Pandaya Sriwijaya Bab 23 : Perempuan bercadar

Bab 23 : Perempuan bercadar

Angin sesaat mereda ketika Tunggasamudra mulai melangkah ke arah panggung. Langkahnya pelan dengan tatapan terus memandang ke depan. Sorak-sorak masih terus bergema tanpa henti. Semua mata memandang ke arahnya dengan kagum.

Waktu itu, Tunggasamudra telah mengambil kembali ketiga pedangnya dan menggantungkan di punggungnya. Ini tentu saja semakin menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.

"Pedangnya tiga," sebuah bisik-bisik terdengar di antara kerumunan.

"Dan, bentuknya juga aneh," sambung yang lain.

Dapunta Cahyadawasuna yang berdiri di atas panggung menunggunya, memandang dirinya tak habis-habisnya deengan tatapan kagum. Begitu Tunggasamudra telah cukup dekat dengannya, tangannya terangkat ke atas, membuat semua penonton di sekitar tanah lapang itu terdiam seketika.

Dapunta Cahyadawasuna kemudian melangkah ke depan. "Hari ini, sesuai titah Sri Maharaja Balaputradewa, kita kembali memilih seorang pandaya," ia berucap sambil menyapu ke semua penduduk yang hadir. Diam-diam ia mengalirkan energi ke dalam suaranya agar suaranya dapat bergaung di seluruh tanah lapang. "Dan, hari ini," lanjutnya, "aku dan kalian semua, sudah menyaksikan siapa yang telah terpilih "

Lalu, sorak-sorai kembali bergemuruh. Suaranya menimbulkan gema di mana-mana. Dapunta Cahyadawasuna menoleh kepada Tunggasamudra. "Kuucapkan selamat bagimu, Pendekar Tunggasamudra," ujarnya.

Tunggasamudra membungkukkan badannya. Entah apa yang dirasakannya saat itu. Perasaan senang dan bangga meliputi benaknya. Ia benar-benar teringat Kakek Bayak Kungga saat ini. Terutama saat ia membiarkan dirinya duduk dalam pangkuannya di hari-hari lalu. Ucapannya kala itu seakan baru saja terdengar oleh telinganya ....

Tahukah engkau, mengapa engkau kunamakan Tunggasamudra? Karena kuingin engkau menjadi orangyang istimewa di hari esok. Karena Tunggasamudra adalah nama yang kerap digunakan.oleh pendekar-pendekar pada masa lalu. Bahkan, raja-raja di Telaga Batu pun pernah memakai nama itu....

Diam-diam Tunggasamudra menelan ludah mendapati keadaan ini. Sepertinya ucapan yang dulu terdengar olehnya

kini telah terwujud, tanpa pernah ia berpikir sekali pun akan mewujudkannya.

Akan tetapi, di tengah sorak-sorai itu angin yang semula berembus lemah, tiba-tiba saja menjadi kencang. Menaburkan debu-debu yang memerihkan mata semua yang ada di sekitar tanah lapang ini.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba suara tawa yang dialirkan dengan tenaga dalam yang cukup hebat, melengking, bergema ....

HAHAHAHAHAHA....

HAHAHAHAHAHA.... Tunggasamudra menengadah. Di antara debu yang mengangkasa, ia melihat sebuah bayangan yang seakan terbang di atas langit bergerak cepat menuju dirinya.

Tunggasamudra segera maju beberapa langkah seiring bayangan tubuh itu yang semakin dekat. Saat itulah orang- orang di sekitar tanah lapang mulai bisa melihat sesosok tubuh perempuan, melayang ke tengah tanah lapang itu.

Gerakannya begitu halus, dengan hanya sesekali menginjakkan tanah sehingga banyak orang yang menyangkanya terbang.

Dan, masih diiringi suara tawanya, perempuan itu menjejakkan kakinya tepat di tengah tanah lapang. Semua orang mulai memperhatikannya. Ia jelas seorang perempuan muda. Dengan pakaian serba hitam yang terbuat dari bahan yang sangat halus, ia menyapu pandangannya kepada semua orang yang ada di sekelilingnya. Rambut panjangnya diikat bergulung indah, dengan ikatan yang biasa dilakukan oleh putri-putri datu terkemuka. Namun, sebuah cadar tipis berwarna hitam menyamarkan wajahnya.

Ia kemudian menatap ke arah panggung. "Aku ingin bertemu dengan pandaya yang baru terpilih," ujarnya tanpa basa-basi. Walau suaranya pelan saja, tetapi dapat terdengar oleh seluruh yang hadir, bukti tenaga dalam wanita ini begitu luar biasa.

Pendekar yang sejak tadi menjadi pengawas pertandingan itu segera maju, "Mau apa kau menemuinya?" bentaknya. "Kau tak bisa begitu saja menantangnya. Tunggulah pada pemilihan pandaya berikutnya!"

Dan, suara tawa perempuan itu kembali pecah menyambut ucapan itu. Tiba-tiba selendangnya yang semula dibiarkan teruntai ke bawah tanah, digerakkannya, dan langsung meluncur ke arah pendekar tua itu seakan serangan seekor ular raksasa. Wuuuuuush .... Dengan gerakan terburu pendekar tua itu mencoba melempar tubuhnya ke samping. Tunggasamudra yang tengah berjalan ke arahnya segera menangkap pendekar tua itu hingga ia tak sampai terjerembap jatuh ke tanah.

Selendang itu pun hanya memakan angin. Tunggasamudra segera malangkah mendekati perempuan bercadar itu. Ia sedikit membungkuk kepada perempuan itu, "Ada apa kau mencari aku?" tanyanya.

Perempuan itu tersenyum di balik cadarnya, "Jadi, kau pandaya yang terpilih?"

Dan, belum sempat Tunggasamudra menjawab, perempuan itu sudah kembali menggerakkan selendangnya, meluncur tajam ke arah Tunggasamudra. Namun, Tunggasamudra sudah sangat siap. Ia hanya berkelit sedikit untuk menghindari kibasan selendang itu.

"Hei, apa yang kaulakukan?" Tunggasamudra mencoba menahan.

Akan tetapi, serangan selendang selanjutnya yang menjawab pertanyaan itu. Seakan menjadi ular yang terus mematuk-matuk, tanpa henti selendangku menyerang Tunggasamudra.

Mau tak mau, Tunggasamudra melompat berkelit. Saat itulah penonton kembali menduga akan terjadi lagi pertarungan seru di antara kedua pendekar di tanah lapang ini. Mereka yang semula hendak pulang segera kembali bersorak-sorai riuh.

Seorang pu yang berdiri di dekat Dapunta Cahyadawasuna segera berbisik, 'Apa yang harus kita lakukan kepada pengganggu itu?"

Dapunta Cahyadawasuna mengangkat tangannya, "Tak apa, kita lihat saja apa yang bisa ia lakukan kepada pandaya kita Berkali-kali serangan selendang perempuan bercadar itu dapat dihindari Tunggasamudra. Namun, lama-kelamaan ini terasa cukup menyulitkan juga. Maka itulah, dengan sebuah gerakan kilat, Tunggasamudra kemudian mengeluarkan sebuah pedang dari punggungnya dan langsung membabat selendang itu hingga putus.

Putusnya selendangku membuat tenaga dalam perempuan bercadar itu tertekan sehingga membuatnya terdorong beberapa langkah ke belakang.

Dari balik cadarnya terlihat jelas perempuan itu mendengus marah. Tanpa membuat selang waktu, tiba-tiba ia sudah kembali melompat tinggi ke udara sambil menyerang Tunggasamudra

"HIIAAAAAT!" teriakannya diiringi dengan kilauan pedang yang secara mengejutkan sudah dikeluarkannya.

Tunggasamudra segera mempersiapkan kuda-kudanya. Dengan satu gerakan berputar, ia mengibaskan pedangnya untuk menghindari serangan itu.

TRANK! TRAAANK!

Benturan kedua pedang itu diiringi percikan api yang menyilaukan sehingga membuat kedua pendekar segera mundur dan mengambil napas. Namun, perempuan bercadar itu tak melakukannya dengan berlama-lama. Hanya seke- japan mata kemudian, ia sudah kembali melayang memberi sebuah serangan kepada Tunggasamudra.

Sementara itu di tepi panggung, Dapunta Cahyadawasuna bertanya tanpa melepaskan pandangannya, "Siapa perempuan itu?" tanyanya. "Kemampuannya cukup baik. Bagaimana bisa ia masuk tanpa dihalangi prajurit kita?"

Seorang pu yang berdiri paling dekat dengannya segera menjawab, "Hamba tak tahu siapa ia, Dapunta. Namun, tampaknya ia melalui tembok kedatuan, tidak melewati gerbang "

Dapunta Cahyadawasuna tak menyahut. Dengan melewati tembok kedatuan, berarti perempuan ini haruslah mengecoh prajuritnya terlebih dahulu untuk dapat kemari. Ini tentulah bukan pekerjaan yang mudah. Dapunta Cahyadawasuna semakin merasa tertarik. Tak lepas pandangannya untuk terus memperhatikan pertarungan itu.

Kini perempuan bercadar itu tengah melompat ke atas.

Seiring tubuhnya menjauh, selendangnya yang masih tersisa kembali digerakkannya mengarah ke kepala Tunggasamudra.

Tunggasamudra segera membanting tubuhnya ke kiri.

Namun, di waktu yang begitu singkat, perempuan bercadar melakukan gerakan berbalik secepat kilat dan menyusulkan tusukan pedangnya ke arah Tunggasamudra.

Kali ini posisi Tunggasamudra sama sekali tak menguntungkan. Dengan mencoba menahannya berarti akan beradu dengan dua serangan sekaligus. Tunggasamudra sangat menyadari itu. Maka, tak ada pilihan lain, tiba-tiba ia sudah mengibaskan kakirtya ke tanah, membuat gerakan mistis.

Itulah jurus Pedang Membelah Gunung. Dengan gerakan tak terduga ia tiba-tiba sudah ikut melenting ke udara menyambut serangan itu. Bersamaan dengan itu secepat kilat Tunggasamudra menarik pedang yang satunya lagi dari punggungnya. Kini dengan menggulung tubuhnya ke udara dan dengan dua pedang di tangannya, ia menyambut serangan selendang itu dan mencoba menangkis serangan pedang itu.

TRANK! TRAAANK!

Benturan antara kedua pedang itu terjadi. Untuk sesaat kedua pendekar itu terdorong mundur bersamaan. Namun, dengan gerakan yang tak terduga, Tunggasamudra langsung dengan cepat menguasai tubuhnya dan melakukan serangan memutar yang tak terduga sambil mengarahkan kedua pedangnya.

WUUUSH ... TRANK!

Benturan kali ini membuat perempuan bercadar itu membuang tubuhnya menjauh. Sejenak, dalam gerakan yang begitu singkat, ia memperhatikan gerakan Tunggasamudra dengan saksama. Walau sedari tadi ia merasakan keanehan, ia mengakui keampuhan tenaga yang ada pada pemuda itu ....

Di lain pihak, Tunggasamudra diam-diam mulai bisa mengukur tenaga perempuan bercadar itu. Dalam hati ia merasa yakin bahwa tenaga dalamnya unggul berapa tingkat di atasnya.

Lalu, dengan gerakan yang bersamaan, keduanya sudah kembali melayang meluncurkan jurus rahasia masing-masing. Tunggasamudra mengarahkan dua pedangnya berputar, sedang perempuan bercadar itu menusuk dengan satu tusukan tajam.

TRAAANG! TRAAANG! TRAAANG!

Pertarungan dengan diliputi permainan tenaga dalam yang luar biasa serta jurus-jurus tertinggi tak bisa lagi terhindarkan. Gerakan keduanya kini begitu cepat sehingga meniupkan debu-debu ke atas. Beberapa penonton mulai tak bisa menyaksikan pertarungan itu dengan baik. Dapunta Cahyadawasuna sendiri sudah turun dari panggung dan mendekat ke tepi tanah lapang agar dapat menyaksikan pertarungan itu lebih jelas.

Hanya beberapa jurus kemudian dapat terlihat bahwa perempuan bercadar itu sudah mulai terdesak.

Tunggasamudra terus merangsek maju dan perempuan itu hanya bisa melayani setiap serangannya tanpa bisa sekali pun membalas. Kini, jelas terlihat bila kendali pertarungan ini telah ada pada Tunggasamudra.

Sampai suatu ketika, sebuah serangan kembali dilancarkan Tunggasamudra sehingga perempuan bercadar itu harus membuang tubuhnya ke belakang. Namun, gerakan Tunggasamudra jauh lebih cepat dari itu. Pedangnya sudah menyerobot ke arah depan.

Seharusnya bila Tunggasamudra berniat, ia bisa melukai wajah perempuan bercadar itu. Namun, ia tak berniat sampai sejauh itu. Maka dari itulah, ia kemudian sedikit menggeser gerakan pedangnya, ke arah ke samping. Namun, tanpa terduga, gerakan itu membuat pedangnya mengenai ikatan cadar yang dipakai perempuan itu.

Seiring tubuh perempuan itu yang berputar ke. belakang untuk menghindari serangan selanjutnya, cadarnya tiba-tiba terlepas, dan melayang ke angkasa ....

Angin memainkannya sesaat, bagai kapuk yang terbuai, hingga akhirnya cadar itu jatuh ke tanah. Perempuan itu hanya bisa berdiri tanpa lagi bisa menutupi wajahnya.

Saat itulah Tunggasamudra terkesima. Di depannya kini telah berdiri gadis jelita dengan rajah kupu-kupu berwarna hitam di pipi kirinya. Sungguh, Tunggasamudra belum pernah melihat wanita sejelita ini. Namun, raut marah perempuan itu, yang secara tajam menatapnya, membuat Tunggasamudra segera tersadar. Segera diambilnya cadar yang tergeletak tak jauh darinya, lalu segera dilemparkannya kepada perempuan itu.

"Maafkan aku," ia sedikit membungkuk.

Perempuan itu menerima cadarnya, tanpa menyahut. Saat ia tengah berusaha dengan cepat memasangnya, suara tepuk tangan kemudian menyeruak di antara keduanya. Disusul suara sorak-sorai tepuk tangan para penonton yang bergemuruh.

"Luar biasa, kalian berdua sungguh luar biasa," Dapunta Cahyadawasuna tiba-tiba sudah melangkah ke tengah tanah lapang, berdiri di antara keduanya.

"Hari ini aku benar-benar tak mengira bisa melihat dua pendekar istimewa bertarung di hadapanku," ujar Dapunta Cahyadawasuna lagi. "Sungguh, aku merasa sangat bersyukur."

Tunggasamudra dan perempuan bercadar itu tak bereaksi.

Dapunta Cahyadawasuna kemudian segera menoleh kepada perempuan bercadar itu. "Dan, kau, perempuan bercadar," ujarnya, "walau baru melihat beberapa jurusmu saja, aku langsung mengagumi dirimu. Kau menyimpan bakat yang luar biasa."

Dapunta Cahyadawasuna melangkah periahan ke arahnya, "Kalau kau berkenan, bergabunglah bersamaku, menjadi pandaya Sriwijaya "

-ooo0dw0ooo-