-->

Pangeran Anggadipati Bab 05 : Jalak Sungsang

Bab 05 : Jalak Sungsangl

Pendidikan kepahlawanan bagian pertama dimaksudkan untuk mengubah naluri mempertahankan diri dan menyerang hingga menjadi sempurna pelaksanaannya. Setiap orang memiliki naluri menyelamatkan diri kalau mendapatkan serangan. Naluri ini dinyatakan dalam bentuk-l bentuk gerakan-gerakan yang sembrono saja. Gerakan-gerakan yang tidak teratur dan tidak terarah, bahkan tidak selalu menyelamatkan ini, oleh pelatih-pelatih di Padepokan Tajimalela diubah menjadi bentuk-bentuk gerakan yang telah di olah dan diuji oleh para ahli selama berpuluh tahun. Gerakan gerakan ini bukan saja dapat melindungi diri, tapi juga bersati dengan gerakan- gerakan penyerangan hingga setiap gerakan itu, selain melindungi diri juga dapat merupakan pukulan terhadap lawan.

Karena Pangeran Muda ketinggalan selama satu bulan lebih oleh calon-calon yang lain, bantuan-bantuan sangat butuhkannya, bukan saja dari Pamanda Rakean yang menjadi pelatihnya, tetapi juga dari calon-calon lain. Calon yang paling banyak membantu adalah kawan sekamarnya sendiri, yaitu Janur yang nama aslinya adalah Raden Jalak Sungsang. Janur adalah putra ketiga dari seorang bangsawan yang menjadi penguasa di salah satu wilayah di Muaraberes. Seperti juga calon-calon yang lain, perangainya sangat halus. Di samping itu, ia salah seorang anak yang paling tampan di antara calon-calon lain itu. Badannya yang tinggi lampai, sangat lemas dalam melakukan gerakan-gerakan, hingga kadang-kadang Pangeran Muda beranggapan bahwa bagi Janur, gerakan-gerakan yang berbahaya dan dapat membunuhnya itu berubah menjadi tarian yang indah. Gerakan-gerakan yang indah itu tidaklah dilakukannya dengan dibuat-buat, tetapi terlaksana demikian karena kelemasan otot-otot yang dikuasainya benar-benar.

"Engkau dilahirkan untuk menjadi puragabaya, Janur," kata Pangeran Muda pada suatu kali, waktu mereka beristirahat setelah latihan bersama. "Gerakan-gerakanmu begitu terkendali hingga menjadi indah laksana tarian."

"Tarian kematian, Anom," katanya dengan rendah hati. balu ia melanjutkan, "Saya mendapat banyak pujian karena gerakan-gerakan saya yang baik, tetapi seorang puragabaya tidak cukup dengan hanya pandai mengendalikan gerakan-gerakan, juga harus menguasai berbagai hal lainnya, misalnya ketangkasan, ketajaman pancaindra, ketabahan, dan ketahanan. Dalam hal ketahanan itulah saya merasa sangat kurang. Berulang-ulang saya kehabisan tenaga dan terjatuh dalam latihan keseimbangan. Pernah saya terkilir, itu pun bukan karena kesalahan gerakan, tetapi karena saya kurang tahan untuk berlatih lama. Pamanda Rakean berulang-ulang memperingatkan saya akan kelemahan ini."

"Tapi engkau dapat melatih daya tahanmu, bukan?" tanya Pangeran Muda.

"Tapi waktunya sangat kurang, Anom. Kalau waktu berlatih saya gunakan untuk memperbaiki napas dan daya tahan saya, saya tidak akan dapat mengejar pelajaran-pelajaran lain yang masih sangat banyak," jawabnya.

"Pelajaran-pelajaran apa lagi yang harus kita hadapi?" tanya Pangeran Muda dengan penuh keingintahuan.

"Oh, engkau datang terlambat, jadi tidak sempat mendengar apa-apa yang akan kita pelajari sebelum kita disumpah menjadi calon-calon puragabaya yang sesungguhnya. Pertama pelajaran gerakan ini...”

Sebelum Janur selesai dengan kalimatnya, Pangeran Muda menyelanya, "Pertama, penguasaan keseimbangan."

"Bukan," ujar Janur. "Pertama adalah latihan gerakan-gerakan yang menyatukan gerakan penghindaran dan penyerangan. Penguasaan keseimbangan bukanlah pelajaran, tetapi penyembuhan terhadap kebiasaan-kebiasaan jelek yang telah melekat pada diri kita. Sebenarnya tulang-tulang serta otot-otot kita dibuat sedemikian rupa hingga kita akan selalu seimbang. Akan tetapi, kita sering lalai dengan otot-otot dan tulang-tulang kita itu, sering menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan jelek, hingga akhirnya otot-otot serta tulang-tulang kita berkembang ke arah yang salah. Maka rusak pulalah keseimbangan kita. Hal ini sangat berbeda dengan binatang- binatang, apalagi binatang-binatang buas yang hidup di alam bebas. Mereka menerima bakat- bakat tubuhnya dari Sang Hiang Tunggal dan mempergunakannya sesuai dengan alamnya, hingga penguasaan mereka terhadap tubuh dan keseimbangannya sangatlah baik. Nah, waktu kita sudah datang, pelatih-pelatih tidak mengajarkan sesuatu kepada kita, tetapi memberikan apa-apa yang sebenarnya kita lupakan di masa lalu."

"Kalau begitu, sudah empat bulan ini kita belum selesai dengan pelajaran pertama, Janur?" "Memang, belum apa-apa. Apa artinya empat bulan bagi masa pendidikan yang lamanya akan

mencapai sepuluh tahun, sekurang-kurangnya?"

"Sepuluh tahun?" seru Pangeran Muda keheranan. "Lebih, mungkin lima belas tahun. Dan selama itu kita akan pelajari semua mata pelajaran setahap demi setahap. Setelah penguasaan gerak, kita akan digembleng dalam ketangkasan. Setelah ketangkasan, pancaindra kita dipertajam. Selama itu kita diharuskan bertapa berulang-ulang, untuk membersihkan jiwa kita dari nafsu-nafsu dan keinginan yang tidak pantas bagi seorang puragabaya. Kita pun akan terus-menerus didampingi oleh Eyang Resi yang mengajarkan ilmu-ilmu agama yang menjadi dasar kepahlawanan. Dan selama itu, kita akan berulang-ulang dikirimkan untuk berlatih, yaitu dengan menghadapi musuh secara sungguh-sungguh. Mungkin kita akan dikirim ke daerah-daerah yang diganggu perampok atau bajak laut. Kalau peperangan menghebat, kita akan dikirim sebagai pengawal panglima-panglima atau panglima-panglima besar. Dalam setiap kesempatan, ilmu kita akan diuji. Dan siapa tahu kita gugur," kata Janur sambil senyum.

'Janur, apakah dalam sepuluh tahun itu kita dibolehkan pulang kepada keluarga?" tanya Pangeran Muda agak malu-malu.

"Saya tidak tahu ... tapi kita dapat bertanya kepada ... Pamanda Rakean," jawab Janur, sambil memandang dalam-dalam ke arah mata Pangeran Muda. Tampaknya dia pun agak malu.

"Bagaimanapun juga sudah sewajarnya kita rindu pada ayah dan ibu serta saudara-saudara kita, Janur," kata Pangeran Muda untuk menghilangkan rasa ragu-ragu yang sama-sama mereka pendam.

"Saya sudah rindu sekali, Anom, bahkan sering memimpikan mereka."

"Saya juga," jawab Pangeran Muda. Lalu setelah termenung melanjutkan, "Ya, sebaiknya kita bertanya kepada Pamanda Rakean, tetapi jangan dalam waktu dekat ini. Lebih baik bertanya nanti setelah tahun baru mendekat."

Tampak Janur menyetujui usul itu, kemudian ia bertanya, "Berapa orangkah saudaramu?" "Saya anak kedua, kakak saya wanita, sudah berumur tujuh belas tahun."

"Adik saya yang terkecil sedang lucu-lucunya," kata Janur. "Ketika saya pergi dia menangis mau ikut. Dalam mimpi, saya berulang-ulang melihatnya," sambungnya sambil tersenyum, tetapi matanya penuh dengan kenangan.

"Baiklah," kata Pangeran Muda, "saya akan mulai berlatih, tolong perhatikan."

Berdiri Pangeran Muda di antara dua bangku tempat mereka tidur, lalu melakukan gerakan- gerakan, di mana tangan dan kaki dalam berbagai bentuk berputar-putar pada tumpuan berat badan. Janur memerhatikan Pangeran Muda sambil duduk di bangku, sekali-sekali dia memberikan pendapat, kadang-kadang berdiri membetulkan, kadang-kadang mendorong Pangeran Muda kalau Pangeran Muda tampak keluar dari pusat titik berat badannya.

Demikianlah latihan-latihan tambahan yang biasa dilakukan oleh Pangeran Muda dengan bantuan Janur atau Raden Jalak Sungsang itu. Biasanya latihan tambahan itu dilakukan kalau siangnya latihan tidak terlalu melelahkan, atau kalau pelajaran agama tidak diberikan oleh Eyang Resi Tajimalela. Dengan latihan-latihan tambahan itu, akhirnya Pangeran Muda tidak terlalu ketinggalan dalam kemampuan dan pengetahuannya tentang segala pelajaran.

LATIHAN-latihan gerakan dan keseimbangan terus-menerus dilakukan. Tujuannya adalah agar gerakan-gerakan itu menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan bergerak pada tiap-tiap calon. Seandainya gerakan-gerakan ini sudah menjadi kebiasaan, para calon tidak usah berpikir atau mengatur siasat lagi kalau tiba-tiba mendapat serangan. Seluruh tubuh, seluruh anggota badan akan bergerak membuang serangan-serangan musuh dan memasukkan serangan balasan sekaligus.

Adapun cara menanamkan pola-pola gerakan menjadi kebiasaan ini dilakukan dengan sangat keras. Mula-mula calon-calon dilatih hingga gerakan-gerakan sesuai dengan pola-pola gerakan yang sudah ditentukan. Setelah itu, latihan berkelahi berpasang-pasangan dimulai agar setiap calon dapat merasakan sendiri guna dan keampuhan dari gerakan-gerakan itu. Latihan ini dilanjutkan, yaitu dengan pemindahan tempat atau waktu. Mula-mula latihan berkelahi berpasangan dilakukan di lapangan depan candi, setelah itu dilakukan di atas lapangan yang penuh dengan kerikil, kemudian di atas lapangan yang penuh dengan batu-batu besar, kemudian dilakukan di atas bidang yang sempit sekali, hingga kalau seorang calon bergerak terlalu jauh, ia akan terjatuh ke bawah. Terakhir latihan dilakukan di dalam air sedalam leher. Airnya dipilih,

mula-mula yang tenang, kemudian yang deras arusnya. Demikian juga waktu latihan diubah-ubah, kadang-kadang siang, kadang-kadang malam, kadang-kadang subuh.

Dalam latihan-latihan itu tidak sedikit kejadian-kejadian yang menyebabkan jatuh korban.

Kadang-kadang ada pukulan yang tidak terhindarkan, hingga terjadi cedera. Kecelakaan terkilir atau patah rusuk adalah biasa, dan hal itu dirawat oleh Pamanda Minda, seorang pelatih puragabaya yang ahli di bidang pengobatan. Dari Pamanda Minda Pangeran Muda mendapat penjelasan bahwa kalau calon-calon tidak boleh lebih dari lima belas tahun umurnya saat masuk ke Padepokan Tajimalela, hal itu berdasarkan dua pertimbangan. Pertama, karena masa pendidikan yang lama; kedua, agar kalau terjadi patah tulang mudah disambung lagi. Di samping latihan menghindar dan menyerang serta membiasakan gerakan-gerakan badan sesuai dengan pola-pola yang ditentukan, terdapat pula latihan daya tahan. Pertama, calon-calon diberi latihan-latihan yang setiap hari harus dilakukan. Pagi-pagi ketika ayam-ayam hutan berkokok, para calon harus sudah berdiri dengan tegak dan seimbang. Pelatih menghitung sampai jumlah yang makin lama makin banyak. Mula-mula seratus, kemudian lima ratus, kemudian seribu, dan akhirnya dua ribu. Setelah berdiri ini calon diperintahkan berlari, melalui lapangan, melalui padang berbatu-batu, kemudian melalui hutan-hutan yang berpohon dan berjurang-jurang.

Latihan-latihan yang terutama dilaksanakan untuk menggembleng penguasaan keseimbangan ini diseling-seling dengan latihan-latihan daya tahan lainnya.

Di antaranya terdapat latihan melakukan gerakan-gerakan untuk waktu yang lama sekali dan hanya berhenti kalau sudah ada perintah berhenti dari pelatih. Latihan yang sama dilakukan dengan para calon berdiri di atas jembatan yang hanya terbuat dari dua buah tambang ijuk besar.

Taraf lain adalah pelaksanaan gerakan di dalam danau, dengan hampir seluruh badan terendam. Setelah itu, disusul dengan gerakan di dalam sungai, dengan setiap calon menghadap ke arah arus. Berat air danau sudah sangat menguji daya tahan, arus sungai ternyata lebih berat lagi, hingga banyak calon-calon yang hampir tenggelam karena kelelahan. Seperti juga latihan penguasaan keseimbangan, latihan ketahanan dilakukan dalam waktu yang berbeda-beda.

WAKTU Pangeran Muda baru saja datang ke Padepokan Tajimalela, yaitu pada hari pertama, sewaktu menunjukkan tempat-tempat latihan Pamanda Rakean dan Mang Ogel pernah menunjukkan sebuah jeram berganda. Jeram ini airnya yang pertama terjun ke dalam sebuah kolam kecil yang bundar ben-tuknya. Karena arusnya terjun di salah satu sisi kolam itu dengan arah yang miring terjadilah putaran air yang deras sekali, gemuruh, serta menguapkan titik-titik air. Ulakan air ini kemudian keluar dari salah satu sisi bundaran itu, untuk kemudian menghambur sebagai jeram baru yang jatuh di sebuah sungai besar yang ada di bawahnya.

Cerita-cerita tersebar dari mulut ke mulut antara para calon bahwa jeram ini merupakan jeram "pembunuh" yang setiap tiga tahun meminta korban dari angkatan-angkatan calon puragabaya yang berlatih di sana. Walaupun tak ada di antara calon yang berani meminta pembenaran atas desas-desus itu dari para pelatih—dan karena itu desas-desus, tetap tinggal desas-desus saja— jeram itu tetap menjadi sumber kengerian bagi calon-calon umumnya.

Kengerian ini ditambah dengan berbagai pengalaman yang tidak dapat diterangkan dengan akal sehat. Dalam waktu istirahat atau kalau para calon mendapat tugas mengambil kayu bakar membantu panakawan, biasanya para calon menghindari jeram itu. Akan tetapi, sering pula calon- calon beristirahat tidak jauh dari jeram itu sehingga cukup jelas mendengar deru air yang gemuruh.

Pada suatu kali Pangeran Muda bersama-sama Rangga mendapat tugas membantu Mang Ogel mengambil kayu bakar dekat jeram itu. Ketika mereka duduk-duduk beristirahat, di antara deru suara air terjun itu seolah-olah terdengar jeritan-jeritan orang yang ketakutan dan sedang menghadapi Malakat Maut. Pangeran Muda dan Rangga saling berpandangan, sadar bahwa suara- suara itu dapat didengar oleh mereka berdua.

Maka, kedua anak muda itu pun berlarilah ke arah jeram, dan memandang ke bawah, mencoba melihat kalau-kalau ada orang yang terjatuh ke dalam ulakan air itu. Tapi tak seorang pun mereka lihat di sana. Yang mereka lihat hanyalah air yang berputar, yang samar-samar tampak di balik uap yang naik ke angkasa. Kembali Pangeran Muda dan Rangga saling berpandangan, kemudian seraya mundur mereka meninggalkan jeram itu.

Setelah itu, tak terdengar suara jeritan-jeritan itu dan mereka menyelesaikan tugas hingga usai.

Akan tetapi, ketika mereka akan pulang, dan sambil mengusung ikatan-ikatan kayu bakar melangkah mengikuti Mang Ogel, jeritan-jeritan itu terdengar kembali dengan jelasnya. Pangeran Muda pura-pura tidak mendengar apa-apa dan berjalan terus. Demikian juga Rangga, atau dia tidak mendengar apa-apa atau dia berpura-pura. Sedang Mang Ogel bernyanyi-nyanyi dan tampak seperti tidak mendengar apa-apa pula. Setelah latihan jurus di dalam danau dan sungai yang berarus, latihan dalam air yang terakhir dilakukan di jeram itu. Setelah melakukan latihan-latihan yang biasa dilakukan setiap hari, calon-calon diperintahkan berlari ke arah jeram itu. Berdua-dua mereka berbaris, antre untuk melakukan latihan. Para pelatih memegang tambang-tambang ijuk besar untuk menurunkan mereka. Ketika itu Pangeran Muda berdampingan dengan Janur yang berdiri di ekor barisan.

Sepasang demi sepasang calon diturunkan dan setelah pelatih melihat mereka tiba di tepi bundaran ulakan air, tambang ditarik lalu calon diperintah untuk turun dan mengambil kedudukan yang berlawanan di kedua sisi bundaran. Begitu masuk air, mereka diperintahkan langsung melakukan jurus menghantam arus air sambil mundur.

Dalam menghadapi arus yang sangat deras itu seorang calon tidak boleh kehilangan keseimbangannya karena ia bisa hanyut terbanting-banting oleh air menghantam cadas-cadas yang runcing. Untuk mempertahankan keseimbangan itu, para calon harus mengendalikan berat badan mereka dan dalam sekejap harus melakukan sebanyak mungkin jurus agar tidak hanyut. Di samping itu, karena arus dalam ulakan itu tidak tetap, tetapi berbelok-belok sesuai dengan bentuk cadas-cadas yang bertonjolan di tepi ulakan, setiap calon harus dapat merasakan dengan setepat- tepatnya dari mana datangnya hantaman air. Hanya dengan demikianlah seorang calon akan dapat mempertahankan keseimbangannya sementara melayani hantaman arus yang kuat dan berubah-ubah dari depan, sambil berpijak pada dasar ulakan yang berbatu-batu itu.

Begitu pasangan pertama selesai diturunkan, terdengarlah deru air menjadi lebih hebat gemuruhnya. Ulakan itu seolah-olah makhluk hidup, seekor binatang buas yang dengan marah mencoba membunuh orang-orang yang mengusiknya. Demikian juga, karena tenaga air ada yang melawan, yaitu oleh tenaga pukulan calon-calon yang ada di dalamnya, buih menyembur dan uap pun naik makin tebal. Gemuruh air, membubungnya uap, dan teriakan-teriakan pelatih yang memberikan perintah-perintah sungguh menggetarkan hati. Terdengar setiap calon berdoa, menyerahkan diri kepada Sang Hiang Tunggal dan Sunan Ambu.

Ketika waktu yang ditetapkan sudah terlampaui, tambang-tambang besar diturunkan oieh para pelatih, kemudian tambang-tambang ditarik dengan bantuan para calon. Begitu pasangan pertama selamat di bibir ulakan sebelah atas, mereka dipeluk dan ditepuk-tepuk oleh kawan-kawannya, kemudian dibaringkan di atas pasir untuk melepaskan lelah dan diperiksa oleh Pamanda Minda kalau-kalau ada sendi yang terkilir atau otot yang keluar dari kedudukannya. Setelah itu, pasangan kedua menyambung giliran yang pertama dan segala acara diulang kembali, di tengah-tengah gemuruh jeram yang mengaum dan menggeram setiap kali pasangan turun mengusiknya.

Pasangan demi pasangan melaksanakan giliran mereka dan naik kembali untuk berbaring di pasir karena kelelahan. Akhirnya, tibalah giliran Pangeran Muda dengan Janur. Dengan membaca- baca doa-doa penyerahan diri di tangan Sunan Ambu dan Sang Hiang Tunggal, Pangeran Muda dan Janur memegang tambang masing-masing, lalu menuruni tebing cadas yang menjadi dinding jeram itu.

Dalam jeram itu suasana hanya remang-remang saja, karena uap begitu tebalnya, sedang suara gemuruh memekakkan telinga, hingga seruan pelatih-pelatih sayup-sayup saja terdengar. Sayup-sayup terdengar perintah agar Pangeran Muda dengan Janur mulai turun. Dari dinding cadas itu Pangeran Muda melangkah turun, dan baru saja setengah betisnya terendam, air seolah- olah menyambar dan mengguncangkan keseimbangannya. Untung kaki Pangeran Muda terlatih.

Dengan sigap ditancapkannya kedua kakinya itu ke cadas-cadas di tepi ulakan air, sambil terus merasa-rasakan hantaman air. Perlahan-lahan Pangeran Muda masuk lebih ke dalam ulakan, ke arah arus yang menderu. Dan secara tidak diduga-duga, air melonjak, menghantam dadanya, tetapi gerakan-gerakan yang telah melekat menjadi kebiasaan menghindarkannya dari bahaya terpental. Akhirnya, tibalah Pangeran Muda di tengah-tengah arus. Di sana Pangeran Muda mulai melakukan gerakan-gerakan yang bersifat melayani hantaman air yang berubah-ubah arah dan derasnya. Karena perubahan arah dan deras hantaman air ini cepat sekali, sambil mundur Pangeran Muda terus-menerus melakukan gerakan-gerakan, sementara kedua kakinya meraba- raba, mencari pijakan yang mantap.

Waktu yang sekejap itu dirasakannya sangat lama dan kelelahan yang luar biasa mulai menyakiti setiap ototnya. Berulang-ulang air hampir berhasil mengangkat pijakan kakinya, berulang-ulang hantaman air menemui sasaran tanpa dilayani dengan baik, hingga Pangeran Muda sempoyongan sambil mundur.

Pada suatu saat terdengar suara batuk, dan suara tercekik dari seberang. Kemudian Pangeran Muda merasa ada benda licin yang menghantam bagian kiri pinggangnya. Suatu benda lain menangkap kakinya, hingga dengan sempoyongan Pangeran Muda harus mempertahankan keseimbangannya. Sekali lagi benda licin menghantam pahanya kemudian Pangeran Muda mendengar seruan-seruan dari atas, dan melihat uluran tambang berayun-ayun dalam buih dan uap. Pangeran Muda menangkap tambang itu, kemudian dengan susah payah merangkak ke atas, mengikuti tarikan kawan-kawannya.

Setiba di atas Pangeran Muda menjatuhkan diri, tetapi hanya sekejap, karena para calon berteriak memanggil-manggil Janur yang ternyata belum menyambut uluran tambang itu. Pangeran Muda ikut berteriak-teriak. Sementara itu, tampak Pamanda Anapaken dan Pamanda Rakean meluncur pada tambang, masuk ke dalam jeram. Menerima dua orang puragabaya itu gemuruhlah jeram, mengaum dan menggeram, sementara buih memercik ke atas. Seolah-olah air jadi bergejolak. Setelah beberapa lama, dengan memanjati tambang-tambang, muncullah kedua orang puragabaya itu, tetapi tanpa Janur.

Suasana jadi hening. Tak seorang pun berani berkata. Doa-doa mulai dipanjatkan oleh ketiga puragabaya, kemudian oleh para calon yang di antaranya mengucapkannya sambil menangis. Di antara percikan air yang dingin di pipi Pangeran Muda, terasa ada dua titik yang panas. Janur tidak keluar lagi dari jeram itu.

Setelah mereka tidak terpukau lagi oleh peristiwa itu, Pamanda Rakean segera memberikan perintah agar para calon segera melakukan pencarian, yaitu di sungai besar yang ber ada di bawah ulakan air itu. Para pelatih sendiri segera menuruni ulakan air kembali dan setelah beberapa lama berada di sana mereka naik kembali dan menyatakan bahwa Janur sudah tidak ada dalam ulakan air itu. Maka mereka pun berlari-larilah menuruni lereng gunung yang berhutan- hutan menuju sungai besar yang gemuruh di dalam jurang yang dalam. Setiba di sana, tanpa memikirkan keselamatan diri masing-masing, para calon maupun ketiga puragabaya itu segera terjun, menyelami dasar sungai, memeriksa lekukan-lekukan cadas dan batu-batu.

Pangeran Muda termasuk pada mereka yang paling dulu menerjuni sungai itu, walaupun baru saja naik dari jeram ulakan air. Ia lupa akan segala kelelahan dan rasa sakit pada otot-otot serta tulang-tulang. Diselaminya setiap liku sungai yang gemuruh berbusa-busa itu, diperiksanya akar- akar pohonan yang terjurai ke dalam air. Sementara itu, tak putus-putusnya Pangeran Muda berdoa, mudah-mudahan Janur masih hidup.

Ternyata pencarian yang dilakukan untuk waktu yang s.ingat lama itu tidak menghasilkan apa- apa. Mereka terpaksa bergerak makin lama makin ke hilir. Namun demikian, Janur lidak ditemukan juga. Akhirnya, sampailah mereka ke bagian sungai yang sangat dalam dan tak dapat diselami tanpa membahayakan jiwa mereka. Walaupun begitu, beberapa calon, termasuk Pangeran Muda, masih mencoba mengarungi arus yang deras itu. Akhirnya, para puragabaya yang cemas berseru agar para calon naik dari dalam sungai. Setelah para calon berada di darat, melompatlah ketiga puragabaya itu ke dalam arus, lalu untuk beberapa lama tidak muncul-muncul. Ketika para calon sudah mulai cemas, muncullah para pelatih itu satu per satu di hilir sungai.

Melihat hal itu berlarilah para calon menuju pelatih mereka. Akan tetapi, setelah dekat mereka segera menyadari bahwa usaha para puragabaya yang menantang bahaya itu sia-sia juga. Maka berkumpullah mereka dengan wajah sedih memandang para puragabaya itu. Sementara itu, hari menuju ke senja, burung-burung tampak beterbangan tergesa-gesa kembali ke sarang masing- masing, kalong dan kelelawar mulai keluar, mengepak di langit yang berwarna merah tembaga di- pulas oleh warna terakhir cahaya matahari.

"Jante," kata Pamanda Anapaken, "pimpin para calon pulang ke padepokan." "Saya tidak akan ikut pulang, Pamanda," kata Pangeran Muda.

"Tidak. Semua harus pulang di bawah pimpinan Jante, kami bertiga akan melanjutkan pencarian. Harap segala peristiwa disampaikan kepada Eyang Resi. Kami segera kembali setelah mendapat isyarat Kahiangan tentang nasib jalak Sungsang," lanjut Pamanda Anapaken.

Karena kepatuhan pada pelatih-pelatih merupakan salah satu kewajiban di Padepokan Tajimalela, dengan membisu para calon berjalanlah melalui hutan-hutan, padang-padang berbatu, kemudian lapangan pasir ke tempat mereka masing-masing. Jante melaporkan kepada sang Resi tentang apa yang terjadi; mendengar itu, sang Resi segera pergi ke dalam candi, memanjatkan doa-doa. Walaupun pelajaran malam hari ditiadakan karena peristiwa itu, para calon tidak segera tidur.

Mereka berkumpul di sana sini, mengobrol tentang pengalaman-pengalaman mereka, masing- masing dengan Janur. Mereka semua sependapat Janur adalah anak yang sangat halus perangainya. Di samping itu, ia adalah seorang di antara anak yang paling berbakat dalam ilmu kepuragabayaan. Gerakan-gerakan perkelahian dipelajarinya dengan cepat dan dikuasainya secara sempurna.

Janurlah yang dalam latihan berpasangan sukar dirubuhkan.

Bahkan Jante, calon yang sangat tangkas, berulang-ulang dapat ditipu dan dijatuhkannya.

Bagi Pangeran Muda, Janur mempunyai kedudukan yang khusus. Bukan saja karena ia menjadi kawan sekamarnya, tetapi karena mereka mulai bersahabat. Sementara itu, Janur telah pula mengutangkan budi kepadanya. Janurlah yang membantunya dalam pelajaran, hingga Pangeran Muda tidak terlalu sukar mengurangi ketinggalan-ketinggalan yang disebabkan oleh keterlambatannya datang di Padepokan Tajimalela itu.

Akan tetapi, karena para puragabaya tidak muncul-muncul, akhirnya para calon pergi juga memasuki kamar masing-masing. Pangeran Muda memasuki kamarnya, lalu memandang ke arah bangku yang kosong, yang mungkin akan kosong untuk selama-lamanya, atau diisi oleh orang lain. Belum pernah Pangeran Muda merasakan betapa berbahayanya latihan-latihan yang diberikan kepada calon-calon puragabaya. Betapa besar petaruh yang diberikan oleh para calon dan keluarga mereka untuk mendapatkan kehormatan menjadi pengawal pribadi sang Prabu. Dengan renungan-renungan seperti itu dan dengan mulai merasakan linu-linu pada otot-otot dan tulang- tulangnya, akhirnya terlenalah Pangeran Muda.

Entah berapa lama Pangeran Muda terbaring lelap karena pada suatu saat didengarnya ingar- bingar di kamar sebelah. Ketika dibukanya jendela, tampaklah hari sudah mulai terang, sedang para calon tampak berlarian menuju lapangan. Pangeran Muda segera bangkit, dan setelah berpakaian dibukanya pintu, lalu melangkah keluar mengikuti yang lain-lain. Di tengah-tengah lapangan berkumpullah para calon, panakawan, puragabaya, dan Eyang Resi Tajimalela. Melihat hal itu, kecutlah hati Pangeran Muda. Suatu firasat mengatakan bahwa kejadian yang tidak dapat dihindarkan telah menimpa Janur dan seluruh keluarganya.

Di tengah-tengah kawan-kawan yang menitikkan air mata, di bawah pandangan mata para puragabaya dan dengan diiringi oleh doa-doa Eyang Resi, terbaringlah Janur. Tidak lagi ada kehidupan di badannya. Keesokan harinya jenazah dikirimkan kepada keluarganya, diiringkan oleh beberapa calon di bawah pimpinan Pamanda Minda dan panakawan Jasik. Ke dalam rombongan yang lima orang banyaknya itu termasuklah Pangeran Muda.