-->

Pandaya Sriwijaya Bab 28 : Penyerangan Pertama

Bab 28 : Penyerangan Pertama

Ia dijuluki Pembantai Para Panglimd Ia merupakan satu dari keturunan Wangsa Sailendra yang memiliki nama terbesar. Ia juga disebut penjaga atau pelindung semesta. Cerita-cerita tentangnya telah banyak dikisahkan dari mulut ke mulut, juga dalam prasasti-prasasti yang ada.

Ia selalu berada di barisan paling depan dalam semua peperangan. Dengan kuda terbaiknya, ia akan berteriak menggelegar di langit untuk mengawali penyerangan terhadap lawan-lawannya.

Keberadaannya begitu mencolok, walau saat berperang terbuka ia selalu menutupi wajahnya dengan topeng dan pelindung dari baja. Pcdang-tombaknya yang besar selalu akan tampak penuh darah.

Ia yang kemudian akan memilih panglima musuh yang tertinggi, mendekatinya, membuat pertarungan, dan memenggal kepalanya! Ialah Daranindra Rakai Panunggalan, kakek Sri Maharaja Balaputradewa.

Ialah yang dipuja oleh seluruh keturunan Wangsa Sailendra. Dan, selalu dijadikan contoh kebesaran Wangsa Sailendra. Maka, tak heran saat pernikahan Pramodawardhani dan Jatiningrat sudah ada di ambang waktu, beberapa di antaranya berteriak atas namanya!

"Tak akan kurelakan tanah ini lepas dari Wangsa Sa- ilendra!"

Dan, teriakan itu seakan menjadi bola liar yang menghantam dada para keturunan Wangsa Sailendra yang lain. Hati mereka tiba-tiba mengentak dan bergelora.

Ya, saat itulah terlihat jelas bila Jatiningrat tidaklah mendapat restu dari sebagian penerus Wangsa Sailendra! Sebagai sosok keturunan Wangsa Sanjaya, ia tak diharapkan memimpin Bhumi Sriwijaya, walau bersanding dengan seorang keturunan Wangsa Sailendra sekalipun!

Dan, saat itulah, seakan ada yang mengarahkannya, semua mata tiba-tiba berpaling kepada Balaputradewa yang tengah duduk diam dalam pikirannya.

Seorang sanak keluarga yang tertua kemudian bergerak menghampirinya. Dan, tanpa bisa dirinya menolak, ia segera memaklumat, "Kau sebagai salah satu putra terkuat Sama- ragrawira haruslah melanjutkan kebesaran wangsa kita!"

-ooo0dw0ooo-

Langit cerah, terlalu cerah. Tak ada apa-apa selain awan putih. Seekor elang yang melayang terlihat begitu jelas membelah langit. Terus terbang dengan kepakannya dan menukik untuk mendarat di tangan seorang prajurit yang telah melapisi tangannya dengan sepotong kain. Ia membuka dan membacanya. Lalu, segera berlari menuju tenda utama yang ada di bagian belakang perkemahan ini dan menyerahkannya langsung kepada Panglima Bhumi Cangga Tayu.

Ini merupakan surat dari Kelompok Rahasia Wangseya.

Isinya singkat, hanya dua kalimat.

Perhatikan Datu Singkep.' Ada pergerakan api ke sana! Panglima Bhumi Cangga Tayu terdiam. Dibacanya berkali-

kali kalimat itu.

Pesannya sangat jelas. Kelompok Wangseya sama sekali tak memakai kata sandi yang rumit. Ia hanya mengganti kata musuh dengan api. Dan, itu langsung bisa diartikan dengan Minanga Tamwa!

Panglima Bhumi Cangga Tayu terdiam sesaat.

Dipandanginya deretan kemah-kemah prajuritnya yang memenuhi hutan bambu ini. Kini ia memang tengah bersama lebih dari satu laksa pasukannya merangsek ke utara. Tidak dalam satu kesatuan penuh memang, tetapi dibaginya dalam beberapa kelompok yang menyebar dalam jarak yang tak terlalu jauh.

Ia sendiri kini tengah bersama tak lebih dari tiga ratus pasukan, yang terdiri dari lima puluh pasukan gajah, beserta ratusan pasukan kuda dan pasukan tombak. Ini merupakan pasukan yang ada dalam posisi terdekat dengan Batanghari. Bila semuanya lancar, hanya dalam hitungan hari saja, pasukan ini akan segera tiba di Batanghari.

Akan tetapi, surat dari Wangseya membuat Panglima Bhumi Cangga Tayu terdiam beberapa lama.

Datu Singkep sebenarnya terletak cukup jauh dari Batanghari. Namun, sejak dulu merekalah yang menguasai perairan di sebelah barat. Beberapa datu di sekitar itu awalnya adalah bagian dari daerahnya sebelum akhirnya tunduk pada Sriwijaya.

Sampai sekarang, Panglima Bhumi Cangga Tayu tak pernah tahu kedekatan antara Minanga Tamwa dengan Singkep.

Namun, secara logika ia dapat menghubung-hubungkan semua ini dengan jelas.

"Mahilir," tiba-tiba ia memanggil seorang panglima mudanya. "Kaubawalah beberapa pasukan menuju Kedatuan Singkep. Aku ingin kau tiba di waktu yang paling cepat untuk membawakan pesan bagi Dapunta Kangga Kiya, penguasa Singkep..

-ooo0dw0ooo-

Beberapa hari kemudian, Pasukan Bhumi Cangga Tayu perlahan-lahan mulai kembali merangsek ke utara. Batanghari sudah mulai terlihat berkelokan di depan mereka.

"Panglima," Panglima Mudaja Srabu mendekat. "Apa kita tak berjalan terlalu lambat?" tanyanya sedikit heran melihat pergerakan pasukan yang tak seperti biasanya.

"Tidak," Panglima Cangga Tayu menjawab. "Kita memang harus melambatkan perjalanan kita. Selain untuk menunggu armada samudra memasuki perairan ini, aku juga tengah ... menunggu sesuatu!"

Panglima Mudaja Srabu terdiam.

Tiba-tiba seorang anggota pasukannya mendekat, "Panglima ada seorang berkuda mendekat. Tampaknya ia pasukan dari Panglima Samudra Jara Sinya."

Kening Panglima Bhumi Cangga Tayu berkerut. Bila Panglima Samudra Jara Sinya sampai mengutus langsung prajuritnya, berarti ia telah sampai di Muara Jambi. Namun, mengapa ia tak menggunakan merpati, seperti biasanya? Maka, dengan gerakan terburu, Panglima Bhumi Cangga Tayu segera menghentikan kudanya dan berbalik ke arah belakang. Panglima Mudaja Srabu mengikutinya.

"Panglima," prajurit yang baru tiba itu segera membungkuk. "Hamba membawa pesan dari Panglima Jara Sinya," ujarnya.

"Apa itu?"

"Panglima Samudra Jara Sinya mendapat informasi bila ada kemungkinan besar Datu Singkep akan menghalangi jalan Pasukan Bhumi di Batanghari

Panglima Bhumi Cangga Tayu terdiam. Pesan ini sangat mirip dengan pesan yang dikirim Wantra Santra beberapa hari berselang. Memang untuk mendekati Minanga Tamwa pasukannya haruslah menyeberangi Batanghari. Dan, itu akan terasa sulit bila perahu-perahu Datu Singkep menghalanginya di perairan itu.

"Panglima," Panglima Mudaja Srabu mendekat. "Apa yang harus kita lakukan?"

Panglima Bhumi Cangga Tayu tak langsung menjawab. Ia malah membuang pandangannya ke arah barat laut.

"Kita ... hanya bisa menunggu," ujarnya pelan. "Ya, menunggu....

-ooo0dw0ooo-

Samudra seakan ikut bergelora.”

Bunyi genderang terdengar bertalu-talu, seakan sebagai tanda gelora para awak di dalamnya. Puluhan sambau Sriwijaya membelah lautan dengan kecepatan penuh. Kilauan airnya memercik ke mana-mana. Dalam tiga gelombang sambau-sambau itu melaju. Sambau terdepan, yang memiliki bentuk terbesar dan bertiang lima layar, adalah sambau Panglima Samu-drajara Sinya. Setelah itu berderet sambau para panglima muda yang masing-masing diikuti oleh puluhan sambau lainnya.

Saat ini adalah purnama ketiga sejak Minanga Tamwa melepaskan diri dari Sriwijaya. Waktu yang begitu pendek, tetapi sudah cukup bagi Sriwijaya memusatkan seluruh kekuatannya menuju Minanga Tamwa.

Ketika pelayaran baru bermula dari muara besar, posisi sambau-sambau ini berbaris lurus. Namun, saat mulai memasuki hilir Batanghari, keadaannya terbagi menjadi dua bagian.

Sambau-sambau di bawah para panglima muda ini tampaknya berbentuk sama, tetapi sebenarnya bila diperhatikan lebih saksama pada bagian ujung sambau dan panjinya tampak ada sedikit perbedaan. Perbedaan ini hanya akan diketahui oleh pasukan Sriwijaya, sebagai tanda apa yang diangkut sambau-sambau ini di dalamnya, apakah pasukan panah, atau pasukan darat.

Yang bisa disamakan antara semuanya adalah jumlah jendela di pinggir dinding sambau. Di situlah pelontar panah berukuran besar, berderet siap melontarkan panahnya. Alat pelontar panah sendiri sebenarnya digunakan untuk menghancurkan perahu musuh saat dalam pertarungan jarak dekat. Namun, saat digunakan untuk menyerang terbuka di darat, biasanya alat pelontar panah ini berfungsi juga sebagai penghancur benteng musuh.

Sementara itu, di daratan Pasukan Bhumi Cangga Tayu yang akhirnya membuat tempat peristirahatan tak jauh dari Batanghari, masih tampak menunggu. Tak ada lagi derap- derap kuda dan langkah-langkah kaki yang berderap maju, yang menimbulkan getaran hingga dapat dirasakan sampai ratusan tombak di depannya. Yang ada hanyalah hiruk-pikuk kecil orang-orang yang menunggu! "Tak ada tanda-tanda dari perahu-perahu Datu Singkep!" ujar Panglima Mudaja Srabu.

Panglima Bhumi Cangga Tayu tak bereaksi. Tanpa sadar ia kembali memalingkan wajahnya ke arah barat laut, seakan tengah menanti sesuatu.

Panglima Mudaja Srabu segera menyadari, "Panglima, sebenarnya apa yang sedang Panglima tunggu?"

Dan, jawabannya adalah debu yang mengangkasa di kejauhan!

"Tampaknya itu yang kutunggu," seru Panglima Bhumi Cangga Tayu.

Seekor kuda kemudian terlihat bergerak dengan cepat. Di atasnya Panglima Muda Mahilir tampak duduk dan memacu kudanya. Panglima Bhumi Cangga Tayu segera saja menyambutnya.

"Bagaimana, Mahilir?" tanyanya.

Panglima Muda Mahilir dengan wajah lelah dan pakaian penuh debu segera melompat dari kudanya, "Sudah hamba sampaikan pesan panglima"

"Lalu, apa jawabannya?"

"Mereka memilih ... tidak terlibat dengan peperangan ini."

Mendengar jawaban itu, Panglima Bhumi Cangga Tayu segera saja tertawa. Ini tentu saja membuat Panglima Muda Ja Srabu tak mengerti

"Panglima,'.' tanyanya ingin tahu, "sebenarnya apa pesan yang panglima tuliskan?"

"Ah, aku hanya menuliskan pesan yang sangat sederhana," jawab Panglima Bhumi Cangga Tayu. "Aku akan langsung membelokkan pasukanku ke Singkep, bila ia berniat membantu Minanga Tamwa! Hanya itu saja, hahaha ia kembali tertawa.

"Tak kusangka, Dapunta Kangga Kiya secepat ini mengambil keputusan," ia masih tertawa. "Kadang sebuah ancaman memang menjadi senjata yang paling mematikan!"

Maka, di hari itu juga, Pasukan Bhumi di bawah kendali Panglima Bhumi Cangga Tayu mulai menyeberangi Batanghari untuk terus merangsek ke utara, menuju Minanga Tamwa!

Sungguh, siapa pun yang melihat pasukan ini, akan dapat segera menebak pertempuran besar seperti apa yang akan segera terjadi!

-ooo0dw0ooo-

Pergerakan ribuan pasukan itu ternyata begitu teramati oleh Minanga Tamwa. Tak heran memang, hampir di segala penjuru, Panglima Tambu Karen telah menyebarkan ratusan mata-mata untuk mengawasi semuanya. Terlebih di daerah Batanghari!

Akan tetapi, ketika berita itu sampai di telinga. Panglima Tambu Karen, tetap saja amarahnya memuncak. Ia menggebrak meja di dekatnya hingga hancur berkeping- keping.

"Pengecut Singkep!" teriaknya menggelegar.

"Tunggu saja kau!" ancam Panglima Tambu Karen dengan tangan terkepal. "Nanti, bila aku selesai dengan serangan ini, tanahmu yang pertama kali kumusnahkan!"

Lalu, ia terdiam. Beberapa pelayannya yang bertugas menggerakkan kipas kain di atas kepalanya segera mencoba lebih cepat bergerak, seakan-akan ingin menguapkan amarah itu. Dan, memang tak berapa lama, raut marah Panglima Tambu Karen periahan mulai berubah. Wajahnya kembali melunak seperti sedia kala saat berita itu belum didengarnya.

Ia memang tak harus semarah ini. Bukankah hal semacam ini sudah terpikir juga sebelumnya? Maka itulah, ia telah menyiapkan beberapa rencana sekaligus untuk mengantisipasi peperangan ini.

Dan, pertolongan Datu Singkep hanyalah sebuah rencananya yang pertama!

-ooo0dw0ooo-

Ketika sambau-sambau dari muara besar tiba di Muara Jambi, beberapa sambau lainnya yang telah menunggu di pelabuhan Muara Jambi segera bergabung dalam iring-iringan itu sehingga iringan sambau Sriwijaya ini tampak semakin besar.

Panglima Samudra Jara Sinya berada di sambau terbesar yang ada di posisi paling depan. Dari situlah genderang berbunyi paling keras, mengontrol gerakan semua sambau yang ada.

Di sambau lainnya, delapan dari tiga belas panglima muda armada Sriwijaya berada dalam posisi lebih di belakang, termasuk sambau Dapunta Cahyadawasuna. Ia bersama Tunggasamudra dan Sangda Alin membawa tak kurang dari dua ratus pasukan dan diikuti tak kurang dari lima sambau yang lebih kecil di belakangnya.

'Akan ada banyak kematian hari ini," gumam Dapunta Cahyadawasuna.

Tunggasamudra yang berdiri di samping Dapunta Cahyadawasuna menoleh sekilas, demikian juga dengan Sangda Alin. "Aku tak menyangka Telaga Batu mengerahkan sedemikian banyak pasukan," ujar Dapunta Cahyadawasuna lagi.

"Panglima Tambu Karen di Minanga Tamwa mungkin memanglah lawan yang berat," ujar Tunggasamudra diikuti dengan anggukan kepala Sangda Alin.

"Atau, peperangan ini memang ingin segera diakhiri," tambah Sangda Alin. "Agar tak banyak korban yang berjatuhan ..."

Dapunta Cahyadawasuna tersenyum sambil menatap Sangda Alin. "Ya, aku harap demikian, Sangdaujarnya, tanpa melepas tatapannya.

Sejenak Tunggasamudra melihat keduanya bertatapan beberapa saat. Entah mengapa ia merasa tatapan ini tampak lebih lama dari biasanya. Namun, Tunggasamudra tak berkomentar apa-apa. Ekor matanya telah melihat seorang prajurit yang ada di sambau utama tengah memberikan tanda pada sambau di belakangnya, yang kemudian segera diikuti oleh sambau-sambau itu, ke sambau-sambau lapis berikutnya. Begitu seterusnya.

Lalu, sebuah sambau maju ke depan, menyeruak dengan gerakan lebih cepat dari sambau lainnya hingga melewati sambau utama di mana Panglima Samudra Jara Sinya berada.

Dari atas anjungan, tampak Kara Baday berdiri dengan gagah. Wajahnya yang memantulkan sinar matahari tampak bersih dan rambutnya yang panjang terikat kain putih dibiarkan bebas berkibaran diterpa angin. Sementara itu, di bawah anjungan, anak buahnya bersorak-sorai dengan riuh tak habis-habisnya.

"Itu kapal Kara Baday," dari jauh Tunggasanmudra terus memperhatikan. Dapunta Cahyadawasuna yangjuga tak lepas memperhatikan semua gerakan itu mengangguk, "Tampaknya

... mereka akan memancing terlebih dahulu," desisnya.

-ooo0dw0ooo-

Di anjungan sambau, Kara Baday berteriak keras, "Wahai, Saudara-saudaraku," sambil menyapu semua pasukannya dengan senyum lebar. "Hari ini adalah pertempuran terbesar pertama kita. Kuingin kalian semua melakukannya dengan sepenuh hati, untuk kejayaan kalian sendiri, juga untuk kejayaan Sriwijaya!"

Lalu, suara bergemuruh segera menyambut ucapan itu. Beberapa di antaranya bahkan mengepalkan tinjunya atau mengangkat pedangnya.

Kara Baday tersenyum melihat ini semua. Tanpa ia sadari, seorang di antara semua yang ada di situ tampak hanya terdiam memperhatikan dirinya. Ketika akhirnya Kara Baday turun dari anjungan, ia segera mendekatinya.

"Kara," Paman Kumbi Jata menarik lengan Kara Baday untuk menepi ke tempat yang lebih sepi. "Mengapa hanya kita yang berada paling depan?" suara bisikannya terdengar sedikit panik. Beberapa hari setelah perintah Panglima Samudra Jara Sinya kepada Kara Baday untuk menjadi pasukan utama, sebenarnya Kara Baday sudah menceritakan perihal ini kepadanya. Namun, waktu itu Paman Kumbi Jata tidak berpikir bahwa hanya sambau mereka saja yang akan maju ke depan sendirian. Ini tentu saja terasa janggal. Bagaimana mungkin kerajaan sebesar Sriwijaya hanya menyerang dengan satu sambau saja?

Akan tetapi, Kara Baday hanya tersenyum lebar menanggapi kekhawatiran Paman Kumbi Jata. "Tentu saja hanya kita, Paman," ujarnya. "Bukankah kita yang terkuat dibanding yang lain?"

Paman Kumbi Jata terdiam. Ucapan Kara Baday benar- benar mengejutkannya.

"Akan tetapi, Kara," Paman Kumbi Jata tercekat. "Bukankah ini sepertiia tak melanjutkan ucapannya.

Kening Kara Baday sedikit berkerut, "Seperti apa, Paman?" "Seperti mengumpankan kita, Kara," Paman Kumbi Jata.

"Bukankah kita sudah mendengar berita kekalahan tiga

panglima muda sebelumnya? Sambau mereka bahkan hancur sebelum melewati rintangan pertama

"Paman," Kara Baday menyentuh pundak Paman Kumbi Jata, tetap berusaha menenangkannya. "Tentu saja ini tak bisa disamakan dengan kejadian itu. Waktu itu tentulah ketiga panglima muda itu belum siap akan pemberontakan Muara Jambi. Namun, tidak sekarang. Kita sudah tahu siapa yang akan kita serang "

"Akan tetapi ," Paman Kumbi Jata masih tampak ragu.

"Paman, tenanglah!" Kara Baday kembali menepuk punggung Paman Kumbi Jata. "Di antara semua panglima muda yang ada, kitalah yang terbaik. Bukankah kita pernah mengalahkan satu di antara mereka? Maka itulah, Panglima Samudra Jara Sinya hanya mengirimkan kita. Ini tentu saja sudah kupersiapkan dengan baik, Paman. Bukankah Paman melihat sendiri apa yang sudah kita siapkan?"

Kali ini Paman Kumbi Jata tak menyahut.

"Semuanya sudah kupikirkan masak-masak, Paman. Bila kemungkinan terburuk kita tak berhasil, tentunya Panglima Samudra Jara Sinya akan segera membantu kita, bukan?"

Paman Kumbi Jata tetap terdiam. "Sekarang ini aku hanya tinggal meminta waktu untuk membuktikan kemampuan kita," Kara Baday menatap tajam ke arah depan. "Kalau kita berhasil melewati ini, kita akan menjadi orang paling penting dalam armada perang Kerajaan Sriwijaya "

Paman Kumbi Jata tetap tak menyahut. Dicobanya menerima apa yang diucapkan Kara Baday. Dan, ini perlahan- lahan membuat sinar matanya mulai melunak. Walau pikirannya masih tampak sedikit ragu, tetapi akhirnya ia menganggukkan kepalanya perlahan.

"Ya, kupikir, semua hasil yang besar, memang perlu pengorbanan yang besar juga," gumamnya. Lalu, ia sudah menepuk punggung Kara Baday. "Kau memang pengambil kepu-tusan yang berani, Kara. Sungguh, ini mengingatkanku kepada ayahmu. Dan, aku bangga bisa berada bersamamu

...."

-ooo0dw0ooo-

Sambau Kara Baday semakin mendekati Minanga Tamwa.

Gerakannya memelan. Hanya beberapa kelokan lagi tibalah sambau itu ke wilayah Minanga Tamwa. Di belakangnya, sambau-sambau lainnya tampak berderet diam. Tak ada lagi bunyi genderang perang. Semuanya membelah sungai tanpa suara.

Akan tetapi, di saat itulah seorang prajurit yang berdiri di pucuk tiang layar berteriak kencang, "Sungai mengecil! Sungai mengecil!"

Kening Kara Baday dan Paman Kumbi Jata segera berkerut, tak mengerti.

"Apa maksudnya?" guman Kara Baday. Akan tetapi, Paman Kumbi Jata tak menjawab, la segera berlari ke anjungan. Kara Baday hanya bisa mengikutinya dari belakang.

Dari atas anjungan, segera di buangnya pandangan ke depan. Keterkejutanlah yang kemudian ada di wajahnya. Di depan sambau mereka kini terlihat lebar sungai tiba-tiba semakin menyempit dan menyempit hingga membuat lebar Batanghari menjadi hanya sepanahnya saja.

Sungguh, ini cukup mencengangkan. Sungai sepanjang ratusan tombak ini, kini tepiannya tampak memiliki keadaan tanah yang tak lagi alami, jelas sekali bila keadaannya sengaja diuruk dengan tanah yang baru.

'Ada apa ini, Paman?" Kara Baday menatap tak mengerti. "Aku belum pernah kemari," gumam Paman Kumbi Jata.

"Namun, setahuku Batanghari tak sesempit ini. "

"Apa kita akan tetap melewatinya?" tanya Kara Baday.

Paman Kumbi Jata tak langsung menjawab, ia menoleh kepada Kara Baday, "Ini sangat berisiko, tepian sungai itu seakan sengaja dibuat "

Kara Baday mengamati sesaat, baik tepian yang ada di sebelah kiri maupun yang ada di sebelah kanan. Ia juga mengamati hutan-hutan yang ada di sebelah tepian itu.

"Namun tampaknya tidak, Paman," akhirnya ia mencoba menyimpulkan. "Tepian ini hanya tampak seperti dibuat, tetapi keadaannya memang seperti itu. Tanaman-tanaman sepertinya tumbuh di sana." Kara Baday menunjuk. "Paman lihat, tanaman bakau tumbuh dengan lebatnya di sepanjang tepiannya

"Dan, kalau kita amati lagi, di ujung sana tampak ada kayu- kayu gelondongan yang tersebar di tepian sungai. Kupikir urukan tanah ini dibuat untuk memudahkan pengangkutan kayu-kayu itu ke daratan "Akan tetapiapakah sepanjang itu?"

"Bila kayu-kayu yang diangkat begitu banyak, mengapa tidak?"

Paman Kumbi Jata tak bisa lagi membantah. Dibuangnya pandangannya ke depan.

"Sebaiknya, kita mengirim satu perahu mengamatinya," ujarnya masih belum yakin.

Kara Baday mengangguk setuju. Segera ia menurunkan jangkar kapal. Lalu setelah memberi tanda untuk menunggu pada sambau-sambau di belakangnya, mulai diturunkannya sebuah perahu kecil dari atas sambau-nya.. Perahu ini hanya tiga tombak saja panjangnya. Tak lebih dari sepuluh orang untuk mengisinya. Biasanya setiap sambau memang memuat hingga dua sampai dua belas perahu kecil untuk penyelamatan atau untuk memasuki pantai-pantai tanpa dermaga.

Perahu itu segera diisi dengan lima orang prajurit dan segera meluncur ke depan.

Kara Baday menunggu. Matanya tak lepas memperhatikan perahu itu bergerak perlahan memasuki tepian sungai yang menyempit itu. Mereka mengamati dengan saksama. Bahkan, satu orang di antaranya menyempatkan memegang tanaman- tanaman bakau yang banyak di tepian.

Tak berapa lama, perahu itu pun kembali.

"Tak ada sesuatu pun yang mencurigakan," ujar salah seorang prajurit ketika sampai di hadapan Kara Baday.

Kara Baday mengangguk. Ia langsung menoleh kepada Paman Kumbi Jata, "Kupikir waktunya kita maju ke depan, bukan?"

Dengan wajah yang masih tampak ragu, Paman Kumbi Jata hanya mengangguk pelan. Jangkar pun kembali diangkat. Tak lama kemudian, sambau pun sudah kembali bergerak pelan ke depan. Ia mulai melewati tepian sungai yang makin menyempit dan menyempit.

"Tentu tak mungkin bila ini buatan!" ujar Kara Baday sambil tersenyum. "Ini terlalu panjang. Bisa mencapai seratus tombak. Akan butuh waktu bertahun-tahun untuk menguruknya!"

Sampai beberapa saat sambau bergerak, tak ada sesuatu pun yang terjadi.

Paman Kumbi Jata menyempatkan melihat ke arah belakang, "Tampaknya sambau lainnya tak bergerak maju," ujarnya. ,

Kara Baday membuang pandangannya ke belakang, "Mereka menunggu kita," desisnya.

Beberapa saat sambau meluncur tanpa gangguan apa pun. Jalur menyempit itu, walau tak terlalu terlihat, seperti sebuah lorong yang semakin lama semakin menyempit. Hingga akhirnya sambau pun melewati jalur tersempit. Kara Baday segera berteriak lantang, "Kirimkan tanda, semuanya aman di sini," ujarnya.

Seorang prajuritnya segera berlari ke atas anjungan untuk memberi tanda. Namun, sambau-sambau yang menunggu di kejauhan, tetap sama sekali tak tampak bergerak.

"Mengapa mereka belum bergerak juga?" tanya Paman Kumbi Jata.

Kara Baday mengangkat bahu, "Mungkin mereka menunggu kita sampai di ujung sungai yang menyempit ini?"

Maka, sambau pun kembali bergerak sendiri meninggalkan sambau-sambau lainnya semakin jauh. Tak berapa lama lagi, tepian sungai yang menyempit itu tampaknya akan berakhir. Tinggal satu kelokan lagi. Setelah itu, Kara Baday akan dapat melihat perahu-perahu musuh yang telah berderet di kejauhan.

"Itulah Minanga Tamwa," Paman Kumbi Jata sudah menunjuk ke sana.

Kara Baday baru akan berujar, tetapi saat itulah ekor matanya melihat ratusan gelondongan kayu-kayu yang semula tersebar diam, tiba-tiba bergerak. Beberapa di antaranya bahkan langsung meluncur mengarah pada sambau dari semua penjuru!

DHUM! DHUUUMH!

Sambau terasa oleng menerima hantaman dari kayu-kayu gelondongan itu. Bila bukan merupakan perahu terbaik, pastilah sambau ini telah terbalik pada serangan itu. Namun, tetap saja beberapa prajurit yang tengah berada di tepi sambau harus menjadi korban dengan jatuh ke dalam sungai.

Saat itulah Kara Baday mulai melihat bayang-bayang orang muncul di tepi sungai dan juga dari balik semak-semak dan pepohonan di kejauhan. Mereka tampak menarik sebuah tali, yang ternyata diikatkan pada gelondongan kayu-kayu itu.

Sungguh, Kara Baday sangat terkejut. Namun, belum selesai keterkejutan itu, ratusan panah tiba-tiba seakan muncul dari arah langit. Semua mengarah pada sambau-nya.

Wuush ....

Wuuush ....

Wuuush ....

"Ada serangaaan!" akhirnya ia berteriak. Namun, teriakan itu terasa terlambat. Beberapa anak buahnya yang berdiri di tengah sambau tak lagi bisa menghindar. Anak panah seketika saja menembus tubuh mereka.

Kara Baday kembali berteriak, "Siapkan perisai! PE- RISAIII!" Seketika kekalutan muncul di atas sambau. Paman Kumbi Jata segera melompat mengambil sebuah perisai dan melemparkannya kepada Kara Baday.

"BERTAHAAAN!" ia berteriak. Teriakannya sangat keras hingga terdengar di kejauhan. Seiring dengan itu, seorang prajurit penabuh genderang segera menalukan nada-nada cepat, sebagai tanda peperangan!

Perisai-perisai yang sudah disiapkan segera digunakan untuk bertahan. Perisai yang terbuat dari kayu rotan yang dipilin melingkar ini sengaja dibuat lebih besar, guna menutupi dua tubuh sekaligus. Seorang untuk pemegang perisai dan orang kedua untuk mempersiapkan panah balasan.

Berbeda dari kekalutan di situ, di kejauhan sambau-sambau Sriwijaya lainnya masih terus terdiam, menahan gerakannya. Sama sekali tak ada tanda-tanda sambau-sambau itu akan bergerak. Maka tak heran, bila kejadian seperti yang menimpa sambau tiga panglima muda beberapa purnama lalu di Muara Jambi, seakan kembali terulang. '

Metode serangannya benar-benar nyaris sama. Selesai dengan hujanan panah-panah itu, beberapa orang tampak berlari ke tepian tanah urukan itu dan langsung melempar sesuatu yang menimbulkan asap putih.

Daun upas beracun!

"BERTAHAAAN! SEMUANYA BERTAHAAAN!" Kara Baday

berteriak lantang. Namun, beberapa lemparan daun upas itu segera jatuh tepat di atas sambau-nya, membuat keadaan sambau seketika dipenuhi dengan asap putih.

Akan tetapi, keadaan seperti ini sudah diperkirakan oleh Kara Baday! Maka itulah, masih dalam suasana panik seperti itu, Kara Badai kembali berteriak, "GUNAKAN KAIN BASAH KALIAN!" Sebelum keberangkatannya, Kara Baday memang sudah memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyiapkan kain basah di dekat mereka. Serangan pada sambau tiga panglima muda ketika itu memberitahukan kemungkinan sambau-nya akan diserang dengan serangan serupa. Maka itulah, tak berapa lama saja, ia dan anak buahnya sudah mengeluarkan selembar kain basah dan mengikatnya menutupi hidung masing-masing.

Kain basah memang dapat menetralisasi asap dari racun daun upas. Maka itulah, tak banyak korban yang terjatuh karena serangan ini. Namun, sebelum Kara Baday bernapas lega, tiba-tiba dari arah langit kembali meluncur panah-panah berujung api.

Keadaan yang semula tampak terkendali, kembali menjadi kacau. Beberapa panah segera menancap di tubuh kapal, menyisakan api yang terus menyala. Bersamaan dengan itu, tanpa terlihat dengan jelas, dari beberapa titik di tepian sungai yang menyempit itu, tanah yang semula tampak teruruk itu tiba-tiba terbuka begitu saja, memunculkan orang-orang dengan pelontar-pelontar panahnya. Pelontar panah yang tak jauh berbeda dengan yang biasa digunakan pasukan Sriwijaya.

Kara Baday menelan ludah. Kini tahulah ia mengapa sungai ini menyempit. Ini memanglah disengaja karena pelontar panah memang memiliki jangkauan serang yang lebih pendek!

Kara Baday berteriak geram. Namun, anak panah pelontar itu sudah meluncur ke arah sambau-nya.. Beberapa langsung mengenai dengan telak. Walau tak sampai menembus badan sambau, tetapi panah-panah raksasa yang ujungnya telah diberi api itu langsung dapat melukai dan membakar sambau.

Tak pelak lagi, api tiba-tiba sudah memenuhi sambau.

Sungguh, ini sama sekali tak diduga oleh Kara Baday. Pada saat itu, penggunaan panah api dalam pelontar panah memang belumlah lazim digunakan. Maka itulah, ia sama sekali tidak mempersiapkan serangan ini.

Pasukannya yang telah terkoordinasi dengan baik seketika menjadi semakin kacau. Beberapa prajurit yang terbakar langsung memilih menceburkan tubuhnya ke sungai. Suasana benar-benar tak lagi bisa terkendali. Apalagi saat layar sambau mulai terbakar hebat, juga bagian buritan!

"BERTAHAN!" BERTAHAAAN!" Kara Baday masih mencoba berteriak.

Paman Kumbi Jata yang menyadari dirinya ada di dekatnya segera melompat mendekat. "Kita tak akan bertahan terus seperti ini!" ujarnya dengan mata tetap siaga. "Segeralah minta bantuan!"

Kara Baday terdiam sesaat. Sebenarnya, keadaan sambau ini masih terlihat dari kejauhan. Seharusnya, Panglima Samudra Jara Sinya bisa membaca keadaan ini dengan jelas.

"Cepat minta bantuan!" seru Paman Kumbi Jata lagi.

Kara Baday tersentak. Tanpa membuang waktu lagi, segera saja ia berteriak kencang, "MINTA BANTUAN!"

Seorang prajurit dengan langkah tergopoh segera saja berlari menuju dek sambau tertinggi. Dengan tubuh dikelilingi api, ia segera mengibarkan bendera sebagai tanda meminta bantuan.

Dari kejauhan, di salah satu sambau yang masih tampak diam itu, Tunggasamudra menatap waswas.

"Dapunta, mengapa kita belum bergerak?" tanyanya.

Dapunta Cahyadawasuna tak menjawab. Ia melirik sambau utama di mana Panglima Samudra Jara Sinya berada. Namun, sama sekali tak ada tanda-tanda sambau itu akan bergerak.

Ia pun hanya menggeleng pelan kepada Tunggasamudra. Sementara di kejauhan, sambau di mana Kara Baday berada masih terus diserang panah-panah yang menghujan tanpa henti!

"Sambau itu akan hancur," desis Sangda Alin yang merasakan sambau itu semakin termakan api. Tunggasamudra tercekat.

"Tampaknya ... inilah strateginya, Tungga," Dapunta Cahyadawasuna akhirnya berujar pelan. "Ia... mengorbankan sambau itu

-ooo0dw0ooo-