kita sudah berubah. Di kawah mati ini di tengah-tengah hutan larangan, kita telah diubah menjadi binatang buas." Sambil berkata demikian, Jante memandang jarinya yang panjang-panjang.

"Tubuh kita adalah binatang buas, Jante, tetapi saya yakin wejangan-wejangan Eyang Resi telah memperhalus jiwa kita. Sebaliknya, ketika saya masih berada di puri Ayahanda, saya merasa sebagai seekor binatang. Saya berenang di kali, naik kuda, berburu, berlatih memanah dan melempar tombak, mempergunakan belati, mengangkat gada dan tameng. Ketika itu saya baru menyadari bahwa saya memiliki otot-otot. Sekarang saya baru merasa, bahwa saya adalah manusia, dan sebagai manusia saya mengemban kewajiban-kewajiban mulia yang diletakkan Sang Hiang Tunggal di pundak kita."

'Apakah yang kau maksud dengan kewajiban-kewajiban yang mulia itu, Anom?" Jante bertanya.

Pangeran Muda agak keheranan, mengapa hal itu harus ditanyakan oleh Jante. Walaupun begitu, Pangeran Muda segera menjawabnya, "Misalnya, mengasihi sesama hidup, yang kita lakukan dengan mengabdi kepada sang Prabu dan dengan berbuat baik selalu dalam kehidupan sehari-hari."

'Apakah Eyang Resi pernah menerangkan hal itu?" Jante kembali bertanya.

"Pernah, tapi tidak dengan kata-kata yang saya gunakan itu," jawab Pangeran Muda. "Tapi mengapa kita diajar cara-cara berkelahi yang sangat berbahaya? Bukankah itu

bertentangan dengan keharusan berbuat baik?"

'Jante, kau pernah menanyakan hal itu langsung kepada Eyang Resi, dan Eyang Resi pernah menjawabmu. Apakah kau lupa lagi?"

'Anom, saya sangat mudah lupa tentang pelajaran-pelajaran kerohanian. Terus terang saya sangat tidak berbakat untuk itu. Kau sangat berbakat untuk itu, Anom," lanjutnya.

'Jante, segala kepandaian boleh kaukuasai kalau kau mampu. Segala kepandaian, termasuk kepandaian berkelahi, tidaklah jelek. Yangjelek adalah penggunaannya. Seandainya kepandaian kita digunakan untuk merampok atau membunuh orang-orang yang tidak bersalah, tentu saja hal itu sangat jelek. Akan tetapi, alangkah baiknya kalau kita gunakan kepandaian kita itu justru untuk melindungi segala kebaikan dalam kehidupan ini."

"Ilmu-ilmu rohani adalah bagianmu, Anom. Bagianku adalah mempergunakan otot-otot saja," ujar Jante.

Pangeran Muda tidak mengatakan apa-apa mengenai pernyataan temannya itu.

Karena Pangeran Muda berdiri, Jante rupanya terdorong untuk melanjutkan percakapannya, "Mulai kemarau yang akan datang kita akan menghadapi pelajaran yang baru, yaitu pelajaran ketangkasan. Menurut yang saya dengar dari beberapa panakawan, pelajaran ketangkasan ini tidak kurang berbahayanya daripada pelajaran keseimbangan dan perkelahian. Kalau dalam pelajaran yang lalu kita terutama menghadapi manusia sebagai lawan, dalam pelajaran yang akan datang alamlah yang menjadi lawan kita."

Apa yang dikatakan Jante itu ternyata benar. Dalam pertengahan pertama tahun kedua, pelajaran ketangkasan dimulai. Ternyata pelajaran ini bukan saja berbahaya seperti pelajaran taraf pertama, bahkan lebih berbahaya lagi.