-->

Pandaya Sriwijaya Bab 31 : Pembunuhan Kelompok Wangseya

Bab 31 : Pembunuhan Kelompok Wangseya

Empat orang anak kecil tengah berlarian dengan riang gembira. Yang satu tengah berlari membawa seekor burung merpati dan yang tiga lainnya terus berlari di belakangnya.

"Sudah, di sini saja!" seorang bocah berteriak.

"Ini kurang jauh!" ujar bocah yang memegang merpati. Ia kemudian melanjutkan larinya, membawa teman-temannya hingga sampai jauh ke atas bukit.

"Di sini saja!" ujar bocah yang sejak tadi meminta berhenti. "Kita tak lagi bisa keluar!"

Kali ini bocah yang memegang merpati itu mengangguk, "Baiklah, kita lepaskan saja di sini!"

Lalu, diiringi tatapan ketiga temannya, ia segera melepas merpati itu. Sejenak burung kedi itu membubung tinggi ke angkasa sebelum akhirnya mengepakkan sayapnya terbang ke arah asalnya tadi. Hanya beberapa kejapan mata, kepakan sayapnya pun telah membawanya semakin jauh dan tak teriihat.... "Ia akan tetap kembali ke kandangnya, bukan?" seorang bocah bertanya sambil memandang kejauhan.

"Ya, tentu saja!" ujar bocah yang tadi memegang merpati, "Kita sudah mengurungnya lebih dari satu purnama, aku yakin ia pasti kembali."

Bocah yang lain hanya tersenyum senang, "Asyik kalau begitu. Nanti kalau sudah kembali, kita bisa menjualnya dengan harga tinggi."

Keempat bocah itu tersenyum senang Pada masa itu, merpati-merpati terlatih memanglah akan dibeli dengan tinggi oleh berbagai pihak, terutama oleh pihak kedatuan. Terlebih di akhir-akhir purnama ini, sepertinya pihak kera-jaan begitu mencari merpati-merpati terlatih.

Bocah-bocah yang segera berlari meninggalkan bukit itu tak menyadari bila merpati-merpati mereka nantinya akan digunakan sebagai pengirim pesan bagi Minanga Tamwa, terutama pesan-pesan peperangan!

Ya, tanpa ada yang memperhatikannya, Minanga Tamwa memang telah bergerak cukup lama. Tanah itu awalnya merupakan daerah yang cukup terbuka. Batanghari melintasi tanah itu. Di bagian utara, daerahnya begitu terbuka. Hanya sedikit bukit yang memagarinya. Maka itulah sejak dulu, telah dibangun benteng panjang yang melingkari tanah itu. Ini dimaksudkan untuk menghindari penyerangan dari sisa-sisa Kerajaan Malaya yang dulu banyak berlari ke arah utara.

Kini, seperti sebuah magnet, pasukan Sriwijaya mulai mendekati Minanga Tamwa. Keberhasilan Pasukan Bhumi menyeberangi Batanghari secara langsung mengukuhkan penguasaan Batanghari di selatan Minanga Tamwa.

Penguasaan inilah yang membuat Pasukan Bhumi dapat terus me-rangsek ke utara hingga dapat berada di sebelah barat Minanga Tamwa, tanpa sedikit pun perlawanan. Di samping itu, kedatangan pasukan rahasia Wangseya juga menambah kekuatan di sisi timur. Setelah beberapa hari sebelumnya mereka datang di Datu Muara Jambi, dengan jumlah hampir empat.ratus orang, kini hanya butuh satu hari saja pasukan berpakaian hitam itu bergerak ke timur.

Beberapa purnama lalu, saat kembali merebut Datu Muara Jambi dari penguasaan Dapunta Ih Yatra, pasukan

Wangseya memang banyak yang letap berada di Datu M nara Jambi untuk menunggu perintah selanjutnya. Maka itulah, Wantra Santra dapat dengan mudah mengumpulkan seluruh pasukannya untuk melanjutkan gerakannya.

Pasukan Wantra Santra memang telah disiapkan untuk menguasai wilayah timur di sebelah Minanga Tamwa. Nanti bila Pasukan Bhumi di bawah pimpinan Panglima Bhumi Cangga Tayu telah berhasil berada di sebelah utara, tinggal armada samudra saja yang bergerak ke arah selatan, di mana pelabuhan Minanga Tamwa berada. Itu sama artinya Benteng Minanga Tamwa telah dikepung di empat penjuru.

Dan, bila sudah demikian, barulah penyerangan dapat dilakukan dari semua sisi!

-ooo0dw0ooo-

Bulan tampak murung. Awan hitam masih menyelimuti seluruh tubuhnya, seperti seorang bayi yang hendak terlelap.

Ini baru hari keempat sejak kepergian pasukan Kelompok Rahasia Wangseya meninggalkan Datu Muara Jambi. Kini di tengah perjalanan mereka menuju wilayah timur Minanga Tamwa, mereka membuat sebuah tempat peristirahatan di pinggir sebuah dusun tak bernama yang ada di barat Muara Jambi. Ini merupakan sebuah tanah yang hanya terdiri dari beberapa rumah saja, tepat di pinggir sebuah hutan bambu yang cukup lebat. Di situ entah mengapa, langit terasa lebih pendek. Pohon-pohon bambu besar dapat ditemui bagai kaki- kaki raksasa yang menapak bumi.

Di celah-celah batang-batang bambu seperti itulah, sebuah bayangan melesat secepat kilat. Malam kemarin, bayangan itu juga muncul melompat di antara bambu-bambu itu. Dan, yang terjadi setelahnya adalah Mu Sungka, salah satu dari tiga tangan kanan Wantra Santra ditemukan mati dengan dada tertembus sebuah pedang.

Maka itulah malam ini, Basa Kante dan Kung Mudra, dua kaki tangan yang tersisa, masih terus memperbincangkan dan menduga-duga kejadian kemarin.

"Kemungkinannya hanya satu," ujar Basa Kante.

Kung Mudra mengangguk setuju. "Siapa lagi kalau bukan Minanga Tamwa," tambahnya. "Aku sudah mendengar merekajuga telah membangun sebuah pasukan rahasia. Dan, panglima mereka, Tambu Karen, yang memimpinnya secara langsung."

"Huh, semua dipegangnya sendiri. Apa ia tak merasa kesulitan?" Basa Kante meludah. "Coba perhatikan, ia memegang sendiri hampir semua pimpinan di Minanga Tamwa. Ia menjadi dapunta, memegang tampuk pimpinan perang, dan sekarang ini... memegang pasukan rahasia?

Benar-benar orang yang rakus!"

Kung Mudra menggeleng tak setuju, "Mungkin saja ia rakus, tetapi kupikir bisa jadi ia merupakan orang yang terlalu percaya pada kemampuannya sendiri atau... tak bisa percaya kepada orang lain!"

"Itu artinya tambah Basa Kante, "ia sama sekali tak menemukan orang-orang hebat di Minanga Tamwa!"

Keduanya langsung tergelak. Mereka tak menyadari bila seseorang berpakaian serbahitam, terus mengintai mereka dari balik puncak-puncak pohon bambu. Sampai lama ia mengamati kedua tubuh itu hingga keduanya selesai berbincang dan memutuskan untuk beristirahat.

Saat itulah, Basa Kante tampak memisahkan diri dari yang lainnya. Ia baru saja hendak masuk ke tendanya ketika ia merasakan bayang-bayang berkelebat di dekatnya. Secara refleks, Basa Kante pun langsung melompat mengikuti bayangan tubuh itu.

Sesaat di bawah bayangan batang-batang bambu itu, tak bisa dihindari lagi terjadi kejar-kejaran dua sosok tubuh yang menguasai ilmu meringankan tubuh dengan baik. Beberapa kali Basa Kante bahkan sempat melemparkan senjata rahasianya. Namun, itu selalu bisa dielakkan oleh sosok berpakaian hitam itu.'

Hingga sampai di tempat yang agak jauh, barulah §osok itu berhenti.

"Siapa kau?" Basa Kante membentak sambil melayang mendekati.

Akan tetapi, sosok berpakaian hitam itu menjawabnya dengan gerakan pedangnya yang menusuk ke arah jantung. Wuuush ....

Basa Kante menghindar cepat. Kakinya bergerak ringan membuat langkah lebar. Lalu, dengan satu tumpuan, ia segera memutar tubuhnya seakan gasing dan berbalik mencabut pedangnya untuk menahan serangan.

TRANG! TRAANG! TRAAANG!

Hanya beberapa jurus saja, Basa Kante tampak sedikit kewalahan. Ia beberapa kali bergerak menghindar. Namun, si penyerang sama sekali tak menyia-siakan waktunya. Ia terus mengejar tubuh Basa Kante ke mana pun ia pergi, seakan ingin membunuhnya secepat mungkin!

Maka, ketika ada sebuah kesempatan baik, sebuah tusukan mematikan segera dilancarkan sosok berpakaian hitam itu. Kali ini Basa Kante tak lagi bisa menghindar dengan sempurna. Pedang itu begitu saja menghunjam di dadanya ....

Basa Kante hanya bisa meringis kesakitan untuk menjemput ajalnya!

Dan, sebelum tubuh itu benar-benar tergeletak, sosok berpakaian hitam itu segera melompat ke atas, dan berkelebat di celah-celah bayangan pohon-pohon bambu. Seekor kuda ternyata sudah menantinya di balik semak-semak tak jauh dari tempat pertarungan tadi. Segera dinaiki dan disentaknya kuda itu untuk membawanya pergi cepat-cepat ke arah timur ....

-ooo0dw0ooo-

"Dari mana saja kau, Sangda?"

Suara itu membuat Sangda Alin menghentikan langkahnya.

Ia berpaling dengan gerakan tak biasa dan mendapati Tunggasamudra tengah berdiri di ambang biliknya.

"Eh," sesaat ia tampak mencari kata-kata. "Aku hanya mencari angin," jawabnya.

Tunggasamudra mendekat, "Mencari angin sampai menjelang dini hari?" kerutan di kening Tunggasamudra terlihat. "Dalam dua hari ini aku tahu kau keluar begitu

lama "

Sangda Alin tersenyum di balik cadarnya, "Ngtentunya ada sesuatu yang aku lakukan," ujarnya. "Namun, tentu saja itu bukan urusanmu."

Lalu, tanpa menunggu reaksi Tunggasamudra, Sangda Alin segera masuk ke dalam biliknya dan menutup pintunya rapat- rapat. Sesaat ia hanya terdiam di balik pintunya, seakan masih merasakan tatapan Tunggasamudra tembus di pintu kayunya.

Akan tetapi, setelah merasa lebih tenang, cepat-cepat Sangda Alin meletakkan pedangnya dan mulai membuka baju hitamnya yang ada di balik bajunya. Ia melakukan dengan gerakan cepat seakan-akan masih merasakan seseorang memperhatikannya. Setelah itu disembunyikan baju hitam itu di bawah pembaringannya.

Sambil duduk di tepi pembaringannya, Sangda Alin kemudian memutuskan untuk membersihkan pedangnya untuk membuang waktu. Di tengah-tengah kesibukannya mengelap pedangnya dengan kainnya yang wangi itulah suara langkah-langkah ringan tiba-tiba terasa di atas atap ruangannya. Secara refleks tangannya segera mengambil cadarnya. Lalu, ia keluar dengan cepat.

Sesosok tubuh tampak terlihat di atas atap biliknya.

Dengan gerakan ringan ia melayang ke arah itu. Namun, sosok di atas atap itu segera melompat menjauh dengan gerakan ringan dan segera berlari ke dalam hutan ....

Sangda Alin mencoba terus mengikutinya. Namun, ketika ia akhirnya memasuki hutan, ia tak perlu lagi mengejar sosok itu.

Kini sosok yang dikejarnya telah berdiri menunggunya. "Aku tahu apa yang kaulakukan dua malam ini, Agiri-ya,"

sambil berpaling ke arah Sangda Alin, sosok itu langsung

menyambutnya dengan kata-kata itu.

"Magra Sekta?" desis Sangda Alin tak percaya. "Kau ...

menguntit aku?"

"Ya, aku mengikuti dirimu hingga kemari."

Sangda Alin mendekat sambil berkacak pinggang, "Kau tak berhak melakukan itu!"

"Aku tahu," ujar Magra Sekta tampak tak bersalah.

Melihat itu, Sangda Alin hanya bisa mendengus dengan kesal. Magra Sekta kemudian sudah melangkah mendekatinya. "Apa engkau benar-benar akan membunuh orang-orang Wangseya itu?" tanyanya.

Sangda Alin terkejut. Wajahnya pias mendengar ucapan itu.

Namun, cepat ia menguasai dirinya.

"Ya, aku memang berniat membunuh mereka," ujarnya keras, sama sekali tak berusaha menghindar. "Mereka... pantas mendapat itu!"

Ya, dalam malam-malam belakangan ini, Sangda Alin memang sudah memutuskan semuanya masak-masak. Terutama ketika pasukan Wangseya itu datang ke Kedatuan Muara Jambi. Ia telah berpikir bahwa inilah waktu yang tepat untuk mulai membunuh mereka, terutama ketiga orang kaki tangan Wantra Santra!

Selama ini ia terus meyakini bahwa Kelompok Rahasia Wangseya-lah yang telah salah memberikan informasi pada Kedatuan Sriwijaya di Telaga Batu hingga membuat ayah dan delapan belas saudaranya terpaksa dibunuh. Maka itulah, ia kemudian memutuskan untuk membunuh orangorang penting di Kelompok Rahasia Wangseya. Karena merekalah yang dianggapnya memiliki andil besar terhadap pembunuhan itu, terutama pemimpinnya, Wantra Santra.

Akan tetapi, tentu saja ia menyadari bahwa untuk membunuh Wantra Santra bukanlah perkara mudah. Walau kelak ia yakin akan tetap melakukannya, tetapi sekarang yang terlebih dulu dapat dikerjakannya adalah membunuh para kaki tangannya. Maka itulah, dalam dua malam ini, Sangda Alin bergerak cepat. Ia harus membunuh tiga orang kaki tangan Wantra Santra secepat mungkin, sebelum Kelompok Rahasia Wangseya bergerak semakin jauh ke Minanga Tamwa.

Magra Sekta semakin mendekati Sangda Alin. "Agiriya," panggilnya pelan. Sangda Alin menoleh. Walau wajahnya masih tampak kesal, tetapi ekspresinya telah melunak. Entah mengapa ia menyukai namanya disebut, terutama dengan nada suara seperti yang diucapkan Magra Sekta. Sepertinya ini sudah begitu lama.

Sekian lama ia menutupi jati dirinya, rasanya tenang bila ada seorang yang tetap menganggapnya seperti dirinya dahulu ....

Tengah berpikir demikian, tiba-tiba secara mengejutkan, Magra Sekta memegang tangannya. Tentu saja Sangda Alin terkejut. Ia segera hendak menepis genggaman itu, tetapi suara Magra Sekta telah membuat niatnya urung

"Kumohon ikudah bersamaku," ujar lelaki itu.

Sangda Alin hanya bisa terpaku. Entah mengapa ia tak lagi mencoba menepis. Ucapan lelaki di depannya yang terasa begitu bergetar, nyaris tak terdengar, sungguh, membuat perasaannya begitu nyaman.

Akan tetapi, itu hanya sesaat saja. Ketika ia menyadari kediamannya, Sangda Alin segera menepis tangan Magra Sekta dengan kasar.

"Mengapa aku harus ikut denganmu, Magra?" ujarnya dengan nada ketus. "Kau bukan siapa-siapaku!"

Magra Sekta kembali menarik tangan Sangda Alin, "Aku ingin engkau melupakan dendammu

Sangda Alin kembali berusaha menepis tangan itu. Namun, pegangan Magra Sekta kali ini terasa begitu kuat. Rontaannya malah membuat tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Magra Sekta.

"Bersamaku akan kubantu engkau melupakan dendam

itu ujar Magra Sekta lagi.

Akan tetapi, Sangda Alin seakan tak mendengarnya. Terus dicobanya untuk melepaskan pegangan itu. Namun, ia tak mampu. Magra Sekta telah begitu kuat memegang tangannya atau ia yang tak berusaha sekuat mungkin? Sangda Alin pun memilih menghentikan usahanya. Namun, yang terjadi kemudian adalah Magra Sekta tiba-tiba menarik dirinya hingga tubuhnya menjadi begitu dekat dengan tubuh lelaki itu, seakan-akan keduanya berpelukan.

Sungguh, kejutan itu membuat Sangda Alin hanya bisa terdiam. Lelaki yang dulu selalu diperolok oleh teman- temannya, lelaki yang selalu tampak ketakutan, lelaki yang pernah disebutnya sebagai pengecut, telah berani melakukan ini kepadanya?

Sungguh, Sangda Alin seharusnya marah terhadap lelaki ini. Namun, entah mengapa sisi batinnya yang lain menolak kemarahan itu. Tak bisa dimungkirinya bahwa, seperti hari- hari lalu, ia merasa begitu nyaman berdekatan dengan lelaki ini.

Ya, sejak pegangan tangannya dulu di sepanjang hutan itu Ajakannya menuju padang rumput yang dihuni ribuan

kupu-kupu dan ekspresi wajahnya saat akan menggapainya

ketika ia terjatuh di jurang itu Sungguh, semuanya masih

terus kerap dikenangnya....

Aku aku pernah melihatmu berjalan dikelilingi kupu-kupu

di tamanyang ada di belakang Panggrang Muara Gunung. Saat itu, kau ... kau tampak begitu senang....

Sangda Alin masih terdiam beberapa saat. Menekuri kata demi kata dan bayangan demi bayangan, kenangan-kenangan yang terjadi sebelumnya. Namun, itu tak lama. Tiba-tiba saja, tanpa apa pun yang terjadi lagi, bayangan sosok Dapunta Cahyadawasuna sudah menyeruak di angannya, mengaburkan kenangan-kenangan itu menjadi bayangan-bayangan kosong yang tak berisi apa pun. Dan, seiring itu, gema-gema suara yang semula terdengar pun kemudian seakan berganti....

Baru kusadari bila aku ternyata begitu terpesona olehmu

.... Aku ingin bila tiba waktunya nanti, engkau mau menjadi

pen-dampingku .... Dengan sebuah sentakan keras, Sangda Alin tiba-tiba melepaskan genggaman tangan Magra Sekta. Dengan gerakan perlahan, ia kemudian mundur beberapa langkah.

"Pergilah kau, Magra!" ujarnya tanpa menatap wajah Magra Sekta. 'Aku... aku tak akan pernah pergi bersamamu

Kemudian dengan gerakan cepat, ia sudah melompat tinggi dan hilang di tengah gelapnya malam. Meninggalkan Magra Sekta yang masih berdiri dalam hening  

-ooo0dw0ooo-

Wantra Santra menatap dengan tajam tubuh salah satu kaki tangannya yang tergeletak tak bernyawa di depannya. Ini sama seperti kejadian kemarin. Waktunya pun hampir sama, bahkan posisi tubuh di depannya pun begitu sama. Seperti sebuah perulangan hidup .... 

"Di mana kau menemukannya?" tanyanya.

Prajuritnya yang berpakaian serbahitam, dengan penutup wajah yang juga hitam itu, membungkuk dalam. "Hamba menemukannya di tempat yang sama seperu kemarin," ujarnya.

"Apa ada yang mencurigakan di sana?" tanya Wantra Santra lagi.

Prajurit itu tampak berpikir, Wantra Santra menunggunya. "Hamba tak yakin," ujarnya tampak ragu. "Namun,

sepertinya waktu pertama kali hamba menemukan tubuh ini, hamba mencium bau... nggg bau harum. Entah dari mana

Kening Wantra Santra berkerut. Cepat ia mendekati tubuh itu, mencoba mencium luka di dada kaki tangannya itu.

Ekspresinya pun tiba-tiba tampak berubah. "Maafkan hamba bila salah," ujar prajuritnya sambil kembali membungkuk.

Wantra Santra berdiri pelan, "Tidak, kau tak salah," ujarnya datar. "Aku juga masih mencium bau wangi yang nyaris hilang

Wantra Santra melangkah menjauh dengan langkah perlahan.

Ah, wangi ini. Apa ini artinya pembunuh anak buahnya ini

adalah seorang perempuan? Ia berpikir dalam. Semula saat salah seorang kaki tangannya ditemukan mati, ia menduga itu dilakukan oleh pasukan rahasia Minanga Tamwa. Namun, dengan adanya kejadian kedua ini, terutama wangi samar yang tercium pada luka korbannya, ia langsung mengabaikan dugaan itu.

Tampaknya seseorang yang mempunyai dendam kepada dirinya atau pada Kelompok Rahasia Wangseya yang telah melakukannya ....

-ooo0dw0ooo-