-->

Pandaya Sriwijaya Bab 27 : Panglima

Bab 27 : Panglima

Beberapa hari berselang, kembali diadakan pertemuan di Telaga Batu. Rencana penyerangan ke Minanga Tamwa tampaknya semakin dipikirkan dengan serius. Kali ini tak hanya empat tokoh penting yang datang, tetapi juga meliputi beberapa petinggi di bawahnya.

Di luar, seperti biasa, Tunggasamudra dan Kara Baday tengah menunggu di bawah pohon.

"Ini menyebalkan," ujar Kara Baday. "Aku lebih senang bepergian ke mana pun, daripada harus menunggu seperti ini."

"Kau banyak mengeluh," komentar Tunggasamudra.

"Aku tidak mengeluh," ujar Kara Baday cepat. "Namun, kau yang terlalu diam."

Tunggasamudra tersenyum.

"Eh, tetapi ke mana perempuan judes itu?" Kara Baday membuang pandangannya. "Apa ia tengah memakan cabai agar kejudesannya bisa terus terjaga?"

Tunggasamudra hanya tersenyum mendengar ucapan itu. "Tadi kulihat ia ada di dekat taman itu," ujarnya.

Kara Baday tersenyum, "Tampaknya kau memperhatikannya, ya?" ia menyenggol tangan Tunggasamudra dengan sikunya.

Tunggasamudra tersenyum menghindar. Ini membuat Kara Baday tertawa senang.

Lalu, tiba-tiba ia berdiri. "Aku akan menemuinya," ujarnya. "Mau apa kau?"

"Sekadar menyapanya," ujar Kara Baday sambil memainkan matanya dengan nakal. "Walau bagaimanapun, kita ini teman seperjuangan, bukan? Nanti bila kita benar-benar menyerang Minanga Tamwa, kita pasti akan saling bantu?"

Lalu, Kara Baday segera menghampiri taman yang ada di samping kedatuan itu. Di situ dilihatnya Sangda Alin tengah duduk memperhatikan kolam yang berisi puluhan ikan mas.

"Sedang apa kau?" tanya Kara Baday dengan gaya akrab.

Ia tiba-tiba sudah ikut melongokkan kepalanya ke dalam kolam.

Sangda Alin langsung mendengus. Segera ia bangkit dan melangkah menjauh dari Kara Baday. Namun, Kara Baday malah mengikuti langkahnya.

"Kau tahu," ujarnya dengan senyum nakal, "kau ini sebenarnya sangat jelita. Tentunya bila tidak memakai cadar

Sangda Alin tak menanggapinya.

"Melihatmu memakai cadar itu, aku bisa membayangkan banyaknya ... bopeng di wajahmu," ujar Kara Baday dengan nada datar. "Pastilah dulu jerawatmu besar-besar "

Mata Sangda Alin seketika membesar. Namun, Kara Baday hanya tersenyum dengan tampang tak berdosa.

'Jangan marah begitu, aku hanya bercanda," ujar Kara Baday. "Oya, maukah kau kuberi tahu sebuah rahasia?"

Sangda Alin tak menanggapi. Ia terus berjalan seakan menganggap Kara Baday tak ada di sebelahnya.

"Ini tentang rahasia Pendekar Tiga Pedang itu," ujar Kara Baday lagi. "Sepertinya ia menyukaimu

Sangda Alin terdiam. Kali ini, di posisinya berdiri, ia dapat melihat dari jauh sosok Tunggasamudra yang tengah duduk di bawah pohon besar tak jauh darinya.

Ucapan Kara Baday sedikit mengganggunya. Initam-pak sangat berlebihan. Bukankah keduanya kerap lebih memilih diam, tak melakukan pembicaraan apa pun bila tengah bersama? Memang sesekali ia pernah mendapati Tunggasamudra tengah menatapnya, tetapi itu saat tak ada orang lain selain mereka berdua.

"Sebagai temannya, kau seharusnya tak mengatakan itu!" ujar Sangda Alin terpancing.

"Aku ingin membantunya!" ujar Kara Baday cepat. "Kau tahu, setiap ada di sebelahmu, ia selalu... tampak salah tingkah

Kara Baday tertawa. "Nah, sekarang, karena kau sudah tahu rahasia itu," ujar Kara Baday lagi, "Kau harus menjaganya!"

Sangda Alin tak menggubrisnya. Pemuda di depannya ini terlihat semakin menyebalkan. Bagaimana mungkin ia menjaga Tunggasamudra? Ia tahu sekali kemampuan pemuda itu jauh berada di atasnya. Dengan tak mengeluarkan seluruh kemampuannya saja, ia bisa membuat dirinya kalah.

Akan tetapi, di tengah berpikir seperti itu tiba-tiba sesosok tubuh muncul tak jauh darinya. Melompat dari seekor kuda yang membawanya dengan terburu-buru dan langsung melayang menuju pelataran kedatuan.

Ialah Wantra Santra, sosok yang selalu menaburkan aura kelam dan mengingatkan pada sajak-sajak kematian ....

Seperti biasa, kedatangannya diikuti oleh ketiga orang pengawalnya.

"Huh, orang itu selalu muncul terlambat," Kara Baday tiba- tiba sudah berdiri di sampingnya.

Sangda Alin tak menyahut. Tanpa Kara Baday tahu, hatinya tiba-tiba bergejolak.

Sejak pertama kali pertemuannya kala itu, hatinya terus bertanya-tanya sendiri. Dan, ingatannya ternyata dapat me- rajutkan untuknya. Seperti sebuah tabir yang perlahan mulai terbuka, perlahan, perlahan, perlahan, dan kemudian semuanya semakin jelas dan semakin jelas ....

Sangda Alin ingat lelaki itu! Ya, ia begitu ingat.

Lelaki berjubah hitam itu pernah datang menjumpai ayahnya di Datu Muara Jambi. Ia ingat, cukup lama lelaki itu bicara dengan ayahnya. Sampai di sini, ia seharusnya tak akan terlalu mengingat kejadian ini. Begitu banyak tamu yang menjumpai ayahnya setiap harinya. Ia tak akan mengingatnya satu per satu. Namun, yang membuatnya kembali dapat mengingatnya adalah saat kepulangan lelaki ini.

Saat itulah, ayahnya tampak begitu marah!

Sangda Alin mencoba kembali mengingat-ingat kejadian itu. Namun, ia tak bisa benar-benar mengingatnya. Ia sama sekali tak bisa mengingat apa yang dibicarakan orang itu dengan ayahnya. Hanya saja ia masih begitu ingat kemarahan ayahnya seperti apa yang terngiang selepas lelaki itu pergi....

"Manusia penjilat, tak tahu malu!"

Dan, sepertinya kemarahan yang begitu meluap itu telah menjadi kunci baginya. Perlahan Sangda Alin mulai menerjemahkannya. Seakan sebuah teka-teki yang terpecahkan satu demi satu, ia mulai menyibak tirai hitam yang menutupi kejadian masa itu.

Lelaki yang begitu dipercaya oleh Sri Maharaja Balaputradewa dan pertengkaran pribadi dengan

ayahnya....

Sungguh ia mulai melihat hubungan antarkeduanya. Bukankah ini seperti sebuah kombinasi yang baik untuk memfitnah dan mencelakakan ayahnya?

"Hey, kau tak mendengar ucapanku?" suara Kara Baday menyentaknya. Sangda Alin berpaling, "Benarkah tugas Kelompok Rahasia Wangseya adalah mengamati sebuah datu, lalu memutuskan apakah datu itu akan berkhianat atau tidak?"

Kara Baday terdiam, "Ya, tentu saja itu tugas Wangseya Sangda Alin menarik napas panjang. Kini semuanya seakan

jelas sudah. Ia telah bisa menghubungkan semuanya.

Lalu, Sangda Alin pun segera beranjak dari situ. "Sangda! Hoi, mengapa kau?" Kara Baday hanya bisa memanggil tak mengerti.

Akan tetapi, Sangda Alin tak lagi menggubrisnya ....

-ooo0dw0ooo-

Hampir tiga tahun yang lalu, 5 tahun sebelum Perang Merah terjadi, wilayah barat bergejolak. Saat itu beberapa datu mencoba membebaskan diri dari Sriwijaya. Di tengah keadaan seperti itulah, kemudian Panglima Bhumi Tambu Karen, yang saat itu masih sangat muda, diutus untuk mengamankan datu-datu itu.

Dengan pasukan tak lebih dari satu laksa ia berangkat. Tanpa ada bantuan dari pasukan samudra, karena wilayah pemberontakan terletak jauh dari perairan, serta tanpa ada bantuan dari datu-datu yang masih setia, Panglima Tambu Karen dapat menundukkan seluruh wilayah barat dalam peperangan tak lebih dari tujuh hari.

Saat itu ia masih tergolong sangat muda, tetapi kesaktiannya sudah cukup luar biasa. Satu gerakannya dalam peperangan adalah nyawa musuh yang melayang. Tak heran, sampai sekarang telah ribuan nyawa diakhiri langsung dengan tangannya.

Dulu, Panglima Samudra Jara Sinya berhubungan cukup dekat dengan Panglima Tambu Karen. Keduanya berkenalan selagi muda dan muncul dalam masa pergolakan di Bhumi Sriwijaya.

Di waktu-waktu tertentu keduanya akan berbincang hingga larut malam. Mereka saling bertukar jurus dan mempertunjukkannya satu sama lain. Sebagai panglima yang lebih berpengalaman, Panglima Tambu Karen tak segan memberikan masukan-masukan terhadap jurus-jurus Panglima Samudra Jara Sinya. Dan, Panglima Samudra Jara Sinya akan dengan besar hati menerimanya, seakan keduanya adalah dua orang sahabat yang telah lama tak bertemu. Namun, awalnya hubungan keduanya tidaklah sedekat itu. Panglima Tambu Karen sendiri adalah sosok yang cukup pendiam. Ia lebih suka merenung dan memikirkan segala sesuatu. Namun, dalam pertemuan pertama mereka, suasananya langsung menjadi cair. Ini karena Panglima Samudra Jara Sinya sangat hafal akan kesukaan Panglima Tambu Karen yang pandai berdendang dan berpantun.

Saat itu Panglima Samudra Jara Sinya secara tiba-tiba membacakan pantunnya....

Air mengalir dari hulu Bergulung-gulung membawa rakit Pedang tombak sisihkan/ah dulu Agar dapat berbincang dekat

Sungguh, itu merupakan pantun yang begitu saja terluncur dari mulutnya. Namun, akibatnya cukup luar biasa. Panglima Tambu Karen langsung terbahak-bahak dengan senangnya.

Panglima Samudra Jara Sinya tak pernah tahu apakah pantun yang diucapkannya benar atau salah. Namun, yang pasti sejak saat itu keduanya dapat duduk dengan akrab hingga waktu lama.

Kini berjarak ribuan tombak, keduanya tengah memandang bulan yang sama, dengan ingatan yang hampir sama!

Akan tetapi, nostalgia indah masa lalu seakan tertepis dengan mudah. Di Minanga Tamwa, Panglima Tambu Karen tak lagi mengingat pantun-pantun yang pernah dilantunkannya dengan Panglima Samudra Jara Sinya. Ia kini hanya terdiam, di antara para pu yang berdiri mengelilinginya.

"Ini memang tak bisa kita hindari lagi," ujar Panglima Tambu Karen. "Aku sudah sangat mengenal mereka. Aku tahu apa yang akan mereka lakukan

Ia berdiri. Wajahnya yang keras tampak tanpa raut ragu. Lalu, mendadak ia melirik kepada salah satu panglimanya.

"Apakah ... utusan kita telah sampai di Datu Singkep," tanyanya.

Panglima itu mengangguk, "Sudah, Dapunta Hyang."

Panglima Tajnbu Karen, yang kini telah dipanggil dengan sebutan dapunta hyang mengangguk senang, "Bagus, inilah saatnya ia membantu aku "

Diam-diam Panglima Tambu Karen tersenyum tipis. Kini tampaknya ia harus mulai mengeluarkan kunci-kunci kemenangan yang telah lama dipersiapkannya. Dan, salah satunya adalah Datu Singkep!

Datu yang ada di wilayah Pantai Barat ini menguasai perairan Batang Tigo dan Batanghari yang ada di Pantai Barat. Telah hampir dua puluh tahun ini ia membina hubungan baik dengan Dapunta Kangga Kiya, penguasa Datu Singkep, bahkan di satu generasi sebelumnya. Ia kerap mendatangi dapunta itu, membawakannya barang-barang mewah, dan mencoba mendengarkan segala keluhannya, seperti layaknya sahabat.

Maka itulah, ia tahu sekali kebencian dapunta itu pada pemerintahan Sriwijaya di Telaga Batu. Puluhan tahun perairannya dikuasai bajak laut. Ia sudah berkali-kali meminta pertolongan pada Sriwijaya, tetapi semuanya seakan tak pernah ada jawaban. Pertolongan itu baru saja didapatnya beberapa bulan yang lalu. Itu pun Sriwijaya hanya mengirimkan panglima muda baru, yang merupakan bekas bajak laut!

Panglima Tambu Karen menyadari betul keinginan Datu Singkep untuk lepas dari Sriwijaya. Maka itulah, kini ia yang akan menjawab keinginan itu. Datu Singkep tak perlu berperang membantunya. Tak perlu. Ia hanya cukup membantunya sedikit saja, dengan menutup perairan Batanghari di sebelah barat. Hanya itu. Dan, ia akan menjanjikan kemerdekaan kepada datu itu!

"Dengan menutup perairan Batanghari di sebelah barat, pasukan Sriwijaya hanya akan memiliki kesempatan menyerang Minanga Tamwa dari depan," pikiran Panglima

Tambu Karen berkilat. "Dan, menjalani peperangan dari depan, sungguh, membuatku sangat siap!"

-ooo0dw0ooo-

Jauh dari Minanga Tamwa, di kediaman Panglima Jara Sinya,Luwantrasima, putra sulung sang panglima, baru saja mendekati Kara Baday.

"Panglima memanggilmu," ujarnya dengan nada dingin.

Walau berusaha bersikap biasa, Kara Baday dapat melihat ketidaksukaan putra Panglima Samudra Jara Sinya ini kepadanya. Namun, ia mencoba tak ambil pusing dan terus bersikap biasa.

Sejak bergabung menjadi panglima di Telaga Batu ini, ia sudah menghadapi sikap permusuhan. Tak hanya dari kedua putra Panglima Samudra Jara Sinya saja, tetapi juga beberapa panglima muda. Namun, ia mencoba memahami itu. Walau bagaimanapun ia pernah membunuh salah satu rekan mereka, Panglima Sru Suja. Jadi, wajar bila mereka tak menyukai kehadirannya. Terlebih, gelar panglima muda yang kini disandangnya terasa begitu cepat diberikan bila dibanding yang lainnya. Maka itulah, Kara Baday tak terlalu menyimpan dalam hati perlakuan itu.

Kini ia tengah melangkah sendirian ke dalam ruangan tempat Panglima Samudra Jara Sinya tengah menulis sebuah surat.

Ia menunggunya, berusaha tak mengganggu.

"Ah, kau sudah datang, Panglima Kara Baday," ujar Panglima Samudra Jara Sinya tanpa menghentikan gerakannya menulis. "Ada yang harus kubicarakan denganmu."

Kara Baday menunggu beberapa saat hingga Panglima Samudra Jara Sinya meletakkan bulu angsa yang digunakan untuk menulis itu di atas meja.

Ia tiba-tiba menatap tajam kepada Kara Baday. "Bersiaplah untuk peperangan besar pertamamu," ujarnya.

Ia dijuluki Pembantai Para Panglimd Ia merupakan satu dari keturunan Wangsa Sailendra yang memiliki nama terbesar. Ia juga disebut penjaga atau pelindung semesta. Cerita-cerita tentangnya telah banyak dikisahkan dari mulut ke mulut, juga dalam prasasti-prasasti yang ada.

Ia selalu berada di barisan paling depan dalam semua peperangan. Dengan kuda terbaiknya, ia akan berteriak menggelegar di langit untuk mengawali penyerangan terhadap lawan-lawannya.

Keberadaannya begitu mencolok, walau saat berperang terbuka ia selalu menutupi wajahnya dengan topeng dan pelindung dari baja. Pcdang-tombaknya yang besar selalu akan tampak penuh darah.

Ia yang kemudian akan memilih panglima musuh yang tertinggi, mendekatinya, membuat pertarungan, dan memenggal kepalanya! Ialah Daranindra Rakai Panunggalan, kakek Sri Maharaja Balaputradewa.

Ialah yang dipuja oleh seluruh keturunan Wangsa Sailendra. Dan, selalu dijadikan contoh kebesaran Wangsa Sailendra. Maka, tak heran saat pernikahan Pramodawardhani dan Jatiningrat sudah ada di ambang waktu, beberapa di antaranya berteriak atas namanya!

-ooo0dw0ooo-