Pangeran Anggadipati Bab 03 : Padepokan Tajimalela

Bab 03 : Padepokan Tajimalela

Pada hari kelima, rombongan pun tiba di Padepokan Tajimalela yang menjadi tujuannya.

Padepokan ini terletak di atas puncak sebuah gunung yang tinggi, di dasar sebuah kawah yang mati. Jalan ke tempat itu sukar sekali ditempuh, kecuali oleh mereka yang sudah mengetahui celah-celah jurang yang biasa dipergunakan. Bahkan mereka yang sudah hafal akan mendapat kesukaran, seandainya mereka tidak cukup tangkas. Sukarnya perjalanan itu disengaja, sebagai ujian pertama bagi calon-calon puragabaya yang akan dilatih di padepokan itu.

Padepokan itu sendiri terdiri dari sebuah candi yang terletak di tengah-tengah kawah mati, dengan di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan kecil lain sebagai tempat pemondokan atau tempat belajar para calon puragabaya. Penghuni Padepokan Tajimalela itu pun tidaklah lebih dari dua puluh lima orang. Selain lima belas orang calon puragabaya yang terdiri dari putra-putra bangsawan Pajajaran, terdapat tiga orang guru atau pelatih di bawah pimpinan Eyang Resi Tajimalela. Sisanya yang terdiri dari enam orang adalah para panakawan, pengurus senjata, juru masak, dan badega-badega.

Ketika Pangeran Muda beserta rombongan tiba, padepokan sunyi senyap. Para calon puragabaya sedang berlatih di dalam hutan-hutan di sekeliling kawah mati itu, sedang para panakawan sedang melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya Eyang Resilah yang tampak mengelu-elukan mereka didampingi oleh seorang panakawan.

"Selamat datang, Anom," kata Eyang Resi ketika Pangeran Muda menghaturkan sembah, "mudah-mudahan engkau akan senang tinggal di sini bersama kawan-kawanmu."

"Hamba akan senang tinggal di sini, Eyang, karena tidak ada pilihan hamba selain mencintai kewajiban sebagai seorang bangsawan Pajajaran," ujar Pangeran Muda, hafal akan jawaban yang diajarkan oleh Ayahanda kepadanya.

"Ayahanda Anggadipati adalah seorang bangsawan sejati; beliau tahu bagaimana mendidik putranya," ujar Resi Tajimalela sambil menepuk pundak Pangeran Muda. Kemudian, sang Resi yang sudah lanjut usia dan berambut putih itu berpaling pada Pamanda Rakean dan berkata, "Rakean, kelambatan dua hari akan menyebabkan kau harus bekerja keras agar Anom tidak terlalu ketinggalan kawan-kawannya."

"Baik, Gusti Resi."

"Ogel, bawalah nanti Anom melihat-lihat daerah padepokan kalau Anom tidak terlalu lelah.

Sekarang istirahat dan bersantaplah dahulu," ujar sang Resi. Setelah berkata demikian, Eyang Resi Tajimalela menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada Pangeran Muda, kemudian melangkah ke dalam candi diiringi panakawan beliau.

Pamanda Rakean memberikan kendali kuda kepada panakawan lain yang datang kepada mereka, kemudian mempersilakan Pangeran Muda untuk istirahat di asrama calon. Dengan diantar oleh Mang Ogel, sampailah Pangeran Muda di bangunan terbesar yang terdapat di daerah padepokan itu. Setelah masuk, Pangeran Muda dibawa ke dalam sebuah ruangan lain yang di dalamnya terdapat dua buah balai-balai, sebuah papan lebar yang melekat ke dinding kayu, di mana terletak peti-peti tempat menyimpan daun-daun lontar, pisau pangot untuk menulis, dawat di bumbung logam, peti tempat menyimpan pedang, badik, kapak-kapak kecil, hulu-hulu tombak, dan lain-lainnya. "Ini balai-balai, Anom. Nanti Anom akan berteman dengan Raden Janur yang tidur di balai-balai ini," kata Mang ()gel sambil menunjuk ke balai-balai yang lain.

Setelah berganti pakaian, Pangeran Muda keluar menuju ruangan tempat bersantap, di mana Paman Rakean telah menunggu. Mereka maka i dengan tenang, dilayani oleh Mang Ogel yang kemudian ternyata bertindak sebagai pembantu khusus Pamanda Rakean.

"Siang ini kita akan melihat-lihat daerah padepokan dan tempat berlatih," kata Pamanda Rakean. Segera setelah selesai makan, mereka pun pergi mengelilingi daerah luas yang ter-m.isuk ke dalam Padepokan Tajimalela.

Hampir segala bentuk dan sifat daerah yang berbeda-beda terdapat di padepokan yang luas itu.

Pertama, sebagai kawah mati, padepokan memiliki jurang yang sangat curam, yang tebingnya terdiri dari batu-batu yang runcing. Landasan kawah mati itu, di mana terletak beberapa bangunan, terdiri dari gurun pasir luas yang pasirnya beraneka ragam dan permukaannya rata. Di seberang kawah, di bagian puncak gunung yang menjadi bibir kawah itu, berserakanlah batu-batu besar kecil dalam berbagai bentuk dan warna, dengan besarnya yang berbeda-beda pula. Ada yang sebesar rumah dan ada pula yang hanya sebesar kepala. Lebih rendah lagi dan lebih jauh dari kawah, tumbuh tanaman-tanaman kecil yang batangnya keras, tersebar bagian semak-semak di tanah yang landai tidak, curam pun tidak. Setelah itu, terbentanglah hutan lebat yang ujungnya tidak kelihatan. Di beberapa bagian hutan ini ditemukan jurang-jurang yang menakutkan curamnya, tebing-tebing cadas tempat bersarang burung-burung buas seperti elang dan garuda. Agak lebih rendah terdapat sungai-sungai kecil yang mengalir di dekat puncak-puncak gunung; arusnya berjeram-jeram. Salah satu dari jeram ini jatuh pada tempat yang bulat dan karena jatuh miring di tepi cekungan yang bulat, air membentuk ulakan arus yang dahsyat, berputar dalam kecepatan yang tinggi, gemuruh bunyinya, sementara uap membubung ke angkasa. Beberapa saat melihat ulakan air itu, pusinglah Pangeran Muda.

"Itulah sebagian dari tempat Anom berlatih nanti," ujar Pamanda Rakean ketika mereka duduk- duduk di tanah, beristirahat seraya menikmati pemandangan alam pegunungan.

"Masih ada tempat latihan lainnya?" tanya Pangeran Muda.

"Masih ada beberapa, Anom, sebagian akan kita lihat nanti sambil kembali ke padepokan. Akan tetapi, perlu pula Anom ketahui bahwa seluruh wilayah Pajajaran dapat kita jadikan tempat berlatih," sambung Pamanda Rakean.

Tiba-tiba sadarlah Pangeran Muda bahwa bentuk-bentuk alam yang berbahaya itu dalam waktu dekat akan menjadi tempatnya berlatih. Terkenang di hatinya akan Raden Jamu yang sudah barang tentu mendapat kecelakaan di salah satu tempat itu. Dengan memberanikan diri, bertanyalah Pangeran Muda, "Pamanda, di manakah kawan saya Jamu menemui ajalnya?"

Pamanda Rakean terhenyak sebentar, lalu berkata dengan tenang, "Di lapangan dekat candi itu."

"Di lapangan?" tanya Pangeran Muda dengan keras karena keheranan.

"Ya," ujar Paman Rakean. "Ketika itu Pamanda Anapaken mengajarkan bagaimana caranya menghindarkan pukulan. Salah seorang calon diajari bagaimana caranya memukul, Radenjamu kurang hati-hati, maka pukulan itu mengenai sasarannya dengan tidak sengaja. Kami berusaha menyelamatkan jiwanya, tetapi kesalahan terlalu besar, hingga kerusakan tubuh Radenjamu tidak dapat lagi diperbaiki. Jantungnya terpukul dengan tidak sengaja, Anom, sedang calon yang memukulnya adalah seorang murid yang baik. Radenjamu salah menghindar. Seharusnya ke sebelah kiri, ia menghindar ke sebelah kanan, menyambut pukulan itu dengan jantungnya."

Mendengar keterangan itu, terpukaulah Pangeran Muda. Sungguh salah sangkaannya Radenjamu meninggal karena kecelakaan biasa, oleh alam sendiri, seperti jurang atau arus-.nus sungai yang deras. Teringat pula olehnya keterangan Ayahanda bahwa seorang puragabaya memiliki kepandaian berkelahi yang sangat ampuh, sehingga dapat dimengerti kalau latihan- latihannya pun penuh dengan bahaya. Di samping itu, telah dibuktikan pula oleh matanya sendiri, bagaimana dengan sebuah jarinya Pamanda Rakean dapat melumpuhkan pemimpin rampok yang berbadan tinggi besar itu. Sementara ular besar itu dengan pukulan-pukulan dan sepakan- sepakannya, remuk-remuk hampir terpotong.

"Anom, mari kita lihat tempat-tempat latihan lain sebelum kita pulang ke padepokan dan bertemu dengan calon-calon yang lain," kata Pamanda Rakean. Ketika mereka bangkit dan melangkah, datanglah dari dalam semak Mang Ogel, tangannya penuh dengan buah-buahan besar-kecil yang harum-harum dan merangsang selera. Mang Ogel menyodorkan buah-buahan itu kepada Pamanda Rakean. Pangeran Muda mengambilnya, lalu mencicipinya. Sambil mencicipi buah-buahan itu, mereka berjalan dan tibalah di suatu jurang curam yang dasarnya sebagian terdiri dari sungai, sebagian lagi terdiri dari pasir, sebagian lagi terdiri dari batu-batu dan cadas- cadas. Di atas jurang itu terbentanglah tali-tali yang terbuat dari tambang-tambang ijuk dan akar- akar pohon.

"Untuk apakah tali-tali ini, Pamanda?" tanya Pangeran Muda.

"Ini adalah jembatan-jembatan yang pada suatu kali harus dapat dilalui dengan mudah oleh setiap puragabaya," ujar Pamanda Rakean.

"Guru yang baik tidak hanya menerangkan, tapi memberi contoh hehehe," kata Mang Ogel di belakang mereka.

Pamanda Rakean tersenyum pahit, lalu melangkah dan mulai menyeberangi jurang itu dengan berpijak pada tambang ijuk. Di tengah-tengah jembatan tambang ijuk itu Pamanda Rakean berhenti, lalu berbalik dan dengan enaknya melangkah kembali hingga tambang ijuk itu naik-turun oleh berat badannya. Melihat hal itu, Pangeran Muda cuma membelalakkan mata. Teringat olehnya bagaimana mudahnya Pamanda Rakean menaiki tebing batu-batu dan tanah gembur ketika kuda Mang Ogel terpeleset, padahal Mang Ogel begitu susah untuk mendaki kembali.

"Ogel, ada pintalan yang terbuka, kalau dibiarkan dapat berbahaya," kata Pamanda Rakean segera setelah kakinya memijaki tanah kembali.

"Sebelah mana, Juragan?"

"Carilah sendiri," jawab Pamanda Rakean. Dengan tidak diduga, Mang Ogel melangkah ke arah jembatan ijuk itu. Akan tetapi, bukannya memijaknya, Mang Ogel mempergunakan tangannya.

Dan seperti monyet, ia bergantung dan bergerak dengan mempergunakan tangannya yang besar itu. Sementara bergantung dan berayun-ayun, diraba-rabanya pintalan yang terbuka itu.

Walaupun perbuatan Mang Ogel ini lucu, bagi Pangeran Muda tidak kurang mengagumkannya daripada perbuatan Pamanda Rakean.

"Ini dia!" seru Mang Ogel ketika ia berada di tengah-tengah jembatan ijuk itu. Sambil berkata demikian, ditunjuknya salah satu pintalannya yang memang terbuka celahnya. Dengan ibu jari dan telunjuk, dipintalnya kembali tambang ijuk yang besar itu dan dalam sekejap sudah tidak dapat lagi dibedakan dengan pintalan lain yang masih baik. Setelah itu, berayun-ayun kembalilah Mang Ogel, seperti seekor lutung besar menyeberangi tambang.

Dari tempat jembatan-jembatan itu. berjalan pulalah mereka bertiga. Di suatu tempat berdirilah iima tiang besar yang tinggi-tinggi dan licin-licin.

"Anom, nanti Anom akan mencintai tiang-tiang ini, seperti juga para puragabaya yang meninggalkan padepokan selalu terkenang kepadanya," kata Pamanda Rakean.

"Untuk apa ini, Pamanda?"

"Untuk perlombaan," jawab Mang Ogel tanpa diminta. Sebelum diminta, Pamanda Rakean tiba- tiba pula memanjati tiang-tiang yang licin dan tinggi dengan sigap, seperti seekor bajing memanjat pohon pinang, cepat dan mantap. Mang Ogel tidak mau kalah, dipanjatnya salah sebuah tiang lainnya, tetapi dengan cara yang berbeda. Kalau Pamanda Rakean memanjat tanpa kesukaran sedikit pun, Mang Ogel memanjai perlahan-lahan dengan mempergunakan tangannya yang besar- besar. Setelah Pamanda Rakean dengan cepat turun kembali, Mang Ogel baru sampai di tengah- tengah dan karena kelelahan, mengurungkan niatnya mencapai puncak tiang itu. Sesampai di bawah, ia berkata sambil terengah-engah, "Tidak punya leluhur bajing, tidak apa tidak pandai naik."

"Leluhurmu kepiting, Ogel," kata Pamanda Rakean. Mereka pun berjalan ke dasar kawah mati tempat bangunan-bangunan padepokan berdiri.

Ketika itu, hari telah teduh dan ketika mereka sampai di padepokan, para calon puragabaya sudah kembali dari latihan mereka dan Pamanda Rakean segera membawa Pangeran Muda kepada mereka dan diperkenalkan kepada empat belas orang calon lainnya yang berumur antara tiga belas dan lima belas tahun. Jadi, sebaya dengannya. Umumnya calon-calon itu berbadan sehat dan kuat, banyak pula di antara mereka yang berwajah tampan. Perangai mereka tampak manis-manis pula. Maklum, mereka adalah putra-putra bangsawan yang telah mendapatkan pendidikan kesatriaan dari keluarga mereka masing-masing. Di samping itu, dapat dimengerti pula kemanisan perangai mereka itu karena salah satu syarat untuk dipilih menjadi calon puragabaya adalah riwayat keluarga yang tidak tercela, berperangai baik dan manis, di samping berbadan sehat dan tegap.

"Ini kawan kalian yang baru, Anggadipati, dan karena dia di padepokan ini dan di antara puragabaya tidak ada pangkat atau gelar, kalian akan memanggilnya Anom, sesuai dengan panggilan di tengah-tengah keluarganya," demikian kata Pamanda Rakean.

"Anom, ini Pamanda Anapaken, ini Pamanda Minda, ini Jante, Janur, Elang, Lingga, Jalu demikian Pangeran Muda diperkenalkan kepada kawan-kawan barunya. Mereka pun bersalaman satu sama lain sambil tersenyum dan saling memandang.

Setelah itu, mereka pun pergi ke sungai tempat mereka mandi. Setelah membersihkan diri, mereka bersembahyang bersama di bawah pimpinan Eyang Resi Tajimalela. Setelah makan malam, waktu tidur pun tibalah.

Pangeran Muda sekamar dengan Janur yang ternyata nama aslinya Raden Jalak Sungsang, putra bangsawan dari Pajajaran Barat. Janur sudah sebulan berada di Padepokan Tajimalela, termasuk rombongan pertama yang datang bersama-sama dengan Radenjamu.

"Kalau begitu, Anom pengganti Jamu," demikian kata Janur kepada Pangeran Muda. "Ya," sahut Pangeran Muda, dengan hati terhenyak.

"Marilah kita tidur dan lain kali saja bercakap-cakap karena saya sangat lelah," kata Janur. "Saya pun lelah sekali," ujar Pangeran Muda sambil membaringkan diri. Tak berapa lama

heninglah malam. Hanya na-p.is-napas beraturan yang terdengar dari ruangan asrama itu.