--> -->

Pangeran Anggadipati Bab 04 : Gemblengan

Bab 04 : Gemblengan

Pangeran Muda terlambat satu bulan dan oleh karena itu, harus menyusul pelajaran-pelajaran yang telah didapat oleh kawan-kawannya yang tidak terlambat. Untuk itu, Eyang Resi Tajimalela memberikan tugas kepada Pamanda Rakean agar memberinya latihan khusus, sebelum Pangeran Muda dapat bergabung dengan yang lain. Maka pada hari yang kedua, ketika yang lain berangkai ke tempat-tempat latihan yang jauh, Pangeran Muda dibawa ke lapangan dekat candi.

"Anom, berdirilah dengan enak dan biasa," kata Pamanda Rakean. Pangeran Muda menuruti perintah itu dengan patuh.

'Janganlah berubah sikap, dan berdirilah terus. Paman akan menghitung," kata Pamanda Rakean pula. Mulailah Pamanda Rakean berhitung. Sementara itu, Pangeran Muda terus berdiri dalam sikap semula. Pamanda Rakean terus menghitung dan ketika sampai seribu, ia berjalan ke arah Pangeran Muda lalu berkata, "Belumkah Anom pegal?"

"Ya?"

"Apakah Anom pegal?"

"Sedikit," jawab Pangeran Muda.

"Otot mana yang sakit?" tanya Pamanda Rakean.

Pangeran Muda termenung sejenak, lalu meraba bagian betisnya. Pamanda Rakean meraba bagian otot itu, lalu bertanya, "Ini?"

"Ya."

"Sekarang istirahadah, nanti kita mulai lagi dengan latihan berdiri," kata Pamanda Rakean. Mereka pun pergilah ke serambi asrama dan sambil duduk-duduk berkatalah Pamanda Rakean, 'Anom, otot manusia diciptakan sedemikian rupa yang selain untuk bekerja, misalnya memegang dan mengangkat sesuatu, juga untuk kerja sama menciptakan keseimbangan badan.

Keseimbangan badan sangadah perlu bagi kita, misalnya agar kita dapat berdiri. Keseimbangan itu dicapai dengan adanya kerja sama otot-otot. Akan tetapi, belum lentu kerja sama otot-otot itu dilakukan dengan baik. Belum tentu pembagian tugas antara otot-otot itu dilaksanakan dengan adil. Kalau pembagian kerja antara otot-otot baik, yaitu olot yang lemah mendapat tekanan yang kecil, yang kuat mendapat tekanan yang besar, kita tidak akan cepat lelah, apalagi mengalami rasa sakit tertentu. Waktu Anom berdiri tadi, otot-otot Anom bekerja sama menciptakan keseimbangan. Akan tetapi, dalam kerja sama itu terdapat pembagian tugas yang tidak adil, yaitu ada salah satu otot yang mendapatkan tekanan tidak sesuai dengan kekuatannya. Itulah otot yang terasa sakit tadi."

"Apa sebabnya otot itu mendapat tekanan yang berlebihan?" tanya Pangeran Muda. "Karena sikap Anom kurang benar, dan sikap berdiri yang kurang tepat ini harus segera

diperbaiki agar dalam berdiri Anom tidak cepat lelah."

Mereka pergi kembali ke tengah-tengah lapangan, kemudian Pangeran Muda berdiri dengan sikap yang diperbaiki terlebih dahulu oleh Pamanda Rakean. Setelah itu, Pamanda Rakean berhitung kembali. Ternyata, walaupun hitungan Pamanda Rakean sudah mencapai seribu lima ratus, rasa sakit di otot tadi tidak ada lagi.

"Nah, sikapmu sudah baik, Anom. Jadikanlah sikap berdiri yang baik itu kebiasaanmu. Setiap pagi berdirilah dalam sikap yang baik, lalu berhitunglah dalam hati sebanyak-banyaknya. Kalau kau tidak merasa cepat lelah atau sakit, sikap berdirimu sudah baik."

Demikian, berhari-hari Pangeran Muda dilatih berdiri dan berjalan dengan cara yang benar, yaitu tenaga dihemat dan otot-otot digerakkan dalam kerja sama yang seimbang. Latihan-latihan ini memerlukan pemusatan pikiran yang besar dan membosankan, tetapi Pangeran Muda bertekad untuk melaksanakan sebaik-baiknya. Dengan patuh, diturutinya segala perintah Pamanda Rakean.

Dari "berdiri", pelajaran meningkat ke "berjalan". Setelah berjalan, ke "berlari". Akhirnya, melompat berbelok mundur, berjalan ke samping, berjungkir ke muka, berjungkir ke belakang. Seluruh pelajaran itu harus dilakukan dengan wajar, yaitu otot-otot bekerja seperti dikehendaki oleh alam. Seluruh pelajaran itu, tanpa latihan-latihan yang dilakukan sendiri menghabiskan waktu sebulan lamanya, dan Pangeran Muda kemudian diizinkan bergabung dengan kawan-kawannya.

Pada hari pertama ikut bergabung dengan yang lain, acaranya mula-mula tidak berbeda dengan apa yang diterima dari Pamanda Rakean dalam latihan perseorangan. Mula-mula berdiri sambil menghitung, lalu berjalan, berlari lambat, berlari cepat, membelok, mundur, melompat, berjungkir, dan se-bagainya. Setelah badan hangat dan berkeringat, Pamanda Anapaken menyuruh anak-anak duduk berkeliling. Pamanda Anapaken yang didampingi oleh Pamanda Rakean dan Pamanda Minda sebagai pelatih memegang dua buah benda: yang satu bumbung kayu yang berisi, yang lain sebuah kerucut. Bumbung itu tingginya sama dengan kerucut, tetapi luas lunasnya lebih kecil. Pamanda Anapaken meletakkan kedua benda itu berdampingan.

Seorang calon diminta maju ke muka dan mendorong kedua benda itu. Bumbung itu tumbang, sedang kerucut hanya mundur saja. Maka berkatalah Paman Anapaken, 'Anak-anak, benda yang sama berat dan sama tingginya ini ternyata yang satu mantap, yang satu goyah. Dalam perkelahian, seorang yang jatuh atau dijatuhkan berarti tidak menguasai dirinya. Oleh karena itu, berada dalam keadaan yang berbahaya. Untuk menjaga supaya kalian tidak jatuh, kalian harus dapat meniru watak kerucut dan menghindarkan watak bumbung ini."

Setelah penjelasan itu, dimulailah percobaan-percobaan, yaitu beberapa calon berdiri, untuk kemudian didorong dengan keras oleh kawan-kawannya. Beberapa orangjatuh terje-rcmbap, yang lain dapat berdiri, tapi dengan goyah. Kemudian, Pamanda Anapaken meminta supaya para calon mendorong Pamanda Minda. Aneh sekali, tak ada di antara calon yang dapat merubuhkannya.

Kemudian, Pamanda Minda didorong oleh tiga, lima, sampai tujuh orang. Akan tetapi, hasil-nya sama. Jangankan jatuh, berpindah pun tidak.

Anak-anak pun diminta untuk meneliti bagaimana cara Pamanda Minda berdiri, lalu Pamanda Anapaken dengan sekali-kali dibantu oleh Pamanda Rakean menjelaskan bagaimana cara berdiri yang baik dan benar itu. Setelah itu, para calon mencoba dan kalau sudah paham, dilatih untuk berdiri dengan kukuh.

Setelah belajar dan berlatih berdiri kukuh, para calon belajar dan berlatih berjalan dengan kukuh, kemudian berlari dan melompat dengan kukuh dan seterusnya. Latihan-latihan di tanah datar semacam itu memakan waktu berminggu-ming-gu bahkan berbulan-bulan lamanya. Calon- calon yang terbelakang mendapat perintah untuk melakukan latihan tambahan atau mendapat pengawasan khusus dari salah seorang pelatih.

Dalam latihan melompat dan jatuh dengan kukuh, Pamanda Anapaken mengambil seekor kucing. Kucing ini berulang-ulang dilemparkannya. Umumnya kucing itu dapat jatuh di atas keempat kakinya, hanya sekali-kali saja kakinya meleset. Setelah penjelasan diberikan mengenai berat badan dan kerja otot-otot kucing itu, latihan pun dimulai. Para calon harus merasakan sendiri bagaimana otot-ototnya bekerja, hingga setiap kali dilemparkan oleh pelatih atau kawan- kawannya, ia tidak akan jatuh telentang atau telungkup, tetapi dapat melompat dan mendaratkan kaki dengan mantap.

Salah satu latihan untuk kemantapan ini dilakukan di bibir kawah mati yang tebingnya penuh dengan batu-batu besar dan kecil. Para calon diperintahkan berlari secepat-cepatnya dari suatu tempat menyeberangi daerah itu menuju ke tempat lain yang ditentukan. Para calon dengan sendirinya harus lari melompat-lompat, kadang-kadang berpijak di atas batu besar, kadang- kadang berpijak di tanah, kadang-kadang berpijak di batu kecil. Akan tetapi, Pangeran Muda menyadari, di mana pun ia berpijak, ia harus berpijak dengan mantap, dengan keseimbangan yang tepat. Untuk kemantapan ini latihan diulang-ulang bukan sekadar beberapa kali, melainkan beratus-ratus kali, setiap pagi sebelum latihan-latihan lanjutan dimulai.

Dalam latihan inilah, salah seorang calon yang malang terpeleset hingga tangannya patah, sementara beberapa bagian dari tubuhnya mendapat luka-luka. Perawatan segera dilakukan oleh beberapa panakawan yang ahli, dipimpin langsung oleh Eyang Resi Tajimalela. Setelah calon itu sembuh, karena tidak mungkin lagi mengikuti latihan dengan tangan yang kurang memenuhi syarat, terpaksa ia diantar pulang.

Latihan-latihan keseimbangan ini dilanjutkan, mula-mula dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup. Mula-mula siang hari, kemudian malam hari. Puncak dari latihan keseimbangan ini dilakukan di atas jembatan tambang besar, yang melintangi jurang dan di atas arus sungai yang dalam. Calon-calon banyak yang berjatuhan dan harus berenang di sungai sebelum naik lagi ke darat. Setelah menguasai tambang yang besar, latihan ditingkatkan ke atas tambang yang kecil. Kemudian, latihan dilakukan di malam hari, setelah itu dengan mata tertutup kain hitam. Setelah ini dikuasai, barulah dilakukan latihan di atas jurang yang dasarnya tidak bersungai. Untung tak ada calon yang jatuh dalam latihan yang sangat berbahaya itu.

SETELAH keseimbangan dan penggunaan otot-otot di atas tanah dianggap dikuasai oleh calon- calon, mulailah latihan jurus, latihan memberikan pukulan dan menangkis. Dalam latihan ini pun, Pamanda Anapaken memberikan penjelasan-penjelasan tentang faal dan cara kerja otot-otot dalam gerakan. Setelah latihan ini dilakukan siang dan malam dalam waktu berbulan-bulan, dimi lailah latihan berkelahi secara lebih sungguh-sungguh.

Sebelum latihan dimulai, para calon diharuskan menghangatkan badan dengan melakukan pelajaran-pelajaran yang sebelumnya sudah-dilalui, dari latihan berdiri, berjalan, berlari, melompat, menyeberang tali, dan sebagainya. Baru setelah itu, mereka dipasang-pasangkan untuk diadu dalam latihan itu. Karena latihan ini berbahaya, dan karena pukulan-pukulan para calon sudah cukup ampuh untuk menimbulkan cedera, alat-alat pelindung diletakkan pada bagian- bagian rawan tubuh mereka.

Dalam latihan berkelahi ini, dua hal yang ditekankan oleh Pamanda Anapaken, yaitu, pertama, setiap calon harus berusaha menghilangkan keseimbangan lawan, kedua, setiap calon harus dapat memberikan pukulan di tempat-tempat yang berbahaya yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh para pelatih.

Selama berlatih berkelahi ini yang paling sering menjadi pasangan Pangeran Muda adalah Janur. Ia seorang calon yang sangat cerdas walaupun lebih lemah daripada Pangeran Muda dalam ketahanan. Pukulan-pukulannya selalu membahayakan, sedangkan pukulan-pukulan Pangeran Muda selain tidak ampuh, mudah sekali dihindarkannya. Melihat keterbelakangan Pangeran Muda dalam pelajaran memukul ini, datanglah Pamanda Rakean membantunya dengan penjelasan.

'Anom, gunakanlah tanganmu sesuai dengan kehendak alam. Alam menyediakan otot-otot manusia untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan sifat otot-otot itu. Gerakan-gerakan yang menentang sifat otot-otot itu akan melelahkan dan menyakitkan. Usahakanlah, agar gerakan- gerakan Anom selalu wajar dan oleh karena itu, tidak akan melelahkan apalagi menyakitkan."

Pangeran Muda melakukan percobaan-percobaan di luar latihan dengan tangan dan kakinya.

Berulang-ulang ditanyakannya kepada Janur, bagaimana sahabat barunya itu melakukan pukulan. Dengan bantuannya, akhirnya Pangeran Muda dapat memahami dan mengendalikan pukulannya. Dalam latihan-latihan saling menjatuhkan dan saling memukul berikutnya, Pangeran Muda tidak terlalu terdesak oleh janur atau pasangan lain. Maka, meriahlah lapangan kecil di dasar kawah mati itu oleh pertempuran anak-anak muda yang seru, mundur maju, saling dorong, saling pukul, saling kibas, saling tipu, dan saling serang.

Sejak dimulainya pelajaran berkelahi berpasang-pasangan inilah, setiap malam Eyang Resi Tajimalela memberikan pelajaran-pelajaran yang lain sifatnya. Pada suatu malam di dalam ruang belajar, bertanyalah Eyang Resi kepada para calon, "Adakah kesukaran yang kalian alami saat kalian melakukan pukulan?"

Calon-calon tidak ada yang menjawab. Mereka tidak mengerti akan maksud Eyang Resi. Eyang Resi pun sambil tersenyum melengkapi pertanyaannya.

"Apakah pukulan yang kalian berikan sering terasa mengganggu keseimbangan kalian yang seharusnya dijaga?"

"Demikianlah, Eyang," sahut Jante, salah seorang calon yang sangat berbakat dan tekun. 'Justru berulang-ulang hamba bermaksud menanyakannya kepada Pamanda Anapaken, akan tetapi belum sempat."

"Bagus," ujar Eyang Resi. "Sekarang Eyang bertanya kepadamu, kalau engkau bernafsu dalam latihan perkelahian itu, apakah yang sering kaualami?"

Sebelum menjawab, para calon tertawa terlebih dahulu. "Mengapa tertawa?" Eyang Resi bertanya sambil tersenyum.

"Karena kalau hamba marah setelah kena pukulan dan bernafsu untuk membalas, hamba sering lupa akan keseimbangan badan hamba dan dengan mudah lawan hamba menjatuhkan hamba."

"Tepat, tepat benar," ujar sang Resi. "Anak-anakku," lanjut beliau, "bandingkanlah keseimbangan tubuhmu dengan akal sehat dan bandingkanlah gerakan yang kaulakukan dalam perbuatan memukul itu sebagai keinginan atau nafsu. Seandainya nafsumu terlalu kuat, akal sehatmu dapat hilang, akibatnya kau terjatuh, bukan dalam perkelahian saja, tapi dalam berbagai hal. Khusus dalam perkelahian, satu hal yang harus kaujaga, yaitu agar akal sehatmu selalu bekerja. Artinya, kau dapat mengendalikan perasaan serta kemauanmu. Sekali kau marah, maka ketika itulah bahaya mengancammu."

Setelah hening beberapa saat, bertanyalah salah seorang calon kepada sang Resi, "Eyang Resi, kalau kita berkelahi itu berarti kita marah. Bagaimana kita akan berkelahi dengan orang lain kalau kita tidak cukup marah?"

Mendengar pertanyaan itu tersenyumlah sang Resi, lalu berkata, "Anak-anakku, engkau tidak mencari-cari perkelahianJ bukan? Oleh karena itu, kau tidak berusaha agar dirimu men jadi marah. Justru kau harus membunuh atau mengendalikai nafsumu kalau kau mengerti pelajaran berkelahi itu. Kau haru selalu seimbang, pukulanmu tidak boleh menghilangkan keseinj bangan tubuhmu.

Itu berarti, nafsumu tidak boleh mengganggu pikiran sehatmu. Itu berarti bahwa kau tidak boleh berkelahi!"

Para calon keheranan mendengar hal itu. Bagaimana bisa pelajaran berkelahi melarang atau membuat orang menghindarkan perkelahian?

"Hamba tidak mengerti, Eyang Resi," kata seorang calon. "Engkau calon-calon puragabaya ditabukan berkelahi, anak-anakku, karena engkau ditabukan marah. Segala pelajaran yang akan kauterima di sini akhirnya akan menyadarkanmu bahwa tidak ada yang paling tercela di dunia selain perkelahian. Oleh karena itu, kalian akan menghindarkan perkelahian dalam hidupmu."

Mendengar penjelasan itu, makin terheran-heranlah para calon. Mereka saling memandang dengan cahaya mata penuh keraguan. Timbul pikiran dan dugaan pada hati mereka bahwa Eyang Resi Tajimalela sedang berkelakar. Melihat gelagat demikian, tesenyumlah sang Resi, lalu berkata, "Apa yang kau mengerti tentang istilah perkelahian adalah perkelahian yang kaulihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang berkelahi adalah orang-orang yang sedang marah atau gelap mata. Para puragabaya terlarang melakukan hal itu. Perkelahian yang dilakukan oleh seorang puragabaya jauh berbeda dan bahkan bertentangan dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Kalau seorang puragabaya berkelahi, hal itu dilakukannya lanpa dorongan kemarahan atau kebencian. Ia hanya melakukannya jika tidak berhasil menghindarkannya dan melakukannya dengan dukacita. Ia menghindarkan perkelahian karena pada dasarnya ia mencintai lawannya."

"Hamba belum mengerti, Eyang Resi," kata seseorang di sudut ruangan.

"Baiklah, besok kalian akan mengerti setelah kalian diberi penjelasan di lapangan."

Keesokan harinya, lain daripada biasa, Eyang Resi Tajimalela ikut turun ke lapangan tempat calon-calon melakukan latihan-latihan perkelahian. Setelah beberapa saat berlangsung, calon- calon disuruh duduk berkeliling, kemudian dua orang calon dipersilakan melakukan perkelahian di tengah-tengah kawan-kawannya yang menonton.

"Mulai!" kata sang Resi. Perkelahian pun mulailah. Kedua calon sama-sama tidak mau memukul lebih dahulu karena takut kehilangan keseimbangan badannya. Kedua-duanya sama hati-hati, sama-sama menahan diri.

"Sekarang perhatikan, kita akan memanggil seorang panakawan yang belum pernah mendapatkan pelajaran seperti kalian. Minda, panggil Jasik." Dalam sekejap Jasik datang dituntun oleh Pamanda Minda.

Jasik dikenal sebagai panakawan yang malas, pemarah, dan rakus. Ia berbadan tinggi besar, tangan-tangannya berotot seperti batang pohon jambu batu yang tua. Kakinya gempal, seperti badan pohon beringin. Begitu ia tiba di depan Eyang Resi, Eyang Resi segera berkata, 'Jasik, Raden Rangga menyatakan dia sanggup mengalahkan engkau. Kalau itu benar tidak apa, tetapi kalau itu tidak benar, kau akan mendapat hadiah."

Mendengar perkataan sang Resi, meluaplah kemarahan Jasik. Matanya tiba-tiba menyala, urat- urat matanya membesar dan menonjol. Napasnya mendengus-dengus dan dengan parau berkata, "Coba buktikan."

Rangga seorang calon yang baru berumur tiga belas tahun, berbadan lampai dan berperangai lembut. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran kawan-kawannya dengan terheran-heran. Akan tetapi, berkat latihan-latihan, ia tenang saja melihat orang tua yang marah dan berjalan ke arahnya itu.

"Saya akan membuktikan bahwa Raden adalah pembual!" demikian seru Jasik, sambil bersiap- siap untuk menerkam. Kedua lawan sangat tidak seimbang, yang satu tinggi besar yang satu kurus lampai, hingga perbandingannya tidaklah jauh dari perbandingan kucing gemuk dan tikus kurus.

Dengan geraman penuh amarah, menghamburlah Jasik menerkam Rangga. Akan tetapi, Rangga sebagai seorang calon yang tekun dan cerdas dengan cepat memindahkan kuda-kudanya, bersamaan dengan menarik tangan kanan Jasik yang hendak mencekam lehernya. Jasik yang menubruk dengan seluruh berat badannya itu disambut oleh Rangga dengan tarikan dan penghindaran diri. Oleh gerakan itu, Jasik tak dapat menahan dirinya lagi, jatuh ke muka terjungkir-jungkir.

Semua calon melihat dengan keheranan. Rangga kelihatan heran dan sedih oleh apa yang telah terjadi. Para calon semua berdiri dan berjalan menolong jasik yang terbaring. Eyang Resi ilalang dan mengatakan kepada Jasik bahwa karena kecelakaannya itu Jasik akan mendapat hadiah seekor ayam yang boleh disembelih untuk diri sendiri. Ketika wajah Jasik menjadi cerah setelah mendengar berita itu, legalah hati para calon.

Setelah Jasik diantar oleh Pamanda Minda ke belakang untuk diobati luka-luka kecilnya, Eyang Resi Tajimalela memitrakan penjelasan kembali.

"Rangga, mana Rangga?" tanyanya. Ketika Rangga datang, sang Resi bertanya, "Adakah kau bermaksud mencelakakan Jasik?"

"Sama sekali tidak, Eyang Resi. Bahkan hati hamba malah risau oleh kejadian itu." "Jadi, mengapa Jasik sampai jatuh tunggang langgang?"

"Hamba tidak tahu, Eyang Resi."

"Anak-anakku, bukanlah Rangga yang menyebabkan Jasik mendapat kemalangan, tetapi nafsunya sendiri. Ia begitu bernafsu hendak mendapat hadiah. Ia sangat percaya pada kekuatan otot-ototnya yang besar-besar itu hingga meremehkan Rangga yang kecil ini. Itu semualah yang menjatuhkan Jasik, bukan Rangga.

"Tadi ketika Rangga berhadapan dengan Jante, tak seorang pun yang jatuh karena tak seorang pun yang kehilangan dirinya untuk menyerang lebih dahulu. Tak seorang pun jatuh karena tak seorang di antara keduanya dikuasai amarah. Jadi, amarahlah yang menjatuhkan lawan, bukan puragabaya. Amarah lawanlah yang menyebabkan lawan celaka, bukan puragabaya. Sedang puragabaya sendiri harus berusaha untuk memadamkan amarah lawan, atau nafsunya, atau kemauannya yang tidak terkendali. Di sinilah letak kewajiban kependetaan seorang puragabaya. Kalian tahu, anak-anakku, bahwa kau datang ke sini untuk dididik menjadi pahlawan dan pendeta sekaligus. Dilarang bagimu mencelakakan orang lain. Dianjurkan bagimu menyelamatkan orang lain. Tapi ada orang yang begitu besar amarahnya, hingga kalian tidak akan dapat menyelamatkannya."

Sekarang mengertilah Pangeran Muda, mengapa sang Resi pernah mengatakan bahwa bagi puragabaya dilarang untuk berkelahi. Perkelahian yang dibolehkan adalah perkelahian yang tidak dapat dihindarkan lagi karena lawan tidak dapat lagi mengendalikan amarahnya. Dalam perkelahian macam itu pun, seorang puragabaya tidak bertindak untuk mencelakakan lawan dengan menyerang atau memukulnya. Lawar akan jatuh karena keangkaraannya sendiri. Apakah dia hanya rubuh, atau sampai pingsan, atau bahkan sampai mati, hal itu ditentukan oleh besar kecilnya amarah dia sendiri.

"Eyang Resi, hamba tidak bermaksud menjatuhkan Jasik. Hamba hanya menuruti ajaran bahwa kalau orang menubruk hamba, hamba harus bergerak demikian," kata Rangga.

"Anakku, gerakan-gerakan yang diberikan kepadamu adalah gerakan-gerakan alamiah. Sebagai manusia kau dilengkapi dengan naluri menyelamatkan diri. Orang dapat menyelamatkan diri dengan berlari, bersembunyi, melawan, dan se-bagainya. Di padepokan ini kalian diberi pola-pola gerakan hingga perbuatan menyelamatkan diri itu menjadi sempurna. Ini adalah hasil penyelidikan berpuluh tahun yang dilakukan i lengan penuh pengabdian oleh leluhur kita yang mulia. Perbuatan menyelamatkan diri dalam hal ini berarti pula penyelamatan orang-orang yang paling budiman dan paling mulia."

"Eyang Resi, kalau melihat apa yang terjadi dengan Jasik, dapatkah hamba menyatakan bahwa perbuatan menyelamatkan diri itu bersatu dan tidak dapat dipisahkan dengan perbuatan menyerang?"

Mendengar pertanyaan itu, tersenyumlah sang Resi. "Benar, Jante, engkau anak yang terang hati. Tapi ingatlah, yang menyerang bukanlah engkau, tapi amarah orang n n. Ingatlah hal ini, tanamkan dalam-dalam di hatimu."

Walaupun jawaban itu ditujukan kepada Jante, mata sang Resi memandang pada semua calon yang dengan khidmat mendengarkan wejangan beliau itu.

Demikianlah, semenjak itu sang Resi turut terjun memberikan penjelasan-penjelasan dan wejangan-wejangan, hingga pelajaran ilmu perkelahian itu sukar dikatakan, apakah merupakan pelajaran kejasmanian atau kerohanian.