Pandaya Sriwijaya Bab 25 : Tiga Qawan Racun untuk Dapunta Cahyadawasuna

Bab 25 : Tiga Qawan Racun untuk Dapunta Cahyadawasuna

Dan, para penyair pada masa itu menceritakan tentang kesejukan angin yang bertiup di sepanjang Batanghari.

Mereka menulisnya ....

kupastikan kalian akan terbuai

terbuai pada desirannya yang menerpa tubuh kalian lembut dan begitu menenteramkan....

Itu memang bukan sesuatu yang berlebihan. Dapunta Cahyadawasuna yang sejak tadi berdiri seorang diri di anjungan sambau begitu menikmati ketenteraman itu. Ia memejamkan matanya, membiarkan semilir angin membelai wajahnya. Pikirannya yang semula tampak begitu berat, kini seakan terasa menjadi lebih ringan.

Dapunta Cahyadawasuna dengan hanya sebuah sambau bertiang dua layar dan sejumlah pasukan kecil, memang telah melakukan perjalanan membelah Batanghari dari arah Pantai Timur. Sejak pertemuan di hari itu, ia memang segera menuju Minanga Tamwa.

Perjalanan terasa lebih mudah karena Datu Muara Jambi telah berhasil ditundukkan sebelumnya. Benteng di tepi sungai telah dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Sriwijaya. Ini yang membuat keadaan sepanjang perjalanan menjadi lebih aman. Beberapa sambau Sriwijaya tampak memenuhi Batanghari di titik-titik tertentu.

Dalam perjalanan ini, Dapunta Cahyadawasuna ditemani oleh Tunggasamudra dan Sangda Alin. Walau perjalanan laut dengan sambau bukanlah perjalanan pertamanya, tetapi ini ternyata merupakan perjalanan laut pertama yang dilakukan oleh Tunggasamudra dan Sangda Alin.

"Bagaimana keadaanmu, Tungga?" tanya Dapunta Cahyadawasuna menengok kepada Tunggasmudra yang berdiri di belakangnya. Saat keluar dari muara besar, Tunggasamudra memang terlihat sedikit mabuk laut. Namun, sekarang tampaknya ia telah bisa menguasai dirinya. 

"Semuanya baik-baik saja, Dapunta," ujarnya sambil tak lepas melirik Sangda Alin.

"Baguslah. Kau cepat beradaptasi," Dapunta Cahyadawasuna kemudian melangkah ke belakang. "Dan, kau bagaimana, Sangda Alin?" tanyanya ketika tiba di sisi Sangda Alin. "Hamba tak apa-apa, Dapunta," jawabnya. Dapunta Cahyadawasuna mengangguk-angguk, "Syukurlah bila semuanya baik. Ini memang perjalanan yang mendadak sekali. Benar-benar tanpa rencana

Dapunta Cahyadawasuna kembali memandang ke arah depan, "Namun, aku memang harus melakukan ini. Bila tidak, perang besar akan terjadi. Nanti, akan banyak nyawa terbuang sia-sia. Jadiaku memang harus segera melakukan ini!" Tunggasamudra dan Sangda Alin tak menyahut. Keduanya telah tahu apa yang akan dilakukan Dapunta Cahyadawasuna. Sebelum perjalanan ini dimulai, Dapunta Cahyadawasuna telah menceritakan niatnya untuk mengusahakan upaya damai dengan Minanga Tamwa.

Keduanya sama sekali tak tahu bahwa ini juga sedikit banyak menjadi ajang pembuktian bagi Dapunta Cahyadawasuna. Semua tahu, sekian lama ia tinggal di kedatuan di Telaga Batu, ia tak pernah diberikan kesempatan melakukan hal-hal besar, kecuali pada pemilihan pandaya itu saja. Lepas dari itu, ia masih lebih sering berperan sebagai pendengar atau sebagai pelatih meditasi bagi Sri Maharaja Balaputradewa.

Di tengah perjalanan, seorang prajurit tiba-tiba datang mendekat. "Dapunta, kita akan memasuki wilayah Minanga Tamwa," ujarnya.

Dapunta Cahyadawasuna mengangguk. "Suruh semua bersiap!" ujarnya sambil kembali ke depan.

Maka, tak berapa lama kemudian, gerakan sambau-nya terasa memelan dan bertambah halus. Suara kecipak dayungnya sama sekali tak lagi terdengar. Lalu, perlahan- lahan setelah melewati kelokan, sebuah perahu besar, seukuran sambau Sriwijaya, telah tampak di tengah sungai.

Dapunta Cahyadawasuna segera memerintahkan untuk menghentikan sambau-nya.

"Biarkan aku turun ke sana dengan menggunakan perahu kecil," ujarnya. Namun, prajurit yang ada di sampingnya itu tak langsung bergerak. Wajahnya tampak ragu.

"Cepat, siapkan perahunya!" suara Dapunta Cahyadawasuna terdengar tegas, membuatnya segera berlalu dari situ. Tak seberapa lama, Dapunta Cahyadawasuna, Tunggasamudra, dan Sangda Alin ditemani tak lebih lima orang prajurit dan empat orang pendayung segera meluncur ke arah perahu Minanga Tamwa itu.

"Dapunta," seorang prajurit membungkuk kepada Dapunta Cahyadawasuna, "hamba pikir ini terlalu berisiko."

"Ia tak akan melakukan apa-apa terhadap kita," ujar Dapunta Cahyadawasuna. "Kita tak bersenjata!"

Maka, ketika perahu itu mendekat, seorang prajurit menggerak-gerakkan bendera putih, tanda bahwa kedatangan ini dengan maksud damai.

Dari arah perahu, Dapunta Cahyadawasuna mulai dapat melihat seseorang berkepala gundul dengan jubah panglima, berdiri di ujung anjungan.

"Katakan aku ingin bicara kepada panglima mereka!" ujar Dapunta Cahyadawasuna kepada salah satu prajuritnya.

Prajurit itu mengangguk. Segera ia menuju ke ujung depan perahu dan berteriak? "Dapunta Cahyadawasuna dari Telaga Batu ingin bicara dengan yang terhormat Panglima Minanga Tamwa!"

Sesaat tak ada jawaban. Dapunta Cahyadawasuna dan orang-orang di atas perahu kecil itu menunggu dalam ayunan ombak.

"Apa mereka ... akan menanggapinya, Dapunta?" Tunggasamudra mencoba bertanya.

Dapunta Cahyadawasuna terdiam sesaat, "Kita lihat saja!"

Dan, tak perlu menunggu lama, pertanyaan itu terjawab dengan dilemparnya tangga tali dari atas perahu. Lalu, seorang prajurit dari atas perahu berteriak, "Hanya tiga orang di antara kalian yang diizinkan naik!" Dapunta Cahyadawasuna memutuskan cepat. "Biar kau dan Sangda Alin yang menemaniku," ujarnya sambil menunjuk kepada Tunggasamudra.

Seorang prajuritnya tampak hendak memprotes kepu-tusan itu. Namun, ia hanya bisa terdiam, tak berani.

Ketiganya segera saja menaiki tangga tali itu. Sampai di atas, puluhan prajurit telah mengelilingi mereka dengan senjata lengkap. Seorang lelaki berkepala gundul, berjubah panglima, duduk dengan sikap santai di atas sebuah kursi kayu.

"Apa yang mau kaukatakan kepadaku, Dapunta?" ujarnya dengan nada sambil lalu.

Dapunta Cahyadawasuna maju perlahan, "Aku ingin bicara dengan Panglima Tambu Karen."

Panglima berkepala gundul itu tersenyum. "Memangnya siapa kalian? Mau bertemu dengan Dapunta Hyang?" ia telah menyebut Panglima Tambu Karen dengan sebutan tertinggi: Dapunta Hyang.

Dapunta Cahyadawasuna maju ke depan satu langkah, "Aku Dapunta Cahyadawasuna, utusan langsung dari Sri Maharaja Balaputradewa."

Panglima berkepala gundul itu mengamati Dapunta Cahyadawasuna lebih detail.

"Tampaknya Telaga Batu terlalu menganggap remeh kami," ujarnya. "Aku bahkan belum pernah mendengar namamu."

Dapunta Cahyadawasuna terdiam, "Dulu aku adalah penguasa Datu Talang Bantas."

Panglima berkepala gundul itu hanya tersenyum mendengar ucapan Dapunta Cahyadawasuna.

"Kumohon izinkan aku menemui Panglima Tambu Karen Panglima berkepala gundul itu mulai bangkit dari kursinya, "Kau pastinya tahu, semua kendali di sini, akulah yang memegangnya. Apa yang mau kaukatakan kepada Dapunta Hyang, katakan saja kepadaku. Nanti aku yang akan menyampaikannya kepada Dapunta Hyang "

Dapunta Cahyadawasuna terdiam sejenak. Tampak jelas bahwa panglima di depannya ini tak akan memberi waktu baginya bertemu dengan Panglima Tambu Karen.

Dapunta Cahyadawasuna pun akhirnya hanya bisa menghela napas panjang. Tampaknya ia tak punya pilihan lain.

"Kami ingin berdamai dengan Minanga Tamwa," ujarnya akhirnya.

Panglima berkepala gundul itu tersenyum sambil mengangguk-angguk, "Pesan yang bagus. Pesan yang sangat bagus," ia menyapu pandangan kepada semua prajuritnya. "Setelah menutup perairan kami, kemudian mendatangkan ribuan pasukan di sekitar kami, kalian ingin berdamai?"

Panglima itu tersenyum sinis. "Namun, tentu saja aku pasti akan menyampaikan pesanmu itu, Dapunta," ujarnya kemudian dengan wajah sinis. "Namun tentunya ada syarat yang harus kaulakukan agar aku mau menyampaikannya!"

Dapunta Cahyadawasuna tertegun, "Apa syaratmu?" tanyanya.

"Mudah saja," panglima berkepala gundul itu tersenyum sinis. "Aku ingin kau meminum tiga cawan pemberianku.

Anggap saja ini sebagai cawan penyambutanku untukmu," senyum sinisnya kembali terlihat. "Dan, bila kau bisa bertahan setelah meminumnya, aku pasti akan menyampaikan pesanmu tadi!" Panglima berkepala gundul itu mengangkat satu tangannya, memberi tanda kepada prajuritnya. Dan, tak lama kemudian seorang prajurit dengan langkah tergopoh-gopoh, mendekat sambil membawa sebuah nampan berisi tiga cawan air.

"Dapunta," Tunggasamudra, yang sedari tadi berdiri di belakang Dapunta Cahyadawasuna, maju selangkah. Namun, Dapunta Cahyadawasuna hanya menggerakkan tangannya, meminta Tunggasamudra tenang.

"Itu racun," desis Tunggasamudra.

"Ya, aku tahu," ucap Dapunta Cahyadawasuna sambil mengangguk lemah. "Namun, apa aku punya pilihan lain? Aku toh hanya perlu menahannya setelah meminumnya, bukan?"

Tunggasamudra menelan ludah, "Kita... tak periu menurutinya!"

Dapunta Cahyadawasuna tersenyum tipis, "Sudahlah, anggap saja ini sekadar perjamuan darinya. Nanti bila terjadi apa-apa denganku, bawa saja aku pulang! Ingatlah untuk tidak bertindak gegabah!"

Lalu, Dapunta Cahyadawasuna segera melangkah maju, mendekati tiga cawan itu. Di bawah pandangan sinis panglima berkepala botak itu, ia mulai mengangkat sebuah cawan.

'Aku harap, kau bisa menepati janjimu," ujarnya sebelum meneguk cawan itu hingga habis.

Panglima berkepala gundul itu semakin tersenyum.

Tak ada reaksi apa pun yang terjadi pada tubuh Dapunta Cahyadawasuna. Ia pun segera mengambil cawan kedua dan meminumnya dengan cepat hingga habis. Dan, tetap tak ada sesuatu pun terjadi!

Dapunta Cahyadawasuna menarik napas panjang. Kembali diambilnya cawan ketiga. Namun kali ini, ketika ia baru saja akan meneguk cawan terakhir itu, sesuatu tiba-tiba terasa menyentak jantungnya. Tubuh Dapunta Cahyadawasuna langsung terhuyung.

"Dapunta!" Tunggasamudra dan Sangda Alin segera maju mendekat. Namun, Dapunta Cahyadawasuna mencoba menahannya, dengan mengangkat cawan di tangannya.

Lalu, dengan gerakan yang tampak terlihat gemetar, ia kembali mendekatkan cawan ketiga itu ke mulutnya dan segera meneguk minuman itu hingga habis.

Dapunta Cahyadawasuna mencoba tersenyum kepada panglima berkepala botak itu. Namun, sesuatu tiba-tiba kembali menyentak tubuhnya. Sekali, dua kali, hingga beberapa kali. Tanpa sadar, tangannya sudah menyentuh dadanya dan meremasnya. Kesakitan kemudian tak bisa lagi disembunyikan dari wajahnya. Matanya tiba-tiba membuka lebar dan kakinya mendadak tak lagi bisa menahan tubuhnya

....

"Dapunta!" Tunggasamudra bergerak cepat, menangkap tubuh yang terkulai itu.

Panglima berkepala gundul itu hanya tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kepalanya, "Bawa ia pergi!" ujarnya dengan nada ringan. "Lain kali, suruh Jara Sinya sendiri yang langsung datang kepadaku!"

-ooo0dw0ooo-

Perahu itu meluncur kembali ke arah sambau. Suasana panik segera terasa ketika tubuh Dapunta Cahyadawasuna mulai diangkat ke dalam sambau.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang prajurit. Akan tetapi, tak ada yang menjawab kekhawatiran itu.

Tunggasamudra dan Sangda Alin memeriksa tubuh Dapunta Cahyadawasuna yang kini tampak begitu pucat. Dari bibirnya dan tenggorokannya terlihat warna biru yang samar.

Napasnya pun telah nyaris hilang, hanya nadinya yang terasa bergerak begitu halus ....

"Ia terkena tiga macam racun," ujar Tunggasamudra setelah beberapa saat mengalirkan tenaga dalamnya.

Sangda Alin mengangguk, "Dapunta terkena racun dari bisa ular "

Semua yang ada terkejut. Saat itu racun dari bisa ular masih jarang sekali digunakan. Biasanya racun-racun yang ada masih sebatas menggunakan daun-daunan atau sebangsa jamur. Maka dari itulah, ucapan Sangda Alin langsung membuat semuanya terdiam. Para prajurit Dapunta Cahyadawasuna mendekat.

"Apa Dapunta bisa disembuhkan?" tanyanya. Sangda Alin terdiam, sekilas diliriknya Tunggasamudra yang juga masih terpekur. Keduanya tahu, racun dari bisa ular begitu sulit disembuhkan. Hanya tabib-tabib ternama saja yang bisa menyembuhkannya.

Sangda Alin menatap miris tubuh Dapunta Cahyadawasuna yang semakin tampak biru. Ia akhirnya hanya bisa menarik napas panjang, "Dapunta ... tak mungkin disembuhkan lagi. ,"

ujarnya pelan.

Para prajurit Dapunta Cahyadawasuna tercekat. Kepala mereka menggeleng-geleng tak percaya.

"Aku masih tak habis pikir mengapa Dapunta mau

melakukan ini," ujar salah seorang prajurit tak mengerti. "Dapunta seakan hanya datang untuk membunuh dirinya "

Tunggasamudra tertegun mendengar ucapan itu. Namun, dengan gerakan perlahan ia menggeleng, "Dapunta Cahyadawasuna punya tujuan sendiri," ujarnya pelan. "Ia benar-benar tak ingin perang ini terjadi. Maka itulah, ia mungkin bermaksud ... bermaksud mengorbankan dirinya

Semuanya terdiam mendengar ucapan itu. Ini sangat mengejutkan. Selama ini reputasi Dapunta Cahyadawasuna memanglah belum begitu dikenal. Ia baru dua puluh purnama ini berada di Kedatuan Telaga Batu. Tak banyak cerita tentangnya, selain kisah datunya yang dulu tertelan debu dan kisah keajaibannya bisa bertahan selama tiga belas hari dalam sebuah gua.

Angin laut kemudian berembus kencang membuat sambau bergoyang-goyang sejenak. Prajurit dengan pangkat tertinggi di sambau itu segera memerintahkan untuk memindahkan tubuh Dapunta Cahyadawasuan ke dalam ruangan. Saat itulah tiba-tiba semuanya dikejutkan dengan suara batuk yang pelan.

Tunggasamudra segera merangsek ke depan. Disentuhnya tubuh Dapunta Cahyadawasuna perlahan. Lalu, tanpa banyak ucap lagi, kembali dialirkan tenaga dalamnya melalui telapak tangannya ke punggung Dapunta Cahyadawasuna.

Sesaat semuanya hanya bisa menunggu. Awalnya tak ada apa pun yang terjadi. Namun, Sangda Alin mulai merasakan hawa panas yang samar di sekitar tubuh Tunggasamudra dan Dapunta Cahyadawasuna.

Dan, tak lama kemudian, tubuh Dapunta Cahyadawasuna terlihat mulai bergerak-gerak. Terutama di bagian alis matanya. Napasnya yang semula redup tiba-tiba mulai kembali ada.

Semuanya memandang dengan tak percaya. Tak ada yang bicara ketika itu. Semuanya hanya menunggu. Semakin lama suara napas itu semakin terdengar teratur. Seiring munculnya keringat berwarna hitam di seluruh pori-pori Dapunta Cahyadawasuna, yang berbau sangat menusuk. "Racunnya ... keluar dari pori-pori desis Sangda Alin tak percaya. Ia memandangi Tunggasamudra dengan tak mengerti- Walau ia sadar kemampuan Tunggasamudra jauh berada di atasnya, tetapi ia sama sekali tak mengira bila tenaga dalam lelaki pendiam di sebelahnya ini begitu luar biasa. Mengeluarkan racun bisa ular melalui pori-pori?

Sungguh, ini luar biasa. Ia belum pernah melihat kejadian seperti ini, bahkan mendengarnya sekalipun.

Akan tetapi, kini Sangda Alin melihatnya begitu nyata. Keringat hitam berbau menusuk itu terus mengalir tanpa henti, membasahi seluruh tubuh Dapunta Cahyadawasuna hingga seorang prajurit kemudian segera berinisiatif menyekanya berkali-kali dengan selembar kain.

Sekian lama keadaan ini berlangsung hingga akhirnya Tunggasamudra pun menarik tangannya dari punggung Dapunta Cahyadawasuna. Kelelahan begitu terlihat di wajahnya.

"Kau menyelamatkan Dapunta desis Sangda Alin tak percaya.

Akan tetapi, Tunggasamudra menggeleng lemah. "Tidak, aku tak melakukan apa-apa yang berarti," ujarnya sambil memandangi tubuh Dapunta Cahyadawasuna lekat-lekat. "Namun tubuh Dapunta sendiri ... yang menolak racun itu

Dan, seiring ucapan itu, mata Dapunta Cahyadawasuna tiba-tiba mulai terbuka, seakan ia terjaga dari tidur panjangnya. Belum sempat ia melakukan apa-apa, ia kemudian terbatuk-batuk panjang hingga membuatnya muntah dan mengeluarkan cairan hitam dari mulutnya ....

"Dapunta, kau tak apa-apa?" Tunggasamudra mendekat.

Dapunta Cahyadawasuna hanya memandang semua orang yang berdiri mengelilinginya. "Berapa lama aku tak

sadarkan diri?" tanyanya dengan suara pelan. "Cukup lama, Dapunta," ujar Tunggasamudra. "Dapunta telah meminum racun dari bisa ular," tambah

seorang prajuritnya.

Mata Dapunta Cahyadawasuna menerawang. Ia kembali mengingat kejadian sebelumnya. Panglima berkepala gundul itu ... tiga cawan racun itu ... lalu sentakan-sentakan menyakitkan di tubuhnya....

Dapunta Cahyadawasuna menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Kukira ... aku bisa menahannya ," desisnya

pelan. "Ya, menahannya "

Lalu, kilasan masa kecilnya tiba-tiba menyeruak di ingatannya ....

Peristiwa itu terjadi pada hari kematian ayahnya, waktu ia baru berusia sepuluh tahun. Waktu itu ia baru saja memasuki ruangan tempat biasanya ayahandanya berbaring. Tiga orang pu ayahnya memandang dirinya begitu lekat. Salah seorang yang paling disukainya, Pu Mula Suma, kemudian dengan langkah ragu mendekatinya

"Kemarilah, Putraraja Cahyadawasuna," ia berjongkok di dekatnya.

Lalu, ia pun mendekat dengan ragu. "Minumlah air ini," ujar Pu Mula Suma lagi. "Mungkin suatu saat bermanfaat bagimu

Dan, ia hanya bisa menuruti perintah itu tanpa banyak tanya. Diminumnya air yang ada dalam cawan itu hingga habis tak tersisa. Ia masih ingat rasa pahit yang membuatnya ingin muntah. Rasa teramat pahit yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Namun, Pu Mula Suma hanya tersenyum sambil berujar berkali-kali, "Hanya pahit, hanya pahit, Putraraja pasti bisa menahannya "

Lalu, setelah cairan itu mengalir di tubuhnya, ia merasakan kedinginan menyergapnya. Membuat selubung udara yang berbeda di sekitar tubuhnya. Seakan-akan air yang tersebar di seluruh tubuhnya tiba-tiba telah membeku. Saat itulah ia mendadak merasa begitu menggigil.

Pu Mula Suma dan dua pu yang lain saling berpandangan dengan tak mengerti. Namun, sesaat kemudian rasa dingin itu berangsur menghilang dari tubuhnya. Rasa hangat kemudian menggantikannya, berputar-putar di perutnya, membuat dirinya begitu merasa nyaman ....

Sejak hari itu tubuhnya terasa lain. Seperti ada sesuatu, yang entah apa, dan tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Dan, sejak hari itu tak ada satu penyakit pun yang bisa hadir pada tubuhnya. Itulah yang dulu membuatnya dapat bertahan hidup saat terperangkap di dalam gua. Saat itu ia hanya perlu bermeditasi mengalirkan energinya ke seluruh tubuhnya dan tubuhnya seakan menghangat dan terus menghangat....

-ooo0dw0ooo-

Untuk sementara, sambau Dapunta Cahyadawasuna kembali ke Telaga Batu.

Berita tentang tiga cawan racun yang diminum Dapunta Cahyadawasuna menyebar dengan cepat. Bahkan, sebelum kedatangan Dapunta Cahyadawasuna ke Telaga Batu, beberapa prajurit sudah membicarakan itu di pos-pos istirahat mereka.

"Dapunta Cahyadawasuna bukanlah orang biasa," ujar seorang prajurit di sela-sela tugasnya. "Semenjak aku mendengar ia dapat selamat dari dalam gua itu, aku sudah merasa ia bukanlah orang biasa

Temannya hanya mengangguk saja, "Itulah mungkin yang membuat Sri Maharaja memanggilnya ke Telaga Batu," ujar prajurit itu lagi. "Sri Maharaja tampaknya juga merasakan keistimewaan ini!" Akan tetapi, di dalam kedatuan tak ada yang membahas soal keistimewaan itu. Walau Dapunta Cahyadawasuna telah menceritakan semua yang dialaminya kepada Sri Maharaja Balaputradewa dan tiga orang lainnya, Panglima Samudra Jara Sinya, Panglima Bhumi Cangga Tayu, dan Pu Chra

Dayana, semuanya tak ada yang membahas tentang lolosnya dirinya dari ancaman kematian tiga racun itu.

"Maafkan kelalaian hamba," Dapunta Cahyadawasuna hanya bisa membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Ia kini telah tampak begitu biasa, sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa beberapa hari yang lalu ia nyaris mati karena racun!

Panglima Samudra Jara Sinya membungkuk meminta waktu untuk bicara, "Sebelumnya maafkan hamba, Sri Maharaja.

Namun, sungguh, Dapunta Cahyadawasuna terlalu naif," ujarnya. "Amatilah gerakan mereka dan gerakan kita sendiri. Sungguh, tak mungkin kita menghentikan perang saat ini!

Apalagi hanya dengan berhasil menahan racun yang mereka berikan. Sungguh, menurut hamba... itu adalah pertaruhan yang... bodoh."

Semuanya terkejut dengan ucapan terakhir itu. Walau diucapkan dengan nada datar tanpa ekspresi berlebihan, ucapan itu sangat menohok Dapunta Cahyadawasuna.

Akan tetapi, Dapunta Cahyadawasuna hanya bisa kembali membungkukkan badannya, "Aku menganggap dirinya adalah seorang panglima terhormat. Tentu saja, bila aku bisa menahannya, ia akan menepati janjinya!"

"Dengar, Dapunta Cahyadawasuna!" ujar Panglima Samudra Jara Sinya lagi, kali ini terasa lebih tajam. "Bukan maksudku untuk kasar, tetapi ini sudah menyangkut persoalan yang lebih besar lagi daripada sekadar itu. Ini juga telah menyangkut kewibawaan Sriwijaya. Apa kau tak bisa memahami sampai di situ?" Sebelum Dapunta Cahyadawasuna menjawab, Panglima Samudra Jara Sinya berpaling kepada Sri Maharaja Balaputradewa, "Sri Maharaja, kita sudah memberi kesempatan kepada Dapunta Cahyadawasuna untuk mengupayakan perdamaian. Namun, hamba pikir itu tak berhasil. Kini giliran hamba dan Panglima Cangga Tayu yang bertindak "

-ooo0dw0ooo-