Pandaya Sriwijaya Bab 33 : Sepasang Mata Magra Sekta

Bab 33 : Sepasang Mata Magra Sekta

Semburat warna kuning matahari mulai menyingsing.

Mengikis coretan hitam yang semula begitu pekat secara perlahan-lahan. Namun, pertarungan di hutan bambu itu masih saja terus berlangsung. Belum tampak siapa yang akan memenangkan pertarungan, walau keringat keduanya sudah mulai bercucuran membasahi wajah.

"Kau benar-benar pemuda kuat yang bodoh!" ujar Wantra Santra di sela serangannya. Ia kini tak lagi menggunakan tiga bola bajanya, tetapi telah menggunakan sebuah pedang, yang selama ini juga disembunyikan di balik jubahnya. Pertarungan panjang ini ternyata telah membuat bola-bola bajanya bersarang pada batang-batang pohon dan tanah, dan tenaga dalamnya tak lagi cukup kuat untuk menariknya kembali.

Akan tetapi, kehebatannya menggunakan pedangjuga tak kalah dengan saat ia menggunakan bola-bola baja. Sejak dulu, Wantra Santra memang telah menguasai sembilan puluh sembilan jenis senjata dan semuanya dapat dimainkannya dengan baik. Hanya saja, ia memang paling menyukai tiga bola baja itu karena sepanjang yang ia tahu, tak ada seorang pendekar pun yang bisa menguasai senjata seperti itu!

Kini saat ada jeda di antara keduanya, tangan Wantra Santra terangkat, menahan gerakan.

"Dengarkan aku dulu! Atau, kau akan menyesal!" teriaknya sambil mengibaskan jubahnya. "Apa kita akan terus melakukan pertarungan ini? Dan, terus mencoba membunuh satu sama lainnya?" matanya menatap tajam kepada Tunggasamudra. "Entah mengapa aku merasa percuma. Masih banyak hal yang harus aku lakukan!" Ia maju perlahan, "Agar kau tahu, aku tak pernah berniat membunuh temanmu itu. Ialah yang menuduhku menghancurkan keluarganya, yang jelas telah terbukti menjadi pendukung Minanga Tamwa "

Wanta Santra memutari tubuh Tunggasamudra, "Dulu, jauh sebelum pemberontakan itu, ketika aku baru mendengar kabar tentang rencana pembelotannya, aku bahkan mencoba mendatangi untuk mengingatkannya. Ini kulakukan demi pertemanan kami selama ini. Namun, yang terjadi ia begitu

berang mendengarnya, bahkan memaki-maki aku "

Wantra Santra menarik napasnya. "Lalu, apa lagi yang bisa kulakukan?" ujarnya lagi. "Ketika keputusan itu sudah ada di tangan Sriwijaya, aku tentu saja tak lagi bisa membantunya. Aku hanya berusaha menyelamatkan putri bungsunya agar ada satu keturunannya yang tetap bisa hidup "

Wantra Santra melanjutkan, "Saat ia akhirnya terjatuh di jurang itu, aku bisa saja menyuruh para pasukanku mencarinya. Namun, itu tak kulakukan. Aku bahkan turun ke jurang itu untuk menyelamatkannya, tetapi kedatanganku ternyata terlambat, seseorang ternyata telah terlebih dahulu menyelamatkannya

Tunggasamudra hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan panjang ini. Kebimbangan tampak jelas muncul di raut wajahnya.

"Dan, perlu kau tahu juga," lanjut Wantra Santra. "Nama dirinya sebenarnya adalah Agiriya, bukanlah Sangda Alin seperti yang kau tahu selama ini. Ia telah membohongi dirimu, Cahyadawasuna, dan Sriwijaya, hanya karena keinginannya untuk membalaskan dendam

Wajah Tunggasamudra tetap tampak tak percaya. Ia ingin membantah ucapan itu, tetapi entah mengapa ia tak bisa.

"Kau ... terlalu naif dengus Wantra Santra. Selepas ucapan itu, dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara bergemuruh, seperti suara ratusan derap kuda yang berpacu kencang. Wantra Santra dan Tunggasamudra segera berpaling. Keduanya tertegun. Dari arah datangnya, keduanya merasa bisa menebak siapa yang akan datang.

Dan benar, tak lama berselang, Panglima Samudra Jara Sinya, bersama ratusan pasukan kudanya telah muncul dari balik pohon-pohon bambu, seiring merekahnya pagi.

Masih dengan duduk di kudanya, ia maju di antara Wantra Santra dan Tunggasamudra, "Apa yang sedang kalian lakukan?"

Wantra Santra hanya menyahut pendek. "Ini hanya kesalahpahaman," ujarnya.

Panglima Samudra Jara Sinya memandang keduanya lekat- lekat, "Karena peperangan ini ada di bawah kendaliku dan Panglima Cangga Tayu, aku ingin persoalan ini diselesaikan di tempatku!"

-ooo0dw0ooo-

Dan, pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi itu seakan berhenti bergerak, seiring suara napas Magra Sekta yang menunduk dalam-dalam.

"Kau boleh tak memercayaiku, Agiriya," ujarnya pelan dengan suara yang kini kembali seperti semula, tampak ragu dan tak tegas. "Aku tak memaksamu untuk percaya kepadaku. Namun, kumohon turuti kata-kataku kali ini saja. Kumohon >?

Sangda Alin tak menyahut. Kini bersamaan dengan merekahnya pagi, baru dapat dipandanginya dengan jelas sosok di depannya ini. Ia benar-benar tak lagi seperti yang terakhir dilihatnya. Kini ia tampak begitu kusut. Rambutnya tak lagi diikat rapi dan, dari wajahnya, bulu-bulu kumis dan jambangnya mulai tampak tumbuh tak teratur. 'Ada apa denganmu, Magra?" gumam Sangda Alin tak mengerti.

Magra Sekta mengangkat kepalanya perlahan. Kembali ditatapnya mata Sangda Alin dalam-dalam. "Entah apa yang salah pada kedua mataku ini, Agiriya," ujarnya dengan suara tercekat. "Sejak dulu, sejak aku mulai beranjak remaja, aku seperti dapat melihat kejadian yang akan terjadi, di mata orang-orang yang telah kutatap

Magra Sekta terhenti. Sangda Alin menatapnya dengan tatapan semakin tak percaya.

"Aku tak tahu mengapa bisa seperti ini," ujar Magra Sekta lagi sambil membuang pandangannya. "Namun, itulah yang membuatku selalu takut menatap mata orang lain. Aku takut melihat apa yang terjadi kepada mereka Aku takut melihat

bencana yang akan menimpa mereka

Sangda Alin hanya bisa terdiam terpana dan membiarkan Magra Sekta kembali berucap, "Dan, aku juga melihat semuanya di matamu, Agiriya. Dari saat kita berjalan di hutan itu, aku melihat perangkap harimau di depan kita. Dan, di saat kita menangkap ikan di sungai itu, aku melihat seekor ular besar akan menyerangmu. Lalu, di saat perguruan kita diserang oleh orang-orang berpakaian hitam itu, aku juga melihat orang-orang itu mencarimu. Itulah yang membuatku memaksamu untuk pergi dari Panggrang Muara Gunung kala itu. Karena aku aku melihat semua kematian di mata-mata

teman-teman kita. Ya, aku melihatnya, Agiriya, aku melihatnya Bahkan, aku juga melihat mereka pada akhirnya

akan menebas perutku, itulah yang kemudian membuatku mempersiapkan sebuah lapisan besi di balik bajuku "

Sejenak Magra Sekta terdiam, dipejamkan matanya kuat- kuat, "Aku aku melihat semuanya, Agiriya. Sungguh,

matamu telah menceritakan semuanya kepada mataku. Bahkan, saat kau terjatuh ke jurang itu, aku masih bisa melihat di matamu, seseorang menyelamatkanmu Dengan gerakan perlahan, Magra Sekta berpaling untuk menatap mata Sangda Alin. "Itulah yang membuatku terus mencarimu selama ini. Karena, aku tahu sekali... bahwa engkau selamat, Agiriya

Sangda Alin tetap terdiam. Pikirannya kini benar-benar berkecamuk. Ia ingin sekali tak percaya, tetapi semua ucapan itu seakan begitu sulit dibantahnya.

"Kau ... berlebihan, Magra," hanya ucapan itu yang menandakan keraguannya.

Magra Sekta hanya bisa menatap Agiriya dengan sayu, "Sudah kukatakan, tak mengapa bila kau tak memercayaiku, Agiriya. Sungguh, aku sendiri ingin tak peduli tentang ini.

Namun aku tak bisa tak memedulikan engkau, Agiriya

Magra Sekta terdiam, "Ya, aku sama sekali tak bisa tak memedulikan dirimu karena sejak hari aku melihatmu sejak hari engkau membela aku sejak hari aku memegang tanganmu aku ... aku sudah begitu mencintaimu

Sangda Alin menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia telah mundur beberapa langkah menjauh.

Magra Sekta hanya bisa menatap pahit, "Maafkan aku, Agiriya, maafkan akusuaranya nyaris tak terdengar. "Namun, sungguh, ucapanku tadi tak bermaksud apa-apa. Kau ... tak harus mencintaiku. Kau juga tak harus peduli kepadaku. Aku tahu sekali siapa diriku. Hanya saja yang ingin aku lakukanadalah ... bisa terus melindungimu

Magra Sekta melangkah mendekat kepada Sangda Alin, "Kumohon, Agiriya, pergilah bersamaku. Aku akan terus melindungimu ... melindungimu sepanjang hidupku ....

Kumohon, Agiriya kumohon

Sangda Alin tetap menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa memercayai ucapanmu, Magra," ujarnya dengan nada tertekan. "Itu terlalu berlebihan. Kalau matamu memang bisa melihat kejadian yang akan terjadi di mataku, apa yang kaulihat sekarang, Magra? Apa yang telah dilukiskan mataku kepada matamu?"

Magra Sekta terdiam sesaat. Dengan langkah gemetar mulai didekatinya Sangda Alin hingga wajahnya dapat merasakan embusan napas halus Sangda Alin. Lalu, setelah menyibak beberapa helai rambut yang terurai di wajah Sangda Alin, mulai ditatapnya lagi dua mata di depannya lekat-lekat.

Saat itu, Magra Sekta seperti menahan napasnya. Di dua mata bening Sangda Alin, kembali dilihatnya bayang-bayang yang sudah dilihatnya beberapa saat lalu. Masih sama, tak berubah....

Magra Sekta hanya bisa tertunduk. Tiba-tiba saja ia telah tergugu.

"Apa yang kaulihat, Magra?" tanya Sangda Alin tak bisa

menutupi gejolak hatinya.

Akan tetapi, tangisan Magra Sekta yang menjawabnya. Sangda Alin tercekat, ia kembali mundur dengan langkah- langkah yang nyaris goyah, "Aku aku tak percaya

kepadamu ," ujarnya dengan keras. 'Aku tak percaya

kepadamu!" lalu selesai berteriak seperti itu, ia pun segera membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Magra Sekta. "Agiriya!" Magra Sekta masih mencoba memanggilnya. Akan tetapi, Sangda Alin tetap melangkah menjauh. Namun, di beberapa langkahnya berselang, ia membalikkan tubuhnya. "Dengar Magra," ujarnya dengan suara tegas, "sudah kukatakan tadi, aku tak percaya kepadamu! Aku tak akan percaya kepadamu!"

Magra Sekta mengangkat tangannya, berusaha menggapai Sangda Alin, 'Agiriya... kumohon kumohon jangan pergi ke

sana

Sangda Alin tak lagi menggubris itu semua. Dengan nada keras kembali ia berucap, "Aku tak mau mendengarkan apa- apa lagi darimu, Magra!" Ia menekan seluruh perasaannya, "Aku ingin ... kau pergi dari hidupku!"

Magra Sekta tercekat. Ucapan ini benar-benar bagai hantaman di jantungnya. Tangannya yang masih dalam posisi menggapai, turun dengan gerakan lemah.

Seiring tubuh Sangda Alin yang menjauh, ia kembali memurukkan tubuhnya ....

-ooo0dw0ooo-