Pandaya Sriwijaya Bab 32 : Duel Dua pendekar Tangguh

Bab 32 : Duel Dua pendekar Tangguh

Dan, mimpi itu seakan memerangkapnya! Walau Magra Sekta sebenarnya tak pernah benar-benar bisa mengingat kembali mimpinya dengan jelas, tetapi ia benar-benar sadar telah bermimpi. Di situ, dengan jelas dilihatnya dua sosok tubuh tengah bertarung dengan hebatnya hingga salah satu tubuh kemudian terhempas. Saat itulah ia melihat sosok Agiriya di pelupuk matanya. Tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan tanpa henti. Lalu, sesuatu yang entah apa, kemudian mengaburkan senyum itu, juga lambaian tangan itu hingga semuanya kemudian hilang di depan matanya ....

Saat itulah Magra Sekta terjaga. Dadanya menderu dan terasa sangat sesak. Sejak itu ia tak lagi bisa memejamkan matanya. Mimpi itu seakan telah menyentaknya. Memunculkan sosok Agiriya begitu jelasnya di matanya ....

Lalu, pikirannya benar-benar tak bisa lepas lagi dari sosok jelita itu ....

Ia pun kemudian memutuskan bangkit. Lalu, dengan keraguan yang memuncak, diambilnya keputusan untuk kembali mendatangi Kedatuan di Muara Jambi.

Seperti kemarin, ia segera melompat melalui tembok benteng bagian samping Beberapa hari mengamati keadaan Kedatuan Muara Jambi, telah membuatnya tahu bagian mana yang tak terjaga dengan ketat. Dari situ ia kemudian langsung menuju ke atap di mana bilik Agiriya berada.

Akan tetapi, ia tak menemukan Agiriya di sana Sri h narnya ia sudah bisa menebak keadaan ini. Namun, s.i.n ia akan kembali Tunggasamudra ternyata sudah ditemuinya duduk di salah satu sudut atap.

"Siapa kau berani mengendap-endap di wilayah ini?" sentak Tunggasamudra.

Magra Sekta tercekat. Ia sudah mendengar tentang sosok pendekar di depannya ini yang merupakan seorang pandaya. Hanya dengan melihat gerakannya naik ke atap yang sama sekali tak terdengar olehnya, Magra Sekta bisa menilai seberapa tinggi ilmu meringankan tubuh lelaki ini.

"Aku tak bermaksud apa-apa," ujarnya. "Aku hanya ingin

menemui ... Agi. Sangda Alin ucapnya hampir menyebutkan

nama asli Sangda Alin.

"Kalau ingin menjumpainya, mengapa tidak melalui pintu depan?" Tunggasamudra semakin menyelidik. "Aku ... aku hanya ingin menahannya pergi," ujar Magra Sekta lagi. "Ia akan pergi menuju ke arah barat, ke tempat Kelompok Rahasia Wangseya berada ...," ujarnya lagi. Dan, ini adalah rencananya!

-ooo0dw0ooo-

Seperti semalam sebelumnya, Sangda Alin mengikat kudanya di sebuah semak yang rimbun. Lalu, ia segera membuka pakaiannya, menyisakan pakaian serbahitam yang sudah sejak tadi dipakainya.

Sebenarnya tak seperti dua malam sebelumnya, ia cukup bimbang melakukan tindakan kali ini. Saat melakukannya pertama kali, ia bisa membawa dirinya pada kepercayaan diri yang tinggi, juga saat melakukannya kedua kali. Namun, kali ini entah mengapa ada sedikit keraguan untuk melakukannya. Ia merasa ada kemungkinan besar bahwa tindakannya selama dua malam sebelumnya kemungkinan besar telah terbaca oleh lawan.

Akan tetapi, Sangda Alin tetap memutuskannya dengan cepat. Sehari lagi kemungkinan besar pasukan rahasia Wangseya telah bergerak ke utara. Ini tentunya akan lebih menyulitkan baginya untuk bergerak!

Akan tetapi, ternyata keraguannya benar! Baru saja ia akan memasang tutup wajahnya, seseorang berjubah hitam tiba- tiba sudah melayang dari ketinggian pucuk-pucuk bambu, mendekat ke arahnya.

Sangda Alin terkejut. Tubuh itu meluncur begitu halus di depannya. Ia bahkan sama sekali tak mendengarnya sampai tubuh itu benar-benar menjejakkan kakinya di tanah.

Dan kini, sosok Wantra Santra sudah berdiri di depannya.

Sama seperti dirinya, ia juga sama terkejutnya mendapati siapa sosok yang berdiri di depannya. "Ternyata ... pandaya terpilih," ujarnya tak percaya. "Dan, juga ... putri Datu Muara Jambi Sungguh, aku sama sekali

tak menduganya desisnya dingin.

Sangda Alin tertegun. Tak menyangka begitu mudah dirinya akan dikenali. Segera saja ia menarik pedangnya. Melihat sosok dingin di depannya membuat ingatan Sangda Alin langsung kembali pada pembantaian keluarganya, juga pembantaian di Panggrang Muara Gunung.

Ini seketika membuat kemarahannya memuncak! "Lelaki tak tahu malu!" teriaknya. "Kau sudah menghancurkan keluargaku!"

Wantra Santra hanya menatapnya dengan pandangan dingin. "Aku hanya menjalankan apa yang harus aku lakukan!" ujarnya.

Ucapan tanpa ekspresi itu semakin membakar dada Sangda Alin. Tanpa bicara lagi, dengan satu lompatan terburu, ia sudah mengayunkan pedangnya untuk melakukan serangan.

Tubuhnya secepat kilat sudah melayang bersama angin. Kilauan pedangnya yang tertimpa cahaya bulan membuat

Wantra Santra mundur satu langkah ke belakang sambil menyibak jubahnya. Dengan gerakan cepat, dikeluarkannya tiga bola baja yang selama ini menjadi senjata andalannya.

Seiring gerakannya menghindari serangan Sangda Alin, ia sudah memutar tubuhnya, dan melempar ketiga bola itu ke atas. Dam, seakan mengikuti gerakan ketiga bola itu, Wantra Santra sudah membawa tubuhnya melenting ke atas pula.

Sangda Alin terpana. Bukan karena serangannya hanya mengenai angin, tetapi karena melihat gerakan halus lawannya ke atas. Sungguh, tak bisa disangkalnya lagi bila ilmu meringankan tubuh lelaki di hadapannya ini sudah mencapai taraf kesempurnaan. Juga tenaga dalam yang dapat menggerakkan tiga bola baja itu mengambang di udara .... Melanjutkan gerakannya, Wantra Santra sudah mengambil sebuah bola bajanya dan segera melemparkannya kepada Sangda Alin. Wuuush!

Sangda Alin menghindar dengan cepat. Ia sama sekali tak berani menahannya dengan pedangnya. Energi yang keluar dari bola baja seukuran kepalan tangan itu begitu dapat dirasakannya. Tentu pedangnya tak akan bisa menahannya.

Untunglah sejak diselamatkan di jurang itu, kemajuan tenaga dalam Sangda Alin telah maju sangat pesat.

Gerakannya juga menjadi sangat luwes. Ia dapat dengan mudah memutar tubuhnya ke belakang, lalu dengan sekali tumpuan, ia berbalik untuk kembali melakukan serangan.

Angin terbelah!

Sangda Alin tak lagi mencoba-coba. Ia langsung mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya.

Wantra Santra beberapa kali menghindarinya dengan melempar tubuhnya jauh ke belakang Gerakannya tampak lambat sehingga tubuhnya seketika teriihat begitu ringan. Sangda Alin yang berusaha mengejarnya sama sekali tak bisa mengikuti gerakannya. Pedangnya kembali hanya menebas angin.

Wantra Santra kembali melanjutkan gerakannya. Tiba-tiba saja tanpa tumpuan apa pun, ia sudah kembali melayang ke atas menghampiri dua bola bajanya yang masih saja mengambang dan terus berputar-putar. Lalu, dengan sebuah sentakan, segera dilemparkan keduanya kepada Sangda Alin.

Sangda Alin yang tengah kembali melakukan serangan, memutar tubuhnya bagai gasing. Ia tampak cukup terkejut menerima lemparan bola baja yang mengarah ke kepalanya.

Wuuush .... Wuuush ....

Sebuah bola dapat segera dihindari, tetapi ini membuat posisinya tak lagi stabil. Bola kedua yang menyusul, seakan telah membaca gerak tubuhnya hingga langsung begitu saja mengarah kepadanya. Ini tentu saja membuat Sangda Alin tak punya pilihan lain selain menahan dengan pedangnya....

Wuuush TRAAAK!

Akibat benturan itu, pedang di tangan Sangda Alin pun patah seketika. Tak hanya sampai di situ, bola baja yang mematahkan pedang itu masih terus meluncur dengan cepat dan segera saja menghantam dada Sangda Alin tanpa bisa dihindari lagi.

"Aaaarrrrhh Sangda Alin terhempas. Tubuhnya langsung jatuh terjajar di tanah.

Darah segar seketika mengucur dari mulut Sangda Alin. Ia berupaya bangkit dengan menyeka darah itu dengan punggung tangannya, tetapi sakit di dadanya membuatnya kembali terjatuh.

Wantra Santra melangkah ke arahnya dengan langkah perlahan. "Kau membuang-buang energimu bila ingin membalas dendam kepadaku!" ujarnya dingin.

Sangda Alin kembali berusaha bangkit, "Aku harus tetap membunuhmu! Kau... kau yang sudah menghasut kera-jaan ...

untuk menyerang Muara Jambi. "

Mata tajam Wantra Santra sedikit meredup. "Apa kau bilang? Aku menghasut?" suaranya tampak tak percaya.

"Ayahmu jelas sekali berniat memberontak pada Kedatuan Telaga Batu. Aku tentu saja harus menggagalkannya!"

Sangda Alin menggeretakkan giginya, "Kurang ajar!" Lalu, ia sudah kembali meluncur ke depan dengan sisa pedangnya yang telah patah.

Dengan mudah Wantra Santra dapat menghindarinya. Ditepisnya gerakan Sangda Alin hingga membuat dirinya seakan terkunci di tangannya. "Gadis bodoh," dengusnya. "Agar kau tahu, aku memang menjalankan perintah untuk menghukum ayahmu. Namunaku berusaha menyelamatkanmu. Saat kau jatuh ke dalam jurang itu, aku berusaha menyelamatkanmu. Aku bisa saja menyuruh para prajuritku mencari dirimu. Namun, itu tak kulakukan. Ini semua kulakukan demi menghargai pertemananku dengan ayahmu yang dulu pernah terjalin. Aku ingin ada satu keturunannya yang terus hidup. Maka itulah, setelah semua" tenang, aku turun ke jurang seorang diri. Namun, ternyata seorang petapa sudah lebih dahulu menyelamatkan dirimu "

Sangda Alin berteriak, "Ayahanda tak bersalah!" "Bagaimana mungkin tak bersalah, ia sudah mempersiapkan pemberontakan ini sejak bertahun-tahun lalu!"

Sangda Alin tak menggubris ucapan itu. Walau saat mencari informasi tentang pembunuhan keluarganya, ia memang telah mendengar tentang upaya pemberontakan ayahandanya, yang sampai menyebabkan salah satu sambau Sriwijaya hancur, tetapi ia tak pernah benar-benar yakin bila itu adalah rencana ayahandanya. Sejak dulu ia telah banyak melihat kesetiaan ayahnya terhadap Sriwijaya. Jadi, sungguh tak mungkin bila tiba-tiba ayahandanya memutuskan untuk memberontak. Pastilah ada yang mencoba memfitnahnya atau memaksanya hingga melakukan perbuatan ini. Dan, sosok yang paling mungkin melakukan itu adalah lelaki yang berdiri di depannya ini!

Ya, Sangda Alin memang terus berpikir seperti itu.

Kemarahan ayahandanya dahulu di hari kehadiran Wantra Santra dianggapnya sebagai masalah pribadi yang bisa jadi menjadi pemercik permasalahan ini. Terlebih, ia merasa semua hukuman itu berlebihan. Seandainya memang ayahandanya benar-benar mencoba memberontak sekali pun, ia merasa pembantaian seluruh keluarganya beserta seluruh orang di Panggrang Muara Gunung benar-benar terasa di luar kebiasaan yang ada. Maka, Sangda Alin sudah kembali memutar tangannya, mencoba melepaskan diri dari kuncian Wantra Santra. Walau akhirnya ia bisa melepaskannya, tetapi Wantra Santra malah semakin menekan tubuhnya. Sangda Alin pun tak habis akal, ia segera saja mengayunkan pedangnya yang telah patah, yang ada di tangan yang lain.

Wantra Santra menyadari serangan berbahaya itu. Ia pun mengangkat tangan kirinya ke atas. Sejenak Sangda Alin sama sekali tak tahu apa yang dilakukan lawannya, tetapi secara mengejutkan dari tiga penjuru, tiga buah bola baja yang sedari tadi entah ke mana tiba-tiba sudah kembali menderu, mengarah kepadanya.

Sangda Alin menyentak tubuhnya dan segera melakukan putaran untuk menghindari serangan ini. Ia bisa menghindari ketiga bola baja itu, tetapi ini membuat pertahanannya menjadi rentan. Hingga sebuah sentakan pelan saja dari Wantra Santra mengenai dadanya dan membuat tubuhnya yang telah terluka sebelumnya terpelanting jatuh.

Jelas terlihat bila Wantra Santra telah berada di atas angin. Ia kini berjalan mendekati Sangda Alin dengan tiga bola baja yang terus berputar-putar mengelilingi tubuhnya.

Di saat itulah tiba-tiba angin terasa menderu mengejutkan.

Dua buah kilatan pedang muncul di langit, bergerak cepat, menahan langkah Wantra Santra.

Sosok Tunggasamudra tiba-tiba sudah berdiri di antara keduanya.

"Kau, tak apa-apa, Sangda?" sekilas ia melirik Sangda Alin yang masih terduduk di tanah.

"Ia ... ia akan ... membunuhku ujar Sangda Alin sambil menunjuk Wantra Santra.

Tanpa perlu diucapkan pun Tunggasamudra sebenarnya telah tahu apa yang terjadi. Sebelum melompat tadi, ia sempat melihat tiga bola baja menyerang Sangda Alin. Bersamaan dengan itu, Magra Sekta tiba-tiba muncul dari rerim-bunan pohon. Beberapa waktu yang lalu, sesaat setelah Tunggasamudra mendapati dirinya di atas bubungan atap, ia memang memberi tahu Tunggasamudra tentang keberadaan Sangda Alin. Saat itu juga keduanya segera bergerak cepat untuk menyusulnya.

"Bawa ia pergi!" ujar Tunggasamudra kepada Magra Sekta.

Wantra Santra tak berusaha menahan. Dibiarkannya Magra Sekta membopong tubuh Sangda Alin dan bergerak menjauh. Ia hanya melirik Tunggasamudra dengan tatapan dingin. "Anak muda," ujarnya, "kau melakukan kesalahan besar.

Perempuan itu jelas telah membunuh anak buahku "

"Biarkan nanti pihak Kedatuan yang menilai ia bersalah atau tidak!" ujar Tunggasamudra.

Wantra Santra hanya menggelengkan kepalanya dengan gerakan pelan, "Tampaknya kau tidak menyadari sedang

berhadapan dengan siapa

Dan, seusai ucapan itu, angin malam yang biasanya senyap, tiba-tiba kembali terasa memuncak, seiring memusatnya energi di tubuh Wantra Santra dan Tunggasamudra. Bersamaan dengan bulan yang memilih bersembunyi di selimut malam, angin terus berembus ke arah keduanya dan bergulung-gulung membuat topan-topan kecil di beberapa titik.

Kedua tubuh itu berdiri saling pandang. Wantra Santra telah tahu siapa yang dihadapinya kini. Ia sudah mengawasi Tunggasamudra sejak ia terpilih menjadi pandaya. Segala informasi tentang Tunggasamudra telah ada di tangannya. Ia bahkan juga bisa mengira-ngira kehebatan lelaki muda ini.

Namun, lepas dari itu semua Tunggasamudra tetaplah merupakan sosok baru di Kerajaan Sriwijaya. Inilah yang membuat Wantra Santra merasa begitu diremehkan. Seorang pandaya tetaplah harus memiliki sopan santun terhadap petinggi yang telah lebih lama mengabdi!

Maka, Wantra Santra pun segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tiga bola baja yang tadi terus berputar di sekitarnya perlahan mendekat pada tangannya.

Tunggasamudra memperhatikan itu dengan saksama. Dengan melihat itu saja, ia sudah bisa mengukur kekuatan tenaga dalam yang ada pada sosok berjubah di depannya ini.

Lalu, dengan sebuah gerakan tak terduga, Wantra Santra sudah melayangkan tangannya, membuat tiga bola baja itu meluncur ke arah Tunggasamudra.

Wush ...

Wuush ....

Wuuush ....

Tunggasamudra melompat dengan gerakan ringan. Namun, ketiga bola itu kembali berbelok ke arahnya, menderu, dan terus mengejar dirinya. Dengan gerakan memutar, Tunggasamudra kembali membuang tubuhnya ke belakang.

Kali ini ia tak menyelesaikan gerakannya, dengan tak terduga, ia sudah berputar berbalik, dan langsung melakukan serangan ke arah Wantra Santra.

HIAAATH!

Wantra Santra cukup terkejut dengan serangan ini. Ia segera melompat ke kiri sambil mengangkat kedua tangannya, mencoba mengumpulkan kembali ketiga bola bajanya.

Akan tetapi, Tunggasamudra tak memberi kesempatan lagi.

Dengan gerakan menukik, ia sudah kembali mencoba melakukan serangan. Saat ini, Tunggasamudra memang langsung mengeluarkan jurus Pedang Membelah Gunung. Ia sadar sekali bila kehebatan jurus-jurus Wantra Santra sama sekali tak bisa dihadapinya dengan jurus-jurus biasa. Melihat gerakan-gerakan mistis yang terasa aneh ini, tentu saja membuat Wantra Santra terkejut. Ia tak menyangka pemuda kemarin sore yang sebenarnya hanya hendak diberi pelajaran ini bisa melakukan serangan beruntun seperti ini, dengan energi yang begitu besar.

Mau tak mau, Wantra Santra segera membuang tubuhnya ke kiri. Tiga bola bajanya segera mengikuti tubuhnya, membuat serangan kepada Tunggasamudra yang tengah menukik.

Wuush ... wuuush ....

Tunggasamudra mengelak dengan cepat.

Pertarungan benar-benar berlangsung dengan seru. Mereka tak menyadari bila beberapa pasang mata telah mengamati gerakan mereka dari jauh ....

-ooo0dw0ooo-

Semakin jauh dari pertarungan itu, Magra Sekta masih membopong tubuh Sangda Alin di punggungnya. Sejak tadi ia terus berlari, menjauh ke arah barat tanpa henti. Dimasukinya hutan bambu yang semakin lebat.

Ia tak tahu apa yang terjadi di belakangnya. Semula ia hanya mendengar suara pertarungan dahsyat. Namun, lama kelamaan suara itu hilang juga dari telinganya. Ia terus berlari dan berlari, membawa tubuh Sangda Alin jauh-jauh ....

"Lepaskan aku, Magra!" Agiriya yang sejak tadi seperti tak sadarkan diri mencoba melepaskan dirinya.

Magra Sekta menghentikan langkahnya, "Kita harus pergi jauh-jauh, Agiriya!"

"Aku ingin berhenti!" ujar Sangda Alin berusaha keras.

Sekilas di bawah sinar bulan, baru dilihatnya darah yang mengucur dari mulutnya telah membasahi pundak Magra Sekta dan terus menetes hingga ke kaki Magra Sekta!

Magra Sekta tak lagi berusaha membantah permintaan itu.

Ia segera menurunkan tubuh Sangda Alin di bawah sebuah pohon rindang.

Sangda Alin segera mengambil posisi bersila. Awalnya ia hanya duduk diam mencoba memusatkan energinya. Magra Sekta hanya bisa memperhatikan tanpa berusaha menyela. Saat itulah di antara kegelapan yang ada, ia melihat bekas tetesan darah di sekitar bibir Sangda Alin. Tanpa banyak bicara ia segera menyobek kain celananya, lalu dengan gerakan ragu, mulai dibersihkannya darah yang sebagian telah mengering di bibir hingga leher Sangda Alin ....

Sangda Alin sama sekali tak bereaksi. Konsentrasinya telah mencapai puncaknya. Perlahan-lahan hawa hangat mulai berkumpul di sekitar tubuhnya, membuat kekuatannya yang semula seakan hilang kembali muncul.

Dan, tak berapa lama kemudian, Sangda Alin pun mulai membuka mata.

"Aku harus kembali!" ujarnya, berusaha bangkit.

Akan tetapi, Magra Sekta segera menahannya. 'Jangan!

Jangan kembali ke sana, Agiriya!"

Akan tetapi, Sangda Alin tetap mencoba bangkit dengan tenaganya yang tersisa, "Aku tidak kembali ke hutan itu. Aku

... akan ke Muara Jambi

Magra Sekta semakin terkejut. Ia tetap menahan tangan Sangda Alin, "Jangan, jangan pernah kembali lagi ke sana! Kumohon, Agiriya "

Sangda Alin menoleh, "Mengapa tidak? Aku ini seorang pandaya. Mereka pasti akan mendengarkanku "

Magra Sekta tetap menarik tangan Agiriya. "Lepaskan aku!" Agiriya mencoba memberontak. Namun, Magra Sekta menahannya dengan kuat.

"Dengar, Agiriya!" seru Magra Sekta. "Kalau kau kembali lagi ke sana, mereka akan ... membunuhmu. Mereka telah tahu apa yang sudah kaulakukan terhadap Kelompok

Wangseya. Terlebih lagi, mereka telah tahu siapa dirimu sebenarnya

Sangda Alin tertegun. Suara Magra Sekta terasa begitu kuat. Tak pernah selama ini lelaki di depannya ini berucap dengan nada setegas ini.

Sangda Alin hanya bisa menatapnya dengan tak percaya. "Kumohon, turuti kata-kataku kali ini saja ujar Magra Sekta

lagi dengan nada suara lebih halus. "Jangan pernah kembali

lagi ke sana. Karena ... akan ada sesuatu yang terjadi kepadamu..."

Sangda Alin hanya tersenyum tipis, "Kau berlebihan, Magra!

Ucapanmu seakan-akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi

Akan tetapi, tatapan Magra Sekta kemudian menusuk kedua mata Sangda Alin.

"Aku ... memanglah... mengetahuinya, Agiriya," desisnya sembari secara mengejutkan memegang kedua sisi kepala Sangda Alin dengan dua telapak tangannya hingga membuat matanya dengan tajam dapat menatap mata Sangda Alin lurus-lurus.

"Ya, aku memang benar-benar tahu," desis Magra Sekta lagi. "Karena, kedua matamu ... kedua matamu telah melukiskan semuanya pada mataku

-ooo0dw0ooo-