Pandaya Sriwijaya Bab 26 : Sosok di Balik Cadar

Bab 26 : Sosok di Balik Cadar

Malam menjelang larut saat tubuh-tubuh itu keluar dari I lKedatuan Telaga Batu. Tunggasamudra yang sejak tadi menunggu baru saja akan mengeluarkan kudanya untuk kembali menuju kediaman Dapunta Cahyadawasuna ketika Kara Baday menghalangi langkahnya.

^'Aku telah mendengar selentingan cerita itu," ujarnya. "Tampaknya Dapunta Cahyadawasuna memang bukan orang sembarangan."

Tunggasamudra mengangguk pelan. "Tentunya.be-gitu," ujarnya sambil mengikatkan tali kekang kudanya. "Tak ada orang yang bisa menahan racun bisa ular seperti itu."

Kara Baday mengangguk-angguk, "Namun, lepas dari semua itu, kupikir pertaruhan yang dilakukan Dapunta Cahyadawasuna tetaplah ... pertaruhan yang konyol!"

Tunggasamudra tersenyum tipis, "Aku tak berpikir seperti itu," ujarnya. "Kalau Dapunta bisa menahannya saat itu, tentunya panglima itu tak bisa mengingkari janjinya." Kara Baday tertawa, "Hahaha, kau tampaknya sudah termakan ucapannya "

Tunggasamudra menyahut, "Kupikir, usaha Dapunta Cahyadawasuna untuk menaklukkan Kedatuan Minanga Tamwa tanpa menimbulkan korban perlu kita hargai bukan?"

Kara Baday makin tergelak. "Kau ini," ia menepuk-nepuk punggung Tunggasamudra. "Aku suka pendapatmu. Sungguh! Walau kadang menurutku peperangan adalah satu-satunya penyelesaian masalah seperti ini, tetapi aku suka seseorang berpendapat lain!"

Kali ini Tunggasamudra tak membantah.

'Apa sekarang engkau akan menuju kediaman Dapunta Cahyadawasuna?" tanya Kara Baday sejurus kemudian.

Tunggasamudra mengangguk.

"Bagaimana kalau kita berbincang-bincang dulu," ajak Kara Baday. "Tentunya berhari-hari di lautan membuatmu jenuh, bukan? Ada sebuah tempat makan yang dapat menyediakan makanan enak hingga larut malam seperti ini. Di sana mereka juga menjual minuman."

Tunggasamudra memandang ragu. Sejak tadi sebenarnya Dapunta Cahyadawasuna sudah menyuruhnya pulang terlebih dahulu untuk istirahat. Namun, ia menolaknya. Sangda Alin sendiri saat itu sudah pulang terlebih dahulu untuk beristirahat.

"Ayolah," Kara Baday merangkul pundaknya. "Sekali waktu tak ada salahnya untuk bersantai."

Tunggasamudra akhirnya mengangguk juga.

Keduanya lalu menuju ke selatan dengan menunggang kuda perlahan-lahan. Saat itu malam telah terasa pekat. Hanya iringan suara serangga malam yang menemani keduanya. Tempat makan yang diceritakan Kara Baday ternyata tidaklah begitu jauh dari Kedatuan Telaga Batu. Bentuknya seperti rumah biasa yang banyak tersebar di seluruh Telaga Batu.

Ketika Kara Baday mengetuknya, pemiliknya langsung mempersilakan keduanya duduk di ruangan depan yang telah digelari tikar jerami di setiap sudutnya. -

"Siapkan makanan yang paling enak," ujar Kara Baday. "Juga minumannya."

Keduanya lalu duduk di tikar jerami yang sudah disiapkan. "Kalau siang hari, di sini cukup ramai," ujar Kara Baday

kepada Tunggasamudra. "Ini merupakan tempat makan para

prajurit. Kalau para pu ataupun dapunta biasanya di tempat yang ada di seberang sana," ia menunjuk ke luar, entah ke mana tepatnya.

Tak berapa lama, lelaki pemilik rumah itu mengantarkan dua ruas bambu berisi minuman keras.

"Ayo, minumlah," Kara Baday menyodorkan satu cangkir bambu kepada Tunggasamudra.

"Maaf, aku tak biasa," tolak Tunggasamudra. Kara Baday tertawa, "Kau ini, seperti biksu saja!" Tunggasamudra tak menyahut. Mendengar kata biksu diucapkan, sejenak pikirannya melayang kepada sosok Biksu Wang Hou, yang selama ini telah menjadi gurunya. Sebenarnya sejak dulu, Biksu Wang tak pernah sekalipun melarangnya melakukan apa pun, termasuk minum minuman keras. Ia hanya menyimpulkan saja bahwa minum minuman keras bukanlah sesuatu yang baik karena Biksu Wang sendiri tak pernah melakukannya.

"Kadang tindakanmu mengejutkanku, Tungga," ujar Kara Baday lagi. "Aku jadi ingin tahu tentang dirimu!" Tunggasamudra menarik napas panjang. "Tak ada yang istimewa padaku, Kara," ujarnya. "Namun, tak apa bila kau ingin tahu. Aku lahir di sebuah perdatuan kecil, yang suatu ketika ditenggelamkan banjir. Waktu itu hanya aku yang selamat, sedang yang lain, termasuk kakek dan orangtuaku tak ada yang selamat

Tunggasamudra melanjutkan, "Aku kemudian diselamatkan oleh orang-orang dari datu lain. Namun, hanya berselang beberapa tahun saja datu keduaku pun hancur luluh karena perampok. Sejak itu aku mengikuti seorang pendeta Buddha mengembara ke arah utara "

"Wah, itu luar biasa, Tungga," ujar Kara Baday. "Selamat dari bencana hingga dua kali bukan takdir hidup orang biasa!"

Tunggasamudra tersenyum. Saat itu pemilik rumah itu sudah kembali keluar dengan membawa beberapa makanan. Ayam bakar dan nasi yang masih mengepul. Semuanya terhidang di atas selembar daun pisang.

"Mengapa kau tadi tersenyum?" tanya Kara Baday. "Aku serius dengan ucapanku."

"Tidak, tidak!" ujar Tunggasamudra cepat. "Selama ini aku merasa bahwa selamat dari dua bencana itu hanyalah hal biasa. Namun, kata kakekku, hal yang luar biasa adalah ," ia

berhenti sebentar dan menyodorkan pundaknya ke wajah Kara Baday, "Aku lahir dengan tiga tangan dan inilah bekas tangan ketigaku!"

Kara Baday menyentuhnya, "Aah, kisah hidupmu benar- benar tak biasa, Tungga," ia menggeleng tak percaya. "Pantas kau selalu membawa tiga bilah pedang "

Tunggasamudra tertawa kecil, "Kalau soal itu, hanya kebetulan saja, Kara," ia mulai menyantap makanannya. "Kau sendiribagaimana kisah hidupmu sebelum sampai ? di sini?

Terakhir yang kuingat kau bercerita bahwa dirimu adalah bajak laut?" Kara Baday mengangguk mantap. "Ya, bukan sekadar bajak laut biasa, Tungga," ujarnya dengan nada tinggi. "Namun, Bajak Laut Semenanjung Karang. Itu adalah nama bajak laut paling berani di sepanjang muara besar. Kami tidak merampok perahu-perahu kecil. Kami hanya merampok perahu-perahu para saudagar kaya dan jugaia mendekatkan wajahnya kepada wajah Tunggasamudra, "sambau-sambau Sriwijaya...," desisnya.

Sekilas Tunggasamudra terkejut.

Lalu, secara singkat Kara Baday menceritakan asal-muasal mengapa ia membenci Sriwijaya ketika itu. Ia menceritakan saat ayahandanya Dapunta Abdibawasepa difitnah oleh Sriwijaya dan harus berpindah-pindah tempat untuk bertahan hidup. Ia juga menceritakan tentang Pulau Karang, tempatnya bersembunyi selama ini, juga saat kedatangan Panglima Samudra Jara Sinya ke pulau itu ....

"Dan, setelah membuktikan dengan menghancurkan lima bajak laut di Pantai Barat, kini jadilah aku Panglima Muda Sriwijayaujar Kara Baday mengakhiri ceritanya.

Tunggasamudra mengangguk-angguk, "Tampaknya kau menikmati posisimu sekarang."

"Tentu saja, Tungga," ujar Kara Baday cepat. "Belasan tahun kami selalu bersembunyi, baru sekarang aku merasa bebas. Sungguh ... ini membuatku lega "

Akan tetapi, setelah mengucapkan kalimat itu Kara Baday menarik napas panjang. "Namun, jujur saja, kadang aku merindukan kembali ke Pulau Karang ," matanya sedikit

menerawang. Sekilas sosok Aulan Rema dibiarkannya muncul di angannya. "Di sana orang-orang sepertinya selalu

menunggu kepulanganku terutama ia

Kening Tunggasamudra berkerut, "Ia?" Kara Baday segera tersadar. Ia segera menutupinya dengan tertawa lebih keras. "Ya, ia! Ia!" ia menepuk-nepuk pundak Tunggasamudra. "Ah, apa yang sudah kuucapkan ini. Ayo, kita makan dulu saja. Tak enak rasanya terus berbincang dan menelantarkan makanan ini. " Tunggasamudra

mengangguk pelan. Akan tetapi, baru beberapa suap, di tengah kunyahan-nya, Kara Baday kembali berpaling kepada Tunggasamudra, "Aku heran, baru bertemu denganmu beberapa kali saja, aku seperti merasa sudah mengenalmu sangat lama "

-ooo0dw0ooo-

Sementara itu, di kediaman Dapunta Cahyadawasuna, Sangda Alin tengah berbaring di pembaringannya.

Sebuah ketukan halus pada pintu kamarnya membuatnya secara refleks memakai kembali cadarnya dan mengambil pedangnya.

"Sangda Alin," suara Dapunta Cahyadawasuna terdengar, "kau belum terlelap?"

Sangda Alin segera keluar dari kamarnya. "Dapunta..”

"Aku melihat ruanganmu masih benderang, kupikir kau pastinya belum terlelap "

"Hamba hanya sedang berpikir, Dapunta."

"Sebaiknya kita bicara di sana," Dapunta Cahyadawasuna menunjuk sebuah taman kecil di mana terdapat sebuah kolam dan beberapa tempat duduk panjang.

Sangda Alin mengangguk. Keduanya lalu berjalan ke arah taman itu. Saat ini, malam sebenarnya sudah sangat larut.

Bulan mulai bersembunyi di balik ranting-ranting. Di kejauhan suara lolongan serigala terdengar putus-putus. "Tampaknya Tunggasamudra belum kembali," ujar Dapunta Cahyadawasuna sambil duduk. "Kulihat terakhir kali ia tengah berbincang dengan seorang panglima muda bawahan Jara Sinya "

Dalam hati Sangda Alin bisa menebak siapa panglima muda itu. Namun, ia tak berucap apa-apa.

Dapunta Cahyadawasuna kemudian menarik napas panjang, "Kejadian hari ini benar-benar berat."

"Hamba juga bisa merasakannya, Dapunta," ujar Sangda Alin.

"Terlebih, Panglima Samudra Jara Sinya tampaknya tak terlalu suka dengan tindakanku ini. "

Sangda Alin tak menyahut. Namun, dalam hati, ia bisa memahami ketidaksukaan Panglima Samudra Jara Sinya.

"Memikirkan itu, aku sampai tak bisa memejamkan mataku ," keluh Dapunta Cahyadawasuna. Sekilas ditatapnya

Sangda Alin yang masih dengan cadarnya. Dulu saat pemilihan pandaya di tanah lapang itu, Dapunta Cahyadawasuna sempat melihat wajah Sangda Alin tanpa cadar. Ia bahkan juga melihat rajah kupu-kupu di pipi kiri Sangda Alin. Walau hal itu hanya beberapa saat saja, tetapi ia bisa melihat kejelitaannya.

Tanpa sadar Sangda Alin merasakan tatapan Dapunta Cahyadawasuna kepadanya. Ini tiba-tiba saja membuatnya terdiam. Keheningan yang semula ada, semakin menyeruak di antara keduanya ....

"Sangda," tiba-tiba suara pelan Dapunta Cahyadawasuna memecah keheningan, "mengapa kau masih saja menutupi wajahmu?"

"HambaSangda Alin tak bisa langsung menjawabnya.

Sedikit ia merasa bingung dengan arah pembicaraan ini, tetapi ia segera menguasai keadaan, "Hamba harus menutupnya, Dapunta. Karena ini merupakan pesan dari guru hamba Dapunta Cahyadawasuna mengangguk mencoba mengerti, tetapi tatapannya semakin terasa lekat. Ini tentu saja membuat Sangda Alin menjadi salah tingkah. Ia mencoba memalingkan wajahnya, tetapi itu terasa aneh. Maka, ia pun hanya menunduk saja.

Sebenarnya diam-diam, ia tak bisa memungkiri kewibawaan yang ada pada lelaki di depannya ini. Hanya beberapa hari berada di sisinya, ia bisa merasakan kebijaksanaan dari segala tindakan sosok ini. Tanpa bisa ditahannya lagi, tiba-tiba saja, jantung Sangda Alin terasa lebih cepat berdetak.

Ia semakin terpaku dalam diamnya. Sedikit hatinya bertanya, mengapa bisa seperti ini? Apakah ... hatinya telah tergugah?

Dan, di tengah kecamuk di hatinya, tiba-tiba dirasakannya tangan Dapunta Cahyadawasuna terangkat dan mengarah ke wajahnya. Ia tak bisa melakukan apa-apa lagi selain membiarkan jantungnya semakin berdebar kencang.

"Maafkan aku," ujar Dapunta Cahyadawasuna perlahan. "Sebenarnya ... kau tak harus menutupi wajahmu," tiba-tiba tangannya sudah melepaskan ikatan yang ada di belakang kepala Sangda Alin. Hingga kain hitam itu pun terlepas perlahan ....

"Seperti bulan yang indah juga tak pernah menutupi wajahnya," ujar Dapunta Cahyadawasuna lagi.

Sangda Alin hanya bisa terdiam. Entah mengapa, sebagai perempuan yang biasa bersikap keras, ia tak bereaksi apa-apa diperlakukan seperti ini. Sungguh, ini membuatnya tak mengerti. Apakah ia sudah begitu terpesona oleh sosok di depannya ini? Karena ketampanan wajahnya, kewibawaannya, kesopanannya, dan tindak-tanduknya selama ini?

Sangda Alin sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Maka, dengan gerakan ragu, ia hanya bisa mengangkat kepalanya perlahan. Dikuatkan hatinya untuk membalas tatapan Dapunta Cahyadawasuna....

"Kau tahu, Sangda," ujar Dapunta Cahyadawasuna pelan sesaat setelah mereka bertatapan. "Mungkin ini terasa berlebihan. Namun, sungguh, aku sendiri tak mengerti mengapa demikian. Namun, saat racun dalam tiga cawan itu hampir mematikan aku, rasanya hanya bayang wajahmu

yang teringat olehku "

-ooo0dw0ooo-

Setelah itu, Sangda Alin benar-benar tak bisa lagi memejamkan matanya. Bayang-bayang wajah Dapunta Cahyadawasuna terus mengganggu benaknya. Terutama suaranya ....

Seperti bulan yang indah juga tak pernah menutupi wajahnya ....

Namun, saat racun dalam tiga cawan itu hampir mematikan aku, rasanya hanya bayang wajahmu yang teringat olehku

....

Tanpa sadar Sangda Alin tersenyum. Namun, begini menyadarinya, cepat-cepat ia menahan gerakan bibirnya itu Telah begitu lama ia tak tersenyum. Sudah begitu lama ia hidup dalam wajah kerasnya.

Saat itulah tiba-tiba dirasakannya sesuatu bergeretak di atas kamarnya.

Sangda Alin terkesiap sambil menengadahkan kepalanya.

Seorang penyusupkah di atas sana? Ia berpikir sebentar sambil menyambar cadar dan pedangnya. Lalu, dengan gerakan cepat, ia keluar dari ruangannya. Di atas bubungan kamarnya, terlihat olehnya seorang berpakaian hitam tengah berjalan mengendap-endap. Tanpa banyak pikir, Sangda Alin segera melompat melayang ke arah itu. Langsung dikeluarkannya pedangnya mengarah kepada sosok berpakaian gelap itu.

Akan tetapi, sosok itu telah menyadari kehadirannya. Segera saja dengan gesit ia melompat menjauh. Hanya dengan beberapa langkah ringan saja, ia sudah melayang menghindar.

Akan tetapi, Sangda Alin tetap melanjutkan serangannya.

Wuuush .... Wuuush ....

Sosok berpakaian hitam itu semakin menjauh. Kembali dengan beberapa lompatan lebar, ia melampaui tembok kedatuan dan segera keluar dari gerbang kediaman Dapunta Cahyadawasuna.

"Mau lari ke mana kau?" Sangda Alin berusaha terus mengejar.

Kali ini sosok berpakaian hitam itu melompat ke tanah. Setelah itu, dengan sesekali melompat jauh, ia terus berlari kencang meninggalkan Sangda Alin. Namun, Sangda Alin bukanlah pendekar kemarin sore. Lompatannya segera menyusul dengan sangat ringan hingga ia bisa merapatkan jarak.

Hanya beberapa saat saja, dapat terlihat bahwa ilmu meringankan tubuh Sangda Alin jauh di atas sosok berpakaian hitam itu. Tak heran bila tak lama kemudian ia sudah bisa menyusul sosok itu dan melakukan serangan pertamanya.

Sosok berpakaian hitam itu mencoba menghindar. Namun, serangan Sangda Alin telah menjebaknya. Pedang itu mengarah ke arah lehernya begitu cepat.

Melihat posisinya benar-benar tak menguntungkan, sosok berpakaian hitam itu segera membuang tubuhnya menjauh ke belakang sambil berteriak, "TUNGGUUU!" Sangda Alin tertegun. Serangannya yang menghujan urung dilanjutkannya. Entah mengapa, ia seperti mengenal suara itu.

"Siapa kau?" tanyanya dengan tubuh tetap siaga.

Suaranya, walau bernada keras, tetap terdengar sedikit ragu. Sosok itu melepas kain yang menutupi wajahnya. "Ini aku," ujarnya.

Akan tetapi, wajah itu tak langsung bisa terlihat. Awan hitam seakan menutupi seluruh wajahnya untuk beberapa saat. Ini membuat Sangda Alin kemudian maju satu langkah dengan ragu seiring sinar bulan yang menyeruak.

"Ini aku, Agiriya," suara itu kembali terdengar bersamaan dengan terlihatnya sesosok lelaki yang berdiri menatap Sangda Alin dengan ragu.

Sangda Alin terkesiap. Napasnya seakan terhenti. Sebutan nama "Agiriya" yang diucapkan lelaki itu benar-benar membuatnya seakan teriempar ke masa lalunya.

Dengan suara ragu, ia pun mendesis tak percaya, "Kau ...

Magra Sekta

Kini awan hitam telah benar-benar menepi. Kedua sosok itu berdiri mematung di bawah bulan yang bercahaya begitu terang. Tanpa melepaskan tatapan, keduanya masih saling tak percaya....

"Selama ini aku mencarimu, Agiriya," Magra Sekta berkata dengan suara gemetar. "Sejak hari itu, saat kaujatuh di jurang itu, aku terus mencarimu

"Kau bisa selamat dari kejaran itu?" tanya Sangda Alin

tak percaya.

"Mereka melukaiku, tetapi aku bisa bertahan," perlahan Magra Sekta menyentuh perutnya tempat bekas babatan golok seorang berpakaian hitam kala itu. "Apa yang kini kaulakukan, Agiriya?" tanya Magra Sekta sejurus kemudian.

Sangda Alin tersenyum. Kini ia berpaling menatap ke kegelapan, "Kau tak perlu menanyakan itu, Magra!"

"Ya, aku tak perlu," ujar Magra Sekta mengulang ucapan itu dengan nada pelan. "Namun, aku bisa menebaknya. Saat kudengar seseorang muncul dengan cadar hitam di wajahnya dan juga merajah wajahnya dengan gambar kupu-kupu, aku sudah menduga itu dirimu. Namun, melihat kemampuanmu yang begitu maju pesat, aku sempat ragu. Maka, aku pun terus mengamati dirimu. Selama ini, aku memang tak pernah bisa melihatnya dengan jelas. Namun, sekali waktu aku mendapati dirimu ada di antara kupu-kupu yang beterbangan. Sejak itulah, aku yakin bahwa sosok itu adalah dirimu "

Sangda Alin tersenyum dengan tatapan tak percaya, 'Akhirnya kupu-kupu juga yang menunjukkan diriku," ia

berdesis pelan, tak percaya. "Agiriya... Agiriya sepertinya

sudah begitu lama tak kudengar nama itu dilafalkan

Magra Sekta maju beberapa langkah, "Apa kau berencana membalas dendam, Agiriya?"

Sangda Alin tertawa, "Mengapa kau bertanya seperti itu?" "Kau tak harus melakukannya, Agiriya!" ujar Magra Sekta

pelan.

"Setelah yang mereka lakukan kepada keluargaku, kepada Guru Kuya Jadran, serta kepada teman-teman kita di Panggrang Muara Gunung, apa aku harus tetap berdiam diri?" Sangda Alin balik bertanya.

Magra Sekta sama sekali tak bisa membalas ucapan itu. "Seharusnya kau juga ikut bersamaku, Magra," ujar Sangda

Alin dingin. "Namun, tampaknya kau memilih melupakan itu, bukan? Lari, seperti biasanya? Lari, seperti saat itu?" Sangda Alin berucap tajam. "Sungguh, kau benar-benar pengecut!" Magra Sekta memandang Sangda Alin dengan tak percaya. "Aku... pengecut?" desisnya nyaris tak terdengar. "Saat itu, aku ... aku hanya ingin ... menyelamatkanmu "

Sangda Alin tak langsung bereaksi. "Sudahlah, kupikir kini kita berada di dua jalan yang berbeda. Sudah sepatutnya kita mengakhiri kisah masa lalu kita," ujarnya dingin.

Lalu, ia segera membalikkan tubuhnya, "Kini, pergilah kau, Magra!" ujarnya. "Dan, jangan temui aku lagi!"

Sangda Alin pun mulai beranjak pergi.

Sesaat Magra Sekta akan berucap sesuatu. Namun, bibirnya terasa kelu. Maka, ia pun hanya diam dan terus mengikuti gerakan Sangda Alin yang semakin menjauh. Ia berharap Sangda Alin berpaling kepadanya, walau sekali saja. Namun, sampai bayangan itu menghilang di ujungjalan itu, Sangda Alin sama sekali tak berpaling ....

-ooo0dw0ooo-

Sangda Alin berjalan menjauh.

Sekilas kejadian itu kembali teringat olehnya. Waktu itu ia masih menjadi sosok Agiriya, belum memakai nama Sangda Alin.

Dan, semua bermula ketika Magra Sekta mengajaknya pergi ke dalam hutan untuk melihat ribuan kupu-kupu. Dan, ternyata kepulangannya dari tempat itu hanyalah untuk menyaksikan kehancuran bagi Panggrang Muara Gunung.

Sosok-sosok berbaju hitam kemudian mengejar keduanya hingga akhirnya ia pun jatuh ke dalam jurang itu ....

Ya, ia jatuh!

Dan, seharusnya ia mati saat itu. Tubuhnya terhempas ke dalam jurang yang begitu dalam, mengenai dahan-dahan pohon-pohon, yang membuat luka di sekujur tubuhnya. Namun, daun-daun dan ranting-ranting itulah yang sebenarnya menahan kejatuhannya. Mengurungkan kematiannya.

Akan tetapi, ia tak bisa bergerak lagi ketika itu. Rasa perih terasa di sekujur tubuhnya, begitu menyiksanya. Ditambah kegelapan yang tak tertembus matanya, semua itu benar- benar menyempurnakan ketakutannya.

Begitu lama ia terbaring dalam posisi diam seperti itu. Semakin lama rasa perih dan rasa takut semakin kuat dan bercampur dengan rasa haus di tenggorokannya. Ia berulang kali menyangka dirinya akan mati, maka ia biarkan dirinya untuk benar-benar mati. Terutama saat didengarnya langkah- langkah berat mendekatinya. Perasaannya yang mulai setengah sadar hanya bisa menerima dengan pasrah. Ia menyangka itu adalah langkah kaki seekor harimau.

Akan tetapi, belum sempat ia membuktikan itu, ia sudah tak sadarkan diri. Entah sampai kapan. Ia sama sekali tak tahu. Yang ia tahu hanyalah ketika terbangun tubuhnya telah dalam posisi duduk, dengan kehangatan di sekujur tubuhnya.

Ia sama sekali tak bisa mengira-ngira di mana dirinya kini berada. Semuanya tampak gelap dan bau apek yang begitu tajam menusuk hidungnya.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Seperti suara seretan kaki di tanah dan juga suara ketukan kayu yang teratur menekan tanah.

Ia tertegun. Siapakah itu? Dan, ia tak perlu menunggu lama untuk tahu jawabannya. Dari asal suara muncul setitik cahaya menerangi tempatnya berada.

Ia hanya bisa menelan ludah. Cahaya itu semakin lama semakin dekat hingga akhirnya ia benar-benar bisa melihat sosok yang datang di depannya Sosok itu adalah seorang

perempuan tua dengan baju dari daun-daunan. Wajahnya tampak begitu kotor dengan rambut memutih seluruhnya. "Kau murid Kuya Jadran?" suara seraknya memecah kesunyian.

"Akuia hanya bisa menelan ludah. Baru disadarinya kalau kerongkongannya terasa begitu sakit.

"Ia menerima murid perempuan juga?" tanya perempuan tua itu lagi.

Agiriya mengangguk. "Hanya beberapa," ujarnya. "Apa ia ... mencoba merayumu?"

Ia tertegun dengan pertanyaan itu. Namun, cepat ia menggeleng tegas, "Tidak, Guru Kuya Jadran tak akan melakukan itu. Ia hanya menghabiskan waktu bermeditasi setiap harinya

Perempuan itu menatapnya dengan tak percaya. "Ia sama sekali... tak merayumu?"

Kembali dirinya menggeleng tegas, "Sekali lagi kukatakan, Guru Kuya Jadran tak mungkin melakukan itu!"

Perempuan itu terdiam. Sambil menerawangkan matanya, ia kembali menyeret kakinya menjauhi dirinya.

"Apa ... kau yang menyelamatkan aku?" tanyanya setelah terdiam beberapa saat.

Perempuan tua itu hanya terkekeh pelan. "Siapa kau?" kembali ia bertanya.

Akan tetapi, lagi-lagi perempuan tua itu hanya terkekeh panjang. Tak pernah ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia seakan menganggap semua pertanyaannya hanya gelitik angin di telinganya.

Ia benar-benar tak pernah tahu siapa perempuan ini.

Sebenarnya dua puluh tahun yang lalu, perempuan ini merupakan pendekar yang cukup terkenal di Bhumi Sriwijaya. Namanya Sangda Alin. Bersama. Kuya Jadran, keduanya merupakan sepasang pendekar suami istri yang cukup disegani hingga dunia persilatan kemudian menjuluki keduanya dengan sebutan Sepasang Bangau Terbang.

Keduanyalah yang awalnya mendirikan Panggrang Muara Gunung hingga terkenal dan begitu harum. Murid mereka datang dari berbagai penjuru. Sampai suatu kali, keduanya menerima seorang, murid perempuan yang begitu jelita.

Namanya Sanggi Raju.

Dan, dari sinilah masalah besar itu bermula. Kuya Jadran kemudian jatuh cinta kepada muridnya. Dan, cintanya ternyata berbalas hingga akhirnya Sangda Alin pun mengetahuinya. Ia segera mengusir muridnya. Namun, itu sama sekali tak membuat hubungan Kuya Jadran dan Sanggi Raju berakhir.

Dalam kemarahannya yang memuncak, Sangda Alin kemudian membunuh Sanggi Raju. Sebenarnya, ia juga nyaris membunuh Kuya Jadran. Namun, Kuya Jadran sama sekali tak pernah membalas semua serangannya. Ia hanya membiarkan dirinya terus menerima pukulan-pukulannya. Hingga enam pukulan mautnya bersarang di tubuh lelaki itu.

Dan, lelaki itu hanya bisa tertunduk, "Kau cukup memberiku satu pukulan lagi, Sangda, satu pukulan lagiKuya Jadran berujar dengan tubuh penuh darah. "Kumohon, selesaikanlah. Namun, sebelum kau melakukannya, aku ingin meminta maaf kepadamu. Aku tak bisa menjaga perasaanku kepadamu.

Aku... begitu mencintainya... sungguhLalu, lelaki itu menangis.

Sangda Alin hanya bisa terdiam kaku. Ia baru saja akan melepaskan pukulannya. Namun, tangisan suaminya itu begitu mengejutkannya, juga ucapan terakhirnya. Ia tak pernah menemukan suaminya seperti itu sebelumnya. Ia lelaki yang datar, tak bergejolak, bagaimana mungkin ia bisa mencintai perempuan seperti ini? Dan, mengungkapkannya seperti itu pula? Lalu, keraguan memerangkap hati Sangda Alin. Pelan-pelan ia pun mengurungkan pukulannya.

Kuya Jadran terpuruk, "Maafkan aku, Sangda, maafkan aku aku sudah berusaha untuk mengekang perasaanku, tetapi aku

... selalu tak mampu

Sangda Alin terdiam. Sesaat masih dipandanginya suaminya dengan tatapan tak percaya. Hatinya semakin hancur, bukan hanya karena pengkhianatan ini, tetapi karena baru disadarinya bila selama ini... suaminya tak pernah mencintainya seperti ia mencintai perempuan itu ....

Maka, ia pun kemudian pergi menjauh. Kuya Jadran hanya bisa melihat tubuhnya hilang di kegelapan hutan di utara Panggrang Muara Gunung. Sejak hari itu, tak ada lagi yang pernah melihat keberadaannya ....

Dan, untuk mengubur kisah ini, Kuya Jadran kemudian melarang seluruh muridnya untuk pergi ke arah itu ....

-ooo0dw0ooo-

Saat itu, Agiriya tak tahu sudah berapa lama ia tinggal di jurang ini. Namun, ketika kondisinya membaik, perempuan tua itu segera menyuruhnya pergi.

"Di sana, ada bukit yang dapat kau daki," ujarnya sambil menunjuk arah selatan. "Pergilah!"

Agiriya berlutut dalam-dalam. Dengan suara tercekat ia mengucapkan terima kasih. Ia tahu selama ini perempuan ini tak bersikap baik kepadanya, tetapi perempuan ini pun tak bersikap jahat kepadanya.

Maka, ketika ia bangkit dengan ragu, hanya beberapa langkah berselang, ia sudah kembali berpaling.

"Sebelum aku pergi, aku ingin tahu siapa nama, Nenek?" tanyanya dengan suara pelan. Perempuan itu tertawa, "Namaku? Apa itu penting buatmu?"

"Kau sudah menyelamatkan aku. Apalagi yang bisa kuingat selain nama Nenek nanti?"

Perempuan tua itu kembali tertawa.

"Kau tak harus mengingatku!" ujarnya. "Tetapi, kupikir tak ada salahnya kau tahu siapa aku. Aku adalah ... Sangda Alin."

Selepas ucapan itu, Agiriya kembali membungkuk dalam, "Sekali lagi, kuucapkan terima kasih. Namamu tak akan kulupakan "

Lalu, Agiriya pun pergi dari jurang itu. Seperti yang dikatakan perempuan tua itu, tepi jurang di sebelah selatan bisa didaki. Hanya dalam beberapa saat kemudian Agiriya sudah kembali di mulut jurang.

Sampai di sini, ia masih tak menyadari bahwa di saat ia tak sadarkan diri beberapa hari ini, perempuan tua itu telah mengalirkan semua energi murni kepadanya. Ternyata selama bertahun-tahun mengasingkan diri, perempuan tua itu telah mengembangkan ilmu yang sangat luar biasa. Hanya dengan telapak tangannya saja, ia bisa memindahkan energi ke tubuh seseorang, dan ia telah lakukan itu untuk Agiriya!

Maka itulah, di saat tengah berjalan dengan pelan, di antara kesunyian padang rumput yang setengah mengering di tepi hutan, Agiriya tiba-tiba mulai merasakan tubuhnya yang begitu ringan. Awalnya ia menepis itu. Namun, ketika ia mencoba berkonsentrasi, ia merasakan tangannya seakan berdengung. Makin lama, makin terasa.

Agiriya terpana. Ia kembali berkonsentrasi lebih dalam.

Perlahan-lahan mulai dirasakan aliran energi itu. Ia mencoba mengikuti getaran yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dan, saat itulah energi di dalam tubuhnya tiba-tiba terasa bergelora. Saat itu ia tengah berada di tengah hamparan rumput liar dengan desiran angin yang terasa berhenti. Lalu, mulai digerakkan dengan pelan tangannya, seakan ia mengibas.

Dan, tanpa diduga, rumput-rumput yang semula berdiri diam, tiba-tiba bergerak searah gerakan tangannya.

Agiriya memandang tak percaya.

Kembali ia mencoba menggerakkan tenaga dalamnya ke arah yang berlainan. Dan, rumput-rumput itu pun secara mengejutkan kembali mengikuti arah gerakannya.

Mata Agiriya semakin terbelalak. Dipandangnya tangannya dengan tatapan tak percaya. Detik itu juga ia sudah berteriak panjang dan tertawa kegirangan.

Lalu, hanya dengan satu gerakan saja, ia dapat melayang begitu ringan. Ia melompat ke hamparan rumput-rumput itu dan berlari dengan tumpuan rumput-rumput yang bergoyang....

Sejak itulah, seiring penyelidikannya terhadap pembunuh keluarganya dan orang-orang di Panggrang Muara Gunung, ia merajah wajahnya dengan gambar kupu-kupu. Kemudian, ia mengganti namanya dengan nama Sangda Alin ....

Setelah itu semua, bersamaan dengan saat pemilihan pandaya, ia pun segera pergi ke Telaga Batu ....

-ooo0dw0ooo-