-->

Pandaya Sriwijaya Bab 29 : Kematian Kara Baday

Bab 29 : Kematian Kara Baday

”Salam sejahtera bagi Sri Maharaja Balaputradewa..” Lelaki berperut gendut itu membungkuk dalam-dalam. Sri

Maharaja Balaputradewa tersenyum lebar. Dengan gerakan tangannya diperintahnya lelaki berperut gendut itu bangkit. "Kabar apa yang kaubawa dari Bhumijawa, Soka-wajra?" tanyanya kemudian.

"Tak banyak kabar yang hamba bawa, Sri Maharaja," ujar lelaki yang dipanggil Sokawajra itu. Ia merupakan seorang panglima dari Bhumijawa, salah satu panglima yang terpilih untuk melindungi seluruh keturunan Wangsa Sailen-dra.

Beberapa waktu sekali, ia memang selalu sengaja datang ke Telaga Batu untuk mengunjungi Sri Maharaja Balaputradewa, yang dulu menjadi junjungannya.

"Keadaan di Bhumijawa kini tampak tenang. Tak ada sesuatu yang bergejolak," ujar Panglima Sokawajra lagi. "Sri MaharajaJatiningrat Rakai Pikatan tampaknya masih merasa sangat bersalah telah mengobarkan perang di Dusun Iwung. Maka itulah, ia kini memilih mengasingkan diri di tanah Wantil dan mendirikan lingga yang sangat indah di sana

Sri Maharaja Balaputradewa tertegun, tetapi belum sempat berucap apa-apa, Panglima Sokawajra kembali melanjutkan ucapannya, "Lingga itu sebenarnya telah disiapkan sejak lama. Bahkan, saat pembangunannya, semua orang memberikan sumbangan

Sri Maharaja Balaputradewa tetap tak bereaksi. Cerita Panglima Sokawajra yang begitu lancar sedikit membuatnya merasa tersindir. Namun, Sri Maharaja Balaputradewa bisa mengerti keadaan ini. Ia telah begitu lama mengenal Panglima Sokawajra dan ia tahu sekali bahwa panglima ini adalah seseorang yang jujur dan berterus terang.

Akan tetapi, lepas dari ucapan itu, Sri Maharaja Balaputradewa kembali teringat pada ucapan Jatiningrat sesaat peperangan keduanya akan terjadi ....

Aku sama sekali tak tertarik dengan takhta itu, Paman....

Aku hanya mencintai Pramodarwadhani ....

"Sekarang tampuk pimpinan ada pada Sri Maharatu Pramodawardhani," lanjut Panglima Sokawajra. "Namun, beberapa tahun lagi pun, Raden Ayu Dyah Lokapala akan menggantikannya

Dengan gerakan pelan, Sri Maharaja Balaputradewa bangkit dan berjalan mendekati Panglima Sokawajra. Namun, matanya menerawang jauh ke depan.

'Jadi, benar ia akan menyepi juga?" gumamnya seakan kepada dirinya sendiri.

Panglima Sokawajra hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.

"Kamulan Bhumisambhara sebentar lagi akan selesai. Kini pembangunannya hanya tinggal beberapa stupa saja," ujarnya. "Kemungkinan besar Sri Maharatu Pramodawardhani akan menepi di situ

Sri Maharaja Balaputradewa mengangguk pelan. Ia ingat dengan Kamulan Bhumishambara, bangunan megah yang telah dibangun jauh sebelum peperangan itu. Itu merupakan bangunan yang mulai dibangun sejak zaman pemerintahan kakaknya, Samaratungga. Saat itu ia ingat sekali kakaknya menunjuk Gunadarma untuk membuat candi dengan lima ratus empat arca Buddha ....

"Ya, aku memang sudah mendengar sejak dulu keinginan Pramodawardhani itu," Sri Maharaja Balaputradewa kembali menerawangkan pandangannya jauh ke depan.

'Jadi keduanya akan benar-benar meninggalkan takhta itu?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

-ooo0dw0ooo-

Setelah kehancuran sambau Kara Baday, Panglima Samudra Jara Sinya, memerintahkan sambau-sambau Sriwijaya lainnya untuk segera kembali ke Pelabuhan Muara Jambi.

Pertemuan segera digelar malam itu juga di Kcdatuan Muara Jambi. Panglima Samudra Jara Sinya dan semua panglima mudanya hadir di pertemuan itu, juga Dapunta Cahyadawasuna, Tunggasamudra, dan Sangda Alin.

Sejenak di tengah keheningan sebelum pertemuan ini dimulai, masih terbayang di benak semua yang hadir ketika sambau Kara Baday yang terbakar akhirnya benar-benar hancur dan tenggelam ....

"Ini berat buat kita semua," Panglima Samudra Jara Sinya memulai ucapannya sambil menyapukan pandangan kepada semua yang hadir. "Kau memang sengaja mengumpankan sambau itu untuk mengukur kekuatan lawan," suara Tunggasamudra tiba-tiba terdengar tegas. Posisi duduknya yang ada di belakang Dapunta Cahyadawasuna langsung menarik perhatian seluruh mata ke arahnya.

Luwantrasima, putra pertama Panglima Samudra Jara Sinya, langsung berdiri dan menunjuk Tunggasamudra, "Hai, jangan lancang kau!"

Dalam aturan pertemuan yang telah ada sejak turun- temurun, memang tak sembarang orang bisa bicara di pertemuan ini. Apalagi langsung bicara tanpa meminta izin terlebih dahulu, seperti yang dilakukan Tunggasamudra!

Akan tetapi, Panglima SamudraJara Sinya segera memberi tanda kepada anaknya untuk mundur. Dipandanginya Tunggasamudra yang juga balas menatapnya tanpa rasa takut. Ia telah tahu kehebatan pandaya yang kini selalu mengikuti Dapunta Cahyadawasuna ini, tetapi selama ini, tak ada yang berani bicara langsung kepadanya seperti ini, selain Panglima Bhumi Cangga Tayu, Wantra Santra, dan Pu Chra Dayana. Maka dari itulah, di samping kemarahan itu, diam- diam ia merasa kagum juga dengan keberanian Tunggasamudra.

"Kau jangan salah sangka, Anak Muda," ujarnya dengan nada pelan. "Aku sendiri tak menyangka kekuatan musuh seperti itu. Gelondongan kayu-kayu itu akan menjebak sambau-sambau kita bila kita nekat melaluinya. Apalagi aku ... juga belum pernah melihat api-api di ujung pelontar panah.

Sungguh, bila aku meneruskan serangan itu, tentu saja akan lebih banyak korban lagi. "

"Kau bisa menyuruhnya mundur!" bantah Tunggasamudra lagi.

"Tidak, tidak," ujar Panglima Samudra sambil menggeleng kepalanya, "Sungai terlalu sempit untuk sambau itu berbelok Tunggasamudra terdiam.

"Kara Baday adalah pemuda pemberani," ujar Panglima Samudra Jara Sinya lagi. "Terlepas aku mengenal baik ayahnya, aku ... menyukai dirinya. Dan, aku sama sekali tak berniat mengorbankannya "

Ia kembali menatap dalam-dalam kepada Tunggasamudra, "Namunterkadang keputusan seperti inilah yang memang harus diambil

Panglima Samudra Jara Sinya menarik napas panjang, "Maka itulah, malam ini kuminta kalian semua datang di sini. Aku ingin kita semua memikirkan rencana baru untuk membalas ini. Mungkin semuanya akan menjadi lebih mudah karena beberapa hari lagi, pasukan Panglima Bhumi Cangga Tayu sudah ada di selatan Minanga Tamwa

-ooo0dw0ooo-

Dan, malam ini seusai pertemuan itu, semuanya beristirahat di Kedatuan Muara Jambi.

Kedatuan Muara Jambi sangatlah luas, hampir tak kalah dari kedatuan di Telaga Batu. Di belakang kedatuan, terdapat rumah besar bagi dapunta yang menjadi datu di sini. Di situlah puluhan kamar berderet panjang bagi para tamu dan prajurit.

Akan tetapi, tak ada seorang pun yang tahu bila berada di lingkungan Datu Muara Jambi ini seakan mengoyak-ngoyak kenangan Sangda Alin!

Sedari tadi ia berusaha tegar, mencoba tampak tak bereaksi. Namun, hatinya selalu ingin menangis. Ia masih hafal semua sudut di kedatuan ini. Dari awal ketika ia menjejakkan kaki di gerbang ini, ia seperti telah terluka. Ia hafal jumlah anak tangga di gerbang masuk kedatuan-nya. Anak tangga itulah yang dulu, ketika ia masih kanak-kanak, kerap menjadi ajang berlomba dengan saudara-saudaranya yang lain, terutama dengan Katra Wiren dan Jungga Dayo. Mereka akan selalu mencoba menghitung bersama-sama jumlah anak tangga itu. Dan, jumlahnya selalu saja berbeda setiap harinya, 47, 48, 49, 50, bahkan 51. Tak ada yang benar-benar yakin berapa jumlah anak tangga itu.

Semakin masuk ke dalam, ia seperti semakin terluka.

Terlebih saat menatap koridor-koridor ruangan di kedatuan ini. Sungguh, semuanya tak ada yang berubah. Bahkan, beberapa perabotan rumah milik ayahnya dulu masih dibiarkan tetap di sana. Guci-guci hadiah dari saudagar-saudagar Cina dan permadani dari Gujarat masih tampak berjejer di ruangan kerja ayahnya.

Sungguh, melihat ini semua, hati Sangda Alin seakan teriris. Ia sangat ingin segera memasuki ruangannya dan menangis di situ.

Akan tetapi, suara Tunggasamudra menahannya, "Sangda!"

Sangda Alin berpaling sambil menguatkan hatinya. "Kau akan segera beristirahat?" Tunggasamudra mendekat.

"Ya, aku sangat lelah," ujarnya.

Tunggasamudra mengangguk, "Ya, aku juga sangat lelah." Keduanya kemudian berjalan bersama di koridor itu.

"O ya, Tungga," ujar Sangda Alin tanpa menghentikan langkahnya. "Kupikir tadi, kau sangat berani!"

Tunggasamudra menoleh. "Aku hanya sekadar mengungkapkan apa yang kurasakan," ujarnya. "Semoga ini tak mempersulit Dapunta Cahyadawasuna."

"Sepertinya tidak," Sangda Alin berucap. "Walau bagaimanapun, posisimu sebagai pandaya cukup membuat mereka segan. Coba kauamati saja, beberapa panglima muda kerajaan ini merupakan bekas seorang pandaya. Contoh yang paling jelas tentunya adalah Panglima Bhumi Cangga Tayu. Sangda Alin menghentikan langkahnya, ia telah sampai di depan biliknya.

"Akan tetapi, sungguh, aku suka keberanianmu tadi," ujarnya. "Terlebih melihat anak Panglima Samudra Jara Sinya tampak marah!"

Tunggasamudra tersenyum tipis. Ucapan Sangda Alin cukup membuatnya tenang. Hatinya yang sejak tadi bergejolak seakan sedikit teredam.

Akan tetapi, ketika Tunggasamudra berbaring di biliknya, bayang-bayang sosok Kara Baday kembali muncul di benaknya.

Tewaskah ia saat itu? Pertanyaan itu kembali muncul di benaknya. Saat itu dari arah sambau-nyzL, Tunggasamudra memang tak terlalu dapat melihat apa yang terjadi di sambau Kara Baday. Asap putih racun daun upas dan asap api seakan menghalangi pandangan semua orang ke arah itu walau sesekali masih dapat dilihat beberapa tubuh yang menceburkan diri ke sungai.

Semoga ia bisa menyelamatkan diri, harap Tunggasamudra lagi.

Bersamaan dengan itu air hujan mulai menjatuhi atap biliknya. Suaranya yang awalnya hanya pelan saja, semakin lama terdengar semakin keras.

Di luar, tanpa Tunggasamudra sadari, bersamaan dengan datangnya hujan, sesosok tubuh baru saja muncul dari balik bayang-bayang pohon yang mengitari kedatuan.

Angin tiba-tiba saja mengembuskan napas kematian.

Sosok itu maju dengan langkah tertatih. Pakaiannya telah compang-camping dengan darah di mana-mana. Rambutnya pun terurai tak beraturan menutupi wajahnya yang kotor dan penuh luka. Di tangannya tampak sebilah pedang yang siap digunakan. Ia tak lain adalah Kara Baday!

Beberapa prajurit yang melihatnya hanya bisa membiarkan sosok itu maju semakin mendekati kedatuan. Seorang di antara mereka kemudian mengambil inisiatif untuk berlari ke dalam kedatuan, untuk melaporkan kedatangan itu.

Panglima Samudra Jara Sinya yang baru akan mencoba beristirahat hanya bisa tertegun mendengar laporan itu.

"Kau yakin?" tanyanya tak percaya kepada prajurit yang membawa berita.

"Ya, hamba yakin, Panglima," ujar prajurit itu sambil menunduk dalam.

Panglima Samudra Jara Sinya segera mengambil pedangnya, "Panggil para panglima," ujarnya. 'Juga... pandaya itu!"

Dan, di antara langkah-langkahnya ke pelataran keda-tuan, teriakan itu terdengar di antara bunyi hujan.

"JARA SINYAAA, KELUARLAH KAUUU”

Teriakan itu terdengar menggelegar, dibarengi dengan suara guntur yang bersahutan. Tentu saja teriakan itu dapat membangunkan orang-orang yang baru saja hendak beristirahat, juga Tunggasamudra. Sebelum prajurit yang ditugaskan memanggilnya sampai di biliknya, ia sudah keluar, berbarengan dengan keluarnya Sangda Alin.

Semuanya berpikir sama. Maka itulah, dengan gerakan ringan keduanya melompat menuju pelataran kedatuan.

Tepat di situ, di bawah guyuran hujan yang semakin lebat, dilihatnya beberapa prajurit Sriwijaya dengan tombak di tangan, tengah mengitari Kara Baday yang tampak ter-luka.

Dapunta Cahyadawasuna yang juga telah muncul segera mendekati Panglima Samudra Jara Sinya, "Ada apa, Panglima?" tanyanya. "Ia ingin membunuhku' ujar Panglima Samudra Jara Sinya pendek.

Bertepatan dengan selesainya ucapan itu, Kara Baday tiba- tiba melompat ke arah Panglima Samudra Jara Sinya berdiri. Pedangnya bergerak menusuk dengan tajam. Namun, gerakan itu terasa lambat. Dengan gerakan mudah, Panglima Samudra Jara Sinya segera mengelak ke kiri sambil mengeluarkan pedangnya untuk balik menyerang.

Serangan ini membuat Kara Baday kembali mundur.

Beberapa prajurit Sriwijaya kembali mengepungnya.

"Aku ingin kau yang menyelesaikan ini!" Panglima Samudra Jara Sinya menunjuk kepada Tunggasamudra yang baru saja tiba.

Tentu saja ucapan itu membuat Tunggasamudra tercekat.

Dapunta Cahyadawasuna yang berdiri tepat di sebelah

Panglima Samudra Jara Sinya segera berujar cepat, "Kupikir, sebaiknya panglima yang lain yang menyelesaikan!"

"Tidak," bantah Panglima Samudra Jara Sinya cepat. "Kara Baday bukan lawan yang mudah. Hanya seorang pan-daya yang bisa melawannya!"

Tunggasamudra hanya terdiam. Keraguan jelas tampak di wajahnya, membuat semua mata yang ada di situ begitu jelas bisa melihatnya.

Di saat seperti itulah, Kara Baday kembali melompat menyerang Panglima Samudra Jara Sinya. Tunggasamudra pun seperti tak memiliki pilihan lain. Ia segera bergerak cepat.

TRAAANGG!

Dengan gerakan yang begitu tak terduga, Tunggasamudra telah mengeluarkan sebilah pedangnya dan menahan serangan Kara Baday Benturan ini langsung membuat Kara Baday kembali terhuyung ke belakang untuk kedua kalinya. Tunggasamudra segera melompat mengikuti Kara Baday ke tengah arena. Hujan seketika mengguyur seluruh tubuhnya.

Dua sosok itu kini berdiri beberapa saat dengan jarak tak lebih dari lima tombak.

Di sela-sela tetesan air hujan di matanya, Tunggasamudra menatap Kara Baday dengan nanar. Kini tubuh lelaki periang itu begitu mengenaskan. Luka-luka begitu mencolok terlihat di sekujur tubuhnya, juga di wajahnya.

Kara Baday mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia sudah melakukan lompatan panjang untuk menyerang. Namun, dengan gerakan berputar, Tunggasamudra segera menahan serangan itu....

TRAAAANK!

Benturan kali ini membuat pedang Kara Baday terlempar jauh. Tampak jelas bila tenaganya benar-benar telah habis.

"Maafkan aku Kara," Tunggasamudra berbisik. Namun, suaranya hanya tertelan deru hujan. Dengan satu gerakan, Tunggasamudra sudah.melepaskan ikatan ketiga pedang di

^punggungnya. Lalu, dilemparkannya kedua pedang yang tersisa hingga menancap tanah di depan Kara Baday.

"Kau boleh memakai pedang yang mana pun," ujar Tunggasamudra, kali ini dengan suara yang lebih keras.

Kara Baday tersenyum. Dengan gerakan tertatih, diambilnya sebilah pedang yang terdekat dengannya. "Tentu saja aku akan memakai pedang ketigamu ini, Tungga," ujarnya. "Bukankah kau tak pernah memakainya?"

Tunggasamudra menelan ludah. Entah seperti apa kecamuk perasaannya saat itu. Ia benar-benar ingin berpaling, tak ingin melihat keadaan Kara Baday seperti sekarang ini. Namun, Kara Baday sudah kembali menghunuskan pedangnya ke arahnya. Namun, tak jauh berbeda dari serangan-serangan sebelumnya, gerakan Kara Baday terasa mentah. Hanya dengan satu gerakan mudah, Tunggasamudra dapat mengelak ke samping.

TRANNNG! TRAAANG!

Beberapa kali kedua pedang itu beradu. Dan, ini selalu membuat Kara Baday terhuyung di setiap benturannya.

Tak jauh dari situ, Panglima Samudra Jara Sinya, Dapunta Cahyadawasuna, dan beberapa panglima muda, terus mengamati pertarungan itu.

"Ia seharusnya sudah membunuh bajak laut itu," Lu- wantrasima berkomentar kepada ayahnya.

Akan tetapi, Panglima Samudra Jara Sinya tak menyahut. Dapunta Cahyadawasuna yang sebenarnya ingin menyahut kata-kata itu, lebih memilih diam, dan memperhatikan pertarungan di depannya.

Di tengah arena, Tunggasamudra baru saja menahan sebuah sambaran pedang Kara Baday. Telah tampak jelas, Kara Baday mencoba mengeluarkan seluruh tenaganya.

Dan, ini malah membuat dirinya tak bisa mengontrol tenaganya hingga sebuah upaya pertahanan saja dari Tunggasamudra dapat membuat dirinya terpelanting, jatuh berguling-guling

Tunggasamudra mendekat. Dengan perasaan tak menentu, ditatapnya Kara Baday yang masih mencoba bangkit.

"Aku ... memang bukan lawanmu Kara Baday terbatuk, membuat darah langsung muncrat ke tanah dan bercampur dengan air hujan dan lumpur.

Tunggasamudra hanya bisa tercekat melihat itu. Matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba ia mengangkat pedangnya tepat di depan wajah Kara Baday. "Kumohon... pergilah engkau!" bisiknya. Kara Baday tersenyum pahit. Ditatapnya Tunggasamudra dengan matanya yang sayu. "Kau menyuruhku pergi, Tungga?" ujarnya dengan suara nyaris tak terdengar. "Bagaimana mungkin ... aku pergi? Bagaimana mungkin? Kau tahu ... aku seharusnya mati saat itu. Ribuan panah itu, apa mungkin bisa terus kuhindari?"

Kara Baday terus menatap Tunggasamudra. Air matanya tiba-tiba telah jatuh bercampur dengan keringat dan darahnya. "Namundi saat-saat terakhir itu mereka semua, para pasukanku, tiba-tiba memeluk tubuhku dengan rapat. Mereka sama sekali tak membiarkan panah-panah itu mengenai tubuhku "

Kara Baday menggelengkan kepalanya, "Maka itulah, tak ada satu pun panah yang mengenai diriku, bahkan menggores tubuhku sekali pun. Tak ada, Tungga, tak ada. Namun itu semua harus dibayar dengan nyawa mereka," suara Kara Baday terdengar tercekat. "Dan, kini. kau memintaku untuk

pergi?"

Kara Baday tersenyum di antara tangisannya. Sekilas diingatnya lagi saat itu. Saat keadaan sambau telah begitu kacaunya. Api telah membesar di beberapa titik. Bahkan, di bagian buritan sambau hanya api dan asap hitam yang tampak. Di saat seperti itulah, panah-panah seakan menjadi hujan paling deras yang mematikan. Paman Kumbi Jata akhirnya berteriak keras, "LINDUNGI KARAAA!" Lalu, sebelum sempat ia menyadarinya, Paman Kunibi Jata dan beberapa anak buahnya yang lain segera mendekat kepadanya.

Memeluk tubuhnya dengan begitu rapat dan menggiringnya ke tepi kapal. Ia menyadari apa yang akan terjadi saat itu.

Namun, pelukan Paman Kumbi Jata dan anak buahnya yang lain sama sekali tak bisa dilepaskannya. Ia kemudian hanya bisa merasakan tubuh-tubuh itu, dengan sekuat tenaga, mengangkat dirinya dan melemparkannya ke dalam sungai. Sungguh, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain itu. Seiring tubuhnya yang jatuh, ia masih melihat panah-panah itu menghujan ke tubuh-tubuh itu, semuanya ....

Kara Baday tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam- dalam. "Semuanya telah mati ... telah mati dan tinggal aku

yang tersisa isaknya terasa beberapa lama.

"Aku yang begitu bodoh," kini ia tertawa dengan nada pahit. "Begitu bodoh percaya kepada panglima itu. Begitu bodoh terbuai dengan semua janjinya "

Tunggasamudra menelan ludah. Pedangnya yang masih terus terarah kepada wajah Kara Baday, perlahan tampak melemah. "Kumohon Kara, pergilah!" desisnya. "Larilah sejauh mungkin yang kau bisa, aku akan membiarkanmu pergi

Kara Baday menggelengkan kepalanya. Ia tertawa tanpa suara, 'Aku tak mau mempersulit dirimu, Tungga," ujarnya

sambil memaksakan senyumnya. "Setidaknya aku gembira,

bisa mati oleh pedangmu."

Sambil berkata demikian dipandanginya pedang di tangannya lekat-lekat. Dan, sebelum Tunggasamudra menyadarinya, tiba-tiba saja dengan gerakan tak terduga, Kara Baday sudah menusukkan pedang itu tepat di jantungnya.

Tunggasamudra terbelalak tak percaya. Secara refleks, ditubruknya tubuh Kara Baday.

"Karaaa?" ia benar-benar tak lagi bisa menahan perasaannya. Tak dipedulikannya pandangan semua orang yang mengarah kepadanya.

Kini dalam pelukannya, Kara Baday hanya bisa menatapnya di sela-sela napasnya. Perlahan tangannya terangkat, "Tolong, serahkan kalung ini kepada iaIa mengangsurkan sebuah kalung kerang kepada Tunggasamudra dengan tangan gemetar. "Ia... yang ada... di Pulau Karang itu, seperti yang ... hampir kuceritakan kepadamu ia mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum. Namun, rasa perih yang menyebar di tubuhnya seakan menyentaknya.

Tunggasamudra menerima kalung itu dengan gerakan perlahan. Dan, hanya sekejapan mata, kalung itu berpindah dalam genggamannya, Kara Baday pun terkulai....

Tunggasamudra hanya bisa memejamkan matanya kuat- kuat. Hatinya benar-benar begitu bergejolak, seiring hujan yang semakin bertambah deras dan gemuruhnya bersahutan tanpa henti.

Tak jauh dari arena itu, di tepi kedatuan, Panglima Samudra Jara Sinya, Dapunta Cahyadawasuna, dan lainnya, masih menatap ke arah dua sosok di tengah hujan itu. Walau titik hujan mengaburkan pandangan, mereka masih cukup jelas melihat semua kejadian itu. Mereka juga masih bisa melihat dengan sangat jelas saat Tunggasamudra berdiri memandang ke arah mereka dan berteriak kuat-kuat.

"Panglima," Luwantrasima memandang ayahnya. Ia merasa tindakan Tunggasamudra cukup menghina ayahnya.

Akan tetapi, Panglima Samudra Jara Sinya hanya berujar pelan, "Biarkan saja, biarkan saja," ujarnya. "Ia hanya harimau yang terluka hari ini. hanya hari ini

-ooo0dw0ooo-