Pandaya Sriwijaya Bab 21 : Pewaris Tiga gedang, Airan Dua

Bab 21 : Pewaris Tiga gedang, Airan Dua

Terpujilah Sang Bhagava, Yang Mahsuci yang telah mencapai Penerangan Sempurna ....

Setiap hari, memang telah menjadi rutinitas baginya dan Tunggasamudra untuk melakukan hal ini. Ia merapal doa dan Tunggasamudra berlatih. Tempatnya yang terpencil dari datu- datu lainnya membuatnya merasa tak terganggu. Namun, walau terpencil, untuk mencapai keramaian, ia tak perlu terlalu jauh pergi. Di sebelah utara kediamannya, ada empat datu kecil dan satu datu yang mengelilinginya.

Itulah mengapa Biksu Wang begitu menyukai tempat ini.

Setiap hari, ia akan menemani Tunggasamudra dengan rapalan-rapalan doanya. Seperti hari ini, sejak tadi, dari saat matahari menerobos daun-daun pohon asem, ia mengamati Tunggasamudra. Kini tubuh Tunggasamudra sudah sangat kekar. Badannya yang selalu tak tertutup, secara langsung menampakkan otot-otot yang padat.

Beberapa tahun tinggal di rumah di tepi danau ini, Biksu Wang memang telah menggemblengnya dengan semua jurus- jurus yang dikuasainya, terutama ilmu Pedang Membelah Gunung.

Ilmu yang terdiri dari sembilan puluh sembilan jurus ini merupakan ilmu yang cukup rumit. Tak semua orang dapat menguasainya dengan baik. Di ilmu ini setiap jurusnya mengandung berbagai unsur, dari kekuatan tenaga dalam hingga keluwesan gerak untuk membentuk gerakan-gerakan mistis yang tak terduga.

Untunglah Tunggasamudra dapat menguasai semua itu dengan baik. Walau belum matang, ia sudah dapat memainkannya secara utuh. Tinggal waktu yang nantinya akan mematangkan kemampuannya itu.

Kini, di saat matahari mulai menepi, bertepatan dengan hari kedatangan Sri Maharaja Balaputradewa di Telaga Batu, Tunggasamudra telah kembali menyempurnakan jurus- jurusnya.

"Cukup, Tungga, cukup!" suara Biksu Wang menyuruhnya berhenti. Kini suaranya terdengar lebih serak. Tunggasamudra melepaskan napasnya perlahan. Matanya kemudian membuka. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

'Ah, kupikir ini sudah malam," ujarnya.

Biksu Wang tersenyum, "Tidak, tidak. Sejak tadi, aku sudah bisa merasakan seluruh energi ada di seluruh tubuhmu

"Benarkah, Biksu?" Tunggasamudra mendekati Biksu Wang sambil membasuh keringatnya.

Biksu Wang hanya mengangguk.

"Sekarang, buatkaniah aku makan," ujar Biksu Wang. "Entah mengapa akhir-akhir ini aku selalu cepat lapar

Tunggasamudra tersenyum, "Cepat lapar atau... karena masakanku sekarang terasa semakin enak, Biksu?"

Biksu Wang tertawa lepas.

-ooo0dw0ooo-

Malamnya, seperti biasa, selalu menjadi malam yang hening di tepian danau ini  

Kelelahan membuat Tunggasamudra segera tertidur di atas pembaringannya yang dibuatnya dari rumput-rumput kering yang ditutup kain. Entah berapa lama ia tertidur. Namun, perasaannya yang terlatih tiba-tiba menangkap sesuatu.

Matanya seketika terbuka dan, seiring dengan itu, angin kencang tiba-tiba menerpa ke arahnya, bersamaan dengan kilatan pedang mengarah lehernya. Dengan satu entakan, Tunggasamudra segera melempar tubuhnya ke samping. Lalu, dengan tumpuan dinding bambu rumahnya, ia segera melenting ke atas.

"Siapa kau?" Tunggasamudra berteriak. Sesaat ia berpikir tentang Biksu Wang yang ada di ruangan sebelah, tetapi itu tak lama. Penyerang berpakaian serba hitam itu sudah kembali melompat ke arahnya sambil mengayunkan pedang.

Dengan gerakan ringan Tunggasamudra kembali melompat, menerobos jendela yang ada tak jauh darinya. Ia terus menduga-duga siapa orang yang menyerangnya ini?

Perampokkah? Atau  

Akan tetapi, serangan sosok berbaju hitam itu seakan tak memberi kesempatan sedikit pun kepada Tunggasamudra untuk berpikir. Secepat kilat ia mengikuti gerakan Tunggasamudra keluar dari jendela, dengan pedang yang terus berkelebat.

Beberapa kali serangannya menyambar ke arah leher Tunggasamudra. Gerakannya sama sekali tak bisa dianggap remeh. Untuk sesaat Tunggasamudra merasa kesulitan. Ia terus berusaha menghindar dan melompat mundur.

Tiba-tiba ia teringat dengan sepasang pedang kayu yang biasa dipakainya untuk berlatih. Namun, kedua pedang kayu itu ada di ruangan utama, tak mungkin ia mengambilnya.

Apalagi, serangan sosok berbaju hitam itu sama sekali tak memberinya celah untuk menghindar jauh-jauh.

Untunglah ekor matanya kemudian melihat sebuah tongkat yang biasa dipakai Biksu Wang untuk berjalan. Dengan satu gerakan tipuan, ia segera melayang ke arah itu.

Sosok berbaju hitam itu berusaha menghalangi, tetapi dengan gerakan bergulung, Tunggasamudra berhasil meraih tongkat kayu itu. Bersamaan dengan itu sambaran pedang lawan mengarah ke lehernya. TRAAAKK!

Tunggasamudra segera menahannya. Benturan dahsyat antara tongkat dan pedang tak bisa dihindari. Seharusnya, tongkat itu patah, tetapi ternyata Tunggasamudra menahan tenaganya dan mengikuti arah gerak sambaran pedang itu. Ia tahu dengan memaksa tenaganya, tongkat di tangannya akan segera patah! Sosok berbaju hitam itu kembali melakukan serangan. Gerakan langkahnya terasa aneh. Namun, Tunggasamudra melihat sesuatu dari gerakan itu ....

Serangan lawan kembali berkelebat ke arah Tunggasamudra, menuju dadanya. Ia segera melangkah mundur sambil membuat gerakan meliuk. Satu serangan bisa kembali dihindarinya, tetapi serangan itu tak berhenti sampai di situ. Lelaki berbaju hitam itu terus melayang mengikuti ke mana dirinya menghindar. Mau tak mau Tunggasamudra harus menahannya dengan jurus-jurus Pedang Membelah Gunung.....

Ia segera saja membuat gerakan mistis, meliukkan tongkat kayu itu ke arah tenggorokkan lawan. Seharusnya serangan ini akan sangat dahsyat bila dilakukan dengan dua pedang, tetapi hanya dengan sebatang tongkat pun, sosok berbaju hitam itu tampak tertekan. Bahkan, pada satu kesempatan, ia sampai membuang tubuhnya menjauh.

Tunggasamudra kembali melanjutkan serangannya. Sosok berbaju hitam itu mencoba menahannya dengan gerakan memutar, seakan bisa menebak gerakan Tunggasamudra.

Lalu, di waktu yang sangat tepat, ia meluncurkan pedangnya ke arah jantung Tunggasamudra.

TRAK! TRAAAK! TRAAAAAK!

Tunggasamudra berusaha menahannya sambil terus melangkah mundur. Sempat dilihatnya tongkatnya mulai tergores cukup dalam. Sebentar lagi tongkat ini akan patah ....

Tunggasamudra pun segera memainkan kembali jurus- jurus Pedang Membelah Gunung. Dengan bertumpu pada sebuah batu, ia melentingkan tubuhnya menjauh, dengan putaran yang mengarah kepada sosok berbaju hitam itu   Kini tongkat di tangannya menyerang tepat ke arah leher sosok berbaju hitam itu. Tentu saja gerakan tak terduga ini begitu mengejutkan. Lelaki berbaju hitam itu segera mencoba menahannya dengan sebuah gerakan berputar. Gerakan itu, sungguh, persis seperti gerakan yang dilakukan Tunggasamudra sebelumnya.

Tiba-tiba Tunggasamudra tersadar. Ia tersenyum tipis.

Namun, ia sama sekali tak menghentikan gerakannya. Dengan satu gerakan mengibas ke tanah, ia segera mengarahkan tongkatnya kepada sosok berbaju hitam itu. Namun, ia tak langsung menusukkan ke depan, ia malah berbalik berputar sambil kakinya mengibas pada tanah, membuat butir-butir tanah itu beterbangan.

Mau tak mau, gerakan ini membuat sosok berbaju hitam itu melompat ke atas, menghindari serpihan tanah itu. Dan, saat itulah, Tunggasamudra berputar bagai gasing sambil menukik mengikutinya. Serangannya begitu mendadak, penuh tenaga, dan sama sekali tak terkira, terus menghunjam ke wajah sang penyerang ....

Ini merupakan jurus Pedang Membelah Gunung tingkat akhir yang sangat mematikan, di mana pedang di tangan seakan-akan menjadi berbayang dan langsung mengarah pada kepala lawan. Lelaki berpakaian hitam itu terkejut. Ia berusaha menahan, tetapi gerakannya telah terlambat!

Kayu itu meluncur bagai kilat ke arah kepalanya. Namun, sebelum kayu itu benar-benar menghajar kepalanya, Tunggasamudra mengganti gerakan menusuknya, dengan memutar tusukannya ke samping. Saat itulah sosok berbaju hitam itu, mengibaskan pedangnya ....

TRAAAK!

Dan, kayu di tangan Tunggasamudra pun terbagi menjadi dua. Seiring dengan itu, Tunggasamudra segera melompat mundur. Ia tiba-tiba sudah berlutut di hadapan sosok berbaju hitam itu.

"Biksu, kau tak apa-apa?" tanyanya.

Sosok berbaju hitam itu seketika tertawa. Suaranya bergema di tanah sepi ini. Ia segera melepas kain hitam di wajahnya, "Hahaha, kau bisa menebak juga rupanya?"

Tunggasamudra mengangguk, "Biksu sempat melakukan gerakan yang sama," ujarnya

Biksu Wang kembali tertawa, "Hahaha, aku seharusnya bisa menahan untuk tak melakukan gerakan itu "

Biksu Wang kemudian mendekat kepada Tunggasamudra.

Dengan gerakan perlahan dibimbingnya Tunggasamudra berdiri.

"Kau masih begitu muda, tetapi kemampuanmu benar- benar maju dengan pesat," ujarnya dengan tatapan tak percaya. "Sungguh, tenaga dan jurus-jurus yang kaugunakan sudah begitu sempurna

Tunggasamudra kembali membungkukkan badannya, "Semuanya berkat bimbingan, Biksu

Biksu Wang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gerakan pelan. "Tidak sepenuhnya karena aku, Tungga," ujarnya. "Namun, dirimulah yang mampu menggali apa yang ada pada dirimu sendiri

Lalu, masih di penggalan malam itu juga, Biksu Wang mengajak Tunggasamudra ke dalam ruangannya. Di situ digesernya meja tempat biasanya ia meletakkan wadah dupa. Lalu, diangkatnya kayu panjang yang menutupi lantai.

Tunggasamudra hanya mengamatinya dengan tak mengerti. Terutama saat Biksu Wang mulai mengeluarkan kotak panjang dari bawah celah kayu itu .... Sambil membawa kotak itu di depannya, Biksu Wang duduk di tempat biasanya ia melakukan meditasi.

"Kemarilah kau, Tungga" ujar Biksu Wang meminta Tunggasamudra mendekat.

Perlahan Tunggasamudra mendekat. Entah mengapa tiba- tiba jantungnya mulai berdegup lebih kencang dari biasanya, terutama saat tangan Biksu Wang secara perlahan membuka kotak itu ....

Seiring dengan itu angin tiba-tiba terasa berdesir lebih kuat, menerbangkan debu dan juga beberapa helai rambut Tunggasamudra.

Di situlah Tunggasamudra melihat tiga buah pedang tersimpan rapi.

Pedang itu berbentuk berbeda dari pedang-pedang yang biasa digunakan pendekar-pendekar di sini. Bentuknya lebih panjang, lebih pipih, dan juga ukiran pegangannya lebih indah.

"Ini pedang dari tanahku," ujar Biksu Wang mengangkat satu di antaranya. "Aku mewarisinya dari guruku."

"Akan tetapimengapa jumlahnya tiga?" Tunggasamudra tak mengerti.

"Aku mewarisi dua pedang yang panjang ini," Biksu Wang menunjukkan dua pedang yang tampak sama. "Dan, yang ini

...," ia menghentikan ucapannya sebentar, "merupakan milik sumoy'-ku "

"SumoyV kening Tunggasamudra berkerut.

'Adik seperguruan perempuanku," Biksu Wang mengangkat pedang yang berukuran lebih pendek. "Seharusnya, pedang ini sepasang, tetapi satu bilah yang lain... telah hilang "

Tunggasamudra terdiam. Sedikit ia merasakan getaran yang dalam pada kata hilang yang diucapkan Biksu Wang tadi. Maka itulah, ia pun membiarkan Biksu Wang terdiam sejenak, menerawangkan pandangannya pada pedang di tangannya ....

Ia tak tahu di dalam diamnya, Biksu Wang mengingat kejadian yang sudah puluhan tahun terjadi kepadanya. Ia teringat saat sumoy-nya (adik seperguruan bahasa cina) terluka dalam sebuah pertarungan. Pedangnya saat itu terjatuh dan seorang lawan kemudian berhasil merebut dan menusukkannya tepat di perutnya ....

Itu adalah saat terkelam dari hidupnya ....

Mereka baru saja memutuskan mundur dari dunia kangow atau dunia persilatan. Mereka telah berencana akan menikah dan menyepi. Namun, takdir meminta lain. Musuh-musuh yang dulu pernah mereka kalahkan, datang saat itu untuk menuntut balas ....

Biksu Wang menarik napasnya dalam-dalam. Itu adalah lembaran terakhir dirinya sebagai pewaris aliran Liang Qiang atau aliran dua pedang. Kali terakhir ia membunuh puluhan nyawa ... dan kali terakhir ia menyentuh sumoy-nya.....

Tanpa sadar, ia mengusap matanya yang berkaca. "Aku akan mewariskan pedang ini kepadamu, Tungga,"

Biksu Wang kemudian menyodorkan sepasang pedang yang

lebih panjang.

Tunggasamudra menerimanya dengan hati bergetar.

Disentuhnya pedang itu dengan perlahan sambil ditatapnya lekat-lekat. Beberapa saat kemudian, setelah menekuri bentuk pedang itu cukup lama, baru dibukanya dengan gerakan perlahan ....

Dan, seiring keluarnya pedang itu dari tempatnya, embusan angin semakin terasa menerpa dirinya ....

Tunggasamudra mengeluarkan pedang itu seluruhnya. "Sudah berkarat," desisnya sambil memandangi pedang itu tak habis-habisnya.

Biksu Wang tertawa pendek. "Bukan sudah berkarat," ujarnya. "Namun, memang seperti itulah adanya. Sejak dulu wujud pedang ini memanglah telah berkarat."

Tunggasamudra menoleh. Ia semakin takjub dengan pedang di tangannya. Selama ini ia selalu melihat pedang- pedang yang bentuknya itu-itu saja. Namun, pedang di tangannya ini sangat berbeda. Terlihat sekali ketuaannya. Tem-paannya yang tampak kasar, sehingga terlihat berkarat, jelas mencerminkan pedang ini terbuat dari bahan yang terbaik.

"Karena hanya kaulah pewarisku," suara Biksu Wang kembali terdengar, "ambilah pedang itu untukmu."

Tunggasamudra mengangguk dengan wajah gembira, tetapi melihat Biksu Wang hendak kembali menutup kotak yang masih menyimpan satu pedang lagi, ia berujar, "Lalu, apakah Biksu akan kembali menyimpan pedang ketiga itu?"

Biksu Wang terdiam. Dalam hati ia merasa menyesal mengapa dulu tak menguburkan pedang ini bersama sumoy- nya. Ia memang menguburkan sebuah pedang bersamaan sumoy-rrya kala itu. Namun, pedang yang lain ia simpan, sekadar untuk kenangannya....

"Entahlah, Tungga, entahlah," Biksu Wang berucap ragu. "Mungkin aku akan menguburkannya atau mungkin aku akan

... membuangnya

Tunggasamudra terkejut. "Biksu akan membuangnya?" ia menyahut cepat sambil buru-buru membungkukkan badannya. "Kalau boleh, biarkan aku yang menyimpannya, Biksu "

Biksu Wang terdiam. Ini tentu saja permintaan yang aneh.

Bukankah seorang dengan dua tangan hanya dapat memainkan dua pedang? Tunggasamudra seperti dapat membaca keraguan Biksu Wang. "Tentu Biksu ingat bahwa dulu aku dilahirkan dengan tiga tangan, bukan?" tanyanya kemudian.

Biksu Wang mengangguk pelan.

"Aku ingin tangan ketiga ini," ia melirik pundaknya, "tak merasa iri karena kedua tangan yang lainnya baru mendapatkan pedang Itulah alasanku memintanya. Itu pun ... bila Biksu berkenan

Biksu Wang mengangguk dengan pelan, sekilas ia tersenyum mendengar alasan Tunggasamudra, "Ya, tentu saja kau dapat menyimpannya, Tungga. Tentu saja "

Tunggasamudra tersenyum lebar. Ia benar-benar seperti mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.

Sungguh, ia sama sekali tak pernah tahu bahwa pedang ketiga inilah yang kelak akan membunuh sahabatnya ....

-ooo0dw0ooo-

Dengan membaca kita mencapai pengertian; Dengan melatih diri kita mencapai pembebasan; Dengan kepercayaan kita mendapat pertolongan; Dengan pembebasan kita menuju penerangan.

Sejak hari itu, masih ditemani dengan bau dupa dan rapalan doa dari dalam rumah, Tunggasamudra terus melatih jurus-jurusnya dengan dua pedang barunya. Gerakannya kini terlihat lebih meyakinkan. Deru angin sesekali terdengar di antara desiran yang biasa ....

Saat ia menyelesaikan latihannya, ia buru-buru mendekati Biksu Wang yang tengah berdiri mematung menatap ke arah timur laut. "Biksu," sambil mengelap tubuhnya yang penuh keringat, "kau tengah melihat apa?"

Biksu Wang tak menoleh. "Entahlah," ujarnya setelah terdiam sesaat. "Aku hanya teringat tanah kelahiranku. Pastinya tempat itu ada di sanatangannya perlahan terangkat dan menunjuk ke arah timur laut.

Sebentar Tunggasamudra ikut melihat ke arah yang ditunjuk. Namun, hanya cakrawala yang ditatapnya. Ia pun kembali menoleh, "Apa Biksu ... berniat akan pulang?"

Biksu Wang tak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke depan beberapa langkah, "Aku ini sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan lagi, Tungga. Apalagi bila itu perjalanan yang sangat jauh

Tunggasamudra tak berucap apa-apa. Biksu menoleh kepadanya sambil mencoba tersenyum. Namun, Tunggasamudra malah mencoba mencari tanda-tanda ketuaan pada wajah itu. Selama ini ia memang tak terlalu memperhatikan. Biksu Wang tampak selalu bersemangat. Ia masih mampu melakukan perjalanan ke datu-datu di sekitar Danau Toba, bahkan ketika sesekali ia berlatih, gerakannya pun masih luwes dan bertenaga.

"Aku telah lapar," ujarnya.

Tunggasamudra hanya tersenyum, "Kalau begitu, aku akan memasakkan makanan dulu untuk Biksu. Sayur rebung kesukaan Biksu."

Tunggasamudra kemudian segera melangkah ke belakang rumah. Beberapa saat ia tampak sibuk memasak. Kini semua masakan yang biasa mereka makan dibuat olehnya. Sejak bertahun-tahun lalu, Biksu Wang telah mengajari semua menu makanan yang ia bisa.

Setelah selesai, Tunggasamudra segera memanggil Biksu Wang. "Biksu," ia muncul di pintu. Namun, Biksu Wang tidak menyahut. Ia masih tampak berdiri terpaku di tempat yang sama seperti tadi sambil terus menatap ke arah cakrawala di sebelah timur laut sana.

"Biksu," Tunggasamudra melangkah mendekati, "makanan sudah siap."

Akan tetapi, tetap tak ada sahutan. "Biksu Wang," Tunggasamudra semakin mendekat, lalu menyentuh pundak Biksu Wang

"Biksu, kau tak...," ucapannya seketika terhenti. Tubuh Biksu Wang yang baru saja tersentuh tangannya tiba-tiba terkulai....

Wajah Tunggasamudra seketika memias. "Biksuuu!" ia langsung menubruk tubuh Biksu Wang sebelum tubuh itu benar-benar jatuh ke tanah.

Dengan gerakan panik, digerak-gerakkannya tubuh itu.

Namun, tetap tak ada reaksi, selain mata tua yang tertutup di antara guratan wajahnya.

"Biksuuu Tunggasamudra hanya bisa menatap tak percaya. Ia masih terus menggerak-gerakkan tubuh itu, tetapi tubuh itu telah kaku tak bergerak.

Tunggasamudra memejamkan matanya kuat-kuat. Air matanya tak bisa dihalangi lagi untuk luruh.

Hari itu saat angin paling lembut berembus, Biksu Wang Hou, pewaris aliran Liang Gjang, telah mengembuskan napas terakhirnya....

Sadhu (semoga demikianlah adanya), sodhu, sadhu ....

-ooo0dw0ooo-